Curious
Romance
24 Feb 2026

Curious

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (27).jfif

download (27).jfif

24 Feb 2026, 05:59

download (26).jfif

download (26).jfif

24 Feb 2026, 05:59

Angin menyebalkan ini sibuk meniup helai rambut ku yang tak terambil kuncir, sampai-sampai membuat hidungku gatal karena sentuhannya.

Aku tak bisa fokus mendribble bola gara-garanya, bola langsung ku oper pada teman yang lain.

Kami membentuk sebuah lingkaran besar, melakukan teknik dasar dalam permainan. Yaitu bergantian mendribble dan mengoper bola.

Hari ini adalah hari pertama aku ikut ekskul basket. Kalian tahu kesan pertama ku tentang basket apa? Menyesal! Aku lelah, tak ada yang bisa ku takluki perihal permainan ini.

Bukkhh!

"Aw!" Ringis ku setelah objek bulat keras itu menghantam wajah cantikku.

Ya ampun aku terkena lemparan bola. Siapa sih yang ngelempar? Gak tau apa kalau aku belum siap? Ini semua ulah angin! Andai kata rambut ini tak menggelitik hidungku, tak mungkin atensi ku dari bola teralihkan.

"Christie!" Sambar pak Anton, sang pelatih.

Aku menoleh ke pak Anton, sambil memegangi tulang pelipis dan tulang pipi ku yang berkedut nyeri.

"Menepi atau lanjut?" Tanyanya tegas.

Sungguh aku ingin memilih opsi yang pertama karena aku sudah muak sekali untuk melanjutkan kegiatan tak berfaedah ini, tapi gengsi ku tak kenal kata minggat .

"Lanjut pak!" Putusku mantap.

"Emm, tidak usah kamu menepi saja. Pergilah ke UKS sekarang!" Interupsinya.

Yeay, miracles are on my side. Aku mengangguk seraya berlari kecil menuju ruang UKS.

"Yang lain, ayo fokus-fokus!"

---

Terdengar suara bersorak ria dari luar, sepertinya sekarang sudah jam istirahat.

Dari sini aku dapat mendengar derap langkah seseorang menuju kemari.

I don't know, I'm either too famous or Im too... Kuper ? Pasalnya aku merasa semua orang selalu mengenalku sementara aku tak tahu satu pun diantara mereka. Kecuali Miracle sahabatku dan teman-teman sekelas ku sendiri.

Ternyata seorang gadis yang memasuki ruangan ini, yah aku mengenalnya. Dia Echa, wakil ketua kelas yang kebetulan ikut ekskul basket juga.

"Christie" panggilnya yang tak ku gubris, aku hanya menatapnya datar.

"Ini minumlah!" tawarnya sambil memberiku sebuah botol berwarna peach yang isinya tak lain adalah air mineral.

"Terimakasih" ujar ku yang langsung menggenggam botol itu tanpa meminum airnya. Bukan tak menghargai, tapi aku bisa kembung kalau terlalu banyak minum.

Dia tersenyum tulus, sekarang tatapannya tertuju ke arah kepalaku. Paling dia ingin melihat memar bekas bola tadi.

"Sorry. Karena ulah ku kamu jadi terluka" ujarnya lagi.

Sekarang aku tahu pelaku yang menyebabkan wajah cantikku lebam. Tapi ya sudahlah.

"Tidak masalah. Aku juga kurang fokus tadi"

"Mari keluar, gabung istirahat bareng yang lain!" Ajaknya.

Sebenarnya aku ingin menolak, karena aku tak suka berteman. Tapi ya sudahlah, toh setelah ini belum tentu aku mengingat wajah mereka.

Kami berjalan beriringan ditemani kesunyian. Dari kejauhan perhatian ku terpusat pada seorang laki-laki bertopi hitam tengah duduk berbincang dengan gadis lain di tangga.

So cool. Pujiku dalam hati untuk lelaki itu. Jantungku ikut berdebar menatap pahatan sempurna ciptaan Tuhan di sana.

Apa dia salah satu pemain basket yang ikut ekskul? Apa aku terlalu acuh sampai tak melihatnya?

Tunggu, kenapa Echa menuntun langkah ku kearahnya?

Bahkan sekarang aku dan Echa berada dihadapan lelaki itu, dan gadis disampingnya juga.

Gadis disamping lelaki itu menoleh kearah kami, dan disaat itu juga aku mengerti mengapa Echa menuju kemari. Rupanya itu Adriana teman akrabnya Echa. Adriana tersenyum menyapaku yang ku balas dengan hal sama.

Senyum kagum yang ku persembahkan untuk lelaki itu seketika luntur menjadi senyum masam. Lelaki yang baru ku puja itu pasti kekasih Adriana!

Ekor mataku melirik lelaki itu, sekedar menyapanya lewat tatapan ringan saja. Ku lihat dia hanya mengendikkan alis menatap ku lalu memainkan ponselnya.

Hehe Adriana bolehkah aku menyukai kekasihmu? Kelakar ku dalam hati.

Kami pun ikut duduk bersama, mereka bertiga jadi berbincang ringan sementara aku hanya diam memperhatikan mereka - lelaki itu saja maksudku.

---

Ekskul basket sudah selesai setengah jam lalu, dan sopir ku bahkan belum datang sampai sekarang.

Di ujung sana, tersisa satu motor besar tanpa pemilik tengah terparkir. Dan setelah motor itu pergi, itu artinya aku akan benar-benar sendirian menunggu.

Aish! Kalau tahu begini, aku bawa mobil sendiri saja tadi. Baiklah daripada aku menggerutu terus, lebih baik aku memesan GoCar saja.

Baru saja aku mau mengeluarkan ponselku dari dalam tas, sebuah motor besar yang ku lihat tadi sekarang berhenti didepan ku.

Aku langsung melihat wajah si pengendara yang tengah membuka kaca helmnya.

Astaga, ternyata dia! Bolehkah aku senang? Tapi mau apa dia?

"Ayo naik! Aku akan mengantarmu pulang" ajak sang pujaan hati.

Aku tak langsung naik, justru aku bertanya dulu padanya.

"Kamu tahu rumah ku?" Tanya ku. Aduh pertanyaan bodoh! Tentu saja aku yang akan menunjukkan jalannya nanti.

"Maksud ku, apa kamu tidak keberatan? Rumah kita belum tentu searah kan?" Baiklah aku merasa konyol sendiri sekarang.

Aku menyelipkan sisa rambutku yang tak terambil ke belakang telinga sembari menunduk menahan malu.

"Tidak apa-apa. Ini pakailah!"

Ragu, aku mengambil helm yang ia sodorkan.

Sepanjang perjalanan, kami hanya ditemani keheningan, aku mencoba memutar otak untuk membuat sebuah perbincangan basa-basi.

Anggap saja ini adalah caraku berterima kasih. Jarang-jarang aku mau berbicara dengan manusia, biasanya lebih banyak acuh karena malas.

"Ngomong-ngomong, apa pacarmu tidak marah jika tahu kita pulang bersama?" Tanya ku takut-takut.

Sebenarnya itu hanya alibi ku saja, aku hanya ingin memastikan apakah Adriana itu kekasihnya atau bukan.

"Jika saja aku punya, mungkin iya"

"Maksudmu?" Tanyaku sok polos.

Aku paham dengan ucapannya, kalau dia memang tak punya pacar. Haruskah aku senang? Belum. Aku kurang puas dengan jawabannya, aku masih penasaran antara dia dan Adriana ada hubungan apalagi selain teman biasa? Kenapa mereka terlihat akrab sekali tadi?

Dia tak menjawab lagi, sampai akhirnya kami sampai di depan rumah ku.

Wait, wait, wait? My home? Jadi dia tahu alamat ku? Ah terserahlah. Aku lekas turun begitu saja dari motornya. Persetan lah dengan rasa penasaran ku.

Mata ku mengerjap beberapa kali memperhatikan wajahnya yang kian mendekat, sementara tangan lelaki itu sibuk membuka ikatan helm ku.

Astaga ulahnya ini membuat ku harus bersusah payah menahan nafas. Harus banget yah bikin anak orang makin baper?

"Makanya jadi orang itu jangan sibuk mikirin pertanyaan aja, pikun kan!" Sindir dia.

Aku semakin menatapnya cengo. Dia tahu apa yang ku pikirkan? Heran sih tapi malas juga bertanya banyak.

"Ya udah aku pamit pulang" katanya yang ku angguki.

Setelah punggungnya menjauh dari pandangan, aku pun menyadari satu hal. Aku lupa berterimakasih.

Ngomong-ngomong namanya siapa?

---

Setelah dari hari itu, aku tak bisa berhenti membayangkan wajahnya. Waktu senggang ku selalu terisi oleh kegelisahan memikirkannya.

Setiap hari aku berusaha menyemangati diriku sendiri, celingukan sampe gak jajan waktu istirahat cuma buat nyari dia tapi gagal terus. Aku sadar aku akan terus kesulitan mencarinya karena aku tidak tahu namanya, aku juga tidak tahu dia dikelas berapa. Entahlah, dia sekolah dimana sih?

Pagi ini aku membawa mobil sendiri ke sekolah. Ku lihat pemandangan gedung berbaris disepanjang kota dihadapan ku, sungguh cerah hari ini.

I'm gonna search you again my future, are you ready?

Njrt!

Apaan nih? Kok mobilnya berhenti?

Aihh, mogok!? Ya ampun aku bisa telat ke sekolah kalau seperti ini. Wajah ku sudah merah masam, buru-buru aku melepas seat belt setelah berhasil meluapkan emosi dengan memukul stir lalu mengambil tas ku dan keluar dari mobil itu.

Hari ini sial sekali aku, sudah mogok telat sekolah pula. Aku memasuki gerbang sekolah dengan tergesa-gesa, dari kejauhan koridor sekolah dapat ku lihat pintu kelas ku sudah tertutup. Itu artinya guru biologi ku sudah masuk.

Cepat-cepat aku berlari menghampiri kelas ku. Aku tak sempat mengatur nafasku sampai membuat ku mendobrak pintu kelas sedikit kasar. Ah terserahlah aku bisa mengganti pintunya jikalau rusak nanti.

Plak!

Seketika aku merasa ditampar kenyataan. Malu sungguh malu aku, dihadapan semua teman kelas ku, dengan wajah pucat, panik, berantakan, aku dibuat bodoh hari ini. Guru ku belum masuk ternyata, sementara kondisi wajah ku?

Katakan selamat tinggal pada harga diri ku...

---

Aku dan sahabatku Miracle sedang melangkah keluar dari kelas, tapi baru saja aku menengok ke kiri aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah.

Jantung ku memompa lebih cepat dari sebelumnya, mata ku terpaku menatapnya. Dia yang selama ini aku cari ada di hadapan ku.

Dia sedang bersandar di dinding depan kelas sebelah kelas ku, dengan tangan kanan yang masuk ke saku celananya, topi hitam yang sama seperti yang ia pakai sewaktu aku menemuinya pertama kali.

Kadar ketampanannya tak berkurang sedikit pun, apalagi memperhatikannya tengah menikmati obrolan seperti itu. Aku tak mengenalnya tapi melihatnya seperti sekarang ini rasanya aku merindukannya.

Puk puk..

"Kamu liatin siapa?" Tanya Miracle diiringi dengan telapak tangannya yang menepuk bahu ku. Dahinya ikut berkerut memandangi lelaki itu dan teman-temannya satu persatu.

Aku menoleh ke arah Miracle, tanpa menjawab pertanyaannya. Aku bingung mau jawab apa.

"iih malah bengong. Ya udah sih ayo jalan keburu pingsan kelaperan nih" eluhnya sambil menarik kasar tangan ku.

Sementara aku tak memberontak, dan masih sibuk memperhatikan lelaki itu tak peduli leher ku sudah ngilu karena menoleh kearahnya. Ya ampun aku tak pernah jatuh cinta, aku tak pernah peduli dengan manusia manapun. Tapi kenapa sekalinya cinta menjadi separah ini?

Miracle terlihat lahap menyantap makanannya, sementara aku hanya memandangi snack ku sambil membayangi wajah bersinarnya.

"Mikirin siapa sih?" Tanya Miracle geram.

Aku mendongak menatapnya datar

"Hanya memikirkan quiz besok" elakku.

---

Quiz telah berlalu beberapa menit lalu, aku dan Echa berjalan membawa setumpuk kertas tipis quiz untuk dibawa ke kantor. Sebenarnya yang disuruh hanya Echa, secara dia kan pembantunya ketua kelas. Tapi aku mengekor karena aku masih harus mencarinya.

Echa sempat bertanya akan keanehan ku, tapi untunglah kecerdasan ku ini tiada batas, aku beralasan bahwa aku ingin membayar denda telat datang kemarin.

Seperti biasa mata ku tak akan beristirahat jika sedang melakukan pengintaian, mata ku akan jelih dalam mengawasi setiap sudut. Dan dapat!

Dia sedang berjongkok di dekat toilet, mencuci tangan dan kakinya. Tubuhnya yang ku yakini menyimpan postur atletis itu terbalut oleh kostum basket perpaduan warna hitam merah.

Aku menyenggol lengan Echa pelan, membuat langkahnya terhenti.

"Ada apa?" Tanyanya.

"Aku ingin ke toilet, kamu duluan aja gak usah nungguin aku" pamit ku. Aku pun berlari kecil menuju toilet.

Astaga semakin dekat kaki ku melangkah, semakin menggila detak jantungku dibuatnya.

Kini aku berada di sebelahnya, berpura-pura ikut mencuci tangan. Padahal mata ku sibuk mencuri pandang.

"Mencariku?" Tanyanya pada seseorang.

Tak ada yang menjawab pertanyaannya, pada siapa dia bertanya? Aku?

"Aku bertanya pada mu. Kamu mencari ku?" Tanyanya sekali lagi.

Ku beranikan diri menjawab pertanyaannya, tanpa melihat wajahnya.

"Ti-tidak.. untuk apa?" Gugup ku kentara sekali.

Dia memutar kran air dihadapannya, sambil mengeringkan tangannya dia berbicara lagi.

"Kalau tangannya bersih, jangan dicuci terus" sindirnya.

Aku mengeratkan pejaman menahan malu, mengutuk diriku sendiri atas kebodohan yang ku perbuat. Aku mematikan kran air, lalu merubah posisi menghadapnya.

Aku tak menatapnya. Kepala ku menunduk, mata ku memperhatikan ujung sepatu, sedang tanganku saling mengaitkan jari berusaha menepis gugup.

Ku lihat tangannya terulur meminta dijabat. Untuk apa? Aku mendongak menuntut jawaban lewat tatapan.

Dia tak menjawab, justru tangannya itu bergerak mengambil telapak tangan kanan ku.

"Gattan!"

Setelah ia menyebutkan kata itu, bibir ku langsung membentuk sebuah lengkungan panjang bernama senyum.

"Christie" sahut ku.

"Sudah tahu" aku sedikit kaget mengetahuinya, tapi aku mencoba menutupinya dengan wajah datar ku. Lalu ku lepas kan tautan tangan kami.

---

Setelah berhasil kabur dari sekolah, disinilah aku sekarang, duduk dikursi taman sambil menikmati es krim bersama lelaki yang sekarang ku tahu namanya adalah Gattan.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Kenapa apanya?"

"Kenapa mencari ku?" Aku terdiam mulai gugup lagi, Aku mulai memutar otak ku mencari obrolan lain untuk mengalihkan pertanyaannya. Tapi apa!?

Sementara matanya sudah memicing mencurigai ekspresi ku. Melihat ku yang tak menjawab sama sekali dia memasang wajah pura-pura sedihnya "Padahal kelas kita tetanggaan"

Mata ku membola mendengarnya..

Jeng jeng jeng!

Sesempit itukah dunia? Kenapa aku tidak tahu!?" Sambar ku tak tahan menyembunyikan rasa penasaran.

"Segitu kangennya yah?" Katanya penuh percaya diri.

"Dih mimpi aja sana!" Umpat ku.

"Oh iya ngomong-ngomong kekasihmu tidak marah apa kita bolos berdua?" Alih ku mencairkan suasana yang sempat tak jelas.

Dia mengernyit keheranan.

"Ohh jadi kamu masih penasaran soal itu"

Astaga aku salah bicara. Kenapa aku malah menjerumuskan diriku sendiri?

"Apaan? Gak jelas!" elak ku yang mungkin sudah terlambat.

Dia mencibir ku.

"Aku berkata jujur waktu itu"

"Lalu Adriana?" Pertanyaan polos itu meluncur saja dari mulut ku, dasar bucin bucin! Lagi-lagi aku merunduk menahan malu sembari mengutuk kebodohan ku.

"Kamu cemburu?"

Sontak wajah ku mendongak menatapnya. Cemburu kah aku? Sementara yang ditatap malah tersenyum aneh.

"Ayo pergi!" Ajaknya sambil menggenggam tangan ku yang tak ku tolak.

"Kemana?"

"Balik lah. Udah jam pulang sekolah ini"

---

Setibanya dirumah, seperti sebelumnya. Dia selalu bisa membuat ku menahan malu, menggagalkan fokus ku, sampai akhirnya dia lah yang membukakan helm dari kepala ku.

Aku tak terbiasa dengan detak jantung yang abnormal seperti ini Gattan!

Dia sudah menaiki motornya, dia meminta ku untuk mendekat lantas ku turuti. Ku lihat matanya semakin bersinar saja, dia diam beberapa saat dalam kegiatan lempar pandang ini.

Lalu dia menutup kaca helmnya dan pergi melesat setelah berhasil mengatakan suatu kalimat menyenangkan. Kalimat yang mampu membuat ku merasa terbang, wajah ku kian memanas menahan rona.

"Bolehkah aku menyukai mu?" Begitulah ujarnya.

Kembali ke Beranda