Gambar dalam Cerita
Saat aku masih kecil, aku menghabiskan banyak waktuku sendirian. Orang tuaku tinggal di sebuah rumah tua di pinggir kota. Di sana tidak ada anak-anak lain yang sebaya denganku. Aku memiliki seorang adik laki-laki, tapi saat itu ia masih bayi, jadi aku tidak bisa bermain dengannya. Aku selalu kesepian.
Rumah tua dimana kami tinggal memiliki banyak ruangan kecil. Di koridor, ada kamar dengan pintu geser dimana ayahku akan menyimpan barang-barangnya. Aku suka pergi ke sana dan bermain dengan peralatan-peralatan itu. Itu merupakan saat yang menyenangkan bagiku.
Pada suatu hari, aku menemukan sebuah cermin tua dalam kamar tersebut. Bentuknya lonjong dengan bingkai yang diukir dari perunggu. Walaupun barang itu sudah cukup tua dan berdebu, kacanya sangat bersih hingga aku bisa melihat pantulan diriku sendiri dengan sempurna.
Suatu kali saat aku sedang bermain di kamar penyimpanan, aku mendadak menatap cermin. Ada sesuatu yang membuatku terkejut. Dalam pantulan, aku melihat gadis asing berdiri di belakangku. Aku cepat-cepat menoleh ke sekitarku dengan ketakutan, tapi tidak ada siapa pun di sana. Saat aku melihat kembali pada cermin, aku kebingungan. Gadis kecil itu masih di sana.
Aku kira karena aku masih anak-anak, aku jadi tidak takut padanya. Hal aneh yang kupikirkan adalah bahwa ia hanya muncul dalam cermin. Gadis kecil itu memiliki rambut hitam yang panjang dan kulit putih yang pucat. Melalui cermin, ia tertawa melihatku.
"Halo," katanya sambil tersenyum.
Kami mulai berbicara satu sama lain. Gadis itu memberitahuku untuk memanggilnya Nana. Kami mengobrol sepanjang waktu. Orang tuaku pasti penasaran mengapa aku menghabiskan banyak waktu di ruang penyimpanan untuk bicara pada diriku sendiri, tapi mereka tidak pernah mengambil cermin itu dariku. Kelihatannya, Nana-chan tidak dapat dilihat oleh orang dewasa.
Pada suatu hari saat aku sedang berbicara dengan Nana-chan, aku berkata, "Aku kesepian. Aku berharap memiliki beberapa teman yang bisa kuajak bermain."
"Datang kemari dan bermainlah denganku," balas Nana-chan.
"Aku bisa pergi ke sana?" tanyaku. "Bagaimana caranya?"
Wajah Nana berubah, lalu ia merendahkan nada suaranya,,"Aku tidak tahu," bisiknya. "Aku akan tanya..."
Aku penasaran ia akan bertanya pada siapa, tapi yang bisa kudengar hanyalah keheningan. Entah mengapa aku merasa siapa pun dia, ia tidak ingin aku mendengarkan.
Hari berikutnya saat aku berbicara pada Nana, ia berkata dengan senang, "Aku tahu bagaimana kau bisa datang ke sini sekarang. Ayo! Mari bermain!"
Aku senang, tapi aku ingat bahwa orang tuaku selalu memperingatkanku bahwa aku harus memberitahu mereka sebelum aku pergi kemana pun.
"Oke, tapi aku akan bertanya pada ibuku," balasku.
Wajah Nana mulai sedikit berubah lagi. Ia lalu berkata, "Jangan beritahu siapa pun tentang ini. Kita mungkin tidak bisa bertemu satu sama lain jika kau memberitahu seseorang."
Aku tetap diam karena aku tidak ingin melanggar peraturan orang tuaku.
Lalu Nana-chan berkata, "Jadi kau akan datang untuk bermain denganku besok, kan? Janji?"
"Ya," balasku dengan enggan. "Aku janji."
Nana menyentuh permukaan cermin dengan jari kelingkingnya.
"Janji jari kelingking?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku menekan ujung jari kelingkingku pada cermin.
"Janji jari kelingking," kataku. Kupikir aku bisa merasakan perasaannya yang hangat melalui kaca.
Malam itu, aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku tidak memberitahu orang tuaku tentang Nana-chan, tapi saat aku berbaring di sana dalam kegelapan, pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalaku.
Bagaimana aku akan masuk ke dalam cermin? Tempat seperti apa di dalam di sana? Mengapa bukan Nana yang datang ke sini? Jika aku ke sana, bagaimana aku bisa kembali lagi ke sini?
Saat aku merenungkan banyak hal, aku semakin gelisah. Aku mulai sedikit takut pada Nana-chan.
Hari berikutnya, aku tidak pergi untuk bertemu Nana. Aku menghindarinya selama hari-hari berikutnya. Aku tidak mau dekat-dekat ke ruang penyimpanan selama seminggu. Sebenarnya, aku tidak pernah pergi ke dalam ruang penyimpanan lagi.
Minggu dan bulan berlalu dengan cepat hingga aku tumbuh dewasa. Bulan dan tahun berlalu. Aku meninggalkan rumah untuk pergi sekolah di kota. Setelah aku lulus, aku mulai bekerja di kota terdekat. Aku tidak terlalu sering pulang ke rumah. Akhirnya, aku bertemu seorang gadis dan kami menikah. Sejak saat itu, aku melupakan semua hal tentang Nana.
Sehabis kami menikah, istriku hamil. Ia pergi mengunjungi orang tuanya selama beberapa waktu. Aku sendirian di rumah, jadi aku kadang-kadang mengunjungi orang tuaku untuk makan malam. Mereka masih tinggal di rumah yang sama.
Pada suatu malam, aku memutuskan untuk tidur di kamarku yang lama. Pada tengah malam, aku bangun karena ingin pergi ke toilet. Sementara aku mencuci tangan, aku mendadak menatap pada cermin. Pintu geser di tengah koridor terbuka. Itu adalah tempat penyimpanan dimana aku bermain waktu masih kecil. Kupikir pintu itu tertutup saat aku pergi ke toilet.
Aku menoleh dan terkejut melihat pintunya tertutup. Namun demikian, saat aku melihat kembali ke dalam cermin, pintunya terbuka. Bulu kudukku merinding dan tanganku mulai gemetar. Kupikir aku melihat pintu itu kembali bergeser dalam kegelapan.
Pada saat itu, aku ingat pada Nana-chan.
Aku menjadi ketakutan, tapi sulit untuk mencegah mataku melihat ke dalam cermin. Pintu bergerak... dalam refleksi cermin.
Asap putih muncul dalam kegelapan di belakang ruang penyimpanan. Aku melihat wajah yang kukenal. Wajah tersenyum milik Nana-chan. Kupikir aku pasti pingsan.
Hal berikutnya yang kuingat adalah bangun di lantai. Saat itu sudah pagi. Orang tuaku masih tidur di kamar mereka.
"Itu pasti hanya mimpi," aku bicara pada diriku sendiri. "Hanya mimpi buruk."
Aku tidak nyaman tinggal di rumah orang tuaku. Jadi setelah sarapan, aku pulang ke rumahku sendiri.
Apartemenku memiliki tempat parkir bawah tanah yang luas, jadi aku memarkir mobilku di tempat parkirku sendiri. Aku baru saja akan keluar dari mobil, saat aku melihat pada kaca spion.
Dalam cermin, ada wajah Nana.
Aku menengok ke belakang dengan terkejut, tapi tidak ada seorang pun di kursi penumpang. Aku melihat kembali pada spion dan Nana-chan masih di sana. Aku menatapnya lewat balik bahuku. Mata kami bertemu.
Ia terlihat benar-benar sama. Rambut hitam yang panjang dengan kulit putih yang pucat. Selama beberapa waktu, ia tidak berubah sama sekali. Aku gemetar, tidak bisa membuang tatapanku darinya. Akhirnya, Nana tertawa.
"Halo," katanya sambil tersenyum.
Aku merasa aku akan muntah.
"Mengapa kau tidak kembali waktu itu?" tanyanya. "Selama ini, aku menunggumu."
Aku diam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang pas.
"Hei," katanya. "Datanglah kemari. Ayo bermain..."
Dalam pantulan kaca, tangannya pelan-pelan teracung ke arahku.
"Ayo bermain di sini selamanya..." katanya.
"Ini tidak benar!" teriakku. Aku tidak bermaksud mengatakannya keras-keras. "Nana-chan, maafkan aku. Aku tidak bisa pergi ke sana. Aku tidak akan pergi!"
Nana hanya diam. Tangannya berhenti di tengah udara.
Aku menyentuh pintu mobilku dengan gemetar. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, aku berbicara dengan suara kecil seperti bocah.
"Aku punya istri sekarang... Kami akan segera memiliki anak... Jadi, aku tidak bisa pergi bersamamu."
Aku akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata dari kepalaku. Aku gemetar dan menggigil tak terkendali. Akhirnya, aku melihat ke cermin lagi.
Nana-chan masih di sana.
"Aku mengerti," katanya. "Kau menjadi dewasa... Dan kau tidak ingin bermain denganku lagi."
Suaranya terdengar sangat sedih dan kesepian.
"Aku tidak bisa..." kataku.
Nana-chan tersenyum, lalu tertawa. Itu terlihat seperti sebuah senyuman tak berdosa. Pada saat itu, aku benar-benar berpikir Nana-chan akan memaafkanku karena melanggar janji kami.
"Nana-chan..." aku baru akan bicara, tapi ia memotong ucapanku.
"Jika kau tidak mau bermain denganku, aku hanya tinggal mencari orang lain," katanya. "Seseorang sepertimu."
Dan setelah itu, ia menghilang. Sebelum aku bisa mengerti sepenuhnya apa yang ia katakan, ia telah pergi. Selamanya. Nana tak pernah muncul lagi di hadapanku.
Malam itu, istriku menelepon untuk memberitahuku bahwa ia keguguran. Bayi kami meninggal. Kemudian, aku akhirnya mengerti maksud perkataan Nana-chan.
Ia berkata, "Seseorang sepertimu."