Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
2035
Fantasy
25 Nov 2025

2035

Ryan terbangun dari tidurnya. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Suara ketukan pintu terus terdengar tanpa henti. Namun dia tidak menghiraukannya. Ia lalu bangkit dari kasurnya yang empuk dan mengambil obat yang tergeletak di mejanya yang kumuh.Suara ketukan itupun semakin keras bahkan beberapa kali terdengar suara beberapa orang yang memanggil namanya. Namun ia tak mempedulikannya. Ryan pun memakan obat itu dan dilanjutkan dengan meminum air putih. Dengan wajah lesu ia mengambil buku diarynya yang dia beri judul 2035. Tangannya yang sudah sangat kurus itu mengambil sebuah bolpoin yang nampak sudah sangat berdebu. Ia mulai pun mulai menuangkan rasa frustasinya ke buku diary miliknya.Tiba tiba pintu yang mengurung Ryan selama bertahun-tahun akhirnya hancur. Mengetahui dirinya sudah tak bisa menghindar lagi, dia pun melempar obat obatan tersebut ke arah massa yang mengincarnya selama ini. Baru sepersekian detik obat itu dilempar, massa langsung berebut untuk mendapatkan obat yang super langka itu.Dari pintu yang sudah rusak, seorang pria misterius berjalan masuk ke dalam rumah Ryan. Ia kemudian melihat tubuh Ryan yang sudah tidak bernyawa di samping buku diarynya. Dia lalu mengambil buku tersebut dan kemudian membacanya lembar demi lembar.Di halaman pertama ditulis bahwa di tahun 2029 Indonesia telah menjadi negara miskin dan mengandalkan bantuan berupa pangan dari negara negara lain. Akan tetapi kondisi Indonesia malah makin memburuk dan membuat negara negara lain tidak mau lagi untuk membantunya.Rakyat Indonesia pun dilanda kelaparan dan juga kemiskinan. Semua nampak suram tak ada cahaya sedikitpun. Hingga pada suatu hari datanglah seorang ilmuwan jenius yang ternyata dia adalah Ryan sendiri. Kecerdasan yang dimilikinya telah membantu banyak orang. Salah satu jasanya yang paling besar adalah membuat sebuah obat khusus agar seorang manusia mampu hidup tanpa makan dan minum dalam waktu beberapa hari. Tidak hanya itu, ia juga membagikan obat itu secara gratis ke seluruh rakyat yang ada di pelosok negeri. Namun kebaikannya itulah yang malah menjadi bumerang bagi dirinya.Rakyat semakin serakah dan menginginkan obat tersebut secara terus menerus. Hal itu membuat Ryan semakin depresi karena stok obat yang makin hari makin menipis. Belum lagi istri dan anaknya yang semakin kurus dan akhirnya meninggal.Sejak kematian istri dan anaknya, Ryan tidak ingin lagi membagikan obat itu dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Dia terus berpindah rumah agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya. Selama berada di dalam rumah, ia terus menulis kesehariannya dalam bentuk buku diary. Selama 6 tahun dia terus menulis bahkan sampai akhir hidupnya yang menyedihkan.Merasa bosan dengan buku tersebut, lelaki itupun membuangnya ke luar jendela dan ditemukan oleh seorang wanita muda yang pada akhirnya membukukan diary tersebut.

Tetaplah Terjaga
Fantasy
25 Nov 2025

Tetaplah Terjaga

Kepedihan kembali datang, merenggut setitik kebahagiaan yang tersisa. Butiran bening yang baru saja mengkristal kini mulai mengurai kembali, membasahi tanah yang diinjak, menguap bergabung bersama udara yang terasa pengap. Dadanya sesak. Tangis tak membuat hatinya merasa lega. Dunia seakan mati seiring dengan kepergian orang-orang terdekatnya.“Ya, saatnya kita pulang nak.” seorang lelaki paruh baya menyentuh pundaknya, Yara bergeming. “Relakan dia, buatlah langkahnya ringan. Seperti kamu merelakan kepergian Mama dan Ren.” Yara mengembuskan nafasnya berat lalu beranjak. “Om akan selalu ada buat kamu. Kamu tahu kan dimana dapat menemukan Om?” Yara mengangguk lemah.—Untuk ketiga kalinya Yara merasa tersesat dalam kegelapan. Ia melalui hari-harinya dengan berat. Kedukaan yang dulu pernah menyelimutinya kini kembali menghamparkan helaian kelamnya yang tak kuasa ia sibakkan.Genap tiga bulan ia menemukan lelaki yang telah menariknya dari kubangan kesedihan karena rasa kehilangan. Namun ternyata ia kembali terjerembab dalam kesedihan, karena Jared, lelaki yang ia kasihi itu pergi menghadap yang Maha Kuasa dalam sebuah kecelakaan tragis. Lexus milik Yara yang tengah ia kendarai tiba-tiba tak bisa dikendalikan. Kesimpulan sementara dari penyebab kecelakaan mobil yang rencananya akan dibawa ke bengkel untuk perawatan bulanan itu adalah rem blong. Yara tak habis pikir mengapa hal itu dapat terjadi padahal setiap bulan ia melakukan perawatan rutin untuk kendaraan peninggalan Mamanya itu.“Seharusnya aku yang disana, bukan Red,” Yara berkata pelan. “Seharusnya aku tak meminta bantuannya untuk pergi ke bengkel. Seharusnya aku mempercayai perasaanku yang mendadak tak enak sesaat setelah ia melambaikan tangannya padaku.” Suara Yara mulai bergelombang. “Semua bukan salah kamu, tak ada yang dapat menghindari takdir Ya.” Lelaki bermata kelabu itu menumpukan tangannya diatas tangan Yara. “Ini semua salahku Jev, orang-orang yang dekat denganku semuanya pergi meninggalkanku. Mama, adikku Ren, dan kini…” Yara tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Jev menggeleng. “Itu semua kehendak yang kuasa, Ya. Kita tak bisa mengelak dari hal seperti itu.” “Mereka pergi begitu cepat, apakah ini kutukan untukku? Harga yang harus kubayar untuk perbuatan-perbuatan burukku?” Jev menggeleng. “Jangan berkata begitu, Ya.” “Aku tidak tahu mengapa Mama bisa dengan tiba-tiba terkena serangan jantung, Ren tak selamat dari kebakaran yang menimpa rumah kami dan Red … Aku tak punya siapa-siapa lagi. Hidupku sudah tak ada artinya lagi.” Yara menatap keluar jendela, titik-titik hujan mulai membasahi jalanan seiring dengan jatuhnya butiran bening dari kedua matanya. “Shh, selalu ada arti dalam setiap kehidupan, lagi pula kamu masih memiliki aku Ya, temanmu, sahabatmu. Walaupun aku terlambat menemukanmu namun percayalah aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri.” Jev berkata lembut di telinga Yara.—Yara memandangi kotak makanan yang berisi roti lapis, apel granny smith dan satu kotak susu low fat di meja kerjanya. Beberapa hari ini, Jev sering menyambanginya, membawakan sarapan atau mengajaknya makan siang bersama. Perusahaan periklanan milik Jev ada di seberang jalan, sehingga dengan mudah ia dapat mengunjungi Yara kapanpun ia mau. Dan yang menjadi sangat kebetulan adalah atasan Yara merupakan teman satu angkatan Jev saat ia menempuh pendidikan pasca sarjana. Itulah mengapa selalu ada izin bagi Jev untuk mengetuk pintu ruangan Yara yang baru saja genap satu bulan bekerja di tempat itu. Sebelumnya Yara memang memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan lamanya, rumah dan pekerjaannya, berharap semua hal buruk tak datang menghampirinya lagi. Dan ternyata di tempat barunya ini ia kembali dipertemukan dengan teman lamanya, Jev.Jam di tangan Yara telah berada diangka 12.15, ia beranjak. Sudah saatnya ia berkunjung balik ke kantor Jev untuk sekedar mengajaknya makan siang bersama. Tak adil rasanya bila Jev yang selalu mengajaknya. Yara membuka pintu yang sepenuhnya berbahan kaca itu, pewangi ruangan beraroma green tea langsung menyapa hidungnya lembut.“Maaf, Bapak sedang rapat internal, tidak bisa diganggu.” Seorang wanita muda yang berada di frontdesk berkata ketus. Yara menatap wajah itu, wajah yang rasa-rasanya pernah ia lihat tapi entah dimana. Baru saja Yara membalikan tubuhnya, sebuah suara menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Ya? Sedang apa kamu disini? Ada perlu denganku? Kok sudah mau pergi lagi?” Jev menghampirinya dengan berondongan pertanyaan. Yara terkejut, tak menyangka Jev akan muncul tiba-tiba. “Sudah selesai rapatnya?” Jev mengerutkan keningnya. “Tak ada jadwal rapat hari ini, siapa yang bi…” Jev melemparkan pandangannya ke arah meja yang kini tak berpenghuni. “Aah, maafkan Leyda, dia baru beberapa minggu disini.” Jev tersenyum sambil menunjuk meja kosong tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Jadi?” tanyanya penasaran. “Emm, makan siang kali ini aku yang traktir.” Yara tersenyum. “Ya ampun Ya, kamu kesini hanya mau mengatakan itu? Kamu kan bisa meneleponku, gak usah repot-repot menyebrang jalan. Nanti aku yang menjemputmu.” “Tak apa, aku kan juga ingin menyambangi tempat ini.” Yara memandangi sudut demi sudut ruangan yang dipenuhi pernak-pernik di dindingnya. “Kalau begitu, yuk, tunggu apa lagi?” Jev membuka pintu kantornya untuk Yara.—Yara membereskan meja kerjanya lalu berkemas. Jam dinding menunjuk di angka 7.30 malam. Karena dikejar deadline, Yara memilih untuk melembur. “Mbak Yara, maaf tadi ada seseorang yang menitipkan ini.” Adi, satpam perusahaan menyerahkan secarik kertas sesaat sebelum Yara menjatuhkan langkahnya di tangga terakhir. Dahi Yara mengernyit. “Apa ini? Dari siapa?” “Saya gak tahu, yang kasih perempuan Mbak, cantik.” Adi menyeringai. “Tapi gak bolong kan punggungnya? ” Goda Yara disambut dengan kicauan panjang pendek dari mulut Adi.Dengan hati-hati Yara membuka lipatan kertas daur ulang berwarna krem itu, rangkaian huruf yang diketik berbaris rapi disana.Dear Yara, Bersediakah kamu mampir sebentar ke kantorku setelah pekerjaanmu selesai nanti? Aku tertarik dengan ide yang kamu sampaikan saat makan siang tadi tentang konsep iklan yang sedang aku kerjakan. Tapi itu pun bila kamu tak keberatan. Aku sengaja menulis pesan ini, karena aku tak ingin menganggumu yang tengah dikejar deadline dengan dering telepon. Aku tahu kamu melembur dari Teddy. Sekali lagi bila kamu tak keberatan ya. Sampai nanti, Rami JeveeYara tersenyum kecil, “Rami Jevee”, sejak kapan Jev menjadi begitu resmi. Yara melipat kembali kertas itu. “Tadi Jev, eh Pak Rami kesini Di?” Tanya Yara penasaran. “Hmm, iya, agak sore terus ke atas, memangnya gak ketemu Mbak Yara?” Yara menggeleng. “Gak lama turun bareng Pak Teddy sih.” lanjut Adi. Yara mengangguk, lalu berpamitan pulang.Sebenarnya Yara merasa lelah, namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju gedung yang ada di seberang kantornya itu. Ia mematung sejenak, ragu-ragu membuka pintu. Lalu ia pun mengeluarkan ponselnya, mencari nama Jev disana. Sebuah suara dari mesin operator memberitahukan bahwa nomor yang dituju sedang tak aktif. Ia mencari nomor kantor Jev, namun sebelum jarinya menekan tombol dial, sebentuk wajah pucat muncul dari balik pintu mengejutkannya.“Lembur juga?” Yara bertanya basa-basi. “Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. Mari mbak, saya antar ke atas sekalian saya mau pamitan pulang.” Leyda mempersilakan Yara berjalan mendahuluinya. Yara menjelau ke arah perempuan bernama Leyda itu dengan berjuta tanda tanya di kepala, ia kembali merasa familiar dengan wajahnya.Pintu ruangan Jev terbuka sedikit, Yara mengetuk pelan, tak ada sahutan, lalu ia mendorong pintu tersebut. Belum sempat pintu terbuka lebar, tiba-tiba Yara dikagetkan dengan sebuah bekapan di hidungnya dan sejenak kemudian ia merasa sangat mengantuk.Yara mengerjapkan matanya berulang kali, kepalanya pusing. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Mulutnya seakan terkunci rapat. Ruangan temaram menyambutnya, lampu pijar diatas kepalanya menyala redup. Udara disekitarnya terasa pengap dan berdebu. Kini ia mulai tersadar sepenuhnya, tubuhnya terasa berat karena ia terikat diatas kursi, mulutnya rapat karena selembar lakban menempel erat disana. Yara panik, ia mencoba melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. Sebuah tawa nyaring menghentikan usahanya.“Dengan berat hati aku terpaksa melakukan ini kepadamu, Yara sayang.” “Sebenarnya aku tak ingin semuanya berakhir seperti ini, karena aku tahu bahwa kehilangan orang-orang yang kamu cintai akan lebih menyakitkan daripada ini.” Sosok yang bersuara dalam kegelapan mulai menampakan dirinya lalu menampar Yara dengan keras. Yara terkejut setengah mati.. “Serangan jantung, kebakaran, rem blong, bukankah itu sebuah tragedi yang menarik?” Sosok itu kembali tertawa nyaring. “Kali ini aku tak bisa menyakiti orang yang dekat denganmu karena dia berbeda, dia berarti bagiku tidak seperti keluargamu dan kasih tak sampaimu itu, siapa namanya? Red?” Yara memberontak, berusaha membuka mulutnya namun itu sia-sia. “Mamamu telah merenggut semua kebahagiaan Mamaku, dan kebahagiaanku tentu saja.” Kini sosok itu berbisik di telinga Yara. Yara menggeleng tak mengerti, siapakah dia yang terlihat menakutkan di balik masker yang ia kenakan itu?“Maafkan aku Yara sayang, aku harus melakukan semua ini.” Sebuah pisau army berkilat dibawah sinar lampu nan temaram, Yara merasakan ketakutan yang sangat. “Wajahmu adalah ancaman.” Yara menahan nafasnya, kini pipinya terasa perih. Air mata mulai menetes satu persatu. “Hmm, aku kira air matamu telah lama mengering, tapi ternyata …” Tawa nyaring kembali terdengar. Sosok itu kini kembali berlindung dalam kegelapan.“Kamu tahu, mamaku pergi untuk selamanya dengan membawa luka hati.” “Papa mengkhianatinya demi Mamamu. Dan tidak sampai disitu, Papaku lebih menyayangi kamu daripada aku, anak kandungnya sendiri. Aku benci kalian semua.” Ia berteriak sambil melempar-lemparkan barang-barang yang ada disekitarnya.Kini Yara mulai paham dengan semuanya, diantara rasa perih di pipinya, Yara berusaha melepaskan ikatan tangannya. Ia sadar, ia harus tetap tenang menghadapi semuanya. Kepanikan hanya akan membuat usahanya sia-sia, begitulah pengalaman hidup telah mengajarinya selama ini.“Kamu telah merenggut semua yang aku punya, dan kini kamu pun akan merenggut seseorang yang mulai aku cintai. Aku tak akan membiarkan itu terjadi, kamu dengar?” Kini ia muncul dari kegelapan menghampiri Yara lalu mulai menyerangnya dengan membabi-buta. Tamparan, jambakan, pukulan, sampai tendangan menghujani tubuh Yara bertubi-tubi, Yara tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya mulai terasa sakit dan ngilu. Sebuah tendangan keras membuat Yara tersungkur bersama kursinya. Sosok mengerikan itu bagai kerasukan setan, menendangi kursi yang telah tergeletak bersama tubuh Yara. Dalam rasa sakitnya, Yara merasakan tali di pergelangan tangannya mengendur, dengan hati-hati ia mulai berusaha melepaskan tangannya dari ikatan. Sementara sosok kerasukan itu menangis tersedu dalam kegelapan lalu berteriak. “Aku benci kamu, Yara.”Yara tak mengindahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia berusaha terus untuk melepaskan diri dari ikatan. Lambat laun usahanya berhasil, dengan sekuat tenaga ia berdiri, melepas lakban di mulutnya, lalu melangkah tertatih menuju pintu. “Hei, mau kemana kamu? Usaha yang mengagumkan.” Sosok itu berlari cepat lalu menghalangi pintu. Yara kini dapat melihat jelas wajah orang yang berada di hadapannya, masker yang tadi dikenakannya talinya terlihat putus. “Ley…da?” “Ya, ini aku. Terkejut? Ah pasti tidak, ya kan? Kamu pasti pernah melihatku di apotik langganan Mama kamu kan? Cleaning service online? Pengantar Pizza? Atau mungkin kasir di bengkel?” Leyda menyeringai lalu menjambak rambut Yara dan menyeretnya kembali ke tengah ruangan. Yara mulai mengingat-ingat semuanya diantara usahanya mengumpulkan tenaga yang tersisa. Ya, wajah itu, pantas saja ia merasa pernah melihatnya.Diantara rasa sakit yang menderanya, munculah wajah-wajah orang yang dikasihinya. Mama, Ren, dan Jared, mereka tersenyum padanya. Yara merasakan ada kekuatan yang mendorongnya untuk melawan. Lalu dengan tenaga yang sebagian telah tergerus oleh rasa sakit, ia mendorong Leyda sekuat tenaga, lalu berlari keluar ruangan. Namun tak lama Leyda sudah ada di belakangnya, mendadak Yara merasakan sakit yang menyengat di punggungnya, Yara tahu bahwa ada sesuatu yang menghujam punggungnya. Tapi Yara terus berlari tak memperdulikan rasa sakitnya. Yara mulai melemparkan semua barang yang ia temui ke arah Leyda yang mengejar di belakangnya. Sebuah vas bunga rupanya berhasil mengenai Leyda dan membuatnya tertahan.Yara melihat sinar terang menyeruak tak jauh darinya. Ia terus berlari ke arah sinar itu datang, rasa sakit yang terus menyerang tubuhnya tak dihiraukannya. Darah segar menetes, meninggalkan banyak bercak-bercak merah di lantai. “Yara!” Sebentuk wajah yang ia kenal menyembul dihadapannya disambut dengan robohnya tubuh Yara ke lantai. “Ley…da.” Yara mencengkram lengan Jev. Belum sempat Jev mengangkat tubuh Yara, Leyda datang lalu berusaha menyerang Yara yang tergeletak di lantai. Jev terkejut, ia pun berteriak. “Adi, dia yang tadi mendatangi kamu?” Konsentrasi Leyda pecah ketika melihat Adi muncul tiba-tiba. “Iya, Pak. Perempuan ini yang menitipkan surat itu untuk Mbak Yara.”Merasa kondisinya tak menguntungkan, Leyda pun memutuskan untuk melarikan diri. Namun sebelum itu terjadi, Adi dapat meringkusnya terlebih dahulu. Leyda menjerit histeris sambil berusaha melepaskan diri dari telikungan Adi. “Rami, Kamu tega memperlakukan wanita yang mencintaimu seperti ini hah?” “Kamu sakit Ley! Aku menyesal telah memberimu pekerjaan di sini.” Jev membawa tubuh Yara dalam pelukannya dan berjalan cepat ke arah pintu. “Yara yang membuatku begini, dia yang mengawalinya. Dia yang terlebih dahulu menyakitiku. Dan sekarang dia iri karena aku dekat dengan kamu.” Leyda berteriak. “Asal kamu tahu, semua ruangan di kantor ini dipasangi CCTV.” Jev ganti berteriak.“Kenapa kamu kembali ke kantor?” Yara bertanya lirih diantara suara jantung Jev yang berdegub kencang. “Ponselku dan kado ulang tahun untuk seseorang tertinggal di kantor. Aku baru menyadarinya ketika akan berangkat tidur. Selanjutnya aku bertemu Adi, ia heran akan kedatanganku lalu ia pun menceritakan semuanya.” Jev mendudukkan tubuh Yara di kursi depan, menyumbat luka di punggung Yara dengan jaketnya lalu mengatur posisi kursinya senyaman mungkin.Sebelum memutar kunci kontak, Jev melihat jam tangannya lalu menyentuh pipi Yara lembut. “Duabelas tepat, selamat ulang tahun, Ya.” Yara berkata lemah. “Kamu ingat hari ulang …” Matanya mulai terasa berat untuk tetap terbuka. “Aku selalu mengingatnya, dari tahun ke tahun, walaupun kamu berada entah dimana.” Yara tersenyum, nafasnya tersengal. “Tetaplah terjaga Ya!. Tetaplah bersamaku, karena hanya kamu yang dapat membuat hidupku berarti… aku mencintaimu.”

Andai Dia Tahu
Fantasy
25 Nov 2025

Andai Dia Tahu

Angin berhembus, burung berkicau, daun melambai-lambai, matahari bersinar menyapa.Shut up! Aku sudah telat. Kali ini aku menyayangkan kata-kata puitis datang di saat yang tidak tepat. Angin memang berhembus, atau lebih tepatnya berhembus dengan keras dari truk yang barusan menyalipku. Burung juga berkicau, tapi dengan segera mereka diusir pemilik rumah yang disantroni burung-burung itu, takut mereka buang hajat sepertinya. Daun melambai-lambai, persis seperti satpam sekolah yang melambai-lambai padaku, menyuruh cepat menyeberang. Oh iya aku sedang menyebrang.“Tiiinn!!!!” “Telolet telolet telolet telolet toleoltoelotloeleotleoet” “Woi jalan pake mata!” “Jalan pake kaki dong bos” aku membalas sambil cengengesan.Ternyata upacara belum dimulai. Layaknya di video klip jadul, aku melintasi lapangan sekolah sementara para cleaning service mengepel lapangan di samping-sampingku.Kisah-kasih di sekolah Dengan pak cs Masa-masa paling indah Kisah-kasih di sekolahCuih, dengan segera kumatikan lagu yang mengalun di benakku, untung aku tidak menyanyikannya, bisa habis aku diledek teman-temanku yang katanya kids jaman now. Ah dasar generasi millennial.Beberapa murid sudah keluar dari kelasnya untuk melaksanakan upacara rutin, termasuk sebagian kecil dari murid kelasku, selebihnya? Tentu masih ribut di kelas. Seorang temanku menghampiriku, menyerahkan sabuk dan dasi, aku memang cuma modal baju dan otak aja dari rumah.“Anjir dasi cowok nih, lo kira gue transgen?” aku melambai-lambai dasi di depan wajah sobatku yang lempeng-lempeng aja. “Mana juga topinya?” “Pake aja seadanya, lo kira gampang nyari pinjeman atribut, topinya kan lo kemaren yang bawa” dia malah menolak peduli dan meninggalkanku.Aku memaksa otak bersarang laba-labaku untuk berpikir, hmm, topi, topi, topi, oh iya abis ta buat ngelap muka terus ditaruh ember, nah pasti sekarang lagi dicuci nih sama emak.“Woi ada bawa dasi dua kagaa?” kali ini adam lainnya berteriak untuk seisi kelas, aku berpikir dari hitungan satu sampai ketiga, cukup sebentar untuk memutuskan.Aku melempar dasi padanya, berikut sabuk yang mengenai kepalanya. “Noh ambil aja deh, gue gak butuh”Sudah kuputuskan untuk bolos upacara lagi, entah yang keberapa kali. Kuambil headset dan hape nyaris jadul dari tas lalu beranjak ke kamar mandi. Kenapa kamar mandi? Karena cuma tempat itu yang nggak diperiksa pak BP resek, sebenarnya toilet ini juga punya banyak kisah mistis, mungkin itu juga yang membuatnya tidak terjamah pak BP, dasar cemen.Agak sulit untuk menerjang arus murid yang berlomba-lomba untuk ke lapangan, padahal ayolah, apasih enaknya upacara, pengecualian untuk upacara hari pahlawan yang ada part “menyanyikan lagu nasional”. Aku akan dengan lantangnya (tentunya juga ga pake malu-malu) ikut bernyanyi Bangun Pemudi-pemuda, atau dari Sabang sampai Merauke, Maju Tak Gentar juga hayo kujabanin, semuanya untukmu Indonesia. Masalah suara? Jangan ditanya, gini-gini aku juga pernah ikut audisi paduan suara, dan tentunya ditolak.Sempat aku mampir ke kantin, mengambil 2 buah gorengan, lumayan buat perbekalan selama di toilet. Eh jangan pikir aku akan buang hajat sambil makan ya, euuh banget. Tentunya nanti di toilet aku hanya duduk-duduk di lorong antar bilik. Mungkin kalau keadaan memaksa (contoh, tiba-tiba Pak BP -dengan tampang sok-sok berani padahal astaga pingin ngacir aja- masuk ke toilet).Dari narasi sebelumnya kalian pasti sudah bisa menilai bagaimana perwujudanku. Tampang tengil, baju keluar-keluar, rambut dikuncir acak-acakan, bawa panah kayak Katnis Everdeen, oh yang terakhir itu tentu enggak walaupun aku berharapnya iya. “Iya kamu memang memukau kalau bawa panah”Seperti gasing aku memutar tubuhku, menghadap makhluk yang ya ampun ganteng banget. Tapi, beberapa detik kemudian aku berfikir. “Woooiii ini toilet cewek sialaaan!”Aku segera mengangkat ember dari toilet terdekat dan menyiramkannya. Byurr, mantap jiwaaBelum puas, aku segera masuk ke bilik berikutnya, tapi tanganku dicekal. Seketika merambat perasaan aneh, nggak, bukan perasaan seperti kupu-kupu terbang di perutmu, tapi ini perasaan takut yang berdesir aneh, aku baru sadar kami hanya berdua saja di sini, kalua dia berniat macam-macam habislah aku. Baru kali ini aku merasa menyesal telah bolos upacara.Kenyataan kedua yang kusadari adalah, selama 5 detik aku lupa menutup mulut, kontan dia tertawa dengan keras. Ternyata telmi juga dia, masa baru sadar sih.“Sori gue udah nyiram” lah kok jadi aku yang minta maaf. “Gue aja yang pergi kalo lo mau pake ini toilet” dengan cepat aku mengambil gerakan seribu langkah. “Brraakk” pintu tertutup keras, aku semakin merinding. “Sumpah gue nggak nyentuh” gobloknya aku malah mengangkat angkat tangan untuk membuktikan. “Memang aku yang menutupnya” santai dia mengatakan ini, seketika aku menyadari semua hal yang nggak beres, mulai dari kedatangannya, kemampuannya membaca pikiranku, juga oh, lihatlah, kenapa dia make celana abu-abu pendek?Kami berpandang-pandangan, rasanya kalau ada laler lewat pasti suaranya memekakkan telinga banget.Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang ku rasa Mungkinkah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku dambaTuhan yakinkan dia Tuk jatuh cinta Hanya untukkuAndai dia tahu?Sayup-sayup aku mendengar dirinya menyayikan lagu yang sering disetel oomku, sedangkan aku masih mengawasinya dengan mata nyalang. Satu saja gerakan mencurigakan, aku akan memastikannya menyesal pernah bertemu deganku, tapi jujur aku sangat gugup.Untuk menutupi kegugupanku yang setengah mati, aku mengatakan, “Angkatan tahun berapa bang?” ledekku dengan mengerling pada celana seragamnya. “Masih saja ya bisa bercanda?” dia nggak tau, aku harus bekerja keras untuk menenangkan detakan jantungku, juga otakku yang terus-terusan membuat spekulasi yang tak wajar. “Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa memakai rok panjang padahal tidak berkerudung?”Satu lagi keanehannya, kalimatnya terlalu baku, ayolah kita kan nggak lagi suting film Dilan 1990. Kira-kira apa aku perlu juga untuk memanggilnya Dilan? Lalu dia dengan romantisnya mengatakan “Sekarang aku belum mencintaimu, tidak tahu lagi kalau nanti sore” lalu tiba-tiba dia menghadiahi aku TTS yang sudah diisi, aduh kok kalau aku yang ngomong jadi nggak banget ya.“Namanya juga k-13”Dia tertawa keras-keras, aku nyaris lompat saking kagetnya.“Ada turis lintas jaman lagi rupanya” Turis? Lintas jaman?“Kenalkan, aku Haryanto” dia mengulurkan tangannya padaku, sejujurnya darahku kembali berdesir ketika mendengar namanya yang ya ampun jadul banget, tapi aku memaksakan diri untuk membalas jabat tangannya.“Kinan” kalian boleh tertawa, nama feminim ini emang nggak matching banget sama penampilanku yang nggak kalah dengan preman sekolah.“Welcome to ninty” “Hah? Apaan?” “Dasar oon, maksudku selamat datang di tahun 90-an”“Ooh” aku mengangguk-angguk sambil melihat sekeliling, ternyata begini ya suasana tahun 90-an, toiletnya sih nggak jauh beda, malah lebih creepy waktu jamanku, mungkin karena ini baru dibangun kali ya?1 detik2 detik3 detik“Whaatt thee hellll”

Hantu Penunggu Kos
Fantasy
25 Nov 2025

Hantu Penunggu Kos

Sebenarnya aku tidak mau menceritakan kisah ini, tapi mungkin kalian jadi kepo ya udah aku akan menceritakannya.Pagi itu adalah pagi yang cerah, aku bangun pukul 5 pagi lalu segera mandi dan turun untuk sarapan. Saat sarapan, ayah dan ibuku mengobrol tentang kos kosan yang angker yang terletak di depan gang rumahku. “Bu bu katanya kos kosan yang di depan gang angker” kata ayah “Angker maksudnya?” tanya ibu “Kemarin ayah kan abis pulang kantor lalu ayah mendengar suara tangisan perempuan dari kos kosan itu, lalu saat ayah mencari asal suaranya ternyata tidak ada siapa siapa, karena takut ayah langsung pergi deh” Jelas ayah “Duh jadi serem kalau lewat situ malam malam” kata ibu “Yah memangnya ayah yakin kalau itu benar hantu?” Tanyaku “yakinlah” “Udah udah mendingan kamu pergi sekarang nanti telat lagi” “Ya deh” katakuSaat sampai di sekolah aku menceritakan hal tersebut ke tiga sahabatku yakni Nisa, Lia, sinta. “Eh kalian tau kan kos kosan yang ada di depan rumahku itu?” tanyaku “Ya tau kenapa memangnya?” tanya lia “Kata orang orang kos kosan itu angker tau, gimana kalau kita nanti malam menyelidikinya?” “Ok aku setuju” kata nisa “Ya kami setuju, yah aku juga ikut penasaran” kata lia “Ok gimana kita ke sana jam 7 malam” usulku “Boleh nanti kita janjian di depan gang rumahmu ya bawa senter dan alat alat lainnya” kata sintaMalam harinya kita berempat pun berada di depan kos kosan itu. Lalu tidak lama kemudian kita mendengar suara wanita menangis dan saat kita menoleh ke belakang, betapa terkejutnya kami karena tepat di depan kami ada wanita dengan luka di wajahnya dan luka di tangannya.Lalu wanita itu berkata “Kalian harus membantuku, kalau tidak nyawa kalian akan menghilang di tanganku” katanya “Apa yang harus kami bantu coba kau ceritakan dari awal” kataku “Sekitar 20 tahun yang lalu aku dibunuh temanku saat aku tidur, tanganku ditusuk pakai pisau, wajahku juga, lalu mayatku dia kuburkan di tanah tepat di samping tempat ini, tolong kuburkan aku dengan layak” “Bbbb…aaaa..iiikk…llaaa…hhhh. kami akan membantumu tapi berjanjilah setelah kami mengubirkanmu kau harus pergi dan jangan ganggu masyarakat lagi” ucapku “Baiklah” kata diaKeesokan harinya aku dan 3 sahabatku langsung memberi tahu hal ini ke pak RT dan warga sekitar, lalu kita menguburkannya dengan layak. Semenjak itu kos kosan itu sudah tidak angker lagi.

Tangisan Sang Gadis
Fantasy
25 Nov 2025

Tangisan Sang Gadis

Aku mendengar suara isak tangis. Seketika itu juga seakan tubuhku ditimpa sesuatu yang besar hingga napasku sesak, jantungku berdesir tak karuan, seakan aku mau menghilang saja. Suara itu tak henti-hentinya menemaniku, mataku menjadi enggan tuk mengatup. Aku mengeratkan genggamanku pada selimut yang kugunakan untuk melindungi diri bak kura-kura dalam tempurungnya.Lagi, suara itu semakin menjadi, kontan tubuhku tergerak sendiri untuk bangkit dan berteriak sekencangnya. Sepersekian detik terdengar suara gagang pintu yang digerakkan sebelum ambang pintu itu terbuka secara paksa. Kedua orang menyembul dari baliknya. “Sayang, Marini. Ada apa?” tanya seorang perempuan paruh baya, sementara di belakang perempuan itu berdiri seorang laki-laki dengan kacamata membingkai indra penglihatnya. Ia beberapa kali menengok ke kanan dan ke kiri: seakan mencari maling yang menelusup masuk ke dalam rumah. Kemudian, kembali ia memandangku. Aku tersentak, kelimpungan, otakku berputar cepat tak tahu apa yang akan aku jelaskan kepada mereka. Hingga aku kontan menjawab, “Marini hanya mimpi buruk Ma, Pa.” Sambil menyengir untuk memberi kesan bahwa aku memang benar-benar terbangun dari mimpi buruk. Untungnya mama dan papa tak mencurigaiku. Aku menyengir kembali dan menyembunyikan tubuhku ke dalam selimut seraya memberi isyarat pada kedua orangtuaku bahwa mereka tak perlu khawatir dan segera meninggalkanku.Kedua orangtuaku mungkin kebingungan dengan tingkahku. Beberapa menit kemudian, terdengar pintu ditutup. Kamarku kembali hening. Aku yang terkungkung dalam selimut mengerjapkan mata, mencoba melihat dari sela-sela selimut, akan tetapi nihil karena seratnya yang terlalu tebal.Bebarapa lama hening, aku mencoba menutup mataku. Hatiku selalu berbicara untuk tetap tenang, ketika hatiku sudah ingin berjalan melintasi batas kenyamanan, aku membelalakkan mata. Suara itu terdengar kembali, bulu kudukku makin menjadi dibuatnya.Pagi hari, mataku seakan berat. Aku seperti menaruh beberapa batu di kantung mataku, tubuhku pun terasa lemas sekali, mungkin ada beberapa kilogram beras yang masing-masing diletakkan di pundakku. Aku berangkat sekolah meski enggan, rasanya ingin tidur, tetapi bukan di rumahku. Aku ingin tidur di tempat lain. Selang setelah aku berada di sekolah dan jam istirahat tiba, aku bersama temanku pergi ke kantin untuk sekadar membeli roti dan gorengan, serta air mineral kemasan. Rin yang sedari awal penasaran dengaku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Mar, lo kenapa? Pucet amat kayak mayat hidup,” sindirnya padaku. “Gue lagi bad mood, gue nggak bisa tidur tadi malam,” ungkapku dengan intonasi yang datar. “Hah, tumbenan, biasanya lo nggak kayak gini, lo abis ditolak Reno, ya,” tanya Cindy spontan. “What? Idih, enggak, ya. Lo pada tahu sendiri gue sama Reno tuh kayak apa. Nasib buruk gue tadi malam.”Ketiga temanku mencondongkan badannya—mendekatiku—membuatku risi, ketika aku mengerti maksud mereka aku langsung menjelaskannya. “Gue denger suara aneh tadi malam.” Mendengar itu teman-temanku kontan memperlihatkan ekspresi yang beragam. Ada yang seperti tak acuh, ada yang melongo dan ada yang penasaran dengan kelanjutan ceritaku. “Ya, lo semua harus percaya sama gue, gue beneran denger, ya, walaupun gue nggak bisa ngeliat yang semacam itu, tapi sepanjang malam tuh gue denger, suaranya nggak hilang-hilang.” “Terus, gimana lo bisa tidur?” tanya Cindy sambil bertopang dagu. “Gue bener-bener nggak bisa tidur sepanjang malem itu. Gila nggak,” ulangku pada teman-temanku. “Wah, wah, rumah lo kayaknya kurang didoain tuh, kurang syukuran.” Mendengar perkataan Rin yang tadi melongo kala pertama aku membuka cerita ini membuatku tertegun—ia mencoba menasihatiku, tetapi aku malah menafsirkan itu sebagai sindiran. “Tiap hari juga gue baca doa sebelum tidur,” ucapku, walau sebenarnya tak tiap hari aku melakukannya. Aku lebih sering ketiduran tanpa sadar. “Iye, semoga aja nggak lagi.” Semuanya mengamini.Lagi, malam yang sama di jam yang sama tatkala aku ingin terlelap barang sejenak, aku sudah telalu lelah, mataku terasa berat dan tubuhku terasa ingin rontok saja. Namun, suara yang seperti rintihan anak kecil itu malah seakan menjadi lagu nina boboku. Aku menangis, aku tak kuat.Pada malam ketiga aku mencoba untuk tidur lebih awal—di bawah pukul sepuluh malam, aku yang sempat tertidur hampir di sepanjang mata pelajaran di sekolah telah habis-habisan dibuat malu; Ada guru yang biasa saja dan hanya memintaku untuk membasuh mukaku dengan air; Ada guru yang amat galak dan malah menyuruhku untuk keluar kelas; Ada lagi guru yang membuatku illfeel—salah satu guru termuda di sekolahku. Beliau mengatakan sindiran kepadaku, “Abis begadang nonton bola, ya?” Sial, sejak kapan aku suka bola? Tapi kalau Messi sih, kenal.Aku mencoba memejamkan mataku kembali untuk yang kesekian kalinya, aku mencoba karena takut. Ketika mataku terpejam dan senyap menemaniku, beberapa menit tak ada suara apa pun kecuali embusan napasku. Hatiku memulai menetralisir dan damai.Ketika gambaranku telah berganti, yang kusadari aku tengah di garis start. Tiba-tiba suara itu menyeretku keluar dunia yang akan kuarungi. Aku tersentak, ini benar-benar gila, aku dibuat gila dengan sosok yang entah tahu apa? Perasaanku semakin menjadi ketika aku merasakan hal aneh yang bergesekkan dengan tubuhku, aku ingin melontarkan doa-doa, akan tetapi seakan dibekap: aku tidak bisa mengatakan apa-apa.Anehnya, tanpa sadar seperti ada yang mengembuskan angin ke lubang telingku, aku jatuh terlelap. Di kesunyian alam lain yang biasa disebut sebagai bunga tidur ini aku hanya berjalan sendiri. Kabut tiba-tiba muncul entah dari mana, merubah sekitarku menjadi seperti diriku berada di suatu ruangan yang lembab, kotor, dan berbau anyir. Entah ini tempat apa, akan tetapi aku pastikan ini adalah tempat terburuk yang pernah aku kunjungi walau hanya di dalam mimpi.Tempat ini remang, di sekitarku seperti tong-tong kosong berukuran setinggi manusia yang terbaring di sembarang tempat dengan posisi yang tak karuan. Ada potongan-potongan kain yang telah tertutupi debu yang menghitam dan sesuatu yang lengket seperti oli? Bensin?Tiba-tiba terdengar sebuah suara—meski samar—tetapi masih terdengar di telingaku, aku mencoba mendekat dengan langkah ragu, memijaki setiap lantai yang hampir keseluruhannya menghitam. Terdapat genangan di beberapa tempat, aku kembali menebas jarak, terdengar bunyi retakan dari bawah alas kakiku. Ternyata, setelah aku mengangkat kakiku, aku menyadari ada pecahan kaca yang tak sengaja terinjak olehku.Aku menjadi semakin takut dengan adanya diriku di tempat ini, aku menyilangkan kedua tanganku ke lengan, mengusapnya, menampik hawa dingin yang membuat kejut bulu kuduk, menepiskan rasa gemetar yang menjalar.Setelah beberapa langkah aku tebas, aku menemukan seorang gadis yang terikat di sebuah kursi kecil (mirip kursi sekolahku) dengan sebuah bola pejal yang terpasang di kaki sebelah kirinya. Aku melihat ke bagian wajahnya dan amat terkejutnya diriku, ketika melihat dua lubang itu, kontan ku membekap mulutku dengan tangan, melangkah ke belakang beberapa senti. Siapa dia? Apa yang terjadi dengannya?Isak tangisnya semakin kencang, ketika ia menyadari seseorang mendekatinya, awalnya aku berpikir itu aku. Namun, aku kontan melihat orang dengan tubuh bak binaraga masuk ke ruangan ini. Pria itu membawa sebuah belati, ia mengacungkan belati itu ke udara sebelum akhirnya mendarat ke anak itu. Aku tergugu melihat serangkaian gambaran yang terjadi kala itu. Kemudian, sebuah suara seperti benda bertubrukan dengan lantai. Aku kontan mengerling, memandang benda yang jatuh itu mengabaikan suara desir air seperti semburan yang mengenai wajah, dan baju pria bertubuh kekar itu. jantungku seakan mencelos, sedang air mataku tak kuasa lagi kutampung. Aku menjerit sejadinya. “TIDAK!”Beberapa minggu setelahnya … Setelah kejadian malam itu, aku tidak lagi mendengar tangisannya. Namun, aku tetap mencari di mana tempat itu berada. Saat aku menceritakan kepada teman-temanku, respons yang paling sering kudapati adalah: itu cuman mimpi, aku hanya berhalusianasi, aku pendongeng hebat, dan lainnya.Untungnya, ada Reno yang bersedia membantuku. Hampir satu minggu aku dan Reno mencari hal yang mustahil ini, aku menemukan di hari keenam, hampir mendekati hari ketujuh. Keesokan harinya, mumpung hari libur aku mengajaknya untuk melihat tempat itu. Tanpa basa-basi, tanpa syarat dia langsung memenuhi permintaanku.Ketika sampai di tempat yang kita cari. Tempat itu ternyata adalah bekas gudang penyimpanan, entah apa, tapi sepertinya penyulingan minyak. Dari luar terlihat masih kokoh. Aku dan Reno masuk ke dalamnya. Benar saja, tempat ini persis seperti yang ada dalam mimpiku. Aku mengarahkan Reno pada tempat yang kumaksud. Sesekali Reno bertanya padaku karena penasaran, sesekali juga Reno menyapu pandangan untuk memberi rasa aman padaku. Melindungiku.Aku dan Reno sampai pada ruangan tempat anak tanpa bola mata itu terpenggal. Bangku itu ternyata sudah lapuk. “Apa selanjutnya?” tanya Reno padaku. Aku pun tak tahu harus berbuat apa, hingga aku secara tak sadar terduduk di kursi itu. Kemudian sesuatu keanehan terjadi, gambaran mimpiku kembali berputar seperti rekaman yang aku terjebak di dalamnya. Lebih cepat. Aku menjerit, meronta sebelum akhirnya sebuah tangan menggamit lenganku. Seorang gadis dengan gaun putih, rambutnya yang hitam bak jelaga, sedikit bergelombang, panjang tergerai. Ia tersenyum kepadaku. Ia memberiku sebuah kalung miliknya. Ia membisikiku. Kemudian, secara perlahan ia menjadi asap yang mengudara sebelum akhirnya hilang.Lagi, getaran yang sama kala aku masuk terulang kembali hingga akhirnya sebuah tangan yang mencengkeram kedua pundakku, menyadarkanku. “Marini.” “Reno.” Kontan aku melingkarkan lenganku ke punggung Reno. Bibirku gemetar, Reno tak mengelak, ia tahu kondisiku dan mengelus bahuku, menepuknya lembut untuk menenangkanku.Setelah kejadian itu aku dan Reno menghabiskan waktu beberapa bulan untuk mencari alamat orangtua si anak itu. Sesampainya di kediaman orangtua gadis itu, aku mengembalikan kalung dengan liontin itu dan menceritakan pesan dari si gadis.Tubuh wanita paruh baya yang berdiri di depanku itu luruh, ia berlulut sambil menggenggam kalung dan melekatkannya di dadanya, wajahnya mengerut, sejadinya ia terisak dan menangis. Reno mendekat padaku dan menepuk, mengelus lenganku.

Buku Misterius
Fantasy
25 Nov 2025

Buku Misterius

Hari ini aku pergi ke perpustakaan sekolah. Suasana yang sepi dan tenang membuat aku nyaman. Saat memilih buku, aku menemukan sebuah buku bersampul merah. Karena tertarik aku mengambilnya dan menunjukkan kepada petugas perpustakaan lalu pulang.Setelah sampai di kamar, aku langsung mandi, sholat dan makan. Lalu kuambil buku merah tersebut dan membuka lembar demi lembar. Saat melihat ke sudut buku bagian kiri bawah, mataku menangkap sebuah tulisan. “Siapa pun yang menemukan buku ini, hidupmu tidak akan tenang!!”Apa ini? Tulisannya bersifat peringatan dan ancaman! Aku bergidik ngeri. Dengan segera kulempar keluar lewat jendela dan tidur.Esoknya di sekolah…“KYAAA…” “Kamu kenapa Fan?” Tanya Dilla, teman sebangkuku. Dengan sedikit takut aku menceritakan semuanya mulai dari awal sampai akhir.“Jadi kamu udah membuangnya tapi bukunya balik lagi ke kamu?” Tanyanya setelah aku bercerita. Aku hanya mengangguk sembari memperhatikan buku merah itu yang kini kujuluki sebagai ‘Buku Misterius’. Karena kutemukan tanpa sengaja dan kembali padaku tanpaku tanpa tau bagaimana caranya.

A Letter From The Future
Fantasy
25 Nov 2025

A Letter From The Future

Suatu hari aku sangat terkejut dengan keberadaan amplop misterius di meja kamarku. Sebuah amplop putih bersih dengan prangko aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Surat itu selalu datang di posisi yang sama dengan penampilan yang sama namun aku tidak pernah berhasil memprediksi kapan surat itu datang, darimana asalnya dan siapa penulisnya.Menjelang hari ulang tahunku yang ke lima belas aku menemukan surat itu persis di atas meja. Ini adalah surat kelima yang aku terima sejak surat misterius itu muncul. Isi suratnya hanya potongan-potongan kalimat yang tidak aku mengerti. Misalnya sekarang kalimat yang tertulis di surat hanya terdiri dari empat kata.LARI SEBELUM TERLAMBAT, PERGI!Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Sama halnya dengan empat surat yang sebelumnya aku terima.IBU adalah cahayaku. Tapi mereka semua TELAH berbohong. Orang asing MENCELAKAI keluargaku AYAH baik-baik saja. Dia selalu bekerja DENGAN keras. BATU itu keras sekali tapi tidak sekeras berlian.Aku menyimpan surat-surat itu di laci. Tidak tahu apa maksudnya. Hanya sekumpulan kalimat-kalimat tidak berarti, tapi aku enggan membuangnya begitu saja.Beberapa kali aku mencoba menyingkirkan surat-surat itu selalu terpikirkan jika mungkin saja surat itu ditulis dengan tujuan tertentu. Semacam kode atau entahlah. Segera aku menyusun surat-surat itu diatas kasur sesuai dengan tanggal aku menerimanya.IBU adalah cahayaku. Tapi mereka semua TELAH berbohong. Orang asing MENCELAKAI keluargaku AYAH baik-baik saja. Dia selalu bekerja DENGAN keras. BATU itu keras sekali tapi tidak sekeras berlian. LARI SEBELUM TERLAMBAT, PERGI!Aku memperhatikan surat-surat itu lagi beberapa kata ditulis dengan huruf capital sementara yang lain tidak.IBU TELAH MENCELAKAI AYAH DENGAN BATU. LARI SEBELUM TERLAMBAT, PERGI!Aku membekap mulutku tidak percaya. Apakah benar hal itu terjadi? Tidak mungkin, pasti ada kesalahan surat ini pasti berbohong.Aku segera menyimpan surat-surat itu di dalam laci kamarku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku turun membantu ibuku seperti hari biasanya. Saat malam menjelang tidur dan aku kembali masuk ke kamar sebuah surat telah muncul dimejaku seperti hari sebelumnya.AKU ADALAH KAU DARI MASA DEPAN. LARILAH SEBELUM HARI ULANG TAHUNMU TIBA!Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku dari masa depan menulis surat untukku? Mustahil bukan. Aku lantas memasukkan surat itu ke dalam laci bersama surat yang lain dan beranjak tidur tidak memedulikan surat itu lagi.“Surat dari masa depan? Yang benar saja.”

Anyelir Hitam
Fantasy
25 Nov 2025

Anyelir Hitam

Anak laki-laki itu terdiam di tempat. Kakinya membatu, dadanya menyesak begitu angin malam membawa dengan sempurna anyir darah dari jasad di depannya. Beberapa polisi mendorongnya mundur, tidak begitu keras, namun dengan mudah merubuhkan langkah yang memang telah layu itu.“Adek, jangan di sini. Mayatnya mau segera dievakuasi. Kamu menghalangi jalan.” Seorang polisi menegurnya. Namun, pikiran anak laki-laki berusia 8 tahun itu terlanjur melalangbuana. Tatapannya terus mengarah pada satu titik. Sebuah wajah penuh darah yang kini mengintip dari kantung mayat. Sebuah wajah dari jasad yang setengahnya tercerai berai akibat lindasan kereta.“Adek! Kamu dengar saya, kan?!” Emosi, polisi mengguncang bahu anak laki-laki itu kencang. “Dek!!”—“Keenan!!” Laki-laki itu terkesiap dari tidurnya. Wajahnya pias, sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Keenan menyentuh dadanya, napasnya sesak, ia seperti baru saja ditarik paksa keluar dari lembaran paling kelam dalam hidupnya.“Keenan!” Sebuah tangan lagi-lagi mengguncangnya keras. “Berhenti, Na. Gue udah bangun.” Gadis itu menarik tangannya, kemudian lantas terduduk di pinggir ranjang. “Lo mimpi buruk?” Keenan menghela napas. “Gak, gue mimpi bahagia.” “Mimpi basah pasti, ya?” Keenan memincing, “Iya, mending sekarang lo keluar, daripada gue serang.” “Weits, si bapak, baru bangun juga udah emosi aja.” Sahna beranjak, “Cepet mandi, abis itu langsung ke ruang tengah.” “Ngapain?” “Hmm…” Gadis berambut pirang itu memasang raut ragu. “..Cuma ada sesuatu yang perlu lo lihat.”—“Kasus anyelir hitam lagi?” Rumi. Gadis pendek itu membeo. Tubuhnya membungkuk, menatap deretan foto korban pembunuhan tanpa sensor yang diletakkan acak di atas sebuah meja kaca.Ruangan itu layaknya ruang tamu pada umumnya. Ada buffet, meja kaca, vas bunga, lukisan, hingga sofa beludru yang cukup berdebu. Semuanya tertata dengan apik, tampak cantik dengan nuansa vintage yang sangat kental. Sebuah tempat yang akan terasa hangat jika dipenuhi keceriaan. Namun, 5 orang dengan emosi mendung -yang kini duduk memutari meja kaca- itu malah menciptakan suasana sebaliknya.“Kali ini siapa?” tanya Rumi. “Anak pertama kepala sekolah, Pak Haryadi. Waktu kejadian sekitar jam setengah 9 malam. Lokasinya di halaman selatan sekolah. Lagi-lagi di titik buta CCTV.” Jawab Diandra, gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu kemudian mengundurkan diri. Alasannya ia harus segera mandi karena rambutnya sudah lepek. “Kondisi jasadnya?” “Sama kayak 5 korban sebelumnya.” Natta, lelaki berkacamata bulat itu menjawab pertanyaan Keenana tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. “Pelaku seperti berusaha keras menghancurkan bagian tubuh bawah korban. Alat vitalnya dipotong kemudian dibakar. Sisa-sisanya ditemukan tepat di samping tubuh korban.”Keenan mengambil satu foto dengan tangan kirinya, sementara tangan lain mengambil kaca pembesar. Foto itu adalah sebuah foto yang menunjukkan salah satu bukti tempat kejadian perkara, setangkai bunga anyelir hitam. Foto itu redup, tampaknya diambil tanpa pencahayaan yang cukup.“Dan.. di tangkai bunga itu sama sekali gak ada darah.” Natta berucap, lagi-lagi dengan mata yang tidak kunjung lepas dari layar, namun entah bagaimana ia tau apa yang Keenan lakukan. “Sedikit beda dari kasus pembunuhan sebelumnya, kali ini pelaku gak menancapkan tangkai bunga ke jantung korban. Cuma ditaruh gitu aja.”“Kenapa begitu?” Rumi bertanya. Tampaknya pertanyaan itu kelewat abstrak hingga mengundang decakan julid Natta. “Pertanyaan ‘Kenapa’, cuma bisa dijawab kalau kita udah bertemu pelakunya.” “Lo bisa menjawabnya dengan dugaan sementara, kan?” Balas Rumi.Suara ketukan seketika mengalihkan atensi mereka. Dilihatnya Sahna sudah berdiri di ambang pintu ruang makan dengan apron merah kotak-kotak melekat di tubuhnya, sementara tangannnya memegang centong sayur yang masih basah oleh kuah entah-apa-itu.“Waktu liat-liatnya udah abis. Sekarang cepet ke ruang makan. Kalian punya banyak laporan yang harus diselesaikan malam ini.” “Na, lo masak?” tanya Natta. “Iya, emang kenapa?” Seperti telepati, Rumi dan Natta saling melirik, ekspresi mereka berubah pahit. Sementara Keenan berlalu menuju dapur.“Kayaknya mending nge-gofood aja, gak, sih?” “Maksud lo?!”‘THE SERVANT’ Jarum pendek di jam dinding berbentuk burung hantu itu tepat menyentuh angka tiga begitu Keenan menyelesaikan laporan sepanjang 20 halaman itu. Ia menggeliat, selama beberapa detik mencoba melemaskan tulang-tulangnya yang terasa kaku. Matanya sekali lagi menatap satu kata yang kini terletak di bagian subjek email.The Servant. Sebuah identitas yang melindungi mereka selama 2 tahun terakhir. Mereka; Sahna Nastusha, Natta Faresta, Kaluna Diandra, Aurumitha, Owen dan dirinya, Akalanka Keenan, 6 siswa jenius yang dikumpulkan sendiri oleh Badan Intelligen untuk menjalankan sebuah misi rahasia; menyusup ke dalam sekolah paling elit di Indonesia, NIS. Tugas utama mereka adalah membongkar dan membuktikan dugaan eksploitasi anak skala besar yang terjadi di sekolah tersebut, namun entah bagaimana, selama 6 bulan terakhir, mereka malah teralihkan pada kasus pembunuhan berantai yang mengorbankan beberapa staff pendidik di sana.Brak Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, membuat fokus Keenan seketika kembali menyatu.“Na, bisa gak, sih, kalau masuk ketuk dulu?” “Hehe, désolée.” Sahna mendekat dengan 2 cangkir cokelat panas di tangannya. “Lo belum tidur?”Keenan menatap gadis yang kini berdiri disampingnya. Sahna adalah yang paling cerdas di antara mereka, tapi entah kenapa dia punya kebiasaan mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.“Apa, sih, lo ngeliatin gue begitu?” Merasa diperhatikan, Sahna menyodorkan segelas cokelat panas itu dengan gugup. Alih-alih duduk di samping Keenan, dia berakhir terduduk di pinggir ranjang di belakang laki-laki itu.“Na.” “Apa?” “Gue pernah bilang kan, kalau lo mirip kakak perempuan gue.” “Gue udah denger itu untuk yang ke-20 kalinya.” Balas Sahna.“Omong-omong, lo suka bunga Anyelir?” Tanya Keenan. “Biasa aja. Kenapa?” “Kakak gue suka banget sama bunga Anyelir.” Balas Keenan.Sahna seketika menegakkan tubuhnya. Ini adalah momen yang jarang terjadi. Keenan adalah orang tertutup yang selalu bisa menyembunyikan sejarah hidupnya dengan baik. Jangankan tentang keluarganya, bahkan untuk identitas pribadi, semacam tanggal lahir saja, sangat susah diulik. Ini adalah kali pertama bagi Sahna mendengarkan penggalan kenangan dari seorang Akalanka Keenan sendiri.“Kakak lo.. orangnya gimana?” “Dia random, bawel, gak bisa masak, kalau lagi nangis jelek banget.” “Dia mirip gue?” “Ya, lo kan begitu.” Jawab Keenan enteng, lantas membuat Sahna gemas, ingin memukul. “Tapi dia tetep kakak terbaik yang gue punya.”Sahna menurunkan tangannya, “Terus dimana dia sekarang?” “Dia udah meninggal,” Jawaban tak terduga itu lantas membuat gadis itu menahan napas. “..bunuh diri, kelindes kereta.” “Oh iya, dia punya cita-cita random banget. Dia mau nanem Anyelir hitam. Lo tau, Anyelir hitam itu genetically gak pernah ada.” Lanjut Keenan, seakan apa yang diucapkan sebelumnya bukan apa-apa.Sahna, yang masih terkejut, menelan ludah. “Apa alasan kakak lo..” “Dia diperk*sa berulang kali di tempat kerjanya.. sampai hamil.” “Tempat kerjanya.. dimana?” “Dia seorang pengajar honorer” Keenan terdiam, lantas menatap Sahna. Sesuai dugaannya, wajah gadis itu sudah memucat. “Di Naresh International School.” “Ini daftar pelakunya.”Laki-laki itu menarik laci meja kerjanya. Mengeluarkan sesuatu yang membuat Sahna lantas kehilangan napas. Sebuah lembar berisi 7 potret, 6 diantaranya dicoret dengan spidol merah. Mereka adalah korban pembunuhan berantai Anyelir hitam.Bruk Sahna menarik kerah Keenan keras hingga buku-buku yang berada di pangkuan laki-laki itu terjatuh semua.“Keenan, jelaskan semuanya ke gue.” Keenan menarik satu ujung bibirnya. “Gak perlu. Lo sudah bisa menarik benang merahnya dengan cukup baik, Sahna Nastusha.” “Lo.. pelaku pembunuhan itu?” Praduga itu menamparnya keras. Suara gadis itu gemetar, wajahnya memerah, entah karena marah, kecewa atau mungkin keduanya. Keenan tidak menjawab langsung, menatap ekspresi gadis di depannya lebih lama.“Jawab gue!” Sahna membentak keras. Keributan yang dibuat keduanya lantas membangunkan Natta, Rumi dan Diandra yang memang tertidur di ruang tamu.“Apa, sih?” “Sahna, ada apa?” “Ini..” Natta mengambil lembaran berisi 7 potret di atas meja Keenan. “Ini foto korban Anyelir hitam dan.. Pak Kevin?”“Keenan, jawab!!” Bentakan Sahna lantas membuat ketiganya kembali terkesiap. Mata gadis itu mulai berair, Keenan meraih sebelah pipi gadis itu, mengelusnya lembut, kemudian tersenyum tipis, seakan reaksi gadis itu sudah diprediksinya.“Bukan. Gue bukan pelakunya. Walau gue punya motivasi kuat untuk itu.” Melepas cengkraman Sahna, Keenan lantas berbalik menghadap ketiga temannya yang masih bingung.“Gue udah tau siapa pelaku Anyelir hitam. Hubungi pusat dan kepolisian setempat, besok jam 7 malam, kita tangkap basah dia.”Pukul 8.00. Halaman depan sekolah paling elit seantero negeri itu kini dipenuhi manusia penuh rasa ingin tahu. Penjagaan yang biasanya terlalu ketat untuk dilalui itupun kini tampak kewalahan, terutama saat menghadapi segerombolan jurnalis gigih yang mengincar potret kejadian hot topic yang sedang terjadi di balik gerbang.“Ini jurnalis kenapa ngumpul di sini semua, dah.” Owen, salah satu anggota The Servant, menonton kejadian itu dari jauh. “Kan bisa aja, mereka pergi lewat gerbang belakang.” “Hah! Gerbang belakang kita langsung ke hutan, bege. Siapa juga yang mau nunggu di sana.” Natta menyahut. “Ini kita beneran nonton doang, nih?” Tanya Rumi. “Ya, beneran. Emang kita bisa apa? Kita, kan, cuma murid teladan yang bisanya cuma belajar.” Ucap Owen nyinyir, lantas membuat ketiga temannya mendelik. Diandra menghela napas. “Gak nyangka, ternyata Pak Leo. Padahal dia kelihatan baik banget, lho. Ngajarnya enak, ganteng lagi.. Sayang kriminal.” Natta menggeleng-gelengkan kepala. Kelakuan temannya memang tidak ada yang benar.—“Kamu yang menemukan saya? Kamu pikir apa alasan saya melakukan ini semua?!” Lelaki blasteran itu berteriak histeris saat sebuah borgol mengunci tangannya. “Akalanka Keenan! Saya melakukan ini semua untuk kakak kamu! Asal kamu tau itu!” “Kiran gak pernah mengenal anda. Anda gak pantas berkata seperti itu.” Keenan menatap pelaku pembunuhan berantai itu dengan dingin. Sekelebat memori menyadarkannya, tentang bagaimana versi lama dari sosok keji itu mengikuti diam-diam dirinya dan Kiran, kakak sulungnya, di masa lalu.“Kamu tau apa yang terjadi pada Kiran selama mengajar di sekolah setan ini?! Kamu akan melakukan hal yang sama kalau kamu tau! Mereka memang pantas mendapatkan akhir seperti itu!!”Ekspresi Keenan sontak mengeras. Dia melangkah mendekati Leo, Sahna berusaha menahannya namun laki-laki itu mengabaikannya.Satu tangan Keenan mencengkram bahu Leo dengan kuat. Mulutnya mendekat ke arah telinga laki-laki itu. “Saya tahu semuanya. Semua yang mereka lakukan pada kakak saya.” Bisik Keenan. “Tapi saya gak akan melakukan apa yang anda lakukan.” “Hah! Bisa-bisanya kamu percaya diri seperti itu! Saya tau kamu psikopat, Keenan!” “Wow..” Keenan berdecak kagum. “Anda juga mengorek informasi pribadi saya sejauh itu?”Dengan isyarat, Keenan memerintahkan para petugas membawa Leo secepatnya. Setelahnya, Keenan kembali mendekati Sahna, namun baru beberapa langkah, kakinya langsung rubuh.“Keenan!”Rasanya seperti energinya tersedot habis. Bayangan senyuman dan ekspresi terakhir mayat Kiran tumpang tindih dalam ingatannya.“Keenan, saya Kevin. Kamu ingat saya?” Seorang laki-laki berjongkok di hadapan Keenan. Wajahnya terluka dan lehernya lebam, tampak bekas percobaan pembunuhan di bagian tubuhnya yang lain. “Saya minta maaf tidak bisa melindungi Kiran saat itu.” Laki-laki itu mulai menangis.Keenan melihat wajah lelaki di depannya. Ia ingat wajah itu. Seorang laki-laki baik yang membawa sejenak kebahagiaan dalam hidup kakak perempuan. Sangat baik, tapi terlalu lemah.“Apa yang bisa saya lakukan sekarang, Keenan?” “Tidak ada.” Keenan bangkit, Sahna memapah satu bahunya. “Keenan.” Kevin kembali memanggil. “Terima kasih.”Keenan hanya diam. Melanjutkan kembali langkahnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan, tapi ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu. Apapun, selama jalan yang ia tempuh masih kelabu.

RM Kurma
Fantasy
25 Nov 2025

RM Kurma

Ruwetnya suasana lalu lintas jalan tol Bekasi pada pukul 19-an tak perlu dijelaskan. Bram terjebak di dalamnya. Kesal dan berupaya sabar saling bertindihan. Lembutnya suara penyiar di radio tidak mampu menguraikan kusut emosinya. Sejauh pandangan matanya, hanya tampak punggung kendaraan berbagai jenis, mengular panjang. Jari-jarinya menderap setir, gelembung gas di dalam lambungnya mulai menekan uluhatinya. Ia menggapai handphone.“Bu, Bram masih lama. Kalau sampai jam sembilan belum sampai, ibu tidur saja dulu.” “Tidak, ibu masih tonton teve sambil tunggu kamu. Kamu sudah di jalan pulang?” “Ya, tapi ini jalanan macet sekali. Mana Bram lagi kesal, biasa urusan kantor.” “Nanti maag akutmu kumat. Sudah makan, kan?” Bram melirik ke kantong biskuitnya yang terbuka, isinya masih banyak. “Sudah.” “Jangan cuma biskuit nggak becus ya! Nanti kamu roboh lagi seperti yang lalu.” Ibunya terlalu tahu untuk dikecohkan. “Ya, bu. Sudah dulu ya. Ini lagi nyetir, nggak boleh telpon lama-lama. Bye, mom.” “Hati-hati ya, Bram.” Klik.Setengah jam berlalu ternyata mobil Bram belum juga beranjak jauh. Habis sudah kesabarannya, Bram membawa mobilnya ke luar dari jalan tol untuk mencoba peruntungan di jalan lain. Aplikasi GPS di gawainya memberikan opsi jalur melambung yang lalu memandunya melewati jalan berkelok-kelok nan sempit menembus kampung dan berakhir di jalanan berkerikil di antara alang-alang tinggi yang gelap.Bram menghentikan laju mobilnya karena ragu, hanya kendaraannya yang ada di jalan itu. Ia memeriksa aplikasi GPS dan kali ini hanya memberi tanda kehilangan sinyal. Bram menggerutu sambil mengotak-atik aplikasi itu, tetapi sia-sia. Ia berniat untuk memutar balik mobilnya namun jalan itu terlalu sempit, untuk mundurpun berbahaya karena sorot lampu mundur mobilnya ditelan oleh gelap. Ia seakan dipaksa untuk terus maju.Bram mematikan radio dan mengunyah sekeping biskuit. Setelah keping berikutnya habis, ia memutuskan untuk terus maju, mengikuti jalan kerikil itu sambil mencari tempat untuk bisa memutar balik. Beberapa menit kemudian, meskipun mobilnya sudah melaju jauh tetapi tempat berputar yang ia harapkan belum juga ada. Alang-alang yang semakin tinggi di kanan-kiri mobilnya seolah menghisab Bram menjauh dari peradaban. Bram menyalakan lampu jauh dalam upaya melawan risaunya yang bertambah dalam hitungan meter. Tanpa disadari, Bram mengijak pedal gas semakin dalam hingga mobilnya melaju terlalu kencang pada suatu kelokan yang mendadak. Mobilnya terperosok dan terjebak di luar badan jalan. Bram berteriak sumpah serapah karena frustasi. Sesudah kesalnya reda, ia mangunyah sekeping biskuit lagi sambil menimbang opsi: tetap tinggal di mobil atau ke luar mencari pertolongan? Ia memutuskan opsi ke dua.Dengan susah payah, Bram ke luar melalui jendela mobilnya, menerobos alang-alang dan sekarang ia berdiri di tengah jalan dengan hanya diterangi cahaya dari layar gawainya. Ke mana ia harus melangkah: kembali ke jalan kampung atau terus menyusuri jalan gelap ini? Ia mencoba lagi aplikasi GPS-nya dan bersorak lega karena aplikasi itu memperlihatkan ada sebuah bangunan tak jauh dari tempatnya berdiri.Plang nama “Rumah Makan Kurma” terpampang di teras sebuah rumah sederhana yang hanya diterangi oleh cahaya lampu petromak. Tampaknya karena lokasi bangunan itu jauh dari kampung, aliran listrik dari PLN tidak mencapainya. Pintu rumah itu terbuka lebar meskipun pintu pagarnya tertutup. Bram memutuskan untuk masuk.Pintu pagar besi rumah itu sudah penuh karat, berderit keras pada saat dibuka. Mungkin itu memang sebagai penanda datangnya tamu bagi pemilik rumah karena tak lama kemudian seorang wanita ke luar. Ia mengenakan daster warna putih yang panjang sampai menutupi kakinya. Rambutnya panjang dibiarkan tergerai, kulitnya putih pucat, wajahnya lancip, cantik tetapi di ruang mata kirinya kosong. Setelah mendekat, Bram bisa melihat sampai ke dalam rongga mata kirinya itu yang menghitam. Namun mata kanannya sangat indah memancarkan cahaya persahabatan yang misterius.“Selamat malam, apakah masih buka?” tanya Bram yang entah mengapa tidak terganggu atau merasa ngeri dengan penampakan sang wanita. “Masih, Tuan. Silahkan masuk” jawab wanita itu sambil tersenyum. Suaranya halus dengan sedikit warna tajam sembilu. Pada saat ia berbicara, tak terlihat giginya; rongga mulutnya terlihat kosong.Rumah makan itu lebih tepat disebut rumah tinggal karena tidak ada sebuah meja makan pun. Bram memiringkan kepalanya heran tetapi menurut saja saat diminta duduk. Ruangan itu hanya berisi sebuah sofa, dua kursi kecil pasangannya dan meja pendek. Dindingnya putih polos tak berhias, kecuali sebuah kalender dinding di samping sebuah pintu bercat hijau yang tertutup. Sebuah lampu petromak yang mendesis, menggantung dari langit-langit yang tidak terlalu tinggi. Cahayanya yang putih menerangi seluruh ruangan. Ruangan itu memiliki dua buah jendela yang tertutup tirai, daun jendelanya terbuka sehingga udara malam bisa mengalir sedikit-sedikit.“Mohon tunggu sebentar,” kata wanita itu seraya tersenyum kemudian berjalan ke pintu bercat hijau dan membukanya. Perlahan ia melangkah ke ruangan di balik pintu dan sebelum menutup pintunya ia berbalik untuk melihat tamunya lagi sembari pelan-pelan menutup pintu.Tak lama setelah itu terdengar suara gemeretak, dinding tembok dan pintu sampai bergetar. Lalu sunyi. Sedetik kemudian pelan-pelan pintu terbuka, sang wanita muncul dengan senyum manisnya sambil membawa nampan. Sepiring nasi rames dan segelas teh manis ia letakkan di hadapan tamunya. Nasi putihnya mengepulkan uap panas, lauk-pauknya tersusun rapi dan terlihat menggiurkan.“Silahkan, Tuan.” “Terlihat sangat enak!” jawab Bram dengan semangat, selera makannya tergugah. Wanita itu tersenyum senang dan duduk di salah satu kursi kecil lantas memperhatikan tamunya makan dengan lahap. Dalam tempo beberapa menit saja, nasi dan lauk-pauk, habis tuntas. Bram terlihat sangat puas.“Betul, nikmat sekali masakannya.” “Saya lega Tuan senang. Mau tambah lagi? Atau mau minum kopi?” “Tidak, sudah cukup. Terima kasih. Berapa semua ini? saya mau bayar.” Wanita itu terlihat terkejut, seolah belum terpikirkan tentang harga sajiannya. “Ah, berapa saja menurut Tuan.” Bram mengerutkan alisnya, heran. Melihat itu, si wanita akhirnya mengajukan sebuah harga. “Mungkin dua puluh ribu, Tuan?” Bram menjawab dengan merogoh dompetnya dan memberikan uang lima puluh ribu. “Terima kasih, Tuan terlalu baik!” kata wanita itu dengan senyum ekstra manis, rongga mulutnya yang gelap terlihat tipis. Ia melipat uang itu dan menyimpannya ke balik kutang. Bram hanya melongo, tak tega meminta uang kembaliannya, lalu ia menghela nafas.“Mobil saya terjebak ke luar badan jalan di kelokan sebelah sana” kata Bram sambil menunjuk ke arah lokasi mobilnya. “Apakah di sini ada yang bisa membantu saya menarik mobil?” “Di sini hanya ada saya. Kakak saya sedang pergi.” “Begitu, ya? Mungkin ada tetangga di sekitar sini?” “Tidak ada. Tetangga paling dekat di kampung sana.” Bram menggaruk-garuk kepalanya, ia kehabisan akal. Prospek bahwa ia harus kembali ke kampung dengan berjalan kaki di malam begini membuat rasa lelahnya tiba-tiba mendera.“Tuan mau saya buatkan kopi?” “Boleh. Sepertinya bakal menjadi malam yang panjang buat saya.” “Jangan khawatir, Tuan. Bila berkenan, boleh menunggu di sini selama yang Tuan perlukan.” “Wah, terima kasih! Mbak tutup jam berapa?” “Tidak perlu dipikirkan, Tuan. Permisi, saya buatkan kopi Tuan,” jawab wanita itu yang kemudian bergegas membereskan bekas makan Bram dan membawanya ke pintu bercat hijau. Seperti yang ia lakukan sebelumnya, ia melihat dulu ke Bram sebelum menutup pintunya pelan-pelan. Sementara itu, Bram berupaya menelepon ibunya. Karena sinyal jaringannya lemah, ia beranjak hendak ke luar, ke halaman rumah.“Tuan, mau ke mana?!” Sekonyong-konyong wanita itu sudah kembali dengan segelas mug kopi hitam yang aromanya bersemerbak memenuhi ruangan. “Eh!” Bram terkejut, ia tidak mengira wanita itu sudah kembali secepat itu. “Saya perlu menelepon ibu saya agar beliau tidak khawatir. Di dalam sini sinyalnya lemah, mungkin di luar lebih kuat.” “Oh, maaf. Silahkan, Tuan,” kata wanita itu dengan tersenyum.Bram memperhatikan wanita itu sejenak lalu membalas senyumnya dan melangkah ke luar. Selama Bram di luar, wanita itu memperhatikan mug kopi yang masih di tangannya seolah ada sesuatu yang menarik di situ. Ekspresi wajahnya penuh kekhawatiran.Beberapa saat kemudian, Bram kembali dan duduk di sofa. Wanita itu mengikutinya sambil meletakkan mug kopi ke meja dan kembali duduk di salah satu kursi kecil. Bram meraih mug kopi dan mehirup aromanya. “Harum sekali…” ia berguman dan kemudian menyeruputnya. “Ah, nikmatnya,” kata Bram sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sofa dan menutup mata.—“Kenapa kau ada di sini? Ini kan masih waktuku!” Wanita itu melotot, mata satu-satunya itu memancarkan kemarahan. “Aku hanya lewat saja! Khawatir sekali,” jawab wanita si daster merah. Wajahnya sangat mirip dengan si daster putih kecuali matanya lengkap. Selain perbedaan itu, penampakan mereka bagaikan hasil dari cetak biru yang sama, mereka adalah dua wanita kembar. “Aku tidak pernah mengusik waktumu. Cepat sana pergi!” “Siapa dia?” “Yang pasti dia bukan milikmu!”—Bram terbangun dan terkejut melihat cahaya matahari sudah menerobos masuk. Ia tidur begitu nyenyak sampai bajunya kusut. Setelah melihat tanda waktu di jam tangannya, ia cepat-cepat bangkit dan mendapati ruangan itu kosong. “Permisi!” Dalam sekejap si wanita muncul dari balik pintu bercat hijau, tersenyum membawa nampan saji. Seolah-olah ia sudah bersiap di balik pintu sejak tadi. “Selamat pagi, Tuan. Ini sarapannya, nasi uduk.” “Aduh, saya tampaknya sudah tidur begitu lama. Mohon maaf telah merepotkan!” “Jangan dipikirkan, Tuan. Tidak repot sama sekali.” “Terima kasih telah disiapkan sarapan, tetapi saya sudah harus segera pergi.” Tampak jelas wanita itu kecewa. “Kapan-kapan saya ke sini lagi,” sambung Bram cepat-cepat. “Kami hanya buka pada hari senin, rabu dan jum’at malam. Jangan ke sini selain waktu itu!” kata wanita itu yang tiba-tiba menjadi ketus. “Oh, di luar waktu itu tutup?” Wanita itu diam saja maka Bram melanjutkan, “baik, akan saya ingat-ingat itu.” Sebelum Bram pergi, wanita itu membungkuskan sarapan untuknya dan menolak dibayar.Seminggu kemudian Bram berkunjung lagi dan lagi sehingga hampir setiap malam pada hari senin, rabu dan jum’at, Bram datang untuk makan malam. Percakapannya dengan wanita berdaster putih yang ternyata bernama Sativa, kian lama menjadi intim.Pada suatu malam, karena sudah rindu, Bram berkunjung bukan pada hari yang ditentukan. Betapa senangnya Bram ia menemui wanita dambaannya datang menyambutnya di muka pintu dengan penuh kemesraan yang lebih daripada biasanya.“Oh, Bram. Ini kejutan!” kata wanita itu sambil merangkul Bram tanpa malu-malu. “Aku sudah rindu kamu, jadi datang saja meskipun aku tahu hari ini rumah makan kamu tidak buka…” kata-kata Bram terputus saat menyadari bahwa dugaannya keliru. Rumah makan itu terlihat buka seperti malam-malam kunjungannya yang lalu.Sebelum Bram bisa berkomentar lebih lanjut, wanita itu mencium bibirnya dengan hangat. Seketika ciuman itu menarik Bram hanyut ke dalam pusaran glora berahi yang membutakan sehingga ia tak menyadari bahwa selama pergulatan mereka di atas sofa, ia menatap lekat pada kedua mata wanita itu. Baju daster berwarna merah terkulai di lantai.—Tidak seperti biasanya, sudah tiga minggu lebih Bram tidak mengunjungi Sativa di hari senin, rabu dan jum’at. Hal itu membuat Sativa sangat gusar dan menunggu di pintu gerbang sampai larut malam pada hari-hari itu. Ia tak mengerti apa yang telah terjadi sehingga Bram tidak kunjung datang. Ia tidak menemui sesuatu yang janggal pada kunjungan Bram yang terakhir. Malah, ia merasa sangat yakin mantranya sudah semakin merajut erat.Dari hari ke hari, hatinya semakin gundah karena batas waktunya sudah dekat. Ranum rahimnya hampir habis. Ia yang mulanya sangat iri dengan kakaknya, karena melihatnya begitu ceria yang ia duga telah menemukan laki-laki untuk rahimnya, sekarang menjadi heran. Belakangan ini sang kakak juga sama gundahnya dengan dirinya.“Mengapa kamu menjadi begitu kusut? Bukankah kau sudah mendapatkan lelaki?” tanya Sativa yang kemudian dijawab dengan tatapan kesal oleh kakaknya. “Kenapa? Mantramu mandul?” tanya Sativa lagi dengan nada mengejek. “Yang mandul itu laki-lakimu yang bodoh!” jawab kakaknya dengan sengit. “Laki-lakiku?” “Ya! Si Bram laki-laki tak berguna!” Mata Sativa mencorong yang dibalas dengan sama ganasnya oleh sang kakak.—“Bram, ibu sudah semakin tua. Kapan kau memberiku cucu?” tanya ibunya pada saat jeda iklan di teve. Bram menurunkan koran yang sedang ia baca, berita utamanya: “Ribuan ASN Bakal Menganggur Akibat AI”. “Bu, Bram mana tega punya anak di dunia yang semakin runyam. Bram sudah lama vasektomi!” “Hah!”

Po.. Po… Poocoongg!!!
Fantasy
25 Nov 2025

Po.. Po… Poocoongg!!!

Warga kampung Asap dihebohkan dengan sosok pocong putih yang berkeliaran malam-malam di daerah kampung mereka, sosok pocong putih ini terekam oleh kamera CCTV warga setempat. Pocong putih inipun menjadi pembicaraan seluruh kampung hingga didengar oleh 3 remaja yang sangat terkenal di kampung itu, mereka adalah Sugeng, Hamdani, dan Jaka.Seteleh mendengar tentang sosok pocong putih ini mereka bertiga berniat membongkar siapa sosok pocong putih ini, “Tentang pocong itu, gimana kalo kita tangkep itu pocong dan kasih tau ke warga kalo sebenernya itu bukan pocong beneran. Biar nama kita semakin harum juga yaa kan..?” ujar Jaka dengan sedikit bersemangat, lalu Sugeng membalas “Kau ini cuman mau terkenal doang, Jak. Kalo ternyata itu pocong betulan gimana bah??” “Betul tuh kata si Sugeng” tambah Hamdani, lalu Jaka menambahkan “Klean tenang aja, kan ada Jaka yang pemberani di sini yaa kan..”, “Terserah kau lah, Jak” balas Hamdani. “Okeh!!, Kalau begitu kita kumpul sini jam 9-an pas malam yaa, klean jangan sampe telat!!” ujar jaka dengan penuh semangat, “Bahh, semangat kali rupanya kau, Jak” jawab Sugeng dengan nada menyindir.Saat sudah berkumpul, mereka pun menunggu hingga pocong itu muncul. “Mana sii tu pocong, belum muncul juga. Nanti kalo muncul langsung aku sleding dia!” ujar jaka, lalu Hamdani membalas dengan sedikit menyindir Jaka “kau banyak gaya kali lah, Jak. Nanti pas tu pocong muncul, kau duluan yang lari ketakutan”, mendengar itu Sugeng tertawa terbahak-bahak dan berkata “Lucu kali kau ini, Jak!!, paling sebentar lagi juga kau tertidur pulas.” “Ngga mungkin jam segini aku belum ngantuk, sebelum berangkat ke sini, aku sudah minum kopi 2 gelas biar anti-anti ngantuk” ujar Jaka menyindir Sugeng. Setelah 10 menit berlalu Jaka tiba-tiba tertidur sambal mengorok, “Bah!!, tidur juga dia akhir-akhirnya, GYAHAHA!!. 2 gelas tak cukup, Jak. 10 gelas baru kau anti-anti ngantuk.” Ujar Sugeng sambil melihat Jaka tertidur pulas.Beberapa saat kemudian Hamdani melihat sesuatu berwarna putih berjalan melompat, Hamdani pun memberi tahu sugeng “Geng!!, Kau lihat itu, pocong itu, ayolah kita kejar!”, “Bah!!, iya pocong betulan lah tu. Jak!… Jak!.. bangun, Jak!, pocongnya dan Nampak lah tu!!” balas Sugeng sambil membangunkan Jaka yang tertidur. Mereka pun pergi mengejar pocong itu tanpa Jaka karena dia tidak terbangun. “Cepat kali pocong itu melompat.” Ujar Sugeng sambil berlari, “Bukan pocong itu sepertinya, kemana pula itu pocong pergi nya…?” tambah Hamdani sambil melihat sekitar.Jaka pun terbangun sambil kebingungan kemana perginya Sugeng dan Hamdani. “Dan!!… Geng!!…, mereka kemana sii??, mana aku sendiri pula. Mending aku cari mereka sekarang.” Ujar Jaka sambil kebingungan. Setelah mencari kesana kemari, Jaka pun menemukan Sugeng dan Hamdani sedang berda di semak-semak “Di situ rupanya klean!! Klean lagi ngapain sii??” “Sstttt!!!” ucap Sugeng dan Hamdani dengan nada pelan secara bersamaan. “Nunduk, Jak!!” ucap Hamdani kepada Jaka, Jaka langsung menunduk dan bertanya kepada Sugeng dan Hamdani “ini ada apaan sih..?” “Itulan pocong yang ramai dibicarakan di kampung kita, Jak. Ternyata memang betulan ada pocong putih” ujar Sugeng dengan raut muka ketakutan, “Kenapa kau ketakutan gitu, Geng…?, kita kan belum tau itu pocong betulan atau bukan..” ujar Hamdani. “Kau ini lemah kali, Geng..! Biar aku tangkap tu pocong sekarang juga” ujar Jaka dengan semangatnya, lalu Sugeng membalas Jaka “Jangan dulu, Jak!!, kita tak boleh bikin keributan malam-malam begini, nanti warga malah pada bangun sambil marah marah ke kita!”, “Betul juga tuhh, gimana kalau kita sergap aja pas dia lewat kebon depan rumah pak RT biar gak kedengeran warga” ujar Hamdani sambil mengangkat kacamatanya. Jaka pun terpukau dengan kepintaran Hamdani “Pintar juga kau, Dan!! Gak heran kau juara kelas terus”.Setelah menerima usul Hamdani, mereka langsung pergi ke kebun depan rumah pak RT dan bersiap menyergap pocong itu, setelah pocong itu lewat mereka bersiap menangkap pocong itu, tapi… “Geng… Dan… Biar aku tangkap pocong itu sendiri”, “Jangan Jak!! Nanti kau kenapa-napa malah repot” ujar Hamdani, “Bahh!! Kenapa pocong itu malah ke arah rumah pak RT..?” ujar Sugeng. “Ahh.. sudahlah langsung kita bertiga tangkap saja sebelum terjadi apa-apa”.Mereka pun langsung menangkap pocong itu. Saat tertangkap, pocong itu mengeluarkan suara “Eh… eh.. ada apa inii, toloongg!! Penculikannn…”, Jaka dan teman-temannya pun terkaget, Sugeng pun langsung berbicara ke pocong itu “Bahh!! Manusia rupa nya kau… Untuk apa kau jadi pocong nakut-nakutin warga sini..?”, Tiba-tiba ada pak RT menghampiri mereka “Ini teh ada apa yaa…? Kenapa keponakan saya dipegangin begini”, “Keponakan…?” ujar Jaka dengan kebingungan, “Iyaa, ini teh keponakan saya, Namanya Denny dia teh emang jago acting, makannya saya suruh jadi pocong buat nakut-nakutin warga biar gak keluyuran malam-malam begini…” balas pak RT. “ohhh, jadi selama ini pocong putih itu diaaa…” ujar Jaka dengan sedikit kecewa.Keesokannya warga membincarakan Jaka, Sugeng, dan Hamdani karena kehebatan mereka dalam menangkap pocong putih yang sering berkeliaran, setelah kejadian itu mereka semakin terkenal bahkan sampai ke kampung sebelah. Jaka terheran kenapa warga bisa tahu akan hal itu, diapun menanyakan kepada adiknya “Dek, kenapa warga bisa pada tau kalo abang yang nagkep pocong itu..?”, adiiknya pun menjawab “kan ada rekaman CCTV nya, tadi pagi pas ibu belanja sayur di rumah mamanya bang Dani (Hamdani), mamanya dia ngasih tau rekamannya ke orang yang beli.”, “owwhhh…” balas Jaka, Jaka pun langsung pergi ke rumah Hamdani.Saat sudah sampai di rumah Hamdani, Hamdani langsung menyuruh Jaka masuk dan melihat rekaman CCTV nya, saat itu juga ada Sugeng. “Mana rekaman nya, Dan..?” ujar Jaka dengan terengah-engah, “yoo sabar toh, Jak..” jawab Hamdani. Mereka pun langsung memutar rekamannya, “Wuihh hebat juga yaa aku bisa ngungkap tentang pocong putih itu” ujar Jaka dengan sedikit sombong, “Jangan sombong, Jak, tanpa aku dan Sugeng, kamu mungkin gak akan bisa ngangkep tu pocong”. Setelah sampai di ujung rekaman CCTV mereka melihat sesuatu yang aneh “Tungguu dehh, tadi klean liat gak?? Putih putih pas kita pergi dari kebon itu” ujar Jaka dengan sedikit merinding, “Betul juga kau, Jak.” Balas Sugeng. Lalu Hamdani membalas Sugeng “Jangan jangan itu betulan Po.. Po…” “Poocooongg!!!” teriak mereka bertiga.

The Clock’s Game
Fantasy
25 Nov 2025

The Clock’s Game

“Salah satu alasan kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah karena kita tidak akan pernah siap saat menghadapi kejadian buruk yang akan datang. Kita akan menjadi sangat merasa buruk sebelum hal buruk itu tiba.”“Apa kalian tidak lapar?” Rena memandang jendela yang berembun. Di luar, hujan sangat deras sekali, belum lagi kabut yang menutupi pemandangan luar sehingga keadaan lebih gelap dari waktu yang seharusnya. Udara dingin serta keadaan sekolah yang sudah sepi membuat Rena ingin sekalian uji nyali saja. “Ha, apakah kita sedang simulasi kehidupan di hutan tanpa makanan dan ancaman hantu?” Sarkasnya lagi sambil menghentakkan kaki. Sedangkan yang diajak bicara menghiraukannya, malah, asik sendiri.Intan, Mia, Nisa dan Aura—yang setengah mengantuk—diam di bangku berhadap-hadapan. Ini adalah ritual hari ke tujuh setelah pulang sekolah, mereka berlima akan berdiam diri di kelas sampai pukul lima sore. Jika kalian bertanya untuk apa, maka yang kalian dapatkan hanyalah seperti Rena. Diabaikan. Tapi jika kalian antusias, kalian akan bergabung dalam tim dengan dukungan penuh.Jadi, ada sebuah ‘dongeng’ turun temurun mengenai sekolah ini. Jam yang dimiliki kelas dimana tempat mereka diam adalah jam kuno yang bisa berbunyi untuk memberikan sinyal dan kode jika ditanyai mengenai hal yang belum diketahui. Syaratnya adalah diam di kelas dari pukul tiga sampai lima sore selama enam hari berturut-turut (meski hari libur) tanpa makan dan minum. Juga, hanya diizinkan membicarakan hal yang baik-baik. Singkatnya, jam ajaib tersebut bisa berkomunikasi dengan cara tertentu tepat di hari ke tujuh.Maka dari itulah mengapa mereka—kecuali Rena sangat antusias untuk coba melakukan dongeng ini dengan alibi pembuktian. Padahal, mereka memang kurang kerjaan saja. Dari awal, Rena tidak setuju karena pantatnya sangat pegal jika hanya duduk dan berbicara yang manis-manis, jadi kemungkinan jika dongeng itu nyata, perempuan itu tidak akan mendapatkan jawaban yang menyenangkan dari jam kuno tersebut.Dalam kategori mematahkan mitos, Rena memang tergolong sompral, tapi masih saja dipaksa untuk ikut karena syarat lainnya adalah anggota harus ganjil. Jadi, jika perempuan itu berkata aneh-aneh maka tidak akan dijawab. Bahkan, terkesan dimusuhi sesaat.“Kalian itu hanya manusia-manusia gabut yang banyak tanya. Memangnya, apa yang mau ditanya? Pekerjaan? Jodoh? Anak? Kita kan baru kelas dua belas. Lagipula, kenapa percaya dengan benda mati seperti itu.” Rena menghampiri keempat temannya dan berbicara seolah sedang demo di kantor balai desa. Rusuh. “Diamlah, aku yakin kau juga penasaran.” Nisa menjawab dengan nada dingin. “Wow, aku jadi merinding, sob. Kalian biasanya cerewet seperti kaleng rom—”Suara gedebuk dan gemuruh petir secara bersamaan membuat semuanya terkejut. Tepat pukul 16.30, di hari ke tujuh, inilah hal yang ditunggu-tunggu. Aura yang tadinya setengah mengantuk pun langsung merasa segar sambil mencoba bersembunyi di balik punggung Nisa.“Apa dongeng ini nyata?” Aura mendadak gemetar. Pandangan Intan berpendar saat lampu kelas tiba-tiba saja menyala. Ia langsung tersenyum dan memegang jam kuno tersebut. Rena yang memandang Intan hanya merutuk kata sinting karena di saat yang lain merasa takut dan gemetar, hanya Intan yang antusias sambil tersenyum.“Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan pertama. Jam kuno, apakah aku akan mendapatkan nilai bagus setelah lulus?”Jam tersebut berbunyi. Ada kepuasaan dalam hatinya karena dapat memenuhi syarat serta keuntungan melakukan hal menantang seperti ini. Mia yang terkejut langsung meraih jam tersebut, mengecek apakah ini hasil kejahilan temannya atau memang betulan ajaib.“Secara logika, kau memang selalu mendapatkan nilai bagus, kenapa harus memberi pertanyaan basic seperti itu? Kita saja bisa menjawab kalau soal itu.” Tutur Nisa yang membuat Mia merasa mendapatkan ide brilian.“Begini saja. Jam kuno, aku tahu kamu ajaib, bisakah kamu memperlihatkan jodoh masa depan Intan. Tolong buat seolah-olah ia sedang lewat di depan kelas.”Keempatnya tentu terkejut dengan pertanyaan Mia. Ah, perempuan yang suka berpikir absurd itu melakukan aksinya ditengah situasi seperti ini. Namun, bagaimanapun, ini pertanyaan yang menguntungkan bagi Intan.Sepoi angin perlahan menerbangkan gorden jendela, walaupun keadaan luar yang sedikit gelap karena kabut, tapi kemunculan sosok laki-laki bertubuh tinggi melintasi kelas masih dapat terlihat. Laki-laki tersebut sangat tampan dengan buku di tangannya. Mungkin usianya tiga tahun lebih tua. Intan yang mengetahui hal itu langsung berteriak kegirangan.Aura yang melihatnya langsung mengambil jam tersebut. “Jam kuno, apakah aku akan berkesempatan untuk memiliki Jimin BTS?”Sesaat hening, tidak ada tanda-tanda apapun. Bahkan jarum jam ajaib itu berhenti sepenuhnya.“Apakah itu tandanya ya?” Tanyanya tetap optimis. “Sepertinya tidak. Bangunlah, buat pertanyaan yang lebih memungkinkan,” jawab Nisa seraya mengambil jam tersebut. “Jam kuno, aku sudah lama mencintai laki-laki, tapi laki-laki itu punya pacar. Apakah bisa saja mungkin dia menyukaiku kembali?”Papan tulis di depan berbunyi sebentar, spidol yang ada di sampingnya perlahan bergerak untuk menuliskan sesuatu. Ini adalah pemandangan luar biasa, rasanya seperti sebuah sihir melihat benda bergerak sendiri. Jam kuno tersebut juga tampak hidup lagi.“Selalu ada kemungkinan. Namun, kemungkinan itu tidak selalu jadi pembenaran.”“Dunia juga menyuruhmu untuk bahagia, Nis.” Aura menepuk pundak Nisa. Meski tulisan itu tidak menyangkal maupun membenarkan, sepertinya itu cukup sebagai jawaban.“Kalau begitu, jam kuno, apakah aku akan bahagia?” Tanya Nisa lagi. Jam tersebut berbunyi. Tentu saja, kenapa harus terus merasa buruk jika ada kesempatan hari esok yang lebih baik?“Apa kau mau bertanya juga, Rena? Sebelum aku memberikan pertanyaan lebih aneh lagi. Aku tidak mau bertanya soal cinta, berhubung aku sudah memiliki pasangan.” Mia mengangkat jam tersebut seperti sedang promo diskon. Yang ditanya hanya menggeleng malas, “Aku tahu jawaban yang aku dapatkan tidak akan baik.” “Hei, aku juga dapat jawaban yang tidak menyenangkan. Tapi dengan sensasi seperti ini rasanya sangat menyenangkan,” ucap Aura dengan percaya diri. Mia langsung menyahut, “Bukan tidak menyenangkan. Tapi sebetulnya kau bertanya sesuatu yang sudah kau ketahui apa jawabannya. Bertanyalah seperti pertanyaanku, pasti ada jawabannya. Nis, mau bertanya juga seperti Intan tadi?” Nisa menggeleng, “Soal itu, biar waktu saja yang menjawab, aku suka kejutan daripada spoiler detail seperti ini.”Intan mengambil jam tersebut dengan semangat. “Sudahlah, kita hanya bersenang-senang. Tidak ada resiko atau efek samping, kok. Justru dengan ritual yang sudah kita penuhi, kita dapat bertanya pada jam ini kapan saja asal sedang berlima dan sore hari.” Ia sedikit mengangkat jam itu, “Bolehkah kami melihat jodoh Rena seperti apa? Dia tidak pernah bercerita. Juga, dia yang paling tua, kami tidak mau melihatnya terus sendirian.”Aura, Nisa dan Mia sedikit tertawa ketika mendengar itu. Baiklah, pada akhirnya sifat iseng mereka keluar juga setelah menjadi seperti patung selama dua jam. Tidak lama, ada sosok yang kembali lewat di depan kelas, tapi herannya, sosok tersebut adalah seseorang yang sama saat tadi Mia memberikan pertanyaan untuk Intan.“Lho, kok, laki-laki itu lagi? Maksudnya, dia akan selingkuh? Poligami? Atau kesalahan teknis?” Heran Mia.Lampu kelas tiba-tiba padam, diiringi decitan pintu terbuka lebar. Laki-laki itu mendadak menghilang. Sebuah angin yang lebih dingin masuk. Spidol tersebut kembali bergerak untuk menuliskan sesuatu.“Tidak, dia akan bersama temanmu yang paling tua untuk beberapa tahun sebelum beralih pada temanmu yang bertanya tadi, alasannya karena ia akan mati.”Suasana menjadi hening. Tidak ada percakapan apapun. Begitupun dengan Intan yang memandang terkejut ke arah temannya yang kini hanya diam memandangi tulisan itu. Jadi, mungkin, sebenarnya ada efek buruk dalam dongeng ini. Jam kuno tidak akan memanipulasi atau menyembunyikan hal buruk yang seharusnya terjadi. Tentu, selalu ada kemungkinan hal buruk bersama hal baik, itu akan selalu beriringan. Tidak bisa disingkirkan salah satunya.“Jika kita mau membuka hal baik, hal buruk juga tidak akan menutup. Itulah konsekuensinya.” Perkataan Aura membuat Intan semakin merasa bersalah, apakah ini dampak sifat sompral Rena selama enam hari atau kenyataan pahitnya memang seperti itu? Semoga ini hanyalah sebuah hukuman.“Salah satu alasan kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah karena kita tidak akan pernah siap saat menghadapi kejadian buruk yang akan datang. Kita akan menjadi sangat merasa buruk sebelum hal buruk itu tiba,” tambah Nisa. Intan gelagapan sembari mencoba semangat, “Ah tidak, ini hanya permainan ‘kan? Anggap saja itu sebagai hukuman karena kau bicara sembarangan selama enam hari ini. Lebih baik kita tanya ulang saja, bukan begitu?”Rena yang masih menatap papan tulis mengembuskan napasnya. “Tidak usah. Ini memang konsekuensi mendahului takdir. Seharusnya kau merasa senang karena memiliki masa depan yang cerah.” Intan mencoba menghampiri Rena dan merangkul bahunya, “Tidak, tidak. Jam kuno itu berbohong. Bagaimana kau begitu yakin, bukankah kau juga tidak percaya? Aku juga berjanji tidak akan percaya.” Rena menoleh, ekspresinya sangat datar. “Sejak pertanyaan Mia yang aneh itu, aku percaya.” “Tapi, bagaimana? Itu semua belum terbukti.” “Tidak. Laki-laki yang tadi melintas lewat kelas kita adalah kekasihku satu tahun terakhir.”

Sungai Bidadari
Fantasy
25 Nov 2025

Sungai Bidadari

Sebentar lagi liburan akhir semester tiba. Aku, adikku dan saudara-saudaraku akan pergi ke sebuah sungai. Ya, sungai Bidadari namanya. Letaknya berada di daerah Sentul Bogor. Konon katanya, sungai tersebut menyimpan misteri yang cukup menggelitik untuk ditelusuri. Pasalnya, di tempat tersebut ada cara yang unik untuk memancing ikan. Kasak-kusuk dari penduduk, jika kita tepuk tangan di dasar air sebanyak tiga kali, maka ikan-ikan akan datang menghampiri.Hmms, jadi penasaran. Benar ngga ya kira-kira. Maka dari itu. Aku, adik serta saudaraku juga sudah tidak sabar ingin mengunjunginya.Tadinya sih aku ingin mengajak temanku juga, namun di tahun ini mereka memilih berlibur bersama keluarganya. So, aku putuskan untuk liburan tahun ini aku mengajak adikku dan saudaraku untuk pergi kesana. Kebetulan di sana juga ada vila milik paman yang bisa dijadikan tempat untuk singgah.Hari yang dinantikan telah datang. Sebelum berangkat kami pun berpamitan pada orang rumah. Perjalanan yang ditempuh sangatlah panjang tepat pukul 10.00 kami tiba di kawasan Bogor. Namun itu belum ke tempat tujuan. Karena untuk mencapai ke tempat tujuan kami masih harus menempuh perjalanan dua jam lagi. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju sungai. Kami putuskan untuk singgah di vila milik paman yang lokasinya bisa sampai dalam waktu lima menit saja, dari tempat yang kita lalui saat ini.Beberapa jam kemudian. Akhirnya kita sudah sampai di tempat ke tempat tujuan. Saat pertama kali mengijakkan kaki, kami sudah disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Keindahan alam dan jernihanya sungai mampu membuat kami terpesona. Hingga kami ingin mengabadikannya dalam sebuah foto. Namun, saat kami sedang asyik berfoto. Tiba-tiba Cindy adikku menunjukkan raut wajah ketakutan. Aku pun bertanya padanya. “Cin. Kamu kenapa?” Tiba dia berkata “Barusan aku melihat. Sosok perempuan menyerupai duyung, kak.”Konon menurut orang yang sudah berkunjung ke sungai ini, terdapat rumor yang beredar. Selain kita bertepuk tangan di dasari air, akan ada ikan menghampiri ada juga yang mengatakan jika di dasar sungai ini ada penghuninya. Tak heran kami semakin ingin mencari tahu. “Waahhh, di mana Cin?” dia pun menunjuk ke dasar air sebelah kanan. Hingga saat aku mengikuti arahan tangan Cindy aku pun melihat sosok perempuan duyung yang Cindy maksud. Hingga akhirnya aku dan Cindy sama-sama menutup mata, sambil berjalan beriringan menyusul rombongan.Dan saat kami sedang berjalan tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh punggungku dan Cindy. Dan ahhh… hal itu membuat kami berteriak. Namun saat kami membuka mata, ternyata sosok Tristan yang memegang pundak kami. “Hmms, gila kamu ya. Udah tau kita lagi takut, malah makin nakutin”. Namun Tristan malah menertawakan kami dan bertanya “kalian takut apa sih? orang di sini ngga ada siapa-siapa”. Seketika kami pun melihat ke sekitar sungai, yang ternyata di sana tak ada siapa-siapa.Keesokan harinya Hari ini kami akan berkunjung ke sungai itu. Tak lupa kami membawa makanan, minuman, tikar serta kamera untuk mengabadikan momen.Puk! Puk! Puk! Saat kami sudah sampai di sungai. Aku melihat seorang anak kecil, duduk di dasar sungai seperti sedang memanggil ikan. Hingga saat aku ingin menghampiri anak itu. Elsa menarik tangan kananku, hingga tiba ia berkata “kak. coba liat deh”. Aku pun mengikuti arahan tangan Elsa yang menunjuk pada ikan yang sangat besar yang sedang digenggam oleh anak itu. Hingga aku diikuti yang lainnya langsung menghampiri anak itu. Saat aku sudah berhadapan dengan anak itu. Tanpa berasa-basi lagi aku pun bertanya. “De, kok bisa sih kamu melakukan hal itu, memangnya kamu tidak takut?” di sini kan serem. Dengan wajah polosnya dia berkata. “aku ngga takut kok, kak. Lagiankan di sini ngga ada apa-apa”Saat aku mengamati wajah polosnya, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi terlebih anak kecil itu sudah mengambil ikannya dan diberikan padaku. Akhirnya aku pun menerima pemberian anak itu. Namun saat ikan itu berada di tanganku. Wuss! Aku merasakan hembusan angin kencang melewati punggungku. Namun saat ku menoleh ke belakang di sana tak siapa-siapa. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan menghampiri rombonganku.Saat aku sedang asyik berjalan, aku kembali melihat sosok yang pernah kulihat, bahkan saat ini dia hendak mengejarku dengan kedua tangan yang terulur seperti ingin mencekik leherku. Hingga aku pun mempercepat langkahku. Hingga saat aku berlari Vino datang menghampiri dan menarik tangan kananku agar berlari lebih cepat lagi.Saat aku dan Vino sampai di dasar sungai, terlihat adikku Lily dan Agnes sedang membakar ikan, hingga akupun memberikan ikan itu pada Lily dan Agnes agar segera dibakar, aku pun mengatakan pada Lily ikan itu adalah pemberian dari anak kecil yang ada di dasar sungai.Tepat jam 12.00 kami menikmati makanan dan minuman yang sudah terhidang. Namun saat aku akan memakan ikan sudah ada di tanganku, aku melihat mata ikan itu seakan menatapku tajam. Prang! spontan kujauhkan piring itu aku pun berlari dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada di salah satu sudut sungai.Setelah kami selesai makan, Vino yang penasaran akan sikapku yang aneh saat memakan ikan mencoba mendekatiku untuk memastikan apa yang sudah terjadi. Pasalnya yang melihat keanehan pada ikan itu hanya aku saja, sementara yang lainnya terlihat begitu lahap memakan ikan pemberianku.Aku pun menceritakan apa yang sudah terjadi pada mereka, hingga Vino yang semakin penasaran dengan ceritaku. Mencoba memancing ikan di sungai dengan cara yang sudah kukatakan.Prok! Prok! Prok! Namun pada saat tepukan ke dua ikan yang diharapkan tak juga muncul. Hingga hal itu membuat Vino kesal dan ingin beranjak pergi, lalu aku yang masih diselimuti rasa takut mencoba menahan Vino untuk pergi dan menyuruh Vino untuk melakukan tepukan sekali lagi. Prok! Prok! Prok! akhirnya pada tepukan ketiga, aku melihat ada sesuatu yang bergerak dari dalam sungai itu. Hingga tak lama kemudian datang seekor ikan besar. Akhirnya Vino pun mengambil ikan itu, lalu segera berlari untuk mencari tempat agar ikan itu dapat dibawa ke vila.Sesampainya di vila, vino menyimpan ikan itu pada bak kamar mandi. Namun sejak ikan itu ada di vila tempat kami menginap, aku semakin merasa ada yang janggal. Setiap malam aku selalu merasa ada sosok yang menghampiriku dan mengawasiku, namun saat ku menoleh, lagi-lagi sosok itu menghilang. Aku yang makin takut akan sosok itu akhirnya memutuskan untuk membuang ikan itu. Namun, Vino serta yang lainnya tidak setuju dengan keinginanku, pasalnya saat ini hanya aku saja yang diikuti oleh sosok itu. Hingga aku pun memutuskan untuk membuang ikan itu tanpa sepengetahuan mereka.Saat menjelang tengah malam, ku berjalan mengendap-ngendap sambil membawa ember yang berisikan ikan itu, namun baru saja aku mengijakkan kakiku di ruang tamu. Tiba-tiba mata ikan itu menatapku tajam dan seolah ingin lompat menghampiriku, spontan kujatuhkan ember yang masih berisikan ikan itu, hingga airnya membasahi lantai dan ikan pun terkapar di lantai, seperti akan kehabisan napas. Namun aku tak mempedulikannya, hingga aku memilih untuk kembali ke kamarku dan menutupi wajahku dengan selimut tebal, bergegas untuk tidur berharap esok akan segera tiba.Saat menjelang pagi. Hal yang mengejutkan kembali terjadi, pasalnya ikan yang ingin kubuang tengah malam, kembali utuh dan genangan air pun sudah tak ada, karena saat aku bangun adiku serta saudaraku masih tertidur pulas. Aku pun memutuskan untuk menghubungi dokter pribadiku agar beliau datang kemari dan memeriksa keadaanku.Satu jam kemudian Dokter Mischel datang lalu memeriksa keadaanku, namun saat beliau memeriksa keadaanku. Beliau mengatakan jika aku baik-baik saja, akhirnya aku pun menceritakan apa yang kualami pada dokter Mischel. Namun saat aku sedang menceritakan semuanya tiba-tiba anak yang pernah memberiku ikan itu datang bersama seorang wanita cantik, seorang bapak dan seorang nenek. Kemudian wanita itu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Jika sebenarnya mereka bekerja sama dengan adik serta saudaraku untuk menakutiku, dimulai dari anak kecil yang memanggil ikan dengan tepukan tangan, sebenarnya ikan itu ditarik dari dalam oleh beliau agar dapat menghampiri anak tersebut pada tepukan ketiga, sosok duyung yang menampakkan diri sebenarnya adalah dirinya yang menggunakan kostum duyung hingga mata ikan yang melotot itu sebenarnya di badan itu sudah dipasangkan batre hingga saat ada orang yang ingin menyentuhnya, ikan itu otomatis menajamkan matanya.Vino pun akhirnya angkat bicara dialah yang membersihkan lantai, memang batre hingga memberikan kostum pada Mayang. Bahkan Cindy pun mengatakan jika sebenarnya dia hanya berpura-pura takut akan kehadiran Mayang yang saat itu memakai kostum duyung.Tristan pun ikut menjelaskan mengapa mereka merencanakan semuanya, tiba Tristan berkata. Mereka melakukannya agar aku tidak terlalu terobsesi pada hal-hal yang berbau mistis. Karna sebenarnya di sungai ini tak ada kaitannya dengan hal-hal gaib atau hal-hal berbau mistis.

Unknown Number
Fantasy
25 Nov 2025

Unknown Number

Dering ponsel mengganggu kegiatan membacaku. Aku melirik sekilas dan terdapat notif chat dari beberapa kontak. Aku mengambil benda pipih itu dan mulai memasukkan sandi guna membuka aplikasi berwarna hijau. Kugeser layarnya dan melihat beberapa chat yang belum sempat kubalas. Dirasa tidak ada yang penting, aku menaruh kembali benda itu di meja samping. Tetapi, bunyi dering kembali terdengar dan mengganggu konsentrasiku.“Hhh siapa sih?!” geramku dengan kesal.Aku membuka aplikasi chatting lagi dan mulai menggulir, dan terlihat satu chat dari nomor tak dikenal berada diatas sendiri. Nomor siapa ini? Saat aku diam melamun, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal tadi. Siapa dia? Untuk apa menghubungiku malam-malam begini?Aku malas mengangkatnya mungkin orang kurang kerjaan. Sangat membuang waktu untuk meladeninya. Tapi, panggilan itu tidak kunjung usai. Dia terus meneleponku sampai 10 kali dan setelah itu berhenti. Tidak ada lagi panggilan masuk. Tetapi berganti dengan suara notif chat yang beruntun. Argh, aku berasa diteror!Aku segera membuka room chat dan kulihat pesan yang dikirimnya.‘Semua orang tidak mengetahuinya’ ‘Termasuk kau!’ ‘Hahaha’ ‘Hai’ ‘Dan’ ‘Sampai jumpa’ ‘Denganku lagi…’Aku mulai bingung dengan nomor ini dan menerka-nerka apa maksud dari chatnya. Apa maksudnya? Apa yang tidak diketahui? Sungguh! Aku merasa bahwa sekarang menjadi detektif yang sedang mencoba memecahkan misteri.Keesokan harinya aku bertanya pada temanku di kampus, apakah mereka mengenal nomor kemarin. Ternyata tidak ada yang tahu. Ya sudah, aku tidak akan memaksa otak dan ragaku untuk memikirkan hal konyol seperti ini.Tiga hari sudah berlalu semenjak aku dihubungi oleh nomor togel. Ia sudah tidak mengirim apa-apa lagi padaku. Tetapi, rasa penasaranku masih ada dan tentunya tidak seperti hari sebelumnya. Dengan segera ku membuka aplikasi chatting dan mengirim pesan pada sahabatku, apakah menonton bioskop malam ini jadi? Mereka menjawab ‘jadi’.Aku melirik jam dinding sedang menunjukkan angka enam petang, yang berarti masih ada waktu satu jam untuk bersiap-siap karena kami berencana untuk pergi jam tujuh.Sesampainya di bioskop, dengan segera kuhampiri teman-temanku yang sedang berdiri mengobrol di lobby, “Haiiii guyssss!” ucapku dengan semangat. “Akhirnya dateng juga, kangen huhuuu” ujar Tia sembari memelukku. “Iya nih, kangen. Lama kita ga pergi bareng kek gini, gara-gara tugas bejibun” timpal Zeyla. “Hahaha iya, yuk kita masuk. By the way, udah dateng semua kan?” tanyaku yang dibalas anggukan oleh mereka.Film pun usai, penonton segera berhamburan untuk keluar dari ruangan gelap ini. Kami saling berpamitan untuk pulang dan menaiki kendaraan masing-masing. Aku dan Mira searah jalan pulang jadi kami mengendarai motor berdampingan.Setelah sampai di rumah aku langsung menuju kamar mandi untuk membasahi diri karena merasa lengket. Sebelum tidur, aku mengecek ponsel terlebih dahulu dan melihat rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal itu. Aku tidak tahu bahwa dia mencoba menghubungi karena aku mengheningkan ponsel saat di dalam bioskop tadi. Dia mengirim chat lagi,‘3’ ‘Bertanya’ ‘Tidak tahu, lalu’ ‘Pergi’ ‘Menculik’ ‘Membekap’ ‘Dan semua orang tahu’ ‘Bagaimana akhirnya’Apa lagi ini!? Aku sudah muak dengan nomor ini. Darimana sih dia dapat nomorku? Apa jangan-jangan dia seorang hacker? Aarghh aku pusing memikirkannya. Siapapun dia, aku bersumpah untuk mengutuknya karena sudah meneror dengan hal tidak jelas, “siapapun kamu, akan kubalas!” ujarku dengan nada kesal, marah, dan jengkel.Hari berikutnya aku datang ke kampus dengan keadaan setengah mengantuk dan acak-acakan dan terburu-buru. Ini semua karena semalam begadang karena tidak bisa tidur memikirkan nomor aneh, “Udahlah lupain. Orang gaje malah diurusin. Noh, tugas masih antri” ucapku menegur diri sendiri.Ketika masuk kelas kulihat beberapa temanku sedang berbincang dengan heboh. Aku menghampiri mereka dan bertanya, “ada apa kok heboh begini?” “Ini lo harus liat,” jawab temanku. Mataku membelalak melihat isi artikel dari ponsel temanku, “ya ampun, kasian banget. Tega bener yang nyulik, ” Mereka mengangguk setuju, “he’em, katanya sih itu mahasiswi kampus sini dan ada rumor juga kalau dia udah dibunuh.”Aku menghela nafas dan menatap sendu artikel di ponsel. Dengan berjalan lesu aku duduk di tempat biasanya sembari menunggu dosen tiba. Karena merasa bosan menunggu, kuputuskan untuk membuka aplikasi online di ponsel yang sekiranya tidak membuat jenuh.“Apa nih?” gumamku seraya membaca artikel terbaru tentang pembunuhan. “Sebentar, sebentar… ini kan berita yang tadi ya? Telah ditemukan mayat seorang wanita diduga karena pembunuhan. Menurut warga setempat, pembunuhan terjadi pada malam hari saat warga sedang mengadakan ronda malam dan tercium bau tidak sedap dari gang sempit di daerah tersebut. Mereka pun menghampiri asal bau tersebut dan terkejut karena menemukan seorang mayat wanita. Dan warga mengatakan tidak ada barang-barang korban yang dicuri ataupun rusak. Kasus ini masih diselidiki lebih lanjut oleh polisi untuk mengetahui motif dari pembunuhan yang terjadi.” Aku membaca dengan teliti sampai suara teriak dari temanku membuat ku menoleh dengan cepat,“Eh woyy!!! Gue dapet info dari temen gue yang polisi, kata dia korbannya mahasiswi disini, pas di cek KTP nya namanya…. bentar dia masih ngetik, ” “Kampret lo Ben, cepetan” Hatiku mulai gelisah tidak karuan, entah kenapa firasatku tidak enak dan malah teringat pada nomor tak dikenal itu.“OHHHHH NAMANYA ALMIRA SAHEZYA!”Seketika mataku melotot dengan mulut menganga. Itu… itu nama temanku, Mira!Aku hampir tidak percaya pada berita ini sebelum notif chat beruntun dari nomor togel yang membuatku mengumpat kesal ingin membunuh orang itu.‘Pergi’ ‘Menculik’ ‘Membekap’ ‘Dan semua orang tahu’ ‘Bagaimana akhirnya’ ‘Sampai jumpa denganku,’ ‘Lagi…’TAMAT

Perjamuan Terakhir
Fantasy
25 Nov 2025

Perjamuan Terakhir

Tulisan “Dijual” di tembok pagar rumah itu telah hilang, menandakan penghuni baru akan segera datang. Satu bulan yang lalu aku masih duduk di bangku taman rumah bertembok batu bata merah itu sambil menikmati secangkir teh bunga rosela dan beberapa keping biskuit lemon. Oma Irene sang pemilik rumah kerap mengajakku berbincang sambil duduk di bawah rindangnya pohon pinus. Namun sayang tiga minggu yang lalu Oma Irene pergi menyusul Opa Jan dalam keabadian.Aku menatap rumah bercerobong asap itu. Sepi, belum ada satu pun batang hidung pemilik baru yang nampak. Rumah itu memiliki desain yang sangat aku sukai. Halamannya yang luas banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Aku betah berlama-lama disana dan sama sekali tak berkeberatan menyirami semua tanaman bila Oma Irene pergi menengok anak cucunya. Kini aku merasa khawatir akan kehilangan suasana indah rumah itu seiring dengan kedatangan penghuni baru.Aroma segar pagi langsung menyeruak ke dalam kamarku ketika aku membuka jendela. Biasanya aku akan kembali melemparkan tubuhku ke atas ranjang dan menarik kembali selimut yang tersingkap. Hari minggu adalah waktunya bersantai sampai siang. Namun tidak hari ini karena pemandangan di bawah lebih menarik dibanding dengan empuknya ranjang dan hangatnya selimut patchwork buatan Mama.Dari ketinggian balkon kamarku, aku melihat seorang lelaki sibuk hilir mudik mengangkut barang-barang dari sebuah mobil box. Raut wajahnya dingin, kedua lengannya dipenuhi dengan tatto. Sesekali ia menatap ke jalanan yang lengang dan rumah-rumah lain termasuk rumahku. Aku menyembunyikan kepalaku di balik pagar balkon ketika secara tiba-tiba ia mendongak ke atas. Mendadak aku merasa tidak nyaman dengan keberadaan tetangga baruku itu.“Permisi.” Aku berhenti sebentar dari kegiatanku lalu menjelau ke luar pagar, tak ada siapa-siapa. Kupotongi kembali ranting-ranting mawar yang menyembul di antara pagar kayu.“Permisi.” Suara itu kembali terdengar dan kini sangat jelas. Aku terlonjak begitu melihat siapa yang menyapaku. Jantungku seakan mau copot. “Maaf, rumah Pak RT dimana ya?” Lelaki bertatto itu kini telah ada dihadapanku, terhalang rumpun mawar yang bergerombol melapisi pagar. “Eeeee… disana … nomor 20.” Aku menjawab dengan gugup sementara dia menatapku dengan tajam. Lalu ia pun membungkuk sambil mengucap terima kasih dan melangkah pergi. Sopan namun dingin.Kini setiap hari aku memiliki kegiatan baru yaitu memperhatikan polah tetanggaku yang telihat misterius. Ia tinggal di rumah itu sendiri. Papa pernah mengajaknya mengobrol ketika lelaki itu tengah membersihkan pekarangan rumah. “Namanya Ken, bujangan, blasteran Jepang.” Papa melirikku, senyum tipis menghiasi bibirnya. Aku mendelik. “Ken Watanabe? Kento Momota? Kentos kelapa?” Bibirku keriting, Papa tergelak. “Ken Hamada!” Seru Papa. “Kerjanya apa?” Mama bertanya tanpa menghentikan kegiatan merajutnya. “Punya usaha.” Jawab Papa pendek. “Ya, usaha apa?” Mama meletakkan rajutannya lalu memberi cangkir tehnya dengan pemanis rendah kalori. “Katanya sih bisnis yang berkaitan dengan menyenangkan orang.” Jawab Papa serius. Dahiku berkerut.Aku terbelalak ketika melihat lelaki yang mengaku bernama Ken itu tengah sibuk dengan dua bilah pisau berukuran besar yang ia gesekan satu sama lain sambil bertelanjang dada. Mata pisau itu nampak sangat tajam, berkilat di bawah sinar mentari yang garang. Terlihat deretan tatto berdesakan di hampir setiap inchi tubuhnya. Kuraih binokularku dengan segera, naga … ular … dan burung Phoenix, ah tak salah lagi.Kemarin aku melihatnya tengah membuat lubang di antara rumpun mawar dan sore ini aku melihat cairan merah kental tercecer di sepanjang jalan menuju rumahnya. Bau amis menguar ketika aku mendekati kendaraannya yang terparkir di jalan. Kuduga cairan itu adalah darah. Aku pun segera menyingkir dari sana ketika telingaku mendengar langkah kaki mendekat.Malam ini tetangga baruku itu telah membuatku memeras otak. Aku sangat penasaran dengan semua hal ganjil tentangnya Gumpalan rasa ingin tahuku pun meledak-ledak tanpa jeda.Lelaki bernama Ken itu memiliki bisnis dalam hal menyenangkan orang. Ayahnya berasal dari Jepang dan tubuhnya dipenuhi tatto yang spesifik. Tatapan matanya tajam, raut wajahnya dingin. Pisau, lubang, dan cairan kental berwarna merah itu ….“Ya Tuhan.” Jantungku berdegub kencang. “Ken pasti ada hubungannya dengan Yakuza yang menjalankan salah satu bisnisnya di sini. Bisa jadi ia adalah seorang pembunuh bayaran.” Aku berbicara pada diriku sendiri.Suara deru kendaraan membuyarkan semua hal yang ada dalam benakku. Dari balik tirai aku melihat kendaraan four wheel drive milik Ken keluar. Aku berpikir inilah kesempatanku untuk menebus semua rasa penasaran, kebetulan Mama dan Papa tengah menginap di rumah Kak Vera.Dalam keremangan lampu taman aku berjingkat menghampiri gundukan tanah yang berada diantara rumpun mawar. Bisa jadi enam kaki di bawah sana ada raga yang menanti untuk diungkap. Aku bergidik lalu meneruskan langkahku menuju teras.Tirai jendela berkaca besar itu tidak ditutup. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas apa yang ada di dalam sana. Mataku terbeliak ketika melihat banyak sekali jenis pisau yang tergeletak di meja. Dua buah katana menempel bersilangan di dinding, Sebuah busur lengkap beserta anak panahnya berdiri tegak di sudut ruangan berbatu-bata merah itu.Perlahan aku berjalan ke arah garasi yang terbuka, berharap ada sesuatu yang bisa menguatkan dugaanku. Di lantai terlihat masih ada noda-noda merah yang telah mengering sedangkan yang di jalan telah ia bersihkan sesaat setelah kegiatan angkut-mengangkutnya selesai.Rasa penasaranku kian memuncak ketika melihat tumpukan box kontainer di sudut ruangan, perlahan kubuka tutupnya. Belum sempat aku melihat isinya, sinar lampu halogen lebih dulu menangkap basah wajah terkejutku.Ken keluar dari kendaraannya dan menatapku heran. Sejenak aku terpaku namun segera menyadari situasi yang tengah terjadi. “Pus … pus … Bonnie … dimana kamu …” Aku merasa suaraku sedikit bergetar, aku tak bisa menutupi rasa takutku. “Vanya?” Ken menghampiriku. “Mmhhh … maaf, aku tidak permisi dulu masuk kemari. Aku mencari Bonnie.” Aku mencoba berkata dengan setenang mungkin. “Bonnie? Bukannya kemarin dia baru saja dikuburkan?” Ken menatapku penuh selidik. Deg. Mengapa aku bisa lupa hal itu. Aku mengumpat pada diriku sendiri. “Eh … ak …” Ken memandangi kakiku, aku baru sadar bila sandal yang aku gunakan terkena lumpur yang berada di dekat rumpun mawar tadi. Ken menatap mataku tajam.“Mmmhh … maaf atas gangguan ini, aku pulang, Papa dan Mama pasti mencariku.” “Tidak ada yang mencari kamu. Orangtua kamu pergi, ya kan?” Ken menghalangi jalanku. Aku tak mengerti mengapa dia mengetahui itu semua. Jangan-jangan dia tahu kalau selama ini aku memata-matainya. “Tapi ini sebuah kebetulan yang menyenangkan karena aku tidak perlu memaksa kamu untuk datang kemari.” Glek.“Yuk.” Ken meraih pergelangan tanganku lalu memaksaku berjalan. Aku berusaha melepaskan diri namun genggaman tangannya tak dapat dilawan. Perutku mendadak mual, aku ingin berteriak namun mulutku seakan terkunci rapat. Ya Tuhan, apakah aku akan menjadi korban berikutnya?Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, rasa takutku telah memburamkan akal sehatku. Kini aku ada dalam ambang kepasrahan. Aku hanya bisa berdoa bahwa hari ini bukanlah hari terakhirku berada di dunia. Bukankah keajaiban itu selalu ada?Aku melirik ke arah meja yang dipenuhi oleh berbagai macam pisau dan Ken mengambil salah satunya. Ia tersenyum kecil, meraih sebuah kacamata bergaya militer yang tergeletak di sofa. Ken kembali membawaku, melewati ruang keluarga, lorong lalu dapur, tempat di mana aku dulu sering membantu Oma Irene untuk membuat Ontbijtkoek, kue kegemaran putra sulungnya.“Kamu mau bawa aku kemana?” Aku memberanikan diri untuk bertanya dalam selubung ketakutan yang meraja. “Bukan kejutan kalau kamu tahu lebih dulu, ya kan?” Ken membuka pintu menuju ruang bawah tanah, ruang yang dulu digunakan oleh Opa Jan sebagai tempat penyimpanan botol-botol anggurnya yang bersejarah. “Aku tidak mau kesana! Dengar ya Tuan Hamada, aku akan berteriak sekeras-kerasnya.” “Teriak? Wah wah aku tidak menyangka tamu pertamaku ini sangat ekspresif.” Ken berkata dingin. “Ayo jalan, hati-hati dengan tangganya.” Ken membimbingku menuruni anak tangga.Kini aku terperangkap dalam kegelapan, Ken mendudukanku di kursi. “Tetap disini, jangan bergerak.” Begitu Ken menjauh, tanpa pikir panjang aku pun bergegas bangkit untuk melarikan diri. Namun sial, kegelapan bukanlah teman yang baik bagiku, aku terjatuh dan bibirku terantuk ujung kursi. Rasa perih menjalar dengan cepat.Tiba-tiba ruangan bermandikan sinar temaram. “Kamu mau kemana?” Ken menghampiriku yang terduduk di lantai. “Bibir kamu berdarah, tunggu sebentar.” Ken beranjak. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melesat ke arah pintu. Namun langkah lebar Ken mengalahkan usahaku untuk melarikan diri.Kini lelaki itu telah ada di hadapanku lalu membalikkan tubuhku menghadap meja. “Aku hanya akan mengajakmu makan malam, kenapa kamu malah blingsatan seperti ini?” Ken menunjuk meja makan.Oh tidak, apakah hidangan itu adalah perjamuan terakhirku sebelum dia … Aku menatap nanar meja besar dengan penataan yang sangat elegan itu. Tubuhku menggigil, aku menangis dalam keputusasaan.“Sudah jangan menangis, ini luka kecil kok.” Ken menyeka darah yang ada di bibirku dengan selembar serbet. “Tolong lepaskan aku, aku tidak bermaksud memata-matai kamu. Aku berjanji rahasiamu akan aman di tanganku.” Tiba-tiba keberanianku keluar dari persembunyiannya. “Rahasia apa?” Ken menatapku dengan bingung namun ia pun segera mafhum. “Ooh ini? Tidak, ini semua bukan rahasia, nanti juga akan banyak yang tahu terutama para pelangganku.” Lanjutnya santai.“Ken sebaik apapun kamu menyembunyikan semua perbuatan busukmu pada waktunya pasti akan terbongkar juga.” “Asal kamu tahu ya setelah kamu menguburku di ruangan bawah tanah ini, aku akan selalu menghantuimu, camkan itu Tuan.” Aku merepet, Ken melongo. “Kamu tidak bisa menutupi semuanya, bisnis menyenangkan orang, gundukan tanah di halaman, ceceran cairan merah, pisau serta senjata tajam di ruang tamu, dan semua tattomu itu adalah bukti.” “Satu lagi, kamu pernah bertanya di mana rumah Pak RT kan? Itu karena kamu harus mengukur jarak aman untuk semua tindak kejahatan yang akan kamu lakukan, apa aku salah?” Aku menggertak namun bergidik ketika menatap sang naga yang tengah menjulurkan lidahnya di lengan lelaki itu.Ken mengerutkan dahinya, raut wajahnya yang dingin berubah seketika, tawanya pun meledak. “Ya ampun, Vanya .. kamu terlalu banyak membaca novel thriller. Kamu kira aku akan menghabisimu karena aku tahu kalau kamu sering mematai-mataiku, begitu?” “Sini biar aku jelaskan.” “Aku tak butuh penjelasan, aku sudah punya bukti.” Mendadak keberanianku meledak-ledak. “Hmm ternyata perkataan Papa kamu benar bila kamu itu keras kepala. Tapi bagaimanapun juga, aku akan menjelaskan semuanya agar tidak ada salah faham diantara kita.” Ken tersenyum dan mempersilakanku duduk.“Vanya, aku adalah chef untuk restoranku sendiri. Bukankah restoran adalah salah satu bisnis yang dapat menyenangkan orang?” “Dan seorang chef memerlukan banyak pisau untuk mengolah makanan, iya kan?” “Gundukan tanah dekat rumpun mawar itu adalah tempatku mengubur beberapa buah semangka hasil panen seorang teman agar tahan lama.” “Beberapa senjata di ruang tamu adalah peninggalan moyangku yang kami dapat secara turun-temurun.” Ken menatapku, namun kini tidak sedingin biasanya. “Dan tentang rumah Pak RT. Vanya, aku ini penduduk baru di sini, aku wajib melaporkan keberadaanku.” “Apalagi, oh ya tatto, setiap orang memiliki hak untuk menggambari tubuhnya. Ular, naga, serta burung phoenix memang identik dengan Yakuza namun tak berarti aku ini salah satu dari mereka kan? Jangan mengada-ada.” Ken tersenyum simpul.“Semua analisaku tidak mengada-ada, aku punya bukti. Bagaimana dengan cairan merah itu? Kamu tidak bisa mengelak dari bukti yang satu itu.” Aku berkata galak, rasa takut ku mendadak lenyap. “Ah ya, darah? Itu memang darah tepatnya darah rusa, kebetulan saat itu plastik pembungkusnya sobek.” “Dan rusa itulah yang menjadi hidangan utama malam ini.” Ken tersenyum. Aku terhenyak mendengar semua penjelasan Ken, tubuhku kaku pikiranku buntu.“Vanya, sudah lama aku ingin mewujudkan hal ini.” Cleguk. Aku menelan ludah. “Sebuah konsep jamuan makan malam dalam kegelapan. Para tamu akan menikmati hidangannya tanpa melihat rupa dari makanan yang akan mereka santap.” “Dan malam ini aku ingin menguji cobakan konsep baruku ini.”“Sebenarnya aku mengundang orangtuamu juga.” Aku menelan ludah kembali, rasa malu menjalar di seluruh aliran darahku.“Jadi kamu bersedia kan menjadi tamu pertamaku dalam perjamuan malam kali ini?” Tanpa menunggu jawabanku, Ken langsung memadamkan lilin dengan sekali kibas.

Jiwa Yang Kosong
Fantasy
25 Nov 2025

Jiwa Yang Kosong

Namaku Reyna aku lahir dari keluarga sederhana. aku memiki saudara kembar namanya Reyhan kami selalu kompak dalam hal apapun. Hingga ayah dan ibu bangga pada kami. bahkan mereka berpesan pada kami agar kami bisa saling menjaga dan menyayangi satu sama lain.Pada suatu hari kami berencana untuk berlibur ke vila milik paman, di Bogor. Aku yang mengemudikan mobil. Reyhan duduk disampingku, sedangkan ayah dan ibu duduk di belakang kami. Saat kami sedang asyik menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu dan bernyanyi riang. Duar!…. Cekittttttttt! Tiba-tiba aku merasa menabrak sesuatu. Dan saat aku menoleh kebelakang. Ternyata aku menabrak seekor kucing hitam.Spontan aku langsung turun dari mobil untuk melihat keadaan kucing itu. Saat aku melihat keadaan kucing itu. Aku syok karena kucing itu mati mengenaskan dengan leher yang hampir putus dan kaki yang sudah putus.Ketika aku berniat untuk menguburnya. Reyhan malah melarangku dan mengajakku untuk segera pergi. Karena aku takut akhirnya aku mengikuti saran Reyhan untuk segera pergi. Saat aku bertanya mengapa Reyhan mengajakku untuk segera meninggalkan lokasi. Dia berkata “aku ngga mau dilaporkan oleh warga ke polisi dan akupun terlibat”. Bahan diapun menyuruhku untuk merahasiakan kejadian tadi pada kedua orangtua kami. Yang untungnya mereka sedang tertidur lelap. Hingga tak lama setelah kejadian. Reyhan memberiku botol minum yang dia keluarkan dari tas mini yang dibawanya.Namun dua hari setelah kejadian. Keadaan keluargaku jadi berubah. Kehangatan keindahan berlibur yang dibayangkan. Seolah sirna karena ayah kami sering bersikap aneh terlebih saat malam hari. Seperti pada malam ini. Tepatnya pukul 01.00 dini hari.Tiba-tiba ayah kami kejang-kejang, matanya melihat ke atas, bahkan kejadiannya berlangsung cukup lama dan membuat kami semua panik. ditengah kepanikan akupun segera memanggil seorang dokter untuk mengobati ayah. Namun sejak kejadian itu semakin hari sifat ayah makin aneh. Ayah jadi sering berbicara sendiri, marah tanpa sebab bahkan tiba-tiba menangis tanpa sebab. Tak heran jika Reyhan semakin marah dan memusuhiku.Bahkan kini bukan hanya Reyhan saja yang marah serta memusuhiku. Ibu hingga keluarga besar ayah juga ikut marah dan memusuhiku.

Tabir Surga Kelabu
Fantasy
25 Nov 2025

Tabir Surga Kelabu

Di keheningan waktu ini, tak kutahu engkau ada di mana. Kenangan fatamorgana yang pernah terbang di ufuk langit senja, masih kuingat. Aku masih saja terperangkap dalam putaran waktu. Alunan detik yang menjelma bak angin malam, begitu cepat berembus dan berlalu. Tumpukan buku tebal, lembaran-lembaran kertas, dan bolpoin yang berhamburan di mana-mana.Sebelum rangkaian aksara ini memanjang, kuingin memberitahu kalian. Kisah ini sebenarnya adalah sebuah curahan hati seorang anak IPA sekaligus santri tahfiz Qur’an. Satu hal penting lain yang perlu kalian ingat adalah bahwa tidak ada yang bisa melarikan diri dari takdir Tuhan.Aku mempunyai seorang teman, biasa dipanggil Zain. Jangan berfikir dia itu seperti Zayn Malik. Nama Zain sebenarnya adalah Jaenuri Ahmad. Dia sedikit aneh, sialnya lagi dia adalah teman satu kelas sekaligus teman sekamarku di pesantren. Yang kutahu, Zain itu pandai fisika, tapi tak bisa hitung-hitungan. Suka sejarah, tapi tak pandai menghafal. Beruntungnya, dia selalu menjadi juara Olimpiade bahasa Arab.Selain Zain, aku punya satu sahabat perempuan bernama Aisya. Dia suka pisang, tapi bukan monyet. Dia suka jadi vegetarian, tapi bukan kambing. Dia sangat suka jus wortel, tapi bukan kelinci. Dia suka aku, tapi… itu dulu. Sekarang? Ah, sudahlah. Diriku sendiri, hingga detik ini aku masih berpikir, siapa aku? Aku itu apa ya?Namaku Iqbal, tapi bukan Dilan. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku dibuang oleh ibuku ke sebuah pesantren tahfiz Qur’an di Jawa. Padahal, aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya pondok pesantren. Yang ada di pikiranku saat itu adalah tentang sebuah tempat kuno yang pastinya horor seperti penjara. Tapi sekali lagi, tak ada yang bisa lari dari takdir Tuhan.Jika kalian bertanya kemana ayahku? Ayah telah lama minggat dari rumah, setelah sebelumnya selalu bertengkar dengan ibu, mirip dengan adegan di sinetron-sinetron TV Indonesia, jika kalian pernah nonton, sih.Hari ini adalah malam Jumat, aku dan Zain mendapat giliran bertugas menjaga keamanan di pesantren. Ada banyak ruangan yang mengisi bangunan 7 lantai ini. Konon katanya, para santri dilarang untuk menghitung anak tangga ketika naik turun lantai 7 pesantren ini.Banyak rumor horor yang beredar dikalangan para santri. Dan yang terbaru adalah isu tentang nenek payung. Aku sebenarnya tak habis pikir, apakah kehadiran nenek payung itu untuk menyaingi popularitas nenek gayung? Atau malah kakek cangkul yang sudah go public?Malam ini, aku dan Zain akan berpencar. Zain mengamankan lantai 5 dan aku berada di lantai 7.“Bro, lu yakin mau keliling lantai 7 sendirian?” “Emang kenapa?” “Konon katanya nih, orang yang berjalan sambil menghitung tangga lantai 7, jika beruntung dia bakal dapetin apa yang diinginkan!” “Allahumma…. Yaampun Zain yang tamvan sejagad raya top markotop prikitiuww.. Ini tuh udah zaman nya hp android, kalo mau dapet apa-apa yang diinginkan tinggal pesen di go-jek, beres.” “Yaelah… kan gue cuma bilang, kali aja lu mau nyoba.” “Kalo emang bener, aku mau oppa-oppa Korea itu insaf jadi grub sholawatan aja!” “Sstttt… dasar halu!” “Udah ah, gue mau mangkat untuk menjadi abdi keamanan,” ucap Zain dengan gaya sok pahlawan. “Yaudah sono.”Aku mengikuti jejak Zain. Patroli malamku dimulai. Pukul 22.30, arloji yang kupakai berdetik kencang. Seiring dengan detakan jantungku. Aku berjalan menyusuri lorong lantai 7. Pintu-pintu kamar santri telah tertutup, menandakan semua sudah terlelap di alam mimpi masing-masing.Di penghujung lorong, aku menatap sebuah ruangan kecil rusuh tak terawat. Dari jendela luarnya yang penuh debu, kaca yang sedikit pecah, serta meja-meja usang di dalamnya. Sekitar 7 tahun yang lalu, ruangan ini sudah tak terpakai. Minimnya dana yang dimiliki pesantren membuat perbaikan ruang ini menjadi terbengkalai.Dulunya, ruang ini adalah ruang tunggu, tempat untuk orangtua santri yang ingin menjenguk anaknya. Ada ribuan kenangan manis disini. Mulai saat aku marah-marah pada ibu karena membuangku ke pesantren, momen haru saat ibu melepasku dan kembali pulang, hingga pada akhirnya ibu tak pernah kembali lagi ke sini. Aku mencoba mengingat, kala itu ibu duduk manis di ruangan ini. Tersenyum sumringah saat melihat aku berjalan dari kejauhan. Sore itu, ibu membawakan brownis coklat favoritku, sembari memberi petuah. “Nak, engkau sekarang tinggal di kota orang. Aku tidak mau menyebutmu anak rantau, sebab engkau tetap dekat dengan Ibu.” “Dekat darimananya? 780 km dari rumah itu jauh, Bu!” “Nak, kita itu dekat. Meskipun kita tak saling memandang, doalah yang menghapus jarak antara kita.”Aku menatap layar ponselku, berharap ada telepon masuk atau sekedar pesan singkat dari ibu. Di ponselku masih ada nomor hp ibu, walaupun sudah lama tak bisa dihubungi. Dalam aplikasi SMS ponselku tertera terakhir kali aku berkirim pesan dengan ibu. Kurang lebih 5 tahun yang lalu.27 April 2016 Baik-baik di sana Iqbal, jangan menangis karena rindu ibu 17.03 Haha, ibu meledekku ya :p Ibu, Iqbal akan segera pulang, tunggu di rumah ya! 17.09Beberapa minggu setelah itu, di penghujung bulan Mei aku memutuskan untuk pulang ke rumah. “Ibu… aku pulaanggg…,” teriakku di depan gerbang ketika baru saja tiba di rumah.Hening. Tidak ada jawaban, aku berjalan lurus ke dalam rumah dan menuju ke arah kamar. Sampai di depan pintu, aku mematung. Kulihat ibu sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Ibu pun tampaknya tak menyadari kehadiranku.“Ibu? Ibu mau pergi?” tanyaku cemas sembari berjalan mendekati ibu. “Ya Allah!! Iqbal.. kok tiba-tiba sudah sampai sini,” ucap ibu sambil menoleh dan memelukku. “Ibu mau kemana?” “Iqbal, ibu mau pergi sebentar, tidak jauh kok. Ada bisnis dengan teman SMA ibu dulu. Kamu di rumah sama nenek ya, jangan lupa jaga diri baik-baik, Nak!”Kurasa ingatanku berhenti sampai di sini. Aku tak lagi mengingat percakapanku kala itu, wajar saja, usiaku masih 12 tahun saat itu.Seminggu setelah keberangkatan ibu, aku kembali ke pesantren. Seringkali aku menelepon nenek, menanyakan apakah ada kabar dari ibu. Sebenarnya aku tahu, ibu tidak akan menelepon nenek, karena sebelum berangkat ibu telah berpesan bahwa di tempat ibu pergi tidak ada sinyal, dan mungkin ibu hanya bisa mengirim surat.Hampir setiap sore aku menghubungi nenek, memastikan apakah ada surat dari ibu untukku. Tapi hasilnya nihil. Pernah suatu ketika, saat aku bercakap-cakap dengan nenek lewat telepon, sering kali terdengar suara TV yang berisi berita korban tenggelamnya kapal. Aku tak berpikir panjang, memang sudah biasa nenek hobi menonton berita. Tapi hari itu, nenek berkata padaku bahwa ibu akan segera pulang, dan mungkin akan menjengukku di pesantren.Semenjak itu, setiap malam aku selalu berada di depan pintu pesantren. Bersiap menyambut kalau-kalau ibu datang menjengukku. Tiga minggu aku melakukan hal itu, namun nihil. Tidak ada tanda-tanda kedatangan ibu.“WOYY IQBALL!” teriakan Zain membuyarkan lamunanku. “Dasar kamu gentong! Ngagetin aja!” “Elu sih.. bukannya patroli malah ngelamun mulu. Tidur gih.” “Yaudah let’s go.” “Dasar kebo, giliran suruh tidur aja semangat 45.”Aku dan Zain berjalan menuruni tangga lantai 7. Menuju kamar tidur kami di lantai 6, belum ada 5 menit aku dan Zain tertidur pulas.“Iqbal.. Iqbal..” suara lembut seseorang sayup-sayup terdengar memanggilku “Hmm??” jawabku lirih tanpa membuka mata “Ada sesuatu yang tertinggal di lantai 7 Iqbal, bangunlah, ambillah benda itu di ruang tunggu.”Aku terperanjat, benarkah itu tadi ibu? Meskipun ibu telah lama meninggalkanku, aku masih ingat betul suara halusnya. Segera kupakai sarung dan kaos panjangku, berlari kencang menaiki tangga lantai 7, aku tak peduli dengan para santri yang menatapku berlari kencang di sepanjang lorong.Ruang tunggu yang rusuh dan terkesan angker tak membuat nyaliku ciut. Yang ada di fikiranku adalah ibu, aku ingin bertemu ibu. Aku yakin ibu telah menungguku disana.Beberapa detik saja, aku telah sampai di depan ruang tunggu. Cukup gelap, hanya ada lampu kecil warna kuning di dekat pintu. Terkunci, ruang tunggu ini sepi sekali, tidak ada siapapun disini. Tidak ada ibu. Apakah aku tadi hanya mimpi? Namun suara ibu begitu jelas. Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku yakin ibu ada disini, ibu pasti telah lama menungguku.Aku melihat ke dalam ruang tunggu, lewat jendela kaca yang pecah cukup lebar. Ada kertas coklat diatas meja. Tanganku meraba-raba meja itu, berusaha menggapai kertas coklat diatasnya. Benar saja, ini adalah amplop surat, seperti telah bertahun-tahun disini. Penuh debu dan sedikit terkena runtuhan material. Kertasnya pun tak lagi berwarna putih, sudah sedikit kuning, sangat usang. Perlahan kubaca satu demi satu rangkaian aksara surat ini. Mencoba menerka setiap makna yang tertera.Dariku yang merindukan dunia. Teruntuk engkau yang merindukan surga.Iqbal Fauzan, apa kabar putraku? Ibu tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Entah di usia berapa engkau akan membaca surat ini. Maaf, membuatmu menunggu kabar dari ibu. Ibu telah mengirimkan surat ini padamu sebelum ibu pergi.Namun saat itu, kata pengurus pesantren engkau masih ada pelajaran. Baiklah, ibu tak mau mengganggumu mencari ilmu. Ibu hanya berharap semoga pengurus pesantren tidak lupa memberikan surat ini padamu.Iqbal, ayah dan ibu pernah cemas saat engkau akan hadir. Tapi saat engkau benar-benar telah ada di dunia ini, ayah dan ibu sangat senang. Kami merasa memiliki harta yang tak ternilai harganya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ibu sadar. Bahwa semua yang ada di bumi ini milik Allah, dan semua akan kembali pada-Nya.Begitu pula ibu. Ibu pun milik Allah. Jika engkau merindukan ibu, ingatlah Allah. Mintalah surga pada Allah. Karena, ibu ada disana.Secarik rindu, dari aku, Ibumu.

Catatan Sejarah
Fantasy
25 Nov 2025

Catatan Sejarah

“Alisa… bangun!” Aku tergelak, mencoba membuka mata. Di depanku sudah berdiri guru sejarah. “Dasar!” umpatku dalam hati.Aku tertidur lagi saat jam pelajaran sejarah. Pasti Bu Ayu akan menyuruhku berdiri di luar kelas yang sunyi dan menyeramkan.“Alisa! Sekarang juga kamu berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai!” seru Bu Ayu dengan wajah galaknya. “M-maaf, Bu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Berdirinya di depan saja, ya, Bu. Jangan di luar, seram,” kataku memelas. “Apanya yang seram? Ini masih siang, Alisa! Ayo berdiri sana! Jangan diulangi lagi!” ketus Bu Ayu.“Ahh… ini ketiga kalinya aku tertidur saat jam pelajaran Bu Ayu. Menurutku, sejarah itu sangat membosankan. Lagipula apa pentingnya mengungkit masa lalu,” gerutuku sembari berjalan menuju teras kelas.Detik demi detik berlalu, aku mulai bosan berdiri di sini. Keadaan memang siang, tapi suasananya selalu terlihat suram. Aku jadi merinding. Terlebih lokasi kelasku berada di belakang, jauh dari kelas-kelas lainnya.Aku memutuskan untuk mengirim sebuah chat kepada teman satu komunitasku, Meisya. Hari ini kelasnya sedang ada jadwal olahraga, barangkali ia mau menemaniku menghabiskan waktu pada menit-menit terburuk ini.Alisa: Mei, masih olahraga? Kantin kuy! 09.45Meisya: Sekarang? Oke, aku ke sana yaw! 09.48Sudah sekitar tiga puluh menit aku menunggu. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda kedatangan Meisya. Aku memutuskan untuk pergi ke lapangan belakang, mencoba mencari tahu keberadaan Meisya.Ketika aku akan melangkah, tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan. Tubuhku terasa membeku. Guguran salju berjatuhan mengenaiku. Aku melirik ke atas. Atap lorong kelasku berubah menjadi awan hitam yang kelam. Terdengar suara dentuman dari berbagai arah. Aku menggigil ketakutan.Belum sempat aku memahami keadaan ini, diriku terasa didorong dari ketinggian. Bruuukk! Lalu aku tersadar, berusaha bangun sekuat tenaga. Aku begitu kaget melihat diriku sendiri. Tubuhku dibalut oleh pakaian model kuno. Mataku menyaksikan pemandangan yang memilukan, tampak begitu nyata di hadapanku.Ini seperti keadaan kota yang mengalami perang dahsyat. Seluruh bangunannya porak-poranda. Juga terdapat beberapa tentara mengenakan baju zirah. Mereka berbisik-bisik tentang rencana penyerangan yang tidak kumengerti.Aku masih berdiri linglung saat tiba-tiba tanganku ditarik paksa. “Ara, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Pergilah! Ini berbahaya!” ucapnya setengah berteriak. “Siapa? Aku bukan Ara. Aku Alisa,” kataku. “Kamu ini bilang apa, sih? Ini bukan saatnya bercanda!” serunya.Aku teringat sesuatu. Keadaan yang aku lihat tadi, seperti gambar perang di buku sejarah. Bu Ayu sedang mejelaskan latar belakang mengapa perang itu terjadi, lalu aku tertidur. Apakah aku masuk dalam sejarah?Seseorang itu bernama Elisa. Dia adalah penulis terkenal di zamannya. Penulis yang memenangkan Nobel Perdamaian atas karyanya yang menggebu terhadap perdamaian dunia. Bagaimana tadi dia memanggilku? Ara? Seingatku, Ara merupakan asisten Elisa yang turut andil dalam setiap tulisan hebat Elisa. Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Jadi, aku sekarang memasuki tubuh Ara?Saat aku berusaha melengkapi potongan teka-teki ini, Elisa menghentikan langkahku. “Lihatlah! Sahabatku, Ara. Keadaan di kota kita semakin parah. Banyak penduduk tidak bersalah yang mati sia-sia karena perang saudara ini. Perang hanya akan membawa kesedihan, menurutku,” kata Elisa pilu.Hatiku terenyuh melihat keadaan para penduduk. Mereka benar-benar kasihan. Kejam sekali orang yang menyerukan perang itu. Elisa kemudian mengajakku ke sebuah rumah—menurutku itu rumahnya. Dari luar, rumah ini terlihat bergaya klasik dengan dua lantai lengkap bersama perabot antiknya.“Oke, Ara, perjalanan kita hari ini cukup sampai di sini. Silakan masuk dan istirahat yang cukup. Firasatku mengatakan besok akan ada petualangan yang lebih menantang!” ujarnya dengan tatapan penuh semangat. “Iya,” kataku. “Kenapa hari ini kamu banyak melamun? Hmm… ya… sudahlah. Mungkin kamu terlalu lelah. Selamat malam,” ujar Elisa diiringi senyum manisnya.Elisa pun menuju kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Ara. Sejauh ini, aku melihat bahwa Elisa memanglah seorang perempuan berjiwa mulia, baik dan ramah.Malam ini, aku tidak bisa tidur. Entah kenapa, bahkan kamar yang kutempati pun tidak buruk desainnya. Kuputuskan untuk menuju balkon saat ini juga. Menatap jutaan bintang beserta purnama yang indah. Seandainya pemandangan seperti ini juga muncul di permukaan bumi.Waktu menunjukkan pukul 23:30. Tiba-tiba perutku berbunyi, tanda bahwa aku mulai kelaparan. Sejak tadi aku belum makan atau minum apapun. Dengan langkah hati-hati, aku berjalan menyusuri rumah Elisa untuk mencari dapur. Saat kuyakin itu dapurnya, aku terkejut melihat Elisa.“Astaga! Aku kira tadi siapa, El,” kataku. “Maaf… maaf sudah membuatmu kaget. Kamu ngapain malam-malam ke dapur?” tanya Elisa. “Aku lapar, mau buat makanan. Kamu mau?” tanyaku sambil mulai mencari bahan untuk dimasak. “Tidak. Terimakasih,” kata Elisa sambil terus menatap bukunya. “Tapi, El, kamu ngapain masih baca buku? Nggak tidur?” tanyaku. “Jadi begini, Ra. Kamu mau nggak bantuin aku? Aku mau menulis sebuah buku tentang perdamaian. Supaya orang-orang sadar bahwa perang tidak ada gunanya. Perang hanya akan membawa kehancuran,” terangnya panjang lebar. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanyaku. “Tolong bantu aku cari referensi. Pasti akan butuh banyak,” jawab Elisa.Esok harinya, aku membantu Elisa mencari referensi untuk tulisannya. Kami pergi ke perpustakaan kota. Setidaknya, beberapa bangunan di kota sebelah barat—termasuk rumah Elisa—masih layak untuk digunakan.Selama berminggu-minggu aku membantu Elisa menyelesaikan bukunya. Tepat pada minggu ketiga, buku itu selesai. Namun, ternyata perjuangan kami belum usai. Masalah datang dari pihak penerbit. Berhari-hari aku dan Elisa mencoba menjelaskan tentang manfaat buku itu. Hingga pada detik-detik kami hampir menyerah, telepon rumah berbunyi. Salah satu penerbit mau menerima buku Elisa. Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Buku itu beserta penulisnya mendadak jadi perbincangan hangat.Tepat setahun setelah penerbitan, Elisa menerima Nobel Perdamaian. Tulisannya telah menyadarkan para pemimpin perang untuk memilih jalan damai.Sore ini, kami memutuskan untuk berbincang di balkon lantai dua. “Aku tidak menyangka bukunya akan sehebat ini,” kata Elisa sembari menoleh ke arahku. “Ini semua berkat bantuanmu, Ra,” imbuhnya. “Sebagai tanda terimakasih, aku mau memberimu sebuah cincin,” lanjut Elisa.Ketika Elisa mengenakan cincin itu padaku, aku merasakan tubuhku seperti ditarik ke dalam lubang yang sangat dalam dan gelap.Tiba-tiba, bruuukk! Aku terbangun. “Alisa! Bangun! Kamu ini, lagi-lagi tidur di kelas!” ucap Bu Ayu dengan nada tinggi. “Bu, bukannya saya tadi sedang di tempat kuno, terus ada perang-perangnya?” tanyaku setengah sadar. “Kamu ini mengigau ya? Cuci muka sana!” seru Bu Ayu.Saat di kamar mandi, aku merasa hal itu benar-benar terjadi. Tapi kenyataannya sekarang aku benar-benar ada di kelas, dunia nyata.Aku menyalakan kran dan mulai membasuh muka. Tanganku menengadah untuk mengambil air, dan ahhh…. aku hampir saja menjerit kencang. Cincin yang ada di jariku, persis dengan cincin yang diberikan Elisa.Aku bergegas kembali menuju kelas. Membuka buku paket sejarahku. Ada coretan bolpoin tinta merah tepat di halaman catatan perang.“Terimakasih telah membantu! Simpan baik-baik cincin perdamaian itu!” -ElisaJadi, apa maksud semua ini? Ataukah aku…

Peristiwa Semalam
Fantasy
23 Nov 2025

Peristiwa Semalam

Malam ini tak seperti biasanya, setelah makan malam majikan tuaku minta diajak keluar jalan jalan ke taman. Kuturuti permintaannya begitu saja tanpa banyak protes, kupikir mungkin ada yang sedang dirisaukannya sehingga dia ingin keluar untuk sekedar menjernihkan pikiran. Sudah dua hari ini kudapati dia lebih pendiam dan suka termenung.Sepanjang jalan kami sama sama membisu, padahal biasanya majikan tuaku banyak omong, menceritakan cerita yang sama yang entah sudah berapa puluh kali kudengar dari mulutnya. Kubiarkan dia sibuk dengan lamunannya sementara aku menikmati alunan lagu yang tersimpan dalam memory hpku melalui earphone. Lagu lagu itu mampu membuat langkahku terasa lebih ringan.Hampir sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk menyusuri jalanan sambil mendorong majikan tua yang duduk di kursi roda. Bobo begitu aku biasa nemanggilnya. Bobo memang suka jalan jalan, dalam sehari bisa 3 sampai 4 kali kami keluar rumah.Aku merasa suasana malam ini begitu ganjil, kuamati lebih seksama keadaan disekitarku, baru kusadari sejak tadi tak kujumpai seorangpun berpapasan jalan denganku, tak ada satu kendaraanpun melaju membelah malam, kulihat jam di layar hp ku padahal waktu baru menunjukkan jam 20.30 masih terlalu sore untuk naik ke peraduan. Lagipula northpoin termasuk daerah padat penduduk, selalu ramai, tengah malam sekalipun tak akan sesepi malam ini.Belum juga hilang rasa heranku tiba-tiba saja kursi roda yang diduduki si mbah seperti melaju diatas jalan berbatu padahal jalanan didepanku rata. Aku berhenti ketika kudengar si mbah mulai berteriak teriak, wajahnya pucat pasi, tatapan matanya kosong, mulutnya terus meracau berkata kata dengan bahasa hokian, yang sama sekali tak kupahami maknanya, dan suara itu bukan suara mbah. Aku syok hal hal yang selama ini paling kutakuti yang hanya kusaksikan dilayar kaca, kini terpampang di depan mataku, menimpa orang terdekatku, si mbah kerasukan roh halus, dengan panik kutepuk tepuk wajahnya, kugoyang goyangkan tubuhnya berusaha mengembalikan kesadarannya, sambil mulutku tak henti membaca doa apa saja yang kubisa, aku ketakutan setengah mati, tak ada seorangpun yang bisa kumintai pertolongan, dan aku hanya bisa memeluknya erat ketika si mbah mulai meronta.Kuedarkan pandanganku berharap ada orang yang lewat, tiba tiba kulihat ada bayangan orang di gedung apartemen seberang jalan, dia berdiri dibalik tirai, di jendela lantai 7, sedang menatap kearahku, lalu dia menghilang dan lampu yang tadi menyala redup pun padam, gelap.Tiba-tiba tubuhku tersentak oleh kekuatan hebat, aku seperti baru terlepas dari sepasang lengan raksasa yang memeluku erat. Aku tersadar, ketika membuka mata sekelebat bayangan berlalu meninggalkanku, kudapati aku terbaring di ranjang kamarku. Kupaksa diriku untuk mengingat apa yang telah terjadi, kulihat jam dilayar hp ‘jam 03.00’ dini hari, ah rupanya aku mimpi buruk.Segera kuhampiri kamar si mbah, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi si mbah sedang tertidur lelap. YA ALLAH mimpiku serasa begitu nyata, badanku masih pegal akibat kekuatan yang tak kasat mata yang memelukku erat, dan sekelebat bayangan itu aku benar benar melihatnya.Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya, selesai sarapan kuantar si mbah ke taman untuk olah raga. Kuperlambat langkahku ketika kulihat kerumunan orang di depan apartemen yang muncul dalam mimpiku semalam, ada mobil ambulan, mobil pemadam kebakaran pun berjejer disana. Juga mobil mobil dari stasiun tv, para aparat keamanan sibuk menertibkan orang-orang yang menonton. Para wartawan pencari berita sibuk mengatur kamera, mencari posisi yang tepat untuk mengambil gambar. Dan dari bisik bisik yang kudengar dari orang-orang itu aku tau bahwa semalam ada seorang nenek yang gantung diri di lantai 7, dan yang gantung diri itu ternyata teman si mbah yang akhir akhir ini tak pernah lagi kujumpai di taman. Dia memang sering mengeluh kepada teman-temannya sesama lanjut usia kalau menantunya memperlakukan dia seperti pembantu, bahkan jatah bulanan dari pemerintah yang setiap bulan diterima pun dirampas oleh menantunya. Dia sering bilang lebih baik mati daripada hidup tak ada artinya. Aku yakin sekali itu dia, karena aku sempat melihat wajahnya menyembul dibalik selimut biru yang sempat tersingkap ketika petugas ambulance mengusung mayatnya.Segera saja kutinggalkan tempat itu dengan tergesa, aku hanya menjawab ‘tak tahu’ ketika si mbah bertanya siapa yang bunuh diri. Aku tak ingin membuatnya bersedih, jiwanya pasti terguncang.

Sosok yang Sedang Balas Dendam
Fantasy
23 Nov 2025

Sosok yang Sedang Balas Dendam

Berita tentang pembunuhan di jalan yang menghubungkan antara desa Jetis dan desa Wringin semakin menyebar luas ke seluruh penghuni desa sekitar. Jalan itu memang sepi dan tidak pernah dilalui seorangpun jika malam tiba. Jika ada yang melewati jalan itu saat hari sudah gelap, pasti keesokan harinya jasadnya sudah tergeletak di ujung jalan dengan kondisi tidak sewajarnya. Kejadian seperti ini memang sudah sering terjadi.Kali ini korban pembunuhannya mati begitu mengenaskan, dengan kepala terpisah dari tubuhnya, biasanya hanya ada beberapa tusukan benda tajam atau bekas sayatan di seluruh tubuhnya. Mengerikan memang, hingga warga di sini pun jika malam tiba tidak akan ada yang melewati jalan itu.“Ben, kau tau? Pelaku pembunuhan itu bukanlah manusia, melainkan penunggu jalan itu yang dulu pernah menjadi korban perampokan, dan sampai saat ini si hantu itu terus saja membunuh siapapun yang melewati jalan itu kalau sudah malam, mungkin dia sedang membalas dendam.” Ikal sahabatku bercerita sambil sesekali memegang lehernya yang terasa merinding. Ya, kabar tentang siapa pelaku pembunuhannya memang sudah tersebar luas dan hampir semua warga mempercayainya. Sekitar 2 tahun yang lalu memang pernah ada tragedi perampokan di jalan itu, korbannya seorang perempuan, dia dirampok dan dibunuh dengan banyak luka tusukan di sekujur tubuhnya, dan bahkan tangan kanannya sampai terpisah dari tubuhnya.“Sudahlah Kal, aku penasaran siapa yang sudah menyebarkan rumor begitu, aku bahkan tidak percaya jika aku belum melihatnya sendiri, barangkali itu memang perbuatan manusia.” Aku bahkan rasanya tidak percaya dengan berita itu. “Jelas-jelas itu perbuatan makhluk ghoib Ben, Mbah Parja yang merupakan orang pintar di desa ini pun bilang kalau itu perbuatan penunggu jalan itu, makanya warga di sini percaya dan tidak ada yang berani melewati jalan itu jika malam tiba.” Jelas Ikal dengan nada suaranya agak meninggi, mungkin dia agak kesal kepadaku karena dari dulu hanya aku yang tidak percaya dengan mitos itu. Jika siang aku sering melewati jalan itu, tapi memang aku tidak pernah melewati ketika malam tiba. Sebagian orang pasti akan memilih memutari desa lain jika ingin ke desa seberang daripada harus melewati jalan itu, dan hingga kini walau siangpun jalan itu menjadi sepi.“Kal, aku mau pulang dulu, ini sudah jam 4 sore.” Rumah Ikal memang berada di desa Jetis, sedangkan rumahku berada di desa Wringin. Sebenarnya jarak rumah kami dekat, hanya terpaut jarak kurang lebih 500 meter saja jika melewati jalan mistis itu. Tapi jika harus memutar lewat desa lain menghindari jalan itu, jaraknya menjadi kurang lebih 1.5 km. “Ya, ini sudah sore Ben, tapi ingat jangan lewat jalan itu.” Ikal mengingatkanku, tapi aku memang berniat akan melewati jalan itu, toh ini masih sore, masih ada beberapa jam lagi hingga malam tiba, dan aku perkirakan tidak akan sampai 30 menit untuk sampai rumah. “Masih jam 4 Kal, kau tenang saja.” Jawabku “Beni, kubilang jangan.” Ucapnya lagi, kemudian aku hanya tersenyum menanggapinya sambil berjalan pulang.Suasana di jalan ini masih sama seperti hari biasanya jika aku melewatinya, Sepi. Baru jam 4 lebih 10 menit tapi suasananya sudah hampir seperti malam. Mendung, dan pohon pohon di sekitar jalan ini terlalu rimbun jadi nampak gelap. Aku merasakan ada air menetes di mukaku. “Ah, gerimis. Aku harus lebih cepat sampai di rumah sebelum hujan.” Begitu pikirku.Panjang jalan itu hanya sekitar 100 meter saja. Sampai di tengah jalan aku merasa ada seseorang yang memanggil namaku. Aku mengabaikannya. Tapi berulangkali memang seperti ada yang memanggil namaku. Ah, itu hanya perasaanku saja, pikirku.Beberapa langkah berjalan aku melihat sekelebat bayangan hitam melintas di depanku. Aku kaget. Kali ini aku merasa jantungku sudah berdebar tak karuan. Aku kemudian mempercepat laju langkahku, namun yang kudapati aku melihat sosok perempuan berdiri di depanku. Wajahnya hancur, noda darah terlihat jelas di pakaiannya. Disamping perempuan itu berdiri, tergeletak tangan yang berlumuran darah, dan aku lihat tangan kirinya memegang pisau yang ukurannya seperti pisau daging. Sosok itu mendekat kepadaku sambil mengacungkan pisaunya. Aku melotot, tubuhku kaku, dan bibirku bergetar hebat, untung melangkah mundur pun serasa ada yang memegangi kakiku.“Si..Siapa kau?” dengan sisa keberanianku aku melontarkan kalimat tak bermutu. Mulutku sudah mulai berkomat kamit membaca doa yang sekiranya aku bisa. Sosok di depanku kemudian menghilang, aku kemudian berlari agar lebih cepat sampai rumah.Beberapa meter lagi aku berhasil melewati jalan itu, tapi aku merasakan ada sesuatu menyentuh punggungku, saat kuraba ternyata ada pisau yang menancap di punggungku. Lama-lama aku merasa pandanganku mulai gelap, aku melihat sosok itu lagi di depanku membawa pisaunya lagi dan ia tancapkan di dadaku. Dan kini aku merasakan duniaku benar-benar gelap. Aku sudah mati.

Pembunuh Berantai
Fantasy
22 Nov 2025

Pembunuh Berantai

Sudah tiga hari terakhir ini, media cetak dan online mewartakan kasus pembunuhan berantai. Bermula tiga hari yang lalu, ditemukan dua sosok tidak bernyawa di dua lokasi yang berjauhan. Namun, yang menarik, ciri kedua mayat itu mirip; laki-laki, usia sekitar 30 tahun, dibunuh dengan dengan cara diracun, dan dibunuh bukan di lokasi tempat mayat itu ditemukan.Semula, polisi dan masyarakat mengira kemiripan ciri dari kedua mayat itu hanya kebetulan belaka. Ternyata, esoknya ditemukan kembali mayat dengan ciri yang sama. Kemudian kemarin, dua hari setelah ditemukan mayat pertama, ditemukan kembali dua mayat lagi, masih sama, dengan ciri-ciri yang mirip mayat sebelumnya.Sejak itulah, polisi dan masyarakat menyimpulkan, kelima mayat itu dibunuh oleh orang yang sama. Hebohlah kemudian masyarakat di kotaku, bahwa sekarang sedang berkeliaran pembunuh berantai. Seorang psikopat.Siang itu aku hendak kembali ke kantor setelah istirahat makan siang, ketika tiba-tiba di seberang jalan terlihat Toni. Aku tidak mungkin salah, dia pasti Toni teman SMA, walaupun sudah berpisah sejak lulus SMA. Sepuluh tahun yang lalu.Aku kemudian mengejarnya. “Toni! Hey Toni,” panggilku seraya menghampirinya. “Kamu Toni, kan? SMA 4 Bandung!” Dia sedikit kaget. “Andi? Kau kah Andi?” tanyanya gugup. “Iya! Masa kau lupa sama teman sekelas.” “Bukan begitu, ga ngira ketemu kamu di sini.” “Aku memang kerja di sini. Sudah tiga tahun aku tinggal di sini. Aku juga kaget melihatmu di sini. Kamu kok ada di sini?” tanyaku tak kalah kaget. “Aku sedang ada riset. Aku baru lima hari di sini,” jelas Toni. “Riset? Riset apa, emang kamu kerja di mana?” tanyaku penasaran. “Bagaimana kalau kita ketemu lagi nanti? Sekarang aku lagi buru-buru.” “Oke, aku juga harus sudah masuk kantor. Bagaimana kalau jam enam nanti?” pintaku. “Oke, di mana?” “Di rumahku saja.” Jawabku seraya menyerahkan kartu nama. “Oke. Sampai nanti.”Pukul enam lewat, Toni memenuhi janjinya. “Kamu tinggal sendiri?” tanyanya setelah kupersilahkan duduk. “Ya. Istri dan anakku masih di Bandung. Nantilah, kalau sudah punya rumah, aku boyong ke sini.” “Jadi di sini kamu nge-kost?” “Ya … begitulah. Kamu sendiri, riset apa yang mengharuskanmu datang ke kota kecil ini?” Toni tidak segera menjawab. Dia sedikit gugup. Terlihat saat mengambil gelas dan minum. Seolah itu untuk menutup kegugupannya.“Aku kerja di media online,” jawabnya setelah meletakkan gelas. Toni kemudian menyebutkan nama sebuah media online. “Hobimu nulis di majalah dinding rupanya kau teruskan, ya?” “Ya, aku bertugas di bagian investigasi. Rubrik kriminal. Sudah hampir empat tahun aku jadi reporter kasus-kasus kriminal.” “Wow, menarik kayaknya.” “Awalnya iya. Setahun dua tahun aku menikmatinya. Beberapa kasus aku terlibat menyelidikinya bersama polisi. Tapi lama kelamaan bosan juga.” “Lalu?” tanyaku penasaran dengan ceritanya. “Aku tadinya mau mengundurkan diri. Tapi bosku menantangku untuk menjadi penulis,” lanjutnya. “Penulis? Apa bedanya?” tanyaku lagi. “Maksudnya menulis fiksi. Bosku menantangku untuk menulis cerita bersambung di mediaku. Kalau ceritaku nanti banyak yang ‘read’, ratingnya tinggi, aku akan mendapat bonus tambahan yang lebih besar dari sekedar meliput kasus.” “Oh ya? Lalu, kau sudah mulai nulis ceritanya?” “Sudah! Sudah jalan 12 chapter. Sampai saat ini yang ‘read’ lumayan. Tapi aku belum puas. Aku harus menulis cerita yang betul-betul mirip dengan kenyataan.” “Ooh … jadi itu alasan kamu sedang riset?” tanyaku. “Ngomong-ngomong kamu nulis cerita tentang apa?” Aku makin tertarik dan penasaran.“Pembunuhan!” jawabnya singkat. “Pembunuhan?” “Ya. Tapi tidak seperti pembunuhan yang aku temui dalam kasus-kasus selama ini. Pembunuhan dalam ceritaku ini penuh misteri. Sampai-sampai polisi tidak bisa mengungkap kasusnya, walaupun korban sudah jatuh sembilan orang.” “Sembilan?” tanyaku kaget, “Berarti itu pembunuhan berantai?” “Ya. Pembunuhan berantai sangat jarang terjadi. Bahkan selama aku meliput kasus pembunuhan, perasaan belum pernah terjadi.” Toni terlihat bersemangat menjelaskannya. “Pembaca harus menikmati cerita yang berbeda. Yang lain daripada yang lain.”“Lalu, riset apa yang kamu kerjakan, sampai harus jauh ke sini?” tanyaku memotong penjelasannya. Toni terbatuk-batuk, terlihat gugup lagi. Tak menyangka kupotong dengan pertanyaan itu. Aku pun merasa aneh dengan perubahan sikapnya yang mendadak itu. Tapi keanehanku terganggu saat telepon berdering. Aku pun bangkit, setelah memberi kode pada Toni untuk minta izin untuk menerima telepon. Aku hampiri gagang telepon di atas kulkas. Rupanya dari kantor, mengkonfirmasi beberapa pekerjaan tadi siang.Aku kembali menghampiri Toni. Dia sedang menutup tas tangannya saat aku duduk kembali. Dia pun sudah tidak terlihat gugup lagi. “Pertanyaanku belum dijawab ya? Jadi, riset apa?” tanyaku Kembali. “Yaa … riset yang bisa mendukung jalan ceritaku,” Toni mengambil gelas dan meminumnya. Aku pun turut mengambil gelasku dan minum. Lalu lanjutnya, setelah meletakkan gelasnya, “Supaya aku sebagai penulis bisa lebih menjiwai.” “Maksudmu?” Aku belum mengerti maksud dari riset yang dia jelaskan.Toni tidak menjawab, dia malah minum lagi. Aku pun jadi terbawa, kuminum lagi minumanku. Namun, setelah tegukan ketiga kepalaku pusing. Pandanganku kabur. Toni terlihat senyum, lebih tepat menyeringai, saat semakin kabur bayangan wajahnya di mataku. Sampai kemudian semua gelap.

Tukang Kebun
Fantasy
22 Nov 2025

Tukang Kebun

Pagi ini, Ian memandang halaman rumahnya, tepatnya menatap tukang kebun asing yang sibuk merapikan tanaman hias disana.“Bukankah seharusnya Tuan Maden yang membersihkan kebun ini? Kenapa nenek memanggil tukang kebun lain?” tanyanya. “Yah, tidak biasanya. Maden tak kunjung datang. Aku tidak tahan melihat halaman ini penuh dengan tanaman yang tak beraturan, jadi kupanggil saja orang lain.” jelas sang nenek yang tengah sibuk membelai kucing putih di pangkuannya. Ian hanya mengangguk-angguk.Tak lama terdengar suara langkah sepatu di belakang mereka berdua. Nampak seorang perempuan muda menenteng tas kecil, “Aku akan pergi ke perpustakaan untuk beberapa menit, kau ikut, Ian?” tawarnya. Sekali lagi, Ian hanya mengangguk menanggapi perempuan itu, kakaknya. “Pastikan kau membawa makanan kucing saat pulang nanti, Elisa!” pinta neneknya. “Tentu!” balas mereka berdua bersamaan.Cuaca cukup sejuk pagi ini, menjelang siang, namun tak begitu banyak orang memenuhi jalanan. Ian berjalan sembari menenteng karton pembungkus berisi makanan kucing, sementara Elisa mendekap beberapa buku yang ia idamkan dari perpustakaan tadi. “Akhirnya aku bisa meminjam buku ini setelah berminggu-minggu!” ujar Elisa sembari tertawa kecil. “Ya, ya. Kau sudah mengatakannya, nona kutu buku.” goda Ian pada kakaknya.Mereka terus berjalan, hingga mata Ian menangkap sesosok gemuk yang ia kenal tengah duduk sendirian di kursi sebuah taman, “Tuan Maden!” Tuan Maden, si tukang kebun andalan mereka. Orang yang Ian panggil menoleh dan tersenyum sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan mereka berdua agar mendekat. “Hei, kalian,” sapa pria gemuk itu.“Kenapa anda tidak datang pagi ini? Nenek menunggumu tadi,” tanya Elisa. Si tukang kebun itu tersenyum dan menjawab, “Maaf, aku sungguh minta maaf karena tidak bisa membersihkan halaman kalian. Aku benar-benar sedang tidak bisa pergi.” “Tidak bisa pergi? Tapi anda pergi menuju taman ini.” tanggap Ian sembari menatap pria berkaos putih dan berompi coklat usang itu. “Ya, karena aku harus mengurus beberapa urusan sebelum terlambat, agar aku bisa merasa tenang.” jelas Maden santai, sambil menyisir rambut berubannya. Elisa menatap pria itu dengan sedikit simpati. “Anda memerlukan bantuan untuk urusan ini?” tanya Elisa. Maden nampak berpikir sejenak, dan dengan tenang mengatakan, “Aku tak bisa mengabaikan bantuan kalian,”“Bisakah kalian pergi ke rumahku? Aku ingin kalian mengambil rompi coklatku dan sebuah botol berisi pil.” tanyanya. Ian sedikit memiringkan kepalanya, “Ada rompi lain? Kukira anda hanya memiliki satu rompi,” ujarnya sambil menunjuk rompi coklat yang dikenakan pria itu, yang mereka tahu, Tuan Maden hanya memiliki sebuah rompi coklat kesayangan. Yeah, sudah lama, mereka saling mengenal dengan cukup baik, hingga mereka hampir bisa mengerti kebiasaan satu sama lain. “Dan botol pil? Seperti apa bentuknya, warnanya?” tanya Elisa. Wajah Maden nampak lega. “Botol putih. Hanya ada satu botol pil di rumahku, aku meletakannya diatas televisi.” jelas Tuan Maden. “Baiklah. Tapi untuk apa?” Ian penasaran. “Sekedar untuk berjaga-jaga. Aku sedang menunggu teman lamaku disini, akan aneh jika ia tiba dan aku malah tidak ada disini. Karena itu aku minta tolong pada kalian. Oh ya, masuk saja ke kamarku untuk mengambil rompi miliku.” terang pria itu.Tak lama Maden menepuk dahinya, mengusap wajahnya seperti orang bingung, “Astaga, kenapa aku tidak mengunci pintu rumahku tadi?!” sesalnya. “Hah? Anda lupa untuk mengunci pintu? Baiklah, baik. Kami akan segera kesana.” tegas Elisa. Si tukang kebun itu mengangguk lega, “Baiklah, aku menunggu.”Elisa dan Ian berjalan beriringan dengan sedikit cepat, melakukan apa yang diminta Tuan Maden. “Pil? Aku tidak tahu jika Tuan Maden sakit.” ucap Ian memecah keheningan. “Tidak ada yang tahu diantara kita.” jawab Elisa, ia tampak berpikir.Mereka mendekat ke arah sebuah rumah yang usianya nampak cukup tua, sebuah papan kayu kecil bertuliskan ‘Maden’ menggantung di pintunya. Sudah lebih dari lima kali mereka mampir ke rumah ini. Cahaya matahari sedikit menyinari teras.Hanya ada sebuah rumah yang menjadi tetangga Maden, jaraknya tidak begitu dekat. Tidak ada siapapun, tidak ada aktivitas apapun di sekitarnya. Elisa kemudian mendahului Ian. Dengan perlahan, perempuan itu membuka pintunya. Elise terkekeh, “Hei, benar-benar tidak dikunci.” Kakak beradik itu memasuki rumah Maden.Beberapa furnitur sederhana tertata rapi di dalamnya, terdapat jam menunjukkan 10.05 AM. Ian meletakkan makanan kucing yang ia bawa tadi diatas meja kecil.Tak lama Ian melirik sebuah televisi yang ada di depan sebuah sofa dan meja tua, matanya menangkap sesuatu yang ia cari. “Ah, ini pilnya!” ujarnya. Ian menggenggam botol putih berisi pil itu. “Aspirin” gumam Ian membaca tulisan yang tertera di botol itu.“Kita ambil rompinya,” ucap Elisa sedikit tergesa. Ia masih mendekap buku-bukunya, seolah buku itu hanya akan aman jika berada di tangannya. Mereka berjalan lebih ke dalam, mendekati sebuah pintu kamar. Elise memegang knop pintunya, sambil menoleh kearah Ian. “Hanya ada satu kamar yang digunakan, kan? Akan lebih mudah untuk kita menemukan rompi–” “AAAHH!” Elisa dan Ian berteriak. Buku-buku di tangan Elisa berjatuhan.Teriakan keluar begitu saja setelah Elisa membuka pintu kamar. Nafas mereka memburu, kaki mereka bergetar. “Astaga!” jerit Elisa sambil menyembunyikan wajahnya di pundak adik laki-lakinya. Mata Ian melebar, tak percaya apa yang mereka lihat.Di dalam kamar itu, di depan mereka, tergeletak seorang pria gemuk beruban, tergeletak dengan kaos putih dan rompi coklat usang terpasang di tubuhnya pria itu, pria yang mereka kenal, Maden. “Bagaimana bisa?!” bingung Ian. Ia baru saja berjumpa dengan pria itu, dan sekarang apa?! Ia malah ditemukan tergeletak di rumahnya?“T- Tuan Maden? Tuan?” Ian berjongkok di samping tubuh yang tergeletak, ia menekan nadi Maden, tak ada detak nadi. Ia lalu meletakkan jari tangannya di bawah hidung pria itu, tak ada hembusan napas, terakhir, Ian tak merasakan detak jantung Maden. Kulit pria itu dingin.“Di-dia… bagaimana?” tanya Elisa dengan suara bergetar. Ian hanya menggeleng, “Aku tak bisa merasakan napas dan detak jantungnya, tubuhnya mendingin.”Elisa memberanikan diri untuk mendekat, sebuah benda menarik perhatiannya. Sebuah pisau. Pisau itu tergeletak tepat di samping tangan dingin Maden. “Apa-apaan pisau ini? Ti- tidak ada luka apapun di tubuh Tuan Maden!” panik perempuan itu. “Ini bukan pembunuhan, kan?” gumam Ian.Tak lama, terdengar suara langkah kaki masuk, disusul teriakan seseorang memanggil, “Maden! Kenapa kau mengabaikan ketukkanku? Aku kembali! Aku akan mengambil barangku—” ucap seorang pria terputus, matanya melebar, mulutnya menganga saat melihat dua anak muda menatapnya dengan kaget sambil berjongkok di dekat sebuah tubuh yang tergeletak.“Apa yang kalian lakukan?!”—Beberapa orang berseragam menggotong tubuh Maden dan membaringkannya diatas stretcher. Mereka memasukannya ke dalam mobil putih bertuliskan ‘ambulance’.Tampak dua orang polisi bercakap-cakap, berdiskusi rumah itu. Semua dimulai dari hal sederhana, dimulai ketika Maden meminta tolong pada mereka.“Apakah polisi itu akan menganggap kami gila? Maksudku, kami baru saja bertemu dengan Tuan Maden, atau tepatnya hantu Tuan Maden? Dan tidak lama kami menemukannya dalam keadaan tak bernyawa, dengan pakaian yang sama!” lenguh Ian pada pria yang ‘memergoki’ mereka berdua tadi.Kejadian yang sulit diterima akal baru saja terjadi. Elisa yang berdiri di samping Ian masih menunjukkan ekspresi kosongnya. “Tadi… anda bilang akhir-akhir ini Tuan Maden kerap mengeluh karena melihat sesuatu, Tuan Jackson?” tanya Elisa perlahan pada pria tadi, Jackson, tetangga Maden.Pria itu menghela napas sejenak dan menjawab, “Ya, begitulah. Maden bercerita padaku, ia kerap melihat orang lain di dalam rumahnya. Aku kesini hampir setiap hari, dan akhir-akhir ini ia kerap berbicara aneh! Dia berteriak, ‘hei, ada orang di sampingmu! Orang jahat!’. Kau tahu? Maden mengatakan itu sambil melemparkan sebuah vas ke arah sampingku, entah apa yang menjadi sasarannya. Hah, itu membuatku takut,” jelas Jackson pelan. “Mungkinkah dia mengalami halusinasi? Sebab dia semakin khawatir dengan kesehatannya, hingga ia kesulitan untuk tidur karena memikirkan kondisinya.” sambungnya.Elisa dan Ian terdiam, memikirkan ucapan pria itu. “Tentang kesehatan Tuan Maden… anda bilang dia memiliki penyakit serangan jantung?” tanya Ian, hampir berbisik. “Karena kami menemukan sebotol pil aspirin di dalam, dan seingatku aspirin digunakan untuk menghambat penggumpalan darah yang bisa mencegah serangan jantung.” sambung Elisa.Jackson menghela napas panjang, tak habis pikir dengan kejadian yang terjadi, “Belum lama ini Maden memang dinyatakan memiliki serangan jantung.” ungkapnya. “Omong-omong, aku minta maaf karena berteriak pada kalian tadi. Aku terlalu kaget, aku baru saja kembali dari dua hari urusan bisnis dan malah disambut dengan Maden yang tak bernyawa.” sesal Jackson pada dua anak muda di depannya. Ian dan Elisa mengangguk, “Tidak masalah, siapa juga yang tidak akan terkejut?”Mereka kembali hening, tak lama, kakak beradik itu saling bertukar tatapan. Teringat akan pisau dan aspirin, obat serangan jantung. “Mungkinkah Tuan Maden mengalami halusinasi karena kesulitan tidur?” tanggap Ian. “Dan pisau itu, bisa saja ia gunakan untuk menyerang seseorang yang menjadi halusinasinya,” kini Elisa yang mulai tenang pun ikut bersuara. “Dan saat akan melemparkan pisau ke arah sosok halusinasinya, Tuan Maden mengalami serangan jantung. Karena itulah tak ada luka apapun di tubuhnya!” tegasnya.“Bisakah begitu?”Pambajeng L. Klaten, Jawa Tengah.

Di Bawah Pohon
Fantasy
22 Nov 2025

Di Bawah Pohon

Dewi Kematian Lilith adalah sesosok dewi yang ditakuti bahkan oleh para dewa lain sekalipun. Tidak ada yang berani mendekatinya, apalagi berbicara dengannya. Rumor yang beredar mengatakan bahwa ia selalu mengurung diri di alamnya, berkutat dengan hal-hal gila. Penghuni alam dewa pun sering memperbincangkan Dewi Lilith, lebih tepatnya menggosipkan dewi tersebut.Namun semuanya berubah ketika mereka mengetahui fakta bahwa Dewi Lilith mulai mengunjungi Pohon Yggdrasil, pohon suci di mana Dewa Kehidupan Aleister berada. Mereka mulai beranggapan jika Dewi Lilith ingin membunuh Dewa Aleister, mengingat keduanya adalah sifat yang bertolak belakang.Tak ada yang tahu, kalau kenyataannya Lilith ingin menemui Aleister hanya karena rasa cintanya. Entah sudah berapa lama ia menyimpan rasa untuk Sang Dewa Kehidupan, tetapi Aleister mencintai seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali. Lilith ingin perhatian Aleister tertuju hanya padanya.“Aleister,” Lilith menghampiri Aleister yang tengah bersandar di Pohon Yggdrasil. Suara Aleister terdengar samar di kepala Lilith, “Oh, Lilith. Kamu mengunjungiku lagi, terima kasih.” Lilith duduk di samping dewa itu, lalu mendekatkan wajahnya, “Aleister, ceritakan lagi tentang kisah manusia!” “Baiklah,” jawab Aleister menyanggupi.Selama bercerita, raga Aleister yang terbalut busana putih dan cahaya memilaukan tak pernah satu kali pun berubah dari posisi awalnya. Matanya tetap terpejam seperti tidur. Ia hanya bisa berkomunikasi antar pikiran, karena untuk membuka mulut saja ia tak bisa.“Dan keduanya berakhir bahagia… selesai,” Aleister menyudahi ceritanya.Lilith tersenyum, “Hei, apakah kita berdua bisa menjadi seperti kekasih yang ada di kisah itu?” Sang Dewa Kehidupan menjawab, “Tidak bisa, Lilith. Jika kau dan aku tak ada, maka siapa yang akan mengurus siklus kehidupan?” “Tentu akan ada pengganti kita, para dewa baru,” ujar Lilith dengan santai. “Lagipula, memangnya kamu tak bosan hanya berdiam diri berdekade-dekade lamanya di pohon demi menjaga keseimbangan kehidupan di dunia, melindungi mereka?” “Ini merupakan tugasku. Aku tak akan bergerak dari tempat ini sebelum waktunya.” “Kamu butuh kebebasan, Aleister.” “Aku telah merelakan kebebasanku, Lilith.” Lilith mendengar kesedihan di suara Aleister, namun dewa tersebut menutupinya dengan nada yang tegar.“Kau tahu, Aleister? Jiwa-jiwa makhluk yang telah kau besarkan, kehidupan mereka semuanya berakhir di dalamku. Kamu harusnya membenciku karena aku memakan hasil jerih payahmu.” “Aku tak bisa membencimu. Kau hanya melakukan apa yang menjadi tugasmu,” jawab Aleister. Lilith membelai surai putih sang dewa dengan hati-hati, kemudian berbisik di dekat telinganya, “Aku akan memberikanmu kebebasan. Tunggu saja, Aleister.”Tepat setelah pertemuan itu, Lilith tak pernah mengunjunginya lagi. Sekian abad Aleister menunggu, ia tak pernah melihat sosoknya. Ingin mencari, ia tak bisa. Ingin bertanya kepada dewa-dewi lain, tetapi tak ada yang menghampiri pohonnya. Di saat itulah ia menyadari bahwa kehidupan di dunia telah mengalami perubahan. Manusia mulai mempelajari sihir tabu yang membuat makhluk hidup abadi; tak bisa mati. Siklus kehidupan berhenti, tak ada yang lahir, tak ada yang mati. Bukannya seimbang, malah menjadi stagnan.Aleister tak tahu apa yang telah terjadi. Tiba-tiba saja ia bisa menggerakkan tubuhnya. Pohonnya pun menggugurkan daunnya, lalu tumbang perlahan. Sang dewa bangkit berdiri, menghampiri para dewa lain untuk mencari informasi. Ah, tidak. Ia harus mencari Lilith terlebih dahulu.“Lilith, kau di mana, Lilith?!” Aleister melihat kabut gelap yang tebal dan diterjangnya kabut itu. Jika benar kabut itu adalah jalan masuk ke alam milik Lilith, maka–“Lilith!” Betapa terkejutnya Aleister kala mendapati dewi tersebut mulai mengabur sosoknya, kakinya bahkan sudah menghilang. “Oh, Aleister…” lirih dewi berparas jelita itu. “Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba–?” Aleister berniat membanjirinya dengan pertanyaan, namun Lilith meraih wajahnya dengan kedua tangan, mengamati dengan seksama wajah sang dewa yang biasanya tertidur. “Aku sudah janji, ‘kan?” “Janji apa–” “Aah, lihatlah. Kamu bahkan lebih tampan dari biasanya, Aleister. Kamu juga sudah bisa bergerak bebas…” Aleister menggenggam pergelangan tangan Lilith, “Bukan ini yang kuinginkan, Lilith,” ucapnya parau. Lilith menggeleng, “Kamu membutuhkannya.”Genggaman Aleister terlepas karena tangan dewi tersebut telah menghilang sampai ke siku. Ia pun buru-buru mendekap raganya, dan mendeklarasikan, “Aku akan ikut denganmu, hilang menjadi ketiadaan, kekosongan. Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Sebab yang kuinginkan hanyalah bersamamu, Lilith.” “Aleister, jangan! Kalau kamu hilang, semua kehidupan di dunia akan terulang kembali dari awal! Semua usahaku, jerih payahku untuk memberimu kebeba–” Aleister mengeratkan dekapannya dan membelai helaian hitam milik sang dewi, lalu berkata, “Selama ini kamu memakan hasil jerih payahku, tak bolehkah sekali saja aku yang berada di posisimu?” Tanyanya sambil terkekeh. Tubuhnya sendiri juga sudah mulai menghilang. Lilith mau tak mau tertawa mendengar balasannya. Di saat yang bersamaan, ia meneteskan air mata kebahagiaan.Mungkin inikah akhir yang terbaik?Lilith sempat berpikir apakah mereka bisa bereinkarnasi suatu saat, bertemu kembali dan menjalin hubungan satu sama lain. Seperti kisah-kisah manusia yang sering diceritakan Aleister.Keduanya pun menghilang bersama-sama, yang tertinggal hanyalah setetes air mata Lilith yang jatuh.—“Hei, lihat! Pohon ini besar sekali, seperti mengeluarkan aura-aura pohon mistik saja,” ucap seorang gadis kepada temannya. “Iya, sepertinya perjalanan kita ke sini untuk melihat pohon besar ini tidak sia-sia,” balas gadis yang lain.“Oh, ya, kenapa waktu itu kamu tiba-tiba bilang ingin pergi ke sini, sih? Padahal bisa tunggu liburan panjang.” “Hmm, entah kenapa aku tertarik saja untuk mengunjunginya. Rasanya seperti nostalgia.” “Alasanmu terdengar agak menyeramkan.” “Ya, ya! Lupakan saja apa yang kukatakan tadi, ayo kita foto-foto!”Kedua gadis tersebut pun menyiapkan peralatan kameranya. Ketika si gadis berambut hitam beranjak berdiri setelah mengatur kamera, tak sengaja ia menubruk seseorang yang tengah berjalan di belakangnya. “Aduh, maaf! Kau tidak apa-apa?” “Ah, aku juga salah karena tidak lihat-lihat saat berjalan, maaf.”Gadis itu kemudian diam terpaku di hadapan lelaki yang terasa familier baginya. Sang lelaki pun juga merasakan hal yang sama.“La, ayo sini foto!” Panggil teman gadis tersebut. “Iya, sebentar!” Ia pun bergegas menghampiri temannya, sebelum lelaki itu menggenggam tangannya. “Maaf kalau aku tidak sopan, tapi boleh aku tahu namamu? Namaku Allistor.” “Eh, um, namaku Lyla. Salam kenal. Aku harus pergi dulu, temanku memanggil!” Allistor tersenyum sembari melepaskan genggamannya, “Maaf sudah mengganggumu,” kemudian ia berbalik dan menatap pohon besar itu dengan tatapan sendu.

Virginia McQueen
Fantasy
22 Nov 2025

Virginia McQueen

Pada era 80-an, kasus kriminal dan penindasan serta politik memang sedang berapi-api. Gadis 16 tahun bernama Virginia ini hidup dalam bayang-bayang besar kakak laki-lakinya. Louis McQueen memang terkenal karena ia banyak sekali berpartisipasi dan memecahkan banyak kasus dengan caranya yang unik, selain itu fisik dan karakternya benar-benar membantu dalam ketenarannya ini. Namun, sejak kecil Virginia sudah jarang sekali bertemu dengan Louis. Louis sudah ditempatkan di sekolah yang khusus untuk orang-orang yang nantinya akan bertatap langsung dengan kasus-kasus kriminal.Ibu dari Louis dan Virginia, Meghan McQueen juga mengajari Louis banyak hal seperti Floriography (bahasa bunga), teka-teki huruf, sains, bela diri, seni berpedang dan lain sebagainya yang memang berkaitan dengan hal yang berbau “permainan/teka-teki detektif”. Tidak hanya Louis, Virginia juga diajarkan hal seperti itu oleh ibunya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Virginia mulai jarang melihat ibunya. Meghan terkadang suka sekali menghilang tanpa meninggalkan surat sehingga Virginia harus menunggu bahkan mencari ibunya, namun dengan kerumunan kota yang sedikit beresiko, maka Virginia tidak bisa berbuat apa-apa.Suatu pagi Virginia bangun dari tidurnya yang lelap, berlarian kesana kemari dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Dengan antusias, ia berteriak memanggil ibunya untuk ikut berkumpul bersamanya di ruang keluarga. Namun, hasilnya nihil. Rumah terasa sangat kosong, Virginia sudah menduga hal ini akan terjadi. Adakah seorang ibu yang tega meninggalkan seorang anak sendirian tepat pada hari ulang tahun anaknya? Meghan meninggalkan rumah tanpa kabar lagi.Virginia kali ini benar-benar bertekad kuat untuk mencari ibunya, karena dia pikir tidak mungkin dia merayakan ulang tahunnya sendirian. Akhirnya dia mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke tengah kota. Virginia membawa buku floriografi, uang, dan barang yang menurutnya penting untuk dibawa selama perjalanan. Tidak lupa dengan dua helai roti sebagai bekal dalam perjalanan. Dan disinilah pertualangan Virginia dimulai.Virginia pergi dari rumah untuk mencari ibunya. Terlebih, diam-diam ia mendapat beberapa petunjuk penting dari Meghan. Kali ini Virginia tahu persis ibunya berada di tengah perkotaan, untuk sampai kesana Virginia harus melewati perjalanan yang panjang. Mau tidak mau ia harus naik kereta. Untuk masuk ke dalam kereta, Virginia wajib membeli tiket. Namun untuk membeli tiket ia harus mengeluarkan uang sebesar $55,43 yang tentu saja ia tidak akan mengeluarkan uang hanya untuk hal sepele seperti ini maka Virginia menemukan cara lain untuk masuk ke dalam kereta yaitu dengan cara menyamar sebagai seorang kakek tua dari seorang wanita muda. Padahal kakek dari wanita muda ini sebenarnya sedang membeli makanan untuk bekal dalam perjalanan, dengan segala akal pintarnya Virginia menyamar dan tanpa disadari mencuri tiket dari seorang kakek tua tadi dan memanipulasi seorang wanita muda.Ketika ia berhasil untuk masuk ke dalam kereta, Virginia berkenalan dengan Gomez, pemuda bangsawan yang kabur dari rumah dengan bersembunyi di tas. Awalnya Virginia hanya melihat sebuah tas besar yang diletakkan tepat di hadapannya tanpa sang pemilik. Virginia adalah orang yang selalu penasaran, namun ia tau membuka sesuatu yang memang bukan miliknya adalah perlakuan yang tidak baik. Dengan segala pergerakan yang ada di dalam tas itu membuat Virginia semakin penasaran dan juga sedikit waspada, maka ia membuka tas itu dan disanalah Gomez meringkuk didalam tas. Tak disangka, pertemuan itu menuntun Virginia pada kasus besar yang berkaitan dengan parlemen Inggris hingga membuat nyawa keduanya terancam.

Lana
Fantasy
22 Nov 2025

Lana

Purnama bergelayut di petala langit menghias malam. Bersama jutaan gemintang seperti lentera dalam gua yang dikelilingi kunang-kunang. Semilir angin mendepak dedaun rindang. Satu-dua daun berjatuhan ke jalan tanah tak terurus. Mungkin, sudah lama tidak ada kaki yang menapak di sini. Jalan tersebut tertutup banyak daun.Pelan, langkah kaki terus berjalan. Hati-hati, dia yang sedari tadi berjalan kaki tak jua lelah mencari. Dia menghitung, sudah hampir tiga jam perjalanan, belum juga menemukan satu tanda. Pikirnya, mungkin purnama hari ini akan berakhir gagal seperti purnama sebelumnya.Daun kering jatuh kehadapannya. Perasaannya mengatakan, ada yang aneh di daun itu. Segera ia melangkah cepat ke arah daun.—Trek! Satu ranting terkena pijakan. Sosok dibalik jubah terbangun. Dia yang di atas pohon segera turun. Matanya menerawang sekitar. Aroma manusia menusuk indra penciumnya. “Ada yang datang,” gumamnya pelan. Cepat ia menyuruh anak buahnya untuk memeriksa.—Ada satu kisah masyhur di kalangan penyihir, tentang bagaimana seorang penyihir mencintai manusia. Kisah itu selalu berakhir tragis merengut nyawa.Di semenanjung Roma, terdapat aliansi rahasia yang tidak diketahui manusia. Di hutan belantara, bangunan megah berdiri dengan arsitektur kuno bangsa Romawi. Masih berdinding dan lantai kayu. Mereka menamakannya Akademi sihir yang dihuni puluhan pelajar.Zazlina manusia yang tertarik akan ilmu sihir. Perjalanan panjangnya membawa dia ke akademi sihir. Hampir sepuluh tahun dia belajar di sana.Bukan hanya itu, perjalanan Zazlina membawa dia bertemu dengan Tarmiel Muktah, keturunan penyihir dari negeri antah-berantah. Mereka saling mengenal, bercerita, hingga buih-buih cinta mendekap keduanya. Ini sebuah masalah besar, sudah banyak peringatan untuk mereka. Tapi, cinta adalah cinta. Selalu sempurna dengan ketidak sempurnaannya. Cinta membuat ragu jadi keyakinan yang kuat. Rela menepis badai salju, bersedia berperang dengan semua yang ada. Mereka tetap menikah. Dan ketika dikaruniai satu putra, mereka berdua menghilang.—Senja sudah dirajut mega pertanda malam hari telah tiba. Lampu-lampu bar milik Hugraid menyala terang. Di sebelah kanan pintu bar itu, dua obor yang bersilang mati. Tandanya tidak ada minuman yang bisa dibeli. Semuanya telah habis.Khiim berjalan menuju pintu. Pikirnya, Hugraid lupa menyalakan lampu obor itu. Secara, malam baru saja tiba tidak mungkin minuman habis tidak tersedia.“Hai, Hugraid,” sapa Khiim setelah membuka pintu, “Apa kabar?” “Baik. Selalu baik, Khiim,” jawab Hugraid sembari merapikan gelas-gelas bambu. “Habis?” “Kau tidak lihat? Obornya sudah mati?” “Kenapa?” “Perempuan itu memborongnya,” tunjuk Hugraid kepada seorang wanita yang duduk di meja paling pojok. Khiim mengikuti arah telunjuk Hugraid. “Astaga. Aku sangat ingin minum vodka. Mungkin aku akan memintanya satu botol.” “Jangan,” bisik Hugraid. “Kenapa?” “Kubilang jangan.” “Jangan khawatir, Hugraid.” Khiim berjalan menuju tempat wanita itu. Beberapa botol sudah berserakan di lantai.“Hmm. Maaf, Nona. Aku sangat ingin minum. Bolehkah minta botol vodka. Atau membelinya,” kata Khiim sesampainya di hadapan wanita itu. “Ambil saja.” Wanita itu merapikan posisi duduknya tanpa melihat ke arah Khiim. Khiim sedikit heran. Bagaimana wanita ini tidak mabuk setelah meminum banyak bir. Khiim mengambil satu botol di meja. “Terima kasih.” “Ya.”“Boleh duduk?” “Ya.” Khiim duduk berhadapan terhijab meja. Di tempatnya, Hugraid bersiap dengan segala kemungkinan. Mengumpulkan tenaga, siap merapalkan mantra. Jaga-jaga jika perempuan itu menyerang Khiim. Sorot matanya teliti memerhatikan dengan tangan saling mengepal.“Baik. Namaku Khiim Muktah.” Khiim menyodorkan tangan. “Aku tidak punya nama,” acuh perempuan itu. “Em ….” Khiim berpikir sejenak. “Aku memanggilmu Lana.” “Kenapa harus Lana?” “Lana artinya abadi.” “Ya.” Perempuan itu meraih tangan Adam.Hari kian berganti, keakraban mulai membalut hangat kasih hati mereka. Ada tawa bahagia berlabuh di persimpang cerita. Asa untuk hidup bersama bagai rona-rona rambut Rapunzel. Menjelma menjadi detik-detik penuh makna pindai cinta. Selalu ada puisi dalam hening malam. Suara-suara dua insan syahdu sedang meraung harapan bersama. Tanpa dimakan waktu. Tanpa memajuh usia. Tanpa disibak pisah.Khiim telah menemukan pengisi ruang kosong dalam hati sunyinya. Terkadang, Lana bagai lantunan irama merdu lilin lebah. Nada dan irama memberi titik terang pada lilin batiknya hatinya. Lana berbeda dari perempuan lain yang pernah ia temui. Tubuh tinggi dan ramping dengan rambut dan mata cokelatnya semakin membuat berhasil menyihir kedua matanya.Begitu pula dengan Lana. Ia serasa menemukan jiwa yang telah lama direngut semesta. Rembulan yang sempat tenggelam di wajahnya terbit kembali. Senyum itu, bisikan syair-syair semilir angin menutupi titik-titik kecil hatinya. Ditambah, Khiim tidak merasa terganggu jika dirinya seorang penyihir. Ada perasaan yang tidak biasa ketika ia di dekat Khiim.“Kau pernah berpacaran, Lana?” Tanya Khiim pada suatu sore di tetabun sawah. “Pernah.” “Apa yang terjadi pada mantan pacarmu?” “Aku membunuhnya, Khiim.” Khiim tertawa. Hal menyeramkan akan menjelma lelucon tatkala diucapkan Lana.Lana tidak pernah menetap selama lebih dari tiga hari di satu tempat. Berpindah. Selalu gagal dalam setiap hubungannya dengan manusia. Kecuali saat ini. Saat Khiim memasuki rongga kosong dalam hidupnya.“Sudah lima purnama kita bersama, Lana. Kuharap akan bertahan selama purnama masih ada,” kata Khiim di suatu sore.Hubungan Lana dengan pria lain selalu berakhir tragis. Gagal dengan kematian dari pasangannya. Tercatat, sudah lebih dari delapan pria. Lana sadar, bahaya mengancam kisah mereka. Khiim akan mati dan Lana kembali memeluk sepi.Dunia sihir punya aturan. Jika penyihir menikah dengan manusia, itu berarti mengundang kematian untuk salah satunya. Seperti yang terjadi pada orangtua Khiim, di mana Zazlina harus rela dijemput maut. Dan Tarmiel, meninggal atas rasa sedih kepergian Zazlina.Purnama ke-7 setelah pertemuan mereka, tepat pada pertengahan Desember, Lana secara tiba-tiba menghilang. Ia pergi tanpa pamit, dan memaksa Adam untuk melupakan enam purnama bersamanya. Dalam suratnya, Lana mengatakan jika ini adalah pilihan yang terbaik untuk mereka berdua. Sebelum petaka menimpa, lebih baik sebuah kisah berakhir lebih awal. Kasih yang singkat hanya membekaskan luka ringan. Waktu yang sebentar gampang dilupa ketimbang waktu lama. Dan Khiim, bertekad membatalkan aturan tersebut.“Aku sudah memperingatkanmu, Khiim. Lana seorang penyihir. Jika kamu terus bersamanya, kamu akan mati,” bentak Hugraid di dalam barnya. “Bagaimana jika aku seorang yang mewarisi sihir?” tanya Khiim dengan kepala menunduk. “Tetap saja. Kamu punya darah manusia,” ujar Hugraid. “Tarmiel Muktah dan Zazlina adalah saksi dari perjanjian itu. Cinta mereka berujung maut.” Khiim menjawab pelan. “Mereka orangtuaku.” Sontak Hugraid sedikit kaget. “Jadi, kamu benar-benar mewarisi ilmu sihir?” “Ya. Aku berada di Akademi Sihir.” “Sejak kapan?” “Sebelum aku bisa mengingat.” “Baik. Aku bisa menolongmu.” “Benarkah?”Hugraid berdiri. “Tidak ada cara untuk menghentikan kutukan tersebut. Tapi ada satu mantra terlarang yang bisa membuatmu terus berinkarnasi. Itu artinya, jika kamu mati, rohmu akan mencari wadah baru dan hidup kembali.” “Bagaimana dengan Lana?” “Itu bukan masalah. Aku tidak tahu dia berasal dari mana, tapi dia punya kutukan panjang umur.” “Ajari aku.” Khiim berdiri menghadap Hugraid. Pancaran matanya sedikit berubah. Hugraid menggeleng. “Kau harus mengambil jantung lima penyihir.” Mata Khiim memincing.“Penyihir muara yang bisa mengendalikan ikan, cara mengalahkannya adalah memancing dia untuk naik ke darat. Omong kosong melawan dia di air. Kekuatannya bertambah dua kali.” “kemudian penyihir padang pasir. Dia punya mantra untuk membuat segel. Satu-satunya cara mengalahkan dia adalah memanggil hujan. Dan kamu diuntungkan oleh sihir ibumu.” “Kau tidak bisa menang dengan penyihir jepang. Dia melantunkan mantra berupa haiku. Kau harus membalasnya dengan syair juga. Pelajari mantra-mantra sonetta bapakmu.” “Lalu penyair topi jerami. Dia ada di sebuah tanah yang dikelilingi sawah. Hati-hati, dia bisa mengendalikan sepuluh ribu orang-orangan sawah.” “Dan yang terakhir, pengendali kelalawar. Penyihir yang buruk dan kejam. Saat akhir purnama, dia akan berada di hutan. Aku tak bisa menyebut hutan mana, tapi pasti dia di sana. Tanda-tandanya ketika banyak kelalawar berkumpul.”Dari penjelasan Hugraid, hanya penyihir kelima yang membuat Khiim sedikit terkejut. “Apa harus penyihir kelalawar?” komentarnya. “Ya. Harus.”—“Sudah dekat,” gumam Khiim. Daun yang berlubang itu ternyata bekas pijakan kaki kelalawar. Khiim mulai berjalan kembali.Satu kelalawar terbang di samping kirinya. Dia menoleh cepat. Satu lagi menyusul di arah kanan. Matanya memerhatikan. “Tidak salah lagi. Ini tempatnya.”Puluhan kelalawar dengan bising menuju ke arahnya. Dia yang sadar akan bahaya segera menutup mata. Mengumpulkan tenaga, dan merapalkan mantra. “Grimore.” Mantra pengahalang membuat perisai sebening kaca berwarna merah menutupi tubuhnya. Segara mungkin ia mengeluarkan buku mantra dan bersiap untuk serangan berikutnya.“Percuma saja. Tidak ada yang bisa menembus perisai ini.”Kelalawar membuat gelombang lebih besar. Mengelilingi perisai Khiim. Mereka berkumpul di hadapan Khiim membentuk lingkaran. Kelalawar berpencar, dan, Lana muncul di sana.“Semua mantra punya kelemahan,” kata Lana. Khiim terperanjat. “Lana?” “Kau ingin mengambil jantungku?” Lana menatapnya tajam. “Tidak.” “Reinkarnasi butuh lima jantung.” “Hugraid memberikan miliknya. Dia takut kejadian orangtuaku terulang lagi.”Lana mulai menangis. Ternyata lelaki di hadapannya memberikan cinta yang tulus. “Lepaskan mantra penghalang itu.” “Untuk apa?” Khiim khawatir Lana memberi serangan lanjutan. “Lepaskan.” Tangis Lana menggema. Khiim mengangguk. Lana berlari ke arahnya. Memeluk erat orang yang ia cinta.“Aku diberkahi umur panjang. Usiaku bertambah ketika memakan manusia, Sayang.” Lana menyandarkan pipinya di dada Khiim, membuatnya basah dengan air matanya.Khiim mencium kening Lana dan mengusap rambutnya yang terurai. “Ini sudah berakhir. Ini sudah berakhir.” Bebeberapa air menetes dari matanya.“Reinkarnasi menyakitkan, Khiim. Kau akan mati, dan aku kesepian. Kemudian kau hidup, kita bertemu dan bersama lagi. Dan terus seperti itu.” “Tentu. Tapi yang terpenting adalah kita bisa terus bersama. Jika aku mati, anggap saja kita sedang menjalani LDR.”“Aku sangat mencintaimu, Khiim.” “Aku juga, Lana.”

Menampilkan 24 dari 230 cerita Halaman 9 dari 10
Menampilkan 24 cerita