Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Boyfriend or Crush?
Teen
25 Nov 2025

Boyfriend or Crush?

Pada waktu aku duduk di bangku SMA aku mempunyai seorang pacar yang sepantaran denganku. Hubungan kami berjalan 3 bulan. Pada awalnya kami sangat romantis seperti orang pacaran pada umumnya, namun perlahan lahan hubungan kami memudar. Pada saat itu juga aku mulai menyukai orang lain sehingga aku mulai lupa kalau aku memiliki seorang kekasih. Perasaanku padanya sama seperti saat aku menyukai pacarku. Kami di sekolah selalu bertemu dan bertukar pandang, hatiku selalu berdebar saat bertatapan dengannya. Aku dan dia hanya bertukar pandang saja, tidak pernah dia maupun aku memulai topik pembicaraan.Secara kebetulan aku dan pacarku berbeda sekolah. Jadi memudahkanku untuk dekat crushku. Hari hariku selalu tentang crushku sampai tak terasa sudah 1 minggu lebih aku tak berkomukasi dengan pacarku, aku maupun pacarku juga tidak ada niat untuk berkomikasi lagi.Tetapi pada minggu kedua dibulan Desember, secara tiba tiba dia menghubungiku lagi di whatsapp, kupikir dia sudah melupakanku.“Sudah lama kita tidak berkomukasi ya, Ra” ucapnya padaku. “Masih ingat padaku ya ternyata” ucapku sarkas. “Maaf aku sedang sibuk sampai tidak sempat mengabarimu” ucapnya padaku. “Apakah mengabariku menggunakan waktu selama 2 minggu?” ucapku padanya. “Maafkan aku” dia meminta maaf padaku.Dia meminta maaf padaku berkali kali dan akupun memaafkannya, walau di hatiku terisi dua hati tetapi perasaanku padanya lebih besar daripada crushku. Hubunganku dengannya mulai membaik. Sekarang aku pada fase dilema, haruskah aku memilih pacarku atau crushku.Namun besoknya crushku menghubungiku lewat whatsapp, tentu saja aku terkejut, tidak pernah menyangka bahwa dia akan menghubungiku. Apakah artinya perasaanku mulai terbalas, jika iya bagaimana dengan perasaan pacarku.“Hai save nomorku ya” pesan pertamanya padaku. “Eh? baiklah save kembali nomorku” ucapku padanya. “Ya terima kasih” ucapnya.Hanya itu saja pesan terakhirnya, setelah itu tidak ada lagi topik diantara kami. Aku masih berfikir mengapa dia memintaku menyimpan nomornya, sampai malam hari tiba aku masih memikirnya.Besoknya waktu sekolah masih saja kita tidak berbicara padahal aku sudah berharap dia akan berbicara padaku. Mungkinkah ia penasaran padaku karena aku sering menatapnya di sekolah?.Tiba tiba saja pacarku menelfon. “Nanti kamu sibuk nggak pulang sekolah?” tanyanya padaku “Enggak, aku lagi free” jawabku. “Nanti keluar yuk” tumben sekali pacarku mengajakku jalan, ataukah ini sebagai perminta maafannya padaku?. “Boleh” aku mengiyakan saja karena kebetulan kita memang jarang bertemu.Setelah pulang sekolah ternyata pacarku sudah menungguku disekitaran sekolah, sikapnya hari ini membuatku heran, aku benar benar kesal dengan sikapnya. Sikapnya yang membuatku berpindah hati, setelah aku menemukan hati yang baru ia kembali lagi padaku.“Kau menjemputku?” tanyaku padanya. “Ya, aku sudah izin pada ayahmu” hubungan kami memang sudah diketahui oleh orangtuaku karena aku pernah memperkenalkannya pada keluargaku. “Pakai ini” dia menyerahkan sebuah sweater coklat miliknya padaku, otomatis aku mencium bau tubuhnya yang tertinggal di sweaternya. Akupun memakai sweaternya untuk menutupi seragam sekolahku dan langsung pergi kearah yang tidak aku tahu, aku hanya menurut padanya.Di jalan aku menyenderkan kepalaku di bahunya dan memeluk pinggangnya. Kami menikmati angin di jalan yang terasa sejuk, membuatku semakin erat memeluknya. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya kita pun sampai di tujuan. Ternyata dia mengajakku ke sebuah taman mini, banyak sekali pedagang disana dan juga terdapat beberapa anak muda yang menghabiskan waktu dengan pacarnya sama seperti kami.Kami mengunjungi sebuah pedagang ice cream dan memesan ice cream rasa coklat dan vanilla. Setelah itu kami duduk di salah satu bangku yang ada disana. Kami memakan ice cream sambil membicarakan hal random ataupun kesibukan masing masing.“Aku ingin meminta maaf atas kesibukanku akhir akhir ini” ucapnya padaku. “Memang sesibuk apa dirimu” tanyaku padanya. “Akhir akhir ini program di sekolahku semakin banyak dan aku sedikit kewalahan dengan itu, ditambah tugas sekolahku yang selalu berkelompok” jelasnya padaku. “Aku menjadi tidak ada waktu dan masih ada ekskul yang harus aku ikuti” aku hanya mendengar penjelasannya, setelah aku mengetahui alasannya aku sedikit memakluminya. “Baik alasanmu bisa aku terima, aku memaafkanmu, sempat aku berfikir bahwa kau sudah bosan denganku dan ingin memutuskan hubungan tanpa kata” ucapku padanya. “Aku harap kau selalu memberiku kabar walau sesibuk apapun dirimu”. Dia mengangguk setelah mendengarkan permintaanku. Kami lanjut berjalan jalan mengelilingi taman mini itu.“Ayo pulang?” tanyanya padaku. “Boleh, hari sudah mulai malam”.Kamipun menuju parkiran sepeda untuk pulang karena hari sudah mulai malam. Sembari menunggunya mengambil sepeda aku membuka handphoneku dan aku membuka story crushku, aku sedikit terkejut ketika melihat foto perempuan distorynya, ternyata dia mempunyai pacar. Aku sedikit sedih akan hal itu. Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk menyukainya saja, tidak untuk memilikinya. Lagian aku sudah memiliki pacar.“Ayo pulang” aku terkejut saat dia memanggilku karena aku sedang melamun saat itu. “Iya, ayo” dia mengantarku pulang.Di perjalanan aku memasukkan tanganku kedalam saku hodienya karena dingin terkena angin malam. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya dan menikmati saat saat terakhir kami sebelum sampai ke rumah.Beberapa menit di perjalanan akhirnya kitapun sampai di rumahku dan aku menyuruhnya untuk masuk kedalam. “Masuklah dulu” ucapku padanya. “Boleh” dia memarkirkan sepedanya didepan rumahku dan mengikutiku untuk masuk ke dalam rumah. Ayahku ternyata berada di ruang tamu, aku dan dia bersalaman dengan ayahku. Aku masuk ke dalam untuk membuatkannya teh sedangkan dia mengobrol dengan ayahku, sesekali aku mendengar dari dapur bahwa mereka sedang tertawa.Aku mengantarkan teh yang sudah aku buat untuk ayah dan pacarku dan aku lanjut pergi ke kamar membiarkan mereka berbicara secara laki laki.Sejenak aku merenung tentang hatiku yang terisi dua hati, aku mulai membandingkan lelaki manakah yang harus aku pertahankan?. Jika aku memutuskan untuk tetap menyukai crushku, maka aku akan patah hati karena dia sudah mempunyai pacar. Jika bertahan dengan pacarku aku takut dia kembali sibuk sampai lupa mengabariku dan membiarkan aku bertahan dengan harapan kosong. Namun sekali lagi aku berfikir, hubungan pasti terdapat sebuah masalah dan karena masalah itulah kita akan diuji, sanggupkah kita bertahan atau tidak.Setelah kejadian hari itu aku memutuskan untuk kembali pada pacarku dan melupakan crushku. Tetapi aku sangat bahagia karena bisa merasakan jatuh hati di sekolah namun aku tidak menyarankan harus melupakan orang lama demi orang baru.Besoknya saat disekolah aku bertemu lagi dengan crushku tetapi aku mencoba untuk tidak menatapnya lagi karena aku sudah memutuskan untuk berhenti menyukainya dan sepertinya dia juga bersikap biasa saja.“Hei, kamu suka dia ya” tiba tiba temanku berbicara. “Tidak!” aku menyangkal. “Dia menyukaimu loh” ucap temanku. Aku terkejut, bagaimana bisa?. Bukankah kemarin dia memposting foto pacarnya?. Aku mencoba tidak peduli dengan itu dan aku tetap bertahan dengan pacarku.

Festival Layangan Sawangan
Teen
25 Nov 2025

Festival Layangan Sawangan

Pada sore hari tepatnya hari sabtu aku dan teman temanku membuat layangan di rumahku. Sebelum membuat layangan aku dan teman teman mencari bambu di hutan. Setelah menemukan bambu aku dan teman teman bergegas memotong bambu itu lalu dibersihkan dari daun dan ranting ranting yang masih menempel di bambu. Setelah bersih aku dan teman teman membawa bambu itu pulang untuk dibelah manjadi beberapa potong. Setelah sampai rumah dan dipotong aku dan teman teman mambagi tugas, ada yang menghaluskan bambu dan ada yang menimbang berat bambu dan ada juga bagian mengukur panjang pendek bambu.Setelah semua sudah siap untuk dirakit aku dan teman teman menyiapkan alat dan bahan untuk merakit bambu menjadi layangan sawangan. Setelah bahan bahan sudah terkumpul aku dan teman teman mulai membuat kerangka layangan sawangan. Setelah setengah jadi aku dan teman temanku mendapat informasi bahwa ada festival layangan yang berhadiah sepeda gunung untuk juara 1, juara 2 mendapatkan uang setunai Rp 600.000,00 dan untuk juara 3 Rp 300.000,00. Bertepatan di desa sebelah yang diadakan besok pada hari minggu siang jam 2.Lalu aku dan teman teman bergegas mencari panitia festival untuk mendaftarkan. Setelah bertemu si panitia saya bertanya“Berapa harga pendaftaran festival layangan?” “Seharga Rp 50.000” jawab si panitia.”Kemudian saya dan teman teman mengumpulkan uang untuk mendaftar. Setelah deal ikut festival saya dan teman teman kembali pulang untuk melanjutkan membuat layangan sawangan yang sudah setengah jadi karena festival diadakan pada hari minggu. Setelah selesai jadi kerangka malam pun tiba dan teman temanku pulang.Pada waktu malam teman temanku berkumpul ke rumahku.“Ada apa kok rame rame?” tanyaku. “Yaa melanjutkan membuat layangan kan besok udah minggu” jawab teman temanku. “Boleh, bentar aku ambil kerangkanya sama bahan bahannya dulu” jawabku. “Ini layangannya tinggal menyampuli dan dihias” jawabku.Malam itupun mereka mulai menempelkan plastik dari atas sampai bawah dan di beri lem pada pinggir pinggir atau sudut kerangka. 1 jam berlalu akhirnya layangan sawangan sudah tertempel sampul plastik yang berwarna hitam. Mereka menunggu agar lemnya kering merata supaya tidak melupas plastiknya. Setelah kering aku dan teman teman menggunting plastik yang lebih dari luar kerangka layangan sawangan. Setelah semua tidak ada plastik yang keluar dari kerangka aku dan teman teman mulai berdiskusi untuk menentukan warna dan hiasan untuk layangan sawangan. Akhirnya temanku mendapat petunjuk“Bagaimana kalau warnanya putih dan hiasannya bergambar beruang?” tanya temanku “Jangan kalo warna putih kurang cocok sama layangan yang bersampul hitam apa lagi gambar beruang itu juga kurang cocok karena beruang sulit untuk membuat polanya!” jawabku “Benar juga apalagi beruang dengan warna putih keliatan kurang pas!”“Gimana kalau gambar kepala naga dengan warna hijau, putih dan merah?” tanya temanku “Boleh apalagi naga gambar yang bagus, apa kamu bisa membuat pola?” tanyaku “Waduh kalo gambar aku kurang bisa apalagi kalo gambar kepala naga!” jawab temanku “Gambar apa yaa yang mudah tetapi ada unsurnya?” tanyaku“Gimana kalo dihias dengan gambar batik karena ada unsur melestarikan batik?” tanyaku “Boleh juga, batik tumbuhan aja gimana dengan warna coklat, putih dan hijau?” jawab temanku “boleh juga tuh, apalagi tumbuhan agak mudah untuk membuat polanya!” jawabku “boleh, gimana yang lain apakah setuju dengan hiasan batik tumbuhan dan warna coklat, putih dan hijau?” tanya temanku “Setuju setuju setuju setuju!” jawabku dan teman teman.“Oke setuju semua yaa gimana kalo kita cari gambarnya di internet?” tanyaku “boleh juga lagian kalo di internet kan banyak pilihannya!” jawab temankuSetelah beberapa menit mencari gambar akhirnya aku dan teman teman menemukan pola gambar yang bagus. Akhirnya Aku dan teman teman membagi tugas ada yang bagian membuat pola, ada yang bagian memegangi layangan agar pola gambar tidak ada yang miring, dan ada juga yang bagian memegangi hp agar yang membuat pola tidak sulit untuk melihat. Setelah 1 jam berlalu akhirnya pola gambar batik tumbuhan sudah jadi tinggal diberi warna yang sudah di tentukan. Aku dan teman teman menyiapkan wadah untuk cat dan kuas. Setelah semua cat sudah siap aku segera mengganti dari kaleng ke wadah. Setelah semua cat sudah siap digunakan aku dan teman teman membagi tugas lagi ada yang menebali pola dengan cat warna hitam, ada yang memberi warna yang telah ditentukan, ada juga yang bagian menginstrusikan warna apa aja yang diperlukan agar yang bagian memberi warna tidak lagi tanya tanya atau bingung.Akhirnya gambar batik tumbuhan sudah jadi tepat pukul 10 malam, aku dan teman teman segera beres beres karena sudah malam dan pulang ke rumah masing masing. Sebelum pulang aku dan teman teman menaruh layangan dengan cat yang masih basah ke ruang terbuka agar cat bisa mengering tepat pada pagi hari. Setelah ditaruh ke ruang terbuka teman temanku bergegas pulang karena tidak sabar untuk mencoba menerbangkan layangan sawangan pada pagi hari sebelum memasuki festival layangan sawangan. Pagi pun tiba aku segera mandi sebelum teman temanku datang untuk mencoba layangan sawangan. Setelah mandi dan ganti baju pas banget teman temanku mulai datang pukul 7 pagi, aku segera keluar dan mengambil layangan sawangan di ruangan terbuka.Setelah mengambil aku dan teman teman segera memasang tali goci untuk menggabungkan tali. Setelah terpasang aku dan teman teman mencoba layangannya apakah serong atau tidak bisa terbang tinggi. Aku dan teman teman segera menuju ke lapangan untuk menerbangkan layangan sawangan. Aku bagian memegang layangan dan teman teamnku bagian menarik layangan. Setelah terbang cukup tinggi ternyata layangan sawangan tidak serong, aku dan teman teman merasa senang. Terlihat mengkilat di udara warna hijaunya karena terkena pantulan sinar matahari. Setelah menerbangkan layangan cukup lama aku melihat jam hp ternyata sudah jam 11. Aku dan teman teman segera menurunkan layangan untuk datang ke festival layangan. Setelah layangan turun temanku segera menggulung tali dan bergegas pergi ke festival layangan.Sampai di tempat festival pukul 1 yang belum banyak orang datang, aku dan teman teman menunggu peserta lainnya sambil mengecek plastik layangan apakah ada sobek. Setelah jam 2 akhirnya peserta banyak yang mulai datang dan panitia telah memulai festivalnya. Aku dan teman teman segera menerbangkan layangan ke udara. Setelah semua layangan sawangan peserta sudah terbang semua panitia mulai mencari siapa yang pantas mendapat juara 1, 2, dan 3. Setelah semua layangan sudah di cek oleh panitia peserta di harap menunggu keputusan panitia. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya panitia menentukan siapa yang mendapat juara 1, 2, 3 tepat pukul 4 sore semua peserta di harap mengumpul ke tempat panitia.Setelah semua peserta mengumpul panitia mulai mengumumkan siapa pemenangnya dan yang mendapat juara 1 adalah layangan dengan tema batik tumbuhan. Juara 2 dan 3 diraih oleh kampung sebelah. Aku dan teman teman merasa senang dan bangga atas keputusan panitia yang menjuarakan 1 layangan aku dan teman teman yang bertema batik tumbuhan. Akhirnya aku di panggil untuk sesi berfoto atas juara 1, 2, dan 3. Setelah berfoto aku dan teman teman membawa pulang sepeda gunung untuk mencoba bersama sama.

Pembohong
Teen
25 Nov 2025

Pembohong

Aku Rachel, kisahku dimulai saat aku mempunyai teman laki-laki bernama Rama, pada saat itu aku dan Rama sangat dekat sampai teman sekelasku mengira bahwa aku dan Rama berpacaran.Pada saat pulang sekolah aku kaget karena mendapatkan notifikasi dari nomor yang tidak aku kenal. “P, aku Rama” “Hai, ada apa Rama? tanyaku” “Sv nomor ku ya” Pada saat itu aku dan Rama semakin dekat dan sering chattingan. Rama adalah orang yang asik diajak bercanda. Suatu hari aku mendapatkan tugas kelompok dan ternyata pada saat guruku membagi kelompok ternyata aku sekelompok sama Rama. Aku sangat senang dan bersemangat.Pada suatu hari aku diberi tahu oleh teman dekatnya Rama bahwa dia menyukaiku. Aku sempat terkejut pada saat temannya mengatakan hal itu. Tapi aku tidak pernah memikirkan hal itu aku hanya berfikir jika itu hanya bercanda.Temanku yang bernama Cinta dia mengatakan sesuatu bahwa dia sedang menyukai seseorang. “Eh Rachel, aku lagi suka sama seseorang.” “Emang lagi suka sama siapa?” “Emmm aku lagi suka sama Rama.”Aku sempat terkejut pada saat dia menyebut nama Rama, Cinta sempat heran kepadaku pada saat aku terkejut. Pada saat aku sedang bercanda dengan Rama, Cinta melihat kedekatanku dengan Rama, raut wajah Cinta menunjukkan wajah yang cemburu dan tidak senang melihat kedekatanku dengan Rama.Saat aku masih asik bercanda dengan Rama, Cinta menarik tanganku dan bertanya kepadaku, dia bertanya tentang hal yang membuatku heran. “Chel, kamu suka ya sama Rama?” “Enggak, aku hanya berteman biasa dengannya” “Kok aku lihat kamu bisa seasik itu, aku melihat kalian seperti ada rasa saling suka satu sama lain.” “Enggak aku ga ada perasaan apapun sama Rama.” Cinta masih bersikeras kalau aku dan Rama mempunyai hubungan. Dia tetap memaksaku untuk jujur.Pada saat tugas kelompok dikumpulkan guruku menyuruh untuk mempresentasikan tugas kelompokku, aku melihat wajah Cinta yang menatapku tidak enak namun aku mengabaikannya dan aku membuka dengan salam tugasku tersebut. “Assalamualaikum Wr.Wb.” “Kami dari kelompok 1 ingin mempresentasikan tentang dampak bullying”.Tidak lama kemudian kelompokku selesai presentasi. Cinta masih menatapku dengan tatapan tidak enak, lalu Cinta memuji Rama dan mengatakan bahwa dia mengaguminya, kata-kata itu membuatku iri dan cemburu. Aku melihat sikap Rama kepada Cinta, dia sedikit risih dan menjauh dari Cinta. Pada saat jam akan pulang guruku memberikan informasi bahwa bulan depan akan diadakan ujian akhir semester, dan lagi-lagi aku melihat Cinta mencari perhatian kepada Rama.Saat ulangan akhir semester dimulai, aku melihat Cinta memberi semangat kepada Rama, tetapi Rama tidak merespon apapun. Cinta sempat kecewa kepada Rama. Setiap hari cinta selalu mendekati Rama.Beberapa bulan kemudian sudah kenaikan kelas. Setiap hari Rama selalu mengirim pesan kepadaku, aku tidak memikirkan apapun bahwa Rama menyukaiku. Tapi pada saat sekolah sikap Rama membuatku baper. Temannya Rama selalu bilang bahwa Rama menyukaiku tetapi aku selalu mengabaikan kata-kata itu. Setiap hari aku dan Rama semakin dekat, pada jam istirahat Rama selalu mengajakku ke kantin dan jika aku tidak membawa minum aku selalu dibelikan minuman oleh Rama.Tiba-tiba Rama menyatakan cintanya kepadaku, aku sempat kaget dan menanyakan itu serius atau tidak, dan Rama mengatakan bahwa dia serius. Akhirnya aku menerima cintanya. Ternyata di sekolah berita itu sudah tersebar luas, Cinta mengetahui itu dan dia menjauhiku.Setiap hari Rama selalu memberikan kabar padaku akan hal itu, aku tidak ada pikiran jelek apapun padanya. Keesokan harinya tiba tiba aku diberitahu teman dekatku bahwa Rama sudah mempunyai pacar sebelum ia menyatakan cintanya padaku, aku sempat kaget dan tidak percaya.Akhir akhir ini sikap Rama berubah, dia menjadi cuek. Tiba tiba Rama mengirim pesan padaku bahwa ingin menyelesaikan hubungan ini. Akhirnya aku tau dia sudah mempunyai pacar sebelum denganku, aku mengetahui itu saat Rama membuat status WA pacarnya. Tiba tiba temanku mengatakan bahwa yang di SW Rama adalah Nia, pacarnya Rama.

Jarak dan Waktu
Teen
25 Nov 2025

Jarak dan Waktu

Ada seorang wanita cantik yang bernama Alena. Alena sekarang duduk di bangku kelas 8 SMP. Dia juga memiliki sahabat yang bernama Dara mereka berdua adalah anak osis. Alena dan Dara selalalu bersama-sama.Suatu hari ada perkumpulan osis untuk membicarakan tentang kegiatan yang akan diadakan di sekolahnya. Dan Alena sedang mengagumi seseorang yang bernama Zaky dia adalah ketua sekbid 5. Dan Zaky sekarang menempati di bangku kelas 9 SMP. Zaky adalah orang yang baik, friendly, dia juga ganteng dan manis. Zaky banyak digemari dengan adik kelas ataupun teman sebayanya termasuk Alena.Pada saat rapat osis kak Zaky menyapa Alena, “hai Alena” dan alena pun menjawab “óh iya kak”, Alena pada saat itu tersipu malu, pipi alena langsung berwarna merah. Pada saat semua sudah bekumpul di ruang osis ketua osis pun memulai rapat dengan membuka salam. “Asalamuallaikum. wr. wb” “Saya mengumpulkan kalian disini untuk merapatkan tentang kegiatan yang akan diadakan di sekolah kita yaitu akan mengadakan lomba menyanyi antar kelas dan perlombaan lainya”. Dan ketua osis membagi untuk mendaftar para siswa yang ingin mengikuti perlombaan tersebut.Dan tiba-tiba Alena dan Zaky mereka berdua dipilih untuk mendaftar para siswa yang ingin mengikuti lomba tersebut. Zaky dengan cepat dan tegas menyetujui dan menyanggupi permintaan dari ketua osis, pada saat dimimta mendaftar siswa Alena dan kak Zaky semakin dekat mereka berdua menjadi sering chatingan membicarakan hal yang sedang dia kerjakan kadang juga ngobrolin hal yang gak penting.Pada hari dimana perlombaan itu dimulai kak zaky ternyata menjadi juri perlombaan tersebut. Alena semakin kagum dengan kak Zaky, ditengah perlombaan Alena melihat kak Zaky sedang kelelahan Alena berinisiatif untuk membelikan kak Zaky minuman. Alena langsung mengasih minuman itu kepada kak Zaky walaupun awalnya Alena ragu untuk memberikan minuman itu pada kak Zaky tapi Dara meyakinkan dan memaksa Alena untuk mengasih minuman itu pada Kak Zaky“Emmm haii kak nih minum dulu”. “EH Alena makasih ya,” jawab kak Zaky. “Iya kak”.Lalu kak zaky menawarkan tempat duduk disebelahnya yang kebetulan kosong untuk Alena. “Alena duduk sini aja kosong kok ini”. Alena lalu duduk dekat dengan kak Zaky, perasaaan Alena saat itu campur aduk antara senang dan malu.Tak terasa perlombaan sudah selesai dilaksanakan beberapa menit lagi waktu pulang sekolah para anak osis berkumpul dan membereskan alat dan bahan yang dikerjakan pada saat perlombaan dan akhirnya jam sudah menunjukkan waktu puolang sekolah. Dara dan Alena berjalan berdua menuju gerbang sekolah untuk pulang dan menunggu jemputan.Tak lama kemudian ternyata Dara sudah dijemput oleh kakaknya. “Eh Alena aku pulang duluan ya,” kata Dara. “Eh iya Dar,” jawab Alena.Alena menunggu jemputan ternyta sudah cukup lama dia menunggu, kak Zaky melihat Alena sedang menunggu jemputan sendirian kak Zaky menawarkan untuk mengantarkan Alena pulang. “Len pulang sama aku aja dari pada kamu sendirian”. “Emm gimana ya kak bentar aku mikir dulu,” jawab Alena. “Udah ga usah kebanyakan mikir, ayo”. Akhirnya Alena menerima tawaran dari kak Zaky untuk pulang bersama.Tak terasa Alena sudah sampai di rumah. “Makasih ya kak udah nganterin aku pulang”. “Iya len santai aja besok mau dijemput sama dianterin pulang sekalian nggak,” Alena dan kak Zaky tertawa bersama. “Nggak usah kak nantik ngerepotin”. “Ih nggak lah masak gitu aja ngerepotin”. “Eh yaudah ya aku pulang dulu “. “Iya kak makasih ya hati-hati”.Pada malam hari kak Zaky tiba tiba ngechat Alena. “Hai len”. “Eh hai kaka, ada apa kok tumben ngechat”. “Gapapa cumak mau ngobrol sama kamu,” akhirnya mereka berdua asik mengobrolkan hal yang gak penting tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00.“Kak udah jam segini ini kita gak tidur,” Tanya alena. “Eh iya kok cepet banget yah ya udah sana buruan tidur”. “Oke kak”.Beberapa bulan kemudian tak terasa akan diadakan penilaian akhir semester. Alena dan kak Zaky juga masih sering chattingan dan teleponan.Pada saat ulangan dimulai Alena dan kak Zaky saling support satu sama lain. Alena dan kak Zaky juga sering menceritakan tentang kejadian pada hari itu. Dan akhirnya ulanganpun sudah selesai dan beberapa minggu kedepan akan di adakan rapat wali murid, ternyata Alena mendapatkan peringkat tertinngi di kelasnya. Alena memberi tahu kepada kak Zaky kak Zaky ikut senang dan memberikan selamat kepada Alena. “Wah selamat ya Alena”. “Iya kak makasih ya”.Mereka berdua membicarakan tentang sekolah yang ingin dilanjutkan nanti. Kak Zaky memilih di sekolah favorit dan negeri pada saat sudah lulus dari SMP.Tak terasa beberapa bulan lagi sudah kenaikan kelas kak Zaky, kak Zaky sering menceritakan kalau dia sudah diterima di sekolah yang dia impikan. Dan tak terasa besok adalah hari yang membuat alena merasa sedih yaitu dia harus berpisah dengan kak Zaky, Alena menaiki kelas 9 SMP dan kak Zaky sekarang kelas 1 SMA. Pada saat kak Zaky menaiki kelas 1 SMA dia juga sering menceritakan harinya saat pertama kali dia di sekolah barunya. Dan Alena juga menceritakan tentang materi yang semakin pusing dan semakin banyak tugas sekolah. Kak Zaky juga sekarang lagi daftar menjadi anggota osis baru kak Zaky harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan pemberitahuan apakah dia bisa diterima atau tidak, setelah menunggu beberapa hari dia akhirnya mendapatkan informasi kalau kak Zaky diterima sebagai anggota osis baru.Sepulang sekolah kak Zaky menceritkan itu semua kepada Alena dan Alena memberi selamat kepada Kak zaky Alena juga merasa senang, dan Alena bercerita kalau dia menggajukan diri untuk menjadi ketua sekbid kak Zaky merasa senang kalau Alena dapat mengikuti jejeknya dulu.Kak Zaky semakin sibuk mengikuti acara yang diadakan di sekolahnya tapi pada saat itu kak Zaky masih sempat untuk terus mengabari Alena. Setelah sekian lama Alena dam kak Zaky tidak bertemu kak Zaky ternyata besok akan datang di sekolahnya dulu untuk mengambil ijazah dan bertemu Alena kak Zaky mengabari hal ini pada Alena, Alena sangat senang dan sudah tidak sabar untuk bertemu kak Zaky begitupun juga dengan kak Zaky.Tak terasa sudah pagi Alena tak sabar untuk bertemu kak Zaky dia menceritakan kepada Dara dan Alena menunggu ternyata tidak ada kemunculan kak Zaky jam istirahat pun sudah berbunyi Dara dan Alena segera menuju ke kantin betapa terkejutnya Alena melihat kak Zaky sedang duduk di bangku kantin kak Zaky juga melihat Alena lalu memanggil Alena untuk duduk bersamanya.Tak terasa waktu istirahat sudah habis Alena kembali ke kelas dan kak Zaky pulang ke rumah setelah mereka berdua bertemu kak Zaky dan Alena semakin jarang komuniukasi.Pada suatu hari kak Zaky tiba tiba ngechat Alena untuk mengajak ketemuan dan Alena menyetujui ajakan dari kak Zaky tapi pada saat hari dimana dia mengajak untuk ketemu malah kak Zaky membatalkan ajakanya untuk bertemu pada dirinya, Alena sempat kecewa kepada kak Zaky tapi mau gimana lagi dia harus mengalah dan mengerti kondisi dan acara yang diadakan di sekolahnya. Alena berusaha menghibur dirinya dengan mengajak Dara untuk keluar dan bermain bersama.Beberapa bulan ke depan hubungan Alena dengan kak Zaky semakin renggang mereka tidak pernah memberi kabar satu sama lain, ternyata pada saat Alena sedang membuka SG dia terkejut kalau kak Zaky menguploud foto dengan cewek barunya, Alena merasa sedih tapi mau bagaimana lagi dia bukan siapa-siapanya dia hanya bisa sabar dan mengikhlaskan.

Layangan Putus
Teen
25 Nov 2025

Layangan Putus

Pada suatu hari aku dan teman teman bermain layangan di sumber air di desaku. Lalu aku dan teman teman bermain layangan seperti biasa sambil menikmati pemandangan sawah dan pegunungan yang indah. Tiba tiba ada angin besar yang datang menyambar layangan temanku, lalu layangannya patah karena disambar angin yang begitu besar dan temanku kecewa karena layangannya putus.“Kamu gapapa kan layanganmu putus”, tanyaku “Iya kok ndak papa, asal jangan hubungan aku yang putus”, jawab faris “Coba mana liat?, layangannya tadi yang putus”, tanya daviq “Ini”, jawab faris “Wah udah parah nih mas kayaknya udah ga bisa terbang lagi”, jabwabku “Gapapa bisa kok ini diperbaikin lagi”, jawab faris “Ya tapi terbangnya sudah nggak stabil lagi karena udah rusak”, jawab daviq “Beli lagi aja mas”, kataku “Dimana?, aku gapunya uang”, tanya faris “Beli di padangan aja, pesen dulu yang layangan burung hantu”, kataku “Disitu aja ris, banyak juga orang yang beli di tempat itu”, jawab daviq “Aku tau tapi masalahnya uangnya ga ada”, jawab faris “Kita bantuin dehh”, kataku dan daviq “Emangnya sekarang kamu punya uang berapa?”,tanya daviq “Aku sekarang punya uang cumak 75k”, jawab faris “Emangnya kalian berdua punya uang berapa?”, tanya faris “Aku punya uang 40k mas”, kataku “Kalau aku 100k”, jawab daviq “Kalian beneran nih mau bantuin aku beli layangan baru?”, tanya faris “Iyaa beneran mas ris”, kataku dan daviq “Yaudah sekarang ayo berngkat pesen layangan yang baru, semoga cepet jadi layangannya biar bisa main bertiga lagi”, kataku “Yaudah kluarin sepeda kamu, ayo berangkat”, kata daviq Lalu aku dan teman temanku berngkat melewati hutan dan lembah, sambil merasakan angin yang sliwar sliwer di badan dan rasanya sangat sejuk sekli.Singkat cerita aku dan teman teman bingung rumahnya yang mana. “Mas dimana rumah pengerajin layangannya?”, tanyaku “Dimana daviq aku ga tau diamana alamat rumahnyaa?”, tanya faris “Itu ada orang kita tanya aja dulu”, kata daviqTerus kami bertiga bertanya dimana tempat kediaman pengerajin layangn tersebut kepada orang. Dan kebetulan sekali ada orang yang kluar dari rumah “Permisi mbak”, kata daviq “Iya, ada apa mas”, jawab mbaknya “Tau rumah pengerajin layangan di sekitar desa padangan nggak mbak?”, tanya daviq “Oh tau dek, lurus aja terus kamu belok kanan belok kiri lalu mentok”, jawab mbaknya “Iya mbak terimakasih”, jawabkuLalu aku dan teman teman mengikuti omongan mbaknya untuk menuju ke tempat itu. Dan jujur aku dan temn teman sedikit bingung oleh omongan mbaknya. Lalu alhamdulilah aku dan teman teman menemukan rumah pengerajin layangan tersebut.“Masa ini ya rumahnya?” tanyaku. “Gak tau coba diketuk aja pintunya,” jawab david. “Ini paling rumahnya, tuhhh ada layangan”, jawab faris “La iya mas, berati ini rumahnya coba ketuk aja”. JawabkuLalu mas daviq mengetuk pintu rumah pengerajin layangan tersebut. “Tok tok tok, asalamualaikum”, lalu pengerajin layangan itupun keluar “Waalaikumsalam, ada apa mas, mau beli layangan?”, jawab penjual layangan “Iya pakde”, jawab faris “Mau pesen layangan yang model apa kan model layangan itu banyak?”, tanya penjual layangan “Mau yang mana risss”, jawab david “Yang bebean aja”. Jawab ku “Yaudah iya yang itu aja pakde, tapi kapan ya pakde kira kira jadinya?”, tanya faris “Ya secepetnya mas, mumpung lagi sepi pesenan”, jawab pakde “Yaudah pakde itu aja, kabarin ya pakde kalau sudah jadi”, jawab dadiq “Iya mas siap!!!”, jawab pakdeSingkat cerita mas faris pun dichat sama pakdenya katanya layangannya udah jadi, lalu aku dan teman teman bergegas kesana ke tempat pakdenya. Singkat cerita aku dan teman teman udah sampai ke paadangan dan mengambil layangan tersebut“Jadi berapa pakde layangannya”, tanya faris “Totalnya 200k mas kualitas premiun dan bahan impor dari plastik pilihan”, jawab pakde “Ini pakde uangnya, yaudah layangnya tak bawa ya pakde”, jawab faris “Iya mas ati ati di jalan”, jawab pakde “Iya pakde monggo”, jawabku bersama faris dan daviqLalu aku dan teman teman pulang sambil melihat glagat faris yang begitu senang dan pada sore hari langsung diterbangkan, dan kita bisa bermain layangan bersam sama lagiTamat

Insecure? Bersyukur Yuk!
Teen
25 Nov 2025

Insecure? Bersyukur Yuk!

“Sekian materi pada hari ini. Kita lanjut pada pertemuan selanjutnya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Jelas dosenku, menutup perkuliahan hari ini. “Terima kasih, pak. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Balas kami bersamaan.Begitulah, rutinitasku semenjak pandemi datang. Pendidikan semua virtual. Sejujurnya aku nyaman dengan kegiatan online seperti ini Banyak perubahan yang aku rasakan semenjak kuliah online dan melakukan banyak hiburan lainnya, seperti scroll sosial media tiap hari, nonton drama korea, nonton anime, mencari kegiatan lain di luar rumah agar tidak terlalu berdiam diri di rumah saja. Semua itu untuk membuatku nyaman. Menghindari omongan orang mengenai diriku.Ketika aku sedang asik sendiri di dalam kamar, tiba-tiba Mama memanggilku. “Sheila, tolong belikan pecel lele yang di depan masjid. Mama lagi males masak. Beli 2 porsi. Sekalian untuk makan kamu juga.” Pinta Mama kepadaku. “Oalah, kirain ada apa Ma. Oke.” Jawabku kepada Mama. Setelah itu, aku langsung bersiap-siap mengganti pakaianku untuk keluar rumah, terkadang aku malas menggunakan masker apabila jaraknya dekat. Lagipula, jarak dari rumah ke masjid tidak begitu jauh, jadi kuputuskan untuk tidak menggunakan masker.Sejujurnya aku paling malas untuk ke luar rumah. Banyak hal yang terkadang membuat aku overthinking terutama mengenai hal-hal yang menyangkut kata “perempuan”. Setiap aku menyusuri jalan apalagi bila melewati segerombolan laki-laki seusiaku, pasti mereka selalu mencemoohku dengan ucapan seperti, “woahh.. badak baru keluar woe! Hahahaha…” atau apabila bertemu perempuan lain yang tidak aku kenal, pasti mereka berbisik-bisik dan terdengar seperti “Ih, dia jerawatan banget ya. Pasti gak pernah dirawat tuh wajahnya.” Dan sebagainya. bodyshaming. Ya, kata tersebutlah yang menggambarkan itu semua. Menggambarkan perilaku yang membuat psikologi seseorang terganggu dengan hanya mengucapkan satu kalimat ataupun pandangan tidak mengenakkan.Setelah membeli pecel lele titipan Mama. Aku segera pulang secepat yang kubisa. Aku sudah membiasakan diri untuk tidak menanggapi omongan orang lain ataupun pandangan orang lain terhadapku. Aku benar-benar tidak peduli. Namun, banyak hal yang aku rasakan. lelah. Ingin berteriak. Tapi? Semua beban itu hanya bisa aku pendam sendiri. Begitulah bila tinggal di Ibu kota Jakarta. Semua orang yang selalu update hal-hal yang sedang hits atau trend masa kini. Standar kecantikan dimana-mana, beauty privilege dimana hanya perempuan yang dianggap cantiklah yang bisa hidup dengan nyaman, dimana mereka mudah mendapat pekerjaan dengan wajahnya, banyak orang yang menyukainya, dan sebagainya. Sedangkan aku perempuan yang bertubuh gendut, jerawatan, tidak mengenai fashion kekinian sama sekali. Ah, sudahlah. Aku mulai overthinking. Begitulah perempuan. Selalu jadi objek menyenangkan banyak orang.Sesampai di rumah. Aku berikan titipan Mama. Kemudian, aku langsung kembali ke kamarku. Tempat paling nyaman dalam hidupku. Perlahan-lahan aku lelah dengan semua standar kecantikan. Hingga aku coba pelan-pelan selama pandemi ini merubah diriku. Aku jadi rajin olahraga, merubah pola makanku menjadi pola makan yang sehat, menonton beauty vlogger mengenal per-skincare an.Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan terlewati. Banyak perubahan pada diriku. Aku merasa lebih ringan. Wajahku sudah membaik. Dan yang paling aku tidak sangka adalah perubahan diriku yang entah ini sudah memenuhi standar kecantikan atau tidak. Namun, aku sudah tidak pernah mendengar cemoohan orang lain kepadaku.Perlahan-lahan aku mengubah diriku. Belajar fashion. Belajar make up. Semuanya kupelajari untuk mengisi kegiatan lain selain kuliah online. Aku pelan-pelan membuka instagramku yang sudah lama tidak kubuka selama aku memperbarui diriku. Aku coba meng-upload wajahku yang sudah kuhiasi make up. Tidak lupa dihiasi dengan outfit yang keren. Satu, dua foto yang kuupload ke instagram. Seketika aku tutup handphoneku. Aku tidak ingin melihat komentar dan respon teman-temanku di instagram. Aku masih terlalu takut. Padahal, seharusnya tidak harus takut. Aku sudah jadi orang yang baru. Beratku juga sudah turun dari 60 kg menjadi 50 kg. Semua itu butuh perjuangan. Butuh uang untuk mengubahnya. Untuk uang sendiri pun, aku mengumpulkannya dari pekerjaan paruh waktuku yaitu mengajar privat matematika. Alhamdulillah, ada pemasukan. Apabila tidak, mungkin semua ini tidak berhasil.Aku benar-benar merasa terlahir kembali. Benar-benar merasakan hal-hal baik dalam diriku. Apabila teman Mama datang ke rumah. Mereka terkejut melihat perubahanku. Mereka mengatakan bahwa “Wah, ini beneran Sheila? Cantik sekali ya sekarang.”, “Wah, kamu kurusan ya sekarang. Cantik deh.” atau “Mau jadi menantu tante?” sampai ada yang mengatakan hal itu. Aku saja tidak pernah menyangka akan merasakan semua itu. Tetapi, entah kenapa aku jadi tidak cepat puas dengan apa yang sudah aku dapatkan. Aku menjadi lebih perfeksionis. Aku jadi lebih intens melihat diriku. Tumbuh jerawat satu saja aku panik setengah mati. Langsung searching cara menghilangkan jerawat dengan cepat tanpa menimbulkan bekasnya. Panik. Panik hanya karena ada omongan orang yang mengatakan, “Kok bekas jerawat kamu item gitu sih, Sheil?” atau “Kok jerawatan?” dan sebagainya. Hal-hal yang sebetulnya sepele. Namun, bagiku itu hal yang menyebalkan. Sangat menyebalkan.Tring.. tring.. tring.. bunyi notifikasi handphoneku. banyak like dan komentar pada postinganku. Kebanyakan memberikan komentar, “MasyaAllah, cantik banget Sheila.”, “Gak nyangka ini kamu, cantik banget Sheil. Kukira model Shopee.” Atau ada juga yang bertanya “Kamu diet? Hahahah..” atau “kok bisa?” yang terkadang ada terdengar seperti sebuah ketidaksukaan mereka terhadap perubahanku. Entahlah. Semuanya membuatku tetap merasa kurang. Semua yang telah aku lakukan terasa harus mengikuti semua standar kecantikan yang telah dibuat oleh masyarakat. Begitulah, perempuan memang selalu menjadi objek paling menyenangkan, kan?Apalagi bila dikaitkan dengan pendidikan. Perempuan pernah dianggap tidak perlu meraih pendidikan tinggi-tinggi, katanya nanti ujungnya juga ke dapur. Atau perkataan bahwa “jangan pinter-pinter jadi perempuan. Nanti susah dapat jodoh.” Semua stigma masyarakat yang mendominasi pikiranku lah yang membuat aku belajar memahami bagaimana menanggapi semua itu. Dari mulai perubahanku. Mulai memperbaiki pola pikirku. Mulai open minded lebih membuka pikiranku bahwa aku berubah bukan ingin mengikuti semua standar yang diberikan oleh masyarakat. Tetapi, aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin hidup lebih sehat, lebih teratur dan tidak ingin mendengarkan hal-hal sepele lainnya mengenai diriku.Aku yang masih selalu ambisius mengenai nilaiku. Pendidikanku yang tetap aku jadikan hal nomor satu. Rasanya aku ingin mematahkan semua stigma tersebut. Kalau perempuan boleh sukses. Perempuan boleh meraih apa yang dia inginkan. Perempuan bebas. Perempuan boleh jadi terdepan. Perempuan boleh meraih pendidikan tinggi-tinggi. Semua itu menghiasi pikiranku sekarang.Sheila yang sekarang sudah berubah. Sheila sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Semuanya dimulai dan diakhiri dengan perjuangan, asam, manis, pahit. Semua kurasakan. Melewati semua stigma masyarakat. Aku bisa sukses. Sukses dengan caraku.“Sheila Salsabila Putri, coba jelaskan materi yang telah bapak sampaikan.” Ucap dosenku menyadarkanku bahwa aku melamun. Aku terkejut. Ternyata aku hanya berkhayal. “Ah.. Eh.. Baik, pak. Saya Sheila Salsabila Putri akan menjelaskan mengenai materi hari ini…” jelasku panjang lebar. Untung saja aku sudah mempelajari materi ini sebelumnya. Jadi ketika kelas zoom tadi aku tidak begitu terlihat bingung sekali. Haduh.. karena gak fokus tadi tuh, membuat aku jadi dipanggil dosenku. Benar-benar memalukan.“Sheila.. Sheila…” panggil Mamaku dari luar kamar. Aku segera menghampiri Mamaku. “Iya, Ma?” kataku di depan Mamaku. “Tolong jaga adikmu di rumah, ya. Mama dan Papa mau ada acara di Bogor. Jadi adik kamu ditinggal saja. Masih pandemi gini soalnya. Mending dia di rumah. Jangan berantem ya. Jangan lupa, makanan udah Mama masakin, kalian tinggal makan aja. Oke. Mama sama Papa pergi dulu. Assalamualaikum.” Jelas Mamaku yang diiringi anggukan kepalaku. Tak lupa aku mencium tangan Mamaku dan berkata, “Hati-hati, ya Ma, Pa. Kalau sudah sampai. Kabarin, Sheila. Oke.” “Oke, Sheila.”Mobil yang dinaiki kedua orangtuaku sudah melaju dengan cepat. Adikku yang masih tertidur adalah kesempatanku merapihkan rumahku yang berantakan karena ulah adikku yang masih berusia 3 tahun. Begitulah bila memiliki adik kecil. Ada senangnya. Ada repotnya.Setelah semuanya kurapihkan. Adikku terbangun. Aku masih menunggu adikku sepenuhnya sadar dari bangunnya agar ia bisa langsung dimandikan, kemudian makan. Semuanya selesai. Adikku juga tidak rewel. Kami bermain bersama. Menikmati kebagiaan singkat. Tertawa bersama dengan hal-hal kecil. Senang rasanya melihat anak kecil tertawa. Enak ya, jadi anak kecil. Mereka hidup tanpa adanya beban dalam hidupnya. Bisa tertawa lepas dengan nyaman. Tanpa paham bahwa hidup di dunia ini benar-benar tidak semenyenangkan kelihatannya. Menakutkan. Tapi harus dilalui dengan lapang dada. Aku yang baru masuk fase pendewasaan. Usiaku yang genap 20 tahun. Merasa bahwa hidup ini bisa terlihat menyenangkan apabila rasa cinta kita kepada diri sendiri besar. Self love itu penting. Diri sendiri adalah teman terbaik dalam hidupmu. Dia yang menjadi penyelamat pertama dirimu ketika kamu berada di titik terendah.Benar kata salah satu influencer favoritku yang mengatakan bahwa, “Cintai diri kamu dulu. Baru orang lain.”, “Kamu gak akan paham artinya bahagia apabila kamu gak bisa mencintai diri kamu. Karena kebahagiaan itu sumbernya bukan dari orang lain saja. Sumber utama ya diri kamu. Gimana kamu memperlakukan diri kamu sebaik mungkin. Setelah kamu paham akan diri kamu. Kamu udah cintai diri kamu. Kamu akan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana kebahagiaan kamu ya tidak tergantung orang lain.” semua perkataan itu menjadi motivasi dalam hidupku. Stigma masyarakat mengenai pendidikan, perempuan semuanya seketika hilang. Membuatku perlahan belajar percaya diri. Terima kasih diriku. Terima kasih kamu sudah kuat sampai di sini. Dan untuk semua perempuan di luar sana, kamu kuat lebih dari apa yang kamu kira.

Detektif SMA Keira dan Hantu Aula
Teen
25 Nov 2025

Detektif SMA Keira dan Hantu Aula

Setelah membantu latihan ekskul drama, kami bersenang-senang di Aula. diriku, Keira, Kurua, Asep dan salah satu teman terdekat kami Raden Ajeng Kurniawati. Kami memanggilnya Ajeng. menggunakan aula yang kosong untuk membuat video parody mr. Bean dan juga bohemian rhapsody nya Queen. Setelah mematikan semua lampu kami pergi menuju lorong untuk pergi ke lift.“Ini gue aja apa kelihatannya lebih gelap ya?” Rak bertanya sambil melihat sekitar. “Lo aja kali, ya kali masa tiba-tiba lebih gelap” Kurua mengatakannya sambil melihat HandphonenyaKami menunggu lift untuk kebawah, Aula kami berada di lantai 6 bersamaan dengan tempat olahraga, karena ini gedung baru. Kami berlima memasuki lift dengan santainya. Ketika sedang menuruni lantai tiba-tiba liftnya berhenti dan berguncang. Diriku berteriak dan langsung pergi menuju pelukan Keira. Dia memelukku sambil mengusap kepalaku. “Tenang aja, paling cuman mati lampu”.Ajeng dan Asep membuka senter pada handphone mereka. “Sepertinya kita terjebak di sini?” kata Asep terhadap Kurua dengan wajah yang seperti menakuti. Ajeng melanjutkan “si Aula mungkin yang berbuat ini, hihihihi” “Ih apaan si, itu kan cerita lama” Kurua memutar matanya. “Aula?” diriku bertanya “Oh iya, kalian anak baru sih ya?” Ajeng melirik ke diriku dan KeiraAjeng kemudian menjelaskan padaku bahwa dahulu ketika sebuah pentas ada seorang anak yang menggantung diri di aula lama di gedung lama, tentunya. Kemudian ia menjelaskan seberapa banyak kejadian mistis di lantai dua. Karena gedung baru dana lama terhubung dengan lantai satu dan basement dan lantai dua dengan jembatan yang sekarang menjadi lorong penghubung. Ajeng juga menjelaskan makanya mengapa lift ini yang berhadapan langsung dengan lorong tersebut suka berhenti pas di lorong tersebut. Karena setelah lorongnya berakhir di sebelah kirinya merupakan pintu aula.Setelah penjelasan tersebut kita saling melihat satu sama lain dan tertawa. Kemudian tiba-tiba ada jari-jari yang keluar dari belakang Ajeng membuka pintu lift kami semua berteriak dan saling memeluk “HANTU!!” “Hey.. kalian masih di sini?” ternyata pak satpam Kamto “Eh… mas kamto” kata Asep “Dasar kalian para Gaming club masih belum pulang juga? Ini kan bukan hari Jumat?” ia bertanya “Oh gak tadi kita latihan pentas kok mas” kata Kurua “Ya sudah sana pulang”Kami segera pergi dari lift dan menuju ke lobby. Kami berpisah di situ dengan yang lainnya, Ajeng dijemput oleh supirnya sedangkan Asep dan Kurua mengemudikan motor masing-masing. Diriku yang masih memegang tangan Keira mengatakan “untung saja ada Keira ya haha gue jadi gak.. Takut”. Ku melirik Keira dan merasakan tangannya bergetar. Tiba-tiba memeluk diriku sambil merengek. “Kyl, Takut gua huhuhu” diriku hanya mengusap kepalanya dan berkata “cup cups, Keira Detektif yang pemberani kok. Nanti kita makan Bento Makanlah ya” Keira mengangguk menjawab iya.Setelah makan malam Keira mengantarkanku menuju rumah, setelah mengucapkan perpisahan, diriku disambut oleh Ibuku. “Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” ibuku menjawab sambil duduk di sofa ruang tengahSaat ku berjalan menuju kamar ibuku memanggilku untuk duduk dulu di ruang tengah. “Ada apa bu?” ku bertanya Ia menunjukan foto dari kamera instan yang kupunya. Foto diriku mencium pipi Keira. “Ini siapa?” “Temen doang kok bu..” “Beneran..?” “Iya… ih..” diriku berdiri dan mengambil fotonya “lagian ngapain si ibu sama foto kyln, ibu nguber foto Kyln ya?” “Serah ibu dong, kamu kan anak ibu, kalo kamu masih mau tinggal di rumah ini kamu harus nurut ama peraturan ibu” dia memindahkan tatapannya dari Televisi ke diriku. Aku hanya bisa menggerutu marah pergi menuju kamarku. Ibuku berteriak, “aku belum memperlihatkan ini kepada ayahmu”Diriku hanya melompat dan memeluk gulingku sambil memegang erat foto tersebut. Tetesan air mata tidak bisa terbendung saat itu. Tiba-tiba terdapat bisikan di kepalaku, “Gantung.. Gantung.. Gantung dirimu”. Kemudian tiba-tiba handphoneku berdering,“Oh Keira? Kenapa? Hah?! Masa masih takut si haha” Dan cerita hari itu pun berakhir, sampai jumpa di cerita berikutnya. Tertanda Kyln

Miss Populer
Teen
25 Nov 2025

Miss Populer

Menjadi siswi terpopuler di sekolah adalah impian wajar setiap gadis, siapa sih yang nggak mau jadi artis di hati setiap penghuni sekolah? Tentunya, popular dalam hal positif ya seperti siswi tercantik di sekolah. Ya.. itulah cita-citaku, untuk meraih cita-citaku aku rela merogoh saku lebih dalam untuk perawatan wajah setiap minggu, selalu membeli majalah supaya tidak ketinggalan model pakaian dan tidak hanya itu aku juga mengikuti ekskul koreografi supaya makin lengkap deh kategori cewek cantik nan modis yang nempel di diriku.“Met pagi Amira cantikku” ucap Brian di suatu pagi. Brian adalah cowokku, si ganteng yang tajir melintir. Coba banyangin, setiap hari dia berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor mewah seharga 1 unit mobil CR-V dan barang-barang yang digunakan Brian itu selalu barang branded. Jadi, wajarlah kalau aku jatuh kepelukannya. “Pagi Sayang, kamu udah lamaan nyampenya?” tanyaku “Enggak kok barusan aja aku nyampenya. Tadi kulihat kamu lagi sendirian di koridor, jadi ya aku samperin. Oh iya, kamu kok datang pagi banget apa dapat giliran piket?” Tanya Brian “Iya nih yang, tuh lihat tanganku sampai kotor begini gara-gara nyapu kelas” ucapku sambil menyodorkan kedua tanganku pada Brian. “Gak apa kok yang, kan bisa dicuci nanti. Oh iya, nyapunya udah selesai belum?” Tanya Brian “Udahan kok” jawabku “Kita duduk di sana yuk” ajak BrianSeperti pagi-pagi sebelumnya, Brian selalu mengajakku mojok dulu sebelum masuk kelas. Ya .. harap maklum sih kami kan beda kelas. Di saat kami tengah menikmati indahnya kebersamaan tiba-tiba ada bola basket yang hampir saja mengenai kepalaku, untungnya aku bisa menghindar jadi kena tembok. Tapi di depan Brian aku harus manja dong.“Aaah.. aduh siapa sih yang pagi-pagi udah gangguin aku?!” ucapku jengkel-jengkel manja “Kamu nggak apa-apa sayang?” Tanya Brian sambil memegang wajahku yang cantik “Enggak apa kok sayang cuman kaget aja, tapi tadi itu bener-bener ngagetin lo” ucapku manja “Udah.. yang penting kamu tidak apa-apa yang” ucap Brian sambil mengelus wajahku.Beberapa saat kemudian datanglah seorang cowok tampan berwajah seperti peranakan Arab mencari bola. “Permisi, bolaku kelempar ke sini nggak? Maaf ya kalau ngenai kalian” ucap cowok tampan itu dengan tenangnya. “Oh.. jadi ini bolamu. Heh, kira-kira donk kalau main basket. Bisa main nggak sih? Kok bisa-bisanya bolanya kelempar sampai sini?!” makiku “Udahlah yang, mas ini jangan dimarahin gitu toh bolanya kelempar di sebelahmu kan. Maaf ya mas, dia cuman kaget aja tadi” ucap Brian “Waww, baru kaget saja sudah memaki-maki begini apalagi kalau kena ya? Caper amat sih!” celetuk cowok tampan itu. Cowok tampan itu kembali ke lapangan sambil membawa bola basketnya dan akupun masih tertegun dibuatnya. Kok bisa-bisanya sih, dia memaki cewek popular sepertiku? Apa dia nggak tahu siapa aku?“Kamu kenapa? Masih dongkol sama cowok itu?” Tanya Brian “Iyalah yang, siapa sih dia itu? Berani-beraninya memarahi cewek popular seperti aku?” ucapku “Udahlah yang, lagian kamu tadi nggak terluka kok marahin dia begitu ya wajarlah kalau dia balik marahin kamu. Udah ah, yuk masuk ke kelas 5 menit lagi bel masuk lo” ajak BrianWaktu istirahatpun tiba, seperti biasa sebagai cewek popular di sekolah sebelum aku pergi ke kantin terlebih dulu kulap dulu wajahku dengan puff bedak. Ya.. namanya juga cewek popular pastilah tak pernah ketinggalan bedak, sisir dan kaca dong. Tujuanku sih, supaya aku tetap jaga penampilan dan yang penting aku tu sejajar sama Brian, si cowok yang tajir melintir.Sesampai di kantin jelaslah semua mata tertuju padaku, tentu itu semua karena kecantikan wajahku dan kemolekan bodyku. “Mir, nanti sepulang sekolah latihan koreo ya” ucap Maria, gadis berambut ikal salah satu anggota koreografi. “Kok mendadak amat Mar? Kan biasanya hari Kamis, ini kok tumben-tumbenan hari selasa?” tanyaku dengan gaya centilku yang khas. “Iya, kan buat acara pensi minggu depan. Hari ini kan hari terakhir Ujian Semester, jadi minggu depan udah ada acara pensi-pensi gitu” tukas Maria “Oke deh Mar, ntar aku hadir kok” jawabku “Oke” jawab Maria meninggalkanku membiarkanku menikmati roti bakar keju yang telah kupesan tadi.Di saat aku tengah menikmati enaknya roti bakar, aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikanku, dengan segera aku mendongak menatap mata yang telah lancing memperhatikanku dan ternyata.. dia adalah cowok tampan yang tadi pagi kumaki-maki. Ganteng sih tapi dia itu nggak modis banget. Dandanannya itu loh membuatku enek litanya, jauh banget dari styleku tapi temannya banyak dan yang lebih anehnya lagi semua temannya itu segan banget ke dia. Emang ada apanya sih dia? Tapi aku udah siapin seluruh gaya dan kata-kataku kalau dia sampai berani nyamperin aku ke sini.“Hai Zul! Udah dari tadi?” ucap seorang cowok yang nggak terlalu keren bagiku “Iya.. lumayan lah. Oh iya, kamu mau pesan apa?” Tanya cowok ganteng itu “Seperti biasa mie ayam. Heheh” ucap teman cowok ganteng itu “Dasar pecinta mie ayam. Heheh” kelakar cowok tampan itu. Kemudian cowok yang nggak terlalu keren itu memesan mie ayam dan tiba-tiba ada beberapa cowok yang nyamperin tu cowok ganteng. Akupun berusaha menenangkan diriku dengan berpura-pura main HP. Kukira beberapa menit lagi dia akan datang padaku tapi ternyata sampai bel istirahat usai dia sama sekali nggak nyamperin aku. Hihh gemes banget kan jadinya. Siapa sih dia itu? Apa nggak ngerasa ada cewek popular di depan mata? Awas kau, aku akan membalas kelakuanmu.Pagi ini giliran teamku ngedance di acara pensi, sebagai cewek popular di sekolah aku sudah mempersiapkan diriku sejak kemarin sore karena aku ingin semua mata tertuju padaku. Giliran timkupun tiba, aku dengan sekuat tenaga mempertunjukkan skillku dalam hal ngedance. Gemulai, kekompakan dan juga keseimbanganku secara totalitas kutunjukkan semua dan hasilnya aku mendapat tepukan tangan yang meriuh. Huhh.. puas banget rasanya.Seusai ngedance, aku ke kantin untuk menghilangkan rasa haus dan lapar tentunya dengan seluruh anggota timku. Setibaku di kantin, aku melihat cowok ganteng itu. otakkupun otomatis berfikir keras untuk mempermalukannya di hadapan seluruh siswa yang ada di kantin. Saat itu kulihat dia sedang memesan sebuah makanan, akupun dengan cepat menyandingnya. “Eh minggir! Cowok rendahan seperti kamu nggak layak ada di sini!” ucapku “Siapa kamu beraninya melarangku? Ini sekolah milik nenek moyangmu?” jawabnya dengan mata berkilat-kilat. “Ya.. bukan sih cuman aku tu mau bilang aja kalau anak orang miskin seperti kamu itu nggak pantes sekolah di sini” ucapku “Aku memang miskin belum bisa beli apapun karena selama ini apa yang aku miliki adalah pemberian dari orangtuaku tapi aku rasa yang rendahan itu bukan aku tapi kamu. Bagaimana bisa kedua orangtuamu membiarkanmu jadi cewek yang sok kaya dan pembohong, sudah gitu nggak punya akhlak lagi. Kamu boleh menghinaku tapi jangan orangtuaku, dengar anak kaya abal-abal!” ucap cowok ganteng itu. “Apa maksudmu bilang aku anak kaya abal-abal? Aku tuh kaya beneran ya” ucapku “Oh iya? Kalau kau memang benar-benar anak orang kaya lalu mengapa kau mengaku rumahku adalah rumahmu?” ucap cowok ganteng itu dengan matanya yang masih berkilat-kilat.“Iya Mir, apa yang dikatakan Izul benar. Aku nggak nyangka Mir, kamu bisa berbuat seperti itu. Padahal, andai kamu jujur aku tetep mau kok jadi pacar kamu” ucap Brian tiba-tiba. “Apa maksud kalian? Aku nggak ngerti sama sekali” ucapku bingungBeberapa hari yang lalu “Daripada nggak ngapa-ngapain mending aku ke rumah Amira ah” gumam Brian. Kemudian Brian pergi ke perumahan Cempaka Putih no. 52B dengan mengendarai motor mewahnya. Jarak perumahan Brian dengan Perumahan Cempaka Putih memang dekat, jadi sebentar saja sudah datang. “Selamat siang, pak apakah saya bisa bertemu dengan Amira?” Tanya Brian pada pak Satpam “Amira? Amira siapa ya Mas. Di sini nggak ada yang namanya Amira” tukas pak Satpam “Loh masa sih pak? Dia itu cewek saya, dia sekolah di SMAN 1 Batu” ucap Brian “Sebentar.. sebentar, SMA 1 Batu? Apa temannya mas Izul? Tunggu sebentar ya” ucap pak Satpam. Akupun setia menunggu di situ dengan penasaran sambil bingung. Sejak dulu jadian sama Amira, aku selalu nganter Amira pulang ke rumah ini.Di tengah-tengah kebingunganku, kulihat cowok tampan pebasket itu berjalan keluar dari rumah mewah itu. “Ini mas, orang yang saya ceritakan tadi” ucap pak satpam “Loh kamu?” ucap Izul kaget “Kok kamu ada di sini?” Tanya Brian semakin bingung “Pak, dia adalah teman saya. Tolong bukakan gerbangnya ya” ucap Izul dengan tenangnya. Kemudian Izul dengan tenang mempersilahkanku masuk. Akupun memarkir sepeda motorku di halaman rumahnya yang megah.“Silahkan duduk dulu, sebentar ya” ucap Izul mempersilahkanku duduk di beranda rumahnya yang sejuk nan mewah. Aku semakin bingung kok ada Izul di rumah megah ini, kalau memang benar Amira adalah saudara Izul maka tidak mungkin Amira memaki Izul seperti itu.Beberapa menit kemudian Izul kembali dengan membawa segelas jeruk hangat dan setoples camilan. “Silahkan dinikmati” ucap Izul “Iya terimakasih, tapi Amiranya mana?” tanyaku “Kamu cowoknya dancer itu?” Tanya Izul “Iya betul aku cowoknya. Oh iya kenalin aku Brian” ucapku sambil mengulurkan tangan “Aku Izul” ucap Izul sambil membalas uluran tanganku.“Kamu bicara dengan siapa Zul?” ucap seorang pria paruh baya dari dalam rumah “Ini Brian Pi, temanku sekolah” ucap Izul “Ooh nak Brian” ucap Pak Hendrik. Brianpun semakin kaget melihat papinya Izul. “Om, apa kabar?” ucap Brian sambil mencium tangan pak Hendrik “Kabar Om baik. Nak Brian rumahnya dimana?” Tanya pak Hendrik “Di PErumahan Mutiara Indah Om” jawab Brian “Dekat ya. ya sudah kalian lanjutin saja ngobrolnya” ucap Pak Hendrik“Loh Zul, kamu itu anaknya advokat ternama ya?” Tanya Brian heran “Iya Bri, papiku memang Advokat ternama mankanya aku tuh selalu menyembunyikan identitasku. Kalau ada masalah di sekolah seperti ambil Rapor, rapat dll itu pasti mamaku yang datang. Kemudian kalau ada blangko data siswa pasti profesi papiku tak tulis wiraswasta bukan advokat dan mamaku PNS. “Mamamu PNS dimana Zul?” Tanya Brian “Beliau guru SD Bri. Oh iya, kok kamu nyari Amira ke sini?” ucap Izul “Jadi gini Zul, aku tuh tadi di rumah nggak ngapa-ngapain jadi aku mau ngapelin Amira gitu dan setiap kali aku nganter dia pulang sekolah ya ke rumah ini” ucap Brian “Masak? Kok nggak ketemu aku? Hahaha berarti dia pembohong dong. Ini rumahku Brian bukan Amira” tukas Izul “Kok Amira gitu sih Zul” tanyaku bingung “Udah nggak usah bingung. Gimana kalau besok kamu tetep nganterin Amira seperti biasa, ntar kita diam-diam ngikutin Amira pulang ke rumah yang sebenarnya” ucap Izul “Oke deh Zul” ucap Brian“Dan kami diam-diam ngikutin kamu pulang ke rumahmu yang sebenarnya ternyata kamu anaknya pak Untung tukang sapu taman kota itu kan?!” ucap Izul Kalimat itu laksana petir di siang bolong bagiku, tanpa permisi air mataku jatuh terurai oleh kalimat 2 cowok itu. Aku benar-benar tak tahan dengan perlakuan mereka, aku ..aku menangis sejadi-jadinya.“Mengangislah Mir, menangislah karena kebohonganmu sendiri dan ingat Mir aku tidak mau mempunyai pacar tukang bohong sepertimu” ucap Brian sebelum berlalu meninggalkanku. Oh tidaaakk! Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah peribahasa yang pantas untukku. Sudah dipermalukan diputusin pula.

Perjalanan Hidup Seorang Gadis
Teen
25 Nov 2025

Perjalanan Hidup Seorang Gadis

Suatu hari ada seorang anak yang baru lulus dari sekolah dasar, anak itu bernama Michael, kemudian dia disekolahkan di sebuah kota karena ibunya tidak mampu membiayainya kebetulan juga ibunya punya kenalan di sebuah panti asuhan, maka ia menitipkan Michael di tempat itu.Tapi menjelang beberapa tahun Michael mulai tidak betah karena di panti asuhan itu pengasuhnya menjadikan anak-anak panti asuhan sebagai pembantunya termasuk Michael, Michael pun mulai resah tapi dia menunggu sampai bangku SMK agar bisa keluar dari panti asuhan karena sekolahnya juga tidak ditanggung sama pengurus panti asuhan, setelah Michael mulai masuk SMK dia sudah merencanakan sebuah ide untuk keluar dari panti itu.Setelah beberapa minggu kemudian dia minta izin keluar. Tetapi pengurusnya melarangnya dan berkata “kamu jangan keluar, kamu tau kan anak-anak di sini sudah semakin kurang! kenapa mau pindah?” Michael pun berkata “saya mau pindah ke panti asuhan yang lain karena ada yang dekat sama sekolah SMK saya”.Setelah beberapa lama di bujuk akhirnya Michael diizinkan keluar dan pindah ke panti asuhan itu yang dia maksud, tetapi setelah baru beberapa hari Michael tidak betah di panti asuhan itu karena peraturannya sangat banyak makanya dia memutuskan untuk pindah lagi ke kost kakaknya, Michael pun meminta izin keluar lagi dan beralasan bahwa kakaknya memanggilnya untuk membuat sebuah usaha kecil dia pun diizinkan.Setelah Michael pindah ke kost kakaknya dia pun mulai agak tenang tetapi suatu ketika temannya memanggilnya ke pantai, Michael pun ikut tetapi sewaktu di sana teman-temannya main dorong-dorong ehk, hp Michael tercelup air laut dan rusak, Michael mulai kesal akibat keegoisan temannya dia selalu jadi korban dari setiap masalah semenjak saat itu Michael tidak pernah lagi ikut jika dipanggil oleh temannya.

Blythe
Teen
25 Nov 2025

Blythe

Ruangan 4×3 bercat hijau lumut diterangi lampu pijar membuat ruangan tersebut semakin suram. Ruangan itu adalah gudang sekolah khusus untuk meletakkan beberapa perlengkapan sekolah yang tidak terpakai lagi, beberapa dokumen lama pun tersusun sembarang di sana. Gudang ini terkadang dipakai siswa untuk melakukan pelanggaran peraturan sekolah.Tepat di waktu istirahat kedua, gudang ini ternyata sedang dihuni sementara. Ada empat orang siswa laki-laki berdiri di hadapan satu siswa perempuan.Byurrr Air berperisa jeruk mengalir tanpa halangan di kepala gadis itu. Siswa laki-laki berbadan gempal dengan rambut keriting itu yang menyiramnya, ia tertawa tanpa berdosa sembari menyenggol lengan teman-temannya yang ikut tertawa.“Gadis miskin modal kasihan kepala sekolah saja berani melapor ke guru kedisiplinan tentang kami, hebat sekali kau ini.” Pemuda bertubuh gempal itu berkata mengejek. “Ia kira kepala sekolah akan membelanya, kamu itu tidak lebih sekadar benalu baginya. Jelaslah kepala sekolah membela kami, kuasa orangtua kami lebih kuat daripada dia!” seru pemuda berambut lurus bermata sipit di samping pemuda berbadan gempal itu.Gadis itu meringis perih saat luka akibat dorongan mereka disirami perasan air jeruk. Ia tidak mengerti, ia juga tidak merasa bersalah karena laporan itu. Saat ia merasa tidak diperlakukan adil, ia harus bertindak untuk membela dirinya sendiri.“Sudah sering sekali kamu begini, apakah kamu tidak lelah karena laporanmu tidak digubris sama sekali?” tanya pemuda di samping pemuda bermata sipit. Gadis itu menggeleng. Ia memang tidak lelah, ia tidak akan menyerah sampai keadilan itu datang pada dirinya.“A-aku tidak akan menyerah! Kalian pasti akan dihukum karena kelakuan biadab kalian ini! Aku manusia, kalian juga. Namun kelakuan tidak lebih keji daripada binatang sekalipun!” Gadis itu berseru lantang. Setelah semua penghinaan, pelecehan, serta penyiksaan yang dilakukan mereka, ia tidak takut dan tidak akan takut.“Oh, tegar sekali gadis satu ini.” Pemuda berjaket hitam yang sedari tadi diam saja mulai beranjak mendekati gadis itu. Ia menjambak kuat rambut gadis itu dan berbisik tidak pelan. “Hei, daripada tidak mendapat keadilan, lebih baik mati saja? Bukankah itu solusi paling baik? Aku tahu kau pasti tidak kuat menerima siksaan ini, aku tahu jelas. Jadi, mati saja. Ayo, aku dukung.”Gadis itu memicing tajam. Ia ingin sekali mencakar wajah mereka satu per satu. Terutama pemuda yang menjambaknya ini. Setelah kepalanya disentakkan dengan keras ke dinding, ia ditinggalkan sendiri di gudang, gadis itu menangis karena tindakan mereka yang begitu kejam.—Gadis bernama Blythe itu berdiri di pinggir jembatan. Jembatan yang menghubungkan hulu dan hilir yang dipisahkan oleh sungai terpanjang nomor dua di Indonesia. Jembatan merah yang sangat bersejarah bagi masyarakat kota itu.Blythe menghirup napas dalam-dalam. Malam hampir datang, ia belum pulang ke rumah. Rutinitasnya ialah berdiri di Jembatan Ampera dari pulang sekolah sampai menjelang malam. Ia melepas penat sambil menatap langit serta Sungai Musi bergantian. Terik matahari bukan halangan untuknya menikmati itu semua.Ia selalu berpikir mengenai namanya. Blythe. Satu nama itu saja yang diberikan oleh orangtuanya. Blythe berarti kebebasan dan kebahagiaan yang tidak dibatasi. Nama dan arti yang rupawan. Sayangnya hidupnya sangat jauh dari arti namanya.Bebas. Rasanya sudah begitu lama kebebasan menghilang dari dirinya. Menjadi anak yang tinggal bersama paman tirinya bukanlah sesuatu kebebasan. Hidupnya terkekang.Bahagia. Lucu sekali, bahkan saat lahir pun kebahagiaan tidak pernah ada dalam hidupnya. Orangtuanya meninggal tepat di hari ketujuh ia dilahirkan. Blythe dititipkan kepada paman tirinya dan dijadikan budak oleh mereka. Kepala sekolah teladan bagi mereka bukanlah paman yang baik bagi Blythe.Blythe mengusap air mata yang mengalir tanpa aba-aba ke pipinya. Ia menatap lama Sungai Musi di bawah. Air yang tenang itu seakan mengajak Blythe untuk menikmati ketenangan juga. Blythe seperti terhipnotis. Ia sudah bersiap menaiki pagar pembatas Jembatan Ampera. Blythe ingin menikmati ketenangan, kebebasan, dan kebahagiaan itu. Blythe ingin terbebas dari semua penderitaan dunia ini.“Jangan!” Seseorang berlari kencang berupaya menghentikan niat gadis itu. “Apa yang kaulakukan? Ini berbahaya!” Seru orang itu, ia memegang tangan Blythe untuk mencegah gadis itu menaiki pagar pembatas jembatan.“Kau siapa?” tanya Blythe heran. “Aku Efran. Bisakah kauturun dulu? Jangan melakukan sesuatu seperti ini.” Blythe mengurungkan niatnya. Ia menurunkan kakinya dan berdiri dengan baik di hadapan Efran.“Dengarkan aku. Hidupmu memang menderita. Lebih baik mati daripada hidup seperti ini bukan? Adakah yang mengatakan itu padamu?” tanya Efran. Blythe diam. Tidak berniat menjawab. Ia terpikirkan perkataan pemuda berjaket hitam yang menyiksanya di gudang sekolah tadi. Blythe disuruh mati agar tidak menderita. Itu adalah saran yang bagus.“Sungguh. Menderita saja hidup mereka yang mengatakan itu padamu. Kau harus hidup. Tidak peduli semenderita apa hidupmu. Kau harus hidup. Bukan untuk orang lain tetapi untuk dirimu sendiri. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Ayo, aku mendukungmu.”Ayo, aku mendukungmu.Blythe menangis. Ada yang mendukungnya untuk mati. Ada pula yang mendukungnya untuk hidup. Ia hanya tidak ingin menderita bukan berarti ia harus mati. Namun saat hidup ia selalu menderita.“Siapa namamu?” Blythe menunjuk tanda nama di sakunya. Efran mengangguk mengerti, “Blythe. Kebebasan dan kebahagiaan. Nama yang bagus. Kau harus mewujudkan arti namamu itu sebelum mati.” Blythe mendongak menatap Efran. Ia bingung, “Bagaimana caranya?” “Temukan bahagiamu dan jauhkan penderitaanmu. Kamu tidak harus lari, tetapi jika memang tidak bisa lagi dihadapi tidak apa menghindar dan menjauh. Keinginanmu untuk pergi itu karena kau tidak menjauh saat penderitaan itu sudah tidak bisa lagi dihadapi.”Gadis itu menangis kembali. Efran benar. Bukan lemah jika menjauh. Bukan kuat juga jika terus bertahan. Terkadang hidup juga harus berpikir sebaliknya. Blythe seharusnya menghindari penderitaan itu karena tahu sudah tidak memungkinkan lagi untuk dihadapi.“Pulanglah. Tidak baik anak perempuan sendirian malam-malam, aku akan mengantarmu.” Blythe menggeleng, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah gelang buatannya sendiri, ia memberikan itu pada Efran. “Terima kasih banyak, Efran. Semoga kita bertemu lagi di manapun itu. Aku tidak akan mati sebelum arti namaku itu terwujud. Semoga kamu bahagia juga. Terima kasih banyak sekali lagi.” Efran mengusap rambut Blythe agar gadis itu tenang. “Ya, Blythe. Semoga kamu bahagia seperti namamu. Kita bisa bertemu di mana pun jika waktu berpihak. Sampai jumpa lagi, Blythe.”Besoknya di sekolah, Blythe kembali diseret keempat pemuda jahat itu ke gudang. Blythe menahan rasa sakit itu. Ia akan melawan dan berlari menjauh.“Jangan ganggu aku lagi!” Keempat pemuda itu tertawa terbahak mendengar seruan Blythe. Gadis itu menatap tajam mereka. “Wah berani sekali Blythe lemah ini. Kenapa tidak jadi mati semalam? Habis bertemu malaikat penyelamat?” Blythe melayangkan tamparan cukup keras di pipi pemuda berjaket hitam. Semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka dengan keberanian Blythe. Keempat pemuda itu semakin mendekat dan mencoba menyiksa Blythe lebih kuat.“Jika kepala sekolah ataupun guru kedisiplinan tidak berani bertindak karena orangtua kalian. Biarlah. Aku tidak akan takut, kalian pasti akan merasakan penderitaan sepertiku bahkan lebih parah. Nikmati saja menyiksaku saat ini, sebentar lagi kalian tidak dapat berbuat ini lagi.”Sebelum keempat pemuda itu melayangkan tamparannya untuk Blythe. Beberapa polisi datang menyergap mereka. Blythe menahan napas, ia menatap keluar pintu gudang. Senyumnya terbit tatkala seseorang masuk.“Kita bertemu lagi saat waktu berpihak, Blythe. Terima kasih telah menghubungiku.” “Terima kasih banyak, Efran. Terima kasih telah datang di waktu yang tepat.”Efran mengusap rambut Blythe, seperti yang ia lakukan semalam. “Apa yang akan kaulakukan setelah ini, Blythe? Menemukan kebahagiaanmu?” “Ya, Efran. Aku akan pindah dari sekolah ini, pindah dari rumah itu dan memulai hidup baru dengan kebahagiaan. Aku tidak takut hidup sendiri, aku hanya takut dengan penderitaan ini yang terus menghantui.” “Pilihan yang tepat. Jadilah Blythe untuk hidupmu. Aku harus pergi. Semoga kita bertemu lagi saat waktu berpihak.”Blythe tersenyum. Senyum yang amat tulus. Kebebasan itu mulai datang dalam hidupnya. Ternyata, mati bukan hal tepat untuk mencari kebebasan dan kebahagiaan. Mati adalah solusi paling pengecut untuk hilang dari permasalahan.

Aku Menyukaimu
Teen
25 Nov 2025

Aku Menyukaimu

Jika kutuliskan dengan berlebihan tentang hari ini, maka, akan kutuliskan bahwa hari ini sangat sempurna, sangat luar biasa dan istimewa. Dari mata terbangun hingga mataku kembali terpejam, hanya senyum yang menghiasi wajahku.Pagi ini aku membuka mataku, bersamaan dengan mentari menyambut dengan sinar paginya yang lembut, masih dengan semburat kelembutan diiringi tiupan angin pagi yang menyegarkan. Bahkan baru kali ini aku mendengar burung berkicauan dengan ramah di pagi hari, seakan terus menyuarakan bahwa ini hari terbaik yang pernah ada.Rasanya aku kembali hidup dari kematian, membuatku ingin berteriak bahwa pagi ini sangat indah, dan lebih indah dari pagi pagiku sebelumnya.Setelah membuka jendela dan menatap ke luar kamar asrama sejenak, aku pun pergi ke kamar mandi dengan senandung riang yang tak biasa, bahkan beberapa teman asramaku menatap heran. Entah apa yang telah merasuki pagi ini, itu tentu adalah hal yang baik, bagiku.Apakah tentang sebuah kisah cinta? Emm.. Yah, bisa jadi.Sendari pagi tak henti hentinya aku memuji cuaca, keadaan, bahkan memuji penampilan teman se-asrama yang kutemui. Senyumku tak lagi bisa kutahan bahkan saat mengerjakan piket kebersihan kamar mandi asrama yang biasanya sangat kubenci. Hari ini terlalu indah untuk kujalani dengan amarah dan gerutuan.Mengikuti kelas online tambahan di akhir pekan ini pun tak membuatku kesal atau bermalas malasan, setidaknya hari ini, secara ajaib, aku tiba-tiba bisa melihat bahwa ada sisi baik dari kelas ini, ya, aku bisa melihat wajah asisten dosen yang sangat kukagumi walau hanya lewat platfom online.Hari ini berjalan terlalu sempurna untuk sebuah akhir pekan biasa yang cukup membosankan, walau aku tak merasa bosan untuk hari ini saja. Pesanan online yang tak sesuai pun entah mengapa tak membuatku kesal.“Senyam senyum kayak orang gila aja, Nda!” Tegur Jena, duduk di kursi sebelah sambil memakan es krim vanila di tangannya.Aku tak merespon, tak ada waktu untuk berdebat dengannya. Lagi pula aku sedang fokus dengan laptopku, menonton drama korea yang kutinggalkan selama sebulan terakhir. Tak ada lagi waktu untuk hari ini, matahari sudah hampir melewati titik terpanasnya dan aku harus pergi ke salon yang sudah kureservasi sejak kemarin.“aku mencintaimu~ jeng jeng jeng!” Drama bersambung.Begitupun aku yang langsung menutup laptopku rapat rapat, tak peduli pada Jena yang ternyata ikut terhanyut dan menonton drama korea yang biasanya ia anggap menye-menye dan membuat kami berdebat.Bergegas aku mengganti pakaianku dan memesan ojek online, menunggunya dengan kesabaran penuh dan berangkat.Salon kecantikan, tempat yang tak pernah kukunjungi sebelumnya kecuali hanya untuk memotong rambut, dan khusus hari ini aku datang untuk merawat diri, aku ingin melakukan sedikit perawatan untuk wajah dan rambutku, juga meriasnya sedikit.Jika Jena dan yang lain tahu aku pergi ke salon dan mengenakan dress feminin untuk hari ini, sepertinya aku sudah tahu ekspresi mereka dan bagaimana mereka akan menertawakanku. Menjadi orang baik untuk hari ini pun sudah membuat mereka tak tahan melihatku.“Sempurna!” Begitu aku melihat diriku di cermin full body di dalam salon kecantikan.Rambut panjang yang biasa kukucir kuda kubiarkan tergerai, sebuah penjepit bunga daisy kubiarkan menggantung di sisi kanan atas telinga, menahan poniku agar tak jatuh sembarangan. Sebuah dress se-lutut berwarna biru muda yang dibelikan ibuku beberapa bulan lalu saat aku berulang tahun dan belum pernah kukenakan hingga saat ini, akhirnya tiba saatnya ia menunaikan tugas, membalut tubuhku dengan indah. Sebelumnya aku tak tahu bahwa dress akan cocok untuk kukenakan, sudah banyak dress pemberian ibuku yang kujual ulang di toko online. Flat shoes dan tas selempang, oleh-oleh dari sepupuku sepulangnya ia dari Bali setahun lalu, yang tak pernah kuduga aku akan memakainya pun ikut meneriahkan suasana.Sisi yang berbeda dari seorang Ayunda Azura Wibisana pun akhirnya muncul juga!Untuk apa aku melakukan semua ini? Benar, karena sebuah janji pertemuan yang dua hari lalu kudapat dari ponselku. Orang yang kusuka beberapa bulan terakhir ini akhirnya mengajakku bertemu, hanya kami berdua, di sebuah kafe yang cukup jauh dari area asrama dan kampus.Sepertinya inilah saat terbaik untuk mengatakannya, sejak semalam aku sudah sangat bersemangat dan buru buru mempersiapkan segalanya, termasuk menghabiskan uang bulananku di salon. Hanya untuk dia. Aku tak sabar untuk bertemu dengannya, ini sungguh hari yang menggembirakan dan sangat mendebarkan! Aku, seorang Ayunda, akhirnya gugup dan luluh juga hanya karena seorang pria!Huh, lama lama aku bisa benar benar gila! Momen yang biasa kulihat dalam drama korea pun akan datang padaku, entah bagaimana aku harus bersikap tapi sepertinya aku akan bersikap ceroboh karena terlalu gugup.“Nda!” Dia melambaikan tangannya ke arahku. Jantungku benar benar berhenti, dia terlalu tampan, padahal ia hanya mengenakan kemeja santai biasa, tapi rasanya sudah seperti seorang model papan atas. Tingginya yang pas sebagai seorang model juga tubuhnya yang memang ia seorang atlet dari jurusan olahraga.Aku juga melambaikan tanganku, membalasnya, menghampirinya kemudian.“kau tampak berbeda hari ini.” Begitu yang ia ucapkan, sudah cukup membuat jantungku berlarian tak menentu, dia memperhatikanku dan penampilanku!Aku tak bisa membalas, hanya menggaruk tengkukku dengan canggung hingga kami memutuskan masuk ke dalam kafe bersamaan. Duduk di sudut paling dekat dengan jendela hingga pemandangan lalu lalang kota pelajar ini tampak jelas di mata kami. Adegan klise dalam drama, dia pasti akan mengakui perasaannya, jika bukan itu pun, aku lah yang akan mengakui perasaanku, secepatnya agar jantungku yang hampir meledak ini merasa lega.“Aku sudah mengatakan sebelumnya di telefon bahwa aku akan menanyakan sesuatu padamu, kan?” Tanyanya dengan intonasi teratur yang sangat lembut, entah mengapa itu terdengar merdu dan menggema di dalam telingaku. Aku mengangguk, cukup antusias dengan pertanyaan apa yang ingin ia ajukan. Apa tentang apa aku menyukainya atau maukah aku menjadi kekasihnya, pikiran itu membuatku sedikit tersenyum tanpa kendali.“mmm.. Kau..” Gila! Kata katanya yang agak sedikit ragu membuatku terus memikirkan kalimat apa yang ingin ia bicarakan! Cepatlah katakan, “kau mau jadi kekasihku?” dan aku pasti akan mengangguk dengan tegas!“Kau teman baik Jena kan? Apa dia punya pacar?” Lanjutnya, cukup membuat senyumku yang tak luntur sejak pagi tadi meredup.Ternyata aku bukan tokoh utama dari drama yang kubayangkan selama ini. Sia-sia saja aku bersemangat berlebihan, lalu, bagaimana aku harus menjawabnya? Kalian juga tahu kan pertanyaan pertanyaan selanjutnya yang akan ia tanyakan? Apa aku masih perlu menjawabnya dengan ramah setelah tahu selama ini ia mendekatiku di organisasi hanya untuk berkenalan dengan Jena?Aku menggeleng, Jena tak punya pacar. Dia menghela nafas lega, seakan bidikannya tepat sasaran, dan selanjutnya ia menanyakan kesediaanku untuk membantunya. Beruntung, seorang pelayan datang membawakan pesanan kami, dua waffel dan es krim alpukat yang cukup mahal sengaja kupesan hanya untuk hari ini, memberiku sedikit kesempatan untuk berpikir jernih.Dan akhirnya aku menggeleng, aku tak bersedia dan membiarkannya memohon, tapi aku juga tak punya cukup kesabaran walau aku sangat menyukainya.Sudah kugambarkan dari awal, aku bukan wanita feminin, anggun, penyabar dan bijaksana dari bagaimana caraku bersikap. Maka aku pun hilang kesabaran saat ia menanyakan kenapa, kenapa aku tak mau membantunya.“Aku menyukaimu.” Kataku sesingkat itu, cukup membuatnya tertegun.Yah, kalau dia tak mengatakan bahwa dia menyukaiku, memang sudah kuputuskan untuk mengatakannya apapun yang terjadi pada hari ini.Ini bukan salah siapapun, jika dikatakan bahwa ini adalah salahnya, aku bisa mengatakan “ya, dia bersalah”, karena dia yang mendekatiku lebih dulu dan bersikap baik bahkan terlalu baik kepadaku. Dan jika dikatakan itu salahku pun, aku juga mengatakan “ya, aku bersalah”, karena aku terlalu membuka hatiku untuknya dan bisa-bisanya menerima perlakuan baiknya dengan perasaan yang sedikit berbeda.Ini hanya tentang kesalahpahaman yang konyol dan klise.Seharusnya jika ia menyukai Jena, dia mendekati Jena, bukan aku yang sama sekali tak ada kaitannya dengan kisah cinta mereka. Dan seharusnya aku pun tak sebodoh itu dan dengan mudahnya jatuh cinta hanya karena sikap baik tak jelas dan penampilannya.Hari ini, bukan hari bahagia, tapi hari yang menggelikan. Dan itu berakhir dengan tawaku yang cukup pilu karena perasaan searah itu, yang akhirnya membuat hubungan kami terlalu canggung walau aku juga sudah mengatakan aku tak masalah dengan hal ini.

Waktu yang Hilang
Teen
25 Nov 2025

Waktu yang Hilang

Ada lubang menganga di hatiku begitu kedua sahabat yang begitu kusayangi seperti membuangku. Sesak dan perih bercampur satu, menimbulkan suatu perasaan yang dinamakan dengan rasa kecewa.Awal persahabatan kami sangatlah klise, dimulai dari pertemuan kami saat kelas 7 sekolah menengah ketika mos. Aku yang memang tak memiliki teman akrab memilih berdiam diri dan mengamati tiap siswa-siswi di kelasku. Bayangan itu terasa masih mengikat kuat di pikiran, aku duduk bersisian dengan seorang gadis yang rupanya begitu mirip dengan adik kelasku. Bingung melandaku, tidak mungkin rasanya adik kelasku sudah lulus dan sekelas denganku. Kejadian itu begitu konyol, sangat lucu kalau diingat-ingat. Saat satu persatu nama dipanggil, barulah aku tahu kalau aku sepertinya terlalu mengkhayal karena gugup.Kaila, begitu manis saat mengeja namanya satu persatu. Dia sering menunduk, memandangi sepatunya yang bergambar hello kitty berwarna pink dominan hitam. Detail sekali kan? Entah mengapa aku begitu tertarik dengannya, dalam pikiranku tercetus sebuah perintah agar berteman dengan gadis itu.Tubuhku tersentak saat dia bertanya padaku, meski pertanyaannya terbilang sederhana. ‘Besok kamu pakai baju apa?’ tanyanya waktu itu. Aku yang masih terserang euforia, menjawab dengan kikuk, walaupun mungkin terdengar agak cuek. ‘P-putih biru, kayaknya’ jawabku tergagap, sudah kubilang kan kalau aku masih kaget. Dia mengangguk, aku hanya tersenyum membalasnya. Yah, awal yang cukup baik kan? Setidaknya aku tau dia tidak sombong. Wajahnya memang agak judes, tapi aku tak mempermasalahkannya.Besoknya, kami bertemu lagi. Dan masih duduk bersisian, dia terlihat kesepian. Aku sedikit bersimpati padanya. Mungkin dia persis sepertiku, tidak mudah bergaul, pikirku. Waktu istirahat aku diajak pergi jajan bersama dengan gadis yang duduk di sisi lain kursiku. Aku tau namanya, kami pernah berteman waktu masih kecil, tapi tidak terlalu akrab. Karena tak mempunyai teman lain, aku mengikutinya. Lila, begitu aku memanggilnya. Sejak itu, kami jadi sering berpasangan saat mos berlangsung, tapi aku kurang suka dengan sifatnya. Secara tak langsung aku tau sifatnya, dari pengamatanku dia suka mencubit seseorang dengan keras hingga membiru. Itulah mengapa aku jadi agak segan padanya.Tapi lupakan masalah itu, di suatu pagi aku melihat Kaila berbincang akrab dengan salah satu kakak kelas 3. Situasi yang jarang sekali kutemukan, ternyata Kaila tidak terlalu pendiam. Setelah hari itu, entah mengapa rasa ingin berteman dengan Kaila begitu kuat. Ragu-ragu aku mengajaknya ikut ke perpustakaan dengan Lila. Yang mengejutkan, dia setuju! Hanya Tuhan yang tahu betapa hatiku bersorak girang karenanya.Hari itu aku berhasil membangun pertemanan dengannya. Semuanya terasa mengalir begitu saja, kami pada akhirnya berteman. Kami duduk bersisian, meski itupun karena Lila yang mau bertukar tempat duduk dengan Kaila. Aku sangat berterima kasih dengan Lila karena itu, sebab kami jadi semakin akrab. Aku lupa kapan, tapi di suatu siang saat jam kosong, dengan bosan aku mengambil alat tulis dan mulai menggambar. Kaila memujiku, katanya gambarku bagus. Tapi aku tak terlalu merespon, karena menurutku gambarku masih banyak kekurangan.Dengan bangga Kaila memperlihatkan gambarku pada teman di belakang kami. Seorang gadis yang duduk dibelakang Kaila mengambil gambarku dan mengamatinya. Aku lupa kata-katanya seperti apa. Yang pasti kritikannya agak pedas hingga membuatku sedikit tidak suka padanya. Yang tak aku sangka adalah Kaila terlihat akrab dengannya, entah kapan mereka jadi semakin dekat setiap harinya. Aku yang memang sering bersama Kaila jadi ikut-ikutan berteman dengannya. Yang sering aku lupa adalah namanya. Sifatnya blak-blakan, dan mudah bergaul. Setelah sekitar seminggu mungkin, aku ingat namanya adalah Nirda. Aku berteman dengannya meskipun tak seakrab Kaila.Tak sampai 2 bulan, kami menjadi sahabat dekat begitu saja. Semuanya terjadi begitu alami, ikatan itu secara tak sadar terbentuk hingga terjalin erat tanpa disadari. Begitu banyak lika-liku yang menjadi rintangan tersendiri dalam persahabatan kami. Tapi ikatan kami ternyata sangat kuat hingga dapat menerjang semua badai yang menghadang. Terkadang timbul kecemburuan saat salah satu pihak lebih dekat dengan sahabat satunya. Tapi untunglah semuanya dapat terlewati tanpa hambatan.Perkelahian pun tak dapat dihindari, aku seringkali berada di tengah-tengah saat Kaila dan Nirda bertengkar. Aku lebih memilih netral, untuk tetap menjaga keduanya agar persahabatan ini tidak timpang. Semuanya damai dan akur hingga cobaan lagi-lagi menguji persahabatan kami untuk kesekian kali.Rasanya kenangan itu masih sangat membekas di ingatan, dan menjadi lukaku sampai saat ini. Di tengah kebahagiaan sebuah pukulan telak mengenai hatiku. Piala yang berada di tanganku terasa tak berharga, saat menatap mading yang tertera nama siswa-siwi yang akan sekelas. Aku memang pernah mendengar, jika kelas kami akan kembali dibagi menjadi dua kelas jika sudah berada di kelas tiga. Tapi itu bukan permasalahannya, di kertas itu tertera jika Kaila dan Nirda akan sekelas dan aku sendiri … berada di kelas yang berbeda.Suara sorakan kebahagiaan Kaila terdengar nyaring, dia begitu senang mendengar jika dirinya sekelas dengan Nirda. Yang makin membuatku kecewa adalah ekspresi bahagia keduanya, ternyata berbanding terbalik denganku. Lihatlah, mereka bahkan tak sadar dengan tatapanku yang berubah kosong. Rasa iri menyeruak, menyebar hingga ke sudut hati. Kalimat candaan mereka pun terlontar padaku, yang sungguh bukannya menghibur malah membuatku hatiku makin perih.Melihatku yang diam tak bersuara, mereka pun bertanya, ‘Apa aku baik-baik saja?’ Aku ingin berteriak, jika aku tidak baik-baik saja tapi malah anggukan dan senyuman tipis yang terukir di bibirku. Jahatkah aku, jika merasa tak senang mereka sekelas? Tolong, siapapun jawab pertanyaanku, batinku.Tak ada yang tau kalau air mata sempat menggenang di sudut mataku. Sekali saja berkedip maka air bening itu akan meluncur mulus di pipi.Bayangan terburukku benar-benar terjadi, aku … terlupakan. Rasanya benar-benar seperti dibuang. Untungnya di balik kesendirianku, Tuhan masih berbaik hati memberikanku seorang teman. Oliv, dia dulunya teman sealumniku saat sekolah dasar. Kami sekelas meski tidak akrab. Entah kebetulan atau apa Tuhan membiarkanku duduk semeja dengannya. Sifatnya yang kalem dan dewasa membuatku nyaman. Awalnya memang canggung, tapi kebersamaan kami ternyata membawaku pada sebuah ikatan baru. Aku menemukan sahabat baru, di tengah rasa kecewa yang begitu membekas. Tak butuh waktu lama untuk membuka diriku padanya.Rasanya begitu lega, saat seseorang mengerti perasaan kita. Menjalani bersama tak ada salahnya, meskipun rasa kecewa itu bagai penyakit, yang sangat sulit untuk hilang atau malah tetap mengakar kuat. Aku coba mengikhlaskan, dari Oliv aku belajar untuk bersabar. Saran darinya tak pernah mengandung unsur menghakimi dan mengadili.Rasa rindu kebersamaanku dengan Nirda dan Kaila memang kadang hadir. Apalagi saat melihat mereka berdua asik bercanda, rasa iri dan dilupakan sering hadir. Tapi berkat Oliv, aku menjadi tidak terlalu mengindahkan perasaan itu lagi. Perhatianku entah mengapa menjadi tertuju pada Oliv seorang.Persahabatanku dengan Nirda dan Kaila masih terjalin meskipun jarang berkomunikasi. Ketika berkumpul pun terkadang mereka berdua asik sendiri, tapi aku tak terlalu mempermasalahkan lagi. Aku tak sendirian, masih ada Oliv yang menemaniku.Tak terasa setahun berlalu dan kami kini telah kelas satu SMA. Nirda dan Oliv satu sekolah tapi mengambil jurusan yang berbeda. Sedang aku dan Kaila juga berbeda jurusan tapi satu sekolah. Hubungan kami kembali dekat, walau tak sedekat dulu. Aku merasa kini dia tak pernah lagi menceritakan tentang perasaannya. Aku tak terlalu ambil pusing dan ikut campur jika dia memang tak ingin bercerita. Dan pertemuan kami pun jarang terjadi karena kesibukan masing-masing.Tahun kembali berlalu tanpa terasa, aku yang memang suka membaca novel, sering membaca novel di aplikasi orange. Secara tak sengaja aku menemukan cerita yang dibuat oleh Kaila. Dan mataku terpaku pada ceritanya yang ternyata adalah kisah nyatanya sendiri. Karena penasaran kubaca tulisan itu penuh minat, dan aku langsung kehilangan mood karena ternyata aku tak begitu penting di matanya. Tulisan itu penuh dengan Nirda dan Nirda. Aku kecewa, tak kusangka pendapat Kaila begitu tentangku.Perjuanganku sia-sia, aku hanyalah sebuah tokoh sampingan dalam hidupnya. Aku ternyata berharap terlalu tinggi, usahaku untuk selalu ada nyatanya hanyalah sebuah cerita tanpa makna. Rasa kecewa kembali menguasaiku, jadi ada tidaknya aku tak terlalu berpengaruh. Salahkan hatiku yang terlalu lemah, sebab tetap menyayanginya walau berkali-kali dibuat kecewa.Untuk menganggap tak terjadi apa-apa rasanya sulit. Jadi biarkan aku menepi sejenak untuk menetralkan rasa. Walau kita sedekat dulu, ketahuilah aku sangat menyayangimu … Kaila. Semoga kamu tetap bahagia di luar sana, jangan lupa tetap tersenyum.Untuk Nirda, aku bersyukur kita bisa dekat kembali akhir-akhir ini. Aku merasa bahagia, meski merasa sedikit bersalah, karena tak bisa membantumu untuk berbaikan dengan Kaila. Aku yakin kalian bisa berbaikan kembali tanpa bantuanku. Aku butuh istirahat sejenak untuk menjadi penengah kalian.Dan terakhir untuk Oliv, terima kasih sudah hadir saat rasa terbuang itu ada. Aku merasa menjadi orang yang berharga berkat dirimu. Thanks … Oliv.Dan beberapa hal yang perlu diingat, aku tak akan pernah melupakan Oliv dan tentunya Kaila serta Nirda. Mereka bertiga berperan penting dalam kehidupanku. Aku akan selalu mendukung kalian, sebab rasa sayangku pada mereka sama rata. Tak pernah timpang karena aku tau rasanya saat perhatian itu berbeda.Berbahagialah … sayang-sayangku!The End

Bukan Kembang Tidur
Teen
25 Nov 2025

Bukan Kembang Tidur

Tere Liye pernah berkata “Percayalah, sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walaupun kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tak berguna itu datang mengganggu pikiran”. Kalimat yang kuingat setelah selesai membaca buku Kau, Aku Dan Sepucuk Angpau Merah karyanya. Seperti biasa, setiap sabtu sore aku selalu menghabiskan waktu di perpustakaan kota. Jika tidak sedang membaca buku maka aku akan mengerjakan tugas sekolah disina. Penjaganya sangat hapal denganku, bahkan jika aku tidak kesana sekali saja, maka ia akan menanyakan kabarku.Aku adalah gadis penyuka senja, seni, fashion, dan hal-hal yang berbau dengan alam. Aku bukan seorang yang tidak memiliki teman ataupun nerd girl seperti di cerpen dan novel yang sering kubaca. Pasti setiap orang juga punya teman atau sahabat. Kukira akan selalu seperti itu. Namun, hidup tidak selalu berjalan seperti yang aku inginkan.Hari ini adalah hari terakhir aku menjadi siswa SMA salah satu sekolah swasta di kota Bandung. Sedang kutunggu pengumuman kelulusan, harapanku adalah bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan menuntut ilmu ke perguruan tinggi. Tepat pukul delapan pagi, kepala sekolah mengumpulkan kami di lapangan untuk mengumumkan siapa saja yang menjadi lulusan terbaik tahun ini. Namaku tak kunjung dipanggil. Biasanya aku selalu menjadi peringkat tiga terbaik dari satu angkatan.Tiba-tiba kepala sekolah memanggilku. “Tasya, Mia melapor kepada Ibu bahwa kamu mencontek saat mengerjakan ujian sekolah, Ibu tidak sangka kamu berlaku curang. Mia sudah mengumpulkan buktinya kepada Ibu. Jika ini bukan hari kelulusan, maka ibu sudah menskors kamu” tutur ibu Ida dengan nada tinggi. “Tapi Bu saya tidak merasa…” tegasku membela diri. “Maaf Tasya, Ibu lebih percaya dengan bukti rekaman video, jadi Ibu tidak bisa memberikan beasiswa itu kepada kamu, sebagai gantinya Mia yang akan mendapatkannya karena tahun ini ia sebagai lulusan terbaik keempat” ucapnya memotong perkataanku. Ini pasti ulah Mia. Memanfaatkan niat baikku. Seingatku, aku tidak mencontek tetapi aku menegur temnaku yang membawa contekan, lalu aku membuangnya di tempat sampah.Hari ini aku sedih karena mendapat dua masalah sekaligus. Pertama aku tidak lulus SBMPTN, kedua perusahaan ayah pailit. Ayah kini sedang terbaring lemas di rumah sakit.Sebulan berlalu, hidupku masih terasa sukar. Belum bisa kulanjutkan kuliah tahun ini. Aku mengalah kepada dua adik kembarku yang tahun ini menjadi siswa SMA. Kusadari bahwa biaya sekolah mereka cukup mahal. Sehari-hari kubantu ibu berjualan sayur di pasar, karena saat ini hanya ibu yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Orangtuaku ingin aku melanjutkan mimpiku menjadi seorang desainer profesional. Dalam situasi seperti ini untuk bertahan makan saja sudah bersyukur. Perkataan ibu tadi pagi membuatku tersentuh dan kembali bersemangat. “Nak, tidak ada yang tidak mungkin, kamu masih memiliki waktu sebelas bulan untuk mewujudkan mimpimu. Perbaiki hubunganmu dengan Sang Pencipta, juga banyak-banyak belajar dan memohon kepadaNya. Kun Fayakun”. Kuambil air wudhu, lalu berdoa diakhir sholat. Kurenungi ucapan ibu. Selama ini aku memang jauh dari Tuhan. Karena kebatasan ekonomi, aku tidak berani meminta uang untuk mengikuti bimbel.Aku cukup merasa tertekan ketika banyak teman sekolahku mengejekku karena tidak bisa melanjutkan kuliah. Tiba-tiba dijauhi oleh teman rasanya memang menyedihkan. Apalagi aku hanya punya tiga orang sahabat dan sudah begitu asing denganku. Vina sibuk bekerja, Elsa sedang sibuk menjalankan bisnis dan kuliahnya, dan Rere terlalu segan untuk sekadar kuhubungi lagi. Biar saja kupendam sendiri masalahku, toh setiap manusia pasti punya masalah.Bertemu dengan sabtu sore lagi. Aku pergi ke perspus kota, setelah selesai membantu Ibu berjualan hingga siang. Sekadar melepas penat membaca buku. Bu Rima penjaga perpus sedang mengedit beberapa foto untuk diposting di instagram perpus kota. Namun, ia merasa kesulitan untuk merangkai kata-kata dan mendesain pamflet. Seharusnya ini tugas pak Beno, akan tetapi beliau berhalangan hadir. Kuberanikan diri membantu Ibu Ida. Ia sangat menyukai hasil buatanku. Ibu Ida tau aku tengah kesulitan ekonomi. Dengan berbaik hati, ia menawarkanku pekerjaan serupa kepada teman-temannya, jasa copywriting. Aku harus belajar lagi, karena bekerja harus profesional, kuikuti online course copywriting untuk mendapatkan sertifikat dengan bermodalkan tiga ratus ribu. Hasi uang tabunganku membantu Ibu selama sebulan. Tidak mudah, beberapa tetangga dan teman menghinaku. Tidak punya uang dihina, punya cukup uang juga dihina. Aneh.Mia masih terus menggangguku, padahal aku sudah ikhlas tak jadi mendapat beasiswa karena ulahnya. Ia menyebarkan berita hoaks bahwa aku bukan orang yang jujur. Jadi, selama seminggu tidak ada yang mau memakai jasaku. Takut tertipu kata beberapa orang. Ibu Ida yang mengetahui masalah ini membantu membersihkan namaku. Mia marah kepadaku, karena aku selalu mendapatkan apa yang kumau, pikirnya begitu. Mia salah, aku berjuang keras untuk hidupku. Aku berusaha untuk tidak lagi menghiraukannya. Lalu kabar tentangnya sudah tidak lagi kudengar.Enam bulan berlalu, hasilnya lumayan. Bisa kubayar uang rumah sakit ayah yang sudah menunggak dua bulan, kubukakan lapak untuk ibuku berjualan agar tidak lagi berbagi lapak dengan orang lain, dan aku mulai mengikuti berbagai bimbel untuk menunjang persiapan kuliah. Keadaan ayah membaik, juga sudah bisa dibawa pulang, akan tetapi belum boleh bekerja. Tidak lupa kuucapkan terima kasih kepada Tuhan dengan bersedekah kepada orang-orang yang kurang mampu.Aku memutuskan mengikuti program beasiswa di KAIST, setelah semua berkas-berkas yang kusiapkan termasuk nilai IELTS. Congratulations! Tasya Dea Albinia Fully Funded Undergraduate Scholarships, Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), South Korea. Tangis haruku, seketika membuka halaman web resminya. Akhirnya aku bisa kuliah di Korea jurusan desainer dan mendapatkan beasiswa penuh juga bisa segera bertemu dengan oppa-oppa korea dan bermain salju yang sudah kuimpikan sejak lama.Jadi, jangan pernah berhenti bermimpi karena tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berdoa dan berusaha. Wujudkan bunga tidurmu atau selamanya kamu hanya akan tertidur dalam bunga tidurmu. Itulah cerita saya lima tahun yang lalu. Ucapku dalam sebuah acara talk show di salah satu stasiun TV swasta kota Bandung.Kudengar dari teman lamaku bahwa sekarang Mia sedang direhabilitasi karena telah memakai narkoba selama setahun.

Terlambat
Teen
25 Nov 2025

Terlambat

Hari menunjukkan pukul 13.00 wib. Aku menyantap makan siang dengan keluargaku di ruang makan. Dengan sepotong ayam dan sayur yang enak. “Glug, glug, glug…”. Setelah meminum segelas air, aku pun menuju kamar. Menonton sebuah film sambil berbaring di atas kasur. Namaku Rolen. Lama kelamaan akupun tertidur.Waktu terus saja berlalu. Entah pukul berapa aku terbangun. “Bu…, pukul berapa sekarang?” tanyaku. “Sekarang pukul 15.00 wib…” jawab ibu. “Thanks bu, nanti tolong bangunun ya kalau udah pukul 16.30 wib” ucapku. “Oke…” jawab ibu.Karena sudah tahu baru pukul 15.00 wib, aku pun melanjutkan tidurku. Terus aku terbangun lagi. Karena malas bertanya, aku mencari jawabannya di ruang tamu karena jam di kamarku rusak. Aku terkejut, “haaaaaaaaaah, sudah pukul lima…” ucapku dengan nada tinggi.“Ibu…, kenapa ibu tidak membangunkanku?” tanyaku dengan sedikit kesal. “Maaf ya Len, ibu lupa membangunkanmu karena ibu sibuk dengan pekerjaan ibu” ucap ibu berminta maaf. Rolen tidak berkata apa apa dan langsung bergegas menuju kamar dan bersiap siap karena dia sudah telat masuk kelas musik. Setelah itu, aku mengambil kunci motor yang di gantung di dalam kamarku.Sesampainya di parkiran, aku langsung masuk ke kelas. “Sorry my friends, terlambat dikit” ucapku dengan santai. “Iya.., gak papa” jawab Rendy. “Do not repeat it again!” ucap Natasha. “Iya, iya…, maaf..” balasku.“Oh ya Len, tadi bang Nikel nelfon, katanya dia gak bisa hadir pada latihan kali ini. Jadi, kita diperintahkan latihan sendiri seperti yang telah diajarkan bang Nikel sampai mahir” kata Rendy panjang. “Gitu yah, mulai kuy” ajak Rolen. “Kuy…” jawab temannya serentak.Setelah latihan, akupun pulang ke rumah. Aku masuk menuju ruang keluarga. Tak lama kemudian, ponselku berbunyi ”kriiiiing… kriiiiing… kriiiiiing”. Aku mengangkat teleponnya. “Halo Len!” “Iya, ada apa?” “Lo lupa ya..?” “Lupa apa?” “Tu kan…, lo lupa. Itu, acara ulang tahunnya Reni” “Oh, ya. Hari ini ya..?” “iya…, lo buruan datang ke sini!, acaranya udah dimulai dari tadi..” “Oke oke, gue segera datang, tapi gue mandi dulu ya..” “Terserahlah, gue tunggu ya” Teleponannya selesai. Akupun berteriak “TER LAM BAT LA GI…!!!”

Kado Ulang Tahun
Teen
25 Nov 2025

Kado Ulang Tahun

Di suatu hari pada bulan November aku ulang tahun yang ke 17 tahun. Disaat itu yang harusnya membuatku senang tetapi ternyata tidak sama sekali.Di pagi hari aku baru bangun pagi aku kira ada keluargaku yang mengucapkanku selamat ulang tahun ternyata tidak ada sama sekali yang mengucapkan. Saat itu aku merasa sangat sedih dan kecewa. Sebelum aku mau berangkat sekolah aku bersalaman dan berpamitan kepada kedua orangtuaku, kukira bakal ada yang mengucapkan di situ ternyata mereka benar benar lupa dengan hari itu. Aku berangkat sekolah dengan hati yang kesal, tetapi aku di jalan berharap ada yang ingat dengan hari ulang tahunku saat itu waktu di sekolah.Sesampainya di sekolah aku langsung menaruh tas di kursi dan langsung duduk. Tidak lama ada temanku yang menghampiriku, dia mengajakku untuk mengantarkan ke kamar mandi sebentar. Setelah dari kamar mandi aku dan temanku duduk dan bercerita cerita.Jam pelajaran dimulai… Diawal pelajaran aku sudah merasa yang tidak enak, Guru jam pertama pelajaran menghampiriku dan tiba tiba menyuruhku ulangan harian sendirian di luar kelas. Aku berbicara dalam hati: kenapa aku ulangan sendirian di sini kenapa teman temanku tidak ikut ulangan juga. Setelah menyelesaikan ulangan itu aku masuk ke dalam kelas untuk menyerahkan kertas itu ke guru, tetapi saat aku masuk kelas tatapan teman temanku tiba tiba sinis semua. Tetapi ada satu temanku yang biasa saja padaku, aku sampai jam pulang bersama dia terus.Saat jam pulang Aku bertanya kepada temanku “Kenapa tadi bu guru menyuruhku untuk ulangan sendirian di depan kelas, sedangkan teman teman yang lain tidak?,” “Sama kenapa tadi temen temen sinis semua kepadaku,” tanyaku kepada temanku. “Wah aku tidak tahu tentang itu, maaf ya,” jawab temanku. Aku dan temanku pun pulang di rumahnya masing masing. Aku pulang sekolah langsung tidur siang dan bangun agak sorean. Setelah bangun aku langsung mandi. Setelah mandi aku mengerjakan tugas yang sudah diberikan guru. Tiba tiba di rumahku lampu mati, di rumah sangat gelap sampai sampai aku tidak kelihatan apa pun, aku langsung mencari hp ku untuk menyalakan senter. Di saat itu aku pun di rumah sendirian. Setelah mendapatkan hp ku aku langsung menyalakan senter yang ada di hp ku. Aku pun mencari lilin untuk ditaruh di tempat tempat yang gelap, tetapi anehnya kenapa hanya rumahku yang lampunya mati sedangkan lampu rumah tetanggaku menyala semua.Aku sudah tidak mempedulikan itu, aku melanjutkan tugasku dan menunggu lampu di rumahku menyala kembali. Aku sudah melihat KWH Meter dan tidak ada yang aneh atau pun rusak. Aku menelepon keluargaku tetapi tidak ada yang jawab.Setelah aku mengerjakan tugas aku pergi ke kamar untuk bermain hp dan menaruh lilin di kamar. Tapi tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetok pintu rumahku. “Tokkkk tokkkk tokkkkk…,” “Assalamualaikum…,” “Apa ada orangg…,” “Permisiiiiii,” Kata orang yang mengetuk pintu dengan cara sangat keras, dia pun memanggilnya sangat keras sampai sampai tetanggaku keluar rumah semua.Aku yang di rumah sendirian merasa sangat takut untuk membukakan pintu rumah, tetapi dia masih mengetok-ngetok pintu rumahku secara keras. Aku pun membukakan pintunya“Iyaaa sebentarr,” “Siapaa yaaa,” jawab ku dari dalam rumah. Aku membuka kan pintu “Ehhh ternyata paket tohh tak kirain siapa mas,” kataku. “Lama sekali sih mbak, Cuma paket aja loh,”. “Nih paketnya mbak, sama tanda tangan disini buat bukti penerimanya,” Jawab kurir paket itu. “Yaa maaf mas saya kira tadi orang jahat soalnya saya di rumah sendirian sama lampu di rumah saya mati,” jawabku. “Oalah ya mbak, kalau gitu saya duluan ya,” Jawab kurir paket. “Yaa mas makasi ya mas, maaf juga tadi lama bukain pintunya,” jawabku.Aku kembali ke kamar dan membuka isi paket tadi, tetapi tiba tiba ada suara orang di rumahku, aku pun segera melihatnya tetapi tidak ada orang di rumahku. Aku berusaha berfikir yang positif, mungkin tadi kucing. Tetapi tidak lama dari itu ada suara balon meletus di depan rumahku.“Dorrrrrr selamat ulang tahun,” “Maaf ya udah buat kamu kesel dari pagi,” “Happy birthday temankuuu maaf tadi udah cuek di sekolahan,” “Selamat ulang tahun anakku semoga selalu bahagia ya, maaf tadi pagi gak ngucapin kamu,” Tiba tiba ada teman temanku dan kedua orang tua ku masuk kamar. Mereka membawa kado dan kue. Aku langsung menangis terharu karena aku kira tidak ada satu orang pun yang ingat sama hari yang sangat spesial itu.Aku sangat bahagia saat itu karena tidak hanya orangtuaku dan teman temanku saja yang datang tetapi keluarga nya kekasih ku juga ikut datang, ternyata ini semua sudah bagian acara dari kekasihku agar membuatku kesal dari pagi, Pantas saja hp dia mati dari hari sebelum aku ulang tahun.Aku sangat terkejut karena ayahku tiba tiba memberiku kunci mobil. Aku bertanya kepada ayah “Ini apa,” Tanyaku kepada ayah. “Ini kunci mobil buat kamu, di jaga baik baik ya,” jawab ayahku. “HAHHHH, ini serius ayah,” aku yang sangat terkejut. Aku disini sangat bahagia.Tidak hanya itu kekasihku juga tiba tiba mengasih cincin di jariku. “Ini buat kamu, apa mau lebih serius lagi sama aku,” kekasihku yang bertanya kepadaku. “Hah maksud nya apa ini, tunangan gitu,” aku yang masih bingung.Ternyata ini semua adalah bagian dari rencana dia, dia ingin melihatku kesal dari pagi tapi senang saat malam itu, ini adalah hari ulang tahun yang sangat membuatku bahagia. Aku yang malu karena disitu ada kedua orangtuaku dan orangtua dia, serta ada teman temanku.“CIEEEE CIEEEE TUNANGAN NIHHHH,” “Wahhhhh iriiii akuuuuu,” “Wahh congrats yaaa,” “Sekolahnya diselesaiin dulu nanti baru lebih ke jenjang yang serius,” “Semoga baik baik aja yaa nanti hubungannya,” Kata teman temanku dan orang tua ku.END

Pemeran Utama
Teen
25 Nov 2025

Pemeran Utama

Lirikan tajam menghunus dari mata sipit sang gadis. Suara dengkusan yang keluar dari bibir tipisnya menandakan bahwa saat ini ia sedang kesal. Bahkan keybord di depannya menjadi pelampiasan emosi yang ia rasakan. Yaa.. gadis itu adalah Adifa Adinda.Dikenal sebagai sosok yang jutek, galak, ambisius, berjiwa pemimpin namun dingin membuat ia tak begitu disukai oleh beberapa teman di kelasnya. Namun hal itu tak menjadi masalah bagi Adinda. Dia lebih memilih menutup telinga perihal gosip maupun perkataan tentang sosoknya yang misterius. Namun bila dirasa mengganggu, tak segan segan ia balas dengan peryataan sakartis dari mulut pisaunya.Hari ini, adalah pembagian hasil ulangan tengah semester yang telah dilaksanakan seminggu yang lalu. Adinda mendapat juara 3, hal tersebut membuat Adinda kesal setengah mati. Sedari kecil ia selalu berambisi untuk meraih posisi 1, Namun usaha yang dia lakukan dipatahkan oleh 2 kawannya yang bernama Fredy dan Selia.“Aduh nda, lo goblok banget sih. masa dari 36 siswa, lo cuma dapet peringkat 3. Come on nda.” gerutunya saat itu. “Yaelah, mending dapet juara daripada nggak.” ucap salah seorang temanya yang mendengar gerutuan dari Adinda. Adinda hanya melirik temannya sekilas.Ia sedang tak berminat untuk membalas ucapan orang tersebut. Karena yang pasti, akan membuatnya bertambah kesal. “Tenang nda, saingan lo cuma 2 orang kok. UAS besok lo pasti dapet juara 1.” Ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri. Tanpa ia sadari seseorang mengamati dan menatap Adinda secara intens. Merasa diawasi sontak membuat mata Adinda berpendar ke sekelilingya, namun perasaan tersebut lenyap seketika, Adinda kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan di layar laptop di hadapannya, tanpa pernah menyadari siapa yang telah atau tengah mengawasinya saat ini.Tak terasa ulangan akhir semester pun tiba. waktu belajar Adinda di tambah demi terwujudnya ambisi untuk mendapat juara 1. Suara adzan isya telah berkumandang beberapa menit yang lalu. Ibunya sudah beberapa kali menegur Adinda agar melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Namun Adinda selalu mengatakan nanti, ia masih saja berkutat dengan buku buku yang penuh dengan coretan rumus rumus yang membingungkan. Dan selalu berakhir dengan tertidur di meja belajar.Hari yang telah ditunggu pun tiba, Adinda optimis dengan hasil yang akan diperolehnya. Sambil menunggu ibunya yang mengambil rapor ia melanjutkan hobinya menulis cerita di laptop kesayangannya itu. “Nda, ayo pulang” suara lembut itu menghentikan aktifitas Adinda, ia pun hanya menurut. Saat di rumah tubuhnya mendadak lemas ketika melihat hasil yang tertera dalam raport semesternya. Ibunya yang mengetahui hal tersebut, mendekat dan memeluk Adinda “Ada apa?” tanya ibunya lembut. Adifa hanya menggeleng lemah “Maaf ma, aku ga bisa nurutin permintaan papa.” Ucapnya hampir menangis. “Gak papa Sayang, kamu udah berusaha yang terbaik” Ucap ibunya sambil mengelus rambut lurus anaknya.“Tapi ma. Kata papa aku harus jadi yang terbaik karena aku adalah pemeran utama” ucapnya saat tenggelam dalam bahu ibunya “Dan aku gagal ma” lanjutnya. “Sayang, pemeran utama tidak harus menjadi yang terbaik. Pemeran utama adalah mereka yang mampu menjadi pengaruh besar dalam hidup orang lain” ucap ibunya meyakinkan sang buah hatinya. Adinda pun hanya mampu terisak dalam pelukan hangat ibunda “Buat mama sama papa, kamu adalah anugerah terbaik yang pernah kami miliki dan bagi mama kamu tetap akan menjadi pemeran utama buat mama setelah papamu udah ga ada.” lanjutnya “Kamu tahu kenapa peringkat kamu menurun menjadi 5, padahal kamu sudah belajar keras?” tanya ibunya lembut Adinda hanya menggeleng lemah “Karena kamu terlalu fokus dengan belajar sehingga lupa ibadah kamu, sekarang mama tanya, kamu kemarin masih sering sholat tahajud?” mendengar pertanyaan mamanya. Adinda seperti ditampar oleh tangan yang tak kasat mata. Ia hanya mengangguk pelan menyadari kesalahannya.Pada malam harinya, Adinda kembali pada rutinitas dini harinya. Setelah melaksanakan sholat tahajudnya ia baru menyadari bahwa ia melupakan satu hal selain yang dikatakan oleh mamanya. “Oh ya dulu papa pernah bilang kamu dan setiap orang adalah pemeran utama dalam cerita yang tuhan tulis, jadi jangan pernah iri dengan cerita orang lain” tuturnya dengan dirinya sendiri. “Nda nda lo goblok banget seh. saingan lo bukan cuma Fredy dan Selia tapi 35 anak, Dan musuh terbesar lo adalah ego lo sendiri”. “Dan gue harap lo lebih bisa mengenal diri lo sendiri nda” monolongnya dengan dirinya sendiri “Terimakasih ya Tuhan, atas teguranmu kali ini” ucapnya mengakhiri kegiatannya.Ya.. Tuhan selalu tahu cara menyadarkan hambanya, hanya kita sendiri yang terkadang tidak peka dengan kode yang diberikan oleh-NYA. Ucap Adinda dalam hati.

Extraordinary Moment
Teen
25 Nov 2025

Extraordinary Moment

9 oktober 2019 Hujan meteor Draconid akan terjadi beberapa detik lagi. Orang-orang percaya….Berharap …Flo mematikan siaran radio kesayangannya. Rambut cokelat sebahunya dipermainkan angin, pandangannya jatuh pada langit malam kota Bandung. Terakhir kalinya bagi Flo memandang sebelum pergi ke negeri sakura besok. Menyusul kedua orangtuanya yang berangkat lebih dulu. Padahal hari ini spesial untuknya. Tidak ada yang tahu. Bahkan Papa dan mama. Wajar sih, Flo sudah menelan rasa sakitnya hampir tujuh belas tahun.Huh! Di Hari ulang tahunnya, dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bahagia. Keluarga, teman-teman dan seorang cowok sekalipun tidak ada di takdir Flo. Huh! Seandainya saja!Flo berjalan keluar bandara. Di luar, semua terasa nyata; bintang bersaing paling terang ketika bulan menyembunyikan diri. Kedua tangan cewek itu saling terkait.“Aku ingin bahagia.”Detik itu juga, bola api dari debris Komet 21P/Giacobini-Zinner melesat dalam hitungan detik. Sebagian orang menganggapnya sebagai harapan.—Flo memandang sekitarnya dengan mulut menganga. Gaun pastel selutut dengan aksesoris brokat adalah pakaiannya untuk ke bandara. Bukannya pergi ke rumahnya sendiri. Bahkan, koper di genggamannya terasa semakin berat. Flo mungkin bermimpi berangkat ke bandara untuk pergi.“Flo!” Suara cempreng dengan nada riang mengingatkan Flo dengan cewek popular di sekolah ya, Mina. Cewek yang membenci Flo karena Ken, si cowok populer pernah membantu Flo membawa buku-buku ke kantor guru.Ngomong-ngomong, Ken adalah cowok populer dengan wajah kulkasnya. Kebaikan Ken itulah, Flo selalu jadi mangsa anak-anak. Flo si muka bantal, julukannya. Dua minggu di SMA Dior malahan membuat Flo kembali merasakan trauma. Dia benci selalu tidak disukai.“Mau ke mana? Yang lain udah pada nunggu lho,” Kali ini suara riang lainnya berhasil membuat Flo menutup mulut. Dua orang yang berdiri di depan Flo memanggilku Mina dan Adine. Kenapa mereka berbicara seolah Flo bukan musuh mereka? “Aku harus ke bandara,” ujar Flo terbata-bata.Ini mimpi! Flo mencubit pipinya sendiri. Rasa panas bekas cubitan membuat Flo yakin kalau kenyataan ini terlalu mustahil. Lagian, tidak mungkin mereka berdua tahu rumah Flo.“Bandara? Are you seriously?” Mina mengangkat bahunya seraya menggeleng. “Udah ayo.” Flo cuma bisa pasrah ketika Adine mendorong ya masuk. “Akhh. Tutup mata,” celetuk Adine seraya melapisi mata Flo dengan kain hitam.Flo dituntun Adine. Kepalanya masih berputar mencerna semuanya. Yakin kalau Flo sudah diantar ke bandara tinggal siap berangkat. Ya, sebelum itu Flo mendengarkan siaran radionya tentang hujan meteor. Seolah terhipnotis dengan semua orang lakukan, Flo mengikutinya tanpa sadar. Sebelah itu …“Mau dibawa ke mana?” Tanya Flo gugup. Jika benar ini mimpi, kenapa Flo merasakan debaran menyenangkan? “Sebentar lagi sampai,” bisik Mina pelan.Flo merasakan tangannya terlepas dari genggaman Adine. Cewek itu mengulurkan tangan, menggapai apa yang ada di jangkauannya. Berusaha keras, tidak menemukan apa pun. Flo mengendurkan ikatan kain yang menutup matanya.“Terlalu kencang,” runtuk Flo dengan suara serak. “Ada orang nggak?” teriak Flo keras. Mungkin ini salah satu ‘siksaan’ Flo Kali ini. Teman-temannya yang populer itu mendapatkan ide brillian untuk mengerjainya. Selamat kepada mereka, Flo ketakutan sekarang.Flo merasakan sesuatu yang dingin menempel pada lehernya. Gadis itu gemetaran. Dia ingin berteriak sebelum ikatan matanya terlepas, lalu teriakan orang-orang mengejutkan Flo sekali lagi. “Surprise!”Ada Papa, mama, Mina, Adine dan Jane. Jane! Jika kalian menonton drama picisan tentang geng, Jane adalah ketuanya, sangat membenci Flo. Berbeda sekali dengan senyum tulusnya kali ini yang ditujukan pada Flo.Flo tidak bisa bergerak bebas. Matanya melirik pisau kue yang menempel pada leher.“Happy birthday Flo,” bisikan itu pelan tetapi sangat dekat. Flo berbalik ketika lehernya sudah bebas. Kejutan lagi, Ken ada di sini dengan senyum jarangnya itu. Flo merasa semuanya seperti negeri impian. Suara nyanyian ulang tahun yang tidak pernah didengarnya, tawa kebahagiaan, teman-teman. Dan, juga Ken ada di sini.“Potongan kedua untuk …” Adine menghentikan ucapannya dengan nada menggoda.Potongan pertama untuk kedua orangtua Flo. Potongan kedua ini direbut paksa oleh Ken. Senyumnya lebar hingga matanya tinggal segaris.“Ken!” Sorak-sorai heboh entah siapa yang mengawalinya tidak dipedulikan Flo. “Ada hadiah buat kamu,” ujar Ken seraya mengulurkan tangannya. Flo menatap cowok itu dengan pandangan bertanya. Kemudian membalas uluran tangan Ken.Dari tangan Ken yang lain, sebuah mawar merah terulur di depan Flo. “Di ulang tahun kamu ini, aku harap bunga ini akan mengawali genggamannya kita untuk hari-hari selanjutnya. Flo, aku jatuh cinta, aku janji bikin kamu bahagia. Kamu mau jadi pacarku?”Ditembak Ken di hari ulang tahun Flo adalah kajaiban. Kebahagiaan ini terasa nyata. Berapa kali pun Flo menyangkal ini nyata. Flo berharap kejaiban hujan meteor itu selamanya.

Seutas Kisah Dariku
Teen
25 Nov 2025

Seutas Kisah Dariku

Sore itu aku sedang membantu Mama memasak. Memotong-motong bawang merah dan kawan-kawannya. Aku melirik Mama yang sedang fokus mengaduk nasi di panci. Lalu berdehem, bersiap menanyakan sesuatu pada Mama. Sembari berdoa dalam hati semoga pertanyaan yang akan kuluncurkan tak membuat masalah di antara kami.“Ma, kapan aku dibelikan ponsel?”Aktivitas Mama terhenti. Mama menoleh ke arahku. “Kenapa menanyakan itu?” tanya Mama setelah menghela nafas. Aku menggelengkan kepala, kembali menunduk menyelesaikan tugasku. “Mama akan membelikan ponsel jika Mama punya uang lebih Fi. Tapi Mama tidak mempunyai itu.” jelas Mama. Aku menggigit bibir, “tapi aku butuh ponsel.” “Memangnya ponsel itu kenapa?” Telunjuk Mama mengarah pada ponsel Redmi Note 2 yang tergeletak di meja. “Aku butuh privasi Ma…” jawabku lirih. “Apa yang kamu maksud dengan privasi Fi?” Mama melemparkan tatapan curiga padaku. Membuatku menggeleng lagi. “Sebentar lagi aku SMK Ma. Aku pasti membawa ponsel ke sekolah. Mama pasti paham maksudku. Aku tidak akan macam-macam karena aku telah mengetahui batasan-batasan dalam Islam. Aku akan selalu membentengi diri agar tak tergerus pergaulan bebas remaja Ma…”Aku tak tau persis kapan aku meneteskan air mata, namun setelah mengucap kalimat itu aku menyadari pipiku telah basah. Aku mengusap pipiku dengan kasar sebelum ketauan Mama. Netraku melirik Mama yang terdiam. Aku paham dan mengerti akan kekhawatiran Mama. Aku juga peka bahwa keluarga kami itu sederhana. Meski jauh dari kata berada, setidaknya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari dapat tercukupi.Bibirku kembali terbuka, ingin menyuarakan sesuatu. Namun aku mengurungkan niat. Mungkin sudah seharusnya aku pendam saja. Semua yang kurasakan. Aku hanya ingin Mama tahu, aku bukan menuntut karena egoku sendiri. Namun semestalah yang terus memojokkanku. Kalau tak begitu, aku akan ketinggalan informasi. Kamu tau maksudku kan?Ponsel yang tadi Mama tunjuk adalah milik bersama, walau memang aku yang lebih sering memegangnya untuk pembelajaran. Aku bisa membantu Mama dengan mengirimkan beberapa cerpen karanganku. Waktu itu, aku searching di Google, cerpen dibayar Rp. 300.000 sampai Rp 100.000 di beberapa blog. Belum juga puisi dan sebagainya. Nominal itu besar bagiku yang berumur 15 tahun ini. Tentunya, untuk bisa dimuat di blog tersebut terdapat S&K yang berlaku. Aku memang tak bisa menjamin bahwa karyaku baik, namun kita tak akan tau hasilnya jika tak mencoba bukan?Aku mendengus, sayangnya aku belum punya rekening bank sendiri. Aah… entahlah aku cuma berharap dari hobi menulisku itulah aku bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Ngomong-ngomong tentang hobi, orangtuaku tak pernah menyetujui, tak juga menentang. Terutama Mama, sedang Papa oke-oke saja. Mungkin karena dari Papa bakat menulisku itu ada. Papa selalu berucap bahwa aku akan menjadi seorang penulis hebat yang tentu saja kuamini.Tirai kamarku tersibak, memperlihatkan sosok Mama yang membawa sesuatu. Aah… tadi aku memang menangis diam-diam dengan wajah terbenam di bantal. Setelah melarikan diri dari Mama, tentu saja. Aku menoleh ke arah jendela kamar, memperlihatkan sang langit yang kini bercorak jingga kemerahan. Aku memutar pandangan ke arah Mama. Pantas saja Mama mengkhawatirkanku karena Mama tau aku belum makan sore. Aku memang jarang makan nasi.“Fi…” Aku mengerjab kemudian tersenyum pada Mama. “Mama minta maaf, tidak seharusnya Mama memarahimu.” Aku menggeleng, “tidak Ma. Aku juga minta maaf. Aku tadi terlalu memaksa.” ujarku lalu menundukkan kepala. “Mama akan mengijinkanmu Fi.” Aku menoleh bingung pada Mama. Tadi Mama bilang apa? “Mama akan mengijinkanmu mengirim cerpen pada blog berbayar itu. Setidaknya jika cerpen kamu lolos, kamu berarti memang memiliki bakat dan kamu punya pegangan uang sendiri.”Aku menatap tak percaya pada Mama. Tau darimana Mama soal blog atau media berbayar itu? Seakan paham dengan tatapanku, Mama menunjuk kertas sobekan buku yang tergeletak di kasurku. “Cerpen ini.”“Kamu bisa menabung lalu sisanya tambahan uang dari Mama Papa untuk membeli ponselmu. Mama tau bahwa kamu gadis yang peka. Kamu tak pernah meminta ini-itu pada Mama ataupun Papa.”Aku tersenyum pada Mama, melahap makan soreku -mungkin petang- dengan penuh rasa bahagia. Meminum teh apel yang dibawa Mama. “Aku bisa mulai hidup mandiri dari menulis.”Ini kisahku. Bukan akhir melainkan awal untuk langkahku selanjutnya. Semoga tak mengecewakan Mama jika hasil tulisanku kukirim ke blog. Juga tidak mengecewakan kamu, iya kamu!Untuk kamu, jadilah manusia yang peka terhadap sekitar. Jangan jadi egois serta terlalu menuntut. Jangan pernah kecewakan orangtuamu, terutama Mama. Sebab doa Mama adalah doa yang selalu didengar oleh Sang Maha Kuasa. Sampai sini dulu ya, seutas kisahku. Sampai jumpa di lain waktu.Cerpen Karangan: Da Azure Biasa dipanggil Da. Dapat ditemui di Wattpad: Daa_zure Btw, terimakasih buat cerpenmu yang ngebolehin ganti nama pena (/^-^(^ ^*)/ Saya memang plin-plan ;(Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Sang Penunggu Pohon
Teen
25 Nov 2025

Sang Penunggu Pohon

Pada sore hari tepatnya pukul 16.27 aku dan rizky temanku berjalan pulang menuju rumah masing-masing sehabis main di kampung sebelah. Tak sengaja aku melewati sebuah pohon mangga yang terkenal angker di kampung ini. Tapi aku tak percaya, aku mengira itu hanya sebuah mitos. Saat aku melewati tepat di samping pohon itu, aku merasa merinding seperti ada hal yang aneh berada di sini.Tepat di pertigaan, Rizky pulang duluan karena rumahnya dekat di pertigaan ini. Sedangkan rumahku masih jauh sekitar 10 meter lagi. Kali ini aku hanya berjalan sendirian, dan aku kesal kenapa di saat seperti ini tubuhku meminta membuang air kecil. Kalau aku berlari pasti sudah keluar kemana-mana, dan aku memutuskan untuk menahannya, tetapi semakin kutahan semakin tidak tertahan. Terpaksa aku mengeluarkan cairan ini di pohon mangga itu. Bodohnya aku, kenapa aku membuangnya disini, padahal masih banyak tempat yang cocok, tapi ya sudah terlanjur.Tiba-tiba aku merasa ada yang melihat aku dari atas pohon, gemetar kakiku dan tanganku. Saat sudah selesai mengeluarkan cairan ini, aku langsung bergegas pergi dari pohon itu.Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhku ini yang sangat lelah di kasur yang lembut, aku memejamkan mata sebentar berharap lelahku ini hilang.Tiba-tiba aku terbangun dan terkejut melihat jam yang sudah mengarahkan pukul 18.18, suara adzan pun sudah terdengar berkumandang di berbagai penjuru. Saat ingin berdiri, telingaku tiba tiba mendengar suara tangisan di balik pintu kamarku, semakin fokus didengar semakin jelas suara tangisan itu. Detak jantungku berdetak sangat cepat, tubuhku merinding, kakiku gemetar, bulu kudukku juga mulai berdiri. Aku beranikan diriku ini untuk memastikan ada siapa di balik pintu kamar itu. Aku berdiri dan melangkah, mendekati pintu itu. Semakin jelas dan terasa, benar benar tidak beres. Aku tarik engsel pintu kamarku dan…“Huuuh, hanya halusinasiku saja”Aku melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada seorang pun ada di sini. Langsung aku mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi, saat aku melewati ruang makan aku merasa ada bayangan hitam berlari di sampingku, kali ini aku tidak perduli, mungkin itu hanya halusinasi aku saja. Kali ini rasa takutku melebih saat aku melihat sosok hitam sedang berdiri di sudut dapur. Aku sangat kaget dan hampir pingsan, tapi aku tahan dan langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi ini, aku merasa lega dan aku langsung membersihkan diriku ini.Setelah semua sudah siap, aku melangkah keluar, dan melihat kanan kiri untuk memastikan tidak ada seorang pun berada disini, aku mengambil sebuah alat penggorengan di dapur untuk berjaga jaga jika ada orang yang iseng menakut-nakutiku. Saat aku berada kembali di ruang makan, aku merasa ada yang mengikuti dari belakang, aku ga peduli. Aku melangkah ke arah kamar, semakin aku melangkah maju semakin terasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku beranikan diri untuk membalikkan badanku untuk memastikan, dan…Lagi lagi ini hanya halusinasi, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamar. Di dalam kamar aku merasa lega, aku pun langsung memakai baju dan bersiap untuk beribadah. Aku tak mungkin sholat di masjid, mungkin jamaah udah pada pulang, lebih baik aku sholat di rumah saja.Saat tanganku mengangkat, tiba tiba seperti ada yang berbisik di telingaku, sehingga yang membuatku tidak fokus. Aku harus bagaimana lagi, tidak ada orang di sini yang bisa menolongku. Yang aku harapkan hanya kedatangan ayah dan ibu yang melindungi diriku. Tapi itu tidak mungkin, karena ayah dan ibu baru saja pergi tadi pagi. Tapi sudahlah, aku ini laki-laki dan aku harus berani. Aku pun memberanikan diri dan langsung fokus untuk menunaikan ibadah.Alhamdulillah aku sudah selesai dan aku berdoa meminta pertolongan kepada Allah agar aku dilindungi setiap langkahku. Aku melihat ke arah jam yang sudah mengarahkan pukul 18.36, aku merasa takut disini. Mungkin aku tidak akan keluar dari kamar ini, tetapi tiba tiba ada ketukan pintu di luar, mungkin itu ayah dan ibuku. Langsung ku membuka pintu dan…Tidak ada seorang pun di sini, aku berfikir mumpung aku berada di halaman, mungkin aku pergi saja keluar dan pergi ke tempat ramai. Aku pun langsung ke luar dan ke rumah teman agar bisa menenangkan diriku ini.Sesampainya di rumah teman, aku melihat rumah temanku ini sangat sepi dan gelap. Aku memanggilnya tetapi tidak ada yang menyaut, tiba tiba ada seorang pak satpam yang mendekat yang bilang bahwa pemilik rumah ini sedang keluar kota. “Aneeh perasaan tadi sore Rizky baru saja main bersamaku”. Tapi sudahlah, aku ke tempat yang ramai saja, saat aku sedang berjalan tidak sengaja aku melewati pohon mangga itu lagi, gemetar kakiku sampai mengeluarkan air kecil yang membasahi celanaku. Saat aku ingin berbalik badan tiba-tiba…“Aaaaaaaaaaaa” Aku pun langsung kabur dari tempat itu dan menemukan Rizky di persimpangan jalan.“Kamu kenapa?” “Eee aku abis aja melihat sosok perempuan yang berambut panjang, matanya besar dan merah, mempunyai taring yang begitu tajam serta mukanya yang begitu hancur”. “Tolong aku riz” “Ee-maaf aku bukan nya tidak mau menolong tapi aku harus pergi ke rumah Edi” “Aku boleh ikut ga?” “Ya enggak lah ini urusan pribadi aku” “Hmm yaudah deh” Saut aku.Aku pun bergegas pergi ke rumah, saat aku ingin membuka pintu… “Aaaaaaaa” sosok itu pun muncul kembali, aku pun masuk kamar dan menguncinya, aku degdegan, nafas yang begitu terengah-engah.Lalu saat aku membaringkan tubuh ini dan mengejamkan mata yang begitu lelah. Tiba-tiba..“Hei bangun, maghrib maghrib kok tidur” “Aaaaaaaaaa”. Aku pun terbangun, ternyata ini cuma sebuah mimpi, lega sekali aku. Melihat ibu yang membangun kanku, aku terkejut.. “Kok mama sudah pulang, cepat sekali” “Iya tadi ayahmu tidak jadi ke luar kota karena ada urusan mendadak di kantornya, jadi mama pulang deh” “Ohh begitu” “Yaudah cepat sana mandi, maghrib maghrib kok tidur” “Baik mah”Saat aku mengambil handuk di sangkutan…“Aaaaaaaaaaa” Sosok itu lagi muncul sedang menatap wajahku dan berkata.. “Bersihkan kotoranmu di rumahku cepat”Tiba tiba aku pun pingsan, ayah dan ibuku panik dan segera menolangku.Tamat

Gelang Menghilang
Teen
25 Nov 2025

Gelang Menghilang

Siang beranjak sebentar lagi senja. Kedua pemuda tengah duduk saling berhadapan di warung emak Miul. Warung ini tempat favorit Gempi dan Jaka. Setiap mereka mengadakan rapat paripurna untuk berkumpul, merapatkan barisan. Pasti ada hal penting yang akan dibahas. Pemuda yang bernama Gempi gemar mengoleksi benda-benda mistis. Bukan cuma itu, dia percaya kalau benda mistis bisa membawa kehidupan yang lebih berarti, terutama. Saat cintanya ditolak oleh perempuan yang dia sematkan di dada kirinya.“Heran! Gue enggak habis pikir sama Pi’i” Jaka membuka percakapan. “kenapa lagi sih?!” Gempi menimpali dengan raut wajah datar. “elo tahu enggak?” Jaka memasang wajah serius. “ya enggak lah, secara elo aja belum cerita.” Gempi masih digempur dengan rasa penasaran sembari meneguk teh manis.“Pi’i … Punya benda ajaib.” Mendengar kalimat itu Gempi tersedak. “APAAA?!!! BENDA AJAIB?!” Tegas Gempi. “iya, lebih tepatnya gelang ajaib.” “Siapapun orang yang memakai gelang itu, dia bisa menghilang.” Jaka menegaskan seluk beluk gelang menghilang. “Wah, boleh dong gue pinjam. Buat ngintipin Najmi kalau lagi mandi. HEHE” “Cabul pikiran lo. Gimana bisa keinginan elo terkabul.” “Enggak, enggak. Gue bercanda, dia dapat gelangnya darimana?!” “katanya dari dukun, tapi gue gak tahu juga benar atau enggak.” “Dukun! Dukun apa?” Gempi kepingin tahu lebih dalam tentang gelang menghilang, namun Jaka menjawabnya dengan sikap nyeleneh. “DUKUN BERANAK!!!” “HAHAHA. Mangknya kalau punya darah tinggi jangan makan danging kambing.” “Jangan salahin kambingnya, elo yang bikin gue kesel melulu. Udah jelas, gue bilang kurang tahu.” “Daripada marah-marah mending telepon Pi’i” “gue udah telepon. Kita tunggu aja, dia lagi one the way.”Di menit berikutnya. Tiba-tiba mereka tercengang bukan main bahkan didalam posisi duduk. Mereka nyaris kejengkang. Kedua pemuda dikagetkan dengan kedatangan sebentuk sosok Pi’i sudah terduduk di samping Gempi. Mereka menganga, dan semakin yakin kalau-kalau Pi’i punya kekuatan mutan dari gelang yang melingkari lengannya.“eee … Elo kok bisa ada disamping gue?!” Sergah Gempi suaranya terbata-bata. “Gelang yang gue pakai menunjukkan kuasanya.” jawab Pi’i dengan santai sembari meletakkan gelangnya di atas meja.“Boleh gue pinjem gelang lo? Sebagai gantinya elo minta apapun gue kasih.” “Gimana ya?!” Pi’i melempar tatapannya ke arah Jaka, kemudian Jaka mengangguk pelan. “Please, gue mohon sama lo.” Gempi merengek seperti bocah meminta dibelikan balon tiup. “Oke, sebagai gantinya. Gue minta semua barang yang elo anggap jimat.” “Gue setuju.” seraya Gempi mengeluarkan jimat yang berada di ransel mini. Di atas meja kayu persegi empat mereka saling bertukaran azimat. Gempi merelakan kedua benda mistis ditukar dengan gelang menghilang.“elo ikhlas enggak kalau benda ini gue bakar?!” “Gue ikhlas, benda itu udah jadi milik lo sekarang.” Kata Gempi, seraya memilin-milin temali benda ajiab itu. “Deal.” Pi’i berdiri terpancang kemudian mengayunkan kakinya 2 langkah. Di pelataran tanah merah, Pi’i membakar azimat hingga menjadi partikel debu.Pi’i melempar pandang ke arah Gempi. Tatapan Pi’i mengurung gelagat Gempi tengah memakai gelang ajaib dan, kemudian Gempi pun menghilang.Keesokan harinya. Bertepatan malam jumat keliwon, ia ingin membuktikan sesuatu Keajaiban temali gelang yang sudah melingkar di lenggannya. Gempi jalan melenggang menuju ke suatu tempat, entah apa yang ingin ia buktikan dengan gelang menghilang itu.10 menit berlalu. Ternyata tujuan Gempi. Tak lain tentang seorang perempuan pujaannya.Sesampainya Gempi di depan gerbang kediaman rumah Najmi. Hati Gempi seperti ditancap ribuan anak panah. Sebab, perempuan berwajah cantik dan kulit putih berseri. Kerap menolak perasaan Gempi. Hingga 15 kali berturut-turut bahkan ilmu pelet pun tak mampu memutar balikan hati Najmi.Gempi membulatkan tekatnya untuk menerobos masuk ke dalam kamar Najmi, dia hanya ingin mengucapkan selamat malam pada saat Najmi terlelap, Dan ehm! mengecup keningnya. Itupun sudah terasa cukup baginya.Terlihat Gempi tengah merapal sebuah mantra. Entah mantra apa yang membuat ia bisa percaya diri. Setelah doanya terpanjat ia membasuh mukanya dengan telapak tangan.Gempi memulai aksinya, terutama ia memanjat pagar rumah yang tingginya hanya satu menter. Itu tidak membuat dia gentar sama sekali. Taap … Suara kaki Gempi menjejak ubin bebatu. Dia berhasil melewati gerbang. Gempi memulai lagi aksinya berjalan mendekati pintu rumah. Tiba-tiba bola mata Gempi membulat kencang melihat pintu rumah Najmi terbuka lebar. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Gempi semakin penasaran!Tanpa pikir panjang dia mengayunkan kakinya lebih gesit!. Tidak masalah jika di ruang utama ada keluarga besar Najmi, Gelang menghilang menunjukkan kuasanya. Membuat dirinya tidak terlihat oleh dua bola indra penglihatan.Di detik berikutnya kaki Gempi tertancap di depan pintu, Ia terbelalak. Hatinya kalut-marut, lututnya terasa lemas. Gempi nyaris pipis di celana. Di ruang utama. Dia melihat dua orang perampok tengah menggeratak barang-barang yang ada di situ. Tanpa komando, tanpa aba-aba Gempi berteriak sekuat tenaga.“MALINGGGGGG!!! MALINGGGG!!” teriakan Gempi memecahkan kesunyian. Kedua perampok itu tersentak kaget. Teriakan Gempi pun mengundang empunya rumah. Para perampok lari tunggang langgang, namun saat dihadapan Gempi. Mata perampok itu memerah darah seperti menyimpan segunung murka, lalu salah satu dari perampok itu mengayunkan sebilah pisau dan … tertancap tepat di bagian perut Gempi. “AAAKKKKK!” Gempi meringis seraya tubuhnya jatuh di lantai … Dan Najmi yang melihat tragedi memilukan itu hanya bisa menjerit histeris. “GEMPIIIIIIIIII” suaranya mendengung di dalam kepala Gempi yang hampir tak sadarkan diri.Tiga hari setelah tragedi memilukan. Alhamdulillah nyawa Gempi tertolong. Dia mendapatkan perawan. Baca: perawatan. Intensif di RSUD yang berada di tengah-tengah kota. Sekarang jendela hati Gempi sudah terbuka. Dia merasakan cahaya masuk kedalam batinnya. Bahwasanya percaya dengan benda mistis menyeretnya pada tragedi kelam bahkan mengorbankan nyawanya sendiri.“DITUSUK SAKIT TAU. GUE KAPOK!!” kata Gempi.Di sisi lain. Tindakan terpujinya bak seorang pahlawan menggagalkan sekelompok perampok mampu meluluhkan hati Najmi. Hingga perempuan yang sudah menolak perasaan Gempi, kini ia miliki seutuhnya.Closing Story…Pada saat Gempi dan Jaka di warung Emak Miul. Pi’i sembunyi di kolong meja. Itu adalah rencana Jaka dan Pi’i. Agar Gempi membuka matanya lebar-lebar. Jika percaya dengan barang mistik. Musyrik!

Pendakian Gunung Lawu
Teen
25 Nov 2025

Pendakian Gunung Lawu

Farel adalah seorang mahasiswa ITB yang mengambil jurusan teknik mesin. Suatu hari pada saat libur kuliah, Farel merencanakan untuk pergi mendaki ke gunung Lawu. Pada saat itu Farel masih berada di kosnya yang berada di Bandung sedangkan Gunung Lawu berada di Jawa Tengah. Pada saat itu Farel pulang terlebih dahulu ke kampung tempat tinggal kedua orangtuanya yang berada di Solo untuk bertemu mereka karena Farel sudah lama tidak bertemu langsung dengan kedua orangtuanya.Farel pun membeli tiket kereta untuk pulang ke Solo. Farel berangkat ke stasiun dan naik ke kereta, pada saat di kereta Farel telepon Dimas yang berada di Solo mengajak Dimas untuk mendaki. Dimas adalah seorang pendaki gunung yang handal sedangkan Farel adalah pendaki pemula dan ini adalah pendakian pertamanya.Farel pun sampai di Solo, perjalanan Farel dari Bandung ke Solo kira kira 8 jam. Farel menggambil hp dari celananya untuk menelepon Dimas agar segera dijemput.“Aku sudah sampai di Solo nih jemput aku di stasiun dong!” kata Farel. “Oke, aku jemput sekarang.” kata Dimas. “Aku tunggu didepan stasiun ya.” kata Farel.Dimas pun berangkat menjemput Farel dengan menggunakan mobil. Sekitar 45 menitan Dimas pun sampai di stasiun. Mereka pun bertemu di depan stasiun dan langsung kembali ke kampung Farel. Saat di perjalanan mereka berdua ngobrol tentang pendakian ke gunung lawu.“Tentang mendaki ke gunung Lawu kamu jadi ke sana.” kata Dimas. “jadi lah.” kata Farel. “Tapi kamu emangnya kuat sampai ke puncak, kamu kan baru pertama mendaki.” kata Dimas yang tidak yakin kalau Farel kuat untuk mendaki sampai ke puncak gunung Lawu. “Tenang pasti kuat kok.” kata Farel dengan sangat yakin kalau dia pasti bisa mendaki sampai ke puncak gunung Lawu.”Farel dan Dimas pun sampai di kampung kira kira 1,3 jam karena di perjalanannya macet. Farel pun sampai di rumah orangtuannya.“Assalamualaikum.” kata Farel dengan sangat bahagia karena sudah lama tidak bertemu ke dua orangtuannya. Kedua orangtua Farel kaget karena Farel pulang tanpa mengabari mereka berdua. “Loh kapan moleh kok gak dikabari se nak.” kata ibu Farel.” “Iyo kok gak ngabari se, sopo seng jemput.” kata bapak Farel. “Iku pak dimas teman waktu SMA dulu” kata Farel. “Yowes ndang istirahat sana!” suruh ibu karena ibu tau kalau Farel capek. “Buk aku besok mau ndaki ke gunung lawu ya.” kata Farel. “Iya-iya wes itirahat sana.” kata ibuk.Farel pun menuju kamar untuk beristirahat dan langsung tidur. sekitar jam 4 sore farel bangun dan menuju ke rumah Dimas untuk menanyakan pendakian besok.“Dim gimana pendakiannya apa aja alatnya yang dibutuhkan.” kata farel. “Tenang habis magrib kita ke basecamp temen temen gua yang sudah pengalaman mendaki termasuk gua.” kata Dimas. “Disana sudah ada alat alat untuk mendaki.” kata dimas.Habis magrib pun Farel dan Dimas ke bascam dan menginap di sana untuk membicarakan pendakiannya dan menyiapkan alat-alatnya. Mereka berdua sampai di basecamp disana, sudah ada alat alat untuk pendakiannya besok dan sudah disiapkan oleh teman temannya Dimas. Mereka berdua pun istirahat sambil minum teh hangat.“Jangan tidur malam-malam ya Rel!” kata Dimas. “Oke.” jawab Farel. “Soalnya kita harus berangkat pagi besok.” kata Dimas. “Habis minum teh langsug tidur aku kok.” jawab Farel.”Keesokkan harinnya Farel dan Dimas berangkat sekitar jam 7 pagi. Mereka berdua sampai di gunung lawu sekitar jam 10.00. “Target diatas itu kita akan ngcamp di pos 5 sekitar jam 17.00.” kata Dimas. “Ini sudah kedua kalinya aku mendaki ke gunung lawu.” kata Dimas. “Kamu sampai ke puncak Dim?” tanya Farel. “Aku tidak sampai puncak karena aku cidera dan kali ini pasti bisa sampai ke puncak.” jawab Dimas.Mereka berdua sampai di pos 1 sekitar jam 12. 00 dan sampai di pos 2 sekitar jam 12.30. Mereka berdua berjalan dimuali jam 10.30 Mereka berdua membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di pos 2 harusnya bissa lebih cepat jika Farel dan Dimas beristirahat lama banget. Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke pos 3. Tapi sudah 1 jam mereka berdua berjalan tapi tidak menemukan keberadaan pos 3.“Apakah mungkin pos 3 itu hanya mitos?” tanya Farel. “Nggak mungkin, tidak ada kata mitos di sini.” jawab Dimas supaya Farel tidak panik dalam perjalanan.Dan akhirnya pos 3 mulai terlihat sekitar 1 jam 30 menit baru sampai di pos 3. Farel dan Dimas sampai di pos 3 dan bertemu dengan kelompok pendaki lain. Di pos 3 ini ada sumber air bersih, yang langsung bisa diminum dan bisa untuk memasak. Dimas pun mengambil air dengan botol untuk persediaan air saat perjalanan ke puncak. Mereka berdua membuat kopi untuk menghangatkan badan mereka dan membuat mi instan untuk meraka berdua makan. Lumayan udah kerasa dingin tapi karena mereka sudah makan mi instan badan Farel dan Dimas pun terasa lebih hangat.Farel dan Dimas melanjutkan perjalanan mereka menuju pos 4. Sekitar jam 17. 00 mereka sampai di pos 4 target sampai pos lima jam 17. 00 pun gagal karena terlalu lama istirahat di pos 3. Di pos 3 mereka berdua meminum kopi dengan menikmati udara yang sejuk dan merokok terlebih dahulu sebelum ke pos 4 mungkin itu yang menyebabkan Farel dan Dimas sampai di pos 4 jam 17.00.Dimas memutuskan untuk ngecamp di pos 4. Tapi Farel Merasakan hal yang aneh di pos 4 ini. “Dim jangan ngecamp di sinil!” ucap Farel dengan ketakutan. “Emang kena Rel?” tanya Dimas. “Aku merasakan ada hal aneh di pos 4.” jawab Farel. “Tapi jika kita melanjutkan ke pos 5, sekitar jam 6 kita baru sampai di sana.” kata Dimas. “Gak papa yang penting jangan di sini.” Jawab Farel. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan ke pos 5.Di tengah perjalanan Farel mulai capek dan takut. “Dim aku capek nih berhenti sebentar dong!” ucap Farel. Mereka pun berhenti sebentar untuk beristirahat dan minum air. Sepertinya Farel sudah gak kuat untuk melanjutkan. Tapi karena Farel tidak mau mengecewakan Dimas, Farel melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat lagi.Kurang lebih 1 jam mereka berdua sampai di pos 5. Mereka berdua pun memesang tenda untuk mereka tidur. Farel dan Dimas memasak mi instan lagi karena itulah makanan paling praktis yang bisa dibawa untuk mendaki. Sesudah makan mereka langsung tidur karena besok harus melanjutkan perjalanan.Pagi pun tiba dan mereka bertemu dengan kelompok pendaki lainnya di pos. Sebelum mereka berangkat ke puncak mereka sarapan terlebih dahulu. Sesudah sarapan Farel dan Dimas beserta kelompok pendaki lain melanjutkan perjalanan dengan tidak membawa tas, karena jika membawa tas kemungkinan tas itu akan sangat berat karena perjalanannya lebih menukik, Mereka hanya membawa air minum dan memakai jaket, serta tidak lupa membawa jas hujan karena biasanya di gunung yang tadinya cerah tiba tiba hujan.1 jam perjalanan, mereka berjalan di tengah safana yang terbakar oleh api. Pada saat itu pula puncak gunung lawu mulai terlihat. sekitar 45 menit mereka berdua melewati safana yang sudah terbakar itu dan kurang lebih 1 jam mereka sampai di warung mbok yem. warung mbok yem sangat unik karena bangunannya tersusun dari botol bekas para pendaki. mereka pun membeli air minum karena air minum yang dibawa tadi sudah habis.Mereka beristirahat di warung mbok yem sekitar 1 jam. Sesudah itu mereka melanjutkan ke puncak gunung lawu. sekitar 1 jam mereka sampai di puncak dan tiba-tiba hujan datang untungnya mereka membawa jas hujan.“Akhirnya Dim kita sampai di puncak.” ucap Farel dengan sangat bahagia. “Iya akhirnya aku bisa menaklukkan puncak gunung lawu.” jawab Dimas.Mereka pun menikmati pemandangan dari puncak gunung lawu yang sangat indah dengan sangat bahagia.

A Moment
Teen
25 Nov 2025

A Moment

Suatu hari aku mau berangkat sekolah dan menunggu bus sekolah menjemput untuk berangkat sekolah. Tetapi sudah jam 06:45 bus sekolah belum menjemput disitu aku bersama laki laki yang aku tidak kenal, setelah jam 06:48 syukurlah bus sekolah sudah menjemput dan aku langsung bergegas menaiki bus itu. Dan tiba-tiba aku merasa haus dan aku mengambil air dari tas.byurr… “Aduh tumpah lagi” air minumku tumpah ke seragam laki-laki disaat busnya mengerem mendadak. “Aduh maaf ya gak sengaja,” kata Ratu. “Emm ya,” jawabnya dengan dingin. “Ehh ini pake sapu tangan aku aja untuk mengeringkan seragammu,” kata Ratu. “Emm ga usah,” kata laki-laki itu dengan cuek. “Ehh tapi itu basah banget seragammu,” kata Ratu. “Yaudah deh mana,” kata laki-laki itu.Tak terasa bus sudah tiba didepan sekolah dan disitu turun hujan sangat lebat. Dan saat aku membuka tas untuk mengambil payung, ternyata payungku tertinggal di rumah.“Aduh gimana ini mana jam masuk sekolah mau bunyi, bisa-bisa aku dihukum kepala sekolah. Tuhan tolonglah aku kirimkan satu malaikat untuk menolongku,” kata Ratu. “Ayo sama aku aja deh,” kata si laki-laki itu. “Emangnya gapapa,” kata Ratu. “Udah gapapa ayoo nanti keburu telat masuk kelas,” kata laki-laki itu.Akhirnya mereka tiba di depan kelas, dan masih ada waktu 30 menit untuk pelajaran dimulai. “Oiya kenalin nama aku Ratu dari ips 1,” kata Ratu. “Emm iya kenalin juga namaku Levin dari ips 3,” kata laki-laki itu. “Ouh okee,” kata Ratu.“Eeh oiya aku belum berterima kasih sama kamu, makasih ya Levin,” lanjut Ratu. “Oke sama-sama,” kata Levin. “Iya bagaimana kalau kamu ikut aku ke wali kelas untuk mengumpulkan tugas,” kata Ratu. “Oke lah ayoo deh,” kata Levin sambil menggegam tangan Ratu. “Tapi harus gandengan kayak gini?” tanya Ratu. “Iyaa dong,” jawab Levin dengan senyumnya.Bell masuk telah berbunyi dan aku sama Levin segera bergegas masuk kelas. “Eeh bell masuk udah bunyi tuh,” kata Ratu. “Ha iya yaudah aku anterin kekelas kamu dulu ya Ratu,” kata Levin sambil menatap Ratu. “Eeh ga usah nanti kamu telat masuk kelas gimana?” kata Ratu. “Gapapa Ratu udah gih ayo aku anterin,” kata Levin sambil tersenyum ke Ratu. “Yaudah deh ayoo,” kata Ratu.Aku dan Levin sudah sampai di depan kelasku dan aku segera bergegas masuk kelas. “Ha udah sampai,” kata Ratu. “Yaudah cepet masuk kelas,” kata Levin. “Yaudah deh kamu cepet kembali ke kelas kamu,” kata Ratu. “Iyaa deh ratu semangat yee,” kata Levin sambil tersenyum ke Ratu. “Oke kamu juga ya dada,” kata Ratu. “Okey,” kata Levin.Jam pelajaran berakhir dan istirahat pun dimulai tiba-tiba pada saat aku keluar kelas. Levin sudah menungguku didepan kelas dan mengajakku makan di kantin. “Eeh kamu ngapain disini,” kata Ratu sambil terkejut. “Ya nungguin kamu lah,” kata Levin sambil ketawa. “Emang mau kemana Vin?” kata Ratu. “Ya ngajakin kamu makan sama aku di kantin emang ga boleh?” kata Levin. “Ya boleh lah yaudah ayokk,” kata Ratu sambil tersenyum ke Levin.“Eeh iya kamu mau makan apa Ratu?” kata Levin sambil senyum ke Ratu. “Eem mau makan kentang goreng sama jus buah naga aja deh soalnya masih kenyang,” kata Ratu sambil menatap Levin. “Oke lah aku pesenin,” kata Levin sambil senyum. “Okee aku tungguin ya ditempat duduk itu,” kata Ratu sambil ketawa.“Nih makanannya tuan putri,” kata Levin sambil ketawa ke Ratu. “Eehh apaan sih udah makasih ya Levin yang baik hahaha…,” kata Ratu sambil ketawa ke Levin. “Iyaa sama-sama Ratu,” kata Levin sambil tersenyum ke Ratu.“Eeh iya tadi kamu nungguin aku lama banget ya sorry ya Levin soalnya aku tadi sama ngumpuli tugasku,” kata Ratu sambil menatap Levin. “Eeh ngapain minta maaf udah santai aja gapapa Ratu,” kata Levin sambil senyum ke Ratu. “Okee lah makasih ya Levin,” kata Ratu. “Iyaa sama-sama Ratu,” kata Levin.Jam istirahat telah berakhir aku dan Levin segera bergegas ke kelas masing-masing. Dan jam pelajaran berikutnya dimulai sehingga pelajaran berakhir. Saat aku keluar kelas tiba-tiba sudah menunggu didepan kelas.“Eh Levin, ngapain di sini?” tanya Ratu. “Ya nungguin kamu lah soalnya mau pulang bareng,” jawab Levin. “Yaudah ayo pulang,” kata Ratu.Mereka berjalan menuju ke parkiran bus sekolah sambil berbincang-bincang. “Gimana tadi pelajaranya, susah atau enggak?” tanya Levin. “Enggak susah sama sekali,” jawab Ratu. “Ohh gitu yaa, aku tadi agak susah pelajaran matematika bingung,” kata Levin. “Wah, ditambah lagi ya semangat belajarnya,” kata Ratu. “Asiap hahaha…,” kata Levin. “Yaudah ayo masuk bus, itu busnya udah nunggu,” kata Ratu. “Iya ayo,” kata Levin.Saat mereka sudah masuk bus. “Ayo sini duduk sama aku aja,” kata Levin. “Emang gapapa?” tanya Ratu. “Ya gapapa lah,” jawab Levin sambil senyum ke Ratu. “Yaudah deh hehehe…,” kata Ratu. “Nanti ikut aku ya Ratu,” kata Levin. “Kemana Vin?” tanya Ratu. “Ya ngajakin kamu jalan-jalan lah, soalnya besok kan libur,” jawab Levin. “Boleh, emang mau jemput jam berapa?” tanya Ratu. “Sekitar jam 7 an lah aku jemput, jam segitu kamu senggang atau enggak,” jawab Levin. “Iya aku jam segitu senggang kok,” kata Ratu. “Yaudah deh nanti aku jemput ya,” kata Levin.Akhirnya bus sekolah sudah sampai ditujuannya. Ratu dan Levin turun dari bus sekolah. “Yaudah aku pulang dulu ya,” kata Ratu. “Iya aku juga pulang dulu ya,” kata Levin. “Oke kamu hati-hati ya,” kata Ratu “Siap nanti aku jemput kamu ya, hati-hati di jalan juga yaa,” kata Levin sambil mengelus kepala Ratu. “Oke daa…,” kata Ratu sambil melambaikan tangannya. “Daa…,” balas Levin.Mereka pun berjalan menuju rumah masing-masing dan mereka pun sudah sampai di rumah. Setelah sampai rumah Ratu langsung bergegas menuju kamar untuk mandi. Setelah beres mandi Ratu menuju kasur untuk beristirahat, Ratu meraih handphonenya untuk melihat pesan-pesan yang masuk.Tiba-tiba ada sebuah pesan dari Levin. “Halo Ratu sudah sampai rumah?” pesan Levin. “Iya udah sampai rumah nih,” balas Ratu. “Kamu lagi apa?” pesan Levin. “Lagi tiduran Vin, kalau kamu lagi apa Vin?” tanya Ratu. “Oh, aku lagi nyantai,” balas Levin. “Ohh iya kamu udah makan?” tanya Levin. “Belum, habis ini mau makan,” balas Ratu. “Oh okee habis ini aku juga mau makan,” pesan Levin. “Yaudah aku mau makan dulu terus mau tidur siang dulu,” jawab Ratu. “Okee siap,” kata Levin.Ratu pun sudah tertidur. Dan sore hari pun datang Ratu bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Jam 7 telah tiba Ratu menunggu Levin dipintu gerbang rumahnya. Levin akhirnya datang dan mereka berangkat jalan-jalan. Mereka berhenti di sebuah café untuk makan.“Kamu mau pesan apa?” tanya Levin. “Mau makan steak sama minum jus buah naga aja,” jawab Ratu. “Okee bentar ya aku pesanin dulu,” kata Levin. “Iya aku tunggu disini ya Vin,” kata Ratu. “Okee deh,” kata Levin.Setelah menunggu beberapa menit makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Dan mereka mulai memakan makanannya. “Makannya sudah selesai?” kata Levin. “Iya sudah,” kata Ratu “Yaudah ayo lanjut ke tempat lainnya,” kata Levin. “Iyaa ayo,” kata Ratu. Mereka pun keluar dari café dan menuju ke sebuah taman di tengah kota.Dan mereka akhirnya sampai. “Duduk sini Ratu,” kata Levin. “Iyaa, udaranya sejuk banget ya kalau malam,” kata Ratu.“Oh ya sebenarnya aku mau ngomong sesuatu ke kamu,” kata Levin. “Ngomong apa Vin?” tanya Ratu. “Sebenernya tu aku suka sama kamu Ratu,” jawab Levin. “Terus?” kata Ratu. “Mau gak kamu jadi pacarku?” Tanya Levin dengan serius. “Yaudah deh hehehe…,” jawab Ratu sambil malu-malu. “Jadi kamu beneran mau sama aku? Apa Cuma omong kosong?” tanya Levin. “Iyaa mau beneran,” jawab Ratu. Akhirnya mereka berdua bisa bersama dengan bahagia.Tidak perlu mencari seseorang yang sempurna cukup temukan dia yang bisa membuatmu bahagia ~Ratu.

Penjara Suci
Teen
25 Nov 2025

Penjara Suci

Pada pagi hari ayam jantan sudah mulai berkokok, terdengar suara adzan subuh berkumandang. Ibu menghampiri kamarku untuk membangunkanku sholat subuh.“Aliza bangun, ayo sholat subuh dulu!” kata Ibu sambil mengetuk pintu kamarku. Karena tidak ada respon dari dalam, akhirnya ibu memutuskan untuk masuk ke kamarku.“Aliza ayo bangun, sholat dulu nanti keburu habis subuhnya.” kata Ibu lagi masih dengan suara rendah. “Eumm. Ibu bentar, Aliza masih ngantuk!” jawabku masih dengan mata tertutup. “Ayo sholat dulu, nanti tidur lagi gapapa.” “Iya bu, 5 menit lagi.”Karena aku tak kunjung bangun dan banyak alasan, hal itu membuat ibu marah. “Aliza, dengar apa kata ibu tadi?” kata Ibu dengan meninggikan suaranya. Aku kaget mendengar ibu membentakku dan aku langsung bangun dari tidurku. “Iya bu dengar.” jawabku sambil menunduk.“Jadi sekarang kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?” tanya Ibu. “Sholat!” jawabku dengan suara rendah masih dengan menunduk.Jam 6 pagi sebelum berangkat sekolah aku makan bersama dulu dengan Ayah dan Ibuku. Aku adalah anak tunggal. Aku juga bukan dari keluarga yang kaya. Di dalam rumah yang sederhana ini hanya dihuni oleh tiga orang saja, Aku, Ibu, dan juga Ayah. Aku adalah anak yang sangat bandel dan nakal, tak sering mereka memarahiku karena aku membuat masalah.Suatu hari setelah pulang sekolah aku langsung pergi main bersama temanku tanpa pulang ke rumah dulu dan memberitahu orangtuaku. Diluar aku melihat balapan motor bersama mereka. Setelah itu temanku mengajakku ke suatu tempat, tetapi aku tidak mengetahui tempat apakah itu.“Guys, kita disini ngapain?” tanyaku pada mereka. “Kita disini akan bersenang-senang, kita akan minum-minum disini Lis.” jawab Dini, salah satu dari temanku. “Iya Lis, nikmati aja waktu muda kita. Jarang-jarangkan kita bisa berkumpul seperti ini.” tambah Syifa dengan sangat antusias.Entah kenapa akhirnya aku menuruti ajakan mereka yang sangat bodoh ini. Kita semua sangat menikmati ini semua. Sampe malam pun menjelang dan aku telah melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu sholat. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, semua telah pulang ke rumahnya masing-masing. Sungguh, kepalaku sangat pusing karena kebanyakan minum tadi.Sesampainya di depan pintu rumah aku langsung membuka pintu, terlihat Ayah dan Ibu yang sedang menungguku pulang dengan raut wajah penuh dengan kemarahan. “Dari mana saja kamu?” tanya Ayah padaku.Karena aku tak kunjung menjawab pertanyaan dari Ayah, terlihat Ayah semakin marah padaku. “Dari mana kamu?” Ayah mengulangi pertanyaannya dengan penuh tekanan dan membuat aku semakin takut. “Ma-main Yah.” jawabku ketakutan. “Main? Dari pulang sekolah sampai malam seperti ini? Aliza, anak perempuan tidak seharusnya pulang malam seperti ini. Dan ya, kenapa sepulang sekolah tidak langsung pulang? Lupa jalan rumah? Apa udah lupa sama Ibu dan Ayah? Dan kenapa tidak kabarin Ibu atau Ayah dulu kalau mau pergi main? Kamu tahu, Ayah sama Ibu cemas nyariin kamu dari tadi. Ayah juga udah telepon kamu, tapi tidak ada respon sama sekali dari kamu. Sekarang Ayah tanya dan kamu jawab jujur, tadi di luar kamu ngapain aja?” tanya Ayah penuh dengan emosi.“A-aliza, Aliza mi-minum Yah.” “Maksud kamu minum-minuman keras?” “I-iya.” “Astaghfirullah Aliza, sejak kapan Ayah mendidik kamu untuk melakukan hal keji seperti ini? Ayah tidak pernah mendidik kamu seperti ini Aliza. Kamu tahu kan kalau minum-minuman keras itu perbuatan yang dilarang oleh agama? Dan kenapa sekarang kamu lakuin? Apakah kasih sayang dari Ibu dan Ayah untuk kamu itu kurang? Ayah tahu kamu itu anaknya bandel, tapi tidak seharusnya kamu seperti ini. Kamu sudah benar-benar keterlaluan Aliza. Ayah tidak tahu harus mendidik kamu dengan cara apa lagi agar kamu mau berubah dan kembali ke jalan Allah.” Ayah sudah frustasi menghadapi sikapku, dan tidak tahu harus dengan cara apa aku agar aku bisa berubah.Ibu menghampiriku dan menatapku dengan sendu. “Sayang! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan itu semua? Ibu tidak menyangka kamu bisa seperti itu. Sungguh, Ibu kecewa sama kamu Aliza.”Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku cuma bisa menangis. Tidak seharusnya aku menuruti ajakan teman-temanku tadi. Memang penyesalan selalu datang di akhir. Aku sudah tahu, pasti setelah ini aku akan dihukum. Entah hukuman apa yang akan mereka berikan padaku. Aku cuma berharap, semoga hukuman itu tidak berat untukku.“Aliza, Ayah tidak punya pilihan lagi. Ayah akan memasukkan kamu ke pesantren. Besok lusa kamu berangkat, dan segera kemasi barang-barang kamu.” Kata Ayah dengan penuh keyakinan.Seperti tersambar, terguncang hebat, ketika kudengar kalimat yang keluar dari mulut Ayahku. “A-apa Yah? Pesantren? Nggak, aku nggak mau, Aliza nggak mau masuk penjara suci itu Yah. Aliza nggak mau masuk pesantren, Aliza nggak mau jauh dari kalian. Jangan hukum Aliza seperti ini Yah, Aliza mohon!”“Tidak, keputusan Ayah sudah bulat. Hanya dengan cara itu yang bisa Ayah lakuin agar kamu bisa berubah. Di sana kamu akan memperoleh banyak ilmu, dan kamu akan mendapatkan banyak teman yang selalu mengajak kamu dalam kebaikan.” kata Ayah menyakinkanku.Aku berfikir sejenak memikirkan kata-kata Ayahku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menuruti kemauan mereka? Aku sudah tidak punya alasan lagi, sebaiknya aku iyakan saja kemauan mereka. “I-iya, Aliza akan turuti semua permintaan kalian. Aliza tahu, jikalau Aliza salah, mungkin ini jalan yang terbaik buat Aliza.”Hari ini aku sudah mulai untuk mondok. Penjara suci ini mungkin cocok agar aku bisa merubah diriku menjadi lebih baik lagi. Sungguh, aku menyesali semua perbuatan yang sudah kulakukan. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus semangat untuk menuntut ilmu di sini. Aku tidak ingin mengecewakan mereka.Hari demi hari aku jalani dengan ikhlas, semua aturan di pesantren juga aku jalani dengan baik. Saat ini aku lagi duduk di bangku taman, terlihat para santri berlalu lalang kesana-kemari. Aku teringat kata-kata ustadzah waktu itu, bahwasanya tidak ada orang yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, setiap kesalahan tentu harus disadari dan diperbaiki. Hidup kita akan berubah lebih baik jika kita bersedia untuk merubah diri kita terlebih dahulu.

Cinta Monyetku di SMP
Teen
25 Nov 2025

Cinta Monyetku di SMP

“Selamat pagi semua…!” Sapaan dari kepsek, Matahari menyambut pagi Ajaran baruku dengan cerah. Kini aku memasuki Tahun ajaran baru kelas 2 SMP. Yang dimana adanya peningkatan pembelajaran dari pada waktu kelas 1 dulu. Semua barisan tersusun rapi dan terpampang muka berseri-seri bagi adik-adik kelas yang memasuki Sekolah menengah pertama.Apel pun berlangsung dengan lancar dan pembagian kelas pun diumumkan. Kemudian Kepsek menyuruh untuk masuk ke kelas masing-masing yang telah ditentukan, Aku masuk kelas VIII-5 yang dimana pada masa kami, bisa dibilang Yah.. termasuk kelas buangan tapi aku senang karena mendapatkan teman-teman kelas yang cukup ramah dan menyenangkan.1 bulan berlalu berjalan, aku berusia 15 tahun dimana remaja yang menduduki masa pubernya. Ini sangat berbeda waktu kelas 1 dulu aku berumur 14 tahun, yang dulunya hanya fokus belajar dan memikirkan bagaimana aku berusaha untuk menjadi siswi yang terbaik di kelasku dulu.Tidak sengaja, teman sekelasku menabrak sepedaku yang kuparkirkan. Aku berteriak histeris..! “Woiiiii….!!!” “Kalo bawa sepeda tuh hati-hati Napa!” “Jangan kaya orang gila, tuh kan.. sepedaku rusak!” Sanking santainya ia menjawab “yaelah sorry lah, lagian aku ga sengaja” sambil merapikan rambutnya yang acakan lalu pergi begitu saja. Lalu aku terdiam dengan memendam segala emosi yang ada di kepalaku.Aku segera berlari melihat sepedaku yang oleng karena dia. Lalu aku kembali ke Kelas dan menghampiri dia. Sebelumnya aku mau deskripsikan siapa dia yang aku maksud. Teman sekelasku yang menabrak sepedaku adalah cowok, dia dipanggil Jino yang terkenal Jutek dan cuek sama semua cewek-cewek di kelas maupun di sekolah. Yahhh… menurutku sih dia memiliki tampang yang lumayan lah, tapi walaupun dia terkenal Jutek dan cuek tapi dibalik itu dia orang yang humoris.Aku berada tepat di depannya, Aku berkata berkali-kali biar dia mau memperbaiki sepedaku tapi dia tetap tidak mau dan hanya memilih untuk diam. Lalu aku kembali duduk di tempatku, selang beberapa jam kemudian lonceng jam pulang pun berbunyi. Akupun bersiap merapikan semua bukuku dan kuletakkan semuanya di dalam ranselku.Setelah itu, ku cek petugas kebersihan hari ini. ternyata sial..! Waktu tugas kebersihan kelas jadwal kami (aku dan Jino) ternyata bersamaan. Mau gak mau yah.. mau gimana lagi sudah jadwalnya, aku segera mengambil sapu dan tiba-tiba saja Jino datang dan mengambil sapu yang sudah aku pegang duluan. Sontak aku kaget! “Haduhhh Jino!!! Tolong yah jangan menambah beban pikiranku lagi, kenapa mesti sapu ini sih yang kamu pilih!” “mau gimana lagi sapunya cuma satu lagi?” “kan, ga mesti kamu nyapu lah?!” Jawabku, “Kamu kan bisa angkat kursi tuh.. sana!” Lalu dia dengan coolnya pergi gitu aja sambil melakukan pekerjaannya.“Huhhh…. dan akhirnya selesai juga!” Aku segera ke parkiran untuk mengambil sepedaku dan bersiap untuk pulang tapi sialnya sepedaku susah jalan, karena kejadian tadi pagi. Jino pun bergegas pulang tapi aku berusaha untuk memanggil Jino karena tinggal kami berdualah di sekolah, semua pada pulang.Lalu Jino pun berbalik badan, “haaaa?!” “Kenapa sih Nomi! Ada apa…?! Orang mau pulang, ada aja penghalang!!!” Dengan nada kesal. Tapi aku ga peduli, dengan nada tinggi “ini semua gara-gara kamu yah Jino sepedaku jadi gini kan susah jalan, gimana aku mau pulang kaya gini!?” “Aku ga mau tau yah kamu harus tanggungjawab bagaimana pun caranya aku ga mau kalo jalan kaki cuma gara-gara kamu..!!!”Sambil menghela napas Jino pun datang, “oke-oke aku minta maaf tadi pagi gak sengaja nabrak sepeda kamu, jadi sekarang kamu maunya gimana?” Dengan sabar aku menahan emosiku lalu menjawab.. “Yaudah aku maafin, Aku mau kamu perbaiki sepedaku apapun caranya!” “Oke tapi kan dari sekolah, bengkel sepeda jauh dari sini, gimana dong?” “Kok tanya aku?! Pikir sendiri lah!” Jawabku kesal. “Gimana kalo kita jalan kaki dari sini sampai ketemu bengkel?” dengan santai memberi solusi. Aku Udah pasrah… dari pada berlama-lama di sekolah Udah mau sore juga, jadi kita sepakat jalan kaki hingga sampai di bengkel.Singkat cerita, Udah mau memasuki semester 2 kelas 2 SMP Udah banyak waktu yang telah kita lalui dan udah banyak banget juga cerita serta kisah menarik yang terjadi sebelum memasuki semester 2 yang sangat dinantikan.Semester 2, dimana semua tugas menumpuk karena semester akhir kenaikan kelas. Banyak tugas yang harus dikerjakan berkelompok, entah kenapa 4 kali berturut-turut aku dan Jino tetap kelompoknya bersamaan agak kesal karena harus bareng kelompok sama si cowok kepala batu.Hari ini, ada pratek di lapangan tentang olahraga, Terik matahari sangat panas sehingga kuputuskan untuk masuk ke kelas untuk beristirahat dan minum air karena kehausan. Tiba-tiba hp ku berbunyi, di sekolahku tidak mengizinkan membawa hp di sekolah tapi karena praktek, kami diperbolehkan untuk mengambil dokumentasi praktek di lapangan.Aku melihat hpku, ada pesan dari nomor yang tidak dikenal “hy.. boleh kenalan?” (Isi pesan), tapi aku bodo amat gak mau bales, lagian aku gak kenal itu siapa. Tingg… berdering lagi, “eh sombong banget gak dibales ni ye” isi pesan. Sambil aku menarik napasku, berkata “apa-apaan sih ini, gak kenalpun” tapi aku tetap positif thinking siapa tau orang yang aku kenal. Jadi, aku memutuskan untuk membalas chatnya “Iyah, ini dengan siapa yah?” Dengan tidak lama kemudian dia membalas “hayo coba tebak aku siapa?” Aku semakin emosi ditambah capeknya lagi tadi panas dan siap praktek. karena dia, gak mau to the point langsung ngasi tau siapa dia. Akhirnya aku menonaktifkan hpku. Seperti biasa aku pulang ke rumah karena waktu telah menunjukkan jam pulang sekolah.Malam hari, seperti biasa rutinitasku mengerjakan tugas-tugas sekolah yang udah lumayan menumpuk. Tiba-tiba hp ku berdering lagi tapi bukan pesan chat, ini panggilan dengan nomor yang sama tadi di sekolah. Langsung aku angkat karena merasa penasaran juga siapa sih ini orang yang sukak gangguin orang malam-malam?!“Halo.. ini siapa ya?” “iyah, halo.. masa kamu ga tau?” “udahlah gak usah banyak basa-basi, kamu kasi tau kamu siapa dan ada urusan apa telpon aku malam malam kaya gini?! Kayak ga ada kerjaan aja!” “kamu ga bisa tanda suaraku?” Ini Nomi kan?” “iyah Aku Nomi, dan aku ga peduli juga mau nandain atau enggak suara kamu, bodo amat!” “hehhehe… oke oke dari pada kamu marah-marah, ya udah aku jujur deh ini aku Jino” “hah..?! Jino?!? Yang betul aja lah, jangan main-main yah! Kok bisa tau nomorku, kamu ambil dari mana?!” “selooo lah… atuh buk, ini aku ambil sama kawan sekelas kita, kamu tau kan Rina?” “oh.. iya iya aku tau, ada apa yah Jino?!” “enggak kok pengen ngobrol aja”Percakapan pun berlangsung 1 jam 20 menit 3 detik dengan semua topik yah bisa dibilang menarik, ternyata anaknya juga asik diajak ngobrol, walaupun Udah terlanjur kesel duluan sih hehehe… karena sanking batunya, eh tapi bisa cair juga ternyata.Selang beberapa menit, ingin mengakhiri pembicaraan di telepon. Dia tiba-tiba bilang gini “Nom.. aku ga tau deh ada yang beda saat aku kenal sama kamu” “beda apa yah Jino?” bingung “Iyah beda, karena kamu udah bisa buat aku nyaman!” “hahahaha.. yaelah pakek acara nyaman segala!” “aku serius Loh, kamu merasakan hal yang sama gak?!” Gugup “ummm….a paan sih, aku biasa aja kok!”“Nom..” “Iya Jino..?” “boleh aku jujur ga sama kamu?” “Iyah… boleh” jawab santai “kalo aku sebenarnya dari awal suka sama kamu!” Seketika mukaku memerah kala itu “apaan sih!! Norak tau candaannya!” “aku ga bercanda Nom, aku berkata jujur ini” Percakapan kami pun berlangsung dengan panjang lebar yang dimana akhirnya karena aku ga bisa jawab perasaan dia jadi dia kasih aku waktu 2 hari untuk menjawab.Singkat cerita, pagi hari aku ke sekolah dan Jino udah mulai care sama aku.. gak kaya biasanya yang jelas dingin banget dan kawan-kawan sekelas pun kaget seorang Jino care sama cewek, Tapi aku santai aja nanggapinya dan berusaha terlihat santai. Dia ngajak aku ke kantin, lalu kami ke kantin berdua. Tiba-tiba dia bisikin gini “aku tunggu ya jawabanmu” Langsung aku terdiam dan tidak berkata apa-apa. Tapi pertemanan kami tetap berjalan baik-baik saja. Dan mulai suka bareng kalo pulang, karena arah rumah kita searah.Kini tiba hari dimana aku harus kasi jawaban ke dia, tentang perasaan dia yang dia sampaikan melalui telepon kemarin. Aku diajak ke taman belakang sekolah, Lalu dengan pelan-pelan berkata “gimana Nom kamu Nerima aku, jadi pacar kamu?” Kemudian aku jelasin semua perasaan aku juga ke dia dimana kami sama-sama memiliki perasaan yang sama yaitu saling jatuh cinta dan saling suka.Mulai hari itu Aku dan Jino menjalin hubungan pacaran, walaupun sering cekcok hanya gara-gara masalah sepele yah namanya aja “cinta monyet”. Tapi Dia cinta pertamaku dan pacar pertamaku.Hubungan pacaran kami bertahan 7 bulan setelah itu kami putus karena dia pada saat kenaikan kelas, papa mamanya memutuskan ia pindah keluar kota, ngikut papanya pindah kerja keluar kota otomatis, sekeluarga mereka pindah. Jujur sih kata putus tidak pernah ada dalam hubungan kami tapi semakin lama hubungan kami renggang dan tidak ada komunikasi sama sekali bahkan Kontaknya pun tidak pernah tersimpan lagi, karena nomor Jino gak aktif lagi.Kini cinta monyetku berakhir di akhir kenaikan kelasku. Sedih sih rasanya apalagi kita sering ngerjain tugas bareng, ke kantin bareng, apalagi pulang bareng, kebanyakan bareng-bareng. Tapi mau gimana lagi seorang remaja tidak bisa mempertahankan masa cinta monyetnya dengan hanya status pacaran, tanpa komitmen, hehehe mau gimana komitmen, kita pun sering berantem waktu itu. Lucu juga si.., kalo diingat-ingat masa itu, Kini Aku fokus sekolah dan belajar akhirnya bisa kuliah di PTN yang aku tuju.Siapa yang tau waktu, waktu mempertemukan kami kembali. Rupanya dia kuliah di kampus yang sama lagi denganku. Tapi dengan status kami udah punya pacar masing-masing dan puji Tuhan sampai sekarang Hubungan silaturahmi kami tetap terjalin baik meskipun hubungan cinta monyet kami SMP tidak ada kejelasan. Dan sempet ngakak bareng-bareng juga pas kami ingat masa SMP kami dulu.Sekian dan terimakasih.

Menampilkan 24 dari 228 cerita Halaman 9 dari 10
Menampilkan 24 cerita