Kiss Me, Please! I know you love, but why you didn't kiss me???
Teen
14 Feb 2026

Kiss Me, Please! I know you love, but why you didn't kiss me???

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-14T090538.899.jfif

download - 2026-02-14T090538.899.jfif

14 Feb 2026, 02:06

download - 2026-02-14T090537.796.jfif

download - 2026-02-14T090537.796.jfif

14 Feb 2026, 02:06

Seorang gadis berlari memecah keheningan malam. Membuat nada antara langkah kaki dan deru nafas yang sudah tersenggal.

Berkali-kali ia sambil menoleh kebelakang. Sosok bayangan hitam di belakangnya masih mengikutinya membuatnya semakin melebarkan langkahnya.

Hoss... hosss...

Ia berhenti disebuah pertigaan jalan. Ia sudah tidak tahu dimana dirinya berada. Malam semakin larut dan ia semakin ketakutan.

Sosok hitam itu masih mengikutinya, semakin lama semakin dekat.

Bulu kuduknya meregang. Ia menyeret kedua kakinya yang sudah sangat kelelahan. Ia berpegangan pada tembok menyusuri jalan dingin yang sepi itu.

Ia mengedarkan padangannya. Bangunan tua bekas kebakaran. Ia membekap tangannya mencoba meredam tangisnya.

Pluk...

Ia menoleh dan mendapati bayangan hitam itu menepuk bahunya.

Bayangan hitam itu kini jelas dalam matanya. Seseorang yang bukan karena gelap jadi terlihat hitam. Tapi dia benar-benar hitam. Matanya berkilat merah dan dari seringainya keluar dua buah taring.

"Hentikan ku mohon." Ucap gadis itu penuh takut.

"Semuanya akan berakhir, jika kamu mencium seorang pria yang berusia 25tahun sebelum kamu menginjak 20tahun." Sosok hitam itu semakin mendekat.

Gadis itu bisa menemukan panas nafas sang monster hingga ia merasakan sesuatu yang tajam menusuk lengannya.

"Kenapa kamu lakukan ini padaku?" Ucap gadis itu saat melihat tanda dilengan kirinya.

"Kamu pernah dengar bila seorang yang sudah patah hati akan melakukan apapun untuk balas dendam?" Sosok hitam itu mengecup luka dilengan sang gadis, "Dan aku terjerumus ke lembah hitam ini karena kamu. Tapi apa yang ku dapat kamu malah tidak memperdulikanku."

Gadis itu terdiam menatap sang monster, "Sudah ku katakan padamu, aku tidak menyukaimu."

"TAPI AKU MENCINTAIMU."

Gadis itu terdiam menatap sang monster, air matanya sudah jatuh membanjiri bumi.

"Tidak ada yang mencintaimu setulus aku."

"Ta... tapi..."

"Aku hanya ingin bertaruh." Makhluk itu menatap tajam mata sang gadis, "Adakah pria yang mencintaimu lebih dari aku? Dan jika kamu tidak menemukannya maka kamu milikku seutuhnya."

Makhluk hitam itu menghilang, menyisakan tangis sang gadis.

29 Januari 2011

"Dia mengamuk lagi." Ucap seorang gadis saat melihat seorang gadis yang sedang menangis histeris di ruang kesehatan.

"Dia siapa? Memangnya kenapa dia?" Tanya pria disampingnya.

"Alyssa Saufika atau Ify. Dulu katanya saat SMA, dia pernah pulang malam dan tersesat saat itu ia sering berteriak histeris jika berada di ruangan gelap atau melihat bayangan atau benda hitam yang besar."

Pria itu membulatkan bibirnya. "Oo... beruntung sekali pria yang menjemputnya."

"Alvin Sindhunata... dia itu kalau mengamuk sangat mengerikan, seperti monster." Ucap sang gadis.

"Tapi dia cantik Ashilla Zahrantiara." Pria bernama Alvin itu tidak lepas menatap gadis yang sedang menangis tersedu itu, "Mana ada monster secantik itu."

"Ya ya ya... terserah elo aja tuan Sindhunata. Tapi dia gak akan milih lo." Ucap Shilla enteng.

"Kenapa? Gue tampan... kaya..."

Shilla mencibir, "Dia hanya mau pacaran dengan pria yang usianya 25tahun."

Alvin menatap Shilla tidak percaya.

"Ayolah gue gak mau Angel marah karna lo telat nganter gue." Shilla berjalan di depan Alvin.

Alvin melirik gadis yang masih menangis itu, "Gadis yang menarik."

---**---

"Siapa dia?" seorang wanita paruh baya melipat tangannya di depan dada saat melihat anaknya tersenyum manis dengan pria yang mengantarnya.

"Dia temanku." Ucap sang anak santai.

"Kamu tidak akan melakukan hal semesra itu dengan pria jika itu bukan pacarmu Alyssa Saufika ."

Ify menghela nafasnya, "Iya dia pacarku Bunda."

Sang ibu menggeleng melihat perlakuan anaknya, "Pria berbeda lagi. Seminggu yang lalu juga kamu membawa pria yang berbeda."

"Aku hanya sedang memilih pria yang cocok denganku."

"Bunda sudah bosan dengan ucapanmu itu. Bunda juga sudah bosan mendengar cibiran tetangga. Mereka menganggapmu bukan perempuan baik-baik. Bunda malu Ify."

Ify memeluk sang ibu.

"Maaf bunda tapi aku harus menemukan pria yang tepat sebelum ulang tahunku yang ke 20. Aku tidak ingin hidup bersama monster itu." Batin Ify.

"Sebentar lagi ulang tahunmu yang ke 20. Bunda akan mengenalkanmu pada anak teman Bunda."

Ify menatap ibunya tidak percaya.

"Dia masih muda, usianya masih 24tahun. Bunda sudah bertemu dengannya, dia sangat sopan dan ramah."

"24tahun." Ucap Ify lirih.

"Iya kalian hanya beda 5tahun. Cocok kan?"

Ify tidak bisa menjawab pertanyaan dari ibunya. Pikirannya berkelebat ke mana-mana.

Kau harus mencium pria berusia 25tahun yang mencintaimu sebelum usiamu 20 tahun.

Ify memandang ibunya yang berbinar saat membicarakan calon menantu idamannya. Ify tidak tega untuk menolaknya, tapi disisi lain ia takut melihat makhluk itu.

Ify merasa kepalanya berputar. Setiap kali ia membayangkan makhluk itu. Ia merasa perutnya mual dan kejadian empat tahun yang lalu kembali teringat dikepalanya.

Ia berlari dan berteriak tapi tidak ada seorang yang mendengarkan.

Nafasnya tersenggal dan ia kembali melihat makhluk itu.

"Aaarrrrghhhhh...."

"Fy... Ify..." Nyonya Gina menepuk pipi putrinya yang memucat, "Ify."

3 February 2011

Alvin duduk di meja yang merupakan tempat strategis untuk melihat keseluruh penjuru perpustakan.

Matanya terus terpaku pada gadis yang sedang sibuk dengan buku tentang mitos, dongeng dan cerita Beauty and the Beast. Alvin mengerutkan keningnya sesaat, untuk apa seorang mahasiswa membaca dongeng seperti itu.

Dari jam ke jam Alvin terus memperhatikan gadis itu dengan seksama. Setiap gerak tubuhnya cara dia bicara. Cara dia tersenyum bahkan cara dia bernafas membuat Alvin tertarik.

"Apa yang akan dia lakukan jika dia tahu bahwa aku tunangannya?" Batin Alvin.

Alvin tidak berani mendekat atau berbicara pada gadis itu. Ia takut gadis itu akan berteriak histeris, karena dia punya trauma masa lalu.

Alvin mempelajari sesuatu tentang gadis itu. Ada sesuatu yang janggal dengan gadis itu. Tapi ia tidak tahu.

Ia tidak ingin berpikiran buruk pada gadis itu.

---**---

Ify memandangi buku-buku tentang mitos dan sebagainya. Mungkin orang-orang akan mengira dia sedang mengumpulkan tugas beritanya tapi ia bukan mencari berita. Ia ingin mencari fakta.

Ia mencari fakta untuk mengalahkan monster itu.

Ify menemukan fakta bahwa makhluk itu tidak bisa menahan serangan pisau perak. Karena makhluk itu masih berupa makhluk setengah manusia.

Masih bisa diselamatkan meski keseimbangannya akan rusak dengan kata lain hidup tapi jiwanya sudah terbagi dua.

Untuk makhluk yang dikutuknya.

Tidak ada jalan keluar selain mengambulkan syarat yang diminta atau mati. Mati sebelum kutukan itu tercapai.

Ify menghela nafasnya dalam. Bagaimana cara ia mendapatkan pria 25tahun yang mencintainya.

"Apakah ada yang mencintaiku tulus tanpa ada yang berusaha menyakitiku." keluh Ify dalam hati.

4 Maret 2011

Alvin menarik bibirnya saat melihat gadis bergaun ungu itu berjalan kehadapannya. Gadis itu sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk mendekat. Tapi justru itulah membuat Alvin semakin penasaran.

"Ify, ini calon suamimu, Alvin Sindhunata." Ucap Nyonya Gina saat melihat Ify menghindari Alvin terus, "Kalian mengobrolah."

Ify menarik senyum tipisnya. Matanya kembali menatap hampa gelas-gelas dihadapannya.

"Hai..." Alvin mencoba mendekati Ify saat Nyonya Gina pergi, tapi Ify malah berbalik dan meninggalkanya sendirian.

Alvin menatap Ify dengan penuh tanya. Gadis itu sangat dingin. Alvin mencium parfumnya. Ia ingat ia sudah menyemprotkan parfum termahal yang ia punya.

Alvin melihat dirinya dalam pantulan gelas. Tidak ada yang salah dengan penampilannya.

Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pesta. Pesta pertunangannya ini terasa neraka baginya.

Ia mendekati Shilla yang tengah berbicara dengan teman-temannya. Ia menarik Shilla menjauhi teman-temannya.

"Shill, lo kenal dekat sama Ify?"

Shilla menggeleng, "Nggak deket, cuma pernah satu sekolah di sekolah menengah dulu."

"Kenapa dia ngehindar terus yah?" Tanya Alvin polos.

"Udah gue bilang, dia hanya tertarik dengan pria 25tahun."

"Gue serius Shill.." Ucap Alvin penuh nada frustasi.

"Entahlah, sejak kejadian itu dia sedikit menyendiri, dia hanya akan dekat dengan pria-pria dewasa."

"Kenapa dengan pria dewasa?"

Shilla tampak berpikir, "Dulu gue dan teman-teman gue penasaran dengan sikap Ify terus kita mengadakan survei kecil-kecilan dan hasilnya Ify hanya akan berpacaran dengan pria yang usianya 25tahun."

"Semua pacarnya berusia 25 tahun?"

Shilla mengangguk.

Alvin mengerutkan, ia semakin penasaran dengan sikap Ify.

---**---

Ify terduduk di sudut kamarnya. Ia memandang fotonya yang diapit seorang perempuan dan laki-laki.

Ia benci foto itu. Ia sangat benci. Tapi ia tidak sanggup untuk membuang foto itu.

Ia melihat tanggal yang di lingkari di kalendernya. 8 April 2011 tepat saat usianya 20 tahun dan kutukan itu menjadi nyata.

"Sivia... bagaimana ini? Apa yang harus gue lakukin? Katakan pada gue.." Isak Ify sambil memeluk bingkai fotonya.

"Kenapa kamu menghindariku terus?"

Ify menoleh dan mendapati Alvin sudah berdiri di pintu kamarnya.

Ify menghapus pipinya yang sudah basah lalu memalingkan wajahnya dari Alvin. Ia tidak ingin Alvin melihatnya menangis.

"Kenapa kamu malah menangis disini, apa kamu tidak suka bertunangan denganku?"

Ify tidak menjawab.

"Fy... katakanlah sesuatu." Alvin duduk dihadapan Ify, "Kenapa kamu begitu membenciku?"

Ify menatap Alvin untuk pertama kalinya. Ia akui wajah Alvin sangat tampan. Senyumnya sangat manis.

Ify menghela nafasnya berat. Ia tidak tega melihat Alvin berurai air mata.

"Aku monster." Ucap Ify dingin

Alvin terkekeh, "Kau monster tercantik yang pernah aku temui."

Ify menatap Alvin tajam, "Aku serius tuan Sindhunata."

Alvin memegang pipi Ify, "Disetiap diri manusia ada sisi buruk dan baiknya. Karena kita bukan malaikat yang selalu sempurna dan bukan setan yang selalu salah. Yang jadi permasalahannya adalah bagaimana cara kita untuk menjadi yang lebih baik."

"Kamu tidak mengenalku" Ify menepis tangan Alvin, "Aku punya trauma pada beberapa pria. Aku takut itu terulang lagi."

Alvin memiringkan kepalanya, "Iya aku paham, kamu boleh waspada pada siapapun, tapi bukan berarti kamu dapat berpikiran negatif pada orang lain."

Ify memandang Alvin, seandainya lo pria berusia 25 tahun.

11 Maret 2011

Alvin mengepal tangannya mencoba tetap berjalan di samping Ify meski ia sangat ingin menggenggam tangan gadis itu. Ia mencoba untuk bersabar. Ia tidak ingin Ify kabur lagi. Ia juga merasa sangat berterimakasih saat Ify mau menerima ajakannya untuk jalan-jalan ditaman.

"Fy..." panggilnya lembut

Ify menoleh dan

Krek...

Lampu blizt mengenai wajah mulus Ify. Alvin terkekeh saat melihat hasil jepretannya.

Ify hendak marah tapi Alvin sudah mengenggam tangannya meredam amarahnya.

"Kamu tahu kisah Beauty and the Beast?" Alvin menarik Ify duduk di sebuah bangku taman.

Ify menggangguk, "Siapapun tau cerita itu."

Alvin menatap Ify lembut membuat gadis itu kehabisan nafas, "Seperti Beast aku juga akan menunggumu mencintaiku."

Ify tertegun mendengar kata-kata Alvin, kau bukan beast akulah beastnya.

"Aku butuh waktu, Alvin." Ucap Ify.

"Untuk itu aku menikahimu."

Ify menatap kedua mata Alvin mencari kebohongan di kedua celahnya tapi ia tidak menemukan apapun.

"Aku sudah menyiapkan tanggal yang bagus, 7 April 2011." Alvin menyunggingkan senyum khasnya yang bisa membuat wanita manapun jatuh cinta.

7 April.

Itu artinya sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 20. Ify menghela nafasnya. Tidak dipungkiri jika Alvin itu tampan dan ia jatuh cinta pada pria itu. Tapi dirinya sendirilah yang tidak mampu untuk membalas semua cinta Alvin.

"Kenapa kamu tetap mempertahankanku?" ucap Ify putus asa.

"Karena aku mencintaimu, aku ingin melindungimu, aku ingin selalu disisimu."

Ify melemparkan tatapan dinginnya, masih bisakah Alvin berkata seperti itu jika ia tahu hal sebenarnya, "Aku mencintaimu ataupun tidak, kamu tetap tidak bisa memilikiku."

Ify meninggalkan Alvin yang masih duduk di taman sendirian.

Alvin melihat sosok Ify yang sudah menjauh. Ia rogoh sakunya mengambil sebuah kotak berwarna transparan. Ia membuka kotak itu lalu mengambil sebuah cincin di dalamnya.

"Aku mencintaimu Ify."

31 Maret 2011

Ify tidak menolak atau berkomentar saat keluarga Alvin melamarnya. Banyak teman-temannya di kampus yang bertanya tentang kabar itu. Wajar saja Alvin adalah anak magister (S2) yang sering jadi sasaran kecengan teman-teman Ify.

Tapi Ify tidak berniat sama sekali. Ia hanya mencari pria yang berusia 25tahun untuk melepas semua kutukannya.

Kini harapannya untuk terbebas dari kutukan itu sudah musnah.

Mencintai Alvin ataupun tidak, tidak akan merubah apapun. Yang bisa merubahnya adalah ciuman dari seorang yang mencintainya, pria berusia 25tahun.

Masalahnya kini, bagaimana dia bisa mencari pria itu jika Alvin terus disampingnya.

Ify melihat luka dilengannya. Luka itu tidak hilang, kutukan itu masih.

Waktu yang tersisa tinggal 9 hari lagi, dan Alvin akan menikahinya tetap sebelum ia menjadi monster.

Ify mengambil bingkai fotonya. Ia mencopot fotonya dengan paksa. Ia merobek foto itu menjadi dua bagian. Ia menatap bagian foto pria tersebut lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.

Ify kemudian menatap fotonya dan seorang gadis dengan sedu.

"Sivia.." lirihnya.

Ify mengambil spidol lalu menuliskan sesuatu. Ini adalah jalan terakhir yang dia punya.

7 April 2011

Alvin menatap Ify yang sudah resmi jadi istrinya. Ify memeluk ibunya sangat erat seolah akan berpisah jauh sekali.

Alvin sedikit heran saat Ify tidak menolak atau mengeluh dengan rencana pernikahan mereka. Ify lebih banyak terdiam dari pada menghindar membuat Alvin menjadi serba salah. Dia ingin melepaskan Ify jika Ify merasa terbebani dengan pernikahan ini.

Ify selalu menjawab bahwa ia gugup jika ada yang bertanya tentang keadaannya.

Alvin tahu Ify tidak gugup, Ify ketakutan.

Pesta pernikahan telah selesai, selama itu Alvin terus menutupi tingkah laku Ify meski ia sendiri bertanya-tanya tentang tingkah Ify. Berkali-kali Ify melihat ke jam. Ia seperti menunggu sesuatu. Ia juga sering mengedarkan pandangannya tidak menentu seakan sedang mencari seseorang.

"Bunda... kami pergi dulu." Pamit Alvin pada mertuanya.

"Hati-hati ya, Ify ingat jaga suamimu." Ucap Bunda.

Alvin membukakan pintu mobilnya untuk dimasuki Ify.

Ify tidak melepaskan pandangannya saat mobil yang dikendarai Alvin melaju meninggalkan rumah Ify.

"Jika ada waktu aku pasti mengantarmu ke rumah Bunda." Ucap Alvin seolah memberi jawaban tatapan Ify, "Kalau kamu merindukannya kamu juga boleh menginap disana."

"Aku hanya memikirkan bagaimana mereka jika aku meninggalkan mereka selamanya."

"Apa yang kamu katakan?"

"Aku menikahimu, tapi kamu juga masih anak mereka. Aku tidak akan menghapuskan tali keluarga itu."

"Kamu tahu hidup dan mati itu ditangan Tuhan, kita tidak pernah tahu kapan kita mati."

"Hentikan Ify!" Alvin membanting lengannya ke stir. "Hentikan pembicaraan yang seolah aku mengantarmu ke neraka."

Ify terdiam, ia menahan air matanya sekali saja.

"Aku ingin ke toilet." Ucap Ify saat mereka berhenti untuk mengisi bensin.

Alvin hanya menggangguk.

Alvin tidak banyak bicara lagi sejak ia membanting stirnya.

Tapi itu membuat Ify merasa sedikit tega, ia ingin Alvin membencinya. Dengan begitu ia bisa dengan tenang melepas Alvin.

Ify sengaja tidak membawa ponsel atau dompetnya. Ify menuliskan sebuah pesan di dalam dompetnya kemudian dia pergi.

Ia melihat Alvin sebelum pergi meninggalkan pria itu.

Ify mengeratkan tali sepatunya sebelum ia pergi dari sana. Dengan mengendap-endap ia berhasil lolos dari perhatian Alvin.

Ify segera menyetopkan sebuah bis. Ia melihat Alvin yang kaget saat menyadari dirinya sudah tidak ada lagi.

"Maaf." hanya itu yang diucapkan oleh Ify.

---**---

Alvin berlari disepanjang rumah sakit. Ia tidak perduli dengan para perawat yang meperingatinya agar tidak mengganggu pasien yang sedang dirawat.

"Suster dimana saya bisa menemui Sivia Azizah?"

"Ada keperluan apa?"

Alvin memandang suster itu dengan ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia pergi ke Rumah Sakit Jiwa ini.

Alvin memegang kepalanya dengan frustasi saat ia tidak menemukan Ify di toilet. Ia sudah mengecek keseluruh toilet tapi tidak menemukan Ify. Gadis itu seolah raib seketika.

Alvin mencoba menghubungi ponsel Ify. Ia kaget saat mendengar ponsel Ify di mobilnya. Ia membuka tas kecil Ify dan mendapati sebuah pesan dan secarik foto yang sudah robek.

Jangan tunggu aku. Hiduplah dengan perempuan yang mencintaimu.

Alvin memperhatikan foto itu dengan seksama, Sivia Azizah. Itu nama yang terbaca di name tag gadis itu.

Alvin meraih ponselnya lalu mecari sebuah nama.

"Hallo?" ucap suara jernih di seberang sana.

"Shill, lo kenal dengan Sivia Azizah ?"

"Sivia?"

Alvin mengangguk meski ia tahu Shilla tidak mungkin melihatnya.

"Oh... Dia ada di Rumah Sakit Jiwa Harapan."

Alvin mengerutkan keningnya, "Rumah sakit Jiwa?"

"Kenapa lo..."

Alvin langsung mematikan ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Shilla. Ia memutar stirnya menuju Rumah Sakit Jiwa Harapan. Ia tidak berhenti berfikir tentang tingkah laku Ify yang semakin aneh.

Alvin menadang suster dihadapannya, "Please, katakan dimana dia?"

"Kamu ingin bertemu denganku?" Alvin menoleh dan mendapati seorang gadis seumuran Ify memakai jas lab putih.

"Sivia Azizah?" tanya Alvin ragu. Ia melihat foto yang dibawanya sedikit berbeda dengan keadaan gadis itu sekarang.

"Iya itu aku."

"Bisa aku bicara denganmu, dokter Sivia."

Sivia terkekeh, "Gue belum jadi dokter, gue masih praktek."

Alvin menghembuskan nafas lega.

Flashback

September 2008

Musim gugur hampir tiba. Daun berguguran perlahan menjatuhkan satu per satu kenangan.

"Wah gak kerasa tahun depan kitalah yang akan merayakan kelulusan." Ucap Sivia sambil menghidrup udara sebanyak-banyaknya.

"Lo yakin akan lulus tahun depan? gue ragu." Ucap Ify.

"Ya, gue akan jadi dokter spesialis dan gue akan ngerawat lo."

"Heh! Lo pikir gue gila..." Ify menjitak kepala Sivia.

"Tapi lo bikin cowok-cowok jatuh cinta dan mencampakannya, bikin mereka gila."

"Sivia Azizah, gue bersumpah, gue hanya nganggap mereka teman gak lebih. Gue cuma ingin berteman."

"Lo yakin cuma berteman?"

Ify menatap sahabatnya, "Suatu saat gue akan milih seorang cowok yang benar-benar mencintai gue."

"Woii!" seorang anak laki-laki merangkul Ify dan Sivia, "Ngomongin gue yah?"

"Dih PeDe banget lo.." Ify mencubit hidung anak laki-laki itu.

"Kalian tega ninggalin gue di kelas." Anak laki-laki itu mengembungkan pipinya.

Mereka berjalan dengan santai bertukar cerita. Menceritakan cerita yang tak pernah habisnya untuk diceritakan. Kadang-kadang mereka menggerakan tubuh untuk meniru sesuatu yang aneh.

"Kenapa lo nyenggol gue.." Ucap seorang gadis saat anak laki-laki itu tanpa sengaja menyenggolnya.

"Maaf." Anak laki-laki itu membungkuk.

"Gue gak mau disentuh sama anak pembunuh." Ucap gadis itu sebelum pergi.

Anak laki-laki itu menatap si gadis dengan tatapan dingin, Keceriaan, canda, tawa yang tadi menghiasi wajahnya seakan musnah begitu saja.

"Gabriel kita makan eskrim." Ify menarik Gabriel ke sebuah kedai.

Gabriel menatap Ify, gadis itu masih mau berteman dengannya meski gadis itu tahu segala keburukannya.

"Udahlah jangan dipikirin, kita hidup untuk masa depan bukan untuk melihat masa lalu." Ucap Ify saat Gabriel sedang sedih.

Gabriel selalu merasa tenang saat Ify menghiburnya. Kadang-kadang Gabriel menatap dalam kedalam mata Ify tapi Ify hanya mengganggapnya sebagai teman.

————-

Gabriel merasakan cemburu saat Ify dekat dan tertawa dengan pria lain. Ia takut jika Ify dekat dengan pria lain itu akan membuat Ify melupakannya.

"Gue suka sama lo, Ify."

"Kitakan sahabat." Balas Ify.

"Tapi gue cinta sama elo. Gue gak mau lo ninggalin gue ."

"Gue gak akan ninggalin lo. Kita sahabat. Gue, elo, dan juga Sivia."

Gabriel tersenyum meski hatinya terluka.

————-

"Gue nungguin elo, tapi lo malah berduaan bareng ketua OSIS itu." Ucap Gabriel seraya menahan emosi

"Gue dan Cakka cuma membicarakan proposal." Ucap Ify.

"Lo pikir gue buta hah, lo jelas-jelas lagi kencan dengan dia." Gabriel sambil menunjuk Cakka.

"Lo salah Gabriel, gue..."

"Kalau kita lagi kencan kenapa? Gue suka sama dia dan dia juga suka sama gue."

Ify menoleh pada Cakka, "Lo ngomong apa sih?"

"Kita lagi kencan kan." Cakka memamerkan evil smile nya.

Gabriel sudah mengepal tangannya menahan emosi, "Gue pikir lo beda dengan gadis lain tapi lo sama aja." Gabriel mengebrak meja lalu meninggalkan mereka.

Flashend

7 April 2011

"Gue gak tahu apa yang mendasari Gabriel buat ngambil langkah itu. Ia menukar jiwanya dengan sebuah kekuatan mistis yang jahat." Ucap Sivia.

"Pantas aja, ada hal yang aneh dari sikapnya. Dia gak terlihat kaya orang trauma dia lebih terkesan menjauhi orang-orang."

"Lo benar, dia menghindari orang yang ingin dekat dengannya untuk mengantisifasi kemungkinan yang buruk."

"Apa gak ada cara untuk menyelamatkan Ify?" tanya Alvin.

"Hanya ciuman dari seorang pria berusia 25tahun yang mencintainya."

Alvin menenggelamkan kepalanya diantara lengannya.

"Hari ini ulang tahun gue yang ke 25." Lirih Alvin.

Sivia tersentak, "Kenapa lo gak menciumnya?"

"Dia selalu menghindar dan gue gak akan memaksanya."

Sivia memutar otaknya untuk mencari jawaban yang terbaik. Ia tahu kondisi psikis Alvin sedang goyah.

"Besok ulang tahun Ify, lo harus menemukannya terlambat atau lo gak akan kan melihat dia selamanya."

"Besok?"

"Mungkin itu alasan Ify pergi. Ia nggak mau lihat lo terluka. Mungkin juga ify cinta sama lo."

Sebuah senyum merekah di bibir Alvin, "Dia mencintaiku."

Alvin mengemudikan mobilnya dengan kencang. Sivia memberitahukan tempat yang mungkin Ify datangi saat ini. Sivia juga memberitahunya beberapa trik mengalahkan Gabriel.

Alvin memasang aerphonenya dan menyambungkannya dengan sang ibu.

"Mama..." Begitu teleponnya tersambung.

"Ada apa Alvin?"

"Jam berapa aku lahir ke dunia ini?"

"Hah... kamu kenapa?"

"Jawab sajalah Ma..."

"Jam sebelas malam. Kamu kenapa Alvin kenapa suaramu seperti orang panik."

Alvin tersenyum, "I love you Ma.."

---**---

"Kamu masih ingat tempat ini?" Ucap sebuah bayangan hitam dihadapan Ify.

"Aku ingat wajah yang selalu tersenyum padaku, hangat."

"Musim telah berganti, senyum itu sudah berubah menjadi seringai yang jahat."

"Setiap manusia mempunyai sisi jahat dan baik. Aku menutup mataku dan aku hanya melihat kebaikan dari sisimu." Ify mengeratkan pisau peraknya dengan erat.

"Gabriel sudah mati, Alyssa Saufika sayang."

"Tidak, dia hidup dihatiku. Dia yang memberikanku rasa percaya bahwa kamu akan kembali berubah menjadi sosok baik seperti dulu."

Makhluk itu bergerak ke hadapan Ify dengan cepat. Ify tersentak ia tetap pada posisi siaga.

Ify bisa melihat makhluk itu dua kali lebih besar dari tubuhnya. Ia bisa merasakan nafas panas pada tubuh makhluk itu. Ia masih bisa melihat detak jantung makhluk itu. Gabriel masih hidup.

"Kamu menyesal menyakitiku.. Kamu ingin bersamaku?"

"Dia sudah menikah, bung..." Ify menoleh dan mendapati seseorang dengan senyum tipisnya berlari kehadapannya.

Alvin berjalan terengah-engah, ia mendekati Ify lalu membelai lembut kepala Ify.

"Katakan kamu mencintaiku, fy." Ucap Alvin lembut.

Ify menggeleng.

"Lihatlah aku sebagai seorang pria yang akan melindungimu selalu, Ify."

"Fantastik, tapi itu tidak akan terjadi." Ucap Gabriel yang kembali ke wujud aslinya.

"Pergilah Alvin, dia bukan tandinganmu." Ucap Ify

"Lalu kamu pikir dia sebanding denganmu?" Jawab Alvin, "Berhentilah untuk selalu terlihat kuat dan tegar."

"Dia milikku." Ucap Gabriel dingin.

Alvin menerjang Gabriel. Ia memberikan pukulan berkali-kali ke arah Gabriel. Gabriel tersenyum tipis. Ia tidak merasakan sakit di setiap pukulan Alvin.

Alvin memutar otaknya. Bagaimana ia mengalihkan perhatian Gabriel. Ia melirik jam ditangannya. 10.05 PM. Ia mendesah frustasi.

Gabriel mencekram kerah Alvin, ia mengangkat tubuh Alvin kemudian menghempaskannya ke tanah.

Alvin meringis saat tubuhnya menerjang tanah. Ia merangkak menghindari Gabriel. Ia hanya bisa menghindari Gabriel tanpa bisa melawannya.

Ify hanya bisa pasrah saat melihat Alvin bertahan dari pukulan Gabriel.

10.45 PM.

Ify menghela nafas panjang. Tidak ada waktu lagi yang tersisa. Ia masih bisa mati hari ini namun jika kutukan itu terjadi ia tidak bisa melakukan apapun.

"Gabriel, inikan yang lo inginkan?" Ify meletakkan ujung pisau silvernya di atas urat nadinya.

Gabriel memicingkan matanya. Jaraknya dan Ify yang jauh membuatnya sulit melihat dengan jelas.

Gabriel menggeram saat melihat apa yang berada ditangan Ify ia menerjang Ify. Melemparkan benda perak itu menjauhi Ify.

Alvin mengambil kesempatan itu untuk mengambil pisau Ify lalu menerjang Gabriel. Gabriel tersungkur hingga jatuh.

Alvin mendekati Gabriel lalu menusukkan pisau itu di lengannya.

Gabriel meringis kesakitan pisau perak itu telah melukai darahnya.

Alvin meraih Ify, ia melihat kesekujur tubuh Ify, "Kamu tidak apa-apa?"

Ify menggeleng, "Berikan pisau itu sekarang."

Ify mencoba merebut pisau itu tapi Alvin malah membuangnya, "Katakan kamu mencintaiku."

"Nggak."

"Katakan kamu mencintaiku, atau kamu tidak akan melihatku lagi."

Ify menatap Alvin, "Iya aku mencintaimu, sangat. Aku mencintaimu."

Alvin merengkuh leher Ify lalu mencium bibir Ify dalam. Ify memiringkan kepalanya menerima ciuman dari Alvin yang lembut.

"Arrrrghhhh..." Gabriel mengerang membuat Alvin dan Ify melepaskan ciuman mereka.

Ify melihat tanda dilengannya, "Masih ada."

Alvin melirik jam ditangannya, "Aissshhh masih lima menit lagi."

Alvin menerjang Gabriel, ia mengambil sebungkus garam lalu ditaburkannya ke tubuh Gabriel.

"Garam?" Tanya Ify.

"Sivia bilang garam itu bisa sebagai menetral racun, aku harap garam-garam ini cukup untuk menertalkan kutukan Gabriel." Ucap Alvin sambil memamerkan senyum tipisnya.

Gabriel mengerang saat ditaburi garam oleh Alvin. Tubuhnya berpendar kembali ke wujudnya sebagai manusia biasa.

Alvin menghela nafas saat melihat reaksi Gabriel. Ia menatap Ify, "Sekarang giliranmu."

Ify melirik jam 11.02 PM

"Sekarang usiaku genap 25 tahun, apa kamu masih menolakku?"

Ify mengerutkan keningnya.

"Cium aku seperti kamu tidak akan menciumku lagi." Alvin merengkuh leher Ify lalu menyapu bibir Ify.

Ify membalas ciuman Alvin ia membiarkan lidah Alvin bermain di mulutnya dan mereka saling bertukar air ludah.

Gabriel bisa melihat sebuah cahaya yang menghapus tanda kutukannya. Segelnya telah lepas dan Ify tidak akan pernah kembali padanya.

Gabriel menutup matanya, pedih tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya.

Next week

"Ciumanmu ganas sekali, beib" Ucap Alvin saat melihat bercak merah di leher dan tubuhnya.

Ify menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, "Kamu yang mengajariku."

Alvin menarik bantal Ify, "Aku pikir kamu sudah ahli berciuman dengan pria 25tahun mu itu."

Ify menggeleng, "Kamu yang merebut ciuman pertamaku."

Alvin mengerutkan kening meminta penjelasan lebih detail lagi.

"Aku berpacaran dan dekat dengan mereka, kami selalu putus karna aku merasa mereka tidak benar-benar mencintaiku."

Alvin tersenyum puas saat mendengar rahasia kecil dari Ify. Ia menarik selimut Ify.

Ify menatap Alvin tajam, "Jangan! aku tidak pakai baju."

Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Ify.

Ify menahan nafasnya, ia bisa merasakan nafas Alvin diwajahnya, "Katanya kita akan menjenguk Gabriel di tempat Sivia?" Ify mendorong Alvin.

Begitu Alvin menjauh, Ify langsung menarik selimutnya lalu pergi ke kamar mandi.

Alvin mendengus kesal saat kesempatannya hilang.

"Beib, kamu yakin mau mandi sendiri?"

---**---

Flashback

"Gabriel, Sivia." Ify melambaikan tangannya kepada sahabatnya, "Ayo kita berfoto bersama."

Mereka masuk ke box foto. Gabriel dan Sivia mengapit Ify, mereka memasang wajah tersenyum.

Mereka tertawa saat melihat hasilnya.

"Kita akan menjadi sahabat sampai kapanpun." Ucap Ify.

Gabriel menatap Ify. Sekali saja ia tidak ingin berharap Ify bisa menatap kedalam matanya.

Namun sialnya ia tidak bisa. Ia terus berharap dan terus berharap.

Angin musim gugur berhembus meniupkan berbagai macam daun.

Sebuah kertas melayang dihadapan Gabriel. Gabriel mengambil kertas itu.

Musim gugur akan berlalu dan tergantikan musim dingin lalu musim semi. Sebelum keinginanmu gugur datanglah dan tukarkan jiwamu dan lihatlah saat musim semi keiinginanmu tercapai.

---**---

Musim apapun akan terasa indah jika kita bersama dengan orang yang kita cintai. Sahabat, keluarga, teman bahkan seseorang yang spesial.

END

Kembali ke Beranda