Beby adalah gadis cantik dan sangat berbakti pada orang tuanya. Dia sangat mencintai hidupnya dan- pasangannya. Bukan suami, tapi baru pacar. Nama lelaki itu Vigo. Vigo juga mencintainya tapi juga tidak, eh? Gimana sih? Pokonya gitu!
Mereka berdua kini tengah berbincang hangat di sebuah cafe, ditemani dengan dua cangkir latte matcha.
"Kamu kapan mau nikahin aku?" Tanya Beby dengan raut wajah cerahnya.
Wajah Vigo mendadak pucat, dia menyesap latte matcha-nya lalu mengalihkan mata ke arah luar jendela.
"A-aku belum siap Beb" jawabnya terbata. Terlihat jelas wajah cerah itu berubah kecewa. "... maaf" kata lelaki itu lagi.
"Lalu kapan kamu mau ngenalin aku ke orang tua kamu? Terus mengakui hubungan kita ke orang-orang?"
"Entahlah. Tapi yang jelas aku memang belum punya keinginan untuk berkeluarga"
Kalimat yang Vigo lontarkan, membuat Beby beranjak dari kursinya. Tak ada tempat untuk mendapatkan kepastian atau pengakuan disini. Begitulah fikirnya.
Cepat-cepat Vigo memegang tangan gadis itu. Gadis itu menatap ke arah Vigo sembari merebut tangannya kembali dari tautan.
"Maaf Beb" ujarnya lirih.
Beby langsung melesat saja dari tempat itu, tentunya ditemani air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Tak perduli dengan kondisi wajahnya, dia langsung naik taksi ketika ada taksi yang berhenti.
Dia fikir dia siapa ngegantungin perasaan gue hampir 5 tahun ini? Dia lupa kalau usia gue bahkan udah 26 tahun? Dan perasaan gue ke dia rasanya sudah menjamur di dalam sana, saking lamanya. Keluhnya dalam hati, sembari menghapus foto-fotonya dengan Vigo di ponsel.
Sesampainya dirumah dia langsung memasuki kamarnya tak mau tahu tentang beberapa pasang mata yang menatapnya heran. Orang-orang itu tak lain adalah Abi, Ummi dan Kakaknya.
Kini dia hanyut dalam tangisannya, mengurung diri seharian dikamar.
---
Keesokan harinya..
Wajahnya masih pucat, Vigo juga belum memberi kabar. Dia sudah hafal betul dengan lelaki itu yang akan bersikap seperti ini dikala ada masalah atau putus secara tidak langsung.
"Beby?" Panggil Ummi dari luar pintu.
"Iya mi?" Beby bergegas membuka pintu kamarnya.
Munculah seorang wanita paruh baya tengah membawa sepotong kue. Mereka berdua pun masuk dan duduk nyaman di kasur.
"Ada apa Ummi?" Tanya Beby.
"Tidak apa-apa. Ummi lihat kemarin sepertinya kamu sedang ada masalah. Dengan siapa memangnya?" Umminya tentu tak tahu soal hubungannya dengan Vigo.
Yang Ummi tahu, Beby selalu menolak ajakan ta'aruf dari pria-pria yang ditawarkan Ummi selama 3 tahun ini.
"Gak tahu Ummi. Tiba-tiba aja pengen nangis" Rengeknya manja.
"Oalah, Ummi kirain ada apa" Katanya tersenyum sambil mengelus lembut bahu putrinya. "Oh iya, Ummi mau tanya. Kalau ada pria yang mengajak mu ta'aruf, kamu menerimanya atau menolaknya lagi?"
Sekarang mata gadis itu berkeliaran seolah tengah memutuskan sesuatu yang berat.
"Emm.. emangnya Ummi mau banget yah kalau Beby buru-buru nikah?" Tanya Beby balik.
"Ya iyalah sayang. Ummi mana mau liat kamu jadi perawan tua" Kelakar Ummi.
"Astaghfirullah Ummi, Beby lebih gak mau kali mi.."
Hening.
Ummi menunggu ucapan selanjutnya dari Beby.
"Ya udah kali ini Beby mau deh. Tapi yang ganteng ya mi" ujar Beby kelewat enteng. Kalimatnya barusan bahkan lebih mirip seperti memesan mie ayam.
Tapi Ummi menanggapinya dengan senyum kegirangan. Tentu saja Beby merasa aneh. Ada apa dengan ummi-nya?
"Asik! Anak Ummi tahun ini menikah!!"
"Hah? Apasih Ummi?"
"Hehe. Jadi... kemarin Pak Ustad Zulkarnain kesini sama anak tunggalnya si Afif. Pak Ustad Zulkarnain bermaksud menjodohkan anaknya dengan mu. Ummi lihat sepertinya Afif adalah anak yang baik dan ganteng juga" jelas Ummi panjang lebar ditambah bumbu-bumbu racun yang secara tidak langsung agar Beby menerima lamaran ini.
"Emm.. kalau menurut Ummi baik, ya udah deh, kuy lah" jawab Beby seenteng-entengnya. Ya ampun gadis ini, apa dia lupa bahwa dia habis patah hati? Ini perkara menikah loh Beb!
"Beby-beby" helaan nafas Ummi terdengar diujung kalimatnya.
"Tapi kamu boleh kok minta tempo waktu agar lebih mengenal siapa dia dan keluarganya terlebih dahulu"
"Oke Ummi"
"Ya udah. Ini kuenya dimakan, Ummi mau ke warung" pamit Ummi yang disambut oleh senyum hangat milik Beby.
Eh? Jadi kue ini termasuk sogokan?
---
Ketika pernikahan sudah terjadi...
Seminggu yang lalu, Pak Ustad Zulkarnain dan Afif datang lagi memastikan apakah niat baiknya diterima atau tidak. Dan itu adalah pertama kalinya Beby melihat Pak Ustad Zulkarnain dan calon suaminya- kalau jadi.
Saat sedang berbincang-bincang, Pak Ustad Zulkarnain meminta mereka langsung menikah saja. Ummi-nya Beby tentu kaget, dan seharusnya Afif dan Beby juga kaget. Tapi tidak! Mereka malah mengatakan bahwa pernikahan mereka lebih baik dilakukan secepatnya.
Yah dan terjadi begitu saja, hingga malam ini adalah hari yang sakral karena mereka berdua resmi menjadi suami-istri.
"Beb, maaf sebelumnya..." Tutur Afif membuka pembicaraan, Beby hanya menatap heran.
"Pernikahan ini jadi terkesan aneh yah" senyum tipis canggung menghias wajah pemuda itu.
"Dan maaf kalo gue bukan tipe suami yang lo harepin. Ayah... mungkin emang seorang ustad yang disegani, tapi berbeda dengan gue. Lo bisa liat sendiri kan? Orang-orang juga tau kalau gue.." Afif memberanikan diri menatap Beby
"Gue bukan anak pondok, apalagi ustad kayak Ayah. Gue cuma lelaki biasa.
Tapi tenang aja, nggak ada alasan khusus kok kenapa gue nyetujui perjodohan ini.
Gue gak bermaksud jadiin lo pelarian, karena emang gue gak punya masalah apapun tentang cewek. Gue gak punya mantan, gue gak punya pacar. Lo cewek pertama, dan sekarang jadi istri gue" Afif mendeskripsikan dirinya, semakin menatap lekat kedua mata Beby.
Beby masih terdiam kaku, setia mendengarkan penjelasan suaminya. Ceh elah suami.
"Selama seminggu ini kita cuman cerita tentang keluarga dan pengalaman kerja, karena itu mulai malem ini gue berniat mau belajar untuk terbuka tentang kehidupan pribadi gue sama lo. Menurut gue, lo berhak tau. Sangat berhak malah" Afif senyum di ujung kalimat yang berhasil menyihir hati istrinya.
"Kalau lo sendiri? Ada alasan khusus? Soalnya semua hal ini emang sangat mendadak" sekarang Afif bertanya balik, membuat Beby terpaksa harus berhenti memperhatikan pemandangan indah yang tengah berbicara kepadanya ini.
"Kalau gue.. emm gue juga bukan orang yang kalem kek Ummi, bukan orang yang keren kek Abi juga.
Gue sempet punya pacar kemarin, namanya Vigo. Gue sama dia udah sekitar 5 tahun, tapi gak terjadi pergaulan bebas yah! Karena berhubung dia gak pernah ngasih kepastian ke gue.. yah akhirnya kita udahan secara tidak langsung deh.
Dan kalo soal alesan gue nerima perjodohan ini, jujur.. gak ada alesan khusus" Beby menjelaskan ringkas namun kategori lengkap.
"Lo masih cinta sama cowok lo itu?" Pertanyaan yang dihindar-hindari Beby!
"Masih" terlihat ada gurat kesedihan di wajah tampan Afif. "Tapi gue mau kok berusaha move on, demi.... Suami gue" Ucap Beby susah payah sambil merunduk menahan malu. Tentu saja itu membuat Afif tersenyum.
Ahh dia imut banget sumpah!
Untuk pertama kalinya bagi Afif merasakan sesuatu yang aneh dari dalam hatinya. Entahlah, namun kata-kata barusan berhasil membuat Afif merasa tak rela membagi. Bolehkah dia egois soal Beby, istrinya?
---
Dihari-hari berikutnya, semua terasa berjalan lancar. Afif selalu menyempatkan diri untuk berleha-leha menemani istrinya memasak, makan, belanja, tidur, mandi, eh?
Dan Afif sudah melepas game kesayangannya demi istri yang mungkin sekarang sudah beralih posisi menjadi kesayangannya yang baru.
Oh satu lagi, ini sekedar info yah.. mereka berdua juga sudah sepakat untuk membiasakan diri dengan sebutan aku-kamu.
"Ini apa?" Tanya Afif menunjuk sebuah mangkuk putih.
"Ini sayuran" jawab Beby seadanya.
"Itu apa?" Tanyanya lagi, masih senang menggoda istrinya.
"Itu monster laut!" Ujarnya kesal "Udah tau ikan"
"Kalau ini apa?" Afif mencondongkan wajah ke arah Beby.
"Eehhhhh.." Geram Beby yang langsung menoleh ke arah mahluk menyebalkan disampingnya ini.
Cup!
Kecupan manis mendarat mulus di bibir Beby. Beby tentunya kaget, tapi Afif juga tak kalah kaget. Pasalnya, Afif hanya berniat mencium pipi istrinya tadi, tapi gara-gara Beby menoleh eh malah jadi salah sasaran. Bukan salah Afif dong?
Mata yang tadi membola kini menatap tajam. Afif yang merasakan hawa-hawa horor langsung cepat-cepat mengatakan.
"Bukan salahku, aku hanya salah sasaran" Belanya dengan ucapan yang terdengar aneh dimata Beby.
Beby mendengus.
"Kamu tuh!" Beby menduduki diri di kursi meja makan, masih dengan kesibukannya membumbui monster laut (eh maksudnya ikan yah ibu ibu)- sekalian menyembunyikan wajah merona dan debaran jantungnya.
Afif terus mengekori Beby dan berdiri di samping istrinya itu. Tangannya yang jahil mulai menyisir surai istrinya dengan penuh sayang. Lalu menyelipkannya dibelakang telinga.
Sikap seperti inilah yang membuat Beby benar-benar lupa pada Vigo, bahkan Beby selalu menegaskan kalimat bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai Afif! Dihatinya.
"Aw!!" Beby meringis kesakitan.
Baru saja dipuji, Afif sudah mulai bertingkah dengan mencabut 2 helai rambut Beby.
"Kenapa harus imut sih, jadi pengen sarapan kamu aja!" Mulut Afif makin asal. Dan inilah fakta terbaru tentang Afif, ternyata Afif bukanlah lelaki biasa seperti yang dikatakannya waktu malam pertama, karena Afif adalah pria gila yang memiliki sifat asal-asalan.
"Jahat banget sih, nyamain aku kayak monster laut!" Kesal Beby yang sekarang mulai menggoreng monster laut.
"Abis kamu gemesin sih" ucapan Afif tak digubris. Lalu dia ngomong lagi "mirip squishy!"
Beby hanya rolling eyes saja.
---
Sebentar lagi Afif akan mengantar Beby belanja bulanan, dan pria itu tidak tahu kapan mereka akan berangkat. Afif sudah siap dari tadi di ruang tengah, tapi dia harus menunggu istrinya yang cantik mempercantik diri lagi dengan serangkaian debu-debu yang dipoles di wajah.
Sementara di dalam kamar, Beby yang baru selesai dandan menyempatkan diri untuk melihat ponselnya. Tapi diponselnya itu dia menemukan status sosmed dari Vigo yang memposting sebuah undangan, undangan pernikahannya dengan gadis lain.
Sakit hati? Sedikit. Iri? Iihh nggak banget!
"Beby...! Sayang.!!" Panggil Afif- teriak maksudnya.
"Iya iya. Iih kamu gak sabaran banget" Beby pun keluar menampakkan diri.
"Masya Allah, istri siapa sih ini cantik banget" puji Afif sekalian menggoda istrinya.
"Istri Pak Tito!" Jawab Beby asal didominasi dengan rasa kesal.
Beby pun melangkah mendahului Afif, tanpa menoleh kearah pria itu.
"Pak Tito siapa Beb?" Tanyanya penasaran. Aish dasar ogeb! Orang Beby-nya aja gak kenal siapa Pak Tito.
---
Setibanya di supermarket Afif tak membiarkan Beby sedikit pun menyentuh cart belanjaan, tentu saja dia tak mau Beby mendorong beban yang berat seperti ini.
Tiba-tiba sesuatu tak terduga terjadi, disana dihadapan mereka. Ada seseorang yang tengah dihindari Beby, yaitu Vigo. Dan Vigo membawa seorang gadis yang tak lain adalah calon istrinya.
Baik Vigo maupun Beby, mereka sama-sama memaku ditempat, menatap satu sama lain. Arti tatapan Vigo seolah mengatakan Beby aku kangen, beda halnya dengan Beby yang justru menatap datar dan ingin mengatakan jijik deh. Kenapa mesti ketemu coba!? Saat Vigo melihat keberadaan Afif, Vigo pun langsung kaget dan menghampirinya.
Tanpa basa-basi Vigo berniat melempar sebuah pukulan pada Afif, tapi Afif lantas menepisnya sembari menatap heran dengan wajah marahnya.
"Lo ngapain sama cewek gue!?" Tanya Vigo emosi. Tahu siapa yang paling kaget mendengarnya? Bukan Afif atau Beby tapi calon istrinya Vigo!
Afif awalnya heran dengan lelaki dihadapannya, dia tidak kenal tapi dia ingin dipukul sama pria itu. Tidak waras! Tapi setelah pertanyaan itu disebutkan, Afif sudah terlalu pandai hanya untuk menebak bahwa pria itu adalah Vigo.
"Lo yang ngapain nanya-nanyain istri orang" jawab Afif dengan nada suara yang santai namun terkesan menyudutkan.
Kini Vigo yang merasa kaget dan bingung. Sejurus kemudian emosi Vigo kian memuncak.
"Jangan asal ngomong lo!"
"Lo yang asal ngomong daritadi. Kita memang sudah menikah, jadi jelas dia istri gue dan gue cinta sama dia" akuan Afif yang sukses membuat hati Beby bergetar senang.
Mata Vigo menuju ke arah Beby, menuntut penjelasan.
"Apa!?" Tanya Beby dengan aura harimaunya. Jadi ngegas kan!
"Beb, kamu kenapa tega kek gini?" Tanya Vigo lirih.
"Heh gurita darat! Gak kebalik? Sewaktu gue minta kepastian dan pengakuan dari lo, lo kemana!? Dasar gila! Lo gak malu diliatin sama calon istri lo? Dan satu lagi, gue emang istrinya dia. Istri dari lelaki terbaik dalam hidup gue setelah Abi, PUAS LO!" Pekik Beby penuh amarah dan anehnya merasa lega.
Beby langsung pergi dari hadapan sepasang kekasih itu, disusul dengan langkah Afif- dan cart belanjaannya.
---
Malam terasa lebih dingin dari sebelumnya, tapi Beby malah memanjakan diri di balkon kamarnya sembari menatap bintang.
Pikirannya melayang ke peristiwa di supermarket tadi. Dia bangga pada dirinya sendiri, keberanian darimana tadi itu? Perlukah dirayakan? Astaga ini bahkan lebih memuaskan daripada mendapatkan peringkat pertama dikelas.
Tiba-tiba sebuah lengan kekar menyusup, melingkari pinggang rampingnya. Tahu sendirilah siapa pelakunya.
Pria itu bahkan menyamankan diri di ceruk leher Beby yang selalu wangi aroma buah strawberry.
"Mikirin Vigo?" Tanya Afif yang sepertinya merasa gelisah.
"Hmm.."
"Masih punya rasa?" Beby hanya menggeleng.
"Lalu?" Beby memutar tubuhnya membalik ke hadapan suaminya, sembari mengalungkan tangan dileher pria itu.
"Aku hanya bangga pada diriku sendiri karena sudah berhasil mengungkapkan kalimat tadi siang. Kamu tahu tidak? Aku merasa sangat puas!" Ungkapnya, jangan lupakan dengan senyum sombong dari seorang Beby shark. Respon Afif? Tentu saja dia lega. Dia sempat berfikir Beby masih menyukai Vigo tadi.
Afif sekarang terdiam dalam tundukkannya. Gelisah lagi, itu raut yang terpancar dari gelagatnya. Baby ikut tertegun melihat perubahan wajah Afif lagi.
"Kamu kenapa sih fif? Kerasukan setan supermarket yah? Atau jangan-jangan ketularan virus sok polos dari roh kutu bernama Vigo?"
Afif mendongak sembari menggeleng.
"Please deh fif jangan nakutin gini, gak lucu tau! Jujur yah, kamu gak cocok kalau normal gini" ledek Beby dengan muka sok seriusnya.
"Cocok gak cocok apa bedanya? Toh kadar ketampanan ku tak berkurang sedikit pun" Sahutnya dengan penuh kebanggaan yang anehnya terkesan menjijikan dimata Beby.
"Aiihh pede banget. Suami siapa sih ini!?"
"Suami Pak Tito" jawab Afif asal.
"Jauh-jauh deh. Dasar homo!" Beby mencoba mendorong tubuh Afif yang justru semakin mendekatinya.
Tahu apa yang Afif pikirkan tadi?
Mereka memang bersuami istri, tapi tetap saja tak menutup kemungkinan bahwa suatu saat Beby bisa saja meninggalkannya karena beberapa alasan.
Bagaimana pun Beby adalah perempuan, dia butuh kepastian dan ingin merasa dimiliki. Mungkin benar selama hidup bersama, Afif selalu menunjukkan sikap manja sekaligus perhatiannya, mengakui bahwa Beby adalah istri tercintanya pada semua orang.
Tapi Afif yakin bahwa Beby butuh uangkapan secara langsung. Begitulah fikiran Afif, yang membuat mahluk halus itu mendadak gelisah.
Perlahan tangannya merebut kedua tangan Beby yang sedari membrutal. Lalu..?
"Beb, aku sedang serius loh ini!" Katanya dengan wajah yang tak kalah serius. Membuat istrinya itu mendadak kicep dan langsung nurut diem. Lalu dia melanjutkan kalimatnya.
"Mungkin awal hubungan sakral diantara kita memang tak beralasan, tapi saat aku memutuskan untuk menikah denganmu, aku udah janji sama diri ku sendiri bahwa aku akan selalu terbuka tentang apapun padamu. Gak ada cewek lain yang aku istimewain selain kamu.
Mungkin aneh kalau aku baru bilangnya sekarang, tapi aku gak bisa menahannya lagi. Aku takut kehilangan kamu, semakin aku mencoba menjadi suami yang baik untuk kamu, semakin aku merasa bahwa aku juga mulai jatuh cinta pada mu. Istriku sendiri. Apa kamu bersedia menerima hati ku?" Penuh kesungguhan, sampai membuat Beby terpaku dengan detak jantung yang menggila.
Reflek Beby mengangguk kikuk menanggapinya. Karena tak bisa dibohongi bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Jatuh cinta.
Afif yang semula tersenyum tulus tiba-tiba melepas tautan tangannya, lalu menarik genggaman tangannya tanda mengatakan 'yes'
"YES!! udah aku tebak kamu gak akan mungkin nolak cowok ganteng"
Sekarang wajah Beby berubah menjadi tampang jijik, kesal, dan langsung saja dia cemberut.
"Eh tapi aku serius loh. Aku emang beneran cinta sama kamu" Afif merubah ekspresinya menjadi serius lagi. Beby ikutan serius
"Aku juga..... Tapi tadi sebelum gila mu kumat!" Katanya datar lalu segera melesat masuk ke kamar, meninggalkan Afif dan wajah bodohnya.
"Beb aku beneran serius!" Teriaknya tidak jelas, sama tidak jelasnya kayak orangnya.
Yah Beby percaya dengan ungkapan hati Afif, dan dia juga serius dengan hatinya yang memang jatuh cinta. Tadi itu hanya respon agar siluman cicak itu berhenti bersikap pede.
Cowok ganteng?
Dih menjijikan sekali. Siapa bilang dia ganteng? Gantengan juga platipus! Eh? Tapi emang ganteng sih, Beby saja yang terlalu enggan untuk mengakui.
"BEBYY... Jarang-jarang loh ada cowok yang gantengnya sampe mendarah daging kayak aku mau bilang cinta ke kamu"
Tuh kumat kan!?
Oke skip aja. Intinya yah setiap hubungan itu harus ada perhatian, kepastian dan pengakuan. Paket komplit!
Perhatian, biar merasa disayang.
Kepastian, biar merasa dimiliki.
Pengakuan, biar merasa dianggap.
BUCIN AJA TEROS SAMPE BEGO!!
END
17 Agustus 2019
Makasih untuk readers yang mau repot-repot baca cerita gaje ini