Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Sorry Friend
"Kenalin Zaf, ini sahabat aku Lea" kata Sasa."Oh yang sering kamu ceritain itu ya?" Tangan Zafran terulur bermaksud berkenalan."Zafran" sebutnya, aku tersenyum saja menyahutinya.Aku menyukai senyumnya sejak pertama kali, perkenalan ini bukanlah pertemuan pertama kami. Aku pernah melihatnya di acara pesta pernikahan putra dari rekan kerja ayah ku.Aku ingat sekali bagaimana caranya tersenyum hangat menyambut setiap tamu yang menghampirinya. Kala itu aku sedang berdiri di samping ayah ku yang sedang bercanda gurau dengan temannya, sang ayah mempelai.Dia masih sama. Selalu tampan, gagah dan ramah. Jas kerjanya itu seolah tak dapat lepas dari genggaman meskipun ini sudah bukan jam kantor lagi.---Makan malam telah kami bertiga selesaikan. Senyum ramah terus ku tebar meski kenyataan pahit sudah daritadi menusuk-nusuk.Kalian tahu alasan makan malam ini apa? Sasa sahabat ku ini, berjanji akan memperkenalkan aku dengan lelaki yang berhasil menarik hatinya.Dan yah.. satu-satunya lelaki pujaan Sasa yang diperkenalkan pada ku malam ini ya hanya Zafran, yang ternyata pujaan hati ku juga.Jujur saja, aku menyesal penasaran. Aku memang senang bisa tahu nama lelaki yang ku kagumi, tapi bukan seperti ini caranya.Kini langkah kami menuju keluar, bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing.Sial! Aku lupa, aku kan tidak bawa mobil sendiri hari ini. Menelpon sopir pasti kelamaan, mengingat alamat rumah ku jauh dari daerah sini."Lea""Hmm?" Kata ku tertegun dan langsung menatap Sasa."Kamu ga bawa mobil?"Aku tersenyum masam sambil geleng-geleng. Sasa meraup lengan baju Zafran sampai tubuh Zafran tertarik kemari."Kamu anterin Lea ya" pinta Sasa yang diangguki ringan oleh Zafran.Ah Sasa kamu beruntung punya pacar seperti Zafran yang tak menolak kehendak mu. Batin ku semakin kagum dibuatnya.Sebelum aku dan Zafran masuk ke mobil, kami berdua berdiri di area parkir ini untuk melihat Sasa yang pulang dengan mobilnya sendiri.Rumah ku dan Sasa berbeda arah, dan jaraknya juga sangat jauh. Itulah mengapa Sasa tak berani mengantar ku pulang dengan mobilnya, apalagi sudah larut malam seperti ini.Ku lirik Zafran sedang melambai kecil ke mobil Sasa. Lalu dia meminta aku untuk segera masuk ke dalam mobil.Selama diperjalanan baik aku maupun dia, kami sama-sama terdiam. Berdebar hati ku diposisi sedekat ini, aku ingin mengenalnya lebih jauh tapi Lea sahabat ku?"Zaf" panggil ku takut-takut."Hmm?" Dia masih fokus pada jalanan.Ternyata aku benar-benar tak ada artinya untuk seorang Zafran. Hati ku sedikit sakit menyadari dirinya yang memang tak mungkin tertarik pada ku."Boleh aku minta nomor ponsel mu?" Tanya ku.Aku masih memberanikan diri, kalau-kalau saja diperbolehkan kan?"Boleh, simpan lah"Hati ku girang sendiri. Padahal aku tahu meskipun ini peluang, tetap saja aku tak mampu untuk menyakiti sahabat ku sendiri.Ingin rasanya ku bunuh sahabatku saat ini, tapi tak mungkin kan? Lagi pula aku tak se-psiko itu! Aku masih waras dan masih menyayangi Sasa juga.Setelah ku catat nomornya, aku kembali bingung. Aku sendiri tidak tahu harus ku apakan nomor ini nanti? Ah sudahlah, aku bisa menggunakan nomor ini untuk memantau fotonya, atau enggak minimal aku tahu kapan terakhir kali dia online.Semiris itu loh guys nasib cinta ku.Aku menelpon nomor Zafran. Bermaksud memberinya nomor ponsel ku juga.Ponsel pria itu berdering. Panggilan masuk itu tentunya dari ku, tapi ia tak menggubrisnya."Zaf, itu nomor ponsel ku" kata ku akhirnya."Iya" jawabnya, masih dengan fokus menyetir.Astaga, rasanya saat ini yang lebih baik ku bunuh duluan bukan Sasa, melainkan Zafrannya!Dia tak berniat menyimpan nomor ku atau bagaimana? Gak ngerti lagi aku.Jutek! Beda sekali dengan Zafran yang diperkenalkan dengan ku di dalam restaurant tadi. Apa jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda? Psiko? Argh mikir apa aku ini!?---Sesampainya di depan rumah ku, dia tak sedikit pun membuka kaca mobil barang sekejap melambai kecil pada ku, seperti yang ia lakukan pada Sasa tadi.Dia hanya memberi klakson satu kali, lalu mobilnya melesat pergi.Ya sudahlah ada baiknya aku segera masuk, cuci muka lalu tidur.---Seminggu berlalu, dan ini adalah hari Minggu yang paling cerah. Karena hari ini aku memutuskan untuk meliburkan diri sampai lusa nanti!Aku tidak ada acara pergi kemana-mana, jadi aku sudah berencana setelah selesai sarapan ini aku mau menyambung tidur lagi.Baru saja aku selesai menenggak habis susu ku, tiba-tiba ponsel ku berdering. Kalian tau apa yang membuat ku lebih senang lagi?Zafran is calling!Asiikkkk dia menelpon ku untuk pertama kalinya. Artinya malam itu nomor ponsel ku disimpannya! Oh my God, jantung ku kontrol Lea, kontrol!"Halo" sapa ku penuh semangat."Maaf mengganggu mu, apa kau sedang sibuk?" Tanyanya ragu-ragu.Aduh ingin ku jawab emangnya kapan aku sibuk kalau untuk kamu!?"Emm nggak. Ada apa?""Temani aku keluar hari ini""Oh ya udah ayok!" Kata ku antusias.Ya ampun mulut ku ini!Tapi tumben, kemana aura pria berdarah dingin malam itu? Belum sempat aku bertanya-tanya.."Bersiaplah aku akan menjemputmu sekarang!" Katanya lalu memutuskan sambungan telepon.Aku pun lantas bersiap-siap. Untung saja aku punya kebiasaan mandi pagi buta, kalau nggak, bisa kelamaan dia nungguin aku.Beberapa menit berselang..Tin. tin.Suara klakson mobilnya sudah berbunyi, aku pun keluar menenteng tas sandang ku."Hai" sapa ku yang disambutnya dengan senyuman."Ada apa? Kok tiba-tiba mengajak ku pergi?" Tanya ku setibanya di dalam mobil.Dia memasang cengiran kuda yang tak biasanya.Ah aku baru tahu, ternyata dia bisa juga ya menampilkan cengiran seperti itu?Mobil perlahan melaju, ku lihat dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya sebelum bicara."Ini coba lah!" Katanya menawarkan aku camilan yang ia makan barusan.Aku pun mengambil beberapa di tangan ku, hanya untuk menghargainya."Aku hari ini mengosongkan jadwal kerja ku, sengaja untuk menghabiskan waktu bersama Sasa. Kau tahu Sasa ada dimana?"Mendengar penjelasan barusan, rasanya aku ingin menangis, guling-guling, teriak-teriak, dan semuanya! Aaaahhhh hati ku sakit mendengarnya.Ternyata dia hanya ingin menanyakan Sasa! Kalau tahu begitu lebih baik aku berlibur di rumah saja, TANPA PANGGILAN DARINYA!"Maaf Zaf, aku tidak tahu. Yah kau tahu sendirilah kami berdua sama-sama sibuk bekerja" ujar ku jujur."Lalu kenapa kau bilang tadi kau sedang tidak sibuk?" Tanyanya lagi."Aku mengambil cuti sampai lusa""Oh bagus kalau begitu!"Bagus? Apa maksudnya? Apa dia berniat meminta ku untuk menemaninya berduaan dengan Sasa? Shit!"Kau mau kan menemani ku jalan-jalan hari ini?"Aku menatapnya cengo, otak ku mendadak lemot, emm gimana-gimana? Jalan-jalan? Menemaninya? Telingaku tak rusak kan?"Emm maksud mu?" Tanya ku tanpa menyembunyikan raut kebodohan."Iya jalan-jalan dengan ku, bagaimana? Kau tidak mau ya?""Ah tidak-tidak. Aku mau kok"Setelah itu terbit lah senyum merekahnya, aku pun ikut tersenyum girang melihatnya. Ahhh dia semakin manis saja.---Kami pun jalan-jalan mengitari kota, lalu pergi ke toko roti, mencicipi kue-kue yang sangat aku suka, lalu mencoba ice cream yang kata Zafran terkenal enak. Dan emang enak hehe.Lalu terakhir..."Naik rollercoaster yuk!" AjaknyaWhat!!?"Tidak mau. Aku takut ketinggian!" Tolak ku.Argh melihat mesin gila itu saja rasanya perut ku sudah mual, apalagi jantungku yang bergidik ngeri hanya dengan mendengar namanya."Ayolah. Tak akan terjadi apa-apa, kau bisa menggenggam tangan ku kalau kau takut" Katanya meyakinkan ku.Baru saja aku mau mencoba melarikan diri, tiba-tiba tangan ku tertarik. Dan tubuh ku pun sudah digeretnya menuju mesin gila itu.Ntah kenapa tiba-tiba saja aku teringat mama.Permainan ini sudah membuat ku hampir jantungan rasanya, dia meluncur lalu naik lagi lalu meluncur lagi, seolah tak kenal dosa astaga.Rasanya mual sekaligus senang. Yah untunglah orang yang menjadi tempat ku berpegangan adalah Zafran. Coba kalau orang lain, semakin merugi lah aku.Sekarang aku sedang duduk di mobil, tubuh ku bersandar, leher ku lemaskan, kaki ku luruskan. Aku merasa sangat lemas. Untung saja kue dan ice cream yang ku makan tak ku muntahkan.Inikah jalan-jalan yang ditawarkan?"Ini minum dulu" tawar Zafran.Pintu mobil sengaja ku buka agar aku mendapat pasokan angin yang banyak.Zafran duduk di kursi kemudinya. Tangannya terulur memeriksa dahi ku yang berkeringat dingin.Ingin ku serapahi, tapi sayang."Wajah mu pucat sekali"Hadeh. Ya iyalah bodoh! Kepala ku pusing sekali rasanya. Umpat ku diam-diam."Maaf.." ujarnya terdengar menyesal dan khawatir. Tapi tak ku gubris, mulut ku sulit sekali untuk diajak mengobrol saat ini.Ku lirik dia sedang menelpon seseorang, menyuruh orang itu datang kemari. Aku tidak tahu itu siapa, aku ingin istirahat rasanya tapi mual.Beberapa menit setelahnya, ada seseorang sedikit tua datang menghampiri mobil ini.Zafran keluar dari mobil, dan bapak itu menggantikan alih kemudinya.Apa yang direncanakan Zafran? Astaga setelah membuat ku terkapar lemas, apa dia tega menjual ku juga?Ku lihat Zafran membuka pintu penumpang yang belakang, lalu dia menghampiri ku, dan menggendong/? Ku."Kita duduk dibelakang saja, agar kau dapat beristirahat" tuturnya.Ia menaruh ku di kursi, setelah menutup pintu lalu dia pergi masuk dari pintu sebelahnya.Dia menepuk-nepuk pahanya."Berbaring lah" arahnya sembari menarik tubuh ku perlahan.Aku pun merebahkan kepala ku di atas pangkuannya. Aku bingung, tapi aku senang! Dia benar-benar berbeda dengan orang yang malam itu mengantar ku."Pejamkan lah mata mu" perintahnya dengan nada lembut, jangan lupakan dengan tangannya yang membelai rambut ku.Ya ampun dia sangat hangat. Oh God, jika ini mimpi aku mohon jangan bangun kan aku.---Malam ini tubuh ku jauh lebih segar daripada saat pulang bersama Zafran tadi.Aku duduk di balkon kamar ku, tangan ku terus memainkan gelas susu coklat yang isinya tinggal separuh.Memikirkan Zafran rupanya sangat baik untuk kesehatan psikis. Bibir ku masih senantiasa tersenyum, bolehkah aku jujur? Aku ingin lagi.Ingin bersamanya sehari lagi.Tapi jika hal tadi terjadi lagi, aku yakin yang kedua pasti hanya mimpi.Aku pun menenggak susu ku sampai habis..Tring!Ada satu pesan masuk. Aku pun meletakkan gelas dan meraih ponselku diatas meja, mengeja kata demi kata di pesan itu. Lagi-lagi garis bibir ku hampir terangkat.ZafranBagaimana kondisi mu? Jangan lupa makan dan jangan istirahat terlalu larut.Setelah ku eja semuanya, senyum yang ku tahan daritadi sudah tak bisa disimpan lagi.Aku berlari masuk ke dalam, lalu meloncat ke atas kasur dengan posisi terlungkup.Ku guling-gulingkan tubuh ku sembari menjerit kecil penuh rasa gemas. Aaaahhh dia begitu perhatian pada ku!! Bolehkah aku bertanya? Cara ku mengekspresikan perasaan bahagia ini tidak konyol kan!?END
Pacar Online
Paras cantik, menawan dan prestasi juara taekwondo ternyata tidak menjamin seseorang dapat memiliki kekasih seperti para playgirl yang bar-bar.Xaviera Angela contohnya. Dia sama sekali tak tertarik pada semua lelaki yang menggandrunginya. Dan karena julukan anti cowok-nya itulah, dia justru dijauhi oleh teman-temannya. Mereka khawatir aja Xaviera memiliki kelainan seksual lesbianisme alias penyuka sesama jenis.Padahal Xaviera normal kok. Dia jaga jarak sama lelaki-lelaki modus itu karena ada hati yang harus dia jaga. Hati milik lelaki ghaibnya, eh maksudnya pacar online-nya. Namanya Diorama.Nama akunnya:Xaviera: @ a rraDiorama: @rama_dMereka berdua sudah 4 tahun dekat. Mereka sama-sama tidak tahu rupa sesungguhnya itu seperti apa, karena selama ini mereka hanya fokus pada komunikasinya aja. Foto unggahan? Mereka tak pernah mengunggah foto apapun, termasuk profil. Kalaupun minta pap, paling keduanya usil terus yang dikirim adalah foto artis."Ram ram tolongin aku!" Jerit Arra histeris."Sabar kali Ra. Lagi otw nih" jawab Rama dengan mulut yang dipenuhi snack tapi dengan nada kesal karena mendengar suara Arra yang tidak sabaran dari earphone-nya.Itulah rutinitas mereka dalam menghabiskan seperempat hari mereka. Bermain game online-_-BRUAAKKK!"Aw sakit!"Seseorang menabrak Arra, dan diseberang sana seseorang juga sedang menabrak Rama.Sebenarnya mereka sudah bertemu dikehidupan nyata namun dalam keadaan yang berbeda. Dimana mereka tidak menyadari bahwa mereka tinggal di satu kota yang sama, sekolah yang sama dan bahkan barusan mereka saling tabrakan."Dior!?""Xaviera"Ujar mereka bersamaan. Game yang sedari tadi mereka mainkan bernasib naas, karena ponsel mereka terjatuh beserta earphone dan snack-nya juga."Ya ampun perintilan ponsel ku!" Xaviera langsung membungkuk memunguti muntahan ponselnya.Sementara Dior hanya memasang tampang acuh sambil ikut memunguti ponsel dan earphone-nya. Sesekali ia mendengus pasrah kala melihat takdir remahan snack-nya yang meninggal dengan cara yang tidak wajar."Kamu tuh jalannya gimana sih?" Ujar Xaviera yang sudah berdiri sambil membungkus ponselnya yang berantakan.Dior berdiri lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana."Ya pake kaki lah. Dengan cara melangkah, sama aja seperti kamu"Xaviera rolling eyes, lalu mendongak menatap cumi-cumi raksasa menyebalkan."Ponsel dan earphone ku jadi berantakan tau!" Sungut Xaviera tak dapat menahan diri lagi menghadapi Dior yang selalu acuh setiap berdebat dengannya."Emang yang kamu doang?" Dior pun pergi dari sana dengan tampang acuhnya lagi."DIORR!!" Jerit Xaviera dengan suara kecil namun penuh penekanan.Xaviera mencoba meredam amarah dengan menutup erat matanya. Lalu melanjutkan langkah yang sempat tertunda sembari mengaktifkan ponselnya.a rraMaaf ram, tadi tiba-tiba off.rama_dSantai. Aku juga sempet dapet masalah dadakan kok.arraOh ya?rama_dIya. Tadi waktu kita lagi seru-serunya main, tiba-tiba ketabrak gadis rusuh terus ponselnya jatuh deh.arraEh beneran? Kok bisa samaan yah?rama_d- Haha aneh emang.- Kamu udah sarapan?arraBelumrama_dSarapan gih! Mumpung belum bunyi belarraTau ajarama_dYa dong. Jadwal kita kan selalu samaan.---Sekolah mereka merupakan sekolah yang paling banyak peminat dan berlahan luas, membuat pihak sekolah tentu dapat menampung siswa dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal itu menyebabkan pembagian kelas setiap satu tingkatnya bisa 9 sampai 10 kelas.Yah tak jarang pihak sekolah dibuat bingung untuk membuat jadwal pelajaran. Kadang jadwal satu kelas harus terbentur dengan kelas yang lain.Contohnya seperti sekarang ini, kelas yang ditempati Xaviera selalu belajar berdampingan saat pelajaran olahraga dengan kelas Diorama. Dan itu terjadi setiap Minggu.Baik Xaviera maupun Diorama selalu berujar syukur karena mereka tak perlu belajar bersama, secara mereka kan memiliki guru yang berbeda.Tapi syukur itu harus disingkirkan dulu hari ini karena salah satu guru olahraga mereka berhalangan hadir. Mereka mau tak mau harus campur kelas.Priittt!!Bunyi peluit sudah ditiup, tanda bahwa seseorang dapat memulai servis.Mereka tengah bergilir memainkan bola voli, masing-masing tim dibagi berdasarkan kelas. Adu hujat dan adu smash terus terjadi silih berganti, suara saling sorak-menyorak ikut mendominasi lapangan.Mereka tetap bermain sportifitas dan solidaritas, tak ada rasa permusuhan di hati mereka. Semua persaingan murni hanya di dalam permainan. Kecuali dua orang, Diorama dan Xaviera. Dua sejoli itu memang selalu saling lempar sengit daritadi.Xaviera sedang ada di lapangan, jiwanya bergelora kala menghantam bola ke kelas lawan. Mungkin dia menganggap semua manusia yang bermain adalah Diorama, makanya dia mainnya sadis. Lebih sadis lagi setiap netranya bertemu dengan mata milik Dior yang sedang beristirahat di pinggir lapangan.Sampai gadis itu tak memperhatikan bahwa ada bola yang datang dengan kecepatan tinggi ke arah wajahnya.BUKKHH!Benar saja. Bola itu mengenai wajah berkeringatnya. Ia kaget, belum sempat ia meringis tiba-tiba kesadarannya hilang.Jeritan para penonton dan pemain lain terdengar ricuh. Mereka langsung mengerubungi sang korban, termasuk Diorama.Bahkan dia lebih terlihat panik daripada yang lain saat melihat wajah pucat gadis itu. Saking paniknya, ia sampai tak sadar bahwa dia langsung membopong tubuh gadis yang dianggapnya sebagai tukang rusuh itu ke dalam UKS."Minggir! Kalian bisa membuatnya pengap" interupsinya.---Karena kejadian itu, gurunya menduga bahwa mereka kenal dekat dan akhirnya mempercayakan Xaviera sepenuhnya pada Diorama.Meski terkesan acuh, Diorama tak menolak permintaan gurunya. Xaviera juga begitu, mungkin efek terlalu lemas setelah pingsan. Jadi dia menurut saja, daripada tidak diantar pulang."Aku pulangnya jalan kaki, masih mau ikut?" Tanya Dior. Sementara yang ditanya hanya mengangguk lesu."Juara taekwondo bisa tepar juga yah" sindir Dior.Xaviera mencibir."Mau aku pukul?" Ancamnya sambil berjalan mendahului Dior."Wajar saja kamu tidak punya kekasih sampai sekarang, ganas gini" Dior masih tak henti menyindir Xaviera yang berjalan di depannya."Bilang aja kamu mau ngatain aku lesbi!""Dih nggak tuh. Ngerasa yah?" Ya ampun Dior rese banget sih.Xaviera menghentikan langkahnya. Ia akui Dior memang menyebalkan, tapi dia berhenti karena kepalanya terasa berat. Ingin rasanya dilepaskan terlebih dahulu sebelum sampai rumah, tapi gimana caranya?"Kenapa Vier?" Tanya Dior yang cepat merangkul pundak Xaviera khawatir."Kepala ku pusing" Ujarnya susah payah sembari merunduk.Dior lantas membungkuk sedikit berjongkok di depan Xaviera, bersedia menawarkan pundaknya yang nyaman.Namun sepertinya otak Xaviera bergeser sampai tak mengerti kode yang diberikan. Dia justru kaget akan tindakan Dior yang tiba-tiba."Kamu nemu koin ya?" Tanyanya polos. Dior tak sedikit pun kesal akan ke-lemotan-nya, justru dia berbalik mengambil tangan Xaviera lalu diletakkan di pundaknya."Biar aku gendong"Xaviera tak merespon tapi tak menolak juga.Dior melirik sekilas wajah Xaviera dari samping karena gadis itu hanya diam tak menyahutinya. Melihat reaksi Xaviera yang menunduk dengan pipi semerah tomat, membuat Dior menyunggingkan senyumnya. Lalu dengan yakinnya menempelkan tubuh Xaviera untuk digendong belakang.Dior tak merasa keberatan dengan posisi ini. Dimana dia harus berjalan sambil memikul bobot beberapa puluh kilogram milik Xaviera, baginya ini nyaman."Aku baru sadar kalau kamu normal" Dior membuka obrolan lagi.Xaviera mengernyit bingung."Kok bisa?""Buktinya pipi mu merespon saat tahu aku mau menggendong mu. Kenapa?""Kenapa apanya?" Tanya Xaviera dengan wajah yang sudah memanas gemas lagi."Kenapa lebih milih dibilang lesbi?"Xaviera hanya membulatkan mulutnya ber'O'ria."Gak tertarik pacaran" Jawabnya simpul.---"Dior" panggil Xaviera saat sudah tiba dirumah."Hmm" Dior sambil menaikkan alis."Terimakasih. Maaf kalau selama ini aku menganggap mu menyebalkan, padahal ternyata..""Ternyata aku lelaki tampan yah?" Goda Dior.Xaviera memutar bola matanya kesal."Ternyata kamu memang menyebalkan!" Xaviera pun memalingkan wajah, pura-pura merajuk."Hahaha"Xaviera hanya menyengir kuda melihat Dior tertawa puas.Sejurus kemudian tangan Dior sudah berada diatas kepala Xaviera, diiringi dengan wajahnya yang mendekat."Cepat sembuh yah" setelah membuat Xaviera membeku ditempat, Dior dengan seenaknya melambaikan tangan lalu pamit pulang tanpa bertanggung jawab.---Setelah perdamaian secara tidak langsung itu terjadi, Xaviera tak pernah memberi kabar pada pacar online-nya si Rama lagi. Dia terus memikirkan Dior yang padahal adalah orang yang sama. Dior juga mengalami hal yang sama.Tetapi saat di sekolah, Xaviera justru menghindari Dior. Dia takut perasaannya semakin membesar pada Dior kalau dibiarkan bertemu terus. Tapi dia juga tak dapat menyangkal bahwa perasaannya semakin terasa nyata dan tak dapat ditahan.Inilah yang ia takutkan, jatuh cinta pada lelaki lain sebelum ia sempat bertemu dengan Rama. 4 tahun mereka saling menjaga perasaan, dan dia tak mungkin merusaknya hanya karena satu hari bersama Dior.arraRam, aku mau cerita sama kamur ama_dDih dateng-dateng langsung mau cerita. Gak mau bilang kangen dulu?arraHehe sorry. Iya aku kangen kamurama_dKetauan banget bohongnyaarraRam.. aku seriusrama_dIya sorry. Cerita giharraTapi kamu gak boleh marah, dan kamu juga harus janji pertemuan kita dipercepet .rama_dIya bawel ih. Emangnya ada apa sih?Arra merasa sangat gugup. Seberat inikah rasanya mengkhianati seseorang? Sungguh sulit. Aneh bila difikir-fikir, heran aja sama orang-orang yang hobi selingkuh. Tidak gelisah kah mereka?arraSebenarnya aku gak kabarin kamu karena aku mulai menyukai orang lainrama_dSiapa?arraTemen sekolah kuRama membalasnya lama, dia berfikir kenapa harus samaan? Kecewa? Tentu saja. Tapi dia juga tak bisa menyalahkan Arra disaat dia juga merasakan hal yang sama.rama_dBagus dong. Kamu jadi gak perlu diejek lesbi sama temen-temen kamu lagi.arraBukan itu tujuan aku cerita. Aku ingin ketemu kamu, seenggaknya aku mau nyoba belajar mencintai kamu dulu. Aku gak mau ngecewain kamu.rama_d- Terimakasih Ra, kamu masih mau bertahan sama aku.-Ra , sebenarnya aku juga mulai menyukai orang lain. Temen sekolah ku juga.arraJadi hubungan kita cuma sampai sini aja?rama_dYa nggak gitu juga. Aku maunya ketemu dulu sama kamu, aku pengen menghapus perasaan aku ke dia. Aku maunya sama kamu. Kita jadi kan ketemu?arraJadi kamu setuju?rama_dYa iyalah. Mana mungkin aku mau ninggalin kamu yang udah bertahan lama sama aku demi orang lain yang aku sendiri gak tau bisa seperti kamu atau tidak.---Hari ini rencananya mereka mau bertemu di taman, dengan harapan dapat saling mencintai dan saling melupakan teman sekolah mereka.Diorama sudah datang 30 menit yang lalu. Dia sengaja datang lebih dulu, ini kan pertemuan pertama mereka. Dior hanya tidak mau Xaviera menunggunya terlalu lama.Alangkah terkejutnya dia saat kemarin Arra menunjukkan alamatnya yang ternyata satu kota dengannya.Dior semakin tak sabar menanti duduk di kursi taman. Matanya terus menelisik sampai akhirnya ia merasakan seseorang duduk disebelahnya. Ia pun langsung menoleh dengan riang, menebak bahwa itu pasti Arra.Dan bener saja itu memang Xaviera, alias Arra. Tetapi karena berhubung tidak tahu jadi yahhh.."Xaviera!" Katanya kaget."Dior!" Xaviera tak kalah kaget. "Kamu ngapain disini?""Lagi jalan-jalan aja. Kamu sendiri?""Sama"Mereka berdua sama-sama berbohong, lalu keduanya berkutat dengan ponselnya. Berkecimpung dalam dunia kegelisahan.Dior menyukai Xaviera, tapi dia berencana bertemu dengan Arra. Begitu juga sebaliknya Xaviera menyukai Dior, tapi dia berencana bertemu dengan Rama.Rasanya canggung dalam waktu yang lama sekali.rama_dKamu dimana?Merasakan getaran dari ponselnya, Xaviera pun cepat-cepat mengecek notif pesan itu.arraKamu yang dimana?rama_dKok malah nanya balik sih?arraAku sudah nunggu daritadi Ram!rama_dAku juga nungguin kamu lagi Ra.arraKamu dimana sekarang? Biar aku jemput!rama_dEh jangan. Aku aja yang jemput.arraYa udah iya serah.Xaviera pun berdiri hendak ikut mencari seonggok daging menyebalkan bernama Rama."Vier kamu mau kemana?" Xaviera menoleh ke belakang, hampir saja Xaviera lupa kalau ada Dior disini.Dia pun memasang cengiran kuda"Cari angin lain" katanya lalu mencoba meneruskan langkah. Xaviera lantas menekan beberapa kombinasi angka di ponselnya.Arra is calling..Dior tertegun kala melihat nama Arra menelponnya, dia lupa kalau dia harus mencari sosok gadis itu."Ya halo Ra?"Xaviera terkejut bukan main, pertama bunyi dering yang berasal dari belakangnya saat ia baru saja menelpon Rama. Kedua suara yang menjawab telponnya juga berasal dari belakangnya.Xaviera pun menoleh ke belakang lagi."Dior.. Rama?" Ujarnya lirih namun terdengar jelas. Dior menatap Xaviera yang menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan nama sosmednya.Dior memasang raut wajah tak kalah terkejutnya."Arra?"Mereka menatap cengo untuk waktu yang lama, masih sulit menerima kenyataan.Bagaimana mungkin 4 tahun mereka saling dekat dan saling membenci dalam waktu bersamaan?Bagaimana mungkin mereka saling menyukai dan saling merasa bersalah dalam waktu bersamaan pula?Gadis yang suka merusuh, dan lelaki yang bersikap acuh.Bagaimana mungkin itu adalah yang selama ini saling menjaga perasaan?Jadi yang selama ini yang menjadi rekan game online dan rekan berkelahi dikehidupan nyata, adalah orang yang sama?"Jadi kamu Rama?" Tanya Arra masih dalam fase kagetnya."Jadi kamu Arra? Cewek rusuh? Lesbi?"Xaviera mengerucut sebal"Dasar pengacau! Noob! Aku gak suka sama kamu!!" Cercah Xaviera."Aku lebih gak suka kali!"Baiklah.. ego, gengsi dan jiwa permusuhan lah yang sedang menguasai mereka. Hingga mereka saling berpaling badan hendak pergi meninggalkan."Hey!!" Panggil Xaviera, Dior menoleh."Dengar, mulai hari ini kita bukan lagi kita!"END
Magic Seal
Matahari pagi berwarna kuning keemasan menyorot wajah Ammara. Gadis itu sedang duduk bersandar pada batang pohon oak dengan mata tertutup di kebun Ailfryd. Seperti biasa, ia tidak tertidur, tetapi kepalanya terasa sangat berat sejak ia terlalu banyak menangis beberapa hari yang lalu.Di sampingnya, Selly berdiri tegak dengan mata memicing awas menatap sekitar. Unicorn bersurai putih itu tak henti-hentinya mengunyah plum yang membuat sekitar mulutnya menjadi kemerahan. Ia tak boleh mengantuk dan tertidur karena Ella dan Ailfryd menugaskannya untuk menjaga Ammara dengan lebih ketat."Ammara!" sapa sebuah suara.Gadis itu terkesiap dan langsung membuka matanya. Tubuhnya masih bersandar malas pada batang pohon, tetapi netranya telah menangkap sosok peri laki-laki yang berjalan memasuki kebun plum Ailfryd."Elwood?" sapa Ammara seraya mengucek matanya. Gadis bersurai keemasan itu segera bangkit dari posisinya dan merapikan permukaan gaun lilac -nya yang sedikit berantakan.Selly tiba-tiba meringkik nyaring . Unicorn itu melotot tidak suka begitu melihat kedatangan Elwood. Makhluk itu dengan sigap mendekati Ammara dan mengelilingi tubuh si gadis dengan protektif."Hei, Selly, tenanglah. Dia hanya Elwood. Kau mengenalnya, bukan?" ucap Ammara lembut. Ia membelai surai putih unicornnya sekilas untuk menenangkan makhluk itu.Selly tak jua tenang. Unicorn itu kembali meringkik gusar sambil mengenduskan moncong hidungnya pada Elwood.Elwood mundur beberapa langkah saat hidung Selly nyaris mengenai pipinya. Peri laki-laki itu berdecak kesal.Hidung Selly mengernyit dan bibirnya mengerucut tidak suka."Wah, sepertinya Pangeran Elwood sedang dalam mood yang buruk," sindir Ammara sambil terkekeh. Gadis itu menarik tubuh Selly menjauhi Elwood. Namun, makhluk bersurai putih itu kembali mendekat dan mengitari Elwood dengan tatapan waspada.Elwood menghindar. Kali ini ia bersembunyi di balik tubuh Ammara. "Tolong, singkirkan makhluk ini, Ammara," ujarnya kesal."Selly! Cukup. Elwood bukan makhluk asing. Kau mengenalnya bukan?!" sergah Ammara. Kedua lengannya membentang untuk menghalangi unicorn yang hendak mendekati Elwood lagi.Selly sama sekali tak mendengarkan. Ia menggeram dan meringkik beberapa kali. Unicorn itu bahkan berusaha menerobos lengan Ammara untuk menyeruduk Elwood.Wajah Elwood seketika memerah saat kepala unicorn itu akhirnya mengenai perutnya. Peri laki-laki itu jatuh terduduk. Bokongnya menghantam tanah dengan keras hingga menimbulkan bunyi gedebuk."Kau tidak apa-apa, Elwood?" jerit Ammara yang sontak menghampiri peri laki-laki itu. Ia memeriksa keadaan Elwood sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada Selly yang terlihat masih menggeram marah."Makhluk sialan!" umpat Elwood berang.Ammara terkesiap. Gadis itu melotot pada Elwood ketika mendengar umpatan marahnya. Elwood yang ia kenal tidak seperti ini."Maafkan Selly, Elwood. Ia sedang mengalami hari yang buruk belakangan ini," cicit Ammara seraya membantu Elwood berdiri. "Mari kita masuk ke rumah cendawan. Selly tidak akan mengganggumu di sana," usul Ammara.Elwood menggeleng cepat. "Di sini saja," tolaknya. Netra birunya masih lekat menyorot Selly dengan waspada.Selly mulai meringkik lagi."Selly, cuk--""Maaf aku harus melakukan ini," potong Elwood cepat. Ia menjentikkan jarinya ke udara di hadapan Selly. Unicorn putih itu seketika jatuh tertidur. Tubuhnya yang besar ambruk ke tanah.Elwood tersenyum. "Beres!" serunya senang. Kekesalannya terhadap makhluk itu menguap begitu saja.Ammara melongo."Tenang saja. Dia hanya tertidur," sahut Elwood seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Ammara."Aku kira kau tidak bisa menggunakan sihir," imbuh Ammara. Ia mengerjapkan matanya. Gadis itu benar-benar merasakan ada yang aneh dengan Elwood hari ini.Dahi Elwood mengerut, tetapi sedetik kemudian ia mengubah ekspresinya. "Ah ... Em, itu sihir yang sangat mudah. Seluruh peri pasti bisa melakukannya," tukasnya seraya mengendikkan bahu. "Sebenarnya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, Ammara. Ini mendesak," lanjutnya. Kegusaran seketika menyergap wajah rupawan pangeran peri itu."Ada apa?" tanya Ammara yang mulai ditulari rasa khawatir."Elijah!""Elijah kenapa?" potong Ammara."Dia pergi dari istana tadi malam ... setelah bertengkar dengan Ratu Serenity. Ia pergi begitu saja dalam keadaan marah," terang Elwood gusar.Wajah Ammara seketika menegang. "Dia pergi ke mana?" tanya Ammara. Sebuah tempat yang mungkin dikunjungi Elijah terlintas dalam pikirannya. Ia harus memastikan asumsinya tersebut.Elwood menggigit bibir bawahnya. Peri laki-laki itu merasa sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Ammara. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Elwood membuka suara."Beberapa Pixie dan kesatria Elf mengatakan kalau Elijah pergi ke Hutan Larangan dan hingga kini belum kembali. Aku merasa sangat khawatir. Andai aku bisa masuk ke sana dengan selamat, maka aku kan menjemput Elijah," ucap Elwood. Pangeran peri itu mengusap wajahnya kasar."Apa?!" pekik Ammara. Matanya sontak membelalak. "Untuk apa dia ke sana? Akan tetapi, bukankah Elijah memang sering ke Hutan Larangan?" tanya Ammara lagi.Elwood mengendikkan bahu. "Kau tahu, ibu kandungnya tinggal di sana. Ibunya adalah peri Unsheelie yang menculik Putra Mahkota Albert. Aku takut jika ibunya menahannya di sana. Unsheelie selalu punya rencana jahat," tukasnya. Suaranya terdengar bergetar."Ibu Elijah?!" ulang Ammara. Gadis itu benar-benar shock mendengar perkataan Elwood. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pikirannya berkelana pada peristiwa penculikan Putra Mahkota Albert di Kastil Larangan. Mungkinkah Elijah pergi menemui ibunya untuk ...."Kita harus segera ke sana. Sepertinya aku tahu dia di mana!" putus Ammara. Ia menarik salah satu lengan Elwood dan hendak beranjak dari tempat itu."Tunggu!" sergah Elwood seraya menahan lengannya hingga Ammara urung melanjutkan langkah."Ada apa?" tanya Ammara. Dahinya mengerut."Kita harus membuat rencana terlebih dahulu. Aku tidak bisa masuk ke dalam Hutan Larangan. Namun, aku tahu satu cara agar hutan itu tidak terkutuk lagi, sehingga kita bisa masuk bersama," pungkasnya. Netra biru Elwood melebar.Ammara berpikir sejenak. "Kita bisa minta bantuan Archibald!" usulnya.Elwood menggeleng cepat. Raut wajahnya seketika menjadi suram. "Jangan!" pekiknya gelagapan. "Maksudku, aku tidak dapat menemukan Archibald di istana tadi. Dia pergi. Mungkin ke tempat ibunya. Entahlah," terangnya terbata-bata.Ammara memicingkan mata. "Aneh sekali," gumamnya lebih kepada diri sendiri. Setelah menarik napas panjang, gadis itu berkata. "Jadi, apa saranmu?"Elwood melipat kedua lengannya di dada. Wajahnya berubah serius. "Di perbatasan Hutan Larangan terdapat sebuah segel. Segel itu terselubung dan sangat sulit untuk dibuka oleh bangsa peri. Segel tersebutlah yang menyebabkan peri Sheelie dan Unsheelie tidak bisa keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa. Peri sakti sekali pun tidak akan bisa menghancurkan segel tersebut. Tetapi aku yakin kau bisa, Ammara ...."Ammara membelalak. "Aku?!" semburnya. Kepalanya menggeleng cepat. "Jangan bercanda, Elwood. Tidak mungkin!"Elwood menatap tajam pada sepasang iris mata Ammara. Ia merendahkan suaranya. "Aku tahu siapa sebenarnya kau, Ammara. Aku tidak perlu menyebutkannya. Kau bukanlah makhluk peri, bukan?" bisik Elwood penuh selidik.Ammara terkesiap. Tanpa sadar, mulutnya menganga. Jantungnya terasa hendak melompat keluar dari dada. Bagaimana mungkin Elwood mengetahui rahasianya. Apakah Claude telah dengan lancang menceritakannya pada peri laki-laki di hadapannya ini."Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan Claude," kilahnya. Ammara mengalihkan pandangan. Ia menghindari penghakiman yang diberikan Elwood melalui netranya."Jangan mengelak, Ammara. Baumu ... yang khas telah mengungkapkan semuanya," decak Elwood. Wajahnya mendekat hingga membuat gadis itu sedikit risih, sementara hidungnya mengendus Ammara. "Jangan khawatir, rahasiamu aman denganku," sambungnya, berbisik di telinga Ammara.Ammara bergidik seketika. Ia merasa diancam oleh Elwood. Yang benar saja, mengapa pangeran peri satu ini jadi berubah drastis setelah Putra Mahkota wafat. Ammara segera menepiskan prasangka itu. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Elijah. Setelah menghirup napas dalam-dalam, gadis itu membuka suara. "Katakan bagaimana aku bisa membuka segel di perbatasan Hutan Larangan?" tanya Ammara tak sabar.Salah satu sudut bibir Elwood terangkat. Pangeran peri itu menyeringai. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah datar, tak terbaca. "Kau tidak perlu menghancurkan segelnya. Kau hanya perlu menemukan, kemudian membukanya. Segel putih itu diciptakan oleh para penyihir peri Sheelie. Ia terselubung dan sama sekali tak bisa disentuh oleh seluruh bangsa peri, Sheelie maupun Unsheelie. Hanya manusia terpilih yang dapat membukanya. Aku yakin kau adalah manusia terpilih Ammara. Kau ada di Fairyverse ini karena takdir yang telah memilihmu. Jadi kau pasti bisa dengan mudah menemukan segel itu," terangnya panjang lebar.Ammara mengerjap. Ia berusaha memahami apa yang baru saja dijelaskan oleh Elwood. Semuanya terdengar tak masuk akal. Bagaimana mungkin makhluk lemah seperti dirinya bisa melepaskan segel Hutan Larangan, yang bahkan peri terkuat sekali pun tak akan bisa menemukan dan melepaskannya."Kau bersedia membantuku, 'kan, Ammara? Kita tidak punya banyak waktu," desak Elwood. Peri laki-laki itu kembali meraih salah satu lengan Ammara."Aku--""Kau pasti bisa, Ammara," potong Elwood dengan nada mantap.Ammara menghembuskan napas panjang. "Tapi, aku ... bagaimana caranya kita ke sana? dan ...." Ammara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kebun buah plum Ailfryd. Hatinya mendadak was-was, bagaimana jika Ailfryd ataupun Ella memergokinya dan mengetahui rencananya untuk pergi ke Hutan Larangan."Aku punya unicorn. Kita akan melakukannya dengan cepat. Aku berjanji. Jika segel itu terbuka, aku akan langsung masuk ke Hutan Larangan untuk menyelamatkan Elijah. Aku akan meminta bantuan istana juga," ucap Elwood begitu menangkap keraguan di wajah Ammara.Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ammara menyetujui permintaan Elwood. Dengan tergesa, mereka menunggangi unicorn bersurai cokelat menuju perbatasan Hutan Larangan.* * *Seekor unicorn berhenti tepat di depan perbatasan Hutan Larangan. Dari punggungnya, Elwood dan Ammara melompat turun dengan tergopoh-gopoh.Ammara memerhatikan perbatasan Hutan Larangan yang masih sama persis dengan keadaan saat terakhir kali ia kunjungi. Hutan yang gelap dan suram. Perbatasan hutan itu diselimuti kabut tipis yang seolah menghantam sebuah dinding kaca besar tak kasat mata yang menjadi pembatas dengan Fairyhill."Bagaimana, apa kau menemukan segel itu?" tanya Elwood dengan nada mendesak.Ammara menggeleng pelan. "Aku tidak melihat--""Ammara, aku akan mencari bala bantuan ke Istana Avery. Kau tunggulah di sini. Setelah segelnya terbuka, kita akan masuk bersama. Bagaimana menurutmu?" potong Elwood tiba-tiba. Raut wajah pangeran peri itu terlihat menegang."Baiklah," sahut Ammara seraya mengangguk pelan. Netranya sedang fokus menyisir perbatasan untuk mencari segel yang dimaksud.Tanpa menunggu waktu lama, Elwood memacu unicornnya menjauhi perbatasan Hutan Larangan. Ammara dapat mendengar derap langkah unicorn yang semakin lama semakin menjauh.Ammara mengembuskan napas panjang, setelah kepergian Elwood seolah keberadaannya mengurangi keleluasaan gadis itu. Ia lebih dekat menyusuri perbatasan, bahkan sesekali masuk ke dalam Hutan Larangan untuk mencari segel yang dimaksud.Entah kenapa, hal-hal yang ditakuti oleh para peri di tempat itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Ammara. Kabut Hutan Larangan serta kutukannya tak menimbulkan reaksi apa pun bagi gadis itu. Ah ya, bukankah ia memang bukan peri, tetapi manusia.Haruskah aku masuk saja sendirian dan melupakan segel itu? Tapi bagaimana jika di dalam aku bertemu makhluk-makhluk kegelapan yang haus darah manusia seperti dulu? Ammara seketika bergidik. Ia memutuskan untuk mengikuti rencana Elwood.Tiba-tiba iris mata hijau Ammara menangkap kilauan cahaya yang tak biasa dari salah satu sudut perbatasan Hutan Larangan. Ammara berjalan mendekati asal kilatan cahaya tersebut.Sebuah bejana transparan yang terbuat dari kaca tergeletak begitu saja di bawah sebatang pohon oak besar. Di dalam bejana kaca tersebut terdapat benda-benda kecil berbentuk seperti bintang dengan cahaya terang berwarna putih. Dari situlah asal cahaya yang tertangkap iris mata Ammara.Namun, seketika langkah Ammara meragu. Terlebih saat melihat sebatang pohon oak besar yang menaungi bejana. Pohon itu memiliki ranting-ranting pohon yang lebih besar dari ranting biasa, seperti tangan monster, membuat bulu kuduk Ammara meremang.Aku tidak punya banyak waktu, atau Elijah berada dalam bahaya , batinnya.Ammara menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya untuk menenangkan diri. Tekadnya telah bulat. Gadis itu kembali melangkah mendekati bejana bercahaya yang sedari tadi tertangkap netranya.Ammara berjongkok di hadapan bejana itu, seraya memutar tutupnya perlahan tanpa mengangkat benda tersebut. Gadis itu menahan napas ketika ia merasa tutup bejana itu mulai longgar. Dengan tangan gemetar, Ammara melepas tutupnya.Cahaya-cahaya kecil berwarna putih terang satu per satu mulai keluar dari bejana kaca. Mereka berterbangan bebas ke segala arah hingga meninggalkan bejana bening dalam keadaan kosong.Ammara terpesona beberapa saat lamanya ketika melihat cahaya putih laksana bintang-gemintang itu terbang bergerombol memenuhi langit perbatasan Hutan Larangan. Namun, ia segera tersadar saat kabut dari Hutan Larangan mendadak mulai memenuhi tempatnya berdiri. Langit Fairyhill seketika menggelap.Tanpa Ammara sadari, pohon oak besar yang menaungi bejana itu perlahan bergerak. Seraut wajah monster seketika muncul pada batang pohon oak. Sepasang mata terbuka. Sepasang mata putih yang menyala milik si monster pohon menyorot gadis itu marah. Tanpa suara dan dengan gerakan yang cepat, monster itu menggerakkan ranting-rantingnya. Ranting-ranting mengumpulkan garis-garis cahaya dari seluruh cabang dan pucuk daunnya, kemudian mengumpulkan kekuatan itu di tengah-tengah batang hingga sebuah bola cahaya berwarna putih terbentuk di sana.Bola putih itu kemudian dilesatkan dengan kecepatan luar biasa oleh si monster pohon kepada Ammara. Sontak tubuh kecil Ammara terlempar ke belakang tanpa sempat menghindar.Ammara terkesiap. Rasa sakit dan panas menghantam perut bagian belakang tubuhnya. Tubuhnya kini terbaring di atas permukaan tanah yang tertutupi kabut tebal. Perlahan gadis itu memaksa tubuhnya untuk bangkit."Apa ini?!" lirih Ammara saat mengedarkan pandangan ke sekitar.Kabut tebal Hutan Larangan telah memenuhi Fairyhill. Langit Fairyverse pun seketika berubah menjadi kelabu. Batas antara Hutan Larangan dan Fairyhill mendadak hilang tanpa bekas, seolah perbatasan itu tak pernah ada."Tolong! Tolong!"Sayup-sayup pendengaran Ammara menangkap suara teriakan peri perempuan. Gadis itu mencari sosok empunya suara dengan sepasang netra hijaunya. Akan tetapi jejak pemilik suara itu seolah tak terlihat. Kabut terlalu tebal.Tiba-tiba sebuah suara raungan monster terdengar. Ammara terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Dari balik kabut, tepat di hadapannya, sebuah bayangan besar berwarna hitam dengan mata putih menyala meraung tepat di depan wajahnya."Dasar manusia lancang! Berani-beraninya kau membuka segel Hutan Larangan yang telah dipasang oleh para leluhur bangsa peri. Tidakkah kau tahu, jika segel itu terlepas, maka seluruh makhluk kegelapan akan terbebas. Keseimbangan Fairyverse akan terganggu!" hardik bayangan hitam itu. Suara beratnya yang menggelegar seolah memenuhi Fairyhill.Angin berhmembus dan mengusir sebagian kabut yang menyelubungi makhluk besar itu. Kini tampaklah pohon oak besar yang hidup dengan wajah menyeramkan terukir pada batangnya. Ranting-ranting besar pohon itu berubah jadi tangan-tangan yang bergerak-gerak liar mencoba menggapai tubuh Ammara.Ammara terhenyak di tempatnya. Wajahnya pucat seketika. Tubuhnya gemetar. Tangan dan kakinya mendadak dingin dan kaku.Apa yang harus kulakukan ?!"Karena kelancanganmu, wahai manusia, aku akan menghukum mu!" sambung si monster dengan suara yang lebih menggelegar. Salah satu ranting monster pohon yang menyerupai tangan tiba-tiba terangkat ke atas.Ammara membelalak saat netra hijaunya menangkap kilatan cahaya dari sebilah tongkat sabit dengan mata runcing di genggaman si monster. Tongkat sabit itu terhunus tinggi. Dalam sepersekian detik, tongkat sabit itu mengayun cepat ke arahnya.Ammara menutup kelopak matanya erat-erat. Tak ingin menyaksikan kematian yang rasanya sebentar lagi akan menyergapnya. Jadi, inikah akhirnya ?
Broken Princess
Tatianna duduk termenung di bawah gazebo taman Istana Avery, tempat ia dan saudara-saudaranya biasa bermain, bersenda gurau dan menghabiskan waktu. Netra peraknya menyorot danau dengan permukaan air berwarna kehijauan yang terhampar di depan gazebo. Bunga Lupin berwarna merah muda dan ungu mengelilingi danau itu, menjadi pagar hidup, dengan para Pixie beraneka warna berterbangan di permukaannya.Tatianna mengingat bahwa di danau itu ia dan kakaknya pernah berlayar dengan perahu sederhana buatan Elwood. Putra Mahkota Albert dengan susah payah mendayung untuk mereka, sementara ia dan Elwood bernyanyi dan bersenang-senang dengan para nimfa penghuni danau.Tatianna tersenyum sekilas saat bayangan masa lalu yang menyenangkan itu hadir di pandangannya. Namun, wajahnya kembali muram saat teringat bahwa sang kakak kini telah tiada. Bahkan, kini salah satu saudaranya yang lain, Elijah, telah pergi dari istana. Semua tidak sama seperti dulu lagi.Tatianna mengembuskan napas panjang, merasa sakit setiap kali mengingat kenangan yang pernah ia lalui bersama saudara-saudaranya, terutama Albert, kakak kandungnya. Para nimfa sering mengatakan bahwa semua hal-hal buruk akan menghilang bersama berjalannya waktu. Namun, kali ini Tatianna tidak yakin. Baginya, berjalannya waktu bisa saja malah memperburuk keadaan, seperti saat ini.Tiba-tiba suara gemerisik daun mengagetkannya. Tatianna memalingkan wajah dari danau dan mendapati sosok sang ibu yang berjalan mendekat. Gaun panjang sang ratu menyapu dedaunan kering di sepanjang jalan yang ia lalui hingga menimbulkan bunyi tersebut."Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini," sapa Ratu Serenity seraya duduk di samping putrinya. "Apa yang kau lakukan di sini, Putri? Kau melewatkan pelajaranmu lagi?" tanyanya dengan tatapan menelisik.Tatianna mendengkus. "Aku merindukan Albert, Bu," sahutnya pelan. Ia kembali melayangkan pandangan pada danau kehijauan di hadapannya.Ratu Serenity mengikuti arah pandang putrinya. "Ibu juga merindukannya," ucap sang ratu. "Dia pribadi yang sangat menyenangkan, bukan? Ia selalu ingin membuat orang-orang di sekitarnya bahagia."Hening sesaat. Dua peri perempuan itu sama-sama larut dalam lamunannya masing-masing untuk beberapa saat lamanya.Tatianna tiba-tiba berpaling pada ibunya. "Ibu, kenapa Pangeran Elijah pergi pada saat pertemuan di balairung? Apa dia marah pada kita? Apa dia membenci Ibu?" tanya Tatianna dengan wajah polos.Ratu Serenity mengerutkan keningnya. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum membuka suaranya dengan hati-hati. "Kau ingat peri unsheelie yang datang pada saat penaburan abu Albert di Taman Peristirahatan Terakhir?" tanya sang ratu. Setelah Tatianna mengangguk pelan, ia melanjutkan kata-katanya. "Dia merupakan ibu biologis Pangeran Elijah. Peraturan Dewan peri jelas mencantumkan bahwa keturunan peri Unsheelie tidak dapat menjadi Putra Mahkota. Tentu saja Elijah marah dan membenci ibu karena ibu bersikeras menentangnya menjadi putra mahkota. Ibu sudah tahu betapa ambisiusnya Elijah untuk menjadi raja sejak dulu. Ia selalu membayangi Albert, karena pangeran itu ingin menjadi seperti kakakmu. Wafatnya Albert membuat Elijah kembali berharap dan Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi," ucapnya panjang lebar dengan pandangan menerawang."Bagaimana mungkin Ibu Elijah adalah peri unsheelie? Apakah Raja Brian menikah dengan unsheelie?" tanya Tatianna sambil mengernyitkan alis.Ratu Serenity menggeleng. "Ibu Elijah berubah menjadi unsheelie setelah menikahi Raja Brian. Banyak yang mengira peri perempuan itu meninggal saat peristiwa pengusiran mantan ratu. Namun, ternyata ia masih hidup dan berubah menjadi peri unsheelie yang sangat kuat," paparnya. Sang Ratu mengembuskan napas panjang. "Kembalinya Minerva sudah pasti ada hubungannya dengan keinginan Elijah untuk menjadi raja. Semuanya pasti sudah ia rencanakan, Tatianna. Semua. Hingga kematian kakakmu!" imbuh sang ratu dengan suara bergetar. Matanya memicing setiap kali menyebut nama Minerva.Tatianna membelalak seraya menggeleng cepat. "Ibu, Pangeran Elijah tidak mungkin merencanakan pembunuhan Putra Mahkota Albert. Ia sangat baik pada kakak. Ia menyayangi kakak sama seperti kita. Ia bahkan yang menyelamatkan kakak saat diculik makhluk Hutan Larangan," bantah Tatianna yang tak percaya dengan perkataan ibunya."Jangan terlalu polos, Putriku. Elijah tidak sebaik yang kau kira. Terlebih, dia adalah putra peri unsheelie, tidak menutup kemungkinan sifat jahat ibunya menurun padanya. Bisa saja pertolongannya saat itu untuk menyembunyikan kedok dan rencana busuknya. Kita tidak bisa membiarkan ia menggantikan Albert, Tatianna," ujar Ratu Serenity. Kebencian terdengar jelas dalam suaranya.Tiba-tiba Ratu Serenity menatap ke dalam netra perak Putri Tatianna lekat-lekat. "Tatianna ... Bagaimana jika kau yang menjadi Ratu. Kaulah satu-satunya penerus Avery dengan darah peri sheelie murni. Kau anakku dan adik Putra Mahkota Albert. Kaulah satu-satunya peri yang layak memimpin Avery!" ucapnya setengah berbisik.Tatianna mengerutkan kening, kemudian menggeleng cepat. "Ti-tidak, Bu. Aku sama sekali tidak tertarik! Yang benar saja, aku sama sekali tidak berbakat memimpin, Ibu," bantahnya.Ratu Serenity mengernyit tidak senang. "Kau tidak bisa berkata seperti itu, Tatianna," sergahnya. "Kau harus menggantikan Albert menjadi pemimpin Avery. Aku tahu kau bisa Tatianna, meskipun kau tak ahli bela diri. Namun, kau bahkan memiliki kemampuan sihir dan kemampuan membaca rahasia yang lebih baik dari kakakmu. Itu cukup untuk menjadi bekalmu memimpin Kerajaan, Tatianna."Putri peri itu melotot pada sang ibu. Ratu Serenity ternyata masih bersikeras untuk memaksanya menjadi ratu. "Ibu, aku benar-benar tidak bisa menjadi pemimpin dan tidak mau. Saudara-saudaraku yang lain lebih baik untuk memimpin. Bagaimana dengan Pangeran Archibald atau Pangeran Claude atau Pangeran Elwood? Mereka sangat pintar. Ibu bisa meminta salah satu di antara mereka. Mereka pasti bersedia," sahut Tatianna seraya mendengkus."Tatianna!" bentak sang ratu marah.Tatianna terkesiap."Archibald tidak jauh berbeda dengan Elijah. Ibunya adalah pengkhianat, Tatianna, ratu yang terusir. Sementara Claude, ibunya yang telah wafat juga merupakan penyihir hitam. Dan Elwood, dia tidak suka belajar dan sangat tidak layak untuk menjadi raja, Tatianna, kau tahu itu, 'kan? Jadi, Tolong jangan sebut mereka lagi. Anak ibu kini tinggal dirimu, Tatianna. Kaulah satu-satunya yang berhak menjadi pemimpin Kerajaan Avery," ucapnya berapi-api. "Apa bisa ibu mengandalkanmu, Tatianna?" tanyanya lagi dengan mata berkaca-kaca.Tatianna menggeleng mantap. "Aku tidak bisa, Bu. Aku tidak mau, seberapa keras pun Ibu memaksa akan sia-sia. Jadi, tolong, jangan paksa aku, Bu," lirihnya pelan.Ratu Serenity melotot geram. Rahangnya mengeras. "Kau tidak punya pilihan lain, Tatianna. Apa kau mau kita terusir dari istana? Para selir tidak menyukai ibu. Mereka akan dengan mudah menjatuhkan ibu jika ibu tidak lagi memiliki kuasa. Apa kamu tega jika ibu diperlakukan seperti itu?" tanya sang ratu dengan wajah memelas yang terlalu dibuat-buat.Tatianna mendengkus, kemudian kembali menggeleng mantap. "Tidak, ibu!" jawab sang putri tegas.Seketika wajah Ratu Serenity menjadi muram. Netra peraknya menatap tajam pada Tatianna. Sang ratu mendekat pada wajah anaknya, kemudian merenggut dagu sang putri. "Ibu benar-benar kecewa padamu, Tatianna. Ibu beri satu kesempatan lagi. Ibu memberi waktu tiga hari bagimu untuk berpikir, Tatianna. Ingat ini, aku tidak menerima jawaban selain 'iya' atau kau akan merasakan akibatnya!" ancamnya dalam suara rendah yang menusuk.Tubuh Tatianna menegang karena rasa takut yang menyergap seketika. Bola mata sang putri seketika memanas dan pandangannya menjadi buram. Setetes air bening lolos pada pipi putihnya ketika Ratu Serenity melepaskan dagunya kasar.Sang ratu segera beranjak dari taman istana itu dengan tampang kesal. Wajahnya memerah padam. Sementara, Tatianna yang tertinggal sendirian, perlahan larut dalam tangisan pelan yang semakin lama semakin keras dan menyayat hati.* * *Archibald berjalan perlahan melewati pintu gerbang taman istana Avery yang setengah terbuka. Peri laki-laki itu mengerling sekilas pada gerbang taman, ketika sebuah suara tangisan tertangkap pendengarannya.Archibald mendekati gerbang taman itu untuk mendengar lebih jelas, sekaligus mengintip empunya suara. Peri laki-laki itu mengerutkan kening saat iris matanya menangkap sosok peri perempuan bersurai perak yang sedang duduk di tengah-tengah gazebo di seberang danau. Peri perempuan itu pastilah empunya suara tangisan karena kedua telapak tangan terlihat menutupi wajah.Archibald mengenali sosok itu. Ia berjalan memasuki taman istana dengan langkah pelan, tidak ingin mengganggu peri perempuan yang sedang menangis itu. Peri laki-laki itu berjalan mengitari separuh danau untuk mencapai gazebo."Tatianna?" sapa Archibald setelah melihat sosok peri perempuan itu dari dekat.Peri perempuan itu sontak mengangkat wajahnya yang sembab, berurai air mata. Mata bengkaknya menyorot Archibald yang baru saja memasuki gazebo. Tatianna bangkit dari duduknya dan menyongsong Archibald dengan pelukan. Tangis putri peri itu pecah lagi saat ia menenggelamkan wajahnya di dada Archibald.Archibald terkesiap. Tubuhnya mendadak kaku saat Tatianna tiba-tiba memeluknya seraya menangis. Ini perkara sulit baginya, menghadapi seorang peri perempuan yang menangis tanpa mengetahui penyebab tangisnya.Kedua lengan Archibald terangkat untuk membalas pelukan Tatianna. Namun, seketika pangeran peri itu ragu dan kembali menurunkan lengannya."Hei, apa yang sebenarnya terjadi, Tatianna?" tanya Archibald bingung.Tatianna terlihat masih enggan membuka suara. Peri perempuan itu masih larut dalam tangisannya, menumpahkan setiap tetes air mata yang ia miliki di dada Archibald.Beberapa peri Pixie yang kebetulan lewat atau yang memang berdiam di pinggir danau mulai memperhatikan Archibald dan Tatianna. Hati mereka yang masih diliputi kesedihan pasca meninggalnya Putra Mahkota Albert merasa terenyuh. Mereka iba terhadap sang putri karena mereka mengira pastilah Tatianna sedang memikirkan kakaknya.Untuk beberapa saat lamanya mereka berdiam di sana dengan hanya suara tangis Tatianna yang terdengar.Setelah tangisnya reda, Tatianna mengangkat wajah dari dada Archibald. "Terima kasih," lirihnya seraya menyedot ingus. Kedua tangannya sibuk membersihkan sisa-sisa air mata di kedua pipi.Archibald mengangguk pelan seraya mengembuskan napas lega. Peri laki-laki itu kemudian mengikuti Tatianna yang mengajaknya duduk di tengah-tengah gazebo. Berbagai pertanyaan berputar di dalam kepalanya mengenai mengapa peri perempuan itu menangis. Namun, mengingat kepergian Putra Mahkota Albert yang baru beberapa hari, kemungkinan besar, Tatianna menangis karena teringat akan kakaknya. Lagi pula, Archibald merasa ada yang perlu ia sampaikan pada peri perempuan itu."Aku minta maaf, Tatianna," ucap Archibald dengan suara yang tercekat. Ada emosi tertahan yang sulit untuk ia keluarkan.Tatianna mengangkat wajahnya. Manik mata peri perempuan itu beradu dengan manik mata Archibald.Archibald menunduk. "Kau pasti sudah tahu, kalau aku yang menusuk Putra Mahkota Albert. Aku ... aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin menyelamatkan jiwanya, walaupun sedikit terlambat. Akan tetapi, aku tahu, ia pasti akan berterima kasih padaku," paparnya getir.Tatianna menggeleng pelan. "Aku tahu, ini bukan salahmu. Berhentilah mendengarkan para peri yang menyalahkanmu, Archibald," sahut Tatianna lirih. Ia menyedot hidungnya lagi, kemudian melanjutkan ucapan. "Aku tahu, saat seperti ini juga sangat berat bagimu ... bagi kita semua. Aku hanya berandai-andai jika segala sesuatunya dapat kembali seperti dulu."Hening seketika di antara mereka. Archibald maupun Tatianna sama-sama terdiam menatap danau hijau dengan permukaan berkilauan memantulkan cahaya matahari. Kenangan tentang kebersamaan mereka bermain di danau itu terlintas begitu saja di dalam pikiran Archibald. Hingga tanpa sadar, peri laki-laki itu mengembuskan napas dengan berat."Archibald!" sapa Tatianna.Archibald mengalihkan tatapannya dari danau dengan gelagapan. Lamunannya mendadak buyar. Netra hazel gree n-nya mendapati netra perak Tatianna yang sedang menatapnya intens."Ada apa?" tanya Archibald seraya mengangkat salah satu alisnya."Aku ..." Kalimat Tatianna menggantung, penuh keraguan. Tatianna meneguk salivanya. "Ada yang ingin aku sampaikan," katanya dengan suara bergetar."Katakan saja," sambut Archibald tak acuh. Ia baru saja hendak beranjak dari duduknya, tetapi saat mendengar kalimat Tatianna, peri laki-laki itu urung melakukannya.Tatianna terlihat menunduk sebentar sambil memainkan salah satu ujung gaunnya. Peri perempuan itu menggigit bibir seraya mengerling sekilas ke arah Archibald yang sedang menanti ucapannya. "Aku sebenarnya ... aku menyukaimu Archibald," cetusnya cepat. Ia menunduk, tak berani menatap netra peri laki-laki di hadapannya. Pipinya seketika memerah dan terasa panas."Apa katamu?!" seru Archibald terkejut. Ia menatap lurus wajah Tatianna yang tertunduk malu. Bibirnya terkatup, sementara wajahnya menjadi datar tanpa ekspresi.Tatianna menggigit bibir bawahnya lagi. Dadanya berdebar sangat kencang saat mendengar respon pangeran peri itu. Setelah menguatkan hati, ia akhirnya mengangkat wajah dan mendapati netra Archibald menatapnya tajam, seolah menghakimi. "Aku menyukaimu, Archibald. Aku ... jatuh cinta padamu sejak lama. Dapatkah kau menerima cintaku?" ulang Tatianna dengan suara bergetar.Archibald terkesiap. Peri laki-laki itu tanpa sadar membuka mulutnya. "Kau ... tidak bersungguh-sungguh, kan?" tanyanya dengan kening berkerut."Aku bersungguh-sungguh," sahut Tatianna lirih. Matanya berkaca-kaca menatap Archibald.Archibald menarik napas dalam-dalam. Peri laki-laki itu membalas tatapan Tatianna, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi yang tak dapat ditebak. "Maafkan aku Tatianna, aku tidak bisa. Kau sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri ... aku tidak bisa," ujar pangeran peri bersurai keemasan itu dengan nada mantap.Setetes air bening langsung luruh dari salah satu pelupuk mata Tatianna, saat mendengar jawaban itu. Sesuatu di dalam dadanya terasa pedih dan sakit, serupa pedang yang dicabut paksa keluar dari tubuh yang terluka. "Tidak bisakah kau mencoba menerimaku?" tanya Tatianna masih mencoba peruntungannya. "Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Archie. Aku berjanji!"Archibald menggeleng pelan. "Tidak bisa, Tatianna," tolak Archibald lembut. "Hatiku sudah milik yang lain. Aku juga tidak ingin kau terluka. Jadi, jangan pernah berharap padaku," imbuhnya lagi.Tatianna sekuat tenaga menahan tangisnya yang hampir meledak. Ia menghirup napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara agar kepalanya dapat berpikir jernih. Dengan gerakan cepat, Tatianna meraih salah satu tangan Archibald dan menggenggamnya erat selama beberapa detik, sementara Archibald yang sangat terkejut segera menarik kembali tangannya.Bayangan tentang sesosok peri bersurai keemasan hadir dalam penglihatan di alam bawah sadar Tatianna. Sosok peri itu berdiri di tengah-tengah sebuah padang Dandelion yang tampak asing. Peri perempuan itu menoleh, kemudian tersenyum dengan sepasang netra hijau yang begitu ekspresif. Tatianna terkesiap saat mengenali peri perempuan itu. Ammara ...."Kau?! apa yang kau lakukan?!" teriak Archibald gusar. Ia memicingkan matanya. Ia tahu persis apa yang telah dilakukan Tatianna. Peri perempuan itu baru saja membaca rahasianya, yang memang merupakan keistimewaan dan keahlian Tatianna.Tatianna menggeleng cepat seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak. Tangisnya mendadak pecah tak terbendung lagi. Secepat kilat ia bangkit dari duduknya dan berlari menjauhi Archibald. Hatinya hancur berkeping-keping karena cintanya yang tertolak, seperti yang selama ini ia takutkan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sang pangeran pujaan hati ternyata menyukai peri lain, dan peri itu adalah Ammara, peri perempuan biasa dari Fairyfarm yang tidak begitu ia sukai.Tatianna berlari dan terus berlari meninggalkan Istana Avery, membawa tangis dan sakit hatinya. Ia tak ingin menoleh ke belakang, di mana terdengar suara-suara yang memintanya untuk berhenti dan memintanya kembali. Ia hanya ingin sendirian dan berharap sakit hatinya sembuh setelah ia menjauh dari istana.* * *Tatianna terengah-engah ketika ia berhenti berlari. Telapak kakinya yang telanjang terasa perih dan melepuh. Peri perempuan itu meringis seraya meluruskan kakinya saat ia terduduk di bawah sebatang pohon wilow.Tatianna bersandar pada sebatang pohon wilow seraya menatap ke sekelilingnya. Entah telah berapa jauh dan berapa lama ia berlari, yang jelas saat ini ia merasa sangat kelelahan. Pelipisnya basah oleh peluh, sementara napasnya turun naik dengan cepat.Netra perak Tatianna menangkap pemandangan hutan yang rimbun berwarna hijau di salah satu sisi, sementara sebuah hutan berkabut di sisi lainnya. Dari kejauhan, ia dapat melihat siluet gunung-gunung yang mengelilingi tempat itu. Tidak salah lagi, ia pasti sedang berada di Fairyhill sekarang. Berlari sambil menangis ternyata membuatnya tak sadar betapa telah sangat jauh ia dari Istana Avery.Pandangan Tatianna kemudian sepenuhnya teralih pada pemandangan hutan berkabut yang terlihat jauh lebih gelap dan suram daripada daerah lain di sekitarnya. Ia tak pernah melihat tempat seperti itu sebelumnya di sekitar Istana Avery, karena ia memang tidak pernah pergi jauh dari kediamannya. Namun, ia dapat menebak dan ia yakin tebakannya tidak meleset, tempat itu adalah Hutan Larangan.Tiba-tiba Tatianna melihat sebuah pergerakan di salah satu sisi perbatasan Hutan Larangan dan Fairyhill. Punggungnya seketika menegak. Peri perempuan itu menyeret tubuhnya yang masih kelelahan untuk bersembunyi di balik sebatang pohon wilow. Ia menajamkan penglihatannya. Pergerakan itu semakin lama semakin jelas, menampakkan sesosok peri Elf bersurai keemasan.Tatianna menahan napas, takut jika sosok itu tiba-tiba menyadari keberadaanya. Sosok peri bersurai keemasan itu bergerak keluar dari kabut tipis di depan Hutan Larangan, hingga Tatianna dapat melihat parasnya. Sosok itu mendekati sesuatu yang tak dapat Tatianna lihat dengan jelas.Tatianna beringsut maju pada sebatang pohon wilow di hadapannya, agar dapat melihat sosok itu lebih jelas. Peri perempuan itu membelalak seraya menutup mulutnya saat mengenali sosok peri di perbatasan."Ammara?! Apa yang ia lakukan di tempat itu?!" decak Tatianna dengan suara tertahan.Dari kejauhan, Tatianna tiba-tiba melihat sosok Ammara yang mendadak terjengkang beberapa meter ke belakang. Pada saat yang bersamaan, kabut dan kegelapan yang memenuhi Hutan Larangan seolah terlepas oleh sesuatu yang selama ini menahannya.Kabut tipis perlahan memenuhi Fairyhill, tempat di mana Tatianna bersembunyi dari balik sebatang wilow, hingga peri perempuan itu memekik panik. Ia mencari sosok Ammara yang tadi dilihatnya, tetapi sosok itu telah menghilang seolah tertelan kabut.Langit Fairyverse seketika berubah menjadi kelabu, dengan kilat yang sesekali menyambar. Suara raungan dan lolongan makhluk-makhluk kegelapan mendadak terdengar memenuhi tempat itu.Tatianna terkesiap saat sebuah sosok hitam besar tiba-tiba telah berdiri di hadapannya, diselimuti kabut tipis. Peri perempuan itu berteriak ketakutan saat sosok makhluk hitam dengan mata merah menyala merangsek mendekatinya.Tubuh Tatianna bergetar hebat, sementara kakinya seolah terpaku pada tanah hingga tak mampu beringsut sedikitpun. Ia hanya dapat berteriak dengan suara parau."Tolong! Tolong!"
Brotherhood
Elijah meninggalkan balairung Istana Avery dengan wajah merah padam. Kemarahan jelas terpancar dari sepasang netra birunya. Peri laki-laki itu sama sekali tak mengacuhkan panggilan Raja Brian dan para keluarga kerajaan lainnya yang coba mencegahnya pergi."Pangeran Elijah, jangan pergi!" teriak Elwood.Claude yang melihat Elijah telah menghilang dari pandangannya, sontak berdiri dan mengejar pangeran peri bersurai cokelat itu. Ia memohon ijin sekilas pada Raja Brian untuk menyusul saudaranya, sementara Elwood menyusul di belakangnya.Archibald mendengkus saat melihat Claude dan Elwood sibuk membuntuti Elijah. Setelah Raja membubarkan pertemuan di balairung, peri laki-laki itu lantas menyusul kedua saudaranya yang sedang bersama Elijah di istal kerajaan."Jangan dengarkan mereka, Elijah!" seru Claude.Elijah berbalik dan menatap Claude dengan wajah yang masih merah padam. Matanya melotot pada Claude nyalang. "Sayang sekali, telingaku menangkap jelas apa yang dikatakan sang ratu. Dan, mataku menangkap sangat jelas pandangan-pandangan meremehkan dari seisi ruangan. Jangan membodohiku, Claude. Apa aku kurang menyedihkan bagimu?!" decak Elijah kesal.Claude menggeleng cepat, tak habis pikir dengan ucapan Elijah. "Kau salah besar. Kata-kata sang ratu tidak berarti apa pun. Demikian pula kata-kata orang lain. Perkataan mereka tidak akan bisa melukaimu, jika kau tidak mengijinkannya. Jadi, jangan biarkan kata-kata mereka melukaimu, Elijah," ucap Claude lirih."Kau tahu Claude, andai yang kualami sesederhana yang kau katakan, aku tidak perlu merasa seperti ini!" seru Elijah marah. Napasnya turun naik dengan cepat. Ia berbalik memunggungi Claude, kemudian berlari cepat menuju kandang unicorn. Di belakangnya, Claude, Elwood dan Archibald yang baru saja bergabung, ikut berlari, membuntutinya."Kau mau ke mana?" tegur Claude saat mendapati Elijah mempersiapkan tunggangannya."Tidak ada hubungannya denganmu!" bentak Elijah seraya mendorong pelan Claude yang menghalangi jalannya. Ia bersiap hendak naik ke atas punggung unicorn bersurai hitam."Kau sudah siap, Tuan?" tanya unicorn hitam itu pada Elijah.Elijah mengangguk.Namun, Ellwood dengan sigap, maju lebih dulu ke hadapan unicorn hitam. Pangeran peri bermata biru itu merentangkan kedua tangannya, menghalangi Elijah yang hendak menaiki unicornnya.Elwood menggeleng pelan. "Tidak baik pergi dalam keadaan marah," decaknya.Elijah menghela napas kasar. "Kalian ini benar-benar merepotkan!" geramnya. Pangeran peri dengan wajah memerah itu kini memegang gagang pedangnya seraya mendelik ke arah Elwood.Elwood sontak mundur beberapa langkah, menatap Elijah tak percaya."Elijah, tenanglah. Kami saudaramu. Kau selalu bisa berbagi dengan kami, jika ada yang membebani pikiranmu. Akan tetapi jangan pernah pergi dalam keadaan marah seperti ini," timpal Claude seraya mengangkat tangannya dan menyentuh pundah Elijah.Dengan berang, Elijah menepis lengan Claude terlalu keras, hingga peri laki-laki itu terhuyung mundur. Tubuh Claude tanpa sengaja menabrak Archibald yang berdiri di belakangnya."Elijah!" teriak Elwood. Emosinya sedikit tersulut. Refleks, ia mendorong tubuh Elijah hingga tubuh peri itu hingga terjengkang menghantam tumpukan buah di dekat istal unicornya.Elijah mengernyit menahan sakit pada punggungnya. "Kurang ajar!" raung Elijah. Ia bangkit dengan cepat sambil mencabut pedang sihir dari sarungnya. Matanya melotot marah pada Elwood. Tanpa berpikir panjang, peri laki-laki itu mengayunkan pedang sihirnya menyerang Elwood.Dengan gelagapan, Elwood menghindar. Sabetan pedang sihir Elijah luput mengenai salah satu bahunya. Namun, sepersekian detik kemudian, Elwood harus menangkis lagi serangan Elijah yang datang bertubi-tubi. Lambat laun, wajah Elwood mulai memucat dan napasnya terengah."Cukup, Elijah!" seru Archibald. Peri laki-laki bersurai keemasan itu merangsek maju mendekati Elijah yang masih menyerang Elwood tanpa ampun.Elijah tak menghiraukan seruan itu. Ia tetap fokus pada Elwood yang mulai kewalahan. Sebuah sabetan pedang sihir akhirnya berhasil mengenai salah satu lengan Elwood.Elwood berteriak kesakitan, tetapi peri laki-laki itu sama sekali tak merasakan iba sedikit pun terhadap saudaranya.Elijah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, setelah berhasil membuat Elwood terjengkang ke tanah oleh serangannya yang terakhir. Ia mengambil kesempatan lagi untuk menghunjamkan pedang sihirnya pada tubuh Elwood.Saat mata pedang itu nyaris menancap pada dada Elwood, Archibald tiba-tiba melesat cepat ke arahnya, menangkis pedang sihir Elijah. Bunyi pedang berdenting memenuhi istal. Kini kedua peri itu saling berhadapan dengan dua bilah pedang yang saling beradu di antara mereka.Rahang Elijah mengeras dan mulutnya terkatup rapat, tetapi urat-urat tersembul di lehernya mengutarakan betapa kuatnya tenaga yang ia gunakan untuk mendorong pedang sihir Archibald. Iris mata birunya menghunjam netra hazel green Archibald. Amarah dan benci tergambar jelas di mata sang peri."Berhentilah ikut campur urusanku!" geram Elijah.Salah satu sudut bibir Archibald terangkat. "Aku tidak berniat ikut campur dalam urusanmu. Namun, kau menyerang saudaraku!" balas Archibald sengit.Elijah semakin kuat mendorong Archibald dengan pedangnya, hingga tubuh peri bersurai keemasan itu terdesak mundur beberapa langkah. Elijah berteriak parau. Bersamaan dengan itu, tubuh Archibald terjengkang dan bokongnya medarat terlebih dahulu ke atas tanah. Elijah terengah-engah. Napasnya memburu dan keringat membanjiri pelipisnya.Archibald meringis pelan dan susah payah berusaha bangkit dari duduknya. Netranya menatap Elijah dengan waspada, berjaga-jaga jika peri laki-laki itu akan kembali menyerangnya."Sudah cukup!" sergah Claude, yang kini berdiri di antara mereka. Peri laki-laki bersurai hitam itu menyorot pada Elijah dengan tatapan serius. "Elijah, aku melarangmu pergi karena aku melihatmu di dalam mimpiku. Aku bermimpi tentang sesuatu yang ... tidak baik. Untuk itu, aku mohon kau jangan pergi. Kali ini, percayalah padaku," lirihnya.Elijah menggeleng cepat. "Omong kosong!" bentaknya. "Kenapa aku harus mempercayai kalian?! Kalian adalah para pangeran yang berpotensi untuk menggantikan Putra Mahkota. Kalian pasti mengincar posisi itu juga, 'kan? Kalian bukan saudaraku, kalian adalah sainganku! Tidak ada yang bisa menjamin jika kalian tidak akan mencelakaiku. Aku tidak akan mempercayai kalian!"Claude terkesiap mendengar ucapan Elijah. Tanpa sadar mulutnya ternganga. Kepalanya menggeleng pelan, menolak untuk mempercayai ucapan Elijah yang baru saja didengarnya. Ia tidak menyangka jika Elijah tidak pernah menganggap ia dan saudara-saudaranya yang lain tulus."Betapa kotornya pikiranmu tentang kami, Elijah!"decak Archibald seraya bangkit dari posisinya. Pedang sihirnya belum lagi kembali pada sarung kulit yang tersampir di pinggang. Pedang itu masih terhunus siaga sebagai respon dari Elijah yang mulai berjalan mendekatinya."Terutama kau!" teriak Elijah berang. Pedang sihirnya mengacung pada Archibald, meskipun jarak mereka tidak terlalu dekat dan Claude masih berdiri diantara mereka. "Kau ingin menjadi raja bukan? aku ingatkan kau sekali lagi, kita sama-sama keturunan unsheelie. Jadi kita sama-sama tidak berhak menggantikan Albert. Dan, kau harus tahu, aku sangat tidak menyukaimu!" hardiknya.Wajah Archibald seketika memerah begitu mendengar Elijah menyinggung tentang ibunya. Matanya membelalak menatap Elijah sengit. "Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku!" balas Archibald seraya mengayunkan pedang sihirnya, melewati Claude yang mencoba menangkap tangannya. Arcibald, tentu saja, jauh lebih cepat dan lebih kuat, hingga Claude tersingkir beberapa langkah dari tempatnya berdiri.Elijah menyambut serangan Archibald dengan seringai penuh kemenangan. Ia sengaja memancing emosi Archibald. Kata-katanya berhasil memancing peri angkuh itu untuk bertarung dengannya. Dengan sigap Elijah menangkis setiap serangan yang datang dari Archibald.Denting pedang sihir yang beradu nyaring, memancing beberapa kesatria Elf untuk hadir dan menonton perkelahian antar pangeran di istal. Namun, tak satu pun di antara mereka yang berani melerai dan memisahkan dua pangeran yang sedang berduel."Kau sama sepertiku, Archibald. Tidak pantas menjadi raja!" teriak Elijah di tengah-tengah pertarungan mereka.Kata-kata itu semakin membuat darah Archibald mendidih. Semangatnya untuk menyerang dan melukai Elijah semakin berkobar. Archibald mengayunkan pedang sihirnya semakin cepat dan kuat hingga Elijah mulai terlihat kewalahan. Saat pangeran peri itu terlihat lengah, dengan gesit Achibald menebaskan pedang ke salah satu bahu Elijah.Elijah yang tak sempat lagi mengelak tebasan Archibald akhirnya harus merelakan salah satu bahunya sobek dan berdarah. Tubuhnya seketika jatuh terkulai dengan darah yang mengucur deras membanjiri separuh pakaiannya. Pedang peraknya terpental dan terjatuh di bawah kaki Archibald.Demi melihat itu, seketika Archibald berhenti menyerang Elijah. Ia menurunkan pedang sihirnya yang kini bernoda darah. Peri laki-laki itu terengah-engah, nyaris kehabisan napas. Tubuhnya mendadak limbung, ia terjatuh di atas lututnya sendiri. Netranya menyorot Elijah dengan tatapan getir.Elijah menyunggingkan seyum asimetris, saat merasakan bahu kanannya basah oleh darah sendiri. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Kita saling membenci, Archie. Sejak dulu. Bagaimanapun juga, kita tidak akan pernah menjadi saudara," ucapnya dengan suara parau. Ia meringis menahan sakit lukanya. "Kita akan selalu berakhir seperti ini. Siapa pun yang menjadi raja ...."Archibald mengembuskan napas panjang. Sesuatu di dadanya terasa nyeri saat mendengar kata-kata saudaranya. "Aku ... tidak pernah ingin peduli padamu. Namun, kali ini, aku mohon tinggalah di sini. Jangan pergi. Karena sekali kau keluar dari gerbang itu, kau tidak akan pernah bisa kembali pada kami," tukasnya dengan suara melembut.Elijah bungkam. Ia bangkit dari posisinya seraya menekan lukanya dengan tangan. Peri laki-laki itu berjalan tertatih, menjauhi Archibald, Claude dan Elwood, sementara darahnya berceceran di sepanjang jalan yang ia lalui. Ia mendekati unicorn hitamnya."Elijah, kau terluka. Setidaknya biarkan aku membawamu untuk menemui Penyembuh Istana," tawar Elwood yang mengikutinya. Peri laki-laki bersurai cokelat itu meraih pergelangan tangan Elijah, untuk membantunya berjalan. Namun, dengan kasar, Elijah menepis tangannya."Jangan khawatir. Aku akan kembali untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Elijah sinis. Matanya menyorot pada Archibald, Elwood dan Claude bergantian. Setelah itu, Ia menaiki unicornnya dengan susah payah. Elijah menendang perut unicornnya dengan salah satu tumit, makhluk itu sontak melaju kencang melewati pintu gerbang Istana Avery.Archibald mengela napas berat saat menatap tubuh Elijah yang semakin menghilang ditelan kegelapan malam Fairyverse. Ia menyarungkan kembali pedang sihirnya. "Semoga kau tidak akan pernah berubah, Elijah," gumamnya tertelan deru angin malam.* * *Raja Brian bergeming di atas balkon salah satu biliknya, yang menghadap tepat ke arah istal Kerajaan Avery. Ia berdiam dalam kegelapan di sana cukup lama, hingga ia dapat menyaksikan pertengkaran putra-putranya dari tempat itu.Sang raja mengembuskan napas panjang saat melihat kepergian Elijah sebagai akhir dari pertengkaran yang diamatinya dari atas balkon. Keningnya mengerut dan rahangnya mengeras. Tanpa sadar, Raja Brian bahkan mengepalkan kedua tangannya."Yang Mulia, apakah Yang Mulia mencari Hamba?" tanya Maurelle. Suara peri laki-laki itu seketika membuyarkan lamunan sang raja.Raja Brian menoleh dan mendapati Maurelle sedang membungkuk takzim di sampingnya. Sang raja mengangguk dan serta merta peri peramal itu menegakkan tubuhnya."Ya," sahut Raja Brian. Pandangannya teralih kembali pada istal istana yang kini telah sepi. Para pangeran tampaknya telah kembali ke istana utama. "Katakan padaku, Maurelle, siapa yang akan menjadi Raja Avery dalam penglihatanmu?" tanyanya.Maurelle tersentak, benar-benar tak menyangka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut sang raja. "I-itu ... penglihatan Hamba bersifat subjektif, Yang Mulia. Lagi pula, nasib sesosok peri bisa saja berubah jika pilihan hidup mereka berubah," sahut Maurelle, mencoba menjawab sediplomatis mungkin.Raja Brian menggeleng cepat. Tubuhnya kini menghadap Maurelle dan menatap peri laki-laki itu serius. "Apa yang kau lihat dari Putra-putraku? Apakah kau sudah tahu bahwa Albert tidak akan pernah menjadi raja?" desak sang raja. Netra cokelatnya tampak berkaca-kaca.Maurelle menarik napas panjang. Pandangannya menerawang ke langit Fairyverse yang dipenuhi bintang-gemintang beberapa saat, kemudian kembali menyorot sekilas kepada Raja Brian. "Ampun, Yang Mulia. Putra Mahkota Albert memang tidak ditakdirkan menjadi Raja," jawabnya dengan suara tercekat . Ia memperhatikan perubahan raut wajah sang raja yang mendadak sendu. "Hamba melihat dua putra Yang Mulia lainnya memiliki aura raja yang sangat kuat, tetapi hanya satu yang akan menjadi raja sejati--"Raja Brian mengangguk mantap seraya menghembuskan napas lega. "Cukup, Maurelle!" sergah Raja Brian dan Maurelle sontak menghentikan ucapannya. Seketika kedua sudut bibir Raja Brian tertarik ke atas. Senyumnya terkembang. Kelegaan tergambar jelas di wajahnya. "Malam ini sepertinya aku akan tidur dengan nyenyak. Aku akan menunggu takdir itu menunjukkan jalannya sendiri. Jadi Maurelle, kau tak perlu repot-repot menyebutkannya. Terima kasih," ucap Raja Brian. Ia menatap Maurelle yang sedang menatapnya heran. "Terima kasih karena telah setia menemaniku selama ini," lirih sang raja.Maurelle hendak membuka suara untuk mengucapkan sesuatu, tetapi Raja Brian telah beranjak meninggalkan balkon. Kini tinggallah Maurelle yang bergeming menatap bintang-gemintang di langit Fairyverse yang sepenuhnya gelap. Ia menghela napas beras, raut wajahnya gusar. Betapa ia sangat ingin menceritakan tentang Ratu Serenity yang membubuhkan wolfsbane di dalam minuman sang raja. Namun, sebagian hatinya menentang keinginan itu, mengingat kondisi Raja Brian yang sangat rapuh. Ia tak punya kesempatan.Maurelle meneguk ludahnya kasar. Matanya menyorot pada sebuah bintang dengan sinar paling terang, yang dikelilingi beberapa bintang kecil di sekitarnya. Cahaya bintang itu terlihat berkedip-kedip. Jika peri kebanyakan melihat pemandangan itu sebagai bintang, maka netra Maurelle menangkapnya sebagai pertanda. Semoga Kerajaan Avery baik-baik saja, batinny a.* * *Elijah memerintahkan unicornnya untuk berhenti tepat ketika ia mencapai perbatasan Hutan Larangan. Kabut tipis perlahan hadir menyelimuti permukaan tanah di sekitar Elijah. Unicorn bersurai hitam yang ditunggangi Eijah tiba-tiba meringkik gusar seraya berputar-putar di tempatnya. Beberarpa kali Elijah menepuk punggung makhluk tersebut untuk menenangkannya, tetapi kegusaran makhluk itu tak kunjung reda.Elijah berdecak kesal menanggapi unicornnya yang tak kunjung tenang. Sedetik kemudian, peri laki-laki itu melompat turun dari punggung tunggangannya, sementara makhluk itu masih meringkik seolah melarang empunya untuk mendekati Hutan Larangan."Dasar makhluk pengecut!" gerutu Elijah. "Kalau kau takut, tunggulah di sini," ucap peri laki-laki itu seraya menggeleng cepat.Elijah mengeluarkan pedang sihir dari sarungya. Pedang itu memancarkan cahaya sangat terang sebagai respon terhadap kekuatan sihir hitam yang terasa sangat pekat dari Hutan Larangan. Dengan langkah hati-hati, Elijah melewati perbatasan. Tubuhnya seketika tertelan oleh kabut tebal yang menjadi pembatas antara Fairyhill dan Hutan Larangan.Elijah terbatuk hebat saat memasuki kabut di perbatasan. Ia terus berjalan dengan tersuruk-suruk dalam minimnya cahaya serta permukaan tanah yang tidak rata. Berapa kali, peri laki-laki itu jatuh terguling karena tersandung akar-akar besar yang nyaris tak terlihat.Sayup-sayup suara-suara bisikan mulai menghampiri pendengaran Elijah. Bisikan-bisikan yang tak terdengar begitu jelas itu sontak membuatnya gelagapan. Tubuhnya bergetar bersamaan dengan rasa takut yang perlahan menyelinap dalam benaknya. Panik melandanya.Elijah berlari tak tentu arah, sekencang mungkin. Dari kegelapan di sepanjang jalan yang Elijah lalui, muncullah berpasang-pasang mata merah menyala yang seolah melotot tajam ke arahnya.Sang pangeran telah tiba.Calon raja! Anak Ratu Kegelapan!Hari kebebasan kita akan segera tiba.Suara bisikan yang awalnya terdengar bagaikan gumaman itu perlahan semakin jelas hingga Elijah dapat memahaminya.Selamat datang, Pangeran Elijah!Apakah dia bisa mendengar dan memahami kita?Hmmm ... sepertinya aku pernah melihat peri tampan itu, tapi di mana ya.Elijah menutup kedua telinganya dengan tangan. Ia telah menghentikan larinya karena merasa mata-mata merah itu bukanlah sesuatu yang mengancamnya. Peri laki-laki itu terus berjalan dengan langkah-langkah lebar dan napas terengah.Tiba-tiba bunyi kepakan sayap makhluk yang besar memenuhi Hutan Larangan. Suara bisikan-bisikan tadi seketika menghilang, bersamaan dengan lenyapnya berpasang-pasang mata merah yang muncul dari kegelapan.Elijah mengacungkan pedangnya dengan waspada, menatap nyalang pada kegelapan pekat di sekitarnya. Ia memasang telinganya, mencoba menerka dari mana asal bunyi kepakan sayap besar itu. Napasnya memburu, tak beraturan, sementara pedang sihir yang teracung itu bergerar.Dalam sepersekian detik, sebuah cahaya yang sangat terang mendadak muncul di hadapan Elijah. Makhluk dengan kepakan sayab sesar itu berubah menjadi cahaya.Elijah bergeming.Sesosok naga besar berwarna hitam tiba-tiba muncul di hadapannya. Naga itu kemudian berubah menjadi Lucifer. Peri laki-laki unsheelie itu menyunggingkan seulas senyum lebar, seraya memberi salam takzim pada Elijah."Selamat datang di Hutan Larangan, Putra Mahkota Elijah. Ratu Minerva telah menanti!" sambutnya ramah.Elijah terkesiap. Tanpa sadar mulutnya ternganga. Sebutan 'Putra Mahkota' benar-benar telah membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Tanpa suara, pangeran periitu mengikuti Lucifer yang menuntunnya berjalan ke pinggir jurang. Jurang yang dulu pernah ia lalui untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert.Di tepi jurang, sosok Lucifer berubah kembali menjadi naga hitam besar. Naga itu menunduk rendah saat Elijah melompat duduk ke atasnya. Sang naga terbang tinggi menembus kegelapan jurang menuju salah satu menara tertinggi Kastil Larangan.
The Crown
Elijah berjalan tergesa memasuki gerbang utama Istana Avery yang masih dijaga ketat oleh puluhan kesatria Elf. Langit Fairyverse telah sepenuhnya gelap dan kelopak bunga bercahaya, saat Elijah menyusuri lorong istana yang terlihat lebih ramai dari biasanya.Elijah berjalan dengan wajah ditekuk. Kedua netra birunya menatap kosong pada jalan di hadapannya. Beberapa kali ia menghela dan mengembuskan napas berat. Pikirannya sedang suntuk dipenuhi banyak hal. Pada sebuah persimpangan koridor istana, Elijah berpapasan dengan beberapa kesatria dan dayang peri Elf. Elijah terkesiap lamunannya buyar saat melihat gelagat aneh para rombongan peri itu.Rombongan peri Elf itu sama terkejutnya dengan sang pangeran. Mereka segera menyingkir dari jalan sambil menundukkan wajah mereka dalam-dalam. Namun, belum lagi Elijah berjalan menjauh, suara bisik-bisik terdengar."Jadi, Pangeran Elijah sebenarnya adalah anak Ratu Kegelapan? Anak peri unsheelie?!" tanya sebuah suara cempreng."Aku sangat kecewa karena wajah setampan itu ternyata diwariskan dari peri Unsheelie," timpal yang lain."Dia cerdas dan berbakat. Namun tidak dapat menjadi Putra Mahkota pasti karena ibunya peri Unsheelie."Kedua tangan Elijah terkepal."Tidak menutup kemungkinan lambat laun kutukan itu akan menurun padanya, 'kan?""Aku lebih memilih Pangeran Archibald Yang jelas le--""Hentikan!" bentak Elijah berang. Ia telah berbalik menghampiri para kesatria Elf yang sedang membicarakannya. Wajahnya merah padam. Napasnya memburu, sementara kedua iris matanya memicing menatap satu per satu wajah kesatria Elf yang menggunjingnya.Para kesatria Elf itu sontak membelalak. Mereka gemetar ketakutan, tak menyangka jika sang pangeran mendengarkan pembicaraan mereka."Ma-maafkan ka--""Maaf katamu?!" desis Elijah. Ia menarik kerah baju salah satu kesatria Elf yang terjangkau olehnya. Matanya menatap nyalang pada kesatria Elf malang yang kini menggigil ketakutan itu."Kesatria Elf sepertimu layak untuk dihukum!" bentak Elijah marah.Elijah mengempaskan tubuh kesatria Elf yang malang itu hingga menghantam sebuah tiang di koridor. Dengan sigap, ia mengeluarkan sebilah pedang sihir dari sarung yang tersampir di pinggangnya. Tanpa keraguan, Elijah menebaskan pedang sihir itu pada leher kesatria Elf yang hendak bangkit dengan susah payah. Percikan darah segar mengenai wajah sang pangeran disertai dengan suara teriakan tercekat dari si peri malang.Demi melihat kejadian itu, rekan-rekan kesatria Elf yang lainnya berteriak ketakutan seraya melangkah mundur. Mereka melotot tak percaya pada Pangeran Elijah yang tanpa ekspresi telah mengembalikan pedang sihir itu ke dalam sarungnya.Elijah menyeka bekas darah yang menempel di salah satu pipinya, kemudian menepiskan tangannya dengan kasar. Ia mendelik ke arah para kesatria Elf di depannya. "Pergilah. Bereskan mayat teman kalian, sebelum aku berubah pikiran!" teriaknya berang.Sontak para kesatria Elf itu berlutut dengan tubuh gemetar. "Ampuni kami, Pangeran Elijah! Ampuni kami!" ratap mereka. Suara tangis ketakutan memenuhi koridor istana.Beberapa sosok kesatria Elf berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat mayat sesosok kesatria Elf tergeletak bersimbah darah dengan leher yang nyaris putus. Yang lebih mengejutkan lagi adalah sosok Pangeran Elijah berwajah berang berada di dekat mayat peri itu. Pangeran peri itu sedang memegang gagang pedang dengan wajah memerah dan rahang yang mengatup rapat."Cih! Dasar kesatria Elf tidak berguna!" umpatnya. Elijah berbalik dan melanjutkan langkah menuju balairung Istana Avery di mana seluruh keluarga kerajaan telah berkumpul.Pintu emas dengan ukiran lambang kerajaan Avery di depannya terbuka dari dalam, setelah salah satu kesatria Elf yang berjaga di luar mengetuk sebanyak dua kali."Syukurlah, kau sudah datang Pangeran Elijah!" sambut Raja Brian seraya tersenyum lemah.Elijah mengangguk takzim, kemudian duduk di salah satu kursi emas di antara Elwood dan Claude. Netra birunya bertemu tatap dengan dengan netra hazel green Archibald. Ia dan Archibald sama-sama membuang muka cepat."Karena seluruh anggota keluarga kerajaan telah berkumpul, aku akan segera mengutarakan maksud dan tujuanku mengundang kalian semua berkumpul di balairung ini," terang Raja Brian.Raja Brian mengedarkan pandangannya menyapu balairung. Ia menatap satu per satu wajah anggota Kerajaan Avery yang hadir di ruangan itu. "Sebagaimana kita ketahui bahwa Kerajaan Avery sedang dalam keadaan berkabung karena wafatnya Putra Mahkota Albert. Namun, untuk memulihkan stabilitas kerajaan, Kerajaan Avery tidak bisa terus berlarut dalam kesedihan, terutama karena kerajaan baru saja diserang monster yang terkena sihir hitam. Kejadian ini tentu sangat meresahkan seluruh peri di Fairyverse," ucapnya lantang.Raja Brian menarik napas. "Untuk mengembalikan stabilitas Kerajaan Avery dan meminimalisir keresahan di Fairyverse, maka Raja dan Dewan Peri memutuskan untuk segera menunjuk Putra Mahkota baru dalam waktu dekat," putus sang raja.Balairung hening seketika. Setiap mata yang hadir menyorot serius kepada sang raja dengan pikiran masing-masing."Yang Mulia." sapa Ratu Serenity seraya mengangkat salah satu tangannya.Raja Brian mengangguk, memberi kesempatan kepada sang ratu untuk berbicara."Terima kasih, Yang Mulia. Hamba merasa keberatan jika kita harus membicarakan mengenai pengganti Putra Mahkota saat ini. Setidaknya, kita perlu menunda keinginan untuk mencari pengganti Putra Mahkota Albert selama beberapa purnama. Untuk urusan stabilitas kerajaan dan kedamaian Fairyverse, hamba percaya, kami masih bisa mengandalkan Anda, Yang Mulia," terang Ratu Serenity.Raja Brian mengangguk pelan. Pandangannya menerawang ke arah langit-langit balairung Istana Avery. Ia mempertimbangkan saran dari sang ratu. "Apa ada masukan lain?" tanya Raja Brian beberapa saat kemudian.Elijah dengan sigap mengacungkan salah satu tanganya.Suara gumaman mulai terdengar memenuhi balairung. Beberapa peri anggota Kerajaan Avery terlihat sedang berbisik-bisik dengan sesamanya seraya mengerling Elijah dengan tatapan meremehkan.Elijah mengembuskan napas kasar. Ia menenangkan diri sesaat sebelum membuka suara. "Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sepakat dengan keputusan Yang Mulia Raja Brian untuk segera menunjuk pengganti Putra Mahkota Albert. Stabilitas kerajaan dan kedamaian Fairyverse lebih utama daripada berlarut-larut dalam kesedihan. Bukankah Putra Mahkota Albert gugur sebagai pejuang yang melindungi istana? Putra Mahkota pasti tidak suka jika kita terlalu lama menangisinya," tukasnya panjang lebar. Ekor matanya mengerling Ratu Serenity yang melotot marah kepadanya. Salah satu sudut bibir Elijah terangkat dan senyum asimetris tersungging di bibirnya.Raja Brian mengangguk pelan. Pandangannya masing menerawang mencari pertimbangan, sementara balairung terdengar makin riuh. Para peri anggota Kerajaan Avery sibuk mengeluarkan pendapatnya masing-masing."Yang Mulia!" sela Ratu Serenity. "Hamba hanya ingin memberikan pandangan," serunya lantang.Seketika balairung menjadi hening kembali. Seluruh anggota Kerajaan Avery kembali fokus menyorot Ratu Serenity."Silahkan, Ratu!" sambut Raja Brian. Ia menyandarkan tubuhnya pada sisi kanan singgasana, sementara salah satu tangannya menopang dagu."Apa pun keputusan Anda, Yang Mulia, satu hal yang harus Anda pertimbangkan," ujar Ratu Serenity. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling balairung. Iris matanya berhenti pada netra Elijah yang juga sedang menatap tajam kepadanya."Pengganti Putra Mahkota haruslah Pangeran atau Putri berdarah murni. Penyerangan sihir hitam hingga monster Hydra yang terkena sihir menunjukan betapa lemahnya pertahanan Kerajaan Avery dan betapa tidak berdaulatnya kita di mata para unsheelie. Kehormatan Raja dan Dewan Peri dipertaruhkan di sini. Jika kita ingin memulihkan nama baik dan kehormatan Kerajaan Avery, maka Raja dan Dewan Peri harus menunjuk pengganti Pangeran atau Putri sheelie berdarah murni untuk memimpin Avery. Hanya dengan itulah stabilitas dan kedamaian di Fairyverse dapat tercipta.""Satu hal yang kita anggap remeh adalah pemberontakan unsheelie melalui kasus Ammara dan penyerangan Hydra. Jangan pernah beri celah pada makhluk-makhluk terkutuk itu untuk keluar dari Hutan Larangan. Raja juga harus memikirkan untuk memperkuat atau menyegel ulang perbatasan agar makhluk terkuat unsheelie sekali pun tidak akan dapat melewatinya."Elijah sontak mengangkat lengannya begitu Ratu Serenity selesai bicara. Begitu Raja Brian mengangguk, Elijah langsung mengajukan keberatannya. "Maaf Yang Mulia, apa yang dimaksud Ratu Serenity dengan pangeran berdarah murni? Bukankah seluruh keturunan Raja Brian adalah peri berdarah murni. Hamba rasa ada yang perlu diluruskan dari perkataan Ratu Serenity!" semburnya dengan nada meninggi. Wajah rupawannya mulai memerah."Kau tidak berhak memberi pendapat di sini, keturunan Unsheelie! Aku merasa khawatir jika penyerangan terhadap Putra Mahkota Albert dan Istana Avery ada sangkut pautnya denganmu. Bukankah dengan jelas Minerva telah mengakui kau sebagai putranya!" bentak Ratu Serenity berang. Napasnya memburu, sementara wajahnya mulai memerah."Tenang, Yang Mulia Ratu," sergah Raja Brian."Apa yang membuatmu setakut ini Ratu Serenity?! Kau takut jika aku menjadi Putra Mahkota? Apa kau tidak punya pion lagi untuk melanggengkan kekuasaanmu?!" balas Elijah tak kalah sengit.Wajah Ratu Serenity seketika merah padam. Ia berdiri dari kursi emasnya hendak merangsek maju ke arah Elijah yang duduk tepat di hadapannya. Namun, sesosok dayang menahan tubuhnya dan menenangkannya.Tanpa sadar, Elijah mengepalkan dua tangannya. Rahangnya mengeras dan perlahan wajah rupawannya menjadi merah padam demi mendengar kata-kata sang ratu."Yang Mulia!" seru Archibald di tengah-tengah keriuhan Balairung. Ia mengangkat salah satu tangannya. Pangeran peri itu mengangguk sekilas dan membuka suara ketika sang raja telah menganggukkan kepala untuk menyilakannya berpendapat."Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sebagai pangeran Kerajaan Avery akan mendukung sepenuhnya keputusan Raja Brian. Untuk masalah pemberontakan unsheelie, kita tidak boleh gegabah dan menganggap itu sebagai sebuah pemberontakan. Kita harus menyelidikinya lebih lanjut. Dan, sebaiknya, seluruh anggota kerajaan Avery saling membantu untuk meredam isu-isu yang dapat meresahkan penghuni Fairyverse. Setelah kondisi Fairyverse lebih stabil dan kondusif, barulah Raja dan Para Dewan Peri memikirkan langkah selanjutnya untuk pemilihan Putra Mahkota yang baru," papar Archibald tenang.Mata sang Raja tampak berbinar seketika. "Kau benar Pangeran Archibald. Kita tidak boleh gegabah. Aku akan menugaskanmu dan Maurelle untuk mengawasi perbatasan Hutan Larangan. Sementara untuk keamanan dan perbaikan Istana Avery akan aku serahkan kepada Pangeran Claude dan Pangeran Elwood untuk mengawasinya. Untuk permasalahan pemilihan Putra Mahkota baru, aku akan merembukkannya dengan Dewan Peri," pungkasnya.Maurelle, Archibald, Claude dan Elwood serempak mengangguk takzim begitu mendengar titah Raja Brian.Elijah ingin menyela. Namun, Raja Brian terlebih dahulu mengibaskan salah satu tangannya pertanda ia tak menginginkan ada yang bicara lagi. Sang pangeran peri menggeram dalam diam. Semakin lama emosinya tak lagi dapat terbendung. Pangeran peri itu menggebrak meja batu di hadapannya hingga retak. Ia menatap nyalang kepada seluruh anggota keluarga kerajaan. Terakhir, tatapannya menghujam Raja Brian.Claude dan Elwood sontak berdiri, berusaha menenangkan saudaranya. Namun dengan kasar, Elijah menepis tangan kedua pangeran peri itu.Balairung kembali riuh dengan bisik-bisik penghuninya yang rata-rata menatap tidak senang pada Elijah.Elijah mengembuskan napas kasar, kemudian dengan cepat beranjak keluar dari Balairung tanpa pamit. Wajahnya merah padam. Emosinya tak terbendung lagi, hingga ia sama sekali tak menghiraukan panggilan Raja Brian.* * *Putri Serenity berjalan mondar-mandir di depan jendela besar kamarnya. Alisnya bertaut. Ia sesekali menggigit bibir bawahnya dengan decakan kesal."Ada apa, Ratuku?" tanya Raja Brian seraya mengangkat wajahnya dari dokumen kerajaan yang sedang ia baca. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja batu dan mengamati Ratu Serenity.Ratu Serenity mengembuskan napas panjang. Kegusaran jelas meliputi wajahnya. "Yang Mulia, bagaimana kalau Anda mengangkat Putri Tatianna sebagai Putri Mahkota. Berikan kesempatan pada Putri Tatianna untuk menjadi Ratu Kerajaan Avery yang pertama?" tanya Ratu Serenity setengah mendesak."Mengapa harus Tatianna, Ratu?" tanya Raja Brian dengan tatapan menelisik."Karena dia satu-satunya keturunan peri berdarah murni. Keturunan langsung kita berdua," jelas Ratu Serenity.Raja Brian menggeleng pelan. "Ia tidak pernah dididik untuk menjadi pemimpin seperti kakak-kakaknya, Ratu. Lagi pula belum tentu Putri Tatianna bersedia," sahut Raja Brian.Ratu Serenity mendengkus. "Tentu saja Putri Tatianna bersedia. Aku yang akan mempersiapkannya. Raja harus ingat bahwa kita harus menjaga kemurnian darah pemimpin kerajaan, jangan sampai Unsheelie yang mengambil alih," ujar Ratu Serenity dengan mata memicing.Raja Brian memiringkan kepalanya seraya menatap mata Ratu Serenity intens. "Ratuku, tidak cukupkah aku bagimu? Kau tetap akan menjadi Ratuku walaupun aku tidak lagi menjadi raja," ucap Raja Brian dengan tatapan menggoda. "Lagi pula, untuk masalah pemilihan Putra Mahkota, aku akan meminta pertimbangan Maurelle. Dia cenayang, Ratuku. Dia pasti telah mengetahui sesuatu mengenai pesan dari masa depan."Ratu Serenity bungkam. Bibirnya mengerucut. Kedua tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Sedetik kemudian, ia meninggalkan bilik Raja Brian dengan langkah cepat penuh kemarahan.Bunyi gaun Ratu Serenity yang menyapu lantai terdengar kasar di telinga Raja Brian. Sementara sang raja mengikuti kepergian ratunya dengan ekor mata seraya menggelengankan pelan.* * *Ratu Serenity membuka perlahan sebuah pintu berwarna perak di hadapannya. Salah satu tangannya menggenggam erat sebuah teko yang terbuat dari emas berisi seduhan teh. Sebelum melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu, sang ratu menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada peri lain di sekitarnya.Bau herbal yang tajam menguar dari dalam ruangan berpintu perak. Ratu Serenity sampai harus menutup hidungnya dengan wajah mengernyit. Seberapa sering pun ia masuk ke ruangan itu, ia tetap tak pernah terbiasa dengan baunya.Setelah menutup pintu di belakangnya, Ratu Serenity menjentikkan jari ke udara dan seketika beberapa bola api berwarna perak menyala di sekelilingnya. Pemandangan botol-botol kaca beraneka warna yang tersusun rapi dalam deretan rak besar langsung menyergap netra sang ratu.Ratu Serenity memicingkan matanya, meneliti botol-botol pada barisan paling atas. Dengan sigap ia menurunkan dua botol sekaligus dan meletakkannya pada sebuah meja batu kecil yang menempel ke dinding ruangan. Dari balik gaun, sang ratu mengeluarkan sekuntum kelopak bunga berwarna ungu.Dengan cekatan, kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan, melumat kuntum bunga berwarna ungu itu menjadi halus. Ratu Serenity kemudian mengambil sedikit lumatan itu dan memasukannya ke dalam teko yang ia bawa. Tak lupa ia membubuhkan isi dari dua botol kaca yang telah diambilnya dari rak.Bibir merahnya menyeringai dalam keremangan ruangan seraya merapatkan kembali tutup teko emas di hadapannya. Ia hendak berbalik keluar dari ruangan, ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras.Ratu Serenity terkesiap. Teko yang dibawanya terjatuh menghantam lantai marmer, menimbulkan suara kelontang yang nyaring.Maurelle masuk dengan tergopoh-gopoh. Wajah peri laki-laki itu merah padam. Matanya melotot, menghakimi Ratu Serenity dengan pandangannya."Apa yang Anda lakukan di sini, Ratu? Ini bukanlah tempat yang lazim untuk didatangi seorang Ratu?" selidik Maurelle. Tatapannya memicing bagaikan elang yang sedang mengincar mangsa.Wajah Ratu Serenity mendadak pucat pasi. Lidahnya menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan Maurelle. Ia hanya bergeming, dengan tubuh bergetar.Maurelle melangkah maju dan mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan. Iris mata cokelatnya menangkap sisa lumatan kelopak bunga berwarna ungu yang sangat mencolok di atas meja batu. Kengerian tiba-tiba terbayang jelas di wajah peri laki-laki itu.Maurelle beralih menatap Ratu Serenity tak percaya. " Wolfsbane ?!" pekiknya tertahan. Ia melotot pada sang ratu.Ratu Serenity menggeleng cepat. Ia gelagapan. Panik. "I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Maurelle. A-aku bisa menjelaskan," sahut sang ratu dengan suara bergetar."Apa pun yang Anda rencanakan, Ratu, aku harap Anda menghentikannya sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mencelakai Raja Brian!" kecam Maurelle. "Ini peringatan terakhir, Ratu Serenity. Selanjutnya, aku akan langsung bertindak dan tidak akan pernah memaafkan Anda!"Maurelle langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah menghentak kasar, meninggalkan Ratu Serenity yang bergeming shock .Di dalam keremangan ruangan, tangis Ratu Serenity mendadak pecah. Dengan marah, ia menendang teko emas yang tergeletak di lantai dengan genangan air seduhan teh di sekitarnya seraya menjerit. Maurelle sialan. Tunggu saja pembalasanku!
Maiden
Archibald duduk termangu di salah satu sudut taman Peristirahatan Terakhir di saat semua peri telah kembali ke Kerajaan Avery. Ia masih enggan beranjak dari tempat penebaran abu Putra Mahkota Albert, penyesalan demi penyesalan terus menderanya hingga yang dirasakannya hanyalah sesak. Sang pangeran peri terlihat berkali-kali menarik dan mengembuskan napasnya dengan berat.Langit senja yang mendung dan muram menaungi taman itu, sementara benih-benih dandelion berterbaran di udara menambah kesyahduan tempat itu. Archibald bergeming. Selain penyesalan, bayangan masa lalu bersama Albert datang silih berganti menggelayuti pikirannya hingga membuatnya tak sanggup beranjak dari tempat itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin bersama sang putra mahkota.Akan tetapi, keheningan yang melingkupinya segera terusik. Sayup-sayup pendengarannya menangkap suara langkah kaki berjalan di suatu tempat di dalam taman. Langkah kaki itu kemudian berhenti tak jauh dari tempat Archibald duduk termangu. Archibald masih bergeming. Ia sama sekali tak berminat untuk mencari tahu siapa gerangan pemilik langkah kaki tersebut.Tiba-tiba suara bersitan ingus mengganggu pendengaran Archibald. Keningnya berkerut dan wajahnya mengernyit masam. Dengan malas Archibald menolehkan pandangan ke arah suara. Ia menangkap sosok peri perempuan berambut keemasan di balik rimbun dedaunan yang tepat berada di balik punggungnya. Suara tangis tertahan mulai terdengar pelan dari sosok itu.Archibald menggeser duduknya hingga dari samping ia dapat melihat getaran pada bahu peri perempuan yang berdiam di balik semak itu. Lambat laun suara tangisan itu terdengar semakin keras bahkan terkesan meraung.Archibald mendengkus, mulai merasa terganggu dengan ulah peri perempuan yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya di sekitar tempat itu. Keheningan yang menemani lamunannya kini sirnah sudah. Archibald lantas berdeham keras beberapa kali agar peri perempuan itu menyadari keberadaannya.Peri perempuan yang menangis itu seketika terdiam, meredam tangisnya dengan paksa. "Maaf Tuan, aku tidak tahu jika masih ada peri lain di tempat ini," ucapnya sesenggukan.Suara itu. Archibald mengenali suara itu .Archibald menghembuskan napas kasar. "Tidak masalah. Aku sudah selesai!" sahutnya ketus. Ia lantas berdiri dari posisinya dan mendekati asal suara. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin seraya berbalik menyorot tajam kepada Ammara.Ammara sontak mengangkat wajah. Kedua tangannya membersihkan sisa-sisa air mata yang menggenang di pipi. Begitu matanya beradu dengan mata Archibald, air mukanya berubah masam. "Bukan urusanmu!" jawab Ammara tak kalah ketus.Archibald menggeram pelan. Ia hendak beranjak dari tempat itu dan mengacuhkan Ammara, tetapi sesuatu dalam hatinya menahannya untuk tidak meninggalkan peri perempuan itu seorang diri di sana. Ia berbalik dan duduk di samping Ammara seraya mengembuskan napas panjang. Untuk beberapa saat lamanya mereka duduk di sana dalam hening."Untuk apa bunga matahari itu?" tanya Archibald datar saat melirik bunga matahari di dalam genggaman Ammara. Ia menyandarkan tubuhnya pada rimbun dedaunan di belakang mereka.Ammara mendengkus. Matanya menyorot pada sekuntum bunga matahari besar di pangkuannya. Bunga Matahari itu tertanam dalam sebuah wadah berwarna gelap. "Aku ingin memberi Putra Mahkota Albert bunga ini," jawabnya lirih."Bunga Matahari?" Archibald menaikkan salah satu alisnya.Ammara mengangguk pelan. Setetes air bening mengalir di pipinya. "Bunga Matahari adalah bunga yang akan bercahaya paling terang di malam hari. Aku harap bunga ini dapat menerangi peristirahatan terakhir Putra Mahkota di tempat ini. Aku harap dia tidakakan kesepian." Ammara kembali terisak.Archibald mengembuskan napas pelan. "Dia tidak akan pernah kesepian di sini," tuturnya pelan. Pandangannya menerawang menatap langit mendung yang menaungi taman.Ammara mengangkat wajahnya, menatap Archibald, menunggu penjelasan."Dia bersama keluarganya di sini dan tempat ini juga dekat dengan Istana Avery. Jadi, mana mungkin dia kesepian," lanjutnya seraya membalas tatapan Ammara.Peri perempuan itu segera membuang pandangan. Tanpa ia sadari, semburat merah samar terbit di kedua pipinya. Entah mengapa, berada sedekat ini dengan Archibald membuatnya salah tingkah.Salah satu sudut bibir Archibald terangkat. "Aku rasa, apa pun yang kau berikan untuknya, ia akan merasa senang.""Benarkah?" tanya Ammara. Sebuah binar terbit di matanya.Archibald mengangguk mantap. Kini kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Peri laki-laki itu tersenyum. Namun, sedetik kemudian ia menundukkan wajahnya, merasa canggung dengan tingkahnya sendiri.Mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati langit senja yang semakin menggelap."Harusnya aku yang menghiburmu..." sesal Ammara lirih."Kau tidak perlu berpura-pura kuat di saat kau merasa tidak baik-baik saja.""Kau benar. Aku tidak baik-baik saja. Aku... Aku menyesal karena belum sempat mengucapkan terima kasih padanya karena telah berusaha menolongku dan ibuku. Aku menyesal. Andai umurnya lebih panjang. Andai aku bisa bertemu dengan Putra Mahkota lagi---""Aku rasa Putra Mahkota menyukaimu," potong Archibald cepat.Ammara membelalak, menatap Archibald tak percaya. Peri perempuan itu menggeleng cepat.Archibald melanjutkan kata-katanya. "Aku juga menyesal tidak menjaganya dengan baik. Aku menyesal karena sering membantahnya. Namun, aku tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan untuknya di saat terakhir hidupnya. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk menyelamatkan jiwanya."Setetes air bening terbit di pelupuk mata Archibald. Ia berkedip sehingga bulir bening itu jatuh menyusuri salah satu pipinya. "Aku merindukannya ...."Ammara refleks menggosok punggung Archibald saat ia menyadari bahwa peri laki-laki di sampingnya sedang berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Ia menggeser duduknya mendekati Archibald, sementara salah satu lengannya merangkul peri itu.Archibald tertunduk, menangis tanpa suara. Tangisan pertamanya sejak Albert wafat.Untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam. Hanya embusan angin yang sesekali terdengar menimbulkan gesekan pada dedaunan dan kelopak bunga." Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Skip to my lou, my darlin'. Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, skip to my Lou, my darlin'."Archibald terkesiap mendengar lagu yang sangat familier di telinganya. Lagu yang mengingatkannya pada masa lalu. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Ammara sedang bernyanyi pelan di sampingnya."Chiara...?" gumamnya pelan. Terlalu pelan hingga desau angin menelannya.Ammara membalas tatapan Archibald dengan tersenyum sekilas. Peri perempuan itu terus bernyanyi untuk menenangkan perasaannya.Jantung Archibald tiba-tiba berdetak lebih kencang. Pipinya memanas. Betapa ia merindukan seorang gadis manusia yang mirip dengan Ammara. Iris mata hazel green- nya menatap lekat peri perempuan di sampingnya. Warna kulit itu. Warna rambut keemasannya. Bentuk bibir dan warna mata itu. Suara dan nyanyiannya. Semua terasa sama seperti dulu.Tiba-tiba sosok seorang gadis kecil hadir tepat di samping Archibald. Gadis manusia dengan rambut keemasan dan gaun berwarna lilac selutut itu sedang bernyanyi. Lagu yang sama, yang pernah Archibald dengar dulu."Chiara?" tanpa sadar, Archibald menggumamkan nama itu lagi."Kau bilang apa?" tanya gadis itu seraya menoleh pada Archibald. Ia menghentikan nyanyiannya.Archibald bergeming. Mulutnya tanpa sadar membuka dan pupil matanya membesar. Gadis manusia di sampingnya kini telah berubah menjadi seorang gadis, dengan paras yang masih sama, bahkan semakin cantik.Kau kah itu Chiara? Tetapi mengapa kau tak mengenaliku?Archibald menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. "Aku hanya sedang merindukan seseorang," lirihnya sambil mengalihkan pandang dari Ammara.Ammara tersenyum kecut. "Aku tahu. Kita sama-sama merindukan Albert."Mereka sama-sama terdiam.Kelopak-kelopak bunga mulai menyala pertanda malam telah menjejak Fairyverse. Kunang-kunang perlahan bermunculan dari sela-sela dedaunan.Di balik sebuah pohon willow berbatang besar, Elijah menyembunyikan diri. Iris mata birunya menyorot sepasang peri yang sedang duduk bersebelahan di salah satu sudut taman Peristirahatan Terakhir. Dalam cahaya remang, air muka Elijah terlihat keruh. Bibirnya terkatup rapat dengan rahang mengeras. Salah satu tangannya mengepal, menekan pada batang kayu di hadapannya. Entah mengapa, Ia merasa tidak terima dengan kedekatan Archibald dan Ammara.Peri laki-laki itu mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari persembunyiannya tanpa suara. Ia melangkah cepat meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir yang kini telah gelap sepenuhnya.* * *"Ammara," sapa Ella lembut ketika mereka telah tiba di Rumah Cendawan.Kali ini mereka pulang ke rumah menggunakan sihir Ella sehingga perjalanan pulang hanya memakan waktu kurang dari satu jam.Ammara menghentikan langkahnya yang baru saja hendak memasuki bilik tidur, saat Ella menyebut namanya. Ammara menoleh dan mendapati Ella tengah menatapnya dengan sorot yang tak dapat Ammara artikan."Ada apa, Bu?" tanya Ammara dengan kening mengerut."Ada yang ingin ibu sampaikan padamu," ucap Ella ragu. Di sampingnya, Ailfryd menggenggam tangan peri perempuan itu erat seolah sedang memberikan kekuatan.Kerutan di kening Ammara semakin dalam. "Ada apa sebenarnya, Bu?"Ammara kemudian mengikuti Ella dan Ailfryd yang menuntunnya menuju sebuah meja batu bundar dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Mereka duduk mengelilingi meja bundar tersebut dalam hening untuk beberapa saat lamanya."Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin Ibu sampaikan, Ammara." Ella berkata, memecah keheningan di antara mereka. Netra hijaunya menatap Ammara lekat. Sementara, Ailfryd yang duduk di samping peri perempuan berambut keemasan itu terlihat menunduk.Ada apa ini? batin Ammara.Ammara berdeham beberapa kali, membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tercekat. Ia menegakkan punggung seraya memasang wajah setenang mungkin. Ia mengangguk terlalu cepat saat membalas tatapan ibunyadengan canggung.Ella mengembuskan napas panjang. "Kau ingat, saat kami bilang kau terjatuh saat menunggang unicornmu dan kau kehilangan seluruh ingatanmu?"Ammara mengangguk pelan. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal di atas pangkuan. Tubuhnya menegang. Ia menatap netra hijau Ella tanpa berkedip."Kami berbohong saat itu... " ungkap Ella lirih. Sorot matanya meredup dan terlihat berkaca-kaca.Ammara melotot mendengar ucapan ibunya. Tanpa sadar mulutnya menganga. Kepalanya menggeleng pelan, menolak percaya dengan kata-kata yang barusan ia dengar. Namun, sebisa mungkin Ammara mengendalikan diri."Ibu, apa yang Ibu bicarakan?!"Ella mengangguk pelan. Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya. Ia menyahut dengan suara serak. "Maafkan Ibu dan ayah. Kami tidak bermaksud berbohong padamu. Kami hanya ingin melindungimu, Ammara."Ammara merasakan sakit yang seketika menyerang kepalanya. Ia memegang salah satu pelipisnya seraya menggeleng lemah. Mulutnya membuka dan menutup seolah ada kata yang terasa berat untuk diucapkan, tetapi ia tetap bungkam.Ella menghela napas berat, sebelum melanjutkan ucapan. "Jadi ... sebenarnya, kau bukanlah anak kami. Saat kami menemukanmu, ingatanmu hilang, Nak. Kau bahkan tak mengingat namamu sendiri. Jadi kami menamaimu Ammara. Namun, ada sesuatu yang lebih penting terkait dengan identitasmu ... " terang Ella susah payah. Kalimatnya menggantung di udara ruangan yang mendadak terasa membeku. Sesekali iris matanya beradu dengan iris mata Ailfryd.Bagaikan tersambar petir, sesuatu di dalam dada Ammara terasa nyeri. Sakit yang tak terlihat itu terasa menggerogotinya. Ia lantas menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Setetes air bening luruh di pipinya. Ia berusaha keras menahan gejolak di dalam dadanya, dengan memilih bungkam, menanti Ella melanjutkan kata-kata.Ella menarik napas panjang. Air mata bergulir perlahan di pipinya. "Maafkan aku ... Kau sebenarnya tidak sama dengan kami," lirihnya tertelan rasa bersalah.Ailfryd meneguk salivanya susah payah, akhirnya sebelum membuka suara. "Waktu itu, kami menemukanmu di dekat portal utara, tergeletak tak sadarkan diri. Saat itu Ella mengetahui bahwa kau dibawah pengaruh sihir hitam hingga tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama." Ailfryd mengjeda kata-katanya, mengumpulkan segenap kekuatan yang ia miliki untuk melanjutkan ucapannya. "Saat itu kami menyadari bahwa kau sedang berada dalam bahaya. Ella menyamarkan sosokmu dengan menaburkan serbuk peri ke sekujur tubuhmu. Namun, saat kau terluka, khasiat serbuk itu otomatis menghilang ...."Ammara tak dapat lagi membayangkan bagaimana ia terlihat saat itu. Yang jelas, sekujur tubuhnya gemetaran. Dadanya sesak dan kepalanya terasa berputar. Saat Ella berpindah duduk di sampingnya, Ammara merasa sedikit lebih baik, meski sentuhan tangan itu kini terasa sangat asing."Maafkan kami, Ammara," ucap Ella lirih. "Kami merahasiakan semua ini demi melindungimu. Kami tidak tahu siapa yang menyihirmu. Namun, kami tidak bisa membiarkanmu begitu saja di portal Utara, terlebih saat aku mengetahui bahwa seluruh ingatanmu tersegel di suatu tempat oleh sihir hitam. Oleh karena itu, kami mengangkatmu sebagai anak dan membawamu tinggal di Fairyfarm. Kami juga sangat keras melarangmu untuk meninggalkan Fairyfarm karena kami tahu, sesuatu pasti sedang mengincarmu."Ammara terisak pelan. "Jika aku tidak sama seperti kalian, jadi aku ini apa?" tanya Ammara getir di sela-sela isak tangisnya.Ella menghela napas dalam-dalam. Ia menggigit bibirnya seraya berpikir mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Ammara. Setelah menimbang beberapa saat lamanya, akhirnya Ella membuka suara. "Kau adalah manusia. Aku bisa mengetahuinya dari baumu. Selama ini, aku memberimu serbuk pelindung agar bau dan bentuk telingamu menjadi samar. Sungguh, tempat ini bukanlah tempat yang aman bagi manusia sepertimu, Ammara.""Ma-manusia?!"Tangis Ammara semakin kencang. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kedua bahunya berguncang, sementara suara raungannya teredam telapak tangan."Namun satu hal yang harus kau ingat, Ammara, aku dan ibumu tulus menyayangimu dan ingin melindungimu," timpal Ailfryd lirih.Ella mengeratkan rangkulannya pada pundak Ammara. Peri penyembuh itu turut menitikkan air mata. Ia bungkam dan membiarkan Ammara menumpahkan seluruh kesedihannya dalam pelukan.* * *Seekor rajawali besar terbang melesat melewati jurang menganga di depan Kastel Larangan. Salah satu tentakel makhluk besar yang menempel di dinding jurang nyaris saja meraih sebelah sayapnya. Beruntung sang rajawali bermanuver cepat untuk menghindarinya. Rajawali itu memekik marah, sebelum akhirnya memasuki salah satu jendela menara Kastel Larangan.Burung rajawali itu langsung berubah menjadi kepulan asap hitam begitu melewati jendela menara seraya mendarat dengan sempurna. Dari kepulan asap yang kian lama kian menipis itu munculah sosok Lucifer.Lucifer membungkuk seraya tersenyum lebar, memberi hormat kepada Minerva yang telah menantinya dengan tidak sabar. Sang ratu kegelapan mengangguk sekilas, kemudian kembali menekuri kitab-kitab sihir yang tengah ia baca. "Aku harap kau membawa kabar yang menarik," ucapnya acuh.Lucifer mengangguk takzim. Senyum lebar masih tersungging di bibirnya. Lucifer seolah menjadi makhluk paling bahagia saat itu. "Banyak sekali kabar menarik yang kubawa, Ratuku," ujarnya.Minerva menoleh padanya. Manik kelam milik sang ratu kegelapan menyorot tajam pada netra cokelat Lucifer. Peri perempuan itu kemudian beranjak dari kursi batu yang sedang ia duduki dan mendekati Lucifer dengan langkah perlahan.Hening seketika. Lucifer dan Minerva saling tatap. Seolah dapat membaca pikiran Lucifer, ratu kegelapan itu kemudian menyeringai lebar dalam redup cahaya di menara kastel."Jadi menurutmu, sudah waktunya manusia kecil itu kita tuntun untuk melenyapkan sihir putih di perbatasan Hutan Larangan?" tanya Minerva seraya memicingkan matanya.Lucifer mengangguk mantap. "Lagi pula, setelah kedatangan Yang Mulia Ratu pada penaburan Abu di Taman Peristirahatan Terakhir, Elijah pasti akan berpihak pada kita," sahutnya."Kau terdengar sangat yakin, Lucifer?" decak Minerva."Yang Mulia Ratu bisa mengandalkanku.""Baiklah," sahut Minerva. "Jika rencana ini gagal, apa yang kau pertaruhkan?"Lucifer membelalak. Namun, sepersekian detik kemudian, ia menjatuhkan lutut di hadapan sang ratu kegelapan. "Jika rencana ini gagal, kepalaku sepenuhnya akan menjadi milik Yang Mulia Ratu!""Bagus!" desis Minerva. Ia kembali menyeringai. "Aku tidak bisa menerima kegagalan. Lakukan apa pun untuk membuat rencana ini berjalan lancar. Dan, kau ... tetap awasi mereka, jangan sampai ada hal yang luput!" bentak Minerva dengan nada dingin.Lucifer mengangguk takzim. Rahangnya terkatup rapat, sementara pandangannya menyiratkan tekad yang kuat."Pergilah!" titah Minerva. Peri perempuan itu mengibaskan salah satu tangannya, kemudian duduk kembali menghadap meja batu yang dipenuhi tumpukan kitab sihir.Sekali lagi, Lucifer mengangguk. Dengan cepat ia mengubah dirinya menjadi seekor rajawali. Rajawali itu lantas terbang cepat keluar jendela, menembus kegelapan di luar Kastil Larangan.
Mourning Kingdom
Kereta Ailfryd tiba di Kerajaan Avery hampir tengah hari. Padahal mereka berangkat dari rumah cendawan pada sore hari sebelumnya. Jarak antara Fairyfarm dan Avery memang sangat jauh jika ditempuh melalui jalan darat. Andai saja Ailfryd bisa menggunakan sihir seperti yang biasa dilakukan Ella, maka jarak Fairyfarm dan Avery hanya memakan waktu beberapa jam saja.Sepanjang perjalanan Ammara hanya membisu seraya memandang keluar jendela. Matanya bengkak karena separuh perjalanan ia habiskan dengan menangis sesenggukan. Entah apa yang ia tangisi. Pikirannya terus dipenuhi dengan percakapan para kepik ajaib, terlebih sepanjang perjalanan matanya menangkap bunga-bunga Camellia yang terus tumbuh. Ammara berjuang sekuat tenaga untuk mengenyahkan berbagai asumsi buruk yang menggelayuti pikirannya, tetapi sepertinya ia gagal.Begitu kereta berhenti, Ammara langsung melompat turun tanpa memedulikan panggilan ayahnya. Jantungnya berdebar kencang saat melihat keramaian yang tidak biasa di Avery. Bahkan, telinganya menangkap sayup-sayup tangisan dan lolongan sedih.Ammara terus berlari, mencari wajah yang mungkin ia kenali untuk bertanya. Ia menyusup di antara peri-peri berwajah sedih dan bermata bengkak seperti dirinya. Tunggu dulu. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar ada anggota kerajaan yang meninggal ?Ammara mencari jalan menuju istana utama, tetapi beberapa gerbang dan pintu masuk terlihat diblokade oleh para kesatria Elf. Istana Avery juga sangat kacau dengan bekas reruntuhan bangunan yang berserakan di mana-mana. Sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi di tempat itu rupanya.Ammara semakin panik. Ia berlari tak tentu arah, bahkan sempat beberapa kali menabrak tubuh peri di hadapannya. Tiba-tiba ekor matanya menangkap salah satu sudut halaman istana yang dipadati peri Elf.Ammara mendekat pada kerumunan itu, mengintip di balik punggung peri Elf yang sedang berkumpul dengan wajah-wajah sedih. Matanya membelalak saat menangkap pemandangan mengerikan di balik kerumunan itu.Mayat-mayat peri terlihat sedang di bakar dalam api-api biru yang cukup besar. Ammara segera menyadari bahwa bau aneh yang menyeruak ke seluruh penjuru istana sejak ia menjejakkan kaki di sana adalah bau mayat peri yang sedang dibakar. Namun, siapa mereka dan mengapa ada begitu banyak mayat peri yang dibakar, pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Iris mata hijau Ammara tiba-tiba menangkap sosok-sosok yang ia kenal sedang berkumpul di satu sudut, dengan blokade ketat dari para kesatria Elf. Peri-peri yang berkumpul di sudut itu terlihat jauh lebih ramai. Ammara dapat melihat Putri Tatianna, Pangeran Archibald, Pangeran Claude dan Pangeran Elwood berjajar dengan wajah sedih dari posisinya. Mereka mengelilingi sebuah nyala api biru yang paling besar.Ammara terkesiap. Ia mencari sosok Pangeran Elijah dan Putra Mahkota Albert di antara kerumunan itu. Namun, ia tak dapat menemukannya. Hatinya mendadak tidak enak.Ammara berusaha mendekati tempat putri dan pangeran berdiri. Ia menyelinap melewati tubuh-tubuh peri yang saling berhimpitan. Begitu sampai di depan blokade kesatria Elf, ia tidak dapat masuk. Tak peduli seberapa keras ia berusaha memohon bahkan mendorong, para kesatria Elf tetap menghalanginya dengan tombak-tombak yang menyilang.Ammara mulai merasa tenaganya terkuras. Pelipisnya dibanjiri keringat, sementara napasnya terengah-engah. Ia nyaris putus asa ketika tubuhnya membentur dada bidang sesosok peri laki-laki."Aww...!" desis Ammara seraya memegang keningnya yang terasa berdenyut."Kau mencariku?" tanya suara peri laki-laki berdada bidang di hadapan Ammara. Suaranya terdengar familier.Ammara mengangkat wajahnya dan mendapati raut Elijah yang terlihat kaget. "Pangeran Elijah!" seru Ammara lega. "Apa yang terjadi?" tanyanya tanpa menunggu respon Elijah. Kekalutan membayangi wajahnya.Sorot mata Elijah berubah sendu. "Monster Hydra menyerang Istana Avery. Darah dan Napas beracunnya membuat para peri berubah jadi mayat hidup... Mayat-mayat hidup yang terinfeksi menularkan racun yang sama..."Kalimat Elijah menggantung di udara, sementara mata pangeran peri itu mulai berkaca-kaca. Ia membuang pandangan, tak mampu menatap iris mata hijau Ammara yang menuntut penjelasan."Lalu?" desak Ammara dengan suara tercekat.Elijah kembali menatap mata peri perempuan itu, mulutnya membuka dan menutup sebelum akhirnya menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab desakan Ammara. "Putra Mahkota Albert terinfeksi mayat hidup. Archibald terpaksa harus menusuknya," ucap Elijah getir."A-apa?!" Ammara membelalak. Ia menggeleng cepat, menolak untuk mempercayai kata-kata Elijah. Ia segera membalik badan dan berlari ke arah blokade kesatria Elf. Ia menabrakkan tubuhnya sekuat mungkin, mencoba untuk menerobos blokade tersebut. Matanya fokus menyorot tubuh peri yang terbakar di dalam api biru besar di balik blokade."Ammara!" panggil Elijah yang menyusul di belakangnya. Ia mencoba meraih tubuh peri perempuan itu.Ammara menepis kasar tangan Elijah seraya mendelik sekilas ke arah pangeran peri yang mengekorinya. "Kau pasti salah!" desisnya marah.Peri perempuan itu mencoba sekali lagi menerobos blokade. Kali ini salah satu kesatria Elf mendorong tubuhnya sedikit keras hingga Ammara terpental.Dengan sigap Elijah menyambut tubuh terhuyung Ammara. Ia membalik tubuh Ammara dan membenamkan wajah peri perempuan itu ke dadanya. Ia memeluknya erat seraya menepuk lembut punggung Ammara yang kini mulai menangis dalam pelukan."Kau pasti salah!" raung Ammara. Suaranya teredam di dalam pelukan Elijah. Sesekali tangannya memukul gusar pada dada sang pangeran peri.Elijah bungkam, membiarkan Ammara meluapkan kesedihan untuk beberapa saat lamanya."Semua akan baik-baik saja," bisik Elijah, setelah tangis Ammara lamat-lamat mulai mereda. Sorot matanya menerawang ke arah langit kelabu yang menaungi Fairyverse.Ammara mengangkat wajah dan merenggangkan tubuhnya dari dada Elijah. Ia menatap api biru yang membakar tubuh Putra Mahkota Albert dari kejauhan. Air mata masih terus mengalir di kedua pipinya seolah enggan berhenti."Sebelum peristiwa ini, Putra Mahkota sempat menemui Dewan Peri untuk memberikan kesaksian bahwa Ibumu bukan pelaku kekacauan di Pesta Putri Tatianna." Elijah akhirnya membuka suara. Ia berbicara cukup hati-hati sembari memperhatikan perubahan raut wajah Ammara.Perkataannya sontak membuyarkan lamunan Ammara. Ia menatap Elijah dengan kening berkerut, meminta penjelasan lebih pada peri laki-laki yang kini berdiri sejajar dengannya.Elijah mengendikkan bahunya. "Ibumu sudah dibebaskan dari segala tuduhan. Semua itu berkat Albert."Suara isak tangis kembali terdengar. Ammara menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suara tangisnya sedikit teredam. Ia menghela napas kasar melalui hidung yang telah dipenuhi cairan. "Aku bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih padanya!""Maaf jika ceritaku malah membuatmu semakin sedih. Aku hanya ingin kau mengetahuinya," ucap Elijah lirih.Ammara menggeleng, masih dengan tangis yang sulit dibendung. "Kau benar. Aku sangat menyesal karena tak sempat mengucapkan terima kasih padanya," kata Ammara di sela-sela tangisnya."Semua akan baik-baik saja, Ammara. Dia sudah berada di tempat terbaik," sahut Elijah seraya menepuk punggung Ammara pelan.Seketika mereka bungkam. Ammara dengan tangisnya, sementara Elijah dengan lamunannya. Mereka sama-sama menyorot api biru yang kini tengah melahap tubuh tak bernyawa sang putra mahkota.Jasad para peri yang dibakar api biru akhirnya berubah menjadi abu. Api-api biru itu secara ajaib mengecil dan menyisakan tungku-tungku menghitam yang dipenuhi abu.Suara tangis dan lolongan sedih perlahan mereda. Para pelayat perlahan-lahan pergi meninggalkan tempat itu. Namun, prosesi belum usai, selanjutnya mereka akan berpindah menuju Taman Peristirahatan Terakhir yang tak jauh dari lingkungan Istana Avery. Setelah para petugas kremasi dalam pakaian formal kerajaan mengumpulkan abu Putra Mahkota Albert dan peri Elf lainnya dalam masing-masing bejana yang terbuat dari perak, rombongan peri yang menyaksikan prosesi kremasi segera ikut berpindah ke Taman Peristirahatan Terakhir. Lambat laun, suasana halaman utama Istana menjadi lenggang."Apa kau ingin bertemu ibumu?" tanya Elijah memecah keheningan di antara mereka.Ammara mengangguk pelan seraya mengusap sisa air mata yang menggenang di pipi. Wajah pucatnya terlihat sembab dengan mata bengkak dan hidung yang memerah."Kau tidak ke Taman Peristirahatan Terakhir?" Ammara balik bertanya dengan suara serak."Aku akan ke sana, setelah mengantarmu bertemu Nyonya Ella," sahut Elijah saat mereka berjalan menjauhi tempat kremasi."Aku bisa menemukan Ella sendiri," tolak Ammara. Ia mengembuskan napas pelan. "Lebih baik kau segera pergi ke Taman Peristirahatan Terakhir. Aku tidak ingin kau melewatkan ritual penting, penghormatan terakhir untuk Putra Mahkota Albert."Elijah menatap Ammara ragu, tetapi segera mengangguk pelan. "Aku akan segera menemuimu setelah prosesi di taman selesai." Elijah menepuk bahu peri perempuan di sampingnya pelan.Ammara mengangguk cepat, berusaha terlihat mantap dengan keputusannya. "Sampaikan salamku pada Putra Mahkota Albert." Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya. Ammara mengusapnya cepat.Elijah terlihat enggan beranjak dari sisi Ammara. Namun, Ammara segera mendorong bahu peri laki-laki itu pelan seraya menggerakkan mulutnya tanpa suara, mengatakan kalau ia baik-baik saja."Aku akan segera kembali," ucap Elijah lagi seraya berlari meninggal Ammara menuju Taman Peristirahatan Terakhir.Ammara mengangguk pelan, mengiringi kepergian sosok Elijah yang menghilang di balik benteng Kerajaan dan tak lagi menoleh kepadanya. Kini tinggallah Ammara bergeming di posisinya di antara para pelayat yang mulai menyusut jumlahnya. Kakinya terasa lemas untuk sekadar berjalan kembali kepada sang ayah."Ammara!" Sesosok peri Elf menepuk pundak Ammara. Peri perempuan itu sontak menoleh ke arah suara yang menyapanya.Pupil matanya melebar saat mengenali sosok peri yang menyapanya, "Ayah!"Ella muncul dari balik punggung Ailfryd dan langsung memeluk putrinya erat.Ammara membalas pelukan Ella dengan tangis yang kembali pecah. Ammara meraung lagi. Tangis kelegaan dan sedih bercampur jadi satu."Aku merindukanmu, Nak!" lirih Ella di sela-sela isak tangisnya.Tangis Ammara semakin kencang begitu mendengar ucapan sang ibu. Ia tak sanggup menjawab, tetapi pelukannya semakin mengerat. Kedua bahunya bergetar.Ailfryd yang berdiri di samping Ammara, menghela napas berat. Susah payah ia menahan diri agar tidak ikut larut dalam kesedihan istri dan anaknya. Namun, setetes air bening akhirnya turut lolos dari pelupuk matanya.Setelah beberapa saat lamanya, Ammara mengangkat wajah dan melepaskan diri dari pelukan Ella. Ia mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan, seraya membersit ingus. Dengan suara serak, ia berucap, "Ibu, apakah ibu tahu jika Putra Mahkota Albert meninggal?"Ella mengangguk pelan seraya berkata di sela-sela isak tangisnya. "Ibu menyaksikan semuanya, Ammara!"Ammara membelalak mendengar jawaban Ella. Tanpa sadar mulutnya membentuk bulatan."Pangeran Claude mengeluarkan ibu dari ruang tahanan bawah saat Istana Avery sedang kacau." Ella melanjutkan kata-katanya. "Ia berharap ibu dapat menolong Putra Mahkota. Namun, saat ibu tiba, semuanya sudah terlambat. Ibu tidak dapat merasakan lagi denyut nadi di pergelangan tangannya."Ammara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata kembali mengalir di pipinya."Percayalah, ini yang terbaik untuk Putra Mahkota, yang terbaik untuk seluruh kerajaan Avery," ucap Ella lagi.Ammara mengangguk pelan seraya mengusap lagi air mata yang baru saja membasahi pipinya. Ia merebahkan kepalanya di pundak sang ibu, menutup matanya agar segala kesedihan dapat menghilang. Namun, saat ia menutup mata, yang hadir justru adalah bayangan Putra Mahkota Albert.Ammara kembali terisak. Bulir-bulir air mata kembali mengalir di pipinya.* * *Seusai prosesi penaburan abu Putra Mahkota Albert di Taman Peristirahatan Terakhir, Raja Brian masih enggan beranjak dari tempat itu. Untuk menghormati sang Raja, keluarga kerajaan lainnya pun ikut tak beranjak dari tempat itu, sementara para pelayat umum telah pergi meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir beberapa saat yang lalu.Raja Brian terlihat sangat pucat. Ia bahkan tak mampu berdiri sendiri. Pangeran Claude dan Pangeran Elwood memapahnya di sisi kiri dan kanan. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk mengikuti seluruh prosesi kremasi dan penebaran abu di Taman Peristirahatan Terakhir .Maurelle berdiri membelakangi Raja Brian, di salah satu sisi Ratu Serenity yang tak henti-hentinya menangis histeris sepanjang prosesi. Dua peri perempuan sampai harus memegangi sang Ratu agar dapat tetap berdiri di tempat. Kedua matanya telah bengkak, tetapi sang ratu peri seolah tak lagi peduli dengan penampilanya.Iris mata kelam Maurelle mengamati keluarga kerajaan yang hadir di taman itu satu per satu dengan tatapan awas hingga pandangannya menangkap sesosok peri asing yang berdiri pada posisi paling belakang. Sosok itu bukan sosok yang familier baginya, sosok peri berjubah hitam dengan tudung yang menutupi sebagian besar wajah.Pandangan Maurelle dan sosok itu beradu, saat sosok peri misterius itu tanpa sengaja melemparkan pandangan sekilas ke arah Raja Brian. Sosok berjubah hitam itu terkesiap lalu menundukkan kepalanya dengan cepat. Ia segera berbalik dan hendak beranjak dari Taman Peristirahatan Terakhir."Tunggu!" sergah Maurelle yang membuat mata semua peri elf di taman itu membelalak. Sontak mereka menoleh ke arah sosok bertudung hitam. Mereka menepi memberi jalan pada Maurelle untuk mendekati sosok itu.Sosok bertudung hitam itu berhenti dengan posisi membelakangi Maurelle.Maurelle seketika menghentikan langkah dan memberi jarak dengan sosok misterius itu. Ia bertanya lantang, "Siapa kau?!"Dengan gerakan cepat, sosok bertudung hitam itu berbalik seraya membuka tudung kepalanya.Para anggota keluarga kerajaan terkesiap. Beberapa di antara mereka terdengar menjerit kaget. Sementara peri lain terlihat shock begitu melihat sosok peri bertudung hitam di hadapan mereka."Apa kabar semuanya? Masih ingat padaku?" tanya peri bertudung hitam dengan nada sinis. Suara tawanya terdengar begitu dingin. Suasana Taman Peristirahatan Terakhir itu seketika diliputi aura gelap."Apa yang kau lakukan disini, makhluk unsheelie?!" hardik Ratu Serenity. Wajah sembabnya seketika diliputi amarah.Suara tawa memecah di taman yang harusnya hening itu. Dengan sigap, peri bertudung itu melepas keseluruhan jubahnya hingga menampilkan gaun ungu gelap dan rambut hitam tergerainya. Wajah cantik nan bengis itu menyunggingkan senyum asimetris."Bukankah kita teman lama, Ratu Serenity? Aku hanya datang untuk mengunjungi teman lamaku yang sedang bersedih karena kehilangan putranya," jawabnya dengan suara meninggi. Sosok itu kini mengalihkan pandangannya dari Ratu Serenity ke Raja Brian. "Aku juga ingin menjenguk mantan suamiku!"Seluruh mata sontak mengarah pada Raja Brian yang terpaku di tempatnya. Peri laki-laki itu bergeming."Minerva? Kaukah itu?" tanya Raja Brian dengan suara tercekat. Matanya memicing, membalas tatapan sengit peri perempuan bersurai gelap di hadapannya.Senyum asimetris di bibir Minerva menghilang, berganti wajah dingin dengan tatapan tajam. "Aku harap kau tidak benar-benar melupakanku, Raja Brian. Kau bahkan tidak pernah mencariku saat aku dibuang ke Hutan Larangan. Namun, tenang saja, aku sudah memaafkanmu. Aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku sudah tumbuh menjadi sangat kuat dan tak terkalahkan!""Pangawal! Bunuh peri Unsheelie itu!" teriak Ratu Serenity kalap. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Ia nyaris berlari mencengkeram Minerva jika saja kedua peri perempuan di sisinya tidak menahan lengannya.Sejumlah kesatria Elf lantas maju membentuk lingkaran mengelilingi Minerva, dengan tombak dan pedang sihir terhunus di tangan.Minerva menyeringai, sebelum akhirnya mengibaskan kedua belah tangannya menyilang dengan kasar. Angin yang tercipta dari sekali kibasan tersebut kemudian membuat seluruh kesatria Elf di sekelilingnya terpental.Suara teriakan panik para keluarga kerajaan tiba-tiba memenuhi Taman Peristirahatan Terakhir. Beberapa peri berlari pergi meninggalkan taman itu dengan ketakutan, sementara sisanya bergerombol untuk saling melindungi.Maurelle dan para pangeran peri maju ke hadapan Minerva dengan pedang sihir terhunus di tangan mereka masing-masing, sementara kerabat kerajaan lainnya berlindung di belakang mereka.Minerva bersedekap. Ia mengerling tanpa minat pada Maurelle, pangeran Archibald dan pangeran Elijah yang menghunus pedang ke arahnya. "Aku kemari bukan untuk membuat keributan. Aku hanya ingin berbelasungkawa atas meninggalnya Putra Mahkota Albert. Jadi... Kembalikan saja pedang kalian ke dalam sarungnya sebelum aku berubah pikiran!""Apa maumu sebenarnya, Minerva?" tanya Raja Brian dengan suara bergetar."Apa mauku?" ulang Minerva dingin. Matanya kembali menyorot tajam pada Raja Brian. "Apa kau akan memberikan apa yang kumau jika aku mengatakannya?!""Hentikan omong kosongmu!" bentak Ratu Serenity berang.Minerva menyeringai melihat tingkah Ratu Serenity. Peri perempuan itu berjalan perlahan mendekati Ratu Serenity. Pada satu titik ia berhenti, kemudian berdecak dengan tatapan meremehkan. "Lihatlah dirimu, Ratu! Kau sangat berantakan. Bahkan dalam situasi seperti ini, kau masih saja cemburu padaku! Kecemburuanmu itu lambat laun akan menghancurkanmu!"Ratu Serenity hendak menyerang Minerva, tetapi lagi-lagi kedua lengannya terkekang. Ia menggerak-gerakan tubuhnya kasar ke segala arah, mencoba melepaskan kekangan dua peri perempuan di sampingnya, tetapi tak bisa."Tutup mulutmu, Peri terkutuk!!" raung Ratu Serenity berang. Wajah rupawan sang ratu merah padam, sementara matanya melotot menatap Minerva. "Pergi kau dari tempat ini. Ini bukan tempatmu, makhluk terkutuk!" semburnya lagi.Minerva mendelik. Namun, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Saat tawanya mereda, tatapan menusuknya kembali menyorot pada Ratu Serenity "Aku harap kau tidak lupa, kalau aku adalah ibu salah satu pangeran di Avery. Aku kemari juga ingin melihat keadaan putraku."Ratu Serenity terkesiap.Demikian pula halnya dengan Raja Brian. Tanpa sadar mulut menganganya membentuk bulatan.Kasak-kusuk mulai terdengar. Keluarga kerajaan dan para pelayat yang tersisa mulai berbisik-bisik saat mendengar pengakuan Minerva.Minerva menyapukan pandangannya sekilas pada Maurelle dan jajaran pangeran kerajaan Avery yang sedang menghunus senjata ke arahnya.Dari sudut matanya, Minerva dapat melihat Elijah yang membelalak menatapnya. Rahang pangeran peri itu terkatup rapat sementara kegusaran perlahan meliputi wajah sang pangeran.Salah satu sudut bibir Minerva terangkat."Kembalilah ke asalmu, Minerva. Atau Dewan Peri akan menghukummu," sela Raja Brian. Seketika bisik-bisik para pelayat mereda saat mendengar sang raja angkat bicara.Minerva menghela napas panjang seraya bersedekap. Ia menoleh tanpa minat ke arah Raja Brian. "Betapa sombongnya kalian para kaum Sheelie hingga peri Unsheelie yang ingin berbelasungkawa dengan tulus, kalian usir. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada yang abadi. Kelak bisa saja kalian yang berada di posisiku.""Kau datang ke sini dengan dengan membawa ancaman dan teror, apa itu bisa dikatakan tulus?!" Ucap Elijah setengah berteriak.Minerva terkesiap, tak menyangka jika putranya akan melontarkan kata-kata yang begitu tajam untuknya. Namun, ia segera menguasai dirinya dan kembali memasang wajah yang dingin tanpa ekspresi."Lihat bagaimana para peri Sheelie ini mengubahmu menjadi peri yang tak menghormati ibumu!" desis Minerva. Ia mendelik pada Elijah.Sontak seluruh mata di Taman Peristirahatan Terakhir menyorot pada Elijah. Bisik-bisik kembali terdengar di antar para pelayat.Demi mendengar perkataan Minerva, Elijah bungkam. Wajah tampannya mendadak merah padam. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat di lehernya samar-samar terlihat. Sedetik kemudian, ia membuang muka."Sepertinya upacara penaburan abu Putra Mahkota Albert ini tidak lagi menyenangkan!" seru Minerva. Pandangan dinginnya menyapu seluruh pelayat yang hadir di taman itu."Bersiaplah, karena setelah ini, aku akan datang kembali untuk mengambil apa yang seharusnya kumiliki," ucapnya lagi seraya melirik sekilas ke arah Elijah yang sedang tertunduk. Pandangannya kemudian beralih pada Raja Brian dan Ratu Serenity yang terlihat shock .Minerva mengibaskan salah satu sisi gaunnya yang panjang. Cahaya keunguan muncul dari balik jubahnya. Dalam sepersekian detik cahaya keunguan itu seolah melahap tubuhnya. Minerva menghilang, meninggalkan berkas cahaya keunguan yang melesat terbang meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir."Tangkap dia! Bunuh peri Unsheelie itu! Cepat!" teriak Ratu Serenity panik begitu cahaya ungu keluar dari taman. Tubuhnya meronta-ronta agar terlepas dari kekangan.Raja Brian mendekati Ratu Serenity seraya menenangkan istrinya. "Tenanglah istriku, semua akan baik-baik saja. Aku berjanji, ia tidak akan bisa berbuat kekacauan di Avery."Ratu Serenity berdecak kesal. "Ini semua gara-gara peri itu!" tudingnya pada Elijah yang bergeming. "Jika saja kita tak membawanya ke Istana, maka Minerva tidak akan punya alasan untuk datang lagi. Benar-benar menyusahkan!""Sudahlah. Tenanglah, Ratuku. Mari kita kembali ke Istana Avery," bujuk Raja Brian. Ia melirik khawatir kepada keluarga besarnya yang mulai memperhatikan dan mengomentari tingkah sang ratu.Dengan berat hati, Ratu Serenity menuruti Raja Brian untuk meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir. Kesatria Elf dan para pelayat lainnya mengiringi kepergian sang raja dan ratu.Sementara Pangeran Elijah tetap bergeming di tempatnya dengan tangan terkepal. Rahangnya mengeras. Sesuatu yang berat seolah menghimpit dadanya, terasa sakit dan menyesakkan.Andai aku tidak terlahir sebagai anak peri unsheelie, pasti rasanya tidak akan sesakit ini.
Red Camellia
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada harus menyaksikan saudara sekaligus sahabat karib meregang nyawa di depan mata, dengan cara yang sangat mengenaskan.Archibald tak berkedip memandang tubuh Albert di pangkuannya yang perlahan bertransformasi akibat terinfeksi darah hydra. Entah berapa kali Maurelle menarik bahunya agar ia segera menjauh sebelum Albert benar-benar berubah menjadi mayat hidup dan menyerangnya, tetapi ia tetap bergeming.Iris mata hazel green nya terpaku pada Albert, seolah benar-benar enggan melepas kepergian Albert dari tubuh fananya. Tak ada air mata. Namun, awan kesedihan jelas menaungi pangeran peri bersurai keemasan itu.Di pangkuan Archibald, Albert yang tak lagi merintih kesakitan, mulai mengalami perubahan pada fisiknya. Kulit tubuhnya yang putih perlahan-lahan berubah menghijau dengan warna urat dan pembuluh darah yang jadi lebih terang serta menonjol. Rambut peraknya yang berkilau dan halus berubah perlahan menjadi kusam dan kasar seolah cahaya keindahan fisik sang peri telah terangkat dari mahkotanya. Bibir kemerahan Albert kini telah menghitam seutuhnya. Perlahan, luka-luka di tubuhnya juga mengering dan menghitam, diikuti dengan kuku-kuku yang juga menghitam dan memanjang penanda bahwa tubuh fananya telah mati."Pangeran Archibald, Putra Mahkota Albert akan segera bangkit dan berubah menjadi mayat hidup. Pangeran harus berhati-hati," ucap Maurelle untuk yang kesekian kalinya. Peri laki-laki itu berdiri tepat di samping Archibald. Ia mengguncang salah satu pundak Archibald.Archibald bergeming."Pangeran... Relakanlah kepergian Putra Mahkota. Ia bukan lagi Putra Mahkota Albert yang kita kenal!" bujuk Maurelle nyaris putus asa. Akhirnya ia ikut berlutut di samping Archibald. Matanya lekat menatap jasad Putra Mahkota Albert. Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya.Archibald masih bergeming. Namun, air mukanya menegang."Albert... tidak boleh berakhir seperti mereka," gumamnya terbata-bata. Archibald mengedarkan pandangan pada segerombol mayat hidup yang merangsek maju ke arah mereka.Maurelle mengangkat wajahnya mengamati Archibald, menanti apa yang hendak dilakukan pangeran peri itu dengan tegang."Archibald!" seru Claude yang datang tergesa. Ella mengekor tepat di belakangnya."Pangeran Claude! Ella!" sapa Maurelle seraya mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalian datang. Tolong, sembuhkan Putra Mahkota Albert."Tanpa aba-aba, Ella segera berlutut di hadapan Archibald yang memangku tubuh Albert. Dengan sigap, peri penyembuh itu meraih salah satu pergelangan tangan Albert untuk mencari nadinya."Bagaimana, Nyonya Ella?" tanya Claude dengan raut khawatir. Ia ikut berlutut di samping Ella.Ella menggeleng pelan. Raut wajahnya menjadi suram seketika. "Kita terlambat. Putra Mahkota Albert sudah tiada," lirihnya."Apa?!" pekik Claude dan Maurelle nyaris bersamaan."Putra Mahkota Albert sudah terinfeksi sepenuhnya. Tidak lama lagi ia akan bangkit," sahut Ella getir.Keempat peri Elf itu kini membisu untuk beberapa waktu lamanya seraya menatap tubuh tak bernyawa Albert yang secara fisik telah serupa mayat hidup.Suara raungan tiba-tiba terdengar tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Segerombol mayat hidup yang tadi mengikuti Claude dan Ella ternyata telah tiba di halaman utama Istana Avery. Beberapa mayat hidup yang tersisa di halaman itu ikut bergabung mendekati Maurelle, Claude, Ella dan Archibald.Dengan sigap, Maurelle dan Claude serta beberapa kesatria Elf yang tersisa di halaman istana mengambil ancang-ancang untuk bertahan sekaligus menyerang. Pedang sihir terhunus di tangan mereka masing-masing.Rahang Archibald mengeras. Kedua tangannya terkepal.Ella yang mengamati perubahan sikapnya, mencoba menenangkan. "Apapun keputusanmu, Pangeran Archibald, tidak ada yang berhak menyalahkanmu. Kami semua akan mendukungmu."Archibald menatap Ella. Kata-kata peri penyembuh itu seolah-olah memberinya kekuatan dan menguatkan keputusannya. Sementara peri penyembuh itu membalas tatapan Archibald dengan sebuah anggukan mantap.Archibald mengedarkan pandangannya ke sekitar, pada rekan-rekannya yang tengah bersiaga menyambut kedatangan mayat hidup yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari mereka. Ia tak boleh kehilangan lebih banyak lagi. Tidak kali ini. Kehancuran ini harus segera diakhiri, sebelum korban bertambah.Tepat saat Archibald meraih pedang sihirnya dan matanya kembali menyorot tubuh Albert, Albert membuka mata. Archibald terkesiap. Tatapan mereka beradu. Namun, Archibald segera sadar jika sorot mata dan seringai yang tersungging pada bibir hitam si mayat hidup tidak seperti Albert yang selama ini ia kenal. Tanpa keraguan, Archibald mengangkat pedang sihirnya lalu menancapkan benda itu tepat di jantung Albert.Albert mengerang hebat, tetapi sedetik kemudian tubuhnya terkulai tak bersuara. Seberkas cahaya keunguan keluar dari tubuh Albert. Cahaya itu pun menghilang dalam sekejap mata. Bersamaan dengan itu, gerombolan mayat hidup lain yang nyaris menerkam Maurelle, Claude dan beberapa kesatria Elf mendadak roboh. Warna kehijauan di tubuh mereka serta-merta memudar.Archibald dan Ella saling pandang dengan wajah shock .Hening seketika menyergap halaman Istana Avery."Albert! Putraku!"Ratu Serenity yang tiba-tiba muncul, berlari histeris mendekati tubuh Albert yang terbujur kaku di atas pangkuan Archibald. Matanya membelalak begitu melihat pedang sihir tertancap di jantung putranya, terlebih ketika mendapati bahwa Archibald-lah yang sedang memegang gagang pedang tersebut.Archibald mengangkat wajahnya, memberi hormat sekilas kepada Ratu Serenity. Kemudian mencabut pedangnya perlahan dari tubuh kaku Albert.Ratu Serenity menjerit seraya mendorong tubuh Archibald hingga jatuh terjengkang. Kemudian, ia mencekik leher Archibald berang.Archibald hanya terdiam, tanpa perlawanan. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakit akibat cekikan sang ratu."Tenanglah, Ratu!" Maurelle meraih pundak Ratu Serenity untuk melepaskan cekikanya dari leher Archibald. Archibald memucat dan mulai kehabisan napas."Bagaimana aku bisa tenang?!" hardiknya. Ia sontak melepaskan cengkeramannya pada leher Archibald, kemudian menepis kasar lengan Maurelle dari bahunya. "Dia membunuh putraku! Calon Raja Avery!" jeritnya lagi seraya menuding ke arah Archibald."Yang Mulia, ini tidak seperti yang Anda lihat. Archibald tidak membunuhnya. Putra Mahkota terinfeksi. Archibald berusaha menyelamatkannya. Ia menyelamatkan seluruh kerajaan Avery." Claude menjelaskan."Benar, Yang Mulia Ratu. Putra Mahkota sendiri yang memintanya pada Pangeran Archibald, sebelum ia terinfeksi." Maurelle menimpali."Bohong! Kalian berdua bersekongkol! Bohong!" Jerit Ratu Serenity histeris. Ia berlutut dan meraih tubuh Albert, kemudian mendekapnya erat. Tangisnya pecah.Archibald bergeming. Wajahnya tertunduk. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat di pundaknya."Terima kasih telah menyelamatkan Avery hari ini, putraku." ucap Raja Brian lembut. Entah sejak kapan, sang raja telah berdiri di samping Archibald. Di samping Raja Brian, Elijah bergeming dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.Archibald mengangkat wajahnya, menatap Raja Brian sendu."Jika ada yang patut di salahkan, maka Hamba-lah orangnya, Yang Mulia. Hamba telah gagal melindungi Putra Mahkota Albert. Hamba pantas mati!" seru Maurelle seraya bersujud di hadapan Raja Brian.Raja Brian menggeleng lemah. Ia menyentuh pundak Maurelle dan menuntunnya berdiri. "Akulah yang lalai menjaga putraku sendiri. Dengan kondisiku yang seperti ini, harusnya aku mundur dan menyerahkan takhta pada Putra Mahkota Albert sejak lama," sesal Raja Brian dengan suara bergetar. Setetes air bening terbit di pelupuk matanya."Yang Mulia...!" lirih Maurelle dengan tangis tertahan.Raja Brian menghela napas pelan. Ia melangkah melewati Maurelle dan Archibald yang masih berlutut. Ia menghampiri Ratu Serenity yang menangis sesenggukan seraya memeluk erat tubuh tak bernyawa putranya."Maafkan aku, Ratuku..." ucap Raja Brian lirih. Hanya itu yang mampu ia ucapkan. Tangisnya seketika pecah saat ia memeluk tubuh Ratu Serenity.Seluruh peri Elf yang masih tersisa di Istana Avery berkumpul di halaman utama, mengelilingi Raja dan Ratu mereka yang sedang bersedih. Mereka berlutut seraya menundukkan wajah, turut hanyut dalam kesedihan.Perlahan-lahan dari setiap sudut permukaan tanah Istana Avery pucuk-pucuk daun mulai tumbuh. Tanaman-tanaman itu tumbuh dengan cepat hingga mengeluarkan kuntum-kuntum bunga berwarna merah menyala. Saat kelopak-kelopak bunga merah itu membuka, tanaman itu langsung berhenti tumbuh.Suara tangisan dan lolongan sedih perlahan memenuhi istana. Angin yang berembus membawa sayup-sayup suara tersebut, menyampaikan berita sedih ke seluruh penjuru Fairyverse.Seolah turut berduka, langit di Fairyverse perlahan menggelap. Awan kelabu sekonyong-konyong berarak menaungi langit yang tepat berada di atas Istana Avery.* * *Angin berhembus kencang menerpa wajah Minerva yang sedang menantang salah satu jendela menara di Kastel Larangan. Iris mata ungunya memandang jauh menembus kabut Hutan Larangan yang semakin pekat. Salah satu sudut bibirnya terangkat."Akhirnya hari itu akan segera tiba!" gumam Minerva.Minerva beranjak dari ambang jendela. Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah cermin besar yang memantulkan seluruh bayangan tubuhnya. Ia menyeringai menangkap sorot matanya sendiri di depan cermin itu."Apa yang harus aku kenakan agar terlihat cantik untuk melayat ke Istana Avery, ya?" tanya Minerva pada bayangan dirinya di cermin. Ia berputar-putar seraya melebarkan gaun hitamnya seperti sedang mematut diri.Minerva membelalak, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan!" gumamnya lagi seraya beranjak kembali menuju ambang jendela.Kini langit Hutan Larangan telah sepenuhnya gelap. Angin malam bertiup semakin kencang, menerbangkan surai hitam Minerva. Peri perempuan itu membentangkan tangannya menantang ambang jendela. Wajahnya menengadah menatap langit yang menggelap.Dalam sepersekian detik matanya memutih, sementara bibir merahnya mengalunkan mantra dalam suara rendah.Suara deru angin terdengar lebih kencang. Ranting-ranting dan serangga-serangga kecil berterbangan terbawa pusaran angin yang tercipta dari rentangan tangan Minerva."Wahai budak kegelapan, seluruh penghuni Hutan Larangan!" seru Minerva dengan lantang di tengah-tengah lantunan mantranya. "Aku memanggil kalian untuk mengikuti titahku. Bersiaplah! Kita akan membalas dendam pada para peri yang mengutuk kita di sini! Pada waktu yang aku tentukan, seorang manusia akan menghancurkan segel putih di Perbatasan Hutan Larangan. Kalian akan bebas. Aku akan membawa kalian keluar dari kutukan dan kegelapan selamanya!"Setelah Minerva menyerukan titahnya, tiba-tiba kilat membelah langit gelap Hutan Larangan. Gemuruh terdengar sahut-sahutan. Suara-suara seruan dan lolongan dari makhluk-makhluk kegelapan di Hutan Larangan terdengar seolah menyahuti perkataan Minerva. Untuk beberapa saat lamanya Hutan Larangan menjadi riuh.Minerva melanjutkan mantranya kembali dalam suara rendah. Pusaran angin yang tercipta di antara dua rentangan tangannya memecah ke segala penjuru Hutan membawa berkas cahaya keunguan. Bersamaan dengan itu, gemuruh serta suara-suara makhluk dari Hutan Larangan menghilang. Angin juga seakan berhenti bertiup. Suasana kembali hening.Minerva menurunkan kedua lengannya. Peri perempuan itu menatap jauh pada pemandangan yang tak terlihat di balik Kabut Hutan Larangan. Senyum asimetris kembali tersungging di bibirnya.* * *Ammara duduk termangu di ambang jendela rumah cendawan. Matanya menatap lekat pada semak bunga Marigold di luar halaman yang bergerak lembut tertiup angin. Tak ada lagi suara yang terdengar dari sana.Ammara mendesah pelan. Berbagai pikiran buruk tengah menggelayuti otaknya. Ia tak dapat melakukan apa pun untuk mengenyahkan pikiran-pikiran itu. Terlebih setelah mendengar percakapan kepik-kepik ajaib yang telah menghilang entah kemana.Tiba-tiba ekor mata Ammara menangkap pucuk-pucuk tanaman yang mendadak tumbuh di beberapa sudut halaman rumah cendawan. Ammara terkesiap. Punggungnya sontak menegak. Ia mengeluarkan kepalanya melalui bingkai jendela untuk dapat melihat lebih jelas.Tanaman-tanaman ajaib itu terus tumbuh hingga menyembulkan kuntum-kuntum bunga berwarna merah darah. Ketika kelopak-kelopak bunganya telah mekar, tanaman itu berhenti tumbuh.Bersamaan dengan tumbuhnya tanaman itu, langit Fairyhill mendadak mendung. Langit yang semula putih berubah menjadi abu-abu.Ammara menengadah ke langit menyaksikan langit Fairyhill yang biasanya selalu cerah dengan kening berkerut."Ayah!" teriaknya gusar tanpa beranjak dari ambang jendela."Ada apa, Ammara?" tanya Ailfryd yang datang tergopoh begitu mendengar kecemasan di suara Ammara."Ayah, Coba lihat!" seru Ammara seraya menunjuk pada tanaman-tanaman berbunga merah yang baru tumbuh di beberapa sudut rumah cendawan. "Dan, lihat langit itu!" kemudian Ammara mengalihkan telunjuknya ke atas.Ailfryd mengeluarkan kepalanya melewati ambang jendela. Ia mengikuti arah telunjuk Ammara.Ailfryd terkesiap. Wajahnya memucat. "Ada anggota kerajaan Avery yang wafat, Ammara," sahutnya dengan suara bergetar."A-apa maksud, Ayah? Dari mana ayah tahu?" tanya Ammara. Raut wajahnya mulai panik.Ailfryd menghembuskan napas berat. Air mukanya berubah muram. "Itu adalah bunga Camellia merah. Setiap kali ada anggota Kerajaan yang wafat, tanaman itu akan tumbuh dan bertahan selama beberapa hari.""Camellia merah?" Ammara tertegun. "Ayah, aku dengar ada hal buruk yang terjadi di Istana Avery. Aku tidak sengaja mendengar percakapan para kepik yang bertengger di atas mahkota bunga Marigold. Jangan-jangan... "Ammara dan Ailfryd saling pandang. Mata mereka sama-sama menyiratkan kengerian."Aku harap ibumu baik-baik saja..." sahut Ailfryd pelan, lebih seperti gumaman.Ailfryd menarik tubuhnya dari ambang jendela dan berjalan mondar-mandir. Ia mengusap wajahnya dengan kasar berkali-kali."Ayah, bagaimana kalau kita ke Kerajaan Avery sekarang?" tanya Ammara sejurus kemudian.Ailfryd tampak berpikir. "Jangan. Kau jangan ikut. Biar ayah yang pergi ke Kerajaan Avery," putusnya.Ammara menggeleng cepat. "Tidak Ayah. Aku harus ikut.""Tidak Ammara, ayah tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau aman di sini karena tabir yang dibuat Claude," tolak Ailfryd.Ammara bersikeras. "Tidak Ayah. Aku tidak ingin berdiam di sini tanpa mengetahui kondisi Ibu!"Ailfryd menghembuskan napas kasar. "Kau benar-benar keras kepala, Ammara!" decaknya kesal.Ammara menautkan alisnya, memasang tampang memohon."Baiklah, kita akan menggunakan kereta. Ah, ya, jangan lupa kenakan jubah agar baumu tidak terlalu kentara. Semoga semuanya baik-baik saja dan kita bisa sampai di Kerajaan Avery dengan selamat." Ailfryd menghela napas panjang. "Perjalanan ini memakan waktu setidaknya seharian. Kita akan bermalam di tengah perjalanan," ucap Ailfryd pelan.Kedua sudut bibir Ammara sontak terangkat ke atas. "Terima kasih, Ayah!"Beberapa saat kemudian, kereta Ailfryd yang ditarik oleh dua ekor unicorn telah siap di halaman rumah cendawan. Ailfryd dan Ammara segera memasuki kereta itu dengan tergesa.Derap langkah unicorn yang berlari kencang seketika memenuhi Fairyfarm.Tanpa mereka sadari, di atas salah satu ranting pohon, seekor burung rajawali bertengger tenang. Burung itu menyorot tajam ke arah kereta yang baru saja keluar dari halaman rumah cendawan. Setelah kereta Ailfryd terlihat cukup jauh, burung rajawali itu kemudian terbang melesat membuntutinya.
Ladybug
Ella berbaring gelisah di atas lantai batu ruang tahanan Kerajaan Avery. Pelipisnya dibanjiri keringat dingin. Napasnya memburu. Tiba-tiba ia berteriak nyaring bersamaan dengan matanya yang membelalak terbuka.Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dan hanya ruang gelap dan nyaris pekat yang menyambut penglihatannya. Aroma lembab dan amis seketika menyergap hidungnya. Bau yang sangat ia kenali. Bau darah.Ella menggeser tubuhnya dengan panik ke arah jeruji besi berkarat yang terkunci. Ruangan tahanan itu terasa begitu lenggang, tidak seperti biasanya. Tidak ada pula suara obrolan para penjaga yang biasanya bergema di sana.Tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh di sini, batin Ella.Ella terkesiap, jangan-jangan mimpinya barusan adalah sebuah pertanda. Baru saja ia memimpikan melihat bunga Camelia merah tumbuh di setiap penjuru istana Avery. Bunga Camelia merah yang biasanya hanya tumbuh jika ada peri anggota kerajaan yang wafat.Apa jangan-jangan ...Bulu kuduk Ella meremang, membayangkan siapakah gerangan yang akan wafat. Semoga mimpi itu tidak menjadi kenyataan, batin Ella lagi."To-tolong! Tolong...!" Tiba-tiba sebuah suara parau terdengar dari kegelapan di luar jeruji besi.Ella berusaha menajamkan penglihatannya, mencari berkas cahaya yang memungkinkannya untuk melihat sedikit saja. Namun, sia-sia. Kegelapan itu terlalu pekat."Tolong!" Suara itu terdengar lagi. Kali ini seperti suara tercekik disertai bunyi napas yang memburu.Ella mendekatkan telinganya ke sela-sela jeruji besi di hadapannya, memberanikan diri. "Si-siapa?!" tanyanya dengan suara bergetar. Sedikit rasa takut terbit di hatinya.Suara itu mendadak lenyap. Hening yang janggal mendadak hadir di kegelapan ruang tahanan. Ella tanpa sadar menahan napas dan bergeming di tempatnya. Ia menajamkan pendengarannya dan menegakkan punggung waspada.Suara geraman perlahan tertangkap telinga Ella. Suara itu semakin lama semakin nyaring dan terdengar mendekat. Ella sontak mundur, menjauhi jeruji besi, seraya memeluk tubuhnya yang menggigil ketakutan.Tiba-tiba suara hantaman jeruji besi menggema, disusul dengan suara raungan marah.Ella terhenyak di tempatnya meringkuk. Ia semakin erat memeluk tubuhnya sendiri.Segaris cahaya dari sela-sela pintu tahanan membentuk siluet mengerikan peri Elf yang meraung marah di depan jeruji besi tahanannya. Makhluk itu masih menggeram marah dan menghantamkan tubuhnya pada jeruji besi tahanan Ella berkali-kali. Ia seolah dapat melihat raut ketakutan Ella dari balik kegelapan dan ingin menyergap Ella.Tubuh Ella gemetar tak terkendali. Ia membungkam mulutnya dengan telapak tangan agar suara tangisnya teredam.Bunyi dobrakan pada pintu tiba-tiba terdengar. Pintu berayun terbuka dan menutup kembali, bersamaan dengan langkah kaki lain mendekati ruang tahanan Ella. Makhluk yang meraung di depan jeruji besi itu sontak mengalihkan fokusnya pada sosok si pendatang.Ella mengangkat wajahnya setelah rasa takut mereda. Ia segera menyadari jika ia tidak sendirian lagi di ruang tahanan bawah tanah itu. Sesosok makhluk serupa peri Elf dengan luka-luka menganga yang mengerikan di sekujur tubuhnya, berdiri tepat di depan jeruji besi. Liur kental berceceran dari sela-sela gigi runcingnya. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada peri Elf itu. Sementara, sesosok kesatria Elf, berdiri di depan ambang pintu tahanan menantang makhluk mengerikan itu dengan pedang terhunus canggung dan gemetaran.Namun, dengan sekali tebas, Claude berhasil menancapkan ujung pedang sihirnya tepat pada jantung mayat hidup yang meraung bringas itu. Seketika, si mayat hidup ambruk dan tergeletak tak bernyawa. Setelahnya, Claude mendekati jeruji besi ruang tahanan Ella."Ella?" panggilnya pelan. "Ini aku, Claude.""Pangeran Claude?" sahut Ella dengan suara bergetar menahan tangis. Ia masih terlalu shock dengan kejadian di hadapannya. "A-apa yang terjadi?" tanya Ella lirih. Suaranya tertelan isak tangis. Peri perempuan itu meraba di dalam kegelapan hingga tangannya mencapai jeruji besi.Claude mengembuskan napas pelan, bahkan di dalam kegelapan itu, Ella dapat melihat kesedihan pada air mukanya. "Sesuatu yang buruk telah terjadi di Kerajaan Avery," sahutnya lemah. "Monster Hydra menyerang, kemudian napas beracunnya menginfeksi para peri Elf. Napas beracunnya membunuh para peri, kemudian membuat mereka bangkit lagi menjadi mayat hidup.""Mayat hidup?!" Ella membelalak. "Apakah ada anggota kerajaan Avery yang terluka?!" tanya Ella kalut. Ia kembali teringat akan mimpinya tentang bunga Camellia merah."Putra Mahkota..." sahut Claude dengan suara tercekat."A-apa maksudmu, Pangeran Claude?!""Putra Mahkota Albert dalam bahaya. Seorang kesatria Elf menyampaikan itu padaku, Ella. Maka dari itu, aku menjemputmu kemari... Aku harap kau bisa menyelamatkan Putra Mahkota."Claude meraba dalam gelap, mencari gembok yang mengunci jeruji Ella. Pedang sihirnya memendarkan cahaya redup yang hilang timbul. Awalnya, ia kesulitan menemukan gembok itu, hingga tangannya menyentuh permukaan besi berkarat nan dingin yang berbentuk setengah lingkaran. Claude mencoba memasukkan anak kunci pada lubang gembok dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya berusaha menerangi dengan pedang sihir. Namun, sepertinya ia sedikit kesulitan."Biar kubantu, Pangeran!" Ella menawarkan bantuan seraya meraih pedang sihir dari salah satu sela jeruji besi yang lebih lebar. Ia mengarahkan cahaya pedang sihir itu untuk menerangi Claude yang sedang mencoba anak-anak kunci satu per satu pada gembok.Klik!Salah satu anak kunci akhirnya berhasil menancap dengan pas pada gembok jeruji. Claude mengembus napas lega, kemudian mendorong pintu jeruji hingga terbuka. Bunyi derit besi berkarat yang saling beradu seketika bergema dalam ruang tahanan gelap itu."Mari, Ella!" seru Claude sembari menuntun salah satu lengan Nyonya Ella keluar dari balik jeruji.Ella berjalan tergesa di samping Claude. Langkahnya sempat tersandung mayat peri Elf yang tergeletak melintang di depan pintu jeruji. Ia bergidik ngeri, lalu mempercepat langkahnya.Mata Ella membelalak begitu sampai di luar ruang tahanan bawah tanah Kerajaan Avery. Ia menangkap pemandangan yang lebih mengerikan berupa mayat-mayat mengenaskan tewas bergelimpangan di berbagai penjuru istana. Tidak hanya itu, beberapa sosok mayat hidup yang menyerupai monster berkeliaran menyerang peri Elf yang mereka jumpai. Di salah satu sudut istana, beberapa sosok mayat hidup bahkan tampak sedang berkumpul, menggerogoti sesosok kesatria Elf malang yang sedang berteriak-teriak minta tolong.Ella menutup mulutnya, tak kuat menyaksikan pemandangan mengerikan itu."Kira harus berlari untuk mencapai halaman utama Istana Avery, Nyonya Ella... sebelum mereka menyadari keberadaan kita. Anda bisa berlari, 'kan?" Bisik Claude. Iris mata kelamnya menyorot waspada pada sekumpulan mayat hidup yang tengah mengoyak mangsa.Ella mengangguk cepat. Raut wajahnya terlihat sangat shock hingga ia tak dapat berkata apa-apa. Jika keadaan di sini saja sekacau ini, bagaimana lagi kekacauan yang menyebabkan Putra Mahkota Albert dalam bahaya. Ella bergidik, tak sanggup membayangkan lebih jauh, Camellia merah di dalam mimpinya kembali terkenang. Ella mulai menerka-nerka lagi, siapakah anggota Kerajaan Avery yang akan meninggal.Tanpa aba-aba, Claude segera menyeret lengan Ella untuk berlari bersamanya, tanpa peduli bahwa ternyata beberapa sosok mayat hidup mulai berjalan tertatih mengikuti mereka dari belakang.* * *Ammara terkesiap mendengar ringkikan Selly yang bernada marah. Selly meringkik seperti itu jika ia bertemu dengan makhluk-makhluk asing atau merasa terganggu. Ammara langsung menghentikan aktivitasnya membuat mahkota bunga. Ia bangkit dari duduknya dan memandang keluar jendela yang tepat berhadapan dengan istal Selly.Selly meringkik lagi. Mata unicorn itu menyorot pada semak bunga Marigold yang ada di luar halaman rumah cendawan Ella.Ammara mengikuti arah pandang Selly. Peri perempuan itu memicingkan mata menatap semak bunga Marigold yang bergerak-gerak pelan. Awalnya, Ammara mengira semak bunga Marigold itu bergerak karena embusan angin, tetapi jika diperhatikan lebih seksama, ada beberapa makhluk mungil dengan warna menyala di atas mahkota Marigold.Ammara menajamkan pendengarannya dan sayup-sayup terdengar suara-suara bisikan dari semak Marigold yang bergerak itu.Kerajaan Avery dipenuhi Mayat Hidup.Aku tidak ingin kembali ke sana.Ya, aku juga! Lebih baik aku tinggal di Hutan Larangan.Mungkin sementara kita akan aman di sini.Ya kau benar! Sekalian menunaikan tugas Sang Ratu.Ammara menutup mulutnya dengan tangan. Pupil matanya membesar. Makhluk-makhluk kecil itu berbicara. Terlebih, Ammara sangat tertarik dengan isi percakapan mereka.Selly meringkik lagi. Kali ini lebih nyaring.Ammara berdecak sebal, merasa kegiatan mengupingnya terganggu oleh Selly. Ia melotot ke arah Selly, memperingatkan yang ternyata dibalas juga dengan tatapan yang sama.Unicorn bersurai putih itu mendengus dan meringkik pelan, menuruti perintah Ammara dengan berat hati. Selly duduk, kemudian kembali mengunyah plumnya dengan malas.Aku dengar Putra Mahkota di serang mayat hidup!!Benarkah?!Ammara kembali menajamkan pendengarannya.Apa dia meninggal? Ah, dia begitu tampan. Sayang sekali kalau harus mati muda!Putra Mahkota Albert meninggal?!Kudengar itu perbuatan sang Ratu!Huss ! Jangan mengada-ngada. Fokus pada tugas kita. Atau kita akan hangus!Ammara membelalak. Tanpa sadar mulutnya membulat.Kudengar Putra Mahkota Albert tidak mati! Dia berubah jadi mayat hidup.Jangan mengada-ada!Seekor kepik berwarna merah menyala terbang melesat kemudian hinggap pada salah satu puncak mahkota Marigold, sementara di puncak Marigold terlihat bercak kemerahan yang serupa. Ammara menduga, kepik yang baru saja bergabung dengan rekan-rekannya itulah yang membawa berita terbaru mengenai keadaan Istana Avery.Ammara semakin penasaran. Ia melihat ke arah Selly yang mulai jatuh tertidur dengan salah satu pipi menggembung berisi plum yang belum dikunyah sempurna. Unicorn itu sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Lantas Ammara menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Ailfryd atau peri pekerja lainnya. Tidak ada siapa-siapa.Oke. Aman. Keluar sebentar mungkin tidak apa-apa .Perlahan, Ammara memanjat bingkai jendela di hadapannya. Bingkai jendela itu memang rendah dan sangat mudah untuk dilewati. Ammara tidak ingin mengambil risiko akan membangunkan Selly jika harus melewati pintu rumah cendawan.Setelah berhasil melewati jendela, Ammara berjingkat pelan menuju gerbang halaman rumah cendawan. Matanya kini tertuju pada beberapa ekor kepik yang bercahaya di salah satu puncak mahkota Marigold. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan tabir transparan pada gerbang pembatas yang pernah dibuat oleh Claude. Ammara teringat akan pesan Claude untuk tidak melewati tabir itu agar 'bau manusia'nya tidak tercium oleh makhluk lain.Ammara bergeming di depan tabir itu seraya menatap kepik-kepik bercahaya yang semakin riuh berbincang satu sama lain. Ammara membuang napas kasar, bibirnya mengerucut. Betapa ingin ia bergabung dengan makhluk-makhluk kecil itu untuk mengetahui lebih banyak perihal Pangeran Albert, tetapi ia tidak bisa.Kudengar, hampir seluruh penghuni Kerajaan Avery berubah menjadi mayat hidup.Ya, para tahanan juga melarikan diri. Aku bertemu dengan Aubrey yang berlari ketakutan menuju Hutan Larangan!Aubrey si Dwarf malang yang dituduh sebagai penyihir itu?!'Aubrey', 'tahanan' kata-kata itu sontak membuat gusar Ammara. Peri perempuan itu langsung berpikir tentang ibunya."Bagaimana dengan ibu?" gumamnya pelan. Ammara berjalan mondar-mandir di depan tabir penghalang Claude. Matanya sesekali mengerling ke arah Marigold tempat para kepik bertengger. Batinnya sedang bergolak hebat, bertahan di rumah cendawan dengan kekhawatiran di kepalanya atau melewati tabir penghalang Claude dengan risiko 'bau manusia'nya tidak dapat terlindungi."Bau manusia?! Yang benar saja! Jelas-jelas secara fisik aku adalah peri Elf!" gumam Ammara seraya mengendus-endus aromanya sendiri. Kedua tangannya menelusuri rambut emasnya yang dikuncir sebagian. Tangan itu turun meraba kedua telinganya. Tunggu dulu, ada yang aneh!Daun telinganya yang runcing memanjang kini mengecil. Ammara terkesiap. "Te-telingaku, ada apa dengan telingaku?!" gumamnya kalut."Apa aku benar manusia?" Ammara tertegun. Matanya masih lekat menatap bunga Marigold yang kini bergoyang-goyang lebih kuat. Beberapa ekor kepik terbang berhamburan dari mahkota Marigold. Suara-suara berisik dengan nada melengking menyadarkan Ammara dari lamunannya."Hei! kalian mau kemana?!" jerit Ammara refleks berlari mengejar kepik-kepik yang berterbangan. Tanpa sadar ia melewati tabir Claude.Psst ... siapa dia?Baunya. Bau ini 'kan yang kita cari!"Hei, kepik kecil. Apa benar Kerajaan Avery diserang monster?" tanya Ammara pada dua ekor kepik yang masih tertinggal di atas mahkota bunga Marigold.Dua ekor kepik merah dengan bintik kuning menyala itu menatap Ammara membelalak. Mereka bergeming.Ammara melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. "Jangan takut! Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin bertanya? Tanpa sengaja, aku mendengar percakapan kalian tadi."Apa dia adalah manusia yang dimaksud sang Ratu?"Eh, apa maksud kalian?" tanya Ammara seraya menaikkan salah satu alisnya. Ia mulai sedikit kesal karena merasa tak diacuhkan oleh makhluk-makhluk kecil itu. "Hello! Aku bicara dengan kalian! Apa kalian tidak mendengarku?!"Entahlah. Tapi kurasa gadis manusia ini cukup menyebalkan dan suka menguping.Aku harus segera melaporkan kepada Ratu."Hello!" pekik Ammara lagi.Salah satu kepik menyembunyikan diri di balik kelopak bunga Marigold karena ketakutan mendengar teriakan Ammara, sementara kepik lainnya terbang menjauh menginggalkan Ammara yang gelagapan ingin menangkapnya."Dasar kepik kurang ajar!" gerutu Ammara sambil bersedekap."A-aku mendengarmu. Ja-jangan berteriak," sahut seekor kepik yang kini tertinggal sendirian. Makhluk kecil itu mengintip dari balik kelopak Marigold. Setelah merasa aman, makhluk kecil itu lantas keluar dari balik kelopak Marigold."Maafkan aku," ucap Ammara lembut seraya mengulas senyum. Peri perempuan itu kini berjongkok di depan rerimbunan semak bunga Marigold. "Tolong, ceritakan padaku tentang keadaan Kerajaan Avery? Aku mohon. Ibuku di sana. Aku sangat khawatir."Kepik kecil itu menatap Ammara lekat-lekat, sebelum akhirnya membuka suara. "Baiklah, aku akan menceritakan apa yang aku dengar. Namun, kau harus berjanji, setelah ini kau harus kembali ke rumahmu dan jangan pernah keluar dari sana. Apa kau bisa berjanji?"Ammara mengernyit bingung. Namun, akhirnya dia mengangguk pelan seraya mengacungkan jari kelingkingnya. "Aku janji!" ucapnya mantap.Kepik kecil itu membuka mulutnya, bersiap untuk bercerita. Namun, tiba-tiba sebuah suara membuatnya kembali berlindung di balik kelopak Marigold."Ammara! Kembali ke rumah!" teriak Ailfryd yang baru saja kembali dari kebun Plum. Ia sangat terkejut melihat Ammara yang tanpa sepengetahuannya melewati tabir pelindung yang telah dibuat oleh Pangeran Claude."Tunggu sebentar Ay--""Masuk sekarang!" ucap Ailfryd tegas. Peri laki-laki itu menarik lembut salah satu lengan Ammara dan membawanya masuk.Dengan berat hati Ammara mengikuti ayahnya kembali ke rumah mereka. Padahal ia sangat ingin mendengar cerita dari si kepik.Ammara menoleh sebentar ke arah mahkota bunga Marigold tempat si kepik bertengger. Kepik kecil itu membalas tatapan Ammara dengan sorot yang tak dapat Ammara artikan.Semoga Ibumu baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik, gadis manusia!* * *Seekor kepik berwarna merah menyala terbang melintasi jurang menganga menuju Kastil Larangan. Kepik itu akhirnya hinggap di salah satu bingkai jendela menara setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan.Sesosok peri perempuan cantik bersurai hitam mendekati ambang jendela, menyambutnya. Iris mata ungunya menangkap warna menyala dari tubuh si kepik."Kau sudah datang rupanya," sapa Minerva dalam suara rendah. Ia tersenyum asimetris menyambut kedatangan makhluk kecil itu seraya mengulurkan salah satu lengannya. "Aku harap kau membawa berita bagus!" ucapnya sambil terkekeh.Dengan ragu-ragu, kepik kecil itu terbang dan hinggap di salah satu telapak tangan Minerva.Minerva mendekatkan telapak tangannya ke depan wajah. Iris mata ungunya menatap lekat pada kepik malang yang tubuhnya kini gemetar."Katakanlah! Apakah kau sudah menemukan makhluk manusia itu?!" titah Minerva dengan suara tegas.Kepik kecil itu mulai menceritakan pertemuannya dengan sesosok yang menurutnya adalah manusia. Kepik itu mencium bau kuat yang ia kenali sebagai bau manusia ketika berada di Fairyfarm. Suara melengkingnya yang bernada tinggi menggema memenuhi ruangan menara itu saat ia bercerita."Jadi kau bertemu makhluk itu di Fairyfarm?" ulang Minerva ketika kepik kecil itu mengakhiri laporannya.Si kepik mengangguk cepat."Bagus! Sekarang pergilah. Aku akan mencabut kutukanku pada bangsa kalian," tutur Minerva seraya melepas kepergian kepik itu melalui jendela menara.Salah satu tangan Minerva menjentik ke udara, bersamaan dengan itu cahaya keunguan memercik dari tubuh si kepik, kemudian menghilang dalam sekejap."Lucifer," panggil Minerva dengan suara rendah.Dari balik keremangan ruangan menara kastel, sesosok peri laki-laki berkulit kehijauan muncul tepat di belakang Minerva. Lucifer mengangguk takzim, meski Minerva membelakanginya. "Hamba di sini, Ratuku.""Pergilah ke Fairyfarm. Awasi gadis manusia itu. Sampaikan padaku apa pun dan siapa pun yang berhubungan dengannya," titah Minerva. Peri perempuan itu menyeringai. "Ini akan semakin menarik!"Lucifer mengangguk takzim seraya membungkukkan tubuhnya. Sedetik kemudian tubuhnya mengepul menjadi asap hitam yang pekat. Perlahan, asap itu menipis dan munculah seekor burung rajawali. Burung itu kemudian melesat keluar dari jendela menara menembus keremangan Hutan Larangan.
Kisah Malim Deman
Pada zaman dahulu kala di suatu daerah di Sumatera Barat, hiduplah seorang pemuda yatim piatau ia bernama Malim Demam. Pemuda ini sangat rajin dalam bekerja dan akhlaknya sangat baik, sehingga ia cukup terkenal di desanya. Hampir setiap hari ia gunakan waktunya untuk menggarap sawah dan beberapa ladang sayuran sepeninggalan kedua orangtuanya. Letakkanya pun cukup jauh dari rumahnya. Ia bekerja dengan pamannya.Di sekitar sawah yang ia garap, terdapat rumah yang ditempati oleh janda tua seorang diri. Masyarakat setempat memanggil janda tua ini dengan nama Mandeh Rubiah. Karena letak sawah dan rumah janda tua ini sangat dekat. Malim Deman sangat akrab dengan janda tua ini, bahkan Malim Daman sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Kearaban yang terjalain terjadi karena setiap istrihat dari menggarap sawah, Malim Daman selalu menggunakan teras rumah janda tua ini sebagai tempat berteduh dan istirahat, terkadang janda tua ini memberikan minum dan makanan seadanya yang ada dirumahnya. Karena hal inilah terjalin hubungan seperti seorang ibu dan anak.Pada suatu malam, seperti biasanya Malim Deman kembali kesawah untuk menjaga tanaman padinya. Ia sendirian menjaga padi ditengah-tengah sawah tanpa ada rasa takut sedikit pun, karena hal tersebut sudah sering dilakukannya. Beberapa jam menunggu sawah Malim Deman merasa tenggorokannya kering, sehingga ia berniat untuk meminta air minum dirumah Mandeh Rubiah janda tua yang rumahnya di dekat sawanya. Lantas ia lansung menuju rumah Mandeh Rubiah untuk segera meminta air minum. Sebelum Malim Deman tiba di rumah Madeh Rubiah, Malim Deman mendengar ada suara beberapa perempuan di belakang rumah Mandeh Rubiah. Dengan berjalan pelan-pelan agar tidak diketahui kedatangannya, Malim Deman segera menuju sumber suara yang didengarnya itu.Malim Deman terkejut dan dengan perasaan tidak percaya, ternyata suara yang ia dengar merupakan suara tujuh bidadari yang sedang mendi di kolam yang berada tepat di belakang rumah Mandeh Rubiah. Malim Deman sangat terpesona dan seakan-akan jantungnya berhenti berdetak tatkala melihat kecantikan para bidadari itu yang wajahnya begitu bersinar ketika para bidadari terkena sinar rembulan yang tengah purnama. Malim Deman juga melihat tujuh selendang yang tergeletak tepat di dekat kolam itu. Malim Deman berpikir bahwa selendang itu digunakan para bidadari untuk terbang kekhayangan. Maka, dengan pikran seperti itu, Malim Deman dengan berjalan mengendap-endap dia mendekati tujuh selendang bidadari itu dan mengambil salah satu dari selendang. Setelah mengambil salah satu dari selendang bidadari itu, Malim Deman dengan cepat langsung menyembunyikan dan ia kembali mengintip ketujuh bidadari yang sedang mandi tersebut.Menjelang waktu pagi datang, tujuh bidadari telah selesai dan memakai dari mandinya dan berniat untuk kembali kekhayangan, kemudain para bidadari mengambil selendang mereka masing-masing. Tetapi salah satu bidadari yaitu bidadari yang paling muda sendiri umurnya, terkejut ketika melihat selendangnya tidak ada, setelah beberapa saat mencari tetap saja ia tidak dapat menemukan selendangnya. Para bidadari-bidadari lainpun mengerahkan kemampuannya untuk ikut mencari selendangnya, nemun hingga menjelang fajar selendang bidadari yang paling muda tetap saja tidak ditemukan. Karena matahari tidak lama lagi akan terbit, maka dengan terpaksa keenam bidadari yang sudah mendapatkan selendangnya meninggalkan bidadari yang paling muda ini. Dengan selendangnya itu para bidadari terbang secara bersamaan menuju ke khayangan.Sepeninggalan bidadari-bidadari yang lain, bidadari yang paling muda ini menangis. Ia ketakutan untuk tinggal di bumi seorang diri. Melihat secara langsung kejadian tersebut, Malim Deman lantas mendekati dan menghibur bidadari itu dan menanyakan siapa sebenarnya namanya, bidadari menjawab bahwa namanya adalah putri bungsu. Malim Deman kemudian mengajak bidadari itu kerumah Mandeh Rabiah. Dengan hati yang sangat gembira Mandeh Rabiah menerima bidadari itu dan mengakuinya sebagai seorang anak.Setelah mengantarkan bidadari yang bernama putri bungsu itu, Malim Deman kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah, Malim Deman menceritakan kejadian yang dialaminya kepada pamannya. Dan dijelaskan pula jikalau dirumah Mandeh Rabiah ada bidadari yang sangat cantik sekali. Kemudian Malim Deman menyembunyikan selendang yang ia ambil tanpa sepengetahuan bidadari.Sejak saat itu Malim Deman semakin rajin berkunjung kerumah Mandeh Rabiah untuk sekedar menemui putri bungsu. Malim Deman dan putri bungsu pun semakin mengenal dan semakin akrab. Tidak lama kemudian dari keakraban tersebut mulailah muncul perasaan saling jatuh cinta. Kemudian setelah memadu kasih beberapa saat akhirnya Malim Deman dan putri bungsu melangsukan pernikahan. Tidak beberapa lama mereka dikaruniai anak laki-laki yang gagah dan memberinya nama Sultan Duano untuk anak tercintanya itu.Putri bungsu semula sangat merasakan kebahagiaan yang tiada terkira memiliki suami seperti Malim Deman. Namun sejak Sutan Duano lahir, sikap Malim Deman menjadi berubah sedikit demi sedikit. Malim Deman menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya disuatu tempat perjudian. Ia mulai menyukai menyabung ayam dengan menggunakan taruhan. Begitu menyukainya dengan dunia perjudian, Malim Deman seringkali tidak pulang berhari-hari lamanya.Putri bungsu sangat bersedih melihat sikap sang suami yang semakin berubah menjadi sangat buruk. Ia terkadang menangis sendiri meratapi nasib yang dijalaninya. Kerinduannya untuk pulang kembali ke asalnya sekilas sering muncul tatkala ia meratapi nasibnya. Hingga semakin lama rasa untuk pulang ke khayangan semakin besar. Hingga pada suatu saat dia secara tidak sengaja menemukan selendang yang di sembunyikan oleh Malim Deman. Lantas dengan menemukan selendang tersebut, putri bungsu menemui teman dari Malim Deman. Dan meminta tolong untuk disampaikan kepada Malim Deman, bahwa dirinya dan putranya Sutan Duano akan kembali ke tempat asalnya yaitu khayangan.Teman dari Malim Deman segera mencari dimana Malim Deman berada, ternyata Malim Deman sedang berada di tempat perjudian. Setelah bertemu dengan Malim Deman, temannya itu menyampaikan pesan yang telah diberikan putri bungsu.Mendengar berita tersebut, Malim Deman panik dengan terburu-buru ia segera pulang kerumah untuk menemui istrinya dan anaknya. Namun sudah terlambat. Sesampainya dirumah, istri dan anaknya sudah tidak ada. Istrinya telah membawa anak kesayangannya kembali ke khayangan. Malim Deman hanya dapat menyesali kepergian anak dan istrinya. Namun penyasalan hanyalah sebuah penyesalan, yang tidak mungkin akan bisa dikembalikan seperti semula. Akibat sikap buruknya tersebut, Malim Deman harus kehilangan keluarga yang sebenarnya sangat ia cintai.Pesan Moral : Kita dapat mengambil hikmah dari kisah Dongeng/cerita rakyat Sumatera Barat (Kisah Malim Deman), salah satu hikmah yang dapat kita ambil adalah berjudi hanyalah akan merugikan diri sendiri dan keluarga di kemudian hari. Hendaknya kita menghidari perbuatan buruk tersebut agar tidak mengalami kerugian di kemudian hari. Kita juga harus berhati-hati dalam bertindak karena penyesalan dikemudian hari tidak ada gunanya.
Si Lebai
Si Lebai adalah seorang guru agama. Ia dikenal sebagai pemuda yang baik hati. Semua orang menyukainya. Namun sayang, ia memiliki satu kekurangan, yaitu selalu bimbang. Ya, si Lebai tidak bisa dengan cepat mengambil keputusan. Ia selalu bimbang apakah harus begini, atau harus begitu. Akibat kebimbangannya, si Lebai sering kali gagal mencapai tujuannya.Suatu pagi, si Lebai pergi memancing. Rupanya ia kehabisan bahan makanan. "Makan siang dengan lauk ikan goreng, hmmm... pasti nikmat," katanya dalam hati. Untuk bekal selama memancing, si Lebai membungkus singkong rebus. Ia lalu mengajak anjing kesayangannya.Setelah menunggu beberapa lama, tiba-tiba pancingnya bergerak-gerak. "Asyik... umpanku kena!" teriaknya kegirangan. Ia menarik pancingnya, tapi susah sekali. Sepertinya kail itu tersangkut sesuatu. Si Lebai pun memutuskan untuk terjun ke sungai. Ia ingin melihat, apa yang menyebabkan kaiinya tersangkut.Si Lebai melepas bajunya. Ia sudah hampir terjun ke sungai, ketika tiba-tiba teringat sesuatu. "Waduh, jika aku terjun ke sungai, bagaimana dengan singkong rebusku? Nanti dimakan anjingku?" katanya dalam hati. Akhirnya ia tidak jadi terjun ke sungai. "Lebih balk kucoba lagi menarik pancinganku ini." Setelah berkali-kali mencoba, pancingnya tetap tak bergerak.Setelah berpikir lagi, si Lebai memutuskan untuk terjun ke sungai. Namun lagi-lagi ia bimbang. "Bagaimana dengan singkong rebusku?" Si Lebai bingung. Setelah lama bimbang, ia pun Iangsung terjun ke sungai. Ternyata benar, kailnya tersangkut di batu besar. Wah, apa itu? Ternyata pancingan si Lebai mengenai ikan mas yang sangat besar. Si Lebai berusaha melepaskan kailnya dari batu. Ia pun menarik-narik ikan itu supaya lepas. Bayangan akan ikan goreng yang lezat membuatnya bersemangat menarik ikan itu.Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ikan mas besar yang ditariknya itu malah lolos. Ikan mas itu lalu berenang dengan cepat meninggalkan si Lebai yang melongo. Dengan hati kesal, si Lebai kembali ke perahu. Perutnya sungguh lapar. Ia berpikir, sepotong singkong rebus akan membuatnya kengang. Setelah itu ia akan memancing lagi."Aduhh... anjing nakal! Kau makan semua singkong rebusku?" teriak si Lebai kesal. Bungkusan singkong rebusnya sudah robek dan isinya sudah raib. Si Lebai sangat kesal, ikan tak didapat, singkong rebus pun hilang dari genggaman. Andai saja ia tidak bimbang sana, bimbang sini, pasti perutnya sudah dikenyangkan oleh singkong rebus.Di hari yang lain, si Lebai mendapat dua undangan perkawinan. Satu dari kerabat jauhnya di hulu sungai, dan satu lagi dari muridnya di hilir sungai. "Wah, aku menghadiri yang mana ya?Keduanga diadakan pada jam yang sama," pikir si Lebai bimbang. Sampai pada harinya, si Lebai tetap tak bisa memutuskan, undangan siapa yang akan ia hadiri. Menjelang sore, barulah si Lebai bersiap dan mulai mendayung perahunya. Ia menuju ke hulu sungai. Ia dengar, pesta di hulu sungai itu akan memotong dua ekor sapi, dan dua kepala sapi itu akan diberikan kepada si Lebai. "Hmmm, lumayan juga jika aku diberi dua kepala sapi. Bisa untuk persediaan makanan selama seminggu," katanya dalam hati.Sampai di tengah sungai, si Lebai mulai bimbang. "Apa sebaiknya aku ke hilir saja ya? Meskipun pesta di hulu memotong dua ekor sapi, tapi kata orang masakannya hanya sate dan gulai sapi saja. Tidak ada makanan lain. Lagi pula, katanya masakannya kurang enak."Tanpa pikir panjang, si Lebai memutar perahunya ke arah hilir. Yang ia dengar, pesta di hilir hanya memotong seekor sapi, dan kepalanya juga akan diberikan pada si Lebai. Meskipun hanya seekor sapi, tapi jenis masakan yang akan dihidangkan di hilir lebih banyak. Bahkan katanya ada juga kue-kue lezat. Selain itu, si Lebai kenal baik dengan tuan rumah di hilir. Rasanya sungkan jika tak memenuhi undangan mereka."Hai Lebai, kau mau ke mana?" tanya teman-temannya. Mereka naik perahu dari arah hilir. "Aku hendak ke pesta perkawinan muridku di hilir sungai ini," jawab Si Lebai mantap."Oh, kami baru saja dari sana. Kue-kuenya memang enak, juga makanan yang lain. Tapi tamunya sangat banyak, kami tidak bisa makan sepuasnya. Lebih baik kami ke hulu saja, katanya di sana makanannya Iebih banyak. Sapi yang disembelih juga Iebih gemuk," jawab teman-temannya.Si Lebai mulai bimbang lagi. "Bagaimana ini? Jika aku terus ke hilir, mungkin makanannya sudah habis. Atau sebaiknya aku ke hulu saja, ya? Meskipun hanya ada sate dan gulai, tapi aku bisa makan dengan kenyang." Akhirnya ia memutar perahunya kembali ke arah hulu.Namun si Lebai tetaplah si Lebai. Tiap kali ia sampai di tengah sungai, selalu ada saja yang membuatnga ragu meneruskan perjalanan. Sore itu, ia menghabiskan waktu dengan mondar-mandir di sungai saja. Ia tak juga bisa memutuskan apakah ke hulu atau ke hilir. Setelah lelah mendayung perahunya, akhirnya si Lebai memutuskan. "Apa pun yang terjadi, aku ke hilir saja. Aku kenal baik dengan tuan rumah, tak elok rasanya jika aku tak datang," katanya.Si Lebai terus mendayung sampai ke hilir sungai. Akhirnya tibalah ia di desa tempat pesta perkawinan diadakan. Si Lebai yang kelelahan dan kelaparan ingin segera makan. Tapi apa yang terjadi? Ternyata pesta telah usai dan semua makanan habis. Bahkan kue pencuci mulut pun tidak bersisa. Lemaslah si Lebai. Terpaksa ia hanya mengalami tuan rumah dan berpamitan pulang. "Maafkan kami Tuan Lebai. Kami kira Tuan tak datang, jadi kepala sapinya kami berikan pada orang lain," kata sang tuan rumah. Si Lebai hanya bisa mengangguk.Si Lebai lalu menuju ke perahu dan mendayungnya ke hulu sungai. Ia berharap, makanan di sana tidak lekas habis. Dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya sampai juga ia ke hulu sungai itu. Namun sama seperti pesta di hilir, semua makanan juga telah habis. Pesta itu telah usai, dan semua tamu undangan sudah pulang. Tuan rumah menyambut si Lebai dan meminta maaf, "Maafkan kami Tuan Lebai. Kami pikir Tuan tak datang. Kedua kepala sapi itu sudah kami berikan pada orang lain." Si Lebai sekali lagi hanga bisa mengangguk. Ia pun duduk lemas di kursi.Tuan rumah tadi kasihan, lalu memberinya secangkir kopi hangat dan singkong rebus. Begitulah si Lebai, jauh-jauh mendayung perahu hanya untuk mendapatkan secangkir kopi dan singkong rebus. Semua itu akibat sifat bimbang dan ragu yang dimilikinya."Pesan moral dari Cerita Rakyat Sumatera Barat : Dongeng Anak Si Lebai untukmu adalah Bertindaklah tegas. Sebelum memutuskan sesuatu, pikiran dengan balk. Jangan mudah mengubah keputusan karena itu bisa merugikan dirimu sendiri"
Kisah Si Pahit Lidah
Hari ini hati Serunting kesal sekali. Lagi-lagi ladang miliknya tak menghasilkan apa-apa, kecuali rumput ilalang yang tinggi. Apapun yang ditanamnya selalu mati. "Apa yang harus kulakukan? Ladangku hanya sejengkal dari ladang Aria Tebing, tapi mengapa ladangnya begitu subur?" tanyanya heran. "Aria Tebing pasti telah berbuat curang pada ladangku." pikir Serunting dengan curiga.Serunting pulang ke rumah dan marah-marah pada istrinya. Istrinya adalah kakak Aria Tebing. "Bilang pada adikmu, jangan curang. Jika berani, suruh ia bertarung melawanku," katanya. Istringa tak habis pikir karena menurutnya, adiknya tak mungkin curang.Suatu hari, Aria Tebing berkunjung ke rumah Serunting. Tujuannya untuk menemui kakaknya. Tapi apa yang terjadi? Serunting malah marah-marah dan mengajaknya berduel. "Apa yang kau lakukan pada ladangku? Semua yang kutanam mati tak berbekas. Sedangkan tanaman di ladangmu tumbuh dengan subur, padahal letaknya hanya sejengkal dari ladangku!"Aria Tebing kebingungan, "Aku tak melakukan apa-apa. Aku bahkan tak pernah menginjakkan kaki ke ladangmu," jawabnya."Dasar pembohong! Kau menantangku? Jika memang itu maumu, ayo kita berduel sampai mati. Kutunggu kau besok di tanah lapang!"Aria Tebing tak bisa menghindar. Ia harus menghadapi tantangan Serunting. Ia yakin, ia pasti kalah menghadapi Serunting yang jauh lebih sakti darinya. Karena itu ia memutuskan untuk menemui kakaknya untuk menanyakan apa kelemahan kakak iparnya itu.Pagi-pagi buta, Aria Tebing menyelinap ke rumah Serunting. "Kak, tolonglah aku. Beritahu apa kelemahan suamimu. Jika Kakak tak memberitahuku, aku pasti akan mati siang ini," pinta Aria Tebing. Istri Serunting bimbang. Di satu sisi ia tak ingin mengkhianati suaminya, namun di sisi lain ia tak ingin adiknya mati terbunuh. Akhirnya ia berkata, "Berjanjilah, untuk tidak membunuh suamiku." Aria Tebing menyanggupi, maka istri Serunting pun memberitahu rahasia kelemahan suaminya.Tibalah saat yang ditentukan. Aria Tebing telah siap dengan senjata yang bisa melumpuhkan Serunting. Menurut istri Serunting, tumbuhan ilalang yang bergetar adalah senjata yang bisa melumpuhkan Serunting. Mereka berdua pun memulai pertarungan. Di saat Serunting lengah, Aria Tebing menyabetkan ilalang itu pada tubuh Serunting. Benar saja, dalam sekejap Serunting langsung terluka parah. Aria Tebing dengan mudah memenangkan pertarungan itu.Serunting sangat malu. Ia heran bagaimana Aria Tebing bisa mengetahui rahasianya. Untuk menutupi rasa malunya, ia pergi mengembara dan meninggalkan rumah. Ia berjalan tak tentu arah sampai akhirnya tiba di Gunung Siguntang. Di situlah ia tinggal dan bertapa mengasah ilmunya.Suatu hari, saat sedang bertapa, ia mendengar bisikan gaib. "Serunting anakku, aku akan mengajarimu kesaktian yang kumiliki. Apakah kau mau melaksanakan syarat dariku sebelum aku mengajarirnu?" bisik suara itu. Serunting membuka matanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tak ada siapa-siapa. Berarti bisikan itu datang dari penunggu Gunung Siguntang. "Ya, aku mau belajar ilmu darimu," jawab Serunting."Jika begitu, bertapalah di bawah pohon bambu sampai seluruh tubuhmu tertutup oleh daunnya. Jika itu terjadi, kau berhasil mewarisi kesaktianku," jawab suara gaib itu.Dua tahun lamanya Serunting bertapa di bawah pohon bambu. Setelah semua tubuhnya tertutup oleh daun bambu, ia pun mendapatkan kesaktiannya, ia memiliki kemampuan untuk mengutuk apa pun yang ditemui nya.Dengan kesaktiannya itu, Serunting ditakuti oleh banyak orang. Mereka menjulukinya "Si Pahit Lidah". Sejak itu, Serunting menjadi sombong dan sering berbuat semena-mena. Jika tak menyukai seseorang, ia tak segan- segan mengutuknya menjadi batu!Tahun demi tahun berlalu. Suatu saat Serunting merasa rindu pada istrinya. Ia ingin pulang ke rumahnya. Selain itu, ia ingin membalas dendam pada Aria Tebing. Ia ingin menunjukkan kekuatannya pada Aria Tebing, Serunting pun berkemas dan pulang ke rumahnya.Sepanjang perjalanan, Serunting masih bersikap semena-mena. Orang-orang yang bertemu dengannya segera menyingkir. Mereka takut terkena kutukan si Pahit Lidah.Setelah berjalan seharian, Serunting ingin beristirahat. Ia berjalan menuju bukit, berharap dapat tidur sejenak. Ternyata tak ada sebatang pohon pun di situ. Ia jengkel sekali karena panas Matahari yang sangat menyengat. Ia mengedarkan pandangannya, rerumputan di bukit itu mulai menguning. Ia kecewa dengan keadaan bukit itu. Ia lalu berujar, "Aku ingin bukit ini penuh dengan pepohonan."Dalam sekejap, bukit itu menjadi teduh dan rindang. Sejak itu banyak orang yang mampir ke sana untuk sekadar beristirahat. Serunting sangat senang. Ternyata, ia bisa menggunakan kesaktiannya untuk hal yang baik.Setelah puas beristirahat, Serunting melanjutkan perjalanannya. Ketika melewati sebuah desa, ia melihat sepasang kakek dan nenek renta sedang menebang pohon. Hati Serunting merasa kasihan. "Mengapa mereka masih bekerja keras di usia setua itu?"Serunting menghampiri mereka, "Kek, Nek, mengapa anak kalian tak membantu?" tanyanya."Kami tak punya anak, kami hanya tinggal berdua," jawab si Kakek. Serunting terdiam, ia sungguh merasa iba melihat kakek dan nenek itu. "Kek, jika sekarang ini kalian dikaruniai seorang bayi laki-laki dan anak perempuan untuk membantu kalian, apakah kalian mau?"Kakek dan nenek itu berpandangan, "Tentu saja kami mau, tapi apakah itu mungkin? Kami sudah tua, tak mungkin bisa punya anak."Serunting menjawab, "Semuanya mungkin saja. Kakek dan Nenek akan punya seorang bayi laki-laki dan anak perempuan yang akan membantu kalian."Setelah berkata demikian, terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah. Kemudian seorang anak gadis dari rumah muncul sambil menggendong seorang bagi laki-laki. Kakek dan Nenek itu sangat bahagia, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Serunting.Serunting juga bahagia. Ia sadar, sebenarnya lebih menyenangkan melihat orang-orang berbahagia daripada melihat mereka ketakutan. Sarunting bertekad akan menggunakan kesaktiannya untuk hal-hal baik, bukan untuk mencelakai orang. Selama sisa perjalanannya, ia menolong semua orang yang membutuhkan pertolongannya. Dan ia tidak sombong lagi."Pesan moral dari Cerita Rakyat Sumatera Selatan – Si Pahit Lidah adalah Gunakan kelebihanmu untuk membantu orang lain, bukan untuk menyombongkan diri."
Legenda Pulau Kemaro
Konon dahulu kala, di Bhumi Sriwijaya memerintahlah seorang raja yang adil dan bijak sana. Raja ini memiliki seorang puteri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Banyak pemuda-pemuda tampan dari berbagai penjuru nusantara datang, namun tidak satu pun yang bisa menaklukkan hati puteri Siti Fatimah.Namun pada suatu hari, datanglah sebuah kapal besar dari negeri Cina, bersama dengan rombongan yang dipimpin seorang pangeran bernama Tam BUn An.“Hmmm… Haiya…. Ini ternyata kerajaan Sriwijaya yang terkenal itu. Kotanya memang megah, penduduknya ramah-ramah dan makanan pempeknya uenak sekali, ya. Haiya….” Kata sang pangeran.“Pangeran Tam Bun An mau langsung menemui puteri Siti Fatimah?” Tanya sang nahkoda kapal.“Iyalah. Aku kan jauh-jauh ke Bhumi Sriwijaya ini karena tertarik kecantikan sang puteri Siti Fatimah, haruslah aku datang menemuinya sesegera mungkin.” Kata pangeran Tam Bun An.“Ayo, pengawal. Kita langsung ke istana untuk menemui puteri raja. Siapkan barongsai dan musik perkusi yang meriah untuk menarik hatinya.” Kata sang nahkoda kapal.Lalu rombongan pangeran dari Cina ini masuk ke kota Sriwijaya dengan meriah, di depan ada barongsai singa dengan dua orang pembawa pangeran Tam Bun An dan sang nahkoda. Di belakangnya ada 10 orang pengawal dengan barongsai naganya. Kemudian yang terakhir adalah rombongan 10 orang membawa serta menabuh gendang dan perkusi lainnya.Rombongan barongsai ini memainkan musik dan atraksinya tepat di depan istana raja Sriwijaya dan keramaian itu membuat puteri Siti Fatimah tertarik melihatnya.“Dayang, ada apa gerangan di luar sana? Seperti ada keramaian dan musik yang menarik?” Kata sang puteri.“Sepertinya ada rombongan penari barongsai tuan puteri. Kabarnya sudah dua hari mereka berlabuh di dermaga dipimpin oleh pangeran tampan dari Cina.” Kata si dayang.“Oh, aku ingin sekali melihat atraksi mereka dayang. Mari kita ke pintu gerbang!” Dan puteri Siti Fatimah bersama dayang serta beberapa pengawal menonton pertunjukan barongsai itu sambil bertepuk tangan senang sekali.“Wah, tarian dan gerakan silat serta musik kalian begitu indah sekali, dari manakah gerangan tuan?” Tanya sang puteri.“Haiya..Saya Tam Bun An dari negeri Cina, ingin sekali bertemu dengan puteri Siti Fatimah yang cantik jelita. Segala musik dan gerak tari serta gerakan kung-fu yang tadi kami peragakan, semuanya untuk dipersembahkan pada sang puteri jelita…Haiya..”“Oh, terima kasih pangeran tampan. Kalau boleh saya tahu apakah maksud kedatangan pangeran ke mari ?” Tanya sang puteri dengan pipi merona merah.“Haiya….Saya datang kemari hanya untuk satu tujuan menemui sang puteri Siti Fatimah yang kabarnya seperti bidadari. Ternyata kabar itu benar sekali, saya malahan seperti melihat 7 bidadari dari kahyangan. Haiya…” Sang pangeran merayu, membuat puteri tambah malu-malu. Begitu banyak pangeran di nusantara yang menyatakan rasa suka, namun baru sekali ini hati puteri Siti Fatimah menjadi bergelora oleh rasa cinta.Seperti sudah ada perasaan kenal lama, keduanya pun saling suka dan dalam 3 kali pertemuan bertekad menyatukan cinta.Lalu ada bangsawan istana yang pernah ditolak cintanya oleh Siti Fatimah iri hati dan memberitahukan ke raja tentang hal ini. Dia mengatakan bahwa sang pangeran mau membawa puteri pergi ke negeri Cina.“Cepat panggil pangeran Cina itu menghadapku!” Kata Raja Bhumi Sriwijaya.“Hamba menghadap raja.” Kata sang pangeran Cina.“Apa benar kau dan puteriku Siti Fatimah saling mencinta?”“Benar raja. Hamba benar-benar mencintai puteri raja yang gagah perkasa.”“Anak muda, adat istiadat kita berbeda dan beta tidak bersedia anakku kau bawa ke negeri Cina!” Kata sang Raja.“Haiya…Saya sudah belajar adat istiadat sini raja dan saya bersedia tinggal dan bekerja dagang di Bhumi Sriwijaya duhai raja.” Sang pangeran Cina menyanggupi.“Kalau begitu duduk perkaranya. Baiklah, kau boleh menjadi menantuku dengan syarat, kau memberikan uang mahar sejumlah 9 guci besar berisi emas untuk meminang puteriku.” Kata sang raja.“Baiklah raja, permintaan raja akan saya sampaikan.”Lalu pangeran membuat surat yang dititipkan ke merpati pos yang terbang sampai ke istana orang tuanya di negeri Cina.Ayahanda sang pangeran mengirim surat balik dan menyatakan menyanggupinya.Lalu bangsawan Cina itu mengirimkan 9 buah guci berisi emas batangan. Akan tetapi supaya jangan diincar oleh penjahat bajak laut dari Somalia, maka ayah si pangeran memerintahkan, “Masukkan sayur-mayur di bagian paling atas guci-guci itu, supaya para bajak laut Somalia tidak tertarik merampok dan menguasai kapal kita”.“Perintah dilaksanakan tuan!” Kata si pelayan bangsawan Cina.Dan 2 bulan kemudian, sampailah kapal beserta 9 guci itu ke Bhumi Sriwijaya. Pangeran dengan bahagia menyampaikan kabar itu pada puteri Siti Fatimah dan ayahandanya.“Haiya…Sembilan guci kiriman ayahanda sudah datang tuanku Raja. Mari kita ke kapal untuk melihatnya.”“Mari para pengawal dan puteriku. Kita pergi ke dermaga.” Kata sang raja.“Haiya…Itu guci ada 9 dan besar-besar sekali. Itu persembahan dari papa dan mama saya tuanku raja..” Si pangeran Tam Bun An pun tertawa senang.Tetapi saat dia membuka ke 9 guci tersebut, dia melihat isinya hanya sayur-sayuran yang sudah membusuk.“Ha? Kenapa papa dan mama tega berbuat seperti ini? Papa dan mama berjanji kirimkan 9 guci berisi emas untuk meminang kekasihku Siti Fatimah? Tetapi kenapa dikirimkan sayur-sayuran dalam guci-guci ini? Maaf, saya malu tuanku raja. Biarlah saya buang guci-guci ini ke Sungai Musi. Papa dan mama jahat sekali dengan aku anaknya”“Sudahlah, kakanda. Janganlah berburuk sangka dengan ayahanda di Cina sana. Mungkin saja ada orang lain yang jahat menukar isinya dengan sayur-sayuran. Jangan marah dengan orang tua kakanda.” Kata sang puteri menyabarkannya.“Tidak bisa! Ini benar-benar kelewatan. Saya benci pada papa dan mama saya. Saya buang saja guci-guci bersayur busuk itu!” Sang pangeran pun melempar guci-guci yang berat itu ke sungai.Satu! Dua! Tiga!4,5,6,7,8…….Dan Saat guci ke-9 dia angkat, pangeran Tam Bun An sudah kecapaian. Lalu guci terlepas dan pecah di lantai kapal.“Olala…..Tampaklah diantara pecahan guci itu emas batangan yang berkilauan.“Ha? Emas batangan?”“Iya, kakanda, ternyata benar papa dan mama kakanda mengirimkan emas-emas batangan di guci-guci lainnya juga. Sayur-sayuran tadi hanya untuk mengelabui saja kakanda.” Kata puteri Siti Fatimah.“Ya, sudahlah pangeran. Saya percaya akan niat baik orang tuamu. Biarlah saja guci-guci yang sudah jatuh ke Sungai Musi itu. Tanpa itu semua kau masih kuijinkan menikahi puteriku.” Kata Raja.“Tidak tuanku Raja. Saya menyesal telah berburuk sangka dengan papa dan mama di Cina. Saya telah durhaka memarahi mereka. Biarlah saya mengambil kembali semua emas-emas yang saya buang ke sungai itu. Tunggu aku adinda.” Dan walaupun sudah berusaha dicegah oleh puteri dan pengawal istana pangeran Tam Bun An tetap terjun ke Sungai Musi.Satu jam, dua jam, setengah hari pangeran Tam Bun An tidak muncul-muncul lagi.“Kanda, saya sangat mencintai kakanda. Saya akan menyusul kakanda mencari emas itu. Bila saya tidak kembali dan muncul endapan tanah di tengah sungai ini, anggaplah itu tempat kami berdua memadu janji.” Lalu tanpa diduga si puteri pun melompat ke Sungai Musi dan tidak muncul-muncul lagi.Bertahun-tahun kemudian, lambat laun muncullah endapan tanah di tempat kedua kekasih itu terjun di tengah Sungai Musi.Di sana dibuatkan oleh penduduk setempat sebuah kelenteng dan sebuah mesjid tempat sembahyang yang berdampingan.Setiap perayaan Cap Go Meh pulau itu ramai dikunjungi warga Palembang.Nah, adik-adik, dari cerita ini dapat diambil pelajaran adalah: Jangan sekali-sekali menganggap jelek pemberian orang tua kepada kita dengan marah-marah dan mencaci makinya. Mungkin saja menurut kalian pemberian atau didikannya tidak cocok dengan yang kau inginkan. Akan tetapi pasti ada nilai kebaikan di dalamnya yang walaupun tidak langsung terlihat manfaatnya saat ini, tetapi akan tampak bersinar terang-benderang pada waktunya nanti.Ingatlah! Semua orang tua yang baik pasti akan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.Sekian dan terima kasih.
Ratu Bagus Kuning dan Siluman Kera
Pada abad ke 16 wilayah Batanghari Sembilan, Sumatra Selatan, agama Islam mulai menyebar, Salah satu tokoh penyebaranya adalah Bagus Kuning, murid Walisongo, Ia merupakan perempuan suci yang mempunyai kesaktian tinggi.Saat memasuki wilayah, Batanghari untuk menyebarkan agama Islam, ia pun harus berhadapan dengan para pendekar, Namun, ia bisa mengalahkan para pendekar itu.Para pendekar itu pun akhirnya memeluk agama Islam dan di jadikan penghulu oleh Bagus Kuning.Ada sebelas penghulu yang jadi pengikut setia Bagus Kuning. Mereka adalah Kuncung Emas, Datuk Buyung, Panglima Gede, Panglima Bisu. Syekh Akbar , Panglima Apo, Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Idrus, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Salaku dan Bujang Juara.Setelah mengusai wilayah Batanghari, Putri Bagus Kuning dan pengikutnya beristirahat, Tempat itu terletak di sebuah dataran yang letaknya di bagian hulu kota Palembang.Teryata tempat itu merupakan kerajaan siluman kera, Para siluman itu tergganngu dengan kehadiran rombongan Putri Bagus Kuning, lalu menakut - nakuti mereka .Putri Bagus Kuning menjelaskan bahwa mereka hanya beristirahat, Namun, para siluman kera tidak peduli dan menyerang mereka.Kemudian, terjadilah perkelahian antara dua kelompok itu, Wahai Raja Siluman, begini saja lebih baik pertarungan ini hanyalah antara kau dan aku sebagai pemimpin. Aku tak ingin pengikutku menjadi korban, Siap pun yang kalah harus tunduk kepada yang menang, kata Putri Bagus Kuning.Raja Siluman kera menyanggupinya,Pertarungan berlangsung sengit, Dengan kesaktianaya, Putri bagus Kuning bisa mengalahkan Raja siluman Kera. Raja Siluman kera itu pun bersujud memberi hormat di ikuti seluruh rakyatnya.Kalian tak perlu bersujud kepadaku, Hanya Allah yang patut disembah... ujar Putri Bagus Kuning, Setelah itu Putri Bagus Kuning dan pengikutnya menetap di sana, Mereka membangun kerajaan. Putri Bagus Kuning menjabat sebagai ratu.Hingga akhir hayatnya, Ratu Bagus Kuning tidak pernah menikah, Ketika Ratu Bagus Kuning wafat. para pengikutnya tetap setia menyebarkan ajaran Islam ke wilayah - wilayah lain. Makam Ratu Bagus Kuning di percaya ada sampai sekarang. Tempatanya terletak di dalam kompleks Perumahan Bagus Kuning di Plaju, Palembang di tempat itu, masih berkelian kera- kera jinak yang jumblahnya tidak bertambah ataupun berkurang. Menurut sebagian masyarakat kera - kera tersebut adalah keturunan kera - kera siluman pengikut Ratu bagus Kuning.
Semesat Dan Semesit
Alkisah, di daerah Sumatra Selatan tersebutlah seorang raja yang sudah beberapa tahun menduda. Permaisurinya meninggal tidak lama setelah melahirkan kedua putra mereka yang kembar. Kini, kedua putranya yang diberi nama Semesat dan Semesit tersebut telah beranjak remaja. Setiap hari kedua putra raja itu kerjanya hanya bermain bola. Saking gemarnya bermain bola, mereka terkadang lupa makan dan tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Sang Raja sangat sedih melihat perilaku kedua putra kesayangannya itu. Ia ingin sekali mendidik mereka, namun ia tidak mempunyai waktu karena sibuk mengurus tugas-tugas kerajaan. Oleh karena itu, ia menikah lagi dengan harapan ada orang yang bisa merawat dan mendidik kedua putranya.Namun, harapan sang Raja hanya tinggal harapan. Permaisurinya yang baru itu bersedia menikah dengan dirinya karena hanya menginginkan harta dan kedudukan. Ia tidak senang terhadap Semesat dan Semesit yang kerjanya hanya bermain bola. Akan tetapi, sikap ketidaksenangannya terhadap kedua anak tirinya itu tidak diperlihatkan kepada sang Raja.Suatu pagi, sang Raja akan mengadakan rapat di Balai Panjang. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada permaisurinya, “Wahai, permasuriku! Tolong siapkan jamuan makan siang untuk para peserta rapat!”“Baiklah Kanda, Dinda akan menyiapkan makan siang secukupnya!” jawab permaisuri Raja.Setelah sang Raja berangkat, permaisuri bukannya menyiapkan jamuan makan siang, melainkan mengambil cabe merah lalu mengoleskannya pada wajahnya. Dalam sekejap, seluruh wajahnya menjadi bengkak dan memerah. Begitu hari menjelang siang, rombongan peserta rapat pun datang hendak makan siang. Alangkah kecewa dan malunya sang Raja karena tak sedikit pun hidangan makan siang yang tersedia. Sang Raja pun menjadi murka dan marah kepada permaisurinya.“Dinda, apakah Dinda tidak mendengar pesan Kanda tadi pagi? Kenapa Dinda tidak menyediakan hidangan makan siang?” tanya sang Raja dengan wajah merah.“Ampun, Kanda! Kanda jangan marah dulu. Coba lihatlah wajah Dinda ini!” jawab permaisurinya sambil menunjukkan wajahnya kepada sang Raja.“Hai, apa terjadi dengan wajahmu? Kenapa bisa bengkak dan merah seperti itu?” tanya sang Raja dengan heran.“Ampun, Kanda! Semua ini terjadi akibat dari ulah Semesat dan Semesit,” jawab permaisuri dengan nada mengadu.“Apa yang mereka lakukan terhadap Dinda?” tanya sang Raja penasaran.“Begini, Kanda! Ketika mereka sedang asyik bermain bola, tiba-tiba bola mereka melesat dengan kencang dan mengenai wajah Dinda,” ungkap permaisuri.“Sekarang Kanda boleh menentukan pilihan, mau memilih Dinda atau kedua putra Kanda. Jika Kanda masih sayang kepada Dinda, maka buanglah mereka ke tengah hutan. Sebaliknya, jika Kanda masih menyayangi mereka, Dinda pun siap untuk dibuang,” hasut permaisuri.Rupanya, sang raja termakan oleh hasutan itu sehingga ia percaya begitu saja pada ucapan permaisurinya tanpa terlebih dahulu mencari tahu kenyataan yang sebenarnya.“Baiklah, Kanda lebih memilih Dinda. Semesat dan Semesit harus diberi pelajaran. Mereka harus kita asingkan ke tengah hutan,” tegas sang Raja.Keesokan harinya, Semesat dan Semesit pun diasingkan ke hutan. Betapa senangnya hati permaisuri terhadap keputusan yang diambil sang Raja. Dalam hatinya ia berkata bahwa tidak ada lagi orang yang akan menghalanginya untuk menguasai seluruh harta kerajaan karena kedua pewarisnya telah pergi.Sementara itu, Semesat dan Semesit terus berkelana keluar masuk hutan. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan dengan menyeberangi sungai, menaiki dan menuruni lembah-lembah. Suatu hari, sampailah mereka di sebuah hutan yang di dalamnya terdapat berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur dan burung-burung yang berkicauan. Kedua putra raja yang malang itu memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar dan rindang. Mereka duduk seraya menyandarkan tubuh pada batang pohon itu. Semesit pun langsung tertidur lelap karena kelelahan setelah berhari-hari menempuh perjalanan jauh. Sementara Semesat masih tetap terjaga. Walaupun badannya terasa lelah, ia sulit untuk memejamkan matanya karena memikirkan nasib mereka.“Sungguh malang nasib kami ini. Kenapa ayahanda lebih percaya kepada permaisurinya dari pada putranya? Oh Tuhan, berilah kami petunjuk-Mu!” keluh Semesat dalam hati.Selang beberapa waktu setelah Semesat berucap begitu, tiba-tiba seekor burung datang bertengger di atas pohon tempat mereka berteduh. Ajaibnya, burung itu dapat berbicara seperti manusia dan berpesan kepada Semesat.“Siapa yang memakan dagingku ini, maka dia akan menjadi kaya mendadak,” ucap burung itu.Tanpa berpikir panjang lagi, Semesat langsung mengambil batu lalu melempar burung itu hingga terjatuh dari atas pohon. Ketika ia akan mengambil burung itu, tiba-tiba datang lagi seekor burung bertengger di atas pohon itu dan berpesan kepada Semesat.“Barang siapa yang memakan dagingku, entaklah lemak nanggung kuda (menderita dulu baru kemudian mendapat bahagia),” ucap burung itu.Semesat pun kembali mengambil dan melempar burung itu hingga terjatuh dari atas pohon. Setelah mengambil kedua burung tersebut, ia segera membangunkan adiknya seraya menceritakan perihal kedua burung yang diperolehnya itu. Semesat kemudian menyerahkan salah satu dari burung itu kepada adiknya.“Wahai, Adikku! Ambillah burung yang pertama ini agar Adik cepat menjadi orang kaya! Biarlah Abang memilih burung yang kedua ini. Tidak apa-apa Abang menderita dulu baru bahagia,” ujar Semesat.Setelah memamakan burung tersebut, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka terus menyusuri hutan belantara hingga akhirnya tiba di sebuah negeri. Menurut cerita, raja di negeri itu baru saja wafat dan belum ada penggatinya dan penduduk negeri mengangkat Semesit menjadi raja. Sementara Semesat melanjutkan perjalanan hingga tiba di daerah paling ujung negeri adiknya. Di sanalah ia tinggal menetap dengan keadaan hidup miskin. Untuk bertahan hidup, ia memakan hasil-hasil hutan yang tersedia di sekitarnya.Suatu hari, Semesat secara tidak sengaja mengambil buah dari hasil kebun penduduk di sekitarnya karena mengira pohon itu tidak ada pemilikinya. Akhirnya, ia pun dituduh sebagai pencuri dan dibawa oleh penduduk menghadap kepada Raja Semesit untuk diadili. Raja Semesit tidak mengetahui bahwa pemuda itu adalah kakaknya. Ia pun menghukumnya dengan cara menguburnya setengah badan di dalam sekam yang disebut Bujud Keling.Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar tentang seorang putri yang cantik jelita di negeri seberang lautan hendak mengadakan sayembara mencari jodoh. Isi sayembara tersebut adalah barangsiapa yang dicium oleh kuda milik sang putri maka dialah yang berhak menikah dengan putri itu. Raja Semesit yang mendengar kabar itu segera memerintahkan pengawalnya agar menyiapkan kapal untuk berangkat ke negeri itu.Pada saat hari menjelang siang, berangkatlah Raja Semesit bersama para pengawalnya dengan membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi untuk dipersembahkan kepada sang putri. Begitu berada di tengah-tengah laut, kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba kandas sehingga mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan.“Hai, Pengawal! Apa yang terjadi dengan kapal ini?” tanya Raja Semesit bingung.“Ampun, Baginda! Jika Baginda ingin tetap melanjutkan perjalanan, sebaiknya Baginda membawa Bujud Keling,” kata seorang pengawal.Raja Semesit pun segera memerintahkan pengawalnya agar memutar haluan kapal kembali ke istana untuk mengambil Bujud Keling. Setelah memasukkan Bujud Keling ke dalam karung, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya selamat sampai di negeri seberang. Di sana para raja dan pangeran dari berbagai negeri telah berkumpul untuk mengikuti sayembara. Sang Putri tampak sedang duduk di depan istana bersama keluarganya. Di halaman istana tampak pula kuda kesayangan sang putri sedang ditambatkan di bawah sebuah pohon.Begitu gong dibunyikan sebagai pertanda acara sayembara dimulai, sang putri segera menunggangi kudanya. Kuda itu kemudian berjalan di antara para peserta untuk mencarikan jodoh yang cocok bagi tuannya. Kuda itu sudah hampir melewati seluruh peserta, namun belum satu pun yang diciumnya. Ketika akan melewati tempat duduk Raja Semesit, kuda itu tiba-tiba berhenti. Hati sang raja pun mulai berdebar kencang karena mengira dirinyalah yang akan dicium oleh kuda itu. Namun, apa yang diharapkannya itu tidak terjadi. Kuda sang putri justru mencium-cium karung yang berisi Bujud Keling yang ada di belakang kursinya. Melihat hal itu, sang putri pun segera memerintahkan salah seorang pengawal istana untuk membuka karung itu.“Pengawal, bukalah karung ini! Jodohku ada di dalamnya,” seru sang putri.Begitu karung itu terbuka, keluarlah seorang pemuda yang dipenuhi dengan sekam. Raja Semesit pun tersentak kaget karena tidak mengira jika karung itu berisi manusia. Rupanya, ketika pengawal Raja Semesit memasukkan Bujud Keling ke dalam karung, pemuda itu ikut masuk ke dalamnya. Dengan perasaan jengkel, Raja Semesit pun berkata kepada seluruh orang yang hadir di tempat itu bahwa dirinyalah yang dicium oleh kuda sang putri, bukan Bujud Keling itu. Ia tidak rela jika pemuda Bujud Keling itu yang menjadi suami sang putri.“Aku tidak terima jika Tuan Putri menikah dengan pemuda Bujud Keling itu,” tegas Raja Semesit, “Pengawal, ayo kita tinggalkan tempat ini dan bawa pemuda itu kembali ke kapal!”Akhinya, Raja Semesit pulang dengan perasaan kecewa. Di tengah perjalanan, tiba-tiba timbul niat jahatnya ingin mencelakai pemuda yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Ia memerintahkan pengawalnya agar membuang pemuda itu ke laut. Tak ayal lagi, pemuda Bujud Keling itu pun menjadi santapan ikan besar. Namun ajaibnya, justru ikan itu yang mati dan terdampar di sebuah pantai di negeri sang putri. Ikan itu kemudian ditemukan oleh seorang nelayan. Alangkah terkejutnya nelayan itu pada saat membelah ikan itu. Ia mendapati seorang pemuda yang tidak asing lagi baginya.“Hai, Anak Muda! Bukankah engkau ini si pemuda Bujud Keling yang telah dicium oleh kuda sang putri?” tanya nelayan itu.“Benar, Tuan! Nama saya Semesat, kakak kandung Raja Semesit,” ungkap Semesat.“Syukurlah kalau begitu, Tuan. Mari hamba antar untuk menemui sang putri. Beliau telah menunggumu di taman bunga istana,” ujar nelayan itu.Akhirnya, Semesat menikah dengan sang putri. Beberapa hari setelah menikah, Semesat membuka rahasianya kepada sang istri. Sang putri pun tersentak kaget dan hampir tidak percaya terhadap hal itu. Setelah itu, Semesat bersama istrinya pergi menemui Raja Semesit untuk membuka rahasia tersebut.“Ketahuilah Adikku, pemuda Bujud Keling yang telah kamu buang ke laut beberapa waktu yang lalu adalah saya, dan saya ini adalah kakak kandungmu, Semesat,” ungkap Semesat.Raja Semesit tersentak kaget mendengar keterangan kakaknya itu. Ia sangat menyesal karena tidak mengetahui akan hal itu. Dengan berderai air mata, Raja Semesit pun langsung merangkul kakaknya.“Maafkan aku, Bang! Adik sangat menyesal karena telah memperlakukan Abang dengan kasar,” ucap Raja Semesit dalam pelukan sang abang.“Sudahlah, Adikku! Ini sudah menjadi takdir. Abang memang harus menderita dulu baru merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kurasakan saat ini,” kata Semesat dengan perasaan haru.Menurut cerita, Raja Semesit mengundurkan diri dan mengangkat kakaknya sebagai raja. Raja Semesat dengan dibantu Semesit memerintah negeri itu dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup damai dan tenteram.Pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya akan mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa, baik langsung maupun tidak langsung. Pesan moral lainnya adalah bahwa sesama saudara harus selalu saling menolong dan menghargai seperti Semesat dan Semesit.
Raden Alit
Alkisah, di Negeri Tanjung Kemuning, Sumatera Selatan, tersebutlah seorang raja bernama Ratu Ageng yang menikah dengan seorang Dewa Kahyangan. Mereka tinggal di langit dan telah dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Kuning dan Raden Alit, serta seorang putri bernama Dayang Bulan. Ketiga anak raja tersebut saling menyayangi satu sama lain. Raden Kuning dan Raden Alit adalah orang yang sakti mandraguna. Sejak kecil hingga dewasa, mereka berguru berbagai macam ilmu kesaktian kepada Nenek Dewi Langit.Setelah hampir dua puluh tahun menjalani kehidupan di Langit, Ratu Ageng merasa rindu ingin kembali ke Bumi. Oleh karena itu, ia bermaksud mengajak seluruh keluarganya pindah ke Bumi.“Wahai, permaisuri dan anak-anakku! Entah kenapa, tiba-tiba Ayah merasa rindu pada tanah kelahiran Ayah. Ayah ingin sekali kembali ke bumi dan hidup di sana. Apakah kalian merasa keberatan jika Ayah mengajak kalian turut serta ke Bumi?” tanya Ratu Ageng.“Tentu tidak, Ayah! Aku akan ikut bersama Ayah ke Bumi. Bukankah kami semua anak-anak Ayah belum pernah melihat tempat kelahiran Ayah?” kata Raden Alit.“Benar, Ayah! Kami juga ikut!” sahut Raden Kuning dan Dayang Bulan serentak.Ratu Ageng tersenyum gembira mendengar jawaban putra-putrinya. Ia sangat memahami perasaan mereka karena ketiga anaknya tersebut dilahirkan di Langit sehingga sejak kecil mereka tidak mengetahui tentang kehidupan di bumi.“Baiklah kalau begitu! Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke Bumi,” ujar Ratu Agung.Keesokan harinya, berangkatlah Ratu Ageng bersama keluarga serta sejumlah pengawalnya ke Bumi. Di Bumi, mereka membangun sebuah istana yang tidak begitu megah sebagai tempat tinggal mereka. Ratu Ageng beserta keluarga dan para pengikutnya hidup layaknya manusia bumi pada umumnya.Selang beberapa tahun tinggal di Bumi, malapetaka menimpa keluarga Ratu Ageng. Putrinya Dayang Bulan meninggal dunia lantaran digigit ular lidi. Kematian putrinya itu membawa duka yang dalam bagi Ratu Ageng dan permaisurinya. Namun, Raden Kuning dan Raden Alit tidak dapat menerima kematian saudara perempuan mereka itu. Mereka yakin bahwa Dayang Bulan belum saatnya meninggal. Oleh karena itu, keduanya memohon izin kepada sang ayahanda untuk pergi mencari Dayang Bulan.“Ampun, Ayah! Kami yakin Dayang Bulan belum meninggal, Ayah! Izinkanlah Ananda dan Raden Kuning untuk pergi mencarinya!” pinta Raden Alit.“Wahai, Anakku! Bukankah kalian menyaksikan sendiri bahwa Dayang Bulan telah meninggal dan dimakamkan di kebun bunga?” ujar Ratu Ageng.“Benar, Ayah! Tapi kami yakin bahwa yang dimakankan pada saat itu hanya bayangannya saja. Wujud aslinya telah diculik oleh seseorang yang sakti mandraguna,” sahut Raden Kuning.Pada mulanya, Ratu Ageng tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh kedua putranya itu. Namun, karena Raden Kuning dan Raden Alit terus mendesaknya, akhirnya Ratu Ageng mengizinkan mereka untuk mencari Dayang Bulan.Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, berangkatlah Raden Kuning dan Raden Alit mencari Dayang Bulan. Mereka berjalan selama berbulan-bulan tanpa tentu arah. Begitu mereka tiba di sebuah pantai, terlihatlah sebuah rejung, yaitu kapal besar dan megah, yang sedang berlabuh. Seketika itu pula mereka langsung melompat ke atas rejung itu karena mengira Dayang Bulan berada di dalamnya. Namun, setelah memeriksa seluruh ruangan di kapal itu mereka hanya menemukan dua orang laki-laki sedang tidur di dalam sebuah kamar. Raden Kuning pun membangunkan kedua orang itu seraya bertanya kepada mereka.“Wahai sahabat, siapakah kalian ini! Mengapa rejung kalian berhenti di pantai ini?”“Maaf, sahabat! Kami tertidur karena kelelahan setelah cukup lama dalam perjalanan mencari saudara perempuan kami yang bernama Dayang Ayu,” jawab salah seorang pemilik kapal yang bernama si Ulung Tanggal.“Kalau kami boleh tahu, bagaimana saudara perempuan kalian bisa hilang?” tanya Raden Alit.“Begini, sahabat,” sahut adik si pemilik kapal yang bernama Serincung Dabung. “Saudara perempuan kami telah meninggal karena digigit ular lidi. Namun, kami yakin bahwa dia sebenarnya tidak meninggal. Ia diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Putih.”“Hai, sahabat! Bagaimana kamu bisa tahu kalau putra raja itu yang menculik saudara perempuan kalian?” tanya Raden Kuning penasaran.Rupanya, Serincung Dabung adalah seorang ahli nujum. Raden Kuning dan Raden Alit pun meminta bantuan kepadanya untuk mencari tahu keberadaan Dayang Bulan. Setelah Serincung Dabung melakukan nujum, akhirnya diketahui bahwa Dayang Bulan juga diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Hitam.Keempat orang tersebut ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari saudara perempuan mereka yang diculik oleh kedua putra Raja Negeri Salek Alam. Namun, karena Serincung Dabung tidak dapat menerawang letak Negeri Salek, akhirnya mereka pun berpencar. Si Ulung Tunggul berjalan di atas Kahyangan, Raden Kuning terbang di angkasa bagai burung, dan Serincung Dabung berjalan di dalam air.Sementara itu, Raden Alit berjalan di daratan dengan menyusuri hutan belantara serta menaiki dan menuruni bukit. Dalam perjalanannya, Raden Alit bertemu dengan seorang nenek yang berpakaian sangat rapi.“Nenek hendak pergi ke mana?” tanya Raden Alit.“Nenek hendak ke pesta pernikahan, Cucuku!” jawab nenek itu.“Siapa yang akan menikah, Nek?” tanya Raden Alit ingin tahu.“Putra Raja Negeri Salek Alam, Malim Hitam dan Malim Putih,” jawab nenek itu.“Maaf, Nek! Kalau boleh saya tahu, mereka menikah dengan siapa?” tanya Raden Alit penasaran.“Malim Hitam akan menikah dengan Dayang Bulan sedangkan Malim Putih akan menikah dengan Dayang Ayu,” jawab nenek itu.Mendengar jawaban nenek itu, Raden Alit pun semakin yakin bahwa Dayang Bulan dan Dayung Ayu masih hidup. Maka dengan kesaktiannya, Raden Alit menyamar menjadi budak banden, yaitu merubah bentuk wajahnya. Setelah itu, berangkatlah ia ke Negeri Salek Alam.Setibanya di negeri itu, Raden Alit bertemu dengan Raja Jin dan menceritakan maksud kedatangannya ke negeri itu. Raja Jin itu sangat baik hati dan dan mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Salipuk Jantung Pandan. Raden Alit pun langsung jatuh hati kepadanya pada saat pandangan pertama. Dalam waktu singkat, mereka langsung menjalin hubungan kasih dan berjanji akan menikah. Dengan hubungan itu, Raden Alit pun semakin dekat dengan keluarga Raja Jin. Raden Alit kemudian meminta pertolongan kepada Raja Jin untuk membebaskan Dayang Bulan dan Dayung Ayu.Dengan kesaktiannya, Raja Jin merubah bentuk Dayang Bulan dan Dayung Ayu menjadi dua tangkai bunga sebelum mereka naik ke pelaminan. Kemudian, tanpa sepengetahuan Malim Hitam dan Malim Putih, Raden Alit berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar Dayang Bulan dan Dayung Ayu. Begitu ia masuk ke dalam kamar tersebut tampaklah dua tangkai bunga yang tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, Raden Alit segera mengambil kedua tangkai bunga yang merupakan perwujudan Dayang Bulan dan Dayung Ayu tersebut.Namun, begitu Raden Alit keluar dari kamar, tiba-tiba Malim Hitam dan Malim Putih datang menghadangnya.“Hai, siapa kamu dan mau dibawa ke mana calon istri kami!” seru Malim Hitam dengan wajah memerah.“Serahkan kedua tangkai bunga itu! Atau kami akan menghajarmu!” tambah Malim Putih dengan geramnya.“Tidak! Aku tidak akan menyerahkan kedua tangkai bunga ini. Kalian telah menculik saudara perempuan kami,” bantah Raden Alit.Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Pada mulanya, Raden Alit masih mampu mengimbangimbangi kesaktian kedua putra Raja Negeri Selak Alam tersebut. Namun, setelah pertempuran tersebut berlangsung selama berhari-hari, akhirnya Raden Alit kewalahan dan terlempar ke langit. Untungnya, pintu langit ketika itu terbuka sehingga ia tidak jatuh terhempas ke bumi. Akhirnya, Raden Alit menemui Nenek Dewa Langit untuk meminta pertolongan.“Ampun, Nenek Dewa! Tolonglah aku agar bisa mengalahkan kedua musuhku, Malim Hitam dan Malim Putih, yang ada di Bumi!” pinta Raden Alit.“Wahai, Cucuku Raden Alit! Kedua musuhmu itu tidak dapat dibunuh. Akan tetapi, kamu bisa melemparkannya ke langit. Setibanya di langit, aku akan memasukkan mereka ke dalam sangkar besi,” ujar Nenek Dewa Langit.“Baiklah, Nek! Izinkanlah aku kembali ke Bumi!” pamit Raden Alit.Setibanya kembali di Bumi, Raden Alit mengeluarkan seluruh kesaktiannya sehingga mampu melemparkan kedua musuhnya tersebut ke langit. Begitu mereka tiba di langit, Nenek Dewa segera memasukkannnya ke dalam sangkar besi yang telah disiapkan sebelumnya sehingga mereka tidak dapat lagi kembali ke bumi. Sementara itu, Dayang Bulan dan Dayung Ayu kembali berwujud manusia.Tak berapa lama kemudian, datanglah Raden Kuning, Si Ulung Tanggal, dan Serincung Dabung. Raden Alit kemudian menceritakan semua yang telah terjadi.“Terima kasih, Sahabat! Engkau telah menyelamatkan saudara perempuan kami Dayung Ayu,” ucap si Ulung Tanggal usai mendengar cerita Raden Alit.“Sama-sama, Sahabat! Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerjasama kita dan bantuan Raja Jin,” kata Raden Alit.“Hai, siapa Raja Jin itu?” tanya Serincung Dabung.“Dia adalah Raja Jin di negeri ini dan sangat baik hati,” jawab Raden Alit.Akhirnya, Raden Alit dan Si Ulung Tanggal bersaudara segera menemui Raja Jin untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah membantu mereka mengalahkan kedua putra Raja Negeri Selak Alam. Setelah itu, mereka berpamitan untuk kembali ke negeri masing-masing.Sementara itu, di istana, Ratu Ageng dan permaisurinya sudah berbulan-bulan diselimuti perasaan cemas menunggu kepulangan anak-anak mereka. Namun, begitu melihat Raden Kuning dan Raden Alit kembali bersama Dayang Bulan, keduanya tidak sanggup menahan rasa haru. Untuk menyambut kepulangan ketiga anaknya, Ratu Ageng mengadakan pesta besar-besaran selama tiga hari tiga malam.Usai pesta, Raden Alit datang menghadap kepada kedua orangtuanya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia telah mengikat janji untuk menikah dengan putri Raja Jin yang cantik itu. Akhirnya, Ratu Ageng beserta seluruh keluarganya datang ke tempat Raja Jin untuk mengadakan pesta perkawinan Raden Alit dengan Salipuk Jantung Pandan. Selanjutnya, Raden Alit dan istrinya pun hidup bahagia."Pesan Moral : ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pertama, sesama saudara harus saling menyayangi seperti yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raden Alit dan Raden Kuning, kedua, dengan kerjasama yang baik, maka kejahatan dapat ditumpas dengan mudah, dan ketiga, orang yang berbuat jahat akan menanggung sendiri akibatnya, seperti Malim Hitam dan Malim Putih yang mendapat hukuman dari Nenek Dewa karena mereka telah menculik Dayang Bulan dan Dayung Ayu
The Video Will
Salah satu rekan kerjaku meninggal baru-baru ini. Namanya adalah K. Kami cukup dekat dan dia terkadang mengajakku untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.Hobi K adalah mendaki gunung. Dia benar-benar antusias soal itu dan menghabiskan banyak waktu senggangnya untuk mendaki. Kapanpun ia punya hari libur, dia akan memilih untuk mendaki gunung atau tebing. Itu adalah kegemarannya.Kira-kira setengah tahun sebelum ia meninggal, K memberitahuku sesuatu yang aneh.“Aku ingin kamu untuk membantuku membuat video untukku, jaga-jaga jika aku meninggal.”K tahu kalau hobinya berbahaya dan dia bisa kehilangan hidupnya, jadi dia ingin merekam pesan video. Saat dia meninggal, dia ingin aku menunjukkannya pada keluarganya.Aku memberitahunya kalau itu berbahaya, dia harus berhenti karena dia harus memikirkan keluarganya. Tapi K menolak, dan berkata bahwa dia tidak akan berhenti mendaki. Aku tahu tidak ada gunanya untuk menghentikannya, jadi aku menyetujui untuk merekam video.Kami memutuskan untuk merekam video di apartemenku. K duduk di sofa dengan dinding putih sebagai latar belakang. Aku menekan tombol “Record” dan K mulai berbicara.“Uh… Ini K.” katanya. “Jika kamu menonton video ini, itu artinya aku sudah meninggal. Aku minta maaf karena telah menyusahkan semuanya, tapi aku harus meneruskan hobiku. Untuk istri dan anakku, terima kasih banyak atas segalanya.”“Untuk ayah dan ibuku, terima kasih telah merawatku. Untuk teman-temanku, terima kasih sudah ada untukku. Aku tahu kalian sedih karena kematianku, tapi tolong jangan sedih. Aku senang ada di surga. Aku menyesal aku tidak bisa bertemu kalian semua lagi, tapi aku akan mengawasi kalian dari surga.”“Untuk anakku, ayah akan mengawasimu dari atas selamanya, jadi jangan menangis. Tolong tersenyumlah dan katakan selamat tinggal. Selamat tinggal untuk kalian semua…”Aku mengehentikan rekaman videonya.Tentu saja, saat kami membuat video itu, K terlihat sangat sehat. Meskipun, enam bulan kemudian dia meninggal karena kecelakan pendakian.Berdasarkan teman mendakinya, kecelakaan itu disebabkan karena dia terpeleset saat mendaki. Biasanya, mereka menyediakan jaring keselamatan di area bawah mereka mendaki jaga-jaga kalau ada yang terjatuh. Saat K terjatuh, dia terjatuh cukup jauh dari jaring keselamatan. Mereka bilang kecelakaan itu tidak bisa dihindari.Upacara pemakamannya sangat menyedihkan. Istri dan anak K menangis histeris. Begitu juga keluarganya. Aku bahkan tidak percaya kalau K benar-benar meninggal.Seminggu kemudian, aku memutuskan kalau ini saatnya menunjukan video itu kepada keluarga K. Sudah banyak waktu berlalu, mereka sudah tenang dan kerabatnya bilang jika ada pesan video dari K, mereka ingin melihatnya.Aku memasukan rekamannya dan menekan tombol “Play”. Keluarganya mulai menangis.Layarnya hitam dan terdengar suara melengking tinggi dari speaker. Sesaat, aku kira videonya gagal diputar.Kemudian, wajah K tiba-tiba muncul dari kegelapan dan dia mulai berbicara.Aku merasa aneh. Kami merekam video itu di apartemenku dengan latar belakang dinding putih, tapi sekarang K dikelilingi kegelapan.“Uh… Ini K.” katanya. “Kalau kamu menonton video ini,… … … Aku meninggal. Untuk istri dan anakku, … … … … untuk segalanya.”Bersamaan dengan K berbicara, suara dengungan terus terdengar semakin keras sampai suara K sangat sulit didengar.“Untuk ibu dan ayahku… … … Untuk teman-temanku… … … Aku tahu kalian sedih karena kematianku, tapi… … … Aku tidak ingin mati! AKU TIDAK INGIN MATI! AKUTIDAKINGINMATIIIIII!!!!!!!”Semua orang yang menonton video itu merinding.Suara dengungan itu terdengar semakin keras.“BUZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ!!!!!!”K terus menerus berteriak.“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!!”Suara dengungan dan teriakan itu tergabung menjadi satu suara yang mengerikan. Itu terdengar seperti orang yang disiksa sampai mati.Sesaat sebelum video itu berakhir, terlihat sesuatu dari kegelapan muncul. “Sesuatu” itu mengambil tangan K dan menyeretnya.Layarnya menjadi hitam. Semua keluarganya menangis dan gemetar. Istrinya berteriak padaku, bertanya mengapa aku bisa menunjukkan sesuatu seperti itu kepada mereka. Ayah K memukulku. Salah satu teman K mencoba menenenangkan mereka dengan berkata bahwa aku bukan tipe orang yang memainkan gurauan di saat seperti ini.Aku meminta maaf kepada semua orang dan berkata kepada mereka kalau mungkin rekaman itu hancur. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi.Hari berikutnya, aku membawa rekaman itu ke kuil Budha dekat rumahku. Saat pendeta melihat ke kantong yang terisi rekaman video itu, dia berkata, “Oh, mustahil untuk kita menyelesaikannya disini.”Dia berkata padaku untuk membawa itu ke tempat yang berbeda dimana mereka bisa melakukan “pembersihan spiritual”. Saat aku kesana, mereka memberitahuku, “Kau membawa sesuatu yang berbahaya!”Mereka bilang, bahwa K diseret ke neraka saat aku merekam video itu. Mereka berkata mereka tidak tahu bagaimana K bisa bertahan hidup 6 bulan setelah kami merekam video itu. Dia seharusnya meninggal tepat setelah video itu direkam.
Eyeless Jack
Halo, namaku Mitch. Aku akan bercerita pada kalian tentang pengalamanku. Aku tidak yakin apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang berbau paranormal atau apapun istilah tepatnya, namun setelah “sesuatu” itu datang kepadaku, aku menjadi percaya akan hal-hal yang berkaitan dengan paranormal.Satu minggu setelah aku pindah bersama kakakku, Edwin, setelah rumahku disita, aku telah selesai berkemas. Edwin cukup setuju dengan ide aku pindah bersamanya mengingat kami sudah tidak saling berjumpa sejak 10 tahun lamanya, aku juga merasa senang dengan hal ini. Aku tertidur dengan pulas setelah semua barang-barangku masuk ke dalam rumah. Setelah satu minggu, aku mendengar suara gemerisik dan berdesir dari arah luar rumah sekitar pukul satu dini hari. Kupikir suara tersebut adalah seekor rakun, maka aku mengabaikannya dan kembali tidur. Keesokan paginya aku menceritakan hal tersebut kepada Edwin, dan dia juga berpikiran sama denganku.Keesokan malamnya, kupikir aku mendengar suara jendela terbuka serta suara langkah yang berat, seakan-akan sesuatu memasuki kamar. Aku meloncat bangun dan memeriksa seluruh isi kamar, namun aku tidak melihat apapun. Keesokan paginya, Edwin menjatuhkan cangkir kopinya saat dia melihat keadaanku. Dia menunjukkan padaku sebuah cermin untuk aku mengaca. Sebuah luka yang lebar menghiasai pipiku.Setelah bergegas menuju rumah sakit, dokter mengatakan padaku bahwa aku pasti telah tidur sambil berjalan, namun kemudian dia menunjukan sesuatu padaku yang membuat darahku serasa membeku. Dia mengangkat kemejaku dan menunjukan sebuah luka irisan yang terjahit, tepat dimana ginjalku berada. Aku terbelalak menatap matanya. “Entah bagaimana caranya kau kehilangan ginjal kirimu semalam. Kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana. Maafkan aku Mitch.” Kata dokter.Keesokan malamnya lagi merupakan titik puncak semuanya. Sekitar tengah malam, aku terbangun kembali dan melihat sebuah pemandangan yang sungguh mengerikan. Aku bertatapan langsung dengan sosok yang mengenakan kerudung hitam dan topeng biru tua gelap tanpa hidung ataupun mulut. Sosok itu menatap lekat ke arahku. Sosok tersebut juga meneteskan cairan kehitaman dari lubang matanya. Aku meraih kamera di saku mantel di dekatku dan memotretnya. Setelah memotretnya sosok tersebut menerjangku, berusaha merobek dadaku untuk mengambil paru-paruku. Aku menghentikannya dengan menendang mukanya dengan telak. Aku berlari keluar, sebelumnya aku meraih dompetku. Aku akan membutuhkan uang. Aku kabur dari rumah Edwin di tengah malam buta. Aku akhirnya berhenti di hutan dekat dengan rumah Edwin untuk mengatur nafasku di atas sebuah batu besar.Aku jatuh pingsan dan terbangun di rumah sakit. Dokterku memasuki ruangan. Dokter yang sama yang menanganiku sebelumnya. “Aku punya sebuah berita baik dan buruk untukmu, Mitch.” Dokter memulai pembicaraan. “Kabar baiknya dalah bahwa dirimu hanya mengalami cidera kecil, dan orang tuamu akan segera menjemputmu.” Lega sekali mendengarnya. “Kabar buruknya adalah bahwa saudaramu telah tewas dibunuh oleh… sesuatu. Maaf.”Orang tuaku mengantar aku kembali ke rumah Edwin untuk mengambil barang-barang. Saat memasuki ruangan aku merasa trauma dan ngeri, namun berusaha untuk tetap tenang. Aku mengambil kamera lalu berhenti. Di lorong menuju kamarku, kulihat mayat Edwin dan sesuatu berukuran kecil tergeletak di sampingnya. Aku memungut benda kecil itu dan segera masuk ke dalam mobil tanpa membicarakan mayat Edwin. Kuperiksa benda kecil yang kupungut sebelumnya. Apa yang kulihat nyaris membuatku muntah. Aku menggenggam sebelah ginjalku yang hilang, tampaknya telah dimakan separuh, dengan cairan hitam yang melumurinya.
Lock The Door
Kejadian itu terjadi saat aku masih kuliah di sebuah universitas. Waktu itu aku tinggal sendirian di sebuah apartemen dekat dengan universitasku.Suatu malam, aku tidur dengan nyenyak di ranjang hingga aku terbangun oleh suara bel pintu apartemenku. Kulihat ke arah jam dinding, ternyata sudah dinihari. Aku pun terbangun dari ranjang dan membuka pintu depan.Ada seorang pria berdiri disana dengan memakai sweater hijau. Ia terlihat berumur sekitar 25 atau 26 tahun.“Apakah anda tuan Fukumoto?” tanyanya“Oh iya… ada apa?” jawabku“Aku adalah ketua perkumpulan di lingkungan gedung ini.” ujarnya dengan tenang“Pembunuhan terjadi di area ini. Pembunuhnya menghilang dan sampai saat ini belum tertangkap.Hal itu sangat berbahaya. Kumohon jangan pergi keluar hari ini dan pastikan pintumu tetap terkunci.” lanjutnyaKarena masih ngantuk, kepalaku agak pusing.“Ok! aku mengerti!” jawabkuKututup pintu depan dan juga memastikan bahwa pintu itu sudah terkunci lalu pergi ke ranjangku.Keesokan paginya, aku membaca koran dan menonton berita di tv. Namun, tidak ada berita tentang pembunuhan yang terjadi di area apartemenku ini. Hal itu membuatku merasa ada yang aneh.Seorang pria asing yang bukan petugas kepolisian membuatku terbangun di tengah malam untuk memperingatiku tentang pembunuhan yang mungkin tidak terjadi. Aku pun mulai curiga.Malam berikutnya, aku bergegas untuk pergi ke ranjang hingga ku dengar dering bel pintu. Itu bukan bel pintu apartemenku. Itu adalah bel pintu tetanggaku.Nampaknya tetanggaku tidak ada di rumah, karena ku dengar bel pintunya berdering 3 sampai 4 kali.Kubuka pintu depan dan melihat ke arah koridor.Pria yang sebelumnya kulihat, berdiri di luar apartemen tetanggaku, ia memencet belnya lagi dan lagi. Ia tetap memakai sweater hijau. Pria itu mendengar suara pintu kamarku lalu ia melihat ke sekitarnya dan menatapku yang sedang memperhatikannya. Kami saling tatap.Agak mengerikan memang, tapi aku cukup kesal padanya.“Dia mungkin tidak dirumah! ada yang bisa kubantu?” tanyaku“Oh tuan Fukumoto…Halo!” ujarnya“Tidak aku hanya takut karena pembunuhnya masih hilang.Jadi, sampai ia tertangkap, aku akan pergi ke area ini, memperingati setiap orang untuk berhati-hati dan tidak pergi keluar tengah malam.” lanjutnyaAku merasa curiga terhadapnya.“Aku memeriksa koran dan berita tv pagi ini, tapi kulihat tidak ada berita tentang pembunuhan di area ini! siapa kamu?” ujarkuAku berbicara kepada pria itu dengan jelas, tapi pria itu nampak diam.“Tidak, itu tidak benar!” balas pria itu tenang“Selain pelakunya belum tertangkap. Itu sangat berbahaya. Jadi, jangan pergi keluar tengah malam!” lanjutnyaPria itu menatapku dingin. Tatapannya membuatku terpaku. Aku merasakan merinding di tulang belakangku.“Akan kulakukan itu!” ujarku lalu menutup pintu dan mengunci pintuAku pergi ke ranjangku malam itu dengan perasaan yang aneh.Hari berikutnya, saat aku pulang dari universitas, kunyalakan tv dan melihat sesuatu yang hampir membuat darah di pembuluh darah ini membeku.Adalah berita tentang pembunuhan yang terjadi di area apartemenku. Disana muncul gambar gedung apartemenku. Korban pembunuhannya adalah tetanggaku. Ia dibunuh semalam saat ia berbaring di tempat tidurnya. Pembunuhnya mempunyai cara untuk masuk ke kamar apartemennya sementara tetanggaku itu tertidur. Pembunuhnya terlihat kabur setelah melakukan pembunuhan itu. Mereka berkata bahwa pembunuhnya memakai sweater hijau.Aku merasa takut.Malam ini setelah tengah malam, bel pintu kamarku berdering lagi. Aku pergi ke pintu depan, tapi takut untuk membukanya. Bel pintu apartemenku berdering satu…dua…tiga kali.“Siapa disana?” tanyakudibalik pintu aku mendengar suara “Tuan Fukumoto?”Aku mengingat suara itu. Itu adalah suara pria yang memakai sweater hijau kemarin.“Pembunuhnya masih menghilang tuan Fukumoto!” pria itu berbicara dengan tenang“Mohon hati-hati! pastikan pintu dan jendelamu terkunci!” lanjutnyaTiba-tiba teringat bahwa aku sudah menutup jendela namun lupa menguncinya.“Ok aku akan melakukan itu! terima kasih!” ucapkuSetelah yakin bahwa pintu depan sudah terkunci, dengan cepat aku menuju kamar tidur. Aku pun bergegas menutup jendela kamar, tetapi saat ku buka tirai jendela, hal yang menakutkan muncul.Pria yang memakai sweater hijau itu berdiri di luar jendela. Aku terkejut dan tak tahu harus apa. Aku kesulitan bernafas, tubuhku membatu, terdiam sambil menatapnya.Sebelum aku bergerak, ia mengulurkan tangannya dan membuka jendela.“Seharusnya kau tutup jendelamu!” ucapnya dengan seringai“Kau harus menguncinya dengan rapat, jika tidak seseorang bisa masuk ke kamarmu, seseorang sepertiku!” lanjutnyaSetelahnya, ia mulai memanjati jendela.Aku berteriak histeris dan berlari keluar kamar. Dengan jari yang gemetar cepat-cepat ku buka pintu depan dan berlari menuju koridor. Dengan cepat aku melarikan diri. Namun, suara pria itu terasa dekat di belakangku.“Tuan Fukumoto, kamu lupa mengunci pintu depanmu! ini sangat berbahaya kalau kamu keluar di tengah malam ini! Mohon kembali sekarang!” teriaknyaAku tidak ingin menanggapinya dan terus berlari. Saat aku sampai di tangga, dengan buru-buru kuturuni tangga sambil melompat hingga tiba di lantai dasar dan berlari ke jalan raya.Aku berlari dan berlari hingga sampai di kantor polisi. Kudobrak pintu kantor polisi itu kemudian berlari ke meja depan dimana ada seorang polisi muda sedang duduk. Karena sangat ketakutan aku hampir saja pingsan disana.Karena terdengar kegaduhan, seorang polisi tua keluar dari ruangannya dan menghampiri sumber suara. Dengan terenga-engah, aku mencoba bernafas dengan normal. Akhirnya, aku bisa tenang dan menjelaskan apa yang terjadi. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengawalku kembali menuju apartemen untuk memeriksa kebenarannya. Awalnya aku enggan untuk kembali kesana, namun kupikir aman jika bersama dua petugas kepolisian itu. Hal itu membuat ketakutanku mulai hilang.Akhirnya kami sampai di apartemenku dan menggunakan lift untuk sampai ke lantai dua. Polisi muda itu lalu membuka pintu depan dan melihat kedalam. Terlihat kosong di dalamnya dan tidak ada siapa-siapa.“Apa kau mau memeriksanya?” Polisi yang tua bertanyaKulihat sekeliling apartemen, namun semuanya terkunci seperti saat aku pergi. Jendela kamar juga terkunci dan tirainya juga tertutup.“Jadi semuanya terlihat baik disini!” ujar polisi yang tua“Maafkan aku, tapi sepertinya tidak ada yang bisa kami bantu. Tetaplah berhati-hati dan jika pria itu mengganggumu lagi, telponlah kami segera!” lanjutnyaSebelum mereka pergi, polisi yang muda memberikanku selembar kertas dengan nomor telepon.“Jika ada hal lain, kamu bisa hubungi kami lewat nomor ini! ujarnya dengan tersenyum“Terima kasih! pasti akan kuhubungi jika dia datang lagi!” ujarkuKemudian kututup pintu depan, polisi muda itu memberikanku senyum, namun tiba-tiba mukanya berubah tanpa ekspresi.“Mohan hati-hati! Karena pembunuhnya belum ditemukan! pastikan pintu dan jendelamu tetap terkunci tuan Fukumoto!” ujarnyaKu rasakan merinding yang luar biasa di tulang belakang.Setelah polisi-polisi itu pergi, aku bergegas memeriksa apartemenku, memeriksa apakah pintu dan jendela sudah benar-benar terkunci. Kemudian, kunyalakan semua lampu dan tv kemudian duduk di ranjangku. Aku terjaga hingga pagi.Setelah kejadian itu, aku tidak lagi melihat pria yang memakai sweater hijau itu. Dua minggu kemudian, aku pindah dari apartemen itu.Aku merasa tidak bisa bersantai dengan mudah sampai polisi bisa menangkap pria yang memakai sweater hijau itu.
Forgotten Forest
‘Klak!’“Hei! Itu coklat milikku!” teriak anak laki-laki berbadan kurus dan memakai kacamata, Joan.“Salahkan saja dirimu yang membuat kita tersesat di hutan selama dua hari. Aku tidak mengerti mengapa ibu memberiku adik seperti dirimu.” Sahut anak laki-laki lainnya—Andrian—yang berbadan lebih besar dan tinggi dengan rambut model cepak dan membawa ransel hijau lumut di punggungnya. Mulutnya kembali mengunyah coklat batangan setelah ia menyelesaikan kalimatnya.Joan merengut, pandangannya dialihkan ke arah tanah.“Maaf … ini semua karena rasa penasaran yang menang dari kepatuhan akan peringatan ayah dan ibu. Aku sendiri—“ suaranya terhenti seketika. Ia melihat ke arah batu besar di hadapan mereka. Batu besar yang sekiranya sudah mereka lewati tiga kali sejak kemarin.“Sial!” seru Andrian, yang sepertinya satu pikiran dengan Joan. “Hutan apa sebenarnya ini! Apakah kita sudah pindah dari bumi dalam waktu 48 jam, hah?” Andrian tak kuasa menahan emosinya. Perut lapar dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Hutan aneh yang seakan tak ada jalan keluar. Semua berpadu dalam keharmonisan emosi yang membuat dirinya geram. Konyol, hanya itulah yang ia pikirkan. Sebagai anak yang selalu mendapat beasiswa di sekolahnya, ia membenci hal-hal irasional.Mereka terus berjalan, dengan bekal kompas yang sepertinya rusak. Andrian memeriksa kembali handphonenya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kepemilikan sinyal. Benar-benar beruntung, batin Andrian.Joan melihat ke sekitar. Hanya ada pohon-pohon tinggi, bebatuan besar, dan tanah yang dipijaknya. Ia bahkan tidak mengetahui jenis-jenis dari pohon besar itu. Sesungguhnya, Joan dan Andrian bergabung dengan klub pecinta alam, tapi bahkan mereka tidak mengetahui, alam apa yang sekarang sedang mereka pijak.Ini memang kesalahan besar, pikir Joan. Seharusnya ia tidak menyepelekan nasihat orang tuanya. Seharusnya ia juga tidak memaksa Andrian menuruti keinginan di hari ulang tahunnya itu. Yeah, kemarin adalah hari ulang tahun Joan.Joan menyesal karena telah membohongi orang tuanya. Ia tahu, dirinya adalah anak paling nakal sejagat raya. Ia berkata akan mengikuti kegiatan dari klub pecinta alam di sekolah mereka, namun pada kenyataannya, kegiatan itu tidak sepenuhnya benar. Ia hanya ingin pergi ke tempat yang seumur hidupnya selalu dilarang oleh orang tuanya. Tempat itu bernama “Hutan Lupa”. Rumor hanyalah rumor, pikir Joan. Belum tentu rumor yang dikatakan orang lain adalah benar. Untuk alasan itu, ia membuktikannya sendiri.Kakak beradik itu berjalan tanpa tahu arah. Joan beberapa kali meminta untuk beristirahat dikarenakan punggungnya terasa sakit.“Kau sudah membawa peralatan paling ringan!” bentak Andrian. “Jangan manja, lihat saja tas punggungku, ukurannya 3 kali lipat dibandingkan kau.” Andrian berputar untuk menunjukkan tas berisi peralatan kemah, termasuk tenda dan alas tidur. Terlihat seperti punuk unta, pikir Joan menahan tawa. Tidak mungkin ia tertawa. Tidak setelah ia berkali-kali membuat ulah yang melibatkan Andrian dan membuatnya kerepotan.“Tunggu!” raut wajah Joan terlihat serius sekarang. “Aku mendengar sesuatu … seperti … air?” Joan sendiri meragukan pendengarannya, namun di hutan yang terasa semakin gelap ini, panca indra adalah senjata utama untuk bertahan.Joan mulai berlari, mencari di mana titik suara tersebut kian terdengar, Andrian juga secara tak sadar mengikuti Joan.Mereka terus berlari, tanpa berbicara sepatah kata pun, hingga pemandangan menyajikan sebuah danau.Danau biru, dengan air terjun di sisinya. Bebatuan besar dan … beberapa sosok yang membuat kedua kakak beradik itu menelan ludah.Kakak beradik itu berhenti serentak, Joan tertegun, dan bergerak mundur. Seketika itu pula, sosok-sosok tadi melihat ke arah mereka.Bagi Joan, sosok itu tampak seperti putri duyung—dengan tubuh bagian kepala hingga perut yang menyerupai sosok wanita berambut panjang serta tubuh bagian bawah yang menyerupai ekor ikan berbias cahaya sehingga menimbulkan kemilau pelangi di sisiknya.Namun Joan menyadari, ada yang aneh dari aura mereka. Tepatnya, raut wajah mereka yang misterius. Sementara di belakang Joan, Andrian mulai maju perlahan.Salah satu dari putri duyung tadi, mulai membuka mulutnya, mengeluarkan nyanyian yang merdu. Sangat merdu dan indah. Suara itu membuat Joan dan Andrian terpana, mereka mulai bergerak maju.Joan dan Andrian seakan tidak sadar dengan pergerakan mereka. Terutama Joan, ia tidak sadar bahwa ada akar besar yang mencuat dari tanah. Joan maju perlahan, namun akar besar itu membuatnya tersandung dan jatuh.Joan yang tersungkur mencium tanah, mendongakkan kepala dan membetulkan letak kacamatanya. Kesadarannya mulai kembali, ia tahu sebuah kisah tentang putri duyung yang membuatnya lekas menutup telinga.“HEY! ANDRIAN! SADAR!” Joan berteriak agar Andrian tidak terus berjalan dengan tatapan kosong ke arah para putri duyung tadi. Ia berusaha bangkit sambil tetap menutup telinga. Sangat sulit, sampai akhirnya ia berhasil. Segera ia berusaha berlari ke arah Andrian, mencoba untuk menarik saudaranya kembali, namun ia menyadari bahwa separuh tubuh Andrian sudah berada di dalam air danau.“Sial!” pekiknya, saat melihat salah satu dari putri duyung tadi menghampiri Andrian.Putri duyung yang sedari tadi bernyanyi kini sudah menghentikan nyanyiannya, dan ikut menghampiri tubuh Andrian yang separuh sadar.Sementara putri duyung yang sudah berada tepat di hadapan Andrian, meraih tubuh Andrian, dan memeluknya. Tak lama, putri duyung tadi tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi runcing dan lekas menggigit leher Andrian.“Orghhh!” Andrian seakan kembali sadar, ia mencoba bergerak saat menyadari sudah ada empat putri duyung yang mengepungnya.Joan merasa kakinya sangat lemas. Ia mundur perlahan dan berlari menjauh dari danau tadi. Tak sadar, air matanya perlahan menetes. Joan terus berlari, dan beberapa kali terjatuh karena tersandung akar pohon atau bebatuan. Ia berlari. Terus berlari tanpa arah, hanya mengandalkan instingnya.Sampai instingnya membawa tubuhnya ke perbatasan hutan, di pinggir jalan raya.“Aku selamat!” teriaknya senang diiringi rasa bersalah. Ia mengenal jalan raya ini. Tidak jauh dari jalan raya akan ada terminal bus, dan dirinya bisa sampai di rumah dengan selamat. Yeah, hanya dia yang selamat.***Selama di dalam bus, Joan berpikir keras. Ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kejadian mengerikan yang menimpa saudaranya itu. Orang tuanya pasti akan marah besar, terlebih kecewa karena dibohongi. Hukuman urusan belakangan, pikir Joan. Ia harus memberi tahu rahasia “Hutan Lupa” kepada masyarakat.Joan bersiap untuk berdiri dari duduknya. Pemberhentian di depan kompleks dirinya tinggal sudah dekat.***Joan berdiri di depan pintu rumahnya, menekan bel berkali-kali, namun tidak ada jawaban. ‘Apakah mereka sedang ada urusan?’ batin Joan, menenangkan diri.Hari sudah malam dan lampu rumah menyala terang. Mungkinkah orang tua Joan belum pulang? Joan kerap menekan bel sampai terdengar bunyi ‘Klek’ dari gagang pintu yang diputar.Adalah ayahnya yang menyambut Joan dengan wajah bingung.“Maaf, ada keperluan apa?” tanya laki-laki berambut putih yang menggunakan piama warna putih.“Apa yang kau katakan, Dad? Aku tahu kau akan marah soal ini, tapi setidaknya biarkan aku memberi penjelasan …,” Joan tergagap saat mendapati tingkah laku aneh dari ayahnya.“Siapa itu, Sayang?” tanya seorang wanita yang juga memakai piama tidur berwarna putih. Ia berjalan mendekat ke pintu.“Entahlah, anak ini … hei! Siapa tadi yang kau panggil Dad, hah? Apa kau sudah gila?”Joan tidak bisa menyembunyikan kekalutan di wajahnya. “Tapi … hei, Mom, Dad, ini aku, Joan, putra kalian!”“Kau menghina kami, hah? Apa kau mengejek aku dan istriku karena tidak mempunyai seorang anak pun di usia setua ini? Persetan kau gelandangan! Pergi sana!” itu ucapan terakhir dari pria yang dipanggil Dad oleh Joan, sebelum ia membanting pintunya.Pintu terbuka lagi, menampakkan wajah wanita berbalut piama tadi. “Sebaiknya kau cepat pergi, dia memang agak sensitif akhir-akhir ini. Cepatlah, sebelum dia memanggil polisi,” ucapnya sebelum menutup pintu kembali.Joan tidak bisa berkata-kata. Ia bingung, takut, sekaligus kalut. Terlebih ia harus mencari cara sekarang. Mencari cara agar ia bisa memberitahu kepada dunia bahwa legenda dari “Hutan Lupa” itu benar adanya. Bahwa jika seseorang bisa kembali dengan selamat dari hutan itu, maka orang tersebut akan menghilang dari ingatan semua orang yang dia kenal. Dengan kata lain, dilupakan.Sekarang Joan hanya berpikir untuk mencari cara memberi tahu ke semua orang tentang realita dari “Hutan Lupa” itu.Namun sekarang ia bingung. Ia mencoba berpikir, apa rahasia dari “Hutan Lupa” itu? Apa yang membuat orang lain dilupakan?“Lagipula, mengapa aku pergi ke hutan itu, sendirian?” kini Joan mulai berbicara sendiri.
Burger Shop
Besok aku ingin sekali pergi ke toko burger. Katanya, di kota ada satu toko burger terkenal yang baru dibuka. Rumor mengatakan, pada hari pembukaannya (yaitu besok) harga burger di toko itu hanya 50 sen per buah. Karena alasan itulah, aku ingin pergi kesana.Bukankah itu suatu hal yang lumayan, mendapatkan burger yang enak dengan harga semurah itu. Siapa orang yang tak mau mendapatkan kesempatan langka seperti itu? Sepulang kerja, aku langsung merebahkan badanku di sofa. Menonton TV sembari membayangkan kira-kira berapa burger yang sanggup kubeli keesokan harinya. Tapi tak berselang lama, sebuah berita di TV membuyarkan lamunanku.“Telah terjadi pembunuhan besar-besaran di Panti Asuhan Brownsburry. Anehnya, tak ditemukan satupun mayat di dalam gedung Panti Asuhan tersebut. Hanya terdapat genangan darah di setiap ruangan dalam gedung. Polisi masih mencoba untuk menyelidiki kasus aneh ini dan motif dibaliknya.”‘Hmm, cukup aneh. Tapi hal seperti itu takkan membuatku mengurungkan niat untuk membeli burger murah itu besok.’ pikirku. Aku lalu mematikan TV dan pergi tidur.Hari ini adalah hari pembukaan toko burger baru. Saat istirahat makan siang, aku bergegas pergi kesana. Tampaknya bukan hanya aku yang ingin membeli burger murah. Aku melihat beberapa teman kantorku, teman SMA ku dulu, beberapa tetanggaku. Sangat banyak sangat ramai, benar-benar penuh sesak. Aku sempat ragu apakah aku akan tetap mengantre burger. Aku takut jam makan siangku habis hanya untuk mengantre. Lalu aku berpikir, ‘Ah, sudahlah. Tak apa sekali-kali datang terlambat.’ Aku terus mengantre.Akhirnya, tibalah giliranku untuk memesan burger.“Pak, double cheese burger satu.”“Ini dia.” Pelayan langsung menyodorkan kantong berisi burger yang masih hangat.“Whoa. Cepat sekali! Berapa harganya?”“Sesuai promo, 50 sen.”“Baik, ini uangnya. Terimakasih!”Aku segera pergi meninggalkan toko burger itu. Antrian terlihat semakin panjang bersamaan dengan kepergianku.Sesampainya di kantor, aku benar-benar dibuat heran. Sangat sepi, seperti tak ada tanda kehidupan. ‘Mungkinkah semua orang pergi ke toko burger itu?’ pikirku. Aku bergegas pergi ke mejaku dan mulai melanjutkan pekerjaanku sambil menyantap burger yang baru saja aku beli. Sedap sekali. Dagingnya lembut, sausnya sangat terasa. ‘Pantas saja toko itu sangat terkenal di tempat-tempat lain’. Aku terus melahap burger itu.Hingga mendekati jam pulang kantor, beberapa teman kantorku belum kembali dari toko burger itu. ‘Sangat mengherankan, antriannya pastilah sangat panjang.’ pikirku. Tak ingin banyak membuang waktu, aku memilih untuk segera pulang ke rumah. Sebenarnya aku punya janji dengan salah seorang teman kantorku, tapi dia belum kembali dari mengantri. Aku lebih memilih untuk membatalkan janji dengannya.Dalam perjalanan pulang, aku melihat toko itu sudah tutup dan sepi. ‘Lalu, kemana perginya teman-temanku?’ tanyaku dalam hati. Aku tak bisa tidur dan terus memikirkan hal itu.Keesokan harinya, aku masih saja memikirkan nasib temanku. Dari kemungkinan terbaik, hingga kemungkinan terburuk. Di kantor, meja temanku kosong. Aku menanyakan tentang hal ini pada beberapa orang di sana, tetapi tak ada seorang pun yang tahu. ‘Belum pulang sejak kemarin? Kemana perginya dia?’ aku masih saja bingung.“Hei, apa yang kau lamunkan?” tanya Louis, teman sekantorku.“Oh. Tidak ada. Tidak ada.”“Ayolah. Setiap kali kau melamun, pasti ada yang sedang kau pikirkan.”“Okay. Baiklah. Ini tentang Marcel. Sejak kemarin sore hingga hari ini aku sama sekali belum melihatnya.”“Kau tahu bagaimana tipikal Marcel kan, Pablo? Dia memang orang yang seperti itu, suka menghilang tiba-tiba. Jangan terlalu mencemaskannya. Oh ya, kau tahu. Harga burger di toko baru itu naik menjadi 1 Dollar.”Aku langsung pergi meninggalkan Louis.Aku bergegas menuju toko burger baru itu. Aku sudah sedikit melupakan masalah tentang Marcel. Aku hanya ingin membuktikan perkataan Louis.Ternyata benar juga. Harga burger itu menjadi 1 Dollar. Antrian terlihat tidak sepadat kemarin. Aku sama sekali tak berminat untuk membeli burger, jadi aku langsung kembali ke kantor. Sorenya dalam perjalanan pulang, kulihat toko burger itu sudah tutup sama seperti kemarin.Keesokan harinya di kantor“Hei, Pablo! Kau tahu, harga burger di toko itu naik lagi. Sekarang harganya menjadi 1,5 Dollar.”“Lou, bisakah kita berhenti membicarakan burger. Aku masih banyak urusan.”“Oh, baiklah.” Louis pergi meninggalkankuAku tak tahu harus bagaimana. Tugas kantor sangat banyak, Marcel belum juga kembali, aku benar-benar stress. Tak ada waktu memikirkan berapa harga burger di toko itu.Hingga akhirnya, tubuhku sudah sampai pada batas ketahanannya. Aku jatuh sakit dan harus dirawat dengan waktu yang lama. Sejujurnya, aku sangat tak ingin dirawat di rumah sakit. Bau obat-obatan membuatku sangat tak nyaman. Aku tak tahu berapa lama aku akan dirawat di sana. Aku juga masih tidak tahu bagaimana kabar Marcel. Hanya Louis dan Julia pacarku, yang menjengukku setiap hari.Akhirnya, dokter memperbolehkan aku untuk keluar dari rumah sakit. Julia datang menjemputku. Tak seperti biasanya, dia hanya diam. Dalam perjalanan pulang, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sesampainya di rumah, dia langsung pergi begitu saja. ‘Pasti ada sesuatu yang aneh.’ pikirku.Keesokan harinya, aku kembali pergi bekerja. Kantor terlihat lebih sepi dari biasanya. Aku mencoba bertanya pada seorang temanku.“Hei, Rachel. Kenapa kantor terlihat sepi?”“Aku tak tahu, Pablo. Beberapa orang tiba-tiba menghilang. Matt, Andrew, Marie, Katie, dan kau pasti tahu. Marcel. Mereka tak pernah terlihat bekerja kembali.”“Sesuatu pasti telah terjadi, Rachel. Katakan padaku apa yang telah terjadi kemarin.”“Beruntung sekali kau. Aku mencatat hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Kemarin harga burger di toko baru itu 25 Dollar. Kemarin juga hari dimana kau keluar dari rumah sakit setelah 1 bulan dari rumah sakit. Hanya itu.”Aku segera menelpon Julia. Sangat banyak pertanyaan di dalam benakku yang menunggu untuk dijawab. Julia menjawab panggilanku. Dia hanya ingin menceritakannya nanti saat perjalanan pulang. Saat ini dia sedang sibuk. Terpaksa aku mengiyakan keinginannya.Sorenya, aku pergi menjemputnya di kantor. ‘Aneh, kantornya sudah sepi. Terlihat sama sekali tak ada kegiatan. Kira-kira di mana Julia sekarang berada?’1 jam, 2 jam, 3 jam, 5 jam sudah aku menunggu kedatangan Julia. Aku terus berusaha untuk menghubunginya tetapi tak dijawabnya. ‘Apa yang terjadi padanya? Jangan, aku mohon jangan seperti Marcel.’ Air mata keluar membasahi pipiku. Aku pergi meninggalkan kantor Julia.‘Pasti semua ini ada hubungannya dengan toko burger baru itu. Aku hanya perlu membuktikannya sesegera mungkin. Aku berjanji.’Keesokan harinya, aku dan Louis memutuskan untuk menyelidiki toko burger baru itu. Toko itu sudah tutup. Aku memutuskan untuk membuka pintu depan. Pintu itu tak dikunci. Kami berdua menerobos masuk. Salah satu pelayan melihat perbuatan kami.“Pak, kami sudah tutup.”“Kami berdua hanya ingin memesan burger.” kataku“Maaf, pak. Kami kehabisan daging untuk bahan patty. Terpaksa kami menaikkan harganya dari hari ke hari.”“Kami menginginkan burger dan kau harus memberikannya pada kami. SEKARANG!” Louis mengancam“Baik, baiklah. Tetapi kalian harus membayar mahal.”Tiba-tiba aku merasakan pukulan benda tumpul mengenai tengkukku. Aku terjatuh ke lantai. Semua menghitam.Aku merasakan hawa dingin yang tidak biasa. Sangat dingin. Kedua tangan dan kakiku terikat. Sesuatu menutupi mataku. ‘Aku harus keluar dari sini. Aku harus!’ Aku terus mencoba menggerakkan seluruh tubuhku tetapi tidak bisa.“Wah wah wah, tampaknya kau sudah sadar.” suara itu terdengar seperti suara pelayan tadi.“Sayang sekali, kami benar-benar tak bisa memberimu burger. Sebagai gantinya, kau akan menjadi bahan patty.”Aku diam.“Kau tahu anak-anak Panti Asuhan itu? Well, mereka telah menjadi patty dalam burger yang telah kau makan. Kau mau tahu bagaimana nasib Marcel dan kekasihmu Julia? Mereka sudah berada di penggorengan. Mau tahu apa yang terjadi pada Louis? Kami tengah membumbuinya. Kau hanya perlu menunggu waktu untuk masuk mesin penggiling.
Obsessive Compulsive
Halo, aku menderita gangguan obsesif kompulsif, itu adalah semacam serangan panik yang tidak diinginkan namun terjadi berulang-ulang di dalam pikiran, perasaan, ide, ataupun kebiasaan. Bisa dibilang, hidupku berada dalam pola yang sistematis.Namun kemarin, ada sesuatu yang terjadi di luar system itu.Rumahku berada di samping danau, dan aku bangun di sana tepat pukul 6.45 pagi, seperti yang biasa. Sebelum meninggalkan kamar, aku akan menyetuh gagang pintu tiga kali. Aku harus melakukan itu. Aku harus.Saat berjalan turun lewat tangga, aku tidak akan menginjak anak tangga kedua dan terakhir. Aku tidak pernah menginjak itu. Benar-benar tidak pernah sama sekali.Aku menyiapkan sarapan seperti biasa, roti bakar, telor orak-arik, dan kopi hitam. Aku tidak pernah makan makanan lain di pagi hari kecuali tiga hal tersebut.Aku menyalakan iPad, seperti biasa aku mengecek berita lokal. Masih ada sesuatu yang kurang.Aku tidak bisa menemukannya. Apa yang kurang? Perasaan aneh ini terus meliputiku hingga aku duduk di dalam mobil. Saat aku keluar dari rumah, aku mengecek kunci rumah, membuka kuncinya, dan menguncinya lagi.Sambil menyetir, aku terus memikirkan hal itu. Apa yang aku lewati? Apa yang mungkin telah aku lewati?Aku berharap perasaanku akan membaik setelah bekerja seharian. Namun tidak. Perasaan itu terus ada selama 12 jam berikutnya. Aku meninggalkan kantor jam 6.45 dan langsung menuju ke rumah.Sekitar 25 menit kuhabiskan di jalan, aku berhenti di lampu merah di antara jalan Marbury dan Westway.Saat lampu berubah dari merah menjadi hijau, aku kembali memikirkan sensasi itu lagi. Satu-satunya orang yang ada di dekatku adalah orang yang menyetir di belakangku. Dia mengklaksonku, namun aku tidak bergeming dan menyuruhnya mendahuluiku.Aku duduk di dalam mobil di persimpangan jalan itu. Ada sesuatu yang salah. Apa yang telah aku lewati?Aku menyentuh setiap bagian di mobilku, berharap ada percikan ingatan di kepalaku. Aku menyentuh dashboard, tempat duduk, rem, bahkan atap mobil. Namun aku tidak bisa mengingat apapun.Tanganku gemetar saat aku kembali menyetir. Rasanya ada yang salah dan aku tidak menyukai rasa ini.Tiba di rumah, aku menaruh mobil mustangku di garasi. Aku selalu mencuci mobilku setiap hari kerja, dan tidak pernah saat weekend. Aku hanya mencuci bagian depan dan belakang. Tidak jika bagian samping. Tak peduli seberapapun kotornya, aku tidak mencuci bagian samping. Tidak pernah.Namun masih ada sesuatu yang kurang dari rutinitas ini. Tidak! Awalnya berita, kemudian persimpangan jalan, sekarang ini?!Setelah mencuci mobil, aku berlari kecil ke kebun belakang. Selalu berlari kecil, tidak berjalan ataupun berlari.Saat membuka lemari barang, aku kembali merasakan adanya sesuatu yang kurang. Aku berteriak!“Ini salah! INI SALAH! BENAR-BENAR SALAH!”Aku menatap ke arah danau. Memandang danau selalu bisa menenangkan perasaanku. Tapi mala mini, aku hanya ingin tidur. Aku harus mengakhiri malam ini.Keesokkan paginya, aku bangun jam 6.45. Kembali menyentuh gagang pintu tiga kali. Tidak menginjak anak tanggga kedua dan terakhir. Berjalan ke dapur, menyiapkan roti bakar, telur orak-arik, dan kopi hitam. Aku kembali menyalakan iPad, mengecek berita lokal.…Ada sesuatu yang kurang…Aku merasa cemas. Apa yang telah aku lewati? Aku mulai merasa mual.Dengan terburu-buru, aku mengunci pintu, membukanya lagi, dan menguncinya lagi. Kembali aku menyetir ke kantor.Aku cenderung menyelesaikan pekerjaan lebih cepat di saat aku sedang merasa bingung. Paling tidak ada suatu rasa pencapaian di saat aku meninggalkan kantor pada pukul 6.45.Aku menyetir secepat mungkin untuk pulang ke rumah. Sangat cepat.REPORT THIS ADApa…yang…aku…lupakan…Aku sampai di perempatan Marbury dan Westway.Ayo…berpikir…bepikir!Ada seorang pria yang sedang berjalan di perempatan itu, dia sedang menyeberang ke sisi jalan yang lain.Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?!Pria itu menoleh saat dia menyadari mobil mustangku bergerak ke arahnya dengan kecepatan 85 mile/jam.Aku menyadari keberadaannya. Ada suatu rasa panik di wajahnya saat aku menabraknya.Aku terus mengarahkan mobil kepadanya. Suara keras seperti sesuatu yang hancur terdengar dari bagian bawah mobilku. Ya, Tuhan.Aku keluar dari mobil, berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. Dia terbaring, mengerang kesakitan.Aku membuka bagasi mobil, mengangkat pria itu, dan memasukkannya ke sana. Kemudian aku kembali menyetir.Saat masuk ke garasi, aku mencuci darah di bagian depan dan samping depan, tidak kucuci bagian samping semuanya. Tidak kucuci.Setelah menyeret tubuh pria itu ke halaman belakang, aku berlari kecil ke arah gudang. Di sana ada plastic sampah besar, balok semen, dan gergaji.Aku memotong-motong tubuh pria itu sampai aku bisa memasukkannya ke dalam kantong bersama balok semen.Saat ini, aku hanya tinggal menenggelamkan tubuh itu di danau.****************Keesokan harinya, aku bangun pukul 6.45 dan menyentuh gagang pintuku sebanyak tiga kali, melompati anak tangga kedua saat berjalan ke dapur. Sambil memakan roti dan telur, serta minum kopi, aku mengecek berita lokal lewat iPad.Berita utamanya : Pembunuh Tabrak Lari Muncul Kembali.Aku tersenyum.Semuanya telah kembali normal.
Curious
Angin menyebalkan ini sibuk meniup helai rambut ku yang tak terambil kuncir, sampai-sampai membuat hidungku gatal karena sentuhannya.Aku tak bisa fokus mendribble bola gara-garanya, bola langsung ku oper pada teman yang lain.Kami membentuk sebuah lingkaran besar, melakukan teknik dasar dalam permainan. Yaitu bergantian mendribble dan mengoper bola.Hari ini adalah hari pertama aku ikut ekskul basket. Kalian tahu kesan pertama ku tentang basket apa? Menyesal! Aku lelah, tak ada yang bisa ku takluki perihal permainan ini.Bukkhh!"Aw!" Ringis ku setelah objek bulat keras itu menghantam wajah cantikku.Ya ampun aku terkena lemparan bola. Siapa sih yang ngelempar? Gak tau apa kalau aku belum siap? Ini semua ulah angin! Andai kata rambut ini tak menggelitik hidungku, tak mungkin atensi ku dari bola teralihkan."Christie!" Sambar pak Anton, sang pelatih.Aku menoleh ke pak Anton, sambil memegangi tulang pelipis dan tulang pipi ku yang berkedut nyeri."Menepi atau lanjut?" Tanyanya tegas.Sungguh aku ingin memilih opsi yang pertama karena aku sudah muak sekali untuk melanjutkan kegiatan tak berfaedah ini, tapi gengsi ku tak kenal kata minggat ."Lanjut pak!" Putusku mantap."Emm, tidak usah kamu menepi saja. Pergilah ke UKS sekarang!" Interupsinya.Yeay, miracles are on my side. Aku mengangguk seraya berlari kecil menuju ruang UKS."Yang lain, ayo fokus-fokus!"---Terdengar suara bersorak ria dari luar, sepertinya sekarang sudah jam istirahat.Dari sini aku dapat mendengar derap langkah seseorang menuju kemari.I don't know, I'm either too famous or Im too... Kuper ? Pasalnya aku merasa semua orang selalu mengenalku sementara aku tak tahu satu pun diantara mereka. Kecuali Miracle sahabatku dan teman-teman sekelas ku sendiri.Ternyata seorang gadis yang memasuki ruangan ini, yah aku mengenalnya. Dia Echa, wakil ketua kelas yang kebetulan ikut ekskul basket juga."Christie" panggilnya yang tak ku gubris, aku hanya menatapnya datar."Ini minumlah!" tawarnya sambil memberiku sebuah botol berwarna peach yang isinya tak lain adalah air mineral."Terimakasih" ujar ku yang langsung menggenggam botol itu tanpa meminum airnya. Bukan tak menghargai, tapi aku bisa kembung kalau terlalu banyak minum.Dia tersenyum tulus, sekarang tatapannya tertuju ke arah kepalaku. Paling dia ingin melihat memar bekas bola tadi."Sorry. Karena ulah ku kamu jadi terluka" ujarnya lagi.Sekarang aku tahu pelaku yang menyebabkan wajah cantikku lebam. Tapi ya sudahlah."Tidak masalah. Aku juga kurang fokus tadi""Mari keluar, gabung istirahat bareng yang lain!" Ajaknya.Sebenarnya aku ingin menolak, karena aku tak suka berteman. Tapi ya sudahlah, toh setelah ini belum tentu aku mengingat wajah mereka.Kami berjalan beriringan ditemani kesunyian. Dari kejauhan perhatian ku terpusat pada seorang laki-laki bertopi hitam tengah duduk berbincang dengan gadis lain di tangga.So cool. Pujiku dalam hati untuk lelaki itu. Jantungku ikut berdebar menatap pahatan sempurna ciptaan Tuhan di sana.Apa dia salah satu pemain basket yang ikut ekskul? Apa aku terlalu acuh sampai tak melihatnya?Tunggu, kenapa Echa menuntun langkah ku kearahnya?Bahkan sekarang aku dan Echa berada dihadapan lelaki itu, dan gadis disampingnya juga.Gadis disamping lelaki itu menoleh kearah kami, dan disaat itu juga aku mengerti mengapa Echa menuju kemari. Rupanya itu Adriana teman akrabnya Echa. Adriana tersenyum menyapaku yang ku balas dengan hal sama.Senyum kagum yang ku persembahkan untuk lelaki itu seketika luntur menjadi senyum masam. Lelaki yang baru ku puja itu pasti kekasih Adriana!Ekor mataku melirik lelaki itu, sekedar menyapanya lewat tatapan ringan saja. Ku lihat dia hanya mengendikkan alis menatap ku lalu memainkan ponselnya.Hehe Adriana bolehkah aku menyukai kekasihmu? Kelakar ku dalam hati.Kami pun ikut duduk bersama, mereka bertiga jadi berbincang ringan sementara aku hanya diam memperhatikan mereka - lelaki itu saja maksudku.---Ekskul basket sudah selesai setengah jam lalu, dan sopir ku bahkan belum datang sampai sekarang.Di ujung sana, tersisa satu motor besar tanpa pemilik tengah terparkir. Dan setelah motor itu pergi, itu artinya aku akan benar-benar sendirian menunggu.Aish! Kalau tahu begini, aku bawa mobil sendiri saja tadi. Baiklah daripada aku menggerutu terus, lebih baik aku memesan GoCar saja.Baru saja aku mau mengeluarkan ponselku dari dalam tas, sebuah motor besar yang ku lihat tadi sekarang berhenti didepan ku.Aku langsung melihat wajah si pengendara yang tengah membuka kaca helmnya.Astaga, ternyata dia! Bolehkah aku senang? Tapi mau apa dia?"Ayo naik! Aku akan mengantarmu pulang" ajak sang pujaan hati.Aku tak langsung naik, justru aku bertanya dulu padanya."Kamu tahu rumah ku?" Tanya ku. Aduh pertanyaan bodoh! Tentu saja aku yang akan menunjukkan jalannya nanti."Maksud ku, apa kamu tidak keberatan? Rumah kita belum tentu searah kan?" Baiklah aku merasa konyol sendiri sekarang.Aku menyelipkan sisa rambutku yang tak terambil ke belakang telinga sembari menunduk menahan malu."Tidak apa-apa. Ini pakailah!"Ragu, aku mengambil helm yang ia sodorkan.Sepanjang perjalanan, kami hanya ditemani keheningan, aku mencoba memutar otak untuk membuat sebuah perbincangan basa-basi.Anggap saja ini adalah caraku berterima kasih. Jarang-jarang aku mau berbicara dengan manusia, biasanya lebih banyak acuh karena malas."Ngomong-ngomong, apa pacarmu tidak marah jika tahu kita pulang bersama?" Tanya ku takut-takut.Sebenarnya itu hanya alibi ku saja, aku hanya ingin memastikan apakah Adriana itu kekasihnya atau bukan."Jika saja aku punya, mungkin iya""Maksudmu?" Tanyaku sok polos.Aku paham dengan ucapannya, kalau dia memang tak punya pacar. Haruskah aku senang? Belum. Aku kurang puas dengan jawabannya, aku masih penasaran antara dia dan Adriana ada hubungan apalagi selain teman biasa? Kenapa mereka terlihat akrab sekali tadi?Dia tak menjawab lagi, sampai akhirnya kami sampai di depan rumah ku.Wait, wait, wait? My home? Jadi dia tahu alamat ku? Ah terserahlah. Aku lekas turun begitu saja dari motornya. Persetan lah dengan rasa penasaran ku.Mata ku mengerjap beberapa kali memperhatikan wajahnya yang kian mendekat, sementara tangan lelaki itu sibuk membuka ikatan helm ku.Astaga ulahnya ini membuat ku harus bersusah payah menahan nafas. Harus banget yah bikin anak orang makin baper?"Makanya jadi orang itu jangan sibuk mikirin pertanyaan aja, pikun kan!" Sindir dia.Aku semakin menatapnya cengo. Dia tahu apa yang ku pikirkan? Heran sih tapi malas juga bertanya banyak."Ya udah aku pamit pulang" katanya yang ku angguki.Setelah punggungnya menjauh dari pandangan, aku pun menyadari satu hal. Aku lupa berterimakasih.Ngomong-ngomong namanya siapa?---Setelah dari hari itu, aku tak bisa berhenti membayangkan wajahnya. Waktu senggang ku selalu terisi oleh kegelisahan memikirkannya.Setiap hari aku berusaha menyemangati diriku sendiri, celingukan sampe gak jajan waktu istirahat cuma buat nyari dia tapi gagal terus. Aku sadar aku akan terus kesulitan mencarinya karena aku tidak tahu namanya, aku juga tidak tahu dia dikelas berapa. Entahlah, dia sekolah dimana sih?Pagi ini aku membawa mobil sendiri ke sekolah. Ku lihat pemandangan gedung berbaris disepanjang kota dihadapan ku, sungguh cerah hari ini.I'm gonna search you again my future, are you ready?Njrt!Apaan nih? Kok mobilnya berhenti?Aihh, mogok!? Ya ampun aku bisa telat ke sekolah kalau seperti ini. Wajah ku sudah merah masam, buru-buru aku melepas seat belt setelah berhasil meluapkan emosi dengan memukul stir lalu mengambil tas ku dan keluar dari mobil itu.Hari ini sial sekali aku, sudah mogok telat sekolah pula. Aku memasuki gerbang sekolah dengan tergesa-gesa, dari kejauhan koridor sekolah dapat ku lihat pintu kelas ku sudah tertutup. Itu artinya guru biologi ku sudah masuk.Cepat-cepat aku berlari menghampiri kelas ku. Aku tak sempat mengatur nafasku sampai membuat ku mendobrak pintu kelas sedikit kasar. Ah terserahlah aku bisa mengganti pintunya jikalau rusak nanti.Plak!Seketika aku merasa ditampar kenyataan. Malu sungguh malu aku, dihadapan semua teman kelas ku, dengan wajah pucat, panik, berantakan, aku dibuat bodoh hari ini. Guru ku belum masuk ternyata, sementara kondisi wajah ku?Katakan selamat tinggal pada harga diri ku...---Aku dan sahabatku Miracle sedang melangkah keluar dari kelas, tapi baru saja aku menengok ke kiri aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah.Jantung ku memompa lebih cepat dari sebelumnya, mata ku terpaku menatapnya. Dia yang selama ini aku cari ada di hadapan ku.Dia sedang bersandar di dinding depan kelas sebelah kelas ku, dengan tangan kanan yang masuk ke saku celananya, topi hitam yang sama seperti yang ia pakai sewaktu aku menemuinya pertama kali.Kadar ketampanannya tak berkurang sedikit pun, apalagi memperhatikannya tengah menikmati obrolan seperti itu. Aku tak mengenalnya tapi melihatnya seperti sekarang ini rasanya aku merindukannya.Puk puk.."Kamu liatin siapa?" Tanya Miracle diiringi dengan telapak tangannya yang menepuk bahu ku. Dahinya ikut berkerut memandangi lelaki itu dan teman-temannya satu persatu.Aku menoleh ke arah Miracle, tanpa menjawab pertanyaannya. Aku bingung mau jawab apa."iih malah bengong. Ya udah sih ayo jalan keburu pingsan kelaperan nih" eluhnya sambil menarik kasar tangan ku.Sementara aku tak memberontak, dan masih sibuk memperhatikan lelaki itu tak peduli leher ku sudah ngilu karena menoleh kearahnya. Ya ampun aku tak pernah jatuh cinta, aku tak pernah peduli dengan manusia manapun. Tapi kenapa sekalinya cinta menjadi separah ini?Miracle terlihat lahap menyantap makanannya, sementara aku hanya memandangi snack ku sambil membayangi wajah bersinarnya."Mikirin siapa sih?" Tanya Miracle geram.Aku mendongak menatapnya datar"Hanya memikirkan quiz besok" elakku.---Quiz telah berlalu beberapa menit lalu, aku dan Echa berjalan membawa setumpuk kertas tipis quiz untuk dibawa ke kantor. Sebenarnya yang disuruh hanya Echa, secara dia kan pembantunya ketua kelas. Tapi aku mengekor karena aku masih harus mencarinya.Echa sempat bertanya akan keanehan ku, tapi untunglah kecerdasan ku ini tiada batas, aku beralasan bahwa aku ingin membayar denda telat datang kemarin.Seperti biasa mata ku tak akan beristirahat jika sedang melakukan pengintaian, mata ku akan jelih dalam mengawasi setiap sudut. Dan dapat!Dia sedang berjongkok di dekat toilet, mencuci tangan dan kakinya. Tubuhnya yang ku yakini menyimpan postur atletis itu terbalut oleh kostum basket perpaduan warna hitam merah.Aku menyenggol lengan Echa pelan, membuat langkahnya terhenti."Ada apa?" Tanyanya."Aku ingin ke toilet, kamu duluan aja gak usah nungguin aku" pamit ku. Aku pun berlari kecil menuju toilet.Astaga semakin dekat kaki ku melangkah, semakin menggila detak jantungku dibuatnya.Kini aku berada di sebelahnya, berpura-pura ikut mencuci tangan. Padahal mata ku sibuk mencuri pandang."Mencariku?" Tanyanya pada seseorang.Tak ada yang menjawab pertanyaannya, pada siapa dia bertanya? Aku?"Aku bertanya pada mu. Kamu mencari ku?" Tanyanya sekali lagi.Ku beranikan diri menjawab pertanyaannya, tanpa melihat wajahnya."Ti-tidak.. untuk apa?" Gugup ku kentara sekali.Dia memutar kran air dihadapannya, sambil mengeringkan tangannya dia berbicara lagi."Kalau tangannya bersih, jangan dicuci terus" sindirnya.Aku mengeratkan pejaman menahan malu, mengutuk diriku sendiri atas kebodohan yang ku perbuat. Aku mematikan kran air, lalu merubah posisi menghadapnya.Aku tak menatapnya. Kepala ku menunduk, mata ku memperhatikan ujung sepatu, sedang tanganku saling mengaitkan jari berusaha menepis gugup.Ku lihat tangannya terulur meminta dijabat. Untuk apa? Aku mendongak menuntut jawaban lewat tatapan.Dia tak menjawab, justru tangannya itu bergerak mengambil telapak tangan kanan ku."Gattan!"Setelah ia menyebutkan kata itu, bibir ku langsung membentuk sebuah lengkungan panjang bernama senyum."Christie" sahut ku."Sudah tahu" aku sedikit kaget mengetahuinya, tapi aku mencoba menutupinya dengan wajah datar ku. Lalu ku lepas kan tautan tangan kami.---Setelah berhasil kabur dari sekolah, disinilah aku sekarang, duduk dikursi taman sambil menikmati es krim bersama lelaki yang sekarang ku tahu namanya adalah Gattan."Kenapa?" Tanyanya."Kenapa apanya?""Kenapa mencari ku?" Aku terdiam mulai gugup lagi, Aku mulai memutar otak ku mencari obrolan lain untuk mengalihkan pertanyaannya. Tapi apa!?Sementara matanya sudah memicing mencurigai ekspresi ku. Melihat ku yang tak menjawab sama sekali dia memasang wajah pura-pura sedihnya "Padahal kelas kita tetanggaan"Mata ku membola mendengarnya..Jeng jeng jeng!" Sesempit itukah dunia? Kenapa aku tidak tahu!?" Sambar ku tak tahan menyembunyikan rasa penasaran."Segitu kangennya yah?" Katanya penuh percaya diri."Dih mimpi aja sana!" Umpat ku."Oh iya ngomong-ngomong kekasihmu tidak marah apa kita bolos berdua?" Alih ku mencairkan suasana yang sempat tak jelas.Dia mengernyit keheranan."Ohh jadi kamu masih penasaran soal itu"Astaga aku salah bicara. Kenapa aku malah menjerumuskan diriku sendiri?"Apaan? Gak jelas!" elak ku yang mungkin sudah terlambat.Dia mencibir ku."Aku berkata jujur waktu itu""Lalu Adriana?" Pertanyaan polos itu meluncur saja dari mulut ku, dasar bucin bucin! Lagi-lagi aku merunduk menahan malu sembari mengutuk kebodohan ku."Kamu cemburu?"Sontak wajah ku mendongak menatapnya. Cemburu kah aku? Sementara yang ditatap malah tersenyum aneh."Ayo pergi!" Ajaknya sambil menggenggam tangan ku yang tak ku tolak."Kemana?""Balik lah. Udah jam pulang sekolah ini"---Setibanya dirumah, seperti sebelumnya. Dia selalu bisa membuat ku menahan malu, menggagalkan fokus ku, sampai akhirnya dia lah yang membukakan helm dari kepala ku.Aku tak terbiasa dengan detak jantung yang abnormal seperti ini Gattan!Dia sudah menaiki motornya, dia meminta ku untuk mendekat lantas ku turuti. Ku lihat matanya semakin bersinar saja, dia diam beberapa saat dalam kegiatan lempar pandang ini.Lalu dia menutup kaca helmnya dan pergi melesat setelah berhasil mengatakan suatu kalimat menyenangkan. Kalimat yang mampu membuat ku merasa terbang, wajah ku kian memanas menahan rona."Bolehkah aku menyukai mu?" Begitulah ujarnya.