Serigala dan Anak Kambing yang Berhati-hati
Folklore
10 Feb 2026

Serigala dan Anak Kambing yang Berhati-hati

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-10T103428.995.jfif

download - 2026-02-10T103428.995.jfif

10 Feb 2026, 03:35

download - 2026-02-10T103427.787.jfif

download - 2026-02-10T103427.787.jfif

10 Feb 2026, 03:35

Setelah sang Serigala pergi dan hutan kembali sunyi, anak kambing menutup rapat jendela dan pintu. Ia menarik napas panjang, jantungnya masih berdebar kencang. Untuk menenangkan diri, ia duduk di kursi kecil dekat perapian sambil memeluk lututnya.

“Nyaris saja,” gumamnya. “Kalau aku hanya percaya pada kata sandi, mungkin sekarang aku sudah celaka.”

Tak lama kemudian, hujan gerimis mulai turun. Suara tetesan air di atap membuat rumah terasa sepi, tetapi anak kambing tetap berusaha waspada. Ia berkeliling rumah, memastikan semua pintu terkunci, dan bahkan menaruh kursi di balik pintu sebagai pengaman tambahan—seperti yang pernah diajarkan induknya.

Di tengah kesunyian itu, terdengar ketukan lagi di pintu.

Tok… tok… tok…

Anak kambing terkejut, namun kali ini ia tidak panik. Ia berdiri dengan tenang dan berkata dari balik pintu,

“Siapa di luar?”

Suara lembut menjawab,

“Aku tetangga kita, Kambing Tua dari seberang bukit. Aku ingin menitipkan sayuran untuk ibumu.”

Anak kambing teringat pesan induknya: jangan pernah langsung percaya.

“Maaf,” katanya sopan, “bisakah kau menyebutkan kata sandi yang diajarkan ibuku?”

“Kata sandinya: Serigala adalah musuh kita!” jawab suara itu.

Namun anak kambing tidak langsung membuka pintu. Ia mengintip lewat celah kecil dan melihat tapak kaki di luar. Kali ini benar—itu tapak kaki kambing, bulat dan kecil, bukan runcing seperti serigala. Barulah ia membuka pintu sedikit, cukup untuk memastikan semuanya aman.

Ternyata benar, Kambing Tua tersenyum ramah sambil membawa keranjang sayuran segar.

“Kau anak yang sangat cerdas dan berhati-hati,” katanya. “Tidak semua orang seusiamu mau memeriksa dua kali.”

Anak kambing tersenyum bangga.

Ketika sore tiba, induk kambing pulang dari pasar. Anak kambing segera menceritakan semua kejadian hari itu. Sang induk memeluk anaknya dengan penuh haru.

“Ibu sangat bangga padamu,” katanya. “Kepintaran saja tidak cukup. Kehati-hatianlah yang menyelamatkanmu.”

Sejak hari itu, anak kambing semakin memahami bahwa di dunia ini tidak semua yang terdengar benar itu aman, dan tidak semua yang terlihat ramah itu bisa dipercaya. Ia belajar bahwa memeriksa, berpikir, dan tidak terburu-buru adalah kunci untuk melindungi diri.

Dan jauh di dalam hutan, sang Serigala hanya bisa menyesali kegagalannya, sementara rumah kecil itu tetap aman dan hangat.

Kembali ke Beranda