Gambar dalam Cerita
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung yang terlahir dengan keadaan berbeda dari burung-burung lainnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Sayapnya lemah dan tak pernah mampu membawanya terangkat ke udara. Karena keadaannya itu, ia hidup sendirian di sebuah padang rumput yang luas, jauh dari kawanan burung lain.
Setiap hari, ia hanya bisa memandangi burung-burung lain yang terbang bebas di langit biru. Mereka beterbangan bersama, bernyanyi, dan saling bercengkerama. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mau mendekatinya atau mengajaknya berteman. Burung itu sering merasa sangat kesepian. Saat malam tiba, ia tidur sendirian dengan hati yang penuh rasa sepi dan rindu akan kehadiran seseorang yang bisa menemaninya.
Suatu hari, ketika sedang mencari makanan di tanah, burung itu menemukan sesuatu yang aneh. Di antara rerumputan, tergeletak sebuah telur yang tampak terbengkalai. Ia menatap telur itu lama sekali.
“Ah, telur ini pasti milik seekor burung yang terjatuh dari sarangnya,” pikirnya. “Kasihan sekali. Jika tidak ada yang mengeraminya, telur ini pasti tidak akan menetas.”
Setelah berpikir sejenak, timbul sebuah harapan di hatinya.
“Aku akan mengerami telur ini sampai menetas. Anak burung yang lahir nanti akan menjadi anakku. Aku tidak akan sendirian lagi.”
Dengan penuh kasih sayang, burung itu menjaga telur tersebut. Ia mengeraminya siang dan malam, melindunginya dari hujan, angin, dan binatang buas. Ia rela menahan lapar demi memastikan telur itu tetap hangat dan aman.
Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya, setelah seminggu, terdengarlah bunyi retakan kecil. Telur itu menetas. Dari dalamnya keluar seekor anak burung dengan paruh tajam dan mata yang tajam pula. Ternyata, anak burung itu adalah seekor elang.
Namun, sang induk burung tidak peduli. Ia merasa sangat bahagia.
“Anakku… akhirnya kau lahir,” katanya dengan mata berbinar.
Ia merawat anak elang itu dengan sepenuh hati, memberinya makan, mengajarinya berjalan, dan menjaganya dengan penuh cinta, seolah-olah anak itu benar-benar darah dagingnya sendiri. Anak elang itu pun tumbuh sehat dan kuat.
Hari berganti hari, anak elang semakin besar. Sayapnya semakin kuat, dan naluri alaminya mulai muncul. Ia sering mengepak-ngepakkan sayapnya dan menatap langit dengan penuh rasa ingin tahu.
Suatu hari, anak elang bertanya,
“Ibu, bagaimana caranya terbang?”
Pertanyaan itu membuat induk burung terdiam. Hatinya terasa perih. Ia tahu, anak yang ia besarkan bukanlah burung biasa. Ia adalah seekor elang yang ditakdirkan untuk terbang tinggi di langit. Namun, ia sendiri tidak bisa terbang dan tidak tahu bagaimana cara mengajarinya.
Dengan suara lembut namun penuh kesedihan, ia berkata,
“Kau harus mencoba sendiri, Nak. Ibu tidak bisa terbang.”
Sejak saat itu, setiap hari anak elang mencoba belajar terbang. Ia melompat, mengepakkan sayapnya, dan jatuh berkali-kali. Sang ibu selalu memperhatikannya dari kejauhan dengan hati yang campur aduk—bangga, namun juga sedih. Ia tahu, saat anaknya bisa terbang, saat itu pula ia akan ditinggalkan sendirian lagi.
Anak elang menyadari kesedihan ibunya. Ia sering melihat mata ibunya yang berkaca-kaca setiap kali ia mencoba terbang. Hatinya pun dipenuhi rasa bimbang.
Ia berpikir,
“Jika saja ibuku tidak mengeramiku, aku tidak akan lahir ke dunia ini. Ibu telah merawatku dengan penuh kasih. Namun sekarang, setelah aku bisa terbang, aku akan meninggalkannya. Betapa sedihnya ibu nanti.”
Setelah berpikir panjang, anak elang membuat sebuah keputusan besar. Ia menghentikan usahanya untuk terbang dan memilih tetap tinggal di darat bersama ibunya.
“Ibu,” katanya suatu hari, “aku tidak akan terbang. Aku ingin tetap bersama ibu.”
Mendengar itu, induk burung sangat terharu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi merasa kesepian. Mereka hidup bersama dengan penuh kasih sayang hingga akhir hidup sang induk burung.