Ada seorang laki-laki Jepang yang bosan dengan istrinya. Saat mereka menikah, istrinya adalah wanita paling cantik yang pernah ia lihat. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam, alis mata yang cantik, dan kulit yang lembut. Namun demikian, setelah bertahun-tahun, penampilannya yang cantik memudar dan ia menjadi gemuk. Wajahnya menjadi keriput. Lelaki itu menyadari bahwa ia tidak tertarik lagi pada istrinya. Ia memutuskan untuk meninggalkannya.
Si lelaki memberitahu istrinya bahwa ia ingin bercerai, kemudian pindah dari rumah itu. Ia menyewa sebuah apartemen di kota. Ia mengunjungi bar dan diskotik untuk mencari wanita baru. Ia memerlukan waktu yang lama sampai ia bertemu dengan gadis muda cantik yang menarik. Umur gadis itu 18 tahun, ia tinggi dan ramping dengan rambut pirang. Laki-laki itu langsung jatuh cinta. Beberapa minggu kemudian, ia meminta gadis tersebut untuk menikah dengannya.
Gadis pirang menerima lamarannya. Setelah mereka menikah, gadis itu pindah dengannya. Namun demikian, segera setelah cincin berada di jarinya, sikap gadis pirang itu berubah. Sebelum menikah, ia sangat manis, menyenangkan, dan ramah. Tetapi sekarang, sikapnya keras, kasar, dan jahat.
Gadis itu sangat sombong. Ia terlihat menghabiskan waktunya di depan cermin untuk bersolek. Ia mengenakan make up dan menatap pada pantulan wajahnya sendiri. Ia juga sangat boros. Ia membuat suaminya menghabiskan semua uangnya untuk gadis tersebut. Ia memaksa suaminya untuk membelikannya baju baru, perhiasan baru, gadget baru, dan mobil baru.
Suatu hari, si lelaki pulang ke rumah dan melihat istrinya baik-baik. Semua riasan itu... eyeliner , maskara, eye shadow ... hanya menyisakan kejelekan yang tersembunyi di dalamnya. Ia mulai berharap tak pernah menikahi gadis tersebut.
Setelah bertahun-tahun berlalu, si lelaki mulai merindukan istrinya yang lama. Ia mungkin telah tua dan gemuk, tapi ia tetap orang yang peduli dan penuh perhatian. Ia menangis saat mengingat suara lembut istrinya, senyumnya yang manis, dan kesabarannya yang tak pernah habis. Ia menyesal hari itu telah menceraikan istrinya.
Ia akhirnya menyadari bahwa ia masih mencintai istri pertamanya, mencintainya lebih dari gadis pirang. Ia mulai mengerti bagaimana ia telah membuang satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya. Kadangkala di dalam mimpinya, ia bisa melihat istri lamanya. Wanita itu duduk sendirian di dalam kamarnya, rambutnya yang hitam panjang menutupi wajahnya. Larut malam, lelaki itu akan bertanya pada dirinya sendiri bagaimana hidup istrinya, apa yang ia lakukan, apakah ia akan kembali?
Suatu malam setelah pertengkaran yang sengit, laki-laki itu memutuskan bahwa ia tidak tahan lagi. Ia tidak bisa bersabar lagi. Ia lalu meninggalkan istrinya yang pirang. Ia meninggalkan kota dan melakukan perjalanan jauh kembali ke rumah istrinya yang lama. Saat ia sampai di jalan tempat mereka tinggal, saat itu telah lewat tengah malam.
Rumah mereka terlihat sunyi. Rumput-rumput tinggi tumbuh di halaman. Jendela-jendela pecah dan rusak. Genteng-genteng hilang dari atap. Dinding terlihat seolah-olah tak pernah dicat selama bertahun-tahun.
Ia mengetuk pintu depan, tapi tidak ada seorang pun yang menjawab. Kemudian, ia mencoba menyentuh kenop pintu. Ternyata tidak dikunci. Ia berjalan masuk dan mendapati ruangan kosong. Angin dingin berhembus melalui jendela yang rusak.
Laki-laki itu menaiki tangga. Ia membuka pintu kamar tidur. Ia kaget melihat istrinya duduk di atas ranjang. Ia berlari pada istrinya, memeluknya ke dalam lengannya, dan menangis di pundak wanita tersebut. Sambil menangis, lelaki itu memberitahunya betapa ia merindukan istrinya selama bertahun-tahun. Ia juga memohon pada istrinya untuk memaafkannya karena telah pergi.
Wajah istrinya tertutup oleh rambut hitamnya yang panjang, tapi lelaki itu bisa mendengar suara istrinya yang lembut di telinganya. Wanita itu berkata padanya, "Aku senang kau datang kembali padaku. Walau hanya sebentar."
"Hanya sebentar?" jawab suaminya sambil tertawa. "Aku kembali. Sekarang kita bisa menghabiskan sisa hidup kita bersama-sama."
Lelaki itu menyibak rambut dari wajah istrinya. Ia baru saja akan mencium wanita itu. Tapi saat membuka mata, ia berteriak ketakutan. Wajah istrinya kotor, hanya tinggal tengkorak. Ketakutan, ia menyadari yang dipeluknya bukan lengan tapi tulang berdebu yang panjang dengan rambut hitam yang seperti senar.
Lelaki itu mencoba menjauhkan dirinya dari tengkorak menjijikkan tersebut. Ia berdiri di sana dalam cahaya temaram. Perasaan ngeri menyebar ke seluruh tubuhnya.
Ia berlari menuruni tangga dan keluar dari pintu depan. Di jalan, ia bertemu dengan tetangganya. Ia bertanya siapa yang tinggal di rumah tua yang telah ditinggalkan itu.
"Tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah itu sekarang," kata si tetangga. "Bertahun-tahun yang lalu, rumah itu milik seorang wanita yang ditinggalkan oleh suaminya. Suaminya menceraikannya karena ingin menikah dengan wanita lain. Ia sangat sedih hingga bunuh diri tak lama setelah itu."
***