Gambar dalam Cerita
Dahulu kala, hiduplah seorang anak pelajar yang sangat pintar dan rajin bernama Yu. Sejak kecil, Yu dikenal sebagai anak yang gemar membaca dan belajar. Ia bercita-cita menjadi orang bijak yang dapat menolong banyak orang dengan ilmunya. Karena itulah, ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya.
Suatu hari, Yu memutuskan pergi ke sebuah kuil tua yang terletak di puncak bukit yang sunyi. Tempat itu jauh dari keramaian desa dan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Yu memilih kuil itu agar ia bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan apa pun.
Hari demi hari berlalu. Yu belajar dengan sangat rajin. Sejak pagi hingga malam, ia membaca kitab-kitab, menulis catatan, dan merenungkan pelajaran yang ia pelajari. Ia hampir tidak pernah beristirahat, karena semangat belajarnya begitu besar.
Namun pada suatu malam, tubuh Yu akhirnya tidak sanggup lagi menahan rasa lelah. Saat sedang menulis di meja belajarnya, matanya terasa sangat berat. Tanpa disadari, kepalanya tertunduk dan ia pun tertidur pulas di atas meja.
Tidurnya sangat lelap hingga ia terjatuh ke dalam sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.
Dalam mimpinya, Yu melihat seorang gadis cantik mengenakan baju berwarna hijau. Wajah gadis itu tampak lembut, tetapi penuh dengan rasa takut dan harap. Ia melangkah mendekati Yu, lalu membungkuk dengan sopan.
“Tolonglah aku,” kata gadis itu dengan suara gemetar.
“Aku mohon, tolonglah aku…”
Yu terkejut mendengar permohonan itu. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, mimpi itu pun menghilang.
Yu terbangun dengan kaget. Tangannya tanpa sengaja menyenggol botol tinta hingga tinta tumpah di atas meja dan kertasnya. Jantungnya berdebar kencang.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara mendengung pelan dari luar ruangan. Suara itu berasal dari arah jendela. Merasa penasaran, Yu bangkit dan menghampiri jendela, lalu membukanya perlahan.
Di sanalah ia melihat seekor lebah kecil yang terperangkap dalam jaring laba-laba. Lebah itu berusaha keras melepaskan diri, tetapi semakin bergerak, semakin terjerat. Sementara itu, seekor laba-laba sudah mendekat, bersiap memangsa lebah tersebut.
Yu teringat akan mimpinya. Hatinya tergerak.
“Apakah ini yang dimaksud gadis dalam mimpiku?” gumamnya.
Tanpa ragu, Yu segera memetik sehelai daun dan dengan hati-hati mengambil lebah itu dari jaring laba-laba. Ia berhasil menyelamatkannya tepat sebelum laba-laba itu menyerang.
Yu membawa lebah tersebut ke dalam kuil dan meletakkannya di atas meja. Lebah itu tampak lemah dan berjalan sempoyongan. Kakinya tanpa sengaja menginjak tinta yang tumpah sebelumnya.
Perlahan-lahan, lebah itu mulai bergerak lebih tenang. Setelah tampak pulih, lebah tersebut berjalan menuju selembar kertas putih di atas meja. Yu memperhatikannya dengan heran.
Lebah itu berjalan berkeliling di atas kertas, meninggalkan jejak tinta dari kakinya. Jejak-jejak itu tampak seperti goresan yang tidak beraturan. Namun, setelah Yu mengamati dengan saksama, ia terkejut.
Di atas kertas itu kini tertulis dua kata yang jelas:
“Terima kasih.”
Yu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Lebah ajaib,” kata Yu pelan sambil menatap kertas itu penuh takjub.
Saat Yu mengangkat wajahnya, lebah itu sudah terbang keluar jendela dan menghilang ke malam yang sunyi. Sejak hari itu, Yu semakin percaya bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, pasti akan membawa keajaiban.