Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Diam-diam suka
Teen
20 Feb 2026

Diam-diam suka

Aku… Siswa biasa yang bersekolah di SMA favorite. Entah apa yang aku harapkan saat itu. Kenapa aku bisa masuk SMA, yang notabennya adalah siswa-siswa famous dan berprestasi. SMA Tuna Bakti. SMA yang paling banyak memenangkan kejuaraan. Baik dalam bidang pelajaran, olahraga, seni dan bidang umum lainnya. Aku termasuk siswa di bidang olahraga. Khususnya tenis lapangan. Aku sering menjuarai kejuaraan. Sebenarnya, aku nggak tertarik sedikit pun dengan tenis. Awalnya… aku cuma keseringan nemenin mama kursus tenis. Lama kelamaan, kayaknya tenis menyenangkan. Aku mulai mencoba. Dan akhirnya berani ikut pertandingan. Sudah banyak pertandingan yang aku ikuti. Nggak disangka, karena kerja kerasku aku bisa juara satu Indonesia.SMA Tuna Bakti bukan sekolah pilihanku. Aku masuk ke sana gara-gara papa ngebet banget aku sekolah di sana. Ya… mau nggak mau aku harus nurut. Namaku Vaisha Hashkara. Biasa dipanggil Vaisha.Kelas 11 IPS 2. Di SMA ini ada satu cowok yang bikin aku heran.Yaitu Ajun. Ajun Aldevaro. Kelas 11 IPS 1. Kapten basket yang famouuusss banget. Hampir semua cewek-cewek di sekolah ngefans sama dia. Rebutan, siapa duluan yang jadi pacarnya. Aku nggak mau ikutan acara kayak begituan. Ngrebutin cowok yang nggak jelas.Ajun emang ganteng, pinter, jago basket, ramah, pokoknya multi talent. Tapi kalo mandang cowok dari kelebihannya aja, itu sih bukan tulus namanya.Hari ini pertandingan basket rutin SMA Tuna Bakti dengan SMA Merah Putih. Semua siswa, apalagi yang cewek-ceweknya berteriak memanggil nama Ajun. Itu sudah menjadi hal biasa. Jadi nggak heran lagi itu terjadi setiap Ajun tanding. Aku sama sekali nggak berminat untuk nonton. Tapi kali ini aku nggak bisa menghindar. Secara aku ketua PMI terbaik sedaerah tahun ini. Jadi terpaksa, aku harus nonton sampai selesai. Kalo aku nggak nonton, nanti ada yang cidera… trus akunya nggak ada, bisa abis dimarahi aku.Pertandingan sudah setengah jalan. SMA Tuna Bakti tetap memimpin. Sorak-sorak penonton terdengar semakin keras. Dan itu yang membuat aku semakin bosan untuk nonton.Saat Ajun ingin melakukan slum dunk, tiba-tiba ia didorong lawan sampek kakinya terkilir. Ia terlihat kesakitan, tapi ia tetap tegar dan bertahan. Aku hanya melihatnya dengan lamunan.“Vaisha, itu ada yang cedera. Cepetan bantuin!” ucap Chika, salah satu anggota PMR.“Vais, apa yang kamu lakuin” kata Sheina, sahabatku sekaligus satu-satunya anggota PMI sepertiku.Aku tetap tak menggubris.“Vaisha!” teriak Sheina sambil menepukku.Aku tersadar dan langsung berdiri menuju Ajun.“Biarin aja dia yang nolongin. Dia kan nggak suka basket. Mungkin kalo nolongin kapten basket, dia bisa suka basket!” ucap Sheina.“Suka basket, atau suka yang main basket?” canda Chika.Mereka berdua saling tatap dengan senyum.“Ka… kamu nggak… papa? Kamu bisa tahan kan?” tanyaku sedikit terbata dan gugup.“Aku bisa tahan kok” jawabnya singkat.Tanpa basa-basi aku langsung meraih tangannya dan menaruhnya di pundakku. Lalu membawanya ke UKS. Entah aku sadar atau tidak telah melakukan hal itu. Tapi jujur aku benar-benar tidak sadar. Hal pertama yang aku lakukan, adalah melepas sepatunya.“Eh… tunggu-tunggu, biar aku sendiri aja yang nglepasin sepatuku.”“Kok gitu?”“Udah biar aku sendiri” pintanya.“Aku aja”“Udahlah aku aja”Tanpa panjang lebar aku membentaknya.“Kamu itu gimana sih, udah bagus-bagus aku bantuin, malah sok pinter bisa sendiri. Mendingan tadi nggak usah aku tolongin. Toh kamu bisa sendiri” emosiku kuluapkan dalam kata demi kata.Sejenak aku terdiam. Ajun masih memandangiku. Anehnya ia sedikit tersenyum.Aku tersadar.“Ma… maaf! Aku kebablasan!” ucapku“Nggak papa! Nggak ada masalah kok.” jawabnya, lagi-lagi dengan tersenyum.“Kamu kok senyum sih, nggak malah marah?”“Buat apa marah, kalo orang di depan aku ini nggak ngebuat aku marah”“Tapi aku kan udah bentak-bentak kamu”“Itu bukan bentak, tapi berjuang untuk membantu. Aku berpikir kalau kamu berjuang buat bantuin aku”“Nggak juga!”“Itu kan pendapat aku”Aku melepas sepatunya dan mulai mengobatinya.“Aduh, sakit tau!” helanya.“Maaf!”Lalu ia senyam-senyum lagi melihatku.Aku balik menatapnya.“Kamu, kenapa senyam-senyum gitu. Ihh… ngeri deh!”“Kamu… cantik!” ucapnya.“Heleh, aku nggak akan terbujuk rayuan kamu. Meskipun semua temen bahkan semua cewek di sekolah ini suka dan ngefans banget sama kamu, aku nggak bakal kayak mereka. Camkan itu!”“Aku nggak ngeharusin kamu suka sama aku. Tapi kayaknya… ”“Apa?” tanyaku penasaran“Aku… suk…”Tiba-tiba…Semua cewek-cewek yang tadi nonton pertandingan masuk dan ngerumunin Ajun. Saking banyaknya aku sampek terdorong ke belakang.“Vaisha, kamu nggak papa kan?” tanya Sheina.“Nggak papa kok. Tenang aja, Vaisha tahan banting”“Iya, percaya. Eh… gimana Ajun?”“Udah aku obatin. Oh yaa, tadi Ajun tuh senyam-senyum sama aku. Aku jadi ngeri deh”“Apa, senyam-senyum? Itu tandanya… Ajun, suka sama kamu”“Ya nggak mungkin lah. Kamu tuh ada-ada aja”“He, em!!!”Hari ini bete banget rasanya. Sheina nggak masuk sekolah, padahal dia yang nemenin aku setiap saat. Pelajaran semuanya jamkos, karena hari ini ada event pertandingan gitu di sekolah. Jadi lariku ya… ke taman sekolah.“Kalo kebanyakan ngelamun, nanti bisa kesambet lo”“Siapa juga yang ngelamun”“Ih.. ih.. ih… udah ketauan tapi nggak mau ngaku”“Kamu kenapa sih gangguin aku?”“Emang nggak boleh, akukan juga butuh temen”“Temen kamu kan banyak, nggak aku aja. Lagi pula aku bukan temen kamu, kenal aja enggak.”“Kalo aku maunya kamu yang jadi temen aku, gimana? Meski kamu belum kenal aku, aku kan bisa kenal kamu.”“Terserah deh mau kamu!”Hening di antara kami.“Oh ya, gimana kaki kamu?”“Udah mendingan kok. Kan yang ngobatin, ngobatinnya pake… cinta”“Kamu apaan sih? Nggak jelas”“Boleh ngomong sesuatu nggak?”Aku mengangguk.“Aku sebenernya, udah tau kamu sejak kelas 10. Saat itu kamu lagi sendirian, sambil baca buku di taman ini. Padahal semua cewek bahkan semua murid lagi nonton pertandingan basketku. Sejak itu aku penasaran sama kamu. Kamu tuh terlihat beda sama cewek-cewek yang lain. Tapi aku nggak berani deketin kamu, aku kira kamu nggak bakal suka sama aku. Oh ya, soal kemarin aku sengaja ngebuat diri aku cedera. Aku dapat informasi kalo yang jadi PMInya itu kamu. Aku minta bantuan ama kapten basket Merah Putih untuk sengaja dorong aku saat aku slam dunk. Agar aku bisa ketemu, dan bisa bicara sama kamu. Jadi aku minta maaf, udah ngerepotin kamu. Dan thanks juga!”Aku hanya terdiam tak percaya. Bukan masalah Ajun udah kenal aku, tapi kemarin Ajun udah sengaja nyelakain dirinya sendiri dan bohong, cuma buat bisa ngomong sama aku.“Jadi kamu bohong sama aku”“Bukan gitu maksud aku Va, dengerin aku dulu!”“Tapi kamu bohong kan sama aku. Aku nggak percaya kamu bisa lakuin itu. Kamu mau ngomong sama aku, ya ngomong aja, nggak perlu bohong segala”“Emang jadi masalah kalo aku bohong sama kamu?”“Ya Iyalah, akukan paling nggak suka sama orang yang bohong. Meskipun Bohongnya sekecil apapun. Apalagi bohongnya sampek nyelakain dirinya sendiri, kayak kamu!”“Kamu tuh lebay ya! Kayak anak kecil!”“Kamu bilang apa, aku lebay, kayak anak kecil? Kamu tuh yang kayak anak kecil. Apa-apaan coba, pake bohong segala!”“Eh, kamu kok ngomong gitu. Aku kan cuma becanda. Kamu malah ngata-ngatain aku!”“Yang mulai duluan siapa, kamu!”“Eh, cewek nggak jelas… kamu tuh emang agak sinting ya! Nyesel aku ngomong sama kamu!”“Ya udah, trus kenapa masih di sini? Males tau ngeliat kamu!”“Oke! Aku pergi. Jangan harap aku bicara lagi sama kamu!” Ajun berlalu. Sepertinya ia sungguh-sungguh marah.Matahari bersinar dengan hangatnya. Burung-burung terbang melintasi angkasa. Semua orang berusaha bangun dari mimpi mereka. Segera melakukan apa yang telah menjadi tradisi mereka. Entah kenapa aku bangun kesiangan hari ini. Mungkin aku lelah. Atau terlalu memikirkan masalah kemarin.“Aduh… ma, aku udah telat nih. Aku nggak usah sarapan ya!”“Makanya kalo tidur jangan larut malam, kesiangankan jadinya!”“Siapa yang tidur larut malam. Aku tuh kemarin tidur jam 10. ”“Ya udah, kamu bawa bekal aja!”“Nggak usah, aku langsung berangkat. Assalamuallaikum!”“Eh… ya nggak boleh gitu. Nih bawa!Kalo nanti tiba-tiba kamu pingsan gimana?”Mama mengulurkan sekotak sandwich padaku.Aku terpaksa menerimanyanya, nanti kalo nggak aku terima bisa panjang urusannya. Dan aku malah makin telat.Dengan sigap aku melajukan motorku.Sesampainya di sana bel sudah berbunyi. Turun dari motor aku langsung berlari. Berlari cepat, sangat cepat.Tiba-tiba…Brukkkk…Hatiku seperti melayang di angkasa. Bersama peri-peri yang asyik berdansa. Dengan cinta dan bahagia. Senyum tawa menyertainya.Saat kutatap matanya aku langsung bangkit.“Maaf, aku nggak sengaja. Aku nggak bermaksud nabrak kamu” ucapku tertunduk.“Nggak papa, nggak masalah kok, cewek aneh”Aku tak menganggapnya dan segera pergi…Waktu kujalani seperti biasa.Pulang sekolah…“Vaisha… aku duluan ya. Bye!” pamit Sheina, saat aku masih merapikan bukuku.Aku tersenyum kepadanya.Kelas mulai sepi…Tiba-tiba hp-ku bergetar. Nomornya nggak dikenal. Tapi aku tetap membacanya.To: Vaisha Nohan Hashkara‘Aku minta maaf! Sekarang aku tunggu di lapangan basket. Jangan takut aku bukan orang jahat. Aku mohon. Plisss Vaish!Aku bingung, tapi aku tetap menemuinya. Kulangkahkan kakiku segera. Sebelum waktu berlalu dengan sendirinya.Aku berdiri di tepi lapangan basket. Lama sekali. Hingga aku tak sabar.“Sorry, udah nunggu lama ya? Malah jadi kamu yang nungguin aku.”Aku berbalik ke suara itu.“Ajun!” ucapku lirih“Aku minta maaf, soal kemarin. Aku udah emosi sama kamu. Dan aku udah ngata-ngatain kamu. Abisnya kamu juga sih! Kamu yang mulai duluan!”Aku sedikit menatapnya tajam.“Udahlah, lupain masalah itu! Sekarang yang mau aku omongin bukan masalah itu. Aku mau ngomong kalo aku… emm… aku… aku…”Aku tetap mendengarkanya meski kata-katanya tidak terlalu jelas dan patah-patah.“Oke! Jujur, pertama kali ketemu kamu aku udah tertarik sama kamu. Dan aku… suka sama kamu”“Suka dalam arti?”“Aku… mencintai kamu”Hening seketika.“Kamu mau nggak, jadi… pacar aku!”Aku tetap diam.“Kamu nggak suka dengan perkataan aku?”“Bukan! Bukannya gitu. Aku kaget aja, orang sebaik kamu, seganteng kamu, sepinter kamu, dan… seperfect kamu, suka sama aku. Cewek nggak jelas, yang nggak sesempurna malaikat.”“Liat orang jangan luarnya aja. Mandang orang jangan kelebihannya aja. Itu kan yang ada di pikiran kamu. Dan aku suka cara berpikir kamu”“Gimana ya. A… aku bingung”“Kalo kamu nggak mau nerima aku, nggak papa”“Kamu serius?”“Iya!”“Aku… nggak bisa”“Nggak papa, itu hak kamu!”“Maksudnya aku nggak bisa nolak kamu!”“Beneran? Serius?”Aku mengangguk.

Kisah Si Burung Bayan dan Si Penggetah
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Si Burung Bayan dan Si Penggetah

Tersebutlah seorang lelaki pada zaman dahulu. Tidak jelas siapa nama dia sesungguhnya, namun dia dikenal dengan nama si Penggetah. Si penggetah ini diambil dari pekerjaan lelaki itu sebagai penangkap burung dengan menggunakan getah. Si Penggetah sangat mahir dalam pekerjaannya. Burung-burung hasil tangkapannya kemudian dijual, dan uang hasil penjualan digunakan untuk kehidupan sehari-hari.Si penggetah sudah menjalani pekerjaanya bertahun-tahun, namun masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Ratusan burung telah berhasil dia tangkap, namun dia belum berhasil menangkap burung bayan yang terkenal dapat berbicara seperti manusia. Oleh karena itu pada hari yang telah dia tentukan, dia berangkat ke hutan yang terkenal tempat bersarangnya burung bayan. “ Jika nanti aku berhasil menangkap burung Bayan, aku akan mengurungnya dengan sangkar emas. Aku juga akan merawatnya dengan baik.” Janji si Penggetah dalam hati. Sambil menaburkan getah pada batang phon yang diduga tempat persinggahan Burung bayan.Pada saat kesokan harinya si Penggetah memeriksa hasil pekerjaannya kemarin. Dia sangat bergembira setelah mendapati seekor burung Bayan terjebak dalam getah buatannya. Si Penggetah lantas membersihkan bulu-bulu burung Bayan yang masih ditempeli getah. Seraya memasukan baurung bayan hasil tangkapannya, si Penggetah berujar pelan.” Sesungguhnya aku telah berjanji jika berhasil menangkapmu, maka aku akan memasukan kedalam sangkar emas dan memeliharamu dengan baik. Namun saat ini aku sangat sulit melaksanakan janjiku karena kondisiku sangat miskin.”Secara tidak terduga, burung Bayan itu menukas ucapan si Penggetah.” Jika engkau memang menghendaki emas, tampunglah kotoranku. Percayalah, kotoranku itu kelak akan berubah menjadi emas.”Meski awalnya ragu, namun si Penggetah melaksanakan nasihat si burung Bayan. Dia menampung kotoran si burung bayan dan menyimpannya. Kejaiban terjadi, pada saat esok hari nya kotoran si Burung bayan berubah menjadi butiran-butiran emas. Si Penggetah lantas mengumpukan butiran-butiran emas tersebut. Sampai dirasanya cukup, dia menjual butiran-butiran emas itu dan membeli sebuah sangkat emas besar untuk si burung Bayan. Si penggetah tidak melupakan janjinya pada si burung Bayan, dia juga membeli makanan dan buah-buahan yang sangat disukai si burung bayan.Berita mengenai Burung Bayan ajaib yang dimiliki si Penggetah dalam waktu singkat langsung menyebar. Kabar keberadaan burung Bayang yang kotorannya dapat berubah menjadi emaspun sampai ke telinga Raja Helat yang merupakan raja yang berkuasa di wilayah si Penggetah tinggal. Raja Helat sangat rakus dan kejam orangnya. Jika dia menginginkan sesuatu, maka apa yang diingikan tersebut harus menjadi miliknya. Dia tidak akan segan-segan merampas dan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan setiap keinginannya. Tidak berapa lama setelah mendengar kabar tersebut, Raja Helat langsung memerintahkan hulubalangnya yaitu Bujang Selamat untuk merampas Burung Bayan ajaib itu dari tangan si Penggetah. “ Minta burung bayan itu agar dapat kumiliki, namun jika pemiliknya menolak, rampas saja dengan kekerasan.”Bujang Selamat lantas berangkat menuju gubug tempat dimana Si Penggetah tinggal. Sesuai perintah raja Helat, Bujang Selamat meminta si Penggetah menyerahkan Burung Bayan miliknya kepada Raja Helat.Sesungguhnya Si Penggerah sangat enggan menyerahkan Burung Bayan tersebut kepada Bujang Selamat, namun untuk menolakpun dia tidak memiliki keberanian. Dia tahu hukuman berat yang sedang menunggunya jika dia menolak keinginan Raja Helat. Dai pun memberikan usul.” Bagaimana jika kamu tanya sendiri saja perihal keinginan Sri Baginda kepada Burung Bayan peliharaanku.”Bujang Selamat setuju dengan usula dari Si Penggetah.“Wahai Burung Bayan.” Kata si Penggetah.” Tentu engkau sudah mendengar pembicaran aku dengan Hulubalang istana ini. Sekarang jawablah, apakah engkau bersedia menjadi peliharaan Raja Helat atau tidak. “Burung Bayan menatap bujang Selamat lekat-lekat sebelum menjawab.” Bujang Selamat, jika Raja Helat mampu memenuhi syarat-syarat yang kuajukan, aku bersedia dengan suka rela menjadi peliharaan Raja Helat.”“Syarat apa yang engkau kehendaki?” Tanya Bujang Selamat.“Syarat yang kuajukan sangat mudah.” Ucap burung Bayan.” Aku akan bercerita tentang berbagai kisah. Aku ingin Raja Helat dan keluarganya mendengarkan ceritaku sampai selesai. Sebelum ceritaku berakhir, aku tidak boleh berpindah kepemilikan. Sampaikan kepada Raja Helat mengenai permintaanku ini. Jika Raja Helat bersedia, maka aku juga akan bersedia pula menjadi peliharaanya.”Bujang Selamat segera melaporkan persyaratan yang diajukan Burung Bayan kepada Raja Helat. Mendengar cerita hulubalangnya, Raja Helat tanpa berpikir panjang segera menyetujui persyaratan itu. Raja helat berpendapat syarat yang diajukan Burung Bayan sangat mudah. Burung Bayan pun lantas dibawa ke Istana kerajaan.Dihadapan Raja Helat dan keluarganya burung Bayan mulai bercerita. Sangat menarik ternyata cerita yang disampaikan si Burung Bayan. Raja Helat dan keluarganya yang mendengar seperti disihir untuk terus mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan si Burung Bayan. Mereka ingin terus mendengarkan cerita itu sampai selesai. Melihat antusiasme Raja Helat dan keluarganya, Si Burung Bayan kembali mengajukan syarat.” Hendaknya Paduka membayar cerita hamba ini dengan segantang emas murni, makanan dan minuman untuk ku.”“Segantang emas murni?” bola mata Raja Helat membesar, sifat aslinya yang kikir terlihat jelas diwajahnya.” Aku harus membayar ceritamu dengan segantang emas murni, makanan dan juga minuman untukmu?”“Benar.” Jawab Si burung Bayan. “ Sesuai perjanjian kita sebelumnya, jika hamba belum selesai bercerita, maka hamba tidak boleh berpindah pemilik. Untuk cerita hamba ini paduka harus membayar kepada pemilik hamba yaitu si Penggetah.”Raja Helat terpaksa memenuhi permintaan si burung Bayan. Segantang emas memang jumlahnya sangat banyak bagi rakyat, namun bagi Raja Helat jumlah itu sedikit jika dibandingkan dengan hartanya yang disimpan di gudang istana. Gudang kerajaan sangat banyak menyimpan emas, makanan dan minuman. Itu didapatkan dari pajak kepada rakyat yang sangat tinggi. Semua harta dan makanan itu ditimbun hanya untuk kesejahteraan dirinya dan keluarganya. Sama sekali tidak terpikir olehnya mengenai kesejahteraan Rakyat yang dipimpinnya. Karena dia berpikir bahwa hartanya tidak akan habis untuk membayar seluruh cerita si burung Bayan, Raja Helatpun memberikan permintaan si Burung Bayan kepada Si penggetah.Si Penggetah yang merasa harta yang diberikan kepadanya bukalah haknya, melainkan hak seluruh rakyat miskin yang selama ini mebayar pajak tinggi untuk kerajaan. Oleh karena itu si Penggetah justru membagikan kembali harta dan makanan yang diterimanya kepada rakyat yang ada dikerajaan tersebut. ]Diluar dugaan Raja Helat, Si Burung Bayan benar-benar cerdik. Ceritanya tidak hanya menarik, namun juga panjang dan terus bersambung. Raja Helat dan keluarganya seperti terkena candu untuk terus mendengarkan cerita dari si Burung Bayan. Setiap kali menyelesaikan satu bagian dari cerita panjuangnya, si Burung Bayan meminta bayaran segantang emas murni, makanan dan minuman. Raja Helat terus memenuhi permintaan tersebut. Karena cerita itu terus berkembang, hingga berbulan-bulan kemudian cerita itu belum juga selesai. Telah berpuluh-puluh gantang emas diberikan Raja Helat kepada si Penggetah, disamping berkarung karung makanan, buah-buahan dan minuman. Raja Helat tidak menyadari bahwa gudang penyimpanan hartanya semekin lama semakin kosong. Sampai akhirnya tibalah saat dimana seluruh harta Raja Helat yang disimpan digudangnya habis. Raja Helat yang kikir saat ini tidak memiliki harta. Rakyat yang selama ini dibantu oelh si Penggetah jadi tahu perilaku buruk Raja mereka yang suka menimbun harta untuk dirinya sendiri. Mereka melihat Raja Helat tidak pernah memikirkan kesejahteraan mereka. Rakyat yang marah akhirnya bersatu padu dengan perajurit dan hulubalang kerajaan untuk menggulingkan kekuasaan Raja Helat dan keluarganya.Rakyat, hulubalang dan para perajurit sepakat untuk mengangkat si Penggetah menjadi raja mereka menggantikan Raja Helat yang kikir dan kejam.Bertahtalah si penggetah selaku Raja. Dia mengangkat Si Burung Bayan menjadi penasehat kerajaan. Karena saran dan nasihat si Burung Bayan yang cerdas dan bijak, si Penggetah dapat menjalankan kerajaan itu dengan baik. Kesejahteraan Rakyat senantiasa menjadi prioritas utama, dia tidak pernah menumpuk kekayaan seperti yang dilakukan oleh Raja Helat.Segenap Rakyat kerajaan dapat hidup dengan tenang, damai dan sejahtera dalam pemerintahan si penggetah. Sementara si Penggetah pun hidup berbahagia bersama si burung Bayan yang tetap ditunjuknya selaku penasihat kerajaan."Pesan Moral dari Cerita Anak Indonesia Kisah Si Burung Bayan dan Si Penggetah adalah kekejaman dan keserakahan penguasa akan ditumbangkan oleh kekuatan rakyat yang dipimpin oleh penguasa. Hanya penguasa yang senantiasa memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan rakyatnya saja yang akan dicintai oleh rakyatnya. Pesan moral lainnya adalah jangalan berlaku kikir dan kejam, karena kebahagiaan sejati akan didapatkan dari kedermawanan dan kasih sayang."

Kisah Ketobong Keramat
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Ketobong Keramat

Alkisah pada zaman dahulu kala, di negeri Pelalawan berkuasalah seorang raja yang dikenal sebagai Raja Pelalawan. Penduduknya hidup tenteram, sejahtera dan rukun. Namun, di antara penduduk tersebut, terdapat seorang laki-laki setengah baya yang hidup sangat miskin. Meskipun miskin, ia gemar menolong orang lain. Setiap hari ia pergi menajuh di Sungai Selempaya yang mengalir di negeri itu. Dari hasil menangkap ikan itulah ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.Selain menangkap ikan, si Miskin itu memiliki kepandaian mengobati orang sakit. Kepandaiannya itu ia gunakan untuk menolong setiap orang yang datang kepadanya. Karena ia suka menolong orang sakit, maka ia pun dipanggil Bomo Sakti (Tabib Sakti). Ia sangat pandai mengambil hati masyarakat. Jika ada orang membutuhkan pertolongannya, ia tidak pernah menolak. Selain itu, ia juga tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang telah diberikannya. Sifatnya yang rendah hati itu, membuat masyarakat di negeri Pelalawan senang kepadanya. Berbeda dengan bomo-bomo lainnya, mereka memiliki sifat angkuh. Untuk setiap obat yang diberikan kepada orang sakit, ia selalu meminta bayaran yang sangat tinggi dan selalu menolak apabila dimintai pertolongannya oleh orang miskin.Suatu hari, kepandaian Bomo Sakti mengobati orang sakit itu terdengar oleh Raja Pelalawan. Maka diutuslah dua orang pengawal istana untuk menjemput Bomo Sakti untuk dibawa ke istana. Sesampainya di hadapan raja, Bomo Sakti langsung memberi hormat, “Ampun Baginda Raja! Ada apa gerangan Baginda memanggil saya menghadap?” tanya Bomo Sakti penasaran. “Wahai Bomo Sakti! Aku sudah mendengar tentang kepandaian kamu mengobati orang sakit. Bersediakah kamu aku angkat menjadi bomo di istana ini?” tanya Baginda Raja kembali. “Ampun beribu ampun, Baginda! Saya ini hanya orang miskin dan bodoh. Tuhanlah yang menyembuhkan mereka, saya hanya berusaha melakukannya,” jawab Bomo Sakti merendah. Baginda Raja pun mengerti kalau Bomo Sakti menerima tawarannya itu dengan bahasa yang sangat halus. Akhirnya, Bomo Sakti pun diangkat menjadi bomo resmi di Kerajaan Pelalawan. Sejak itu, Bomo Sakti semakin terkenal hingga ke berbagai negeri. Kehidupan keluarganya berangsur-angsur menjadi makmur. Meskipun namanya sudah terkenal di mana-mana, Bomo Sakti tetap bersikap rendah hati. Ia masih mengerjakan pekerjaannya yang dulu yaitu pergi menangkap ikan di sungai Selempaya.Suatu waktu, Baginda Raja memanggil Bomo Sakti menghadap kepadanya. Setelah Bomo Sakti menghadap, Baginda Raja pun berkata, “Wahai Bomo Sakti, sudah lama aku menginginkan anak. Aku sudah mendatangkan bomo dari berbagai negeri, namun belum ada yang berhasil. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, aku berharap kamu mau mengobati permaisuriku agar kami bisa mendapatkan keturunan,” pinta Raja Pelalawan dengan penuh harapan. Karena permintaan raja, Bomo Sakti tidak bisa menolak. “Hamba akan berusaha, Baginda! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan keinginan Baginda,” jawab Bomo Sakti dengan rendah hati.Setelah itu, Bomo Sakti pun mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan takdir Tuhan Yang Mahakuasa, usahanya berhasil. Beberapa hari setelah diobati, permaisuri pun mengandung. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, genaplah 9 bulan kandungan permaisuri. Maka lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Sejak itu, semakin masyhurlah nama bomo yang sakti itu. Raja dan permaisuri serta seluruh penduduk negeri Pelalawan sangat senang dan gembira menyambut kelahiran sang Putri kecil yang cantik itu. Akan tetapi, Bomo Sakti yang telah berhasil mengobati sang permaisuri justru merasa menyesal, karena telah melanggar larangan yang pernah ditetapkan oleh gurunya. Larangan tersebut adalah ia tidak dibenarkan mengobati orang yang sehat dan orang yang sudah mati. Jika ia melanggar larangan itu, hidupnya akan teraniaya.Jika berladang, padinya takkan berisi. Jika mencari ikan, takkan dapat. Jika berlayar, angin berhenti. Jika beternak, takkan berkembang biak. Oleh karena itu, ia berniat untuk berhenti menjadi bomo. Akan tetapi, jika ia berhenti begitu saja, tentu Baginda Raja akan murka kepadanya. Ia pun kemudian mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa berhenti menjadi bomo tanpa membuat Baginda Raja merasa kecewa.Setelah beberapa lama berpikir, Bomo Sakti pun menemukan cara yang baik. Keesokan harinya, ia mengutarakan isi hatinya kepada Raja Pelalawan. “Ampun, Baginda Raja!Bukannya hamba tidak hormat terhadap titah Baginda. Tadi malam hamba bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Ia menyuruh hamba berhenti menjadi bomo. Jika hamba tidak menuruti perkataan kakek itu, maka keluarga hamba akan teraniaya,” cerita Bomo Sakti pada Raja. Mendengar cerita Bomo Sakti, Baginda Raja bisa memakluminya. “Baiklah, Bomo Sakti. Aku rela kamu berhenti menjadi bomo kerajaan ini,” jawab Baginda Raja tersenyum. Sejak saat itu, Bomo Sakti resmi berhenti menjadi bomo. Penduduk negeri pun tidak lagi datang untuk meminta bantuannya. Bomo Sakti kembali menjalani hidupnya sebagai penajuh untuk menghidupi keluarganya.Seiring dengan berjalannya waktu, sang Putri pun sudah berumur lima belas tahun. Sebagai anak satu-satunya, sang Putri sangat disayangi oleh Baginda Raja dan permaisuri. Ke mana pun ia pergi selalu dikawal oleh puluhan dayang-dayang. Suatu hari, sang Putri jatuh sakit keras. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Sudah puluhan bomo didatangkan dari berbagai negeri, namun belum ada seorang pun yang bisa menyembuhkan sang Putri. Baginda raja dan permaisuri semakin cemas melihat kondisi putrinya yang semakin lemas. Dalam suasana cemas itu, tiba-tiba Baginda Raja teringat dengan Bomo Sakti yang pernah dilantiknya sebagai bomo resmi kerajaan lima belas tahun yang lalu. Maka diperintahkannya beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti itu. Sudah berhari-hari pengawal istana mencari Bomo Sakti, namun tak kunjung mereka temukan. Karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, meninggallah Putri Kerajaan Pelalawan tersebut. Tersebarlah berita kematian sang Putri hingga ke seluruh pelosok Negeri Pelalawan. Baginda Raja sangat sedih dan menyesal, karena Bomo Sakti yang sangat diharapkan untuk menyembuhkan putrinya tidak pernah datang.Melihat putri tunggalnya telah meninggal, Baginda Raja segera mengutus beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti yang selama ini belum berhasil ditemukannya. Malam itu juga dengan susah payah pengawal istana berhasil menemukan Bomo Sakti di sebuah pondok dekat sungai Selempaya. Karena Baginda Raja yang memanggil, maka berangkatlah Bomo Sakti ke istana. Sesampainya di istana, Raja berkata, “Hai Bomo Sakti, hidupkanlah kembali putriku ini. Buktikanlah kesetiaanmu sekali lagi kepadaku.Jika kamu menolak permintaanku, maka kamu dan keluargamu akan aku pancung di depan orang ramai.” Mendengar ancaman Baginda Raja, Bomo Sakti pun menjadi ketakutan. Demi keselamatannya dan keluarganya, terpaksalah ia menuruti kehendak rajanya. Saat itu juga Bomo Sakti segera mempersiapkan perlengkapan untuk upacara pengobatan yang belum pernah dilakukannya.Bomo Sakti mulai menyalakan puluhan lilin dan memasangnya di seluruh sudut istana. Kemudian membakar kemenyan hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang hadir di tempat itu harus diam di tempat masing-masing. Sambil membaca doa, Bomo Sakti menepungtawari sang Putri yang sudah meninggal itu. Setelah itu, ia pun memukul ketobong sambil mengucapkan doa. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, setiap kali ia memukul ketobongnya tampak ketobong itu seperti berapi-api. Setelah hampir dua jam lamanya ia memukul ketobongnya sambil membaca doa, selubung yang menutupi sang Putri tiba-tiba bergerak. Semua orang yang melihat kejadian itu sangat kagum bercampur rasa takut. Tak lama, terdengar sang Putri bersin. Kemudian sang Putri duduk, seolah-olah baru bangun tidur. Akhirnya, sang Putri pun hidup kembali.Baginda Raja dan permaisuri sangat senang atas hidupnya kembali putri tunggalnya itu. Sebaliknya, Bomo Sakti merasa sangat menyesal menghidupkan kembali sang Putri. Ia pun segera kembali ke perahunya yang tertambat di tepi sungai. Sambil mengayuh perahunya meninggalkan Kerajaan Pelalawan, Bomo Sakti menangis karena telah melanggar larangan gurunya yang kedua kalinya. Tengah mengayuh perahunya, ia melihat pengawal istana sedang mengejarnya di belakang. Tak lama, ia mendengar suara teriakan dari arah perahu itu. “Hai Bomo Sakti! Tungguuu…tungguuu…! Baginda Raja memanggilmu kembali ke istana!” teriak seorang pengawal. Bomo Sakti terus saja mengayuh perahunya.Ia tidak menghiraukan suara teriakan itu.Setelah sampai di muara sungai, perahu Bomo Sakti tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, perahu pengawal pun menyusul dan mendekati perahu Bomo Sakti. Sebelum turun dari perahunya, Bomo Sakti berpesan kepada pengawal istana yang mengejarnya. “Hai Pengawal, sampaikan kepada rajamu, perintahnya telah saya laksanakan, hingga saya harus melanggar perintah guru saya. Saya bersumpah tidak akan menginjak bumi Pelalawan ini selagai saya masih hidup,” tegas Bomo Sakti kepada pengawal. Setelah itu, ketobong yang digunakan untuk menyembuhkan sang Putri dibuangnya ke dalam sungai. Ketika ketobong itu dibuang, tiba-tiba air sungai menjadi berombak. Pada saat itu pula, Bomo Sakti melompat ke darat sambil berteriak, “Jika kalian sampai di Pelalawan, sampaikan salamku kepada istri dan anak-anakku. Katakan kepadanya, jika mereka ingin bertemu denganku, suruh mereka datang ke Selempaya setiap hari Jumat pagi.” Setelah ia berpesan, tiba-tiba ombak kembali menjadi tenang. Namun, dari dalam air terdengar bunyi ketobong seperti dipukul orang. Bomo Sakti pun menghilang dan tak pernah kembali.Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat mempercayai bahwa Bomo Sakti masih hidup sebagai orang hunian (makhluk halus). Masyarakat yang menajuh di Sungai Selempaya sering melihatnya dalam wujud seperti manusia biasa. Konon, hingga kini apabila terjadi hujan panas, sering terdengar bunyi ketobong di sungai itu.

Kisah Bujang Buta
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Bujang Buta

Alkisah, zaman dahulu kala, di sebuah kampung di Riau, hiduplah seorang janda tua bersama tiga orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Bujang Perotan, anak kedua bernama Bujang Pengail, dan bungsunya bernama Bujang Buta. Namun, ketiga anaknya tersebut memiliki perangai berbeda-beda. Bujang Perotan dan Bujang Pengail memiliki sifat buruk, mereka selalu berniat mencelakakan adiknya. Sebaliknya Bujang Buta, meskipun buta, ia adalah anak yang sabar dan tekun bekerja.Pada suatu hari, ketiga bersaudara tersebut pergi ke hutan untuk merotan dan mengail ikan. Di tengah mereka asyik mengail ikan, Bujang Perotan dan Bujang Pengail meninggalkan Bujang Buta sendirian di hutan belantara. Saat Bujang Buta tersadar kedua abangnya meninggalkannya, ia pun berteriak-teriak memanggil abangnya. “Abaaang… ! Kalian di mana?” teriak Bujang Buta. Berkali-kali sudah Bujang Buta berteriak memanggil abangnya, namun ia tidak mendengar jawaban. Hingga malam menjelang, Bujang Buta tidak menemukan kedua abangnya.Dengan tertatih-tatih dan disertai perasaan yang takut, Bujang Buta terus berjalan mengikuti kaki melangkah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia pun meraba-raba dan mengambil benda itu. “Ah, sepertinya ini buah mangga,” gumam Bujang Buta. Digigitnya buah itu sampai hanya bijinya yang tersisa. “Mmm, manis sekali mangganya,” kata Bujang Buta dalam hati. Oleh karena masih merasa lapar, Bujang Buta menghisap-hidap biji mangga tersebut. Karena asyiknya, tanpa diduga biji mangga tertelan.“Adooi Mak!‘ pekik Bujang Buta. Bersamaan dengan itu, matanya terbelalak. Ia sangat terkejut ketika ia bisa melihat dedaunan dan ranting-ranting kecil yang bergoyang di hadapannya. Bujang Buta kemudian melihat ke langit dan ia bisa melihat indahnya sinar rembulan. “Alhamdulillah…! Terima kasih ya Allah! Mataku sudah dapat melihat dunia,” ucap Bujang Buta sambil memejamkan matanya.Namun, ketika ia membuka matanya kembali, di hadapannya sudah ada dua ekor beruk dan seekor harimau. Bujang Buta menjadi ketakutan, dikiranya harimau itu mau menerkamnya. “Jangan takut, Orang Muda!” seru si Harimau. Bujang Buta kaget bukan main, ia tidak menyangka kalau harimau itu berbicara.“Hendak ke manakah engkau ini, Orang Muda?” tanya si Beruk. “Saya hendak mencari kampung,” jawab Bujang Buta pelan karena takut. “Mengapa begitu?” tanya si Harimau pula. Lalu, Bujang Buta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.Setelah mendengar cerita Bujang Buta, mengertilah ketiga binatang itu bahwa Bujang Buta adalah anak yang baik. Lalu ketiga binatang itu memberinya senjata.“Hai, orang muda! Karena engkau adalah orang yang baik, maka kami membekalimu terap dan keris,” katakedua beruk itu sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Jangan khawatir, Orang Muda! Senjata itu bisa bergerak sendiri sesuai dengan keinginanmu,” tambah seekor beruk.Si Harimau pun tidak mau ketinggalan. “Untuk melengkapi senjatamu, aku membekalimu penukul yang bisa memukul sendiri sesuai dengan perintahmu,” jelas si Harimau sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Terima kasih, sobat! Kalian memang binatang yang baik hati,” kata Bujang Buta.Usai berpamitan, Bujang Buta meninggalkan hutan itu menuju ke kampung yang telah ditunjukkan oleh ketiga binatang tersebut. Setelah jauh berjalan, sampailah ia di sebuah negeri. Ketika ia akan memasuki sebuah kampung, terlihatlah seorang nenek yang sedang merangkai bunga. Bujang Buta kemudian mendekati nenek itu.“Nenek sedang kerja apa?” tanya Bujang Buta dengan sopan.“Merangkai bunga,” jawab nenek itu.“Siapa engkau ini Orang Muda?” nenek itu balik bertanya.“Orang Muda, Nek,” jawab kisah Bujang Buta. Kini ia tidak lagi menyebut dirinya Bujang Buta.“Bolehkah saya membantu, Nek?” tanya Bujang Buta menawarkan diri.“Tentu saja, tapi cobalah dulu,” jawab nenek itu.Karena sifatnya yang rajin dan suka menolong, ia pun membantu usaha nenek itu dan diizinkan untuk tinggal bersamanya. Sejak itu, setiap hari Bujang Buta membantu sang Nenek merangkai bunga. Ia sudah menganggap nenek itu seperti emaknya sendiri.Pada suatu hari, ketika mereka asyik merangkai bunga, nenek itu bercerita kepada Bujang Buta. “Ketahuilah, Orang Muda! Raja Negeri ini sedang dilanda kesedihan. Putri bungsunya ditawan oleh Raja Gajah untuk dikawini. Hingga kini, tidak seorang pun yang mampu membebaskan sang Putri dari tawanan Raja Gajah.” Mendengar cerita nenek itu, timbul niat Bujang Buta ingin menolong sang Purtri. “Bolehkah saya membantunya, Nek?” tanya Bujang Buta. “Oh, jangan Orang Muda! Gajah itu sangat tangguh. Ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi,‘ cegah nenek itu.Bujang Buta hanya terdiam melihat kekhawatiran nenek tua itu. Namun, ia tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Ketika malam sudah larut, diam-diam Bujang Buta pergi ke tempat Putri Bungsu ditawan oleh gajah itu. Tak lupa ia membawa ketiga senjata pemberian beruk dan harimau.Sesampainya di tempat gerombolan gajah, Bujang Buta dihadang oleh sejumlah gajah, termasuk di antaranya Raja Gajah yang menawan sang Putri. Tanpa berpikir panjang, Bujang Buta pun mengeluarkan ketiga senjatanya. Setelah berdoa kepada Tuhan, ia mulai memusatkan perhatiannya pada ketiga senjata tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba terap itu terbang ke arah gerombolan gajah itu lalu melilit mereka. Setelah gajah-gajah tersebut terikat, penukul dan keris pun ikut meluncur memukul dan menikam gerombolan gajah tersebut hingga mati bergelimpangan.Sang Putri Bungsu yang menyaksikan kejadian itu, sangat kagum melihat kesaktian Bujang Buta. Setelah melihat gerombolan gajah itu tidak bergerak lagi, sang Putri menghampiri Bujang Buta untuk mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Orang Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawa Putri. Hadiah apa yang engkau inginkan, Orang Muda?” tanya Putri Bungsu menawarkan. “Maaf, Tuan Putri! Hamba tidak menginginkan hadiah apa pun,” jawab Bujang Buta memberi hormat.Tidak kehabisan akal, sang Putri kemudian meminjam baju Bujang Buta. Setelah merobek bagian lengannya, baju itu dikembalikannya lagi kepada Bujang Buta. Sambil terheran-heran, Bujang Buta kemudian pulang ke rumah nenek itu. Dalam perjalanan, Bujang Buta terus bertanya-tanya dalam hati, “Apa maksud tuan Putri merobek lengan bajuku?”Keesokan harinya, kabar kematian gerombolan gajah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Setelah mendapat cerita dari putrinya, Raja Negeri mengundang seluruh rakyatnya ke istana. Tak berapa lama, seluruh rakyat sudah berkumpul di depan istana. Tampak pula Bujang Buta hadir di tengah-tengah undangan dengan bajunya yang berlengan satu.Seluruh undangan harus memperlihatkan semua pakaian yang mereka miliki. Satu per satu pakaian-pakaian tersebut disesuaikan dan robekan baju bagian lengan yang ada di tangan Putri Bungsu. Sudah hampir semua pakaian diperiksa, namun tak satu pun yang sesuai. Sampai pada akhirnya ditemukan pakaian Bujang Buta-lah yang sesuai dengan robekan lengan baju itu.“Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menyelamatkan putriku, maka engkau berhak menikah dengan putriku. Tahta kerajaan ini aku serahkan pula kepadamu untuk memimpin negeri ini,” kata sang Raja. Bujang Buta pun menerima hadiah pemberian Raja itu.Usai pesta pernikahan, Bujang Buta menghadap untuk memohon sesuatu kepada Raja Negeri. “Ampun, Baginda! Perkenankanlah hamba untuk mencari emak hamba dan membawa mereka serta hidup di negeri ini,” pinta Bujang Buta kepada Raja. “Engkau anak yang berbakti. Baiklah! Pergilah mencari emakmu itu. Pengawalku akan mengantarmu ke mana engkau pergi,” kata sang Raja mengizinkan. “Beribu terima kasih hamba haturkan di hadapan Baginda,” kata kisah Bujang Buta sambil memberi hormat.Keesokan harinya, tampak rombongan Bujang Buta dan Putri Bungsu meninggalkan istana menuju kampung Bujang Buta. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah mereka di sebuah gubuk reyot. Di depan gubuk itu, Bujang Buta memanggil emaknya. “Emaaak…! Bujang Buta Pulang, Mak!” teriak Bujang Buta. “Masuklah, Anakku! Pintunya tidak dikunci,” jawab emak Bujang Buta. Mendengar suara orang tua itu, Bujang Buta masuk dan memeluk emaknya yang sedang terbaring lemas di atas pembaringan karena sakit.“Ini Bujang Buta, Mak!” kata Bujang Buta meyakinkan emaknya. “Benarkah itu, mengapa engkau bisa melihat, bukankah anakku buta?” tanya emaknya tak percaya. Lalu Bujang Buta menceritakan perjalanannya dan kejadian yang menyebabkan matanya bisa melihat.Setelah mendengar kisah Bujang Buta, tahulah emaknya siapa sebenarnya yang berniat jahat kepada anak bungsunya itu. Namun karena kemuliaan hati Bujang Buta, maka dimaafkannya kesalahan kedua abangnya itu.Sejak saat itu, Bujang Buta membawa serta emak dan kedua abangnya untuk hidup bersama di negeri yang dipimpinnya. Semakin lengkaplah kebahagian Bujang Buta, ia bisa hidup tentram bersama Putri Bungsu dan seluruh keluarganya, termasuk Emak Bunga. Kebahagiaan yang dirasakan Bujang Buta itu berkat kerendahan hatinya, suka menolong dan ketaatannya kepada orang tua.

Kisah Dang Gedunai
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Dang Gedunai

Pada zaman dahulu di Riau, tinggal seorang anak bernama Dang Gedunai. Dia tinggal bersama ibunya. Dang Gedunai adalah seorang anak yang keras kepala. Dia adalah anak satu-satunya, tapi dia tidak pernah bahagia. Suatu hari, Dang Gedunai pergi ke sungai untuk menangkap ikan.“Ibu, aku ingin pergi ke sungai. Aku ingin pergi memancing ”“diluar mendung. Hujan akan segera turun. Kenapa tidak tinggal di rumah saja.Seperti biasa Dang Gedunai mengabaikannya. Dia kemudian pergi ke sungai. Hari mendung ketika ia tiba di sisi sungai. Gerimis pun turun, tapi Dang Gedunai masih sibuk memancing. Kemudian hujan lebat. Dang Gedunai akhirnya menyerah. Namun tepat sebelum ia meninggalkan, ia melihat sesuatu yang bersinar di sungai. Itu telur sangat besar. Dang Gedunai mengambilnya dan kemudian membawa pulang telur itu.“telur apa itu? Di mana kau menemukannya? ”“Di sungai, Ibu.“Hati-hati dengan telur. Ini bukan milikmu. kamu harus mengembalikannya, ”Seperti biasa, Dang Gedunai mengabaikan nasihat ibunya. Ia berencana untuk makan telur meskipun ibunya mengatakan tidak. Di pagi hari, ibunya sudah siap untuk pergi ke sawah. Sekali lagi, ia menyarankan Dang Gedunai untuk mengembalikan telur itu ke sungai. Dang Gedunai tidak mengatakan apa-apa. Ketika ibunya meninggalkan rumah, ia segera merebus telur. Lalu ia memakannya. Itu begitu lezat. Dia sangat kenyang dan tiba-tiba ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi. Seekor naga raksasa datang kepadanya.“Dang Gedunai, kamu mencuri telur aku! Untuk hukuman, kamu akan menjadi seekor naga. ”Dang Gedunai bangun dengan ketakutan. Dia merasa sangat haus. Kemudian ibunya pulang.“Apa yang terjadi … apa yang terjadi dengan kamu, Dang Gedunai?“aku tidak tahu, Ibu. Tiba-tiba aku merasa sangat haus ….. ….. Tenggorokanku sangat panas ”Ibunya kemudian memberinya segelas air. Ini tidak cukup. Dia minum segelas, dan kemudian gelas lain sampai tidak ada air yang tersisa di rumah. Tapi itu tidak cukup. Ibunya menyuruhnya pergi kolam. Dang Gedunai minum semua air sampai kolam hingga kering. Tapi itu tidak cukup. Kemudian mereka pergi ke sungai. Sekali lagi itu tidak cukup. Dang Gedunai tau mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia akan menjadi seekor naga.Ibu, maafkan aku. …… Aku mengabaikan nasihatmu. aku memakan telur. Itu telur naga. …… Aku akan berubah menjadi seekor naga. aku tidak bisa hidup denganmu lagi. ……… aku akan hidup di laut. …………… Jika kamu melihat gelombang besar di laut, itu berarti aku sedang makan. Tetapi jika gelombang yang tenang, saat itu berarti aku sedang tidur, ”“Dang Gedunai …… Kenapa tidak kau dengarkan aku ………. Semuanya sudah berakhir sekarang. kamu berubah menjadi naga raksasa. Selamat tinggal anakku. ……. Kemudian Dang Gedunai meninggalkan ibunya. Dia menuju laut. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Dia hanya menangis.

Kisah Dayang Kumunah
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Dayang Kumunah

AIkisah di sebuah dusun di daerah Riau, hiduplah seorang laki-laki tua bernama Awang Gading. Ia hidup sebatang kara karena istrinya sudah meninggal tanpa meninggalkan seorang anak.Sehari-hari, pekerjaan Awang Gading adalah menangkap ikan di sungai. Jika beruntung, ia akan mendapatkan banyak ikan yang bisa ditukar dengan beras di pasar. Meskipun hidup sederhana, Awang Gading tak pernah mengeluh. Ia bahagia dan selalu bersyukur dengan keadaannya itu.Pagi itu, seperti biasanya Awang Gading pergi ke sungai. Sambil berdendang, ia menanti ikan memakan umpannya. Tapi, sepertinya hari itu bukanlah hari keberuntungannya. Sudah berkali-kali umpannya dimakan ikan, tapi ikan itu lepas saat Awang Gading menarik pancingnya."Hmm... mungkin nasibku hari ini kurang balk. Lebih baik aku pulang saja, aku akan kembali besok. Siapa tahu aku Iebih mujur," katanya sambil mengemasi peralatan pancingnya."Oweekkk... owekkk...," tiba-tiba terdengar suara bayi menangis. Langkah kaki Awang Gading terhenti. "'Suara tangis bayi siapa itu?"Ia mencari-cari sumber suara itu. Oh, ternyata suara bayi merah yang tergeletak di semak-semak. Awang Gading menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada seorang pun di sana, lalu bayi siapa itu? Awang Gading bingung, tapi akhirnya memutuskan untuk membawa dan merawat bayi itu. Ia menamainya Dayang Kumunah.Seluruh penduduk dusun menyambut kehadiran Dayang Kumunah dengan sukacita. Kepala dusun pun mengunjungi rumah Awang Gading, "Bayi ini adalah titipan dari raja penghuni sungai. Rawatlah dengan balk," kata kepala dusun. Awang Gading sangat bahagia. Apalagi Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang cantik clan berbudi luhur. Tingkah lakunya sopan, ia pun ramah pada semua orang. Hanya satu kekurangannya, Dayang Kumunah tak pernah tertawa.Kecantikan Dayang Kumunah terdengar sampai ke telinga Awangku Usop, seorang pemuda kaya dari luar dusun. Penasaran, Awangku Usop pun datang berkunjung. Benar saja, ia Iangsung jatuh cinta pada pandangan pertama. "Dayang, maukah kau menikah denganku? Aku berjanji akan membahagiakanmu," pinta Awangku Usop."Sebelum menikahiku, Kanda perlu tahu, aku adalah penghuni sungai. Dunia kita berbeda, tapi jika Kanda mau menerimaku apa adanya, aku bersedia menjadi istri Kanda," jawab Dayang Kumunah. "Satu lagi, jangan pernah memintaku untuk tertawa. Aku tak bisa dan tak boleh melakukannya."Awangku Usop menyetujui semua permintaan Dayang Kumunah. Pesta pernikahan pun digelar dengan meriah. Semua tamu bersenang-senang. Menurut mereka, Dayang Kumunah dan Awangku Usop adalah pasangan yang serasi.Bertahun-tahun kemudian, rumah tangga Dayang Kumunah dan Awangku Usop dihiasi oleh tawa riang lima orang anak. Dayang Kumunah benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu yang baik. Awangku Usop tak pernah meragukannya. Namun suatu hari kebahagiaan mereka terusik. Awang Gading meninggal. Dayang Kumunah sangat sedih sepeninggal ayah angkatnya itu. Setiap hari mukanya murung. Biasanya, meskipun tak pernah tertawa, Dayang Kumunah masih tersenyum.Namun sekarang senyumnya tak pernah tampak lagi. Awangku Usop tak ingin istrinya bersedih terus. Ia berusaha de ganse gala cara agar Dayang Kumunah kembali tersenyum.Usahanya tak sia-sia. Perlahan-lahan, Dayang Kumunah mulai merelakan kepergian ayah angkatnya dan menjalani kehidupannya seperti biasa.Tapi, Awangku Usop tak puas. Ia penasaran sekali, mengapa Dayang Kumunah tak pernah tertawa. Ia ingin agar sesekali istrinya tertawa, menunjukkan kebahagiaan hidup bersamanya dan anak-anak.Anak bungsu mereka mulai bisa berjalan. Cara berjalannya lucu sekali. Dengan kakinya yang montok, ia tertatih-tatih berusaha berjalan lurus. Awangku Usop dan kakak-kakak si Bungsu tertawa menggoda si bungsu. Si bungsu pun tertawa terkekeh-kekeh dan berusaha mendekati ayahnya."Lihat istriku, anak kita mulai berjalan. Mengapa kau tak ikut bergembira bersama kami? Tertawalah, apakah kau tak bahagia melihat kelucuan si bungsu?" tanya Awangku Usop pada Dayang Kumunah.Dayang Kumunah terdiam. Sebenarnya ia ingin tertawa, tapi tak boleh. Suaminya terus memaksa, akhirnya Dayang Kumunah tertawa juga. Ia tertawa terbahak-bahak, karena memang tingkah polah si bungsu sangat menggemaskan.Saat Dayang Kumunah tertawa, Awangku Usop dan anak-anaknya tertegun. Mereka melihat insang ikan dalam mulut Dayang Kumunah. Hal itu menandakan bahwa ia keturunan ikan.Dayang Kumunah tersentak, ia menyadari kesalahannya serta berlari meninggalkan suami dan anak-anaknya."Dayang... tunggu... kau mau ke mana?" Awangku Usop berlari mengejarnya. Kelima anaknya mengikuti dari belakang. Si bungsu digendong oleh kakaknya.Dayang Kumunah terus berlari menuju sungai. Sesampainya di sungai, ia segera menceburkan diri. Aneh, tak lama kemudian tubuhnya berubah menjadi ikan. Ikan itu berenang meninggalkan Awangku Usop dan anak-anaknya.Awangku Usop sadar telah berbuat salah dan menangis menyesali perbuatannya, "Mengapa aku memaksanya tertawa? Maafkan aku istriku, kembalilah, kami semua membutuhkanmu," ratapnya.Kelima anaknya juga menangis. Tapi semuanya sudah terlambat. Meskipun telah menjadi ikan, Dayang Kumunah tetap cantik. Ikan jelmaan Dayang Kumunah itu berkulit mengkilat tanpa sisik, wajahnya cantik, dan ekornya bagaikan sepasang kaki wanita yang bersilang.Masyarakat menyebutnya ikan patin. Karena itulah banyak masyarakat Riau yang tidak mau menyantap ikan patin. Mereka beranggapan ikan patin adalah jelmaan Dayang Kumunah yang masih merupakan kerabat mereka."Pesan moral dari Cerita Rakyat Riau : Kisah Dayang Kumunah untukmu adalah mengingkari janji pada orang lain pasti akan menimbulkan kekecewaan. Jadi, berusahalah untuk menepati janji yang telah kau ucapkan."

Kisah Hang Tuah Kesatria Melayu
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Hang Tuah Kesatria Melayu

Menurut alkisah, pada jaman dahulu kala di Pulau Bentan dekat Temasik terdapat lima teruna gagah perkasan. Mereka adalah Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Pada zaman itu tidak ada yang dipikirkan, kecuali mereka ingin pergi merantau ke tempat lain untuk mengubah nasib supaya hidupnya senang.Agar di rantau tidak percuma begitu saja, seperti mengadu air dengan garam, mereka bersepakat mencari tahu tentang ilmu beladiri. Kemudian Hang Tuah memberi petunjuk kepada teman-temannya dan terlebih dahulu melihat kebolehannya untuk bermain tangan. Setelah mereka cukup berbekal ilmu beladiri, pergilah berlayar menuju ke Negeri Melaka.Sampai di suatu pantai Semenanjung Melaka, salah satu kawannya ada yang merasa penat lalu ingin berehat dahulu. Di antara mereka sedikit berbeda pendapat. Ada yang ingin terus melanjutkan perjalanan dan ada yang ingin istirahat. Kemudian Hang Tuah berkata : “Tak baik kita berbantah, bukankah kita ini bersaudara dan sama-sama merantau ke lurah sama menurun bukit sama mendaki, baiklah kita berehat sebentar di sini.”Begitu Hang Tuah dan sahahat-sahabatnya istirahat, terdapat gerombolan perompak lanun datang mendekatinya. Perompak lanun itu menggertak Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya yang sedang istirahat. Gerombolan lanun merasa bahwa daerah itu adalah wilayah kekuasaannya dan tidak boleh seorang pun berada di situ. “Kalau engkau semuanya hendak hidup dan selamat serahkan semua barang-barang bawaanmu kepadaku”, kata pimpinan lanun. Hang Tuah mencoba menyadarkan lanun tersebut, bahwa dirinya dan kawan-kawan hendak merantau ke Melaka, oleh karena itu ia minta kepada lanun agar jangan mengganggu perjalanan ini. Akhirnya terjadi perkelaian seru yang menewaskan semua gerombolan lanun tersebut.Perkelahian yang menewaskan gerombolan lanun itu dilihat dari jauh oleh para pengawal istana yang sedang berjaga-jaga di kawasan pantai. Setelah perkelahian selesai, seorang pengawal datang mendekat dan bertanya kepada Hang Tuah dan kawan-kawannya mengenai apa yang sedang terjadi. Terlebih dahulu Hang Tuah memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia dan teman-temannya ini berasal dari Bentan, setelah itu ia menjelaskan maksud dan tujuannya kemari yaitu ingin merantau ke Negeri Melaka namun dicegat orang tidak dikenal sehingga terjadi perkelahian.Kemudian pengawal itu bercerita bahwa Negeri Melaka ini telah lama dikacau oleh perompak lanun. Lanun-lanun tersebut tidak mudah dimusnahkan, bahkan panglima Negeri Melaka tidak sanggup menentang mereka. Kejadian yang telah dilihat pengawal itu dianggap aneh, karena lanun-lanun itu dalam prakteknya dapat ditewaskan oleh rombongan Hang Tuah. Selanjutnya pengawal itu minta kepada rombongan Hang Tuah agar mau ikut ke istana untuk dipersembahkan ke hadapan Sultan Negeri Melaka.Pada saat itu Sultan mengadakan pembincaraan penting dengan para pembesar kerajaan bertempat di Balairung. Datuk Bendahara dan para Menteri telah melaporkan keadaan terakhir di Negeri Melaka yang menunjukkan tidak aman karena diganggu oleh perompak lanun yang merajalela di sepanjang pantai. Tiba-tiba pengawal datang untuk mempersembahkan Hang Tuah dan kawan-kawannya yang baru saja selesai menewaskan gerombolan perompak lanun. Setelah mendengar persembahan tersebut, Sultan sangat gembira dan minta Hang Tuah dan kawan-kawannya sudilah menghadap.Berhubung Sultan sangat puas atas keluguan dan keperkasaan Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu, atas bukti nyata yang disaksikan para pengawal istana, maka pada saat itu Hang Tuah hendak diangkat sebagai Laksamana dan keempat temannya diangkat sebagai pegawai utama istana Negeri Melaka. Setelah Hang Tuah dilantik sebagai Laksamana, Patih Kermawijaya merasa tidak puas. la merasa dirinya sudah lama mengabdi kepada Sultan Negeri Melaka, untuk itu ia patut dilantik sebagai Laksamana. Sultan dianggapnya “tidak mengenang budi dan jasa”, katanya.Menghadapi keadaan Negeri Melaka seperti itu, Patih Kermawijaya berusaha mengatur siasat untuk menggulingkan Hang Tuah. Pada suatu hari Permaisuri Tun Tijah sedang memanggil laksamana Hang Tuah ke tempat kediamannya. Laksamana Hang Tuah datang menghadap dan mohon ampun samba bertanya apakah gerangan tengku permaisuri memanggilnya. Tun Tijah mengaku sudah lama ingin berjumpa dengan Datuk Laksamana, akan tetapi ia merasa ragu. Kemudian Tun Tijah berpantun:Cendana bukan sembarang cendanaCendana dibawa ke InderagiriLaksamana bukan sembarang LaksamanaLaksamana perkasa berbudi tinggiMendengar pantun tersebut, Hang Tuah ketakutan dan mohon ampun kepada tengku permaisuri, lalu ia mohon diri sebelum Sultan murka nantinya. Tun Tijah makin menjadi-jadi dan melanjutkan pantunnya:Wahai Datuk LaksamanaBukan hati memuji LaksamanaBukti nyata di seluruh MelakaJejaka perkasa di pandang mataMenegak bangsa dan negaraWalaupun Hang Tuah telah memohon ampun berulangkali, Tun Tijah pun tetap tidak peduli. Dengan disaksikan oleh dayang-dayang istana, Hang Tuah memaksakan diri untuk pulang, sambil berpantun:Ampun tuanku permaisuriBiarlah patik bermohon diriJanganlah patik dipanggil lagiAkhirnye buruk name negeriKeadaan di kediaman Tun Tijah itu diketahui oleh Patih Kermawijaya, sehingga ia manfaatkan peristiwa ini untuk mengatur siasat. Kemudian ia menghadap Sultan dengan mengatakan bahwa “Laksamana Hang Tuah berperilaku sungguh memalukan dan berani berbuat melanggar pantang, ceroboh, berani bersendau-gurau dengan tengku permaisuri Tun Tijah”. Selama ini Sultan tidak pernah mendengar berita buruk, tetapi Patih Kermawijaya sangat meyakinkan Sultan, sehingga Sultan segera memanggil Datuk Bendahara dan memutuskan hukuman mati terhadap Hang Tuah.Datuk Bendahara ragu terhadap keputusan Sultan tersebut, apakah benar Hang Tuah melakukan pelanggaran seperti yang dikemukakan Patih Kermawijaya? Untuk itu Datuk Bendahara mohon kepada Sultan hendaknya menyelidiki terlebih dahulu benar salahnya berita ini. Akan tetapi Sultan sudah terlanjur percaya kepada Patih Kermawijaya karena Patih tersebut sudah lama mengabdi kepada kerajaan Negeri Melaka. Datuk Bendahara pun tidak berdaya kemudian memanggil Hang Tuah untuk diajak menghadap Sultan dengan mengatakan suatu hal yang sesungguhnya. Sejak peristiwa ini Hang Tuah dipecat sebagai Laksamana dan diputuskan hukuman mati di tengah hutan yang akan dilaksanakan oleh Datuk Bendahara.Sebagai penggantinya diangkatlah Hang Jebat menjadi Laksamana Negeri Melaka. Pada masa transisi seperti ini Sultan sering pergi ke negeri jajahannya dan lama tidak pulang ke istana. Kemudian dimanfaatkan oleh Hang Tuah untuk membalas bela kematian sahabatnya Hang Tuah. Oleh karena itu, Hang Jebat mengamuk di istana dan siapa pun yang mendekatinya ia tikam hingga tewas. Dayang-dayang dan Permaisuri Tun Tijah yang cantik rupawan diminta menghibur Hang Jebat. Tidak seorang pun berani menangkap Hang Jebat yang sedang durhaka. Ketika Sultan mengetahui peristiwa ini, ia pun tidak berani pulang ke istana, melainkan mengungsi di kediaman Datuk Bendahara.Dengan segala penyesalan, Sultan berkeluh di hadapan pembesar kerajaan dengan mengatakan bahwa “bila Tuah masih hidup mungkin tak kan sampai Jebat berani mendurhaka”. Kemudian Datuk Bendahara bersembah di hadapan Sultan dengan reaksi, “apabila Hang Tuah masih hidup, sudikah Paduka Sultan memaafkannya?” Sultan terkejut sambil berseloroh, “bicara apa pula yang datuk sampaikan kehadapan beta, tak kan lah mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali, mustahil… tapi …tapi … apa maksud datuk sebenarnya?”Sewaktu Sultan memerintahkan untuk menghukum mati Hang Tuah, Datuk Bendahara tidak sampai hati melakukannya. Pada saat itu Hang Tuah disembunyikan di hulu sungai Melaka untuk berguru di sana. Lalu Datuk Bendahara segeri menjemputnya untuk dipersembahkan ke hadapan Sultan. Sultan pun mengampuni kesalahan Hang Tuah dan langsung menugaskan Hang Tuah untuk segera menangkap Hang Jebat.Hang Tuah berangkat menuju ke istana untuk membujuk Hang Jebat supaya menyerah dan berhenti berbuat durahaka. Hang Jebat tidak mau menyerah begitu saja, malah ia bicara dengan nada menantang : “Biar Jebat dikatakan mendurhaka, tak jadi apa, karena beta ingin membela kebenaran atas kematian kak Tuah!” Selanjutnya terjadi pertarungan hebat antara Hang Tuah dengan Hang Jebat. Pertama-tama mereka saling merebut keris Taming Sari, seterusnya saling tikam-menikam. Akhirnya Hang Jebat memberikan keris kepada Hang Tuah sambil mengatakan: “Kak Tuah silahkan bunuhlah beta!” Hang Tuah menghujamkan keris Taming Sari ke dada Hang Jebat hingga tewas mengenaskan.

 Under the Spell
Fantasy
20 Feb 2026

Under the Spell

Sabetan pedang berwarna putih bercahaya membelah salah satu leher Hydra yang hampir menyemburkan napas di depan wajah Claude dan Elwood. Kepalanya terputus dan menggelinding ke bawah kaki Elwood. Sang pangeran peri bergidik ngeri, sontak ia mengangkat kakinya menghindari percikan darah hijau yang keluar dari potongan kepala Hydra tersebut.Sebuah nyala api putih menyambar tunggul leher Hydra sebelum kepala baru sempat tumbuh. Nyala api yang sama juga menyambar potongan kepala Hydra yang tergeletak di dekat kaki Elwood. Monster Hydra meraung keras, tubuhnya terhuyung tak tentu arah. Beberapa saat kemudian makhluk itu roboh menghantam salah satu sisi benteng. Namun sepersekian detik kemudian, monster itu bangkit lagi."Archibald!" pekik Claude yang baru saja menyadari jika peri yang menolongnya saat itu adalah Archibald.Archibald yang kini berada di sampingnya mengangguk pelan sebagai respon. Napasnya memburu, sementara matanya masih fokus menatap Hydra yang perlahan kembali bangkit. Sang pangeran peri tidak datang sendiri. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ratu Breena muncul dengan kedua telapak tangan yang menggenggam dua bola api putih."Breena?!" pekik Maurelle dengan mata membelalak.Ratu Breena mengerling sekilas ke arah Maurelle dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas. "Sudah lama tidak bertemu, Maurelle!" sapanya sarkas. Sorot matanya kembali fokus pada Hydra yang mulai mendekatinya. "Apa kau sudah bisa mengetahui di mana kepala abadinya, Maurelle?"Maurelle terhenyak. Sang cenayang lantas mengalihkan pandang ke arah kepala-kepala Hydra yang bergerak liar sembari menyemburkan napas hijaunya, berusaha menemukan kejanggalan pada setiap kepala Hydra yang nyaris terlihat serupa. Namun, Maurelle gagal mengembalikan fokusnya dan berdecak frustrasi. "Di mana kepala abadinya?""Kukira mata batinmu sudah semakin tajam, Maurelle. Ternyata masih sama saja seperti dahulu!" ejek Ratu Breena yang sedang melompat untuk membakar salah satu tunggul leher Hydra yang baru saja ditebas putranya.Rahang Maurelle mengeras, sementara salah satu tangannya sibuk mengayun pedang sihirnya untuk menangkis napas hijau Hydra yang mengarah padanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkataan Breena barusan merupakan sindiran keras terhadap kesalahannya di masa lampau."Aku tahu yang mana kepala abadinya!" teriak Claude, menyela ketegangan yang tercipta di antara Ratu Breena dan Maurelle.Archibald dan Ratu Breena yang berdiri bersisian sontak memandangi Claude. "Cepat katakan yang mana kepala abadinya!" jerit Archibald.Claude menatap monster Hydra di hadapannya dengan sengit. "Itu kepala yang itu!" tunjuknya pada salah satu kepala Hydra yang sedang menatap lurus ke depan, berbeda dengan kepala lainnya yang menatap liar ke sembarang arah. "Kepala yang selalu menatap ke arah Putra Mahkota Albert!" sambungnya mantap.Mendengar itu, Albert mundur beberapa langkah dengan raut wajah mencekam. Sementara, Archibald dan Ratu Breena merangsek maju, menjadi tameng bagi Albert."Dia benar!" desis Ratu Breena. Serta merta, kedua telapak tangannya memunculkan kepulan bola api putih yang lebih besar. Kedua tangannya terangkat dalam posisi siaga.Di sisinya, Archibald melompat dengan bertumpu pada satu kaki. Pedang perak bercahaya putih terhunus mantap dengan kedua tangan yang menggenggam erat pada gagangnya.Kepala Hydra yang tadinya bergeming seraya menatap tajam Putra Mahkota Albert kini meraung dan hendak menyembur. Namun, kalah cepat dengan kibasan pedang Archibald yang lebih dulu membelah lehernya.Dengan sigap, Ratu Breena memancarkan api putihnya yang langsung membakar tunggul leher dan potongan kepala Hydra. Serta merta, monster besar itu roboh menghantam tumpukan reruntuhan benteng. Tubuh monster itu bergeming dengan kepulan asap tipis yang menguar dari lehernya yang terbakar. Makhluk itu telah meregang nyawa."Hebat sekali kau, Claude!" puji Elwood dengan senyuman lebar, merasa lega karena Hydra sudah mati.Claude menggeleng pelan, tatapannya masih melekat pada tubuh Hydra yang teronggok tak bernyawa. "Kau tidak perlu sihir untuk melihat sesuatu yang janggal. Kau hanya perlu melihat dengan mata hatimu," sahutnya."Kau benar. Sayang sekali, sesosok peri yang pernah kukenal lebih percaya sihir daripada mata hatinya sendiri!" ucap Ratu Breena menimpali.Claude dan Elwood mengangguk pelan, menyetujui ucapan tersebut. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Maurelle mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya terkatup, berusaha menahan semburan kata-kata untuk menjawab ucapan Ratu Breena.Putra Mahkota Albert yang menyadari munculnya ketegangan di antara Maurelle dan Ratu Breena berupaya mencairkan suasana. "Terima kasih banyak Ratu Breena dan Pangeran Archibald. Kalian telah menyelamatkanku dan seluruh kerajaan Avery," tuturnya takzim.Archibald menyunggingkan senyum asimetris. "Aku heran, belakangan begitu banyak makhluk yang ingin menyelakaimu, Putra Mahkota!" ucapnya."Entahlah, mungkin bintangku sedang redup," sahut Albert asal sambil terkekeh.Claude dan Elwood serentak tertawa mendengar jawaban Albert, sementara Archibald hanya mengulas senyum tipis."Kau harus lebih berhati-hati, Putra Mahkota. Tentu saja banyak yang mengincarmu karena posisimu, terlebih saat ini kudengar Raja Brian sedang sakit keras." Ratu Breena menimpali."Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Ratu Breena. Aku akan lebih berhati-hati." Albert membungkuk hormat."Baiklah, sepertinya aku harus segera pamit." Ratu Breena tersenyum kecil. Pandangannya beralih dari Albert kepada Archibald. "Jaga dirimu baik-baik, Nak."Archibald menjawab dengan anggukan takzim pada sang ibu. Dalam hitungan detik, sosok Ratu Breena menghilang.Maurelle, Putra Mahkota Albert, Claude dan Elwood hendak beranjak memasuki Istana bersama beberapa kesatria Elf yang tersisa dari pertempuran melawan monster Hydra, ketika suara jeritan panik kembali terdengar. Mereka urung melanjutkan langkah dan menoleh pada sumber teriakan."A-apa itu?!" tanya Elwood panik.Iris mata birunya menangkap beberapa makhluk mengerikan berjalan tertatih ke arah mereka. Makhluk-makhluk itu adalah para kesatria Elf yang sebenarnya telah tewas terkena napas beracun Hydra. Mereka bangkit kembali dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dengan kulit menghijau, kuku-kuku dan gigi-gigi yang memanjang serta tatapan mata yang kosong."Mayat hidup?! Mayat hidup!"Tiba-tiba suasana kembali gaduh. Para peri yang masih hidup menghambur berlarian menuju pintu-pintu terbuka di istana utama untuk menyelamatkan diri. Beberapa peri yang berhasil selamat lantas langsung menutup pintu di belakang mereka, tanpa peduli terhadap peri lain yang masih tertinggal.Salah satu peri kesatria Elf yang tertinggal tanpa senjata diterkam mayat hidup dari arah belakang. Lehernya terkoyak dan mengeluarkan darah kental. Mendadak beberapa mayat hidup lain datang menghampiri peri nahas itu. Mereka mencakar, merobek serta menggigit peri malang itu dengan brutal.Dalam hitungan detik, peri malang itu juga berubah menjadi mayat hidup dengan rupa yang jauh lebih mengerikan akibat luka-luka yang dialaminya. Dengan cepat, jumlah mayat hidup itu bertambah drastis dan bergerak menuju ke arah istana utama.Archibald kembali menghunus pedangnya. Matanya memicing ke arah mayat hidup yang berjalan tertatih mendekatinya. Ia mengayunkan pedangnya, menebas salah satu lengan si mayat. Lengan itu terputus dan terpental ke sembarang arah, tetapi mayat hidup itu terus merangsek maju mendekatinya."Sial!" desisnya kesal. Ia kembali menebaskan pedangnya ke arah salah satu bahu si mayat hidup. Bahunya terbelah dalam, menampakkan luka hitam yang menganga. Tak ada darah yang mengucur, pun tak ada erangan sakit dari si mayat hidup.Archibald mengernyitkan keningnya. Tangannya terus mengayun pedang melukai tubuh si mayat, berharap menemukan cara yang tepat untuk membunuh mayat hidup itu. Ia mengerling ke arah Maurelle yang berhasil menancapkan sebilah pedang tepat di jantung salah satu mayat hidup. Cara itu ternyata berhasil membuat mayat hidup benar-benar mati.Archibald lantas melakukan persis seperti yang dilakukan Maurelle. Peri itu mengangkat pedang sihirnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, kemudian dalam sekali hentakan keras, ia menancapkan ujung pedang yang runcing tepat pada jantung si mayat hidup. Makhluk itu kontan jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.Archibald menyeringai. Permainan itu rasanya mulai sedikit menyenangkan. Gerakan sang pangeran peri semakin lincah menghabisi mayat-mayat hidup yang menyerangnya. Namun, jumlah mayat hidup itu terus bertambah semakin banyak dan semakin cepat. Semakin banyak yang tergigit atau terinfeksi mayat hidup, maka semakin banyak pula pasukan mereka."Bagaimana menghentikan mereka?" tanya Albert setengah mengeluh. Keringat telah membanjiri pelipisnya. Sementara gerakan pedangnya semakin melemah dan sering tak tepat sasaran."Mereka semua berada di bawah pengaruh sihir!" sahut Claude di tengah-tengah pertarungannya dengan sesosok mayat hidup yang sedang menggigit sebongkah kayu yang dijadikannya senjata. Napasnya tersengal. "Kita harus menemukan siapa di balik sihir ini agar dapat menghentikan sihirnya!""Apa?!" pekik Elwood yang sedang berlari menghindari sesosok mayat hidup seraya melemparkan barang-barang yang ia temukan. "Jika seperti ini lebih lama, kita akan berubah jadi mayat hidup sebelum kita menemukan penyihirnya!" racaunya panik."A-aku perlu berpikir dengan tenang! Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini!" Claude yang terhimpit kayu yang membatasi lehernya dan gigi mayat hidup berteriak panik. Ia meringis ngeri melihat gigi-geligi si mayat yang berlumur air liur.Dengan sigap, Archibald menusuk jantung mayat hidup yang nyaris menggigit leher Claude dari belakang. Sementara Claude terkesiap karena ujung pedang Archibald yang nyaris menyentuh permukaan perutnya. Ia menelan ludah. "Kau nyaris membunuhku, Archibald!"Archibald menyeringai. "Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tak dapat menemukan cara lain untuk memusnahkan sihir ini, Claude!"Claude bergidik. Ancaman Archibald, meskipun hanya kelakar, baginya lebih mengerikan dari pada pasukan mayat hidup yang kini sedang mereka hadapi."AAARRKHHHHH Tolong! Tolong!"Tiba-tiba sebuah teriakan melengking terdengar dari salah satu sudut taman Kerajaan Avery. Suara teriakan yang terdengar tidak asing di telinga mereka. Padahal pintu gerbang taman kala itu telah ditutup agar para mayat hidup tak menerobos ke dalamnya.Archibald, Claude dan Elwood sontak memandang gerbang taman yang tampak terkunci itu. Beberapa peri Pixie kerajaan terlihat terbang menghambur dengan wajah panik dari bagian atas taman yang tak tertutup."Apa yang terjadi?" tanya Elwood pada sesosok peri Pixie yang terbang melewatinya.Wajah peri Pixie itu terlihat pucat dan gusar. Dengan gelagapan, ia menjawab. "Jendral Thomas, ia menggigiti dan membunuh para kesatria Elf. Kemudian peri-peri yang ia gigit mulai menggila dan mengejar kami! Lalu... Putri juga dalam bahaya! Tolong selamatkan Putri Tatianna!"Peri Pixie itu kemudian terbang berputar-putar tak tentu arah dengan panik, sebelum menghilang di balik kekacauan Istana Avery.Demi mendengar itu, Putra Mahkota Albert langsung berlari ke arah pintu gerbang taman yang terkunci. Archibald mengekor di belakangnya, seraya menangkis serangan dari para mayat hidup yang mengincar mereka.Dengan sekali dobrakan Albert, gerbang besi itu rusak dan terbuka. Albert membelalak ngeri begitu melihat pemandangan yang terpampang di balik gerbang taman itu."Tatianna!"* * *Suara tawa menggema dari salah satu menara di Kastel Larangan. Suara itu adalah suara tawa Minerva yang sedang menonton bayangan-bayangan bergerak tentang kekacauan yang terjadi di Istana Avery pada sebuah bola kristal yang bercahaya terang di hadapannya.Lucifer yang bergeming di belakangnya mengerutkan alis. "Apakah ada hal yang sangat menyenangkan, Ratuku?" tanyanya ingin tahu.Minerva terbahak, alih-alih menjawab pertanyaan Lucifer. Peri bersurai hitam itu semakin menikmati bayangan yang ditampilkan bola kristalnya.Lucifer mendengkus sebal, merasa tak diacuhkan. "Jika tidak ada lagi yang Ratu inginkan---""Tunggu sebentar, Lucifer!" seru Minerva seraya melirik sekilas ke abdinya. Pandangannya kembali menyorot serius pada bola kristal di hadapannya. Kali ini tanpa tawa sedikit pun.Dengan patuh Lucifer kembali mematung di tempatnya, menanti apa pun yang akan diucapkan dan dititahkan sang ratu. Tiba-tiba suara gonggongan Max memecah keheningan ruangan menara kastel. Anjing golden retriever itu berjalan mengitari kaki Lucifer."Diamlah, Makhluk Berbulu. Aku akan memberimu makan setelah ini!" hardik Lucifer dengan suara rendah pada anjing yang kini terduduk gelisah di dekat kakinya.Minerva tersentak. Bola kristalnya otomatis padam saat ia membalikan tubuhnya menatap Max. Anjing berbulu keemasan itu meringkik ketakutan. Pandangan Minerva kemudian beralih pada Lucifer. "Apa kau sudah menemukan manusia bernama Chiara itu?" Jejaknya menghilang ketika kita meninggalkannya di dekat portal Utara," decak Minerva. Kedua lengannya terlipat di dada. Tatapannya dingin, tetapi Lucifer dapat melihat penghakiman tersirat disana.Lucifer menundukkan kepalanya, merasa terintimidasi oleh tatapan sang ratu kegelapan. "Ampun, Ratuku. Hamba merasa ada sesosok peri yang melindungi gadis manusia itu. Hamba kesulitan mengendus jejaknya.""Cih! Kau benar-benar tidak becus, Lucifer!" bentaknya berang. Minerva memalingkan wajahnya dari Lucifer. Tatapannya menerawang menatap langit kelabu Hutan Larangan yang terpampang dari jendela menara.Lucifer terhenyak. Menunduk semakin dalam dan tak berani menyahut bentakan Ratunya."Sepertinya aku juga harus mengerjakannya sendiri!" gumam Minerva pada dirinya sendiri.Minerva kemudian membentangkan kedua belah tangannya seraya merapal mantra dengan suara rendah. Mendadak angin bertiup masuk ke arah jendela menara di hadapan Minerva, semakin lama semakin kencang. Suara dengungan sayap serangga tiba-tiba memenuhi ruangan itu. Puluhan, ratusan, ribuan serangga beraneka jenis terbang memasuki jendela, terbang mengambang di hadapan Minerva.Sang ratu kegelapan menyeringai bengis di dalam keremangan ruangan menara. Seekor kepik merah menempel pada salah satu telapak tangannya. Minerva lantas mendekatkan telapak tangannya itu ke bibir, kemudian menggumamkan sebuah mantra singkat. Setelahnya, ia meniup kepik kecil di permukaan telapak tangannya, sebelum meniupkan udara ke arah serangga lainnya yang terbang mengambang di hadapannya. Cahaya keunguan muncul dan berpendar dari tubuh serangga-serangga itu."Pergilah, para serangga kegelapan! Temukan gadis manusia itu untukku!" titahnya.Setelah mendengar Titah sang ratu kegelapan, para serangga itu terbang menghambur ke luar jendela menara membawa pendar keuangan di tubuhnya masing-masing. Titah sang ratu adalah mutlak, yaitu menemukan gadis manusia bernama Chiara secepatnya.

Hydra
Fantasy
20 Feb 2026

Hydra

Minerva menatap tajam kepergian Archibald bersama naga putihnya, sementara salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Peri perempuan itu menyeringai, kemudian tertawa kecil."Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Elijah yang ternyata masih berdiri tak jauh di belakang Minerva. Di sisi lainnya, Lucifer yang bergeming sontak mengarahkan pandang kepada Elijah.Minerva menoleh sekilas kepada putranya, tersenyum sinis. "Aku hanya membantunya mengingat masa lalu.""Apa... apa kau ingin membangkitkan kemarahannya?" decak Elijah."Kemarahan adalah kelemahan setiap makhluk, Elijah," imbuh Minerva lagi. Ia menoleh kembali pada Elijah. "Sekarang pergilah dari tempat ini, pulanglah ke Avery. Lihat dan saksikan, aku akan menepati janjiku!"Elijah terhenyak di tempatnya berdiri. Sebagian dari dirinya ingin tinggal dan menyaksikan apa yang akan dilakukan Minerva dan mencegahnya, tetapi ambisi memaksanya pergi meninggalkan tempat itu. Akhirnya, Elijah memutuskan untuk bergegas pergi dan mencoba mempercayai kata-kata peri perempuan itu sekali saja.Sepeninggal Elijah, Minerva mengembalikan fokusnya menatap Danau Cermin yang terhampar luas di hadapannya. Danau dengan air yang paling jernih di seluruh penjuru Fairyverse itu menampakan kelebat bayangan hitam pada permukaannya.Minerva menyeringai, seraya mengangkat kedua belah lengannya menengadah pada langit. Mantra-mantra melantun pelan dari bibirnya yang semerah darah, makin lama semakin keras. Bersamaan dengan itu, bola matanya memutih dan bercahaya.Langit Fairyfall yang biru cerah mendadak mendung. Awan-awan hitam perlahan muncul menutupi sinar matahari. Bunyi gemuruh tiba-tiba terdengar bersahutan. Angin pun mulai bertiup, kian lama kian kencang.Sebuah sambaran kilat muncul dari langit Fairyfall menyambar permukaan danau, bersamaan dengan puncak mantra yang dirapalkan Minerva setengah berteriak. Sementara angin kencang bertiup mengibarkan surai kelam dan jubahnya.Gelombang air muncul perlahan di atas permukaan Danau Cermin yang mulanya tenang. Lama-kelamaan gelombang itu berubah menjadi pusaran air yang berpusat tepat di tengah-tengah Danau Cermin. Permukaan danau berubah menggelap.Seekor makhluk hitam besar dengan sembilan kepala berbentuk ular perlahan muncul dari dasar danau. Kesembilan kepala monster itu meraung keras, sementara dari masing-masing mulutnya mengeluarkan kepulan asap berwarna hijau.Sepasang kaki besar sang monster akhirnya menapaki tanah Fairyfall, membawa serta air danau yang meluap naik akibat mengeluarkan tubuhnya yang besar. Bunyi berdebam ekor makhluk besar itu mengiringi tubuhnya yang jatuh di tanah. Makhluk itu meraung dengan mata merah menyala.Minerva selesai merapalkan mantra. Ia menatap bengis makhluk di hadapannya. Salah satu sudut bibir peri perempuan itu terangkat. "Hydra, hambaku! Pergilah menuju kerajaan Avery. Hancurkan dan bunuh Putra Mahkota Albert serta seluruh makhluk yang menghalangimu!" teriaknya. Mata Minerva menyala.Seolah memahami apa yang dikatakan Minerva, makhluk berkepala sembilan itu meraung panjang sebelum melangkah pergi meninggalkan Minerva dan Lucifer. Bobot tubuhnya yang besar menyebabkan Fairyfall bergetar.Lucifer membelalak menyaksikan monster besar yang dibangkitkan oleh Minerva. Teror menyambangi wajahnya. Ia membayangkan kemungkinan paling mengerikan yang akan terjadi di Kerajaan Avery.* * *Ratu Serenity menyibakkan tirai yang terbuat dari dari surai jagung, membiarkan garis-garis cahaya menembus jendela besar di hadapan Raja Brian yang sedang terduduk lemah. Sinar matahari pagi menyinari kulit pucat sang raja.Sang raja bergeming. Tubuh lemahnya tersandar pada sebuah kursi. Tatapan matanya kosong. Tarikan napasnya pelan dan sangat lemah.Di sisinya, Ratu Serenity tengah menyeduh minuman dalam sebuah gelas perak. Asap tipis mengepul dari permukaan gelas, menandakan minuman yang masih hangat disertai aroma herbal yang menguar kuat memenuhi bilik sang Raja. Perlahan, sang ratu menyuapkan minuman itu dengan sebuah sendok kecil kepada Raja Brian.Raja Brian menggeleng pelan. Ia mengatupkan rahangnya sekuat tenaga, sementara matanya masih terpejam menghindari silaunya sinar matahari pagi.Ratu Serenity berdecak pelan, kemudian meletakan gelas perak yang digenggamnya pada sebuah meja bundar dengan putus asa. Ia membersihkan sisa-sisa minuman yang tumpah membasahi dagu sang raja."Permisi, Yang Mulia Ratu!" sapa sebuah suara dari balik pintu bilik yang tertutup."Masuklah!"Suara derit pintu memecah keheningan bilik. Dua orang kesatria Elf membuka pintu tersebut dan menyilakan Maurelle memasuki bilik.Maurelle membungkuk takzim begitu memasuki bilik. Bau herbal yang sangat tajam menusuk penghidunya, sehingga ia sontak sedikit mengernyitkan hidung."Bagaimana keadaan Putra Mahkota Albert?" tanya Ratu Serenity.Maurelle memfokuskan dirinya kembali, setelah sedikit terganggu karena aroma herbal di dalam bilik. Ia menyahut takzim. "Putra Mahkota Albert terlihat jauh lebih baik, Yang Mulia Ratu. Hamba kemari ingin menyampaikan sebuah kabar.""Kabar apa?" tanya Ratu Serenity. Keningnya berkerut ketika menangkap kegusaran di wajah Maurelle.Maurelle mendadak gelagapan. Ia terdiam beberapa saat, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita yang dibawanya. Setelah berdeham beberapa kali, Maurelle akhirnya membuka suara. "Ampun, Yang Mulia Ratu. Hamba mendapat kabar jika seorang peri unsheelie telah menembus perbatasan Hutan Larangan. Kabar terakhir yang hamba dengar, mereka berada di Fairyfall...""Apa katamu?!" desis Ratu Serenity dengan suara rendah. Ia mengerling sekilas ke arah Raja Brian yang masih bergeming dengan mata tertutup rapat, seolah tak ingin berita itu didengar oleh raja.Maurelle mengangguk takzim. Ia ikut mengerling ke arah Raja Brian. Namun, tak ada respon sedikitpun dari peri laki-laki yang tampak bersandar kepayahan di kursinya."Cari tahu siapa peri Unsheelie yang telah lancang melewati perbatasan Hutan Larangan itu!" titahnya gusar. Manik matanya terlihat menerawang ke luar jendela. Rahangnya mengeras. "Siapkan para pasukan untuk segera menangkap peri itu dan langsung penjarakan. Jangan sampai keberadaan satu peri Unsheelie merusak keseimbangan di Fairyverse."Maurelle mengangguk pelan. Titah sang ratu sangat jelas. "Baik, Yang Mulia Ra---""Maurelle!" suara parau Raja Brian tiba-tiba menggema di dalam bilik. Langkah Maurelle tertahan.Ratu Serenity dan Maurelle sontak menoleh ke arah Raja Brian.Sang Raja beringsut pelan di atas kursinya. Kelopak matanya yang tertutup bergerak, perlahan-lahan membuka."Yang Mulia Raja!" pekik Maurelle dan Ratu Serenity hampir bersamaan. Serta merta, mereka membungkukkan tubuh, memberi hormat kepada sang raja.Raja Brian dengan susah payah mengangkat salah satu tangannya, memberi tanda pada Maurelle dan Ratu Serenity agar menyudahi penghormatan mereka."Apakah ada yang kau inginkan, Yang Mulia?" tanya Ratu Serenity lembut setelah ia menegakkan tubuhnya.Raja Brian menggeleng pelan. Wajah dan bibirnya sangat pucat, sementara matanya menatap sayu ke arah Maurelle. "Apakah kau telah menemukan manusia itu, Maurelle?" tanyanya parau."Ampun, Yang Mulia Raja!" Maurelle menjatuhkan tubuhnya, berlutut di hadapan Raja Brian. Wajahnya menunduk, tak berani menatap sang Raja. "Hamba belum menemukannya. Namun, hamba telah menyebar para Kesatria Elf ke seluruh pelosok Fairyverse untuk menemukan manusia itu."Raja Brian memegang dadanya dengan salah satu tangan. Ia mengernyit sesaat. "Cepat temukan manusia itu, Maurelle!" Sergahnya pelan. Napasnya memburu. "A-aku tidak tahan menanggung rasa sakit ini!""Yang Mulia... !" isak Ratu Serenity. Demi mendengar perkataan sang raja, peri perempuan itu sontak menghambur ke arah Raja Brian.Raja Brian menggeliat pelan menahan sakit. Beberapa saat kemudian, tubuhnya kembali tenang. Ia mengerling sekilas ke arah Ratu Serenity. Dekapan sang ratu, seolah memberinya kekuatan. Kemudian, mata sayunya kembali menyorot Maurelle. "Segera temukan manusia itu Maurelle, bagaimanapun caranya!" serunya dengan suara bergetar."Baik, Yang Mulia!" sahut Maurelle seraya menganggukkan kepala. Namun, ada sesuatu yang membuatnya masih ragu untuk beranjak meninggalkan bilik."Ada yang ingin kau sampaikan, Maurelle?" tanya Ratu Serenity dengan mata memicing ketika menangkap gelagat Maurelle."Mohon ampun, Yang Mulia Ratu! Hamba hanya ingin menyampaikan sebuah pendapat, jika Raja dan Ratu tidak keberatan---"Ratu Serenity hendak membuka suaranya, tetapi kalah cepat dengan jawaban Raja Brian. "Sampaikan, Maurelle."Maurelle mengangguk pelan. "Ampun, Yang Mulia. Menurut hamba, penyebab sakitnya Raja Brian bukan berasal dari keberadaan manusia di Fairyverse." Maurelle menarik napas pelan seraya mengamati perubahan raut wajah Raja Brian dan Ratu Serenity. Ia kemudian melanjutkan perkataanya. "Jika melihat beberapa kejadian yang menimpa Kerajaan Avery dan beberapa kerajaan kecil di Fairyverse, maka hamba menyimpulkan bahwa para peri Unsheelie mulai melakukan pemberontakan. Hamba dapat melihat aura kegelapan telah melewati perbatasan Hutan Larangan, Yang Mulia.""Apa katamu?!" Ratu Serenity meninggikan suaranya. "Jadi kau meragukan hasil pemeriksaan para peri penyembuh Kerajaan Avery?!"Tenang lah, Ratu," bisik Raja Brian.Maurelle terkesiap. "Ampun, Yang Mulia Ratu. Hamba tidak bermaksud demikian. Hanya saja, hamba tidak melihat adanya hubungan antara keberadaan manusia dan kesehatan Raja Brian. Lagi pula, sampai sekarang kita tidak dapat menemukan jejak keberadaan manusia tersebut."Mendengar perkataan Maurelle, Ratu Serenity semakin tersinggung, karena bagaimanapun para peri penyembuh kerajaan berada di bawah kuasanya. "Lancang sekali kau, Maurelle! Bukankah kau sendiri yang meramalkan kedatangan manusia yang akan merusak tatanan di Fairyverse. Jadi mungkin saja, keberadaan manusia itu telah membawa pengaruh buruk bagi Raja Brian. Bukankah makhluk bernama manusia bahkan sering merusak alamnya sendiri!" hardik Ratu Serenity.Maurelle terhenyak. Ia tak dapat menjawab perkataan Ratu Serenity, meskipun berbagai asumsi berkelebat di dalam kepalanya. Namun, Maurelle memutuskan untuk bungkam, tak ingin menambah kemarahan sang ratu.Raja Brian tak menanggapi pernyataan Maurelle. Bukan berarti ia tak memikirkannya, bagaimanapun juga Maurelle adalah penasihat pribadinya, selain statusnya sebagai cenayang resmi kerajaan. Kondisi Raja Brian membuatnya urung untuk berdiskusi dengan Maurelle seperti biasanya.Keheningan menyelimuti bilik Raja Brian. Namun, sepersekian detik kemudian, suara genderang yang ditabuh dengan panik menggema di seluruh pelosok Kerajaan Avery.Maurelle, Ratu Serenity dan Raja Brian terkesiap. Gendang telinga mereka sama-sama menangkap bunyi genderang yang telah lebih dari seratus tahun tidak ditabuh itu. Genderang yang menandakan sebuah keadaan darurat."Apa itu?!" pekik Ratu Serenity seraya mengeratkan genggamannya pada lengan Raja Brian."Maurelle, cepat periksa keadaan Istana!" titah Raja Brian yang mulai panik.Maurelle mengangguk pelan, tetapi terlihat enggan beranjak. Pandangannya sedang menangkap apa yang sedang terjadi di luar bilik sang raja. Kengerian tergambar jelas di wajah cenayang peri itu. Ia menggeleng cepat. "Raja dan Ratu harus segera bersembunyi di ruang bawah tanah!""A-apa?!"Tanpa menunggu lebih lama lagi, Maurelle segera menuntun Raja Brian dan Ratu Serenity menuju sebuah ruangan tersembunyi yang terdapat di salah satu sudut bilik.Maurelle menyibakkan sebuah permadani keemasan yang menutupi permukaan lantai. Kemudian, ia mengetukkan tongkat sihirnya di atas lantai pualam di balik Permadani itu. Garis keemasan berbentuk segi empat tiba-tiba bersinar dan membuka, menampakkan sebuah tangga yang turun ke dalam sebuah ruangan di bawahnya.Dengan sigap, Maurelle membantu Raja Brian dan Ratu Serenity menuruni ruangan itu bergantian. Setelah itu, ia kembali menyembunyikan pintu masuk menuju ruang bawah tanah kerajaan yang baru saja dibukanya. Lalu, Maurelle bergegas keluar dari bilik sang raja.Suara genderang kembali ditabuh bertalu-talu. Samar-samar, Maurelle mendengar kegaduhan lainnya, yaitu suara jeritan para penghuni Istana Avery.* * *Claude baru saja menjejakkan kakinya di halaman Istana Avery. Ia menengadahkan pandangannya pada langit Avery yang terlihat kelabu, tidak secerah biasanya.Angin sepoi-sepoi berembus pelan menggoyangkan semak lavender yang memenuhi halaman istana. Desau angin juga membelai surai kelam Claude. Sang pangeran peri nyaris terlena dengan kesyahduan suasana saat suara raungan monster terdengar samar-samar terbawa angin.Claude terkesiap. Sebuah firasat buruk menyelinap dalam hatinya. Samar-samar sebuah pemandangan mengerikan terpampang di dalam kepalanya. Dengan tergopoh, ia memasuki istana utama kerajaan Avery. Pada sebuah lorong istana, Claude bertemu dengan pemimpin pasukan perang Kesatria Elf."Jenderal Thomas, siapkan pasukanmu dan perketat penjagaan di depan benteng Kerajaan Avery. Sesuatu yang buruk----"Tiba-tiba bunyi genderang perang ditabuh bertalu-talu. Claude dan Kesatria Elf bernama Thomas sontak saling tatap. Ketegangan tergambar jelas di wajah mereka.Tanpa kata dan tanpa membuang banyak waktu, Claude dan Thomas beserta pasukannya berlari menuju pintu gerbang benteng Kerajaan Avery. Raut gusar dan tegang tersirat jelas pada wajah-wajah mereka. Setelah seratus tahun genderang tak pernah ditabuh, kini bunyi tabuhan yang menandakan peperangan atau kekacauan kembali terdengar.Seekor monster setinggi lima belas kaki dengan sembilan kepala yang serupa ular dan ekor panjang berduri seperti ekor naga telah berdiri di depan pintu benteng Kerajaan Avery. Tak ada yang tahu dari mana asalnya dan bagaimana caranya hingga makhluk mengerikan itu dapat mencapai Avery. Dari setiap mulut monster tersebut mengepul asap tipis berwarna hijau. Kesembilan kepalanya meraung keras, menggentarkan para Kesatria Elf yang menghadang di balik pintu benteng.Dua orang Kesatria Elf yang berjaga di luar benteng rupanya tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah dengan kulit tubuh berwarna kehijauan. Pintu benteng bergetar beberapa kali, saat sembilan kepala monster bergantian menubruknya.Putra Mahkota Albert, Elwood dan Maurelle bergabung bersama Claude di belakang pasukan blokade, bersiap menanti Hydra menerobos gerbang benteng kerajaan Avery. Kengerian dan keteguhan hati jelas tergambar pada wajah-wajah mereka, dengan pedang-pedang dan tombak-tombak sihir terhunus siap menghalau kedatangan monster Hydra.Akhirnya, pintu benteng berhasil dihancurkan.Beberapa kesatria Elf yang berada tepat di balik pintu gerbang benteng terpental, terkena semburan napas monster itu. Tubuh mereka berubah kehijauan dengan cepat lalu ambruk tak sadarkan diri. Sementara pasukan kesatria Elf lainnya bergerak menjauh beberapa langkah agar tak terkena napas beracun Hydra.Monster Hydra terus merangsek maju. Menggeram dan meraung."Hindari semburan napasnya!" teriak Maurelle. "Aku akan berusaha memasang tabir pelindung!"Maurelle melangkah mundur, sementara kesatria Elf lain merangsek maju dan menyerang monster Hydra dengan pedang sihir dan tombak mereka. Maurelle merapal mantra pelan, seraya mengangkat tongkat sihirnya ke langit. Sebuah tabir tipis hadir melindungi para kesatria Elf di tempat itu.Setelah memiliki tabir pelindung dari Maurelle, para kesatria Elf semakin agresif menyerang Hydra.Putra Mahkota Albert yang masih belum pulih benar, merangsek maju, mendekati salah satu sisi monster Hydra. Pedang sihirnya diayunkan ke arah salah satu leher Hydra. Pedang itu meninggalkan bekas luka sayatan yang menampakan warna hijau menyala darah Hydra. Namun, sedetik kemudian luka itu menghilang tanpa bekas seolah makhluk itu tak pernah terluka."Kita harus menebas lehernya!" teriaknya pada Jendral Thomas dan Claude. Kedua orang itu mengangguk pelan.Claude yang tidak terlalu mahir menggunakan pedang menyerang ekor monster Hydra, berusaha mengalihkan perhatian monster berkepala sembilan itu. Sang monster meraung marah ketika mendapat tebasan di ekornya.Tiga dari sembilan kepalanya lantas menoleh ke arah Claude dengan tatapan marah. Mata-matanya merah menyala, menggetarkan nyali Claude. Tiga kepala itu kemudian menyemburkan napas hijau beracun. Beruntung, tabir Maurelle masih melindungi hingga semburan napas itu seolah menghantam dinding tak kasat mata di hadapan Claude.Sementara dari sisi lain, Putra Mahkota Albert dan Jendral Thomas serentak menebas dua kepala Hydra. Dua buah kepala monster yang serupa ular itu jatuh terguling ke tanah, disertai raungan mengerikan yang menekakkan telinga. Darah kental berwarna hijau menyala mengotori pedang sihir mereka. Sedetik kemudian pedang sihir yang terkena darah Hydra itu hancur.Putra Mahkota Albert dan Jendral Thomas terhenyak. Mereka membelalak dengan ngeri ke arah monster Hydra. Tidak hanya wujudnya yang mengerikan, bahkan racun dalam darahnya sangat mematikan dan menghancurkan.Monster Hydra yang kehilangan dua buah kepala terlihat sempoyongan untuk beberapa saat. Namun, tidak butuh waktu lama, dua leher yang terkulai tanpa kepala itu kemudian menumbuhkan kepala baru dengan raut wajah yang lebih mengerikan dari sebelumnya."A-apa?! Ti-tidak mungkin?!"Raungan monster Hydra semakin keras, seolah-olah mengejek Albert dan Thomas yang gagal membunuhnya. Monster itu merangsek maju, menatap sengit ke arah Maurelle. Monster itu tidak hanya kuat, ternyata juga memiliki insting yang luar biasa tajam. Ia segera mengetahui peri yang membuat penangkal bagi napas beracunya.Kepala-kepala Hydra masih menyemburkan napas hijau ke segala arah. Walaupun gagal menumbangkan para kesatria Elf di sekitarnya, tetapi semburan napas itu berhasil mengenai bangunan dan tanaman di sekitarnya. Bangunan dan tanaman itu kontan menghitam dan menguarkan bau hangus.Maurelle menggigil di tempatnya berdiri. Tangannya yang bergetar menghunuskan pedang sihir lain untuk menantang Hydra. Namun, belum sempat sang cenayang melayangkan serangannya, sang monster dengan gesit menyerang Maurelle lebih dulu. Ia membenturkan kedua kepalanya ke tubuh peri cenayang itu.Maurelle terpental ke atas hingga menubruk dinding benteng. Darah segar keluar dari salah satu sudut bibirnya. Kekuatannya otomatis berkurang drastis, sehingga tabir pelindung yang dibuatnya mendadak hilang."Semuanya menghindar! Masuk ke ruang bawah tanah!" Teriak Maurelle seraya meringis menahan sakit.Sebagian pasukan kesatria Elf berlari pontang-panting meninggalkan tempat itu. Sementara sebagian lagi masih bertahan untuk melindungi Putra Mahkota Albert dan para pangeran.Mata-mata merah monster Hydra seolah terpaku pada sosok Maurelle, belum puas menyiksanya. Monster itu kembali mendekati Maurelle yang masih berusaha untuk berdiri. Salah satu kepala monster Hydra mengayun ke arah tubuh Maurelle. Akan tetapi, dengan sigap, Putra Mahkota Albert menangkis kepala itu dengan pedang sihirnya.Salah satu kepala Hydra jatuh menggelinding ke arah kaki Maurelle. Dalam hitungan detik, dua kepala mulai tumbuh dan kembali menyembur Maurelle dan Putra Mahkota Albert dengan napas beracunya.Albert dengan sigap mengangkat tamengnya dan serempak berguling ke samping bersama Maurelle, sehingga semburan napas Hydra luput mengenainya. Alhasil, racun itu menyambar dan menghancurkan dinding benteng di belakangnya."Aku tahu cara menghancurkannya!" teriak Claude dari sisi berlawanan. Mendengar jeritan Claude, Hydra mengalihkan pandang ke arahnya dan berjalan mendekatinya.Claude gelagapan, ia mengacungkan pedang patahnya ke arah Hydra dengan tangan bergetar. "Pergi kau monster! Jika aku menemukan kepala abadimu, kau pasti akan mati!" ancamnya.Salah satu kepala monster itu meraung keras tepat di depan wajah Claude. Claude sontak menutupi mulut dan hidungnya dengan telapak tangan agar tak terkena napas beracun Hydra. Kepala Hydra yang lain mendekat dan hendak menyembur Claude, tetapi Elwood terlebih dahulu menebas kepalanya dengan pedang.Dua kepala Hydra kembali tumbuh. Kini jumlah kepala monster itu telah bertambah dua kali lipat. Setiap kepala meraung, lalu menyemburkan napas hijaunya ke segala arah. Selain menyembur, monster itu dengan membabi-buta menghantam siapa pun dengan kepalanya.Tepat saat monster Hydra hendak memukulkan salah satu kepalanya ke arah Elwood, anak-anak panah dengan mata api melesat cepat ke arah sang monster. Sepasukan kesatria Elf dengan busur dan anak panah sihir muncul dari bagian atas benteng.Beberapa anak panah api itu berhasil mengenai beberapa bagian tubuh Hydra. Monster itu meraung kesakitan sehingga menggerakkan tubuhnya dengan liar. Beberapa kepalanya membentur dan menghancurkan dinding benteng, sehingga deretan kesatria Elf yang berada di bagian atas benteng terjatuh. Tubuh-tubuh melayang kesatria Elf itu langsung disambut oleh napas beracun Hydra. Akhirnya, para kesatria Elf pemanah yang terkena napas beracun tewas bergelimpangan dengan tubuh kehijauan.Putra Mahkota Albert, Elwood, Claude, Jendral Thomas dan Maurelle mulai dilanda keputusasaan. Sesering apa pun mereka menebas leher Hydra, maka kepalanya akan selalu tumbuh dengan jumlah dua kali lipat. Sementara, tenaga mereka telah hampir terkuras, monster Hydra malah semakin bertambah kuat.Monster Hydra terus menyemburkan asap dari mulut-mulutnya, tanpa ada yang menghalangi. Monster itu merangsek masuk dengan langkah besar yang menggetarkan tanah pijakannya. Halaman benteng Kerajaan Avery mulai dipenuhi kabut asap berwarna hijau yang beracun.Para kesatria Elf yang masih tersisa mulai mengalami kesulitan bernapas dan batuk hebat, termasuk Putra Mahkota Albert, Claude, Elwood dan Maurelle. Mereka tak sanggup berdiri lagi.Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Jendral Thomas menyeret langkahnya mendekati monster Hydra dari arah belakang. Ia menggenggam sebilah tombak. Tanpa keraguan sedikit pun, Thomas mengayunkan tombaknya menancapkan mata tombak runcing itu pada punggung Hydra. Tombak itu tertancap, serta-merta darah segar Hydra mengucur mengenai wajahnya.Thomas menyeringai puas. Namun, seringainya langsung redup saat monster Hydra dengan cepat berbalik dan mengoyak tubuhnya dengan gigi-geliginya yang tajam. Thomas berteriak kesakitan, sebelum akhirnya tewas dengan isi perut terburai."Thomas!" pekik Claude dengan wajah pias. Elwood segera membekap mulutnya agar Hydra tak mendengar teriakan Claude.Namun, mereka terlambat, sedetik kemudian, monster Hydra berbalik menatap Claude. Mata-mata merah Hydra menyorot bengis seolah akan menelan Claude bulat-bulat.Claude terkesiap. Di sampingnya, Elwood juga terhenyak dengan tubuh gemetar. Mereka bergeming. Sementara Hydra meraung keras, sebelum akhirnya menyemburkan napas beracun tepat di depan wajah mereka.

The Truth Untold
Fantasy
20 Feb 2026

The Truth Untold

"Archie?!"Ammara terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Pelipisnya dibanjiri keringat. Mimpi-mimpi aneh barusan masih berkelebat silih berganti dalam pikirannya. Mimpi-mimpi yang sangat asing sekaligus terasa familier.Ia bahkan memimpikan Archibald. Ya, peri sombong yang paling ia benci. Ammara memegang pelipisnya yang mendadak terasa nyeri.Benar-benar mimpi yang menyebalkan!"Kau sudah bangun?" tanya Claude. Kedua lengan peri laki-laki itu terlipat di depan dada. Sementara matanya memicing pada Ammara.Ammara terperanjat. Kilatan-kilatan mimpi di kepalanya sirnah dalam sekejap. Ia balas menatap peri itu dengan kening berkerut. Claude dengan ekspresi dingin dan ketus adalah pemandangan yang sangat aneh bagi Ammara. Sesuatu pasti telah terjadi di luar sepengetahuannya.Ammara memilih bungkam, ia enggan menjawab pertanyaan basa-basi Claude. Peri perempuan itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Pemandangan biliknya di Fairyfarm terpampang jelas. Bilik kecil minim perabot yang dipenuhi sinar matahari, dengan jendela besar yang terbuka lebar menghadap ke arah kebun. Ammara mengembuskan napas lega saat menyadari jika sekarang ia sudah berada di rumah cendawan. Di samping Claude, iris mata hijaunya menangkap sosok Ailfryd yang sedang menekuri lantai, tertunduk dalam diam.Lagi-lagi pemandangan yang janggal , batinnya.Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Di mana ibu?" tanya Ammara. Manik matanya dengan liar mencari ke setiap sudut bilik, ke arah pintu dan jendela yang terbuka. Namun, sosok sang ibu tidak ia temukan."Ibu?!""Ibu! Ibu!" pekiknya lagi, berharap mendapat jawaban dari Ella. Wajah pucatnya mulai terlihat gusar. Sebutir air mata tanpa sadar terbit di salah satu pelupuk mata peri perempuan itu."Tenangkan dirimu, Nak. Ibumu baik-baik saja!" lirih Ailfryd. Ia meraih kedua lengan Ammara yang hendak beranjak dari pembaringan."A-apa maksud ayah? Aku ingin bertemu dengan ibu!" Ammara bersikeras, berusaha menepis genggaman ayahnya. Sesuatu yang sangat buruk pasti telah terjadi. Ailfryd bersikap aneh, sama halnya dengan Claude. Kesabaran Ammara nyaris habis, ia benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Ella.Claude mendekatkan wajahnya pada Ammara. Ia menatap peri perempuan itu dengan tatapan menghunus tajam.Ammara sontak terdiam. Bibirnya bergetar menahan suara tangis yang hendak meledak keluar dari tenggorokan. Matanya berembun akibat genangan air yang nyaris meluruh turun."Ibumu sedang ditahan di penjara bawah tanah Kerajaan Avery. Dia akan segera diadili oleh para Dewan Peri pada purnama yang akan datang atas tuduhan sebagai pemilik kalung zamrud yang menyebabkan kekacauan di Istana Avery," jelasnya ketus. Peri laki-laki itu melanjutkan ucapannya lagi. "Jadi jangan pernah bertindak gegabah lagi. Kau tidak akan bisa menyelamatkannya. Lagi pula kau berhutang sebuah penjelasan padaku!"Ammara membelalak. Iris mata hijaunya lekat menatap iris mata hitam Claude seraya menggeleng pelan. Bulir-bulir air mata satu per satu lolos dari pelupuknya. Perlahan bunyi isakan terdengar dari mulut peri perempuan yang tertutup telapak tangan. Bahunya bergetar."Ibuku tidak bersalah. Kalung itu milikku! Tolong selamatkan ibuku. Ibuku tidak bersalah!" teriaknya histeris.Ailfryd serta-merta menjatuhkan lututnya di hadapan Claude seperti orang yang sedang menyembah. Tubuhnya bangkit dan bersujud beberapa kali di hadapan Claude. Kedua belah pipinya telah basah bersimbah air mata. "Aku mohon Pangeran, ini bukan salahnya. Kami tidak sengaja menemukannya di dekat Perbatasan Hutan Larangan dan Ella merasa kasihan akan keadaannya. Oleh karena itu, kami menolongnya. Dia sama sekali tidak berbahaya dan tidak tahu apa-apa!"Ammara kontan memalingkan wajahnya pada Ailfryd di sela-sela isak tangisnya. Keningnya mengernyit semakin dalam. "Ayah, apa maksud ayah?!""Maafkan kami Ammara. Kami telah memboho--""CUKUP!" sergah Claude mendiamkan dengungan suara isak tangis Ammara dan Ailfryd. "Aku sudah cukup mendengar darimu, Tuan Ailfryd. Kini aku ingin mendengarnya dari Ammara.""Baiklah, Pangeran," sahut Ailfryd lirih. Dengan berat hati, ia beranjak keluar dari bilik Ammara untuk membiarkan Claude dan Ammara berbicara empat mata.Setelah kepergian Ailfryd, Claude kembali menyorot Ammara dengan tatapan penuh selidik. "Kau tahu, luka-luka di tubuhmu menyebabkan tabir pelindung yang dibuat Ella rusak, sehingga aku bisa melihat jelas sosokmu yang sebenarnya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Ella dan Ailfryd berusaha keras melindungimu, hingga mereka tak mengacuhkan keselamatan mereka sendiri. Menyelamatkanmu benar-benar sangat berisiko untuk mereka," desisnya.Ammara mengangkat wajah, bekas air mata masih tergenang jelas di kedua pipinya. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Claude..." lirihnya di sela-sela isak tangis.Claude mengernyit. "Apa maksudmu tidak mengerti? Kau berpura-pura menjadi peri. Begitu tabir yang Ella buat rusak, aku langsung bisa mengenali siapa dirimu sebenarnya. Kau bukanlah bangsa peri. Kau adalah manusia!""A-aku manusia?!""Kau sudah membohongi kami semua, Ammara. Terlebih, keberadaanmu di sini telah membuat Ella berada dalam masalah. Aku harus mengakhiri ini semua, sebelum pihak Istana menemukanmu!" ucapnya tegas. Rahangnya mengeras saat mengucapkan kata-kata tersebut. Dengan gerakan cepat sebelah tangannya meraih salah satu lengan Ammara, sementara tangan lainnya menghunus sebilah pedang sihir.Ia mengacungkan pedang sihir itu ke leher Ammara."Apa maksudmu?! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kauucapkan, Claude!" Ammara menegang. Tubuhnya kaku merasakan hawa dingin dari bilah pedang perak yang menempel di lehernya."Kau harus pulang! Aku akan mengantarmu menuju portal Utara!"Claude menarik paksa salah satu lengan Ammara, kemudian menyeret gadis itu turun dari pembaringannya keluar bilik, sementara pedang perak menempel ketat di lehernya.Ailfryd yang sedang berada di beranda terkejut saat melihat sang pangeran yang sedang menodongkan pedang perak ke leher putrinya seraya menyeret paksa tubuhnya."Pangeran Claude?! Ada apa?! Tolong turunkan pedang itu dari leher Ammara!" teriaknya gusar. Ailfryd mengikuti mereka."Aku akan mengembalikannya ke tempat asalnya, tuan Ailfryd!" sahut Claude tegas."Akan tetapi, seluruh portal terkunci, Pangeran. Kita tidak bisa melewatinya begitu saja. Portal akan terbuka secara alami jika bulan purnama merah terjadi di dunia manusia. Dan, kita tidak tahu kapan itu akan terjadi!""Apa? Bagaimana kita tahu jika purnama merah sedang berlangsung di dunia manusia? Lagi pula purnama merah setahuku terjadi setiap 150 tahun sekali di dunia manusia." Claude berpikir sejenak. Langkahnya terhenti dan genggaman tangannya melemah. Pedang yang tadinya terhunus melintang di leher Ammara kini telah kembali ke dalam sarungnya. Ia berbalik menghadap Ailfryd yang mengekor di belakangnya. "Apa tidak ada cara lain?"Ailfryd menggeleng lemah, tetapi sepersekian detik kemudian pupil matanya membesar. "Ada satu cara, Pangeran! Akan tetapi, tampaknya akan sangat mustahil. Cara itu adalah dengan meminta ijin kepada Raja. Satu-satunya kuasa yang dapat membuka portal di Fairyverse adalah dengan menggunakan tongkat milik sang Raja. Namun, dalam kondisi seperti sekarang ini, bukankah sang Raja malah akan membunuh Ammara jika ia mengetahui bahwa Ammara adalah manusia?""A-aku manusia??" tanya Ammara tiba-tiba. Wajah piasnya kebingungan menatap Claude dan Ailfryd bergantian.Pertanyaan itu sontak mengalihkan perhatian Ailfryd dan Claude kepadanya. Mereka terdiam menatap Ammara untuk beberapa saat lamanya."Sudah kubilang, Pangeran. Ingatannya masih tersegel. Ella mengatakan jika peri unsheelie yang melakukannya. Ella juga dapat merasakan aura kehadirannya di saat kami menemukan Ammara. Aku mohon beri dia waktu, Pangeran Claude. Aku akan mengawasinya dengan ketat agar ia tidak keluar dari rumah ini." Ailfryd memohon. Suaranya bergetar menahan kesedihan sekaligus pengharapan.Claude berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan. "Baiklah Tuan Ailfryd. Kita harus sama-sama merahasiakan ini. Jika tidak, kita semua akan berada dalam bahaya .... "Ammara bungkam, kerutan di antara kedua alisnya tidak juga menghilang. Ia menatap Ailfryd dan Claude bergantian untuk meminta penjelasan lebih, tetapi sepertinya tak seorang pun di antara mereka yang akan membuka suara.Perlahan, Ailfryd mengambil alih lengan Ammara dan menuntun peri perempuan itu kembali memasuki rumah.Claude yang berdiri di depan beranda rumah beratap cendawan itu kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia merentangkan kedua lengannya ke arah langit. Mulutnya berkomat-kamit perlahan, sementara sebuah mantra mengalun pelan di antara desau angin. Manik matanya menghilang bersamaan dengan cahaya yang menyala dari tongkat sihirnya. Perlahan-lahan cahaya itu memecah menjadi butiran-butiran sinar yang terbang melingkupi rumah Ailfryd.Sebuah tabir samar-samar terbentuk mengelilingi rumah kecil beratap cendawan itu. Tabir tipis itu memanjang menembus langit biru di atasnya. Saat rapalan mantra selesai dilantunkan, tabir itu pun perlahan menghilang.Claude menghembuskan napas pelan. "Semoga tabir ini dapat menyamarkan baumu."* * *Seekor naga putih terbang cepat membelah langit Fairyverse, menembus awan-gemawan, menuju salah satu dataran tertinggi di Fairyhill. Para peri menyebut tempat itu sebagai Frozen Land karena merupakan satu-satunya tempat di Fairyverse yang selalu ditutupi salju sepanjang tahun.Sejauh mata memandang, tempat itu hanyalah hamparan salju yang memutih, bahkan ranting-ranting pohon tanpa daun pun berwarna putih tertutup salju. Namun, hanya sedikit peri yang dapat melihat bahwa sebenarnya di Frozen Land terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Aethelwyne. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Breena.Sang naga putih menukik turun begitu sampai di halaman Istana Aethelwyne yang dipenuhi tanaman winter jasmine dan snowdrop . Begitu sang naga telah mendarat sempurna, Archibald melompat turun dari punggungnya dengan gesit.Peri laki-laki bersurai keemasan itu melangkah tergesa memasuki pintu gerbang Istana Aethelwyne. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras. Sementara wajahnya terlihat merah padam.Para kesatria Elf yang menjaga gerbang serta lorong-lorong Istana Aethelwyne saling bertukar pandang saat Archibald melewati mereka. Tak satu pun dari mereka memiliki keberanian untuk menyapa sang pangeran saat itu."Ibu!" teriaknya lantang begitu memasuki balairung Istana Aethelwyne, di mana Ratu Breena sedang duduk merenung di atas singgasananya.Sang Ratu mengangkat wajahnya dengan tenang. Iris mata hazel green nya menangkap raut gusar di wajah Archibald. Sang Ratu telah tahu penyebab sikap putranya. Namun, ia memilih diam, menunggu Archibald memuntahkan kemarahannya."Mengapa ibu menyegel ingatanku?! sembur sang pangeran.Ratu Breena memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu, Nak?" sambutnya tenang. Sementara jari-jemarinya meremas salah satu sisi gaun.Archibald memicingkan matanya penuh selidik. "Ibu jangan berpura-pura tidak tahu. Apa maksud semua ini, Bu? Mengapa Ibu menghilangkan semua ingatanku tentang pengusiran Ibu dari Kerajaan Avery dan ..." Archibald mendesah pelan, sorot matanya meredup. "... dan tentang Chiara?""Jadi, kau telah bertemu dengan Minerva?" imbuh Ratu Breena pelan. Pandangannya menerawang. "Ibu tidak menyangka jika kejadiannya akan secepat ini. Apakah kau bertemu dengannya di Hutan Larangan? atau ... dia telah berani melanggar peraturan Dewan Peri dengan melintasi perbatasan?"Archibald mengembuskan napas dengan kasar. "Minerva yang menculik Putra Mahkota Albert, Bu. Aku bertemu dengannya di Fairyfall. Dia membuka ingatanku dan menunjukan semuanya?! Semuanya! Jika aku tahu semuanya dari awal, aku tidak akan sudi tinggal di istana itu! Aku akan menghancurkan semuanya. Semua yang telah menyakiti ibu!""Dan menjadi terkutuk sebagai Unsheelie?" sergah Ratu Breena. Sang Ratu menggeleng cepat, sementara ekspresi wajahnya mengeras. "Ibu tidak akan membiarkan kemarahan membakar habis nuranimu. Ibu tidak ingin kau hidup dengan kemarahan dan dendam. Apa pun alasannya, Archie. Balas dendam tidak akan memperbaiki keadaan, justru akan merusak dirimu dan orang-orang yang kau sayangi."Archibald bergeming."Ibu hanya ingin kau hidup tenang dan bahagia tanpa menyimpan dendam dan kemarahan. Hanya itu, Archie," timpalnya. Mata Ratu Breena mengerjap dan setetes air bening luruh di salah satu pipinya.Archibald membuang muka, tak sanggup melihat kesedihan sang ibu. Amarahnya menguap seketika."Dan, tentang Chiara..." Ratu Breena melanjutkan. "Kalian adalah dua makhluk berbeda, Archie. Langit tidak akan membiarkan kalian bersatu dengan mudah, sebelum salah satu dari kalian melakukan pengorbanan yang sangat besar. Gadis manusia itu tidak tercipta untuk makhluk seperti kita."Archibald membelalak saat mendengar penuturan ibunya barusan. Sesuatu di dalam dadanya bagaikan dicabut dengan paksa. Sakit, tetapi tidak berdarah. Tatapan matanya berubah sendu. "Maafkan ibu...!" lirihnya. "Maafkan ibu, Archie."Beberapa saat lamanya mereka terdiam. Hanya suara tarikan dan embusan napas yang bergema halus di dalam Balairung istana Aethelwyne.Tiba-tiba sesosok kesatria Elf menerobos masuk dengan tergopoh-gopoh. Setelah membungkuk sebentar, kesatria Elf itu langsung mengumumkan kabar yang dibawanya. "Mohon ampun Yang Mulia Ratu, seekor Merpati emas telah datang sebagai utusan dari Raja Brian. Tampaknya sesuatu yang buruk telah terjadi di Istana Avery!""Di mana merpatinya?" tanya Sang Ratu dengan raut menegang.Serta-merta sepasang Kesatria Elf yang berjaga di depan pintu Balairung membuka pintu masuk menuju balairung. Bunyi derit pintu menggema.Seekor merpati terbang perlahan ke arah Ratu Breena, sementara sang ratu mengangkat salah satu lengan hingga merpati berwarna keemasan itu bertengger di atasnya. Iris mata sang ratu menatap burung itu beberapa saat. "Benar, ini adalah merpati yang kuberikan pada Raja Brian. Ia akan mengirimkan kembali merpati ini padaku jika Avery dalam bahaya!" serunya. Kengerian tergambar jelas di wajahnya.Archibald bergeming. Sejak ingatannya kembali, rasa kecewa terhadap Raja Brian dan segenap penghuni Kerajaan Avery meliputi hatinya. Benar kata sang ibu, harusnya ia tak pernah mengingat kejadian buruk apa pun di masa lalu. Kedua tangannya terkepal, sementara kedua rahangnya mengatup.Ratu Breena menyadari keengganan untuk menyelamatkan sang raja dalam diri Archibald. "Archie, Ibu tahu ini akan sangat berat bagimu, tapi bagaimanapun juga Raja Brian adalah ayahmu. Saat ini kerajaan Avery sedang membutuhkan pertolongan. Namun, ibu tidak akan memaksa. Kau berhak memilih, Archie. Menyelamatkannya sekarang atau menyesalinya seumur hidup kelak."Kata-kata Ratu Breena bagaikan pecut listrik yang menyengat perasaannya. Tanpa membuang waktu lagi, Archibald segera melangkah keluar meninggalkan Balairung menuju naga putih yang sedang mendengkur pulas.Dengan beberapa kali tepukan di punggung, akhirnya sang naga terbangun. Archibald melompat ke atas punggung sang naga, kemudian memerintahkan sang naga terbang membelah langit Fairyverse.Ratu Breena menatap kepergian Archibald dengan mata berkaca-kaca. Sudut-sudut bibirnya terangkat. Beberapa saat kemudian sosok Sang Ratu menghilang, meninggalkan garis-garis cahaya yang yang memenuhi balairung.

Scattered Memories
Fantasy
20 Feb 2026

Scattered Memories

Naga putih menukik turun begitu melewati perbatasan Hutan Larangan.Para kesatria Elf yang berjajar rapi di depan perbatasan Hutan Larangan serentak melangkah mundur memberi tempat pada naga putih untuk mendarat. Pasukan tersebut adalah pasukan resmi dari kerajaan Avery yang diutus untuk menyisir Hutan Larangan dalam rangka mencari Putra Mahkota Albert dan Ammara yang dinyatakan hilang. Namun, sebelum para kesatria Elf sempat memasuki hutan, naga putih yang membawa Archibald, Albert, Ammara dan Elijah telah tiba di Fairyhill terlebih dahulu.Dua sosok peri berbaju zirah mendekati naga putih, membantu Archibald dan Elijah membopong turun tubuh putra mahkota Albert yang terlihat lunglai tak sadarkan diri. Mereka adalah Elwood dan Claude.Claude tampak mengernyit ketika ia melihat tubuh pucat Albert yang mulai membiru dan teraba dingin. Dengan tergopoh, ia merogoh kantung kulit yang terikat di pinggangnya. Ia mengeluarkan segenggam serbuk peri dari kantung itu dan menaburkannya ke sekujur tubuh Albert.Serbuk peri itu sedikit bercahaya saat menyentuh permukaan kulit Albert. Perlahan tapi pasti kebiruan di kulit Albert mereda. Albert terbangun dengan terbatuk hebat. Setelah itu, tubuhnya kembali terkulai tak sadarkan diri."Hampir saja!" desah Claude lega."Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Ammara khawatir."Ya, dia akan baik-baik saja. Racunnya telah sirna. Untung saja kalian segera keluar dari hutan itu. Kalau tidak ... Albert mungkin tidak akan tertolong!"Claude mengedarkan pandangannya pada Archibald, Elijah, kemudian Ammara. Ia lantas menatap lekat peri perempuan itu."Kau baik-baik saja?" tanya Claude.Ammara mengangguk ragu. Wajahnya terlampau pucat untuk mengaku baik-baik saja. Sesuatu mendesak tenggorokannya. Dalam hitungan detik, peri perempuan itu berlari menjauh dari sisi naga putih, kemudian memuntahkan seluruh isi perutnya."Benar-benar peri yang aneh. Aku tidak pernah melihat peri yang begitu lemah sepertimu. Kau muntah hanya karena menunggangi seekor naga?!" cibir Archibald dari balik punggung Ammara. Dengan sigap peri itu menangkap tubuh Ammara yang mendadak limbung.Ammara terlalu lemah untuk membalas cibiran Archibald tersebut, tetapi dalam hati ia mengumpat. Ia hanya menunduk pasrah, saat Archibald mengarahkan kembali tubuhnya ke sisi naga putih."Mari kita pulang, Nak. Biar aku yang merawatmu di rumah," ucap Ailfryd seraya berjalan mendekati Ammara. Rupanya sedari tadi Ailfryd berada dalam rombongan para kesatria Elf."Ayah!" sapa Ammara seraya tersenyum lemah. "Aku rindu ibu, aku ingin pulang sekarang."Ailfryd bergeming sesaat, kemudian ia mengubah ekspresinya dengan cepat. "Tentu saja, putriku. Mari kita pulang sekarang!"Para pangeran peri saling bertukar pandang. Mereka sama-sama menangkap ketidaktahuan Ammara bahwa ibunya telah ditahan di Kerajaan Avery."Aku ikut, Tuan Ailfryd. Kondisi Ammara sangat tidak baik. Tubuhnya penuh luka dan ... makhluk-makhluk terkutuk itu sepertinya masih mengincarnya. Aku dapat melihat mereka mengintip dari balik perbatasan Hutan Larangan. Aku memang tidak semahir Ella dalam pengobatan, tetapi mungkin aku bisa menggunakan sihirku untuk membantu Ammara."Tanpa membuang waktu lagi, Ailfryd, Ammara, Claude serta beberapa kesatria Elf meninggalkan Fairyhill menuju Fairyfarm. Derap langkah kaki unicorn terdengar makin lama semakin menjauh.Tak berselang lama, rombongan kesatria Elf yang dipimpin oleh Pangeran Elwood juga meninggalkan Fairyhill. Mereka membawa serta putra mahkota Albert yang masih tak sadarkan diri.Kini tinggalah Archibald dan Elijah di tempat itu. Archibald terlihat sedang mengelus-elus punggung naga putihnya. Sementara, di dekatnya Elijah berdiri gusar, hendak mengatakan sesuatu pada Archibald.Tiba-tiba suara kepak sayap seekor makhluk yang besar memecah keheningan Fairyhill yang damai. Sontak, Archibald dan Elijah menghunus pedang mereka hampir bersamaan. Mereka mendongak menatap asal bunyi tersebut.Seekor naga hitam terbang melintasi Fairyhill, tepat di atas mereka. Sesosok peri berjubah gelap menunggangi naga tersebut."Itu dia! Itu dia si penyihir! Dia melanggar peraturan Dewan Peri dengan melintasi perbatasan Hutan Larangan. Ayo kita tangkap dia!" teriak Archibald seraya melompat ke atas naga putihnya. Elijah mengikuti peri elf itu dengan perasaan campur aduk.Naga putih yang hampir jatuh tertidur itu terkejut akibat tepukan dari Tuannya. Serta merta, makhluk besar itu berdiri dan mulai mengepakkan sayapnya.Tumbuhan di sekitar naga itu bergoyang hebat, terkena embusan kepakan sayap sang naga putih yang beranjak naik.Dari kejauhan, Archibald dapat melihat naga hitam yang ditunggangi peri penyihir Unsheelie itu memasuki Fairyfall. Archibald segera mengarahkan naga putihnya untuk mengikuti naga hitam itu. Kali ini, ia berharap naga hitam itu tidak lagi bisa lolos.Naga putih menukik turun memasuki rerimbunan hutan Fairyfall. Suara air terjun yang sangat deras mulai terdengar di telinga Archibald dan Elijah, sementara pemandangan hijau menyambut kentara.Archibald menangkap sosok peri penyihir Unsheelie yang diburunya sedari tadi sedang berdiri menghadap ke sebuah danau besar yang bernama Danau Cermin, sementara sang naga hitam tidak terlihat lagi. Di sisi sang penyihir, sesosik peri elf bermahkota dedaunan bergeming mengawasi suasana di sekitar Fairyhill. Benar saja dugaan Archibald dari awal, bahwa naga hitam itu adalah naga jadi-jadian. Naga itu pasti telah berubah wujud menjadi peri elf yang saat ini berdiri di samping peri penyihir.Peri elf bermahkota daun itu menyeringai saat iris matanya beradu dengan iris mata Archibald.Naga putih memelankan terbangnya, ketika mendapat perintah dari sang tuan untuk berhenti di sekitar Danau Cermin. Setelah sang naga berhenti pada salah satu sisi danau, Archibald dan Elijah dengan cepat turun dari punggungnya bergantian.Dengan pedang terhunus, Archibald mendekati peri Unsheelie berjubah gelap yang sedang mematung menatap Danau Cermin. Sementara Elijah mengekor di belakang Archibald dengan raut was-was."Archibald putra Breena. Akhirnya kita bertemu juga setelah sekian lama!" sapa peri Unsheelie itu seraya berbalik menatap Archibald dengan sorot dingin.Archibald terperangah."Siapa kau?! Aku tidak mengenalmu! Tapi aku tahu jika kaulah yang menculik Putra Mahkota Albert!" bentak Archibald. Pedang sihir peraknya bersinar terang sebagai respon keberadaan makhluk unsheelie. "Lagi pula, kau telah melanggar peraturan Dewan Peri dengan melewati perbatasan Hutan Larangan. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"Alih-alih merasa terancam dengan perkataan Archibald, peri Unsheelie itu terbahak seraya membuka tudung jubahnya. Rambut hitamnya tergerai, dengan manik mata berwarna ungu yang menyiratkan kebengisan.Elijah membelalak saat melihat peri Unsheelie di hadapannya. Peri itu adalah ibunya, Ratu Minerva. Ia memang sudah mengira jika peri itu adalah ibunya, tetapi ia tak menyangka jika Ratu Minerva akan berkonfrontasi sedekat ini dengan Archibald."Kau pikir kau bisa dengan mudah menangkapku, Pangeran! Aku bahkan telah mengenalmu sejak kecil!" desis Ratu Minerva. Ia memiringkan kepalanya mengamati Archibald yang terkejut mendengar ucapannya, "Tunggu dulu ... kau tak mengingatku? Ah ya! Tentu saja! Breena pasti melindungimu dengan mengunci ingatanmu waktu itu!""A-apa maksudmu?" tanya Archibald tergagap.Di sisinya, Elijah juga sama terkejutnya dengan Archibald. Ia menatap Ratu Minerva dan Archibald bergantian, mencoba menerka hubungan masa lalu di antara kedua peri itu.Minerva menyeringai lebar. "Aku akan mengembalikan ingatanmu yang terkunci itu!"Peri perempuan itu menyibakkan jubah yang menutupi salah satu tangannya dengan sekali kibasan. Sebuah tongkat sihir besar yang menjejak ke tanah terlihat, sebuah bola kristal ungu bertakhta di puncak tongkat yang bercahaya. Minerva lantas mengarahkan tongkat sihir itu kepada Archibald. Sebuah mantra bergaung dari bibir merahnya seolah memenuhi Fairyfall.Tiba-tiba, langit menggelap. Suara gemuruh terdengar bersahut-sahutan di langit Fairyfall. Kilatan-kilatan petir menyambar kristal ungu di puncak tongkat Minerva.Archibald bergeming. Kedua kakinya tak mampu bergerak, seolah tertanam di atas permukaan tanah Fairyfall.Secepat kilat, segaris cahaya ungu keluar dari bola kristal itu, menerpa tubuh bergeming Archibald. Sinar ungu itu melingkupi seluruh tubuhnya dalan sekejap mata.Archibald berteriak. Sekujur tubuhnya bergetar. Ia merasa bagai tersengat petir.Seberkas cahaya menerpa pandangan Archibald, erang dan menyikaukan. Bagi Archibald, waktu seakan terhenti saat itu.* * *Fl ashbackTahun 1856, Cottingley, Pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).Archibald berjalan mondar-mandir di depan sebuah mulut gua yang tertutup rapat oleh tanaman merambat. Wajahnya gusar. Ia mencoba menarik dan memutuskan tanaman merambat yang menutupi pintu itu, tetapi sia-sia. Kekuatannya seakan menghilang sama sekali setelah melewati portal tersebut.Archibald mendesah lemah. Ia berjongkok di depan mulut gua dengan putus asa, seakan dengan memandanginya sulur-sulur tanaman itu dapat hancur dengan sendirinya."Archie?" sapa sebuah suara gadis kecil dari balik punggungnya.Archibald sontak menoleh waspada. Tatapan matanya melembut ketika iris mata hazel green -nya menangkap sosok seorang gadis berambut keemasan yang ia kenal."Kau sudah datang?" tanya Chiara riang, gadis manusia yang ia temui sehari sebelumnya di padang Dandelion.Seulas senyum terbit di bibir Archibald. "Aku di sini sepanjang malam."Iris mata hijau gadis itu membola. "Kau tidur di hutan ini sepanjang malam? Mengapa kau tidak mengatakan padaku jika kau tidak punya tempat untuk menginap. Nenek mungkin akan mengijinkanmu menginap semalam."Archibald tersenyum lemah seraya mengendikkan bahunya.Chiara ikut berjongkok di samping Archibald. Matanya menyorot pada mulut gua yang tertutup tanaman merambat di hadapannya, mengikuti arah pandang Archibald."Mengapa kau menatap gua itu?" tanya Chiara. Ia mengernyitkan keningnya keheranan."Rumahku ada di balik pintu itu.""Rumahmu? Yang benar saja. Kata orang-orang gua itu kosong," terang Chiara. Gadis itu kemudian sedikit merendahkan suaranya. "Bahkan katanya banyak hantu di dalam sana.""Hantu?!" Archibald terkekeh geli. "Jadi kalian menganggap para peri sepertiku ini sebagai hantu?" tanya Archibald dengan salah satu alis terangkat.Chiara mengendikkan bahu. Bibir mungilnya menyunggingkan seulas senyum saat melihat Archibald tertawa. "Kau sama sekali tidak terlihat seperti hantu.""Terima kasih. Aku anggap itu sebagai pujian.""Kenapa kau tidak kembali ke rumahmu? Apa kau bertengkar dengan orang tua atau saudaramu?" tanya Chiara penuh rasa ingin tahu. Iris mata hijaunya membulat, menatap wajah Archibald dengan seksama.Sementara wajah sang pangeran memerah. Archibald membuang muka, menghindari tatapan Ammara yang membuat pipinya memanas. "Sesuatu yang buruk sedang terjadi di rumahku. Keluargaku, mereka menuduh ibuku mengkhianati ayahku. Mereka mengusir ibuku. Mereka juga ingin membunuhku. Ibuku menyembunyikanku di sini. Ia akan menjemputku saat keadaan membaik. Namun, aku sudah sangat merindukannya."Archibald menundukkan wajah, mencoba menahan bulir air mata yang hampir jatuh dari pelupuknya.Demi melihat itu, Chiara merapatkan duduknya pada Archibald. Lengan kecilnya merangkul pundak kokoh peri laki-laki di sampingnya. Dengan lembut ia berkata, "hei, Archie, tenanglah. Aku ada di sampingmu. Aku akan menemanimu sampai ibumu datang menjemput."Archibald diam tak menjawab. Guncangan pelan bahunya menandakan bahwa ia sedang terisak. Keheningan yang damai tercipta di antara mereka.Seekor anjing kecil berbulu keemasan mendekati Chiara dan Archibald. Anjing golden retriever itu mengenduskan moncongnya pada kaki Archibald. Setelah itu, ia mengibaskan ekornya dengan riang seraya berlari kecil mengelilingi Archibald dan Chiara."Hai, Max!" sapa Chiara sambil mengacak puncak kepala anjing itu."Di sini juga ada anjing?" tanya Archibald dengan takjub. Tangisnya mendadak berhenti saat kedatangan Max. Rupanya tampang lucu Max berhasil mengalihkan kesedihannya."Tentu saja!" Chiara tergelak. "Namanya Max. Sepertinya dia menyukaimu.""Halo, Max!" sapa Archibald sambil tersenyum. Tangannya ikut mengacak puncak kepala Max, seperti yang dilakukan Chiara. "Anjing di tempatku ukurannya lebih besar dari ini. Mereka bertanduk, dengan bulu-bulu indah dan lebat. Mereka terkadang punya sayap kecil di punggung.""Benarkah?" tanya Chiara dengan mata berbinar."Kau mau ikut ke tempatku untuk melihat anjing yang kumaksud?" Archibald bertanya dengan penuh semangat. Namun, senyumnya tiba-tiba menguap saat pandangannya kembali menumbuk pada pintu Gua yang tertutup. Archibald mendadak tersadar bahwa kali ini ia bahkan tidak dapat kembali ke rumahnya karena portal yang tertutup rapat."Sudahlah. Tidak apa-apa." Chiara tersenyum simpati. "Bagaimana kalau kita bermain bersama Max di padang Dandelion?"Archibald mengalihkan pandangannya pada Chiara. tersenyum. Ia mengangguk pelan seraya meraih lengan Chiara dan mengikuti gadis manusia yang menuntunnya menuju padang Dandelion.Max berlari mengikuti mereka di belakang, seraya sesekali menggonggong riang.Sinar matahari pagi menyelusup melalui celah-celah rimbun dedaunan dan ranting yang menaungi padang Dandelion. Suara cuitan burung di puncak pepohonan menambah syahdu suasana.Dua makhluk berbeda alam itu sedang asyik bermain, berkejaran dan menyibak rerimbunan Dandelion, melompat dan bersembunyi. Tertawa dan bersenandung dengan riang hingga mereka kelelahan dan duduk beristirahat di bawah sebatang pohon willow.Sayup-sayup Chiara bersenandung pelan. Sebuah mahkota bunga Dandelion bertengger miring di atas surai emasnya.Sementara Archibald yang duduk bersandar di pohon Willow menatap gadis manusia itu dengan takjub."Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Skip to my lou, my darlin'. Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, skip to my Lou, my darlin'."Tanpa mereka sadari, mulut gua bercahaya terang. Sulur-sulur tanaman merambat yang ketat menutupinya, perlahan bergerak membuka. Sesosok peri Elf bersurai panjang keemasan berjalan melewati portal tersebut.Dari kejauhan, Iris mata hazel green -nya membelalak lebar saat menangkap sosok Archibald yang sedang bercengkrama dengan seorang gadis manusia di sampingnya. Peri elf itu bergeming, mengurungkan langkahnya. Ia memutuskan untuk menunggu sampai gadis manusia itu pergi meninggalkan Archibald.

Battle of the Dragons
Fantasy
19 Feb 2026

Battle of the Dragons

Tubuh Elijah yang jatuh melayang di atas jurang tiba-tiba disambut oleh sesosok peri yang menunggangi seekor naga putih.Suara raungan sang naga terdengar dari balik kabut yang menutupi jurang. Naga berwarna putih itu menyeruak keluar dari jurang, setelah tubuh Elijah berada di atasnya.Albert dan Ammara menatap naga putih itu terkesima. Namun, keterkejutan mereka tidak selesai sampai di situ saja. Di atas punggung sang naga, sesosok peri elf duduk seraya menopang tubuh Elijah. Saat jarak di antara sang naga dan menara Kastel Larangan itu terkikis, sosok penunggan naga putih terlihat jelas."Syukurlah, Archibald. Kau datang tepat waktu!" teriak Albert lega.Archibald memerintahkan naganya mendekati menara tempat Albert dan Ammara berada. Naga itu kemudian mendarat melewati ambang pintu.Dengan sigap Albert menaikan tubuh Ammara pada punggung sang naga. Sementara Elijah yang telah merasa lebih baik, membantu dengan menyambut salah satu tangan Ammara. Setelah itu barulah Albert melompat ke atas naga.Archibald yang mendadak berdiri, nyaris melompat turun dari punggung sang naga. Akan tetapi, Ammara meraih lengannya."Kau mau ke mana? kastel ini berbahaya. Ada seekor naga hitam besar dan sesosok peri penyihir!" cegah peri perempuan itu."Apa menurutmu aku terlihat lemah hingga tidak mampu menghadapi seekor naga jadi-jadian dan peri unsheelie?" sahut Archibald dengan pongahnya. Ia menepis genggaman tangan Ammara, lalu menghunus pedang perak sihirnya."Sungguh keras kepala," gerutu Ammara."Kau terdengar seperti membicarakan dirimu sendiri!" balas Archibald sengit."Kenapa kalian selalu bertengkar? Bahkan di saat-saat seperti ini!" keluh Albert menengahi kedua peri itu.Archibald dan Ammara sontak terdiam."Aku ikut!" ucap Ammara sejurus kemudian. "Aku ingin menyelamatkan Max." Ia telah berdiri dan akan mengikuti jejak Archibald yang telah mendaratkan kakinya di lantas menara."Max?!" Albert mengerutkan alisnya, mengingat nama seekor anjing berbulu keemasan yang ada di Kastel Larangan."Lebih baik kau tinggal saja di sini, Ammara. Kau hanya akan menyusahkanku jika kau ikut." Archibald mengukir sebuah senyum asimetris yang meremehkan."Aku?! Menyusahkanmu? Wah, lihat apa yang dikatakan peri sombong ini. Aku susah payah datang kemari berniat untuk menyelamatkanmu. Kau bilang aku menyusahkan!" teriak Ammara berang. Ia hendak menerjang ke arah Archibald. Pikiran menghajar sang pangeran peri sombong berkelabat di dalam kepalanya, tetapi Elijah menangkap tubuhnya."Kali ini Archibald benar Ammara, jangan membahayakan dirimu," ujar Elijah.Ammara mendengkus kesal."Aku harus memeriksa kastel ini. Kalian tunggulah di sini. Aku harus tahu siapa sebenarnya yang menculik Albert__""Seekor naga besar!" seru Albert dan Elijah nyaris bersamaan.Bunyi raungan yang sangat keras tiba-tiba terdengar dari menara tertinggi Kastel Larangan. Seekor naga hitam terbang melayang mengelilingi kastel itu."Apa?!"Archibald membatalkan rencananya untuk mengecek kastel dan kembali melompat ke atas punggung naga putihnya. Kini mereka duduk berdesakan di atas punggung sang naga.Suara raungan naga hitam terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.Tubuh naga putih kemudian terangkat perlahan. Sayap besarnya mengepak. Namun, tiba-tiba sebuah semburan api nyaris menyambar salah satu sayapnya. Naga putih berhasil menghindar, kemudian terbang menjauhi dinding kastel yang menghitam terkena semburan api naga hitam.Naga hitam itu mengejar naga putih yang terbang menjauh menembus awan. Ia menyemburkan apinya lagi.Beruntung sang naga putih berhasil mengelak."Aaaaaarrkkkkhh!"Suara teriakan histeris mengumandang dari punggung naga putih. Albert, Ammara dan Elijah serentak menjerit saat naga putih yang mereka tunggangi diserang semburan api dan saat sang naga bermanuver untuk menghindarinya.Sementara Archibald yang berada di posisi paling depan, tetap fokus mengamati pergerakan naga hitam dengan pedang sihir terhunus di genggamannya."Pegangan yang kuat! Kita akan mendekatinya dan menusuknya. Aku yakin itu hanyalah naga sihir!" ucap Archibald setengah berteriak."Apa?! Kau gila? Kita akan hangus terbakar sebelum kau menusuknya!" bantah Elijah."Diam dan lihatlah!""Whoaaa!"Albert, Ammara dan Elijah serentak berteriak lagi saat naga putih berbelok tajam dan menukik ke arah naga hitam.Naga hitam bermata merah menyala itu kembali menyemburkan napas apinya. Kali ini semburan yang jauh lebih besar.Naga putih berhasil menghindar dengan sigap, kemudian kembali melesat lebih cepat mendekati naga hitam.Saat tubuh kedua naga hampir bersinggungan, Archibald mengayunkan pedang sihirnya hingga melukai leher sang naga hitam. Sontak naga hitam itu meraung keras sebelum akhirnya berubah menjadi kepulan asap hitam pekat yang perlahan menipis dan menghilang bersatu dengan kabut Hutan Larangan.Namun, tiba-tiba, dari atas menara tertinggi Kastel Larangan terdengar raungan lainnya. Raungan dari beberapa ekor naga. Naga-naga itu terbang keluar dari menara kastel dengan mata merah menyala, mendekati naga putih."Empat ekor naga menuju kemari?!" pekik Albert panik.Setelah dekat, salah satu naga hitam menyemburkan api ke arah sayap kiri naga putih. Dengan gesit naga putih menghindar. Akan tetapi, Naga hitam tak putus asa, ia kembali menyemburkan api, kali ini ke arah sayap kanan naga putih. Sementara naga putih lagi-lagi berhasil menghindar diiringi dengan jeritan para peri elf yang menunggangi punggungnya.Naga putih melesat turun ke dalam jurang menganga yang tertutup kabut. Naga itu nyaris menghantam seekor kraken yang menempel pada dinding tebing. Namun, naga putih berhasil berbelok tajam, yang menyebabkan Archibald, Albert, Ammara dan Elijah nyaris terlempar dari punggungnya. Beruntung, tangan mereka masing-masing masih merengkuh erat punggung sang naga.Di belakang naga putih, seekor naga hitam yang berukuran lebih kecil melesat laju dengan jarak hanya beberapa jengkal saja dari sang naga putih. Ketika naga putih berhasil berbelok, naga hitam dengan kecepatan tinggi itu gagal berbelok sehingga menghantam kraken yang menempel di dinding jurang. Serta merta makhluk berbentuk gurita raksasa dengan banyak tentakel itu menjerit dan tentakel-tentakel hitamnya melilit naga hitam. Naga hitam itu hancur seketika menjadi asap hitam yang pekat dan menghilang.Tiga naga hitam yang tersisa mengekori naga putih yang berhasil melayang naik dari dasar jurang. Mereka terbang dengan cepat mengelilingi Kastel Larangan."Apa yang harus kita lakukan?!" teriak Elijah di antara deru angin."Bertahan. Bertahanlah sekuatnya!" sahut Archibald."AAAAARKKKHHHH!"Mereka serentak berteriak saat naga putih terbang menerobos pintu terbuka di salah satu menara Kastel Larangan, tanpa peringatan. Archibald, Albert, Ammara dan Elijah menundukan tubuh mereka serendah mungkin agar tidak tersangkut pada langit-lagit ruangan. Sementara sang naga putih terus melaju, menabrak benda apa pun yang menghalagi tubuh dan kedua sayap besarnya. Bahkan, sebagian dinding menara terlihat hancur dihantam tubuh besar sang naga.Saat keluar dari pintu lain menara Kastel Larangan, naga putih itu tiba-tiba berbalik dan langsung menyemburkan api dari mulutnya ke arah naga hitam yang masih tersangkut di ambang pintu menara, tepat di belakangnya.Naga hitam nahas itu tak sempat menghindar. Tubuhnya langsung terbakar terkena semburan api naga putih. Tubuh naga hitam itu pun menghilang menjadi asap hitam.Kini tersisa dua ekor naga hitam yang tampak masih melaju mengekori sang naga putih. Mereka masih terbang berputar mengitari Kastel Larangan."Mari kita pergi dari tempat ini. Kedua naga hitam itu pasti berhenti mengejar kita jika kita keluar dari Hutan Larangan!" teriak Elijah di antara deru kepak sayap sang naga."Tidak bisa," sahut Archibald tanpa menoleh ke belakang. Matanya menatap awas menyelidiki Kastel Larangan. "Kita harus menemukan si penyihir Unsheelie. Kita harus tahu apa motifnya menculik Albert dan apakah ada hubungannya dengan kekacauan di pesta Tatianna waktu itu."Elijah terkesiap. Ia merasa tidak nyaman, pikirannya berkecamuk. Jikalau Ratu Minerva tertangkap, maka rencana pengkhianatannya akan terungkap."Seingatku, yang menculikku adalah peri elf laki-laki yang dapat berubah bentuk menjadi naga hitam." Albert menimpali dengan tatapan menerawang."Kau yakin tidak ada peri lain?" tanya Archibald penuh selidik.Albert mengendikkan bahunya. "Entahlah, seingatku tidak. Maksudku, aku tidak melihat peri lain."Elijah menghembuskan napas lega, tetapi buru-buru ia memasang tampang acuh agar Archibald tidak mencurigainya."Awas!"Ammara menjerit saat melihat seekor naga hitam mendadak berbalik arah dan mengepung naga putih di hadapan. Sementara naga hitam lainnya masih mengekor di belakangnya.Dengan tenang, Archibald memerintah naga putihnya untuk menukik kembali ke dalam jurang berkabut. Teriakan rekan-rekannya mengiringi gerakan gesit sang naga.Naga hitam yang masing-masing melaju kencang dari arah berlawanan tak mampu menghindar. Mereka bertabrakan dan sama-sama terpental seraya meraung keras."Pegang yang kuat!" teriak Archibald.Naga putih hampir menyentuh dasar jurang yang ternyata adalah lautan dengan berbagai jenis makhluk mengerikan dan suara-suara nyanyian menyeramkan para nimfa terkutuk. Namun, sang naga berbelok dan kembali mengangkat tubuhnya, di antara tentakel-tentakel Kraken yang melambai-lambai di sepanjang dinding jurang, berusaha meraih tubuh naga putih.Salah satu tentakel Kraken yang menyasar naga putih akhirnya hanya meraih udara kosong setelah gagal menaut ekor naga putih. Suara jeritan berang sang Kraken terdengar hingga ke atas permukaan jurang.Sang naga putih kembali melaju menuju salah satu naga hitam yang menghantam dinding luar kastel. Naga hitam yang belum sepenuhnya pulih itu tak siap, ketika naga putih Archibald menyemburkan napas api besar. Satu naga hitam hancur seketika menjadi kepulan asap hitam.Kini tersisa satu naga hitam yang mengepakkan sayapnya mendekati naga putih. Naga hitam itu meraung bengis melihat naga lainnya telah dibinasakan oleh naga putih. Tiba-tiba makhluk itu menyemburkan napas apinya pada naga putih dalam jarak yang cukup dekat.Naga putih yang kurang waspada itu mendadak oleng. Meskipun semburan api gagal mengenai tubuhnya, tetapi sang naga terpental tinggi ke udara hingga menyebabkan pegangan Ammara terlepas dari punggungnya."AAAAAARRKKKKHH!!""Ammara!" teriak Albert dan Elijah nyaris bersamaan.Archibald terkesiap, rahangnya mengeras. Ia menepuk punggung naganya beberapa kali untuk menenangkan. Setelah sang naga kembali terbang dengan stabil, Archibald mengarahkan naganya untuk melesat mendekati Ammara.Ammara terjun bebas memasuki jurang berkabut. Salah satu tentakel hitam di dinding jurang nyaris meraih tubuhnya, tetapi kalah cepat dengan Archibald yang tiba-tiba melompat dari punggung naga untuk meraih tubuh peri perempuan itu.Tubuh mereka yang melayang bersama langsung disambut oleh sang naga putih yang terbang lebih dahulu ke arah jurang. Dua sosok peri itu akhirnya berhasil kembali bertengger di atas punggungnya. Naga putih meraung sekilas sebelum melesat naik.Di atas permukaan jurang, ternyata naga hitam telah menghilang. Suasana menjadi hening seketika.Archibald menegakkan punggungnya. Ia menatap awas ke sekelilingnya dengan pedang sihir terhunus di salah satu tangan. Sang naga putih mengepakkan sayapnya perlahan, mengikuti gestur sang pangeran peri."Ke mana naga itu?" desis Archibald. Ia memicingkan matanya mengamati pintu-pintu dan menara-menara pada Kastel Larangan. Sementara naga putih masih terbang perlahan memutari kastel itu.Tiba-tiba ekor mata Archibald menangkap sekelebat gerakan dari puncak tertinggi menara Kastel Larangan. Seekor naga hitam terbang cepat memasuki hutan di seberang jurang."Ayo ikuti naga itu!" teriak Archibald pada naganya. Salah satu tangannya menepuk leher naga putih beberapa kali.Sang naga putih segera terbang melaju mengekori naga hitam, memasuki hutan. Dari jarak yang cukup jauh, Archibald dapat melihat sesosok peri unsheelie berjubah gelap bertengger di atas punggung naga itu."Ada sesosok peri di punggung sang naga!" jerit Albert.Elijah terkejut. Sontak ia menegakkan punggungnya untuk melihat sosok yang dimaksud Albert. Sebersit rasa khawatir menyelinap di dalam hatinya."Aku tahu, kita harus menangkap si penyihir itu!" seru Archibald antusias. Ia memacu naganya terbang lebih kencang agar tak kehilangan jejak naga hitam itu lagi.Naga putih melesat kencang hingga mematahkan ranting-ranting dan menumbangkan pepohonan hitam yang menghalangi terbangnya. Beberapa bagian hutan tampak rusak setelah dilewati naga-naga yang saling berkejaran.Serpihan dan patahan ranting-ranting pohon mengenai beberapa bagian kulit Ammara yang terbuka. Patahan ranting yang tajam bahkan menggoreskan beberapa luka kecil di lengan dan kakinya. Kulitnya berdarah.Berpasang-pasang mata merah mulai muncul di sepanjang sisi Hutan Larangan yang mereka lalui. Mereka mencium bau darah Ammara. Hutan Larangan mendadak dipenuhi oleh bisikan-bisikan makhluk terkutuk.Bau darah.Ya, seperti bau darah manusia.Peri itu datang lagi.Aku tidak sabar untuk mencicipi darahnya.Ammara bergidik. Ia nyaris melepaskan kedua rengkuhannya pada punggung naga untuk menutup kedua telinganya, tetapi Elijah dengan sigap menahan tangannya."Jangan dengarkan mereka, Ammara!" Elijah mengingatkan dari balik punggung Ammara."Mengapa makhluk-makhluk terkutuk itu bermunculan?!" teriak Albert mulai ketakutan."Mereka mencium bau darah!" sahut Archibald.Albert bungkam. Ia bergidik ngeri membayangkan tentang makhluk-makhluk terkutuk yang haus darah di Hutan Larangan. Ia pernah mendengar kisah-kisanya, tetapi baru kali ini ia memasuki Hutan Larangan. Tiba-tiba napasnya terasa sesak dan berat. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipis. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Sesekali kepalanya terantuk menyentuh belakang punggung Archibald."Albert?" tegur Ammara begitu melihat gelagat Albert."Kita harus segera keluar dari Hutan ini, Archibald. Sebelum kabut sihir ini mulai mempengaruhi Albert!" teriak Elijah khawatir.Archibald terkesiap, menyadari situasi mereka. Para peri sheelie memang tidak akan tahan dengan kabut Hutan Larangan yang mengandung kutukan. Matanya memincing menatap seluruh penjuru Hutan Larangan yang hening. Ternyata, naga hitam itu telah menghilang dari pandangannya. Mereka telah kehilangan jejak penyihir yang berasal dari Kastil Larangan."Sial!" decak Archibald kesal.Archibald mengarahkan naga putihnya untuk terbang melewati puncak pepohonan, menghindari kabut yang makin lama semakin meninggi. Dari kejauhan seberkas cahaya terang terlihat kontras dengan suasana Hutan Larangan yang kelabu dan suram bersinar laiknya bintang penunjuk. Perbatasan Hutan Larangan telah terlihat di depan mata.Sementara di balik punggungnya, Albert mengerang hebat. Tubuhnya yang bergetar telah rebah di dalam pelukan Ammara. Wajah tampannya memucat, matanya tertutup menahan sakit.Naga putih melajukan terbangnya. Ia berlomba dengan sang waktu. Jika naga itu terlambat sedikit saja, putra mahkota akan berubah menjadi makhluk terkutuk, dan tak bisa keluar dari Hutan Larangan selamanya.

The Queen of Darkness
Fantasy
19 Feb 2026

The Queen of Darkness

Elijah berjalan perlahan, mengekori Lucifer dengan jantung berdetak tak karuan. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat sosok Ammara yang semakin samar ditelan jarak dan kegelapan lorong kastil."Jangan khawatir, Tuan Elijah. Setelah ini, aku akan kembali untuk menjaga temanmu," ucap Lucifer yang menangkap gelagat Elijah.Elijah menyahut, "baiklah, terima kasih Lucifer. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu."Lucifer menyeringai di dalam keremangan ruangan. "Aku tidak akan berani macam-macam, Tuan Elijah, karena ini adalah perintah sang Ratu."Elijah mengernyit, kedua alisnya bertaut. Lagi-lagi perintah Ratu. Rahang Elijah mengeras. Raut wajah tampan itu menyiratkan kegelisahan. Benaknya dipenuhi bebagai pertanyaan mengenai sosok Sang Ratu dari Kastel Larangan yang dimaksud Lucifer. Sejujurnya, Elijah tak mengenal sosok Ratu itu, tetapi ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Apakah sosok ratu yang dimaksud Lucifer adalah sosok yang sama dengan yang selama ini ia cari di Hutan Larangan?Elijah dan Lucifer telah tiba di depan sebuah pintu batu besar berwarna hitam dengan ukiran yang sangat mirip dengan lambang kerajaan Avery. Namun, tak satu pun pengawal yang terlihat berjaga di depan pintu itu laiknya ruang singgasana ratu di Kerajaan Avery."Silakan masuk, Tuan Muda Elijah!" Lucifer membungkukan tubuhnya di depan pintu batu yang membuka dengan sendirinya.Elijah memasuki ruangan itu perlahan. Dari kejauhan, matanya telah menangkap sesosok peri perempuan bersurai hitam tergerai tanpa jalinan, membelakanginya. Surai peri perempuan yang tergerai itu memperlihatkan jati dirinya dengan jelas, bahwa ia adalah sesosok peri unsheelie. Di belakang sosok sang ratu berjubah gelap yang sedang bergeming itu sebuah singgasana dari batu-batu kristal besar berwarna hitam berdiri kokoh seolah menantang siapa pun yang memasuki balairung."Ratu Minerva, Pangeran Elijah sudah datang!" Lucifer mengumumkan dengan takzim seraya membungkukan tubuhnya.Serta-merta sang ratu berbalik lantas menyongsong Elijah yang berjalan ke arah singgasana. Iris mata ungu peri cantik dengan raut bengis itu berbinar begitu melihat Elijah."Pangeran Elijah, kau sudah datang?" sapa peri perempuan itu dengan senyum mengembang.Elijah terkesiap kala bersitatap dengan sang ratu, hingga refleks mundur beberapa langkah. "Ka-kau?!" desisnya tertahan."Ya, ini aku. Kau mengingatku? Kita bertemu di dalam mimpi-mimpimu dan pada saat pesta ulang tahun Putri Tatianna. Aku senang kau masih mengingatku, Elijah." Ratu Minerva menjeda kalimatnya seraya memperhatikan perubahan raut wajah Elijah. "Aku adalah ibumu, peri terkuat di Hutan Larangan."Elijah membelalak. Tubuhnya bergetar menahan emosi yang mendadak mulai menguasai diri. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Elijah tahu bahwa cepat atau lambat dirinya akan bertemu dengan peri perempuan itu, peri perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya dan mengaku sebagai ibunya."Aku tahu, kau juga mencariku selama ini. Para pengikutku melaporkan bahwa kau sering berkeliaran di Hutan Larangan. Tidak ada peri sheelie yang berjalan-jalan ke dalam Hutan Larangan tanpa tujuan yang penting. Darahku yang mengalir dalam tubuhmu adalah alasan kuat yang menyebabkan kau terbebas dari kutukan Hutan Larangan."Elijah masih terdiam. Matanya menatap peri perempuan di hadapannya dengan nanar. Pikirannya nyalang, mencerna setiap perkataan sang ratu. Ia ingin tak percaya, tetapi jauh di lubuk hatinya, alasan itu terlalu meyakinkan untuk disangkal."Ternyata sangat sulit juga memancingmu datang padaku," lanjut Ratu Minerva dengan nada sedih. "Aku harus mengorbankan banyak pihak, banyak hal.""A-apa?! Apa maksudmu?" Elijah akhirnya membuka suaranya dengan gusar.Seulas senyum asimetris tersungging di bibir merah Minerva. "Aku sampai harus menculik Putra Mahkota Albert supaya bisa bertemu denganmu!"Elijah membelalak. "Jadi, Putra Mahkota Albert ada di sini?!""Mengapa kau berhenti mencariku, Elijah. Kau tahu, aku telah menunggumu begitu lama. Apa kau malu dengan kenyataan bahwa ibumu adalah seorang peri Unsheelie?"Elijah bungkam. Wajahnya tertunduk. Pertanyaan Ratu Minerva benar-benar menohok hatinya. Kenyataan bahwa ibunya adalah sesosok peri Unsheelie sangat membuatnya terpukul."Tidak ... Ibuku tidak mungkin seorang peri Unsheelie!" Elijah menggeleng pelan, matanya menyorot tidak percaya pada Ratu Minerva."Aku adalah ibumu, Elijah! Kekebalan mu terhadap Hutan Larangan adalah bukti yang tak terbantahkan. Hanya keturunan Unsheelie yang dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena kutukan!""Aku tidak percaya! Kau pasti sedang berbohong!" Teriak Elijah marah seraya menghunuskan pedang sihirnya ke arah Minerva.Minerva bergeming. Matanya redup, menatap sedih pada Elijah. "Jadi apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan membunuh ibumu? Itukah yang kau inginkan? Lakukanlah, jika membunuhku dapat menghilangkan rasa malumu."Pedang di tangan Elijah bergetar."Bunuh aku, Elijah. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia.""AAARRKHHHHH!!!" Elijah berteriak meluapkan seluruh kemarahan dan kekecewaannya seraya membanting pedang sihirnya ke lantai. Pedang itu patah dan cahayanya padam. Elijah kemudian tersungkur di atas lututnya sendiri dengan suara tangis tertahan.Demi melihat itu, Minerva menghambur dan menyongsong tubuh putranya. Ia juga tak dapat menahan tangisnya yang pecah begitu saja.Lucifer yang tadinya berdiri di samping singgasana Minerva, membuang muka. Ia tak sanggup melihat suasana pertemuan ibu dan anak yang sangat emosional itu. Buru- buru ia menghambur keluar dari balairung.Elijah seolah tersadar saat lengan Minerva yang terasa dingin melingkari bahunya. Sontak, ia menggeser tubuhnya seraya menyorot marah ke arah peri perempuan itu."Seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya, seburuk apa pun keadaan!" desis Elijah marah."Aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu, Elijah. Semua ini kulakukan untuk melindungimu. Lagi pula, aku tidak ingin kau tumbuh dan besar di hutan terkutuk ini," lirih Minerva.Elijah menggeleng frustrasi. "Dan, kau kembali di saat yang tidak tepat. Kau benar-benar telah menghancurkan anakmu sendiri!"Minerva menatap Elijah tidak percaya. Ia seolah sedang membaca pikiran putranya. "Apa maksudmu? Aku menghancurkanmu? Apa kau berniat menjadi raja?" Ia menatap iris mata putranya dalam-dalam. "Kau ingin menjadi raja, bukan? Itu kah yang kau inginkan?" tanyanya lagi.Elijah terkesiap. Ia menyadari tatapan ibunya yang menyelidik, lantas ia membuang muka. "Keinginan itu telah hancur berantakan karena aku adalah putra seorang Unsheelie."Minerva membelalak demi mendengar pengakuan putranya. "Jadi benar, kau memang ingin menjadi Raja?"Elijah menjauhi Minerva beberapa langkah dan dengan kasar menepis tangan sang Ratu yang mencoba meraihnya. "Jangan berani-berani menyentuhku. Harusnya kau tidak datang lagi, setelah meninggalkanku. Aku akan lebih bahagia. Aku tidak perlu kau dihidupku!""Elijah, dengarkan aku." Minerva masih berusaha meraih hati putranya. "Aku bisa mengabulkan apa pun yang kau inginkan. Asalkan kau bersedia menerimaku sebagai ibumu."Elijah yang hendak melangkah meninggalkan balairung mendadak berhenti. Ia menoleh ke arah Minerva. "Dapatkah kau menjadikanku Raja terkuat di Fairyverse dengan mengeluarkan darah terkutukmu dari tubuhku?!" bentaknya sarkas. "Tentu saja kau tidak bisa!"Minerva bergeming. Perkataan Elijah seolah pedang perak yang menusuk tepat di dadanya, menghancurkan hatinya. Ia adalah makhluk terkutuk yang telah merasakan segala derita dan deraan di Hutan Larangan. Namun, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar ucapan Elijah, darah dagingnya yang tak dapat menerima dirinya. Iris matanya yang ungu mendadak berubah menjadi merah menyala, bersamaan dengan emosi yang meluap menguasai logika."Aku akan menjadikanmu raja, Elijah. Aku akan membunuh Putra Mahkota Albert sekarang juga, jika itu maumu!" teriak Minerva dengan sebelah tangan yang memegang tongkat sihir terangkat tinggi melebihi kepalanya. Bola kristal besar berwarna hitam yang bertakhta di tas tongkatnya menyala merah terang.Tiba-tiba suasana di sekitar Kastel Larangan menggelap. Gemuruh saling bersahutan. Kilat menyambar-nyambar dan angin berhembus kencang.Elijah yang hendak melewati ambang pintu balairung segera berbalik dengan panik. Matanya membelalak demi melihat pemandangan di atas singgasana. Minerva dengan mata menyala merah dan badai brutal yang melatarinya seolah nyaris meledak dan siap menghancurkan apa pun.Seberkas cahaya petir menyambar pada bola kristal Minerva. Alih-alih membuat bola itu hancur, cahaya petir itu malah membuat bola kristal pada tongkatnya mengeluarkan percikan-percikan api. Iris mata peri itu hampir menghilang dan menyisakan bola mata putih yang tampak mengerikan.Sebelum sebuah kutukan terucap dan tak dapat ditarik kembali, Elijah harus menghentikannya."Hentikan!" teriak Elijah yang tertelan suara gemuruh dan pusaran angin. "Hentikan Ibu!"Telinga Minerva menangkap panggilan ibu yang bergema hingga mengguncang hatinya, menyentuh kesadarannya. Kemarahannya lenyap seketika. Suasana Kastel Larangan kembali hening dalam sekejap mata."Kau, me-memanggilku ibu?" sang ratu bertanya dengan suara bergetar.Elijah membuang muka, tak mampu menatap kesedihan yang terpancar jelas di mata sang Ratu. Sebagian dari dirinya merasa rindu, tetapi sebagian lagi terasa sangat sakit dan terluka."Buktikan padaku bahwa kau bisa menjadikanku raja, menggantikan Raja Brian. Maka aku akan memanggilmu ibu dan membawamu berada di sisiku selamanya." Setetes air mata terbit di pelupuk matanya. Elijah berusaha tegar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kali ini, tolong biarkan Putra Mahkota Albert pergi bersamaku. Jangan sampai Istana Avery tahu bahwa kau telah menculik Putra Mahkotanya. Jaga dirimu baik-baik!"Setelah mengatakan itu, Elijah segera berlalu meninggalkan sang Ratu yang tergugu dalam kesedihan di atas singgasananya.* * *Pintu batu ruangan itu berderit terbuka perlahan, Lucifer yang berwujud peri Elf memasuki ruangan. "Max, kau kah itu? Di mana kau, anjing kecil?" Suara paraunya menggema.Anjing berbulu keemasan itu seolah menyahut. Suara dengkingannya terdengar dari salah satu sudut ruangan.Lucifer menyalakan sebuah bola api kecil di atas permukaan telapak tangannya. Bola api berwarna ungu menerangi ruangan yang gelap itu. Suara kakinya yang menyentuh lantai menimbulkan gema dalam ruangan yang nyaris kosong. Matanya menyorot liar ke setiap sudut yang dapat dijangkau cahaya mencar.i pergerakan janggal yang menimbulkan suara berisik dari luar bilik.Tiba-tiba bunyi dengkingan Max yang pelan berubah menjadi gonggongan marah. Anjing itu mendadak muncul dari kegelapan kemudian berlari kencang ke arah Lucifer.Peri Elf jelmaan itu sontak terjengkang. Tubuhnya jatuh menghantam lantai batu yang dingin."Dasar anjing sialan! Tunggu kau. Aku akan menghajarmu!" umpatnya seraya meringis memegangi punggungnya yang terasa nyeri. Matanya memicing marah menatap Max yang telah lari melaju meninggalkan ruangan.Dengan susah payah, Lucifer bangkit dan serta merta melupakan keinginannya untuk memeriksa seluruh penjuru ruangan. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah terseok untuk mengikuti Max.Sementara, di salah satu sudut lemari, Ammara menggigil sembari membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Jantungnya masih berdebar sangat kencang. Di sampingnya, sosok Albert terlihat masih belum sadarkan diri. Kepala pangeran peri itu bersandar pada salah satu pundak Ammara.Setelah Ammara yakin Lucifer telah pergi menjauh dari ruangan, ia bersusah payah menggerakan tangannya untuk menyandarkan kepala Albert pada dinding bagian dalam lemari. Ammara mendesah sedikit lega saat kepala Albert telah berpindah dari bahunya"Putra Mahkota Albert, bangunlah! Aku mohon, kita harus segera keluar dari tempat ini!" desis Ammara kalut seraya menggoyang-goyangkan tubuh peri laki-laki itu. "Aku tidak mungkin menggendongmu 'kan?!" gerutunya kesal.Albert tak juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar."Bangun!" teriak Ammara nyaris lupa jika ia tengah berada dalam persembuyian. Namun. sedetik kemudian ia menutup mulutnya saat mengingat posisinya kala itu. Ammara mendengkus lalu menatap wajah Albert yang masih tak sadarkan diri. Pikirannya yang kalut tengah berkelana mencari cara untuk membangunkan sang putra mahkota.Setelah beberapa saat, sebuah ide kemudian melintas dalam pikirannya. Binar pengharapan terpit dari kedua netranya. Ia lantas mendekatkan wajah pada Albert, mengamati wajah rupawan itu sesaat. "Maafkan aku Putra Mahkota, tapi aku harus membangunkanmu supaya kita berdua bisa selamat dan keluar dari tempat ini."Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Ammara menarik napas dalam-dalam sebelum menampar salah satu pipi sang putra mahkota. Namun, sang putra mahkota belum juga bereaksi. Ammara tak patah semangat. Dengan dada bergemuruh khawatir, ia kembali menampar pipi Albert dengan lebih keras, tetapi berusaha untuk tak menimbulkan bunyi yang kentara. lagi-lagi Albert tak bereaksi.Ammara berdecak frustrasi. Dengan kegusaran yang menjadi-jadi, peri perempuan itu lantas memutuskan untuk mencoba tinjuannya. Setelah meniup kepalan tangannya, dalam gerakan cepat, Ammara kemudian melayangkan tinjuan ke arah hidung."AAARRKKKHH!!!" Albert sontak tersadar sambil menjerit. Peri laki-laki itu refleks memegang hidungnya yang berkedut nyeri.Ammara beringsut mundur, memberi ruang bagi Albert. "Sstt! Jangan berteriak Putra Mahkota, nanti naga itu datang dan menyergap kita di sini!"Albert membelalak, seraya menepis tangan Ammara. Namun, sedetik kemudian kesadarannya terkumpul. "Ammara?!" tanya Albert dengan alis berkerut bingung. Ia tambah bingung ketika mendapati dirinya berdesak-desakan dengan peri perempuan itu di dalam sebuah lemari sempit."Kau terluka, Putra Mahkota?!" Ammara terkesiap melihat setetes darah kental mengintip dari lubang hidung Albert."Tentu saja, kau meninjuku barusan," sahut Albert sambil mengerucutkan bibirnya. Ia berusaha meregangkan tubuh di dalam lemari sempit itu. Namun ternyata sangat sulit.Ammara mendapati kerutan kecil di antara kedua alis Albert. Peri itu terlihat seperti sedang menahan sakit. Akan tetapi, ia tetap saja berpura-pura terlihat tegar di depan Ammara. Ammara jadi merasa tidak enak. "Maafkan aku Putra Mahkota jika aku membangunkanmu dengan kekerasan. Aku sudah membangunkanmu dengan cara yang lebih baik, tetapi kau tak kunjung sadar. Aku harus segera membangunkanmu. Supaya kita bisa sama-sama keluar dari tempat ini.""Sudahlah, Ammara. Aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menyelamatkanku," tutur Albert seraya menyunggingkan seulas senyum. "Namun, tolong jangan panggil aku Putra Mahkota. Itu membuat bekas tamparanmu terasa sangat menyakitkan."Ammara hendak tersenyum mendengar kelakar Albert, namun ia tersadar bahwa mereka harus segera pergi dari tempat itu, sebelum sang naga sadar bahwa Max hanya berusaha mengalihkan perhatiannya."Mari kubantu!" Ammara meraih pergelangan tangan Albert. Peri perempuan itu telah berdiri dan hendak membuka pintu lemari perlahan.Suara gemuruh dan kilatan petir tiba-tiba menyambar. Lemari tempat mereka bersembunyi terasa bergetar. Bunyi tersebut mengejutkan Ammara terkejut hingga nyaris hilang keseimbangan. Peri perempuan itu nyaris jatuh terjengkang di dalam lemari, tetapi dengan sigap Albert meraih tubuhnya."Seorang peri unsheelie sepertinya akan segera mengeluarkan kutukan!" gumamnya pelan. Albert kemudian memapah Ammara berdiri dan membawanya keluar dari lemari. "Kita harus segera pergi!"Albert dan Ammara keluar mengendap-endap. Pintu batu yang mereka buka, nyaris tak menimbulkan suara. Setelah dirasa cukup aman, Albert lantas menarik lengan Ammara dan membawanya berlari menyusuri lorong gelap Kastel Larangan. Mereka tidak peduli ke mana mereka akan menuju, yang terpenting adalah mereka harus terus bergerak untuk mencari jalan keluar.Suara raungan tiba-tiba terdengar di belakang mereka, disertai suara langkah kaki yang menggema dan menggetarkan lorong yang mereka lalui. Suara langkah kaki itu kian lama kian mendekat.Sesosok naga besar berwarna hitam dengan mata merah menyala marah berjalan dengan langkah-langkah besar memburu Ammara dan Albert. Naga itu menyemburkan api dari mulutnya."Ammara! kau harus lari duluan. Aku akan menahan naga itu!" teriak Albert dengan napas terengah. Ia melambatkan larinya seraya melepaskan tangan Ammara."Tidak! Kau tidak punya senjata apa-apa Albert. Kau bisa terluka!" peri perempuan itu ikut memelankan langkah.Albert menatap Ammara jengkel, kemudian mendorong tubuh peri perempuan itu ke samping untuk menghindari jilatan api lain yang nyaris membakar tubuh Ammar. Tubuh peri perempuan itu terpental ke dinding lorong.Naga yang semakin marah menyemburkan apinya sekali lagi. Kali ini lebih besar, disertai suara raungan yang memekakkan telinga.Sebilah pedang sihir tiba-tiba menangkis api itu. Pedang sihir yang terhunus itu membentuk sebuah dinding perisai tak kasat mata yang menghalangi semburan api yang hampir saja mengenai tubuh Albert.Albert terkesiap ketika menyadari siapa sosok yang menolongnya. "Elijah?!"Elijah menoleh sekilas ke arah Albert seraya menyunggingkan senyum asimetris. "Syukurlah kau selamat, saudaraku."Naga itu semakin kalap dan berlari kencang ke arah Elijah dan Albert yang berdiri berjajar."Apa yang harus kita lakukan?" tanya Albert panik."LUCIFER!" teriak sebuah suara peri perempuan yang bergema dari bagian lain Kastel Larangan. Teriakan itu menggetarkan seluruh bangunan kastel.Sang naga sontak menghentikan pengejarannya. Kemudian, ia berbalik dan berlari kembali memasuki kegelapan kastel, memenuhi panggilan sang Ratu.Albert dan Elijah saling bertukar pandang. "Yang harus kita lakukan adalah lari, sebelum Sang Ratu berubah pikiran!" Serta merta Albert dan Elijah berlari menuju ke lorong lain yang tampak bercahaya di penghujungnya. Albert meraih pergelangan tangan Ammara dan menarik lengan peri perempuan itu berlari mengekori Elijah.Ammara mati-matian menyesuaikan kecepatan larinya dengan dua pangeran peri yang mendahuluinya. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak kencang. Ammara mulai kelelahan.Akhirnya, pemandangan langit kelabu mulai terpampang jelas dari balik pintu, setelah sederetan lorong gelap yang mereka lalui. Mereka lantas memacu tunkai agar dapat berlari lebih cepat. Tanpa menyadari bahwa di balik pintu itu adalah jurang yang menganga."Awas Jurang!" teriak Elijah. Namun tubuhnya telah terlebih dahulu melayang melampaui ujung lorong yang terbuka. Ia lalai untuk menghentikan larinya, hingga tanpa sadar terperosok ke dalam jurang."ELIJAH!" teriak Albert dan Ammara bersamaan.Albert nyaris saja ikut terperosok masuk ke jurang, jika Ammara tidak menarik lengannya dengan kuat."TOLONG ...!"Elijah menjerit. Suaranya bergema, sementara tubuhnya terjun bebas ke dalam jurang hitam berkabut.

Kastel Larangan
Fantasy
19 Feb 2026

Kastel Larangan

Claude dan Elwood baru saja melompat turun dari unicornnya masing-masing, kemudian menuntun tunggangan mereka masing-masing menuju ke halaman rumah Ammara di Fairyfarm. Namun, seekor unicorn putih tiba-tiba melesat cepat melewati mereka seraya meringkik gusar. Claude nyaris terjengkang, jika saja Elwood tidak dengan sigap menarik salah satu lengannya agar peri itu menyingkir dari jalanan.Kedua pangeran itu lantas saling bertukar pandang saat menyadari unicorn itu ternyata menuju ke istal di samping rumah cendawan."Unicorn berwarna putih itu mirip sekali dengan unicorn milik Ammara," gumam Elwood sembari mengamati gelagat makhluk itu.Claude membelalak. Selintas pikiran menakutkan memenuhi kepalanya. "Jangan-jangan---Pangeran peri itu tak melanjutkan kata-katanya, kemudian serta-merta berlari menghampiri Selly. Sementara, Elwood mengikutinya dengan raut penasaran.Di depan istal, Ailfryd telah menyambut unicorn milik Ammara terlebih dahulu dengan wajah kalut. Ella yang menyerahkan diri menjadi tawanan Kerajaan Avery, ditambah lagi putrinya yang tidak kembali menambah kesusahan hatinya."Tuan Ailfryd!" sapa Elwood."Pangeran Elwood, Pangeran Claude?" Ailfryd tak bisa menahan raut terkejutnya karena dikunjungi oleh dua orang Pangeran dari Kerajaan Avery. "Ada apa?" tanyanya sembari berusaha menyembunyikan kegusaran."Apakah Ammara belum kembali, Tuan?" tanya Claude dengan nada khawatir.Ailfryd menggeleng lemah."Ini aneh. Harusnya Ammara sudah kembali. Ia sudah dibebaskan dini hari tadi dan para kesatria Elf yang menjaga kastilnya juga mengatakan bahwa Ammara telah pergi."Elwood mendekati Selly dan mengelus Surai putih unicorn itu. Selly meringkik pelan, terdengar sangat sedih. "Bukankah ini Selly, unicorn Ammara, Tuan Ailfryd?" tanyanya mencari kepastian."Benar, Pangeran Elwood. Unicorn ini baru saja kembali setelah berhari-hari ikut tertawan di istana. Namun, dia hanya kembali sendiri, tanpa membawa Ammara bersamanya," tutur Ailfryd sedih. "Aku mengkhawatirkan Ammara."Claude dan Elwood serta merta bertukar pandang penuh arti."Tuan Ailfryd izinkan aku untuk mengetahui keberadaan Ammara melalui Selly. Aku akan mencoba membaca kenangan Selly."Tuan Ailfryd mengangguk pelan. Baginya, tak ada pilihan selain menerima bantuan dari kedua pangeran peri itu.Claude mendekati Selly yang masih meringkik sedih. Salah satu tangannya terulur menyentuh satu sisi wajah unicorn itu. Claude seperti merapal mantra singkat sebelum manik matanya menghilang beberapa saat.Sebuah bayangan peri perempuan berjubah cokelat menunggang unicorn berkelebat dalam penglihatan Claude. Peri perempuan berambut keemasan itu adalah Ammara. Dalam penglihatan Claude, Ammara melaju menuju Fairyhill dan berhenti tepat di depan perbatasan Hutan Larangan. Peri perempuan itu berbicara pada Selly, sebelum akhirnya memasuki Hutan Larangan .Claude terkesiap dan refleks melepaskan sentuhannya pada Selly. Manik matanya telah kembali normal."Apa yang terjadi dengan Ammara?" tanya Ailfryd kalut.Raut wajah Elwood juga berubah cemas. Ia menantikan penjelasan dari Claude dengan gusar."Ammara memasuki Hutan Larangan!""Apa?! Aku harus segera menyusulnya! Apa yang dia pikirkan?! Tempat itu sangat berbahaya!" Ailfryd tak dapat lagi menyembunyikan kepanikannya. Ia hendak meninggalkan istal untuk mengambil senjata yang dimilikinya, tetapi Elwood menahan langkahnya."Jangan gegabah, Tuan Ailfryd. Kita tidak bisa masuk sembarangan ke dalam hutan itu. Bagaimana jika sebelum menyelamatkan Ammara, kita sudah terkena kutukan terlebih dahulu. Maka semuanya akan sia-sia." Elwood mengingatkan."Jadi apa hal terbaik yang dapat kita lakukan, Elwood?" tanya Claude."Kita harus minta bantuan istana atau setidaknya kita temui Maurelle terlebih dahulu. Asumsiku Ammara pasti ingin menyelamatkan Archibald dan Putra Mahkota Albert sehingga dengan nekat ia memasuki Hutan Larangan.""Akan tetapi, kita tidak punya banyak waktu. Jika Ammara berubah menjadi makhluk terkutuk, kesempatan kita untuk menyelamatkannya sangat kecil." Claude menerawang, seolah-olah sedang melihat ke dalam Hutan Larangan dari posisinya berada saat itu."Ella tidak akan memaafkanku jika terjadi sesuatu pada Ammara." Ailfryd mendesah sedih. Kedua tangannya ia tangkupkan menutup wajahnya."Semuanya akan baik-baik saja, Tuan Ailfryd. Kami berjanji, kami pasti akan menyelamatkan Ammara," bujuk Elwood berusaha menenangkan."Bagaimana kalau kita kembali ke istana sekarang?" Usul Claude."Izinkan aku ikut, Pangeran?" Ailfryd memohon. Hanya itu satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan Ammara. Ia tak ingin hanya duduk diam dan menunggu kabar yang tak pasti.Claude dan Elwood saling pandang beberapa saat untuk memutuskan. Akhirnya Claude mengangguk mantap. "Mari, Tuan Ailfryd."Beberapa saat kemudian suara kepak sayap unicorn terdengar membelah ketenangan Fairyhill. Tiga ekor unicorn terbang melesat membelah langit Fairyverse menuju istana Avery.* * *Waktu seakan terhenti sesaat ketika Ammara berhasil meloloskan langkah melewati sebuah tabir tak kasat mata. Matanya menangkap pemandangan sebuah kastel berwarna gelap yang berdiri tegak di atas sebuah tebing, tak jauh dari tempatnya berdiri. Aura kastel itu sangat kelam, sepi seolah tak berpenghuni. Pun langit yang melingkupi tempat itu berwarna kelabu pekat. Tak ada awan-gemawan maupun pepohonan yang dapat sedikit memperindah tempat itu.Ammara mengira jika kastel itu dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Namun, ia salah. Matanya membelalak saat mendapati sebuah jurang menganga di antara tempatnya berdiri dan kastel itu. Jurang menganga yang diselimuti kabut tebal hingga dasar jurang tak dapat terlihat. Meski tak dapat melihatnya langsung,Ammara yakin jika jurang itu sangat dalam.Suara koakan gagak dan kepakan sayap burung-burung yang sangat besar sesekali terdengar bergema di tempat itu."Tempat apa ini?" bisik Ammara. Suara bisikannya sendiri bahkan menciptakan gema yang terdengar mengerikan. Ammara bergidik. Namun, segera saja ia merasakan genggaman tangan Elijah yang menguat seolah mencoba menenangkannya.Elijah masih bergeming di sisinya, seraya menatap waspada keadaan di sekitar. Satu tangannya menggenggam erat tangan Ammara, sementara tangannya yang lain menghunuskan pedang sihir yang bercahaya putih. Pedang sihir itu tak lagi berpendar seperti biasanya, tetapi bercahaya konstan sebagai penanda jika di tempat itu terdapat sihir hitam yang sangat kuat."Kita berada di ujung jurang," gumam Elijah pelan. Matanya menyorot pada jurang berkabut yang membentang di hadapan mereka. Tak ada jembatan atau apa pun yang dapat membawa mereka menyeberangi jurang berkabut itu."Akan tetapi, sepertinya kita memang diundang untuk masuk ke tempat ini." Ammara menimpali. Tatapannya menyorot tajam pada bangunan hitam yang menjulang tinggi di seberang jurang. Dadanya berdentum kencang seolah ada sesuatu yang menantinya di sana."Jika memang demikian, mereka pasti akan menjemput kita, Ammara."Ammara menyetujui ucapan Elijah dalam diam. Jika mereka benar-benar diundang, maka mereka harus bersiap-siap untuk dijemput oleh tuan rumah pemilik kastel yang mengerikan itu. Jika kastelnya saja sudah begitu mengerikan, Ammara tak sanggup untuk membayangkan bagaimana rupa penghuninya.Tiba-tiba suara kepakan sayap terdengar dari kejauhan. Sesosok makhluk hitam besar bersayap keluar dari salah satu menara tertinggi di kastil itu. Makin lama suara kepakan sayap itu semakin keras terdengar. Makhluk itu terbang menyeberangi jurang sehingga sosoknya terlihat jelas. Naga itu lantas terbang rendah saat menemukan Elijah dan Ammara. Mereka benar-benar telah diundang.Ammara dan Elijah sontak berlari menjauhi ujung tebing tempat mereka berdiri. Tabir tempat mereka masuk beberapa saat lalu telah menghilang, menyisakan hutan lebat menghitam dan berkabut. Hutan tanpa dedaunan, hanya ranting-ranting hitam pekat yang merimbun.Permukaan tanah tempat Ammara dan Elijah berpijak sedikit berguncang saat sang naga menjejakkan kaki di ujung tebing. Sayapnya yang hitam besar terkulai di kedua sisi tubuh, sementara sepasang mata merah menyala makhluk itu menyorot pada Ammara dan Elijah.Elijah mengacungkan pedang sihirnya ke hadapan sang naga seraya memasang kuda-kuda. Elijah siap menerjang kapan pun sang naga merangsek maju. Meski tangannya sedikit gemetar, tetapi sang pangeran berusaha keras menyembunyikan kegentarannya.Di sisi lain, Ammara yang berdiri di sampingnya merasa shock . Seumur hidup, ia tidak pernah melihat makhluk sebesar itu. Sang naga bukanlah makhluk mengerikan pertama yang ia lihat di Hutan Larangan sehingga Ammara lebih bisa mengendalikan diri untuk tetap terlihat tegar.Dalam sekali kedipan mata, naga hitam besar itu mendadak berubah menjadi kepulan asap hitam yang pekat dan membumbung tinggi. Kepulan asap itu kian mengecil hingga mewujud menjadi sesosok peri Elf berbaju zirah. Peri Elf jelmaan itu menggenggam sebilah pedang dan sebuah perisai di kedua belah tangannya.Elijah terkesiap. "Siapa kau dan apa maumu?!" hardiknya.Alih-alih menyerang, peri Elf jelmaan itu justru membungkuk memberi hormat dengan takzim. "Selamat datang di Kastel Larangan. Perkenalkan namaku Lucifer. Aku adalah pelayan Ratu Minerva, Ratu di Kastel Larangan. Aku kemari untuk membawa kalian ke Kastil Larangan atas perintahnya. Ratuku ingin bertemu," tutur Lucifer takzim.Ammara dan Elijah saling bertukar pandang. Perkirakan mereka ternyata benar. Makhluk penghuni kastel telah mengetahui keberadaan mereka dan mengundang mereka memasuki kastel. Mulanya Ammara dan Elijah ragu untuk mengikuti sang utusan. Namun, rasa penasaran agaknya menempati porsi lebih besar di benak mereka. Selain itu, sebuah pengharapan mengenai petunjuk petunjuk keberadaan Putra Mahkota Albert menjadi motivasi terbesar untuk memasuki kastel itu."Baiklah, kami akan ikut," sahut Elijah mantap.Demi mendengar jawaban Elijah, Lucifer mengangguk dengan salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia menyeringai. "Silakan naik ke atas punggung naga. Aku akan membawa kalian menuju Kastil Larangan."Dalam sepersekian detik, sosok Lucifer memecah menjadi kepulan hitam. Kepulan asap itu semakin lama semakin membesar, membentuk sesosok naga dengan sayap hitam. Sang naga meraung sebelum meletakkan leher panjangnya yang berwarna hitam ke atas permukaan tanah dan merendahkan punggungnya.Dengan cepat, Elijah menarik pergelangan tangan Ammara dan membawa peri perempuan itu menaiki sang naga. Sang naga berdiri dan mulai mengepakkan sayap besarnya saat Ammara dan Elijah telah duduk di atas punggungnya dengan stabil. Perlahan naga hitam itu mengangkat tubuhnya dan terbang melintasi jurang berkabut menuju ke salah satu menara tertinggi di Kastel Larangan.Ammara melihat sekilas ke arah jurang menganga dari balik punggung naga hitam yang mereka tunggangi. Bulu kuduknya meremang, saat menangkap suara-suara jeritan monster dari dalam dasar jurang yang tak terlihat. Ammara bahkan sempat melihat beberapa tentakel kehitaman yang bergerak-gerak liar di salah satu dinding jurang, sehingga refleks menjerit."Jangan lihat ke bawah!" seru Elijah mengingatkan.Ammara memalingkah wajahnya sembali membekap mulut. Namun, pemandangan di sisi lain tempat itu tak kalah mengerikan. Sesuatu yang besar, bulat, dan mengerikan mengintip dari balik kabut sebelum menggemakan auman. Tubuh Ammara kembali menggigil, tetapi telapak tangan Elijah segera menutup pandangannya."Jangan lihat," ulang peri laki-laki itu lagi.Setelah beberapa saat penuh teror, kepakan sayap naga hitam akhirnya terdengar memelan. Mereka hampir mendarat pada salah satu balkon menara. Dari kejauhan balkon menara itu tampak sempit, tetapi dalam jarak sedekat ini ternyata balkon itu cukup luas. Bahkan, balkon itu bisa menampung dua atau tiga naga yang akan mendarat sekaligus.Sang naga manapakkan kaki hitamnya yang bercakar besar pada pagar balkon menara yang kokoh. Ia membiarkan Ammara dan Elijah melompat turun dari punggungnya, sebelum berubah kembali menjadi sesosok peri Elf jelmaan.Lucifer lantas menyunggingkan senyum hormat pada Elijah. "Tuanku, selamat datang di Kastel Larangan. Aku akan menuntunmu menuju Balairung Larangan. Ratu Minerva menanti Anda di sana. Mari ikuti aku!" ucapnya seraya berjalan mendahului Elijah dan Ammara. Namun, langkah Lucifer terhenti kemudian berbalik cepat. "Akan tetapi, Mohon maaf, teman Anda tidak bisa ikut serta.""Apa? Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di tempat ini," bantah Elijah."Tenang saja tuanku, teman Anda bisa menunggu di dalam sebuah bilik yang paling aman di kastel ini."Elijah melirik Ammara sekilas, meminta pertimbangan dari peri perempuan yang berdiri tepat di sampingnya.Ammara menjawab tatapan Elijah dengan anggukan pelan. Ammara tidak bisa memungkiri kegentaran yang ia rasakan saat itu. Namun, di sisi lain, ia merasa sedikit lega karena dengan demikian ia dapat dengan leluasa mengelilingi kastel untuk menemukan jejak keberadaan Putra Mahkota Albert.Setelah punggung Lucifer dan Elijah menjauh, Ammara masih bergeming menatap pintu besar sebuah ruangan yang berukir sepasang peri yang terasa familier dalam ingatan Ammara. Ammara menyentuhkan jari-jemarinya menyusuri ukiran tersebut berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah melihat ukiran serupa.Iris mata hijaunya membelalak, ketika selintas ingatan berhasil memunculkan gambar ukiran yang sama persis di kepalanya, yaitu ukiran yang pernah Ammara lihat pada pintu ruangan balairung Ratu Serenity. Ukiran itu sama persi. Perbedaanya hanya pada material yang digunakan untuk membuat pintu. Jika pintu di hadapan Ammara saat ini terbuat dari batu berwarna hitam, maka pintu yang pernah Ammara lihat di Istana Avery terbuat dari emas murni.Tiba-tiba pintu besar di hadapan Ammara terdengar berderit, lalu membuka dengan sendirinya. Ammara terkesiap, tetapi dengan cepat ia dapat menguasai dirinya. Ia buru-buru masuk ke dalam ruangan itu karena mengingat pesan Lucifer jika ia dapat menanti Elijah di sana .Ruangan gelap itu mendadak terang-benderang setelah beberapa bola kristal yang menggantung di langit-langit ruangan serta merta menyala saat Ammara memasuki ruangan. Ammara terpana saat melihat ruangan indah terbentang di hadapannya. Ia nyaris tak percaya bahwa kastel yang dari luar terlihat mengerikan, memiliki sebuah ruangan yang indah di dalamnya.Netra Ammara kemudian menyisir seisi ruangan hingga pandangannya menangkap sebuah ranjang besar berwarna putih dengan tirai transparan yang bergulung-gulung membentuk pita cantik di kepala ranjang di salah satu sudut ruangan. Sementara, sebuah meja bundar dan sepasang kursi berwarna hitam berpelitur dengan ukiran-ukiran yang indah berada di tengah-tengah ruangan. Di atas meja dan di sudut ruangan tampak vas-vas yang terbuat dari kaca dengan beberapa kuntum mawar merah tanpa daun menghiasinya.Ammara baru saja hendak mendudukan bokongnya pada salah satu kursi, ketika sebuah suara terdengar sayup-sayup mengisi pendengaran. Peri perempuan itu lantas berdiri dengan waspada, menajamkan pendengaran. Sedetik kemudian, suara itu menghilang. Namun, terdengar lagi hingga membuat peri perempuan itu penasaran.Ammara mendekati pintu yang tertutup, menempelkan telinganya pada permukaan pintu yang berukir. Samar-samar, telinganya menangkap suara lolongan anjing yang terdengar familier di telinga Ammara.Rasa penasaran yang kuat mendorong Ammara untuk menarik daun pintu. Dengan perlahan, peri perempuan itu membukanya hingga menimbulkan suara derit pintu. Derit pintu yang menggema pelan di kastil membuat jantung Ammara berdetak lebih kencang, adrenalinya terpacu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, mengabaikan pesan Lucifer.Suara lolongan masih terdengar samar-samar. Ammara berjalan cepat menyusuri lorong gelap kastel Larangan, berusaha mencari sumber suara yang hilang datang.Dalam keremangan, Ammara mengamati figura-figura yang terpajang di sepanjang dinding lorong. Figura-figura itu berisi lukisan yang sebagian besar adalah lukisan keindahan pemandangan alam Fairyverse. Ammara bahkan dapat mengenali beberapa lukisan yang merupakan pemandangan Fairyhill dan Fairyfall.Langkah Ammara terhenti di depan sebuah lukisan istana yang dominan putih berdiri kokoh di atas tebing yang dipenuhi semak bunga lavender. Istana itu adalah istana Avery. Pikiran Ammara mulai menghubung-hubungkan semua yang ia lihat di Kastel Larangan dengan Istana Avery. Pemilik kastel pastilah memiliki hubungan dengan Istana Avery.Ammara kembali melanjutkan langkah, sementara pandangannya kembali berkelana menyusuri lukisan lain yang ada di lorong remang itu. Pandangannya kemudian menumbuk pada lukisan peri perempuan cantik bersurai hitam legam tergerai dengan manik mata berwarna ungu. Peri perempuan itu sangat cantik, tetapi Ammara dapat melihat sorot kejam menyirat pada tatapannya. Ammara mulai menduga-duga, barangkali peri perempuan itu adalah sang Ratu yang dilayani oleh Lucifer.Di sebelah lukisan itu, terdapat lukisan peri laki-laki yang menarik perhatian Ammara. Ammara bergeser dari posisinya untuk melihat lukisan itu dengan seksama. Lukisan sesosok peri laki-laki dengan iris mata berwarna biru dan surai cokelat bergelombang yang membingkai wajah tampannya. Dua buah anting emas menghiasi bibir tipisnya yang kemerahan.Ammara terkejut. Gambar itu mirip dengan peri laki-laki yang ia kenal. Ia sampai harus memicingkan matanya untuk memastikan sosok di dalam lukisan itu. Ia mengucek matanya beberapa kali, namun sosok di lukisan itu tetap menunjukan kemiripan dengan Pangeran Elijah.Kekhawatiran mendadak muncul di benak Ammara. Beribu pertanyaan menggelayuti pikirannya mengenai hubungan antara Ratu Kastel Larangan dan Pangeran Elijah. Ammara mulai menerka-nerka dengan berbagai asumsi di kepalanya, menyatukan potongan-potongan penemuan yang baru saja dilihatnya. Ammara menyimpulkan pasti empunya tempat ini memiliki hubungan dengan kerajaan Avery, terutama dengan Pangeran Elijah.Lamunan Ammara dibuyarkan oleh lolongan yang terdengar lebih kencang dan tak putus-putus. Ammara seakan tersadar, ia kembali melanjutkan langkahnya menyusuri lorong remang itu hingga ke ujung. Di ujung lorong, Ammara menemukan sebuah tangga berliku yang menuju lantai di bawahnya.Tanpa berpikir panjang Ammara menuruni tangga itu. Suara lolongan anjing terdengar semakin kentara. Akhirnya, Ammara tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu batu tertutup. Pintu itu sama persis dengan pintu ruangan sebelumnya yang Ammara singgahi, berukir lambang kerajaan Avery.Dengan tergesa, Ammara meraih daun pintu di hadapannya dan mendorong pintu batu tersebut. Pintu itu terasa lebih berat dari pintu sebelumnya, tetapi dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Ammara mendorong pintu itu.Suara lolongan anjing tiba-tiba tak terdengar lagi saat Ammara menjejakkan kaki ke dalam ruangan gelap itu. Tak lupa, ia menutup kembali pintu di belakangnya. Dalam kegelapan ruangan, Ammara dapat mendengar deru napas makhluk yang gusar dan langkah-langkah kaki kecil yang tidak tenang."Permisi ... !" sapa Ammara ragu. Suaranya bergetar karena menyadari ada makhluk lain di ruangan itu.Suara geraman terdengar dari salah satu pojok ruangan yang bercahaya lebih terang dari sudut lainnya. Ammara mendekati sudut itu. Ia lantas menangkap sosok seekor anjing berbulu keemasan sedang menggeram ke arahnya dengan waspada. Di samping makhluk itu, sebuah pendar cahaya berwarna ungu terang yang melingkupi sesuatu yang setinggi ukuran tubuh peri Elf.Ammara mendekat perlahan. Matanya kini dapat melihat dengan jelas sosok seorang peri Elf berdiri mengambang dengan mata tertutup di dalam cahaya ungu yang seolah melingkupinya. Ammara terkesiap, saat menyadari jika sosok peri Elf itu ternyata adalah Putra Mahkota Albert. Ammara serta-merta berlari tergopoh menghampiri cahaya ungu itu, tanpa memperdulikan seekor anjing yang terus-terusan menggeram ke arahnya.Anjing berbulu keemasan yang sedari tadi menggeram mendadak tenang demi melihat sosok Ammara dalam terang. Anjing itu bahkan mendekati Ammara dan mengenduskan hidungnya pada kaki Ammara, seolah telah lama merindukan sosok itu. Setelah puas mengendus Ammara, anjing itu lantas berlari mengitari sekeliling Ammara dengan langkah riang."Kau tidak takut lagi denganku?" tanya Ammara heran. Pandangan dan perhatiannya teralihkan dari sosok Pangeran Albert kepada anjing berbulu keemasan yang berlari-lari kecil mengitarinya. Seulas senyum muncul di bibir Ammara. Ia mulai terbawa suasana.Namun, tiba-tiba ia tersadar. "Kau mengalihkan perhatianku, Anjing Manis. Aku harus menyelamatkan temanku. Akan tetapi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar peri yang payah!" rutuk Ammara kesal pada dirinya sendiri.Ammara menatap ke sekeliling, mempelajari situasi ruangan tempatnya berada. Ruangan itu terlalu gelap untuk dapat melihat dengan jelas. Selain lemari dan beberapa kursi yang letaknya tidak beraturan, Ammara tidak dapat menemukan benda lainnya.Ekor mata Ammara tiba-tiba menangkap sebuah batu yang berbentuk pipih di bawah tubuh Albert yang tengah mengambang tak sadarkan diri. Cahaya ungu itu tampak keluar dari batu pipih tersebut. Logika Ammara mulai bermain, ia akan mencoba mengangkat atau menggeser atau bahkan menghancurkan batu pipih itu, siapa tahu cahaya ungu itu menghilang jika batu pipih di bawahnya tidak berada pada tempatnya atau dihancurkan.Ammara mencoba mendorong batu itu dengan kakinya. Ia menendang perlahan batu itu. Namun, batu itu tampak bergeming. Sekali lagi, Ammara menendang dengan lebih keras hingga wajahnya meringis menahan perih di kakinya sendiri. Batu pipih itu tetap bergeming."Bagaimana ini?" lirih Ammara hampir putus asa.Anjing berbulu keemasan yang tadi berlari mengitari Ammara, kini berlari ke salah satu pojok ruangan yang lain. Anjing itu menyalak pelan seolah memberi kode kepada Ammara bahwa ada sesuatu di sana.Ammara memperhatikan anjing itu sambil mendesis pelan. "Ssstt, jangan ribut. Nanti ada yang mendengarmu."Ammara segera berlari sambil berjinjit menyusul anjing itu. Mata peri perempuan itu membelalak melihat tumpukan tengkorak, tulang belulang serta baju zirah di sekitar sudut itu. Peri perempuan itu refleks menutup mulutnya dengan tangan. Tak jauh dari tumpukan itu, sebilah mata tombak yang berwarna platinum tergeletak dalam keremangan. Dengan terburu-buru, Ammara meraih mata tombak itu dan menggenggamnya erat seolah-olah takut ada yang akan merampasnya."Terima kasih!" ucap Ammara riang seraya mengelus puncak kepala anjing itu sekilas. Si anjing meloncat-loncat kegirangan. Kemudian, Ammara melesat kembali ke tempat Albert, di sudut ruangan lainnya.Ammara menatap mata tombak yang kini ada di genggamannya. Sekelebat ingatan melintas di pikirannya mengenai hal-hal yang dapat melunturkan sihir hitam yang pernah dikatakan oleh ibunya, salah satunya adalah senjata berbahan perak. Entah mengapa benda berbahaya bagi peri Unsheelie itu mendadak ada di kastel itu. Ammara segera mengenyahkan pikiran-pikiran lainnya dan fokus untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert.Dengan keyakinan penuh, Ammara mengayunkan mata tombak perak di genggamannya ke arah cahaya ungu yang melingkupi Albert. Serta merta, cahaya ungu itu sirna dan tubuh Albert yang tadinya mengambang, mendadak ambruk. Dengan sigap, Ammara menangkap tubuh itu. Namun, tubuh Albert yang lebih besar dari tubuhnya terasa sangat berat, hingga tubuh peri laki-laki itu jatuh menimpanya.Ammara refleks menjerit kesakitan. Salah satu tangannya menutup mulutnya sendiri agar suaranya tidak keluar dan membuat kegaduhan. Dengan susah payah, ia mendorong Albert dari atas tubuhnya dan menggeser tubuhnya sendiri. Ia menarik napas panjang, merasa lega karena telah berhasil membebaskan Albert.Tiba-tiba, Anjing berbulu keemasan yang masih berada di pojok lain ruangan, menggonggong pelan. Semakin lama, gonggongannya semakin keras. Anjing itu bergerak gusar seraya menatap ke arah pintu ruangan yang tertutup.Ammara segera menyadari kegusaran anjing itu. Ia turut mengalihkan pandangan pada pintu batu ruangan yang sedang tertutup. Samar-samar, Ammara dapat mendengar suara langkah kaki mendekat. Semakin dekat, semakin terdengar jelas.Ammara membelalak. Jantungnya berdetak sangat kencang, sementara bulir-bulir keringat dingin perlahan menetes dari pelipisnya. Tubuhnya mendadak kaku. Apa yang harus ia lakukan dengan tubuh terkulai Albert yang berat ini. Ia tak akan bisa mengangkatnya. Matanya nyalang menatap liar ke seluruh ruangan gelap itu. Sorot matanya mendadak menumbuk pada sebuah lemari terdekat."Max, kaukah itu?" panggil Lucifer dari balik pintu. Langkahnya terdengar semakin keras.Ammara bergeming. Tubuhnya menggigil ngeri. Sang naga telah datang. Ia harus segera berlindung.

Bukan benci tapi takut
Teen
19 Feb 2026

Bukan benci tapi takut

Aku tetap menahan kakiku untuk tetap berdiri di depan pintu kelas. Fikiranku berputar-putar dari itu ke itu saja. Aku merasa gelisah setelah rombongan teman-temanku mengatakan bahwa aku berhasil menjuarai lomba bernyanyi tingkat kabupaten dan akan segera dikirim ke tingkat provinsi. Perasaanku was-was teringat pesan-pesan ayah padaku.“Jangan bernyanyi lagi! Jika masih bernyanyi ayah sumbat mulutmu pake sendal untuk ke sawah itu.”Dari kecil memang aku selalu dilarang oleh ayah untuk bernyanyi, ayah selalu menakut-nakutiku dengan hal yang aneh-aneh jika ia mendengarku menyanyikan sebuah lagu.“Sudah ayah bilang, kalau hantu suka sekali mengikuti orang yang suka menyanyi karena ia menganggap orang itu temannya.”Aku selalu takut mendengar kata-kata aneh yang dilontarkan ayah, namun tak bisa kupungkiri aku sangat suka menyanyi hingga tanpa sepengetahuan ayah, aku menyanggupi amanah dari guruku untuk mewakili sekolah mengikuti lomba bernyanyi tingkat kabupaten. Tanpa harus diminta, aku mendadak berhasil mengharumkan nama sekolah sehingga semua guru menebarkan senyuman terindahnya setiap mereka melihatku. Namun, mataku layu memandangi mereka semua. Aku takut sebentar lagi langit akan segera runtuh dan menghimpitku. Apalah dayaku untuk bertahan dan tetap berdiri tegak jika ditimpa benda seberat itu. Tak terbayang ayah akan segera memarahiku, menampar pipiku yang mungil. Senyumku tertahan saat aku berusaha untuk membukanya. Aku sama sekali tidak bangga pada diriku sendiri, melainkan menyesal telah melanggar janjiku pada ayah.“Kamu janji tak bernyanyi lagi kan?”“Iya aku janji ayah.”Pernyataanku waktu itu membuat aku merasa dihantui sepanjang waktu, jika ayah sampai tahu apa yang telah aku lakukan, dia pasti marah besar padaku.Aku berusaha menutupi semua ketakutanku, namun percuma tubuhku terasa lemas untuk menutupinya. Tanpa kusadari ternyata dari awal aku berdiri di sini ada sepasang mata yang memperhatikan kegelisahanku, aku baru menyadarinya setelah sepasang mataku bertemu dengan matanya. Mataku membesar karena kaget yang tak tersembunyikan. Ia mulai bergerak, berdiri dari tempat duduknya dan melangkah sedikit demi sedikit ke arahku. Aku berdebar dan menyembunyikan kedua tanganku ke belakang karena jari-jariku tak bisa berhenti menari. Entah gerogi, entah takut, yang jelas aku tak kuasa berdiri di depannya. Ia sudah tepat di depanku dan memberikan senyumannya padaku.“Kamu sakit Nel? Kok pucat?” tanyanya penuh perhatian, tak kusangka ia akan sebaik ini padaku. Aku berusaha untuk senyum dan menjawab pertanyaannya walau agak terbata-bata. Namun, dari matanya seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang aku katakan, seperti ia tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku tertunduk lemas dan berusaha mengakhiri percakapanku dengannya.Dia adalah sosok yang kukagumi semenjak aku melangkahkan kaki ke SMA ini, tepatnya satu tahun yang lalu. Hari ini adalah hari pertama aku berbicara dengannya karena selama ini aku tak pernah menyempatkan diri untuk menyapa atau berbicara padanya. Bukan karena sibuk namun karena sedikit gerogi.Perasaanku yang seharusnya senang lenyap dilahap oleh rasa takut. Aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Inginku mengatakan pada guru-guruku bahwa aku tak bisa mengikuti lomba itu ke tingkat provinsi, tapi kutakut akan banyak yang kecewa padaku. Tapi, kalau aku tetap mengikutinya, ayah yang akan kecewa. Aku tak bisa memilih di antara keduanya. Ingin ayah kecewa atau semua guru dan teman-temanku kecewa? Pilihan yang sangat sulit bagiku. Meskipun ayah cuma seorang namun ia adalah sosok yang berharga bagiku. Sosok yang selalu menjagaku dari aku belum mengetahui apa-apa hingga aku sudah besar seperti ini. Ia selalu melindungiku semenjak ibu pergi meninggalkan kami berdua. Pergi jauh hingga kami takkan mungkin lagi bertemu dengannya, pergi untuk selama-lamanya. Semenjak aku masih berumur dua tahun. Semenjak itu pula aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, hanya ayah yang setia menjaga dan selalu bersamaku. Ayah tak menikah lagi karena ia ingin aku beribu tiri, tak ingin hatiku terluka nantinya. Namun, akhirnya aku tetap merasakan betapa terlukanya hatiku, betapa sedihnya aku sebab ayah melarangku melakukan hobiku, bakatku, dan aku sangat kecewa karena itu. Ayah tak pernah mengatakan alasan kenapa dia melarangku menyanyi. Kenapa ia benci dengan nyanyian. Ia tak pernah menjawabnya saat aku tanyakan. Aku ingin mengatakan pada ayah bahwa aku juga ingin seperti teman-temanku yang orangtuanya selalu memberi dukungan untuk mengembangkan bakat anak-anaknya, tidak seperti aku yang selalu dipatahkan.Aku sengaja melangkah kecil-kecil menyusuri jalan ke rumah. Aku ingin berlama-lama di jalan karna tak sanggup berbicara pada ayah ataupun minta izin padanya. Selama di perjalanan aku berusaha melawan fikiranku untuk menuruti nasihat ayah. Aku mencoba menetapkan hati dalam sebuah pilihanku untuk tetap ikut dalam lomba itu. Aku sangat berharap bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan itu pada ayah.

Surat lorong
Teen
19 Feb 2026

Surat lorong

Sebuah suara dari seseorang membangunkan Ayu yang masih tertidur pulas. Ayu pun kembali melanjutkan tidurnya. Dan suara itu terus menganggu Ayu. Ayu pun membuka matanya dan melihat Riska yang sedang membangunkannya.“Udah Ris, nanti aja aku masih ngantuk nih?..”“Ehh Ayu. Ayo kita sudah telat nih..”“Telat apa coba, ini kan masih gelap..”“Kita harus sholat..”“Sholat? malam malam kayak gini? Sholat apa? Aku masih ngantuk Riska, Ihh nyebelin bangett”“Sholat tahajud Ayu.” Riska sambil menarik tangan Ayu untuk bangun.“Nanti aja deh yaa, aku baru aja tidur..”“Ehh Ayu. Ayo ada Ali..”Ayu pun bangun dari tempat tidurnya dan berlari menuju cermin.“Ayo Ris, nanti kita telat lho..”“Wow cepat banget..”Ayu dan Riska bejalan menuju masjid dan terlihatlah seorang pemuda berjalan menghampiri mereka berdua. Dan ternyata dia Ali.“Assalammualaikum..” Ucap Ali.“Walaikumsalam..”Tanpa sepatah kata lagi Ali pun pergi meninggalakan mereka berdua.“Ehh.. Ali..” Panggil Ayu.“Iya ada apa?” Jawab Ali menghentikan langkahnya dan menghampiri Ayu.“Anuu. Kamu mau ngapain berjalan di sana kita kan mau sholat..”“Aku sudah kok..” Jawab Ali sambil tersenyum.“Oh. ya udah aku pergi dulu ya..”“Iya hati-hati..”“Assalammualaikum..”“Walaikumsalam..”Ayu semakin penasaran dengan Ali. Setelah sholat tahajud Ayu menunjukkan surat yang ditemukannya tadi kepada Riska. Riska pun membacanya, ternyata surat itu memang untuk Ayu.-Untuk Ayu-Aku sudah melihatmu pada saat pertama kali kamu memasuki pesantren. Dan aku merasakan ada suatu hal yang sangat istimewa pada dirimu. Aku mencari tahu tentang dirimu dari beberapa santriwati. Lebih semangat belajar ya.. Kalau kamu butuh bantuan aku bisa bantuin kamu. Tapi kamu harus izin dulu sama Kiai.. Jangan pernah menyerah Aku akan selalu mendukungmu.– M. Ali Sholehudin –Betapa terkejutnya Ayu ternyata surat itu dari Ali. Ayu sangat bingung dan Riska pun tersenyum melihat tingkah Ayu yang semakin aneh.“Apa benar ini dari Ali?..” Tanya Ayu.“Iya Ayu, temanku yang paling imut.”“Yess, aku seneng banget Ris, peluk Ris”“Sini sini, dasar cewek ini yaa”“ahh kamu bau”“Ehh.. Enggak Ayu, kamu ngajak berantem ya?”“Wekk, tangkap aku dong”“Gamau ahh capek”Suara adzan telah memanggil mereka untuk melaksanakan sholat shubuh. mereka berdua segera kembali menuju masjid.Setelah Sholat shubuh Ayu dan Riska menuju kamar mandi untuk mandi, dan bersiap untuk belajar. Setelah mandi Ayu meninggalkan kamar mandi tanpa di temani Riska. Di perjalanan menuju asrama putri, Ayu melihat Ali, Ayu sangat cangung bertemu dengan Ali. Ali pun mengajak Ayu untuk keluar dari pesantren dan mencari makan di luar. Ayu mengiyakan ajakan Ali, mereka berdua menuju pintu keluar pesantren. Dan menuju sebuah warung makan. Ali memesan makanan banyak sekali. Ayu terkejut, Ali menjelaskan bahwa itu untuk semua santri dan santriwati. mereka berdua makan di sana. Di tengah Ayu memakan makanan Ali mengatakan sesuatu yang mengejutkan dan tidak akan bisa dilupakan oleh Ayu.“Ayu?.” Panggil Ali.“Iya, Kenapa?..”“Aku suka sama kamu..”Gemetar hati Ayu mendengar ucapan dari Ali.“Hahaha, kamu bercanda ya..”“Enggak aku serius, Aku suka sama kamu..” Ungkap Ali menatap mata Ayu.Ayu batuk dan mengajak Ali untuk kembali. Ali mengiyakan ajakan Ayu.“Habis ini kamu ikut Aku ya. Aku mau mengajari kamu sesuatu..”“Apa?..” Tanya Ayu.“Membaca Al-Qur’an..”“Ohh.. Enggak perlu kok..”“Eits. Kamu jangan menolak, ini perintah dari Pak Kiai..”“Loh kok?..”“Iya, kalau gak percaya tanya saja sama Pak Kiai..”Masuklah mereka menuju pesantren. Dan Ayu meninggalkan Ali sendirian. Ayu ingin menemui Kiai. Ayu bertanya tentang perintah yang diterima Ali, Dan ternyata itu benar. Ayu pun kembali dan mencari Ali. Ayu melihat Ali membagikan makanan ke santri dan santriwati. Ayu menunggu Ali selesai membagikan makanan. Setelah selesai Ali menghampiri Ayu dan mengajaknya. Ali mengajak Ayu ke sebuah ruangan untuk belajar. Ayu pun teringat bahwa dia lupa membawa tilawati Ayu pun ingin kembali ke asrama putri, tapi dihentikan oleh Ali.“Loh, Katanya kamu mau mengajari aku..”“Iya, enggak usah pakai tilawati..”Ali memberi saran kepada Ayu dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan“Kamu hanya perlu mendengarkan..” Ucap Ali.“Iya..”“Ayu kamu tidak boleh menyerah.. Kamu harus terus belajar ingat kata kataku ini Tidak ada namanya terlambat untuk belajar.. Oh, ya Aku harus pergi besok. Ibuku sakit jadi Aku akan kembali lagi setelah ibuku sembuh.. Kamu belajar yang giat di sini..”“Iya. Aku akan menunggumu. Tapi kamu harus janji untuk kembali..”“Insyaallah..”Keesokan harinya,Ali pun meningalkan pesantren dan Ayu, untuk menemui ibunya.Hari demi hari berganti Ali sudah 7 bulan pergi meningalkan pesantren dan belum kembali.. Kini Ayu sudah bisa membaca Al-Qur’an dan hafal 28 juz Al-Qur’an. Ayu masih menunggu datangnya Ali. Ayu tetap besabar. Ayu pun kehilangan sahabat terdekatnya di pesantren Riska yang sudah pergi meningalkan pesantren 2 bulan yang lalu..Ayu terus menunggu Ali.. menunggu dan menunggu.. Dan akhirnya Ali menepati janjinya, Ali kembali ke pesantren untuk mengajak Ayu pulang ke rumahnya.. Sebelumnya Ali dan Ayu berpamitan dengan Kiai. Ayu sangat senang karena Ali datang dan mengajaknya untuk pulang. Ali menginjak pedal gas dan segera menuju rumah Ayu, Di perjalanan Ayu pun tersenyum bahagia, kebahagiaan Ayu sungguh sangat lengkap karena Ali mengatakan akan secepatnya melamar Ayu..Sesuai janjinya akhirnya Ali melamar Ayu, mereka berdua sangat bahagia.. Setelah 1 bulan menikahlah Ayu dengan Ali. Hari itu sangat indah, berawal dari awal yang gelap kemudian terbitlah sebuah cahaya kehidupan yang sesunguhnya. Ayu pun sangat bersyukur kepada Tuhan karena mempunyai suami yang baik, Sholeh dan hafal seluruh isi Al-Qur’an yaitu Muhammad Ali Sholehudin.“Tidak ada kata terlambat untuk belajar.”

Ketika Dia Mengahampiriku
Romance
19 Feb 2026

Ketika Dia Mengahampiriku

Kala itu aku sedang duduk santai di bangku taman kampus, sambil membaca buku kuperhatikan satu-persatu halaman demi halaman yang kuharapkan bisa menembah wawasanku. tak lama kemudian ku mendengar suara langkah kaki yang hendak menghampiriku.“Hai sedang apa?”. Suara laki-laki itu yang kurasa sudah berada dekat dengan posisi duduk ku.“Sedang membaca buku saja,”. Jawabku agak malas.“Tiba-tiba sekali kau melakukan ini”. Dirinya bertanya lagi padaku.“Kurasa saat ini aku tak tahu mau melakukan apa, jadi apa salahnya aku membaca buku. Mengisi waktu luang”. Timpalku sambil menjelaskan.“Kau mau ini?”. Sambil menyodorkan segelas jus minuman dingin kepadaku.“Ambillah aku membelikan ini untukmu”.“Untukku?, tak biasanya kau seperti ini kepadaku, Han”“Memangnya tidak boleh aku membelikan ini untukmu, ya sudah aku ambil lagi saja minumanku kalau kau tidak menginginkannya”. Nada bicara yang membuatku terasa lucu jika didengar.“Iya iya, aku ambil pemberiaanmu, terima kasih ya. Han”“Oke sama-sama, diminum dong. Ra”Akhirnya keduanya meminum minuman yang dibawa lelaki itu, dengan nikmatnya mereka meneguk perlahan airnya. Tampak pandangan yang tak sewajarna sebagai seorang sahabat dekat, entah apa yang mereka rasakan saat itu. Mereka seperti anak remaja yang dilanda rasa dilema yang mendalam. Apakah mereka merasakan yang namanya cinta?. Jika salah satu dari mereka tidak bisa berjalan bersama, seperti ada yang kurang dirasakan oleh rekan-rekan satu kampusnya. Pandangan mereka saling bertemu, binaran cahaya di mata mereka menceritakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan bagaimana rasanya. Mungkin mereka hanya bisa bertatap seperti itu, setelah selama 6 tahun menjalin persahabatan yang begitu dekat seperti sepasang kekasih yang begitu serasi. Namun, sepertinya mereka menyembunyikan perasaan yang mereka rasakan. Karena mereka lebih mencoba diam untuk masalah ini. Hingga pandangan mereka pun terlepas ketika mendengar seseorang memanggil.“Farhan?” Suara yang tidak asing menurut mereka untuk didengar.“Eh, kamu San, ada apa?” Ya Santi yang menghampiri mereka saat ini, wanita yang sangat menyukai Farhan. Namun sampai saat ini Farhan belum bisa membalas perasaannya karena ada wanita lain yang mengisi hatinya terlebih dahulu, itulah Rasti sahabatnya sendiri.“Kamu mau membantuku menyelesaikan tugas biologi ini tidak?, aku kesulitan nih, terlalu rumit bagiku untuk menyelesaikannya. Mungkin dengan bantuan mu aku bisa memperbaiki nilaiku yang akhir-akhir ini turun”. Ucapnya dengan agak sedih.“Mungkin kau kurang belajar San, Harusnya kau mencoba dan lebih banyak membaca lagi tentang memahami pelajaran ini. Sulit memang tapi pasti bisa kok”. Rasti memberikan motivasi kepada Santi, namun dari raut muka yang ditunjukan Santi seperti raut wajah yang tidak suka Rasti berbicara seperti itu.“Kau tak perlu menasehati ku Rasti, aku tak suka dinasehati kamu, kau kira kau sudah lebih baik?. Aku tak butuh kamu disini kalau hanya untuk menceramahi aku. Lebih baik kau pergi saja sana dengan yang lain tinggalkan aku dan Farhan saja disni. Lagi pula aku cuma butuh Farhan bukan kamu”. Santi berucap dengan sangat ketus kepada Rasti.Tak layaknya perempuan seperti biasanya pastilah sakit hatinya apabila dikatakan hal semcam itu. Tanpa fikir panjang Rasti pun meninggalkan mereka berdua dalam keadaan terisak, menimbulkan rasa yang juga sedih dan tidak enak di hati Farhan. Ketika dirinya ingin mengejar Rasti, tangannya sudah terkunci oleh dekapan tangan Santi.Cerpen Perjuangan“Apa yang kau lakukan kepadanya?, lihatlah dia menangis karena ucapanmu itu”. Farhan berusaha membela.“Aku tak menginginkan dia ada disini, kau tahu aku ingin belajar dengan mu, bukan dengan dia”. Bantah Santi pada Farhan.“Tetapi, aku tidak suka dengan caramu yang seperti tadi”. Farhan masih tidak menerima kini dia tidak bisa berbuat banyak.“Hei, disini aku ingin kau membantuku menyelesaikan ini, sudah lah dia cuma sahabatmu saja. Kenapa kau begitu membelanya?. Lupakan dia disini ada aku yang sedang membutuhkanmu”. Santi sungguh bersikeras membujuk Farhan.Sebenarnya Farhan ingin sekali mengejar Rasti memberikan sedikit pengertian kepadanya. Tapi rasanya tidaklah mungkin untuk saat ini sekarang ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menemui sahabatnya dan berbicara secara perasaan dengannya.

kembang api penantian
Romance
19 Feb 2026

kembang api penantian

19 Oktober 1945Seperti biasa Asri mengenakan pakaian kebaya dan jarit panjang menutupi kakinya. Rambutnya ia kepang dua, sangat sederhana namun tetap tampak cantik. Satria memakai seragam tentara lengkap. Mereka berdua terduduk di rerumputanjessTerdengar suara korek api dinyalakan”Ini apa?” tanya Asri”Ini namanya kembang api. Lihatlah! Nanti kau pasti dipraktekkan. ”Bukankah ini sejenis petasan? Petasan itu dilarang kan mas? ”Seperti kata Asri, petasan dan barang-barang sejenisnya seperti kembang api adalah barang gelap kala itu. Sejak zaman Belanda, pemerintahan Belanda telah melarang peredaran petasan.”Tenanglah, ada aku disini. Pegang ini ”perintah Satria seraya memberikan kembang api lidi di dalam Asri.Kembang Api lidi di tangan Asri mulaicikkan bunga-bunga api kecil yang memancarkan cahaya di tengah kegelapan, berterbangan terang layaknya menari dewi kahyangan, penghipnotis semua mata yang melihatnya. Begitu pula dengan mata Asri dan Satria. Mata mereka tak berkedip sedikitpun. Keduanya sangat terpana dengan kembang api di tangan mereka. Terjerembab dalam suatu keterpukauan yang membuat mereka berada dalam suasana keheningan di tengah malam hari yang dingin. Betapapun indahnya kembang api namun semuanya hanyalah sementara. Keindahan yang amat cepat pudar akibat tiupan angin pelan. Tapi tidak dengan cinta yang mereka miliki.”Asri, apakah kamu mencintaiku?” tanya Satria tiba-tiba kala cahaya kembang api mulai padamAsri mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk untuk memandang kembang api, dilihatnya wajah Satria yang penuh keseriusan.”Tentu saja Satria” jawab Asri kemudian”Apakah kamu yakin?” tanya SatriyaAsri mengangguk pertanda bahwa ia yakin”Jangan cuma anggukan, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu” desak SatriaAsri yang mengatur nafas. ”Aku sangat yakin” jawab Asri pasti”Tapi, apakah kamu me…” ucapan Satria terhenti karena Asri meletakkan jari telunjuknya pada bibir Satria”Sst. Yakinlah mas. Aku tulus mencintaimu dan aku akan terus menyayangimu sampai kapanpun. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apa yang sudah terjadi sampai-sampai mas menanyakan ini padaku? ”Asri tahu tidak biasanya kekasihnya seperti ini, pasti ada suatu alasan yang membuat Satria meragukan cintanya.”Bukan sudah, tapi akan.” Satria menghela nafas selanjutnya kemudian melanjutkan ucapannya“Besok aku harus pergi. Aku dipindah tugaskan ke Ambarawa balas Satria”Kenapa harus pindah? Bukankah negeri kita sudah merdeka? Bukankah Yogyakarta adalah kota besar mas? Dan kota ini jauh lebih membutuhkan penjagaan tentara sepertimu dekat Ambarawa ”ucap AsriSatria membelai rambut di kepala Asri dengan lembut dan kemudian berkata begitu karena Yogyakarta kota besar. Sudah banyak tentara yang bujangan disini berbeda dengan Ambarawa, masih sedikit sekali yang berjaga disana. Aku mohon sri relakan masmu ini pergi. ”Asri menggeleng, air mata bercucuran dari pelupuk matanya. ”Aku tak ingin..hiks ber hiks pisah hiks denganmu mas” ujar Asri diselingi isak tangis”Sri, ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga negeri ini. Kupinta mengertilah sedikit saja. ”Bujuk Satria seraya merengkuh Asri dalam pelukannya. Asri menyandarkan kepalanya di dada bidang Satria, ia masih saja sesenggukan.”Aku hiks hiks aku hiks tak ingin mengatur penantian itu lagi mas” Asri berkata dengan diakhiri tangisan yang semakin keras.Suara tangisannya terdengar begitu memilukan dan menyayat hati. Kali ini sulit bagi Asri rilis Satria pergi. Dua tahun yang lalu Satria juga seperti ini. Berpamitan kepada Asri demi tugas negara. Masa itu adalah dua tahun menderita dalam hidup Asri. Kerusakan yang didasarkan pada keputusan yang terus menghujam jantungnya bagaikan sebuah pisau ketajaman. Kekhawatiran akan keadaan Satria apakah ia sehat atau terluka. Kecemasan akan keberadaannyawa dalam raga Satria apakah ia masih hidup atau ia telah pergi dari dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan yang terus menyerang relung jiwa Asri yang paling dalam. Tiap kali ada kabar kematian tentara Asri langsung histeris. Ia berlari untuk mencari tahu apakah tentara malang itu adalah Satria. Namun dewi fortuna masih berada di pihak mereka. Satria masih bisa terus selamat sampai akhirnya kemerdekaan telah didapatkan. Dan baru satu bulan ini mereka bertemu kembali. Asri tenggelam dalam rengkuhan hangat Satria. Matanya terpejam untuk beberapa lama, ia sedang memeriksa semuanya. Setelah mendapatkan jawaban dari kegundahannya, Asri mulai membuka mulutnya”Mas” panggil Asri lirih seaya mendongakkan kepalanya sebuahga sejajar dengan Satria.“Iya Sri” Jawab Satria“Aku..mengizinkanmu untuk pergi asalkan engkau mau padaku bahwa Mas akan kembali lagi nanti.” Jelas Asri“Aku janji” Satria mengangguk tegasKeheningan menyeruak. Namun kemudian kembali pecah karena Satria“Simpanlah sisa kembang api ini. Tunggu aku, dan kita akan mengasahnya bersama lagi ”Satria memberikan sisa kembang api yang belum dinyalakan itu kepada Asri.Asri hanya mengangguk mengerti. Ia meletakkan sebuah pundak Satria. Berusaha menikmati waktu terakhir yang ia miliki bersama kekasihnya. Sisa malam itu nikmati dengan keheningan. Tanpa suara tanpa gerakan, namun tatapan mata mereka satu sama lain telah mengisyaratkan perasaan di hati hati***15 Desember 1945“Asri” teriak salah satu tetangga di dekat rumah Asri“Iya mbak Is. Ada apa? ” tanya Asri seraya menghampiri tetangganya ituMereka berdua kini sedang berdiri di halaman rumah Asri“Sudah mendengar kejadian di Ambarawa?” Mbak Is terlihat begitu bersemangat ketika bercerita. Ambarawa? Itukan tempat Mas Satria ”“Belum, memangnya ada apa disana?” jawab dan tanya Asri kemudian“Tentara sekutu melanggar janjinya. Telah terjadi pertempuran hebat disana. ” jelas Mbak Is“Apa? Pertempuran? ” Asri terlonjak kaget, pikirannya langsung tertuju pada Satria yang sedang ada disana“Tenang saja tentara Indonesia memenangkan petempuran sehingga Ambarawa telah kita kuasai lagi” Mbak Bercerita dengan nada bangga“Lalu, bagaimana dengan Satria? Apa dia baik-baik saja ”raut wajah Asri terlihat cemas“ Entahlah, aku tak tahu banyak tentang kejadian itu. Sebatas itu saja infomasi yang kupunya. Permisi Sri, aku mau pulang cucian telah menantiku di rumah ”pamit Mbak Is“ Iya mbak ”Asri mengangguk diringi senyuman tipis dibibirAsri masih saja terpaku di depan halaman rumah. Rasa cemas mulai menggelayuti hati dan pikirannya. Telah lama Satria melaporkan laporan yang semakin lanjut. Kegundahannya semakin lama semakin besar namun apa daya saat ini tak ada yang bisa membantunya. Asri mengarahkan pandangan ke langit.beberapa daerah kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.Setiap malam Asri lewati dengan duduk di lapangan rumput tempat ia dan Satria terakhir bertemu. Ia selalu memandang kembang api yang Satria tinggalkan. Hari demi hari berlalu. Kekalahan di dalam hatinya terus memuncak. Sampai suatu ketika terdengar sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Kekasihnya tercinta Satria telah tewas pada saat petempuran Ambarawa kemarin.DegJantung Asri serasa berhenti berdetak. Berulangkali Asri berteriak histeris.“Tidak mungkin Satria tewas, aku tak percaya. Tidak mungkin. Dia telah mendatangi kalau dia akan kembali. Tidak mungkin ”Asri berteriak-teriak seperti orang gilaSuaranya terdengar begitu parau. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan kepedihan dalam hati Asri. Mata sembab akibat kerinduan yang menyesakkan dada tak pernah lepas dari dirinya. Ia selalu menyangkal dan menolak kematian Satria.“Sebelum aku melihat jasad Satria dengan mata dan kepalaku sendiri aku tak akan percaya Satria telah pergi.” ungkap Asri dengan berteriak pada pihak yang menenangkannyaSetiap hari dirinya bagaikan orang linglung, berdiri di depan rumah dan memandang jalanan dengan tatapan kosong. Sesekali butiran-butiran bening itu meluncur dari pelupuk matanya. Badan Asri nampak kurus, rambutnya yang dikepang dua nampak acak-acakan. Sejak kabar itu terdengar, Asri jarang sekali makan. Jika bukan karena paksaan ibunya Asri pasti tidak akan makan. Ia hanya menunggu menunggu dan menunggu.Satu tahun berlalu, Asri masih saja seperti itu. Dan kali ini sebuah ide gila tiba-tiba saja terlintas. Asri berjalan menuju jembatan yang ada di desanya. Jembatan itu cukup besar dan dibawahnya dialiri sungai yang mengalir dengan cukup deras. Jika kita jatuh ke dalam sana sudah pasti kita akan terbawa udara dan lama-lama akan mati tenggelam. Ia berencana untuk menyelesaikan hidupnya disana. Menurut Asri jika memang Satria telah pegi dari dunia ini percuma saja dia hidup. Tak ada artinya, tak ada manfaatnya. Bagaikan seorang burung yang tak mungkin terbang lagi karena salah satu sayapnya telah patah. Satria telah lama menjadi belahan jiwa Asri. Dirinya dan Satria Bagaikan Dua Sisi Logam Yang Seharusnya Tak Terisahkan. Rencana pernikahan juga sudah mereka susun. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.Langkah gontai Asri telah membawanya sampai pada jembatan itu. Ditengoknya aliran deras dibawah jembatan. Timbul sedikit rasa takut dalam benaknya. Namun kesedihan, kesendirian, kesepian dan kerinduan yang ia rasakan telah mengalahkan segalanya. Tekatnya sudah bulat. Asri memegang besi pembatas di sisi jembatan dan mulai naik di atasnya. Kedua, rentangkan. Asri memejamkan matanya dan mulai menghirup udara di sekitarnya.“Mas Satria, aku akan segera menemuimu di surga. Tunggulah aku ”gumam Asri dalam hati.Hatinya semakin mantap, ia angkat kaki kanannya dan Bersiap untuk bergaul."Asri" teriak seseorangKerasnya suara orang itu mengusik Asri. Ia buka matanya perlahan. Kepalanya menoleh kesamping namun tubuhnya tak bergerak dan tetap setia pada posisinya.Turunlah! pinta orang itu kala Asri menoleh ke arahnya.Kenapa aku harus turun? ” tanya Asri datar”Aku tak ingin kau mati” jawab orang itu'' Bukankah kau tak akan merugi seandainya mati? Jadi untuk apa kau mencegahku Arya? ”Asri menatap mata Arya lekat. Sorot mata Asri penuh kebencian. Arya adalah sahabat Asri dan Satria sejak kecil. Sama seperti Satria, Arya adalah seorang tentara. Kala itu Asri amat enggan bertemu Arya. Ia menghafal Arya karena dialah sang pembawa berita kematian Satria. Berbagai tuduhan dan pikiran buruk ia layangkan pada Arya. Asri pikir Arya telah membohongi dirinya. Asri tahu kalau Arya suka dirinya. Jadi impresi yang terjadi pada kepala Asri terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arya ingin mendapatkan dirinya dan untuk membuatnya Arya. Meski dengan sifat lembut Arya hal itu sama sekali tak mungkin. Asri terus menjejali benaknya dengan gagasan itu. Karena hanya faktor, alasan masuk akal yang tersisa untuk mendukung pendapatnya bahwa Satria.”Kata siapa aku tak rugi seandainya kau mati? Sudah jelas aku merugi, kematianmu akan membuat keluargamu menjadi sibuk. Jikalau itu terjadi, mau tak mau aku harus membantu keluargamu. Apalagi kalau kau mati tenggelam dalam aliran deras sungai itu. Tindakan bodohmu akan membawa seluruh warga desa termasuk aku untuk mencarimu. Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Mengerti? ” jelas Arya panjang lebar dengan nada mengejek.Kata-kata manis sepertinya sudah tak mempan bagi Asri. berharap mendapatkan hasil yang berbeda Arya mencoba menggunakan kata-kata kasar untuk mencegah Asri.”Sudahlah Arya mencegah mencegahku. Pendusta sepertimu tak kan mampu memahami diriku saat ini. Diriku yang sedang berkutat pada ketidaksempurnaan akibat separuh jiwaku telah hilang. Dan tahukah engkau manusia yang telah kehilangan jiwanya seperti aku ini sudah tak memiliki daya lagi untuk hidup. Percuma aku hidup. Aku hanya merepotkan orang lain. Aku tak ingin menjadi manusia lemah lagi. Akan lebih baik jika aku mati. ” ungkap Asri dengan nada putus asaIya aku memang tak tahu. Tapi sadarkah kamu Asri, bahwa kau jauh lebih bodoh. sekali lagi Arya berujar dengan nada mengejek. Kedua tangan Arya ia masukkan ke dalam saku. Sikap tubuh Arya terlihat amat angkuh membuat Asri semakin muak. Meski masih berdiri di atas jembatan yang cukup tinggi, Asri tetap terlihat kokoh. Kakinya tak gemetar sedikitpun. Kemarahan dan kebenciannya pada Arya ketakutan yang ketakutan dalam hatinya”Cuih, kau bilang aku bodoh? Apa maksudmu? Coba Jelaskan agar aku mengerti! ” perintah Asri dengan pandangan tak lagi ke arah Arya melainkan ke depan”Baiklah, dengarkan penjelasanku baik-baik. Tadi kau mengatakan bahwa aku adalah seorang pendusta. Kita berdua sama-sama tahu, kau menganggapku begitu karena berita kematian Satria yang telah aku bawa. Waktu itu kau sangat yakin dan kekeh bahwa Satria belum mati. Lantas, kenapa sekarang kau bilang separuh jiwamu telah pergi? Bukankah kau yakin Satria masih hidup? ”Perkataan Arya secara langsung.Aku rasa perkataan Arya ada benarnya. Bukankah aku yakin bahwa Mas Satria masih hidup? Lalu kenapa aku ingin bunuh diri? ” gumam Asri dalam hatiKebimbangan mulai bergejolak dalam jiwa Asri. Sampai-sampai kegundahannya membuat Asri mengacak-acak rambutnya sendiri. Asri kembali menoleh kepada Arya.“Aku rasa kau benar. Tidak sepantasnya aku ingin bunuh diri seperti ini ”Asri turun dari sisi jembatan itu perlahan. Ia berjalan menghampiri Arya dengan ragu. Seketika Arya merengkuh Asri dalam dekapannya. Tangisan Asri pecah“Maafkan aku Asri. Aku telah membuatmu begini dengan membawa kabar burung yang belum tentu benar. Aku juga merindukan Satria. Dialah sahabat terbaikku. Aku harap Satria masih hidup dan segera kembali bersama kita. ” tukas Arya seraya mengelus rambut Asri dengan lembut.Setelah kejadian itu keadaan Asri semakin lama semakin membaik. Hidupnya mulai teratur kembali. Mata sembab tak lagi menghiasi wajahnya. Hatinya masih merindukan Satria, tetapi ia akan lebih memilih mendoakan keselamatan Satria setiap malam terus berkubang dalam kesedihan seperti sebelumnya.***20 Juli 1947Suasana kota Yogyakarta malam itu tak begitu tenang. Ultimatum yang Belanda berikan sedikit memberikan pelayanan pada tiap jiwa yang ada. Arya merupakan seorang tentara. Hari ini ia terapkan untuk wilayah wilayah keraton dan sekitarnya. Sementara Asri sedang berbaring di tempat tidur tak henti-hentinya gelisah. Setelah cukup lama berpikir akhirnya Asri memutuskan untuk menemui Arya. Lampu minyak kecil ia bawa untuk penerangan. Asri berjalan mengendap-endap agar tidak membangungkan orang tuanya. Asri telah berjalan cukup lama. Dari kejauhan Arya terlihat berdiri di pintu samping keraton dengan senjata di. Meski menggunakan jarit, Upaya mempercepat langkahnya.”Arya” panggil Asri pelan agar tidak mengganggu tentara lainnya”Asri” decak Arya kaget”Untuk apa kau kemari?” Satria berdesis pelan”Perasaanku tak enak, aku harap kamu berhati-hati. Aku tak ingin berhenti merokok lagi ”Mata Asri berkaca-kacaIa sangat serius dengan apa yang dikatakannya. Cukup sekali pedih itu ia rasakan .. Mata Arya dan mata Asri beradu. Keduanya terjerembab dalam kesunyian tanpa arah. Hanya seulas senyuman tipis di bibir Arya yang tampak. Arya begitu senang pujaan mengkhawatirkan dirinya. Meski sebenarnya ia tahu hanya Satria lah yang memiliki cinta Asri. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dibalik semak-semak. Tak disangka-sangka sesosok pria bertubuh tegap yang sudah lama menghilang dari balik semak itu.“Asri” panggil sosok itu kala melihat Asri yang peliputan di balik Arya dengan membawa lampu minyak di tangan kanannya“Mas Sa..tria” ujar Asri gelagapanLampu minyak di tangan Asri jatuh. Mata Asri terbelalak tak percaya. Begitu juga dengan Arya yang tak kalah terkejutnya dengan Asri. Asri berlari menghampiri Satria dan menerapkannya dengan erat.“Mas Satria, aku sangat merindukanmu. Kemana saja kau selama ini? ” tanya Asri yang masih dalam pelukan Satria“Maaf! Aku tak memberimu kabar sama sekali. ” jawab SatriaTangisan Asri untuk kesekian kalinya tumpah. Namun kali ini bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan bahagia.“Kau jahat Mas” Asri memukul dada Satria pelan“Maafkan aku” Satria mempererat pelukannya. Ia rambut elus Asri slow dan terakhir ia kecup kening Asri lembut.Arya menghampiri Satria dan Asri.“Hei, darimana saja kau selama ini?” Arya memegang pundak SatriaSatria melepaskan Asri dari pelukannya kemudian menghapus air mata di wajah Asri. Satria melihat pandangan Arya.“Setelah kejadian di Ambarawa aku ikut Jenderal Sudirman sebagai pasukan gerilya. Karena itu aku tak bisa memberi tahu, dimana aku berada. Maaf aku telah membuat kalian khawatir ”Satria menunduk. Ia terlihat amat menyesal.“Tak apa kawan. Yang terpenting sekarang kau telah kembali kesini ”Mereka bertiga bercengkerama untuk menghilangkan semua kerinduan yang selama ini dirasakan. Walau rasa cemburu sedikit menghampiri Arya kala melihat Satria dan Asri akan tetapi ia teps itu semua. Jika orang yang ia sayangi bahagia maka ia akan ikut bahagia. Namun tiba-tiba sebuah hal yang tidak diinginkan terjadi.DuarrrDentuman keras terdengar. Ternyata itu adalah suara yang terlepas dari Belanda tepat pada tengah malam hari itu. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Asap ledakan ledakan tadi mengepul. Pandangan mata menjadi kabur. Tentara Belanda melakukan penyerangan dari segala penjuru. Semua orang yang berhamburan keluar dari korban berusaha menyelamatkan diri. Situasi semakin tak terkendali“Asri sebaiknya kau cepat lari dari sini” pinta Arya“Tapi, aku tak mungkin meninggalkan kalian berdua” rengek Asri“Tidak kau tidak harus sendiri. Satria bawa Asri pergi dari sini biar aku yang melindungi kalian ”Arya siap dipersiapkan di mana“ Tapi Arya, kau bisa mati konyol. ” tolak Satria“Tenang itu tak akan terjadi cepat pergi” teriak AryaDuar duarArya menembak tentara Belanda yang tiba-tiba muncul dari belakang. Satria menarik tangan kanan Asri dengan paksa.“Mas aku tak mau meninggalkan Arya disini” tolak Asri“Aku tak apa, per ..” suara Arya terputusHujaman peluru tepat mengenai jantungnya. Ia tertembak dari belakang. Dalam keadaan seperti itu Arya masih bisa berbalik dan kemudian menembaki tentara Belanda.“Aaaaa” teriak Arya seraya mengarahkan senapannya ke segala penjuru“Arya” Asri juga ikut berteriak. Matanya kembali basah. Ia tak tega melihat keadaan Arya yang sempoyongan dengan darah di dadanya. Namun Arya masih bisa mengangguk dan tersenyum ke arah AsriSatria terus menahan tubuh Asri agar tidak kembali kesana. Ia tahu nyawa Arya tak mungkin tertolong lagi.“Asri, kita harus pergi” pinta Satria“Tapi mas ..”“Tak ada tapi, aku tak ingin kau terluka.” Satria berteriak.Suara tembakan yang terus menderu membuat mereka sedikit kesulitan berkomunikasi“Mas awas” Asri mendorong Satria sampai jatuh.DuarrAsri tertembak oleh pasukan Belanda. Tubuhnya tehempas ke tanah. Darah mengucur dari dadanya“Asri” teriak SatriaSatria langsung mengarahkan senapannya kepada penembak Asri. Dengan sekali bidikan tentara Belanda itu terjatuh. Satria menghampiri Asri yang sudah terkulai lemas di tanah. Ia angkat meletakkan dan meletakkannya di pangkuannya.“Sri, kenapa kau menolongku tadi? Kita baru bertemu tapi sekarang .. ”ungkap Satria diselingi dengan isak tangis“Tak apa mas .. aku ikhlas menolongmu. Seperti Mas Arya menyelamatkanku. Ia telah menyelamatkanku sebanyak dua kali. Jadi kenapa aku harus menolak kesempatan untuk menyelamatkanmu mas? ” Asri berujar dengan pelan. Bukan hanya pelan suaranya lebih mirip sebagai bisikan. Asri pergi dengan senyuman dibibir. Wajahnya nampak tenang dan tak terlihat guratan kekecewaan sedikitpun. Penantiannya telah usai. Ia telah bertemu dengannya kembali. Meski sangat singkat itu sudah cukup. Satria terus menangis malam itu. Sampai-sampai ia menyadari bahwa ia sudah terkepung oleh tentara Belanda.“Angkat tangan” perintah pasukan BelandaSatria tetap duduk disitu dan tak bergeming sedikitpun. Ribuan tembakan meluncur dari senapan para tentara Belanda mengenai tubuh Satria. Namun ia tetap disitu. Duduk dan menerapkan tubuh Asri yang sudah tak bernyawa lagi. Bom yang lepas lepas tentara Belanda bagaikan kembang api di malam itu. Menutup kisah tragis cinta mereka.Cinta tak harus memilikiPenantian panjang juga tak selalu berujung manisTapi bukan berarti kita harus berhenti karenacinta adanya di hati bukan di ragaSetidaknya sekali rasa itu pernah hadirJiwa ini kan tenang kala menghadap ilahiMeski ruh telah pergiMeski cinta tak diraih lagi

Rain
Horror
19 Feb 2026

Rain

Diluar sedang hujan.Aku benci kota ini saat hujan, dan itulah yang sedang terjadi sekarang.Ada suasana mencekam yang selalu menyelimuti saat hujan datang.Aku tak tahu, tapi itu sangat mengganggu.Tik tik tik.Aku melirik ke sisi kiri tempat tidurku. Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Hujan turun sangat deras begitu pun dengan air yang merembes dari plafonku ini.Atap kamarku bocor. Walaupun sepertinya hanya sedikit celah, tapi tetap saja suaranya sangat mengganggu.Clak Clak Clak.Setiap tetesannya membuat ritme yang sama.Aku mulai terbangun dan perlahan menurunkan kaki ini hingga menyentuh karpet. Saat aku berdiri, ternyata ada yang sadar bahwa aku terbangun. Kandang di pojok kamarku mulai bergerak dan mengeluarkan suara mencicit.Itu adalah Nollie, musang lucu peliharaanku.Aku menghampirinya sambil tersenyum. Ia tampak sangat aktif bergerak dalam kandangnya itu."Tidak Nollie, sekarang bukan waktunya bermain.""Hissss". Jawabnya sambil terus bergerak lincah. Mungkin dalam bahasa manusia, itu berarti : "Apa sih, terserah mauku saja lah." dasar Nollie nakal.Aku kembali mendekat ke tempat tidurku. Tak lupa menyalakan lampu, meraih laci meja rias dan mengeluarkan lakban besar.Aku mengamati darimana air merembes dan mulai menempelkannya sambil meloncat dari atas tempat tidur.Setelah beberapa kali melakukan itu, akhirnya rembesan kecil itu dapat tersumbat juga."Huh, melelahkan." Aku melemparkan lakban tadi ke lantai.Aku menoleh "Kenapa tirai jendelaku terbuka sendiri? Seingatku, aku sudah menutupnya sebelum tidur tadi."Kuhampiri jendela dan kututup tirai itu, sesaat bisa kulihat hujan diluar sana yang turun sangat jelas di jalanan depan rumahku.Aku merinding seketika melihat pemandangan diluar sana. Hujan itu memang menyeramkan.Aku mulai merasakan lapar dan perutku berbunyi menandakan minta diisi.Kubuka pintu kamar ini dan langsung menuju dapur. Suara hujan masih jelas terdengar. Aku melihat sekeliling sungguh sepi, terlebih aku memang tinggal sendiri.Sesampainya didapur, aku membuka kulkas dan yang kudapati hanya ada bahan makanan saja disana. Tak ada apapun yang bisa dimakan langsung. Sial.Aku menggerutu sambil melihat ke atas. Aku hampir lupa bahwa aku memiliki plafon kaca diatas dapurku ini. Derasnya hujan semakin jelas terlihat melalui plafon kaca itu.Aku berjalan menyusuri lorong dan kembali menuju kamarku. Sepertinya, hujan semakin deras. Kilat dan guntur saling bersahutan saat aku hendak mematikan lampu.Aku kembali ke tempat tidur dan menutupi seluruh bagian tubuhku hingga leher dengan selimut.Perutku kembali berbunyi dan aku hanya bisa menghela nafas.Aku memejamkan mata dan berguling ke sisi kanan.Untuk beberapa saat, ruangan ini sungguh tenang walaupun suara hujan dan petir masih terdengar.Tak lama kemudian, aku dapat mendengar Nollie mendesis dan sepertinya melakukan pergerakan yang lebih aktif daripada sebelumnya. Sepertinya ia gelisah.Aku mulai merasa tidak enak.Entah kenapa, aku begitu takut untuk membuka mata karena saat ini aku memang sedang berada di sisi yang bisa melihat langsung ke jendela.Perlahan aku membuka mata dan membeku seketika.Jantungku mulai berdegup kencang.Bukankah tadi aku sudah menutup tirainya? Lalu mengapa sekarang terbuka lagi?Tapi bukan itu yang kupermasalahkan.Ada sesosok mahluk yang berdiri tepat di luar jendelaku.Aku tak bisa menjelaskan itu mahluk apa, tubuhnya dipenuhi luka jahitan dan kulitnya seakan membusuk.Rambutnya seperti tertutup salju sedikit. Matanya hampir diselimuti warna hitam. Mulutnya terbuka, aku tak mengerti apa itu senyum atau apa. Yang jelas, ia berada sangat dekat dengan jendela karena aku bisa melihat nafasnya yang membuat jendela itu berembun.Oh tuhan, mahluk apa itu. Tubuhnya basah kuyup karena hujan diluar sana.Aku masih berbaring dan pandanganku seakan terkunci kedepan. Aku seolah tak bisa mendengar suara hujan lagi, karena aku memang terfokus akan apa yang ada di hadapanku, sesuatu yang tepat berada lurus di pandanganku saat ini.Mahluk itu masih bernafas dengan ritme stabil sehingga mengeluarkan uap yang meninggalkan jejak di kaca.Aku masih terpaku sebelum Nollie kembali ribut, kali ini ia seperti mengamuk dan berdesis sangat keras. Aku menatapnya dan ia sedang mencakar kandangnya.Aku kembali menoleh ke jendela dan mahluk itu pergi. Tak ada bekas nafas di jendela. Semua normal.Nollie belum berhenti mendesis dan aku segera menutup tirai.Aku bersender di tirai itu. Memejamkan mata atas kejadian gila tadi. Mungkin aku hanya lelah dan kurang tidur.Mungkin ini hanya khayalan gilaku karena aku begitu benci atau mungkin takut dengan hujan. Sampai-sampai, aku bisa melihat "mahluk hujan" tadi.Aku kembali ke tempat tidur dan mencoba menutup mataku namun wajah itu tak pernah hilang dari ingatanku. Butuh beberapa waktu sampai aku benar-benar merasa tenang.Aku kembali berguling ke sisi kanan.Aku merasakan ada hal yang aneh. Saat kubuka mata, aku dapat melihat disana.Bukan hanya tiraiku yang terbuka. Tapi jendela kamarku juga sudah terbuka dengan lebar!.Aku mempertajam pandanganku untuk melihat apa yang di depan sana. Tidak ada apa-apa. Hanya rumah tetanggaku yang ada disebrang sana yang terlihat.Aku mencoba bangkit dan segera menutup jendela ini.Diseberang sana, aku dapat melihat tetanggaku terdiam didepan jendela miliknya.Menatap lurus ke arahku dengan ekspresi wajah yang ketakutan.Perlahan, aku mulai merasakannya.Nafas yang terdengar berat dan terasa dingin seperti es itu mengarah tepat di leherku.Mahluk itu ada di kamarku.

Behind Closed Doors
Horror
19 Feb 2026

Behind Closed Doors

Aku adalah anak angkat. Aku tak pernah tahu siapa ibuku sebenarnya. Dia meninggalkanku waktu aku masih terlalu kecil untuk dapat mengingat semuanya. Aku sangat mencintai keluarga yang mengadopsiku kini. Mereka sangat baik padaku. Aku mendapatkan asupan gizi yang baik, tinggal di keluarga yang hangat, sempurnalah sudah. Dan aku sudah cukup lama tinggal bersama mereka.Izinkan aku bercerita mengenai keluargaku tadi. Yang pertama yaitu ibuku, Janice. Aku tak pernah memanggilnya 'ibu' secara resmi, dan dia pun tak pernah keberatan. Sepertinya, ia memang tak pernah memusingkan itu. Dia adalah wanita yang baik dan penuh kasih sayang.Kadang-kadang aku suka tiduran di pangkuannya saat kami sedang menonton. Ia pun membalas dengan mengusap halus rambut serta leherku.Kedua, yaitu ayahku. Nama aslinya adalah Richard. Entah mengapa, sampai sekarang aku tak menganggapnya sebagai ayah. Sulit rasanya, aku seringkali menarik perhatiannya namun sia-sia. Yah tidak apa-apa, dia tetap ayah angkatku walaupun ia tak menganggapku seperti anaknya sendiri. Oh ya, dia juga termasuk orang yang keras. Dia tidak takut untuk menekan anaknya saat mereka melakukan kesalahan. Bahkan ia pernah memukuklu. Yah, itu tak apa-apa karena memang benar, itu semua dilakukan agar aku tak melakukan kesalahan lagi.Terakhir, yaitu saudariku. Namanya Emily. Ia masih kecil saat aku diadopsi dulu, kukira mungkin umur kita sama. Tapi nyatanya, ia lebih tua daripada aku. Kita berdua sudah mempunyai ikatan layaknya saudara kandung. Ia sering bercerita dan aku lebih sering diam, mendengarkan ceritanya karena aku menyayanginya.Oh ya, kami juga berbagi kamar. Aku sangat senang bisa tidur bersamanya daripada harus tidur diruang tengah sendirian. Aku tidur di bagian bawah, sedangkan dia tidur di kasur atas.Namun, semuanya berubah pada hari Rabu malam yang mengerikan. Aku sedang tidur siang dirumah saat Emily membuka pintu depan. Suara dari pintu yang terbuka telah membangunkanku dan reflek, aku berjalan menyusuri koridor untuk menghampiri sumber suara itu.Sebenarnya, aku tak begitu mahir untuk menghapal hari. Dan sekarang, aku patut menyebut saat itu sebagai hari MENYERAMKAN. Akan tetapi, saat itu aku sadar bahwa itu adalah hari rabu karena Emily pulang telat, ia rutin menghadiri pertemuan jemaat muda di gereja. Ia berjalan dan memelukku. Diikuti oleh ayah dan ibu yang memasuki rumah."Hey, apa tidurmu nyenyak?". Kata Janice sambil mengusap halus rambutku.Aku hanya mengangguk sambil menggerakan hidungku yang gatal."Jangan begitu kepada ibumu." kata ayah sambil menutup pintu dan menggantungkan mantelnya.Emily langsung menuju kamarnya di lantai atas, begitupun dengan aku.Dia bercerita panjang lebar, dan aku selalu jadi pendengar yang baik.Setelah itu, kami turun kebawah untuk menonton televisi.Emily suka menonton kartun atau sinetron, sedangkan aku lebih menyukai acara yang ada di discovery chanel atau animal planet. Itu lebih baik.Malam sudah larut, Janice menghampiri kami dan berkata "Emily, ini sudah melebihi jam tidurmu. Segera masuk ke kamar. Dan kau juga ya." ia menatap ke arahku.Kami kembali ke atas, sepanjang perjalanan, aku mulai merasakan tak enak hati.Emily sudah mematikan lampu kamar, aku menatap sesaat ke jendela dan aku menangkap sekelebat bayangan. Apapun itu, mungkin ia sudah pergi. Aku harus tetap waspada karena aku masih tak enak hati.Aku berbaring di kegelapan. Entah mengapa, aku tak bisa tidur. Aku berani bersumpah bahwa beberapa kali kudengar suara ranting pohon, semak-semak, bahkan suara pakaian yang tertiup angin. Lama kelamaan, samar-samar aku mulai mencium bau darah!. Aku semakin membelalakan mataku dengan lebar.Perlahan, suara gaduh dan bau darah yang tercium itu hilang juga. Aku menutup kelopak mataku dan berusaha untuk terpejam dengan tenang.Tak lama setelah itu, aku mendengar suara yang sangat keras dari sisi lain rumah."BRAAAAAAAK"Seketika pula aku tersentak dan bangun."Ada seseorang di rumah ini!!!". Aku berteriak dan jantungku berdegup kencang."Bangun, Emily!!" aku berteriak membangunkan Emily. Akhirnya ia bangun dan terduduk. Setelah melihatnya tersadar, aku segera berlari menuju kamar orangtuaku.Aku tercekat melihat pemandangan yang ada saat itu.Ayah sudah meninggal. Di lehernya ada bekas sayatan. Dari luka menganga itu mengalir darah segar yang menggenang di lantai. Aku melihat didepan pintu kamar mandi, ada orang aneh yang berdiri disana.Dia sangat besar dan menyeramkan. Dia berbalik dan melihatku. Saat itu dapat kulihat matanya yang kecil seperti manik-manik, berputar melirik ke segala arah. Janggutnya lebat dan tidak terawat. Bajunya sangat lusuh namun dipenuhi dengan bercak darah. Saat itu juga aku dapat mencium bau darah yang sangat mengerikan. Bau yang menusuk indera penciumanku ini.Ia melihat ke arahku sambil tersenyum menyeringai. Menampilkan barisan gigi kuningnya yang tidak beraturan. Senyuman itu membuatku terdiam sesaat dan saat itu pula aku berpikir bahwa aku akan mati.Namun, pria itu berbalik menuju kamar mandi dan sepertinya ia tidak terganggu dengan kehadiranku.Aku sangat ketakutan. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya bisa berteriak dan menangis.Perlahan, aku melihatnya menggotong ibu. Ia menghempaskan ibu yang sudah terkulai tak berdaya itu. Ia mengangkat pisau besarnya dan mencabik-cabik ibu di hadapanku. Memotongnya dalam beberapa bagian.Kemudiaan, aku mendengar sesuatu. Hal terakhir yang kudengar.Itu jeritan Emily yang datang dari arah belakangku.Pria itu menatap saudariku, kemudian berdiri dan dengan cepat berjalan menghampiri kami.Saudariku berbalik arah dan berlari. Kemudian pria itu dengan sigap mengejarnya dan melewatiku begitu saja.Aku ikut berlari mengikuti mereka. Aku mengira, dia juga akan membunuh Emily seperti ayah dan ibu. Ternyata aku salah. Pria itu menyeret Emily menyusuri lorong rumah ini.Aku berteriak dan membuat kebisingan sebisaku, berharap ada orang yang sadar diluar sana dan membantuku.Dia menangkap Emily dan membekap mulutnya.Dia hanya melewatiku begitu saja. Aku menyandarkan diri ke dinding dan bertanya-tanya: "Mengapa?"Dia kembali menyeringai ke arahku, menampilkan gigi kuning itu seraya berkata: "Diam kau. Ya, tetaplah diam seperti itu. Anak baik." dia mengusap kepalaku.Aku mengikutinya saat ia menyeret Emily menuju ke pintu depan. Dia membukanya dan menarik Emily keluar rumah ini. Kemudian, ia segera membanting pintu itu.Sekarang, aku terduduk dirumah bersama mayat dari kedua orangtua angkatku. Aku menggigil, gemetar dan cemas.Pria itu sudah berada disuatu tempat diluar sana, bersama Emily. Entah apa yang ingin ia lakukan pada Emily dan aku tak bisa menyelamatkan saudariku. Andai saja jika aku bisa melakukannya, sayangnya aku tak bisa.Aku ingin menangkapnya, tapi aku tak bisa.Aku duduk disini, melihat ke arah pintu depan.Aku melihat kebawah dan mendapati kakiku. Jika saja aku bisa membuka pintu itu..

The Devil's Charm
Horror
19 Feb 2026

The Devil's Charm

Suatu malam, seorang anak gadis bernama Anezka mengambil telepon dan menghubungi teman baiknya, Klaudie.“Ayah-ibuku keluar nanti malam,” kata Anezka. “Bisakah kau datang sekitar jam sepuluh?”“Tentu saja,” jawab Klaudie. “Aku akan membawa buku itu sebentar. Bye!”Anezka menutup telepon itu dan pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan sesuatu untuk malam itu. Kedua gadis itu telah merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya.Mereka berdua selalu tertarik dengan ilmu hitam dan segala ritualnya. Beberapa hari sebelumnya, Klaudie tak sengaja menemukan sesuatu yang sangat menarik di tempat sampah. Sebuah buku besar dan berat, dilapisi dengan kulit dan berisi banyak halaman bertuliskan huruf-huruf kuno.Itu bukan buku biasa. Buku itu berisi perintah-perintah untuk pemujaan setan, ritual-ritual aneh, dan petunjuk untuk merapalkan mantra ilmu hitam. Untuk Anezka dan Klaudie, ide untuk merapalkan beberapa mantra sangat menarik. Mereka tak sabar untuk mencobanya. Ketika Klaudie menemukan buku setan itu, kedua anak gadis itu memutuskan untuk mengikuti petunjuknya dan mencoba mengundang iblis hadir dalam ritual mereka.Sesaat setelah orangtua Anezka meninggalkan rumah malam itu, Klaudie pun tiba. Saat itu sudah pukul sepuluh lewat beberapa menit, dan kedua gadis itu segera naik ke tangga menuju ke kamar Anezka. Mereka gemetar kegirangan namun cukup berhati-hati.Mengikuti seluruh petunjuk yang ada di buku itu, mereka menutup jendela dan menarik tirainya sehingga seluruh ruangan itu benar-benar gelap. Di tengah-tengah kamar tidurnya, Anezka telah menyiapkan sebuah meja kayu kecil. Di sana, dia menaruh sebuah lilin kecil yang menyala, dan Klaudie menaruh buku itu di meja. Kedua gadis itu lalu duduk saling berhadapan dan berpegangan tangan satu sama lain. Menatap buku itu, mereka mulai membacanya bersama.“In nomine Dei nostri Satanas Lucifer Excelsa! Dalam nama Setan, penguasa bumi, Raja dari dunia, yang memerintahkan prajurit-prajurit neraka, kami memintamu untuk memberi kuasa kegelapan dalam tangan kami! Buka lebar-lebar gerbang nerakamu dan datanglah dari tempat yang sangat dalam untuk menemui kami sebagai teman dan saudara!”Sehembus udara lalu hadir di tengah-tengah ruangan dan kedua gadis itu mulai cemas seraya meneruskan,“Beri kami kekuatan yang kami cari! Beri kami kenikmatan yang kami inginkan! Turuti segala perbuatan dan wujudkanlah impian-impian kami! Kami memohon dalam namamu dan meminta menunjukkan dirimu! Kami melepas Tuhan kami dan menyembah hanya padamu, Oh Pangeran Kegelapan! Engkau yang menghargai yang jahat dan menghukum yang baik! Dengarkan keluhan kami!”Hembusan angin makin kencang memenuhi ruangan itu, walau semua jendela telah tertutup. Klaudie gemetar. Dia mencoba melepas tangan temannya, tapi Anezka menggenggamnya erat dan melanjutkan rapalannya.“Dengan seluruh iblis di neraka, kami meminta agar semua yang kami sebutkan tadi agar bisa terwujud! Kami meminta dalam namamu!”Angin kecil mulai meniup halaman-halaman di buku itu hingga membuka sendiri. Klaudie melepaskan genggamannya dari cengkeraman Anezka. Dan tepat ketika itu, angin berhenti bertiup dan buku itu langsung membanting tertutup.“Ini keterlaluan, Anezka!” Klaudie menangis, “Aku akan pulang. Aku takut. Aku tidak suka ini lagi!”“Aku juga takut, Klaudie!” jawab Anezka, “Tapi bukankah ini yang kita inginkan … Apa rencana kita? Setelah semuanya, hal ini berhasil. Jika kau tidak menarik tanganmu, kita mungkin berhasil mendapat balasan.”“Aku tidak ingin melakukan ini lagi!” Klaudie merengek. “Itu semua menarik hanya dalam teori, tapi aku tidak percaya hal seperti ini benar-benar ada. Aku punya firasat buruk tentang ini. Aku pulang. Sudah selesai, Bye Anezka. Sampai jumpa besok.”“Dan bagaimana dengan bukunya?” tanya Anezka.“Kau bisa pegang itu,” jawab Klaudie. “Aku tidak menginginkannya lagi.”Klaudie mengambil mantelnya dan berjalan menuruni tangga ke pintu keluar. Anezka mengikutinya, memohon dirinya untuk tinggal, tapi dia menolak. Dia sebenarnya tidak pergi jauh, hanya menyeberang sebuah jalan, melewati kolam dan dia telah sampai di rumahnya.Anezka lalu mengucapkan salam perpisahan dan menutup pintu rumahnya. Kemudian, dia melangkah pelan-pelan menuju kamarnya. Menyalakan lampu dan meniup lilinnya. Dia membuka tirai jendelanya dan meletakkan buku setan itu di samping ranjangnya. Berbaring dan menatap jam di dindingnya. Pukul sebelas. Dia menutup mata dan akhirnya tertidur.Klaudie terburu-buru sampai ke rumahnya. Ketika dia melewati kolam itu, dia merasa sesuatu di belakangnya tengah mengendap-endap. Tidak seorang pun ada di sana, tapi dia merasa seperti sedang diperhatikan dari kejauhan. Takut, dia berteriak sambil berlari.Malam itu, Anezka bermimpi hal yang sangat aneh. Dia melihat Klaudie terbaring di parit yang ada di dekat kolam. Kepalanya bersandar dengan sudut yang aneh, dan lehernya terlihat memiliki beberapa memar.Anezka terbangun dalam kepanikan, dia berteriak memanggil ayahnya. Ayahnya kemudian berlari ke kamarnya dan mencoba menenangkan dirinya.“Tenang, anakku.” kata ayahnya dengan suara yang lembut. “Hanya mimpi buruk. Kembalilah tidur. Di pagi hari, kau akan melupakan semua itu.”“Kumohon, yah.” tangisnya. “Bisakah aku tidur dengan kalian malam ini? Aku tidak ingin sendiri. Kumohon …”“Ok, baiklah … kemari.” jawab ayahnya seraya menggendong Anezka di lengannya dan memeluknya erat-erat. Anezka melihat jam di dinding. Sudah hampir pukul dua dinihari.Tidak lama kemudian, teleponnya berdering. Anezka mengangkat dan mendengar sebuah suara lemah dari ujung gagangnya.Itu Klaudie.“Hati-hati Anezka. Sangat berhati-hati, atau apa yang ku alami akan terjadi padamu juga …”Hanya itu yang didengarnya sebelum sambungan itu terputus.“Klaudie!” dia berteriak sejadinya. “Klaudie!”“Tenang, Anezka.” kata ayahnya. “Apa yang terjadi?”“Tidak tahu, yah. Aku tidak tahu, tapi aku takut. Aku takut dengan hidupku.”Anezka mulai dikuasai ketakutan yang teramat sangat dan menangis sejadi-jadinya.“Jangan khawatir,” jawab ayahnya seraya mengusap punggungnya. “Semua akan baik-baik saja esok hari. Pergilah tidur.”Dia membawa Anezka ke tempat tidurnya, dan anak gadis itu berbaring di antara ayah dan ibunya. Tak lama, dia pun tertidur pulas.Pagi harinya, ayahnya terbangun oleh teriakan istrinya. Membuka matanya, dia terperangah ketakutan melihat anak gadisnya terbaring lemas di sampingnya. Tubuh Anezka telah kaku dan lehernya membiru dan hitam. Dia tercekik. Ayahnya mulai menjerit dan menangis.Beberapa jam kemudian, mayat Klaudie juga ditemukan di sebuah parit dekat kolam. Dia juga tercekik. Polisi menduga waktu kematiannya sekitar pukul 11.15 kemarin malam.

The Pocket Watch
Horror
19 Feb 2026

The Pocket Watch

Saat aku masih seorang anak kecil tidak ada yang bisa dimakan. Aku adalah anak tertua dari lima bersaudara dan sudah kewajibanku untuk membiarkan adik adikku makan terlebih dahulu sebelumku. Perang menyebar dari daerah pesisir dan saat semakin mendekat ke sini, makanan menjadi sangat langka. Binatang binatang kabur dari sini atau terbunuh dan dimakan oleh keluarga lain di desa kami.Ayahku adalah seseorang yang bijak dan tanggap, dan kami menanti untuk menyembelih dua ayam kami saat musim gugur tiba, ketika rerumputan dan kulit pohon sudah susah dicari atau tidak bisa dikonsumsi lagi. Keluarga lain tau kami punya ayam dan ayah begadang sepanjang malam dan hari untuk mengawasi mereka. Ayah pernah terpaksa membunuh seorang anak dari kota sebelah, yang telah kehilangan akalnya karena saking lapar, ia mencoba membakar rumah kami dengan sebuah dahan berapi.Ketika ayam kami menjadi kurus tersisa tulang dan tulang ayam menjadi rapuh, dan bahkan menjadi berpori karena terlalu sering digunakan ibu untuk sup, orang tuaku mengirim aku dan dua saudara tertuaku untuk keluar berburu serangga dan tikus tanah untuk makan malam. Kami memang lapar tapi tidak terlalu parah, tapi semua berubah total saat suatu pagi kami terbangun dan merasakan salju salju pertama mulai berjatuhan, dan BENAR BENAR tidak ada lagi yang tersisa untuk dimakan. Orang tuaku mulai untuk mendiskusikan hal hal yang tak terelakkan lagi--mungkin ayahku harus pergi ke pesisir dan menjual liontin jam peninggalan dari kakek kepada para tentara mabuk. Itu satu satunya barang berharga yang kami punyai dan hanya itu warisan keluarga yang seharusnya ayahku wariskan padaku.Aku tidak ingin ayah pergi. Aku takut perang akan tiba saat ia pergi dan aku masih terlalu muda dan lemah untuk melindungi ibu dan saudara mudaku. Aku memohonnya untuk tidak pergi, tapi ia bersikeras bahwa semua akan baik baik saja dan bahkan berjanji akan kembali dalam waktu dua minggu. Aku sangat ketakutan dan saat ayah dengan ibu sedang di luar mempersiapkan tas ayah, aku membanting liontin jam itu dan menginjaknya di bawah kakiku lalu menaruhnya kembali di rak ayah yang setengah rusak.Ibuku menangis berhari hari. Ayah melakukan yang terbaik untuk menenangkannya saat aku menyaksikan mereka berdua mengikis kulit dari sepatu boot ayahku dan merebus kulit binatang itu untuk makan malam. Malam selanjutnya ibu menemukan bangkai tikus dan merebusnya untuk mematikan kumannya. Dan malamnya lagi setelah itu ia mengisi perut kami dengan tulang tikus dan salju cair.Adik kecilku Albert membuat semua orang terjaga malam itu, menangis karena kelaparan. Ia memohon untuk semua hidangan yang pernah kami makan saat kami masih punya kebun dan binatang--daging sapi rebus, telur ceplok putih, jagung yang lezat dan daging kambing yang dicabai. Dia membuat perut kami semua mengerang dan menyiksa kewarasan kami, dan aku segera menjerit padanya agar diam sembari ibu sekonyong konyong terdengar menangis dari kamarnya.Ayah membelai rambut Albert berjam jam dan kemudian kembali ke kamar nya dan ibu, seraya menutup kembali pintunya. Albert mengerang hingga cahaya subuh menembus tirai tipis kami. Aku bisa mendengar suara ayah di balik kamar, memperbaiki jam liontin itu. Rasa laparku sudah menggantikan rasa takutku akan para tentara dan aku diam diam berdoa ayah bisa memperbaikinya.Ayah memperbaikinya dari siang sampai malam. Selia menemukan bangkai bangkai jangkrik di toko roti yang terlantar dan saat kami melahapnya, ayah datang dari kamarnya dengan ibu di belakangnya. Senyuman di bibir ayah tampak hampir kulupakan karena aku tak pernah melihatnya lagi sejak hari di mana adik termudaku lahir. Dia mengumumkan pada kami bahwa dia telah memperbaiki liontin kakek dan ayah mendengar ada markas tentara tak jauh dari sini. Tiga hari, janjinya, "Tiga hari dan aku akan kembali dengan wortel dan daging kambing, dan kue yang begitu besar yang bisa memenuhi perutmu untuk satu tahun!"Kami bertepuk tangan dalam kesukacitaan dan berlari mengitari halaman kami yang kecil yang tampak sudah begitu lama tak kami lakukan. Ayah menyuruh kami membantu ibu mencari barang barang bagus untuk mendekor meja. Pagi harinya ia memberikan kami potongan karet dari sepatu kulit ibu untuk dikunyah dan berjanji pada kami untuk kembali secepat mungkin.Kami merasa sangat senang hari itu, mengumpulkan tapal kuda dan pecahan kaca. Kami menjahitkan tapal kuda itu ke sebuah dahan dan menggantung pecahan kaca itu sampai ke bawah. Berharap kaca itu nanti bisa membiaskan cahaya lampu saat di rumah. Kami pulang sembari cahaya sang raja siang mulai tenggelam, begitu senang dan bersemangat dengan pekerjaan kami.Kami bahkan belum menjangkau rumah ketika aku pertama mencium aroma itu--bawang, ayam rebus, daging kambing, bahkan bau permen! Aku berlari secepat yang kubisa, menjatuhkan dekorasi meja kami dengan acuh sepanjang pengejaranku yang gila untuk makanan. Aku menerobos lewat pintu dan menemukan ibu di kompor, menyiapkan makanan kami dalam keheningan. Aku mendekapnya dan bertanya apa ayah sudah pulang."Ya, sayangku. ayahmu bertemu seorang saudagar kaya di jalan yang sangat senang untuk bisa membeli liontin jam kakekmu."Aku mengencangkan pelukanku lagi dan duduk manis menghadap meja saat saudara laki laki dan perempuanku menghambur lewat pintu. Mereka duduk dengan cepat; dengan raut lapar dan penuh harapan yang tergantung di wajah mereka. Ayah keluar dari kamar dan duduk di ujung meja saat ibu meletakkan piring yang mendidih dengan daging kambing rebus diatasnya. Ibu mengangguk pada kami dan kami langsung mengisi tangan kami dengan daging abu abu itu, bahkan piring kami tak tersentuh sedikitpun.Setelah makan malam kami langsung tidur dengan perut penuh, tak ada sepenggal kata pun yang terucap oleh siapapun sejak makan malam itu tersaji di meja. Kami makan makanan kami esok malam dan esok malamnya lagi dan seterusnya. Tapi saat stok makanan kami mulai menyusut, begitu juga dengan kesehatan ibu. Makin hari tulangnya semakin terlihat, sampai kami mulai berkelahi hanya untuk beberapa potong daging mentah sementara ibu kami terbaring lemah dan layu.Malam pertama saat aku pergi ke kamar tanpa makanan lagi adalah malam dimana bayang bayang kebahagian yang samar samar itu mulai sirna dan memoriku akan beberapa hari yang lalu jadi membingungkan.Aku menyadari bahwa daging kambing yang waktu itu kulahap dengan begitu nafsu itu sebenarnya punya rasa yang begitu manis, dan aroma aroma yang lain yang ketika pertama kali kucium dari jauh selain aroma daging kambing sebenarnya tak pernah ada di meja makan.Aku tak ingat ibu makan sesuatu sejak hari dimana ayah telah kembali; ia hanya duduk diam di sisi kami di meja, menatap ke potongan daging abu abu yang kami makan dengan begitu ganas.Dan ayah, aku tak ingat mendengar suaranya lagi sejak pagi dimana ia pergi ke kamp tentara. Kursinya kosong dan hampa, malam demi malam, dan ketika sekonyong konyong pecahan memoriku mulai menguat kembali, aku yakin dia tak pernah kembali--setidaknya sejak pagi dimana ia memotong potongan karet dari sepatu ibu di meja.Ketakutan serta kelaparan, aku tidak terlelap sama sekali malam itu. Paginya saat ibu keluar dari kamarnya aku bertanya dimana ayah pergi. Ia memberitahuku ia telah pergi untuk menjadi tentara dan mengirimkan kami untuk mengerat kulit pohon dari hutan untuk makanan. Ayah tak pernah kembali.Mungkin alasan aku tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi waktu itu karena aku menolak untuk mengakui kenyataan tersebut, dan aku dikendalikan rasa lapar. Tapi ibu pergi dari dunia ini beberapa hari yang lalu dan dalam kematiannya ia menikamkan kebenaran itu padaku. Dari barang peninggalannya aku hanya mendapat sebuah kotak kecil yang berisikan liontin jam berkilau yang rusak. Liontin jam ayah.Mungkin ibu ingin aku untuk mengingat semua itu: satu satunya harapan kami untuk bertahan hidup yang telah kuhancurkan di bawah kakiku. Lambang cinta terakhir ayah sebelum ia mengirim kami untuk mencari dekorasi untuk makan malam itu. Daging keabu abuan yang terlalu manis. Dan aroma menyengat yang telah keluar dari bawah pintu kamar ibu menjadi semakin tengik tiap harinya.Ayahku mengorbankan segalanya untuk keluarganya. Aku dulu terbiasa merutuk bahwa aku tak punya alasan apapun untuk mengingatnya. Tak ada barang warisan keluarga untuk kuberikan kelak pada anakku sendiri.Tapi sekarang aku punya liontin jamnya, sebuah barang yang tak bisa kuberikan pada anak anakku. Bukan karena kacanya yang pecah. Bukan karena bingkainya yang rusak.Aku tak bisa mengingat liontin ini karena itu adalah sebuah kutukan yang harus kutanggung… karena liontin yang berkilau ini tak pernah kehilangan bau menyengat dari daging abu abu yang manis itu.Daging ayah.

Bahagia itu indah
Romance
18 Feb 2026

Bahagia itu indah

Saudara. Itulah kata yang mengadung penuh cinta dan kasih sayang. Saudara. Dimana kita bisa saling melindungi. Saudara. Benteng untuk dendam dan benci. Itulah makna saudara. Tapi tidak dengan pendapat Naha. Gadis berusia 17 tahun. Yang sejak kecil ditinggal mamanya. Mamanya meninggal dunia 10 tahun lalu, karena penyakit jantung. Sejak kepergian mamanya, ia hanya hidup dengan papanya. Pak Brabas Affandar. Dan diusianya yang ke-16 tahun papanya memutuskan untuk menikah lagi. Ia tak pernah setuju dengan keputusan papanya. Ia tak ingin mamanya tergantikan oleh perempuan lain. Tapi papanya tetap bertekad meyakinkan Naha. Bahwa ia juga butuh kasih sayang seorang ibu. Akhirnya Naha setuju, alasannya ia tak mau dipaksa terus oleh papanya. Selain kehadiran mama baru, Naha juga kehadiran saudara baru. Gadis cantik, lembut, dan juga manis. Yang seumuran dengan Naha. Kina namanya. Mereka satu SMA. Tapi Naha tak pernah berbicara dengan Kina. Bilapun mereka berbicara itu hanya sebentar dan singkat. Naha tidak suka dengan Kina, bahkan mama Kina. Yang kini menjadi mama Naha juga.Pagi saat sarapan… Naha turun ke meja makan. Di sana sudah ada papa, mama, dan Kina.“Naha. Ayo sarapan sayang! Mama udah masakin sarapan yang enak loh”Naha tetap diam dan meminum jusnya dengan berdiri.“Naha! Jawab donk tawaran mama, jangan diem aja!” perintah papanya.“Aku nggak peduli! Ingat ya pa, aku nggak pernah mau menganggap mereka. Dan dia bukan mama aku!”“Naha! (sambil berdiri menggebrak meja). Jaga omongan kamu!”“Kenapa pa, papa marah? Terserah, papa juga nggak peduli sama aku. Papa cuma peduli sama mereka”“Naha, kamu jangan ngomong gitu!” ucap Kina.“Diam lo! Nggak usah ikut campur!”“Naha, kenapa kamu jadi kasar gini nak?” keluh papanya.“Papa tuh seharusnya udah tahu kenapa aku jadi kayak gini”Naha keluar dan tidak mempedulikan mereka.“Mas, maafin saya mas. Karena kehadiran saya dan Kina yang membuat Naha jadi kayak gini!”“Nggak! Ini bukan salah kamu Ratna. Ini memang salah aku sendiri. Jadi aku mohon kamu dan Kina jangan merasa bersalah”Di sekolah, SMA Adi Wijaya…“Eh, tuh liat si cewek preman dateng!” ucap cewek bernama Steffa, saat melihat Naha datang.“Iya, liat gaya jalannya aja kayak anak cowok! Pantes deh jadi preman!” tambah Ania“Preman Pasar” celetuk AngelMereka bertiga tertawa puas. Mereka bertiga adalah geng. Yang ada di pikiran mereka hanyalah, merekalah cewek paling cantik. Cewek paling hits. Cewek yang selalu dikejar-kejar cowok ganteng.“Kalian nggak punya kerjaan ya selain ngatain orang?”“Eh, siapa nama lo? Na… Naha! Gue nggak ngatain kok emang lo tuh kayak preman!”“Ha… Ha… Ha….!” tawa mereka.“Iya, gue preman pasar… kalian yang ngemis-ngemis di jalanan” ucap Naha lalu pergi.“Ihh… dasar ya lo, awas aja kalo ketemu!” balas Steffa“Iuhh, kita ngemis-ngemis di jalanan. Nggaklah yauw…” kata Angel“Secara kita anak pengusaha dan orang kaya” sombong AniaSaat di jalan menuju kelas… Naha tak sengaja menyenggol seseorang.“Eh, sorry. Gue nggak sengaja” pinta Naha“Iya. Nggak papa” balas Andra, si cowok paling keren di SMA. Dan paling banyak yang nge-gebetin. Khususnya cewek-cewek kayak gengnya Steffa.“Lo itu si…?”“Cewek preman!” jutek Naha“Bukan gitu maksud gue!”“Udahlah, terus terang aja. Nggak usah pake basa-basi!”“Sorry! Gue Andra!” Andra mengulurkan tangannya.Tapi tak dibalas oleh Naha. Naha malah ingin pergi.“Eh tunggu” Andra menghadang Naha.“Apaan sih lo?” sambil mendorong Andra.“Jadi cewek jangan kasar gitu donk!”“Mau lo apa?”“Cuma pengen tau nama lo aja!”“Naha!”“Naha siapa?”“Naha ya Naha!” bentak Naha“Nama lengkap!”“Huh… ganggu aja, Jenaha Affandar!”“Namanya sama kayak gue!”“Nama lo kan Afandra Arnawarman! Ya jelas nggak samalah!”“Lo tau nama gue?”“Udahlah, sana!”Naha segera pergi dari Andra.Pulang sekolah….Kina berjalan menuju parkir depan. Tidak sengaja ia bertemu gengnya Steffa.“Eh… ada Kina nih. Lo tau nggak lo tuh beda banget sama saudara tiri lo itu!” kata Angel.“Lo itu ya, cantik, lembut, manis, lugu, sopan” ucap Steffa“Iya, betul itu. Kalo dibandingin sama siapa tuh… preman pasar. Ya beda jauhlah!” tambah Aina“Maksud kalian, Naha?”“Kalo bukan dia… siapa lagi!”“Kalian jangan keterlaluan menghina Naha. Dia itu nggak seperti yang kalian pikirin!”“Maksudnya? Dia lembut, manis, cantik gitu? Ya nggak mungkinlah”“Kita nggak bakal percaya!”“Bye dulu ya… Kina!”Mereka pun pergi.“Kenapa sih semua menganggap Naha itu anak yang kasar?” tanya Kina pada dirinya sendiri.“Nggak kok! Nggak semua orang beranggapan gitu. Aku menganggap kalo Naha itu orang baik!”Kina langsung berbalik.“Bener? Kamu menganggap Naha baik?”“Iya. Aku dulu waktu SMP pernah sekelas sama Naha. Dan aku pikir Naha anak yang baik, suka nolong orang lain, dan sering berbagi!”“Apa? Kamu temen SMPnya Naha?”“Iya. Aku Dino!”“Kina!”Saat di taman belakang sekolah. Tepatnya setelah semua siswa sudah pulang. Naha duduk sendiri di bangku taman. Menyendiri dalam keheningan.“Naha! Ini untuk kamu!”“Apaan sih lo Kina? Buat apa coba, ngasih kotak… hadiah… nggak berguna kayak gini!”“Aku ngasihnya tulus sama kamu Naha! Karna pagi tadi aku merasa bersalah sama kamu!”“Tulus? Lo udah hancurin hidup gue, bisa-bisanya lo ngasih gue hadiah. Gila ya lo!”“Naha! Lo jangan ngomong sembarangan. Ini saudara lo!” tiba-tiba Dino datang bersama Andra. Sejak pertama masuk SMA Dino dan Andra sudah bersahabat.“Ngapain lo ikut campur!”“Di sini gue mau nyadarin lo kalo bukan Kina yang buat hidup lo hancur. Tapi justru lo sendiri penyebabnya!” ucap Dino.“Lo tuh tau apa sih? Lo nggak tau apa-apa”“Naha, maafin aku!”“Maaf-maaf, bisanya cuma ngomong doank. Udah nggak nyadar diri, nggak punya malu, suka hancurin hidup orang. Seandainya gue nggak pernah ketemu lo. Gue bakal seneng banget, Kina! Dan gue jadi orang paling beruntung sedunia.”“Naha!” Kina mulai meneteskan air mata.“Udahlah, No… Naha biar gue yang urusin!” bisik Andra ke Dino.“Ayo, Kina kita pergi!”“Tapi Dino, Naha gimana?”“Udahlah!”“Baguslah kalo lo pergi” kata Naha.Kina dan Dino telah pergi.“Naha, (Andra duduk di samping Naha). Menurut lo, apa arti bahagia?”“Nggak ada artinya”“Coba deh pikirin lagi. Tapi antara pikiran dan hati lo jadi satu!”Beberapa saat kemudian…“Bahagia itu sederhana, dengan melihat orang yang kita sayang bahagia. Itulah kebahagiaan. Ketika kita melihat orang lain tersenyum bahkan tertawa, itulah bahagia. Disaat kita berani berkorban untuk orang lain, itulah bahagia”“Jadi…?”“Jadi, apa?”“Lo bilangkan, kalo bahagia itu ketika melihat orang lain tersenyum, tertawa, senang. Tadi lo lihat Kina tersenyum nggak setelah lo bentak-bentak?”Naha menggeleng.“Coba lo pikir lagi, berapa kali lo bentak Kina?”Naha terdiam.“Banyak kan? Setelah lo bentak dia, apakah lo bahagia? Apakah lo puas?Lo nggak melihat dia sengsara! Ataukah lo malah melihat dia tersenyum?”“Saat papa lo sama mamanya Kina menikah, lo lihat papa lo bahagia?”“Iya! Bahkan sangat bahagia!”“Papa lo adalah orang yang paling lo sayang. Dan papa lo bahagia saat menikah dengan mamanya Kina. Apa lo nggak bahagia melihat papa lo, orang yang paling lo sayang bahagia?”“Gue… cuma… nggak ikhlas aja, papa mmenemukan pengganti mama kandung gue!”“Apakah dengan menikah sama mamanya Kina… papa lo melupakan mama kandung lo? Enggak Naha, papa lo sayang banget sama mama lo. Saking sayangnya, papa lo mencari pengganti mama lo, cuma buat bahagiain lo. Kalo lo bahagia, almarhum mama lo pasti bahagia. Papa lo pengen, lo merasakan kasih sayang seorang ibu lewat mamanya Kina”“Tapi kenapa gue tetep benci sama Kina dan mamanya?”“Karena lo… belum buka isi hati lo!”Beberapa saat, keheningan di antara mereka.Naha menatap Andra.“Makasih Andra!”Naha bangkit dan pergi meninggalkan Andra.“Sama-sama…. Naha!” sambil tersenyum.Saat di rumah, Naha berjalan melewati pintu menuju ruang tengah. Di sana ada papa dan mama Naha sedang minum kopi.“Naha, kamu udah pulang?” senang Kina.“Papa. Ma… mama… dan Kina. Aku sadar, semua yang aku lakuin selama ini salah. Aku egois. Aku cuma mikirin diri aku sendiri. Aku nggak pernah mikirin kebahagiaan orang lain. Dan aku nggak pernah mau nerima kalian di rumah ini. Aku nggak pernah bersikap baik sama kalian. Kalian mau maafin aku!”“Naha, kamu serius bilang gitu!” tanya papa Naha, yang kaget.“Naha!” ucap mama Kina sambil menangis memeluk Naha. Sedangkan Kina tersenyum bahagia di samping papanya.Hari-hari Naha lewati bersama Kina. Berangkat bareng. Pulang bareng. Main bareng. Ketawa bareng-bareng.“Naha, kamu janji nggak akan ninggalin aku sendiri?”“Iya, aku janji… Kina. Aku akan buat kamu selalu bahagia! Itulah tandanya saudara.”Tiba-tiba…“Nah, gitu donk! Kalo baikan jadi enak ngeliatnya!” ucap Dino yang datang bersama Andra.“Makasih Andra, kamu udah nyadarin aku tentang kebahagiaan!” ucap Naha.“Iya Naha, sama-sama!” tersenyum pada Naha.Lalu Kina dan Dino berdehem bebarengan.“Apaan sih kalian?” jengkel Andra.“Tau, tuh!” tambah Naha.Kina dan Dino langsung tertawa. Naha dan Andra pun ikut tertawa.

Seandainya senpaiku tampan
Romance
18 Feb 2026

Seandainya senpaiku tampan

Keringat mengucur deras di wajahku, padahal ini baru saja selesai belum masuk pada latihan inti. Aku rasa senpaiku yang satu ini lebih tidak manusiawi dari senpai yang satunya. Huh, padahal usianya sama denganku ya mungkin karena sabuknya saja yang sudah hitam jadi dia bisa bebas mau memberikan latihan seperti apa pun. Satu hal lagi yang membuatku tidak begitu populer, dia tidak begitu tampan dan wajahnya tampak cuek. Pokoknya tidak mengenakkan deh dipandang.Hari sudah semakin sore namun latihan inti baru saja dimulai. Aku tidak begitu fokus mengikuti latihan karena kepikiran untuk ulangan harian MM dan sosiologi besok karena itu aku beberapa kali salah mempraktekan gerakan. Buta, gerakan-gerakan itu sudah serasa di luar kepala bagiku namun namanya juga tidak fokus jadinya gerakanku sedikit kacau deh. Waduh, kalau gerakanku nanti berarti aku tidak bisa ikut UKT 2 minggu lagi. Ah, aku harus fokus. Ayo, fokus Anna fokus.“Sekarang kita latihan Kata 1.” Kata Ivan senpai yang tadi aku bilang seumuran denganku itu. Kata 1 bagiku sudah di luar kepala, ya aku memang sudah hafal betul Kata 1. Ivan berkeliling untuk melihat apakah ada gerakan yang kurang tepat atau bahkan salah, seperti guru pada umumnya dia pun membenarkan gerakan-gerakan yang salah. Aku pun berhasil mempraktekkan Kata 1 dengan benar.Setelah latihan Kata 1 latihan pun berlanjut ke Kata 2. Gawat, aku tidak begitu gerakan pada Kata 2, bagaimana ini? Aha, di sekelilingku kan banyak anak aku kan gerakan mereka. Latihan Kata 2 pun dimulai, di awal-awal gerakan aku bisa mempraktekannya dengan benar namun ketika masuk bagian gerakan akhir. “Hei, kakimu salah. Yang maju kaki kiri bukan kaki kanan. ” Kata Ivan lalu ia menendang pelan kakiku yang salah dan aku pun membenarkan cara kakiku, “Kamu ini sudah kelas 11 bikin malu saja.” Lanjut Ivan seusai membenarkan cara kakiku. Apa? Aku malu-maluin? Biasa aja deh, Van. Tuh anak sekolah sebelah yang ikut latihan dari tadi juga salah mulu nggak kamu benerin kok. Aku tuh dibilangin aja juga tahu, nggak usah diejek seperti itu juga kenapa sih. Aku pun hanya diam dan memandangi pandangannya yang kian menjauh, “Kalau saja kau tidak sabuk hitam… kamu tidak akan jadi senpaiku, kan?” Batinku.Tepat seperti dugaanku sebelumnya, gerakanku pun masih ada beberapa yang salah dan Ivan pun yang terus membetulkan gerakannku tentunya bukan dengan cara yang lembut dan aku pun tidak berharap demikian karena itu justru akan membuatku jijik. Zahra, pasanganku dalam aplikasi Kata ajakanku pindah ke bagian depan. Aku sebenarnya tidak mau karena di sana ada banyak anak latihan, aku malu kalau mereka tahu aku masih banyak salah dalam gerakan. “Aaaah, Zahra kenapa harus pindah ke depan sih?” Tanyaku pada Zahra dengan gaya berharap dia akan membatalkan niatnya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang laki-laki menirukan ucapanku tadi, aku pun menoleh ke arah pemilik suara itu dan ternyata dia adalah Ivan. “Apa-apa sih kamu menirukanku?” Tanyaku pada Ivan dengan nada kesal. “Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong. ” Jawabnya dengan enteng.Latihan pun memerintahkan untuk istirahat. Aula pun mendadak sepi karena sebagian besar anak pergi ke mushola untuk menjalankan sholat. Namun aula tidak benar-benar sepi karena masih ada aku, Zahra, Ivan, dan beberapa anak lain yang tidak sholat. Badanku benar-benar lelah sekali dan aku pun mulai mengantuk. Aku pun menegak air mineral yang baru aku beli di kantin, rasanya begitu segar mengaliri tenggorokanku yang rasanya kering sekali. Seusai minum air aku pun melihat ada seseorang memasuki aula. Dia tampak asing, dan tampaknya senior juga karena dia sudah bersabuk hitam. Aku pun terpaku menatapnya karena dia begitu tampan. Dalam hati aku berkata “Seandainya senpaiku setampan dia, pasti aku jadi sangat semangat dan tidak mengomel saat latihan meski ditendang sekalipun.” Baru saja aku berkata seperti itu, dia pun menoleh ke arahku kemudian tersenyum sambil berjalan ke arahku. Oh, apakah ini mimpi? Lelaki setampan itu datang menghampiriku? Apakah mungkin ini saatnya aku bertemu seorang pangeran? Eh, salah bukan pangeran tapi jodoh maksudku.Hai, Anna. Sapa pangeran tampan itu, dari mana dia tahu namaku? “Ha-hai, juga.” Balasku aku pun kemudian berdiri dan memberi salam padanya “Osh!” Dia tersenyum ramah dan ramah salamku. “Anna, kamu sepertinya kesulitan ya dalam latihan kali ini apa lagi senpaimu itu agak menyebalkan bagimu, kan?” Tanya pangeran itu.“Bukan agak, tapi sangat menyebalkan.” Jawabku.“Kalau begitu, boleh kan aku mengajarimu? Gerakan mana saja yang masih belum kamu kuasai? ”“Mau gerakan dasar sampai aplikasi Kata pun aku mau diajari semuanya asalkan senpai yang mengajariku.”Baiklah, ayo kita mulai latihan kita.Dia mengajari semua gerakan yang belum aku kuasai, semuanya sampai aku benar-benar bisa. Tidak seperti Ivan, senpai yang satu ini lebih sabar dan yang penting lebih tampan. “Anna, sepertinya kamu sudah siap untuk UKT 2 minggu lagi. Semoga kamu lulus dan dapat nilai bagus, ya. ” Kata senpai tampan itu “Terimakasih banyak sudah mengajari saya.” Kataku, dia pun tersenyum ramah dan menambah rasa sejuk di hatiku.“Kak, bangun. Latihannya mau dimulai lagi, nih. ” Kata Zahra sambil mengguncang-guncangkan pundakku. Aku pun mengucek mataku yang masih terasa berat. Eh, di mana senpai tampan yang tadi? Aku pun menoleh ke segala arah mencari sosok senpai tampan tadi. “Kakak mencari siapa?” Tanya Zahra “Ehm, bukan siapa-siapa kok.” Elakku. Jadi, yang tadi itu hanya mimpi. “Dek, aku tadi ketiduran ya?” Tanyaku pada Zahra “Iya, Kak Ivan yang nyuruh aku bangunin kakak.” Jawab Zahra. Yah, Ivan lagi. Ivan pun berjalan ke arah kami, “Cepat masuk barisan.” Perintah Ivan kepada kami. Aku dan Zahra pun berjalan ke arah barisan. Ketika aku berjalan melewati Ivan dia pun memanggil namaku “Anna”. Aku pun menoleh “Apa lagi?” Tanyaku. “Kalau latihan yang serius dan satu lagi, jangan tertidur lagi di sini. Apa kamu tidak malu saat mengigau dilihat orang? ” Kata Ivan setelah itu dia ganti berjalan melewatiku untuk memimpin latihan. Aku hanya diam mematung mendengar perkataan Ivan dan saat itu aku sadar kalau aku memang memalukan.

Menampilkan 24 dari 1144 cerita Halaman 3 dari 48
Menampilkan 24 cerita