Lorong rumah sakit itu terasa sangat panjang. Daniar masih menyusurinya dengan setengah berlari. Nafasnya terengah-engah.
Di ujung koridor, tampak Denara, saudara kembarnya tengah mondar-mandir dengan gelisah.
"Bagaimana Dena? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Daniar begitu ia tiba di dekat Denara.
Denara menatapnya tajam.
"Kemana saja sih?" semburnya kesal.
"Maaf. Aku masih ada rapat dengan dirut tempatku bekerja. Bagaimana keadaan Leon?" Daniar mengabaikan kekesalan Denara.
"Leon butuh darah segera."
"Lalu?" Daniar menyela tidak sabar.
"Darahnya sama dengan darahmu."
"Bukankah itu berarti darahmu juga sama?" Daniar mengernyit heran.
"Aku...aku tidak berani mendonorkan darahku. Aku takut," ujar Denara memalingkan muka.
Daniar menghela nafas.
"Baiklah. Aku akan menemui dokter," tanpa menunggu lagi, Daniar segera mencari dokter yang menangani Leon, kekasih Denara.
Tidak butuh waktu lama bagi Daniar mendonorkan darahnya.
Daniar merasakan kepalanya pusing. Dengan sedikit terhuyung, ia berjalan keluar dari ruang tempat ia diambil darahnya.
Perlahan Daniar berjalan ke tempat Denara.
"Bagaimana?" tanya Denara begitu Daniar mendekat.
"Sudah. Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari dokter," ujar Daniar memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Sebaiknya kamu kembali ke kantormu, biar aku yang menunggu Leon di sini," kata Denara meninggalkan Daniar masuk ke ruang tempat Leon di rawat.
Daniar tersenyum pahit. Ia berbalik hendak kembali ke kantornya karena ia memang hanya ijin untuk keluar sebentar.
Mendadak matanya berkunang-kunang. Tubuhnya terasa lemas. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya. Ia nyaris ambruk jika tidak ada sepasang lengan kokoh yang menahannya.
Kepala Daniar berdenyut, pandangannya berputar cepat sebelum berubah menjadi gelap.
==£==
Daniar membuka matanya perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk menajamkan penglihatannya.
"Kamu sudah sadar?" suara berat itu membuat Daniar menoleh.
"Pak Samuel?" desis Daniar lemah. Ia heran melihat direktur utama perusahaan tempat ia bekerja berada di situ.
"Kamu pingsan. Kata dokter, kamu habis mendonorkan darah? Seharusnya kamu istirahat dulu karena darahmu cukup banyak yang di ambil," ujar Samuel menjelaskan.
'Kenapa bapak bisa ada di sini?"
"Kebetulan saya baru saja menjenguk teman saya. Ia di rawat di sini," Samuel tersenyum menenangkan Daniar yang terlihat bingung.
"Maaf. Saya jadi merepotkan Bapak," ujar Daniar tidak enak hati.
"Ini di luar kantor, Daniar. Kamu bisa panggil saya Samuel, tidak perlu seformal itu," Samuel tersenyum tipis.
"Tapi..."
"Tidak apa, Daniar," potong Samuel melihat Daniar ragu-ragu dan merasa tidak nyaman.
"Saya rasa, saya sudah tidak apa-apa sekarang. Saya akan kembali ke kantor segera," Daniar berusaha bangkit, tapi tangan Samuel menahannya.
"Kamu beristirahat saja. Saya akan menghubungi kantor untuk mengabarkan bahwa kamu tidak akan kembali hari ini," kata Samuel langsung menghubungi sekretarisnya sebelum Daniar bisa mencegah.
Daniar hanya terdiam. Ia benar-benar merasa tidak enak. Samuel yang terkenal disiplin dan tegas, memberinya kelonggaran sebesar itu padanya
Tiba-tiba pintu terbuka, Denara muncul dengan wajah panik.
"Daniar, Leon masih membutuhkan darah. Tolonglah Daniar," teriak Denara tertahan.
"Tapi Dena, aku..."
"Ayolah Daniar, cuma kamu yang bisa menolong Leon," desak Denara memasang wajah memelas.
"Nona, apakah anda tidak melihat Daniar masih lemas?" suara dingin Samuel menginterupsi rengekan Denara.
Denara menoleh tajam. Ia baru menyadari ada orang lain dalam ruangan itu.
"Siapa anda? Kenapa anda berada di sini?" tanya Denara menyipitkan matanya melihat seorang laki-laki gagah dengan ketampanan di atas rata-rata sedang menunggui saudaranya yang terbaring lemas.
"Saya atasan Daniar. Maaf kalau saya ikut campur. Tapi kondisi Daniar masih lemah," sahut Samuel menatap tajam Denara yang wajahnya sekarang berubah merah padam. Gadis yang wajahnya mirip dengan Daniar itu tampak gugup sesaat sebelum ia kembali ke mode memelasnya.
"Sudah. Tidak apa-apa Pak eh Samuel, aku bisa. Baiklah Dena, katakan pada dokter untuk mengambil darahku lagi," ujar Daniar membuat Samuel membelalak. Bagaimana bisa gadis itu membahayakan dirinya sendiri?
"Tidak Daniar! Itu berbahaya!" Samuel hampir berteriak.
Denara memandang sekilas pada Samuel lalu bergegas keluar, tak lama kemudian ia kembali bersama seorang dokter.
Dokter itu memeriksa tekanan darah Daniar.
"Maaf, Nona Daniar masih lemah. Akan sangat beresiko untuk di ambil darahnya lagi," dokter itu menggelengkan kepalanya.
Daniar melihat ke arah saudaranya yang panik. Ia benar-benar tidak tega.
"Saya tidak apa-apa, Dok. Ambil darah saya lagi," pinta Daniar memohon.
"Tidak! Biar saya saja. Anda bisa memeriksa apakah golongan darah saya cocok atau tidak," Samuel tiba-tiba maju, menarik lengan dokter itu keluar dari ruang tempat Daniar beristirahat.
Denara menatap Daniar penuh selidik.
"Apakah kamu menjual dirimu pada atasanmu, Daniar? Sebegitu frustrasinya karena tidak mendapatkan cinta Leon? Apakah kamu bermaksud untuk menunjukkan pada Leon bahwa kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darinya?" dengan tajam kata-kata Denara menusuk hati Daniar.
"Apa yang kamu katakan, Dena? Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" Daniar tidak percaya saudara kembarnya bisa mengeluarkan kata-kata menyakitkan setelah apa yang sudah ia lakukan untuk Denara.
Ia memang pernah mencintai Leon. Tapi itu dulu! Perasaan itu sudah dikuburnya dalam-dalam setelah ia tau bahwa Denara juga mempunyai perasaan yang sama pada Leon. Ia merelakan Denara bersama Leon.
Daniar memandang wajah cantik saudaranya.
"Tentu saja bisa! Apa kamu menggunakan cara yang sama seperti ketika menjerat Leon dulu?" tanya Denara membuat gadis yang tengah berbaring lemah itu terduduk.
"Tolonglah, Dena. Aku tidak pernah menjerat Leon. Aku menjauhinya saat aku tau kamu juga mencintainya," ujar Daniar hampir menangis. Ia memang selalu berbicara lembut.
Meskipun mereka berdua saudara kembar, tapi sifat mereka berdua sangatlah bertolak belakang.
"Dan sampai sekarang kamu belum bisa mengikhlaskannya untukku, bukan?" cibir Denara.
"Cukup Dena! Aku benar-benar sudah merelakan semuanya. Jangan menuduhku yang bukan-bukan," Daniar benar-benar menangis sekarang.
"Kenapa? Kamu takut atasan kamu mendengar keburukanmu? Apa kamu sedang merencanakan akan menjeratnya?" kata Denara sinis.
"Tidak ada yang menjerat dan di jerat!" sebuah suara bariton menginterupsi perdebatan mereka.
Denara bungkam dengan wajah memerah, sedangkan Daniar menunduk pasrah.
"Daniar tidak pernah menjerat siapapun!" Samuel mendekat.
Denara menunduk sekarang. Ia bisa merasakan aura ketidak suka an laki-laki itu terhadapnya karena ia memojokkan Daniar.
"Saya mengenal Daniar. Saya tau pasti gadis seperti apa Daniar. Jadi jangan menyudutkannya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal seperti tadi!" suara Samuel terdengar seperti pecahan es batu yang dituangkan ke dalam hati Denara. Dingin dan beku!
"Apakah kamu sudah kuat, Daniar?" suara Samuel berubah lembut pada Daniar.
Daniar mengangkat wajahnya dan mengangguk samar. Ia masih bingung dan sibuk mencerna kata-kata pembelaan yang diucapkan Samuel barusan.
Samuel bergerak mendekati Daniar, dengan cekatan nanun penuh kehati-hatian, ia membantu Daniar turun dan membimbingnya keluar dari rumah sakit.
==£==
Daniar duduk diam. Matanya menatap jalanan lengang dihadapannya.
Pikirannya masih sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti muncul tanpa bisa ia cegah.
"Kenapa? Masih pusing?" Samuel memecah keheningan.
"Tidak apa-apa," Daniar menoleh pada Samuel yang masih fokus memperhatikan arah laju mobil yang dikemudikannya.
"Seharusnya kamu lebih tegas pada saudaramu, Daniar. Dia terlalu arogan dan menang sendiri. Aku tidak mau kamu mengorbankan dirimu lagi," Daniar mengerutkan dahinya mendengar kata-kata boss besarnya. Tadi menggunakan saya-kamu, sekarang ber aku-kamu. Ia semakin penasaran.
"Siapa Bapak sebenarnya? Apakah kita sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Daniar langsung. Rasa ingin tau nya tidak bisa di bendung lagi.
Samuel tersenyum tipis. Tentu saja Daniar tidak mengenalinya.
"Kenapa? Jangan bilang setelah kamu mendonorkan banyak darah lalu kamu amnesia. Kamu masih ingat kan kalau aku atasan kamu?" Samuel mengulum senyum.
"Tentu saya ingat. Tapi kata-kata Bapak membuat saya penasaran. Seolah-olah Bapak sudah mengenal saya lama. Padahal saya baru mengenal Bapak beberapa bulan lalu saat Pak Aditya menyerahkan jabatan dan posisinya pada Bapak," Daniar dengan takut-takut mengatakan penasarannya.
Samuel tersenyum misterius. Ia melirik gadis yang duduk di sebelahnya sesaat sebelum kembali memusatkan konsentrasinya pada laju mobilnya.
"Nanti kamu juga akan tau, Daniar," ujarnya lebih menyerupai gumaman.
Daniar mengernyit bingung. Ia tidak mengerti maksud Samuel. Tapi untuk mendesak atasannya, tidak mungkin dilakukannya.
Yang bisa Daniar lakukan hanya menelan semua rasa penasarannya.
==£==
Samuel menyipitkan matanya memandang ke arah kantin. Dilihatnya Daniar sedang menyendiri di sudut kantin. Gadis itu terlihat melamun. Lemon tea dihadapannya sedari tadi hanya diaduk-aduk tanpa berniat diminumnya. Entah, apa yang dipikirkannya, Samuel menghela nafas.
Gadis itu, Daniar, gadis kecil tetangga sekompleknya dulu. Mereka tidak dekat bahkan tidak saling mengenal, tapi Samuel tidak bisa melupakan bagaimana gadis itu menolongnya, membantunya dan menyelamatkan hidupnya.
Flashback on...
Samuel kecil bukanlah seorang anak pendiam. Kenakalannya yang super membuat kedua orang tuanya kewalahan. Maklum, dia anak tunggal, sehingga kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Semua permintaannya hampir selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya yang memang merupakan seorang konglomerat yang sudah tidak perlu diragukan lagi kekayaannya.
Samuel masih berusia dua belas tahun ketika ia sudah punya dan bisa mengendarai sebuah mobil sport keluaran terbaru saat itu. Apalagi ditunjang tubuhnya yang bongsor, orang-orang pasti tidak menduga kalau ia masih berusia dua belas tahun.
Sore itu ia mengendarai mobilnya mengelilingi komplek dengan kecepatan di atas rata-rata. Komplek tempat rumahnya berada sangat besar dan luas karena memang rumah - rumah di komplek itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya meskipun untuk tipe rumah terkecil sekalipun. Komplek itu lebih menyerupai sebuah kota kecil.
Samuel sedang sial sore itu. Ia lari dari para bodyguard yang ditugaskan papa untuk menjaganya. Jiwanya yang masih labil membuatnya membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, menunjukkan kehebatannya berkendara.
Namun naas, ia tidak bisa menguasai mobilnya saat di depannya berkerumun orang - orang yang sedang menikmati sore hari mereka di taman komplek di dekat blok Blue Safir, empat blok dari blok Amethyst tempat rumahnya berada.
Orang-orang berlarian dengan panik ketika mobilnya menabrak gerobak bakso dipinggir jalan, lalu menghancurkan gerobak penjual rujak, gerobak es krim, dan beberapa gerobak yang lain sebelum berhenti karena menabrak sebatang pohon. Beberapa orang terluka karenanya. Untung tidak ada korban meninggal. Ia ketakutan melihat orang-orang di sana mendatanginya dengan marah.
Ia segera keluar dari mobilnya dan lari sekencang-kencang ia bisa. Teriakan marah dibelakangnya membuat Samuel terus berlari tanpa menoleh ke belakang dan menengok kiri kanan. Ia hanya menatap ke depan dan berlari sekuat tenaganya, meskipun ia sempat terjatuh beberapa kali.
Hingga sebuah mobil menyerempetnya ketika ia tanpa melihat kiri kanan berlari menyeberang jalan.
Ia terjatuh bergulingan dengan luka di lutut dan sikunya. Belum lagi bahunya yang sakit saat ia terjatuh dan membentur trotoar.
Samuel tidak bisa lagi berlari. Ia sudah menyerah ketika seorang anak kecil dengan rambut panjang legamnya yang di ikat satu membantunya berdiri, membawanya bersembunyi di balik semak-semak, lalu jari mungilnya yang menggemaskan menempel di bibirnya.
"Ssssttt.... jangan berisik! Tunggu disini, jangan keluar," bisik gadis kecil itu. Samuel mengira-ngira, usianya sekitar tujuh tahunan.
Lalu gadis itu berlari meninggalkan Samuel yang masih bersembunyi.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, gadis cilik itu kembali dengan membawa P3K dan mulai mengobati luka-luka nya.
Samuel memandangi gadis cilik yang masih meniup-niup lukanya dengan bibir mengerucut menggemaskan.
"Siapa namamu?" tanya Samuel tidak melepas matanya dari wajah gadis cilik itu.
"Namaku Daniar. Nah, sudah tidak sakit kan?" mata bulat bening itu mengerjap lucu.
Samuel mengangguk.
"Aku pulang dulu ya Kak. Nanti kalau sudah agak gelap, Kakak bisa keluar dan pulang," Daniar kecil berdiri, membersihkan rok merahnya lalu melambaikan tangannya sebelum berlari meninggalkan Samuel sendiri.
Para bodyguard menemukannya dan membawanya pulang.
Semua urusan kejadian sore itu diselesaikan segera oleh Papanya, dan ia dikirim ke Sidney seminggu kemudian.
Flashback off.
Mata Samuel masih memandang lurus pada Daniar. Gadis itu masih tetap pada posisinya semula.
Dahi Samuel mengerut. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu?
Samuel baru saja hendak melangkah menghampiri gadis itu ketika dilihatnya Daniar melihat jam tangannya dan berdiri dan buru-buru keluar dari kantin tanpa menghiraukan lemon tea nya yang masih utuh.
Samuel menghela nafas lalu berbalik menuju ke ruangannya.
==£==
Samuel mengerutkan dahinya. Dilihatnya Daniar berlari kecil ke toilet. Samuel tau ada yang tidak beres dengan Daniar. Gadis itu menangis. Ada apa sebenarnya?
Samuel berjalan pelan kearah toilet wanita dan menyandarkan punggungnya di tembok, tangannya dilipat di depan dada, menunggu Daniar di depan toilet.
Cukup lama Samuel menunggu. Untung saja ini sudah jam pulang. Kantor sudah nampak sepi.
Pintu toilet terbuka. Daniar membelalak saat dilihatnya Samuel sedang bersandar dan bersedekap di dekat pintu. Matanya memejam, kepalanya sedikit menengadah.
Saat mendengar pintu terbuka dan suara ketukan sepatu Daniar, Samuel membuka matanya dan menoleh memandang Daniar.
"Pak Samuel?" Daniar tercekat. Ia tidak menyangka Boss nya berada disitu.
Samuel menegakkan tubuhnya menghadap Daniar. Mata tajamnya seolah meneliti Daniar dari ujung kaki hingga ujung rambut, membuat Daniar gugup.
"Kamu kenapa, Daniar?" tanya Samuel pelan. Matanya tetap fokus pada Daniar.
"Saya? Saya tidak apa-apa, Pak," elak Daniar mencoba menutupi kegugupannya.
"Jangan bohong, Daniar. Aku tau kamu tadi menangis. Kenapa? Siapa yang menyakitimu?" Daniar membalas menatap Samuel ragu. Kenapa ia merasa bahwa atasannya ini memberikan perhatian yang lebih padanya dibandingkan karyawan lain? Atau ini cuma perasaannya saja?
"Saya...saya..." Daniar tidak meneruskan kata-kata nya karena Samuel sudah menariknya dan membawanya ke ruangannya.
Samuel mendudukkan Daniar di sofa, lalu mengunci pintu sebelum ia menyusul duduk di sebelah Daniar.
"Ceritakan dengan jujur padaku, Daniar. Atau kita akan di sini sampai kamu mau cerita!" ujar Samuel tajam melihat Daniar menunduk.
Daniar terdiam. Ia bingung, apa ia harus menceritakan apa yang terjadi padanya? Kenapa Pak Samuel ingin tau? Apa pantas ia menceritakan hal pribadi pada atasannya?
"Jangan takut. Aku hanya ingin kamu terbuka dan jujur. Katakan padaku apa yang terjadi sampai membuatmu menangis," Samuel mengulurkan tangannya menyentuh pipi Daniar dan mengusap air mata yang mulai mengalir lagi.
Daniar terisak. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia menumpahkan tangisnya seolah hendak membuang rasa sakit di hatinya saat Samuel menariknya ke dalam pelukan hangatnya.
"Menangislah Daniar, tumpahkan semuanya. Setelah hari ini, aku akan pastikan kamu hanya akan menangis karena bahagia," ucap Samuel lembut, mengecup kepala gadis yang dipeluknya dengan sayang.
Cukup lama Daniar menangis. Hingga akhirnya ia melepaskan pelukan Samuel sambil tersipu malu.
"Maafkan saya," ucapnya dengan wajah bersemu.
"Tidak apa. Sekarang ceritakan semuanya padaku," tuntut Samuel dengan suara lembut.
Daniar memandang mata hazel Samuel dan menemukan ketulusan di sana.
Ia menghela nafas dan dari bibirnya mengalir sebuah cerita.
"Tiga tahun yang lalu, saya bertemu Leon. Saat itu dia sedang syuting sebuah film pendek dan saya kebetulan diminta menemani Denara, saudara kembar saya yang saat itu mendapat peran pertamanya meskipun bukan sebagai pemeran utama. Leon mulai mendekati saya. Dan jujur, saya juga menyukai Leon karena dia baik dan perhatian pada saya," Daniar berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Butuh perjuangan untuk menggali masa lalu yang sudah menorehkan luka.
Samuel masih terus mendengarkan tanpa menyela meskipun hatinya dibakar rasa tidak suka dengan kenyataan bahwa Daniar menyukai artis yang tengah di puncak ketenaran itu.
"Kami semakin dekat sampai suatu saat Denara mengatakan bahwa ia menyukai Leon dan akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Aku menyayangi Denara. Dia saudara satu-satunya yang aku punya. Dan Mama sangat membanggakan Denara karena dia cantik dan karirnya bagus. Banyak orang-orang menyukainya. Dia membuat kami bangga. Karenanya aku mulai menjauhi Leon demi Denara. Dan nampaknya Leon pun tidak keberatan dan tidak peduli saat aku menjauh," Daniar mengusap airmata yang masih setia membasahi pipi putihnya.
Samuel beringsut mendekat dan mengusap bahu Daniar pelan.
"Kemarin Leon datang padaku. Dia tau aku yang mendonorkan darahku untuknya. Dia bertengkar dengan Denara karena Denara tidak mau mendonorkan darahnya dan menyembunyikan kenyataan bahwa aku yang mendonorkan darah untuknya dengan mengakui bahwa Dena lah yang telah mendonorkan darahnya untuk Leon. Dan Leon bilang akan meninggalkan Dena agar ia bisa bersamaku," isakan Daniar makin keras membuat hati Samuel seperti teriris-iris.
"Tadi, baru saja, Dena menelponku. Dia melabrakku. Dia marah dan menuduhku membocorkan tentang pendonor yang sebenarnya agar Leon kembali padaku. Sungguh, aku tidak melakukannya. Aku sudah mengikhlaskan Leon untuk Dena tiga tahun yang lalu. Perasaanku untuk Leon sudah tidak ada lagi. Aku hanya menganggap Leon temanku, saudaraku, seperti sayangku pada Dena. Aku tidak ingin Dena membenciku," tangis Daniar kembali pecah. Bahunya berguncang hebat.
Samuel memeluknya erat. Berusaha menenangkan gadis yang sudah ditunggunya dengan sabar selama empat belas tahun ini. Gadis yang membuatnya bertahan dari godaan wanita manapun yang berusaha meraih hatinya.
==£==
Matahari sudah nyaris tenggelam. Hanya menyisakan semburat merah tipis di permukaan laut.
"Terimakasih," ucap Daniar lirih mengurai pelukan Samuel.
"Untuk apa?" tanya Samuel pelan.
"Sudah bersedia mendengar keluh kesah saya. Bapak baik sekali," ucap Daniar tulus.
"Tidak masalah, Daniar. Anytime you need, I'll be here for you," Samuel tersenyum mengusap rambut Daniar lembut.
Tubuh Daniar menegang. Sentuhan lembut Samuel membuat dadanya berdesir. Ia baru menyadari betapa dekatnya mereka saat ini. Ia baru menyadari bahwa Dirut tempatnya bekerja ini sangat perhatian padanya.
"Euhm maaf saya sudah merepotkan Bapak selama ini," Daniar mengangkat wajahnya tepat saat Samuel menunduk hingga hidung mereka bersentuhan.
Daniar terpaku merasakan hangatnya hembusan nafas Samuel di wajahnya. Begitupun Samuel. Tanpa sadar ia menarik pinggang Daniar semakin rapat. Tatapannya terkunci pada mata kelam Daniar yang membiusnya begitu kuat.
Perlahan tapi pasti, Samuel memejamkan matanya, mengecup mata cantik itu, lalu turun ke pipi dan menyentuh bibir ranum itu dengan bibirnya. Mengecap rasa manisnya dan menikmatinya sepenuh hati.
Tubuh Daniar menegang dengan cepat, namun secepat itu pula Samuel mengusap punggung gadis itu hingga Daniar merasa rileks dan perlahan mulai memejamkan matanya sambil merasakan detak jantungnya yang kian menggila.
Samuel menyusurkan telapak tangannya ke lengan Daniar lalu meraih pergelangan tangan gadis itu serta melingkarkannya ke lehernya.
Ini ciuman pertama bagi Daniar, dan Samuel tau itu.
Samuel ingin terus memeluk dan mencium gadis itu jika saja suara smartphone Daniar tidak berisik mengusik mereka.
Dengan wajah merona, gugup dan malu, Daniar meraih smartphone nya.
Samuel dapat melihat wajah pias Daniar saat mendengar suara dari lawan bicaranya.
Gadis itu sesekali meliriknya, lalu menjawab singkat-singkat dan sesekali mengangguk.
"Siapa?" tanya Samuel.
"Mama. Denara mengamuk di rumah. Leon meninggalkannya," Daniar terlihat panik, buru-buru memasukkan smartphone nya ke dalam tas.
"Maaf, saya harus pulang Pak," baru selangkah, Samuel menahan gadis itu.
"Aku antar, Daniar. Dan panggil aku Samuel," Samuel meraih jemari Daniar dan menggandengnya menuju mobilnya.
==£==
Setengah berlari, Daniar masuk ke rumahnya. Dilihatnya ruang tamu yang tampak kacau, pecahan vas bunga berserakan, beberapa pajangan hancur berantakan.
"Daniar, tolong tenangkan Dena," mama-nya menyambut Daniar dengan tangisnya.
"Dena dimana, Ma? Ada apa? Bagaimana bisa Dena seperti ini?" Daniar menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dibelakangnya, Samuel tampak terdiam mengamati keadaan.
"SEMUA GARA-GARA KAMU, DANIAR!" suara penuh kemarahan terdengar menyentakkan ketiga orang di ruang tamu itu.
Tampak Denara dengan wajah penuh airmata dan make up berantakan, rambutnya acak-acakan, matanya menyorotkan kebencian pada Daniar.
"DENA!" teriak Mama kalut.
"Mama tenang ya Ma. Biar Daniar yang bicara pada Dena," Daniar mendudukkan mama-nya di sofa, lalu menegakkan tubuhnya mendekat pada saudara kembarnya.
"Dena, kamu kenapa?" Daniar makin dekat pada Denara. Sementara Samuel melihatnya dengan was-was.
"AKU MEMBENCIMU, DANIAR! KAMU MEMBUAT LEON MENINGGALKANKU!" Denara berteriak penuh kemurkaan.
"Dena, aku tidak mengerti, kenapa Leon meninggalkanmu?" Daniar berusaha tenang.
"JANGAN MENDEKAT! AKU MEMBENCIMU, AKU MENYESAL MEMPUNYAI SAUDARA SEPERTIMU!" jerit Denara.
Daniar terpaku. Hatinya sakit mendengar kata-kata Denara.
"Kamu sudah merencanakan semua ini kan? Kamu rebut Leon saat aku sudah sangat mencintainya!" tuding Denara tanpa ampun.
Mata Daniar merebak. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya. Tuduhan Denara sangat menyakitinya.
Daniar menggelengkan kepalanya berulang kali, menyangkal apa yang dituduhkan Dena kepadanya.
"Kenapa kamu tega menuduhku seperti itu, Dena? Aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk merebut Leon darimu," katanya terbata.
Samuel yang sejak awal hanya diam memperhatikan, merasakan hatinya berontak tidak terima Daniar terpojokkan oleh Denara. Tapi ia masih menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan kedua bersaudara itu karena ia menghargai Daniar.
"Kamu pikir aku akan mempercayai airmata buayamu? Kamu pikir kamu bisa menipuku dengan wajah tidak berdosamu itu? Tidak akan Daniar!" seru Denara sinis. Matanya tajam seolah hendak melahap tubuh Daniar bulat-bulat.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mempercayaiku, Dena? Aku tidak seperti apa yang kamu tuduhkan. Aku sangat menyayangimu, Dena," suara Daniar mencicit seperti tercekik. Tubuhnya bergetar menahan perasaannya. Ia sudah di ambang batas kekuatannya bertahan sebelum luruh lemas.
Samuel mendekat dan merengkuh Daniar, seolah hendak memberikan suntikan kekuatan.
Mata Denara nyalang menatap apa yang dilihatnya.
Ia tersenyum sinis.
"Kamu ingin tau apa yang bisa kamu lakukan untuk membuktikan bahwa kamu menyayangiku dan kamu bukan seperti yang aku tuduhkan? Apa kamu bersedia melakukan apapun untukku? Memberikan semua yang aku inginkan sekarang?" tanya Denara tersenyum licik.
Daniar memandang wajah cantik saudara kembarnya yang menatapnya dengan sorot tajam menghunjam jauh ke dalam hatinya. Perlahan ia mengangguk.
Denara tersenyum menang. Ia menghapus kasar airmata yang tadi meleleh di pipinya.
"Berikan Samuel padaku! Suruh Samuel menikahiku, maka aku akan mempercayaimu, Daniar," ucap Denara tajam.
Daniar membelalakkan matanya. Bagaimana bisa ia menyuruh atasannya menikah dengan Dena?
Samuel melotot. Bagaimana gadis gila itu meminta suatu hal yang mustahil? Bagaimana bisa seorang artis cantik yang beritanya sudah tersebar luas sebagai calon istri dari seorang Leonard Collaza mendadak ingin dinikahinya?
Lagipula siapa dia berani menuntut untuk menikahinya?
"Apa maksudmu, Dena? Mengapa tiba-tiba kamu menginginkan Samuel menikahimu?" suara Daniar seperti orang berbisik karena tidak mempercayai apa yang di dengarnya dari mulut saudara kembarnya.
"Aku hamil. Dan Leon meninggalkanku. Jadi, aku mau Samuel yang menikahiku menggantikan Leon," kata Denara dengan santai dan tanpa beban.
"Kamu pikir siapa kamu beraninya memintaku menikahimu?" ujar Samuel dingin. Tatapannya meremehkan Denara, membuat gadis itu geram.
"Jangan kamu kira aku tidak tau, Bapak Samuel yang terhormat," Denara membalas tatapan tajam Samuel.
"Kamu mencintai saudaraku bukan? Jujur saja, aku sempat terkejut mendapati kenyataan bahwa kamu jatuh cinta pada saudaraku yang bukan siapa-siapa ini. Seharusnya kamu mencintaiku. Aku artis terkenal. Siapa yang tidak mengenalku? Seharusnya kamu memujaku, bukan Daniar! Dia bukanlah siapa-siapa, bahkan menjadi bayanganku saja dia tidak pantas," Denara mencibir dengan kepongahannya, menantang Samuel.
Samuel membimbing Daniar dan mendudukkannya di sofa dekat mama nya yang masih terdiam melihat Denara, putri yang dibanggakannya berubah menjadi seperti monster cantik yang siap menghancurkan saudaranya sendiri.
Samuel berbalik menghadap pada Denara. Wajahnya mengeras menahan amarah yang sudah menggumpal siap meledak kapan saja.
"Meskipun aku baru pulang dari Aussie enam bulan lalu, jangan kamu pikir aku tidak tau apa-apa tentang artis cantik Denara Safeea yang berada di puncak ketenaran karena gosip murahan mendompleng aktor tenar Leonard Collaza? Mengorbankan harga diri dan tubuhnya demi bisa terus bersama sang aktor, meski dengan cara kotor sekalipun," cerca Samuel tajam.
Wajah Denara merah padam. Kata-kata Samuel menghantam telak ke ulu hatinya.
"Beraninya kamu berkata seperti itu," desis Denara murka. Kemarahan dan kedengkiannya terhadap Daniar menutup rasa malunya.
"Kenapa? Memang itu kenyataannya bukan? Dan sampai sekarang pun masih tetap Denara Safeea yang. Dan perlu kamu ketahui, aku sama sekali tidak tertarik pada artis murah sepertimu!" wajah Denara berubah-ubah merah padam menjadi pucat pasi, berubah lagi merah padam.
"Kamu harus menikahiku, Pak Samuel, atau kamu tidak akan bisa melihat Daniar lagi!" ancam Denara geram.
"Aku hanya akan menikahi Daniar, bukan benalu sepertimu!" desis Samuel memandang bengis Denara.
Daniar terbeliak mendengar ucapan Samuel. Begitupun dengan mama nya.
Denara menoleh memandang Daniar. Sorot matanya seolah menyudutkan Daniar dengan paksa.
Dengan gugup Daniar menatap Samuel mengiba.
Samuel menggeram. Wajahnya mengeras. Dialihkannya pandangannya pada Mama Daniar yang masih termangu mencoba memahami apa yang terjadi.
"Nyonya Renata, saya harap anda mengerti, bahwa saya mencintai Daniar. Bukan Denara! Bagaimanapun caranya, saya akan menikahi Daniar. Saya tidak ingin Daniar merasakan neraka yang dibuat oleh saudara kembarnya sendiri lebih lama lagi. Ijinkan saya menikah dengan Daniar. Untuk bayi yang di kandung Denara, saya akan berusaha bicara dengan Leon. Jika Leon menolak bertanggung jawab, saya akan suruh orang saya untuk menikahi putri anda yang satu itu," mama Daniar seolah melihat seorang penguasa yang bertitah. Aura dari dalam diri Samuel membuatnya hanya bisa mengangguk-angguk setuju.
"Apa maksudmu dengan bayi yang dikandung Denara?" sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.
Semua yang berada di situ menoleh pada satu orang yang sama yang tengah berdiri di pintu yang terbuka lebar.
"Leon?" Daniar dan Denara memekik berbarengan.
Leon menyapu seluruh yang ada di ruang tamu itu dengan tatapan bertanya.
"Kebetulan sekali, Leonard Collaza. Sebaiknya anda mempertanggung jawabkan perbuatan anda terhadap Denara, atau besok pagi nama anda terpampang di halaman utama di seluruh tabloid dan surat kabar," ujar Samuel tenang.
"Apa benar kamu hamil, Dena?" Leon menelan ludah saat melihat Denara mengangguk.
"Kamu meninggalkanku, Leon! Kamu jahat!" Denara mulai terisak lagi.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku, Dena?" Leon menatap sedih pada Denara.
"Kamu tidak memberiku kesempatan mengatakannya, Leon. Pikiranmu sudah dipenuhi oleh Daniar. Kamu menginginkannya sejak dulu, bukan?" suara Denara terdengar nelangsa. Daniar miris mendengarnya.
Renata terisak. Ia tidak menyangka jalan hidup putri kembarnya begitu rumit. Daniar yang selalu terpojok dengan intimidasi dari Denara yang iri karena Leon masih saja menginginkan Daniar meskipun gadis itu tidak lagi menanggapi perhatian Leon demi Denara.
Denara yang karena cintanya yang begitu besar pada Leon serta ambisinya menjadi artis kenamaan membuatnya tega memperlakukan Daniar begitu buruk.
"Semua ini salah mama," suara tangis tertahan itu membuat Daniar segera memeluk mama nya.
"Tidak, Ma. Mama tidak salah. Ini semua hanya kesalahpahaman saja. Mama sudah memberikan yang terbaik buat kami," hibur Daniar meskipun airmatanya sendiri tidak bisa dibendung.
"Daniar, maafkan aku karena tidak memperjuangkanmu dulu. Aku terlena oleh perhatian dan cinta Denara, sementara kamu mengacuhkanku. Aku sakit hati. Aku ingin membalas sakit hatiku padamu dengan berhubungan dengan saudara kembarmu yang aku tau sangat kamu sayangi," Leon jatuh berlutut. Kepalanya menunduk tidak berani menatap Daniar.
"Lupakan, Leon. Aku sudah merelakan semuanya. Aku hanya ingin Dena tidak membenciku," Daniar menunduk menatap mata biru milik Leon.
"Aku mencintaimu, Daniar," bisiknya pelan.
Daniar mengerjapkan matanya, kalimat yang dulu sangat ingin didengarnya dari Leon, sekarang tidak mampu membangkitkan getaran dalam hatinya sedikitpun. Daniar menggeleng pelan.
"Menikahlah dengan Denara, Leon. Dia mencintaimu teramat sangat. Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Dena," Daniar mengucapkan kalimatnya tanpa ragu.
"TIDAK!" Denara menjerit. Ia menatap nyalang pada Leon dan Daniar bergantian.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau Leon menikahiku karena permintaanmu, Daniar! Dia mencintaimu! Kamu pikir aku tidak punya hati? Apa kamu pikir kamu bisa seenaknya mengatur hidupku?" Denara terisak lagi. Rasa bersalah muncul begitu saja di permukaan. Ia menyadari betapa selama ini dia begitu egois dan tidak peduli dengan perasaan saudara kembarnya. Tapi gengsi mengalahkan hati nuraninya.
"Dena, aku tau kamu sangat mencintai Leon. Percayalah, aku tidak pernah menginginkan kalian berdua berpisah. Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku hanya ingin saudara kembarku juga bahagia bersama orang yang dicintainya," Daniar berjalan lambat mendekati Denara dan berhenti tepat dihadapan gadis itu.
"Kenapa kamu masih begitu baik padaku? Padahal aku sudah berlaku jahat padamu?" Denara menangis. Menyesal dengan apa yang diperbuatnya selama pada saudaranya.
Daniar memeluk Denara. Keduanya menangis.
Samuel menatap keduanya sambil menghembuskan nafas lega.
Kini mereka semua duduk di kursi di ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah.
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Denara tidak bisa menunggu terlalu lama karena kehamilannya," tanya mama memandang Leon penuh harap.
"Tidak, Ma! Aku tidak ingin Leon menikahiku karena terpaksa. Aku akan melahirkan dan merawat anak ini sendiri. Aku tidak mau menyusahkan kalian lagi," potong Denara cepat, membuat semua yang berada disitu menatapnya kaget.
"Tapi Dena," Leon beringsut mendekat mencoba berbicara pada Denara.
"Aku tau kamu tidak mencintaiku, Leon. Tidak apa-apa. Aku akan merawat anak kita sendiri. Kamu kejar saja cita-cita dan cinta kamu," ucap Denara tersenyum. Ia ikhlas dan pasrah sekarang.
Leon menoleh memandang Daniar dan mama nya bergantian.
"Jangan coba-coba merebut Daniar-ku, Leon!" suara dingin Samuel membuat ia menjadi pusat perhatian sekarang.
"Pak Sam?"
"Daniar, aku tidak akan melepasmu. Aku mencintaimu. Aku sudah kembali, dan aku akan terus bersamamu. Tidak! Aku tidak akan melepasmu lagi," Daniar mengernyit bingung. Kata-kata Samuel sama sekali tidak bisa dicernanya.
"Mungkin kamu sudah melupakan kejadian empat belas tahun lalu. Tapi tidak bagiku. Kamu menyelamatkan dan menolongku. Dan saat itu pula aku bersumpah akan menjadikanmu belahan jiwaku selamanya," Samuel menatap lekat mata Daniar. Ia tau, Daniar masih bingung dengan kata-kata nya. Tapi ia sudah bertekad, dan ia tidak akan mundur sejengkalpun.
==£==
Hari masih pagi. Udara masih terasa segar setelah semalam diguyur hujan.
Samuel masih berjalan mengikuti langkah Daniar.
Ia tau, ia masih berhutang penjelasan pada gadis itu sejak kejadian penuh drama tiga hari yang lalu di rumah Daniar.
Untung saja akhirnya Leon berhasil meyakinkan Denara untuk menikah dengannya. Meskipun dengan syarat yang membuat Daniar protes karena syarat itu sangat menguntungkan Samuel.
Tiba-tiba Daniar berhenti dan berbalik. Hampir saja Samuel menabrak tubuh mungil Daniar jika saja ia tidak fokus pada langkahnya.
"Pak Sam!" Daniar memekik kecil menyadari Samuel masih terus mengikutinya.
"Panggil aku Samuel, Daniar. Kita akan menikah sebentar lagi. Dan aku bukan atasanmu lagi," ucap Samuel mengulum senyum.
"Samuel," ulang Daniar kesal. Bibirnya mengerucut.
"Ya sayang?" sahut Samuel senang.
"Kenapa kamu menyetujui permintaan Denara?" gadis di hadapan Samuel itu menaikkan alisnya. Tangannya terlipat di depan dada.
"Karena aku serius ingin menikahimu, Daniar," ujar Samuel tenang.
"Tapi aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma bawahanmu, pegawai biasa di kantormu," Daniar merasa tidak enak dengan permintaan Denara yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Aku tidak melihat semua itu, Daniar. Aku mencintaimu sejak lama. Aku tidak mau kamu menolakku. Aku yakin bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Jadi, diamlah dan menurut saja apa kemauan Denara. Bukankah kamu menginginkan Denara menikah dengan Leon?" tanya Samuel terkekeh pelan.
"Aku hanya tidak mau kamu menyesal dengan persetujuanmu sendiri, Sam. Aku sudah mengingatkanmu, dan kamu tidak mau mendengarku," gerutu Daniar.
Samuel tertawa pelan, mengacak rambut Daniar lembut. Sentuhan yang membuat hati Daniar menghangat.
"Aku tidak akan pernah menyesal, Daniar sayang. Aku sudah menunggumu begitu lama. Dan aku akan membawamu bersamaku. Aku akan berusaha membahagiakanmu," kata Samuel sungguh-sungguh.
Daniar mengedikkan bahunya, lalu mulai berjalan kembali.
Samuel tersenyum, lalu menyusul Daniar dan mengaitkan jemarinya ke jemari Daniar, menggandengnya erat seolah tak ingin kehilangan.
==£==
Pesta pernikahan yang digelar begitu mewah dan semarak. Banyak wartawan yang dengan mengabadikan moment ini.
Denara tampak cantik gaun putihnya, sementara di sampingnya Leon berdiri gagah dengan ketampanan yang luar biasa.
Di sebelah mereka, nampak Daniar dengan gaun putih panjang penuh taburan swarovski terlihat sangat cantik berdiri anggun di samping Samuel yang nampak memukau dalam balutan tuxedo putihnya.
Ya, mereka menikah bersama. Syarat yang diajukan Denara dua minggu yang lalu saat ia menyetujui menikah dengan Leon.
Ucapan selamat datang bertubi-tubi dari para kerabat, rekan, teman, baik dari kalangan selebritis maupun dari kalangan bisnis.
Samuel melirik istrinya yang berdiri di sisinya berkali-kali. Istrinya begitu mempesona. Gaun pengantin yang dikenakannya tidak dapat menyembunyikan lekuk ramping dan sexy miliknya.
Samuel tersenyum - senyum, tidak sabar merasakan tubuh mungil dan indah itu berada dalam pelukannya.
Ia tidak sabar menunggu pesta berakhir. Ia ingin hanya berdua dengan Daniar, istrinya. Ia ingin memiliki istrinya untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah puas memandangi istrinya. Kalau bisa ia tidak ingin orang lain ikut menikmati wajah cantik istrinya meskipun hanya memandangnya kagum.
Daniar menoleh merasakan pandangan Samuel padanya.
Pipinya semburat memerah saat menyadari Samuel menatapnya lekat dan penuh gairah.
Detak jantung Daniar makin menjadi ketika Samuel berbisik di telinganya.
"I love you, Daniar. Dan aku tidak sabar menunggu malam pertama kita nanti, sayang," Samuel terkekeh melihat pipi Daniar bersemu dan menunduk malu. Sangat menggemaskan.
THE END.