Truth or Dare
Romance
16 Feb 2026

Truth or Dare

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-16T083256.720.jfif

download - 2026-02-16T083256.720.jfif

16 Feb 2026, 01:55

download - 2026-02-16T083251.079.jfif

download - 2026-02-16T083251.079.jfif

16 Feb 2026, 01:55

Saat itu, tahun terakhir di sekolah menengah. Udara terasa berbeda, ada semacam getaran campur aduk antara euforia dan kecemasan yang menyelimuti lorong-lorong sekolah. Prom night, malam dansa kelulusan yang paling ditunggu-tunggu, semakin dekat. Setiap sudut sekolah dipenuhi bisik-bisik tentang gaun, mobil yang akan disewa, dan tentu saja, pasangan kencan. Mike, seorang remaja dengan rambut yang selalu sedikit berantakan meski sudah disisir rapi, merasa dirinya seperti sebuah pulau kecil di tengah lautan persiapan pesta. Semua gadis tampaknya sudah, atau sedang dalam proses, berkencan dengan seorang pria tampan. Sementara Mike, yang menyadari dirinya tidak setampan model di majalah remaja dan tidak sepandai Bruce membual di kantin, merasa seperti tidak memiliki magnet sama sekali untuk menarik perhatian lawan jenis.

Suatu sore sepulang sekolah, saat Mike sibuk mengunci lokernya yang berisik, sahabatnya, Joe, datang dengan langkah gembira dan menyenggol pinggangnya.

"Hei, Mike! Kurasa aku sudah menemukan solusi untuk masalah prom night-mu," kata Joe dengan nada penuh teka-teki dan senyum yang sedikit menyeringai.

Mike menghela napas panjang. Dia sudah hafal dengan ide-ide gila Joe. "Apa lagi kali ini?"

"Mengapa kamu tidak mengajak Rita berkencan? Sejauh yang aku tahu, belum ada satu pun pria di sekolah ini yang menanyainya," ujar Joe, seringainya kini melebar.

Mike tahu persis alasan di balik seringai Joe. Rita. Gadis yang selalu duduk paling pojok di perpustakaan itu. Bayangan Rita langsung melintas di benaknya: kacamata tebal dengan bingkai hitam yang tampak terlalu besar untuk wajahnya, kawat gigi yang sesekali berkilau terkena sinar mataja, dan rambut cokelatnya yang selalu diikat asal-asalan. Di mata siswa lain, Rita adalah definisi dari "gadis paling tidak populer." Mike mengerang pelan, suaranya bercampur frustrasi dan rasa kasihan yang aneh. "Oh, tidak! Bukan Rita!" Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu Joe tidak sepenuhnya salah.

Waktu terus berjalan dengan cepat, bagaikan pasir yang mengalir di sela-sela jari. Poster-poster prom night dengan warna-warna cerahnya semakin sering terpampang di dinding, dan Mike merasa seolah-olah poster-poster itu sedang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Dia tahu dia harus melakukan sesuatu dengan cepat, atau dia akan menjadi satu-satunya lelaki di angkatannya yang duduk termenung di rumah pada malam istimewa itu. Perasaan malu yang membayangi itu lebih berat daripada rasa gengsinya. Maka, dengan desahan panjang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, dan dengan langkah gontai yang penuh gemetar karena gugup, dia memberanikan diri mendekati Rita di perpustakaan. Di sela-sela tumpukan buku, dengan suara terbata-bata, dia mengajaknya kencan. Di luar dugaannya, Rita mengangkat wajahnya dari buku, tersenyum tipis yang sedikit canggung karena kawat giginya, dan mengangguk setuju.

Malam prom night pun tiba. Ketika Mike tiba di depan rumah Rita yang sederhana, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan karena gugup, tapi karena rasa penasaran. Dan saat pintu depan terbuka, semua ekspektasi Mike buyar seketika.

Rita berdiri di ambang pintu, dan Mike hampir tidak bisa bernapas. Dia mengenakan gaun berwarna biru dongker yang jatuh indah hingga mata kaki, dengan potongan sederhana namun elegan yang membuatnya tampak begitu berbeda. Seseorang—mungkin Rita sendiri—telah melakukan sesuatu yang ajaib pada rambutnya. Rambut cokelat yang biasanya tak teratur itu kini tersusun dalam gelombang lembut yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Yang paling mengejutkan, Rita melepas kacamatanya yang tebal. Tanpa kacamata itu, mata cokelatnya yang hangat dan jernih tampak bersinar. Mike bergumam dalam hati, andai Rita memutuskan untuk mengabaikan kacamatanya yang besar malam itu, dia mungkin akan mengatakan—tidak, dia harus mengakui—bahwa Rita terlihat menakjubkan. Matanya sedikit melebar, dan dia terpaku sejenak sebelum bisa berkata, "Kamu... kamu terlihat cantik, Rita."

Rita tersipu, dan untuk pertama kalinya, Mike melihat bahwa di balik kawat gigi itu ada senyuman yang sangat manis.

Begitu tiba di aula pesta yang gemerlap dengan lampu disko dan dekorasi mewah, mereka hampir segera ditarik ke lantai dansa oleh irama musik yang ceria. Awalnya, Mike merasa canggung, kakinya seperti dua batang kayu yang kaku. Tapi Rita meraih tangannya dengan lembut, dan mereka mulai bergerak mengikuti irama. Saat mereka menari, Mike menyadari dengan penuh keheranan bahwa Rita sebenarnya adalah penari yang luar biasa. Gerakannya luwes dan penuh percaya diri, benar-benar berbeda dari sosok pendiam yang selama ini dikenalnya di sekolah. Di sela-sela lagu yang berganti, mereka mulai mengobrol. Rita ternyata bisa bercakap-cakap dengan sangat menyenangkan. Bukan obrolan basa-basi, tapi percakapan yang hangat dan cerdas, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tulus tentang minat Mike, dan cerita-cerita lucu tentang buku-buku yang dia baca. Mike, yang biasanya kesulitan mencari topik pembicaraan, mendapati dirinya tertawa lepas karena sebuah komentar Rita yang jenaka. Tawanya ringan dan menular, seperti suara lonceng kecil yang berdering di malam yang hening. Mike menyadari dengan sedikit keterkejutan bahwa dia sangat menikmati suara tawa itu.

Prom night itu, yang awalnya dia bayangkan akan menjadi malam penuh keringat dingin dan rasa canggung, justru memuncak menjadi sebuah pengalaman yang begitu indah dan tak terduga. Malam dansa itu menjadi awal dari segalanya. Mike dan Rita mulai sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke bioskop, ngobrol panjang lebar di telepon hingga larut malam, atau sekadar duduk di taman sambil berbagi es krim. Tak lama kemudian, persahabatan yang baru terjalin itu berkembang menjadi hubungan yang serius, sebuah hubungan yang dibangun di atas fondasi saling menghargai dan menemukan keindahan di balik lapisan luar seseorang.

Kini, lima tahun telah berlalu. Mike duduk di kursi pengemudi, tangannya sedikit berkeringat memegang setir. Dia melirik ke kursi penumpang, di mana Rita duduk dengan gaun biru dongker kesayangannya—gaun yang sama saat pertama kali dia benar-benar melihat Rita. Malam ini, dia berencana untuk mengulangi keajaiban itu. Mike mencintai Rita lebih dari apa pun di dunia ini. Dia mencintai cara Rita tersenyum, cara Rita memeluknya saat dia sedih, dan caranya yang khas saat mengoreksi buku catatan lamanya. Cincin pertunangan itu tersimpan rapat di saku jaketnya, terasa berat namun penuh makna. Dia berencana untuk mengajukan pertanyaan paling penting dalam hidupnya malam ini, tepat di tempat yang sama di mana dia untuk pertama kalinya melihat Rita yang sesungguhnya: di ambang pintu rumah Rita, di bawah cahaya lampu teras yang hangat.

Sambil menunggu lampu merah menyala, Mike bergidik membayangkan apa yang akan terjadi jika lima tahun lalu dia terlalu gengsi untuk mengajak Rita kencan. Dia membayangkan dirinya duduk sendirian di kamar pada malam prom, dikelilingi keheningan, dan kehilangan kesempatan untuk menemukan belahan jiwanya. Senyum kecil merekah di bibirnya. Kadang, keberuntungan terbesar dalam hidup datang dalam paket yang paling tidak kita duga, dan seringai jahil seorang sahabat.






Kembali ke Beranda