Ilmu Pengetahuan
Teen
26 Nov 2025 27 Nov 2025

Ilmu Pengetahuan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (37).jpeg

download (37).jpeg

27 Nov 2025, 14:06

Seperti yang diketahui bahwasannya ilmu adalah syariat yang bisa kita bawa sampai ke langit nanti. Banyak orang yang menganggap ilmu hanyalah sebuah dongeng dan membosankan. Tapi bagi orang bijak, ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang membawa kebaikan. Dengan ilmu pengetahuan derajat kota tinggi di antara orang-orang. Rajinlah mengangkat ilmu dan mencari ilmu di mana saja. Ilmu mudah dicari, lebih singkatnya ilmu bisa digapai jika kita mempelajari sebuah hal baru. Mudah, bukan? Yuk mencari ilmu.

Suatu ketika di sebuah desa A, terdapat kejadian yang mengharukan beberapa tetangga. Karena anak dari Bu Titin hendak merantau jauh dari ibunya karena ingin mendapatkan ilmu di negeri seberang. Mereka saling berpelukan, melepas rindu yang cukup lama bagi mereka berdua. Ayah dari Teo, anak Bu Titin ini sudah tiada semenjak kecelakaan dua tahun yang lalu. Gagal ginjal membuat pria tua itu meninggal pada hari kedua setelah dioperasi, meninggalkan keluarga kecilnya lebih dahulu. Setelah kejadian itu, Bu Titin menjadikan dirinya sebagai kepala keluarga dan menjadi ibu bagi Teo yang saat itu baru berusia 12 tahun.

Hari ini, di awal tahun, anak yang masih muda harus merantau jauh dari ibunya mengikuti pamannya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Walaupun sangat sedih, Teo dan Bu Titin harus bersabar demi masa depan mereka masing-masing. Teo melambaikan tangannya kepada ibu ketika ia sudah menaiki mobil milik sang paman. Dengan menangis terisak-isak, Bu Titin melambaikan tangannya kepada Teo hingga mobil itu tak lagi terlihat.

Tangis wanita itu pecah menatap kepergian anak semata wayangnya. Berhari-hari kemudian, dengan masih murung karena ditinggal anaknya, datanglah seorang tetangga baru di samping rumahnya. Ia menyapa para tetangga dengan membuatkan makanan sederhana sebagai bentuk perkenalan. Ia cukup ramah, selalu mengantarkan makanan itu sampai ujung gangnya. Namun setelah itu ia kembali ke rumah untuk beristirahat karena memakan waktu banyak untuk berjalan ke ujung gang.

Bu Titin masih penasaran dengan tetangga barunya itu. Ketika ia menyapa, wanita itu terlihat tidak suka kepadanya. Ia mulai mencari informasi mengapa tetangganya itu tak pernah keluar rumah walau pernah terlihat sekilas. Hingga tanpa terasa, satu bulan berlalu dan Bu Warni mulai terkenal di gang itu. Perubahan sifat wanita itu membuat para tetangga bertanya-tanya. Ternyata Bu Warni itu sikapnya memang kurang sopan; hanya baik di awal. Ia sekarang sering berkata sombong, bahkan menjadi ibu-ibu penggosip nomor satu di sana.

Yang paling ia gosipkan adalah Bu Titin yang terkenal baik walau kurang mampu. Suka menolong dan bahkan tanpa sungkan memberikan sesuatu yang ia punya. Walau jarang terlihat, sesekali ia mengobrol singkat dengan tetangga hanya untuk menanyakan kabar. Tetangga tahu Bu Warni itu tukang gosip dan tak suka kepadanya. Mereka pun menghindar, bahkan jika bertemu hanya basa-basi sebentar sebelum mencari alasan untuk menjauh.

Kejadian itu bertahun-tahun masih saja Bu Warni lakukan, bahkan Bu Titin tahu bahwa Bu Warni tidak suka kepadanya karena kurang berbaju wangi dan kurang dalam penampilan. Namun Bu Titin tidak pernah membalas, ia hanya berdoa agar suatu hari kebaikan menjadi miliknya.

Delapan tahun berlalu. Selama itu Bu Titin selalu berkomunikasi dengan anaknya melalui ponsel yang diberikan pamannya. Tapi sudah dua hari ini Teo tidak memberi kabar, membuat Bu Titin khawatir. Karena selama ini Teo tak pernah lupa memberi kabar. Tiba-tiba adzan berkumandang, Bu Titin melaksanakan salat dan lupa sejenak pada kekhawatirannya. Walau terdengar kegaduhan di depan rumah, ia tetap melanjutkan salat sampai selesai.

Hingga ia mendengar pintu diketuk. Setelah membersihkan mukanya, ia berjalan ke pintu. Ia membuka pintu dan terkejut melihat seorang pria dengan setelan tuxedo. Dengan gugup ia meraih wajah pria itu, mengelusnya perlahan sambil berlinang air mata.

“Teo…” ucap Bu Titin pertama kali ketika melihat wajah tampan itu. Ia memeluknya, dan Teo pun memeluk ibunya dengan sangat erat melepaskan rindu yang hanya terlampiaskan lewat suara selama bertahun-tahun. Bu Titin tahu dari firasat seorang ibu bahwa pria itu adalah Teo. Terlebih lagi ketika ia melihat suaminya tersenyum dari arah belakang, seolah berhasil mengantar keluarganya kembali bersatu.

Teo masuk dan bercerita banyak mengenai kehidupannya selama tinggal dengan pamannya. Bu Titin hanya mampu menangis haru mendengarnya. Teo sudah bekerja keras, dan kejutan besarnya adalah ia membawa ibunya menuju rumahnya yang baru sekarang. Rumah itu besar—enam kali lipat dari rumah Bu Titin. Ia membawanya masuk, memperkenalkan setiap ruangan, dan berkata, “Ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Mulai hari ini ibu tinggal bersamaku.”

Sementara itu, hidup Bu Warni yang sepanjang hidupnya digunakan untuk bergosip akhirnya berubah. Semua aset berharganya dijual karena terlilit utang. Saudara-saudaranya tidak mau membantu karena sikapnya dulu. Setiap hari ia menerima gunjingan karena sering berjalan sendirian seperti orang hilang arah. Namun begitu, Bu Warni tetap bertahan hingga ajal menjemputnya.

Kebaikan seperti berpindah ke kehidupan Bu Titin—ibu yang sabar, ikhlas, dan selalu berbuat baik. Semua kebaikan seolah terbalas oleh Tuhan dengan kehidupan yang lebih baik bersama anaknya.

Kembali ke Beranda