Gambar dalam Cerita
Suara berisik terdengar dari atas atap rumah Harry hampir setiap malam. Bunyi langkah kecil yang berlarian, disertai suara gesekan dan decitan, membuat suasana malam menjadi tidak tenang.
“Berisik sekali suara di atas atap itu. Itu pasti suara tikus yang sedang berkejaran,” ucap Harry sambil menutup telinganya dengan bantal.
Benar saja, di rumahnya memang sudah lama banyak tikus. Tikus-tikus itu sering berlarian di atap dan di langit-langit rumah. Akibatnya, Harry sering sulit tidur dan kelelahan keesokan harinya.
“Besok akan aku tangkap tikus-tikus itu,” ucapnya dengan tekad kuat sebelum akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, Harry menemui ibunya di dapur. Dengan wajah sungguh-sungguh, ia menyampaikan keinginannya.
“Ibu, bolehkah aku dibelikan perangkap tikus?” tanya Harry.
Ibunya menoleh dan tersenyum.
“Aku akan membelikannya untukmu,” ujar ibunya dengan lembut.
Namun Harry segera menambahkan,
“Aku tidak mau perangkap yang bisa membunuh tikus-tikus itu, Bu. Aku ingin merawat mereka dengan baik.”
Ibunya sedikit terkejut, tetapi ia bangga melihat hati Harry yang penuh kasih.
“Baiklah,” katanya, “Ibu akan membelikan perangkap berbentuk kandang saja.”
Ibunya pun membeli perangkap tikus yang aman. Perangkap itu berbentuk kandang kecil sehingga tikus yang masuk tidak akan terluka. Malam harinya, Harry memasang perangkap tersebut di beberapa sudut rumah. Ia meletakkan keju di dalamnya sebagai umpan.
Tak lama kemudian, tikus-tikus mulai masuk ke perangkap. Pagi harinya, Harry sangat terkejut sekaligus senang melihat banyak tikus tertangkap dengan selamat.
Dengan hati-hati, Harry memindahkan tikus-tikus itu ke sebuah kandang khusus di kamarnya. Ia berjanji akan merawat mereka dengan baik. Setiap sepulang sekolah, Harry selalu membersihkan kandang dan memberi makan tikus-tikus itu. Ia berbicara pada mereka seolah-olah mereka adalah teman-temannya. Harry sangat menyayangi tikus-tikus itu.
Suatu hari di sekolah, Harry bertemu dengan seorang anak bernama Dick. Dick adalah anak yang terkenal nakal dan suka membuat onar. Ia sering mengganggu teman-temannya dan tidak disukai banyak orang.
Dick tidak menyukai Harry karena sikap Harry yang tenang dan selalu berbuat baik. Suatu hari, Dick menantang Harry untuk bermain sebuah permainan. Tanpa diduga, Harry berhasil mengalahkan Dick dengan jujur.
Kekalahan itu membuat Dick sangat kesal.
“Akan kubalas kau,” dengus Dick penuh amarah.
Sepulang sekolah, Dick diam-diam pergi ke rumah Harry. Ia tahu bahwa Harry masih berada di sekolah dan tidak ada di rumah. Dick juga tahu bahwa Harry memelihara banyak tikus di kamarnya. Dengan niat jahat, Dick membawa beberapa kucing peliharaannya.
Setibanya di rumah Harry, Dick menemui ibu Harry.
“Aku ke sini mau mengambil sesuatu. Aku disuruh Harry,” ucap Dick dengan nada meyakinkan.
Ibu Harry sama sekali tidak menaruh curiga. Ia mengizinkan Dick masuk ke kamar Harry. Begitu masuk, Dick langsung memasukkan kucing-kucingnya ke dalam kandang tikus milik Harry. Dalam waktu singkat, semua tikus kesayangan Harry dimangsa oleh kucing-kucing itu.
Setelah melakukan perbuatan jahat tersebut, Dick segera pamit dan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Sore harinya, Harry pulang dari sekolah. Ia langsung menuju kamarnya untuk memberi makan tikus-tikusnya. Namun, langkahnya terhenti. Kandang itu kosong. Tidak ada satu pun tikus di dalamnya.
Harry sangat terkejut dan sedih.
“Ibu, siapa yang masuk ke kamarku?” tanya Harry dengan suara bergetar.
“Tadi Dick ke sini,” jawab ibunya. “Ia bilang kau yang menyuruhnya.”
Mendengar itu, Harry langsung mengerti. Air mata mengalir di pipinya. Rupanya Dick membalas kekalahannya dengan cara yang sangat kejam, yaitu membunuh tikus-tikus kesayangannya.
Tak lama kemudian, teman-teman sekolah mereka mengetahui perbuatan Dick. Mereka sangat kecewa dan marah atas tindakan jahat itu. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mau berteman dengan Dick. Ia dijauhi oleh semua teman di sekolah.
Kini, Dick selalu sendirian. Ia tidak memiliki teman bermain seperti dulu. Ia baru menyadari bahwa perbuatan jahat hanya akan membawa kesepian dan penyesalan.