Gambar dalam Cerita
"YEEEEEEAAAAYY!" Terdengar sorak sorai para siswa siswi murid SMA Bina Bangsa. Mereka bersorak gembira pasalnya Tim Basket sekolah mereka memenangkan pertandingan basket melawan SMA Angkasa siang ini. Akhirnya kerja keras Tim Basket SMA Bina Bangsa selama ini membuahkan hasil yang begitu memuaskan. Dua tahun terakhir ini Basket SMA Bina Bangsa memang selalu kalah ketika melawan tim Basket SMA Angkasa. Dan saat ini untuk pertama kalinya mereka dapat mengalahkan kembali lawannya itu. Mungkin ini disebabkan oleh kerja keras kapten Tim Basket yang tidak pernah berhenti menggembleng anggotanya, memang sejak kapten basket di jabat oleh Davindra Gabriel, SMA Bina Bangsa selalu memenangkan lomba termasuk memenangkan pertandingan ini, berbeda dengan kapten basket tahun-tahun lalu.
Wajah Gabriel terlihat sangat sumringah, senyum terus terpancar dari wajahnya yang penuh keringat. Namun, hal ini tidak sedikitpun mengurangi ketampanan yang dimilikinya. Siapapun wanita pasti akan terpesona melihatnya, termasuk gadis yang satu ini, Grashilla Andara.
Yap! Grashilla Andara atau yang lebih akrab disapa Shilla ini memang tergila-gila akan sosok Gabriel. Shilla mulai jatuh cinta pada kakak kelasnya itu sejak awal dia memulai masa orientasi sebagai siswi baru yang masuk di SMA Bina Bangsa. Apalagi waktu itu Gabriel lah yang mengampuh kelas Shilla. Hingga saat ini, saat Shilla sekarang sudah duduk dibangku kelas sebelas ia masih saja mengagumi sosok Gabriel. Sejak tadi pula, sejak pertandingan basket dimulai hingga Gabriel memenangkan pertandingan, Shilla tidak mengalihkan pandangannya dari Gabriel. Senyum juga terus memancari wajahnya yang cantik.
' Ah, andai aja gue bisa deket sama lo gab! ' lagi-lagi hati Shilla terus meminta ingin bersama dengan Gabriel.
"SHILLAAAA BALIK YUUK!" Sebuah suara menyadarkan Shilla dari lamunannya. Akhirnya Shilla melepaskan pandangannya dari sosok Gabriel dan beralih ke asal suara tersebut.
"Apasih Fy? Diem deh nggak usah ganggu" ucapnya kemudian beralih lagi kearah Gabriel. Namun, hatinya kecewa, sosok Gabriel sudah tidak ada disana.
"Tuhkan Fy gara-gara lo sih, Gab ngilang kan Fy, lo pake acara ganggu gue sih Fy, ngeselin deh" Rengek Shilla kepada seseorang yang ia panggil dengan sebutan 'Fy'. Ya, orang yang Shilla panggil 'fy' tadi adalah sahabatnya sejak ia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Namanya, Marsha Arify. Hingga saat ini pun mereka berdua masih menjalin persahabatan dan bahkan mereka pun selalu satu kelas.
"Plis deh Shill, sampai kapan lo bakal suka sama dia? Dia aja nggak kenal sama lo Shill, masih aja lo terus-terusan suka sama dia. Oh ya coba lo liat disekeliling lo deh..." Ify tersenyum devil
"Lah loh fy.. Kok sepi, kok tinggal kita berdua disini? Kok lo ga bilang gue kalo udah pada pulang?" Wajah Shilla terlihat kebingungan setelah melihat bahwa disana sudah tidak ada siapapun lagi kecuali dirinya dengan Ify. Bukannya menjawab Ify malah menertawai Shilla.
"HAHAHAHA Shill shill makanya gausah ngeliatin Gabriel terus. Dari tadi gue juga udah ngajak lo balik kali, tapi yang ada gue malah dicuekin. Udah deh sekarang kita balik. Mau lo disini sendiri?" Ucap Ify seraya berlalu dari hadapan Shilla.
***
Shilla berjalan di koridor sekolahnya yang masih sangat-sangat-sangat sepi. Jelas saja sepi, lihat saja sekarang jam berapa. Jam 05.30! Untuk ukuran orang malas, di jam setengah enam pasti masih asik dengan mimpinya, sedangkan Shilla? Sudah tiba di sekolah! Untuk apalagi jika bukan memberikan 'sesuatu' untuk Gabriel, namun Shilla hanya meletakannya di kolong meja milik Gabriel. Jika hari sebelumnya ia memberikan sebuah puisi –yang ia buat semalaman- hari ini Shilla akan memberikan coklat.
Shilla mengeratkan kembali jaket yang ia pakai, sesekali menggosok-gosokan tangannya sendiri. Jelas saja, udara di pagi ini begitu dingin. Akhirnya sampai juga Shilla di depan kelasnya, disana Ify sudah menanti dengan wajah kesal. Siapa coba yang tidak kesal, harus berangkat pagi buta seperti ini. Namun, Ify sudah terbiasa menemani Shilla untuk melakukan hal 'ini. Shilla tersenyum senang melihat Ify sudah setia menunggunya disana.
"Yuk fy langsung melaksanakan misi" Ujar Shilla. Karena, ruang kelas dua belas ada diatas mereka pun harus menaiki tangga agar samapi di kelas Gabriel. Kebetulan, kelas Ify dan Shilla bersebelahan dengan tangga itu. Setelah sampai dan memastikan kelas itu kosong Shilla pun langsung meletakan coklat ke dalam laci meja Gabriel. Sedangkan Ify bertugas mengawasi siapa tahu tiba-tiba ada yang datang.
***
Gabriel bersenandung seraya melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat apa yang ada di dalam lacinya setelah sebuah puisi.
"Pagi bro! Darimana aja lo udah mau bel baru dateng?" Gabriel disambut hangat olehkedua sahabatnya Alvin dan Rio
"Males aja, ngapain coba berangkat kesekolah pagi-pagi. Ngga guna" Gabriel menjawab sekenanya.
"Eh, lu berdua udah liat belum di laci gue ada apaan?" lanjut Gabriel. Alvin dan Rio pun langsung melihat ke dalam laci Gabriel. Tangan Rio mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Waaah coklat bro! Enak nih. Eh ada suratnya nih" Rio pun langsung memberikan surat tersebut kepada Gabriel. Sedangkan coklatnya dimakan Alvin dan Rio. Gabriel segera membaca surat dari penggemar rahasianya tersebut.
To : Davindra Gabriel
Selamat pagi gab! Semangat buat hari ini ya, semoga suka coklat dari aku. Dan aku selalu berdoa supaya kita bisa deket.
Fr : S****A
"Gue penasaran deh siapa sih orang yang selalu ngasih gue ini itu tiap pagi?" ujar Gabriel setelah melipat surat tersebut dan memasukan ke dalam saku celananya.
"Kalo gue liat sih itu cewe yel" celetuk Alvin dan langsung mandapat jitakan dari Rio dan Gabriel.
"yaiyalah Vin cewe, masa iya cowo. Kalo iya berarti cowo itu homo dong ihhh" Rio bergidik. "Yakan gue cuma nebak" Alvin membela diri
"Pokoknya lo berdua harus cari tau itu siapa. Enam huruf dengan inisial 'S'" ujar Gabriel dingin. Tak lama kemudian terdengar suara bel
***
Bel berbunyi kembali. Kali ini menandakan bahwa pelajaran telah usai. Shilla dan Ify segera keluar dari kelasnya, menghirup udara segar setalah berkutan dengan soal-soal fisika yang membingungkan pada jam pelajaran terakhir.
"Fy, ini hari Rabu kan ya? Seperti biasa dong Fy, nanti gue beliin ice cream deh buat lo" Shilla tersenyum manis. Seperti biasa, hari Rabu adalah hari Tim Basket mengadakan latihan. Ify dan Shilla tidak pernah absen melihat mereka berlatih, ya walaupun Shilla harus membujuk Ify terlebih dahulu agar ia mau menemaninya melihat latihan basket, lebih tepatnya melihat Gabriel. Ify mendesah, sebenarnya hari ini ia sangat malas menemani Shilla tapi ini sebagai tugasnya menjadi sahabat yang s-e-t-i-a.
"Iya bawel. Cepet deh yuk" Mereka berduapun segera menuju ke lapangan basket. Shilla dan Ify berdiri di pinggir lapangan untuk menyaksikan latihan mereka. Bukan hanya mereka yang menonton, anak-anak lainnya juga banyak yang menyaksikan.
Saat mereka sedang asik melihat tiba-tibaa
DUGG!
Shilla langsung berteriak "Ifyyyyyy!!". Bola basket itu mengenai kepala Ify dan alhasil Ify pun pingsan. Gabriel, Rio, Alvin dan anggota tim basket lainnya langsung menghampiri Ify dan Shilla.
"Sorry, kita ngga sengaja" ujar salah satu anggota tim basket.
"Mendingan gini, gue bawa dia ke UKS. Kalian lanjutin latihan dan lo pulang aja dianter Rio, dia aman sama gue. Gue yang bakal anter dia pulang" Gabriel menatap Shilla. Shilla menelan ludah. Hatinya berdebar. Untuk pertama kalinya dia ngobrol dengan orang yang sudah dia taksir selama satu tahun ini. Tapi.... Shilla tidak bisa membiarkan Gabriel berdua dengan ify. Apalagi mengantar Ify pulang.
"Tapi..gue sahabatnya, guemau nemenin dia" elak Shilla
"Nggak lo harus pulang sama Rio! Dan ngga ada tapi-tapian" Gabriel langsung mengangkat Ify dan menuju ke UKS meninggalkan Shilla.
'Tau gitu gue aja yang pingsan kena bola, enak banget si Ify!' rutuk Shilla dalam hati. Shilla pun pergi meninggalkan lapangan tersebut dan diantar pulang oleh Rio.
***
"Lo udah bangun?" ujar Gabriel setelah melihat Ify sadar. Ify membelalakan matanya, tak menyangka siapa yang ada di depannya kini. Sosok yang telah lama dicintai sahabatnya walau dalam diam.
"Shilla mana shillaaa?!" Ify kebingungan mencari Shilla. Gabriel terdiam sejenak mendengar nama Shilla, dia kemudian menghitung jumlah huruf yang ada dalam nama "SHILLA"
'Enam. Apa mungkin? Ah mungkin hanya kebetulan'
"Oh Shilla temen lo? Dia udah gue suruh pulang tadi. Dan lo pulang sama gue"
"HAAAAH?!" Ify hanya membulatkan mulutnya mendengar perkataan Gabriel tadi. Perasaannya menjadi tidak enak, ia teringat kepada Shilla. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Gabriel segera menuntun Ify ke mobil dan mengantar Ify pulang.
"Gue minta nomer handphone lo" ujar Gabriel singkat setelah sampai di depan rumah Ify.
"Buat?"
"Udah cepet kasih ke gue, siapa tau gue bisa minta bantuan lo" Tanpa izin dari Ify, Gabriel segera mengambil handphone yang ada dalam tas Ify.
"Udah dapet nomer lo nih. Turun gih" Ify pun segera turun dari mobil Gabriel dengan kesal. Gabriel segera menjalankan mobilnya lagi.
Ify segera memasuki rumah. Betapa kejutnya ia, ternyata Shilla sudah ada di dalam rumahnya dengan wajah seperti ingin memakan Ify. Ify merasa bersalah. Ify kemudian menceritakan semuanya. Untuk kali ini Shilla bisa memaafkan Ify.
***
Keesokan harinya Shilla dan Ify melancarkan aksinya lagi. Namun, kali ini tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Orang –yang mengawasi- itu pun tersenyum.
Tiba-tiba handphone di saku Ify bergetar. Ternyata ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Ify segera membuka pesan itu
To : Ify
Fr : +6283866582xxx
Pulang sekolah temui gue di taman belakang sekolah. Ada yang mau gue omongin. Lo kesini sendiri tanpa Shilla! Gabriel
Ify menarik nafas.
"Kenapa fy?" Tanya Shilla
"Shill, ini nyokap gue sms gue nanti suruh pulang cepet. Nanti lo duluan aja gausah bareng gue ya" jelas Ify. Shilla mengernyitkan dahinya heran. Karena biasanya jika Ify diminta pulang lebih cepat mereka tetap pulang bersama. Tapi kenapa kali ini tidak?
***
"Jadi gadis itu namanya Shilla?" gumam Gabriel
"Kenapa emang?" Ify terlihat bingung.
Saat ini Gabriel dan Ify sudah duduk dibangku taman di belakang sekolah mereka. Ify sebenarnya malas sekali bertemu dengan Gabriel. Dia takut shilla akan marah jika mengetahuinya. Lagian ada urusan apa Gabriel dengan dirinya?
"Dia gadis yang gue incer selama ini" Lagi-lagi Ify dibuat bingung oleh ucapan Gabriel. Gabriel melanjutkan ceritanya
"Gue jatuh cinta sama Shilla sejak kita pertama ketemu. Sejak dia pertama masuk di sekolah ini. Gue lihat dia gadis yang beda. Tapi sayangnya gue ngga punya keberanian buat deketin dia. Untuk kenalan aja gue ngga mampu. Gue juga ngga tau nama dia siapa. Yang gue tau gue jatuh cinta sama dia. Lo tau fy? Gue selalu semangat main basket karena apa? Karena ada dia yang nonton. Mungkin kalian ngga tahu kalo gue sering merhatiin Shilla. Maka dari itu pas kejadian kemaren gue ngga ngebolehin Shilla buat nemenin lo. Karena gue tau lo sahabat dia, dan gue butuh bantuan lo supaya gue bisa deket sama dia. Gue takut fy, gue takut dia nggak suka sama gue. Gue takut di tolak fy. Dan akhirnya gue ngga bisa mendem lagi. Jadi sekarang gue minta tolong sama lo, tolong deketin gue sama dia"
Ify tertawa mendengar cerita Gabriel tapi setelah itu ify justru memaki Gabriel. Rasa senang menyelinap di hatinya, berarti selama ini cinta sahabatnya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Lo bego yel! Lo pengecut! Lo cowo harusnya lo berani! Shilla aja berani yel deketin lo tanpa sepengetahuan lo. Shilla aja selama ini bisa yel jadi secret admirer lo! Asal lo tau shilla cinta anget sama lo yel! Dia yang selama ini kasih coklat, puisi ke elo! Dia rela berangkat pagi buta buat lo yel! Tapi kenapa lo ngga pernah berani? Lo cewe apa cowoo?!"
"Gue udah tau kalo shilla yang kasih itu semua ke gue. Gue tadi pagi ngeliat kalian berdua masuk ke kelas gue. Gue baru tau kalo 'Enam Huruf' itu Shilla. Dan saat gue tau itu gue semakin berniat buat deketin shilla. Maafin gue" Jelas Gabriel. Tiba-tiba ada suara yang memotong pembicaraan mereka
"I...i....fy... gue gue ga nyangka lo setega ini sama gue fy! Lo bilang lo mau pulang cepet, eh taunya lo disini sama Gab! Jangan-jangan lo berdua ada yang disembunyiin ya dari gue? Untung gue tadi lewat sini fy. Gue kecewa!" Shilla langsung pergi meninggalkan Ify dan Gabriel dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ify langsung mengejar shilla, sedangkan Gabriel hanya diam di tempat.
***
Drrttt... Drrtt...
Handphone Shilla bergetar, sebenarnya Shilla malas sekali membuka handphone itu, air mata masih mengalir di pipi shilla saat ini setelah kejadian tadi siang yang ia alami. Bahkan Shilla tidak mau bertemu dengan Ify.
Fr : +6283866582xxx
Selamat Malam putri cantik. Hapus air mata mu ya. Aku tidak suka melihat mu menangis xx
Shilla tidak memperdulikan pesan tersebut. Hati nya terasa sangat sakit sakit sekali! Melihat apa yang dilakukan sahabat dan orang yang sangat di cintainya tersebut.
***
Sudah seminggu Shilla dan Ify bermusuhan, shilla sudah tak mau mendengar penjelasan Ify. Sudah seminggu pula, nomor asing tersebut terus memberi pesan kepada shilla. Isi pesannya bermacam-macam. Bahkan dalam pesan tersebut bomor itu menyatakan cinta kepadanya! Shilla benar-benar penasaran dengan orang tersebut. Orang itu telah membuatnya risih.
Kali ini Ify pergi kerumah Shilla, ia ingin meminta maaf lagi.
"Shill" panggil Ify
"Ngapain lo kesini? Mau nyakitin gue lagi? Belum puas lo pengkhianat?" Shilla tersenyum devil. Sebenarnya hatinya sakit memanggil Ify dengan pengkhianat
"Dengerin gue dulu shill. Gue mau jelasin semuanya" Ify kemudian menjelaskan percakapan antara dirinya dengan Gabriel. Shilla yang mendengarnya kemudian menangis. Menangis karena rasa bersalah telah memusuhi Ify dalam waktu seminggu ini.
"Lo ga bohong kan fy? maafin gue" Shilla menunduk
"Buat apa gue bohong sama lo shill? Lo sahabat terbaik gue" Shilla langsung memeluk Ify
"Selamat sayang cinta lo berarti terbalaskan..." bisik Ify
***
Sepulang sekolah lagi-lagi shilla mendapat sebuah pesan dari nomor tersebut
Fr : +6283866582xxx
Siang cantik. Kalo kamu penasaran siapa aku temui aku sekarang di taman belakang sekolahxx
Shilla mengernyitkan dahinya kemudian menatap Ify. Ify sudah tau bahwa itu adalah Gabriel. Ify lalu tersenyum yang artinya menyetujui bahwa Shilla harus bertemu pemilik nomor tersebut.
Shilla kemudian menuju taman belakan sekolah.Sepi. Tidk ada siapa-siapa. Shilla duduk di sebuah bangku disana menunggu orang tersebut. Lama sekali orang itu tidak dating. Shilla hampir saja pergi dari tempat itu. Namun ada sebuah suara yang mencegahnya
"Mau kemana cantik?" Shilla menoleh kebelakang. Hatinya berdebar kencang melihat sosok itu, Gabriel.
"Nggg...ngapain kamu disini?" Shilla menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal untuk mengurangi rasa gugup
"Kamu sendiri ngapain disini?"
"Loh kok balik tanya? Aku mau ketemu sesoran disini"
"Kamu udah ketemu orang itu kok" Gabriel tersenyum. Apa maksud Gabriel itu? Shilla terlihat bingung
"Aku orang itu shill,aku penggemar rahasiamu yang selama ini mengirim pesan-pesan itu. Maaf atas kejadian seminggu yang lalu. Maaf atas sifatku yang pengecut. Aku tahu shill kamu yang selama ini memberiku coklat dan puisi, kamu juga pasti sudah tau atas cerita Ify kan? Maaf shill, aku ngga bisa romantic. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu shill. Apa kamu mau nerima aku sebagai pacar kamu shill?"
Seketika wajah Shilla memerah. Ternyata yang dikatakan Ify kepadanya benar. Ah bodohnya ia telah memaki Ify waktu itu.
"Jadi kamu orangnya ya Gab." Shilla memasang wajah kecewa. Melihat wajah shilla, Gabriel menjadi takut bahwa ia akan di tolak oleh Shilla. Kemudian Shilla tersenyum.
"Aku mau kok jadi pacar kamu" Gabriel langsung memeluk shilla dan mengelus kepala Shilla. Ah akhirnya penantian dia terbayarkan sudah, begitupun shilla tidak sia-sia ia menjadi seorang Secret Admirer untuk Gabriel.
END