Sweet Grim
Romance
01 Dec 2025 17 Dec 2025

Sweet Grim

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (23).jpeg

download (23).jpeg

02 Dec 2025, 04:44

Jiwa manusia ibaratkan setitik cahaya yang jika ditepuk sedikit saja, akan sirnah selama-lamanya.

Namaku Jeon Jung Kook dan aku terlahir sebagai manusia biasa.

Lebih tepatnya dulu aku seorang manusia biasa.

Saat aku lahir, ibuku membunuhku dan dialam baka semua jiwa mengasihaniku dan memohon kepada dewa agar memberiku anugrah, bukan sebuah renkarnasi.

Akhirnya aku dibawa kembali kedunia oleh seorang dewa. Dewa yang dikutuk menjadi seorang pencabut nyawa.

***

Kau ditempatkan ditempatmu sekarang, bukanlah sebuah kebetulan.

"Selamat ulang tahun yang ke 20 Jeon Jung Kook kita!" Sorak semuanya, mereka semua berkumpul disini sebuah dimensi yang tak kasat mata, yang ku sebut rumah.

"Lama-lama rumahmu makin sempit saja, kau mau ikut dengan ku tidak? Sekarangkan sudah besar." Kata Dong Wook hyung.

"Ais jangan ganggu dia, biarkan Jung Kook memilih jalannya." Kata Pak Kwon sambil menyentil dahi Dong Wook hyung.

Pak Kwon adalah dewa yang aku bicarakan sebelumnya, ia yang membawaku kembali kedunia fana ini dan merawatku seperti seorang ayah. Mengajariku berbagai hal mengajakku tinggal dirumahnya yang hanya seorang pencabut nyawa dapat melihatnya.

Letak rumahnya tepat disamping gereja, hamparan rumput yang luas orang akan mengira itu bagian dari pemakaman. Tapi sebenarnya ada mantra yang bisa membuka pintunya.

Diumur 20 ini aku resmi menjadi seorang pencabut nyawa, jujur semalam aku sampai tak bisa tidur dan tepat tengah malam ini semuanya berkumpul dirumah pak Kwon untuk merayakan ulang tahunku sekaligus jabatanku.

Menjadi seorang pencabut nyawa tidak lah mudah pak Kwon selalu menahesatiku dan memberikan tips-tips saat menghadapi jiwa-jiwa yang tak rela meninggalkan dunia ini.

"Apa ini pacarmu?" Tanya Dong Wook hyung saat setelah melihat lockscreen ponselku.

"Ya engga lah! Itu sahabatku Jimin, dan dia seorang pria!" Bisa-bisanya dengan otot sebesar itu Dong Wook hyung mengira Jimin seorang perempuan.

"Tenang-tenang. Abisnya dia cantik sih, prettyboy!" Serunya.

Dong Wook hyung akan ditugaskan sebagai pelatihku, awalnya pak Kwon tidak setuju karena ia tau bagaimana dekatnya aku dengan Dong Wook hyung. Bisa-bisa bukannya menyelesaikan tugas kami malah bersenang-senang.

Tapi kami sudah berjanji pada pak Kwon untuk bersungguh-sungguh. "kita langsung coba saja, sebelumnya kau pakai ini dulu." Dong Wook hyung menyodoriku tas karton yang entah apa isinya.

Aku hanya menurut saja dan mengenakan pakaian yang ada didalamnya. Sebuah pakaian anak SMA biasa dan sangat pas dengan ukuran tubuhku. "wah cocok sekali denganmu, sekarang kau siap." Dong Wook hyung mengacungkan jempolnya kearahku.

"Untuk apa ini? Apa aku akan kembali kesekolah?" tanyaku heran.

didepan gerbang sebuah sekolah

"Apa kau bercanda?" Yang benar saja, aku sudah berusaha mati-matian keluar dari tempat ini. Dong Wook hyung dengan mudahnya menyuruhku kembali lagi ke tempat yang sengsaranya macam neraka.

walaupun aku belum pernah merasakan neraka

"Tenang saja untuk satu hari saja, jalanilah tugasmu dengan sungguh-sungguh."

Aku baru mengerti, "aaa! Jadi aku menjalankan tugas pertamaku disini. Baiklah aku tidak akan mengecewakan Pak Kwon."

"Tunggu ada satu lagi yang harus kau camkan." Dong Wook hyung tampak serius. sepertinya ada sesuatu yang penting.

Aku mendekatkan tubuhk dan ia merangkul lalu membisikkan sesuatu, "Jangan menggoda siswinya." Dengan gerak refleks aku menyiku perutnya dan ia kesakitan.

"Tenang saja aku akan melakukannya dengan baik!" Kataku percaya diri, aku juga mengedipkan mataku kearah Dong Wook hyung yang kesakitan.

Percayalah padaku!

***

BTS

Back To School

Aku hanya perlu menemukan target lalu mengajaknya bersamaku. Ya sangat mudah, semuanya akan baik-baik saja.

Aku melangkah dengan percaya diri, semua siswa terus saja menatapku. Ini membuatku sedikit gugup.

"Min Soo!! Cepat turun apa yang kau lakukan?!" Teriak siswa perempuan dibelakangku.

Wah aku menemukan target ku, seorang siswi akan terjun dari jendela lantai 3. Aku hanya harus menunggu ia bunuh diri lalu mengajak arwahnya pergi. Sangat mudah!

"Min Soo jangan bodoh! Aku menyayangimu!" Teriak seorang siswa dari jendela sebelahnya yang tamoak ragu mendekati Min Soo.

Min Soo hanya menangis, siswa laki-laki itu berusaha meraih tangan Min Soo dan ia berhasil meraihnya, "Min Soo kita lewati masalah ini bersama-sama!" Kata-kata itu sanggup membuat Min Soo terhuyun kebelakang dan mengurungkan niatnya bunuh diri.

Wah seperti adegan di drama saja, sangat menyentuh. Tapi tunggu dulu!

Kalau bukan Min Soo lalu siapa yang akan mati?

"Aaaaaaaaaaakkkkkkkkk!!!"

Terdengar suara teriakan dari jendela tempat Min Soo. Beberapa siswa termasuk aku, berlari menghampiri.

Betapa terkejutnya kami, siswa yang menyelamatkan Min Soo sudah tergeletak dipangkuan Min Soo.

"Apa yang terjadi? Kenapa aku disana?!" Arwah si siswa masih tak percaya kalau ia sudah lepas dengan badan kasarnya.

"Kau sudah tiada, sekarang ikutlah denganku." Kataku menghampiri arwah siswa itu yang bediri disamping Min Soo yang masing menangisi kepergiannya.

"Tapi bagaimana bisa? Min Soo.." lalu ia terdiam dan menitikkan air mata. "Apa aku akan pergi keneraka sekarang?" Tanyanya.

"Kau sudah menyelamatkan gadis itu, aku harap dewa akan mengampuni dosa mu. Percayalah tuhan maha pengampun."

Sejujurnya aku sedikit tidak percaya.

"Selamat kau berhasil dipercobaan pertama! Apa bisa kau rasakan?" Sapa Dong Wook hyung.

Rasa apa nya, merasa bahagia saat orang-orang sedih kehilangan dan pencabut nyawa menemukan targetnya.

Dong Wook membawa siswa itu entah kemana, aku sudah bisa bersantai sekarang.

Kematian memang hal yang sangat mengerikan, kita tidak tau kapan dan bagaimana kita mati. Rasanya benar-benar seperti meniup api pada lilin saja.

Beberapa bulan kemudian

"Aku sedang malas bagaimana kalau kau saja yang gantikan?" Kata Dong Wook hyung diujung telfon. Semakin lama ia semakin semena-mena padaku.

"Berarti bonusmu aku yang dapat ya!"

"Ambil saja aku tidak perlu, mau ga? Kalo engga aku suruh oranglain nih."

Jika seperti ini ceritanya beda lagi jalannya. "Baiklah, katakan dimana tempatnya."

Sesaat setelah aku sampai dilokasi, Dong Wook hyung mengirimi aku foto nya. Dasar ia malah malas-malasan!

Sebuah rumah yang amat megah, dengan gerbang besar. Aku hanya perlu masuk dan menemukan target.

Tidak ada yang mustahil bagi seorang pencabutnyawa. Aku membuka gerbang itu dan terkagum-kagum dengan taman rumah itu.

Kaya sekali orang ini

"Aku kan sudah bilang saham itu harus dipertahankan! Dasar brengsek!" Seorang wanita yang masih muda berteriak-teriak saat menelfon dibalik semak aku mengintip.

Ia menutup telfon itu lalu membanting ponselnya.

Wah benar-benar orang kaya!

"Nyonya gosip itu kembali mencul." Ajudannya yang kekar menghampiri, dan wanita itu tampak tidak senang. Ia menampar pria kekar itu dengan tangan kosong.

"Aku tidak mau dengar lagi berita itu! Cepat bereskan!" Pria kekar itu lalu pergi dengan tergesa-gesa.

"Hey nak apa yang kau lakukan disini!" Suara berat pria dari arah punggungku. Membuatku terkejut, segera pria itu menyeretku kehadapan wanita yang marah-marah tadi.

"Nyonya aku menemukan anak ini dibalik semak-semak."

"Seperti kucing liar saja. Ini aku beri kau ikan asin!" Wanita merogoh tasnya dan memberikanku segepok uang.

Ia meraih tanganku lalu entah penglihatan apa yang aku lihat saat wanita ini menyentuh tanganku.

Ia masih muda dan terdengar suara tangisan bayi, wanita itu menodongkan pisau lalu menusuk-nusukannya bertubi-tubi. Rasa sakitnya sampai bisa kurasakan, tepat dihati, jantung, perutku, juga leherku.

"Aarggghhhhhhhh sakitttt!!" Teriakku, wanita itu melepas tangannya larena terkejut.

"Ada apa dengan anak ini, bawa ia pergi!" Kata wanita itu.

Aku kembali diseret keluar rumah megah itu, tersungkur kesakitan aku bisa merasakan kesakitan bayi itu.

Atau jangan-jangan akulah bayi itu! Dan aku harap wanita kaya itu yang mati!!

Destroy what destroy you

"Hey kenapa cepat sekali? Aku dengar rumahnya besar sekali ya. Pembantu itu beruntung bisa mati di istana, hahah." Dong Wook masih bisa bergurau saat aku datang dengan wajah muram.

"Kau sengaja kan!"

"Hey tenang ada apa? Kenapa teriak-teriak."

"Wanita pemilik rumah itu! Dia ibuku! Dia pembunuh!" Aku sangat emosi sampai-sampai melempar meja kearah Dong Wook hyung.

Iya menangkisnya lalu memelukku dan berkata, "Jung Kook tenang lah, dunia belum berakhir."

"Itu sama saja seperti akhir dunia bagiku! Kau tak pernah mengerti rasanya menjadi aku!"

"Dengarkan aku! Kau pikir bagaimana cara kami bisa menjadi seorang pencabut nyawa? Aku pernah ada diposisi mu, aku mengerti perasaanmu."

Aku hanya diam dan mulai menangis, rasa sakit ini tak bisa aku tahan lagi. Aku hanya ingin ibuku menerima balasannya.

"Aku ingin dia mati sekarang!" Aku melepas pekukan Dong Wook hyung lalu pergi kerumah itu lagi.

Ding Wook mengikutiku namun ia tak mencegahku. Wanita itu tampak sedang duduk tenang didalam kamar gelap.

Aku sudah siap dengan belati ditanganku, aku akan membuat wanita ini merasakan apa yang aku rasakan dulu.

Kemudia terdengar isakan wanita itu, semakin keras, semakin gila. Aku berhenti sejenak lalu melihat kedepan wanita itu. Sebuah altar tanpa foto, tertulis "buah hatiku."

Seketika badanku terasa lemas, aku terhuyun Dong Wook hyung menangkapku, "Jung Kook ibumu sangat menyesali itu semua. Tuhan maha adil, ibumu sudah cukup menderita selama ini."

Dong Wook hyung membawaku pulang, pak Kwon tampak kawatir. Aku hanya diam dan menyesali semuanya. Bagaimana bisa aku berharap ibuku mati, walaupun dulu ia membunuhku. Tetap saja ia ibuku, yang melahirkanku.

Lihat saja tadi ia sangat menderita, dan betapa menyesalnya ia sudah membunuhku.

Nasi sudah menjadi bubur

"JungKook!!"

"Jimin!"

Kami berpelukan, "bagaimana kuliahmu?" Tanyaku.

"Ahh sangat membosankan! Tapi sekarang akan seru karena aku akan pergi karaoke bersama si pencabut nyawa!"

End.


Kembali ke Beranda