JEALOUSY
Teen
26 Nov 2025 27 Nov 2025

JEALOUSY

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (41).jpeg

download (41).jpeg

27 Nov 2025, 14:15

Aku menatapnya dari kejauhan. Dia cantik. Sangat cantik! Dan aku mencintainya dengan teramat sangat.

Aku ingat saat awal aku mendekatinya. Namanya Veanna Angelica Sanjaya. Dia sangat populer. Ada perasaan takut diabaikan.

Nekat aku minta pin bb nya dari teman dekatnya yang ku tau sering bersamanya. Lalu dengan hati berdebar, ku invite dia.

Demi Poseidon sang penguasa lautan, aku berjingkrak kegirangan saat dia menerima undangan pertemananku. Tapi aku bingung akan memulai dari mana.

Kucoba mengetik sesuatu, namun segera kuhapus. Kuketikkan lagi sebuah kalimat pembuka, kuhapus lagi. Terus begitu berulang-ulang.

Hingga sahabatku hilang kesabaran melihat tingkahku. Diambilnya ponselku, dan ia mengetikkan sesuatu di sana. Lalu diserahkannya kembali ponselku.

Kubaca dalam hati dan tegang menunggu balasan darinya.

Aku Hai .

Vea Hai juga

Aku membelalak dengan jantung berdegub kencang. Dia membalas chat ku!

Tapi sedetik kemudian aku kembali bingung. Aku harus membalasnya apa lagi?

Kupandangi layar ponselku hampir tak berkedip.

Rupanya sahabatku mengetahui kegugupanku. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kembali ponselku dan mengetikkan sesuatu kembali di sana.

Aku : Boleh kenalan? Namaku Andi.

Ponselku sudah kugenggam kembali. Mataku melotot menunggu balasan ya kembali.

Vea : Aku tau. Kamu Andi yang kapten basket itu kan? Yang juga pengurus osis sie bidang olahraga?

HAH? Dia tau aku? Hatiku mengembang. DIA MENGENALKU!

Aku : Betul. Kok kamu tau?

Vea : Siapa yang tidak tau Kapten Basket SMA Bintang Timur?

Aku : masa sih aku sepopuler itu? Masih populer kamu kali.

Vea : Kata siapa? Aku kan cuma siswi biasa.

Aku : Siswi biasa yang cantik dan populer.

Vea : Nggak ah. Biasa aja kok.

Aku tersenyum senang. Kulanjutkan chat ku yang selalu ditanggapinya.

Selama berhari-hari, aku dan dia terus chatting melalui bbm. Bahkan pembicaraan kami sudah meningkat menjadi semakin akrab.

Aku bahkan berani terang terangan menunjukkan rasa sukaku terhadapnya. Perlahan aku mendekatinya di sekolah.

Aku semakin akrab dan dekat hingga tanpa terasa tiga bulan sudah aku dekat dengannya.

Aku bahkan sudah mengatakan kalau aku menyukainya, bahkan mencintainya.

Ya, meskipun ia tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku padanya, tapi dari tingkah laku dan kata-katanya saat chatting denganku, aku bisa menyimpulkan bahwa ia juga menyukaiku.

Semakin lama, aku semakin menyayanginya, mencintainya.

Aku teringat saat pertama kali menemuinya di kantin sekolah. Ia tampak tersipu malu-malu. Sangat menggemaskan, membuatku semakin ingin memilikinya, menjadikannya satu-satunya ratu dihatiku.

Aku tidak mengerti dengan diriku yang begitu ingin menjadikannya milikku. Aku begitu cemburu melihatnya dekat dengan teman laki-laki dikelasnya. Bahkan aku cemburu dengan setiap lelaki yang berada di dekatnya.

Jujur, aku benar-benar tersiksa dengan perasaanku yang begitu posesif terhadapnya.

Aku berusaha menekan kecemburuanku setiap kali ia dekat dengan teman-teman lelakinya. Aku takut kehilangannya.

Melihatnya bercanda dan tertawa bersama Andreas teman seangkatannya, sudah membuatku kalang kabut dan merajuk melalui chat ku di bbm dengannya.

Belum lagi saat ia bertaruh dalam game online dengan Pandu dan Ernest, membuatku seperti kebakaran jenggot.

Entah kenapa, banyak sekali teman dekatnya yang berjenis kelamin cowok.

Hmm, aku ingin membuatnya melihat kepadaku saja. Aku yakin ia juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Toh selama ini dia terus membalas chat ku dan mengimbangi ungkapan sayangku padanya, meskipun ia selalu mengelak saat aku mengatakan bahwa aku mencintainya dengan mengatakan bahwa ia masih ingin bebas berteman. Tapi ia tidak keberatan dengan semua perhatianku, bahkan ia tampak begitu malu-malu dan menggemaskan saat aku menggodanya.

Lima hari lagi ia berulang tahun yang ke 17. Aku ingin memberinya sesuatu yang berkesan untuknya.

Teman-teman nya mengatakan bahwa gadis cantikku akan mengadakan pesta di sebuah hotel berbintang. Undangan sudah berada ditanganku. Ya, ia mengundangku.

Dengan panik aku mulai mencari hadiah yang pantas dan berkesan untuknya. Seperti orang gila, aku mencari kado special untuknya. Setiap toko kumasuki hanya untuk mencari sesuatu yang pantas untuk kuberikan pada gadis cantikku.

"Sebenarnya lo mau ngasih kado apa sih?" kudengar pertanyaan bernada jengkel dari sahabatku, Steven.

"Gue masih belum menemukan yang pas untuk Vea, Stev. Lo ada ide gak?" aku balik bertanya.

"Boneka? Tas? Cincin? Kalung? Bunga? Baju? Sepatu? Jam tangan?" dengan malas Steven menyebut semua barang yang ada di otaknya.

"Aaaarrgh...aku bingung!" kuacak rambutku dengan kesal.

Steven menoleh ke arahku lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaibku.

======(*)======

Aku mengacak-acak isi lemari bajuku. Mencari yang terbaik yang aku punya. Buru-buru kukenakan dan kesemprotkan parfum hadiah ulang tahunku tahun kemarin dari Mama.

Bergegas aku berlari menuju ruang tamu di mana Steven dan Bryan menunggu.

"Wangi amat Sob? Udah kayak peri aja lo!" kuabaikan ledekan Bryan.

Kami bertiga segera meluncur ke tempat acara.

Kurang dari setengah jam, aku tiba di hotel yang sudah tertulis pada undangan.

Bertiga aku, Steven dan Bryan setengah berlari menuju ballroom tempat acara diadakan.

Ruangan sudah penuh. Acara baru saja di mulai. Syukurlah, aku tidak begitu terlambat.

Kuletakkan kado yang kubawa di tempat yang sudah disediakan,

lalu aku bergabung dengan undangan yang lain.

Terdengar MC mengumumkan bahwa Veanna Angelica Sanjaya akan segera masuk ke dalam ruang pesta.

Semua undangan bersiap merapat membentuk barisan sepanjang karpet merah yang digelar mulai depan pintu hingga tempat yang sudah disediakan.

Vea memasuki ballroom didampingi kedua orang tua nya dan dua orang laki-laki tampan yang kuduga sebagai saudaranya.

Ia tampak sangat cantik dengan balutan dress warna putih dipadu dengan konbinasi warna baby pink. Ia seperti bidadari yang turun ke bumi menebar cinta untukku.

Mataku tak pernah lepas darinya. Ia membiusku begitu dalam hingga membuatku mabuk kepayang.

Sekarang ia sedang memotong kue taart nya. Dengan hati berdebar, aku menunggu. Ia akan memberikan potongan kue pertamanya. Untuk siapa?

Aah...Untuk kedua orang tuanya. Potongan berikutnya? Haaaa.... untuk kakaknya yang tadi mengawalnya. Dan potongan berikutnya... berikutnya... berikutnya... hingga semua mendapatkan potongan roti.

Saat aku menikmati potongan roti, kudengar riuh tepuk tangan di depan. Ada apa? Apa yang terjadi di depan sana?

Kulihat seorang teman lelaki sekelasnya sedang menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tapi, ada yang janggal dengan penampilannya. Kenapa ia nampak serasi dengan Vea-ku? Dan lagunya?

It's undeniable that we should be together

It's unbelievable how I used to say that I'd fall never

The basis is need to know, if you don't know just how I feel

Then let me show you now that I'm for real

If all things in time, time will reveal, yeah

One, you're like a dream come true

Two, just wanna be with you

Three, girl, it's plain to see

That you're the only one for me

And four, repeat steps one through three

Five, make you fall in love with me

If ever I believe my work is done

Then I'll start back at one, yeah yeah

Mataku membelalak melihat pemandangan di depan sana. Joshua nampak berlutut sambil sebelah tangannya menggenggam jemari Vea.

It's so incredible, the way things work themselves out

And all emotional once you know what it's all about, hey

And undesirable for us to be apart

I never would've made it very far

'Cause you know you got the keys to my heart

'Cause

One, you're like a dream come true

Two, just wanna be with you

Three, girl, it's plain to see

That you're the only one for me

And four, repeat steps one through three

Five, make you fall in love with me

If ever I believe my work is done

Then I'll start back at one, yeah yeah

Kini Joshua berdiri. Sebelah tangannya masih menggenggam erat jemari Vea. Dan Vea masih dengan senyum manisnya membalas tatapan mesra Joshua.

Say farewell to the dark of night

I see the coming of the sun

I feel like a little child

Whose life has just begun

You came and breathed new life

Into this lonely heart of mine

You threw out the lifeline just in the nick of time

One, you're like a dream come true

Two, just wanna be with you

Three, girl, it's plain to see

That you're the only one for me

And four, repeat steps one through three

Five, make you fall in love with me

If ever I believe my work is done

Then I'll start back at one, yeah yeah

Suara tepuk tangan riuh mengiringi akhir dari lagu yang membuatku sakit kepala.

Apa yang kulihat begitu menyakitkan mata dan hatiku. Bagaimana mesranya mereka berdua, begitu dekat, pegangan tangan itu tak juga lepas. Senyum diwajah Vea tampak sangat menggambarkan perasaannya. Ya, ia pasti sangat bahagia. Apalagi teman-teman nya yang selalu bersorak meneriakkan betapa serasinya mereka berdua.

Aku sakit. Kutahan perasaanku yang ingin segera pergi dari tempat itu.

Kuketikkan sesuatu melalui bbm pada Vea. Ini benar-benar tak dapat kutahan.

Apalagi kulihat teman laki-lakinya yang ku tau bernama Joshua Anggara itu benar-benar terus menempel pada Vea.

Malam itu aku pulang dengan perasaan yang amat sangat sakit. Baru kali ini aku merasakan hatiku seperti diremas-remas.

Dengan segera kulihat layar smartphone ku saat kudengar notifikasi bbm.

Itu dari Vea! Apa yang akan dikatakannya? Bagaimana sebenarnya perasaannya padaku?

Kulihat jawaban Vea atas bbm ku sebelumnya.

Aku kamu sangat cantik malam ini. Tapi aku gak nyangka kalau aku harus melihat adegan yang bikin aku sakit hati.

Vea : Maaf, itu cuma nyanyi aja kok. Jangan marah ya.

Bagaimana aku tidak marah melihat semua itu didepan mataku? Kubalas bbm Vea.

Aku : Tidak apa. Aku sadar aku tidak bisa membuatmu sebahagia tadi.

Vea : Bukan seperti itu.

Aku : Aku sadar kok siapa aku. Aku gak akan pernah bisa membuat kamu tersenyum seperti tadi.

Vea : Kamu juga sudah bikin aku senyum kok.

Aku : Kamu gak perlu bohong buat bikin aku senang.

Vea : Aku gak bohong.

Aku : Joshua pasti bikin kamu senang banget ya malam ini.

Vea : Biasa aja kok.

Aku : Kalian berdua cocok kok.

Vea : Masa?

Aku : Bener kok. Serasi banget.

Aku mengetik semua itu dengan hati yang benar-benar hancur. Apalagi setelah itu Vea tidak lagi membalas chat ku.

Aku benar-benar kelimpungan karena perasaan cemburu yang menguasaiku. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Vea yang sedang digenggam tangannya oleh Joshua yang berlutut di hadapannya terus menerus menggangguku.

======(*)======

Ini sudah dua minggu sejak kejadian itu. Berkali-kali aku mencoba kembali chat dengan Vea, namun ia tidak lagi seperti dulu. Ia sudah tidak lagi menganggap chat ku.

Perlahan-lahan ia makin mengabaikanku.

Aku pasrah sudah. Sejak awal Vea memang tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku terhadapnya.

Di sekolah pun ia tidak lagi menatap malu-malu sambil tersenyum padaku.

Ia lebih suka menghindariku.

Ia juga makin dekat dengan Joshua.

Laki-laki itu mampu mengambil hati Vea-ku dengan sejuta pesona yang dipunyainya.

Sekarang aku hanya bisa menatap wajah cantik Vea dari jauh. Menatap senyumnya yang selalu mengembang manis untuk siapapun yang dekat dengannya.

Aku sudah kehilangan Vea. Ia sudah bukan lagi Vea-ku.

Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan dalam kesendirian dan keterpurukanku.

SELESAI .

Kembali ke Beranda