Gambar dalam Cerita
Gema bola basket yang memantul di lapangan parket terdengar berirama, membaur dengan derap kaki para pemain yang berlari kesana-kemari. Bola cokelat itu seolah hidup, melesat cepat mengikuti arahan tangan-tangan terampil para remaja yang sedang asyik berebut dan berlari. Di bangku penonton, suasana tidak kalah panas. Sorak-sorai gembira serta pekikan histeris silih berganti, menciptakan atmosfer yang begitu hidup di gedung olahraga sekolah.
Walaupun hari ini merupakan pertandingan basket antar kelas untuk kategori remaja putri, pertandingan ini tetap saja tak kalah seru saat remaja putra yang bertanding. Semua itu karena para pemainnya memang sudah cukup jago dan memiliki kemampuan yang mumpuni untuk membuat siapa pun yang menonton terpesona. Gerakan-gerakan lincah, umpan-umpan akurat, dan strategi yang diterapkan di lapangan membuktikan bahwa basket putri juga punya daya tarik yang luar biasa.
Di tengah hiruk-pikuk pertandingan, perhatian penonton tertuju pada seorang cewek dengan rambut panjang terikat rapi ke belakang. Dengan konsentrasi penuh, ia berusaha membawa bola menerobos pertahanan lawan menuju ring. Namanya Tania, kapten tim basket putri kelas XII IPA 2 yang dikenal sebagai pemain andalan. Namun lawan tidak tinggal diam. Hadangan demi hadangan terus terjadi, membuat pergerakan Tania semakin terhimpit. Dengan sisa tenaga dan tekad bulat, ia melompat mencoba melakukan shoot meskipun dalam posisi tidak seimbang. Bola pun berhasil masuk ring dengan sempurna, tetapi tubuh jangkung Tania harus jatuh tersungkur keras setelah berbenturan dengan lawan yang berusaha menghadangnya dari arah berlawanan.
"Priiiitt!" Suara peluit wasit yang memimpin pertandingan menggema memecah hiruk-pikuk sorak penonton. Wasit segera mengangkat tangan memberi isyarat.
"Medis! Medis! Cepat, Tania luka! Tolong bantu!" teriak wasit dengan suara keras penuh cemas.
Dari pinggir lapangan, seorang pria dengan tubuh mungil namun gerakannya gesit datang berlari membawa kotak P3K besar. Wajahnya tampak pucat pasi, campuran antara khawatir dan panik. Pertandingan pun mau tak mau akhirnya dijeda terlebih dulu. Para pemain dari kedua tim berkumpul mengelilingi Tania yang meringis kesakitan, sebelum akhirnya ia dituntun untuk dibawa ke pinggir lapangan agar pertandingan bisa segera berjalan lagi.
Di area pinggir lapangan yang sedikit lebih tenang, Rido—pria mungil yang tak lain adalah kekasih Tania—dengan cekatan membuka kotak P3K-nya. Tangannya yang sedikit gemetar berusaha tetap tenang saat membersihkan luka lecet di siku dan lutut Tania dengan cairan antiseptik. Tania meringis kecil, tetapi berusaha tegar.
"Aku nggak kenapa-napa kok, Do," ucap Tania pelan, berusaha meyakinkan Rido yang terlihat sangat khawatir.
Rido menghela napas panjang, mencoba menahan emosi campur aduk yang memenuhi dadanya. "Iya aku tahu. Tapi hati-hati kan bisa dong, Tan. Kamu tuh cewek, masak banyak lecet di mana-mana begini. Nanti lukanya lama sembuh, terus bekasnya hitam."
Tania cemberut, bibirnya mengerucut lucu meskipun dagunya baru saja ditempeli plester. "Terus... kalau aku penuh luka kayak gini, kamu bakal nggak suka sama aku lagi, gitu?" nada bicaranya bercanda tetapi ada kerutan khawatir di matanya.
Rido berhenti sejenak dari aktivitasnya membalut luka. Ia menatap wajah Tania dengan serius, kemudian melanjutkan tugasnya menempelkan plester dengan hati-hati pada dagu dan lutut Tania. Setelah selesai, tanpa banyak bicara, Rido mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut panjang Tania dengan lembut. Wajahnya yang biasanya datar kini tersungging senyum tipis penuh ketenangan.
"Tenang aja, Tan. Aku bakal jadi plester kamu. Setiap kali kamu luka, aku yang akan obatin. Setiap kali kamu sakit, aku yang jagain. Jadi nggak usah khawatir." Suaranya pelan tetapi penuh keyakinan, seperti janji yang diukir dalam hati.
Tania tersenyum, namun sebelum sempat membalas ucapan Rido, sebuah teriakan usil datang dari pinggir lapangan. Seorang pemain tim lawan yang kebetulan berada sedikit ke pinggir sambil minum, berteriak dengan nada menggoda.
"Heh! Kalau udah kelar diobatin, bisa kalian pacarannya nanti dulu aja! Ini pertandingan penting, lho! Masih semifinal, Tan!"
Tania dan Rido sama-sama tersipu. Tania segera menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, lalu berdiri dan berlari kecil mendekati wasit sambil mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa dirinya sudah siap kembali bertanding. Wasit mengangguk, dan pertandingan pun dilanjutkan dengan semangat baru.
Dari kejauhan, Rido duduk di bangku cadangan tim medis, tersenyum bangga melihat Tania kembali berlincah di lapangan. Mereka berdua sangat jelas berbeda, bahkan nyaris semua orang di sekolah tahu dan sering meledek pasangan ini. Bagaimana tidak, mereka ternyata mempunyai tinggi badan yang bisa dibilang outlier di antara pasangan pada umumnya. Tania, dengan postur jangkung atletisnya, menjulang sekitar 172 cm. Sementara Rido... yah, Rido hanya sekitar 163 cm. Perbedaan mencolok itu sering menjadi bahan candaan, baik di kantin, di kelas, bahkan di grup obrolan siswa. "Si Cemiti sama Si Menara," begitu kira-kira julukan yang kadang terdengar.
Tetapi Rido sudah bertekad bulat dalam hatinya. Sejak pertama kali jatuh cinta pada Tania di kelas X, saat melihat Tania berlari di lapangan dengan semangat membara, Rido tahu bahwa perbedaan tinggi bukanlah halangan. Bahkan saat ia memutuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di awal tahun ajaran, semua temannya heran. Rido yang dikenal pendiam dan tidak terlalu suka keramaian, tiba-tiba bergabung dengan ekskul yang penuh dengan kegiatan sosial dan pertolongan pertama.
Namun hanya Rido yang tahu alasan sebenarnya. Itu semua untuk Tania. Supaya Rido bisa selalu ada di dekatnya, di setiap pertandingan, di setiap latihan, di setiap kemungkinan Tania jatuh dan terluka. Ia ingin menjadi orang pertama yang akan mengobati lukanya, bukan hanya luka fisik di lapangan, tetapi juga luka hati jika suatu saat Tania membutuhkan tempat bersandar. Dan hari ini, tekad itu terbayar sudah. Melihat senyum Tania setelah dibalut, mendengar candaannya yang manis, Rido merasa bahwa perbedaan tinggi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan besarnya cinta yang ia rasakan.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan tim Tania. Dengan semangat meluap-luap, Tania berlari ke arah Rido dan tanpa ragu memeluknya erat, membuat Rido hampir terhuyung. Sorak-sorai penonton kembali bergemuruh, kali ini bercampur dengan siulan dan teriakan menggoda. Tania hanya tertawa, lalu berbisik pelan di telinga Rido.
"Makasih udah jadi plester aku hari ini, dan setiap hari."
Rido tersipu, memeluk balik pinggang Tania dengan erat. Dalam hati ia bersyukur pada takdir yang mempertemukannya dengan perempuan luar biasa ini. Dan pada keputusannya untuk mengikuti PMR, yang ternyata membawanya bukan hanya pada keterampilan pertolongan pertama, tetapi juga pada kebahagiaan sejati.