Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Fara dan Algra
Romance
13 Dec 2025

Fara dan Algra

Putus....Kami putus tanpa kata putus, dia pindah tanpa pamit, bahkan aku tau dia pindah dari teman-teman tongkrongannya.Sakit? Tentu saja, aku dianggap apa selama ini. Apa cuma aku saja yang merasa kami punya hubungan, apa cuma aku aja yang menganggap dia pacar? Mungkin saja, karena dia memang secuek itu selama ini sama aku dan sehumble itu jika pada orang lain.Sebulan berlalu aku masih malu jika mengingat kelakuanku yang selalu menghampirinya di kelas, mengajaknya makan, mengajaknya jalan, atau bela-belain ikut ekskul olahraga padahal gak suka.Kukira dia punya rasa yang sama ternyata kita beda.Yah... Finally akhirnya aku sadar dan mulai memperbaiki diri, kalau bahagiaku gak boleh tergantung padanya, aku harus membahagiakan diri sendiri dulu."Fafa... Nonton basket yu...""Males ah, panas.""Duillle... Yang ayangnya udah gak ada, alesan aja panas, gak inget dulu lo yang paling semangat kalau nonton basket.""Itukan dulu, sekarang gue males, super males apalagi harus ketemu temen-temen nongkrongnya dia. Dan satu lagi Ren, jangan panggil gue Fafa, nama gue Fara."Dan temanku Rena hanya nyengir."Yaudah kalau males yu kantin aja makan, biar semangat bestie.""Yu... Makan lebih berfaedah dari pada panas-panasan.""Kata seseorang yang baru saja ditinggalin ayang". Ledek Rena, lagi.Tapi tak berselang lama setelah Fara dan Rena duduk di kantin, datanglah gerombolan anak basket plus dayang-dayangnya alias tim hore mereka, mengambil tempat duduk tepat di meja sebelah Fara."Dih ngapain sih mereka duduk disana, meja jauhan dikit masih ada kali." Gerutu Fara yang di balas Rena, "Biarin aja, cuekin."Masalahnya kalau dekat-dekat mereka Fara suka gerah sendiri, mereka seolah menyindir Fara dengan menceritakan updatean terbaru dari mantannya itu. Seperti saat ini."Eh gila si Algra makin keren aja tuh anak, pake update nonton balapan di Mandalika lagi."'Satu' batin Fara."Kenapa sih doi kalau bikin snap gak pernah senyum, padahalkan gue kangen sama senyumnya dia."'Dua'"Semalam gue chatan sama dia katanya kakaknya yang cewe ulang tahun, hadiahnya minta jalan-jalan ke Lombok, si Al ngikut deh."'Tiga' Kuping Fara udah mulai pengang dengar nama Algra terus di sebut-sebut."Eh gue chat dia juga deh siapa tau di bawain oleh-oleh."Cukup sudah, panas deh kuping Fara, bahkan soto di mangkoknya masih banyak dia sudah berdiri hendak pergi."Ck... Gak tepat banget sih gue milih waktu makan."Ia cepat-cepat pergi darisana meninggalkan Rena, yang masih menghabiskan kuah baksonya."Fara!" Fara berhenti melangkah tanpa menoleh. "Salam dari Algra." Dan selanjutnya langkah Fara diiringi suara tertawa mereka.Fara tau mereka tak serius tentang salam dari Algra, dan Fara juga gak mau tau tentang Algra lagi, nomor dan sosial media Algra sudah dia blok sebelum dia di blok terlebih dahulu, ya siapa tau Algra semalas itu untuk tau tentang dia, pergi aja tanpa pamit, jadi ya Fara blok duluan aja Algra.***"Fara... Ada abang gojektuh di depan, kamu pesen makanan?" Tanya Kinan ibunya Fara."Enggak... Aku gak pesen mah, salah alamat kali." Jawab Fara yang sedang leha-leha di depan TV."Coba kamu cek ke depan, mamah gak ngerti sama yang begituan.""Dengan Neng Fara?" Fara mengangguk, "Martabak kacang keju sesuai pesenan ya Neng." Abang Gojek menyerahkan kotak yang terbungkus kresek dari tangannya."Tapi saya gak pesen Bang, abang salah amat kali." Keukeuh Fara."Ini dengan Neng Fara Audya kan?" Fara mengangguk. "Berarti saya gak salah alamat."Meskipun masih heran akhirnya Fara menerimanya. "Eh Bang ini udah di bayar belum?""Udah Neng pake Gopay, saya di kasih tipsnya gede lagi, makasih ya Neng.""Sama-sama Bang."Fara meneteng keresek berisi martabak itu ke ruang TV dimana sekarang ada Ibunya yang menggantikan tempatnya tadi."Dari siapa Ra?"Fara mengendikan bahu, "Gak tau.""Isinya apa?"Fara menyerahkan bungkusan itu ke sang ibu lalu di bukanya. "Ini kan martabak kesukaan kamu, kamu gak tanya ke abang Gojeknya ini dari siapa."Fara hanya nyengir, "lupa Ma.""Ih ari kamu, nanti kalau sudah tau siapa pengirimnya bilang makasih sama dia, tau aja dia kalau lagi dingin-dingin gini enaknya makan yang anget-anget, sini cobain biasanya kalau Papamu beli martabak kamu yang paling semangat ngabisin.""Takut ada apa-apanya kalau di makan." Jawab Fara."Hush kamu kalau ngomong jangan sembarangan, ini mamah udah cobain gak ada apa-apa malah enak banget, makanya kalau mau makan baca Bismillah dulu, ayo sini."***"Eh... Gue kemarin gak sengaja lho liat Kak Algra di Mall, serius gue beberapa bulan gak ketemu makin ganteng aja Kak Algra."Bisikan itu Fara dengar saat lewat depan koridor kelas sepuluh. 'Heran pagi-pagi udah denger nama Algra aja, bikin gak mood' Dengan langkah cepat Fara segera menaiki tangga menuju kelasnya."Far sini deh... cepetan." Teriak Rena begitu melihat Fara diambang pintu kelas."Apa sih, pagi-pagi udah ribut aja.""Sstt diem terus lo duduk sini." Paksa Rena untuk duduk di bangkunya. "Gue tadi pagi denger dari anak-anak kalau si Algra lagi ada di Kota ini, lo denger gak?""Bodo amatlah, yang penting dia gak masuk sekolah ini lagi." Jawabnya kesal."Justru itu gue denger sesuatu yang lain tentang Algra."Fara melirik Rena penasaran. "Apa?""Katanya dia gak pernah pindah ataupun keluar dari sekolah ini.""Maksudnya?""Artinya dia masih murid di sekolah ini Fafa.""Jangan panggil gue Fafa.""Gak penting nama panggilan lo apa, yang pasti lo harus siapin mental seandainya dia emang masuk lagi ke sekolah, ngerti?""Tapi... Mana bisa, diakan udah hampir dua bulan gak masuk." Heran Fara."Bisa-bisa aja sih Fa, diakan anaknya Pak Kusuma salah satu donatur terbesar sekolah kita, bahkan kalau dia mau sekolah kita bisa di beli kali sama keluarganya.""Tapikan... Tetep aja...." Desah Fara frustasi, dia tidak bisa membayangkan satu sekolah dengan mantan sepopuler Algra."Tenang dulu, inikan juga belum valid baru gosip aja, siapa tau Algra emang bener-bener pindah, ya kan."Tapi sayangnya gosip itu tervalidasi di siang hari, dimana Algra dan teman-temannya terlihat bermain basket di lapangan, bahkan lapanganapun kembali ramai dan ricuh karena yel-yel dan teriakan nama Algra.Sementara Fara berusaha untuk tak melihat dan bertemu Algra, seperti bermain kucing-kucingan, mungkin Fara selamat untuk hari itu tapi tidak di hari berikutnya. Diaman saat dia sedang makan datang di kantin Algra datang dengan rombongannya.Fara yang saat itu pura-pura tidak melihat berusaha berkonsentrasi dengan kuah sotonya, lantas tersedak saat Algra benar-banar duduk dihadapannya.Fara melotot kaget, sementara Algra menatap Fara tajam."Hp kamu!" Ucap Algra."Ap...apa?" Gugup Fara."Hp kamu mana?" Pinta Algra."Buat apa sih?""Hp kamu siniin!"Dengan raut bingung Fara menyerahkan Hpnya pada Algra. Dengan mudah Algra membuka kunci HP Fara."Eh ko kamu tau sandinya.""Tanggal jadian kita kan?"Sial Fara lupa mengganti sandi Hpnya. Tak lama Algra membuka dan menutup akun Fara juga mengotak-atiknya sebentar dan di serahkan lagi pada Fara."Jangan suka blokir nomer orang tanpa sebab, masa mau bilang kangen sama pacar aja harus titip ke si Galen sih."Fara tambah kaget dong, 'pacar? Kangen'"Pacar? kita inikan udah putus." Ucap Fara bingung."Kapan aku mutusin kamu Audya, kamu aja yang mikirnya kejauhan."Algra lalu berdiri mengacak rambut Fara pelan. "Lanjutin makannya, ilernya jangan lupa di lap."Reflek Fara mengelap sudut bibirnya dna tidak ada apa-apa diasana. "Ishh.... Algraaa!"Algra berbalik dan tersenyum manis. "Apa? Sama aku juga kangen sama kamu." Balasnya disertai iringan tawa dari teman-temannya.Ingin rasanya Fara berkata kasar, tapi ia tak mau berakhir di ruang BK. Akhirnya dia kembali duduk dna memeriksa HPnya, ternyata Algra membuka blokiran nomernya dan juga menambahkn sesuati di profilnya. "Pacar Algra"***"Pulang yuu..." Ajak Rena."Lo duluan deh...""Kenapa sih... Takut ketemu Algra? Bukannya lo kangen ama dia, tadi aja di godain dikantin muka lo ampe blushing-blushing gitu." Goda Rena."Itu gue malu begoooo""Ah... Salting juga gak apa-apa, kan di godain ayang.""Diem lo... Hush pulang sana, kalau ada yang nanyain gue bilang gue udah pulang duluan.""Cieee ada yang ngarep ditungguin." Rena masih asik menggoda Fara yang wajahnya sudah merah bak kepiting rebus."Renaaa... Gue timpuk lo pake penghapus kalo gak pergi juga.""Iye... Iye... Gue pergi, hati-hati lho sekolah sepi ada yang nyulik tau rasa lo gue gak bakal nolongin."Akhirnya setelah puas menggoda Fara Rena pun pergi, tersisa Fara satu-satunya di kelas, ia sengaja menunggu sekolah sepi takut untuk bertemu Algra, berharap Algra sudah pulang atau paling tidak dia sudah sibuk di lapangan basket.Setelah berapa lama berdiam diri di kelas dan terdengar di lapangan basket sudah riuh tepuk tangan Farapun dengan hati tenang beranjak pulang, sayangnya saat membuka pintu kelas bersamaan pula dengan seseorang mendorongnya."A... Algra." Tanya Fara terbata. "Ka...kamu ngapain disini?"Algra hanya diam menatap tepat di bola mata Fara, sementara Fara melangkah mundur saat Algra semakin maju."Aal... Kamu mau ngapain." Fara mulai takut, ia mulai menyesali kenapa dia menunggu semua orang pulang.Secepat kilat Algra menarik tangan Fara lalu membawa tubuh Fara dalam pelukannya, erat. Fara yang kaget hanya menganga dengan perlakuan Algra tanpa merespon apapun."I miss U" Bisik Algra di telinga Fara. "Kamu gak kangen sama aku?" Lama tak ada jawaban dari Fara, Algra melepas pelukannya berganti dengan mengelus kedua pipi Fara."Hey... Aku kangen banget sama kamu, apa kamu gak kangen aku?"Perlahan mata Fara mulai berkaca-kaca pertahannya mulai luruh, dengan terisak dia bertanya. "Kamu kemana aja?""Maaf... Maaf banget aku gak pamit, karena kalau aku bilang ke kamu dulu berat aku untuk pergi."Fara masuk ke dalam pelukan Algra kembali, "Tapi kenapa kamu gak hubungin aku." Suaranya sedikit teredam di dada Algra."Kamu blokir nomer dan sosial media aku kalau kamu lupa." Balas Algra."Maaf..." bisik Fara dan tangisnya makin kencang."Hey.... Sstttt.... Aku nyakitin kamu banget ya?" Fara mengangguk lalu menggeleng membuat Algra tersenyum gemas. "Udah dong nangisnya, sini aku lihat dulu wajah pacar aku yang cantik ini.""Ish apaan sih, gombal.""Kok gombal sih, beneran lho aku susah tidur kalo lagi kangen sama si cantik ini.""Aaaallll...""Apa, sini cium dulu, pipi aja sini." Goda Algra.Tapi pada prakteknya bukan pipi yang di cium Algra tapi bibir manis yang selama ini dia rindukan, kelas kosong dan lorong yang sepi menjadi saksi dua anak remaja itu menjalin kasih kembali.End

Jam Dua Pagi, Aku Pulang ke Kamu
Romance
13 Dec 2025

Jam Dua Pagi, Aku Pulang ke Kamu

Jam sebelas malam Kara tiba-tiba terbangun dari tidurnya, melirik ke kiri ia melihat foto mesranya dengan Christian, pacarnya selama dua tahun ini yang sayangnya saat ini hubungan mereka sedang break entah sampai kapan.Jujur Kara kangen Ian, biasanya di jam-jam seperti ini Ian akan datang setelah selesai melakukan syuting, Ian akan membangunkan Kara dengan sebuah ciuman atau hanya sekedar kecupan lalu Ian akan tidur memeluk Kara."Argghh... Gue kangen banget sama dia."Kara mulai frustasi, hampir dua bulan mereka saling berjauhan tepatnya Kara yang menghindari Ian untuk mendinginkan kepala sebagai alasannya, nyatanya bukannya dingin pikiran dia malah semakin gak karuan berjauhan dari Ian, ingin minta segera diakhiri ia terlalu gengsi.Kara hanya melenguh dan menjatuhkan diri kembali ke atas bantal. Dengan susah payah dia hampir terlelap tapi seketika terbangun ketika terdengar ketukan di pintu, ia melirik jam di nakas yang menunjukan pukul 00.17 dini hari."Siapa malem-malem ketok pintu."Ian gak mungkin pikirnya, ia jadi takut sendiri, tapi ketukan di pintu tak mau berhenti, memberanikan diri ia membawa payung panjang untuk berjaga-jaga kalau ada pencuri ia akan langsung memukulnya."Siapa?"Tak ada jawaban, Kara mendekati pintu, mengintip dari lubang kecil dan dia kaget saat membuka pintu bahwa itu adalah Ian, dengan senyum mengembang ia langsung memeluk Kara sampai terhunyung kebelakang sehingga payung yang di pegang Kara jatuh ke lantai." I Miss You Ra, I really do."Kara membiarkan Ian masuk, lega dan juga bahagia ia bisa melihat Ian malam ini."Kamu bau alkohol?" Protes Kara sesaat setelah Ian melepaskan pelukannya."Ada pesta perayaan tadi, aku minum dikit.""Kamu mau minum apa? No kopi ya, aku gak mau kamu gadang sampai subuh.""Sini dulu jangan kemana-kemana, aku gak mau apa-apa, aku cuma mau kamu". Ian menarik tangan Kara yang akan melangkah kedapur hingga terjatuh di pangkuannya."Baikan ya, aku gak tahan jauh-jauh dari kamu". Ian membelai pipi dan rambut Kara hal yang ia sangat rindukan bahkan ia rasa akan gila jika sehari saja ia tak dapat kabar tentang Karanya."Aku gak mau cuma liat foto-foto kamu atau hanya dengar kabar kamu dari orang lain.""Kamu nguntit aku Yan?""Ya kadang aku nyuruh Bobby buat ngikuti kamu, atau kalau aku udah gak kuat banget kangen sama kamu aku sendiri yang akan ngikutin kamu.""Kamu segaada kerjaannya sampai ngikutin aku kemana-mana bapat Direksi yang terhormat""Buat kamu gak ada kata sibuk.""Gombal.""Berani ya bilang aku gombal." Jawab Ian sambil menggigit hidung mancung Kara gemas.Suara perut Ian menghentikan acara romantis-romantisan mereka, dan akhirnya mereka tertawa bersama."Yah aku gak masak gimana dong?""Beli sate depan komplek yu" Ajak Ian."Jam segini? Ini udah hampir jam dua pagi Yan.""Ada kok beneran, yu?!""Aku gak perlu ganti bajukan ya, cuma kedepan ini.""Gak usah, nih pakai jaket aku." Ian menyerahkan jaket hitam kesayangannya yang hanya pada Kara ia relakan untuk memakainya."Kamu bawa motor? Kirain bawa mobil.""Males Ra, malam minggu gini jalanan macet.""Gak malam minggu juga Jakarta mah tetep macet.""Udah ayo." Ian menarik tangan Kara menuju motor Harley yang terparkir di depan rumah Kara, merapatkan Jaket Kara dan membantunya naik, lucu sekali jika Ian melihat Jaket atau bajunya di pakai oleh Kara, sangat oversize tapi selalu cantik kalau di pakai KaraSesampainya di tempat jualan sate, Ian mengajak Kara duduk di kursi paling jauh dari tukang sate."Jauh banget duduknya.""Biar bisa lakuin ini." Jawab Ian sambil mencium tangan Kara lama yang sejak tadi tak lepas dari genggamannnya.Tak berselang lama pesanan mereka datang lalu mereka makan dalam diam sambil sesekali Ian melihat Kara yang sedang makan, saat ia melihat ada saus kacang yang menempel di ujung bibir Kara tanpa ia bisa cegah ia langsung mencium dan melumatnya hingga membuat Kara sewot."Iaaan... Kamu,! kalau ada yang lihat gimana?""Itu satu lagi alasanku kenapa ngambil meja ini"."Kamu kaya ABG aja sih ngumpet-ngumpetan."Ian menvubit pipi Kara gemas.Setelah selesai mereka ngisi perut mereka kembali lagi ke rumah Kara."Yang peluk dong, kangen aku dipeluk sama kamu pas naik motor gini.""Palingan pas aku gak sama kamu kemarin kamu ganti-gantikan bonceng cewek di motor ini.""Enggak yang, sumpah ya, kamu jelek banget sih pikirannya, aku gak pernah bawa siapapun selain kamu, cuma tas isi kamera yang gantiin posisi kamu sengaja biar gak ada yang minta nebeng.""Kalau kamu bawa mobil gimana?""Aku bawa baju ganti dari rumah dan aku taruh di kursi belakang, kursi samping aku taruh kamera biar gak ada yang minta nebeng juga."Kara tersenyun senang di belakang, padahal ia hanya bercanda, tapi siapa yang tau kalau cowok ganteng, dengan tato yang memenuhi tangan, sebelah dada dan punggungnya juga penuh talenta ini bisa begitu setia itu padanya.Kara meminta break karena merasa terlalu berat berada di sisi Ian apalagi setelah studionya makin rame dan Ian sendiri akhirnya merilis album.Tapi ternyata jauh dari Ian ia merasa lebih berat dibanding menghalau wanita-wanita yang menginginkan Ian.Kara mencubit pipi Ian dari belakang. "Ulu.. Ulu... bucin banget sih Christian super ganteng ini, pacarnya siapa sih?""Pacarnya Kara dong." Jawab Ian mantap.***"Mandi dulu gih kalo mau tidur, aku udah siapin." Kara menghampiri Ian yang sedang membalas pesan entah pada siapa di jam tiga dini hari seperti ini.Ian menurut dan segera masuk ke kamar mandi, sementara Kara langsung menuju tempat tidur dan langsung merebahakn dirinya disana. Sepertinya malam in ia akan tidur nyenyak karena ada Ian disampingnya. Itu yang ada di pikiran Kara sampai Ian keluar kamar mandi hanya dengan boxernya dang langsung bergabung dengan Kara di tempat tidur.Awalnya Ian hanya memeluk Kara dari belakang, lalu mulai menciumi tengkuk Kara, tangannya mulai masuk ke dalam kaos Kara melepas kaitan bra Kara dan meremas kesukaannya disana."I miss you so bad". Ucapnya di sela-sela cumbuannya di leher Kara hingga suara desahan Kara keluar dan tak mampu lagi membendung hasrat Ian yang sangat mendamba akan tubuh Kara.Ian langsung mencumbu Kara penuh gairah, dari mulai bibirnya, turun ke leher, lalu lebih bawah lagi, Ia bermain main disana, menghisap menggigit dan memberi tanda sebanyak-banyaknya di dada Kara, membuat Kara menggelinjang mengharap lebih."Iaaann... ah...""Apa sayang..."Ciuman Ian turun ke perut Kara, kembali memberi tanda disana, Ia ingin memiliki Kara untuk dirinya sendiri. Turun lagi ke bawah, ia membelai milik Kara juga menciuminya, hingga Kara sudah meracau tak karuan."Iaann pliiiissssh"...Ian kembali memagut bibir Kara panas, lalu menempatkan Juniornya yang sudah menegang di depan milik Kara."Im home." Desah Ian saat miliknya sudah menyatu dengan milik Kara.Desahan saling bershutan diantara mereka, melepaskan kerinduan dan cinta, penuh keringat dan basah, mereka saling memuaskan, saling mendamba, hingga desahan panjang mengakhiri kegiatan keduanya saat mereka medapatkan pelepasan. Lalu mereka jatuh tertidur.Matahari sudah tinggi saat Kara bangun, ia menutupi matanya karena merasa silau, namun karena ada suara kekehan dari sebelahnya ia membuka matanya lagi.Ian sedang menatap dalam Kara membuat wajah Kara memerah malu."Jangan diliatin, malu ih." Ucap Kara membenamkan wajahnya di bantal namun tak diabiarkan oleh Ian."Lihat sini, aku udah lama gak liat bidadari bangun tidur, cantik banget sih bidadarinya Ian."Ucap Ian sambil menhadiahi wajah Kara dengan kecupan-kecupan kecil, Kara pun memberiakn ciuman singkat di bibir Ian. Akhirnya mereka hanya diam saling menatap."Kita udah baikan kan yang?" Kara mengangguk sebagai jawaban."Aku gak sanggup jauh lagi dari kamu, aku gak mau kehilangan kamu, so....." Ian mengelurkan cincin tanpa kotak dari saku boxernya, "Will you marry me?"Kali ini wajahnya serius dan penuh harap, dan Kara tentu saja terdiam kaget.Ian laki-laki korban broken home, takut untuk menikah karena takut menyakiti seperti papanya, hidup bebas, lepas tapi kini memnintanya untuk menikah, hidup bersama dengan Kara, tentu saja Kara sangat menginginkan itu."Are u sure?""Aku gak pernah seyakin ini, kehilangan kamu membuatku merasa lebih takut dari pada dengan bayangan kelam perlakuan papa ke mama, jauh darimu membuatku tak berdaya Kara."Pliss jangan tolak aku, Will you marry me?" Pintanya sekali lagi.Tanpa berpikir lagi Kara langsung menjawab."Yes yes yes... Love you Ian.""I love you more than anything."Akhirnya pagi-pagi itu kembali disiisi dengan adegan ranjang panas antara Ian dan Kara."Btw, kamu gak romantis banget sih ngelamarnya cuma boxeran doang. bahkan aku masih naked Ian."Nanti aku ulangin lagi dengan cara romantis, sekarang ayo lanjutkan adegan panas kita, goda Ian sambil menekan Kara."Iaaaannnnnn" 😘😘😘END

Arasa
Romance
12 Dec 2025

Arasa

Aku sungguh mencintai pria itu, Yovan. Mati-matian aku menahan hatiku setelah mempertemukan mereka.Aku ingat sekali saat dimana aku dan sahabat terbaikku, Kalila janji bertemu di cafe melakukan rutinitas yang kami lakukan sebulan sekali sekaligus memperkenalkan calon suamiku kepadanya, benar kami memang dijodohkan tapi aku jatuh cinta sejak pertemuan pertama kami.Aku mengamati ekspresi Kalila dengan Yovan ada kilatan terkejut di dalam manik mata mereka, aku pikir itu hanya perasaanku saja. Hingga kejadian puncaknya adalah fakta bahwa mereka memang berkencan di belakangku.Aku membenci mereka tapi malam itu aku mendengar percakapan antara Yovan dan ibuku, satu sisi aku tidak terima namun sisi lain hatiku berkata cinta tidak bisa dipaksa bukan?Aku sangat menyayangi Kalila tapi aku juga begitu sangat mencintai Yovan. Tapi ternyata aku lebih menyayangi Kalila daripada Yovan sehingga memilih untuk membatalkan perjodohan dan merelakannya untuk Kalila.Aku juga tahu, Kalila sangat menyayangiku terlihat ketika dia frustasi saat aku tak berniat untuk menemuinya. Jujur aku memang tidak sanggup untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat, jadi setelah aku mengatakan pada ibuku, aku menulis surat untuknya.Tadinya aku ingin sekali menghukum Kalila dengan perasaan bersalahnya hingga rasanya ia akan mati dengan rasa bersalah itu. Aku takkan membunuhnya karena aku masih memiliki rasa kasih kepadanya.Melihatnya menangis dan tampak kacau dibandara dengan pelukan hangat dari Yovan adalah pilihan yang tepat saat itu, aku senang melihatnya lega ketika ia membaca surat dariku, aku tak bebohong aku sungguh menyayanginya.Benar, aku melihatnya di bandara. Kata pamit ke London tak benar-benar ku lakukan, aku hanya berangkat pergi ke negara tetangga yang dekat yaitu Malaysia. Tidak buruk, karena memang aku butuh menenangkan hatiku yang tak baik-baik saja saat itu. Aku terlalu takut untuk pergi terlalu jauh.Jika ditanya bagaimana perasaanku saat ini maka jawabannya adalah aku baik-baik saja, sangat.Kata orang, obat terampuh dalam menyembuhkan luka hati adalah jatuh hati. Sebenarnya bahkan perasaanku sudah tak ada pada Yovan.Tapi kepada siapa hatiku harus berlabuh?Aku menghela nafas, memandangi pemandangan malam kota malaysia dari atap cafe. Tak ada yang istimewa, kecuali coklat panas ini.Mengingat beberapa kenangan masa lalu sembari memainkan jari diujung cangkir."Boleh bergabung?" tanya suara berat disampingku, aku menoleh pada pria itu lalu mengedarkan pandangan sekelilingku"Masih banyak tempat yang kosong" jawabku acuh.Pria itu tersenyum, mendudukkan tubuhnya di sampingku. Kenapa dia bertanya jika begitu.Aku hanya diam, kemudian menyesap coklat panasku perlahan. Ini sudah bulan ke 11 aku di negara ini, kira-kira Kalila apa kabar ya? Aku sungguh rindu padanya.Sekarang aku benar-benar menyadari hanya dia teman yang ku punya. Bahkan dengan keluargaku, aku lebih dekat dengannya."Apa kabar Cindy?" ucap suara pria itu, aku menoleh menaikkan alisku, bukan masalah tahu dari mana ia namaku, bukan.. Bukan karena aku tidak tahu siapa pria ini tapi kami sudah beberapa kali bertemu bahkan jalan bersama akhir-akhir ini tapi ada apa ia malam ini. Kemana sikap manisnya padaku beberapa minggu ini.Seakan mengerti pria itu tersenyum kepadaku lalu berucap "Teo. Aku pernah menghadiri acaramu bersama Kalila" jelasnya, aku memutar bola mataku dengan jengah.Ya, akhir-akhir ini aku memang dekat dengan pria ini, tapi beberapa hari tak bertemu dengannya membuat ia berubah malam ini.Aku berfikir sejenak berupaya mengimbanginya, dengan ekspresi, ya ampun dunia sesempit ini ya "Ah kau ternyata" balasku seadanya karena sikapnya seperti baru bertemu."Sebulan yang lalu mereka menikah, kau tahu?" tanyanya yang ku balas anggukan, nah apa karena hal ini dia begituAku tahu mereka menikah dan Kalila berharap aku datang namun aku masih enggan. Bukan karena aku belum memaafkan hanya saja aku masih belum ingin menemui mereka."Kau tidak hadir?""Kau sedang apa disini?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya aku malas membahas itu.Untuk kesekian kalinya, Teo tersenyum. Sungguh ia pria yang tampan aku akui itu."Tidak ada, hanya ada sedikit urusan"Setelah itupun hening, tak ada percakapan antara kami hingga suara Teo kembali terdengar "Besok malam ada acara?""Tidak ada""Kalau boleh, bisa temanin aku ke suatu acara?" ajaknya, nah kan ia selalu menemuiku kalau ada maunya setidaknya hanya itu kami bertemu. Aku tampak berpikir tapi kurasa boleh juga lagipula aku bosan sendiri melulu, dan aku juga mengenalnya. Setidaknya Teo pria yang baik, itu yang dikatakan Kalila saat itu.Aku mengangguk "Boleh. Pukul berapa?" jawabkuIa mengambil ponselku yang tergeletak di samping cangkir lalu mengambil jariku untuk membukanya, mengetikkan sesuatu dan tak lama ponsel di sakunya berdering kemudian dia berucap "Nanti aku hubungi, tapi besok harus berpenampilan cantik" ucapnya lalu tertawa, seakan tertular akupun tertawa mendengarnya.Ya aku baru ingat meskipun kami pernah beberapa jalan bersama di negara ini tapi faktanya kami saling tak menyimpan nomor ponsel. Lucu sekali.Kami juga bertemu tak sengaja lalu inisiatif pergi bersama seperti yang di lakukan Teo malam ini, bedanya ia ingat meminta nomor ponsel.Seperti ucapannya kemarin malam, malam ini aku sudah berada di suatu acara yang ternyata adalah suatu perayaan rekan kerjanya. Mungkin karena ini ia berada di sini.Sebenarnya aku tidak betah disini, bagaimana tidak pria diseberang sana terus saja memerhatikanku dengan tatapannya yang tak senonoh, aku tidak suka dilihat dengan pandangan demikian.Teo memegang tanganku sedikit merapatkan tubuhku padanya, aku melirik sedikit ke wajahnya yang sepertinya Teo mengerti keadaanku yang dipandang oleh orang itu." Are you okay? " tanyanya yang ku angguki.Tak lama ada seorang perempuan cantik, sungguh cantik sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa minder, wajahnya bukan asli indonesia."Hai, Teo" sapanya sambil mencium pipi kanan kiri Teo yang ku lihat Teo sedikit risih."Hai, Jessi" balas Teo singkatNamun entah bagimana, tatapan wanita bernama Jessi itu padaku tidak terlihat menyenangkan. Ah mungkin hanya perasaanku. Lalu Teo mengenalkanku padanya."Mm.. Teo aku ke toilet sebentar ya""Mau aku antar?" tawarnya dan aku menggeleng setelah mengucapkapkan itu aku berjalan ke toilet.Ini sebenarnya hanya pelarian saja, aku membenahi riasan sedikit."Kamu pacarnya?" ucap wanita bernama Jessi yang datang langsung menanyaiku disini."Tidak" balasku singkat"Kalau begitu pulanglah. Teo akan pulang bersamaku" ucapnya sambil menajamkan tatapannya.Huh! Dikira aku takut. Aku ingat moment seperti ini, jika Kalila pasti sudah takut tapi aku tidak. Tidak sampai dia mengucapkan kata-kata sadisnya."Dibayar berapa dengan Teo?""Kau perempuan Psiko" balaskuDia mengangkat bahunya tanpa ingin mendengar kelanjutan ucapannya aku pergi meninggalkannya, malas meladeninya.Aku berhenti mengambil minuman yang di bawa pelayan itu dan menyesapnya perlahan, aku mengalihkan pandanganku menatap Teo di sana tangannya dilingkari mesra oleh Jessi. Ah kenapa mendadak rasanya di sini gerah sekali.Ini bagaimana ya? Aku pulang langsung begitu. Ah bodolah. Aku pergi saja.Aku mulai melangkahkan kakiku menuju keluar gedung ini, ini bukan negaraku mana aku tahu jalanan ini karena aku memang belum pernah menjajaki tempat ini.Mengikuti naluri aku berjalan perlahan baruku sadari ternyata tempat ini jauh dari keramaian.Tak lama aku berjalan ada dua orang lelaki yang sedang bercakap-cakap namun tak jelas, ragu aku melangkah.Namun ternyata pria ini mabuk, aku takut. Tidak hanya di Indonesia disini juga ada yang suka mabuk aku bergidik ngeri.Semakin mendekat, tatapan pria itu seperti menelanjangi tubuhku. Mama aku takut.Seketika aku tersentak kala sebuah tangan merangkulku "Diamlah.. Ini bukan negara kita" bisiknya aku menatap wajah itu.Ah Teo ternyata.Eh? Kok dia bisa tahu ya"Bagai..""Diamlah" ucapnya lalu ia mengajakku berlangkah cepat menuju ke mobil yang terparkir di gedung itu."Kenapa pergi tidak bilang?" ucapnya, aku hanya diam, rasanya lidahku kelu untuk berucap."Cindy, harusnya kamu bilang. Tidak meninggalkanku begitu saja. Coba saja aku tidak datang tadi."Baiklah.. Kenapa sekarang aku merasa seperti dimarahin pacarku ya. Tapi mendengar ia memarahiku sedikit dari sudut hatiku menghangat. Sedikit ini loh yaa.. Aku tidak berani mendeskripsikan lebih."Aku hanya..""Jessi?" potongnya dengan cepat, tanpa kata aku mengangguk.Menghela nafas, Ia mendekatkan tubuhnya padaku, sejenak tatapan mata kami bertemu. Mendadak jantungku berdetak lebih cepat dan hatiku berdesir kala melihat tatapan matanya.KlikBunyi selt belt terdengar membuatku menghela nafas yang tanpa sadar tadi aku sedang menahan nafas.Terdengar kekehan kecil dari bibir Teo, ia mengusap lembut puncak kepalaku yang menambah hatiku semakin berdesir. Lalu tangannya menyalakan mobil dan mulai melajukannya.Ah lama sekali aku tidak diperlakukan begini dengan pria. Apa karena alasan ini hatiku seketika berdesir?Kulay begitu ya, alias kurang belay.Rasa-rasanya terakhir kali aku diperlakukan begini sekitar empat atau lima tahun yang lalu bersama mantanku, itu juga aku tidak terlalu mencintainya.Yovan? Bahkan ia tidak pernah begitu, hubungan kami layak disebut teman mengingat hanya aku yang jatuh cinta saat itu.Beberapa minggu menghabiskan waktu bersama Teo tanpa diduga tidak terlalu buruk untukku. Aku bahkan sudah melupakan Yovan. Seperti imitasi ternyata perasaanku terhadap Yovan. Dan mungkin saja itu hanya obsesi semataku.Entahlah.."Besok aku kembali ke Indonesia. Ingin ikut?" tanya Teo sambil memegang kemudinya.Aku menimbang "Mungkin... Ah aku belum tau""Apakah kau akan menghubungiku nantinya?" tambahku dengan pertanyaan aneh iniTeo mengangguk sebelum menjawab "Tentu. Dan aku akan menunggumu di Indonesia" balas Teo sambil menghentikan mobilnya yang ternyata sudah sampai di hotelku."Terima kasih" ucapku mulai melepaskan selt belt dan keluar tapi tangan Teo menghentikan pergerakanku.Ia menarikku ke dalam pelukannya tanpa sepatah katapun ia mengusap rambutku dengan lembut.Hatiku semakin berdesir, tidak aku tidak boleh membawa perasaan begitu saja."Terima kasih sudah menemaniku disini" suaranya sedikit serak dipendengaranku, aku hanya mengangguk dengan irama jantung yang terus berdetak."Aku sungguh bahagia menghabiskan waktu denganmu" lalu melepaskan pelukannya padaku setelah mengecup puncak kepalaku.Aku terdiam dan ia tersenyum "Masuklah. Selamat malam, Cindy."Aku yang masih bingung hanya mengangguk dan bergegas turun melangkah menuju kamarku.Sudah seminggu semenjak kembalinya Teo ke Indonesia, ah kenapa aku menjadi tidak betah disini.Teo mengatakan akan menghubungiku tapi sudah seminggu kepulangannya kenapa ia tak juga kunjung menghubungiku?Rasanya aku merindukannya.. Atau karena aku terbiasa bersamanya.Aku kembali membaringkan tubuhku, biasanya aku juga sendiri tapi biasa saja kenapa sejak malam ini aku jadi terus ingin bertemu dengan Teo.Ku lihat jam yang terletak di atas nakas, sudah pukul 7 malam waktu setempat.Kacau.. Ini sungguh kacau.Aku mengambil ponsel, memesan tiket pada suatu aplikasi online untuk keberangkatan pulang ke Indonesia besok. Aku bangkit membereskan pakaian serta perlengkapanku.----Akhirnya aku sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Dari sini, aku tidak ingin langsung pulang ke rumah melainkan aku akan ke cafe sebentar.Hingga sampai di cafe, aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang amat kurindukan.Tangan seseorang di ujung sana melambai membuat aku tersenyum lebar. Benar, waktu dapat memperbaiki segalanya. Itulah yang terjadi padaku."Kalila..." ucapku sambil memeluknya erat. Ya tadi pagi aku menghubunginya dan meminta pertemuan ini."Maafin aku, Cindy""Kau bicara apa sih? Aku tidak ingat" melepaskan pelukan, dan balasanku pura-pura lupa apa yang terjadi. Well aku memang sudah melupakan kejadian yang lalu."Hai.." sapaan kaku pria itu, mantan calon suamiku, Yovan.Aku tersenyum lalu memeluknya singkat terdengar pria itu protes tapi ku abaikan, biarin saja Kalila marah.Kamipun akhirnya duduk, memesan makanan dan berbincang sesekali tertawa. Aku memandang mereka, keputusan yang ku ambil sangatlah tepat.Ah aku jadi ingin segera menemui Teo nantinya, tadi malam setelah merenung aku menemukan satu jawaban, bahwa aku mencintainya."Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya selidik Kalila padaku."Benarkah? Apa terlalu terlihat ya" balasku malu"Anak kecil juga tahu jika kau sedang jatuh cinta" balas Yovan ketus padaku yang langsung lengannya di senggol Kalila. Ah sepertinya dia agak kesal karena aku memeluknya tadi. Tapi memang begitu sih dia dari dulu padaku.Aku meletakkan pisau dan garpuku lalu menangkupkan kedua tangan di pipiku dan berucap "Sepertinya aku jatuh cinta sama Teo"Pisau dan garpu Kalila dan Yovan sama terhenti memotong steak. Bahkan terdengar Yovan mengumpat tertahan sedangkan Kalila terdiam dengan ekspresinya.Ada apa ini?"Kenapa?" tanyaku tapi mereka hanya diam, oh ayolah jangan begini."Ada apa? Ayo ceritakan" tuntutku pada Kalila "Kitakan sahabatan ayo ceritakan padaku" tambahku lagiKalilah menghela nafas, tampak ragu "Saat di Malaysia.. Kau bertemu dengannya, benar?" tanya Kalila ragu dan aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.Perasaanku mendadak melilit tidak enak "Aku tidak berhak menceritakannya tapi yang pasti, Teo akan menikah dua minggu lagi" jelas Kalila.Tanganku terkulai lemas mendengar penjelasan itu, bahkan lidahku rasanya kelu ingin menjawab apa. Aku baru saja jatuh cinta tetapi kenapa sudah begini lagi.Apa aku tidak pantas bahagia?Apa arti kata ia menungguku kembali dan apa juga artinya ia begitu manis padaku. Ahh aku ingat saat malam sebelum ke pesta, sikapnya memang berubah saat itu."Cindy.." panggil Kalila menyadarkanku, aku menyeka air mataku yang tak terasa turun."Kalila, bisa beritahuku alamat Teo" Kalila awalnya ragu tapi mengangguk dan memberikan alamat itu padaku, yang ternyata kami tinggal di apartemen yang sama dengan lantai yang berbeda.----Keesokan malam tiba, dengan ragu aku berdiri di depan apartemennya. Setelah ku pikir memang ada baiknya kami berbicara. Aku akan mengungkapkan bahwa aku mencintainya setidaknya aku berusaha, apapun keputusannya.Menekan bel beberapa saat, dan pintu terbuka menampilkan Teo dengan eskpresi sebal dan kalimat "Ada apa lagi sih Cla.." kalimatnya terhenti, ia menatapku dengan lekat-lekat lalu berkata "Eh.. Maaf Cindy""Hai.. Teo" balasku tersenyum dan ia juga tersenyum, mempersilahkanku masuk ke dalam apartemennya.Aku memperhatikan sekelilingku, apartemen dengan interior modern dilengkapi furniture yang membuat apartemen ini terlihat menawan dan nyaman, aku suka itu.Teo kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh "Kapan sampai?" tanyanya"Kemarin" balasku seadanya sambil menyesap teh itu mendadak tenggorokanku kering, aku ingin sekali mengungkapkannya tapi kenapa tiba-tiba perasaan aneh ini menyergapku, aku menautkan jari-jariku. Menimbang apa yang ingin ku katakan padanya."Aku baru tahu ternyata kita tinggal di apartemen yang sama"Aku mengangguk "hanya beda satu lantai" akuku padanya "Tapi saat ini aku tinggal di rumah mama" tambahku dan mulai memikirkan apa yang hendak ku katakan padanya. Aku bingung mengungkapkannya."Katakan saja, Cindy" ungkapnya seakan mengerti keinginanku.Aku sudah mulai mengatakannya tapi seketika aku menatap miniatur kincir angin di atas tv.Ya aku ingat kincir angin itu yang kami beli di Malaysia, saat itu ia membelikan aku yang kicirnya berwarna putih dan ia berwarna hitam. Menghiburku seraya berkata "Hidup itu seperti kincir angin ini, meskipun banyak terpaan angin tapi ia tetap berputar. Karena memang beginilah kehidupan kita, akan terus berputar" saat itu ekspresiku hanya memutar bola mata jengah karena kata picisannya.Tapi saat ini aku tersenyum menatap miniatur itu. Kurasakan tangan Teo menyentuh bahuku "Cindy, ada apa?"Mungkin ini saatnya, apapun yang terjadi seperti kincir itu kehidupanku akan terus melaju."Teo, aku mencintaimu" ucapku sambil menatap matanya, tapi pria itu hanya diam menatapku.Beberapa saat hening ia tersenyum dan mengusap puncak kepalaku tanpa jawaban, apa ini artinya dia tidak mencintaiku juga. Aku menggigit bibirku dengan gugup, mataku mulai memanas."Hei.. Jangan menangis" tuturnya dengan lembut."Maaf.. Seharusnya aku tak mengatakan ini padamu, aku tahu kau akan menikah bukan?" air mataku turun tanpa dicegah, "Aku pamit" baiklah aku mulai bangkit dan keluar dari apartemennya. Meninggalkannya tanpa kata, menghiraukan panggilan darinya.Saat ini memang tinggal di rumah mamaku lebih menyenangkan, setidaknya aku bisa memeluk mama nanti.Aku terus merutuki kebodohanku kenapa bisa aku mengatakan itu padanya, aku takut. Bagaimana ini.Sudah seminggu ini juga aku di rumah mamaku, sedikit menyesal mengatakan itu pada Teo. Satu minggu lagi pria itu akan menjadi milik orang lain. Aku menghela nafas.Pintuku diketuk, mamaku masuk ke dalam kamarku. Sambil membawa gaun berwarna biru donker."Nanti malam pakai ini ya. Dandan yang cantik. Ingat! Awas kalau tidak cantik" ucap ibukuAku merasa dejavu, ini seperti saat aku dijodohkan pada Yovan dulu. Aduh.. Bagaimana ini? Aku tuh maunya Teo."Maa... Jangan bilang ini perjodohan sialan lagi" rengekkuMamaku tersenyum "Ini hanya makan malam bersama keluarga rekan kerja papamu. Sekalian sih, jika kau tak suka pria itu jadi suamimu ya tidak masalah, mungkin tidak jodoh" jelas mamaku dan keluar dari kamarku.Oh baiklah ini terjadi lagi, masalah hati dengan Teo saja tak urung selesai dari hatiku, aku tidur beberapa saat sebelum bertemu dengan siapapun nantinya.Malampun tiba, akupun siap dan segera turun menemui mereka yang katanya sudah tiba.Terdengar suara mereka berbincang "Nah.. Ini anak saya, Cindy" kenal Papaku terhadap mereka"Wah.. Cantik sekali" jawab ibu itu dan aku tersenyum sambil menyaliminya tapi sungguh aku tak melihat pria muda atau anak mereka."Anak tante sebentar lagi sampai katanya" jelas tante Ningsih menjelaskanku"Assalamualaikum" suara bariton memasuki indera pendengaranku dan aku membelalak kaget melihatnya, ia tersenyum jenaka padaku"Teo" lirihku, aku bingung ada apa ini sebenarnya.Tanpa menghiraukan sekelilingku, aku menarik Teo menuju ke taman belakang."Coba bisa jelaskan padaku maksud semuanya" ucapku dengan tegas saat tiba di taman sambil menghentak tangannya dan aku duduk di bangku taman.Ia mengikutiku "Yang pertama, benar aku akan menikah...." ucapnya melihatku, ah ini aku sudah tahu "Tapi denganmu" aku menoleh dengan cepat"Maksudmu apa Teo? Kalila mengatakan kau akan menikah...""Dengarkan dulu.. Benar saat itu orang tuaku memang menyuruhku menikah dengan Clara, dan aku ke Malaysia juga sebenarnya mencari Clara yang kabur karena ia tak mau di jodohkan denganku. Lalu bertemu denganmu tanpa sengaja, menghabiskan waktu bersamamu sungguh membuatku bahagia. Aku akui, Awalnya aku menerima saja menikah dengannya sebelum aku tahu fakta kamu juga mencintaiku""Aku tidak mengerti" balaskuIa menghela nafas sebal "Intinya malam ini aku ingin melamarmu"Aku terkikik geli "Jadi Clara itu?" tanyaku"Aku sudah mengatakan padanya bahkan ia sangat senang untuk keputusanku" jelasnya lagi"Aku mencintaimu, Cindy. Minggu depan kita menikah""Huh? Kau baru saja melamarku atau membeli kerupuk enak banget ngomongnya" sungutkuIa tertawa lalu memelukku "Aku heran kenapa Yovan menyia-nyiakanmu tapi Kalila juga perempuan yang luar biasa sih"Aku mendengkus melepaskan pelukannya dan memukul lengannya "Kau baru saja memujiku atau menghinaku?" ucapku dengan sebal yang dibalas tawanya"Maaf.. Maaf.. Kamu perempuan yang hebat. Sampai aku kalah start mengungkapkan cinta" ucapnya sambil tertawa lagi yang membuatku malu dan ia menarikku ke dalam pelukannya"Teoo" rengekku"Iya.. Iya minggu depan kita menikah" godanya lagi padaku.Sesaat kemudian, ia melepaskan pelukannya padaku. Menatapku lamat-lamat, wajahnya perlahan mendekat ke arahku bahkan aroma mint sudah menguar yang membuatku refleks memejamkan mataku, nyaris saja bersentuhan sampai terdengar deheman dan ucapan ayah Teo berkata "Iya.. Iya minggu depan menikah" lalu mereka tertawa dan menghilang di balik pintu meninggalkanku dengan rasa malu dan Teo yang menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.End

Rana & Ray
Romance
12 Dec 2025

Rana & Ray

"Pergi jauh kamu dari anakku""Kamu menghancurkan masa depannya""Kamu menghancurkan harapan kami""Saya mohon, saya akan berlutut di kaki kamu agar kamu meninggalkan Raydan, Kirana"Mimpi buruk itu masih terus datang, meskipun sudah tujuh tahun berselang, dan rasa sesak juga sakitnya tak pernah berkurang apalagi menghilang.Mereka tidak sadar bukan hanya anaknya yang kehilangan masa depan, bukan hanya anaknya saja yang hancur, dirinya kehilangan lebih daripada siapapun.Di tampar sang ibu dan di usir sang ayah, malam itu ia hendak mengadu pada Raydan, tentang bayinya tentang pengusirannya, namun yang ia dapat ternyata lebih pedih daripada keluarganya, bukan Raydan yang ia temukan namun pengusiran dan penghinaan kembali yang ia peroleh.Gadis 18 tahun yang kehilangan segalanya karena mengandung bayi berusia 5 minggu, kesalahan karena terlalu bebas berpacaran, terlena karena rayuan hingga akhirnya dia ditinggalkan."Mami... Bangun mami."Sebuah gedoran terdengar di pintu kamarnya, melihat jam di nakas baru pukul 05.30 pagi tapi pasti si kecil Kimi tengah menagih susu hangatnya di pagi ini.Kimora, gadis kecil berusia 6 tahun yang baru memasuki sekolah dasar, gadis kecil yang tujuh tahun lalu orang-orang meminta untuk melenyapkannya, malu katanya, mencoreng nama baik keluarga, dan menghancurkan masa depan."Anak mami masih pagi udah berisik aja.""Ayam udah berkokok mami, matahari juga sudah mau keluar." Rengeknya dengan wajah cemberut lucu membuat Kirana tak tahan untuk menghujami wajah kecilnya dengan ciuman. "Mami berhenti, kalau enggak aku ngambek."Kirana tertawa mendengar ancamannya, entah bagaimana jika ia tujuh tahun lalu menuruti orang-orang untuk menggugurkannya, karena Kimi saat ini adalah dunianya, sumber kebahagiaannya, segalanya."Kimi mandi dulu ya, mami siapin susu cokelat sama sarapan pagi buat Kimi, oke!""Siap mami, Kimi sayaaaaang mami."Begitulah ia mengawali harinya, teriakan Kimi adalah penyemangatnya untuk berkutat dengan bakery yang telah dikelolanya selama tiga tahun, toko kue yang mengedepankan pesanan khusus kue-kue untuk pesta."Mbak Kiran, Bu Andini mengundang anda langsung untuk hadir dalam acara ulang tahun keponakanya.""Oke, berarti yang nganterin langsung saya aja ya Li, biar kamu gak bolak-balik.""Apa Kimi akan ikut?""Enggak, Kimi gak saya bawa, di rumah ada Omnya saya titip ke dia, lagi pula saya gak akan lama, saya datang hanya untuk menghormati undangan Bu Andini saja, diakan pelanggan tetap Bakery kita, setelah saya berangkat kamu langsung pulang aja Li."Hello Bakery, adalah toko kue yang dikelola Kirana, milik seorang nenek baik hati yang hidup sebatang kara, toko kue yang sepi pembeli sebelum Kirana bekerja disana, hingga sang nenek mewariskan toko padanya sebelum dia meninggal.Kirana sampai di tempat acara pukul tiga sore, sengaja dia datang lebih awal untuk memastikan kuenya terpajang sempurna, perayaan ulang tahun ke 3 seorang anak perempuan yang bernama Sheika Ramia Alezander, dia tahu karena Kirana sendiri yang menulis nama itu dalam kue ulang tahunnya, satu nama terakhir membuatnya berdesir merasakan sakit yang masih sama sesaknya. Hanya sebuah nama yang sama pikirnya. Namun semua tidak hanya sebuah nama saat Andini mengenalkannya pada Tuan yang punya acara."Kiran, makasih ya udah mau datang, sini aku kenalin sama yang punya acara, mana ya..." Andini mengedarkan pandangannya menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang. "Ray... Ray... sini!"Sebuah nama yang membuat Kirana membeku, ngilu, dan rasa yang sudah lama ia berusaha kubur selama tujuh tahun kini seolah percuma, memohon pada tuhan supaya dia bukanlah orang yang sama, berdoa sekuat hati agar hanya namanya saja yang sama, ia tak ingin bertemu lagi dengan sumber kedukaan dan kehancurannya, ia sekuat tenaga memohon namun ia tau tuhan tak mengabulkannya kali ini saat yang datang menghampirinya benar adalah dia, Raydan Bright Alezander. Pangerannya, hidupnya, planetnya, kebahagiaanya, dulu.Dia masih sama, tinggi, tampan dan sorot matanya yang selalu bisa meluluhkan siapapun, dia baik-baik saja, tentu saja dia baik-baik saja, hidupnya sempurna, tak seperti dirinya yang harus terlunta-lunta di jalan mencari perlindungan, tak seperti dirinya yang harus memulai hidup dari titik minus bahkan hingga dia bisa berdiri lagi saat ini."Ray ini Kiran, dan Kiran ini Raydan adik ipar aku."Suara Andini seolah mengilang, beku semuanya beku. Raydan terpaku memandang seseorang didepannya, seseorang yang tak pernah dilihatnya selama tujuh tahun, meskipun ia telah berusaha setengah mati untuk menemukannya, seratus kali ia menyerah dan seratus satu kali lagi ia terus kembali mencobanya. Kini ia di hadapannya, Kirananya baik-baik saja, dia cantik dan semakin dewasa, sungguh ia setengah mati merindukan wanita ini, wanita yang terpaku dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan sorot mata bahagia melainkan terluka."Ray, Shei mau potong kue sama kamu katanya." Seorang wanita paruh baya menghentikan apapun yang sedang merajai pikiran mereka, Ibunya Raydan dengan Sheika, gadis kecil di gendongannya.Wanita itu, yang memohon agar ia pergi meninggalkan Raydan, ia yang juga terlihat pias melihat wanita dihadapannya, wajah tuanya terlihat sedih, terpaku melihat Kirana. Rengekan Sheika, teguran Andini tak ada yang bisa menyadarkan mereka, mereka menatap wanita yang sama, Kirana.Satu tetes air mata jatuh dipipi Kirana, membuatnya tersadar bahwa ia harus segera pergi dari sana, melihat kebahagian mereka, kesempurnaan hidup Rayden membuat semuanya terasa semakin sakit, hanya ia yang berjuang sendirian, hanya ia yang terluka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, keluar dari venue acara tanpa menghiraukan seruan Andini yang kebingaungan, ia hanya ingin pergi, harus pergi jauh lagi.Raydan tersadar, saat Kirana yang dipandanginya pergi dari hadapannya, namun ia seperti tersihir dengan airmata mengalir dipipinya."Ma... Dia Kirana kan, dia Ranakan? Dia Rananya Ray kan Ma."Ibunya Tiara memeluknya, sama-sama menangis. "Ia Ray, dia Rana, Rana nya kamu, maafin mama sayang, maafin mama." Ia tersedu sedan penuh penyesalan, kesalahan yang ia lakukan telah merenggut kebahagiaan Raydan, ia telah kehilangan putranya meskipun Raydan ada dihadapannya. "Kejar dia sayang, kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi."Seolah tersadar, ia berlari mengejar Kirana, memanggil namanya, berteriak seperti kesetanan, namun apakah ia terlambat lagi seperti waktu itu, tidak ia tidak akan terlambat untuk kedua kalinya, ia akan menemukannya, ia harus menemukannya."Kirana! Diamana kamu Kirana, Rana."Raydan terduduk, menangis, begitupun Kirana, ia tersedu di balik pilar, mereka sama-sama menangis membiarkan kesakitan menguasai mereka, mencoba melepaskan semua duka, tangis yang sama-sama mereka pendam selama tujuh tahun, kini jebol seolah mewakilkan semua rasa mereka, sakit, luka, cinta, rindu semua menyatu.***Kirana tau cepat atau lambat Raydan akan menemukannya, hanya tentang waktu. Ia memeluk Kimi erat, seakan tak ada hari esok."Mami kenapa, kenapa mami terlihat sedih?"Mata hitamnya adalah mata Rayden, rambut cokelatnya adalah rambut Rayden, hidung bangirnya adalah hidung Rayden, dia memang anak Rayden terlihat dari sekali pandang. Namun, bagaimana kalau Rayden juga sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putri juga."Gak apa-apa sayang, mami hanya sedang ingat papa kamu.""Papa? Bukannya papa sedang pergi jauh? Kata mami kalau Kimi rindu papa, Kimi hanya harus berdoa pada tuhan agar papa datang dalam mimpi Kimi.""Ia sayang, apa papa suka datang dalam mimpi Kimi?"Kimi tersenyum sumringah. "Ia mami, kalau Kimi merindukan papa, terus Kimi berdoa sama tuhan, maka papa akan datang dalam mimpi Kimi dan memeluk Kimi tidur, tapi..." wajahnya berubah sedih. "Tapi begitu Kimi bangun papa sudah gak ada."Kirana memeluk erat Kimi, menciumnya bertubi. "Mami minta maaf, maafin mami.""Kenapa mami minta maaf, mami gak ada salah sama Kimi."Demi Kimi setidaknya Raydan harus tau kalau Kimi ada, meski nanti seperti apa status mereka setidaknya ia harus mempertemukan mereka. Namun apa ia akan kuat bertemu lagi dengan Raydan, memperkenalkan Kimi sebagai anaknya, bagaimana jika ia mengabaikan Kimi, bagaimana jika Kiminya tak diinginkan, bagaimana... Ia pasti akan merasakan sakit yang lebih parah, dan Kimi ia tak ingin membuat Kimi kecewa, hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat kesedihan Kimi, ia tak ingin membuat Kiminya kecewa.***Hello Bekery milik Kirana, begitu yang ia tau dari Andini, ternyata begitu dekatnya ia dengan Kirana tapi ia tak dapat menemukannya, padahal setiap perayaan di keluarganya, Andini selalu memesannya kue dari sana. Kini ia berdiri di depan Hello Bakery, hanya tinggal selangkah lagi ia bisa menemui Rananya, namun kini ia merasa takut, ia gemetar, ia gentar setelah tujuh tahun penantiannya ia merasa sangat takut, takut Kirana lari, takut Kirananya pergi lagi."Om mau beli kue?"Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan kuncir kuda membuyarkan lamunannya, ia terpaku, ia kembali membeku melihat anak kecil dihadapannya."Masuk Om, Om mau beli kue maminya Kimi?"Mata bulatnya, bibir tipisnya mengingatkannya pada seseorang di dalam sana, tapi bukan hanya itu melainkan kenapa anak kecil ini sangat mirip dirinya."Lho kenapa Om nangis? Kemarin mami Kimi yang nangis, sekarang Om juga nangis, ayo Om masuk, Kimi kasih gratis deh kue maminya Kimi biar Om gak nangis lagi, biasanya mami kalau Kimi nangis selalu bikinin kue kesukaan Kimi."Kimi menarik jemari Raydan, membuatnya tersentak, seperti ada aliran listrik, mengejutkan jantungnya, menghangatkan hatinya. Kimi menariknya masuk mempersilahkannya duduk di kursi dekat jendela."Ini meja favorit Kimi, Kimi biasanya bermain dan belajar disini." Kimi tersenyum pada Raydan memperlihatkan senyum yang mirip Kirana dan lesung pipit seperti miliknya."Nama Om siapa? Nama aku Kimi eh Kimberly tapi mami memanggilku Kimi yang artinya kuat, kalau sudah besar nanti Kimi akan kuat jagain mami."Raydan mengusap airmatanya, menerima uluran tangan gadis kecil di hadapannya, tangannya mungil sehingga tenggelam dalam genggaman tangan kekarnya."Nama Om Ray, Kimi."Raydan sangat enggan melepaskan genggaman tangannya pada Kimi, 'Kimi' menyebutkan namanya membuat hatinya menghangat, ia merasa bahagia, sesuatu yang terasa jauh darinya selama ini."Om Ray kenapa nangis, apa Om lapar, Kimi kalau lapar suka nangis.""I..iya...""Tunggu sebentar ya Kimi minta kue ke mami, Kimi traktir."Genggaman itu terlepas, membuat Raydan merasa kehilangan, gadis kecil itu berlari menuju pintu bertuliskan "Kitchen Area", dan tubuh kecilnya menghilang disana."Mami, Kimi boleh minta kuenya? Buat temen baru Kimi dia lagi nangis di depan."Kirana yang sedang menghias kue mengalihakn pandangannya pada Kimi."Anak mami sudah pulang? Cium dulu dong maminya."Kecupan mendarat di pipi Kirana. "Ia, dijemput Om Reyhan, tapi Om Reyhannya pulang, mana mami kuenya?""Minta sama tante Oli sayang kuenya, temen barunya Kimi gak di kenalin ke mami?""Ayo ikut Kimi kedepan kalau mami mau kenalan." Kimi berlalu dengan empat potong kue yang ia dapatkan dari Oli, karyawan Hello Bakery.Kirana kembali tenggelam dalam pekerjaannya, setelah urusannya selesai ia segera mencari Kimi untuk mengganti seragamnya, namun apa yang dia lihat membuatnya terdiam, terenyuh, terharu.Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seindah ini, Raydan sedang menyuapi Kimi, mengelap cream yang menempel di bibir Kimi.Kirana kembali menangis, setelah semalaman ia hampir tak tidur karena menangis."Mamiiii...."Kimi turun dari kursinya berlari menghampiri Kirana, Kirana berjongkok menyambut Kimi dan memeluknya, menangis lagi. Raydan begitu iri melihat pemandangan didepannya, ia ingin bergabung disana, ia ingin memeluk mereka, ingin memeluk Rana dan Kimi.Raydan turun dari kursinya, mengahampiri mereka dengan perasaan berkecamuk, ia ragu, ia takut."Ran...."Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aluna dan Wasiat
Romance
11 Dec 2025

Aluna dan Wasiat

Seorang gadis cantik berambut gelombang, berkemeja putih dengan bawahan jins berwarna donker melekat di tubuhnya, bunyi suara ketukan stileto berbentur terdengar. Sesekali bibirnya bersenandung kecil menghasilkan nada Bang-Bang dengan penyanyi Ariana Grande beserta teman-temannya sedangkan tangan kanannya memutar-mutar kunci mobilnya.Gadis cantik ini seperti biasa, baru saja pulang dari berkumpul bersama teman-temannya.Aluna, gadis yang akrab di sapa Luna ini merupakan gadis yang gemar berfoya-foya.Langkahnya terhenti kala menatap dokter pribadi keluarga mereka keluar dari kamar papanya."Loh? Kok dokter. Papa saya kenapa dok?"Dokter itu menghela nafas "Sebaiknya kamu menemui Pak Satria, beliau sedari tadi menunggu kamu"Melihat dari raut wajah dokter itu perasaan Luna itu mulai tidak enak menyergap di dadanya. Ada apa ini?Segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar papanya."Pa?" sapanya sambil menggenggam tangan papanya, papanya tersenyum lemah."Ada yang ingin papa sampaikan. Papa selalu lupa menyampaikannya"Alis Luna bertaut menunggu kelanjutan cerita papanya itu."Kamu ingatkan Kevin anak om Surya, sahabat papa. Menikahlah dengannya"Mata Aluna mengerjab seakan memastikan bukan mimpi."Tapi Aluna masih..""Kecil? Kamu sudah 24 tahun" suara papanya makin melemah, ia terbatuk.Belum sempat Aluna mengajukan protesnya tiba-tiba tubuh papanya mengejang. Luna panik segera memanggil dokter Gunawan, dokter itu memeriksa papanya lalu menolehkan wajahnya ke Luna dan menggeleng.Nafas Luna seakan tercekat, ia tertawa pilu. Tidak mungkin racaunya."Pa.. Papa..." ia menangis sejadinya. "Pa, Luna bagaimana?" ia terduduk lemas di lantai.Bahkan saat papanya dikebumikan pun ia masih terisak, seingatnya papanya itu sehat namun ternyata papanya memiliki penyakit yang disembunyikan dari Luna.Ia sempat menyesal tidak memerhatikan papanya dengan baik.Setibanya di rumah pengacara dan tantenya, adik papa Luna, Mira menunggunya di ruang tamu."Duduk, sayang" ucap tantenya lalu mengusap bahu Luna"Baiklah, langsung saja karena semua sudah hadir. Jadi, pak Satria membuat wasiat bahwa seluruh kekayaan asetnya ini akan jatuh di tangan anak semata wayangnya yaitu Aluna.""Alhamdulillah.." ucap tantenya."Yang kuat ya sayang. Tante pasti bantu kamu" ucap Tantenya menguatkan."Tapi Aluna akan mendapatkan seluruh aset ini hanya jika ia telah menikah, dan ia harus menikah dengan anak sahabat papanya itu, Kevin." ucap Pak Anto selaku pengacara pribadi mereka"Dalam waktu satu bulan. Jika tidak, seluruh aset ini akan di sumbangkan ke panti asuhan" tambahnya"Apa tidak salah, pak? Bagaimanapun Aluna masih kemalangan begini, pak?" Mira menanggapi, lalu menggenggan tangan keponakannya itu.Aluna menggeram "Demi Tuhan, bahkan pemakaman papaku belum mengering""Saya paham, nona. Dan wasiat ini sudah diperbaharui sejak seminggu yang lalu"Aluna menangis, bagaimana ia akan menghadapi ini semua? Papanya sudah merencanakan ini semua. Ia menyesal tak meluangkan waktunya sejenak untuk papanya."Baiklah, dimana alamat Kevin itu?" tanya MiraAluna langsung menoleh "Tantee" protesnyaAluna menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan alasannya hingga ia bisa berada di apartemen ini. Kedua tangannya mengepal disisi tubuh, ragu menyelimutinya.Ia menaikkan tangannya berusaha mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali lalu ia tertawa "Kenapa aku mengetuk? Kan ada bel." gumamnyaLalu ia segera menekan bel tersebut juga sebanyak tiga kali, itu anjuran agama kan? Mengetuk atau memanggil sebanyak tiga kali jika tidak ada yang menjawab maka kita harus pulang.Meskipun Luna gemar berfoya-foya setidaknya ia paham sedikit mengenai agama, huh ia bersyukur tidak pernah bolos di jam pelajaran agamanya.Tangannya semakin terkepal disisi tubuhnya, ia takut. Bagaimana jika calon suaminya itu hitam, jelek dan dekil? Uh.. Belum lagi bagaimana jika calon suaminya itu perutnya buncit. Yang ia dengar dari pak Anto bahwa calon suaminya ini sangat baik. Haha baik saja tidak cukup, harus juga tampan.Setidaknya jika tampan, akan memiliki gen yang baik untuk keturunannya.Diam beberapa saat tak ada yang membuka pintu, Luna membalik badan mungkin besok saja akan ia temui. Badannya sedikit lemas.Bunyi pintu terbuka, "Hei" suara itu menyapa telinga Luna,Dari suara sih oke. Batin Luna, ia membalik badan ke arah pintu lagi. Lalu tangan kanan yang masih terkepal ia naikkan dan ia buka sambil tersenyum sangat manis dan berkata "Hallo"Pria di hadapannya memerhatikan penampilan Luna, kemeja berwarna merah muda yang setengah dimasukkan kedalam celana hitam, sepatu heels berwarna coklat dengan mementeng tas jinjing kecilnya.Ia mengingat seingatku aku tak kenal dengannya batinnya.Tak jauh berbeda dengan pria di depan, Luna juga memerhatikannya pria ini tampan, dengan wajah aristokrat, mata indah, alis tebal hidung mancung dibingkai rahang tegas. Uh jangan lupakan badannya yang atletis.Luna tersenyum dalam hati, pilihan papanya tidak buruk namun ia belum boleh senang dulu.Tiba-tiba ia merasa sangat pusing menghantam di kepalanya, ia kehilangan pijakan sehingga tubuhnya limbung.Mungkin ini efek selama dua minggu ini ia mengurung dirinya di kamar, memastikan ini bukan mimpi. Dan tantenya menyuruh menemui Kevin, ia tak ingin usaha kakaknya diserahkan ke orang lain.Dengan sigap pria di hadapannya, Kevin menangkapnya "Eh, nona kenapa?"Kevin membantunya masuk ke dalam apartemennya, mendudukkan Luna di sofanya lalu ke dapur membuatkan teh dan menyerahkannya.Luna meminumnya perlahan, "Terima kasih, apa kau memiliki makanan?" ucap Luna, ia sungguh lapar.Pria di hadapannya tertawa "Aku tidak mengenalmu. Tapi sebagai bentuk rasa sosial. Aku akan memberikannya. Ayo aku juga belum makan""Kau sungguh baik. Dan apartemenmu bagus, terlihat nyaman" jawab Luna sambil memerhatikan sekitar.Kevin hanya menggelengkan kepalanya, mengajak gadis itu ke meja pantry dan mengambilkan nasi goreng yang tadi sempat ia buat sebelum bel berbunyi. Mereka memakannya bersama, ini sudah pukul 10 pagi sarapan yang cukup terlambat.Luna langsung saja memakannya lahap "Enak sekali. Kau yang memasak?""Tentu""Pak Surya kemana?"Kunyahan Kevin terhenti, ia merenung sebentar. Merasa tak ada jawaban Luna menatapnya"Pak surya papa kamukan?" tambahnya"Papaku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Tapi kamu mengenal papaku?"Luna diam sejenak, ia tak perlu menjelaskan sekarang bukan? Bahkan mereka belum berkenalan "Maaf aku tidak tahu. Btw aku Aluna, kamu?" ucapnya sambil mengulurkan tangannyaKevin menerima uluran itu "Kevin" jawabnya, Lalu mereka kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut mereka."Jadi ada apa kamu kesini?" tanya KevinLuna menutup sendoknya mengakhiri makannya, ia sudah kenyang. Calon suaminya ternyata pintar masak. Lalu bagaimana dengannya? Sedikit."Kevin, ayo kita menikah." ucap Luna"Hah?""Aku serius. Ayo kita menikah. Aku mencintai kamu" Dari ucapan pak Anto, Kevin tidak akan menikah dengan orang hanya karena harta. Maka dengan ini Luna yakin pasti Kevin mau.Lalu pria itu terbahak "Kamu perempuan gila ya. Kita bahkan tidak saling mengenal. Sudahlah sekarang kamu pulang" ucap pria itu sambil menggeret Luna keluar."Calon suami kok kasar sih, pake seret aku begini" protesnya"Sudahlah. Kita baru kenal tak lebih dari 24 jam. Dan kamu ingin aku menikahimu?"Luna berpegangan sofa karena Kevin terus menariknya, ia yakin tangannya pasti akan memerah.Bagaimana ini? Dua minggu lagi."Kau harus menikahiku""Tidak akan" jawabnya lagi masih sambil aksi tarik menarik.Hingga Kevin menyentak tangan Luna menyebabkan sofanya berjungkit dan tubuh Luna limbung, keningnya berbentur meja kecil di pinggiran sudut sofa."Aaaa" ringisnya lalu terduduk "Sakit""Maaf. Tapi itu takkan terjadi jika kau tak begitu"Luna mendengkus "Ingat Kevin, aku akan pergi tapi nanti aku akan kembali. Dan kita akan menikah" ucap Luna pada Kevin dan beranjak memegangi keningnya yang membiru.Selepas kepergian perempuan itu, Kevin duduk memijat pangkal hidungnya. Weekend yang menyebalkan, bagaimana tidak ia baru saja bertemu dengan perempuan gila itu.Kevin membuka kaosnya, ia merasa gerah. Bahkan ruangan berserakan itu belum ia bereskan. Nanti saja, ia akan merebahkan tubuhnya beberapa jam saja hingga makan siang.Kevin Artasesurya, seorang pria berusia 27 tahun bekerja sebagai Dosen agrobisnis. Kehilangan ibu di waktu kecil dan ayah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Sungguh malang hari liburnya diganggu dengan kehadiran gadis gila itu.Selang beberapa saat bel berbunyi membangunkan Kevin, ia mendengus lalu bangkit. Ayolah siapa lagi yang mengganggu. Ia berjalan membuka pintu apartemennya, dan betapa terkejutnya ia melihat gadis bernama Aluna tadi menggunakan kemeja sobek-sobek, rambutnya acak-acakan menampilkan dahinya sedikit membiru, juga ada satpam dan beberapa orang lainnya."Benar dia nona?" tanya satpam, yang ku ketahui bernama Andi."Iya pak" isaknyaTunggu ada apa ini? Tanyamya dalam hati."Hei. Kau harus bertanggung jawab. Kenapa kau melakukan gadis semanis ini" ucap salah satu ibu-ibu."Bertanggung jawab apa?" tanya Kevin"Hei! Lihatlah kau sudah melecehkannya""Lihat bu. Dia bahkan belum menggunakan bajunya dan ruangannya masih tampak berserakan" ucap Luna yang membuat Kevin kebelakang dan cepat menoleh ke arahnya. Ah sial.Luna mengerling nakal pada Kevin "Ini salah paham, pak, bu" ucap Kevin."Sudah ayo kalian segera menikah. Coba kau pikirkan masa depan gadis ini""Lalu apa kalian tidak memikirkan masa depanku?" ucapnya yang sama sekali tak dihiraukan orang-orang itu dan malah semakin menggiring ke salah satu rumah warga terdekat dan merekapun menikah.Maafkan aku, papa. Ini demi papa juga batinnya.Mimpi apa aku tadi malam batin Kevin.-----Kini mereka sudah sah menjadi suami dan istri, mereka sudah berada di apartemen Kevin. Dan ini sudah pukul 7 malam."Seingatku ada dua kamar disini. Ah yang itu kamarmu, bukan?" ucap Luna sambil menunjuk salah satu bilik yang ia yakini bukan kamar yang dihuni Kevin. "Nah pasti yang ini kamarku" tambahnyaIa segera membuka pintu kamar itu tanpa memedulikan Kevin yang mulai berapi-api. Ah ia lega saat melihat kamarnya tertata rapi, ia membersihkan tubuhnya setelah sebelumnya membuka sebuah aplikasi.Kevin di buat melongo dan terheran, perempuan itu sangat ingin dinikahi tapi setelah menikah bahkan perempuan itu minta tidur sendirian.Sepertinya ia harus berbicara nanti dengan wanita ini. Entah kerasukan apa.Dunia Kevin kehilangan keseimbangan dalam waktu kuran dari 24 jam. Ia masuk ke dalam kamarnya membersihkan tubuh dan pikirannya.Setelah ia selesai dengan urusannya ternyata sudah ada gadis bernama Aluna yang menunggunya dengan makanan yang tertata di atas meja.Baru saja Kevin hendak membuka mulut, Luna sudah mendahuluinya "Makan dulu"Dan merekapun makan dalam diam, sesekali mereka saling menatap. Dengan tatapan berbeda-beda.Ada sedikit kekaguman dalam hati Luna saat menatap pria itu, ia sangat yakin pria di hadapannya ini pasti akan mengamuk layaknya singa, oleh sebab itu ia menyuruhnya makan dahulu. Setidaknya perutnya akan kenyang jika pria itu marah.Apa hubungannya? Entahlah.Setelah mereka menghabiskan makanannya, Luna membuka suara "Kamu kerja apa?" tanyanya"Apa itu penting buatmu? Bukankah tujuanmu sudah tercapai" balasnyaLuna berdecih "Memangnya ada yang salah jika istri menanyakan hal itu pada suaminya?""Tidak, aktingmu bagus tadi"Luna tertawa, dan menampilkan ekspresi bangganya "Tentu saja, aku hanya perlu merobek beberapa bagian saja tadi."Kevin berdecih, ia tidak boleh kalah. Terlintas ide konyol untuk mengerjai gadis di hadapannya ini. Selagi ini masih berlibur ia akan mengajak gadis ini ke suatu desa masa kecilnya di vilanya, dan ia hafal dari apa yang dilihatnya bahwa Luna adalah anak yang manja."Jadi kita sudah menjadi suami istri, bukan?" tanya Kevin dengan senyum culas, Luna bergidik melihatnya."Lalu?""Bukankah kita harus melakukan honeymoon, mungkin?" tanyanya"Ah apakah itu perlu?" tanya Luna was was dan di balas anggukan dan senyumam penuh misteri dari Kevin."Kau pasti sangat menyukainya nanti" balas Kevin dengan seringaiannya-----"Aaa.. Mama, Papa" rengeknya untuk kesekian kalinya saat heelsnya masuk ke dalam kubangan lumpur."Kevin, tolong" ucapnya sambil menyerahkan tas ranselnya, berniat akan menggulung celananya yang sudah kena beberapa percikan lumpur"Ayo cepat jalan. Jangan manja!" teriak Kevin beberapa meter di depan Luna.Luna terus saja menggerutu, bagaimana tidak. Janjinya itu Kevin akan membahagiakannya untuk 3 hari ke depan mulai dari keluar pintu apartemennya tadi pagi.Namun Kevin malah mengajaknya naik angkutan umum, Luna sudah menawarkan mobilnya namun Kevin menolak.Dan mereka sudah menaiki angkutan umum sekali, mobil pick up mengangkut sayur sekali, kemudian melewati beberapa pepohonan rimbun dan kini melewati jalanan sawah.Rasanya Luna ingin menangis, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kakinya seperti akan patah, jauh sekali perjalanannya ini. Sebenarnya kebahagiaan apa yang akan ditawarkan oleh Kevin padanya?Sementara itu, Kevin terus tertawa kecil dan senang di depan sana.Nikmati saja waktumu selama menjadi istriku batin Kevin sambil tertawa senang."Kevin..." rengeknya lagi.Kevin menghela nafas "Baiklah. Sini" ucapnya sambil membawakan ransel Luna. Mereka kembali berjalan lagi. Kini langkah Luna sudah sejajar dengan Kevin."Hah? Buntu?" teriak Luna "Kita sudah jalan jauh dan malah buntu" tambahnya saat melihat tebing tinggi di hadapannya.Kevin menoleh pada Luna "Lihat disana ada tali. Kita akan memanjatnya" ya Kevin sudah menyiapkan ini semua, ia menyuruh temannya memasangkan tali itu tadi pagi.Dan perkataan itu sukses membuat Luna berteriak "Demi Tuhan, Kevin. Aku memakai heels dan kalau aku mati bagaimana? Kau akan menjadi duda." gerutunya lagiKevin melihat ke arah Luna, mengamati penampilannya. Syukurlah Luna menggunakan Kemeja donker dan jins putih meski berubah menjadi sedikit kecoklatan akibat perjalanan mereka.Tapi ia tidak tega juga, baiklah ia akan memilih jalur alternatif "Kamu lihat tangga disana?" tanya Kevin sambil menunjuk sisi kanan tebingTerlihat disana tapakan anak tangga dari tebing terdapat pijakan kayu disana agar memudahkan menaiki tebing itu sehingga takkan terpeleset.Luna mengangguk "Kita naik dari sana" jawabnya dan berlalu dari hadapan Luna yang membuat Luna nyaris memotong leher pria itu.Kalau ada jalan yang mudah kenapa harus memanjat dengan tali?Dengan perlahan Luna menaikinya, sambil mencopot heelsnya tentu saja. Bajunya sudah kotor, apalagi jinsnya yang berwarna putih.Kevin sudah sampai di atas menunggu Luna sambil berdiri dengan senyum sumringah, ketika Luna sampai di atas dengan senyuman khasnya pria itu berucap bahagia "Selamat datang di Villa kita, Aluna artasesurya.." sambil merentangkan tangan seolah mempersembahkan sesuatu.Aluna melongo, ia terpanah akan keadaan yang ada. Tempat ini indah, ia akui itu. Sangat indah malahan. Terlalu indah sampai Ia terduduk di tanah.Pemandangannya sungguh indah, dan disana ada jalanan raya. Lalu mengapa pria dihadapannya mengajaknya naik turun melewati gunung dan lewati lembah seperti ninja hatori?Lemas melanda seluruh tubuhnya, melihat keadaan ia tak mampu berkata-kata dan berjanji akan membalas pria yang sedang tertawa senang itu nanti.Pria itu mengerjainya, Luna tak bisa berkata apa-apa. Ia menangis menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya.Kevin yang melihat itu kelimpungan, bagaimana ini? Ia tidak pernah membujuk wanita menangis. Ia bahkan belum pernah berpacaran.Ia memberikan tas pada penjaga villanya dan kembali mendekati Luna."Sudah ya jangan menangis" ucapnya"Kau jahat sekali" lirihnya "Kakiku sakit" tambahnya lagi dengan menangis"Itu salahmu kenapa pakai heels""Disana ada jalan raya kenapa harus naik turun begitu!" omelnya menatap Kevin dengan mata sembab.Kevin tertegun, ia melihat tumit Luna sedikit terluka. Ia bangkit ke dalam villa mengambil P3K. Dan menarik kaki Luna ke pangkuannya membersihkan lukanya dan menempelkan plaster disana."Sudah, ayo" ajaknya, namun Luna hanya diam menatapnya"Apa lagi?" tanyanya jengah"Gendong aku!""Kau merepotkan.""Tapi aku istrimu" dengan menghela nafas Lalu ia menggendong Luna, dan Luna tersenyum digendongannya. Luna juga mengusap cairan hidungnya di kemeja yang digunakan Kevin yang membuat Kevin berteriak heboh dan Luna tertawa.-----Setelah makan malam berlangsung, tanpa mengucap sepatah katapun Luna memasuki kamarnya. Kakinya juga terasa sakit mungkin ini efek perjalanan tadi.Ia menarik selimut hingga sebatas lehernya, disini cukup dingin.Kevin yang memasuki kamar tersebut menatap Luna, ia berpikir apakah ia sudah keterlaluan.Sebenarnya ia tidak tega, tapi ini juga salahnya karena perempuan itu yang menjebaknya sehingga mereka menjadi sepasang suami istri.Kevin heran, kenapa bisa perempuan ini ingin menikah dengannya bahkan sampai menghalalkan segala cara.Ia bahkan hanya tinggal di apartemen sederhana dan bekerja menjadi dosen itu yang selalu ia tampilkan di depan semua orang. Rasanya Kevin sudah ingin sekali bertanya alasan perempuan itu namun harus ia urungkan menjadi besok melihat Luna terlelap akibat ulahnya.Keesokan paginya, ia menarik paksa selimut yang dipakai Luna sehingga mengusik tidur Luna.Luna melenguh karena tidurnya terganggu sedangkan Kevin berdecak sebal ini sudah pukul 8 dan dia belum bagun."Ayo bangun. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"Luna mengucek matanya "Kemana?""Rahasia. Aku menunggumu di depan" ucap Kevin dengan seringaiannya meninggalkan Luna yang masih membersihkan kotoran matanya.Setelah 45 menit lamanya Luna belum ke depan, ia masuk ke dalam melihat Luna yang sudah rapi namun duduk di hadapan rak sepatu miliknya."Kau sudah sarapan?" tanya Kevin yang langsung di angguki oleh Luna"Ya sudah. Ayo" ajaknya namun Luna masih diam "Ada apa?" tanya Kevin lagi karena bingung apa yang dilakukan Luna, kenapa ia tidak beranjak juga"Aku bingung mau pakai sepatu yang mana" jawab Luna yang membuat Kevin menepuk jidatnya."Kau tidak memberitahuku akan kemana. Kakiku akan sakit jika kau mengajakku seperti semalam" tambahnya menatap Kevin dengan sendu membuat Kevin tidak tega."Aku heran, kenapa perempuan senang menyiksa dirinya sendiri" ia beranjak mengambil sepatu kets berwarna abu-abu memberinya di hadapan Luna.Mereka mulai berjalan menelusuri pepohonan, refleks Luna melingkari lengan Kevin ia takut akan ditinggalkan oleh lelaki itu, ia juga tahu lelaki ini masih sebal akan tingkahnya tempo hari yang lalu.Tapi biarkan saja, yang penting semua berjalan aman, ia juga sudah menghubungi Pak Anto.Luna mengingat ucapan Kevin membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di tempat tujuan "Btw, kamu kerja apa sih?" tanya Luna memecah kediaman mereka untuk membunuh waktu"Dosen. Aku hanya dosen di sebuah universitas""Aku tidak yakin mampu membiayai gaya hidupmu yang seperti ini" Kevin sengaja mengatakan itu namun diluar ekspektasinya, Luna malah tertawa"Aku senang punya suami dosen""Kau tahu, sebenarnya aku sudah punya calon istri dan berniat melamarnya bulan depan" aku Kevin.Luna memberhentikan langkahnya, benarkah ? Apa aku terlalu egoi s . Batinnya. Ia menimbang dan memikirkan kedepannya."Ayo jalan lagi""Kev...." panggilnya sambil menatap Kevin menanyakan sesuatu"Hmm"Luna menghela nafasnya, menguhah topik yang ingin ditanyakan "Masih jauh?""Sedikit lagi,," jawab Kevin lalu berjalan kembali kali ini ia yang menarik dan menggenggam tangan Luna.Hingga mereka sampai di sungai kecil yang cukup dangkal, terdapat beberapa pijakan batu disana. Mereka menyebrangi sungai itu, Kevin berjalan lebih dulu dan diikuti Luna yang sesekali dibantu Kevin. Mereka sedikit melupakan masalahnya.Setelah itu barulah mereka sampai di sebuah air terjun. Mata Luna berbinar "Indah sekali" ucapnya dengan takjub "Kalau beginikan tidak sia-sia aku berjalan jauh" ia menjedanya dan melihat arlojinya "Bahkan kita berjalan selama satu jam" tambahnya.Ia melihat Kevin duduk beralaskan batu di dekat sana lalu diikuti dengan Luna "mmm terima kasih mengajakku kesini""Kau lapar?" tanyanya saat mendengar bunyi perut Luna, ia meringis dan tertawa lalu sedetiknya mengangguk. Tadi pagi Luna memang tidak sarapan hanya meneguk segelas susu hangat.Kevin mendengkus membuka isi tasnya mengeluarkan bekal mereka "Wah.. Kau tanggap sekali"Kevin membuka bekal tersebut yang hanya terdiri dua kotak bekal, satu kotak bekak diberikan kepada Luna."Nasi goreng hongkong?" tanyanya "Tidak ada yang lain?""Sudahlah makan saja, aku tidak enak menyuruh bi Tuti tadi pagi"Menghembuskan nafas Luna menerimanya, dengan perlahan ia memisahkan nasi dengan wortelnya."Kau tidak menyukai wortel?" tanya Kevin"Tidak, seperti kelinci saja memakan wortel" balasnya acuh.Kevin tertawa, meliha Luna mengingatkan seseorang."Kenapa tertawa?""Kau mengingatkanku pada seseorang, yang akan ku nikahi nanti" ucapnya sambil menatap ke arah bekalnya "Tapi tidak jadi" tambahnya sambil menatap Luna.Luna menghentikan gerakan memisahkan nasi pada wortelnya. Ia terdiam beberapa saat. Menimbang ucapan yang mungkin akan menjadi solusi."Maaf. Baiklah mungkin kita bisa bercerai beberapa bulan atau minggu mungkin. Tapi kau sudah memberitahukan wanitamukan?""Kau tahu, Luna? Bahkan aku tidak tahu dimana wanita itu"Alis Luna mengernyit, "Aku tidak mengerti""Sebenarnya, wanita itu teman masa kecilku. Aku tahu sejak kecil aku akan menikah dengannya, setidaknya itu kata ayahku. Tapi seiring berjalannya waktu kami tak pernah bertemu" Kevin tak mengerti mengapa ia menjelaskannya tapi ia hanya merasa ingin menjelaskan itu pada, mm istrinya. Ya istrinya."Lalu bagaimana?""Sejak dulu papaku mengingatkanku untuk segera bertemu dan menikah dengannya tapi aku tidak siap, aku berkilah untuk bekerja, menjadi orang yang lebih baik dan papaku mengizinkannya. Puncaknya 2 tahun yang lalu saat papaku meninggal, tapi aku merasa belum siap. Harusnya saat itu aku langsung menemuinya tapi aku tidak bisa. Hingga bulan depan harusnya aku datang melamarnya tapi kau datang terlebih dahulu" jelasnya panjang lebar."Perceraian bukan list dalam keinginanku" tambahnya lalu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.Aluna menautkan jarinya, memegang sendok sedikit kuat. Ia takut, tapi harus bagaimana. Mengontrol emosi, ia akan mencari tahu terlebih dahulu."Siapa nama wanita itu?"Kevin menggeleng, "Aku hanya mengingat nama ayahnya, bernama Satria""Na...na. Nana. Iya mungkin namanya Nana" tambahnyaLuna menatapnya lamat-lamat "Apakah nama lengkapnya Satria Pramuaji?" tanyanya memastikanKevin mendongak membalas tatapan Luna dengan kening bertaut "Bagaimana kau tahu?"Luna menghela nafas, ia tertawa lalu memeluk Kevin "Syukurlah, aku tidak akan menjadi janda" ucapnya saat melepaskan pelukan itu."Huh?""Aku anaknya pak Satria. Nama ayahmu Pak Surya, kan? Aku lega"Kevin masih bingung akan pernyataan Luna."Tapi namanya Nana, bukan Aluna""Saat kecil aku memang dipanggil Nana, Aluna, akhiran NA, nana." TegasnyaLalu tak lupa Aluna menceritakannya segalanya sampai akhirnya ia menikahi Kevin."Sepertinya papa kita sudah merencanakan ini semua" ucapnya setelah beberapa saat.Ia menghela nafas, bangkit dari duduknya dan Luna memandangnya "Maaf mungkin caraku salah""Harusnya aku yang melamarmu" jawabnya lagi.Luna bangkit "Sudahlah semuanya sudah berlalu. Setidaknya sudah terungkap" balasnyaKevin mengulurkan tangannya layaknya mengajak dansa lalu berucap "Mau memulainya dari awal?"Luna tersenyum dan mengangguk menerima uluran tangannya "Tentu""Okay. Ayo kita pulang. Kita makan di villa, meminta bi Tuti memasak enak""Tunggu, kita makan bekal dulu yaa. Aku lapar sekali. Akan membutuhkan waktu sejam sampai di Villa""Hanya sepuluh menit""Huh?"Kevin menggaruk tengkuknya "Sebenarnya ini dibelakang Villa. Kita memutar rute sehingga menempuh satu jam""Huh?" mata Luna membulat lalu ia memukul Kevin,"Kau jahat sekali!" makinya yang di balas Kevin dengan tertawa.END

Wanita Kedua
Romance
11 Dec 2025

Wanita Kedua

Aku kembali menghela nafas, menatap rinai yang masih turun membasuh permukaan bumi.Saat ini aku duduk di dalam mobil bersama seseorang yang saat inipun ia masih enggan membuka suara, karena terhitung satu jam lamanya kami berdiam.Menghadap arah jendela, ku mainkan jari-jariku di kaca membentuk kata akibat embun dari hujan.Setelah tadi ia menarikku ke dalam mobil ini dan jawabanku yang masih sama seperti sebelumnya, sehingga ia menepikan mobilnya di tepi jalanan dengan hujan dan kilatan petir sebagai bentuk protes dari pernyataanku.Pria yang membuatku jatuh cinta sejak awal pertemuan kami, setahun yang lalu. Pertemuan untuk pertama kalinya, Bali. Aku ingat saat moment itu, kami menaiki pesawat dan duduk bersebelahan.Saat itu aku ke bali untuk menenangkan pikiran akibat aku baru saja putus dari kekasihku, lalu bertemu dengan pria ini. Pria yang awalnya menyebalkan namun kami menghabiskan waktu bersama di Bali selama satu minggu.Dan sejak itu kami berhubungan, dan untuk pertama kalinya duniaku kembali hancur saat Cindy mengenalkan kekasihnya di cafe, yang ternyata adalah Yovan."Sayang.." panggil pria di balik kemudi itu, namun aku masih diam.Ia memegang tanganku "Jangan tinggalkan aku""Yovan, sadarlah kita tidak mungkin bersama.""Apa yang tidak mungkin?" Balasnya menatap tajam mataku, tatapan yang sangat mengintimidasi.Ku tarik tangannya lalu berkata "Lihat di jarimu. Kamu sudah bertunangan."Ia ingin menjawabnya, jawaban yang lagi-lagi sama dan dengan cepat aku menyelanya "Demi Tuhan Yovan, Tunanganmu adalah temanku. Aku tidak bisa melakukan ini lagi" teriakku dengan frustasi.Aku kembali menghela nafas "Sekarang ayo kita kembali kesana." ucapku, ia hanya diam tampak berpikir.Tadi kami masih berkumpul di acara Cindy, tunangannya dan temanku. Saat aku hadir bersama Teo, yang tak lain adalah anak teman ayahku, ia langsung menarikku.Ku lirik Yovan menghela nafasnya dan melajukan mobilnya, tapi bukan ke arah tujuan yang ku perintahkan."Kita mau kemana?" tanyaku yang tak dijawab olehnya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Dengan segera aku mengirim pesan pada Teo bahwa aku pulang duluan karena ada meeting mendadak, syukurlah Teo mengerti dan tak banyak bertanya.Setelah menempuh kurang lebih satu jam kami sampai di sebuah pantai, aku tahu pantai ini.Tak ingin berdebat aku langsung turun dari mobilnya, malam ini hujan turun namun sudah reda, ia malah mengajakku ke pantai disaat malam begini.Aku melangkahkan kakiku sedikit mendekat menuju bibir pantai. Menggosok-gosokkan tanganku mencari kehangatan.Kurasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang, nafasnya menghembus tengkukku menciptakan sensasi aneh di tubuhku. Aku memejamkan mataku menikmati pelukan dari orang yang ku cintai serta menerima hembusan angin yang turut membelai wajahku, biarlah untuk malam ini."Ku mohon, jangan menikah dengannya" ucapnya serak di telingaku.Ya, aku akan segera menikah dengan Teo. Tapi belum di tentukan kapan tepatnya karena saat ini kami masih tahap pendekatan, syukurnya orang tua kami tak mempermasalahkan itu, mereka membebaskan pilihan kami.Teo, Lelaki pilihan orang tuaku karena sampai saat ini aku belum membawa kekasihku sejak putusnya aku dengan mantanku setahun yang lalu.Aku juga terpaksa menerimanya karena ingin mengakhiri kisah cinta yang tidak baik ini. Cindy adalah temanku sejak di bangku perkuliahan, dia sangat baik padaku rasanya sungguh tidak adil jika aku terus menerus bermain dengan kekasihnya yang sudah dua bulan ini menjadi tunangannya.Cindy selalu menceritakan kekasihnya yang diluar negeri, bodohnya aku yang ternyata Yovan adalah lelaki yang diceritakannya sejak 2 tahun yang lalu. Dan dihari wisuda aku mendapati kekasihku tidak setia dan bertemu dengan Yovan saat pergi ke Bali.Aku juga ingat momen yang membuat Cindy curiga pada kami, dan itu pula yang membuat aku menerima Teo dan mengatakan akan menikah dengannya agar Cindy tak berprasangka buruk padaku.Oh pantaskah aku berbicara begini?Saat itu, tepatnya tiga bulan yang lalu aku meminta Cindy menemaniku mencari beberapa novel, minimal sebulan sekali kami selalu rutin hangout bersama.Aku menunggunya di cafe yang ada di mall tersebut, tak lama Yovan datang dan langsung mengecup dahiku. Tentu aku terkejut dan menegurnya namun dengan santainya ia berkata "Cindy akan menyusul karena menemani ibunya sebentar dan aku disuruh menemanimu"Aku tidak mengerti kenapa ada wanita sebaik Cindy. Tanganku di genggamnya yang masih aku diamkan saja namun saat Cindy datang aku dengan cepat menarik tanganku dari genggamannya.Cindy tersenyum dan memeluk singkat padaku yang membuat hatiku diremas perasaan bersalah."Makan dulu ya. Aku lapar ni tadi sama mama belum makan karena sudah janji mau ketemu Kalila." ucapnya"Sayang, tidak buru-burukan? Temani aku dan Kalila dulu ya" tambahnya pada Yovan yang di balas anggukan.Kami segera memesan dan tak lama pesanan kami datang, aku memesan beef steak namun entah itu salah di pisau atau bagaimana rasanya sulit untuk di potong. Dengan cekatan Yovan mengambilnya dan membantunya memotong kemudian menyerahkannya kembali padaku."Sayang, punyaku tidak? Aku juga mau" ucap Cindy pada Yovan, ku lihat ia sedikit mengerutkan dahinya menatap kami dan menatapku dengan tatapan berbeda.Aku merutuki Yovan kali itu, bagaimana ia bisa lepas kontrol begitu di hadapan Cindy. Dan saat itu ia juga mengambil alih milik Cindy dan memotongkannya dengan cepat ia berkata "Aku serasa memiliki dua bayi"Aku tahu, ungkapannya hanya untuk memoles kecurigaan kekasihnya dan aku bersyukur untuk itu."Sayang, sepertinya aku sudah siap untuk melepaskan Cindy" ucap Yovan menarikku dari lamunanku beberapa waktu lalu.Aku memutar tubuhku ke arahnya "Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini lagi" lirihku"Cindy gadis yang baik, aku tidak mungkin mengkhianatinya." tambahku dengan memelas padanya"Lalu bagaimana perasaanku, Kalila?""Kamu sudah bersamanya selama dua tahun lebih tidak mungkin tak ada cinta, Yovan" balaskuIa menggeleng dengan tegas "Hubunganku sedari awal dengannya hanya karena semata aku menyayangi orang tuaku dan terpaksa menerima permintaan mereka. Aku sungguh mencintaimu""Pikirkan aku, kita. Perasaan aku dan kamu, Kalila." tambahnya lagiAku mengangguk "Baik. Anggaplah begitu. Lalu bagaimana dengan orang tuamu. Apakah mereka menerimaku nantinya?""Dan apakah kau pernah berpikir bagaimana hubunganku dengan Cindy nanti? Aku tak ingin kehilangannya" tambahku lagi.Yovan terdiam, matanya menatapku lekat dan ku balas tatapannya"Apapun itu Kalila. Asal aku bersamamu" ucapnya setelah beberapa menit terdiam, tangannya menarik tubuhku."Apa kita harus kawin lari?" bisiknya padaku"Aku tidak ingin seperti itu, tolong pikirkan keluargaku juga" suaraku teredam pelukanyaAku menangis, membenamkan wajahku lebih dalam di dekapannya. Sungguh aku mencintai pria ini, sangat."Aku tidak bisa menjadi perempuan seperti itu, Yovan" isakku dan ia semakin mengeratkan pelukannya dan ku balas tak kalah erat.Tuhan, bisakah aku memiliki pria ini? Dan mengapa aku bertemu dengannya jika pada akhirnya hubungan ini akan menyakiti banyak pihak nantinya.---Sinar mentari pagi menerpa wajahku, mengusik ketenangan tidurku. Aku bangkit bersandar pada kepala ranjang. Ku lihat pria yang kucintai masih tertidur dengan meringkuk di sofa itu.Tadi malam kami memutuskan tidur di penginapan yang tak jauh dari pantai ini dan hanya tersisa satu kamar sehingga ia tidur di sofa.Sebenarnya aku tidak tega karena itu pasti tidak nyaman dan akan membuat tubuhnya terasa sakit, aku juga sempat menyarankan untuk tidur bersama dengan arti tidur sebenar-benarnya tapi ia menolak takut khilat katanya. Dan sisi itu yang membuat aku jatuh cinta lagi terhadapnya.Ia menggeliat "Morning, sayang" suara paraunya bangun tidur yang terdengar seksi di indera pendengaranku.Aku tersenyum membalasnya "Morning""Kiss nya mana?" godanya padaku"Pukul mau?" balasku cepat dan membuatnya terbahak.Ku lihat ia bangkit memberikanku paper bag "Ganti pakai kaus ini ya. Cuma ini yang ada di toko bawah tadi malam"Aku bahkan tidak tahu kapan ia keluar, karena tadi malam aku sangat lelah sekali jadi begitu sampai penginapan langsung tertidur.Aku mengangguk "Terima kasih"Lalu akupun bangkit untuk membersihkan diri.Saat ini kami sedang berkeliling di tepi pantai baik aku maupun Yovan, kami enggan untuk pulang. Setelah sarapan tadi kami berkeliling disini bahkan Yovan mengajakku untuk ke puncak namun aku tolak.Bagiku di pantai ini saja sudah lebih dari cukup."Yovan, ayo foto" ajakku yang langsung ia iyakan, dan memposisikan tubuhnya di sampingku untuk memudahkan potret selfie.Beberapa pose kami lakukan, setelah lelah ia meminum sebotol air mineral yang sempat kami beli tadi. Dengan iseng aku mendorong botol itu saat ia menenggaknya menyebabkan bajunya basah dan ia memekik membuatku tertawa kencang dan segera berlari."Kalila!!" Teriaknya dan aku tertawa sambil berlari, ia yang tak mau kalah mengejarku dan menangkapku lalu menggelitiku perutku, ini kelemahanku."Aa... Sudah. Yovan.. Geli" rengekkuDia masih terus menggelitikku "Rasakan.. Ampun tidak?" ucapnyaAku masih terus tertawa dan mengucapkan kata ampun tapi dia berbohong karena masih terus menggelitikku hingga aksi kami terhenti kala mendengar suara yang kami kenali.."Kalila..." ucapnya, kami sama-sama menoleh dan terdiam.Aku menggigit bibirku, bingung harus menjawab apa. Kurasakan Yovan menggenggan tanganku menyalurkan rasa bahwa semua akan baik-baik saja."Bisa kita bicara?" ucap Yovan dan diangguki Teo, ya orang itu adalah Teo. Bagaimana bisa ia berada disini."Maafkan aku Teo." Ucapku padanya sambil menunduk saat kami sudah duduk di tempat makan dipinggir pantai ini dan setelah aku juga Yovan memberikan penjelasan.Dia mengangguk "Aku sudah tahu semuanya, Kalila" jawaban yang membuatku terkejut dan langsung mendongakkan wajahku."Tapi sungguh Teo, aku sama sekali tak ada niatan untuk mempermainkanmu.""Tidak apa, Kalila. Aku mengerti. Cinta tak bisa dipaksakan, bukan?"Aku tersenyum lalu mengangguk, pria ini sungguh bijak tak heran jika ayahku membanggakannya untuk menjadi calon suamiku."Sejak kapan kau tahu?" tanya Yovan"Dua minggu yang lalu aku melihat kalian bersama. Perasaan kalian itu terlihat jelas, bahkan tadi malam semakin membuatku yakin." jelasnya"Lalu bagaimana keputusan perjodohan kita?" tanyaku hati-hati tak ingin menyakiti banyak pihak.Ia tersenyum "Jangan pikirkan, nanti kita bicarakan""Kamu pria yang baik, Teo""Boleh aku memelukmu? Bisa dikatakan untuk salam perpisahan, mungkin" usulnyaKu lihat Yovan melebarkan matanya menatapku tapi aku mengangguk padanya dan mengatakan "Boleh" pada Teo.Ia bangkit dan memelukku dan membisikkan kata "Jika kau tak bahagia dengannya, datanglah padaku" lalu melepaskan pelukannya.Aku tersenyum padanya lalu ia memegang pipiku dan beranjak dari hadapan kami."Terima kasih, Kalila" ucap suara di sebelahku. "Aku juga akan segera mengatakan pada Cindy nantinya"Aku hanya menatapnya, karena jujur aku belum siap jika harus mengatakan apapun pada Cindy nantinya.---Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu, dan kami belum bertemu sama sekali. Yovan disibukkan pekerjaannya dan waktu luang dihabiskan bersama Cindy, aku tak keberatan karena itu haknya bahkan aku menyuruh Yovan untuk menuruti kemauan Cindy daripada bertemu denganku. Meskipun aku tahu Yovan kesal denganku.Hari ini adalah weekend, hari minggu lebih tepatnya. Aku diliburkan aktivitas menatap monitor di kantorku. Dan hari ini aku ada janji bertemu dengan Cindy, ya aktivitas bulanan yang harus kami laksanakanSore ini kami akan bertemu di taman kota, sepertinya aku akan mengajaknya nonton saja karena ada film seru yang tayang.Setelah bersiap aku segera memesan taksi online untuk bertemu dengannya, aku sedang malas mengemudi.Setelah sampai di taman kota aku langsung berjalan ke arah tujuan titik temu kami. Aku melihat Cindy, tapi ia bersama seorang lelaki dan mereka berdiri saling menghadap dengan pria itu membelakangiku.Dari punggung itu, sangat familiar. Yovan? Ah itu Yovan. Kenapa bersama Cindy, atau Cindy mengajaknya atau malah Yovan yang ingin ikut dengan kami seperti biasanya terkadang memang begitu.Masih berjalan perlahan aku menghampiri Cindy, tapi tatapan Cindy berbeda kali ini. Ada kilatan sesuatu di matanya tapi aku tepis.Berusaha tersenyum meskipun penasaran hingga beberapa langkah aku mendekatinya dan kulihat ia juga melangkah ke arahkuTersenyum dan berucap "Hai Cind..."Plakk"Kamu pantas mendapatkan itu, Kalila!" teriaknya disertai geraman. Yovan melangkah mendekatiku.Aku terdiam, memegang pipiku yang berdenyut nyeri. Ah apakah ini sudah saatnya? Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi tapi haruskah secepat ini?Aku mendongak menatap Yovan sejenak dan pria itu menggeleng, apa itu artinya Yovan belum mengatakannya.Aku menatap Cindy "Cindy, aku..""Apa? Terkejut huh? Aku tidak menyangka ini. Aku pikir kita adalah teman Kalila" potongnya dengan cepatSetetes air mataku sudah berjatuhan, aku tahu dan aku sadar tidak akan ada kalimat pembelaan yang tepat untukku, aku sadar bahwa aku salah."Cindy, tenangkan dirimu dulu. Kita bicara" ucap YovanCindy menatap dengan sorotan tajam ke arah kami."Kau tahu, Kalila? Kemarin Yovan berkunjung kerumahku, aku penasaran kenapa Yovan memainkan ponselnya terus. Dan terdapat notifikasi chat terakhir bernama 'Kalila' aku penasaran, saat Yovan izin ke toilet aku dengan cepat membukanya, kau tau apa yang ku temukan? Passcode ponselnya tanggal lahirmu" ia menangis dan menjeda ucapannya "Awalnya aku sudah curiga tapi aku menepisnya karena aku berpikir kau teman baikku tidak ada salahnya kau juga dekat dengan calon suamiku." ia menyeka air matanya "Selama ini aku juga percaya padamu, tak mungkin kamu begitu"Ia masih terisak menahannya aku sudah tak sanggup berkata-kata "Aku yang tak berani membuka room chat beralih ke galeri menemukan foto kalian bermesraan. Aku bingung harus bagaimana, aku menahannya hingga hari ini" tambahnyaAku menangis, aku menyesal dan tak ingin kehilangan Cindy tapi juga tak ingin kehilangan Yovan. Katakan aku egois memang."Cindy, kumohon maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya""Kenapa Kalila? Kenapa? Aku salah apa padamu sehingga kau tega melakukan ini padaku""Cindy, aku bisa jelaskan. Kau ingatkan pria yang ku ceritakan sewaktu di Bali it..""Stop it, Kalila. Aku pikir kau teman baikku, merangkul dan memelukku untuk menenangkan namun aku salah. Kau memeluk hanya untuk memastikan pisau yang kau tancapkan semakin dalam.""Dan Aku membencimu!" teriaknya frustasi"Dan kau Yovan, aku tidak akan membatalkan perjodohan kita" tambahnya lagi, mengusap air matanya dan ia pergi begitu saja meninggalkan aku dan rasa sakit yang kian bercokol di hatiku.Tubuhku luruh ke bawah, Yovan berusaha membantuku namun ku tepis "Sudah cukup, Yovan." isakkuDia memelukku yang masih terduduk di bawah, ia meletakkan dagunya di puncak kepalaku. "Bagaimana ini Yovan? Cindy membenciku" isakku berulang-ulang kali.Setelah kejadian itu aku langsung beranjak menyusul Cindy ke apartemennya untuk memohon permintaan maaf darinya namun tidak ada.Sudah seminggu ia sulit dihubungi bahkan nomorku di blokir olehnya. Ia benar-benar membenciku yang membuat seminggu ini aku gelisah.Aku mengingat, hanya rumah orang tuanya yang belum aku kunjungi. Aku begegas kesana dengan cepat.Dengan memesan ojek online agar lebih cepat sampai dan lebih baik untuk bertemu dengannya.Tak membutuhkan waktu lama, aku sampai di rumahnya yang ternyata disana aku melihat Yovan yang baru saja turun dari mobilnya."Kalila.." ucapnya menghampiriku langsung memelukku dan ku dorong perlahan.Semenjak kejadian di taman itu aku memang menghindarinya, aku cukup takut dan perasaan bersalah menggerogotiku yang kian hari semakin membesar.Aku beranjak mendekati pintu yang diikuti oleh Yovan kemudian memencet bel, yang dibukakan oleh ibunda Cindy, tante Novi."Assalamualaikum, Tante" sapaku dan menyalim tangannya"Eh Kalilah, loh ada Yovan juga" lalu diikuti Yovan menyalim tangan tante Novi."Masuk dulu ayo" ajaknya yang ku tolak halus"Mm tante, Cindy nya ada?" tanyaku to the point. Tante Novi mengajakku duduk di teras."Ada apa Tante?" tanyaku lagi setelah duduk melihat rautnya yang muram."Cindy tak mengatakan apapun pada kalian?" aku menggelengkan kepalaTante Novi menghela nafas "Sebelumnya tante minta maaf pada kalian yaa. Kalau saja tante tidak menjodohkan Cindy pasti tidak akan begini kejadiannya"Aku yang mulai mengerti apa yang disampaikan tante Novi kini memegang tangannya. Mungkin Cindy sudah bercerita pada ibunya."Tante.. Aku minta maaf" Ujarku karena kekacauan iniTante Novi menggeleng "Yovan sudah menjelaskannya kemarin pada tante. Kalian tidak sepenuhnya salah""Tante pikir saat beberapa hari yang lalu Cindy ke rumah ini ia rindu atau apapun namun ia mengurung diri di kamarnya, beberapa hari kemudian ia keluar kamar tapi ternyata ia hanya berkata bahwa perjodohannya di batalkan dan tidak bisa dilanjutkan, tante ingin bertanya meskipun tante sudah mendengar dari Yovan, setelah malamnya mengatakan itu ia pamit pergi"Aku yang panik sontak berdiri "Pergi.. Pergi kemana tante?""London. Ia berangkat sebentar lagi. Mungkin sudah sampai di bandara""Baiklah tante.. Kalila pamit mau menyusulnya" ucapku yang bergegas namun ditahan tante Novi"Tunggu, nak. Cindy menitipkan surat untukmumu" lalu ia masuk ke dalam dan keluar menyodorkannya padaku.Aku pamit pada tante Novi mulai berjalan keluar dan ditarik masuk ke dalam mobil oleh Yovan "Aku antar""Bagaimana ini Yovan. Cindy membenciku""Ayo cepat nanti ia sudah berangkat" tuturku lagiTak membutuhkan waktu lama kami telah tiba di bandara dan penerbangan ke London pun sudah berangkat beberapa waktu yang lalu."Yovan.. Cindy membenciku" racauku padanya, ia memelukkuSeakan teringat sesuatu aku mengambil titipan Cindy, membuka surat itu yang bertuliskan tinta berwarna hitam. Lelehan air mata menghiasi wajahkuHallo, Kalila.Maaf tidak pamit secara langsung. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau tidak sepenuhnya bersalah.Sebenarnya aku tahu kau menjalin hubungan dengan Yovan, namun egoku menentang itu. Cintaku membutakan untuk tidak memperdulikan itu, hingga acara tempo hari lalu Yovan menarikmu pergi. Puncaknya aku melihat foto mesra kalian di ponsel.Awalnya aku tetap ingin melangsungkan pernikahan itu tapi setelah mendengar percakapan Yovan dengan ibuku, aku sadar bahwa aku terlalu egois.Jangan khawatirkan aku, waktu akan memperbaikinya.Tetaplah bersamanya, aku menyayangimu, Kalila. Sampaikan salamku padanya.Sampai bertemu lagi nanti.Dari sahabat cantikmu, Cindy Antika.Aku menangis tersedu-sedu, rasanya kakiku tidak bisa menapak dan tubuhku luruh ke lantai. Tak perduli orang berlalu lalang memandang aneh, rasanya aku ingin memeluk Cindy saat ini.Kurasakan Yovan memelukku"Cindy tidak membenciku""Cindy menyayangiku, Van" racauku lagi.Kurasakan sebelah tangannya menarik surat dari genggamam tanganku. Beberapa saat kemudian kurasakan ia kembali memelukku dan mengecup puncak kepalaku.."Iyaa.. Cindy amat menyayangimu" ucap Yovan lagi masih dengan memelukku.THE END

7 Days
Romance
10 Dec 2025

7 Days

"What! Kok aku sih?" pekikku histeris kala mendengar ocehan salah seorang gadis yang duduk di seberang kursiku, Lala.Dua orang gadis dan satu pria duduk menghadap dihadapanku dengan kalimat yang membuatku rasanya ingin terbakar."Ayolah, Dita. Cuma rencana untuk party" balasnya dengan raut memohon padaku.Saat ini aku sedang duduk di kantin kampus sambil menunggu jam kuliah berikutnya yang akan dimulai satu jam lagi dan mereka datang di depanku.Aku yang mendengkus tidak suka mendengar usulan itu, lalu menyeruput ice coffe hingga berbunyi menandakan habis dari cupnya."Kalian gila?" tanyaku lagi masih tidak percaya.Mereka menggeleng dengan tegas, kecuali pria itu, bagaimana tidak? Salah satu teman dari teman mereka akan berulang tahun sebulan lagi. Dan mereka mengajakku turut membantu rencana yang telah mereka susun.Tidak ada yang aneh sampai disana. Yang aneh adalah aku disuruh menjadi perempuan penggoda untuk menggoda pacar dari lelaki gadis yang akan berulang tahun itu.Lebih tepatnya, pacar pura-para pria dihadapanku ini, Maxim. Ide gila.Setidaknya aku punya harga diri, tahu! Bagaimana pemikiran orang lain. Aku akan disebut pelakor, begitukah?"Bantulah kami. Hanya kau perempuan yang tepat" bujuk mereka"Aku punya pacar, bagaimana ka..""Halah.. Pacarmu tidak disini" potong gadis rambut pendek bernama Aira itu, dia memang gadis yang galak."Kalian juga gak bisa maksa dong, hanya karena aku tidak mudah untuk di tindas bukan berarti aku akan melakukannya"Lala memegang tanganku "Kami juga ingin tahu, Maxim setia atau tidak." bisiknya yang membuatku sepontan menatap pria itu yang kini juga menatapku dengan alis terangkat.Aku akui, dia sungguh tampan."Lalu bagaimana jika Maxim baper sama aku, aku tidak bisa mempertanggung jawabkan perasaannya. Aku sudah punya pacar" jelaskuMereka kompak mengangguk kecuali Maxim yang ku dengar berdecih "Hanya seminggu, Dita. Ayolah" timpal Aira."Okay. Seminggu. See you" ucap Maxim datarMemang aku mengatakan setuju? Tidak adakan.Maxim adalah senior kami, dia seorang presma. Sosok wajahnya yang rupawan dan juga berkantung tebal membuat perempuan mana saja akan suka rela mencintainya, setidaknya itu yang aku tahu.Aku tidak pernah berharap akan mendapatkan hatinya, huh kalau bukan karena ucapan yang cukup menggoyahkanku.Aku ingin tahu , apakah Angel mencintaiku . Bisik Maxim saat itu yang membuatku berteriak bodo amat, tentu hanya dalam hati. Mana berani aku, tatapannya saja tajam mengintimidasi.Ia menjauhkan wajahnya sambil menyeringai, yang mana kata-kata selanjutnya yang membuatku pasrah dan terjebak di tempat ini bersamanya.Satu minggu 50 juta , semudah itu hanya dengan dekat denganku .Saat ini aku duduk diluar ruangan saat presma beserta teamnya sedang rapat. Lagipula apa hubungannya sih. Seharian aku disuruh menunggunya, tidak ada kegiatan apapun.Ia keluar ruangan "Beliin air mineral gih" titahnya sambil menyerahkan uang seratus ribu."Kok aku merasa jadi kacung ya?" protesku dihiraukan saat ia tanpa perasaan meninggalkanku masuk ke dalam ruangan itu lagi.Seharian ini harusnya aku rebahan, karena tidak ada jadwal kuliah. Mulutku ini sih berkhianat harus setuju saat itu.Bahkan hari ini aku sudah 5 kali bersamaan ia menyuruhku membeli minum ini. Dari mulai fotocopy, membeli spidol, membeli kopi, mencari kuota dan terakhir membeli air mineral. Aku yakin dia pasti sedang mengerjaiku.Iyalah, mana mungkin ia dengan cuma-cuma memberiku 50 juta begitu saja, iyakan?Ini masih hari pertama, segera aku membeli air mineral di kantin kampus dan kembali ke ruangan ituAku masuk memberikan sebotol air mineral tanpa memberikan kembalian itu."Ini sudah sore banget sebentar lagi malam, Max. Sorry. Aku balik duluan" ucapku menahan amarah.Ia menahan lenganku, "Besok aku jemput jam 10 pagi" ucapnya.Sialan! Kirain nahan lengan bakalan mau nganterin pulang. Ternyata besok ada lanjutannya. Mendengkus aku meninggalkannya.---Tidak sesuai dugaan, aku masih baru selesai mandi dan dia sudah mengetuk pintu kamarku, ku lihat jam yang menggantung di dinding. Ini masih pukul 9, kenapa dia tidak sabaran sekali sih.Aku tidak heran kenapa dia bisa mengetuk pintu kamarku dan menyerukan namaku, karena aku hanya tinggal dengan ART di rumah ini, papa dan mama sedang perjalanan bisnis atau malah honey moon untuk yang kesekian kali.Tapi Aku jadi memikirkan Angel, kasihan gadis itu. Biarpun dia sungguh menyebalkan tapi tetap saja aku merasa kasihan padanya.Mungkin karena kami mantan teman. Oh adakah sebutan lain untuk itu? Ini juga yang membuatku ada ketertarikan untuk membantu misi mereka. Sesekali jahat bolehkah?Menghela nafas, hanya seminggu, semangat Dita. 50 juta dalam seminggu. Kapan lagi?Dan kini aku sedang di toko perhiasan membantunya mencari hadiah, ia menggenggam tanganku. Aku berusaha menariknya tapi ia malah mempererat genggamannya.Bukan apa-apa aku hanya takut aku goyah."Yang mana?" tanyanya padaku, kali ini ia melepaskan genggamannya dan menunjuk 2 kalung yang bagus untuk Angel, satu bermainan mawar dan infinity.Mataku berbinar saat melihat kalung berbandul infinity tapi posisinya ini saran untuk Angel, bukan aku."Mm.. Ini, Angelkan suka sekali dengan mawar jadi lebih baik yang ini" saranku sambil menunjuk berbandul mawar, aku tahu Angel itu perempuan cantik yang glamor, gaya hidup setara dengan kekayaan orang tuanya."Sepertinya kau sangat mengenal Angel" balasnya dengan fokus menatap kalung ituAku menghendikan bahu "Kebetulan saja"Maxim mengangguk singkat. "Kau boleh menunggu di restoran seberang sana. Kita makan dulu" perintahnya yang membuat aku mendengkus.Sabar Anandita yang cantik, demi 50 juta.Aku menghela nafas lalu keluar menuju restoran yang di depan sana. Aku masuk langsung memanggil waitres s memesan pesananku tanpa menunggu pria menyebalkan itu.Sekarang aku mengerti, Maxim dan Angel mereka memiliki karakter yang sama. Sama-sama menyebalkan.Tak lama pesananku datang, aku langsung memotong steak tersebut. Baru saja aku menyuapkan potongan pertama, Maxim datang"Kenapa tidak menungguku?"Aku hanya diam saja, malas ah jawabnya. Masih dengan santai aku mengunyah dan memotong steak tersebut"Akukan menyuruhmu menungguku disini, maksudnya kita makan bersama"Aku menyodorkan potongan steakku padanya, sungguh dia cerewet sekali, diluar dugaan ia malah menerima suapan dariku."Enak" jawabnya ringan, kulihat ia mengangkat tangan memesan menu yang ku pilih ini. Aku tahu restoran ini, sering kukunjungi bersama Angel.Uhuk..uhuk..Aku tersedak. Aku baru saja memikirkan Angel tapi gadis itu panjang umur sudah muncul begitu saja.Maxim mengangsurkan minuman padaku dan langsung ku terima.Bagaimana ini jika aku disebut perusak hubungannya?Tidak.. Bukankah aku dibayar untuk itu? Baiklah sepertinya aku harus memulai adegan itu sekarang.Maxim memegang tanganku mungkin aku terlihat pucat kali ya. Ku lihat Angel tidak menatap ke arahku, tapi tidak apa-apa mana tau ia melihat.Kamu pasti bisa Dita."Hei. Are you okay?" aku membalas genggaman tangannya sepertinya dia terkejut akan perlakuanku iniAku tersenyum dan mengangguk, tapi senyumanku luntur kala Angel keluar dari restoran ini. Itu artinya gagalkan?Aku menarik tanganku, mengubah ekspresiku menjadi datar kembali. Aku sudah selesai makan, sepertinya jalan-jalan ke wahana bermain akan seru.Ia melemparkan paper bag ke arahku, aku mengenyit menatapnya yang melahap makanannya dengan tenang.Aku membuka paper bag itu dan aku melihatnya dengan binar kebahagiaan."Max.. Kok tahu?""Aku sedang tidak menggombal" sahutnyaAku terkikik atas jawabannya, benar juga. Kata-kata itu sering digunakan sebagai balasan ketika pria menanyakan pertanyaan bermaksud menggombalin wanita.Aku tersenyum manis ke arahnya, "Terima kasih, Max" ucapku tulus yang di balas deheman olehnya.Tidak dapat ku pungkiri, aku senang menerima kalung ini."Kamu tahu, Max? Kalung infinity ini memiliki makna" tuturku seraya memerhatikan kalung ini dengan lekat.Ia menyudahi makanannya dan beralih menatapku, aku membalas tatapannya sebelum berucap"Kalung ini bermakna Abadi" kami masih saling menatap menyelami manik masing-masing.Aku takut, karena biar bagaimanapun aku... Aku pernah menyukainya.Aku yang saat itu maba, pada masa perpeloncoan, aku nyaris terlambat akibat kemacetan.Saat aku dengan tergesa memasuki kampus, topi terbuat dari kertas kartoon yang dirancang khusus masa maba terbang. Aku kelimpungan, masih menunduk malah tas terbuat dari karungku juga turut jatuh.Saat aku mulai mengutip peralatanku perlahan, ada seseorang yang membantuku.Awalnya ia tanpa ekspresi memberikan topi itu padaku, hingga detik berikutnya ia tersenyum. Manis sekali, bukan hanya itu namun sangat meneduhkan jiwa.Aku menerima topi itu lalu ia berkata "Remember me?" tukasnya saat itu, aku yang masih terpana belum mengucap apapun, ia tertawa dan berlalu begitu saja.Sejak saat itu, aku menyukainya."Apa pacarmu tidak pernah membelikan apapun?" tanyanya yang menarikku dari kisah itu.Aku menghendikan bahuku tanda acuh, "Lagipula ia sedang sibuk studi di luar nege..." ucapanku tertahan karena sosok yang amat ku kenali masuk ke dalam resto tempatku makan ini.Maxim menaikkan alisnya tanda bertanya kenapa aku berhenti.Aku masih menatap ke arah sepasang kekasih duduk di sudut sana. Bahkan ku lihat perempuan itu mengecup singkat pipi lelaki di sampingnya.Aku bangkit, menghiraukan perkataan Maxim. Melangkah mendekati meja sudut tersebut.Aku duduk di hadapan mereka, tampak wajah pria itu amat terkejut."Bisa jelaskan padaku, Tuan Leano?"Ia terdiam, gadis itu menatap heran ke arahku. Aku tersenyum sambil berucap "Terima kasih atas waktunya, aku.. Ah sudahlah. Sampai jumpa" ucapku lagi, aku berusaha kuat.Aku mulai bangkit, ia menarikku ke arah tempat yang sedikit tidak ramai "Maafkan aku. Aku.. Khilaf. Aku tidak bermaksud begi..."Plak!!Satu tamparan yang mungkin belum memuaskan hatiku yang bercokol karena perlakuannya tapi sudahlah."Kita sampai disini saja" namun ia menggeleng dengan tegas.Aku tertawa hambar sebelum berucap "Kamu tidak akan bisa berdiri di atas dua perahu sekaligus""Aku akan memutuskan Laila"Aku mengangguk singkat "Namanya Laila. Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini"Lalu beranjak keluar restoran, hingga sampai di luar restoran tanganku ditarik, "Ayo aku antar pulang" ucap MaximAku yang sudah tidak memiliki tenaga karena takut tumpah ruah air mataku langsung ikut masuk kedalam mobilnyaSampai dalam mobil tangisku pecah tak lagi mampu membendung air mataku biar bagaimanapun kami sudah menjalin hubungan hampir dua tahun lamanyaKurasakan ada sebuah pelukan yang memeluk tubuhku sambil mengucapkan "it's okay"Apa yang membuat dia selingkuh di belakangku, aku sungguh memepercayainya. Ia berkata melanjutkan pendidikan di luar beberapa bulan yang lalu tapi aku salah.Maxim mengusap bahuku "Percayalah, dia akan menyesalinya nanti"Aku semakin menenggelamkan wajahku di dadanya, seolah mencari ketenangan dan perlindungan.Maafkan aku Angel, hari ini saja aku memeluknya.Aku bahkan merasakan ia mengecup puncak kepalaku. Lalu ia mengurai pelukannya, "Maaf" lirihkuIa mengambil sesuatu dari sakunya, ku sadari itu adalah kalung pemberiannya yang mungkin aku lupa membawanya tadi.Lalu ia memakaikannya padaku seraya tersenyum, aku masih menatapnya dalam diam."Makna kalung ini, abadi bukan?" tanyanya yang ku balas anggukan"Kalau begitu jadilah pribadi yang ceria dan kuat yang akan tetap abadi" tambahnya---Selanghari itu, kini sudah hari keempat, semalam seharian penuh aku di rumah tak ingin keluar.Bukan karena meratapi kesedihan melainkan ingin menenangkan hati saja. Karena sebenarnya aku tidak terlalu mencintainya hanya nyaman, pacaran kami hanyalah jalur atau langkah awal perjodohan yang akan berlangsung.Sebenarnya tidak sepenuhnya juga salahnya, aku mengerti. Kalimat apapun yang diungkapkan khilaf baginya menurutku tidak salah, aku hanya sedikit kecewa karena memercayai ucapan bahwa ia mencintaiku namun berjalan dengan wanita lain.Aku juga sudah menceritakan ayahku lewat telepon tentunya, beliau mengehela nafas dan menyerahkan keputusan penuh pada diriku kerena kekhilafan itu.Aku cukup senang akan kebijakan ayahku kali ini.Kali ini aku sudah berjalan memasuki pelataran kampusku, seingatku jam kelas berlangsung 45 menit lagi. Aku akan menghabiskannya di kantin.Tak lama ada yang merangkul bahuku yang membuatku monolehkan, sedang ia masih berjalan tenang sambil tersenyum hangat padaku" Better ?""Tentu" jawabku singkat "Bisa tidak jangan merangkul begini?" tambahku acuh"Kamu kan pacarku""Pura-pura" balasku cepat.Hingga sampai di kantin ia baru melepaskan rangkulannya dan pergi memesankan minuman atas perintahku.Tunggu.. Kok dia jadi senrimo begitu?Aku tahu bagaimana keseharian Maxim, sedikit tak percaya ia mau saja ku suruh padahal aku mengusirnya secara halus karena tatapan para pengunjung kantin ini.Beberapa saat ku lihat Maxim berjalan ke arahku sambil membawa nampan. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum, seakan tertular akupun tersenyum sesaatPlakk!"Bitch" umpatnyaIni seperti de javu bagikuAku mendengkus kesal, ku lihat ternyata itu Angel. Aku tertawa miris sedikit melupakan peranku dan terhanyut oleh Maxim."Kau tahukan Maxim berpacaran denganku? Oh ayolah Dita, tidak cukupkah Fero bersamamu saat itu"Aku menggelengkan kepala, ku lihat Lala dan Aira menatapku khawatir juga beberapa sorot pasang mata menatapku seperti menghina?Dan aku tahu siapa itu Fero, pria yang dicintainya semasa SMA dahulu dan itu membuat hubungan persahabatan kami retak. Ia salah paham terhadapku, itu lebih tepatnya.Oh Tuhan.. Aku sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi tapi kenapa secepat ini dan terasa sakit yaa.Aku diam sesaat, sepertinya rencana mereka sukses! Ya, mempermalukan aku.Aku bangkit dari kursiku tak memerdulikan ucapan Maxim. Berjalan secepat mungkin, ini tak seperti ekpetasiku.Aku mulai melangkahkan kaki keluar karena tatapan mereka yang tampak menghina, tidak seperti ini perjanjiannya yang aku ingat.Bahkan sampai diluar gedung kampus, hal yang tak terduga adalah aku diguyur air oleh beberapa orang yang sepertinya fans Angel.Mantan sahabatku itu memang terkenal, ia adalah model.Aku tertawa miris memerhatikan diriku ini, Maxim datang menarik tanganku melindungiku di belakang tubuhnya"I hate you, Max!" umpatkuMax menoleh ke arah belakang ingin menjawabku tapi keduluan dengan suara lain"Hei, Maxim. Kau berselingkuh dengannya?" ucap Angel tertawa menyebalkan "Kau sungguh jahat. Beberapa hari lagi aku berulang tahun dan kau memberi kejutan ini?" sarkasnya lagi"Dan kau! Mantan sahabat tidak cukupkah kau mengambil pria itu dahulu padaku?" tanyanya dengan pandangan meremehkan.Aku melongokkan kepalaku ke depan, menatapnya lalu berujar "Fero tak pernah mencintaimu! Dia takkan mencintai gadis bar-bar" ucapku dengan lantang.Sudah terlanjur jadi pusat perhatian maka aku melangkah maju, akan mulai melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda "Kau salah paham padaku, dan aku... Aaaa" teriakku kala ia menjambak rambut saat aku belum selesai memberinya penjelasan yang belum usai.Terserahlah! Aku sudah tidak peduli akan ia salah paham atau tidaknya. Angel memang keras kepala.Dan langsung ku balas dengan jambakan kembali di rambutnya, kami saling menjambak dan melempar caci.Maxim berusaha memisahkan kami yang saling memaki dan hingga akhirnya ia berhasil menyentak tangan kami, tubuhku yang limbung langsung terjatuh dengan tubuh yang setengah basah akibat diguyur air dan rambut yang acak-acakan.Mataku berkaca-kaca, kenapa Max sampai mendorongku? Aku malu.Tentu saja, ia mana mungkin sampai mendorong Angel. Aku sadar aku salah mengambil pilihan ini.Maxim berucap "Maaf" dan berusaha membantuku tapi langsung ku tepis.Dengan sisa keberanianku ku tatap tajam matanya, "Jangan pernah temuiku lagi""Tapi Dit..""Lupakan perjanjian itu" aku bangkit dan mulai pergi dari sana sambil memeluk tubuhku sendiri.Yaa aku sudah tidak peduli uang itu. Harga diriku lebih penting.Kamu jahat Maxim, kenapa aku dahulu menyukaimu. Sangat. Bahkan tak menampik aku juga masih menyukaimu saat ini.Sejak hari itu mereka tidak pernah lagi menemuiku, lebih tepatnya aku menghindari mereka. Maxim berulang kali datang kerumahku tapi selalu ku katakan aku tidak ada di rumah.Ini sudah malam dan hari ke 10, itu artinya hari ulang tahun Angel sudah lewat. Aku tersenyum mengingat kenangan dahulu namun hanya karena Fero, kami jadi saling memusuhi. Padahal aku sama sekali tak menyukainya hanya sebatas teman.Dan malam ini aku sedang berdiri di jembatan taman yang berhias kemerlap lampu, tempat favoritku dan Angel jika sedang dalam masalah, sebenarnya ini adalah hari anniversary pertemananku dengan Angel. Meskipun terlihat saling membenci aku sayang padanya dan ini juga menjadi alasanku untuk menyetujui rencana itu, terlepas dari Maxim. Aku menginginkan Angel bersama dengan orang yang tepat.Aku tersenyum miris, lagi-lagi ia berlaku demikian padaku. Angel tidakkah kamu tahu itu adalah hal kedua yang pernah kau lakukan padaku?Dahulu, tepatnya tiga tahun yang lalu saat di kantin sekolah semasa SMA dan kini di kantin kampus."Kau tahu tidak ada hal yang paling menyebalkan dari orang yangku cintai ternyata tak mencintaiku?" ucap seorang gadis di sebelahku.Aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya, bahkan aku sudah ingin menangis saat ini.Ia menghela nafas menatap ke arahku "Seorang sahabat yang tak pernah memahami perasaan sahabat lainnya" Jawabnya, matanya juga sudah berkaca-kaca"Maafin aku, Dita" paraunya lalu meneteskan air matanya, aku menggeleng. Segera ku peluk tubuhnya."Harusnya aku tidak menamparmu, baik saat kemarin maupun saat 3 tahun yang lalu. Aku kelepasan. Maafin aku sudah membuatmu memilih perjodohan itu dan meninggalkan Fero hanya demi keegoisanku waktu itu. Karena aku kau harus bertemu dengan pria brengsek yang menyelingkuhimu"Aku mengurai pelukan "Kau tahu dari mana?" tanyaku yang bingung kenapa dia begini"Kemarin aku bertemu dengan Fero, dia menjelaskan semuanya ditambah penjelasan Maxim. Aku wanita jahat" ucapnya"Ayo pukul aku" perintahnya sambil menarik tanganku"No, Angel. Berhenti kekanakan. Yang sudah berlalu biarlah berlalu""Maafin aku ya?" pintanya yang ku balas anggukan. Begini akan lebih baik. Melupakan yang telah terjadi.Ia memberikan aku secup es krim yang entah dari mana lalu berkata "Suapin aku es krim biar aku percaya" aku tertawa ini adalah kebiasaan kami sejak dahulu, jika ada yang salah dan cara memperbaikinya adalah menyuapkan es krim. Itu artinya sudah memaafkan.Aku langsung membuka cup dan menyuapinya ia tersenyum, kamipun duduk di bangku yang tak jauh dari jembatan."Sebenarnya..." lirih Angel"Ada apa?""Sebenarnya itu skenario kami" aku menautkan glabelaku arti tak mengerti arah pembicaraan kami"Kau tahu? Aku sama Maxim dijodohkan hanya saja hati kami sudah menetapkan pilihan masing-masing. Maxim hanya tidak tahu cara mengungkapkannya padamu. Makanya ulang tahunku jadi alasan untuk mendekatimu." ia menghela nafas sejenakTunggu apa itu artinya Maxim? Ah tidak..tidak."Dan aku minta maaf, untuk tamparan dan hujatan itu diluar rencana. Aku hanya teringat saat SMA dan..""Itu salah paham" potongku"I know, Dita. Dan Maxim akan melamarmu saat ulang tahunku. Itu seharusnya" balasnya lagi"Kau mencintainyakan?" tanyanyaAku terdiam sebentar lalu berjalan ke arah jembatan itu lagi "Iya, aku mencintainya" sambil menatap lurus menghadap hamparan pemandangan di jembatan ini.Tak lama sebuah lengan melingkari perutku, memelukku dari belakang"Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand" ucap pria itu.Anand? Ah aku ingat. Jadi Maxim itu adalah tetangga gendutku itu? Pantas saat bertemu saat itu ia bertanya 'Remember Me?' kok dia bisa jadi tampan begini"Kamu bocah gendut tetanggaku dulu?" tanyaku tak percayaAku menoleh pada mereka, Maxim membalasku dengan mengecup pipiku dan Angel meringis meminta maaf sambil mengangkat tangan.Kurangajar aku kena dua kali!.POV MaximSejak ikut pindah orang tuaku ke kota Medan kelas 6 SD lalu. Dan saat ini aku Kembali dan kuliah di Jakarta kembali. Berharap menemukan sosok teman kecil yang selalu menemaniku, saat aku pindah kembali ke rumah lamaku itu, tetanggaku sudah ganti bukan ia lagi, Anandita.Setahun belakangan ini aku mencarinya, meskipun aku mengikuti Instagramnya tetap saja aku bukan lelaki pengumbar rayuan yang mudah dekat dengan wanita.Tapi di gerbang itu saat aku membantu gadis yang barangnya berjatuhan aku melihatnya.Hatiku bersorak " Remember me ?" ucapku namun dia hanya diam saja, sedikit menyebalkan namun dari matanya, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta.Dan ternyata ia juga dijodohkan, pada lelaki bernama Leano. Aku sempat frustasi.Sambil memikirkan strategi untuk mendekatinya, orang tuaku mengadakan perjodohan dengan Angel, tentu aku marah. Dan kami sepakat untuk melakukan rencana pada Dita dengan kilah ulang tahun Angel. Karena Angle memiliki kekasih. Dan rencana ini semakin mudah saat aku menerima fakta Leano berselingkuh.Ku akui aku sempat mengerjainya karena ia tak kunjung mengingatku.Namun saat Angel menamparnya dan bertengkar pada Dita itu membuatku bingung sekaligus marah karena itu tak sesuai dengan skenario yang kami buat. Namun Angel bilang dia khilaf.Hingga pada hari ulang tahun Angel aku sudah menyiapkan segalanya, termasuk cincin lamaran itu. Orang tua kami juga sepakat membebaskan kami untuk memilih, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kami.Lagi, aku marah pada Angel namun ia berjanji akan membantuku. Dan 3 hari kemudian Angel mengajakku untuk ikut ke tempat favoritnya dengan Dita. Aku tahu hubungan mereka karena Angel sempat menceritkannya.Aku melihat Dita disana, rasanya aku ingin segera memeluknya. Namun Angel menahanku, "Bersabarlah, aku perlu meminta maaf padanya. Aku juga perlu memperbaiki hubungan kami" ucap Angel yang ku angguki.Ku lihar mereka berbicara, lalu saling memeluk bahkan kantungan yang sempat ku lihat di bawa Angel tadi di sodorkan dan mereka saling menyuap.Tak tahan, rasanya aku ingin memeluknya, aku mulai berjalan perlahan sampai ucapan Angel membuatku menahan nafas"Kau mencintainyakan?" tanya Angel yang kudengar. Dan kulihat Dita bangkit dan melangkah.Dengan lamban akupun ikut melangkah ingin mendengar jawabannya. Jawaban yang membuat akhir dari skenario yang kami buat"Iya, aku mencintainya" jawabnya aku tersenyum atas jawabannya.Merasa tak tahan lagi, aku langsung menyerbunya dengan memeluknya dari belakang dan berucap "Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand"Kurasakan ia terkejut akankah ia mengingatnya."Kamu bocah gendut tetanggaku?" tanyanya dengan kaget sambil menatapku dan Angel disana. Lagi aku bersorak senang, ia mengingatku. Eksperesi terkejutnya sangat menggemaskan di mataku.Ku lihat Angel meringis sambil mengangkat tangan dan aku membalasnya dengan mengecup pipinya, kurasa itu cukup.Saat Angel meninggalkan kamipun aku masih tetap memeluknya, nanti akan ku ceritakan semuanya.Kecuali, rencana saat Dita memergoki Leano berkencan dengan selingkuhannya itu. Itu adalah rencanaku mengajak Dita datang ke restoran itu. Dan perihal Angel yang masuk ke dalam restoran itupun memang ku sengaja.Biarlah itu tetap ku simpan.End

Nikah yuk, Om!
Romance
10 Dec 2025

Nikah yuk, Om!

Selain voment, boleh banget kalau mau follow akun ini. Anggap aja rasa menghargai, gratis pastinya.Dan boleh banget kalau mau recomended cerita ini sama teman yang lain yaa . Hihi TerimakasihMaaf jika cerita tidak menarikHappy ReadingAku duduk melamun di depan toko yang menyediakan bangku, bukan melamunkan apa-apa melainkan aku teringat kekasihku.Huh! Sudah setahun lamanya ia meninggalkanku bukan karena berselingkuh namun meninggalkanku ke alam yang berbeda.Dan aku juga tahu, obat terampuh dalam menyembuhkan ini adalah pasangan baru. Tapi aku belum sanggup, aku sungguh mencintainya.Ipta Antasena, senior di kampus yang begitu mempesona. Lelaki pekerja keras yang cerdas dan mampu membolak balik hatiku. Banyak kisah yang kami lalui, dia banyak mengajarkanku untuk menjadi wanita yang kuat namun feminim juga manja.Ya sedikit rahasia, aku ini dulu tomboy. Itu dulu sebelum masuk kuliah sekarang sudah feminim dan manja, sedikit.Ipta Antasena, lelaki pertama yang mengajarkanku arti cinta. Namun dia lebih memilih meninggalkanku dengan cinta yang kian hari membesar.Ia yang selalu mengingatkanku kalau harus selalu memberi kabar walau sesibuk apapun, ia juga yang selalu memberiku semangat ditengah-tengah dosen killer dengan setumpuk tugas.Ah Ipta....Aku menatap orang berlalu lalang tampak begitu bahagia tapi aku tidak bisa begini terus.Temanku, Ariska selalu mengingatkanku untuk mencari pasangan baru dan meyakinkanku bahwa Ipta akan bangga jika aku mampu melalui ini semua.Aku mohon Ipta, jika kamu merestuiku berikan aku satu lelaki yang memang pantas untuk ku temui.Hari ini juga Ipta...Aku memejamkan mataku, merapalkan kalimat Ipta, jika kamu mengizinkan dan atas restu Tuhan juga ketika aku membuka mata nanti hadirkan satu lelaki yang harus ku miliki ya, Ipta.Aku menghela nafas, perlahan membuka mata. Lalu menahan nafas.Ipta, apakah itu dia?Di penglihatanku, terdapat pria tinggi berparas tampan. Tangan kiri memegang gelas kopi khas merk tertentu dan tangan kanannya membaca tab nya, fokus matanya di tab tersebut.Tapi jika dilihat dia lebih dewasa daripada aku.Oh.. Ipta, itukah yang kamu pilih menggantikanmu?Baiklah, aku akan menghampirinya lalu mulai bangkit perlahan menghampirinya.BRUKKBukan, ini bukan adegan dimana kalian jatuh saling tatap layaknya film, bukan pula adegan romansa yang jatuh saling sentuhan tangan hingga bertatapan.Tapi ini ini benar-benar bertabrakan akibat aku berhenti di depannya sedangkan ia tetap lanjut berjalan dengan mata fokus pada layar tabnya, akibatnya aku sedikit terhuyung sedangkan ia, kopinya jatuh tumpah dan tab nya ikut jatuh."Ma.. Maaf, pak" cicitku karena ia masih memungut tab dan mulai mengeceknya kembali, gerakannya terhenti lalu mendongak menatapku."Pak?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya"Eh, om" ralatku cepat"Om?" tanyanya lagi dengan alis terangkat membuatku tergagap seketika."Saya tidak sengaja, om. Om sih jalan tidak lihat-lihat ke depan" kilahku mulai membela diriIa tampak menghembuskan nafasnya perlahan "Okay, lupakan saya buru-buru" lanjutnya sambil berlalu meninggalkanku.Namun bukan berhenti aku mulai mengikutinya berjalan, "Saya Karina, Om siapa?" tanyaku sambil menyejajarkan langkah kakiku padanyaIa menghentikan langkahnya yang otomatis langkahku juga terhenti."Ngapain?" tanyanya"Apa?" jawabku polosDia mendecakkan lidahnya "Ngapain kamu ngikutin saya?"Aku meringis "Nama om siapa?""Zein, sekarang silahkan pergi jangan ikutin saya" ketusnya lalu pergi begitu saja.Aku tertawa pelan dengan berujar, Oh Ipta.. Dia lucu deh. Aku suka.Aku menghendikan bahu berjalan pulang ke rumah. Sepertinya besok aku akan kembali ke tempat ini dan semoga menemukan dia, siapa tadi namanya?Ah iya, Zein.Keesokan harinya aku kembali ke tempat semalam, menunggu selama beberapa jam sepulang dari kampus setelah menemui dosen untuk bimbingan skripsi namun tak menemukannya kembali.Ah andai Ipta masih ada, pasti dia akan membantuku membuat skripsi ini.Aku berulang kali ke tempat saat bertemu dengan Om Zein itu, namun sudah sebulan ini tapi tetap tak membuahkan hasil.Lihat saja, jika aku bertemu kembali aku akan mengajaknya menikah. Aku tertawa kecil lalu bergumam, bolehkan, Ipta?Menghela nafas aku berbalik menuju cafe yang memiliki wifi untuk membantuku mengerjakan revisi skripsi mencari beberapa jurnal untuk referensi, rasanya bosan jika harus selalu mengerjakannya di rumah.Aku duduk di salah satu kursi yang ternyata sudah ada Ariska disana, ya ini cafe tempat favorit kami."Hey, zeyengku." sapaku kelewat ceria saat sudah duduk di hadapannya.Iapun tak kalah kelewatan dalam membalas sapaanku "Uy, zeyengcu" lalu kami tertawa sebentar"Bentar, tumben bahagia sekali? Ada apa gerangan" tanyanya sambil mengetikAku membuka laptopku dan menjawab "Sepertinya aku jatuh cinta""Uh.. Akhirnya. Siapa pria tidak beruntung itu?""Sialan." makiku"Okay. Maaf. Siapa pria itu yang berhasil meruntuhkan Ipta di dalam hati?" tanyanya kembali kali ini dengan serius karena ia menghentikan ketikannya dan juga menatapku."Tidak meruntuhkan Ipta juga, malahan sepertinya Ipta yang sedang menuntunku ke arahnya atas seizin Tuhan juga pastinya" balasku menggebu-gebu"Yeee" ucapnya sambil mendorong kepalaku dengan jari telunjuknya.Kami melanjutkan aktivitas kembali, mengetik naskah skripsi.Dentingan lonceng yang ada di pintu menandakan adanya pelanggan masuk, membuatku otomatis menolehkan kepalaku karena bosan menatap monitor yang tak terasa sudah 2 jam lamanya."Om Zein" lirihkuKurasakan tanganku di senggol oleh Ariska, "Please, jangan om-om" bisiknya"Om yang ini beda" Jawabku sambil tertawa lalu segera bergegas membereskan barang-barangku dan mulai menghampiri Zein menghiraukan panggiln Ariska."Hallo, om" sapaku setelah duduk di depannya, ia mengernyitkan alisnya sepertinya dia lupa, tak apa aku akan bersabar."Karina, kalau om lupa""Bisa tidak, jangan manggil om. Saya tidak nikah sama tante kamu" balasnya cuek. Aku terkikik geli atas jawabannya.Baru saja aku akan membuka suara tapi ternyata suara lain menghentikanku dan membuat aku terbatuk seketika,"Ayah..." teriak gadis kecil yang menggemaskan tapi membuatku membulatkan mata."Sayangnya ayah, gimana jalan-jalannya sama mama Rara?" ucapnya sambil mengangkat gadis itu ke pangkuannya."Huh? Mama?" lirihku terkikuk, jadi dia punya istri, aku terdiam disitu menatap interaksi ayah dan anak itu."Seruu banget, yah." ucap gadis itu sambil berekspresi terlihat senang.Lalu ku lihat ia mendekati telinga ayahnya bermaksud berbisik tapi bisikannya kuat sehingga aku mendengarnya "Yah, kakak itu siapa?"Ah aku punya ide dengan senyuman manis, aku berucap "Hallo, sayang. Kakak calon mama kamu" ucapku yang membuat Zein itu terkejut. Uh lucu sekali, boleh juga mengerjainya.Tapi gadis itu malah menggeleng yang membuat Zein tertawa dan aku mendengkus sebal."Mama aku ya mama Rara" jawabnya"Zein" sapa wanita cantik sekali dan suaranya itu merdu dan manja natural, aku yakin wanita itu tidak tahu kalau ia mempesona."Hai, Ra." Zein bangkit lalu sekilas memeluknya"Lama banget, Ra. Dari mana aja?" tanya Zein ketika wanita itu duduk di sampingku, aku yakin pasti wanita ini bernama Rara mengingat Zein memanggil penggalan namanya dan gadis kecil itu langsung berhambur pada wanita itu.Duh. Kok aku jadi terjebak di kisah asmara mereka sih?Ipta... Gimana ni? Aku uda mulai tertarik sama pria itu."Teman kamu ya, Zein atau siapa?" tanyanya aku memutar bola mata, kemana aja baru tahu."Kamu gak ke kantor?" tanya Zein Mengalihkannya. Aku sih diam aja mau merhatikan dulu, dan aku juga gak berniat beranjak dari sini. Aku melirik Ariska dan ternyata ia sudah tidak duduk di sana mungkin sudah pulang."Enggak, aku malas." ucap wanita itu sambil tertawa, ah manis sekali beda sekali denganku. Bahkan untuk tertawa saja ia terlihat anggun."Ah iya, kenalin. Aku Lyra, tapi mereka panggil aku Rara jadi jangan bingung" ucapnya padaku sambil mengulurkan tangan, akhirnya aku di anggap juga.Ku balas uluran tangannya dan menjawab "Aku Karina, mm...""Kakak, sepertinya aku lebih tua" balasnya sambil tersenyum membuatku tertular akan senyumannya."Ma, nanti kita main sama papa Rey, ya?" yang du balas anggukan dan kecupan di pipi gadis kecil itu oleh Lyra.Eh tunggu kok dia sebut papa Rey, aku tidak salah dengarkan? Apa jangan-jangan mereka bercerai atau gimana sih. Tidak asing namanya yaTapi bodo amatlah, siapa peduli. Lagipula anaknya juga gemesin dan Zein ini mukanya ganteng pake banget. Aku terkekeh geli akan ingatanku ini."Pacar kamu lucu deh, Zein. Aku setuju""Jangan mulai, Ra" balas ZeinPerkataan itu artinya Zein jomblo dong yaa. Yes!"Mm.. Kakak bukan istrinya Om Zein?" tanyaku polos, aku sungguh gatal ingin menanyakan hal ini sedari tadi.Tapi wanita bernama Lyra itu malah terbahak "Rencananya sih dulu begitu"Jawaban apa itu, ambigu sekali. Tapi lagi-lagi suaraku tertahan karena ada suara lain yang menambah pusing akan ada apa ini."Lama ya, sayang?" ucapnya sambil mengecup kening Lyra dan menyapa Zein dan mengusap kepala gadis kecil itu dan berucap "Hallo, Feya" dan dibalas pelukan oleh gadis kecil yang baru ku ketahui namanya Feya."Loh, Ina bukan?" tanyanya setelah duduk di hadapan Lyra.Ya ampun sempit sekali dunia ini "Kak Reyhan" ucapku antusias."Kamu kenal, kak?" tanya Lyra"Ini Ina loh sayang, masak kamu lupa sih. Ini dulu waktu kamu SMP kita pernah main ke rumahnya bentar sih cuma antar titipan mamaku aja" jawabnyaYa ampun sungguh dunia ini sempit sekali dan aku juga lupa maklumlah ya kan sudah lama."Wah.. Kamu makin cantik. Maaf ya aku gak tahu cuma sekali atau dua kali gitu sih jumpa kamu" balas Lyra"Iyaa aku juga lupa, kak." ringisku lalu menatap ke Reyhan "Jadi dia kakak ipar aku, kak?" tanyaku dengan binar bahagia, ada peluang dong ya. Di balas anggukan oleh kak Reyhan, jawaban yang memuaskan untuk saat ini.Aku kembali menghadap Lyra "Maaf, setahun yang lalu saat pernikahan kalian aku tidak hadir, karena ada duka" ucapku dengan tatapan meminta maaf, setahun lalu Ipta, ah sudahlah.."Jadi kamu kemarin nelpon aku ngomongin laki-laki ini?" goda kak Reyhan yang memang benar. Seminggu yang lalu aku menelponnya menanyakan pria ini tapi aku tidak sebutkan namanya.Aku ini sepupu kak Reyhan, anak dari adik ibunya hanya jarang bertemu mungkin karena usia terpaut lumayan jauh dan aku akan menghubunginya jika ada keperluan selebihnya aku banyak melupakannya. HeheLalu kak Reyhan juga istrinya itu yang baru aku ketahui hari ini beranjak dari cafe, bisa-bisanya aku tidak ingat. Andai saja kak Reyhan tidak datang mungkin aku akan selalu bertanya-tanya.Tapi sepulang ini aku akan mencecar kak Reyhan untuk menanyakan pria ini.Kini tinggallah kami bertiga, Zein tampak sibuk menyuapi puding pada Feya."Om" panggilku"Ck. Aku bukan om kamu" balasnya"Jadi panggil apa dong? Sayang boleh?" godaku lagi"Kakak" singkatnya"Okay. Kak, nikah yuk?" ajakku yang sudah malas berpacaran aku tidak peduli dia punya buntut, toh Ipta yang mengenalkannya."Sudah gila emang" sahutnya menggeleng"Mm.. Tapi Feya mau kok punya bunda kayak kakak itu, yah"Wah lampu hijau dari anaknya yang membuatku tersenyum penuh kemenangan----Hari ini aku sudah berada di depan kantornya, Kak Zein. Tentu saja, setelah aku membombardir Kak Reyhan itu sampai istrinya gemas sendiri denganku.Biarlah! Aku akan memintanya untuk menikahiku, bodo amat dia bilang aku gila.Lagipula ayah dan ibuku sudah membolehkan aku menikah jugakan.Sambil menenteng paper bag yang berisikan makanan yang tentunya favorit kak Zein, aku melangkah.Oh jangan tanyakan aku tahu dari mana, sudah jelas dari kak Lyra. Sebenarnya aku penasaran bagaimana hubungan Kak Lyra dengan Kak Zein itu tapi seolah mereka menutup rapat dariku baik kak Reyhan maunpun Kak LyraSudahlah, bukan itu fokusku. Persetan dengan hubungan mereka yang penting aku padamu, kak Zein.Aku melangkahkan kaki ke dalam kantor Kak Zein dengan kartu akses milik Kak Lyra tentu saja, dengan begitu aku tidak perlu banyak dipertanyakan di resepsionis.Setelah aku menunjukkan akses dan beberapa kata aku langsung di antarkan ke ruangan Kak Zein, tanpa mengetuk aku langsung masuk saja.Ketika ku buka pintu tersebut terlihat Kak Zein sedang berkutat di depan mejanya dengan setumpuk berkas dan secangkir kopi disana.Aku meletakkan paper bag dan juga tasku ke sofa yang ada di ruangan itu. Dan mulai melangkahkan kaki mulai menyapanya."Hallo calon suami" sapaku, ku lihat ia menghentikan gerakannya lalu menatapku, menopangkan dagu lalu berkata "Lain kali ketuk pintu""Akukan calon istrimu" jawabku cepat dia mendengkus"Apa aku ada menyetujuinya?" tanyanya menghunus ke mataku sambil berjalan ke arahku, aku gelagapan ditatap begini."Mm.. Aku.. Iyaa" sial aku terbata,"Yasudah, Nikah yuk, Om?" godaku lagi berusaha menahan gugupku. Namun ia tetap melangkah ke arahku semakin mendekat.Ia mengangguk singkat saat sudah beberapa langkah di hadapanku, "Oke, jadi calon istriku..." ucapnya menggantungkan kata, berjalan ke arahku hingga tak terasa punggungku sudah menempel di pintu.Aduh Ya Allah, Ipta.. Bagaimana ini?Biar bagaimanapun aku masih perawan tahu, jadi aku sedikit takut.Ia semakin merapatkan tubuhnya ke arahku, nafasnya bahkan sudah berhembus ke wajahku aroma mint begitu kentara.Ia meniup telingaku membuatku bergidik. Seketika itu tanpa sadar aku menahan nafasku."Relax, Karina. Bukankah aku sudah menyatakan iya" ucapnya dengan seringaian.Aku memilin ujung bajuku, tangannya terangkat mengurung diriku, memenjarakan tubuhku.Tanpa aba-aba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku menundukkan wajah.Namun kejadian selanjutnya membuatku membulatkan mataku seketika, ia mengecup bibirku. Hanya sebuah kecupan, kecupan yang berujung aku menamparnya.Ya aku menamparnya, mungkin itu cukup kencang.Rasanya aku seperti dilecehkan! Aku tahu mungkin aku sedikit agresif tapi bukan berarti aku, ah sudahlah..Segera ku dorong tubuhnya, mengambil tas yang sempat aku letakkan di sofa itu, bergegas keluar sebelum aku mengucapkan"Saya kesini hanya mengantarkan makan siang untuk, Om. Bukan untuk diperlakukan seperti ini" lalu aku pergi begitu saja tanpa ingin melihatnya maupun mendengar responnya.---Sejak kejadian itu, tepatnya sudah 6 bulan berlalu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Anehnya aku selalu merindukannya hingga rasanya sesak. Apakah ini namanya cinta?Bahkan jujur, aku tidak tahu jelas apa perasaanku saat ini.Aku bimbang.Bukan, lebih tepatnya aku tidak mengerti perasaan apa ini yang jelas saat itu aku meminta izin pada Ipta dan Tuhan untuk mendapati penggantinya ketika buka mata dan dia pria yang ku lihat.Dan lebih tepatnya lagi, tidak ada yang bisa menggantikan Ipta karena dia sudah memiliki posisinya sendiri.Banyak melamun, pintu kamarku diketuk seperti bunda akan mengomeliku karena belum berpakaian rapi mengingat enam puluh menit yang lalu beliau memintaku sedikit berdandan.Huh! Lucu sekali.Nenekku sedang di bawah, sudah sebulan ini dia menerorku untuk membawa pacar dengan ancaman apabila tidak ada maka ia akan mengenalkan seseorang menjadi pendampingku.Demi Tuhan, aku baru wisuda sebulan yang lalu!"Inaa.. Cepat keluar. Tamunya sudah hadir"Tamu? Siapa? Aku tidak salah dengar kan ya."Iyaa, Bunda. Sebentar" teriakku lalu bergegas berpakaian rapi dan momoles sedikit make up di wajahku, daripada kena sembur sama bunda dan nenek nantinya.Akupun keluar dan mulai melangkahkan kaki menuju bawah, kulihat ada pria di bawah sana berkumpul bersama keluargaku.Wajahnya tak terlihat karena ia membelakangiku, baiklah mungkin ini adalah pria yang dipilihkan nenekku untukku karena aku tak kunjung membawa pria lain kehadapan mereka.Itu sih pemikiranku, faktanya kala ia membalikkan tubuhnya aku mematung bahkan kaki ini rasanya sulit digerakkan, nafasku seakan tercekat dan mataku turut terbelalak tanpa kusadari.Pria itu tersenyum teduh yang menghangatkan hatiku.Tapi untuk apa dia kesini? Aku menetralisirkan perasaan ini dan mulai melangkahkan kaki kembali.Ayahku tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku seraya berkata "Kamu sudah besar, sayang""Ayo lebih baik kita makan malam dahulu" instruksi ayahku lagi. Dan kami menurutinya."Jadi Bagaimana, pak?" ucap pria itu pada ayahku yang kini kami sudah selesai makan dan duduk di ruang keluarga."Kalau saya bagaimana Karinanya saja, nak Zein""Bagaimana, Ina?" tanya Ayahku mengalihkan fokus mataku pada tautan tanganIyaa, pria itu adalah Zein, huh aku gugup, dilema bagaimana ini?Apakah aku bisa menerimanya? Bukan, lebih tepatnya apa aku sudah mulai mencintainya? Banyak sekali uraian pertanyaan yang harus ku temukan jawabannya.Ku lihat kak Zein menatapku dalam sebelum berucap"Saya tahu, umur saya 29 tahun kita memang terpaut 6 tahun, saya juga seorang duda beranak satu yang umurnya sudah 4 tahun. Dan mungkin akan ada lelaki yang lebih baik dari saya tentunya namun saya tidak dapat membohongi perasaan saya lebih jauh, jadi maukah kamu...""Bisa kita berbicara berdua terlebih dahulu, sudah lama tidak bertemu" potongku dengan cepat, ia menatap ayahku dan ayahku tersenyum lalu mengangguk.Akupun langsung berdiri dan menuju taman belakang rumahku."Sebenarnya apa maksud kedatangan, Om?" tanyaku saat ia sudah duduk di sampingku"Ah tidak maksudku, apa yang mengubah pikiran kakak untuk kerumahku dan melamarku bukankah saat itu kakak menolak?" ralatku dengan cepat karena panggilan om terhadapnya dan rasa ingin tahu yang menghantarkan ia kesini setelah 6 bulan yang lamanya tak bertemuIa mengangguk singkat "Sebenarnya aku sudah lama ingin melamarmu tapi sepupumu yang bernama Reyhan itu menyebalkan ia menyuruhku menunggumu wisuda. Dan saat itu aku tidak menolakmu, awalnya aku menolak. Terlebih setelah kamu menamparku, aku sadar aku sudah tertarik padamu" jelasnya"Benar? Bukan rasa bersalah" tanyaku, bisa sajakan setelah insiden itu ia jadi begini karena rasa bersalah. Aku tidak menginginkan rasa kasihan itu.Ia menggeleng dengan tegas " Tidak. Aku mencintaimu" tegasnyaAku menautkan tanganku, menggigit bibir bawahku. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa yaaaAlih-alih ingin menyanggah tapi bibirku seakan berkhianat malah mengucapkan kalimat "Nikah yuk, om?"Ia tertawa "Meskipun kamu pernah berkata begitu namun harusnya malam ini itu kalimatku" ucapnyaBaiklah, aku kalah."Jadi?" tanyaku lagi dengan polosIa mengacak singkat rambutku "Iyaa tentu saja kita akan menikah. Itu tujuanku ke sini. Artinya kamu setujukan?"Aku mendengkus akan perbincangan ini, tentu saja akukan sudah berucap begitu sedangkan ia memelukku dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.Nafasnya mulai menerpa kulit wajahku, aroma mint. Refleks aku menutup mata kala hidungnya nyaris menyentuh hidungku"Wah, sepertinya harus segera dilangsungkan pernikahannya"Itu suara Ayahku, mati!Dengan cepat aku menjauhkan tubuhku darinya dan menatap ayah dengan malu.Ku lihat Zein menggaruk tengkuknya dan tersenyum cangguh ke ayahku, ia mengalihkan pandangannya padaku dan mengedipkan matanya.Dasar mesum!End

Black Shadow
Romance
09 Dec 2025

Black Shadow

"Fely....." teriak salah satu pria dijalan sana."Fely.. Aku cinta kamu"Aku menoleh ke sumber suara namun masih sama, aku masih tidak menemukan satu orangpun disana yang berulang kali meneriaki namaku.Aku merapatkan jaketku, seraya mempercepat laju jalanku menelusuri malam yang kian larut. Semilir angin turun membelai helaian rambutku yang terurai, ditambah malam ini usia hujan.Dibelakang sana, ku rasakan ada yang mengikutiku berjalan, aku menoleh ke belakang tetap sama tak ada satupun orang ku dapati disana.Suara teriakan semakin terasa kuat di indra pendengaranku, peluh berjatuhan karena rasa debaran semakin kencang.Sekali lagi aku menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengikutiku. Namun ketika aku menghadap depan, terlihat seorang pria bertubuh tegap menghadangku pria itu berhalut kaus hitam dan celana hitam, disertai kaca mata hitamnya.Kalau diperhatikan, ia tampan. Tapi aku merutuki pikiranku kali ini disaat genting malah imanku melemah kala melihat pria tampan ini.Aku memekik tertahan kala di belakang tubuhnya ada orang berjubah hitam sambil menggeret samurainya, wajahnya tak nampak karena jubah yang ia kenakan cukup menenggelamkan tubuhnya.Pria itu berjalan semakn dekat, kearah ku yang mana di depanku masih berdiri pria itu. Suara decitan samurai dengan aspal yang dibawa pria berjubah hitam itu terdengar namun suaraku tertahan, tenggorokanku tercekat tak bisa menggumamkan kata apapun.Hingga pada jarak beberapa meter pria berjubah itu berlari seraya mengangkat samurainya ke arah pria di hadapanku. Dari samping kami tak lama ada sebuah truk yang berkecepatan penuh menabrak tubuhku dan pria di hadapanku."Aaaaaaa.." teriakku sambil terduduk. Nafasku tersenggal-senggal, peluh membanjiri tubuhku.Sial! Mimpi ini lagi. Dalam dua bulan terakhir ini sudah terhitung 9 kali lebih memimpikan pria itu selalu hadir dalam mimpiku. Kenapa harus tampan sih? Dan malam ini adalah yang kedua mimpi buruk itu menyapa.Lagi, imanku goyah kalau sudah menyangkut pria tampan meski ia hanya hadir di mimpiku.Dan aku menyebutnya dengan Black Shadow, klise memang hanya karena ia menggunakan busana serba hitam aku malah menyebutnya begitu.Anehnya, pria itu selalu ada di dalam mimpiku, memimpikan pria yang sama dengan berbagai potongan adegan dalam mimpi. Apakah itu normal?Namun bolehkah aku berharap ia membuka kaca matanya barang sebentar saja untuk memastikan bahwa ia memang tampan sungguhan. Aku terkikik geli kala mengingat imanku yang lemah ini.Ku tatap jam yang bertengger manis di dinding, jarumnya masih mengarah di angka dua. Baiklah aku akan tidur lagi beberapa jam sebelum berangkat bekerja.Pagi ini aku berangkat bekerja di perusahaan yang selama 2 tahun ini gajinya dapat memenuhi kebutuhan biaya hidupku seperti skincare.Aku di Jakarta hidup sendirian sedangkan orang tuaku di Bandung. Masih satu pulau hanya saja, selama dua tahun ini aku lebih nyaman berada di kota ini dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini, entah apa yang menuntunku nyaman berada di sini. Yang aku tahu, Ayahku juga memiliki perusahaan cukup besar.Sesampai aku di kantor seluruh karyawan telah berkumpul, aku mengerutkan dahi. Apakah aku ketinggalan gosip?Aku ini memang payah dalam urusan gosip, bersyukur di divisi keuangan ada mbak Sella yang selalu melancarkan berita terbarunya.Aku menghampiri mbak Sella yang sudah memasang telinga disertai wajah yang cukup serius."Mbak, ada apa sih?""Fely.. CEO kita pensiun dan akan di gantikan sama anaknya yang super uhuy" ucapnya dengan antusias.Tuhkan dia biang gosip."Mbak tahu dari mana kalau anaknya uhuy?" tanyaku lagi, dikehidupan realistis jangan terlalu bermimpi nanti jatuh sakit.Lalu kami di hela oleh orang asisten CEO yang ada disini, untuk menuju aula.Sesampainya kami di aula, masuklah 3 orang. Antaranya 2 orang lelaki dan 1 orang wanita yang tak lain adalah istri tercinta sang CEO yang kabarnya akan pensiun.Aku masih tak melihat wajah dari pengganti itu, setelah sampai di atas podium ia berbalik.Pria itu sungguh tidaklah asing, setelan jasnya hitam dan kaca matanya hitam. Ia tampan, dan dimana aku pernah melihatnya.Ah aku menutup mulutku karena pria itu ternyata orang yang mirip di mimpiku, lagi-lagi aku kebanyakan mimpi.Pria itu membuka kaca matanya dengan gerakan seksi lalu mengenalkan dirinya pada kami semua sebagai CEO yang baru.Sungguh rasanya de javu"Hallo.. Saya Dewangga Pradipta, CEO baru kalian yang menggantikan papa saya. Dan semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"Namun entah mengapa netra hitamnya selalu memperhatikanku lekat-lekat.Ia kembali berkata "Dan hari ini aku akan mencari sekretaris pribadi untukku""Saat ini juga" tambahnyaSeluruh suara mendadak ricuh mempercantik diri agar terpilih. Tentu ini karena paras yang tampan dan kekayaan Dewa.Dewa berjalan ke arahku, namun wanita disebelahku berkata "Jangan bilang ia mau pilih aku."Namun ia malah berhenti tepat di bangkuku, aku yang masih syok begitu pasrah di tariknya menuju podium."Dia, Felycia Ningtias. Yang akan menjadi sekretaris saya" ucapnya tegas tak terbantahkan.Aku masih ingin membuka suara menanyakan dari mana ia tahu namaku? Namun ku urungkan kala ingat bagaimana tugasku di divisi keuangan.Ia berjalan dengan menarik tanganku seolah aku akan kabur, aku sempat melirik ke arah orang tua Dewa. Dan mereka hanya tersenyum? EntahlahSesampainya di ruangannya aku langsung mengeluarkan protesku."Maaf sebelumnya, pak. Bagaimana tugas saya di divisi keuangan?"Ia menatap netraku dengan lekat, entah mengapa saat aku menatap bola matanya seakan aku tenggelam dalam pusaran itu. Seperti mengingatkanku akan sesuatu hal."Buatkan aku kopi, gulanya satu sendok" pria itu mengabaikan pertanyaanku. Sial sekali"Tapi...""10 menit dari sekarang"Aku mendengkus sebal dan berbalik menuju meja pantry untuk membuatkannya kopi.Lalu aku menyerahkannya kopi tersebut, matanya masih fokus pada layar seraya menyesap kopi itu lalu ia berkata "Terlalu manis, sendok apa?"Lah pertanyaan ambigu sekali ya"Sendok makan" jawabku dengan bingung."Seharusnya sendok teh saja."Tunggu sepertinya aku pernah mengalami hal ini. Tapi apa?"Aku heran kenapa kamu harus lupa" gumamnya yang masih ku dengar."Maaf, bagaimana, pak?" tanyaku"Tidak. Kamu boleh keluar. Tapi tidak di divisi keuangan. Dan diluar ruangan ini ada meja kamu" ucapnya sambil tetap fokus ke arah monitornya.Aku lantas mengangguk patuh meskipun dalam hati keadaan berkecamuk. Bagaimana tidak, dalam sehari pekerjaanku berubah begitu saja.Hari ini aku lalui dengan baik karena Pak Arkan, asisten CEO yang lama banyak mengajariku mengenai urusan yang tentunya bukan urusanku.Aku berjalan menapaki tangga apartemen tempatku bernaung selama dua tahun ini, ketika aku membuka pintunya aku sudah dihadapkan dengan seorang lelaki berbaju hitam dan berkaca mata hitam sambil menggenggam sebuket bunga.Pria itu, membuka kaca matanya, sungguh pria yang tampan dan ia tersenyum lalu berkata "Happy Anniversarry, sayang"Ia merentangkan tangannya lalu aku berlari memeluknya, menghirup aroma tubuhnya yang beraroma mint seakan mencari kenyamanan yang sangat ku sukai.Pria itu lantas mencecap bibirku, dan semuanya seakan gelap.Aku terperanjat, nafasku memburu disertai degup jantung yang tak beraturan.Mimpi aneh ini lagi, dan mimpi kali ini pria itu membuka kaca matanya.Aku mengingat wajah pria tampan di mimpi itu sungguh tidak asing, yaa wajahnya mengingatkanku pada CEO baru di kantorku, Dewangga Pradipta.Ku lihat jam di nakas, ternyata sudah pukul 5 pagi. Aku bergegas bersiap untuk ke kantor, yang aku ketahui tidak ada tolerir untuk keterlambatan.Sesampainya aku di kantor aku langsung membuatkan kopi untuk Pak Dewa, dengan takaran gula satu sendok teh.Pria itu lantas tersenyum manis sekali setelah menyesap kopinya. Aku tidak tahu, mengapa pertemuanku dengan Dewa ini membuat sudut hatiku berbeda apalagi setelah melihat senyumannya. Seperti Warm and joy, maybe?Aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum, dia menatapku dengan intens."Apa kamu mengingat sesuatu?" tanyanyaBelum sempat aku menjawabnya seorang gadis yang sangat menawan masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu, mungkin ia pacarnya.Aku segera undur diri tidak ingin mengganggu aktivitas sepasang kekasih ini.Namun ketika aku ingin membuka pintu, wanita itu berkata dengan lantangnya."Hei. Kenapa keluar begitu saja? Kau tidak merindukan aku"Aw! Pekik gadis itu sepertinya ia dipukul pak Dewa.Aku berbalik, menautkan alisku sarat akan kebingungan. Tak mengerti maksud dari gadis itu.Ia mendekat mengulurkan tangannya "Aku Dwina" sambil tersenyum manis padaku.Aku balas uluran tangannya "Felycia""Oke, Felycia. Kita akan sering bertemu dan nanti siang kau harus menemaniku berjalan-jalan" ucapnya lagi, aku menatap Pak Dewa seakan menanyakan bagaimana ini dan di balas anggukan dan senyuman khas pak Dewa."Baiklah, nona" ucapku sopan pada Dwina."Hei, biasa kau memanggilku in..""Ekhem. Ada apa kau kemari sepagi ini?" ucap Pak Dewa memotong perkataan Dwina."Panggil aku Dwina saja" ucapnya sambil berlalu menghampiri pak Dewa dan aku segera pamit keluar.Seperti ucapannya gadis bernama Dwina itu, kini aku duduk berhadapan dengannya di cafe yang tak jauh dari kantor. Ia berkata bahwa harus mengisi tangki terlebih dahulu baru bisa berjalan.Entahlah, perkataannya seperti de javu.Tiba-tiba ia menggebrak meja yang membuat aku terkejut Bahkan pelayan yang sedang mencatat menu kamipun terkejut dan bingungDwina tersenyum lebar menampilkam deretan giginya yang rapi, "Tidak ada, aku minta teh madu namun dicampur dengan lemon" ucapnya.Teh madu dengan lemon, aku suka!Sebuah suara dikepalaku muncul. Suara apa itu? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku."Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku.Dwina memegang tanganku dengan wajah berbinar "Apa kau mengingat aku atau sesuatu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaankuAku menggeleng "Aku seperti pernah mengalami ini tapi mungkin perasaanku saja" jawabku."Coba ingat sekali lagi" desaknya. Apa sih maksud dia. Aku benar-benar tidak mengerti.Dari arah belakangku Dewa datang mengecup puncak kepala Dwina dan duduk di sampingnya. Mengabaikan Dewa, ia kembali mendesakku dengan pertanyaan konyolnya "Coba kau pandang wajahku juga wajah Mas Dewa, barangkali itu membantumu" ucapnya misterius.Aku mengikuti sarannya, memandang wajah mereka bergantian. Ya aku ingat wajah Dewa ada di mimpiku bahkan tadi malam ia menciumku.Aku mengingat dengan keras namun yang ku dapatkan tak ada, semakin lama kepalaku sakit dan pusing."Aw!" ringisku kala sakit itu menyerang di kepalaku"Cukup" ucap Dewa padaku"Jangan terlalu memaksanya" ucapnya lagi pada Dwina"Tapi mas..." Dewa menggeleng.Kepalaku cukup pusing memikirkan ini, mengapa Dwina berbicara begitu. Ada apa sebenarnya padaku?Demi Tuhan, aku baru beberapa hari pindah posisi menjadi sekretaris tapi kejadian aneh selalu hadir, entah itu melalui mimpi atau seperti kali ini, Dwina. Jika dia memanglah kekasih Dewa, mengapa dia bertanya begitu.Aku meminta izin untuk pamit duluan, sepertinya aku butuh istirahat dan mereka mengizinkanku.Aku merebahkan tubuhku di kamarku, mungkin tidur adalah pilihan yang baik.Namun baru saja aku memejamkan mata, kilasan seperti potongan adegan terangkum di kepalaku.Oh Tuhan... Ada apa ini? Siapa yang bisa memberi penjelasan ini padaku.Satu nama muncul di kepalaku, Dwina. Iya, mungkin dia akan memberitahukan kejadian itu. Lalu kemana aku harus menemuinya.Aku segera bersiap, lalu memesan ojol agar lebih efisien sampai di kantor.Begitu sampai di kantor, aku berlari bahkan masuk ke dalam ruangan CEO menghilangkan rasa sopan santunku. Membuka pintu tanpa mengetuk memperlihatkan dua manusia berbeda jenis menghentikan aksi pelukannya.Aku menghela nafas lega, melihat Dwina masih disana. Dewa menaikkan alisnya tanda bertanya namun tak satupun ucapan yang keluar dari mulut mereka atas kelancanganku ini.Aku tidak memedulikan itu, karena langkahku kali ini mendekat pada Dwina lalu memeluknya dengan erat."Inaa..." isakkuAku tahu Dwina pasti bingung namun ia tetap menepuk punggunggu, satu isakan lolos dari bibirku.Karena potongan adegan tadi mengingatkan masa-masa indahku bersama Ina, dan satu hal yang paling ku ingat bahwa Ina adalah Adikku juga Adik Dewa."Tak apa, menangislah" ucapnya lirih.Setelah cukup tenang, mereka menuntunku duduk di sofa yang ada di ruang itu."Apa kau mengingat sesuatu?" ucap Dwina padaku"Siapa kalian sebenarnya?" hanya itu yang mampu ku katakan setelah potongan kilas balik di kepalaku muncul.Dewa membuang nafas dalam-dalam dan beralih duduk di kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya."Kau siap mendengarkan semuanya?""Apapun itu." ucapku dengan mantap"Dewa adalah suamimu" satu kalimat keluar dari mulut Dwina yang semakin membuat aku pusing."Bagaimana bisa?"Dwina menghela nafas "Sebenarnya aku tu gemes, mau bilang itu tapi Mas Dewa selalu melarangku. Ia mengatakan tidak baik untuk kesehatanmu, kakak ipar.""Ina.." suara Dewa mengintrupsi."Cukup, mas! Aku tahu seberapa besar cinta mas ke mbak Fely" jawabnya"Kalian menikah sekitar 4 tahun yang lalu. Dan 3 tahun lalu mbak salah paham terhadap Dewa, malam itu mbak mengira mas Dewa sama Sulis berselingkuh padahal sama sekali tidak. Terus mbak melarikan diri dan mas Dewa berusaha mengejar mbak. Saat mas Dewa berhasil menghadang mbak kalian malah tertabrak truk." jelas Dwina dengan menggebu-gebu.Aku menutup mulutku tak percaya akan fakta ini. Akhir cerita Dwina mengingatkanku pada mimpi, dimana aku tertabrak."Sebaiknya mas Dewa yang menjelaskan ini. Aku akan keluar" ucap Dwina sambil bangkit dan menatap tajam Dewa.Dewa mendekat ke arahku, ia duduk di sampingku dan merangkum tanganku."Benar kamu suamiku?" tanyaku, ia mengangguk"Saat itu kita tertabrak?" ia kembali mengangguk"Benar saat itu aku salah paham?" tanyaku lagi dan aku benci saat dia menganggukAku menangis tersedu-sedu kala fakta ini terungkap. Ia bangkit membuka laci dan mengeluarkan album foto."Ini foto pernikahan kita" ucapnya.Aku membukanya dan aku kembali menangis, ia memelukku erat."Bagaimana bisa?" suaraku teredam akan tangisku"Saat itu, kita sama-sama terancam karena musuh ayahku. Ditambah perusahaan yang terpuruk. Kamu salah paham dengan Sulis, dan lari begitu saja tanpa penjelasan hingga berhari-hari. Dan akhirnya pada malam itu kita tertabrak truk"Ia menghela nafasnya "Karena kita kurang biaya aku menyetujui ucapan Ibumu yang memisahkan kita, ibumu marah padaku karena ia juga salah paham atas tindakanku pada Sulis. Dan rencana itu sempurna ketika kamu juga amnesia.""Lalu pria itu?" kulihat Dewa menautkan alisnya"Pria apa?" tanyanya"Aku mimpi buruk mengenai kita tertabrak yang dibelakangmu ada pria berjubah hitam membawa pedang" jelaskuDia membisu "Kamu melihatnya?" tanyanya dan aku sontak mengangguk"Dia Will, Wilangga saudara kembarku yang juga mencintaimu"Aku menutup mulutku "Maafkan aku, aku tidak tahu jika jadinya begini""Aku yang meminta maaf karena baru belakangan ini berani menemuimu. Aku sangat senang saat 2 tahun lalu itu kau melamar kerja di perusahaan ini."Tapi aku tidak bisa mengingat banyak" ucapkuDia menggeleng "Aku akan berusaha untuk membantumu mengingatku lagi. Asal kamu juga berjanji akan selalu berada di sisiku" ucapnya dengan mantap."Lalu ibuku?" tanyaku yang pasti aku akan meyakininya nanti. Karena dia adalah Dewa, suamiku. Pantas saja aku merasa nyaman disini."Ayo kita berjuang untuk kedua kalinya, sayang"Aku tersenyum "Memang ada yang pertama?" tanyaku lagiDia menganggukkan kepalanya "Tentu. Kamu dulu susah sekali dihadapi. Sekalinya kita menikah kamu malah salah paham"Aku tertawa melihat sikapnya "Maafkan aku" ucapku tulus dan ia memelukku lagi dengan erat dan mencium keningku.End

CEO dan Secret
Romance
09 Dec 2025

CEO dan Secret

Aleta adalah seorang karyawan biasa di perusahaan penerbitan majalah ini. Lebih tepatnya mungkin ia seorang editor, genap setahun ia bekerja di kantor ini.Ia duduk di kubikelnya dengan tangan menggenggam pena yang menari-nari di atas kertas."Ta, ayo kita rapat. Uda di tungguin pak bos" ucap Rani"Oke" Aleta langsung berjalan menuju ruang rapat.Dalam ruang rapat ini tak menyediakan meja besar nanpanjang seperti rapat biasanya melainkan sebuah kursi seperti di kampus dengan susunan melingkar.Di depan sana, sang direktur mengoreksi ide-ide yang akan dicantumkan di majalah mereka.Sedangkan CEO hanya memerhatikan aktivitas bawahannya karena ia belum ingin menanggapi apa yang dikemukakan mereka."Bagaimana kalau kita membuat konsep beauty and The beast?" kali ini Rani yang mengangkat tangan dan menyalurkan idenyaSang direktur tampak berpikir atas ide barusan."Kamu yang diujung" ucap sang CEO yang sambil menunjuk ke arah Aleta, "Saya lihat kamu diam saja, coba sampaikan ide apa yang kamu punya?" tambahnyaAleta terkesiap, ia tak memiliki ide apapun kali ini. Karena beberapa hari ini banyak mengoreksi artikel yang akan terbit dan itu menghabiskan waktunya."Iya, pak?" ucapnya"Apa ide kamu?"Aleta mengumpat dalam hati karena sikap semena-mena CEO yang sialnya tampan ini, namun kabarnya sudah memiliki istri.Ia juga bingung harus menyumbangsih ide apa karena sedari minggu lalu pekerjaannya menumpuk, ia mulai memutar otaknya."Bagaimana kalau kita membuat konsep Bintang di kegelapan" tuturnyaCEO dan juga direktur mendengarkan ide Aleta dengan seksama."Coba jelaskan konsep kamu" ucap direktur, Pak Anta seperti tertarik"Konsep saya itu menyorot orang-orang yang telah bekerja keras dibalik layar. Bukankah selama ini kita hanya mengulik kisah bintang besar serta kehidupannya? Yang padahal mereka bisa mendapatkan nama besar itu dari kerja keras kita juga" jelas Aleta"Jadi maksud kamu, dengan kata lain kita akan membawa konsep bahwa tanpa kita mereka takkan menjadi apa-apa begitu?" tanya CEO itu."Iya, tepat sekali, Pak Arsen" jawab Aleta, ia bersyukur idenya muncul di saat yang tepat. Tadinya ia hanya asal ucap karena takut kena sembur Pak Arsen, CEO yang sialnya tampan.Pak Arsen ini jarang sekali ke kantor penerbitan ini. Dia lebih sering ke kantor yang bergerak di Properti. Namun dalam waktu dekat ini ia selalu rajin menyempatkan diri ke kantor ini.Holang kaya mah Bebas!"Iya benar, selama ini bahkan kita tidak tidur demi menyelesaikan artikel" ucap KarinDirektur mengangguk-anggukkan kepalanya "Saya setuju akan ide Aleta"Semua menghela nafas lega disana, lega karena direktur yang super ribet ini menjengkelkan jika tidak sesuai dengan keinginannya."Oke. Itu artinya tabloid kita akan menggunakan konsep milik Aleta.""Rapat ini selesai, 2 hari kita akan rapat kembali membahas apa yang sesuai" tambah Pak Anta mengakhiri sesi Rapat itu.Semua karyawan keluar bahkan ini sudah jam makan siang beberapa dari mereka keluar mengisi perutnya, namun Aleta kembali ke kubikelnya pekerjaannya benar-benar menumpuk.Saat Aleta masih terus fokus di cerita yang dikoreksinya, pak Anta datang memberikan sekotak nasi padanya."Makanlah" ucapnya"Terima Kasih, pak. Dalam rangka apa?" ucap Aleta yang bingung karena Anta ini jarang sekali mau berbincang pada bawahannya.Terlebih lagi, akhir-akhir ini Anta selalu mengajaknya berbincang bahkan beberapa kali mengajaknya makan siang. Namun Aleta tampaknya tak ingin mengerti atau bahkan memberinya kesempatan."Tidak ada. Kamu sudah bekerja keras. Jadi makanlah" lalu di angguki oleh AletaSetelah itu Anta pergi dari kubikel Aleta kembali menekuri pekerjaannya.Lalu CEOnya datang mengambil kotak nasi yang diberikan oleh Anta, menggantinya dengan kotak nasi yang dibawanya."Huh?" Aleta menampilkan ekspresi bingung"Kita bertukar makanan ya. Saya rasa makanan kamu lebih enak" ucapnya dengan tanpa dosa lalu pergi ke ruangannya.Ia heran tahu dari mana Arsen kalau isinya lebih enak. Bahkan Aleta saja belum sempat melihat isinya.Aleta manatap terdapat sticky note di atas kotak tersebutMakan yang banyak, honey.Aleta meremas sticky notenya, ia takut orang lain melihatnya."Dapat makanan dari pak bos lagi? Serius?" ucap Karin sang kepo di kantor ini, Aleta tahu benar bahwa Karin ini berbahaya seperti muka dua.Karin selalu saja memperhatikan gerak-gerik Aleta, karena akhir-akhir ini memanglah Arsen sang CEO itu sedang gencar sekali mendekati Aleta. Dan ini bukan yang pertama kalinya, Karin melihat Arsen memberikan makan siang pada Aleta.Aleta mengangkat bahunya tanda tidak tahu atas tanggapan Karin."Aku cuma mau memberi tahu saja, pak bos kita sudah beristri" ucapnya dengan ketus dan berlalu begitu saja.Aleta hanya mengangguk dia juga bukan wanita murahan yang mau mengganggu rumah tangga orang lain.Tak ingin ambil pusing, ia membuka kotak nasi itu dan mulai memakannya, lauknya sangat lezat. Ia tahu dimana lelaki itu membelinya karena ia sangat hafal dan menggemari makanan ini. Tak urung senyumannya terbit."Ck. Dasar pelakor" dengusan kecil terdengar dari mulut Karin.Tak terasa siang berganti dengan malam, Aleta ingin segera pulang. Tubuhnya seperti remuk, ia sangat lelah hari ini.Ia berjalan keluar dari perusahaan, memesan taksi online sepertinya pilihan yang baik, namun baru saja ia mengeluarkan ponselnya seseorang merebut ponselnya dengan paksa lalu merengkuhnya.Aleta ingin marah juga berteriak pada lelaki ini namun rasanya sangat sia-sia."Ada apa, Pak Arsen? Bukankah jam kantor telah usai" hanya itu yang mampu ia ucapkanArsen mengangguk "Iya, karena itu kamu juga harus bersikap biasa saja""Ayo pulang bersamaku" tambahnya sambil menggiring Aleta ke dalam mobilnya."Saya gak enak sama karyawan lain""Oh ayolah, sayang" bujuknya"Tapi?""Tidak akan ada yang tahu" tegasnyaAleta mengalah dan mengikuti kemauan Arsen.Namun mereka tidak tahu bahwa ada seorang yang melihat mereka dari balik pilar diujung sana. Dengan ekspresi menghina.Pagi telah tiba, keadaan di kantor masih sama saja. Bahkan lebih sibuk dari biasanya. Hal ini bersebab deadline menumpuk, belum lagi koreksian Aleta juga bertambah.Ia berjalan menuju meja pantry sepertinya membuat kopi merupakan pilihan yang baik, karena hari ini dia sangat mengantuk. Dan ia harus menyalahkan Arsen karena pria itu terus saja mengganggunya."Semalam pulang dengan nyaman, huh?" celetukan dari Karin saat gadis itu juga membuat kopi di pantry.Aleta melihatnya hanya tersenyum tipis, ia tahu takkan ada pembelaan untuknya. Seperti sudah tertangkap basah."Wajar kok, aku juga menyukai Pak Arsen dulu. Namun ketika mendengar kabar sudah memiliki istri aku cukup tahu diri meskipun masih tersisa niat untuk merebutnya" ucap Karin pada Aleta"Hei, Ta. Dicariin Pak Arsen suruh buat kopi katanya" Rani muncul di pantry menghampiri Aleta"Sepertinya pak bos naksir, hati-hati ya dia dia sudah memiliki istri" bisik Rani dan berlalu ke kubikelnyaAleta mendengus, apa maksud Arsen ini? Apakah agar terlihat jelas Aleta seperti pelakor begitu. Sepertinya Aleta harus memberi sedikit hukuman pada pria hidung belang itu.Iya, harus!Aleta berjalan pelan memasuki ruangan pak bosnya itu sambil membawa secangkir kopi, mendapati seorang pria muda disana yang diyakininya sebagai sekretaris Arsen, ia mengetuk pintu dan mendengar suara "Masuk" barulah ia melangkahkan kakinya ke dalam.Sampai di dalam ruangan itu ia melihat Arsen yang sedang fokus pada komputernya, tampaknya ada berkas penting disana."Ini kopinya, pak" ucap Aleta sambil meletakkan kopinya di mejaPria itu mendongak lalu tersenyum hangat pada Aleta "Hanya kita berdua disini, sayang"Arsen menyesap kopinya "Aku selalu menyukai kopi buatanmu" tambahnya"Tapi aku bekerja sebagai editor disini" rajuknyaArsen tertawa "Iya, di kantor bukan di luar kantor"Aleta duduk di salah satu sofa yang ada disana yang disusul oleh Arsen disebelahnya.Arsen merangkulnya, kemudian mengecup pipinya "Jangan cemberut, okay? Katakan ingin membeli apa?"Aleta menggeleng "Aku ingin berjalan-jalan" ucap AletaArsen mengangkat Aleta mendudukkannya di atas pangkuannya, tangannya melingkari tubuh Aleta."Ini di kantor, pak Arsen" ucap AletaArsen mengangkat bahunya acuh "Siapa yang peduli?""Lagi pula tak mungkin ada yang berani masuk ke dalam ruang ini bukan?"Aleta menghembuskan nafasnya tangannya terulur melingkar di leher pria itu. Baru saja mereka saling mendekatkan wajah mereka, pintu di buka paksaBRAKK"Eh? Maaf, pak" ujar seorang gadis itu dengan seringaian yang menjengkelkan melihat posisi Aleta dan Arsen yang begitu intimAleta kelabakan segera turun dari pangkuan Arsen sedangkan Arsen tidak peduli."Apa kau tak bisa mengetuk pintu?" ucap Arsen dengan dingin"Maaf, pak. Saya pikir terjadi sesuatu sehingga Aleta lama sekali keluarnya dan...""Benar terjadi sesuatu" lanjutnya menatap AletaAleta tahu pasti ini akan terjadi, sejak awal Karin memang tidak menyukainya. Ia sadar itu."Tapi bukankah bapak tidak takut pada istri, bapak?"Arsen mengangkat alisnya "Tahu apa kamu tentang istri saya?"Aleta menyikut sikunya, bentuk tanda protes jika diberitakan akan berbahaya bukan?"Baiklah, kamu butuh berapa? Asal tidak ada yang tahu maka kamu ingin berapa?" ucap Arsen lagiKarin tertawa "Gaji tiga kali lipat boleh juga, pak".Arsen menatap Aleta dengan tatapan meminta persetujuan, Aleta mengangguk tanda setuju saja."Baiklah. Keluar!" usirnyaLalu Karin memandang remeh pada Aleta, dan iapun keluar dari ruangan itu."Bagaimana ini?" tanyanya pada Arsen dengan raut khawatir"Tenanglah. Biarkan saja, aku tidak peduli lagi"Selepas kejadian Karin memergoki Aleta di ruangan itu dengan Arsen dan sudah dua bulan lamanya berlalu. Karin selalu saja memandangnya dengan tatapan hina bahkan ia tak sungkan mengatakan bitch pada Aleta.Aleta mendiamkannya saja selama semua orang tak ada yang tahu rahasia itu. Namun pagi ini Aleta terus saja menggerutu karena keras kepalanya Arsen. Bahkan ia memaksanya untuk pergi saja ke kantornya yang lain namun Arsen juga bersikeras tidak mau.Sedari turun dari mobil berangkat bersama ke kantornya ia menggenggam erat tangan Aleta seakan-akan tak ingin hilang.Seluruh karyawan melihatnya dengan tatapan aneh. Mereka tahu, Arsen sudah memiliki istri namun mengapa selingkuh dengan Aleta?Apakah istrinya tak cantik sehingga membuat Arsen berselingkuh?Anta menatap mereka dengan tatapan tak terbaca namun tetap menegur atasannya"Selamat pagi, pak" ucapnya dan dibalas anggukan"Selamat pagi, Leta" ucapnya lagi dengan tersenyum hangat dan di balas senyuman oleh Aleta"Mm... Boleh bicara sebentar, Leta?" tambahnyaBelum Aleta membuka mulut namun Arsen sudah membuka suaranya"Tidak bisa. Aleta sibuk" dan menariknya pergi ke ruangan Arsen meninggalkan segala bisik-bisik disana."Bukankah kita sudah sepakat?" tanyanya saat mereka sudah sampai di ruang Arsen"Dan membiarkan Anta mendekatimu? Aku tidak bisa"Aleta mendesah pasrah, "Lalu kamu mau bagaimana?""Segera akhiri semuanya" ucapnya tegas"Tapi..""Tidak ada tapi-tapian, sekarang keluarlah!" usirnya"Kamu mengusirku?" Aleta menatap Arsen dengan tatapan tak percayaArsen langsung memeluk Aleta "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu, sayang"Aleta mengangguk dalam dekapan pria ini, pria yang mengisi hatinya selama beberapa tahun.Karin masuk ke dalam ruangan itu dengan sesukanya, mengangganggu aktivitas mereka. Ya semenjak ia tahu Arsen bermain dengan Aleta ia bersikap sesuka dan Arsen membiarkannya karena Aleta. Demi keinginan Aleta."Wah.. Lihatlah siapa ini?""Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun?" sarkas Arsen pada KarinKarin tertawa "Sopan pada lelaki sepertimu. Bagaimana nasib istrimu ya? Ah apa aku adukan saja"Arsen tertawa "Dengan senang hati" tantangnya "Dan jangan lupa aku bisa memecatmu kapan saja"Karin mendengus "Aku hanya ingin menyerahkan dokumen ini" lalu ia keluar dari sana.Arsen dan Aleta saling bertatapan, mereka tertawa bersama "Apa kau tidak takut istrimu, Pak?"Arsen mendengus "Tentu, takut tidak diberi olahraga malam" candanya"Wah.. Kau sungguh serakah. Ingin padaku juga istrimu"Arsen tak menjawab ia hanya mengecup kening Aleta dan berujar "Apapun yang terjadi, berjanjilah takkan meninggalkanku"Aleta tersenyum lalu mengangguk, dan ia pamit keluar dari ruang itu menuju kubikelnya. Mulai mengerjakan pekerjaannya.Namun ia tak bisa berkonsentrasi akibat tatapan seluruh karyawan kantor ini. Ia menghela nafasnya dalam-dalam ketika untuk kesekian kalinya Karin berujar"Dasar perempuan tidak tahu malu""Pantas saja pak Arsen tidak pernah membawa istrinya keluar karena ia memiliki wanita lain" nah kalau ini bisik-bisik karyawan lain karena ulah Karin.Jam kantor telah usai ia bersiap membereskan perlengkapannya untuk pulang, namun lagi dan lagi Karin terus saja menghujatnya dengan kata sarkasnya.Hingga puncaknya sore ini Karin mengerjainya dengan tepung dan telur "Pelakor harus malu" itulah ucapannyaAleta menangis tergugu dengan ini semua, Anta datang membantunya berdiri berniat memapahnya namun Arsen langsung datang dan menepis tangan Anta yang bertengger di bahu Aleta."Siapa yang melakukan ini?" rahangnya sudah mengeras"Mencoba bermain-main dengan saya, huh?"Seluruh karyawan menatap Karin, Karin menunduk takut"Kamu. Saya pecat!" ucap Arsen"Dan kalian..." nafas Arsen memburu ia benar-benar marah dan tak terimaAleta menatap Arsen dan mengusap lengannya "Mass" ucapnya lalu menggelengArsen memijat pelipisnya, "Ayo pulang" ajaknya dengan merangkul Aleta meninggalkan Karin yang terdiam dan para karyawan yang berbisik.-Sudah Satu bulan setelah aksi Aleta dipermalukan di lobi saat itu. Dan semenjak saat itu, baik Aleta maupun Arsen tak ada yang menampakkan diri lagi di kantor penerbitan itu.Arsen larut dalam kantornya yang lain dan Aleta juga larut dalam mengikuti Arsen, itu karena Arsen yang memaksanya.Pagi ini mobil hitam Arsen tidak berhenti di kantornya yang bergerak properti melainkan di kantor penerbitan itu.Aleta menaikkan alisnya tanda tak mengerti, bukankan pria ini yang tidak mengizinkannya untuk kembali ke Kantor ini? Apakah dia berubah pikiran dan membiarkannya kembali dihujat."Apa kamu lupa hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan serta syukuran karena mendapat penghargaan?" tanya Arsen mengerti kebingungan AletaAleta menepuk jidatnya "Bagaimana bisa aku melupakannya?" Arsen tertawa"Ayo" ajaknyaMereka turun dalam diam, menaiki lift menuju lantai teratas tempat diadakannya acara itu.Ketika mereka memasuki aula banyak yang berbisik namun mereka abaikan.Hingga Arsen menaiki podium untuk menyampaikan prakatanya"Saya Arsen Axcelio berdiri disini ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan karena telah bekerja keras. Seorang pemimpin takkan bisa menjadi pemimpin tanpa ada orang yang dipimpin. Dan saya bukanlah apa-apa tanpa kalian.Juga istri saya yang hadir, terima kasih sudah menemani dan mendukung saya beberapa tahun ini meskipun keberadaannya tidak pernah diketahui orang" tuturnya, ia mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruang menemukan perempuan yang tersenyum teduh menatapnya.Arsen turun lalu menarik Aleta ke atas panggung tersebut.Seraya merangkulnya ia berucap "Aleta Faylin Axcelio, adalah istri saya. Sedikit klarifikasi, keberadaannya sebagai istri saya jarang diketahui orang lain dan bahkan ia menolak keras untuk dipublikasi. Kami menikah sudah 2 tahun dan memiliki putra kecil berusia setahun. Namun ia sedang di rumah." Arsen menjeda ucapannya menarik nafasnya "Namun kejadian beberapa waktu lalu membuat saya marah dan harus segera mengakhiri drama yang diciptakan sendiri oleh istri saya"Banyak tatapan aneh disana, tatapan lebih terkejut bahwa Aleta Faylin adalah istri dari Arsen.Arsen melihat tatapan Anta pada mereka dengan kecewa?Arsen tertawa sinis, lalu mendekap Aleta dan mencium kening Aleta disana lalu turun meninggalkan kerumunan itu."Sudah puas dengan rahasiamu yang terbongkar, tuan?" tanya Aleta"Ya, rahasia terbesar istriku sendiri yang menjadi selingkuhanku" jawabnya"Ayo pulang temui Axel. Aku merindukannya""Me too" balas ArsenMerekapun tertawa bersamaEnd

Si Ketus Tampan
Romance
08 Dec 2025

Si Ketus Tampan

Aku baru saja berjalan memasuki kelasku menuju bangku yang akan hari ini aku tempati sebagai siswa kelas 3 SMA.Bangkuku berada di pojok kanan paling belakang, bahkan lebih tepatnya bangku terakhir yang akan aku tempati setelah semua bangku sudah terisi penuh.Aku menghela nafas, mengatur emosi kala si ketus yang sialnya tampan itu duduk di bangku itu. Tak ada pilihan lain selain duduk bersamanya, karena hanya itu bangku yang tersisa.Tapi mau bagaimana lagi? Aku ini seorang gadis biasa, tak ada yang namanya teman dekat. Aku bukan antisosial hanya saja sulit untuk mendekatkan diri pada teman. Akan lebih baik mendekatkan diri pada sang pencipta, bukan?Raihan Prambudi, pria ketus yang tampan. Ia most wanted, ketua tim basket disekolah dan pernah menjabat sebagai ketua osis. Aku heran, kenapa dia bisa terpilih jadi ketua osis ya?"Lambat banget sih lo datang" ucap pria itu lalu bangkit"Lo yang diujung" tambahnyaAku hanya diam malas untuk menanggapinya, karena kata-katanya selalu sukses membuat hatiku tertusuk."Ck. Jadi perempuan yang rapi dikit dong, dasipun gak dipakai" ocehnya dengan sarkas.Demi Tuhan, ini baru hari pertama aku duduk di bangku kelas 3 namun dia sudah memulai ucapan ketusnya itu.Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya, mengambil dari tas dan membuka buku novel yang masih sebagianku baca, novel yang berjudulkan Surat Kecil Untuk Tuhan.Menit awal ia masih diam, hinggal menit ke lima ia membuka suara"Itu seru novelnya" aku hanya diam tak merespon."Nayla, Ada gak temen nyata yang begitu?" lanjutnya yang tak urungku balas"Endingnya meninggal dia kena penyakit Ka...""Bisa diam gak?" jawabku yang kesal.Jika dia memberi tahukan endingnya, untuk apa lagi aku membacanya? Dan ini bukan yang pertama kalinya. Sudah lebih dari 7 novel yang dia lakukan dengan memberitahukan endingnya ini."Niat gue baik kali" gerutunya lalu menelungkupkan wajahnya di meja.Aku kembali diam tak ingin merusak hari pertama aku memasuki kelas 3 ini. Tak lama gurupun masuk menjelaskan materi yang singkat. Mungkin karena ini hari pertama jadi kami masih diberi kebebasan.Keesokan harinya tak ada yang berubah, aku hanya gadis biasa yang bisa dikatakan rajin. Berangkat sekolah, hari ini aku berpenampilan rapi seperti memakai dasi. Kemarin dasiku memanglah tertinggal itu disebabkan aku kesiangan.Aku turun dari sepeda motorku, membuka bagasi untuk mengambil beberapa buku paket pelajaran yang berat jika aku masukkan dalam tas.Aku berjalan perlahan memasuki kelas tak lama langkahku hampir terhenti kala mendengar ocehan dibelakangku."Ck. Lambat bener sih jadi perempuan" decaknya yang sungguh menyebalkan.Ia berjalan melewatiku sambil mengambil buku yang ku bawa"Sudah kurus bawaannya berat" decaknya lagi sambil berlalu mendahuluiku, ingin ku tarik buku itu ditangannya tapi itu akan percuma. Jadiku biarkan saja ia membawakan bukuku ke kelas.Tapi kali ini aku tersenyum entah karena apa, bilang saja ia ingin membantuku kenapa harus menggerutu begitu. Raihan selalu begitu, dari dulu ia selalu membantu tentu dengan kata ketus sebagai khasnya.Itulah Raihan, aku tahu sebenarnya dia itu baik. Tapi ucapannya itu yang membuatku nyaris menangis sakit hati ketika berbicara.Pelajaran hari ini selesai, aku ingin makan es krim di toko dekat komplek rumahku ini. Tentu saja masih seorang diri, aku tidak punya teman ingat?Aku memesan satu cup ukuran besar untukku dengan rasa coklat dan strawberry. Lalu duduk di dekat pinggir agar mendapat pemandangan karena cafe ini di sebagian dindingnya adalah kaca.Aku masih menyuapkan dua sendok es krim ke mulutku namun lelaki ini datang dan duduk di depanku.Aku mendengkus "Ngapain? Pindah gih" ucapku"Penuh" jawabnyaAku mengedarkan pandanganku, itu tidaklah benar. Masih ada beberapa bangku yang kosong.Masih aku ingin membuka mulut ingin protes, ia mengulurkan novel di depanku, meletakkan di hadapanku sambil berkata "Gue beli novel ini ternyata tidak menarik"Aku mengernyitkan alis tanda tidak mengerti, lalu aku harus bilang wow gitu?"Untuk lo aja""Ha?""Ternyata selain kurus dan jelek, lo juga budek ya" sarkasnyaTukan aku bilang juga apa dia kalau ngomong itu nyelekit. Aku mengangkat bahuku tanda tak acuh."Lo harus membacanya, dan..."Ia menggantungkan ucapannya yang membuatku bingung menunggu kelanjutannya"Dan?" tanyaku"Gue minta maaf" ucapnyaWhat? Dia bilang apa tadi. Dia ini kenapa?"Eh, kenapa?""Ah es krimnya di sini enak""Lo kenapa sih?" tanyaku setelah diam beberapa menit"Gak kenapa-napa""Mm.. Gue boleh nanya?""Lo uda nanya, Nay" jawabnyaAku meringis menampilkan deretan gigiku "Lo sama Nia pacaran ya?" tanyaku yang kepo. Karena gosip ini selalu beredar namun anehnya Raihan tak pernah menanggapi hal ini.Di sekolah aku jarang berbicara sama dia, kalaupun berbicara hanya seperlunya. Bisa habis dibully kalau aku lama-lama bersama Raihan. Dan ini pertama kalinya aku berbicara santai dengannya, meskipun masih ada kata-kata pedasnya. Setidaknya aku merasa nyaman. Eh? Tidak maksudku setidaknya aku memiliki teman.Raihan menggeleng "Sebenernya gue bukan suka sama dia. Itu salah paham"Iya bener juga sih. Bisa jadi Raihan sukanya sama adiknya Nia ya, adiknya itu lebih kalem dibanding Nia yang terkenal suka ngebully gitu."Bukannya dia selalu bilang bahwa kalian pacaran ya? Kalau lo gak suka, kenapa diam dan gak menyangkalnya" desakku.Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, semakin dekat aku yang penasaran hanya diam pasti dia akan membisikkan rahasia.Hingga wajahnya berada di depanku"Kepo!" ucapnya lalu ia tertawa lebar.Aku menghela nafasku, dia makan apa sih tadi dan yang benar saja, itu sama sekali tidak lucu.Tapi untuk pertama kalinya melihat dia tertawa dengan lepas begitu, ada sesuatu yang menghangat di dalam diriku. Tak sadar aku tersenyum.Dia berdehem menetralkan tawanya, lalu mengusap sudut bibirku"Ck. Nay, umur lo berapa sih?" tanyanyaAku mengernyitkan keningku karena tak mengerti maksud perkataannya.Dan ia mengusap keningku "Ni kening jangan kebanyakan mikir deh. Lo itu uda besarkan? Kenapa makan kayak anak kecil, belepotan" ucapnya sambil mengelap sudut bibirku terkena es krim.Aku menampilkan deretan gigiku dan mengambil tissu untuk membersihkan sisa es krim. Dia paling bisa menjatuhkanku ya.Tapi Raihan kenapa aneh sekali. Selama awal masuk sekolah aku selalu duduk di bangku yang sama dengannya namun baru kali ini dia sedikit berbaik hati. Hari ini dia aneh.Sudah 2 bulan semenjak kejadian itu, entah bagaimana Raihan sedikit berbaik hati meskipun ia takkan bisa menghilangkan perkataan ketusnya. Sepertinya itu sudah mendarah daging.Seperti saat ini, aku dihukum membersihkan perpustakaan karena datang terlambat. Bahkan kini sudah jam istirahat aku lapar karena belum sarapan tapi hukuman ini tak urung selesai.Aku duduk di bangku perpustakaan untuk istirahat sejenak dan mengusap peluhku.Raihan masuk membawa bekal nasi, lalu melemparkan pelan kehadapanku."Gue tadi dibawakin bekal sama nyokap gue. Buat lo aja, gue gak suka lauknya"Aku menatapnya dengan kesal, kenapa sih selalu jutek sama aku. Tentu hanya di hati saja."Nih. Gue tadi juga beli es tapi ternyata juga gak enak. Buat lo aja semua" sambil menyerahkan jus jeruk itu.Aku yang biasanya akan balas memarahinya jika dia selalu seperti ini tapi tidak untuk kali ini. Aku membalasnya dengan senyuman manis."Rai, makasih ya. Lo baik deh" ucapku dengan tulus"Apaan? Gue bilang gasuka makanya kasih ke lo""Gue tau kok. Lo itu emang baik banget""CK. Gausah GR!"Aku memegang ujung lengan bajunya lalu menggoyang-goyangkannya "Makasih uda mau jadi temen gue" ucapku lagiDia mendengkus "Kita bukan teman!" ucapnya dengan sarkas tapi sesaat kemudian dia tersenyum, senyum yang meneduhkan."Guee...." ucapnya tertahan."Ck. Lo ngerepotin ya, Nay." lalu membuka bekal itu dan menyuapkannya padaku.Aku membuka mulut menerima suapannya lalu ia berkata "Lo itu punya sakit maag jadi jangan telat makan" ucapnya dengan lembut.Demi apa Raihan Prambudi bertutur lemah lembut begini?Aku lagi-lagi tersenyum, kupu-kupu beterbangan memenuhi diperutku.Ia mengusap kepalaku "Dihabiskan" lalu ia berlalu begitu saja.Semenjak saat itu ia tak pernah dekat denganku lagi. Kami memanglah duduk berdampingan namun pembicaraan hanya seadanya.Aku yang terbiasa dekat dengannya selama beberapa bulan ini sedikit merasa kehilangan.Karena biar bagaimanapun, sepanjang sisa kehidupan ini aku tak banyak mendapatkan perhatian.Oke, ini berlebihan.Sudah berbulan-bulan lamanya, hari ini adalah hari kelulusanku. Seluruh siswa melihat nama-nama yang ada di papan bukti dari kelulusan.Nayla Lesyata tercetak jelas namaku disana menandakan bahwa aku lulus.Seluruh siswa kelas XII berkumpul dilapangan sekolah bukan untuk berbaris seperti kegiatan upacara atau lainnya melainkan untuk bercorat-coret, berfoto ria dan lain sebagainya menandakan kami resmi meninggalkan sekolah ini.Raihan datang padaku, membalikkan badanku tanpa berkata ia membuat tanda tangannya di balik punggungku. Lalu ia menyerahkan spidol itu padaku, aku tersenyum tanda mengerti maksudnya langsung ku ambil dan ku tanda tangan di balik punggungnya.Lalu ia mengarahkan ponselnya ke arahku bermaksud selfie, aku yang kaget tentu tak menampilkan senyum disana."Tidak buruk. Lo cantik" ucapnya lalu beralih ke kumpulan yang lain.Aku hanya menggelengkan kepalaku dan memilih untuk pulang karena aku diterima di salah satu universitas terbaik yang ada di Yogyakarta.Aku segera pulang dan mengemasi barang-barangku untuk dibawa kesana, disanapun aku akan tinggal dengan budeku, kakak dari ayahku.Selama 4 tahunku habiskan waktuku di Yogyakarta, rasanya malas untuk ke Jakarta hanya sesekali ayah dan ibuku berkunjung kesini.Lagipula disana tak ada kenangan menarik. Namun di Yogyakarta, aku lebih banyak kenangan seperti pertemanan. Hal yang aku tak pernah merasakannya.Saat aku masih duduk bersantai dengan budeku saat ini, ponselku berdering dengan tak sabaran menanti sang empunya menggeser tombol hijau."Hallo, bu." ucapku kala mengangkat."Segeralah pulang, bukankah hanya menunggu wisuda saja?""Tapi...""Ibu 1tidak mau tahu, pokoknya besok siang kau harus sudah berada dirumah. Itu jika kau masih menganggap aku ibumu"Tut tut tutAku melongo seketika, apa-apan ini. Mengapa ibu tiba-tiba menelepon dengan seperti itu.Its oke! Aku memanglah tidak pernah kembali ke Jakarta. Tapi aku juga tidak melupakan ibu dan juga ayahku.Alya, sepupuku berjalan ke arah kami dengan sebuket bunga yang sesekali ia hirup aromanya. Wah dia sangat terkenal, ia juga berparas cantik namun pada saat di depanku ia malah memberiku bunga itu.Aku mengernyit tak mengerti "Ini untukmu. Tadi kata mas-mas di depan untuk Nayla" ucapnya"Siapa?"Alya mengendikan bahunya "Dia cuma bilang untuk Nayla"Lalu ia melenggang pergi begitu saja dengan wajah murung. Ada apa sih? Aku melihat note yang tertulis di buket itu.Bunga ini indah, seperti kamu. Semoga kita segera bertemu besok.Aku tersenyum kecil, siapa yang iseng begini. Apa jangan-jangan Aksa ya diakan lagi dekat denganku, tapi tidak mungkin karena kemarin sudah ku tolak.Aku teringat akan Alya yang mukanya murung setelah memberi buket padaku, karena sore tadi ia masih bersemangat. Merasa tak enak hati akupun berjalan ke kamarnya.Tanpa mengetuk aku masuk langsung merebahkan diri di sampingnya."Al," panggilku yang hanya dibalas deheman olehnya. Usia kami ini sama hanya terpaut beberapa bulan saja."Kenapa? Ingin cerita?" tawarkuIa bangkit terduduk dari kasurnya yang langsungku ikuti."Nay, lo taukan?""Enggak""Ck. Listen to me" dengan gayanya yang berlebihan itu, aku hanya memutar bola mata dengan jengah"Yang ngirimin lo bunga orangnya ganteng pake banget. Nah gue uda berseri-seri tapi ternyata dia bilang buat lo"Aku hanya diam tak ingin menimpali takut salah bicara yang ada dia makin marah."Terus gue bilang 'Buat saya aja ya mas, saya jomblo ni'. Dan lo tau dia bilang apa, Nay?" teriak dia dengan heboh di akhir kalimatnya. Aku menunggu jawaban Alya."Only, Nayla. Terima kasih" dengan menirukan gaya bicara orang tadi dan gaya angkuhnya"Angkuh bangetkan dia? Gagal suka gue untung ganteng tu orang" lanjutnyaAku hanya tertawa kecil menanggapinya karena ekspresi yang diperagakan Alya mengingatkanku pada sosok pria lain."Al, gue besok mau ke Jakarta. Ibu gue, tante lo itu ngancem gue harus uda ada dirumah besok. Lo mau ikut gak?" ajakkuIa tampak berfikir "Boleh deh. Sekalian liburan"Keesokan harinya, pukul tiga sore kami sudah sampai dirumah. Ibuku dan beberapa asisten rumah tangga ku lihat sibuk menyiapkan masakan."Ada acara apa, bu?" tanyaku.Ibu memelukku lalu bergantian memeluk Alya "Sudah kalian tidur dulu sana. Nanti malam Nayla pakai baju yang bagus ya, kamu juga Alya dandan."Aku dan Alya saling melempar pandang dan kami hanya mengangguk lalu naik ke atas.Seperti ucapan ibuku kamipun berdandan entah untuk apa tujuannya.Alya sudah turun duluan katanya ia ingin mencari cemilan namun ia masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa cup cake."OMG, Nayla. Demi apa gue uda jauh-jauh kesini. Tapi cowo itu ada disini" ucapnya dengan tersenggal-senggal"Cowo siapa?" tanyaku sambil memoles sedikit pelembab bibir."Cowo yang ngasih lo bungalah""Ha?""Kumat deh lo kan. Ayo deh turun, mama gue juga ada di bawah. Heran gue ada apaan."Kamipun turun bersama, karena aku juga bingung ada apa."Nah itu Nayla" ucap ayahku. Ku lihat wajah mereka berseri-seri. Aku juga melihat pria yang membelakangiku dengan tubuh tegap, sandarable banget. Aduh pikiran!Pria itu menghadapku "Long time no see, Nayla" ucapnya tersenyum dengan lebarDeg."Sebentar ini ada apa sih?" tanyaku yang bingung."Jadi nak Raihan katanya sudah lama mengenal kamu dan ia berniat melamar kamu malam ini" jelas ibuku"Ha?" ucapku yang memang bingungRasanya aku tidak tahu ingin berbicara apa lagi"Wahh.. Selamat, Nay" ucap Alya memelukku"Tapi bagaimana bisa kalian tidak memberitahukan aku""Maaf, Nay. Mungkin ini mendadak tapi aku akan menjelaskan semuanya setelah kamu menjawabnya" ucap RaihanBaiklah! Dia tidak berubah tetap saja semaunya"Bahkan jika jawabanku tidak, kamu akan tetap menjelaskannya?" tanyaku dengan menyeringai"Tentu. Tapi aku berharap kamu menerimanya. So?"Aku mengulum senyum, tak bisa kupungkiri. Aku masih menyukainya. Pria ketus yang sialnya tampan ini, dan lihatlah setelah empat tahunpun tak bertemu ia semakin terlihat tampan."Nay" tegur ayahku aku terbangun dari khayalankuAku menghembuskan nafasku "Nayla terima lamaran Raihan"Semua orang tampak tersenyum senang disana, dan Raihan langsung berdiri menarikku ke taman belakang. Masih terdengar suara Alya di belakangku"Uww.. Agresif yaa. Awas jangan kesemak-semak" ucap Alya sambil tertawa lalu mengaduh akibat mamanya menjawilnyaDisinilah aku duduk bersama Raihan di taman belakang rumahku.Dia tersenyum melihatku yang dahulu ia jarang tersenyum seperti ini."Terima kasih, Nay.""Kamu hutang pejelasan" ucapkuIa tertawa "Cie yang panggilannya berubah" ejeknya. Aku ingat dulu kami saling lo-gue dalam memanggil.Aku mengulum senyum lalu ia merangkum tanganku"Dari dulu aku suka sama kamu, Nay. Kamu gak sadar ya? Sedari dulu kita duduk bareng itu sengaja. Aku sudah mengaturnya. Lalu..""Wait. Tapi kamu dulu waktu kelulusan jauhin aku" sela aku tak terima"Ah iya, lalu Nia?" tanyaku lagi yang ingat akan penasarankuIa kembali tersenyum "Mau dilanjutkan, tidak?""Oke" jawabku"Jadi dulu waktu aku mau memantapkan hati mengutarakan padamu tentang perasaan ini, Ayahku melarangku untuk berpacaran. Beliau bilang aku harus langsung melamarmu namun aku belum memiliki keberanian itu. Dan maaf baru sekarang berani menemuimu"Ia menghela nafas "Sebenarnya aku selalu memantaumu. Kamu tentu kenal dengan Aksa, ia aku suruh memantaumu namun sialnya ia malah menyukaimu. Aku beryukur kamu menolaknya""Dan mengenai Nia, dia aja yang terlalu baper waktu aku nolongin dia dari preman di jalan." jelasnya lagi.Aku terkejut dengan fakta ini, aku teringat akan sesuatu "Lalu bunga itu?"Untuk kesekian kalinya ia tersenyum "Dari aku""Eh tapi kalau misalnya aku dulu terima Aksa, gimana?" tanyaku dengan pongahRaihan tertawa "Apa lagi selain memaksamu untuk menerimaku. Tidak ada penolakan" tegasnyaAku tidak tahu lagi harus berkata apa lalu ia memelukku sambil berkata "I Love You, Nayla Lesyata""Love you too, Raihan Prambudi"End

Negosiasi
Romance
08 Dec 2025

Negosiasi

"Kak, kau dimana? Kenta, Aku takut" gumamku yang lirih namun ternyata cukup didengar oleh pria berbadan kekar itu.Aku takut, takut sekali. Jika saja tadi aku tidak menolak ketika Kenta ingin mengantarku pulang pasti aku tidak akan berada di sini. Dan aku juga tidak akan berada disini jika saja aku mengiyakan ucapan kakakku saat ia ingin menjemputku.Aku tidak akan disekap di gedung tua kumuh serta jelek ini. Tadi aku marah pada Kenta, ya dia adalah pacarku. Tidak sengaja aku melihatnya berpelukan dengan sahabatku, ia berkata salah paham tapi aku cukup keras untuk tak mudah mempercayainya.Pria berbadan kekar tadi ini berjalan mendekat ke arahku, melemparkan sebungkus nasi untukku.Cih mereka menyekapku tapi memberiku makan, untuk apa?"Ingin aku hidup, huh?" sarkasku.Tangan dan kakiku memanglah terikat tapi tidak dengan mulutku."Diam! Dan makanlah. Jangan buat aku marah" ucap pria itu yang ku kedengar dari percakapan dengan temannya namanya Jeck."Cih! Bagaimana aku bisa makan jika tanganku terikat, bodoh!" pekikku.Sebenarnya aku takut, tapi ini adalah cara dari ayahku untuk melawan mereka dan jangan memperlihatkan ketakutan kita, jika kita ingin menang. Dan kali ini akan aku lakukan. Terima kasih, Ayah! Kau memang cinta pertama tiada tara.Author POVDi sisi lain, seorang pria menghubungi bawahannya untuk mencari adik tercintanya."Aku tidak ingin mendengar apapun! Sudah 2 hari adikku hilang. Cepat lacak keberadaannya" lalu mematikan sambungan teleponnya.Andai adiknya itu sedikit menurut, tidak terlalu keras kepala maka tidak akan begini kejadiannya."Kenta" geramnyaApa ini karena pria itu? Pikir Calvin karena Kenta karena terakhir kali ia bertemu dengan Kenta di cafe dekat kantornya.Masih saja Calvin ingin menghubungi Kenta, namun tampaknya mereka memiliki insting yang sama. Sehingga Calvin tak perlu repot untuk menghubungi Kenta karena Kenta sudah datang menemuinya."Bagaimana? Kau sudah menemukan Aleta." ucap Kenta dengan raut wajah yang panik.Tanpa diduga Calvin menonjok muka tampan Kenta hingga Kenta terjatuh karena tak siap menerima pukulan itu "Dengar, Kenta! Kau memang temanku tapi aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada adikku."Kenta meringis menahan sakit lalu berujar "Mana mungkin aku membiarkan Aleta menghadapi sesuatu yang buruk. Kau tahu bahwa aku sangat mencintai Aleta!" teriak frustasi Kenta.Kenta hanya tak ingin sang pujaan hatinya dalam situasi buruk terlepas dari kesalahpahamannya. Sudah 2 hari gadis itu hilang dan belum ditemukan.Kemarin sebelum Aleta diculik mereka berjanji bertemu di cafe dekat kantor Calvin. Namun ketika Kenta masih membaca menu sambil menunggu Aleta datang, seorang wanita bernama Mika memeluknya dari belakang dengan erat sehingga lengan Mika melingkar erat di leher Kenta. Kenta tahu bahwa Mika ini adalah sahabat Aleta dan juga menyimpan perasaan padanya. Sedangkan Aleta tak tahu bahwa Mika menyukai Kenta itulah yang ada dipikiran Kenta karena selama ini Aleta bersikap baik pada Mika.Saat Mika memeluknya, Aleta masuk ke dalam cafe itu. Ia terkejut saat melihat posisi tersebut ditambah Kenta memegang lengan Mika, ia berfikir itu adalah Aleta.Namun ketika mata Kenta menatap pintu ia melihat Aleta yang berdiri mematung dan menyadari bahwa yang memeluknya adalah Mika bukan Aleta ia langsung menyentakkan lengan itu dari lehernya.Namun yang Aleta lakukan bukan kabur melainkan duduk di depan Kenta dengan tatapan sinis dan Kenta berusaha menjelaskan.Bukan Aleta namanya jika langsung percaya, ia gadis yang keras kepala. Usai menampar Mika, Aleta bangkit dan pergi ingin pulang. Namun Kenta menahan ingin mengantarkannya.Ia juga menelepon kakaknya mengatakan tidak akan kembali ke kantor hari ini bahkan kakaknya ingin mengantar tapi juga ia tolak."Apa yang kalian lakukan?" tanya pria parubaya yang melihat dua pemuda itu."Apa dengan kau menonjoknya adikmu akan pulang?" tambah pria parubaya itu bernama Niko"Dan kau! Kau bilang cinta pada Aleta maka kau harus menemukannya" ucap pria itu pada Kenta"Aku sudah menyuruh mereka mencarinya tapi tetap tidak ketemu, pa!" jawab Calvin pada ayahnya"Aku juga, om" balas Kenta"Ck. Apa perlu pria tua ini yang harus turun tangan" ucap Niko dengan sarkas."Ayo kita berangkat. Aku sudah tahu dimana Aleta" ucap pria Niko pada Calvin dan Kenta"Apa? Papa sudah tahu kenapa tidak mengatakannya" Dengus Calvin"Tunggu!" ucap Kenta"Kita harus membuat rencana agar Aleta juga aman" lanjutnya"Kalian hanya perlu mengikuti skenario yang telahku susun" ucap Niko dengan seringaiannya.Kepala Aleta ditutup kain hitam, ia di dudukkan disebuah kursi yang dihadapannya terdapat meja. Dengan di atasnya tersedia lampu kecil menggantung sehingga menciptakan cahaya remang.Tadi Aleta digiring ke sudut ruangan lain yang masih ada di dalam gedung itu hanya beda lantai saja.Aleta masih meronta, namun pria bernama Jeck itu menarik kepala Aleta hingga rasanya rambutnya ingin lepas.Pria itu membuka kain penutup kepala Aleta. Sinar lampu dari depan tubuhnya sudah menyala, ia mengerjabkan mata karena silau saat sorot lampu menyorot tepat di wajahnya.Bau anyir menusuk hidungnya. Sebenarnya tempat apa ini?Suara tepukan dibelakang lampu menyadarkan Aleta, ia mengernyit."Kau ingat suaraku?" tanya pria itu.Sial! Aleta tak dapat melihat wajahnya akibat sorotan lampu.Aleta memasang wajah angkuhnya, jangan tanyakan ia dapat ini dari mana. Sekali lagi! Ini dari ayahnya"Apa maumu?" desisnya"Aw.. Aku? Tentu dirimu, nona."Aleta tertawa mengejek "Sebegitu terpesonanya padaku, tuan?" masih dengan tatapan angkuh dan tenang namun tetap saja hatinya takut."Tidak takut padaku, nona?"Namun Jeck menjambak rambut Aleta hingga Aleta nyaris membungkuk ke belakang, ia meringis merasakan sakitnya."Tunggu sampai papa dan kakakku datang! Kalian akan menyesal" teriaknya lagiPria di depan sana tertawa mengejek "Uh.. Aku menantinya, Nona." ucap pria di depan tadi sambil mengarahkan pistol pada kepala Aleta.Bahaya, Aleta memutar otaknya agar mengulur waktu. Ia yakin kakak dan ayahnya pasti menolongnya, juga pacarnya mungkin."Ada kata-kata terakhir, Nona?""Tunggu! Setidaknya kau harus memberikanku alasan kenapa kau membunuhku?" ucapnyaPria itu menyeringai, memasang ekspresi yang sangat menyebalkan bagi Aleta. Tak sampai disitu, pria itu juga menurunkan pistolnya. Aleta tersenyum dalam hatinya."Apa keuntungan untukku jika memberitahukannya padamu?" tanyanya sambil menautkan alisnya"Setidaknya aku tidak menjadi arwah penasaran, mungkin"Pria itu mematikan lampunya sehingga nampak jelas raut wajahnya. Ia tertawa atas jawaban Aleta. Lalu ia duduk di atas meja yang ada di hadapan Aleta."Remember me?" Tanya pria itu"Ronal" ucap Aleta"Ya, kau terbaik dalam mengingat.""Jadi apa maumu? Maksudku, beri tahu aku kenapa kau ingin membunuhku""Cinta mungkin" jawabnya"Kau harus membebaskanku jika kau ingin aku cintai" jawab angkuh AletaSeperti biasa, Wanita ini cerdas pikir pria itu."Kau mencoba bernegosiasi terhadapku untuk mengulur waktu sehingga ayahmu akan menemukan aku. Bukankah begitu, Nona?"Sial! Pria ini tahu.Mata Aleta menangkap sesuatu dilaci bawah meja itu, terdapat pistol disana. Yaa Aleta akan mengambilnya, lalu bagaimana caranya sedangkan Ronal masih duduk di atas meja hadapannya.Aleta mengangkat dagunya, masih menunjukkan keangkuhannya tak peduli akan ketakutan yang ia alami."Ayolah, Ronal. Kau ini sungguh tampan. Aku bisa jatuh cinta padamu""Harusnya itu yang kau katakan padaku 3 bulan lalu""Hei, bukankah kau tahu aku memiliki kekasih?""Dan kekasihmu kemarin bermesraan dengan sahabatmu di cafe, kalau kau lupa" balas Ronal"Shiitt" Aleta mengumpat kala ingat momen ituRonal mendekat tangannya mencengkram pipi Aleta "Bibir ini tidak boleh mengumpat, sayang"Kesempatan baik, Aleta mengambil pistol yang ada di laci bawah meja lalu mengarahkan pistol itu tepat pada kepala Ronal.Ronal tertawa "You are smart, honey"Aleta menekankan pistol itu "Bersabarlah, kau akan mencintaiku bukan jika aku membebaskanmu" ucap Ronal dengan santai"In your dream!"Aleta menarik kuat platuknya danDor...Dor...DorSuara tembakanpun terjadi namun bukan dari pistol Aleta melainkan dari luar.Ronal lagi-lagi tertawa pada Aleta dan berkata "Kau memanglah pintar tapi aku lebih pintar. Kau pikir, siapa yang meletakkan pistol itu di bawah sana?" sarkasnyaSuara tembakan dan hantaman yang berasal dari luar semakin memekakan gendang telinga."Oh Shitt.. Jeck periksa luar"Jeckpun segera keluar memeriksa kekacauan yang ada sedangkan Ronal melihat situasi dari jendela samping yang ada di ruangan itu."Menarik" gumamnyaAleta tersenyum sinis "Lihat! Papaku pasti datang.""Lalu?"Aleta berdecihSuara berdentum semakin besar diluar sana. Jeck kembali dengan peluh diwajahnya"Tuan, ada kekacauan di luar sana"Ronal mendengus dan meminta Jeck menjaga Aleta di ruangan itu.Dengan langkah lebarnya ia keluar dari ruangan itu, ia melihat dua lelaki dengan cekatan menghajar anak buahnya.Ronal menepuk tangannya melihat kejadian itu "Wow.. Siapakah pahlawan yang datang ini?" ucap RonalSeketika gerakan Calvin dan Kenta terhenti, mata tajam mereka menghunus manik Ronal. Namun tampaknya pria itu cukup tenang disana.Calvin dan Kenta saling tatap seakan memberi kode lalu keduanya serempak ingin menghajar Ronal. Namun masih 2 langkah mereka berjalan Ronal kembali berujar"Santai, man " ia memutar matanya jengah "Jeck, bawa kekasih cantikku itu!" tambahnya sedikit berteriak.Tak lama Aleta sudah ada dihadapan mereka dengan kungkungan Ronal. Satu tangan Ronal memegang tangan Aleta sedang tangan kanannya memegang pistol yang mengarahkan pada kepala Aleta."Brengsek!" pekik Calvin"Apa maumu?" Desis Kenta"Wah.. Lihatlah tuan selingkuh ini menanyakan padaku"Aleta terlihat mendengkus sebenarnya ia tidak marah pada Kenta, ia hanya sedikit sebal karena tingkah Mika pada Kenta itu meskipun ia tahu bahwa Kenta sangatlah mencintai Aleta. Ia tahu akan hal itu."Dia setia" ujar Aleta protesAleta melihat binar bahagia di mata Kenta."Diamlah!" sentak Ronal."Your mine, Aleta. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada yang bisa memilikimu" desis RonalCalvin berjalan perlahan untuk menjangkau Aleta dan pergerakan itu terbaca oleh Ronal.Pria itu menekankan pistol itu pada Aleta lalu berkata "Maju selangkah maka aku akan menembaknya"Mereka mematung disana, Kenta dan Calvin saling melempar tatapan seakan membuat strategi.Namun dimenit berikutnya seorang pria berjaket hitam dengan segala keahliannya yang melompat dari luar ke gedung itu dan dengan sigap menarik Aleta dari kungkungan Ronal.Calvin dan Kenta menghela nafas dalam-dalam. Mereka tahu pria yang sialnya adalah Ayah Calvin juga Aleta yang pasti melakukannya."Target sudah saya amankan" ujar pria itu melalui telepon yang tersambung pada telinganya.Aleta sudah berpindah alih, Calvin dan Kenta dapat menyerang Ronal kalau begitu. Takkan perlu khawatir mereka akan menyakiti Aleta. Namun pikiran itu terhenti akibat melihat tangan Ronal yang mengambil sebuah tombol dari saku celananya.Shitt!Umpatan serta merta keluar mulus dari bibir mereka berdua, mereka sangatlah tahu benda apa yang kini sedang berada di tangan Ronal. menyaksikan itu Ronal tertawa mengejek."Kalian pikir aku bodoh?" ucapnya dengan seringaian "Aku hanya perlu menekannya sedikit, dan kita akan blusshhh" ucapnya"Kau gila? Kita akan mati bersama, bodoh" rutuk Aleta"Oh sayang. Aku gila karenamu""Psiko!" maki Calvin"Kau pasti hanya mengancam bukan?" dengus Kenta"Barangkali dia akting" gerutu pria yang menyelamatkan Aleta"Jadi kalian tidak percaya" Wajahnya menyeringaiDan detik selanjutnya, semua orang disana memekik kala Ronal benar-benar menekan tombol itu.Semuanya kelimpungan, suara berdebum begitu nyaring hingga meruntuhkan apa saja yang ada disana.Suara dentuam disertai suara jeritan para makhluk yang berada disana memenuhi bangunan tua. Bangunan itu bergetar nyaris runtuh, puing-puing bangunan sempat berserak memenuhi sekitar. Seluruh manusia terangkat dari pijakan bangunan dan terjatuh dalam posisi telentang hingga telungkup. Aroma darahpun turut bercampur. Seketika hening melanda.Semua para manusia itupun bangkit, berdiri dengan posisi beriring. Lalu tangan mereka saling menggenggam, menaikkan tangannya dan membungkukkan tubuh sebagai tanda penghormatan.Tirai merahpun tertutup tanda berakhirnya cerita tersebut. Riuh tepukan terdengar menghiasi seluruh ruangan itu."What!! Apa-apaan ini?" suara pekikan seorang gadis tak terimaNamun seorang lelaki disebelahnya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya"Ayo kita pulang, sayang""Rasanya aku ingin menuntut pemilik teater ini" ucapnya dengan menggebu-gebu"Ini namanya seni, sayang. Dan aku pemiliknya kalau kamu lupa""Harusnya kamu gak menayangkan cerita seperti itu dong. Kita selama 3 jam menyaksikan adegan yang menggantung gitu saja?""Kan endingnya jelas, semuanya mati""Tapi tetap saja aku tuh, uh sakit hati"Laki-laki itu tertawa terbahak menyaksikan ekspresi kekasihnya ini."Ih.. Adrian. Tahu gini aku gak mau kamu ajak nonton ini, akan lebih baik jika kita ke pantai tadi" gerutu gadis itu."Suruh siapa tadi gak mau bernegosiasi. Langsung mengangguk dengar ideku"Gadis itu memasang ekspresi cemberut tanda ketidakpuasan akan drama teater tersebut.Lalu lelaki bernama Adrian itu, mengacak rambut gadis itu lalu merangkulnya "Ayo, Amel sayang, aku antar pulang. Nanti kita makan es krim"Kemudian terlihat binar bahagia dimata gadis itu setelah Adrian mengucapkan kata es krim."Ayo deh, kalau maksa"Tamat

Danke, Barista!
Romance
07 Dec 2025

Danke, Barista!

Aku duduk di sudut cafe bergaya klasik ditemani secangkir coklat hangat, ku lihat diluar sana sedang rintik padahal waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. Di cafe ini, menu andalannya adalah kopi. Ya begitulah, ku alihkan pandangku pada sang barista yang dengan gerakan seksi meracik kopinya.Lamat-lamat ku pandangi wajahnya,Matanya yang tajam bak elang, hidung yang mancung dibingkai dengan rahang yang tegas. Ditambah kulit yang putih, tinggi dan tubuh yang atletis. Aku yakin Tuhan sedang bahagia saat menciptakannya.Ini merupakan kegiatan rutin yang kulakukan setiap 2 kali dalam seminggu, pada hari kamis dan hari minggu. Dan tebak ini hari apa? Ini adalah hari minggu karena itulah aku berada di cafe ini.Lama aku memandangnya, ia menyerahkan kopi hasil racikannya pada pelayannya lalu tatapannya teralih padaku manik mata kami bertemu, ia tersenyum menenangkan.Oh senyumannya sungguh memabukkan. Sudah lama aku menyukai barista ini, namun tampaknya ia tak pernah peduli padaku. Pernah sekali aku agresif padanya mengatakan bahwa aku adalah pacarnya kepada teman dekat wanitanya namun ia menepisnya dengan kata bahwa aku adalah adik sepupunya.Oh! Sungguh beruntung sekali yang mendapatkannya. Tidak hanya tampan, ia berkarisma dan juga mandiri. Sebenarnya usaha ini yang membiayai ayahnya.Ku alihkan tatapanku pada band lokal di depan sana, setiap hari minggu akan ada band lokal yang manggung di cafe ini. Tiba-tiba seorang lelaki datang langsung duduk di hadapanku"Hai, Keyra!" Ucapnya dengan senyumanAku mendengus kenapa harus lelaki ini yang duduk dihadapanku, kenapa tidak dia saja? Ah itu tidak mungkin."Kembalilah pada teman-temanmu, Sen" acuhkuAku tahu pria ini memiliki perasaan padaku, ia juga tahu bahwa aku akan ke cafe ini setiap minggunya."Aku tidak bersama temanku" jawabnya sambil mengedarkan pandangan "Aku kesini hanya untuk menemuimu""Baiklah, lakukan semaumu tapi jangan berisik" ketuskuKu alihkan tatapanku pada barista tadi tapi ku lihat ia sudah tidak ada. Ah kemana dia?"Apa kau tidak lelah, Key" ucap Arsen"Maksudmu?""Aku tahu kau menyukai barista itukan? Tapi bahkan ia tidak pernah peduli padamu"Benar, ucapan Arsen menohok sekali. Aku sudah menyukainya sejak lama dan sudah 3 bulan lamanya aku mencoba mengejarnya, jangankan untuk diacuhkan, ia bahkan saat itu pernah menyuruhku pulang. Atas dasar itu, aku hanya berani memandanginya dibalik meja sudut ini.Semua rasa itu berawal dari aku pertama kali masuk universitas, dia adalah Mahasiswa tingkat akhir yang sedang bimbingan kala itu. Aku yang dulu adalah gadis cupu, dia membantuku membebaskanku dari bahan bully. Dan lagi ia yang membantuku berubah menjadi gadis seperti ini, gadis yang bergaya modern juga percaya diri. Hanya sebulan memang, waktu yang cukup singkat namun mau bagaimana jika perasaan itu tumbuh.Awalnya aku memang tidak berani, jangankan untuk berbicara banyak,memandang wajahnya saja aku tidak berani karena jantung ini seperti mau terbang. Dan Lambat laun aku mulai berani untuk mengejar cintanya karena saat itu, tepatnya 3 bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya. Aku terus mengejarnya karena seperti ucapan pepatah jawa yang mengatakan bahwa Witing Tresno Jalaran Suko Kulino."Key, aku bisa membantumu" lanjut Arsen menarikku dari pusaran khayalan.Aku manaikkan alisku tanda bertanya "Apa maksudnya?""Ayo kita pacaran!" ucap Arsen dengan lantangAku tertawa "Jangan bercanda, Arsen. Kau ini mengajak aku pacaran atau mengajak aku membeli kerupuk"Arsen menjambak rambutnya tampak frustasi "Ayolah, Keyra. Bukankah kau tahu aku sudah berulang kali menyatakan cinta padamu"Aku menghela nafas dalam-dalam, beginilah semenjak pria barista itu mengubah penampilanku banyak pria yang mengejarku namun mau bagaimana jika hatiku hanya terpaku padanya.Kalau dilihat Arsen ini juga tampan, dan mau sampai kapan aku mengejar pria yang bahkan menoleh saja tidak. Ia hanya menganggapku seorang adik perempuan, ia memang sering tersenyum padaku. Aku akui hal itu namun untuk lebih sama sekali tidak.Aku rasa tak ada perkembangan di hubungan kami ini. Dan apakah ini pantas disebut dengan hubungan?"Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku" Ucap Arsen sambil memegang tangankuSeorang pria berjalan lalu berdehem di sampingku lalu melepaskan tautan tanganku pada Arsen."Keyra sudah punya janji dengan saya" ucap pria iniAku mendongak melihat suara yang familiar ditelingaku. Sungguh keajaiban, aku mengingat apakah aku memang ada janji dengan pria ini. Rasa-rasanya aku tidak memiliki janji apapun padanya atau pada siapapun. Tapi siapa yang peduli, seketika aku tertawa jahat dalam hati."Ayo" ajak pria ini"Eh, tunggu tapi, kak?" gantian dong ya. Biasanya dia yang selalu begitu"Ayo, Keyra!" tekannya lalu menarik tanganku mengikuti langkah lebarnya aku yakin pasti ini akan memerahnya."Arsen aku duluan ya" ucapku sambil berlalu. Aku sempat melihat Arsen akan protes namun ia urungkan kala melihat pria yang menarikku ini.Pria ini membukakan pintu mobilnya dan menyuruhkan masuk ke mobilnya. Aku heran, tentu saja. Ia makan apa sih tadi? Kok mendadak seperti ini. Ini kali pertamanya ia begini padaku. Aku mengusap pergelangan tanganku yang memerah akibat tarikannya tadi.Ia masuk ke dalam mobil lalu berkata "Kemana kita, Key?' tanyanya datarAku tak menjawab masih mengusap pergelangan tanganku yang memerah.Pria ini menghela nafas, menarik pergelangan tanganku lalu dikecupnya "Maaf" ucapnyaAku membeku seketika, tapi aku mendadak jadi takut. Ada 3 pilihan atas perubahan sikapnya yang pertama, dia mulai sadar bahwa ia mencintaiku tapi sepertinya ini cukup mustahil mengingat ia yang ketus sekaligus manis bersamaa. Yang kedua,dia punya sakit parah jadi dia berbuat kebaikan tapi jika dilihat ia sehat dan terakhir dia iseng karena banyak waktu luang dan merasa bosan."Melamun huh?" tanyanya dengan ketusAku tersenyum kikuk, nah ini baru dia yang ku kenal ketus dan galak "Mau jalan atau aku balik masuk ni?" lanjutnya"Eh iya, kak Arga. Sabar dong kan aku lagi berpikir mau kemana. Coba kasih pilihan" ini momen langka tidak boleh di sia-siakan dong"Nonton atau makan?""Nonton, selesai itu kita makan." jawabku cepat.Ia mendengus "Ck. Kebiasaan!"Bodo amat kak, bodo amat yang penting aku happy.Ia mendekat kearahku, bahkan wajahnya hanya beberapa inci dengan wajahku. Aku menahan nafas kala nafasnya juga turut menerpa wajahkuKlik"Kamu mikir jorok, ya?" ucap Arga memicingkan matanya dan ia juga mulai menjalankan mobilnya.Aku tersadar ternyata arti dari kata kebiasaan yang ia ucapkan itu karena aku lupa memakai sabuk pengaman."Enggak, kak" jawabku sekenanya sambil menahan malu"Laki-laki tadi?" tanyanya dengan tatapan fokus ke jalan"Dia Arsen dan teman sefakultas kalau kakak lupa""Jauhin, aku tidak suka.""Kenapa?""Pokoknya tidak suka!"Aku lebih baik diam tak ingin menjawabnya, takut ia memutar setir mobik ke arah cafenya lagi. Biar bagaimanapun selama 3 bulan ini baru kali ini dia mengajakku jalan.Terakhir kali ya dulu ketika aku masih cupu dan tidak percaya diri, itu juga dia mengajakku untuk membenahi diri seperti pergi ke salon salah satunya.Ia yang dulu selalu berkata "Kamu itu cantik, jangan hanya karena ucapan orang kamu langsung minder," "Kecantikan akan hadir ketika kamu punya rasa percaya diri" Dan kata terakhirnya adalah "Dan jika kamu sudah percaya diri, maka kamu juga harus cerdas"Makanya sekarang aku berubah percaya diri begini, kelewatan malah sampai berani mengejar lelaki ini."Kamu mau di mobil aja?" tanyanya dengan sarkas. Aku bakan tidak sadar bahwa telah sampai.Aku menggeleng dan langsung keluar dari mobilnya, ku dengar ia tertawa kecil melihat tingkahku. Beginilah kak Arga, dia itu ketus tapi hatinya hangat. Ah aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada pria ini.Selepas turun ia mengaitkan tanganku dengan tangannya sambil berjalan menuju ke bioskop.Aku menatap tangannya yang menggandeng tanganku. Mimpi apa tadi malam aku Tuhan? Oh atau jangan-jangan ini mimpi ya."Ini tidak mimpi, Keyra." ucapnya lembut selembut sutra sambil tersenyum.Oh Tuhan! Apakah pria ini cenayan yang bisa membaca pikiranku? Aku jadi bergidik ngeri."Mau nonton apa?" ucapnya ketika tiba di bioskop."Apa saja. Tapi Jeritan malam, boleh?" ucapkuDia tertawa "Baiklah" lalu kamipun menonton film jeritan malam ini. Aku suka filmnya, film yang diadaptasi dari kisah nyata.Selepas menonton film, kamipun makan. Dan suprisenya lagi ia memesankan makanan kesukaanku tanpa bertanya padaku.Boleh tidak aku baper?Makananpun datang dan Kak arga berkata "Makan yang banyak, kamu kurusan"Ah aku jadi curiga kalau begini, barangkali ia mendadak begini karena kasihan melihatku yang kurusan begini.Tak sadar aku memasang duck face ulah ucapannya "Aku tidak ingin kamu kurus""Dan kamu jelek pasang ekspresi begitu" lanjutnya sambil menumpukan tangan di meja."Arsen pasti tidak akan keberatan menerimaku jika aku kurus" ucapku dengan sebal."Jangan bicarakan pria brengsek itu lagi" ucap kak Arga penuh dengan tekananAku masih ingin membantah ucapannya, setidaknya Arsen yang paling keras memperjuangkan aku. Tidak seperti pria ini, yang diperjuangkan tapi tidak mengerti.Aku yang sudah merangkai kata-kata ingin menyangkal tiba-tiba ada suara lain yang menyapa telingaku"Arga..""Tania" ucap Arga"Pacar kamu?" tanya wanita bernama Tania ituKu lihat kak Arga menatapku, aku juga penasaran apa yang akan dikatakan kak Arga pada wanita ini "Dia.. Adik.." jawab Kak Arga"Ingin bergabung" tambah kak Arga dan langsung disepakati oleh TaniaAku tertawa mengejek, hilang sudah nafsu makanku serta menguap sudah bahagiaku sesaat kencan hari ini. Aku bahkan tidak yakin apakah ini kencan?Baiklah aku sudah muak, aku memilih mundur. Aku tidak tahu siapa Tania ini tapi seketika aku menbencinya dan aku juga marah pada Kak Arga ternyata ia hanya menganggapku Adiknya.Aku beranjak dari tempat itu meninggalkan mereka, ku dengar kak Arga memanggilku tapi tak ku hiraukan. Hati ini terlanjur patah terlalu dalam, harusnya aku sadar dari dulu kalau inilah yang terjadi.Harusnya aku sadar kalau kak Arga hanya kasihan pada gadis sepertiku. Aku terus merutuki kebodohanku hingga sampai pada apartemenku.Aku memang tinggal sendiri di kota ini, ayahku membelikan apartemen ini untukku karena aku kuliah di kota ini tentunya dan agar aku nyaman dan aman.Aku masuk kamar dan aku menangis, tapi aku tidak boleh jatuh karena pria itu. Aku harus bangkit dan buktikan padanya bahwa aku bisa move on.Walaupun aku tidak yakin!Keesokan harinya aku duduk termenung di kantin kampus menghabiskan sarapanku sembari menunggu jam masuk kelas.Setangkai mawar merah mengacung di wajahku. Ah pria ini lagi, maunya apa sih? Kenapa dia harus repot-repot mengunjungiku di sini.Aku beranjak dari tempat itu, sudah lelah. Hey aku juga wanita yang ingin dimengerti.Namun sepertinya pria ini tidak puas akan penolakan, ia menarik tanganku."Ada apa lagi, kak Arga?" tanyaku menatap tajam sorot matanya"Aku mau masuk kelas" lanjutku ketus"Sebentar""5 detik" ucapku namun dia menatap mataku dengan lekat tanpa sepatah katapun.Aku mulai menghitung"1""2""3""4" ku lihat ia masih menatapku dengan tenang"5""Okay. Waktu habis!" ucapku lalu mulai melangkahkan kaki."Aku mencintaimu!" ucapnya dengan lantangEh bagaimana? Apa katanyaAku segera berbalik menatapnya seakan tak percaya akan ucapannyaDia menarikku ke dalam pelukannya lalu mengatakan "Aku mencintaimu, Keyra. Gadis cupu yang berubah jadi liar" ucapnya yang diakhiri dengan tawa renyahnya."Tapi kakak bilang aku cuma adik, itu kalau lupa" cibirkuDia melepaskan pelukan kami lalu berkata "Makanya jangan salah sangka duluan, maksudku adik. Kamu adik ipar untuk Tania" kak Arga tersenyum manis sekaliAku masih memikirkan maksud dari ucapannya. Tania itu wanita kemarin yang aku temui itukan?Dia mendorong kepalaku dengan telunjuknya "Wanita kemarin yang bernama Tania itu kakakku, Keyra."

Cyro
Romance
07 Dec 2025

Cyro

Sera mengernyit dalam tidurnya. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu merasakan beban berat disekitar pinggangnya. Ada apa ini? Apa ada barang-barang di kamarnya yang tiba-tiba jatuh dan menimpanya? Makin lama, Sera merasakan benda itu makin membelit tubuhnya. Sudah pasti ini bukan barang-barang di kamarnya. Sera lantas segera membuka matanya. Takut jika yang membelit tubuhnya saat ini ada ular.Namun ketika gadis itu membuka mata, hal pertama yang dia dapati adalah wajah seorang laki-laki. Otomatis Sera berteriak dan menendang laki-laki itu hingga jatuh dari kasurnya."Aw!" Ringis laki-laki itu seraya mengusap kepalanya. Sera menarik cepat selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, hanya kepalanya saja yang terlihat."Si... siapa kamu?" Tanya Sera bergetar dan takut. Siapa yang tidak takut jika tengah malam begini mendapati orang asing sedang tidur di kasur yang sama kita? Mana orang asing itu terlihat aneh!"Kamu yang siapa? Kenapa kamu berada di..." Ucapan laki-laki itu terhenti. Matanya menjelajahi kamar Sera dengan liar. Lalu tiba-tiba wajah laki-laki itu terlihat pucat dan kaget."Astaga! Aku lupa," kata laki-laki itu seraya menepuk dahinya. Sera yang sedari tadi diam, mulai keluar dari selimut dan menuju saklar lampu. Gadis itu menekan saklar lampu dan membuat kamar seluas 9 meter kuadrat itu terang seketika. Sera dapat melihat jelas laki-laki yang terduduk di lantai kamarnya. Matanya menatap setiap jengkal orang asing yang menyusup ke kamarnya itu.Mata Sera melebar ketika menyadari keanehan pada penyusup itu. Laki- laki itu berpakaian aneh. Pakaiannya seperti jumpsuit yang pas badan berwarna hitam. Ada sebuah benda kecil seperti lampu berwarna kuning di bagian dadanya. Bagian kepala laki-laki itu juga aneh. Laki-laki itu memiliki telinga yang panjang, gigi-gigi yang runcing, rambut berwarna kuning serta ada dua tanduk kecil di kepalanya. Sebenarnya makhluk apa yang menyusup ke kamar Sera? Silumankah?"Makh... makhluk apa kamu? Kenapa bisa ada di kamarku?" Sera menjangkau sapu yang ada didekatnya, bersiap hendak menyerang makhluk aneh itu."Jangan pukul aku! Aku nggak ada maksud berbuat jahat sama kamu," cegah laki-laki itu panik. Laki-laki itu membuat gerakan menahan dengan tangannya. Perlahan Sera menurunkan sapunya, tapi tidak dengan tingkat kewaspadaannya."Kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di kamarku?""Aku Cyro. Aku berasal dari planet Hiuna, planet yang letaknya sangat jauh dari planetmu karena planet kita berada di galaksi yang berbeda. Aku dan kakakku sedang melarikan diri dari penjahat yang berniat membunuh kami dengan lubang hitam. Sebenarnya planet yang kami tuju bukan ini. Tapi dalam perjalanan, terjadi sesuatu di lubang hitam. Aku dan kakakku terpisah dan aku malah terdampar disini. Aku minta maaf karena sudah masuk sembarangan dan tidur di kasurmu," jelas laki-laki bernama Cyro itu. Sera terkejut mendengar penjelasannya. Jadi Cyro itu alien?"Kamu alien?""Ck bukan! Kami menyebut diri kami sebagai gerda. Seperti manusia bagi kalian," kata Cyro."Hah?""Jangan memasang wajah bodoh seperti itu. Di planetku, kami mempelajari tentang makhluk-makhluk dari planet lain. Salah satunya kalian. Aku sedikit banyak tahu tentang kalian."Sera ber-oh ria. Lalu gadis itu duduk di atas kasurnya. Perlahan ketakutannya pada Cyro menghilang setelah sedikit berbincang dengan laki-laki itu. Meskipun Sera masih belum bisa ada alien... maksudnya gerda di kamarnya, tapi kemunculan Cyro dengan tampilan anehnya membuat Sera mau tidak mau percaya jika saat ini ada makhluk asing di hadapannya."Ah ya, namaku Sera.""Senang berkenalan denganmu, Sera," kata Cyro manis. Sera mengulum senyumnya."Lalu bagaimana caranya agar kamu bisa bertemu dengan kakakmu kembali?""Aku nggak tahu. Hanya kakakku yang bisa membuat portal untuk membuka lubang hitam. Aku tidak bisa. Sepertinya aku harus menunggu sampai kakakku menjemputku. Tapi aku sudah mengirim pesan telepati padanya. Semoga pesannya sampai," kata Cyro."Pesan telepati? Lewat ponsel?""Bukan. Kami bisa saling mengirimkan telepati untuk saling menghubungi. Tidak perlu menggunakan benda seperti kalian. Kami menggunakan ini untuk menangkap dan mengirimnya." Cyro menyentuh tanduk kecil yang ada di kepalanya. Sera makin kagum melihat makhluk asing yang ada dihadapannya saat ini."Berarti saat lubang hitam rusak, kamu langsung terlempar di kamarku?""Tidak. Di halaman lebih tepatnya. Aku takut ketahuan makanya aku memutuskan untuk masuk. Maaf sudah membuatmu ketakutan.""Hah? Kamu masuk lewat mana? Jendela?"Cyro menggeleng. Lalu laki-laki itu menunjuk dinding. "Lewat sana.""Dinding?""Iya," angguk Cyro. "Aku menembusnya."" WHAT?! Kamu bisa menembus dinding?" Tanya Sera heboh. Cyro segera membekap mulut gadis itu karena takut memancing kehebohan."Kecilkan suaramu," desis Cyro. Sera menganguk-anggukkan kepalanya. Cyro lalu melepaskan bekapan tangannya di mulut Sera."Jadi kamu menembus dinding?""Iya. Gerda bisa menembus benda padat dan membuat benda melayang. Mau lihat?"Sera mengangguk mau. Dia penasaran seperti apa makhluk yang disebut gerda ini. Mereka mempunyai kemampuan yang berada diluar akal manusia.Cyro lalu memusatkan perhatiannya pada sebuah buku yang tergeletak di lantai. Matanya menatap buku itu dengan serius. Lalu tak lama kemudian, perlahan, buku itu terangkat dan melayang di udara. Hal itu mengundang decakan dari Sera."Woah, hebat sekali," decak Sera kagum. Cyro tersenyum tipis lalu kembali meletakkan buku itu ke atas lantai."Bagaimana dengan menembus dinding? Aku juga mau lihat," pinta Sera. Cyro menggeleng, lalu ikut duduk di samping Sera di atas kasur."Akan ku perlihatkan besok pagi." Setelah itu Cyro merebahkan tubuhnya di kasur Sera dan segera terlelap. Sera menatap terkejut pada laki-laki itu. Cyro tidur dikasurnya? Mereka akan tidur di kasur yang sama? WHAT?!***Sera terbangun begitu mendengar suara gaduh dari luar kamarnya. Sera mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dua menit kemudian, begitu kesadarannya terkumpul penuh, Sera menuju dapur rumah kontrakannya. Tempat dimana suara gaduh itu berasal. Betapa kagetnya Sera begitu mendapati dapurnya dipenuhi dengan benda-benda melayang dan seorang laki-laki yang berdiri di tengahnya."Pagi Sera," sapa Cyro. Sera masih melongo sehingga tidak membalas sapaan Cyro."Kenapa semua benda-benda ini melayang?""Aku mau merapikannya tadi. Semua sudah ku cuci bersih tapi aku nggak tahu dimana harus meletakkannya. Jadi benda-benda ini masih melayang seraya aku berpikir dimana tempat untuk meletakkannya," kata Cyro polos. Sera berdecak lalu segera menunjukkan dimana saja alat-alat dapurnya. Cyro segera meletakkan alar-alat dapur itu sesuai instruksi Sera, dengan keadaan melayang pastinya."Terima kasih sudah membantuku, Cyro. Aku akhir-akhir ini sibuk sampai nggak ada waktu buat beres-beres," kata Sera tulus dan malu. Tentu saja dia malu. Peralatan di rumahnya dibersihkan oleh orang lain."Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Anggap saja sebagai permintaan maafku.""Eh..."Tiba-tiba saja tanduk kecil di kepala Cyro mengeluarkan cahaya dan berkedip beberapa kali. Senyum Cyro mengembang seketika. Pesannya dibalas oleh sang kakak! Segera Cyro memegang tanduknya dan menutup mata.Cyro, aku terlempar ke planet Dura. Bumi dan Dura lumayan jauh karena berbeda galaksi. Tapi aku akan segera menyusulmu. Aku akan mencoba membuka lubang hitam dan menuju bumi. Kamu jaga diri. Tutup kepalamu, jangan sampai memancing perhatian. Aku takut para penjahat itu bisa mendeteksimu disana.Setelah itu Cyro membuka matanya dan melepaskan tangannya dari tanduknya. Hal pertama yang Cyro lihat yaitu wajah kebingungan Sera."Kakakku sudah memberi pesan. Dia akan menyusulku kesini," jelas Cyro tanpa ditanya."Syukurlah. Semoga kakakmu segera datang.""Um Sera.""Ya?""Bolehkah aku tinggal disini sampai kakakku datang?" Tanya Cyro penuh harap. Sera langsung mengangguk setuju. Gadis itu hanya tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil ini. Jika ada tetangga yang bertanya, dia akan mengakui Cyro sebagai sepupunya.Sera tidak tahu kenapa dia bisa secepat ini percaya pada makhluk asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya. Padahal bisa saja sebenarnya Cyro berniat. Tapi ntah kenapa, Sera yakin jika Cyro ada orang baik. Maka dari itu dia membolehlan Cyro tinggal untuk sementara waktu di rumahnya."Terima kasih, Sera." Cyro tiba-tiba saja memeluk Sera, membuat gadis itu tersentak kaget. Selama ini belum ada laki-laki yang pernah memeluknya selain anggota keluarganya. Mantannya terdahulu hanya pernah menggenggam tangannya saja. Sera termasuk orang yang kolot jika berpacaran."Sa...sama-sama." Perlahan Sera berusaha melepaskan Cyro dari tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang sekali. "Aku mau mandi dulu. Aku harus segera bekerja."***Semua pegawai yang mempunyai shift pagi ini di toko kopi terkejut melihat Sera datang bersama laki-laki yang menutupi kepalanya dengan hoodie . Ya, Cyro ikut Sera bekerja karena laki-laki itu tidak mau ditinggal sendiri. Dia bilang lebih baik dia ikut Sera bekerja daripada bosan hanya menunggu di rumah. Akhirnya Sera mengalah dan membolehkan Cyro untuk ikut dengannya, dengan catatan laki-laki itu tidak boleh membuat keributan."Bareng siapa, Ser? Pegawai baru?" Tanya salah satu teman Sera. Sera menggeleng."Sepupuku. Dia ikut karena nggak mau sendirian di rumah. Nggak papakan? Aku janji dia nggak akan macam-macam.""Aku rasa sih nggak papa. Lagian bos hari ini nggak masuk. Aman aja sih keliatannya."Sera mendesah lega mendengarnya. Gadis itu segera menarik Cyro untuk duduk di kursi paling pojok."Kamu tunggu aku disini. Kalau bosan, kamu boleh keluar. Tapi jangan sampai nyasar. Nih aku kasih kamu uang kalau butuh sesuatu." Sera meletakkan uang seratus ribu ke tangan Cyro."Kalau aku mau bantu, boleh nggak?""Jangan, Ro. Bisa heboh nanti. Kamu duduk disini aja atau keluar juga boleh. Aku mau kerja dulu."Sera segera pergi meninggalkan Cyro untuk segera memulai pekerjaannya. Cyro yang ditinggal mendesah kecewa. Jika seperti ini, lebih baik dia menunggu di rumah saja.***Mata Cyro menatap Sera yang terlihat sangat sibuk. Gadis itu mondar-mandir mengantarkan pesanan, membersihkan meja, dan mencatat pesanan para pelanggan. Cyro kasihan melihat Sera yang sepertinya mulai lelah tapi pelanggan masih saja ramai. Cyro rasanya ingin menolong, tapi dia sudah diwanti-wanti oleh Sera untuk tidak melakukan apapun. Ah andaikan ini di Hiuna, semua pesanan itu pasti sudah melayang ke meja masing-masing pemesannya tapi perlu capek-capek untuk diantarkan."Kamu nggak kerja, Ta? Bantuin Sera." Sayup-sayup Cyro mendengar percakapan dua orang pegawai perempuan yang berdiri tidak jauh darinya."Nggak ah. Capek. Biarin aja Sera yang ngerjain. Tadi aku bilang ke dia kalau aku nggak enak badan. Padahal lagi males aja," kata salah satu dari mereka lalu tertawa. Cyro menggeram kesal. Bisa-bisanya mereka memanfaatkan Sera demi kepentingan mereka sendiri. Lihat saja, akan Cyro beri pelajaran."Mbak!" Cyro mengangkat tangannya, memanggil dua pegawai yang sedang mengobrol tadi. Salah satu dari mereka menoleh lalu menuju meja Cyro malas-malasan. Untungnya yang mendatangi Cyro adalah orang yang jahat pada Sera."Kenapa, Mas?" Tanya pelayan perempuan itu jutek."Saya mau mesan minuman yang baru. Es kopi susu. Ah ya, tolong minuman saya ini dibuang aja. Saya nggak minat lagi." Cyro mengangsurkan gelas berisi coklat dingin pada gadis itu. Mau tidak mau pelayan perempuan itu menerimanya dan mengatakan akan segera mengantarkan pesanan Cyro.Senyum Cyro mengembang ketika pelayan perempuan itu menjauhinya. Cyro segera memfokuskan matanya pada gelas berisi coklat dingin itu dan tidak lama kemudian... byur!!! Gelas berisi coklat dingin itu sedikit terangkat dan isinya membasahi pakaian pelayanan perempuan itu dan sedikit wajahnya. Semua orang di toko kopi itu terkejut melihatnya, berbeda dengan Cyro. Laki-laki itu malah terkekeh kecil dan berseru senang dalam hati.Rasakan itu!!!***Jam kerja Sera berakhir pada pukul lima sore. Gadis itu segera mengganti pakaiannya dan mengajak Cyro yang setia duduk di kursi pojok untuk pulang. Sera yakin, Cyro pasti bosan meskipun tadi dia sempat meminjamkan ponselnya pada Cyro."Kamu bosan ya? Besok mendingan tunggu di rumah aja," kata Sera di tengah perjalanan pulang."Nggak kok. Kalau bosan, aku udah keluar dari tadi. Aku besok ikut kamu lagi. Seru liat kamu kerja.""Seru liat aku atau seru isengin temanku?" Sera tahu jika insiden salah satu temannya mandi coklat dingin tadi siang itu adalah kerjaan Cyro. Sera sempat melihat Cyro menatap ke arah temannya itu sebelum temannya tersiram coklat dingin."Aku cuma ngasih pelajaran ke dia. Dia licik. Dia biarin kamu kerja sendirian sedangkan dia pura-pura sakit.""Tapi kamu harusnya ingat perkataan kakak kamu. Jangan bikin keributan. Kamu mau ketahuan?""Tapi aku nggak ketahuankan? Orang-orang mikirnya dia nggak sengaja nyiramin coklat dingin itu ke badannya. Aku lakuin itu semua demi kamu, Sera."Sera mendesah pelan. Tidak bisa melawan Cyro karena laki-laki itu selalu saja bisa menjawabnya."Terserah kamulah."***Sudah dua minggu lebih Cyro tinggal bersama Sera. Sera mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki bertanduk itu. Sejak kehadiran Cyro, hidup Sera yang datar terasa lebih berwarna. Semua yang dilakukan Cyro memberi perubahan dihidupnya."Ser."Sera tersentak ketika Cyro tiba-tiba muncul dari balik dinding. Laki-laki itu memang hobi sekali menembus dinding daripada membuka pintu dan melewatinya seperti manusia normal. Ah Sera lupa. Cyro bukan manusia. Dia gerda."Jangan suka ngagetin gitu, Ro," tegur Sera kesal. Cyro menampilkan cengirannya lalu tiba-tiba memeluk Sera."Tadi aku dapat pesan dari kakakku. Dia udah bisa buka lubang hitam yang menuju bumi. Dia bakal jemput aku," kata Cyro bahagia.Deg! Sera merasakan hal yang berbeda di hatinya. Ntah kenapa dia merasa tidak rela mendengar bahwa Cyro akan segera pergi."Be... benarkah? Kapan kakakmu akan sampai?""Nggak tahu. Tapi katanya nggak akan lama. Ah, akhirnya aku bisa ketemu kakakku lagi. Aku senang banget," kata Cyro berseri-seri. Cyro melepaskan pelukannya. Tapi laki-laki itu mengernyit bingung melihat wajah Sera yang murung."Kenapa? Kok kamu murung?""Nggak. Aku cuma sedih bakal nggak bisa ketemu kamu lagi," jawab Sera jujur. Tidak ada gunanya berbohong. Toh, sebentar lagi Cyro akan meninggalkannya."Aku juga sedih nggak bisa ketemu kamu lagi." Cyro merangkum wajah Sera dengan tangannya. "Aku janji bakal belajar supaya bisa buka lubang hitam dan mengunjungi kamu. Tunggu aku ya."Sera tersenyum mendengar janji Cyro. Meskipun dia tidak tahu apakah Cyro akan menepati janjinya atau tidak, tapi setidaknya laki-laki itu berniat menemuinya kembali suatu saat."Sebelum aku pergi, ayo kita habiskan waktu bersama."Cyro menggandeng tangan Sera lalu berjalan lurus ke arah dinding. Langkah Cyro terhenti karena teriakan Sera saat setengah tubuhnya sudah menembus dinding."Aku nggak bisa nembus dinding, Cyro!"

Kehilanganmu
Romance
06 Dec 2025

Kehilanganmu

Oh, begini rasanya kehilangan dirimu, kekasihTak pernah 'ku bayangkan sakitnya akan seperti iniKau telah pergi dari hidupkuOh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?Saat aku masih berharapCinta ini masih bertahan untuk kitaOh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu?Kini berakhir untuk selamanya🎡 Judika - Tak Mungkin Bersama πŸŽ΅πŸ’”πŸ’”πŸ’”Aku meraih pigura foto yang terletak di atas nakas. Pigura berukuran sedang itu menampilkan sosok rupawan dengan senyum manis terukir di wajahnya. Perlahan, jariku menyusuri wajah di pigura foto itu. Bergerak lambat, seakan wajahmu yang aku elus saat ini.Mataku terpaku melihat senyummu yang begitu lebar. Senyum yang sampai hingga ke mata, membuktikan betapa tulus dan bahagianya senyuman ini. Senyuman yang selalu aku rindukan." I miss you so much. Kenapa kamu tega ngelakuin ini semua ke aku, Ben?""Sayang, air rebusan kamu udah mendidih nih," teriak Beni, suamiku. Aku yang sedang mencari buku anakku yang ntah terletak dimana berdecak kesal."Masukin mienya, Ben. Aku lagi bantu Rudi nyari bukunya," balasku juga berteriak. Tidak ku dengar lagi balasannya darinya. Mungkin dia sudah melakukannya. Aku kembali fokus mencari buku anakku yang ntah nyempil dimana."Bukunya kamu taruh dimana sih?" Tanyaku pada Rudi. Rudi menggeleng polos."Rudi lupa, Bu." Aku menghela napas pelan. Anakku ini sangat pelupa, persis seperti ayahnya. Dia bisa lupa dimana meletakkan buku yang tadi dia pakai, sama seperti Beni yang suka lupa dimana letak pensilnya setelah menggambar desain bangunan padahal pensil itu terselip antara kepala dan telinganya."Coba liat di bawah meja belajarnya. Siapa tahu jatuh." Rudi mengangguk lalu menundukkan tubuh kecilnya agar bisa masuk ke kolong meja. Saat aku hendak menyusul Rudi, Beni muncul dengan cengiran khasnya."Sayang.""Kenapa, Ben? Mienya udah masak?" Beni memasuki kamar Rudi lalu menatapku polos. Aku heran melihat tingkah anehnya ini. "Kenapa?""Masakin mie dong.""Lah kan udah. Mienya udah kamu rebuskan?" Beni menggeleng. Aku membelalak melihat gelengannya itu. Bukankah tadi aku menyuruhnya memasukan mie ke air yang sudah mendidih?"Kompornya aku matiin. Mienya belum aku masukin.""Loh loh. Katanya kamu mau makan mie," kataku heran."Iya. Tapi buatan kamu," renggutnya. Astaga suamiku ini."Kan udah aku buatin, Ben. Kamu cuma masukin mienya ke air karena aku lagi bantu Rudi," kataku gemas. Beni tetap menggeleng. Lalu dia memelukku manja, menempatkan dagunya di bahuku."Maunya kamu yang masakin dari awal sampai akhir. Harus kamu doang. Nggak boleh orang lain apalagi aku," katanya manja. Aku mendesah pelan. Suamiku ini kadang memang kelewatan manjanya. Semua harus aku, tidak boleh orang lain."Tapikan aku lagi bantu Rudi, Ben," kataku pelan. Aku mengelus lengannya yang melingkar di tubuhku. Aku bisa merasakan Beni menggeleng."Ibu, bukunya ketemu!" Seruan Rudi membuyarkan fokusku pada Beni. Aku sampai lupa harus membantu putraku. "Ih Ayah kok peluk-peluk Ibu?""Ayahkan sayang sama Ibu makanya Ayah peluk Ibu. Emangnya Rudi yang nggak sayang sama Ibu," cibir Beni bercanda yang mendapat teriakan dari Rudi."Rudi sayang sama Ibu." Rudi menyerbu memelukku. Lengan kecilnya memeluk pahaku."Iya iya. Ibu juga sayang sama Rudi sama Ayah."Air mataku yang sudah bersusah payahku tahan sejak tadi akhirnya merembes keluar saat mengingat kenangan yang kami miliki. Setitik demi setitik, kelamaan makin deras hingga membasahi kaca pelindung pigura ini. Aku bergegas menyeka pipiku yang makin basah karena aku tahu dia tidak suka melihatku menangis. Tapi apa daya, air mata ini terlalu deras hingga aku sendiri tidak sanggup lagi untuk menyekanya."Sayang, maaf. Aku nggak bisa nepatin janjiku. Aku nggak bisa nggak nangis ketika kamu pergi," lirihku pilu. Pigura itu ku peluk erat di dadaku. Tangisku kian mengencang seiring dengan sesak yang makin menyiksa di dadaku ini.Aku selalu begini. Selalu menangis pilu jika mengingat sosoknya. Apalagi ketika kejadian malam terakhir itu terlintas di otakku. Aku tidak bisa menahan tangisku.Hujan deras mengguyur kota kelahiranku sejak tadi sore. Hingga malam menjemput, hujan ini tidak kunjung reda. Petir masih setia menyambar membuatku takut menghidupkan barang elektronik.Rudi baru saja tertidur karena anakku itu memang gampang mengantuk jika cuaca dingin seperti ini. Sedangkan Beni sedang asik selonjoran di kasur dengan buku di tangannya."Baca apa sih?" Tanyaku penasaran. Aku mendekatinya. Beni yang selalu memprioritaskanku diatas apapun segera meletakan bukunya di nakas lalu meraupku dalam pelukannya."Aku jawabpun kamu nggak akan paham," ledeknya. Dia mengusel-usel hidungnya di puncak kepalaku, kebiasannya dari dulu."Ih jahat banget ngatain istrinya bodoh." Aku memukul pelan dadanya yang disambut kekehan oleh Beni."Rudi udah tidur?""Udah. Anak kamu itukan gampang banget tidur kalau hujan gini. Dikira suara hujan itu lullaby tidurnya kali.""Bagus dong. Dari pada dia ketakutan.""Hm." Aku berdehem membenarkan. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Meresapi kenyamanan yang selalu dia suguhkan."Yang, aku mau nanya.""Biasanya juga langsung nanya tanpa minta izin," cibirku. Beni terkekeh. "Mau nanya apa? Serius banget kayaknya sampai minta izin gitu?"Aku mendongak menatap wajah tampannya. Tapi Beni segera menarik kepalaku agar menempel kembali dengan dadanya. "Senderan aja. Jangan jauh-jauh.""Suka banget sih aku templokin." Lagi-lagi Beni terkekeh. Tangannya bergerak lembut membelai punggungku, membuatku semakin nyaman."Kamu jangan nangis ya kalau aku pergi suatu saat nanti." Aku terkejut mendengar perkataannya. Beni tidak pernah mengatakan hal mengerikan seperti ini sebelumnya. Aku hendak melepaskan pelukanku padanya dan protes pada kalimatnya itu. Tapi Beni segera mengunciku dalam pelukannya."Dibilang senderan aja.""Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka.""Aku cuma bilang aja, Sayang. Kamu tahu sendiri kalau aku paling nggak suka lihat kamu nangis, apalagi karena aku. Jadi kamu harus janji nggak akan nangis jika suatu saat aku pergi." Beni mencium puncak kepalaku. Tiba-tiba aku diserang ketakutan. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana hidupku tanpa Beni dan tidak pernah mau merasakannya."Kamu nggak boleh kemana-mana. Kamu harus selalu disini. Nemenin aku sama Rudi," kataku. Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhnya. Berusaha mencari ketenangan karena rasa takut menyelimuti hatiku. Beni tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus-terusan mencium puncak kepalaku dan mengelus punggungku. Tanpa sadar aku jatuh tertidur dalam pelukannya karena usapan lembutnya di punggungku ditambah cuaca dingin seperti ini.Aku tidak tahu pukul berapa ketika Beni membangunkanku pelan. Dia izin ingin menuju kantornya yang katanya kemalingan malam itu."Besok aja, Ben. Udah malam banget. Di luar masih hujan pula. Aku yakin udah banyak yang kesana," larangku. Aku terlalu khawatir membiarkannya pergi malam ini. Entah karena faktor perkataan Beni sebelum aku tidur tadi atau ada yang lain. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tidak ingin melepasnya malam ini."Nggak enak, Sayang. Aku harus tetap cek. Sandi sama Wildan udah disana." Beni mendirikan perusahaan arsitektur bersama dua sahabatnya di bangku perkuliahan. Mereka merintis perusahaan itu dari nol hingga sukses seperti sekarang. Aku maklum jika Beni sekhawatir ini ketika kantornya kemalingan. Tapi ini sudah terlalu larut malam dan hujan deras masih mengguyur di luar sana. Aku yakin d ua sahabat Beni sudah bisa menyelesaikan urusan ini tanpa Beni."Jangan pergi, Ben. Besok aja. Aku mohon." Mataku berkaca-kaca, berharap ini bisa menahannya. Tapi nyatanya Beni tidak bisa dibantah. Dia tetap ngotot pergi dengan segala bujuk rayunya. Akhirnya aku mengiyakan karena tidak bisa lagi melarangnya. Dadaku terasa begitu sesak melihatnya menukar pakaian.Sebelum pergi, Beni menyempatkan menuju kamar Rudi. Dia mencium lama dahi anak kami lalu mengelus rambutnya lembut. Tidak biasanya Beni seperti ini. Aku semakin khawatir."Aku pergi dulu, ya. Pintu jangan lupa di kunci. Aku bawa kunci duplikat," pesannya."Jangan lama-lama. Cepat pulang ya," kataku. Aku memegang erat lengannya. Tidak rela melepasnya pergi."Iya. Kamu sama Rudi baik-baik disini ya. Jaga diri. Aku sayang sama kalian." Beni mencium dahiku lama. Aku meremas kuat jaket yang dia pakai, berusaha menahan air mata yang ntah kenapa ingin meluncur. "Bye Sayang."Aku tidak pernah tahu jika Bye Sayang yang diucapkan Beni merupakan kalimat sekaligus perpisahan terakhir yang dia ucapkan padaku. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir dia mencium dahiku dan Rudi. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir aku merasakan pelukannya. Aku tidak pernah tahu...Jika aku tahu malam itu dia akan meninggalkanku dan Rudi selamanya, aku tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari apartemen kami. Aku akan menahannya di kamar, kalau perlu mengikatnya agar dia tidak bisa pergi kemana-mana. Sayangnya itu hanya pengandaian. Nyatanya malam itu Beni tetap pergi dan meninggalkan aku dan Rudi.Beni mengalami kecelakaan pada malam ditemani hujan lebat itu. Kata polisi yang menghubungiku, mobil Beni tergelincir jalanan yang licin saat dia menghindari lobang besar yang sedang diperbaiki dan malah menabrak truk yang melaju dari arah berlawanan. Mobilnya hancur mengakibatkan Beni harus meregang nyawa pada saat itu juga. Hanya itu yang aku tahu karena aku tidak sanggup mendengar penjelasan lainnya. Hidupku rasanya hancur saat melihat tubuh kaku Beni yang diselimuti kain putih di bankar rumah sakit.Kepergian Beni merupakan luka besar di hidupku. Berhari-hari aku menangisi kepergiannya hingga jatuh pingsan. Saat pemakamannya aku bahkan hampir saja meloncat ingin ikut masuk jika saja tidak ditahan oleh abangku. Kewarasanku memang sudah hilang seiring dengan menghilangnya sosok Beni di hidupku."Aku mau ikut Beni. Aku mau sama Beni," rontaku dipelukan bang Yuda. Aku ingin lepas dari pelukannya dan masuk ke dalam pelukan Beni. Aku ingin menamani Beni didalam sana. Dia pasti akan kesepian jika tidak aku temani. Aku tidak mau membiarkan Beni sendirian. Beni tidak pernah suka tanpa aku."Istighfar, Dek. Kamu nggak boleh gini. Beni nggak akan suka lihat kamu yang kayak gini," lirih bang Yuda dengan suara tercekat. Aku memukul dadanya, tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Aku hanya ingin bersama Beni. Aku tidak ingin dipisahkan dengan suamiku."Lepasin aku, Bang. Aku mau suamiku. Aku mau Beni. Lepas!" Bentakku. Aku berusaha mendorong badannya namun tidak berhasil karena aku tidak ada tenaga sama sekali. Akhirnya yang aku bisa hanya menangis pilu di dada abangku itu."Mending kita pulang kalau kamu kayak gini terus," kata bang Yuda. Aku menggeleng tidak mau. Aku mau bersama Beni."Nggak mau. Aku mau sama Beni. Aku mau liat Beni," rintihku pilu."Kalau kamu masih mau disini, jangan lakuin tindakan bodoh. Beni nggak suka kamu yang kayak gini, Dek." Akhirnya aku tidak meronta lagi tapi bang Yuda tetap memelukku. Aku terus menangis seiring tubuh suamiku dikebumikan."Ben, jangan tinggalin aku.""Ibu." Aku tersentak begitu merasakan elusan lembut di bahuku. Aku menoleh ke belakang, mendapati Rudi yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ibu kangen sama Ayah ya?""Harusnya ayahmu ada disini. Dia nemenin kamu pengajian malam ini sebelum besok melihatmu menikah dengan Diana," kataku tercekat. Malam ini adalah malam pengajian sebelum akad nikah anak semata wayang kami besok. Momen sakral seperti ini yang selalu membuatku mengingat Beni terlalu dalam walaupun sudah belasan tahun berlalu."Rudi juga kangen Ayah. Rudi juga pengen Ayah ada disini sekarang. Ngeliat Rudi nikah dengan Diana besok." Rudi ikut mengelus pigura foto yang menampilkan wajah tampan Beni disana. "Tapi Rudi tahu, Rudi harus ikhlas ngejalanin semua ini tanpa Ayah. Rudi tahu Ayah akan sangat sedih di atas sana jika melihat kita bersedih seperti ini."Rudi membawaku masuk ke dalam pelukannya. Tangisku kembali pecah dalam pelukan anakku. Pelukan Rudi mengingatkanku pada pelukan Beni. Hangat dan membuat nyaman."Ibu jangan sedih lagi. Kita udah janji bakal bahagia sama Ayah, walaupun nggak bakal sebahagia kalau ada Ayah disini. Rudi akan merasa sangat bersalah sama Ayah kalau biarin Ibu nangis terus. Rudi udah janji di makam Ayah akan selalu bahagiain Ibu."Ben, anak kita sekarang udah besar. Dia udah mau nikah. Dia juga udah tahu cara bagaimana cara menghiburku setiap kali aku sedih pas ingat kamu. Dia udah jadi sosok yang dewasa, Ben. Dia udah jadi sosok yang persis seperti kamu.Ben, aku kangen banget sama kamu. Belasan tahun tidak akan pernah bisa nyembuhin luka yang aku rasain karena kehilangan kamu. Belasan tahun tidak juga membuatku tidak menangis ketika mengingat kamu. Air mata ini selalu bebas meluncur ketika aku mengingat kamu.Ben, maafin aku yang nggak bisa nepatin banyak janjiku sama kamu. Maafin aku yang selalu nangis ketika ingat kamu. Maafin aku yang nggak bisa jadi orang yang kuat setelah kamu tinggalkan. Maafin aku yang sampai saat ini masih butuh kamu. Maafin aku, Ben.Ben, tunggu aku disana ya. Aku bakal nyusulin kamu disana. Meskipun tidak tahu kapan, aku bakal menemani kamu. Aku tahu kamu pasti kesepian tanpa aku. Aku tahu kamu juga rindu aku, persis seperti aku yang selalu rindu sama kamu.Beni, I love you so much .

Menyekap Rasa
Romance
06 Dec 2025

Menyekap Rasa

Aku duduk pada sebuah sofa single pada ruang tamu yang cukup luas ini, dengan suguhan secangkir teh yang asapnya masih mengepul juga setoples kue kering yang sengaja di buat oleh ibunda dari orang yang ku cintai, Roki.Aku sudah disini terhitung sejak dua puluh menit yang lalu, tapi rasanya sudah seperti berabad-abad, pacarku tercinta itu sedang keluar sebentar mengantar berkas untuk ayahnya yang katanya tertinggal. Niat pacarku itu baik, ingin mengenalkan aku pada keluarganya dengan niat ingin serius padaku tentu saja aku senang tapi aku rasa aku yang terlalu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.Oh ayolah, hubungan kami memang masih 9 bulan lamanya namun aku merasa sudah seperti bertahun-tahun dengannya. Sebenarnya aku juga sudah beberapa kali berkunjung kerumahnya. Namun suasana ini selalu saja ku benci.Bagaimana tidak benci jika ketika kamu berkunjung ke rumah calon mertua tapi ada perempuan beratas namakan mantan pacar kekasihmu ada disana?Bahkan ia sok asik sekali dengan calon mertuaku. Bolehkah aku marah? Ketika aku masih bertamu disini tapi mereka mengobrol dengan penuh keseruan canda tawa"Di minum tehnya, Tasya" ucap ibunda Roki dengan lembut.Bibirku yang telah ku poles dengan lipstik berwarna rose tersenyum sambil menjawab "Iya tante""Kuenya juga di makan, kemarin tante buat sama Caca itu" tambahnya lagi yang rasanya hatiku seperti di remas."Iya, Sya. Cobain deh enak." Caca selaku mantannya ikut menimpali dengan sok akrab.Aku hanya mampu tersenyum seraya mengangguk canggung berada disini. Padahal kesini juga aku membawa oleh-oleh buatanku bernama puding tapi langsung dimasukkan kulkas.Apakah kalian bisa membayangkannya?Aku selalu merasa sakit hati jika berada di posisi ini. Aku juga sudah mulai berlapang dada saat ini. Karena mungkin memang mereka sedekat itu, Caca adalah anak dari teman bundanya Roki.Bukan aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku mengenai mantan dan bundanya, tapi Roki selalu saja berhasil menenangkan hatiku dari kekalutan ini. Bahkan aku tidak tahu alasan mereka berpisah karena apa. Aku hanya meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.Sambil memandang mereka, aku mulai menyesap tehku yang mungkin sudah hampir dingin."Seru banget ceritanya" ucap Roki saat telah tiba di rumah langsung mengecup keningku, yang ku yakini terlihat Caca sedikit memalingkan wajahnya tak ingin menatap kami.Biarkan saja. Agar ia tahu, Roki mencintaiku. Boleh aku tertawa untuk sedikit menekan ketakutanku."Ini si Caca cerita kemarin dia ikut lomba masak lawannya ada yang salah gitu, mau masukin gula malah garam banyak pula." Jawab bundanyaRoki menatapku sekilas, kurasa ia mengerti perasaanku."Sudah mulai sore, Kita pulang saja ya. Biar bisa jalan-jalan bentar nanti." Ucap Roki padaku.Belum sempat ku buka mulut menjawab bundanya langsung berkata "Antar Caca sekalian ya, Ki.""Eh tidak usah. Aku pulang sendiri saja" jawab Caca"Sudahlah Caca ikut Roki saja, sekalian" sahut bundanya lagi"Tapi.." ucapan Roki terpotong"Bolehkan, Sya? Jika sekalian bareng sama Caca." Ucap bunda Roki padakuMemangnya aku memiliki jawaban apa lagi selain iya? Ku lihat juga Roki diam saja sambil menatapku. Dengan terpaksa aku menjawab "Iya boleh, tante"Lalu segera aku berpamit pada orang tuanya dan mulai berlalu.Roki membukakan pintu mobil untukku duduk di depan tapi dengan cepat Caca mendahuluiku dengan cepat di depan mengundang protes dari Roki."Kamu tahukan aku tidak suka duduk di belakang?" Ucap Caca"Baiklah, kamu menyetir biar aku di belakang sama Tasya" balas Roki tak mau kalah. Aku terlalu lelah jika menghadapi mereka yang selalu seperti ini jika sudah bersama."Tapikan aku..""Sudahlah, tidak apa-apa. Aku di belakang saja" ucapku mengalah, tidak ingin memperpanjang situasi. Lagipula kami hanya perlu mengantarkannya saja pulang setelah itu selesai.Saat di jalan, Caca selalu mengajak Roki berbincang yang di balas Roki hanya deheman atau bahkan diam saja. Ku lihat Roki melirikku dari kaca depan, tanpa kata aku hanya memalingkan wajahku ke arah samping jendela mobil."Sayang.." ucap Roki padaku dengan tatapan masih pada kacaDiluar dugaanku, Caca maupun aku, kami sama-sama menjawab "Iya" secara bersamaan. Aku berdecih, Caca langsung salah tingkah lalu berkata "Sorry.. aku lupa."Apakah itu jawaban?Ku lihat Roki memandangku dengan tatapan meminta maaf. Aku sudah tidak peduli.Usai dengan mengantar Caca kerumahnya, ia sempat menawarkan kami untuk singgah yang langsung di tolak oleh Roki. Syukurlah, karena jika ia mau, aku akan langsung pulang naik apk online warna hijau itu.Jangan berharap ada drama, begitu Caca turun akupun langsung pindah ke depan disamping pengemudi."Maaf yaa" ucap Roki padaku yang hanya ku balas deheman, memangnya aku harus jawab apa lagi"Kamu tahukan..""Iya aku tahu, Caca sudah seperti anak bundamu, bukan? Atau juga seperti saudari untukmu" ku potong ucapannya dengan kalimat yang selalu ia katakan padaku."Sayang, kita makan di tempat lamongan yang pernah kamu tunjukin itu ya. Aku suka, sambalnya mantap sekali"Ya aku tahu ia tidak ingin memperpanjangnya sehingga ia mengalihkan pembicaraan. Ku tarik nafas untuk menetralisir emosiku.Kami memesan makanan, sesekali ia menyuapiku. Aku mengunyah makanan sambil memperhatikan wajahnya, sungguh aku mencintainya. Tak ada sedikitpun meragukan cintanya tapi kedatangan masa lalunya yang berturut-turut dalam hidupku yang menekanku untuk meragukan dia.Aku ingat kala pertemuan awal dengannya, saat itu kami bertemu di toserba mengantri untuk membayar belanjaan tapi aku lupa membawa dompet, lebih tepatnya tertinggal di mobil mungkin karena usai membayar bensin sehingga lupa memasukkan kembali di tas. Sungguh memalukan, jumlah yang ku beli juga sekitar dua ratusan ribu.Aku membalikkan badan, Roki yang di belakangku tersenyum lalu langsung membayarkan tagihanku."Sekalian sama yang ini, mbak" ucapnyaSuaranya yang maskulin juga aroma parfum menyeruak di hatiku membuatku terpesona. Usai membayar aku menunggunya dan berjalan keluar bersama."Terima kasih. Sebentar aku ambil uang dulu" ucapkuTapi ia langsung dengan cepat menggeleng dan mengatakan "Kamu boleh membayarnya lain kali ketika kita bertemu lagi"Aku mengerutkan keningku, kenapa harus bertemu lagi bukan? Ayolah kami tidak saling mengenal.Ia menaikkan tangannya "Aku Roki"Aku tersenyum membalasnya "Tasya"Ia memberikan ponselnya, "Tuliskan nomor ponselmu aku akan menghubungimu untuk tagihan itu"Aku tertawa sebelum menjawab "Kamu perayu ulung ternyata" tapi juga ku tuliskan nomorku disana.Ia balas tertawa dan mengatakan "Aku akan menghubungimu nanti" ucapnya yang ku angguki dan aku masuk ke dalam mobilku.Selang beberapa waktu tepatnya dua bulan kemudian dia menelponku untuk bertemu di suatu kafe, waktu yang cukup lama membuatku hampir lupa.Bahkan ku tebak pertemuan kami saat itu, ketika ia sedang patah hati. Ia tidak mengatakan dengan jelas alasannya dan akupun juga tak ingin tahu. Namun dari sinilah kami mulai dekat hingga akhirnya menjalin hubungan.Tunggu, apakah aku hanya pelarian?Uhukk.. uhukk..Aku tersedak akibat pikiranku, dengan cekatan dia mengambilkan minum untukku juga menepuk pelan punggungku sambil mengatakan "Sudah enakan?" Yang ku balas anggukan juga senyuman kecil.Seusai makan kami berkeliling kota sebentar, tangannya tak lepas dari menggenggam tanganku.Setelah itu ia mengantarkanku pulang, sebelum turun dari mobil ia menahanku dan berkata "Ku mohon bersabarlah.. Aku akan selalu menjaga jarak padanya. Kamu harus percaya bahwa aku mencintaimu, sangat." Ucapnya padaku.Aku tersenyum, dia menarikku ke dalam pelukannya juga mengusap pelan punggungku. Menenangkanku.Setelah itu aku turun, ia juga turun untuk pamit pada bundaku di dalam sebelum pulang."Roki" panggilku sebelum ia beranjak masuk mobilIa membalikkan badannya menatapku penuh tanya "Boleh aku tahu kenapa kalian berpisah?"Ia mengerutkan keningnya penuh tanya. "Aku sudah pernah mengatakan alasannya, bukan?""Tidak cocok?" Aku menghela nafas "Bagaimana jika suatu saat kita tidak cocok? Kamu akan melepaskanku juga bukan"Ia menggeleng cepat "Sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku pamit pulang dulu" balasnya lalu mengecup keningku pergi dengan rasa bingungku.Selalu begini. Tidak tahu bagaimana ujungnya, rasanya hubunganku dengan Roki masih berjalan di tempat.---Jam telah menunjukkan angka 4 artinya aku bisa pulang setelah hampir seharian bekerja apalagi tidak ada kerjaan tambahan. Renal selaku teman kantor sekaligus teman yang baik untukku sedari aku kecil mengajakku pulang bersama.Tentu saja aku tidak menolak, aku tidak menolak karena tadi pagi aku ke kantor di antar Roki sehingga tidak membawa kendaraan juga rumah kami yang searah.Begitu aku masuk ke dalam mobilnya, Renal mulai menjalankannya perlahan."Makan dulu ya, Sya. Laper juga ni biar sampai rumah bisa langsung tidur""Boleh deh. Kamu gak bareng Ani btw"Dia tertawa singkat "Kamu ngejek aku kan. Si Ani aja yang GR cuma di tolongin bayar tagihan di toserba karena dia lupa bawa dompet"Aku tertawa singkat karena mengingatkanku kisahku dengan Roki."Halah.. kemarin juga pulang bareng" balaskuDia makin tertawa keras "Dia ngekorin mulu, Sya. Kasian"Dan ku balas tawa, Renal sudah sangat dekat dengannku. Jangan salah paham, kami hanya berteman yang kebetulan kami satu kantor juga."Nah kita makan disitu ya. Lagi Hits ini tempat. Biar cuma kaki lima tapi kualitas bintang lima" ucapnya yang membuatku tertawa"Sudah kayak sales kamu, Ren"Kamipun turun, ia memesankan makanan disini. Aku bahkan tidak boleh mengucapkan pesananku karena dia berkata aku tidak akan menyesal menikmati menu dia. Aku hanya mengucapkan minuman es teh manis sebagai pelengkap.Tempat makan disini memang menarik, stand kaki lima berjejeran namun pemandangannya begitu asri karena terdapat taman-taman.Pesananpun datang kami mulai menikmatinya perlahan. Mataku berbinar kala makanan yang berbahan dasar udang ini masuk ke dalam mulutku."Makasih Renal. Seriusan ini enak" ucapku tulus"Benarkan?" Ucapnya yang langsung ku angguki semangat."Hubungan kamu sama Roki gimana?" Tanya RenalAku menghendikan bahu tidak tahu, kami memang masih tetap berkomunikasi tapi aku tidak tahu jika kedepannya bagaimana."Ayo.. kamu harus coba ini tau."Tiba-tiba suara yang tak asing membuatku menoleh, terlihat disana ada Caca. Aku tidak peduli jika itu hanya Caca, tapi ia juga bersama dengan Roki.Kami saling menatap, Roki langsung menghampiriku dengan sekilas mengecup keningku. Tentu saja Roki sudah mengenal Renal sehingga tak perlu ada drama berlebihan."Kenapa disini?" Tanyanya padaku setelah mendudukkan diri disampingku juga diikuti Caca di depanku bersebelahan dengan Renal"Harusnya aku yang bertanya" tukasku karena tadi ia mengatakan tidak bisa menjemputku karena ada urusan."Bunda menyuruh Roki mengantarkanku, Sya. Lalu aku mengajak Roki singgah sebentar kesini" bukan Roki, tapi Caca yang menjawab.Aku cukup menganggukkan kepalaku tanda aku sudah paham. Artinya, urusannya adalah mengantar Caca.Ku suapkan Roki dengan potongan udang, aku tahu Roki belum pernah kesini, pesanan pilihan Renal memang terbaik. Namun saat Roki membuka mulutnya untuk menerima suapanku, tanganku langsung dipukul menjauh oleh Caca sehingga suapan tersebut terlempar jatuh ke bawah."Kamu gila ya, Sya! Roki alergi udang. Dia bisa mati karena sulit bernafas. Kamukan pacarnya, itu saja tidak tahu. Harusnya aku tidak pernah melepaskan Roki untukmu!" Teriak Caca padakuDia bilang apa? Tidak akan melepaskan Roki untukku.Aku tidak salah dengarkan? Oh aku syok sekali.Ku lihat, Caca meneliti kondisi Roki kemudian kembali menatapku dengan sorot mata yang benar-benar tidak bersahabat."Ca..""Diam kamu!" Potong Caca pada ucapan Roki"Kamu tahu tidak? Roki itu pernah hampir mati karena udang. Sepertinya kamu bukan perempuan baik ya betapa tidak pedulinya kamu terhadap Roki. Itu yang kamu sebut dengan cinta?" Ucapnya padakuHah.. Dia sungguh keterlaluan.Dengan segera aku meminum es teh manisku berharap dapat mendinginkan pikiran juga hatiku.Aku berdecih sebelum menjawab "Sungguh mantan yang menyedihkan! Dulu Roki memang alergi tapi berkatku ia jadi tidak alergi lagi terhadap udang.""Sayang, maaf ya""Dan lagi, jangan melepaskan Roki jika kamu masih mencintainya" ucapku pada Caca tanpa menghiraukan Roki.Lalu aku menatap Roki dengan serius "Roki, sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan kita kalau kamu masih terjebak masa lalu kamu" Sudah cukup sudah, aku lelah."Ha? Yang, kamu becandakan? Gak. Aku gak mau""Renal, kamu uda selesaikan? Ayo. Aku tunggu di mobil"Renal dengan cepat bangkit sebelum meminum es teh manisnya juga dengan cepat "Yauda aku bayar dulu" ucap pria itu kemudian.Aku berjalan dengan cepat, kenapa rasanya sakit sekali Tuhan?Apa begini rasanya jika berhubungan dengan orang yang belum move on dari masa lalunya."Sayang, ku mohon.. Jangan tinggalkan aku" tiba-tiba Roki sudah di sampingku sambil menarik tanganku"Aku lelah, Roki. Aku sudah gak bisa sama kamu lagi, kamu bahkan belum move on dari masa lalu kamu""Kamu salah, Sayang. Aku cintanya sama kamu. Aku sudah move on dari masa lalu"Aku menatapnya lamat "Roki, apakah aku cuma pelarianmu?" Tanyaku yang kini sudah penasaran akan hubungannya dengan mantannya."Demi Tuhan, sayang. Aku tidak pernah melakukan itu padamu. Tolong jangan tinggalkan aku""Jika begitu, nikahi aku" balasku dengan ide gila. Lagipula apa yang harus ditunggu bukan? Usia kami sudah dewasa juga kami yang saling mencintai.Ia terdiam sejenak, "Sayang, aku sudah pernah mengatakannya, aku belum siap untuk ini. Masih ada beberapa yang harus ku selesaikan. Kamu tahukan?"Ya aku tahu jelas, ia ingin aku menunggunya tapi ini semua mengusikku. Katakan saja, ia mencintaiku? Namun bagaimana jika waktulah yang menghianatiku.Aku menggeleng "Lebih baik kamu selesaikan dulu dengannya. Aku juga harus berpikir untuk ini. Untuk kebaikan kita bersama" ucapku lalu memasuki mobil Renal.Renal segera menyusul masuk ke kursi kemudi. Ia diam tak mengatakan apapun.Dari kaca spion mobil Renal aku melihat Caca menghampiri Roki memegang lengannya yang disentak keras oleh Roki.Tapi aku jadi tidak enak dengan Renal, pasti Renal masih lapar."Maaf ya karena aku jadi udahan makannya. Pasti gak kenyang"Renal mengusap kepalaku lembut "Tidak apa, aku ngerti kok.""Lain kali kita kesana lagi ya"Renal hanya mengangguk sambil tersenyum, jeda beberapa saat ia mengatakan "Sya, apa kamu bahagia dengan Roki?"Aku menatapnya, pandangannya hanya lurus pada jalanan."Sebenarnya aku bahagia tapi masa lalunya yang membuatku bimbang" jawabku jujurRenal memegang sebelah tanganku "Kalau kamu tidak bahagia, bilang aku ya" jawab Roki yang ku dengan ambigu di telingaAku tak menjawab hanya sekedar membalas genggaman tangannya, ia cukup menguatkanku.Begitu sampai di rumah, Renal menarikku ke pelukannya aku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba. Apa dia sedang patah hati?"Kamu kenapa, Ren?" Tanyaku"Biarin gini dulu. Sebentar saja"Kemudian ia melepaskan pelukannya, dan menatap lekat mataku "Sya, kamu sayang tidak denganku?"Aku tertawa "Kamu ngaco banget deh. Ya sayanglah. Kamu sudah ada dari dulu nemenin aku sampe sekarang cuma kamu yang tinggal disisiku"Ia mengangguk "Aku tahu mungkin ini waktu yang tidak tepat. Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya, aku suka sama kamu, Sya. Bukan sekedar suka karena sahabat atau apapun tapi cinta."Aku terdiam, kejutan apalagi ini Tuhan?"Sejak kapan?" Hanya itu kalimat yang muncul di kepalaku"Sejak dulu. Tapi lebih tepatnya aku yakin sejak SMA"Aku memijit keningku, tidak percaya atas pernyataannya padaku "Kenapa kamu tidak pernah mengatakan itu, Ren?"Aku menghela nafas "Kamu bahkan dengan sabar selalu dengerin curhatanku tentang mantanku" tambahku"Aku terlalu takut kamu menolak dan menjauhiku, Sya.""Ren, aku.."Ia mengangguk "Aku ngerti, Sya. Ini bukan waktu yang tepat tapi ku mohon coba pikirkan. Kita sudah lama mengenal. Aku juga ingin langsung melamarmu nanti, jika kamu ingin"Aku menggigit bibirku, dia dengan cepat mengecup sudut bibirku membuatku terkejut."Baiklah, Ren. Beri aku waktu. Apapun keputusanku nanti semoga kamu bisa menghargainya ya" tutupku lalu keluar dari mobilnyaSebenarnya aku bingung, masalahku dengan Rokipun belum usai tapi Renal sudah mendesakku untuk urusan perasaannya padaku. Jujur, dulu aku menyukainya hanya ku kira ia menyukai wanita lain saat itu.---Beberapa hari ini Roki tak hentinya menghubungiku, aku berusaha menghindarinya bahkan saat ia mencoba untuk menemuiku di kantor.Ku suapkan sesendok es krim ke mulutku, sensasi dingin dengan rasa coklat mengisi mulut juga tenggorokan.Kira-kira Roki sedang apa ya? Apakah ia bersama Caca"Sya.. Oh Tasya" ucap seorang disebelahku sambil mengibaskan tangannya "Ngelamun" tambahnya"Eh, maaf, Ren. Aku tidak dengar. Apa tadi?" TanyakuAku bahkan melupakan keberadaanku saat ini, tadi sepulang kantor Renal memang mengajakku untuk berjalan-jalan. Setidaknya aku bisa berpikir jernih katanya.Aku menatap Renal, aku memang menyayanginya tapi untuk mencintainya, aku juga tidak tahu.Aku berdiri ketika melihat Roki dengan Caca berjalan di mall yang sama denganku. Ku lihat langkah Roki malas-malasan dengan Caca yang semangat bercerita.Aku tertawa miris dalam hati."Sya.." tegur Renal di sampingku sambil memegang tanganku" Sorry , Ren. Bisa kita pulang?" Meski ia terdiam sejenak, ia tetap menganggukiKami berjalan ke area parkir, saat memasuki mobil tanganku di cekal "Kita perlu bicara, Sya."Aku menatap terlihat Roki yang menatapku penuh harap, di belakangnya ada Caca yang berdiri mematung menatap kami.Ku alihkan tatapanku ke arah Renal, tampak ia memandangku lalu menganggukkan kepalanya "Aku tunggu di mobil ya"Saat aku ingin menjawab namun suara Caca lebih dahulu terdengar "Roki, ayo cepat kita harus mencari cincin pertunangan kita."Aku menatapnya tidak percaya, inikah akhirnya?Ia menggeleng padaku "Sya, Kamu tahukan kalau aku menya..""Jadi kamu ingin bertunangan dengan Caca?" Potongku"Sya, maaf. Semua keinginan orang tuaku. Tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu.""Selama ini aku juga bingung, semua terasa salah dan sesak. Aku gak mungkin melawan bundaku. Tapi aku juga gak bisa tegas, itu sebabnya aku memintamu menungguku, Sya. Tapi tetap saja." tambahnya"Ki, aku juga gak mungkin bilang batalin kalau itu permintaan bunda kamu. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita berdua""Aku sudah dewasa, aku juga ingin menentukan pilihanku. Dan itu kamu."Aku menganggukkan kepalaku, benar memang "Roki, kamu sudah dewasa harusnya bisa menentukan pilihan untuk masa depanmu. Aku tahu, kamu harus patuh sama orang tuamu. Aku mengerti" Tak terasa air mataku menetes yang kuusap secara kasar "Harusnya dari dulu aku sadar jika hubungan ini gak akan berhasil."Roki memeluk tubuhku sambil mengusap kepalaku "Maafin aku, Sya. Aku salah. Maafin aku yang gak bisa tegas. Aku sayang kamu tapi aku juga gak bisa bilang tidak sama bunda"Aku menarik diri tertawa miris meski air mata masih perlahan mengalir "Pantas saja jika selalu menyinggung pernikahan kamu selalu mengalihkannya. Tidak sia-sia kita tidak berkomunikasi ya."Ia memegang tanganku, kemudian aku mengangguk, "Tidak apa. Jangan merasa bersalah. Aku melepaskanmu Roki."Lalu aku mendekat pada Caca yang masih melihat kami, "Maaf selama ini menjadi penghalang untuk kalian. Aku tahu, kamu sangat menyayanginya. Kapan pertunangannya?" Tanyaku"Minggu depan"Ku ulurkan tanganku padanya "Selamat atas pertunangan kalian."Ia menatap sejenak tapi juga menyambutnya, "Terima kasih, Tasya."Aku memasuki mobil Renal masih menahan tangis dan Renalpun langsung menjalankan mobilnya. Mendengarku yang mulai sesenggukan ia menghentikan mobilnya, menarikku ke dalam dekapannya.Aku menangis sejadi-jadinya, aku pikir aku bisa dan aku kuat tapi kenapa ini terlalu menyakitkan?Kurasakan tepukan pelan di bahuku "Tidak apa, menangislah. Besok semua akan berlalu"Usai drama tangisku, kami langsung kembali. Aku masih diam saja begitupun Renal hingga tiba di rumah.Renal ikut turun dari mobil mengantarkanku sampai depan pintu, aku menahan tangannya saat ia hendak kembali memasuki mobilnya"Renal, aku sudah memikirkannya. Maaf aku tidak bisa menerimamu, mungkin saat ini atau entah sampai kapan. Maafkan aku, aku tidak ingin kamu merasa menjadi pelarianku atau apapun itu, aku hanya ingin menenangkan diriku setidaknya untuk saat ini""Sya.."Aku menggeleng memotong ucapannya "Ku harap sampai kapanpun kita masih bisa berteman sama seperti ini. Tolong maafin aku" ucapku dengan memohon"Sya, aku ngerti kok. Aku juga berpikir untuk tidak tiba-tiba menjalani hubungan kita. Kamu bisa memulihkan hatimu dulu, melihat kalian tadi, aku merasa kalian teramat saling mencintai"Aku tidak tahu ingin berkata apa lagi, tapi terima kasih Tuhan telah mempertemukan aku dengan Renal."Terima kasih, Renal" ia mengangguk dan mengelus kepalaku dan pergi meninggalkanku dengan kesunyian ini.Ya beginilah akhirnya mungkin, tidak tahu kedepannya apa. Dan mungkin begini lebih baik. Aku memang sangat mencintai Roki tapi juga menyayangi Renal.Atau bisa saja Roki meninggalkan Caca dan kembali padaku atau bisa saja Renal memang jodohku. Biarlah, untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun.Yang aku tahu kita semua berhak bahagia, meski itu akan tiba waktunya.Terima kasih, Roki sudah hadir dihidupku semoga kita bisa bersama dikehidupan selanjutnya.Terima kasih, Renal. Semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dariku.End

Lobo Solitario
Romance
05 Dec 2025

Lobo Solitario

Based on true story, tapi namanya gua samarin. Jadi ini salah satu chapter dalam hidup gua, dimana pada akhirnya gua ngalamin yang namanya moment ter-Wattpad. Like ohhhh sh!t jadi gini rasanya.***Oke kita mulai aja. Kisah ini terjadi akhir tahun 2020 yang penuh dengan tragedi. Mulai dari tragedi coped 19, sampai ke kisah percintaan gua yang bener-bener tragis bin sadis. Gua bakal ceritain kisah cinta 2020 gua di next chapter yaSo, gua dapet tawaran jadi MUA Wardrobe web series gitu, disaat gua lagi butuh duid banget ya langsung gas lah gua. Tanpa pikir panjang pokoknya, karena gua udah semster akhir dan harus cipta karya yang kisarannya bisa sampe berjuta-juta perorang. Gua niatnya ini duid gaji bakal di tabung.Setelah deal - dealan fee gua pun melancarkan pra produksi dengan lancar, mulai dari ngelist kebutuhan, buat breakdown makeup dan kostumenya ini artis-artis. Gua kalo udah kerja suka ga sadar diri, jadi kadang bisa lupa sama hal lain kalo udah prioritasin kerjaan. Dari hal kecil kayak misal lupa makan sampe ke lupa pacar gara - gara terlalu terlarut di pekerjaan.Artis nya ada yang dari ibukota ada yang dari daerah, buat kostum dan makeupnya sedniri simple banget yang jadi PR adalah pindah - pindah lokasinya dan banyak yang harus jalan kaki karena cerita web seriesnya banyak yang traveling.Gua ga sendirian, ada chief gua itu temen gua sendiri. Dan kita bagi tugas buat fokus ke satu artis. Akhirnya gua kebagian artis cowoknya, kita sebut saja namanya Mika. Jadi gua Wa ini si Mika. Salah gua sih ga nyari tau dulu ini Mika artis ape, gua chat aja kayak biasanya dengan sopan dan baik tentu pake emot smile gemes biar kesannya ga jutek. Tapi balesannya jutek banget, udah ngeduga sih gua pasti anaknya alot nih atau bahkan mungkin pas ketemu besok bakal sombong.Gua minta tolong dia bawa sepatu, jujur pas baca data diri dia gua agak mikir karena ukuran panjang dan segala hitungan tubuhnya itu unik. Maksudnya gua liat foto sambil bandingin angka - angka itu kayak "ini dia ukurannya L tapi panjangnya XL, tapi kalo diliat M juga bisa" bingung ga lauuuuDatanglah hari dimana gua ketemu ama Mika, dia reading terus lanjut sorenya fitting baju. Mata gua rasanya kayak dibasuh Holy Water pake Water Canon, SUUUEEEGGERRRR banget liat dia. Kulitnya putih, badannya tinggi, bahunya bidang, pinggangnya ramping, kakinya panjang, rambutnya rapi, brewon dan kumisnya memalingkan dunia ku pokoknya. DAN WANGI. Ini penting wkwkwk wangi.Oke pas kenalan, doi cool banget tapi lebih ke cold sih gua ampe kedinginan. Cuek dan jutek gitu, gua ama chief ama dia di toilet buat fitting. Sepengalaman gua jadi wardrobe udah bentuk gua liat dari yang buncir sampe abs oppa korea gua udah pernah liat, jadi gua lebih ke b aja. Sering ditanyain ama temen - temen gimana rasanya, pas awal ya deg - degan aja kalo nemenin cowok ganti baju atau bantuin cowok ganti baju apa lagi ganteng. Gua cuma takut mimisan aja, cuma setelah itu karena terlalu fokus sama kerjaan gua jadi suka ga kepikiran aja menikmati karya ciptaan Tuhan yang terpampang nyata dihadapan gua.Lucu aja kalo gua ketemu temen lama, misal temen alumni SMA gua terus mereka kayak nanya minta diceritain cerita-cerita syutingan gua (btw sori ya ga konsisten tadi gue sekarang gua) kayak anak kecil minta diceritain cerita penjara ama mantan napi, "bang cerita penjara bang."Pas fitting kita ga terlalu banyak ngobrol, gua cuma basa basi kayak "kapan sampe sini kak?" "nginep dimana kak?" doi juga jawab alakadarnya. Kesimpulan fittingnya adalah bajunya ngatung semua, celananya juag ngatung tapi ga parah. Makanya gua bingung ukurannya L tapi panjangnya XL, dimana gua bisa nyari baju kemeja yang kayak gitu. Karena mas tampan ini maunya kemeja yang fit jangan oversize. Baiklah ini dia struggle pertama gua dimulai.Si Mika ini dia ganti baju lagi kan ke baju dia yang asli, terus dia nanya "kalian asli sini?" terus gua jawab "engga kak aku asli Bali." terus doi langsung nyeletuk "Bali ne dije?*" lahhh bisa bahasa bali dia lengkap ama logatnya.*balinya di mana?Akhirnya privilege gua sebagai orang Bali terpakai juga, walau dinding es diantara gua ama Mika belom cair ya seengganya gua tau apa interest dia ke gua. Jadi gua ga sekedar angin lalu buat dia, kenapa hal ini penting buat gua? Mari saya jelaskan!Jadi dulu pas gua SMA gua pernah les bahasa inggris sama tour guide, dimana les ini beda banget metodenya. Kita bener-bener langsung praktek ngobrol ama bule yang ga bisa bahasa indo sedikit pun. Ga jarang bahkan sering obrolan kita berujung jadi obrolan manusia purba, jadi kayak gagagugu sambil nunjuk-nunjuk barang. Disini gua belajar personal branding, dimana kalo gua ga bisa kasi kesan pertama yang menarik atau ga ada hal yang beda dari temen gua yang lain, gua jamin ini bule bakal lupa nama gua walau kita udah ngobrol bahasa purba selama berjam-jam.Berusaha sebeda mungkin atau seunik mungkin pas perkenalan atau pas diobrolan pertama itu penting, first impression itu penting. Pasti banyak yang setuju kan? Nah itu dia kenapa gua berusaha biar si Mika ini at least inget sesuatu tentang gua, karena naman gua rada pasaran apalagi muka gua. Bali itu dia kata kuncinya.Sejauh ini masih intro tapi engsel sendi jari-jari gua udah seret, udah lama ga ngetik wattpad. Ngetik proposal skripsi sih tapi ga bisa sekenceng ngetik wattpad karena kebanyak mikirnya wkwkwkSetelah melewati kesulitan pra produksi, sampailah gua ke Day 1. Hari pertama gua take nya di jalanan hutan-hutan sawah-sawah gitu, pagi - pagi seger banget udaranya masih berembun gitu si Mika lagi ngopi dimobil belakang yang dibuka."Pagi kak." Sapa gua. Doi jawab cool abis, "Pagi." singkat padat n jelas. "Ganti baju yuk kak." bales gua. Dan seperti jawaban artis pada umumnya pasti gini "emang udah selesai ngeset ya?" dan jawaban paling ampuh adalah "iya kak sudah dipanggil astrada untuk ke set." Karena walau belum selesai ngeset, tapi kalo udah dipanggil astrada itu artinya kita harus udah siap, dan gua udah memperkirakan waktu dimana ini artis bakal lama ganti baju karena sambil ngobrol bareng asisten dan driver dan teman-temannya.Baru pake celana doi gantungin lagi itu kemeja karena mau dipake nanti kalo sekarang takut lecek. Terus gua balik ke astrada lagi buat nanyain udah kelar set apa belom. Dan ternyata udah, akhirnya Mika gua minta buat pake kemejanya. Walau belom full dress, doai masuk set karena ini scene nya dalem mobil yang ditake dari luar semua. Jadi ga terlalu detai keliatan.Ga dimakeupin samsek aja itu muka mulus bener, cakep pokoknya. Gada kata-kata lagi, ya kayak lu liat oppa korena tanpa makeup aja. Natural banget bund tampannya.Masih di day 1, kita pindah lokasi kedataran tinggi gitu bukan gunung tapi lebih ke tembing yang banyak goa nya. Jadi dini ngambil scene dalem mobil. Oke gua mulai makeup in tuh. Pas doi sampe ke basecamp makeup langsung nanya gini, "punya itu ga? Apa namanya yang semprotan?" bingung kan gua maksud dia ape, "setting spray kak? atau face mist?" gua ngangkat botol mineral botanica"itu merknya apa? Boleh deh sini." Kata dia. Yaudah gua kasi aja kan, dia semprot - semprot gitu terus dikasi ke gua lagi. "Dah." Kata dia. Lah dalem hati gua. Loh muka gua. Disana ada astrada 2 nya juga ikut diem nyimak. "Ga dimakeup kak?" tanya gua. "Gausah gini aja, cukup kan?" Kata dia.yuyur kakak lebih dari cukup kak, kalo kakak dateng kerumah aku buat lamar aku. Aku yakin mama aku pasti bakal marah sama aku, "KAMU MAIN PELET YA!"Karena astradanya juga ga ada komentar yaudah gua mah iya - iya aja, gaji buta deh gua. Lalu si Mika pergi gatau kemana, terus gua nyeletuk "gantengnya ya tuhan." Astrada gua tawa - tawa doang, terus si Mika lewat lagi. Dipanggil ama astrada gua terus dia bilang gini masa, "Mika, kamu dibilang ganteng sama Natsu." (nama gua Natsu ya disini)Gua ga boleh jaim, karena jaim menyebabkan menebalnya dinding es. Akhirnya gua cuma kasi jempol aja ke si Mika, terus dia malah ngasi jempol balik sambil wink terus jalan kemobilnya buat ngadem.Oke gua mimisan dalem hati.Ditengah - tengah ngeset scene berikutnya, gua duduk diantara 2 artis utama series ini barengan sama telkonya. Gua sambil ngipasin mereka terus ga mungkin gua diemin kan, karena telkonya juga lagi sibuk sama artis ceweknya yang pas itu lagi PMS. Akhirnya gua ngobrollah sama si Mika ini, mulai dari industri perfilman pertelevisian yang umum - umum gitu. Ga lupa juga gua ajak interaksi silang artis ceweknya, biar menimbulkan obrolan dua arah antara artis cewek dan cowoknya. Biar ga gua doang yang ngelempar pertanyaan doi yang nangkep, tapi agak susah bund konsep kominikasi massa ini. Soalnya gua suka main hp pas ini matkul.Jangan dicari itu interaksi silang apaan karena gua cuma ngarang, intinya gua pengen mereka juga saling ngobrol. Ga gua yang kesannya ngobrolnya gantian abis ke Mika ke ceweknya. Udah kayak talkshow aja.Lokasi terkahir syuting kita ada di pantai pasih putih gitu. Disaat semua orang lagi sibuk ngeset dan ngobrol ketawa-ketawa ada yang foto-foto juga termasuk gua. Karena sunsetnya lagi indah banget cerah dan orange pink ungu, ada serigala dingin yang duduk sendirian dibatu karang bibir pantai sambil menatap kosong deburan ombak. Gua lama mandangin Mika duduk sendirian jauh dari kerumunan crew, beberapa kali dia foto sunsetnya dan menaruh hpnya di pasir untuk merekam ombak."Samperin ga ya?" Tanya gua dalem hati. Tapi gua masih belum berani buat nembus dinding itu, mungkin besok bakal gua coba. Gua ada firasat atau perasaan gitu, intuisi gua bilang kalo dia kesepian. Karena crew jarang banget ngobrol sama dia paling basa basi doang, di set atau istirahat pasti dia sama asistennya. Semua sungkan sama dia, yang emang kadang nyebelin sih anaknya tapi kok hati gua bilang dia ga cuma sekedar dari itu ya. Kayak ada kehangatan dalam matanya.Setelah wrap, malem gua lagi makan di mobil sama chief dan pacar gua yang salah satu crew juga kita disamperin sama astrada gua nih. Doi langsung nepok gua "Weyyy Natsuu keren banget, masa tadi pas rapihin baju Mika berani banget."Jadi ada scene yang bajunya berantakan terus ke bajunya rapi, dan itu jedanya sedikit jadi gua harus lari dan buru-buru. Pas gua lurusin gulungan lengannya, dia lagi masukin baju kan, gua reflek nurunin gulungan celananya. Karena kalo dia bungkuk lagi nanti kemejanya keluar lagi. Ngerti kan? ya gitu lah pokoknya."Looo apa salahnya mas, kan emang gitu.""Masa Natsu benerin gulungan celananya sambil megang - megang pahanya.""Ngawurrrr kamu mas, jangan hiperbola!" Pacar aku masih ketawa - ketawa doang tuh.Okey Day 1 berakhir dengan keadaan dinding es sudah mencair dikit tapi masih ada dinding dimana gua belom berani ngejokes atau bercandaan. Jadi gua harus liat dulu nih level bercandaan seseorang itu seberapa dulu baru gua bisa becandain ni orang. Karena bakal fatal banget kalo misal salah bercanda.***Masuk ke Day 2, diawali dengan indahnya pemandangan didataran tinggi yang berbeda dengan kemarin. Dataran tinggi ini ada kebun tehnya dan lebih lepas karena kalo kita teriak suaranya bakal mantul dan itu berlangsung lama jadi pasti luas banget. Kenapa gua ngomong gitu, karena ini ketutupan kabut gua ga bisa ngeliat jelas dataran tinggi ini setinggi apa.Jalan masuk ke setnya juga off road, kita naik jeep dan agak serem kayak naik wahana tapi seru. Selesai gua nempatin basecamp, Mika dateng dengan mood yang kurang baik. Mungkin doi bete karena jalannya off road, walau ada jalan setapaknya juga itu lumayan jauh jalannya. Gua maklum banget kalo artis bete kayak gini, dan gua harus bisa bikin doi good mood lagi. Caranya gimana, masih belom tau yang pasti sekarang doi harus ganti baju."kak Mika ganti baju yuk." Tanya gua. "Gua baru sampe, gua mau ngopi dulu." Jawab dia ketus. Oke gua salah seharusnya gua biarin dia narik nafas dulu, dan kita sebagai pihak yang salah ini jangan kasi jawaban yang berbau kalimat negatif. Gua jawab gini, "okey kak nanti habis ngopi kita ganti baju yah."Setelah doi ngopi - ngopi bareng asistennya, gua samperin tuh sambil bawa bajunya. "kak mau ganti baju di basecamp atau ditoilet?" sebenernya gua udah tau jawaban dia pasti, "disini aja." tapi kali ini beda, "gamau." singkat padat dan jelas.Lagi - lagi jangan pakai kalimat negatif atau nyerah, ayo kamu pasti bisa. Gua jawab aja, "ayo kak ganti baju sekarang, yuk kak celananya dulu deh." Akhirnya doi mau tuh pake celananya. Kemejanya masih gua pegang terus gua disuruh duduk disana sambil nunggu dia ngopi.Mulai lah gua buka obrolan tuh basa basi, terus gua tanya "kapan ke Bali lagi kak?" terus dia jawab "abis kelar ini gua ke Bali." terus gua tanya-tanya kayak biasanya nginep diamna, kemana aja, dan masih banyak yang lainnya. Doi nampaknya lumayan sering ke Bali dan punya banyak temen Bali karena logatnya aja doi bisa niruin persis. Akhirnya obrolan itu berakhir di Mika manggil gua dengan sebutan "gek." sebutan buat anak perempuan di bali, kayak "mbak" atau "nok" kalo di jawa.Setelah beberapa kali take dan ganti set, Mika lagi istirahat nih. Gua juga lagi selow, terus gua lagi mau isi ulang botol minum kan. Cuma tali sepatu gua copot karena gua males ngiketnya gua jalannya kayak agak nendang - nendang kaki gitu. Terus si Mika manggil gua, "gek, sini. Duduk sini." Gua masukin itu tali sepatu ga gua iket, terus gua duduk dibasecamp dia. "ada apa kak?" Tanya gua."duduk sini, ngapain kamu bolak balik kayak gitu." Kata dia. Hmmmm gua diem aja sambil iket tali sepatu. Terus gua bingung kan, akhirnya gua cari alesan "Kak aku ke basecamp dulu ya mau beres-beres kalo ada apa-apa panggil aku aja ya." Terus gua buru-buru ke basecamp padahal mah udah pada beres.Break dan ganti set, ada jeda waktu yang cukup panjang. All talent berkumpul bareng gua, telko, sama chief gua kita ngobrol - ngobrol bercanda bareng. Ya walau agak kaku - kaku dikit seengganya udah ada perkembangan dari hari sebelumnya.Pokoknya kita lagi ngejokes tentang tahilalat yang ada didekat bibir gua. Terus di Mika nanya "tahilalat kamu ada berapa?""satu kayaknya." Jawab gua, karena gua emang ga ngitungin anjir gua punya berapa."salah, ada enam. itu sama yang dileher juga." Jawab dia. Gua langsung nelen ludah. Shiiiiittttttt lahhhhhh salting banget bangkekkk.Abis itu gua ngeluarin sampoerna mild tuh, terus si Mika nyeletuk "Lu ngerokok itu?""iya kak, kenapa?" Tanya gua. Terus dia ngeluarin rokok dia juga, "lah samaan, cheers dulu dong." Kata gua. Terus dia ketawa, lagi asik - asik ketawa juga eh dia narik tali sepatu gua. Dua - duanya ditarik. "Ih kak kok dilepas?""Lagian ngiket ga bener, gua lepasi aja sekalian. Dari tadi lepas terus kan? Iket yang bener yang kenceng." Kata dia. Yang lain cuma diem bengong mencerna apa yang terjadi, termasuk gua.Keheningan kita dipecah sama astrada yang dateng buat brief scene selanjutnya, sambil dia brief gua mau tacap kan. Terus gua semprotin itu facemist, eh si Mika malah menghindar gitu kekanan. Gua semprot kekanan dia kekiri, astrada gua sampe diem bengong ngeliat kita.Gua bilang, "Ih kakkk diem dong." terus si Mika minta facemist nya "mana? sini. Kurang nih."Pas gua kasih, dia malah ambil tanagn gua kayak dibuka gitu terus semprotin ke tangan gua. Astrada gua makin bengong itu. "Lah dikata hensenitaizer?" Kata gua. Dia megang tangan gua terus kek diliatin gitu di bolak balikin, mungkin dia bingung kali ya kok ini tangan buluk banget berbulu dan ada belang.Oke astrada gua akhirnya lanjut ngomong lagi, terus gua juga beres - beresin kemeja dia, sisirin rambut, dan ngeliat semua detai kayak nametag, lengan baju, bahkan nih brewoknya aja gua sisir.Lanjut next scene gua standby aja sambil ngeliatin dia akting, terus dia out frame jalan ke arah belakang gua. Gua masih fokus ngeliatin artis lain lanjutin dialog. Tau ga dia apain gua??????Susah nih jelasinnya, pokoknya gini. Gua kan lagi berdiri nopangnya pake kaki kanan, nah sama dia ditekuk gitu jadi kaki gua lemes. Ngerti kan? Kayak mainan kita jaman sekolah. Terus gua kaget kan untung ga teriak itu bisa disemprot anak audio. Gua reflek pegang lengan atas dia kayak gemes gitu semi mencubit sih, "jail banget e kamu kak." Kata gua gitu. Anjim kok gua malu sendiri ya ahahahahahahah.Pas lagi unistall karena mau pindah lokasi, astrada gua berjulid lagi. Dia ngomong ke produser gua kayak gini,"Tau ga sekarang Natsu udah deket banget ama si Mika.""Loh iya toh?" Ini si produser sok-sok gatau. Gua diem aja nyimak."Iyaa, masa lagi di brief dia main semprot - semprotan untung bukan yang lain itu yang nyemprot. Aku kan ganggu ga enak ya mesra banget soalnya bercandanya, tapi kalo ga di stop kapan aku briefingnya."Anjim, itu pacar aku denger langsung bete dan diem lalu buang muka.Lokasi selanjutnya dihamparan sawah gitu, sore yang cerah walau anginnya agak kenceng tapi itu chill banget. Gua samperin mobil si Mika buat ganti baju kan, gua ketok tuh jendela depan tempat asistennya. tok tok paket wkwk ga deng."Halo kak Mikanya mana?" Kata gua. "noh orang nye." Kata asistennya sambil nunjuk kebelakang. Ada seonggok manusia tampan pake kaca mata hitam, terus dia ngulet gitu. "Morning." Sapa gua. Terus dia diem. "Ganti baju yuk kak." Kata gua. Tau ga jawabannya apa??????"Masuk." Singkat Padat Jelas dan seketika gua merinding. Like serius iniiiiii??????? WKkwkwkwkwk untung pake masker jir, jadi salting gua ga keliatan banget lah ya.Dalem mobil gua cuma diem karena dia bilang mau ganti baju kalo set cameranya udah jadi. Dia rebahan lagi terus senderan gitu kan, kalo gua ikut senderan kayak deket banget gua jadi takut. Takut jatuh cinta ahay. Gua duduk tegang banget sambil megang baju dia.Terus dia nanya "Lu udah makan?""udah.""kalo minum udah?""udah juga.""nih ciki mau ga?" Dia ngambil plastik indomart gitu terus gua dikasi bengbeng mini, Gua ambil satu terus gua simpen.Dia karaoke - karaoke, sambil snapgram, sambil ngobrol sama gua, sampe gua udah ngerasa terlalu lama disana. Gua minta bantuan chief gua buat nyamperin sok - sok ngeburu-buruin gitu.Akhirnya setelah set nya jadi, dia ganti baju dalem mobil. IYA GUA MASIH DISEBELAH DIA. Terus dia keluar mobil masuk set dan akhirnya gua bisa break. Gua duduk di meja panjang tempat DIT sama sebelahnya ada petinggi - petinggi lagi duduk ngomongin masalah produksi. Gua yang lagi enak - enak minum nutrisari yang disediain PU itu tiba - tiba ditanyain sama asisten produser"Gimana Nat?""Apanya mas?""Hubungan kamu sama Mika, ini mumpung ada orang dalem lom. Mau dikenalin ga?"Maksud orang dalem itu adalah si executive produser yang merupakan teman baik si Mika."Hahhhhhhhh, apaan deh. Udah kenal kali.""Oiya deng udah kenal, orang udah main - main ke mobilnya kok. Hati - hati nanti masuk lambe turah lo kamu."Anjim wkwkwkwkw lucu kali ya kalo gua masuk lambe turah, pencapaian luar biasa sih kalo itu. Emak gua pasti bangga sih.Pokoknya gua di ceng - cengin deh, abis - abisan. Padahal disitu ada pacar gua, cuma ya namanya kerja asal masih batas wajar dan profesional mah seharusnya ga gimana - gimana.Setelah wrap Mika dipanggil disuruh duduk bareng gitu, biasanya dia gamau tapi karena ada temennya dia mau tuh ngerokok bareng ada gua juga. Terus salah satu dari mereka ngomong gini, "Ngobrol dong Mik, ada Natsu nih disini."Faggggggggggg!! Mau salting apa gimana ya enaknya, terus gua cuma bilang "Ngobrolin apa juga kan ga ada topik."Lu tau gua seharian day 2 ini didiemin ama pacar gua. AHAHHAHAHA ngambek dia.***Day 3 hari terakhir ini syutingan, gua udah mulai akrab sama crew nya juga dan si Mika tentunya. Tapi sama pacar gua agak buruk karena malemnya gua ketemu dia gua ajak ngobrol ga ketemu titik tengahnya, gua simpulkan pokoknya gua pengen tetep profesional dan menjalani keakraban dengan semua orang karena gua gamau dicap sombong atau gamau bergaul. Terserah dia mau marah kek, di set gua bakal tetep sapa dan perhatian sama dia kayak biasanya. Cerita detailnya mungkin bakal gua bikin chapter sendiri, tungguin aja.Tidak berjalan lancar, gua sempet kena marah sama astrada 1 gua didepan si Mika. Dan lu tau dia bilang apa??????????"Udah lu sana selesaiin dulu, daripada lu disini dimarahin. Gua bisa sendiri kok."Gua bersyukur banget, gua ga malu atau down sedikit pun. Gua malah jadi tambah semangat karena dia ngomong kayak gitu. Bayangin orang sejutek Mika ngomong seperhatian itu kegua yang bikan siapa - siapa ini.Kerjaan yang belum kelar langsung gua backup gua beresin, dan akhirnya lancar sampe akhir. Dilokasi terakhir udah magrib, gua pengen banget foto sama dia tapi bareng - bareng all cast. Karena foto berdua udah banyak di BTS nya mana fotonya tatap - tatapan mulu awwww. Ini foto pengen gua cetak deh terus gua pajang.Sebenernya gua ada rasa sedikit ngarep dan ada sedih nya juga mau pisah ama ni serigala kesepian. Yang selalu menyendiri gamau gabung di basecamp talent, kadang suka cabut duluan kadang suka jalan keliling sendirian. Dan crew jarang ada yang ngobrol sama dia paling basa basi doang.nomor WA dia sih gua udah punya ahahahah tapi ga mungkin ig gua di follback jadi gua milih buat ga follow dia atau snapgram bareng dia. Selain web seriesnya belum tayang juga sih, sampe skrng.Setelah kita foto bareng semuanya, gua jabat tangan sama dia bilang makasih dan maaf semoga bisa ketemu lagi diproject yang lain kayak gitu deh. Terus doi masuk mobil, gua juga ke mobil gua buat beres - beres.Beberapa saat kemudian gua kira dia udah balik kan ternyata belom, pas gua lagi sibuk rapi - rapi. Ada mobil lewat terus Mika buka kaca teriak, "Natsu aku duluan ya, dadah.""Iya kak dadahh hati - hati dijalan ya."Itu pertemuan terkahir kita, dijalan pulang ke basecamp syutingan gua merem sambil mikir. Suatu saat nanti gua bisa ketemu dia lagi ga ya? Atau ketemu di Bali deh mungkin kebetulan gitu. Ahhh apaansi malah ngayal gini.Pas sampe sebelum gua pulang ke kos, gua ngobrol - ngobrol sama crew yang lain. Dibahas lah lagi kedekatan gua dengan si Mika ini, ternyata semua crew ya merasakan dan melihat kedekatan kita ahahahGua mau bersyukur aja, karena ketika si Mika badmood gua bisa ngehibur dia dan bikin dia jadi mood lagi nemenin dia kalo lagi sendirian. Karena telkonya sendiri ga punya temen buat jagain ini artis - artis, jadi gua mintain tolong buat khusus menjaga ini si Mika. Karena itu juga mungkin gua jadi cepet akrab ama si Mika.***Sekian salah satu cerita ter wattpad dalam hidupku, cerita syutingan emang gada habisnya sih dari yang suka duka baper sampe yang emosi dan nangis tu ada. Mungkin kalo ada cerita yang menarik dan gua ga males ngetiknya bakal gua ceritain lagi.Ga yakin juga ada yang baca ini, tapi buat arsip gua aja. Siapa tau suatu hari nanti dia ga sengaja nemu ini tulisan terus tau apa yang gua rasain wkwk gua cuma mau bilang "GUA BAPER SALTING TOLOL LU GITUIN NYET."

Sederhana, Namun Mempesona!
Romance
05 Dec 2025

Sederhana, Namun Mempesona!

Sebuah gedung yang mengarah ke jalan raya dengan tulisan Madrasah Aliyah Negeri yang terpampang jelas di bagian depan gedung itu tampak sunyi. Hanya suara guru yang sedang mengajar terdengar sekilas. Wardah dan seorang staf berjalan pelan menuju ruang kelas XI C yang akan menjadi tempat baru bagi Wardah untuk menuntut ilmu, setelah kemarin seharian mengurus surat pindah di sekolahnya yang dulu.Tidak ada yang salah dengan sekolah Wardah yang dulu. Hanya saja Ayah Wardah yang pindah bekerja ke kota yang di juluki kota idaman itu. Sehingga mengharuskan Wardah ikut pindah ke kota itu juga. Wardah merasa berat hati meninggalkan sekolahnya yang dulu. Meninggalkan teman-teman seperjuangannya dan juga para guru yang dengan ikhlas membagi ilmu dengannya. Namun apalah daya, Wardah hanyalah seorang anak yang ikut kemana orang tuanya pergi.Kebetulan pagi ini yang mengajar di kelas XI C adalah pak Jarno selaku wali kelas. Jadi sekalian Wardah bisa memperkenalkan diri di hadapan pak Jarno dan teman-teman sekelasnya. Menurut Wardah, siswa-siswi di sini cukup baik, hanya satu dua orang yang menjengkelkan. Baru beberapa menit mereka berkenalan dengan Wardah, mereka dengan spontan mengikuti logat bicara Wardah. Membuat Wardah terlihat sedikit jengkel.Beberapa saat setelah Wardah memperkenalkan diri, salah seorang siswi menyarankan Wardah untuk duduk sebangku dengannya. Kebetulan teman sebangkunya sudah berhenti sekolah.Setelah pelajaran pertama selesai. Dengan penasaran Wardah bertanya tentang Kamila, siswi yang baru berhenti sekolah beberapa minggu yang lalu itu."Mm... ngomong-ngomong kenapa Kamila berhenti sekolah?" Tanya Wardah ke teman-teman yang sedang berkerumun di dekatnya. Maklum, mereka ingin tahu banyak tentang identitas Wardah.Salah seorang di antara mereka menjawab pertanyaan Wardah,"Kamila dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya."Mendengar jawaban itu, Wardah langsung terdiam. 'Bagaimana jika Ayah yang berbuat seperti itu padaku? Itu pasti sangat menyakitkan.' Wardah bermonolog.Wardah ikut prihatin setelah mendengar banyak hal tentang Kamila. Siswi nomor satu di kelas itu yang memiliki wajah cantik harus rela memendam semua cita-cita mulianya, demi untuk menunaikan bakti kepada ayahnya tercinta.Beberapa hari kemudian. Pernikahan Kamila pun dilangsungkan. Teman sekelasnya semua diundang tanpa terkecuali. Namun hanya beberapa yang bisa hadir. Wardah benar-benar terpesona saat melihat wajah cantik Kamila. Apalagi tentang perilakunya yang luar biasa mulia. Dengan senyuman indah yang selalu hadir di setiap saat. Seakan menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang terjadi dalam hidupnya."Terima kasih ya, teman-temanku semuanya sudah menyempatkan waktu untuk hadir di hari pernikahanku ini." Begitu kata Kamila sambil memeluk satu per satu teman-temannya. Termasuk Wardah yang baru pertama kali Kamila lihat."Oh ya, kenalin ini Wardah teman baru kita yang baru pindah beberapa hari yang lalu." Tasya mengenalkan Wardah pada Kamila saat Wardah ikut menjabat tangan dan memeluk Kamila."Selamat ya, atas pernikahannya. Semoga SAMAWA." Ucap Wardah sesaat setelah melepas pelukan dari Kamila."Aamiin. Terima kasih." Kata Kamila sambil tersenyum.Wardah melihat penampilan Kamila begitu sederhana. Namun di sisi lain Kamila terlihat begitu mempesona. Mungkin karena kecantikan yang di milikinya, sehingga siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengan penampilannya.***Sebulan berlalu setelah mengadiri pernikahan Kamila, Wardah memutuskan untuk mengikuti rohis bersama temannya yang lain. Barangkali dengan keikutsertaan Wardah dalam organisasi rohis tersebut, Wardah bisa mengikuti jejak Kamila yang memiliki perilaku yang mulia. Di sana juga banyak ilmu yang bisa Wardah dapat. Termasuk ilmu tentang menutup aurat. Sebagai seorang perempuan yang paling diutamakan adalah menutup aurat. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 31.Dan saat itulah Wardah memutuskan untuk memakai kerudung panjang yang menutupi kepala hingga bagian lutut. Meski yang di perintahkan adalah menutup kepala hingga bagian dada saja, namun Wardah merasa lebih tenang bila memakai kerudung panjang yang menutupi setengah bagian dari tubuhnya. Wardah merasa dirinya terlindungi dengan pakaian kerudung yang ia kenakan. Begitu juga dengan teman-teman Wardah yang lain. Ada yang mengambil keputusan memakai kerudung panjang sama seperti Wardah, namun ada juga yang masih stay dengan kerudung yang menutupi kepala hingga bagian dada saja seperti yang diperintahkan dalam agama.Seperti biasa setiap hari rabu siswa kelas XI C belajar penjaskes. Semua siswa berbaris di lapangan lima menit setelah bel berbunyi. Bagi yang terlambat hukumannya adalah lari keliling lapangan sebanyak lima kali untuk laki-laki dan tiga kali untuk perempuan. Terkadang siswa yang terlambat terlihat mendesah karena harus menjalani hukuman. Namun hukuman ini adalah pelajaran bagi mereka yang terlambat agar selanjutnya bisa disiplin dan mematuhi peraturan.Selesai pemanasan, ketua kelas mengarahkan para siswa menuju ke lapangan lompat jauh. Karena Hari ini praktek, setelah minggu lalu pak guru menjelaskan materi tentang lompat jauh.Praktek hari ini berjalan dengan lancar. Hampir semua siswa menguasai materi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pak guru terlihat puas dengan pencapaian para siswanya. Hanya memberi sedikit saran bagi siswa yang memiliki badan yang gemuk."Bagi yang merasa dirinya gemuk, besok-besok diet ya, supaya pas pengambilan nilai minggu depan hasil lompatannya bisa lebih memuaskan dari hari ini." Kata pak guru sedikit meledek."Paling dietnya cuma bisa sehari doang, setelah itu pasti makannya lebih lahap dari biasanya." Andri ikut meledek di ikuti gelak tawa sebagian siswa laki-laki."Ih, apaan sih." Kata Siska sambil melempar kerikil ke arah Andri dengan pelan. Siska yang memiliki badan gemuk itu merasa tersinggung."Ya sudah kalau begitu. Kalau memang nggak bisa diet, diusahain ya minggu depan hasilnya bisa lebih baik dari hari ini." Kata pak guru."Siap, pak." Kata Siska diikuti beberapa siswa lainnya."Untuk praktek hari ini cukup sampai di sini. Sekarang kalian boleh istirahat." Kata pak Jaka guru olahraga yang ditugaskan untuk mengajar khusus kelas XI itu menutup materi pelajaran hari ini lalu beranjak meninggalkan lapangan lompat jauh.***Seminggu kemudian...Para siswa sudah bersiap di lapangan lompar jauh menunggu aba-aba dari sang guru. Pak Jaka memberikan aba-aba kepada para siswa agar menempati posisi masing-masing berdasarkan urutan absen kelas, namun siswa laki-laki dan perempuan dipisah saat melakukan praktek lompat jauh. Para siswa laki-laki disarankan melakukan lompatan terlebih dahulu oleh pak Jaka. Agar menjadi contoh kepada siswa perempuan. Karena siswa laki-laki rata-rata sudah melakukan lompatan yang sempurna pada saat praktek minggu kemarin.Satu per satu siswa laki-laki melakukan lompatan. Memperlihatkan kemampuan yang mereka miliki. Mengambil ancang-ancang dari kejauhan lalu kemudian berlari secepat mungkin. Kemudian melakukan tumpuan pada papan kecil dengan salah satu kaki terkuat mereka lalu melakukan lompatan sejauh mungkin dengan pedaratan yang harus sempurna sesuai dengan materi yang sudah pak Jaka sampaikan minggu lalu.Kini giliran siswa perempuan yang akan menunjukkan kebolehannya. Wardah menjadi siswa kedua dari terakhir yang akan melakukan lompatan. Namun ada yang beda saat Wardah akan melakukan lompatan. Wardah tetap memakai kaos kaki. Hal ini yang menyebabkan ia dipanggil oleh pak Jaka."Wardah, tolong kaos kakinya di lepas. Peraturan lompat jauh tidak diperbolehkan memakai kaos kaki." Pinta pak Jaka."Tapi pak, kaki saya termasuk aurat. Jadi, saya harus tetap memakai kaos kaki ini." Kata Wardah."Dalam peraturan lompat jauh, tidak diperbolehkan memakai alas kaki meskipun itu hanya kaos kaki." Sekali lagi pak Jaka memberi penjelasan kepada Wardah. Selanjutnya pak Jaka memanggil siswa terakhir.Wardah terlihat menunduk. Ada rasa kecewa sekaligus sedih yang terlihat di wajahnya. Ia beranjak dari hadapan pak Jaka lalu melangkah menuju kelas setelah sebelumnya ia mengambil sepatu. Teman-temannya mengikuti langkah Wardah. Tasya terlihat merangkul Wardah sampai ke dalam ruang kelas.Tangis Wardah pecah saat tiba di ruang kelas. Ia duduk di kursi lalu menundukkan kepalanya ke atas meja. Tasya terlihat mengusap pundak sahabatnya itu seraya menenangkan Wardah dari tangisnya."Wardah yang sabar ya, jangan menangis lagi. Nanti kita bicara dengan pak Jaka. Semoga pak Jaka bisa mengerti apa yang kita sampaikan." Kata Tasya.Setelah jam istirahat tiba, Wardah bersama beberapa temannya menuju ke kantor untuk menemui pak Jaka. Mereka meminta ke pak Jaka agar memberikan keringanan untuk Wardah agar dia tetap mendapat nilai untuk materi lompat jauh. Alhasil, mereka berhasil membujuk pak Jaka. Wardah diberi tugas berupa soal-soal yang harus ia kerjakan dalam Waktu seminggu. Wardah harus menyetor tugas itu tepat waktu, agar Wardah bisa mendapat nilai sama seperti teman-temannya yang lain.

Hadiah
Romance
04 Dec 2025

Hadiah

Rini berjalan pelan menuju ke ruang perpustakaan sekolah bersama Nindi sahabatnya. Mereka termasuk siswa yang pandai memanfaatkan waktu luang. Saat jam istirahat tiba, mereka memanfaatkannya untuk membaca buku di perpustakaan.Nindi terlihat membawa sebuah buku yang dipinjamnya dari perpustakaan seminggu yang lalu. Dan waktu pengembaliannya adalah hari ini. Jika ditunda, maka ia akan terkena denda. Meski Nindi belum selesai membaca buku itu, ia tetap harus mengembalikannya. Jika masih ingin membacanya, maka ia harus memperpanjang masa pinjamannya selama seminggu ke depan.Mereka berjalan beriringan memasuki ruang perpustakaan. Rak-rak buku berjejer rapi, begitu pun buku-buku yang tersusun terlihat begitu memanjakan mata. Ruang perpus itu begitu luas, hingga bisa menampung banyak orang juga dilengkapi dengan pendingin ruangan, sehingga siapa pun yang berada di ruangan itu akan merasa adem dan nyaman.Nindi terus berjalan menuju meja staf untuk memperpanjang masa pinjaman buku yang dipinjamnya. Sementara Rini mencari buku yang menarik untuk dibaca. Dia terlihat membaca satu per satu judul buku yang tersusun rapi itu. Menurut Rini, buku yang menarik untuk dibaca itu bisa dilihat dari judulnya. Jika judulnya menarik, maka besar kemungkinan isi dari buku tersebut juga menarik untuk dibaca.Mulut Rini terlihat komat-kamit membaca judul buku yang ada di depannya. Sepertinya judul buku yang dibaca itu membuatnya tertarik. Diambilnya dengan pelan buku itu agar buku yang lainnya tidak berserakan. Lalu ia melangkah menuju ke salah satu kursi yang berjejer memanjang dan mulai membaca buku. Nindi yang sudah selesai memperpanjang bukunya berjalan ke arah Rini lalu duduk di sampingnya."Nin, kamu sudah selesai?" tanya Rini setelah ia menyadari kalau Nindi sudah duduk di sampingnya."Sudah. Tapi jam istirahat masih lama. Aku mau lanjut baca buku." Nindi membuka buku dan mulai membacanya."Yaa masih lama sih. Tapi barusan Andi kirim pesan katanya dia mau bagi hadiah lagi. Seperti tahun lalu. Libur semester kemarin dia liburan ke AS. Memangnya kamu nggak baca pesan di grup?" tanya Rini menunjukkan pesan yang ada di handphonenya ke Nindi."Nggak." Nindi menggelengkan kepalanya.Mereka segera berjalan menuju kantin. Kantin yang selalu terlihat bersih setiap saat itu merupakan salah satu kantin yang diminati para siswa di setiap jam istirahat. Aneka jajanan ringan terlihat memenuhi ruang bagian depan kantin. Membuat siswa puas memilih jajanan yang mereka suka. Termasuk Rini dan Nindi, coklat belgia tebal yang menjadi kesukaan mereka. Mereka segera membeli makanan kesukaannya itu setelah akhirnya pandangan mereka tertuju ke arah Andi yang sedang ngobrol bareng sahabat-sahabatnya di kantin sebelah, yang khusus untuk makanan berat seperti bakso, mie goreng, nasi goreng dll.​"Rin, kamu yakin mau gabung bareng mereka? Di sana kebanyakan cowok. Nanti aja ke sananya, ya." Nindi merasa tidak nyaman bila di sekitarnya kebanyakan cowok."Yakin lah. Ngapain harus malu. Kamu kayak nggak tau aja, paling sebentar lagi para siswi berdatangan." Kata Rini."Aku memang nggak tahu kok. Kamu kan nggak pernah ngajakin aku kalau si Andi siswa paling kaya itu bagi-bagi hadiah." Nindi terlihat kesal."Terus, sekarang aku nggak ngajakin kamu, gitu?""Tapi kan, baru kali ini." Nindi masih terlihat sedikit kesal.Rini tak menghiraukan sahabatnya itu. Dia langsung melangkah ke arah kantin sebelah. Disusul Nindi."Good morning, guys." Sapa Rini sesaat setelah tiba di dekat Andi yang sedang menikmati semangkuk bakso."Good morning too, guys." Sapa Riska and the geng tak kalah hebohnya."Tumben Rin, kamu barengan sama mereka?" tanya Andi setelah menelan bakso yang baru saja dia kunyah."Siapa yang barengan, aku yang tiba lebih dulu kalii..." Rini terlihat tak mau kalah dari Riska and the geng."Sebenarnya ada apa sih Rin? Kok jadi debat kayak gini?" tanya Nindi heran."Kamu tau kan, kalau si Andi orang tajir?" tanya Rini"Tau, terus?" Nindi terlihat mengangguk."Hari ini dia mau bagi hadiah lagi seperti yang aku bilang tadi. Kalau tahun lalu hadiahnya berupa gantungan kunci dari paris katanya. Tapi, yang dapat hadiahnya tergantung siapa yang beruntung. Tahun lalu aku nggak beruntung. Semua hadiahnya Riska and the geng yang dapat. Makanya kali ini aku nggak boleh kalah dari mereka." Rini agak berbisik ke arah Nindi."Maksudnya?" tanya Nindi."Pakai peraturan.""Kali ini peraturannya beda, ya. Karena hadiahnya mewah. Peraturannya adalah tes kekompakan. Satu tim terdiri dari dua orang. Setiap tim diberi kesempatan satu kali main. Jawabannya harus kompak, ya. Biar bisa dapat hadiah." Andi menjelaskan peraturan untuk mendapat hadiah darinya."Nin, bareng aku ya. Please! Aku mau banget dapat hadiah itu." Bujuk Rini. Nindi hanya mengangguk. Sementara Andi terlihat membagikan brosur kepada siswa."Di brosur ini ada tiga pertanyaan. Jawabannya harus kompak dengan partnernya, ya. Tapi, tidak boleh nyontek. Pengumuman siapa yang berhasil dapat hadiah akan diumumin besok." Kata Andi sambil terus membagikan brosur."Kenapa harus pakai peraturan sih? Kalau mau bagi-bagi hadiah, bagi sama rata aja kali." Nindi berbisik ke telinga Rini."Biar kelihatan lebih seru gitu. Soalnya hadiahnya terbatas. Kalau dibagikan satu persatu kan nggak seru." Kata Rini.Nindi berdengus.Mereka segera duduk di kursi yang sedikit berjauhan."Nin, ingat, jawabannya harus kompak." Kata Rini agak berbisik ke Nindi yang sudah bersiap mencontreng jawaban pilihannya."Mana aku tau jawaban kamu apa." Nindi jadi bingung."Pakai feeling, pakai feeling." Rini menyentuh kepalanya menggunakan jari telunjuk."Ssstt, dilarang bisik-bisik." Kata Rio teman Andi yang menjadi pengawas.Keesokan harinya.Rini dan Nindi serta beberapa siswa yang ikutan bagi-bagi hadiah kemarin terlihat cemas menanti pengumuman siapa yang akan dapat hadiah kali ini. Mereka berharap bisa pulang membawa hadiah yang mereka inginkan. Alhasil, mereka yang beruntung berhasil membawa pulang hadiah mewah berupa jam tangan dari AS. Termasuk Rini dan Nindi. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Andi. Meski pun Andi orang kaya, namun ia tidak sombong. Justru ia suka berbagi hadiah kepada orang lain.

Pengalaman Pertama
Romance
04 Dec 2025

Pengalaman Pertama

Menjadi penulis adalah keinginan terbesar dalam hidupku. Dan menjadi penulis adalah salah satu cara menyampaikan kebaikan tanpa bertemu secara langsung dengan orang lain. Maklum, aku orangnya tidak pd-an, menyampaikan kebaikan secara langsung kepada orang lain aku rasa itu sulit. Aku merasa minder untuk bicara di depan orang.Menjadi seperti ini bukanlah pilihanku. Namun, takdir telah membawaku ke tahap ini. Sakit rasanya bila ingin merasakan hidup bebas seperti yang lainnya, punya teman ngobrol, berbagi cerita dan bercanda bersama, pasti menyenangkan. Namun takdir berkata lain.Aku berada di tempat sepi. Tidak banyak orang yang sering ku temui. Hanya kehampaan yang selalu hadir di lembaran hidup ini. Menjelang sholat isya, aku diberikan tiket untuk acara bedah buku yang akan di diadakan di gedung pemuda. Aku rasa ini adalah momen langka yang terjadi padaku.Di malam yang sepi ini, kupandangi cahaya rembulan dari balik jendela kamarku. Sejenak aku terkesima mengagumi ciptaan Tuhan yang indah ini. Di sekeliling rembulan, ada ribuan bahkan jutaan bintang yang tak kalah menarik untuk dikagumi. Betapa Maha Kuasa Tuhan dalam mengatur segala yang ada di dunia ini. Tak seorang pun yang mampu menandingi kekuasaan-Nya.Kualihkan pandanganku ke arah meja belajar yang terbuat dari kayu jati yang dibuat sendiri oleh Ayahku. Rindu rasanya bila aku teringat dengan Ayah yang telah pergi untuk selamanya beberapa tahun yang lalu. Begitu banyak kenangan yang terlintas di memori ingatanku tentang Ayah. Tak terkecuali foto keluarga kecil yang dipotret saat lebaran terakhir bersama Ayah yang terbingkai indah di atas meja sana.Tanpa kusadari ada air mata yang mengalir di pipiku, juga ada rasa rindu yang begitu menggebu di dalam hatiku. Rindu akan sosok Ayah yang selalu memberi motivasi dan mengajariku cara bersyukur atas segala sesuatu yang Tuhan berikan.Malam semakin larut, kuhapus sisa air mata di pipiku lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kata Ayah "berwudhulah sebelum tidur, agar malaikat ada di dekatmu dan menjagamu hingga kamu terbangun."Keesokan harinya saat di gedung pemuda.Hidangan es campur yang ada di hadapan kami memang sangat cocok disaat cuaca panas seperti saat ini, aku dan beberapa peserta mulai menyantapnya. Beberapa peserta lain mulai berdatangan dan tersenyum ke arah kami.Sementara di dalam ruangan panitia terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan acara mulai dari mendekorasi ruangan sampai menyiapkan kursi untuk peserta.Peserta yang datang kebanyakan dari kalangan remaja. Maklum temanya tentang cinta. Bicara tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Karena sejatinya cintalah yang bisa membuat bahagia. Mungkin hal ini yang membuat mereka tertarik untuk mengikuti acara ini."Assalamu'alaikum..." seorang peserta memberi salam saat tiba di dekat kami."Wa'alaikumsalam..." jawab kami kompak.Dia lalu ikut bergabung bersama kami. Usianya kira-kira masih belasan tahun. Kerudung berwarna biru toska yang menutupi kepala hingga bagian dadanya tampak serasi dengan jilbab yang ia pakai. Membuatnya terlihat seperti muslimah salehah yang mempesona."Eee, nama Kakak siapa?" tanyanya dengan mata yang tertuju padaku. Dia membuka pembicaraan denganku karena melihat yang lain pada sibuk dengan hpnya masing-masing. Sementara aku hanya sibuk memainkan renda-renda yang menempel di lengan bajuku."Rini." Jawabu singkat."Saya Sinta, Kak." Lanjutnya sambil mengulurkan tangan. Kuterima uluran tangannya yang terasa begitu lembut dan hangat. Aku hanya tersenyum tipis.Beberapa saat setelahnya, kakak panitia memanggil seluruh peserta untuk masuk ke dalam ruangan karena sebentar lagi acaranya akan dimulai."Ini Kak, tiketnya." Sinta yang ada di depanku menyodorkan selembar tiket kepada Kakak panitia."Silahkan ditulis dulu namanya siapa dan tinggal di mana." Kakak panitia memberikan sebuah pulpen dan selembar kertas setelah mengambil tiket dari Sinta. Begitupun denganku. Setelah selesai menulis nama dan alamat, aku bingung mau duduk di mana. Di tempat ini sangat ramai. Aku merasa takut berada di tengah keramaian ini. Baru pertama kali aku mengalami kejadian seperti ini."Duduk sama aku, yuk." Sinta mengajakku ke tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari hadapan kami. Aku mengikuti langkahnya dari belakang.Semua peserta terlihat antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh pemateri. Begitu juga denganku. Ini adalah pengalaman pertama yang begitu mengesankan bagiku.

Rifki & Rifka
Romance
03 Dec 2025

Rifki & Rifka

Waktu menunjukkan pukul 17:30. Seorang anak berjalan terseok-seok menuju ke sebuah rumah gubuk. Sepertinya dia mengalami cedera di bagian kaki, sehingga tak mampu untuk berjalan dengan sempurna. Dia adalah Rifki, seorang anak yang berusia 10 tahun yang bekerja sebagai seorang pemulung. Penghasilannya dalam sehari pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.Dia hidup bersama dengan Ibundanya tercinta dan seorang adik perempuannya yang berusia 8 tahun. Ayahnya sudah lama meninggalkan mereka. Mereka dicampakkan begitu saja.Ibunya lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Rifki berangkat kerja, adik perempuannya-lah yang merawat Ibunya, memandikan dan memakaikan baju untuknya. Mereka sama sekali tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang serba terbatas. Justru mereka selalu istiqamah di jalan Allah Subhanahuwata'ala."Assalamu'alaikum..." kata Rifki sambil mengetuk pintu.Adiknya segera berlari dari ruang dapur menuju ke pintu luar."Wa'alaikummussalam..." adiknya menjawab salam sambil membuka pintu. Adiknya bernama Rifka."Ikka, Ibu di mana?" tanya Rifki yang terlihat sedikit sumringah."Ibu di kamar ka'. Ada apa?" tanya Rifka.Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Rifki segera melangkah menuju ke kamar di tempat di mana Ibunya berada."Ibu, lihat apa yang aku bawa." Kata Rifki sambil memperlihatkan sebuah kantongan besar yang berisi berbagai macam makanan."Ikki, darimana kamu mendapatkan semua makanan ini?" tanya Ibunya yang terlihat heran."Begini bu', tadi Aku jatuh saat hendak mengambil botol bekas di sungai. Dan ada seseorang yang menolongku. Dia bertanya kenapa aku bisa jatuh ke sungai, lalu kujelaskan sesuai kronologi yang terjadi." Kata Rifki panjang lebar."Terus apa hubungannya dengan makanan ini?" Tanya Ibu yang terlihat penasaran."Setelah orang tersebut mendengarkan ceritaku, mungkin Dia merasa kasihan padaku. Lalu orang tersebut mengajakku ke suatu tempat. Nah, di tempat itulah aku puas memilih makanan yang aku suka. Dia orang kaya bu', punya mobil mewah lagi." Kata Rifki sambil mengeluarkan satu per satu makanan yang ada di kantongan plastik."Terus apa yang terjadi selanjutnya? Ngga' mungkin kan kakak pergi begitu saja setelah mendapat makanan darinya." tanya Rifka yang sudah duluan menikmati makanan."Aku mengucapkan terima kasih banyak kepadanya. Kemudian Dia membawaku kembali ke tempat pertama kami ketemu. Kemudian Dia berpesan 'jangan pernah kamu meninggalkan Ibumu, dalam keadaan apapun itu. Kalau kamu membutuhkan bantuan, langsung saja kamu telepon Om.' Katanya sambil memberikan sebuah hp kepadaku." Kata Rifki memperlihatkan hp tersebut. Ibu dan adiknya hanya diam, tak berkomentar apa-apa.Beberapa hari telah berlalu, Rifki tidak lagi bersusah payah mencari botol bekas, karena persediaan makanan masih banyak.Suatu hari, di hari yang cerah. Ada sekelompok anak yang sebaya dengan Rifki datang berkunjung ke rumahnya. Mereka adalah teman Rifki yang pernah ia jumpai beberapa waktu lalu. Mereka bermaksud mengajak Rifki untuk bermain bola. Setelah pamit dengan Ibu, Rifki pun berangkat bersama dengan teman-temannya.Ditengah asyiknya mereka bermain bola, tiba-tiba Rifka datang menghampiri kakaknya."Kak,, Ibu,,, Ibu,, kak" Kata Rifka yang masih terlihat terengah-engah."Ikka, ada apa? Ibu kenapa?" tanya Rifki."Ibu,, Ibu,,, pingsan kak." Kata Rifka sambil menangis. Keduanya pun segera berlari pulang."Ibu, bangun bu'." Kata Rifki. "Ikka apa yang terjadi sebelum Ibu pingsan?" tanya Rifki sambil terus memegangi tangan Ibunya."Tadi Ibu merasakan sakit di bagian kaki, setelah itu Ibu langsung pingsan. Apa yang harus kita lakukan sekarang kak?" tanya Ikka masih terus menangis."Telefon Om, sekarang." Kata Rifki.Rifka segera menelfon Om itu. Panggilan pertama tidak di jawab. Beberapa saat kemudian Om menelfon."Halo, Assalamu'alaikum,, Ada apa Rifki?" tanya Om di seberang sana."Om Ibu pingsan. Rifki harus bagaimana? Ini pertama kalinya Ibu pingsan." Kata Rifki dengan nada sedih."Rifki kamu tenang dulu. Begini, Om akan datang menjemput kalian. Siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, oke,,," kata Om.Rifki kemudian menyiapkan gerobak yang akan digunakan untuk membawa Ibunya ke pinggir jalan raya."Ikka, kamu bisa kan, bantu kakak?" tanya Rifki. Rifka hanya mengangguk. Setelah semuanya siap, kedua kakak beradik tersebut segera mendorong Ibunya menggunakan gerobak yang sudah disiapkan tadi menuju ke pinggir jalan raya.Mereka tidak peduli dengan rasa lelah yang mereka rasakan. Yang mereka inginkan sekarang adalah Ibunya segera sadar. Mereka tiba di pinggir jalan.Beberapa menit kemudian, Om datang dan mereka langsung menuju ke rumah sakit."Dokter, pasien darurat." Kata Om sambil menggedong Ibu masuk ke ruangan. Rifki dan Rifka mengikuti Om dari belakang.Beberapa menit kemudian."Apa yang akan terjadi dengan Ibu, Om?" tanya Rifka yang duduk di pangkuan Om."Ikka yang sabar ya, Ibu pasti akan segera sadar." Kata Om menenangkan Rifka yang masih menangis. Rifki hanya menunduk menatap lantai yang putih bersih.Beberapa menit hening. Hanya menyisakan isak tangis Rifka. Sesaat kemudian dokter keluar dari ruangan."Dok, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Rifki."Apa Ibu sudah sadar?" pertanyaan Rifka menyusul.Lama Dokter tidak menjawab."Apa yang terjadi dengan Ibu, Dok?" kini Om yang bertanya."Kami minta maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pasien tidak dapat diselamatkan. Penyakitnya sangat parah." Kata Dokter.Rifki dan Rifka segera berlari menuju ke ruangan Ibunya."Ibu,, bangun Bu'." Rifki tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis bersedu-sedu."Ibu,, jangan pergi bu', jangan tinggalin Ikka." Kata Rifka sambil menangis tersedu-sedu."Ikki, Ikka, yang sabar ya. Doakan semoga Ibu diterima disisi-Nya. " kata Om mencoba untuk menenangkan mereka."Ibu ngga' boleh pergi. Om bangunin Ibu." Kata Rifka sambil menatap Ibu. Om hanya menunduk. Tak bisa berbuat apa-apa.Beberapa menit kemudian, jenazah Ibu pun dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dan terakhir dikuburkan. Selama proses tersebut, kedua kakak beradik tersebut tak pernah berpisah sedetikpun dengan Ibundanya tercinta. Barulah setelah Ibu dikuburkan, keduanya pun harus rela berpisah dengan Ibu selama-lamanya.4 tahun kemudian, tak terasa kedua kakak beradik tersebut tumbuh dengan cepat. Mereka sekarang tinggal bersama Om baik hati.Di suatu pagi, saat hendak sarapan."Om, mau nanya nih, boleh ngga'?" tanya Rifka."Boleh. Mau nanya apa?" tanya Om yang sudah mulai sarapan."Sebenarnya,, Siapa sih nama Om?" tanya Rifka."Memangnya kak Rifki ngga' pernah beritahu soal nama Om?" pertanyaan Rifka tidak dijawab, Om justru balik nanya."Loh,, kak Rifki tahu soal nama Om?" tanyanya masih heran."Ikka,,, Ikka,, sudah 4 tahun kita bersama Om. Kamu masih belum tahu siapa nama Om yang sebenarnya." Kata Rifki tersenyum.Rifka menggeleng."Soalnya selama ini hanya sebutan Om yang sering Ikka dengar." Kata Rifka."Oke,, kalau begitu perkenalkan nama Om, Rafli." Kata Om sambil mengulurkan tangannya. Rifka menyambut uluran tangan tersebut."Ohh,, Om Rafli. Unik ya Om, dalam satu rumah nama penghuninya mirip-mirip. Rafli, Rifki, Rifka." Kata Rifka dengan senyum manisnya. Rifki dan Om Rafli ikut tersenyum.

Rindu Merindu
Romance
03 Dec 2025

Rindu Merindu

Seorang wanita bule duduk di sampingku sambil memandangi suasana pantai. Ia terlihat begitu menikmati panorama alam yang indah ini.Beberapa menit kemudian."Hello! What is your name?" tanyanya dengan pandangan yang mengarah padaku.Aku merasa sedang syuting film Hollywood saat mendengarnya bertanya seperti itu padaku. Dan aku juga teringat saat itu ..."Hello! My teacher and my friends. My name is Alma Saputri. My nick name is Alma but my family call me Rindu. My Hobby is reading and writing. My ambition is a writer. I think that is all. Thank you." Seperti itulah susana perkenalan diriku saat pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Satu persatu kami siswa-siswi maju dan memperkenalkan diri dihadapan guru dan teman-teman dengan menggunakan bahasa Inggris.Beberapa menit sebelumnya, kami diberikan kesempatan untuk latihan terlebih dahulu bersama teman sebangku. Agar saat kita tampil tidak perlu berfikir tentang apa yang akan disampaikan nantinya.Alhasil, Sembilan puluh persen siswa-siswi mampu melakukannya dengan baik, hanya beberapa yang masih belum lancar menggunakan bahasa inggris."Helloo!!!" katanya lagi sambil memetikkan jarinya di depan wajahku yang baru saja tersentak dari lamunan."Yes, I'm sorry. What did you said?" tanyaku. Aku benar-benar lupa apa yang dikatakannya tadi."What is your name?" dia bertanya dengan jelas kali ini."Mm my name is Alma Saputri, but my family call me Rindu," kuperjelas jawabanku. Dan kami saling berjabat tangan. Tangannya begitu lembut dan agak lembab."And you?" tanyaku balik. Aku juga penasaran, siapa sih bule yang berambut panjang, pirang dan berkulit putih kemerah-merahan ini? Aku memang beberapa kali bertemu dengan orang bule sepertinya. Tapi, baru kali ini ada yang menyapaku."Me Angel. Everyone call me Angel except my mom call my darling." Dia tersenyum lepas melihat pemandangan indah dihadapan kami.Kami ngobrol banyak tentang pengalaman hidup kami. Terkadang bahasaku bercampur antara Inggris-Indonesia. Dan dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia juga sesekali menggunakan bahasa Indonesia.Ada satu hal yang membuatku terkesima tentang kepribadian dirinya. Ia begitu kagum pada Islam. ia bercerita bahwa satu tahun terakhir ini ia belajar tentang Islam lewat internet. Banyak hal yang membuatnya jatuh hati pada Islam, terutama pada wanita muslimah yang kehormatannya begitu dijunjung tinggi dalam Islam."Kamu pasti sangat bersyukur terlahir dari keluarga yang beragam Islam. Dalam Islam wanita sangat dihormati, bahkan dalam hal berpakaian sekalipun kalian dianjurkan berpakaian tertutup saat berada di luar. Bukan begitu?" tanyanya. Ia ingin mendengar pendapatku."I'm sorry, aku tidak tahu itu. Aku hanya menggunakan kerudung ini karena perintah mama. Sepertinya pengetahuan Anda tentang agama aku lebih luas dari diri aku sendiri. Aku merasa begitu rendah saat non muslim lebih mengerti aturan agamaku dibanding diriku sendiri." Kataku tertunduk malu dihadapannya."Come on. Jangan seperti itu. Aku tahu semua itu karena aku begitu kagum dengan Islam dan berusaha untuk belajar lewat internet secara diam-diam, karena orang tuaku tidak suka aku belajar Islam," dia curhat padaku.Aku dengan polosnya bertanya,"kakak kenapa tidak masuk Islam saja?" Kutatap wajahnya yang sedang tertunduk."Mama papa tidak setuju kalau aku masuk Islam." dia menatapku kali ini."tapi kan ini hidup kakak, ini pilihan kakak, kenapa harus minta persetujuan orang tua?""Aku tidak ingin menyakiti perasaan orang tuaku. Bagaimanapun merekalah yang membesarkanku sampai bisa seperti sekarang ini." Ia menghela nafas panjang. Aku hanya diam tak tahu harus ngomong apa.Beberapa menit berlalu."Sudahlah. Mungkin inilah yang dikehendaki Tuhan." Ia beranjak dari tempat duduknya."Aku duluan ya. Hari sudah semakin sore." Ia menunduk, melihatku yang masih duduk.Suara adikku mengagetkanku. Dan ya, aku baru tersadar, ternyata aku hanya mengingat momen yang indah itu. Kenangan itu terjadi tiga tahun yang lalu. Setelah pertemuan saat itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya.Tanpa kusadari, ada gejolak rindu yang mendalam hadir dalam jiwaku. Rindu. Ya rindu dengan sosok wanita yang menginspirasiku dalam melakukan perubahan. Aku belajar Islam lebih mendalam setelah pertemuan itu. Dan kini pengetahuan ku tentang Islam semakin bertambah berkat inspirasi darinya."Kak Rindu, ayo cepat siap-siap. Kita udah mau berangkat nih." Kata Adikku."Ke mana?" tanyaku heran."Ke pantai." Adikku kegirangan sambil melompat."Ke pantai..." gumamku dalam hati. Rasa rinduku semakin menggebu saat mendengar kata itu.Perjalanan ke pantai cukup jauh. Namun, pemandangan yang kami lewati begitu indah, sehingga membuat perjalanan kami serasa singkat. Aku menikmati suasana yang indah ini. Begitu banyak kenangan yang terlintas dipikiranku saat ini. Tiba-tiba..."Assalamu 'alaikum... ini Rindu, kan?" seorang wanita dengan balutan jilbab merah yang melekat ditubuhnya menyapaku."Wa'alaikum salam... siapa ya?" Tanyaku heran."Oh my God. Rindu, ini aku Angel." Katanya sambil memelukku.Kulepas pelukannya. Aku menatapnya mulai dari kepala hingga ujung kaki. Aku tidak percaya."Tapi, kan...""Sudahlah. Ceritanya panjang." Ujarnya."Rindu, tidakkah kau merasa rindu padaku?" tanyanya."Ya Allah. Kak Angel masuk Islam." Sekarang aku yang memeluknya lebih erat dari pelukannya tadi.Setelah pertemuan mengharukan itu, kak Angel menceritakan semuanya. Tentang bagaimana caranya ia begitu gigih meminta restu kedua orang tuanya untuk masuk Islam. Dan yah, kak Angel telah menemukan lelaki pasangan hidupnya, yang akan membimbingnya di dunia hingga menuju Jannah-Nya.

Shh.. Its Secret
Romance Wattpad
02 Dec 2025

Shh.. Its Secret

Dita Sylan, seorang gadis berumur 16 tahun sangat populer disekolahnya, ibunya bilang asal kata namanya dari Aphrodite yaitu dewa kecantikan. Seperti arti namanya ia cantik, ceria, dan memiliki senyum yang manis.Dia jatuh hati pada seorang cowok bernama Jo Yusuf Anwar atau akrabnya Jya. Jya seumuran dengan Dita, ia berperawakan tinggi, badan atletis, berkacamata, dan memiliki sorot mata yang tegas. Jya juga populer di kalangan cewek-cewek sekolahnya. Awal pertemuan mereka setahun yang lalu saat masa orientasi siswa atau MOS.Saat itu Dita yang alergi debu bersin-bersin tak henti-hentinya di barisan belakang. Tiba-tiba Jya muncul menghampirinya dan berkata, "gini cara berhentiin bersin." Sambil menahan hidung Dita dengan telunjuknya. Dita hanya bisa terpaku menatap sosok Jya yang begitu tampan dan baik hati."Tu yang dibelakang ngapain pacaran?!" Teriak senior mereka. Sontak membuat keduanya terkejut. "Maaf kak kami ga pacaran." Jawab Jya ketika senior mereka menghampiri. "Ga usah bohong, kalo ga pacaran terus ngapain tadi?!" Kata senior mereka dengan nada nyolot. "Kak tadi saya bersih-bersih dia cuma bantuin saya." Jawab Dita mencoba membela diri. "Gue ga mau tau, kalian bedua pushup 25 kali sekarang!" Jawab senior lainnya."Tapi kak saya alergi debu, tolong hukumannya yang lain kak." Kata Dita dengan wajah memelas berharap kemurahan hati senior mereka. "Alasan aja lu, 25 kali atau gue tambahin!" Bentak senior mereka. Mau tidak mau Dita menuruti perintah senior mereka, saat mengambil ancang-ancang untuk pushup.Tangan Jya menghalangi badan Dita mengisyaratkan untuk berhenti. "Kak biar saya aja yang pushup." Kata Jya dengan tegas. "Oh lu mau sok pahlawan depan cewek lu?! Okay! Lu pushup 50kali!" Jawab senior mereka. "Kamu?!" Dita hanya bisa terkejut, ia bahkan tak tau namanya. Kenapa cowok ini sangat baik padanya?Dari situlah Dita mulai menyukai sosok Jya. Setelah MOS ternyata mereka beda kelas. Dita terus saja memperhatikan Jya, yang sesekali saling bertukar senyum saat berpapasan. Setahun kemudian kenaikan kelas 2 SMA, ada rolling kelas. Dita sangat bahagia saat mendapati dirinya sekelas dengan orang yang ia sukai selama ini, Jya!***Hari ini, hari pertama Dita dikelas 2 SMA kelas dimana ia akan menghabiskan masa mudanya sekelas dengan Jya sang pujaan hati. Awalnya Dita sangat gugup bahkan semalam ia tak bisa tidur saking menantikannya hari ini."Pagi Dit!" Sapa temannya dikelas 1 SMA dulu, Hawa. "Pagi Wa!" Kata Dita sambil duduk disebelah gadis yang semalam ia telfon untuk janjian duduk bersama nya dikelas.Mata Dita terus saja menyorot seisi kelas untuk menemukan sosok Jya. Beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu tiba. Jya memakai jaket kain, sepatu adidas, headset ditelinga dan menggendong tas dengan satu tali saja. Gaya khas anak populer. Hampir semua cowok dikelas menyapanya dengan highfive. Tampaknya Jya tak hanya populer dikalangan cewek saja.***Saat istirahat meja Jya dipenuhi cewek-cewek yang ngantri ngajak dia buat makan bareng atau ke kantin bareng. Pemandangan itu membuat Dita jengkel karena tak bisa berbuat apa-apa. Ternyata saingannya banyak sekali. Ia sedikit lega karena Jya lebih milih buat pergi kekantin sendiri ketimbang gandeng cewek-cewek ganjen itu.***Hari-hari berlalu kegiatan Dita masih segitu-segitu aja, mentok jadi penguntitnya Jya. "Eh kita kan belum nentuin pengurus kelas." Kata Hawa pada Dita."Iya juga ya, aku sih males terlibat kayak gitu. Cuma buang-buang waktu." Jawabku. "Aku mau jadi ketua kelas!" Teriak Jya dari bangku nya.Sontak membuat Dita berdiri dan mengacungkan tangan, "A-aku mau jadi wakil ketua.""Lah katanya males-__-" kata Hawa. Dita cuma bisa nyengir-nyengir ga jelas. Akhirnya ditentukan Jya ketua kelas dan Dita sebagai wakilnya.***"Bapak dengar kalian sudah menentukan pengurus kelas, jadi ini tugas pertama kalian." Kata pak Bambang wali kelas mereka. Jya langsung berdiri dan diikuti Dita dibelakangnya. Tugas pertama mereka adalah membuat data seputar kelas dari daftar nama, fasilitas kelas dan pemilihan sisa pengurus kelas."Kita rapat kan pulang sekolah." Bisik Jya. Dita hanya bisa mengangguk gugup. "Muka kamu kok merah? Sakit?" Kata Hawa saat Dita kembali duduk. "Engh.. ga papa kok." Jawab Dita, rapat berdua bersama Jya? Astaga bagaimana jika ia membuat kesan pertama yang salah.***Pulang sekolah hanya mereka berdua dikelas, Dita tak sanggup menatap mata Jya yang tegas. "Nih kamu data fasilitas kelas.""Ba-baik." Jawab Dita gugup. Ia segera mendata fasilitas kelas seperti unit bangku dan kursi, papan tulis, lcd, dan lain-lainnya."Jo aku udah selesai, ni datanya." Kata Dita menyerahkan selembar kertas itu pada Jya yang tampak pusing memilih pengurus kelas. "Hm." Jawabnya."Engh.. Jo aku boleh panggil kamu Jya ga? Biar kayak anak-anak yang lain." Tanya Dita sambil duduk didepan Jya. "Hm." Lagi-lagi Jya hanya bergumam."boleh ya? Ya? Ya? Ya?" Kata Dita dengan suara manis yang dibuat-buat. "Serah lu dah bawel amat." Jawab Jya, ini pertama kalinya Dita melihat Jya begitu kasar. Seketika Dita terdiam dan hanya terpelongo."Kalo udah selesai taruh di meja pak Bambang. Gue mau cabut." Jya beranjak pergi meninggalkan Dita yang masih saja tak bergeming.***Setelah menaruh data kelas di meja pak Bambang, Dita berjalan dengan lemas ke parkiran sepeda disamping ruang olahraga. Langkah kaki kecil nya terhenti ketika melihat Jya masuk ke ruang olahraga. Kira-kira apa yang akan ia lakukan? Dita bersembunyi dibalik pilar besar penyangga lorong.Beberapa menit kemudian Jya keluar dengan bola basket di tangan nya. Dita baru ingat saat MOS Jya mewakili kontingennya untuk tanding basket.Dita hanya memandangi Jya dari kejauhan dan menghela nafas panjang. "Jya kenapa kamu jutek banget? Mana sosokmu yang ramah itu?" Batinnya. "Mungkin dia lagi banyak pikiran, makanya jadi dingin. Besok aku harus berusaha akrab sama dia!" Kini semangatnya sudah memuncak lagi ia berlari menuju parkiran dan mengendarai sepedanya dengan cepat, ia berharap esok akan lebih akrab dengan Jya.***Keesokan harinya Dita berusaha untuk lebih dekat. "Jo kantin yuk." Ajak Dita. "Aku udah makan." Jawab Jya ketus. "Yaudah deh kalo gitu." Jadi gini rasanya cewek-cewek yang tiap hari ngantri buat ngajak Jya ke kantin? Tapi ditolak, benar-benar menyedihkan."Dit cepetan belanja nya!" Teriak Hawa yang telah lama menunggu Dita diluar kantin. Dita masih bingung mau belanja apa, ia sebenarnya tidak terlalu suka belanja di kantin. "Yuk ke kelas!" Kata Dita sambil menepuk pundak Hawa."Lama amat sih.""Hehe sori-sori abis aku bingung makanannya ada banyak.""Eh Jo sendiri aja, fans nya pada kemana?" Mendengar kata Hawa yang menyapa seseorang membuatnya terbelalak.Katanya dia tadi sudah makan? Lalu apa yang ia lakukan disini?!Dita yang naik pitam memilih untuk jalan cepat meninggalkan Hawa yang masih tegur sapa dengan Jya."Kok lu tinggal sih tadi?" Tanya Hawa sesampainya dikelas."Jo itu aneh ya tadi gue tawarin kekantin katanya udah makan. Eh nyatanya? Ga ngerti deh gue!""Elah lu kayak ga tau Jo aja. Dia kan emang dingin sama cewek, sampe-sampe ada gosip kalo dia maho, ngeri sih tapi kayaknya ga mungkin buktinya dia punya mantan.""Ma-mantan?!""Lah lu ga tau? Itu kakak kelas ips, namanya Nina kalo ga salah." Bagaimana cara Nina sampai bisa mencairkan hati Jya yang beku? Harus diselidiki!***Hasil penyelidikan Dita,Nama Kynina Rut biasa dipanggil Nina. Selain cantik ia sangat cerdas. Walau pun anak ips ia sangat berprestasi mungkin itu salah satu daya tariknya. Jika diukur dari kecerdasan Dita jauh dibawah Nina. Beberapa kali Dita berpapasan dengan Nina dan terasa jelas Dita mencium bau parfum Nina. Itu dia! Jya suka cewek yang wangi. (Yaiyalah)***"Aku pake parfum dua kali lebih banyak dari biasanya, pasti kecium sama hidungnya!" Ujar Dita dalam hati."Kenapa lu? Pagi-pagi nyengir-nyengir sendiri?" Tanya Hawa bingung."Engga kok cuma lagi seneng aja, hihi." Beberapa saat kemudian Jya masuk kelas dengan style kekiniannya. Segera Dita menghampirinya dan mencegahnya duduk dibangku yang dikerumbuni cewek-cewek ganjen, bisa-bisa bau parfum nya ga kecium lagi."Pagi Jo! Ada tugas buat wakil ga hari ini?" Sambut Dita dengan ramah."Engga ada." Jya melewati Dita begitu saja!"Tunggu-" kata Jya dan berbalik. Ha! Ia pasti menyadari bau parfum Dita."Ya???" Mata Dita bersinar menunggu."Kamu pake parfum apa sih? Menyengat sekali! Kalo kayak gitu terus ozon bumi bisa benar-benar rusak tau." Kata Jya berlalu meninggalkan Dita yang masih terpaku mendengar respon Jya.***"Aku baru tau Jya ternyata begitu dingin tapi jadi begini rasanya di komentar pedas oleh orang yang kau suka? Rasanya sama seperti dicampakan! Bagaimana bisa ia menyukai Nina, tapi tidak menyukaiku? Okay Nina ya Nina. Aku ya aku. Mungkin ga seharusnya aku ngikutin Nina. Aku jadi males sama Jya, rasa suka ku ke dia mungkin cuma sebatas gara-gara dia pernah baik aja sama aku." Sore itu Dita habiskan dengan hobinya manjat tembok dan merenung sembari menatap langit jingga yang ditaburi kapas-kapas tipis.***Esoknya, esoknya, dan esoknya lagi Jya semakin dingin. Sepertinya ada yang salah dengannya. Mungkin sebenarnya ia sosok yang hangat, namun saat kecil kepalanya pernah terbentur jadi kepribadiannya berbalik. "Dit beritahu pengurus yang lain ada rapat kelas pulang sekolah." Tiba-tiba pak Bambang muncul, mengejutkan saja. "Si-siap pak.""Jo pak bambang suruh kasi tau pengurus yang lain pulang sekolah ada rapat." Kata Dita saat bertemu Jya dikelas."Kamu kasi tau aja sendiri. Kan kamu yang disuruh." Apa-apaan ketua kelas ini?! Mentang-mentang jabatannya diatas ku! Dita sangat kesal, ia hanya bisa meremas roknya dan pergi untuk memberitahu pengurus yang lain.***"Bapak cuma mau kasi tau 2 bulan lagi ada festival. Jadi kelas kita harus buat sesuatu, emang sih masih lama. Bapak kasi tau sekarang biar punya banyak waktu buat mikirin idenya." Jelas pak Bambang."Gimana kalo cafe saja!" Ujar Dita semangat."Cafe sudah mainstream, orang-orang pasti bosan ke cafe anak SMA." Seperti biasa tanggapan Jya pada Dita selalu saja dingin, sampai-sampai Dita mulai terbiasa dengan komentarnya yang sangat pedas."Oke kalian diskusi nya lanjut saja, bapak ada urusan dirumah." Pak bambang meninggalkan kami setelah berpamitan. Aku yakin pak bambang tak sungguhan punya urusan penting dirumahnya, ia hanya tak ingin terlibat perdebatan anak kecil.Hampir 2 jam kami tepatnya aku dan Jya habiskan dengan berdebat. Kami sama-sama punya ide dan prinsip yang kuat. Aku dengan ide cafe sedangkan Jya dengan ide pertunjukan akustiknya. "Apa bagusnya akustik? Yang ada nanti orang-orang tertidur!" Kataku sambil menyilangkan tangan."Sudah-sudah kita lanjutkan esok saja." Kata sekretaris kelas, Aditya."Bener kata Adit lanjutin aja besok ngocehnya." Ujar Jya."Yang ngoceh siapa?! Kamu juga dari tadi komen-komen ga jelas!" Dita semakin jengkel tapi ia tetap memasang senyuman.***"Jadi cowok kok gitu banget, ngidam apa tuh emaknya. Sok-sokan nama disingkat jadi Jya. Idih ganteng juga engga!" Perjalanan ke parkiran sepeda Dita habiskan dengan mengata-ngatai musuhnya Jya."Bukan aku yang kasi nama itu, tapi anak-anak yang nyingkat." Suara ini, Jya! Dita cepat-cepat menoleh, orang yang ia caci maki ada dibelakangnya."Se-sejak kapan?""Dari tadi." Kata Jya dan berlalu begitu saja melewati Dita. Jadi Jya dengar semuanya?"Jo! Aku bisa jelasin, tadi aku bukan ngomongin kamu. Aku cuma.. engh..." Dita mencegat Jya dan berusaha mencari alasan."Cerewet banget sih! Dasar cewek centil." Apaaaa katanya?!!!?!"Yang lu panggil cewek centil siapa?!""Siapa lagi kalo bukan lu?" Jya menyentuh pundak Dita dengan telunjuknya dan pergi begitu saja."Gue?! Bener-bener lu ya! Dasar engh.. Robot! Ya, dasar Robot!" Dita hanya bisa meneriaki Jya yang sudah berjalan menjauh.***"Apa-apaan tu cewek, berani-berani nya ngata-ngatain orang didepan orang nya langsung. Ga punya otak tu, ga punya malu, dasar! Atau dia sengaja? Kenapa gue ngatain dia ya tadi? Arrggggg bodo amat!" Pinta Jya dalam hatinya sambil mengayuh sepeda sportnya."Aku pulang~" Jya membuka pintu dan membuang tas nya begitu saja lalu beranjak ke dapur."Jya udah pulang? Aduh kok tasnya ditaro disini rapikan lah." Kata kakak Jya yang frustasi melihat tingkah adiknya.Jya hanya tinggal berdua bersama kakak laki-lakinya yang bernama Adam. Orangtua mereka tinggal diluar negeri dan hanya menengok beberapa tahun sekali. Adam sangat memanjakan Jya namun Jya sedikit acuh pada kakaknya."Gimana sekolahnya? Belakangan ini kamu pulangnya agak telat terus." Tanya Adam saat makan malam."Biasa-biasa saja, sebentar lagi akan ada festival jadi sedikit sibuk." Jawab Jya sambil mengunyah makanannya."Wahh festival ya? Pasti akan sangat meriah. Hey jangan terlalu fokus pada pekerjaanmu bisa-bisa nanti sakit. Sebentar-sebentar bermain lah bersama sebayamu, dengan pacarmu mungkin?" Adam berusaha menggoda adik kecilnya yang manis."Pacaran hanya buang-buang waktu. Seharusnya kakak sadar kenapa kuliahnya ga kelar-kelar, itu kan karena kakak terlalu banyak membuang-buang waktu hanya untuk pacaran.""Engh... ahahaha ter-ternyata adik kecilku sudah dewasa.." Adam sedikit terpojokkan dengan kata-kata adiknya.***Keesokan harinya mereka masih belum ketemu titik terang untuk festival sedangkan waktu terus berjalan. Jya makin frustasi saja ketika kakaknya tiba-tiba menelfon dan mengabari bahwa orangtua mereka berencana akan berkunjung dalam waktu dekat."Pokoknya kita pakai akustik." Kali ini Jya ga mau ngalah."Eh entar dulu yang lain kan belum tentu setuju.." kata Aditya."Bener kata Adit kita harus menyesuaikan juga sama keuangan." Kata bendahara kelas mereka."Waktunya tinggal beberapa minggu lagi kalo sampe sekarang ga tau mau buat apa yang ada nanti kita keteteran." Pernyataan Jya sedikit memancing amarah Dita."Terus lu mau kita nurutin gitu aja tanpa mempertimbangkan plus minus nya?" Jawab Dita tenang."Menurut gue ide cafe juga bagus tuh, secara keuntungannya udah pasti." Kata Aditya sambil tersenyum kearah Dita."Nyiahaha asik gue dapet pendukung." Ujar Dita dalam hati."Tapi kan akustik juga bagus." Kata anggota pengurus yang lain."Pasti deh mereka udah disogok sama Jya buat dukung dia, cih licik!" Ujar Dita lagi dalam hati."Kalo gitu gimana kalo kita gabung? Cafe dan live akustik kan belum pernah di SMA kita." Cetus Aditya"Engga engga engga gue ga setuju! Akustik ya akustik. Cafe ya cafe." Respon Jya sangat mengejutkan ia tiba-tiba berdiri dan sedikit berteriak."Ih sante dong jangan nge-gas. Yang mau idenya digabung juga siapa?" Jawab Dita sambil menyilangkan tangan."Terserah deh sama kalian pokoknya gue tetep akustik!" Jya pergi begitu saja meninggalkan anggotanya yang kebingungan."Idih lebay banget deh.." kata pengurus-pengurus yang lain."Udah-udah kita bubar aja deh mending, mungkin Jya lagi banyak masalah." Tutur Aditya."Iya lagi PMS tu anak." Celetuk Dita yang membuat semuanya tertawa.***"Kalo dipikir-pikir emang aneh sih. Kenapa Jya kekeh banget sama idenya emang yang main akustik nya siapa?" Ujar Dita dalam hati.Dita berjalan kearah parkiran sepeda dengan hati yang terasa hampa dulu rasanya tak begini. Apakah ia masih menyukai Jya? "Tentu saja tidak! Siapa yang mau sama cowok robot kayak gitu!" Kata Dita sambil menghentak-hentakkan kakinya.Beberapa menit kemudian titik-titik air jatuh dari langit, hujan gerimis dan disusul hujan deras yang memaksa Dita berteduh diemperan ruang olahraga."Hadeh ga bawa payung lagi, sial." Gerutu Dita sambil membersihkan bintik-bintik air di seragamnya.Tiba-tiba suara sesuatu jatuh ke lantai dari ruang olahraga yang membuat jantung Dita rasanya mau copot."Ha-halo apa ada orang?" Suara Dita bergetar karena ketakutan. Tidak ada jawaban, Dita pun memberanikan diri membuka perlahan pintu ruang olahraga yang besar.*krieeetttttt*Sangat gelap dan tiba-tiba sesosok manusia keluar dan berlari sangat kencangnya menerobos hujan deras. "Orang itu pasti benar-benar gila menerobos hujan deras seperti ini, dasar idiot." Kata Dita.Tapi apa yang orang itu lakukan diruang olahraga, karena penasaran Dita menyalakan lampunya. Tidak ada yang aneh, tapi ada payung tergeletak dilantai. "Mungkin orang itu menjatuhkannya, tapi kenapa ia lebih memilih menerobos hujan dari pada menggunakan payung itu, benar-benar idiot!" Kata Dita sambil menghela nafas.Ia memutuskan untuk menggunakan payung itu untuk pulang dan akan mengembalikan nya keesokan harinya.Saat perjalanan pulang Dita tak henti-hentinya memikirkan sosok misterius itu, payung yang ia jatuhkan ukurannya hanya cukup untuk satu orang, berwarna terang dan bertuliskan huruf asing sepertinya huruf jepang. Dita tak bisa membacanya, mungkin pemiliknya adalah seorang otaku .***Keesokan harinya Dita sudah memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Jya ia lebih memilih hidup tenang dari pada harus menyukai orang seperti Jya yang susah ditebak.Hari itu berjalan cepat Dita bahkan tidak sadar kalau Jya tidak masuk karena sakit, pak Bambang menugaskan Dita untuk mengantarkan tugas dan pr kerumah Jya sebagai wakil ketua kelas yang bertanggungjawab ia sanggup mengemban tugas ini sendiri walau itu memaksanya kerumah musuhnya."Si robot itu pasti hujan-hujan an kemarin, seperti orang yang meninggalkan payung ini hanya untuk menerobos hujan. Mereka sama-sama bodoh!" Kata Dita sambil berjalan di lorong kearah ruang olahraga."Eh Dita kamu mau ke ruang olahraga?" Sapa Aditya yang berlari dari arah belakang Dita dan kini mereka sejajar."Oh ini mau balik in payung orang, kamu tau ga ini punya siapa?" Tanya Dita sambil menunjukan payung otaku itu."Oh ini sepertinya punya Jya, aku melihatnya membawa payung ini beberapa kali."Dita sedikit terkejut jadi orang bodoh itu si robot! "Okay makasi dit!" Dita langsung berlari begitu saja meninggalkan Aditya."Baik lurus sedikit lagi, rumah nya nomor 14.." Dita memperhatikan denah rumah Jya yang diberikan pak Bambang dengan seksama."Ah ketemu!" Seru nya ketika menemukan rumah sedang bernomor 14 dengan tulisan 'ANWAR' dibawah nomor rumahnya.Dita mengetuk beberapa kali pintu coklat rumah Jya. "Sebentar..." suara pria dewasa dari balik pintu membuat Dita sedikit terkejut."Halo ada yang bisa dibantu?" Sosok pria berusia kisaran 20-an membuka pintu dengan senyuman yang familiar."E-e.. ini mau bawain tugas buat Jo." Dita sedikit gugup."Wah jarang sekali teman perempuannya kerumah, masuklah." Dalam hati Dita bertanya-tanya siapa pria ini? Ia sangat ramah berbeda dengan Jya.Dita masuk dan membuka sepatunya dan menatapnya dengan rapi."Aku kakak Jya, panggil saja Adam. Naik aja langsung Jya ada dikamarnya." Dita sedikit tidak percaya kalau pria ini adalah kakak kandung Jya si robot."Ba-baiklah." Apa tidak apa-apa perempuan masuk ke kamar seorang anak laki-laki?Sampailah Dita didepan pintu dengan stiker basket dan poster pemain basket yang besar, ia sangat yakin itu kamar Jya. Dita mengetuk beberapa kali namun tak ada jawaban, "jangan-jangan Jya pingsan didalam tapi ga ada yang tau?!" Ujar Dita dalam hati karena ia tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu kamar Jya.Betapa terkejutnya ia melihat kamar laki-laki itu, ekspektasi nya sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia lihat. Kamar Jya sangat rapi dan bersih bahkan kamarnya kalah rapi. Didominasi warna putih membuat kamarnya begitu terang dan menyegarkan.*tingnongggg""He? Suara apaitu?" Gumam Dita. "kayaknya dari sini." Lanjutnya, Dita menghampiri laptop yang masih hidup dengan tanda notifikasi di layarnya bertuliskan ' anda mendapat pesan 'Dengan polosnya Dita membuka pesan itu, dan sepertinya pesan itu mengantarkannya pada sebuah dinding akun didunia maya. "Akun apa ini?" Dita memeriksa akun itu beberapa saat dan menemukan ID nya. "Hm ini akun bahas apa ya? Ga ngerti." Akhirnya Dita menyerah dan memilih untuk meninggalkan laptop itu.Dita beranjak dan sibuk melihat-lihat, kini ia berada ditengah-tengah kamar seorang laki-laki yang ia benci, jujur ia merasa sedikit kalah. Ia sangat semua interior nya namun ada satu objek yang mengganggu matanya, sebuah rak buku dengan warna mencolok yang bahkan Dita pun tak tau warna apa itu karena susah di deskripsi kan.Dita berjalan mendekati rak buku besar itu, isinya sangat full bahkan tak sedikit bukunya yang melimpah ruah dibawah dekat rak itu. "Sepertinya ia begitu menyukai buku ini." Dita menarik satu buku itu dan membukanya, dan ternyata itu sebuah komik. "Bagaimana bisa robot itu ternyata seorang kolektor komik. Eh? Apa ini?" Katanya dan menemukan kertas terselip di komik itu, bertuliskan 'aku sangat suka adegan ini, sampai-sampai terbawa mimpi. Aku harap kelanjutannya sesuai ekspektasi ku, i <3 shoujo manga'Dita tak bisa menahan tawanya saat sadar kalau itu adalah tulisan Jya! "Buset lucu banget!! Harus diabadikan ini." Dita memotret beberapa foto dengan hpnya sambil menahan tawa.Tiba-tiba terdengar suara orang membuka kunci pintu, Dita segera menoleh. Sosok itu membuat matanya terbelalak, itu Jya! Ia hanya menggunakan handuk untuk membalut bagian tubuh bawahnya."Astaga!" Dita cepat-cepat menutup matanya, ini sangat memalukan."Apa yang kau lakukan di kamar ku?!" Bentak Jya."A-aku hanya mengantar tugas tapi kakak mu menyuruhku ke kamar mu." Kata Dita masih menutup matanya dengan tangannya."Kenapa tak tunggu diluar saja!" Jya cepat-cepat mengambil baju semacam kimono untuk mandi dan memakainya lalu menghampiri Dita."Abis nya kamu ga jawab sih aku kira kamu kenapa-napa di dalem jadi aku masuk buat mastiin!" Dita tak menutup matanya lagi dan sedikit kaget karena mendapati Jya sudah berdiri di depan nya. Bisa dibilang sangat dekat karena Dita bisa mencium bau shampoo Jya dengan jelas."Apa yang kau lakukan dengan itu?" Suara Jya sedikit menakutkan walau pelan, ia juga menunjuk komik yang Dita pegang. Sontak Dita meletakkan nya kembali dan mengunci layar hpnya."Kamu habis ngapain tadi pake hp?" Tanya Jya lagi. Dita sangat benci nada suaranya terdengar sangat mengerikan."Bu-bukan apa-apa." Dita menyembunyikan hpnya dibelakang punggung nya."Jangan bohong kemarikan hp mu." Tangan Jya yang panjang hampir sanggup menggapai hp Dita. Dita cepat-cepat berkelit namun Jya semakin lincah saja mengikuti gerakan Dita."Jya hentikan!" Tiba-tiba Dita tersandung dan tak dapat menahan keseimbangan, ia jatuh ke belakang dan Jya yang mengejarnya tak bisa berhenti tiba-tiba akibatnya ia pun terjatuh juga.Mereka berdua terdiam di posisi yang sangat canggung ini, Dita tergeletak dilantai kamar Jya dan Jya menahan tubuhnya diatas Dita dengan kedua tangannya berusaha sekeras mungkin untuk tak menindih Dita.*tok tok*"Kenapa kalian ga turun-turun?" Suara itu! Adam membuka pintu setelah mengetuk nya dan hanya terdiam saja mendapati adiknya yang pertama kali dapat kunjungan dari seorang perempuan, adik kecilnya yang kini sudah benar-benar dewasa."Maaf sepertinya aku mengganggu, si-silahkan lanjutkan. Hehe-" Adam menutup pintunya perlahan. Jya langsung bangun dan keluar kamar dengan membanting pintu."Astaga tuhan apa yang baru saja terjadi, jantung kuberdetak sangat kencang, perutku rasanya aneh, dadaku sangat sesak. Aku kenapa??" Dita memegangi pipinya yang merah padam.Beberapa saat setelah menenangkan diri Dita berusaha menuruni anak tangga dengan lemas. Ia mendapati Adam dan Jya saling berhadapan dengan wajah serius mereka, "aku akan kena masalah besar!" Batin Dita. Jya berbalik dan melewati Dita begitu saja."Nama kamu Dita kan? Pasti kamu syok banget, maaf tadi aku sedikit salah paham. Tapi tenang Jya udah jelasin semuanya kok." Jelas Adam dengan senyuman yang sangat familiar."Iya kak, aku pamit pulang ya." Dita tak punya apa-apa untuk dijelaskan ia hanya ingin pulang."Eh? Padahal aku sudah masak banyak, tinggalah untuk makan malam ya sebagai permintaan maaf ku." Adam membuat ekspresi kecewa yang membuat Dita semakin tidak enak, akhirnya ia setuju untuk makan malam disana.***"Wah hebat ya Dita jadi wakil ketua!" Puji Adam saat makan malam. Jya tak banyak bicara ia hanya diam dan mengunyah makanan ya dengan tenang."Ah biasa aja kak." Dita masih sedikit tak percaya kalau Jya dan kak Adam itu saudara kandung."Kamu lahir tanggal berapa?" Tanya kak Adam."Tanggal 24 Desember" jawab Dita."Pas sekali kamu lebih besar dari pada Jya." Mendengar kata kakaknya Jya sedikit terkejut dan berhenti mengunyah."Maksud kakak?" Tanya Dita heran."Jadi waktu kecil Jya kira aku ini perempuan karena saat aku SD rambutku sedikit panjang dan mama suka jepit rambut ku. Saat beranjak ke SMP aku harus memotong rapi rambutku, tapi tiba-tiba saja Jya menangis dan tak mengenaliku. Rasanya sangat sedih melihat wajah manisnya yang berlinang air mata, ia bahkan memaksaku menggunakan rok saat dirumah. Apa boleh buat? Aku sangat sayang adik kecilku jadi aku menurutinya. Tapi sekarang sudah ada Dita yang bisa Jya anggap kakak perempuan sungguhan. Haha-" mendengarnya Dita hanya bisa terdiam dan tak menyangka Jya yang begitu dingin dan dewasa ternyata begitu manis."Kakak hentikan kau membuatku malu!" Jya tampak marah karena ia berdiri dan langsung pergi ke kamar nya."Haahhh.. Jya memang seperti itu, susah diajak bercanda. Tapi sebenarnya ia orangnya sangat perhatian. Kata Adam. Dita jadi ingat kejadian kemarin Jya meninggalkan payungnya diruang olahraga begitu saja atau sengaja meninggalkan nya untuk Dita?***Setelah membantu beres-beres sedikit Dita pun pamit namun Adam menyuruh Jya untuk mengantar Dita karena sudah malam.Hampir sampai rumah Dita, mereka berdua tak bicara sama sekali. Jelas ini sangat mengganggu Dita apalagi mengingat apa yang terjadi dikamar Jya membuat jantungnya berdetak kencang lagi."makasi udah nganter aku pulang." Kata Dita didepan rumahnya."Hm." Jya hanya menjawabnya dengan gumaman dan pergi.***"Astaga kepala ku rasanya mau meledak!" Kata Jya sambil mengacak-acak rambutnya saat perjalanan pulang. Ia sangat frustasi ketika tiba-tiba muncul sosok Dita di pikirannya. Terlebih lagi kejadian di kamar nya.Jya sedikit memperlambat langkahnya saat melewati sebuah cafe kecil didekat rumahnya. Melihat pengunjung yang terus berdatangan dan pelayan-pelayan yang sibuk. Orang-orang tertawa bersama dan berbincang dengan asiknya didepan secangkir minuman dan beberapa kue kecil. "Mungkin ide cafe tak terlalu buruk.." ujar Jya dalam hati. Ia kembali melanjutkan langkah nya.***Keesokan harinya Dita menghampiri Jya yang sedang duduk sendiri di bangku nya sambil mendengarkan lagu dari hpnya."Bisa kita bicara diatap sekarang?" Kata Dita setelah membuka paksa headset Jya dari telinganya dan kemudian pergi begitu saja."Apa-apaan dia?!" Ujar Jya dalam hati sambil menghela nafas kesal. Jya pun menyusul Dita ke atap gedung sekolah.Sesampainnya terlihat sosok Dita bediri dan melihat kearah langit yang sangat cerah hari itu. "Kenapa?" Tanya Jya."Aku mau buat perjanjian." Jawab Dita. Ia punya rencana yang sudah dipikirkannya semalam suntuk."Perjanjian apa?""Ingat ini?" Dita menunjukan foto di hpnya. Itu foto catatan kecil dikomik Jya."Cepat hapus itu!" Jya mulai gelisah."Tenang aja aku ga akan sebar, asal kamu mau jadi budakku selama SMA. Gimana?" Dita kini tersenyum, senyuman itu senyum kemenangan."Kamu gila ya?! Sini in hp kamu sekarang!""Eittts.. kalo kamu berontak aku siap sebar kegrup kelas sekarang. Kamu ga mau kan?" Kata-kata Dita ada benarnya."Budak?! Aku ga mau jadi budakmu!""kamu cuma perlu nurutin apa yang aku mau aja kok, susah amat ya? Pertama ini masalah ide festival, aku mau kamu setuju pake ide cafe. Kedua kamu ga boleh dingin sama aku. Ketiga... aku belum pikirin pokoknya kalo ngebantah aku sebar aib kamu." Jelas Dita. Jya sangat bingung apa yang harus ia lakukan? Jadi budak? Yang benar saja! Tentu saja tidak. Tapi bagaimana dengan foto catatannya itu?Jya menarik nafasnya dalam-dalam dan memegangi kepalanya yang berkeringat lalu berkata, "baiklah.""Wah?! Serius?? Asik!! Okay pokoknya sekarang aku panggil kamu Jya. Karena kita sudah deal, dan tanpa sepengetahuan mu aku udah rekam sejak tadi. Kita resmi jadi budak dan majikan. Ayo kita balik kekelas! Hahaha-" Dita tampak sangat puas dan sepanjang jalan kekelas ia hanya tertawa sedangkan Jya berusaha menyusun rencana untuk mencuri hp Dita, tapi mustahil karena Dita menaruhnya disaku bajunya.***Bel istirahat terdengar seperti angin segar ditelinga siang itu, tapi tidak begitu pada Jya. Ia sangat sibuk mengurus data pengumpulan tugas teman-temannya."Jya kantin yuk?" Ajak teman akrab Jya, Doni."Ga bisa, ada urusan." Jawab Jya tenang."Oke deh."Kemudian Doni meninggalkan Jya sendirian."Aneh si Jya tumben ga mao gue ajak ke kantin, apa dia marah sama gue? Atau jangan-jangan dia punya temen baru?" Batin Doni seperjalanan ke kantin sendirian.Semantara itu dikelas, Dita menghampiri Jya dan berkata, "Jyaaa? Kantin yuk!""Gue ga bisa, lagi sibuk." Jawabnya ketus. Dita udah tau Jya bakal lupa kalo dia budaknya sekarang jadi Dita udah siapin kejutan buat Jya."Anterin atau gue sebar?" Dita mengeluarkan sesuatu dari sakunya, bukan hp melainkan sebuah foto."Lu niat banget ya sampe dicetak segala. Lu pikir gue bakal takut?""Oh kamu mau aku sebar? Okay, ehhh... semua wakil ketua punya pengu-" Sorak Dita.Sontak membuat Jya panik dan menutup mulut Dita dengan tangan besarnya. "Oke gue anter ke kantin." Ujar Jya pelan kemudian melepas tangannya."gitu dong dari tadi." Dita berhasil menyeret Jya ke kantin bersamanya. Di perjalanan Dita tertawa puas melihat ekspresi fans-fans Jya yang kecewa, dan banyak juga cowok-cowok yang naksir Dita seketika mundur setelah menyimpulkan bahwa saingan mereka adalah seorang Jya.***Pulang sekolah mereka berdua menghadiri rapat pengurus untuk menentukan ide festival beberapa minggu lagi. "Aku tetep cafe, ketua kelas gimana?" Kata Dita sambil mengedipkan mata pada Jya."Baiklah kita gunakan ide Aditya saja." Jawab Jya. Karena itu satu-satunya cara untuk menegakan keadilan.Akhirnya konsep festival sudah diputuskan.***Lama kelamaan Jya mulai terbiasa dengan rutinitasnya bersama Dita. "Pr Kimia belum buat lagi, astaga!" Kata Dita sambil menepuk jidatnya. "Lu sibuk banget ya sama rencana festivalnya?" Respon Hawa."Ya gitu deh, tapi gue tenang tinggal suruh Jya aja yang ngerjain nyiahaha." Jawab Dita sambil mencari buku Pr nya ditas."Eh! Buku Pr gue kemana?! Lu ada ngambil ga?" Tanya Dita sambil mengguncang bahu Hawa."Eh buset Dit. Cari yang bener dulu baru nuduh.""Eh sumpah ga lucu ya Wa!""Gue ga ada ngambil tau!"Beberapa saat kemudian Jya datang menghampiri Dita dan Hawa yang sibuk celingak-celinguk mencari-cari sesuatu."Kalian ngapain?" Tanya Jya sambil membenahi posisi kacamatanya dengan telunjuk."Jya... buku pr gue ilang." Kata Dita dengan ekspresi sedih.Jya memukul pelan kepala Dita dengan sebuah buku tipis dan berkata, "nih buku lu.""wah bener! Makasi ya Jya! Lu emang penyelamat gue!" Jawab Dita girang sedangkan Hawa yang merasa dirugikan pergi meninggalkan mereka berdua."Sekalian kerjain Prnya dong. Oiya lu ketemu dimana?" Lanjut Dita."Gue ambil ditas lo tadi. Udah gue kerjain kok." Jya menepuk kepala Dita pelan dan kemudian berlalu."tumben-tumbennya dia ada inisiatif, biasanya juga disuruh dulu baru dikerjain. Tapi gapapa, ya lumayan hemat tenaga." Ujar Dita dalam hati.***Sepulang sekolah Jya langsung mengantar Dita pulang dan kembali lagi kesekolah untuk bermain basket bersama rekan satu tim nya. Kebetulan Doni juga rekan satu timnya dibasket."Lu belakangan ini sibuk banget ya?" Tanya Doni sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang berkeringat."Gara-gara festival udah deket.""Festival aja?""Maksudnya?""Ya siapa tau ada hal lain yang buat lu sibuk. Cewek mungkin?""Gue lagi ga pengen nyari cewek Don.""Apa?! Lu lagi pengen nyari cowok dong? Plis jangan gue!""Paan sih!? Maksudnya gue lagi ga pengen pacaran.""Oh gue kirain mau banting stir.""Yagalah gue masih normal ga kayak lo menyimpang." Jya langsung berdiri dan merebut bola dari pemain lain lalu melakukan shoot three poin nya."Entah kenapa gue makin curiga." Batin Doni.***"Jyaaaa bangun!!" Adam berusaha membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas."Kak ini hari minggu!" Bentak Jya setelah beberapa saat sebelumnya tarik menarik selimut dengan Adam."Kamu dicariin tuh sama Dita, cepet cuci muka sana.""Mau apa lagi tuh cewek?!" Ujar Jya dalam hati nya yang panas pagi itu. Jya berdiri kemudian beranjak kekamar mandi. Sedangkan Adam membereskan tempat tidur adik kesayangannya."Mau apa?" Tanya Jya pada Dita yang terduduk dibangku taman belakang."Pagi Jya!" Dita menoleh kebelakang dan tersenyum. Jya tampak terpelongo melihat senyuman Dita, mungkin karena ini pertama kalinya Jya melihat Dita benar-benar tersenyum kearahnya."Lu mau apa kesini?" Kata Jya setelah hening beberapa saat."Pagi?" Dita memiringkan kepalanya kekanan dengan ekspresi yang sangat manis."Iya-iya pagi. Kenapa pagi-pagi kesini?""Hihi engga cuma mau ngajak kamu jalan-jalan aja kok. Belakangan ini aku liat kamu kayaknya kecapekan banget.""Kamu seharusnya tau kenapa aku capek.""Aku tau kok festival udah deket. Tapi kamu juga perlu yang namanya refreshing."Jya berjalan pelan mendekati Dita dan duduk disebelahnya. Menatap Dita dengan tajam dan menepuk kedua pundaknya dan berkata, "dasar ga tau diri.""A-apa?" Wajah Dita memerah karena Jya yang sangat tidak terduga."Akh.. emang nya kamu mau ajak aku kemana?" Jya melepas tangannya lalu berdiri dan sedikit melakukan peregangan pada tangannya."Tadi maunya aku ajak kamu ke cafe sekalian nyari referensi dekor festival nanti. Tapi kalo kamu ga bisa gapapa kok." Dita akhirnya sadar sebenarnya yang membuat Jya lelah bukan hanya pekerjaannya sebagai ketua kelas melainkan permintaannya selama ini.Mungkin ia sedikit kejam selama ini, bayangkan saja hanya karena cinta tak dibalas. Dita sampai-sampai mengancam Jya dengan barang pribadinya sendiri."Aku free kok." Jya menatap Dita dengan senyuman, mata mereka bertemu dan seakaan ada sihir yang membuat Dita enggan melepas pandangannya pada bola mata Jya yang sedikit terhalang biasan cahaya kaca matanya.***"Aku mau pulang." Kata Jya setelah melihat antrean pengunjung didepan sebuat cafe terkenal."Ehh? Baru aja sampe.""Kalo sepanjang ini, kapan masuknya? Cari cafe lain saja." Jya meninggalkan barisannya dan Dita yang tampak kesal."Kita mau kemana sih?" Keluh Dita yang tertinggal dibelakang Jya yang berjalan sangat cepat."Ga usah banyak omong, ikutin aja." Seperti biasa Jya sedikit kasar pada Dita.Mereka akhirnya sampai disebuah cafe kecil dekat rumah Jya. Interiornya sangat sederhana dan ringan, walau sangat sederhana namun terkesan classic. Sangat cocok dengan tema cafe mereka kali ini.Dita memesan pake lunch dan Jya hanya memesan ocha. Dita baru tau ternyata Jya tidak terlalu suka makan diluar. Ia sangat menghargai kakaknya yang setiap hari memasak untuknya.Selagi menunggu pesanan mereka datang, Jya membicarakan seputar akustik band yang akan tampil saat festival nanti.Tanpa disengaja Doni lewat didepan cafe itu dan melihat Jya sedang asik mengobrol dengan seorang perempuan.Doni yang hendak kerumah Jya, jelas mengurungkan niatnya dan berencana memata-matai mereka. Doni memasuki cafe itu dan duduk agak jauh dari Jya namun ia masih bisa melihat jelas sahabatnya itu."Tu kan bener Jya punya kecengan." Ujar Doni."Selamat siang mau pesan apa?" Seorang pelayan menghampiri Doni dengan ramah."Mbak itu pelanggan yang disana mereka pacaran ya?" Entah apa yang Doni pikirkan. Ia hanya penasaran setengah mati."Engh.. saya rasa begitu.""Apa mereka sering kesini?" Gerak-gerik Doni sudah seperti seorang detektif saja."Saya kurang tau, jadi mau pesan apa?""Nanti saja.." Pelayan itu tampak kecewa lalu beranjak.***"Wahh ini enak sekali!" Kata Dita setelah mencicipi pesanannya. Jya nampak sangat menikmati teh nya, sedangkan Doni masih memata-matai mereka berdua dan sesekali berpindah tempat."Jya kamu harus coba ini.""Iya kapan-kapan.""Nih coba deh dikit." Dita menyendok makanannya dan hendak menyuapi Jya."Engga usah.""Dikit aja, ayo aaa.."Jya akhirnya menyuapnya dan mengunyah dengan sangat pelan. "Gimana enak kan?""Hm enak sekali." Dita bisa melihat jelas raut wajah Jya yang malu-malu tapi mau untuk mengungkapkan jika makanan ini memang enak.Doni tampak sangat tak percaya apa yang ia lihat barusan. Doni kemudian ingat Jya pernah bilang bahwa ia sedang tak ingin pacaran. "Dasar munafik!!" Kata Doni yang sedang menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya."Apakah anda ingin memesan sekarang?" Pelayan yang tadi datang lagi menghampiri Doni yang berpindah-pindah tempat."Enggak!" Bentak Doni kemudian pergi keluar cafe itu.***Doni terduduk sendirian disebuah taman dekat kompleks rumahnya. "Gue ga nyangka Jya udah pinter boong sekarang." Mulai terdengar isakan Doni, ia merasa sangat dihianati oleh sahabatnya."Padahal kalo gue ada apa-apa, pasti ceritanya kedia. Kenapa dia engga? Jangan-jangan dia ga anggep gue sabagai sahabatnya dari dulu." Doni mengusap air matanya dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.Sementara itu..Dita dan Jya sudah selesai dengan urusannya di cafe itu, dan memutuskan untuk pulang. Jya mengantar Dita sampai didepan rumahnya."Makasi ya udah nganterin." Kata Dita dengan senyuman."Hm."Dita berbalik dan membuka pintu rumahnya, namun ia tak kunjung masuk. Jya masih menunggunya untuk masuk kerumah. Dita menutup kembali pintu rumahnya dan kembali menatap Jya."Hei.. menurut kamu aku itu gimana sih?" Dita memberanikan dirinya untuk menatap Jya."Eng-""Stop! Ga usah dijawab, ga jadi!" Cegat Dita kemudian ia berbalik, masuk kedalam rumah dengan terburu-buru, dan membanting pintu.Jya hanya terdiam dan melangkahkan kakinya menjauhi rumah Dita.***Keesokan harinya saat pulang sekolah Jya sudah standby didepan kelas menunggu Dita yang masih beres-beres didalam kelas."Eh sebelum pulang aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Kata Dita saat mereka sudah berjalan berdampingan."Ngomong apa?""Kita ke atap yuk.""Yaudah."Akhirnya mereka berdua berjalan ke atap tanpa berbicara sepatah kata pun. Sesampainya disana mereka berdiri berhadap-hadapan, tampak jelas ekspresi gugup diwajah Dita. Jya hanya bersender malas pada pintu atap."Emm.. Jya pertama gue mau minta maaf. Gue sadar selama ini gue terlalu kekanak-kanakan. Ga seharusnya gue ngancem-ngancem lo kayak gini, gue bener-bener minta maaf. Gue harap lo mau maafin gue, gue juga bakal hapus semua aib lo. Sebenernya dari dulu gue pengen akrab sama lo, gue-"Belum selesai Dita mengungkapkan semuanya, tiba-tiba Jya menarik tangannya dan menekan bahu Dita, mengarahkannya kepintu atap. Kini mereka bertukar posisi.Jya menatap mata Dita sekejap lalu dengan cepat mencium bibir tipis Dita. Ciuman mereka hanya bertahan beberapa detik, karena Dita mendorong Jya menjauh.Wajah Dita memerah dan ia tampak terkejut setengah mati, Dita hanya menutupi mulutnya dengan tangan lalu membuka pintu atap dan bergegas menuruni anak tangga."Kenapa Jya cium gue?! Kenapa dia udah berani cium gue?! Dasar cowok bejat! Dasar!" Ujar Dita dalam hati, ia berlari sekuat-kuatnya sekencang-kencangnya. Ia tak ingin ada yang melihatnya menangis.Sementara itu Jya yang melihat ekspresi Dita langsung terduduk lemas. "Tadi kenapa gue cium dia?" Jya memegangi kepalanya kemudian kembali bangkit dan berusaha agar tidak pingsan saat menuruni anak tangga.***Kak aku pulang.." kata Jya saat sampai dirumah."Jya cepet sini kakak lagi skype-an sama mama." Jawab Adam dari ruang tamu."Kakak aja aku lagi capek." Jya melempar tasnya kelantai dan berjalan sempoyongan menuju kamarnya.Adam segera mengakhiri panggilannya dan memeriksa adiknya yang terdengar sangat lesu. "Astaga Jya! Kamu kenapa!" Adam mendapati adiknya terduduk didepan pintu kamarnya dengan wajah pucat."Aku gapapa kok.""Ga papa apanya? Kenapa kamu lemes gini sih?" Adam membantu adiknya berdiri dan masuk kekamar."Aku juga ga tau sebenernya aku kenapa.""Gimana bisa ga tau kan kamu yang bawa badannya. Disekolah kamu main basket sama superman?" Adam menggoda adiknya yang berusaha mengganti bajunya."Kak aku bener-bener ga tau. Intinya aku capek banget hari ini." Jya menyerah membuka kancing bajunya karena kepalanya sudah pusing dan matanya kunang-kunang. Ia terduduk lemas dikasurnya.Adam kemudian duduk disebelahnya dan membukakan kancing baju adiknya dan berkata, "kakak udah sering bilang jangan capek-capek. Sekali-sekali kamu tu harus istirahat, besok kamu jangan sekolah aja ya? Papa mama juga mau pulang besok. Kita sekeluarga dirumah aja, oiya gimana kalo kita undang Dita buat makan malam lagi?""Engga!" Jya mencengkram tangan kakaknya yang sedang membuka kancing baju sekolahnya. "Maksudku jangan dulu kak, Dita pasti punya kesibukan juga." lanjut Jya yang cengkramannya mulai melemas."kalian berantem ya?" Tanya Adam yang awalnya sangat terkejut."Enggak lah."Setelah membuka semua kancing baju adiknya, Adam menatap Jya lalu tersenyum dan mengusap rambut adiknya. "Kalian lucu banget." Lalu berjalan keluar kamar Jya.***"Dit kok lu diem aja dari tadi pagi?" Tanya Hawa yang merasa janggal dengan sikap temannya."Wa, kalo ada cowok yang cium kamu tanpa alasan itu artinya apa?""Hah?! Lu ciuman sama siapa?!""Engga bukan gue, kan cuma nanya.""Oke deh oke. Menurut gue tu cowok nafsuan.""Nafsu???""Eh engga deh becanda, pasti ada alasannya ga mungkin banget tiba-tiba nyium tapi ga tau kenapa.""Kira-kira kenapa ya?""Nah itu nafsu mungkin salah satunya.""Hawa!""Ahahaha becanda-becanda. Terus abis dicium reaksi lu gimana?""Gue langsung dorong dia.""Tukan lu yang ciuman, lol."Dita menutup mulutnya dengan tangan dan menatap Hawa yang berhasil membongkar semuanya. Hawa tersenyum jahat dan mau tidak mau Dita menceritakan semuanya."Oke gue ambil kesimpulan dari cerita dramatis dan bertele-tele tadi. Ada dua kemungkinan, pertama dia suka sama lo yang kedua dia nafsu sama lo.""Gue ga abis pikir deh, dan sekarang orangnya malah ga masuk. Dasar ga gentle.""Jadi sekarang lu maunya apa? Lanjutin ciuman yang tertunda itu?""Apaan sih ya engga lah. Dia harus minta maaf.""Abisnya lu kayaknya nyariin dia banget, tadi gue nanya Doni katanya Jya izin soalnya nyokap bokapnya mau pulang.""Bodoamat deh Wa, yang penting tu robot harus minta maaf sama gue!""Bilangnya ga peduli tapi dicariin, hadehhh." Ujar Hawa dalam hatinya.***Jya hanya berbaring dikasur panjangnya yang terbalut sprai putih bersih, dikelilingi bantal-bantal kecil yang membuatnya nyaman sementara kakaknya sibuk membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang.Jya terus saja ingat kejadian kemarin, ciuman pertamanya yang sangat memalukan. Bagaimana tidak memalukan? Ciuman pertamanya ditolak dan itu membuatnya demam sekarang. Ditambah lagi, entah apa yang mengerakkannya kemarin sehingga mencium bibir Dita cewek centil yang telah memperbudaknya. Sangat tidak masuk akal.Jya tak tahan lagi dan memutuskan untuk curhat pada Doni, ia meminta Doni datang kerumahnya pulang sekolah.Dengan tangan kecilnya Doni mengetuk pintu rumah Jya, Adam segera membukanya dan mempersilahkan Doni untuk masuk."Bukannya bantuin kak Ad, lu malah males-malesan dimari." Celetuk Doni sambil ikut berbaring dikasur Jya."Gue ga enak badan.""Terus yang jemput nyokap bokap lu siapa?""Mereka naik taksi, entar malem sampenya. Eh Don gue mau cerita sesuatu, tapi lu jangan manfaatin gue ya.""Maksudnya manfaatin lu apa?""Ya misal gue udah ceritain ni, lu malah pake buat bahan anceman terus meres gue.""Ni cerita pasti lucu banget.""Ga lucu banget sih cuma agak 18+""Wah lu mimpi basahnya parah ya tadi malem makanya sampe ga masuk? Siapa ceweknya? Siapa?" Doni mulai bersemangat."Engga bukan, ini bukan mimpi. Janji dulu ga cerita ke siapa-siapa.""Iye-iye janji, cowok sejati tak ingkar janji."Jya menceritakan semuanya pada Doni yang sangat fokus menyimak setiap penggalan cerita Jya dan sesekali membayangkannya."Menurut analisis dan sedikit pengalaman gue sama cewek. Kalo reaksi Dita kayak gitu, ada dua kemungkinan. Pertama nafas lu bau, kedua dia malu soalnya lu bego banget ga bisa nyari timing yang pas. Segitu nafsunya lu sama dia.""Gue lagi stres, bisa ga stop ceramahin gue. Oke-oke gue yang salah, tapi gue bener-bener ga tau kenapa gue cium Dita pa-" belum selesai Jya berbicara tiba-tiba Adam masuk dan berteriak, "apaaaaa?! Kamu cium Dita?!"Sontak membuat Doni dan Jya terkejut dan saling tatap-tatapan, kemudian Doni langsung berdiri dan pamit meninggalkan Jya dan Adam."Coba jelasin ke kakak sebenernya apa yang terjadi diantara kalian?""Ga ada apa-apa kak, aku cuma-" lagi-lagi kalimat Jya dipotong"Apa? Cuma apa? Siapa yang ngajarin kamu cium-cium anak orang? Inget kamu itu masih kecil!" Mungkin ini kali pertamanya Jya melihat kakaknya begitu marah padanya."Aku tau, aku sadar, iya aku salah aku minta maaf. Tapi kakak masak ga pernah nyium cewek tanpa alasan?""Jangan kamu lempar pertanyaan sama kakak, itu memang salah kamu. Kamu harus minta maaf tapi bukan sama kakak tapi sama Dita." Adam keluar kamar Jya dengan sedikit membanting pintu.Jya memutuskan untuk meminta maaf pada Dita sore itu juga, ia bergegas bersiap-siap dan keluar rumah lewat akses rahasia nya yaitu keluar lewat jendela kamarnya dan berjalan perlahan diatas genteng rumahnya dan melompat bebas dihalaman samping lalu memanjat tembok untuk keluar.Ia berlari dengan kencang ditemani dinginnya udara senja. Sesampainya didepan rumah Dita, Jya menarik nafas panjang dan meneriakkan nama Dita. Beberapa detik kemudian jendela lantai dua sebelah kanan terbuka, itu Dita dengan ekspresi terkejut melihat Jya didepan rumahnya melambaikan tangan dengan keringat yang tumpah ruah. Dita segera turun dan menemui Jya."Kamu ngapain disini?!""Aku mau ketemu kamu." Nafas Jya masih gak beraturan"Iya mau ngapain? Mau mesum lagi?""Iya masalah mesum itu, aku bener-bener minta maaf. Aku ga bermaksud, aku tau pasti kamu sekarang berfikir kalo aku ini brengsek bejat atau apalah. Aku berani sumpah, aku juga ga tau kenapa aku pas itu cium kamu. Maaf ya?""Kamu pikir aku bakal langsung maafin kamu setelah apa yang terjadi kemaren dan kamu baru sekarang minta maafnya?""Kamu mau aku jadi budak kamu lagi aku gapapa, please Dita maafin aku.""Jya aku ga ngerti sekarang sama kamu, dulu kamu tu kayaknya benci banget sama aku sekarang kamu malah mohon-mohon. Aku kira km cium aku cuma buat ngancurin harga diri aku ternyata kamu bener-bener pengen ciuman ya pas itu."Jya hanya terdiam mendengar kata-kata Dita. Memang benar apa yang Dita katakan, itu semua seharusnya benar namun ada bagian yang keliru masalah menciumnya untuk menghancurkan harga diri semata.Dita meraih lengan baju kanan Jya dan berkata, "Jya kamu suka ya sama aku?"Rasanya seperti ada sebuah panah yang menusuk hati Jya, entah apa jawabannya tapi perasaannya menyatakan itu lah yang selama ini ia rasakan. Mengapa ia baru sadar sekarang?Dita cewek berparas cantik itu sebenarnya sudah menarik perhatiannya saat MOS namun perasaannya terkikis sedikit demi sedikit karena melihat saingannya yang begiu banyak dan ternyata sifat Dita yang sangat centil."Hey jawab.." lanjut Dita sambil menarik-narik lengan baju Jya."Aku...Suka sama kamu.""Iya aku suka sama kamu dari dulu, maaf baru bisa bilang sekarang, maaf selama ini aku bersikap seolah-olah benci sama kamu. Kamu mau kan maafin aku?"Dita tersenyum lebar dan tanpa ia sadari, Dita menangis tersedu-sedu dan berkata, "iya aku maafin kamu, walaupun kamu jahat banget sama aku selama ini."Jya menarik Dita untuk jatuh kepelukannya, mereka berpelukan diudara sore yang dingin dan tidak menghiraukan yang terjadi disekitar mereka. Dunia serasa milik berdua...........Berusaha untuk tenang itu sangat sulit, bagaimana tidak sulit? Orang yang sangat-sangat kau sukai menyatakan cinta padamu bahkan sekarang ia ada didepanmu dengan wajah yang sendu hampir menangis meminta maaf padamu.Jya aku benar- benar menyukai mu, bahkan sampai sekarang. Setelah semuanya yang kau lakukan padaku, kini aku sadar ciuman mu waktu itu mungkin saja mengisyaratkan sesuatu.Maaf kan aku juga terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya berusaha tenang dan membalah pernyataanmu..................................................................................................................*Stt...* It's Secret(Bagian dua)"Hari ini aku ga mau pulang!" Kata Dita semangat. Pegangan tangan mereka tak putus-putus dari kelas hingga parkiran sepeda."Lah kenapa?" Tanya Jya heran dan sontak menghentikan langkahnya dan mempererat genggaman tangannya."Aku mau nonton kamu main basket aja, abis bosan dirumah.""Eh ga boleh gitu dong nanti mama kamu curiga." Entah sejak kapan tepatnya namun sikap Jya mulai berubah sedikit demi sedikit. Dita pikir sikap dingin Jya memang bawaan dari lahir, ternyata tidak."Kalo gitu aku mau main dirumahmu aja, sekalian ketemu kak Dam.""Engga bisa Ditaku, mama papa aku lagi dirumah sekarang. Kalo kamu dateng nanti pasti ditanya macem-macem." Jya mencubit pipi Dita dan menjelaskannya secara detail, Jya belum siap memperkenalkan Dita dengan orangtuanya karena hubungan mereka belum berlangsung lama.Dita hanya cemberut dan mereka melanjutkan peejalanan. Tiba-tiba handphone Jya berdering dan itu panggilan dari Adam."Kenapa kak?.... Oh..... Apaaa?!?! Ga bisa gitu dong! Apa-apaan sih!...... Tapikan....... okedeh." Jya tampak kesal dan kebingungan."Dari kak Dam? Apa katanya? Kepo nihh." Dita berusaha menggali informasi."Iya kak Adam tadi yang nelfon, dan katanya papa mau aku ngenalin kamu ini terkait tradisi keluarga." Jya berusaha menjelaskannya dengan tenang, walau sebelumnya ia tampak sangat emosi."Tradisi keluarga? Apakah itu semacam pemujaan?""Engga-engga. Ini tradisi konyol keluaragaku sampai-sampai kak Adam sempat kabur dari rumah dan membawaku bersamanya. Tapi kalau dipikir-pikir tradisi itu ada benarnya juga.""Heyy cepat jelaskan tradisi macam apa itu? Kau membuatku ketakutan sekarang.""Kau akan tau ketika kau sampai. Percayalah bersiap-siap untuk tertawa."...Dita tampak canggung dan anggun pada saat yang bersamaan. Dengan turtle neck long dress dan rambut yang terurai ia menghadiri makan malam formal dihotel bintang lima. Di lobby seorang pria dengan jas menyambutnya, "Dita Sylan?" Tanya pria itu. Dita balas dengan anggukan pelan, "ikut saya.." perlahan langkahnya mengikuti pria itu kesebuah ruang privat.Disana tampak sepasang suami istri dan dua anak laki-lakinya tersenyum ke arah Dita seakan-akan ia lah bintang tamu yang sudah ditunggu-tunggu."Malam nona sylan." Kata pria yang terlalu muda untuk disebut ayah itu dibarengi sambutan tangan yang kokoh."Malam pak." Dita hanya membalas jabatan tangannya dan menjawab salam walau ia tak terlalu yakin memanghil ayah Jya dengan sebutan apa."Dita duduk sini ya, biar hadap-hadapan sana Jya." Kata wanita yang juga tampak muda, bahkan lebih muda sedikit dari ibu Dita.Dita duduk ditengah diantara ibu Jya dan kursi kosong disisi kirinya, kursi kosong itu akan diisi ibu Dita yang sedang dalam perjalanan. Ia akan datang terlambat karena ada urusan dikantornya.Beberapa menit mereka hanya mengobrol dan lebih mengenal satu sama lain, ayah Jya mendominasi peecakapan sedangkan Jya tak banyak bicara, tampaknya ia sama gugupnya dengan Dita.Ini acara formal pertama Dita dan terlebih lagi pertama kalinya ia makan malam bersama dengan keluarga pacarnya, Dita hanya berdoa agar semuanya berjalan lancar dan ibunya segera datang."Wah Dita ini bener-bener tipe om deh, ga salah Jya milih kamu dari beribu cewek yang om tawarin." Untuk panggilan om terasa sangat aneh."Permisi, maaf menunggu lama. Saya ibunya Dita, salam kenal." Akhirnya ibu Dita datang dan memperkenalkan diri juga meminta maaf dengan sedikit bungkukan. Berjalan dengan tenang kearah kursi kosong dan merapikan tatanannya. Kemudian tersenyum kearah yang lain, namun tidak pada ayah Jya.Mereka saling menatap untuk beberapa selang lalu kemudian ibu Dita kembali berdiri dan menarik tangan Dita, "ma ngapain narik aku?!" Kata Dita yang diseret kekuar ruangan, meninggalkan Jya dan yang lain kebingungan."Mama ga mau liat kamu sama mereka lagi!" Mereka memasuki taxi dan pergi meninggalkan hotel.Sementara itu, "Jya kamu ga bisa sama Dita lagi." Kata ayah Jya tenang."Loh kenapa pa?!""Pokoknya jangan! Sepertinya rencana papa harus dimajukan, besok kamu ikut papa ke luar negeri!""Papa ni kenapa sih! Tadi bilang suka sama Dita sekarang aku malah disuruh ikut papa sama mama!" Jya yang emosi pun berdiri, tampak Adam berusaha menenangkan Jya."Gausah membantah kamu, kalau papa bilang pergi ya pergi!" Kini ayah Jya juga emosi dan berdiri menunjuk-nunjuk anaknya."Papa jelasin ke aku sebenernya ada apa?! Aku ini bukan boneka papa yang harus nurutin segalanya! Nikah mudalah, tradisi lah, atau apalah itu!""Dita itu saudari kamu! Dita itu anak haram papa! Puas kamu?!""Apa pa?! Anak haram? Jadi dulu papa selingkuh?! Papa benar-benar keterlaluan, aku ga sudi punya papa kayak papa!!!" Kini sebuah rahasia telah terkuak, Adam pun tampak sangat terkejut dan terpukul. Namun berbeda dengan ibu Jya, mungkin ia sudah tau kebenaran itu jadi ibu Jya hanya bersikap tenang."Kurang ajar kamu!" Sebuah tamparan keras melayang dipipi kiri Jya. Seisi ruangan hening sesaat, lalu Jya tanpa sepatah kata pun pergi dari ruangan itu dan menghilang semalaman....Keesokan harinya Dita yang tidak tau apa yang terjadi hanya bisa meratapi makan malamnya berantakan karena ibunya yang tiba-tiba saja menyeretnya.Lama Dita menunggu sosok Jya datang, ia hendak meminta maaf atas kekacauan kemarin. Namun tampaknya hari itu Jya tidak sekolah.Sepulang sekolah Dita, Hawa dan Doni mencari kerumah Jya namun tampak kosong dan papan nama ditembok depannya hilang. Apa mungkin Jya pindah rumah begitu saja karena kejadian kemarin? Apa ia sangat marah pada Dita dan ibunya?Dita terus menghubungi Jya namun nihil, tak satupun bisa dihubungi. Dita hanya bisa menerima keadaannya sekarang, dimana mentarinya menghilang dan menyisakan awan mendung dihari-harinya....(12 tahun kemudian)Sepatu mengkilat dengan setelan jas rapi dan tak ketinggalan rambut klimisnya Jya disambut kakak tercintanya bersama anak dan istrinya ditanah air."Gimana perjalanannya?" Tanya Adam sambil mengacak-ngacak rambut adik kesayangannya."Sedikit melelahkan, namun tak semelelahkan penantian panjangku untuk kembali ke Indonesia. Aku akan segera menemui pujaan hatiku, kakak bawa saja barang-barangku. Aku akan pakai taxi." Jya dengan semangat berlari kecil menghampiri sederet taxi-taxi yang menunggu penumpang."Baiklah hati-hati dijalan, kami akan menunggu dirumah!" Teriak Adam.Jya tumbuh dengan baik dan sekarang ia sudah mapan, dan mantap menikah dengan satu-satunya kekasi pemilik hatinya, Dita. Ia hanya berharap Dita masih ada dikotanya, setelah bertahun-tahun berlalu mungkin saja ia sudah pindah rumah.Tapi bagaimana dengan status keluarga? Ternyata selama diluar negeri Jya juga mengurusi status kekuarganya, penantian panjangnya berbuah manis. Akhirnya ia terlepas dari kekuarganya dan tidak menyandang status ayahnya lagi, selain tercoret dari daftar pewaris ia juga harus sedikit mengganti namanya dari Jo Yusuf Anwar menjadi Jonnatan Yusuf saja, namun julukan Jya masih ia pakai.Kira-kira setengah jam berlalu ia kini sampai dirumah Dita, rumah yang merupakan saksi bisu pernyataan cinta Jya pada Dita dulu. Perlahan namun pasti Jya melangkahkan kakinya kedepan pintu dan menekan bel.Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu, dan ia lah yang sedang ditunggu-tunggu. Jya masih dapat mengenalinya, dari matanya garis bibirnya persis seperti dulu. Kini pujaan hatinya sudah besar sama sepertinya, inilah saatnya Jya menyatakan semuanya.Dita tampak terkejut dan hanya diam saja menatap tak percaya cinta masa SMA nya kembali menemuinya, persis saat ia ada dirumah. "J-jya?" Tanya Dita ragu."Iya ini Jya, aku sangat merindukanmu!" Bahasa keduanya menjadi baku karena sudah lama tak bertemu, Jya meraih tangan kekasihnya dan mengecupnya perlahan."Dita aku kembali kesini untuk menjemputmu, ikutlah bersamaku. Kini aku sudah memiliki semuanya, bahkan aku sudah membuang marga kekuargaku agar kita bisa bersama. Maukah kau-" belum selesai Jya mengucapkan kalimat pelamaran. Tiba-tiba seorang anak kecil menyelinap diantara kedua kaki Dita dan menatap tajam Jya."Mama, dia siapa?" Tanya anak itu, dan ia memanggil Dita dengan sebutan mama. Sontak Jya menatap Dita yang beraut wajah sedih. Perlahan Jya melepas genggamannya, dan berlutut agar ia sejajar dengan anak itu.Air mata yang hangat mengalir perlahan dipipi Jya, ia tersenyum. Tersenyum sangat lebar dan mengusap kepala anak manis itu dan berkata,"nak aku paman mu."-The End-

Dear You My Imagination
Romance Wattpad
02 Dec 2025

Dear You My Imagination

Sebuah omong kosong tentang harapan dibalik takdir yang mempertemukanku***"Spaghetti Bolognaise dua porsi dan daging asam manis satu porsi!" Teriakku pada seorang priayang sedang memasak didapur restauranku, restauran kecil yang baru saja ku dirikan dengan mengusung tema classic dan ditambah dekorasi lukisan dari galeriku. Inilah jalan yang kupilih bersama pria itu. Siapa dia? Akan ku ceritakan bagaimana kami bertemu bahkan jauh sebelumnya.***Sejak umurku 4 tahun, kedua orangtuaku sudah memperkenalkanku dengan dunia seni khususnya lukis, mereka adalah duet pelukis yang memiliki galeri besar dipinggir kota. Darah seniman sudah mengalir dan berdenyut dalam tubuhku seakan membuat suatu ikatan yang erat.Aku kerap memenangkan lomba-lomba yang memuluskan perjalanan ku menempuh jenjang perguruan tinggi di universitas ayah ku dulu.Setelah lulus aku jatuh cinta pada seni menggambar manga atau komik terbitan dan terjun kedalamnya. Setelah debut pertamaku, aku mampu membuat galeriku sendiri dipusat kota yang padat.Orangtuaku memutuskan untuk pensiun, galeri mereka dijual lalu diamalkan kini mereka menikmati masa tua dikampung halamanku.Namaku semakin melambung dan menjadi perbincangan orang-orang, mereka bahkan menjulukikusang pesulap.Entah apa yang publik rasakan terhadap karyaku, tapi aku tetap menghargainya.Aku punya rumah sendiri, galeriku sendiri, penggemar karyaku, orangtua yang bahagia dan bangga, sahabat yang selalu mendukungku, bahkan uang untuk sedikit bersenang-senang. Hidup ini sangat sempurna.Sampai semuanya terenggut oleh pergelangan tangan kananku yang remuk akibat terjatuh dari tangga, saat menyesaikan lukisanku setinggi 3 meter digaleriku.Awalnya aku tak menyadari ada yang janggal dengan tanganku. Aku bahkan masih bisa menyelaikan sisa deadline dan beraktivitas seperti biasa.Setelah itu ditengah malam aku terbangun dengan sakit yang terangat sangat di tangan kananku. Aku sangat terkejut ketika mengetahui behwa tanganku sudah patah dan dokter seakan tak percaya setelah terjatuh dari tangga aku tak merasakan apa-apa.Aku terpaksa cuti dan hanya berdiam diri dirumah, itu sangat-sangat membuatku muak bahkan aku tak bisa memegang pensil dengan benar membuatku sakit hati.Stres ini membuatku kerap bermimpi buruk, rasanya tangan kananku mengeluarkan darah sangat banyak hingga aku tenggelam dalamnya. Aku terbangun dengan keringat dingin dan tangan yang gemetar.Orangtuaku pasti akan sedih mendengar keadaanku. Namun aku tak sendirian, Celin sahabatku ia selalu menemaniku dikala ku terpuruk.Aku terus mencoba untuk pulih, tapi sia-sia usaha ku berakhir dengan pisau yang merobek-robek kanvas yang ku gambar.Entah sudah berapa lama aku tak tampil dipublik atau mengeluarkan karya baru. Walau gips ditanganku sudah dilepas, aku masih tak bisa menggambar dengan benar.Untuk merayakan lepasnya parasit ditangan kananku, Celin mengajakku ke toko buku legendaris dipinggir kota.Toko itu berasa ditempat yang terpencil dan terlihat sangat tua. Legendaris? Lebih terlihat toko buku tua.Saat kami masuk, loncemg yang nyafing menyambut namun tak ada orang. Celin dengan semangat menjelajahi rak buku dengan debu dimana-mana. Sedangkan aku lebih memilih menunggunya dimeja kasir.Tiba-tiba aku merasakan sentuhan punggungku, saat aku menoleh seorang anak laki-laki tersenyum manis kearahku. "Kakak mencari sesuatu?" Tanyanya ramah."Ahh tidak aku hanya mengantar teman saja."Aku belum terbiasa, berbicara pada oranglain selain Celin dan kedua orangtuaku belakangan ini."Apa yang terjadi pada tanganmu?" Anak itu menunjuk tangan kananku, sepertinya ia menyadari perbedaan warna kulitku."Aku baru saja melepas gipsnya.""Apa yang kau lakukan sehingga tanganmu harus di gips?" Oke aku menyadari mengapa orang-orang enggan memiliki anak banyak."Aku bekerja terlalu keras.""Cobalah untuk memotong lingkaran dengan sebuah gambaran." Anak itu beranjak dari kirsi kasir dan mendekatiku."Gambaran?" Oke anak ini mulai aneh."Tidak, tidak maksudku sebuah khayalan. Khayalan yang melampaui batas kenyataanmu. Siapa namamu?" Selain aneh ia mulai berbicara seperti orang dewasa saja."Farren Lee." Jawabku singkat."Apa?! FL? Kau sang pesulap itu? Boleh aku minta tanda tanganmu?" Ia langsung menyodoriku kertas, aku mencari-cari alat tulis dan mataku menangkap sebuah pensil yang tergeletak dilantai.Hanya sebuah tanda tangan tidak akan menyakiti hati, perlahan-lahan aku membuat tanda tangan khas seorang seniman walau tak semuanya begitu. Lugas, tegas, dan sekali jalan berbeda dengan tanda tangan di ID ku sangat kekanak-kanakan dan ragu.Kalau dilihat-lihat tulisan tanganku tak pernah sebagus ini, pensil ini sangat nyaman digunakan. Sepertinya kenampakan ini memberikanku efek tenang."Berapa harga pensil ini." Tanyaku sambil menyerahkan kertasku."Untuk kakak gratis, ambil saja." Kata anak itu sambil beranjak dengan gembiranya."Hey nak benarkah? Siapa namamu?" Tanyaku seakan tidak percaya."Caled, itu namaku. Seperti panggilan kan?" Lalu ia hilang dibalik pintu.Wah anak itu benar-benar aneh, Caled ya?"Ayo nyonya Lee, kita minum kopi. Buku yang ku cari tidak ada, kita bisa kembali besok." Kata Celin muncul dari debu-debu yang berterbangan.Minum kopi di sore hari yang dingin, sambil memandangi pensil unik ini cukup untuk mengalihkan perhatianku terhadap sekeliling cafe yang terus saja menatapku.Mereka pasti tak mengira seorang FL yang telah lama tak muncul akhirnya keluar dengan rambut acak-acakan baju kaos legging boots dan coat tebal nan panjang, lebih mirip seperti homeless dari pada seniman yang cuti.Sesampainya dirumah aku segera meraih kanvasku, kali ini ku yakin tanganku akan sembuh.Dengan ambisius aku menggoreskan pensil unik itu,berharap akan tercipta sesuatu. Namun sia-sia kanvas itu berakhir dengan lubang besar berkat pisau dapur yang ku tancapkan.Mengapa tanganku tetap sama? Tidak kaku lagi namun tetap sama saja!Aku mematahkan pensil itu dan melemparnya kesudut ruangan, minum beer dingin dan menatap langit malam dispot favorite ku itu yang aku perlukan.Saat malam udara terkesan sedikit lebih hangat, aku duduk sendiri diatap rumahku tampaknya malam ini aku ditemani bintang-bintang. Duduk dan diam menatap mereka bersinar, seakan minta bantuan untuk dihitung.Aku terbangun dengan wajah yang kacau, nampaknya aku berjalan sendiri kekasur dengan keadaan mabuk. Membereskan penampilan kemudian memasak sarapan, aku terus saja teringat anak kecil itu. Caled ya?Betapa terkejutnya aku ketika melihat pensil yang sebelumnya ku patahkan kini ada dimeja kerjaku dengan keadaan utuh, aku benci ini.Menjadi penakut bukan pilihanku, sepertinya ada yang aneh dengan rumah ini. Atau mungkin aku sudah mabuk semalam, seakan-akan aku mematahkannya.Celin menjemputku dan aku menceritakan keanehan rumahku pagi ini padanya, tapi ia hanya tertawa dan menyuruhku tidak minum alkohol lagi.Lonceng pintu masuk toko berbunyi nyaring ketika kami memasukinya. Seorang kakek yang asing menyambut kami, "selamat datang ada yang bisa pak tua ini bantu?" Katanya ramah.Celin menjelaskan buku yang ia cari, dan kakek itu menunjukan jalannya. Aku menunggu dikasir berharap akan bertemu Caled lagi, karena aku akan mengadukannya pada kakeknya karena ia seharusnya menjaga toko tapi malah memberi barang gratis pada pembeli.Kakek itu berjalan tertatih-tatih ke arah kasir dan duduk dibalik meja. "Kek apa Caled ada?" Tanya ku.Kakek itu diam sebentar kemudian menjawabku, "apa aku mengenal Caled?" Okay ini aneh."Seorang anak kecil yang aku temui kemarin ditoko ini." Jelasku."Tidak ada siapapun kemarin, hanya ada aku dan istriku. Apa benar toko ini yang kau kunjungi kemarin?" Aku hanya terdiam mendengar penjelasan kakek pemilik toko. Celin membayar buku yang ia beli, segera aku menyeretnya keluar."Hey-hey Fallen ada apa?" Tanya nya heran."Toko ini, toko ini sangat-sangat sakit. Kita harus pergi dari sini, ayo cepatt!""Tunggu-tunggu kita memang harus segera pergi, bukan karena toko ini yang sakit. Kau lah yang sakit, lihat kau memakai kaos terbalik!" Aku baru menyadari, setelah berkeliling kota dengan baju terbalik. Memalukan!Karena terburu-buru aku jadi lupa mengembalikan pensil ini, tapi kalau dipikir-pikir aku cukup konyol juga mengira rumahku berhantu. Aku pun memutuskan untuk menyimpannya.Kemana perginya Caled? Jika kakek pemilik toko bilang tidak ada yang bernama Caled, lantas siapa yang aku temui itu? Apa aku harus melapor kepolisi? Mungkin lebih masuk akal aku melapor ke psikiater."Aku benar-benar sudah gila, bahkan wajah anak itu masih kuingat jelas." Aku mulai menggambar diatas kanvas, membuat sket wajah Caled jika ia seumuran denganku.Wajahnya kurang lebih seperti ini, ah seketika aku merindukan kampung halamanku. Kemudian aku membayangkan musim semi dirumah orangtuaku, kehangatan mereka mampu mengusir dinginnya udara musim semi.Aku sangat mengantuk, tapi sket ini lumayan juga walau belum aku warnai. Sebaiknya aku segera tidur sekarang, aku menggantung kanvas itu disudut ruang kerjaku.Aku mulai bermimpi lagi! Kali ini mimpi buruk apa yang akan muncul? Aku berdiri disebuah ruangan serba putih dengan meja makan yang sangat panjang hingga aku tak bisa melihat ujungnya diantara kabut yang melayang-layang.Satu persatu hidangan bermunculan memenuhi meja makan, aroma yang super menggiurkan membuatku ingin mendekat, tapi bisa saja makanan ini beracun. Tapi aroma ini sangat nyata, seperti masakan rumahan. Perlahan aku membuka mata dan terbangun.Ternyata benar aroma ini nyata! Tapi siapa yang sedang memasak didapur? Orangtuaku tidak akan datang tanpa mengabari, suara wajan yang bersahutan membuatku semakin yakin seseorang tengah memasak didapur rumahku. Siapa?!Aku memegang tongkat baseball ku untuk perlindungan diri, nafasku semakin tak beraturan karena ketakutan. Mengintip dibalik tembok, aku melihat sosok pria menggunakan afronku.Perlahan mendekatinya dari belakang tampak jelas garis punggungnya yang kokoh. Menyentuhnya sedikit dengan ujung tongkat baseball ku, pria itu berhenti dan menoleh. Betapa terkejutnya aku sampai-sampai membuatku lemas dan aku tak ingat apa-apa lagi!Akh.. kepalaku pusing sekali, berusaha membuka mata dan terbangun dari mimpi aneh barusan. "Wah kau sudah bangun!" Suara asing ini yang menyambutku. Seorang pria duduk disampingku, rupanya aku masih dalam mimpi. Tidak mungkin seorang pria asing tau password rumahku, kecuali ia stalker!Seketika aku bangun dan menjauh, "ada apa? Apa aku mengejutkanmu? Makan lah dulu, aku sudah memasak sarapan untukmu. Sepertinya kau sangat lemas sehingga tadi pingsan." Pria ini berbicara padaku, ternyata ini bukan mimpi.Apa yang hasur kulakukan? Ada orang asing dirumahku! Meraih benda terdekat dan melemparnya dengan membabi buta."Pergi dari rumahku kau orang asing!!" Seruku sambil terus melemparinya."Hey aku tak bermaksud jahat, tolong hentikan kau menyakitiku." Tunggu sebentar, aku berhenti dan mendekatinya. Wajah ini sangat familiar! Mungkin ia bagian dari ingatanku, aku benar-benar sudah gila. Kini aku mulai berhalusinasi.Menelfon Celin adalah satu-satunya pilihan yang ku punya, ia pun setuju membawaku ke psikolog. "Kau sudah siap?" Tanya Celin sesampainya ia dirumahku."Aku benar-benar ketakutan, cepat antar aku!!""Baiklah-baiklah kau memang selalu seperti ini, tapi siapa pria manis ini?" Celin menunjuk halusinasikuAku menarik kerah Celin dengan kasar, "kau juga bisa melihat halusinasiku?!""Fallen Lee lepaskan aku, kau bisa membunuhku." Aku melepaskannya dan mulai berpikir, semua ini tidak masuk akal"Kau memang memerlukan dokter Will sekarang." Lanjut Celin. Dokter William adalah dokterku, walau aku tidak terlalu merasakan efeknya tapi hanya ia yang kupercaya."FL! Kali ini apa keluhanmu?" Dokter Will tampak tak terkejut dengan kedatanganku."Ini semakin parah aku berhalusinasi! Namun anehnya Celin juga bisa melihatnya, benar-benar tak masuk akal.""Kau sudah cek? Kali ini kau tidak demam musim semi kan?" Tanyanya tenang."Apa demam musim semi bisa membuatku berhalusinasi?" Oke kata-katanya sedikit membuatku lega, rupanya ini bisa saja hanya demam."Tentu saja!" Ia tersenyum kearah Celin dan mengedipkan matanya, dibalas dengan jempol oleh Celin. Mereka sukses menenangkanku."Tapi siapa pria ini? Ini pertama kalinya kau mengajak pria ke praktekku, nona Lee." Apa???!! Doker Will juga bisa melihatnya?"Dokter Will tampaknya juga demam musim semi.""Hm baiklah seperti tidak usah diperiksa, ini aku memberimu obat penenang. Kau gelisah lagi rupanya."Hanya itu saja yang dapat dikatakan dokter Will. Celin mengantarku pulang dan halusinasiku tetap mengikuti."Aku akan sembuh jadi menghilang lah." Ujarku saat akan membuka pintu rumah.Halusinasi itu hanya diam, aku berbalik dan menatapnya tajam. "Aku bilang pergi sana! Aku lelah, bisakah kau hilang saja?! Aku akan sembuh."Tiba-tiba ia mendorong tubuhku kepintu dan menatapku dalam-dalam sepertinya ia akan menciumku karena wajahnya terus mendekat."Kau tidak demam." Katanya, ia menempelkan dahinya di dahiku."Kau bisa melihatku, kau bisa merasakanku, kau bisa bicara padaku. Aku bukan sekedar halusinasimu." Lanjutnya dengan nada yang tenang, matanya berkaca-kaca tampaknya ia menahan air matanya untuk jatuh terlalu awal.Ekspresi ini, ekspresi yang sangat manis."Baiklah kau boleh menginap, tapi jangan macam-macam karena aku akan telfon polisi." Aku membuka pintu dan membiarkannya masuk.Ia hanya duduk dilantai dan menatap jendela besar yang mengarah langsung kesebuah pemandangan bukit disore hari."Ngomong-ngomong kau dari mana?" Tanyaku sambil membereskan kekacauan tadi pagi."Entahlah sepertinya dari sana." Ia menunjuk kanvas kosong yang gambarnya telah hilang.Ini semakin ajaib saja, aku mengambil pensil aneh itu dan meraih secarik kertas.Menggambar sketsa anjing kecil yang enah ras apa. Aku dan pria itu terkejut dengan sinar yang keluar dari kertas itu. Sinar yang sangat menyilaukan dan hampir membuat ku buta.Membuka mataku perlahan dan masih terlihat samar-samar.*barks*Terdengar gonggongan anjing. Kertasnya kosong! Dan seperti dugaanku ada anak anjing sungguhan dikamarku. Ini memang pensil ajaib, aku harus menjaga rahasia ini. Karena dengan pensil ini aku bisa menciptakan dunia.Aku hanya berjanji memberikannya inapan 1 malam tapi untuk menjaga rahasia pensil itu aku menahannya dalam rumahku. Iya lebih tampak seperti orang yang kelewat bahagia daripada seorang tahanan.Pasalnya ia selalu menungguku didepan pintu seperti anak anjing yang ku berinama Choco.Oiya pria itu belum punya nama. Malam itu sangat dingin kami hanya duduk di atap dan meminum beer. "Choco.. bagaimana?" Tanyaku memecah keheningan. Aku sudah kembali bekerja dan jarang dirumah."Dia semakin nakal saja, aku sampai lelah." Jawabnya, sambil meminum coklat panas."Bagaimana dengan mu? Kau ingin punya nama?" Tanyaku canggung."Nama? Itu ide yang bagus. Kau punya nama untukku?""Hm bagaimana kalau Cale?""Ya aku suka itu! Makasi Fall." Senyumannya seperti senyuman musim semi yang sejuk.Keesokan harinya aku sudah hampir terlambat, aku tak sempat makan sarapan yang Cale buat."Fallen makan dulu sarapannya." Cale menarik lenganku. "Apa kau gila aku akan terlambat!" Aku berjalan terburu-buru dan mencari sepatuku."Akhh dimana sepatuku?!""Fallennn...." teriak Cale dari ruang tengah."Apa??!" Bentaku. Cale berlari menghampiriku. "Choco hilang aku tak menemukannya dimana pun.""Ah sudah biarkan saja. Aku bisa buat Choco lainnya. Sudah ya aku pergi dulu." Aku berjalan dan memegang gagang pintu namun aneh Cale tidak meresponku. Aku berbalik dan mendapatinya menangis."Apa kau juga akan menggantikanku jika aku hilang?" Kata-kata itu keluar dari bibir tipis Cale.Ahh.. aku kejam sekali. "Bu-bukan begitu maksudku. Choco mungkin tidak hilang ia hanya bersembunya. Jika nanti lapar juga pasti akan keluar. Cup.. cup.. maafkan aku Cale aku tidak bermaksud." Kataku pada Cale yang menangis seperti anak kecil. Aku jadi merasa bersalah dan memeluknya. Aduh manisnyaaaa><Jika dikira-kira usia Cale sedikit lebih muda dari pada aku. Tingkah lakunya juga masih seperti anak-anak tapi wajahnya... cukup membuatku mimisan.*barks* *barks*Choco yang dicari-cari akhirnya keluar. Cale sangat senang dan mengendong Choco. Aku hanya memandangi mereka dan tersenyum sampai aku ingat kalau aku sudah terlambat ke rapat saham.Dan akhirnya aku benar-benar terlambat. Saham yang aku incar tidak jadi aku beli.Aku memutuskan untuk berhenti dari dunia seni dan beralih kedunia bisnis. Aku menjual galeriku dan mendirikan sebuah resto kecil bergaya eropa.Dengan koki kesayanganku Cale dan inilah akhir kisahku yang bahagia setelah mengalami banyak kesulitan sebelum bertemu Cale.

Menampilkan 24 dari 230 cerita Halaman 7 dari 10
Menampilkan 24 cerita