
Selamat Datang, Malam
"Dek, kok gak dimakan nasinya? Kamu udah telat loh." Ucap seorang perempuan yang mukanya tidak pernah gue lihat sama sekali dalam hidup gue. Gue duduk di depan meja makan yang tidak pernah gue lihat sebelumnya. Perempuan itu kembali bebicara, "Kamu kok diam? Kamu sakit?" wanita itu menyentuh jidat gue, "yaudah kakak suapin ya! Aaaaa?" ucapnya sambil menyodorkan sesuap nasi goreng.
Gue terbangun,
"Huuhh!!" helah gue dengan nafas yang dalam, "mimpi." ucap gue.
Gue raba-raba meja kecil di pojok kanan tempat tidur gue, berusaha menemukan iphone andalan gue. Sekejap saat gue membuka layar handphone, deretan notifikasi terpampang. Entah mengapa gue gak menghiraukan semua notifikasi yang muncul itu dan langsung membuka kontak di handphone gue. Mencari nama Kak Iwin.
Gue menelfon Kak Iwin,
"Tuuutt..., Tuutt..., Tuutt..., Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan cari kakak lain dan jangan kembali lagi."
Operator yang terdengar berbeda di pikiran gue memiliki point yang bagus. Kak Iwin yang pengangguran tapi dia yang sibuk. Dia masih inget gak sih kalau dia punya adek.
Suara ketukan muncul dari pintu di depan tempat tidur gue."Blai! Jablai! Bangun lo! Cepetan buka nih pintu!" teriak si Tompel dari luar pintu kamar yang juga merupakan pintu masuk apartemen gue. Gue tinggal di apartemen bertipe studio, jadi tempat tidur, dapur, ruang tamu, semua jadi satu.
"Berisik banget sih!" gue bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu.
Tompel masuk dan langsung mendaratkan bokongnya di satu-satunya tempat duduk nyaman di apartemen itu – sofa panjang di sebelah kiri tempat tidur gue.
"Wah, kocak lo, Blai! Jam segini baru bangun! Udah jam makan siang ini. Berapa botol tadi malam? Lo kalau minum hati-hati, Blai. Jangan gossip jelek lagi. Ini kenapa lagi apartemen lo berantakan banget bla bla bla bla bla bla bla.." ucap Tompel - sahabat dan juga manager gue.
Suara perempuan muncul dari belakang sofa tempat Tompel duduk, "Berisik weh!"
"AAAA!!" Tompel terkejut melihat Becca yang tiba-tiba bersuara dari belakangnya. Tompel memulai caciannya, "Becca! Hampir mati gue. Lo kok di sini? Gak balik ke rumah? Anak gadis kok tidur di tempat cowo. Apa coba nanti kata masyarakat?"
"Sirik aja lo!" ucap Becca
Sambil menikmati kopi di dapur-dapuran kecil dalam apartemen gue, gue biarkan dua sahabat gue itu bertengkar seperti hari-hari biasanya.
Tompel kembali terfokus pada gue, "Blai! Jangan lama-lama minum kopinya. Cepetan mandi, beres-beres. Kita harus live instagram di kafe yang minta di-endorse sama lo."
"Gue ikut boleh gak?" tanya Becca
"Gue larangpun pasti lo tetep nempel ikutan." Jawab Tompel
Gue masuk ke kamar mandi bersiap-siap menjalankan rutinitas gue biasanya.
***
Seperti anak muda umumnya, kami menikmati perjalanan kami di mobil sambil bernyanyi-nyanyi, main gadget masing-masing dan bercengkrama.
"Namanya Cafe Le France ya?" tanya Becca dari kursi belakang, "France? Kaya ciuman ya?"
"Cewe kok pikirannya mesum!" ketus Tompel sambil meyetir
"Sewot aja lo!" balas Becca
Guepun menjawab "Biarin aja, Bec. Dia gak ngerti tuh apaan French Kiss . Kan yang nyium dia cuma mamanya HAHAHAHAHAHA!!"
"HAHAHAHA!!" Becca turut berpartisipasi menertawakan Tompel
Tak terasa di tengah-tengah kepadatan Jakarta akhirnya kami tiba juga di kafe itu. Kafenya merupakan bangunan sendiri yang ada di pinggir jalan TB. Simatupang. Sesaat kami memasuki kafe itu, seorang wanita berpakaian kemeja flanel datang menghampiri kami. Tompel langsung menyapa ramah wanita itu dan memperkenalkannya pada gue dan Becca,
"Ini mba Aadel pemilik kafe ini. Jadi mba mau gimana konsepnya, Mba Aadel?"
Ya biasalah urusan begini yang ngurusin si Tompel. Gue hanya mengikuti ide dan arahan dari si Tompel, dan Becca hadir buat ngekritik setiap ide Tompel sampai akhirnya mereka berdua adu bacot di depan klien.
Seperti biasa juga, saat kamera menyala, gue memasang muka dan karakter yang berbeda. Bukan berarti gue bermuka dua, hanya berarti apapun perasaan dan pikiran gue saat itu, gak boleh gue tunjukkan, karena gue harus selalu terlihat sempurna.
Live dan potret-potretan semua udah di post di instagram dan channel youtube gue. Karena banyaknya jumlah orang yang gak ada kerjaan di dunia ini maka segala comment langsung bermunculan di post-an gue, segala likes, segala subscribes, dan semua satuan social media lainnya muncul secara cepat.
Mba Aadel datang ke meja kami, "Ini complimentary dari kita ya mas Raja. Silahkan dinikmati!" Mba Aadel menyuguhkan beberapa minuman yang sangat instagramable. Gue dan Tompel segera menyantap minuman gratis itu.
"PLOK!" Becca memukul tangan kami berdua, "Gue foto dulu."
Tompelpun langsung memberikan tanggapan tajamnya, " dasar anak kekinian!" sekarang Tompel mengalihkan perhatiannya ke gue, "Eh, Blai! Lagu baru lo mana? Udah pada mintain nih. Liat noh commet-comment fans lo. Si Mas Andre juga ngehubungin gue mulu, mintain lagu baru lo."
"Yaelah, Pel! Baru juga gue nyantai minum udah ditodong kerjaan aja." Jawab gue sewot
Becca membela gue, "Lo perhatian dikit kek sama Raja, Pel!"
"Heh! Yang boleh manggil gue Tompel cuma si Raja ya!" ketus Tompel. Tompel kembali terfokus kepada gue, "Ja, gue gini kan buat kebaikan lo juga."
"Iya! Iiyaaaaaaa! Gak usah sok bijak omongan lo. Geli gue dengernya. Gue bikin lagu malam ini." Lagi-lagi jawab gue sewot.
Becca bertanya, "Di tempat biasa? Butuh gue temenin gak?"
"Gak! Lo pulang gih ke rumah! Nyokap lo pasti panik nyariin lo. Gue gak mau dianggap temen yang bawa anak orang jadi bandel." Jawab gue
"Temen apa temen?" tanya Tompel
"TEMBOK!" ketus Becca sambil mengeplak kepala Tompel, "Yaudah gue balik dulu ya!"
Dua setan itu akhirnya kembali ke liang kuburnya masing-masing. Lokasi cafe la frence ini tidak begitu jauh dari tempat gue biasa nulis lagu. Sambil menunggu malam gue mampir dulu ke mall Citos yang gak terlalu jauh dari lokasi kafe itu. Hal yang paling aman untuk ngabisin waktu sebagai orang terkenal di tengah keramaian mall adalah nonton film. Gue nonton sampai mall tutup. Saat mall tutup maka tempat ramai lainnya yang terbuka adalah club.
Gue tiba di Club Jenja Jakarta,
Tiga orang wanita berpakaian kurang bahan datang menghampiri gue yang lagi duduk di bar, "Mas Raja boleh minta foto gak?"
"Boleh!" jawab Gue berusaha terlihat jadi artis paling ramah sedunia.
Ini memang tempat yang aneh buat dapat inspirasi, tapi percaya gak percaya, di keramaian tempat seperti ini lah semua terdengar lebih jelas. Suara yang gue dengar bukanlah hanya suara musik, tawa dan pembicaraan orang-orang, namun suara tersembunyi dibalik setiap orang yang berusaha terlihat bahagia malam itu. Mereka memiliki cerita yang merupakan berat bagi mereka, cerita yang membentuk mereka menjadi diri mereka sekarang, tapi dunia menghakimi mereka tanpa tahu itu semua.
Satu.., Dua.., Tiga.., Gak kok malam ini gue gak bakal mabuk. Empat.., Lima.., Enam.., gelas.
Lalu gue kehilang kesadaran,
***
Kok kepala gue sakit ya. Loh ini kan Cafe tadi siang, ngapain gue di sini. Loh kok tangan gue ada kuteknya. Kok dada gue kerasa berat ya.
"ASTAGAAA!!!" teriak gue melihat dua payudara menggantung di dada gue
Seorang wanita datang menghampiri gue, "Mba, kenapa?" Dia adalah wanita dalam mimpi gue kemaren malam.
Gue hendak bertanya namun kepala gue terasa sakit sekali, "A!!" keluh gue
"Oh, kebanyakan minum ya. Sebentar ya mba. Saya punya Tylenol di tas." Perempuan itu pergi meninggalkan gue.
"Mba?" tanya gue sendirian, "Dia manggil gue 'Mba'?" Gue tegakkan kepala gue melihat bayangan jendela di hadapan gue, "AAAAAAAA!!! Makjang! Gue cewe haram!"
Mendengar teriakkan gue, tiga laki-laki mabuk datang menghampiri gue, "Haram itu kalau gak dihabisin, malam ini kita yang habisin boleh kan, Cantik?" ucap salah satu pria mabok yang sepertinya ketua geng itu.
Haram? Mungkin maksud dia mubazir kali ya.
Apa gerangan yang terjadi dengan gue. Kenapa gue di Kafe ini? Kapan gue ke kafe ini? Gue harus gimana sekarang? Ngapain juga nih tiga cowo mesum merapat ke gue?
Pria mabuk itu merapatkan dirinya ke arah gue, gue yang masih terkejut dengan perubahan wujud gue. Pria itu perlahan melayangkan tangannya memegang paha gue yang sexy .
Kesal. Gue hendak mengajak tiga pria itu berantam, "Heh!"
Namun perempuan yang tidak asing di mimpi gue, memotong, "Heh! Kalian ngapain pegang-pegang Mba itu? Ini bukan tempat mesum ya! Sana pergi sebelum gue habisin kalian."
Pria mabuk yang mesum itu melepaskan tangannya dari paha gue, "Wow! Mau dong dihabisin!" Pria mabuk yang lain mulai mengikut, "Roarr! Yang ini ganas! Gue yang ini aja, Bos! Lebih menggigit."
Perempuan itu mendorong pria yang memegang paha gue, "Pergi!"
"Prang!" jendela di hadapan gue pecah ditonjok pria mesum itu. Dengan tiba-tiba dia mencekik leher si perempuan yang membela gue, "Lo jangan kurang ajar sama gue!"
Perempuan itu meludahi si pria mesum itu dan menendangnya pas di bagian kemauannya, eh salah, maksud gue kemaluannya. Si pria mesum itu refleks melepaskan cekekannya
"SECURITY! SECURITY! TOLOONNGG!!" teriak perempuan itu
Dua orang security berbadan besar segera datang menolong kami. Ketiga orang mesum itu segera diamankan.
"Lo gak apa?" tanya gue pada wanita pemberani itu
"Gak apa kok, Mba. Ini Tylenolnya." Perempuan itu membuka genggamannya, menyodorkan sebuah obat pil. Gue ambil obat itu sambil terheran, mengapa perempuan ini bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu kembali bebicara, "Kita udah mau tutup, Mba. Mba parkir jauh dari sini? Perlu saya antar?"
Perempuan ini sadar gak sih kalau dia juga perempuan? Dia juga butuh diantarin.
Aku pun menjawab "Gue bisa sendiri kok." Gue berusaha berdiri dan baru sadar kalau sepatu gue high heels tinggi pake banget. Gue coba berjalan ke arah pintu keluar. Dan ternyata gue bisa, pake high heels ternyata gak sesusah yang gue pikirkan. Perlahan gue jalan.
Selagi gue berjalan, perempuan itu berteriak dengan lembut, "Hati-hati ya, Mba!" Gue menoleh ke belakang, tersenyum padanya mengucapkan makasih, melanjutkan jalan dan terjatuh.
Gue terbangun,
"hahh!!" helah gue dengan nafas yang dalam, "mimpi?" Gue ada di apartamen gue. Gue bukan di Kafe Le France . Tapi kok mimpi tadi malam kayak nyata banget ya.
Badan gue terasa sedikit berat untuk bangun dari tempat tidur. Kepala gue sedikit sakit, gue rasa tadi malam gue mabok berat. Dan lucunya kaki gue juga sakit, serasa habis jalan pake high heels . Masa iya tadi malam gue jalan pake high heels beneran? Itu kan cuma mimpi Iya kan?.
Gue goyangkan kepala gue dengan mantra 'Gak usah dipikirin! Gak usah dipikirin!' kembali kepada rutinitas biasanya. Pagi guepun dimulai - minum kopi sambil balas comment fans-fans gue, kumpulin baju kotor buat dilaundry, house keeping berkunjung untuk beresin apartemen gue, dan gue mandi berberes nunggu perintah dari siapa lagi selain...,
Suara Tompel yang mengesalkan muncul dari pintu apartemen gue, "Blai, temenin gue ke kafe kemaren yuk! ATM gue ketinggalan di sana."
Gue bingung, " Pel, ATM kok bisa ketinggalan? Kok lo cacat sih? Gue jadi mempertanyakan kemampuan lo buat jadi manager gue."
"Nih kan! Jeleknya gue doang yang lo inget! Bahas dong masalah movie lo, bahas dong masalah album lo habis terjual, bahas dong masalah...,"
Dengan cepat gue hentikan kesombongannya Tompel, "Iya! Iya! Begitu doang lo langsung sombong! Gue lanjut bertanya, "mobil lo apa mobil gue nih?"
"Mobil lo aja! Nyokap mau pake mobil gue buat arisan!"
Gue dan Tompel tinggal di apartemen yang sama. Tadinya gue tinggal dengan orang tua gue di daerah Cibubur, tapi karena lokasi kampus dan tempat-tempat penting lainnya ada di sekitar sini jadi gue memutuskan tinggal di apartemen dan berpisah dari hiruk pikuk para diktator di rumah.
***
Sama seperti kemaren, setibanya di cafe itu kami langsung masuk dan disapa oleh Mba Aadel, namun kali ini sapaannya berbeda dengan kemaren. Mata gue dan Tompel langsung tertuju pada jendela pecah yang sedang diperhatikan oleh Mba Aadel.
Tompel bertanya, "Mba Aadel, jendelanya kenapa? Ada perampok?"
"Bukan! Katanya sih tadi malam ada orang mesum berantem terus mecahin jendela ini." Jawab Mba Aadel
Tompel kembali bertanya, "Mesum? Terus akhirnya gimana, Mba?"
"Akhirnya pekerja gue nolongin cewe yang digodain tiga cowo mesum itu. Untung gak ada yang terluka."
Cerita Mba Aadel seperti gak asing di telinga gue, ini adalah cerita mimpi gue tadi malam.
Melihat gue dan Tompel yang masih berdiri memperhatikan jendela pecah, Mba Aadel akhirnya menawarkan kami untuk duduk, "Oh iya, duduk aja dulu mas Bahdul dan Mas Raja, biar nanti pekerja saya layani."
Bahdul alias Tompel menjawab, "Oh gak usah, Mba. Kami ke sini mau ngambil ATM saya yang ketinggalan."
"Oh iya. Tunggu sebentar ya." Jawab Mba Aaadel
Mba Aadel pergi meninggalkan Tompel dan gue duduk di meja sebrang jendela pecah itu. Gue rasa mimpi gue tadi malam bukan cuma sekedar mimpi dan gue berniat untuk menceritakannya ke manager sekaligus sahabat gue ini, "Pel! Gue tadi malam ada di sini."
Tompel terkejut, "Hah? Seriusan? Lo liat kejadian tadi malam?"
"Liat? Bukan Cuma liat! Gue yang digodain sama tiga orang mesum yang mabok itu, Pel!" jawab gue
Tompel bingung, "Lo?" Tompel memperhatikan gue dari atas sampai bawah, "Orang mesumnya homo ya?"
Sekarang gue yang bingung, "Homo?" Gue loading, buf fering, buffering , akhirnya connect , "Gak lah! Tadi malam tuh gue sexy banget. Payudara gue segede ini nih!" ucap gue sambil memperagakan besarnya payudara gue tadi malam.
Mendengar dan melihat gue memperagakan ukuran payudara gue, Tompel makin bingung, "Gila lo ya? Lo masih mabok?"
Dengan gedeg gue menjawab, "Gak Lah tongkol! Gue sadar ini!" gue mencari cara untuk membuktikan ke Tompel, berfikir.., berfikir.., berfikir.., gue mengingat sesuatu, "Si cewe itu." Ucap gue saat mengingat kehadiran perempuan yang tak asing dalam mimpi gue tadi malam.
Mba Aadel datang memotong pembicaraan gue dan Tompel, "Ini ATM nya, Mas!"
Kehadiran Mba Aadel membuka pikiran gue, guepun bertanya, "Mba Aadel, kemaren malam ada pekerjanya Mba Aadel yang perempuan kan? Dia yang berantem sama orang-orang mesum itu kan?"
Dalam posisi yang masih bediri Mba Aadel menjawab, "Di sini sih kalau malam yang jaga cowo, Mas. Dan saya gak tau siapa yang berantem, soalnya saya hanya dapat laporan dari security, saya gak ada di sini tadi malam."
Masih heran dengan tingkah laku gue, Tompel akhirnya memotong, "Udah ah, Blai! Ngapain dibahas sih!" .Tompel kembali berbicara kepada Mba Aadel, "Makasih ya, Mba. Kami pamit dulu. Si Raja harus lanjut nulis lagu."
Fakta bahwa Tompel menyuruh gue untuk melanjutkan membuat lagu tidak semenyebalkan fakta bahwa gue gak bisa meyakinkan Tompel mengenai nyatanya peristiwa tadi malam. Nyata? Beneran nyata kan peristiwa tadi malam?
***
Sambil memutarkan setirnya Tompel bertanya, "Jadi udah sampai mana lagu lo? Jangan ngabisin duit buat minum-minum doang. Mana lagu hasil minum-minum lo?"
Kalimat pedas dari mulut Tompel adalah alasan kenapa gue bisa sahabatan sama dia. Tompel orangnya gak neka-neko, kalau gak suka bilang gak suka, kalau salah bilang salah dan minta maaf. Dan Tompel juga orang cina yang paling jago mencari peluang untuk ngehasilin duit dengan menjadi manager gue. Tapi gue masih berniat untuk meyakinkan dia soal cerita mimpi gue yang nyata tadi malam, "Gue seriusan deh, Pel! Tadi malam tuh gue ada di cafe itu."
Tompel melotot, "Eh, buset! Masih mikirin itu? Heh! Jablai dongo! Apa faedahnya dah lo ada atau gak ada di situ. Yang penting tuh lagu lo."
Gue kembali menjawab, "Cewe itu. Gue udah dua kali ketemu cewe itu."
"Cewe?Cewe yang mana?" tanya Tompel
"Cewe dalam mimpi gue. Atau mungkin dalam kehidupan nyata ini. Gue gak tahu pasti."
Tompel mengambil nafas panjang, dia berusaha untuk meluruskan pikiran gue, "Blai! Gue gak ngerti jalan pikiran lo sekarang. Mending lo tuangin deh jadi lagu."
"Lagu?" tanya gue. Gue bertanya bukan karena tidak mengerti, namun karena kalimat Tompel terdengar seperti ide bagus untuk gue.
Keempat roda mobil jazz hitam gue bertapak di basement apartement gue. Tompel dan gue memasuki lift menuju kamar gue. Seketika pintu lift terbuka, gue langsung berlari menuju kamar. Dengan cepat gue buka pintu lalu mencari sebuah kertas putih di tumpukan buku depan sofa gue. Akhirnya gue menemukan sebuah kertas bersih.
Tompel heran, "Kenapa lari, Blai?" tanya tompel yang masuk setelah gue. Tompel memperhatikan gue menulis sambil terduduk di sofa panjang kesayangan gue.
"Malam di mata? Apa tuh?" tanya Tompel
Jawab gue dengan bangga"Judul lagu"
Tompel tersenyum lebar, "Gitu dong! Kalau gitu gue tinggal lo ya, biar idenya ngalir tanpa hambatan dari Tompel si ganteng ini." Tompel berjalan keluar, menutup pintu, meninggalkan gue berbincang dengan kertas berjudulkan 'Malam di Mata'.
'Malam di Mata'
Bedakah mimpi dan dunia nyata
Siapa yang tahu? Matapun tak tahu
Perempuan, nama mu siapa
Kerap muncul membuatku bertanya
Dalam mimpi dan dalam mata
Malam datang membawamu kemari
Mata terbuka mengantarmu pergi
menaburkan sebuah rasa bingung
yang kini hanya bisa kubendung
Reff : Kau menyapaku saat malam
Kau berpamitan saat ku terbangun
Perempun namamu siapa
Sebutkan! Sebelum aku terbangun
Terbangun dari malam di mata
Gue terbangun,
Tidur gue benar-benar pulas, gue tidak memimpikan apapun. Sepertinya gue terlalu letih, kemaren seharian rekaman untuk teaser lagu di youtube, belum lagi semua arrangement lagu langsung dibuat hari itu juga.
Masih terbaring di atas tempat tidur, gue kembali meraba meja di kanan tempat tidur gue, mencari iphone pentolan gue. Lagi-lagi seperti biasanya banyak notification dari comment-comment para fans gue. Gak ada salahnya mengecek sebagian, toh gue males bangung dari tempat tidur, dan gue penasaran apa pendapat orang-orang soal teaser lagu yang gue post di instagram. Scroll, scroll , scroll , ada nama fans yang membuat gue jengkel – 'iwinita88' kakak tersibuk di dunia.
Comment iwinita88, "Aduh! Bangganya sama adekku yang ganteng satu ini. Semangat terus ya Jajanya kak Iwin"
Dia bisa comment tapi gak bisa angkat telfon gue. Gak ngerti gue sama jalan pikiran perempuan. Perempuan? Gue udah dua malam ini gak mimpiin perempuan itu. Mungkin dia memang hanya karakter dalam mimpi gue, yang hanya datang berkunjung untuk memperindah cerita. Yaudahlah ngapain juga dipikirin.
"Tik! Tik! Tik! Tik!" suara hujan tedengar dari jendela di kanan gue.
"Hujan hari ini kayaknya bakal deras," ucap gue, " kira-kira hari ini Tompel nyediain kerjaan apa ya buat gue."
Gue kembali membaca comment-comment dari para fans gue. Di tengah dinginnya hujan dan hangatnya selimut yang memeluk gue, perlahan gue kembali tertidur.
Gue tertidur,
Gue melihat hujan di pinggir jalan yang sepertinya pernah gue lewati. Ada atap kecil berwarna hijau di atas gue, sepertinya gue ada di halte bus. Eh, ada yang berlarian datang menghampiri gue. Perempuan itu lagi – perempuan yang tak asing dalam mimpi gue.
Perempuan itu berlari sambil menggandeng tangan seorang anak laki-laki berseragam pakaian SD. Mereka datang berteduh di halte bus bersama dengan gue.
Perempuan itu menunduk berbicara kepada bocah SD itu, "kamu gak apa?"
Bocah itu menjawab, "Gak apa sih, Kak. Tapi Kara takut buku Kara basah. Kalau basah nanti gimana cara bacanya. Nanti Kara ngerjain PR gimana?"
Nama bocah itu adalah Kara? Cowo kok namanya Kara, kaya nama santan.
Perempuan itu jongkok, menatap mata Kara dan menjawab, "Bagus dong kalau bukunya basah. Kita jadi bisa baca di air, baca sama ikan-ikan, kamu bisa ajarin ikan baca. Pasti kamu penasaran kan suara ikan kalau baca kaya gimana?"
Bocah itu terlihat berfikir, "Gimana ya suaranya, Kak?"
"Mana kakak tahu. Kakak kan bukan ikan. Hahahaha!" jawab perempuan itu
"Terus ngerjain PR nya gimana?" tanya Kara kembali
Perempuan itu berdiri dan berkata, "nanti kita suruh guru kamu ikutan baca PR kamu di air. Hahaha!! Ayo mandi hujan yuk! Kalau gak dinikmatin hujannya nanti mubazir loh. Nanti Tuhan gak kasih hujan lagi!" Perempuan itu berlari meninggalkan halte.
Bocah bernama Kara itu berteriak dengan semangat, "TUNGGU KAK KARA! Ih Kak Kara curang!" lalu bocah itu mengejar perempuan yang sepertinya bernama Kara juga.
Entah mengapa, gue hendak mau mengejarnya juga, namun gue gak bisa bergerak. Seorang bapak berbadan gemuk datang, dan dia perlahan menggerakkan bokongnya ke muka gue. Sesaat gue tersadar. Gue adalah kursi halte. Oh tidak, bokong besar itu semakin mendekat,
Gue berteriak, "TIDAAAAAKKKKK!!!"
Gue terbangun,
Tompel berteriak, "AAA!" Tompel terkejut mendengar teriakan gue, "Kenapa harus teriak-teriak sih?" tanya Tompel yang terduduk di tempat gue tertidur.
"Kara!" ucap gue sambil tiba-tiba terduduk di tempat tidur gue
Tompel dengan muka bingungnya bertanya, "Kara? Santan?"
Gue emosi mendengar pertanyaan Tompel, "Santan! Santan! Asal ngomong aja lo! Gue santenin juga nih muka lo!"
"Buset, galak banget pak!" jawab Tompel. Dalam posisi yang masih duduk di sebelah gue, si Tompel menunjukan handphonenya, "Nih, lo dapet undangan malam ini ngerayain ulang tahunnya DJ Tasmin. Mau ngasih hadiah apa ke dia? Jangan asal pilih loh! Lo kan udah naksir dia lama banget."
DJ Tasmin adalah DJ cantik yang gue kagumi, gue selalu terkagum dengan cara dia menciptakan hormanisasi suara yang dapat menggoyangkan gelombang massa, belum lagi ditambah parasnya yang luar biasa menggoda hati. Tapi entah kenapa gue gak bersemangat untuk pergi ke acara itu.
Gue kembali berbaring dan menarik selimut menutupi kepala gue, "Lo aja yang pergi, Pel! Gue mau tidur."
Tompel menarik selimut gue, "Lo kenapa sih? Lo sakit? Ini DJ Tasmin loh yang kita omongin!"
"Gue gak sakit! Lagi malas aja! Capek seharian kemaren kerja! Sana lo pergi sama Becca aja!" husir gue
"Yakin nih?" tanya Tompel
Gue menjawab lagi-lagi sambil menarik selimut gue, "IYAAA!! Sana pergi! Gue mau tidur."
Tompel pergi meninggalkan gue dalam pelukan selimut gue.
Rasa penasaran dalam hati gue, membuat gue memaksakan diri untuk kembali lagi tertidur dan memimpikan perempuan yang bernama Kara itu. Entah kenapa gue ngerasa gue harus bicara dengan Kara. Apa yang sebenernya gue cari, apa gue masih mencari pembuktian bahwa dia nyata? Bahwa Kara ada di malam kejadian gue menjadi perempuan.
Gue menghipnotis diri gue sendiri dengan berkali-kali menyebut namanya sebagai mantra, "Kara, kara, kara, kara, kara, kara, kara."
Gue tertidur,
***
Beberapa hari berlalu,
"jreng!" gue memainkan gitar, nunjukin lagu-lagu baru yang gue buat. "Gimana, Pel? Bagus gak lagunya?" tanya gue pada Tompel yang terduduk di sofa panjang kesayangan gue.
Tompel menjawab, "Rada beda dari warna lagu lo sebelumnya sih, tapi yang ini lebih bagus. Gue suka banget sama lagu-lagu lo yang ini. Gue pikir lo tiga hari gak keluar-keluar apartemen karena tidur mulu, ternyata lo bikin lagu toh."
Gue tersenyum menjawab dengan bangga, "Ya gue nulis lagu karena tidur tiga hari. Gue dapat inspirasi lagu dari mimpi-mimpi gue."
Tompel terlihat bingung dan sedikit curiga, "mimpi? Ini semua lagu soal gadis yang lo sebut-sebut Kara?"
Gue mengangguk sambil tersenyum
Tompel kembali bertanya, "Lagu yang judulnya 'suara dalam air' itu tentang dia? Lagu yang judulnya 'hati perempuan', lagu yang judulnya ' watching you ' dan lagu yang barusan lo nyanyiin, itu semua tentang cewe dalam mimpi lo itu?"
Gue tersenyum mengangguk mengiyakan pernyataan Tompel. Guepun dengan semangat menceritakan soal Kara, "Lo harus liat gimana cara dia nanganin adeknya, Pel. Dan gimana cara dia ngehadepin dunia. Dia tuh unik banget, baik banget, polos banget. Pernah satu kali gue mimpi jadi lalat, terus gue liat si Kara lagi milih cabe di pasar. Eh, ada satu ibu di sebelah Kara yang mau beli cabe juga. Dia nawar harga cabe gak kira-kira. Terus setelah itu Kara beli juga cabenya, tapi dia bayar dengan harga awal. Terus tukang cabenya nanya, 'kok gak mau bayar harga yang ditawar ibu tadi aja?' terus si Kara bilang 'harga ini ibu pasang buat nafkahi keluarga kan, saya gak mau ambil rejeki orang, semangat terus ya bu.' Gila! Mana ada cewe yang mikir kaya gitu!"
Tompel menunjukan muka khawatir, "Raja. Gue sebagai sahabat lo cuma mau ngingatin, ingat ya, dia cuma karakter dalam mimpi lo! Jangan berfikir lebih!"
Kalimat Tompel membuat gue terdiam, berfikir dan merubah mood gue.
Tompel berdiri, "Hari ini cerah nih! Kita keluar yuk cari inspirasi di luar. Siapa tau ada moment lucu atau keren yang bisa kita post. Udah lumayan lama lo gak ngepost foto."
Gue berdiri berjalan ke arah pintu. Tompel mengikuti gue dari belakang. Gue membukakan pintu dan berkata, "Makasih banyak buat kunjungannya ya, Pel! Nanti gue hubungin lo lagi."
Tompel terdiam seribu bahasa.
Gue menutup pintu.
Di hari yang cerah itu gue kembali berbaring di atas tempat tidur, menutupkan mata gue dengan mantra hipnotis andalan gue, "Kara, kara, kara, kara, kara, kara."
Gue tertidur,
Gue melihat Kara, dan kali ini dia bersama Kara kecil. Mereka berdua duduk di meja berhadapan dengan seorang ibu berpakaian dinas, sepertinya ibu itu seorang guru. Sekeliling gue menunjukan bahwa gue berada di sekolah – tepatnya di ruang guru, tapi gue belum tahu kali ini gue bermimpi menjadi apa.
Ibu guru itu berbicara dengan nada tinggi, "Mba! Adek Mba ini gak bisa saya paksakan ikut ujian. Dia harus bayar uang sekolah dulu. Ini uang sekolah sudah nunggak tiga bulan."
Kara dewasa menjawab, "Bu, adek saya masih kelas satu SD, masih belum mengerti hal beginian. Apa boleh dia dipersilahkan menunggu di luar dulu sebentar?"
Ibu itu menjawab dengan jutek, "Kenapa, Mba? Mba malu dimarahin depan Kara? Malu jadi kakak yang gak bisa diandalkan? Memang seharusnya Mba malu. Biar Kara tahu ini semua karena kakaknya gak bisa diandalkan!"
Tingkah laku ibu itu bikin gue naik pitam. Emosi yang memuncak membuat gue mau memaki-maki ibu itu. Tapi lagi-lagi hal yang sama terjadi, gue gak bisa bergerak, gue gak tau gue mimpi jadi apa kali ini. Gerombolan bocah berpakaian baju olahraga datang menghampiri gue. Saat mereka mengambil gue, gue sadar, gue adalah bola basket. Kepala gue tarasa pusing saat mereka memantul-mantulkan gue ke lapangan. Di tengah pantulan itu gue melihat sebuah petunjuk yang tertulis di gerbang pintu masuk – nama sekolah adiknya Kara.
Gue terbangun,
Sialnya adalah gue terbangun di pagi subuh yang sunyi dan gelap. Seandainya gue bangun pagi saat matahari bersinar, gue akan langsung pergi menuju sekolah adeknya Kara. Namun gelapnya subuh itu mengurung gue dalam apartemen. Gue memaksakan diri gue kembali untuk tidur dengan harapan dapat kembali bertemu Kara, dan menemukan petunjuk lainnya mengenai keberadaanya.
Gue tertidur, lagi,
Lagi-lagi gue gak tau gue bermimpi jadi apa, tapi gue melihat rumah-rumah kecil di bawah gue. Apa gue jadi pesawat. Atau jadi burung. Atau jadi superman. Satu rumah bercahaya berbeda, menarik pandangan gue. Perlahan gue berusaha melihat ada apa gerangan dengan rumah itu. Perlahan-lahan dari dalam rumah yang bercahaya itu gue bisa melihat Kara sedang menatap keluar jendela. Dia sedang terduduk di meja belajarnya. Rumah Kara bukanlah rumah yang mewah dan besar, tapi bukan juga rumah yang tidak layak ditempati.
Kara melihat ke arah gue. Apa Kara bener-bener ngeliat gue.
Lalu Kara berbicara, "Halo teman lama! Kita ketemu lagi ya."
Gue bingung. Apa Kara bener-bener bicara dengan gue. Apa Kara selama ini menyadari kehadiran gue. Apa Kara bicara dengan gue – Raja.
Kara kembali berbicara, "Hari ini semua orang sepertinya banyak tantangan, gak ada yang senyum ke gue, kecuali lo. Makasih ya udah senyum untuk gue malam ini – bulan sabit. Besok mampir lagi ya."
Kalimat Kara memberi tahu peran gue malam itu - gue adalah bulan sabit. Gue bulan sabit yang tersenyum untuk Kara. Mengamati diri gue yang menjadi bulan sabit membuat gue sadar. Jika bulan saja yang hanya diam dan bersinar bisa bikin Kara semangat, apalagi gue yang bisa ngomong, gue yang bisa jalan, gue yang bisa nyanyi dan gue yang satu kota dengan Kara. Gue gak sabar untuk bangun dan membuat lagu untuk bikin Kara semangat.
Tunggu dulu! Kenapa gue gak sabar nyemangatin Kara. Memangnya dia siapa?
Gue terbangun.
Pagi hari itu gue segera menghubungi Tompel untuk meminta bantuannya. Tompel langsung segera datang ke apartemen gue. Guepun membukakan pintu seketika suara dentakan langkah kaki Tompel terdengar.
Tompel masuk dengan wajah panik, "Ada apa, Blai? Kenapa?"
Gue menjawab sekaligus berberes, "Ayo temenin gue." Gue berjalan keluar apartemen, Tompel mengikuti gue tanpa tahu ke mana arah tujuan kami pergi. Pintu lift terbuka, gue dan tompel memasuki lift. Gue menekan lantai B2 tempat gue biasa memarkir mobil jazz hitam gue.
Keheningan dalam lift terpecah saat Tompel bertanya, "Kita mau ke mana sih, Blai? Jangan bikin gue panik gini dong."
Gue menjawab sambil tersenyum, "Santai aja! Nanti juga lo tau. Dan lo bakal bilang kalau gue benar"
Pintu lift terbuka. Gue dan tompel memasuki mobil jazz hitam milik gue. Kali ini gue yang menyetir. Gue buka aplikasi GPS di iphone gue, dan gue ketik 'SDN 15 CAWANG'.
Tompel memperhatikan gue, "Kita ngapain ke SDN Cawang, Blai? Jelasin, weh!"
Sambil memutarkan setir gue pun mulai menjelaskan, "Kita mau ke sekolah adeknya Kara. Gue bakal kasih tunjuk yang mana yang namanya Kara sama lo."
Muka terkejut dan kesal bercampur di muka Tompel, "Kara!! Lo gila ya! Kara yang ada di mimpi lo? Wah udah gak bener otak lo! Putar balik nih mobil!"
Dengan nyolot gue menjawab, "Selama ini gue selalu nurut sama lo! Kali ini, tolong sekali aja nurut sama gue."
Gue rasa aura dingin antara gue dan Tompel selama perjalanan tercipta karena penjelasan gue yang ketus kepada Tompel. Keempat roda Jazz gue terus berputar mengikuti arahan yang diberikan oleh Mba Waze. Saat Mba Waze mengatakan bahwa jarak yang ditempuh tinggal dua kilo meter lagi, Tompelpun mulai berbicara, "Terus, kalau ketemu Kara,mau ngapain?"
Pertanyaan yang Tompel lontarkan merupakan pertanyaan yang belum gue pikirkan. Gue hanya merasa harus bertemu dengan Kara di kehidupan nyata. Apa ini semua ulah dari rasa penasaran gue. Atau gue melakukan ini karena gue pengen membuktikan kepada Tompel kalau gue benar.
Gue menjawab, "Gue gak tau mau ngapain. Tapi gue mau buktiin aja ke lo kalau Kara itu nyata, dan gue gak gila."
Tompel merespon kalimat gue dengan dingin, "Oke. Tapi cukup sampai sini aja ya, Blai. Gue gak mau denger nama Kara lagi setelah ini."
Gue terdiam,
Tompel kembali berbicara, kali ini dia berbicara dengan nadanya yang biasa, "Gue kawatir ngeliat lo akhir-akhir ini mengurung diri. Becca juga kawatir loh, dia nanyain lo mulu. Lo begini bukan karena bokap nyokap lo kan?"
Gue menengok sekilas ke arah Tompel, "Thanks ya, Bro. Lo sama Becca perhatian banget sama gue. Gue seriusan gak apa-apa kok, gue begini bukan karena bokap nyokap gue, gue gak tau kenapa gue mimpiin perempuan bernama Kara ini. Tapi yang jelas semenjak dia datang ke mimpi gue, gue gak ngerasa kehilangan."
Tompel tersenyum, "Fix! Nanti pas ketemu Kara gue bakal salam dia, gue mau ngucapin makasih udah ngobatin rasa kehilangan sohib gue."
Gue tertawa melihat sahabat yang gue panggil Tompel karena tanda lahir di pantatnya itu.
Gue berhenti tertawa saat gue melihat gerbang yang bertuliskan SDN 15 Cawang. Gerbang itu benar-benar persis seperti yang ada di mimpi gue. Gue semakin yakin kalau mimpi gue benar terjadi. Gue memasukan mobil gue melewati gerbang itu.
Tompel mulai melakukan tugasnya, "Oke, Blai! Pake topi sama kacamata hitam lo."
Melihat Tompel menjelajahi kursi belakang gue, membuat gue entah mengapa, teringat akan Kara dan segala tingkahnya di setiap mimpi gue. Apalagi tingkahnya yang berani dan apa adanya.
Gue menepuk bahu Tompel, "Pel, gue pengen keluar begini aja." Gue membuka pintu mobil dan keluar. Ternyata saat itu adalah waktu yang sangat salah untuk keluar tanpa penyamaran – bel istirahat berbunyi, semua anak-anak keluar memenuhi lapangan.
Tanpa menunggu hitungan menit, anak-anak itu menyadari kehadiran artis terkenal di antara mereka. Semua anak-anak langsung mengerumuni gue dan mulai menginterogasi gue secara bersamaan,
"Kakak yang namanya Kak Raja kan ya? Boleh minta foto gak?"
Ada pula yang minta tanda tangan, "KAK RAJA MINTA TANDA TANGAN DONG!", ada yang mintanya gak waras, "KAK RAJA TANDA TANGANIN DASI TUT WURI HANDAYANI AKU DONG!"
Dan gue hanya bisa tersenyum canggung sambil meladeni mereka satu-satu. Tompel memanfaatkan moment ini sebagai salah satu cara marketing untuk menaikkan pamor gue. Bukannya menolong gue, si Tompel pantat itu malah berdiri ngevideoin gue.
Lalu datang seorang ibu guru yang mukanya tidak asing di mata gue – ibu guru yang memaki Kara.
Ibu itu datang menghusir anak-anak yang mengerumuni gue, "Heh! Ada apa ini! Ayo Bubar! Bubar!" perlahan murid-murid itu membubarkan diri sambil menggerutu kesal.
Sekarang perhatian Ibu itu tertuju kepada gue, "Halo Nak Raja!" sapa Ibu itu dengan nada sok lembut yang bikin gue jijik. Ibu itu melanjutkan, "Ada perlu apa mengunjungi sekolah kami?"
Tompel berhenti mengambil video dan menghampiri gue dan Ibu guru itu. Di depan pintu gerbang sekolah itu gue bertanya, "Saya mau bertemu dengan Kara. Kara yang anak laki-laki kelas satu SD. Yang belum bayar uang sekolah tiga bulan. Ibu tahu kan anak yang saya maksud?"
Tompel melotot kaget melihat gue tahu informasi yang mendalam semacam itu.
Ibu guru itu meletakan jarinya di dagu, "Oh, Bidakara!"
Tompel menjawab, "Bidakara? Gedung, Bu?"
Ibu itu menjawab dengan genit, "Aduh kamu ganteng-ganteng goblok!" ucap ibu itu, "Ya bukanlah! Bidakara itu nama siswa yang kalian cari. Hari ini dia gak masuk. Kemaren saya ngasih tegoran ringan ke Kara dan kakaknya mengenai uang sekolah."
Dalam hati gue nyeletus, "Tegorang ringan gigi lo peang!"
Ibu itu kembali bertanya, "Kok Nak Raja tahu mengenai tunggakan uang sekolah Kara? Nak Raja temannya Kara?"
Gue melotot ngotot sengotot-ngototnya ke dalam mata Tompel mengisyaratkan 'noh kan gue bener'. Lalu Tompel merespon dengan senyuman canggung yang mengisyaratkan 'iya, iya, lo bener.'
Gue melanjutkan bertanya kepada sang Ibu guru munafik itu, "Ibu tahu di mana alamat rumahnya Kara?"
Tompel menepuk bahu gue. Tepukan Tompel mengingatkan gue akan pembicaraan kami tadi di mobil. Pembicaraan bahwa semua cuma sampai di sini. No more Kara!
Tompel menjawab, "Gak usah repot-repot, Bu. Kami ke sini cuma hanya sekedar menyapa Kara sebagai fans beratnya Raja."
Segera setelah itu gue dan Tompel kembali ke dalam mobil, dan kali Ini Tompel yang menyetir. Di tengah perjalan gue melihat seorang perempuan putih, ramping, tinggi dan berambut hitam sebahu sedang berjalan sambil menggenggam tangan seorang anak laki-laki berseragam SD. Gue langsung mengisyaratkan Tompel untuk menepi. Tompel menepi secara tiba-tiba, gue langsung turun dan menghampiri Kara. Gue meneriakkan namanya, "KARA!"
Lalu Kara menengok dan berkata, "Kara? Saya bukan Kara, Mas." Mba itu kembali berjalan.
Ternyata wanita itu bukan Kara. Gue kembali ke dalam mobil dan Tompel dengan muka seriusnya berkata, "Stop sampai sini, Ja. Sampai sini."
Tompel kembali menyetir. Di tengah macetnya jalanan Jakarta, gue berfikir mengenai Kara. Gue udah tahu dia nyata, tapi kenapa gue masih ngerasa belum puas. Ah! Kenapa sih dengan diri gue akhir-akhir ini. Sambil berusaha melupakan Kara, gue kembali tertidur di kursi penumpang yang ada di sebelah kiri Tompel.
Gue tertidur,
Gue kembali bermimpi dan dalam mimpi gue, gue melihat sosok perempuan berdiri membelakangi gue. Perempuan berbadan tinggi, putih, ramping, dan rambut hitamnya yang lurus menyentuh bahunya. Itu adalah Kara. Gue melihat tangan gue, betapa terkejutnya gue saat melihat bahwa itu benar-benar tangan gue. Gue bisa bergerak, gue bisa berjalan. Perempuan yang ingin gue temui itu berjalan menjauhi gue. Gue mengejarnya, dan akhirnya Kara bisa mendengar gue memanggil namanya, "Kara!"
Kara menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke belakang. Perlahan wajah manisnya terlihat, lalu muka Kara berubah jadi muka Tompel Kampret. Gue pun berteriak, "TOMPEL BANGKEEE!!"
Gue terbangun,
Tompel terkejut, "Kenapa lo?"
Gue menyeletus, "Bangke lo, Pel! Di mana ini kita? Udah jam berapa ini?" tanya gue melihat jalanan yang padat.
Tompel menjawab bingung, "Kok gue dikatain bangke? Salah gue apa coba. Kita masih di Semanggi, lo taulah semanggi kalau jam pulang kerja kaya gimana."
Giliran gue yang bingung, "Semanggi? Ngapain lewat semanggi?"
Tompel menjawab, "Si Becca minta dijemput dari kampus. Dia bilang dia kangen sama lo. Dia ngajakin kita live music malam ini."
"Huuhhhh!!" helah gue. Live Music itu cuma nama alim untuk dugem di club. Sebenernya sih gue lagi males ngedugem, tapi kayaknya gue butuh pengalihan untuk ngelupain Kara. Bener kata Tompel, semua sampai tadi aja. Kara adalah anugrah Tuhan buat gue. Kara jadi sumber inspirasi lagu gue, dan sebaiknya hal itu tetap selalu begitu dan hanya sebatas itu.
Gue kembali tertidur di mobil,
Gue kembali ngelihat Kara – bener-bener Kara. Dia ada di hadapan gue, tapi dia gak sendiri. Kara sedang duduk di meja bersama dengan seorang cowo yang lumayan ganteng – gak lebih ganteng dari gue lah. Gue gak bisa denger mereka ngomong apa, tapi cowo itu megang tangan Kara. Setelah gue liat sekeliling, akhirnya gue sadar gue lagi di restaurant . Seorang pelayan datang menyajikan makanan ke meja Kara dan bencong itu – eh maksud gue cowo itu.
Panas oh panas kepala ini saat cowo yang memegang tangan Kara, menyuapi Kara. Cowo itu juga sok-sok an membersihkan sisah makanan di bibir Kara. Gue berjalan hendak menghampiri meja Kara. 'PLAK!' suara gue menabrak sesuatu, tapi gue gak ngeliat apa yang gue tabrak. Ternyata gue nabrak kaca. Gue lihat kiri gue – segerombolan mata yang tidak berkedip dan mulut yang buka tutup memandangi gue – mereka adalah gerombolan ikan bawal, dan gue adalah ikan bawal dalam aquarium.
Gue berteriak, "AAAAA!!!"
Becca membangunkan gue,
Tompel menyeletus, "Blai! Stop teriak-teriak pas tidur! Gue bisa nabrak orang tau!"
Gue melihat ke kursi belakang. Becca tersenyum menyapa gue, "Gimana kabarnya Raja Jablai? Sehat lo?" lalu Becca mencium pipi gue. "Gue kawatir tau." Lanjut Becca.
Tompel ngedumel, "Coba kalau gue yang gak ngabarin lo, Bec. Mana lah lo cium! Yang ada lo remove gue dari friends facebook."
Gue terkejut, "Lo masih mainan facebook, Pel? Astaga! Makanya kalau bergaul jangan sama nyokap lo doang. Yang diomongin ya harga beras sama harga telor doang. HAHAHAHAHA"
Seperti biasa Becca turut serta menertawakan Tompel.
***
Setibanya di club, gue hanya duduk sambil minum. Becca dan Tompel berkali-kali mengajak gue untuk ikut tertawa bersama anak-anak lain yang baru mereka temui malam itu. Tapi sosok cowo yang muncul di mimpi gue tadi bener-bener ngerusak malam gue. Kenapa gue kesel sih mikirin cowo itu. Ini malam minggu, gue harusnya seneng-seneng, bukan mikirin cewe yang gue gak kenal.
Tompel menghampiri gue, "Lo kenapa sih, Blai? Muka lo kok kayaknya kesel banget. Gue ada salah ya? Apa Becca ada salah?"
Gue menjawab dingin, "Lo gak bakal mau tahu kenapa. Udah sana join yang lain!"
Tompel duduk di sebelah gue dan berkata, "Blai, gue sahabat lo. Kalau gak sama gue, lo mau cerita sama siapa?"
"Huuuuhh!" gue menghela nafas panjang dan mulai bercerita, "Gue ngeliat Kara jalan sama cowo di mimpi."
Tompel senyum sinis, "Kara lagi nih?"
Gue menjawab, "Tadi lo yang minta gue cerita kan. Sekarang gue cerita lo malah protes."
Tompel menjawab santai, "Oke-oke. Terus kenapa kalau Kara sama cowo?"
Gue diam. Lalu gue menjawab, "Itu juga yang gue bingung. Gue benci aja ngeliat cowo itu. Gue yakin banget cowo itu bukan cowo baik-baik. Gue yakin dibalik tampang gantengnya dia nyembunyiin rahasia busuk."
Tompel tersenyum, "Itu namanya cemburu, Bro!" Hati gue tertusuk saat mendengar pernyataan Tompel. Tompel lanjut berbicara, "You fallen for this girl, aren't you?"
Lagi-lagi Tompel melontarkan pertanyaan yang tidak pernah gue pikirkan sebelumnya.
Karena terlalu banyak minum, gue pamit untuk membaringkan kepala di mobil. Seperti biasa gue kembali tertidur di mobil.
Gue tertidur,
Gue melihat poster-poster film dan pintu bertuliskan 'Teater 2'. Gue melihat tangan gue – lagi-lagi berkutek. Dan dada gue kembali terasa berat – tidak lain lagi, gue berpayudara, cuma kali ini gak terlalu besar. Gue bermimpi jadi perempuan pe-robek tiket. Mata gue menangkap sosok menyebalkan – cowo yang memegang tangan Kara. Tapi anehnya kali ini cowok itu memegang tangan perempuan lain. Cowo itu memeluk cewe yang jelas bukan Kara, dan dia mencium kening cewe itu, mereka berjalan ke arah gue. Cowo itu menyerahkan dua tiket ke hadapan gue.
Gue dengan segera menyumpal mulut si cowo bangke itu dengan tiket haramnya dan menonjoknya beribu-ribu kali sampai darah keluar dari hidungnya – itu adalah hal yang gue harap bisa gue lakukan. Tapi gue inget Kara, gue gak boleh ngambil rejeki mba pe-robek tiket ini.
Rasa hangat muncul di bibir gue.
Gue terbangun,
Mata gue terbuka menemukan bibir Becca mengecup bibir gue. Gue memundurkan kepala gue, Becca mabuk parah.
Becca mulai bergumam setengah sadar sambil menangis, "Lo kenapa sih gak bisa suka sama gue, Ja? Gue kurang apa coba? Semua cowo mau sama gue kecuali lo. Apa sih kurangnya gue? Gue kurang perhatian? Gue kurang cantik? Gue kurang dewasa? Kasih tau gue, Ja!"
Tompel datang mendapati gue yang masih terkejut dan Becca yang masih mabuk.
Tompel memapah Becca, "Sorry, Ja! Gue lupa ngontrol minuman dia."
Tiba-tiba Becca kembali bergumam, "Gue nih nyata loh, Ja! Nyata di hidup lo! Ngapain lo cariin cewe yang gak nyata. Siapa namanya. Si Kara Kara santan itu! Kenapa, Ja!" lalu Becca muntah di sepatu Tompel
Tompel melihat sepatunya, "Kenapa gue mulu sih korbannya. Kalu begini ceritanya, mending gue di rumah ngomongin harga beras sama nyokap."
Kami masuk ke dalam mobil dan seperti biasa Tompel yang menyetir, karena hanya dia yang paling sadar di antara kami. Biasanya, setelah mabuk, gue akan tidur dengan mudah, tapi kali ini tidak.
Tompel menyadari gue yang tidak tertidur, "Kenapa, Blai? Lo mikirin Becca?"
Gue menjawab, "Gak, Pel! Ini bukan pertama kalinya Becca begini ke gue."
"Terus kenapa?" tanya Tompel
"Cowonya Kara." Jawab Gue
Tompel bertanya, "Kenapa cowonya?"
"BANGSAD!" jawab gue singkat, padat, dan jelas. Tapi gue belum selesai, gue melanjutkan, " Dia meluk cewe lain. Bukan cuma meluk, dia nyium cewe lain. Lo kebayang gak kalau cewe lo selingkuh?"
Jawab Tompel meringis, "Gue kan jomblo dari lahir, Blai! Bangke!"
Gue menggaruk kepala tanda meyesal salah ngomong.
Tompel kembali berbicara, "Rasa cemburu dan peduli yang lo rasain sekarang ke Kara, bisa gak lo lampiasin aja ke Becca? Becca ada benarnya juga loh. Kenapa lo harus cari yang jauh-jauh, yang belum pernah lo kenal, bahkan belum pernah lo temui. Padahal di dekat lo ada yang sayang sama lo."
Kali ini gue bisa menjawab pertanyaan yang tidak pernah gue pikirkan sebelumnya, "Sayang ya? Gue gak tau rasa apa yang gue punya untuk Kara – Kara yang bahkan gak tahu kalau gue mimpiin dia setiap malam. Tapi gue sayang kok sama Becca, gue sayang sama dia sebagai adek gue. Kalau lo minta gue untuk memaksakan merasa lebih ke Becca, bukannya hal itu malah bikin gue lebih jahat dari pada sekarang?"
Tompel hanya tersenyum dan dia berkata, "Gue sebagai manager ngerasa seneng, ngerasa beruntung, ngeliat lo dapat inspirasi dari Kara dan ngehasilin lagu-lagu yang bagus. Tapi sebagai sahabat, gue ngerasa sedih ngeliat lo galau gara-gara Kara. Jadi kalau ada yang bisa gue bantu, jangan sungkan-sungkan minta tolong ke gue ya, Blai."
Gue tepuk bahu sohib gue itu, "Thanks, Man."
Seandainya keempat roda jazz hitam gue bisa membawa gue kepada hari esok, apakah 'esok' adalah tempat yang bagus untuk dituju? Atau apakah 'esok' adalah tempat rumit yang gak bisa gue hindari.
Setelah kepala panas memikirkan cowo kurang ajar yang menghianati Kara, dan hati merasa bersalah melihat kerapuhan Becca malam ini, gue akhirnya tiba di apartemen gue dengan pikiran-pikiran yang tak tenang. Gue melemparkan diri gue ke atas tempat tidur, namun mata gue tak kunjung-kunjung terpejam, bahkan setelah gue mengucapkan mantra andalan gue.
Gue coba menghabiskan malam itu dengan nonton streaming , tapi gak bisa. Pikiran gue terus teralihkan dengan pertanyaan Tompel di club ' you are fallen for this girl, aren't you ?' dan gue hanya bisa diam. Akhirnya gue tuangkan perasaan gue dalam lagu. Kertas, gitar, MacBook dan Kopi menjadi teman gue malam itu. Sampai tak terasa sudah tengah hari. Gue segera menge-chat Tompel menyuruhnya ke apartemen gue.
Tompel membuka pintu kamar gue yang gak terkunci. Dia membawa kotak makan, "Kenapa, Ja? Nih nyokap gue ngasih kwetiaw pontianak buat lo." Tompel meletakkan kotak makanan itu di meja kecil tempat biasa gue membuat kopi.
Seperti biasa Tompel mendaratkan bokongnya di sofa panjang kesayangan gue. Gue duduk dengan memeluk gitar gue tepat di karpet depan Tompel, "Gue bikin lagu lagi. Tiga lagu. Judulnya; 'GGB – Ganteng-ganteng Bangsad', terus ada lagu rada mellow judulnya; ' fallen? ' dan lagu rada lucu judulnya; 'Girl friend with a space'. Gue mulai dari yang GGB ya?"
Tompel menganga, "LO KAPAN BIKIN SEMUA LAGU INI?"
"Semalam!"jawab gue. Gue mulai bernyanyi, "Gue mulai nih ya, Pel. Ini yang judulnya GGB"
Handphone Tompel berdering, "Wah dari Mas Andre nih, Blai. Gue angkat dulu ya."
Tompel berdiri, dia pergi berdiri di dekat pintu masuk, mengasingkan dirinya dari gue. Gue gak pernah curiga dengan Tompel, karena gue tahu bener dia siapa, kami temenan dari bangku SMP. Sambil memetik-metik gitar, gue memperhatikan perubahan muka Tompel. Muka Tompel terlihat bahagia sekali seperti ditelfon pacar, gue rasa Mas Andre membawa berita gembira. Atau jangan-jangan Tompel pacaran sama Mas Andre. Lalu Tompel mematikan telfonnya.
Tompel kembali duduk di sofa panjang kesayangan gue. Dia duduk tersenyum melihat arah gue tanpa mengatakan apa-apa.
Guepun penasaran, "Kok lo senyum-senyum? Mas Andre ngomong apa? Cerita weh bangke!"
Tompel menyondongkan badannya ke arah gue dan berbicara secara perlahan, "kita.., mau.., bikin........... KONSER PERTAMA LO!"
Gue terkejut mendengarnya, "Hah? Seriusan?"
Tompel dengan sombong menjawab, "Ya iyalah seriusan. Rokok Jmild mau ngesponsorin konser pertama lo."
"Kok bisa?" tanya gue
Tompel kembali menjawab, " Iya bisa lah, gue gitu loh. Jmild sebenernya ngesponsorin band Robinhood. Tapi ternyata vocalisnya – si Mas Brandon, melarikan diri ke luar negri karena ketauan pake narkoba. Terus Mas Andre nawarin lo buat gantiin mereka, dan Jmild mau. Konsernya tiga minggu dari sekarang, jadi banyak yang harus kita siapin. Kita harus ke kantor Mas Andre jam tiga buat tanda tangan surat perjanjian."
Gue senang mendengar berita baik itu, tapi gue merasa sedikit kawatir saat mendengar jenjang waktu yang gue punya, "Pel, lo yakin tiga minggu cukup?" tanya gue pada Tompel
Tompel menepuk bahu gue, "Bro, gue manager lo yang sekaligus sahabat lo. Itu artinya gue tau kemampuan lo lebih dari pada orang lain. Gue yakin lo bisa. Kita bakal kerja keras dalam tiga minggu ini. Ya lo harus jarang ketemu Kara dulu lah beberapa minggu ini."
Tanpa sempat menunjukan lagu gue ke Tompel, kami segera bergegas bersiap-siap pergi ke kantor Mas Andre.
Setibanya di kantor, asisten Mas Andre langsung mengarahkan gue dan Tompel ke kantor Mas Andre. Mas Andre menjelaskan semua isi perjanjian kerja sama itu. Gue percayakan semua ke tangan Tompel. Kami menandatangani surat perjanjian kerja sama itu. Tompel segera membicarakan jadwal untuk rekaman, jadwal latihan, dan semua jadwal lainnya bersama dengan Mas Andre.
***
Satu minggu udah gue lalui dengan rutinitas yang padat sekali. Setiap pagi gue latihan dance, siang gue ketemu designer baju, malam gue harus lanjut rekaman dan ngelatih team backing vocal gue. Setiap ada kesempatan untuk tidur pasti gak gue lewatkan, dan entah mengapa gue merasa sedihnya, karena setiap gue tidur, gue tidak memimpikan Kara. Gue rasa gue terlalu letih hingga akhirnya tidur gue terlalu pulas.
Sampai akhirnya gue minta izin dari Tompel untuk pulang lebih awal dan beristirahat. Melihat muka gue yang lusuh, Tompel akhirnya memberikan gue izin untuk melewatkan jadwal fitting baju siang itu. Gue segera pulang ke apartemen dan membaringkan kepala gue di tempat tidur.
Gue langsung tertidur,
Hmm, wangi sekali rambut wanita ini. Di depan gue ada wanita berdiri, dan jarak kami berdiri begitu dekat. Gue lihat ke kanan kiri – ternyata gue dalam Transjakarta, dan lagi-lagi gue jadi perempuan. Kali ini gue bermimpi jadi perempuan yang lagi berdiri di padatnya Transjakarta. Lalu gue lihat wajah wanita yang berambut wangi itu, itu adalah Kara. Gue gak tau yang gue rasakan ini apa, tapi darah gue semua naik ke kepala. Gue ngerasa tegang berada dekat sekali dengan Kara. Ini adalah pertama kalinya gue bersentuhan dengan Kara. Walaupun gue bersentuhan melalui badan orang lain, tapi gue tetap merasa deg-degan.
Handphone berdering - 'Mari kuajari kau membaca, Ikan. Kelak nanti, ketika kau sudah pandai, tolong bacakan perasaanku padanya. Biar seluruh lautan tau.' Lalu deringan itu berhenti saat Kara menjawab telfonnya
Lagu yang Kara jadikan ringtone adalah lagu gue yang berjudul 'Suara dalam Air'. Gue begitu senang sampai-sampai gue meragukan mimpi gue kali ini - apakah ini mimpi dalam mimpi.
Suara ketukan pintu terdengar, 'Tok! Tok! Tok!'
Gue terbangun,
Ada orang yang mengetuk pintu apartemen gue. Setau gue Tompel masih sibuk mengurusi semua persiapan konser gue, dan Becca punya kunci apartemen gue. Kira-kira siapa itu.
Gue mengintip dari jendela kecil di pintu gue, dan gue terkejut melihat sosok yang berada di balik pintu itu. Gue buka pintu apartemen gue dan berkata, "Kak Iwin?"
Kak Iwin menjawab, "Halo adek kecil." Dengan menggenggam sebuah keresek putih, Kak Iwin masuk ke dalam apartemen gue. Sama seperti Tompel, Kak Iwin langsung duduk di sofa panjang kesayangan gue. Gue menutup pintu dan berdiri di hadapan Kak Iwin, "Ada apa ke sini?"
Kak Iwin dengan gaya cerianya menjawab, "Jutek banget sih sama kakak sendiri. Sini duduk! Gue bawain fuyunghai kesukaan lo."
Fuyunghai buatan Kak Iwin adalah kelemahan gue. Gue langsung duduk di sebelah Kak Iwin dan membuka bungkusan makanan yang dibawanya. Sambil mengunyah gue bertanya, "Ngapain ke sini?"
Kak Iwin masih dengan gaya cerianya yang biasa menjawab, "Mau minjem duit dari adek gue yang mau konser. Hehehehe!"
Udah gue duga pasti dia datang karena mau minta duit. Gue gak tahu kehidupan kakak adek di keluarga lainnya gimana, tapi saat kakak gue ngomong 'minjem', itu artinya dia minta dan gak akan ngembaliin lagi.
Biasanya, mendengar kalimat Kak Iwin yang seperti itu membuat gue mengeluarkan kata-kata kotor yang harus disensor, dan Kak Iwin biasanya gak bisa balas makian gue, karena dia tahu kalau dia butuh gue – lebih tepatnya butuh uang gue. Tapi senyuman Kak Iwin membuat gue teringat akan senyuman Kara sewaktu gue menjadi bulan sabit.
Gue pun menjawab, "butuh berapa, Kak?"
Senyuman Kak Iwin berubah. Mukanya terlihat bingung, "Tiga setengah juta." Ucap Kak Iwin yang terlihat masih bingung.
Gue mengambil iphone andalan gue, membuka rekening bank online gue dan langsung mentransfer uang sebesar tiga setengah juta ke rekening kak Iwin. "Udah ya kak." Ucap gue kepada Kak Iwin
Kak Iwin benar-benar bingung. Dia bertanya, "Gak ada maki-makian yang pengen lo keluarkan, Ja? Gue siap kok dengernya."
Gue tersenyum dan menjawab, "kehadiran Kak Iwin lebih berharga daripada tiga setengah juta." Kak Iwin melotot mendengar jawaban gue. "Apalagi kalau lo bawa fuyunghai kaya gini, Kak." Lanjut gue.
Mata Kak Iwin perlahan menjadi berkaca-kaca, lalu air mata menetes di pipinya, "UWEEEKKK!!!" Kak Iwin teriak menangis, "Maafin gue ya, Ja. Gue emang gak pernah jadi kakak yang baik buat lo. Lo minum, Lo ngedugem, Lo gak pernah pulang ke rumah, itu semua karena gue jadi kakak yang gak baik buat lo. Maaf ya, Ja!"
Gue antara terharu dan mau ngakak ngeliat muka kakak gue yang jelek banget kalau lagi nangis kaya gini. Gue peluk kakak gue yang badannya mungil itu. "Makanya lo berubah ya, Bangke!" bisik gue dengan lembut ke telinga Kak Iwin.
Gue pikir gue akan beristirahat dengan tidur seharian, tapi ternyata malah beda. Beda itu tak selamanya berarti hal yang buruk. Karena sejujurnya gue gak pernah istirahat semenyenangkan hari ini. Gue habiskan waktu istirahat gue dengan melepas rindu bersama Kak Iwin. Dan Istirahat gue bener-bener enak karena Kak Iwin bawain Fuyunghai kesukaan gue. Istirahat gue hari itu lengkap saat Kak Iwin hendak pergi meninggalkan gue dan berkata, "Nanti kirim tiket konser lo ke gue ya. See you at the concert "
Dengan semangat gue melangkahkan kaki menuju kantor untuk kembali bekerja dan melatih team backing vocal gue. Selagi melatih para penyanyi itu, gue memikirkan sebuah ide – gue akan menyanyikan lagu untuk Kak Iwin sebagai lagu pembuka. Lalu Tompel masuk ke dalam studio,
Gue langsung menghampiri Tompel, "Pel, rundown lagunya bisa digeser dikit gak? Gue pengen nyanyi satu lagu di awal acara buat Kak Iwin."
Tompel melotot, "Kak Iwin? Iwin yang sering mintain lo duit?"
Gue memohon pada Tompel, "Please, Win! Kakak gue udah berubah. Please kali ini aja tolongin gue, Bro."
Dengan muka yang gak enak si Tompel menjawab, "Yaudah. Tapi kalau Iwin gak datang, lo harus tetep nyanyiin lagunya."
Gue mengangkat tangan gue, mengajak Tompel untuk tos dengan gue, "Tos! Tas! Tos! Lo pikir gue anak SD." Cetus Tompel
Selagi melihat team Backing Vocal melakukan rekaman suara di ruang rekaman, Tompel membuka handphonyanya dan menujukan sebuah foto kepada gue, "Ini Kara, bukan?"
Gue melihat foto yang terpampang di handphone Tompel. Betapa terkejutnya gue saat melihat foto itu, "KARA GIGI LO PEANG! Ini foto nyokap lo" teriak gue.
Tompel melihat sekali lagi handphonenya, "Oh iya foto nyokap gue. Hehehehe." Lalu Tompel menggeser foto nyokapnya dan menunjukan foto lain ke gue, "Kalau yang ini?" tanya Tompel.
Ketika gue melihat foto itu, lagu 'Beautiful Girl – Christian Bautista' terngiang di telinga gue, "Kok lo punya fotonya?" tanya gue dengan senyum semeringah yang gak bisa gue sembunyikan.
Tompel menjawab, "Ini Kara lo? Ini mah mantan gue."
"Mantan?" tanya gue kurang percaya, "Lo kan jomblo dari lahir."
Tompel tertawa ngakak, "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Bangke Kau!" hujat Tompel. Tompel melanjutkan ceritanya, "Tadi siang pas gue liat muka lo lusuh, gue ngerasa sedikit kasian sama lo. Gue cari cara buat nyemangatin lo, dan yang terlintas cuma Kara. Tapi gue gak ada waktu buat nyari Kara. Lalu tiba-tiba otak jenius gue ngasih sebuah ide. Gue buka fanpage lo di Instagram dan gue bikin sayapmembara,"
Gue mengoreksi, "Sayembara, Goblok!"
Tompel melanjutkan, "Iya maksud gue sayembara. Isinya begini, 'bagi kalian yang punya adek bernama Bidakara, kelas satu SD, dan bersekolah di SDN 15 Cawang, tolong DM gue karena kalian dapet dua tiket VIP beserta backstage access untuk Konser Raja pada tanggal 31 Oktober ini, di Pantai Ancol'."
Gue menyipitkan mata, "Kok sayembara lo ribet, mencurigakan dan terdengar kaya pengumuman anak hilang di mall, ya?"
Tompel masih melanjutkan ceritanya, "langsung banyak deh yang nge-DM gue, semua ngaku punya adek namanya Bidakara. Ya gue minta bukti kartu pelajar SDN 15 Cawang dong, eh gak ada yang punya. Sampai akhirnya satu cewe berjilbab ngechat gue. Dia bilang dia gak punya adek nama Bidakara, tapi temennya punya. Gue bilang gak masalah selama ada bukti nama adeknya Bidakara dan bersekolah di SDN 15 Cawang. Dan ternyata dia punya kartu pelajar yang gue minta. Terus gue minta foto dia dan temennya untuk Selfie. Dan hasil fotonya adalah yang tadi gue tunjukin ke lo. Kalau memang itu Kara, berarti lo bakal ketemu Kara di konser lo."
Gue terdiam
"Blai!" Tompel melambai-lambaikan tangannya di depan mata gue yang kosong. "Blai! Lo gak suka ide gue ya? Gue cancel deh tiket mereka."
Gue refleks, "Eh jangan! Jangan! Jangan dicancel."
Tompel bertanya, "terus kenapa lo diem?"
Gue menjawab dengan malu, "Gue gugup."
Rasa bahagia yang gue rasakan saat gue mendapat kesempatan untuk membuat konser, tidak sebahagia dan semenegangkan saat gue tahu gue akan bertemu Kara. Gue harus ngomong apa nanti saat ketemu Kara. Kenapa gue gugup ya.
***
Hari ini adalah tanggal 31 Oktober – hari konser pertama gue di Pantai Ancol. Beberapa malam yang sibuk gue lalui dengan tidur-tidur ayam. Terkadang gue masih bisa betemu dengan Kara dalam mimpi gue. Tapi ada satu mimpi dimana gue hanya melihat Kara menangis semalaman di tempat tidurnya. Gue gak tahu apa penyebab Kara menangis, tapi melihat Kara mengangis membuat gue makin semangat buat latihan. Gue latihan bukan hanya untuk bikin fans gue kagum, tapi gue pengen bikin Kara kagum, sebagaimana dia membuat gue kagum dengan dirinya. Yaampun, gue baru sadar kalau ternyata gue kagum dengan Kara.
The show begin ,
Di panggung itu gue berdiri. Orang-orang menyorakkan nama gue. Lampu sorot menggelapkan pandangan gue, gue tidak bisa melihat orang-orang di depan gue. Tapi gue dapat merasakan semangat mereka berkobar untuk mendengarkan gue bernyanyi. Sebelum gue naik ke panggung, Kak Iwin datang membawakan Fuyunghainya, dan Tompel berserta Becca juga datang menyemangati gue. Dengan semua semangat dan dukungan yang gue miliki, maka gue pun bernyanyi.
Tepuk tangan dan sorakan yang begitu ramai menutup konser gue. Dua setengah jam gue bernyanyi di hadapan para penonton. Tapi gue tidak merasa letih sama sekali. Gue berjalan ke belakang panggung, salah satu asisten panggung datang membawakan gue handuk kecil dan air botol. Lalu sahabat gue muncul memberi gue pelukan besar, "Selamat ya, Bro! Keren banget lo! Ini pujian antara sohib cowo ke cowo ya. Bukan cowo naksir cowo."
"Hahahaha!" Gue tertawa
Lalu Tompel melanjutkan berbicara, "Oh iya, tunggu sebentar!" perintah Tompel. Gue menunggu Tompel sambil berdiri minum air botol di belakang panggung itu. Tiba-tiba Tompel menepuk bahu gue dari belakang.
Saat gue menoleh ke belakang, semua aura keren gue mendadak hilang dan berubah menjadi cowo malu yang salah tingkah menjatuhkan air minumnya. Lagu berjudul 'Falling for you – Colbie Calliat' terputar di kepala gue. "Kara." Ucap gue gagap melihat Kara datang bersama teman perempuannya yang berjilbab.
Kara - dia persis seperti yang ada dalam mimpi gue, bahkan lebih indah. Rambut hitam menyentuh bahunya, senyum manisnya begitu polos, dan parasnya yang begitu tenang, semua lebih indah daripada mimpi. Apa ini Cuma mimpi.
Kara mengulurkan tangannya kepada gue, "Halo, gue Kara. Gue..,"
Belum selesai Kara mengucapkan kalimatnya, gue memotong dengan kalimat yang sangat memalukan, namun tulus dari hati, "Gue fans berat lo, Kara!"
Kalian pernah gak ngerasa rindu sama seseorang yang udah lama gak kalian temui, dan saat ketemu, rasa rindu itu malah makin parah. Hal yang sama terjadi saat gue melihat Kara. Saat gue berjauhan dengan Kara, gue merasa kagum. Tapi sekarang, saat gue ketemu dengan dia, rasa itu makin parah.
"Hah?" Kara bingung mendengar ucapan gue. Dengan tangan Kara yang masih dalam genggaman gue, Kara tertawa kecil mendengar perkataan gue.
Kira-kira, apa yang Kara tertawakan ya. Tawanya manis sekali.