Ramalan Cinta Untuk Langit
Teen
30 Nov 2025 30 Nov 2025

Ramalan Cinta Untuk Langit

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (18).jpeg

download (18).jpeg

30 Nov 2025, 16:36

Alarm jam di kamar ku sudah berulang kali berbunyi, tapi rasa hangatnya selimut yang membalut tubuh ku dari tadi malam sungguh sulit untuk ku gantikan dengan seragam sekolah, apalagi jika ku ingat pelajaran pada jam pertama adalah pelajaran dengan guru terganas di sekolah ku.

Kenalkan namaku Bulan Purnama, ibuku memberikan nama yang sangat indah untukku. Ibuku mengatakan aku dilahirkan pada malam bulan purnama, jadi dia memberiku nama Bulan.

Aku adalah sosok yang sangat pendiam. Bahkan di sekolah aku tidak memiliki seorang teman pun. Aku lebih senang menyendiri di taman saat jam istirahat berlangsung.

Satu lagi keanehan yang aku miliki yaitu aku dapat meramal. Entah dari mana kemampuan aneh ini aku dapati, tapi aku benar-benar bisa meramal seseorang, namun aku selalu ingin menyembunyikan keanehanku ini.

Karena itu pulalah tak seorang pun yang mau berteman denganku di sekolah. Mereka semua menjauhiku semenjak mereka tau aku memiliki keanehan. Ada pula yang takut dengan diriku, ketika aku mendekat mereka semua akan pergi menjauh.

Aku benar-benar merasa kesepian meskipun aku sekolah di sekolah favorit yang memiliki banyak siswa. Banyak juga dari mereka yang memanggilku dukun. Ah entahlah!!

Aku merasa kesepian dan ingin hidup normal seperti mereka semua, tanpa ada yang takut padaku. Hari ini aku memiliki firasat yang aneh tapi aku tak dapat memahaminya. Aku tak mengerti dengan perasaanku hari ini.

“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Bandung.” Jelas Pak Agus pagi ini. Aku hanya tertunduk di kursiku dan bahkan tak melihat ke arah pak Agus yang tengah bicara di depan kelas.

“Silahkan perkenalkan dirimu.” Kata pak Agus lagi, pasti pada anak baru yang barusan disebutkannya.

“Namaku Langit Shaputra.” Aku mengangkat wajahku dan pandanganku beradu dengan seorang pemuda tampan yang tengah berdiri di depan kelas.

“Kalian dapat memanggilku Langit.” Sambungnya.

Aku tetap saja tak mengalihkan pandanganku darinya. Entah ada apa pada diriku, aku sungguh terhipnotis oleh anak baru ini. Seperti ada daya magnet yang sangat kuat pada sosoknya yang membuatku tak dapat memalingkan wajahku darinya. Ada hal aneh yang menyelubungi hatiku, aku tak tahu apakah itu tapi rasanya sungguh aneh.

Anak baru itu berjalan kearahku. Aku seketika menjadi gugup. Apa yang terjadi pada diriku? Setelah sampai di depanku pemuda itu tersenyum sangat manis membuatku jadi salah tingkah memandangi senyuman itu.

“Aku boleh duduk disini?” tanyanya ramah menunjuk kursi kosong di sebelahku. Hatiku bergetar mendengar suara itu.

“Boleh aku duduk disini?” ulang pemuda yang mengenalkan dirinya Langit itu.

“Oh eh bo boleh. silahkan.” Jawabku gugup.

Dia kembali tersenyum sangat indah kearahku, aku hanya menunduk tak berani beradu pandang dengan mata indah pemuda ini, matanya berwarna coklat bening dan tatapannya tajam.

“Langit.” Kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan.

Aku masih menunduk tak berani menatap mata pemuda yang ada di sampingku sekarang ini.

“Bulan.” Jawabku pelan tapi cukup bisa didengar olehnya.

“Namamu cantik seperti orangnya.” Lagi lagi dia tersenyum manis. Aku makin menundukkan kepalaku mendengar pujian itu.

Bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Semua anak berlarian menuju kantin kecuali aku. Dan Langit? Dia juga gak pergi ke kantin, dia masih setia duduk di sebelahku. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja.

“Lang.” Panggil seseorang dan orang itu adalah Andi.

“Lo ngapain disini sama dukun ini?” Andi memang selalu memanggilku dengan julukan itu hingga anak-anak lain akhirnya juga memanggil demikian.

“Dukun? Maksud lo dia?” tanya Langit menunjukku dengan telunjuknya.

“Iya Lang. Dia yang sebelumnya gue ceritain, Lo harus hati-hati sama dia.” Kata Andi. Perkataan itu sungguh menyayat hatiku, aku segera beranjak meninggalkan tempat itu dengan genangan air mata yang tertahan di pelupuk matak

Aku merasa sedih, aku tak mengerti mengapa Tuhan memberiku kemampuan ini yang hanya membuatku terlihat aneh dimata teman-temanku. Aku menangis dibawah sebuah pohon, aku tak sanggup kalau harus begini terus.

“Udah jangan nangis. Nanti gak cantik lagi.” sebuah suara mengagetkan ku an menyerahkan selembar tisyu, aku menoleh ke arah suara itu dan mendapati Langit tengah berjongkok di hadapanku.

“Kamu ngapain disini?” tanyaku, dan kini aku beranikan diri untuk menatap matanya.

“Aku minta maaf atas sikap Andi tadi, dia orangnya memang begitu.” Aku tak mengerti dengan pria ini, kenapa dia begitu peduli padahal dia tak mengenalku.

“Udah kamu jangan sedih lagi nanti aku juga ikut sedih.” Katanya lagi sambil tersenyum.

Dia menceritakan bahwa ia pernah berjanji kepada mendiang ibunya, ia tak akan membuat air mata seorang perempuan terjatuh di hadapannya.

Ceritanya membuat aku bersimpati padanya. Pantas saja tampak sekali raut kesedihan di wajah tampannya.

Sejak hari itu Langit terus bersikap baik padaku. Dia tak pernah menjauhiku seperti teman-teman yang lain meskipun Andi berulangkali mempengaruhinya untuk menjauh dariku namun tampaknya Langit tak pernah menghiraukan kata-kata Andi.

“Heh dukun! Lo mantrain Langit ya? Sampai-sampai dia gak mau dengerin gue sama sekali.” Andi menghadangku ketika aku hendak ke kelas pagi ini.

“Maksud kamu apa sih Ndi? Aku gak ngerti.” Jawabku bingung.

“Udahlah Lo gak usah pura-pura gak bersalah gitu, sekarang balikin Langit kayak dulu lagi.” Kini nada Andi makin keras saja.

“Tapi aku benar-benar gak ngerti apa maksud kamu.” Aku terus membela diri karena aku gak ngerti apa yang tengah dimaksud Andi.

“Lo pasti udah guna-guna Langitkan?” aku terkejut mendengar tuduhan itu. Guna-guna? Itu tuduhan yang menyakitkan. Sungguh! Memangnya dia pikir aku penyihir apa yang menggunakan mantra yang tak jelas.

Jujur aku tak pernah percaya dengan mantra-mantra itu dan sekarang aku malah di tuduh mantrain seseorang? Kemampuanku tak setinggi itu, aku hanya bisa melihat gambaran-gambaran masa depan seseorang saat aku menyentuhnya, itu pun hanya bayangan hitam yang tak jelas.

Aku tak pernah mengasah kemampuanku karena aku sangat membenci kemampuan ini, kalau bisa aku ingin sekali menghilangkannya. Aku merasa kemampuan ini bagaikan kutukan yang membuat semua orang membenci dan menjauhiku. Kini aku dituduh guna-guna seseorang? Ya Tuhan, sabarkan lah hati hambamu ini.

“Sumpah Ndi, aku gak mungkin guna-guna Langit. Aku bukan dukun.” Andi makin marah mendengar jawabanku.

“Gue gak percaya sama Lo, gue yakin Lo pasti udah mantrain Langit karena Lo suka sama dia iyakan?”

“Sumpah Ndi tolong percaya sama aku.” Andi terus saja menuduhku dia membentak bahkan dia hampir menamparku namun teriakan seseorang berhasil menghentikan gerakan tangan Andi.

“ANDI!!” teriak seseorang dari arah belakang saat aku menoleh ternyata orang itu adalah Langit.

“Dia gak pernah guna-guna apalagi mantrain gue. Gue yang mau berteman sama dia.” Langit berusaha menjelaskan.

“Lo itu udah di guna-guna jadi Lo gak mungkin sadar Lang.” ujar Andi, Langit menatapku sejenak seakan dia mempercayai ucapan Andi barusan. Aku yang menerima tatapan itu merasa sangat sedih, hatiku bagai tengah di hujami oleh jarum tak kasat mata.

Aku segera pergi meninggalkan tempat itu, aku gak sanggup hidup lagi kalau harus di perlakukan gak adik seperti ini. Ternyata Langit mengikuti langkahku dari belakang.

“Lan maafin Andi ya? Kamu jangan dengerin kata-kata Andi.” Aku diam tak menjawab malah ku percepat langkahku meninggalkan Langit.

“Lan tolong maafin ucapan Andi yang keterlaluan.” Langit terus mengikutiku.

“Kamu bisa gak berhenti ngikutin aku? Aku gak apa-apa kok.” Kataku menahan lelehan air mataku.

“Tapi Lan...” belum selesai kalimat itu aku sudah menyatukan kedua tanganku memohon padanya.

“Aku mohon jangan ganggu aku, aku gak apa-apa. Tolong tinggalin aku sendiri.”

“Gue gak bakalan ninggalin lo sendirian, terserah kalau lo mau marah sama gue, lo nampar gue juga silahkan tapi jangan minta gue buat pergi.”

“Sebenarnya mau kamu itu apa sih?” kini air mata sudah bercucuran tak dapat ku tahan lagi.

“gue hanya ingin berteman sama lo.” Kini dia malah tersenyum. Senyuman manis yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan.

“Tapi aku gak butuh teman, aku bahagia kok meskipun selama ini aku gak punya teman.” Jawabku lirih.

“Gue yang butuh teman kayak lo. Lo itu unik.” Lagi-lagi dia tersenyum. Gak jelas banget nih anak, yang lain pada sibuk jauhin aku dia malah pengen jadi teman aku.

“Kenapa? kamu gak takut sama aku?” tanyaku penasaran kini tangisku sudah hilang.

“Gak papa pengen aja punya teman yang bisa ngeramal. Jadi kalau mau diramal gak perlu jauh-jauh pergi ke dukun. Lagian kenapa harus takut sih? Lo kan gak makan orang juga.” Jawabannya membuatku tersenyum.

“Gitu donk! Kalau senyum lo itu tambah manis loh.” Sungguh orang yang aneh.

“Aneh.” Kataku

“Aneh kenapa?” matanya kini mengerling nakal ke arahku, aku kembali hanya tersenyum melihat tingkah anehnya.

“Kalau gitu kita berteman mulai sekarang. Ok?” aku hanya mengangguk, Langit begitu senang aku juga tak tau apa sebabnya padahal aku hanya menerima dia sebagai teman bukan pacar tapi dia senang bukan kepalang. Sungguh orang yang aneh bathinku.

Kini aku mempunyai seorang teman kalau di sekolah, dimana ada aku dia pasti juga ada disitu. Tapi ada perasaan aneh yang kini tumbuh dihatiku saat bersama dengan Langit.

Entah perasaan macam apa itu tapi aku merasa nyaman saat aku bersama dengan Langit. Mungkinkah ini cinta? Tapi aku berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.

Aku meyakinkan diriku kalau Langit hanyalah teman saja tidak boleh ada perasaan lebih. Sungguh sulit untuk menghilangkan perasaan ini, tapi aku akan terus berusaha.

“Lan tolong ramal gue dong.” Langit tiba-tiba meminta diramal olehku, membuatku menoleh memerhatikan wajah tampannya. Aku hanya ingin memastikan dia sedang bercanda seperti biasa atau tidak.

“Kenapa? Kok minta di ramal segala?” tanyaku heran dengan permintaanya setelah aku melihat raut wajahnya yang begitu serius.

“Gue lagi suka sama seseorang Lan, gue mau tau apa dia juga suka sama gue atau gak.” Balas Langit.

Mendengar itu hatiku terasa begitu nyeri. Oh apakah ini rasanya patah hati. Kenapa hatiku sangat sakit karena kenyataan ini. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.

“Oh ya? Siapa tuh cewek yang beruntung bisa bikin kamu jatuh hati?” tanyaku mencoba bersikap wajar meski sulit.

“Nanti lo juga bakal tau sendiri.” Jawabnya tersenyum manis. Aku membalas senyuman itu meskipun dalam hati terasa perih.

“Ya udah siniian tangan kamu biar aku lihat.” Kataku.

Dia memberikan tangan kanannya padaku. Aku memperhatikan telapak tangannya dan aku bertambah sedih mengetahui kenyataan bahwa cewek itu juga menyukainya.

Haruskah aku berbohong dan mengatakan cewek itu tak menyukainya? Tapi Langit adalah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku, aku tak mungkin membuatnya sedih dengan berbohong dan mengatakan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Aku jadi semakin galau sekarang. Kalau aku berkata jujur aku akan menyakiti diriku sendiri dan kalau aku berbohong aku akan menyakiti orang yang aku sayang. Aku harus bagaimana?

“Gimana Lan?” Langit tak sabar mendengar jawabanku.

“Maaf Lang.” Wajah Langit berubah murung mendengar jawabanku.

“Maaf Lang dia juga suka sama kamu.” Lanjutku.

Wajahnya yang tadi murung kini jadi berseri-seri sebuah senyuman mengembang di bibirnya.

“Benarkah Lan?” tanya Langit memastikan. Aku hanya mengangguk, sebenarnya sakit mengetahui semua ini tapi mau bagaimana lagi aku gak mungkin bohong sama Langit.

Langit memelukku erat, ada rasa bahagia saat dia memelukku tapi aku menyadari hati ini telah terluka dan aku harus siap menanggungnya.

“Lan gue senang banget Lan. Trus kapan waktu yang tepat buat gue nembak dia Lan?” tanya Langit setelah melepas pelukannya. Wajahnya tampak berseri-seri karena saking bahagia.

“Tanganmu.” Ujarku.

Dia memberikan tangan kanannya lagi, aku memperhatikan telapak tangan Langit. Sebenarnya Langit bisa membak dia kapan saja karena mereka memang sudah saling menyukai satu sama lain tapi aku masih belum rela melihat Langit bersatu dengan wanita pujaannya secepat itu jadi aku berbohong pada Langit.

“Sebaiknya jangan minggu ini, karena kurang baik untuk memulai suatu hubungan. Sebaiknya kamu nembak dia hari minggu minggu depan.” Jelasku pada Langit.

"Gue sangat senang Lan. Gue udah suka sama dia sejak pandangan pertama Lan. Makasih ya Lan.” Ujar Langit bahagia, saking bahagianya secara tak sadar dia memeluk tubuhku. Aku membeku dalam pelukannya, saat dia tersadar kembali ia hanya mengucapkan kata maaf tapi entah mengapa hal itu membuat aku sedih.

Aku tersenyum ‘aku juga menyukaimu sejak pertama melihatmu Lang’ kataku dalam hati.

“Kalian adalah pasangan yang cocok. Aku yakin kamu dan dia akan langgeng.”

“Gue juga harap juga gitu Lan.” Langit tampak sangat sangat bahagia hari ini. Tapi aku malah ngerasa sedih, andaikan kamu tau Lang kalau aku menyayangimu lebih dari seorang teman.

Saat pulang sekolah aku melihat Langit memboncengi seorang cewek, namanya Bela. Dia adalah siswa kelas X, setahun di bawahku. Aku yakin Bela adalah wanita yang disukai oleh Langit.

Bela memang cantik dia juga terkenal di sekolah karena Bela cukup aktif dalam organisasi sekolah. Kamu memang lebih cocok sama Bela Lang, bukan sama aku. Harusnya aku sadar dari awal, tak seharusnya aku menyimpan perasaan lebih padamu. Maafkan aku Lang aku gak bisa jadi teman yang baik, aku gak bisa ikut bahagia atas kebahagiaan kamu. Aku minta maaf.

Semangatku benar benar hilang sejak aku melihat Langit bersama Bela. Hingga kini semangatku belum juga kembali, aku merasa berantakan hari ini. Rasanya aku tak ingin pergi ke sekolah karena tak sanggup kalau harus bertemu sama Langit.

Aku menyeret kakiku yang terasa enggan melangkah menuju kelasku. Aku berusaha bersikap wajar pada Langit agar dia tak tau kalau aku rapuh saat ini. Aku tak ingin dia tau kalau aku sedang sedih karena kebahagiaannya.

Waktu berjalan dengan cepat. Hari ini adalah hari minggu dimana hari yang aku sarankan pada Langit untuk menyatakan cintanya pada Bela. Aku hanya uring-uringan sejak pagi, mungkin sekarang Langit udah jadian sama Bela. Mungkin memang takdirku hanya menjadi pengagum semata yang harus memendam perasaanku.

Drrr...Drrrr...Drrrr...

telponku bergetar, dari nomornya tak aku kenali.

“Halo!” kata seseorang di seberang sana.

“Iya halo, ini siapa?” tanyaku.

“Gue Andi.” Aku kaget setelah tau siapa yang nelpon.

“Andi? Ada apa ya Ndi?” tanyaku penasaran. Setahuku Andi sangat tidak menyukaiku kenapa tiba-tiba dia menelponku?

“Gue pengen ketemu sama Lo Lan.” Kata Andi.

“Temui gue di taman dekat sekolah. Penting! ” Dan tanpa mendengarkan jawabanku terlebih dahulu dia langsung menutup telponnya. Aku bingung kenapa tiba tiba Andi pengen ketemu sama aku.

Karena penasaran akhirnya aku datang juga ke taman dekat sekolah seperti yang dikatakan Andi lewat telpon. Sampai di taman aku tak menemukan Andi disana yang ada hanya Langit yang tengah duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang cukup rindang.

Sepertinya dia tengah menunggu seseorang. Jangan-jangan dia lagi nunggu Bela. Aku hendak beranjak meninggalkan tempat itu namun sebuah tangan menarik tanganku. Aku menoleh dan ternyata yang narik tanganku adalah Langit.

“Lo ngapain disini Lan?” tanya Langit padaku.

“Aku lagi nunggu Andi. Kamu sendiri?” pertanyaan bodoh bathinku.

“Gue juga lagi nunggu dia Lan.” Langit tersenyum, aku membalas senyuman itu dengan hati tersayat.

Kenapa aku harus datang ke taman ini dan kenapa Andi pengen ketemunya di taman ini? Trus orangnya mana lagi? Aku merasa sangat kesal atau Andi hanya ingin mengerjaiku supaya aku melihat Langit nyatain perasaannya sama Bela? Sial banget sih aku hari ini.

“Kalau gitu aku pergi aja deh Lang. Kayaknya Andi ngerjain aku deh.” Kataku.

“Lo disini aja Lan, Lo maukan jadi saksi saat nanti gue nyatain perasaan sama dia.” Kata Langit.

“Apa?” aku kaget. Jadi saksi? yang benar saja bagaimana mungkin bisa aku menyaksikan orang yang aku sayangi menyatakan perasaannya pada wanita lain itu sama saja kau ingin membunuhku Lang.

“Tapi aku harus pulang Lang.” Jawabku.

“Ayolah Lan demi gue.”

“Tapi Lang...”

“Plisss...” langit terus saja memaksaku, tapi bagaimana mungkin Lang kau tak mengerti perasaanku Lang.

“Lan gue gugup banget, menurut lo dia bakal terima cinta gue?” Tanya Langit. Pertanyaan bodoh.

“Pasti Lang. Dia juga suka sama kamu, itu yang aku lihat.” Kataku mencoba menegarkan hatiku sendiri.

“Ok. Nanti pas jam 10 gue akan nembak dia.” Kata Langit.

Aku melirik jam biru yang melingkar di pergelangan tanganku 10 menit lagi batinku. Tapi aku belum melihat kehadiran Bela apa mungkin dia terlambat? Sampai 7 menit berlalu Bela belum datang juga. Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? aku jadi semakin bingung.

Ku lirik Langit dia tampak begitu tenang, kenapa dia tidak merasa panik sampai tiga menit lagi dia akan menyatakan perasaannya Bela belum datang juga. Hanya ada aku dan dia di taman ini.

Tepat jam sepuluh. Aku ngelirak lirik ke sekeliling taman manun aku tak melihat Bela bahkan bayangannya saja tak tampak. Langit masih duduk di sebelahku, dia tampak sangat tenang sedangkan aku mulai panik. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bela?

“Lan.” Aku terkejut saat tangan Langit menggenggam tanganku. Aku hanya diam tak menyahut. Apa yang terjadi sebenarnya.

“Lang kenapa Bela belum datang?” tanyaku sambil menarik tanganku dari genggaman Langit.

“Bela? Kenapa lo nyariin Bela?” tanya Langit heran. Aneh! Bukannya dia yang sedang nunggu Bela.

“Bukannya kamu lagi nunggu Bela?” tanyaku.

“Kok Bela sih?” aku semakin keheranan.

“Bukannya kamu mau nembak Bela?” kini wajah Langit makin heran, aku jauh lebih heran dari dia.

“Bukan Lan.”

“Trus siapa dong kalau bukan Bela?” tanyaku keheranan.

“Elo.” Jawab Langit singkat, padat dan jelas.

“Hah? A.. aku?” kini aku benar-benar keheranan.

“Iya lo. Gue suka sama lo Lan. Gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali gue ketemu sama lo. Dan berkat lo juga gue jadi tau kalau sebenarnya lo juga suka sama gue.” Jelas Langit.

“J.. jadi yang waktu itu aku ramal itu aku sendiri?” tanyaku keheranan.

“Yap. masak lo gak sadar sih?” Langit tertawa lepas melihat ekspresi heranku yang kini sudah memuncak.

“Jadi selama ini kamu ngerjain aku?” tawa langit makin menjadi-jadi saja.

“Terus telpon dari Andi itu juga rencana kamu?” tanyaku memandang lekat wajah tampan milik Langit dia hanya mengangguk masih dalam tawanya.

“Kamu jahat ya Lang.” Kataku akhirnya.

“Jahat?” tawa langit langsung berhenti mendengar ucapanku barusan.

“Iya kamu jahat. Kamu tau gak gimana sakitnya aku saat tau kamu suka sama seseorang? Kamu tau gak penderitaan yang harus aku jalani setiap hari? Kamu tau gak betapa sakitnya hatiku?” aku menangis mengingat perihnya hatiku saat itu.

“Maaf Lan.” Langit mendekapku dalam pelukannya.

“Maafin gue Lan. Gue emang gak tau, tapi gue sungguh-sungguh sayang sama lo.” Wajahnya terlihat begitu bersalah.

Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan berdiri dari kursi yang kami duduki. Ku lihat wajah Langit tampak sangat bersalah.

“Gue minta maaf Lan.” Kata Langit lagi.

Aku tertawa tak kuasa melihat wajah bersalahnya. Langit jadi keheranan memandang ke arahku.

“Jadi lo ngerjain gue?” Katanya hendak menangkapku namun aku berlari menghindar dari tangkapannya.

“Kamu pikir Cuma kamu yang bisa ngerjain orang.” Kataku dan berlari karena dia sudah sangat kesal dan siap menangkapku.

“Aku cinta sama kamu Lan. Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Langit menggenggam tanganku erat.

Aku tak menjawab dengan kata-kata aku hanya menganggukkan kepalaku dan langsung memeluk Langit seakan tak ingin melepaskannya lagi.

Akhirnya aku mengerti dan kini aku tak pernah menyalahkan kemampuanku lagi. Karena kemampuan anehku inilah aku bertemu dengan Langit, orang yang sangat aku cintai dan mencintaiku. Kini aku sudah memiliki Langit, dan takkan pernah kesepian lagi. Bulan kini telah menemukan Langitnya.

THE END

Kembali ke Beranda