Dear You My Imagination
Romance
02 Dec 2025 17 Dec 2025

Dear You My Imagination

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (18).jpeg

download (18).jpeg

01 Dec 2025, 15:46

Sebuah omong kosong tentang harapan dibalik takdir yang mempertemukanku

***

"Spaghetti Bolognaise dua porsi dan daging asam manis satu porsi!" Teriakku pada seorang priayang sedang memasak didapur restauranku, restauran kecil yang baru saja ku dirikan dengan mengusung tema classic dan ditambah dekorasi lukisan dari galeriku. Inilah jalan yang kupilih bersama pria itu. Siapa dia? Akan ku ceritakan bagaimana kami bertemu bahkan jauh sebelumnya.

***

Sejak umurku 4 tahun, kedua orangtuaku sudah memperkenalkanku dengan dunia seni khususnya lukis, mereka adalah duet pelukis yang memiliki galeri besar dipinggir kota. Darah seniman sudah mengalir dan berdenyut dalam tubuhku seakan membuat suatu ikatan yang erat.

Aku kerap memenangkan lomba-lomba yang memuluskan perjalanan ku menempuh jenjang perguruan tinggi di universitas ayah ku dulu.

Setelah lulus aku jatuh cinta pada seni menggambar manga atau komik terbitan dan terjun kedalamnya. Setelah debut pertamaku, aku mampu membuat galeriku sendiri dipusat kota yang padat.

Orangtuaku memutuskan untuk pensiun, galeri mereka dijual lalu diamalkan kini mereka menikmati masa tua dikampung halamanku.

Namaku semakin melambung dan menjadi perbincangan orang-orang, mereka bahkan menjulukiku

sang pesulap.

Entah apa yang publik rasakan terhadap karyaku, tapi aku tetap menghargainya.

Aku punya rumah sendiri, galeriku sendiri, penggemar karyaku, orangtua yang bahagia dan bangga, sahabat yang selalu mendukungku, bahkan uang untuk sedikit bersenang-senang. Hidup ini sangat sempurna.

Sampai semuanya terenggut oleh pergelangan tangan kananku yang remuk akibat terjatuh dari tangga, saat menyesaikan lukisanku setinggi 3 meter digaleriku.

Awalnya aku tak menyadari ada yang janggal dengan tanganku. Aku bahkan masih bisa menyelaikan sisa deadline dan beraktivitas seperti biasa.

Setelah itu ditengah malam aku terbangun dengan sakit yang terangat sangat di tangan kananku. Aku sangat terkejut ketika mengetahui behwa tanganku sudah patah dan dokter seakan tak percaya setelah terjatuh dari tangga aku tak merasakan apa-apa.

Aku terpaksa cuti dan hanya berdiam diri dirumah, itu sangat-sangat membuatku muak bahkan aku tak bisa memegang pensil dengan benar membuatku sakit hati.

Stres ini membuatku kerap bermimpi buruk, rasanya tangan kananku mengeluarkan darah sangat banyak hingga aku tenggelam dalamnya. Aku terbangun dengan keringat dingin dan tangan yang gemetar.

Orangtuaku pasti akan sedih mendengar keadaanku. Namun aku tak sendirian, Celin sahabatku ia selalu menemaniku dikala ku terpuruk.

Aku terus mencoba untuk pulih, tapi sia-sia usaha ku berakhir dengan pisau yang merobek-robek kanvas yang ku gambar.

Entah sudah berapa lama aku tak tampil dipublik atau mengeluarkan karya baru. Walau gips ditanganku sudah dilepas, aku masih tak bisa menggambar dengan benar.

Untuk merayakan lepasnya parasit ditangan kananku, Celin mengajakku ke toko buku legendaris dipinggir kota.

Toko itu berasa ditempat yang terpencil dan terlihat sangat tua. Legendaris? Lebih terlihat toko buku tua.

Saat kami masuk, loncemg yang nyafing menyambut namun tak ada orang. Celin dengan semangat menjelajahi rak buku dengan debu dimana-mana. Sedangkan aku lebih memilih menunggunya dimeja kasir.

Tiba-tiba aku merasakan sentuhan punggungku, saat aku menoleh seorang anak laki-laki tersenyum manis kearahku. "Kakak mencari sesuatu?" Tanyanya ramah.

"Ahh tidak aku hanya mengantar teman saja."

Aku belum terbiasa, berbicara pada oranglain selain Celin dan kedua orangtuaku belakangan ini.

"Apa yang terjadi pada tanganmu?" Anak itu menunjuk tangan kananku, sepertinya ia menyadari perbedaan warna kulitku.

"Aku baru saja melepas gipsnya."

"Apa yang kau lakukan sehingga tanganmu harus di gips?" Oke aku menyadari mengapa orang-orang enggan memiliki anak banyak.

"Aku bekerja terlalu keras."

"Cobalah untuk memotong lingkaran dengan sebuah gambaran." Anak itu beranjak dari kirsi kasir dan mendekatiku.

"Gambaran?" Oke anak ini mulai aneh.

"Tidak, tidak maksudku sebuah khayalan. Khayalan yang melampaui batas kenyataanmu. Siapa namamu?" Selain aneh ia mulai berbicara seperti orang dewasa saja.

"Farren Lee." Jawabku singkat.

"Apa?! FL? Kau sang pesulap itu? Boleh aku minta tanda tanganmu?" Ia langsung menyodoriku kertas, aku mencari-cari alat tulis dan mataku menangkap sebuah pensil yang tergeletak dilantai.

Hanya sebuah tanda tangan tidak akan menyakiti hati, perlahan-lahan aku membuat tanda tangan khas seorang seniman walau tak semuanya begitu. Lugas, tegas, dan sekali jalan berbeda dengan tanda tangan di ID ku sangat kekanak-kanakan dan ragu.

Kalau dilihat-lihat tulisan tanganku tak pernah sebagus ini, pensil ini sangat nyaman digunakan. Sepertinya kenampakan ini memberikanku efek tenang.

"Berapa harga pensil ini." Tanyaku sambil menyerahkan kertasku.

"Untuk kakak gratis, ambil saja." Kata anak itu sambil beranjak dengan gembiranya.

"Hey nak benarkah? Siapa namamu?" Tanyaku seakan tidak percaya.

"Caled, itu namaku. Seperti panggilan kan?" Lalu ia hilang dibalik pintu.

Wah anak itu benar-benar aneh, Caled ya?

"Ayo nyonya Lee, kita minum kopi. Buku yang ku cari tidak ada, kita bisa kembali besok." Kata Celin muncul dari debu-debu yang berterbangan.

Minum kopi di sore hari yang dingin, sambil memandangi pensil unik ini cukup untuk mengalihkan perhatianku terhadap sekeliling cafe yang terus saja menatapku.

Mereka pasti tak mengira seorang FL yang telah lama tak muncul akhirnya keluar dengan rambut acak-acakan baju kaos legging boots dan coat tebal nan panjang, lebih mirip seperti homeless dari pada seniman yang cuti.

Sesampainya dirumah aku segera meraih kanvasku, kali ini ku yakin tanganku akan sembuh.

Dengan ambisius aku menggoreskan pensil unik itu,berharap akan tercipta sesuatu. Namun sia-sia kanvas itu berakhir dengan lubang besar berkat pisau dapur yang ku tancapkan.

Mengapa tanganku tetap sama? Tidak kaku lagi namun tetap sama saja!

Aku mematahkan pensil itu dan melemparnya kesudut ruangan, minum beer dingin dan menatap langit malam dispot favorite ku itu yang aku perlukan.

Saat malam udara terkesan sedikit lebih hangat, aku duduk sendiri diatap rumahku tampaknya malam ini aku ditemani bintang-bintang. Duduk dan diam menatap mereka bersinar, seakan minta bantuan untuk dihitung.

Aku terbangun dengan wajah yang kacau, nampaknya aku berjalan sendiri kekasur dengan keadaan mabuk. Membereskan penampilan kemudian memasak sarapan, aku terus saja teringat anak kecil itu. Caled ya?

Betapa terkejutnya aku ketika melihat pensil yang sebelumnya ku patahkan kini ada dimeja kerjaku dengan keadaan utuh, aku benci ini.

Menjadi penakut bukan pilihanku, sepertinya ada yang aneh dengan rumah ini. Atau mungkin aku sudah mabuk semalam, seakan-akan aku mematahkannya.

Celin menjemputku dan aku menceritakan keanehan rumahku pagi ini padanya, tapi ia hanya tertawa dan menyuruhku tidak minum alkohol lagi.

Lonceng pintu masuk toko berbunyi nyaring ketika kami memasukinya. Seorang kakek yang asing menyambut kami, "selamat datang ada yang bisa pak tua ini bantu?" Katanya ramah.

Celin menjelaskan buku yang ia cari, dan kakek itu menunjukan jalannya. Aku menunggu dikasir berharap akan bertemu Caled lagi, karena aku akan mengadukannya pada kakeknya karena ia seharusnya menjaga toko tapi malah memberi barang gratis pada pembeli.

Kakek itu berjalan tertatih-tatih ke arah kasir dan duduk dibalik meja. "Kek apa Caled ada?" Tanya ku.

Kakek itu diam sebentar kemudian menjawabku, "apa aku mengenal Caled?" Okay ini aneh.

"Seorang anak kecil yang aku temui kemarin ditoko ini." Jelasku.

"Tidak ada siapapun kemarin, hanya ada aku dan istriku. Apa benar toko ini yang kau kunjungi kemarin?" Aku hanya terdiam mendengar penjelasan kakek pemilik toko. Celin membayar buku yang ia beli, segera aku menyeretnya keluar.

"Hey-hey Fallen ada apa?" Tanya nya heran.

"Toko ini, toko ini sangat-sangat sakit. Kita harus pergi dari sini, ayo cepatt!"

"Tunggu-tunggu kita memang harus segera pergi, bukan karena toko ini yang sakit. Kau lah yang sakit, lihat kau memakai kaos terbalik!" Aku baru menyadari, setelah berkeliling kota dengan baju terbalik. Memalukan!

Karena terburu-buru aku jadi lupa mengembalikan pensil ini, tapi kalau dipikir-pikir aku cukup konyol juga mengira rumahku berhantu. Aku pun memutuskan untuk menyimpannya.

Kemana perginya Caled? Jika kakek pemilik toko bilang tidak ada yang bernama Caled, lantas siapa yang aku temui itu? Apa aku harus melapor kepolisi? Mungkin lebih masuk akal aku melapor ke psikiater.

"Aku benar-benar sudah gila, bahkan wajah anak itu masih kuingat jelas." Aku mulai menggambar diatas kanvas, membuat sket wajah Caled jika ia seumuran denganku.

Wajahnya kurang lebih seperti ini, ah seketika aku merindukan kampung halamanku. Kemudian aku membayangkan musim semi dirumah orangtuaku, kehangatan mereka mampu mengusir dinginnya udara musim semi.

Aku sangat mengantuk, tapi sket ini lumayan juga walau belum aku warnai. Sebaiknya aku segera tidur sekarang, aku menggantung kanvas itu disudut ruang kerjaku.

Aku mulai bermimpi lagi! Kali ini mimpi buruk apa yang akan muncul? Aku berdiri disebuah ruangan serba putih dengan meja makan yang sangat panjang hingga aku tak bisa melihat ujungnya diantara kabut yang melayang-layang.

Satu persatu hidangan bermunculan memenuhi meja makan, aroma yang super menggiurkan membuatku ingin mendekat, tapi bisa saja makanan ini beracun. Tapi aroma ini sangat nyata, seperti masakan rumahan. Perlahan aku membuka mata dan terbangun.

Ternyata benar aroma ini nyata! Tapi siapa yang sedang memasak didapur? Orangtuaku tidak akan datang tanpa mengabari, suara wajan yang bersahutan membuatku semakin yakin seseorang tengah memasak didapur rumahku. Siapa?!

Aku memegang tongkat baseball ku untuk perlindungan diri, nafasku semakin tak beraturan karena ketakutan. Mengintip dibalik tembok, aku melihat sosok pria menggunakan afronku.

Perlahan mendekatinya dari belakang tampak jelas garis punggungnya yang kokoh. Menyentuhnya sedikit dengan ujung tongkat baseball ku, pria itu berhenti dan menoleh. Betapa terkejutnya aku sampai-sampai membuatku lemas dan aku tak ingat apa-apa lagi!

Akh.. kepalaku pusing sekali, berusaha membuka mata dan terbangun dari mimpi aneh barusan. "Wah kau sudah bangun!" Suara asing ini yang menyambutku. Seorang pria duduk disampingku, rupanya aku masih dalam mimpi. Tidak mungkin seorang pria asing tau password rumahku, kecuali ia stalker!

Seketika aku bangun dan menjauh, "ada apa? Apa aku mengejutkanmu? Makan lah dulu, aku sudah memasak sarapan untukmu. Sepertinya kau sangat lemas sehingga tadi pingsan." Pria ini berbicara padaku, ternyata ini bukan mimpi.

Apa yang hasur kulakukan? Ada orang asing dirumahku! Meraih benda terdekat dan melemparnya dengan membabi buta.

"Pergi dari rumahku kau orang asing!!" Seruku sambil terus melemparinya.

"Hey aku tak bermaksud jahat, tolong hentikan kau menyakitiku." Tunggu sebentar, aku berhenti dan mendekatinya. Wajah ini sangat familiar! Mungkin ia bagian dari ingatanku, aku benar-benar sudah gila. Kini aku mulai berhalusinasi.

Menelfon Celin adalah satu-satunya pilihan yang ku punya, ia pun setuju membawaku ke psikolog. "Kau sudah siap?" Tanya Celin sesampainya ia dirumahku.

"Aku benar-benar ketakutan, cepat antar aku!!"

"Baiklah-baiklah kau memang selalu seperti ini, tapi siapa pria manis ini?" Celin menunjuk halusinasiku

Aku menarik kerah Celin dengan kasar, "kau juga bisa melihat halusinasiku?!"

"Fallen Lee lepaskan aku, kau bisa membunuhku." Aku melepaskannya dan mulai berpikir, semua ini tidak masuk akal

"Kau memang memerlukan dokter Will sekarang." Lanjut Celin. Dokter William adalah dokterku, walau aku tidak terlalu merasakan efeknya tapi hanya ia yang kupercaya.

"FL! Kali ini apa keluhanmu?" Dokter Will tampak tak terkejut dengan kedatanganku.

"Ini semakin parah aku berhalusinasi! Namun anehnya Celin juga bisa melihatnya, benar-benar tak masuk akal."

"Kau sudah cek? Kali ini kau tidak demam musim semi kan?" Tanyanya tenang.

"Apa demam musim semi bisa membuatku berhalusinasi?" Oke kata-katanya sedikit membuatku lega, rupanya ini bisa saja hanya demam.

"Tentu saja!" Ia tersenyum kearah Celin dan mengedipkan matanya, dibalas dengan jempol oleh Celin. Mereka sukses menenangkanku.

"Tapi siapa pria ini? Ini pertama kalinya kau mengajak pria ke praktekku, nona Lee." Apa???!! Doker Will juga bisa melihatnya?

"Dokter Will tampaknya juga demam musim semi."

"Hm baiklah seperti tidak usah diperiksa, ini aku memberimu obat penenang. Kau gelisah lagi rupanya."

Hanya itu saja yang dapat dikatakan dokter Will. Celin mengantarku pulang dan halusinasiku tetap mengikuti.

"Aku akan sembuh jadi menghilang lah." Ujarku saat akan membuka pintu rumah.

Halusinasi itu hanya diam, aku berbalik dan menatapnya tajam. "Aku bilang pergi sana! Aku lelah, bisakah kau hilang saja?! Aku akan sembuh."

Tiba-tiba ia mendorong tubuhku kepintu dan menatapku dalam-dalam sepertinya ia akan menciumku karena wajahnya terus mendekat.

"Kau tidak demam." Katanya, ia menempelkan dahinya di dahiku.

"Kau bisa melihatku, kau bisa merasakanku, kau bisa bicara padaku. Aku bukan sekedar halusinasimu." Lanjutnya dengan nada yang tenang, matanya berkaca-kaca tampaknya ia menahan air matanya untuk jatuh terlalu awal.

Ekspresi ini, ekspresi yang sangat manis.

"Baiklah kau boleh menginap, tapi jangan macam-macam karena aku akan telfon polisi." Aku membuka pintu dan membiarkannya masuk.

Ia hanya duduk dilantai dan menatap jendela besar yang mengarah langsung kesebuah pemandangan bukit disore hari.

"Ngomong-ngomong kau dari mana?" Tanyaku sambil membereskan kekacauan tadi pagi.

"Entahlah sepertinya dari sana." Ia menunjuk kanvas kosong yang gambarnya telah hilang.

Ini semakin ajaib saja, aku mengambil pensil aneh itu dan meraih secarik kertas.

Menggambar sketsa anjing kecil yang enah ras apa. Aku dan pria itu terkejut dengan sinar yang keluar dari kertas itu. Sinar yang sangat menyilaukan dan hampir membuat ku buta.

Membuka mataku perlahan dan masih terlihat samar-samar.

*barks*

Terdengar gonggongan anjing. Kertasnya kosong! Dan seperti dugaanku ada anak anjing sungguhan dikamarku. Ini memang pensil ajaib, aku harus menjaga rahasia ini. Karena dengan pensil ini aku bisa menciptakan dunia.

Aku hanya berjanji memberikannya inapan 1 malam tapi untuk menjaga rahasia pensil itu aku menahannya dalam rumahku. Iya lebih tampak seperti orang yang kelewat bahagia daripada seorang tahanan.

Pasalnya ia selalu menungguku didepan pintu seperti anak anjing yang ku berinama Choco.

Oiya pria itu belum punya nama. Malam itu sangat dingin kami hanya duduk di atap dan meminum beer. "Choco.. bagaimana?" Tanyaku memecah keheningan. Aku sudah kembali bekerja dan jarang dirumah.

"Dia semakin nakal saja, aku sampai lelah." Jawabnya, sambil meminum coklat panas.

"Bagaimana dengan mu? Kau ingin punya nama?" Tanyaku canggung.

"Nama? Itu ide yang bagus. Kau punya nama untukku?"

"Hm bagaimana kalau Cale?"

"Ya aku suka itu! Makasi Fall." Senyumannya seperti senyuman musim semi yang sejuk.

Keesokan harinya aku sudah hampir terlambat, aku tak sempat makan sarapan yang Cale buat.

"Fallen makan dulu sarapannya." Cale menarik lenganku. "Apa kau gila aku akan terlambat!" Aku berjalan terburu-buru dan mencari sepatuku.

"Akhh dimana sepatuku?!"

"Fallennn...." teriak Cale dari ruang tengah.

"Apa??!" Bentaku. Cale berlari menghampiriku. "Choco hilang aku tak menemukannya dimana pun."

"Ah sudah biarkan saja. Aku bisa buat Choco lainnya. Sudah ya aku pergi dulu." Aku berjalan dan memegang gagang pintu namun aneh Cale tidak meresponku. Aku berbalik dan mendapatinya menangis.

"Apa kau juga akan menggantikanku jika aku hilang?" Kata-kata itu keluar dari bibir tipis Cale.

Ahh.. aku kejam sekali. "Bu-bukan begitu maksudku. Choco mungkin tidak hilang ia hanya bersembunya. Jika nanti lapar juga pasti akan keluar. Cup.. cup.. maafkan aku Cale aku tidak bermaksud." Kataku pada Cale yang menangis seperti anak kecil. Aku jadi merasa bersalah dan memeluknya. Aduh manisnyaaaa><

Jika dikira-kira usia Cale sedikit lebih muda dari pada aku. Tingkah lakunya juga masih seperti anak-anak tapi wajahnya... cukup membuatku mimisan.

*barks* *barks*

Choco yang dicari-cari akhirnya keluar. Cale sangat senang dan mengendong Choco. Aku hanya memandangi mereka dan tersenyum sampai aku ingat kalau aku sudah terlambat ke rapat saham.

Dan akhirnya aku benar-benar terlambat. Saham yang aku incar tidak jadi aku beli.

Aku memutuskan untuk berhenti dari dunia seni dan beralih kedunia bisnis. Aku menjual galeriku dan mendirikan sebuah resto kecil bergaya eropa.

Dengan koki kesayanganku Cale dan inilah akhir kisahku yang bahagia setelah mengalami banyak kesulitan sebelum bertemu Cale.

Kembali ke Beranda