Matahari bersinar sangat terik. Udara panas membuat membuat orang berkeringat meskipun tidak beraktifitas.
Seorang gadis sedang menikmati taro milkshake-nya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Dihadapannya tampak terbuka sebuah buku tebal. Ia terlihat larut dengan apa yang dibacanya, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Mendadak cafe yang hening itu berubah menjadi riuh. Seorang lelaki tampan berbusana formal berwarna abu-abu gelap melangkah masuk ke dalam cafe sambil melepas kacamata hitamnya, mengedarkan pandangannya.
Para gadis yang ada di situ berbisik-bisik bahkan ada yang menjerit histeris.
Siapa yang tidak mengenal Alvarico Candra? Pengusaha muda yang sukses, tampan dan kaya raya, pria super most wanted yang selalu menjadi perbincangan hangat kaum hawa.
Para gadis bahkan ibu-ibu pun menjerit histeris saat lelaki tampan itu berjalan melewati mereka.
Pria itu berhenti. Tatapannya terpaku pada sosok gadis yang menunduk diam tanpa terganggu riuh disekitarnya. Ia membenamkan diri dalam buku tebal yang ditekurinya.
Tiba-tiba seorang gadis dengan dandanan modis memekik menghambur kearah pria gagah itu.
"Alva! Alva! Kamu masih ingat aku kan? Aku Hanna. Kita pernah bertemu di acara pembukaan anak cabang Black Gold di Surabaya," serunya berisik.
Alvarico menoleh menatap tajam dengan sorot tidak suka pada gadis bernama Hanna itu.
Terdengar decakan seseorang.
Alvarico memutar lehernya, mendapati tatapan terganggu gadis yang tadi bergumul dengan buku tebalnya sendiri.
Gadis itu membereskan bukunya, meraih tas, menyampirkannya ke bahu mungilnya dan bergegas berlalu dari hadapan Alvarico.
Alvarico mengernyit heran. Gadis itu sama sekali tidak histeris seperti yang lain. Apa gadis itu begitu kuper sehingga tidak tau siapa dia sebenarnya?
Alvarico menggelengkan kepalanya, menyingkirkan kepeduliannya terhadap kecuekan gadis aneh itu.
=====♡~♡=====
Langit sedang cerah. Tidak mendung, tetapi juga tidak terik. Alvarico mengendarai BMW 18 nya dengan santai. Seharusnya hari ini ia ada pertemuan dengan salah seorang rekan bisnisnya. Berhubung rekan bisnisnya itu membatalkan mendadak, jadilah ia mengitari kota untuk menghilangkan kejenuhan.
Ya, Alvarico memang seorang workaholic. Bahkan di hari minggu seperti ini ia lebih suka bertemu klien nya daripada beristirahat di rumah. Apalagi mama-nya yang selalu menuntutnya untuk segera menikah diusianya yang hampir kepala tiga ini membuatnya enggan berlama-lama di rumah.
Jalanan lengang ini memudahkan Alvarico menikmati kesendiriannya. Bukannya ia tidak mau mengerti keinginan mama-nya, juga bukan karena ia pernah patah hati, karena tidak ada seorang wanita pun yang mampu menolak pesonanya.
Hanya wanita bodoh dan gila yang tidak menginginkan dan menolak Alvarico.
Tiba-tiba mata Alvarico tertumbuk pada pemandangan yang menarik perhatiannya.
Di sebuah taman yang tengah dilewatinya, terlihat seorang gadis berambut ikal melewati bahu. Gadis itu tengah duduk atas selembar kain yang dihamparkan di atas rerumputan. Kepala gadis itu mengangguk-angguk kecil seperti mengikuti irama lagu, sementara mata gadis itu terpaku pada buku tebal yang terbuka di pangkuannya.
Telinga gadis itu tertutup headset.
Alvarico mengernyit merasa pernah melihat dan bertemu gadis itu. Tapi dimana? Ia mencoba mengingat-ingat.
Ia menepikan BMW 18 nya. Perlahan ia mendekati gadis yang masih tampak asyik dengan bacaannya.
Aaaah, Alvarico ingat sekarang. Gadis itu adalah gadis yang sama yang mengabaikannya saat di Swan Lake Cafe beberapa hari yang lalu. Gadis yang membuatnya merasa bukan siapa-siapa.
Gadis itu bahkan tidak meliriknya sama sekali di saat semua wanita heboh melihatnya.
Dilihatnya gadis itu lagi. Seperti sebelumnya, gadis itu masih tenggelam dalam dunianya sendiri.
Rasa penasaran memenuhi benak Alvarico. Ia berjalan makin dekat hingga sekarang ia berdiri tepat di depan gadis itu.
Merasa ada yang memperhatikan, gadis itu mendongak melihat ke arah Alvarico. Ia melepas headset dari telinganya.
"Ada apa?" gadis itu memandang Alvarico dengan mata beningnya.
Alvarico tergeragap mendengar pertanyaan gadis itu. Ia tidak bermaksud mengusik gadis itu. Tapi rasa penasarannya membuatnya mendekati gadis itu.
"Kamu sendirian di sini?" Alvarico tau pertanyaannya aneh ditelinga gadis itu.
"Seperti yang kamu lihat. Kenapa?" tanya gadis itu mengernyit.
"Sepagi ini dan kamu sendirian di sini. Apa kamu tidak punya teman?" Alvarico tertawa dalam hati. Sungguh, ia tidak pernah membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak penting seperti yang saat ini ia lakukan.
"Memangnya kenapa? Apa ada larangan?" gadis itu balik bertanya, membuat Alvarico mati kutu.
"Ehm tidak. Tapi aku tidak terbiasa melihat seorang gadis sendirian di taman sepagi ini," gadis itu memutar matanya mendengar pernyataan aneh dari laki-laki perlente di depannya.
"Oh. Tapi aku terbiasa begini," ujar gadis itu mencibir membuat Alvarico tiba-tiba merasa gemas pada gadis itu.
"Siapa namamu? Perkenalkan, namaku..."
"Alvarico Chandra kan?" potong gadis itu cepat.
"Kamu mengenalku?" tanya Alvarico takjub. Gadis itu mengenalnya tetapi ia sama sekali tidak histeris bertemu dengannya?
"Tentu. Siapa yang tidak mengenalmu? Berita tentangmu ada di mana-mana," sahut gadis itu sambil membereskan barang-barangnya.
"Tapi aku belum tau namamu. Siapa namamu?" mendadak Alvarico ingin mengenal gadis itu lebih dalam.
"Aku bukan siapa-siapa," jawab gadis itu sambil melipat alas yang tadi digunakannya untuk duduk.
"Tapi aku ingin tau namamu," Alvarico makin heran dengan dirinya sendiri, kenapa begitu penasaran ingin tau siapa gadis itu.
"Untuk apa? Paling sebentar juga kamu sudah lupa. Lebih baik tidak usah," sahutnya berdiri dan menenteng tas-nya, hendak berlalu dari hadapan Alvarico.
Tanpa sadar tangan Alvarico menahan gadis itu.
"Katakan siapa namamu?" desak Alvarico menekan nada suaranya membuat si gadis mendengus kesal.
"Namaku Kiara. Puas?" gadis bernama Kiara itu menarik lengannya yang digenggam Alvarico.
"Belum! Kamu masih kuliah? Atau sudah bekerja?" tanya Alvarico lagi masih belum melepaskan Kiara.
"Untuk apa aku harus mengatakannya padamu? Apa untungnya bagiku?" Kiara memberengut kesal.
"Aku menyukaimu," Alvarico terkejut dengan perkataannya sendiri. Apa yang baru saja diucapkan spontan keluar tanpa ia sadari. Tapi ia tidak berniat meralatnya sama sekali.
"Hahaha lucu sekali Tuan Alvarico yang terhormat. Sekarang lepaskan aku. Aku harus pulang," Kiara menatap tajam.
"Katakan dimana rumahmu, akan aku antar," Kiara membulatkan matanya.
"Aku bisa pulang sendiri. Maaf, bisa lepaskan tanganku?" Alvarico melepaskan cekalannya perlahan dengan tidak rela.
Kiara segera berlari menjauh. Sementara Alvarico seperti baru tersadar sesuatu, ia segera mengikuti dari jauh, kemana gadis itu pergi.
=====♡~♡=====
Kiara tersenyum memperhatikan anak-anak yang sedang mewarnai di lembaran kertas yang baru saja dibagikannya.
"Bu Kiara, warna bunga itu apa?" suara lucu Lolly membuat Kiara tertawa kecil.
"Macam-macam Lolly sayang. Kamu bisa mewarnainya dengan warna merah, kuning, ungu, putih..."
"Apa Lolly boleh mewarnainya pink?"
"Boleh. Lolly suka warna pink?" gadis kecil itu mengangguk membuat kedua kepangnya bergerak-gerak lucu.
"Bu Kiara, aku suka warna oranye. Apa ada warna bunga oranye?" seorang gadis cilik memakai pita merah mendekat.
"Tentu ada Fika sayang," Kiara mengusap lembut kepala Fika.
"Apakah aku boleh mewarnai hatimu dengan warna merah jambu?" sebuah suara bariton di ambang pintu membuat Kiara menoleh cepat dengan mata membelalak.
"Kamu? Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Kiara lebih terdengar ketus daripada nada bertanya.
"Memang apa larangan aku berada di sini? Lagipula apa salahnya aku berada di sekolah milikku sendiri?" Kiara membulatkan matanya.
"Jangan bercanda Tuan Alvarico. Setau saya, sekolah ini milik Ibu Gea," Kiara memelankan suaranya menekan kekesalannya.
"Dan Ibu Geananda itu ibuku, Kiara," ujar Alvarico tersenyum mengedipkan sebelah matanya sambil bersedekap bersandar di pintu.
Kiara menatap tidak percaya.
"Mamaku, maksudku Ibu Gea memanggilmu agar menghadapnya sekarang, Kia," kata Alvarico menyadarkan ketertegunan Kiara.
"Tapi aku... aku tidak melakukan kesalahan apapun," ujar Kiara pias. Apakah ia akan dikeluarkan dari sekolah ini karena bersikap tidak sopan pada putra Ibu Gea, pemilik sekolah tempatnya bekerja.
"Tentu saja kamu melakukan kesalahan, Kia. Sebaiknya kamu ikut aku sekarang," kata Alvarico tidak sabar.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja," Kiara melirik ke arah anak-anak yang sedang mewarnai dengan antusias.
"Aku yang akan menggantikanmu, Kia. Aku akan menjaga mereka. Kamu pergilah. Jangan membuat Ibu Gea menunggumu terlalu lama," Lea muncul dari belakang Alvarico.
"Baiklah. Aku titip mereka, Lea," Kiara meninggalkan kelasnya dengan berat hati, diiringi Alvarico yang tersenyum senang disebelahnya.
Kiara sudah di depan ruang pemilik yayasan. Ia hanya pernah sekali memasuki ruangan ini, yaitu saat ia melamar pekerjaan yang sangat dicintainya ini.
"Masuklah, Kia," Alvarico mengulurkan tangannya hendak membuka pintu.
"Tunggu! Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku akan dikeluarkan? Aku bekerja dengan sungguh-sungguh selama ini. Atau aku akan dikeluarkan karena aku sudah melakukan kesalahan padamu?" Kiara bertanya - tanya seolah pada dirinya sendiri.
"Dikeluarkan atau tidak itu tergantung jawabanmu nanti, Kia," sahut Alvarico gemas dengan kegelisahan Kiara.
Kiara mendesah pelan. Lalu dengan hati berdebar ia melangkah masuk.
Dilihatnya Bu Gea sedang membaca sebuah majalah bisnis dengan cover depan Alvarico yang berpose dengan gagahnya.
"Ma, Kiara sudah datang," Alvarico memberitahukan kehadiran mereka pada Nyonya Geananda Chandra.
Sementara Kiara dengan gugup meremas-remas ujung blouse nya.
Bu Gea mengalihkan fokusnya pada Kiara. Senyumnya mengembang.
"Silakan duduk Kiara," Bu Gea mempersilakan Kiara dengan menunjuk sofa berwarna krem di dekatnya.
Kiara mengangguk patuh. Sementara Bu Gea duduk di sofa tunggal, dengan sigap Alvarico mengambil duduk di samping Kiara.
"Kiara, apakah kamu senang bekerja di sini?" tanya Bu Gea lembut.
"Iya Bu. Saya sangat senang bisa mengajar di sini. Saya mohon, jangan pecat saya, Bu. Saya minta maaf jika saya sudah bersikap tidak sopan. Tapi saya benar-benar tidak tau kalau Bapak Alvarico ini adalah anak Bu Gea. Maafkan saya, Bu," Kiara hampir tidak bisa menahan tangisnya. Ia sangat mencintai pekerjaannya juga anak-anak itu.
Bu Gea memandang bingung ke arah Kiara, lalu melirik pada putra semata wayangnya yang sedang tersenyum menahan tawa. Segera Bu Gea sadar apa yang terjadi. Ya, ulah siapa lagi kalau bukan ulah putranya yang akhir-akhir ini tengah kasmaran dengan gadis yang katanya special limited edition. Alvarico tiba-tiba saja sering meninggalkan pekerjaan dan menghilang tanpa ada yang tau apa yang tengah dikerjakannya.
Alvarico tiba-tiba saja sering tersenyum sendiri. Dan ketika ditanya, ia hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja dan hanya sedang teringat seseorang.
Dan ternyata inilah jawabannya. Putra tunggalnya sedang menyelidiki gadis aneh yang sangat cantik, yang sudah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak karena wajah ayu-nya selalu membayangi kemanapun Alvarico pergi.
"Kiara, aku tidak akan memecatmu jika kamu mengabulkan satu permintaan ibu," Bu Gea tersenyum mengedipkan matanya pada Alvarico yang mengangguk kecil pada Mamanya.
Kiara mengangkat wajahnya. Mata itu berbinar sesaat.
'Apa yang harus saya lakukan, Bu?" tanya Kiara penuh harapan.
"Menikahlah dengan putraku!" seperti mendengar gelegar petir di pagi buta, Kiara terlonjak kaget. Bagaimana bisa Bu Gea memintanya untuk menikah dengan putranya? Mereka tidak saling kenal dekat. Dunia mereka jauh berbeda. Ia hanyalah seorang yatim piatu yang menghabiskan hidupnya di panti asuhan, sementara Alvarico merupakan pengusaha sukses dan kaya raya dengan kadar ketampanan yang luar biasa, dan digandrungi banyak sekali wanita.
Bagaimana bisa Bu Gea memintanya untuk hal yang mustahil seperti ini? Bahkan dalam mimpi pun Kiara tidak berani berharap.
"Maaf Bu Gea, saya tidak mengerti maksud Ibu," Kiara menenangkan dirinya. Ia yakin ia salah dengar.
"Begini Kiara, Ibu sudah bicara pada bunda Maya di panti sebelum kami datang kemari. Dan bunda Maya juga sudah setuju. Sekarang tinggal kamu. Kamu mau kan menikah dengan Alvarico? Menjadi istri yang baik untuknya, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati?" tidak, ia tidak salah dengar. Bahkan Bu Gea jelas-jelas menyebut bunda Maya.
Kiara menepuk keras pipinya sendiri, membuat Alvarico tersentak kaget, lalu tertawa kecil memaklumi apa yang dirasakan oleh Kiara.
"Kiara?" suara Bu Gea membuat Kiara menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu dengan tatapan bingung.
"Tapi Bu, apakah saya pantas? Maksud saya, saya ini cuma seorang yatim piatu. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya punya Bunda Maya. Saya bukan orang yang pantas buat anak Bu Gea," Kiara menunduk takut. Ia merasa dirinya sangat kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding Alvarico. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan seorang yang punya nama dan pengaruh besar seperti Alvarico.
"Kamu menolakku, Kiara?" tanya Alvarico dengan nada tak percaya.
Kiara memandang laki-laki disebelahnya dengan gugup. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Alvarico? Ia hanya berusaha untuk sadar diri.
"Kiara? Ikut aku sekarang!" Alvarico menarik tangan Kiara agar ikut bersamanya.
Kiara hanya pasrah. Ia mengikuti Alvarico menuju kolam ikan yang berada di halaman belakang sekolah yang luas.
Kiara masih terdiam. Ia tidak berani bersuara. Ia menunggu Alvarico angkat bicara.
"Kiara, aku tau kamu masih bingung dengan semua ini. Aku akan jelaskan semuanya. Sejak pertemuan kita yang kedua di taman beberapa minggu yang lalu, aku berusaha mencari tau siapa dirimu yang sebenarnya. Aku bisa saja memerintahkan anak buahku atau menyewa detektif swasta untuk menyelidikimu dan mencari tau siapa dan dimana kamu bekerja dan tinggal. Tapi tidak. Aku ingin mencarinya sendiri. Aku mengikuti kemana kamu pulang. Dari situ aku mencari tau siapa dirimu dan mengorek keterangan tentangmu dari bunda Maya juga penghuni panti yang lain. Dari situ aku tau apa hobby kamu, makanan kesukaan kamu, dimana kamu bekerja, semuanya. Lalu aku menceritakan semua tentangmu pada Mama. Dan sepertinya Mama menyukai pilihanku," Alvarico menarik nafas, mengatur detak jantungnya yang semakin cepat.
"Aku menyukaimu, Kia," Alvarico berkata cepat. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi.
Kiara mengedip sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia berusaha mencerna apa yang dikatakan Alvarico barusan.
Ia tau Alvarico menunggunya bicara. Dihelanya nafasnya dalam-dalam.
"Jangan gegabah Pak Alva, mungkin itu hanya rasa penasaran Bapak saja. Saya takut ini cuma perasaan semu karena Bapak penasaran dengan saya," ucap Kiara pelan. Hatinya terasa sedih. Ia sangat sadar perbedaan itu. Mana mungkin seorang Alvarico Chandra menyukainya?
"Aku yakin dengan perasaanku, Kia. Bahkan aku sangat yakin bahwa aku mencintaimu. Aku jatuh hati padamu. Kamu berbeda. Kamu bukan seperti gadis - gadis di luar sana. Maukah kamu menerima perasaanku, Kiara?" Kiara membiarkan Alvarico mengambil dan menggenggam jemarinya. Ia hanya menunduk.
Alvarico tau, ia harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan kepercayaan dan hati Kiara.
=====♡~♡=====
Kiara mendengus pelan. Dilihatnya Alvarico tengah berdiri bersandar di depan mobil mewahnya sambil mengutak atik smartphone canggihnya.
Sudah sebulan ini laki-laki itu memaksa untuk mengantar jemputnya. Padahal Kiara tau betapa sibuknya Alvarico dengan pekerjaannya.
Kiara sudah semakin dekat, dan Alva menyadarinya.
Alva tersenyum manis melihat Kiara berjalan kearahnya.
"Mau langsung pulang? Atau mau makan siang dulu, Kia?" tanya Alvarico masih fokus dengan lalu lintas dihadapannya.
"Langsung pulang saja, Alva. Bunda Maya sudah menungguku. Hari ini Kenaan akan pulang. Aku harus membantu Bunda memasak makanan kesukaan Kenaan," sahut Kiara membuat alis Alva bertaut.
"Kenaan? Siapa Kenaan?"
"Kenaan sama-sama anak panti. Dia tiga tahun di atasku. Dia bekerja sebagai dokter di Yogyakarta. Hari ini dia cuti hingga seminggu ke depan," jelas Kiara tanpa melihat perubahan raut muka Alva.
"Boleh aku ikut?" tanya Alva.
"Ikut? Ikut kemana?"
"Acara penyambutan teman sepantimu," sahut Alva datar.
"Kami tidak mengadakan acara apapun, Alv. Cuma makan bersama nanti malam," Kiara tertawa kecil mendengar permintaan Alva.
"Boleh aku ikut makan malam?" tanya nya setengah memaksa.
"Boleh saja."
"Baik. Aku akan datang jam lima sore nanti."
Kiara hanya mengangkat bahu.
Dan benar saja, tepat jam lima sore, Alvarico dan kedua orang tuanya sudah berada di panti asuhan tempat Kiara tinggal.
Tentu saja kedatangan mereka di sambut hangat oleh Bunda Maya.
Tak lama, terdengar suara taksi berhenti di depan panti. Kiara berdiri dengan cepat dan setengah berlari menuju ke pintu.
"Kenaan!" pekiknya senang.
Seorang pemuda berkacamata minus tersenyum lebar sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
Kiara segera menghambur memeluk Kenaan.
Alvarico berdehem keras, membuat bunda Maya tersenyum maklum.
"Jangan khawatir nak Alva, mereka memang seperti itu kalau bertemu. Maklum, sejak kecil Kiara selalu manja dengan kakaknya," bunda Maya menenangkan Alvarico yang tampak tidak suka.
"Iya Bun," angguk Alva yang ditertawakan oleh kedua orang tuanya.
"Dulu aja disuruh cepet nikah gak mau. Sekarang ngebet banget. Sampai cemburu gak liat-liat," sindir Bu Gea.
"Kan belum ketemu Kiara, Ma," sahut Alva kalem.
"Wah, ini pasti Alvarico yang most wanted itu ya?" Kenaan tertawa menjabat erat Alvarico dan kedua orang tuanya.
"Ah, biasa saja," jawab Alva merendah.
"Biasa bagaimana? Di tempat aku bertugas, setiap hari ada saja yang membicarakan seorang Alvarico Chandra," ujar Kenaan tertawa renyah disambut senyum kedua orang tuanya.
"Tidak juga. Buktinya Kiara sampai sekarang belum juga mau menjawab lamaranku," sahut Alvarico, membuat kedua pipi Kiara merona merah.
"Kenapa Kiara? Aku mau dengar jawabanmu sekarang. Tidak baik menggantung perasaan orang lain," kata Kenaan menatap Kiara yang masih menunduk.
"Keeeeen..." desis Kiara malu.
"Benar Kiara. Kami juga sudah tidak sabar melihat kalian menikah," sahut Papa Alvarico.
"Nah tuh, Kiara. Bukan Ibu saja kan yang ingin melihat kalian menikah?" Mama Alva menambahi, membuat Kiara makin gugup.
"Buuun," Kiara berharap Bunda Maya membantunya yang sedang terpojok.
"Sebaiknya kamu segera kasih jawaban, Kiara. Bunda juga ingin segera melihat kamu menikah," bunda Maya tertawa melihat Kiara malu-malu.
"Aaaalv..." akhirnya Kiara meminta bantuan Alva yang tersenyum geli menatapnya.
"Iya Kiara?"
"Kamu jangan ikut-ikutan mereka ya. Aku...aku...aku malu," Kiara makin menunduk.
Perlahan Alva mendekat, dan berdiri tepat di depan Kiara.
"Jadi, apa jawabanmu Kia?" tanya Alva lirih di dekat telinga Kiara.
Wajah Kiara makin merona. Rasa panas menjalar hingga ke lehernya. Dengan masih menunduk, Kiara mengangguk kecil.
"Jadi?" bisik Alva memastikan meskipun ia melihat anggukan Kiara.
"Ya, aku mau," jawab Kiara teramat pelan. Namun Alva mendengarnya dengan jelas. Tanpa bisa ditahan lagi, Alva meraih Kiara ke dalam pelukannya. Kiara menyembunyikan wajahnya di dada Alva. Perasaan Alva melambung tinggi. Tidak percuma usahanya selama ini mendekati Kiara. Bersabar menunggu cinta yang benar-benar diinginkannya.
Semua yang ada di situ tersenyum lega.
Mama dan Papa Alva bergantian memeluk Kiara dengan sayang. Gadis yang mampu menyelinap dan mencuri hati Alvarico tanpa ia menyadarinya.
Dan Alvarico benar-benar puas dan bahagia dengan jawaban yang diberikan Kiara. Dan ia akan memberikan cintanya hanya untuk Kiara.
SELESAI .