Gambar dalam Cerita
Polisi merupakan sebuah cerita seram tentang laki-laki yang pulang terlambat ke rumah setelah bekerja. Ia lalu masuk dalam lift dan bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Cerita ini berdasarkan legenda urban populer dari Jepang dan Korea.
Beberapa tahun yang lalu, aku tinggal di sebuah kompleks apartemen besar di kota. Gedung itu memiliki 10 lantai, sedangkan apartemenku berada di lantai 8. Di sana merupakan kawasan yang buruk dengan banyak tindak kriminalitas. Aku berencana untuk segera pindah, sehingga aku tidak pernah bersusah payah untuk mengenal tetanggaku.
Pada Jumat malam, aku pulang ke rumah sehabis bekerja sepanjang hari. Aku merasa sangat kelelahan. Aku lalu masuk ke dalam lift, kemudian menekan tombol ke lantai apartemenku. Saat pintu lift terbuka, ada seorang laki-laki yang berdiri di sana. Ia memakai mantel panjang. Topinya ditarik ke bawah untuk menutupi matanya.
"Halo," kataku berusaha untuk ramah.
Laki-laki itu tidak menjawab.
Saat aku keluar dari lift, ia mendorongku dengan kasar. Lalu ia masuk ke dalam lift dan mulai menekan tombol.
"Menyebalkan," aku komat-kamit sendiri.
Aku membuka kunci apartemenku, lalu masuk. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Sementara aku mencuci tangan, aku menatap cermin dan melihat sesuatu yang aneh. Ada noda merah gelap di lengan bajuku. Itu seperti darah.
Kemudian, aku ingat pada laki-laki kasar yang mendorongku di dalam lift. Hal itu membuatku gugup. Aku tidak tahu dari mana darah itu berasal, tapi aku merasa curiga. Aku segera mengunci pintu depan. Lalu, aku mandi dan membuang kemejaku yang bernoda darah ke keranjang sampah. Aku tidak bisa tidur nyenyak malam itu.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu. Aku memiliki janji kencan dengan wanita muda yang menarik. Aku sudah siap pergi saat aku mendengar bel pintu berbunyi.
"Siapa itu?" omelku yang merasa terganggu.
Aku sudah terlambat kencan, jadi aku tidak mau membuang-buang waktu. Aku mengintip dari lubang intip, lalu kulihat seorang polisi berdiri di luar.
"Apa ini?" tanyaku keras-keras melalui pintu.
"Maaf telah mengganggumu, Pak," katanya dengan sopan. "Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu. Ada pembunuhan tadi malam di apartemen tepat di depan milikmu."
Aku sudah terlambat kencan. Aku juga tidak ingin terlibat.
"Maaf petugas, aku tidak tahu apa pun," kataku berbohong.
"Tapi kau mungkin bisa membantu kami," kata si polisi. "Apakah kau melihat seseorang yang mencurigakan? Bisakah kau membuka pintu untuk bicara sebentar?"
"Aku tidak ada di rumah tadi malam," aku berbohong lagi. "Maaf Pak, aku tidak bisa membantumu."
"Baiklah, Pak," respon si polisi. "Terima kasih atas waktumu."
Polisi itu berjalan menyusuri lorong. Aku lalu melanjutkan persiapan untuk kencan.
Selama beberapa hari berikutnya, aku merasa was-was. Tetanggaku telah terbunuh. Lingkungan ini benar-benar tidak aman. Aku akan senang jika bisa segera pindah.
Aku juga merasa bersalah tentang berbohong pada petugas polisi. Sebenarnya, aku melihat si pembunuh. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya, mungkin ada sesuatu yang bisa kuberitahu pada polisi yang akan membantu mereka menangkap si pembunuh. Kadang-kadang, tindak kriminalitas bisa diatasi dengan satu gambaran detil yang kecil.
Pada suatu pagi sebelum aku berangkat kerja, aku penasaran apakah polisi telah memecahkan kasus itu. Aku menghidupkan televisi dan melihat berita, tapi mereka tidak menyebutkan apa pun tentang pembunuhan.
Saat aku pergi untuk bekerja, aku mencium bau tidak sedap di lorong. Sepertinya bau itu berasal dari apartemen di depanku. Aku merasa tidak nyaman di perutku. Bulu kudukku berdiri tegak.
Aku pergi menemui manajer gedung untuk memberitahunya tentang bau tak sedap tersebut. Saat aku menyebutkan tentang pembunuhan, ia berkata tidak ada pembunuhan di gedung apartemennya. Aku meyakinkannya untuk datang ke lantai apartemenku. Saat ia mencium bau amis, ia lalu membuka kunci pintu apartemen milik tetanggaku. Kami berdua merasa ngeri dengan apa yang kami temukan.
Tetanggaku tergeletak di lantai dengan dikelilingi oleh genangan darah. Baunya sangat tak tertahankan. Ia telah tergeletak di sana selama beberapa hari...