"Boss tau gak? Kerja sama Bapak itu bukannya makin kaya, saya malah makin mlarat !" —Elliora Arumi Ningtiyas
"Enak saja kamu nyalahin, kamu lupa kalau saya ini atasan kamu? Tidak sopan!" —Fahryan Aliano WijayaEllio menjadi sekretaris sekaligus mata-mata suruhan Nyonya Wijaya untuk mengawasi Bos-nya sendiri, karna sudah bertahun-tahun lamanya, Bos-nya itu tak juga membawa kekasih kehadapan Bibi Ellio—Nyonya Wijaya.
Sebagai seorang Ibu, tentu saja Nyonya Wijaya khawatir, bahkan wanita paruh baya itu sempat berpikir kalau putera sulungnya itu aseksual.
Ellio menerimanya dengan senang hati, dia paling suka dengan yang namanya misteri, apalagi itu menyangkut Bos diktatornya. Kapan lagi dia bisa membully Bos-nya yang sok itu? Hanya saja, setelah sebuah fakta dari Bos-nya terungkap, peran pembully dan korban menjadi terbalik.
Fahrian Aliano Wijaya itu seorang pendendam! —Ellio.
Siapa suruh kamu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya? —Ryan."Boss tau gak? Kerja sama Bapak itu bukannya makin kaya, saya malah makin mlarat !" —Elliora Arumi Ningtiyas
"Enak saja kamu nyalahin, kamu lupa kalau saya ini atasan kamu? Tidak sopan!" —Fahryan Aliano WijayaEllio menjadi sekretaris sekaligus mata-mata suruhan Nyonya Wijaya untuk mengawasi Bos-nya sendiri, karna sudah bertahun-tahun lamanya, Bos-nya itu tak juga membawa kekasih kehadapan Bibi Ellio—Nyonya Wijaya.
Sebagai seorang Ibu, tentu saja Nyonya Wijaya khawatir, bahkan wanita paruh baya itu sempat berpikir kalau putera sulungnya itu aseksual.
Ellio menerimanya dengan senang hati, dia paling suka dengan yang namanya misteri, apalagi itu menyangkut Bos diktatornya. Kapan lagi dia bisa membully Bos-nya yang sok itu? Hanya saja, setelah sebuah fakta dari Bos-nya terungkap, peran pembully dan korban menjadi terbalik.
Fahrian Aliano Wijaya itu seorang pendendam! —Ellio.
Siapa suruh kamu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya? —Ryan.
Bagian 01 : Berkibarnya Bendera Perang
.
Ellio mematut dirinya di depan cermin, berdandan secantik mungkin namun sopan. Dia tak suka mengumbar tubuh. Dia bukan barang lelang yang harus dipernak sana-sini hingga mengkilap dan menarik perhatian orang.
Setelah memoles wajahnya, Ellio meninggalkan kamarnya, dan tak lupa menguncinya. Dia berjalan ke arah pintu sebelahnya, lalu menggedor tanpa sopan-santun. Ellio mendengus saat tak ada jawaban dari dalam kamar itu.
Penghuninya masih tidur.
"Han, gue pergi duluan! Kalo gue nungguin lo, images anak rajin dan baik gue langsung hilang!" teriak Ellio.
"Iya! Astaga, lagian ini masih jam setengah tujuh, lo mau buka gerbang? Udah ah, gue mau lanjut tidur, jangan lupa kunci pintunya, Ell!" sahut Jihan dari balik selimutnya.
Ellio menggeleng mendengar sahutan temannya. Tak membuang waktu, Ellio segera meninggalkan kontrakannya, di salah satu perumahan di daerah Ibu Kota. Dengan menaiki bus trans , tak sampai limabelas menit, Ellio sampai di tempatnya bekerja.
Dia bisa saja naik sepeda motor, hanya saja Ellio itu buta arah. Di kota sendiri saja dia pernah tersesat gara-gara menghindari kejaran polisi, apalagi kini dia ada di kota orang.
Ellio tersenyum sebelum memasuki perusahaan, di hari pertamanya bekerja, dia harus tampil sebaik mungkin. Dia langsung menuju lift, dan menekan tombol lantai paling atas.
"Permisi, Mbak, saya Elliora Arumi Ningtiyas, sekretaris baru—" Sebelum Ellio menyelesaikan ucapannya, Mbak-mbak di depannya terlebih dahulu memotong.
"Oh, Mbak Elliora, langsung masuk saja, Mbak, kemarin Pak Fahri bilang kalau Mbak datang, disuruh langsung masuk saja," ucap Mia seraya tersenyum, dia sekretaris satu. "Ah ya, Saya Mia, sekretaris satu, kalau Mbak butuh sesuatu, panggil saya saja."
Ellio mengangguk-angguk mengerti lalu tersenyum.
"Iya, terima kasih, Mbak Mia, saya permisi," ucap Ellio lalu berdiri di depan pintu.
Ellio ragu sejenak, apakah dia harus mengetuk pintu atau tidak, ya? Masih jam tujuh kurang, kemungkinan Boss nya belum datang, langsung masuk saja!
Perempuan duapuluh satu tahun itu langsung masuk keruangan, Mbak Mia tadi juga menyuruhnya langsung masuk, jadi tidak masalah. Ellio mengangguk-angguk dengan pikirannya. Dia menutup pintu lalu berbalik.
"Astaghfirullah, Ya Allah, Bapak ngagetin saya!" Ellio mengelus dadanya, lalu menatap pria berparas tampan yang duduk arrogant di balik meja kerja.
"Saya bukan bapak kamu," balas Fahryan cuek, lalu menatap Ellio. "Lagipula itu salah kamu yang masuk begitu saja di ruangan saya, tidak sopan."
Ellio mendekati meja Bossnya. Matanya menyipit mengamati Fahryan.
"Bapak sendiri yang menyuruh saya langsung masuk," ucap Ellio pelan, namun masih terdengar oleh Ryan.
Detik itu juga sebuah ingatan terlintas di kepalanya. Suara merdu Bibi Ana mendengung di telinganya, membuat Ellio tanpa sadar mengerutkan dahi.
"Bibi senang sekali kamu menyetujui permintaan Bibi untuk bekerja bersama Iyan. Bibi heran sama anak itu, usianya hampir duapuluh lima tahun, tapi belum juga membawa kekasih, hah..." ucap Bibi Ana dengan raut sedih yang tak disembunyikan.
"Jadi Mas Iyan itu jomblo, Bibi? Pfft—" Ellio menggigit bibirnya untuk menahan tawanya, sungguh lucu orang setampan dan semapan Fahryan Aliano Wijaya seorang jomblo! Pfft!
Tapi mengingat sifat buruk Ryan, sih, tidak heran lagi kalau tidak ada perempuan yang mau.
"Begitulah, Ell. Terakhir kali Iyan bawa kekasihnya itu lima tahun yang lalu. Bibi khawatir kalau gara-gara putus sama kekasihnya, Iyan jadi trauma. Bisa jadi dia... aseksual?" Alis Bibi Ana menukik berpikir keras.
Mendengar itu, Ellio hampir menyemburkan tes yang ada di mulutnya.
Masa iya Boss aseksual? Batin Ellio seraya mengamati Ryan. Matanya menyipit, irisnya bergerak menelusuri bentuk wajah Ryan.
Tidak sengaja mata mereka bertemu, merasa tertangkap basah, Ellio segera berdehem.
"Kamu suka saya?" tanya Ryan dengan entengnya.
"Ih, Bapak ke geer an. Bapak itu gak ganteng-ganteng banget, jadi gak usah sok kegantengan, deh," sahut Ellio.
"Emang saya ganteng," balas Ryan dengan nada pongah.
Ellio mencebik, seakan tak terima dengan ucapan Ryan. Gak percaya gue kalo ini orang bener-bener anaknya Bibi Ana! Sifatnya bener-bener minus, pantes masih jomblo.
Eh, gue juga masih jomblo, deng.
"Ah iya, kenapa Bapak sudah datang jam segini? Ngagetin saya tau," ucap Ellio mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Terserah saya, ini kan kantor saya, perusahaan saya, dan hak saya. Masalah?"
Orang ini ngeselin! Jauh beda sama Bibi Ana! Gerutu Ellio dalam hati.
"Pantas sampai sekarang Bapak itu jomblo, sikap Bapak kaya gitu sih!" omel Ellio pelan.
Rian menatap Ellio datar, lalu kembali fokus ke kertas yang ada di tangannya. "Gak sadar diri."
Ellio langsung bungkam mendengar ucapannya dikembalikan oleh Ryan.
Melihat Ryan tak mengacuhkannya, Ellio mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk di sofa. Lalu menaruh tasnya di sampingnya. Tidak lama setelah itu, Ryan bangkit dari duduknya, dan menghampiri Ellio. Duduk angkuh di depan Ellio.
"Jadi?" tanya Rian, membukan suara.
"Bibi Ana, yang tidak lain tidak bukan adalah Ibu Pak Bos sendiri, yang memiliki hati bagai sutera, ucapannya begitu sopan, bagai teratai putih yang suci—jauh berbeda dengan anak sulungnya yang memiliki sifat berkebalikan dengan Beliau, bahkan memiliki hati hitam bak teratai hitam yang tidak ada tandingannya.
Tidak ada satu kata buruk yang bisa menggambarkan dia, saking hitamnya. Yang tidak lain, tidak bukan adalah Pak Bos—
Bibi Ana yang sudah berbaik hati meluangkan waktu berharganya, sudah menyiapkan surat kontrak kerja saya! Bentar Pak," ucap Ellio lalu segera mengeluarkan tumpukan kertas yang diklip dari tasnya.
"Kamu cocok jadi Kang Bait," balas Ryan tak acuh, seakan sindiran Ellio hanyalah angin lalu yang tidak penting.
"Itu quotes , Pak Bos, bukan bait," elak Ellio.
Ryan mengabakan ucapan tidak penting Ellio, lalu menerima tumpukan kertas berisi kontrak kerja.
"Nah, ini Pak, Bapak baca dulu sajalah! Ingat, jangan dicoret-coret, sayang kertasnya. Semakin banyak kertas yang dibuang-buang, semakin banyak kita kehilangan pohon!" oceh Ellio.
"Hm."
"Pak Bos denger, gak? Ah iya, Pak Bos baca baik-baik yang kalimat yang dicetak tebal. Saya jelasin lagi sajalah, begini, Pak Bos tidak bisa memecat saya sebelum tiga bulan, kalau itu terjadi, maka Pak Bos harus membayar denda ke saya. Begitupun sebaliknya, kalau saya ngundurin diri, saya yang akan membayar denda ke Pak Bos.
Pak Bos ngertikan?"
"IQ saya lebih tinggi dari kamu kalo kamu belum tau," balas Ryan pongah, tanpa melihat Ellio.
Pelipis Ellio berkedut jengkel. Dia segera menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, berulang kali. Mencoba meredam rasa jengkelnya. Oke, kita lihat siapa yang akan terlebih dahulu menyerah! Gue atau Lo yang akan bayar denda, liat aja!
Ellio tersenyum aneh, kemudian dia berdehem. "Pak Bos, saya mau bertanya, Pak Bos itu aseksual ya?"
"....."
Tidak ada tanggapan dari Ryan. Pria itu lebih memilih membaca teliti isi kontrak kerja daripada menjawab pertanyaan Ellio.
Ellio dikacangin. Ellio menggertakkan giginya kesal, dia benar-benar ingin menggigit Ryan untuk menyalurkan rasa kesalnya.
Bagian 02 : Rencana Pembalasan
.
"Kamu suka saya?"
Ellio merutuk di dalam hati saat ketahuan memelototi bosnya. Enak saja dirinya difitnah menyukai bos, dih! Lagipula, darimana bosnya itu punya kepercayaan diri sebegitu tinggi?
"Dih, Bapak itu sok kegantengan. Siapa juga yang suka sama bapak, plis deh pak. Saya itu memelototi bapak, bukan berarti saya suka sama pak bos!"
"Jadi kamu ngaku kalau kamu memelototi bos kamu sendiri? Tidak sopan! Gaji kamu saya potong," ucap Ryan membuat Ellio kicep.
Gadis itu tercengang. Lah, belum juga kerja, masa sudah main potong aja itu gaji?
"Kok gitu pak? Ya Allah, pak, saya itu bahkan belum mulai kerja! Terima gaji juga belum, masa udah main potong, kejam ih," protes Ellio tak terima. Mata bulat gadis itu melotot lucu.
Ryan tak langsung menjawab protesan Ellio. Dia meletakkan kontrak di atas meja lalu bersedekap, menatap Ellio santai, namun tajam.
"Kamu ya, protes terus. Saya itu bos kamu, bersikap sopanlah. Lagipula, kamu cuma bilang kalau saya tidak boleh memecat kamu, bukan memotong gaji kamu kan?"
Ellio tercengang. Mututnya membulat, terbuka lalu tertutup kembali bak ikan koi. Seakan tak percaya apa yang dikatakan Ryan, Ellio segera menyaut kertas kontrak serta aturan di meja lalu segera membacanya kembali.
Dia harus mencari apapun yang berkaitan soal gaji! Enak saja main potong-potong!
"Percuma kamu cari. Soal gaji itu hak saya, wewenang saya, jadi tidak masalah kalau gaji kamu saya potong," ucap Ryan dengan wajah puas saat melihat wajah putus asa Ellio.
"Plis deh pak, jangan main potong-potong dong pak. Saya nabungnya ntar gimana pak? Saya itu dalam mode nona-ratu, pak!"
Satu alis Ryan terangkat. "Nona-ratu?"
"Missqueen," jawab Ellio dengan wajah cemberut. Ryan mendengus mendengarnya.
Ellio kembali menatap Ryan dengan pandangan penuh arti. Tanpa sadar dia memainkan bibirnya. Pantes bosnya masih jomblo, orangnya pelit gitu! Dikit-dikit potong gaji! Batin Ellio.
"Apa?" tanya Ryan saat Ellio masih menatapnya aneh. "Apa sebegitunya kamu suka saya? Saya tau saya itu ganteng."
Ekspresi Ellio berubah datar.
"Pak, entah kenapa saya tiba-tiba merasa mual," denger pak bos kepedean banget! Lanjut Ellio dalam hati.
Ryan terdiam, "...... kamu hamil?"
Ellio tercengang hebat. "...... Ya Allah, pak! Astaghfirullah, gimana saya bisa hamil pak! Masa liatin pak bos saja udah bikin saya hamil! Kira-kira dong bapak ngomongnya. Amit-amit jabang bayi, kalaupun saya hamil, saya harus nikah dulu, baru saya ikhlas lahir batin untuk hamil."
Gadis itu menggerutu tak terima atas tuduhan Ryan. Plis deh, punya pacar juga belum, statusnya juga masih lajang, masa iya dirinya langsung hamil?
Gila, liatin wajah Mas Iyan doang masa langsung hamil? Kenapa gak sekalian aja hamil online!
"Kamu sendiri tiba-tiba bilang perut kamu mual, siapa tahu? Atau, apa mungkin kamu memang hamil anak saya? Kamukan dari tadi liatin wajah ganteng saya terus, jadi tidak heran kalau kamu tiba-tiba hami," ucap Ryan dengan wajah puas atas penderitaan Ellio.
Sejak kapan Mas Iyan jadi konyol begini?! Otak Mas Iyan konslet kayaknya gara-gara kelamaan jomblo! Eh, gue juga jomblo deng.
Eh ralat, gue single. Single high quality ea.
"Ayo, saya antar kamu periksa ke dokter, kita lihat berapa bulan kamu mengandung. Apa kamu ingin makan sesuatu? Mangga muda?" ucap Ryan semakin ngawur, menggoda Ellio benar-benar membuat moodnya baik.
Sekalian balas dendam. Ryan menarik sudut bibirnya puas.
Ellio merasakan urat pelipisnya berdenyut. Jengkel juga lama-lama. Ingin rasanya dia memberikan Ryan jari tengah, namun Alhamdulillah-nya dia masih sadar, jadi Ellio tidak melakukannya. Bisa habis dia kalau melakukannya.
" Stop deh, Pak Bos. Ngomongnya ngawur terus! Bapak punya dendam pribadi ya sama saya? Ngajak ribut mulu dari tadi," keluh Ellio, setelah pikiran soal gaji hilang dari kepalanya.
"Makanya, kamu itu sopan kek ke bos kamu. Atau gaji kamu saya potong lagi?"
"Lah, Pak Bos malah ngingetin saya soal gaji lagi! Aduh pak, saya baru aja move on soal gaji," ucap Ellio.
Ryan menatap malas sekretarisnya. Seakan ingat sesuatu, pria bermata tajam itu berucap, "Kamu bisa mulai kerja setelah jam makan siang. Jadi, sebelum waktu itu, kamu liat-liat dulu tempat kerja kamu sekalian pelajarin tugas-tugas kamu. Kalau masih bingung tanya aja sama Mia."
Ellio mengangguk patuh. "Kalau saya masih bingung?"
"Tanya sama saya, kalau masih gak ngerti, kamu gak ada bedanya sama Dora," ucap datar Ryan, dan dibalas dengusan oleh Ellio.
"Bapak—"
"Saya bukan bapak kamu."
Ellio menatap Ryan datar. "Lalu panggil apa? Kakek? Paman? Atau bibi?" cerocos Ellio.
"Udah ah, Bos. Saya masih mau nanya ini, Pak Bos itu aseksual ya?" tanya Ellio dengan polosnya.
Ryan, "...... Buatin saya kopi, sekarang."
"Lah, kok nyuruh saya pak? Lagian kan waktu kerja saya masih nanti, habis jam makan siang! Lagipula ya pak, kopi itu gak baik, mending teh aja pak!"
"Yaudah teh aja," balas Ryan singkat. "Buatin sana, atau kamu mau gaji kamu saya potong lagi?"
"Ya Allah, pak! Pak Bos dari tadi ngancemnya pake gaji mulu, habis dong kalo gitu ntar gaji aku?" Protes seperti apapun, Ellio tahu akan sia-sia hasilnya. Yang ada dirinya makin frustrasi!
Diam-diam mata bulat Ellio kembali melotot kepada Ryan yang sedang fokus ke dokumen di tangannya. Namun, kalimat tiba-tiba Ryan membuat Ellio tersedak ludahnya sendiri.
"Awas, nanti kamu hamil kalau liat saya terus," ucap Ryan tanpa menoleh ke arah Ellio.
Ellio menggerutu merutuki kepedean bosnya yang berada dalam taraf over. Dengan perasaan jengkel, gadis itu keluar dari ruangan Ryan. Tepat setelah menutup pintu, Ellio menyumpahi Ryan.
"Gue sumpahin Pak Bos gak jadi motong gaji gue! Kalo bisa dinaikin, dikit gapapa, Alhamdulillah," ucap Ellio seraya menyelonong pergi. Tak henti-hentinya bibirnya berkomat-kamit mengucapkan doa. Namun, baru beberapa langkah, Ellio langsung berhenti.
Berpikir sejenak.
"Lah, gue kan gak tau dimana dapurnya..."
.
"Kalo Pak Bosnya itu beneran aseksual, gue kerjain ah! Siapa suruh nindas gue mulu!"
Ellio kembali ke ruangan Ryan dengan nampan berisi secangkir teh manis. Sekilas tak ada yang berbeda dengan gadis itu, namun jika diperhatikan baik-baik ada sedikit perbedaan.
Itu di kemeja Ellio. Dua kancing atasnya terbuka, serta rambutnya disanggul yang menyisakan beberapa helai di depan telinga. Rencana pertama, menggoda Pak Bos.
"Ini pak tehnya!"
Setelah meletakkan cangkir itu di meja, Ellio mendekati Ryan, dan berdiri di sampingnya.
"Pak, liat penampilan saya. Udah kaya gitar spanyol belum?"
Ryan mengangkat wajahnya, menatap Ellio yang ada di sampingnya.
"Apa? Sapu lidi?"
"Kalo budeg kira-kira dong pak, dari gitar spanyol ke sapu lidi itu jauh banget loh pak!"
"Nah, itu kaya kamu. Jauh banget," balas Ryan tajam.
Astaghfirullah, untung gue sabar, kalo gak, udah gue tabok itu mulut pake sepatu!
Ellio cemberut, belum juga mulai, rencananya sudah gagal. Tak berjalan lancar, Ellio kembali mengancingkan kemejanya seperti semula.
"Seksi gini dibilang sapu lidi," gerutu Ellio pelan, namun masih bisa di dengar Ryan. "Udah ah pak, badmood saya gegara Pak Bos, saya pergi dulu!"
Selepas pintu ruangan tertutup, Ryan mengangkat kepalanya dan menatap pintu itu dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
Belum genap dua puluh empat jam Ellio bekerja di tempat barunya, dia sudah hampir mengangkat bendera putih—dia menyerah. Tekanan darahnya benar-benar diuji dan dipermainkan. Sebelumnya, tekanan pada darahnya di bawah normal, namun dia yakin sejak dia bekerja di bawah Boss Ryan, tekanan darahnya akan langsung melesat naik.
Ellio memejamkan matanya sejenak. Dia menghela nafas panjang. Kelakuan pria kekanakan yang melabeli dirinya (Ryan) sebagai atasan Ellio—membuat Ellio hanya bisa berucap istighfar berulang. Sejak bekerja di bawah komando Ryan, Ellio jadi lebih sering beristighfar.
Astagafirullah...
Pak bosnya benar-benar menghayati peran sebagai atasan. Lihat saja sekarang. Ellio harus rela merubah jabatan sekretarisnya menjadi seorang asisten.
Asisten rumah tangga tepatnya.
Singkatnya, seorang pembantu.
" Astaghfirullah, untung bos. Kalau gak, udah gue jitak itu kepala," gerutu Ellio seraya memunguti beberapa lembar kertas serta bolpoin yang tercecer di lantai—dekat meja kerja Ryan.
"Di belakangmu. Ambil cepat."
Ellio segera menoleh ke belakangnya. Dan benar saja, ada sebuah bolpoin milik Ryan di sana. Ya Allah, bukankah di belakangnya tadi sudah bersih, alias tidak ada bolpoin? Kenapa sekarang muncul benda itu?
Fahryan Aliano Wijaya, aku mengutukmu menraktirku makan nanti malam!
"Pak bos! Berhenti bermain-main deh! Berhenti menjatuhkan barang-barang dengan sengaja ke lantai! Dasar kurang kerjaan!"
Ryan menatap Ellio tak acuh. "Saya tidak menjatuhkannya."
"Bohong. Jelas-jelas pak bos melakukannya degan sengaja!"
"Saya tidak melakukannya. Tidak baik menuduh orang, apalagi yang kamu tuduh itu bos kamu sendiri."
Bisa gak jangan bawa-bawa jabatan di sini? Ellio merengut, lalu menatap sengit Ryan yang duduk dengan pongah di kursinya.
Ryan membalas tatapan gadis yang sekarang tengah berjongkok seraya memunguti barang-barang yang memang sengaja dia jatuhkan. Rasanya menyenangkan melihat sekretaris cerewetnya itu kesusahan.
Pria itu mengulas senyum kecil.
"Pak bos, jangan ngelak lagi, deh. Dan jangan bawa-bawa jabatan di sini, pak! Sekarang saya ingin menuntut keadilan! Pokoknya, sekarang pak bos telah menjadi tersangka. Kalau pak bos ketahuan menjatuhkan barang-barang lagi dengan sengaja, saya tidak akan tinggal diam.
Tapi jikalau pak bos tidak ingin repot-repot dengan tuntutan saya, pak bos cukup mengembalikan gaji saya yang telah pak bos potong, dan saya akan menganggap ini tidak akan terjadi," cerocos Ellio panjang. Dan akhirnya maksud dari ceramah panjang Ellio terungkap di kalimat terakhir.
Ryan menaikkan satu alisnya.
"Saya tidak melakukannya. Dan saya juga bisa menuntut kamu."
"Aduh pak bos, tinggal mengatakan sejujurnya apa susahnya sih?" Ellio merengut. Bayangan gajinya yang berkurang benar-benar membuatnya frustrasi.
"Saya terlalu sibuk untuk hanya sekedar menjatuhkan barang-barang dengan sengaja," balas Ryan cuek.
"Tapi pak bos benar-benar melakukannya! Jangan mengelak, ah," ucap Ellio dengan kesal. Walaupun begitu dia masih dengan patuh memunguti barang-barang yang entah kenapa tidak ada habisnya.
"Kamu itu, kamu menuduh bos kamu sendiri? Mau gaji kamu saya potong lagi?"
Ellio langsung mengangkat wajahnya lalu menatap Ryan horror. Dia tercengang mendengar penuturan bosnya yang dictator dan suka seenaknya itu. Maaf, apa yang bosnya katakan tadi? Akan memotong gajinya lagi?
Astagfirullah, kalau begini terus, bisa-bisa saat gajian dia hanya akan menerima amplop kosong saja.
Bosnya itu sungguh keterlaluan!
"Pak bos punya dendam pribadi ya sama saya?" gerutu Ellio, lalu memutus pandangannya dari wajah pongah Ryan. Bisa khilaf kalau dia terlalu lama menatap wajah bosnya. Khilaf lalu menggigit kepala Ryan sampai kehabisan darah!
Ha. Ha.
Ellio jadi gila sendiri memikirkannya. Akhirnya Ellio menyerah beradu argument dengan sang bos. Kalau bos kejam itu sudah membawa-bawa gaji, Ellio bisa apa?
"Mungkin," gumam Ryan pelan. Entah Ellio mendengarnya atau tidak. Namun, sepertinya gadis itu tak mendengarnya karna terlalu sibuk menggerutu.
"Awas saja kalau si menyebalkan itu menjatuhkan barang-barang dengan sengaja—"
"Ada pen tak jauh dari kamu. Ambilkan. Aku tak sengaja menjatuhkannya."
—lagi.
Tak sengaja menjatuhkan dia bilang? Ini tidak bisa dibilang 'menjatuhkan' lagi, tapi sudah tahap 'melempar'!
Pak bos kejam itu pasti sengaja melemparnya! Benar-benar... aku ingin menggigitnya!
Dengan perasaan kesal, Ellio membuang lembaran kertas yang sudah terkumpul di tangannya. Lalu bangkit dan berjalan mendekati kursi Ryan dengan tergesa. Mata bulatnya melotot lucu. Menatap Ryan sengit.
"Kenapa?" tanya Ryan seraya mengangkat satu alisnya—menatap Ellio.
"Saya tidak peduli, pokoknya saya akan menggigit pak bos!"
Detik selanjutnya, Ellio menerjang Ryan. Dia duduk di pangkuan Ryan lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher sang bos. Mulutnya terbuka, menampilkan gigi putih yang tersusun rapi.
Ryan tak bereaksi. Dia melingkarkan tangannya ke tubuh Ellio agar sekretarisnya itu tidak terjatuh. Akan sangat merepotkan jikalau gadis itu terjauh. Karna, Ryan yakin jikalau gadis itu jatuh, Ellio pasti akan menarik dirinya ikut serta.
Dan berakhir dengan keduanya bertumpang tindih di lantai.
Krauk.
Gigi-gigi ramping Ellio tertancap di leher Ryan. Tidak terasa sakit memang, karna Ellio sengaja tidak menggigitnya keras. Kalau bosnya itu tidak terima, lalu memotong gajinya lagi, bagaimana coba?
"Kamu tahu, kita seperti tengah melakukan hubungan terlarang," ucap Ryan penuh arti. Dia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian kecil di sana.
Mendengar ucapan tiba-tiba Ryan, Ellio hampir tersedak ludahnya sendiri. Segera dia melepaskan gigitannya, tak berani menatap sang bos. Malu. Dia yakin wajahnya seperti kepiting rebus, memalukan.
Dan lebih memalukan lagi jikalau Ryan tahu dan berakhir dengan olok-olok di mulut berbisa Ryan.
Dalam keheningan, tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar. Ellio yang membelakangi pintu terpaksa menoleh ke belakang. Wajah merahnya lenyap seketika—melihat sekretaris satu berdiri membatu di depan pintu.
Itu Mia.
Ekspresi ketiganya beragam. Mia dengan wajah terkejutnya—melihat Ellio duduk di pangkuan Ryan, Ellio dengan wajah paniknya—takut terjadi kesalahpahaman, dan Ryan yang... datar-datar saja.
"M—Maaf, Pak Fahri! Saya tidak tahu kalau Pak Fahri dan Mbak Ellio sedang... M-maafkan saya! Saya akan pergi dulu, silahkan dilanjutkan!" Mia langsung berteriak dan menutup pintu dengan keras.
Ngomong-ngomong...
"Apa yang harus dilanjutkan?! AAAAA! Ini semua gegara pak bos! Semua salah pak bos! Imej saya pasti sudah buruk di mata Mbak Mia! Pokoknya pak bos bersalah! Saya mau kenaikan gaji! Dan lepaskan saya!" Ellio menggeliat brutal, memukuli Ryan dengan asal. Matanya melotot kesal dengan wajah memerah—entah malu atau marah.
Karna Ellio bilang untuk melepaskan gadis itu, jadi Ryan melepaskannya. Dan sesuai dugaan Ryan, Ellio jatuh ke lantai dengan tidak elitnya. Siapa suruh keras kepala? Ryan mendengus.
"Pak bos benar-benar keterlaluan! Huhuhu... sakit~" Ellio meringis, mengusap bagian yang mencium lantai. Lalu dia segera bangkit, menjaga jarak sejauh mungkin dari Ryan.
"Pokoknya pak bos harus tanggung jawab kalau imej saya jatuh! Pasti Mbak Mia mikir yang nggak-nggak. Huhuhu... ini semua salah pak bos. Saya kesal, ah. Ngambek!"
Ryan mengangkat alisnya, kemudian terkekeh kecil. Menertawakan Ellio saat gadis itu sudah keluar dari ruangannya. Ryan mengusap gigitan Ellio di lehernya, lalu bergumam, "Dia menggigitnya di sini. Pasti akan terlihat jelas."
Begitu Ellio keluar dari ruangan Ryan, dia segera menghampiri meja Mia. Berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang jelas-jelas merugikan dirinya!
"Mbak Mia! Mbak Mia, ini semua salah paham. Ini semua tidak seperti yang Mbak Mia lihat. Saya tadi hanya sedang—"
Mia memotong ucapan Ellio segera. Tangannya menggenggam erat tangan Ellio, lalu menatap Ellio serius.
"Iya, saya mengerti. Mbak Ellio tenang saja. Saya mengerti bagaimana perasaan Mbak Ellio, pasti berat menjadi kekasih gelap Pak Fahri," ucap Mia dengan wajah prihatin, dan Ellio tercengang mendengarnya.
Kekasih gelap? Apa maksudnya itu?!
"Gak Mbak Mia, bukan—"
"Apa? Jadi Pak Fahri punya kekasih gelap? Dan kekasih gelapnya itu Mbak Ellio? Astaga... pantas Pak Fahri gak pernah keliatan sama cewe. Ternyata Pak Fahri udah punya pacar gelap, toh. Ini baru berita yang hebat!" pekik Selwinda yang tak sengaja mendengar percakapan Mia dan Ellio. "Gue harus membagi berita ini ke yang lain!"
Sebelum Ellio sempat menghentikannya, Winda sudah kabur terlebih dahulu.
Akhirnya, Ellio mendapat kisah yang tragis. Kekasih gelap? Yang benar saja! Meskipun dia menjadi kekasih gelap, jelas bukan Ryan yang akan menjadi kekasihnya. Dia tidak mau!
Ellio menangis tanpa air mata. Ini semua gegara pak bos!