Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
The Video Will
Salah satu rekan kerjaku meninggal baru-baru ini. Namanya adalah K. Kami cukup dekat dan dia terkadang mengajakku untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.Hobi K adalah mendaki gunung. Dia benar-benar antusias soal itu dan menghabiskan banyak waktu senggangnya untuk mendaki. Kapanpun ia punya hari libur, dia akan memilih untuk mendaki gunung atau tebing. Itu adalah kegemarannya.Kira-kira setengah tahun sebelum ia meninggal, K memberitahuku sesuatu yang aneh.“Aku ingin kamu untuk membantuku membuat video untukku, jaga-jaga jika aku meninggal.”K tahu kalau hobinya berbahaya dan dia bisa kehilangan hidupnya, jadi dia ingin merekam pesan video. Saat dia meninggal, dia ingin aku menunjukkannya pada keluarganya.Aku memberitahunya kalau itu berbahaya, dia harus berhenti karena dia harus memikirkan keluarganya. Tapi K menolak, dan berkata bahwa dia tidak akan berhenti mendaki. Aku tahu tidak ada gunanya untuk menghentikannya, jadi aku menyetujui untuk merekam video.Kami memutuskan untuk merekam video di apartemenku. K duduk di sofa dengan dinding putih sebagai latar belakang. Aku menekan tombol “Record” dan K mulai berbicara.“Uh… Ini K.” katanya. “Jika kamu menonton video ini, itu artinya aku sudah meninggal. Aku minta maaf karena telah menyusahkan semuanya, tapi aku harus meneruskan hobiku. Untuk istri dan anakku, terima kasih banyak atas segalanya.”“Untuk ayah dan ibuku, terima kasih telah merawatku. Untuk teman-temanku, terima kasih sudah ada untukku. Aku tahu kalian sedih karena kematianku, tapi tolong jangan sedih. Aku senang ada di surga. Aku menyesal aku tidak bisa bertemu kalian semua lagi, tapi aku akan mengawasi kalian dari surga.”“Untuk anakku, ayah akan mengawasimu dari atas selamanya, jadi jangan menangis. Tolong tersenyumlah dan katakan selamat tinggal. Selamat tinggal untuk kalian semua…”Aku mengehentikan rekaman videonya.Tentu saja, saat kami membuat video itu, K terlihat sangat sehat. Meskipun, enam bulan kemudian dia meninggal karena kecelakan pendakian.Berdasarkan teman mendakinya, kecelakaan itu disebabkan karena dia terpeleset saat mendaki. Biasanya, mereka menyediakan jaring keselamatan di area bawah mereka mendaki jaga-jaga kalau ada yang terjatuh. Saat K terjatuh, dia terjatuh cukup jauh dari jaring keselamatan. Mereka bilang kecelakaan itu tidak bisa dihindari.Upacara pemakamannya sangat menyedihkan. Istri dan anak K menangis histeris. Begitu juga keluarganya. Aku bahkan tidak percaya kalau K benar-benar meninggal.Seminggu kemudian, aku memutuskan kalau ini saatnya menunjukan video itu kepada keluarga K. Sudah banyak waktu berlalu, mereka sudah tenang dan kerabatnya bilang jika ada pesan video dari K, mereka ingin melihatnya.Aku memasukan rekamannya dan menekan tombol “Play”. Keluarganya mulai menangis.Layarnya hitam dan terdengar suara melengking tinggi dari speaker. Sesaat, aku kira videonya gagal diputar.Kemudian, wajah K tiba-tiba muncul dari kegelapan dan dia mulai berbicara.Aku merasa aneh. Kami merekam video itu di apartemenku dengan latar belakang dinding putih, tapi sekarang K dikelilingi kegelapan.“Uh… Ini K.” katanya. “Kalau kamu menonton video ini,… … … Aku meninggal. Untuk istri dan anakku, … … … … untuk segalanya.”Bersamaan dengan K berbicara, suara dengungan terus terdengar semakin keras sampai suara K sangat sulit didengar.“Untuk ibu dan ayahku… … … Untuk teman-temanku… … … Aku tahu kalian sedih karena kematianku, tapi… … … Aku tidak ingin mati! AKU TIDAK INGIN MATI! AKUTIDAKINGINMATIIIIII!!!!!!!”Semua orang yang menonton video itu merinding.Suara dengungan itu terdengar semakin keras.“BUZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ!!!!!!”K terus menerus berteriak.“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!!”Suara dengungan dan teriakan itu tergabung menjadi satu suara yang mengerikan. Itu terdengar seperti orang yang disiksa sampai mati.Sesaat sebelum video itu berakhir, terlihat sesuatu dari kegelapan muncul. “Sesuatu” itu mengambil tangan K dan menyeretnya.Layarnya menjadi hitam. Semua keluarganya menangis dan gemetar. Istrinya berteriak padaku, bertanya mengapa aku bisa menunjukkan sesuatu seperti itu kepada mereka. Ayah K memukulku. Salah satu teman K mencoba menenenangkan mereka dengan berkata bahwa aku bukan tipe orang yang memainkan gurauan di saat seperti ini.Aku meminta maaf kepada semua orang dan berkata kepada mereka kalau mungkin rekaman itu hancur. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi.Hari berikutnya, aku membawa rekaman itu ke kuil Budha dekat rumahku. Saat pendeta melihat ke kantong yang terisi rekaman video itu, dia berkata, “Oh, mustahil untuk kita menyelesaikannya disini.”Dia berkata padaku untuk membawa itu ke tempat yang berbeda dimana mereka bisa melakukan “pembersihan spiritual”. Saat aku kesana, mereka memberitahuku, “Kau membawa sesuatu yang berbahaya!”Mereka bilang, bahwa K diseret ke neraka saat aku merekam video itu. Mereka berkata mereka tidak tahu bagaimana K bisa bertahan hidup 6 bulan setelah kami merekam video itu. Dia seharusnya meninggal tepat setelah video itu direkam.
Eyeless Jack
Halo, namaku Mitch. Aku akan bercerita pada kalian tentang pengalamanku. Aku tidak yakin apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang berbau paranormal atau apapun istilah tepatnya, namun setelah “sesuatu” itu datang kepadaku, aku menjadi percaya akan hal-hal yang berkaitan dengan paranormal.Satu minggu setelah aku pindah bersama kakakku, Edwin, setelah rumahku disita, aku telah selesai berkemas. Edwin cukup setuju dengan ide aku pindah bersamanya mengingat kami sudah tidak saling berjumpa sejak 10 tahun lamanya, aku juga merasa senang dengan hal ini. Aku tertidur dengan pulas setelah semua barang-barangku masuk ke dalam rumah. Setelah satu minggu, aku mendengar suara gemerisik dan berdesir dari arah luar rumah sekitar pukul satu dini hari. Kupikir suara tersebut adalah seekor rakun, maka aku mengabaikannya dan kembali tidur. Keesokan paginya aku menceritakan hal tersebut kepada Edwin, dan dia juga berpikiran sama denganku.Keesokan malamnya, kupikir aku mendengar suara jendela terbuka serta suara langkah yang berat, seakan-akan sesuatu memasuki kamar. Aku meloncat bangun dan memeriksa seluruh isi kamar, namun aku tidak melihat apapun. Keesokan paginya, Edwin menjatuhkan cangkir kopinya saat dia melihat keadaanku. Dia menunjukkan padaku sebuah cermin untuk aku mengaca. Sebuah luka yang lebar menghiasai pipiku.Setelah bergegas menuju rumah sakit, dokter mengatakan padaku bahwa aku pasti telah tidur sambil berjalan, namun kemudian dia menunjukan sesuatu padaku yang membuat darahku serasa membeku. Dia mengangkat kemejaku dan menunjukan sebuah luka irisan yang terjahit, tepat dimana ginjalku berada. Aku terbelalak menatap matanya. “Entah bagaimana caranya kau kehilangan ginjal kirimu semalam. Kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana. Maafkan aku Mitch.” Kata dokter.Keesokan malamnya lagi merupakan titik puncak semuanya. Sekitar tengah malam, aku terbangun kembali dan melihat sebuah pemandangan yang sungguh mengerikan. Aku bertatapan langsung dengan sosok yang mengenakan kerudung hitam dan topeng biru tua gelap tanpa hidung ataupun mulut. Sosok itu menatap lekat ke arahku. Sosok tersebut juga meneteskan cairan kehitaman dari lubang matanya. Aku meraih kamera di saku mantel di dekatku dan memotretnya. Setelah memotretnya sosok tersebut menerjangku, berusaha merobek dadaku untuk mengambil paru-paruku. Aku menghentikannya dengan menendang mukanya dengan telak. Aku berlari keluar, sebelumnya aku meraih dompetku. Aku akan membutuhkan uang. Aku kabur dari rumah Edwin di tengah malam buta. Aku akhirnya berhenti di hutan dekat dengan rumah Edwin untuk mengatur nafasku di atas sebuah batu besar.Aku jatuh pingsan dan terbangun di rumah sakit. Dokterku memasuki ruangan. Dokter yang sama yang menanganiku sebelumnya. “Aku punya sebuah berita baik dan buruk untukmu, Mitch.” Dokter memulai pembicaraan. “Kabar baiknya dalah bahwa dirimu hanya mengalami cidera kecil, dan orang tuamu akan segera menjemputmu.” Lega sekali mendengarnya. “Kabar buruknya adalah bahwa saudaramu telah tewas dibunuh oleh… sesuatu. Maaf.”Orang tuaku mengantar aku kembali ke rumah Edwin untuk mengambil barang-barang. Saat memasuki ruangan aku merasa trauma dan ngeri, namun berusaha untuk tetap tenang. Aku mengambil kamera lalu berhenti. Di lorong menuju kamarku, kulihat mayat Edwin dan sesuatu berukuran kecil tergeletak di sampingnya. Aku memungut benda kecil itu dan segera masuk ke dalam mobil tanpa membicarakan mayat Edwin. Kuperiksa benda kecil yang kupungut sebelumnya. Apa yang kulihat nyaris membuatku muntah. Aku menggenggam sebelah ginjalku yang hilang, tampaknya telah dimakan separuh, dengan cairan hitam yang melumurinya.
Lock The Door
Kejadian itu terjadi saat aku masih kuliah di sebuah universitas. Waktu itu aku tinggal sendirian di sebuah apartemen dekat dengan universitasku.Suatu malam, aku tidur dengan nyenyak di ranjang hingga aku terbangun oleh suara bel pintu apartemenku. Kulihat ke arah jam dinding, ternyata sudah dinihari. Aku pun terbangun dari ranjang dan membuka pintu depan.Ada seorang pria berdiri disana dengan memakai sweater hijau. Ia terlihat berumur sekitar 25 atau 26 tahun.“Apakah anda tuan Fukumoto?” tanyanya“Oh iya… ada apa?” jawabku“Aku adalah ketua perkumpulan di lingkungan gedung ini.” ujarnya dengan tenang“Pembunuhan terjadi di area ini. Pembunuhnya menghilang dan sampai saat ini belum tertangkap.Hal itu sangat berbahaya. Kumohon jangan pergi keluar hari ini dan pastikan pintumu tetap terkunci.” lanjutnyaKarena masih ngantuk, kepalaku agak pusing.“Ok! aku mengerti!” jawabkuKututup pintu depan dan juga memastikan bahwa pintu itu sudah terkunci lalu pergi ke ranjangku.Keesokan paginya, aku membaca koran dan menonton berita di tv. Namun, tidak ada berita tentang pembunuhan yang terjadi di area apartemenku ini. Hal itu membuatku merasa ada yang aneh.Seorang pria asing yang bukan petugas kepolisian membuatku terbangun di tengah malam untuk memperingatiku tentang pembunuhan yang mungkin tidak terjadi. Aku pun mulai curiga.Malam berikutnya, aku bergegas untuk pergi ke ranjang hingga ku dengar dering bel pintu. Itu bukan bel pintu apartemenku. Itu adalah bel pintu tetanggaku.Nampaknya tetanggaku tidak ada di rumah, karena ku dengar bel pintunya berdering 3 sampai 4 kali.Kubuka pintu depan dan melihat ke arah koridor.Pria yang sebelumnya kulihat, berdiri di luar apartemen tetanggaku, ia memencet belnya lagi dan lagi. Ia tetap memakai sweater hijau. Pria itu mendengar suara pintu kamarku lalu ia melihat ke sekitarnya dan menatapku yang sedang memperhatikannya. Kami saling tatap.Agak mengerikan memang, tapi aku cukup kesal padanya.“Dia mungkin tidak dirumah! ada yang bisa kubantu?” tanyaku“Oh tuan Fukumoto…Halo!” ujarnya“Tidak aku hanya takut karena pembunuhnya masih hilang.Jadi, sampai ia tertangkap, aku akan pergi ke area ini, memperingati setiap orang untuk berhati-hati dan tidak pergi keluar tengah malam.” lanjutnyaAku merasa curiga terhadapnya.“Aku memeriksa koran dan berita tv pagi ini, tapi kulihat tidak ada berita tentang pembunuhan di area ini! siapa kamu?” ujarkuAku berbicara kepada pria itu dengan jelas, tapi pria itu nampak diam.“Tidak, itu tidak benar!” balas pria itu tenang“Selain pelakunya belum tertangkap. Itu sangat berbahaya. Jadi, jangan pergi keluar tengah malam!” lanjutnyaPria itu menatapku dingin. Tatapannya membuatku terpaku. Aku merasakan merinding di tulang belakangku.“Akan kulakukan itu!” ujarku lalu menutup pintu dan mengunci pintuAku pergi ke ranjangku malam itu dengan perasaan yang aneh.Hari berikutnya, saat aku pulang dari universitas, kunyalakan tv dan melihat sesuatu yang hampir membuat darah di pembuluh darah ini membeku.Adalah berita tentang pembunuhan yang terjadi di area apartemenku. Disana muncul gambar gedung apartemenku. Korban pembunuhannya adalah tetanggaku. Ia dibunuh semalam saat ia berbaring di tempat tidurnya. Pembunuhnya mempunyai cara untuk masuk ke kamar apartemennya sementara tetanggaku itu tertidur. Pembunuhnya terlihat kabur setelah melakukan pembunuhan itu. Mereka berkata bahwa pembunuhnya memakai sweater hijau.Aku merasa takut.Malam ini setelah tengah malam, bel pintu kamarku berdering lagi. Aku pergi ke pintu depan, tapi takut untuk membukanya. Bel pintu apartemenku berdering satu…dua…tiga kali.“Siapa disana?” tanyakudibalik pintu aku mendengar suara “Tuan Fukumoto?”Aku mengingat suara itu. Itu adalah suara pria yang memakai sweater hijau kemarin.“Pembunuhnya masih menghilang tuan Fukumoto!” pria itu berbicara dengan tenang“Mohon hati-hati! pastikan pintu dan jendelamu terkunci!” lanjutnyaTiba-tiba teringat bahwa aku sudah menutup jendela namun lupa menguncinya.“Ok aku akan melakukan itu! terima kasih!” ucapkuSetelah yakin bahwa pintu depan sudah terkunci, dengan cepat aku menuju kamar tidur. Aku pun bergegas menutup jendela kamar, tetapi saat ku buka tirai jendela, hal yang menakutkan muncul.Pria yang memakai sweater hijau itu berdiri di luar jendela. Aku terkejut dan tak tahu harus apa. Aku kesulitan bernafas, tubuhku membatu, terdiam sambil menatapnya.Sebelum aku bergerak, ia mengulurkan tangannya dan membuka jendela.“Seharusnya kau tutup jendelamu!” ucapnya dengan seringai“Kau harus menguncinya dengan rapat, jika tidak seseorang bisa masuk ke kamarmu, seseorang sepertiku!” lanjutnyaSetelahnya, ia mulai memanjati jendela.Aku berteriak histeris dan berlari keluar kamar. Dengan jari yang gemetar cepat-cepat ku buka pintu depan dan berlari menuju koridor. Dengan cepat aku melarikan diri. Namun, suara pria itu terasa dekat di belakangku.“Tuan Fukumoto, kamu lupa mengunci pintu depanmu! ini sangat berbahaya kalau kamu keluar di tengah malam ini! Mohon kembali sekarang!” teriaknyaAku tidak ingin menanggapinya dan terus berlari. Saat aku sampai di tangga, dengan buru-buru kuturuni tangga sambil melompat hingga tiba di lantai dasar dan berlari ke jalan raya.Aku berlari dan berlari hingga sampai di kantor polisi. Kudobrak pintu kantor polisi itu kemudian berlari ke meja depan dimana ada seorang polisi muda sedang duduk. Karena sangat ketakutan aku hampir saja pingsan disana.Karena terdengar kegaduhan, seorang polisi tua keluar dari ruangannya dan menghampiri sumber suara. Dengan terenga-engah, aku mencoba bernafas dengan normal. Akhirnya, aku bisa tenang dan menjelaskan apa yang terjadi. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengawalku kembali menuju apartemen untuk memeriksa kebenarannya. Awalnya aku enggan untuk kembali kesana, namun kupikir aman jika bersama dua petugas kepolisian itu. Hal itu membuat ketakutanku mulai hilang.Akhirnya kami sampai di apartemenku dan menggunakan lift untuk sampai ke lantai dua. Polisi muda itu lalu membuka pintu depan dan melihat kedalam. Terlihat kosong di dalamnya dan tidak ada siapa-siapa.“Apa kau mau memeriksanya?” Polisi yang tua bertanyaKulihat sekeliling apartemen, namun semuanya terkunci seperti saat aku pergi. Jendela kamar juga terkunci dan tirainya juga tertutup.“Jadi semuanya terlihat baik disini!” ujar polisi yang tua“Maafkan aku, tapi sepertinya tidak ada yang bisa kami bantu. Tetaplah berhati-hati dan jika pria itu mengganggumu lagi, telponlah kami segera!” lanjutnyaSebelum mereka pergi, polisi yang muda memberikanku selembar kertas dengan nomor telepon.“Jika ada hal lain, kamu bisa hubungi kami lewat nomor ini! ujarnya dengan tersenyum“Terima kasih! pasti akan kuhubungi jika dia datang lagi!” ujarkuKemudian kututup pintu depan, polisi muda itu memberikanku senyum, namun tiba-tiba mukanya berubah tanpa ekspresi.“Mohan hati-hati! Karena pembunuhnya belum ditemukan! pastikan pintu dan jendelamu tetap terkunci tuan Fukumoto!” ujarnyaKu rasakan merinding yang luar biasa di tulang belakang.Setelah polisi-polisi itu pergi, aku bergegas memeriksa apartemenku, memeriksa apakah pintu dan jendela sudah benar-benar terkunci. Kemudian, kunyalakan semua lampu dan tv kemudian duduk di ranjangku. Aku terjaga hingga pagi.Setelah kejadian itu, aku tidak lagi melihat pria yang memakai sweater hijau itu. Dua minggu kemudian, aku pindah dari apartemen itu.Aku merasa tidak bisa bersantai dengan mudah sampai polisi bisa menangkap pria yang memakai sweater hijau itu.
Forgotten Forest
‘Klak!’“Hei! Itu coklat milikku!” teriak anak laki-laki berbadan kurus dan memakai kacamata, Joan.“Salahkan saja dirimu yang membuat kita tersesat di hutan selama dua hari. Aku tidak mengerti mengapa ibu memberiku adik seperti dirimu.” Sahut anak laki-laki lainnya—Andrian—yang berbadan lebih besar dan tinggi dengan rambut model cepak dan membawa ransel hijau lumut di punggungnya. Mulutnya kembali mengunyah coklat batangan setelah ia menyelesaikan kalimatnya.Joan merengut, pandangannya dialihkan ke arah tanah.“Maaf … ini semua karena rasa penasaran yang menang dari kepatuhan akan peringatan ayah dan ibu. Aku sendiri—“ suaranya terhenti seketika. Ia melihat ke arah batu besar di hadapan mereka. Batu besar yang sekiranya sudah mereka lewati tiga kali sejak kemarin.“Sial!” seru Andrian, yang sepertinya satu pikiran dengan Joan. “Hutan apa sebenarnya ini! Apakah kita sudah pindah dari bumi dalam waktu 48 jam, hah?” Andrian tak kuasa menahan emosinya. Perut lapar dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Hutan aneh yang seakan tak ada jalan keluar. Semua berpadu dalam keharmonisan emosi yang membuat dirinya geram. Konyol, hanya itulah yang ia pikirkan. Sebagai anak yang selalu mendapat beasiswa di sekolahnya, ia membenci hal-hal irasional.Mereka terus berjalan, dengan bekal kompas yang sepertinya rusak. Andrian memeriksa kembali handphonenya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kepemilikan sinyal. Benar-benar beruntung, batin Andrian.Joan melihat ke sekitar. Hanya ada pohon-pohon tinggi, bebatuan besar, dan tanah yang dipijaknya. Ia bahkan tidak mengetahui jenis-jenis dari pohon besar itu. Sesungguhnya, Joan dan Andrian bergabung dengan klub pecinta alam, tapi bahkan mereka tidak mengetahui, alam apa yang sekarang sedang mereka pijak.Ini memang kesalahan besar, pikir Joan. Seharusnya ia tidak menyepelekan nasihat orang tuanya. Seharusnya ia juga tidak memaksa Andrian menuruti keinginan di hari ulang tahunnya itu. Yeah, kemarin adalah hari ulang tahun Joan.Joan menyesal karena telah membohongi orang tuanya. Ia tahu, dirinya adalah anak paling nakal sejagat raya. Ia berkata akan mengikuti kegiatan dari klub pecinta alam di sekolah mereka, namun pada kenyataannya, kegiatan itu tidak sepenuhnya benar. Ia hanya ingin pergi ke tempat yang seumur hidupnya selalu dilarang oleh orang tuanya. Tempat itu bernama “Hutan Lupa”. Rumor hanyalah rumor, pikir Joan. Belum tentu rumor yang dikatakan orang lain adalah benar. Untuk alasan itu, ia membuktikannya sendiri.Kakak beradik itu berjalan tanpa tahu arah. Joan beberapa kali meminta untuk beristirahat dikarenakan punggungnya terasa sakit.“Kau sudah membawa peralatan paling ringan!” bentak Andrian. “Jangan manja, lihat saja tas punggungku, ukurannya 3 kali lipat dibandingkan kau.” Andrian berputar untuk menunjukkan tas berisi peralatan kemah, termasuk tenda dan alas tidur. Terlihat seperti punuk unta, pikir Joan menahan tawa. Tidak mungkin ia tertawa. Tidak setelah ia berkali-kali membuat ulah yang melibatkan Andrian dan membuatnya kerepotan.“Tunggu!” raut wajah Joan terlihat serius sekarang. “Aku mendengar sesuatu … seperti … air?” Joan sendiri meragukan pendengarannya, namun di hutan yang terasa semakin gelap ini, panca indra adalah senjata utama untuk bertahan.Joan mulai berlari, mencari di mana titik suara tersebut kian terdengar, Andrian juga secara tak sadar mengikuti Joan.Mereka terus berlari, tanpa berbicara sepatah kata pun, hingga pemandangan menyajikan sebuah danau.Danau biru, dengan air terjun di sisinya. Bebatuan besar dan … beberapa sosok yang membuat kedua kakak beradik itu menelan ludah.Kakak beradik itu berhenti serentak, Joan tertegun, dan bergerak mundur. Seketika itu pula, sosok-sosok tadi melihat ke arah mereka.Bagi Joan, sosok itu tampak seperti putri duyung—dengan tubuh bagian kepala hingga perut yang menyerupai sosok wanita berambut panjang serta tubuh bagian bawah yang menyerupai ekor ikan berbias cahaya sehingga menimbulkan kemilau pelangi di sisiknya.Namun Joan menyadari, ada yang aneh dari aura mereka. Tepatnya, raut wajah mereka yang misterius. Sementara di belakang Joan, Andrian mulai maju perlahan.Salah satu dari putri duyung tadi, mulai membuka mulutnya, mengeluarkan nyanyian yang merdu. Sangat merdu dan indah. Suara itu membuat Joan dan Andrian terpana, mereka mulai bergerak maju.Joan dan Andrian seakan tidak sadar dengan pergerakan mereka. Terutama Joan, ia tidak sadar bahwa ada akar besar yang mencuat dari tanah. Joan maju perlahan, namun akar besar itu membuatnya tersandung dan jatuh.Joan yang tersungkur mencium tanah, mendongakkan kepala dan membetulkan letak kacamatanya. Kesadarannya mulai kembali, ia tahu sebuah kisah tentang putri duyung yang membuatnya lekas menutup telinga.“HEY! ANDRIAN! SADAR!” Joan berteriak agar Andrian tidak terus berjalan dengan tatapan kosong ke arah para putri duyung tadi. Ia berusaha bangkit sambil tetap menutup telinga. Sangat sulit, sampai akhirnya ia berhasil. Segera ia berusaha berlari ke arah Andrian, mencoba untuk menarik saudaranya kembali, namun ia menyadari bahwa separuh tubuh Andrian sudah berada di dalam air danau.“Sial!” pekiknya, saat melihat salah satu dari putri duyung tadi menghampiri Andrian.Putri duyung yang sedari tadi bernyanyi kini sudah menghentikan nyanyiannya, dan ikut menghampiri tubuh Andrian yang separuh sadar.Sementara putri duyung yang sudah berada tepat di hadapan Andrian, meraih tubuh Andrian, dan memeluknya. Tak lama, putri duyung tadi tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi runcing dan lekas menggigit leher Andrian.“Orghhh!” Andrian seakan kembali sadar, ia mencoba bergerak saat menyadari sudah ada empat putri duyung yang mengepungnya.Joan merasa kakinya sangat lemas. Ia mundur perlahan dan berlari menjauh dari danau tadi. Tak sadar, air matanya perlahan menetes. Joan terus berlari, dan beberapa kali terjatuh karena tersandung akar pohon atau bebatuan. Ia berlari. Terus berlari tanpa arah, hanya mengandalkan instingnya.Sampai instingnya membawa tubuhnya ke perbatasan hutan, di pinggir jalan raya.“Aku selamat!” teriaknya senang diiringi rasa bersalah. Ia mengenal jalan raya ini. Tidak jauh dari jalan raya akan ada terminal bus, dan dirinya bisa sampai di rumah dengan selamat. Yeah, hanya dia yang selamat.***Selama di dalam bus, Joan berpikir keras. Ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kejadian mengerikan yang menimpa saudaranya itu. Orang tuanya pasti akan marah besar, terlebih kecewa karena dibohongi. Hukuman urusan belakangan, pikir Joan. Ia harus memberi tahu rahasia “Hutan Lupa” kepada masyarakat.Joan bersiap untuk berdiri dari duduknya. Pemberhentian di depan kompleks dirinya tinggal sudah dekat.***Joan berdiri di depan pintu rumahnya, menekan bel berkali-kali, namun tidak ada jawaban. ‘Apakah mereka sedang ada urusan?’ batin Joan, menenangkan diri.Hari sudah malam dan lampu rumah menyala terang. Mungkinkah orang tua Joan belum pulang? Joan kerap menekan bel sampai terdengar bunyi ‘Klek’ dari gagang pintu yang diputar.Adalah ayahnya yang menyambut Joan dengan wajah bingung.“Maaf, ada keperluan apa?” tanya laki-laki berambut putih yang menggunakan piama warna putih.“Apa yang kau katakan, Dad? Aku tahu kau akan marah soal ini, tapi setidaknya biarkan aku memberi penjelasan …,” Joan tergagap saat mendapati tingkah laku aneh dari ayahnya.“Siapa itu, Sayang?” tanya seorang wanita yang juga memakai piama tidur berwarna putih. Ia berjalan mendekat ke pintu.“Entahlah, anak ini … hei! Siapa tadi yang kau panggil Dad, hah? Apa kau sudah gila?”Joan tidak bisa menyembunyikan kekalutan di wajahnya. “Tapi … hei, Mom, Dad, ini aku, Joan, putra kalian!”“Kau menghina kami, hah? Apa kau mengejek aku dan istriku karena tidak mempunyai seorang anak pun di usia setua ini? Persetan kau gelandangan! Pergi sana!” itu ucapan terakhir dari pria yang dipanggil Dad oleh Joan, sebelum ia membanting pintunya.Pintu terbuka lagi, menampakkan wajah wanita berbalut piama tadi. “Sebaiknya kau cepat pergi, dia memang agak sensitif akhir-akhir ini. Cepatlah, sebelum dia memanggil polisi,” ucapnya sebelum menutup pintu kembali.Joan tidak bisa berkata-kata. Ia bingung, takut, sekaligus kalut. Terlebih ia harus mencari cara sekarang. Mencari cara agar ia bisa memberitahu kepada dunia bahwa legenda dari “Hutan Lupa” itu benar adanya. Bahwa jika seseorang bisa kembali dengan selamat dari hutan itu, maka orang tersebut akan menghilang dari ingatan semua orang yang dia kenal. Dengan kata lain, dilupakan.Sekarang Joan hanya berpikir untuk mencari cara memberi tahu ke semua orang tentang realita dari “Hutan Lupa” itu.Namun sekarang ia bingung. Ia mencoba berpikir, apa rahasia dari “Hutan Lupa” itu? Apa yang membuat orang lain dilupakan?“Lagipula, mengapa aku pergi ke hutan itu, sendirian?” kini Joan mulai berbicara sendiri.
Burger Shop
Besok aku ingin sekali pergi ke toko burger. Katanya, di kota ada satu toko burger terkenal yang baru dibuka. Rumor mengatakan, pada hari pembukaannya (yaitu besok) harga burger di toko itu hanya 50 sen per buah. Karena alasan itulah, aku ingin pergi kesana.Bukankah itu suatu hal yang lumayan, mendapatkan burger yang enak dengan harga semurah itu. Siapa orang yang tak mau mendapatkan kesempatan langka seperti itu? Sepulang kerja, aku langsung merebahkan badanku di sofa. Menonton TV sembari membayangkan kira-kira berapa burger yang sanggup kubeli keesokan harinya. Tapi tak berselang lama, sebuah berita di TV membuyarkan lamunanku.“Telah terjadi pembunuhan besar-besaran di Panti Asuhan Brownsburry. Anehnya, tak ditemukan satupun mayat di dalam gedung Panti Asuhan tersebut. Hanya terdapat genangan darah di setiap ruangan dalam gedung. Polisi masih mencoba untuk menyelidiki kasus aneh ini dan motif dibaliknya.”‘Hmm, cukup aneh. Tapi hal seperti itu takkan membuatku mengurungkan niat untuk membeli burger murah itu besok.’ pikirku. Aku lalu mematikan TV dan pergi tidur.Hari ini adalah hari pembukaan toko burger baru. Saat istirahat makan siang, aku bergegas pergi kesana. Tampaknya bukan hanya aku yang ingin membeli burger murah. Aku melihat beberapa teman kantorku, teman SMA ku dulu, beberapa tetanggaku. Sangat banyak sangat ramai, benar-benar penuh sesak. Aku sempat ragu apakah aku akan tetap mengantre burger. Aku takut jam makan siangku habis hanya untuk mengantre. Lalu aku berpikir, ‘Ah, sudahlah. Tak apa sekali-kali datang terlambat.’ Aku terus mengantre.Akhirnya, tibalah giliranku untuk memesan burger.“Pak, double cheese burger satu.”“Ini dia.” Pelayan langsung menyodorkan kantong berisi burger yang masih hangat.“Whoa. Cepat sekali! Berapa harganya?”“Sesuai promo, 50 sen.”“Baik, ini uangnya. Terimakasih!”Aku segera pergi meninggalkan toko burger itu. Antrian terlihat semakin panjang bersamaan dengan kepergianku.Sesampainya di kantor, aku benar-benar dibuat heran. Sangat sepi, seperti tak ada tanda kehidupan. ‘Mungkinkah semua orang pergi ke toko burger itu?’ pikirku. Aku bergegas pergi ke mejaku dan mulai melanjutkan pekerjaanku sambil menyantap burger yang baru saja aku beli. Sedap sekali. Dagingnya lembut, sausnya sangat terasa. ‘Pantas saja toko itu sangat terkenal di tempat-tempat lain’. Aku terus melahap burger itu.Hingga mendekati jam pulang kantor, beberapa teman kantorku belum kembali dari toko burger itu. ‘Sangat mengherankan, antriannya pastilah sangat panjang.’ pikirku. Tak ingin banyak membuang waktu, aku memilih untuk segera pulang ke rumah. Sebenarnya aku punya janji dengan salah seorang teman kantorku, tapi dia belum kembali dari mengantri. Aku lebih memilih untuk membatalkan janji dengannya.Dalam perjalanan pulang, aku melihat toko itu sudah tutup dan sepi. ‘Lalu, kemana perginya teman-temanku?’ tanyaku dalam hati. Aku tak bisa tidur dan terus memikirkan hal itu.Keesokan harinya, aku masih saja memikirkan nasib temanku. Dari kemungkinan terbaik, hingga kemungkinan terburuk. Di kantor, meja temanku kosong. Aku menanyakan tentang hal ini pada beberapa orang di sana, tetapi tak ada seorang pun yang tahu. ‘Belum pulang sejak kemarin? Kemana perginya dia?’ aku masih saja bingung.“Hei, apa yang kau lamunkan?” tanya Louis, teman sekantorku.“Oh. Tidak ada. Tidak ada.”“Ayolah. Setiap kali kau melamun, pasti ada yang sedang kau pikirkan.”“Okay. Baiklah. Ini tentang Marcel. Sejak kemarin sore hingga hari ini aku sama sekali belum melihatnya.”“Kau tahu bagaimana tipikal Marcel kan, Pablo? Dia memang orang yang seperti itu, suka menghilang tiba-tiba. Jangan terlalu mencemaskannya. Oh ya, kau tahu. Harga burger di toko baru itu naik menjadi 1 Dollar.”Aku langsung pergi meninggalkan Louis.Aku bergegas menuju toko burger baru itu. Aku sudah sedikit melupakan masalah tentang Marcel. Aku hanya ingin membuktikan perkataan Louis.Ternyata benar juga. Harga burger itu menjadi 1 Dollar. Antrian terlihat tidak sepadat kemarin. Aku sama sekali tak berminat untuk membeli burger, jadi aku langsung kembali ke kantor. Sorenya dalam perjalanan pulang, kulihat toko burger itu sudah tutup sama seperti kemarin.Keesokan harinya di kantor“Hei, Pablo! Kau tahu, harga burger di toko itu naik lagi. Sekarang harganya menjadi 1,5 Dollar.”“Lou, bisakah kita berhenti membicarakan burger. Aku masih banyak urusan.”“Oh, baiklah.” Louis pergi meninggalkankuAku tak tahu harus bagaimana. Tugas kantor sangat banyak, Marcel belum juga kembali, aku benar-benar stress. Tak ada waktu memikirkan berapa harga burger di toko itu.Hingga akhirnya, tubuhku sudah sampai pada batas ketahanannya. Aku jatuh sakit dan harus dirawat dengan waktu yang lama. Sejujurnya, aku sangat tak ingin dirawat di rumah sakit. Bau obat-obatan membuatku sangat tak nyaman. Aku tak tahu berapa lama aku akan dirawat di sana. Aku juga masih tidak tahu bagaimana kabar Marcel. Hanya Louis dan Julia pacarku, yang menjengukku setiap hari.Akhirnya, dokter memperbolehkan aku untuk keluar dari rumah sakit. Julia datang menjemputku. Tak seperti biasanya, dia hanya diam. Dalam perjalanan pulang, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sesampainya di rumah, dia langsung pergi begitu saja. ‘Pasti ada sesuatu yang aneh.’ pikirku.Keesokan harinya, aku kembali pergi bekerja. Kantor terlihat lebih sepi dari biasanya. Aku mencoba bertanya pada seorang temanku.“Hei, Rachel. Kenapa kantor terlihat sepi?”“Aku tak tahu, Pablo. Beberapa orang tiba-tiba menghilang. Matt, Andrew, Marie, Katie, dan kau pasti tahu. Marcel. Mereka tak pernah terlihat bekerja kembali.”“Sesuatu pasti telah terjadi, Rachel. Katakan padaku apa yang telah terjadi kemarin.”“Beruntung sekali kau. Aku mencatat hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Kemarin harga burger di toko baru itu 25 Dollar. Kemarin juga hari dimana kau keluar dari rumah sakit setelah 1 bulan dari rumah sakit. Hanya itu.”Aku segera menelpon Julia. Sangat banyak pertanyaan di dalam benakku yang menunggu untuk dijawab. Julia menjawab panggilanku. Dia hanya ingin menceritakannya nanti saat perjalanan pulang. Saat ini dia sedang sibuk. Terpaksa aku mengiyakan keinginannya.Sorenya, aku pergi menjemputnya di kantor. ‘Aneh, kantornya sudah sepi. Terlihat sama sekali tak ada kegiatan. Kira-kira di mana Julia sekarang berada?’1 jam, 2 jam, 3 jam, 5 jam sudah aku menunggu kedatangan Julia. Aku terus berusaha untuk menghubunginya tetapi tak dijawabnya. ‘Apa yang terjadi padanya? Jangan, aku mohon jangan seperti Marcel.’ Air mata keluar membasahi pipiku. Aku pergi meninggalkan kantor Julia.‘Pasti semua ini ada hubungannya dengan toko burger baru itu. Aku hanya perlu membuktikannya sesegera mungkin. Aku berjanji.’Keesokan harinya, aku dan Louis memutuskan untuk menyelidiki toko burger baru itu. Toko itu sudah tutup. Aku memutuskan untuk membuka pintu depan. Pintu itu tak dikunci. Kami berdua menerobos masuk. Salah satu pelayan melihat perbuatan kami.“Pak, kami sudah tutup.”“Kami berdua hanya ingin memesan burger.” kataku“Maaf, pak. Kami kehabisan daging untuk bahan patty. Terpaksa kami menaikkan harganya dari hari ke hari.”“Kami menginginkan burger dan kau harus memberikannya pada kami. SEKARANG!” Louis mengancam“Baik, baiklah. Tetapi kalian harus membayar mahal.”Tiba-tiba aku merasakan pukulan benda tumpul mengenai tengkukku. Aku terjatuh ke lantai. Semua menghitam.Aku merasakan hawa dingin yang tidak biasa. Sangat dingin. Kedua tangan dan kakiku terikat. Sesuatu menutupi mataku. ‘Aku harus keluar dari sini. Aku harus!’ Aku terus mencoba menggerakkan seluruh tubuhku tetapi tidak bisa.“Wah wah wah, tampaknya kau sudah sadar.” suara itu terdengar seperti suara pelayan tadi.“Sayang sekali, kami benar-benar tak bisa memberimu burger. Sebagai gantinya, kau akan menjadi bahan patty.”Aku diam.“Kau tahu anak-anak Panti Asuhan itu? Well, mereka telah menjadi patty dalam burger yang telah kau makan. Kau mau tahu bagaimana nasib Marcel dan kekasihmu Julia? Mereka sudah berada di penggorengan. Mau tahu apa yang terjadi pada Louis? Kami tengah membumbuinya. Kau hanya perlu menunggu waktu untuk masuk mesin penggiling.
Obsessive Compulsive
Halo, aku menderita gangguan obsesif kompulsif, itu adalah semacam serangan panik yang tidak diinginkan namun terjadi berulang-ulang di dalam pikiran, perasaan, ide, ataupun kebiasaan. Bisa dibilang, hidupku berada dalam pola yang sistematis.Namun kemarin, ada sesuatu yang terjadi di luar system itu.Rumahku berada di samping danau, dan aku bangun di sana tepat pukul 6.45 pagi, seperti yang biasa. Sebelum meninggalkan kamar, aku akan menyetuh gagang pintu tiga kali. Aku harus melakukan itu. Aku harus.Saat berjalan turun lewat tangga, aku tidak akan menginjak anak tangga kedua dan terakhir. Aku tidak pernah menginjak itu. Benar-benar tidak pernah sama sekali.Aku menyiapkan sarapan seperti biasa, roti bakar, telor orak-arik, dan kopi hitam. Aku tidak pernah makan makanan lain di pagi hari kecuali tiga hal tersebut.Aku menyalakan iPad, seperti biasa aku mengecek berita lokal. Masih ada sesuatu yang kurang.Aku tidak bisa menemukannya. Apa yang kurang? Perasaan aneh ini terus meliputiku hingga aku duduk di dalam mobil. Saat aku keluar dari rumah, aku mengecek kunci rumah, membuka kuncinya, dan menguncinya lagi.Sambil menyetir, aku terus memikirkan hal itu. Apa yang aku lewati? Apa yang mungkin telah aku lewati?Aku berharap perasaanku akan membaik setelah bekerja seharian. Namun tidak. Perasaan itu terus ada selama 12 jam berikutnya. Aku meninggalkan kantor jam 6.45 dan langsung menuju ke rumah.Sekitar 25 menit kuhabiskan di jalan, aku berhenti di lampu merah di antara jalan Marbury dan Westway.Saat lampu berubah dari merah menjadi hijau, aku kembali memikirkan sensasi itu lagi. Satu-satunya orang yang ada di dekatku adalah orang yang menyetir di belakangku. Dia mengklaksonku, namun aku tidak bergeming dan menyuruhnya mendahuluiku.Aku duduk di dalam mobil di persimpangan jalan itu. Ada sesuatu yang salah. Apa yang telah aku lewati?Aku menyentuh setiap bagian di mobilku, berharap ada percikan ingatan di kepalaku. Aku menyentuh dashboard, tempat duduk, rem, bahkan atap mobil. Namun aku tidak bisa mengingat apapun.Tanganku gemetar saat aku kembali menyetir. Rasanya ada yang salah dan aku tidak menyukai rasa ini.Tiba di rumah, aku menaruh mobil mustangku di garasi. Aku selalu mencuci mobilku setiap hari kerja, dan tidak pernah saat weekend. Aku hanya mencuci bagian depan dan belakang. Tidak jika bagian samping. Tak peduli seberapapun kotornya, aku tidak mencuci bagian samping. Tidak pernah.Namun masih ada sesuatu yang kurang dari rutinitas ini. Tidak! Awalnya berita, kemudian persimpangan jalan, sekarang ini?!Setelah mencuci mobil, aku berlari kecil ke kebun belakang. Selalu berlari kecil, tidak berjalan ataupun berlari.Saat membuka lemari barang, aku kembali merasakan adanya sesuatu yang kurang. Aku berteriak!“Ini salah! INI SALAH! BENAR-BENAR SALAH!”Aku menatap ke arah danau. Memandang danau selalu bisa menenangkan perasaanku. Tapi mala mini, aku hanya ingin tidur. Aku harus mengakhiri malam ini.Keesokkan paginya, aku bangun jam 6.45. Kembali menyentuh gagang pintu tiga kali. Tidak menginjak anak tanggga kedua dan terakhir. Berjalan ke dapur, menyiapkan roti bakar, telur orak-arik, dan kopi hitam. Aku kembali menyalakan iPad, mengecek berita lokal.…Ada sesuatu yang kurang…Aku merasa cemas. Apa yang telah aku lewati? Aku mulai merasa mual.Dengan terburu-buru, aku mengunci pintu, membukanya lagi, dan menguncinya lagi. Kembali aku menyetir ke kantor.Aku cenderung menyelesaikan pekerjaan lebih cepat di saat aku sedang merasa bingung. Paling tidak ada suatu rasa pencapaian di saat aku meninggalkan kantor pada pukul 6.45.Aku menyetir secepat mungkin untuk pulang ke rumah. Sangat cepat.REPORT THIS ADApa…yang…aku…lupakan…Aku sampai di perempatan Marbury dan Westway.Ayo…berpikir…bepikir!Ada seorang pria yang sedang berjalan di perempatan itu, dia sedang menyeberang ke sisi jalan yang lain.Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?!Pria itu menoleh saat dia menyadari mobil mustangku bergerak ke arahnya dengan kecepatan 85 mile/jam.Aku menyadari keberadaannya. Ada suatu rasa panik di wajahnya saat aku menabraknya.Aku terus mengarahkan mobil kepadanya. Suara keras seperti sesuatu yang hancur terdengar dari bagian bawah mobilku. Ya, Tuhan.Aku keluar dari mobil, berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. Dia terbaring, mengerang kesakitan.Aku membuka bagasi mobil, mengangkat pria itu, dan memasukkannya ke sana. Kemudian aku kembali menyetir.Saat masuk ke garasi, aku mencuci darah di bagian depan dan samping depan, tidak kucuci bagian samping semuanya. Tidak kucuci.Setelah menyeret tubuh pria itu ke halaman belakang, aku berlari kecil ke arah gudang. Di sana ada plastic sampah besar, balok semen, dan gergaji.Aku memotong-motong tubuh pria itu sampai aku bisa memasukkannya ke dalam kantong bersama balok semen.Saat ini, aku hanya tinggal menenggelamkan tubuh itu di danau.****************Keesokan harinya, aku bangun pukul 6.45 dan menyentuh gagang pintuku sebanyak tiga kali, melompati anak tangga kedua saat berjalan ke dapur. Sambil memakan roti dan telur, serta minum kopi, aku mengecek berita lokal lewat iPad.Berita utamanya : Pembunuh Tabrak Lari Muncul Kembali.Aku tersenyum.Semuanya telah kembali normal.
The Opposite Of Soulmate
Ini berawal ketika putraku menginjak usia tiga tahun. Aku adalah seorang ibu rumah tangga beranak empat. Aku berprofesi sebagai perawat dan aku bekerja dengan sistem shift mingguan sehingga aku dapat mengajari pelajaran sekolah kepada putra bungsuku, Justin, yang tunarungu. Sedangkan kakak tiri Justin, anak dari pernikahanku yang sebelumnya, bertugas menjaga Justin saat aku pergi bekerja di akhir minggu. Suamiku, Mark, bekerja shift malam, sehingga ia tak banyak membantu dalam urusan merawat anak.Mark adalah seorang polisi dan ia gemar mengoleksi mobil mainan. Mobil-mobil mainan favoritnya terpajang di etalase kaca yang mana memenuhi seluruh dinding ruang keluarga kami.Suatu hari, aku dan putraku sedang bermain di ruang keluarga dengan mobil-mobil mainannya ketika tiba-tiba Justin melompat lalu berlari menuju etalase di dinding. Ia mengetuk di salah satu bagian kaca etalase kemudian berkata padaku, “Aku ingin mobil yang itu!”Aku mengamati mobil-mobilan itu – yang modelnya tampak seperti dari tahun 1940an – lalu menggelengkan kepala sambil menjelaskan pada Justin kalau ia tak bisa bermain dengan mobil-mobilan Ayahnya, sebab mereka itu mobil yang istimewa, namun Justin terus merengek.“Dulu aku punya mobil seperti itu.” Ia bersikeras. “Jadi aku harus memilikinya.”Aku tercengang. “Kapan kamu punya mobil seperti itu? Apa nenek memberimu mainan yang tak ibu ketahui?”” Tidak, aku memilikinya saat aku belum lahir.” Ia menjawab. “Ketika aku dewasa dulu.”Aku terus mengalihkannya dan akhirnya berhasil, namun dalam hati aku terhenyak. Apakah putraku memiliki kehidupan di masa lalu?Aku coba menanyainya pertanyaan-pertanyaan remeh, seperti dimana ia tinggal sebelum ia lahir. Ia memberitahuku bahwa mulanya ia tinggal di Siam (aku mencarinya di google dan mengetahui bahwa Thailland dulunya bernama Siam… yang seharusnya tak diketahui Justin) tapi kemudian ia meninggal lalu terlahir di India, dimana ia meninggal lagi.Pada kehidupannya yang ketiga, ia terlahir di Yerusalem. Pada kehidupan yang ke empat, ia hidup di Jerman. Dan kehidupannya saat ini, dia menerangkan, adalah hidupnya yang ke lima (atau yang ia sebut sebagai kelahiran yang ke lima).Setelah ia bertambah usia, sekitar lima atau enam tahun, kucoba untuk menanyainya lebih jauh, seperti apa yang ia lakukan di kehidupan-kehidupannya yang dulu. Ia pun menjelaskan. Di Siam, tuturnya, ia dan temannya mencuri untuk hidup. Di India, ia menangani banyak wanita, menjajakan mereka pada kaum pria demi uang. Di Yerusalem, ia menjual perhiasan palsu pada “orang asing”, yang ku asumsikan sebagai turis atau mungkin pelancong. Di Jerman, ia mengepalai sebuah kamp dimana banyak orang tewas. Pada kehidupannya di Jerman itulah, ia memiliki satu mobil mewah. Sebuah pola mulai terlihat olehku dan itu menakutkan. Di kehidupan masa lalunya, Justin adalah maling, germo, penipu, dan seorang Nazi.Kini Justin telah beranjak sebelas tahun, dan sekitar seminggu yang lalu saat kami tengah sarapan, entah mengapa tiba-tiba ia mulai meracau tentang masa lalunya.“Sebelum aku lahir ke dunia, sesosok wanita datang berbicara padaku,” ia menghela nafas.” Apa yang dikatakan wanita itu?” Aku bertanya, merasa was-was, kalau putraku ini mungkin mengidap gangguan jiwa.“Ia memberitahukan tugasku.” Jawab Justin.Aku semakin mendesaknya untuk bicara lebih banyak, ia pun menjelaskan.“Saat di Siam, seharusnya aku mencari seorang wanita tua dan mencuri hidupnya. Di India, ada seorang gadis kecil yang hidupnya harus ku ambil. Di Yerusalem, sasaranku adalah wanita pelancong. Di Jerman, wanita itu adalah tahanan Yahudi mungil favoritku.Aku sangat syok, berharap kalau semua ini hanyalah potongan imajinasinya saja.“Namun mereka adalah wanita yang sama.” Ia melanjutkan. “Dahulu sekali, sebelum aku lahir untuk pertama kalinya, wanita itu membunuh ibuku selagi aku masih berada dalam kandungannya. Dan ibuku, wanita yang mendatangiku, ingin menuntut balas.”Aku sudah siap untuk menelpon psikolog anak ketika Justin mengatakan sesuatu yang mendinginkanku sampai ke tulang.“Biasanya aku harus mencari dulu wanita itu, tapi kali ini nampaknya tak perlu susah-susah.” Kemudian ia meraih pisau mentega lalu menodongkannya padaku. Untungnya aku adalah wanita dewasa dan ia hanyalah bocah kecil. Ku rebut pisau itu lalu kupanggil ayahnya.Setelah itu Justin kami kirim ke fasilitas penanganan sakit jiwa untuk sementara. Ia bertingkah manis padaku, tapi aku sudah tahu niatnya. Dan belakangan ini aku jadi sering bermimpi digorok perampok, dipukuli germo sampai mati, diculik salesman lalu dicekik. Atau dijadikan tahanan sekarat oleh pria botak jahat Nazi.Kini aku tahu siapa putraku yang sebenarnya. Dia sama sekali bukan darah dagingku. Tak cukup kalau hanya di bunuh. Aku juga harus memusnahkan jiwanya.
Mr. Mechanic - We Fix Everything
Bosku benar-benar brengsek. Sori, aku tidak mau kurang ajar, tapi memang begitu kenyataannya. Namaku Sarah Collins, dan aku adalah asisten pribadi di sebuah firma hukum (tapi tak akan kusebutkan namanya). Bosku adalah pria gempal pendek yang bertingkah sok hebat, selalu memamerkan jas Armani dan jam Rolexnya. Dia juga punya kumis tebal konyol yang kelihatan seperti tikus di atas bibirnya. Dia suka bersikap kurang ajar pada wanita, dan memperlakukanku seperti sampah. Pernah, dia berjalan melewati mejaku dan “tanpa sengaja” menumpahkan segelas air ke bagian depan blus putihku, membuatnya tembus pandang. Memalukan sekali. Aku pasti sudah mengundurkan diri kalau saja aku tak membutuhkan uangnya.Nama bosku Simon Jones. Dia memerintah-merintahku kesana kemari, dan tak punya rasa hormat sama sekali pada bawahannya. Setelah puas mencaci maki semua karyawan, dia biasanya masuk ke lift pribadinya, naik menuju kantor pribadinya yang luar biasa besar. Akan tetapi, ketika dia memencet tombol untuk membuka pintu, mendadak terdengar suara kabel berderit dan muncul asap dari sela-sela pintu yang tertutup. Mungkin kau pikir itu membuat kami semua senang, tapi tidak. Bosku dengan marah menghampiriku, dan membentak: “aku tidak peduli berapapun ongkosnya, tapi kalau lift itu tidak diperbaiki sebelum besok, biayanya akan kupotong dari gajimu, mengerti!?”“Ya, pak,” gumamku sambil menggertakkan gigi.Akan tetapi, setelah berjam-jam mencari jasa mekanik lift, aku tidak beruntung. Sudah pukul 9 malam dan semua orang sudah pulang, tapi jariku masih sibuk memencet-mencet mouse, menelusuri halaman demi halaman situs jasa mekanik, mencari yang bisa membetulkan lift hari itu juga. Akhirnya, aku melihat satu iklan online:“MR. MECHANIC – WE FIX EVERYTHING”Aku segera menghubungi nomornya (005 555 555), dan teleponnya diangkat oleh seorang pria dengan suara datar. “Halo, Nona Collins,” katanya.“Hai,” sahutku, dan tanpa buang-buang waktu lagi, aku langsung menceritakan masalahku. Dia sangat sabar, dan ketika aku selesai, dia berkata “saya akan segera datang.” Aku berterimakasih dan menutup teleponnya. Dan memang, dia cepat sekali datang. Baju terusan mekaniknya berwarna kelabu, dengan logo perusahaannya, serasi dengan topinya. Dia tinggi, ramping, dengan mata berkilau yang nampak seperti sepasang kelereng marmer. Aku mengantarnya ke lift, dan bilang aku akan menunggunya sambil tidur sebentar di mejaku.Sejam kemudian, aku tersentak bangun (dan menyadari kalau aku ngiler saat tidur). Aku melihatnya berdiri di seberang ruangan, menatap mejaku.“Sudah selesai,” katanya.“Oh, terima kasih banyak. Kau memang penyelamat. Berapa ongkosnya?”Dia menolaknya, dengan alasan bahwa pekerjaan yang dilakukannya sangat sederhana. Aku kira dia bercanda, tapi dia mengangkat topinya dan pergi. Aku akhirnya mengunci pintu kantor, pulang, dan tidur, dengan mekanik bermata bak kelereng itu masih di pikiranku.******************Keesokan harinya, Simon Jones mondar-mandir di kantor pribadinya sambil menenggak segelas kecil Bourbon. Dia sedang menunggu kedatangan pemilik firma saingannya untuk suatu diskusi. Dia begitu stress sampai-sampai melempar gelas yang dipegangnya ke tembok. Ketika diberitahu bahwa tamunya sudah tiba, dia berkata, “bagus!” dan langsung menuju lift. Saat memencet tombol lift, lift tersebut membuka dengan suara mulus. Jones menyeringai. Asisten bodohnya benar-benar melakukan tugas dengan baik. Dia merapikan dasinya dan melangkah masuk.Akan tetapi, kakinya tidak menemukan pijakan apapun, dan Simon Jones menjerit ketika tubuhnya meluncur jatuh sejauh 34 lantai, sebelum terhantam remuk di dasar.*********************Setelah bosku meninggal, saudaranya mengambil alih firma hukumnya. Dia sangat baik, menghargai kami, memberi promosi dan kenaikan gaji. Polisi menyelidiki kasus kematian bosku dan memeriksa liftnya, namun menurut mereka, liftnya berfungsi dengan baik. Aku diminta polisi untuk menunjukkan halaman situs mekanik tersebut, namun situs itu sudah tidak ada. Ketika aku menghubungi nomor teleponnya, aku diberitahu bahwa nomor itu tidak ada.Akan tetapi, pada suatu malam saat aku berjalan pulang ke rumahku, aku melihat sebuah mobil van berbelok pelan di tikungan. Pengemudinya mekanik berseragam kelabu dengan mata berkilau itu. Kupikir aku mengkhayal, tapi dia menoleh ke arahku, tersenyum, mengangkat topinya, dan berlalu.Sampai sekarangpun, aku tak akan pernah melupakannya."WE FIX EVERYTHING"
I'm 12 and I Met a Nice Man
Dengan suara koin-koin receh di kantongku, aku berlari keluar dari mobil mama menuju ke sebuah toko kue kering terbaik di seluruh dunia!Setiap hari, jika aku menjadi anak yang baik dan mengerjakan semua pekerjaan rumahku, ayah memberikanku 25 sen, dan di akhir bulan mereka akan membawaku ke toko kue kering di mana aku dapat menghabiskan hariku dengan makan kue dan membaca buku yang aku bawa! Pemilik toko kue itu tahu bahwa aku datang sebulan sekali, dan dia memberiku air lemon gratis sepanjang hari juga!Ketika aku mulai tenggelam dalam buku yang kubaca, seorang pria duduk di depanku dan berkata bahwa aku adalah lelaki muda yang sangat tampan. Aku tahu bagaimana bersikap baik dan aku mengatakan rasa terima kasihku. Aku berumur 12 tahun, tapi banyak orang bilang aku sangat tampan, jadi pujian dari pria itu tidak terlalu membuatku senang seperti rasa senangku sebelumnya.Aku tanya namanya, dan dia berkata namanya adalah Jonah dan dia punya sebuah ruangan menakjubkan yang penuh dengan permainan di rumahnya. Dia bilang dia punya semua konsol permainan terbaru dan permainannya, dengan sebuah TV yang besar, dan semua makanan ringan yang aku suka! Wow! Dia pasti sangat kaya jika dia punya semua itu. Aku cuma punya sebuah TV kecil di rumah, dengan 5 saluran TV, itulah alasan kenapa aku banyak membaca buku.Aku baru makan setengah dari kue keduaku, jadi aku menawarkan kueku yang lain kepada pria itu. Dia menolak kueku dan berkata bahwa dia punya makanan yang lebih banyak di rumahnya, dan dia mengajakku datang ke rumahnya untuk bermain video games dan makan kue dan es krim sebanyak yang aku mau.Aku tidak mau membuang kue yang aku punya sekarang, jadi aku bertanya padanya jika dia mau menungguku kira-kira satu jam lagi supaya aku dapat menyelesaikan bukuku dan menghabiskan kueku. Dia setuju dan dia mau menungguku.Dia terus memberitahuku bahwa aku sangat tampan ketika aku sedang berusaha untuk membaca, dan itu mulai membuatku jengkel, jadi aku bilang bahwa aku senang mendengar pujiannya, tapi aku butuh waktu untuk membaca dan dia menggangguku. 20 menit berlalu dalam keheningan, dan dia tiba-tiba mencoba memegang tanganku, tapi tiap kali tangannya mendekat, aku pura-pura membolak-balik halaman buku.Ketika dia berhasil memegang tanganku dan mulai menggosok-gosokan tanganku dengan jarinya, aku menyuruhnya berhenti atau aku tidak akan pergi ke rumahnya. Sepertinya dia akhirnya mengerti jika aku perlu privasi ketika aku membaca dan makan kue, karena dia mulai sibuk dengan HPnya.Aku selesai dengan buku dan kueku ketika aku sadar bahwa sekarang sudah jam 4 sore. Aku bilang pada pria itu bahwa aku sudah selesai dan siap untuk ke rumahnya.Dia lompat dari kursinya dengan kegirangan dan bercerita betapa menyenangkan rumahnya ketika kami mulai keluar toko. Pemilik toko melirik bingung ke arahku tapi aku cuma tersenyum dan mengangguk.Aku tersenyum saat memikirkan betapa menyenangkannya nanti. Aku tertawa saat aku tahu hari ini akan menjadi hari yang menakjubkan ketika kami berjalan ke tempat parkir. Aku berteriak kegirangan ketika ayahku muncul di belakang pria itu dan mendorongnya masuk ke dalam mobil van kami.Tidak terlalu lama sampai kami keluar dari parkiran karena mamaku adalah seorang pengemudi yang handal. Ketika kami masuk di jalan raya, kami telah melakban mulut dan telah mengupas kulit lengan pria itu. Kulit lainnya gampang untuk dikupas, jadi aku dan ayahku mengambil pisau dan memastikan agar semuanya sudah selesai ketika kami sampai di rumah.Ketika kami sampai, aku dan ayah memotong kedua tangan dan kakinya karena kami tidak suka makan bagian itu, dan aku melempar tangan dan kakinya ke dalam api. Selanjutnya kami harus memotong tepat di tengah-tengah setiap siku, kemudian bahu, membelah perutnya dan mengeluarkan organ tubuhnya, dan menarik rusuknya keluar. Semua itu akan berada di sup yang akan kami masak. Daging di bagian belakang, bagian dada (dengan hati dan organ tubuh sudah dikeluarkan tentunya), dan betis akan kami goreng.Aku mungkin baru 12 tahun, tapi aku tahu bagaimana orang jahat itu. Aku tahu pria itu jahat karena dia akan melakukan hal-hal yang amat buruk padaku. Itulah alasan mengapa aku pergi ke toko itu setiap bulan. Itulah alasan mengapa pemilik toko itu adalah teman baik keluarga kami. Dia punya ‘rasa’ yang sama dengan kami. Dia pergi mencari orang-orang yang suka dengan anak-anak tampan sepertiku lalu mengundang mereka ke tokonya agar mereka dapat membawaku ke rumah mereka.Ya benar, kami memang suka daging manusia. Tapi kami membuat dunia lebih baik, bukan?
Horror Cooking Show
Oh empuknya, aku mengoleskan bumbu ke atas steak itu hingga permukaannya berkilau terkena lampu panggung. Porsinya harus benar-benar tepat. Jika bumbunya terlalu banyak, rasanya takkan pas dan itu adalah hal terakhir yang kuinginkan. Aku menatap ke arah para juri yang berjalan mengelilingi kami dengan papan penilaian serta terlihat mencentang kotak-kotak yang tak terlihat oleh kami.Ketika aku meletakkan dagingku ke dalam oven, aku menghapus keringat dari alisku dan mellirik kompetitorku yang lain. Mrs. June tampak berantakan, terlihat panik ketika ia mengelapkan tangannya ke celemeknya. Aku merasa kasihan padanya. Ia tampak tak bisa mengatasi stressnya. Keluarganya ada di kursi penonton, berusaha menyemangatinya. Salah seorang anaknya terlihat menangis.Kemudian ada Mr. Alverson yang menggigit bibirnya cukup kuat hingga tampaknya akan berdarah. Ia tampak berkonsentrasi dengan potongan daging di hadapannya. Aku kemudian menjadi cemas dengan kenyataan dimana aku sudah menaruh steak-ku di dalam oven, sementara yang lain masih berusaha menyempurnakannya.Terdengar teguran para juri yang mengatakan waktu kami semakin menipis dan menyuruh semua orang untuk menaruh masakan mereka ke dalam oven. Mrs June mulai menangis dan Mr. Alverson, tanpa ia sadari, menyumpah dengan keras. Aku merasakan secercah kelegaan.Kami menanti, detik-detik dan menit terasa seperti berjam-jam, Akhirnya, masakanku matang juga. Aku mengeluarkannya dari oven dan dengan penyesuaian akhir, seperti melumurinya dengan minyak zaitun dan menambahkan daun kemangi. Dengan jantung berdegup tak beraturan, aku membawa nampanku ke meja juri, lantai berderit ketika kakiku menginjaknya. Akhirnya, yang lain selesai pula.Kami berdiri di sana, berderet bertiga, semuanya menahan napas ketika juri mulai mengiris tiap steak kami dan mencicipinya, sembari berbisik satu sama lain dan menandai papan penilaian mereka. Akhirnya, kepala juri berdiri, menghadap semua orang di kursi penonton.“Keputusan telah dibuat untuk ketiga finalis. Pemenang ronde ini adalah Mr. Alverson.”Aku hampir melompat kaget ketika Alverson berteriak dengan kegirangan.“Dan Mr. Farrel!”Aku menarik napas lega.Mrs. June menjerit. Ia mulai memohon. Salah satu anaknya berlari menembus penjagaan dan memeluknya, namun itu takkan ada gunanya.Para algojo maju ke depan, mencampakkan anak itu, dan menangkap Mrs.June. Salah seorang menggorok lehernya, sementara yang lain menancapkan kait ke kakinya dan menggantungnya terbalik. Darahnya segera terkucur habis, menetes di atas plastik yang melapisi lantai.Aku menahan napas ketika instruksi yang baru diberikan oleh para juri.“Nah, tuan-tuan … menu terakhir kita adalah sup ginjal.”Aku merinding ketika melihat para algojo merobek perut wanita itu dan memotong kedua ginjalnya kemudian memberikannya kepada kami.Aku kembali ke mejaku untuk mempersiapkan makanan terpenting dalam hidupku.
Rain
Diluar sedang hujan.Aku benci kota ini saat hujan, dan itulah yang sedang terjadi sekarang.Ada suasana mencekam yang selalu menyelimuti saat hujan datang.Aku tak tahu, tapi itu sangat mengganggu.Tik tik tik.Aku melirik ke sisi kiri tempat tidurku. Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Hujan turun sangat deras begitu pun dengan air yang merembes dari plafonku ini.Atap kamarku bocor. Walaupun sepertinya hanya sedikit celah, tapi tetap saja suaranya sangat mengganggu.Clak Clak Clak.Setiap tetesannya membuat ritme yang sama.Aku mulai terbangun dan perlahan menurunkan kaki ini hingga menyentuh karpet. Saat aku berdiri, ternyata ada yang sadar bahwa aku terbangun. Kandang di pojok kamarku mulai bergerak dan mengeluarkan suara mencicit.Itu adalah Nollie, musang lucu peliharaanku.Aku menghampirinya sambil tersenyum. Ia tampak sangat aktif bergerak dalam kandangnya itu."Tidak Nollie, sekarang bukan waktunya bermain.""Hissss". Jawabnya sambil terus bergerak lincah. Mungkin dalam bahasa manusia, itu berarti : "Apa sih, terserah mauku saja lah." dasar Nollie nakal.Aku kembali mendekat ke tempat tidurku. Tak lupa menyalakan lampu, meraih laci meja rias dan mengeluarkan lakban besar.Aku mengamati darimana air merembes dan mulai menempelkannya sambil meloncat dari atas tempat tidur.Setelah beberapa kali melakukan itu, akhirnya rembesan kecil itu dapat tersumbat juga."Huh, melelahkan." Aku melemparkan lakban tadi ke lantai.Aku menoleh "Kenapa tirai jendelaku terbuka sendiri? Seingatku, aku sudah menutupnya sebelum tidur tadi."Kuhampiri jendela dan kututup tirai itu, sesaat bisa kulihat hujan diluar sana yang turun sangat jelas di jalanan depan rumahku.Aku merinding seketika melihat pemandangan diluar sana. Hujan itu memang menyeramkan.Aku mulai merasakan lapar dan perutku berbunyi menandakan minta diisi.Kubuka pintu kamar ini dan langsung menuju dapur. Suara hujan masih jelas terdengar. Aku melihat sekeliling sungguh sepi, terlebih aku memang tinggal sendiri.Sesampainya didapur, aku membuka kulkas dan yang kudapati hanya ada bahan makanan saja disana. Tak ada apapun yang bisa dimakan langsung. Sial.Aku menggerutu sambil melihat ke atas. Aku hampir lupa bahwa aku memiliki plafon kaca diatas dapurku ini. Derasnya hujan semakin jelas terlihat melalui plafon kaca itu.Aku berjalan menyusuri lorong dan kembali menuju kamarku. Sepertinya, hujan semakin deras. Kilat dan guntur saling bersahutan saat aku hendak mematikan lampu.Aku kembali ke tempat tidur dan menutupi seluruh bagian tubuhku hingga leher dengan selimut.Perutku kembali berbunyi dan aku hanya bisa menghela nafas.Aku memejamkan mata dan berguling ke sisi kanan.Untuk beberapa saat, ruangan ini sungguh tenang walaupun suara hujan dan petir masih terdengar.Tak lama kemudian, aku dapat mendengar Nollie mendesis dan sepertinya melakukan pergerakan yang lebih aktif daripada sebelumnya. Sepertinya ia gelisah.Aku mulai merasa tidak enak.Entah kenapa, aku begitu takut untuk membuka mata karena saat ini aku memang sedang berada di sisi yang bisa melihat langsung ke jendela.Perlahan aku membuka mata dan membeku seketika.Jantungku mulai berdegup kencang.Bukankah tadi aku sudah menutup tirainya? Lalu mengapa sekarang terbuka lagi?Tapi bukan itu yang kupermasalahkan.Ada sesosok mahluk yang berdiri tepat di luar jendelaku.Aku tak bisa menjelaskan itu mahluk apa, tubuhnya dipenuhi luka jahitan dan kulitnya seakan membusuk.Rambutnya seperti tertutup salju sedikit. Matanya hampir diselimuti warna hitam. Mulutnya terbuka, aku tak mengerti apa itu senyum atau apa. Yang jelas, ia berada sangat dekat dengan jendela karena aku bisa melihat nafasnya yang membuat jendela itu berembun.Oh tuhan, mahluk apa itu. Tubuhnya basah kuyup karena hujan diluar sana.Aku masih berbaring dan pandanganku seakan terkunci kedepan. Aku seolah tak bisa mendengar suara hujan lagi, karena aku memang terfokus akan apa yang ada di hadapanku, sesuatu yang tepat berada lurus di pandanganku saat ini.Mahluk itu masih bernafas dengan ritme stabil sehingga mengeluarkan uap yang meninggalkan jejak di kaca.Aku masih terpaku sebelum Nollie kembali ribut, kali ini ia seperti mengamuk dan berdesis sangat keras. Aku menatapnya dan ia sedang mencakar kandangnya.Aku kembali menoleh ke jendela dan mahluk itu pergi. Tak ada bekas nafas di jendela. Semua normal.Nollie belum berhenti mendesis dan aku segera menutup tirai.Aku bersender di tirai itu. Memejamkan mata atas kejadian gila tadi. Mungkin aku hanya lelah dan kurang tidur.Mungkin ini hanya khayalan gilaku karena aku begitu benci atau mungkin takut dengan hujan. Sampai-sampai, aku bisa melihat "mahluk hujan" tadi.Aku kembali ke tempat tidur dan mencoba menutup mataku namun wajah itu tak pernah hilang dari ingatanku. Butuh beberapa waktu sampai aku benar-benar merasa tenang.Aku kembali berguling ke sisi kanan.Aku merasakan ada hal yang aneh. Saat kubuka mata, aku dapat melihat disana.Bukan hanya tiraiku yang terbuka. Tapi jendela kamarku juga sudah terbuka dengan lebar!.Aku mempertajam pandanganku untuk melihat apa yang di depan sana. Tidak ada apa-apa. Hanya rumah tetanggaku yang ada disebrang sana yang terlihat.Aku mencoba bangkit dan segera menutup jendela ini.Diseberang sana, aku dapat melihat tetanggaku terdiam didepan jendela miliknya.Menatap lurus ke arahku dengan ekspresi wajah yang ketakutan.Perlahan, aku mulai merasakannya.Nafas yang terdengar berat dan terasa dingin seperti es itu mengarah tepat di leherku.Mahluk itu ada di kamarku.
Behind Closed Doors
Aku adalah anak angkat. Aku tak pernah tahu siapa ibuku sebenarnya. Dia meninggalkanku waktu aku masih terlalu kecil untuk dapat mengingat semuanya. Aku sangat mencintai keluarga yang mengadopsiku kini. Mereka sangat baik padaku. Aku mendapatkan asupan gizi yang baik, tinggal di keluarga yang hangat, sempurnalah sudah. Dan aku sudah cukup lama tinggal bersama mereka.Izinkan aku bercerita mengenai keluargaku tadi. Yang pertama yaitu ibuku, Janice. Aku tak pernah memanggilnya 'ibu' secara resmi, dan dia pun tak pernah keberatan. Sepertinya, ia memang tak pernah memusingkan itu. Dia adalah wanita yang baik dan penuh kasih sayang.Kadang-kadang aku suka tiduran di pangkuannya saat kami sedang menonton. Ia pun membalas dengan mengusap halus rambut serta leherku.Kedua, yaitu ayahku. Nama aslinya adalah Richard. Entah mengapa, sampai sekarang aku tak menganggapnya sebagai ayah. Sulit rasanya, aku seringkali menarik perhatiannya namun sia-sia. Yah tidak apa-apa, dia tetap ayah angkatku walaupun ia tak menganggapku seperti anaknya sendiri. Oh ya, dia juga termasuk orang yang keras. Dia tidak takut untuk menekan anaknya saat mereka melakukan kesalahan. Bahkan ia pernah memukuklu. Yah, itu tak apa-apa karena memang benar, itu semua dilakukan agar aku tak melakukan kesalahan lagi.Terakhir, yaitu saudariku. Namanya Emily. Ia masih kecil saat aku diadopsi dulu, kukira mungkin umur kita sama. Tapi nyatanya, ia lebih tua daripada aku. Kita berdua sudah mempunyai ikatan layaknya saudara kandung. Ia sering bercerita dan aku lebih sering diam, mendengarkan ceritanya karena aku menyayanginya.Oh ya, kami juga berbagi kamar. Aku sangat senang bisa tidur bersamanya daripada harus tidur diruang tengah sendirian. Aku tidur di bagian bawah, sedangkan dia tidur di kasur atas.Namun, semuanya berubah pada hari Rabu malam yang mengerikan. Aku sedang tidur siang dirumah saat Emily membuka pintu depan. Suara dari pintu yang terbuka telah membangunkanku dan reflek, aku berjalan menyusuri koridor untuk menghampiri sumber suara itu.Sebenarnya, aku tak begitu mahir untuk menghapal hari. Dan sekarang, aku patut menyebut saat itu sebagai hari MENYERAMKAN. Akan tetapi, saat itu aku sadar bahwa itu adalah hari rabu karena Emily pulang telat, ia rutin menghadiri pertemuan jemaat muda di gereja. Ia berjalan dan memelukku. Diikuti oleh ayah dan ibu yang memasuki rumah."Hey, apa tidurmu nyenyak?". Kata Janice sambil mengusap halus rambutku.Aku hanya mengangguk sambil menggerakan hidungku yang gatal."Jangan begitu kepada ibumu." kata ayah sambil menutup pintu dan menggantungkan mantelnya.Emily langsung menuju kamarnya di lantai atas, begitupun dengan aku.Dia bercerita panjang lebar, dan aku selalu jadi pendengar yang baik.Setelah itu, kami turun kebawah untuk menonton televisi.Emily suka menonton kartun atau sinetron, sedangkan aku lebih menyukai acara yang ada di discovery chanel atau animal planet. Itu lebih baik.Malam sudah larut, Janice menghampiri kami dan berkata "Emily, ini sudah melebihi jam tidurmu. Segera masuk ke kamar. Dan kau juga ya." ia menatap ke arahku.Kami kembali ke atas, sepanjang perjalanan, aku mulai merasakan tak enak hati.Emily sudah mematikan lampu kamar, aku menatap sesaat ke jendela dan aku menangkap sekelebat bayangan. Apapun itu, mungkin ia sudah pergi. Aku harus tetap waspada karena aku masih tak enak hati.Aku berbaring di kegelapan. Entah mengapa, aku tak bisa tidur. Aku berani bersumpah bahwa beberapa kali kudengar suara ranting pohon, semak-semak, bahkan suara pakaian yang tertiup angin. Lama kelamaan, samar-samar aku mulai mencium bau darah!. Aku semakin membelalakan mataku dengan lebar.Perlahan, suara gaduh dan bau darah yang tercium itu hilang juga. Aku menutup kelopak mataku dan berusaha untuk terpejam dengan tenang.Tak lama setelah itu, aku mendengar suara yang sangat keras dari sisi lain rumah."BRAAAAAAAK"Seketika pula aku tersentak dan bangun."Ada seseorang di rumah ini!!!". Aku berteriak dan jantungku berdegup kencang."Bangun, Emily!!" aku berteriak membangunkan Emily. Akhirnya ia bangun dan terduduk. Setelah melihatnya tersadar, aku segera berlari menuju kamar orangtuaku.Aku tercekat melihat pemandangan yang ada saat itu.Ayah sudah meninggal. Di lehernya ada bekas sayatan. Dari luka menganga itu mengalir darah segar yang menggenang di lantai. Aku melihat didepan pintu kamar mandi, ada orang aneh yang berdiri disana.Dia sangat besar dan menyeramkan. Dia berbalik dan melihatku. Saat itu dapat kulihat matanya yang kecil seperti manik-manik, berputar melirik ke segala arah. Janggutnya lebat dan tidak terawat. Bajunya sangat lusuh namun dipenuhi dengan bercak darah. Saat itu juga aku dapat mencium bau darah yang sangat mengerikan. Bau yang menusuk indera penciumanku ini.Ia melihat ke arahku sambil tersenyum menyeringai. Menampilkan barisan gigi kuningnya yang tidak beraturan. Senyuman itu membuatku terdiam sesaat dan saat itu pula aku berpikir bahwa aku akan mati.Namun, pria itu berbalik menuju kamar mandi dan sepertinya ia tidak terganggu dengan kehadiranku.Aku sangat ketakutan. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya bisa berteriak dan menangis.Perlahan, aku melihatnya menggotong ibu. Ia menghempaskan ibu yang sudah terkulai tak berdaya itu. Ia mengangkat pisau besarnya dan mencabik-cabik ibu di hadapanku. Memotongnya dalam beberapa bagian.Kemudiaan, aku mendengar sesuatu. Hal terakhir yang kudengar.Itu jeritan Emily yang datang dari arah belakangku.Pria itu menatap saudariku, kemudian berdiri dan dengan cepat berjalan menghampiri kami.Saudariku berbalik arah dan berlari. Kemudian pria itu dengan sigap mengejarnya dan melewatiku begitu saja.Aku ikut berlari mengikuti mereka. Aku mengira, dia juga akan membunuh Emily seperti ayah dan ibu. Ternyata aku salah. Pria itu menyeret Emily menyusuri lorong rumah ini.Aku berteriak dan membuat kebisingan sebisaku, berharap ada orang yang sadar diluar sana dan membantuku.Dia menangkap Emily dan membekap mulutnya.Dia hanya melewatiku begitu saja. Aku menyandarkan diri ke dinding dan bertanya-tanya: "Mengapa?"Dia kembali menyeringai ke arahku, menampilkan gigi kuning itu seraya berkata: "Diam kau. Ya, tetaplah diam seperti itu. Anak baik." dia mengusap kepalaku.Aku mengikutinya saat ia menyeret Emily menuju ke pintu depan. Dia membukanya dan menarik Emily keluar rumah ini. Kemudian, ia segera membanting pintu itu.Sekarang, aku terduduk dirumah bersama mayat dari kedua orangtua angkatku. Aku menggigil, gemetar dan cemas.Pria itu sudah berada disuatu tempat diluar sana, bersama Emily. Entah apa yang ingin ia lakukan pada Emily dan aku tak bisa menyelamatkan saudariku. Andai saja jika aku bisa melakukannya, sayangnya aku tak bisa.Aku ingin menangkapnya, tapi aku tak bisa.Aku duduk disini, melihat ke arah pintu depan.Aku melihat kebawah dan mendapati kakiku. Jika saja aku bisa membuka pintu itu..
The Devil's Charm
Suatu malam, seorang anak gadis bernama Anezka mengambil telepon dan menghubungi teman baiknya, Klaudie.“Ayah-ibuku keluar nanti malam,” kata Anezka. “Bisakah kau datang sekitar jam sepuluh?”“Tentu saja,” jawab Klaudie. “Aku akan membawa buku itu sebentar. Bye!”Anezka menutup telepon itu dan pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan sesuatu untuk malam itu. Kedua gadis itu telah merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya.Mereka berdua selalu tertarik dengan ilmu hitam dan segala ritualnya. Beberapa hari sebelumnya, Klaudie tak sengaja menemukan sesuatu yang sangat menarik di tempat sampah. Sebuah buku besar dan berat, dilapisi dengan kulit dan berisi banyak halaman bertuliskan huruf-huruf kuno.Itu bukan buku biasa. Buku itu berisi perintah-perintah untuk pemujaan setan, ritual-ritual aneh, dan petunjuk untuk merapalkan mantra ilmu hitam. Untuk Anezka dan Klaudie, ide untuk merapalkan beberapa mantra sangat menarik. Mereka tak sabar untuk mencobanya. Ketika Klaudie menemukan buku setan itu, kedua anak gadis itu memutuskan untuk mengikuti petunjuknya dan mencoba mengundang iblis hadir dalam ritual mereka.Sesaat setelah orangtua Anezka meninggalkan rumah malam itu, Klaudie pun tiba. Saat itu sudah pukul sepuluh lewat beberapa menit, dan kedua gadis itu segera naik ke tangga menuju ke kamar Anezka. Mereka gemetar kegirangan namun cukup berhati-hati.Mengikuti seluruh petunjuk yang ada di buku itu, mereka menutup jendela dan menarik tirainya sehingga seluruh ruangan itu benar-benar gelap. Di tengah-tengah kamar tidurnya, Anezka telah menyiapkan sebuah meja kayu kecil. Di sana, dia menaruh sebuah lilin kecil yang menyala, dan Klaudie menaruh buku itu di meja. Kedua gadis itu lalu duduk saling berhadapan dan berpegangan tangan satu sama lain. Menatap buku itu, mereka mulai membacanya bersama.“In nomine Dei nostri Satanas Lucifer Excelsa! Dalam nama Setan, penguasa bumi, Raja dari dunia, yang memerintahkan prajurit-prajurit neraka, kami memintamu untuk memberi kuasa kegelapan dalam tangan kami! Buka lebar-lebar gerbang nerakamu dan datanglah dari tempat yang sangat dalam untuk menemui kami sebagai teman dan saudara!”Sehembus udara lalu hadir di tengah-tengah ruangan dan kedua gadis itu mulai cemas seraya meneruskan,“Beri kami kekuatan yang kami cari! Beri kami kenikmatan yang kami inginkan! Turuti segala perbuatan dan wujudkanlah impian-impian kami! Kami memohon dalam namamu dan meminta menunjukkan dirimu! Kami melepas Tuhan kami dan menyembah hanya padamu, Oh Pangeran Kegelapan! Engkau yang menghargai yang jahat dan menghukum yang baik! Dengarkan keluhan kami!”Hembusan angin makin kencang memenuhi ruangan itu, walau semua jendela telah tertutup. Klaudie gemetar. Dia mencoba melepas tangan temannya, tapi Anezka menggenggamnya erat dan melanjutkan rapalannya.“Dengan seluruh iblis di neraka, kami meminta agar semua yang kami sebutkan tadi agar bisa terwujud! Kami meminta dalam namamu!”Angin kecil mulai meniup halaman-halaman di buku itu hingga membuka sendiri. Klaudie melepaskan genggamannya dari cengkeraman Anezka. Dan tepat ketika itu, angin berhenti bertiup dan buku itu langsung membanting tertutup.“Ini keterlaluan, Anezka!” Klaudie menangis, “Aku akan pulang. Aku takut. Aku tidak suka ini lagi!”“Aku juga takut, Klaudie!” jawab Anezka, “Tapi bukankah ini yang kita inginkan … Apa rencana kita? Setelah semuanya, hal ini berhasil. Jika kau tidak menarik tanganmu, kita mungkin berhasil mendapat balasan.”“Aku tidak ingin melakukan ini lagi!” Klaudie merengek. “Itu semua menarik hanya dalam teori, tapi aku tidak percaya hal seperti ini benar-benar ada. Aku punya firasat buruk tentang ini. Aku pulang. Sudah selesai, Bye Anezka. Sampai jumpa besok.”“Dan bagaimana dengan bukunya?” tanya Anezka.“Kau bisa pegang itu,” jawab Klaudie. “Aku tidak menginginkannya lagi.”Klaudie mengambil mantelnya dan berjalan menuruni tangga ke pintu keluar. Anezka mengikutinya, memohon dirinya untuk tinggal, tapi dia menolak. Dia sebenarnya tidak pergi jauh, hanya menyeberang sebuah jalan, melewati kolam dan dia telah sampai di rumahnya.Anezka lalu mengucapkan salam perpisahan dan menutup pintu rumahnya. Kemudian, dia melangkah pelan-pelan menuju kamarnya. Menyalakan lampu dan meniup lilinnya. Dia membuka tirai jendelanya dan meletakkan buku setan itu di samping ranjangnya. Berbaring dan menatap jam di dindingnya. Pukul sebelas. Dia menutup mata dan akhirnya tertidur.Klaudie terburu-buru sampai ke rumahnya. Ketika dia melewati kolam itu, dia merasa sesuatu di belakangnya tengah mengendap-endap. Tidak seorang pun ada di sana, tapi dia merasa seperti sedang diperhatikan dari kejauhan. Takut, dia berteriak sambil berlari.Malam itu, Anezka bermimpi hal yang sangat aneh. Dia melihat Klaudie terbaring di parit yang ada di dekat kolam. Kepalanya bersandar dengan sudut yang aneh, dan lehernya terlihat memiliki beberapa memar.Anezka terbangun dalam kepanikan, dia berteriak memanggil ayahnya. Ayahnya kemudian berlari ke kamarnya dan mencoba menenangkan dirinya.“Tenang, anakku.” kata ayahnya dengan suara yang lembut. “Hanya mimpi buruk. Kembalilah tidur. Di pagi hari, kau akan melupakan semua itu.”“Kumohon, yah.” tangisnya. “Bisakah aku tidur dengan kalian malam ini? Aku tidak ingin sendiri. Kumohon …”“Ok, baiklah … kemari.” jawab ayahnya seraya menggendong Anezka di lengannya dan memeluknya erat-erat. Anezka melihat jam di dinding. Sudah hampir pukul dua dinihari.Tidak lama kemudian, teleponnya berdering. Anezka mengangkat dan mendengar sebuah suara lemah dari ujung gagangnya.Itu Klaudie.“Hati-hati Anezka. Sangat berhati-hati, atau apa yang ku alami akan terjadi padamu juga …”Hanya itu yang didengarnya sebelum sambungan itu terputus.“Klaudie!” dia berteriak sejadinya. “Klaudie!”“Tenang, Anezka.” kata ayahnya. “Apa yang terjadi?”“Tidak tahu, yah. Aku tidak tahu, tapi aku takut. Aku takut dengan hidupku.”Anezka mulai dikuasai ketakutan yang teramat sangat dan menangis sejadi-jadinya.“Jangan khawatir,” jawab ayahnya seraya mengusap punggungnya. “Semua akan baik-baik saja esok hari. Pergilah tidur.”Dia membawa Anezka ke tempat tidurnya, dan anak gadis itu berbaring di antara ayah dan ibunya. Tak lama, dia pun tertidur pulas.Pagi harinya, ayahnya terbangun oleh teriakan istrinya. Membuka matanya, dia terperangah ketakutan melihat anak gadisnya terbaring lemas di sampingnya. Tubuh Anezka telah kaku dan lehernya membiru dan hitam. Dia tercekik. Ayahnya mulai menjerit dan menangis.Beberapa jam kemudian, mayat Klaudie juga ditemukan di sebuah parit dekat kolam. Dia juga tercekik. Polisi menduga waktu kematiannya sekitar pukul 11.15 kemarin malam.
The Pocket Watch
Saat aku masih seorang anak kecil tidak ada yang bisa dimakan. Aku adalah anak tertua dari lima bersaudara dan sudah kewajibanku untuk membiarkan adik adikku makan terlebih dahulu sebelumku. Perang menyebar dari daerah pesisir dan saat semakin mendekat ke sini, makanan menjadi sangat langka. Binatang binatang kabur dari sini atau terbunuh dan dimakan oleh keluarga lain di desa kami.Ayahku adalah seseorang yang bijak dan tanggap, dan kami menanti untuk menyembelih dua ayam kami saat musim gugur tiba, ketika rerumputan dan kulit pohon sudah susah dicari atau tidak bisa dikonsumsi lagi. Keluarga lain tau kami punya ayam dan ayah begadang sepanjang malam dan hari untuk mengawasi mereka. Ayah pernah terpaksa membunuh seorang anak dari kota sebelah, yang telah kehilangan akalnya karena saking lapar, ia mencoba membakar rumah kami dengan sebuah dahan berapi.Ketika ayam kami menjadi kurus tersisa tulang dan tulang ayam menjadi rapuh, dan bahkan menjadi berpori karena terlalu sering digunakan ibu untuk sup, orang tuaku mengirim aku dan dua saudara tertuaku untuk keluar berburu serangga dan tikus tanah untuk makan malam. Kami memang lapar tapi tidak terlalu parah, tapi semua berubah total saat suatu pagi kami terbangun dan merasakan salju salju pertama mulai berjatuhan, dan BENAR BENAR tidak ada lagi yang tersisa untuk dimakan. Orang tuaku mulai untuk mendiskusikan hal hal yang tak terelakkan lagi--mungkin ayahku harus pergi ke pesisir dan menjual liontin jam peninggalan dari kakek kepada para tentara mabuk. Itu satu satunya barang berharga yang kami punyai dan hanya itu warisan keluarga yang seharusnya ayahku wariskan padaku.Aku tidak ingin ayah pergi. Aku takut perang akan tiba saat ia pergi dan aku masih terlalu muda dan lemah untuk melindungi ibu dan saudara mudaku. Aku memohonnya untuk tidak pergi, tapi ia bersikeras bahwa semua akan baik baik saja dan bahkan berjanji akan kembali dalam waktu dua minggu. Aku sangat ketakutan dan saat ayah dengan ibu sedang di luar mempersiapkan tas ayah, aku membanting liontin jam itu dan menginjaknya di bawah kakiku lalu menaruhnya kembali di rak ayah yang setengah rusak.Ibuku menangis berhari hari. Ayah melakukan yang terbaik untuk menenangkannya saat aku menyaksikan mereka berdua mengikis kulit dari sepatu boot ayahku dan merebus kulit binatang itu untuk makan malam. Malam selanjutnya ibu menemukan bangkai tikus dan merebusnya untuk mematikan kumannya. Dan malamnya lagi setelah itu ia mengisi perut kami dengan tulang tikus dan salju cair.Adik kecilku Albert membuat semua orang terjaga malam itu, menangis karena kelaparan. Ia memohon untuk semua hidangan yang pernah kami makan saat kami masih punya kebun dan binatang--daging sapi rebus, telur ceplok putih, jagung yang lezat dan daging kambing yang dicabai. Dia membuat perut kami semua mengerang dan menyiksa kewarasan kami, dan aku segera menjerit padanya agar diam sembari ibu sekonyong konyong terdengar menangis dari kamarnya.Ayah membelai rambut Albert berjam jam dan kemudian kembali ke kamar nya dan ibu, seraya menutup kembali pintunya. Albert mengerang hingga cahaya subuh menembus tirai tipis kami. Aku bisa mendengar suara ayah di balik kamar, memperbaiki jam liontin itu. Rasa laparku sudah menggantikan rasa takutku akan para tentara dan aku diam diam berdoa ayah bisa memperbaikinya.Ayah memperbaikinya dari siang sampai malam. Selia menemukan bangkai bangkai jangkrik di toko roti yang terlantar dan saat kami melahapnya, ayah datang dari kamarnya dengan ibu di belakangnya. Senyuman di bibir ayah tampak hampir kulupakan karena aku tak pernah melihatnya lagi sejak hari di mana adik termudaku lahir. Dia mengumumkan pada kami bahwa dia telah memperbaiki liontin kakek dan ayah mendengar ada markas tentara tak jauh dari sini. Tiga hari, janjinya, "Tiga hari dan aku akan kembali dengan wortel dan daging kambing, dan kue yang begitu besar yang bisa memenuhi perutmu untuk satu tahun!"Kami bertepuk tangan dalam kesukacitaan dan berlari mengitari halaman kami yang kecil yang tampak sudah begitu lama tak kami lakukan. Ayah menyuruh kami membantu ibu mencari barang barang bagus untuk mendekor meja. Pagi harinya ia memberikan kami potongan karet dari sepatu kulit ibu untuk dikunyah dan berjanji pada kami untuk kembali secepat mungkin.Kami merasa sangat senang hari itu, mengumpulkan tapal kuda dan pecahan kaca. Kami menjahitkan tapal kuda itu ke sebuah dahan dan menggantung pecahan kaca itu sampai ke bawah. Berharap kaca itu nanti bisa membiaskan cahaya lampu saat di rumah. Kami pulang sembari cahaya sang raja siang mulai tenggelam, begitu senang dan bersemangat dengan pekerjaan kami.Kami bahkan belum menjangkau rumah ketika aku pertama mencium aroma itu--bawang, ayam rebus, daging kambing, bahkan bau permen! Aku berlari secepat yang kubisa, menjatuhkan dekorasi meja kami dengan acuh sepanjang pengejaranku yang gila untuk makanan. Aku menerobos lewat pintu dan menemukan ibu di kompor, menyiapkan makanan kami dalam keheningan. Aku mendekapnya dan bertanya apa ayah sudah pulang."Ya, sayangku. ayahmu bertemu seorang saudagar kaya di jalan yang sangat senang untuk bisa membeli liontin jam kakekmu."Aku mengencangkan pelukanku lagi dan duduk manis menghadap meja saat saudara laki laki dan perempuanku menghambur lewat pintu. Mereka duduk dengan cepat; dengan raut lapar dan penuh harapan yang tergantung di wajah mereka. Ayah keluar dari kamar dan duduk di ujung meja saat ibu meletakkan piring yang mendidih dengan daging kambing rebus diatasnya. Ibu mengangguk pada kami dan kami langsung mengisi tangan kami dengan daging abu abu itu, bahkan piring kami tak tersentuh sedikitpun.Setelah makan malam kami langsung tidur dengan perut penuh, tak ada sepenggal kata pun yang terucap oleh siapapun sejak makan malam itu tersaji di meja. Kami makan makanan kami esok malam dan esok malamnya lagi dan seterusnya. Tapi saat stok makanan kami mulai menyusut, begitu juga dengan kesehatan ibu. Makin hari tulangnya semakin terlihat, sampai kami mulai berkelahi hanya untuk beberapa potong daging mentah sementara ibu kami terbaring lemah dan layu.Malam pertama saat aku pergi ke kamar tanpa makanan lagi adalah malam dimana bayang bayang kebahagian yang samar samar itu mulai sirna dan memoriku akan beberapa hari yang lalu jadi membingungkan.Aku menyadari bahwa daging kambing yang waktu itu kulahap dengan begitu nafsu itu sebenarnya punya rasa yang begitu manis, dan aroma aroma yang lain yang ketika pertama kali kucium dari jauh selain aroma daging kambing sebenarnya tak pernah ada di meja makan.Aku tak ingat ibu makan sesuatu sejak hari dimana ayah telah kembali; ia hanya duduk diam di sisi kami di meja, menatap ke potongan daging abu abu yang kami makan dengan begitu ganas.Dan ayah, aku tak ingat mendengar suaranya lagi sejak pagi dimana ia pergi ke kamp tentara. Kursinya kosong dan hampa, malam demi malam, dan ketika sekonyong konyong pecahan memoriku mulai menguat kembali, aku yakin dia tak pernah kembali--setidaknya sejak pagi dimana ia memotong potongan karet dari sepatu ibu di meja.Ketakutan serta kelaparan, aku tidak terlelap sama sekali malam itu. Paginya saat ibu keluar dari kamarnya aku bertanya dimana ayah pergi. Ia memberitahuku ia telah pergi untuk menjadi tentara dan mengirimkan kami untuk mengerat kulit pohon dari hutan untuk makanan. Ayah tak pernah kembali.Mungkin alasan aku tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi waktu itu karena aku menolak untuk mengakui kenyataan tersebut, dan aku dikendalikan rasa lapar. Tapi ibu pergi dari dunia ini beberapa hari yang lalu dan dalam kematiannya ia menikamkan kebenaran itu padaku. Dari barang peninggalannya aku hanya mendapat sebuah kotak kecil yang berisikan liontin jam berkilau yang rusak. Liontin jam ayah.Mungkin ibu ingin aku untuk mengingat semua itu: satu satunya harapan kami untuk bertahan hidup yang telah kuhancurkan di bawah kakiku. Lambang cinta terakhir ayah sebelum ia mengirim kami untuk mencari dekorasi untuk makan malam itu. Daging keabu abuan yang terlalu manis. Dan aroma menyengat yang telah keluar dari bawah pintu kamar ibu menjadi semakin tengik tiap harinya.Ayahku mengorbankan segalanya untuk keluarganya. Aku dulu terbiasa merutuk bahwa aku tak punya alasan apapun untuk mengingatnya. Tak ada barang warisan keluarga untuk kuberikan kelak pada anakku sendiri.Tapi sekarang aku punya liontin jamnya, sebuah barang yang tak bisa kuberikan pada anak anakku. Bukan karena kacanya yang pecah. Bukan karena bingkainya yang rusak.Aku tak bisa mengingat liontin ini karena itu adalah sebuah kutukan yang harus kutanggung… karena liontin yang berkilau ini tak pernah kehilangan bau menyengat dari daging abu abu yang manis itu.Daging ayah.
A Warning To Those Thinking About Accessing The Shadow Web
Seberapa banyak pengetahuanmu mengenai internet? Sebelum 2 minggu yang lalu, aku kira aku sangat ahli dalam hal internet. Bagaimanapun, aku memboroskan seporsi besar waktuku untuk membrowse reddit dan 4chan, dan aku selalu terpasang dengan informasi dan tren baru. Aku sudah menjadi penduduk internet sejak hari hari pertama Fortune City dan saluran IRC dibangun, selanjutnya aku benar benar sering berselancar di internet.Lalu kira kira sekitar 1 tahun yang lampau, seseorang mengenalkanku pada "Shadow Web" ( web bayangan )--Sejenis bagian rahasia dari internet yang takkan kau temui dengan menggoogle, atau mencari tautan ke bagian tertutup itu. Tidak ada 'link masuk' dari web biasa ke shadow web. Dan ini bukan deepnet, ini jauh dari deepnet, kalau saja kau membayangkan shadow web adalah semacam deep net. Bukan laman dengan gunungan video gore berdarah darah karena kecelakaan, aku sudah pernah melihatnya. Aku bersumpah shadow web ini sesuatu yang jauh lebih mengerikan.Aku tak pernah menanyai namanya. Dia adalah seseorang yang rutin datang ke stasiun gas di mana aku berprofesi menjadi petugas kasir tahun lalu. Tiap kali ia datang, ia selalu memborong 20 sampai 50 dollar voucher UKASH, yang aku terka untuk website porno. Mungkin paduan kemeja polo kremnya dan garis rambutnya yang tipis membuatnya tampak seperti seorang mesum menyeramkan.Satu hari, dia menanyakan 300 dollar voucher UKASH, sialnya aku segera mencetak kesalahan pertamaku dengan menanyakan : untuk apa?"Apa kau pernah mendengar yang namanya web bayangan?" Aku ingat dia membalas pertanyaanku dengan santai, sambil menghitung uang 300 dollar dari kumpulan kertas uang 20 dollar. Aku belum pernah, jadi kugelengkan kepalaku dengan ragu. Lalu dia mengecek dompetnya dan menarik keluar secarik kertas kecil seukuran kartu kredit. "Kalau kau mau tahu," bisiknya. Ia mencondongkan posturnya ke arahku dan menyelipkan potongan kertas itu ke dalam kantong saku di bajuku. Aku memberikannya vouchernya, dia melangkah keluar, dan aku tak pernah melihatnya lagi.Tak lama selanjutnya aku meninggalkan pekerjaan itu untuk membagi waktu bersekolah. Tak sampai beberapa minggu kemudian, aku kembali mengecek seragam kerja kuningku yang kumal, dengan kertas kecil itu masih dalam saku depannya. Tempo aku membukanya dan membaca lampirannya, aku segera menyadari pertemuan terakhirku dengan pembeli yang menyeramkan itu.Lampiran kertas itu punya cara bagaimana untuk menembus "gerbang" shadow web. Panduan itu punya banyak langkah langkah, beberapa lebih rumit dibanding langkah lainnya. Sayangnya, aku pintar teknologi dan cukup penasaran untuk mengikuti aba aba di kertas itu.Hal pertama yang kau ingin tahu tentang "shadow web" adalah kau TAKKAN mau ke sana. Aku sudah banyak melihat konten yang benar benar di luar ambang normal di internet, tetapi tidak ada satupun yang semengerikan dan sama persis dengan SW. Merenung ulang, aku seharusnya langsung menutup halaman sialan itu secepat mungkin begitu aku pertama kali melihat tampilan gerbang web terbuka. Aku tak tahu kenapa aku malah melanjutkan browsing. Mungkin ada yang salah denganku waktu itu.Ketika aku tiba di "gerbang shadow web" yang layoutnya seperti salah satu halaman selamat datang--ketika kau menggunakan wifi gratis di bandara atau di mall, hal pertama yang mencuri sorot mataku adalah kata "Memperkosa mayat". Kata itu terpampang di bawah sebuah bar pencarian, dan diatas 30an atau lebih kata kata lain--yang ku asumsikan adalah pencarian terbanyak di shadow web, hal hal seperti pengulitan dan mutilasi. Benda benda mengerikan itu seharusnya menjadi petunjuk untuk mengklik X pada browserku.Banyak hal hal lain juga, terpisah dari konten sexual dan video gore yang menjijikkan. Seperti cara untuk membuat bom jalan raya. Sesuatu seperti barisan iklan untuk para kanibal dan orang orang sinting yang ingin dimakan oleh kanibal. Hal seperti pasar gelap untuk membeli dan menjual orang, secara individu ataupun secara massal.Aku memboroskan waktuku hampir sejam untuk membaca bocoran dokumen perang dan perjanjian perdamaian rahasia pada sebuah website yang bernama avenge.shweb. website itu terlihat sangat retro, kalau kau tahu maksudku. Tampilan depannya punya beberapa bingkai dan tiap bingkai punya bar bergulirnya sendiri. Ketika aku menyadari aku mulai mengklik tautan tautan tanpa berkompromi dengan otakku lagi, aku tahu aku telah merasa nyaman di shadow web.Jangan tanya bagaimana aku menerobos masuk ke website selanjutnya. Rasa penasaran memenangkan gerak gerikku, dan aku mengklik hal hal yang seharusnya tidak kubuka. Aku tidak akan menyebutkan nama web aslinya karena aku tahu beberapa dari kalian akan melakukan kesalahan fatal yang sama denganku karena berpikir ini tidak akan berakhir buruk. Ini berakhir buruk.Saat aku ada di halaman itu, aku nenangkap logo UKASH di bagian paling bawah dari website, menandakan laman ini punya layanan berbayar. Faktanya itu adalah sebuah rekaman webcam live, tapi kau harus membayar jika ingin jadi direktur. Hanya menonton tidak akan dibebankan biaya. Disamping tayangan live webcam ada sebuah halaman log-in untuk ruang chat. Ruang chat itu mengharuskan sebuah nama saat aku mengklik tombol 'join' (ikut), jadi aku mengetikkan asdfasdfg seperti yang biasaku cetakkan di layar ketika aku berkomen di pornhub atau xvideos.Sekian detik saat aku melewati log-innya, segunung pesan membanjiri layar. Kebanyakan pesannya berbahasa inggris, beberapa China dan Jepang, dan ada beberapa yang kupikir Arab atau Farsi. Jumlah komentator di ruang chat melonjak antara 150-200 orang, tapi itu hanya jumlah orang yang masuk ke ruang chat. Ku asumsikan lebih banyak yang memilih menonton diam diam. Sebagian besar pesan yang menumpuk adalah "STARTTTTT" atau "GOGOGO" atau pesan yang tidak jauh artinya dari 2 kata itu.Sekitar 1 menit kemudian, seorang pria yang mukanya terhalang oleh topi olahraga hockey merangsek kedalam layar. Aku ingat dia punya kulit hitam coklat dan benar benar kurus. Seperti seorang penduduk Ethiophia yang kelaparan. Tak lama sehabis itu, semua pengirim pesan di-mute sehingga tidak bisa mengirim pesan--semua orang kecuali seorang pengguna berlabel italiangoat yang kutebak adalah direktur dari acara live ini.Itulah saat teriakan itu dimulai.Wanita itu ditutup matanya oleh ikatan kain dan terikat ke sebuah kursi kayu dengan tangannya terpasang di belakangnya. Seorang pria yang lebih gelap dan besar menarik rambutnya dengan paksa sampai wanita itu duduk membisu persis di tengah layarku. Aku menyaksikannya berjuang hendak meloloskan diri dari ikatan tali itu, tapi ia benar benar terikat sangat erat--sampai sampai kau bisa melihat lecet dan memar di pergelangan tangannya. Hanya Tuhan yang tahu seberapa lama dia diikat seperti itu.Akhirnya, pria yang lebih besar menurunkan kain penutup mata gadis itu, dan dia berhenti menjerit. Saat dia menatap ke penjuru kamera, dia mulai menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya. Dia mulai menangis dan memohon mohon pada kedua pria yang kupikir punya ras Arab. Dan kemudian ada pesan yang muncul pada chat.Italiangoat : baringkan dia di lantai dengan tiarap.Si direktur meluncurkan perintah pertamanya. Si pria kurus membacanya dan menginstruksikannya pada si pria bongsor dalam bahasa mereka sendiri.Italiangoat : Tendang perutnya.Si pria melanjutkan dengan terjemahan pada temannya.Teriakan itu kian nyaring dan nyaring. Apa apaan yang sedang kutonton ini? Itulah pikiran yang pertama kali memenuhi otakku yang kaget. Aku menggapai ponselku, siap untuk memanggil 911.Italiangoat : injak v*ginanya.Italiangoat : beritahu temanmu untuk menendang lebih keras, aku membayar banyak uang hanya untuk ini.Saat itu aku benar benar shock dan kaget hingga aku tidak bisa melepaskan mataku dari layar. Penyiksaan itu berjalan untuk 10, 20, 30 detik. Yang bagiku seakan akan berlangsung selamanya.Italiangoat : Sekarang potong lehernya.Ketika aku membaca pesan terakhir, perasaan tegangku semakin instens dan liar. Tanganku bergetar tak terkendali saat aku memegang mouse. Tidak, tidak, tidak, pikirku, seseorang harus menghentikannya. Aku mencoba untuk mengetik ke chat room, tapi area pesan diblokir. Perempuan itu semakin terisak isak ketika dia mendengar perintah terakhir direktur.Italiangoat : Tunggu, jangan, masih belum waktunya.Si lelaki ceking menangkat satu tangannya untuk menandakan penundaan pada mitranya untuk berhenti.Pernapasanku kembali teratur untuk sebentar, berpikir kalau wanita itu masih diberi kesempatan hidup. Setidaknya untuk sekejap saja. Dan kemudian si direktur melanjutkan:Italiangoat : Keluarkan matanya dulu.Si lelaki ceking menatap tajam kedalam webcam. Aku tidak bisa melihat keseluruhan rautnya, hanya matanya dan kulit dekat lingkar masing masing mata topeng. Aku menerawang dengan putus asa untuk bisa menemukan setitik saja keraguan di mata hitamnya. Tolong, hentikan permainan ini, doaku, tapi aku menahan kursor mouseku berputar di atas tombol close jika seandainya mereka tetap melanjutkannya.Dan selanjutnya, si pria kurus mulai mengetik dan ada nama kedua yang tertangkap di log pesan:Admin : Tambahkan $500Otakku membeku saat kulihat angka itu. 500 dollar. Wanita ini sedang disiksa dan bahkan mungkin dibunuh untuk sejumlah 500 dollar. Aku bekerja sekeras mungkin di pom bensin dan aku selalu mendapat upah pas pasan. Jika aku bisa menawarkan 1000 dollar untuk menghentikan ini, aku akan melakukannya. Aku akan mengosongkan semua tabunganku kalau bisa menyelamatkan nyawanya. Aku akan melakukannya, aku bersumpah demi hidupku. Aku akan membayar apapun untuk menghentikan kegilaan ini.Italiangoat : OK.Aku cepat cepat mematikan monitor sebelum aku menonton lebih banyak lagi. Aku harap akal sehatku bekerja lebih awal. Aku berlari ke pekarangan dimana aku memuntahkan sebanyak 2 porsi makan. Sudah lama aku tak merasa semual ini gara gara menonton sesuatu. Saat aku di SMP seorang teman memperlihatkanku sebuah klip video dari rotten.com. Video itu menayangkan seorang pria yang kepalanya terbelah dua oleh baling baling helikopter yang tengah ia bersihkan. Dan kemudian, setelah bertahun tahun, aku sudah sering menyaksikan video sejenis itu--sampai sampai aku tak merasa ingin muntah lagi saat menontonnya. Tapi biarkan aku memberitahukanmu sesuatu : melihat penayangan live secara langsung dari seseorang yang sedang disiksa itu benar benar membawamu ke tingkat kengerian yang jauh berbeda.Saat aku telah selesai memuntahkan tiap gigitan makanan yang telah kumakan, aku mendengar lolongan panjang dari arah kamarku. Dan kemudian aku baru teringat, tempo aku mematikan layar monitor dengan begitu ketakutan, aku lupa mematikan speakernya juga.Teriakkannya semakin parah dan buruk, sampai akhirnya aku berhasil mencapai belakang meja dan menarik lepas speaker dari komputer. Keheningan yang menyusul setelahnya benar benar terasa menyakitkan. Seakan akan oleh tanganku sendiri aku telah membungkam suara wanita itu, membunuhnya.Aku merasakan penyesalan yang mencekam dan tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku membunuhnya, bisikku pada diri sendiri berkali kali. Aku MEMBUNUHnya. Perasaan itu tidak nyata namun sangat asli.Aku harus mencari tahu apakah dia masih bernapas atau tidak. Sembari aku meraih untuk menghidupkan kembali layarnya, sebuah suara dala. kepalaku memohonku agar berhenti. Aku tak ingin melihat apa yang akan kulihat.Tapi sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri, tanganku telah bertindak. Gambar live di layar itu adalah sebuah gambar yang takkan pernah bisa kulupakan, SELAMANYA.Kepala yang terpisah dari wanita itu terdiam lurus menghadap padaku, kedua matanya lenyap dari tempat mereka seharusnya. Darah meleleh dari dua lubang itu. Wajah itu… wajah yang rusak dan sudah tak berbentuk itu menghantuiku sejak saat itu. Bahkan sekarang, saat aku menuliskan ini, aku bisa merasakan mata penuh horrornya menatapku dari belakang. Ia selalu mengikutiku. Aku tahu. Aku tidur dengan semua lampu menyala, TV hidup, tapi sama sekali tak membantu.Tepat sebelum aku memadamkan browser dan mulai mengutak ngatik jaringan untuk kembali mengakses bagian internet biasa yang membosankan, aku ingat aku melihat kalimat terakhir di ruang chat itu. Tertuliskan :Admin : Terima kasih telah menonton. Tayangan live selanjutnya dalam 1 jam kedepan.
Four Minutes
Ricky punya obsesi yang benar benar ganjil. Obsesi terbarunya benar benar gila, aku bahkan tak bisa menyingkirkan pikiran itu dari benakku. Efek aneh pasca kepala terpotong dari tubuh: setelah terpisah, kepala bisa mendengar, melihat, membuat mimik muka dan berkomunikasi.Ya, kau membacanya dengan benar. Orang orang yang kepalanya dipenggal bisa melihat dan mendengarkanmu. Ricky menjadi terlalu maniak akan hal itu, ia melakukan penelitian, kebanyakan meneliti tentang tikus, dimana saat kepala tikus itu terpisah dari tubuhnya, binatang menjijikan itu masih sadar selama 4 menit atau kurang.Ricky anak baru diinstitut sekolah kami, dan dia dibully karena ia terlihat aneh. Penyebabnya adalah mata julingnya, dan kulit, rambut dan matanya juga mempunyai bercak kuning. Dalam fisik seperti itu, tentu saja ia dibully. Ricky tidak sibuk memikirkan mereka. Cara balas dendamnya sungguh unik dan 'wow'. Ia tak mengatai ngatai, atau adu tinju dengan mereka. Apa yang ia lakukan hanya melukis sebuah gambar sadis yang seram. Mahakarya seni yang meramalkan hari terakhir para pembullynya, atau rahasia tergelap mereka yang tak seorangpun tahu.Yang sebenarnya tidak perlu aku tulis, sampai sekarang, kalau saja Ricky belum meninggal. Kematian yang paling menyedihkan dan mendebarkan dalam 4 menit jalan hidupku.Segalanya bermula pada tempo aku menghampiri rumah Ricky yang mirip peternakan. Tak pernah setitikpun terpikirkan olehku ini adalah hari terakhir dalam hidupnya, ataupun hari terakhir kami bersama. Saat ia membawaku ke garasi dan menunjukkan alat pisau guillotine yang ia buat sendiri--yang benar benar bagus, aku tahu, ia akan melakukannya."Kau takkan melakukannya, ok?" Ia melanjutkan,"Pisaunya akan jatuh dan membelah saat ku tarik tuasnya," Ia lalu menariknya, dan pisau diagonal besar yang berat itu jatuh kebawah dan menciptakan hempasan angin, hawa dingin yang tidak enak naik ke sekujur kakiku, membuatku bergidik ngeri. "Bung, yang kau harus lakukan hanya duduk dan menontonku.""Sialan, aku takkan melakukannya." Aku berbalik untuk pergi dari kegilaan ini. Ketika aku sudah meraih gagang pintu ke dapur, ia mengatakan sesuatu dalam intonasi yang putus asa, yang membuatku mematung."Aku tak mau mati sendiri. Kau satu satunya orang yang kupunya." Tapi ia benar. Ayah dan ibunya meninggal saat ia kuliah, ia tak punya saudara. Dan anjing kesayangannya, Rukus, mati bulan lalu, yang berarti, hanya akulah teman satu satunya."Kau boleh duduk di sebelah sana dan tunggu sebentar... jadi aku tidak sendiri, lalu kau boleh pergi, maka tak seorangpun akan tahu." Aku berbalik kemudian duduk dan menatap kedalam matanya, mata yang menyimpan terlalu banyak kepahitan."Lalu apa, Rick?""Caranya gampang, satu kedipan berarti ya, dua kedipan berarti tidak. Dan kalau aku membuka mulutku berarti rasanya mengagumkan. Kalau rasanya buruk, aku takkan memberitahumu, cukup aku saja yang tahu."Aku benar benar kehabisan kata kata, dan aku dipenuhi pikiran bahwa aku akan segera kehilangan sobatku hari ini. Tubuhku berguncang dengan hebat, yang bahkan belum pernah kurasakan sebelumnya. Kemudian aku menatap Ricky dan melihatnya sedang mengembangkan senyum, ia bahagia."Tanyakan aku pertanyaan 'ya atau tidak', bicaralah padaku, tanyakan apa saja. Ini kesempatan yang benar benar jarang. Ini sesuatu yang harus kuketahui. Dalam semua eksperimen yang telah kulakukan, paling tidak aku punya waktu 4 menit setelah kepalaku terpisah, jadi tanyakan padaku apakah terasa sakit, atau apakah aku melihat cahaya putih, atau malaikat atau apa aku tahu rahasia kehidupan dan semesta.""Oh Ricky, pemenggalan? Bung, ini benar benar sudah terlalu jauh." Ricky menunduk dan mengangguk, kemudian ia menengadah kepadaku, kali ini ada sungai bening yang berlabuh di mata kuningnya yang aneh dan aku tahu, aku tak sanggup menolak permintaannya, tak peduli betapa tak warasnya itu."Aku ingin melakukannya sebelum penyakitku kambuh lagi. Penyakit sialan itu, akan membuatku kesakitan dan menderita. Aku benar benar ingin memenangkan penyakit ini, dengan mencurangi kematian."Kami duduk beberapa jangka waktu di garasi yang aneh itu sebelum Ricky akan pergi selamanya. Ia telah merencanakan dan mempersiapkan segalanya, kepalanya akan mendarat di tempat tidur Rukus--anjingnya yang merupakan teman lain yang ia miliki selain aku.Ricky melemaskan kepalanya di atas pisau guillotine, menghadap ke kiri, seperti berbaring ke kiri di kasur. Aku duduk menghadapnya dilantai dan kita akan melakukan percobaan ini."Kau tidak tahu, kau membuat hidupku yang hancur lebih berwarna. Aku tak pernah memberitahumu. Itu menggangguku dan aku tak jago dalam hal emosi dan perasaan, tapi bertemu denganmu di perguruan tinggi membuat semua masalah ku lebih ringan."Mataku benar benar penuh oleh bendungan air bening dan rasanya langit hampir saja akan runtuh, aku tak bisa menjawab Rick. Semua yang kutahu hanyalah aku menyayanginya tetapi aku tak pernah bisa memberitahunya.Kemudian Ricky berlutut didepan pisau berat itu, berbaring dan membalikkan kepalanya. Ia melayangkan kepalanya dengan lembut di atas alat buatannya sendiri. Kemudian, sebelum aku mengerjapkan mataku, pisau sialan itu luruh kebawah saat Ricky berkata,"Terima k--"Tapi pernafasan Ricky terpotong dan kalimat terakhirnya terinterupsi. Dalam sepersekian detik yang ganjil, kepala temanku mendarat di tempat tidur Rukus dan matanya menatap tajam kearahku. Bukan tatapan orang mati, belum. Ya, tatapan mata kuningnya yang masih hidup.Kucoba mengabaikan lehernya, tapi aku menyaksikan darah merah dari potongan lehernya meluncur deras, dan juga bagian putih dari tulang belakangnya. Tanganku bergetar tak terkendali saat kupaksakan diriku menatap kedalam matanya."Ricky, kau bisa mendengarku?" Satu kedipan yang cepat, artinya ya.Oh Tuhan, ini tak mungkin nyata."Apa rasanya menyakitkan, apa kau merasakan sakit?" Seruku. Ia mengerjap dua kali untuk tidak."Bisakah kau melihatku?"Satu kedipan."Apa kau melihat malaikat? Atau sejenisnya?"Dua kedipan."Apa rasanya aneh?" Lagi lagi ia mengerjap dua kali yang berarti tidak. Ia kemudian tertegun dan kemudian membuka mulutnya, memamerkan barisan giginya, meskipun ekspresinya lebih menyerupai pantomim yang meringis kesakitan, aku tahu itu berarti terasa keren dan mengagumkan, bukan sesuatu yang seharusnya ditakuti."Jadi, kau tidak takut?" Dua kerjapan mata, dan kemudian ia membuka mulutnya. Aku merasa lebih lega.Tiba tiba, aku merasa kehabisan pertanyaan, walau kami masih berkomunikasi. Ricky mengunci tatapannya dalam mataku, dan aku merasa nyaman dan tenang--meskipun aku tahu itu tidak masuk logika. Kemudian ia memejamkan mata, tiba tiba aku panik, bahwa inilah waktunya, dan ia telah ditepuk oleh Sang Pencipta. Aku perlu menanyakan sesuatu, jadi aku menukas,"Ricky, apa sekarang kau tahu rahasia alam semesta, atau rahasia kehidupan dan semacamnya?"Matanya membuka lebih lamban kali ini, lalu ia berkedip satu kali. Dan aku bersumpah mulutnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi itu membuatku panik karena berbicara hampir tidak mungkin tanpa kerja paru paru, jadi aku meluncurkan pertanyaanku lagi, "Apa rasanya buruk? Apa mati itu buruk?"Lagi lagi matanya membuka lebih lambat dan ia berkedip dua kali untuk tidak."Apa ada orang lain didekatmu? Apa mereka orang baik?Ia mengerjap sekali untuk ya, tapi aku tak tahu cara menanyakan siapakah orang orang itu, kalaupun ia tahu orang orang tersebut.Aku tak punya pertanyaan lagi, karena pada titik ini, tidak ada pertanyaan yang penting lagi.Setelah itu, aku dan Ricky mengunci mata dan waktu terasa membeku. Kemudian matanya membesar dan ia melihat kebelakangku, dan aku melihatnya ketakutan. Aku belum pernah melihatnya setakut itu seumur hidupku. Mukanya benar benar menunjukkan kehorroran yang tak bisa dilukiskan, seolah ia telah bertemu dengan sesuatu yang mengerikan dan tak pernah dilihatnya. Ada sesuatu dibelakangku, sesuatu yang ia lihat tetapi tidak bisa kulihat, dan aku tahu, itu bukan sesuatu yang bagus. Dan kemudian Ricky melakukan sesuatu diluar rencana.Mulutnya bergerak gerak dengan cepat dan berulang ulang, ia melebarkan matanya dan menatapku."Ada apa Ricky? Apa yang kau lihat?!" Aku tak mendapat respon darinya karena ia masih berusaha berbicara. Raut mukanya tidak tenang seperti tadi, dan telah berubah menjadi tegang dan shock. Sialnya aku tak tahu apa yang ingin disampaikannya padaku.Dengan ketakutan dan bulu kudukku yang meroma tiba tiba, aku mendekatkan kepalaku padanya. Ia berusaha mengeja beberapa kata, walau tak ada suara yang keluar, aku bisa menerka dari gerakan mulutnya yang mudah ditebak.'BERJANJILAH PADAKU'"Ya, aku janji." Mataku kembali penuh dengan air mata. Hatiku benar benar hancur.'JANGAN MATI'Kemudian Ricky menutup mata selamanya.
The Angel of Industry
Di pegunungan tandus di Eropa Utara, ada sebuah gua purbakala. Di dalam gua itu, ada ruang besar yang nampaknya dulu pernah digunakan sebagai tempat melakukan ritual. Ruang itu berbentuk nyaris seperti lingkaran, dan dindingnya penuh ditutupi lukisan purba. Sepintas, gua itu nampak seperti gua-gua lainnya di Eropa yang juga memiliki lukisan dinding purbakala yang dibuat dengan pewarna merah dan coklat.Akan tetapi, jika kau perhatikan dengan seksama, sosok-sosok yang digambarkan di lukisan dinding gua tersebut kebanyakan bukan manusia. Mereka bisa dibilang masih mirip manusia, namun nampaknya berpunggung sedikit menonjol, dan sepertinya memiliki sepasang tanduk serta ekor.Lihat lagi dengan lebih seksama, dan kau akan melihat gambar-gambar yang menggambarkan manusia. Akan tetapi, para manusia ini digambarkan saling memburu, ditusuk dengan tombak, dan dihajar dengan kapak. Ada beberapa adegan dimana makhluk-makhluk bertanduk itu nampak sedang memanggang manusia di atas kobaran api, atau berpesta menyantap potongan-potongan tubuh mereka.Gambar-gambar itu memang mengerikan, tapi itu dari jaman purbakala, 'kan? Tak ada yang tahu juga apakah adegan-adegan itu benar-benar terjadi atau tidak. Nah, kalau ada pengelana tersesat yang masuk ke gua itu untuk berlindung dari badai salju, dia mungkin berpikir sama. Mungkin dia tak akan menghiraukan lukisan purba itu, dan memutuskan untuk berkemah di dalam gua tersebut. Dia mungkin juga akan menyalakan api unggun di tengah gua.Di tengah gua tersebut, ada sebuah cekungan yang dibuat untuk menyalakan api. Kalau api unggun dinyalakan di situ, cahayanya akan menerangi lukisan gua tersebut. Bayangan si pengelana akan nampak seolah tertimpa gambar-gambar mengerikan di dinding gua, yang seolah bergerak-gerak terkena cahaya kobaran api. Beberapa orang yang lebih penakut mungkin akan bergidik melihatnya, dan memutuskan untuk lebih baik mencoba menerjang badai saja.Tapi, yang lebih pemberani mungkin akan tetap tinggal.Terkadang, tak ada yang terjadi. Si pengelana ini mungkin akan bangun lagi keesokan harinya, sedikit pucat karena mimpi buruk, namun dia tak apa-apa.Kali lain, api akan memantulkan bayangan-bayangan kabur yang bergerak-gerak, bayangan yang bukan milik siapapun di dalam gua itu, dan bukan milik si pengelana. Bayangan ini begitu samar hingga mungkin akan disangka sebagai tipuan cahaya, namun jika diperhatikan, kau mungkin akan melihat bentuk-bentuk seperti manusia, namun dengan punggung menonjol, sepasang tanduk, dan ekor. Bayangan aneh ini kemudian akan mendekati bayangan si pengelana yang sedang tidur. Terkadang, bayangan asing ini akan nampak seolah memegang tombak atau mengangkat kapak.Pengelana yang tidur sendirian di gua itu seringkali menghilang tak tentu rimbanya.Akan tetapi, mereka yang berkelana dalam kelompok dan memutuskan tidur di gua itu kerap terbangun di malam hari karena mendengar jeritan keras. Mereka kemudian akan menyadari bahwa satu orang rekan mereka hilang. Jika mereka kebetulan mengarahkan pandangan ke titik yang tepat di dinding, mereka mungkin akan melihat bayang-bayang samar aneh yang bergerak-gerak, dan bukan bayangan mereka.Api unggun mereka akan menyala lemah, namun dengan cahaya kemerahan, dan dengan cahaya itu, mereka mungkin akan melihat bayangan samar sesosok manusia yang sedang meronta, ditikam tombak, dipukuli berkali-kali oleh beberapa sosok asing. Bayangan sosok-sosok ini kemudian akan menyeret bayangan si manusia yang sudah tidak bergerak, keluar dari jangkauan cahaya, sampai tidak terlihat lagi.Apakah itu lukisan dinding baru? Rasanya tidak mungkin; pewarna merahnya nampak sudah setua lukisan-lukisan lainnya. Tidak, lukisan manusia yang tubuhnya dikoyak sepasang tanduk tajam itu pasti sudah lama ada di sana.
I Want to be A Vampire
Ada seorang anak remaja bernama Lorcan yang mengatakan ia ingin menjadi seorang vampir. Semua orang mengira ia hanya mencari perhatian. Dia tidak punya teman. Semua anak-anak di sekolah takut kepadanya.Dia tampak aneh dan kepalanya tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Wajahnya tidak wajar, tipis, matanya cekung dan memiliki lingkaran hitam. Pipinya cekung dan kulitnya bewarna pucat. Dia berpakaian hitam dari kepala sampai kaki. Dia mengenakan jas hitam panjang yang menyerupai jubah.Ketika anak-anak lain sedang bermain olahraga, Lorcan akan duduk di sudut halaman sekolah, asyik dalam salah satu bukunya. Dia mengumpulkan buku-buku tentang vampir, pemujaan setan dan ritual setan. Dia membaca setiap lembar berulang, menggaris bawahi ayat-ayat dan mengambil catatan.Selalu ada rumor aneh tentang dirinya yang beredar di sekitar lingkungannya. Beberapa anak muda mengaku mereka telah melihat dia membunuh anjing dan meminum darahnya. Lainnya mengatakan bahwa ia menculik kucing di lingkungan dan membawa mereka pulang sehingga ia bisa melakukan eksperimen aneh kepada mereka.Orangtuanya khawatir tentang perilaku aneh Lorcan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Mereka sudah membawanya ke dokter dan psikolog, tapi tak satu pun yang ada gunanya.Suatu malam, ibunya menemukan beberapa bukunya. Ketika dia menyadari tentang satanisme, dia merasa ngeri dan melemparkan buku-buku itu ke tempat sampah. Lorcan tidak marah atau protes, namun ketika orang tuanya pergi ke tempat tidur, dia merayap turun dan pergi ke luar untuk mengambil kembali buku kesayangannya dari tempat sampah.Keesokan harinya, ia membuat lubang besar di langit-langit lemarinya. Itu jalan rahasia dan itu memungkinkan dia untuk merangkak naik ke loteng tanpa diketahui. Ia menyimpan semua buku-bukunya, secara aman. Loteng menjadi tempat rahasianya.Dia bahkan membangun sebuah altar darurat dan dihiasi dengan simbol setan, salib terbalik dan gambar setan. Suatu malam, ia masuk ke gereja lokal dan mencuri piala perak dan beberapa wafer komuni. Dia membawanya pulang dan menempatkannya di atas mezbah-nya.Siang hari, Lorcan mengantuk dan lesu, tetapi pada malam hari, dia akan datang hidup. Sementara ibu dan ayahnya sedang tidur, ia akan merayap di sekitar rumah tanpa alas kaki, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun. Kadang-kadang ia akan merayap tanpa suara ke kamar tidur mereka dan berdiri di atas mereka, menonton orang tuanya tidur damai.Suatu hari, guru memberi semua murid di kelas tugas. Mereka harus menulis sebuah esai berjudul “When I Grow Up.” Guru bertanya apakah ada yang ingin membaca esai mereka keras-keras ke kelas dan Lorcan mengangkat tangannya. Dia berdiri di depan papan tulis memegang gumpalan kertas dan berdehem.“Ketika aku tumbuh,” ia mulai, “Aku ingin menjadi seorang vampir.”Anak-anak lainnya memutar mata mereka dan tertawa. Lorcan begitu semangat, kertas gemetar di tangannya.“Aku ingin tidur di peti mati,” lanjutnya. “Aku ingin mengelilingi diriku dengan kematian. Aku ingin mendedikasikan diri untuk kejahatan dan membalas dendam pada semua musuhku. Aku akan menyerahkan jiwaku untuk setan dan menerima dia sebagai Tuhan dan Juru selamat ku ... ”“Sudah cukup, Lorcan!” Guru terganggu.Lorcan mengabaikannya dan suaranya semakin keras.“Aku ingin minum darah anak-anak kecil dan perempuan dan merasakannya mengalir melalui pembuluh darahku. Ingin aku tenggelamkan gigiku ke dalam daging yang lembut dan merasakan darah panas mereka menetes ke tenggorokan ... ”“Hentikan, Lorcan!” Guru membentak. “Duduk!”“Aku ingin merobek mereka, menarik keluar bagian dalam dan memakan isi perut mereka. Aku ingin menghancurkan segala sesuatu yang hidup. Aku ingin membakar dunia. Aku ingin membunuh semua orang!”Guru menerjang dia, menyambar kertas dari tangannya. Lorcan mencakar dan berteriak seperti orang gila. Saat ia mencengkeram leher, ia berteriak, “Aku ingin menjadi seorang vampir! Aku ingin membunuh kalian semua! Aku INGIN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!”Lorcan diskors dari sekolah dan orang tuanya harus bertemu dengan guru dan kepala sekolah. Setelah itu, semua orang melihat dia seperti elang. Tetangga akan menarik anak-anak mereka dari jalan jika mereka melihatnya datang. Rumor tentangnya menyebar dengan cepat dan tak seorang pun ingin berhubungan dengannya.Suatu hari, seorang anak kecil yang tinggal di lingkungan itu hilang. Orang tuanya mencari kesana-kemari, tapi tidak ada tanda-tanda di mana keberadaannya. Seolah-olah dia telah menghilang tanpa jejak. Polisi pun dipanggil dan mereka mengetuk setiap pintu di daerah itu, mengajukan pertanyaan.Salah satu petugas bertanya pada Lorcan dan melihat dia bertindak sangat gugup. Polisi itu punya perasaan buruk tentangnya dan Polisi bersikeras berbicara dengan ibu dan ayah Lorcan. Orang tua Lorcan membiarkan polisi dan setuju untuk membiarkan polisi mencari dirumah mereka. Lorcan menjadi gugup dan bahkan lebih gugup.Petugas polisi menggeledah kamar Lorcan, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kemudian, membuka lemari dan melihat sebuah lubang di langit-langit. Ketika polisi menjulurkan kepalanya melalui lubang dan mengintip ke loteng, matanya disambut oleh pemandangan yang mengerikan. Petugas Polisi mengatakan itu adalah hal yang paling mengganggu yang pernah dilihat dalam hidupnya.Mayat anak yang hilang tergantung di atap. Tangan dan kakinya diikat ke langit-langit loteng dalam bentuk salib. Di bawahnya adalah sebuah altar setan, dikelilingi oleh buku-buku tentang pemujaan setan. Pada altar terdapat piala perak, penuh dengan darah.Polisi bergegas turun dan membunyikan alarm. Dia berbicara kepada rekan-rekannya dan mengatakan kepada mereka apa yang telah dilihatnya, mereka mulai putus asa mencari Lorcan, tapi remaja itu tak bisa ditemukan. Orang tuanya tidak tahu di mana ia berada.Polisi diluar bersumpah mereka tidak melihat siapa pun meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada yang bisa menemukan jejak Lorcan. Polisi bingung. Mereka yakin tidak ada cara anak itu bisa lolos tanpa diketahui. Itu adalah misteri.Kemudian, salah satu petugas menyaksikan sesuatu yang aneh. Dia mengatakan bahwa setelah semua keributan itu dimulai, ia merasa melihat sesuatu yang terbang keluar dari salah satu jendela di lantai atas. Mahkluk itu mengepakkan sayapnya dan menghilang dalam kegelapan malam.Dia pikir matanya salah, atau sedang bermain trik pada dirinya sendiri, tapi ia berani bersumpah, itu kelelawar hitam yang besar.***Note: Cerita ini sebenarnya terinspirasi oleh pembunuhan kehidupan nyata yang terjadi di Irlandia pada tahun 1973. Seorang anak muda bernama John Horgan hilang. Ketika polisi menyelidiki, mereka mulai menduga remaja laki-laki yang tinggal di sebelah. Mereka menggeledah rumahnya dan di loteng, mereka menemukan mayat dari anak muda. Dia telah di ikat di loteng pada pose penyaliban. Dbawahnya, ada sebuah altar, piala perak dan beberapa buku setan. Tentu saja, dalam kehidupan nyata, anak remaja tidak berubah menjadi kelelawar vampir dan melarikan diri. Dia ditangkap dan dimasukan ke penjara untuk kejahatan yang mengerikan.
Outlet
Pertama aku menyadarinya adalah saat pacarku datang untuk membantu membersihkan kamar apartemenku yang berantakan. Aku orangnya sangat pemalas sehingga seringkali aku membiarkan kamarku terisi dengan sampah-sampah yang berserakan. Yah, apa boleh buat. Aku adalah lelaki lajang yang tinggal sendirian di kamar apartemen yang sempit.Karena itu, pacarku kadangkala datang dan membantuku bersih-bersih. Hari itu seperti biasa pacarku mengumpulkan benda-benda yang ia temukan berserakan, entah di atas meja, di lantai, atau bahkan di belakang lemari. Kemudian ia akan menunjukkan padaku dan aku yang akan menentukan apakah barang itu harus dibuang ataukah masih kuperlukan. Kamarku mulai terlihat rapi ketika pacarku memperhatikan sesuatu yang tergeletak di lantai."Hei, tunggu sebentar!" ia berjongkok di depan stop kontak dan menunjuk ke seutas rambut hitam panjang yang menjulur keluar dari stop kontak. "Rambut siapa ini?"Aku menatap rambut itu seperti orang dungu, lalu menatap wajah pacarku. Matanya penuh dengan rasa curiga dan ekspresinya terasa dingin. Ia tahu semua temanku adalah laki-laki dan tak perlu peramal hebat untuk menebak apa yang ada di pikirannya. Rambutku benar-benar pendek dan rambutnya pun tak sepanjang itu. Masalahnya adalah, aku tak pernah mengundang gadis lain masuk ke kamarku, selain kekasihku itu.Tatapannya mulai membuatku merasa tak nyaman, jadi aku meraih ujung rambut itu dan berusaha menariknya keluar dari soket. Rambut itu terputus. Namun sensasi yang kurasakan saat aku menariknya keluar dari lubang stop kontak itu sama dengan sensasi saat menarik rambut manusia yang sesungguhnya.Perasaan itu membuatku tidak nyaman. Aku menjatuhkan rambut itu di lantai tanpa berpikir. Rambut itu terjatuh di atas lantai kayu apartemenku dan mulai menari tertiup angin hingga akhirnya terbang keluar melalui jendela. Aku berbaring dengan dadaku menyentuh lantai, mencoba melihat apa yang ada di dalam soket. Namun mataku tak menemui apapun kecuali kegelapan.Setelah kejadian itu, baik aku maupun pacarku sudah melupakannya. Suatu malam kami pergi ke tempat karaoke hingga larut malam. Karena kelelahan, aku tertidur di atas sofa. Begitu terbangun, aku sadar bahwa aku sudah terlambat kerja. Dengan panik, akupun lekas mandi dan segera meraih ranselku yang tergeletak dekat dinding. Ketika aku mengangkat tas itu, mataku tanpa sengaja melihat ke arah stop kontak itu.Keluar dari salah satu lubang itu adalah seutas rambut panjang berwarna hitam. Ujungnya tergeletak di atas lantai, sedangkan ujung lainnya masih tertelan lubang stop kontak itu. Seolah-olah rambut itu tumbuh dari dalam lubang yang gelap itu.Entah mengapa, aku merasa rambut itu adalah rambut yang sama dengan yang ditemukan pacarku kemarin. Bahkan aku merasa rambut itu berasal dari orang yang sama. Rambut itu mulai membuatku takut, sehingga sama seperti yang dulu kulakukan, aku menarik rambut itu dan, "Pluk!" seolah-olah aku mencabut rambut itu dari kepala seseorang."Apa-apaan ini?" Aku segera membuang rambut itu dan menancapkan steker radio ke dalam stop kontak itu, mencoba menghalanginya. Aku segera mengambil tasku dan berangkat kerja.Radio yang kutancapkan ke stop kontak itu cukup besar dan lama-kelamaan akupun melupakannya. Apartemenku perlahan-lahan menjadi berantakan lagi. Akupun membereskan buku-buku komik yang berserakan dan menatanya menjadi tumpukan di dekat tempat tidurku. Pada malam itulah aku mengalami kejadian yang sangat menakutkan.Pada tengah malam, aku terbangun karena suara gemeretak yang aneh. Aku menyalakan lampu dan mencoba mencari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari radioku, lebih tepatnya dari pemutar kasetnya. Anehnya lagi, sebelumnya radio itu tak terlihat dari ranjangku karena tertutup oleh tumpukan komik yang tadi kutata. Namun kini tumpukan komik itu sudah ambruk di lantai, sehingga aku bisa melihat radio itu dengan jelas dari tempatku berada sekarang.Ini tak masuk akal. Apa yang tiba-tiba membuat tumpukan komik itu tiba-tiba ambruk? Angin? Mustahil. Apa mungkin tumpukan buku tadi tak seimbang saat aku menatanya?Pemutar kaset itu kembali mengeluarkan suara gemeretak. Aku kemudian bangun dan berusaha mematikannya. Namun begitu tanganku hampir menyentuh tombol off, aku baru tersadar.Radio itu dalam keadaan mati.Akupun berpikir radio itu mungkin rusak. Aku kemudian mengangkat radio dan membaliknya. Saat aku menariknya, aku merasakan sesuatu menariknya kembali.Aku hampir saja menjatuhkan radio itu saat melihat rambut.. banyak sekali rambut.. meliliti kabel belakang radio itu. Asalnya dari stop kontak itu. Rambut itu sangatlah banyak, hingga seakan-akan aku melihat bagian belakang kepala seseorang keluar dari stop kontak itu.Aku menarik radio itu lebih keras, namun tolakan yang kurasakan juga semakin kuat. Akupun menaruh kembali radio itu dan mencoba menarik rambut-rambut yang keluar dari lubang stop kontak itu.Aku menarik sekuat tenaga, tak peduli sekuat apapun ia mencoba melawan. Aku merasa seakan aku mencoba menarik rambut dari kepala seseorang. Dan akhirnya aku menang. Dengan segenap kekuatanku aku berhasil mencabut rambut-rambut itu dari stop kontak.. Dan darah terciprat dari dalam soket itu. Aku menjerit sebelum akhirnya aku pingsan karena ketakutan.Saat aku tebangun paginya, aku tahu apa yang kualami tadi malam bukanlah mimpi. Cipratan darah tampak di dekat soket itu. Rambut bertebaran dimana-mana. Aku membersihkannya sendirian dan mengepaki semua barang-barangku pagi itu juga. Aku tak bisa lagi tinggal di sini. Kalian tahu mengapa.Mungkin rasa penasaran yang kuat menarikku untuk melihat sekali lagi ke arah stop kontak itu. Kali ini tak ada lagi rambut. Melainkan.. Sebuah jari keluar dari lubang soket itu, seakan mencari sesuatu.
Count to Ten
Aku tak pernah menginginkan anak-anak. Aku tak pernah menyukai mereka. Bahkan aku tak ingin menikah. Aku lebih suka tinggal sendirian.Bahkan ketika adikku memiliki anak, aku tak begitu tertarik. Tentu, aku pergi ke pesta ulang tahun keponakanku dan memberinya hadiah. Aku mungkin sedikit menyayanginya, namun tak lebih dari itu. Aku masih tak menyukai anak-anak dan takkan mengubah pendirianku.Di umurku yang baru 20-an, aku sudah memiliki karier yang mapan dan keputusan investasi yang bagus. Bahkan mungkin aku bisa pensiun di usia dini dan masih memiliki banyak tabungan.Namun kehidupanku berubah setelah adikku dan istrinya meninggal dalam kecelakaan. Aku menjadi yang bertanggung jawab atas keponakan. Tak ada saudara yang lain, dan tentu saja, dengan pendidikan tinggi dan kondisi finansial yang mapan, aku menjadi satu-satunya pilihan. Walaupun aku tak pernah menyukai gagasan untuk menjadi seorang ayah, tentu saja aku masih punya hati dan takkan membiarkan keponakanku dikirim ke panti asuhan. Jadi, akupun resmi mengadopsinya.Secara mengejutkan, ternyata kondisi ini tak seburuk dugaanku. Memang sangat menyusahkan pada awalnya, namun aku mulai terbiasa. Kami menghabiskan waktu kami bermain. Permainan favoritnya adalah petak umpet. Aku membiarkan menghitung dan mencari tempat untuk bersembunyi. Kami sangat bersenang-senang saat itu.Namun tentu saja, perjalanan ini tak selalu lancar. Kadang ia melakukan hal-hal yang membuatku marah. Kadang ia melanggar aturan dan membuat rumahku berantakan. Aku sudah mengatakannya berkali-kali untuk tidak melakukannya, namun kalian tahu lah yang namanya anak kecil.Suatu saat aku sadar, aku harus menghukumnya. Aku tak suka menghukum anak kecil, namun kau tahu apa yang orang bilang. Kita harus mendisplinkan anak kecil. Pada akhirnya dia mengerti untuk tidak melakukan hal yang dilarang. Itulah yang penting bagi kehidupannya.Hari ini kami kembali memainkan game favoritnya. Aku harus bersembunyi dengan cepat, sebab sekarang dia hanya bisa menghitung sampai delapan.
Hammer
Entah sejak kapan ada rental video kecil di dekat stasiun-mungkin hanya karena aku jarang datang kesini- tapi ini terlalu usang untuk sebuah toko baru. Sekedar iseng aku memutuskan untuk menyewa sesuatu untuk ditonton nanti.Di dalam aku menemukan sebuah kaset VHS yang tidak memiliki kotak hanya sebuah label putih bertuliskan "Hammer ". Aku tak tahu apa yang ada di dalamnya tapi karena benda itu hanya 1$, aku memutuskan untuk menyewanya.Ketika aku sampai di rumah malam itu, aku ingin tahu video apa itu . Aku memasukkannya ke dalam VCR, dan menekan tombol play.Suasana malam hari dengan sudut pandang seseorang sedang berlari menyusuri jalan di suatu tempat, dan selama beberapa menit satu-satunya yang kulihat hanyalah goncangan kamera yang dibawa oleh entah-siapa-itu menyusuri jalan" Pfft , bahkan 1$ terlalu mahal untuk omong kosong ini ... " gumamku, kemudian aku membuka laptop meninggalkan video itu tetap berjalan. Dari sudut mataku aku bisa melihat video tersebut masih menayangkan keadaan yang sama, dan siapa pun yang memegangnya tampaknya mulai lelah. Aku bisa mendengar ia terengah-engah, tapi ia terus berjalan pada kecepatan yang sama.Awalnya semua terus begitu, tapi kemudian aku merasa ada yang salah dengan gambar yang ditayangkan."Tunggu ..Aku pikir aku tahu jalan ini!" Aku menutup layar laptop dan meletakkannya di sofa di sampingku. Jika video itu merekam daerah yang aku tahu, mungkin cukup menyenangkan untuk menontonnya . Akhirnya kamera berbelok ke sebuah jalan perumahan ." Hah? Apa? Bukankah itu jalan rumahku ... " Video itu berhenti selama beberapa detik dan tampaknya berada di depan sebuah kompleks apartemen.Ketika mulai bermain lagi, kamera berjalan perlahan dan berdiri di depan pintu seseorang, kemudian menyorot ke pelat nama di sebelah pintu" Itu apartemenku! "Jantungku terasa hampir lepas ketika suara dobrakan keras datang dari pintu depan.Aku kembali menatap layar dan melihat bahwa juru kamera itu menggedor pintu dengan palu. Dengan setiap detak pada video, aku mendengar suara yang lebih keras datang dari pintu. Sinkornasi yang sempurna. Aku melihat palu itu dan terkejut setiap kali suara keras mencapai telingaku.Aku terlalu takut untuk bergerak. Pintu yang tak jauh dari tempatku duduk terus menerus bergetar hebat dan sekarang memiliki lubang kecil di permukaanya dari apapun yang ada di luar sana. Aku berani bersumpah aku melihat mata merah melalui lubang itu.Aku memalingkan mataku jauh dari pintu dan kembali menatap layar TV. Dari celah pintu yang terekam aku melihat diriku duduk di sofa.Aku menjerit dan melompat mundur, menabrak dinding di belakangku menjauh dari TV dan pintu. Entah tombol apa yang tanpa sengaja kutekan pada remote VCR karena video itu tiba-tiba berhenti.Sunyi. Aku tidak mendengar apa-apa kecuali detak jantungku sendiri yang berdetak begitu cepat.Aku perlahan-lahan berjalan ke pintu dan membukanya. Tak seorang pun ada di sana. Aku kembali duduk di depan VCR dan menekan tombol eject. Video itu masih ada dan masih memiliki kata "Hammer"Aku berlari ke tempat penyewaan di mana video ini kusewa, tapi begitu sampai di sana yang kulihat hanyalah sebuah ruko kecil yang nampaknya sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun, lewat jendela yang sudah retak aku tak melihat apapun di dalamnya kecuali debu, sarang laba-laba dan sebuah palu.****
The Thing That Will Kill Me
Creepypasta ini menceritakan seorang gadis yang mendapatkan ramalan tak masuk akal tentang kematiannya dari seorang ahli nujum. Dia tak mempercayainya hingga suatu hari ramalan itu menjadi nyata.Aku tumbuh di sebuah kota kecil di Vermont. Kecil dalam ukuran populasi, bukan dalam ukuran wilayah. Ada ladang berhektar-hektar dan area hutan yang tak terhingga luasnya. Lebih banyak sapi daripada manusia di sini, sebuah standar bagi kebanyakan kota kecil di Vermont. Jadi, bisa kalian bayangkan, tidaklah terlalu menyenangkan tumbuh di sini. Hanya satu kata saja cukup untuk menggambarkan kondisi di sini: membosankan.Tak banyak anak2 seumuran di kota ini. Sahabat terbaikku adalah Lisa, yang berumur setahun lebih tua dariku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu kami bermimpi tentang hidup di luar kota Vermont. Orang2 di desa kami benar2 aneh. Berbeda dengan di tempat lain. Satu hal yang tak kusadari tentang penduduk kota kecil adalah betapa percayanya mereka terhadap hal2 yang berbau takhyul. Mereka percaya dengan hal2 gaib, termasuk paranormal. Mereka percaya pada Luvia.Luvia adalah perempuan tua berdarah Prancis-Kanada yang pindah ke vermont bersama suaminya. Ada yang bilang ia gypsi. Ada yang bilang ia adalah peramal. Bahkan, orang tuaku sendiri percaya padanya. Suatu hari, ibuku kehilangan cincinnya. Ibuku sudah mencarinya kemana-mana. Mereka memanggil Luvia dan ia mengatakan cincin itu berada “di bawah kayu tua yang membusuk”. Mereka mencari ke halaman belakang dan ayahku menemukannya di bawah sebuah piano kayu tua yang teronggok dan sudah ditumbuhi jamur.Setelah mendengar banyak mengenai Luvia dari penduduk kota lainnya yang menganggap dia 100% dapat dipercaya, Tina dan aku memutuskan untuk menemuinya suatu sore. Kami ingin ia memberitahu kami tentang “masa depan” kami. Namun aku sendiri sebenarnya skeptis. Saat itu, semuanya terlihat seperti sebuah lelucon atau hiburan bagi kami.Jadi, kami pergi ke rumahnya sore itu dan ia membuka pintu di saat kami masih berjalan mendekati halaman depan rumahnya. Bahkan kami belum sempat sampai ke depan pintu dan mengetuk. Tina menyikut rusukku dan berbisik bahwa Luvia pasti benar2 peramal tulen. Ia bahkan sudah tahu kami datang sebelum kami tiba di rumahnya! Aku berbisik balik padanya dan mengatakan bahwa itu mungkin karena rumahnya punya banyak jendela dan ia bisa melihat kami datang dari kejauhan.Aku merasa agak aneh ketika mendekatinya. Ia wanita tua yang menakutkan, hampir tampak seperti nenek sihir. Namun ia tersenyum dengan ramah menyambut kami. Kami kemudian mengatakan bahwa kami tertarik dengan kemampuannya “membaca masa depan” dan menyerahkan padanya uang 20 dolar. Ia setuju dan mengatakan siapa yang akan lebih dulu.“Apa yang bisa Anda katakan mengenai kehidupan cintaku?” tanya Tina.Luvia tak memiliki bola kristal ataupun kartu tarot. Ia hanya menutup matanya sejenak dan diam selama 2 menit, kemudian mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Michael Carten.”Tina menatapnya selama beberapa detik dan Luvia mengulang, “Michael Carten. Itu nama pria yang akan menjadi suamimu.”Tina berterima kasih dan mengulangi nama itu berkali-kali. Michael Carten. Michael Carten. Michael Carten. Kemudian Luvia berpaling ke arahku.“Apapun yang Anda katakan, saya ingin mendengarnya dengan senang hati.” Katanya, “Tidak harus tentang kehidupan asmaraku.”Luvia menutup matanya selama beberapa detik, namun wangsit yang ia dapatkan tampaknya datang lebih cepat ketimbang visinya tentang suami Tina. Ia menatapku tajam ke dalam mataku, menggenggam tanganku, dan mengatakan.“Sesuatu yang akan membunuhnya sedang menanggalkan kulitnya.”“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengasah giginya.”“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang membersihkan darah dari antara cakar-cakarnya.”“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengumpulkan kulit.”“Sesuatu yang akan membunuhmu ... kau takkan melihatnya datang.”Kami beriga membisu selama sejenak. Aku merasa sakit. Gemetar. Luvia menatap kami seolah ia menyesal mengatakan hal itu kepada kami.“A ... apa ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya?” tanyaku.Luvia mengembalikan uang kami. “Aku takkan menarik uang untuk ramalan kali ini. Kalian berdua, cepatlah pulang!”Aku dan Tina segera meninggalkan rumah Luvia tanpa mengatakan sepatah katapun. Dalam perjalanan pulang pun kami masih membisu. Tina baru saja menemukan nama cinta sejatinya dan aku mendapatkan pesan penuh teka-teki tentang kematianku. Aku masih berumur 12 tahun saat itu. Aku ketakutan setengah mati.Ketika Tina meninggalkan serambi rumahku, ia mencoba menghiburku, “Bagaimana dia bisa tahu dengan siapa aku menikah,” katanya sambil tertawa, “Dan seekor monster tidak akan memakanmu. Berganti kulit, mengasah gigi, darah di cakarnya, itu sama sekali tak masuk akal. Lupakan saja omong kosong nenek itu!”Selama bertahun-tahun aku memikirkan ramalan itu. Makhluk yang menanggalkan kulitnya. Makhluk dengan gigi yang tajam. Makhluk yang berlumuran darah. Makhluk dengan cakar yang runcing. Makhluk yang akan membunuhku, aku selalu merasa ia mengawasiku dari mana-mana. Dari antara pepohonan saat malam. Dari bawah timbunan salju. Menunggu di luar jendela kamarku. Setiap malam sebelum aku tidur, aku selalu merasa melihatnya. Kulit, gigi taring, darah, cakar, aku selalu mencarinya.Tapi aku tak pernah menemukannya.Ketika aku berumur 18 tahun, aku pindah ke California untuk kuliah, untuk menjauh dari Vermont dan apapun yang akan membunuhku. Akupun berhenti merasakannya dimana-mana. Mungkin, apapun itu, ia tetap tinggal di Vermont. Bahkan mungkin, ia tak pernah ada. Semua orang di California yang kuceritakan tentang hal itu selalu tertawa, dan akupun berhenti mempercayai ramalan itu. Itu hanya igauan seorang wanita gipsy, tak mungkin nyata.Ketika aku berumur 27 tahun, sebuah undangan pernikahan tergeletak di kotak suratku. Tina ternyata akan menikah! Aku saat itu tinggal di California dan hampir tak pernah ada kontak dengan Tina semenjak aku pergi. Ia terasa seperti bagian dari masa laluku.“Anda diundang ke pernikahan Tina dan Michael Carten ...”Tunggu. Tidak. Tidak mungkin!Ini pasti tidak ada hubungannya dengan ramalan Luvia. Ramalannya tak mungkin nyata. Tidak ada yang namanya peramal atau kemampuan melihat masa depan!Aku pergi ke pernikahan mereka. Tina, aku, dan Michael, semuanya tertawa dengan semua ramalan itu. Tentu saja ramalan itu tak mungkin benar. Tina dan Michael menganggap semuanya hanyalah lelucon yang akan mereka ceritakan pada anak2 mereka di masa depan.“Beritahu kami kalau kau bertemu dengan monster bergigi tajam yang berganti kulit, oke?” kata Tina sambil bercanda. Kami semua berpikir bahwa ini semua hanyalah kebetulan belaka ia bisa menikah dengan seorang pria bernama sama seperti yang diramalkan Luvia.Aku meninggalkan pesta pernikahan dengan berusaha mempercayai bahwa “sesuatu yang akan membunuhku” tak mungkin sungguhan. Monster itu tak ada. Aku melihat di balik pohon, di balik mobil. Tak ada yang sedang menantiku di sana. Tak ada yang bersiap-siap untuk mengulitiku. Aku tak tahu kenapa aku begitu takut sekian lama.Salah satu hal hebat dari pernikahan Tina adalah peristiwa itu membawa kami kembali dekat seperti dulu. Dia bahagia hidup bersama Michael di Vermont. Ia selalu mengirim email kepadaku, mengatakan tentang segala hal yang terjadi di kota kecil itu. Populasinya dengan perlahan meningkat. Mereka membangun sekolah2 baru. Dan juga gosip2 lainnya.Juga berita kalau Luvia meninggal.Bertahun-tahun kemudian, aku semakin jarang menerima email dan telepon darinya. Ia terlihat sangat sibuk. Hingga suatu titik aku mulai merindukannya karena tak mendapatkan sedikitpun kabar darinya. Pada malam natal, aku memutuskan mengunjungi rumah orang tuaku untuk liburan dan mampir sebentar di kediaman Tina dan suaminya. Aku biasanya tak melakukan ini, namun ia tak pernah menjawab teleponku dan aku sangat ingin menemuinya saat itu.Aku memarkirkan mobilku di depan rumah mereka. Ada dua mobil di parkiran sehingga aku menduga mereka berdua ada di rumah. Aku turun dari mobil dan menekan bel pintu. Michael membukanya, berpakaian dengan jas tebal, seolah-olah ia baru saja berasal dari luar. Ia mengundangku masuk. Ia tampak sangat terkejut melihatku dan bertanya apakah aku berbicara dengan Tina akhir2 ini.“Belum, bahkan selama beberapa bulan kami tak pernah berkomunikasi. Maaf tiba2 mengunjungi kalian seperti ini, tapi apakah aku bisa bertemu dengannya?”“Oh, aku pikir kau sudah tahu,” jawab Michael, “Dia meninggalkanku. Beberapa bulan lalu. Ia pergi dan tak pernah lagi berbicara denganku sejak saat itu.”“Oh, Tuhan ... Maaf, aku benar2 tidak tahu ...”Ia melepaskan mantelnya dan menggantungkannya dekat pintu.“Maaf, aku harus mandi dulu sekarang. Aku baru saja dari luar. Bisakah kau menunggu sebentar?”Ia melepaskan sepatunya lalu menanggalkan sweaternya. Lalu ia berjalan menuju ke kamar mandi. Aku duduk, melihat-lihat rumah mereka.“Tentu saja tidak. Apa kau tahu kemana ia pergi?”“Tidak,” teriaknya dari dalam kamar mandi, dengan mulut penuh busa pasta gigi, “ia tak pernah meneleponku sekalipun semenjak ia pergi.”“Aku sedih mendengarnya.”Aku mendengarnya berkumur dan ketika ia melihatku memandanginya dari kaca kamar mandi, ia menutup pintu kamar mandi untuk mendapatkan privasi. Ketika aku mendengar suara shower dinyalakan, aku berniat mengambil handphone untuk melihat SMS terakhir yang ia kirimkan. Mungkin saja itu akan memberikan petunjuk dimana ia berada. Namun ketika aku mengambilnya dari dalam tas, benda itu terjatuh. Ketika aku berusaha mengambilnya, aku melihat sesuatu di bawah sofa.Gumpalan rambut.Warnanya cokelat, sama seperti rambut Tina.Namun anehnya, rambut2 itu tampak seperti dicabut dari kulit kepalanya.Dan ada sedikit noda darah di sana.“Sesuatu yang akan membunuhnya sedang menanggalkan kulit.”Aku melihat pintu kamar mandi yang tertutup.“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengasah giginya.”Aku mendengarnya tadi menggosok gigi.“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang membersihkan darah dari antara cakar-cakarnya.”Aku sedang mendengarnya membersihkan diri di bawah pancuran.“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengumpulkan kulit.”Aku menatap sedikit kulit yang masih menempel di gumpalan rambut itu.Ya Tuhan ... Sesuatu yang akan membunuhku !Aku mendengar suara pancuran berhenti. Gerakan dari dalam kamar mandi.Aku lari. Keluar dari pintu. Membanting pintu. Berlari sekuat tenaga ke mobil. Masuk ke mobil. Gemetar. Memperhatikan pintu. Tanganku berjuang dengan kencang. Gemetar. Gemetar. Pintu rumah terbuka. Mobilku menyala. Aku mengendarainya secepat mungkin. Aku tak menoleh ke belakang. Sepanjang malam. Aku yak tahu apa ia mengikutiku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu apa yang kulihat tadi. jantungku tak lagi berdetak dengan normal hingga aku tiba di rumah, berkendara sepanjang malam hingga melintasi dua negara bagian. Aku pulang.Itu sebulan yang lalu. Aku menelepon polisi. Mereka menyelidiki, namun tak menemukan apapun. Mereka yakin Tina hanya meninggalkannya dan pindah ke tempat lain.Mungkin memang begitu. Mungkin ia sudah kabur dan aman sekarang. Mungkin takkan ada yang mengejarku. Mungkin Michael adalah pria malang yang ditinggalkan istrinya. Mungkin tak ada sesuatu yang berada di belakang pepohonan, di bawah salju, di bawah mobil, di luar pintuku saat malam, di luar jendela. Mungkin tak ada. Tak ada.Aku selalu teringat kalimat terakhir dalam ramalan Luvia.“Sesuatu yang akan membunuhmu ... kau takkan melihatnya datang.”
Bermain mantra
Lady In WhiteJika kalian merasa rindu dengan seseorang yang sangat kalian cintai, maka permainan Lady In White ini merupakan permainan yang cocok Anda mainkan. Caranya sangat mudah yakni masuk ke dalam kamar mandi sendirian dan matikan semua lampu. Putar tubuh sebanyak 5 kali sambil mengatakan Lady In White. Setelah itu, putar tubuh berlawanan arah sebanyak 5 kali dan katakan nama orang yang Anda cintai. Bila berhasil, maka Anda bisa melihat bayangan orang yang Anda cintai di cermin.The Midnight ManPermainan Midnight Man sebenarnya merupakan ritual kuno yang dilakukan oleh orang Pagan. Tujuan dari permainan ini adalah untuk menghukum orang yang telah melakukan kesalahan. Permainan ini hanya boleh dilakukan pada saat tengah malam saja. Siapkan kertas dan tuliskan nama Anda. Di kertas itu, teteskan beberapa tetes darah Anda dan tempelkan ke pintu. Matikan semua lampu dan ketuk pintu sebanyak 22 kali. Buka pintu, tiup lilin, kemudian tutup pintu. Dan selamat, kalian telah mengundang Miidnight Man ke dalam rumah Anda.Tugas dari Anda adalah untuk selalu menghindari Midnight Man ini sampai jam 03:33 pagi.Jangan biarkan Midnight Man menangkap Anda, karena hal tersebut bisa saja berakibat buruk bagi Anda.CharlieMungkin bagi sebagian orang lebih mengenal permainan ini dengan nama permainan pensil. Berasal dari Meksiko, permainan Charlie ini dipercaya sebagai permainan untuk memanggil arwah seorang anak laki-laki yang mati bunuh diri. Namun ada juga yang percaya bahwa permainan juga bisa digunakan untuk memanggil roh jahat. Untuk memainkan permainan ini, Anda harus menyiapkan kertas yang sudah bergambar salib dengan tulisan yes dan no di setiap sisi. Letakan pensil di tengah-tengah dan ucapkan "Charlie, Charlie, bisakah kita bermain?" Bila pensil mulai bergerak, itu tandanya kalian sudha berhasil memanggil arwah Charlie. Setelah itu kalian bisa menanyakan pertanyaan apa saja pada Charlie.Untuk menyelesaikan permainan, katakan "Charlie, Charlie, bisakah kita berhenti?" Bila pensil bergerak ke arah yes, maka segera katakan good bye dan jatuhkan pensil. Jika tidak, ulangi pertanyaan tersebut sampai mendapatkan jawaban yes.Devil FaceBerasal dari Spanyol, permainan memanggil iblis ini wajib dilakukan oleh 1 orang, tidak boleh lebih. Bila dilakukan lebih dari 1 orang, maka orang tersebut bisa dirasuki oleh iblis. Sesuai dengan namanya, Devil Face adalah sebuah permainan yang dimainkan bagi orang-orang yang ingin melihat wajah iblis. Caranya adalah kunci kamar mandi, nyalakan 12 lilin hitam di dalamnya. Tutup mata sampai jam menunjukkan tengah malam. Maka saat itulah kamu bisa melihat wajah iblis di depan cermin. Dikarenakan permainan Devil Face ini sangat berbahaya, maka amat sangat disarankan untuk tidak dilakukan.Baby BlueBaby Blue ini merupakan sebuah urband legend yang sangat terkenal yang diperkirakan memiliki hubungan dengan Bloody Mary. Permainan Baby Blue ini bertujuan untuk memanggil sebuah arwah bayi jahat ke dalam tangan Anda. Caranya untuk memainkan permainan ini adalah pergi ke kamar mandi pada saat malam hari. Matikan lampu dan kunci pintu kamar mandi. Katakan Baby Blue secara berulang-ulang sembari menghadap cermin. Nantinya tangan Anda akan merasa seperti ada beban berat. Beban berat tersebut menandakan Baby Blue telah hadir. Sebelum bertambah berat, segeralah buang Baby Blue ke dalam toilet dan siram dengan air. Bila tidak, nanti akan muncul bayangan wanita yang berteriak ke arah Anda. Dan ketika saat itu terjadi, maka itu adalah tanda akhir dari hidup Anda.Daruma SanIngin mencoba permainan memanggil hantu dari Jepang ini? Jika iya, maka bersiaplah seharian penuh Anda akan dikejar-kejar oleh hantu perempuan. Caranya adalah tunggu ketika malam kemudian siapkan bak mandi yang sudah terisi air, masuk ke dalamnya. Selalu tutup mata ketika berada dalam baik mandi dan ucapkan Daruma San jatuh berkali-kali. Jika berhasil maka nanti Anda akan merasakan sesuatu ketika berada di dalam bak mandi. Keluar dari bak mandi secara perlahan dengan mata tetap tertutup, kemudian tutup pintu kamar mandi dan biarkan bak mandi tetap terisi air. Tidurlah seperti biasa, ketika bangun pagi, saat itulah permainan Daruma San dimulai. Anda harus bisa menyelesaikan permainan ini, jika tidak maka hantu Daruma akan terus mengikuti Anda.Candy ManCandy Man adalah hantu jahat yang haus akan darah. Meskipun sudah mendapat peringatan bahwa permainan Candy Man adalah permainan memanggil hantu yang berbahaya, tapi masih ada saja orang nekat yang melakukannya. Cara untuk memanggil Candy Man adalah pergi ke kamar mandi ketika malam hari kemudian matikan seluruh lampu kamar mandi. Sambil menghadap cermin, katakan Candy Man 5 kali. Jika ada sepasang mata berwarna merah yang muncul, maka itu tandanya Candy Man telah hadir.Ouija BoardOuija Board merupakan permainan terkenal yang dilakukan untuk memanggil arwah dengan menggunakan papan. Papan ini bertuliskan abjad a-z, angka 0-9, yes dan no, dan good bye. Permainan Ouija Board ini pada awalnya berasal dari Cina, yang kemudian saat ini cukup sering dimainkan oleh orang untuk berkomunikasi dengan roh halus. Yang cukup diperhatikan adalah belum tentu roh yang dipanggil adalah roh yang baik. Jika yang datang adalah roh jahat, maka hal tersebut bisa membahayakan orang-orang yang bermain Oioja Board tersebut.JelangkungSiapa yang tidak mengenal permainan memanggil hantu dari Indonesia ini. Dengan meliahat bentuk bonekanya sudah bisa membuat orang takut. Hanya butuh bahan-bahan sederhana dan sebuah mantra untuk memainkan permainan seram ini. Cukup sediakan 1 buah batok kelapa, tongkat kayu, kain putih, bentuk seperti layaknya boneka dan mainkan di tempat angker. Ucapkan mantra "Jelangkung, jelangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar" . Ulangi mantra tersebut berkali-kali sampai ada hantu yang merasuki boneka.
teka teki??
Hari ini adalah hari pertama Irma mengajar di kelas XII B. Ketika dia masuk ke dalam kelas, semua murid sudah duduk tenang di tempat masing-masing. Meja belajar disusun berpasang-pasangan sebayak empat baris. Tetapi ada satu yang menarik perhatiannya.Semua siswa duduk berpasang-pasang, kecuali satu meja paling belakang di pojok kanan kelas. Di situ duduk seorang siswi. Irma tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu karena rambutnya terurai ke depan. Hanya sekilas terlihat wajah pucatnya saja.Mengira anak itu mungkin sedang sakit, Irma mencoba mengabaikan dulu."Anak-anak, perkenalkan. Nama saya Irma Farida. Kalia bisa panggil Bu Irma saja. Saya guru kimia kalian untuk tahun ini."Irma menceritakan sekilas latar belakangnya, bagaimana sistemnya mengajar dan sebagainya. Sambil menjelaskan, matanya kembali menyapu seisi kelas. Semua siswa tetap diam dan memperhatikannya dengan seksama. Kecuali siswi duduk paling belakang sendirian itu. Kepalanya tetap menunduk. Irma semakin penasaran."Biar kenal kalian semua, saya absen satu per satu dulu yah," ujar Irma sambil membuka absensi siswa."Agam", panggil Irma."Hadir..." jawab seorang siswa gendut yang duduk di baris ke 3, di depan siswi misterius itu."Bardos?""Hadir.."...Sudah separuh nama siswa di kelas disebut. Namun, pada saat nama "Miranda" disebutkan, tidak ada yang menyahut. "Anu Bu..." salah satu siswi duduk terdepan menyahut. "Miranda, sakit Bu.""Oh ya?" Irma menyelidik."Iya Bu, denger-denger lagi sakit diare dia," sebagian anak ikut menimpali. Irma melihat beberapa siswa mencoba menyembunyikan wajah mereka.Irma lanjut mengabsen nama lagi...Setelah semua nama disebutkan, dia menyadari siswi yang duduk paling belakang tersebut masih belum dipanggil.Karena rasa penasarannya, dia kembali bertanya sambil menunjuk, "Saya lupa namanya itu. Yang duduk di situ, itu siapa yah?"Siswi terdepan itu kembali menjawab, "Yang paling belakang gak ada orang kok Bu. Memang kosong Bu. Dua-duanya memang kosong...""Iya Bu" "Memang kosong bu" sahut seisi anak-anak lagi.Irma memastikan semua tempat duduk terisi, dan memang hanya bangku paling belakang diduduki siswi misterius itu, sedangkan sebelahnya tidak ada orang. Akhirnya Irma berjalan ke belakang. Menarik tangan siswi misterius itu, sehingga terlihat wajahnya. Dia hanyalah orang yang menggunakan make-up bedak putih.Siswi itu menatap dengan terkejut, seisi kelas juga ikut terkejut."Sebetulnya keusilan kalian itu cukup sempurna. Saya tadi hampir percaya kalau kelas kalian berhantu. Tapi sayangnya, tadi kalian keceplosan," jawab Irma sambil tersenyum.JawabanPetunjuk pertama, ketika Irma menunjukkan jarinya ke belakang, normalnya anak yang merasa ditunjuk akan menjawab. Dalam kasus ini, jika baris paling belakang benar-benar kosong, seharusnya Agam yang duduk di posisi berikutnya itu akan merasa ditunjuk (karena berarti dia duduk paling belakang). Seharusnya dia menjawab. Tetapi, anehnya dia tetap diam.Petunjuk kedua ada di siswi terdepan itu. Seharusnya ia harus memastikan terlebih dahulu siapa yang ditunjukkan oleh Irma. Tetapi kenyataannya dia langsung menyelutuk bangku paling belakang kosong, tanpa konfirmasi.Terlihat jelas mereka kompak ingin menjahili guru baru mereka. Terbukti beberapa siswa mencoba menutupi wajah mereka. Kemungkinan besar karena mereka menahan tawa.______________Malam ini rasanya sepi sekali. Soalnya ayah, ibu dan adik keluar kota. Saya harus di rumah sendiri soalnya minggu depan ujian akhir semester di kampus.Jadi saya menghabiskan waktu belajar. Kadang kalau bosan nonton TV di ruang tamu. Atau kalau gak ada kerjaan maka akan cari makanan di dapur. Malam itu, setelah bosan belajar saya pergi ke dapur mencoba mencari sesuatu yang bisa diembat di dalam lemari es. Namun horornya, ternyata gak ada apa-apa di dalam lemari es. Hanya cahaya oranye dari lemari es menerangi wajah saya yang kecewa di dalam dapur yang gelap...Saya memutuskan nonton TV. Tapi di TV pun tidak ada acara yang menarik. Hanya acara drama tidak jelas.Arg bosan sekali! Teriak saya dalam hati. Tiba-tiba ponsel saya yang terletak di kamar saya di lantai 2 berbunyi. Buru-buru saya lari naik ke atas. Ternyata yayang yang telepon. Dia seperti tahu kalau saya sedang bosan. Kami ngobrol sana sini hampir selama satu jam.Setelah telepon, kita lanjut chat lagi. Mungkin 2-3 jam. Saya sudah gak ingat waktu lagi. Terakhir saya kirim ucapan selamat malam lalu saya pun tidur...Namun tiba-tiba saya terbangun!Saya belum mematikan lampu-lampu di bawah. Buru-buru saya turun ke bawah, matikan TV, matikan lampu di toilet, lampu di dapur, lampu di ruang tamu. Kalau gak, besok pagi saat mama pulang melihat lampu menyala semalaman bisa diomel habis-habisan. Haha, untung gak lupa. Dan saya pun kembali tidur.JawabanSang tokoh utama tidak pernah menyalakan lampu dapur. Sebab terakhir kali dia pergi ke dapur, kondisi dapur sudah gelap. Jadi pada, saat turun ke bawah untuk menutupi lampu, mengapa dia menutup lampu dapur?