Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Yuki-Onna
Yuki-onna muncul ketika salju turun, ia berwujud wanita tinggi yang anggun dan cantik dengan rambut hitam panjang dan bibir biru. Kulitnya putih pucat. Terkadang ia memakai kimono putih, tetapi legenda lainnya menggambarkan dia tak memakai sehelai benang pun.Meskipun kecantikannya sangat mempesona, pandangan matanya bisa memancarkan ketakutan kepada orang yang menatapnya. Dia selalu melayang di atas salju, tidak meninggalkan jejak kaki (beberapa cerita mengatakan ia tidak memiliki kaki). Dan dia bisa berubah menjadi awan kabut atau salju.Sampai abad ke-18, beberapa legenda mengatakan Yuki-onna adalah roh seorang wanita yang tewas akibat badai salju. Yuki-onna selalu digambarkan sebagai wanita yang tenang dan lembut, namun ia sangat tidak suka kalau ada orang yang menggodanya, ia akan langsung membunuh orang tersebut.Yuki-onna muncul jika melihat ada orang terjebak di badai salju, ia akan berpura-pura untuk minta tolong. Karena ia sangat cantik, banyak orang yang terlena dengan kecantikannya. Jika orang tersebut menggodanya dan ingin berbuat jahat kepadanya, maka ia akan menghembuskan napas esnya untuk membuat tubuh orang tersebut menjadi biru dan kaku. Tetapi jika orang tersebut mempunyai niat baik dan tulus untuk menolong, maka badai salju akan segera berhenti dan tubuh Yuki-Onna akan mencair.Kisah Yuki-Onna (Wanita Salju) Merupakan salah satu kisah hantu klasik di Jepang yang sudah sering diangkat dalam bentuk opera, bahkan pernah dibuat dalam bentuk film klasik. Kisah hantu yang bukan klasik ditandai dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang dalam, dan tragedi.Cerita dimulai dari dua orang penebang kayu bernama Mosaku dan Minokichi yang hidup di daerah provinsi Musashi (terletak di antara Tokyo dan Saitama). Mosaku adalah seorang pria yang berada di usia senja, sementara muridnya, Minokichi adalah seorang pemuda tegap berumur 18 tahun. Setiap hari mereka berangkat pagi-pagi sekali ke sebuah hutan yang jaraknya 5 mil dari desa mereka. Di antara desa mereka dan hutan yang dituju ada sebuah sungai besar yang beraliran deras. Begitu derasnya arus sungai tersebut sehingga tidak ada jembatan yang kuat menahan arus (jembatan yang ada selalu rusak akibat terjangan arus deras). Siapa pun yang ingin menyebrangi sungai harus melewatinya dengan bantuan kapal penyebrang kecil.Suatu hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di tepi sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyeberangkan mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyeberangi sungai, mereka memutuskan bermalam sementara di pondok si pengayuh perahu. Pondok itu benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apa pun.Mosaku dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak masuk ke dalam pondok, kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang sudah lanjut usia tak lama berbaring langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung mendengar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Minokichi tertidur juga.Entah telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa. Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari) sedang membungkuk diatas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Aku ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu. Kau masih muda, begitu tampan, Minokichi. Aku tidak akan menyakitimu, tapi jika kau memberitahu siapa pun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini... maka aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini."Seusai wanita salju itu berkata seperti itu, ia meninggalkan Minokichi sendirian. Mengira bahwa itu hanyalah mimpi, Minokichi segera bangun dan melihat keluar namun ia tidak melihat siapa pun atau apa pun. Sambil menutup pintu ia bertanya-tanya apakah bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia memanggil Mosaku namun tidak ada jawaban. Minokichi mengulurkan tangan untuk menyentuh Mosaku dan tanpa sengaja ia menyentuh wajah Mosaku, dan ternyata wajahnya telah membeku. Mosaku telah meninggal.Ketika fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah meninggal. Ia membawa keduanya menyeberang, lalu menguburkan jenazah Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang ke rumahnya. Setelah sembuh, Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami. Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya.Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya. Pada musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah yang hendak melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah suara yang paling merdu yang pernah didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.Entah apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin cantik di matanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini, maka kedua muda-mudi ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi. Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Minokichi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.Lima tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya di desa, mereka. Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas.Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata, "Melihat kau menjahit dengan pantulan cahaya di wajahmu, aku teringat suatu hal aneh yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat seorang wanita yang secantik dan seputih dirimu... dan ia memang mirip denganmu..."Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya, "Ceritakanlah padaku, dimana kau bertemu dengannya?"Lalu Minokichi mulai bercerita tentang Mosaku dan pengalamannya di pondok pengayuh perahu. "Entah itu sebuah mimpi atau bukan,tapi saat-saat itulah aku pernah melihat orang secantik engkau. Tentu saja ia pasti bukan manusia dan aku sangat takut padanya. Hingga sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat itu mimpi atau memang benar-benar seorang wanita salju."O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru, "Itu adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmu jika cerita itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita..." O-Yuki tetap berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan, "Jagalah anak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan hal yang pernah aku katakan padamu..."Minokichi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus, yang menghilang melalui cerobong asap. sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi.------------------------------------------------------
Hachishakusama
Hachishakusama adalah legenda urban Jepang tentang seorang wanita tinggi yang menculik anak-anak. Dia memiliki tinggi 8 kaki, mengenakan gaun putih panjang dan membuat suara seperti, "Po... po... po... po... po..."Kisah tentang Hachishakusama-------Kakek dan nenekku tinggal di Jepang. Setiap musim panas, orang tuaku membawaku ke sana pada hari libur untuk mengunjungi mereka. Mereka tinggal di sebuah desa kecil dan mereka memiliki halaman belakang yang luas. Aku senang bermain di sana selama musim panas. Ketika kami tiba, kakek dan nenek selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Hanya aku cucu mereka, sehingga aku merasa dimanjakan.Terakhir kali aku melihat mereka adalah musim panas ketika umurku 8 tahun. Seperti biasa, orang tuaku memesan penerbangan ke Jepang dan kami melaju dari bandara ke rumah kakek-nenek. Mereka senang melihatku dan mereka memiliki banyak hadiah kecil untuk diberikan. Orang tuaku ingin memiliki beberapa waktu sendiri, sehingga setelah beberapa hari, mereka mengambil perjalanan ke bagian lain dari Jepang, meninggalkanku dalam perawatan nenek dan kakek.Suatu hari, aku sedang bermain di halaman belakang. Kakek-nenek berada di dalam rumah. Itu adalah hari musim panas yang panas dan aku berbaring di rumput untuk beristirahat. Aku menatap awan dan menikmati perasaan sinar lembut matahari dan angin lembut. Ketika aku hendak bangun, aku mendengar suara aneh."Po... po... po... po... po... po... po..."Aku tidak tahu apa itu dan sulit untuk mencari tahu di mana suara tersebut berasal. Kedengarannya hampir seperti seseorang sedang membuat kebisingan sendiri... seolah-olah mereka hanya mengatakan, "Po... po... po..." berulang-ulang.Aku melihat sekeliling, mencari sumber kebisingan ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu di atas pagar tinggi yang tertutup halaman belakang itu seperti topi jerami. Di situlah suara itu berasal."Po... po... po... po... po... po... po..."Kemudian, topi itu mulai bergerak, seolah-olah seseorang sedang memakainya. Topi tersebut berhenti di sebuah celah kecil di pagar tanaman dan aku bisa melihat wajah mengintip melalui celah. Itu adalah seorang wanita setinggi pagar yang tingginya hampir 8 kaki.Aku terkejut melihat seberapa tinggi wanita itu. Aku bertanya-tanya apakah dia memakai egrang atau semacam sepatu bertumit tinggi besar. Sekian detik kemudian, ia berjalan pergi dan suara aneh menghilang, memudar dari kejauhan.Bingung, aku berjalan kembali ke dalam rumah. Kakek-nenekku berada di dapur, mereka sedang minum teh. Aku duduk di meja dan setelah beberapa saat, aku mengatakan kepada kakek-nenek tentang apa yang kulihat. Mereka tidak benar-benar memperhatikanku, sampai aku menyebutkan bahwa ia memiliki suara khas, "Po... po... po... po... po... po... po..."Begitu aku mengatakan bahwa wanita tinggi itu bersuara aneh, keduanya tiba-tiba diam. Mata nenek melebar dan dia menutup mulutnya dengan tangannya. Wajah Kakek menjadi sangat serius dan ia meraih lenganku."Ini sangat penting," katanya, dengan suara yang serius. "Kamu harus memberitahu kami persis seperti apa dia... Berapa tingginya kira-kira?""Setinggi pagar taman," jawabku, mulai merasa takut.Aku dibombardir kakek dengan pertanyaan, "Di mana dia berdiri? Ketika kejadian tadi terjadi? Apa yang kamu lakukan? Apakah dia melihatmu?"Aku mencoba untuk menjawab semua pertanyaan itu sebaik mungkin. Tiba-tiba ia bergegas keluar ke lorong dan melakukan phonecall. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku memandang nene dan dia gemetar. Kakek datang menerobos kembali ke dalam ruangan dan berbicara dengan nenek."Aku harus pergi keluar untuk sementara waktu," katanya. "Nenek tinggal di sini.""Apa yang terjadi, Kakek?" teriakku.Dia menatapku dengan ekspresi sedih di matanya dan berkata, "Kau sudah disukai oleh Hachishakusama."Dengan berkata seperti itu, ia bergegas keluar, masuk ke truk dan melaju pergi. Aku berbalik untuk nenekku dan hati-hati bertanya, "Siapa Hachishakusama?""Jangan khawatir," jawabnya dengan suara gemetar. "Kakek akan melakukan sesuatu. Tidak perlu khawatir."Ketika kami duduk gelisah di dapur menunggu kakek datang kembali, dia menjelaskan apa yang terjadi. Dia mengatakan kepadaku ada hal yang berbahaya yang menghantui daerah kami. Mereka menyebutnya Hachishakusama karena tingginya. Dalam bahasa Jepang, "Hachishakusama" berarti "Delapan Kaki". Terakhir kali ia muncul adalah 15 tahun yang lalu. Nenek mengatakan bahwa siapa pun yang melihat Hachishakusama (Delapan Kaki) ditakdirkan untuk mati dalam beberapa hari.Semuanya terdengar begitu gila, aku tidak yakin apa yang harus kupercaya. Ketika Kakek kembali, ada seorang wanita tua yang datang bersamanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagaiK-san dan menyerahkan sepotong kusut perkamenkecil (sejenis jimat), mengatakan, "Ini, ambil ini dan tahan."Lalu, ia dan kakek pergi ke lantai atas untuk melakukan sesuatu. Aku ditinggalkan sendirian di dapur dengan nenek lagi. Aku harus pergi ke toilet. Nenek mengikutiku ke kamar mandi dan tidak akan membiarkanku menutup pintu. Aku mulai mendapatiku benar-benar takut dengan semua ini.Setelah beberapa saat, kakek dan K-san membawaku ke atas, ke dalam kamar. Jendela ditutup dengan surat kabar dan banyak rune kuno telah ditulis. Ada mangkuk kecil garam di keempat sudut ruangan dan tokoh Buddha kecil yang ditempatkan di tengah ruang di atas kotak kayu. Ada juga ember biru cerah."Ember ini untuk apa?" aku bertanya."Itu untuk kencing dan buangkotoran," jawab Kakek.K-san menyuruhku duduk di tempat tidur dan berkata, "Matahari akan segera terbenam, sehingga kau harus mendengarkan dengan seksama. Kau harus tinggal di ruangan ini sampai besok pagi. Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun sampai jam 7 besok pagi. Nenek dan kakekmu tidak akan berbicara denganmu atau menghubungimu sampai saat itu. Ingat, tidak meninggalkan ruang untuk alasan apa pun sampai saat 7 besok pagi. Aky akan memberitahu orang tuamu tentang apa yang sedang terjadi."Dia berbicara dengan nada serius, yang bisa kulakukan hanya diam mengangguk."Kau harus mengikuti instruksi K-san," kata Kakek. "Dan jika terjadi sesuatu, berdoa kepada Buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi nanti."Mereka berjalan ke lorong dan setelah mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, aku menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menonton, tapi aku begitu gugup, aku merasa mual. Nenek telah meninggalkan beberapa makanan ringan dan nasi untukku, tapi aku tidak bisa makan. Aku merasa seperti berada di penjara dan aku mrasa sangat tertekan dan takut. Aku berbaring di tempat tidur dan menunggu, kemudian aku tertidur.Ketika aku terbangun, itu adalah pkul 1 pagi. Tiba-tiba, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang mengetuk jendela."Tap, tap, tap, tap, tap..."Aku merasakan darah mengalir dari wajah dan jantungku berdetak kencang. Aku berusaha keras untuk menenangkan diri, mengatakan pada diri sendiri itu hanya angin bermain trik atau mungkin cabang-cabang pohon. Aku keraskan volume pada TV untuk meredam kebisingan tersebut. Tapi suara itu tetap tudak berhenti sama sekali. Saat itulah aku mendengar kakek memanggilku."Apakah Kamu baik-baik saja di sana?" tanyanya. "Jika kau takut, kau tidak harus tinggal di sana sendirian. Kakek bisa datang dan menemanimu."Aku tersenyum dan bergegas untuk membuka pintu, tapi kemudian, aku berhenti. Seluruh tubuhku merinding. Kedengarannya seperti suara kakek, tapi entah bagaimana, itu berbeda. Aku tidak tahu apakah itu benar-benar kakek."Apa yang kau lakukan?" tanya kakek." Kau dapat membuka pintu sekarang."Aku melirik ke kiri dan tulang belakangku terasa sangat dingin . Garam dalam mangkuk perlahan berubah hitam. Aku mundur dari pintu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku jatuh berlutut di depan patung Buddha dan mencengkeram bagian perkamen erat di tanganku. Aku mulai putus asa, berdoa meminta bantuan."Tolong selamatkan aku dari Hachishakusama," aku meratap.Kemudian, aku mendengar suara di luar pintu, "Po... po... po... po... po... po... po..."Suara pada jendela mulai lagi. Untuk mengatasi rasa takut dengan berjongkok di depan patung Buddha, setengah menangis setengah berdoa untuk sisa malam. Aku merasa ini seperti tidak akan pernah berakhir, tapi akhirnya pagi juga. Garam di semua keempat mangkuk itu berubah menjadi gelap gulita. Aku melihat jam. Sudah pukul 7:30. Aku hati-hati membuka pintu. Nenek dan K-san berdiri di luar menungguku. Ketika dia melihat wajahku, Nenek menangis."Aku sangat senang kau masih hidup," katanya.Aku turun dan terkejut melihat ayah dan ibuku duduk di dapur.Kakek datang dan berkata, "Cepat! Kita harus pergi."Kami pergi ke pintu depan dan ada van hitam besar menunggu di jalan masuk. Beberapa orang dari desa itu berdiri di sekitar van itu, menunjuk ke arahku dan berbisik, "Itu anaknya."Van tersub bermuatan sembilan orang dan mereka menempatkanku di tengah, dikelilingi oleh delapan orang. K-san berada di kursi pengemudi.Pria di sebelah kiriku, menatapku dan berkata, "Aku tahu kau mungkin khawatir, tapi tutup matamu. Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan membuka matamu sampai kami katakan kau aman di sini."Mobil kakek melaju di depan dan mobil ayahku mengikuti di belakang. Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Kami cukup lambat... sekitar 20 km/jam atau mungkin kurang.Setelah beberapa saat, K-san mengatakan, "Ini adalah saat di mana itu akan sulit," dan mulai menggumamkan doa di bawah napas. Saat itulah aku mendengar suara itu."Po... po... po... po... po... po... po..."Aku mencengkeram perkamen yang telah diberikan K-san padaku, kupegang erat di tangan. Aku terus menunduk, tapi tanpa sengaja aku mengintip ke luar. Aku melihat sosok gaun putih berkibar oleh angin. Dan bergerak bersama dengan van. Itu adalah Hachishakusama (Delapan Kaki). Dia berada di luar jendela, tapi ia menjaga kecepatan agar sama dengan kami. Lalu, tiba-tiba ia membungkuk dan mengintip ke dalam van."Tidak!" Aku terkejut.Pria sampingku berteriak, "TUTUP MATAMU!"Aku segera menutup mata sekeras mungkin dan memperketat cengkeraman pada sepotong perkamen. Kemudian teror dimulai."Tap, tap, tap, tap, tap..."Suara menjadi lebih keras. "Po... po... po... po... po... po... po..."Ada yang mengetuk jendela di sekitar mobil kami. Semua orang di dalam van yang terkejut dan gelisah, gugup bergumam kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa melihat Hachishakusama (Delapan Kaki) dan mereka tidak bisa mendengar suaranya, tapi mereka bisa mendengarnya mengetuk jendela. K-san mulai berdoa lebih keras dan lebih keras sampai ia hampir berteriak. Ketegangan dalam van itu tak tertahankan. Setelah beberapa saa teror berhenti dan suara menghilang.K-san kembali menatap kami dan berkata, "Kupikir kita aman sekarang."Semua orang di sekitarku menarik napas lega. Van menepi ke sisi jalan dan orang-orang keluar. Mereka memindahkanku ke mobil ayah. Ibuku memelukku erat dan air mata mengalir di pipinya. Kakek dan ayahku membungkuk kepada orang-orang dan mereka melanjutkan perjalanan mereka. K-san datang ke jendela dan memintaku untuk menunjukkan potongan perkamen yang telah ia memberikan padaku. Ketika aku membuka tangan, aku melihat bahwa jimat sudah benar-benar hitam."KUpikir kau akan baik-baik saja sekarang," katanya. "Tapi hanya untuk memastikan, pegang ini untuk sementara waktu."Dia menyerahkan sepotong perkamen baru. Setelah itu, kami melaju langsung ke bandara dan kakek dapat melihat kami telah aman di pesawat. Ketika kami berangkat, orang tuaku menarik napas lega. Sebelumnya. Tahun lalu, anaj temannya juga telah disukai oleh Hachishakusama (Delapan Kaki). Anak itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.Ayahku mengatakan ada orang lain yang telah disukai oleh dia dan hidup untuk menceritakan tentang hal itu. Mereka semua harus meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke tanah air mereka. Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka mengatakan itu karena anak-anak tergantung pada orang tua mereka dan anggota keluarga. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk ditipu apalagi ketika dia bertindak sebagai kerabat mereka.Ayah mengatakan orang-orang di dalam van adalah kerabat sedarah, dan itulah sebabnya mereka duduk di sekitarku dan kenapa kakek mengemudi di depan dan ayah di belakang. Itu semua dilakukan untuk mencoba dan membingungkan Hachishakusama. Butuh beberapa saat untuk menghubungi kerabat sedarah, jadi itu sebabnya aku harus dikurung di kamar sepanjang malam. Ayah mengatakan kepadku bahwa salah satu patung Jizo kecil (yang dimaksudkan untuk menjagaku supaya dia terjebak) telah rusak dan entah bagaimana dia lolos. Ini membuat saya menggigil. Saya sangat senang ketika kami akhirnya kembali ke rumah.Semua ini terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Aku sudah tidak melihat kakek-nenek sejak saat itu. Aku belum mampu menginjakkan kaki kembali ke sana. Tapi aku selalu berbicara di telepon dengan kakek dan nenek tiap minggu. Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya sebuah urban legend, bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya beberapa lelucon yang rumit. Tapi kadang-kadang, aku tidak begitu yakin.Kakekku meninggal dua tahun lalu. Ketika ia sakit, ia tidak mengizinkanku untuk mengunjungi dia dan dia meninggalkan petunjuk ketat dalam wasiatnya bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya. Itu semua membuatku sangat sedih. Nenekku memberi kabar beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan bahwa dia telah didiagnosa terkena kanker. Dia merindukanku, dia sangat ingin melihatku untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggal.Pada percakapan telepon itu saya bertanya, "Apakah Nenek yakin, Nenek?" Saya bertanya, "Apakah aman?""Sudah 10 tahun," katanya. "Semua yang terjadi sudah sangat lama. Ini semua sudah dilupakan. Kau sudah dewasa sekarang. Saya yakin tidak akan ada masalah. ""Tapi... tapi... bagaimana dengan Hachishakusama?" Kataku.Untuk sesaat, ada keheningan di ujung telepon tersebut. Kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi dalam telepon mengatakan, "Po... po... po... po... po... po... po..."
Red Robe
Seorang wanita Jepang sedang berlibur di Amerika dan memutuskan menginap di sebuah hotel murah untuk menghemat uangnya. Saat ia tiba di kamarnya, ia menyadari bahwa ia berada di kamar 66 di lantai ke-6. Secara teknis, kamarnya bernomor 666. Ia bergidik ngeri. Namun ia berpikir, ini semua pasti kebetulan. Ia pun tak terlalu memikirkannya dan pergi mandi.Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar mandinya dan mengenakan jubah mandi putih bertudung yang sudah disiapkan di hotel tersebut bagi tamunya. Ia membuka kamarnya, namun tak ada seorang pun di luar kamarnya. Iapun menutup kembali kamarnya dan berganti pakaian.Kembali terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ia membuka kamarnya dan melihat seorang gadis kecil memakai jubah mandi bertudung yang sama persis seperti yang tadi ia pakai. Hanya warnanya merah."Ada yang bisa saya bantu? Dimana orang tuamu?"Ia melihat bahwa gadis kecil bertudung merah itu tampak habis menangis."Saya terkunci di luar kamar. Anda bisa membantu saya?"Wanita itu memutuskan untuk membawa gadis itu ke resepsionis. Kasihan, pikirnya. Gadis itu tampak kebingungan.Dalam perjalanan ke resepsionis, ia bercakap-cakap dengan gadis itu, "Siapa namamu?"Gadis itu tak menjawab. Mungkin gadis ini sudah diajari oleh orangtuanya untuk tidak bercakap-cakap dengan orang asing, pikir wanita itu.Ia bertanya lagi, "Dimana orang tuamu?""Tidak tahu.""Apa kamarmu di lantai ini juga?"Gadis itu mengangguk. Akhirnya mereka sampai di depan meja resepsionis."Bisa Anda bantu gadis kecil ini? Ia terkunci di luar kamarnya."Resepsionis itu melongok, "Gadis yang mana?""Gadis berjubah merah ini ..."Namun ketika wanita itu menoleh, tak ada seorang pun di sana."Aneh, ia tadi di sini. Katanya ia menginap di lantai 6, sama seperti saya.""Lantai 6?" resepsionis itu tampak heran, "Namun hanya Anda tamu yang menginap di lantai 6.""Tapi tadi ada gadis yang memakai jubah mandi bertudung warna merah ..."Resepsionis itu menghela napas, "Anda sudah bertemu 'dia' rupanya.""Dia siapa?""Dahulu pernah terjadi sebuah tragedi di hotel ini. Kami tak suka membicarakannya, namun karena Anda sudah melihat 'dia', apa boleh buat. Dahulu ada sepasang suami istri menginap di lantai 6 bersama anak perempuannya. Mereka menginap di kamar 66, sama seperti Anda. Namun, mereka berdua bertengkar dan sang suami menembak istrinya. Ia lalu membunuh anaknya sendiri. Saat itu, anak itu memakai jubah mandi putih yang langsung berwarna merah karena terkena darahnya. Tapi pria itu tetap tak puas. Ia mengisi senjatanya dan mulai menembaki semua orang di hotel ini, karyawan, dan para tamunya."Napas wanita itu terasa terhenti karena ketakutan. Namun cerita sang resepsionis ternyata belumlah selesai. Resepsionis itu lalu berbalik dan menunjukkan lubang merah di punggungnya."Lihat, di sini ia menembakku."
Rokurokubi
Rokurokubi adalah salah satu hantu yang dipercaya oleh masyarakat Jepang. Rokurokubi merupakan sosok hantu wanita yang memiliki leher yang sangat panjang. Hantu ini juga digambarkan mengenakan kimono Jepang, dan rambutnya yang terikat sanggul.Cerita hantu Rokurokubi bermula dari mitos yang berkembang pada zaman Edo. Pada saat itu masyarakat Jepang masih berada dalam keadaan yang masih kental dengan tingkat ketradisionalannya, dimana para masyarakatnya belum tersentuh oleh berbagai kebudayaan asing.Seperti halnya yang sudah kita ketahui secara umum bahwa Jepang dulu merupakan bentuk negara yang sangat tertutup terutama dari segi politiknya, karena pada dasarnya mereka sangatlah mementingkan tingkat tradisi dari negaranya tersebut.Hantu Rokurokubi adalah hantu wanita yang memiliki leher yang sangat panjang, hantu ini dipercaya sebagi sosok perempuan cantik yang telah melakukan pelanggaran terhadap aturan yang terdapat dalam agama Budha (agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Jepang, yaitu agama Sitto). Oleh sebab itu lah perempuan tersebut dikutuk oleh Budha hingga pada akhirnya memiliki leher yang amat panjang.Masyarakat Jepang pada dasarnya mempercayai bahwa pada siang hari hantu ini dapat berubah wujud menjadi manusia biasa, sehingga tidak dapat dibedakan dengan masyarakat pada umumnya. Bahkan masyarakat Jepang juga percaya bahwa pada siang hari hantu Rokurokubi ikut berbaur dengan masyarakat lainnya. Ia hidup normal dan melakukan berbagai aktivitas seperti manusia biasa dalam kesehariannya.Namun jika malam datang, hantu Rokurokubi langsung berubah bentuk dengan memanjangkan lehernya, terutama pada waktu tengah malam. Begitulah yang dipercaya oleh masyarakat Jepang.Untuk memanjangkan lehernya tersebut, biasanya hantu Rokurokubi akan keluar dari rumahnya untuk menghindari keluarganya, agar ketika lehernya berubah menjadi panjang hal tersebut tetap tidak diketahui oleh para keluarganya.Menurut masyarakat Jepang, hantu ini juga sangat senang menakut-nakuti orang-orang dengan lehernya yang panjang tersebut. Ia biasanya digambarkan berjalan seorang diri ketika tengah malam. Dan ia sangat senang menakut-nakuti orang yang tengah mabuk dan juga tengah tertidur pulas. Hantu Rokurokubi juga dipercaya memiliki kebiasaan menghisap darah. Hingga pagi menjelang, barulah lehernya kembali secara normal.Seperti yang sudah disebutkan pada bagian atas bahwa hantu Rokurokubi sangat senang untuk mengganggu orang-orang di malam hari. Hantu ini selain dikenal sangat menyeramkan oleh masyarakat Jepang, ia juga dikenal sebagai hantu yang sangat usil. Sebagian orang Jepang mempercayai bahwa hantu Rokurokubi tidaklah jahat, melainkan hanya usil saja karena ia sering menjahili manusia di kala malam hari.Orang Jepang juga percaya bahwa hantu Rokurokubi merupakan satu bentuk siluman yang terkadang lupa dengan jati dirinya sendiri. Oleh sebab itulah dalam penggambaran di atas hantu Rokurokubi disebutkan dapat melakukan aktivitas seperti manusia normal lainnya di malam hari. Bahkan dalam beberapa cerita, juga dikisahkan bahwa hantu Rokurokubi ada yang sampai menikah dengan manusia biasa. Hal ini dikarenakan mereka lupa akan jati diri mereka yang sebenarnya sebagi seorang hantu atau bahkan siluman.Mereka juga terkadang lupa, bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memanjangkan leher mereka, sehingga tampak menyeramkan bagi masyarakat Jepang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat dari kebiasaanya yang usil, masyarakat Jepang percaya bahwa hantu Rokurokubi tidaklah jahat melainkan hanya usil saja. Namun, apabila tingkat keusilan yang dilakukan mereka sudah berlebihan, maka saat itulah mereka dikatakan jahat.Seperti halnya penggambaran di atas yang menyebutkan bahwa terkadang hantu Rokurokubi juga menghisap darah. Oleh karena itu, meskipun hantu Rokurokubi dipercaya tidak jahat, tetapi banyak masyarakat Jepang yang mulai mewaspadai terhadap keadaannya. Karena tindakan usil yang hantu tersebut lakukan juga dapat membahayakan masyarakat Jepang itu sendiri.
Gozu
Menurut legenda urban yang berkembang di Negara Jepang, memang ada sebuah cerita pendek yang dikenal dengan Gozu. Dalam bahasa Jepang Gozu adalah "Cow Head" atau kepala sapi. Konon kabarnya, kisah tersebut berasal dari abad ke-17. Meskipun demikian, cerita asli dari Gozu sendiri sampai saat ini masih tetap menjadi misteri dan belum dapat ditemukan di mana pun. Pasalnya ada kepercayaan siapa yang menceritakan atau bahkan hanya mendengarkan kisah asli Gozu, akan mati.Beberapa tulisan di era tersebut mengungkapkan bahwa Gozu adalah sebuah kisah yang amat mengerikan. Namun tulisan-tulisan tersebut hanya berani menuliskan judulnya saja dan tidak berani untuk menulis ceritanya secara keseluruhan. Bahkan saking menakutkannya cerita tersebut, beberapa tulisan termasuk salinan yang menceritakan kisah tersebut sudah dibakar habis. Sejumlah salinan yang berhasil diselamatkan dari pemusnahan tersebut dipecah menjadi beberapa bagian, setelah itu disebar ke seluruh penjuru negeri sakura.Menurut rumor yang berkembang, jika kisah ini diceritakan, pada pendengar kisah Gozu akan mendapatkan teror yang sangat luar biasa. Demikian halnya dengan orang yang menceritakan atau membaca kisah-kisah tersebut bisa mati karena takut.Hal ini pada akhirnya membuat cerita Gozu hadir dalam berbagai versi dan mungkin saja tidak ada satu pun yang sama persis dengan kisah asli dari Gozu itu sendiri. Hasilnya munculah misteri Gozu, siapa yang menceritakan dan mendengarkan cerita ini akan mati.Gozu Versi Baik HatiSalah satu versi kisah Gozu menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Oksana. Wanita tersebut pada malam hari didatangi oleh sosok kepala sapi. Kepala sapi yang tidak memiliki tubuh (versi lain menyebutkan kepalanya berbentuk kepala sapi sedangkan tubuhnya manusia) tersebut diduga merupakan jelmaan makhluk halus dan sapi tersebut berusaha untuk masuk ke dalam rumah wanita tersebut. Oksana pun mengijinkan kepala sapi itu masuk ke rumahnya. Kemudian kepala sapi itu meminta Oksana untuk memberinya makan dan juga selimut supaya ia tidak kedinginan. Tanpa rasa takut sedikit pun, Oksana pun kemudian melakukan apa yang diminta oleh kepala sapi itu. Pada pagi harinya, Oksana menyadari bahwa kepala sapi itu sudah menghilang. Namun ia sangat tercengang karena ia mendapati bongkahan berlian dan juga perhiasan. KisahOksana ini sama dengan cerita rakyat dari negara Ukraina. Kisah tersebut berjudul Kepala Sapi. Kisah ini juga menceritakan tentang seorang gadis yang mendapat keberuntungan setelah ia mempersembahkan makanan serta tempat tinggal untuk kepala sapi yang berkunjung di rumahnya pada suatu malam. Tetapi kisah ini tentu tidak mungkin dapat menyebabkan kepanikan atau bahkan ketakutan untuk para pendengarnya.-------Gozu Versi Sakyo KumatsuSelain kisah di atas, salah satu cerita yang paling terkenal tentang Gozu adalah kisah mengenai guru yang sedang berlibur bersama dengan para muridnya. Guru tersebut mempunyai kebiasaan bercerita tentang kisah-kisah yang seram tetapi hanya bertujuan untuk menghibur para muridnya. Salah satu kisah yang diceritakan oleh guru tersebut merupakan legenda tentang Gozu atau kepala sapi. Baru bercerita beberapa baris saja, para murid yang mendengarkan cerita itu sudah merasa sangat ketakutan. Bahkan murid-murid tersebut menutup telinga mereka dan sampai meminta guru tersebut agar berhenti bercerita. Namun entah mengapa guru mereka seolah tidak bisa menghentikannya dan saat itu pula konon guru mereka terlihat dirasuki oleh satu sosok makhluk gaib. Matanya tiba-tiba berubah menjadi putih dan lidahnya yang terus menjulur keluar. Saat si guru tetap membaca cerita tersebut, beberapa murid wajahnya menjadi pucat dan mereka berteriak-teriak. Tidak ada keterangan yang pasti terkait kejadian tersebut, namun menurut sumber saat guru tersebut sadar ia melihat semua muridnya pingsan termasuk supir bus sementara bus yang ia kendarai berada di dasar jurang.
Boneka Okiku
Boneka lucu dan cantik ini ternyata menyimpan kisah mistis. Okiku disebut-sebut sebagai boneka setan yang 'hidup'.Hampir seperti jenglot, boneka ini benar-benar di luar nalar. Seorang peneliti jepang mengungkapkan bahwa dari hasil uji forensik, rambut yang ditumbuhkan boneka ini sama persis dengan rambut pada anak usia 10 tahun.Nama Okiku ini diambil dari nama seorang anak yang sedang bermain dengan boneka dengan ukuran tinggi 40 sentimeter, berpakaian kimono dengan mata hitam seperti manik-manik dan rambut yang lebat. Boneka Okiku telah ada di kuil Mannenji di kota Iwamizawa (Prefektur Hokkaido) sejak tahun 1938.Awalnya boneka ini dibeli tahun 1918 oleh seorang pemuda bernama Eikichi Suzuki di Sapporo, Di sana ia melihat sebuah boneka cantik Jepang dengan Kimono. Boneka ini dibeli Eikichi untuk adiknya yang berumur 2 tahun yang bernama Okiku.Anak ini sangat menyenangi boneka itu dan memainkannya setiap hari. Tapi sayang, Okiku meninggal tak lama setelah itu karena demam. Kemudian pada saat pemakamannya, Keluarga ingin memasukkan boneka ke dalam peti matinya, tapi entah mengapa mereka lupa. Keluarga gadis tersebut kemudian menempatkan boneka itu di altar rumah tangga dan berdoa untuk setiap hari dalam rangka memperingati Okiku.Beberapa waktu kemudian, mereka melihat rambut mulai tumbuh pada boneka milik Okiku. Menurut cerita, ini merupakan roh dari gadis itu yang berlindung di dalam boneka itu. Tahun 1938 keluarga Suzuki pindah ke Shakalin, boneka Okiku akhirnya dititipkan di kuil Mannenji di Hokkaido.Menurut pendeta di kuil itu, boneka tradisional jepang selalu berambut pendek. Dia juga membenarkan kalau rambut boneka Okiku terus memanjang.Walaupun dipotong terus secara berkala, tapi rambutnya tumbuh terus. Menurut kuil, boneka tradisional awalnya memiliki rambut dengan potongan pendek. Tapi seiring waktu terus bertambah panjang sekitar 25 sentimeter, hingga ke lutut boneka. Meskipun rambut boneka ini dipotong secara berkala, namun menurut cerita rambut tersebut tumbuh lagi.Cerita ini telah menginspirasi berbagai macam film-film horor Jepang populer, salah satunya adalah film Haunted School.
The Accident
Aku adalah peramal terkenal di kotaku. Dengan melihat masa depan maupun lampau, aku jadi bisa seterkenal ini, wajahku dipajang dimana-mana. Mulai dari reklame, poster, spanduk, majalah. Sungguh mereka semua percaya pada kemampuanku. Dan Akupun bangga dengan hal itu.--Hari ini, aku dipanggil oleh seorang kerabat yang ingin kuramal. Walaupun rumahnya sangat jauh, tapi aku tak mau menyusahkannya dengan menyuruhnya datang kerumah-ku. Karena aku tahu, ia orang yang sangat sibuk. Jadi, kuputuskan, aku yang datang kerumahnya. Aku tidak mengharapkan imbalan, tetapi lebih kepada ingin membantu.Aku mulai mempersiapkan segala barang yang ingin ku-bawa, dan segera, aku berangkat menuju halte bis. Mobil yang terdiam manis di bagasiku, ku-hiraukan. Aku lebih memilih bis. Mungkin aku melakukan kesalahan besar dengan tidak melihat masa depan...Setelah sampai di halte, aku menunggu kurang lebih 15 menit. Dan... "Pip-pip! " suara klakson bis terdengar lantang mengagetkan lamunanku. Aku segera naik dan tak lupa menyelipkan selembar uang ke kotak. Ku-lihat keadaan bis yang lenggang. Dan aku langsung duduk di kursi paling belakang. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap... Kurasa, aku tertidur."PIIPPP... ! " suara klakson bis membuatku terbangun dari tidurku. Segera ku-buka mataku, dan ternyata bis yang ku-tumpangi ini hilang kendali, ku-dapati semua orang yang ada di bis ini ketakutan, menjerit, dan bahkan menangis. "BRRAKK... !". Bis menabrak sebuah truk pengangkut minyak, lalu meledak. Kurasakan sekujur tubuhku panas, sakit, dan semua terasa sangat nyata."Pak... Pak... Bisa minggir sedikit? ", suara seorang pemuda membangunkan-ku dari tidur. "Oh... Ya... Tentu ", kataku sambil duduk sedikit merapat. Kudapati aman-aman saja keadaan bis ini, walaupun perbedaannya adalah, bis ini terasa lebih sesak dengan bertambahnya penumpang.Tapi setelah kusadari... Mimpi itu... Seperti nyata!. Kurasa ini adalah sebuah pengelihatan yang akan terjadi pada bis ini. Aku yakin, ramalanku tak akan pernah meleset. Aku harus memberitahu yang lain. Tentunya mereka akan percaya.Namun setelah kuceritakan semuanya. Mereka hanya diam, terpaku. Apa mereka takut atau tak peduli?. Tiba-tiba pemuda yang duduk disampingku tadi tertawa sambil berkata "Kupikir kau seorang peramal hebat. Ternyata tak sehebat itu. Dengar ya... Kejadian yang kau katakan tadi sudah terjadi 5 menit sebelum kau bangun tadi... Hah " orang itu tertawa kecil, lalu melanjutkan kata-katanya "dan... Lihat kebelakang... Orang-orang sedang mengevakuasi mayat kita... " katanya dengan senyum bangga
Because, I Love You
Aku punya teman bernama Karin, Ia tinggal di apartemen sebelahku. Sudah lama aku menyukainya karena Ia adalah gadis yang baik dan juga ramah terhadap semua orang termasuk aku. Dia bekerja disebuah perusahaan percetakan koran. Ia bertugas untuk mencari berbagai macam berita untuk dimuat dalam koran. Namun ia sering mengeluh padaku tentang pekerjaanya, dikarenakan Ia sering dimarahi atasannya karena berita yang dimuat itu-itu saja. Sungguh aku ingin sekali membantunya.*****Aku terbangun di pagi hari, ketika matahari menyeruak masuk melalui celah-celah gorden berwarna Biru. Aku langsung memeriksa Handphoneku siapa tahu ada pesan. Mataku terbelalak ketika melihat nama Karin terpampang di layar Handphoneku langsung saja ku buka pesan darinya."Dave, kita bertemu di kafe sebelah taman pagi ini jam 7.30, ada kabar menggembirakan." itu pesan singkat dari Karin untukku. Yah, tentu saja aku akan datang dengan senang hati. Aku penasaran... kira-kira kabar menggembirakan apa... kulirik jam yang berada di meja. "Ah... sudah jam 7. aku harus bergegas!"... langsung saja kuambil handuk yang tergantung manis di belakang pintu dan dengan sigap langsung berlari menuju kamar mandi."Hmm... kira-kira parfum apa yang cocok ya?" pikirku sambil mengangkat beberapa botol parfum, dan akhirnya pilihanku tertuju pada parfum beraroma aigner, ku semprotkan parfum itu keseluruh tubuh"Kurasa tidak terlalu menyengat... " pikirku dalam hati. setelah itu aku langsung mengambil sepatu dari rak, saking sigapnya tumpukan sepatuku berantakan semua hingga membuatku kesal."Siapa peduli dengan tumpukan sepatu usang!" keluhku sambil memasang sepatu di kaki. semoga saja tidak telat.segera saja kuhentikan taksi yang sedang melaju tanpa penumpang itu. lalu membuka pintu belakang dan segera duduk disana sambil menyebutkan tujuanku. Dengan sigap taksi melaju... ku lirik jam tangan yang ternyata sudah menunjukan jam 7.20... aku tidak mau membuat Karin kecewa dengan datang terlambat... dan akhirnya aku sampai di kafeKulihat seorang gadis melambaikan tangan kearahku dengan memasang senyuman di wajahnya.Ya, itu Karin, dengan 2 cangkir kopi hangat di mejanya."Berita bagus apa?" tanyaku padanya sambil mengaduk kopi hangat yang tertera diatas mejaku."Belakangan ini banyak terjadi kasus pembunuhan, itu membuat koranku semakin laris terjual!! aku gembira sekali karena berkat kasus-kasus itu, atasanku memujiku... " kata Karin dengan ekspresi ceria."Benarkah?? baguslah... aku turut gembira mendengarnya. Apa kau berharap agar kasus-kasus seperti itu terus terjadi?" tanyaku padanya."Sebenarnya aku turut prihatin terhadap korban. Tapi, kalau itu membuatku untung kenapa tidak?" jawab Karin seperti tanpa beban."Mau jalan-jalan?" tanyaku"tentu... " jawab Karin sambil menghabiskan secangkir kopi di tangannya, begitu pula denganku. Lalu setelah itu, kami pergi.***Aku berjalan keluar dengan menggunakan jaket tebal untuk menghangatkanku dari dinginnya udara malam ini. Aku tahu, Seharusnya aku tak Keluar rumah di jam segini, mengingat ini sudah lewat tengah malam. Tapi, apa peduliku...Aku langsung menghentikan langkah kakiku di depan sebuah rumah tua yang tak terpakai lagi, mungkin karena keadaannya yang sudah buruk sehingga orang-orang tak mau membelinya. Aku langsung memasukinya.kubuka perlahan-lahan pintunya diiringi suara decit pintu yang memecah keheningan malam."Tolong..!!! jangan bunuh aku..!!!" teriakan dari dalam rumah membuat langkah kakiku semakin cepat memasuki ruangan lebih dalam. hingga akhirnya aku menemukan sebuah pintu usang menuju kamar, kubuka pintu kamar itu, dan kulihat seorang pria dengan keadaan luka parah terikat di dinding kamar."JANGAN MENDEKATT..!!! TOLONGGG..!!! KUMOHONNNN.." teriaknya padaku.Aliran darahku mulai Tak beraturan seiring teriakannya, membuat aku tak tahan untuk mengambil pisau yang terletak diatas meja. Ku dekati pria itu dengan menggenggam pisau di tangan kananku... tangan kiriku mulai menarik kepalanya keatas dengan keras. Dan dengan sigap ku gorok lehernya dengan pisau. Darah merembes keluar melalui celah-celah tenggorokannya. Ku tusuk perutnya berkali-kali dan ku robek perutnya hingga memuntahkan isi perutnya. tidak cukup itu saja, aku langsung memotong pergelangan tangannya yang terikat rantai. sekarang Ia sudah mati... Aku langsung memasukkannya dalam karung dan membawanya ke jalanan. Kuletakan mayatnya di atas tumpukan karung bekas dan langsung pergi meninggalkannya.***"KRIINGGGG...!!" dering Handphoneku membangunkanku di pagi hari... lagi-lagi, nama Karin terpampang di dalamnya... aku segera mengangkatnya."Halo...?" kata Karin."Iya, ada apa?" jawabku."Ada kabar bahagia lagi nih... aku dapat berita mengenai pembunuhan... ""Pembunuhan apa?""Pembunuhan seorang pria, mayatnya ditemukan di atas tumpukan karung dekat rumah kosong... terlebih lagi, mayat itu tewas secara tragis... ini pasti berita yang sangat bagus... ya kan, Dave?""Ohh... Tentu saja... selamat ya!!! kamu harus lebih giat lagi bekerja OK?... ""OK, Dave, dah dulu ya... aku mau lanjut kerja... sampai jumpa... "Karin-pun mematikan teleponnya... Entah kapan ku sampaikan perasaanku ini padanya, yang pasti aku akan terus membuatnya bahagia... pasti.-The End-
Dark Souls
Malam ini cuaca tidak begitu bersahabat. Suara guntur yang terus-menerus bergemuruh diiringi tiupan angin kencang membuat siapapun akan merasa tidak nyaman, terlebih aku. Jadi, kuputuskan untuk memesan segelas kopi hangat untuk menghangatkan diriku dari dinginnya cuaca malam ini."Ini nona... ada yang bisa kami bantu lagi?" kata pelayan kafe."Oh... tidak... terima kasih... " ujar ku sambil memberikan sejumlah uang ke pelayan kafe tersebut. Lalu pelayan kafe itu berlalu...Aku memeriksa isi tas ku dan mengambil sebuah boneka usang dari dalamnya. Ku ingat kejadian tadi sore ketika aku pulang dan menemukan boneka usang ini di bawah pohon, aku memilih untuk membawanya pulang karena kurasa boneka ini tidak terlalu buruk, hanya terdapat beberapa noda merah yang tidak ku ketahui asalnya. Aku menyeruput kopi hangat itu dan menatap boneka itu lagi."Pemilik mu pasti sangat ceroboh dengan meninggalkan mu di bawah pohon itu," kataku sambil membersihkan noda di boneka itu.Aku rasa tidak ada salahnya membawa boneka itu pulang dan membersihkannya... namun aku salah.~~~"Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu... " Teriak seorang gadis yang tidak kuketahui dari mana asalnya.Aku langsung terbangun dari tidur ku dan memeriksa ke sekeliling kamar untuk mencari asal suara itu. Keringat membasuhi tubuhku, detak jantung ku semakin tidak beraturan."Kurasa hanya mimpi... " kataku mencoba menenangkan diri.Aku pun mencoba untuk kembali tidur tanpa menghiraukan mimpi yang mengganggu ku tadi, sembari memeluk boneka tadi yang sebelumnya sudah ku cuci."Good night Teddy," kataku sebelum akhirnya tenggelam dalam tidur ku.~~~"Creekk...Crreeekkk"Aku terbangun di pagi hari dan mendengar suara seperti suara cakaran di dinding kamar ku. Aku lalu bangkit dari tempat tidur dan memeriksa setiap dinding, lalu kutemukan bekas cakaran dalam jumlah banyak di diniding kamar ku."Siapa yang melakukannya?" tanyaku dalam hati sambil meraba permukaan dinding yang terdapat bekas cakaran itu."Kurasa ada seseorang yang menyelinap masuk ke kamar ku tadi... ini tak bisa dibiarkan, aku harus lapor polisi." kataku dalam hati.~~~"Kami sudah memeriksa seluruh rumah Anda, dan tidak ada seorang pun di rumah anda nyonya... mungkin saja kau yang melakukan nya tanpa kau sadari," kata pak polisi kepadaku."Tidak mungkin, saya tidak pernah melakukannya. Saya ingat sekali tadi pagi saya mendengar suara itu dan saya langsung bangun untuk memeriksanya. Jadi tidak mungkin saya yang melakukannya." bantah ku."Tapi, kami sudah mencari disetiap sudut rumah Anda, tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan,""Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?""Pergi ke psikiater,""Tapi, saya tidak gila!""Saya rasa anda harus memeriksanya terlebih dahulu dan jika ada masalah hubungi kami lagi... ,"Polisi itu pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Aku hanya bisa duduk termenung menatap Teddy yang duduk manis di atas lemari, aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Kurasa polisi itu benar, tidak ada salahnya aku mencoba.~~~"Dari hasil test, kau dinyatakan tidak mengalami gangguan apa pun. Hanya saja kau mungkin terlalu lelah, cobalah untuk meluangkan waktumu untuk beristirahat dengan begitu tubuhmu akan merasa lebih baik... ""Ya... baik... aku akan melakukannya... terima kasih...""Tak masalah... " ujarnya sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.Aku pun melangkah keluar dan langsung memanggil taksi yang lewat. Aku segera membuka pintu dan langsung duduk didalamnya sambil menyebutkan tujuan. Taksi pun melaju.~~~Kini... hanya ada kesunyian di rumahku. Hanya aku yang sedang duduk di kursi sambil termenung dan Teddy yang berada di lantai."oh... Teddy, sejak kapan kau terjatuh...??" ujar ku seraya mengangkat Teddy dari lantai Kurasa aku tidak sengaja menjatuhkannya tadi.Aku tidak peduli lagi dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku tadi malam dan juga bekas cakaran yang ada di dinding itu... aku sudah tidak peduli lagi... mungkin benar kata psikiater, aku kurang istirahat. Sebaiknya aku membuat teh dahulu untuk menenangkan pikiran ku.~~~"Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu, ""AAAAA....!!!!..." Aku tersontak kaget dari tidur ku. Kurasakan tubuh yang gemetar dan sudah di penuhi keringat. Kulihat jam menunjukan jam 2 malam. Aku rasa aku bermimpi itu lagi, memang sepertinya ada yang tidak beres."Tik, tik, tik,"Suara tetes air terdengar menggema, tak salah lagi suara itu berasal dari kamar mandi. Kuputuskan untuk memeriksanya.Mataku terbelalak kaget ketika melihat Teddy di lantai kamar mandi dengan sebuah pisau di dekatnya. Dengan perlahan ku dekati Teddy dan langsung mengambilnya... kurasa, ada yang tidak beres dengan boneka ini, aku harus membuangnya!."Nyyiiiittttreteteteetet.."Bunyi decit pintu menambah suasana tegang di rumahku. Tanpa pikir panjang kubuang Teddy, tidak, maksudku boneka terkutuk itu di tempat sampah dan segera ku tutup pintu. Lalu, segera ku pergi ke ruang tamu untuk menenangkan diri."Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu, " Suara seorang gadis kecil mengagetkan ku."Siapa itu..!!! Keluar kau..!!! Apa yang kau inginkan dariku...!!" Teriakku sekeras-kerasnya."Jiwamu... Jiwamu... Jiwamu... Jiwamu... ""Tidakk...!!! hentikan..!!! jangan ganggu aku..!!!" Teriakku diiringi isakan tangis."tokk... tok... tok...". Suara ketukan pintu terdengar lantang... semakin lama semakin keras diiringi suara cakaran,dengan gemetar dan ragu ku langkahkan kaki perlahan menuju pintu. Pintupun terbuka. Dan betapa kagetnya aku ketika melihat sesosok anak kecil yang berlumuran darah sedang menggendong boneka terkutuk itu. Jantungku berdetak sangat cepat, gemetar yang hebat kurasakan disekujur tubuhku, kakiku terlalu lemas untuk melangkah."AAAAAa...!!!!" Aku berlari secepat mungkin menuju kamar walaupun berulang kali terjatuh tapi aku tetap berlari menjauhi gadis itu, karena kupikir itu jalan satu-satunya.Sesampainya di kamar aku terkejut melihat kondisi kamar yang sudah berantakan, banyak noda darah dimana-mana, terdapat banyak coretan yang bertuliskan "I WANT YOUR SOUL" dengan noda darah. Tiba-tiba saja kurasakan nyeri yang sangat hebat di perutku, yang ternyata sudah tertancap pisau, aku langsung berbalik dan terjatuh melihat betapa banyaknya arwah-arwah yang mengelilingi ku dengan kondisi mengenaskan."Jiwamu... jiwamu... jiwamu... ""Tidakkk... Tidakkk...!!!" Teriakku sambil merangkak menjauh, tapi tetap saja itu tidak berhasil. Sambil memegang perut ku yang sudah tertusuk aku pun bangkit dan berusaha kabur. Namun itu hanya sia-sia, mereka terus menghantui ku sampai aku sudah berbaring tak berdaya di toilet dengan tubuh berlumuran darah. Aku menyesal telah mengambil dan merawat boneka itu..."Kumohon jangan dekati aku... " ujarku pelan sebelum akhirnya seorang gadis kecil keluar dari kerumunan arwah-arwah mengerikan itu dan berkata..."Kami hanya mau jiwa... Jiwa yang kelam... Penuh penderitaan. Dan, berikan itu untuk kami!!" Ujarnya sebelum akhirnya menusuk ku sampai mati, dan mengambil jiwaku yang kelam.~~~~~~"Boneka ini bagus... Aku akan bawa pulang ini! " kata seorang gadis kecil sambil mengangkat boneka Teddy Bear yang Ia temui di taman dan berjalan pergi dengan hati gembira.
Keresahan Marji dan Ramih
Andi dan mobil sportnya segera berlalu. Pak Ji atau Marji memandanginya hingga hilang di tikungan jalan yang menukik ke bawah. Sebenarnya tadi Andi sempat juga menawarinya tumpangan pulang, tapi ia menolak, karena berniat untuk menengok Mak Ramih sebentar.Saat Andi benar-benar telah pergi, Marji menoleh ke belakang. Rupanya Mak Ramih sudah beringsut masuk. Rahang wajah Marji mengeras, napasnya tersengal sesaat dan matanya berubah menyala seperti marah. Sambil mengepal tangan, Ia pun melangkah menghampiri rumah Mak Ramih.Langsung saja Ia masuk ke dalam, tampak Mak Ramih duduk di dekat jendela sambil memeluk tongkatnya ke dada. Seketika rasa marah di hati Marji sirna melihat wanita tua itu seolah menyiratkan tatapan sedih. Sepertinya Ia paham sekali Marji, ponakannya yang baik itu akan memarahinya.'Siapa orang itu, Ji?' tanya Mak Ramih.'Cucu Pak Darman ... ' jawab Marji. Seketika Mak Ramih tercekat mendengar jawaban itu, 'Hah...!? Cucu Pak Darman? Anak lelaki yang dulu sering diajaknya ke sini ya?' ulangnya.'Iya! Rupanya Mamak masih ingat dia...'Ramih terdiam sebentar, bayangan masa lalu terpampang jelas di ingatannya ...Tampak seorang bocah lelaki bergayut manja pada sosok Pak Darman, lelaki paruh baya bertubuh gempal, dengan rambut sedikit botak.Kakek dan cucu itu bermain dengan gembira di teras pondok, sementara Ramih muda sepintas melihatnya dari halaman. Ia sibuk menjemur pakaian.Tak lama terdengar suara wanita memanggilnya dari dalam pondok, 'Ramiiiiiih...! Apa cucianmu sudah selesai!? Tolong kau angkat sampah ini keluar!'Ramih muda tersentak, Pak Darman terlihat resah memperhatikannya, 'Dipanggil Ibuk, Ramih!' katanya. Pak Darman memandangnya penuh arti di sela-sela bersantai dengan cucunya.Ramih mengangguk, dan bergegas berjalan ke tangga belakang. Ia agak kagok, malu pada Pak Darman, karena pakaian yang melekat di tubuhnya cukup basah, sehabis mencuci di kali.'Banyak lalat! Tolong bawa keluar sampah ini Ramih, nanti biar Marji yang membuangnya!' seorang wanita paruh baya menghadangnya begitu langka Ramih muda mencapai dapur.Tak lama terlihat Marji muda datang ke sana. Keduanya lalu sibuk mengurus sampah itu.Sampai di situ. Sampai di situ saja pikiran Ramih melanglang buana ke masa lalu, sebab suara Marji tetiba mengagetkannya. 'Kenapa, Mak?''Anak itu. Mau apa dia ke sini?" tanya Ramih kemudian. Penuh selidik.'Mau nginap beberapa hari di pondok sebelah. Dia setres di kota dan ingin menenangkan diri. Makanya Mamak jangan bertingkah. Tidak perlu seperti tadi, memandangnya lama seperti itu tanpa menyapa ... dia bisa ketakutan' tukas Marji. Mak Ramih terdiam mendengar itu. Matanya kembali memandang keluar.'Dia tak akan lama di sini kan?' tanya Ramih seolah mencemaskan sesuatu. Sampai di titik ini, Marji pun tampak ikut cemas.'Berapa lama?' kembali terdengar suara parau Ramih memecah kesunyian. Marji tetap enggan menjawab, namun kemudian lirih berkata, 'Itu juga yang aku cemaskan, Mak! Tapi katanya tak akan lama, sampai Ia merasa lebih baik saja.'Ramih menarik napas berat. Tatapannya kembali beralih ke luar jendela. Karena paham dengan apa yang dipikirkan bibiknya itu, maka Marji pun berkata pelan, 'Apakah iblis itu akan segera datang, Mak...?' nada suara Marji terasa sekali mengandung ketakutan.Ramih tak menjawab. Tetiba angin berhembus kuat dari jendela, ujung rambut putih Ramih bergerak ritmis sejenak mengikuti liukan angin itu. Dan di halaman, dedaunan kering jatuh menggelepar ke tanah.Fragmen singkat itu seolah menghadirkan suasana mencekam. Tampak kedua tangan keriput Ramih mengcengkeram tongkat kayu di dadanya. Sorot matanya kosong, ada kehampaan di sana.'Mak...!?' tegur Marji penasaran.'Aku tak tahu, Marji...' akhirnya kembali dengan kesadaran penuh, Ramih menjawabnya. 'Aku semakin tua dan tak mampu mengingat lagi semua hal, termasuk 'berhitung'' ...' lanjutnya.'Tapi Mamak harus tetap berusaha mengingat dan menghitung hal itu dengan baik! Jika tidak, ...' suara Pak Ji lantas hilang. Lidahnya kelu. Kedua matanya terlihat nanar.'Rasanya belum, Ji.' sahut Ramih kemudian. 'Asalkan anak muda itu tak tinggal lama, aku pikir aman saja! Atau kau punya ide lain, untuk membawa kami menyingkir sebentar, selama anak muda itu di sini?''Kalian mau kubawa ke mana, Mak? Ke tengah hutan untuk diterkam singa!?' keluh Marji. Mak Ramih terkejut mendengar itu.Marji menghempaskan pantatnyadi sudut ruangan, lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar pandan. Matanya dipejamkan, rasanya Ia ingin tidur sejenak. Pikirannya kalut sekali.'Bagaimana baiknya ya, Mak!? Jika kalian kubawa ke rumahku, istri dan anak-anakku ketakutan pada kalian. Lagi pula, jika ada warga yang melihat kalian kusembunyikan di rumahku, kami bisa diusir! Sedang jika kalian kutaruh di atas bukit ini, masih ada juga warga yang tak setuju...' kata Marji kemudian. 'Aku bingung, Mak! Pusing!'Maafkan kami, Marji. Kami telah membuat hidupmu susah. Terutama aku ...,' air mata Ramih merembes sedikit dari mata tuanya. Terutama aku ...! Akulah penyebab semua ini.''Aku si pendosa! aku mencelakai semua anak cucuku! Hiks, ya Tuhan, mengapa tidak Kau ambil saja nyawaku ini...!?' sesal Ramih sambil menangis. Sangat emosional, hingga dada Marji terasa ikut sesak juga.'Sudahlah, Mak! Yang penting Mamak hitung lagi dengan baik penanggalan itu. Jangan sampai gegabah!''Ya, aku akan mengerahkan ingatanku dengan baik. Aku akan mengingat dan menghitungnya lagi, ' tekad Ramih setelah menyeka air matanya.Marji menarik napas lega. 'Baiklah, Mak! Ini sudah sore, istriku pasti mencariku. Aku pulang dulu ya...,' katanya. Ia lalu bangkit dan bergegas.'Oh, iya...! Rampe di mana, Mak?' tanyanya sebelum pergi.'Di kamar ...' jawab Ramih. 'Tolong kau lepas rantainya, mungkin setannya sudah pergi. Tentu raganya sangat lemah. Aku enggan melepasnya tadi karena Ia masih terus berteriak. Tolong, periksalah Marji!' tambah wanita tua itu.Seketika Marji teringat sesuatu, oh iya tadi malam bulan bersinar penuh. Ia lupa menengok mereka. Setiap sehari sebelum purnama, Rampe harus diikat dengan rantai besi.Marji lalu melangkah ke sebuah bilik kecil. Di dalamnya tampak seorang gadis muda, dengan kaki dan tangan terikat rantai besi. Rambut panjangnya kotor dan berantakan, matanya menatap marah pada Marji, pamannya. Terdengar suaranya menggeram seperti suara harimau. Marji balas memandangnya.Lelaki tua itu lalu mendekat dan menjambak rambut sang gadis, 'Pergi kau, Iblis! Tubuh ini sudah terlalu lemah kau tumpangi sejak semalam!' ' hardiknya. Bibirnya lalu komat-kamit merapal sesuatu. Mungkin doa atau mantra.Yang terjadi kemudian, gadis itu meronta, seperti binatang liar yang terjebak perangkap, lalu jatuh terkulai. Marji menarik napas lega. Sekarang gadis itu sudah tenang. Langsung saja Marji menggugahnya, 'Rampe ... bangun, sayang! Ini ada paman. Bangun, nak! Bangun ....!' pintanya.Surampe membuka matanya. Sesaat Ia terkesiap, menyadari dirinya kembali ke keadaan normal. Wajah gadis itu sangat bening, matanya indah membulat seperti purnama.'Iblisnya sudah pergi..., pulanglah Marji! Biarlah aku yang memberinya makan!' Mendadak Ramih sudah berdiri di pintu kamar sambil memegang sepiring makanan. Marji membalikkan badannya lalu pergi.
Pondok Yang Tak Terawat
Perjalanan tertatih-tatih ditempuh mobil sport Andi dengan kokohnya. Kini keempat bannya telah berwarna coklat keseluruhan. Andi dan danPak Ji sedikit terguncang-guncang di dalamnya. Ya, jalan non aspal berlumpur sehabis hujan. becek parah! Sejurus kemudian terlihat ada perkampungan di sisi jalan.'Nah! Itu rumah saya, terlihat atapnya dari sini!' seru Pak Ji. 'Jika sudi, anak boleh mampir atau menginap,' lanjutnya.'Ya, nanti saya coba ke sana, sekaligus mengantar bapak pulang!' Kata Andi.Diam-diam Andi merasa menyukai keadaan desa tersebut. Rapi, asri dan bersih. 'Damai sekali ya rasanya?' Komentar Andi. Tapi Ia merasa heran, mengapa tak banyak warga sekitar yang tampak lalu lalang di sana.'Ini siang hari, nak! Banyak warga yang kelelahan dari kebun. Mereka sedang istirahat. Sore, baru agak ramai. Tapi jumlah warga di sini memang semakin sedikit, banyak yang pindah ke kota sekarang. Mungkin hanya ada tiga puluh keluarga saja yang menetap di sini, itu pun sudah pada tua seperti saya' jelas Pak Ji.'Jadi tak ada gadis cantik yang bisa dirayu di sini, Pak?' Canda Andi.Pak Ji tak membalas candaan Andi dan malah tertawa terbahak-bahak. Sekarang dia paham bahwa Andi adalah seorang anak muda yang ramah dan cukup humoris. Dia menyukainya.'Belok kiri...! Nah ... itu pondoknya!' Tunjuk Pak Ji. Ya salaaam, akhirnya mereka sampai juga.Andi memarkir mobilnya di dekat rimbunan pohon bambu. Sambil memutar kemudi mobil, matanya lekat mengamati pondok kecil diarea itu. Ingatannya mendadak kembali ke masa lalu.Dulu Ia dan kakeknya pernahduduk bersama di terasnya. Adajuga neneknya yang wara-wiri mengantar camilan.PRAK! Ditutupnya pintu mobil, lalu berjalan ke arah pondok. Pak Ji sudah lebih dulu di sana, menyingkirkan dedaunan kering di tangga.Amazing! Andi takjub memandang pondok mungil itu. Ini pertama kalinya Ia ke sini lagi setelah umurnya dewasa.'Benar kata Mama, kayunya kuat sekali!' puji Andi. Pak Ji tersenyum kecil menanggapinya.Semakin dekat, Andi menginjak tanjakan tangga lalu menjejak kakidi teras. Pak Ji masih saja sibuk menyingkirkan daun-daun kering yang diterbangkan angin ke teras.Andi mengeluarkan kunci darisaku celananya, lalu membukapintu rumah. Ketika melangkah masuk, seketika serangkaian jaring laba-laba mencaplok wajahnya.'ADUH...! Kaget saya!' Keluhnyasambil menyingkirkan jejaring itu. Pemandangan debu bagaikan di area padang pasir pun tergelar di depannya. Spontan Ia mencari masker di saku kemeja dan lalu memasangnya.' Hasyi! Rumah ini sungguh kotor!' Andi sampai bersin dibuatnya. Ia bersungut-sungut karena sebenarnya Ia punya alergi berat terhadap debu.Anak muda itu lalu kembali ke teras.'Tolong bapak bersihkan, ya nanti!' katanya pada Pak Ji.'Saya mau kembali ke kota sebentar, mengambil beberapa perlengkapan yang tak ada di sini. Saya tertarik menginap di sini beberapa hari.'ujar Andi.Pak Ji terbelalak memandangnya. Andi bisa menangkap keresahannya, 'Loh..., kenapa!? Kenapa Pak Ji seperti tak suka, saya nginap...!?' sergapnya.'Ah, tidak apa-apa, nak!' Saya hanya kaget, karena saya pikir tadi anak sekedar datang saja' jelas Pak Ji.'Awalnya memang begitu, tapi saya melihat tempat ini cocok buat saya untuk menyepi sementara waktu. Hhhh , saya sedang punya masalahdi kota, Pak. Ada seseorang yang harus saya hindari' keluh Andi.'Sampai kapan?' tanya Pak Ji.'Ya, secukupnya!' jawab Andi.Lagi-lagi Ia merasakan gelagat anehdari Pak Ji. Walau tak kentara, namun sangat terasa lelaki tua itu keberatan jika Ia tinggal lama di pondok itu.'Tapi di sini tak ada listrik, nak! Di bawah ada..., maksud saya, di desa. Tapi kita harus merentangkan kabel yang panjang untuk menyambung aliran listrik ke sini.' lapornya.'Tapi air ada kan, untuk mandi?'Andi dan Pak Ji lalu berjalan ke halaman belakang. Di sana tampak toilet dan sebuah sumur.'Nah, ini ada airnya. Selama saya pergi, tolong bapak beresin semuaini. Bersihkan!' Perintahnya sambil mengeluarkan uang di dompetnya.'Ini ada uang, silakan bapak ambil semua, saya mau pondok ini sudah bersih saat saya ke sini lagi, minggu depan!' kata Andi. 'Mengenai kabel tadi, nanti kita bicarakan lagi.'Pak Ji tampak menyimak denganbaik semua yang dikatakan Andi. Mereka berbincang serius selama beberapa menit, sebelum bergegas meninggalkan pondok itu.'Bapak punya nomor telepon yang bisa saya hubungi?' tanya Andi.Pak Ji menggeleng, 'Saya tak paham pakai begituan, nak!' jawabnya. Andi pun mengerti. Memang biasanya orang-orang tua di kampung tidak paham dengan teknologi.'Ini kunci pintu saya tinggal, jangan lupa toilet dan semua ruangan di sini dibersihkan ya, Pak! Sumur tadi juga tolong dikuras!' pesan Andi. Ia masih ingin melanjutkan ucapannya, tapi tercekat saat melihat ternyata ada sebuah pondok lain yang berdiri tak jauh dari pondok warisan kakeknya.Ya, terlihat di sana berdiri sebuah rumah panggung kecil, mirip punya kakeknya, sekitar beberapa metersaja di depannya. Letaknya agak serong ke kiri. Seingatnya dulutak ada rumah lain di situ.Yang lebih mengagetkan lagi, ada seorang wanita tua, bungkuk dan bertopang tongkat, sedang beku memandangnya dari tadi, di depan rumah sederhana tersebut.Andi bergidik menyadarinya. Bulu kuduknya berdiri. Sementara Pak Ji agak gelagapan di sampingnya. Sebenarnya itu yang memberatkan pikirannya dari tadi.'Siapa orang itu, Pak Ji?' tanya Andi pelan. Sementara wanita itu masih beku memandangnya.'Masuk, Mak! Di dalam saja!' teriakPak Ji tiba-tiba. Ia mengabaikan pertanyaan Andi, dan malah berteriak pada wanita itu.Wanita tua itu bereaksi dingin saja,Ia tetap memandang ke arah mereka dengan beku. Wush! Angin tiba-tiba berhembus di tempat itu dan rambut putih si wanita tua pun bergoyang.Andi takjub memandangnya, walau kali ini Ia tak begitu merasakan keanehan lagi, terlebih setelah mendengar penjelasan Pak Ji.'Maaf, nak! Jangan kaget! Itu saudara Ibu saya. Dia menumpang tinggal di tanah ini. Maaf sebelumnya jika saya lancang membuatkan mereka rumah di lokasi ini, tanpa minta ijin dulu... Saya bingung, harus mencari alamat Pak Darman di mana.' terang Pak Ji.'Mereka tak punya siapa-siapa lagi selain saya. Dan rasanya saya taktega menelantarkannya' lanjutnya.'Sebentar!' tahan Andy. 'Pak Ji tadi bilang 'mereka', ada berapa orang yang tinggal di situ memangnya?''Cuma dua, nak. Ada seorang gadismuda juga di dalam rumah ... ''Gadis?' desis Andi. Hatinya sedikit berbunga mendengarnya. Wauw , di daerah sepi, di atas bukit yang tidak berpenghuni seperti ini ada seorang gadis...? Seperti apakah sosoknya? Ia merasa penasaran ingin melihatnya.'Iya, cucu bibi saya itu. Tapi kalau anak keberatan, saya segera akan memindahkan mereka berdua ke tempat lain. Minggu depan, kalauanak ke sini lagi, rumah merekapasti sudah saya pindahkan lebih jauh ke dalam hutan.''Tidak perlu!' tahan Andi. 'Asalkan mereka tak berisik, tak mengapa. Hanya ada dua orang kan?'Pak Ji mengangguk.'Saya malah senang, jika punyateman di sini.' kata Andi.Meski begitu, Pak Ji tampak tetap resah memandangnya. 'Maaf ya, nak! Saya sengaja menaruh mereka di sini agar saya mudah mengunjunginya setiap waktu. Membawakan mereka bahan makanan atau apapun dari bawah!' paparnya.'Iya tak apa-apa! Saya juga kan tak tinggal selamanya di sini. Bapak jangan repot-repot membongkar rumah mereka. Biarkan saja! Kasihan ... ' putus Andi.'Baiklah, sudah sore. Saya pamitdulu, Pak! Sampai bertemu lagi!''Iya, sama-sama! Hati-hati di jalanya, nak!' Balas Pak Ji.'Terima kasih, mari!' pungkas Andi.Ia beserta mobilnya segera berlalu dari tempat itu. Tersisa Pak Ji yang tampak shock dan kebingungan.Apa gerangan yang dipikirkannya?
Perjalanan Menuju Ke Bukit
'Sialan!' maki Andi.Wajahnya tampak berkeringat.Cuaca begitu panas, dan ia masih sibuk memperbaiki ban mobilnya yang tiba-tiba meletus di jalan. Beruntung mobilnya itu rusak di jalan perkampungan, jadi tak ada kendaraan yang harus lewat.Sesaat kemudian, ban mobil itu telah berhasil digantinya. Ia menarik napas lega, meski kemeja kotak-kotak birunya tampak basah oleh keringat. Gluk ... gluk ... gluk...! Ia lalu kalap meneguk sebotol air mineral, yang diambil dari dalam mobilnya. Seketika hausnya hilang.Andi lalu menatap liku jalan kecil menuju ke atas bukit kecil di depannya. Tak terlihat jauh lagi. Alisnya berkerut dan terlihat raut optimis di wajahnya. Bukit kecil itu memang menjadi sasarannya, spot yang akan Ia tuju.Andi memutuskan untuk duduk, berteduh sebentar di bawah pohon rindang di tepi jalan. Dibakarnya sebatang rokok sambil melihat oret-oretan di kertas kecil. Coretan tangan pak Samaun, mantan supir keluarganya.'Ya, sudah benar ... sepertinya! Jalur yang ku tuju sudah tepat' gumam Andi sendiri. Oret-oretan itu kemudian diremas lalu dihempasnya. Glek! Sekali lagi Ia meneguk air mineral favoritnya.Tak lama Ia mulai beranjak ke dalam mobilnya kembali. Ia sedikit bergidik melihat lumpur menempel di keempat ban mobilnya. Biasalah! Jalanan becek di perkampungan.Dari jalan besar tadi, Andi telah menempuh kira-kira sepuluh kilometer masuk melewati jalan yang tak beraspal ini.Baru saja Andi ingin masuk ke mobil, tiba-tiba Ia kaget melihat ada seorang petani lewat di dekatnya. Lelaki kurus menenteng cangkul.'Pak ..., bapak ...! Maaf, saya mengganggu sebentar,' teriak Andi spontan. Ia bergegas menghampiri lelaki itu. Hatinya sangat senang, memang sedari tadi Ia berharap bisa bertemu seseorang di sekitar tempat itu, untuk memastikan apakah Ia sudah berada di tempat yang benar.'Mohon maaf, saya ingin tahu ... apakah benar desa ini, desa Raga?' tanya Andi.Lelaki tua itu menyimak dengan tenang lalu menjawab, 'Iya, benar! Anak mau ke mana?' Ia balik bertanya.Andi tersenyum, bahagia sekali. 'Memang saya mau ke sini, Pak!' jawabnya pendek.Lelaki tua itu terkejut. Matanya lalu memandangi sosok Andi, dari kepala sampai kaki. Ah, tidak! Pikirnya, anak muda di depannya tampak sangat perlente untuk mencari sesuatu di desanya. Terlebih saat Ia melihat mobil sport hitam Andi yang terparkir gagah di tengah jalan.'Anak mau cari apa di sini?' tanya si lelaki, lugu. Raut wajah Andi betul-betul bersemangat, 'Saya mau ke bukit kecil itu, Pak! Menurut orang yang memberi saya informasi, bukit kecil yang saya tuju, berada persis di dekat desa Raga ini. Nah, kurasa itu bukitnya!' jawab Andi percaya diri.Lelaki itu lekat memandangnya, seperti keheranan. Sekali lagi matanya menyelidiki sosok Andi dari atas sampai ke bawah.'Tapi kok, saya melihat dari tadi tak ada orang ramai di sini ya, Pak? Mengapa tak ada rumah warga di sini?' tanya Andi sejurus kemudian.'Rumah warga ada di sana, tepat di bawah kaki bukit itu. Sekitar sini, memang area ladang dan jalan masuk saja dari kota.' jelas si lelaki tua.'Oh...begitu!' balas Andi. 'Jadi, Bapak mau pulang sekarang? Bagaimana jika Bapak ikut di mobil saya?' tawar Andi. Si lelaki terkejut.'Ah, tidak! Jangan, jangan! Saya tak biasa naik mobil seperti itu. Lagi pula, saya masih harus menengok kolam ikan saya di sana.' tolaknya halus.'Baiklah! Tapi bolehkah kita kenalan dulu. Nama Saya Andi, Pak! Dan saya adalah cucu Pak Darman, mungkin Bapak tahu?' Andi mengulurkan tangan. Wajah lelaki tua itu mendadak cerah.'Oh...!' responnya singkat.'Bapak kenal sama kakek saya? Dia sudah meninggal, Pak! Dan sekarang saya kemari, hendak melihat rumah bekas peristirahatan beliau, jaman dulu ... kala sedang jemu di kota!'Lelaki tua itu menyambut tangan Andi. Dan Karena cuaca begitu panas, si petani mengajak Andi beringsut ke bawah pohon.Wajahnya tampak terkesan sekali, dan untuk ketiga kalinya, Ia mengamati lagi sosok Andi, dari kepala sampai kaki. Namun kali ini, Ia lebih fokus mengamati wajahnya.'Serius, anak ini cucunya Pak Darman? Iya, saya tahu, saya dulu sering diajak kerja sama beliau. Seluruh warga kampung ini dulu tahu siapa dia, kecuali yang baru lahir belakangan, karena itu sudah lama sekali' ingatan si lelaki menerawang jauh ke masa lalu.'Benar, Pak! Kalau bapak ingat lagi, kadang kakek membawa saya ke sini juga, menginap seminggu jika libur sekolah!' Jelas Andi lagi.'Oh, Iya betul! Jadi kamu anak lelaki itu!? Ada perempuan juga ya?''Nah itu Siwi, kakak perempuan saya!' seru Andi.'Ah, ya...ya...ya! Sudah lama sekali. Waktu itu saya masih bujangan. Pak Darman sering meminta saya membantunya, apa saja!' Kenang si lelaki. Wajahnya tampak tenang sekarang.'Saya ingin menengok pondok kakek saya itu, Pak! Kata ibu Saya, kayunya kayu ulin, jadi pasti belum hancur. Mungkin hanya perlu diperbaiki sedikit bagian-bagian tertentunya. Apa bapak bisa membantu saya?' tanya Andi sambil mulai membakar sebatang rokok lagi.Yang ditanya malah tertegun. Seolah ada sesuatu yang meresahkannya.'Pak...!?' tegur Andi.'Ya, ya, maaf! Saya sedikit melamun tadi!' balas si lelaki tua.'Apa yang dilamunkan? Hehe... ' seloroh Andi. 'Ngomong-ngomong, Saya belum tahu nama bapak dari tadi?''Marji...! Nama saya Marji, biasa dipanggil Pak Ji saja' balas si lelaki.'Bapak mau rokok? Ambil saja semuanya, satu kotak ini! Di mobil masih banyak, kalau mau' kata Andi.'Ah, tidak ... tidak! Saya sudah berhenti merokok.' balas Pak Ji.Andi lekat memandangnya, lalu berkata, 'Karena kita sudah kenalan, berarti saya boleh dong berharap Pak Ji mau menemani Saya ke rumah itu. Sebentar saja, kita naik mobil. Mana tahu, ada yang harus diperbaiki. Mau ya, Pak? Tenang saja! Upahnya sudah saya siapkan kok!'Pak Ji tampak senang, meski wajahnya terlihat tegang.'Tentunya mau! Tapi saya mau tanya dulu, apakah Tuan akan tinggal di sini, atau hanya berkunjung?''Mentang-mentang saya ini cucu Pak Darman, jangan dipanggil 'Tuan' juga, Pak! Panggil Andi saja! Bersikaplah yang sama seperti tadi. Hahaha...' protes Andi seraya tertawa.'Aktivitas saya semuanya ada di kota, jadi tentu saya hanya berkunjung di sini! Bukan mau tinggal. Refreshing saja!' lanjut Andi.Seketika wajah Pak Ji berkerjap-kerjap bagai cahaya bintang. 'Tentu, saya mau membantu. Kita bisa berangkat sekarang!?' ajaknya.Andi mematikan puntung rokoknya. Puntung yang masih menyala itu ia lempar ke tanah, lalu diinjaknya dengan sepatu hingga apinya benar-benar mati.'Nah, gitu dong!' sambutnya.Keduanya lalu menuju mobil.Mesin pun dinyalakan, Andi mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dia merasa lega Pak Ji mau membantunya, walau diam-diam dia merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa lelaki tua ini seolah enggan jika Ia tinggal lama di pondok itu?'Hm, ada apa ya? Something strange....' pikirnya.
Pulau Hashima Yang Tak Berpenghuni
Jepang tak hanya terkenal dengan hutan misterius Aokigaharanya saja, tetapi juga punya satu pulau bersejarah yakni Pulau Hashima. Pulau Hashima bisa dikatakan menjadi salah satu Pulau mati yang terkenal di Jepang karena berbagai kisah misteri di dalamnya. Pulau ini merupakan pulau tak berpenghuni yang berada di lepas pantai di Jepang.Dahulu, pulau ini dihuni oleh puluhan ribu orang yang mayoritasnya adalah kaum pria, para pekerja batu bara. Sekitar satu abad lamanya sejak tahun 1887 hingga 1974 pulau ini dihuni. Selain dihuni sekitar ribuan pekerja tambang batu bara, dulunya Hashima juga menjadi salah satu pulau dengan jumlah penduduk cukup padat. Pulau ini dihuni 5.259 warga dan didominasi kaum pria.Pada 1890, sebuah perusahaan besar bernama 'Mitsubihi' membeli Pulau Hashima ini untuk membangun proyek batu bara di dasar laut. Bahkan, di tahun 1916 pihak Mitsubishi membangun apartemen dengan sembilan lantai yang dibangun untuk tempat tinggal para pekerja agar terhindar dari terpaan angin topan di sekitar pantai.Namun di tahun 1974, pulau seluas 6,3 hektar tersebut resmi ditutup dan proyek pengerjaan batu bara pun dihentikan karena tak ada lagi batu bara yang tersisa di dasar laut. Kemudian para penduduk pun mulai pergi meninggalkan Pulau Hashima hingga akhirnya pulau ini menjadi seperti pulau mati karena tak berpenghuni.Meskipun telah resmi ditutup sekitar tahun 2000-ann, ketertarikan para wisatawan yang datang ke Jepang untuk melihat lokasi bekas penambangan batu bara tersebut baru mulai muncul setelah 9 tahun berlalu.Hingga akhirnya lokasi ini pun kembali dibuka untuk umum, khususnya para wisatawan yang datang ke Jepang.Tepat di tahun 2015 lalu, UNESCO menobatkan gelar pada pulau tak berpenghuni ini sebagai warisan sejarah dunia. Tapi sayangnya, penobatan tersebut menuai kontroversi bagi negara Tiongkok dan Korea. Pasalnya saat Perang Dunia II banyak kabar yang beredar bahwa banyak sekali para pekerja batu bara asal Tiongkok dan Korea yang menjadi tawanan.Empat dari lima pekerja paksa tewas setiap bulannya di pulau tersebut akibat kecelakaan saat bekerja, karena tidak adanya prosedur keamanan yang mumpuni untuk para pekerja. Hal itu diungkapkan Suh Jung Woo, salah seorang mantan pekerja batu bara di Pulau Hashima, dalam sebuah wawancara pada 1983. Namun, pemerintah Jepang tetap mengelak jika disinggung soal nasib para pekerja paksa tersebut.Setelah tak berpenghuni lagi, pulau ini menjadi salah satu pulau yang memiliki sejarah cerita menyeramkan tentang para pekerja batu bara yang dipaksa bekerja hingga akhirnya banyak yang meninggal dunia. Kemudian mulai ditinggal para penduduk lainnya dan menjadi pulau mati.Seluruh bangunan di Pulau Hashima ini dibiarkan begitu saja, hingga akhirnya bangunan disana pun mulai runtuh seiring dengan berjalannya waktu. Bangunan-bangunan tua di Pulau Hashima tersebut menjadi angker dan menyeramkan. Banyak penduduk yang datang berkunjung ke pulau tersebut mengatakan pernah mendengar suara-suara misterius yang membuat merinding.Meskipun sudah terkenal dengan berbagai kisah menyeramkannya, Pulau Hashima ini tetap masih dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin menguji nyali di tempat bersejarah ini. Selain itu, Pulau Hashima yang menyeramkan ini juga sempat dijadikan lokasi syuting film Hollywood “Skyfall” yang dibintangi oleh James Bond.Demikianlah cerita singkat mengenai sejarah pulau menyeramkan di Jepang, yakni Pulau Hashima.Sementara itu, cerita mengenai para pekerja paksa asal Korea di Pulau Hashima ini juga diangkat menjadi sebuah film yang dibintangi sederet aktor kenamaan Korea Selatan yakni Song Joong Ki dan So Ji Sub.
HOROR KONTES KECANTIKAN
Delia adalah gadis cantik berusia 17 tahun, sejak SMP Delia sudah sering mengikuti kontes modelling, didukung dengan postyr badan yangbtinggi dan wajah cantik menawan, membuat Delia dengan mudah memenangkan kejuaraan modelling tersebut. Bahkan sudah banyak agensi model yang mengajaknya untuk bergabung dengan mereka. Tapi karena Delia tetap menomor satukan sekolahnya sehingga dia hanya menjarikan modelling aebagai kegiatan tambahan dan tidak membuatnya menjadi pekerjaan utama.Sore ini Delia sedang bermain di rumah Agnes, kawannya dari kecil, Delia sedang asyik membaca buku novel yang dimiliki Agnes, sambil terbaring di ranjang, tiba-tiba suara Agnes mengagetkannya."Del... lihat deh ada iklan kontes kecantikan My Girl" ucap Agnes"Oh ya? Kayanya ga dulu deh nes, kan benta lagi mau ujian" ucap Delia Acuh sambil tetap membaca buku."Hadiahnya gede Del, seratus juta rupiah plus mobil seri terbaru" ucap Agnes memaksa Delia untuk melihatnya."Apaan sih nes?" Jawab Delia risih dengan pemaksaan yang dilakukan Agnes"Lihat dulu Del" paksa AgnesAkhirnya Delia pun melihatnya, "untuk pendaftarannya paling lambat besok nes" ucap Delia"Ya udah besok aku anterin, tapi jangan lupa kalau kamu menang, aku minta 10 persen dr hadiahnya ya" ucap Agnes sambil tersenyum licik."Apaan sih, ga usah kalau ga ikhlas" jawab Delia kesal"Bercanda Del, kamu harus ikut pokoknya"Akhirnya Delia pun menyerah, dia setuju dengan Agnes untuk mengikuti kontes kecantikan ini.Keesokan harinya, Delia dan Agnes ke tempat pendaftaran kontes kecantikan tersebut, saat sampai mereka melihat sudah banyak antrian gadis gadis mida yang berparas cantik.dan juga modis."Maaf pak saya mau mendaftar kontes" ucap Delia kepada penjaga keamanan"Silahkan ikut antri dulu" jawab bapak tadiSetelang setengah jam mengantri akhirnya Delia sampai juga ke petigas pendaftaran, Delia disuruh masuk ke dalam untuk sesi foto dan wawancara.Delia pun masuk ke ruangan tertutup, saat masuk.dia disambut fotografer dan mulai untuk sesi foto.Dan setelah itu fotografer menyuruh Delia untuk.masuk ke ruangan lain untuk sesi wawancara, Delia pun berjalan ke belakang gedung untuk mencari ruangan wawancara, dia melihat ada pintu berwarna hitam dipojok, Delia.pun segera membukanya.Saat pintu terbuka, Delia melihat ruangan yang sangat gelap, tidak ada lampu hanya cahaya dari luar saja, ada satu meja kecil dengan seorang wanita berbaju putoh yang duduk menatap Delia."Selamat siang saya Delia, salah satu kontestan model" ucap DeliaWanita itu hanya diam dan tangannya mempersilahkan Delia untuk duduk.Delia pun menurutinya, duduk didepan wanita tadi.Kesunyian sangat terasa diruangan iniTiba-tiba wanita itu berbicara"Nama kamu Delia?" Tanyanya"Iya betul.bu" jawab Delia"Kenapa kamu suka modelling?" Tanyanya"Karena saya merasa ini adalah pekerjaan yag menarik bu, dan bisa menghasilkan uang" jawab Delia jujur"Apakah kamu akan selamanya menjadi model?" Tanyanya"Saya tidak tahu bu" jawab Delia jujur"Kamu tahu resiko menjadi model itu apa?""Harus selalu menjaga penampilan bu" jawab Delia yakin"Bagaimana caramu menjaga penampilan agar tetap disukai?""Dengan makan yang aehat dan olahraga bu" jawabnya lancarSetelah itu suasana sunyi kembali, wajah ibu pewawancara yang selalu menunduk, membuat Delia tidak dapat jelas melihat wajahnya ditambah suasana ruangan yang gelap."Baiklah menurut saya kamu kandidat yang cocok untuk menjadi model kami" ucapnyaDengan wajah lega Delia tersenyun"Tapi ada satu syarat lagi" ucapnya"Syarat apa ya bu?" Tanya DeliaTiba-tiba wanita itu berdiri dan memperlihatlan wajhnya yang penuh luka dan sayatan serta robekan kulit dengan belatung belatungDelia melihatnya dan sangat ketakutan badannya gemetar dan tidak sanggup lagi.berkata kata"Syaratnya kamu harus mati" ucapanya sambil tertawa cekikikanSaat tersadar Delia segera berlari ke arah pintu, tapi pintunya macet, dia melihat hantu tersebut mendatanginy, Delia berteriak kencang dan hampir pingsan sesaat setelah hantu tersebut semakin dekat.Tiba-tiba pintu terbuka"Del" suara yang tak asing ditelinganya"Agnes... " ucap Delia segera memeluknya dan setelah itu Delia tidak sadarkan diriSaat membuk mata dan terbangun, Delia melihat sekeliling, beberapa orang sedang memberinya minyak kayu putih di hidungnya."Alhamdulillah kamu sudah sadar Del" ucap Agnes"Aku dimana?" Tanya Delia"Kamu pingsan Del, tadi setelah sesi foto, panitia yang akan mewawancaraimu menunggu hampir setengah jam, dan mereka mencai karena kamu.belum datang" cerita Agnes"Fotografer itu memberitahu aku, bahwa kamu tadi ke belakang, dan tetnyata kamu ada di ruang kosong belakang gedung, saat aku mendengar kamu berteriak" cerita Agnes lagiDelia merasa sangat ketakutan, wajahnya pucat dan dia tidak.memiliki tenaga untuk bersuara."Maaf ya nes, aku rasa aku ga mau ikut kontes kecantikan lagi" ucap Delia"Iya gapapa, kita pulang aja" ucap.Agnes menenangkanSaat taksi membawa mereka pergi dari tempat kontes, tiba-tiba mata Delia tertuju pada spanduk kontes, wanita berbaju putih dispanduk itu adalah hantu yang ditemui Delia.
HOROR BULAN MADU DI PULAU SEIZA
Hari ini menjadi hari yang paling ditunggu oleh Briane karena sebentar lagi dia akan memulai hidup barunya bersama Damian, dengan kebaya merah dan kain emasnya, Briane menjadi gadis yang paling cantik dihari pernikahannya, setelah menggelar akad dan resepsi mereka pun pulang kerumah dan masuk kamar."Akhirnya kamu resmi menjadi Istriku Bri" ucap Damian"Iya, masih ga percaya kamu sudah jadi suamiku mas" jawab Briane tersenyumMereka sudah mengenal hampir 2 tahun lebih, Damian manager perbankan yang sukses dengan karirnya, dan Briane menjadi guru di sekolah swasta, merupakan pasangan yang sangat ideal, mereka berdua memiliki paras yang rupawan."Aku punya hadiah untukmu Bri" ucap Damian sambil mengeluarkan amplop putih dari tangannya."Apa ini mas?" Tanyanya"Kado untukmu untuk pernikahan kita" ucap Damian melihat ke arah Briane dengan tersenyum.Brianepun membuka amplop tersebut, ternyata ada 2 lembar tiket pesawat dan voucher hotel untuk menginap."Bulan Madu di Pulau Seiza, Intim dan Hangat" tagline voucher hotel tersebut"Kamu mau ajak aku bulan madu?" Ucap Briane senang"Iya Bri, semoga disana kita akan merasakaan bulan madu impian kita" jawab Damian."Pulau Seiza dimana?" Tanya Briane"Salah satu pulau kecil di dekat pantai Jawa dan karena kecilnya hanya bisa menerima maksimal 2 tamu saja, jadi bulan madu kita akan sangat ekslusif tidak ada yang mengganggu."Terimakasih ya mas, aku sangat bahagia".Keesokan harinya mereka berangkat menaiki pesawat yang sudah dipesan, mereka berdua sangat antusias dengan perjalanan kali ini.Setelah sampai di Bandara ada mobil hotel yang menjemput mereka berdua,membawanya ke ujung laut dan disana sudah ada kapal ferry yang menunggu mereka, perjalanan dikapal ferry kurang lebih 3 jam mereka akan sampai dipagi hari, tapi dalam perjalanan dini hari selain dingin, awan terlihat sangat mendung dan gelap.Dan tibalah mereka di pulau Seiza, tidak jauh dari pelabuhan ada penginapan sederhana berwarna biru muda, dan mereka segera menuju ke lobby hotel tersebut."Selamat datang dihotel Seiza perkenalkan nama saya Indah saya akan membantu anda selama berada di pulau Seiza" ucap seorang ibu paruh baya dengan pakaian kemeja hitam dan celana kulot hitam menyambutnya."Iya bu saya Damian dan ini istri saya Briane, apakah kamar kami sudah siap?" Tanya Damian"Sudah pak Damian, semua kebutuhan bapak sudah kami siapkan dikamar, dan bapak tidak perlu khawatir dipulau ini hanya ada saya, jadi jika kalian perlu apa apa hanya tinggal telepon ke operator saja.Mereka berdua, Briane dan Damian saling melihat dengan bahagia, ini benar benar akan menjadi bulan madu yang sempurna, fikir Briane.Kamar dengan pemandangan laut yang indah, dan dekorasi eksotis menambah keromantisan bulan madu mereka.Tanpa terasa mereka menghabiskan waktu dikamar sampai malam.Dan waktunya mereka makan malam romantis dipinggir laut berdua."Silahkan, saya sudah siapkan makan malam romantis untuk kalian berdua" ucap Ibu Indah.Semua aneka makanan seafood ada disana dengan lampu lampu melilit dipohon pohon menambah kesan keromantisan malam ini, mereka berdua tertawa dengan penuh kebahagiaan sambil mendengar deburan ombak.Tiba-tiba dari pelabuhan terlihat kapal ferry datang ke pelabuhan, laki-laki itu membawa dua oramg tamu ke hotel.Damian mengajak Briane untuk ke lobi hotel dan protes, karenq dalam perjanjian hanya ada dua orang tamu ekslusif saja."Selamat malam bu Indah, saya mau protes kenapa ada tamu yang datang malam malam ke hotel ini, bukankah saya sudah membooking 3 hari di hotel ini" ucap Damian dengan nada marah."Sebentar pak Damian pasti ada salah paham" ucap bu Indah bingung."Malam bu Indah, saya membawa tamu untuk hotel ini,perkenalkan ini Nyonya Clara dan Bapak Januardi" ucap Bastian dari Biro perjalanan."Maaf pak Bastian, ini pasti ada kesalahpahaman, sampai 3 hari ke depan hotel ini sudah dibooking oleh Pak Damian" jawab bu Indah masih dengan nada kebingungan."Pak Damian? Ibu pasti sudah menerima pesan fax saya kan? Bahwa kemarin malam kapal ferry Pak Damian kecelakaan, dan tenggelam, dan tiga orang dinyatakan tewas termasuk nahkoda kapal bahkan mayatnya sudah dievakuasi oleh kepolisian setempat.Oleh karena itu saya memasukan Pak Januardi yang sudah waiting list untuk booking di hotel ini.Tiba-tiba Damian dan Briane hanya bisa berpandangan, bu Indah menatap mereka dengan penuh ketakutan."Tapi apakah bapak tidak bisa melihat mereka berdua disana?" Ucap bu Indah kepada pak Bastian"Siapa?" Tanya pak BastianPak Januardi dan Ibu Clara juga terlihat kebingungan.Pak Bastian mengajak Bu Indah ke dalam ruangan kantor, dan ibu Indah menceritakan kejadian bahwa pak Damian datang dengan ibu Briane, tidak mau membuat tamunya ketakutan pak Bastian menyuruh bu Indah segera membereskan kamar dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi, bu Indah pun terpaksa menurutinya.Saat keluar dari kantor dengan pak Bastian bu Indah sudah tidak melihat Damian dan Briane di lobi, saat bu Indah kekamar, bu Indah juga melihat kamar dalam keadaan rapih.Dan bu Indah pergi ke tempat makan malam, disana ada piring makanan yang sudah dihabiskan, dan bu Indah melihat ke arah kapal ferry pak Bastian yang mau berangkat kembali kekota,disana bu Indah melihat Damian dan Briane tersenyum sambil melambaikan tangan mereka.
HOROR TEMPAT WISATA KAMPUNG CERIA
Widi senang sekali saat mengetahui kalau liburan sekolah kali ini mereka akan berlibur ke Bandung, mama sudah mempersiapkan semuanya untuk perjalanan. Adik kecil Widi yang bernama Niko juga sudah tidak sabaran untuk segera berangkat sore ini menunggu ayah pulang.Tidak lama, suara mobil ayah terdengar, merekapun segera menyambut Ayah dengan gembira.Mama mengambikan ayah secangkir kopi."Kita mau jalan jam berapa yah?" Tanya mama"Sehabis maghrib ya, ayah mau istirahat sebentar" jawab ayah."Hotelnya udah ayah pesan?" Tanya mama"Belum sempat mah, nanti aja sekalian pas disana, mungkin harganya malah lebih murah" jawab ayah dengan santainya."Bagaimana si ayah, kalau nanti susah dapet hotelnya bagaimana?" Tanya mama sedikit kecewa."Ini kan Bandung mah, hotel ada dimana mana" jawab ayah dengan santainya.Akhirnya setelah sholat maghrib mereka semua berangkat dari Jakarta menuju ke Bandung.Mereka tidak menyangka jalanan menuju ke Bandung sangat padat, bahkan dari tol saja sudah tidak bergerak, mereka lupa bahwa ini libur sekolah, pasti banyak yang berpergian atau pulang kekampungnya.Sudah hampir jam 12 malam mereka baru bisa keluar dari pintu tol dan jalanan pun tersendat sendat.Akhirnya ayah memilih untuk masuk ke jalan kecil dan menyalakan Google MAP mencari hotel terdekat.Saat diperjalanan Widi merasa ada yang aneh karena jalanan yang mereka lewati semakin mengecil."Ayah yakin bisa jalan lewat sini?" Tanya Widi"Ayah kan ikutin map saja sayang, kalau menurut map ini sekitar 20 menit lagi ada hotel terdekat, kita bisa menginap disana dulu untuk beristjrahat, ayah sudah merasa lelah menyetir" jawab ayah."Lagian ayah juga, mama kan sudah bilang booking hotel dari jauh hari" ucap mama kesal."Kamu lihat saja jalanan macet begitu, bagaimana juga kalau kita booking hotel, entah kapan sampainya" jawab ayah.Tiba tiba di depan jalan semua lampu mati, jalanan sangat gelap hanya terlihat lampu dari mobil yang membantu mereka melihat kondisi jalanan.Didepan ayah mengerem, sepertinya ayah menabrak sesuatu karena jalanan yang sangat gelap."Duk" suaranya cukup kencangAyah pun menghentikan mobilnya, dan berusaha melihat dari dekat apa yang menabraknya.Ternyata ada seorang pemuda sedang merintih kesakitan."Maaf kang, saya tidak lihat soalnya jalanannya gelap sekali" ucap ayah merasa bersalah"Iya tidak apa apa pak, memang sedang mati lampu" ucap pemuda itu sambil memegang kakinya."Apa ada yang terluka? Saya bantu kerumah sakit ya?" Ucap ayah"Tidak usah pak, saya mau masuk.kerja" jawab lelaki itu"Ya sudah saya antar ya, kerja dimana?" Tanya ayah."Di hotel ceria pak" jawab pemuda itu"Hotel? Apakah dekat dari sini?" Tanya ayah."Kurang lebih 10 menit lagi pak kalau naik mobil" jawab lelaki tadi"Baguslah kami memang sedang mencari hotel, kamu bisa antarkan kami kesana? Ucap AyahAkhirnya lelaki itu ikut bersama di mobil kami, dan dia memperkenalkan dirinya bernama Yadi, dia pun menunjukkan jalan untuk menuju ke hotel.Diujung jalan sempit itu terlihat cahaya lampu yang menyorot tajam, setelah lebih dekat ternyata itu adalah papan signage yang terpampang besar didepan pintu masuk "TAMAN WISATA KAMPUNG CERIA" padahal ini sudah lewat tengah malam.tetapi saat masuk ke dalam suasana lampu, orang dan hingar bingar musik dari mainan anak masih terlihat jelas, ternyata ini adalah tempat wisata yang sangat besar di Bandung, banyak orang menggunakan kostum, ada badut, ada banyak.atraksi yang menarik."Ini kan sudah tengah malam, kenapa ramai sekali?" Tanya Widi"Oh kalau lagi liburan sekolah begini taman wisata kami buka 24 jam" jawab Yadi"Wah seru banget, aku mau main" ujar Niko"Besok pagi ya Niko, ayah sudah capek sekali" jawab ayah dengan wajah lelah.Akhirnya mereka sampai di hotel ceria, terdiri dari beberapa kabin terpisah, setelah mendaftar ke resepsionis diantar Yadi, mereka pun akhirnya berpisah dan masuk ke dalam kamar."Aduh seneng banget lihat kasur, badanku pegel banget mah" ucap ayah."Iya pah aku juga" jawab mamaDan setelah mencuci muka mereka akhirnya langsung tertidur lelap.Begitupun Niko saat merebahkan badannya dikasur juga langsung tertidur.Widi melihat mereka sangat kelelahan, Widi pun mencuci muka, tapi anehnya dia tidak merasakan kantuk.Widi membuka jendela, melihat cahaya lampu dan kemeriahan diluar yang penuh warna."Aneh" fikir Widi tempat wisata buka 24 jam.Tidak lama ternyata Widipun tertidur pulas.Cahaya matahari yang masuk kekamar membangunkan Widi.Dia melihat Ayah, ibu dan Niko sudah siap dan sudah mandi."Ayo kak, cepat aku mau sarapan habis itu mau berenang, terus mau main di wahana" ujar Niko."Cepat kamu ganti baju, ga usah mandi dulu" ayah menyuruh Widi bergegas.Mereka menuju restauran hotel untuk sarapan, dengan aneka masakan khas sunda dan roti rotian, mereka sarapan sambil menikmati hari tersebut suasana sarapan kali ini sangat sepi tidak seramai malam kemarin.Akhirnya mereka menuju kolam renang, dengan area yang luas dan wahana yang menarik, Niko langsung menyebur kekolam tersebut, Widi sedang bersiap siap berganti baju, dia mencari ruang ganti, tetapi dia tidak ketemu, tiba tiba dia bertemu lagi dengan Yadi."Mencari apa teh" ucap Yadi"Eh kamu Yadi, aku lagi cari ruang ganti" jawab Widi"Ayu saya antar" ucap YadiWidi mengikuti Yadi naik ke tebingan jalan dan lumayan jauh dari area kolam renang dan dia menemukan pintu seperti gua."Ini ruang gantinya" ucap Yadi"Ini seperti Goa" jawab Widi dan setelah masuk.memang sangat gelap"Temanya memang tentang alam" jawab Yadi keluar ruangan setelah mengantarkan Widi.Akhirnya Widi dan Niko bersenang senang, walaupun hanya mereka berdua dikolam renang itu, Widi hanya berfikir mungkin mereka datang terlalu pagi.Setelah berenang mereka memainkan semua atraksi wahana, tetapi anehnya Widi.merasa orang-orang bertopeng itu selalu melihat ke arah mereka, dan sekali lagi hanya merekalah yang ada disini.Tidak terasa mereka bermain seharian sampai malam, begitu mereka merasa lelah dan ingin kembali ke hotel, suasana lampu dan orang orang mulai ramai lagi seperti semalam, oh mungkin ini memang ramai dimalam hari seperti suasana pasar malam, fikir Widi kembali.Akhirnya mereka sampai di hotel, ayah, ibu dan Niko langsung tertidur lelap.Tapi Widi sama.sekali tidak bisa memejamkan matanya, akhirmya Widi memutuskan untuk keluar, melihat keramaian tengah malam.di Taman Wisata Kampung Ceria ini.Anehnya saat melintasi.keramaian bulu kuduk Widi berdiri, mereka semua seperti tidak menghiraukan kehadiran Widi, sampai akhirnya Widi ke area kolam renang tadi, sangat ramai orang berenang tidak seperti pagi tadi, tiba-tiba Widi dikejutkan dengan laki-laki tua dengan rambut penuh uban memanggilnya."Neng..neng.." ucapnya sambil melambai ke arah WidiWidi berlari ketakutan, menuju ke arah hotel.Tiba-tiba laki laki tua itu sudah berada didepannya."Apa.yang kamu lakukan?" Tanyanya"Jangan macam-macam pak, saya akan teriak kalau bapak.mengganggu saya" ucap Widi"Neng jangan takut, saya justru mau menolong neng, neng tersesat?" Tanya bapak itu"Tidak pak, saya ingin kembali ke hotel" ucap Widi"Hotel apa neng?" Tanya bapak tua tadi"Ya hotel ceria lah" jawab Widi masih dengan nada ketakutan"Neng tahu sekarang neng dimana?" Tanya bapak tua tadi"Di taman wisata kampung ceria lah pak" jawab Widi"Neng coba lihat sekali lagi sekeliling" jawab bapak tua tadiTiba-tiba Widi menyadari bahwa suasana sepi tidak ada orang sama sekali, tidak ada lampu, tidak ada wahana bermain, semua yang dia lihat adalah taman bermain tua yang sudah tidak berpenghuni ditumbuhi tanaman rambat dan tidak ada orang sama sekali."Tadi ramai pak" jawab Widi ketakutan"Kamu sama siapa kesini?" Tanya bapak tua tadi"Sama keluarga saya pak" jawab Widi"Ayo antar bapak ke kekeluargamu" jawab bapak tua tadi.Widi berjalan dengan bapak tua tadi menuju ke arah kamar, betapa kaget Widi, ternyata dia melihat ayah, ibu dan Niko sedang tertidur pulas di rumput dibawah pohon beringin yamg besar."Ayah, ibu, Niko bangun kita harus segera pergi dari sini" ucap WidiMereka akhirnya membuka mata mereka, dan menyadari bahwa sekeliling mereka hanyalah kebun kosong, didekat mereka seperti ada kantor hotel yang sudah tua dan tidak terurus."Kenapa jadi begini tempatnya" ujar Niko kebingungan"Kamu siapa?" Tanya ayah kepada lelaki tua itu" Saya Jajang pak, penduduk sini, rumah saya dekat dengan taman wisata ini, tadi pas saya mau pulang kerumah, saya lihat anak bapak tengah malam jalan sendirian, saya yakin pasti ada yang aneh, makanya saya menghampirinya pak" jawab JajangTanpa berfikir lama mereka segera menuju mobil dan pergi meninggalkan taman wisata tersebut, dan Jajang menawarkan mereka untuk menginap dirumahnya sambil menunggu pagi.Disitulah Jajang bercerita kalau taman wisata kampung ceria ini, dua puluh tahun yang lalu adalah taman wisata terbesar di wilayah Bandung, ramai dan penuh atraksi. Sampai pemiliknya mengalami kebangkrutan bisnis dan tidak bisa mengelola taman wisata ini lagi, dan akhirnya taman wisata ini menjadi terbengkalai dan menjadi penuh misteri."Bagaimana kalian bisa sampai kesini?" Tanya JajangDiceritakan oleh ayah pertemuan mereka dengan Yadi dan dialah yang mengantarkan mereka ke taman wisata kampung ceria."Yadi ciri-cirinya seperti apa? Tanya Jajang penasaranSetelah ayah jawab, Jajang pun memberitahu kalau Yadi dulu adalah penjaga kolam renang di kampung ceria, dan dia ditemukan meninggal dikolam renang tersebut sekitar 15 tahun yang lalu, bersamaan dengan mulai ditutupnya kampung ceria ini,dan mayatnya dikuburkan di atas tebing dekat kolam renang, Widi jadi teringat tempat Yadi mengajaknya ke ruang ganti, jangan-jangan itu adalah tempat kuburannya Yadi.Widi tidak menyangka dengan kejadian yang dialaminya, semua tampak terasa nyata.Pagi hari saat mereka berpamitan, mereka melewati gerbang taman wisata kampung ceria, disitu mereka lihat gerbang sudah ditumbuhi daun jalar dengan kondisi rusak dan menyeramkan.Tiba tiba Widi melihat sosok wajah yadi di pos gerbang melihat ke arah mereka.
HOROR TERSESAT DI GUNUNG ABADI
Rinto, Dendi, Ricky dan Hendra adalah grup pecinta alam di kampusnya, mereka sudah beberapa kali naik gunung didaerah puau Jawa, dan mereka merencanakan bahwa di bulan ini setelah puasa mereka akan naik lagike Gunung Abadi, gunung paling tinggi yang ada dipulau tersebut, tetapi banyak juga yang tidak menyetujui rencana untuk naik ke gunung Abadi, karena banyak kisah-kisah menyeramkan yang beredar tentang gunung tersebut."Sudahlah gunung yang lain saja, jangan gunung Abadi" ucap Hendra"Tapi kita tinggal ke sana saja yang belum, gunung yang lain hapir smeua sudah kita daki" ucap Rinto"Menurut kamu bagaimana Rik?" tanya Dendi"menurutku semua gunung sama saja" ucap Riki"Ya sudahlah kita tetap lanjutkan pendakiannya, kalau kamu adarasa raghu lebih baik kamu tidak ikut dra" jawab Dendi bijakasana"Bukan takut, aku hanya merasa gunung Abadi itu terlalu tinggi untuk kita daki" uap Hendra tidak terima dibilang takut"Berarti sudah bulat kita akan tetap mendaki kesana minggu depan" ucap Dendiakhirnya semua pun menyetujuinya.Saat mau berangkat mereka semua berjanji akan bertemu di terminal, Dendi, Ricky dan Hendra sudah datang dan mereka masih menunggu Rinto.Tiba-tiba Rinto menuruni angkot dan dia tidak sendiri, dia bersama Anya pacarnya di kampus."Maaf ya teman-teman menunggu lama, maaf Anya sedang ditinggal Orang tuanya keluar ota, dan dia memaksa mau ikut kita naik gunung" ucap Rinto merasa bersalah dengan raut wajah teman-temannya yang tidak menyukai hal tersebut."Kamu ada-ada saja sih Rin, kamu tahu gunung Abadi ini pendakian kita yang paling sulit malah kamu ajak perempuan lagi, nanti cuma ngerepotin kita saja Rin" ucap Hendra kesal"Kenapa sih dra, Anya ini pacar aku, nanti aku yang tanggung jawab sama dia, aku kan gaminta tolong kamu juga buat jaga dia" ucap Rinto kesal"Rinto kan memang bucin sejak pacaran sma Anya" ucap dendi kepada Ricky yang mengangguk berarti diapun menyetujuinya.Karena sudah merencanakan lama, akhirnya merekapun tetap berangkat ke gunung Abadi pagi itu.diawal pendakian semua berjalan mulus dan tidak ada yang mengkhawatirkan, sampai mereka sore itu di pos 3 tempat mereka akan mendirikan tenda, ternyata kehadiran Anya lumayan membantu terutama karena Anya membawa bekal logistik yang enak dan memasaknya untuk anak-anak.Anya masak mie bakso dan juga daging bakar yang dibawanya, mungkin inilah pendakian dengan makanan terenak, fikir Ricky.Karena waktu sudah malam, mereka pun setelah makan memutuskan untuk tidur di tenda masing-masing, tenda besar diisi oleh Rinto, Anya dan Ricky dan tenda satunya untuk Hendra dan Dendi.Entah mengapa Ricky kebangunan malam itu untuk pipis, dia pun keluar untuk mencari tempat untuk membuang hajatnya tersebut, sekitar lima belas menit Ricky mau masuk ke tendanya lagi, dia mendengar ada suara kecupan didalam tendanya, fikrian Ricky tidak salah suaranya semakin jelas pasti Rinto dan Anya sedang bermesraan. Mendengar hal tersebut Ricky sampai tidak enak untuk masuk ke dalam tenda lagi tiba-tiba Ricky melihat di balik pohon ada macan putih melihat ke arahnya, tetapi hanya beberapa detik saja macan putih itu langsung menghilang, seketika itu juga Ricky merasa ada yang tidak enak di pendakian kali ini.Ricky sengaja tidak menceritakan hal kejadian kemarin kepada teman-temannya yang lain, karena itu adalah etika selama berada di pegunungan. Dia pun sungkan untuk menegur Rinto dan Anya takut nanti Rinto tidak terima dengan perkataannya.Jam 3 Pagi itu akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat lagi ke Puncak agar mereka bisa melihat sunrise di waktu yang tepat, cuaca malam itu sangat dingin, dan juga sangat gelap ketika mereka dalam perjalanan ke puncak tiba-tiba Ricky melihat macan putih itu lagi dibalik pepohonan, Ricky menepuk pundak Hendra."Dra coba kamu lihat dipohon itu ada macan" ucap RickyHendrapun menoleh dan melihat tidak ada apa-apa"gak ada apa-apa kok Rick" ucap Hendra merasa aneh dengan kelakuan RickyTiba-tiba ada angin yang kencang menerpa mereka, sampai mereka pun terjatuh karena angin tersebutDan saat itu juga mereka sudah ada didepan pohon yang sangat besar, yang sebelumnya tidak terlihat."Aduh ini dimana?"tanya Dendi"Perasaan Rute pendakian tidak ada pohon besar seperti ini" ujar Hendradan jalanan pendakian pun sudah tidak terlihat lagiMereka pun berusaha untuk tetap jalan untuk mencapai ke puncak, tetapi anehnya mereka akn kembali ke pohon besar itu lagi, dan itu terjadi berkalikali, sampai Dendi untuk meyakinkan meninggalkan slaernya di pohon Besar itu, dan mereka berjalan lagi, dan ternyata benar mereka akan kembali ke pohon tadi dengan slayer yang Dendi tinggalkan."Sepertinya ada yang tidak beres" ujar Hendra kita hanya berputar-putar saja"Ini salahmu Rin" ucap Ricky kesal"Kenapa kamu nyalahkan aku?" tanya Rinto marah dan tidak terima"kamu melanggar pantangan mendaki Rin, kamu membawa pacar kamu dan bermesraan kan kemarin malam" ujarRicky dengan wajah ketakutan"Apa?" ujar Dendi marah"kamu gila ya Rin" ucap hendra kesalAnya hanya terdiam menunduk dan malu"Maaf teman-teman aku khilaf" ucap Rinto mengakui dan merasa bersalah"Waduh pasti penunggu gunung ini yang membuat kita tersesat karena marah Rin" ucap Hendra hampipr mau mencekik Rinto dan dihalangi oleh Dendi"Berhenti jangan malah berkelahi, kita harus memikirkan bagaimana cara kita keluar dari sini" ucap Dendimereka pun akhirnya menenangkan diri."Bagaimana kalau kita menunggu pagi, lalu kita mulai berjalan lagi" ucap DendiDan akhirnya mereka setujuTetapi anehnya suasana bertambah gelap seperti malam, seharusnya dengan waktu perjalanan mereka seharusnya akan mulai terlihat matahari.Dan ternyata betul, mereka akhirnya tidak menemukan matahari lagi, hanya kegelapan, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan, tiba-tiba mereka melihat sebuah bangunan besar seperti istana, warna kuning keemasan, mereka semua mau masuk ke dalam istana tersebut tiba-tiba macan putuh yang dilihat dicky berada dihadapan mereka dan tiba-tiba berubah menjadi kakek-kakek tua."kalian tidak boleh pulang, kalian telah melanggar dan kalian semua harus menjadi tawanan kami" ucapnyaMulut kami semu aseperti tidak dapat mengeluarkan suara, tiba-tiba berpuluh-puluh prajurit dengan pakaian prajurit kerajaan mendekati mereka semua dan menangkap mereka memasuki kerajaan megah tersebut.mereka pun betemu dengan Raja Abadi, bertubuh kekar dengan paras tampan dan memakai pakaian raja kerajaan zaman dahulu kala, tetapi wajah raja Abadi sangat marah dan memelototi mereka."Kalian memang manusia tidak tahu diri" ucap Raja marahmereka semua sangat ketakutan"Tidak memiliki etika dan melanggarketentuan yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta" ucap sang raja dengan suara menggelegar.Kalian harus menerima hukumannya, jiwa kalian akan kami tahan disini.lalu rajurit membawa mereka ke sebuah ruangan yang sangat gelap.mereka semua ketakutan tetapi anehnya mereka tidak dapat mengeluarkan suara satu katapun.tanpa makan dan minum mereka sudah merasa lemas, tetapi mereka tidak dapat melakukan sesuatu, sepertinya sudah berhari-hari yang mereka lalui.tiba-tiba disuatu malam mereka melihat cahaya."Dendi... Bismillah Dendi Ibu berhara kamu dalam keadaan baik-baik saja nak" dan suara itu menikuti cahaya tersebutTiba-Tiba mereka melihat cahaya kedua kali ini warnanya lebih terang dari sebelumnya"Hendra raung suara wanita tua menatap foto anaknya, Bismillah ibu kirimkan doa untuk kamu nak, semoga Allah selalu menjagamu" ucap Ibu Hendrabegitupun Ibu-ibu lainnya, doa mereka memeberikan cahaya bagi anak-anak tadisampai akhirnya datang macan putih menghampiri mereka"Itulah doa-doa ibu kalian yang didengr oleh Allah, dan kami tidak boleh lagi untuk menawan kalian disini" ikutilah cahaya itu dan pulang.Akhirnya mereka mengikuti ucapan macan putih mengikuti cahaya yang tadi sudah berkumpul dan menjadi satu, saat mereka melewati cahaya itu, tiba-tiba mereka sudah kembali ke jalan dakian pos 3 terakhir tempt mereka mendirikan tenda.Mereka pun segera turun ke gunung dan pulang ke rumah msing-masing.Seakan akan keluarga mereka tidak percaya anak-anak yang hilang mendaki itu sudah kembali setelah 3 bulan hilang sebelumnya dan mereka kaget karena hanya merasakan berada di istana jin tersebut beberapa hari saja. Keluarga mereka amat senang bukan kepalang terutama anak-anak itu mereka langsung menangis ke ibu masing-masing karena doa mereka lah yang menyeamatkan hingga bisa kembali ke dunia manusia lagi.Ini menjadi pelajaran buat mereka semua untu menjaga kesopanan saat berada dimanapun, terutama untuk Rinto dan Anya.
HOROR KOMPLEK MAWAR
"Selamat siang Ibu Brigita, saya Mia agen perumahan yang akan membantu anda memilih rumah di komplek Mawar ini" ucap Mia dengan blazer merah maroonnya"Iya senang bertemu anda" jawab Brigita"Ini adalah salah satu rumah dengan luas terbesar dan kondisi rumah yang masih sangat baik" ucap MiaBrigita adalah gadis muda berusia 27 tahun dengan pekerjaan pelukis yang melihat iklan dikoran tentang rumah di komplek mawar tersebut."Kenapa komplek ini sangat sepi ya Mia?" Tanya Brigita penih keheranan"Hampir semua komplek ini masuk dalam agen penjualan kami, dikarenakan orang tua mereka sudah meninggal dan anak anak atau ahli waris mereka tidak mau tinggal dirumah ini lagi jadi memuuskan untuk dijual" ucap Mia"Semua rumah?" Tanya Brigita bingung"Iya, karena usia mereka hampir sama, kamu lihat rumah cat merah disana?" Mia menunjuk rumah di pojok"Iya" jawab Brigita"Itu rumah nyonya Helen, usia dia 94 tahun dan dia tinggal sendirian dengan kucing kucingnya, hanya dialah penghuni lama yang masih hidup" ucap Mia"Oh begitu, untuk rumah lainnya bagaimana?" Tanya Brigita"Tenang saja, komplek ini sudah di tangani oleh agen penjualan kami dan sudah 80 persen terjual, bahkan unit rumah yang kita lihat ini sudah ada beberapa yang menawar, jadi kalau kamu tidak cepat, kamu tidak akan mendapatkan harga sebagus ini dengan luas rumah seperti ini" ucap Mia meyakinkanSetelah tiba dikantor Mia, Brigita akhirnya sepakat untuk membeli rumah tersebutKarena kontrakan Brigita habis bulan ini, maka Brigita pun mempersiapkan kepindahannya dikomplek Mawar tersebut.Dan akhirnya hari ini Brigita sudah memindahkan semua barangnya ke rumah barunya, dan mulai hari ini dia akan pindah ke komplek Mawar.Suasana komplek masih sepi, Mia bilang banyak yang hanya mau investasi karena harganya yang murah.Sore itu Brigita berjalan jalan mengitari komplek, dia melihat rumah rumah tua dengan pondasi yang kokoh, sepi tidak berpenghuni.Akhirnya Brigita melihat ny. Helen sedang menyiram tanaman di depan rumahnya."Selamat sore, perkenalkan saya Brigita penghuni baru disini" ucapnya ramahNy. Helen melihat Brigita dengan pandangan menakutkan lalu dia segera pergi kedalam tumah tanpa bersuara sedikit pun.Brigita bingung dengan kelakuan Ny Helen yang menurut Brigita kurang sopan, akhitnya Brigita pun memutuskan pulang ke rumah.Suasana malam yang sepi, membuat Brigita merasa mudah mengerjakan lukisannya, dan akhirnya Brigita pun mengantuk.Waktu menunjukkan pukul 12 malam, saat Brigita mendengar suara anak anak kecil ramai tertawa.Kebetulan rumah Brigita didepan taman komplek, Brigitapun melihat dr jendela kamarnya disana ramai dengan orang orang berkumpul dan anak anak bermain.Aneh... fikir Brigita kalau siang tadi dia keliling komplek ini hampir sebagian rumah tidak berpenghuni, mana mungkin ada orang sebanyak ini.Brigita pun turun kebawah dan membuka pintu rumahnya untuk keluar dan bertanya kepada salah satu dari mereka.Ketika pintu terbuka, Brigita sangat kaget ternyata taman itu sepi, sama sekali tidak ada orang orang yang Brigita lihat tadi, mungkin tadi aku berhalusinasi, fikir Brigita.Dia pun naik kembali ke kamarnya, tiba tiba suara itu terdengar lagi, suara tawa anak anak dan suara kerumunan orang berbicara.Brigita kembali melihat jendela dan terlihat kembali suasana yang ramai.Brigita ketakutan, dia menyelimuti tubuhnya di kamar, ini adalah malam pertama dia tinggal dikomplek mawar ini dan dia sudah mengalami hal yang aneh.Akhirnya Brigitapun ketiduran, dan dia melihat matahari sudah bersinar cukup tinggi.Brigita mandi setelah dia memakai pakaian olahraga dia keluar untuk berlari mengitari komplek, Brigita penasaran apakah penghuni lain mendengar suara malam hari tersebut, saat sampai ke rumah Nyonya Helen, Brigita melihat Nyonya Helen menyiram tanaman sambil melihat tajam ke dirinya."Halo nyonya Helen, saya Brigita" sapanya ramah"Aku minta kamu pergi, jangan pernah berada disini" ucap Nyonya Helen dengan tatapan sinisnya"Maaf, saya ingin bertanya, apakah anda mendengar suara berisik tengah malam kemarin?" Tanya BrigitaNyonya Helen hanya tetap menatapnya sinis dan tidak menjawab sama sekali.Sore ini setelah maghrib Brigita baru saja selesai mandi saat keluar dari pintu kamar mandi, dia mendengar suara berisik itu kembali, saat dia melihat dari jendela kamar, suasana seperti kemarin malam kembali terlihat, di taman banyak anak anak dan orang dewasa berkumpul, Brigita segera menuruni tangga dan menuju ke arah taman didepan rumah, saat Brigita membuka pintu rumah, suasana hening dan sangat sepi, Brigita merasa tidak mungkin berhalusinasi hal yang sama secara kebetulan, dia naik kembali ke atas kamar, saat tiba dikamar suara itu terdengar lagi dan saat Brigita melihat ke jendela suasana ramai kembali terlihat dan Brigita kembali ke bawah dan saat membuka pintu suasana yamg sepi dan tidak ada orang sama sekali.Brigita tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia yakin ini sesuatu hal yang sangat mengganggunya bahkan dia tidak bisa tidur dengan suara berisik sepanjang malam.Pagi itu tiba-tiba bel berbunyi"Tingtong"Brigita segera turun dan membuka pintu, ternyata itu adalah Nyonya Helen."Saya bawakan kamu kue bolu pandan, maafkan jika saya tidak hangat kepada kamu kemarin" ucap Nyonya Helen."Terima kasih" jawab BrigitaSaat Nyonya Helen ingin pergi, Brigita menahannya"Maaf, Nyonya Helen, kalau tidak keberatan boleh menemani saya minum teh pagi ini?"Nyonya Helen melihat ke aeah Brigita diam sejenak dan akhirnya mengangguk ajakan Brigita.Brigitapun mengajaknya ke ruang tamu.Suasana minum teh yang hening terjadi beberapa menit, sampai akhirnya Brigita berani menanyakan."Maaf Nyonya Helen, kenapa komplek ini sangat sepi sekali ya, padahal rumahnya masih dalam kondisi yang sangat bagus dan asri?""Karena estate perumahan ini sangat menjaga lingkungan dengan baik, dan semua rumah ini kebanyakan pemiliknya tidak tinggal disini tetapi tetap membayar iuran lingkungan dan memaintain rumah mereka dengan baik" jawab Nyonya Helen dengan anggun."Kenapa mereka tidak tinggal disini saja?" Tanya Brigita lagiNyonya Helen memandangi Brigita dengat raut wajah yang sedih"Pertama kali saya pindah di Komplek Mawar ini pada tahun 1970, saya termasuk penghuni awal dikomplek ini, saat developer menjual komplek ini mungkin ini adalah satu satunya perumahan mewah pada saat itu, akhirnya semua rumah pun terisi dengan keluarga kecil biasanya yang baru menikah dan memiliki anak masih kecil, saya tumbuh bersama semua keluarga di komplek ini, kebersamaan kami sangat erat, bahkan setiap malam kami mengadakan acara didepan taman, anak anak akan berkumpul dan bermain dan kami para otang tua akan ngobrol dengan semua tetangga yang ada disini, para suami biasanya akan memanggang aneka makanan bakaran untuk semua" Nyonya Helen tersenyum mengingat masa indah dia di komplek ini."Tiba tiba waktu cepat berlalu, anak anak tumbuh begitu cepat mereka sekolah dan kuliah, hampir rata rata kami sekolahkan mereka di luar negeri, lambat laun mereka semua sudah tidak berada dikomplek ini, pertemuan kami hanya sebatas orang tua tanpa kehadiran dan tawa anak anak kami lagi" Nyonya Helen berhenti sebentar dengan raut wajah yang sangat sedih"Kami berharap mereka akan segera menikah dan kembali ke komplek ini dengan membawa cucu cucu kami, agar suasana keceriaan anak anak akan kembali lagi, tetapi..." Nyonya Helen kali ini mengeluarkan air matanya"Tidak ada satupun dari mereka yang kembali, bahkan menjenguk kami orang tuanya saja tidak pernah lagi, mereka semua menjadi anak anak yang sukses dan sibuk dengan dunia mereka sendiri, bahkan mereka memilih tinggal jauh dari kami" raut wajah Nyonya Helen terlihat sangat kecewa"Akhirnya satu persatu tetangga yang tinggal dikomplek ini perlahan lahan tidak bersemangat untuk berkumpul.bersama lagi, satu persatu mereka meninggal dan hanya meninggalkan rumah yang kosong ini, hanya saya saja yang masih bertahan sampai saat ini, bahkan setiap orang yang membeli rumah disini hanya akan bertahan 2 sampai 3 hari, setelah itu mereka tidak akan pernah datang lagi" cerita Nyonya Helenpun berakhirBrigita jadi mengerti apa yang dilihatnya 2 hari ini tentang suasana yang ramai dan orang yamg berkumpul adalah kenangan di komplek ini, mereka semua sudah meninggal tetapi kenangan itu tetap bertahan.Awalnya Brigita merasa takut dengan kejadian kemarin, tetapi setelah mendengar cerita Nyonya Helen, setiap malam saat suara itu mulai terdengar Brigita akan melihat ke jendela, melihat anak anak bermain, orang tua berkumpul ini adalah suasana hangat yang mengingatkannya waktu dia masih kecil, dan Brigita sadar cepat atau lambat dia akan memiliki keluarga dan akan membawa suara anak anak itu kembali ke taman ini.Tiba tiba dia melihat seorang wanita muda cantik berambut sebahu melihat kepadanya dan tersenyum"Nyonya Helen" ucap Brigita sambil tersenyum dari jendela.
HOROR POJOK KAMAR MANDI
Bian dan Ganda sudah berjalan menyusuri Gang Pinjul ini untuk mencri kost-kostan untuk mereka berdua yang dekat dengan kampus baru mereka, karena mereka hanya diberi uang sedikit oleh orang tua mereka masing-masing setiap bulan jadi mereka juga harus mencari kost-kostan yang tidak mahal.Hampir putus asa karena harga sewa kostan di atas satu juta perbulan semua, mereka pun mencari warung kecil untuk berisitirahat.Sambil menyeruput teh botol nya Bian iseng bertanya sama penjaga warung."Bu tahu ada kostan yang sewanya 500rban ga ya perbulan?"Ibu Warung : Rata-rata sih disini udah mahal mas, karena deket kampus"Bian : "Gapapa bu rumahnya kecil asal bayar kostnya juga murah" tanya Bian sekali lagi untuk meyakinkan.Ganda : "Iy bu kecil gapapa, kami sudah capek keliling dari tadi" ucapnya sambil mengelap keringatnya.Ibu warung pun diam sesaat"hmm sebenernya sih ada mas, tapi.........." ibu warung itu menghentikan jawabannya"Tapi apa bu?" tanya Bian"Tapi serem mas" ucap ibu warung itu dengan raut takut"Serem? seremnya gimana bu?" tanya ganda"Deket Kuburan Mas, Ga jauh sih dari sini, Kost an Pak Mijo" jawab Ibu Warung itu"Tapi bayarnya sebulan 500 ribuan bu?" tanya Bian sekali lagi"Tapi Bian, serem aku ga mau kalau deket kuburan" ucap Ganda"Aduh kamu masa penakut gitu sih Da, aku udah capek kelilig lagian ga ada lagi kostan murah begitu""Ya sudah bu saya minta alamatnya boleh?" tanya BianSetelah diberi alamatnya, meerka menuju ke kostan tersebut, dan benar saja untuk menuju kostan tersebut mereka melewati kuburan tetapi memang tidak jauh dari warung tadi."Assalamualaikum" Bian mmeberikan salam"waalaikumsalam" jawab Bapak tua keluar dari pintu rumah"Saya Bian pak dan ini teman saya Ganda, kami ingin menyewa kostan pak" ucap Bian"Oh boleh kebetulan kita hanya menyewakan dua kamar saja" ucap Bapak tua tadi mengajak Bian masuk dan berkeliling.Rumahnya kecil dan sederhana didalam rumah hanya ada 3 kamar dan Bapak tua tadi tinggal seorang diri."Baik pak berapa harga sewa kostnya perbulan?" tanya Bian"500 ribu perbulan saja mas" kata Bapa tadi " tapi saya minta fotokopi KTP kalian dan juga Uang Deposit 500 ribu masing-masing" ucapnya"Maaf pak itu kuburan apa ya?" tanya Ganda tiba-tiba"Oh itu kuburan keluarga besar saya kok mas, jadinya t idak menyeramkan" ucap Bapak tadi menyeringai"Oh kuburan keluarga ya" ucap Ganda sambil mengangguk.Dan akhirnya Ganda dan Bian pun resmi menjadi anak kost di rumah Pak Mijo.Pak Mijo orang yang baik, kadang suamembelikan sarapan untu Bian dan Ganda, rumahnya pun selalu rapih, tidak terasa beberapa bulan mereka sudah kost disana dan suasananya menyenangkan.Hari itu Bian pulag malam karena ada tugas tambahan dari kampus, Ganda sudah pulang lebih dahulu, melewati jalan gang ini tengah malam seperti ini memang ada perasaan aneh yang dirasakan Bian, terutama saat melewati kuburan, suasana terlalu hening sehingga patahan ranting kayu pun akan terdengar, Bianpun mengetuk pintu, tidak ada yang membukakan, perasaan takut mulai menyelimuti Bian, dan dia menjadi kebelet pipis, karena tidak tahan Bian pun mencari jalan untuk pipis didekat pohon rindang samping rumah pak Mijo.Tiba- tiba pintu rumah terbuka.Pak Mijo sudah bangun Bian menjadi lega dan masuk ke dalam rumah, tapi anehnya Bian tidak melihat Pak Mijo disana, tetapi karena mengantuk Bian langsung menuju kekamarnya dan tertidur.Beberapa jam kemudian Bian merasa kebelet lagi, dia pun menuju kamar mandi anehnya sepertinya kamar mandinya berubah, letaknya di pojok belakang rumah, apa fikiran Bian saja, karena sudah kebelet Bian pun masuk kedalam kamar mandi.Setelah selesi pipis Bian mencoba membuka pintu tetapi pintu terkonci tidak dapat terbuka, Bian menggedor pintu tetapi tidak ada yang mendengar, tiba-tiba Bian didekati oleh bayangan-bayangan menyeramkan, "Tidak,.... Tidak...." fikir Bian.Ketakutan Bian melihat penampakan-penampakan hantu tersebut membuatnya keringat dingin, sepertinya mereka adalah mahluk yang sangat menyeramkan dan ingin menyakiti Bian, akhirnya Bian berteriak sekencangnya, tetapi mahluk-mahluk itu semakin dekat.Dan Bian merasakan ada yang menyentu pundaknya, Bian merasa dirinya akan pingsan."Kamu ngapain ada disini malam malam" tanya suara yang tidak asing didengarnya yaitu Pak Mijo"Saya di toilet pak" jawab Bian "Dan hantu-hantu tadi mengejar saya" ucapnya ketakutan"Toilet apa? orang kamu daritadi disini" ucap Pak MijoBian pun baru menyadari dia memandang sekeliling hanya ada kuburan saja, bagaimana mungkin padahal tadi dia yakin ada di dalam rumah.Keesokan paginya Bian dan Ganda sarapan bersama Pak Mijo, dan Bian menceritakan semua kejadian malam itu"Kamu tahu pantangan untuk pipis sembarangan terutama di tempat-tempat yang dekat dengan dunia berbeda" ucap Pak Mijo"Kamu pun harus menghargai dunia mereka, jadi kta tidak akan saling mengganggu" ucap Pak Mijo bijaksana"Apa kita harus pindah kostan lagi Bian?" tanya Ganda"Tidak apa-apa Ganda, seperti yang Pak Mijo bilang aku akan belajar menghormati dunia kita masing-masing" ucap Bian kepada Ganda
HOROR BAJU NENEK
Delisa, Amel dan Reina adalah kakak beradik berusia dua puluh tahunan dengan selisih umur yang tidak terlalu jauh, saat ini mereka sedang menuju ke Desa Hasta tempat kampung halaman orang tua mereka, karena ibu mendapat kabar salah satu kerabatnya meninggal dunia, dan harus mengikuti upacara pemakamannya.Perjalanan menuju Desa Hasta lumayan jauh dari tempat tinggal mereka, melewati bukit-bukit yang curam dan juga banyak jurang di pinggir jalannya, tidak menyangka kampung halaman ibu mereka begitu terpencil. Bahkand seumur hidup mereka baru kali ini mereka pulang kampung kesana.Akhirmya setelah hampir satu hari perjalanan, mereka pun sampai, ayah terlihat sangat lelah karena menyetir begitu jauh dan konsetrasi yang sangat tinggi melihat area jalan yang mereka lewati, Mereka mengina di rumah keluarga disana sudah ada Bude Desti Kakak tertua ibu yang menyambut, dan mempersiapkan untuk kami menginap.Suasana rumah kampung yang luas dengan ruangan yang lapang membuat Delisa kagum betapa rumah ini sangat menarik perhatiannya, tidak membayangkan disinilan ibu waktu masa kecil dan remaja tinggal.Amel dan Reina sudah membereskan semua baju mereka di kamar yang di sediakan.Tetapi Delisa memilih memngelilingi rumah, dia melihat suasana sekitar yang penuh dengan Pohon Jati dan juga bambu menambah keaasrian rumah di desa ini.Saat berjalan di Pohon Jati Delisa melihat seorang pemuda sedang menebang bambu, dan melihat ke arahnya."Hai" sapa pemuda ituDelisa tersenyum " Hai" balasnya"Pasti kamu keluarga Bule Arum yang dari kota, kenalkan saya Anjar anak Mbo Hesti, dan ternyata dia adalah sepuu Delisa.Akhirnya Delisa ngobrol panjang dengan Anjr tenatng slsilah keluarga mereka."Delisa ayo makan, makanan sudah matang, kamu juga Jar ayo masuk" ucap Bude HestiMasakan Bude Hesti sangat enak dan hangat, tidak menyangka ternyata suasana di desa ini membuat Delisa merasa seperti lburan yang diimpikannya.Amel mengajak Delisa dan Reina untuk keluar melihat keadaan sekitar, tetapi karena Delisa sudah berkeliling tadi dia pun menolaknyaAkhirnya Amel dan Reina diantar ayah dan ibu keliling untuk bersilutarahmi dengan tetangga sekitar bersama Anjar dan Bude Hesti.Dan Delisa ditinggal sendiri di rumah.Karena mengantuk maka Delisa masuk kekamar yang sudah disediakan, dan sepertinya ingin langsung tidur dkasur, tetapi ada salah satu lemari dengan hiasan warna warni menarik perhatiannya, Delisa pun membuka lemari tersebut, dan melihat ada baju tidur tua dengan warna kuning disana, Delisa belum membuka kpernya dan merasa perlu segera tidur maka Delisa pun mengambil baju tersebut dan mengenakannya.Ternyata sangat pas dengan tubuh Delisa. Dia pun segera ke kasur dan tertidur lelap.Entah berapa lama Delisa telah tertidur lelap, dia pun membuka matanya karena mencium aroma masakan yang sagat sedap dari dapur, Delisa senang karena perutnya sangat lapar.Saat Delisa ke dapur ruangan sangat sepi tapi dia melihat ada seorang wanita memakai kebaya sedang memasak dan wanita itu sangat cantik sekali."Maaf, saya Delisa" memperkenalkan diriwanita itu melihat ke arah Delisa dan tersenyum menambah kecantikannya."Saya Endang, tapi kamu boleh panggil saya Yang Endang" jwab wanita cantik itu memperkenalkan dirinya juga."Masakannya harum sekali Yang" ucap Delisa dengan ramah"Khusus Yang masakin buat kamu" ucap wanita itu sambil membelai rambut Delisa di meja makan."Yang ga makan juga?" tanya Delisa melihat meja penuh dengan masakan yang nikmat"Sudah kamu habiskan saja, Yang khusus buatkan untuk kamu" lalu Yang pun duduk samping Delisa"Kamu mirip sekali dengan Yang ndok" ucapnya sambil memandang Delisa"tidak Yang, Yang lebh cantik" ucap DelisaYang Endang pun tersenyum sambil meihat ke arah DelisaEntah apa yang merasuki Delisa tapi Delisa berhasil menghabiskan seluruh masakan yang dibuat Yang Endang.Lalu Delisa pun diajak ke Kebun Jati duduk disana dan Yang Endang menceritakan betapa kangennya dia dengan Ibu."Nanti kalau balik kek kota suruh ibu tengok ke rumah sekali-kali, hampir 20 tahun ibumu tidak kesini ndok" ucap Yang Endang merautkan kesedihan "bahkan Yang tidak bisa melihat kalian, aru kali ini Ynag bis aketemu kamu Ndok" ucapnya Lirih."Iya yang nanti saya sampaikan sama Ibu, Yang pasti adiknya ibu yang terakhir ya Yang masih muda dan cantik sekali" ucap Delisa kagum dengan kecantikan Yang Endang.Yang Endang pun tersenyum "kamu mewarisi kecantikan ku Ndok" ucapnya sambil membelai rambut Delisa.Tiba-tiba ada suara Amel memanggil, Delisa pun senang mendengarnya"Itu ibu dan yang lain sudah datang ayo kita masuk kerumah Yang" Ajak DelisaYang Endang pun tersenyum"Delisa kamu ga ikut sih, lihat nih kita setiap berunjung ke rumah tetangga pasti dibawakan buah tangan, ada buah dan sayuran yang lezat, nanti Bude Hesti akan masak masakan enak seperti tadi" Ucap Amel"Iya mel tapi aku sudah kenyang, tadi Yang Endang juga masak masakan yang enak dan banyak, tapi karena aku lapar aku habiskan semuanya" ucap delisa malu"Yang Endang?" Tanya Bude Hesti"Yang Endang? tanya Ibu juga tidak kalah kaget dengan Bude HestiAnjar melihat ke arah Delisa dengan aneh"Kamu pakai baju tidur siapa?" tanya Anjar"Aku tidak tahu tadi ada di lemari kamar" ucap delisa poos sambil melihat ke arah bajunya"Itu Baju Ibu" ucap Bude Hesti "Kamu tahu siapa Yang Endang itu?" tanya Bude Hesti"saudara ibu kan?" jawab Delisa"Bukan Del, tetapi itu Eyang Kamu, Ibu dari Ibu kamu" jawab Bude Hesti " Yang kamu pakai itu baju kesayangannya" ucap Bude Hesti"Tidak mungkin Bude, Yang Endang itu masih muda dan cantik sekali" ucap Delisa mengelakLalu Bude Hesti ke kamar dan mengambil sebuah Foto album lama."Ini kan yang kamu lihat tadi?" tanya Bude HestiDelisa pun melihat dengan seksama, foto htam putih tu ini menampilkan wajah seorang gadis cantik, dnegan rambut panjang terurai, persisi seperti Yang Endang tadi."Iya Bude ini Yang Endang" ucap Delisa"Eyang kangen dengan cucunya" ucap Bude Hesti "Kamu tidak pernh pulang kesini Rum, bahkan Eyang tidak sempat melihat anak-anakmu, dia selalu saja mengigau memanggilmu Rum"Ibu menunduk tersedih "Iya Mbak, aku malu untuk pulang kesini karena kondisiku saat itu masih sangat kekurangan aku membantu suamiku bekerja supaya bisa menata rumah tangga kami, tidak terasa aku jadi lupa untuk pulang" ucap Ibu menitikkan air mata.Aku melihat kesedihan ibu "Bu tadi Yang Endang ngobrol sama aku dia sayang sama ibu, dia berharap ibu mulai sekarang sering- kesini untuk menemui nya disini" ucapku sambil memeluk ibu."Iya maafkan ibu ya anak-anak, nanti saat ibu tua, ibu tidak mengahrap apaun dari kalian, hanya datang dan berkunjung saja tu sudah lebih dari ukup" ucap ibu menagis tersedu.Saat aku memeluk Ibu aku melihat Yang Endang di Jendela dianatar peppohonan Jati sedang tersenyum ke arahku.Sore itu pun kami menyekar ke kuburannya, dan ternyata kuburannya persis diantara phon jati tadi tempat dia berdiri.Apapun Kondsi dan masalah kita aku tidak akan pernah melupakan leluhurku, ucap Delisa dalam hatinya.
MIDNIGHT SALE HOROR
Bianca seorang artis ternama berusia 25 tahun, dengan kulit putih, tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional untuk dilihat, saat ini Bianca sedang berada di puncak karirnya, semua fans myengaguminya, stasiun Televisi pun hampir semua mengundang Bianca untuk datang ke dalam program acara mereka, bisa di bilang Bianca adalah Super Star dan Bianca sangat senang berbelanja, terutama Midnight Sale, karena menurut Bianca berbelanja di malam hari memiliki sensasi yang luar biasa, dibandingkan jika Bianca ke tempat hiburan malam atau tempat makan.Hari ini Bianca selesai melakukan syuting video klipnya sampai jam sepuluh malam, dan Bianca pun bersiap - siap untuk pulang ke apartemennya yang berada di bilangan Jakarta Selatan, Bianca menyetir sendiri kendaraan SUV miliknya, tetapi kondisi jalanan hari itu sangat melelahkan, Macet dan tidak bergerak sama sekali.Saat Bianca merasa putus asa, Bianca melihat ada gang sempit yang tidak terlihat oleh kendaraan lainnya, tetapi gang tersebut cukup untuk jalan dengan kondisi kendaraan yang dimilikinya, merasa frustasi dengan kondisi jalan saat itu, Bianca pun langsung membelokkan setir masuk ke dalam gang tersebut, setidaknya mobil tetap bergerak tidak statis seperti kondisi jalanan tadi, fikir Bianca.Tidak berapa lama Bianca menemukan jalan keluar dari gang dengan jalan yang lebih besar, "Akhirnya" fikir Bianca, kondisi jalan ini sangat sepi berbeda dengan jalan utama tadi, tetapi Bianca belum pernah melewati jalan ini, fikir Bianca tapi Bianca terus menginjak gas kendaraannya, ini Jakarta tidak mungkin a.ku tersasar, fikir Bianca.Tiba - Tiba Bianca melihat sebuah tempat besar dengan lampu yang bersinar terang, setelah Bianca dekati ternyata itu adalah Mall, besar dan mewah terlihat lebih seperti istana di bandingkan dengan Mall biasa, nama Mall tersebut adalah MALL DARKLAND dan anehnya Bianca belum pernah ke Mall ini sebelumnya.HAmpir Bianca menginjak gas mobilnya kembali, tiba - tiba Bianca melihat media promosi yang besar untuk Mall tersebut, "MIDNIGHT SALE if your lucky you get all Item Free".Bianca langsung menyetir mobilnya untuk masuk ke dalam parkiran Mall tersebut.Parkir mobil di Mall tersebut cukup ramai, hanya saja yang membuat Bianca bingung kenapa semua mobil yang terparkir adalah mobil - mobil klasik seperti di era lima puluhan, tapi ya sudahlah fikir Bianca, kalangan yang ada di Mall ini pasti kalangan yang mewah dan menyukai hal - hal yang antik, fikir Bianca sambil mencari tempat untuk memarkir mobilnya.Setelah turun dari mobil, Bianca disambut oleh petugas di Mall tersebut, dengan seragam tempo dulu seperti prajurit kerajaan, "Oke" fikir Bianca mungkin ada tema untuk midnight sale kali ini, yaitu dengan memakai kostum Zaman dulu.Memasuki Lobby Mall tersebut sangat mewah, bahkan seperti istana yang mewah, semua lampu kristal, bangunan yang besar, dan semua dihias dengan dekorasi istana, tidak ada tangga jalan atau lift, yang terlihat tangga - tangga tinggi seperti di kastil - kastil kerajaan.Setiap Toko memajang sepatu dan baju yang mewah dan menarik,banyak pengunjung wanita yang datang di acara tersebut tetapi barang yang dijual dan baju yang mereka pakai seperti Zaman di era lima puluhan."Baik untuk pengunjung di Mall DARK LAND, segera bersiap - siap untuk berbelanja sepuasnya" ucap MC yang ada didalam Mall tersebut, dengan kostum baju satria yang dipakainya"semakin banyak berbelanja, semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan hadiah yang menarik" seru MC tersebutBianca senang sekali membeli sepatu, dan dia melihat ada sepatu berwarna emas, yang pasti akan cocok dengan kostum baru yang dibelinya saat di New York kemarin, Waktu berjalan cepat dan Bianca tanpa sadar sudah membeli banyak sekali barang malam itu, Sepatu, baju, Tas, dan Aksesoris, karena menurut Bianca semua barang - barang tersebut terlihat menarik dan vintage, pasti akan sangat keren kalau aku pakai fikir Bianca.Tetapi anehnya setiap pengunjung yang datang, berbelanja dengan kesunyian, tetapi mereka juga sama seperti Bianca membeli banyak barang.Akhirnya waktu Midnight Sale telah berakhir, dan MC tadi pun sudah menutup acara hari itu, Bianca segera pergi ke parkiran, dan menuju mobil untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah, saat Bianca sudah keluar dari area Mall tersebut, sekitar seratus meter, ada Bapak - bapak tua mengahadang mobil Bianca.Bianca ketakutan, tetapi Bapak tua tadi menghadang mobilnya dan meminta Bianca membuka jendela mobilnya, akhirnya Bianca pun membuka jendela mobil."Maaf pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Bianca sopan"Justru saya yang ingin bertanya kepada ibu, ada yang bisa saya bantu? karena sepertinya ibu tersesat""Tersesat? tidak pak saya ingin pulang ke rumah" jawab Bianca"apa yang ibu lakukan disini?" tanya bapak tua tadi"saya hanya habis berbelanja sebentar pak, sekarang saya sudah mau pulang" jawab Bianca bingung"Belanja? dimana ibu belanja?" tanya bapak tua itu lagi"di Mall......" sambil Bianca menunjukkan arah Mall tadiBianca sangat kaget dengan apa yang dilihatnya,,,, ternyata tidak ada Mall yang tadi dia masuki, yang ada hanya lahan kuburan belanda dengan ornamen khas eropa yang luas dan sepi...Tiba - tiba Bianca merasa merinding, dia melihat hasil belanjaannya di belakang kursi mobilnya, dan semua masih ada, utuh, tidak ada yang hilang....."Hati - hati mba" ucap bapak tua tadi"Ini Malam Jum'at Kliwon........"
HANTU AMBULAN
Sandi hari ini merasa sangat lelah dengan tugas kuliah yang harus dikerjakannya, bahkan tidak terasa sudah hampir jam 1 malam dia mengerjakan tugas itu, akhirnya Sandi bisa menyelesaikan bersama teman-temannya.Sandi : "Mir kamu nginep dirumah aku saja yuk, temenin aku pulang" ucap SandiMira "Soory San, nanti Robbi mau jemput, dia mau ajak aku makan duluSandi : "Kalau kamu gimana Dit? Mau temenin aku pulang ga?"Dita : "Sorry San aku juga sudah dijemput sama papahku, atau kamu ikut aku aja nginep dirumahku?"Sandi : "Ga bisa Dit, papahku galak banget ga bolehin aku nginep"Mira : "Tapi kan kamu pulang malam begini lebih bahaya San"Dita : "Iya San, rumah kamu juga jauh lagi"Sandi : "Ya udah gapapa deh, aku nanti naik taksi saja"Akhirnya Sandi pun bergegas menuju ke halte, suasana halte yang sepi dengan pedagang kaki lima yang menjual sate disebelahnya, membuat Sandi merasa lapar, akhirnya dia memtuskan untuk makan sate lebih dahulu.Beberapa jam kemudian, Sandi masih menunggu di halte, tidak ada satu tajsi pun yang lewat. Tiba-Tiba Sandi melihat ada wanita berbaju merah menyebrang ke arah halte, Sandi senang setidaknya dia tidak sendirian.Tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju sangat kencang dan menabraknya.Sandi sangat kaget menyaksikan hal tersebut, dia meminta bantuan dan berteriak tetapi tidak ada yang mendengarnya.Sandi pun menghamiri wanita tersebut dengan luka di seluruh tubuhnya. Sandi bingun apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba ada suara ambulan datang, beberapa petugas mengangkat tubuh wanita itu dan mengajak Sandi masuk untuk mendengar kesaksiannya.Sandi pun masuk ke ambulan tersbut, hanya ada Sandi, wanita korban kecelakaan itu dan satu lagi petugas wanita berpakaian seragam rumah sakit, yang ada didepannya.Suster : "Bagaimana kejadiannya?" tanya suster tersebutSandi " "Saya tidak tahu bu, kejadiannya sangat cepat, saat wanita ini ingin menyebrang tiba-tiba mobil itu berlari kencang dan saya melihat wanita ini terkapar, bahkan mobil tadi pun langsung meninggalkannya seolah-olah dia tidak merasa bersalah dan lari secepat mungkin".Keadaan didalam ambulan kembali tenang semua hanya terdiam.Suara Sirene Ambulan sajalah yang terdengar oleh Sandi, dia sangat ketakutan apalagi melihat wanita tersebut juga tidak sadar-sadar.Entah mengapa mereka juga tidak sampai ke rumah sakit, bahkan sudah beberapa jam masih dalam kondisi di jalanan sandi khawatir takut wanita ini tidak tertolong lagi.Sandi : "Apakah Rumah sakitnya masih jauh?" tanyanyaSuster tadi hanya diam dan tidak menajwab peertanayaan Sandi.Akhirnya karena kelelahan dan rasa kantuknya Sand pun tertidur di Ambulan tersebut.Dan tiba-tiba dia merasa kaget saat ada orang yang menyentuhnya, Sandi membuka mata perlahan dan melihat sinar matahari sudah memancarkan cahayanya."Kamu kenapa tidur disini?" tanya seorang Bapak tua yang memakai seragam security.Sandi : "Saya kemarin dibawa ambulan pak, mengantarkan koban kecelakaan, apakah korabnnya sudah ditolong pak?" tanyanya bingung"Ambulan? Korban Apa?" tanya Bapak tua tadi bingung"Iya pak, saya sedang di ambulan" ucap Sandi sekali lagiCoba kamu lihat sekeliling, dulu memang ini adalah rumah sakit, tetapi sekarang hanya menajdi gedung tua, dan ambulan yang ada di sana juga sudah tidak pernah digunakan, sudah rusak dan sudah tidak bisa dipakai lagi" tunjuk bapak tua tadi.Lalu Sandi melihat sekelilingnya, betul betul menyeramkan, saya sekarang berada di mana ya? tanya Sandi bingung."Ini daerah Sudong Sawir mba, di Jawa Tengah" ucap bapak tadiSandi : "Jawa Tengah??""Iya kenapa kamu bingung?" tanya Bapak tua lagiSandi menceritakan semua kejadiannya kepada bapak tua tadi, bagaiana dia selesai tugas di Jakarta pada jam tengah malam, dan tidak mungkin dia bisa berada di Jawa Tengah hanya dalam waktu beberapa jam saja."Oalah kamu itu sudah masuk ke dunia mereka, tidak ada jarak dan waktu yang pasti disana" ucap Baoak tua tadi.Lebih baik kamu tenangkan diri dulu di kantor kecamatan tempat saya bekerja, tidak jauh dari sini. Disana kamu bisa telepon orang tuamu dan pulang kemabli ke Jakarta.Orang Tua Sandi sangat khawatir dengan kejadian yang dialami puterinya, mereka pun bergegas menjemput Sandi.Dalam perjalanan pulang Sandi masih bingung memilirkan apa yang dialaminya, masuk ke dunia lain, dan sampai di kota yang jau jaraknya, saat sedang termenung tiba-tiba Sandi mendengar suara Ambulan yang kencang tepat disamping mobilnya, dan dia melihat suster kemarin sedang melihatnya dri jendela dengan tersenyum begitu juga dengan wanita berbaju merah yang kemarin bersamanya.
HOROR GADIS PUJAAN
Ridwan seorang office boy dikantor PT Suryalaya, sudah hampir lima tahun dia bekerja di perusahaan ini, dan baru-baru ini dia mulai memperhatikan seorang resepsionis baru bernama Keke yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Keke merupakan gadis cantik berkulit putih bersih dan juga memiliki wajah yang rupawan, dan tentu saja dia langsung menjadi idola di kantor banyak pria-pria terutama yang berhidung belang mendekatinya, dan tidak sulit bagi Keke untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dari pria-pria tadi.Setiap Ridwan lewat didepan Keke, hampir tidak pernah Keke memperhatikannya, gosip yang beredar dikantor Keke itu matre, mana mau dia memperhatikan seorang Office Boy seperti Ridwan dengan wajah yang tidak tergolong tampan.Sampai suatu sore Ridwan memiliki kesempatan untuk mendekati Keke"maaf mba Keke, boleh tanya ga rumah mba Keke dimana?"dengan wajah cemberut, Keke melirik ke arah Ridwan dan langsung mengacuhkannya"Mba Keke kok ga jawab, siapa tahu saya bisa mengantar mba Keke pulang" jawab Ridwan dengan segenap keberaniannya"Apa-apaan sih lo, ngaca dulu dong, pake segala mau anterin gue, emang lo fikir lo siapa?" ucap Keke dengan nada tinggi dan merendahkan RidwanRidwan sangat kecewa dan sakit hati dengan gadis pujaannya tersebut, dia fikir Keke selama ini adalah bidadari yang memiliki hati yang cantik seperti wajahnya, tetapi omongan Keke tadi sangat keterlaluan, Ridwan akhirnya pulang dengan kegelisahan di hatinya dan rasa sakit hati yang tidak dapat terobati.Tiba-tiba dalam perjalanan, Ridwan teringat bahwa di kampungnya ada Mbah Gun yang memiliki ilmu untuk permasalahannya, dia pun membelokkan motornya dan menuju rumah Mbah Gun"Selamat malam Mbah" ucap Ridwan"Malam kamu ada masalah apa?" tanya Mbah GUn"Ada seorang wanita yang saya sukai Mbah, dia sangat cantik tapi sayang dia sombong, hari ini dia menghina saya, saya ingin agar dia menyesali kata-katanya dan mengejar-ngejar saya" ucap Ridwan"Baiklah itu udah, tapi harganya mahal" kata Mbah Gun"Saya siap Mbah" ucap Ridwan yang akan melakukan apapun untuk membalas dendam untuk rasa sakit hatinyaSetelah ada kesepakatan Mbah GUn memebrikan botol air putih kepada ridwan"Campurkan minuman ini ke gelasnya pagi dan sore, dan harus dilakukan di hari yang sama kamu harus mencampurkan rambutmu ke dalam gelas itu juga" ucap Mbah Gun"Baik Mbah" ucap RidwnKeesokan harinya Ridwan melakukan perintah Mbah Gun, dan saat dia menyediakan air untuk keke dia pun melakukan ritual itu.Sore ini, syarat terakhir untuk memberikan minum lagi ke Keke, dan tidak lama setelah Ridwan memberi minum Keke, tiba-tiba selang beberaa menit Keke memanggil ridwan"Mas Ridwan" ucap Keke"iya mba" ucap Ridwan ketautan"Aku hari ini tidak bawa motor, boleh gak saya pulang bareng kamu" ucap KekeRidwan sangat senang ternyata yang dia lakukan membuahan hasil, dan semenjak saat itu Keke selalu pulang bareng Ridwan, adakeanehan yang mengganjal bagi beberapa teman dekat Keke dengan kelakuannya tersebut.Tidak terasa sudah satu tahun Ridwan dekat dengan Keke, dan pada akhirnya merekapun menikah, dan tidak lama Keke pun mulai merasakan perasaan cinta yang berlebihan kepada Ridwan bahkan rasa cemburu Keke besar, dan Ridwan akan memeprlakukan Keke dengan kasar saat dia ingat rasa sakit hati akibat omongan Keke pada waktu itu.Suatu hari Winda sahabat Keke main ke rumahnya saat Ridwan sedang keluar kota, dan saat berbicara berdua tiba-tiba Winda melihat bayangan di pojok rumah Keke, sosok yang sangat menyeramkan, dan dia seperti menjaga Keke.bayangan yang menyeramkan itu membuat Winda tidak bisa tidur saat berada di rumah Keke, bahkan bagi Winda mahluk itu sangat menyeramkan.Dan saat Winda sedang tertidur saat mengnap di rumah Keke tiba-tiba dia melihat mahluk menyeramkan tadi, mahluk itu mendekati Winda dan seolah ingin mencekiknya, winda sangat ketakutan tetapi saat itu tubuhnya kaku dan tidak dapat bergerak, bahkan Winda melihat Keke sedang tertidur pulas.Dan tidak lama terdengar suara azan subuh, Mahluk itu tiba-tiba menghilang, karena tidak tahan dengan kejadian tadi malam akhirnya Winda pun menceritakannya kepada Keke."Apa kamu merasa ada yang tidak aneh Ke?" tanya Winda penasaranKeke terdiam, sebenarnya dia juga merasa ada yang aneh pada dirinya terutama rasa cintanya yang berlebihan kepada Ridwan, bahkan seingat Keke dia tidak pernah menyukai Ridwan sebelumnya."Sepertinya sejak aku mengenal suamiku Win, aku juga merasa ad yang aneh" ucap Keke JujurBagaiana kalau kamu dirukyah Ke, aku ada Ustad dekt rumah dan dia bisa melihat mahluk gaib seperti itu, tapi aku sarankan kamu jangan beritahu Ridwan tentang hal ini.Akhirnya Lusa mereka pun ke rumah Ustad Hari untuk menanyakan perihal mahluk gaib tadi, setelah menceritakan dan Ustad Hari pun mengangguk, dia akan berusaha membantu Keke untuk datang ke rumahnya malam itu bersama Winda."Astagfirullah" Ucap Ustad Gari saat memasuki pintu rumah"Kenapa Pak Ustad?" tanya Keke"Sepertinya suamimu memiliki banyak ilmu dan menjadi budak mahluk gaib tersebut, dan sepertinya dia memang mengguna-gunai kamu dengan ilmunya" ucap Ustad Hari jujurTiba-tiba Keke dan Winda sangat ketakutan bulu kudu mereka berdiri"Saya sarankan Nak Keke tinggal dirumah orang tua saja saat ini, banyak beribadah, dan memohon perlindungan kepada Allah, dan jangan bertemu dulu dengan suami Nak Keke selama 14 hari agar ilmu nya hilang.Keke dan Winda pun pergi ke tempat orang tua Keke dan menjelaskan semuanya, Ayah Winda sangat marah setelah tahu apa yang dilakukan Ridwan tapi dia merasa semua sudah terlanjur, dan dia harus menyelamatkan anaknya dari perbuatan Ridwan.Ridwan berusaha sekuat tenaga untuk mencarti Keke, bahkan mengancam orang tua Keke untuk dilaporkan ke pihak Kepolisian, tapi Orang tua Kekek tidak gentar.Malam itu, Ridwan merasa tidak berdaya dan sangat putus asa, tiba-tiba dia melihat ada tali didepan matanya, dan dia memutuskan untuk menggantung dirinya, semua mahluk tadi membisikinya agar Ridwan segera melakukannya.
HOROR PENJILAT BOS
Bilqis hari ini sangat sebal dengan kelakuan Bodi rekan kerjanya dan sepertinya batas kesabaran dia sudah hilang, padahal mereka satu tim sudah hampir 1 tahun tapi kelakuan Bodi tidak pernah berubah selalu suka menjilat atasan dan berusaha untuk menjatukan Bilqis disetiap kesempatan.Berawal dari Pak Handoyo yang mengundurkan diri, dan digantikan dengan Pak Rendra, membuat kelakuan Bodi semakin menjadi-jadi, bagi Bodi saat bersama Pak Handoyo dia tidak bisa mengeluarkan jurus menjilatnya, karena Pak Handoyo orang yang cerdas dan dapat membaca karakter masing-masing anak buahnya, Pak Handoyo sangat mempercayai Bilqis dan membuat Bodi tidak bisa berkutik.Tapi dengan adanya bos baru Pak Rendra, Bodi langsung melancarkan gerak-geriknya, seolah-olah semua proyek yang berhasil, semua dilakukan olehnya, mendekati Pak Rendra saat dikantor, mengajaknya makan siang dan bahkan mentraktirnya. Pak Rendra sepertinya juga dekat dan mempercayainya.Bahkan semua tugas yang Pak Rendra suruh ke Bodi diserahkan kembali ke Bilqis untuk dikerjakan dengan kata sakti "disuruh Pak Rendra".Bahkan kali ini ada project yang ternyata Bodi lupa untuk menyelesaikannya dan dia dimarahi oleh Pak Rendra, alih-alih dia mengaku bersalah dia malah menyalahkan Bilqis, bilang ke Pak Rendra dia belum menyelesaikan project ini karena Bilqis belum menyelesaikan datanya, padahal menginformasikan ke Bilqis pun tidak."Kamu kenapa mukamu ditekuk gitu?" Tanya Hani saat makan siang"Kelakuan Bodi tuh udah kebangetan Han, Cari muka dan jilat ke Pak Rendranya itu lo bikin gue enek banget" jawab Bilqis"Iya emang, heran gue orang ga bisa kerja kaya gitu dipercaya" jawab Hani menimpali Bilqis"Ya itu dia ga bisa kerja, bisanya jilat doang" ungkap bilqis dengan wajah sewot"Kenapa ya Pak Rendra ga bisa kaya Pak Handoyo bisa baca karakter orang" tanya Hani"Entahlah, tapi yang pasti dia yang rugi, kerjaan dia pasti ga ada yang beres" ucal Bilqis"Iya sih, tapi kan nanti kamu yang di salahin ama Bodi terus" ucap Hani"Terserahlah Han, kalau gue ga bisa tolerir lagi, paling gue cari kerjaan baru" ucap Bilqis sambil menghela nafasSore itu Bilqis baru mau pulang, tetapi Bodi menghampirinya"Ini Qis lo disuruh kerjaan proyek ini, besok harus selesai" ucap Bodi"Lo gila ya, ini kan udah jam pulang, lagian setau gue Pak Rendra suruhnya lo deh" ucap Bilqis"Siapa bilang? tugas gue udah selesai kok, ini Pak Rendra yang suruh kasih lo" jawab Bodi membela diri.Dengan perasaan kesal, akhirnya Bilqis lembur dikantor, dengan sumpah serapah dalam hatinya ke Bodi dia merasa sangat kesal.Tidak terasa waktu menunjukkan jam 9 malam, Bilqis sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba dia melihat bayangan mendekatinya, bulu kuduknya merinding, perasaan tidak ada orang lagi dikantor ini, dan setelah bayangan itu persis didepan matanya ternyata"Bodi?" ucap Bilqis kagetBodi melihat ke arah Bilqis dan hanya diam, tapi ada yang aneh, lidah Bodi menjulur ke depan dan cukup panjang, matanya seperti menangis mengeluarkan air mata tapi yang keluar berwarna merah seperti darah"Apa-apaan sih lo Bodi, lo mau nakutin gue ya" ucap Bilqis dengan kesalAkhirnya Bilqis merapihkan mejanya dan siap-siap untuk pulangSaat Bilqis mau Pulang, dia melihat sekali lagi ke arah Bodi, dia tetap menatap Bilqis dengan lidah yang menjulur dan air mata berwarna merah.Baginya Bodi selain penjilat memang orang yang menyebalkan, akhirnya setelah sampai rumah Bilqis berusaha untuk tidur tapi bayangan Bodi tadi selalu teringat difikirannya.Besok pagi dikantor, Bilqis melihat semua orang berkerumun"Bilqis lo dah denger belum?" tanya Hani"Denger apa?" tanya Bilqis bingung"Bodi kecelakaan kemarin sore di depan gang rumahnya, dia ditabrak mobil" ucap Hani sambil memperlihatkan foto Bodi saat kecelakaanLidah Bodi menjulur dan wajahnya dipenuhi dengan darah, sama persis dengan Bodi yang mendatanginya ke kantor.Tba-tiba Bilqis merasa seluruh tubuhnya bergetar, karena hantu Bodi lah yang mendatanginya kemarin, dia pun menceritakan kepada Hani kejadian itu."Itu mungkin karena Bodi suka menjilat bos, akhirnya dia berakhir seperti itu" ucap Hani dengan wajah takut"Kita doakan saja Han semoga dosa dia diampuni, aku sudah ikhlas juga kok memaafkannya, pelajarannya semoga kita jangan menjadi penjilat dan suka cari muka sama atasan ya Han" ucap Bilqis kepada Hani.