Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Senja: Indah atau Luka?
Waktu sudah menunjukkan pukul 16:42 WIB. Namun, aku juga belum beranjak dari tempat ini. Tempat di mana terakhir kali aku melihatmu. Tempat di mana kamu memintaku untuk terus menunggumu di sini. Aku selalu berharap Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk sekedar bertemu, tetapi saling melengkapi dan bersama di dalam hubungan ikatan suci pernikahan.Beberapa orang mulai meninggalkan tempat ini, hari semakin sore dan cuaca hari ini juga sedang tidak bagus. Langit semakin gelap, dan aku masih enggan untuk beranjak dari tempat ini. Setiap aku kembali ke tempat ini, aku selalu berharap aku akan bertemu denganmu lagi. Perlahan, aku kembali mengingat hari-hari di mana kita sebelum berpisah.FLASHBACK, Juni 2010“Reinaaa! Reii!” suara itu sampai terdengar ke kamarku.“Reii, itu ada tamu. Buka pintunya gih nak, masakan mama gak bisa ditinggal nih.” seru mama dari dapur.“Iya mah,” jawabku malas.“Siapa sih yang datang siang-siang begini?” gerutuku pelan sambil berjalan ke arah pintu. Sebelum aku membuka pintu, aku melihat dari jendela siapa yang datang. Dan ternyata…“APAH? AZIZ?” aku terkejut mendapati fakta bahwa orang yang bertamu adalah Aziz. Aku pusing tujuh keliling.Aku tidak tahu harus apa, “Kenapa dia gak SMS atau nelepon dulu kalau mau ke sini, biar aku bisa siap-siap,” gerutuku pelan.Setelah beberapa lama kemudian, dengan hati yang harus siap aku membuka pintunya. Perlahan terlihat wajah tampan dan senyum manis yang dibalik pintu itu.“Hai Rei,” sapanya.“A.. aa..hh, hai. Ada a..apa ziz?” tanyaku terbata-bata.“Kamu sibuk? Mama kamu di rumah Rei?” tanyanya.“Eeeh? Mama?” aku tidak percaya apa yang ia katakan. Sejenak aku terdiam.Dia tertawa kecil melihat ekspresi kaget dariku. “Cute,” ucapnya pelan.“Siapa yang datang, Rei? Kok gak disuruh masuk tamunya?” tanya mama sambil berjalan ke arah pintu.“Aaahh ini mah teman Rei datang,” jawabku.“Assalamualaikum bu, saya Aziz teman sekelas Reina, saya mau ngajak Reina ke pesta ulang tahun teman kita Yola bu. Boleh?” tanpa basa-basi Aziz langsung mengatakan tujuannya pada mama.Aku tertegun mendengar ia bicara dengan mama, padahal yang aku tahu selama ini, ia jarang sekali bicara dan datang ke rumah wanita. Bahkan menurut penuturan temannya sejak kecil, ia bahkan tidak pernah naik motor berdua dengan wanita selain ibunya. Ia juga bertanya pada mama apakah aku boleh ikut atau tidak.Mama awalnya ragu memberi izin, namun mama ingat ia adalah salah satu siswa populer dan berprestasi di sekolah. Jadi mama mempercayakan aku padanya. Lalu, mama menyuruhku untuk siap-siap sedangkan Aziz dan mama bicara berdua di ruang tamu.15 menit kemudian…“Reii, kenapa belum siap juga? Nanti kalian telat ke acaranya. Kasihan tuh Aziz nunggu lama,” tanya mama.“Iya mah, ini udah selesai,” jawabku.Aku melihat Aziz yang menatap ke arahku, dia seolah terheran melihatku. Dan aku pun mulai merasa salah kostum. Sebelum pergi, aku sempat bertanya pada mama bagaimana penampilanku. Mama bilang bagus dan cantik. Setelah berpamitan dengan mama, kami langsung pergi ke tempat tujuan kami.Sepanjang jalan, tidak satu pun dari kami yang membuka pembicaraan, sampai pada akhirnya aku merasa ada sesuatu yang aneh…“Ziz, ini kan bukan jalan ke rumah Yola?” tanyaku.“Memang bukan,” jawabnya santai.“Lalu ini mau ke mana? Apa rumah Yola sudah pindah?” tanyaku lagi.“Enggak juga,” jawabnya tetap santai.Aku memilih berhenti bertanya, meskipun hatiku terus bertanya—akan ke mana Aziz membawaku.Tak lama kemudian, aku melihat papan bertuliskan SELAMAT DATANG DI PANTAI BUNGA, BATU BARA.“Acara Yola di pantai ya, Ziz?” tanyaku penasaran.“Eengh? Enggak,” jawabnya.“Lalu kita ke sini ngapain?” tanyaku lagi.“………….”Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kami masuk ke area pantai. Setelah memarkirkan motornya, kami menuju tempat berteduh dekat pantai, di mana dari tempat itu kami bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan melihat laut terbentang luas tanpa penghalang.Ketika aku menikmati pemandangan pantai, dia mengambil fotoku tanpa izin. Terdengar suara klik, aku langsung menoleh.“Ya! Apa yang kamu lakukan?” kataku sambil merebut smartphonenya.“Kamu cantik hari ini. Aku suka,” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.“Aku rasa semua wanita cantik. Kamu juga menyukai mereka?” tanyaku lagi.“Aku gak bilang mereka. Aku bilang kamu. R E I N A,” jawabnya sambil mengeja namaku.“Udah ah.” Jawabku sambil tersenyum kecil.Lalu ia mengajakku berjalan ke arah barat, untuk melihat senja. Ya, dia penyuka senja.“Setidaknya sebelum hari itu tiba, aku sudah melihat senja bersamamu,” ucapnya pelan sekali, sambil melihat ke arahku.“Haa? Kamu bilang apa?” tanyaku.“Aku bilang, selain indah, senja itu juga baik. Kenapa? Karena senja tahu cara berpamitan ketika ia akan pergi. Ia seakan-akan tersenyum ke arah kita dan mengucapkan selamat tinggal.”“Meskipun indah, ia tetap tenggelam dan hilang,” jawabku.“Kamu benar!” katanya.Ia terus menatap senja dengan penuh perasaan. Saat itu aku menyadari, ada sebagian dari dirinya yang ikut tenggelam bersama senja. Ia seperti memikirkan sesuatu.Kemudian…“Kamu akan menungguku, kan?” tanyanya tiba-tiba sambil menatapku dalam-dalam.“Haaa?” aku terpaku.“Jika kamu mau menungguku, kembalilah ke tempat ini 7 tahun lagi. Pergilah ke tempat di mana kita berteduh,” jawabnya sambil menunjuk tempat teduh tadi.“Tetapi jika tidak, tetaplah datang ke tempat ini dan perkenalkan aku dengan lelaki yang membuat luluh hatimu. Aku ingin mengenalnya,” lanjutnya sambil tersenyum.Aku terdiam. Hatinya seperti akan pergi jauh. Aku melihat matanya berkaca-kaca.FLASHBACK ENDSejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kami tidak pernah berkomunikasi, bukan karena aku tidak memulainya, tetapi karena aku sudah kehilangan kontak dengannya. Saat itu ia mengganti nomor ponsel dan segala kontak yang sebelumnya kami miliki.Aku tidak tahu apa itu disengaja atau tidak. Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.Kini sudah 7 tahun sejak hari itu. Aku menyesal tidak menjawab bahwa aku akan menunggunya.Sejak ia pergi, aku masih ke tempat ini. Menunggu. Melihat senja. Merasakan hadirmu, dan terus berharap.Kini pukul 18:12. Hari semakin gelap, orang-orang mulai pulang. Aku bangkit dengan putus asa. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku mengambil foto senja untuk terakhir kalinya hari ini.Aku berjalan dengan penuh rasa putus asa. Aku masih berharap dia akan datang. Aku masih menunggunya. Aku masih ingin menemui senjaku yang hilang.Namun kenyataannya: SENJAKU TIDAK KEMBALI.Selesai.
Negeri Cinta
Pernahkah kau merasakan hasrat yang begitu besar untuk memiliki suatu hal yang sangat kau inginkan? Menginginkan sesuatu yang begitu sulit diraih padahal terletak tepat di depan mata? Seperti ingin meraih matahari dan bulan lalu membawanya ke dalam genggaman?Aku pun merasakan hal itu. Hasrat ini terlalu kuat sampai-sampai terkadang aku tak bisa menahan diri untuk memilikinya. Bahkan dia sangat lancang karena dengan beraninya dia selalu datang dan mendiamiku di dalam pikiranku tanpa permisi.Berulang kali aku mencoba mengusirnya dari pikiranku yang telah terkontaminasi oleh virus cintanya. Namun mengapa tatapan matanya—yang bak hamparan samudra itu—selalu berhasil membiusku? Begitu dalam dan begitu luas. Bahkan ikan-ikan pun akan sangat nyaman bermuara di sana.Hidungnya yang tajam bahkan menyaingi runcingnya bambu yang digunakan untuk melawan penjajah. Semua itu sangat memikatku.Dan bibirnya… Ya Tuhan. Lekukan indah itu tergambar begitu jelas di bibir menawannya. Bibir merahnya seperti strawberry matang yang siap dilahap.Terkadang aku curiga. Apakah ini yang disebut malaikat? Jika benar, bawalah aku terbang menuju tempat bernama Negeri Cinta.Negeri yang hanya ada kita berdua di dalamnya. Langit yang menampakkan senja merah, hamparan laut luas, gunung-gunung menjulang tinggi, bulan dan matahari yang berganti tanpa jeda. Biarkan semuanya menjadi saksi bisu cinta kita berdua.Namun semua itu hanya khayalan. Seperti layang-layang putus yang terbang begitu jauh hingga tak mungkin kembali.Aku harus belajar untuk tidak memaksakan kehendak. Aku berusaha melawan semua amukan iblis di dalam diriku yang terus mempengaruhiku untuk memilikinya secara paksa.Tapi cinta bukan soal memaksa. Cinta adalah perasaan yang tumbuh tanpa paksaan. Namun sampai kapan aku harus menahan semua ini? Aku lelah. Aku bukan air yang selalu mengalir tenang. Aku bukan api yang selalu membara. Aku hanyalah manusia biasa.Namun bahkan aku yang biasa ini tetap ingin melantunkan isi hatiku…Kau begitu sempurna. Di mataku, kau begitu indah. Kau membuatku selalu ingin memujamu.Dalam setiap langkahku, ku selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpamu. Jangan tinggalkan aku. Aku takkan mampu menghadapi dunia ini tanpa dirimu. Hanya bersamamu aku bisa.Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku… melengkapi diriku.Sayangku, kau begitu sempurna.Ya, dia memang sempurna—untuk ukuran manusia. Karena kesempurnaan yang sesungguhnya hanya milik Tuhan.Oh Tuhan… apakah ini ciptaan-Mu yang paling menakjubkan? Suara, tawanya, kedipan mata indahnya—semua itu terlalu memanjakan mata dan telingaku.Dan kau tahu apa yang paling kusukai darinya? Cara dia minum. Gerakan jakunnya, tetes peluh yang mengalir di pelipisnya… semuanya membuatku tak mampu berkedip.Meski hanya bisa melihat dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku.Lalu suatu malam, ia datang menghampiriku dengan setangkai mawar merah. Aroma bunga itu sangat memabukkan.Oh Tuhan… beginikah rasa cinta yang terbalas? Ini jauh lebih indah daripada memenangkan sebuah lotre rumah mewah.Dan yang lebih mengejutkan… dia berlutut di hadapanku. Di tangannya, sebuah cincin putih berpermata yang memantulkan cahaya bulan.Aku tak mampu berkata apa-apa. Airmata mengalir begitu deras. Lalu ia berkata:“Aku bukanlah sosok yang sempurna. Tapi izinkan aku mengisi dan memiliki hatimu sepenuhnya. Aku ingin menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini bersamamu. Maukah kau menjadi pendampingku, ibu dari anak-anakku, dan masa depanku? Sudikah kau menerima aku sebagai imam dan pemimpin keluargamu kelak?”Ya Tuhan… suara itu. Aku tak sanggup lagi. Aku hanya mengangguk sambil menangis bahagia.Dia menarikku ke dalam pelukannya. Hangat. Aroma tubuhnya memabukkan dan menenangkan seluruh indraku.“Tidak akan pergi, meski kau meminta,” katanya sambil memelukku lebih erat.Kebahagiaan ini terlalu sempurna. Teramat sempurna.Tuhan… terima kasih.Aku merasa seperti terbang menembus langit menuju Negeri Cinta. Negeri di mana hanya ada kita berdua. Negeri yang kutahu tidak akan pernah abadi—karena keabadian hanya milik Tuhan—tetapi aku berjanji menjaga semua pemberian-Nya ini.Aku ingin hati itu, senyuman itu, tatapan penuh cinta itu… menjadi milikku selamanya. Ya, selamanya.
Kado Untuk Indah
"Bang!! bang bangun udah siang." Mutia adik perempuanku membangunkanku.Aku terbangun dan melihat jam yang tergantung di dinding."Telat...." teriakku sambil berlari menuju kamar mandi.Hari ini merupakan hari pertamaku sekolah setelah naik kelas XI. Aku merasa sangat cemas dan gugup apalagi aku memilih jurusan IPA yang menurutku adalah jurusan yang sulit.Kenalkan namaku Kelvin. Aku merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Aku sudahi perkenalan tentang diriku.Kini aku akan perkenalkan kalian pada gadis yang berhasil menggetarkan hatiku sejak setahun yang lalu tiap kali aku melihatnya. Parasnya yang ayu disertai senyuman yang sangat menawan dengan balutan jilbab yang menutupi kepalanya.Dia memiliki suara yang sangat-sangat indah dalam melantunkan ayat-ayat Allah. Dia diciptakan seakan tanpa kekurangan dimataku. Namanya sangat tepat dengan kepribadianya, Indah.Sesampai di sekolah aku langsung menuju mading disana telah ditempelkan kertas daftar nama siswa di kelas yang baru. Aku sangat senang mengetahui bahwa Indah akan ditempatkan sekelas denganku." Tidak sia-sia aku mengambil jurusan IPA." Lirihku tersenyum bahagia, memang aku mengambil jurusan IPA dengan harapan dapat sekelas dengan Indah. Akhirnya impianku tercapai juga.Karena ini merupakan hari pertama di kelas XI kami sepakat membersihkan ruangan kelas hari ini. Aku hanya duduk di pojokan memandangi sesosok wanita yang belakangan ini tak pernah bisa pergi dari pikiranku."Ndah kaca itu gak akan bersih jika hanya dibersihkan dengan air." kata Suci yang tengah membersihkan kaca bersama Indah. Percakapan mereka itupun tak luput dari penglihatanku."Terus bagaimana?" tanya Indah meminta pendapat."Sebaiknya kita menggunakan pembersih kaca." jawab Suci."Baiklah tapi siapa yang akan pergi beli? Minimarketkan lumayan jauh dari sini." tanya Indah lagi."Tentu saja kamu Ndah, kan rumah kamu di daerah sini jadi kamu yang paling tau.""Aku? Tapi bagaimana tempatnya lumayan jauh dari sini.""Kalau begitu tunggu sebentar." Kata Suci.Kulihat Suci setengah berlari menghampiriku lalu dia memintaku untuk mengantarkan Indah dengan motorku.Tentu saja aku terkejut mendengar permintaan Suci tapi jujur aku merasa sangat senang. Aku tertegun beberapa saat mendengar permintaan Suci."Gimana bisa atau tidak? Kalau gak bisa aku minta tolong sama yang lain nih.""Iya bisa kok." jawabku singkatTanpa pikir panjang Suci menarik tanganku menuju Indah yang tampak heran melihat kehadiranku.Dia menarik tangan Suci dan menjauh dariku, dia mengatakan sesuatu pada Suci tapi aku tak dapat mendengarnya karena mereka bicara sambil berbisik.Aku rasa dia kaberatan diantar olehku. Aku sendiri paham atas keberatannya itu, bagaimana pun Indah adalah seorang wanita yang sangat religius tentu saja dia merasa keberatan dibonceng oleh seorang pria apalagi dia belum mengenal orang tersebut dengan baik. Namun Suci terus saja mendesak sampai akhirnya Indah pun bersedia untuk diantar olehku.Sepanjang perjalanan aku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu gugup. Begitupun sebaliknya tapi aku tak tau apa alasan ia tak berbicara.Aku sempat melihat wajahnya begitu murung dan tertunduk serta entah apa yang dibacanya yang membuat mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra."Apa yang sedang kamu ucapkan?" tanyaku memecah keheningan sambil menatap wajahnya dari spion."Aku sedang membaca doa semoga Tuhan mengampuniku hari ini." jawabnya terus menundukkan kepala lalu meneruskan bacaan yang sempat terhenti karena menjawab pertanyaanku barusan.Aku merasa bersalah pada Indah karena telah menuruti perintah Suci yang membuatnya begitu berdosa hari ini, tapi dibalik rasa bersalahku aku harus berterima kasih pada Suci karena berkat dirinya aku dan Indah bisa bersama hari ini.Hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku dan aku takkan pernah melupakan hari ini.Seiring berjalannya waktu aku dan Indah pun semakin dekat, ya meskipun kedekatan kami tak lebih dari seorang teman tapi aku merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian hidup seseorang yang aku sayangi.Kini Indah tak komat-kamit lagi saat aku boncengi meskipun wajah anggunnya tetap tertunduk, bahkan aku sering mengantarnya pulang sekolah karena aku tak tega melihatnya harus menunggu angkot dan kadang pulang jalan kaki."Ndah nanti malam aku boleh kerumahmu?" tanyaku pada Indah saat pulang sekolah."Mau ngapain kamu kerumahku?" tanya Indah nampak ragu, ia masih menundukkan kepalanya tak mau menatap langsung wajahku.Hal itu membuatku makin menyukai wanita di hadapanku ini ia senantiasa menjaga pandangannya. Sungguh calon istri idaman bukan. Hehe aku ngayal ketinggian yah."Aku mau diajarin tugas kimia yang kemarin soalnya aku gak ngerti, sekalian nanti aku ajak Suci sama Koko. Bolehkan?" tanyaku meminta persetujuan.Indah hanya mengangguk tanda setuju dengan rencanaku. Aku tersenyum bahagia. Bahagia banget malah.Sebenarnya selain untuk mengerjakan tugas aku ingin mengenal keluarga Indah. Seperti kata pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Hehe modus...Malam hari aku, Suci dan Koko datang ke rumah Indah. Ayah Indah menyambut kami dengan ramah sementara Indah dan ibunya membuatkan minuman untuk kami bertiga.Ayah Indah adalah seorang yang sangat baik dia juga sangat lucu. Setelah beberapa jam mengerjakan tugas kimia yang meskipun sudah dijelaskan Indah berulang kali aku belum benar-benar memahami.Akhirnya aku, Suci dan Koko berpamitan pulang karena tugas kami sudah selesai ditambah malam semakin larut.***"Sebentar lagi kita akan ujian kenaikan kelas bagaimana kalau kita belajar kelompok?" tanyaku pada Suci dan Koko dua bulan sebelum ujian kenaikan kelas."Itu ide yang bagus". jawab Suci menyetujui ideku."Bagus apanya? Kemampuan kita bertiga itu hampir sama siapa yang bisa kita harapkan dalam kelompok ini?" sambung Koko.Aku dan Suci saling berpandangan mendengar ucapan Koko yang sangat tepat. Hehe memeng kita bertiga gak ada yang masuk sepuluh besar. Memalukan!"Bagaimana kalau kita belajar kelompok di rumah Indah? Pasti Indah gak akan keberatan." Usul Suci.Aku dan Koko hanya mengangguk setuju akan usul Suci. Karena indah adalah siswa yang pintar bahkan ia selalu menjadi juara satu setiap tahun. Berbeda jauh denganku yang nilai pas-pasan. Akhirnya aku, Suci dan Koko memutuskan untuk belajar kelompok bersama Indah.Ujian pun tiba. Aku akan seperti biasa kasak kusuk gak karuan karena tidak paham dan tidak mengerti, bukannya aku tidak belajar namun meskipun aku belajar aku tetap tidak mengerti saat ujian berlangsung.Berbeda dengan Indah. Ia akan mengerjakan ujian dengan tenang karena dia sudah memahami dan dia seperti biasa akan selesai paling awal. Memang bertolak belakang denganku.Beberapa minggu kemudian hasil ujian pun kaluar, waktunya penerimaan rafor dan pengumuman juara.Untuk kesekian kalinya Indah menjadi juara pertama sekaligus juara umum dengan nilai paling tinggi di sekolah. Kami semua dinyatakan naik ke kelas XII.Di kelas XII ini tak ada perombakan, itu artinya aku akan tetap sekelas dengan Indah hingga lulus nanti. Dan itu membuatku merasa bahagia dan lega. Minggu depan merupakan hari yang istimewa bagi Indah yaitu hari ulang tahunnya yang ke-17.Aku bingung memberi hadiah apa untuknya, aku juga tidak tau apa benda kesukaannya. Aku harus memberinya sesuatu yang istimewa yang tak kan pernah ia lupakan. Ya kali aku mau dilupakan oleh Indah.Hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini adalah hari ulang tahun Indah. Aku sudah menyiapkan sebuah kado istimewa untuk orang yang istimewa yang aku persiapkan dari seminggu yang lalu.Hari ini kelas XII IPA sangaja memberinya kejutan, Indah terlihat sangat bahagia itu terlihat jelas di wajahnya. Indah sangat terkejut saat kami membawa sebuah kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.Satu hal yang membuatku sangat sangat bahagia hari ini adalah dia memberikan potongan pertama kue ulang tahunnya kepadaku dan menyuapiku dengan tangannya sendiri ya meskipun dia harus dipaksa oleh teman-teman sekelasku yang mengetahui bahwa aku menyukai Indah. Tapi tetap saja aku merasa menjadi orang paling bahagia dimuka bumi hari ini. Lebay...Sepulang sekolah setelah sekolah sepi aku menghampiri Indah. Tujuanku sudah pasti ingin mengucapkan selamat secara pribadi tak lupa memberikan hadiah ulang tahun untuknya."Ndah selamat ulang tahun ya. Semoga sehat selalu dan panjang umur." kataku sambil mengulurkan tanganku ke arah Indah."Ya, terima kasih Vin."jawabnya menjabat uluran tanganku."Ini kado untukmu, hanya kado sederhana ini yang dapat aku berikan padamu Ndah, ku harap kamu menyukainya." Kataku sambil memberikan sebuah kado yang dibungkus rapi."Terima kasih Vin." Dia menerima kado itu dengan senyuman yang berhasil membuat jantungku memompa lebih cepat dari biasanya."Ya sama-sama. Karena hari ini adalah ulang tahunmu maka aku akan mengantarmu pulang.""Baiklah kalau begitu." jawabnya dan naik ke motorku.Aku merasa bahagia walaupun aku hanya menjadi teman bagi Indah. Aku harap dia menyukai kado yang aku berikan padanya sebagai tanda bahwa aku benar-benar menyayanginya.Aku menghadiahi Indah sebuah jam tangan berwarna cokelat dan sebuah Al-Qur'an serta sebuah surat yang ku tulis khusus untuknya. Dalam surat itu aku mengungkapkan segala isi hatiku.Hadiah itu bermakna bahwa aku menyukainya setiap waktu dan karena Allah. Isi surat itu sendiri biarlah akan menjadi rahasia antara aku dan dia.Meskipun pada akhirnya aku tak mengetahui bagaimana perasaan Indah kepadaku yang sesungguhnya, aku sudah sangat bahagia pernah hadir dalam hidup Indah dan sempat mengungkapkan isi hatiku meskipun hanya lewat sebuah surat.Aku senang dia bisa mengetaui isi hatiku meskipun bukan untuk dibalas tapi biarkanlah aku terus memujanya hingga nanti. Hingga Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya dengan membukakan pintu hati Indah untukku atau membukakan pintu hatiku untuk orang lain.TAMAT
Ramalan Cinta Untuk Langit
Alarm jam di kamar ku sudah berulang kali berbunyi, tapi rasa hangatnya selimut yang membalut tubuh ku dari tadi malam sungguh sulit untuk ku gantikan dengan seragam sekolah, apalagi jika ku ingat pelajaran pada jam pertama adalah pelajaran dengan guru terganas di sekolah ku.Kenalkan namaku Bulan Purnama, ibuku memberikan nama yang sangat indah untukku. Ibuku mengatakan aku dilahirkan pada malam bulan purnama, jadi dia memberiku nama Bulan.Aku adalah sosok yang sangat pendiam. Bahkan di sekolah aku tidak memiliki seorang teman pun. Aku lebih senang menyendiri di taman saat jam istirahat berlangsung.Satu lagi keanehan yang aku miliki yaitu aku dapat meramal. Entah dari mana kemampuan aneh ini aku dapati, tapi aku benar-benar bisa meramal seseorang, namun aku selalu ingin menyembunyikan keanehanku ini.Karena itu pulalah tak seorang pun yang mau berteman denganku di sekolah. Mereka semua menjauhiku semenjak mereka tau aku memiliki keanehan. Ada pula yang takut dengan diriku, ketika aku mendekat mereka semua akan pergi menjauh.Aku benar-benar merasa kesepian meskipun aku sekolah di sekolah favorit yang memiliki banyak siswa. Banyak juga dari mereka yang memanggilku dukun. Ah entahlah!!Aku merasa kesepian dan ingin hidup normal seperti mereka semua, tanpa ada yang takut padaku. Hari ini aku memiliki firasat yang aneh tapi aku tak dapat memahaminya. Aku tak mengerti dengan perasaanku hari ini.“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Bandung.” Jelas Pak Agus pagi ini. Aku hanya tertunduk di kursiku dan bahkan tak melihat ke arah pak Agus yang tengah bicara di depan kelas.“Silahkan perkenalkan dirimu.” Kata pak Agus lagi, pasti pada anak baru yang barusan disebutkannya.“Namaku Langit Shaputra.” Aku mengangkat wajahku dan pandanganku beradu dengan seorang pemuda tampan yang tengah berdiri di depan kelas.“Kalian dapat memanggilku Langit.” Sambungnya.Aku tetap saja tak mengalihkan pandanganku darinya. Entah ada apa pada diriku, aku sungguh terhipnotis oleh anak baru ini. Seperti ada daya magnet yang sangat kuat pada sosoknya yang membuatku tak dapat memalingkan wajahku darinya. Ada hal aneh yang menyelubungi hatiku, aku tak tahu apakah itu tapi rasanya sungguh aneh.Anak baru itu berjalan kearahku. Aku seketika menjadi gugup. Apa yang terjadi pada diriku? Setelah sampai di depanku pemuda itu tersenyum sangat manis membuatku jadi salah tingkah memandangi senyuman itu.“Aku boleh duduk disini?” tanyanya ramah menunjuk kursi kosong di sebelahku. Hatiku bergetar mendengar suara itu.“Boleh aku duduk disini?” ulang pemuda yang mengenalkan dirinya Langit itu.“Oh eh bo boleh. silahkan.” Jawabku gugup.Dia kembali tersenyum sangat indah kearahku, aku hanya menunduk tak berani beradu pandang dengan mata indah pemuda ini, matanya berwarna coklat bening dan tatapannya tajam.“Langit.” Kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan.Aku masih menunduk tak berani menatap mata pemuda yang ada di sampingku sekarang ini.“Bulan.” Jawabku pelan tapi cukup bisa didengar olehnya.“Namamu cantik seperti orangnya.” Lagi lagi dia tersenyum manis. Aku makin menundukkan kepalaku mendengar pujian itu.Bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Semua anak berlarian menuju kantin kecuali aku. Dan Langit? Dia juga gak pergi ke kantin, dia masih setia duduk di sebelahku. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja.“Lang.” Panggil seseorang dan orang itu adalah Andi.“Lo ngapain disini sama dukun ini?” Andi memang selalu memanggilku dengan julukan itu hingga anak-anak lain akhirnya juga memanggil demikian.“Dukun? Maksud lo dia?” tanya Langit menunjukku dengan telunjuknya.“Iya Lang. Dia yang sebelumnya gue ceritain, Lo harus hati-hati sama dia.” Kata Andi. Perkataan itu sungguh menyayat hatiku, aku segera beranjak meninggalkan tempat itu dengan genangan air mata yang tertahan di pelupuk matakAku merasa sedih, aku tak mengerti mengapa Tuhan memberiku kemampuan ini yang hanya membuatku terlihat aneh dimata teman-temanku. Aku menangis dibawah sebuah pohon, aku tak sanggup kalau harus begini terus.“Udah jangan nangis. Nanti gak cantik lagi.” sebuah suara mengagetkan ku an menyerahkan selembar tisyu, aku menoleh ke arah suara itu dan mendapati Langit tengah berjongkok di hadapanku.“Kamu ngapain disini?” tanyaku, dan kini aku beranikan diri untuk menatap matanya.“Aku minta maaf atas sikap Andi tadi, dia orangnya memang begitu.” Aku tak mengerti dengan pria ini, kenapa dia begitu peduli padahal dia tak mengenalku.“Udah kamu jangan sedih lagi nanti aku juga ikut sedih.” Katanya lagi sambil tersenyum.Dia menceritakan bahwa ia pernah berjanji kepada mendiang ibunya, ia tak akan membuat air mata seorang perempuan terjatuh di hadapannya.Ceritanya membuat aku bersimpati padanya. Pantas saja tampak sekali raut kesedihan di wajah tampannya.Sejak hari itu Langit terus bersikap baik padaku. Dia tak pernah menjauhiku seperti teman-teman yang lain meskipun Andi berulangkali mempengaruhinya untuk menjauh dariku namun tampaknya Langit tak pernah menghiraukan kata-kata Andi.“Heh dukun! Lo mantrain Langit ya? Sampai-sampai dia gak mau dengerin gue sama sekali.” Andi menghadangku ketika aku hendak ke kelas pagi ini.“Maksud kamu apa sih Ndi? Aku gak ngerti.” Jawabku bingung.“Udahlah Lo gak usah pura-pura gak bersalah gitu, sekarang balikin Langit kayak dulu lagi.” Kini nada Andi makin keras saja.“Tapi aku benar-benar gak ngerti apa maksud kamu.” Aku terus membela diri karena aku gak ngerti apa yang tengah dimaksud Andi.“Lo pasti udah guna-guna Langitkan?” aku terkejut mendengar tuduhan itu. Guna-guna? Itu tuduhan yang menyakitkan. Sungguh! Memangnya dia pikir aku penyihir apa yang menggunakan mantra yang tak jelas.Jujur aku tak pernah percaya dengan mantra-mantra itu dan sekarang aku malah di tuduh mantrain seseorang? Kemampuanku tak setinggi itu, aku hanya bisa melihat gambaran-gambaran masa depan seseorang saat aku menyentuhnya, itu pun hanya bayangan hitam yang tak jelas.Aku tak pernah mengasah kemampuanku karena aku sangat membenci kemampuan ini, kalau bisa aku ingin sekali menghilangkannya. Aku merasa kemampuan ini bagaikan kutukan yang membuat semua orang membenci dan menjauhiku. Kini aku dituduh guna-guna seseorang? Ya Tuhan, sabarkan lah hati hambamu ini.“Sumpah Ndi, aku gak mungkin guna-guna Langit. Aku bukan dukun.” Andi makin marah mendengar jawabanku.“Gue gak percaya sama Lo, gue yakin Lo pasti udah mantrain Langit karena Lo suka sama dia iyakan?”“Sumpah Ndi tolong percaya sama aku.” Andi terus saja menuduhku dia membentak bahkan dia hampir menamparku namun teriakan seseorang berhasil menghentikan gerakan tangan Andi.“ANDI!!” teriak seseorang dari arah belakang saat aku menoleh ternyata orang itu adalah Langit.“Dia gak pernah guna-guna apalagi mantrain gue. Gue yang mau berteman sama dia.” Langit berusaha menjelaskan.“Lo itu udah di guna-guna jadi Lo gak mungkin sadar Lang.” ujar Andi, Langit menatapku sejenak seakan dia mempercayai ucapan Andi barusan. Aku yang menerima tatapan itu merasa sangat sedih, hatiku bagai tengah di hujami oleh jarum tak kasat mata.Aku segera pergi meninggalkan tempat itu, aku gak sanggup hidup lagi kalau harus di perlakukan gak adik seperti ini. Ternyata Langit mengikuti langkahku dari belakang.“Lan maafin Andi ya? Kamu jangan dengerin kata-kata Andi.” Aku diam tak menjawab malah ku percepat langkahku meninggalkan Langit.“Lan tolong maafin ucapan Andi yang keterlaluan.” Langit terus mengikutiku.“Kamu bisa gak berhenti ngikutin aku? Aku gak apa-apa kok.” Kataku menahan lelehan air mataku.“Tapi Lan...” belum selesai kalimat itu aku sudah menyatukan kedua tanganku memohon padanya.“Aku mohon jangan ganggu aku, aku gak apa-apa. Tolong tinggalin aku sendiri.”“Gue gak bakalan ninggalin lo sendirian, terserah kalau lo mau marah sama gue, lo nampar gue juga silahkan tapi jangan minta gue buat pergi.”“Sebenarnya mau kamu itu apa sih?” kini air mata sudah bercucuran tak dapat ku tahan lagi.“gue hanya ingin berteman sama lo.” Kini dia malah tersenyum. Senyuman manis yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan.“Tapi aku gak butuh teman, aku bahagia kok meskipun selama ini aku gak punya teman.” Jawabku lirih.“Gue yang butuh teman kayak lo. Lo itu unik.” Lagi-lagi dia tersenyum. Gak jelas banget nih anak, yang lain pada sibuk jauhin aku dia malah pengen jadi teman aku.“Kenapa? kamu gak takut sama aku?” tanyaku penasaran kini tangisku sudah hilang.“Gak papa pengen aja punya teman yang bisa ngeramal. Jadi kalau mau diramal gak perlu jauh-jauh pergi ke dukun. Lagian kenapa harus takut sih? Lo kan gak makan orang juga.” Jawabannya membuatku tersenyum.“Gitu donk! Kalau senyum lo itu tambah manis loh.” Sungguh orang yang aneh.“Aneh.” Kataku“Aneh kenapa?” matanya kini mengerling nakal ke arahku, aku kembali hanya tersenyum melihat tingkah anehnya.“Kalau gitu kita berteman mulai sekarang. Ok?” aku hanya mengangguk, Langit begitu senang aku juga tak tau apa sebabnya padahal aku hanya menerima dia sebagai teman bukan pacar tapi dia senang bukan kepalang. Sungguh orang yang aneh bathinku.Kini aku mempunyai seorang teman kalau di sekolah, dimana ada aku dia pasti juga ada disitu. Tapi ada perasaan aneh yang kini tumbuh dihatiku saat bersama dengan Langit.Entah perasaan macam apa itu tapi aku merasa nyaman saat aku bersama dengan Langit. Mungkinkah ini cinta? Tapi aku berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.Aku meyakinkan diriku kalau Langit hanyalah teman saja tidak boleh ada perasaan lebih. Sungguh sulit untuk menghilangkan perasaan ini, tapi aku akan terus berusaha.“Lan tolong ramal gue dong.” Langit tiba-tiba meminta diramal olehku, membuatku menoleh memerhatikan wajah tampannya. Aku hanya ingin memastikan dia sedang bercanda seperti biasa atau tidak.“Kenapa? Kok minta di ramal segala?” tanyaku heran dengan permintaanya setelah aku melihat raut wajahnya yang begitu serius.“Gue lagi suka sama seseorang Lan, gue mau tau apa dia juga suka sama gue atau gak.” Balas Langit.Mendengar itu hatiku terasa begitu nyeri. Oh apakah ini rasanya patah hati. Kenapa hatiku sangat sakit karena kenyataan ini. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.“Oh ya? Siapa tuh cewek yang beruntung bisa bikin kamu jatuh hati?” tanyaku mencoba bersikap wajar meski sulit.“Nanti lo juga bakal tau sendiri.” Jawabnya tersenyum manis. Aku membalas senyuman itu meskipun dalam hati terasa perih.“Ya udah siniian tangan kamu biar aku lihat.” Kataku.Dia memberikan tangan kanannya padaku. Aku memperhatikan telapak tangannya dan aku bertambah sedih mengetahui kenyataan bahwa cewek itu juga menyukainya.Haruskah aku berbohong dan mengatakan cewek itu tak menyukainya? Tapi Langit adalah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku, aku tak mungkin membuatnya sedih dengan berbohong dan mengatakan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.Aku jadi semakin galau sekarang. Kalau aku berkata jujur aku akan menyakiti diriku sendiri dan kalau aku berbohong aku akan menyakiti orang yang aku sayang. Aku harus bagaimana?“Gimana Lan?” Langit tak sabar mendengar jawabanku.“Maaf Lang.” Wajah Langit berubah murung mendengar jawabanku.“Maaf Lang dia juga suka sama kamu.” Lanjutku.Wajahnya yang tadi murung kini jadi berseri-seri sebuah senyuman mengembang di bibirnya.“Benarkah Lan?” tanya Langit memastikan. Aku hanya mengangguk, sebenarnya sakit mengetahui semua ini tapi mau bagaimana lagi aku gak mungkin bohong sama Langit.Langit memelukku erat, ada rasa bahagia saat dia memelukku tapi aku menyadari hati ini telah terluka dan aku harus siap menanggungnya.“Lan gue senang banget Lan. Trus kapan waktu yang tepat buat gue nembak dia Lan?” tanya Langit setelah melepas pelukannya. Wajahnya tampak berseri-seri karena saking bahagia.“Tanganmu.” Ujarku.Dia memberikan tangan kanannya lagi, aku memperhatikan telapak tangan Langit. Sebenarnya Langit bisa membak dia kapan saja karena mereka memang sudah saling menyukai satu sama lain tapi aku masih belum rela melihat Langit bersatu dengan wanita pujaannya secepat itu jadi aku berbohong pada Langit.“Sebaiknya jangan minggu ini, karena kurang baik untuk memulai suatu hubungan. Sebaiknya kamu nembak dia hari minggu minggu depan.” Jelasku pada Langit."Gue sangat senang Lan. Gue udah suka sama dia sejak pandangan pertama Lan. Makasih ya Lan.” Ujar Langit bahagia, saking bahagianya secara tak sadar dia memeluk tubuhku. Aku membeku dalam pelukannya, saat dia tersadar kembali ia hanya mengucapkan kata maaf tapi entah mengapa hal itu membuat aku sedih.Aku tersenyum ‘aku juga menyukaimu sejak pertama melihatmu Lang’ kataku dalam hati.“Kalian adalah pasangan yang cocok. Aku yakin kamu dan dia akan langgeng.”“Gue juga harap juga gitu Lan.” Langit tampak sangat sangat bahagia hari ini. Tapi aku malah ngerasa sedih, andaikan kamu tau Lang kalau aku menyayangimu lebih dari seorang teman.Saat pulang sekolah aku melihat Langit memboncengi seorang cewek, namanya Bela. Dia adalah siswa kelas X, setahun di bawahku. Aku yakin Bela adalah wanita yang disukai oleh Langit.Bela memang cantik dia juga terkenal di sekolah karena Bela cukup aktif dalam organisasi sekolah. Kamu memang lebih cocok sama Bela Lang, bukan sama aku. Harusnya aku sadar dari awal, tak seharusnya aku menyimpan perasaan lebih padamu. Maafkan aku Lang aku gak bisa jadi teman yang baik, aku gak bisa ikut bahagia atas kebahagiaan kamu. Aku minta maaf.Semangatku benar benar hilang sejak aku melihat Langit bersama Bela. Hingga kini semangatku belum juga kembali, aku merasa berantakan hari ini. Rasanya aku tak ingin pergi ke sekolah karena tak sanggup kalau harus bertemu sama Langit.Aku menyeret kakiku yang terasa enggan melangkah menuju kelasku. Aku berusaha bersikap wajar pada Langit agar dia tak tau kalau aku rapuh saat ini. Aku tak ingin dia tau kalau aku sedang sedih karena kebahagiaannya.Waktu berjalan dengan cepat. Hari ini adalah hari minggu dimana hari yang aku sarankan pada Langit untuk menyatakan cintanya pada Bela. Aku hanya uring-uringan sejak pagi, mungkin sekarang Langit udah jadian sama Bela. Mungkin memang takdirku hanya menjadi pengagum semata yang harus memendam perasaanku.Drrr...Drrrr...Drrrr...telponku bergetar, dari nomornya tak aku kenali.“Halo!” kata seseorang di seberang sana.“Iya halo, ini siapa?” tanyaku.“Gue Andi.” Aku kaget setelah tau siapa yang nelpon.“Andi? Ada apa ya Ndi?” tanyaku penasaran. Setahuku Andi sangat tidak menyukaiku kenapa tiba-tiba dia menelponku?“Gue pengen ketemu sama Lo Lan.” Kata Andi.“Temui gue di taman dekat sekolah. Penting! ” Dan tanpa mendengarkan jawabanku terlebih dahulu dia langsung menutup telponnya. Aku bingung kenapa tiba tiba Andi pengen ketemu sama aku.Karena penasaran akhirnya aku datang juga ke taman dekat sekolah seperti yang dikatakan Andi lewat telpon. Sampai di taman aku tak menemukan Andi disana yang ada hanya Langit yang tengah duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang cukup rindang.Sepertinya dia tengah menunggu seseorang. Jangan-jangan dia lagi nunggu Bela. Aku hendak beranjak meninggalkan tempat itu namun sebuah tangan menarik tanganku. Aku menoleh dan ternyata yang narik tanganku adalah Langit.“Lo ngapain disini Lan?” tanya Langit padaku.“Aku lagi nunggu Andi. Kamu sendiri?” pertanyaan bodoh bathinku.“Gue juga lagi nunggu dia Lan.” Langit tersenyum, aku membalas senyuman itu dengan hati tersayat.Kenapa aku harus datang ke taman ini dan kenapa Andi pengen ketemunya di taman ini? Trus orangnya mana lagi? Aku merasa sangat kesal atau Andi hanya ingin mengerjaiku supaya aku melihat Langit nyatain perasaannya sama Bela? Sial banget sih aku hari ini.“Kalau gitu aku pergi aja deh Lang. Kayaknya Andi ngerjain aku deh.” Kataku.“Lo disini aja Lan, Lo maukan jadi saksi saat nanti gue nyatain perasaan sama dia.” Kata Langit.“Apa?” aku kaget. Jadi saksi? yang benar saja bagaimana mungkin bisa aku menyaksikan orang yang aku sayangi menyatakan perasaannya pada wanita lain itu sama saja kau ingin membunuhku Lang.“Tapi aku harus pulang Lang.” Jawabku.“Ayolah Lan demi gue.”“Tapi Lang...”“Plisss...” langit terus saja memaksaku, tapi bagaimana mungkin Lang kau tak mengerti perasaanku Lang.“Lan gue gugup banget, menurut lo dia bakal terima cinta gue?” Tanya Langit. Pertanyaan bodoh.“Pasti Lang. Dia juga suka sama kamu, itu yang aku lihat.” Kataku mencoba menegarkan hatiku sendiri.“Ok. Nanti pas jam 10 gue akan nembak dia.” Kata Langit.Aku melirik jam biru yang melingkar di pergelangan tanganku 10 menit lagi batinku. Tapi aku belum melihat kehadiran Bela apa mungkin dia terlambat? Sampai 7 menit berlalu Bela belum datang juga. Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? aku jadi semakin bingung.Ku lirik Langit dia tampak begitu tenang, kenapa dia tidak merasa panik sampai tiga menit lagi dia akan menyatakan perasaannya Bela belum datang juga. Hanya ada aku dan dia di taman ini.Tepat jam sepuluh. Aku ngelirak lirik ke sekeliling taman manun aku tak melihat Bela bahkan bayangannya saja tak tampak. Langit masih duduk di sebelahku, dia tampak sangat tenang sedangkan aku mulai panik. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bela?“Lan.” Aku terkejut saat tangan Langit menggenggam tanganku. Aku hanya diam tak menyahut. Apa yang terjadi sebenarnya.“Lang kenapa Bela belum datang?” tanyaku sambil menarik tanganku dari genggaman Langit.“Bela? Kenapa lo nyariin Bela?” tanya Langit heran. Aneh! Bukannya dia yang sedang nunggu Bela.“Bukannya kamu lagi nunggu Bela?” tanyaku.“Kok Bela sih?” aku semakin keheranan.“Bukannya kamu mau nembak Bela?” kini wajah Langit makin heran, aku jauh lebih heran dari dia.“Bukan Lan.”“Trus siapa dong kalau bukan Bela?” tanyaku keheranan.“Elo.” Jawab Langit singkat, padat dan jelas.“Hah? A.. aku?” kini aku benar-benar keheranan.“Iya lo. Gue suka sama lo Lan. Gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali gue ketemu sama lo. Dan berkat lo juga gue jadi tau kalau sebenarnya lo juga suka sama gue.” Jelas Langit.“J.. jadi yang waktu itu aku ramal itu aku sendiri?” tanyaku keheranan.“Yap. masak lo gak sadar sih?” Langit tertawa lepas melihat ekspresi heranku yang kini sudah memuncak.“Jadi selama ini kamu ngerjain aku?” tawa langit makin menjadi-jadi saja.“Terus telpon dari Andi itu juga rencana kamu?” tanyaku memandang lekat wajah tampan milik Langit dia hanya mengangguk masih dalam tawanya.“Kamu jahat ya Lang.” Kataku akhirnya.“Jahat?” tawa langit langsung berhenti mendengar ucapanku barusan.“Iya kamu jahat. Kamu tau gak gimana sakitnya aku saat tau kamu suka sama seseorang? Kamu tau gak penderitaan yang harus aku jalani setiap hari? Kamu tau gak betapa sakitnya hatiku?” aku menangis mengingat perihnya hatiku saat itu.“Maaf Lan.” Langit mendekapku dalam pelukannya.“Maafin gue Lan. Gue emang gak tau, tapi gue sungguh-sungguh sayang sama lo.” Wajahnya terlihat begitu bersalah.Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan berdiri dari kursi yang kami duduki. Ku lihat wajah Langit tampak sangat bersalah.“Gue minta maaf Lan.” Kata Langit lagi.Aku tertawa tak kuasa melihat wajah bersalahnya. Langit jadi keheranan memandang ke arahku.“Jadi lo ngerjain gue?” Katanya hendak menangkapku namun aku berlari menghindar dari tangkapannya.“Kamu pikir Cuma kamu yang bisa ngerjain orang.” Kataku dan berlari karena dia sudah sangat kesal dan siap menangkapku.“Aku cinta sama kamu Lan. Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Langit menggenggam tanganku erat.Aku tak menjawab dengan kata-kata aku hanya menganggukkan kepalaku dan langsung memeluk Langit seakan tak ingin melepaskannya lagi.Akhirnya aku mengerti dan kini aku tak pernah menyalahkan kemampuanku lagi. Karena kemampuan anehku inilah aku bertemu dengan Langit, orang yang sangat aku cintai dan mencintaiku. Kini aku sudah memiliki Langit, dan takkan pernah kesepian lagi. Bulan kini telah menemukan Langitnya.THE END
Jenika & Reyna
memukuli ku ketika Reyna bersekolah. Berusaha mengingat ucapan Reyna dan terus bersabar. Selama kesabaran ku masih ada aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan.. ibu tiri ku tak terima dan kembali memukuli ku bahkan ia menarik-narik kerudung ku.Cukup! Aku memandang nya dengan tatapan melotot dengan ketidaksukaan."Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Kamu mau melawan saya, hah!! Kamu mau marah karena saya telah melepas kerudung mu itu?" Ucapnya dengan sinis."Ya!!" Bentak ku dengan air mata."Kau!""Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajar ku, Bu!. Bahkan dengan bibir ku saja keluh memanggil mu ibu. Ayah memang membiarkan mu bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaan mu. Walaupun aku mati, harta tak akan berpindah ke tangan mu." Ucap ku dengan dada berdebar."Sudahi pukulan mu sekarang giliran ku."Ini lah diri ku sekarang, air mata yang kering. Hati yang sudah rapuh, ditambah terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan dengan menggenggam pisau perlahan berjalan ke arah nya. Ia mundur dan ia berteriak kepada ku. Dann..Jlebb!Aku menusuk diri ku sendiri di depannya. Tepat ketika Reyna datang."Jenika!!!" Teriak Reyna melotot ke arah ku…Bruk! Aku terjatuh dengan tatapan keluh, menunggu ajal ku tiba. Reyna melepaskan tas nya dan berlari ke arah ku. "Jen.. bangun!!" Reyna memukul pipi ku pelan. "Tak ada harapan lagi untuk mu, Rey." Reyna menangis dengan histeris menatapku. "Maafkan aku yang tidak bisa bersabar.."Reyna menggeleng. "Ini semua salah mama." "Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri! Kau melihatnya kan?" "Ia! Aku melihatnya, dia bunuh diri karena mama!"Deg!"Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama tidak akan tenang aku buat." Reyna memapah Jenika keluar.3 hari kemudian Reyna berhenti sekolah dan memilih belajar kedokteran. Ia ingin menjadi psikolog agar bisa membantu anak kecil yang tersiksa seperti Jenika. Orang tua Jenika dihukum seumur hidup karena terbukti menyiksa. Reyna dan ayah Jenika hidup bersama sampai tua. Sesekali, ibu Jenika menyusul Reyna untuk sekadar menanyakan kabar.
FRIEND BECAME GIRLFRIEND
Siang ini matahari tertutup awan, tetapi tidak hujan. Abigail melenguh bosan. Dipandanginya barisan ikan mas yang hilir mudik tanpa kenal lelah di dalam kolam belakang kampus.Sesekali ia melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya."Hallo Abi cantik," sapa seseorang sembari menepuk ringan bahunya.Abi menoleh tersenyum. Adelio Reynand teman seangkatannya berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya."Kenapa sendirian aja?" tanya Adelio masih memasang senyum manisnya."Eh, Adelio. Biasa, nungguin Marcel," sahut Abi malas."Marcel? Marcello Evarado?" tanya Adelio memastikan."Iya, siapa lagi?"tanya Abi mengerutkan dahinya."Nama Marcel di kampus kita kan ada tiga," ujar Adelio membela diri.Tiba-tiba smartphone ku berbunyi."Hallo?" aku membalas sapaan yang memanggil namaku di ujung sana."......""Kenapa lo gak ngabarin gue? Setidaknya gue gak perlu nungguin lo sampe karatan gini!""......"" Iya iya! Udah ah, gue mau pulang! Capek tau!" Abi dengan ketus menyudahi pembicaraannya.Kemudian ia tersadar bahwa sedari tadi Adelio memandanginya yang sedang marah-marah dengan ekspresi geli." Kamu kalo marah-marah begitu, lucu ya? Tambah cantik!" gumamnya yang didengar jelas oleh Abi."Ish apaan sih lo?" Abi mengelak jengah."Jangan suka marah-marah, nanti tambah cantik lho!" Abi tersedak mendengar ucapan Adelio.Perempuan mana yang tidak tersanjung dengan pujian dan perhatian Adelio, seseorang yang menjadi idola di kampus ini? Banyak gadis-gadis yang berharap bisa dekat dengan laki-laki itu. Dan sekarang, Adelio menyapanya, memanggil namanya dan memujinya cantik."Abi? Abigail? Abigail Claretta?" Adelio menggoyangkan tangannya di muka Abi, membuat gadis itu tersentak dan tersipu."Uhm, sorry," Abi salah tingkah."Kenapa dengan Marcel?" dahi Adelio bertaut."Marcel sedang ada perlu. Penting katanya. Gak bisa antar gue pulang," sahut Abi malas."Ya udah, kamu pulang sama aku aja. Gimana? Gak apa-apa kan?" mata Abi melebar. Seorang Adelio Reynand menawarinya pulang bersamanya?"Tapi tidak apa-apa lo nganter gue pulang?" tanya Abi gugup."Ya gak apa-apa, Abi cantik. Yuk, aku antar kamu pulang," ujar Adelio yang masih ngotot ber aku kamu.Abi tertegun melihat senyum Adelio yang mengembang dengan manisnya. Terlebih saat Adelio meraih jemarinya dan menggandengnya menuju ke mobil sport Adelio.Berani taruhan, Abi yakin banyak gadis yang saat ini tengah melihatnya digandeng Adelio dengan tatapan iri.=====£=====Malam belum larut benar. Abi membenarkan duduknya berselonjor di atas gazebo halaman samping rumahnya.Abi tengah larut dengan novel yang dibacanya ketika tepukan seseorang membuatnya berjingkat kaget dan refleks menoleh."Marcel? Lo ngapain kemari?" Abi menatap galak pada laki-laki yang berdiri didepan nya dengan cengiran kudanya. Ia masih kesal dengan polah Marcel yang sudah membuatnya menunggu di kampus siang tadi."Gue mau minta maaf sama lo. Sorry banget ya Bi.""Ya udah. Gak apa-apa," Abigail masih menjawab dengan ketus meskipun Marcel sudah meminta maaf padanya. Ya, Abi masih kesal."Gak apa-apa kok masih cemberut sih?" goda Marcel menowel pipi Abi."Ish apaan sih lo? Memang ada apa sih?" tanya Abi mengerutkan keningnya."Aku harus ke perpustakaan Bi. Buku itu cuma satu. Kata penjaga perpus nya kemarin buku itu balik. Jadi gue nungguin buku itu di balikin sama yang minjem," jawab Marcel dengan raut kesal mengingat ia harus menunggu lama gara-gara cewek yang meminjam buku itu ngaret datangnya."Penting banget ya?" tanya Abi."Iya Bi. Kalo gak penting banget, gue pilih nganterin lo pulang,"sahut Marcel tersenyum melihat Abi sudah tidak jutek lagi."Ya udah. Gak apa-apa. Lagian gue kemarin dianterin pulang sama Adelio kok, "ujar Abigail tersenyum - senyum jengah."Adelio?"Abi mengangguk. Senyumnya masih terkembang manis, membuat jantung Marcel serasa berhenti berdetak."Iya, Adelio. Dia baik banget ya Cel. Seandainya...""Seandainya apa, Bi?" potong Marcel cepat. Perasaannya mengatakan ini adalah hal buruk yang akan ia dengar."Seandainya saja Adelio suka sama gue...""Lo suka sama Adelio, Bi?" potong Marcel lagi. Perasaannya benar-benar tidak nyaman melihat Abigail menyunggingkan senyum seperti seorang yang sedang jatuh cinta.Abi menoleh tersenyum, lalu mengangguk perlahan.Jantung Marcel serasa berhenti berdetak. Ia merasa seolah ada batu besar menghantam dadanya." Eh, sorry Bi, gue lupa ada tugas dari Miss Farah yang belum gue kerjakan. Gue cabut dulu ya Bi, " ujar Marcel dengan hati patah.Ia berbalik dan bergegas berlalu dari hadapan Abi.Abi menatap kepergian Marcel dengan bingung. Tapi sesaat kemudian ia mengedikkan bahunya, lalu kembali menekuri novel di tangannya.=====£=====MARCELLO EVARADO POVSudah hampir sebulan aku fokus pada skripsi ku. Profesor Hino sudah menyetujui skripsi yang kuajukan. Aku tinggal fokus pada ujian skripsi ku saja. Sebenarnya semua yang kulakukan ini karena aku tidak tau lagi harus melakukan apa agar aku bisa melupakan kenyataan bahwa Abigail sahabatku, gadis yang dekat denganku dan bahkan diam-diam kucintai amat sangat itu ternyata menyukai Adelio.Yah, siapa sih yang tidak menyukai seorang Adelio Reynand? Teman seangkatan Abigail itu sangat populer. Aku tidak mungkin bisa menyaingi Adelio. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan Adelio.Adelio yang tampan, Adelio yang ramah, Adelio yang baik dan sopan, kaya raya, pintar, tidak sombong, dan masih banyak lagi alasan kenapa para gadis di kampusku bahkan mungkin semua gadis yang mengenalnya akan menyukainya.Aku menghela nafas panjang, mencoba mengurangi rasa sesak yang muncul setiap kali melihat kedekatan Abi dengan Adelio yang makin hari makin lengket.Aku harus menjauh dari Abi dan memfokuskan diriku pada skripsiku. Aku tidak bisa melihat kebersamaan Abi dengan orang lain. Hatiku sakit. Tapi bisa apa aku? Statusku hanyalah sahabat buat Abi. Dan buatku, yang terpenting adalah Abi senang dan bahagia. Itu sudah cukup buatku meskipun aku tidak akan tahan melihatnya bersama laki-laki lain. Karena itu aku memutuskan untuk mengambil S2 ku di Jerman. Papa dan Mama sempat curiga dengan keputusan yang kuambil karena mereka tau pasti bahwa aku tidak bisa jauh-jauh dari Abigail. Tapi menurutku, keputusan ini sudah tepat."Melamun lagi?" aku menoleh melihat ke arah orang yang menepuk bahuku. Devian mengambil duduk di sebelahku. Aku menunduk lagi, mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku."Gue mau ke Jerman. Munster tepatnya," gumamku membuat Devian menoleh cepat kearahku." Jauh amat? Lo mau nerusin S2 atau mau melarikan diri? " Devian menatapku tajam."Ya nerusin S2 lah Sob," aku tersenyum pahit membalas tatapan tajamnya."Kenapa perasaan gue bilang sebaliknya ya? Lo sudah bilang ke Abi soal rencana lo ini?" tanya Devian membuatku menghela nafas lagi."Gak. Belum.""Kenapa lo gak bilang aja terus terang sama Abi kalo lo suka sama dia?""Gue belum ketemu Abi lagi setelah kita ketemu dia di cafe dua minggu lalu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya."Menurut gue, sebaiknya lo ungkapin perasaan lo ke Abi. Paling nggak lo tau gimana perasaan Abi ke elo. Paling nggak lo sudah nyata in perasaan lo. Paling nggak lo jujur sama diri lo sendiri. Paling nggak...""Stop! Stop! Cukup Dev. Gue tambah pusing dengerin lo," potong Marcel cepat."Terserah lo lah Sob. Hidup hidup lo. Lo yang jalanin. Lo yang ngerasain. Gue cuma bisa berharap, lo gak nyesel dengan keputusan yang lo ambil," Devian menepuk pundakku pelan dan beranjak meninggalkanku."Lo mau kemana?" tanyaku setengah berteriak bertanya pada Devian yang mulai berjalan menjauh. Ia tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh padaku.Aku menggeleng pelan sambil tersenyum getir. Hanya Devian lah yang tau semua rahasia perasaanku terhadap Abi."Marcello," sebuah suara bariton terdengar ditelingaku membuatku menoleh. Kudapati Profesor Hino berdiri menjulang dibelakangku."Ya Prof?" bergegas aku bangkit berdiri."Kamu ikut saya. Ada yang harus di bicarakan mengenai keberangkatanmu ke Munster," Profesor Hino berbalik setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.=====£=====ABIGAIL CLARETTA POVAku menatap Adelio dari kejauhan. Tanpa sadar aku tersenyum. Sudah dua bulan kedekatanku dengan Adelio. Ia tetap baik dan perhatian. Senyumnya tetap mengembang dengan manisnya. Tapi aku tau, itu dilakukan dandiberikannya untuk semua orang. Seperti saat ini. Apa yang kulihat di hadapanku adalah Adelio tengah tersenyum manis pada Cilla, membantunya membawa setumpuk buku ke perpustakaan. Sebelumnya, aku melihatnya mengantar Kania ke toko buku. Lalu kemarinnya lagi aku melihatnya tergesa-gesa menuju ruang kesehatan ketika mendengar Una terluka saat basket. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin bisa kusebut satu persatu.Adelio memang sangat baik.Aku tidak sakit hati. Bahkan aku tidak patah hati. Dulu kupikir aku punya perasaan khusus dengannya. Tapi setelah mengetahui semua ini, aku sadar bahwa aku hanya kagum pada kharisma Adelio. Dan aku kini yakin, itu bukanlah perasaan cinta!"Abigail!" suara seseorang memanggilku membuatku memutar leherku."Jen? Kenapa ngos-ngosan gitu?" kulihat Jeny terengah-engah menghampiriku dan duduk di sampingku."Sudah dengar kabar gembira?" Jeny melempar senyum padaku."Kabar gembira? Kabar gembira apa?" tanyaku mengerutkan kening."Akhirnya Marcel lolos beasiswa ke Jerman," Jen memekik antusias."Marcel? Ke Jerman?" aku tercenung."Lo belum dengar kalau Marcel lolos beasiswa ke Jerman?" tanya Jen yang bingung dengan reaksiku.Aku menggeleng pelan."Lo tau dari siapa?" aku menjerit tertahan. Aku sama sekali tidak tau menau dengan rencana Marcel.Sedetik kemudian aku terhenyak. Dua bulan terakhir ini aku sudah mengabaikan Marcel. Aku terlalu sibuk dengan perhatian Adelio yang salah kuartikan. Marcel sahabatku, yang selalu ada setiap aku membutuhkan. Yang selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Yang menemaniku saat aku jenuh dengan rutinitas. Sahabat macam apa aku yang tidak tau apa-apa tentang kepergian Marcel ke Jerman?"Jen, gue pergi dulu," aku buru-buru berdiri dan setengah berlari menuju ke parkiran."Woi Bi! Lo gak ikut kuliah Pak Tara?" teriak Jeny melihatku berlari seperti dikejar setan."Gue nitip absen aja sama lo!" teriakku hampir menjerit. Aku harus menemui Marcel. Aku harus menanyakan kebenaran berita ini pada Marcel. Juga menanyakan kenapa Marcel tidak menberitahukanku tentang rencana kepergiannya.=====£=====Marcel masih menelusuri rangkaian huruf di hadapannya ketika Devian datang dan duduk di sebelahnya."Urusan administrasi lo udah beres?" tanya Devian melirik buku yang sedang dibaca Marcel."Udah. Begitu lulus ujian skripsi, gue tinggal prepare buat ke Munster. Katanya sih ada pelatihan bahasa dulu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya."Lo tetep gak mau ngomong ke Abi soal kepergian lo ini?" gerakan Marcel terhenti.Ia tercenung, melihat ke arah Devian, lalu menggeleng pelan."Gue gak ngerti sama lo Sob. Kalo lo memang cinta sama Abi, ngapain lo takut nyatain? Lo takut dengan pikiran lo sendiri," cibir Devian geram dengan kekeras kepalaanku.Wajah geram Devian berganti senyum lebar ketika pandangannya terarah pada sesosok gadis dengan rambut panjangnya yang di ikat ekor kuda."Hai Yang, udah selesai kuliahnya?" sambut Devian memeluk dan mencium puncak kepala gadisnya yang menghambur kepadanya.Gadis itu mengangguk sambil tersenyum manja."Ckckck... pantas aja anak-anak kampus menjuluki kalian pasangan ter-romantis sepanjang masa," Marcel mencibir sambil menggelengkan kepalanya."Sirik aja lo!" cetus Jeny balas mencibir."Maklum, Yang. Dia kan jomblo," Devian terkekeh menggoda Marcel yang langsung meringis mendengarnya."Kampret lo!" sembur Marcel."Makanya kalo suka bilang suka. Sana cepetan ngomong! Keburu di sambar orang lain, lo gigit jari deh," omel Devian sambil cengengesan."Huh! Dosa apa gue punya temen kaya lo gini?" keluh Marcel memasang raut muka menyesal yang langsung di sambut tawa geli Devian, sementara Jeny menatap keduanya bergantian dengan bingung."Kalian ngomongin apa sih? Marcel suka sama siapa? Gue kenal sama orangnya gak? Apa perlu bantuan dicomblangin? Siapa sih target lo?" Devian tertawa keras mendengar kata-kata kekasihnya yang membuat Marcel melotot kesal padanya."Lo berdua memang cocok! Gue cabut dulu. Jangan berduaan mulu! Awas setan lewat," ejek Marcel."LO SETAN NYA!" teriak Devian dan Jeny barengan.Marcel tertawa meninggalkan keduanya.=====£=====Marcel menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus pada gadis mungil yang menghadangnya."Abi?""Lo hutang penjelasan ke gue, Cel!" gadis itu berkacak pinggang di hadapan Marcel."Ada apa, Bi?" Marcel memandang wajah cantik Abi lurus-lurus. Hatinya berdebar."Lo tega ninggalin gue? Kenapa lo gak ngabarin gue? Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin kuliah di Jerman? Apa lo udah gak nganggep gue sahabat lo lagi? Apa salah gue? Lo jahat, Cel! Kalo gue ada salah sama lo, lo ngomong ke gue. Bukan gini caranya. Gue salah apa? Sampai-sampai lo gak mau cerita ke gue soal kepergian lo ambil S2 ke Jerman?" Abi meluapkan emosinya, kemarahannya menyadari bahwa ia mengetahui kepergian Marcel dari orang lain."Maaf, Bi," bisik Marcel."Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin S2 ke Jerman?" Abi terisak. Bulir-bulir air mata menetes di pipi Abi. Hati Marcel serasa tersayat. Abi menangis. Biasanya ia yang akan menenangkan Abi. Tapi kali ini dia penyebabnya."Bukan seperti itu maksud gue, Bi.Lo sangat penting buat gue," Marcel mengusap wajahnya frustrasi."Nggak! Gue nggak penting buat lo! Persahabatan kita selama ini ternyata gak penting buat lo! Gue bukan apa-apa buat lo! Selama ini lo selalu menjadi orang pertama yang tau setiap masalah atau apapun tentang gue. Tapi gak dengan lo!" sembur Abi sambil mengusap air matanya kasar.Perlahan Marcel mendekati Abi, merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya."Bi, lo penting banget buat gue. Lo sahabat terbaik gue. Maaf, gue gak bisa jadi sahabat lo lagi. Gue harus pergi. Selamat tinggal Abigail, " Marcel melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipi Abi dengan sayang, lalu mengecup pucuk kepala Abi dengan lembut sebelum ia melangkah meninggalkan Abi yang masih terpaku dengan debaran jantungnya yang semakin keras menerima pelukan dan kecupan Abi di puncak kepalanya.=====£=====University of Munster, Jerman.Marcel memandang kampus tempatnya menimba pengetahuan selama dua tahun ini. Gedung yang berdiri kokoh, menjulang dengan arsitektur yang melambangkan kemegahan dan nama besar universitas itu.Universitas yang terletak di kota Munster, Rhine-Westphalia Utara, Jerman. Universitas yang berbasis riset dan menjadi salah satu universitas terbesar di Jerman.Sudah dua tahun Marcel menjadi salah satu mahasiswa di sini. Hari-harinya disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar."Wie viele Kurse heute? (Berapa mata kuliah hari ini?) " Marcel menoleh saat merasa bahunya ditepuk seseorang.Dilihatnya Audric, teman seangkatannya berdiri di sampingnya dengan cengiran khas nya."Drei (tiga) ," jawab Marcel tersenyum.Audric mengangguk, menepuk ringan bahu Marcel dan berjalan mendahuluinya.Marcel mengedarkan pandangannya menyapu halaman kampus.Sesekali dibalasnya sapaan teman-teman nya dengan senyum lebar."Leider konnten administrative Raum zu zeigen? (Maaf, bisa tunjukkan ruang administrasi?) " Marcel menghentikan langkahnya. Di hadapannya berdiri seorang gadis sedang menunduk sambil membawa berkas-berkas administrasi."Natürlich. Sie neu hier? (Tentu saja. Kamu baru di sini?) " tanya Marcel agak membungkuk, mencoba melihat wajah gadis di hadapannya.Gadis itu mendongak dan tersenyum padanya."ABI?" mata Marcel membeliak takjub antara percaya dan tidak.Bagaimana tidak jika gadis yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Abigail Claretta, sahabatnya yang sangat dicintainya?"Hai," sapa Abi dengan senyum manisnya."Bagaimana lo bisa ada di sini?" tanya Marcel pelan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Melanjutkan kuliah tentu saja," sahut Abi tanpa melepaskan senyumnya."Tapi bagaimana bisa? Ini beneran lo kan, Bi? Ini bukan halusinasi gue kan?" Marcel mengerjapkan matanya berkali-kali."Memang siapa lagi? Gue kan gak punya sodara kembar," jawab Abigail meringis.Marcel menelan ludah. Dicubitnya lengannya sendiri. Sakit! Ia tidak bermimpi. Ini nyata. Ada Abigail di hadapannya sekarang. Gadis yang tidak pernah bisa beranjak dari hati dan pikirannya barang sedetikpun.=====£=====Marcel menyandarkan sepedanya pada batang sebuah pohon yang cukup rindang di sebuah taman dekat apartemen tempat ia tinggal.Penduduk di Munster memang lebih suka naik sepeda."Ceritakan sama gue, bagaimana lo bisa berada di sini dan tinggal di apartemen yang satu gedung sama gue!" tuntut Marcel setelah ia dan Abi duduk bersebelahan di bangku taman."Devian," ucap Abi. Satu nama yang mewakili ratusan kata atas jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkan Marcel."Huh! Dasar kaleng rombeng!" dengus Marcel kesal. Memang selama ini hanya Devian satu-satunya teman yang tau dengan pasti dimana dia berada."Kenapa lo gak mau bilang ke gue?" tanya Abi setelah sesaat mereka terdiam."Bilang apa? Oh... soal kepergian gue? Gue cuma gak mau liat lo sedih dan membuat gue membatalkan beasiswa yang sudah susah payah gue dapet," sahut Marcel membuang muka."Itu bukan alasan utama lo kan?" tanya Abi lagi menohok perasaan Marcel."Lo mau alasan yang mana? Itu memang alasan gue," jawab Marcel pelan."Kenapa lo gak mau jujur sama gue? Tentang isi hati lo, perasaan lo, alasan lo pergi, juga alasan kenapa lo gak bisa jadi sahabat gue lagi," kejar Abi menatap Marcel dalam-dalam.Marcel memandang wajah cantik di depannya dengan pias. Apa yang sudah Devian ceritakan pada Abi? Apakah Abi marah? Apakah ia akan kehilangan Abi selamanya?"Apa yang sudah Devian bilang ke lo?" Marcel menekan suaranya."Semuanya," sahut Abi masih tidak melepaskan tatapannya dari wajah pucat sahabatnya."Lalu? Apalagi yang mau lo dengar dari gue? Bukannya Devian sudah mengatakan semuanya?" Marcel menunduk, mengais rumput dengan ujung sepatunya."Kenapa gue selalu dengar dari orang lain? Gue mau memastikan kebenarannya dari mulut lo sendiri," ujar Abi mantap.Marcel menelan ludahnya susah payah.Baiklah kalau ini mau-mu, Bi, bisiknya dalam hati, menyerah dan pasrah apa yang akan terjadi."Gue gak bisa jadi sahabat lo lagi karena... karena gue...gue bukan sahabat yang baik buat lo. Seorang sahabat akan selalu mendukung dan men-support sahabatnya. Tapi itu tidak terjadi sama gue. Gue gak suka lo dekat dengan orang lain, pria lain. Gue bukan sahabat yang baik karena gue punya perasaan lain sama lo. Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. Dan gue gak mau perasaan gue menghalangi kebahagiaan lo. Itu sebabnya gue berusaha keras memperoleh beasiswa ini," Marcel melepaskan seluruh beban yang selama ini menghimpitnya. Ada perasaan lega dalam rongga dadanya, namun sebagian hatinya merasa takut dan was was dengan reaksi Abi.Ragu-ragu ia melirik pada Abi. Dilihatnya gadis itu menunduk diam."Bi, maafin gue. Gue salah. Gak seharusnya gue punya perasaan seperti itu. Tapi Bi, gue gak bisa ngilangin perasaan itu. Maka dari itu gue pergi," Marcel menunduk." Ich liebe dich, Marcello Evarado," Marcel menoleh cepat menatap Abi yang juga tengah menatapnya dengan pipi merona merah."Können Sie das wiederholen? (Bisakah kamu ulangi?)" Marcel menggumam lirih."Marcello Evarado, Ich liebe dich, so wie du mich liebst," Marcel mengedip sekali, tatapannya lekat pada bibir gadis mungil yang baru saja mengatakan cinta padanya."Jangan mengejek, Abi! Gue tau lo cuma bercanda kan?""Gue gak pernah seserius ini,Cel."Marcel mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencari kesungguhan Abi. Dan ia menemukannya di mata bening Abigail."Katakan kalo gue gak sedang bermimpi, Bi," bisik Marcel masih dengan ketakjubannya."Lo gak mimpi, Marcel," Abi tertawa lirih.Mendadak Marcel berdiri, lalu berteriak sambil melompat-lompat, lalu berlari mengitari bangku tempat Abi duduk."Akhirnya! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi!" Abi tertawa melihat kegilaan yang dilakukan Marcel.Ia terus tertawa hingga Marcel kembali duduk di sisinya."Jadi kita gak sahabatan lagi dong," goda Abi melihat Marcel yang mengusap-usap tengkuknya salah tingkah."Iya, sekarang kita pacaran," jawab Marcel tertawa bahagia."Kita? Pacaran?" Abi masih menggoda Marcel."Iya! Gue sama lo pacaran," cengir Marcel."Kalo pacar masa panggilnya lo gue?"Marcel tertegun menatap lekat wajah Abi. Sedetik kemudian ia tertawa. Di rengkuhnya tubuh mungil di hadapannya."Aku cinta mati sama kamu, Bi," ujarnya pelan di telinga Abi.Abi tersenyum, memejamkan matanya sesaat menikmati dekapan hangat Marcel."Aku juga cinta mati sama kamu, Cel."Marcel melepaskan pelukannya, menarik tangan Abi agar berdiri. Lalu di gendongnya gadis itu dan mereka berputar-putar sambil tertawa sarat dengan kebahagiaan.SELESAI.
HIS FIRST LOVE
Aku mempercepat langkah kakiku. Hari ini cukup melelahkan untukku. Untung saja Profesor Harold berbaik hati menerima skripsiku setelah berpuluh-puluh kali aku harus melakukan revisi dan pengkajian ulang.Setelah ini aku tinggal mempersiapkan ujian skripsiku dan wisuda di depan mata.Rencanaku untuk mengambil S2 sebentar lagi terwujud.Dengan langkah ringan, aku melompati beberapa genangan air.Mungkin karena terlalu bersemangat dan fomus pada langkahku menghindari genangan - genangan air itu, aku tidak waspada dengan jalan di depanku.BRUKK!Benar saja, aku menubruk seseorang. Seketika tubuhku oleng dan nyaris terbanting ke tanah jika seseorang tidak menahan tubuhku dan menarikku berdiri."Eh maaf...maaf..." aku mendongak melihat orang itu."Kalo jalan hati-hati. Lihat depan!" ujarnya setengah menggerutu."Ah iya, sekali lagi maaf. Dan terimakasih udah nolongin," duh, kalo aja aku bisa menyembunyikan wajahku, pasti sudah akan kusembunyikan dari tatapan tajam laki-laki yang kini, berdiri dihadapanku ini."It's okay," ujarnya menatapku dengan mata menyipit."Eh kalau begitu, aku permisi duluan," kataku sambil membetulkan tasku yang melorot dari pundakku."Tunggu!" laki-laki itu mencekal lenganku. Duh, apalagi ini.Aku menghentikan kakiku yang baru saja selangkah. Kupandang laki-laki itu dengan pandangan bertanya."Siapa namamu?" tanyanya menatap tajam ke arahku.Aduh! Mau apa sih nanya-nanya namaku segala?Apa dia gak tau kalau aku bisa meleleh kalau dia memegang tanganku terus seperti ini?Gimana gak meleleh kalo tanganku digenggam oleh cowok yang wajahnya tampan luar biasa dengan tubuh tegap dan bidang begini? Duh mama, Pia gak sanggup!"Heh! Ditanya malah bengong!" sekarang laki-laki itu menjentikkan jarinya didepan wajahku. Aku gelagapan."Oh... eh... tadi bapak nanya apa ya?" tanyaku dengan oon nya."Nama kamu siapa?" ulangnya sambil menarik nafas panjang. Apa dia kesal padaku ya? Duh, maaf deh. Soalnya kalo aku ngadepin orang cakep memang suka begini bawaannya."Eh namaku? Aku Steviana, Pak," jawabku tanpa menjabat tangannya. Ya bagaimana mau jabat tangan kalo dari tadi lenganku masih dicekalnya."Steviana," ulangnya manggut-manggut."Eh, maaf Pak, bisa tolong lepasin tangan saya?" tanyaku hati-hati. Pasalnya tidak ada tanda-tanda ia mau melepas pegangan tangan nya."Oh ya, bisa tidak kamu tidak panggil saya bapak? Saya kan bukan bapak kamu?" kudengar ia mendengus kesal."Baiklah Oom," kulihat ia mendelik melihatku. Duh, salah lagi kayaknya."Saya bukan Oom kamu!" ujarnya galak."Lalu saya harus panggil apa Paman?" tanyaku lagi menatap mata abu-abunya yang sekarang kembali melotot melihatku. Haisss... susah ngomong sama orang satu nih. Mana tanganku belum juga di lepas."Namaku Dion. Dan jangan panggil paman karena aku bukan pamanmu!" ujarnya sewot."Iya deh, terserah. Aku udah boleh pergi kan?" tanyaku melihat tanganku yang masih belum dilepasnya."Eh iya, sorry," dilepaskannya lenganku."Ya sudah, aku duluan. Bye," aku segera berlari kecil menuju parkiran, mengambil si mungil Brio milikku, hadiah dari papa dan mama saat aku berulang tahun kemarin.======♡======"Piaaaa," suara mama terdengar melengking tinggi."Iya Ma, sebentar. Sudah hampir selesai kok," sahutku tak kalah melengking.Malam ini Papa dan Mama kedatangan sahabat lamanya. Sahabat sejak mereka masih SD dulu. Mereka pisah waktu Papa memperoleh beasiswa dan harus meneruskan sekolah di Melbourne.Aku meneruskan mematut diri di depan cermin. Oke, sudah cantik. Ooops... kenapa aku merasa ada yang kurang ya? Kuteliti lagi penampilanku.Astaga! Duh, mama.... anakmu hampir saja nempermalukanmu!Aku masih mengenakan celana pendek baby doll ku yang warnanya sudah absurd banget.Cepat-cepat kuganti dengan rok model A di atas lutut dan bergegas turun. Mamaku sudah memanggilku kembali dan memberitahu bahwa tamu mereka sudah datang."Naaah... Ini lho anakku. Namanya Steviana. Ayo Pia, kasih salam sama Om David dan Tante Vela. Dan ini anak Om David. Namanya Albert Alvadion Wijaya," aku menyalami mereka satu persatu, dan OMG, bukannya ini cowok yang tadi siang ketemu di kampus?"Lho Om? Eh, Pak? Eh?" aku tidak menyangka ternyata dia anak Om David dan Tante Vela?"Lho kalian sudah kenal?" tanya Tante Vela takjub."Wah, kalo gini urusan jadi gampang kan Vid?" kata papa tertawa yang langsung disambut kekehan tawa Om David, Tante Vela dan Mama.Aku tidak mengerti dengan mereka. Ada apa sih sebenarnya?Aku menoleh pada anak Om David. Eh, dia malah cengar cengir gak jelas. Ada apa sih?"Sini Pia sayang," panggil Papa menepuk-nepuk sofa disebelahnya. Aku menurut."Begini Pia, Om David ini kan sahabat lama Papa, dan kami sudah sepakat untuk menjadikan persahabatan kami menjadi persaudaraan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Dion. Lagipula Dion juga sudah setuju," sahut Papa diangguki seluruh yang hadir kecuali aku dan Si Om yang hanya menatapku penuh intimidasi.Aku menelan ludah dengan susah payah. Mana mungkin? Oke, aku memang belum punya pacar. Tapi aku kan lagi pedekate dengan kakak seniorku yang sekarang sedang mempersiapkan skripsi sama denganku.Ya meskipun umurku dibawahnya dua tahun karena otakku yang lumayan cespleng sehingga aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat. Sehingga di usiaku yang ke 20 ini aku sudah bisa mengajukan skripsi."Jadi besok kita bisa mulai mempersiapkan pernikahannya. Dan Pia, besok kamu ikut mama untuk memilih model gaun pengantinnya," bahkan mereka tidak menanyakan kesediaanku sama sekali."Ma," aku ingin protes."Tenang saja, Pia. Mama sama Tante Vela yang akan mengurus semuanya. Mama tau kamu lagi fokus dengan ujian skripsi kamu. Semua biar kami yang atur," kata Mama antusias.Aku menatap Mama dan Papa bergantian dengan sebal."Maaf Tante, Om, Pa, Ma. Bisa aku ngobrol berdua dengan Pia?" idih si Om kenapa sok akrab memanggilku Pia? Kecuali Papa dan Mama tidak ada yang memanggilku Pia."Wah udah pengen berduaan aja si Dion?" goda Tante Vela tertawa sumringah membuat wajah si Om sedikit memerah."Tuh Pia, temenin Dion nya," mama menarik-narik tanganku agar berdiri, sementara papa mendorong-dorong punggungku. Kedua orang tuaku benar-benar kompak kalau begini.Dengan memasang muka malas aku mengikuti Dion ke taman disamping rumah, menuju gazebo yang biasa kugunakan saat teman-temanku main ke rumahku.Ia duduk di gazebo itu sementara aku duduk di ayunan di depannya."Kenapa disitu? Jauh amat? Sini dong," si Om melambai menyuruhku duduk di dekatnya."Mau ngobrol apaan sih Om? Kenapa gak ngomong di dalam aja?" tanyaku sebal. Tanpa kupedulikan tatapan tajamnya, aku mulai mengayun ayunan yang kududuki pelan."Aku sudah bilang jangan panggil aku Om! Memang aku setua itu apa?" gerutunya galak."Aku harus panggil apa? Bapak? Paman?" ujarku tak peduli pelototannya."Panggil namaku aja bisa kan?" pintanya."Gak mau ah! Gak sopan panggil nama aja ke orang yang lebih tua," tolakku tanpa melihat kearahnya."Kalau begitu, panggil aku Kakak! Atau Mas juga boleh," tawarnya mengedipkan sebelah matanya.Aku tertawa geli."Enak juga panggil Om. Lebih pas dan enak dilidah," sahutku enteng.Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di hadapanku menghentikan ayunan yang kududuki.Tubuhnya membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.Aku panik. Bagaimana tidak. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sehingga aku dapat merasakan hangat nafasnya di wajahku."Baiklah, kita buktikan. Apa benar panggilanmu terhadapku enak dilidah?" tanpa aba-aba, ia sudah mencium bibirku dengan tangannya yang satu menekan tengkukku agar wajahku tetap menghadapnya, dan tangannya yang sebelah lagi memegang tanganku yang masih berpegangan pada besi ayunan.Tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Keterkejutanku membuatku seperti manekin yang diam saja saat ia makin memperdalam ciumannya dengan menggigit kecil bibir bawahku.Huaaaaaaaa mamaaaa...... ia mengambil first kiss ku!Cukup lama ia mengulum bibirku hingga aku tak bisa bernafas. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan sedikit menjauhkan wajahnya. Catat ya, hanya sedikit! Bibirnya hanya berjarak sesenti dari bibirku. Sedikit saja aku bergerak, sudah pasti langsung nempel ke bibirnya lagi."Bagaimana? Enak dilidah?" tanyanya pelan dengan suara serak.Aku melotot menatapnya. Ih, kenapa ia mesum sekali? Tapi, kenapa jantungku dag dig dug begini?"Mau lagi?" tanyanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.Aku menggeleng pelan dengan wajah yang bisa kupastikan merah padam.Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu menegakkan tubuhnya, menarikku agar ikut berdiri bersamanya."Jadi Pia, jangan sekali-kali berani menolak perjodohan ini, mengerti?" suara si Om terdengar penuh ancaman. Aku bergidik mendengarnya."Tapi Om, eh..."Belum selesai aku bicara, si Om sudah mendekat padaku lagi. Dan aku kesal dengan keadaanku. Bagaimana tidak, aku tidak bisa mundur karena dibelakangku ada ayunan. Kedua lengannya mengunci tubuhku. Nafasnya menyapu wajahku."Kenapa? Mau menolak?" desisnya kembali mengancamku.Aku menggeleng takut-takut. Kenapa Mama dan Papa tidak ada satupun yang keluar menolongku? Kenapa mereka menjodohkanku dengan laki-laki ini? Cakep sih, tapi aku kan belum mengenalnya. Aku sama sekali asing dengannya, tapi kenapa dia sudah berani menciumku? Parahnya lagi, ia mengambil first kiss ku!Ia terkekeh senang, lalu menarikku menuju ke tempat di mana papa, mama dan kedua orang tuanya berada."Nah, ini mereka. Bagaimana Dion? Kalian sudah tentukan harinya?" tanya Om David tersenyum melihat kami berdua. Tepatnya melihatku tidak berdaya dengan cekalan tangan si Om mesum di lenganku."Sudah Pa. Pernikahan kami bulan depan. Dan minggu depan Pia maunya kita tunangan dulu," ujarnya santai.Heh? Apa-apaan ini? Kenapa jadi aku? Dan apa yang dia bilang? Tunangan? Nikah? Kenapa dia seenaknya memutuskan semuanya tanpa persetujuanku terlebih dulu?"Wah, jadi kamu sudah setuju Pia?" kali ini Mama dengan senyum bahagianya memandangku.Tidak! Aku tidak mau! Ini hidupku! Mereka tidak berhak menentukan hidupku! Ya, aku harus menolak!"Tentu saja Pia setuju, Tante. Ya kan sayang?" si Om menarikku ke dalam pelukannya dan menatapku dengan pandangan mengancam. Sementara tangannya masih mengunci erat tubuhku."Baiklah. Karena Pia sudah setuju, kita bisa segera mempersiapkan semuanya," kudengar Tante Vela tertawa lega.Kenapa jadi seperti ini?Bahkan ketika pertemuan itu selesai, Mama dan Papa malah ikut keluar bersama keluarga si Om mesum dan meninggalkanku sendiri di rumah. Bahkan aku tidak tau jam berapa mereka pulang.======♡======Setelah kejadian itu, keesokan harinya, si Om mesum Dion itu pagi-pagi sudah standby di rumahku sebelum aku bangun. Bayangkan! Bagaimana bisa dia dengan tidak sopannya berkeliaran di rumahku seolah-olah rumahnya sendiri.Dan sepertinya Papa dan Mama senang senang saja melihatnya.Aku sama sekali tidak berkesempatan untuk menyuarakan protesku pada mereka.Seperti sekarang ini, dengan seenaknya si Om mesum Dion itu membawaku ke kantornya, hanya untuk menjadi pajangan ruangannya.Bagaimana tidak, setelah acara fitting baju pengantin, ia menyeretku untuk ikut dengannya. Dan disinilah aku sekarang. Hampir mati kebosanan menunggunya memeriksa laporan yang bertumpuk di meja besarnya."Om, kenapa Om ngajak aku kesini? Bosen Om. Mendingan Om kerja yang bener, aku mau pulang," ujarku kesal. Emang enak dijadikan pajangan gini?Si Om mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran berkas yang bertebaran di mejanya dan menoleh kearahku."Kamu bosan? Sini, kamu gak akan bosan kalau di sini," ia menepuk-nepuk pahanya sambil senyum - senyum aneh.Apalagi ini? Dia nyuruh aku duduk di pangkuannya? Emangnya aku cewek apaan? Atau dia sudah terbiasa ya kayak gitu dengan cewek-cewek?Aduh Maaaaa.... gimana nasibku nanti?"Pia? Katanya bosan? Sini, aku jamin kamu bakal keenakan deh," katanya langsung kuhadiahi pelototan garang."Aku mau pulang!" cetusku lalu berjalan keluar tanpa mempedulikannya.Tidak kugubris teriakannya yang memanggilku. Setengah berlari aku masuk lift dan menuju ke lobby, lalu bergegas keluar dari kantor si Om Dion.Baru saja aku hendak memanggil taksi yang lewat, kurasakan lenganku ditarik dan diseret masuk ke sebuah mobil yang berhenti di dekatku entah sejak kapan."Jalan Pak!" perintah suara berat yang akhir-akhir ini akrab ditelingaku. Aku menatapnya sewot.Ya, siapa lagi kalau bukan Dion si Om mesum itu."Apa sih mau Om sebenarnya? Kenapa Om mau aja dijodohkan? Bukannya kita gak saling kenal sebelumnya?" cecarku dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana tidak kalau dia selalu semena-mena."Terus saja kamu panggil Om," desisnya galak. Ia bergeser hingga kami duduk berhimpitan."Ish, sempit nih," aku mendorong-dorong tubuhnya yang sama sekali tidak bergeser sesenti pun."Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu, Pia! Atau memang kamu sengaja ingin kucium?" suaranya terdengar ditelingaku disertai hembusan nafasnya.Aku menggeleng kuat-kuat. Tubuhku bergidik, memejamkan mataku takut. Jantungku berulah.Kurasakan tanganku ditarik dan diseret lagi. Duh, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih?Astaga! Astaga! Astaga! Bukannya ini Apartemen? Tapi apartemen siapa?Dion membuka pintu dan mendorongku masuk."Om mau ngapain? Jangan macam-macam Om!" aku benar-benar panik. Apalagi melihatnya Perlahan-lahan maju mendekatiku yang terus mundur hingga membentur pinggiran sofa dan kehilangan keseimbanganku.Tak ayal lagi aku jatuh telentang di atas sofa hitam milik Dion.Dion tersenyum miring. Perlahan ia terus mendekat hingga tubuhnya sekarang berada di atasku."Bagaimana? Mau diteruskan?" tanyanya dengan mata berkilat."Jangan Om eh Pak eh Di...Dion.." aku berusaha mendorong tubuhnya."Panggil aku dengan mesra dulu! Baru kamu kulepaskan, Pia," ujarnya masih dengan senyum miringnya."Eh...mesra? Seperti apa?""Ya mesra. Sayang? Honey? Sweetheart? Terserah kamu manggilnya apa?"Duh, apa ya? Otakku benar-benar buntu!"Ayo cepat!" wajahnya makin dekat, membuatku makin panik."Eh i...iya... Kak Dion," sahutku cepat.Gerakannya terhenti sejenak. Lalu ia menyeringai."Kak Dion? Hmm...aku suka!" huuuufftt leganya...."Tapi gak! Kurang mesra!" Nah lo! Aduh pusing 'pala Barbie niiihhh."I...iya... Hon... Honey," kataku terbata-bata.Tiba-tiba ia terkekeh, mengacak poniku dan mengecup singkat pipiku, lalu menarikku hingga aku duduk di pangkuannya. Ia mengusap-usap punggungku dengan sebelah tangannya, dan tangannya yang lain menggenggam tanganku yang diletakkannya di atas pahaku."Bagus! Ingat ya Pia, kalau kamu memanggilku dengan sebutan Pak atau Om lagi, kamu akan kucium habis-habisan !" ancamnya membuatku mengangguk pasrah. Dadaku berdebar dan wajahku terasa panas menyadari betapa intimnya posisi kami sekarang.======♡======Aku memandang ke tengah ruangan. Mama, Papa, Om David dan Tante Vela tampak tertawa bahagia. Mereka asyik bercengkerama dengan para tamu undangan.Wajah mereka tampak gembira dan lega. Hari ini aku menikah. Pernikahan tanpa cinta. Hmm... cinta? Aku tidak tau bagaimana perasaanku. Hanya saja setiap Dion mendekat, jantungku selalu berdetak kencang. Atau ada yang salah dengan jantungku?Para undangan masih saja mengular mengantri memberi selamat padaku dan Dion."Waaah pinter juga lo nyembunyiin cewek secantik ini. Pantas aja lo nolak Alika," suara berat seseorang membuatku menoleh.Kulihat seorang laki-laki gagah tengah memeluk Dion."Kenalin dong," laki-laki itu menyikut lengan Dion sambil menaik-naikkan sebelah alis tebalnya."Hahaha...kenalin ini istri gue, Steviana. Sayang, kenalin ini sahabat aku, Mario," aku tersenyum menyambut uluran tangan Mario yang tersenyum manis padaku. Apa dia bilang? Sayang?"Ish! Jangan lama-lama pegangannya!" Dion menepis tangan Mario sambil melotot galak."Ya ampun Dion, santai aja Bro! Gue gak mungkin nikung sahabat sendiri," Mario terkekeh melihat wajah garang Dion."By the way, selamat buat kalian ya. Dan Stev, hati-hati sama Dion! Fans nya banyak! Hahaha..." Mario mengerling padaku, lalu menepuk bahuku sekilas sebelum melenggang turun bergabung dengan tamu yang lain."Diooon, Ih.... kamu kok nikah duluan sih? Kamu kan tau aku nungguin kamu,"nada cempreng itu membuatku refleks mencari sumber suara.Cewek ganjen itu melekat erat di tubuh Dion. Lengannya dilingkarkan ke lengan Dion.Kulirik Dion yang terlihat risih dan tidak nyaman.Aku mencibir kesal. Apa-apaan ini? Sudah tau ada aku disini, beraninya cewek itu nempel-nempel Dion.Dan hei? Kenapa aku jadi sewot dan merasa tidak suka melihat cewek itu gelendotan di lengan Dion?"Pelukannya bisa ditunda nanti aja gak? Tuh yang dibelakang udah pada ngantri," kataku ketus sambil menunjuk antrian di belakang cewek ganjen itu dengan daguku."Eh, iya tuh San. Lo mending gabung sama yang lain deh,"ujar Dion melepaskan pelukan cewek ganjen itu."Ya udah deh, Sani kesana dulu ya Dion, nanti kita ketemu lagi," cewek bernama Sani itu tersenyum pada Dion dan melengos saat melewatiku.Huh! Emang lo penting apa? Aku menggerutu dalam hati."Dioooooonn, kok kamu tega sih ninggalin Sasya," nah, mahluk apa lagi nih?"Eh, Sasya? Kamu dateng juga?" kudengar Dion bertanya heran.Heh? Apa maksudnya tuh?"Sasya pasti dateng dong, Dion. Sasya pengen liat seperti apa sih istri Dion? Cantik mana sama Sasya? Eh, ternyata cuma anak kecil gini! Kok lo mau sih sama anak kecil gitu, Baby?" Hadeeeeh... kayaknya bakalan makan ati nih kalo gini. Tadi Sani, sekarang Sasya. Setelah ini siapa lagi?"Bebeb Diooon, gak pa pa deh lo nikah, yang penting gue tetep cinta sama Bebeb," nih satu lagi fans si Om. Lama-lama kesel juga! Hatiku sudah mendidih. Tinggal dicampur kopi deh. Lho? Maksudnya tinggal disiramin ke muka si Om mesum aja!======♡======Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi. Aku masih kesal dengan Dion dan antrian fans ganjennya. Kenapa barisan ceweknya diundang semua sih? Apa dia mau nunjukin kalo dia laku? Apa dia mau pamer kalo aku gak ada apa-apa nya sama deretan cewek-cewek nya itu?Kalo memang dia punya segudang cewek, kenapa dia menyetujui perjodohan ini? Dia kan bisa menolak! Tapi kenapa malah dia melarangku untuk menolak?Suara ketukan pada pintu kamar mandi berubah menjadi gedoran saat kuabaikan.Dengan kesal aku membuka pintu."Kenapa sih? Aku nggak tuli, Om!" semburku galak."Kamu panggil aku apa?" tanya nya menatapku tajam.Ups! Aku lupa kalau dia gak mau kupanggil Om. Tapi masa bodoh lah. Dia sudah membuat mood ku hancur."Kalo iya kenapa? Bukannya Om memang sudah tua ya?" jawabku ketus."Umurku baru dua puluh tujuh, Pia. Aku belum tua. Sepertinya kamu ingin merasakan ciumanku ya?" Dion mulai mengancamku lagi. Kali ini aku tidak takut. Aku benar-benar kesal dan marah padanya."Jangan coba-coba, Om! Aku gak mau punya suami yang pacarnya banyak! Jadi jauh-jauh dari aku!" hardikku marah."Siapa yang pacarnya banyak? Maksudmu aku?" ia menunjuk hidungnya sendiri."Helloooooowh.... disini siapa yang punya pacar banyak?" seruku gusar. Apa gak ngerasa dia?"Kenapa kamu jadi nuduh aku begitu?" si Om Dion tercengang. Ia seperti berpikir keras. Lalu tiba-tiba ia tersenyum miring."Kamu cemburu ya, Sayang?" tanya nya menjengkelkan."Ish, siapa yang cemburu? Enak aja!" sergahku kesal. Eh, tapi apa benar aku cemburu?"Kamu marah sama aku karena cewek-cewek tadi?" tanya Dion tertawa geli."Gak ada yang lucu ya, Om! Kenapa Om mau dijodohin kalo Om punya banyak cewek yang lebih segala-galanya dari aku?" aku sudah tidak bisa mengontrol kata-kataku. Mataku terasa panas."Astaga Pia, Sayang. Mereka bukan siapa-siapaku. Memang sih banyak yang ngejar-ngejar aku. Ya maklumlah, suami kamu ini kan ganteng banget," katanya membuatku makin kesal. Ih, pede banget dia!"Om bohong! Om jahat! Aku benci sama Om! Huuhuhuuuu," tangisku meledak sudah. Kemarahanku tidak bisa kutahan. Rasanya sesak.Tiba-tiba Dion meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Rasanya hangat dan nyaman. Tapi airmataku tidak mau berhenti."Pia sayang, udah dong nangisnya. Mereka bukan siapa-siapaku. Aku nggak cinta sama mereka. Kalo gak percaya tanya deh sama Mario, Papa atau Mama. Aku tuh cintanya sama kamu," Om Dion sibuk mengusap punggungku dan mengecupi pucuk kepalaku."Kalau bukan siapa-siapa kenapa mereka bersikap kayak gitu sama Om? Eh, apa Om bilang? Om cinta sama aku?" tangisku berhenti mendadak mendengar ucapannya."Iya Pia sayang. Awalnya aku menolak saat Papa bilang aku akan dijodohkan. Tapi Papa bukan orang yang mudah dibantah. Karenanya aku bertanya dengan siapa aku dijodohkan. Papa memberitahuku siapa namamu dan kamu kuliah dimana. Waktu kita ketemu di kampusmu dulu, itu aku sedang mencarimu. Aku ingin kamu juga menolak perjodohan itu. Tapi ternyata aku malah jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada pandangan pertama," si Om eh Kak Dion menjelaskan padaku sambil tak henti-hentinya mengusap bahu dan punggungku.Aku mengerjapkan mataku takjub dengan penjelasannya."Kakak gak bohong? Lalu cewek-cewek itu?" tanpa sadar aku sudah mengganti panggilanku terhadapnya dan Dion menyadarinya. Ia tersenyum lembut padaku."Aku kan sudah bilang, mereka bukan siapa-siapaku. Mungkin mereka memang suka padaku, tapi sepanjang hidupku, aku hanya jatuh cinta sekali, dan itu denganmu, Pia," katanya lalu mengecup dahiku lembut. Duh mama.... kenapa jantungku kambuh paradenya?"Jadi? Kamu percaya padaku kan sayang?" aku mengangguk kecil, dan kudengar helaan nafas lega Dion."Berarti kita jadi malam pertama kan?" duh, kenapa pertanyaannya seperti ini?"Aku...aku..." aku benar-benar gugup sekarang."Pia sayang, gimana? Kamu mau kan?" tanya Dion lalu mulai menciumku dengan sangat lembut, membuatku serasa melayang.Tanpa kusadari, ia sudah berada di atasku dan aku tidak mampu menghentikannya.Dan malam ini menjadi malam pertama yang indah buat kami berdua.Aku menyadari satu hal. Ya, tanpa sadar aku juga sudah jatuh cinta padanya.SELESAI
Saudara Tiri
Plak! Bruk! Bugh, bugh, bugh!Namaku Jenika Santosa. Hidup dalam keluarga kaya bukan berarti aku harus menghadapi kehidupan yang bahagia, bukan? Aku terlahir dari ibu yang berbeda dari saudara tiriku. Bisa dibilang ini adalah kehidupan antara dua ibu yang bersaing mendapatkan cinta ayah. Ayah merantau jauh dari negara yang kutempati ini. Ibu tiri memukuliku ketika ibu sedang rapat. Ia tak menyukaiku yang selalu mendapatkan perhatian dari ayah. Di balik sibuknya ibu di perusahaan ayah, ia tidak peduli dengan kondisi Rasya—anak ibu tiri. Hal ini membuatku hanya bisa pasrah dengan kedua orang tuaku yang tidak mempedulikanku.“Pergilah ke kamarmu! Jangan sampai kau keluar dengan darah di mana-mana.”Ia melemparkan tongkat baseball ketika Reyna pulang. Aku menghindar dan keluar lewat pintu belakang dapur. Sedikit berlari kecil karena aku dilarang memberi tahu Reyna. Aku lega ketika Reyna tak melihatku dan langsung mengunci pintu. Bergegas aku melepas pakaianku dan membasuh darah dengan air hangat.“Sshhh… sakit…” ucapku meringis.Tok tok tok! Reyna memanggil namaku dari luar. Aku pun menyimpan pakaianku dan memakai baju baru lalu merapikan wajahku. Aku membuka pintu, ia tersenyum dan memelukku. Tanpa sadar ia melihat ke sekeliling, lalu melepaskan pelukannya.Ia mengajakku masuk ke kamar. Setelah aku duduk, ia berjalan dan mengambil baju yang kusembunyikan di bawah meja. Ia berdiri di sebelah baskom dan menatapku dengan mata menyipit.“Kau salah karena berbohong mengenai kondisi mu, Jen. Aku tidak bisa dibohongi, ini ulah mama kan?” ucap Reyna.Aku menunduk tanpa berkata. Reyna memegang tanganku, “Aku akan menjagamu. Bertahanlah. Kelak ketika aku besar, tak akan ada yang berani mengganggumu.”Aku mengangguk dan kami saling berpelukan. Sudah hampir sepuluh tahun aku terus berdamai diri ketika ibu tiri terus memukuliku. Aku berusaha mengingat kata-kata Reyna dan terus bersabar. Selama sabar itu masih ada, aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan, ibu tiriku tak terima dan kembali memukuliku, bahkan menarik-narik kerudungku.Cukup! Aku memandangnya dengan tatapan melotot tidak suka.“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau melawan saya? Hah! Kamu marah karena saya telah melepas kerudungmu itu?” katanya sinis.“Ya!!” bentakku sambil menangis.“Kau!”“Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajarku, Bu! Bahkan dengan bibirmu saja kau keluhkan bahwa aku memanggilmu ibu. Ayah memang membiarkanku bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaanmu. Walaupun aku mati, harta takkan berpindah ke tanganmu!” ucapku dengan dada berdebar.“Sudahi pukulanmu, sekarang giliran ku.”Ini diriku sekarang—air mata kering, hati rapuh yang terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan sambil menggenggam pisau, aku berjalan ke arahnya. Ia mundur sambil berteriak. Lalu…Jlebbb!Aku menusuk diriku sendiri tepat ketika Reyna datang.“Jenika!!!” Reyna menjerit dan berlari ke arahku.Bruk! Aku terjatuh dengan napas tersengal, menunggu ajal. Reyna meletakkan tasnya dan memelukku.“Jen… bangun!!” Reyna memukul pipiku pelan.“Tak ada harapan lagi untukku, Rey…” jawabku lirih.Reyna menangis histeris.“Maafkan aku yang tidak sabar…” Aku merosot dan menutup mata perlahan.Reyna mengguncang tubuhku. “Ini semua salah mama!” Ia menoleh pada ibu tiriku yang berdiri kaku.“Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri, kau lihat kan?” ujar ibu tiri.“Ia! Aku lihat, dia bunuh diri karena mama! Mama tahu? Ia kena kanker ginjal karena tongkat baseball mama!” Reyna berteriak.Deg!“Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama takkan tenang. Mama akan hidup dalam rasa bersalah selamanya,” ucap Reyna sambil memapahku keluar.“I-ini semua bukan salahku…” ibu tiri mundur.Reyna terus memanggil-manggilku. Nafasku semakin pendek di perjalanannya.Aku merosot dengan kepala di pangkuan Reyna. Bibirku memutih.Deg… deg… deg…“Ini tak mungkin! Jenika!! Bangun hey! Aku sudah besar! Aku akan melindungi mu! Aku bersalah! Jenika bangun… aku akan menuruti semua permintaanmu!” Reyna histeris.Harapanku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari seseorang di sekelilingku. Sejak kecil aku tidak punya teman selain Reyna. Aku tidak membencinya, aku menyayanginya. Ia selalu menolongku ketika ibunya jahat. Reyna adalah wanita pertama dan terakhir yang menyayangiku.Tiga hari kemudian Reyna memutuskan berhenti sekolah. Ia fokus belajar kedokteran. Ia ingin menjadi dokter psikiater anak. Baginya semua berawal dari kondisi psikologi anak kecil—ketika anak bahagia, dunia akan lebih damai.Sedangkan orang tuaku… Istri pertama ayah (ibu Reyna) dan ibu tiriku dipenjara karena terbukti melakukan penyiksaan terhadap anak kecil. Hukuman seumur hidup. Tertinggallah ibu tiri Reyna dengan ayah Jenika. Reyna memilih bekerja keras daripada tinggal bersama mereka yang membuatnya sakit setiap hari. Namun ia selalu menyempatkan datang menemuiku. Ketika aku sembuh, ibu Jenika sering mengunjungi Reyna sekedar menanyakan kabar.
JEALOUSY
Aku menatapnya dari kejauhan. Dia cantik. Sangat cantik! Dan aku mencintainya dengan teramat sangat.Aku ingat saat awal aku mendekatinya. Namanya Veanna Angelica Sanjaya. Dia sangat populer. Ada perasaan takut diabaikan.Nekat aku minta pin bb nya dari teman dekatnya yang ku tau sering bersamanya. Lalu dengan hati berdebar, ku invite dia.Demi Poseidon sang penguasa lautan, aku berjingkrak kegirangan saat dia menerima undangan pertemananku. Tapi aku bingung akan memulai dari mana.Kucoba mengetik sesuatu, namun segera kuhapus. Kuketikkan lagi sebuah kalimat pembuka, kuhapus lagi. Terus begitu berulang-ulang.Hingga sahabatku hilang kesabaran melihat tingkahku. Diambilnya ponselku, dan ia mengetikkan sesuatu di sana. Lalu diserahkannya kembali ponselku.Kubaca dalam hati dan tegang menunggu balasan darinya.Aku : Hai .Vea : Hai jugaAku membelalak dengan jantung berdegub kencang. Dia membalas chat ku!Tapi sedetik kemudian aku kembali bingung. Aku harus membalasnya apa lagi?Kupandangi layar ponselku hampir tak berkedip.Rupanya sahabatku mengetahui kegugupanku. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kembali ponselku dan mengetikkan sesuatu kembali di sana.Aku : Boleh kenalan? Namaku Andi.Ponselku sudah kugenggam kembali. Mataku melotot menunggu balasan ya kembali.Vea : Aku tau. Kamu Andi yang kapten basket itu kan? Yang juga pengurus osis sie bidang olahraga?HAH? Dia tau aku? Hatiku mengembang. DIA MENGENALKU!Aku : Betul. Kok kamu tau?Vea : Siapa yang tidak tau Kapten Basket SMA Bintang Timur?Aku : masa sih aku sepopuler itu? Masih populer kamu kali.Vea : Kata siapa? Aku kan cuma siswi biasa.Aku : Siswi biasa yang cantik dan populer.Vea : Nggak ah. Biasa aja kok.Aku tersenyum senang. Kulanjutkan chat ku yang selalu ditanggapinya.Selama berhari-hari, aku dan dia terus chatting melalui bbm. Bahkan pembicaraan kami sudah meningkat menjadi semakin akrab.Aku bahkan berani terang terangan menunjukkan rasa sukaku terhadapnya. Perlahan aku mendekatinya di sekolah.Aku semakin akrab dan dekat hingga tanpa terasa tiga bulan sudah aku dekat dengannya.Aku bahkan sudah mengatakan kalau aku menyukainya, bahkan mencintainya.Ya, meskipun ia tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku padanya, tapi dari tingkah laku dan kata-katanya saat chatting denganku, aku bisa menyimpulkan bahwa ia juga menyukaiku.Semakin lama, aku semakin menyayanginya, mencintainya.Aku teringat saat pertama kali menemuinya di kantin sekolah. Ia tampak tersipu malu-malu. Sangat menggemaskan, membuatku semakin ingin memilikinya, menjadikannya satu-satunya ratu dihatiku.Aku tidak mengerti dengan diriku yang begitu ingin menjadikannya milikku. Aku begitu cemburu melihatnya dekat dengan teman laki-laki dikelasnya. Bahkan aku cemburu dengan setiap lelaki yang berada di dekatnya.Jujur, aku benar-benar tersiksa dengan perasaanku yang begitu posesif terhadapnya.Aku berusaha menekan kecemburuanku setiap kali ia dekat dengan teman-teman lelakinya. Aku takut kehilangannya.Melihatnya bercanda dan tertawa bersama Andreas teman seangkatannya, sudah membuatku kalang kabut dan merajuk melalui chat ku di bbm dengannya.Belum lagi saat ia bertaruh dalam game online dengan Pandu dan Ernest, membuatku seperti kebakaran jenggot.Entah kenapa, banyak sekali teman dekatnya yang berjenis kelamin cowok.Hmm, aku ingin membuatnya melihat kepadaku saja. Aku yakin ia juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Toh selama ini dia terus membalas chat ku dan mengimbangi ungkapan sayangku padanya, meskipun ia selalu mengelak saat aku mengatakan bahwa aku mencintainya dengan mengatakan bahwa ia masih ingin bebas berteman. Tapi ia tidak keberatan dengan semua perhatianku, bahkan ia tampak begitu malu-malu dan menggemaskan saat aku menggodanya.Lima hari lagi ia berulang tahun yang ke 17. Aku ingin memberinya sesuatu yang berkesan untuknya.Teman-teman nya mengatakan bahwa gadis cantikku akan mengadakan pesta di sebuah hotel berbintang. Undangan sudah berada ditanganku. Ya, ia mengundangku.Dengan panik aku mulai mencari hadiah yang pantas dan berkesan untuknya. Seperti orang gila, aku mencari kado special untuknya. Setiap toko kumasuki hanya untuk mencari sesuatu yang pantas untuk kuberikan pada gadis cantikku."Sebenarnya lo mau ngasih kado apa sih?" kudengar pertanyaan bernada jengkel dari sahabatku, Steven."Gue masih belum menemukan yang pas untuk Vea, Stev. Lo ada ide gak?" aku balik bertanya."Boneka? Tas? Cincin? Kalung? Bunga? Baju? Sepatu? Jam tangan?" dengan malas Steven menyebut semua barang yang ada di otaknya."Aaaarrgh...aku bingung!" kuacak rambutku dengan kesal.Steven menoleh ke arahku lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaibku.======(*)======Aku mengacak-acak isi lemari bajuku. Mencari yang terbaik yang aku punya. Buru-buru kukenakan dan kesemprotkan parfum hadiah ulang tahunku tahun kemarin dari Mama.Bergegas aku berlari menuju ruang tamu di mana Steven dan Bryan menunggu."Wangi amat Sob? Udah kayak peri aja lo!" kuabaikan ledekan Bryan.Kami bertiga segera meluncur ke tempat acara.Kurang dari setengah jam, aku tiba di hotel yang sudah tertulis pada undangan.Bertiga aku, Steven dan Bryan setengah berlari menuju ballroom tempat acara diadakan.Ruangan sudah penuh. Acara baru saja di mulai. Syukurlah, aku tidak begitu terlambat.Kuletakkan kado yang kubawa di tempat yang sudah disediakan,lalu aku bergabung dengan undangan yang lain.Terdengar MC mengumumkan bahwa Veanna Angelica Sanjaya akan segera masuk ke dalam ruang pesta.Semua undangan bersiap merapat membentuk barisan sepanjang karpet merah yang digelar mulai depan pintu hingga tempat yang sudah disediakan.Vea memasuki ballroom didampingi kedua orang tua nya dan dua orang laki-laki tampan yang kuduga sebagai saudaranya.Ia tampak sangat cantik dengan balutan dress warna putih dipadu dengan konbinasi warna baby pink. Ia seperti bidadari yang turun ke bumi menebar cinta untukku.Mataku tak pernah lepas darinya. Ia membiusku begitu dalam hingga membuatku mabuk kepayang.Sekarang ia sedang memotong kue taart nya. Dengan hati berdebar, aku menunggu. Ia akan memberikan potongan kue pertamanya. Untuk siapa?Aah...Untuk kedua orang tuanya. Potongan berikutnya? Haaaa.... untuk kakaknya yang tadi mengawalnya. Dan potongan berikutnya... berikutnya... berikutnya... hingga semua mendapatkan potongan roti.Saat aku menikmati potongan roti, kudengar riuh tepuk tangan di depan. Ada apa? Apa yang terjadi di depan sana?Kulihat seorang teman lelaki sekelasnya sedang menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tapi, ada yang janggal dengan penampilannya. Kenapa ia nampak serasi dengan Vea-ku? Dan lagunya?It's undeniable that we should be togetherIt's unbelievable how I used to say that I'd fall neverThe basis is need to know, if you don't know just how I feelThen let me show you now that I'm for realIf all things in time, time will reveal, yeahOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahMataku membelalak melihat pemandangan di depan sana. Joshua nampak berlutut sambil sebelah tangannya menggenggam jemari Vea.It's so incredible, the way things work themselves outAnd all emotional once you know what it's all about, heyAnd undesirable for us to be apartI never would've made it very far'Cause you know you got the keys to my heart'CauseOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahKini Joshua berdiri. Sebelah tangannya masih menggenggam erat jemari Vea. Dan Vea masih dengan senyum manisnya membalas tatapan mesra Joshua.Say farewell to the dark of nightI see the coming of the sunI feel like a little childWhose life has just begunYou came and breathed new lifeInto this lonely heart of mineYou threw out the lifeline just in the nick of timeOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahSuara tepuk tangan riuh mengiringi akhir dari lagu yang membuatku sakit kepala.Apa yang kulihat begitu menyakitkan mata dan hatiku. Bagaimana mesranya mereka berdua, begitu dekat, pegangan tangan itu tak juga lepas. Senyum diwajah Vea tampak sangat menggambarkan perasaannya. Ya, ia pasti sangat bahagia. Apalagi teman-teman nya yang selalu bersorak meneriakkan betapa serasinya mereka berdua.Aku sakit. Kutahan perasaanku yang ingin segera pergi dari tempat itu.Kuketikkan sesuatu melalui bbm pada Vea. Ini benar-benar tak dapat kutahan.Apalagi kulihat teman laki-lakinya yang ku tau bernama Joshua Anggara itu benar-benar terus menempel pada Vea.Malam itu aku pulang dengan perasaan yang amat sangat sakit. Baru kali ini aku merasakan hatiku seperti diremas-remas.Dengan segera kulihat layar smartphone ku saat kudengar notifikasi bbm.Itu dari Vea! Apa yang akan dikatakannya? Bagaimana sebenarnya perasaannya padaku?Kulihat jawaban Vea atas bbm ku sebelumnya.Aku : kamu sangat cantik malam ini. Tapi aku gak nyangka kalau aku harus melihat adegan yang bikin aku sakit hati.Vea : Maaf, itu cuma nyanyi aja kok. Jangan marah ya.Bagaimana aku tidak marah melihat semua itu didepan mataku? Kubalas bbm Vea.Aku : Tidak apa. Aku sadar aku tidak bisa membuatmu sebahagia tadi.Vea : Bukan seperti itu.Aku : Aku sadar kok siapa aku. Aku gak akan pernah bisa membuat kamu tersenyum seperti tadi.Vea : Kamu juga sudah bikin aku senyum kok.Aku : Kamu gak perlu bohong buat bikin aku senang.Vea : Aku gak bohong.Aku : Joshua pasti bikin kamu senang banget ya malam ini.Vea : Biasa aja kok.Aku : Kalian berdua cocok kok.Vea : Masa?Aku : Bener kok. Serasi banget.Aku mengetik semua itu dengan hati yang benar-benar hancur. Apalagi setelah itu Vea tidak lagi membalas chat ku.Aku benar-benar kelimpungan karena perasaan cemburu yang menguasaiku. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Vea yang sedang digenggam tangannya oleh Joshua yang berlutut di hadapannya terus menerus menggangguku.======(*)======Ini sudah dua minggu sejak kejadian itu. Berkali-kali aku mencoba kembali chat dengan Vea, namun ia tidak lagi seperti dulu. Ia sudah tidak lagi menganggap chat ku.Perlahan-lahan ia makin mengabaikanku.Aku pasrah sudah. Sejak awal Vea memang tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku terhadapnya.Di sekolah pun ia tidak lagi menatap malu-malu sambil tersenyum padaku.Ia lebih suka menghindariku.Ia juga makin dekat dengan Joshua.Laki-laki itu mampu mengambil hati Vea-ku dengan sejuta pesona yang dipunyainya.Sekarang aku hanya bisa menatap wajah cantik Vea dari jauh. Menatap senyumnya yang selalu mengembang manis untuk siapapun yang dekat dengannya.Aku sudah kehilangan Vea. Ia sudah bukan lagi Vea-ku.Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan dalam kesendirian dan keterpurukanku.SELESAI .
Ilmu Pengetahuan
Seperti yang diketahui bahwasannya ilmu adalah syariat yang bisa kita bawa sampai ke langit nanti. Banyak orang yang menganggap ilmu hanyalah sebuah dongeng dan membosankan. Tapi bagi orang bijak, ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang membawa kebaikan. Dengan ilmu pengetahuan derajat kota tinggi di antara orang-orang. Rajinlah mengangkat ilmu dan mencari ilmu di mana saja. Ilmu mudah dicari, lebih singkatnya ilmu bisa digapai jika kita mempelajari sebuah hal baru. Mudah, bukan? Yuk mencari ilmu.Suatu ketika di sebuah desa A, terdapat kejadian yang mengharukan beberapa tetangga. Karena anak dari Bu Titin hendak merantau jauh dari ibunya karena ingin mendapatkan ilmu di negeri seberang. Mereka saling berpelukan, melepas rindu yang cukup lama bagi mereka berdua. Ayah dari Teo, anak Bu Titin ini sudah tiada semenjak kecelakaan dua tahun yang lalu. Gagal ginjal membuat pria tua itu meninggal pada hari kedua setelah dioperasi, meninggalkan keluarga kecilnya lebih dahulu. Setelah kejadian itu, Bu Titin menjadikan dirinya sebagai kepala keluarga dan menjadi ibu bagi Teo yang saat itu baru berusia 12 tahun.Hari ini, di awal tahun, anak yang masih muda harus merantau jauh dari ibunya mengikuti pamannya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Walaupun sangat sedih, Teo dan Bu Titin harus bersabar demi masa depan mereka masing-masing. Teo melambaikan tangannya kepada ibu ketika ia sudah menaiki mobil milik sang paman. Dengan menangis terisak-isak, Bu Titin melambaikan tangannya kepada Teo hingga mobil itu tak lagi terlihat.Tangis wanita itu pecah menatap kepergian anak semata wayangnya. Berhari-hari kemudian, dengan masih murung karena ditinggal anaknya, datanglah seorang tetangga baru di samping rumahnya. Ia menyapa para tetangga dengan membuatkan makanan sederhana sebagai bentuk perkenalan. Ia cukup ramah, selalu mengantarkan makanan itu sampai ujung gangnya. Namun setelah itu ia kembali ke rumah untuk beristirahat karena memakan waktu banyak untuk berjalan ke ujung gang.Bu Titin masih penasaran dengan tetangga barunya itu. Ketika ia menyapa, wanita itu terlihat tidak suka kepadanya. Ia mulai mencari informasi mengapa tetangganya itu tak pernah keluar rumah walau pernah terlihat sekilas. Hingga tanpa terasa, satu bulan berlalu dan Bu Warni mulai terkenal di gang itu. Perubahan sifat wanita itu membuat para tetangga bertanya-tanya. Ternyata Bu Warni itu sikapnya memang kurang sopan; hanya baik di awal. Ia sekarang sering berkata sombong, bahkan menjadi ibu-ibu penggosip nomor satu di sana.Yang paling ia gosipkan adalah Bu Titin yang terkenal baik walau kurang mampu. Suka menolong dan bahkan tanpa sungkan memberikan sesuatu yang ia punya. Walau jarang terlihat, sesekali ia mengobrol singkat dengan tetangga hanya untuk menanyakan kabar. Tetangga tahu Bu Warni itu tukang gosip dan tak suka kepadanya. Mereka pun menghindar, bahkan jika bertemu hanya basa-basi sebentar sebelum mencari alasan untuk menjauh.Kejadian itu bertahun-tahun masih saja Bu Warni lakukan, bahkan Bu Titin tahu bahwa Bu Warni tidak suka kepadanya karena kurang berbaju wangi dan kurang dalam penampilan. Namun Bu Titin tidak pernah membalas, ia hanya berdoa agar suatu hari kebaikan menjadi miliknya.Delapan tahun berlalu. Selama itu Bu Titin selalu berkomunikasi dengan anaknya melalui ponsel yang diberikan pamannya. Tapi sudah dua hari ini Teo tidak memberi kabar, membuat Bu Titin khawatir. Karena selama ini Teo tak pernah lupa memberi kabar. Tiba-tiba adzan berkumandang, Bu Titin melaksanakan salat dan lupa sejenak pada kekhawatirannya. Walau terdengar kegaduhan di depan rumah, ia tetap melanjutkan salat sampai selesai.Hingga ia mendengar pintu diketuk. Setelah membersihkan mukanya, ia berjalan ke pintu. Ia membuka pintu dan terkejut melihat seorang pria dengan setelan tuxedo. Dengan gugup ia meraih wajah pria itu, mengelusnya perlahan sambil berlinang air mata.“Teo…” ucap Bu Titin pertama kali ketika melihat wajah tampan itu. Ia memeluknya, dan Teo pun memeluk ibunya dengan sangat erat melepaskan rindu yang hanya terlampiaskan lewat suara selama bertahun-tahun. Bu Titin tahu dari firasat seorang ibu bahwa pria itu adalah Teo. Terlebih lagi ketika ia melihat suaminya tersenyum dari arah belakang, seolah berhasil mengantar keluarganya kembali bersatu.Teo masuk dan bercerita banyak mengenai kehidupannya selama tinggal dengan pamannya. Bu Titin hanya mampu menangis haru mendengarnya. Teo sudah bekerja keras, dan kejutan besarnya adalah ia membawa ibunya menuju rumahnya yang baru sekarang. Rumah itu besar—enam kali lipat dari rumah Bu Titin. Ia membawanya masuk, memperkenalkan setiap ruangan, dan berkata, “Ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Mulai hari ini ibu tinggal bersamaku.”Sementara itu, hidup Bu Warni yang sepanjang hidupnya digunakan untuk bergosip akhirnya berubah. Semua aset berharganya dijual karena terlilit utang. Saudara-saudaranya tidak mau membantu karena sikapnya dulu. Setiap hari ia menerima gunjingan karena sering berjalan sendirian seperti orang hilang arah. Namun begitu, Bu Warni tetap bertahan hingga ajal menjemputnya.Kebaikan seperti berpindah ke kehidupan Bu Titin—ibu yang sabar, ikhlas, dan selalu berbuat baik. Semua kebaikan seolah terbalas oleh Tuhan dengan kehidupan yang lebih baik bersama anaknya.
Digantung Perasaan
Awal mula aku dekat dengan dia karena ada tugas IPS yang membuat TTS. Dia mengerjakan TTS ku bersama temannya. Pada malam harinya dia mengechatku“Eh kalau kamu mengoreksi kerjaanku nanti kalau ada yang salah benarkan ya, salah kan 8 atau 7,” ucap dia kepadaku. “Loh tidak boleh seperti itu, harus sportif,” ucapku. “Tidak apa apa sesekali,” ucap dia kepadaku. Setelah itu saat dia mengechatku lagi aku hiraukan tidak kurespon. Karena hal tersebut tidak baik untuk dilakukan.Keesokan harinya ada mapel olahraga, pada hari juma’t kelas 9f berolahraga bersama kelas 9b. Pada saat itu ada penilaian perkelas untuk lari bersama, saat di jalan dia menyapaku dengan nama orangtuaku, di pertemanan kelas 9f memanggil nama kita dengan nama orangtua itu sudah biasa. Saat sudah sampai di kelas ternyata dia sudah tiba di kelas terlebih dahulu, saat aku berada di kelas hanya ada anak laki-laki, anak perempuannya hanya ada 4 anak. Masih sama dia memanggil namaku dengan nama orangtuaku tapi dia hanya tau nama ayahku saja tidak dengan nama ibuku, tetapi aku sudah tahu nama kedua orangtuannya dari teman sekelasku.Saat dia ada di kantin dia sedang bertanya kepada teman sedesaku, dia bertanya siapa nama ibuku, untung saja temanku tersebut mendadak lupa akan nama ibuku. “Eh nama ibunya Laras siapa?” tanyanya pada temanku. “Siapa ya, aku mendadak lupa, nanti saja kalau aku sudah ingat nanti aku beritahu,” ucap temanku kepada dia.Selesai itu kembali ke kelas masing masing, dan bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa pun bergegas pulang menuju ke gerbang sekolah. Pada pukul 19.00 sedang membicarakan tentang PR di group sekolah yang tidak ada gurunya, karena teman-teman membuat group tersebut untuk bertanya-tanya jika ada info yang kurang jelas dan lain-lain. Pada saat itu dia membalas chat saya di group tersebut menggunakan nama orangtua saya, saya langsung membalas chat tersebut secara pribadi.“Eh maksud kamu apa?, manggil nama orangtuaku,” ucapku. “Loh kenapa?” ucap dia kepadaku. “Kenapa, kenapa itu di group maksudnya apa manggil-manggil nama orangtuaku,” ucapku pada dia. “Bercanda,” ucapnya pada ku. Setelah itu aku tidak membahas hal tersebut melainkan membahas hal random dengan dia.Keesokan harinya seperti biasa berangkat sekolah untuk belajar dan bertemu teman-teman. Sesampai di sekolah aku bertemu dia, dia duduk didepan kelas 9f bersama teman-temannya dari kelas lain. Aku langsung menundukkan kepala ke bawah, karena aku malu ada dia dan teman-temannya. Saat aku lewat didepannya dia memanggilku dengan nama orangtuaku, aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku langsung bergegas menuju kelas 9f.Saat pelajaran dimulai ternyata dia memandangi aku, aku tidak tahu jika dia memandangiku, aku diberitahu oleh teman sekelompokku, waktu itu dalam satu kelompok perempuan dan laki-laki terpisah. Waktu itu saat temanku memberitahu tentang hal tersebut. “Eh kamu sadar apa tidak, dari tadi kamu dilihat terus menerus dengan dia,” ucap temanku. “Yang benar saja kamu,” ucapku Pada saat itu juga aku membalikkan badanku dan melihat dia, karena tempat duduknya tepat di belakang tempat kelompokku, ternyata dia juga sedang melihatku. Dia mengalihkan pandangannya dengan cara dia mengajak berbicara teman sebelahnya.Bel istirahat berbunyi, saat aku ingin keluar kelas untuk menuju ke kantin dia memanggilku dengan nama orangtuaku. Aku juga membalasnya dengan memanggil dia dengan nama orangtuanya, tetapi aku bingung dari mana dia bisa tau nama orangtuaku karena awal kelas 9 aku tidak pernah sakit, dan masuk sekolah setiap hari, jadi tidak pernah membuat surat yang bertuliskan nama orangtuaku.Saat bel masuk berbunyi pada jam kedua ada mapel MATEMATIKA, saat guru tersebut memasuki kelas, guru tersebut langsung berbicara “Anak-anak mulai saat ini satu kelompok harus terdiri atas anggota laki-laki dan perempuan, ini saya acak apa pindah sendiri,” ucap guru tersebut. “Pindah sendiri aja bu,” ucap teman satu kelasku. “Baik, saya tunggu saat ini juga” ucap guru tersebut.Teman-teman langsung bergegas untuk mencari kelompok masing-masing. Aku hanya terdiam karena bingung, pada saat itu aku tertuju kepada dia, dan dia juga melihatku. Guru tersebut melihat aku dan dia belum ada kelompok. “Kalian berdua, satu kelompok saja,” ucap guru tersebut. “Baik bu,” ucap dia.Dia langsung menghampiriku bersama satu temannya. Dia duduk di depanku. Saat itu juga guru tersebut berbicara “Eh jangan lupa duduknya laki-laki sama perempuan bersebelahan.” Ucap guru tersebut. “Baik bu,” ucap teman sekelas.Selang bel pelajaran berbunyi, semua siswa mengeluarkan buku dan belajar seperti biasa. Pada waktu itu pelajaran MATEMATIKA hanya 2 jam, pada jam terakhir satu persatu siswa kelas 9f bergiliran maju untuk mengerjakan soal di papan kelas. Pada saat itu hanya sampai absen 14 saja yang maju, karena waktunya tidak cukup, dan diselesaikan minggu depan.Saat jam ketiga, ada mapel B.JAWA. Ada tugas kelompok tentang membuat makalah dari cerita KETHOPRAK. Pada jam ketiga, disuruh berkelompok untuk tugas tersebut, kelompoknya diacak, teman-teman menemukan ide dengan cara membuat sobekan kertas yang berisikan angka 1-7. Satu anak mengambil satu kertas dengan secara acak, selesai mengambil kertas tersebut berkumpul ke kelompoknya masing-masing.Dia bertanya kepadaku “Aku berharap kita satu kelompok,” ucapnya kepadaku. “Semoga saja kita satu kelompok,” ucapku.Semua siswa membuka kertas tersebut secara bersamaan, ternyata aku dan dia mendapatkan angka yang sama, yaitu angka 3 yang berarti kita berdua satu kelompok. Pada jam keempat masih ada jam pelajaran Bahasa JAWA, pada waktu itu hanya di beri penjelasan dan disuruh mencari materi dan membuat makalah menurut kelompok yang diberikan oleh guru tersebut, karena setiap kelompok tugasnya berbeda-beda, ada yang kebagian tentang drama moderen, wayang wong, ludruk, dan kethoprak.Pada jam terakhir ada mapel Bahasa INDONESIA, seperti biasa di suruh ke Lab komputer untuk membuat cerita. Membuat cerita sendiri-sendiri yang terdiri atas satu cerita harus ada 1000 kata atau lebih dari 1000 kata. Semua berjalan lancer seperti biasa dan tinggal menunggu bel pulang berbunyi.Pada hari sabtu tanggal 29 Oktober kemarin Cuma ada 2 mapel, yaitu mapel Bahasa INDONESIA dan IPA. Pada mapel Bahasa INDONESIA seperti biasa pergi ke lab komputer dan saat di lab komputer di larang menghidupkan wifi, dan hanya melanjutkan cerpen yang belum selesai. Karena larangan tersebut satu persatu siswa kelas 9f keluar dari lab komputer, alasan keluar dari lab komputer tersebut karena bosan tidak ada hiburan, ada juga yang sudah menyelesaikan cerpennya. Karena hal tersebut satu persatu keluar dan ada yang masuk kelas dan ada yang ke kantin, tetapi siswa kelas 9f keluar dari ruangan lab komputer pada jam kedua.Pada saat jam istirahat walikelas 9f memasukki kelas 9f, teman-teman kaget akan hal itu karena saat itu tidak ada mapel Bahasa INGGRIS. Guru tersebut memasuki kelas dan menyampaikan akan hal yang keluar lab komputer pada saat jam pelajaran belum selesai, hanya ada beberapa saja yang masih di ruang lab komputer. Sebagai hukuman atas berbuatan tersebut semua siswa yang keluar pada saat jam pelajaran disuruh membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut yang disertai tanda tangan orang tua dan pada hari selasa disuruh mengumpulkan surat tersebut ke walikelas 9f“Saya dapat laporan dari guru Bahasa Indonesia bahwa kalian tidak mengikuti pelajaran tersebut sampai jam pelajaran selesai, hukumannya kalian harus membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut dan harus ada tanda tangan orangtua, saat pengambilan rapot nanti akan saya tanyakan apa benar ini tanda tangan orangtua kalian apa kalian sendiri yang menandatangani surat tersebut, dan akan saya share di group walimurid,” ucap guru walikelas 9f.Saat selesai berbicara guru tersebut langsung pergi. Semua siswa langsung kaget akan hal itu, selama ini yang teman-teman tahu guru Bahasa Indonesia hanyalah guru yang paling enak saat mengajar, tetapi tidak seperti itu. Bahwa malah sebaliknya diam-diam mematikan.Keesokan harinya semua siswa mengumpulkan surat pernyataan yang ditanda tangani orangtua, banyak yang lupa menandatangani surat tersebut. Hanya beberapa saja yang terkumpul, yang lainnya menyusul, ada juga yang ditanda tangani sendiri, Karena takut akan kena marah.Dia juga sama, membuat surat pernyataan tetapi tanpa tanda tangan orangtua melainkan tanda tangan temannya. Karena ia lupa untuk memberitahu akan hal itu.Setiap hari hubungan kami semakin baik terkadang ada sedihnya dan juga ada senangnya. “Mencintai teman sekelas sama dengan mennyakiti diri sendiri”
Strict Parents
Ika memiliki orangtua dengan gaya pengasuhan yang ketat. Orangtua Ika adalah tipe orangtua yang mengatur anaknya sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa menghargai perasaan dan mempertanyakan pendapat Ika.Ika saat ini menginjak kelas 3 SMP dan sekarang saatnya Ika menentukan mau melanjutkan SMA maupun SMK di sekolah pilihan Ika. Waktu ada mata pelajaran BK, guru yang mengajar memberi pertanyaan tentang “Setelah lulus smp, saya melanjutkan sekolah di?” dan tugas tersebut harus disertai dengan tanda tangan orangtua.Ketika Ika sudah sampai di rumah dan saat Ika meminta tanda tangan orangtuanya, Wanto ayah Ika berbicara “Ngapain kamu sekolah jauh jauh” Ucap ayah Ika “Ika ingin menambah wawasan yang lebih banyak yah” Sahut Ika “Di sini lho ada sekolah yang lebih dekat, sekolahnya juga nggak kalah baik dari sekolah pilihan kamu” Ucap ayah Ika “Tapi lho yah, sekali ini saja izinin Ika ya?” Ucap Ika sambil matanya mulai berkaca-kaca “Udah sekolah di sini saja jangan jauh-jauh, jadi anak nggak pernah nurut” Ucap ayah Ika dengan nada kerasnya“Nggak nurut gimana yah? Ika selama ini udah sabar ngelakuin semua hal, semua perintah dari ayah sama bunda, sekarang gantian dong turutin satu kali ini aja Ika mau sekolah di sekolah yang Ika mau” Ucap Ika sambil meneteskan air mata Ayah Ika langsung pergi meninggalkan Ika dan kertas putih itu.Keesokan harinya Ika tidak mengumpulkan kertas tersebut dan Ika mendapatkan konsekuensi dari guru BK untuk mengumpulkan besok pagi.Di rumah Ika pun berdebat lagi dengan ayahnya dan pada akhirnya Ika yang harus menuruti keinginan orangtuanya. “Ya udah, Ika mau sekolah di sekolah pilihan ayah sama bunda” Ucap Ika “Ayah kemarin kan udah bilang nurut aja” Ucap ayah Ika sambil melontarkan senyuman tipis “Tapi ayah sama bunda ngerti nggak sih perasaan Ika, Ika ini ca…. ” “Ssstttt nggak usah membantah lagi” Ucap Anggun bunda Ika yang memotong omongan Ika Dan akhirnya Ika belajar menerima apa yang telah menjadi keputusan kedua orangtuanya.*Bebaskan anak-anak kalian selagi mereka melakukan hal-hal positif, berilah mereka kepercayaan untuk menjadi diri mereka sendiri. Ketika udah diberi kepercayaan oleh orangtua kalian, pliss jangan hancurkan kepercayaan itu, karena kesempatan tidak datang dia kali jika ada itu berbeda*
Daerah Terlarang
Di sebuah tempat terdapat daerah terlarang (Gunung) yang terkenal sejak dulu, daerah tersebut dikenal dengan kemistisannya. Kalau ada yang memasuki kawasan tersebut pasti tidak akan pernah kembali lagi.Daerah tersebut pun masuk berita, Toni yang sedang menonton berita tersebut lalu bertanya-tanya kenapa daerah tersebut disebut kawasan yang dilarang untuk dikunjungi. Lalu Toni ingin memasuki daerah terlarang tersebut dengan kawan kawannya Joni, Totok dan Andre. Mereka berencana akan berangkat bersama sama pada Jumat malam.Sebelum berangkat mereka teleponan dulu akan bertemu dimana “Ketemuan dimana ini?” tanya Toni. “Kalian sudah siap semua?” kata Totok. “Sudah nih, tinggal beli persediaan makan buat kita menuju ke sana!” jawab Joni. “Beli di toko seberang jalan aja,“ saran Andre.Mereka pun berangkat dan bertemu di toko seberang jalan tersebut. Setelah mereka belanja persediaan untuk menuju gunung itu. Mereka Toni, Joni, Totok dan Andre akhirnya berangkat menuju gunung yang disebut daerah terlarang tersebut.Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai juga di kaki gunung tersebut. Mereka bersiap-siap akan mendaki gurung yang terlarang tesebut. Gunung tersebut terlihat sangat angker. Aslinya mereka takut untuk mendaki gunung tersebut tapi karena mereka penasaran akhirnya dengan semangat yang membara mereka berani mendaki gunung tersebut.Baru saja beberapa menit mendaki kejanggalan mulai dirasakan mereka, Joni tiba tiba terjatuh lalu kesurupan. Toni, Andre dan Totok langsung berusaha menyadarkan Joni tiba tiba Joni berbicara saat kesurupan“Siapa kalian yang berani memasuki kawasanku!” ucap Joni yang sedang kesurupan. Totok berusaha menyadarkan Joni yang sedang kesurupan menggunakan air, dan akhirnya Joni sadar kembali. Mereka sangat kaget dengan kejadian tersebut. “Baru aja mendaki beberapa menit ada aja kejadian aneh mendatangi kita,” kata Toni.Hari pun mulai gelap, mereka memutuskan bermalam dahulu, mereka membagi tugas agar lebih cepat mempersiapkan tenda dan bara api untuk mereka menghangatkan badan.Dan akhirnya mereka selesai juga mempersiapkan tenda dan bara api, setelah itu mereka memasak makanan untuk mereka makan. Masakan matang juga, mereka menyantapnya dengan lahap, saat mereka sedang makan Joni bertanya. “Kok bisa ya aku tadi kesurupan?” tanya Joni. “Mungkin kamu lagi melamun jadinya kamu gampang kemasukan roh ghaib,” ucap Totok. “Hari semakin malam nih sebaiknya kita istirahat dahulu agar besok pagi kita bisa melanjutkan perjalanan,” kata Andre. “Sebaiknya kita bergantian menjaga agar tidak ada hal yang tidak kita inginkan datang!” kata Toni. “Baiklah kalau begitu aku saja yang pertama jaga,” kata Andre. “Kamu berani jaga sendirian ndre?” tanya Totok. “Berani dong masa gak berani,” balas Andre. “Yaudah kalau gitu,” kata Toni.Mereka semua akhirnya tidur kecuali Andre sendirian yang menjaga tenda, hari mulai gelap banyak hewan hewan malam yang mulai keluar mencari mangsa suara sekitar yang sangat hening dan gelap membuat bulu kuduk Andre berdiri.Kelelawar berkeliaran, berterbangan di setiap arah burung hantu sedang mengintai di atas pohon. Setelah beberapa jam berjaga sendirian Andre akhirnya Toni bangun dan menggantikan Andre yang sudah berjaga dari tadi.“Ndre ganti aku yang jaga kamu istirahat aja,” ucap Toni. “Baiklah kalau begitu, aku juga sudah sangat mengantuk,” balas Andre. Andre pun tidur di dalam tenda, hari semakin malam. Sejauh ini Toni berjaga aman aman saja tidak ada hal aneh yang terjadi.Tiba-tiba ada babi hutan yang melewati tenda mereka. Toni yang melihat babi itu langsung terkejut dan membangunkan teman-temannya yang sedang tidur. “Bangun bangun ada babi hutan barusan lewat” kata Toni. “Dimana babinya?” tanya Totok. “Langsung hilang waktu aku melihatnya” balas Toni. “Gimana kalau kita buru babi itu?” ajak Joni. “Kamu mau mencari masalah ni? Itu babi hutan bukan babi biasa!!” balas Toni. “Kan lumayan kalo kita buru lalu kita masak,” kata Joni. “Ide bagus juga, kan kita juga lagi di alam liar jadi harus mencoba hal baru,” balas Totok. “Tapi bukannya berbahaya kita memburu babi hutan?” tanya Toni. “Ya kita harus hati hati,” kata Totok. “Baiklah kalau begitu siapkan senjata kalian teman teman kita akan memburu babi hutan itu,” kata Toni.Mereka pun bersiap siap akan memburu babi itu, mereka berangkat mencari babi itu, mereka melihat babi itu sedang sembunyi di semak semak, dengan hati hati mereka mendekati babi itu tanpa terdengar. Dengan mudah mereka menangkap babi hutan itu setelah tertangkap babi itu dibawa ke kemah mereka yang tidak jauh dari lokasi babi itu ditangkap. Mereka menyimpan babi yang sudah diburu itu untuk dimasak keesokan harinya.“Baiklah sekarang aku yang berjaga,” kata Totok. Toni, Andre, dan Joni mereka melanjutkan tidurnya setelah berburu babi hutan itu.Matahari telah terbit dari arah timur mereka berempat telah bangun dan bersiap siap akan memasak babi yang mereka buru tadi malam.Setelah memasak dan memakan babi hasil buruan. Mereka lalu bersiap siap akan melanjutkan perjalanan mendaki gunung itu. Setelah mereka mendaki selama 5 jam lamanya akhirnya mereka sampai di puncak gunung yang disebut angker itu.“Padahal gunungnya biasa aja tapi kok di bilang angker,” Kata Toni. “Nah itu mungkin agar gunung ini tetap terjaga keasriannya,” balas Joni. “Yaa mungkin saja,” balas Andre.“Pemandangannya bagus juga ya,” kata Totok. “Memang indah pemandangan alam sekitar yang belum terkena tangan manusia,” balas Toni.Mereka pun menikmati menikmati pemandangan di puncak gunung tersebut. Memang di gunung tersebut tidak ada hal yang angker tapi gunung itu dikenal dengan gunung yang sangat angker oleh orang orang sekitar yang tinggal di kaki gunung itu.Itu merupakan salah satu pengalaman mereka pertama kali saat mendaki gunung. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah mereka masing masing dengan selamat dan tidak akan melupakan pengalaman itu.
Sahara Bella
Sahara Bella namanya, dia mempunyai seorang kakak bernama Laura Bella. Mereka mempunyai nama belakang yang sama, terkadang orang-orang menganggap mereka anak konglomerat karena menggunakan marga ‘Bella’. Padahal itu hanya pelengkap nama yang Ibu beri agar nama mereka tidak terlalu pendek.Sahara dan Laura beda satu tahun. Laura sang kakak sudah memasuki semester awal perkuliahan sedangkan Sahara masih duduk di bangku SMA kelas 3.Menurut Sahara, kakaknya itu sangat pintar. Terbukti dari dia yang masuk kuliah lewat jalur beasiswa. Sejak SMA Kakaknya menjadi siswa kebanggaan sekolah. Sebab, dia sering dipilih untuk mewakili sekolahannya untuk mengikuti lomba cerdas cermat, MIPA, dan perlombaan yang hanya mampu diikuti oleh orang berotak cerdas seperti Laura. Dia selalu membawa piagam atau piala setelah lomba. Jika tidak juara 1 pasti 2.Tapi karena itu pula hidup Sahara penuh aturan seperti sekarang. Bundanya yang terobsesi dengan nilai memaksa dia untuk mengikuti semua les yang ia siapkan. Bundanya juga selalu menuntut dia untuk belajar, belajar dan belajar. Bunda ingin Sahara seperti Laura. Sahara selalu menolak, akademik bukan kemampuannya. Dia lebih memilih mendekam diri di kamar dan menulis naskah-naskah di blog pribadinya lewat laptop.Seperti sekarang, Sahara sedang berkutat dengan laptop pemberian sang Kakak saat ulang tahunnya yang ke-14 tahun. Laura tau jika kemampuan Sahara ada di Sastra. Dia tau adiknya suka membuat atau mengarang cerita. Dia mendukung adiknya, berbeda dengan sang Bunda.“Hey buka pintunya! Bunda sudah menyiapkan uang untuk membayar les matematikamu! Cepat keluar dan pergi ke tempat les yang sudah Bunda kasih tau!” Dari depan pintu kamar, Bunda berteriak. Tangannya itu memukul keras pintu jati itu.Sahara bergeming, dia menulikan pendengarannya. Otaknya hanya fokus menulis karangan cerita yang akan dia publish di aplikasi pembuat cerita.“Berhenti membuat tulisan-tulisan tak berguna itu Sahara! Cepat keluar dan pergi les!” Bundanya itu kenapa sih? Kenapa tidak mendukung Sahara untuk menjadi dirinya sendiri?! Dia hanya ingin tumbuh dewasa menjadi dirinya sendiri. Mengejar mimpinya dengan caranya sendiri. Tanpa harus kekangan atau aturan dari orang lain, termasuk Bundanya sendiri!Dengan kesal dia melepas earphonenya. Menatap datar pintu yang bergetar karena pukulan dari luar. Dengan malas dia berjalan kearah pintu. Mendekatkan wajahnya kemudian berkata, “Dari pada menyakiti tangan sendiri mending Bunda fokus ke diri sendiri. Sampai kapan pun Sahara gak akan mau ikutin omongan Bunda. Ini hidup Sahara, Sahara mau ikutin kemauan sendiri.”Bilang saja Sahara anak durhaka. Dia juga tidak mengelak itu. Tapi, bisakah kalian mengerti betapa frustasinya dia sekarang? Bundanya tidak tau perasaan Sahara. Mati-matian dia menahan emosi ketika mimpinya dihina oleh orang yang melahirkannya itu. Apa salahnya ingin mengikuti keinginan sendiri?Besoknya, seperti biasa. Wanita berusia 40 tahunan itu mendiamkan Sahara. Dia bahkan tidak meliriknya sama sekali saat sedang makan bersama. Laura tau, ada masalah sebelum dia pulang.Laura lebih memilih tinggal di kost-an yang dekat dengan Universitasnya. Selain agar jarak tempuh yang dekat, dia juga ingin menyatukan adik dan Bundanya itu.“Kakak sudah kirim uang ke rekening kamu. Cukup-cukupin, ya.” Suara Laura memecahkan keheningan ruang makan ini. Pandangan Bunda teralih ke anak sulungnya itu, dia memandang tak suka Laura.“Ngapain kamu ngasih uang ke anak itu? Lebih baik uangnya kamu tabung untuk keperluan kuliah kamu.” ucap Bunda dengan nada suara yang tak suka. Jelas, dia kesal dengan anak bontotnya yang tidak mau mengikuti ucapannya.Laura tersenyum, gadis itu menatap Sahara yang lebih memilih diam. “Itu aku kasih bukan cuma-cuma, Bun. Aku membayar utang aku kepada Sahara bulan lalu. Dia meminjamkan aku uang untuk membeli stetoskop baru.” jawab Laura.“Dapet uang dari mana kamu? Kerjaannya aja nyumpel di kamar. Kamu ngepet? atau jangan-jangan ambil uang simpenan Bunda? Iya?” tuduh Bunda menunjuk wajah Sahara.Diam-diam Sahara mengepalkan tangannya dibawah meja makan. Dia menatap nyalang Bundanya yang dengan seenak hati menuduh dirinya sebagai pencuri.“Jaga omongan Bunda!” Emosi, Sahara tak sadar jika nada bicaranya meninggi. Nafasnya memburu, dadanya naik turun karena emosi. Sungguh, dia tidak tahan dengan semua ini.Tersulut emosi, Bunda menggebrak meja hingga lauk yang berada di piring tumpah. “Beraninya kamu membentak Bunda?! Saya ini orang yang telah melahirkan kamu! Sopan sedikit bisa tidak?! Dimana kesopanan kamu?! Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti ini!”Sahara tergelak. Ketawanya itu mengundang kemarahan Laura, “Sopan sedikit Sahara. Dia bundamu, tidak sepatutnya kamu membentak dia seperti tadi.”Sahara terkekeh, “Udah?”Keduanya terdiam. Sahara tertawa lagi, satu detik setelahnya tatapan dia menjadi dingin dan datar. Matanya menatap Laura dan Bundanya tajam.“Selama ini aku sabar sama sikap Bunda. Bunda bilang apa? Sopan? Haha! Bunda bahkan gak pernah ngajarin aku buat sopan. Yang ada dipikiran Bunda cuma les, les, dan les. Bunda terlalu terobsesi dengan apa yang udah Kak Laura dapat sampai Bunda pengin aku jadi kaya dia!”Menjeda sejenak hanya untuk mengatur emosinya. Dia tidak ingin berkata kasar yang nantinya akan menyakiti hati orang didepannya itu. Dia masih menyayangi Bundanya.“Inget, Bun! Kami beda orang! Kak Laura ya Kak Laura, aku ya aku. Gak bisa disamain! Kita punya kemampuan sendiri-sendiri. Kak Laura pinter di akademik, nilainya yang bagus Sampai bisa masuk Fakultas Kedokteran di UI itu sebuah kebanggaan buat Bunda kan? Terus Bunda pengin aku jadi seperti kakak? Gak akan bisa! Kemampuan aku ada di Sastra! dan selamanya akan seperti itu. Mau sampai ratusan materi yang masuk kalo takdir aku udah di Sastra, ya gak akan bisa! Jadi stop kekang aku buat jadi kak Laura. Karena sekali lagi, kita beda! Kita memang sedarah, tapi bukan berarti takdir kita sama! Tuhan memberi kemampuan kepada hambanya berbeda-beda! Aku capek Bun!” Panjang kali lebar, Sahara harap Bundanya sadar. Sahara harap Bundanya introspeksi diri.“Dan Bunda nuduh aku pencuri? Sakit, Nda.. Sakit.. anak mana yang tega nyuri uang Bundanya sendiri? Dan Bunda mana yang tega nuduh anaknya pencuri?” Tersenyum kecut, Sahara menghapus paksa air mata yang keluar membasahi pipinya.“Ra..” Laura sama dengannya, gadis itu bahkan sudah terisak.“Diem, Kak. Aku iri sama kakak. Kakak dibangga-banggakan sama Bunda karena kakak bisa masuk fakultas yang dimimpikan banyak orang di Universitas ternama di Indonesia. Gak pernah sedikitpun Bunda hina mimpi kakak yang pengin jadi dokter, tapi kenapa sama aku beda kak? Bunda hina mimpi aku yang pengin jadi penulis.”Laura terdiam, begitupun Bunda. Dia menunduk, mencerna semua ucapan anaknya yang malang itu.“Aku berdiam diri di kamar bukan untuk rebahan dan leha-leha doang, Bun. Aku nulis naskah atau cerita di blog, kalo sekiranya bagus dan aku butuh uang, aku jual karya tulis aku ke website online. Pas pertama nyoba gagal, cerita aku ditolak karena ga sesuai kriteria admin. Aku jadi gak punya tekad buat kirim cerita aku lagi, ditambah kekangan Bunda yang nyuruh aku buat ikutin kemampuan Bunda dan hina mimpi aku. Itu bikin aku overthinking. Tapi, aku gak nyerah, aku coba terus dan sampai salah satu admin nerima karya tulis aku. Aku dapet uang dari situ, Bun. aku jual karya tulis aku dan honornya lumayan. Aku kumpulin buat persiapan masuk Universitas.” lanjut Sahara menyadarkan sang Bunda.“Kalo lewat tulis menulis aku bahagia dan bisa menjadi pribadi yang dewasa, kenapa Bunda ngelarang aku? Sekarang aku udah pasrah. Terserah Bunda mau masukin aku ke les mana, aku gak akan bantah lagi. Toh Bunda akan selamanya begitu kan?” Sahara menyeka air matanya. Ucapannya bukan semata-mata, dia benar-benar sudah lelah dengan semua itu. Lebih baik dia mengikuti kemauan Bunda kan? Karena, mau sebisa apa kamu, kalo tidak ada restu dari orangtua, maka akan sia-sia.Bunda mendongak, menatap sendu anaknya yang ternyata rapuh. Dia perlahan mendekati Sahara, memeluk tubuh anaknya itu. Menyandarkan kepala Sahara di dadanya.“Maafin Bunda, Nak.. Bunda gak tau mimpi kamu sepenting ini. Maafin Bunda yang selama ini nuntut kamu buat seperti Kakak.. Bunda minta maaf. Mulai sekarang Bunda akan dukung kamu buat raih mimpi kamu. Terserah kamu mau jadi apa, asalkan tetap jadi anak Bunda ya? Bunda bakal berhenti ngatur kamu, Bunda bakal bebasin kamu buat gapai cita-citamu sendiri..” bisik Bunda tepat di telinga kiri Sahara.Sahara tertegun, dia kemudian membalas pelukan sanga Bunda. “Bener, Bun?” Bunda mengangguk, mengecup puncak kepala Sahara, “Bener sayang.. Maafin Bunda ya ..”Sahara mengangguk. Dia sangat senang, Bundanya sudah merestui dirinya untuk menjadi dirinya sendiri. Sekarang, tidak ada lagi teriakan Bunda yang memaksanya untuk berangkat les. Sekarang tidak ada yang memukul-mukul pintu kamarnya. Sekarang Bundanya sudah berubah.Laura ikut bergabung. Dia memeluk dua perempuan yang sangat dia sayangi. Laura terharu, perjuangan Sahara untuk mendapat restu dari Bunda tidak mudah. Berkali-kali wanita tua itu mematahkan semangatnya, namun tidak membuat keputusan Sahara goyah. Dia bangga mempunyai adik seperti Sahara, gadis yang kuat dan mandiri. Dia sangat menyayangi keluarganya yang sederhana ini.
Inilah Aku
Perempuan adalah manusia yang hatinya midah terluka, hanya dengan perkataan saja dapat mempoyak-poyakkan perasaannya. Gadis cantik dengan rambut sepanjang bahu lalu pesona senyumannya yang manis membuat orang-orang tertarik pada dirinya. Gadis nan cantik itu bernama Sefina, dia adalah seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 3 SMP.Suatu ketika, ditengah semester satu Sefina terpaksa untuk berpindah ke sekolah yang biayanya lebih ringan karena kondisi ekonomi keluarganya yang menurun. SMP Nusa Bangsa yang menjadi pilihan Sefina untuk melanjutkan pendidikannya. Walaupun Sefina merupakan murid terpintar di sekolahnya dulu, bukan berarti dia mudah bergaul di sekolah barunya.Hari pertama Sefina masuk sekolah, dia sama sekali belum mengenali banyak orang. Sefina yang hanya berpakaian seragam biasa tanpa menggunakan aksesoris seperti murid-murid lainnya, membuat Sefina merasa terkucilkan untuk bersekolah disitu.Di jam istirahat, seorang siswa menemui Sefina dan membuat Sefina terpukau akan ketampanannya. “Haii aku Bayu, salam kenal. kamu pasti Sefina-kan? Yang murid baru dikelas 9 ini” ucap bayu sambil mengulurkan tangannya. “Ohh, ha-hallo. I-iya aku Sefina, hehe salam kenal juga” ucap Sefina yang gagap, sambil berjabat tangan dengan Bayu. “Yasudah, aku mau main dulu yaa. Sampai ketemu nanti di kelas” kata bayu sambil melambaikan tangan.Sefina mulai tertarik dengan siswa itu, walau baru berkenalan rasanya Bayu akan menjadi teman baik Sefina. Bell masukpun mulai berbunyi “kringg-ngg-nggg kringg-nggg”. Lalu Sefina bergegas merapihkan bekalnya dan masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.Mata pelajaran selanjutnya adalah Seni Budaya yaitu membuat kelompok dengan anggota tiga orang perkelompok dan akan ditunjuk oleh guru. Sefina yang mendengar perintah guru merasa takut, apakah dia dapat berinteraksi baik dengan teman sekelompoknya? Hal itu terus membuat Sefina kurang percaya diri.Penunjukan anggota kelompokpun dimulai. Bu Andin berbicara dengan lantang “Kelompok yang ke dua adalah Sefina, Cinta, dan Neyra. Bagi namanya yang ibu sebut silahkan membuat kelompok di bagian belakang!” Setelah mendapatkan kelompok, Sefina mulai berkumpul dengan teman sekelompoknya. Namun, Sefina merasakan minder dengan Neyra dan Cinta yang berpenampilan seperti orang kaya bahkan menggunakan aksesoris seperti gelang, kalung, dan sepatu yang mahal. Sefina merasa terkucilkan di dalam kelompoknya. Tingkah laku teman sekelompoknya yang julid ke Sefina, membuat Sefina takut untuk bersekolah lagi.Saat mengerjakan tugas, Cinta dan Neyra berperilaku sombong pada Sefina seolah-olah Cinta dan Neyra lah yang berkuasa di dalam kelompok itu. “Hei, pasti kamu anak baru yahh ahaha, hallo kenalin gue Cinta trus ini Neyra” dengan logat Cinta yang meremehkan Sefina, membuat Sefina semakin minder. “Hehe, I-iyaa aku S-se-sefina” Ketakutan Sefina membuat perkataannya gagap lagi.Dengan penampilan Sefina yang biasa, menjadi bahan ejekan teman sekelompoknya. “Sepatu kamu model apasih, kok ga level banget sama punyaku” ucap Neyra “Iya yah, kamu beli dimana baru tau aku ada yang model kaya gitu” cakap Cinta yang mengucilkan Sefina. Sefina hanya dapat berdiam dan mengerjakan tugas yang disuruh. Pada akhirnya walau Neyra dan Cinta meledeki Sefina, mereka tetap harus mebuat tugas yang diminta Bu Andin, yaitu membuat denah rumah beserta isi rumahnya.“Kringg-ngg kringg-ngg” Para murid terkejut, mengapa bel sudah berbunyi? Padahal jam pulang sekolah masih 2jam lagi. Bu Andin berdiri dan lupa menginformasikan kalau hari ini pulang cepat karena guru-guru akan rapat. “anak-anak maaf ibu lupa menginformasikan kalau hari ini pulang lebih awal karena guru-guru akan rapat dan sekarang kalian dapat menghubungi orangtua kalian untuk menjemput kalian.”Murid-murid bergegas membereskan barang-barang mereka dan keluar kelas. Sefina-pun juga langsung membereskan tasnya, walau perasaannya sedih. Ketika Sefina sampai di gerbang sekolah, Bayu datang menghampiri Sefina dan mengajak Sefina untuk pulang bersama Bayu. “Hai Sefina, aku anterin yuk kamu juga pasti nunggu angkot-kan? Bareng aku aja yuk” ucap Bayu sambil memberikan helm ke Sefina. “Hemm, I-iya udah deh aku bareng kamu, maaf ya kalau ngerepotin kamu Bay” Sefina tidak dapat menolak karena ibunya pun tidak dapat menjemput bahkan Sefina tidak membawa uang.Sesampainya di rumah Sefina, Bayu berpamitan dan langsung pulang ke rumahnya. Sefina masuk ke rumah dengan mukanya yang sedih dan sedikit kesal. “Hallo nak, gimana tadi di sekolah? Seru nga?” ucap ibunya dengan lembut “Apa-apaan sih buk, aku diejek sama temen-temen aku, kata mereka sepatu aku jelek, aku ga punya barang mewah kaya temen-temen aku yang lain! Sekarang aku mau minta uang ke ibuk buat beli aksesoris kaya temen-temen!” tiba-tiba Sefina yang biasanya bersikap sopan dan baik pada ibunya, seketika langsung berubah karena gengsinya terhadap teman-temannya.“Nakk, ibuk cuman punya uang segini yah, memang kamu mau beli apa?” ibu Sefina yang memberikan uang dan sedih dengan bentakan Sefina. “Dug dug dug, derrr” suara hentakan Sefina yang langsung berlari ke kamar dan membanting pintu setelah dapat uang dari ibunya.Saat Malam hari, ibunya merenung sambil berkata “Ya Tuhan, mengapa anakku bertingkah seperti itu? Apa yang salah dari aku dalam mendidiknya? Mengapa engkau memisahkan aku dengan suamiku? Bahkan sekarang suamiku sudah pergi dan mempunyai istri barunya. Semenjak kejadian itu keuanganku mulai menurun, terlebih lagi dengan Sefina yang mulai bergengsi dengan temannya. Aku harus apa ya Tuhan.” Ucap ibunya Sefina sambil meneteskan air mata.Pagi hari yang sedikit mendung “Pagi nak, ini sarapan hari ini ya. Maaf ya ibuk cuman masak sayur kangkung” ucap ibuknya pada Sefina sambil menutupi kesedihannya. “Hm” Sefina yang hanya berguram dan kesal mengapa hanya sarapan biasa “Ya sudah, mana uang jajan Sefina. Sefina mau berangkat” ucap sefina dengan nada kasar. Ibu Sefina hanya terdiam karena perubahan tingkah laku Sefina. Ibu Sefina mulai mencari pekerjaan sampingan untuk penambahan kebutuhan Sefina. Dulunya Ibuk Sefina adalah pekerja kantor, namun setelah ditinggal oleh suaminya sekarang hanyalah berjualan catering.Sesampainya Sefina di sekolah, Sefina mulai bergaul dengan teman-temannya. Karena kejadian kemarin, Sefina berbohong kalau dia merupakan anak pengusaha kaya raya supaya dia mendapatkan teman banyak. “Widih Sef, keren juga nih penampilan lu” kata Neyra saat bertemu dengan Sefina. “Yoi dong, gue mah anak pengusaha jadi ya biasalah” balasan Sefina pada Neyra.Kringgg-ngg kringg-ngg, bel masuk berbunyi. Lalu para murid-pun langsung masuk ke kelas untuk memulai pembelajaran. Ternyata jam pertama adalah Seni Budaya dan melanjutkan pembelajaran kemarin. “Sef, ini tugasnya udah selesai kan? Mending langsung kumpulin aja. Eh ngomong-ngomong nanti ke cafe yu biasa nongkrong bentar” ucap Cinta saat tugas kelompok. “Boleh nih, gimana Sefina mau ngak? Sekali-kali ikut lah” kata Neyra “Ya ikutlah, masa ga ikut ke cafe. Tapi gue ijin nyokap dulu yak” balasan Sefina sambil merenung, pakai uang dari mana aku untuk ke cafe? Untuk pulang saja pas-pasan.Setelah Pulang Sekolah, mereka langsung menuju cafe dekat sekolah mereka. Sambil berbincang-bincang tidak disangka ternyata ada Bayu juga di cafe yang sedang mengerjakan tugas. Pada akhirnya Bayu gabung dengan Sefina, Neyra, dan Cinta. Hari semakin sore, bahkan Sefina saja belum membantu ibunya untuk menyiapkan cathering. Kata Cinta “eh ini bayar masing-masing ya” tetapi Sefina menyolot “apa-apaan bayar masing-masing, traktir dong sekali-kali!” balasannya pada Cinta. “Dih katanya orang kaya masa ga mau traktir in kita sef” ucap Neyra. “Suttt udah-udah kaya anak SD aja sih berantem mulu, biarin gue aja yang bayar!” kata Bayu saat memotong pembicaraan Neyra dengan Sefina. Setelah membayar, Bayu memberikan tumpangan lagi ke Sefina.Neyra dan Cinta-pun masih berada di cafe sambil terheran-heran dengan logat Sefina saat ingin membayar tadi. Dengan ide liciknya, Cinta mengajak Neyra untuk membuntuti Bayu dan Sefina. Cinta akhir-akhir ini mulai heran dengan sikap Bayu yang sangat baik ke Sefina dan seakan-akan melupakan Cinta. Ketika Bayu dan Sefina sampai di rumah, Neyra dan Cinta terkejut ternyata selama ini perkataan Sefina hanya omong kosong kalau dia bukan anak dari orang kaya bahkan rumahnya saja sederhana dan kata orang-orang ibunya hanya penjual catering. Kata Cinta “wah parah! Ini satu angkatan harus tau!.” sambil merasa kesal dengan Sefina yang sikapnya belagu, pinter-pinter tapi ternyata pembohong. Lalu semua kembali ke ruamh masing-masing.Keesokan harinya di sekolah Di pagi hari, saat Sefina masuk ke kelasnya tiba-tiba dia dikucilkan oleh teman-teman sekelasnya karena dia sudah berbohong dan mengaku-ngaku kalau dia adalah anak pengusaha. Mental Sefina pun terjatuh lagi dan merasa murung, bahkan dia sempat ingin bolos dari pembelajaran.Ketika istirahat, Sefina hanya diam menyendiri dengan keadaan hatinya yang berdebat “apakah yang aku lakukan salah? Aku hanya ingin menjadi seperti mereka. Atau mulai sekarang aku hanya harus menjadi diriku sendiri yang asli? Tanpa mengikuti gaya orang lain dan bergengsi dengan teman-temanku sendiri.” hal itu terus dipikirkan dan direnungkan oleh Sefina. Saat pulang sekolahpun Sefina terus memikirkan hal itu “AHH SUDAH LAH SEKARANG AKU HANYA INGIN JADI DIRIKU SENDIRI SAJA” ucap Sefina dalam hatinya.Hari sudah semakin sore, Sefina menunggu angkot yang tak kunjung datang pada akhirnya Sefina memilih untuk berjalan kaki ke rumahnya. Di tengah perjalanan menuju rumah, Sefina melihat Neyra sedang duduk di tepi jalan dan nampak cemas. Sefina langsung menghampiri Neyra. “Kamu kenapa Neyra?” Tanya Sefina “Nggak” balas neyra sambil merasa malu dengan Sefina. “Kaki kamu kenapa? Kok dipegang pegang terus? Kamu keseleo?” Tanya Sefina sambil mengelus kaki Neyra. “Hm, gue tadi jatoh trus ga bisa pulang” ucap neyra pada Sefina. Pada akhirnya Sefina membantu Neyra untuk pulang. “Yuk aku bantu kamu pulang sampai rumah.” Kata Sefina. Dengan rasa malu Neyra, dia tidak dapat menolak bantuannya karena hari sudah mulai sore.Sesampainya di rumah Neyra, Sefina langsung berpamitan dengan Neyra. “Okee udah sampai, aku langsung pulang ya takut ibuk aku cariin. Semoga kaki kamu cepet sembuh.” Kata Sefina di depan rumah Neyra. Neyra hanya dapat berkata terima kasih sambil merenung “atas perbuatanku kepada Sefina, dia tetap mau menolong aku. Dia ternyata baik banget.” Setelah dari rumah Neyra, Sefina kembali pulang.Sesampainya Sefina di rumah, ia langsung memeluk ibunya sambil terharu berkata “maafkan aku yah ibuk, aku sudah membentak ibuk kemarin. Itu semua karna gengsi aku dengan teman-teman, maafin Sefina ya buk.” “Iya nak, gapapa. Ibuk tau kok kamu ingin seperti teman-teman kamu, Ibuk maafin kamu kok nak.” Ibuk Sefina merasa terharu dan bangga dengan anaknya karena anaknya sudah mau meminta maaf dan menyadari akan kesalahannya.Hari Selanjutnya Di Sekolah, Di pagi hari Neyra berduaan bersama Sefina layaknya seperti sahabat yang sudah sangat akrab. Tiba-tiba Cinta melihat mereka sedang asik mengobrol, Cinta-pun langsung menghampirinya sambil berseru “apaan nih? Temen baru? Ceilah berhianat banget ya ternyata!.” Sefina hanya tersenyum dan berkata “sudahlah, kita semua ini temen tau. Yuk Cinta muterin sekolah bareng-bareng”. Cinta hanya membuang muka lalu meninggalkan mereka.Jam istirahat ketika Sefina sedang berada di koridor kelas sendiri, sambil menunggu Neyra dari toilet. Tiba-tiba Bayu datang dengan membawa sekuntum mawar putih, lalu mendekati Sefina yang sedang asik melihat adik kelas bermain bola. “Hai Sefinaa ehehe” sapaan Bayu pada Sefina. “Ehh Bayu? Ehehe hai jugaa, Kenapa?” Ucap Sefina yang terkejut ternyata Bayu ada dibelakangnya. “Emm Sefina, sebenarnya walau kita baru saja kenal aku merasa kalau aku tertarik sama kamu. Kamu orangnya ramah ya ternyata, peduli, adil, pinter, bahkan baru kali ini aku nemuin gadis sesempurna ini dimata aku. Aku punya bunga mawar putih buat kamu ehehe. Kamu terima yahh, anggep aja ini hadiah buat perkenalan kita kemarin” Rayuan Bayu untuk Sefina dengan lemah lembut. “HAH? Ini serius? Emm iyaah terimakasih ya atas bunganya”. Balasan Sefina sambil menerima bunga dari Bayu.Semua yang berada di koridor terkaget-kaget, karena selama ini Bayu adalah lelaki yang sangat sayang dengan Cinta bahkan susah move on, tetapi bisa- bisanya sekarang dia langsung tertarik dengan murid baru yang baru dia kenal.Tidak lama kemudian, Cinta datang dan melabrak mereka “APA-APAAN LAGI NIH BAYU, BISA-BISANYA KAMU SUKA SAMA PEREMPUAN BARU YANG KAMU KENAL AJA BARU SEBENTAR!!!. Terus selama ini effort yang kita lakuin bersama itu apa?! kurang apa aku dihidupmuu. Kamu yang dulunya susah banget move on dari aku, sekarang seenaknya suka sama perempuan lain!.” Suasana semakin ricuh, lalu Bayu hanya berkata “kamu itu perempuan yang sombong ya Cinta!, perempuan seperti kamu tidak pantas mendapatkan lelaki yang penyayang.” Cinta terus mengelak “TA-TA TAPI-I?!”
Not Twelve Anymore
Travis menatap gedung di depannya dengan sendu. Mengenang kembali keseruan dan kekonyolan di masa SMA dengan sebelas sahabatnya. Persehabatan yang membuat orang lain iri melihatnya, sampai terjadinya peristiwa saat kelas sebelas yang membuat mereka berdua belas terpecah.FLASHBACK ON “Jae! Kantin kuy, laper nih” ajak Kaviro kepada Jaenal saat bel istirahat telah berbunyi. “Ayo!” mereka pun ke kantin bersama. Ternyata di sana sudah ada Jian dan Theo.“Dih, makan ngga ajak-ajak” protes Kaviro saat sudah duduk bersama Jaenal. “Tadi mau gue ajak, tapi Jian bilang ngga usah” ucap Theo membuat Kaviro melirik Jian sinis. “Apa lihat-lihat?!”. Kaviro menggeleng pelan.“WOYY! MICIO SAMA KYLE BERANTEM!” semua murid di kantin otomatis menoleh kearah Jendra yang tadi berteriak. Mereka berempat saling pandang sebelum berlari mengikuti Jendra ke lapangan sekolah. Di sana, sudah ada banyak murid yang menonton perkelahian Micio dan Kyle, juga ada Yoga dan Juvian yang melerai Micio dan Kyle. Theo juga ikut membantu melerai, sedangkan yang lain malah bersorak menyemangati Kyle dan Micio bersama Travis dan Aksa yang dari tadi menonton -Teman yang baik bukan?- .Tak lama setelahnya Dizio datang bersama pak Agus hingga mereka baru bisa dilerai. “Bubar kalian! Tidak dengar bel masuk sudah berbunyi, HAH ?!” siswa yang ada di sana langsung berhamburan pergi ke kelas masing masing.“Kalian! Ikut saya ke ruang BK sekarang!!” titah pak Agus membuat mereka berdua menghela nafas pasrah mengikuti pak Agus. Sedangkan kesepuluh bestienya menunggu di basecamp.Setelah keluar dari ruang BK, Micio dan Kyle mendapat skorsing selama tiga hari. Ternyata alasan mereka berkelahi karena Kyle cemburu setelah melihat foto Micio dan pacarnya, Winara yang sedang berpelukan.“Sepi banget sih, biasanya juga ramai kayak Zoo” celetuk Jendra mencoba mencairkan suasana. “Tau tuh, lagian bisa-bisanya kalian berantem karena cewek. Gak elit banget, ewhh” timpal Jian dengan muka julidnya. Kyle dan Micio memasang wajah malas mereka. “Ck, dia duluan yang ngirim foto pelukan sama Wina. Gimana gue ga cemburu coba?!”.“Dibilang itu bukan gue, kemarin gue pergi sama Travis. Tanya aja sama dia kalau ga percaya” bantah Micio. “Beneran Vis?” Tanya Yoga. Travis mengangguk.Kyle masih tak percaya. “Terus kalo bukan lo, siapa!?”. “Lihat! dari postur tubuhnya aja kayak lo, ini juga dikirim dari nomer lo kan?” lanjut Kyle sedikit emosi. “Terserah lo mau bilang apa, bodo amat” Micio pergi dari Rooftop. Bel pulang sekolah berbunyi.“Gua duluan, redain dulu emosi lo baru bicarain baik-baik” ucap Theo sambil berdiri dan menepuk pelan bahu Kyle. Yang lain juga mulai beranjak pergi hingga menyisakan Kyle dan Travis. “Kita itu temen, kalau ada masalah diselesaikan baik-baik, bukan malah baku hantam. Chilldish!” Kyle tertohok, Travis memang savage.Tiga hari berlalu, masa scoresing Kyle dan Micio telah selesai. Tetapi Kyle dan Micio masih perang dingin, bahkan mereka bersikap seolah tak saling mengenal. Yang lain sudah mencoba banyak cara untuk membuat mereka berbaikan, tapi hasinya nihil.Bugh… bugh… brukk… “Brengs*k! Bisa-bisanya lo nuduh gue sama Wina selingkuh, padahal lo sendiri yang selingkuh!” bentak Micio. “Gue gak selingkuh anj*ng! Lo salah paham” balas Kyle ikut tersulut emosi. Micio tak peduli, ia sudah dikuasai amarah sejak melihat Kyle sedang berduaan dengan Niken –sahabatnya- di taman kota.“STOP! Lo berdua gila ya?!” Juvian mendorong mereka menjauh, Yoga dan Kaviro segera menahan Micio. “Lepas!” Micio memberontak, ia ingin menghajar Kyle. “Cih, berantem terus. Kayak bocah aja” cibir Aksa.Kyle emosi, dia ingin meninju Aksa, tapi segera ditahan Jian. “Stop! Aksa, jaga omongan lo! Kita lurusin masalah ini” titah Theo. “Nggak, semua sudah jelas” balas Micio dingin dan berjalan pergi menghiraukan panggilan teman-temannya kecuali Kyle yang juga ikut pergi dari sana.Besoknya, Micio dikabarkan pindah ke luar negeri, begitupun Kyle yang pindah ke Bandung tiga hari setelahnya. FLASHBACK OFF“Mwakwasih ya Sa! Lo yang twerbaik deh” ucap Jendra tidak jelas karena sambil mengunyah makanan. Jian yang disebelahnya pun menjitak Jendra. “Iihh.. jahatt” rengek Jendra sok imut. “Jijik anjirr! Najiss” Travis memasang wajah julid dan berekting muntah, tapi tetap terlihat tampan. Yang lain hanya tertawa melihat wajah Jendra yang cemberut.Mereka sekarang berada di warung depan SMA HARTA KARUN. Sebenarnya ini ide Yoga untuk mengadakan reuni kecil – kecilan sekaligus merayakan ulang tahun Aksa.“Walau Cuma bersepuluh, gue harap kita masih bisa terus bahagia bersama” batin Travis tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca.END
Golongan Darah Tak Cocok
Kelas 11 akan sepi tanpa si biang tawa canda. Itulah sebutan untuk Aliyah, Ilham, Husein dan Sisca. Mereka bersahabat dari kelas 10. Aliyah dan Sisca teman sejak SMP.Aliyah berasal dari Mojoagung. Tetapi sejak kecil ia pindah ke Mojokerto karena kedua orangtuanya bekerja di Mojokerto. Sisca adalah keturunan Tionghoa Muslim. Mata sipit dan berkulit putih. Beda dengan si Husein, si hitam manis yang selalu bicara dengan volume tinggi. Dia pindahan dari Bangkalan Madura. Yang terakhir adalah Ilham, asli Mojokerto.Keempat sahabat itu selalu ceria. Ada saja hal hal sederhana yang dapat dijadikan bahan candaan. Walau demikian saat jam pelajaran mereka sangat serius.Suatu hari Aliyah tidak masuk sekolah, ayahnya masuk ruang ICU karena DB dan butuh transfusi darah. “Persediaan darah di RS habis”, kata suster. “Darah saya saja suster, golongan darah saya O “, kata bunda. Aliyah sambil berkaca kaca sedih. “Tetapi kondisi ibu sedang demam. Sebaiknya ibu istirahat dulu”, jawab suster. Bunda Aliyah memang kecapekan bahkan kini batuk batuk. “Kalau begitu coba saya saja bu suster”, jawab Aliyah. “Boleh, ayo… sini saya periksa”.Sekian menit kemudian suster itu keluar dari ruang kerjanya sambil membawa catatan. “Nona Aliyah”. “Ya, saya bu..”, jawab Aliyah seraya berjalan mendekat. “Maaf, golongan darah nona Aliyah tidak cocok”. “Ha… Golongan darah saya apa?”. “Golongan darah A”. Mendengar jawaban itu sontak Aliyah lemas dan terdiam. Tampak raut mukanya pucat bibirnya bergetar. “Golongan ayah bunda O mengapa aku A”, guman Aliyah sembari duduk lemas dan menangis.Lamunannya segera pecah saat ia dengar suara bundanya memanggil. “Aliyah… Aliyah, Alhamdulillah ayah sudah dapat donor darah dari om Ahmad”. Om Ahmad adalah adik ayah yang baru tiba dari Banjarmasin.Aliyah melihat ayah dari kaca ruang ICU tersenyum padanya. Seakan akan ingin sampaikan kepada keluarganya bahwa ia baik baik saja dan akan segera pulih. Bunda Aliyah meminta Aliyah pulang ke rumah bersama om dan tante Ahmad.Sepanjang perjalanan Aliyah diam seribu bahasa. Om Ahmad terus mengawasi Aliyah dari kaca spion mobil. “Aliyah, boleh ya tante bermalam di rumahmu?”, tanya tante Ahmad “Ya, tentu te. Terima kasih telah menjenguk Ayah. Dan terima kasih Om telah donor darah untuk Ayah”. “Ya, sama sama Aliyah”, sahut Om Ahmad. “Oh yaa. Kalau adik Alifa tidak ada kegiatan pasti akan ikut kesini”. Alifa adalah satu satunya putri om Ahmad.“Aliyah… ada apa? Kita sudah sampai. Ayo turun. Bukankah Aliyah yang bawa kunci rumah?” “Iya te…”, jawabnya terburu buru. “Ya Allah… kenapa air mataku terus menetes”, guman Aliyah dalam hati.Om dan Tante Ahmad diam saling pandang dan mengikuti langkah kaki Aliyah masuk rumah. Mereka berusaha mengerti kesedian Aliyah. Om Ahmad segera bersih bersih rumah, sedangkan Te Ahmad memasak untuk makan malam dengan bahan seadanya di lemari es.Aliyah masuk kamar menyalakan musik, agar tangisannya tidak terdengar ke luar kamar. Dibenamkan mukanya ke tumpukan bantal dan menangis. Pikirannya bercampur dengan beribu ribu pertanyaan. Apakah ia anak pungut? Lalu siapa orangtuanya? Ataukah ia bayi tertukar di Rumah Sakit? Atau bagaimana?Terdengar ketukan pintu kamar dan suara te Ahmad. “Aliyah… Sudah shalat magribkah? Kalau sudah ayo kita makan malam”. “Ya te.. ”Aliyah segera mengikuti kata kata tantenya. Dan duduk di meja makan bersama Om Tantenya. “Nak, matamu sembab. Ayah Aliyah insyaallah akan segera sembuh”, kata Om Ahmad. Aliyah hanya mangangguk. “Ini ada sup ayam plus perkedel kentang, makanan favorit Aliyah kan?”, kata Te Ahmad. Sekali lagi Aliyah hanya mengangguk.Sampai Om dan Te Ahmad selesai makan, tak sesendokpun makanan favorit itu masuk mulut Aliyah. Ini membuat Om dan Tantenya keheranan. “Adakah yang mengganggu atau mengganjal hati Aliyah?” Sekian menit berlalu, tak ada kata yang dikeluarkan dari bibirnya. Hanya air mata yang terus mengalir dari matanya yang telah memerah dan sembab.“Ada yang ingin dikatakan atau ditanyakan Aliyah?”, Om Ahmad bertanya. “Om.. Te, Aliyah anak siapa?” “Hai… ada apa denganmu?”, sahut Te Ahmad. Sambil menangis Aliyah terus bertanya. “Om dan Tante pasti tahu, Aliyah anak siapa? Tante adalah bidan, pasti tahu. Ayah Bunda punya golongan darah O, sedangkan Aliyah… golongan darah A”“Aliyah…” Te Ahmad segera mendekat memeluk Aliyah dan menenangkan Aliyah. Setelah ia mulai tenang Te Ahmad bertanya “Boleh Tante tanya?” Aliyah mengangguk. “Kapan Aliyah melakukan tes darah?” “Tadi siang waktu ayah butuh donor darah. Golongan darah bunda cocok tetapi suster tidak mengijinkan karena bunda sedang agak demam, lalu Bunda kembali ke ruang ICU. Aliyah menemui suster untuk mendonorkan darah. Kata suster, golongan darah Aliyah A. Bukankah itu tidak mungkin? Te.. apakah Aliyah anak angkat atau bayi yang tertukar?Tangis Aliyah kembali menjadi jadi. Kali ini tantenya tampak mengusap air mata. Om Ahmad terdiam dengan mata berkaca kaca. “Aliyah.. Om dan Tante akan mencari tahu. Tolong jangan menangis lagi. Tetaplah jadi Aliyah kami yang dulu”.Tiba tiba terdengar ketukan pintu rumah. “Assalamualaikum” “Waalaikumsalam”, sahut Om Ahmad. “Sore pak, kami teman teman Aliyah. Aliyah ada?”, tanya Sisca “Oh ya, ya, ada, ayo masuk”.Sementara keempat sahabat itu berada di ruang tamu, Om dan Tante Ahmad berunding sangat serius. Tampak mereka berbeda pendapat. Lalu mereka putuskan untuk ke Rumah Sakit.Ketiga teman Aliyah saling bertatap mata. Mereka sadar harus menjaga sikap dan berusaha mengerti kesedian Aliyah karena Ayahnya dirawat di Rumah Sakit. “Aliyah.. gimana kondisi Ayah?”, tanya Sisca. “Ayah masih di ruang ICU, tadi butuh transfusi darah. Aku pulang karena menurut dokter Ayah akan segera sembuh”. “Ayo kita doakan Ayah segera sembuh. Dan Bunda, Aliyah selalu diberi kesehatan dan ketabahan”, kata Husein Husein memimpin doa. “Aamiin… Aamiin Ya Rabbal Alamin”, terdengar suara mereka berempat dan juga suara Om dan Tante Ahmad. “Terima kasih doanya”. “Aliyah, teman teman, Om dan Tante keluar dulu ya… tolong temani Aliyah dulu”, kata Te Ahmad. “Iya te”, jawab Aliyah.Percakapan diantara mereka terus berlanjut. Mulai dari tugas tugas sekolah hari itu sampai dengan kejadian kejadian di kelas. Ada yang beda. Aliyah hanya sebagai pendengar. Tanpa komentar apapun hanya tersenyum hampa. Teman temannya mulai merasa ada yang beda dengan Aliyah. “Al, di RS ada beautiful nurse?”, tanya Ilham. “Hus, Ilham ada ada saja”, sahut Sisca dengan jengkel. “Ayo lah… kita hibur si Aliyah”, jawab Ilham. “Kamu sedang tidak enak badan?”, tanya Husein. “Aku baik, hanya…”, Aliyah tidak meneruskan kalimatnya. Ia mulai menangis. Diceritakannya semua kisah sedihnya di RS.Dua jam berlalu. “Assalamualaikum”, kata te Ahmad dan bunda Aliyah. “Waalaikumsalam”, sahut keempat sahabat itu. “Bunda…”, kata Aliyah dengan lemas. “Ayah ditunggu Om. Kata dokter besok Ayah akan dipindahkan ke ruang perawatan, jadi masa keritis ayah sudah berlalu”, jelas bunda Aliyah sambil berjalan mendekati Aliyah dan duduk disampingnya. “Alhamdulillah”, sahut mereka berempat. “Terima kasih ya teman teman”, kata bunda Aliyah. “Ya, sama sama bunda. Sekarang kami pulang dulu”, kata Sisca. Mereka berempat pun pulang.“Aliyah… bunda dan tante ingin bicara sebentar. Tapi tolong dengarkan cerita kami dengan hati lapang”, kata bunda Aliyah. “17 tahun yang lalu ada sepasang suami istri yang tinggal di Banjarmasin. Mereka dikaruniai 2 putri kembar yang sangat cantik dan lucu. Sementata itu di Mojoagung ada sepasang suami istri yang sudah menikah 6 tahun tetapi belum dikaruniai anak. Karena rasa persaudaraan kedua pasang suami istri itu, maka mereka putuskan untuk berbagi kebahagiaan. Satu putri kembar mereka diasuh saudaranya. Putri itu diberi nama Aliyah. Sedangkan yang tinggal di Banjarmasin dinamai Alifa”.“Maafkan kami sayangku”.Jeritan tangis dan harupun pecah diantara mereka bertiga. Mereka saling berpelukan.
Si Wibu Intovert
Alkisah, ada remaja yang bernama Ahmad. Dia sangat suka dengan anime. Setiap hari dia selalu menonton streaming anime di website tertentu dan setiap harinya dia juga selalu menonton vituber di youtube. Di sekolah dia adalah anak yang intovert.Saat di sekolah Ahmad selalu bersikap aneh. Dia selalu mencari perhatian pada teman temannya, tetapi tidak ada yang peduli dengan Ahmad. Biarpun begitu, Ahmad tetap berusaha mencari teman dekat yang mau dengannya.Pada akhirnya, Ahmad mendapatkan teman dekat yang bernama Gani. Gani merupakan salah satu teman yang bisa diajak berbincang dengan Ahmad.Di setiap sekolah, Ahmad selalu mengalamun dan berhalusinasi dengan anime yang disukainya. Sampai-sampai, ia selalu dibully karena sikapnya yang teralu aneh. Meskipun begitu, ia selalu tertawa ketika dibully.Pada suatu hari, Ahmad bercerita kepada Gani bahwa dia tidak suka perempuan. Dia ingin menikah dengan hologram yang bertampilan seperti vituber kesukaanya yaitu kanata amane.“Kamu sangat aneh sekali kawan” Kata Gani. Teman dekatnya pun sampai terheran-heran dengan sikap anehnya itu. Ahmad juga bercerita ingin menjadi raja iblis di isekai. Dia ingin mati karena dia ingin segera ke isekai. Gani pun tergeleng geleng dengan cerita Ahmad.Pada saat jam istirahat, Ahmad tiba tiba menyendiri di kelas. Dia membawa gunting yang akan digunakan untuk menusuk dadanya agar cepat mati dan bisa masuk ke isekai. Tapi untungnya, ada Gani masuk ke kelas. Gani pun teriak meminta tolong pada teman teman lainnya agar bisa mencegah Ahmad untuk bunuh diri. Akhirnya, Ahmad pun berhasil dicegah oleh teman temannya.Pada akhirnya, Ahmad pun dibawa ke guru BK agar mendapat solusi darinya.Pada saat itupun Ahmad akhirnya sadar bahwa teralu berhalusinasi itu tidaklah baik bagi dirinya maupun bagi semua orang. Ahmad juga sadar bahwa sikapnya sangatlah tidak normal. Ahmad pun akhirnya bertaubat dan berjanji tidak akan bersikap aneh lagi. Ahmad juga membatasi menonton anime dan vituber secara berlebihan.
Perpisahan
Sunyi, suasana kelas saat ini sangatlah sunyi. Semua murid fokus mendengarkan nasihat-nasihat yang wali kelas mereka sampaikan untuk mereka. 1 tahun sudah mereka lewati, sudah banyak sekali kenangan yang mereka buat di sekolah itu. Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan bukan? Sama hal dengan angkatan 9 saat ini, lusa mereka akan mengadakan acara perpisahan di sekolah mereka. Mungkin sebagian besar anak-anak kelas 9 tidak mau berpisah dengan teman-temannya, tapi mau tidak mau harus kita terima kan?“Lusa, kalian akan menghadiri acara perpisahan kan?” Mendengar sang guru membahas tentang perpisahan, semua murid yang sebelumnya merasa ngantuk dan bosan langsung menatap kearah gurunya. “Iya bu, saya ga rela pisah sama temen-temen saya” Salah satu murid dari kelas itu menjawab pertanyaan sang guru dengan wajah lesu. Tidak rela katanya. Guru itu tertawa lalu menggeleng-geleng kan kepalanya. “Semua pasti tidak rela berpisah dengan teman-temannya maka dari itu, kalian buatlah kenangan-kenangan indah sebelum lusa kalian akan berpisah”Tanpa disadari, suasana kelas menjadi sedih. 3 sampai 4 murid sedang menahan air matanya. Mereka sudah terlalu nyaman dengan lingkaran pertemanan mereka saat ini, sampai-sampai mereka susah untuk menerima jika pada akhirnya mereka akan berpisah.“kringggggg” Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa sekarang waktunya untuk murid-murid beristirahat. Murid-murid kelas langsung berhamhuran keluar kelas, berbeda dengan Zey dan teman-temannya, mereka lebih memilih untuk tetap berada di dalam kelas. Mereka duduk dilantai belakang kelas membentuk huruf o.“Kita kan bentar lagi pisah nih… mau ga kita sleepover bareng guys?” Zey memulai pembicaraan dengan mengajak teman-temannya untuk sleepover. “Ih ayo-ayo, pasti seru banget!” Ide Zey disetujui oleh Reyna, temannya. “Ayo deh ayo, mau dimana emangnya Zey??” Zey berpikir, “dimana ya? Kalian pengennya dimana? Mau ngajak siapa juga nih?”Teman-teman Zey berpikir, mereka harus memilih tempat yang benar-benar bisa membuat kenangan yang begitu indah. Sisa 2 hari lagi sebelum mereka akan sibuk dengan urusannya masing-masing. “Tempatnya belakangan deh, kita pikirin siapa yang mau kita ajak dulu. Mau ga??”Masukan Zey disetujui oleh teman-temannya, “Kita ajak pacar kita aja” ucap Ryn sembari tertawa malu. “Terus nanti gue jadi nyamuk? ih males banget!” Tolak Anya karena dari semua teman-temannya, hanya dia yang belum mempunyai pacar. Gila saja, disaat dirinya ingin membuat kenangan dengan teman-temannya, mereka justru lebih asik dengan pacarnya dan tidak mengacuhkan Anya. Menyebalkan!“Kalo gitu lo ga usah ikut! Kita kan juga mau bikin kenangan sama pacar kita” Judesnya jawaban Reyna membuat Anya memutarkan bola matanya kesal. “Udah-udah jangan ribut, yang mau ajak pacarnya ajak aja. Anya ga bakal kita cuekin kok” Zey menengahi pertengkaran tersebut sembari merangkul Anya. Anya tersenyum mendengar perkataan Zey, dirinya juga membalas rangkulan temannya itu. “Bener ya? Jangan cuekin gue! Awas kalian” semua teman-teman nya mengangguk sembari tertawa setelah melihat kelakukan Anya.“Kringgggg” Bel sekolah sudah berbunyi, waktu istirahat sudah habis. Semua murid-murid masuk kembali kedalam kelasnya dan melakukan kegiatan sekolah pada umumnya.—“Psttt, Zey! Ini gue udah bikin list siapa aja yang mau kita ajak. Lo tulis disitu ya..” Zey menoleh kearah bisikan itu, ia mengambil kertas yang Reyna berikan kepadanya. “Oke na, siap” Zey menjawab juga sambil berbisik dan mengacungkan jempol untuk Reyna.Zey menyimpan kertas tersebut. Dia ingin menulis nama Ryota tetapi dia takut jika Ryota tidak ingin ikut dalam acara kecil-kecilian mereka ini. “Kira-kira Ryota mau ikut gak ya?” Ucap Zey dalam hati.“Zey, perhatikan kedepan. Jangan melamun!” Zey terkejut mendengar bentakan tersebut, dirinya segera mengangguk lalu memperhatikan guru yang sedang menjelaskan.—Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Zey telah datang yaitu bunyi bel pulang, Zey yang sangat tidak sabar akan bertemu dan berbincang-bincang bersama Ryota. Mereka berdua memutuskan untuk bertemu di ruang tunggu sekolah.“Hallo taa! kamu mau ga ikut sleepover bareng aku sama temen-temen aku?” Zey menghampiri dan menyapa ryota dengan girang, dirinya juga menanyakan perihal acara kecil-kecilan dia dan teman-temannya. “Iyaa haii zey, ohh kalian mau sleepover memangnya kapan Zey?” “Besok setelah pulang sekolah ta.” “Memang kira-kira bakal sleepover dimana Zey?” Ryota tertarik dengan ajakan Zey, baginya berdua bersama Zey adalah hal terindah dimasa-masa seperti ini. “Umm, kayaknya kita mau di villa deh ta, jadi gimana kira-kira kamu mau ikut ga taa?” Zey berharap Ryota bisa ikut diacara itu. Dia ingin mempunyai sedikit kenangan sebelum mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing. “Boleh deh Zey! Nanti pulang aku minta izin sama mama yaa..” Ryota menjawab sembari mengacak-cak rambut Zey. Zey tersenyum manis mendengar jawaban Ryota. “YAAAAYY!” girang Zey didalam hati.—Malam hari zey pun telfonan dengan Ryota, mereka ngobrol sekaligus membahas tentang sleepover besok. Zey dengan senang sedang membereskan tas yang mau dibawa untuk besok. Zey terlalu asik mengobrol dengan Ryota dan akhirnya pun Zey tertidur sangat pulang.“Tet tet tet tet” Alarm pagi ini sudah berbunyi, sudah waktunya Zey bangun dan menyiapkan dirinya untuk berangkat sekolah.Pagi ini, Zey memiliki mood yang sangat amat baik. Ia tidak sabar untuk acara nanti siang, rasanya ia ingin meninggalkan sekolah dan langsung pergi ke tempat tersebut.Sesampainya Zey di sekolah, ia menyapa semua murid dan semua guru dan karyawan sekolah tersebut. Aneh bagi mereka, biasanya Zey hanya tersenyum jika berpas-pas dengan mereka tetapi kali ini, Zey menyapa sambil tersenyum manis. “Selamat pagi guys! Semangat belajarnya hari ini” Zey menyapa anak-anak yang sedang berada di kelasnya, Zey menghampiri Anya lalu tersenyum dan merangkul dia. “Ih, lo kenapa Zey? Tumben banget!” Anya terkejut melihat tingkah Zey yang sangat berbeda hari ini. Seperti bukan Zey, pikir Anya.—“Kringggg” Ini dia bel yang Zey sangat tunggu-tunggu, bel pulang sekolah. Sekarang sudah waktunya untuk pulang, Zey bersama teman-temannya berkumpul diruang tunggu untuk menunggu supir Zey datang. Ada 6 orang yang akan menghadiri acara kecil-kecilan itu antara lain Zey, Anya, Reyna, Ryota, dan Nendra (pacar Reyna). Pasti akan sangat menyenangkan bukan??Setelah satu setengah jam di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di villa tersebut, villanya terlihat sangat besar dan mewah dan mereka pun langsung tak sabar untuk berenang…—Selesai berenang, mereka pun mandi satu persatu lalu berkumpul di ruang makan, mereka yang terlihat sangat kelaparan dan mereka pada akhirnya bersama-sama menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pemilik villa tersebut. Hari pun sudah semakin malam, selesai makan mereka lanjut berkumpul di ruang tv, karena mereka merasa bosan, mereka memutuskan untuk bermain truth or dare.“Nah sekarang gantian Zey” Botol yang diputar berhenti tepat didepan Zey, Zey tersenyum kikuk lalu menghela napasnya. “Truth or dare Zey?” “Umm, aku truth deh!” “Nah Zey, kita kan sudah lama bersahabat nih, tapi aku masih penasaran cerita awal kamu bisa pacaran sama Ryota” Pertanyaan dari Awra membuat Ryota yang berada disamping kanan Zey tersenyum tipis. “Iya-iya, yaudah aku ceritain yaa.” “Jadii awalnya salah satu teman kita ada yang buat grup di whatsapp, di grup itu kita berdua dimasukin, tapi aku sama Ryota cuman sekedar sadar kalo kita saling ada disitu dan saat itu kita ga pernah ngobrol ataupun yang lainnya, disitu kita juga masih ikut pembelajaran jarak jauh jadi kita ga terlalu kenal. Suatu hari sekolah menyuruh kita untuk datang ke sekolah karena ada pemotretan untuk membuat kartu pelajar, setelah kita foto, disitu aku pengen banget ngobrol sama Ryota, tapi aku malu dan takut untuk memulainya dan akhirnya aku beraniin diri untuk ajak Ryota foto berdua, dan disitu setiap hari aku mulai chatan dengan Ryota. Setiap hari aku selalu nyari cara untuk mulai chat Ryota dan di satu hari ini, aku coba untuk ajak Ryota zoom sama temen-temen yang lain, akhirnya seiring berjalannya waktu aku udah mulai ada rasa sama Ryota, dan kayaknya Ryota pun juga. Akhirnya kita mulai ikut pembelajaran tatap muka dan aku sama Ryota jadi lebih dekat dan sering ngobrol. Setiap malam sabtu kita juga sering zoom bareng, setiap malam jadi sering telfonan, dan akhirnya suatu hari Ryota bilang mau ngomong sesuatu berdua, akhirnya aku sama Ryota masuk ke kelas berdua, dan duduk di lantai, Ryota tiba-tiba ngomong “kita kan udah deket Zey, kamu mau ga jadi pacar aku” disitu hati aku berdebar sangat kencang, aku takut banget untuk menjawabnya, tapi akhirnya aku bilang “ya, boleh.. jadi kita pacaran nih?” Ryota pun langsung jawab “iya” setelah itu kita jadi lebih mengenal satu sama lain, dibulan ketiga atau keempat kita sudah saling kenal keluarga masing-masing, Ryota yang dulunya ga bisa telfonan sampai malam, sekarang Ryota selalu tidur sambil telfonan..”“Yaa, kirakira gitu deh Awra, cerita aku sama Ryota bisa bareng.” Zey tersenyum malu setelah menceritakan pertemuan pertama dirinya dengan Ryota. “Lo berdua gemes banget dah ta” Nendra memukul pelan lengan Ryota dan dibalas anggukan kecil oleh Ryota.“Kalian udah berapa bulan bareng si?” Pertanyaan Anya membuat Ryota menoleh kearahnya. “Aku sama Zey bulan ini sudah 7 bulan..” Ryota menjawab sembari merangkul Zey. Gemasnya hubungan mereka. “Wah lama juga ya kalian.. keren deh.” Reyna kagum dengan kedua teman nya ini.“Oh iya udah jam berapa ini, daritadi kita keasikan main aja nih sampe udah lupa jam..” Ucap Reyna setelah mengecek jam tangannya. “Eh iya yaaa, udah jam 12 guys, tidur yukk..” Ujar Zey. “Night semua!”—Suara burung bernyanyi pada pagi hari membuat Zey terbangun. Sekarang sudah jam enam pagi, sudah saatnya mereka bangun untuk menikmati suasana sejuk pagi hari ini. Mereka juga harus membereskan pakaian-pakaian mereka karena hari ini mereka akan pulang.“Guys, ayo bangun!” Zey keluar lalu membangunkan teman-temannya sembsri mengetok satu persatu pintu kamar mereka. “Iya Zey iya, 5 menit lagi” “Dasar bocah” Zey tertawa melihat tingkah teman-temannya itu, seperti anak kecil saja.“Zey?” Zey menoleh kesuara tersebut, ternyata suara tersebut adalah suara Ryota, pacarnya. “Pagi taa! Ada apa?” Zey menghampiri Ryota yang berada didepan pintu rumah. “Kita keliling yuk, sebelum kita pulang. Ada yang mau aku bicarain juga” Ujar Ryota sembari tersenyum tipis. Zey mengangguk lalu menggandeng Ryota. “Ayo”
Hujan dan Cinta
Malam ini hujan turun sangat deras. Karena hujan aku memutuskan untuk melihat drama kesukaanku. Disaat tengah menonton aku merasa sangat lapar. “Duh lapar banget?”.Karena lapar aku memutuskan untuk ke dapur membuat mie. Saat sampai di dapur ternyata persediaan mie dan camilan lainnya sudah habis. Dan aku memutuskan untuk membeli mie dan makanan lainnya di supermarket dekat rumah. Karena berhubung tidak ada orang di rumah aku mengunci rumah. Aku memutuskan berjalan kaki karena supermarket itu berada didekat rumah.Saat melewati gang dekat rumahku aku merasa ada yang mengikutiku tetapi saat aku menoleh tidak ada orang dibelakangku. Aku mempercepat langkah kakiku dan suara langkah kaki itu juga kian semakin cepat. Dan saat aku berada di ujung gang. Aku dicegat oleh beberapa pereman“Mau kemana gadis manis,” Ucap salah satu preman. “Mari biar saya antar,” ucap salah satu preman lainnya. “Tidak perlu,” ucapku.Para preman itu menarik tanganku. Aku berusaha memberontak tetapi tenagaku kalah kuat dengan para preman itu. Payung yang kupegang juga sudah hilang entah kemana. Saat para preman itu menarik tanganku tiba tiba suara seseorang mengalihkan pandangan mereka.“Lepaskan gadis itu,” ucap pria. “Apa urusanmu nak,” ucap preman. “Lepaskan gadis itu,” ucap peria itu lagi.Salah satu preman itu tiba tiba menyerang pria tesebut. Tapi dengan gesit pria itu mengalahkan preman tersebut. Preman lainnya juga mulai menyerang pria tersebut. Tapi dengan gesit ia mengalahkan mereka semua. Ditengah hujan pria itu melawan semua preman itu walaupun ia mendapat beberapa pukulan. Saat ini aku tengah bersembunyi dibalik pohon besar. Saat pertarungan selesai ia menghampiriku“Lo tidak apa apa??” ucap pria itu. “Gue tidak apa apa, tapi lo terluka,” jawabku. “Tidakpapa gue udah biasa,” jawab pria itu.Saat sedang berbincang tiba tiba aku melihat ada 2 orang dibelakangnya. Lalu aku berkata “Awas dibelakangmu,” ucapku. Dengan cepat dia menoleh kebelakang dan Bugh “Aduh,” rintih seseorang“Lo gakpapa kan Fa,” ucap salah satu orang itu. “Duh bos ngapain pukul si Rafa,” ucap orang itu lagi. “Sorry, gue kira lo tadi preman,” ucap pria itu. “Lo gakpapa kan Fa??” ucap pria itu sambil membantu orang yang dipukulnya tadi “Gakpapa,” ucap orang yang terjatuh itu.“Lo siapa??” ucap salah satu orang itu. “Dia temen gue,” ucap pria tadi sambil menceritakan kejadian tadi. “Ooo” ucap salah seorang tadi.“Kenalin gue Rafael Dirgantara bisa dipanggil Rafa,” ucap orang yang terjatuh tadi sambil menjabat tanganku. “Iya kak, salam kenal Atasya Putri biasa dipanggil tasya,” ucapku. “Kenalin gue Samuel Alexsandra biasa dipanggil Alex” ucap salah seorang lainnya. “Iya salam kenal” ucapku. “Kenalin gue Marvel Alexsa Dirgantara serah lo mau panggil gue apa,” ucap pria yang tadi menolongku. “Iya, aku panggil kak marvin aja boleh,” ucapku. “Hm,” ucap Marvel. “Pakai kata kamu aku aja jangan gue lo biar lebih akrab,” ucap Marvel. “Iya,” ucap Marvel. “Sepertinya Tasya bakalan jadi buketu deh,” ucap Rafael.“Kamu mau kemana??” ucap Marvel. “Mau ke supermarket,” ucapku. “Mau beli apa emangnya?” ucap Marvel. “Beli mie dan stok makanan lainnya,” ucapku. “Biar kuantar,” ucap Marvel. “Gak perlu kak,” ucapku. “Kuantar tidak ada penolakan,” ucap Marvel. “Baiklah,” ucapku.Kemudian aku pergi ke supermarket dengan diantar oleh kak Marvel. Setelah sampai di supermarket aku pergi membeli mie dan stok makanan lainnya. Setelah sampai di kasir aku beru ingat dompetku ketinggalan di rumah. Aku berinisiatif meminjam uang dari kak Marvel.Aku pun berkata “Kak boleh pinjam uang?” ucapku. “Soalnya uangku ketinggalan di rumah,” ucapku lagi. “Boleh,” ucap Marvel. Kemudian Marvel mengeluarkan kartu hitam atau lebih dikenal dengan blackcard dari dompetnya. “Kak kakak punya kartu itu kak, apa namanya?” ucapku. “Blackcard, kamu mau ambil aja aku masih pinya 2 kok di rumah,” ucap Marvel. “BENERAN KAK,” ucapku semangat. “Iya,” ucap Marvel.Setelah kejadian itu hubunganku dan Kak Marvel semakin dekat dan aku baru tahu kalau dia adalah ketua diamond geng. Kak Marvel pun juga sudah kenal dekat dengan bunda dan ayahku. Aku dan kak marvel pun sudah jadi seorang kekasih.Hari ini kak Marvel menjemputku untuk pergi jalan jalan. “Pagi bunda, ayah,” ucap marvel kepada ayah dan bunda. “Pagi nak Marvel, mau jemput Tasya ya??” ucap bunda. “Iya Bun,” ucap Marvel. “Oh ya bun aku mau membuat kejutan buat Tasya dengan pura pura punya selingkuhan sebelum melamarnya boleh kan bun,” ucap Marvel. “Bunda sih terserah nak Marvel aja,” ucap bunda.Aku pun akhirnya turun dengan menggunakan gaun pendek bergambar bunga bunga. “Pagi kak, pagi bunda pagi ayah,” ucapku. “Bunda, Ayah Tasya pergi dengan kak Marveol dulu ya,” ucapku. “IYA,” ucap bunda sedikit teriak karena berada di dapur.Aku pun pergi dengan kak marvel ke mall. Saat di mall aku dan kak marvel pergi makan ke pizza hot. Dan saat makan kak marvel ijin ke kemar mandi. Aku pun mengizinkannya. Tetapi saat sedang enak enaknya makan aku melihat kak Marvel dengan wanita lain diluar, kalau hanya mengobrol aku sih gakpapa aja tapi mereka berpelukan dan itu membuatku marah.Aku pun menghampiri mereka dan berkata. “KAK APA MAKSUD KAKAK BERPELUKAN DENGAN WANITA INI DI HADAPANKU,” ucapku dengan marah dan sedikit berteriak. “Aku bisa jelaskan semuanya,” ucap Marvel sambil menahan tanganku. “Apa yang mau dijelaskan semuanya sudah jelas,” ucapku. “ini semua gak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Marvel. Aku pun tidak menghiraukan kata katanya dan pergi begitu saja. Dan pergi pulang ke rumahDi Rumah Saat sampai di rumah aku menangis sejadi jadinya di dalam kamar. Tidak mau makan atau pun minum. Karena khawatir bunda memenggil Marvel untuk membantu membujukku. Karena berisik aku pun membukakan pintu kamar dan saat aku membuka pintu ternyata kak Marvel di depan pintu dengan membawa bunga dan sebuah cincin. Saat melihat itu aku berkata “Apa mau kakak?” ucapku. “Aku melamar kamu,” ucap Marvel. “Kamu terima kan, yang tadi siang itu kakakku dari jerman,” ucap Marvin. “Iya,” ucapku.Pada akhirnya aku menerima lamaran dari kak Marvel dan kami melaksanakan pernikahan beberapa minggu kemudian. Setelah itu kami pindah ke jerman dan dikaruniai 2 anak kembar.Terkadang cinta bisa datang kapan dan dimana saja.
Bagaimanakah Masa Depanku?
Hai, namaku Laura. Aku seorang gadis berumur 16 tahun. Aku mempunyai adik yang berumur 7 tahun, namanya Maura. Sejak orangtuaku meninggal 5 bulan yang lalu, hidupku berubah. Aku harus bisa menafkahi adik kecilku ini.5 bulan yang lalu sebelum orangtuaku meninggal, orangtuaku pergi menjalankan bisnis ke luar kota. Bisnis orangtuaku berjalan lancar, hingga akhirnya musuh ayahku iri dan berniat untuk menyingkirkan ayahku.Suatu malam pada hari Sabtu, kedua orangtuaku akan pulang dari luar kota. Tiba-tiba sebuah truk dari lawan arah melaju sangat kencang dan menabrak mobil orangtuaku. Kedua orangtuaku meninggal di tempat. Tak disangka, supir truk itu adalah suruhan musuh bisnis ayahku. Hingga akhirnya malam minggu adalah waktu terburuk dalam hidupku.5 bulan setelah itu, banyak rentenir mendatangi rumah orangtuaku. Hutang orangtuaku dimana mana. Aku harus bersekolah dan harus mencari nafkah juga. Tetapi aku tidak diterima kerja dimana mana, karna usiaku masih 16 tahun. Pada akhirnya aku memutuskan untuk berjualan kue, karna aku juga suka memasak.Hingga suatu hari, adik kecilku Maura ulang tahun. Ia meminta sebuah kue dan ice cream. Tetapi uang hasil jualan kue tidak begitu cukup, karna aku harus membayar uang kos dan melunasi sisa hutang orangtuaku. Aku memutuskan untuk membuat kue ulang tahun adikku sendiri. Bersyukur sekali, adikku sangat suka dengan kue buatanku.Sebulan usaha kue ku berjalan, HANA, seorang gadis cantik dan populer di sekolahku tidak menyukaiku. Karna Ardhan, lelaki yang ia sukai dekat denganku. Hingga pada akhirnya Hana memfitnahku, bahwa aku menggunakan bahan kadaluarsa di kue buatanku. Karna dia populer, banyak siswa yang mempercayainya. Pada akhirnya, tidak ada yang ingin membeli kueku lagi.Aku berhenti berjualan seminggu. Teringat adikku yang harus kunafkahi, aku berusaha bangkit lagi. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar segera ditemukan jalan keluar. Andra, dia membantuku mempromosikan kembali kueku, ia juga membantuku untuk menjelaskan ke teman temanku bahwa kueku tidak berbahaya. Alhamdulillah, kueku mulai laku kembali. Itu semua berkat doaku dan dukungan Andra.Itu adalah ceritaku 3 tahun yang lalu, sekarang sudah lulus SMA. Aku tidak melanjutkan kuliah. Tetapi di umurku yang 19 tahun ini aku bisa mendirikan sebuah toko kue. Itu adalah balasan dari doa doaku selama ini. Tidak lupa dengan bantuan Andra. Dia sekarang adalah kekasihku.Adikku sekarang berusia 10 tahun. Aku sangat senang karna ia tidak harus putus sekolah.Itulah perjalanan hidupku, aku sangat bersyukur bisa di titik sebahagia ini sekarang. Aku sudah tidak merasakan kelaparan lagi.Pesan dariku, jangan pernah menyerah. Jika ingin mencapai sebuah keberhasilan, Jangan pernah ragu untuk bekerja keras dan berdoa kepada Tuhanmu, karna Tuhan selalu di sisimu.
Fav Human
Di tahun 2020 Aku berkenalan dengan seorang laki laki yang bernama abi maulana. Dia berkulit putih tinggi dan kurus. Badannya sangat idaman tinggi kurus dan rada berisi dadanya lebar sepertinya dia cocok kalau jadi anggota militer. wanita mana yang tidak kagum melihat lelaki seperti dia.Aku berkenalan dengan dia hanya sebatas saling menyimpan nomor Whatsaap saja. Namun dengan berjalannya waktu aku semakin akrab dengan dia. Setiap hari kita selalu chatingan menananyakan kabar atau sekedar bercandaan biasa. Setiap hari kita saling bertukar cerita tentang aktivitas yang kita jalani. Oh iya aku dengan dia selisih 3 tahun dia duduk di bangku kelas 2 SMK sedangkan aku duduk di bangku kelas 3 SMP.Dia pribadi yang baik royal dan sangat dewasa, sikap yang sangat aku sukai didalam dirinya adalah dewasa. Dia selalu sabar menghadapiku tapi dia adalah manusia yang sangat keras kepala dan sangat egois, dia selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain, merasa dirinya paling benar tanpa introspeksi diri. Tapi tidak apa apa sikapnya yang egois tidak membuatku menjauhi dirinya justru aku semakin memahami sikap dia dan berusaha memahami sifatnya. Disaat aku melakukan kesalahan dia selalu mengarahkanku selalu menasihatiku dengan perkataan yang sangat lemah lembut.Tapi terkadang dia dengan tidak sengaja melontarkan kata kata kasar itu yang membuatku agak kesal kepadanya, Tapi dia selalu meminta maaf dan tentunya aku selalu memaafkan kesalahan yang dilakukannya karena aku adalah seorang manusia yang pemaaf wkwk.Dia selalu tidak percaya diri dengan dirinya sendiri selalu menganggapnya tidak pantas untuk siapapun. Namun aku selalu berbicara kepadanya agar tidak selalu insecure. Tapi dia selalu saja begitu seperti tidak mempunyai kelebihan dan selalu merasa kurang. Ya, manusia memang begitu tidak bersyukur dan merasa cukup atas pemberian dari Tuhan yang maha esa.Hewan favorit dia adalah kucing. Dia sangat menyukai kucing sampai sampai dia mengadopsi anak kucing berwarna putih yang sangat mungil dan lucuuu. Kalau chatingan dia selalu bercerita kucingnya yang sangat lucu itu, sepulang dari sekolah dia selalu bermain dengan kucingnya.Suatu saat aku kepikiran kalau memberi nama kucingnya itu. “oh iya aku punya ide, bagaimana kucingmu itu dikasih nama?” ucapku “boleh juga tapi aku bingung harus memberi dia nama siapa” ucap dia “gimana kalau kita kasih nama tobby cocok dengan kucingmu yang sangat menggemaskan itu?” ucapku “emm tobby? Aku kurang suka, gimana kalau namanya dinot gembull” ucap dia “ih kok dinot kaya namakuu, aku ga sukaa” ucapku “baguss loo, kan kucingku kaya dirimu ndutt hahah” ucap dia Dia selalu mengejekku tapi itu hanya bercandaan saja dan aku juga tidak membawa ke hati.Di suatu hari dia bercerita kepadaku. “din aku mau bercerita” ucap dia “boleh saja, kamu mau bercerita apa?” ucapku “kamu nanya? Kamu bertanya tanya aku mau cerita apa” ucap dia “isshh sudahh ayo mau bercerita apa” ucapku sedikit kesal karna dia selalu terus bercanda “haha iya maaf deh, oh iya aku diterima pkl di komnas ham jakpus” ucap dia “wahh baguss dongg” ucapku sangat senang karna dia diterima pkl “tapi kayaknya aku tolak soalnya tidak ada teman, temanku diterima di pangandaran sedangkan aku jauh banget di jakarta, lagian juga biaya hidup disana mahal” ucap dia “aduh sayang banget ga diterima, tapi iya juga sih ga mungkin juga kamu disana sendirian, disana kota besar sedangkan kamu kesana untuk pkl” ucap diaTapi aku merasa aku dan dia terlalu dekat sampai sampai aku menganggap dia lebih dari teman, aku sedikit mempunyai rasa lebih kepadanya. Aku dan dia terjebak hubungan tanpa status atau bisa dibilang frindzone, Aku sempat berniatan untuk menjauhinya tapi disisi lain aku tidak bisa kalau tidak ada dia. karena aku juga kalau butuh apa apa selalu dia yang pertama kudatangi, jadi semisal aku dan dia lost contact aku tidak tahu aku sanggup atau tidak.Tetapi hukum alam menyatakan people come and go setiap ada kata selamat datang pasti ada kata selamat tinggal. Yang artinya orang yang datang kehidupan kita pasti dia juga akan meninggalkan kita. Mungkin itu bukan sekarang tapi itu pasti terjadi didalam kehidupan kita semua.Setiap orang yang datang dalam kehidupan pasti membawa suasana sedih dan senang, jikalau dia datang di kehidupan kita hanya untuk menbuat kita sedih dan menangis mungkin itu sebuah pelajaran untuk kedepannya agar bisa lebih dewasa lagi. jikalau sebaliknya dia datang di kehidupan kita membawa suasana senang mungkin dia adalah orang yang tepat. Tapi pernah ga si kamu dapat orang yang tepat? Tidak pernah ya? Haha sama aku juga begitu. Tetapi kita tidak perlu sedih suatu saat nanti pasti kita akan mendapatkan manusia yang baik. Aku berjanji kepada diriku sendiri jika aku mendapatkan seseorang yang kuinginkan aku akan memperlakukan dia sebaik mungkin.Tapi aku pernah memikirkan semisal aku dengannya berpacaran itu membuat hubungan pertemanan kita rusak. Karena kita juga akan mengalami fase hubungan itu tidak bisa dilanjutkan lagi, Dan kita akan kembali seperti orang yang asing. Aku merasa jika dia tidak hadir di kehidupanku pasti hidupku flat kosong kesepian dan tidak ada teman untuk bercerita. Im very lucky to kow you
Pertemuan Tanpa Sengaja
Di suatu hari minggu aku melihat temanku bermain sepak bola di lapangan Myro. Aku ditemani bersama Ayra saat melihat pertandingan itu. Sesampainya di lapangan aku dan Ayra mencari tempat duduk di sebelah lapangan, tidak lama dari itu pertandingan pun dimulai.Disaat pertandingan pertama dimulai aku dan Ayra melihatnya dan sempat membuat video bersama. Tetapi tidak lama kemudian pertandingan yang pertama pun sudah selesai, aku dan Ayra sempat dihampiri oleh temanku sebentar sebelum pertandingan yang kedua dimulai, temanku menghampiriku untuk mengajakku ke tempat dimana dia dan teman yang lain berkumpul.Tidak lama kemudian temanku dan teman temannya yang lain dipanggil pelatihnya agar kembali kumpul di lapangan, karena sebelum pertandingan dimulai semuanya harus cukup dibriefing dulu.Beberapa menit kemudian temanku melanjutkan pertandingan yang kedua. Aku dan Ayra kembali ke tempat duduk yang awal tetapi kita kurang cepat untuk kembali ke tempat duduk yang tadi jadinya tempat duduknya diduduki oleh orang lain dulu. Aku dan Ayra pergi ke warung yang ada di sebelah lapangan Myro. Aku membeli minuman es di warung itu sambil melihat pertandingan sepak bola yang sudah dimulai.Disaat pertengahan pertandingan aku dihampiri seorang anak laki-laki dari club sepak bola lain. Dia mengajakku untuk berkenalan dan meminta nama sosial mediaku.“Hallo kak boleh kenalan nggak,”. “Nama kamu siapa?” Kata seorang laki laki itu yang tiba tiba berada ada di sampingku. “Eh halo juga boleh, namaku Kyra,” . “Nama kamu siapa, maaf,” jawabku. “Nama ku Firman,”. “Boleh minta nama instragammu,” kata seorang laki laki itu. “Mau buat apa instragamku Firman,” jawabku. “Gak papa, Cuma mau kenal lebih deket aja,” kata Firman. “Boleh nggak Kyra,” kata Firman. Aku pun memberi tahu nama instragamku “Okeh makasih ya Kyra, nanti aku dm habis pulang dari sini,” Firman. “Iya dm aja nanti,” kataku.Aku, Ayra, dan Firman melihat pertandingan itu bersama di warung itu. Aku dan Firman berbicara yang random, waktu itu sama sama masih merasa canggung untuk saling berbicara.Tidak lama kemudian waktu pertandingan temanku pun selesai. Aku dan Ayra berpamitan untuk pulang duluan ke temanku & Firman. Aku mengantarkan Ayra pulang dahulu…Sesudah mengantarkan Ayra pulang aku pun segera pulang ke rumah juga. Sesampainya di rumah aku scrool tik tok, tetapi tidak lama kemudian aku ketiduran dan hpku terus menyala.Saat sore hari sekitar jam setengah 5 aku pun bangun tidur dan mengecek hp. Aku membaca notif instragam ternyata ada chat dm dari Firman. Aku pun merespon chatnya, setiap hari aku chatan di dm bersama Firman.Beberapa bulan kemudian… Firman mengajakku ketemu di suatu tempat. Awalnya aku dan Firman berbicara yang ada dan tidak lama kemudian Firman menyatakan perasaannya. Disitu aku sempat bingung mau jawab apa, tetapi dia meyakinkanku agar bisa menerimanya. Aku sudah cukup lama mengenalnya dan sudah tau sikap-sikap dia seperti dia, dia juga cukup banyak bercerita tentang keluarganya.Di saat itu pikiranku sudah cukup matang, dan menerima perasaan dia. Betapa bahagianya dia saat itu, saking bahagianya sampai-sampai dia tidak sengaja untuk memelukku.Sesudah dari tempat itu aku diajak Firman ke rumahnya untuk bertemu keluarganya lagi, sesampainya di rumahnya Firman aku dikenalkan lagi ke keluarganya tetapi dengan status sebagai pacar Firman bukan lagi teman.“Assalamualaikum bunda,”. “Tebak aku sama siapa ke sini” ucap Firman saat di depan pintu rumah nya. “Waalaikumsalam sebentarr,”. “Sama siapa kamu kak,” jawab bunda sambil membuka kan pintu rumah. “Kenalin bunda ini ada Kyra, ini pacarnya Firman” jawab Firman. “Loh udah pacaran aja kalian berdua, sini sini ayo masuk ke dalam,”.“Sejak kapan kalian mulai hubungan ini,” tanya bunda. “Baru ini tadi bunda, akhirnya dari sekian lama menunggu sekarang dapat juga ya bunda,” jawab Firman sambil tertawa. “Wah ada yang lagi seneng nihh, bismilah ya hubungannya semoga baik baik aja,”. “Semoga juga hubungan kalian langgeng terus sampai nanti kedepannya,”. “Nanti kalau Firman nakal kamu bilang bunda aja ya Kyra,” ucap bunda Firman. “Iyaa bundaa siap, makasi ya bunda udah mendoakan yang baik baik hihi,” jawabku.Dia lelaki yang sangat sederhana, selalu membuatku tertawa dengan cara tersendiri, aku suka dengan sikap dia yang selalu menghargai perasaan perempuan, dia tidak pernah membentak saat marah kepadaku, dia selalu mengatakan secara halus dan menasehatiku secara perlahan, dia suka melarangku ini itu yang katanya ini demi kebaikanmu juga. Keluarganya pun sangat baik dan seru, dari sekian aku merasakan yang tidak baik alhamdulilah sekarang sudah mendapatkan yang sangat baik, keluarganya juga pun mendukung.
Tak Ingin Usai
Saat aku tidak pernah ingin mencintai seseorang lagi hanya sebuah traumaku di masalalu, seorang cowok datang kepadaku. Pada waktu kelas 8 tepat pada bulan Februari cowok itu mengirimkan sebuah pesan kepadaku.“P, save” “Siapa?” jawabku. “Anak spejija” “Save yaa” “Iyaa, namamu siapa?” “Nathan”Pesan singkat itu kemudian dia memberi tahu tentang identitasnya. Aku pun lama-lama mengenalnya. Dia ternyata adalah teman sekelas waktu kelas 7. Dia mulai mencari topik lagi untuk melanjutkan pesannya dengan bertanya-tanya. Disaat dia terus mengirim pesan kepadaku aku mencoba menjawabnya cuek dan slowrespon. Lalu dia bertanya dan mengajakku memainkan game.“Kamu main game apa?” tanya Nathan. “ML, kenapa?” jawabku. “Ayo kita main bareng, mau ngga? “Boleh” jawabku.Setelah itu dia mengatakan kepadaku, sebenarnya dia suruh temannya untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku. Tapi temannya tidak berani mengungkapkannya.“Temanku ada yang suka sama kamu” ucapnya. “Biarin” jawabku tidak peduli.Kemudian dia mengirimkankan bukti pesan temannya kalau memang temannya suka sama aku. Aku pun tidak mempedulikan itu semua, dan juga tidak bertanya temannya itu siapa. Lalu kita tidak membicarakan tentang temannya lagi dan Nathan beralih topik. Topiknya hari-hari sangat tidak jelas dengan pertanyaannya itu.Aku dan Natan mulai dekat. Tidak menyangka 1 bulan dekat dengannya, dia mengajakku berpacaran. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Nathan dengan gugup. “Apa pacaran itu?” jawabku sambil bercanda. “Nggak” jawabnya sangat singkat.Sepertinya dia mulai kecewa denganku. Aku sudah mengatakan kalau itu bercanda tapi dia juga tetap tidak mempedulikan lagi dan pesannya tetap singkat. Aku merasa bersalah dengan candaanku itu. Pada saat itu aku memang belum mempunyai perasaan kepadanya dan tidak ada niatan membuka hati lagi. Dan aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena aku takut melukai hatinya. Disitulah pertengkaran mulai muncul, dia memintaku memblokir whatsappnya.“Blokir aja, itu solusinya” ucapnya seperti marah. “Blokir whatsappku aja gapapa” jawabku. “Nggak bisa, makin kepikiran kamu terus” jawabnya. “Kamu nggak bisa diajak bercanda sih, maksudku itu jangan kamu anggap serius” “Aku serius ini tapi kamu justru bercanda” ucap Nathan kesal. “Iyaa deh emang salahku”Pertengkaran itu sudah berakhir. Beberapa menit kemudian kita kembali bertengkar lagi. Dan dia bertanya tentang perasaanku kepadanya. “Aku mau bertanya serius, tapi kamu jawab jujur ya” ucapnya. “Iya tanya apa?” “Kamu sebenarnya punya perasaan nggak sama aku?” tanya Nathan. Pertanyaannya membuatku bingung menjawab apa.“Aku nggak tahu” jawabku seadanya. “Kalau kamu punya ya aku nggak marah justru makin senang aku” “Sudah aku bilang aku nggak tahuu!” jawabku sambil kesal dengan pertanyaannya itu. “Kalau emang justru kebalikannya kamu nggak suka sama aku, biar aku nggak berharap” ucapnya. “Udah jangan tanya terus, nanti kamu tahu sendiri” jawabku mencoba mengalihkan pertanyaannya.Nathan terus mempertanyakan pertanyaannya itu sampai aku jujur kepadanya dan dia memintaku memberikan kepastian. “Aku butuh kepastianmu biar nggak berharap terus” ucapnya. “nggak punya kepastian” “Aku Cuma butuh kepastianmu cukup itu aja, kalau emang iya ya iya kalau nggak ya nggak” “Nggak tahu” Jawabanku itu membuatnya semakin terus-menerus bertanya kepadaku.Dengan percaya dirinya dia mengatakan kalau aku punya perasaan sama dia. “Kamu punya perasaan yaa sama aku” “Dih kamu jangan ke PD an dehh” jawabku. “Yaa begini jadi anak kejujuran, jadi terlalu berharap yang nggak diharapkan” ucapnya kecewa. “Maaf yaa kalau aku sudah suka sama kamu, ternyata sakit berharap juga tidak mungkin lagi” “Ya sudah kalau emang begitu, aku minta maaf juga” jawabku tidak bisa berkata-kata lagi. “Kamu itu bilang dari dulu kalau emang nggak punya perasaan, sekarang aku sudah tau kalau kamu benar-benar nggak punya perasaan” ucapnya. “Kamu juga sih berharap berlebihan, kan gini jadi berantakan semuanya” jawabku.Lalu Natan memintaku memblokir nomor whatsappnya lagi untuk kedua kalinya agar bisa menghilangkan perasaannya kepadaku. Aku pun mencoba untuk memenuhi permintaannya itu. “Aku minta tolong kamu blokir WA ku yaa supaya bisa hilang perasaanku ke kamu, kalau aku yang blokir justru nggak bisa” ucapnya. “Oke kalau itu mau kamu, maaf banget ya” Keinginannya itu membuat terakhir aku dan Nathan berhenti berkomunikasi.Beberapa hari aku mendapat pesan dari seorang cowok. “P” “Siapa?” “Jakky” Aku mulai curiga itu sebenarnya temannya Nathan tapi aku berpura-pura tidak tahu. Kemudian dia sok asik kepadaku.“Kok cuek sih, ada masalah?” tanya Jakky. “Mungkin kalau emang ada masalah sama crushmu atau sama siapa gitu jangan langsung diblokir” “Apaan sih nggak jelas banget” jawabku. “Aku cuma bantu saja, katanya teman-teman kamu asik kalau dichatt” “Kok sekarang tumben cuek” ucapnya.Saat itu aku tidak lagi merespon pesannya itu dan dia mengirimkankan sebuah pesan lagi kepadaku. “Kamu login ML sebentar, penting” ucapnya. “Nggak mau!”Tiba-tiba dia membicarakan tentang Nathan disitulah curigaanku ternyata benar. “Blokiran Nathan nggak kamu buka?” tanya Jakky. “Nggak, emang itu maunya” “Masa nggak ada inisiatif buka blokirannya gitu?” “GK” jawabku cuek dan singkat. “Emangnya kamu nggak ada perasaan lagi?” “Udah kamu nggak usah ikut campur masalahku sama Nathan” jawabku disitu sambil emosi.Lalu dia sedikit-dikit mulai jujur tentang sebenarnya yang terjadi. “Gini-gini, jadi aku bicara semua itu disuruh Nathan aku nggak bermaksud ikut campur kok” ucapnya. “Maaf ya kalau kamu kesal, maaf banget ya” “Iya gapapa aku sudah tahu semua, jangan mau lagi disuruh sama Nathan” Dia juga mengatakan bahwa dia bukan Jakky melainkan Aza. “Oh iya, namaku Aza bukan Jakky itu nama samaran buat alasan aja” ucapnya. Nathan terus menyuruh Aza agar bisa dibuka blokirannya lagi. Aku sudah merasa bosan dengan pertanyaannya Nathan yang dikirim lewat Aza itu.1 minggu aku baru membuka blokiran Nathan. Setelah itu Nathan mengirimkan pesan kepadaku lagi dengan rasa tidak malu dengan permintaannya waktu itu.“Haloo” “Apa?” “Masih marah?” “Nggak” “Yang bener, nggak bagus loh marah terus nanti cantiknya hilang” ucapnya sambil basa-basi. “Terus aku harus gimana ini?”Nathan membujukku agar aku tidak marah dengan mengajakku memainkan game dan aku pun menolaknya. Lalu dia bertanya tentang Aza kepadaku. “Kamu tadi dichat apa aja sama Aza?” ucapnya. “Kepo banget sih kamu” “Iyalah” “Nggak usah kepo deh!”Saat masalahku sama Nathan, aku dan Aza masih berkomunikasi. Terkadang isi pesannya itu selalu menceritakan Nathan. Lalu Aza tiba-tiba menanyakan sesuatu kepadaku tentang Instagramku. “Ini Ig mu?” “Iyaa, kok tahu?” “Ini dapat dari rekomendasi, follback yaa” Disitu terakhir aku dan Aza sudah tidak lagi berkomunikasi.Nathan terus mengirimkan pesan kepadaku dan selalu bertanya tentang Aza. “Aza masih ngechatting kamu?” tanya Nathan. “Nggak” “Beneran?” “Coba tanya Aza sendiri sana” “Ngapain tanya Aza, Aza kalau aku tanya nggak pernah ngaku” “Terus kenapa emang kalau Aza ngechatting aku?” “Nggak boleh aslinya, ya tapi mau gimana lagi” ucapnya ada rasa sok cemburu.Nathan mulai lagi basa-basi dengan omong kosongnya itu. Aku pun tidak mudah bawa perhatian kepadanya. Aku dan Nathan semakin dekat tapi aku hanya menganggap dia teman tidak lebih dan aku juga tidak melibatkan perasaan. Aku mulai cuek dengan Nathan karena dia mulai lagi menanyakan perasaanku kepadanya.“Kamu sebenarnya ngasih harapan sama aku nggak sih?” ucapnya. “Aku bener-bener emang nggak tahu” jawabku “Itu kan dari hatimu sendiri masa kamu nggak kasihan sama aku udah nunggu kepastian dari kamu” ucapnya. “Ngapain sih kamu terus mempertanyakan itu lagi!” jawabku sambil emosi. “Yaudah deh gapapa”Disitu Nathan sudah tidak mempertanyakan perasaanku lagi. Perhatian dan candaanya itu membuatku tiba-tiba muncul sedikit perasaan kepadanya. Aku tidak ingin mengungkapkannya karena aku tahu aku dan dia cukup sebagai teman saja. Aza kemudian menyuruh Nathan mempertanyakan kenapa aku unfollow instagramnya. Padahal itu Aza sendiri yang menghapus followersnya. Lalu Nathan tiba-tiba mengungkapkan perasaan Aza.“Kenapa kamu unfollow Aza?” tanya Nathan. “Nggak, dia sendiri yang hapus aku dari followersnya itu” “Nggak mungkin, dia loh sayang sama kamu” “Mana ada, kamu jangan bohong deh”Lalu Nathan menceritakan semua tentang Aza menyukai diam-diam. “Aza sebenarnya udah suka sama kamu awal kelas 8 tapi dia tidak berani mengatakannya, Aza selalu menceritakan tentang kamu” ucap Nathan. “Nggakk, dia suka sama orang lain mana mau sama aku” “Ini beneran, kamu aslinya juga suka kan?” tanya Nathan.Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Nathan, karena aku tahu cowok seperti Aza tidak mungkin suka sama aku. Pada waktu ada acara di sekolah aku belum mengenalnya hanya saja melihatnya dan cukup mengaguminya. Masalah tentang Aza itu Nathan dan aku bertengkar kemudian lost contact, sebelum itu Nathan meninggalkan pesan terakhirnya. “Semoga langgeng ya sama Aza, makasi waktunya yang dulu sudah mau menemaniku” ucapnya.Pesannya itu membuatku berkaca-kaca, hatinya pasti hancur karena tahu yang menyukaiku adalah temannya sendiri, dia mengalah untuk kebahagiaan temannya.Dan ternyata Nathan sudah mengatakan kalau aku emang suka sama Aza. Lalu Aza mengirimkan sebuah pesan kepadaku. “Emang benar yang dikatakan Nathan?” tanya Aza. “Nathan mengatakan apa ke kamu?” “Kalau kamu suka sama aku” “Aku nggak bisa jawab pertanyaanmu itu sekarang” “Iya gapapa aku bakal kasih kamu waktu kok”Aku benar-benar bingung menjawabnya bagaimana karena aku dan Aza belum dekat dan belum mengenal satu sama lain. Aku juga selalu memikirkan bagaimana perasaan Nathan.Beberapa hari dia mulai mempertanyakan lagi. “Kalau kamu nggak suka gapapa dari pada berharap nanti ujung-ujungnya sakit hati” ucap Aza. “Kalau aku suka kamu mau apa coba?” jawabku. “kamu suka beneran?” “Iyaa deh”Untung saja Aza tidak mengajakku berpacaran karena aku hanya punya sedikit perasaan seperti perasaanku ke Nathan. Aku terus memikirkan Nathan, dia pasti kecewa banget sama aku. Aku jahat banget ke Nathan apalagi Aza temannya sendiri aku nggak bisa membayangkan jadi posisi Nathan gimana, pasti sakit hati banget. Aku mencoba untuk tidak memikirkan Nathan lagi dan fokus ke Aza.Aku dan Aza semakin dekat dan masih ragu dengannya. Tapi perhatiannya membuatku terbawa perasaan kepadanya.“Kamu nggak tidur?” tanya Aza. “Masih sore ini” jawabku bergurau. “Loh ini sudah malam, sana tidur dulu nanti kamu sakit gimana” ucapnya. “Iyaa, ini aja udah sakit” jawabku.Pada malam itu memang posisiku nggak enak badan, tapi dia tetap kasih perhatian sama aku dan semakin yakin dengan perasaanku sendiri ke Aza namun disisi lain masih ada perasaan ke Nathan.“Sakit apa emangnya?” “Demam” “Cepat sembuh ya, jangan tidur malam-malam kesehatanmu itu penting kamu jangan ngeremehin” ucap Aza. “Iya iyaa”Hari-hari aku bingung harus memilih yang mana aku juga tidak ingin menyakiti satu sama lain. Ternyata pesanku dan Aza waktu itu menjadi pesan terakhir berkomunikasi. Aku menunggu terus pesan dari Aza tapi dia tidak lagi mengirimkan pesan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku mulai berpikir dia menjauhiku atau memang dia nggak serius sama aku.Tiba-tiba Nathan kembali kepadaku. Dia mengirimkan pesan tapi tidak aku balas. 2 minggu kemudian Aza memposting cewek lain, hatiku benar-benar sakit banget. Aku tidak menyangka secepat itu dia menemukan orang baru dan aku juga sadar posisiku. Mungkin dia sudah lelah menunggu kepastianku yang tidak jelas oleh karena itu dia memilih yang lain. Kecewa banget apalagi aku sudah rela meninggalkan Nathan dan menyakiti perasaannya tapi Aza memilih cewek lain.Secinta apapun aku kepadamu dan kepadanya, aku tidak akan pernah bisa memilih karena aku tahu itu akan merusak pertemananmu. Lebih baik aku pendam rasa sakit hati ini sendirian dari pada semakin membuat luka untukmu dan untuknya. Takdir sudah menjawabnya, aku akan tetap mencintai dirimu dan dirinya diam-diam meski akhirnya kutemukan luka dalam-dalam. Senang bisa mengenalmu dan mengenalnya dalam satu pertemanan. Berbahagialah dengan pilihanmu masing-masing yang kau anggap lebih dariku.