Kalau tidak salah ingat, namanya Aksara—pria yang sedang Mikaela tunggu sejak tiga puluh menit yang lalu, sekaligus calon suaminya. Nama panjangnya Mika lupa. Intinya, maminya bilang, Aksara berusia 34 tahun, seorang dokter spesialis. Entah spesialis apa Mika tidak ingat. Lagi pula, tidak penting juga. Jika menikah nanti, Mika akan tahu dengan sendirinya.
"Mikaela?"
Mika mengangkat kepala saat namanya disebut. Seorang pria berkemeja dongkerlah yang menyapanya. Dengan rambut klimisnya yang beberapa helai jatuh ke dahi.
"Saya Aksara," tambah pria itu.
"Oh." Mika menarik napas pendek. Akhirnya datang juga.
Tanpa dipersilakan, Aksara sudah mengambil duduk di hadapan Mika. Rahang tegasnya terlihat ketat tanpa guratan senyum sedikit pun. Sepasang alisnya yang tebal dan sorot mata sayu di balik bingkai kacamata langsung menjadi santapan tatap Mika. Tubuhnya terlihat tegap dengan otot lengan yang tercetak di balik kemejanya yang sedikit kusut.
Not bad.
Setidaknya bukan pria berperut buncit seperti yang ada di bayangannya.
"Langsung saja." Pria itu bersuara lagi, terdengar berat dan sedikit serak. Lalu, mengeluarkan lembar kertas dari tas kerja yang dibawanya.
Sementara Mika, mengamati itu tanpa suara. Bagaimana lembaran kertas yang kemudian disajikan Aksara di hadapannya, selain ada lembaran lainnya di depan pria itu sendiri.
Surat Perjanjian Pernikahan
Kira-kira begitulah judul tulisan di lembar kertas itu. Dengan nama lengkap Mika yang sudah tertulis di atasnya.
Hm. Oke. Jadi inilah kehidupan pernikahannya nanti.
"Silakan baca dan pahami."
Menghela napas pendek, Mika menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sebelum menarik kertas itu di tangannya. Meski malas sekali, pada akhirnya Mika tetap membaca poin-poin isi yang tertulis rapi di sana.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN
Kami yang bertanda tangan di bawah ini:
Pihak PertamaNama: Aksara Levian WiranataSelanjutnya disebut Pihak Pertama .
Pihak KeduaNama: Mikaela Amora RespatiSelanjutnya disebut Pihak Kedua .
Kedua belah pihak, dengan kesadaran penuh dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun, sepakat untuk mengikatkan diri dalam suatu perjanjian pernikahan dengan ketentuan sebagai berikut:
Pasal 1 — Tujuan Perjanjian
Perjanjian ini dibuat untuk mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak selama berlangsungnya ikatan pernikahan, guna menjaga kenyamanan, kehormatan, dan batas kehidupan pribadi masing-masing pihak.
Pasal 2 — Hak Para Pihak
1. Pihak Kedua berhak memperoleh kebutuhan hidup yang layak dari Pihak Pertama, meliputi sandang, pangan, dan papan sesuai standar kehidupan seorang istri.
2. Pihak Kedua berhak atas privasi penuh. Pihak Pertama tidak berhak menanyakan, menyelidiki, atau mencampuri urusan pribadi Pihak Kedua, termasuk namun tidak terbatas pada latar belakang, kegiatan pribadi, atau hubungan sosialnya di luar rumah.
3. Pihak Pertama juga berhak atas privasi penuh. Pihak Kedua tidak diperkenankan menanyakan, menyelidiki, atau mencampuri urusan pribadi Pihak Pertama dalam bentuk apa pun, baik secara langsung maupun tidak langsung.
4. Pihak Kedua berhak menempati kamar pribadi yang layak di rumah tinggal yang juga ditempati oleh Pihak Pertama.
5. Pihak Pertama berhak atas ketenangan, kenyamanan, dan ruang pribadi di rumah tersebut. Pihak Kedua dilarang memasuki kamar pribadi Pihak Pertama tanpa izin.
6. Pihak Kedua berhak menerima tunjangan bulanan sebesar Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah) yang wajib dibayarkan oleh Pihak Pertama setiap awal bulan.
7. Pihak Kedua berhak menjalankan aktivitas pribadi, sosial, atau profesional sepanjang tidak menimbulkan skandal atau mencemarkan nama baik Pihak Pertama, begitu pun sebaliknya.
8. Pihak Pertama berhak mempertahankan reputasi dan citra keluarga sesuai kedudukannya di masyarakat.
Pasal 3 — Kewajiban Para Pihak
1. Kedua pihak wajib saling menghormati, menjaga batas pribadi, dan menciptakan suasana rumah tangga yang damai.
2. Kedua pihak wajib menjaga citra dan reputasi mereka di hadapan publik sebagai pasangan suami istri yang normal dan harmonis.
3. Pihak Pertama berkewajiban memenuhi seluruh kebutuhan materiil sebagaimana disepakati.
4. Pihak Kedua berkewajiban menjaga kerahasiaan isi perjanjian ini dan tidak mengungkapkannya kepada pihak mana pun tanpa izin tertulis dari Pihak Pertama.
5. Kedua pihak wajib menahan diri dari segala tindakan, ucapan, atau pertanyaan yang dapat menyinggung, mencampuri, atau mengganggu ranah pribadi pihak lainnya.
6. Kedua pihak wajib menghindari segala bentuk perselisihan terbuka yang dapat menimbulkan perhatian publik atau mencoreng nama baik masing-masing.
Pasal 4 — Jangka Waktu Perjanjian
Perjanjian ini berlaku selama dua (2) tahun terhitung sejak tanggal pernikahan dilangsungkan.Setelah jangka waktu tersebut berakhir, kedua pihak sepakat untuk mengakhiri pernikahan secara baik-baik (cerai) tanpa tuntutan apa pun, kecuali disepakati lain secara tertulis sebelum masa berlaku berakhir.
Pasal 5 — Penutup
Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua pihak dalam keadaan sadar, tanpa paksaan, dan dengan itikad baik.
Dibuat dan ditandatangani pada tanggal 22 Oktober 2024.
Mika terdiam beberapa saat usai membaca surat perjanjian tersebut. Jadi, pernikahan yang akan ia jalani adalah pernikahan kontrak dengan masa kontrak selama dua tahun?
Tarikan napas si wanita terdengar sebelum kemudian membangun senyumnya dan meletakkan kembali kertas itu di atas meja. Sikunya bertumpu lagi di sana, juga telapaknya tempat ia menopang wajah. Memerhatikan wajah tak berekspresi calon suaminya di depan.
"Papi nggak kasih tahu aku kalau ini pernikahan kontrak," kata Mika.
"Seperti yang kamu baca di pasal tiga ayat empat, kamu harus merahasiakan surat perjanjian ini dari siapa pun, tidak terbatas pada keluarga kamu, keluarga saya, teman dekat, termasuk kedua orang tua kamu sendiri."
Mika mengangguk-angguk. Jadi Aksara tidak ingin siapa pun tahu termasuk kedua keluarga mereka.
"Tapi Papi nikahin aku sama kamu supaya Respati Farma dapat suntikan modal dari Raksa Medica," kata Mika lagi.
"Surat perjanjian ini tidak ada urusannya dengan perjanjian bisnis antara Respati Farma dan Raksa Medica."
Mika mengangguk lagi. Apakah dia punya pilihan? Oh, tentu tidak. Papinya tahu pun isi perjanjian ini, Mika pasti akan tetap dipaksa menikah. Demi menyelamatkan bisnis turun temurun keluarga. Perusahaan farmasi yang sudah dibangun sejak zaman kakek buyutnya. Sebagai anak bungsu yang tidak memiliki banyak hak di keluarga, Mika diwajibkan mematuhi seluruh perkataan kedua orang tuanya.
Wanita itu menarik lagi lembar kertas perjanjian pernikahan tersebut. Tertulis ada beberapa hak yang Mika miliki. Hak yang lebih banyak ditawarkan ketimbang yang miliki di dalam keluarganya sendiri. Senyum wanita itu pun mulai terulas sedikit.
"Jadi kalau kita cerai nanti, nggak akan mempengaruhi perjanjian bisnis antara Respati Farma dan Raksa Medica, kan?" Mika harus memastikan. Sebab jika dia bodoh dengan langsung tanda tangan, Papi akan menggantungnya hidup-hidup karena membahayakan bisnis keluarga.
Anggukan kaku dari Aksara membuat Mika sedikit lega.
Bukankah Mika aman? Dia tidak akan digantung Papinya jika nanti bercerai dari Aksara. Yang terpenting, Respati Farma dapat terselamatkan.
"Oke." Mika pun merogoh tasnya, mengeluarkan pulpen dari sana sebelum menandatangani surat perjanjian di atas meja.
Dilihatnya Aksara melakukan hal yang sama. Kemudian mereka bertukar kertas dan memasukkan surat masing-masing ke dalam tas keduanya.
Aksara berdiri, mengulurkan lengannya di hadapan Mika. Maka Mika pun bereaksi yang sama. Berdiri, membalas uluran tangan tersebut.
"Kita bertemu lagi di hari pernikahan," kata Aksara.
Masih mempertahankan senyum tipisnya, Mika mengangguk kecil. "Oke."
"Saya nggak perlu antar kamu pulang, kan?"
Mika menggeleng. "Nggak perlu. Aku bawa mobil."
"Good, then." Aksara berlalu.
Begitu pula Mika yang menarik tasnya sebelum melangkah pergi keluar restoran. Mereka berpisah, mengambil arah langkah yang berbeda.
Dua tahun menjadi istri orang? Mika rasa tidak masalah. Menempuh pendidikan kedokterannya selama tujuh tahun saja Mika sanggup. Meski, Papinya harus keluar uang miliaran demi gelar dokter yang Mika dapatkan.
"Ini gimana, sih? Udah satu jam saya nunggu belum dipanggil juga? Nggak dengar itu anak saya batuknya nggak berhenti-berhenti dari tadi?!"
"Mohon maaf ya, Ibu, dokternya masih dalam perjalanan."
Selain roma antiseptik yang masuk ke dalam penciumannya ada sepenggal percakapan yang Mika dengar begitu mendorong sebuah pintu kaca di hadapannya. Senyum tipisnya tersaji di bibir, melewati keramaian dan wajah-wajah pengunjung yang mengetat tak sabaran. Sedang di meja pendaftaran—Mika melirik sekilas bagaimana separuh senyum perawat yang tersaji pada si ibu yang datang marah-marah.
"Dari tadi masih dalam perjalanan terus? Udah satu jam lebih, loh. Seharusnya kalau dokternya belum datang, jangan buka pendaftaran! Pantes aja orang-orang pada berobat ke luar negeri kalau dokter di sini aja datangnya telat terus!"
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Ibu. Mohon ditunggu sebentar lagi, ya."
Percakapan itu menghilang seiring dengan langkah Mika yang meninggalkan ruang depan. Heels tingginya yang mengetuk lantai keramik putih, dengan menenteng sebuah tas maroon juga jas kerjanya, wanita itu masuk ke dalam ruang yang lain.
Ruang kerjanya.
Bibirnya mulai bersenandung pelan. Irama langkahnya masih terus terdengar. Menuju sebuah meja kerja, menarik doctor coat —seragam kerjanya—sebelum memakai kain itu melapisi blus satin yang dikenakannya. Tak lupa, menggerai rambut hitam panjangnya yang bergelombang, sebelum mendaratkan duduknya pada kursi empuk yang sengaja ia pesan agar membuat duduknya di ruangan ini nyaman.
Beberapa detik kemudian, pintu ruangannya terketuk. Seorang wanita dengan masker mulut yang menutupi separuh wajah datang mendekat. Membawa sebuah clipboard dalam tangannya.
"Selamat siang, Dok."
"Siang, Din." Mika balas tersenyum manis. Tangannya terlipat di atas meja, menatap Dina— front nurse yang mendekat ke mejanya.
"Sudah ada pasien ya, Dok," kata Dina, menyerahkan clipboard tersebut pada Mika.
"Keluhannya apa?" tanya Mika.
"Demam dan batuk berdahak, Dok."
"Anak-anak?"
"Betul, Dok."
"Nggak ada luka luar, kan?"
"Tidak ada, Dok."
"Beset-beset memar habis jatuh?"
"Tidak ada, Dok."
"Oke, good. Suruh masuk aja."
"Baik, Dok."
Dina pamit, kembali meninggalkan Mika yang langsung membuka laci, mengeluarkan masker dari dalamnya. Kemudian, membuka map berisi rekam medis pasien, si bocah lima tahun yang tak lama kemudian masuk ke dalam ruangannya bersama sang ibu.
Ibu muda yang tadi marah-marah di meja administrasi.
Senyum manis Mika di balik masker mulai tercetak lebar. Menyapa dengan begitu ramah pasien dan wali pasiennya yang berwajah masam.
Oh, tentu saja Mika tahu alasannya. Pasti karena sudah menunggu terlalu lama. Ya, jangan salahkan Mika. Salahkan saja jalan raya dan rumah suaminya yang sangat jauh itu. Kliniknya ini berada di Alam Sutra, sementara rumah Aksara, berada di Kota Wisata Cibubur. Ujung ke ujung. Jalan raya yang padat membuat Mika stuck di jalan berjam-jam. Hari ini khususnya, jalanan lebih padat dari biasanya. Meski, biasanya juga Mika masih sering terlambat, sih. Tapi ya, paling hanya beberapa menit. Tidak sampai lebih satu jam seperti ini. Jangan dipikir Mika juga senang bermacet-macetan di jalan.
Namun, ya sudah. Mau bagaimana lagi dibuat? Mika terpaksa masih harus menanggung kemacetan Cibubur-Tangerang selama satu tahun ke depan.
***
"Aksara udah pulang, Bi?"
Adalah pertanyaan ke sekian yang Mika tanyakan pada ART rumahnya—rumah Aksara.
Bi Jum, atau lengkapnya Juminten, yang sedang mengangkut piring kotor bekas camilan Mika menatap sang nyonya.
"Belum, Bu."
Mendengar jawaban itu, Mika mencebik. Kakinya yang sedang berselonjoran sofa meronta-ronta tak senang. Sejak sore, dia sudah tiba di rumah. Bersantai, menikmati camilan sembari menunggu suami pulang, sembari juga ... melihat-lihat tas-tas lucu di layar ponselnya.
"Kok belum pulang juga, sih?!" keluhnya tak senang.
"Mana tahu bapak lagi ada operasi, Bu. Ibu coba telepon aja," saran Bi Jum.
Menarik napasnya panjang, Mika cemberut. Bukan saran yang bagus untuk menghubungi Aksara. Apalagi, masih jam 7 malam. "Yang ada aku diomelin, Bi. Dia kan kerjanya ngomel-ngomel terus."
"Ya udah kalau begitu Ibu tunggu aja. Mungkin sejam dua jam lagi bapak pulang."
Mika kembali menendang-nendang. Juga tubuhnya yang meronta-ronta bak cacing kepanasan. "Lama bangeeeet, Bi. Nanti ini tasnya keburu dibeli orang."
Bi Jum malah meringis kecil. Menepuk-nepuk kecil lengan Mika. "Yang sabar ya, Bu."
Ih, sumpah! Mana bisa Mika sabar? Ini tas cuman tersisa satu. Mika sudah sangat menginginkannya. Sayangnya, uang bulanannya dari Aksara sudah hampir habis dan tidak cukup untuk membeli tas ini. Kartu kreditnya juga sudah mencapai limit. Tidak ada solusi lain selain meminta Aksara untuk membayarkan tasnya ini.
Sayangnya, Aksara malah entah di mana!
Mika curiga, Aksara bukan di rumah sakit tapi sedang bertemu pacarnya.
Huft, sebal sekali!
Sepeninggalan Bi Jum, Mika bangkit dari rebahnya. Duduk dengan kaki bersila meraih ponsel. Bibir bawahnya digigit tipis. Mempertimbangkan apakah harus ia telepon Aksara saat ini juga atau tidak. Pasalnya, Aksara suka marah kalau ditelepon saat sedang kerja.
Tapi kan, belum tentu juga Aksara masih bekerja? Bisa saja kan, dia sedang bersama pacarnya? Kalau Aksara tidak pulang dan menginap di rumah pacarnya bagaimana? Mika bisa kehilangan tas cantik itu! Sebab, beberapa kali, Aksara tidak pulang. Bilangnya sih, tidur di rumah sakit karena baru selesai operasi dini hari. Tapi, Mika tidak yakin. Yakinnya Mika adalah Aksara menginap di rumah pacarnya.
Oke, baiklah. Dari pada kehilangan tas, Mika memilih untuk dimarahi saja. Yang penting, besok, dia sudah harus memeluk tas cantik yang hanya tersisa satu itu.
Menguatkan tekad, Mika pun benar-benar menghubungi suaminya. Suami yang sudah lima bulan menikahinya.
"Halo, Aksara?" Suara wanita itu dibuat selembut mungkin saat Aksara menjawab panggilannya di seberang.
"Kenapa?" Suara datar Aksara terdengar.
"Pulangnya masih lama, nggak?"
"Kenapa?"
Mika cengengesan. "Kan begini. Ada tas—"
"Jatah kamu bulan ini sudah habis. Sudah, saya mau visit pasien." Aksara memotong ucapannya dan memutuskan sambungan tanpa hati.
Mika langsung melempar ponselnya. Menjerit kesal—setengah menangis karena Aksara yang begitu kejam. Tubuhnya merebah lagi di atas sofa, meronta-ronta tak karuan berikut kakinya yang menendang-nendang. Kenapa dia punya suami pelit sekali?!
Padahal, Mika tidak akan meminta banyak. Harga tas ini cuman lima puluh juta, kok. Tidak sebanding dengan penghasilan Aksara sebagai dokter spesialis orthopedi dan juga wakil direktur Raksa Medica Hospital Cibubur. Belum lagi, Aksara adalah cucu laki-laki si tuan besar komisaris utama Raksa Medica Group. Sahamnya pasti ada di mana-mana.
Tapi, kenapa sama istrinya bisa sepelit itu?!
Padahal kan, punya istri seorang Mikaela Respati juga tidak akan lama-lama. Satu tahun lagi mereka akan bercerai, kok. Kenapa Aksara jahat sekali tidak mau memberikan apa yang Mika inginkan? Cuman sebuah tas, loh?
***
Tidurnya semalam amat tidak nyenyak. Mika berkali-kali bermimpi buruk. Tentu saja, bermimpi soal tasnya yang sudah berada di pelukan perempuan lain. Mika sampai menangis dalam mimpi itu, terpaksa harus merelakan tas cantik incarannya.
Hingga saat bangun, wajahnya sembab. Rambut panjang bergelombangnya sudah acak-acakan tak karuan. Meski begitu, Mika tak berniat untuk berbenah. Begitu sadar telah pagi, Mika langsung bangkit dari ranjang. Berlari keluar kamar, menyoroti dengan laser mematikannya pada sang suami yang sedang asyik menikmati sajian pagi di meja makan.
"Ehem." Mika berdeham, sengaja menarik perhatian pria itu.
Sialnya, Aksara hanya meliriknya sekilas tanpa minat.
"Helloooow? Dokter Aksara yang pelit sama istrinya sendiri?"
Lagi, Aksara hanya melirik sekilas. Juga, mengibaskan tangan kanannya yang menganggur sebab tangan kirinya sedang memegang ipad.
" Mandi. Saya hampir nggak bisa bedain kamu sama kuntilanak."
Mendengar itu, Mika melotot tajam. Dipukulnya keras lengan Aksara yang tak bergeming.
"Jangan ngomong sembarangan. Kalau orangnya dengar terus datang ke sini gimana?" geram Mika, bicara dengan bibir menipis. Eh, tapi yang disebut Aksara barusan bukan orang, sih.
Aksara malah tak menyahut lagi.
Melihat respons pria itu, bibir Mika pun semakin menipis kesal. Ditariknya bangku di samping si pria, lalu mendaratkan duduknya di sana. Tak lupa, sengaja dijauhkannya secangkir kopi hitam yang tampaknya baru sedikit dinikmati sang tuan.
Aksara pun meliriknya. Membuat Mika langsung menyipitkan mata, berusaha membuat tatapan tajam yang membuat Aksara takut. Sayangnya, Aksara tidak terlihat takut sama sekali.
"Mandi, Mikaela. Kamu nggak mau berangkat ke klinik?"
Mendengar kata 'klinik' Mika langsung menghela napasnya panjang. Kepalanya jatuh terkulai di atas meja dengan rambut panjangnya yang nyaris menutupi sepenuhnya.
Ah, sial. Mika ingat, dia masih harus bekerja. Jadwal praktiknya yang hanya di satu klinik sebenarnya hanya dua kali seminggu, di hari Selasa dan Rabu. Dan hari ini, masih hari Rabu. Artinya, Mika masih harus berperang dengan jalan raya yang padat merayap.
Ih, Mika malas sekali! Dia kira, dirinya bisa berhenti bekerja saat menikah dengan Aksara. Sialnya, kakeknya Aksara malah heboh menyuruh Mika melanjutkan pendidikan spesialis yang mana Mika sama sekali tidak mau. Maka selain mencoba menghindari pertemuan dengan kakeknya Aksara, Mika sengaja pura-pura sibuk bekerja.
Mika memiringkan kepalanya. Membuat pipi kanannya menempel pada meja. Tak lupa menyingkirkan rambut yang menutupinya, Mika pun memandang sang pria.
"Aksara," panggil Mika.
"Apa?"
Sekali lagi, Mika menarik napasnya panjang. "Aku nggak boleh minta uang lagi? Uangku habis."
"Nggak."
"Kenapa?"
Aksara menoleh padanya. "Saya kasih kamu seratus juta setiap bulan."
"Tapi itu kan aku masih harus bayar kartu kredit."
"Yang pakai kartu kreditnya siapa?"
"Aku."
"Itu tahu jawabannya."
Mika mencebik. Percuma punya suami kaya tapi medit!
"Itu pun kamu masih curi-curi kesempatan kirim virtual account ke saya," sambung Aksara.
Mika merengek-rengek. Ya bagaimana lagi? Penghasilan satu-satunya dia cuman dari Aksara. Papinya sudah tidak mau lagi mengirim uang, apalagi membayarkan tagihan kartu kreditnya. Gajinya sebagai dokter? Mana bisa diharapkan! Mika hanya praktik di sebuah klinik kecil di pinggir kota. Cuman dua kali seminggu pula. Terkadang saja, Mika tidak mau menerima gajinya saking sedikitnya.
Aksara tiba-tiba bangkit dari kursi, membuat Mika kelabakan dan ikut berdiri. Pria itu tampak bersiap pergi.
"Mau ke mana?!" tanya Mika.
"Kerja, lah. Apalagi?"
Mika berdecap. "Buru-buru banget, sih? Kopi kamu belum habis." Mika melirik kopi si pria yang masih setengah. Dan juga, Mika harus mengulur waktu! Tujuannya belum tercapai dan Aksara tidak boleh pergi lebih dulu.
Sayangnya, Aksara mana pernah mendengarkan istrinya? Pria itu berlalu begitu saja mengabaikan Mika. Membuat si wanita panik dan langsung bergegar menyusul sang suami.
"Aksara tunggu dulu!" Mika menyeru. Namun, langkah Aksara tak memelan.
Sumpah serapah sudah Mika ucapkan dalam hati. Suaminya yang tidak pelit dan tidak berperasaan. Aksara melenggang begitu saja keluar rumah. Mendapati mobil pria itu yang sudah terbuka pintu belakangnya dan sopir yang sudah menyambut di sisi.
"Aksaraaaa." Mika merengek. Menarik lengan Aksara membuat pria itu akhirnya berhenti melangkah.
"Apalagi, Mika? Saya ada praktik jam 8." Pria itu melirik jam tangannya.
Mika cemberut. Tangannya masih menahan lengan suaminya. "Transfer, ya? Lima puluh juta aja."
Tas semalam sudah habis, tapi bukan berarti Mika tidak bisa mencari tas lainnya, kan? Pokoknya, Mika harus dapat tas pengganti tas yang semalam!
"Berarti bulan depan saya cuman transfer lima puluh juta?"
"Mana bisa begitu!" serunya tak terima. "Buat bayar kartu kredit bulan depan aja lima puluh juta nggak cukup!"
Aksara menghela napasnya panjang. "Makanya kamu jangan boros-boros, jangan belanja terus."
"Ya gimana? Aku kalau nggak belanja nggak bisa tidur."
Bibir pria itu menipis.
"Ya? Transfer, ya? Lima puluh juta aja. Please?" Mika menatap sang suami memohon.
"Baru mau satu tahun menikah saya sudah habis miliaran cuman buat bayar belanjaan kamu."
Mika menyengir. Ya, siapa suruh setuju dinikahkan dengan perempuan boros seperti dirinya?
"Jadi ditransfer, kan?" Mika mengerjapkan matanya sok lucu.
Dengan wajah datarnya seperti biasa, Aksara pun menjawab. "Enggak." Lalu, pria itu naik begitu saja ke dalam mobilnya, meninggalkan Mika yang misuh-misuh berada di belakangnya.
Sungguh, Kenapa bisa Aksara pelit sekali? Padahal Mika tidak minta banyak-banyak?
Selama ini, menjadi istri pria itu, Mika sudah sangat baik hati. Dia menaati semua perjanjian yang Aksara ajukan. Mika tidak pernah melewati batas. Lagi pula, meminta uang tambahan kan tidak ada larangannya di dalam pasal!
Dan juga, Aksara mau cari ke mana lagi istri seperti Mika? Perempuan yang rela suaminya punya pacar? Meski, Aksara tidak pernah mengakuinya, sih. Tapi, Mika yakin demikian. Gosip Aksara dan pacar rahasianya yang tidak direstui keluarga Wiranata sudah tersebar luas, khususnya di kalangan para dokter. Karena katanya, pacar Aksara itu juga merupakan seorang dokter. Meski lagi, Mika tidak tahu siapa orangnya sampai sekarang.
Sebagai dokter abal-abal, Mika itu jarang berinteraksi dengan rekan sejawatnya. Tidak masuk grup mana pun karena dia tidak suka dan memang tidak berminat menjadi seorang dokter. Baru ketika Mika menikah dengan Aksara, beberapa kalangan dokter mulai mengajak Mika masuk ke dalam kelompok mereka. Dari sanalah, Mika sedikit-sedikit tahu soal kehidupan pribadi seorang Aksara.
Salah satunya, ya itu, Aksara punya pacar yang tidak direstui keluarga. Mika yakin, dia mengajukan pernikahan kontrak selama dua tahun, agar nanti ketika bercerai bisa kembali dengan pacarnya.
Mika, sih, sebenarnya tidak apa-apa. Toh, dia tidak mencintai Aksara dan menikah pun karena disuruh papinya. Tapi, jangan harap Mika tidak mendapatkan apa-apa. Karena Mika berencana mengeruk sebanyak-banyaknya harta Aksara sebelum mereka bercerai nanti.
Meski, sayangnya, Aksara itu pelit setengah mati!
Ponselnya bergetar sejak tadi. Isinya sudah jelas pesan masuk dari istrinya. Mikaela Amora Respati, perempuan 27 tahun yang boros setengah mati. Wanita itu tak menyerah mengirimkan Aksara berbagai foto tas dan sepatu yang diinginkannya. Merengek-rengek lewat pesan suara, berpura-pura menangis yang sayangnya semua sia-sia. Aksara tak akan luluh.
Pekerjaannya hari ini sedikit lenggang. Tidak ada jadwal operasi hingga Aksara bisa pulang sebelum tengah malam. Beres visit pasien pukul tujuh malam, Aksara pun bergegas menuju rumah. Meski dirinya amat tahu, sampai di rumah kepalanya sudah pasti akan nyut-nyutan lagi.
Sungguh, Aksara tak menyangka dia menikah dengan perempuan seperti Mikaela.
Tentu saja, sangat berbeda dengan ' dia' yang sangat menghargai uang. Tidak mungkin boros dan belanja semaunya seperti Mikaela meski memiliki saldo yang cukup untuk membelinya.
"Aksara."
Aksara memejamkan mata. Baru membuka pintu, Mika sudah menyambutnya dengan tangan bersedekap dan bibir tipisnya yang cemberut. Wanita ini memang pantang menyerah. Menuju satu tahun pernikahan, Aksara selalu kewalahan menolak segala keinginan Mika yang terus-terusan meminta uang.
"Saya bilang, enggak, Mika." Aksara bicara tegas.
Istrinya semakin cemberut. Namun, Aksara memilih mengabaikannya. Melangkah masuk begitu saja ke dalam rumahnya menuju kamar. Suara nyaring Mika yang mengekorinya berlalu lalang. Tak ada yang Aksara perkenankan telinganya untuk menangkap. Kakinya masih melangkah lebar-lebar, hingga tiba di depan kamarnya, masuk ke sana dan menutup pintu.
Mika tak akan berani masuk ke dalam. Meski manja dan menyebalkan, syukurnya wanita itu tidak pernah melanggar perjanjian. Mika tidak pernah menginjakkan kakinya masuk ke dalam kamar pribadinya ini.
Menarik napasnya lega, Aksara melangkah menuju kursi. Duduk di sana mengambil ponselnya dalam saku. Membuka sebuah roomchat yang tidak kunjung berubah. Pesan terakhirnya yang tidak juga mendapatkan balasan.
Jemarinya pun mengetik lagi.
Aksara :
Tolong balas, Ru. Setidaknya biar aku tahu kabar kamu.
Aksara menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi. Matanya memejam sembari tangannya memijat keningnya yang lelah. Pekerjaannya tidak banyak, tapi kepalanya cukup terisi banyak. Bukan lagi Mikaela dan belanjaannya, tetapi dia yang tidak kunjung membalas pesannya.
Sudah sebulan. Aksara tak mungkiri dia mulai khawatir.
"Aksaraaaaa pleaseeeee!"
"Oh, Tuhan!" Aksara mengeluh. Suara nyaring istrinya terdengar dari luar. Mikaela yang tidak pantang menyerah.
Masih tersisa satu tahun lagi. Tahankah Aksara beristrikan perempuan materialistis itu?
" Aksara aku mau beli tas." Suara merengek bercampur tangis Mika terdengarnya lagi.
Perempuan manja dengan tangisan andalannya. Sungguh, kenapa bisa ada perempuan seperti itu? Hampir setahun menikah dengan Mika, Aksara merasa mendapat zonk besar. Mika hanya perempuan manja yang hanya tahu bagaimana caranya menghabiskan uang. Kenapa kakeknya tega sekali menikahkannya pada perempuan seperti itu?
Sebagai dokter pun, Mika tidak cakap. Aksara sudah tahu segelintir berita mengenai Mika. Perempuan itu terkenal selalu pilih-pilih pasien dan tidak bisa apa-apa. Apalagi, saat masa-masa menempuh pendidikan. Gosip beredar bahwa Mika selalu gagal ujian dan ayahnya yang selalu menyogok agar Mika lulus ujian.
Aksara tak mengerti. Mengapa orang seperti itu dibiarkan menjadi seorang dokter yang memiliki tanggung jawab besar pada nyawa manusia?
"Aksaraaaaaaa."
Menarik napasnya panjang, Aksara pun bangkit dari kursinya. Terpaksa membuka pintu dan mendapati Mika yang sudah bersimpuh sembari berlinang air mata di depannya. Hingga wanita itu berdiri saat mendapati kehadirannya.
"Mau tas," katanya dengan wajah sembab.
Aksara memejamkan matanya. Pada akhirnya, dia yang selalu kalah. Demi kenyamanan dan ketenteraman hidupnya. Demi agar Mikaela tidak lagi merengek-rengek padanya. Aksara terpaksa mengeluarkan lagi ponselnya, mengirim sejumlah uang pada istri matrenya itu.
"Sudah saya transfer. Bulan depan nggak ada kayak begini lagi," kata Aksara, meski tidak yakin hal ini tidak akan terjadi lagi.
Jerit kesenangan Mikaela masuk ke telinga. Termasuk bagaimana wanita itu yang langsung melompat memeluknya. Berjingkrak-jingkrak sembari mengecupi pipi Aksara.
"Terima kasih suami aku yang ganteeeeeeeng!"
Aksara mendorong tubuh Mika, berusaha agar perempuan itu melepaskan pelukannya. Mika pun melepaskannya. Dengan wajah si wanita yang masih merekah ruah. Pancaran bahagia karena keinginannya tercapai.
"Saya mau istirahat. Jangan ganggu."
Mika langsung mengacungkan dua ibu jarinya. "Siap! Selamat beristirahat dokter Aksara yang ganteng!"
Tak lagi mau meladeni Mika, Aksara pun masuk ke dalam kamarnya.
***
"Askaraaaaaaaa!"
Aksara terjaga dari tidurnya begitu suara jeritan masuk ke dalam telinga. Lalu, pandangannya mendapati kamar tidurnya yang gelap gulita. Pria itu pun terduduk dari rebahnya. Tangannya meraba-raba nakas di samping, mengambil ponselnya.
Masih pukul 1 dini hari.
"Aksaraaaaa!" Jeritan itu lagi. Suara yang amat Aksara kenali, yang setahun ini sudah familier di telinga, yang menyebabkan sakit kepala.
Suara istrinya.
Menyalakan senter di ponsel, Aksara pun menuruni ranjang. Keluar dari kamarnya menuju sumber suara. Lalu ditemukannya Mikaela sudah berdiri di depan pintu kamarnya sendiri, memegang ponselnya dengan senter menyala sama seperti Aksara.
"Aksara kenapa lampunya mati!" Mika langsung merapat padanya, mengalungkan tangannya pada lengan Aksara.
Tak lama, Aksar melihat Bi Jum yang ikut datang.
"Lagi mati lampu, Bu. Saya lihat keluar semuanya gelap. Mungkin ada masalah di PLN-nya," kata Bi Jum.
"Genset belum dinyalain, Bi?" tanya Aksara.
"Sebentar, saya periksa dulu. Mungkin lagi dinyalain sama si Ujang." Bi Jum pamit pergi, kembali meninggalkan Aksara dan istrinya yang menempel bak koala.
Aksara pun berusaha melepaskan tangan Mika dari lengannya. Namun yang ada, wanita itu justru mengganti rangkulannya pada tubuh si pria. Memeluk Aksara erat sekali.
"Jangan dilepasin, ih. Lagi gelap banget," keluh Mika.
"Ini kan saya nyalakan senter. Sebentar lagi juga lampunya nyala."
Mika menggeleng, semakin mengeratkan pelukan. Malas berdebar malam-malam, Aksara pun hanya bisa tarik napas. Pada akhirnya langkahnya sedikit berat karena harus menyeret Mika yang tak berjarak.
"Saya mau ke kamar lagi, Mika, saya ngantuk," kata Aksara.
"Ih, nanti dulu. Tunggu lampunya nyala dulu."
Hela napas Aksara menarik berat. Pada akhirnya, langkah kakinya urung menuju kamar melainkan melangkah ke sofa. Duduk bersandar di sana dengan Mika yang bersandar padanya.
Mika itu, selain boros, rewel dan menyebalkan, dia juga wanita yang penakut. Mika percaya hantu dan sering berimajinasi diganggu oleh hantu. Awal-awal menikah, perempuan itu meminta pindah kamar karena di luar jendela kamarnya ada pohon besar yang dia bilang adalah tempat tinggal setan perempuan berambut panjang—kuntilanak. Bukan hanya itu, Mika juga meminta pohon besar di dekat kolam renang ditebang. Alasannya, dia merasa diperhatikan saat sedang berenang. Syukurnya, Bi Jum menakuti wanita itu dengan berkata kalau pohonnya ditebang, hantunya kehilangan tempat tinggal dan bisa mengganggu penghuni rumah. Alhasil, Mika pun membatalkan keinginannya. Hanya saja, setiap ingin berenang, wanita itu meminta Bi Jum menemaninya di sana.
Apalagi, saat mati lampu seperti ini. Imajinasi Mika pasti sudah bergerak liar ke mana-mana. Aksara benar-benar tak paham. Bagaimana wanita penakut ini bisa menjadi seorang dokter?
Masih begitu mengantuk, Aksara pun mulai memejamkan mata. Saat kemudian dirasanya pangkuannya yang memberat. Kedua kaki Mika naik ke sana, dengan tubuh wanita itu yang masih menyandar padanya.
"Nggak harus kakinya naik juga, kan, Mika?" sindir Aksara.
"Aku kepingin kakinya kayak begini. Pegal kalau gantung di bawah."
Aksara menghela napas berat. Wanita manja ini benar-benar!
Sampai akhirnya lampu menyala kembali, membuat Aksara langsung mendorong Mika menjauh dari tubuhnya. Pria itu berdiri, berniat masuk kembali ke dalam kamarnya sebelum digagalkan Mika yang menahan lengannya.
"Tunggu dulu sampai Bi Jum datang," kata wanita itu. "Aku mau tidur di kamar Bi Jum aja."
Kening Aksara mengerut. "Kenapa tidur di kamar Bi Jum?"
"Ya nanti kalau lampunya mati lagi gimana?" Mika menatap Aksara serius. "Lagian, sebelum mati lampu tadi aku kayak ngerasa ada yang ketuk-ketuk jendela. Jangan-jangan ini mati lampu karena—"
"Karena imajinasi kamu yang luar biasa. Saya heran, kenapa kamu nggak jadi penulis novel aja alih-alih jadi dokter?" potong Aksara langsung.
Mika malah cemberut. Tak mau lama-lama menghabiskan waktu dengan wanita itu, Aksara pun berlalu begitu saja. Bisa-bisa dia tidak tidur sampai pagi jika harus menanggapi segala ocehan tidak masuk akal istrinya.
***
Sebelum berangkat kerja, Aksara secara tidak sengaja mendengar percakapan Bi Jum dan Kartika—ART-nya yang lain yang tidak ikut tinggal di sini—mengenai punggung wanita tua itu yang terasa pegal. Akibatnya adalah Bi Jum yang semalam tidur hanya dengan beralasan karpet di lantai. Tanpa bertanya, Aksara sudah tahu apa penyebabnya. Pasti karena kasur wanita tua itu yang tidak seberapa besar dikuasai istrinya.
Nanti malam, Aksara ada operasi. Sehingga dia akan balik dini hari atau jika terasa begitu lelah dan malas menyetir, Aksara akan bermalam di rumah sakit. Maka dari itu, pria itu harus bicara lebih dulu dengan istrinya. Memastikan nanti malam Mika sudah kembali tidur di dalam kamarnya.
Diketuknya beberapa kali pintu kamar si wanita, tapi tak kunjung terbuka. Saat matahari sudah terbit, Aksara melihat Mika kembali ke dalam kamarnya. Wanita itu pasti melanjutkan tidurnya di sana.
"Mika. Keluar sebentar," panggil Aksara.
Tak didengar sahutan dari dalam, Aksara pun mengetuk lagi pintu kamar sang istri.
"Mika, keluar sebentar. Ada yang mau saya bicarakan."
Menunggu beberapa menit, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Menampilkan wajah setengah memejam istrinya dengan rambut mekar bak singa. Mikaela yang berantakan.
"Kenapa, sih? Masih ngatuuuk," keluh wanita itu.
"Nanti malam saya ada operasi. Belum pasti pulang ke rumah atau enggak. Kamu jangan tidur di kamar Bi Jum lagi," kata Aksara.
"Kenapa?"
"Kok tanya kenapa? Kamu kan punya kamar sendiri."
"Tapi kan kamar aku seram."
"Ini buktinya kamu berani tidur di kamar sendiri."
"Ya karena kan udah pagi."
"Nggak ada alasan." Aksara menatap istrinya tegas. "Tidur di kamarmu, jangan pernah tidur lagi di kamar Bi Jum."
"Lagian kenapa sih tidur sama Bi Jum? Karena Bi Jum pembantu makanya nggak boleh?"
"Na—"
"Emangnya kenapa kalau Bi Jum pembantu? Bi Jum juga manusia. Emangnya kamu sebagai dokter, kalau ada pasien yang datang berobat, kamu lihat dulu latar belakangnya?"
Aksara mendengkus. "Saya bukan kamu yang pilih-pilih pasien."
Mata si wanita melotot tak terima.
"Sudah, jangan banyak alasan. Nanti malam tidur di kamar sendiri atau kamu yang ajak Bi Jum tidur di kamarmu."
"Dibilang di kamarku seram!"
"Tidur di kamar yang lain."
"Kamar yang dulu itu? Itu jauh lebih seram!"
Aksara menghela napasnya panjang. Perbincangan dengan Mika tidak pernah bisa selesai dengan mudah. Wanita itu pintar sekali menyahut yang membuat Aksara harus kembali membalas sahutannya.
"Sebentar." Mika mengangkat tangannya ke udara, seolah menghentikan agar Aksara tidak membuka mulut. Sebelah tangannya yang lain ikut terangkat, menyingkirkan rambutnya yang menutupi sebagian wajah. "Kamu tadi bilang apa? Nanti malam operasi? Terus ke rumah orang tuaku gimanaaaa?!"
Kening Aksara mengerut dalam. Ke rumah mertuanya? Dia tidak pernah mendengar wacana itu.
"Papi suruh kita datang ke rumah," sambung Mika.
"Kapan bilangnya?"
"Dua hari yang lalu di telepon."
"Terus kenapa kamu baru bilang saya sekarang?"
Mika diam. Bibirnya tampak cemberut lagi. "Lupa," sahutnya pendek.
Masih pagi begini, Aksara sudah yang ke sekian kalinya menarik napas panjang. "Kamu duluan aja ke sana. Kalau saya sempat pulang saya menyusul, kalau tidak sempat besok pagi saya jemput," putusnya.
Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Aksara pun melangkah begitu saja. Sembari kemudian tangannya merogoh kantung celananya. Sebuah pesan masuk yang akhirnya dapat membuatnya senyumnya timbul sedikit.
Aru :
Maaf baru balas. Aku lagi sibuk belakang ini.
Kabarku baik dan sehat. Semoga kamu juga sama.
Tak menunggu waktu lama, Aksara pun segera mengetikkan balasannya.
Aksara :
Can we meet for a while? I miss you.
Aru :
We're done, Aksa. Kita sudah sama-sama punya pasangan. Please have some respect.
Aksara tidak lagi membalas pesannya meski Mika sudah membombardir pria itu. Sepertinya, Aksara benar-benar telah masuk ke dalam ruang operasi. Artinya, Mika harus menunggu pria itu beberapa jam ke depan. Artinya juga, Mika harus sendirian di kamar tidurnya semasa gadis. Kamar tidur yang sudah lama tidak di tempati sebab terakhir Mika kemari adalah enam bulan yang lalu.
Di atas ranjang empuknya, wanita itu menolehkan pandangan ke segala sudut. Memastikan tidak ada bayangan-bayangan aneh, atau hawa-hawa yang membuat bulu kuduknya merinding. Meski pada akhirnya mata wanita itu tidak menemukan apa pun, Mika tetap memutuskan bangkit dari rebahnya.
Dia tidak akan bisa tidur memikirkan soal kamar tidurnya sendiri yang tidak cukup aman. Hantu-hantu buruk rupa bisa saja berkeliaran. Maka dari itu, Mika bangkit. Dia akan terjaga sampai Aksara pulang. Di rumah orang tuanya maupun orang tua Aksara, mereka tidak pisah kamar—demi tampil sebagai pasangan harmonis. Maka dari itu, Mika akan aman di kamar mana pun karena dia tidak sendirian.
Kaki jenjangnya dengan cat kuku berwarna coklat melangkah keluar kamar. Melewati ruangan yang sudah cukup gelap. Mika nyalakan semua lampu yang ada di sana. Toh, penghuni rumah tidak akan sadar. Sudah pukul 11 lewat, Mika rasa, orang-orang sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Tapi ternyata, tidak. Netra Mika bertabrakan dengan tatap maminya yang sedang duduk sendirian di atas sofa. Ada sebuah cangkir di tangannya. Kebiasaan yang rupanya masih sama. Maminya sering keluar di tengah malam, duduk sendirian dalam kondisi gelap-gelapan.
"Kenapa keluar?" tanya wanita 59 tahun itu.
Mika berdeham kecil, lalu membangun senyumnya. Terpaksa dia melangkah menghampiri sang ibu. Maminya tidak tahu kalau Mika takut hantu. Maka Mika pun, harus berhati-hati dengan rahasianya itu.
"Mika lagi tunggu Mas Aksara, Mami," jawab Mika ikut duduk di sofa.
Maminya hanya melirik sedikit, sebelum kembali menyeruput minuman di cangkirnya. Mika sendiri, duduk saja dengan tegap. Menatap ke arah TV yang tak menyala. Bibirnya tertutup, meski tidak begitu rapat karena harus bersiap menjawab. Sebentar lagi, maminya pasti akan kembali bicara.
"Bagaimana pernikahan kalian?"
Tuh, kan, Mika benar.
Memiringkan duduknya agar dapat menatap sang ibu lebih layak, Mika membangun senyumnya lagi. "Baik, Mami. Mas Aksara baik sama Mika."
"Tanggal 20 November tepat satu tahun kalian menikah, kan?" tanya Yunita—maminya Mika—lagi.
Mika mengangguk. "Iya, Mi. Dua minggu lagi."
Yunita mengangguk-angguk. Wanita paruh baya dengan selendang di punggungnya itu meletakkan gelas di atas meja. Lalu, wajah dengan rahang yang selalu Mika lihat ketat dan tegas itu menoleh pada putrinya.
"Sudah setahun dan belum ada tanda-tanda kehamilan?"
Senyum Mika sirna sedikit. Meski, kembali dipaksa untuk disajikan pada sang ibu. Gelengan kecil yang Mika berikan. "Belum ada, Mi."
"Cari tahu, dong, penyebabnya. Kalian kan dokter. Pasti banyak kenalan OBGYN yang bagus. Masa begitu saja harus mami yang turun tangan?"
Tak menyahut, Mika hanya berusaha mempertahankan senyum. Pertanyaan mengenai kehamilan, seharusnya sudah tidak lagi asing di telinga. Pernikahannya dan Aksara sudah berusia satu tahun. Orang tuanya jelas sekali mengharapkan kehadiran cucu. Bukan untuk melengkapi masa tua melainkan—
"Kamu harus segera punya anak, Mika. Jangan sampai keduluan dengan Jayendra dan istrinya. Kalau kamu punya anak, Aksara bisa maju menjadi pewaris utama Raksa Medica."
Anak untuk menaiki tangga kejayaan.
Jayendra adalah kakak sepupu Aksara, lebih tua beberapa bulan. Dalam garis keturunan, Jayendra akan dinobatkan menjadi pewaris utama kejayaan Raksa Medica—perusahaan medis dengan banyak cabang rumah sakit dan klinik laboratorium. Jayendra pun sudah berumah tangga, tapi belum dikaruniai anak. Segelintir informasi, Harsa Wiranata—kakek Aksara dan Jayendra, sekaligus komisaris utama Raksa Medica Group, bisa mengganti posisi pewaris utama kepada siapa pun yang bisa memberikannya cicit lebih dulu.
"Jangan sampai juga Senapati menikah dan punya anak duluan," tambah Yunita lagi, menyebut nama sepupu Aksara yang paling bungsu.
Masih sama, reaksi Mika hanya berupa senyum seadanya. Ekspresi yang sama yang selalu ia hadirkan kepada keluarganya jika sedang dititah. Dijalankan tidaknya, urusan belakangan. Meski jika Mika tidak lakukan, dia akan terkena ganjaran yang cukup membuat sakit kepala.
"Kamu dengar nggak mami bicara apa?"
"Dengar, Mi." Mika memutar kepalanya cepat, mencari alasan. "Em, Mi. Mas Aksara telepon. Mika mau jawab teleponnya dulu," alibi wanita itu menaikkan ponselnya sekilas.
Usai melihat anggukan kecil ibunya, Mika pun bangkit. Langkahnya anggun menuju kamar. Rupanya, masih sama seperti dulu. Berada di dalam kamar berhantu lebih membuatnya nyaman ketimbang berada di satu ruangan bersama sang ibu.
Maminya meminta Mika punya anak? Tentu saja tidak akan bisa terkabul. Perjanjian pernikahannya dengan Aksara akan berakhir satu tahun lagi. Lagi pula, Mika tidak yakin cocok menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, jangankan anak, membuatnya pun, Mika rasa Aksara tidak akan mau.
***
Aksara merasa tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Kedua netranya terbuka. Mendapati sinar cahaya yang masuk sedikit melalui celah gorden. Selain itu, sisi ranjang di sampingnya yang kosong turut menjadi pandangan. Penghuninya tidak ada di sana.
Melainkan ....
"Mika." Aksara menggeram kecil.