Gambar dalam Cerita
Pada suatu hari yang cerah, seorang penggembala muda sedang menggembalakan kawanan biri-birinya di padang rumput yang luas. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, dan suasana alam terasa sangat damai. Untuk mengusir rasa bosan, ia memainkan suling kecilnya sambil berjalan perlahan mengikuti ternaknya. Nada suling itu mengalun sederhana namun penuh ketenangan.
Tiba-tiba, alunan sulingnya terhenti. Dari kejauhan, terdengar suara lain yang jauh lebih indah dan menawan. Itu adalah suara harpa yang merdu, mengalun lembut dari arah Danau Wildsee. Bunyi harpa itu begitu halus, seakan-akan mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Penggembala itu merasa sangat penasaran.
“Suara apakah itu?” gumamnya.
Tanpa berpikir panjang, ia meninggalkan kawanan biri-birinya dan melangkah mengikuti arah suara harpa tersebut. Semakin dekat ia melangkah, suara harpa itu terdengar semakin jelas dan indah. Bukan hanya itu, ia juga mencium aroma bunga mawar yang sangat harum, seolah-olah danau itu dipenuhi oleh ribuan bunga yang sedang bermekaran.
Akhirnya, ia sampai di tepi Danau Wildsee. Air danau tampak tenang dan berkilauan, memantulkan cahaya matahari sore. Di sana, ia melihat sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya—seorang peri yang sangat cantik. Rambutnya panjang berkilau, wajahnya lembut, dan matanya memancarkan cahaya misterius. Di tangannya, ia memegang sebuah harpa dan memainkannya dengan penuh perasaan.
Penggembala itu terpaku. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Namun, ketika peri itu menyadari kehadirannya, ia berhenti bermain harpa dan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar penggembala itu tidak mendekat.
“Namaku Meline,” kata peri itu dengan suara lembut namun dingin.
“Tapi ingatlah baik-baik. Danau ini akan menjadi kuburanmu jika kau memanggil namaku.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, peri tersebut menghilang perlahan bersama suara harpanya. Danau kembali sunyi, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sejak hari itu, penggembala tidak pernah bisa melupakan peri bernama Meline. Wajah cantiknya selalu terbayang di benaknya, begitu pula suara harpa yang memikat hatinya. Ia jatuh cinta, meski tahu bahwa cinta itu berbahaya dan terlarang.
Hari demi hari berlalu, dan penggembala itu menjadi murung. Ia sering melamun dan kehilangan semangat. Suatu sore, seorang laki-laki tua menghampirinya. Wajahnya tampak bijaksana dan penuh pengalaman.
“Pergilah jauh dari tempat ini, anak muda,” kata laki-laki tua itu dengan suara serius.
“Aku tahu apa yang kau alami. Peri di danau itu membawa kematian. Kau akan mati di tangannya jika terus mendekatinya.”
Namun, nasihat itu tidak mampu menghapus perasaan penggembala. Kerinduannya semakin besar. Hatinya gelisah dan pikirannya selalu tertuju pada Meline. Ia merasa harus kembali ke danau itu, meskipun nyawanya menjadi taruhan.
Pada suatu sore yang sunyi, penggembala itu kembali ke tepi Danau Wildsee. Angin bertiup pelan, dan suasana terasa mencekam.
“Meline… Meline… di manakah engkau berada?” panggilnya dengan suara penuh harap.
Danau tetap sunyi. Tidak ada jawaban, tidak ada suara harpa. Namun tiba-tiba, dari tengah danau muncul setangkai bunga mawar yang sangat indah. Mawar itu tampak bersinar dan mengapung di atas air.
Penggembala itu merasa penasaran. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih bunga tersebut. Namun tanah di tepi danau licin. Kakinya terpeleset, tubuhnya terjatuh, dan ia tenggelam ke dalam air danau yang dalam.
Danau Wildsee kembali tenang. Setangkai mawar itu perlahan menghilang, seakan membawa serta jiwa penggembala yang telah melanggar peringatan.