Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Kekuatan Yang Patut Disyukuri
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Galang sampai tidak bisa tidur semalaman hanya karena suatu buku cerita. Yah, cerita dalam buku itu memang menarik, jadi bukankah itu wajar? Ditambah lagi, bukunya juga lumayan tipis.Buku itu menceritakan kisah tentang dua orang yang disebut sebagai Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat, yang berkelana menyusuri suatu dunia yang penuh sihir dan keajaiban, demi menemukan jalan menuju ke dunia manusia.Di buku itu diceritakan kalau kedua orang itu sebenarnya sangat mendambakan kehidupan yang normal dan biasa-biasa saja, tapi karena kenyataan dunia mereka sangatlah berbeda, akhirnya mereka berdua pun memulai perjalanan yang mengharuskan mereka untuk melawan takdir demi menggapai mimpi itu.Benar-benar kisah yang sangat menarik, dan Galang juga sudah hampir sampai di bagian akhir dari cerita itu. Hatinya berdebar-debar karena membayangkan akhir dari cerita itu."Hah... " Anak bertubuh agak gemuk, berkulit putih cerah dan berambut gondrong rapi itu mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas, ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar. Meski waktu sudah menunjukkan pukul lima dini hari, anehnya Galang sama sekali tidak merasa lelah, padahal dia belum beristirahat sejak tiba di sini.Galang mengucek-ucek matanya sambil mengedarkan pandangannya menyusuri kamarnya yang masih lumayan gelap.Kamar yang sangat luas itu dilengkapi dengan berbagai perabotan lengkap dan tampak masih baru. Bahkan ranjang tempat tidurnya pun seharusnya muat untuk empat orang atau lebih. Yah, gampangnya, bisa dikatakan kalau kamar ini sangatlah mewah, atau tepatnya rumah ini."Eh... Liel?"Galang memanggil nama itu dan berharap ada yang menanggapinya, tapi dia sadar kalau pemilik nama itu jelas masih belum bangun saat ini.Galang turun dari ranjang, dan dengan langkah yang ringan dan senyap, dia berjalan menghampiri sofa panjang yang terletak di samping pintu. Di sofa itu terbaring seorang remaja bertubuh lumayan gemuk yang berbalut jaket berwarna abu-abu gelap.Entah kenapa Galang merasa sangat aneh waktu memandang wajah orang itu.Faktanya, Galang sebenarnya tidak mengenal remaja ini sama sekali. Bahkan Galang memang hampir tidak mengingat apa-apa. Ingatannya menjadi kacau, dan tiap kali dia berusaha untuk menelusuri memorinya, kepalanya malah langsung terasa sangat sakit dan serasa akan meledak kapan saja.Kemarin, tepat pukul enam sore, Galang terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat yang asing dengan kepala yang terasa berdenyut-denyut. Tapi. satu-satunya yang ada di sini waktu itu adalah remaja bertubuh gemuk ini. Orang yang memiliki kekuatan sihir yang nyata.Mungkin Galang seharusnya mengamuk, panik, atau menangis, karena kejadian gaib yang dialaminya sekarang. Namun, untuk saat ini Galang lebih memilih tetap bertahan di sini karena suatu alasan."Kau mewarisi bakat dan berkatnya, Galang." Kata Liel kemarin sore saat kondisi Galang sudah agak membaik. "Kau mewarisi Bakat Jiwa- nya untuk menjadi penguasa kegelapan, dan juga berkat miliknya yaitu, Seni Dunia: Salju Hitam . Itulah sebabnya aku membawamu kesini, karena aku ingin membantumu menguasai kekuatan itu. Aku akan mengajarimu di sini selama tujuh hari. Dan, kalau semuanya sudah selesai, aku akan mengantarmu kembali ke tempat asalmu, oke?"Kekuatan, itulah alasan yang membuat Galang memutuskan untuk tinggal di sini. Perkataan Liel jelas-jelas menyatakan kalau Galang memiliki kekuatan dalam dirinya. Meski Galang masih belum mendapatkan kembali ingatan masa lalunya—ingatan tentang siapa dirinya sebenarnya—tapi dia tetap memiliki ingatan tentang dunia asalnya, yaitu dunia manusia. Dunia yang tidak memiliki keajaiban setitikpun.Yah, mungkin itulah yang terjadi pada Galang sekarang.Sama seperti orang Yang Terpilih dalam buku cerita yang dibaca Galang. Yang Terpilih sebenarnya hanyalah manusia biasa, maka dari itu Tuhan membawanya ke dunia lain agar dia bisa menikmati keajaiban tangan Tuhan dan menjalani takdirnya sebagai Yang Terpilih."Yah... setidaknya aku masih ingat namaku sendiri... " Bisik Galang sambil tersenyum kecut, sampai-sampai pipinya jadi terlihat lebih tembem dari sebelumnya.Lagi pula, Liel juga telah menjelaskan hal-hal penting yang harus diketahui Galang kemarin sore, termasuk fakta kalau mereka berdua sebenarnya sudah saling mengenal sebelumnya, juga kenyataan bahwa dialah yang membuat ingatan Galang menjadi kacau."Sihir... ya?" Tanya Galang pada dirinya sendiri. Semua keanehan ini, jelas-jelas karena sihir.Namun, ada hal lain yang harus Galang lakukan saat ini. Sudah seharian dia menahannya dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Apa yang dibutuhkannya sekarang adalah, toilet."Tapi... rumah ini kayaknya besar banget, deh..." Beberapa menit telah berlalu sejak Galang meninggalkan kamarnya untuk mencari toilet. Dia telah melewati banyak ruangan seperti ruang keluarga, ruang yang penuh dengan rak buku, juga ruang yang dihiasi dengan senjata-senjata yang tergantung di dinding, dan berbagai ruangan lainnya. Namun, pada akhirnya dia tetap tidak menemukan toilet dan malah berakhir di dapur.Lampu langsung menyala begitu Galang melangkahkan kakinya memasuki dapur. Tapi, betapa terkejutnya Galang waktu dia mendapati keberadaan orang lain di situ."Oh? Dik Galang, ya?" Tanya gadis berhijab oranye itu. Dia mungkin sudah berada di sini sejak tadi. Gadis itu tengah menikmati secangkir kopi hangat sambil mengamati pemandangan melalui jendela yang berada di antara kabinet. Dari tampangnya, gadis ini pastilah seorang mahasiswi yang masih duduk di bangku kuliah."Eh... " Galang yang tak mengenal gadis itu ikut mengarahkan pandangannya ke arah jendela. Di luar sana masih gelap, dan langitnya yang suram memancarkan warna kelabu dan membuat pemandangannya terkesan terasa dingin menusuk."Namaku Afizah, tapi aku lebih suka dipanggil Afi," katanya seraya meletakkan cangkirnya di meja."Ugh!" Perasaan yang tidak menyenangkan itu akhirnya muncul lagi di dalam diri Galang. Dia sudah berada di ujung tanduk dan tak mampu menahannya lebih lama lagi. "K-kak... kalau boleh tahu, to-toiletnya ada di mana, ya? Soalnya a-aku mau pipis." Tanya Galang. Wajahnya pucat pasi."Wajahmu benar-benar lucu, loh, Dik." Afizah yang menyadari situasi Galang saat ini, langsung tersenyum sambil menunjuk ke arah pintu kuning yang berada di seberang ruangan, tepat di depan Galang. "Tuh.""Ah! Terima kasih, Kak!" Ucap Galang ketus sambil melesat masuk ke dalam kamar mandi.Setelah Galang menyelesaikan urusannya dengan toilet hingga tuntas, dia pun keluar dari kamar mandi dan berniat kembali ke kamar untuk menyelesaikan buku cerita itu. Akan tetapi, ketika Galang melangkahkan kakinya melewati ambang pintu kamar mandi, tiba-tiba saja, Afizah langsung menyodorkan satu pertanyaan kepada Galang."Kenapa kau membaca buku itu?""Ah... Karena sampulnya menarik, kurasa." Galang terlihat bingung."Yah, karena sampulnya menarik." Afizah terlihat sedang berusaha untuk menahan tawanya saat mengulangi kata-kata Galang. "Sebenarnya sudah menjadi tugas Liel untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi, aku yakin dia lelah karena semua persiapan itu, jadi aku akan mengambil sedikit bagiannya.""Maksud Kakak?""Sebenarnya, buku yang sedang kau baca dikamar itu disebut sebagai, Kitab Tragedi .""Hah? Kitab Tragedi ?" Tanya Galang tak percaya. Pipinya terlihat agak memerah karena suhu dingin kala itu."Yah, sebenarnya kitab itu bisa membangkitkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam dirimu secara paksa. Jadi kau tak perlu latihan atau melakukan apapun. Tepat setelah kau membaca huruf pertama dalam lembar pertama buku itu, maka kekuatan yang ada di dalam jiwamu bisa dipastikan sudah bangun.""Jadi... itu artinya aku benar-benar punya kekuatan sungguhan, kan?"Siapapun bisa melihat betapa bahagianya Galang sekarang hanya dari tatapan matanya. Kebenaran itu, kenyataan itu, adalah hal yang sudah Galang nanti-nantikan sejak masih kecil. Dia selalu berpikir akan betapa hebatnya jika dirinya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, dan sekarang dia tahu kalau dia memiliki kekuatan itu."Ja-jadi! Bagaimana caranya menggunakan kekuatan itu, Kak!?" Tanya Galang dengan semangat yang berapi-api."Liel berkata kalau kau memiliki dua macam kekuatan, dan kedua kekuatan itu berhubungan dengan unsur kegelapan, jadi coba kamu bayangkan sesuatu, misalnya membuat sebuah pedang dari kegelapan?"Anak itu tanpa basa-basi langsung mengikuti instruksi Afizah. Dia berusaha untuk fokus dan mencoba untuk membuat sesuatu dari unsur kegelapan. Galang menjerit-jerit dalam hati akan betapa mengagumkannya nasibnya saat ini.Keringat mulai mengalir dari pelipis Galang dan tubuhnya sedikit bergetar. Anak itu mengeraskan badannya. Galang terus membayangkan untuk membuat sesuatu di tangannya."Aku bisa!"Mata Galang terbuka sangat-sangat lebar waktu menyadari keberadaan sesuatu seperti api membara berwarna hitam yang muncul di atas telapak tangannya. Galang merasakannya. Dia merasa seperti sedang memegang sesuatu di tangannya. Namun di saat yang sama, entah kenapa dia juga merasa seolah-olah dia sedang mengangkat batu yang sangat besar dan amat berat."Lihat! Lihat ini, Kak! Aku bisa menggunakan sihir!" Pekik Galang yang sebenarnya sangat ingin melompat-lompat karena saking senangnya."Aku lihat, kok." Kata Afizah sambil tersenyum kecil.Akan tetapi, tepat ketika Galang merayakan keberhasilannya, pada saat itu pula api hitam itu lenyap dari tangannya, dan beban yang berat itu pun ikut hilang."Loh! Kok begitu, sih?" Kekecewaan yang besar terpancar dari wajah Galang waktu itu. Tapi, dia tidak menyerah. Dia kembali mencoba untuk memunculkan api hitam itu dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya. Meski begitu, beberapa menit telah berlalu, dan tidak ada tanda-tanda bahwa api hitam itu akan muncul lagi. Lalu, dia memutuskan untuk mencoba dengan cara lain, seperti mengatur nafasnya atau membuat badannya menjadi lebih keras. Akan tetapi, pada akhirnya, api hitam itu tetap tak keluar."Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?"Waktu Galang memandang sekitarnya, ternyata tanpa dia sadari dunia ini sudah menjadi lebih terang dibanding beberapa saat lalu. Matahari hampir menunjukkan dirinya di ufuk timur, dan atmosfernya juga sudah tidak sedingin sebelumnya. Entah berapa lama waktu yang digunakan Galang dalam percobaannya tadi, sampai-sampai dia tidak sadar kalau pagi sudah berada di depan mata.Afizah sedang memasak sesuatu saat itu."Minum dulu tehnya." Afizah menyuruh Galang untuk meminum teh yang sudah dia siapkan di atas meja. "Sekarang kau santai saja dulu. Mending tunggu sampai Liel bangun, baru dia akan mengajarkanmu cara menggunakan kekuatan itu."Galang menjatuhkan dirinya ke kursi, kemudian ia minum teh itu dengan perlahan. Tehnya masih hangat, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Rasa lelahnya bahkan hilang begitu saja ketika teh itu mengalir masuk ke dalam kerongkongannya."Hah... " Nafas Galang mengepul di udara, memisahkan diri dari hawa dingin di sekitar. "Oh, iya, kalau boleh tahu kekuatan seperti apa yang Kakak miliki?" Tanya Galang yang tampak sangat tertarik."Kalau aku sih nggak punya kekuatan. lagi pula aku juga nggak terlalu memerlukan sihir-sihir semacam itu." Afizah menjawab dengan santai."Loh! Kok begitu, sih?""Yah, waktu masih kecil dulu, aku juga sebenarnya ingin memiliki kekuatan sihir seperti itu. Tapi... karena aku tidak pernah mendapatkannya, jadi aku terpaksa menjalani masa laluku, dengan diriku sendiri. Dan lihat, akhirnya aku berhasil melaluinya. Sekarang aku sudah tiba di masa depan, bersama dengan diriku yang dulu." Jelas Afizah."Eh... aku nggak paham, Kak." Jawab Galang yang sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Afizah."Yah, aku sudah menduganya... lagi pula kau masih SMP." Ujar Afizah sambil tersenyum kecut. "Tapi, intinya jangan berhenti berusaha. Teruslah hidup dan teruslah melangkah, percaya deh, kau pasti akan bertahan sampai akhir walau nggak punya kekuatan sihir."Galang terdiam seribu bahasa mendengar nasehat Afizah. Dia tidak tahu harus menjawab apa.Afizah mematikan kompornya, lalu dia pun mulai menata berbagai jenis makanan di atas meja. Aroma yang harum menyeruak masuk menembus hidung Galang. Seluruh ruangan dipenuhi oleh wangi dari masakan Afizah."Hmm... kenapa Liel membawaku kesini, Kak?" Tanya Galang tiba-tiba.Afizah terhenti seketika waktu mendengar pertanyaan Galang. Namun, setelah dia selesai menghidangkan semua makanan itu, gadis itu pun ikut duduk di samping Galang."Liel... adalah orang yang dikutuk untuk menderita, Galang." Ujar Afizah.Walau Galang tidak terlalu mengerti maksud dari perkataannya, namun Galang tahu kalau maksudnya itu adalah sesuatu yang sangat buruk."Gampangnya, Liel akan terus merasakan rasa sakit selama dia masih hidup dan bernafas. Dia akan terus menderita setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi.""Hah...? Kok kedengaranya dia seperti hidup di neraka, ya?""Yah, memang seperti itulah kehidupan Liel." Afizah memegang cangkir kopinya dengan erat. "Dunia ini... tidak... kehidupan ini, baginya adalah sebuah neraka tanpa akhir."Galang merinding mendengarnya."Hanya ada segelintir orang di dunia yang ini diizinkan Tuhan untuk menjalani takdir menyedihkan semacam itu. Orang-orang yang dikutuk untuk menderita. Tapi anehnya mereka malah tetap memilih untuk terus hidup. Apa kau tahu kenapa? Ya, karena mereka semua tahu akan betapa mahalnya harga dari nafas kehidupan.""Eh... Tapi, aku masih tidak mengerti alasan dia membawaku kemari.""Yah, karena kamu sebenarnya sangat mirip dengan almarhum adiknya yang sudah meninggal bertahun-tahun silam. Bahkan, kau mewarisi kekuatannya. Maka dari itu dia membawamu ke sini. Dia menganggapmu sebagai adiknya. Dia menganggapmu sebagai bagian dari kehidupannya.""Hah? Tapi—""Dia tidak akan peduli meskipun kamu tidak mau menganggapnya sebagai seorang Kakak." Afizah menjelaskan sembari bangkit berdiri. "Permintaanku hanya satu; turuti saja segala permintaannya. Sudah lama aku ingin melihat dia bahagia. Meskipun hanya sedetik, itu tidak akan jadi masalah. Asalkan, dia tahu bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Kumohon... jadilah jejaknya... Kumohon... jadilah keluarganya...""Jejak...?""Ya, jejak... Kau adalah bukti bahwa Liel pernah hidup." Ujarnya. "Ya sudah, aku mau siap-siap dulu buat ke kampus. Tunggu sampai Liel bangun, baru kalian makan, oke?" Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Galang sendirian di meja makan.Galang meletakkan tangan kanannya di atas meja, lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar sambil membayangkan api hitam hitam muncul di situ. "Atau tepatnya... Salju Hitam."Galang sama sekali tidak mengerti dengan situasinya saat ini. Rasanya mengerikan dan menyedihkan. Dia tetap tidak mengerti. Meskipun kini ada bola-bola berwarna hitam pekat yang melayang di atas telapak tangannya, anak itu tetap tak merasakan apa-apa lagi. Yang ada dalam dirinya saat ini, hanyalah ketidakpastian."Lho, Afi kemana?" Tanya Liel yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Galang. Pemuda gemuk itu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang sudah dihiasi oleh makanan.Galang langsung tersentak karena kaget. "A-ah! Liel, Kak Afizah katanya mau bersiap-siap buat ke kampus sekarang." Galang memberitahu dengan gelisah."Oh? Begitu, ya?" Kata Liel sambil berjalan ke arah kursi yang berada di sisi lain meja, yang berhadapan dengan Galang. "Ngomong-ngomong gimana tidurmu semalam?" Liel menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula lemari yang ada di belakang Liel tiba-tiba terbuka, dan beberapa alat makan langsung melayang keluar dengan sendirinya. Dua piring, dua sendok dan dua garpu mendarat dengan pelan masing-masing di depan Liel dan Galang."Ah... Biasa saja, kok." Jawab Galang yang tampak sedikit takjub dengan apa yang baru saja terjadi."Yah, baguslah kalau begitu. Tapi, Galang, tolong ya jangan gunakan kekuatanmu kalau aku lagi nggak ada, soalnya di pulau ini kadar energi Animanya terlalu tinggi. Jadi, ada kemungkinan kalau kekuatanmu bisa lepas kendali." Liel mengingatkan sambil tersenyum kecil."Tunggu... kita berada pulau?""Yah, pulau buatanku. Pulau Avalon II."Galang hanya bisa menunduk setelah mendengar penjelasan itu. Kenyataan itu terdengar sangat mengagumkan. Bagaimana bisa dia menciptakan sebuah pulau? Bukankah itu sudah terlalu tidak masuk di akal? Tapi sayangnya bukan itu yang membuatnya masih merasa bingung.Saat ini, Galang harus membuat suatu keputusan.Anak itu mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil memantapkan keyakinannya. Lagi pula dia sudah tahu mana pilihan yang akan membuatnya rugi dan mana pilihan yang akan menguntungkannya. Dan, satu-satunya yang dibutuhkannya sekarang, adalah keberanian untuk berbicara."Eh... sebenarnya kekuatanmu... tidak, maksudku, kekuatan Kakak itu sebenarnya apa?" Tanya Galang dengan ekspresi yang sedikit panik.Seulas senyuman terbentuk di bibir Liel kala itu."Jadi kamu sudah tahu, ya?" Tanya Liel."Iya... K-kak... ""Sulit, bukan?""Maksud Kakak...?""Setelah mendengar cerita menyedihkan tentang diriku, kamu jadi merasa kasihan padaku dan malah memaksa dirimu sendiri untuk memanggilku dengan sebutan itu.""H-hah?" Galang terkejut. "A-aku nggak bermaksud seperti itu, kok!" Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena saking paniknya."Ya, aku tahu kok." Liel bangkit berdiri lalu mengambil piring milik Galang, dan mengisinya dengan nasi dan berbagai macam lauk pauk hingga piring itu hampir penuh. "Kamu terlalu baik, Galang, dan apapun yang berlebihan itu bukan sesuatu yang baik. Tapi, aku memakluminya sih, soalnya kamu juga masih muda." Liel akhirnya mengembalikan piring Galang."Ah... terima kasih, Kak... " Jawab Galang ragu-ragu. Entah kenapa dia kini merasa telah melakukan kesalahan. Padahal, dia hanya berusaha."Tidak, aku yang harusnya berterima kasih padamu." Ujar Liel.Galang yang bisa merasakan kebaikan dari perkataan Liel langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah pemuda itu dengan heran."A-apa...?""Rasa kasihan itu bukan sesuatu yang buruk kok, Galang. aku malah senang karena kamu sudah berusaha untuk menganggapku sebagai seorang Kakak,. Kenyataannya, aku ini hanya orang asing, lho. Meski begitu, kau berhasil menggunakan rasa kasihanmu itu untuk membuat suatu kemungkinan, dan kemungkinan yang kau hasilkan sekarang adalah sesuatu yang baik, dan aku sangat berterima kasih atas kebaikan itu."Galang tidak mengerti maksud perkataan Liel. Dia sama sekali tidak mengerti."Kau benar-benar orang yang baik, Galang. Terima kasih, sudah mau menjadi jejakku." Liel kembali memasang senyuman di bibirnya. Tapi, senyumannya kali ini adalah senyuman yang sangat hangat dan tulus. "Ya sudah, makan dulu yuk.""I-iya, Kak." Jawab Galang yang juga kembali tersenyum dengan gembira.TAMAT
Malapetaka dari Bintang Jatuh
Pagi itu Linda tak terbangun di rumahnya. Ia dan ratusan penghuni pulau Kecubung lainnya menempati tenda-tenda pengungsian. Beberapa orang mulai sakit akibat dingin dan hujan deras semalam. Anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana sedang membagi-bagikan bantuan sembako serta pakaian bersih. Prajurit TNI juga ramai memenuhi tempat tersebut, tapi mereka lebih fokus mengawasi objek raksasa yang saat ini berdiri kaku bagai gunung di atas Pulau Kecubung—bekas rumah Linda dan ratusan orang lainnya."Sialan... Aku nggak menyangka kalau bajingan itu akan berani datang ke tempatku seperti ini... " Gadis berparas cantik dan berperawakan tomboy itu kini mengamati kedua telapak tangannya lamat-lamat. "Kalau sudah begini, ya berarti aku juga harus meninggalkan kehidupanku yang lama deh... "Semua bermula kemarin sore. Langit yang tenang tiba-tiba dilintasi garis cahaya benderang. Awalnya semua mengira itu adalah bintang jatuh biasa. Namun, semakin lama tampak jelas benda itu bergerak menuju pulau mereka. Perangkat desa segera menyerukan agar penduduk berlindung di rumahnya masing-masing.Kemudian bintang jatuh itu menghantam pulau disertai dentuman luar biasa. Seluruh daratan bergetar. Tanah, pasir, dan batuan beterbangan. Gelombang kejutnya menghantam rumah-rumah warga hingga luluh-lantak. Seolah dalam sekejap mata kiamat sedang terjadi. Malam itu menjadi malam yang kacau.Baru keesokan paginya kapal dari pulau seberang datang untuk mengevakuasi korban selamat. Tapi mereka harus menunggu hingga bantuan dari pulau utama tiba, sebab tempat tinggal mereka berada jauh di perbatasan negara yang menghadap Samudra Hindia.Kesedihan meliputi hati semua orang, terlebih bagi yang kehilangan keluarga maupun orang-orang tersayang.Itu juga yang dirasakan Linda. Namun, kemarahannya jauh melampaui kesedihan. Gadis itu berjalan sendirian ke tepi pulau, lalu memperhatikan objek raksasa yang menghancurkan rumahnya. Wujudnya menjulang dengan bagian-bagian seperti kepala, tangan, sayap, dan kaki. Wajahnya mengerikan, tatapannya mengancam, bahkan meski jarak mereka terpaut lautan. Mengingatkan Linda pada patung Garuda Wisnu Kencana di Pulau Bali, namun yang ini ukurannya jauh lebih dahsyat.Banyak yang berspekulasi. Ada yang bilang bahwa benda itu cuma batu meteor yang kebetulan menyerupai makhluk hidup. Ada juga yang bilang kalau itu adalah alien yang sedang berhibernasi—meski saat ini cuma diam, suatu saat ia akan bergerak. Yang paling liar, bahwa itu adalah malaikat yang hendak meniupkan sangkakala kiamat.Apapun itu, entah mengapa Linda merasa tahu mengenai patung tersebut. Ia tahu namanya. Deus Dorogon. Dan ia harus ke sana untuk menghancurkannya. Memang tidak masuk akal, bagaimana caranya menghancurkan sesuatu yang sebesar itu? Pasti butuh sesuatu dengan kekuatan ledak yang dahsyat seperti bom nuklir.Tetapi Linda merasakan tubuhnya sangat kuat. Darahnya membara. Kepalannya begitu keras, hingga ia yakin bisa menghancurkan batu dengan tinju tersebut. Cahaya merah bersinar dari sana."Ya, tugasku di sini sudah selesai." Linda berbisik pada hati kecilnya. "Keajaiban memang selalu terlihat sebagai sesuatu yang tampak murni dan tak bercela, tapi bukan berarti itu adalah hal yang baik. Karena semua orang tahu... kalau kegelapan selalu bisa muncul dari cahaya yang paling terang sekalipun.""Hei, kamu ngapain disitu?!"Linda spontan meredupkan cahaya di tangannya, lalu berbalik. Sekelompok prajurit TNI berjalan ke arahnya."Di sini berbahaya," ucap salah satu dari mereka. "Sana kembali ke tenda. Ada pembagian makan malam.""Eh... oke." Kata Linda kalem. Tapi, entah kenapa saat dia menoleh ke arah Deus Dorogon, tiba-tiba saja Linda merasa sangat kesal dan mendidih. Gadis itu menggigit bibir seakan berusaha menahan emosinya. "Kunyuk... ! Tunggu saja kau keparat! Akan ku remukkan ginjalmu!" Pekiknya sepelan mungkin.Linda kembali ke pengungsian. Sesampainya di sana, ibu dan adiknya langsung memanggil. Gadis itu bergabung dengan mereka dan berusaha menyembunyikan keanehan yang timbul dalam dirinya.Esoknya, sebelum mentari fajar terbit, Linda sudah bersiap-siap pergi. Ia bergerak pelan-pelan agar tak membangunkan siapapun di dalam tenda, lalu berjingkat keluar.Sesampainya di tepi pantai, tiba-tiba ada suara sahutan yang mencegat Linda."Diam di tempat!"Satu lusin pucuk senapan terarah padanya oleh barisan prajurit TNI. Linda dapat mengenali wajah-wajah itu, yakni anggota yang memergokinya kemarin."Kau mau ke mana?" hardik pemimpin mereka."Ya ke pulau dong, Pak," jawab Linda jengkel."Sudah kuduga, gadis ini ada kaitannya dengan patung raksasa itu!" seru sang TNI.Linda segera membantah dengan pandangan tak percaya. Matanya membelalak. "Tunggu! Hey! Aku ini mau ke sana untuk menghancurkan monster itu!""Monster? Apa maksudnya? Apa kau juga adalah monster?!""Manusia-manusia gila... " Linda pun putus asa. Ia merasa bicara tak ada gunanya. Ia menghentakkan kaki, lalu melesat dengan kecepatan tinggi.Seorang prajurit mengarahkan senapannya, lalu melepas tembakan. Sang gadis yang khawatir tembakan itu mengenai penduduk segera berhenti. Kedua tangannya menyala merah, lalu menangkap tiap peluru yang dimuntahkan ke arahnya. Tak hanya itu, ia menyentil peluru-peluru tersebut hingga berbalik melesat ke arah para prajurit. Sebuah aksi yang mustahil dilakukan manusia biasa.Satu persatu prajurit TNI berjatuhan karena pahanya tertembak.Pemimpin mereka yang menyadari bahwa senapan tak berfungsi segera mengeluarkan belati, kemudian menerjang. Ia menghujamkan senjata tersebut. Namun, Linda menangkap bilahnya hanya menggunakan tangan kosong. Lalu gadis itu meremasnya hingga hancur seperti kaca."Minggir!"Linda menapak perut sang prajurit, dan pria besar itu terhempas bermeter-meter ke belakang."Satu hal yang perlu kalian tahu, aku berada di pihak manusia!" serunya menggema. Kini para penduduk yang tadinya terlelap juga sudah bangun akibat keributan. "Aku akan menyerang Deus Dorogon. Doakan saja aku berhasil. Karena kalau tidak... yah, aku juga nggak tau sih."Lalu ia melangkah. Tiap jengkal tanah yang ia pijak bagai meleleh. Sinar di tangannya menyala makin terang, memancarkan hawa panas yang membuat para prajurit TNI tak berani mendekat. Tatapan gadis itu begitu mantap dan tajam, sehingga siapapun yang tertatap merasa bola matanya seperti mencair. Matanya pun ikut berpendar merah.Ia terus bergerak meninggalkan pulau, lalu masuk ke air. Dan ajaib, ia berjalan di atas permukaannya. Sementara uap tebal mengepul menyamarkan tubuhnya. Seolah lautan mendidih.Sang monster yang semula hanya diam pun kini mulai bergerak. Terdengar suara derak keras hanya ketika ia memutar tubuh. Makhluk itu menatap Linda."Aku datang, keajaiban sialan... Deus Dorogon. Mati kau bajingan..." Bisik Linda sambil memasang senyuman kecut. Urat-urat di pelipisnya timbul. Dia benar-benar jengkel sekarang.
Mahkota Raja Ramah
Rara selalu bertanya-tanya pada hati kecilnya, mengapa orang-orang kerap memandang keanehan dunia ini sebagai sesuatu yang mengerikan? Padahal, semua keanehan-keanehan itu, bagaikan batu permata yang amat mengkilap di mata Rara.Bagi Rara, keganjilan adalah hal yang paling megah di dunia ini, sama seperti mahkota emas yang pernah muncul di masa lalunya. Sebuah mahkota emas yang ukurannya menyerupai gelang, dan memancarkan cahaya yang terang benderang dan hangat layaknya sinar mentari, hingga mampu mengusir angkasa yang gelap gulita."Ya... orang-orang memang aneh... " Ujar Angga yang duduk di samping Rara. Mata pemuda itu terbuka lebar karena kagum dengan keberadaan sebuah ponsel yang melayang-layang tepat di depan matanya. "Tapi... kita juga orang kan?"Siang ini adalah siang terpanas yang pernah dirasakan Rara seumur hidupnya. Bahkan, karena saking panasnya, tak ada satupun pelanggan yang belanja di grosirnya sejak pukul sebelas tadi—saat dimana matahari mulai memancarkan sinar yang begitu menyengat.Waktu itu, Rara dan Angga sedang duduk di meja kasir yang berada di dekat pintu masuk. Di tokonya, rak-rak tersusun rapi dengan berbagai macam dagangan yang tertata di atasnya, sedangkan di bagian paling dalam juga ada begitu banyak susunan kotak kardus dengan berbagai ukuran dan isinya.Yah, meskipun toko Rara terbilang besar, tapi sayangnya dia hanya memasang satu buah AC saja, dan sekarang Rara menyesal karena tidak memasang dua pendingin ruangan."Hah... kau benar-benar beruntung Angga. Padahal ini baru hari pertamamu bekerja di sini, tapi sekarang grosirku malah sepi begini... " Ujar Rara. Wajahnya yang biasanya terlihat cantik dan penuh semangat, kini terlihat murung dan hampa. "Seandainya saja nggak panas kayak begini, pasti kau nggak akan bisa bernafas karena saking banyaknya pembeli... ""Eh... tapi kan, tugasku cuma di meja kasir doang... " Gumam Angga."Heh... iya juga, ya?" Rara lalu menatap Angga dengan heran. Entah kenapa rasanya sulit sekali bagi Rara untuk percaya dengan semua yang baru terjadi akhir-akhir ini. Angga yang merupakan anak dari keluarga kaya, dan juga teman Rara sedari kecil, yang beberapa tahun silam pergi keluar kota untuk melanjutkan pendidikannya, minggu lalu tiba-tiba datang ke hadapan Rara dan menawarkan diri untuk menjadi karyawannya.Benar-benar tak bisa dipercaya."Jujur lho, sejak aku balik ke kota ini, aku selalu penasaran dengan tokomu, karena tiap kali aku lewat, tokomu pasti ramai banget... Bahkan orang luar kota pun pasti datang ke sini untuk belanja, sampai-sampai tokomu ini malah terlihat lebih ramai daripada mall di kota." Angga bergumam, tapi matanya masih tertuju pada ponsel yang mengambang-ngambang di depannya itu. "Dan... sekarang aku tahu penyebabnya... ""Yah... aku perhatikan, kamu kayaknya memang sering lewat jalan sini deh, tapi kamu sama sekali nggak pernah singgah belanja di sini... " Rara menatap curiga pada Angga, tapi pemuda itu masih terpaku pada ponsel yang melayang. "Memangnya kamu biasanya ngapain ke sini? Setidaknya, kalau kamu lewat sini, kamu belanja minum gitu kek. Kita sudah berteman dari kecil loh—""Eh, Ra, kamu kok bisa punya kekuatan kayak begini sih? Bagaimana ceritanya coba? Dan sejak kapan?" Ujar Angga yang akhirnya berhasil memalingkan pandangannya dari ponsel itu. Dari mukanya, siapapun bisa tahu akan betapa penasarannya dia sekarang.Rara hanya mampu memasang wajah datar setelah mendengar perkataan Angga. Dia bahkan tidak memedulikan semua yang telah dikatakan Rara beberapa detik lalu. Namun, pada akhirnya Rara hanya bisa menghela nafas dalam, lalu ia pun mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Angga."Yah, pada dasarnya sih, ada banyak hal yang telah terjadi sejak kau memutuskan untuk SMA di Makassar... Dan... soal kekuatan ini, aku mendapatkannya sehari setelah kau berangkat." Rara menjelaskan sambil tersenyum kecil. Namun, entah kenapa kini dia bisa merasakan rasa pahit yang amat pekat di lidahnya. Perasaannya tiba-tiba bergejolak."Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti."Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu.""Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu.""Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa...""Tapi—""Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... ""Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya."Barusan... apaan?" Angga bergumam heran."Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar."Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut."Hah... ""Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... ""Eh? Maksudmu?""Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?""Ah, aku masih ingat.""Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara."Selamat siang, Rara!"Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka."Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu."Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara."Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja."Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga."Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba."BERHENTI WOY! ANGGA!"Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya."Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya."A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih."Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?""Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!""Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.+"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos.""Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti."Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu.""Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu.""Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa...""Tapi—""Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... ""Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya."Barusan... apaan?" Angga bergumam heran."Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar."Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut."Hah... ""Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... ""Eh? Maksudmu?""Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?""Ah, aku masih ingat.""Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara."Selamat siang, Rara!"Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka."Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu."Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara."Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja."Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga."Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba."BERHENTI WOY! ANGGA!"Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya."Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya."A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih."Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?""Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!""Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.+"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos."
AIR SUSU PERAWAN
"Zyan, kenapa dia mengompol?" teriakan itu membuat sang gadis yang dituju jadi serba salah, dan mengambil apa saja yang ada di depannya."Kenapa kamu pegang pembalut?" tanya sang pria dengan nada galak. Mata bundar itu melotot setelah mengetahui kebodohan apa yang dia lakukan dengan wajah memerah seperti tomat rebus dia menyembunyikan di belakang."M-maksudnya, mau ambil popok." Sang gadis nyegir."Nih, urus bayi ini. Jangan biarkan dia menangis, beri dia air susu 24 jam, jangan ada bau kotoran bayi, saya benci anak kecil!" desisnya.Azyan hanya mengangguk kaku, dan hanya bisa menelan ludahnya. Baru seminggu dia bertugas menjadi babysitter demi menjaga seorang bayi menggemaskan yang diadopsi dari panti asuhan, berbekal pengelaman nol dia akan mengurus bayi sepenuh hati walau ia belum punya anak."Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ambil bayi ini.""I-iya," jawab Azyan dengan gugup.Bayi merah yang diberi nama Danish berpindah tangan dan dengan telaten Azyan memaikan popok pada bayi tersebut.Azyan melirik pada laki-laki dewasa yang masih mengawasi dirinya, gadis itu menjadi semakin gugup oleh tatapan tersebut. Dennis adalah manusia kaku yang tidak pernah tahu bercanda dan juga sangat irit bicara, seolah keyboard dalam otaknya hanya terdiri dari beberapa huruf.Berkali-kali ia mengembuskan napas lelah sambil memijit kepala otaknya yang hampir pecah karena punya keluarga yang kelewat bar-bar. Keluarga paling berisik sedunia yang ia sebut sebagai keluarga: Raja Hutan.Dennis masih berdiri di sana sambil memperhatikan gadis yang begitu telaten mengurus bayi. Demi menuruti bundanya ia mengalah menerima orang baru dalam rumahnya karena tuntutan yang tidak masuk akal baginya.Saat bayi Danish menangis Azyan jadi kelabakan sendiri. Dennis masih berdiri di depan pintu membuat sang gadis kian gugup."Coba beri air susu. Saya benci suara anak kecil menangis.""I-iya."Dengan malu-malu Azyan mencoba memberi air susu tapi bayi itu masih rewel, Dennis kian berang. Semua karena bundanya, hidup damainya yang penuh ketenangan terusik dengan kehadiran bayi yang menyusahkan."Apakah kamu tidak bisa membuat dia diam? Beri apa saja agar dia diam." Azyan hanya mengangguk dengan gugup.Karena kesusahan menenangkan bayi merah yang terus menangis kain untuk menutupi buah dadanya sekarang terbuka lebar yang membuat buah dada Azyan sudah terpampang nyata di depan Dennis.Matanya melotot dengan perasaan gugup yang luar biasa saat Dennis berjalan ke arahnya, apa pria itu semakin melihat buah dadanya dekat? Azyan adalah seorang gadis perawan yang tidak pernah disentuh lelaki manapun.Dennis menunduk membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar, apa laki-laki ini akan menyusu juga? Apa air susunya akan habis dalam sekali sedot, begitu malu dan takut sekuat tenaga Azyan menutupi matanya. Ia hanya mengandalkan indra pendengaran untuk mengetahui semua gerakan Dennis."Kamu berharap sekali saya rasa susu kamu sepuluh detik?" Pertanyaan itu membuat mulutnya terbuka lebar. Kurang ajar!Tapi, dengan sopan Dennis mengambil kain yang jatuh di lantai dan menutup kedua payudara Azyan."Saya tidak tertarik dengan buah dada kecil," pungkas Dennis tanpa rasa bersalah membuat rahang Azyan jatuh hingga ke lantai. Sialan! Bedebah! Laki-laki sial! Ia hanya bisa memaki dalam hati, karena Azyan masih training mengurus bayi jadi dia hanya bisa menahan dalam hati.+Saat Dennis keluar dari kamar tangisan bayi kian kuat, hingga seluruh wajahnya memerah."Kenapa tidak beri dia susu?" Dennis kembali berkacak pinggang di pembatas pintu membuat Azyan kian menjadi serba salah...."S-sudah.""Oh Tuhan!" Dennis semakin menggerang frustrasi karena pekikan bayi itu semakin membuat kepala otaknya mau pecah.Dennis mendekat membuat Azyan semakin gugup, sedangkan tangisan bayi merah yang tak tahu apa-apa semakin kuat."Sini." Dengan perasaan gugup Azyan menyerahkan bayi merah pada Dennis, ajaibnya bayi itu mau diam yang membuat dia merasa lega, jika sudah begini rasanya Azyan ingin mengadu pada Ilona dan resign segera.Walau benci anak-anak saat melihat bayi merah yang terdiam di tangannya membuat Dennis tak percaya dengan penglihatannya. Apa bayi merah suka berbuat di luar nalar?Keduanya sama-sama menarik napas panjang, tak pernah mengurus bayi sebelumnya tentu saja akan kesusahan bagi Dennis maupun Azyan dengan kehadiran bayi merah di dalam hidup keduanya.Azyan masih kuliah semester lima, jika kuliah, bayi merah akan dititipkan pada pengasuh yang lain."Jadi sekarang apa? Saya harus mengendongnya setiap saat?" tanya Dennis yang membuat Azyan hanya berdiri serba salah."Bisa ditidurkan." Azyan menunujuk ke arah sisi ranjang.Dennis mencoba untuk meletakkan bayi merah di atas ranjang, tak lagi mencium bau Dennis ia kembali terpekik. Azyan menjadi tak enak pada Dennis. Laki-laki itu terlihat frustrasi dengan tangisan bayi.Akhirnya Dennis mengalah dan mencoba untuk ikut berbaring karena sejujurnya tangannya terasa keram.Azyan hanya berdiri serba salah. Sekarang apa? Dia harus ikut berbaring juga? Atau berdiri melihat dua laki-laki ini tertidur. Gadis itu menunduk dan memainkan jari-jari kakinya, ini adalah keadaan paling awkward yang pernah dia rasakan."Kenapa berdiri di situ? Tidur sini," ajak Dennis.Dengan susah payah ia menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering, bibirnya terasa sakit karena digigit begitu kuat.Saat tubuhnya perlahan mendekat, Azyan langsung tersentak karena Dennis sudah menarik tubuhnya dan ia terjatuh di atas tubuh pria itu. Degupan jantungnya terasa bertalu-talu, Azyan juga ikut merasakan degupan jantung milik Dennis.Ini bahaya! Alarm dalam otaknya sudah berbunyi keras, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku karena baru kali ini dia bersentuhan langsung dengan laki-laki."Kenapa? Merasa nyaman?"Azyan menutupi matanya sambil menggepalkan tangan, kenapa laki-laki ini bicaranya sembarangan? Dia tahu seluruh keluarga Dennis adalah manusia yang bicara tanpa peduli perasaan orang lain, ia kira Dennis akan berbeda tapi sama saja, memang darah lebih kental daripada air.Saat tatapan keduanya bertemu seluruh kegiatan di seluruh dunia seolah terhenti, dan Azyan kembali menelan ludah karena merasa gugup luar biasa.Harus ia akui jika dia adalah laki-laki matang paling tampan yang pernah ia temui, seluruh keluarga gen Raja Hutan adalah keluarga yang good looking, dengan banyak bibit unggul.Alis tebal, jambang tipis, rahang tegas, bibir merah alami, tatapan tajam tapi juga teduh di saat bersamaan. Dia punya bahu lebar dan juga tangan berotot yang menunjukkan seorang laki-laki jantan, aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat tenggorokan Azyan terasa kering.Ini adalah pose paling intim yang terjadi dalam hidupnya, oleh laki-laki dewasa abang sahabatnya sendiri. Hidung mancung yang membuat Azyan ingin sekali menyentuhnya."Dia sangat tampan!" Gadis itu menjerit dalam hatinya walau ia tak bisa mengeluarkan itu."Handsome as hell.""Bayinya menangis." Tangisan bayi kembali mengintrupsi keduanya, tanpa sadar Dennis mendorong tubuh Azyan ke lantai, padahal baru saja beberapa detik lalu ia memujinya. Jika sudah begini, Azyan kembali menarik kata-katanya.Gadis itu memegang bokongnya yang baru saja mencium lantai, gini amat kerja. Segala sumpah serapah ia keluarkan akhirnya kembali berdiri, tentu saja dia harus sabar. Azyan hanya seorang gadis yatim piatu yang tidak punya keluarga, selama ini ia tinggal di panti asuhan setelah Ilona memintanya untuk mengurus bayi ia menyetujui untuk mendapatkan uang, tempat tinggal, dan juga ia punya penyakit langka bisa mengeluarkan air susu walau tak pernah hamil sebelumnya.Saat tangan Dennis menyentuh bayi merah seolah mengerti bayi itu kembali terdiam. Azyan kembali terdiam memikirkan nasibnya dan bagaimana dia berakhir di sini.Sedangkan Dennis terpaksa menerima Azyan dan bayi Danish karena tuntutan sang bunda sebagai pancingan agar dia memikirkan pasangan. Usianya nyaris menyentuh kepala tiga tapi ia seolah lelaki abnormal yang tidak mengenal cinta selama hidupnya."Sekarang sudah jam berapa?" tanya Dennis merasa jengkel karena harus terjebak bersama bayi yang tidak ia inginkan sama sekali."J-jam lima."Dennis menghela napas tak ikhlas, andai bisa menyumpahi ibunya sendiri dan juga saudarinya ia akan melakukannya sekarang, tapi yang bisa ia lakukan adalah terbiasa dengan kehadiran bayi, tangisan bayi dan juga mencium kotoran bayi."A-bang bisa bisa pergi, aku akan mengurusnya.""Nanti dia menangis lagi."Azyan menggigit bibirnya lagi, tentu saja dia tidak bisa mencegah tangisan bayi ini."Saya lapar.""A-abang bisa makan, aku bisa mengurusnya," ucap Azyan tertunduk dalam. Ia tak berani menatap Dennis, laki-laki itu masih berbaring menempelkan tangannya pada kulit bayi merah tersebut karena ia seolah punya radar jika Dennis tak lagi menyentuhnya."Bisakah kamu suapin? Saya sungguh lapar," pinta Dennis."O-oke."Azyan dengan cepat berlari ke dapur, dia merasa serba salah dengan keadaan super canggung di antara mereka. Gadis itu berkali-kali menggigit bibirnya.Usianya masih 20 tahun, Dennis berusia 29 tahun.Azyan menyiapkan makanan yang tersisa di meja. Biasanya saat bayi merah Danish menangis ia yang akan masak, tugasnya memang banyak selain mengurus bayi, seolah jadi istri seorang Dennis Nortman walau tanpa status.Dennis membawa bayi merah menyusul ke dalam meja makan, Azyan hanya melirik lewat bulu mata lentiknya. Entah kenapa, dia suka melihat interaksi alami yang terjadi antara Dennis dan bayi merah. Seolah ayah dan anak beneran.Dengan susah payah dan keadaan yang begitu canggung, Azyan menyuapi Dennis. Laki-laki itu bisa bekerjasama dengan membuka mulutnya lebar."Kamu tidak makan?" Azyan hanya menggeleng dengan pertanyaan tersebut dan kembali menyuapi Dennis."Mau saya suapi juga?""Tidak perlu!" jawab Azyan cepat. Padahal seluruh wajahnya sudah memanas.Dennis berusaha untuk menggendong bayi merah dengan satu tangan dan menyuapi Azyan balik, gadis itu menolaknya tapi pria itu masih keras kepala untuk menyuapi gadis di depannya.Dengan mulut setengah terbuka ia menerima suapan besar tersebut yang membuat separuh nasi tumpah."Apakah setiap hari akan seperti ini?" tanya Dennis sambil menunduk mengisyaratkan pada bayi merah yang ia gendong."T-tidak."Akhirnya gantian Azyan yang menyuapi Dennis. Tanpa sadar keduanya saling menyuapi alih-alih makan sendiri.Setelah makan Dennis kembali ke kamar Azyan dan mencoba untuk meniduri bayi merah yang manja.Azyan dan Danish berada di kamar bawah, kamar yang dulunya Dennis jadikan sebagai kamar tamu, sedangkan laki-laki itu tinggal di kamar lantai atas, kamar utama miliknya.Azyan membereskan peralatan makan keduanya, sebenarnya dia suka mengurus bayi bahkan sudah ada rasa sayang pada bayi merah tersebut."Oh Tuhan!" Azyan berseru dengan kaget saat tubuh tinggi Dennis tiba-tiba sudah berdiri di pintu, laki-laki itu suka sekali berdiri di pintu tiba-tiba."Bayinya sudah tidur. Oh Tuhan, jika setiap hari seperti ini saya bisa mati berdiri," keluh Dennis sambil menyugar rambutnya. Setelah ini dia akan protes pada bundanya pada beban yang dipikulkan untuknya.+"Karena bayi sudah tidur, sekarang untuk mengasuh bayi yang lain." Azyan berbalik tak mengerti dengan ucapan pria tersebut."Tidur sama saya malam ini," putus Dennis dan berlalu.
Ular Laut Yang Diamuk Si Pendiam
Aldo duduk di kursi berjemur sambil memandangi aktivitas di atas geladak utama kapal pesiar. Orang-orang berenang santai atau bersenda gurau, sementara pelayan sibuk membawakan pesanan makanan dan minuman. Saat ini mereka tengah berlayar melintasi Laut Natuna.Tiba-tiba sebuah bola plastik terlempar ke arah Aldo. Remaja itu menangkapnya dengan sigap. Seorang gadis berbikini buru-buru berlari ke arahnya."Maaf ya Dek, nggak sengaja," ucap gadis tersebut."Nggak apa-apa kok. Nih." Aldo menyerahkan bolanya."Anu..." sang gadis agak ragu. "Mau ikut main?"Aldo segera menyadari teman-teman gadis itu tertawa-tawa di kolam. Mungkin mereka memang sengaja melempar bola ke arahnya agar bisa berkenalan."Maaf, aku sedang kurang enak badan." Remaja itu tersenyum kecil. "Lagian aku sebenarnya masih enam belas tahun."Oh, yaudah deh..." jawab sang gadis terlihat kecewa.Aldo mengangguk. Namun, ia memang tidak naik ke atas kapal pesiar ini untuk berlibur. Ia memiliki tujuan lain.Ya, tujuan lain. Alasan yang datang lima tahun lalu, saat dimana pedang Orochi tiba-tiba menancap di depan rumah Aldo, tepat saat anak itu hendak berangkat sekolah. Sebagai penerus kepala keluarga Orochi berikutnya, Aldo segera memahami bahwa itu adalah pertanda buruk. Satu-satunya saat di mana pedang diwariskan adalah saat pemilik sebelumnya terbunuh.Anak itu pun jatuh berlutut, lalu menangis.Padahal seharusnya kedua orang tuanya cuma pergi berlibur, kenapa tragedi ini sampai terjadi?Beberapa hari kemudian, ramai pemberitaan di televisi mengenai sebuah kapal yang diserang sesosok ular laut raksasa. Di antara daftar korban terdapat nama ayah dan ibu Aldo.Berita itu membawa kehebohan di penjuru negeri, bahkan mengundang peneliti dari negara lain untuk datang ke Indonesia. Mereka semua ingin menangkap makhluk ajaib tersebut. Ada yang bilang itu adalah dinosaurus yang selamat dari era prasejarah, ada juga yang bilang itu adalah makhluk mitologi. Akan tetapi, cuma Aldo yang tahu makhluk apa itu, dan bagaimana cara menghentikannya."Lewiatan," gumamnya.Sejak saat itu ia memiliki obsesi untuk mengejar makhluk tersebut, seberat apapun pengorbanannya.Aldo sudah mengarungi lautan di seluruh Indonesia, menyisakan Laut Natuna ini sebagai titik terakhir pencarian. Apabila ia masih tidak menemukan Lewiatan, mungkin monster itu sudah pergi ke belahan bumi yang lain.Remaja itu pun menyerah. Tubuhnya juga sudah kedinginan karena hawa dingin dari awan mendung mulai terbentuk di langit. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia benar-benar lelah entah karena apa.Baru saja melangkah, hujan gerimis datang. Orang-orang langsung berkemas untuk kembali ke kamar masing-masing. Termasuk gadis-gadis cantik yang tadi.Tapi semenit kemudian, gerimis berubah menjadi hujan deras. Gelombang-gelombang tinggi tinggi terbentuk, menggoyang seisi kapal. Petir menggelegar di angkasa. Entah bagaimana cuaca yang awalnya cerah bisa berubah sedemikian drastis."Hati-hati, jangan berlari!" seru awak kapal yang membimbing para penumpang masuk ke dalam.Namun, Aldo merasakannya. Ada aura buas yang hendak melahap semua. Remaja itu pun berhenti bergerak. Sebaliknya, ia berjalan ke ujung haluan."Mas, jangan ke sana! Berbahaya!" seru seorang awak kapal sembari berpegangan karena guncangan kapal semakin tidak beresAkhirnya sang awak lepas tangan. Ia masih memiliki tugas lain untuk dikerjakan.Air hujan menyerbu hingga Aldo basah kuyup, tapi tak dipedulikan. Ia bahkan tidak peduli puting beliung yang mulai memerangkap kapal pesiar dalam pusaran raksasa.Dan saat remaja itu berdiri di haluan, tiba-tiba terbentuk gelombang besar di hadapannya. Dari gelombang tersebut muncul kepala ular raksasa. Kedua matanya kuning dengan garis hitam vertikal. Ia memiliki sisik-sisik hijau yang bersinar licin. Eksistensi yang begitu purba dan perkasa. Makhluk itu mulai mengangkat kepalanya hingga tinggi ke langit, kira-kira setinggi gedung lima tingkat."Akhirnya!" seru Aldo. Ia memasang kuda-kuda, mengacungkan tangannya ke langit. "Jawab panggilanku, Orochi!"Langit pun membelah, lalu senjata magis itu melesat turun. Sebuah pedang berkilauan dengan permata ungu di bilahnya. Aldo menggenggamnya mantap."Ini saat yang sudah kutunggu-tunggu," Aldo mengayunkan pedang itu sekuat tenaga, "Orochi, bangkitlah!"Keajaiban terjadi. Bilah pedang itu tiba-tiba bertransformasi menjadi ular hitam besar berkepala tujuh, yang masing-masing memiliki permata di dahi."Serang bajingan ini..."Aldo mengayunkan pedangnya lagi. Ketujuh kepala Orochi memanjang, lalu menggigit leher sang Lewiatan. Monster raksasa itu mengamuk. Ia menyeruduk badan kapal pesiar, hingga pijakan Aldo terguncang. Dinding kapal yang terbuat dari logam sampai penyok dibuatnya.Sang nahkoda, para awak, dan penumpang yang melihat peristiwa itu hanya bisa berdoa ketakutan. Mereka tak pernah menyangka laut dihuni oleh monster sebesar itu, yang bisa melumat mereka dengan sangat mudah.Aldo menyerang lagi agar Lewiatan menjauh dari kapal. Tapi pergerakan monster itu amat lihai. Saat ini memang ia tidak memiliki keunggulan. Medan air adalah elemen Lewiatan. Namun, gigitan Orochi bukanlah gigitan biasa. Setiap taringnya menyimpan racun yang sangat mematikan. Tak peduli sebesar apapun Lewiatan, apabila terus diserang dengan racun, lama-kelamaan tubuhnya pasti akan melemah.Aldo melompat di udara, menggunakan kepala-kepala Orochi sebagai pijakannya.Monster raksasa pun itu pun menenggelamkan tubuhnya ke dalam air."Selesai, kah?" tanya Aldo pada dirinya sendiri. Tetapi ia yakin pertarungan seharusnya tak berakhir semudah ini. Karena kalau iya, mustahil ayahnya yang memiliki kemampuan luar biasa bisa kalah.Tiba-tiba kapal menjadi tidak stabil. Bagian geladaknya terangkat, sementara buritannya turun. Aldo segera menyadari apa yang terjadi. Lewiatan memilih untuk menyerang kapal ini. Monster itu sedang berusaha menarik kapal ke dalam air."Celaka!"Aldo kembali melesat."Orochi!"Ia lompat ke atas kepala salah satu ular Orochi, lalu senjata itu mengular di udara. Ia bergerak cepat menuju buritan yang sudah nyaris tenggelam. Remaja itu menarik napas dalam-dalam, lalu terjun ke dalam air.Kini ia bisa melihat wujud utuh Lewiatan yang sangat besar dengan dua pasang sayap. Makhluk itu menggigit propeller kapal pesiar sambil terus menariknya ke dalam air. Seketika Aldo merinding. Ia tak bisa membayangkan bagaimana cara mengalahkan makhluk semasif itu. Keinginan untuk menyerah pun timbul."Yakinlah!"Tiba-tiba ada yang berbisik. Aldo dapat mengenali suara tersebut, "Ayah!""Kami tahu kau pasti bisa!""I—ibu?" Aldo mengeratkan gerahamnya. "Jadi selama ini kalian terus memperhatikan. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!"Semangat Aldo berkobar kembali. Ia melesat menuju Lewiatan. Pedang Orochi siap di tangannya."Orochi!"Ketujuh kepala ular Orochi menyambar Lewiatan. Di leher, sayap, dada, dan perut. Tapi Lewiatan masih tak melepas gigitannya pada kapal pesiar. Air sudah mulai masuk ke bagian dalam kapal, membuat para penumpang panik."Aku tidak akan membiarkannya!"Aldo mengeraskan tekad. Meski oksigen di paru-parunya hampir habis, tapi ia belum boleh menyerah. Ia terus menancapkan racun ke tubuh Lewiatan melalui taring-taring Orochi."Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Setiap kali aku naik kapal, aku selalu berpikir untuk berhenti. Tapi setelah melihatmu terluka... Ya, aku akan membunuhmu!"Aldo mengerahkan seluruh energinya. Ia tak peduli meski ia harus mati sekalipun. Jika ia mati, Lewiatan akan ikut mati bersamanya!Lalu rahang Lewiatan lepas dari propeller kapal pesiar. Rahangnya tetap membuka, seiring tubuhnya tenggelam. Garis hitam di matanya menghilang, menyisakan warna kuning kosong. Sementara kapal pesiar yang sudah bebas kembali terangkat ke permukaan.Aldo juga sudah kehabisan napas. Yang penting ia sudah merasa lega. Ia membiarkan tubuhnya ikut menuju dasar lautan bersama Lewiatan.Namun, kepala-kepala Orochi terus bergerak. Mereka menciut dan melilit tubuh Aldo, kemudian mengangkatnya ke permukaan. Hingga remaja itu bisa menghirup udara dan terbatuk-batuk. Ia benar-benar kebingungan, sebab selama ini ia mengira Orochi tak memiliki jiwa. Mustahil mereka bisa mengambil inisiatif di saat energi Aldo itu sudah terkuras.Tetapi, mungkin ayah dan ibunya memang masih di sana, memperhatikan sambil melindunginya.Remaja itu memejamkan mata. Badai sudah berakhir. Fajar menjelang. Dendamnya usai. Tapi bukan berarti tugasnya sudah selesai, karena dia masih belum mengetahui kenyataan dunia ini. Masih terlalu banyak.Para awak kapal pun keluar, lalu berusaha mengangkat Aldo dari air.
Keajaiban Tiga Buku
Perkenalkan namaku Aeri. Aku mempunyai hobi yaitu membaca dan mengoleksi buku.Suatu hari aku ingin sekali untuk membeli buku, karena koleksi buku-buku dirumahku sudah dibaca semua. Biasanya aku membeli buku di toko buku terkenal di kotaku yang tidak jauh dari rumah. Jadi aku pergi kesana dengan berjalan kaki agar sehat hehehe.Saat dijalan, aku melihat ada kakek-kakek yang meringis kesakitan dan memegangi perutnya dan aku mendekati kakek itu dan bertanya, "Kakek kenapa ya?""Kakek lapar nak. Kakek sudah tidak makan dari kemarin dan kakek tidak punya uang untuk membeli makanan." Kata kakek itu.Aku merasa kasihan dengan kakek itu, lalu aku memberinya uang. Uang yang aku beri adalah uang yang aku pakai untuk membeli buku. Ya, aku hanya membawa uang pas-pasan saja untuk membeli buku."Hmm... ini uang untuk kakek." Kataku sambil memberinya uang."Terima kasih banyak ya nak. Kamu sangat baik, sebagai ucapan terima kasih terimalah ketiga buku ini!" katanya sambil memberiku 3 buah buku.Aku menerima buku itu tanpa rasa curiga, karena kakek itu memberikanku buku ini. Mungkin untuk membalas budi. Lalu aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan aku memutuskan untuk kembali ke rumah, karena uangku tidak cukup untuk membeli buku.Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Entah kenapa aku ingin sekali untuk membuka buku-buku itu dan aku memutuskan untuk membukanya. Saat dibuka, buku pertama yang aku temukan adalah buku berwarna kuning, lalu merah dan yang terakhir biru."Hmm..... coba aku buka buku yang kuning deh."Aku membuka buku yang kuning dan pada halaman pertamanya tertulis,'Buku ini bukan buku biasa. Jika kalian menuliskan suatu kalimat, maka itu akan menjadi kenyataan dalam waktu 10 menit setelah kalian menulisnya dan itu bisa tidak terjadi jika kalian merobeknya'."Wow buku apa ini? Hmm...aku harus hati-hati dalam menggunakannya." Kataku dan menutup buku itu dan aku membuka buku yang berwarna merah. Saat dibuka ternyata buku itu berisi gambar-gambar suatu tempat yang indah dan ada yang menyeramkan."Buku apa lagi ini? Aku harus berhati-hati dan menjaganya dengan baik." Kataku lagi.Setelah itu aku membuka buku yang berwarna biru dan saat dibuka, ternyata buku itu berisi gambar-gambar aneh, seperti alat-alat yang biasanya dikeluarkan oleh Doraemon."Wow apa lagi ini? Kenapa alat-alat ini mirip seperti alat-alatnya Doraemon ya?" kataku dan pada setiap gambar terdapat gambar kotak berwarna merah pada pojok kanan bawah.Karena aku penasaran, jadi aku tekan saja kotak itu dan pada saat itu aku membuka halaman yang berisi gambar alat berbentuk seperti monyet yang membuka mulutnya. Dan saat aku menekannya, BOOM...
Gereja Yang Terbakar & Akhir Bunga Perasaan
Aktivitas favorit Arin pada sore hari adalah duduk di bangku taman sambil memandangi indahnya bunga-bunga dan teduhnya pepohonan. Hatinya menjadi damai, ketimbang saat ia dikelilingi oleh manusia. Biasanya ia berada di sana cukup lama, hingga matahari nyaris terbenam.Namun, sore itu aktivitasnya terganggu. Sekelompok anak bermain kejar-kejaran, lalu menerjang sebaris bunga dengan seenaknya saja. Sontak Arin berdiri ingin memarahi mereka. Tapi kata-katanya tak keluar. Dan anak-anak itu terlanjur berlalu meninggalkan taman.Arin pun mendesah."Dasar bocah-bocah kampret..."Pemuda itu mendekati bunga-bunga yang dirusak, lalu berjongkok di sana. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di tanah dan di batang tanaman yang patah. Ajaib, batang itu perlahan pulih seperti sedia kala. Bunga yang terinjak pun mekar lagi. Itulah bakat spesial yang dimiliki Arin, yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun."Waw... itu keren banget!"Pemuda itu sontak menoleh. Ia kaget setengah mati, tak mengira ada orang yang memperhatikannya. Seorang gadis muda berpakaian suster berdiri di dekatnya. Gadis itu sedang menenteng plastik belanjaan."A—anu—aku bisa jelaskan!" seru Arin tergagap.Sang gadis menggeleng, "Aku lihat semuanya. Tadinya kan aku mau mengejar anak-anak itu karena merusak tanaman.""Mati aku..." Arin tertunduk, tak tahu harus berbuat apa. Ia tak mau dianggap aneh. Orang-orang dengan kemampuan khusus sepertinya biasanya akan diviralkan, menjadi pusat pembicaraan, didatangi wartawan, memiliki haters—"Aku tidak akan bilang siapa-siapa," ucap gadis itu, menghentikan kegundahan Arin. "Namaku Silvia." Ia mengulurkan tangannya."Arin," jawab sang pemuda sembari menjawab uluran tangan tersebut."Kau memiliki bakat yang luar biasa," ulang Silvia."Eh... Terima kasih," jawab Arin tersipu malu."Jadi... apa kau mau membantuku menanam bunga di kebun gereja?""Eh?""Suster kepala memerintahkanku, tapi kurasa aku tidak punya bakat berkebun.""Tapi—"Silvia memegang kedua tangan Arin, kedua matanya berbinar, "Tolonglah..."Pemuda itu pun tak sanggup menolak. Meski ia tahu sedang dimanfaatkan, tapi nalurinya sebagai lelaki sangat menggebu."Kalau begitu besok pagi aku akan ke gereja!" seru Arin lalu berlari meninggalkan Silvia.Awalnya Silvia ragu apakah pemuda itu akan benar-benar datang. Tapi keesokan paginya ia benar-benar datang. Jadi mereka pun mulai bekerja. Silvia yang mengatur desain dan jenis bunga apa yang perlu ditanam, sedangkan Arin yang mengeksekusi rencana tersebut.Setelah selesai, Silvia menyuguhkan teh dan kue untuk Arin. Pemuda itu langsung menyantap hidangannya dengan lahap."Kamu lapar atau doyan?" tanya Silvia yang memperhatikan pemuda tersebut."Dua-duanya," jawab Arin. Tapi kemudian ia berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Setelah ini apa aku masih boleh main-main ke sini?"Silvia mengerutkan dahinya, "Memangnya kenapa tidak boleh?""Tugasku kan sudah selesai..."Arin merasa tahu diri. Silvia adalah gadis yang manis. Apalagi ia seorang suster. Kalau bukan karena butuh bantuan, mustahil ia bisa terus bersama Silvia."Tentu saja, datang saja sesukamu! Nanti aku akan membuatkan teh dan kue!" jawab Silvia."Serius?"Silvia mengangguk."Baiklah," Arin pun tersenyum bahagia.Sejak saat itu mereka sering bertemu. Kadang Arin datang ke gereja sambil berpura-pura menjadi jemaat, kadang Silvia mampir saat melihat Arin di taman, dan kadang mereka mengatur pertemuan di tempat rahasia. Di hutan pinggir kota yang lebat, tapi Arin mendekorasinya senyaman mungkin menggunakan kekuatannya. Tanpa diketahui siapapun, mereka memadu kasih. Sebuah cinta terlarang antara orang biasa dan pelayan Tuhan.Di suatu sore yang damai, setelah selesai berpetualang menyusuri hutan, Arin dan Silvia pun memutuskan untuk beristirahat di bagian terdalam hutan, dan berbaring diatas rerumputan yang lembut."Sil," ucap Arin sembari memegang tangan Silvia."Kenapa?" Jawab Silvia yang masih menikmati pemandangan langit nan cerah."Apa ini benar?" Rasa takut terdengar jelas dalam suara Arin."Hah? Gimana?""Yang kita lakukan... terkadang aku khawatir... tidak seharusnya kita memiliki hubungan seperti ini.""Eh? Kenapa? Karena aku seorang suster?""Ya, tentu saja lah." Arin menatap gadis itu. Ia bisa melihat bola mata Silvia yang begitu jernih.Silvia ragu sejenak sebelum menjawab, "Yah... Aku sendiri sebenarnya tidak pernah mau menjadi suster kok. Orang tuaku yang mengirimku ke sana. Jadi... Aku bisa apa? Terkadang hidup kita seperti boneka marionette yang dikendalikan orang lain... dan Tuhan, pastinya."Arin merinding mendengarnya. Selama ini ia tak pernah terlalu memikirkan soal Tuhan. Tapi ide untuk membangkang sang pencipta agak membuatnya takut. Namun, Arin juga sebenarnya masih ingin mengungkapkan sesuatu yang lain, tapi dia mengurungkan niatnya."Sesekali, aku hanya ingin melakukan apa yang kumau. Aku mau kamu, Arin.""Tapi ini beresiko banget loh...""Biar aku yang tanggung resikonya." Gadis itu mendekatkan kepalanya ke samping Arin, dan memandang wajah pemuda itu. "Daripada hidup seribu tahun sebagai domba, aku ingin menjadi serigala satu hari saja. Meski akhirnya dibunuh gembala."Kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Arin. Bibir mereka pun bertemu, berpagutan. Rasanya ingin agar sore itu berlangsung selamanya, agar mereka tak perlu pulang ke tempat masing-masing dan berusaha menyembunyikan bahwa kisah ini pernah terjadi.Keesokan harinya, Arin datang ke gereja membawakan buah-buahan untuk suster kepala. Ia takut wanita tua itu mulai mencurigainya. Mungkin ia perlu lebih rajin beribadah agar tak dikira macam-macam.Namun, dari kejauhan ia melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Perasaannya segera berubah tidak enak. Ia mempercepat langkahnya menuju gereja. Tampak orang-orang sedang berkumpul, sementara lidah api berkobar melalap bangunan gereja. Sontak Arin menjatuhkan barang bawaannya lalu berlari."Silvia!"Orang-orang segera menghentikan pemuda itu."Jangan! Bahaya!""Tidak! Lepaskan!"Tapi akhirnya Arin tak kuasa. Ia berlutut lemas. Katanya api tiba-tiba menyambar di tengah kebaktian, memberangus semua orang yang terjebak di dalamnya—termasuk Silvia."Inikah hukuman? Inikah hukuman dari-Mu?" isak Arin tak tertahan. Air matanya berurai. Ia akhirnya menempelkan kedua telapak tangannya di tanah, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba sulur-sulur raksasa mencuat dari dalam tanah lalu melilit bangunan gereja, mematikan api yang berkobar.Semua orang terkejut, dan tak ada yang menyadari bahwa itu adalah perbuatan Arin. Atau mungkin, ada beberapa yang menyadarinya. Makanya Arin merasakan ada tatapan aneh yang terarah ke arahnya. Tapi dia tidak peduli. Tidak untuk saat ini.Namun, warga dibuat semakin terkejut saat melihat ada banyak bunga-bunga berwarna-warni dari berbagai jenis yang tiba-tiba tumbuh menutupi seluruh gereja itu.Kemudian hujan yang deras turun, seakan menyudahi hukuman bagi sang pemuda. Walau akhirnya tetap tak bisa mengembalikan Silvia."Tidak... ini tidak mungkin..." Kini air mata Arin telah bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
SUAMIKU BOCAH SMA MESUM
"Pendek!""Oi, pendek!"Aku berbalik dan mendelik sebal ke arah suamiku yang super ngeselin itu. Dia baru saja kunikahi tiga hari yang lalu, ya, aku yang memaksanya agar mau bertanggung jawab dan menikah denganku, karena aku rela membohongi semua orang jika aku hamil, membuat Bunda murka dan menuntut agar Gerald segera menikahiku.Wajah Gerald tidak ramah sama sekali, dia merajuk sodara-sodara karena tidak mendapat jahat, karena aku masih begitu takut untuk unboxing, walau aku tahu punya suami yang super mesum.Aku mendekat dan mencoba memberi senyum manis padanya, tapi dia malah mendorongku. Perlu kalian ingat, Gerald itu mesum, tidak peka, tidak romantic sama sekali, tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam padanya, dia adalah muridku. Usiaku 23 tahun saat ini, usia Gerald 18 tahun, dia sudah tingkat akhir masa SMA."Muka kamu cemberut terus, kayak kurang jatah aja," celutukku dan mendekat ke arahnya, sedikit berjinjit dan menyentuh ujung hidungnya yang mancung. Gerald itu tingginya 183 centi, sedangkan aku kaum kurcaci yang tinggi hanya 150 centi, itu juga yang membuat dia suka memanggilku pendek."Emang kurang jahat," jawab Gerald dengan nada tidak ramah, dia perlu dikasih bintang satu karena tidak ramah."Peluk dulu. Kalau Rara sudah siap Rara kasih, okay.""Yang banyak dan lama," tambahnya."Yang banyak dan lama." Aku menambahkan lagi sambil memeluknya. Gerald itu bule nyasar yang kukira dibuang orang tuanya dari luar negri karena dia sangat mesum, dia adalah lelaki paling tampan yang pernah kutemui, harus kuakui jika pertemuan pertama kami sangat tidak berkesan sama sekali, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari dulu aku bercita-cita punya suami bule, memilih jurusan bahasa Inggris dengan begitu bisa mudah berkomunikasi dengan suami nanti, dan sekarang menjadi guru bahasa Inggris di SMA Mercusuar.Aku memeluknya lama, sambil melihat keadaan sekitar karena sekarang kami sedang berada di parkiran sekolah, tidak ada yang pernah tahu hubungan ini karena aku tak mau mendapat masalah, baik aku atau Gerald. Aku tahu bagi orang hubungan ini aneh dan tabu, tapi bagi orang yang sedang jatuh cinta terkadang suka berbuat di luar nalar.Tangan Gerald melingkar di pinggangku dan mendorong ke arah mobil, keadaan sekolah masih sepi karena kami sengaja berangkat awal agar tidak membuat penghuni sekolah yang lain curiga, aku juga sudah pindah ke rumah Gerald, rumahnya super besar yang tidak ada orang di dalamnya."I love you, pendek," ucap Gerald sambil menepuk-nepuk belakangku. Perbedaan yang sangat kontras sekali, dia masih memakai seragam sekolah dan aku memakai seragam kebanggan para guru, jika penghuni sekolah lain melihat pemandangan ini mereka bisa kejang-kejang, tapi aku Bahagia dengan hidupku sekarang walau memulai semuanya dengan kebohongon.Hubungan yang dilandasi kebohongan apa bisa bertahan lama?-----(Flashback)"Rara hamil, Bunda," ujarku dengan nada penuh penyesalan dan air mata penuh sambil menunduk, mulai melancarkan aksi, jika aku tidak nekat maka Gerald tidak akan menjadi bagian dari cerita hidupku. Setelah lulus sekolah dia akan kuliah di negara asalnya Jerman."RARA!" Bunda berteriak heboh, aku belum masuk ke dalam rumah. Gerald juga masih berada di sini karena dia mengantarku, Bunda juga mati-matian menentang hubungan ini karena dia tidak suka dengan Gerald. Aku sudah punya tunangan sebelumnya, Mas Rangga, tapi aku berkhianat pada Mas Rangga dan menjalin hubungan di belakang Bersama Gerald."CEPAT GERALD! KAMU NIKAHI!" Bunda masih berteriak heboh, dia berdiri di depan pintu. Aku menunduk dengan rasa bersalah karena tega membohongi Bunda, sedangkan Mas Rangga juga masih berada di rumah. Bunda sudah menganggap Mas Rangga sebagai anaknya, bahkan aku dianggap anak pungut dan Mas Rangga anak kandung Bunda."Apa?" tanya Gerald kebingungan, dia mendekat ke arahku."KAMU HARUS NIKAHI RARA. GILA KALIAN YA, MASIH ANAK-ANAK, TAPI NEKAT SEPERTI ITU. DI MANA OTAK KALIAN! DI MANA OTAKMU, RARA?"Aku berbalik menatap Gerald memohon agar dia mengikuti saja permainan ini."Apa?" tanya Gerald lagi. Dia semakin kebingungan.Mas Rangga keluar dari dalam sambil melihat drama apa yang terjadi."Rara hamil, jadi kamu harus menikahi dia," tuntut Bunda."What? Pendek, apa ini?"Aku mundur dan menggengam tangan Gerald, sedikit meremasnya agar dia mengikuti saja permainan gila ini. sudah terlanjur, aku juga muak karena Bunda terus memaksa agar aku segera menikah dengan Mas Rangga, lelaki paling sabar, baik hati, lelaki impian para mertua, tapi aku mati rasa saat aku menemukan Gerald dan berani main gila di belakang Mas Rangga Bersama Gerald muridku sendiri."Rara hamil! Jadi, panggil orang tua kamu Gerald, nikah sekarang!"Gerald menatap bingung ke arahku, mata hijaunya ikut menyala."Please!" Aku menggerakan bibirku berharap agar Gerald peka dan menyelamatkan aku dari situasi sekarang."Whoaa! Burung anak kecil sekarang tidak bisa tahan, luar biasa. Paling juga itu kencingnya belum lurus," ejek Mas Rangga. Sekarang berdiri di samping Bunda, sekarang aku dan Gerald makin terpojokan."What the fuck!" Gerald masih shock, dia menarik tanganku kasar. Aku mulai melancarkan aksi drama yang lainnya, menangis."Rara hamil, Gerald. Kamu harus tanggung jawab, aku nggak mau punya anak tanpa ayah." Aku tersedu-sedu."The fuck!" Gerald masih kebingungan dan terima apa yang terjadi, aku berjinjit dan mengecup bibirnya agar dia diam, dan mengikuti permainan ini."GILA KALIAN! UDAH TAK PUNYA OTAK LAGI!" Bunda makin histeris."Cepat panggil orang tua kamu. Sekarang!"Bunda maju dan mendorong Gerald agar dia segera memanggil orang tuanya, Gerald masih kebingungan, sedangkan aku hanya mengangguk. Berharap jika Gerald bisa bekerja sama karena dia satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari kekacauan ini.Gerald langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, aku hanya menggigit bibirku dan berharap jika Gerald bisa pulang dan membawa orang tuanya, jika tidak akan akan jadi gembel di jalanan karena diusir Bunda."Nggak punya otak kamu, ya," maki Bunda. Dengan geram, Bunda menarik rambutku karena begitu kesal dan merasa kecewa. Bunda selalu menganggap Mas Rangga sebagai menantu potensial dan aku hanya ingin Bersama Gerald."Ampun, Bunda." Aku meingis menahan rambutku yang rasanya rontok semua karena Bunda nariknya tidak kira-kira."Ingat kamu Rara, Bunda tidak akan pernah sudi kamu Bersama anak itu. Sampai mati!"Tubuhku bergetar. Belum apa-apa, aku sudah mendapatkan sumpah sial."Jika hari ini anak itu tidak datang Bersama orang tuanya, maka kamu Bunda usir."Sekarang aku menangis beneran karena merasa takut jika semua kebohongan ini tidak berjalan mulus. Karena yang aku inginkan hanya Gerald."Tidak perlu, Bunda. Rara bisa nikah sama Mas," timpal Mas Rangga sambil tersenyum manis."Dia memang tak punya otak! Udah dikasih laki-laki baik-baik, malah milih anak kecil yang tak bisa apa-apa. Hidupmu akan berada di neraka, Rara." Bunda masih begitu geram dan menarik-narik rambuktu, sebenarnya karena terlalu geram Bunda ingin mengoyakkan bajuku."AHHH... Bunda. Ampun!""Jangan masuk ke dalam rumah sebelum anak kecil itu datang membawa orang tuanya," ancam Bunda dan masuk ke dalam rumah membanting pintu sekuat mungkin."Jika anak kecil itu tak mau. Mas selalu ada untuk kamu," tambah Mas Rangga dan berlalu pergi. Aku hanya berdiri kaku dan melirik dengan ekor mataku melihat mobil Mas Rangga perlahan menjauh.Ya Tuhan, nasibku bergantung pada Gerald sekarang!
Kapal yang Berlayar di Langit Lama
Suasana sekolah memang tidak pernah berubah, membosankan dan sangat tidak menyenangkan. Namun, Fatih memiliki satu cara ampuh untuk mengusir rasa bosan itu. Saat Fatih merasa dunia terasa sunyi dan hening, yang perlu Fatih lakukan hanyalah memandang ke angkasa, di mana di atas sana, di balik awan-awan, dia bisa melihat dengan kedua matanya sendiri, kapal-kapal yang berlayar di langit.Ya, itulah yang dilakukan Fatih sekarang. Remaja kurus berseragam putih abu-abu dan berambut hitam gondrong yang duduk di bangku pojok belakang, tepat di samping jendela, sejak awal pelajaran hingga sekarang, yang dilakukannya hanya memandang angkasa dan mengamati kapal yang berlalu-lalang di atas sana."Kenapa, ya, Tuhan memberikanku mata ini?" Tanya Fatih pada dirinya.Akan tetapi, Fatih sadar kalau dia sudah cukup lama melihat pemandangan gaib itu, jadi dia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya sejenak, menarik nafas dalam, dan mengamati keadaan kelas saat itu.Seperti biasa, jam pelajaran selalu begini-begini saja. Dari hari senin sampai sabtu, beginilah suasana kelas ini, tidak ada yang berbeda. Namun, Fatih juga sedikit suka dengan pemandangan seperti ini, saat-saat di mana ia bisa dengan leluasa menilik pribadi teman-temannya tanpa harus bertanya langsung pada mereka, dan yang perlu dilakukannya hanyalah melihat ekspresi wajah mereka.Fatih bisa melihat mana temannya yang belajar dengan giat, juga anak yang tidak tertarik untuk belajar. Ada anak yang tampak semangat, dan ada juga yang terlihat malas dan mengantuk. Pada dasarnya, mereka semua memanglah berbeda, dan menurut Fatih, ini adalah hal yang menarik untuk diamati."Orang-orang itu... aneh banget, ya?" Gumam Fatih sambil menyeringai.Namun, di antara semua teman-temannya, ada satu wajah yang membuat Fatih merasa sedikit kesal tiap kali memandangnya. Namanya adalah Jojo. Anak itu duduk di bangku paling belakang di barisan tengah, dan dari senyumannya, siapapun bisa tahu kalau dia bukanlah anak yang baik.Dia sama benar-benar tidak layak... Pikir Fatih.Jojo adalah putra dari pemimpin perkumpulan preman terkenal di kota ini, dan dia jugalah orang yang suka melakukan tindakan bullying pada murid-murid lainnya. Dia berlagak seperti bos besar. Bahkan, setelah dua tahun mengenal Jojo, Fatih hampir tidak pernah melihat anak itu menulis di bukunya sendiri, mengingat dia memiliki setidaknya tiga budak di kelas ini, yang akan mengikuti segala perintahnya.Saat bel pulang berbunyi semua murid langsung buru-buru berkemas secepat yang mereka bisa, dan juga menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan, lalu saat semuanya sudah siap, mereka pun melesat keluar melalui pintu itu dan pulang ke rumah.Tapi, berbeda dengan Fatih. Dia selalu memiliki tiga alasan atas penantiannya. Alasan yang pertama, ya, tentu saja dia ingin pergi dari tempat ini, dan alasan yang kedua berhubungan dengan keajaiban itu. Tapi alasan yang ketiga merupakan hal yang sangat berbeda."Hey, anak aneh!" Teriak Jojo. Dia terlihat marah."Hmm?" Fatih yang saat itu masih duduk di bangkunya dan tengah menikmati pemandangan langit, tiba-tiba dihampiri oleh Jojo serta kedua temannya yang bertubuh besar yang sejak dulu bertindak selayaknya bodyguard-nya.Mungkin, banyak yang bertanya-tanya, kenapa wajah Fatih setiap hari terlihat bonyok dan penuh memar di mana-mana, jawabannya adalah, Jojo. Hampir setiap hari sepulang sekolah, anak itu terus menyiksa Fatih karena satu alasan sederhana, dan kelas inilah yang menjadi saksi bisu atas kejahatan itu.Sementara kedua anak bertubuh subur itu mengekang Fatih, Jojo meninju dan menendang Fatih seakan-akan dia adalah samsak tinju. Dalam kurun waktu yang terhitung cukup lama, Fatih harus berhadapan dengan rasa sakit itu. Namun, Fatih menganggap ini sebagai suatu kesenangan."Kenapa kau tetap tersenyum, hah!?" Teriak Jojo yang tampak semakin kesal.Fatih tetap tersenyum meski sudah disiksa berkali-kali. Sampai-sampai Jojo mungkin sangat membenci senyum Fatih yang satu itu."Bukannya sudah kubilang, kalau kau itu... tidaklah istimewa—ugh-ugh!" Kata Fatih yang sudah terlihat sekarat. Akan tetapi, karena kalimat itu pula, Jojo kembali melayangkan beberapa tinju menuju wajah dan perut Fatih.Bagi Fatih, sebenarnya ini adalah pertukaran yang sepadan. Malahan, Fatih masih menang banyak. Fatih tahu apa yang membuat Jojo emosi, sementara Jojo sendiri tidak tahu alasan kenapa dirinya naik pitam setiap kali mendengar kalimat yang diucapkan Fatih.Padahal, sudah satu tahun berlalu sejak Fatih mengucapkan kalimat itu untuk yang pertama kalinya, dan sudah satu tahun pula sejak Jojo mendengar pernyataan itu untuk kali pertamanya. Jojo semakin berubah hari demi hari. Dia menjadi semakin jahat, pemarah, dan wajahnya juga selalu terlihat sedih.Fatih tahu bahwa dirinyalah pemenang dalam "pertarungan" ini. Dia selalu menang. Itulah sebabnya, Jojo terus melakukan kekejaman ini.Fatih bisa melihat keajaiban itu, sementara Jojo hanya melihatnya sekilas saat itu."Hah... tadi itu menyenangkan juga." Fatih bergumam. Dia kini berdiri di depan pohon beringin raksasa yang tumbuh di samping halaman sekolahnya. Pohon itu sudah sangat tua, dan akarnya timbul di mana-mana. Mungkin tak lama lagi pohon ini akan tumbang, tapi, Fatih tak yakin akan hal itu.Lima belas menit sudah berlalu sejak Jojo dan kedua bawahannya meninggalkan Fatih terbaring di kelas seolah-olah dia sekarat dan hampir mati. Sekarang sudah pukul empat sore, dan ini adalah waktu bagi Fatih untuk menikmati keistimewaan yang telah diberikan padanya.Fatih tersenyum kecil sambil meraba-raba wajahnya yang terasa sakit."Aduh... sialan, sakit banget. Aku nggak menyangka rasanya bisa bertambah parah seperti ini." Ujar Fatih. "Tapi, aku tetap menang, sih—Aw!" Fatih tak sengaja menyentuh luka yang paling parah di wajahnya, dan rasa perihnya melonjak seketika."Kalau begitu, bukannya kamu malah terlihat seperti orang jahat, ya?" Tanya seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul di samping Fatih. Matanya terpaku memandang pohon beringin di depan mereka."Hmm? Aku, kan, memang orang jahat." Ungkap Fatih sambil menoleh memandang gadis kecil yang mengenakan gaun putih bersih polos dan berwajah datar itu. "Berdasarkan kehidupanku di masa lalu, oh, jelas aku ini orang jahat.""Ya, ya, sakarepmu, lah." Ujar gadis itu tak acuh."Oh, iya, kok, kamu baru muncul lagi sekarang? Sudah dua bulan lebih, lho, aku nggak lihat kamu di sini." Jelas Fatih. "Kamu kemana saja, sih?""Kau serius memberikan pertanyaan seperti itu pada Roh Langit sepertiku?" Gadis itu kini memasang wajah heran."Eh... lupakan sajalah." Fatih menghela nafas dalam. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya. "Tapi, senang bisa melihatmu lagi, Ravril." Kata Fatih tulus."Ya... senang bisa melihatmu juga, Fatih." Ujar gadis itu yang juga tersenyum.Guk! Guk!Tanpa Fatih dan Ravril sadari, ternyata sekarang sudah ada seekor anjing kecil berbulu putih yang duduk di depan mereka. Anjing itu terus mengibas-ngibaskan ekornya, tanda bahwa dia sedang senang."Oh? Helly juga ada rupanya." Kata Fatih.Senja telah datang. Langit yang tadinya berwarna biru dan cerah, kini mulai memancarkan cahaya oranye yang membawa serta kehangatan. Sementara itu, Fatih, Ravril dan Helly si anjing masih berada di depan pohon beringin itu dan menunggu datangnya sesuatu yang entah apa.Namun, setelah menunggu cukup lama, akhirnya sesuatu yang aneh pun terjadi. Bersamaan dengan datangnya hembusan angin yang lembut, sebuah pintu tiba-tiba muncul di permukaan batang pohon beringin itu. Pintu itu terlihat mahal, dan permukaannya dipoles mengkilap seperti baru.Fatih yang pertama melangkah maju. Tangannya tanpa ragu menggapai gagang pintu itu, lalu menariknya sampai terbuka lebar, dan pada saat itu juga mata Fatih membelalak. Di balik pintu itu, Fatih bisa melihat pemandangan yang sungguh luar biasa menakjubkan. Suatu pemandangan yang sangat ajaib dan tak bisa diterima oleh akal manusia.Fatih melirik Ravril dan Helly, kemudian, setelah meyakinkan diri, mereka bertiga pun melangkah melewati pintu itu dan tiba di tempat yang benar-benar berbeda. Kini mereka bertiga berjalan menyusuri jembatan yang terbuat dari kayu, dan meninggalkan kenyataan jauh di belakang mereka.Sejatinya, pintu itu secara ajaib mengantarkan mereka bertiga ke atas suatu jembatan kayu yang berada di atas langit. Jauh tinggi di angkasa, di antara awan-awan putih, di bawah pancaran sinar mentari senja yang nyaman, disitulah Fatih, Ravril dan Helly berada sekarang.Dengan keempat kaki mungilnya, Helly berlari menuju ke ujung jembatan, sementara Fatih dan Ravril berjalan dengan santai di belakang sambil menikmati pemandangan bernuansa magis di sekitar mereka."Sejak awal masuk sekolah, aku masih nggak tahu apa alasan Tuhan membiarkanku melihat semua ini." Ungkap Fatih sembari menggapai gumpalan awan yang tak jauh di sampingnya. "Padahal aku ini penjahat... " Fatih menambahkan. Air mukanya berubah aneh, dan senyumnya sedikit melengkung."Kenapa, sih, kau membahas itu lagi?" Tanya Ravril sedikit kesal."Ya, tentu saja, lah." Celetuk Fatih. "Aku nggak jauh beda dengan Jojo, kok. Malahan aku lebih parah. Aku sudah pernah membunuh, lho, sedangkan dia mungkin nggak pernah."Entah kenapa kepala Fatih terasa berdenyut setelah mengatakan kenyataan itu. Sungguh sangat tidak menyenangkan jika harus mengungkit kejadian tragis yang pernah menimpanya di masa lalu.Ravril menghela nafas dalam."Hey, Nak, mending jangan bertanya padaku, deh. Aku ini bukan Tuhan, soalnya yang memberimu izin untuk melihat semua ini, itu Tuhan, bukan aku." Jelas Ravril. "Tapi... ya, memang, sih, kamu itu jahat. Cuma, yang bisa menentukan itu, ya, hanya yang di atas sana. Nggak ada makhluk hidup di bawah langit ini yang berhak menilai kamu baik atau jahat."Kini mereka bertiga telah sampai di ujung jembatan itu, dan di hadapan mereka terbentang luas langit yang begitu megah. Namun, meski mereka berada di atas langit sekalipun, tapi udaranya sama sekali tidak terasa terlalu dingin, melainkan hangat."Mungkin... Tuhan tidak melihat dirimu yang ada di masa lalu, tapi dia melihat dirimu yang ada di masa depan." Ungkap Ravril."Hah? Maksudnya?" Tanya Fatih yang keheranan setengah mati."Maksudku... Ya, memang betul kalau kau jahat di masa lalu, tapi Tuhan pasti tahu kalau kau sudah berubah di masa depan. Maka dari itu Tuhan memilihmu untuk memiliki apa yang tak orang lain miliki. Tuhan memberimu berkat untuk melihat. Semacam hadiah, mungkin. Hadiah karena kau kelak akan berhasil berubah menjadi pribadi yang lebih baik.""Eh... " Fatih terdiam. Dia dibuat bingung oleh perkataan Ravril."Lagian, kau juga tidak bersalah, kok. Toh, orang tuamu juga mau membunuhmu."Suasana seketika menjadi hening. Baik Fatih maupun Ravril, keduanya terdiam seribu bahasa, sementara Helly masih menggonggong ria di situ dan tak berhenti berlarian di antara kaki mereka.Namun, apa yang dikatakan Ravril memang benar.Fatih akhirnya mengerti kenapa Ravril selalu emosi setiap kali dia membahas tentang ini. Fatih seharusnya tidak menanyakan pertanyaan itu pada Ravril, karena sejak awal, Ravil tahu bahwa bukan dia yang harus menjawab pertanyaan itu.Memang, Fatih pernah membunuh kedua orang tuanya waktu masih kecil. Tapi, jelas saja itu tak disengaja. Semuanya terjadi begitu saja tanpa Fatih niatkan.Tuhanlah yang menciptakan masa lalu dan masa depan Fatih, dan Dia jugalah yang memberikan dan mengakhiri ujian-ujian itu. Tinta itu sudah tertuang dan telah mengering, jadi, yang perlu dilakukan Fatih sekarang adalah tinggal mengikuti alurnya saja."Syukurlah selama ini kamu cuma mengajukan pertanyaan itu padaku saja. Coba kalau orang lain yang kau ajukan pertanyaan itu. Bisa kacau, lho, urusannya." Ungkap Ravril. "Aku hidup sudah lama banget, lho, Fat. Aku tahu sifat manusia. Meski mereka tahu kalau mereka tidak seharusnya menghakimi orang lain, tapi mereka tetap melakukannya dan mengambil keuntungan dari situ. Manusia itu... jahat—""Hmm... Ya... kau memang benar, Ril." Potong Fatih tiba-tiba. "Entah kenapa aku baru sadar sekarang.""Eh? Apanya?"Fatih masih terdiam dengan senyum yang melekat di bibir. Dia baru sadar akan satu hal yang terlewatkan selama ini. Setelah dua tahun, dia akhirnya sadar. Dia benar-benar sudah paham."Berarti, selama ini, Tuhan memilihku karena aku ini layak, kan?"Tak lama kemudian, terdengar suatu suara dari arah belakang mereka. Suara yang perlahan mendekat itu terdengar sedikit berat dan berdengung. Sementara itu, Fatih bersama Ravril tetap berdiri di tempatnya dan memandang ke depan, sedangkan si Helly berlari mengejar sumber suara itu yang entah dari mana asalnya.Bersamaan dengan datangnya hembusan angin kencang, tiba-tiba saja ada banyak kapal raksasa yang keluar dari gumpalan awan tebal di kiri dan kanan mereka. Jumlahnya ada sepuluh.Dari ujung jembatan itu, Fatih juga bisa melihat beberapa sosok di atas kapal itu. Ada yang berwujud seperti manusia, dan ada pula yang wujudnya menyerupai sosok makhluk lain yang tidak pernah dilihat Fatih.Kapal-kapal ajaib yang berlayar di udara itu, sebenarnya terlihat seperti kapal biasa pada umumnya. Terbuat dari kayu dan papan, serta memiliki layar dari kain putih yang agak kusam. Akan tetapi, tetap saja semua itu tidak menjelaskan bagaimana caranya kapal-kapal itu bisa mengambang di angkasa ini.Fatih dan Ravril yang ada di sana berusaha agar tidak terhempas karena angin kencang yang datang bersama kapal-kapal itu. Senyuman yang melukiskan berbagai arti terbentuk di bibir mereka berdua, dan Helly terlihat semakin senang akan kemunculan kapal-kapal itu.Dari kejauhan, terlihat seseorang yang melambaikan tangan di salah satu kapal itu. Fatih yang melihatnya tanpa ragu langsung membalas lambaian tangan orang itu dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi."Hati-hati, ya! Jangan sampai jatuh!" Teriak Fatih selantang mungkin.Orang itu tertawa. Dari suaranya, dia pastilah seorang lelaki. "Tenang saja! Aku nggak akan jatuh, kok!"Kapal-kapal itu berlayar semakin jauh, hingga akhirnya tak terlihat lagi oleh mata."Kenapa kamu jadi senang begitu, Fat?" Tanya Ravril sedikit heran."Ya, rasanya aneh saja. Soalnya sudah dua tahun aku mencari jawaban atas pertanyaan itu, tapi, aku sama sekali nggak menyangka jawabannya akan sesimpel ini.""Hmm..." Sambil tersenyum manis, Ravril menatap malas pada langit yang terbentang di hadapannya. "Tuhan menciptakan orang-orang karena mereka layak. Siapapun itu. Bahkan termasuk Jojo temanmu. Hanya saja... Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius.""Ya... semua orang memang layak." Bisik Fatih.
Tunangan Antagonis
Sinar matahari menerobos masuk memasuki celah jendela sebuah kamar dengan nuansa abu-abu.Perlahan mata lentik itu mengerjab memindai sekeliling."Gue masih hidup?"Bagaimana tidak heran? Dirinya baru saja mengalami kecelakaan pesawat. Kenapa bisa ia masih hidup? Terlebih dengan badan yang sehat bugar."Shhhh" gadis itu bangun dari tidurnya, matanya berkeliling memindai setiap sudutnya.Sebuah kamar yang cukup besar dengan nuansa abu-abu. Di dindingnya terdapat beberapa bingkai yang berisi lukisan abstrak dan pemandangan alam."Ini dimana?" Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.CklekkSuara pintu terbuka, lalu tampaklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster dengan rambut yang di cepol asal."Udah bangun ternyata, cepetan mandi di bawah ada Hades." Lalu wanita itu pergi disusul Dengan pintu yang tertutup rapat.Melihatnya membuat Rena mengernyit bingung.Banyak pertanyaan di benak RenaTadi itu siapa? Dan siapa Hades?Ini dimana?Apa dirinya telah diculik?Tapi kan seharusnya dirinya sudah matiSiapapun tolong beri Rena jawaban..!!"CK ini dimana sihh?!" Rena menyibak selimut yang membungkus dirinya lalu bangkit dari ranjangnya. Kakinya mendekat ke arah jendela. Ahhhh ternyata kamar ini berada di lantai dua.Di bawah sana tampak taman dengan berbagai jenis bunga yang bermekaranSangat indah pikirnyaLama dirinya termenung dalam pikirnya, gadis itu terkejut takkala sebuah tangan melilit di perutnya."Aaaaaa" teriak Rena takutSontak Rena berbalik lalu mendorong sosok itu agar menjauh.Nafas Rena tercekat, kenapa Rena tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke kamar ini?"Si-siapa lo?!" Remaja laki-laki itu mengerutkan dahi. Lalu tanpa dipinta dia duduk pada sebuah meja belajar. Memandang Rena intes."Mandi" ucapnya dengan gerakan dagu mengarah pada sebuah pintu yang Rena tebak adalah kamar mandi.Alih-alih menuruti perintah remaja laki-laki itu Rena beringsut menjauh dengan berjalan mundur, lalu berlari kencang keluar kamar, meninggalkan remaja laki-laki yang kini menatap jendela bekas Rena berdiri dengan tatapan rumit.🍁🍁🍁🍁🍁Rena berlari hingga keluar rumah, nafasnya ngos-ngosan dengan degub jantung yang bertalu-talu.Ini aneh, kenapa Rena bisa tidak nyasar saat ingin keluar rumah?Apa kepanikan memberi kekuatan tak terduga?Berpikir jika ini adalah sebuah kebetulan, Rena mendekat pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman. Dia bukan wanita yang tadi, tapi dilihat pakaiannya sepertinya dia adalah pembantu di rumah ini."Per-permisi?" Wanita itu menoleh."Nona? Anda butuh sesuatu?" Jawabnya."Saya mau tanya, ini di mana ya?" Sekejab wanita itu menatap Rena bingung di susul tawa kecil yang membuat Rena menatap wanita itu aneh."Nona mau ngeprank saya lagi ya? Maaf ya kali ini gak akan kena?"Ngeprank gundulmu , kenal aja kagakRena merasa dongkol. Sudah bangun di tempat asing, ketemu orang-orang aneh pula. Sial sekali hidupnya.Ehh dirinya ini masih hidup atau sudah mati sihh..?!"Maaf ya mbak tapi saya serius, atau jangan-jangan mbak yang lagi ngeprank saya ya?" Tuduh Rena menahan kekesalanya."Sudahlah nona Rana, menyerahlah kali ini saya gak akan kena."Apa tadi, Rana? Hey namanya Rena"Maaf ya mbak kita kenal saja enggak,buat apa saya ngeprank anda. Dan lagi nama saya Rena bukan Rana."Rena menunjuk mulutnya lalu menyebut namanya dengan nada menekan"Rrreeeeennnaaaaa.... R-e-n-a..!!""Sejak kapan nona Rana ganti nama? Perasaan tuan dan nyonya gak pernah nyuruh saya bikin bubur." Santai wanita yang Rena duga adalah pembantu rumah ini dan kembali fokus menyirami tanaman sang majikan.Lagi-lagi Rena dibuat bingung dengan jawaban wanita aneh ini. Aisshhh kenapa kepalanya kini malah nyut-nyutan."Orang aneh" gumam Rena dongkol"Ya Nona?"Rena menatap wanita itu malas."Disuruh siapa sih mbak?" Dengus Rena kesal"Hah?"Rena menggeleng lirih. Dirinya lalu duduk dengan kedua lutut yang ditekuk.Tiba-tiba kepalanya merasakan sakit. Dirinya memegang kepala yang terasa nyut-nyutan serta perut yang terasa mualSemakin lama sakit kepalanya semakin menjadi. Rasanya seperti di tusuk oleh sesuatu yang tajam."Shhhhh" desis Rena kesakitanWanita tadi kelabakan. Dengan sembarang dia membuang selang di genggamannya."Ehhh nona kenapa?" Paniknya"Sa-sakittt...""Nona...nona Rana kenapa..!?"Perut Arana semakin mual. Rasanya ada sesuatu di perutnya yang terdorong ke kerongkongan.Laluuu"Huwekkkk...huwekkkk""Nonaa..!!"Setelah itu semuanya gelap.Ini gilaBagaimana bisa?Perpindahan jiwa? Sangat tidak masuk akal.Dirinya yang amat tak percaya tentang transmigrasi jiwa, kini malah mengalaminya.Transmigrasi yang nyata itu adalah perpindahan penduduk. Bukan hanya jiwanya saja tapi raganya juga ikut.Apasih namanya?Lupakan ituKarena nyatanya Rena mengalaminyaMengalami perpindahan jiwaCatat..!! Hanya jiwanya sajaRaganya? Entahlahh...mungkin sudah habis dimakan megalodon.Tadi, dalam pingsannya Rena bermimpi jika sekarang dia berada di dalam tubuh seorang figuran novel yang bernama Arana Wilson.Rasanya Rena ingin tertawa dengan kekonyolan ini.Maksudnya, siapa yang bakal percaya jika orang bisa berteleportasi ke dunia lain?Waktumu sudah habis RenaIni adalah tubuhmuMulai sekarang hiduplah sebagai Arana WilsonSuara sialan yang tak bertuan itu, bolehkah Rena mencekiknya?Ohh atau jangan-jangan, selama ini hidupnya dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi. Jika manusia yang merupakan mahkluk tiga dimensi bisa menciptakan mahkluk dua dimensi, berarti bisa jadi para mahkluk tiga dimensi juga dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi bukan?Ohhh Tuhan sepertinya Rena sudah tidak mempunyai kewarasan lagi"Masih sakit?" Lamunan Rena buyar. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Di sana, tepatnya di depan pintu, remaja laki-laki yang tadi seenak jidat memeluk Rena berdiri dengan membawa nampan yang Rena yakini berisi makanan.Dengan langkah tegasnya dia menghampiri Rena, duduk di tepi ranjang dan menatap Rena intes."Makan" Astaga... suaranya mengingatkan Rena pada JisungAlih-alih mengikuti perintah pemuda itu Rena menatapnya penuh tanya."Lo.... Hades?"Enggan menjawab pemuda itu mengambil piring, menyodorkan sendok pada Rena.Anehnya Rena menurut. Enggan memberontak sampai makanan itu habis.Ya...Karena dirinya juga lapar siihh...Lalu pemuda itu juga menyodorkan gelas dan Rena menerimanya kembaliMelihat sesuatu yang aneh pemuda itu menarik tangan Rena membuat gelas di genggaman Rena hampir tumpah."Mana?" Rena menatap pemuda itu bingung"Apa?""Cincin" Rena juga menatap tangannya. Bingungnya bertambah."Cincin" gumamnya"Cincin pertunangan kita Arana."Ohhh God dia beneran Hades.*****Novel My Cruel Mate. Novel yang sedang booming di kalangan pecinta novel. Novel dengan genre dark romance.Bercerita seorang remaja sma yaitu Malvin Wijaya jatuh cinta dengan Mira de Louis. Tentu tidak akan seru jika kisah asmara mereka berjalan lancar, lalu terciptalah antagonis.Salah satunya adalah Hades Giovandrick, dia dikenal sebagai antagonis paling ganas diantara antagonis lainnya. Tidak diceritakan secara detail bagaimana kehidupan dari seorang Hades. Hanya saja dituliskan jika Hades sudah memiliki tunanganTidak diceritakan secara detail bagaimana kisah hubungan asmara Hades dengan tunangannya. Mungkin karena Hades hanyalah peran pembantu atau Hades hanya bumbu pedas untuk membuat cerita lebih menantang.Dan sekarang Rena harus terperangkap dalam tubuh dari Arana. Ini tidak masuk akal tapi ini benar-benar terjadi.Tuhan, apa yang harus Rena lakukan ketika Rena saja tidak tau bagaimana hubungannya dengan HadesBaik?Tidak baik?Biasa saja?Dingin?Atau bahkan pasangan bucin?Tolong, bolehkah dia menjedotkan kepala pada dinding?"Rana?"Rana tersentak dari lamunannya, lalu menatap seorang pria paruh baya dengan pakaian kantornya. Dia adalah Dika Wilson, ayah dari Arana Wilson."Ehh i-iya?" Rana menjawab linglung"Kenapa makan nya gak selera gitu? Makanannya gak enak?"Rana kelabakan, jujur saja dirinya masih merasa asing dengan dunia ini begitupun dengan para tokohnya. Sebelumnya mereka tidak saling mengenal bukan? Lalu sekarang secara tiba-tiba disatukan menjadi keluarga. Ahh walaupun disini hanya jiwa Rena yang tidak mengenali mereka."Enggak kok p-pa, makanannya enak" Arana tersenyum kikuk"Kamu sakit?" Kini pandangan Rana beralih pada seorang wanita kini menatapnya khawatir. Dia wanita berdaster kemarin. Namanya Dela Wilson, ibu dari Arana.Rana menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lalu mulai fokus pada makanannya."Aku baik-baik aja"ujar Arana pelan lalu mulai memaksakan makan."Oh ya, kata mama, kemarin Hades kesini?" Dika kembali membuka obrolan.Rana berhenti mengunyah lalu mengangguk singkat."Bagaimana hubungan kalian sekarang?""Maksud papa?""Kalian jadi lebih dekat mungkin?" Tebak Dika yang membuat Arana berspekulasi yang tidak-tidakRana termenung, jadi selama ini hubungannya dengan Hades tidak rukun apa bagaimana?"Kayaknya ada kemajuan deh pa, kemarin aja mereka seharian di kamar. Berdua doang lagi." Ujar Dela tanpa beban yang diakhiri tawa cekikikan.TakkkDika berhenti memotong roti panggangnya lalu menatap Rana dengan alis bertaut."Ak-aku gak ngapa-ngapain!" Rana panik. "Suerr!!" Lanjutnya dengan menunjukan tanda peace."Emangnya papa tanya kamu ngapain aja sama Hades?"DamnRana menatap Dika memelas. "Paaa" rengeknya."Hahaha, ya ampun Rana. Kenapa panik gitu? Emang kemarin ngapain aja sama Hades?" Goda Dela yang tambah membuat Rena frustasi."Gak ngapa-ngapain ma" lirihnya.Dela mengulum senyum jenaka "Ngapa-ngapain juga gak papa kok, asal setelah itu mau dinikahin."Pantatmu"Gak boleh ya ma, nunggu sah dulu." Dika bersuara."Papa gak mau putri papa hamil di luar nikah. Apalagi jika mental Rana belum siap. Jangan sampai Rana nanti menikah dalam keadaan terpaksa." Dika berujar tegas, namun Rana tahu ada nada kekhawatiran di sana. Untuk sekejab perasaan Rana menghangat.Dela menghela nafas lalu dengan gemasnya mencubit pipi anaknya"Iya-iyaa yang kesayanganya papa""Sakit maa""Utututu tayangnya mama sakit...? Mana yang sakit hm?" Lalu dengan lancangnya Dela mengecup pipi Rana yang tadi dia cubit."Ishh mama...." rengeknya."Sudah-sudah, Rana cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi Hades bakalan jemput."🍁🍁🍁🍁🍁Pagi ini SMA Cendana dihebohkan dengan kedatangan salah satu most wanted mereka dengan anak eksul Sastra.Hades Giovandrick yang terkenal akan sifat dinginnya sukses membuat gempar satu sekolah. Bukan hanya murid tapi guru dan kariawan lainya turut melongo melihat pemandangan yang satu ini.Selama ini Hades tidak pernah terlibat kasus asmara dengan siapapun. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang.Hades juga jarang berinteraksi dengan siswa lain."Lo ada hubungan apa sama Hades Ran?" Rana menatap gadis kucir kuda ini gugup.Arana sudah berada di kelasnya dan duduk di kursi nomor dua dari depan dengan deretan kursi paling jauh dari pintu."Hub-hubungan apa emangnya?""Yeuhh lo, ditanya malah tanya balik" Sasti menggeplak pelan kepala Rana membuat sang empu meringis pelan."Aduhh, sakit woy.""Sasti nakal banget, kasian tau Rana nya." Kata Lia."Diem lo" semprot Sasti membuat Lia langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan mata yang menatap memelas."Berisik!" Ketiga gadis itu berjengit. Menatap aneh pada Puput yang tengah bermain dengan angka di bukunya."Si Paling ambis" Rana mengangguk setuju mendengar bisikan dari Sasti.Rana menghela nafas panjang. Mereka adalah teman-teman Arana Wilson.Lalu dengan langkah gontainya dia duduk di bangku sebelah Puput si anak ambis.Jujur saja Rana masih berharap ini adalah mimpi.🍁🍁🍁🍁🍁Rasa lega melingkupi Arana ketika hajatnya telah terselesaikan. Gadis itu lalu mencuci tanganya pada wastafel.CklekkkkArana tahu, ada seseorang yang masuk, namun dirinya cuek-cuek saja. Palingan juga orang mau pipis."Ohhh....haii...Arana..."Merasa nama raga ini dipanggil, Arana menoleh. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang sedikit lebih tinggi darinya tengah tersenyum lembut.Cantik banget gilaaaa....."O-ohhh..haiii.." Arana membalas tersenyum kikuk setelah itu mematikan kran yang baru dipakainya."Duluan yaaa..." Pamit AranaLalu ia, mengambil beberapa lembar tisu yang tersedia dan hendak meninggalkan toilet, namun gadis asing tadi menghentikan langkahnya."Arana..."Arana menoleh ke belakang menatap penuh tanya."Seberapa indah masalalu kalian...tetap saja, sekarang dia udah jadi milikku""Hahh...?"Gadis tadi kembali tersenyum lembut lalu berjalan menuju Arana, sempat menepuk pundak Arana dua kali, gadis itu berbisik pelan."Jadi.... siapa di sini pemenangnya?"Fakta baru yang Arana dapatkan. Tidak ada yang tahu tentang pertunanganya dengan Hades dan itu cukup membuat Arana bernafas lega.Ehh tapiGara-gara dirinya berangkat bareng Hades tadi pagi, dirinya berhasil jadi bahan gosib murid SMA Cendana.Tapi lupakanlah...harusnya dirinya siap, jika hidupnya tak akan sama. Hidup tenangnya telah hilang...Ohhh....menyedihkan sekali...Dengan pelan Aranaa memakan batagor yang dia pesan di kantin sekolah.Entahlah, sejak hidup di dunia semu ini Rana tidak memiliki nafsu makan yang bagus.Bagaimana punya nafsu makan jika sedang dilanda musibah? Yaa..ini adalah sebuah musibah bagi Arana."Kenapa Ran? lesuh gitu." Arana menoleh pada Sasti lalu menggeleng pelan."Kenyang." Lalu dia meletakan sendok dan membersihkan mulutnya menggunakan tisu yang memang tersedia di meja kantin."Masih banyak batagor nya Ran.""Kalo mau buat lo aja""Aisshhh makasih Rana cantik" dengan semangat Lia menggeser piring Arana untuk mendekat dan memakannya tanpa beban."Enak!" Serunya membuat Arana tersenyum tipis. Sangat tipis.Lalu dia menelungkupkan kepalanya pada meja. Memandang Puput yang memakan mie ayamnya disambi membaca buku sejarah kedatangan bangsa barat di Indonesia .Benar-benar anak ambis.Lama-lama matanya memberat. Kebisingan kantin samar-samar menghilang. Tidak setelah mendengar sesuatu yang terbanting.PyarrrrrArana terkejut dari kantuknya. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu. Kantin yang tadinya riuh semakin riuh."Ada apa" Tanya Arana serak."Itu Malvin mecahin piringnya Mira."DegKantuk yang tadi hinggap terbang entah kemana digantikan dengan degub jantung yang bertalu-talu."Siapa? Malvin? Mira?""CK iyaa, makanya jangan molor aja.""Huhh" gadis itu mendengus."Emangnya kenapa? Emm maksudnya masalahnya apa?" Arana kembali bertanya.Apakah alur tetap berjalan semestinya?Sasti meletakan ponsel yang sejak tadi ia mainkan lalu menghadap Arana."Biasa, sifat keposesifanya Malvin kambuh. Lo tau sendiri kan gimana dramanya pasangan yang satu ini."Arana termenung"Coba pikir deh, gara-gara Mira bicara sama Bobi aja dia marah. Toxic banget tau gak.""Mira juga, udah tau Malvin gak waras, masih mau aja."Arana paham, karena di dalam novel memang di ceritakan jika Malvin adalah sosok yang sangat posesif dan penuh dengan obsesi terhadap Mira.Tidak seharusnya Sasti mencibir Mira, karena sebenarnya Mira juga terpaksa.Dan satu rahasia yang para tokoh tidak ketahuiMalvin dan MiraMereka sudah menikahJadi alur novel tetap berjalan semestinya?Adegan ini adalah ketika Mira bertanya pada Bobi tentang acara gelar karya dan bazar yang akan dilangsungkan di SMA Cendana. Pada saat itu Malvin marah besar dan langsung menyeret Mira pulang tak peduli jika masih dalam jam pembelajaran.Tapi bukan itu point pentingnya, Karena ketika mereka sampai di apartment Malvin. Protagonis pria itu menyiksa Mira. Menyayat bahu Mira membentuk sebuah tulisan 'Malvins'Yaaaa dia psikopatMemang harus seperti iniArana berharap alur tidak akan melenceng hanya karena kehadiranya."Tapi Malvin tuh ganteng Sas, gak salah lah kalo Mira tetep mau."Suara itu membuat Arana kembali sadar dari pikiranya."Buat apa ganteng kalo gila." Lia mendengus mendengarnya."Puput mana?""Kabur duluan, dia kan paling anti sama keributan."Arana paham, sahabat Arana yang satu ini. Entah sudah berapa kali Arana harus merasa insecure dengan keambisan Puput."Sekarang, Malvin sama Mira nya kemana?" Arana celingak celinguk."Udah pergi, mana perginya pakai seret-seretan. Le to the bay lebay.""Terus-"Banyak tanya lo!"Sebenarnya Arana penasaran bagaimana rupa rupa mereka berdua.Apa... yang tadi di toilet itu.... Mira?🍁🍁🍁🍁🍁Arana mengemasi buku-bukunya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi tapi karena Arana harus menyelesaikan catatan biologi jadinya dia pulang sedikit terlambat.Menghela nafas panjang Arana keluar dari kelas dan betapa terkejutnya dia melihat pemuda berhody hitam sedang bersadar pada pintu."Pulang?""Hah??" Mengendikan bahu acuh pemuda tampan itu merangkul Arana lalu membawa mereka menjauh dari kelas."Gue pikir, lo udah pulang." Tidak ada jawaban. Hades mendorong Arana agar gadis itu masuk ke dalam mobil lalu disusul dirinya.Di perjalanan tidak ada suara. Hades yang irit bicara dan Arana yang malas berbicara. Sungguh pasangan yang klopLagi-lagi Arana melamun. Memikirkan nasib aneh yang menimpa dirinya. Bagaimana dirinya bisa masuk dalam cerita khayalan orang?"Mau makan?" Arana terkejut. Dengan cengo dia menoleh pada Hades."Gimana?"Pemuda itu menghela nafas panjang"Makan. Mau?"Sejenak Arana termenung, entah apa yang dia pikirkan. Sampai dirinya tersentak saat merasakan elusan di kepalanya."Jangan melamun.""Maaf""Hm, kita mampir ke BlueResto ya?"Malam ini langit terlihat sangat cantik, berhias ribuan bintang yang berkilau menemani bulan.Arana duduk di gazebo yang berada di taman belakang rumahnya. Mengenakan piyama bermotif bulan dan bintang. Walau malam ini cerah nyatanya sapuan angin malam berhasil membuat Arana berkali-kali menggosokan kedua tangannya.Arana kembali memikirkan tentang kelanjutan nasibnya. Jika di tanya apakah dia ingin menuruti alur novel, Arana akan menjawab dengan lantang 'tidak'Ohhh ayolah dirinya tidak ingin mati konyol hanya karena sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Sangat bukan dirinya.Dirinya harus bisa menyelamatkan nyawanyaArana memandang jejeran bintang yang mempertontonkan keindahanya. Sangat cantik dengan kemilaunya.Lalu, dirinya tersentak kala sebuah selimut kecil bersandar di bahunya. Reflek dia menoleh ke belakang."Dingin" ucap orang ituArana diam tidak berniat merespon dan berposisi seperti semula. Lalu orang itu menyusulnya."Belum ngantuk?" Tanya nya, mengikuti Arana menatap hamparan langit malam.Arana menggeleng. Tanpa diduga dia bersandar pada bahu Hades. Pemuda itu sempet tersentak kemudian membiarkanya."Hades""Hm?"Arana membasahi bibirnya."Menurut lo, hubungan kita ini apa?"Pemuda itu menaikan salah satu alisnya. Kenapa gadis ini tiba-tiba bertanya seperti itu?"Maksudnya?" Tanya nya dengan mata yang senantiasa menatap langit.Arana berdebar, gadis itu menegakkan badannya."Selama kita menjalani hubungan ini, lo nyaman gak sih?"Pemuda itu terdiam hingga Hades tersenyum miring setelahnya"Menurut lo gimana?"Arana menghela nafas panjang. Dia turut memandang langit malam menerawang jauh akan gambaran nasibnya di waktu yang akan datang"Makanya gue tanya, karena yaaa gue gak tahu. Semisal lo terganggu dengan ikatan ini, gue gak papa kalo hubungan ini berakhir." Ucapnya tanpa melihat perubahan ekspresi Hades.Rahang itu mengeras, walaupun wajahnya terlihat tenang tapi satu yang pasti dia sedang menyimpan amarah."Kalo lo gak enak buat ngomong sama para orangtua, gue yang bakal ngomong. Lo gak usah pusing soal itu."Mendengarnya, membuat Hades terkekeh. Tangannya terulur merangkul Arana erat. Menyalurkan rasa hangat kepada gadis itu. Dan Arana menerima tanpa menolaknya. Entahlah, tapi Arana merasa nyaman."Sangat pengertian" bisik Hades.Lalu dengan lancang dia mengecup kening Arana cukup lama yang membuat empunya terkejut.Dia ingin marah tapi entah kenapa bibirnya kelu."Tidur ya? Lo kebanyakan ngelantur."Tanpa aba-aba Hades membopong Arana."Hades-"Sttttt"CupLagi-lagi kening Arana sebagai sasaran"Malam, Ara"🍁🍁🍁🍁🍁Di lain tempat, seorang gadis tengah meringkuk pada sebuah kamar.Matanya sembab rambutnya berantakan badannya bergemetar.CklekkMendengar pintu berdecit membuat ketakutan gadis itu semakin bertambah. Dirinya beringsut mundur sampai menabrak penyangga.Sampai di depan gadis itu orang itu tersenyum lebar. Dirinya berjongkok menatap sang gadis dari bawah.Sangat cantik pikirnyaPerlahan tangannya mengelus pipi sembab gadisnya."Makan, lalu tidur. Oke?""Hukumanya sudah selesai."
KISAH: Api & Sungai yang Mengangkat Beban Dunia
Anak itu adalah orang yang mengangkat beban seluruh dunia ini seorang diri. Memang ia awalnya terlihat mampu, tapi pada akhirnya, semua orang tahu, bahwa dia pasti akan menyerah. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan keyakinannya.Di bawah langit malam, gadis kecil berpakaian lecek itu melangkah dengan ragu menyusuri daratan rumput itu. Di sekitarnya, ada banyak pepohonan yang tampak amat indah dan istimewa. Pasalnya, semua pohon yang tumbuh di sana, memiliki daun yang menyala terang, yang memancarkan warna merah muda yang sangat serasi dengan kegelapan malam kala itu. Umat manusia menyebut tempat ini sebagai Daratan Kenangan.“Rasanya... dunia ini... sudah tidak memiliki harapan lagi...”Berbagai pemikiran yang tidak menyenangkan mulai merasuk ke dalam gadis itu. Pandangannya yang kosong menatap lurus ke depan, seakan-akan dia sama sekali tidak peduli lagi dengan nasib dunia ini.Namun, selain si gadis, rerumputan, kegelapan, dan pepohonan bersinar itu, di sana juga ada ribuan manusia lainnya, yang berpakaian kotor dan tidak terurus sama seperti gadis itu, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.Semua orang memberikan jalan agar gadis mungil itu bisa lewat.Gadis itu terus berjalan, sementara orang-orang di sekitarnya malah menatap dirinya dengan tatapan sedih, heran, dan takut.Selang beberapa waktu kemudian, gadis itu pun berhenti melangkah. Di depannya kini ada suatu danau yang cukup lebar, yang hanya berjarak satu jengkal saja dari kaki telanjangnya yang penuh luka.“Tuhan... mengapa dunia ini sangat senyap?”Gadis kecil itu mengambil nafas dalam, lalu dengan perlahan dan pasti, dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam air yang terasa amat dingin itu, dan berjalan menuju ke tengah-tengah danau. Semakin dalam dan semakin dalam, sampai-sampai setengah dari tubuhnya sudah tenggelam, dan hanya bagian perut ke atas saja yang terlihat darinya.“Tuhan... mungkinkah ini adalah bayaran atas dosa-dosaku di masa lalu?”Air di danau itu sangat tenang dan tidak beriak sama sekali, seakan-akan, danau itu terlihat seperti membeku, sama seperti gadis itu yang kini hanya berdiri diam di tengah danau.Sekarang suasananya menjadi lebih hening—sangat hening.Ada banyak orang yang melihat ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa putus asa yang sangat dalam. Sampai-sampai kau merasa seolah bisa melihat jurang tanpa dasar di dalam pandangan mereka. Sebagian orang di sana juga ada yang mulai menangis terisak, dan sebagian lagi gemetar hebat dan berkeringat dingin.“Tuhan... Tolong dengarlah suaraku…”Namun, tiba-tiba ada satu suara yang memecah keheningan malam.Jauh di kiri gadis itu, ada seorang wanita yang baru turun ke air dan tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu juga menggendong bayinya bersamanya. Meski begitu, wanita itu adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlihat takut, sedih, ataupun putus asa. Dia hanya tersenyum kecil sambil memastikan bayinya tetap tertidur dalam dekapannya. Sementara jauh di belakang wanita itu, tampak pula seorang pria yang bertekuk lutut dan menangis layaknya seorang balita. Seolah-olah dia akan kehilangan wanita itu.Dalam perjalanannya, wanita itu berbisik pada bayinya; “Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.” Suaranya yang pelan sungguh menenangkan.Puluhan langkah telah ditempuh, dan wanita itu akhirnya sampai di hadapan si gadis di tengah-tengah danau. Wanita itu mengulurkan tangannya yang lemah kepada si gadis, tapi, gadis kecil itu malah menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, dan tubuhnya juga ikut gemetar.“Jangan takut, Nak Riveria...” Kata wanita itu sambil tersenyum simpul.Dia tahu, bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sebenarnya sudah sangat siap. Tapi, kenyataannya, satu-satunya orang yang belum siap di sini, kemungkinan adalah dirinya sendiri.“Kau tahu, kan? Semakin cepat manusia pergi, maka dunia ini juga akan menjadi lebih baik.” Wanita itu menatap Riveria lamat-lamat. “Manusia adalah sumber kehancuran, Nak, dan aku adalah salah satu dari mereka.”“Tapi—”“Aku mengandalkanmu, Nak Riveria.”Akhirnya, Riveria dengan berat hati terpaksa menerima uluran tangan wanita itu.“Kalau begitu, selamat tinggal.” Bisik wanita itu pelan, lalu kemudian wanita itu dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sampai dia benar-benar tenggelam ke dalam air.Jemari Riveria bergetar hebat, sampai-sampai dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi, sungguh, hati kecil Riveria terus berteriak dan memberitahunya untuk tidak melepaskan tangannya.Seketika, tubuh Riveria menjadi lemas bukan main entah karena apa.Namun, saat tangan mereka telah bercerai, sesuatu yang gaib kembali terjadi.Ada banyak titik-titik cahaya hijau terang yang mulai timbul dari tempat si wanita tadi tenggelam. Cahaya itu sejatinya terlihat sangat ajaib, tapi sayangnya, apa yang terpancar dari mata Riveria yang kala itu bergetar hebat bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut yang tiada tara.Lambat laun, cahaya itu perlahan-lahan terangkat dari air dan naik ke udara, hingga lenyap begitu saja dari pandangan—dari dunia ini. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Dan dunia ini sekarang telah menjadi lebih senyap dari sebelumnya.Riveria lalu menatap telapak tangannya dengan pandangan hampa. Suatu memori terlintas di dalam benaknya. Tapi, ingatan itu bukanlah miliknya, kenangan itu adalah milik wanita yang telah pergi sebelumnya.Walau hanya sekilas, Riveria bisa melihat hampir semua kenangan itu dengan amat jelas. Namun, berdasarkan semua ingatan itu, Riveria hanya mampu menangkap dua ingatan saja yang memberikan kebahagiaan pada wanita itu, yaitu saat wanita itu menikah dengan pria yang tengah menangis di sana, dan yang kedua adalah waktu dia melahirkan anaknya. Sementara sisanya, adalah ingatan-ingatan yang pahit dan mengerikan.“Bagaikan ribuan bintang di langit, tapi hanya dua bintang saja yang bersinar....”Detik demi detik berlalu, dan kesenyapan itu tiba-tiba lenyap diiringi derap langkah kaki ratusan orang yang memutuskan untuk turun ke air dan menggapai Riveria di tengah danau.Mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk pergi meninggalkan kehidupan, sama seperti wanita tadi. Tapi bukan berarti mereka pergi ke surga atau pula ke neraka, karena saat ini, semua manusia tahu, bahwa gerbang di kedua tempat itu telah tertutup rapat. Saat ini, semua manusia sudah menjadi makhluk yang abadi, dan tak akan bisa mati. Walau begitu, bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan manusia.Empat ratus tahun lalu, suara Tuhan yang menggelegar di langit menyatakan bahwa Ia akan menurunkan Sepuluh Keajaiban Terakhir untuk umat manusia. Dan salah satu dari keajaiban itu, adalah Riveria, dia diberikan kemampuan untuk mengirim manusia ke dalam kematian yang hampa—dia diberikan hak untuk mengantarkan manusia ke dalam peristirahatan yang terakhir dari yang terakhir.Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun sayangnya, sudah jelas kalau empat ratus tahun lalu, Tuhan sendirilah yang memberitahukan kebenaran itu pada manusia. jadi, semua orang hanya bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada.Akan tetapi, jika masih ada orang yang mencoba untuk menyangkal kenyataan itu, mereka bisa bertanya pada Riveria secara langsung, mengingat dia adalah salah satu dari segelintir makhluk yang telah hidup sejak empat ratus tahun lalu—sejak dunia ini masih dikuasai oleh manusia.Suara percikkan air, tangisan, teriakkan, dan keputusasaan terdengar makin membahana memenuhi tempat itu, seolah-olah ada upacara pemakaman massal yang tengah diadakan di Daratan Kenangan ini.Lalu, saat pagi telah datang, Riveria pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat.Riveria berdiri sendirian di atas tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi bak bukit. Rambut pendeknya yang terurai ke leher memancarkan warna merah mengkilap layaknya api membara. Tatapan matanya yang sebiru langit tengah memandang kosong pada cakrawala yang terbentang di depannya. Kenyataannya, di dunia yang sudah hampir mati ini, hanya gadis mungil itu sajalah yang bisa menyelamatkan orang-orang.Hanya dia.Seorang gadis kecil nan rapuh yang dianggap terkutuk oleh manusia lainnya.“Harus seberapa keras aku berteriak agar Engkau bisa mendengar suaraku... Tuhan.”Riveria bertanya pada hati kecilnya. Entah kenapa kala itu Riveria seakan ingin menangis. Dia merasa bahwa dunia ini sudah bertindak terlalu berlebihan. Tapi, air matanya telah lama kering, menyisahkan tatapannya yang tanpa arti.“Kenapa aku nggak memiliki perasaan lagi?” Tangan kiri Riveria bergerak meraba dada kirinya. “Kumohon... Tuhan, dengarlah suaraku untuk kali ini saja.” Suara Riveria terdengar layu dan malas.Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya, menandakan bahwa dunia ini masih bertahan dan memilih untuk terus melangkah, dan juga memutuskan untuk terus menyiksa umat manusia.Riveria tetap berdiri di puncak bukit batu itu, menunggu datangnya sinar mentari.Suara angin yang berhembus melalui jendela dan pintu gedung-gedung yang telah lama hancur dan tertutupi oleh debu yang amat tebal, seakan membawa suara jeritan ke telinga Riveria. Kendaraan, jalan raya, lampu lalu lintas, serta segala yang telah dibangun manusia di kota ini—semuanya telah lama mati.Dunia ini berhasil bertahan melalui suatu malapetaka—kiamat.Saat ini, hanya alam yang berkuasa atas bumi. Dan manusia? Manusia hidup dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh alam. Tak ada lagi hukum manusia.“Di manakah sebenarnya engkau, Tuhan?”Akhirnya mata Riveria bisa menangkap sinar keemasan yang bersinar dari ufuk timur. Cahayanya begitu terang dan hangat, menembus pakaian kotor Riveria, dan seolah-olah cahaya itu tengah memeluk dirinya. Tubuh Riveria yang tadinya sangat kaku karena terkena angin malam, sekarang sudah terasa jauh lebih baik.Waktu itu, meski hanya sesaat, Riveria bisa merasakan sesuatu yang disebut dengan kedamaian. Untuk sesaat—hanya sesaat saja—Riveria bisa melihat sesuatu yang disebut sebagai... “Harapan.”Sungguh pemandangan yang amat megah, sekaligus perasaan yang luar biasa. Akan tetapi, terbitnya matahari adalah penanda waktu bagi Riveria untuk tidur.Namun, karena sinar mentari itu juga, Riveria jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin malam. Semua kenangan-kenangan yang diterimanya dari orang-orang yang telah pergi, sekarang telah lenyap dari kepalanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Tapi, bukan berarti ia bisa melupakan kengerian yang dirasakannya saat berdiri di danau itu.“Aku lelah banget... Hoam...” Mulut Riveria membuka lebar, ia menguap karena saking ngantuknya. Kemudian setelah melemaskan tubuhnya sedikit, Riveria pun mulai berbaring, dan dia pun terlelap begitu saja.Hanya di puncak bukit batu itu sajalah, Riveria bisa tertidur pulas untuk melepas penat setelah semalaman menunaikan kewajibannya. Meski tak ada bantal yang empuk, atau alas yang lembut, bagi Riveria, tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi ini, adalah tempat yang bisa disebutnya sebagai rumah.Riveria Agnisia, itulah namanya. Nama yang memiliki dua makna yang berbeda.Dia adalah nyala api—api mungil yang bahkan bisa padam kapan saja hanya karena sepoy angin. Namun, di saat yang sama, dia adalah sungai—sungai yang amat deras yang akan terus mengalir tanpa ragu dan takut.
LUST IN AFFAIR
"A-aku bukan Celine," gugup Celena menatap pria yang sudah dia cintai selama satu decade terakhir berdiri tepat di depannya. Entah mabuk atau apa, lelaki yang tak pernah menganggap dirinya tiba-tiba sudah berada dalam kamarnya. Sedangkan, di luar sedang ramai. Acara pertunangan Saxon dan Celine dilaksanakan.Saat pintu tertutup gadis itu semakin berada dalam posisi yang serba salah. Dia sangat mencintai Saxon, tapi kenyataan jika pria itu adalah tunangan kakak kembarnya membuat dia menutup rapat-rapat perasaan itu. Celine bahkan tidak pernah tahu, jika pria yang selalu diceritakan adalah lelaki yang sama."A-aku tahu kamu mabuk, tolong keluar dari kamarku." Gadis itu menggeleng, baru kali ini dia bisa begitu dekat dengan Saxon, selama ini hanya bisa melihat bayangannya dari jauh, Saxon bahagia bersama Celine, mereka adalah pasangan yang selalu diagungkan semua orang, bahkan keduanya berencana untuk menikah dalam waktu dekat."Tidak, Baby. Aku tidak cukup mabuk, aku tahu kamu Nena," jawab Saxon. Celena kian menggigit bibirnya, bahkan belum ada yang pernah memanggil namanya dengan Nena, apakah itu panggilan kesayangan?Celena menggeleng cepat, tidak! Tidak bisa! Saxon adalah milik orang lain, walau dia sudah lama mencintai pria ini.Saxon menyeringai, dia semakin berjalan mendekat. Celena beringsut mundur, dan menabrak headboard."Apa yang kau lakukan di sini?" pekik Celena. Dia beharap ada orang yang bisa mendengar dari luar dan mengusir Saxon sekarang, tapi tidak ada yang pernah bisa menyelamatkan dirinya sekarang karena orang-orang sedang sibuk."Aku menginginkanmu," jawab Saxon santai. Celena menggeleng. Pria ini gila!"Kau gila!""Aku gila karenamu!"Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Celena, otak dan hatinya perang. Sebelum Saxon mengenal namanya dia sudah lama mencintai pria itu, saat Saxon mengatahui namanya dia bahkan membeli cake untuk merayakan sendiri akhirnya crush notice dirinya, tapi juga menjadi hari patah hati terhebat untuknya karena Saxon adalah kekasih kembarannya. Dunia memang tak pernah adil padanya.Gadis itu makin menggeleng, sedangkan Saxon semakin naik ke atas ranjang. Celena menggeleng keras."Jangan, jangan seperti ini. Celine sangat mencintai kamu.""Aku tahu."Saat tangan Saxon terulur untuk memegang tangannya seluruh tubuh Celena bergetar, dia selalu memimpikan hal ini, Saxon tak pernah absen hadir dalam setiap tidur malamnya. Gadis itu menelan ludahnya kasar, dengan perlahan Saxon menarik tangannya lembut dan mengecupnya. Detik ini Celena merasa telah mengkhianati kembarannya, tapi dia juga selalu memimpikan hal ini. apa yang harus dia lakukan?"Kamu sangat cantik malam ini," puji Saxon sambil mengelus-elus wajah mulus Celena yang sudah banjir air mata. Suaranya terdengar rendah."Leave me alone.""Not now, Baby. Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Saxon, Celena menutupi matanya.Tiba-tiba Saxon sudah menarik tubuhnya. Membuat Celena makin menganga takut, dia berperang antara hati dan kewarasannya. Saat sentuhan lembut kian dia rasakan Celena hanya bisa beteriak dalam hatinya.Dia hanya mampu menutupi matanya merasakan semua sentuhan lembut yang selalu diimpikan, tidak apa jika semunya hanya mimpi karena Saxon tidak akan pernah bisa diraihnya."Kenapa kamu selalu menghindar dariku?" tanya Saxon. Celena langsung membuka matanya, dia gugup luar biasa tapi juga senang di waktu bersamaan bisa melihat Saxon sedekat ini. diam-diam dia menghirup semua aroma tubuh pria yang berjarak sepuluh tahun lebih tua darinya."K-kamu mabuk, dan keluar dari kamarku sekarang," gugup Celena, tapi hatinya beteriak keras jangan lagi melepaskan pria ini, minimal dia belama selama lima menit yang akan dikenang selamanya."A-apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Celena berani bertanya, dadanya berdegup sangat kencang dia tidak menyangka bisa punya jarak sedekat ini dengan Saxon, pria yang selalu dia impikan."Yang aku inginkan?" tanya Saxon sambil mengangkat alisnya, ia tersenyum sebentar. Saxon adalah pria paling tampan yang pernah dia tahu, dan Celena tidak akan pernah bosa memandanginya.Saxon menurunkan wajahnya membuat Celena kian gugup, gadis itu menutupi matanya. Apa dia akan dicium? Tapi, apa dia berdosa? Demi Tuhan, pria ini tunangan orang! Bahkan, tunagan kembarannya sendiri. Hati Celena berperang, perlahan ia membuka matanya dan Saxon masih memandanginya, netra madu itu menusuknya dalam. Celena hanya bisa menelan ludahnya.Dia menggigit bibirnya karena siapa pun bisa melihat mereka dalam posisi yang tak senonoh seperti ini, dan semuanya jadi kacau.Hidung keduanya menempel membuat Celena kian gugup, bahkan menahan napasnya. Ia bisa merasakan napas hangat Saxon di wajahnya."Tidak ada," bisik Saxon rendah. Gadis itu langsung membuka matanya dan melotot. Sial! Apa-apaan tadi?Tanpa aba-aba Saxon sudah menciumnya membuat Celena melotot. Ia membeku, first kiss-nya hilang oleh lelaki tsundere yang selalu hadir dalam setiap tidur panjangnya. Celena masih membeku saat Saxon melepaskan bibir mereka, jari Saxon memainkan bibirnya."Jangan pernah menghindar dariku," ancam Saxon. Celena menelan ludahnya kasar. Masih belum juga mencerna apa yang terjadi.Tanpa dosa Saxon langsung keluar dari kamar tersebut dan membuat Celena kian mencak-mencak. Sialan!------Celena hanya bisa melihat dari kejauhan dengan hati yang berdarah-darah saat Saxon dan Celine saling bertukar cincin. Keduanya tersenyum bahagia."Ya, inilah yang kita tunggu-tunggu. Pertunangan Caryl Saxon dan Celine Angel. Pasangan yang sangat serasi sekali, semoga hubungan terus berjalan sampai pernikahan," ucap MC dengan nada yang bersemangat.Celena hanya berdiri di pojokan sambil melihat pasangan bahagia itu bertukar cincin dan memamerkan, serta pengumuman pernikahan. Enam bulan dari sekarang pernikahan itu dilaksanakan dan Celena pasti ikhlas melepaskan perasaan bertahun-tahun yang bersarang di dadanya.Saat Saxon mencium kening tunangannya lama, Celena menutup matanya. Ya, ini adalah hari paling sial untuknya, tak ada lagi harapan ataupun mimpi, dia akan mengubur semua mimpi yang jadi mimpi buruk untuknya.Saat semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat, Celena juga melakukan hal yang sama, turut berbahagia, karena jika kembarannya bahagia maka dia ikut bahagia, walau tidak ada yang pernah tahu perasaan berat apa yang dia hadapi."Selamat, ya. Aku tidak menyangka dulu kita suka makan permen kapas bersama dan sekali kedip mata kamu udah nikah aja," ucap Celena pada kembarannya."Ah, kau cepat cari laki sana! Jangan sampai aku udah punya suami, dan kamu hanya bisa main sama dildo," goda Celine membuat kembarannya memerah apalagi Saxon yang menatapnya tajam. Sial! Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya.Celena melewati Saxon, tidak memberi selamat, pria itu menarik tangannya yang membuat Celena langsung menoleh."Sayang lihat, dia tidak memberiku selamat," adu Saxon pada tunangannya yang membuat Celena menggepalkan tangan. Gadis itu pura-pura tersenyum, padahal jantungnya sudah jungkir balik berdekatan dengan Saxon, sampai kapan dia akan menghilangkan perasaan sial ini?Belum sempat tersadar, Saxon menarik tubuhnya cepat dan membawa tubuh kecilnya dalam dekapan dada bidang tersebut membuat Celena hampir pingsan."Jangan pernah melawanku, Baby girl. Ngomong-ngomong, bibirmu sangat manis," bisik Saxon membuat Celena langsung menginjak kaki pria itu karena telah melakukan pelecehan padanya.
Past & Future
Aku terbangun dari mimpiku. Masih terdiam di tempat tidur sembari menatap langit-langit plafon. Aku mimpi apa yah? Itulah yang tersirat dalam pikiranku ketika bangun. Tak ingin berlama-lama, aku mulai bangun dan melakukan aktivitasku seperti biasa.“Ana, makan dulu baru berangkat,” sebuah suara menggagalkan niatku yang ingin berangkat sekolah. “hehe, males makan bunda,” balasku disertai senyuman. Bunda. Bunda adalah sosok yang paling kukagumi di dunia ini. Sosoknya yang terlihat kuat padahal rapuh, membuatku tidak bisa berhenti mengaguminya. “kalau gak makan nanti sakit perut loh, makan aja sedikit,”Aku melepas sepatuku lalu berjalan menuju meja makan. Kuliat masakan bunda yang tertata rapi di meja makan. Dengan cepat aku mulai mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan terburu-buru. “uhuk… Uhuk!” “duh makannya pelan-pelan aja dong,” Ucap bunda sembari memberikanku segelas air.Lebih pelan dibandingkan sebelumnya, aku sarapan dengan cepat. Setelah selesai, aku buru-buru memakai sepatu dan mengambil tasku lalu berjalan keluar rumah. “Bunda aku berangkat dulu ya! Assalamualaikum,” “Waalaikumsalam, hati-hati ya!”Aku sudah merasakan keanehan semenjak masuk di kelas. Rasanya seperti deja vu. Entah mengapa, sekolah hari itu cepat sekali selesai. Karena bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman lalu pulang ke rumah.Taman itu terlihat ramai dari biasanya. Banyak anak kecil yang sedang bermain disana. Tetapi setelah kulihat lagi, sepertinya kata bermain itu tidak terlihat cocok. Kata yang lebih cocok adalah… Beberapa anak sedang mengganggu seorang anak perempuan. Mereka mendorong anak itu, menarik rambutnya, bahkan tak sesekali mereka melemparkan benda yang mereka bawa pada anak perempuan itu.“hei! Kok kalian gituin teman kalian sih? Pergi sana, kakak laporin nih ke orangtua kalian, ” Mendengar ancamanku, beberapa anak itu lantas pergi meninggalkan si gadis kecil yang masih terduduk di tanah.“masih kecil udah ganggu orang, gimana kalau besar coba?” aku membantu gadis kecil itu lalu menepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah. “kamu gak papa?” tanyaku pada gadis itu. Ia mengangguk lalu tersenyum.“Cecil,” Aku menatap gadis kecil itu dengan bingung. Melihat kebingunganku, ia tersenyum lalu menunjuk dirinya. “nama cecil,” ucapnya. “oh, nama kamu cecil?” Ia mengangguk membenarkan pertanyaanku. Aku tersenyum lalu merapikan rambutnya.“rumahnya dimana? Mau kakak antar?” Cecil menggelengkan kepalanya lalu memberikanku sebuah kotak tua. Aku memegang kotak itu lalu menatap Cecil. “ini buat kakak, makasih ya,” setelah mengatakan itu Cecil pergi meninggalkanku yang masih terdiam menatap kotak tua itu. Tanpa kusadari, hari mulai sore dan dengan membawa kotak tua itu aku berjalan pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil menghampiriku dengan cepat tanpa sempat aku menghindar.BRUK Aku membuka mataku. Kurasakan benda empuk di bawahku. Kasur? Dengan tergesa-gesa aku bangkit dan berjalan menuju cermin. “loh? Kok aku baik-baik saja? Bukannya tadi aku ketabrak ya?” kutepuk pipiku berkali-kali. “sakit kok, ah berarti tadi aku sedang mimpi iya gitu!”Kubalikkan badanku dan terpaku melihat sebuah kotak di samping tempat tidurku. Aku meraih kotak itu dan membukanya. Terdapat beberapa jam pasir dengan waktu yang berbeda-beda. Tapi yang lebih anehnya kotak itu terbagi dua. Di bagian atas seluruh jam pasir berwarna merah. Sedangkan yang bawah jam pasirnya berwarna biru. Kuraih jam pasir berwarna biru. “ini berapa menit ya?” kubalikkan jam pasir itu dan…BRUK… “Aw…” aku mengelus kepalaku yang terbentur di meja. Aku mengernyitkan dahi bingung. Sekolah? Batinku.Terlihat seorang gadis dan beberapa anak lainnya mendekati gadis berambut kepang. “heh, katanya kamu cuman tinggal sama ibu kamu ya? Kasihan deh gak punya ayah!”Ah… Aku ingat, ini adalah saat aku diejek karena hanya tinggal bersama bunda. Aku menatap gadis berkepang dua yang sedang dikelilingi gadis lainnya. Ia menangis, gadis kepang dua itu menangis. Senyum getir terlukis di wajahku. Ah… Begitu rupanya aku di masa lalu. Padahal aku bisa melawan mereka, padahal aku bisa menyuruh mereka pergi… Kenapa aku hanya diam?Suara bunyi jam pasir mengalihkan pandanganku. Eh? Jam pasirnya hanya lima menit? Di depanku adalah aku lima tahun yang lalu. Apakah aku… Kembali ke lima tahun yang lalu?Belum sempat pertanyaanku terjawab aku sudah terduduk di atas kasur. Kulirik jam pasir yang kupegang. Kini warna pasir itu berubah menjadi abu-abu. Aku turun dari kasur dan berjalan menuju cermin.“apa aku… Benar-benar kembali ke masa lalu? Lalu setelah itu aku kembali lagi?” kucubit diriku berusaha memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. “okay… Tenang, kita harus coba sekali lagi,” ku raih jam pasir berwarna biru dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. “3… 2… 1…”“pemenangnya adalah Ariana Leteshia!!! ” Sorakan dan teriakan memenuhi ruangan tempatku berada. Semuanya bersorak untuk seseorang bernama Ariana Leteshia itu. Aku tersenyum melihat diriku berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang. “padahal saat itu adalah hari yang paling sulit bagiku, tetapi setelah kulihat lagi… Ternyata… Rasanya bangga ya… ”Aku menengok kanan kiri mencari seseorang yang dulu sangat kunantikan datang. Badanku terpaku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri menatap panggung. Setelah menatap panggung, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan tanpa sengaja kami bertatapan. “Ry…”BRUK… Aku kembali lagi di kamarku masih dengan posisi yang sama. Dengan cepat aku mengambil kotak yang berisi 1 jam pasir berwarna merah. Kubalikkan jam pasir itu.CRIIING… Suara bel membuatku memfokuskan pandanganku. Hm… Tempat yang bagus, batinku sembari berjalan menyelusuri tempat itu. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di hadapan kanvas besar. Gadis itu melukis dengan sangat fokus. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan yang memekakkan telinga. Entah kenapa orang-orang yang tadi tidak terlihat, kini terlihat dan berlari melewati gadis yang sedang melukis itu.Gadis itu terjatuh dan terdorong oleh orang-orang. Gedung di tempat itu hancur, kebakaran terjadi di gedung lainnya. Semua orang menjadi panik. Sedangkan gadis pelukis itu pingsan di lantai. Aku berusaha membangunkan gadis itu tapi tak bisa.“Ariana!” terdengar teriakan laki-laki dari kejauhan. Aku segera berlari mencari sumber suara itu. Aku berdiri di hadapan laki-laki yang sedang meneriakkan nama ‘Ariana’ itu. Kupejamkan mataku.“kumohon… Tolong! Tolong aku Ryan!” teriakku. “Ariana?” Ryan menatapku. “kamu… Kenapa kamu jadi kayak dulu?” Aku terpaku. “tolong, disana ada aku. Tolong aku!”Ryan mengikuti instruksiku dan membawa gadis ah, tidak. Ryan mengikuti instruksiku dan membawa ‘aku’ di masa depan keluar dari sana.Mereka selamat. Ryan dan ‘aku’ berhasil keluar dari tempat itu dengan selamat. Aku tersenyum lega sebelum akhirnya aku kembali terduduk di kasur.Kini di tanganku bukanlah jam pasir melainkan sebuah kertas.Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu bisa mengubah masa depan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Dibanding kamu hanya terlarut pada masa kelammu, mulailah untuk membuat masa bahagiamu di masa depan…
Hadiah Penolong
Suatu hari yang cerah setelah pulang dari sekolah nampak dari kejauhan anak laki anak lagi bersekolah SMP tengah lari karena ingin cepat pulang ke rumahnya. Sampai rumah ia langsung berganti baju pergi ke sungai, dengan membawa pancingan.Sesampainya ia memancing tetapi, sudah berjam jam tak ada ikan yang ia dapatkan. Ia lalu hendak pulang, tetapi ia mencoba sekali lagi jika tidak berhasil ia akan pulang. Tak disangka sangka, ia mendapatkan ikan, bersyukurlah sang anak itu. Akhirnya dibawalah ikan tersebut ke rumahnya.“Bu.. Ibu… Toto bawa ikan bu yuhuuuu.” Ucapnya sangat girang. “Ikan? Oalah.. Habis mancing rupanya yooo.” Ucap ibunya. “Iya bu heheh nih dapet ikan nanti aku goreng atau ibu mau yang mau goreng pasti lezaat yummy..” “halaahh sana mandi nanti kamu aja yang goreng nanti ibu tak ajarin. Nak, ibu mau pesen jangan sering sering ke sungai.. bahaya nanti kalo kamu tenggelam gimana” “Iya bu, Toto janji akan berhati hati okeh.” Ucap Toto sambil memperlihatkan jempolnya dan tersenyum. “Yawess sana mandi..” ucap ibunya.Setelah mandi Toto kembali melihat kearah ember yang yang diisi air dan ikan tersebut. “Gak sabar untuk aku goreng hehehe. Emmm aku ambil pisau dulu laah.” Ucapnya lalu bergegas mengambil pisau. “Jangan… jangan.. bunuh aku..” “loh loh siapa yang ngomong ya? Ah jangan jangan sinetron kesukaan ibu itu.. biasaa. pisaunya dimana ya?”. “Jangan.. jangan bunuh aku Toto ini aku disini.. aku ikan yang kamu pancing tadi Toto.. tolong jangan bunuh dan goreng aku…” “Hah? Kamu kamu.. kamu ikan yang ngomong? Hah masa sih ini yang ngomong siapa?” “ini aku ikan yang kamu pancing.. jangan bunuh aku.. tolong…” “Beneran kamu bisa bicara?” Ucap Toto tidak menyangka. “Iyaa saya sebenarnya manusia tapi saya dikutuk menjadi ikan.. Tolong saya..” “baik-baik saya gak akan goreng kamu tenang yah.” Ucap Toto. “Syukurlah.. saya bisa menjadi manusia kembali jika ada orang yang menaruh saya dan menaburinya dengan pasir. Apakah kamu bisa?” “Ooh begitu, saya bisa kok ayo saya bawa kamu sekarang juga ya.” Ucapnya langsung membawa ember itu ke lahan yang ada di belakang rumah. Disitu juga sepi, dan Toto meletakkan ikan tersebut ke tanah ia lalu menaburinya dengan pasir.Akhirnya tak disangka ikan itu berubah menjadi manusia ia berwajah tampan. “Waahh ini bukan mimpi kan?” Ucapnya sambil mencubit pipinya tak disangkan ikan yang dia pancing menjadi manusia yang tampan. “Kakak ini sebenarnya manusia yah? Lalu kenapa kakak jadi ikan dikutuk karena apa kak?” Tanya Toto. “Sekarang kita duduk dulu disitu kakak akan bercerita kepadamu Toto” akhirnya mereka duduk.“Sebelumnya kakak mau memperkenalkan nama kakak adalah Saputra biasa dipanggil putra.” Ucapannya lalu bersalaman dengan Toto.” “Ohh begitu saya Toto, tapi kakak sudah kenal hehe”. “Iya, terimakasih banyak kamu sudah menolong kakak Toto.” “Iya kak sama sama.” “Dulu kakak pernah hampir tenggelam di laut, mungkin kakak pas itu sudah gak bisa bertahan karena kakak sudah sangat dalam masuk ke air laut itu, gak juga sadar bagaimana keadaan maksa saat itu tapi setelah sadar kakak sudah ada di sebuah istana, istana itu adalah milik kerajaan di bawah laut raja dan ratunya sangat baik, mereka menyembuhkan kakak, tapi dalam proses pengobatan kakak berjalan jalan mengelilingi istana itu, karena kakak bosan berbaring atau duduk di tempat Kakak itu. Saat kakak jalan jalan kakak penasaran dengan sebuah tempat dimana disitu ada pedang lalu kakak ambil pedang itu entah kenapa sangat berat sekali kakak mengambilnya. Karena kakak sangking penasarannya dengan pedang itu. Entah kenapa semua bergoyang kakak merasa gelisah dengan perbuatan kakak akhirnya langsung kakak kembalikan pedang tersebut. Dan tiba tiba istana itu berhenti bergoyang. Raja dan ratu serta seluruh penghuni istana itu menghampiri kakak dan marah kepada kakak. Kakak sudah menjelaskannya dan mereka percaya tapi hukuman tetap hukuman kakak dikutuk menjadi seorang ikan selama 5 tahun. Dan sudah berbulan-bulan kakak menanti ada orang yang bisa membantu kakak dan akhirnya kakak bertemu kamu.” “Ooh begitu yah, tapi keluarga kakak gimana?” “Mereka mungkin mengira saya sudah tiada. Karena sudah 5 tahun tak pulang ke rumah dan keadaannya saya tenggelam dan tak bisa pulang saya juga berharap bisa pulang ke rumah.” “Yasudah kakak menginap dulu di rumah saya nanti masalah kakak bisa dibicarakan ke orangtua saya kak, ayo” ucap Toto.Sampai di rumah mereka menceritakan kepada ibunya Toto. Ibu Toto awalnya tak percaya, tapi akhirnya ia percaya. Tak lama kemudian ayah Toto yang baru saja pulang dari sawah melihat kak putra habis ada di dapur. “Oalah siapa ini?” Ucap ayah toto. “Ya udah sekarang bapak duduk dulu di meja makan, nanti ibu dan ceritakan”. Akhirnya mereka menceritakanya kepada bapak. Mereka juga akan membantu kak putra pulang.Beberapa hari kemudian sampailah di rumah kak putra. “Terimakasih banyak Toto, bapak dan ibu yang sudah menolong saya.” “Iyaa sudah seharusnya sebagai seorang manusia saling tolong menolong.” Ucap bapak. Tak lama kemudian mereka pun menghampiri rumah tersebut. Diketuknya pintu tersebut, dan seorang membukanya. “Ayah..” ucap kak putra. “Pu put putraaa ini putra anak ayah?” Tak menyangka anaknya kini datang ke hadapannya. “Mah… mah… Ada putraaa” ibunya pun datang dan langsung memeluk putra. “Tapi ini benar putra kan? Atau jangan kamu hanya mirip dengan anakku. Jangan pernah berani menipu kami kamu!” “Ayah.. mamah.. saya putra. Anak kalian saya Saputra. Mah.. yah.. saya belum meninggal saya akan menjelaskannya pada kalian.” Ucapnya lalu kak putra menjelaskannya kepada mereka, dan akhirnya mereka percaya. Dan bahagialah keluarga tersebut. Bukan hanya keluarga kak putra tetapi keluarga Toto juga ikut merasakan kebahagiaannya setelah 5 tahun terpisah dari anaknya, anak satu satunya.Beberapa hari kemudian. Kak putra datang, Toto dan kedua orangtuanya senang ia datang apalagi bersama kedua orangtuanya. Tiba tiba datang mobil membawa motor dan juga sepeda yang sangat bagus, ternyata kak putra dan keluarganya memberikan hadiah itu kepada Toto dan keluarganya. Ia juga akan menyekolahkan Toto sampai lulus SMA.
Dunia dengan Takdir Terikat
Perkenalkan, namaku Keep dan aku adalah salah satu anak yang tinggal di atas tanah penuh abu yang kelabu di mana segala sesuatu telah ditentukan untuk setiap orang. Ada ‘Hukum’ yang mengatur setiap orang untuk tidak menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan untuk dirinya sendiri, kami menyebut itu ‘takdir’ dan hukum itu sangat terasa dalam kehidupan kami.Kemarin tetanggaku berhenti bekerja menjadi penjahit yang ditentukan ‘takdir’-nya. Dia sudah tua, sih.. Tapi seketika itu juga ia kehilangan nyawanya. Mengejutkan memang, tapi tidak bisa ditolak.Akan kuceritakan mengenai hidup disini. Saat kau lahir, hidupmu sudah mulai ditentukan, siapa yang akan menjadi ayah dan ibumu, di mana kau akan dilahirkan, siapa yang akan merawatmu, dengan siapa kau akan berteman, bagaimana kau harus bersikap, dimana kau akan bekerja dan bagaimana pencapaianmu, apa pekerjaanmu dan bagaimana kau akan mati. Semua ini terjadi karena takdir yang mengikat. Semuanya sudah ada dalam pikiranmu. Banyak orang yang mengikutinya dengan santai dan tenang, namun ada juga yang menentangnya dan kalah menggenaskan, belum pernah terdengar berita mengenai orang yang dapat melawan takdir tersebut dan terbebas darinya.Kesanku pribadi adalah mengenai perasaanku sendiri, bukan berarti aku mau menolak semuanya, sih.. Tapi ada beberapa hal yang membuat perasaanku gelisah dan tidak enak. Ketika kau bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan namun dia tidak ditakdirkan untuk ditolong atau aku tidak ditakdirkan untuk menolongnya, ketika aku melihat orang yang menyenangkan dan aku tidak ditakdirkan untuk berteman dengannya tapi berteman dengan para penindas yang membullyku setiap hari, aku ingin memberontak, tapi aku tidak punya keberanian untuk itu.Aku menemukan sebuah buku tua terlarang di ruang bawah tanah kakekku mengenai dunia dimana orang-orang dapat menggapai apa yang mereka impikan, berteman dengan siapapun yang mereka senangi dan pergi ke tempat-tempat menakjubkan yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri, rasanya sangat menyenangkan. Sejak saat itu aku mulai mempunyai apa yang disebut dalam buku tersebut, sebuah ‘mimpi’.Aku gelisah setiap kali aku mengingat cerita dari buku itu, aku ingin bebas, lepas dari takdir yang mengikat ini. Aku ingin punya takdir yang tidak mengikat, tidak membatasiku. Namun disinilah aku sekarang, di dunia ini. Bagaimana dengan duniamu sobat? Adakah yang berbeda?
Ailana
Lana sedang berada di dasar lautan. Perlahan menatap pemandangan sekililing. Ingin rasanya beranjak menjadi manusia. Menikmati makan ice-cream bertemu cogan yang sering ia lihat di ponsel. Seandainya kejadian itu nyata maka Lana akan bahagia seketika.Sampai sebuah badai besar menghantam kerajaan Sea Word. Dan kemudian Lana harus pergi meninggalkan laut. Badannya lusuh berantakan, kotor akibat tidak mengenakan pakaian. “Cuy kita bakalan ambil foto di mana makalah kita harus bagus.” “Iya bego otak lo ditaruh di mana gue juga lagi nyari?” Suara berisik dari sana membuat Lana panik. Tidak ada yang dapat memberikan rasa terkejut selain suara di bumi. Mendengar itu Lana buru-buru bersembunyi di balik pohon. “Panas cuy gue mau nyari es kelapa muda dulu?” Akhirnya setelah kepergian Megan Rey segera duduk menikmati keindahan sunset.Tugas bahasa Indonesia mengenai liburan belum juga usai. Sementara cowok itu mendengar suara aneh di balik pohon lekas mendekat. Astagafirullah ada manusia tanpa busana. Dia tutup mata lalu melepas jaket memberikan kepada gadis itu.Senyuman terbit di wajah Lana. Lana kemudian berbicara. “Makasih.” Belajar sedikit bahasa manusia walaupun tidak banyak namun Lana mengucapkan sangat tulus. “Lo… lo… siapa?” Bergetar mengucapakan. “Ailana.” Cuma itu keluar dari bibir mungilnya. “Ailana, bagus juga nama lo tinggal di daerah sini ya?” tanya cowok itu berjongkok.” “Eh???” Bingung menjawab apa hanya kalimat eh. Tampan sekali wajahnya putih. Matanya bagus indah Lana menyentuh pipi dari cowok itu. Dibalas ketus. “Udah gila ya sih Megan mana lagi? Panas nih.”“Rumah lo di mana?” tanya Rey mulai bosan pada sikap gadis yang tidak jelas asal-usulnya. “Rumah apa itu?” Teringat sesuatu Lana pun paham.” “Tidak punya, aku sendiri.” Jawab Lana singkat memahami sedikit bahasa manusia. “Oke, gue ajak lo apartemen gue bentar lagi kita pulang.” Berbaik hati. Sementara Megan terkejut menemukan sahabatnya berbicara pada orang asing. Sama-sama terpelongo melihat gadis cantik. “Gue mau ajak ke apartemen gue.” “Dih, lo mau gitu-gituan sama nih cewek kagak gue nggak setuju.” “Bukan cuma sementara dia gak punya rumah keknya dia amesia atau apa? Gue kasian sama dia.” Papar Rey merasa iba. Mengajak ke mobil meminjamkan baju Megan ditaruh di jok mobil. Menyuruh mengganti.Penampilan gadis itu berubah jadi rapi. Sebelum pulang ke hotel. Mereka singgah makan di salah satu restoran di Bali. Sepanjang makan gadis itu terlihat lahap makan Ayam tapi tidak sama ikan. Mereka sudah tiba di hotel bersih tertata.Keesokan paginya… Terkejut Rey menemukan gadis itu tanpa busana di kasur. Segera mengambil selimut. “Dingin.” Bisiknya. AC di ruangan di matikan. Setelah itu keluar menemui Megan.“Gimana semalam asyik gak?” “Asyik apanya cih biasa aja tuh alay lo.” Ledek Rey tidak mau berbasa-basi. Mencari makanan dan kembali ke kamar hotel. Gadis itu terbangun namun masuk ke dalam kamar mandi jadi banjir. Menyuruh berpakaian menyerahkan dengan tangan tanpa melihat ke dalam. “Pakai ya cepat makan, kita mau balik ke Jakarta.” Suara dari gadis itu riang. Tidak sabar bertemu Arya Saloka idolanya. Kata para dayang Jakarta surga para artis tinggal di sana termaksud pemain yang naik daun itu.Selesai berpakaian Lana lekas makan. Lahap sekali sampai habis. “Jakarta Arya Saloka!” “Lo fangirl pemain ikatan cinta gue sih ogah, emak gue suka banget tuh.” ucap Rey teringat akan Dinda sang Mama di rumah. Pasti cocok kalau ketemu Lana. Telinga gadis itu berdegung hebat seperti ada yang memanggilnya. Namun tetap ia hiraukan sampai suara itu memaksanya keluar. Berjalan keluar ternyata ada seorang memegang tombak. “Takut.” ujar Lana ingin kabur. Memilih bersembunyi. Menutup mulut Rey tanpa suara.Orang tersebut sudah menghilang mereka menuju bandara Ngurah Rai. Tampak sekali jika Lana belum pernah menaiki pesawat. Tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan cukup lama. Ia terus bersorak gembira menatap ibu kota. Namun ketika poster Arya Salok dan Amanda Manopo muncul gadis itu berteriak histeris.“Eh… Arya Saloka.” Cuma itu keluar dari bibirnya. “Dia fans berat Megan, udah kek emak gue?” “Micin dong hahaha…” Mereka tertawa di dalam taksi.Tiba di apartemen Rey turun membawa koper. Perasaan berbeda hadir. Tidak terasa sudah satu Minggu gadis itu tinggal di apartemen miliknya. Belum mengetahui asal-usul. Perlahan saat menonton tv berita bencana alam terjadi di Dewata Bali, tempat di mana gadis itu ditemukan. Mata Lana basah melihat lautnya hancur.“Aku mau pulang.” ujar Lana tercetus begitu saja. Netra Lana semakin basah dan mengeluarkan banyak mutiara.Segera menyembunyikan di nakas laci sebelum ketahuan oleh Rey. Ia tidak ingin Rey curiga padanya lalu mengusir ketika tahu bahwa ia duyung. “Lo tinggal di mana? Apa lo ingat saudara ada di mana?” Bersemangat berharap menemukan jawaban Rey terus menunggu. “Tidak, tapi Dewata rumahku.” “Jadi yang lo ingat lo ada di rumah di Dewata nanti gue cari tahu sabar ya, lo pasti pulang.” Rey mengusap rambut panjang gadis itu. Memberikan senyum manis.Belum ada tanda orang mencari seorang gadis. Sudah lebih tiga Minggu. Rey sedang hangout di restoran fast-food. “Kemarin cewek gue berburu Bts Meal di sini, heboh banget cakepan juga gue daripada Bts.” Luki terus bertingkah percaya diri. Sementara Rey masih terus melamun.Nasib Lana begitu berharga? Bagaimana jika keluarganya mencari? Semua perasaan ditumpahkan lewat lamunan. Di dalam apartemen bosan mengacak-acak kulkas mencari makanan bisa dimakan. Semua buah dilahap habis. Hingga suara bel datang Rey membawa ayam kesukaan Lana.Berantakan. Menatap ke arah kulkas dan benar saja Lana melakukan lagi. Segera membereskan lalu mengajak gadis itu makan. “Nih makan, habisin lain kali jangan buka kulkas bikin repot aja lo.” Ketus Rey pada Lana cuma nyengir kuda, menyantap ayam fried chicken kesukaan.Mutiara disimpan Lana belum juga dipakai. Diam-diam setalah Rey berangkat sekolah ia pergi ke sebuah butik belanja baju. Walaupun berasal dari laut tapi Lana punya ponsel memudahkan mencari tahu tentang bumi.Lagu aku merindu terputar Lana bernyanyi cuma satu lagu saja Lana hafal saking sukanya pada Arya Saloka. Membuat keriuhan pengunjung butik saat Lana berjoget. Sudah sejam me-time shopping berhenti makan di tempat Rey membelikan ayam.Penampilan sudah rapi Lana ke salon. Ia tidak tampak lagi seperti orang utan. Sebuah tangan menariknya. Memaksa pulang ke laut gadis itu menolak. Ia sudah nyaman di bumi.“Pulang atau Ayah kamu bisa murka!” “Tidak, aku mau di bumi.” “Di bumi bukan tempat kamu,” Berteriak kencang semua warga datang. Dan Lana berhasil kabur mengatakan jika ada orang jahat tadi di sini. Semua melirik ke sana kemari kosong.Lelaki tadi bersembunyi di balik pohon. Segera warga mengejar. Ia tersesat lupa pulang. Berdiri di jalan raya. Sebuah motor sport berwarna merah muncul jaket hoodie tampan mendongak ke arah Lana. “Gue Luki, lo siapa?” “Ailana, Lana.” “Mau ke mana?” “Mau ke apartemen Rey, aku tidak tahu di mana apartenen Rey?” “Sini biar gue antar, Rey Kelana Subakti kan gue kenal dia sohib gue.” Luki memasangkan helm.Tiba di apartemen mobil terparkir. Lekas masuk ke dalam lift di lantai tiga. Luki terkejut kenapa selama ini Rey tidak pernah cerita jika sudah punya kekasih kalau tahu begitu harusnya jujur jangan ada ditutupi. Membuka bel Rey kaget mendapati Luki bersama Lana. “Dari mana aja lo? Nyusahin?” “Gue nemuin dia di jalan mau ketemu lo mungkin dia pacar lo, kok gak cerita punya pacar secantik ini?” ucap Luki penasaran. “Dia bukan pacar gue, gue cuma nemu di Dewata dalam keadaan dia amesia, udah itu doang.” Memperhatikan penampilan dari gadis tersebut ada yang berubah, rambut terurai rapi. Baju juga bagus dari mana mendapatkan uang merombak penampilan, pasti harganya mahal pikir Rey bertanya dalam-hati.“Rey, lapar!” “Ambil sana di dapur gue gak bisa ambillin gue capek habis kerjain pr!” Luki pergi ke dapur mengambil ayam goreng dan nasi kemudian memberikan kepada Lana. Senyumannya sangat manis. Membuat hati terasa bergetar hebat.Saat malam tiba gadis itu bermimpi jika Ayah sedang sekarat. Dan seseorang memintanya pulang. Terbangun dari mimpi Lana lekas beranjak keluar. Mencari dasar danau. Di sini sama sekali tidak ada. Sampai di tengah perjalanan naik taksi menyuruh mencari laut terdekat. Tiba di salah satu pantai segera gadis itu berenang. Kerinduan pada Ayah sudah semakin tinggi.Terbangun dari tidur di pagi hari kosong Lana tidak ada di sudut manapun. Mengucek kedua mata lelah Rey memilih minum air-mineral. Kehilangan sosok di cari kemudian di hari Minggu mobil melaju mencari ke sudut jalanan. Belum menemukan jawaban. “Di mana sih lo bikin repot aja?”Di dalam kerajaan muka Lana begitu lesu. Merindukan sosok Rey disisinya. Semenjak kembali ke istana bawah laut kerinduan memupuk di hati Lana. Satu-satunya cara mengirim pesan tapi nomor saja tidak punya. Berjalan dari dasar danau, lelaki yang biasa mengejarnya ikut memburu.“Mau ke mana? Kau tidak lihat ayahmu sedang sakit.” “Aku… aku… cuma sebentar saja lebih baik kau pergi Jeno.” “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.” Jeno memang penguntit sejati menyebalkan. “Kenapa tuhan menciptakan sosok duyung posesif bukan pacar tapi nempelnya minta ampun pengen ditabok pakai sesuatu biar kapok”.Tidak terasa sudah sebulan lebih di dasar laut tanpa ke mana-mana. Sang ibu menghampiri putrinya yang menekuk diri. “Kamu mencintainya pergilah jadi manusia biasa ini kalung, supaya kamu dapat bertahan.” Meninggalkan laut Ibu pengertian sekali soal cinta.Ternyata Rey bersama gadis lain tertawa di sebuah gerai pizza. Airmata jatuh penantian terasa sia-sia. Sebaiknya kembali ke laut. Tapi tangannya disentuh oleh Luki. “Kamu ke mana aja?” Luki sudah rapi setelan kaus di tambah cardigan biru. Bicara juga lebih formal dari biasanya. “Luki?” “Kamu cemburu ya liat Rey sama cewek lain itu sahabat kecilnya Rey namanya Nadhira dia udah punya pacar kali gue orangnya.” Menatap wajah Luki penuh binar bahagia. Mereka masuk ke dalam Rey memeluknya erat tanpa ada pergerakan untuk melepas.Berjalan di dermaga dekat danau obrolan keluar cerita tentang rasa rindu Rey pada Lana. Airmata jatuh tak tertahan lagi. Menceritakan indetitas bahwa ia duyung, awalnya cowok itu syok setengah mati namun dia percaya kekuatan cinta bisa mengubah Lana menjadi manusia seutuhnya.“I love you…” “I love you too…” Berpelukan lagi. Sunset di pantai muncul memberikan warna cerah bagi seorang Rey. Cinta sangat membahagiakan dan berdoa bisa menikmati seterusnya dan hari esok.Selesai
Mencoba Mentradisikan Tradisi Lama
Awan putih dan hitam masih terus bergantian mencampakkan. Langit yang biru kadang pula berubah menjadi langit yang hitam pekat. Matahari yang terang benderang menyinari bumi, kadang juga pula berubah tidak tampak, disebabkan ditutupi berbagai varian awan hitam. Begitupun dengan dunia masih terus berputar menyusuri arus alurnya semesta alam. Mungkin alam sekarang sudah tak lagi sama dengan alam terdahulu, ditambah dengan semakin canggihnya teknologi yang semakin hari bertambah dan terus dikelabuhi para penikmatnya.Sama seperti yang dilakukan anak kecil di dalam sebuah kamar berukuran 4 kali 6 meter. Dengan berbagai varian yang ditampilkan kamar anak kecil tersebut, mulai tempat kasur tercanggih, predator thronosa atau kita bisa menyebutnya kursi gaming termahal.. Pintu dua dimensi dan berbagai alat canggih lainnya terdapat dalam kamar anak kecil tersebut. Zaman sekarang sudah tak main lagi dengan namanya rasa letih, segala aktivitas bisa dengan efesien dikerjakan. Intinya dengan ucapan semua bisa dilakukan.“Ah boring.. di rumah terus.” Anak kecil tadi mendesah beranjak pindah dari kursi gamingnya. Sebut saja namanya Gatan Ganesa. Gatan pindah dari tempat semulanya itu, tidak dengan berjalan. Dia menggunakkan sandal terbangnya. Dan langsung terbaring tempat di kasurnya.Sejenak mata Gatan meenerawang keatas seolah dia menemukan ide. “Aha.. gue ngajak temen ngumpul ah.” Begitulah ide yang Gatan temukan. Kemudian tangan kanan Gatan ditaruh ke arah depan dua matanya, dan mengusap-ngusap. Muncullah sebuah layar tembus pandang dihadapannya, dan menggulirkan jari jemarinya mencari sosok kontak bernama farel. Layar yang semula menancapkan beberapa aplikasi, kini muncul sosok anak sebaya dengan Gatan, bernama Farel tersebut.“Woi gabut cuy… ngumpul ke kafe yok?” Ajak gatan dibalik layarnya. Sosok farel lengkap dengan poster tubuh yang sangat jelas dihadapan layarnya itu tersenyum. “Gas kuen Tan.” Balas farel yang lagi asyik duduk di sofa emmpuk rumahnya. Sama dengan yang keadaan farel, terlihat sosok Gatan jelas dibalik layar miliknya. “Woke, jangan lupa, yang lain ajak yo.” tambahnya Gatan. Farel pun membalas dengan acungan jempol tangan kanan serta disusul dengan lambaian tangannya. Dan kemudian Gatan pun memencet tombol merah, menandakan berakhirnya obrolan mereka berdua. Masing-masing dari mereka pun, bersiap-siap untuk pergi ngumpul ke kafe.Lalu lalang penghuni bumi terus berputar, dengan berbagai alat kecanggihan yang sudah terobsesi oleh mereka semua. Tak milih anak kecil, anak dewasa, orang tua semua sudah terhipnotis dan bisa mengaplikasikannya. Jika zaman Dulu para penghuni bumi ingin mengambil foto dengan kamera flim, atau kamera digital ataupun smartphone, sekarang tidak lagi. Jika dulu mereka ingin melangkahkan kakinya atau sekedar beranjak dengan perantara kaki atau kendaraan, sekarang tidak lagi. Jika anak sekolah dulu belajar menyimak penjelas guru kemudian menulis di atas kertas, sekarang tidak lagi. Dan intinya semua tidak lagi sama seperti zaman dulu, cukup dengan sebuah ucapan dan sebuah alat bantu canggih (mesin) semua bisa dilakukan. Entah saking canggihnya dan cepatnya perbuhan alat di dunia ini, membuat segala aktivitas tampak lebih senang dan gampang dikerjakan.Sudah tibalah zaman sekarang dengan sebutan zaman fase keempat atau bisa menyebutnya dengan revolusi industri 4.0. Dimana sudah tergambar oleh kehidupan anak bernama Gatan dan teman-temannya saat ini. Mereka semua berkumpul di sebuah kafe. Tampak robot-robot berseragam sama sedang melakukan aktivitasnya. Ya mereka adalah pekerja kafe, tidak lagi dengan namanya pekerja seorang manusia, semua telah tergantikan oleh robot.Gatan, Farel dan tiga temanya saat ini, sedang duduk santai melingkar disalah satu tempat yang disajikan oleh kafe. Sistem pemesanan tidak lagi dengan menghampiri pelanggan. Dengan layar virtualy di meja makan, Gatan dan temannya memasan makanan dan minuman yang mereka sukai. Kemudian masing-masing dari mereka saling becanda ria, mengobrol sesukanya.Lantas Gatan dan temannya itu tidak sekolah kah? Sekolah, ya mereka sekolah tapi tidak dengan tatap muka dengan seorang guru, mereka sekolah masih tetap dengan layar virtualy.Empat menit berlalu datanglah tiga robot mebawa makanan serta minumana yang dipesan oleh Gatan dan yang lain. Sebuah mangkok dan gelas terisi dan kehormatan diberikan kepadanya. Kemudian mereka berlima langsung menerimanya, dan menyantapnya.Sempat terlintas dalam pikiran anak kecil beranama Gatan itu tentang anak-anak seusianya zaman dulu. Apakah sama dengan yang telah dunia alami saat ini atau tidak? Dan mengira-ngira permainan apa yang dimainkan.“Oh iya kawan, mungkin kalian tahu permainan anak-anak dulu seperti apa?” Gatan mencoba bertanya tentang pikiran yang sempat terlintas tadi. Farel dan tiga temannya saling bertatap muka dan menggelengkan kepala. “Kenapa gak tanyakan ke mbah gogle aja Tan.” Saran satu teman Gatan anak bernama Yogi. “Iya tuh.” Tambahnya Reza dan Kamil bersamaan.Tanpa pikir panjang Gatanpun langsung memencet layar virtualy miliknya dan mencarinya di aplikasi gogle. Perlahan Gatan mengetik dengan bacaan permainan anak zaman dulu. Pertama mucul sebuah deskripsi plus dengan gambar permainan anak zaman dulu. Empat teman lainnya yang awalnya fokus sama makannan dan minuman, kini mereka juga terbelalak melihat dan membaca deskrisinya.Diantaranya deskripsi dan gambar yang disajikan dari layar virtualy gatan; Petak umpet: satu anak menjadi penjaga dengan menutup mata sesuai waktu ditentukan. Dan yang lain mencari tempat bersembunyi … Gundu atau kelereng: bentuk bola kecil, warna kaca bening. Caranya dengan menyentil gundu dengan mengarahkan gundu milik musuh. Dan jika mengenai maka ia mendapatkan. Egrang: dua tongkat panjang yang bagian tengahnya diberi pembatas. Caranya dengan naikkan kaki pada pijakan enggrang, kemudian berjalan, jika jatuh diberi hukuman … Gobak sodor: permaianan dibagi dua kelompok dengan masing-masing kelompok menjaga benteng … Engklek : permaianan yang dialkuakan perorongan. Menggambar kotak-kotak terlebih dahulu kemudian setap orang memainkannya dengan cara melompati kotak-kotak tersebut secara bergiliran dengan satu kaki … Layang-layang: sebuah maianan yang dibuat dari irisan bambu serta dengan kertas yang dibentuk apa saja. Caranya dengan menerbangkan ke udara …Seusai Gatan, dan empat tema lainnya membaca dan melihat ilustrasi gambar tersebut, mereka semua menggangguk. Dilihat dari sektor mimik wajah mereka kegirangan ingin mecoba. Tapi apalah zaman sekarang sudah tidak lagi seperti zaman dulu. Mungkin cara mentradisikan tradisi lama itu susah.“Coba nonton videonya Tan, kayaknya seru deh” usul Farel kepada Gatan. Gatan pun langsung menggulirkan layarnya dan memencet tombol bacaan video kemudian muncul berbagai video pemainan zaman dulu. Seperti deksripsi di atas. Dengan berurutan Gatan menyetel video paling atas yakni tentang permaiana petak umpet.Sorotan mata anak kecil kelima ini teralih dengan penuh kefokusan pada video di hadapannya tersebut. Video yang menampilkan lima anak zaman dulu sedang memainkan petak umpet. Tak disangka Gatan dan temannya itu terbayang seakan mereka authornya (lima anak pemain petak umpet). Tampak masing-masing dari wajah mereka tersenyum dan bahagia yang tak terduga.Seketika itu Gatan menyadari kalau pemainan anak zaman dulu adalah permainan yang sangat mengasyikkan, terbaik dan tidak bisa tergantikkan dari permaianan zaman sekarang. Begitupun dengan teman-teman Gatan ikut sadar tentang hal sebenarnanya.“Woi … gimana kita mainkan yang aslinya atau kita berlima ini mari mengaktifkan kembali permaiana anak zaman dulu” gatan berusul dengan kesemangatan yang terpancar dalam dirinya. “Setuju” jawab bersamaan mereka berempat dengan kompak dan wajah yang penuh seri-seri. Dari persetujuan kelima anak kecil ini, telah menjadikann sebuah tanda menuju bukti untuk mengenallkan permainan zaman dulu yang telah terkuburkan.
Aku Kamu dan Bangsat!
Aku tidak tau, benar aku tidak tau. kalian selalu diam membisu ketika aku bertanya, bibir kalian seakan terkunci rapat oleh berbagai macam password yang aneh, sehingga susah sekali untuk dibuka. Aku hanya bertanya, tapi mengapa, mengapa kalian seakan tidak mendengar pertanyaanku, kalian seakan mengunci rapat-rapat daun telinga kalian supaya angin yang membimbing suaraku tidak masuk ke dalam telinga kalian. kalian menganggapku seperti seekor serangga yang tidak pantas untuk didengar dan dijawab pertanyaannya.Apakah salah aku bertanya? salahkah bila aku penasaran? Bukankah kesalahan ini disebabkan oleh perilaku kalian terhadapku. salah kalian yang membuat aku selalu penasaran, setiap aku ingin bertanya kalian tidak mau menjawab. Rasa penasaran bukan merupakan dosa melainkan fitrah makhluk hidup, lalu mengapa?Bukankah anak kecil selalu penasaran bahkan orang dewasa juga penasaran. Mereka selalu penasaran, tapi rasa penasaran tersebut selalu terjawab. Berbeda denganku yang rasa penasarannya tidak dijawab. Sehingga membuatku menjadi makhluk yang selalu penasaran.Benar, aku adalah makhluk yang selalu penasaran, penasaran untuk mengetahui makna dunia. Penasaran untuk mengetahui siapa orangtuaku, penasaran mengapa aku diciptakan dan dilahirkan, mengapa aku harus hidup di dunia? dan mengapa kamu tega mengkhianati dan membantai bangsamu sendiri? Semua pertanyaan itu selalu berputar-putar dan terngiang di kepalaku. Semua pertanyaan itu terus terngiang dan berlari di kepalaku dan tidak pernah bisa lepas dari kepalaku. Saking kuatnya tempelan mereka di kepalaku, hal itu sering menyebabkan kepalaku diserang oleh rasa sakit.Waktu terus berlalu, pertanyaan itu terus bertambah dan tak kunjung terjawab. Tidak ada yang bisa menjawabnya atau bisa dibilang tidak ada yang mau menjawabnya. Kalian menganggap pertanyaanku itu tidak perlu dijawab. Benar pertanyaan dari seekor serangga yang menjijikan tidak perlu dijawab atau sebenarnya kalian takut menjawab pertanyaanku karena tidak menemukan jawabannya.Padahal aku hanya bertanya, tapi setidaknya kalian harus menjawab satu pertanyaan ini. Pertanyaan yang paling utama daripada yang lain. Pertanyaan yang merupakan induk dari segala pertanyaan yang terngiang di kepalaku. “Mengapa kita harus membunuh para bangsat tersebut, bukankah mereka tidak melakukan kesalahan? Mereka menghisap darah hanya untuk makan, tidak lebih dan tidak kurang”.—Apakah kamu penasaran denganku atau kamu sama sekali tidak penasaran tentangku? Ya, benar, buat apa kamu ingin mengenalku. Bukankah kamu sama saja dengan mereka yang di sana pada umumnya. Hal itu dibuktikan dari tatapan mata yang kau tujukan kepadaku di mana aku melihat tatapan jijik yang ternyata kamu tujukan kepadaku. Aku tau itu, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu. Pandanganmu sama saja dengan mereka, di matamu aku hanya terlihat seperti serangga, aku melihat rasa jijikmu kepadaku.Tapi, setidaknya aku ingin memperkenalkan diriku kepada orang-orang yang mungkin saja mau menerima aku apa adanya dan tidak merasa jijik kepadaku. Dan juga bukankah perkenalan itu perlu supaya pembaca bisa mengenal diriku. Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, tapi setidaknya aku harus menunjukan sopan santunku sebagai makhluk hidup kepada kalian para pembaca.Perkenalkan aku adalah makhluk ciptaan Tuhan, tubuhku kecil, aku suka tinggal di sela sofa, makanan utamaku adalah darah termasuk darah kalian para pembaca, aku adalah seekor bangsat yaitu sejenis serangga yang sangat dibenci oleh hampir seluruh makhluk hidup, kalian tentu sudah tau alasannya.Aku tidak tahu siapa indukku dan alasan aku dilahirkan. Setiap hari aku selalu melihat saudara, teman, dan spesiesku mati secara mengenaskan dibunuh oleh bangsamu. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi bangsamu selalu membunuh dan menyiksa spesiesku. Kalian bahkan menganggap kami lebih jijik daripada seekor kecoa.Kami hanya menumpang tinggal di rumah-rumah bangsamu. Kami tinggal di sela-sela sofa, kasur bahkan di kepala kalian. Kami hanya menghisap darah kalian untuk mengisi perut kami. Apakah ini yang menyebabkan perlakuan buruk kalian terhadap kami? Bukankah bangsa nyamuk juga menghisap darah kalian. Bahkan menyebarkan bibit penyakit yang berbahaya, tapi kalian tidak menganggap jijik mereka. Apakah nyamuk lebih baik dari kami?Perbuatan bangsamu menyulut api kemarahan kaumku. Mereka melakukan pertemuan pada malam hari di salah satu kamar yang tidak terpakai di rumahmu. Aku juga turut diundang bahkan aku ditunjuk sebagai ketua panitia. Hasil keputusannya adalah kami akan memberontak minggu depan pada waktu malam hari tepat ketika bulan purnama. Aku ditunjuk sebagai pemimpin pasukan alias jendral perang yang akan menyerang dan menyakiti dirimu. Apa yang harus aku perbuat?Akhirnya pada malam itu, sehari sebelum malam yang dijanjikan untuk melaksanakan pemberontakan. Aku melakukan sebuah dosa besar yaitu pengkhianatan yang aku lakukan terhadap bangsaku sendiri. Aku membantai mereka semua sekaligus pada malam itu. Karena aku menyadari bahwa pemberontakan ini pasti akan gagal dan kami pasti akan kalah.Tapi, bukan itu alasan yang sebenarnya, aku akan jujur kepadamu bahwa pengkhianatan yang aku lakukan terhadap kaumku sendiri didasari oleh rasa sayang dan cintaku kepadamu dan juga di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku tidak ingin menyakiti dan memberikan luka yang menyakitkan kepada dirimu. Oleh karena itu lebih baik aku aku melakukan pembantaian terhadap kaumku sendiri. Tua, muda, pria, wanita, anak-anak, balita dan bahkan calon bayi yang masih di dalam telur aku bunuh semuanya. Aku memastikan bahwa yang tersisa hanya diriku sendiri karena aku yang akan menanggung semua beban dosa atas perbuatanku, juga dosa karena mencintaimu.Setidaknya dengan aku melakukan pembantaian tersebut, aku bisa menghindarkan mereka dari kejamnya penderitaan ketika perang. Karena pada waktu perang semua hal akan dihalalkan oleh semua pihak baik itu pembunuhan, perampokan, pemerk*saan dan lain-lain. Setidaknya mereka hanya merasakan sakit hanya pada malam itu.Setelah peristiwa pembantaian yang terjadi di malam itu. Aku pergi. Pergi menjauhi kehidupanmu dan meninggalkan habitatku yang berada di kediamanmu. Aku berencana untuk pergi mengembara walaupun tanpa tahu arah dan tujuan yang pasti. Setidaknya dengan aku meninggalkanmu, kamu akan merasakan kebahagiaan tanpa kehadiran diriku dan kaumku di rumahmu.Ternyata cinta yang aku perjuangkan hanya berakhir sia-sia. Aku mendengar kabar bahwa engkau telah pergi dan lebih memilih Bersanding dengan orang lain. Apakah kau sudah melupakan pengorbananku? Dalam diam hatiku menangis, setidaknya izinkanlah aku untuk mengucapkan sesuatu. Apakah sekarang kamu sudah bahagia cintaku? Bahagia dengan orang lain dan meninggalkan diriku. Ternyata kamu lebih bangsat daripada aku. Dasar Bangsat!
Give Me Your Hand
Aku bahkan tidak dalam keinginan untuk membayangkan ataupun mengharapkan kedatangan makhluk sepertimu. Bersama yang lain, aku sedang menikmati penderitaanku dan mencoba menemukan kata terbaik untuk mengeluh. Sudah terbiasa jika diriku akan menjadi yang terakhir untuk keluar dari permasalahan ini. Lagi pula, itu hanya kandang ayam bekas yang entah mengapa begitu luas hingga teman-temanku dan aku muat di sana. Tidak masalah juga, toh aku masih bisa bernafas dengan baik. Satu hal yang mengusikku adalah pemandangan luar dengan orang-orang yang bebas berlalu-lalang. Satu hal, yaitu kebebasan. Dan ya, satu hal itu adalah rasa iri terhadap kebebasan yang dimiliki orang lain. Hal lain yang bisa menjadi masalah adalah baba pemilik kandang ayam ini. Selain karena kehadirannya yang tidak memberi kebaikan, celotehannya dalam bahasa Mandarin juga membuatku pusing. Wajar saja itu terjadi, aku hanya menghadiri 4 kali pertemuan bahasa Mandarin dalam satu semester. Membaca pinyin saja aku sudah kewalahan, apalagi jika disuguhi hanzi. Aku sungguh makhluk yang payah.Kemudian ini menjadi lebih menjengkelkan ketika anak-anak kelas lain mulai keluar dan berdatangan untuk melihat kami. Jujur saja, aku tidak ingat mengapa aku dan beberapa temanku berakhir di kandang ayam ini. Apakah ini sejenis hukuman? Untuk apa? Aku tidak ingin mempermalukan diriku dengan permintaan tolong kepada mereka. Kalau bisa, biarkan saja aku membusuk di sini. Dan apa? Dan mengubur semua impianku seperti ketika baba itu mengubur kotoran ayam dengan tanah. Kenapa hal menjijikkan bisa muncul di suasana genting seperti ini?“Hey” Entah suara siapa itu, begitu dekat namun mataku terlalu malu untuk terbuka. Parahnya, ini bisa jadi hal serius karena kini aku merasakan guncangan di seluruh tubuhku. Gempa bumi? Sepertinya bukan. Ya, seseorang dengan tega mengguncangkan tubuh lemahku ini.“Hey” Apakah dia sang pemilik suara? Kubuka perlahan mataku. Terasa sangat pusing karena aku tertidur dalam posisi duduk. “Give me your hand” Seorang laki-laki berada tepat di hadapanku. Dia berada di luar kandang. Terlihat seumuran denganku dan bukan wajah yang asing. Jika dia salah satu murid di sekolahku, apa yang dia lakukan dengan kostum pangeran itu? Aku mencoba mengingat tidak ada pentas seni yang sedang atau akan digelar.“Give me your hand” Dari wajahnya, dia seperti bukan orang Cina. Namun aksen Cinanya sangat kental.“Believe on me” Dan aku benar-benar mengulurkan tanganku padanya. Tidak ada waktu berpikir lagi. Entah mengapa aku merasa seperti itu.“Believe on me, believe on me…” Mataku terpejam begitu dalam, yang kulihat hanya hitam. Hitam pekat yang anehnya bisa kurasakan. Dan entah bagaimana awalnya hatiku bergumam “aku percaya”Mataku kembali terbuka dan dialah yang pertama aku lihat. Aku merasakan sebuah perbedaan dari kandang ayam terkutuk ini. Tidak! Tidak ada kandang ayam lagi! Semua pagarnya lenyap, dan aku bebas!Dia tersenyum lagi, “give me your hand” “Ada apa lagi?”, kujawab begitu, lupa menggunakan bahasa ibuku, dan berpikir bahwa dia takkan memahaminya. “Give me your hand”, aku tidak bertanya lagi dan hanya menghampirinya dengan mengulurkan tanganku. Biarkan aku jujur di sini, berjaga-jaga jika dia justru membawaku pada kematian. Hmm.. Aku menyukainya, dia penyelamatku. Sudah kubilang aku orang yang payah.Apakah memang benar jika dia justru akan mengakhiri kehidupanku? Kegelapan yang kini ada kurasakan semakin dalam dan menusuk kepalaku. Beginikah rasanya sekarat? Atau aku sedang menuju surga? Atau.. Neraka? Aku semakin takut dan menggenggam tangannya lebih erat. Sebelum benar-benar mati (jika iya) aku akan mengatakan satu hal lagi. Kupikir aku sangat merasakan kenyamanan bersamanya. Hatiku lebih hangat saat menggenggam tangannya. Adakah sebuah kejanggalan di sini? Di mana otak, kepala serta badanku kesakitan, sedangkan hatiku berada dalam kedamaian. Namun, kenapa ini lebih lama dari sebelumnya?Sayup-sayup kudengar dentuman lonceng gereja yang semakin lama semakin nyaring. Dan itu berarti aku semakin dekat dengan ajal bukan? Apakah yang kuceritakan baru saja adalah ceritaku menghadapi kematian? Jika benar, terima kasih kepada penyelamatku yang juga malaikat mautku. Selamat tinggal dunia!Tidak ada kegelapan lagi, aku sungguh merasa sedang berada di depan pintu surga. Tapi, tangan yang kugenggam masih ada. Kini justru mengguncangkan tanganku. Apa ini?! Spontan aku membuka mata dengan paksa dan mendapati wajah laki-laki tadi sedang terkejut menatapku. Aku mengerjapkan kedua mataku berulang, sekitar 3 kali. Lalu aku mengedarkan pandanganku ke tubuhku sendiri karena bajuku terasa berat dan.. Baju pengantin? Kulepaskan tanganku darinya. Dentuman lonceng gereja sangat nyaring kali ini. Benar saja aku sedang berada di gereja.“Let’s go”, bisiknya, lalu menggandengku masuk ke gereja. “What!” teriakkuSatu dentuman gereja lagi, tapi bagaimana bisa suaranya berpadu dengan deru mesin kereta api? Kubuka mataku perlahan. Aku berada di stasiun kereta api. Semua tulisan yang ada tak bisa kubaca. Di manakah aku kini? Apakah ini ulah dia lagi?
12.00 PM
“Maaf, Pak, tapi Bapak mengikuti saya dari tadi,” ujarku. Si tua itu malah memandangiku lebih intens di bagian dadaku. Aku benar-benar sangat terusik, rasanya aku ingin menggunakan jurus menghilangkan diri, tapi sayangnya aku tak memilikinya. Aku mencoba mengabaikan tua bangkotan itu dengan terus berjalan ke simpang jalan. Ada sedikit rasa menyesal karena aku mencoba jalan pintas baru dari rumahku untuk bisa sampai ke gerobak angkringan Kang Mamat. Aku berjalan terus sambil sesekali melirik tua bangkotan itu. Terlihat sekali si tua itu minum terlalu banyak, bahkan berjalan saja sepertinya harus dituntun.Mataku terbelalak kala melihat tangannya yang hampir menyentuh tubuhku, untung saja aku cepat menghindar. Aku menggunakan tanganku untuk menghempas tangannya yang liar itu. “Hush.. saya tidak segan untuk menghabisi Anda!” “Anak manis, mari kita bersenang-senang malam ini,” ucapnya dengan kesadaran yang hampir tidak ada. “Mimpi apa saya kemarin sampai saya ketemu orang seperti Anda. Pasti Anda punya anak, kan? Apa Anda tidak memikirkan perasaan anak Anda ketika melihat Ayahnya seperti ini?” ucapku menasehati. Entah atas dasar apa aku menasehati orang mabuk yang sudah jelas-jelas setengah sadar seperti ini. Tapi sepertinya itu cukup untuk menetralkan rasa takutku sekarang, aku takut kalau tua bangkotan itu melihatku takut seperti ini lalu ia akan semakin berani mempermainkanku.Baru saja tua bangkotan itu akan memelukku, tubuhku merasakan angin yang kuat dan singkat, sekejap saja tua bangkotan itu hilang. Aku jadi merasa sangat takut sekarang. “Oh Tuhan, apa lagi ini?” Tapi tiba-tiba… Aku sudah berada di tempat yang berbeda, tepatnya aku berada di bangunan kosong yang sudah dipenuhi ilalang. Pikiranku hanya tertuju pada satu, Poland.“Sudah kuduga itu kau,” ujarku. “Hahaha! Wajah takutmu membuatmu semakin jelek,” ujar Poland.Poland adalah vampir jelek yang sudah bersamaku sejak dua bulan lalu. Kedatangannya di sini bukan tanpa alasan. Ia ditugaskan Kastil untuk mengawal Putri Kastil melakukan beberapa pertemuan dengan kerabat di Jepang. Benar, Poland mengabaikan tugasnya dan malah nyasar sampai ke Indonesia. Katanya, di Alaska ia tak bisa menemukan tempat-tempat seperti yang ada di Indonesia. Kota paling basah itu membosankan, belum lagi ia harus bertugas di Jepang yang sedang musim dingin. Ia sangat ingin memiliki kulit eksotis seperti Rihanna, namun keinginan itu segera dipatahkan dengan kenyataan bahwa ia adalah seorang vampir. Oh iya, soal vampir jelek itu adalah bohong, ia sangat tampan dengan kulit dinginnya yang hampir membiru.“Sudah kukatakan, kalau kau memerlukan bantuanku, kau harus menekan tombol di gelangmu itu. Mengapa kau diam saja tadi? Ah.. apakah sebenarnya kau menikmati momen dengan pria itu? Sshh.. sia-sia saja aku menghisap darahnya sampai habis,” ujarnya dengan nada menjengkelkan. ”Jangan sampai ada kasus manusia menggigit vampir karena kesal dituduh sebagai seorang jalang,” ujarku. Ia langsung tertawa, sangat puas kelihatannya. “Hahahahaha!”Aku memutar bola mataku malas, aku memutuskan untuk berjalan keluar bangunan. Namun dalam 3 detik aku sudah berada di luar bangunan. Benar saja, vampir itu melesat sambil menarikku. “Selanjutnya apa?” tanyanya. “Aku lapar bodoh!” Pasalnya, alasan aku sehingga berada di luar rumah adalah ingin mengunjungi Kang Mamat, si penjual sate padang. Ia mengangguk dan berancang-ancang akan melesat, lagi. Tapi dengan segera aku menarik tanganku dan menggeleng pada Poland yang tampak kebingungan sekarang. “Aku mau memanfaatkan pemberian dua kaki dari Tuhanku,” ujarku sambil menatap kedua kakiku. Poland mengernyit tak paham, membuat napasku lolos begitu saja. “Aku tidak mau melesat, aku ingin berjalan dengan kakiku”. Poland mengangguk paham. “Ya sudah, ayo! Setelahnya kau harus menemaniku seperti biasa, oke?” “Ya ya ya, seperti biasa pukul 12.00”. Vampir itu tersenyum menanggapi jawabanku. Lihat wajahnya, sudah kubilang kalau ia tampan. Kalau saja ia manusia sepertiku, mungkin aku akan melamarnya menjadi suamiku.Tak sampai 10 menit berjalan, akhirnya kami tiba di gerobak Kang Mamat. “Kang! Rindu saya gak?” tanyaku sambil duduk di bangku plastik yang hampir patah. “Rindu lah, neng. Sudah satu hari tidak bertemu,” ujar Kang Mamat. “Jelek seperti ini apa yang harus dirindukan”. Tiba-tiba vampir ini mencela. “Kau diam saja bodoh! Pendapatmu tidak perhitungkan disini!” balasku. “Kau yang diam! Kau terlalu over percaya diri, banyak yang akan tidak suka denganmu!” ujarnya. “Sudah kuberitahu, pendapatmu tidak diperhitungkan!” balasku sambil berdekap dada.“Berhenti!!!” Suara Kang Mamat berhasil meninterupsiku, aku beralih menatap Kang Mamat yang pasti sangat jenuh melihat aku dan Poland berdebat sejak dua bulan lalu. Pasalnya ini bukan malam pertama kami berdebat, sudah seperti rutinitas bagi kami. Aku menyengir pada Kang mamat. “Satu porsi seperti biasa, Kang. Tidak pakai kecap, bawang goreng yang banyak, sambal yang banyak,” ucapku. Kang Mamat langsung sigap untuk menyiapkan pesananku.“Kau, bukannya ini hari terakhir pengawalanmu?” tanyaku pada Poland setelah diam beberapa saat. Ia mengangguk, “Besok malam aku kembali ke Alaska. Oh tidak, itu artinya aku akan meninggalkan bocah ini sendirian, pasti sangat berat bagimu jauh dariku,” ujarnya sambil mengelus rambutku. Layaknya seorang ibu yang berpamitan dengan anaknya ketika ingin pergi arisan. “Jauhkan tanganmu yang kotor itu dari kepalaku! Seandainya saja kau pulang sekarang juga, pasti akan sangat menyenangkan bagiku,” balasku.Tak lama, Kang Mamat membawa satu piring sate padang yang sangat lezat. Tanpa menunggu perintah siapapun, aku langsung melahap makananku tanpa memikirkan Poland yang terus melihatku. Mungkin di pikirannya sekarang adalah ingin melahap dan menghabisi darahku.Setelah aku menghabiskan sate padangku, tak lupa aku membayar dengan dua lembar uang sepuluh ribuan. Aku dan Poland berdiri dari bangku, untungnya selama duduk tidak ada adegan tersungkur. Aku melihat jam di ponselku, sudah pukul 23.00 malam. Tak lama Poland langsung menarik tanganku sambil berjalan ke balik pohon, setelahnya ia melesat sambil terus memegang tanganku.Akhirnya kami tiba di hutan ini lagi, rutinitas si vampir ini untuk menyembah bulan. Ia biasa melakukan ini pukul 24.00 tepat, sambil membasuh wajah dengan satu cangkir wine. Sejujurnya aku tak tahu apa maksud dan tujuan dari ritualnya ini, tapi biasanya setelah melakukan ritual Poland akan kehilangan kendali. Poland pernah mengatakan ia tak akan mengapa-apakanku, katanya aku memiliki darah keturunan Impaler yang sebenarnya aku tidak tau seperti apa. Ia juga menambahkan kalau aku beruntung lahir tepat di saat pergantian tahun, aku diperbolehkan memilih untuk lahir sebagai manusia atau vampir. Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya bahwa vampir itu benar adanya. Memiliki teman seorang vampir cukup mencampur adukkan hidupku selama dua bulan.12.00 PM “Argh!” Wajah Poland menghitam, taringnya muncul, kuku-kuku jari tangannya memanjang, tak lupa aku melakukan sesuatu seperti biasa. Aku memeluknya tenang, menangkup wajahnya dan menciumnya sekilas di bibir. CupTubuh Poland terjatuh ke rumput, aku tak sanggup menahan tubuhnya yang mendadak berat. Akhirnya aku ikut duduk memangku kepalanya dengan tanganku. Perlahan Poland sadar, ia menatapku lekat tepat di bola mataku. “Seandainya kau vampir, aku akan menikahimu”. “Mari antarkan aku pulang, aku sudah kabur terlalu lama, ibu kost akan memarahiku kalau tau aku tidak disana,” ujarku. Poland mengangguk dan menarik tanganku untuk segera melesat dengannya.Pukul 01.17 aku tiba di rumah, aku masuk ke kamarku dan bersiap untuk tidur. Aku membasuh wajah dan kaki dengan air. Sangat melelahkan sekali perjalanan kali ini, rasanya ada yang mengganjal. Ah iya, ini artinya akan menjadi 12.00 PM terakhirku dengan vampir bodoh dan jelek itu. Memikirkannya membuatku ketiduran.Tok tok Tok tok Aku sedikit terkejut ada yang mengetuk jendelaku di jam segini, aku melihat jam, pukul 03.00 pagi. Aku berpura-pura tidak mendengar dan mengurung diriku dalam selimut. Jendelaku masih terus diketuk dari luar. Benar-benar aku kehilangan keberanianku sekarang, rasanya aku ingin memotong telingaku sebentar saja.“Buka bodoh!” Tunggu sebentar.. sepertinya aku mengenali suara ini. Aku meyibakkan selimut dan berjalan pelan menuju jendela. “S-siapa?” tanyaku dengan hati-hati. Bisa saja ini hanya tipuan. “Ini Kang Mamat bawain sate padang”. Baik, aku tau ini Poland, tapi untuk apa dia datang sekarang.Aku membuka jendela perlahan sehingga memperlihatkan wajah tampan dingin itu. Ternyata yang diucapkannya benar, ia membawa 12 porsi sate padang. Aku tertegun dengan bawaan Poland, sangat berlebihan. “Gila, kau menyuruhku menjadi reseller Kang Mamat?!” geramku. “Aku harus kembali ke Alaska sekarang, aku tidak mau terlalu terang saat aku kembali nanti,” ujarnya membuatku diam. “Hei..” panggilnya. “Pulang sana! Jangan membuatku susah lebih lama, cepat!” ujarku. Aku berusaha untuk tidak menangis sekarang.Deg Poland mengelus rambutku, lagi. “Ya sudah, sesuai keinginanmu sayang, aku pamit”.Seketika Poland benar-benar hilang dari pandanganku, ia melesat begitu cepat. Padahal belum sempat aku memeluknya. Ya sudah tak apa, aku akan kembali menjadi diriku sebelum dua bulan lalu. Terimakasih vampir tampan, Poland.
Kata
CERITA ini bermula ketika aku melihat seorang lelaki bagaimana ia menjalani hidupnya. Aku bertanya-tanya, kok bisa dia menjalani hidup seperti itu? Mungkin kalian semua akan bingung-apalagi aku, temannya sendiri. Dia mengatakan keesokan harinya hidupku akan menjadi lebih baik, besinergi, punya semangat untuk menjalani hari Esok. Tapi kenyataan yang terlihat, semua yang dikatakannya hanya sekedar kata. Lagi lagi hidupnya seperti itu-itu saja tidak ada perkembangngan yang berarti. Walau sekedar hal kecil. Sehingga terlintas di benakku, sebenarnya apa yang salah dengan lelaki ini. Untuk seusianya seharusnya dia sudah bekerja, punya keluarga, pokoknya hidup layaknya seperti manusia lain pada umumnya.Namun ketika dilihat dan diamati lebih dalam lagi. Sorot matanya seperti sulit diartikan. Terpancar dari sorot mata itu, seperti tidak memiliki tujuan hidup, tidak berambisi seperti orang kebanyakan. Sebagai teman, aku merasa kasihan lebih tepatnya khawatir dengan keadaanya sekarang ini.Jujur, aku yang tidak paham tentang jalan pikirannya pun bertanya. “Sebenarnya kamu itu kenapa?” “Memangnya aku kenapa?” Bukannya malah menjawab atau menanggapi, dia malah balik bertanya. Seharusnya dia tahu arah pembicaraanku kemana. Seperti percakapan bodoh yang terjadi detik ini antara aku dengannya.“Aku perhatikan keseharisnmu selepas kita menamatkan kuliah,” “Memangnya ada apa dengan keseharianku?” “Tidak ada perkembangan sama sekali. Entah itu mencari pekerjaan atau bekerja, lalu menikah, layaknya seperti orang lain keluarlah dari rumah (bersosialisasi). Kalau hanya berdiam diri di rumah saja, rezeki itu tidak akan datang dengan sendirinya,” ucapku. “Memang betul yang kamu katakan. Aku sudah mencari kerja namun tidak dapat. Kalau urusan menikah, bagaimana seorang wanita mau denganku kalau aku sendiri saja tidak bekerja. Aku sudah keluar rumah, hanya saja pergi ke pasar membantu bapakku berjualan sebentar setelah itu balik ke rumah lagi. Dan memang aku tidak keluar, pergi ke wirit bulanan sekitar rumah atau kegiatan sosial lainnya. Hanya diam di rumah” jelasnya panjang kali lebar kali tinggi yang tidak kupahami itu. “Terus kenapa?” tanyanya lagi kepadaku dengan mimik wajah yang terlihat biasa saja.Kalau orang lain pasti terlihat gelisah, cemas dan pastinya meminta solusi atau nasehat kepada orangtua, saudara, teman ataupun sahabat. Dan dia memepertanyakan padaku pertanyaan yang menurutku Konyol. Sungguh konyol. Dan kurasa percakapanku dengannya tidak memiliki arti hanya akan membuat orang lain pusing bagi yang mendengarnya.“Disitulah letak kesalahanmu. Kamu sebenarnya tahu jawaban tentang hidupmu tapi tidak mau berusaha lebih keras dan hanya pasrah sekedar menjalani saja.” “Lalu?” “Hidup tak seharusnya seperti itu bung” kataku geram dengan kawan sepermainanku dulu saat menempuh pendidikan itu. Dia benar-benar berbeda dengan yang kukenal.Dia juga seharusnya sadar, apa yang dilakukannya selama ini membuang-buang waktu. Dan ingat sang waktu itu tidak berbaik hati. Ia tidak akan menunggumu dan berbalik ke masa dimana kamu ingin merubah segalanya. ‘Tidak akan berubah nasib seseorang, kalau bukan orang itu sendiri yang merubahnya’Lagi-lagi dia hanya menghela nafas. Dan mengatakan.. “Bagaimana bisa aku merubahnya? meskipun sekarang aku ingin, aku sendiri saja sudah meninggal dunia. Semuanya sudah terlambat” Katanya sambil diiringi dengan tangisan, melihat jasadnya sendiri di dalam mobil bersama teman yang melakukan percakapan dengannya itu. Keadaan mereka mengenaskan akibat kecelakaan.
Para Penguasa Alam dan Manusia
Dahulu kala, ada suatu kelompok yang dapat menggunakan elemen alam secara khusus dan menempati alam bebas, mereka beratapkan langit dan beralaskan bumi. Mereka bersahabat dengan alam dengan kekuatan luar biasanya. Mereka pernah hidup berdampingan dengan manusia. Manusia seringkali bekerja sama dengan mereka.Banyak sekali suku seperti ini dengan kemampuan yang berbeda. Ada suku penguasa angin, suku penguasa laut, suku penguasa sungai, suku penguasa hutan, dan banyak lainnya. Mereka sangat nyaman tinggal di bumi. Sampai suatu hari, mereka tidak lagi nyaman tinggal di bumi ini.Karena banyaknya sampah yang berserakan di alam, polusi udara, limbah-limbah, penebangan besar-besaran tanpa reboisasi yang menggangggu mereka. Mereka awalnya memaklumi namun lama-lama mereka sangat kesal dengan sifat manusia ini. Mereka lalu mengadukannya pada sang Dewa Angkasa, yang menguasai semua elemen alam.Dewa Angkasa yang bijaksana itupun turun ke bumi, dan menyampaikan nasihat-nasihat kepada para manusia.Berikut adalah nasihat Dewa Angkasa: 1. Jangan membuang sampah-sampahmu sembarangan 2. Jangan buang limbah-limbahmu ke sungai 3. Gunakan listrik secukupnya 4. Jangan buru hewan-hewan liar, sebaliknya buatkan cagar untuk mereka 5. Kurangi menggunakan kendaraan pribadi, gunakan kendaraan umum, gunakan sepeda atau berjalan kaki 6. Tanamlah pohon dan lakukan reboisasi 7. Dan kurangilah menggunakan plastik, sedotan, dan sebagainyaNamun, manusia tak mau mendengarkan. Dewa Angkasa pun marah dan mengutuk mereka. “Jika kalian tak mengikuti nasihatku, maka bumi akan segera hancur.” Kutuk Dewa Angkasa sembari menyambarkan kilat dan hujan pun segera turun, membuat banjir di berbagai daerah juga longsor. Dewa Angkasa lalu memanaskan matahari dan terjadilah pemanasan global. Dewa Angkasa lalu memindahkan para suku penguasa alam ke suatu planet lain, memerintahkan mereka menciptakan bumi yang baru. Dewa Angkasa pun pergi dari bumi, meninggalkan para manusia yang menyesal itu. Tetapi, meskipun menyesal di hari itu, di keesokan hari, manusia-manusia itu mengulangi perbuatannya, dan semua itu terjadi lagi dan lagi.Dan, sekarang, mari kita bersama menjaga lingkungan kita. Mari kita jaga bumi dengan mematuhi nasihat dewa Angkasa demi mencegah kutukan dewa Angkasa. Mari bersama menjaga bumi kita.
Penunggu Pohon Kudu
Di depan rumahku ada sebatang pohon kudu yang sengaja aku tanam untuk obat. Usianya hampir 5 tahun sehingga pohonnya cukup besar dan rindang. Daunnya hijau segar dan buahnya selalu lebat tak kenal musim. Ia termasuk tanaman yang berbuah sepanjang waktu. Karena khasiat obatnya yang sudah diketahui banyak orang, maka banyak orang yang meminta buahnya untuk obat herbal.“Pak boleh minta mengkudunya?” kata Pur di suatu sore. “Silahkan Pak. monggo diunduh sendiri, itu galanya,” jawabku sambil menunjukkan sebatang bambu apus sebagai galanya. “Waduh, sudah tinggi dan besar pohonnya,” kata Pak Pur lagi. “Memang ditanam ya Pak?” tanya Pur. “Iya, saya konsumsi setiap hari,” jawabku. “Untuk penyakit apa Pak?” “Katanya sih, segala penyakit. Baca saja di internet. Banyak kok bahasan manfaat buah mengkudu ini,” jawabku. “Baiklah, saya ambil ini ya,” katanya sambil membawa beberapa buah mengkudu yang sudah diunduhnya. “Ya. Semoga bermanfaat,” kataku. “Terima kasih,” ucapnya. “Sama-sama,” jawabku.Sejak minum air rebusan buah mengkudu dan dicampur madu, Pur merasakan badannya ringan dan tak sering pusing-pusing. Tidurnya pun jadi nyenyak. Namun, kini ia sering bermimpi dalam tidurnya bertemu dengan wanita cantik berbaju putih. Dalam mimpi wanita itu mengaku sebagai penunggu pohon kudu yang ada di depan rumah Pak Son yang ia mintai buah mengkudunya beberapa hari yang lalu.“Mas, datang dong ke rumahku?” kata wanita itu. “Di mana rumahmu?” tanya Pur. “Ya, di pohon kudu itu,” jawab wanita itu. “Baiklah, besok saya akan ke rumahmu,” jawab Pur. “Kenapa nunggu besok? Sekarang saja Mas. Aku tunggu ya?” rayu wanita itu. Dan Pur terhipnotis rayuannya sehingga tak bisa menolaknya. Lantas ia berjalan menuju pohon Kudu yang berada di depan rumah Pak Son yang tak jauh dari rumahnya. Hanya beda gang saja.Pur merasa berdiri sebuah gerbang istana yang megah. Sebentar kemudian pintu terbuka dan seorang wanita cantik berpakaian seorang ratu menyambutnya. “Selamat datang Mas,” sambutnya sambil tersenyum. Pur tergagap, tak mampu bicara karena terpesona kecantikan wanita itu. Ia melangkahkan kaki masuk istana itu. Dua langkah masuk, ia dicegat dua pengawal yang memintanya berhenti lalu dua orang abdi istana memakaikan mahkota dan jubah kebesaran raja. Ia sangat tampan dan gagah dengan baju kebesaran istana itu, baju seorang raja.“Silahkan masuk Baginda,” ucap pengawal sambil membungkuk penuh hormat. Kemudian Sang Ratu mengandeng tangannya berjalan beriringan memasuki istana yang megah berhias emas dan intan berlian. “Acara apa ini?” tanya Pur. “Penobatan raja dan ratu,” jawab Wanita itu. “Apa? Aku bukan raja,” kata Pur. “Kanda raja sekarang dan aku ratumu,” jawab wanita itu sambil tersenyum menggoda.Waktu terus melaju. Saatnya mereka menuju peraduan. Pak Pur rasakan belaian sang ratu membangkitkan gairah lelakinya. “Mari kita tuntaskan malam ini,” bisik sang ratu di telinga Pur.Sejak itu Pur beroleh kepintaran menyembuhkan berbagai penyakit melalui media buah mengkudu itu. Pak tekanan darah saya kok tinggi terus ya, sudah berobat ke dokter tak sembuh juga,” kata Pak San pada suatu pagi. “Coba minta Kudu di depan rumah Pak Son, terus bawa ke sini,” jawab Pur. “Baiklah, terima kasih.”Sebentar kemudian Pak San sudah bergegas meminta kudu kepada Pak Son dan membawanya kembali ke Pur. “Ini Pak kudunya,” kata Pak San. “Waduh, banyak amat?” ujar Pur. Kemudian buah kudu itu didoai oleh oleh Pur. Doa yang diajarkan oleh penunggu pohon kudu itu.“Ini direbus dengan air sampai mendidih, terus sisakan sampai satu gelas dan diminum sebelum tidur,” kata Pur. “Terima kasih Pak,” ucap Pak San. “Sama-sama,” jawab Pur. “Ketika Pak San pulang ia ternyata menaruh selembar uang biru di bawah cangkir kopi yang disuguhkan istri Pur. Pur tersenyum dan menganggap itu rejeki, toh ia tidak memintanya.Mulut memang lebih panjang dari jalan. Dari bisik-bisik, ngomong pelan-pelan, akhirnya sampai pada bicara terang-terangan bahwa Pak Pur sekarang punya keahlian mengobati orang sakit. Sejak itu Pak Pur terkenal sebagai “dukun tiban”. Orang-orang semakin banyak yang minta “tolong” mengobati berbagai keluhan sakit bahkan yang tak kasat mata.Suatu malam Pur dan Son bertemu di gardu ronda untuk jaga desa. “Hati-hati lo Pur, niatmu menolong orang ya?” “Maksudmu?” “Jangan komersial, jangan mematok tarif.” “Sumpah, demi Allah aku tak pasang tarif!” “Syukurlah.”Buah kudu di depan rumah Pak Son setiap hari ada saja yang meminta. Ketika keluarga Pak Son pergi keluar kota, secara tak sengaja ada seorang peternak lele yang mencari buah kudu. Dulu, bertahun yang lalu, ia pernah membeli kudu itu. Dan tanpa memberitahu, semua buah kudu di pohon itu diunduhnya sampai habis, tinggal yang masih muda dan kecil. Dan seperti biasa ia lemparkan saja uang pembelian kudu itu ke teras rumah Pak Son karena kelihatan tak ada orang.“Lho, kok dihabisin kudunya Pak?” tanya Bang Tom, tetangga Pak Son. “Saya beli Pak,” jawab orang itu. “Pak Son kan gak ada di rumah. Sampean beli ke siapa?” bantah Bang Tom. “Dulu orangnya pernah bilang kalo mau beli kudu ini, ambil saja, uangnya lempar ke teras kalau tak ada orang,” jawab lelaki itu. “Masa?” tanya Bang Tom tak percaya. “Iya Pak. Tuh, uangnya udah saya lempar ke teras,” jawab lelaki itu. Bang tom melihat bungkusan uang biru dalam plastik yang tergeletak di teras rumah Pak Son yang pagarnya terkunci.Esoknya banyak orang yang akan meminta kudu itu kaget dan kecewa karena tak ada satu pun kudu yang bisa dibawa ke Pur. Namun orang-orang itu mengakalinya dengan membawa buah kudu dari tempat lain. “Yang penting bawa kudu,” kata mereka. “Iya, masak tahu kalo kudu yang kita bawa bukan kudu dari pohon itu,” timpal yang lain.Dan sejak itu banyak orang kecewa dengan Pak Pur. Ia tak tahu bahwa kudu di rumah tetangganya itu telah habis. Ia terlalu asyik dengan profesi barunya sehingga jarang keluar rumah untuk sekedar melihat pohon kudu itu.Hari ini hari Kamis malam Jumat Legi. Ia datangi pohon kudu itu. Ia terkejut ketika ternyata tak ada satu pun buah kudu tersisa. “Oh, mungkin ini sebabnya,” katanya dalam hati.Ketika berangkat tidur, ia berharap bertemu dengan penunggu pohon kudu itu dalam mimpi. Dan benarlah harapannya. Ia bermimpi memasuki istananya tapi tak ada seorang pun di sana. Ia mencari-cari ratunya. Ketika masuk kamar ratu ia dapati ratu tergolek lemas tak berdaya.“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Pur sambil memeluk wanita itu. “Aku lupa memberitahumu bahwa kudu itu tak boleh habis,” kata wanita itu dengan sisa-sisa tenaganya. “Maafkan aku, aku tak tahu ada orang yang menghabiskannya.” “Karena kamu sibuk dengan tamu-tamu, bahkan aku jarang kamu datangi.” “Maafkan aku.” “Mulai besok kamu akan kembali seperti dulu lagi. Kamu tak bisa lagi menolong orang-orang,” kata ratu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.“Tebang saja pohon kudu itu,” kata Pur di suatu malam ketika berjaga kamling bersama dengan Pak Son. “Lho kenapa?” “Tak ada khasiatnya sekarang,” jawab Pur. “Biarlah Pur. Aku kuatir jika pohon kudu itu aku tebang, kau pun ikut mati,” kata Pak Son jengkel. “Apa?” “Kau kira aku tak tahu dengan persekutuanmu dengan wanita di pohon kudu itu?” Pur terdiam. Ia malu sekali. Ternyata tetangganya itu tahu apa yang dilakukannya.
Fireflies Over The Sea
Kutatap pemandangan indah nan unik yang tersaji di depan mataku. Entah apa lagi kombinasi yang lebih sempurna ketimbang matahari terbenam, suara debur ombak, semilir angin sejuk, dan kawanan kunang-kunang yang mengitari sekelilingku. Ombak membawa sebuah cangkang keong laut berukuran besar ke tepian pantai, menarik perhatianku detik itu juga.“Cangkang itu berisi suara dari dasar samudera. Dengarlah baik-baik. Siapa tahu, seseorang sedang menceritakan sebuah cerita yang menarik dari suatu tempat. Tempat yang mungkin tidak pernah diraih oleh manusia manapun”, demikian ibuku pernah berkata. Saat itu, aku masih kecil sekali. Mama membawaku ke sini sebagai hadiah ulang tahunku yang kelima.Tergoda, kudekatkan cangkang itu pada telingaku. Tapi tentu saja, suara yang terdengar hanyalah gaung ruang kosong bercampur debur ombak.“Dengarlah baik-baik, Merrick.” Suara ibuku bergema dalam kepalaku.Kutahan benda itu di samping telingaku. Lucu. Aku seperti sedang menelepon seseorang.Samar-samar, terdengar desah suara tangis yang langsung berganti menjadi suara tawa. Secara mendadak, terdengar gumaman melodi yang entah di mana pernah kudengar. Suara aneh itu benar-benar mengganggu dan memikat dalam waktu yang sama.“Kalau beruntung, mungkin kamu bisa mendengar seseorang memanggil namamu”.Suara debur ombak yang cukup keras membuyarkan lamunanku. Tanganku tetap tergantung di udara, menekan cangkang itu ke telingaku. Cepat-cepat kukembalikan benda itu ke dalam air. Perlahan, karena Mama selalu mengajariku untuk berperilaku sopan kepada alam.Aku duduk di atas pasir, tak memedulikan pakaianku yang langsung terasa berat dan basah. Aku tidak asing dengan lautan. Mama sering sekali membawaku kemari, dan tak sekalipun aku menyesalinya. Laut menjadi tempatku mencurahkan segala perasaanku, beban pikiranku, dan cerita-ceritaku. Sekarang, contohnya.“Hei,” bisikku pelan. “Apakah kau tahu di mana Papa berada?”Desau angin mulai terdengar, mmebentuk sebuah kata, “Rin…du…?”“Sedikit,” aku meringgis. Kumainkan air di sekelilingku.Orang-orang tua bilang, senja adalah saatnya keajaiban benar-benar terjadi, dan itulah yang terjadi. Keajaiban senja membuatku dapat bercakap-cakap dengan desah angin lautan. Keajaiban yang kutemukan di hari pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini, ketika laut memanggil namaku lewat cangkang itu.“Bohong…”Aku tertawa gugup. “Oke, baiklah, banyak.” Kugaruk tungkukku yang tidak gatal sama sekali.“Pergi… senja… berakhir…”Aku mendongak, menatap langit yang menjadi keunguan dengan sedikit sekali semburat oranye. Bintang-bintang mulai terlihat di balik awan, dan kawanan kunang-kunang itu mulai terlihat lebih ramai. Mereka berterbangan dengan lincah mengitariku hingga terlihat seperti percikan api yang menari-nari di udara.Sayup-sayup terdengar suara ibuku dari arah sebuah vila besar tak jauh dari sana, mengajakku masuk ke dalam sebelum suhu yang sejuk ini mulai menggigiti tulang. Kutepuk celanaku untuk membersihkan sebanyak mungkin pasir yang menempel di sana. Aku menyerah ketika ibuku memanggil untuk kedua kalinya dan mulai beranjak meninggalkan pantai, laut, dan kawanan kunang-kunang itu. Aku menoleh sekali lagi, tepat sebelum matahari tenggelam sepenuhnya. Kunang-kunang itu terlihat jauh lebih terang dari sebelumnya.Aku tak pernah menceritakan kepada siapapun tentang hubungan pertemananku dengan laut, bahkan kepada ibuku. Aku tidak merasa malu, tetapi siapalah yang akan memercayai perkataan anak berusia 12 tahun? Usia memang hanyalah angka, dan aku tahu aku tidak seperti anak-anak seusiaku. Tapi yah, orang dewasa ‘kan selalu sok tahu. Mereka akan berpikir kalau aku hanya membual.Keesokan harinya, di waktu yang sama, aku mengunjungi laut. Kali ini, bersama ibuku. Entah mengapa ia tiba-tiba ingin ikut denganku. Selama ini, Mama hanya mengagumi laut dari kejauhan. Aku kebingungan ketika Mama melangkah ke dalam air tanpa keraguan sedikitpun. Aku semakin tidak mengerti ketika Mama terisak ketika kakinya terendam air asin yang hangat.“Ada apa, Ma?” tanyaku pelan, nyaris berbisik. Ibuku terdiam, terisak tanpa jeda. Isakannya semakin lama semakin memilukan.“Mama, ada apa? Kenapa Mama menangis? Apa Mama tidak suka dengan laut?” Kupeluk wanita yang amat kusayangi itu. Wanita yang seorang diri membesarkanku selama ini. “Maaf, Merrick,” ujarnya dengan suara serak. “Mama hanya tidak tahan lagi…” Tubuh Mama yang ramping merosot ke bawah, jatuh berlutut di atas pasir yang direndam air setinggi mata kaki. Bahunya tergungang begitu keras, dan air mata mulai menetes ke dalam air laut.Matahari yang sudah berada di penghujung hari membuat angin yang bertiup menjadi sedikit lebih dingin dari sebelumnya. Cepat-cepat kusampirkan jaketku ke bahu Mama sebelum kupeluk erat-erat. “Mama, tolong ceritalah padaku. Apa yang membuat Mama tidak tahan lagi?” Aku memohon. “Mama rindu pada papamu, Sayang… rindu sekali… dan hati Mama sangat sakit ketika melihat laut ini…” tutur Mama di sela-sela isakannya. “Memangnya apa yang salah dengan laut ini, Ma? Apa hubungan antara Papa dengannya?”Mama mendorong tubuhku pelan, memaksakan seulas senyum yang terlihat begitu menyakitkan. “Mama tidak mau membuatmu membencinya, Sayang,” katanya pelan dan bergetar. Sebelah tangannya yang basah meraih wajahku, mengelusku dengan lembut. “Mama tahu kamu sangat menyukai laut… Mama juga tahu kamu adalah anak yang istimewa bagi laut ini.” Aku terkesiap, namun kupikir, lebih baik aku tidak memikirkannya. “Tolong ceritakan saja padaku, Ma. Apa yang terjadi pada Papa?” Aku memelas.Mama mengusap air matanya. Ia menarik tanganku, mengajakku untuk duduk di sebelahnya. Aku terkejut ketika air yang seharusnya mulai mendingin setelah matahari terbenam malah terasa lebih hangat dari biasanya. Kunang-kunang mulai hadir, mengisi kegelapan yang mulai tercipta di sekitar kami. Seolah tak ingin mengganggu Mama, suara debur ombak pun kian memelan.“Dua belas tahun yang lalu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup Mama,” tutur Mama dengan suara yang masih sedikit bergetar. Ia menatapku dengan seulas senyum sendu. “Saat itu adalah dua bulan setelah Mama menikahi papamu. Ia adalah seorang pria yang sangat, sangat luar biasa. Ia sangat baik, sopan, pandai, berkarisma, dan tentunya, sangat tampan. Kamu sangat mirip dengannya, Sayang.” Mama merangkulku dan menarikku untuk bersandar padanya.“Papamu mengajak Mama kemari untuk berbulan madu. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama di sini, dan setiap harinya sangatlah indah. Hanya ada kami berdua di dalam vila itu. Kami melakukan segalanya bersama. Itulah saat-saat di mana Mama merasa sangat bahagia dan bersyukur dapat terlahir di dunia ini. Tetapi sepertinya, tidak adil bagi manusia untuk terus-menerus merasakan kebahagiaan.” Suara Mama mulai terdengar semakin rendah dan pahit.“Mama ingat sekali, hari itu, saat matahari terbenam, kami duduk di pantai dan mengobrol dengan santai. Papamu berkata, jika Mama melahirkan anak laki-laki, ia akan menamainya ‘Merrick’, karena itu berarti ‘Penguasa Lautan’. Saat itu, papamu tidak tahu bahwa Mama sedang mengandung kamu, dan Mama berniat memberi papamu kejutan. Tetapi sebelum Mama bisa memberitahunya, ombak tiba-tiba menjadi ganas. Kunang-kunang mendadak bermunculan dari hutan di belakang vila. Langit menjadi gelap dan angin ribut mengelilingi kami. Papamu berusaha membawa Mama untuk berlindung ke vila, tetapi laut kelihatannya tidak ingin papamu pergi.“Papamu menyuruh Mama pergi, sendirian. Ia berkata ia harus membayar dosanya. Entah apa maksudnya. Tetapi yang pasti, Mama tahu bahwa dulu, papamu persis seperti dirimu. Ia memiliki hubungan yang kuat dengan laut, bahkan dicintai oleh samudera. Itulah saat terakhir Mama bertemu dengan papamu, sekaligus hari terkelam dalam hidup Mama,” kenang Mama dengan pandangan kosong ke arah lautan.Aku terlompat berdiri. Perasaan terkejut dan amarah bercampur dalam benakku. Jadi selama ini, aku berteman dengan pembunuh ayahku?Tanpa pikir panjang, aku melangkah ke dalam air. Kujejakkan kedua kakiku keras-keras, berharap itu akan menyakitinya. Aku merasa dikhianati. Kuhujamkan tanganku ke segala arah kuat-kuat. Kepuasan menguasaiku ketika kurasakan suhu air yang mulai mendingin dan gelombang ombak yang mulai membesar.“Merrick! Jangan marah padanya! Kembalilah kemari!” seru Mama khawatir. Ia terlihat ingin mendekat padaku, namun laut melarangnya. Ombak berkali-kali mendorongnya pelan ke belakang, menghalaunya mendekatiku.“Kamu menipuku,” suaraku tercekat dalam keterkejutan. “Kenapa? Apa salahnya? Kenapa kamu merenggut ayahku? Kenapa kamu malah bertindak seolah-olah aku adalah temanmu?”Seekor kunang-kunang terbang melintas di depanku, membuatku kaget dan terjungkal ke belakang. Aku jatuh ke dalam air. Aku tenggelam, namun anehnya, aku tidak merasa sesak. Rasanya, aku seperti melayang di udara.Mataku membelalak ketika kulihat ribuan kunang-kunang muncul di hadapanku, di dalam air. “Ini Papa, Sayang,” suara berat khas pria dewasa menggema di sekitarku. “Kenapa kamu begitu marah pada Papa?” “Pa-papa…?”Perlahan namun pasti, kunang-kunang itu membentuk sesosok pria. Pria berwajah tampan yang mirip sekali denganku, yang sedang tersenyum.“Papa senang sekali kamu tumbuh sehat. Maaf ya, Papa tidak bisa mendampingimu dan Mama. Tolong jaga Mama untuk Papa ya?” bisiknya dengan suara yang penuh sendu.Gelombang air membawaku ke permukaan, mendorongku lembut ke tepian. Mama langsung memelukku dengan cemas, menanyakan apakah aku baik-baik saja.“Aku bertemu Papa,” kataku begitu pulih dari keterkejutanku. Wajah Mama langsung menunjukkan ekspresi kaget bercampur senang. “Apa?” “Aku bertemu Papa, Ma,” ulangku. Kutunjuk laut dengan ujung jariku. “Papa ada di dalam sana.”Air mata Mama mengalir, diikuti dengan seulas senyuman yang terlihat bergetar. Matanya tertuju pada laut yang tenang dan kunang-kunang yang berterbangan di atasnya.“Kamu terlihat cantik, Sayang.” Aku mendengar suara Papa yang dibawa oleh angin.Tepat sebelum matahari tenggelam sepenuhnya, aku melihat bayangan Papa. Bukan dari kunang-kunang, namun benar-benar bayangannya. Rambutnya cokelat tua, matanya sebiru laut, kulitnya sewarna pasir, dan senyumnya begitu menenangkan. Kunang-kunang terbang mengitarinya, membuatnya terlihat semakin bersinar.Kurasa, Mama juga melihat apa yang kulihat, karena Mama langsung menutup mulutnya. Air matanya mengalir semakin deras.“Aku akan tetap di sini, Sayang, hingga dunia berakhir. Hiduplah dengan bahagia, dan ceritakanlah padaku segalanya, kapanpun kamu mau,” suara Papa terdengar begitu lembut. “Aku senang kamu benar-benar menamai anak kita Merrick.”Begitu semburat oranye itu benar-benar digantikan oleh warna biru keunguan, bayangan Papa menghilang, meninggalkan kumpulan kunang-kunang yang masih berterbangan dengan riang di atas air.Sampai hari ini, aku tidak pernah menyadarinya. Kenapa kunang-kunang bisa muncul di pantai? Kenapa mereka selalu muncul di saat senja menuju malam, ketika aku sedang mengunjungi Papa? Kutemukan jawabannya ketika tak sengaja membaca sebuah artikel di internet, berhari-hari kemudian.Rupanya, sejak awal, Papa selalu menyertaiku.