Dada Burung Murai
Fantasy
10 Feb 2026

Dada Burung Murai

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-10T102407.588.jfif

download - 2026-02-10T102407.588.jfif

10 Feb 2026, 03:24

download - 2026-02-10T102405.796.jfif

download - 2026-02-10T102405.796.jfif

10 Feb 2026, 03:24

Dahulu kala, pada suatu malam di penghujung akhir tahun, angin jahat berembus sangat kencang. Angin itu membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Langit gelap pekat, dan bintang-bintang pun seakan bersembunyi di balik awan tebal.

Malam itu terasa sangat menyiksa bagi seorang bapak dan anaknya yang sedang melakukan perjalanan jauh. Mereka telah berjalan sejak pagi, menyusuri jalan sunyi yang membentang di antara hutan dan padang rumput. Padahal, perjalanan mereka esok hari masih sangat panjang dan melelahkan.

Dengan tubuh gemetar, mereka berusaha mencari tempat berlindung. Mereka berharap menemukan sebuah pondok tua, peternakan, atau setidaknya sebatang pohon besar yang dapat melindungi mereka dari terjangan angin. Namun sejauh mata memandang, tak ada apa pun selain semak-semak belukar yang kering dan bergoyang tertiup angin.

Tak ada pilihan lain. Sang bapak mengumpulkan ranting-ranting kering dan menyalakan api unggun kecil. Cahaya api itu memberi sedikit kehangatan dan rasa aman di tengah malam yang kejam. Ia menyelimuti anaknya dengan pakaian seadanya dan berkata,

“Tidurlah dulu, Nak. Kita akan berjaga bergantian.”

Anaknya pun berbaring di dekat api. Sang bapak duduk terjaga, menatap nyala api sambil melawan rasa dingin dan lelah. Namun, malam semakin larut, dan angin semakin menusuk. Kelopak mata sang bapak terasa semakin berat. Akhirnya, ia membangunkan anaknya untuk bergantian berjaga.

Kini giliran anak itu yang terjaga. Ia duduk memeluk lututnya, berusaha melawan kantuk. Namun tubuhnya sangat lelah setelah berjalan jauh seharian. Angin dingin terus menerpa wajahnya, membuat matanya perlahan terpejam.

Api unggun pun semakin kecil. Bara merahnya mulai redup, dan kayu-kayu bakar hampir habis terbakar.

Tanpa disadari bapak dan anak itu, dari balik kegelapan, sepasang mata mengintai. Serigala-serigala lapar mulai mengelilingi mereka. Tubuh-tubuh mereka bergerak perlahan, mengendap-endap, menunggu saat api benar-benar padam sebelum menyerang mangsa mereka.

Apakah bapak dan anak itu akan mati diterkam serigala-serigala lapar itu?

Tidak!

Di atas sebuah dahan, seekor burung murai kecil terbangun dari tidurnya. Ia melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Dengan hati penuh rasa iba, burung murai itu merasa kasihan kepada bapak dan anak yang tertidur pulas tanpa menyadari bahaya.

Tanpa ragu, burung murai itu terbang mendekati api unggun. Dengan sayap kecilnya, ia mulai mengipasi api yang hampir padam. Perlahan, api kembali menyala. Namun angin dingin segera melemahkannya lagi.

Burung murai itu tidak menyerah. Ia terus mengipasi api, lagi dan lagi. Dadanya terasa panas karena api yang menjilat tubuhnya, tetapi ia tetap bertahan. Demi menyelamatkan bapak dan anak itu, burung murai rela menahan rasa sakit.

Akhirnya, api unggun kembali menyala terang. Melihat nyala api yang membesar, serigala-serigala lapar itu menggeram kecewa dan perlahan menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam.

Tak lama kemudian, fajar menyingsing. Matahari terbit perlahan, mengusir dingin malam. Bapak dan anak itu terbangun dengan selamat, tanpa pernah mengetahui bahaya besar yang mengintai mereka semalam.

Burung murai itu terbang menjauh dengan dada yang kini berwarna merah. Sejak saat itulah, burung murai dikenal memiliki dada merah, sebagai tanda pengorbanannya yang mulia karena “terjilat” panas api.

Kembali ke Beranda