Gambar dalam Cerita
"Cinta memang katarak sampai mendekati picek ."
Vivi Permatasari
"Gue nggak bisa deket sama dia!"
"Enggak akan pernah bisa. you know it is something that is impossible!" Ujarnya tanpa menurunkan nada bicaranya. Mata Abrizio memicing terus menatap ponsel yang menampilkan foto seorang gadis.
"Kenapa?! Dia terlalu baik buat lo? Terlalu lembut untuk ukuran cowok bad kaya lo?!" Zen yang geram langsung menyaut ponsel Abrizio, lantas memandangi sekali lagi wajah imut cewek yang paling di benci sahabatnya itu.
Abrizio menghisap rokoknya dalam dalam hingga perlahan asapnya keluar melalui lubang hidung.
"Gue enggak bisa biarin cewek itu terus terusan ngintilin gue."
"Tapi ..." Perkataan Zen terputus karena Abrizio yang mengambil ponselnya lalu melenggang pergi tanpa menghiraukan Zen di belakangnya.
πππ
"Zio ntar malem gue ikut ..."
"Gak."
"Ih gue belom selesai ngomong tauk."
"..."
"Abrizio jalannya jan cepet cepet." Abrizio menghentikan langkahnya, ia mengatur nafasnya yang memburu menahan amarah. Diliriknya gadis yang sedang menyebikkan bibirnya, jujur Abrizio begitu gemas ingin sekali ia mengecupnya. Argh! Ada yang lebih penting dari gadis ini yakni menjauhinya.
"Capek?" Tanya Abrizio dan gadis itu hanya mengangguk tetapi kali ini dengan mata mengerling, kapan lagi ye kan di tanyain seperhatian gitu sama kecengan! Hoho.
"Gue mau naik tangga lo naik lift biar nggak capek."
"No way. Capek gue udah ilang kok sayang hehe." Abrizio melirik sinis gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang terus saja mengejarnya mencoba menjajari langkah panjang Abrizio.
"Zio, gue er- ke kelas dulu ya. Bye!" Serunya ketika Abrizio sudah sampai di ambang pintu kelasnya. Sekali lagi Abrizio menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Mana ada coba orang yang rela relain naik tangga ke lantai tiga cuma demi nganterin kecengan gajelass macam zio sedangkan kelasnya sendiri IPA 3 berada di lantai paling bawah. Kebutaan cinta membuat kita goblog nggak ketulungan .
"Hei. Ngapain nganyer di depan pintu, pamali." Zen yang baru saja datang langsung menyeret Abrizio yang mematung di tempatnya masuk ke dalam kelas.
"Ardania udah balik ke kelasnya?" Pertanyaan Zen hanya mendapat anggukan samar dari Abrizio. Sepertinya Abrizio mulai linglung setelah kurang lebih setengah bulan gadis bernama Ardania itu mengejar ngejarnya dengan tidak tahu malu.
"Dahlah, mending lo sikat aja tuh cewek. Gue kasian ngeliat dia pantang mundur gitu."
"Kalo bisa udah gue sikat dari kemarin-kemarin, tapi gue nggak bisa karena dia itu spesies cewek yang paling gue hindari seumur hidup."
"Nggak bodygoals? Kaya si Lisa? Xixi?"
"Yeah. Dia terlalu child buat gue."
"Entah apa yang merasukimu Ardania sampai-sampai suka sama bad boy cem Abrizio." Setelah mengucapkan itu Zen mendapatkan bogem gratis tepat di kepalanya.
"Hei, Be." Gadis berpakaian serba ketat berjalan mendekati Abrizio lalu dengan tidak tahu malunya ia bergelayut manja di lengan kekar Abrizio.
"Gue cabut bentar mau ngambil rokok di kantin," kata Zen seraya memutar bola matanya malas ketika melihat Lisa.
"Oke, Xixi juga ada di kantin kok." Lisa menyaut, Zen tersenyum samar lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Alih-alih ke kantin Zen malah turun ke lantai 1 menuju kelasnya Ardania.
Tok ... tok ... tok ...
"Permisi, Bu saya minjem Ardania sebentar, boleh?" Seluruh murid termasuk seorang guru berperawakan tinggi putih itu menoleh kearah pintu masuk kelas.
"Mau apa kamu Zen?! Buat ulah lagi? Kenapa keluar waktu jam pelajaran?! Mana Abrizio?" Mata sipitnya menjelajah ke belakang punggung Zen mencari sosok Abrizio dan hasilnya nihil.
"Maaf, Bu. Saya minjem Ardania sebentar kenapa Ibu malah nyari temen saya?" Tanyanya balik.
Ardania menggeleng pelan sambil mengulum senyum melihat teman kecengannya yang mendadak goblok.
"Memangnya Ibu ini tolol apa, kalo ada Zen malik Ibrahim pasti ada Abrizio mungkar nakir!" Serunya seraya berkacak pinggang.
Hah? Apa? Jadi nama kecengannya Ardania itu Abrizio mungkar nakir ? Astaga nggak ada keren kerennya begitu! Iya masak nama malaikat yang bertugas di alam kubur. Enggak banget deh padahal tuh ya nama depannya udah kece abis ABRIZIO tuh kan kek nama Inggris ke Korea korean begitu kok. Emaknya ngidam apaan sih?!.
"Senakal nakalnya saya, saya tidak pernah mengajak Abrizio kemana mana Bu paling cuman main solo di kamar mandi." Seketika semburat merah di kedua pipi guru mata pelajaran fisika itu terlihat jelas, tentu saja dia tau apa yang dimaksudkan.
Zen bermain solo dikamar mandi pula akh, sudah sudah jangan sang'e readers!
"Ardania 10 menit." Ardania yang masih menyalin rumus rumit di papan tulis itu langsung bangkit lalu berjalan mendekati Zen yang tersenyum lebar.
"Kenapa Zen?" Tanya Ardania setelah mereka berbicara di depan tangga.
"Lo beneran suka sama Abrizio?"
"Hah? Ya iyalah Zen gue suka dia."
"Maka dari itu lo berjuang?" Ardania mengangguk.
"Kenapa, sih?"
"Dia nggak suka lo, udah berapa kali sih dia ngomong begitu ke elo." Ujar Zen mulai gerah.
"Gue tauk, tapi gue bakalan berjuang buat dapetin Abrizio."
"Nggak akan dapat."
"Why?"
"Kalian nggak seimbang. Kalian berbeda, lo ngerti kan?" Zen menatap gadis di depannya yang tengah menggembungkan kedua pipi gembulnya. Huah Zen dibuat gemas ingin menelan bulat bulat gadis ini!
"Sebenarnya maksud kedatangan lo apa Zen?"
"Memperingatkan lo, gue udah ngasih lampu kuning ke lo. Inget Abrizio berbahaya."
Setelah mengucapkan itu Zen langsung berbalik arah dan melenggang pergi meninggalkan Ardania yang menghela nafas panjang.
πΊπΊπΊ
Ardania memandangi foto yang terpajang besar besar di dinding kamarnya lekat-lekat, pertanyaannya kenapa ia bisa jatuh hati kepada Abrizio yang notabennya adalah cowok nakal, suka ngerokok, minum minuman beralkohol, suka merawani anak orang sampe keluar masuk penjara karena balapan motor liar. Kenapa hatinya terpatri kepada sosok yang baru ia sadari getarannya di Indomaret bulan lalu. Ardania tersenyum geli membayangkan pertemuan pertamanya dengan Abrizio yang bisa dikatakan gila.
Flash back
Gadis berpakaian serba pink berjalan melihat-lihat rak makanan yang berjejer rapi, tentu saja ia terngiler ! Tetapi ia langsung kebingungan ketika ingat sesuatu, Bibinya menyuruhnya membeli barang sakral!!
Barang yang Ardania sendiri tidak tau gunanya untuk apa, tetapi dari covernya saja ia sudah bergidik ngeri. Apalagi setelah ia iseng membaca bagian belakang bungkusnya, setelah tau apa kegunaannya. Cepat-cepat Ardania menjauh bahkan ia sempat berjongkok membelakangi rak barang yang dianggapnya sakral itu akibat malu ketika sadar kalau ada CCTV tengah mengintainya.
Ia menggigit bibir bawahnya gugup harus berbuat apa, pasalnya jika ia tidak membelikan pesanan Bibinya ia pasti akan mendapat seember omelan panjang yang kalau didengarkan bisa sampai seminggu suntuk.
"Minggir, jangan di jalan." Suara tegas penuh penekanan membuat Ardania mendongak mendapati seorang laki-laki berperawakan tinggi, berponi, berkulit putih yang menatapnya aneh.
"Maaf, hehe." Ardania segera berdiri membuka jalan untuk laki-laki berbaju putih polos itu.
"Eh sebentar. Lo bisa bantuin gue nggak?" Cegah Ardania sebelum punggung pemuda itu menjauh.
"Apa?"
" Ambilin itu, dong." Pintanya memelas. Abrizio melirik rak besi yang di tunjuk lewat gerakan mata oleh Ardania.
"Hah! Kondom?"
" Sst , jangan kenceng kenceng." Bisik Ardania seraya menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir.
"Lo gila?" Abrizio menatap tak percaya gadis mungil itu.
"Cewek sepolos lo beli begituan buat apa? Masih kecil ga usah aneh aneh."
"Wait ... Wait ... Wait ... Gue nggak asing deh sama muka lo?" Ardania mencoba mengingat-ingat kembali apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Lo Two Z kan?!" Serunya dengan mata mengerling. Ardania mengamati lebih detail wajah laki-laki dihadapannya sambil mengulum senyum.
"Yang suka bikin rusuh di sekolah, kita se- SMA." Lanjutnya.
Berbeda dengan Ardania yang langsung terlihat bersemangat, Abrizio malah mengedikkan bahunya acuh. Ia tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya, mungkin dia tidak terkenal di sekolah. Entahlah.
"Nama lo Zio kan, ya? Satu lagi si Zen, kemana anaknya?" Ngapain sih nanyain Zen! Bukan apa apa kenapa gadis imut ini malah mencari yang tidak ada sedangkan yang ada saat ini wajahnya tampan luar biasa, kurang apa lagi coba?
"Gue, Ardania rifda." Ardania mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tadinya Abrizio enggan untuk menjabat tangan mungil nan lembut milik gadis itu. Tetapi karena dia tidak tega mengabaikannya akhirnya Abrizio membalas jabatan tangannya.
"Udah kan, gue cabut." Abrizio hendak berbalik namun lagi lagi Ardania mencegahnya.
"Tunggu, ih. Buru buru amat." Ardania menyebikkan bibirnya.
"Gue sibuk Ar-nia ."
"Ardania." Ralat Ardania.
"Iya, gue sibuk Ardania rifda ." Ulang Abrizio.
"Lo IPA berapa?" Tanya Ardania, meski sikap Abrizio terbilang tidak cukup baik padanya tetapi ia seolah mendapat lampu hijau karena Abrizio sudah mau menjabat tangannya.
"IPA 2."
"Lantai atas dong, wih gue jarang tuh ke lantai atas. Mentok jalan jalan sampek lantai 2."
"Terus?" Abrizio menaikkan sebelah alisnya.
"Tolong ambilin itu." Pintanya lagi.
"Buat apaan, lo masih kecil."
"Ralat, masih polos."
"Bukan buat gue, tapi buat saudara gue." Belanya tak terima.
"Ya, ya, ya?" Ardania menarik ujung kaos oblong Abrizio hingga molor ke bawah.
"Apaan sih." Abrizio menghempaskan tangan gadis itu lalu sedikit mundur kebelakang.
"Enggak mau, nih?" Tanyanya hampir menyerah.
"Males, gue lagi sibuk."
"Beneran?"
"Gue cabut."
"Yakin," katanya lagi.
"Permisi."
"Tega?" Ardania menyebikkan bibirnya.
" Sssh , iya dah." Abrizio menghela nafasnya panjang lantas melangkah maju menuju rak besi yang berisikan barang barang sakral.
"Mau berapa?" Tanya Abrizio.
"Dua." Sahut Ardania seraya tersenyum lebar.
Setelah mengambil dua bungkus benda sakral yang bertuliskan kondom sutera itu, ia lalu berjalan menuju kasir.
Mbak mbak penjaga kasir mengulum bibir ketika melihat tiga buah barang yang disodorkan Abrizio. "Kondom sutera 2 sama Pocary Sweet 1, ya?" Abrizio menggaruk tengkuknya sambil mengangguk, ia sedikit melirik kebelakang dimana tubuh Ardania berdiri tepat dibelakangnya.
Setelah selesai membayar Abrizio keluar dahulu, ia menunggui Ardania selesai melakukan pembayaran.
"Nih." Disodorkannya dua kondom berwarna merah itu pada Ardania dengan kasar.
"Huah makasih." Ardania yang baru keluar pun langsung menerimanya.
"Nih uangnya, gw gantiin."
"Nggak perlu." Tanpa menunggu apa-apa lagi Abrizio langsung meninggalkan Ardania begitu saja.
Tidak pernah Ardania sadari, diam diam ia kagum kepada seorang Abrizio padahal lebih dari 5 tahun ia tidak pernah merasa seperti sekarang ini, bahagia ketika melihat Abrizio kesal. Sejak saat itulah Ardania memutuskan untuk mengejar cinta pertamanya.
Flashback off
"let's say I'm crazy for chasing after men with no embarrassment. even though I have often been rejected outright, but maybe because of this first love, I consider this a challenge."
Ujar Ardania pada dirinya sendiri. Seharusnya ia mundur tetapi tidak meski ditolak mentah-mentah dia harus tetap bertahan. Dia yakin seyakin-yakinnya kalau Abrizio akan melihatnya, Abrizio akan mencintainya. Itu pasti itu.
Pikiran jahil terlintas dalam benaknya, Ardania menghidupkan ponselnya lantas masuk ke dalam aplikasi foto. Dengan gayanya yang khas ia menckrek/selfieπ€³, setelah selesai ia membuka aplikasi WhatsApp dan langsung menemukan kontak milik Abrizio di bagian paling atas lalu Ia mengirimkan fotonya dengan caption ...
Secantik cantiknya gue, gue enggak pernah jelek karena lo tolak
Tidak masuk akal memang, tapi biarlah. Ia mengklik tombol send, ia langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.
Di rumah lain, Abrizio baru saja selesai mandi. Ia menyempatkan diri untuk melihat ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Ia melihat ada 87 notifikasi salah satunya milik Ardania. Karena ingin tahu ia pun melihat pesan darinya.
Abrizio hampir tak berkedip melihat foto yang dikirimkan Ardania untuknya. Gadis cantik berponi tipis tengah tersenyum manis sambil meletakkan jari telunjuknya di sudut bawah bibir orangenya. Cantik, batinnya.
Tetapi Abrizio mendadak geli ketika membaca tulisan di bawahnya.
"Kurang kerjaan." Abrizio hanya me-read pesan Ardania begitu saja, meskipun ia sempat tenggelam oleh kecantikan Ardania.
πππ
Ardania Ardania
Ardania Ardania
Ardania ....
Nama yang selalu memenuhi kepalanya hingga ia merasa pusing. Malam minggu, seperti biasanya ia menghabiskan malamnya di sebuah club ternama di Jakarta. Abrizio sudah menghabiskan 10 botol white wine tanpa sadar. Ia ingin mengenyahkan nama Ardania dari kepalanya, sungguh gadis itu mengusik hatinya, Mengusik ketenangannya.
"Zio, gue ke toilet bentar." Zen yang menemani Abrizio ke bar sedikit risih karena para jalang melingkarinya dengan gaya aneh aneh. Ada yang memonyongkan bibir sambil menungging, ada yang memutar mutar matanya seolah ingin menunjukkan bahwa bulu matanya anti badai dan masih banyak lagi.
"Hm ..." Abrizio sudah tidak kuat membuka matanya, matanya teramat sangat berat namun tubuhnya terasa ringan raungan raungan nama Ardania lenyap begitu saja. Apalagi di pangkuannya terdapat wanita bertubuh gempal yang terus saja menyodorkan white wine.
Kepalanya berputar, pandangannya kabut. Abrizio yang sudah berada di ambang batas kesadarannya merogoh saku untuk mengambil rokok, dibantu wanita gempal yang melayaninya akhirnya Abrizio dapat merokok meski agak kesusahan karena kepala gembul wanita yang ada di pangkuannya menghalanginya.
Lama, hingga rokok yang disulutnya sudah menjadi putung. Abrizio benar benar teler, ia di papah oleh wanita sebut saja mutan (mon maap namanya begitu, author benci jalang soalnya. Berdoa aja semoga Zen segera datang!)
Baru beberapa langkah Abrizio di papah sebuah teriakan menghentikannya. Mutan menoleh kearah teriakan tersebut seraya menaikkan sebelah alis tebalnya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Maaf, itu pacar gue."
"Pacar lo?" Mutan menyebikkan bibirnya mengejek, dari penampilannya saja sudah jelas bahwa gadis itu sangat tidak cocok dengan Abrizio. Gadis berpakaian serba orange itu mengangguk lalu dengan gesit mengambil alih Abrizio dari mutan.
"Mau bawa kemana, eh?"
"Terserah gue dong, kan ini pacar gue." Ujarnya lalu melangkah keluar club.
Mutan mendengus kasar sambil mendumel ala emak emak sampai bahunya terasa di tepuk oleh sebuah tangan.
"Abrizio mana?" Zen menyipitkan matanya melihat mutan yang masih memasang muka jutek.
"Temen gue mana?!" Karena suara musik yang terlalu keras Zen pikir suaranya tidak terdengar oleh Mutan.
"Dibawa cewek. Puas!" Teriaknya lalu meninggalkan Zen yang mematung di tempatnya.
"Njir! Kok gue di bentak sih." Setelah memastikan sekali lagi kalau Abrizio tidak ada di dalam club, Zen pun berjalan keluar club sambil menggaruk kepalanya yang pusing dengan hilangnya Abrizio.
Zen lupa dia punya ponsel, lalu apa guna ponsel itu sendiri kalau pemiliknya goblog? Tapi tidak masalah yang penting TAMPAN nice.
"Bego! Gue kan bawa handphone." Kesalnya. Setelah mendial nomor Abrizio yang tak kunjung tersambung akhirnya ia baru sadar kalau kondisi Abrizio sedang mabuk dan sekarang yang harus digoblogkan siapa!
πππ
"Cowok bandel. Padahal kan tadi gue udah chat dia banyak banyak supaya nggak ke club lagi ..."
"Untung aja nyokap gue lagi nggak dirumah." Iya, Ardania membawa Abrizio ke rumahnya. Hanya ada dia dan Abrizio saja di sana.
"Zio, kok lo ganteng sih?" Parahnya Ardana membawa Abrizio ke dalam kamarnya.
"Bau lo alkohol, lepas baju ya. Pake baju papa gue." Setelah bermonolog Ardania mendekatkan dirinya kepada Abrizio untuk melepas Hoodie hitam yang dikenakannya setelah Hoodie nya lolos, hanya tersisa kaos oblong putih. Kaos yang mirip dikenakannya pertama kali mereka bertemu.
Senyum Ardania mengembang mendengar Abrizio meracau, meski kurang jelas tapi cukup untuk di dengar.
"Ardamia ... Ardamia ... Ardamia."
"Kenapa?" Jawab Ardania pelan sambil memajukan wajahnya ke wajah Abrizio.
"Ardamia .... Arh."
"Shit!" Umpat Ardania ketika tangan kekar Abrizio dengan lancang memeluk pinggangnya erat.
"Zio, Zio, lepas."
"Love you." Bisik Abrizio setengah sadar tepat di telinga Ardania. Mau tidak mau Ardania tetap tersenyum, pertama kali dalam sejarah hidupnya seorang Abrizio mengatakan cinta padanya.
"Love you to." Perlahan Ardania melepaskan tangan Abrizio di pinggangnya, setelah usaha beratnya setelah beberapa kali tidak sengaja jatuh ke pelukan Abrizio berkali-kali ia akhirnya lolos.
Ardania berdiri tegak sambil mengelap peluhnya yang sudah sebesar jagung karena menahan nafas. Ia tidak bisa melihat human sesempurna ini!
"Abrizio bangun, bangun Zio."
"Lo nggak sekolah?"
"Abrizio!"
Bulu mata lentik Abrizio bergerak gerak sebelum akhirnya matanya terbuka, ia langsung melotot ketika rentina matanya menangkap sosok Ardania.
"Morning!" Sapa Ardania yang sudah mengenakan seragam sekolah.
"Lo ngapain disini!" Abrizio menggelengkan kepalanya seolah kehadiran Ardania sangat mustahil.
"Lah, ini kan kamar gue." Bola mata Abrizio hampir lolos dari tempatnya. Ia mengedarkan pandangannya menyapu bersih setiap sudut ruangan dengan warna dominan pink.
"Lo gila!" Abrizio segera bangkit lalu keluar dari kamar Ardania.
"Zio, kita berangkat sekolah bareng."
"Nggak."
"Kenapa kita kan searah."
"Gue bilang enggak ya enggak!" Ardania tertegun efek dari bentakan keras Abrizio namun ia tidak mundur begitu saja.
"Zio tunggu!" Meskipun Abrizio tidak membawa mobil tetapi ia menaiki taksi.
"Zio!" Langkah kecilnya tertinggal jauh dengan langkah besar Abrizio yang bahkan sekarang sudah masuk kedalam taksi.
"Abrizio tungguin gue!!" Teriaknya lagi dengan nafas memburu, bahkan setetes bening sempat mengalir di kedua pipinya.
Ia memegangi perutnya yang terasa sakit hingga suara klakson mobil berbunyi nyaring.
Hingga
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa ....!!!!"
Abrizio menoleh kebelakang melihat lewat lewat kaca mobil. Ia segera menyuruh sopir taksinya berhenti. Ia terkejut luar biasa melihat gadis yang dihindarinya sekarang terpelanting ke sisi jalan. Bahkan mobil yang menabraknya sama sekali tidak bertanggung jawab memilih tancap gas.
"Ardania!" Teriak Abrizio yang tidak sabar, ia keluar dari mobil lalu berlari sekuat tenaga.
"Ardania, lo nggak papa kan?" Abrizio berjongkok mengangkat kepala Ardania ya bersimbahan darah akibat menghantam pembatas jalan.
Abrizio ketakutan melihat banyaknya darah yang mengalir di kepala Ardania, ia menduga kepala Ardania bocor.
Ardania masih sadar meski matanya hanya terbuka sayu.
"Zio mmm ...." Rintihnya menahan sakit.
"Lo nggak papa, lo akan baik baik aja."
"Ayo kita ke dokter." Ardania tersenyum samar. Air matanya mengalir. Ia melihat ketulusan seorang Abrizio, ia melihat ketakutan seorang Abrizio, ia melihat kekhawatiran seorang Abrizio, Ardania melihatnya!
"Abrizio ..." Ardania ingin berbicara tapi mulutnya kelu, ia hanya pasrah ketika Abrizio menggendongnya ala bridal style.
πππ
Bau antiseptik yang begitu menyengat membuat mual siapa saja yang benci dengan bau obat-obatan. Persetan dengan bau obat-obatan, Abrizio gelisah menunggu Ardania yang sedang di tangani oleh dokter.
"Bro! Gimana keadaannya." Zen menepuk keras bahu Abrizio yang membelakanginya, Zen sendiri baru datang setelah tadi dikabari oleh Abrizio.
"Ck cepet amat lo datangnya, gue ngabarin lo baru 5 menit yang lalu."
Zen menyengir kuda "Gue tadi lompat gerbang belakang kek biasanya, untung aja ada mobil Reno yang parkir di luar. Ya gue embat lah." Katanya menyombongkan diri.
"Oh."
Abrizio tidak tertarik lagi untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan Zen sebelumnya. Karen keinginannya saat ini hanya satu yakni melihat Ardania baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Ardania Dok?" Tanya Abrizio tepat setelah dokter berperawakan tinggi itu keluar dari ruangan Ardania.
"Bisa saya berbicara dengan orang tua atau saudaranya." Abrizio menoleh ke samping, ia bahkan tidak mengabari orang tua Ardania lagi pula dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal keluarga gadis itu.
"Dia tunangannya, Dok." Zen menunjuk Abrizio yang masih menatapnya, Abrizio ingin menggeleng namun urung.
"Jadi anda tunangannya, baiklah mari ikut saya."
Tidak sampai 30 menit Abrizio sudah selesai berbicara dengan dokter, dokter mengatakan bahwa Ardania kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan donor darah, untungnya rumah sakit memiliki kantung darah golongan B. Goresan goresan di sekitar tangan tidak terlalu parah hanya saja kali Ardania harus di amputasi karena Kaki kirinya mengalami patah tulang.
Abrizio mengacak rambutnya frustasi melihat gadis mungil yang selalu menganggu hidupnya tengah terbaring lemas. Ia bingung harus mengatakan apa kepada orang tua Ardania dan lagi bagaimana dia memberitahu Ardania jika kakinya akan diangkat sebelah.
"Kasian Ardania, cantik dan sekarang harus cacat karena lo."
Abrizio tidak mengelak ia bahkan mengangguk setuju. "Gue emang brengsek, Zen." Zen mengelus punggung Abrizio menenangkan.
"Semua akan baik-baik saja asalkan lo mau bertanggung jawab."
"Gue takut Ardania akan benci sama gue."
"Karena gue dia jadi kehilangan kakinya, karena gue dia jadi kehilangan banyak darah, karena gue dia jadi kaya gini ..."
Dua hari berikutnya hanya senyap, Zen memberikan waktu kepada Abrizio untuk berdua saja dengan Ardania yang baru saja sadar.
"Zio ..." Nama itu yang pertama kali ia sebut setelah 48 jam tertidur. Bibirnya pucat.
"Gue disini Dania." Lirih Abrizio seraya menggenggam lembut jemari Ardania.
"Gue panggil dokter dulu ya." Abrizio hendak bangkit berdiri namun Ardania mencegahnya.
"Please, jangan ..."
"Jangan tinggalin gue ..." Suaranya seringan bulu membuat siapa saja yang mendengarnya akan luluh begitu saja.
"Ya udah gue di sini aja." Abrizio ingin menekan interkom lagi lagi Ardania menggeleng keras kepala.
"Jangan .... Jangan panggil dokter."
"Tapi kamu harus di periksa dulu." Senyuman tipis terbit di bibir pucat Ardania mendengar Abrizio menggunakan kata aku-kamu.
Abrizio menoleh menatap Ardania yah masih tersenyum, rasa bersalah semakin bergumul di dalam hatinya. Ia ingin mengucapkan kata maaf tetapi sepertinya itu saja tidaklah cukup untuk membayar apa yang sudah ia lakukan kepadanya.
Kening Ardania berkerut merasakan sesuatu di kaki kirinya. Ia mencoba menggerakkan kakinya tetapi nihil meski ia telah berusaha sekuat tenaga.
"Kaki gu .... E ke ... Napa susah di ... Gerakin."
Abrizio menelan ludahnya pahit, ia bingung harus berkata apa. Tadi Abrizio sudah menghubungi keluarga Ardania, Ayah dan ibu Ardania mungkin sebentar lagi sampai dan yang ia takutkan akan terjadi dibenci gadis yang dahulu mengejarnya, Ia akan di bayangi oleh rasa bersalah.
"Kita harus panggil dokter dulu ya." Kata Abrizio lembut, ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia yang akan mengatakan sendiri tentang aputasi di kaki Ardania.
Ardania kembali tersenyum merasakan jemari ramping Abrizio mengelus rambut poninya.
Abrizio menekan interkom dua kali, tidak sampai tiga menit dokter yang menangani Ardania datang ke ruangannya.
Orang tua ardania datang bersamaan dengan keluarnya dokter yang menangani Ardania. Abrizio menengguk ludah menatap sendu dua orang pasangan yang berjalan kearahnya dengan raut wajah cemas.
"Anak saya dimana?" Wanita berumur akhir tiga puluhan bertanya kepada Abrizio dan dokternya.
"Ibu orang tua dari saudari Ardania rifda?" Wanita itu mengangguk.
"Anak ibu sudah sadar dan kondisinya mulai membaik namun kakinya harus segera di amputasi karena kalau tidak tulangnya yang hancur akan membusuk." Mata ibu Ardania sudah berlinangan air mata, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Tanpa pikir panjang keduanya langsung masuk ke dalam untuk menemui Ardania.
"Ardania ...."
"Sayang ...." Ibu Ardania langsung menubruk tubuh Ardania.
"Mama, Papa." Ardania ikut menangis.
"Ardania bakalan nggak punya kaki Ma, Pa." Tutur Ardania. Sementara itu Abrizio hanya terdiam membisu bersandar di samping pintu, ia lebih hancur lagi ketika mendengar suara pilu Ardania.
Ayah Ardania keluar dari ruangan dengan wajah dingin. Abrizio menoleh dan balik menatap ayah Ardania sendu.
"Kamu laki-laki yang menyebabkan anak saya menjadi cacat?" Abrizio mengangguk.
"Kamu laki laki yang di cintai anak saya?" Abrizio kembali mengangguk.
"Brengsek!" Ayah Ardania meninju tembok di samping Abrizio yang menutup matanya pasrah. Keduanya tampak tidak baik-baik saja sekarang.
"Maaf Om."
"Maaf?!"
"Saya akan melakukan apapun agar Om mau memaafkan saya."
"Saya tidak mau apapun dari kamu. Pergi sekarang dan jangan temui Ardania." Abrizio menggeleng.
"Saya tidak bisa jauh dari Ardania om."
"Kenapa?! Bukannya kamu senang sudah bisa lepas dari anak saya?"
"Baiklah kalau itu yang Om mau, tapi izinkan saya bertemu dengan Ardania sekali saja."
"Baiklah." Setelah menghela nafas panjang akhirnya ia mengiayakan.
"Ardania." Ardania melengoskan kepalanya menghindari kontak mata dengan Abrizio.
"Maafin gue," Abrizio mendekati Ardania mencoba meraih jemarinya namun Ardania menepisnya kasar.
"Ar ..."
"Apalagi! Lo puas kan sekarang."
"Ardania dengerin gue, gue cuma mau bilang."
"Bilang apa! Nggak cukup selama ini pengorbanan gue ngejar ngejar Lo?!"
"Pergi sekarang gue nggak butuh cowok berhati ..."
"I love you."
"I love you, Ardania." Satu kalimat itu membuat Ardania bungkam. Ia mencoba membuka mulutnya namun gagal.
Rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya menghilang entah kemana yang timbul sekarang malah perasaan bahagia yang teramat sangat.
"Gue nggak akan pergi kemanapun, meskipun bokap lo nyuruh gue pergi sejauh-jauhnya dari lo."
"Gue baru sadar kalo gue jatuh cinta sama lo Ardania."
Ardania hanya mampu tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya.
End