LUST IN AFFAIR
Fantasy
26 Nov 2025 27 Nov 2025

LUST IN AFFAIR

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (11).jpeg

download (11).jpeg

27 Nov 2025, 00:54

"A-aku bukan Celine," gugup Celena menatap pria yang sudah dia cintai selama satu decade terakhir berdiri tepat di depannya. Entah mabuk atau apa, lelaki yang tak pernah menganggap dirinya tiba-tiba sudah berada dalam kamarnya. Sedangkan, di luar sedang ramai. Acara pertunangan Saxon dan Celine dilaksanakan.


Saat pintu tertutup gadis itu semakin berada dalam posisi yang serba salah. Dia sangat mencintai Saxon, tapi kenyataan jika pria itu adalah tunangan kakak kembarnya membuat dia menutup rapat-rapat perasaan itu. Celine bahkan tidak pernah tahu, jika pria yang selalu diceritakan adalah lelaki yang sama.

"A-aku tahu kamu mabuk, tolong keluar dari kamarku." Gadis itu menggeleng, baru kali ini dia bisa begitu dekat dengan Saxon, selama ini hanya bisa melihat bayangannya dari jauh, Saxon bahagia bersama Celine, mereka adalah pasangan yang selalu diagungkan semua orang, bahkan keduanya berencana untuk menikah dalam waktu dekat.

"Tidak, Baby. Aku tidak cukup mabuk, aku tahu kamu Nena," jawab Saxon. Celena kian menggigit bibirnya, bahkan belum ada yang pernah memanggil namanya dengan Nena, apakah itu panggilan kesayangan?

Celena menggeleng cepat, tidak! Tidak bisa! Saxon adalah milik orang lain, walau dia sudah lama mencintai pria ini.

Saxon menyeringai, dia semakin berjalan mendekat. Celena beringsut mundur, dan menabrak headboard.

"Apa yang kau lakukan di sini?" pekik Celena. Dia beharap ada orang yang bisa mendengar dari luar dan mengusir Saxon sekarang, tapi tidak ada yang pernah bisa menyelamatkan dirinya sekarang karena orang-orang sedang sibuk.

"Aku menginginkanmu," jawab Saxon santai. Celena menggeleng. Pria ini gila!


"Kau gila!"

"Aku gila karenamu!"

Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Celena, otak dan hatinya perang. Sebelum Saxon mengenal namanya dia sudah lama mencintai pria itu, saat Saxon mengatahui namanya dia bahkan membeli cake untuk merayakan sendiri akhirnya crush notice dirinya, tapi juga menjadi hari patah hati terhebat untuknya karena Saxon adalah kekasih kembarannya. Dunia memang tak pernah adil padanya.


Gadis itu makin menggeleng, sedangkan Saxon semakin naik ke atas ranjang. Celena menggeleng keras.

"Jangan, jangan seperti ini. Celine sangat mencintai kamu."

"Aku tahu."

Saat tangan Saxon terulur untuk memegang tangannya seluruh tubuh Celena bergetar, dia selalu memimpikan hal ini, Saxon tak pernah absen hadir dalam setiap tidur malamnya. Gadis itu menelan ludahnya kasar, dengan perlahan Saxon menarik tangannya lembut dan mengecupnya. Detik ini Celena merasa telah mengkhianati kembarannya, tapi dia juga selalu memimpikan hal ini. apa yang harus dia lakukan?


"Kamu sangat cantik malam ini," puji Saxon sambil mengelus-elus wajah mulus Celena yang sudah banjir air mata. Suaranya terdengar rendah.

"Leave me alone."

"Not now, Baby. Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Saxon, Celena menutupi matanya.


Tiba-tiba Saxon sudah menarik tubuhnya. Membuat Celena makin menganga takut, dia berperang antara hati dan kewarasannya. Saat sentuhan lembut kian dia rasakan Celena hanya bisa beteriak dalam hatinya.


Dia hanya mampu menutupi matanya merasakan semua sentuhan lembut yang selalu diimpikan, tidak apa jika semunya hanya mimpi karena Saxon tidak akan pernah bisa diraihnya.

"Kenapa kamu selalu menghindar dariku?" tanya Saxon. Celena langsung membuka matanya, dia gugup luar biasa tapi juga senang di waktu bersamaan bisa melihat Saxon sedekat ini. diam-diam dia menghirup semua aroma tubuh pria yang berjarak sepuluh tahun lebih tua darinya.

"K-kamu mabuk, dan keluar dari kamarku sekarang," gugup Celena, tapi hatinya beteriak keras jangan lagi melepaskan pria ini, minimal dia belama selama lima menit yang akan dikenang selamanya.

"A-apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Celena berani bertanya, dadanya berdegup sangat kencang dia tidak menyangka bisa punya jarak sedekat ini dengan Saxon, pria yang selalu dia impikan.

"Yang aku inginkan?" tanya Saxon sambil mengangkat alisnya, ia tersenyum sebentar. Saxon adalah pria paling tampan yang pernah dia tahu, dan Celena tidak akan pernah bosa memandanginya.

Saxon menurunkan wajahnya membuat Celena kian gugup, gadis itu menutupi matanya. Apa dia akan dicium? Tapi, apa dia berdosa? Demi Tuhan, pria ini tunangan orang! Bahkan, tunagan kembarannya sendiri. Hati Celena berperang, perlahan ia membuka matanya dan Saxon masih memandanginya, netra madu itu menusuknya dalam. Celena hanya bisa menelan ludahnya.

Dia menggigit bibirnya karena siapa pun bisa melihat mereka dalam posisi yang tak senonoh seperti ini, dan semuanya jadi kacau.

Hidung keduanya menempel membuat Celena kian gugup, bahkan menahan napasnya. Ia bisa merasakan napas hangat Saxon di wajahnya.

"Tidak ada," bisik Saxon rendah. Gadis itu langsung membuka matanya dan melotot. Sial! Apa-apaan tadi?

Tanpa aba-aba Saxon sudah menciumnya membuat Celena melotot. Ia membeku, first kiss-nya hilang oleh lelaki tsundere yang selalu hadir dalam setiap tidur panjangnya. Celena masih membeku saat Saxon melepaskan bibir mereka, jari Saxon memainkan bibirnya.

"Jangan pernah menghindar dariku," ancam Saxon. Celena menelan ludahnya kasar. Masih belum juga mencerna apa yang terjadi.


Tanpa dosa Saxon langsung keluar dari kamar tersebut dan membuat Celena kian mencak-mencak. Sialan!


------

Celena hanya bisa melihat dari kejauhan dengan hati yang berdarah-darah saat Saxon dan Celine saling bertukar cincin. Keduanya tersenyum bahagia.

"Ya, inilah yang kita tunggu-tunggu. Pertunangan Caryl Saxon dan Celine Angel. Pasangan yang sangat serasi sekali, semoga hubungan terus berjalan sampai pernikahan," ucap MC dengan nada yang bersemangat.

Celena hanya berdiri di pojokan sambil melihat pasangan bahagia itu bertukar cincin dan memamerkan, serta pengumuman pernikahan. Enam bulan dari sekarang pernikahan itu dilaksanakan dan Celena pasti ikhlas melepaskan perasaan bertahun-tahun yang bersarang di dadanya.

Saat Saxon mencium kening tunangannya lama, Celena menutup matanya. Ya, ini adalah hari paling sial untuknya, tak ada lagi harapan ataupun mimpi, dia akan mengubur semua mimpi yang jadi mimpi buruk untuknya.


Saat semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat, Celena juga melakukan hal yang sama, turut berbahagia, karena jika kembarannya bahagia maka dia ikut bahagia, walau tidak ada yang pernah tahu perasaan berat apa yang dia hadapi.

"Selamat, ya. Aku tidak menyangka dulu kita suka makan permen kapas bersama dan sekali kedip mata kamu udah nikah aja," ucap Celena pada kembarannya.

"Ah, kau cepat cari laki sana! Jangan sampai aku udah punya suami, dan kamu hanya bisa main sama dildo," goda Celine membuat kembarannya memerah apalagi Saxon yang menatapnya tajam. Sial! Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya.


Celena melewati Saxon, tidak memberi selamat, pria itu menarik tangannya yang membuat Celena langsung menoleh.

"Sayang lihat, dia tidak memberiku selamat," adu Saxon pada tunangannya yang membuat Celena menggepalkan tangan. Gadis itu pura-pura tersenyum, padahal jantungnya sudah jungkir balik berdekatan dengan Saxon, sampai kapan dia akan menghilangkan perasaan sial ini?

Belum sempat tersadar, Saxon menarik tubuhnya cepat dan membawa tubuh kecilnya dalam dekapan dada bidang tersebut membuat Celena hampir pingsan.

"Jangan pernah melawanku, Baby girl. Ngomong-ngomong, bibirmu sangat manis," bisik Saxon membuat Celena langsung menginjak kaki pria itu karena telah melakukan pelecehan padanya.

Kembali ke Beranda