Sorry Friend
Romance
25 Feb 2026

Sorry Friend

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (74).jfif

download (74).jfif

25 Feb 2026, 16:01

download (73).jfif

download (73).jfif

25 Feb 2026, 16:01

"Kenalin Zaf, ini sahabat aku Lea" kata Sasa.

"Oh yang sering kamu ceritain itu ya?" Tangan Zafran terulur bermaksud berkenalan.

"Zafran" sebutnya, aku tersenyum saja menyahutinya.

Aku menyukai senyumnya sejak pertama kali, perkenalan ini bukanlah pertemuan pertama kami. Aku pernah melihatnya di acara pesta pernikahan putra dari rekan kerja ayah ku.

Aku ingat sekali bagaimana caranya tersenyum hangat menyambut setiap tamu yang menghampirinya. Kala itu aku sedang berdiri di samping ayah ku yang sedang bercanda gurau dengan temannya, sang ayah mempelai.

Dia masih sama. Selalu tampan, gagah dan ramah. Jas kerjanya itu seolah tak dapat lepas dari genggaman meskipun ini sudah bukan jam kantor lagi.

---

Makan malam telah kami bertiga selesaikan. Senyum ramah terus ku tebar meski kenyataan pahit sudah daritadi menusuk-nusuk.

Kalian tahu alasan makan malam ini apa? Sasa sahabat ku ini, berjanji akan memperkenalkan aku dengan lelaki yang berhasil menarik hatinya.

Dan yah.. satu-satunya lelaki pujaan Sasa yang diperkenalkan pada ku malam ini ya hanya Zafran, yang ternyata pujaan hati ku juga.

Jujur saja, aku menyesal penasaran. Aku memang senang bisa tahu nama lelaki yang ku kagumi, tapi bukan seperti ini caranya.

Kini langkah kami menuju keluar, bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing.

Sial! Aku lupa, aku kan tidak bawa mobil sendiri hari ini. Menelpon sopir pasti kelamaan, mengingat alamat rumah ku jauh dari daerah sini.

"Lea"

"Hmm?" Kata ku tertegun dan langsung menatap Sasa.

"Kamu ga bawa mobil?"

Aku tersenyum masam sambil geleng-geleng. Sasa meraup lengan baju Zafran sampai tubuh Zafran tertarik kemari.

"Kamu anterin Lea ya" pinta Sasa yang diangguki ringan oleh Zafran.

Ah Sasa kamu beruntung punya pacar seperti Zafran yang tak menolak kehendak mu. Batin ku semakin kagum dibuatnya.

Sebelum aku dan Zafran masuk ke mobil, kami berdua berdiri di area parkir ini untuk melihat Sasa yang pulang dengan mobilnya sendiri.

Rumah ku dan Sasa berbeda arah, dan jaraknya juga sangat jauh. Itulah mengapa Sasa tak berani mengantar ku pulang dengan mobilnya, apalagi sudah larut malam seperti ini.

Ku lirik Zafran sedang melambai kecil ke mobil Sasa. Lalu dia meminta aku untuk segera masuk ke dalam mobil.

Selama diperjalanan baik aku maupun dia, kami sama-sama terdiam. Berdebar hati ku diposisi sedekat ini, aku ingin mengenalnya lebih jauh tapi Lea sahabat ku?

"Zaf" panggil ku takut-takut.

"Hmm?" Dia masih fokus pada jalanan.

Ternyata aku benar-benar tak ada artinya untuk seorang Zafran. Hati ku sedikit sakit menyadari dirinya yang memang tak mungkin tertarik pada ku.

"Boleh aku minta nomor ponsel mu?" Tanya ku.

Aku masih memberanikan diri, kalau-kalau saja diperbolehkan kan?

"Boleh, simpan lah"

Hati ku girang sendiri. Padahal aku tahu meskipun ini peluang, tetap saja aku tak mampu untuk menyakiti sahabat ku sendiri.

Ingin rasanya ku bunuh sahabatku saat ini, tapi tak mungkin kan? Lagi pula aku tak se-psiko itu! Aku masih waras dan masih menyayangi Sasa juga.

Setelah ku catat nomornya, aku kembali bingung. Aku sendiri tidak tahu harus ku apakan nomor ini nanti? Ah sudahlah, aku bisa menggunakan nomor ini untuk memantau fotonya, atau enggak minimal aku tahu kapan terakhir kali dia online.

Semiris itu loh guys nasib cinta ku.

Aku menelpon nomor Zafran. Bermaksud memberinya nomor ponsel ku juga.

Ponsel pria itu berdering. Panggilan masuk itu tentunya dari ku, tapi ia tak menggubrisnya.

"Zaf, itu nomor ponsel ku" kata ku akhirnya.

"Iya" jawabnya, masih dengan fokus menyetir.

Astaga, rasanya saat ini yang lebih baik ku bunuh duluan bukan Sasa, melainkan Zafrannya!

Dia tak berniat menyimpan nomor ku atau bagaimana? Gak ngerti lagi aku.

Jutek! Beda sekali dengan Zafran yang diperkenalkan dengan ku di dalam restaurant tadi. Apa jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda? Psiko? Argh mikir apa aku ini!?

---

Sesampainya di depan rumah ku, dia tak sedikit pun membuka kaca mobil barang sekejap melambai kecil pada ku, seperti yang ia lakukan pada Sasa tadi.

Dia hanya memberi klakson satu kali, lalu mobilnya melesat pergi.

Ya sudahlah ada baiknya aku segera masuk, cuci muka lalu tidur.

---

Seminggu berlalu, dan ini adalah hari Minggu yang paling cerah. Karena hari ini aku memutuskan untuk meliburkan diri sampai lusa nanti!

Aku tidak ada acara pergi kemana-mana, jadi aku sudah berencana setelah selesai sarapan ini aku mau menyambung tidur lagi.

Baru saja aku selesai menenggak habis susu ku, tiba-tiba ponsel ku berdering. Kalian tau apa yang membuat ku lebih senang lagi?

Zafran is calling!

Asiikkkk dia menelpon ku untuk pertama kalinya. Artinya malam itu nomor ponsel ku disimpannya! Oh my God, jantung ku kontrol Lea, kontrol!

"Halo" sapa ku penuh semangat.

"Maaf mengganggu mu, apa kau sedang sibuk?" Tanyanya ragu-ragu.

Aduh ingin ku jawab emangnya kapan aku sibuk kalau untuk kamu!?

"Emm nggak. Ada apa?"

"Temani aku keluar hari ini"

"Oh ya udah ayok!" Kata ku antusias.

Ya ampun mulut ku ini!

Tapi tumben, kemana aura pria berdarah dingin malam itu? Belum sempat aku bertanya-tanya..

"Bersiaplah aku akan menjemputmu sekarang!" Katanya lalu memutuskan sambungan telepon.

Aku pun lantas bersiap-siap. Untung saja aku punya kebiasaan mandi pagi buta, kalau nggak, bisa kelamaan dia nungguin aku.

Beberapa menit berselang..

Tin. tin.

Suara klakson mobilnya sudah berbunyi, aku pun keluar menenteng tas sandang ku.

"Hai" sapa ku yang disambutnya dengan senyuman.

"Ada apa? Kok tiba-tiba mengajak ku pergi?" Tanya ku setibanya di dalam mobil.

Dia memasang cengiran kuda yang tak biasanya.

Ah aku baru tahu, ternyata dia bisa juga ya menampilkan cengiran seperti itu?

Mobil perlahan melaju, ku lihat dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya sebelum bicara.

"Ini coba lah!" Katanya menawarkan aku camilan yang ia makan barusan.

Aku pun mengambil beberapa di tangan ku, hanya untuk menghargainya.

"Aku hari ini mengosongkan jadwal kerja ku, sengaja untuk menghabiskan waktu bersama Sasa. Kau tahu Sasa ada dimana?"

Mendengar penjelasan barusan, rasanya aku ingin menangis, guling-guling, teriak-teriak, dan semuanya! Aaaahhhh hati ku sakit mendengarnya.

Ternyata dia hanya ingin menanyakan Sasa! Kalau tahu begitu lebih baik aku berlibur di rumah saja, TANPA PANGGILAN DARINYA!

"Maaf Zaf, aku tidak tahu. Yah kau tahu sendirilah kami berdua sama-sama sibuk bekerja" ujar ku jujur.

"Lalu kenapa kau bilang tadi kau sedang tidak sibuk?" Tanyanya lagi.

"Aku mengambil cuti sampai lusa"

"Oh bagus kalau begitu!"

Bagus? Apa maksudnya? Apa dia berniat meminta ku untuk menemaninya berduaan dengan Sasa? Shit!

"Kau mau kan menemani ku jalan-jalan hari ini?"

Aku menatapnya cengo, otak ku mendadak lemot, emm gimana-gimana? Jalan-jalan? Menemaninya? Telingaku tak rusak kan?

"Emm maksud mu?" Tanya ku tanpa menyembunyikan raut kebodohan.

"Iya jalan-jalan dengan ku, bagaimana? Kau tidak mau ya?"

"Ah tidak-tidak. Aku mau kok"

Setelah itu terbit lah senyum merekahnya, aku pun ikut tersenyum girang melihatnya. Ahhh dia semakin manis saja.

---

Kami pun jalan-jalan mengitari kota, lalu pergi ke toko roti, mencicipi kue-kue yang sangat aku suka, lalu mencoba ice cream yang kata Zafran terkenal enak. Dan emang enak hehe.

Lalu terakhir...

"Naik rollercoaster yuk!" Ajaknya

What!!?

"Tidak mau. Aku takut ketinggian!" Tolak ku.

Argh melihat mesin gila itu saja rasanya perut ku sudah mual, apalagi jantungku yang bergidik ngeri hanya dengan mendengar namanya.

"Ayolah. Tak akan terjadi apa-apa, kau bisa menggenggam tangan ku kalau kau takut" Katanya meyakinkan ku.

Baru saja aku mau mencoba melarikan diri, tiba-tiba tangan ku tertarik. Dan tubuh ku pun sudah digeretnya menuju mesin gila itu.

Ntah kenapa tiba-tiba saja aku teringat mama.

Permainan ini sudah membuat ku hampir jantungan rasanya, dia meluncur lalu naik lagi lalu meluncur lagi, seolah tak kenal dosa astaga.

Rasanya mual sekaligus senang. Yah untunglah orang yang menjadi tempat ku berpegangan adalah Zafran. Coba kalau orang lain, semakin merugi lah aku.

Sekarang aku sedang duduk di mobil, tubuh ku bersandar, leher ku lemaskan, kaki ku luruskan. Aku merasa sangat lemas. Untung saja kue dan ice cream yang ku makan tak ku muntahkan.

Inikah jalan-jalan yang ditawarkan?

"Ini minum dulu" tawar Zafran.

Pintu mobil sengaja ku buka agar aku mendapat pasokan angin yang banyak.

Zafran duduk di kursi kemudinya. Tangannya terulur memeriksa dahi ku yang berkeringat dingin.

Ingin ku serapahi, tapi sayang.

"Wajah mu pucat sekali"

Hadeh. Ya iyalah bodoh! Kepala ku pusing sekali rasanya. Umpat ku diam-diam.

"Maaf.." ujarnya terdengar menyesal dan khawatir. Tapi tak ku gubris, mulut ku sulit sekali untuk diajak mengobrol saat ini.

Ku lirik dia sedang menelpon seseorang, menyuruh orang itu datang kemari. Aku tidak tahu itu siapa, aku ingin istirahat rasanya tapi mual.

Beberapa menit setelahnya, ada seseorang sedikit tua datang menghampiri mobil ini.

Zafran keluar dari mobil, dan bapak itu menggantikan alih kemudinya.

Apa yang direncanakan Zafran? Astaga setelah membuat ku terkapar lemas, apa dia tega menjual ku juga?

Ku lihat Zafran membuka pintu penumpang yang belakang, lalu dia menghampiri ku, dan menggendong/? Ku.

"Kita duduk dibelakang saja, agar kau dapat beristirahat" tuturnya.

Ia menaruh ku di kursi, setelah menutup pintu lalu dia pergi masuk dari pintu sebelahnya.

Dia menepuk-nepuk pahanya.

"Berbaring lah" arahnya sembari menarik tubuh ku perlahan.

Aku pun merebahkan kepala ku di atas pangkuannya. Aku bingung, tapi aku senang! Dia benar-benar berbeda dengan orang yang malam itu mengantar ku.

"Pejamkan lah mata mu" perintahnya dengan nada lembut, jangan lupakan dengan tangannya yang membelai rambut ku.

Ya ampun dia sangat hangat. Oh God, jika ini mimpi aku mohon jangan bangun kan aku.

---

Malam ini tubuh ku jauh lebih segar daripada saat pulang bersama Zafran tadi.

Aku duduk di balkon kamar ku, tangan ku terus memainkan gelas susu coklat yang isinya tinggal separuh.

Memikirkan Zafran rupanya sangat baik untuk kesehatan psikis. Bibir ku masih senantiasa tersenyum, bolehkah aku jujur? Aku ingin lagi.

Ingin bersamanya sehari lagi.

Tapi jika hal tadi terjadi lagi, aku yakin yang kedua pasti hanya mimpi.

Aku pun menenggak susu ku sampai habis..

Tring!

Ada satu pesan masuk. Aku pun meletakkan gelas dan meraih ponselku diatas meja, mengeja kata demi kata di pesan itu. Lagi-lagi garis bibir ku hampir terangkat.

Zafran

Bagaimana kondisi mu? Jangan lupa makan dan jangan istirahat terlalu larut.

Setelah ku eja semuanya, senyum yang ku tahan daritadi sudah tak bisa disimpan lagi.

Aku berlari masuk ke dalam, lalu meloncat ke atas kasur dengan posisi terlungkup.

Ku guling-gulingkan tubuh ku sembari menjerit kecil penuh rasa gemas. Aaaahhh dia begitu perhatian pada ku!! Bolehkah aku bertanya? Cara ku mengekspresikan perasaan bahagia ini tidak konyol kan!?

END


Kembali ke Beranda