Maaf Gue Gak Jujur Jiana
Romance
01 Jan 2026

Maaf Gue Gak Jujur Jiana

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-01T114532.592.jfif

download - 2026-01-01T114532.592.jfif

01 Jan 2026, 04:46

download - 2026-01-01T114529.662.jfif

download - 2026-01-01T114529.662.jfif

01 Jan 2026, 04:46

Zildi sedang berjalan mengikuti Jiana dari belakang, bahkan ia tidak mempedulikan Jiana mengoceh dan meminta Zildi untuk berhenti mengikutinya.

Ish nih anak ngikutin mulu dah kaya anak gajah ketinggalan rombongan . Batin Jiana sebal.

Akhirnya Jiana dan Zildi pun sedikit dekat. Hingga suatu hari, Zildi meminta berteman dengan Jiana, "Ana, jadi temen gue ya. Gue udah gak tau lagi harus temenan sama siapa," ucap Zildi dengan raut wajah memelas.

"Umm, boleh banget jadi gue punya temen cowo gitu yang bisa di ajak ngobrol, hehe," ucap Jiana senang sambil tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya.

Akhirnya Jiana mau menerima Zildi sebagai temannya. Sehingga saat di sekolah, pulang sekolah, pergi ke minimarket, bermain pun mereka selalu bersama. Zildi selalu menemani Jiana kapan pun dia membutuhkannya, dengan hati tulusnya Zildi.

Jiana ingin seterusnya hubungan pertemanan ini menjadi sahabat, begitu pun Zildi, ia ingin seterusnya bersahabat dengannya. Walau mereka satu tahun lagi akan lulus dari SMA dan juga mereka tak mau bergaduh jika ada suatu masalah kecil, akan mereka bereskan dengan bersama. Jiana pun, meminta satu hal lagi.

"Didi, gue gak mau hubungan persahabatan kita di kacau kan karena sebuah cinta, jika memang ingin bersahabat ya sudah bersahabat saja," ujar Jiana sambil menggenggam satu tangan Zildi.

"Eh-emm, i-iya iya bener banget tuh Ana mending bersahabat seperti ini saja sampai kapan pun," kata Zildi dengan lagak yang ragu, sambil mengerat kan genggaman Jiana.

Jiana pun tersenyum manis ke arah Zildi sambil melihat kan kedua lesung pipinya dan mata sipitnya. Zildi pun tertegun melihat wajah cantik milik Jiana.

Hal itu terus berlanjut hingga pada suatu hari Jiana merasa curiga dengan Zildi yang mulai berperilaku aneh kepada Jiana, apa lagi saat mereka berada di sebuah cafe dekat sekolahnya. Zildi sangat salah tingkah, padahal sebelu nya ia tak pernah seperti itu.

Saat itu Jiana sedang memainkan ponsel milik Zildi di balkon milik Zildi. Ya karena mereka sudah terbiasa seperti itu, hingga akhirnya Jiana memperhatikan galeri Zildi yang tersembunyi dan benar saja semua keanehan sikap Zildi terjawab sudah. Zildi menyimpan banyak foto Jiana di galerinya itu, dan menandai bahwa dia milik Zildi seutuhnya, bukannya Jiana tak ingin memiliki hubungan cinta dengan Zildi, tapi ia telah mengkhianati ucapan Jiana.

Jiana memang sudah curiga sejak pertama kali melihat Zildi yang seperti menyukai Jiana, kenapa ia harus berlagak ingin bersahabat dengannya. Tentu saja Jiana marah dengan Zildi yang membohonginya sekaligus mengkhianati ucapan Jiana dan mereka saling adu mulut.

"Di, kenapa sih lo harus bohongin gue dengan cara ini," ucap Jiana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Gue gak bohongin lo Ana," cakap Zildi dengan pelan sambil memegang pergelangan tangan Jiana.

"Lepas! Lo udah berkhianat sama gue Di! Lo udah berkhianat!" ujar Jiana sambil terisak dan melepaskan genggaman Zildi.

"Ana, dengerin gue dulu Na," ucap Zildi dengan nada masih sama seperti tadi.

"Gak, gak, gak gue gak mau dengar ucapan yang keluar dari mulut lo yang berdosa itu," ucap Jiana yang masih terisak sambil menunjuk ke arah Zildi.

Tenaga Jiana terkuras hebat dan air matanya yang masih mengalir deras. Ia pun lemas dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga tersungkur. Zildi yang melihatnya langsung berlari ke arah Jiana sambil menahan tubuhnya yang sudah lemas bak tanaman layu.

"Na, dengerin ucapan gue dulu Na," ucap Zildi lembut ke arah telinga Jiana.

"Nggak, gue nggk mau," kata Jiana lemas dengan mata yang tertutup.

Karena tidak kuat Jiana pun pingsan.

Zildi pun menghela nafasnya panjang.

Mungkin belum saat nya. Batin Zildi.

Ia pun menggendong Jiana ala bridal style , ke kamar Zildi lalu merebahkan tubuh Jiana yang lemas.

Setelah kejadian itu Jiana masih marah terhadap Zildi, sampai ia meminta maaf lebih dari seratus kali kepada Jiana namun tak ada balasan apa pun, persahabatan nya kini renggang. Mereka tak seperti biasanya yang kemana-mana selalu bersama dan jika jalan-jalan mereka selalu memakai baju Couple , tapi kini tidak, mereka memisahkan diri masing-masing.

Hingga akhirnya Zildi mengajak Jiana pergi ke sebuah tempat yang dimana mereka selalu datang kan ketika ada masalah. Dan di selesai kan bersama. Tapi kini mereka masih saling diam sambil merasakan terpaan angin sepoi-sepoi.

Setelah suasana hati Jiana sudah sedikit tenang, Zildi ingin mulai bicara dengan Jiana. Walaupun Jiana tak menggubris ocehan Zildi namun saat itu ucapan Zildi membuat pupil Jiana memebesar dan menyadarkan Jiana.

"Gue bukan mau nipu atau khianatin ucapan lo jiana, tapi gue benaran mau bersahabat sama lo dan niat gue juga baik, karena emang gak ada cewe sebaik lo," ucap Zildi dengan suara khasnya yang lembut sambil memegang tangan Jiana.

"Lepas, Kenapa lo gak bilang dari awal kalau lo suka sama gue," ucap Jiana dengan pandangan yang masih melihat ke arah langit-langit biru

Zildi pun menarik pergelangan tangan Jiana hingga ia masuk kedalam pelukan Zildi. "Maaf. Ini emang salah gue kan? Maaf gue gak jujur dari awal karena gue gak mau ngecewain lo Jiana gue gak mau kehilangan lo. Kalau dari awal kita udah ada hubungan cinta pasti bakal kacau dan gak akan kaya gini. Saat itu gue emang-emang gak rasain yang namanya cinta. Tapi karena hubungan persahabatan kita semakin dekat, hati gue ngerasa nyaman sama diri lo. Gue tulus mau sahabatan sama lo Jiana, dan lo juga tulus udah nerima gue padahal gue anaknya bobrok, dan lo nerima gue apa adanya dan gue merasakan rasa nyaman sama lo, " tutur Zildi dengan nada lembutnya di dekat telinga Jiana.

Jiana pun menangis dan terisak mendengar Zildi yang selama ini rela berbohong demi persahabatannya dan sudah berjalan jauh demi bersamanya.

Akhirnya Jiana pun sadar dan ia juga merasa bersalah, "Gue yang harusnya minta maaf, hiks," ucap Jiana yang masih terisak di pelukan Zildi.

"Suutt, kita salah bukan lo aja. Udah nangisnya mata lo sembab gitu," ucap Zildi lembut sambil mengelus punggung Jiana perlahan.

Jiana pun melepas pelukan Zildi dan tersenyum di hadapan Zildi dengan mata yang sembab, begitupun Zildi membalas senyuman Jiana.

[ E N D ]


Kembali ke Beranda