Pacar Online
Romance
25 Feb 2026

Pacar Online

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (72).jfif

download (72).jfif

25 Feb 2026, 15:59

download (71).jfif

download (71).jfif

25 Feb 2026, 15:59

Paras cantik, menawan dan prestasi juara taekwondo ternyata tidak menjamin seseorang dapat memiliki kekasih seperti para playgirl yang bar-bar.

Xaviera Angela contohnya. Dia sama sekali tak tertarik pada semua lelaki yang menggandrunginya. Dan karena julukan anti cowok-nya itulah, dia justru dijauhi oleh teman-temannya. Mereka khawatir aja Xaviera memiliki kelainan seksual lesbianisme alias penyuka sesama jenis.

Padahal Xaviera normal kok. Dia jaga jarak sama lelaki-lelaki modus itu karena ada hati yang harus dia jaga. Hati milik lelaki ghaibnya, eh maksudnya pacar online-nya. Namanya Diorama.

Nama akunnya:

Xaviera: a rra

Diorama: @rama_d

Mereka berdua sudah 4 tahun dekat. Mereka sama-sama tidak tahu rupa sesungguhnya itu seperti apa, karena selama ini mereka hanya fokus pada komunikasinya aja. Foto unggahan? Mereka tak pernah mengunggah foto apapun, termasuk profil. Kalaupun minta pap, paling keduanya usil terus yang dikirim adalah foto artis.

"Ram ram tolongin aku!" Jerit Arra histeris.

"Sabar kali Ra. Lagi otw nih" jawab Rama dengan mulut yang dipenuhi snack tapi dengan nada kesal karena mendengar suara Arra yang tidak sabaran dari earphone-nya.

Itulah rutinitas mereka dalam menghabiskan seperempat hari mereka. Bermain game online-_-

BRUAAKKK!

"Aw sakit!"

Seseorang menabrak Arra, dan diseberang sana seseorang juga sedang menabrak Rama.

Sebenarnya mereka sudah bertemu dikehidupan nyata namun dalam keadaan yang berbeda. Dimana mereka tidak menyadari bahwa mereka tinggal di satu kota yang sama, sekolah yang sama dan bahkan barusan mereka saling tabrakan.

"Dior!?"

"Xaviera"

Ujar mereka bersamaan. Game yang sedari tadi mereka mainkan bernasib naas, karena ponsel mereka terjatuh beserta earphone dan snack-nya juga.

"Ya ampun perintilan ponsel ku!" Xaviera langsung membungkuk memunguti muntahan ponselnya.

Sementara Dior hanya memasang tampang acuh sambil ikut memunguti ponsel dan earphone-nya. Sesekali ia mendengus pasrah kala melihat takdir remahan snack-nya yang meninggal dengan cara yang tidak wajar.

"Kamu tuh jalannya gimana sih?" Ujar Xaviera yang sudah berdiri sambil membungkus ponselnya yang berantakan.

Dior berdiri lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

"Ya pake kaki lah. Dengan cara melangkah, sama aja seperti kamu"

Xaviera rolling eyes, lalu mendongak menatap cumi-cumi raksasa menyebalkan.

"Ponsel dan earphone ku jadi berantakan tau!" Sungut Xaviera tak dapat menahan diri lagi menghadapi Dior yang selalu acuh setiap berdebat dengannya.

"Emang yang kamu doang?" Dior pun pergi dari sana dengan tampang acuhnya lagi.

"DIORR!!" Jerit Xaviera dengan suara kecil namun penuh penekanan.

Xaviera mencoba meredam amarah dengan menutup erat matanya. Lalu melanjutkan langkah yang sempat tertunda sembari mengaktifkan ponselnya.

a rra

Maaf ram, tadi tiba-tiba off.

rama_d

Santai. Aku juga sempet dapet masalah dadakan kok.

arra

Oh ya?

rama_d

Iya. Tadi waktu kita lagi seru-serunya main, tiba-tiba ketabrak gadis rusuh terus ponselnya jatuh deh.

arra

Eh beneran? Kok bisa samaan yah?

rama_d

Haha aneh emang.

Kamu udah sarapan?

arra

Belum

rama_d

Sarapan gih! Mumpung belum bunyi bel

arra

Tau aja

rama_d

Ya dong. Jadwal kita kan selalu samaan.

---

Sekolah mereka merupakan sekolah yang paling banyak peminat dan berlahan luas, membuat pihak sekolah tentu dapat menampung siswa dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal itu menyebabkan pembagian kelas setiap satu tingkatnya bisa 9 sampai 10 kelas.

Yah tak jarang pihak sekolah dibuat bingung untuk membuat jadwal pelajaran. Kadang jadwal satu kelas harus terbentur dengan kelas yang lain.

Contohnya seperti sekarang ini, kelas yang ditempati Xaviera selalu belajar berdampingan saat pelajaran olahraga dengan kelas Diorama. Dan itu terjadi setiap Minggu.

Baik Xaviera maupun Diorama selalu berujar syukur karena mereka tak perlu belajar bersama, secara mereka kan memiliki guru yang berbeda.

Tapi syukur itu harus disingkirkan dulu hari ini karena salah satu guru olahraga mereka berhalangan hadir. Mereka mau tak mau harus campur kelas.

Priittt!!

Bunyi peluit sudah ditiup, tanda bahwa seseorang dapat memulai servis.

Mereka tengah bergilir memainkan bola voli, masing-masing tim dibagi berdasarkan kelas. Adu hujat dan adu smash terus terjadi silih berganti, suara saling sorak-menyorak ikut mendominasi lapangan.

Mereka tetap bermain sportifitas dan solidaritas, tak ada rasa permusuhan di hati mereka. Semua persaingan murni hanya di dalam permainan. Kecuali dua orang, Diorama dan Xaviera. Dua sejoli itu memang selalu saling lempar sengit daritadi.

Xaviera sedang ada di lapangan, jiwanya bergelora kala menghantam bola ke kelas lawan. Mungkin dia menganggap semua manusia yang bermain adalah Diorama, makanya dia mainnya sadis. Lebih sadis lagi setiap netranya bertemu dengan mata milik Dior yang sedang beristirahat di pinggir lapangan.

Sampai gadis itu tak memperhatikan bahwa ada bola yang datang dengan kecepatan tinggi ke arah wajahnya.

BUKKHH!

Benar saja. Bola itu mengenai wajah berkeringatnya. Ia kaget, belum sempat ia meringis tiba-tiba kesadarannya hilang.

Jeritan para penonton dan pemain lain terdengar ricuh. Mereka langsung mengerubungi sang korban, termasuk Diorama.

Bahkan dia lebih terlihat panik daripada yang lain saat melihat wajah pucat gadis itu. Saking paniknya, ia sampai tak sadar bahwa dia langsung membopong tubuh gadis yang dianggapnya sebagai tukang rusuh itu ke dalam UKS.

"Minggir! Kalian bisa membuatnya pengap" interupsinya.

---

Karena kejadian itu, gurunya menduga bahwa mereka kenal dekat dan akhirnya mempercayakan Xaviera sepenuhnya pada Diorama.

Meski terkesan acuh, Diorama tak menolak permintaan gurunya. Xaviera juga begitu, mungkin efek terlalu lemas setelah pingsan. Jadi dia menurut saja, daripada tidak diantar pulang.

"Aku pulangnya jalan kaki, masih mau ikut?" Tanya Dior. Sementara yang ditanya hanya mengangguk lesu.

"Juara taekwondo bisa tepar juga yah" sindir Dior.

Xaviera mencibir.

"Mau aku pukul?" Ancamnya sambil berjalan mendahului Dior.

"Wajar saja kamu tidak punya kekasih sampai sekarang, ganas gini" Dior masih tak henti menyindir Xaviera yang berjalan di depannya.

"Bilang aja kamu mau ngatain aku lesbi!"

"Dih nggak tuh. Ngerasa yah?" Ya ampun Dior rese banget sih.

Xaviera menghentikan langkahnya. Ia akui Dior memang menyebalkan, tapi dia berhenti karena kepalanya terasa berat. Ingin rasanya dilepaskan terlebih dahulu sebelum sampai rumah, tapi gimana caranya?

"Kenapa Vier?" Tanya Dior yang cepat merangkul pundak Xaviera khawatir.

"Kepala ku pusing" Ujarnya susah payah sembari merunduk.

Dior lantas membungkuk sedikit berjongkok di depan Xaviera, bersedia menawarkan pundaknya yang nyaman.

Namun sepertinya otak Xaviera bergeser sampai tak mengerti kode yang diberikan. Dia justru kaget akan tindakan Dior yang tiba-tiba.

"Kamu nemu koin ya?" Tanyanya polos. Dior tak sedikit pun kesal akan ke-lemotan-nya, justru dia berbalik mengambil tangan Xaviera lalu diletakkan di pundaknya.

"Biar aku gendong"

Xaviera tak merespon tapi tak menolak juga.

Dior melirik sekilas wajah Xaviera dari samping karena gadis itu hanya diam tak menyahutinya. Melihat reaksi Xaviera yang menunduk dengan pipi semerah tomat, membuat Dior menyunggingkan senyumnya. Lalu dengan yakinnya menempelkan tubuh Xaviera untuk digendong belakang.

Dior tak merasa keberatan dengan posisi ini. Dimana dia harus berjalan sambil memikul bobot beberapa puluh kilogram milik Xaviera, baginya ini nyaman.

"Aku baru sadar kalau kamu normal" Dior membuka obrolan lagi.

Xaviera mengernyit bingung.

"Kok bisa?"

"Buktinya pipi mu merespon saat tahu aku mau menggendong mu. Kenapa?"

"Kenapa apanya?" Tanya Xaviera dengan wajah yang sudah memanas gemas lagi.

"Kenapa lebih milih dibilang lesbi?"

Xaviera hanya membulatkan mulutnya ber'O'ria.

"Gak tertarik pacaran" Jawabnya simpul.

---

"Dior" panggil Xaviera saat sudah tiba dirumah.

"Hmm" Dior sambil menaikkan alis.

"Terimakasih. Maaf kalau selama ini aku menganggap mu menyebalkan, padahal ternyata.."

"Ternyata aku lelaki tampan yah?" Goda Dior.

Xaviera memutar bola matanya kesal.

"Ternyata kamu memang menyebalkan!" Xaviera pun memalingkan wajah, pura-pura merajuk.

"Hahaha"

Xaviera hanya menyengir kuda melihat Dior tertawa puas.

Sejurus kemudian tangan Dior sudah berada diatas kepala Xaviera, diiringi dengan wajahnya yang mendekat.

"Cepat sembuh yah" setelah membuat Xaviera membeku ditempat, Dior dengan seenaknya melambaikan tangan lalu pamit pulang tanpa bertanggung jawab.

---

Setelah perdamaian secara tidak langsung itu terjadi, Xaviera tak pernah memberi kabar pada pacar online-nya si Rama lagi. Dia terus memikirkan Dior yang padahal adalah orang yang sama. Dior juga mengalami hal yang sama.

Tetapi saat di sekolah, Xaviera justru menghindari Dior. Dia takut perasaannya semakin membesar pada Dior kalau dibiarkan bertemu terus. Tapi dia juga tak dapat menyangkal bahwa perasaannya semakin terasa nyata dan tak dapat ditahan.

Inilah yang ia takutkan, jatuh cinta pada lelaki lain sebelum ia sempat bertemu dengan Rama. 4 tahun mereka saling menjaga perasaan, dan dia tak mungkin merusaknya hanya karena satu hari bersama Dior.

arra

Ram, aku mau cerita sama kamu

r ama_d

Dih dateng-dateng langsung mau cerita. Gak mau bilang kangen dulu?

arra

Hehe sorry. Iya aku kangen kamu

rama_d

Ketauan banget bohongnya

arra

Ram.. aku serius

rama_d

Iya sorry. Cerita gih

arra

Tapi kamu gak boleh marah, dan kamu juga harus janji pertemuan kita dipercepet .

rama_d

Iya bawel ih. Emangnya ada apa sih?

Arra merasa sangat gugup. Seberat inikah rasanya mengkhianati seseorang? Sungguh sulit. Aneh bila difikir-fikir, heran aja sama orang-orang yang hobi selingkuh. Tidak gelisah kah mereka?

arra

Sebenarnya aku gak kabarin kamu karena aku mulai menyukai orang lain

rama_d

Siapa?

arra

Temen sekolah ku

Rama membalasnya lama, dia berfikir kenapa harus samaan? Kecewa? Tentu saja. Tapi dia juga tak bisa menyalahkan Arra disaat dia juga merasakan hal yang sama.

rama_d

Bagus dong. Kamu jadi gak perlu diejek lesbi sama temen-temen kamu lagi.

arra

Bukan itu tujuan aku cerita. Aku ingin ketemu kamu, seenggaknya aku mau nyoba belajar mencintai kamu dulu. Aku gak mau ngecewain kamu.

rama_d

- Terimakasih Ra, kamu masih mau bertahan sama aku.

-Ra , sebenarnya aku juga mulai menyukai orang lain. Temen sekolah ku juga.

arra

Jadi hubungan kita cuma sampai sini aja?

rama_d

Ya nggak gitu juga. Aku maunya ketemu dulu sama kamu, aku pengen menghapus perasaan aku ke dia. Aku maunya sama kamu. Kita jadi kan ketemu?

arra

Jadi kamu setuju?

rama_d

Ya iyalah. Mana mungkin aku mau ninggalin kamu yang udah bertahan lama sama aku demi orang lain yang aku sendiri gak tau bisa seperti kamu atau tidak.

---

Hari ini rencananya mereka mau bertemu di taman, dengan harapan dapat saling mencintai dan saling melupakan teman sekolah mereka.

Diorama sudah datang 30 menit yang lalu. Dia sengaja datang lebih dulu, ini kan pertemuan pertama mereka. Dior hanya tidak mau Xaviera menunggunya terlalu lama.

Alangkah terkejutnya dia saat kemarin Arra menunjukkan alamatnya yang ternyata satu kota dengannya.

Dior semakin tak sabar menanti duduk di kursi taman. Matanya terus menelisik sampai akhirnya ia merasakan seseorang duduk disebelahnya. Ia pun langsung menoleh dengan riang, menebak bahwa itu pasti Arra.

Dan bener saja itu memang Xaviera, alias Arra. Tetapi karena berhubung tidak tahu jadi yahhh..

"Xaviera!" Katanya kaget.

"Dior!" Xaviera tak kalah kaget. "Kamu ngapain disini?"

"Lagi jalan-jalan aja. Kamu sendiri?"

"Sama"

Mereka berdua sama-sama berbohong, lalu keduanya berkutat dengan ponselnya. Berkecimpung dalam dunia kegelisahan.

Dior menyukai Xaviera, tapi dia berencana bertemu dengan Arra. Begitu juga sebaliknya Xaviera menyukai Dior, tapi dia berencana bertemu dengan Rama.

Rasanya canggung dalam waktu yang lama sekali.

rama_d

Kamu dimana?

Merasakan getaran dari ponselnya, Xaviera pun cepat-cepat mengecek notif pesan itu.

arra

Kamu yang dimana?

rama_d

Kok malah nanya balik sih?

arra

Aku sudah nunggu daritadi Ram!

rama_d

Aku juga nungguin kamu lagi Ra.

arra

Kamu dimana sekarang? Biar aku jemput!

rama_d

Eh jangan. Aku aja yang jemput.

arra

Ya udah iya serah.

Xaviera pun berdiri hendak ikut mencari seonggok daging menyebalkan bernama Rama.

"Vier kamu mau kemana?" Xaviera menoleh ke belakang, hampir saja Xaviera lupa kalau ada Dior disini.

Dia pun memasang cengiran kuda

"Cari angin lain" katanya lalu mencoba meneruskan langkah. Xaviera lantas menekan beberapa kombinasi angka di ponselnya.

Arra is calling..

Dior tertegun kala melihat nama Arra menelponnya, dia lupa kalau dia harus mencari sosok gadis itu.

"Ya halo Ra?"

Xaviera terkejut bukan main, pertama bunyi dering yang berasal dari belakangnya saat ia baru saja menelpon Rama. Kedua suara yang menjawab telponnya juga berasal dari belakangnya.

Xaviera pun menoleh ke belakang lagi.

"Dior.. Rama?" Ujarnya lirih namun terdengar jelas. Dior menatap Xaviera yang menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan nama sosmednya.

Dior memasang raut wajah tak kalah terkejutnya.

"Arra?"

Mereka menatap cengo untuk waktu yang lama, masih sulit menerima kenyataan.

Bagaimana mungkin 4 tahun mereka saling dekat dan saling membenci dalam waktu bersamaan?

Bagaimana mungkin mereka saling menyukai dan saling merasa bersalah dalam waktu bersamaan pula?

Gadis yang suka merusuh, dan lelaki yang bersikap acuh.

Bagaimana mungkin itu adalah yang selama ini saling menjaga perasaan?

Jadi yang selama ini yang menjadi rekan game online dan rekan berkelahi dikehidupan nyata, adalah orang yang sama?

"Jadi kamu Rama?" Tanya Arra masih dalam fase kagetnya.

"Jadi kamu Arra? Cewek rusuh? Lesbi?"

Xaviera mengerucut sebal

"Dasar pengacau! Noob! Aku gak suka sama kamu!!" Cercah Xaviera.

"Aku lebih gak suka kali!"

Baiklah.. ego, gengsi dan jiwa permusuhan lah yang sedang menguasai mereka. Hingga mereka saling berpaling badan hendak pergi meninggalkan.

"Hey!!" Panggil Xaviera, Dior menoleh.

"Dengar, mulai hari ini kita bukan lagi kita!"

END


Kembali ke Beranda