Dia, Rio.
Romance
18 Dec 2025

Dia, Rio.

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-12-18T104925.658.jfif

download - 2025-12-18T104925.658.jfif

18 Dec 2025, 03:49

download - 2025-12-18T104904.979.jfif

download - 2025-12-18T104904.979.jfif

18 Dec 2025, 03:49

Aku melihat tangan kami yang saling menggenggam memberikan kehangatan melalui genggaman, berjalan mengelilingi pantai dengan senyum yang tak lepas dari bibir kami. Sesekali kami saling pandang mencurahkan isi hati melalui tatapan mata kami.

Untuk kali ini biarkan kami menikmati keindahannya.

Untuk kali ini biarkan kami melepaskan gejolak kami.

Sekali lagi, untuk kali ini biarkan kami menjadi satu tanpa ada yang lain.

"Ih, Rio gimana sih? Aku lapar tahu" aduku karena sedari tadi ia terus menggandengku berputar-putar.

Ia mengusap keningku, "Lapar ya makan" jawabnya acuh

Aku tahu, tapi bagaimana mau makan jika ia terus menarikku berkeliling terus.

"Kamu tahukan besok kita pulang?"

Aku menghela nafas lalu mengangguk "Bisa rubah keputusan yang sejak awal kedatangan kita?"

Aku bimbang, ini terasa memabukkan tapi juga terasa tidak nyata. Akhirnya aku hanya diam.

"Maksudku, bisakan kita disini hanya berlibur tanpa bekerja atau lainnya?" Lanjutnya

Aku tertawa kecil lalu mengangguk.

Rio menggiringku duduk di tempat makan yang ada di dekat pantai ini, tak lupa memesankan makanan kesukaanku.

"Terima kasih" ucapku padanya

Ia menggeleng, "Harusnya aku, terima kasih untuk kesempatan ini"

Aku menyenderkan kepalaku pada bahu kekarnya, ia balas memelukku. Nyaman sekali.

Menikmati hembusan angin bersama seorang lelaki, Rio. Namanya sudah ku kenal dari jaman putih biru.

Benar, tidak salah putih biru, SMP.

Lucu sekali saat itu. Kami yang saling pandang. Aku tahu dia tertarik padaku tapi aku berpikir jika masa itu hanya terkesan cinta monyet.

Saat berada di kantin, matanya juga selalu menatapku yang selalu ku balas dengan senyuman.

Iseng, aku mengikutinya dengan masuk ekskul pramuka di sekolahku. Saat itu permainan game petunjuk jadi tiap tim terdiri dari 3 orang. 1 menutup mata sedangkan 2 orang lainnya memberi arahan.

Aku tahu, Rio adalah orang yang paling bersemangat dan itu hal yang menarik yang paling ku sukai darinya.

Ia sebagai pihak penutup mata yang diberikan petunjuk, entah bagaimana yang memberi arahan salah atau bagaimana berakhir dia tertabrak tembok menyebabkan keningnya bengkak. Sontak permainan dihentikan memusatkan perhatian padanya.

Tapi ia menatapku dalam diam, aku tersenyum dan ia balas pula dengan senyuman konyolnya. Melalui tatapan mata dan senyumnya menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.

Bodoh.

Itu pasti sangat menyakitkan.

"Sayang, boleh malam ini aku menginap di kamarmu?" Tanyanya menarikku dari potongan ingatan masa SMP kami yang lucu.

Aku tertawa kecil "Bukankah tadi malam juga menginap."

Ia tertawa geli "Satu minggu ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin" ucapnya mengulang kataku saat kami pertama kali menginjakkan kaki di pulau dewata.

Aku mengangguk "Menurutmu, Kenapa laki-laki dan perempuan bisa menikah?" Tanyaku sambil menggambar abstrak di lengannya.

Ia mengernyit heran atas pertanyaanku tapi juga menjawab "Karena cinta, mungkin"

"Apakah cinta saja cukup? Bukankah banyak pertengkaran karena ekonomi"

"Benar, tapi ekonomi bisa dicari dan tergantung perempuannya bagaimana kan. Bertahan atau meninggalkan"

"Lalu menurutmu aku bagaimana?"

Ia mencubit gemas hidungku "Itu adalah ujian dari rumah tangga, Mey. Dan aku percaya kamu gak akan goyah hanya karna perekonomian"

Aku tersenyum "Lalu jika karena pria, apakah aku bisa goyah?"

Dia menatapku cukup lama lalu mengatakan "Entahlah, aku harap tidak"

"Jika tidak ada cinta, tidak mungkinkan akan bersatu dalam pernikahan" tambahnya

"Lalu kita?"

"Bukankah kita juga saling mencintai" balasnya

"Apakah cinta bisa bertahan jika tidak ada kepercayaan?" Tanyaku lagi

Dia menghela nafas, "Berputar-putar. Apa yang ingin kamu ketahui, sayang?"

Aku mengangguk, "Jika kamu diberi kesempatan mengulang waktu, apakah kamu menyesali bertemu denganku?"

Ia menatapku dalam, memegang erat tanganku, "Aku menyesal baru menemuimu sekarang. Harusnya aku lebih berani sejak dulu" balasnya yakin.

"Bahkan sekalipun kita tidak bertemu?"

"Aku yang akan mencarimu."

"Baiklah, buka mulut. Aku ingin menyuapimu"

Ia berdecak tapi juga mengikuti kemauanku

"Meysa, aku mencintaimu" ucapnya disela kunyahannya ku balas senyuman.

Benar, ia dulu terlalu pengecut menurutku. Jika dulu ia suka kenapa hanya saling curi pandang saja. Yaya masa SMP tapikan bisa dimulai dari berteman.

Biar begini, akukan perempuan. Gengsi dong. Gimana sih!

Haripun menjelang sore kami kembali ke kamar kami masing-masing, untuk mandi dan beristirahat.

Rio juga kembali ke kamarnya untuk mandi dan pergi bergegas menemuiku lagi.

Aku menatap pemandangan pantai dari balkon kamarku sambil memandang cincin di jari manisku, tangan melingkar di perutku menambah sensasi kehangatan.

Mengecup pipku lalu berkata "Kita seperti bulan madu ya" ucap Rio sambil tertawa

Aku tersenyum "Tidak ada bulan madu yang kamarnya terpisah, sayang"

"Tapi setiap malam kita selalu bersama"

"Mau berenang bersama?" Tanyaku mengambil bikini di dalam koperku

"Kamu membawa bikini?"

"Tentu saja, aku belum memiliki kesempatan menggunakannya"

"Kalau begitu jangan"

Aku mengernyitkan dahiku, dia mengusapnya lalu berkata "Aku takut khilaf"

Setelah itu ia menempelkan bibirnya padaku, melumatnya perlahan tapi memabukkan, tanganku ku kalungkan di lehernya, ia memperdalam ciuman kami yang ku balas dengan senang hati. Lalu melepasnya menempelkan kening kami sembari menghirup oksigen.

"Tapi ini sudah khilaf" ucapku, dia melarangku menggunakan bikini tapi juga menciumku.

"Kamu terlalu sayang untuk dilewatkan" jawabnya dengan tawa

"Aku lapar"

"Perasaan kamu lapar mulu"

"Aku ingin dimasakkan sama kamu" balasku manja yang kini sudah memeluknya

Ia melepaskan pelukannya, " Okay , aku masakkan nasi goreng saja ya. Katanya nasi goreng buatanku bisa meluluhkan hati wanita."

Aku tersenyum yang sudah entah keberapa kalinya "Tapi aku sudah luluh, Rio"

"Menikahlah denganku jika begitu"

"Nanti akan aku pikirkan" ucapku sambil mengedipkan mata jahil

Tak lama ponselnya berdering, ia hanya menatapnya tanpa berniat mengangkat.

Ia menghela nafas lalu pergi ke dapur yang kebetulan ada di dalam kamar ini, tidak luas tapi lumayan, tak lama ia kembali padaku. Pasti disana tidak ada apa-apa.

"Aku akan membeli beberapa bahan. Tunggu disini ya" ucapnya seraya mengecup keningku lalu pergi keluar.

Sembari menunggunya aku jadi ingat saat dulu, ia selalu menungguku di depan kelasnya. Kelas kami berbeda, dia sebagai siswa pintar di kelas A, unggulan tentu letaknya di depan sedangkan aku kelasnya di nomor 2 akhir dari 8 kelas masa itu, jangan salah biar begini aku tetap dapat peringkat 1.

"Si Rio perasaan liatin kamu terus deh" ucap Devi membisikku saat kami melewati kelasnya, saat itu ia duduk di depan kelasnya. Ah membuatku salah tingkah di jaman putih biru kelas 2 saat itu.

Melewatinya, kami saling tersenyum.

"Demi apa, dia ganteng banget" kata Devi

"Hai, Mey" sapa Alfer di kelas yang sama dengan Rio.

"Oh hai, tumben cepat datang" balasku

Ia mengangguk "Iya pengen liat kamu"

Aku tertawa lalu melanjutkan langkahkau, Alfer ini dari kelas 1 sudah mendekatiku. Berbeda dengan Rio yang tidak punya nyali untuk berdekatan denganku padahal aku sudah memberikan sinyal. Meskipun Alfer ini ku ketahui menyukaiku tapi dia tak kunjung menyatakannya, aku cukup bersyukur karena aku hanya menganggapnya teman. Dan kedekatan kami ini bahkan berlanjut sampai aku kuliah, mungkin sekitar semester 4 kami lepas kontak.

Begitulah kisahku dengan Rio hingga tamat SMP tidak ada saling kata hanya penyampaian lewat mata dan senyum.

Saat SMA, aku mulai berpacaran dengan beberapa pria. Kami hanya saling menyapa lewat media sosial itupun hanya dengan mengklik tanda suka atau love. Tidak lebih dari itu, tak ada kata sedikitpun, seakan sekedar menyapa bahwa kami pernah saling mengenal.

Tak lama dari itu, tepatnya 4 tahun usai lulus dari SMP aku berpacaran dengan teman sekelasnya SMP dulu, Afsyah. Dia lelaki yang cukup rumit hanya bertahan 2 tahun. Usai putus dengannya, dia menanyakannya lewat media sosial. Percakapan awal kami. Aku tahu dari media sosialnya, ia sudah cukup sukses untuk karirnya.

"Hai, kamu beneran putus sama Afsyah?" Chatnya kala itu, untuk pertama kalinya.

Aku hanya menjawab, "Hehe kenapa?"

Dia menjawab, "Tidak ada, hanya bertanya" balasnya di chat itu yang hanya ku baca saja.

Tak lama dari itu, aku memposting foto terbaruku dengan kekasihku, dia mengomentarinya "Baru, wak?"

Ku balas "Hehe.. Iya ni"

Lalu ia membalas lagi "Kenapa bisa putus?"

Akupun hanya menjawab seadanya "Gak jodoh"

Dia membalasnya lagi tapi ku hiraukan.

Aroma masakan tercium, tak sadar Rio sudah kembali dan memasak disana, segera ku hampiri dan memeluk tubuhnya dari belakang dan ia membalas sambil memegang tanganku yang melingkar di perutnya.

"Kenapa?" Tanyanya, aku menggeleng

Ia mengusap tanganku perlahan masih terus memasak.

"Dari aromanya sih, enak."

Dia tertawa kecil "Kamu akan luluh setelah memakannya"

"Aku sudah luluh, gimana dong?"

Dia balas tertawa lagi, "Yasudah, ayo kita makan"

"Enak sekali..." Pekikku ketika kurasakan masakannya

"Kan sudah ku katakan" jawabnya sombong sambil mengakhiri acara makannya.

Aku berdecih tapi ada yang hampir terlupa kutanyakan "Rio, kenapa sih dulu gak pernah deketin aku. Bukannya gimana ya, saat SMP kan kamu terlihat gimana gitu ke aku"

Dia sedikit tertawa "Jangan GR kamu"

"Aku gak GR tapikan memang iya, terus bisa jelasin arti curi pandang kamu ke aku?" Tanyaku lagi tak mau kalah

Dia tertawa mengusap kepalaku "Lucu banget sih, aku akuin, aku takut dekatin kamu. Ya gimana, yang deketin kamu kebanyakan tampangnya lumayan."

"Tapikan kamu juga ganteng" ucapku kalem

"Makasih.." jawabnya dengan senyum dan mencuri satu kecupan di pipi "Tapi saat itukan pikiran SMP tu ya malu, kamu SMA, aku pilih SMK nah disitu aku juga belum berniat dekatin kamu karena kamu terlanjur jadian sama mas-mas kantor pemerintahan itu"

"Aku baru sadar, kamu update banget ya soal aku." Jawabku terkikik

Dia mendengus "Terus giliran aku mau deketin lagi kamu malah pacaran sama temen satu kelasku. Kejutan apalagi coba? Setelah putus, kamu malah cepat langsung jadian. Aku jadi mikir, apa sebegitunya aku gak punya kesempatan? Putus bentar langsung disambar aja"

Aku terbahak "Ya gimana, kamu juga gak gerak cepat. Akukan suka yang sat set sat set"

"Seneng banget kayaknya" ucapnya padaku lalu melangkahkan kaki ke arahku, mengelap sudut bibirku.

Matanya menatap mataku, mempersempit jarak kami. Bibirnya menempel ke bibirku, awalnya hanya menempel kemudian ia memberi kecupan.

Dari kecupan menjadi lumatan dan semakin liar, tangan kanannya meraih tengkukku memperdalam sedang satunya merengkuh pinggangku. Tanganku bergerak meremas rambutnya.

Badanku di angkat ke pangkuannya menambah keintiman kami, masih saling menempel.

Tak lama ia mengangkatku menuju ranjang, dihempaskan perlahan dengan cepat ia memposisikan di atas tubuhku, kembali memberikan ciuman panas, dari bibir turun ke leherku memberi sensasi remang padaku.

Tangannya tak henti memberi usapan-usapan pada tubuhku "ahh" sebuah lenguhan lolos dari bibirku dan bibirnya

Ia mencium telingaku kembali merambat ke leher dan membuka kancing kemeja atas, memberikan pijatan disana sambil menciumnya.

Kembali aku melenguh dengan sensasi dahsyat ini. Tangannya turun mengusap bagian bawahku yang masih tertutup celana pendekku.

"Ah.. Ri.o"

"Mm.. Meysa.."

"Cukup" ucapku tak ingin dibantah

"Meysa, aku gak tahan" balasnya dengan mata yang dipenuhi kabut gairah

Aku menggeleng tegas, "Maaf, Rio. Aku ingin memberikannya hanya pada suamiku"

"Tapi.."

"Kita belum menikah" tukasku.

Ia menghela nafas, memegang pelipisnya lalu bangkit dari atas tubuhku, menjambak rambutnya. " Sorry , Mey. Aku kelepasan"

Lalu ia berlalu pergi ke kamar mandi, entahlah apa yang dia lakukan. Biarkan saja. Saat ini aku ingin tidur saja, menarik selimut menutupi tubuhku.

Tak lama ku rasakan ranjangku bergerak, Rio datang masuk ke dalam selimutku memeluk tubuhku. Aroma sabun menyeruak dalam indra penciumanku, aku yakin dia usai mandi.

"Rio, kamu.."

"Diam, Mey. Aku ngantuk. Tidur saja ya" ucapnya parau, aku hanya membalasnya mengangguk.

Saat ini kami telah tiba di bandara ngurah rai. Waktu seminggu full ku habiskan bersama Rio, sebenarnya 2 minggu tapi 1 minggu adalah waktu yang menakjubkan bagiku dan Rio.

Tangan kami masih saling bertaut. Bersama menaiki pesawat ini duduk bersebelahan, sama seperti halnya pertama kali kami datang.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dia membalas mengusap kepalaku.

"Apakah memang sudah tidak ada kesempatan untukku, Mey?"

"Aku sudah memberimu kesempatan, Yo. Maafkan aku"

"Aku rela meninggalkan segalanya demi kamu"

Aku menggeleng "Maafkan aku, Rio. Aku tidak bisa"

"Apa waktu kita bersama tidak berharga untukmu?" Tanyanya menatapku

Ku bingkai wajahnya dengan tanganku "Ini sangat berharga, Rio. Aku menikmati hari-hari kita. Tapi ini juga sudah terlambat. Aku tidak bisa menjadi egois"

"Tapi egois untuk diri sendiri juga tidak apa, Mey. Untuk masa depan kita" balasnya tak terima dengan memegang tanganku

Ku tarik tanganku dari genggamannya, "Harusnya kita sadar sedari awal, Rio. Kalau aku sama kamu, sudah tidak bisa bersama. Kita sudah memiliki tujuan sendiri."

Rio menggeleng dengan tegas. "Kata siapa? Kamu yang menyimpulkan itu. Sedari awal aku sudah mengatakan jika aku mau bersama kamu."

Aku menghela nafas, "Maafkan aku, mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan dipertemukan."

Ia diam, tidak menjawab. Memilih menutup mata dan mengeratkan genggaman tangan kami.

Tak terasa kami sudah tiba di Jakarta, masih saling menggengam tanganku ia bertanya, "Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Mey? Aku siap meninggalkannya demi kamu" tatapannya lurus kedepan tanpa menolehku.

"Maafkan aku, Yo" balasku

"Baiklah.. Itu artinya hubungan kita akan seperti dulu" balasnya yang aku akan tahu pada intinya.

Di depan sana terlihat lelaki yang dua minggu ini ku hindari tersenyum senang menatapku.

"Kamu mencintainya?" Tanyanya lagi masih dengan tatapan lurus.

Aku mengangguk "Sangat" balasku

Perlahan genggaman kami mengendur dan terlepas begitu saja, Aku memperlambat langkahku dibelakangnya.

Lelaki disana, Janu. Memandangku dengan binar bahagia. Maafkan aku, maafkan aku. Bisikku perlahan, aku menuduhmu tapi aku malah terlena meski sesaat.

Di belakang tubuh Janu tampak berjalan dengan tergesa seorang wanita dengan teriakan "Rio..."

Dan menubruk pada tubuh Rio, memeluknya dengan erat "Aku rindu sekali. Kenapa tidak memberiku kabar" ku lihat Rio tak menjawab hanya mengusap punggungnya

Janu merentangkan tangannya memberi pelukan padaku, yang ku balas dengan pelukan erat.

"Terima kasih sudah kembali, Sayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu, sangat."

Aku mengangguk dalam pelukannya, "Aku mencintaimu. Maafkan aku, maafkan aku" rapalku.

Dia mengurai pelukannya, "Maafkan aku juga. Tapi sungguh tidak ada yang lain. Kamu salah paham"

"Aku tahu. Kamu cuma mencintaiku. Persiapannya sudah semuakan?" Tanyaku dengan senyuman manisku dan dia mengangguk antusias

Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan lelaki sebaik ini. Aku tak ingin kehilangannya, pernikahan kami akan segera berlangsung.

Dia menarik jemari manisku dan tersenyum lega, aku mengernyit heran "Syukurlah, kamu memakainya. Jangan berani melepaskan cincin itu"

Aku tertawa, "Nanti aku mau cincin 24 karat ya, Janu"

"Iya, sayang. Apapun" balasnya seraya mengambil alih koper di sampingku.

"Ayo, Rio. Kita pulang. Lama banget kamu dinasnya dua minggu. Biasa juga cuma seminggu, mana tanpa kabar" tutur wanita bersama Rio ku dengar.

Aku meliriknya ia hanya patuh berjalan mengikuti wanita itu. Setelah menatapku sesaat.

"Kamu sudah menghukumku dua minggu ini. Jadi, sudah puaskan? Ayo kita pulang"

Aku sontak menatapnya, apakah Janu tahu kelakuan dua mingguku ini dengan Rio? Tapi ungkapan selanjutnya membuat hatiku tenang, sungguh aku mencintainya, tak ingin kehilangannya. Aku khilaf.

"Jangan meninggalkanku lagi, apalagi tak memberiku kabar. Aku uring-uringan disini. Ingin menyusul tapi kamu sudah mengancamku di awal"

Benar, saat itu terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Janu. Mantan Janu menemuinya untuk kembali tapi Janu menolak, adegan mantannya memeluk Janu untuk terakhir kalinya, aku melihatnya membuatku terbakar api cemburu.

Dan aku bilang sebelum menikah dengannya, aku ingin dua minggu berjauhan dengannya karena aku marah. Dan tak ingin ia menyusul, karena aku pasti akan kembali. Aku sudah berjanji padanya.

Lalu bertemu dengan Rio, mengiming-imingku dengan segala keindahan, memporak-porandakan hatiku. "Berikan aku kesempatan untuk semua moment yang sudah kita lewatkan. Meski pada akhirnya kamu akan tetap memilihnya" ucapnya kala itu yang tanpa sadar, ku iyakan dan terjadilah, aku khilaf.

"Ayo" ucap Janu merangkulku, meninggalkan bandara.

Tiga bulan kemudian kamipun menikah, semua berjalan dengan baik. Maafkan aku Janu telah berbohong, dan akan selalu ku simpan. Aku tidak mau kehilanganmu.

Setahun kemudian, undangan pernikahan Rio datang padaku. Mungkin ini yang terbaik untuk kita, senyumku menatap undangan itu yang ditatap curiga oleh suamiku.

"Kenapa?" Tanyanya

Aku menggeleng dengan senyuman "Kamu ingatkan teman SMP aku yang gimana gitu sama aku. Dia nikah" jawabku sambil mengangkat undangannya.

Dia hanya tertawa, karena dulu di awal pertunangan, aku pernah bercerita tentang Rio padanya. Jadi aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Janu jika ia tahu yang aku perbuat di Bali.

Katanya, ingin menikah itu banyak Rintangan. Aku sudah rasakan, aku sempat terlena dengan Rio. Janu dengan datangnya mantan padanya.

Tapi kami memilih untuk bertahan.

Mengingat ucapanku tempo lalu pada Rio, meski dikehidupan selanjutnya aku dipertemukan kembali padanya, aku akan tetap memilih Janu.

Rio hanyalah suatu tantangan. Karena nyatanya aku memilih Janu, Suamiku.



END


Kembali ke Beranda