Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
GADIS & POHON BERNYANYI
Di suatu pagi, di pinggir kota, terlihat suasana masih belum begitu ramai. Karena selain masih pagi saat ini juga sekolah sedang musim liburan, jadi tak banyak orang lalu-lalang di jalanan, terutama anak sekolah.Saat itu juga suasana di sebuah perkampungan yang terletak di pinggiran kota. Udaranya segar di antara rimbunan pohon-pohon yang menghiasi sekitar pemukiman tersebut.Cerah dan segarnya udara pagi ini, tak dilewatkan begitu saja oleh Adi dan Kakaknya.Pagi itu mereka mengisi liburannya dengan memancing di sungai pinggir hutan. Akan tetapi baru beberapa saat saja Adi sudah terlihat suntuk karena tidak mendapat ikan."Kek, aku mulai ngantuk nih.""Sabar... Di..."Melihat gelagap itu Kakek segera menghibur Adi agar bersabar, dan sebagai pengusir rasa suntuknya Kakek bercerita, tentang kisah Gadis dan Pohon Bernyanyi.Beginilah ceritanya. Di sebuah desa, tinggallah seorang perempuan bernama Gadis. Ia sudah yatim piatu, orang tuanya sudah lama meninggal. Ia tinggal bersama Tantenya.Namun malang nasib Gadis. Tantenya sangat bengis terhadapnya. Ia sering diperlakukan tidak adil, hampir semua pekerjaan rumah ia harus tanggung sendiri.Gadis sangat sedih, ia teringat kepada kedua orang tuanya, yang telah lama meninggal. Tapi, ia mencoba untuk tabah dan tegar."Aku harus kuat dan tabah..."Begitulah Gadis menjalani kehidupannya. Hanya ketabahan dan ketegaran hatinya yan membuat ia tetap kuat menghadapi semua perintah jahat Tantenya.Setiap hari ia harus mengambil air dari sumur, yang jaraknya sangat jauh dari rumah.Namun tetap saja ia selalu dimarahi oleh tantenya. Walaupun ia sudah seharian bekerja."Jangan pulang, kalau belum selesai!"Gadis sangat sedih. Seperti hari-hari sebelumnya, ia pergi ke pinggiran hutan, menemui sahabatnya, sebuah pohon tua."Pohon aku datang, hanya kamulah sahabatku, yang mau mendengarkan semua keluh kesahku, tentang jahatnya Tanteku."Demikian Gadis selalu mencurahkan isi hatinya kepada si pohon tua.Si pohon tua selalu bernyanyi untuk menghibur Gadis. Gadis sering tertidur dalam buaian nyanyian si pohon tua.Suatu hari Gadis disuruh oleh tantennya untuk pergi ke pasar untuk membeli berbagai macam keperluan dapur. Dan saat itu juga seorang pengawal dari kerajaan membacakan sebuah pengumuman yang berisi: "Raja memerintahkan untuk menebang semua pohon-pohon tua yang ada di hutan untuk dijadikan kapal pesiar.""Waaah gawaat." ucap Gadis.Pengumuman itu sangat sangat mengjutkan dan membuat Gadis sangat sedih, karena dia pasti akan kehilangan sahabatnya.Akhirnya pohon-pohon tua ditebang. Begitu juga dengan pohon tua sahabat Gadis, ikut ditebang juga. Karena pembuatan kapal itu membutuhkan sangat banyak kayu.Dan selesailah kapal itu. Namun diluar dugaan, kapal itu tidak mau berlayar, bahkan tidak bergerak sedikit pun meski sudah didorong.Raja sedih dan kecewa, melihat kepal tersebut tidak mau berlayar. Dia tidak tahu harus berbuat apa.Rakyat pun ikut kecewa. Gadis mendengar kabar tersebut dan ingat akan sahabatnya yang telah menjadi bagian dari kapal tersebut.Gadis berbicara dengan lembut kepada sahabatnya, si pohon tua, yang sudah menjadi kapal. Gadis membujuknya untuk mau bergerak. Akhirnya berkat pertolongan Gadis yang bersahabat dengan pohon tua itu, maka kapal pun berlayar.Raja pun senang, melihat kapalnya bisa berlayar. Sebagai tanda terima kasih, Gadis pun diajak berlayar, bahkan akhirnya Gadis diangkat menjadi anak dan tinggal di istana."Terima kasih Baginda Raja."Berkat persahabatannya dengan pohon tua tersebut, akhirnya penderitaan Gadis berakhir, kini ia hidup bahagia.Begitulah ceritanya Di... Kakek mengakhiri ceritanya. Bila kita sabar dalam menhadapi segala hal sambil kita ulet/ tabah menjalaninya, maka hasilnya pun akan memuaskan.Tali pancing Adi bergerak. Akhirnya Adi mendapatkan ikan juga, ia senang sekali."Kekek... lihat!!! Aku dapat ikan juga, ikannya besaaar...! waaah...'Matahari mulai meninggi, tanda hari semakin siang dan mulai beranjak sore. Kakek dan Adi pun segera bersiap- siap untuk pulang."Ayo kita pulang, sudah nggak tahan nih ingin makan ikan goreng.""Ayoo, kalo begitu kita balapan, siapa yang paling cepat sampai di rumah bakal makan banyak ikan ha ha..."Matahari mulai terbenam, malam akan segera tiba. Tapi untunglah Kakek dan Adi telah tiba di rumah.
KISAH SEBUAH GULING KECIL
Pada zaman dahulu di suatu kerajaan, hidup seorang permaisuri yang cantik, namanya putri Intan Permata. Beliau memiliki seorang putra yang bernama Pangeran Arya. Putri Intan Permata, begitu bangga pada putra pertamanya. Dengan penuh kasih sayang, beliau merawatnya. Sebagai salah satu ungkapan kasih sayangnya, Pangeran Arya dibuatkannya sebuah guling mungil bermotif bunga matahari."Arya anakku sayang lihatlah Bunda memiliki sesuatu untukmu," ucap Permaisuri."Apa itu Bunda???" ucap Pangeran Arya."Ini adalah sebuah guling kecil yang khusus Bunda buatkan untukmu Pengaran kecilku," ucap Permaisuri."Terima kasih Bunda, aku akan selalu memeluknya saat tidur," ucap Peran Arya.Beberapa tahun kemudian.Disuatu malam Permaisuri mendapati guling kecil Pangeran Arya tergeletak dibawah tempat tidur, lalu diambilnya guling itu, dan sejenak Permaisuri mengamati sulaman bunga matahari sambil mengelusnya. "Tak terasa waktu telah berjalan 7 tahun, dan Pangeran tak mau lagi memeluk gulingnya." Sang Ibu meskipun kecewa memaklumi bahwa anaknya kini sudah tidak memerlukan guling kecil itu lagi. Setalah itu sang Permaisuri meletakkan guling itu disamping puteranya.Keesokan harinya Pangeran Arya terlihat geram dan marah, mengapa ia diberi guling bayi, padahal Pangeran sudah menyuruh para dayang untuk tidak meletakkan guling itu di kamarnya.Semua orang yang ada di istana termasuk Merduati pengasuhnya sekaligus dayang yang sering mendongeng kapadanya, tak luput dari kemarahan Pangeran Arya."Siapa yang berani-beraninya meletakan guling kecil ini kedalam kamarnya kembali??" ucap Pangeran Arya."Ampuni kami Pangeran Arya kami tidak tau siapa yang meletakkan guling kecil itu," ucap semua orang yang ada di istana termasuk Meduati.Permaisuri yang mengetahui kejadian itu meminta Merduati ikut bersamanya."Merduati, mari ikut bersamaku. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Pemaisuri."Baik Permaisuri," balas Meduati.Permaisuri terkenang betapa dulu ia menyulamnya siang dan malam. Permaisuri berharap agar kehidupan Pangeran Arya kelak cerah secerah bunga matahari yang ada di guling kecil itu.Akhirnya Peramaisuri memberikan guling kecil itu kepada Merduati sebagai kenang-kenangan, karena Merduati ingin kembali ke kampung. Merduati merasa dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi di Istana sebagai pengasuh Pangeran Arya yang sekarang sudah dewasa."Merduati, saya ucapkan terima kasih telah membantu mengasuh Pangeran Arya sejak kecil hingga saat ini, dan sebagai kenang-kenangan saya ingin memberikan guling kecil ini kepadamu," ucap Permaisuri."Tapi Permaisuri itu adalah guling kesayangan Pangeran Arya saat kecil," ucap Merduati."Tidak apa-apa Pangeran Arya sudah tidak menginginkan lagi, jadi terimalah," ucap Pemaisuri"Baik Pemaisuri, saya akan menjaga dan merawatnya," balasa Merduati.Setelah kepergian Meduati dari istana sang Permaisuri menjadi pemurung. Raja yang mengetahui istrinya murung mencoba menghiburnya dengan mengatakan "Arya memang sudah besar, tapi dia tidak membenci siapapun."Pangeran Arya terus tumbuh, dia terus dididik dan ditempa, karena kelak ia akan menjadi penerus Baginda Raja.Malam hari di rumah Merduati. Dia sangat senang menerima guling itu, bukan hanya karena dia bisa mengenang kehidupan di istana, tetapi karena sulaman guling itu memang benar-benar indah, dan dibuat sendiri oleh Permaisuri.Ketika Iko, keponakannya, datang kerumahnya. Merduati memberikan guling kecil itu kepada Iko. Betapa bahagianya Iko mendapat sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya."Iko, Bibik memiliki sesuatu yang mungkin kamu akan senang menerimanya," ucap Merduati."Apa itu Bibik???" jawab Iko."Ini adalah guling yang dibuat oleh Permaisuri dan diberikan kepada bibik sebagai kenang-kenangan. Bibik harap kamu mau menjaga dan merawatnya!" ucap Merduati."Terima kasih bibik, Iko janji akan menjaga dan merawatnya," ucap Iko.Tahun demi tahun berganti. Pangeran Arya tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Kegemarannya berkuda dan berburu membuatnya semakin terlihat dewasa. Namun, semakin hari sifat buruknya mulai terlihat. Berpesta dan mabuk-mabukan ia lakukan hampir tiap malam, hingga sang Raja jatuh sakit karena sedih memikirkan perkembangan putranya.Baginda Raja akhirnya menegur sikap Pangeran Arya yang tidak baik itu. Pangeran Arya tidak terima diperlakukan seperti itu dan berniat akan pergi dari Istana yang seolah mengekangnya selama ini."Arya kamu itu adalah calon penerus kerajaan ini, jika sikap kamu seperti itu tinggalkanlah kerajaan ini!" ucap sang Raja.Malam harinya, niat Pangeran Arya meninggalkan istana benar ia lakukan. Dengan menaiki kuda ia terus melaju entah kemanapun arah dan tujuannya. Malang bagi Pangeran Arya, dalam perjalanannya ia terpelanting dari kudanya dan hanyut di sungai yang deras.Untunglah ia berhasil diselamatkan oleh seorang pemburu yang kebetulan melintas, lalu ia pun dibawa pulang kerumahnya untuk dirawat. Arya berusaha menyesuaikan dirinya dengan kehidupan sang pemburu. Ia membantu berburu dan menjemur kulit hasil buruan. Memang mereka sangat keras dan kasar, walaupun begitu mereka sangat baik dan banyak sekali pelajaran yang ia peroleh dari mereka.Setelah hidup 3 tahun bersama keluarga pemburu tersebut, Arya berniat kembali pulang ke istana. Ia berpamitan dan berterima kasih atas semua yan telah ia dapatkan dari keluarga pemburu tersebut."Paman dan Bibik, Arya sangat berterima kasih karena diizinkan untuk tinggal disini selama 3 tahun bersama Paman dan Bibik. Arya akan selalu mengingat setiap pengalaman yang Paman dan Bibik ajarkan. Arya mohon pamit untuk membali ke istana," ucap Pangeran Arya.Ditempat lain, di sebuah desa kecil, tampak prajurit istana yang sedang menyamar, mereka ditugaskan mencari Pangeran Arya yang sudah 3 tahun pergi dari istana. Sementara itu, di tempat yang sama. Iko yang telah dewasa sedang becakap-cakap dengan seorang penjahit tua. Dia membawa guling kecil pemberian Merduati untuk dibetulkan, karena sudah usang dan sobek disana-sini."Kakek penjahit Iko ingin memperbaikai guling kecil ini, apakah bisa diperbaiki?" ucap Iko."Coba saya lihat dulu gulingnya," ucap kakek penjahit."Bagaimana Kakek?" tanya Iko."Emmm..,saya usahkan dulu semoga bisa diperbaiki," ucap kakek penjahit.Tak lama berselang setelah Iko pulang. Arya datang untuk meminta pekerjaan apa saja yang ia bisa kerjakan kepada penjahit tua itu, karena ia kehabisan perbekalan dalam perjalanan pulang.Penjahit tua itu kemudian mengeluarkan sebuah guling kecil, sambil memuji pola sulamannya, yang menunjukkan besarnya kasih sayang si pembuatnya yang tertuang disitu. Arya tercekat melihatnya, ia teringat ketika masih kecil pernah memiliki guling seperti itu.Setelah selesai dibetulkan, Iko mengambil guling itu, lalu Arya menanyakan siapa pembuat guling yang indah itu. Iko mengatakan bahwa guling itu pemberian bibinya yang dulu adalah pendongeng di istana yang tak lain adalah dayang Merduati.Arya pun langsung mengajak Iko menunjukkan dimana Merduati berada, karena ia yakin Meduati mengenali dirinya yang dulu pernah mengasuhnya.Waktu menuju rumah Meduati, Arya dan Iko dihentikan oleh seseorang yang mengenali Pangeran Arya."Pangeran...!" kata salah seorang dari mereka.Arya langsung melihat kearah orang tersebut. Iko dan penjahit tua itu bingung, benarkah pemuda itu seorang pangeran...?Ketika akhrinya bertemu Merduati, dayang yang sudah terlihat tua itu tak mengenali Arya, karena waktu berpisah dulu Arya masih 8 tahun. Arya kemudian menyayikan lagu pengantar tidur yang dulu selalu dinyayikan Meduati untuknya.Merduati gemetar, dan tanpa sadar dipeluknya Arya seperti anaknya sendiri. Arya lalu meminta maaf karena membuat Merduati harus pergi dari istana.Kemudian Pangeran kembali ke istana. Dia sujud di kaki orang tuanya dan mengakui kesalahannya. Dia mengakui bahwa selama berkelana, dia menyaksikan sendiri bahwa rakyatnya banyak yang masih miskin dan membutuhkan pertolongan.Meduati akhirnya kembali ke istana bersama Iko yang kemudian dijodohkan dengan Pangeran Arya yang kini menjadi pangeran yang sangat lembut hati. Dia sadar bahwa sebagai calon raja harus banyak belajar agar mampu menyejahterakan kehidupan rakyatnya. Bagaimana dengan kalian?
NAGA MENCARI TEMAN
Alkisah hiduplah seekor naga, tubuhnya berwarna hijau, keempat kakinya panjang dan berkuku tajam. Bila ia bernafas api keluar dari mulutnya. Akibatnya ia tampak sangat seram sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya.Suatu hari, ia merasa sedih sekali. Lalu ia pergi ke sungai dan mencoba tidur, namun tak bisa. Kesepian amat mengganggunya, hingga ia menangis dan air matanya tanpa sengaja menutupi hidungnya. Tiba-tiba ia sadar api yang keluar dari mulutnya tak besar seperti biasanya. Di saat itu pula seekor burung Murai melihat kejadian tersebut lalu dengan rasa takut ia mendekati Naga dam bertanya, "Hai... Naga, mengapa engkau terlihat begitu sedih...?""Aku tak punya teman, sepertinya semua takut kepadaku, jadi aku merasa amat kesepian...," sahut Naga. "Seharian ini baru kamu yang mau berbicara denganku," kata Naga menambahkan.Murai berkata, "Kau tahu..., aku berani mendekatimu karena air matamu mengecilkan api yang keluar dari mulutmu"."Jadi itu yang membuatku dijauhi siapapun...?" tanya Naga."Mengapa kamu tak berendam saja di air sungai itu...?" kata Murai menyarankan."Dengan begitu mungkin api di mulutmu akan padam," tambahnya.Mendengar saran Murai itu Naga kian sedih, dan berkata, "Aku takut tenggelam, dan aku tidak bisa berenang."Ia malah ditertawakan oleh Murai yang memberi saran itu."Benamkan saja kepalamu kedalam air sungai itu, lalu angkat setelah beberapa lama...," sahut Murai.Naga lalu menuruti apa yang dikatakan Murai. Dia langsung membenamkan kepalanya kedalam air sungai. Setelah beberapa lama diangkatnya kepalanya dari air, lalu dihembuskan nafasnya sekuatnya. Ternyata tidak ada api yang keluar.Tak lama kemudian saat bernafas, Naga kembali mengeluarkan api yang besar, bahkan nyaris membakar bulu Murai jika tidak cepat menghindar."Apa yang kau lakukan Naga...?" seru Murai marah."Maafkan, aku tidak sengaja," kata Naga memohon."Ternyata mulutmu masih tetap menyemburkan api."Lalu Murai menyarankan Naga, "Hanya ada satu cara untuk memacahkan masalah itu, engkau harus menemui si bijak Burung Hantu, ia pasti akan memberimu jalan keluar."Naga menyetujui usulan Murai, lalu ia langsung bergegas pergi ke tempat Burung Hantu berada. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah Burung Hantu. "Permisi Pak Burung Hantu," ucap Naga."Ya, kalian mencariku...?" tanya Burung Hantu. Suaranya terdengar berat dan berwibawa."Benar," jawab Naga."Menurut sahabatku, kau dapat menolong memecahkan masalahku," tambah Naga."Bisakah kau menceritakan apa yang menjadi masalahmu....?" tanya Burung Hantu.Lalu ia menceritakan semua masalahnya kepada si Burung Hantu, dan tanpa sengaja Naga kembali menyemburkan api. Kali ini Burung Hantu yang hampir menjadi korbannya."Hey... apa yang kau lakukan!" ucap Burung Hantu.Karena Naga dianggap mencelakakan dirinya, Burung Hantu pun marah. Dia menyuruh Naga bergegas pergi dari sini."Oh..., tolonglah Burung Hantu..." pinta sang Naga memohon.Lalu dengan nada marah Burung Hantu menjawab, "Tidak... aku tidak mau membantumu...!!"Sang Naga kecewa dan lagi-lagi ia menangis dan itu sangat mengganggu ketenangan sang Burung Hantu."Sudah... sudah jangan menangis, aku tak mau menolong jika kau terus menangis, sekarang pergilah ke Utara dan cari kota Yuan-Wan!" teriak Burung Hantu dari dalam rumahnya.Tanpa banyak tanya lagi, Naga langsung pergi menuju Utara untuk mencari kota Yuan-Wan.Sudah berhari-hari dia terus berjalan kearah Utara dia sangat ingin segera sampai di kota tersebut. Terus dan terus berjalan, hingga ia sampai di daerah yang bersalju.Akhirnya, Naga melihat kota Yuan-Wan yang bersalju dan berkabut.Di kota itu dia mendapati seorang anak kecil yang kedinginan akibat cuaca bersalju di daerah itu. Naga mendekati anak itu dan bertanya kepada anak itu, "Hai..., anak kecil kenapa engkau menangis...?""Saat ini tengah musim dingin, aku sangat kedinginan sekali, dan orang tuaku tidak punya kayu bakar untuk perapian, lihatlah kaki dan tanganku membiru," jawab anak kecil itu.Naga kemudian sangat iba mendengar cerita anak kecil itu, "Jangan takut, sekarang julurkan tanganmu..., dan aku akan menghangatkanmu."Lalu disembutkanlah api dari mulut Naga ke arah tangan anak kecil itu. Anak kecil itu sangat senang sekali. Kini tangan dan tubuhnya terasa hangat.Anak itu kemudian mengajak Naga ke tengah kota. Awalnya penduduk merasa takut, tapi setelah mereka tahu bahwa Naga ingin membantu menghangatkan para penduduk, orang-orang pun senang. Demikian pula Naga pun senang karena mendapat teman baru.Kemudian orang-orang di kota itu mengumpulkan kayu untuk membuat api unggun besar agar dapat menghangatkan seluruh kota.Dengan segenap tenaga, Naga menyemburkan api untuk membakar kayu-kayu bakar yang dikumpulkan oleh para penduduk. Api unggun besar itu pun menyala dengan bantuan Naga. Semua orang di kota itu sangat senang. Karena berkat bantuan Naga mereka kini tidak kedinginan lagi saat musim dingin.Hidup Naga menjadi lebih berarti dibanding sebelumnya. Semua makluk hidup diciptakan bagi sesamanya. Nah, kalian juga pasti mau kan membantu sesama seperti Sang Naga?
KANCIL DAN SIPUT
Pagi yang cerah, Puput siput dan kakaknya mendengarkan cerita kakek siput tentang kehebatan sang Kancil.Kakek siput bercerita tentang kecerdikan Kancil saat terperosok ke lubang."Ha ha ha..."Puput siput terkagum-kagum dengan kehebatan Kancil."Aku tahu, pasti si gajah terjebak. Kancil memang hebat, aku ingin seperti dia!"Puput sering berkhayal ingin memiliki kecerdikan seperti Kancil, sehingga ia sering digoda teman-temannya. Pupung capung, Monki monyet, dan Dodo si kodok."Kenapa sih melamun aja?""Katanya kamu pingin seperti Kancil ya?""Ah, nggak...!"Dodo si kodok heran."Haah? Kamu kan lelet, Put!"Kawan-kawan Puput tersenyum mengiyakan."Mana mungkin menyamai kepintaran Kancil?"Suatu hari, Puput hendak ke sungai. Dilihatnya Kancil, idolanya sedang minum."Haah?"Kancil menoleh dan menyapa Puput dengan ramah."Hai, selamat pagi.""Kancil kan, siapa yang tidak kenal kehebatanmu?"Kancil dan Puput saling berkenalan."Aku Puput,"Puput tik menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat berbicara dengan Kancil. Kancil pun menjawab semua pertanyaan Puput dengan ramah."Aku ingin sehebat kamu, bisa mengalahkan Harimau, Ular, bahkan Gajah...""Ha.. ha.. ha..!"Puput terus terkagum-kagum terhadap Kancil. Sambil malu, Kancil menunjukkan caranya."Gimana kamu melakukannya, Cil?""Dengan ini!"Puput heran dan tidak mengerti, karena Kancil menunjuk kepalanya."Kepala? Kepalamu lebih kecil dari kepala Gajah.""Bukan kepala, tapi akal."Puput minta kepada Kancil untuk mengajarkan kehebatannya."Ajari aku, biar sehebat kamu.""Kita punya kehebatan masing-masing. Siapapun bisa."Melihat Puput pantang menyerah, Kancil pun mengajaknya berlomba berlari."Mau tidak adu lari denganku?""Meski tidak mudah, kalau bersungguh- sungguh, kamu pasti bisa."Puput agak kesal, karena Kancil mengajak lomba lari. Puput merasa tidak mungkin menang, karena jalannya yang pelan."Lari? Kamu mengejekku? Jangan menghina dong!"Kancil berhasil meyakinkan Puput untuk menerima tawarannya."Kalau kamu menang, aku akan umumkan kamu sebagai jagoan.""Aku beri waktu 3 hari untuk berlatih bagaimana?""Baik. 3 hari lagi?"Kancil dan Puput setuju untuk bertanding 3 hari lagi."Sampai ketemu tiga hari lagi ya."Kakek Siput sedang makan ditemani kakak siput."Apa betul, Puput akan adu cepat dengan Kancil?""Ah, mana mungkin, kek!"Kakek siput masih tidak percaya kabar tentang adu cepatnya Puput dengan Kancil."Puput memang cerdas, tapi adu lari dengan Kancil?"Kakak siput merasa putus asa menasehati Puput?"Puput selalu saja bermimpi bisa sehebat Kancil. Huh..."Sementara itu, Puput menyimak pembicaraan Kakek dan Kakaknya dari balik daun. Puput menyadari bahwa Kancil bukanlah tandingannya."Betul juga ya, mana mungkin aku menang melawan Kancil?"Muncullah Pupung, Dodo dan Mangki. Puput heran, karena kawan-kawannya mengetahui bahwa tiga hari lagi Puput akan lomba lari dengan Kancil."Put, aku dengar kamu mau lomba lari dengan Kancil ya?""Aku, kalian dengar darimana?"Kawan- kawan Puput pun mengejek. Puput merasa rendah dirinya muncul."Put, lomba lari dengan semut aja, biar seimbang.""Jadi, aku harus bagaimana?"Pupung memberi semangat kepada Puput."Kalah menang urusan nanti, yang penting usaha."Pagi hari, Dodo memberikan semangat kepada Puput yang sedang melakukan senam. Sementara itu, Kancil tetap santai."Satu... Dua... Tiga...""Nah begitu, kalau mau jadi juara."Pada hari pertandingan si Kancil masih bersantai, tidak pernah berlatih."Ayo, jangan loyo, Put!"Puput berlatih dengan giat. Kawan-kawan Puput selalu setia memberikan semangat."Hah... huh..."Hari yang ditentukan tiba. Mongki siap dengan bendera."Siaaaap... Yak!"Puput melaju sekuat tenaga, sedang Kancil berlari biasa."Aku harus bisa!"Para binatang bersorak- sorai memberikan semangat."Cihui... Ayo..."Kancil merasa selalu menang, sehingga menganggap lawannya lemah. Ia selalu bersantai dan tanpa berusaha sedikitpun. Kancil tak percaya, ketika dilihatnya Puput melangkahkan kaki ke garis akhir.Berkat usaha yang keras, Puput dapat meraih cita- citanya. Artinya, setiap usaha keras tentu akan mendatangkan keberhasilan. Kepintaran tanpa diikuti usaha yang gigih, belum tentu akan berhasil."Ehm... ehm.. Dialah yang terbaik!"
BALAS BUDI SANG RUSA
Malam telah datang. Sinar bulan menerangi ladang sayur-mayur dan buah-buahan yang tumbuh dengan subur.Ladang tersebut kelihatan aman & tentram. Para petani rajin merawat tanamannya.Suatu hari ketentraman ladang terusik oleh segerombolan Grok- grok sang babi hutan."Grok... grok... grok..."Pagi harinya, ibu peladang kaget melihat ladangnya hancur."Oh, ladangku hancur... pasti gara- gara gerombolah babi hutan itu lagi !!!"Kemudian para peladang tersebut..."Babi hutan itu harus kita buru sampai tuntas."Ngungung si lebah bersembunyi di balik bunga sambil mendengarkan pembicaraan para peladang.Saat itu para penghuni kebun sedang bergembira seperti Bu Capung dan anaknya."Ayo nak belajar terbang!""Baik, Bu."Para tanaman asyik berbincang, ketika Ngungung muncul. Ngungung langsung mendarat di atas daun jagung.Ngungung menceritakan rancana para peladang untuk memburu Grok- Grok. Para tanaman nampak senang."Wah, rencana yang hebat... kita bakal aman dari gangguan Grok- grok."Atas usulan Ngungung para tanaman sepakat untuk membantu peladang."Mari kita bantu bapak-bapak peladang itu.""Setuju-setuju"Pemburu dan para peladang bersiap menangkap gerombolan Grok-grok."Kita harus selalu waspada!"Ngungung melatih pasukan lebah membentuk barisan.Pupu si kupu-kupu tidak mau ketinggalan memimpin sayuran berlatih bersemedi dan mengatur nafas."Ayo tarik napas..."Berkat kerja keras dan serius, latihan mereka sukses."Kita pasti bisa!""Tentu saja kan kita sudah berlatih."Hari berangsur senja, dan para tanaman mengamankan lingkungan.Para peladang berkumpul untuk menangkap gerombolan Grok-grok."Pada saat gelap nanti, kita akan langsung berangkat."Namun malam itu pemburu dan para peladang gagal menangkap gerombolan Grok-grok sehingga sang pemburu merasa sangat kecewa."Baru kali ini aku gagal menangkap buruanku."Pagi hari di dekat ladang....Terdengar gemerisik dedaunan sang Rusa asyik makan."Akhirnya kutemukan juga, setelah semalaman gagal."Menyadari adanya bahaya Rusa langsung berlari panik. Karena lelah, Rusa berbaring lemas, dan tertidur.Pada saat Rusa bangun, para tanaman menyapa dengan ramah."Wah, kasihan sekali kamu."Malam pun berganti siang. Matahari sangat terik.Rusa menyadari bahwa dia lapar dan dia ingin memakan tanaman-tanaman itu."Aku lapar sekali""Wah gawat..."Ngungung marah."Hei Rusa... kamu tidak tahu balas budi."Ibu kacang panjang yang baik hati dengan lembut menawarkan daunnya kepada sang Rusa, agar tenaga sang Rusa pulih."Aku mohon jangan makan tanaman lain... makanlah daunku."Rusa mendengarkan saran ibu kacang panjang."Kacang panjang, kau sungguh sangat baik hati, maafkan aku ya.""Tapi berjanjilah untuk tidak memakan tanaman yang lain!"Tiba-tiba muncul Pupu membawa kabar gembira."Kita besok akan panen lho...""Horeeee..."Malam pun tiba. Penghuni ladang tertidur lelap.Gerombolan Grok-grok mendekat.Sang Rusa berhadapan dengan gerombolan Grok-grok."Ladang ini berserta seluruh isinya berada di bawah perlingungan kami..."Berkat bantuan Rusa. Grok-grok pun kalah. Ladang dapat diselamatkan.Semua bergermbira karena Grok-grok berhasil dihalau oleh kelompok Rusa.Keesokan harinya mereka berhasil panen.
KEONG KECIL & RUMAHNYA
Di tepi sungai yang jernih, tinggal seekor Keong Kecil dengan rumahnya yang mungil, berwarna hitam. Tapi akhir- akhir ini dia tampaknya kurang bahagia. Dia merasa bahwa rumahnya terlalu kecil."Keong, kok kamu murung aja, sih?" Tanya Kupu- kupu.Padahal rumah itulah yang melindunginya dari panasnya sinar matahari."Huh... panas..." keluh keong.Atau dari gangguan musuh- musuhnya!"Hiii... tikus" sambil masuk kedalam rumahnya.Rumah besar yang diidam-idamkannya adalah rumah Pak Bekicot! Dia begitu terpesona bila berjumpa Pak Bekicot."Wah alangkah enaknya punya rumah besar seperti Pak Bekicot, tinggi dan berbentuk kerucut!" Pikir keong kecil"Hallo, Keong bagaimana kabarmu?" Tanya Pak Bekicot."Bab...baik - baik saja, Om!" Jawab Keong Kecil."Aku pasti cantik dengan rumah seperti milik Pak Bekicot." Khayal keong kecil."Tidak seperti rumahku yang sempit dan kusam" Keluh keong kecil melihat rumahnya.Tak sabar dengan rencananya Keong kecil segera menjumpai teman - temannya."Hai, teman- teman aku mau ganti rumah, nih!" Umum keong kecil pada teman- temannya."Wah hebat, kamu keong!" puji kupu-kupu."Ganti rumah model apa keong?" Tanya tupai."Aku ingin rumah seperti milik Pak Bekicot!" Jawab keong kecil.Diluar dugaannya, tak satupun teman- temannya setuju dengan keinginannya."Oaalah, kayak anak bayi pakai baju bapaknya dong!""Wah, nggak serasi sama tubuhmu""Rumah Pak Bekicot nggak cocok untuk kamu yang kecil mungil!"Keong kecil bingung.Tapi keinginannya yang keras untuk mengganti rumah, membuat keong kecil mengabaikan nasehat dari teman- temannya.Pokoknya aku tetap pada keinginan ku semula!Keesokan harinya keong kecil memulai perjalanannya mencari rumah model Pak Bekicot."Kemana ya mencarinya, dari tadi belum juga dapat?"Pada suatu hari, keong menemukan rumah bekicot yang sudah ditinggalkan. Kesempatan ini segera digunakannya."Nah, ini dia rumah bekicot yang ku idam- idamkan""Selamat tinggal rumah lamaku"Setelah melepas rumahnya, ia mencoba memakai rumah bekicotTapi ternyata cukup berat dan..."ugh..."Kadang- kadang malah copot karena longgar."Lho?"Atau jatuh bangun karena berat!Sroot...!Namun demikian, keong kecil dengan bangga memamerkan rumah barunya kepada setiap temannya."Hai, teman- teman lihatlah rumah baruku, bagus kan?""OH...""Wow!""Huh!""Kok, malah aneh ya... ya...?""Kok, teman-teman sikapnya begitu ya?"Selagi asik melamun, tiba- tiba keong kecil dikejutkan oleh munculnya si kura-kura yang lewat dihadapannya."Wow, ini dia rumah yang lebih besar! Dan kuat lagi!"Esok harinya...Aku akan cari tahu, bagaimana bisa mendapatkan rumah si kura-kura itu."Tapi dimana ya? Aku sudah capek mencarinya..."Akhirnya dengan susah payah ia menemukan juga rumah kura-kura yang sudah di tinggal pemiliknya."Nah, itu dia! Wah, besar sekali, tapi sayang sudah usang!"Dilepaskannya rumah bekicot..."Selamat tinggal rumahku!"...dan buru- buru pindah ke rumah kura- kura."Ugh... susah masuknya, berat banget, sih."Lalu dicobanya berjalan"Aku mau tunjukkan pada teman- temanku""Wuih, berat sekali! Coba lagi, ugh!"Tapi apa yang terjadi? Rumah kura-kuranya tidak bergerak!Dicoba lagi, tapi tetap tak bergerak"Ugh... akh... hik..""Ugh, berat! Tapi aku nggak boleh menyerah"Tiba-tiba, muncul si tikus tanpa di duga-duga.Grrr...!"Hah! SI TIKUS!"Grrr...!"Wah..."Terjadi kejar- mengerjar!?!"Hah! Kamu pasti ku dapat!"Segala upaya dilakukan si tikus untuk memangsa si keong...?!Grrr... cit... cit...Tapi belum membuahkan hasil!"Tolooong..."Akhirnya si tikus putus asa dan pergiSadar akan kekeliruannya selama ini.Rumah besar ternyata tidak bisa melindungiku dari bahaya. Hu... hu... hu...Si keong mulai mecari rumah yang di tinggalkannya"Aduuh... panasnya. Dimana ya rumahku?"Hingga suatu saat..."Nah, itu dia rumahku!"Maka si keong kecil pun kembali ke rumah lamanya dan berkumpul dengan teman- temannya lagi."Heii, teman- teman aku mau cerita tentang penalamanku""Nah, kamu kan lebih cantik, dengan rumahmu yang sekarang!""Iya kamu lebih pas, deh!""Oh, ya... ya... cerita, deh!"
MENGAPA ANJING TAK BERTANDUK
Di suatu pagi yang masih diseliputi kabut tampak serombongan hewan yang baru turun dari perahu Nabi Nuh. Semua bersuka cita, karena telah terhindar dari malapetaka banjir yang melanda negeri mereka."Untung ya kita ikut perahu Nabi Nuh, coba kalau kita menolak, pasti kita sudah tenggelam!" ucap si anjing."Iya, padahal aku kan paling tidak suka kena air!" ucap si kambing.Pada saat itu anjing memiliki tanduk di kepalanya.Sedangkan kambing tidak memiliki tanduk dan ekornya masih panjang seperti ekor monyet.Mereka berdua sangat akrab. Kemana anjing pergi, si kambing selalu ada didekatnya. Begitu sebaliknya. Mereka pun saling berbagi suka dan duka."Kita bagi dua ya pisangnya!""Apelku dibelah dua juga sebelah untuk kamu sebelah untukku."Mereka masing- masing memiliki tempat tinggal sebuah pondok mungil yang mereka bangun bersama. Dan letaknya berdekatan."HOAAAHH... Ngantuk, aku pulang dulu ya! Oya, tolong besok pagi aku dibangunkan, supaya bisa ikut lari pagi denganmu!""BERES!!"Pagi itu si kambing tampak gembira sekali"CIHUUUI...!""AHH... segarnya udara pagi ini, terima kasih ya kamu mau mengajakku lari pagi. Tadinya aku pikir kamu tidak akan membangunkan aku!""Kalau sudah janji harus kita tepati!"Suatu hari..."Ada apa sih, kok ramai sekali? Coba aku lihat dari dekat!"Wah, rupanya sahabatku si anjing dikagumi oleh hewan-hewan di hutan ini. Aku ingi juga seperti dia..."Tandukmu bagus sekali!!""Iya betul-betul bagus, tidak ada duanya!""..HUH!"Siang itu, tanpak pak monyet mampir ke pondok si kambing."Datang ya ke acara pesta nanti malam!""Tentu, aku pasti datang!""Hmm... aku harus tampil gagah malam ini. Tapi bagaimana ya caranya? Oya, kebetulan si anjing sedang tidak enak badan, jadi aku bisa pinjam tanduknya!"Si kambing pun menemui anjing yan sedang asyik membaca buku."Sahabatku, bolehkah aku meminjam tandukmu? Untuk aku kenakan di acara pesta pak monyet. Aku ingin tampil gagah di pesta itu!""Boleh ambillah!""Oooh... tampan sekali aku!""Tapi jangan lama-lama, ya? Sehari ini saja!""Oke! Aku pergi dulu, ya!"Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si kambing mengagumi tanduk pinjamannya."OOH.. TANDUKKU BAGUS SEKALI... LA..LA..LA.."Keesokan harinya...KUKURUYUK! KUKURUYUK! KUKURUYUK!"HOAAAHH...""Lho, kok si kambing belum muncul, ya? Ah, coba aku tunggu sampai besok!"Hari berikutnya pun si kambing belum juga kelihatan...Akhirnya habis juga kesabaran si anjingGRHHH..."Wah, si kambing rupanya ingkar janji. Sudah seminggu ini belum juga dia kembalikan tandukku!""Aku temui saja si kambing di pondoknya!..""LHO, KOSONG?!.."Sampai pada suatu ketika, saat anjing sudah mulai lelah mencari si kambing...Itu kan si kambing, sedang apa dia? Coba aku intip!"Nih kalian lihat, tandukku adalah tanduk paling bagus sedunia!""Iya, kami percaya!"Tiba-tiba...SREK!!"Hei! Kemana saja kau kambing? Sudah seminggu aku mencarimu. Ayo kembalikan tandukku!""Enak saja kamu meminta. Tanduk ini kan kepunyaanku!"Si anjing sangat gusar mendengar ucapan kambingGRRH!"Ayo kembalikan! Aku Cuma mau meminta tandukku!"Karena merasa malu, si kambing melarikan diri..."HEI JANGAN LARI!"Anjing pun mengejar si kambing yang lari terbirit- birit...GUK..GUK..GUK..Sampai akhirnya...."KENA KAU!!...""ADUUUH..!!"Si kambing terus berusaha mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga!Akhirnya karena ekornya terlalu tegang, maka putuslah ekor si kambing..TUS!Sehingga tinggal sedikit ekornya yang tersisa.Si kambing bisa lolos dari terkaman."Rasakan kamu kambing ekormu jadi pendek sekarang!"Anjing pun kembali ke pondoknya dengan perasaan kesal dan pasrah.Akhirnya sejak saat itu kambing memiliki tanduk tapi ekornya pendek.Dan anjing tak lagi bertanduk!Si anjing merenungkan nasibnya."Aha, tanpa tanduk pun aku masih cakep."SELESAI
KLUNTUNG WALUH
Disebuah desa kecil bernama Desa Gembung."DUK! DUK! DUK!""Mbok Minah, ini bayaran Mbok Minah hari ini.""Terima kasih Bu"Dia adalah janda Aminah yang sehari-hari bekerja sebagai penumbuk padi di rumah para tetangganya."Ibu pulang""Kasihan ibu kelihatan lelah sekali"Janda Aminah mempunyai anak semata wayang yang terlahir cacat tanpa tangan dan kaki. Untuk berpindah tempat ia harus bergelinding seperti buah labu. Karena itu ia dipanggil Kluntung Waluh.Seriap hari Kluntung Waluh hanya tinggal di rumah menanti ibunya pulang."Ah... seandainya Kluntung Waluh dapat mengerjakan sawah, tentu aku tidak harus bekerja sekeras ini"Tanpa disengaja Kluntung Waluh mendengar keluhan Ibunya."Aku harus bisa membantu ibu! Harus!"Pagi-pagi sekali Kluntung Waluh berangkat menuju sawah.Nun jauh di kahyangan beberapa pasang mata mengamati perbuatannya."Sungguh mulia niat Kluntung Waluh, kita harus turun ke Bumi untuk membantunya!""Kluntung Waluh""Ss...si...siapa ka...lian??""Kluntung Waluh, jangan takut, kami dewi-dewi dari kahyangan""Karena niat baikmu kami datang membantu, kamu tidak usah bersusah payah mengerjakan sawahmu""Terima kasih dewi, tapi aku ingin tetap membantu ibu...kasihan ibuku tiap hari lelah bekerja""Kamu memang anak yang baik dan berbakti pada orang tua, tapi percayalah kami akan membantumu mengerjakan sawah!""Terimalah uang ini, berikan pada ibumu untuk membeli kebutuhan sehari-hari"Dengan raut wajah bingung Kluntung Waluh menerima uang tersebut.Dan mereka pun lenyap."Apakah aku bermimpi?...Ah! uang ini sungguh nyata!"Kluntung Waluh pun kembali kerumahnya."IBU! IBU!!""Ibu! Pagi ini Kluntung mengalami peristiwa aneh""Para dewi kahyangan datang...lalu...memberikan...ini ibu..""Uang???""Kluntung, ibu tidak mengerti apa yang kamu...bicarakan...""Kluntung... sulit bagi ibu mempercayai ceritamu... tapi, saat ini memang ibu memerlukan uang untuk membeli makanan.."Maka janda Aminah berangkat ke pasar."Sementara ibu berbelanja, aku akan kembali ke sawah.. dan mulai bekerja...""Entah apa yang bisa aku dapatkan dengan uang sesedikit ini?"Tiba-tiba"Selamat pagi Bu! Apa yang ibu butuhkan?""Rasanya tadi aku tidak melihat warung di sebelah sini?""Saya perlu telur... gula... beras""Silakan Bu""Sayur..., tapi uang saya hanya...""Silakan Bu... bawa belanjaan ibu, dan ini uang kembalinya!""Sungguh banyak hal yang sulit ku percaya hari ini""Aku belanja barang sebanyak ini... uangku cukup, bahkan ada kembalinya??"Setelah janda Aminah pergi, penjaga warung di pasar itu berubah wujud menjadi dewi kahyangan.Ketika Janda Aminah melewati sawahnya. Janda Aminah terharu melihat sawahnya telah selesai di kerjakan."Kluntung? Anakku berkerja di sawah?""Nak... k... k..au.. telah mengerjakan sawah ki..ta?""Oh! Ibu, dewi-dewi kahyangan yang telah menolongku Bu.""Kluntung, engkau benar- benar anak yang berbakti. Aku sungguh bersyukur memiliki anak sepertimu.""Aku tidak akan mengeluh lagi. Aku rela bekerja keras demi engkau nak!"Akhirnya mereka hidup bahagia berdua, saling membantu dan memperhatikan.
RORO JONGGRANG
Dahulu kala, terdapat kerajaan beser bernama Prambanan.Suatu hari, Kerajaan Prambanan diserang oleh Negari Pengging. Para tentara Prambanan tidak mampu menghadapi pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai kerajaan Pengging dibawah pimpinan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso sangatlah sakti dan mampunyai pasukan jin.Suatu hari, dia tertarik kepada Roro Jonggrang, putri Raja Prambanan."Cantik sekali putri itu. Aku ingin menjadikan dia sebagai permaisuriku." kata Bandung Bondowoso.Keesokan harinya. Bandung Bondowoso mendekati Roro Jonggrang."Hai, maukah kau menjadi permaisuriku?" tanya Bandung Bondowoso."Laki- laki ini lancang sekali. Belum kenal denganku langsung memintaku menjadi permaisurinya." ujar Roro Jonggrang dalam hari.Roro Jonggrang kebingungan. Jika dia menolak, Bandung Bondowoso pasti marah besar dan akan membahayakan keluarga serta rakyat Prambanan. Jika dia mengiyakan, itu tidak mungkin. Karena Roro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso."Bagaimana, Roro Jonggrang?" desak Bandung Bondowoso.Akhirnya, Roro Jonggrang mendapatkan ide."Saya bersedia menjadi permaisuri Tuan, tetapi ada syaratnya. Saya minta dibuatkan candi. Jumlahnya harus seribu buah," kata Roro Jonggrang."Seribu buah?" teriak Bandung Bondowoso."Ya, dan candi itu harus selesai dalam semalam."Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang. Bibirnya bergetar menahan amarah."Tuan dapat membuat seribu candi dengan bantuan Jin!" kata penasehat."Benar juga usulmu. Siapkan peralatan yang kubutuhkan!" kata Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar."Pasukan jin, bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar.Tak lama, langit menjadi gelap. Angin menderu- deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso."Apa yang harus kami lakukan Tuan?" tanya pemimpin jin."Bantu aku membangun seribu candi!" pinta Bandung Bondowoso.Para jin segera melaksanakan perintah Bandung Bondowoso.Dalam waktu singkat, bangunan candi tersebut hampir mencapai seribu buah.Sedangkan Roro Jonggrang yang mengamati dari kejauhan mulai merasa panik."Wah, bagaimana ini? Pekerjaan mereka hampir selesai," ujar Roro Jonggrang.Roro Jonggrang yang mulai merasa panik segera mencari akal untuk bisa menggagalkan pembangunan seribu candi oleh Bandung Bondowoso dan para jin yang membantunya.Tidak butuh waktu lama Roro Jonggrang segera mengumpulkan para dayang-dayang kerajaan untuk diminta mengumpulkan jerami."Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Roro Jonggrang.Sebagian dayang lainnya diminta menumbuk lesung.DUNG ... DUNG ... DUNG!Semburat warna merah memancar ke langit diiringi suara hirup- pikup. Membuat para pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing."Wah, matahari akan terbit!" seru salah satu jin."Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," kata jin yang lain.Para jin berhamburan meninggalkan tempat tersebut.Bandung Bondowoso yang melihat kejadian itu mulai merasa heran terhadap keadaan tersebut. Dikarenakan matahari belum benar- benar muncul tetapi para jin sudah menghilang dikarenakan kepanikan mereka.Segeralah Bandung Bondowoso mendekati Roro Jonggrang."Candi yang kau minta sudah berdiri!" kata Bandung Bondowoso.Segera saja Roro Jonggrang mulai menghitung jumlah candi tersebut. Ternyata, hanya 999!"Jumlahnya kurang satu!" seru Roro Jonggrang."Tidak mungkin! Kamu pasti salah dalam menghitung" teriak Bandung Bondowoso"Tidak mungkin aku salah dalam menghitung, jadi kamu gagal untuk bisa memenuhi permintaanku" ucap Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso yang merasa ditipu oleh perilaku Roro Jonggrang yang bermain curang, mulai marah dan mengutuk Roro Jonggrang."Kalau begitu, kau saja yang melengkapinya!" ucap Bandung Bondowoso.Setelah Bangdung Bondowoso selesai berucap seperti itu, secara ajaib Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sehinggan melengkapi jumlah candi tersebut menjadi seribu buah.Konon, hingga saat ini, candi - candi itu masih ada di wilayah Prambanan, yang dikenal dengan nama "Candi Roro Jonggrang."
SI KURUS & HARIMAU LORENG
Dahulu kala ada seorang pemuda. Karena badannya sangat kurus, maka orang sekampungnya menjulukinya si Kurus."Hai... Kurus mau kemana kau?" tanya seorang warga."Aku mau ke pasar," jawab si Kurus.Sambil berjalan santai si Kurus melewati jalan, dan sesekali membalas sapaan baik dari warga maupun teman- temannya."Hai Kurus!""Kurus!""Kurus seperti tokek hihihihi.""Dari dulu aku sudah kurus memangnya kenapa?" ucap si Kurus.Tubuh si Kurus yang lemah membuat banyak pemuda senang mempermainkannya."Hai Kurus ini ada bingkisan untukmu, terimalah," ucap salah satu pemuda desa."Dari siapa?" tanya si Kurus pada pemuda itu."Entahlah dari siapa yang penting isinya, bukalah!" Ucap pemuda yang lainnya."Terima kasih," ucap si Kurus.Begitu si Kurus membukanya."KRROOOK! WUAAOO!"Yang didapatkan si Kurus di dalam bingkisan itu adalah seekor kodok yang tiba-tiba melompat ke arah wajahnya. Karena merasa kaget si Kurus langsung berlari menjauh. Sedangkan para pemuda yang melihatnya tertawa kegirangan."HAA... HAA... HAA...""HA HAA HAA! Lucu ya.""Sst! Aku ada permainan lagi pasti lebih lucu ""Permainan apa???""Lihat saja nanti."Pada suatu hari"Nah itu dia orangnya.""Hai Kurus, di hutan ada pohon mangga yang sangat manis buahnya, kami ingin mencarinya ke sana. Apakah kau mau ikut?""Tentu aku ikut!""Kalau begitu mari kita berangkat sekarang."Sesampainya di hutan.Tiba - tiba"Lihat""Itu..! itu..! ha.. ha.. harimau.. harimaauu!""HWUAAAOO!"Semuanya lari ketakutan kecuali si Kurus yang tetap berdiri di tempatnya dengan tenang."Kenapa harimau ini diam saja, apakah dia sakit??"Tapi badanya gemuk, mungkin...""OOO.... Rupanya kau sedang ke sakitan karena kakimu terjerat perangkap pemburu.""Kasihan... mari kutolong."Dengan ketulusan hatinya, si Kurus memberanikan diri menolong harimau malang itu."Nah, Kau telah terbebas dan selamat sekarang. Pergilah ke tempatmu."Dengan terpincang - pincang harimau itu pun pergi.Beberapa hari kemudian terjadi keributan di kota."Ada harimau mengamuk""Apa? Harimau mengamuk""Gawat!!"Penduduk panik dan ketakutan.Mendengar kerajaannya mengalami masalah raja segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengumpulkan para penduduk di depan halaman kerajaan. Mendengar ada adanya sebuah pengumuman para penduduk pun berkumpul termasuk juga si Kurus."Siapa yang dapat menundukkan harimau yang mengganggu penduduk , akan aku angkat menjadi hulubalang."Ternyata tak seorang pun yang berani menyatakan diri."Huh! Siapa yang mau menjadi mangsa harimau ganas itu?"Mendengar ucapan dari orang yang disebelahnya hati si Kurus pun berkata."Kalau tak ada orang yang mau berusaha menangkapnya, biarlah aku mencobanya."Malam itu."Pasti dia lewat sini."Tiba - tiba terdengar suara yang seram dan mendebarkan."AUUUMRR!!"Harimau itupun muncul.Si Kurus dengan tenang menghadapinya.Aneh, harimau itu tidak menyerang bahkan mendekati si Kurus denga jinak."Hai, rupanya kau adalah harimau lorang yang pernah terjebak itu. Syukur kakimu telah sembuh."Harimau itu tunduk dan mengikuti langkah si Kurus ke mana pun ia pergi.Keadaan ini membuat penduduk heran dan kagum."Ha!""Luar biasa""Tak kusangka ternyata si Kurus pemuda yang hebat."Sebagaimana telah dijanjikan, maka si Kurus pun diangkat menjadi hulubalang istana.Sejak saat itu para pemuda di kampung segera sadar. Betapapun mereka tak boleh merendahkan orang lain."Kita tidak boleh meremehkan seseorang hanya karena melihat fisiknya.""Benar itu"TAMAT
Gerbang Lain
Sering mendengar sebuah kata melegenda yang membuat penasaran bukan main? Satu kata ini sering diucapkan oleh kakek-nenek, orang tua atau bahkan teman. Kata tersebut adalah, ‘katanya’. Untuk membuktikan satu kata seribu makna itu, dua bocah dengan sembunyi-sembunyi mencoba membuktikan perkataan itu.Di sinilah mereka, tempat di mana ayah dari gadis berkepang dua bekerja. Tentu saja mereka mengendap-endap bahkan membuat pintu masuk mereka sendiri dalam waktu lama, sungguh niat sekali.“Siya, tapi gerimis belum turun,” ucap seorang anak laki-laki dengan topi kebesaran di kepala mungilnya.“Kita tunggu saja sampai gerimis datang, lagian kau tidak lihat awan mendung sedang menggumpal,” jawab bocah yang bernama Siya.Tiba-tiba dikepalanya terputar jelas suara seperti rekaman.“Kalian tahu? Katanya kalau kalian datang ke PLTB—tempat ayah Siya bekerja, setiap gerimis datang tepat badan kincir angin paling besar akan terbuka terhubung dengan taman indah penuh dengan bunga dan cokelat.”Rasa penasaran terus menghantui mereka berdua, berhari-hari berencana untuk bisa datang ke tempat kerja ayah Siya. Sudah sepuluh kali mereka membujuk ayah agar bisa ikut datang ke sana. Tentu saja dengan jurus andalan bocah-ngambek. Sepuluh kali pula mereka sibuk membuat pintu masuk pribadi.Setetes air dari atas mengenai kepala atas Siya. “An! Gerimis!” Siya menahan jeritannya agar tidak keluar dan membuat orang-orang yang sedang bekerja mendengarnya. Mata An antusias menyambut gerimis. Mereka berdiri tepat di depan badan kincir angin paling besar di sini. Sudah tak sabar ingin membuktikan perkataan teman mereka.Gerimis mulai berubah menjadi hujan. Sudah satu jam lebih mereka menatap badan kincir angin di depan dengan wajah antusias. Mereka pikir jika gerimis saja akan membuka gerbang menuju tempat penuh dengan bunga apalagi hujan, sangat banyak sekali yang dapat dinikmati.“An kita pulang saja, yuk,” ajak Siya menyerah menanti gerbang yang tak kunjung terlihat. Pakaian mereka sudah basah kuyup tersiram hujan deras, tetapi rasa penasaran masih menghantui. An menggeleng cepat, menolak ajakan teman perempuannya untuk segera pulang. Sudah satu jam lebih berapa menit mereka setia menunggu, Siya ingat sebuah kata pepatah ‘hasil tidak akan menghianati usaha’.Suara petir bersautan tidak menghilangkan rasa keingintahuan dua bocah ini. Biarlah orang tua mereka marah, biarlah habis ini demam, biarlah baju favoritnya kotor. Merasa itu hanya sebuah omong kosong, An menarik tangan Siya terburu-buru sudah lapar mungkin. Saat baru saja lima langkah menjauh dari tempat mereka berdiri tadi, sebuah sinar putih menyilaukan pandangan kedua bocah kepo itu.Tangan mungil mereka menutupi mata menghadang cahaya masuk ke dalam retina. Hujan sudah reda beberapa detik yang lalu. Sinar silau mulai menghilang dari pandagan Siya dan An melebarkan kelopak matanya, menatap satu sama lain. Tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.“Ini ternyata ada!” An memekik senang. Hari sudah mulai petang, burung-burung terbang rapi di udara pulang untuk beristirahat. Suara jangkrik dan kodok bersahutan menambah nilai plus untuk keindahan yang terpampang di depan mata telanjang. Bukannya segera pulang, Siya malah menarik tangan An antusias mendekati gerbang dua pintu dengan ukuran orang dewasa di depan sana.Di gerbang itu banyak ukiran-ukiran aneh, berwarna putih gading dengan patung angsa diatasnya. Di dalamnya terdapat banyak bunga warna-warni yang terlihat dari depan karena gerbangnya sedikit transparan. An menatap Siya takjub lalu cepat-cepat menggelengkan kepalanya.Namun, seperti dihipnotis Siya berjalan mempekecil jarak dengan gerbang indah di depannya. “Siya jangan! Kita tidak tahu apa yang ada di dalam. Ayo pulang sebelum ayah dan bunda mencari kita.” An mencoba menarik lengan Siya sekuat tenaga. Walaupun dia masih kecil, ia bisa berpikir kritis dan rasional hasil didikan dari ayahnya yang seorang abdi negara.Sekuat tenaga An menarik semakin kuat pula Siya menolak diajak pergi. Matanya masih terpaku pada gerbang indah didepan. Tangan yang bebas mencoba menggapai gagang gerbang. Dan berhasil meraihnya, sepertinya An tidak terlalu kuat utuk ukuran seukuran laki-laki. An menatap sangar Siya dengan tampang memelasnya. Ia sengaja menunjukan wajah itu agar An bisa luluh.“Kita bisa bermain sepuasnya di sana.” Bujuk Siya memastikan.Dingin tak terasa walau malam mulai menunjukan kebolehannya. Tangan Siya yang sudah berada digagang mendorong gerbang dengan kuat, terbukalah gerbang itu. Sedikit ragu Siya melangkahkan kaki memasuki gerbang. Dan benar saja apa kata temannya terdapat banyak sekali bunga dengan cokelat yang berserakan. Siya berlari mengitari taman yang luasnya bukan main, lalu menghadap An memberian gestur ‘kemarilah’ pada temannya yang masih diam mematung diujung gerbang.An melangkahkan kakinya untuk masuk, masih di udara kaki kecilnya tiba-tiba gerbang tertutup rapat dan menghilang dari pandangan bocah lelaki dengan kaos biru itu. Matanya membelalak melihat kejadian secepat kilat itu, di depannya badan kincir angin yang dilihatnya beberapa puluh menit yang lalu.Memukul-mukul dengan memanggil nama temannya yang entah bagaimana sekarang. An menangis sesegukan, masih memanggil nama Siya, tetapi tak kunjung ada balasan. Matanya sudah lebam denga hidung merah berair, mencoba memikirkan apa yang harus diperbuat untuk menyelamatkan Siya dari dalam sana.Tanpa pikir panjang An berlari ke arah pintu rahasia miliknya dengan Siya. Kadang ia terpeleset karena lumpur yang licin. Sesampainya di depan rumah orang tua Siya, An segera mengetuk pintu dengan brutal. Setelah pintu dibuka memperlihatkan kedua orang tua Siya dengan wajah bertanya-tanya. An segera menjelaskan apa yang terjadi.Tergopoh-gopohlah kedua orang tua Siya menuju PLTB membuka gerbang masuk dengan tangan gemetar. Mereka melihat Siya terkapar lemah di samping kincir angin, tak sempat memarahi An. Segera pulang ke rumah dengan wajah pucat pasi Siya. Denyut nadi yang lemah membuat ibu Siya menangis. An hanya mampu terisak merasa bodoh dengan perbuatannya.Dua jam setelah dokter puskesmas memeriksa Siya di rumah. Suasana kembali hening.“Om, tante maafin An,” ujar An. Tiba-tiba, ayah Siya mendekati teman dari embrio Siya itu.“Sebenarnya Om ingin memarahimu, tapi Siya juga salah. Tidak adil rasanya jika hanya kamu yang dimarahi.” An mengangguk, menunduk sedalam-dalamnya. Berarti ia harus menunggu Siya siuman baru dimarahi.Mata Siya berkedip-kedip mencoba beradaptasi setelah pingsan dua jam lebih lamanya. Ia menatap kedua orang tuanya lalu.“An, tadi seru sekali,” ujarnya dengan senyuman lebar dan menunjukkan kedua jempolnya ke arah An.
Si Sombong Lany
Suatu hari di tengah hutan yang rindang dan rimbun, hiduplah seekor kupu-kupu cantik yang baru saja keluar dari kepompongnya. Kupu-kupu itu bernama Lany. Lany begitu bahagia sekali karena dia hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk berubah menjadi kupu-kupu dan yang membuatnya tambah bahagia lagi adalah ia memiliki corak disayapnya yang paling bagus dan unik.Kupu-kupu lain yang tinggal di dalam, hutan tidak ada yang menyamai corak miliknya itu. Lany tidak sabar untuk terbang ke sana ke mari mengelilingi hutan menggunakan sayap barunya. Sampai di tengah hutan, Lany bertemu dengan Asher yang merupakan seekor kancil yang cerdik. Lany langsung menyapa Asher.“Hai, Asher,” sapa Lany dengan gembira.“Hai, Lany. Wow ... aku sangat terkejut sekali melihatmu sudah berubah menjadi kupu-kupu,” kata Asher.“Iya Asher, aku sudah berubah dengan sangat cepat. Lihat sayapku Asher, indah bukan? Tidak ada binatang di hutan ini yang dapat menandingi keindahan sayapku,” sahut Lany dengan sombong.“Hei, Lany. Kamu jangan besar kepala dulu, siapa tahu suatu saat nanti ada yang dapat menandingi keindahan sayapmu itu,” jawab Asher dengan tegas.“Sudah ya Asher, aku mau memamerkan sayapku dulu kepada penghuni hutan yang lainnya,” jawab Lany tanpa mendengarkan perkataan Asher tadi.Lany bergegas terbang meninggalkan Asher sendiri. Tak lama kemudian, Lany teringat akan sahabatnya itu apakah sudah berubah atau masih menjadi ulat. Sahabatnya itu bernama Ina, Lany bergegas terbang ke sana ke mari dan mencari keberadaan Ina. Sekarang Lany tak sabar melihat perubahan apa yang terjadi pada Ina.Lany mencari dengan sangat cermat. Setelah beberapa jam, Lany berhasil menemukan Ina. Lany melihat wajah Ina yang terlihat muram dan sedih. Ia langsung terbang menuju dekat Ina sambil memamerkan sayapnya itu.“Hai, Ina. Kenapa kamu terlihat sedih sekali, dan kenapa kamu belum berubah menjadi kupu-kupu? Bukankah dulu kita berubah menjadi ulat bersama?” tanya Lany dengan penasaran.“Hai, Lany. Aku sangat sedih, aku belum berubah menjadi kupu-kupu yang cantik sepertimu. Kau sangat cantik, Lany,” jawab Ina dengan wajah sedih.“Terima kasih, Ina,” ucap Lany dengan senang hati. “Hm, menurutku jangan-jangan kamu memiliki masalah dengan pertumbuhan dirimu. Jadinya kamu masih menjadi ulat, dan kemungkinannya kamu tidak bisa menjadi kupu-kupu selamanya.” imbuhnya dengan tertawa.Tiba-tiba Tio yang bergelantungan dari pohon satu ke pohon lain, tidak sengaja mendengar percakapan antara Ina dan Lany. Tio adalah seekor kera.“Hei, Lany. Kamu itu sebagai sahabat seharusnya menghibur Ina yang sedang sedih bukan membuatnya tambah sedih lagi. Satu hal lagi, kamu harus ingat Lany bahwa ulat itu akan selalu berubah menjadi kupu-kupu dan pasti Ina akan berubah menjadi kupu-kupu. Ina hanya perlu waktu yang lama untuk berubah,” ujar Tio kesal.“Jangan pernah dengar pembicaraan kita, itu namanya tidak sopan. Mungkin aja Ina tidak bisa berubah menjadi kupu-kupu cantik sepertiku. Lihat, sayapku indah bukan? Setiap kupu-kupu di hutan ini iri padaku,” kata Lany dengan sombong.“Sudahlah, Lany. Berbicara dengan hewan sombong sepertimu tidak ada gunanya,” cetus Tio kesal. Tio pun melanjutkan perjalannya untuk mencari buah pisang yang segar.“Ina, aku pergi dulu, ya. Hari sudah malam, kamu jaga dirimu baik-baik, ya” kata Lany dengan penuh perhatian.“Terima kasih, Lany. Kamu hati-hati,” jawab Ina. Lany pun bergegas terbang untuk pulang ke rumahnya dan mencari beberapa bunga untuk dimakan madunya.Sesampainya di rumah karena dari pagi sampai saat ini belum memakan apa-apa, ia langsung memakan beberapa madu bunga yang ia petik saat perjalan pulang. Kemudian tertidur lelap. Beberapa minggu kemudian, seperti biasanya Lany terbang mengelilingi hutan.“Sayapku paling bagus, tidak ada yang bisa menandingiku.”Seluruh penghuni hutan mendengar perkataan Lany. Akan tetapi, mereka yang mendengarnya tidak menyukai Lany karena kesombongannya. Di tengah perjalananya mengelilingi hutan, Lany teringat akan sahabatnya. Ia pun bergegas terbang menuju ke rumah Ina. Sesampainya di sana, Lany sangat terkejut akan perubahan pada Ina. Ina terlihat begitu cantik dan sayapnya tampak besar bahkan melebihi dari sayap Lany.“Ina, kenapa kamu bisa berubah menjadi kupu-kupu? Aku kira kamu tidak bisa berubah menjadi kupu-kupu,” ujar Lany tampak kesal.“Iya, Lany. Aku sangat senang dan bersyukur karena aku bisa berubah, meskipun memerlukan waktu yang lama.”“Sayapmu indah sekali, Ina, bahkan lebih cantik dan lebih besar dari milik Lany,” sahut Asher yang sedang berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal Ina.“Mana mungkin sayap seperti itu dibilang bagus. Lihat sayapku, coraknya unik dan aku lebih dapat terbang cepat dari pada Ina,” jawab Lany dengan kesal.“Untuk membuktikan itu, bagaimana kalau kita membuat lomba siapa yang dapat terbang dengan cepat dia yang paling hebat? Perlombaan dimulai pukul delapan pagi,” sahut Aher bijak.“Baiklah,” jawab Lany.Hari mulai malam Lany, Asher dan Ina pulang ke rumah masing –masing dan mempersiapkan untuk perlombaan di pagi hari nanti. Tiba-tiba, di tengah malam Leo—sang raja hutan membangunkan semua penghuni hutan untuk berkumpul karena ada sesuatu yang ia ingin sampaikan.“Semua penghuni hutan, harap segera bangun. Ayo ke sini, ada informasi penting,” teriaknya dengan lantang dan keras. Semua penghuni hutan datang ke tempat Leo, kecuali Lany.“Ada apa, Leo? Kenapa membangunkan kami di tengah malam seperti ini?” tanya semua penghuni hutan.“Aku tadi mendengar bahwa manusia akan datang ke tengah hutan ini. Jadi, tolong untuk esok hari semuanya bersembunyi dan jangan ada yang berkeliaran. Ini untuk kepentingan kita semua,” kata Leo dengan lantang.“Terima kasih infonya,” jawab seluruh penghuni hutan.Keesokan hari, tepat jam 08.00 Lany sudah berada di tempat perlombaan, tetapi tidak ada orang sama sekali. Lany sudah menunggu beberapa jam, tetapi tidak ada yang datang juga. Lany curiga apakah mereka mengerjainya. Ia angsung terbang mencari keberadaan Asher dan Ina, tetapi mereka semua tidak ada. Lany bingung sekali apa yang terjadi dengan hutan itu pada hari ini. Tak disadari oleh Lany, beberapa manusia datang dan ingin menangkap Lany sebagai percobaan praktek mereka.“Lany, awas! Di belakangmu ada manusia,” teriak Ken yang merupakan seekor landak.“Ah, mana mungkin ada manusia yang mau datang ke sini,” jawab Lany dengan santainya.Tak lama kemudian, Lany menatap ke arah belakang dan terkejut melihat ada beberapa manusia. Lany ingin menyelamatkan diri, tetapi sudah terlambat. Lany dibawa oleh manusia sebagai percobaan praktek mereka. Semua penghuni hutan keluar dari persembunyian mereka dan menangis meratapi kepergian Lany.
Kancil Tak Mau Kenal Cinta
Suatu ketika, Kancil yang sedang berjalan-jalan untuk mencari makan, melihat sungai di seberang itu terdapat apel yang merah pekat. Hal itu, membuat Kancil bertekad untuk menyeberangi sungai, padahal ia tahu bahwa dalam air itu banyak buaya yang sudah siap memangsanya. Akan tetapi, karena kecerdasan otaknya, dia berusaha semaksimal mungkin agar bisa melewatinya tanpa cacat tubuh.“Buaya ... Oh, buaya,” kata Kancil sambil mengepak-ngepak air dengan kaki mungilnya.“Ada apa Kancil yang cantik?” tanya Buaya dengan suara yang dikecil-kecilkan.“Kau mencintaiku, kan?” tanya Kancil. Dirinya sudah tahu kalau Buaya sudah lama sekali mencintainya dalam diam. Kancil memanfaatkan momen ini, supaya bisa menggapai apa yang ia inginkan untuk dapat memetik apel nan segar itu.“Benarlah Kancil. Kalau kau tidak percaya, belah saja dadaku ini. Kau bisa melihat siapa nama yang ada di hatiku, itulah pasti engkau,” jawab Buaya sembari mendekati Kancil.“Aku juga menyukaimu, wahai Buaya. Bolehkah kau mengabulkan permintaanku?” bisik Kancil, padahal Kancil tidak suka dengan Buaya. Namun, dirinya berkata dusta.“Tentu saja, apa yang engkau mau? Dari menyelam ke samudera, mati karena cinta. Aku rela demi pujaan hatiku,” kata Buaya.“Aku mau itu,” kata Kancil sambil menunjuk arah pohon apel itu dengan bersuara manja seperti bayi yang lucu dan menggemaskan.“Itu saja? Mau aku ambilkan satu pohon untukmu? Atau seribu pohon? Akan aku ambilkan dengan tanganku sendiri,” tanya Buaya.“Terima kasih, Buaya. Kaulah pria sejati. Satu buah saja sudah cukup untuk mengisi perutku yang lapar,” jawab Kancil.Buaya segera mengambilkan buah apel itu dengan amat sigap dan cepat. Berkat sikapnya itu, membuat Kancil lama-lama suka dengannya. Mustahil bila Kancil tidak menyukai Buaya. Namun, karena ketulusannya, tumbuhlah benih-benih cinta pada hati Kancil. Dari kejadian itu mereka saling bercanda, tertawa bersama, dan menghabiskan waktu bersama setiap hari.Keadaan yang ditunggu-tunggu Buaya pun telah tiba. Saat Kancil yang mulai menyukainya, menambah rasa percaya diri yang kuat bahwa dirinya akan diterima cintanya.“Kancil,” panggil Buaya kepada Kancil yang sedang main ke sungai.“Iya, ada apa sang Buaya?” tanya Kancil.“Sejak pertama kali berjumpa, hati ini selalu memikirkan tentang dirimu. Entah kenapa, aku suka denganmu sejak lama. Bagaimana denganmu?” kata Buaya.“Aku sebenarnya dulu sudah tahu kalau engkau menyukaiku, tetapi tidak bagi aku. Kini, lama-lama aku benar-benar merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan. Duh, jadi malu,” kata Kancil sambil menggaruk-garuk wajahnya yang cantik itu.Mendengar tanggapan Kancil yang seperti itu, sang Buaya pun tanpa basa-basi menembak cinta kepada pujaan hatinya itu. Buaya berkata dengan gugup, “Maukah kamu jadi anuku?”Kancil yang sudah tahu, arti “anu” itu merujuk pada hal apa. Namun, dirinya pura-pura tidak tahu.“Anu? Anu apa, wahai Buaya?”“Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Aku akan selalu menjagamu dan membuatmu selalu bahagia setiap saat,” ujar Buaya.Kancil sempat ragu, mengingat latar belakang Buaya yang suka mempermainkan hati para binatang lain—membuat dirinya memantapkan diri.“Apakah kamu bersedia untuk berubah menjadi binatang yang setia hanya satu binatang saja? Hatiku masih ragu, wahai sang Buaya.”“Aku berjanji tidak akan mengulang hal itu kembali. Aku akan setia kepadamu saja Kancil yang bijak,” kata Buaya.Melihat dari mimik wajah Buaya yang mengatakan dengan tulus, sang Kancil pun menerima cinta dari Buaya.“Baiklah kalau begitu, aku mau menerima cintamu, wahai Buaya yang tampan.”Setelah mereka mengikat suatu hubungan, setiap hari mereka semakin dekat. Tiada hari dalam kalender Buaya tanpa Kancil, begitu pun sebaliknya dengan Kancil. Lambat waktu, sang Buaya pun mengalami rasa bosan. Tak selamanya hubungan itu akan harmonis seperti sedia kala. Melihat ada sang Rusa yang memiliki bentuk tubuh yang seksi dan lebih cantik dari Kancil, dirinya mendekatinya.“Hai, Rusa,” sapa Buaya.“Ada apa, Buaya? Aku tidak mau dimangsa olehmu. Aku masih ingin hidup di dunia ini. Tolong kasihanilah aku. Jangan makan aku! Jangan makan aku, wahai sang Buaya!” kata Rusa dengan nada bicara ketakutan dan harap-harap cemas.“Tenang saja Rusa yang cantik, aku tidak akan memangsamu. Aku hanya ingin memuji, bahwa dirimu sangat cantik jelita. Bentuk tubuhmu juga seksi, membuat hatiku terpikat karena keelokanmu,” kata Buaya.“Tidak salahkah pendengaranku? Sang Buaya yang selalu memangsa spesies Rusa, detik ini juga memujiku?” tanya Rusa.“Benar, wahai Rusa. Aku tidak berbohong dan perlu kamu tahu bahwa aku sekarang tidak memakan spesiesmu lagi, melainkan buah-buahan nan segar,” jawab sang Buaya.Mendengar kata-kata Buaya yang terlihat jujur dari ekspresi mukanya, membuat sang Rusa percaya bahwa kali ini dia tidak akan dimangsa oleh Buaya.“Baiklah, terima kasih Buaya yang baik hati,” tanggap Rusa.Tak disangka, ternyata Kelinci—sahabat Kancil itu mendengar percakapan antara Buaya dengan Rusa. Mendengar hal itu, karena merasa kasihan kepada sahabatnya ia langsung bergegas lari melaporkan hal ini kepada Kancil.“Kancil! Kancil! Ada berita penting yang harus kamu tahu,” seru Kelinci.“Ada apa sahabatku, engkau terlihat terburu-buru. Ada berita apa?” tanya Kancil.“Baru saja, aku melihat Buaya sedang merayu sang Rusa. Dia memuji-muji Rusa bahwa Rusa lebih cantik dan seksi daripada dirimu,” jelas Kelinci.Karena mereka sudah lama bersahabat, mustahil bila sahabatnya itu berdusta. Kancil yang sudah geram, mendengar hal itu langsung menghampiri Buaya dengan lari sekencang-kencangnya.“Buaya!” seru Kancil.“Ada apa, wahai pujaan hatiku?” tanya Buaya, dengan suara yang lembut.“Tak perlu kau berpura-pura lagi bahwa dirimu sudah berubah, engkau benar-benar mengkhianatiku Buaya. Kemarin kau berjanji akan setia kepadaku saja, tetapi apa kenyataan? Hanya omong kosong!” jelas Kancil.“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Buaya, yang berpura-pura tidak tahu.Karena pertanyaan itu, sang Kancil tambah yakin bahwa Buaya benar-benar tidak pantas lagi untuk disukai. Dirinya langsung meminta putus hubungan.“Kita putus.”Buaya kaget, tetapi ia tidak merasa sakit hati. Karena masih punya cadangan, Buaya pun langsung setuju dengan permintaan Kancil.“Oke, tak masalah. Aku pun masih banyak cadangan binatang lain yang mau denganku.”Tanggapan Buaya benar-benar membuat sakit hati sang Kancil. Spontan ia langsung menangis karena tidak kuat lagi menahan sakit ini. Mulai sejak saat ini, dirinya menganggap bahwa semua jantan di alam semesta ini sama saja. Tidak ada bedanya, sama-sama tidak punya hati nurani. Semenjak kejadian ini, sang Kancil tidak ingin mengenal cinta lagi.
Nila yang Sombong dan Serakah
Di sebuah danau yang besar, hiduplah bermacam macam ikan di dasarnya. Ada yang kecil, besar, sedang, dan bahkan ada yang tak terlihat oleh manusia. Ikan ikan itu hidup sangat bahagia dan saling tolong menolong. Hingga akhirnya datanglah seekor ikan nila yang besar, gagah, dan juga kejam. Tubuhnya sangat indah tak ada satu pun luka dan goresan di tubunya. Semua ikan-ikan di sana sering sekali mendengar kesombongan sang nila. Bahkan ia memamerkan segala kelebihanya kepada Ika—ikan kecil dan mengejek ikan kecil yang buruk rupa.“Hei, rakyat ikan kecil. Lihatlah tubuhku, begitu sempurna dan anggun bukan. Jika ada yang berani merusaknya sedikit pun, tamat riwayatmu di saat itu juga,” suara lantang ikan Nila membuat ikan-ikan kecil menepi.Banyak yang menjauhinya karena takut mengotori atau menggoresnya. Ikan Nila serakah karena semua makanan yang dijumpainya selalu habis dimakan, sedangkan ikan-ikan kecil kini dilanda kelaparan. Banyak kematian melanda ikan ikan kecil karena kelaparan tersebut sehingga menimbulkan keresahan rakyat ikan.“Hei, ikan-ikan kecil. Jika kau mau makan, datanglah lebih awal di daerah permukaan sebelum ikan Nila sombong dan serakah itu sampai terlebih dahulu.” Kini seruan dari pemimpin ikan-ikan kecil memberikan saran.“Tetapi jika rencana kita ketahuan oleh ikan Nila, pasti desa kita akan dirusak.” Ikan Gurame yang cemas memberikan pendapat. Semua ikan saling berbisik, mencari solusi hingga si pemimpin kembali berseru.“Jika kita terus seperti ini, bagaimana dengan nyawa kita? Makanan yang turun ke dasar hanya sedikit, kita membutuhkan banyak makanan di sini.”Kini mereka mulai setuju dengan rencana sang pemimpin.“Baiklah, sekarang kalian tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Besok pagi-pagi buta, kita berkumpul di sini.”Semua mengangguk setuju dan segera kembali ke rumah untuk tidur. Pemimpin ikan tidak bisa tidur dengan tenang karena membayangkan apa yang akan terjadi jika ikan Nila benar-benar marah. Pasti kediaman mereka akan dirusak dan membunuh mereka semua.Pagi-pagi sekali, rombongan ikan-ikan kecil sudah menuju ke permukaan. Belum ada tanda-tanda kemunculan manusia yang akan memancing ikan dan belum juga ada si Nila serakah itu. Setelah mendapat makanan yang cukup, ikan-ikan kecil segera menuju ke dasar. Hingga matahari terbit, ikan Nila baru saja sampai di permukaan.Betapa terkejutnya ia bahwa makanan yang biasanya sangat banyak sekarang berkurang setengahnya.“Siapa yang berani mengambil makananku.” Ikan Nila pergi ke permukaan dengan kecepatan dan amarah yang besar hingga ia tak tahu kalau ada perangkap jaring di bawah yang dipasang oleh pemancing ikan.“Aaa, tolong aku.” Kini suara ikan Nila menggema karena hanya ia sendiri yang terkena jaring. Ia terperangkap.Ikan-ikan kecil heran, kenapa Nila tidak menghampiri mereka. Bukannya makanan Nila hanya tersisa setengah. Pertanyaan itu muncul di benak setiap ikan-ikan kecil. Ikan Gurame yang heran, langsung memeriksa ke atas. Ia mendapati Nila sudah tak berdaya. Nila terperangkap dalam jaring yang sengaja dipasang oleh manusia. Ikan Gurame berbalik karena ia tahu pasti masih ada banyak jaring di sekitar sini.“Pengumuman-pengumuman. Aku tak tahu harus sedih atau gembira, ikan Nila terjebak di jaring pemancing manusia” kata Gurame dengan napas tersengal.“Benarkah? Kita harus bahagia karena ini adalah awal mula kita akan hidup tenang.” Kini ikan Lele di lumpur bawah yang menyahut.“Benarkah? Kalau begitu, kita rayakan kepergian ikan sombong dan serakah itu,” seru ikan-ikan kecil dengan girang.Mereka mulai merencanakan pesta untuk merayakannya. Hingga ada yang berpendapat untuk membuat patung Nila jahat tersebut, tetapi tidak disetujui oleh pemimpin mereka karena itu adalah hal buruk. Ya, itu hal buruk karena merayakan kepergian kawanan itu sangat tidak bermoral. Seharusnya kita turut berduka cita walaupun dulu Nila sangat suka berlaku kejam terhadap ikan-ikan kecil.Sejak saat itu, ikan-ikan kecil hidup bahagia tanpa ada rasa takut akan kekejaman sang nila. Mereka sudah bebas ke sana ke mari walaupun awalnya mereka masih dilanda yakin akan kemunculan Nila lagi. Namun, setelah beberapa hari ini memang benar ikan Nila sudah tidak ada di danau ini.Kini mereka juga mulai membangun tempat yang nyaman dan tempat pengungsian jika sewaktu-waktu ada ikan kejam lagi seperti Nila. Mereka akan mengungsi ke tempat tersebut. Ikan-ikan kecil kini memilih hidup dengan saling tolong menolong, tidak boleh saling menyalahkan, bijaksana, dan saling memaafkan.
Mawar dan Capung
Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis cantik yang tak pernah tersenyum sama sekali. Namanya adalah Mawar. Ia hidup di sebuah desa terpencil di tengah hutan belantara yang letaknya sangat jauh dari perkotaan.Pagi itu, Mawar berjalan seorang diri untuk mencari bunga melati sebagai penghias di rumahnya. Dengan berbekal sebotol air minum yang dikalungkan di lehernya, ia berjalan menyusuri hutan yang katanya terbilang cukup angker.Setelah berjalan cukup lama, ia memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon beringin. Sambil menyandarkan kepalanya pada batang pohon ia terlelap begitu saja seperti sedang tersihir oleh keadaan di sekitarnya. Tak lama kemudian,terdengar suara yang memanggil namanya."Mawar ... Mawar ... Mawar ...." Terdengar suara itu memanggil namanya sebanyak tiga kali.Mawar pun terbangun dari tidurnya dan mencari sumber suara itu berasal. "Siapa kamu?" teriaknya."Mawar," panggilnya lagi."Keluarlah, aku tidak takut denganmu!" titah Mawar menantangnya."Aku di sini, Mawar. Aku seekor capung," serunya terbang mengelilingi Mawar.Mawar berdiri mendekati si Capung yang hinggap di ranting pohon. "Ada apa kamu memanggil namaku?""Tolong bantulah aku untuk menemukan bunga melati yang dapat menyembuhkan seseorang dari tidur panjangnya," kata si Capung."Mengapa kamu meminta bantuan padaku?" tanya Mawar penasaran."Kamu adalah seorang putri, lebih tepatnya Putri Bunga. Bukankah kamu sekarang juga sedang mencari bunga melati itu?" kata si Capung."Aku bukan seorang putri dan memang benar aku sedang mencari bunga melati itu," kata Mawar perlahan berjalan melangkahkan kakinya.Si Capung terbang mengikuti ke mana arah langkah kaki Mawar pergi membawanya."Nanti kamu bakal tahu sendiri, jika kamu adalah seorang Putri Bunga. Tolong bantulah aku untuk membangunkan Pangeran Langit!"Mawar menghembuskan napasnya kasar."Baiklah, ikutlah denganku!"Mawar dan si Capung tersebut melanjutkan perjalanannnya melewati batu terjal yang berbahaya. Banyak rintangan yang harus ia hadapi agar bisa sampai ke puncak Gunung Matahari. Hari sudah mulai gelap, cahaya matahari perlahan menghilang tergantikan sang awan hitam yang menyelimuti hutan. Tiba-tiba, Mawar dikejutkan sebuah pancaran cahaya dari gelang yang melingkar di tangannya."Itu pasti pertanda kalau sebentar lagi kita akan sampai di Gunung Matahari," kata si Capung."Kamu tahu dari mana?" tanya Mawar menyentuh gelangnya."Karena benda itu hanya dimiliki oleh seorang Putri Bunga dan akan bertemu dengan pangeran yang bisa mengembalikan senyumannya," kata si Capung."Sebenarnya kamu siapa?" tanya Mawar yang mulai curiga."Aku prajurit dari kerajaan awan yang ditugaskan untuk mencari Putri Bunga dan setangkai bunga melati," kata si Capung hinggap di permukaan telapak tangannya."Jangan mengarang cerita!" tegur Mawar."Terserah kamu saja. Suatu saat, pasti kamu tahu kebenarannya," si Capung terlelap tidur.Keesokan harinya, Mawar dan si Capung melanjutkan perjalanannya menuju ke Gunung Matahari. Ia menempuh jarak lima kilometer untuk sampai di sana. Terlihat tenaga Mawar yang mulai habis dan nyaris terpelosok ke dalam jurang. Mau tidak mau ia harus beristirahat lagi, mengumuplkan tenaganya."Jika kamu lelah, maka naiklah ke badanku Mawar!" titah si Capung berubah menjadi besar."K—kamu? Kenapa bisa jadi besar?" kata Mawar kaget melihat si Capung."Cepat naiklah, waktu kita tidak banyak!" titah si Capung dan Mawar pun menuruti perintahnya."Mengapa kamu tidak bilang jika bisa berubah menjadi besar dan terbang membawaku ke Gunung Matahari?" tanya Mawar di sela-sela perjalanannya."Karena aku ingin melihat seberapa gigihnya perjuangan dari Putri Bunga," kata si Capung mengepakkan sayapnya."Aku bukan Putri Bunga!" sanggah Mawar tak percaya.Akhirnya Mawar dan si Capung sampai di Gunung Matahari. Ia memetik beberapa bunga melati dan memasukkannya ke dalam kantong yang dibawanya. Setelah itu, si Capung membawa Mawar ke kerajaan awan yang tak jauh letaknya dari Gunung Matahari.Kehadiran Mawar dan si Calung disambut sangat baik oleh prajurit yang menjaga istana tersebut. Si Capung menyuruh Mawar turun dan mengantarkannya ke kamar Pangeran Langit yang sedang terbaring lemah di atas kasurnya."Campurkan bunga melatinya pada minuman pangeran, teteskan minumannya ke mulutnya!" titah si Capung berubah mengecil seperti semula.Mawar meneteskan minuman tersebut dan ia terkejut saat Pangeran Langit terbangun dari tidur panjangnya berkat minuman air melati yang ia petik dari Gunung Matahari."Syukurlah, pangeran sudah sadar," kata si Capung berbahagia melihat Pangeran Langit yang sudah bangun setelah berbulan-bulan lamanya akibat tersengat lebah."Siapa gadis yang kamu bawa memasuki kamarku ini, Capung?" tanya Pangeran menatap sesosok gadis cantik di hadapannya."Apa pangeran tak mengenalinya sama sekali?""Tidak," kata Pangeran Langit menggelangkan kepalanya."Dia, Putri Bunga yang selama ini kita cari pangeran," kata si Capung."Putri Bunga?" tanyanya sekali lagi."Benar, Pangeran. Dia Putri Bunga yang selama ini kehilangan senyumannya," kata si Capung hinggap di pundak sebelah kanan Mawar."Mawar, masih ingatkah kamu denganku? Aku Pangeran Langit, sahabat masa kecilmu." Pangeran Langit mencoba mengembalikan separuh ingatan Mawar."Aku pernah mengenal namamu, tapi aku lupa siapa dirimu," kata Mawar menerawang masa kecilnya."Langit yang selalu bersamamu dan tak pernah membiarkan kamu bersedih," kata Pangeran Langit.Seketika Mawar teringat memori masa lalunya di mana ia pernah bermain lari-larian dengan sosok anak kecil laki-laki yang tampan mengejarnya di taman bunga."Benerkah kamu Langit yang selama ini kurindukan?" tanya Mawar dengan mata berbinar.Pangeran Langit tersenyum. "Iya, aku Langitmu Mawar. Jangan pernah takut untuk tersenyum Mawar, karena dunia tak membutuhkan tangismu. Tapi membutuhkan sebuah senyumanmu. Jangan jadikan alasan bahwa kepergianku saat itu membuat dirimu tak pernah tersenyum kembali. Sebab aku tak ingin melihatmu terus bersedih. Tetaplah tersenyum dalam keadaan apa pun itu!Karena kamu adalah seorang Mawar yang mendapat gelar Putri Bunga dari Kerajaan Bunga dan telah kehilangan senyumannya selama bertahun-tahun lamanya," pungkas Pangeran Langit."Terima kasih, Langitku," kata Mawar terisak tangis kecil."Tersenyumlah, Bungaku!" kata-kata dari Pangeran Langit sukses membuat cekungan bulan sabit terlukis di bibir Mawar.Pada akhirnya, Mawar atau Putri Bunga yang telah kehilangan senyumannya selama bertahun-tahun lamanya kini dapat tersenyum kembali seperti sedia kala. Dan ia dinobatkan sebagai Putri Bunga di Kerajaan Bunga—tempat di mana ia dilahirkan.
Kancil yang Cerdik dan Buaya
Suatu hari, seekor kancil sedang duduk bersantai di bawah pohon. Ia ingin menghabiskan waktu siangnya dengan menikmati suasana hujan yang asri dan sejuk. Beberapa waktu kemudian, perutnya keroncongan. Ia berpikir bagaimana cara mendapatkan mentimun yang letaknya berada di seberang sungai. Tiba-tiba, terdengar suara kecipak keras dari dalam sungai. Ternyata itu adalah buaya.Kancil yang cerdik itu pun punya ide jitu untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke sungai untuk menghampiri buaya.“Selamat siang, Buaya. Apakah kau sudah makan?” tanya Kancil berpura-pura. Namun, buaya itu tetap diam. Tampaknya ia tertidur pulas sehingga tidak menjawab pertanyaan kancil.Si kancil pun mendekat. Kini jaraknya dengan Buaya hanya satu meter saja. “Hai, Buaya. Aku punya banyak daging segar. Apakah kau sudah makan siang?” tanya Kancil dengan suara yang dikeraskan.Buaya itu mengibaskan ekornya di air. Ia bangun dari tidurnya. “Ada apa? Kau mengganggu tidurku saja,” ucap Buaya agak kesal.“Sudah aku bilang, aku punya banyak daging segar, tetapi malas untuk memakannya. Kau tau bukan, kalau aku tidak suka daging? Jadi, aku berniat memberikan daging segar itu untukmu dan teman-temanmu,” ujar Kancil polos.“Benarkah itu? Aku dan beberapa temanku memang belum makan siang.Hari ini, ikan-ikan entah pergi ke mana, sehingga kami tak punya cukup makanan,” jawab Buaya kegirangan.“Kebetulan sekali. Kau tidak perlu khawatir akan kelaparan selama kau punya teman baik sepertiku, Buaya. Benar, kan?” Kancil memperlihatkan deretan gigi runcingnya.“Terima kasih, Kancil. Ternyata hatimu begitu mulia. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh teman-teman di luar sana. Mereka bilang kau licik dan suka memanfaatkan keluguan temanmu untuk memenuhi segala ambisimu,” ucap Buaya tanpa ragu.Mendengar itu, Kancil sebenarnya agak kesal. Namun, ia harus tetap terlihat baik demi mendapatkan mentimun yang banyak di seberang sungai. “Aku tidak mungkin sejahat itu. Biarlah. Mereka hanya belum mengenalku karena selama ini sikapku terlalu cuek dengan omong kosong. Sekarang, panggillah teman-temanmu.”Buaya tersenyum lega, akhirnya, ada jatah makan siang hari ini. “Teman-teman, keluarlah. Kita punya jatah makan siang daging segar yang sangat menggoda. Kalian sangat lapar, bukan?” pekik Buaya.Tak lama kemudian, 8 ekor buaya yang lain pun keluar secara bersamaan. Melihat kedatangan buaya itu, Kancil berkata, “Ayo, berbaris yang rapi. Aku punya banyak daging segar untuk kalian.” Mendengar itu, 9 ekor buaya pun berbaris rapi di sungai. “Baiklah, aku akan menghitung jumlah kalian, agar daging yang aku bagikan bisa merata dan adil,” ucap Kancil menipu.Kancil pun meloncat girang melewati 9 ekor buaya sembari berkata, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuju, delapan, dan sembilan.” Hingga akhirnya, ia sampai di seberang sungai.Sembilan buaya itu bertanya, “Mana daging segar untuk makan siang kami?”Kancil terbahak-bahak, lalu berkata, “Betapa bodohnya kalian. Bukankah aku tak membawa sepotong pun daging segar di tangan? Itu artinya aku tak punya daging segar untuk jatah makan siang kalian. Enak saja, mana bisa kalian makan tanpa ada usaha?”Sembilan ekor buaya itu pun merasa tertipu. Salah satu di antara mereka berkata, “Akan ku balas semua perbuatanmu.”Kancil pun pergi sembari berkata, “Terima kasih, Buaya bodoh. Aku pamit pergi untuk mencari mentimun yang banyak. Aku lapar sekali.”Buaya itu pun dendam terhadap Kancil. Mereka akan membalas perbuatan Kancil yang telah menipunya.
Rantai Kebaikan
Suatu hari hiduplah seorang petani di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Petani itu memiliki lahan pertanian luas dengan hasil yang melimpah ruah. Namanya Pak Karim, warga desa sering membantu merawat lahan pertaniannya dengan upah hasil panen. Pak Karim memang terkenal baik, wibawa dan bijaksana. Beliau tidak pernah meminta imbalan untuk warga yang menggarap panenannya. Beliau percaya, jika kita membantu sesama warga maka kelak kita juga akan dibantu oleh warga lain.Seperti contohnya saat ini, lahan yang digarap sebagian besar gagal karena diserang hama tanaman. Beliau begitu risau karenanya. Namun, tak pernah sedikit pun beliau menampakkan wajah sedih kepada warga yang setiap hari beliau temui.“Selamat pagi, Pak Karim,” ucap salah satu warga yang melintas.“Pagi juga, Pak,” jawab Pak Karim penuh senyum hangat.“Bagaimana, padinya?” Lalu warga tersebut mengajak ngobrol untuk sekadar basa-basi.“Yah begini, Pak. Lagi kurang beruntung. Haha,” jawab Pak Karim dengan tawa.“Butuh bantuan, kah? Sekalian balas budi kepada Bapak,” ujar warga tersebut. Pak Karim memang sangat disegani di desa tersebut. Tak heran, warga sering sekali menawarkan diri untuk membantu dengan alasan sebagai balas budi.“Ah, tidak usah. Cuma masalah kecil kok,” jawab Pak Karim. Sebenarnya posisinya saat ini memang sedang tidak menguntungkan dan membutuhkan pertolongan. Namun, beliau merasa bahwa tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi.“Baiklah, jika membutuhkan bantuan jangan segan-segan ya, Pak. Kami warga desa siap membantu kapan pun,” ucap warga tersebut. Ia lalu berpamitan kepada Pak Karim untuk melanjutkan perjalanan ke ladang dan dipersilakan dengan senyuman khas dari Pak Karim.Beberapa kali warga melintas dan menyapa Pak Karim. Beberapa kali juga mereka berusaha menawarkan bantuan. Namun, tidak ada satu pun tawaran yang beliau terima. Beliau sudah berkomitmen untuk tidak menyusahkan orang lain lagi dan berusaha untuk terus berguna untuk orang lain.Berhari-hari sudah Pak Karim lalui, berbagai cara sudah dilakukan untuk mengusir hama-hama yang menyerang tanaman padinya, tetapi tidak ada yang berhasil. Tanamannya semakin memburuk dan sudah dipastikan bahwa beliau akan gagal panen.Warga sekitar sebenarnya sudah mengetahui tentang masalah Pak Karim. Namun, mereka tidak ada yang berhasil membujuk beliau agar mau dibantu menyelesaikan. Hingga akhirnya salah satu warga berinisiatif untuk berkumpul dan membantu Pak Karim.“Teman-teman, seperti yang sudah kita ketahui, saat ini Pak Karim sedang mengalami kesusahan. Tanaman padinya rusak diserang hama tanaman. Saya mengumpulkan kalian ke sini untuk meminta bantuan agar bisa menyelesaikan masalah Pak Karim tanpa sepengetahuan beliau.” Pak Khairul memulai pembicaraan bersama para warga.“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Pak Junaidi.“Malam nanti, kita akan ke rumahnya secara bersamaan untuk ngobrol dengan beliau. Kita bawa sedikit hasil panen kita dan menawarkan untuk mengganti tanaman padinya dengan tanaman lain,” jawab Pak Khairul.“Kalau beliau menolak? Kita semua tahu bahwa beliau tidak pernah mau untuk dibantu, meski sering sekali kita menawarkan bantuan,” sanggah warga yang lain.“Kita coba dulu bicarakan baik-baik dengan beliau. Jika kita bersama-sama pasti beliau akan menerima.” Pak Khairul pun menegaskan untuk dicoba terlebih dahulu. Mayoritas warga setuju dengan ide Pak Khairul. Bagaimanapun juga hampir semua warga pernah mendapat bantuan Pak Karim di masa-masa sulit mereka. Jadi, sedikit membantu beliau bukanlah sebuah beban bagi mereka.Malam pun tiba, para warga sudah berkumpul membawa hasil panen mereka masing-masing. Pak Khairul membawa ubi ungu, Pak Junaidi membawa jagung dan beberapa warga lain membawa sayur-mayur hasil panenan mereka. Mereka lalu bersama-sama pergi ke rumah Pak Karim.“Assalamualaikum, Pak Karim,” ucap Pak Khairul sambil mengetuk pintu.“Waalaikumsalam.” Pak Karim lalu membukakan pintu sembari mengucap salam. Beliau terkejut melihat banyak warga datang membawa hasil panen mereka.“Ada apa ini? Kok berbondong-bondong kemari? Silakan duduk,” lanjut beliau.Sebagian warga lalu duduk di kursi teras rumah Pak Karim, sebagian lagi berdiri di sebelahnya. Pak Khairul sebagai perwakilan warga langsung mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Awalnya, Pak Karim bersikeras menolak bantuan warga. Namun, dengan sedikit desakan dari Pak Khairul dan warga yang hadir, akhirnya beliau menerima bantuan dari para warga.“Terima kasih kepada seluruh warga yang sudah berbaik hati membantu saya. Saya merasa sangat terhormat atas kebaikan kalian semua. Tanpa bantuan ini, entah apa yang akan terjadi pada ladang saya,” ucap Pak Karim kepada warga.“Sama-sama, Pak. Semua ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan bapak selama ini,” ucap Pak Khairul.“Betul itu, betul.” Warga pun ikut membenarkan ucapan Pak Khairul.“Kalau boleh tahu, kenapa Anda sering sekali membantu kami dan menolak untuk kami bantu?” tanya Pak Efendi yang berada di hadapan Pak Karim.Pak Karim lalu tersenyum dan bercerita mengenai kisahnya di masa lalu. “Suatu hari, saya sedang kesusahan seperti saat ini, bahkan lebih parah. Saya pergi ke desa lain untuk mencari obat pengusir hama. Dengan sisa uang hasil panen sebelumnya, saya pergi berkeliling ke seluruh penjuru negeri, tetapi tidak ada satu pun obat yang mempan. Hingga suatu ketika, saat saya beristirahat di bawah pohon yang rindang, saya bertemu dengan seorang kakek yang sedang kehausan.Lantas saya memberinya minum dan mengobrol. Di sela obrolan tersebut beliau berpesan bahwa jangan sungkan untuk berbagi kepada sesama. Beliau juga berpesan agar tidak mengharapkan balasan tentang apa yang sudah saya perbuat. Sejak saat itu saya berjanji kepada diri sendiri agar terus memberi kepada sesama dan mengabaikan soal balasan yang sudah diberi.Jadi, setiap kali ada warga yang memberi bantuan, saya terus menolak meski mereka bilang itu bentuk balas budi. Alhamdulillah, setelah mendapat pencerahan dari kakek tersebut, tanaman saya kembali subur dan semakin berkembang sampai sekarang.”Warga yang mendengar cerita Pak Khairul pun terkesima mendengarnya. Mereka lalu sadar, bahwa setiap rejeki yang mereka dapatkan terdapat hak orang lain. Sejak saat itu, Pak Karim dan para warga memutuskan untuk saling membantu dalam mengelola pertanian mereka dan menyisihkan sebagian hasil panen mereka kepada warga yang kurang mampu. Mereka percaya, bahwa rantai kebaikan tidak akan putus dan terus berlanjut jika dilakukan secara tulus dan ikhlas.
Seekor Buaya Mencari Mangsa
Dahulu kala, di sebuah tepi danau, tinggalah lima buaya jantan. Mereka adalah Ersan, Calvin, Ekky, Rama dan Eko. Lima buaya jantan tersebut menjalani hari-harinya mencari mangsa di danau dengan menyantap ikan-ikan kecil dan besar.Keesokan harinya, Ekky mengajak keempat temannya untuk mencari mangsa dan makan di daratan. Namun, keempat temannya itu tidak menghiraukan perkataan Ekky.“Hai, teman-teman. Bagaimana kalo kita kali ini mencari makan di darat saja?”“Selagi di danau masih ada mangsa, mengapa tidak di danau saja?”ujar Eko.“Baiklah, jika kalian ingin mencari mangsa di danau, aku akan mencoba mencari mangsa di darat.”Pada akhirnya, Ekky pergi ke darat sendiri untuk mencari mangsa. Sampai di tengah-tengah perjalanan, Ekky menemukan seekor ular betina yang bernama Dila. Di mana ular betina itu menjadi salah satu santapan utama Ekky. Namun, tak disangka ular tersebut sangat cerdik, meskipun awalnya ular tersebut merasa tertipu oleh Ekky.“Hai, buaya. Kau ingin pergi ke mana?”“Aku ingin mencari mangsa yang akan aku jadikan makanan hari ini.”Tanpa berpikir panjang, sang buaya mengajak ular ke sebuah tempat di mana tempat yang didatanginya tampak indah. Sang ular tidak memiliki rasa curiga sedikitpun pada sang buaya.“Kau ingin mengajakku ke mana, buaya?”“Sudah, kau diam saja karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah. Tentunya kau sangat menyukai itu.”“Ah, apakah benar kau ingin mengajakku ke sebuah tempat indah?”Sang ular pun mau mengikuti buaya.Setelah sampai di tempat tersebut, sang ular terkejut.“Tempatnya sungguh indah, tetapi mengapa banyak sekali buaya-buaya di tepi danau.”“Haha. Dasar ular bodoh! Masih saja kau mau ditipu olehku. Aku mengajakmu ke sini karena aku ingin memangsamu.”“Mengapa kau tega sekali hingga membohongi dan membodohiku. Apakah aku memiliki salah kepadamu, wahai buaya?”“Haha. Kau sama sekali tidak bersalah ular. Mungkin ini memang takdirmu untuk menjadi santapanku.”Pada akhirnya sang ular berpikir keras agar bisa terlepas dari seorang buaya yang sangat kelaparan.“Bagaimana ini? Aku harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin menjadi santapan-santapan buaya-buaya itu.”Tiba-tiba buaya tersebut mencengkeram ular. Ia berkata, “Hei, ular bersiaplah kau untuk menjadi santapanku.”Ular pun langsung menjawab perkataan buaya tersebut dan meminta waktu agar dia bertemu dengan orang tuanya. Ular itu berjanji ia akan kembali lagi ke tempat ini. Namun, buaya tidak percya pada perkataan sang ular.“Tunggu, sebelum kau menyantapku, aku memiliki permintaan pada kalian.”“Permintaan apa yang kau ingikan ular?”“Aku hanya ingin bertemu Ibuku dan Ayahku untuk terakhir kalinya sebelum kau menyantapku buaya.”Para buaya tertawa mendengar permintaan sang ular.“Apakah hanya itu yang kau inginkan ular?”“Iya. Aku hanya menginginkan itu.”Para buaya tersebut masih tidak percaya dengan perkataan sang ular.“Apakah kau akan kembali ke sini lagi untuk memenuhi persyaratan dariku, wahai ular?”“Iya, aku berjanji pada kalian akan secepatnya kembali ke sini.”Para buaya masih sangat ragu dengan ucapan dan janji sang ular kepada mereka. Sang ular memohon kepada para buaya agar mengizinkan ia pergi untuk bertemu dengan sang ibu dan ayah. Pada akhirnya, sang buaya mengizikan ular tersebut untuk pergi menemui keluarganya.“Baiklah, kami akan mengizinkanmu untuk bertemu keluargamu. Tapi kau harus berjanji kepada kami akan segera kembali secepat mungkin.”Ular pun merasa senang dan berterima kasih kepada buaya karena telah mengizinkannya.“Terima kasih, buaya karena telah memberikanku kesempatan untuk menemui keluargaku.”“Baiklah, pergi sana. Cepat sebelum kami berubah pikiran.”“Baiklah, aku akan pergi dan kembali lagi.”Pada saat sampai di tengah-tengah perjalanan, sang ular merasa lega dan menertawai para buaya yang telah ia bodohi itu.“Haha, dasar para buaya rakus! Mau saja aku tipu. Aku juga tidak akan ke sana lagi.”Ular bergegas pergi dari tempat itu secepatnya. Tak lama kemudian, para buaya risau mengapa ular tersebut tak kunjung kembali ke tempat ini.“Bagaimana ini? Mengapa ular itu tak kunjung kembali ke sini”“Iya, benar. Padahal perut kita sudah lapar sekali dan tak sabar ingin memangsanya.”“Kalian merasa tidak, sepertinya kita telah ditipu oleh ular itu,” ujar Calvin.“Itu tidak mungkin. Kita kan seekor buaya yang besar dan cerdik, tidak mungkin ditipu oleh seekor ular yang bodoh,” ucap Ekky.“Kalo memang kita tidak ditipu oleh ular itu, mengapa ia tidak kunjung datang?” tanya Eko.“Benar kata kalian, sepertinya kita sudah ditipu olehnya.”Pada akhirnya, para buaya gagal memangsa sang ular. Dan para buaya tak menyangka bahwa ular yang ia bodohi lebih cerdik darinya. Dengan kesal buaya tersebut pergi dan mencari makan di tempat lain.
Wanita Buruk Rupa
Dahulu kala hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin. Mereka adalah sepasang suami istri. Pak Dino bekerja sebagai seorang petani di daerahnya. Pak Dino dan Bu Ina dikaruniai seorang putri yang memiliki wajah buruk rupa—bernama Azizza. Namun, dengan wajah Azizza yang buruk, Pak dino tidak menerima kenyataan tersebut.Pada akhirnya ketika Azizza berumur seminggu, Pak Dino ingin membuang Azizza tanpa diketahui oleh Bu Ina. Malam hari pun tiba. Ketika Bu Ina tertidur lelap, Pak Dino langsung membawa Azizza pergi dari rumahnya. Saat jam sudah menujukan pukul 22.00, Pak Dino meletakan Azizza di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah.Rumah itu ditempati seorang janda bernama Lasmi yang tidak memiliki anak karena setahun silam, suaminya mengalami kecelakaan saat pulang kerja. Setelah Azizza diletakan di rumah mewah dan megah tersebut, Pak Dino mengetuk pintu rumah tersebut. Sebelum pintu terbuka, Pak Dino sudah meninggalkan tempat itu.Seorang asisten rumah tangga yang bernama Nani keluar dari dalam rumah. Dia terkejut melihat ada seseorang meletakan bayi di teras rumahnya. Nani pun teriak ketakutan memanggil majikannya.“Nyonya ... Nyonya .... Lihat, ada seseorang yang meletakan bayi di teras rumah.”“Astagfirullah. Siapa yang tega membuang dan meletakan bayi ini di depan rumah. Tega sekali dia.”“Saya tidak tahu, Nyonya karena pas saya keluar tadi, tidak ada siapa-siapa. Saya hanya menemukan surat dan kalung saja.”Nani pun memberikan surat dan kalung tersebut kepada Lasmi.Dear anakku.Maafkan kami sudah membuangmu dan menelantarkanmu , Nak. Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi, Nak. Semoga orang tua barumu menyayangimu dengan sepenuh hati. Aku mohon, rawatlah anak ini yang sudah kuberi nama Azizza . Rawatlah dia dengan sepenuh hatimu dan jangan biarkan dia kesusahan. Terima kasih karena sudah ingin merawat dan membesarkan anakku.Salam.“Sudah mari kita bawa masuk. Bereskan tempat tidur untuk anak ini,” ujar Lasmi.“Baik, Nyonya.”👶👶👶Matahari mulai terlihat. Pukul 06.00 Bu Ina pun terbangun. Tanpa ia sadari bahwa anaknya sudah tidak di rumah. Ketika Bu Ina membuat sarapan dan ingin memberi ASI kepada Azizza, dia terkejut. Anaknya hilang dan tidak ada di tempat tidur. Bu Ina berteriak hingga Pak Dino terkejut dengan teriakannya.“Bapak, Pak ... Cepat, sini. Azizza hilang, Pak,” ucap Bu Ina dengan nada khawatir.“Sudah, kamu jangan khawatir dan kamu nggak perlu cari anak itu lagi karena dia sudah bersama orang tua barunya yang menjamin kehidupannya.”“Maksud Bapak apa?” tanya Bu Ina dengam nada kesal.“Iya, dia sudah aku letakkan di sebuah rumah seorang janda kaya yang pasti memiliki kemewahan dan menjamin semua kebutuhan anak kita. Satu hal yang kamu harus tahu, aku malu memiliki anak yang wajahnya sangat buruk.”Setelah Pak Dino menceritakan semua yang terjadi di malam itu, Bu Ina merasa terpukul. Ia langsung bergegas mencari Azizza. Namun, dia tidak menemukannya. Hingga beberapa tahun kemudian, Azizza yang memiliki wajah buruk sudah dewasa. Wajah buruk rupa berubah menjadi cantik karena orang tua angkatnya melakukan operasi plastik agar Azizza tak malu dengan wajah tersebut.Setelah Azizza melakukan operasi, dia tak menyangka dirinya akan memiliki wajah secantik dan seputih ini.“Astaga. Dok, apakah benar ini wajah saya?” tanya Azizza.“Iya, ini benar wajah baru yang kamu miliki.” Dokter itu tersenyum.Betapa bahagianya Azizza melihat wajahnya yang kini tampak cantik dari sebelumnya. Namun, setelah sampai di rumah, Azizza mencari sesuatu yang menurutnya tertinggal di kamar ibunya. Dia terus mencari barang itu sampai akhirnya yang tersisa hanya satu lemari saja yang belum dibuka.Azziza belum mengetahui siapa orang tua kandung yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya, semua itu terbongkar karena Azizza menemukan sebuah surat dan kalung miliknya semasa dia masih bayi. Azizza pun bertanya pada ibunya.“Ibu, apakah benar aku bukan anakmu?”“Mengapa kamu bertanya seperti itu, Nak?”“Jawab jujur, Ibu. Aku menemukan sebuah surat dan kalung di lemarimu.”Lasmi terdiam dengan perkataan Azizza. Dia lalu menceritakan yang sebenarnya kepada Azizza mengenai dirinya.“Iya, Nak. Itu semua benar. Dulu ketika kamu masih bayi, kamu ditemukan di teras depan rumah. Di situ hanya ada sebuah surat dan kalung. Akan tetapi, Ibu tidak tahu siapa yang menelantarkanmu. Namun, sepertinya orang tuamu menelantarkanmu karena kondisi ekonomi mereka yang tidak mampu untuk kebutuhan sehari-hari. Malam itu, Ibu langsung membawamu masuk ke dalam rumah dan merawatmu seperti anak Ibu sendiri.”“Lalu bagaimana dengan orang tua kandungku sekarang, Bu? Di mana mereka tinggal? Aku ingin mencari mereka.”“Sampai saat ini, Ibu juga belum tahu di mana orang tua kandungmu.”Azizza merasa terpuruk mendengar Ibu angkatnya bercerita tentang waktu dia masih kecil dan ditelantarkan.👶👶👶Satu tahun telah dilewati Azizza. Akhirnya Azizza menemukan orang tua kandungnya. Dia menangis melihat kondisi orang tuanya. Kedua orang tua Azizza tak mengenalinya sama sekali karena dia telah melakukan operasi plastik.“Bapak, Ibu. Aku sangat merindukan kalian,” ucap Azizza sedih.“Maaf, Nak. Mungkin kamu salah orang. Kami memang memiliki putri, tetapi tidak secantik kamu, Nak,” ujar Pak Dino.“Ini aku, Pak, Bu. Anak yang kalian telantarkan di sebuah rumah mewah dan megah.”“Apa benar ini anakku? Jika benar, betapa cantiknya sekarang kamu, Nak,” sahut Bu Ina.Pak Dino dan Bu Ina terkejut melihat wajah Azizza yang begitu cantik. Sampai- sampai mereka tak mengenalinya.“Iya, Bu. Ini benar, aku anakmu.”Pak Dino langsung meminta maaf kepada Azizza karena telah ditelantarkan olehnya semasa kecil. Dia merasa bersalah terhadap Azizza. Pada akhirnya, Azizza membawa orang tuanya ke rumah Ibu angkatnya. Azizza mengajak otang tuanya tinggal bersama mereka.“Ibu, apakah orang tuaku boleh tinggal bersama kita?” tanya Azizza.“Iya, Nak. Tentu saja boleh,” jawab Bu Lasmi.“Terima kasih, Bu telah mengizinkan kami tinggal di sini. Kami sangat bersyukur bisa tinggal di tempat yang nyaman dan indah ini,” ucap Pak Dino.“Sama-sama, Pak.”Pada akhirnya, mereka hidup damai dan bahagia. Penuh keharmonisan di dalamnya.
Sang Pengembala Kambing dan Raja yang Sombong
Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan yang cukup makmur dan memiliki hasil ladang yang begitu melimpah karena akan tanah di negeri ini yang begitu subur untuk lahan pertaniaan. Selain itu, karena keberadaan desa ini yang bertepatan di kaki gunung yang masih aktif. Namun, kerajaan ini dipimpin oleh Raja yang memiliki sifat yang sombong dan serakah. Sifat yang begitu tidak baik dicontoh.Sifat sang Raja sangat jauh berbalik dengan sifat sang istri yang begitu ramah, sopan dan murah hati kepada siapa pun. Apalagi kepada semua rakyatnya apabila ketika dekat sang ratu bawaan yang tenang karena sifatnya yang begitu lembut.Di tepi desa ada sebuah gubuk yang tak layak untuk dihuni keadaan yang begitu sudah sangat rapuh dimakan waktu. Gubuk itu yang dihuni oleh seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan dan memiliki seorang anak semata wayang yang memiliki tubuh kekar dan pemberani. Anaknya lah yang selalu membantu dalam segala hal urusan rumah tangga karena sang ibu yang tak bisa lagi untuk berkerja.Ia yang bernama Wawan. Wawan yang bekerja sebagai pengembala kambing milik tetangganya yang tak jauh dari rumah. Ia melakukan pekerjaan ini demi untuk melanjutkan hidupnya untuk sesuap nasi dan biaya obat sang ibu. Ia yang begitu rajin menggembala kambing milik tetangganya ke hutan untuk mencari rumput yang segar—memberi makan para kambing itu.Pemilik kambing itu begitu percaya kepada Wawan yang bertanggung jawab dalam mengurus para kambing. Walau ia tak pernah mengenyam pendidikan seperti teman seusia, tetapi ia diberikan akal yang cerdas dalam melakukan berbagai hal.Pada suatu hari, Raja yang sombong ini berkeliling desa sambil melihat keadaan desa ini. Ia yang menunggangi seekor kuda dan tak lupa dikawal oleh prajurit kerajaan yang begitu ramai untuk menjaga sang Raja. Para penduduk desa yang melihat kedatangan sang Raja, langsung menghormati kedatangan sang Raja. Jika tidak, ia akan marah kepada siapa yang tak menghormati kedatangannya.Di tengah perjalanan, mata sang Raja tertuju pada seorang anak pengembala kambing yang tak lain si Wawan. Ia sedang menggembala kambing milik tetangga yang duduk di bawah pohon rindang sambil memainkan suling kesayangan, pemberian dari sang ayah ketika masih hidup. Hanya itu peninggalan yang tersisa dari sang ayah. Sang Raja menghampiri sang pengembala itu. Ia langsung menyuruh prajurit untuk mengambil suling itu untuk dipatahkan sebagai hukuman atas apa yang dilakukan karena tak hormat atas kehadiran sang Raja.Sang Raja sedang menunggangi kuda yang terbahak-bahak atas apa yang hukuman yang ia berikan kepada sang pengembala itu. Sang Pengembala tak bisa berbuat apa. Walau ia memilik badan sangat kuat dan cukup menghajar prajurit dan sang Raja yang sombong itu, tetapi ia ingat akan pesan sang ibu untuk tidak melakukan hal-hal aneh kepada orang lain karena kita hanya orang kecil yang menumpang di desa ini.Ia sangat marah. Wajahnya langsung memerah atas apa yang dilakukan sang Raja kepada peninggalan sang ayahnya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak marah. Namun, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan sumpah yang langsung dilontarkan."Saya sumpahkan desa ini akan menjadi desa mati yang tak akan bisa dihuni lagi karena keserakahan dan kesombongan sang Rajanya." Sumpah itu, ia lontarkan begitu saja dalam mulutnya.Namun, sang Raja hanya tertawa terbahak-bahak atas apa yang ia dengar. Dia berpikir itu lelucon yang dilontarkan anak muda itu. Ia dan para prajurit langsung meninggalkan si Pengembala dengan wajah memerah. Sang Penggembala langsung sadar atas apa yang ia ucapkan. Ia langsung bergegas pulang untuk menemui sang ibu dan menceritakan hal yang memalukan ia ucapkan tadi.Ia yang tiba-tiba begitu menyesal atas apa yang ia lontarkan kepada sang Raja.Ketika sampai di rumah, ia menceritakan semua yang ia lakukan ketika ia sedang menggembala di tepi desa tadi. Sang ibu mendengar dengan hati yang tenang dan mengajak sang anak semata wayang itu untuk meninggalkan desa. Takutnya apa yang diucapkan anak itu akan menjadi kenyataan. Walau ia juga memimpikan hal yang sama yang diucapkan anaknya itu.Keesokan paginya ia bergegas untuk meninggalkan desa ini. Ia takut akan terjadi seperti dalam mimpinya itu walau sang ibu tak pernah menceritakan atas perihal mimpinya. Dia takut sang anak akan menyesal atas apa yang ia ucapkan. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi buta agar tak ada satu pun warga desa yang tahu atas kepergian mereka. Apalagi sepengetahuan sang Raja.Mereka pergi hanya berjalan kaki dan membawa beberapa perlengkapan pakaian. Tak lupa pula mereka membawa bekal yang mereka siapkan tadi malam untuk jaga-jaga ketika di tengah perjalanan.Beberapa bulan kemudian, setelah kepergian sang Pengembala dari desa—musim kemarau tiba. Entah kenapa musim kemarau kini begitu lama. Tidak sama dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Sang Raja yang semakin panik, apalagi hasil persediaan hasil panen di gudang mulai menipis. Persediaan ini tak cukup untuk waktu yang lama. Raja harus mencari akal untuk mengakhiri musim kemarau yang tak kunjung usai.Ia menghimbau beberapa dukun terhebat di negeri ini untuk segera menurunkan hujan. Namun, para dukun hebat itu tetap gagal untuk menurunkan hujan. Sudah hampir setegah tahun kemarau yang tak kunjung usai, membuat persediaan makanan benar-benar sangat tipis. Hanya cukup untuk beberapa hari ke depan.Musim kemarau yang begitu panjang membuat semua tanah ladang begitu kering kerontang dan aliran sungai tak ada aliran air lagi di desa. Sumpah yang dilontarkan sang Pengembala itu benar-benar terjadi. Kini desa ini menjadi desa mati dan tak pernah ada penghuninya setelah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja sombong itu.
Peri Pohon
Suara nyanyian kecil merambat dari cela sulur pohon dan dedaunan, semakin didekati semakin mengeras. Namun, terdengar lembut. Lantunan lagu itu berasal dari gadis cilik harum berambut pirang dan memiliki bibir seranum buah beri. Dia; Jini. Gadis kecil yang dikenal karena selalu memakai topi baret dengan motif buah stroberi kecil kesayangannya. Ia tampak lugu dan periang di usia yang baru menapaki umur enam tahun.Pagi hari yang cerah sama seperti kemarin di mana cahaya mentari masih menyelimuti bumi, Jini berjalan kecil sembari bersenandung keluar rumah menuju arah dekat hutan di mana biasanya ia memetik beberapa bunga dandelion untuk dibawa pulang. Suasana tampak seperti biasanya, sampai suatu cahaya kecil mengalihkan perhatian Jini."Bagaimana bisa kunang-kunang masih bisa hidup sekarang?" ucap dirinya lalu dengan naluri seorang anak kecil, ia berjalan ke arah celah pohon di mana dilihatnya cahaya kuning keemasan itu berpendar.Jini memekik kecil. "Seorang Peri?"Dengan cepat, ia mengambil cahaya itu yang ternyata saat didekati adalah seorang manusia kecil bersayap bening nan indah. Manusia kecil atau yang disebut Jini—Peri yang sedari awal terjebak di antara celah pohon maple memberontak ingin keluar, tetapi tidak bisa.Beruntung Jini melepaskan Peri itu dari jerat dan akhirnya sang Peri bisa terbang kembali walau agak melambat. Sebelum pergi, Peri kecil itu hinggap kembali di tangan mungil Jini."Terima kasih, Nona manis. Kau telah membebaskanku. Sebagai gantinya, aku akan membantumu," ucap Peri itu dengan suara kecil.Jini membalas dengan senyum riang. "Ah benarkah, Peri? Apa yang bisa kau?""Aku bisa menggandakan barang-barang yang kau mau hanya dengan menanamnya.""Wah benarkah?" Semangat Jini tidak bisa dibendung lagi. Terlihat dari gestur tubuhnya dan senyum lebar khas anak perempuan lugu."Tentu." Peri itu menyahut dan membalas senyum Jini. "Namun, aku hanya bisa melakukannya sekali dalam sehari dan sebagai gantinya kau harus memberikanku madu sejumlah satu tutup botol. Bagaimana?"Tidak perlu jeda untuk berpikir, Jini langsung membalasnya dengan semangat. "Aku mau, Peri!""Baiklah, Nona. Jika kau mau melakukannya, mulai besok panggil saja namaku dengan keras." Setelah itu, Peri melesat dengan cepat, memutar-mutari badan mungil Jini. Sebelum pergi, ia membisikan sesuatu ke telinga kecil sang anak buah beri."Namaku Namu."🍓🍓🍓Pagi berikutnya, Jini berdiri di samping kandang kelincinya—meneriaki nama 'Namu' dengan gembira. Kemudian seperti kilatan cahaya surga, Peri kecil itu kembali datang dengan senyum tulus mengembang."Apa yang ingin kau tanam hari ini, Nona?""Aku ingin stroberi!"Jini menyerahkan satu tutup botol madu untuk Namu bawa. Selanjutnya ia menanam satu buah stroberi itu di dalam tanah dengan cekatan, berkat dari seorang keturunan petani. Lalu Peri itu memutari lingkar tanah yang terbentuk, menjatuhkan berbagai kerlip cahaya perak menimpa tanah itu yang ajaibnya. Satu tanaman tumbuh dengan amat sangat cepat, seperti pohon kecil. Namun, ditumbuhi beberapa buah stroberi.Jini jelas merasa kaget dan heran di saat yang bersamaan. "Apakah ini sungguhan, Namu?""Tentu. Petiklah semua hasil yang telah kau tanam!" jawabnya sambil terduduk di salah satu daun di pohon ajaib itu. Jini dengan segera memetik semua stroberi yang ada tanpa terkecuali, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa topinya terjatuh dan terinjak oleh dirinya sendiri saat memetik.Namu membuka suara. "Saranku segeralah petik semua hasil itu karena tepat saat benda terakhir dari setiap pohon telah kau petik, pohon itu akan kembali ke tanah.""Baiklah, Kapten!" pekik Jini riang sembari memakan stroberi yang telah dipetiknya.Setelah dirasa cukup dan pohon tadi sudah kembali ke tanah, Namu kembali melesat pergi ke angkasa setelah berucap 'selamat tinggal' pada Jini.🍓🍓🍓Hari demi hari berlalu. Rutinitas untuk memanggil Namu dan menanam segala kehendak dari Jini terjadi secara rutin setiap pagi pada pukul sembilan. Jini tidak menanam sesuatu yang membahayakan, hanya sekadar makanan kue kering, permen, gula, atau manik-manik yang ingin dia gandakan untuk hiasan ruang. Itu sudah berlangsung semenjak empat belas hari ke belakang. Peri itu pun masih senang dengan bayaran satu tutup botol madu dan senyum cerah dari Jini.Namun, hari ini nampaknya berbeda. Namu datang dengan pemandangan Jini yang membawa banyak sekali persediaan makanan dan hanya membawa setengah tutup botol madu. Jini bersikeras untuk membuat Namu menumbuhkan semuanya dengan rengekan dan pekikan keras khas anak kecil."Namu bantu aku menumbuhkan ini semua huaaa. Bantu aku Namuuu, cepat!"Tidak. Ini sudah melampaui batas. Seorang Peri dapat kehilangan nyawa mereka jika terlalu banyak mengeluarkan serbuk sari dari dirinya. Namu enggan memberitahu pasal kematian pada gadis cilik ini. Oleh karena itu, ia langsung pergi dari hadapan Jini tanpa berucap sepatah kata pun.Esoknya, Namu mendapat panggilan lagi dari Jini. Namun, karena masih mengira hal yang sama seperti kemarin akan terjadi maka ia mengabaikannya lagi. Tidak hanya hari itu, pada hari-hari berikutnya pun demikian. Lebih tepatnya, tidak ada panggilan lagi dari Jini. Sedangkan Namu juga sibuk mengumpulkan benih dan madu untuk persiapan musim dingin nanti.Namun, disela itu, Namu masih merasa iba dan mengingat bagaimana jasa dari Jini yang telah menyelamatkan hidupnya untuk bisa bernapas hingga kini. Ia berniat untuk menengok Jini barangkali sekali saja sebelum salju pertama turun di awal bulan Desember. Ia bergegas terbang melawan arus angin.Sayangnya saat sampai, hanya kekosongan yang didapatinya."Halo, Nona manis?"Namu memutuskan untuk terbang ke arah kamar Jini saat tidak mendapati jawaban apapun. Dan di sana, Namu mendapatkan semua jawabanya dari beberapa kertas yang berhamburan di lantai.Hari ini orang tuaku tidak pulang. Orang tuaku masih belum datang. Mama aku lapar. Namu marah kepadaku karena aku terlalu banyak meminta. Namu, aku mau memberimu sebotol madu hari ini, mengapa tidak mau datang? Makanan sudah habis. Aku lapar dan takut. Rasanya sakit, aku sudah tidak makan dari waktu itu. Bibi datang menjemputku hari ini. Akhirnya aku dapat makan lagi. Selamat tinggal rumah, semoga tidak banyak lumut menempel di kasurku saat aku kembali nanti.Sedih dan perasaan bersalah menghujani dan menghantam keras hati peri kecil itu. Ia terduduk lemas, juga mendapati bahwa memang benar ada sebotol madu bertuliskan catatan 'untuk Namu' di sana. Namu menangis untuk pertama kalinya setelah terlahir ke dunia.Maka untuk menebus kesalahannya, Namu merawat rumah itu dengan baik, juga menanami berbagai macam bunga dan stroberi sebagai penghias. Tentunya, ia akan menunggu nona manisnya itu untuk pulang.
Alkisah Putri Nara
Pada zaman dahulu hiduplah seorang puteri cantik di negeri antah berantah. Putri cantik ini bernama Putri Nara. Sang Putri hidup bahagia bersama keluarganya. Kini, Putri Nara menginjak usia tujuh belas tahun. Sang Ayahanda dan Ibunda sepakat menjodohkan putri bungsunya dengan Pangeran Chandra dari kerajaan tetangga.Semua pihak istana merasa gembira dengan kabar perjodohan sang putri bungsunya. Namun, tidak dengan sang Kakak—Putri Kinan. Putri Kinan merasa bahwa dirinya ini seperti anak tiri, tidak pernah sama selalu diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Kecemburuannya semakin memuncak saat melihat kedekatan sang adik dengan Pangeran Chandra. Putri Kinan berusaha menggagalkan rencana perjodohan mereka.Pagi ini Putri menemui seorang nenek yang beraliran sesat untuk bisa mencelakai adik bungsunya. Sang nenek sihir hanya tertawa senang mendengar perkataan putri.“Haha. Aku ini seorang penyihir hebat, masalah hanya kecil bagiku.Tetapi apa imbalan yang aku dapatkan?”Putri Kinan tersenyum sinis dengan ucapan sang Nenek sihir. Ia pun berjanji apa pun yang sang Nenek minta, pasti dia kabulkan. Sang Nenek hanya memberikan sebotol ramuan untuk ditaburkan di makanan. Putri Kinan mulai melancarkan aksi dengan membawakan kue tart kesukaan Putri Nara.Tanpa merasa curiga, Putri Nara menerima pemberian Kakaknya.Setelah memakan kue tersebut, Putri Nara merasakan gatal di sekujur tubuhnya. Seluruh badannya mulai muncul benjolan-benjolan kecil kemerahan yang perlahan-lahan mengeluarkan bahu tidak sedap. Semua pihak istana mulai panik mendengar kabar sang putri bungsu, tak terkecuali sang Kakak. Sang Ayahanda berusaha mencari para Tabib terbaik di kerajaan ini. Namun, tidak satu pun yang mampu menyembuhkan penyakit sang putri.Di saat inilah Putri Kinan memanas-manaskan Ayahanda agar mengasingkan Putri Nara untuk beberapa bulan sampai penyakitnya sembuh. Awalnya sang Ayah tidak mau menerima usulan tersebut. Namun, Putri Kinan mengingatkan bagimana dengan perjanjiannya dengan Pangeran Chandra.Dengan berat hati, sang Ayah mengirimkan putri kesayangannya ke tengah hutan. Ibunda yang menyaksikan putri pergi, hanya mampu menangis. Kesedihan juga dirasakan seluruh pegawai istana. Dulu kerajaan Rania penuh dengan tawa ria sang putri. Kini justru hanya ada kesunyian.Sepanjang perjalanan, sang putri hanya mampu menangisi takdirnya. Kini, sang putri tinggal di hutan dengan kucing kesayangannya. Di sisi lain, Pangeran Chandra mendengar kabar bahwa Putri Nara diasingkan dan Putri Kinan yang akan menggantikan posisinya. Pangeran Chandra datang menghadap Raja Janakya, meminta penjelasan mengenai kabar yang beredar.Mendengar kabar kalau Putri Nara terkena penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, Pangeran Chandra menolak untuk dijodohkan dengan Putri Kinan. Pangeran Chandra sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Putri Nara. Sang Pangeran bersikeras akan mencari Putri Nara.Putri Kinan mendengar semua pembicaraan Pangeran Chandra dan semakin membuatnya membenci Adiknya. Ia berjanji tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Putri Kinan berusaha membujuk ayahnya agar Pangeran Chandra menikahinya. Putri Kinan berusaha mencari ide lain karena ayahnya tidak mampu menghentikan niat sang pangeran.Di sisi lain, Pangeran Chandra menuju ke hutan dengan para pasukannya untuk mencari keberadaan Putri Nara. Diam-diam Putri Kinan mengikuti sang pangeran dari belakang agar ia bisa mencari celah untuk merusak persedian stok makanan mereka. Namun, usaha tidak membuahkan hasil. Alhasil ia hampir jatuh ke perosok lubang karena lari dan hampir ketahuan.Dalam perjalanan pulang, selendangnya tertiup angin dan terbang jauh. Ia berusaha mengejarnya, tetapi gagal. Ia hampir ketemu dengan prajurit-prajurit yang sedang berpatroli. Hari demi hari demi berlalu sangat cepat. Perlahan-lahan Putri Nara mulai menerima takdirnya dengan ikhlas. Selama pengasingan, ia memilih untuk berkebun untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.Selama tiga hari pencarian, mereka belum menemukan jejak keberadan sang gadis pujaannya. Di tengah pencariannya, ia menemukan seekor kucing yang sangat ia kenal. Itu adalah milik sang putri. Saat sang putri menyadari kucingnya hilang, ia pun mencari ke seluruh sudut gubuknya. Namun, tidak ada.Tanpa basa-basi, ia keluar dari area gubuknya dan mulai menyusuri hutan. Ia menemukan beberapa pasukan prajurit. Sang putri langsung membalikkan badan dan ingin segera bergegas dari sana agar tidak ketahuan. Baru melangkah, ia mendengar suara kucing kesayangannya. Sontak ia membalikkan badan mencari sumber suara itu.Sang Pangeran langsung memeluk sang putri karena berhasil menemukan setelah beberapa hari pencariannya. Putri Nara berusaha melepas pelukan itu, tetapi dicegah oleh Sang Pangeran. Penyakit yang ada di tubuh sang putri berangsur-angsur pudar saat pelukan mereka semakin erat. Sang Pangeran sudah mengetahui jika penyakit ini adalah sebuah sihir yang sengaja ditujukan untuk sang putri.Sang putri menangis di pelukan sang pangeran. Pangeran Chandra mengutarakan niatnya dengan sungguh-sungguh agar Putri Nara mau menjadikannya sebagi pendamping hidupnya. Dengan perasaan iba karena ketulusan sang pangeran, akhirnya putri Nara menerima sebagai pendamping hidupnya.Merasa geram, mendengar apa yang dikatakan oleh mata-matanya—ia mengerahkan prajuritnya untuk menangkap sang penyihir dan menyeretnya ke aula kerajaan.Putri Nara sangat bahagia karena penyakitnya sudah sembuh. Akhirnya kebusukan sang Kakak terbongkar. Namun, Putri Kinan berusaha mengelak dan membantah tuduhan itu. Nenek sihir juga tidak tinggal diam, ia membuka kedok sang putri. Bukti terakhir yang, Putri Kinan tidak bisa bantah sama sekali. Selendangnya jatuh di hutan dan sang prajurit pangeran menemukan dan menjadikan sebagi bukti.
ANA
Suatu awal musim semi, dari kuncup bunga tulip merah muda yang baru saja mekar, terlahir peri kecil tanpa sayap bernama Ana yang menimbulkan kekagetan bagi seluruh peri di Perilaria. Sudah bertahun-tahun lamanya, terakhir kali ada peri di Perilaria yang lahir tanpa sayap. Peri yang terlahir tanpa sayap sangatlah menyedihkan. Seperti terlahir tanpa tujuan hidup, karena tanpa sayap, peri tidak dapat menghasilkan serbuk peri dari kepakkan sayap mereka saat terbang. Dari serbuk peri itulah, para peri di Perilaria memiliki kemampuan untuk memekarkan bunga di musim semi, menurunkan hujan di musim panas, memunculkan pelangi setelah hujan di musim gugur, serta menghangatkan Perilaria di musim dingin.Ana yang baru saja membuka mata langsung kebingungan ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh peri-peri yang menghujaninya dengan tatapan khawatir. Apa maksud dari tatapan itu? Apa yang terjadi dengan dirinya hingga mendapat tatapan itu?"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Ada apa?" tanya Ana sambil mendudukkan dirinya di dasar bunga. Ia balas menatap satu per satu peri yang mengelilinginya, meminta jawaban atas pertanyaannya."Kamu ...," peri dengan gaun kuning dari kelopak bunga mataharilah yang pertama buka suara, "tidak bersayap."Ana mengedipkan matanya berulang kali karena bingung. Ia tidak bersayap? Bagaimana bisa? Ana kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untuk mengamati raut wajah peri lainnya. Mereka semua tampak sama, yang membedakan mereka hanyalah warna pakaian mereka dan jenis bunga yang menjadi dasar pakaian mereka. Juga tentunya, mereka semua memiliki sayap di balik tubuh mereka. Hingga akhir dari pandangannya, Ana mendapati tatapan iba yang sama.Ana perlahan bangkit dari posisi duduknya dibantu oleh peri bergaun kuning bernama Sunny yang tadi menjawab pertanyaannya. Mereka berdua berjalan keluar dari kelopak bunga diikuti oleh peri-peri lainnya menuju genangan air yang ada di atas tanah. Ana berjalan mendekati genangan air itu. Dengan perlahan, Ana membalikkan sedikit badannya agar bisa melihat bayangan punggungnya sendiri. Di punggungnya itu, tidak ada sepasang sayap seperti Sunny ataupun peri lainnya."Apa yang terjadi?" tanya Ana yang langsung jatuh terduduk di atas tanah. Ia menatap bayangan dirinya sendiri dengan raut sedih yang tidak ditutup-tutupinya dari genangan air itu. "Bagaimana aku bisa lahir tanpa sayap?"Tidak ada satu pun jawaban dari peri Perilaria yang masih mengelilinginya. Mereka juga masih menatapnya dengan raut yang sama, yaitu kasihan.Ketika dirinya merasakan tepukan halus pada bahunya, air mata yang sudah ditahan oleh Ana langsung turun. Ia tidak pernah berharap terlahir berbeda dari peri lainnya. Ana ingin lahir sama seperti mereka. Ia ingin memiliki sepasang sayap yang dari setiap kepakkannya muncul serbuk peri keemasan."Apa yang akan terjadi padaku jika tidak memiliki sayap?" tanya Ana di sela-sela isakannya."Kamu tidak akan bisa seperti peri Perilaria lainnya." Kali ini peri bergaun biru bernama Sea yang juga masih menepuk halus bahunya yang menjawab pertanyaan Ana. "Kamu tidak akan bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan jika memiliki sayap. Bagi peri di Perilaria, sayap sangatlah penting. Setiap kepakkannya menghasilkan serbuk peri yang dapat memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria."Ana mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Pandangan penuh iba masih ditujukan oleh peri Perilaria padanya. "Bolehkah kalian meninggalkanku sendirian? Aku butuh waktu sendiri," kata Ana lemah sambil menyeka air matanya.Para peri Perilaria terbang perlahan meninggalkan Ana dengan sayap yang menukik turun. Mereka turut sedih bersama Ana. Setelah mendapati semua peri pergi, Ana terisak dalam tangis yang tidak lagi ditahannya. Ia memeluk kedua lututnya erat. Kenapa ia bisa lahir tanpa sayap? Kenapa ia tidak terlahir normal seperti peri lainnya? Kenapa harus dirinya yang lahir seperti ini?"Ana."Tidak ada sedikit pun niat dari dalam diri Ana untuk mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan suara kecil nan merdu. Siapa yang memanggilnya? Bukankah mereka semua sudah pergi? "Pergi, aku sedang butuh waktu sendiri," usir Ana dengan suara lemah dan masih sesenggukan. Ia memeluk kedua lututnya lebih erat lagi. Wajahnya juga dibenamkan lebih dalam ke kedua lutut."Aku tahu kamu sangat sedih karena tidak memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya." Suara itu kembali terdengar, tapi kali ini lebih dekat. Bahkan, tiba-tiba ada sentuhan dari tangan dingin pada bahunya yang langsung membuat Ana berjengit kaget.Ana langsung mengangkat wajahnya dan mendapati seorang peri bergaun hitam berdiri di hadapannya. Namun, ada satu hal yang membuat Ana lebih kaget. Peri di hadapannya ini hanya memiliki satu sayap di sebelah kanan tubuhnya. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa sayapmu hanya satu?" tanya Ana. Perlahan ia berdiri dan menyentuhkan tangannya pada sayap peri di hadapannya ini."Aku terlahir tanpa sayap sepertimu," katanya, "dan perkenalkan, namaku Viola. Maaf baru memperkenalkan diri. Namamu Ana, bukan? Aku sempat melihat namamu dari kelopak bunga tempatmu lahir tadi.""Kamu lahir tanpa sayap? Sepertiku?" tanya Ana bingung. Sekali lagi, Ana menatap sayap di balik tubuh Viola. "Tapi Viola, kamu punya satu sayap."Viola tertawa ringan sambil menyentuh lembut sayapnya. Ia menatap bayangan sayapnya dari genangan air di dekat mereka dengan tatapan penuh kekaguman. "Aku mendapatkan sayap ini dari peri di tengah hutan di sana," kata Viola sambil menunjuk jauh ke arah hutan belantara gelap yang sangat berbeda jauh dengan Perilaria. Hutan itu diliputi awan gelap dan petir terus menyambar tanpa henti. Hutan itu dipenuhi oleh akar-akar pohon tanpa daun hijau dan bunga sama sekali."Ada peri yang tinggal di tempat gelap dan mengerikan seperti itu?" Melihatnya dari jauh saja sudah membuat bulu kuduk Ana berdiri. Ia ketakutan.Viola menganggukkan kepalanya. "Hanya dia satu-satunya peri yang tidak menatap kita, peri Perilaria yang lahir tanpa sayap, dengan tatapan kasihan. Bagi peri Perilaria, lebih baik tidak pernah dilahirkan daripada terlahir tanpa sayap. Semua keindahan di Perilaria ada karena serbuk yang muncul dari sayap peri setiap terbang. Tanpa sayap, kita berdua, tidak ada gunanya."Ana kembali menundukkan kepalanya."Hanya dia yang bisa memberikan kita sayap yang kita perlukan." Viola kembali mengelus sayap kanannya dengan lembut. Raut bahagia kembali tampak dari wajahnya ketika tangannya menyentuh sayapnya itu.Melihat pemandangan di depannya itu membuat Ana membulatkan tekadnya. Ia ingin memiliki sayap! Ia ingin bisa memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, serta menghangatkan Perilaria seperti peri-peri lainnya. "Tolong bawa aku ke sana," kata Ana dengan penuh keyakinan.Viola langsung tersenyum senang. "Baiklah! Kita ke sana sekarang juga. Kita tidak boleh menunda-nunda karena perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama bagi kita, peri yang tidak memiliki sayap. Kita harus mengandalkan kaki kita yang jauh lebih lambat dibandingkan terbang dengan sayap."Viola berjalan di depan Ana dengan penuh semangat. "Aku sudah tidak sabar untuk segera memiliki sepasang sayap dan menjadi sempurna.""Aku juga," kata Ana dengan antusias yang sama setelah berhasil mengejar Viola yang sudah berjalan jauh di depannya.Bagaimana rasanya punya sayap? Ana benar-benar tidak sabar untuk merasakan kepakkan sepasang sayap pada punggungnya. Ia ingin segera bisa terbang mengelilingi Perilaria yang indah.Ana bersenandung senang dan berjalan dengan langkah ringan sambil sesekali melompat tanpa mengetahui apa yang akan dihadapinya sebentar lagi.***Ketika kakinya melangkah masuk ke dalam hutan belantara, tubuh Ana langsung merinding. Hutan ini sangatlah dingin dan gelap, berbeda jauh dibandingkan dengan Perilaria yang warna-warni oleh aneka tanaman bunga yang sedang mekar serta cahaya matahari keemasan yang setia menyinari seluruh Perilaria. Jika suara kicauan burung memenuhi Perilaria, maka hutan belantara ini penuh dengan suara guntur yang menyusul dari kilatan petir di atas mereka.Ana benar-benar takut, sehingga ia berjalan menempel di belakang Viola yang tampak biasa saja, bahkan Viola masih bisa bersenandung senang. Namun, Ana tidak memandang itu sebagai sesuatu yang aneh. Ia malah merasa wajar dengan tindakan Viola karena sebentar lagi Viola akan memiliki sepasang sayap yang utuh seperti peri Perilaria lainnya, begitu juga dengan dirinya.Mereka berdua berhenti di hadapan menara batu tinggi tanpa pintu. Hanya ada satu jendela persegi di puncak menara yang sangat terang sehingga terlihat jelas oleh mereka. Kilatan cahaya petir juga terus menghujani puncak dari menara itu. Ana mengamati semua itu dari balik tubuh Viola. "Viola, kita ada di mana?" tanya Ana."Ini tempat tinggal peri yang akan memberikan kita sayap, Ana," jelas Viola sambil menaiki anak tangga yang terbuat dari akar-akar pohon. Akhir dari tangga itu ada di jendela persegi di puncak menara yang mereka lihat tadi.Rasa gugup yang ia alami saat ini, Ana anggap sebagai rasa antusias karena sebentar lagi ia akan punya sayap seperti peri Perilaria lainnya. Ana menaiki tangga mengikuti Viola hingga masuk ke dalam menara yang setiap sisi dindingnya terdapat lemari yang penuh oleh botol kaca aneka bentuk yang dari kacanya dapat terlihat jelas terisi serbuk emas yang bersinar terang.Ana berjalan mengelilingi ruangan itu sambil mengamati satu per satu botol kaca yang terus memantulkan bayangan wajahnya. Hingga akhirnya, dirinya berhenti di depan satu-satunya botol kaca yang kosong.Dari botol kaca itu, Ana bisa melihat bayangan Viola berdiri di belakangnya dengan senyum lebar. Viola meraih botol kosong itu dan menatapnya dengan raut penuh kebahagiaan. "Aku bisa mendapatkan satu lagi sayapku, jika botol ini terisi penuh dengan serbuk peri Perilaria," jelas Viola tanpa diminta.Ana bingung. Apa maksud dari perkataan Viola? Serbuk peri Perilaria? Viola bisa mendapatkan sayapnya dari serbuk peri Perilaria? "Apa maksudmu?" tanya Ana, tapi tanpa di sadarinya, tubuhnya bergerak mundur dengan sendirinya seiring dengan langkah Viola yang semakin maju."Kamu lihat semua botol ini?" tanya Viola sambil melebarkan kedua tangannya ke udara. "Ini adalah serbuk peri Perilaria yang serakah. Mereka tidak pernah merasa puas, selalu menginginkan lebih. Padahal mereka sudah memiliki sayap dan serbuk peri yang selama ini kuinginkan."Tubuh Ana bergetar ketakutan ketika punggungnya menabrak dinding. Ia tidak bisa mundur lagi, sedangkan Viola terus maju dengan senyum yang tiba-tiba tampak menyeramkan."Keberuntungan sepertinya berpihak padaku, Ana, karena ketika peri-peri Perilaria sudah mulai curiga dengan hilangnya peri-peri mereka ... kamu lahir. Si peri tidak bersayap yang tidak diperlukan oleh Perilaria."Kalimat itu memukul Ana hingga tersadar. Ternyata dirinya ditipu oleh Viola yang menginginkan serbuk peri untuk mengisi kekosongan botol kaca terakhirnya. Namun, dirinya tidak bersayap, jadi bagaimana ia bisa mengisi botol kaca itu dengan serbuk peri yang tidak dimilikinya?"Tapi aku tidak memiliki sayap yang bisa menghasilkan serbuk peri yang kamu inginkan," kata Ana."Itulah kebodohanmu dan peri Perilaria lainnya, Ana." Viola tertawa keras sebelum melanjutkan kalimatnya, "Setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri, termasuk dirimu, peri tanpa sayap.""Kalau begitu, kamu juga memiliki serbuk peri?"Viola menganggukkan kepalanya. "Tapi tentunya aku tidak bisa mengorbankan diriku sendiri untuk sayap yang sudah selama ini kuinginkan, bukan?"Viola membuka tutup botol itu dengan gerakan pelan, seakan berusaha menikmati ketakutan Ana yang ada di hadapannya saat ini. Namun, tanpa disadarinya, dari balik tubuhnya, Sunny dan Sea sedang memberi tanda kepada Ana untuk tidak berteriak dan tidak melihat ke arah mereka.Begitu Viola mengarahkan botol itu ke arah Ana, Sunny dan Sea mendorong Viola hingga tubuhnya jatuh menabrak lemari dinding penuh botol kaca. Seluruh botol kaca bergetar hebat di posisi mereka masing-masing. Viola menatap botol-botol kaca itu dengan cemas sehingga ia kembali berdiri dengan satu gerakan cepat. Ia meraih botol kaca kosong tadi dan berusaha membuka tutup botol yang sudah hampir terbuka itu sambil kembali mengarahkannya kepada Ana.Sunny dan Sea segera terbang mendekati Viola dan mendorongnya kembali menjauh hingga botol kaca itu lepas dari tangan Viola dengan tutup yang sudah terbuka. "Tidaaaaaaak!" Viola berteriak kencang dengan kelopak mata terbuka lebar.Tangannya di arahkan ke arah botol yang sudah terbuka dan masih berputar di atas lantai. Belum juga menyerah, Viola segera berdiri dan berlari mendekati botol itu. Sayangnya, terlambat. Botol itu berhenti menghadap ke arah Viola dan perlahan menyerap serbuk peri dari tubuh Viola.Sebelum serbuk perinya berhasil tersedot habis, Viola berusaha menarik Sunny dan Sea yang ada di dekatnya untuk menggantikan dirinya, tapi dirinya kembali jatuh dan malah mendorong lemari berisi botol kaca serbuk peri hingga jatuh. Semua botol kaca itu jatuh dan pecah tepat ketika semua serbuk peri sudah tersedot habis dari diri Viola masuk ke dalam botol kaca yang kosong dan tertutup dengan sendirinya.Serbuk peri memenuhi lantai ruangan. Tubuh Ana merosot turun dari dinding menara hingga terduduk di atas lantai diselimuti oleh serbuk peri yang bersinar terang. Ana menatap semua yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ini semua terjadi terlalu cepat sehingga belum berhasil dicernanya dengan sempurna."Viola bilang jika ini semua adalah serbuk peri Perilaria," kata Ana dengan pandangan kosong mengarah ke jendela persegi menara ini. Ia menatap jauh ke arah hutan yang gelap. "Apa kalian tahu ini semua?" tanya Ana lagi.Sunny dan Sea menganggukkan kepala mereka. "Kami sudah mulai curiga ketika perlahan, tapi pasti. Satu per satu peri Perilaria menghilang entah ke mana dan anehnya, peri-peri yang hilang memiliki satu hal yang sama. Mereka adalah peri yang hidup penuh dengan ambisi ingin memiliki serbuk peri yang lebih banyak saat mengepakkan sayap," jelas Sunny."Kami memberanikan diri untuk mencarimu di sini ketika tidak berhasil menemukanmu di mana-mana, dan ternyata benar, kamu dibawa oleh Viola." Kali ini Sea yang angkat bicara.Ana menangkup serbuk peri dengan kedua telapak tangannya. "Viola menipuku? Kenapa dia berbuat jahat?""Viola lahir tanpa sayap, sama sepertimu. Dia percaya jika dirinya bisa memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya jika dirinya mandi serbuk peri dari seluruh jenis peri bunga di Perilaria. Sehingga dia mulai mengumpulkan serbuk peri dari setiap kepakkan sayap kami ketika kami berusaha memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria. Tindakannya itu membuat sepanjang tahun di Perilaria menjadi kacau, tidak ada satu pun bunga yang berhasil mekar, hujan tidak turun membasahi Perilaria, tidak pernah ada pelangi yang muncul setelah hujan, dan kedinginan panjang melanda sepanjang musim dingin di Perilaria dan Viola dengan bangganya muncul memamerkan sayap yang berhasil didapatkannya dari mengacaukan Perilaria. Tindakan egoisnya itu membuat Viola diusir dari Perilaria. Sejak saat itu, satu per satu peri mulai hilang dan tidak pernah kembali," jelas Sunny, mengingat kembali masa kelam yang sudah dilalui Perilaria karena keegoisan Viola.Sea memeluk dirinya sendiri sambil berkata, "Kami begitu kaget melihatmu lahir tanpa sayap dari bunga yang terakhir mekar. Kami takut kamu akan sama seperti Viola sehingga kami tidak berani langsung menceritakan tentang Viola padamu. Kami takut kamu akan melakukan hal yang sama seperti Viola pada Perilaria."Sunny mengambil botol terakhir yang terisi dengan serbuk peri Viola. "Kami akan menyiramkannya padamu. Kami tidak ingin pengorbanan peri-peri lain yang serbuk perinya diambil oleh Viola berujung sia-sia."Sunny dan Sea membuka botol kaca terakhir itu bersama-sama dan menyiramkan serbuk peri di dalamnya pada Ana dari atas kepala. Ketika serbuk peri terakhir jatuh menyentuh tubuh Ana, mendadak tubuh Ana terangkat dan bersinar terang seperti serbuk peri yang biasa muncul dari kepakkan sayap peri Perilaria. Tubuh Ana berputar dengan sendirinya di tengah-tengah ruangan. Perlahan sepasang sayap muncul dan mengepak dengan indahnya di hadapan mereka.***Sejak saat itu, Ana terus mengingat perkataan Viola mengenai setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri pada diri mereka, meskipun tidak bersayap. Perkataan Viola itu membuat Ana melatih dirinya untuk menghasilkan serbuk peri dari bagian-bagian tubuh yang diinginkannya sehingga saat ini peri Perilaria bisa menghasilkan serbuk peri bukan hanya dari kepakkan sayap mereka lagi. Mereka bisa menghasilkan serbuk peri dari telapak tangan bahkan telapak kaki mereka.Hal itu membuat peri Perilaria tidak pernah sedih atau pun takut lagi ketika mendapati peri Perilaria lahir tanpa sayap. Mereka malah dengan senang hati mengajarkan peri tanpa sayap untuk menghasilkan serbuk peri dari setiap sentuhan tangan dan kaki mereka. Meskipun peri tanpa sayap tidak dapat terbang tinggi, tapi mereka memiliki peranan yang sama pentingnya dengan peri bersayap lainnya seperti menyuburkan tanah ketika musim semi, mengumpulkan air ke dalam tanah untuk cadangan musim panas, menguningkan daun-daun di musim gugur, dan ikut menghangatkan seluruh Perilaria di musim dingin hingga ke dalam tanah-tanahnya.
ADA DINOSAURUS DI BELAKANG RUMAHKU
Sejak aku menonton tayangan dokumenter beberapa bulan yang lalu, aku tidak bisa melihat ayam seperti dulu lagi. Tidak peduli betapa sukanya aku dengan rendang ayam buatan Oma atau ayam goreng cepat saji di mal yang renyah dan berminyak itu. Tetap saja aku sudah pantang memakannya.Ahli paleontologi yang mengenakan baju safari di video itu bilang kalau ayam yang biasa kami makan itu adalah evolusi dari dinosaurus. Yang menakjubkan lagi, ayam ternyata adalah kerabat dekat dari Tyrannosaurus Rex . Walau itu fakta yang membuatku kagum, aku sedikit kasihan pada T-Rex. Katanya kondisi bumi yang ekstrem dan tidak sehat telah memaksa tubuh mereka mengecil melalui proses evolusi jutaan tahun. T-Rex yang gagah perkasa kini menjadi unggas lezat yang dimangsa manusia setiap saat.Sekarang aku kerap menolak kalau ditawari ayam goreng—demi menghormati leluhur mereka yang seram sekaligus menakjubkan.Aku terobsesi pada T-Rex sejak seseorang menghadiahiku boneka karet berbentuk reptil kuno itu di ulang tahunku yang kedua. Padahal warnanya sedikit luntur dan lampu yang menyala—jika aku mengguncangnya—sudah rusak di hari ketiga aku memainkannya. Kebanyakan anak akan berpendapat kalau itu bukan hadiah ulang tahun yang terbaik. Namun, itulah yang mengubah hidupku.Sejak saat itu kamarku mulai berubah. Awalnya Ayah memasang wallpaper bergambar bintang dan planet. Dia berharap aku menjadi seorang astronaut. Kebetulan dia adalah astronom yang bekerja sebagai dosen. Namun sayangnya, itu tidak akan terjadi. Bukannya aku tidak menganggap profesi astronaut itu keren, tapi aku punya cita-cita lain yang sudah bertahan selama tujuh tahun.Aku mau menjadi ahli paleontologi.Kini kamarku bernuansa era Cretaceous akhir. Bukan Jurassic. Walaupun Tyrannosaurus Rex menjadi terkenal sejak menjadi antagonis utama di film Jurassic Park—dia sebenarnya berasal dari era Cretaceous . Itu sekitar 30 juta tahun sebelum tumbukan asteroid yang memusnahkan dinosaurus. Aku kerap memamerkan pengetahuanku ini pada sepupuku atau Oma dan siapa pun yang bersedia mendengarnya. Tidak banyak yang tahu fakta itu. Yah, walaupun tidak banyak yang peduli juga.Meskipun T-Rex tidak lahir pada era Jurassic—aku tetap menempel poster film Jurassic Park karya Stephen Spielberg. Aku juga punya koleksi figur dinosaurus yang lumayan banyak. Aku tidak mau bilang kalau aku pasti akan melengkapinya karena ada lebih dari 700 spesies dinosaurus. Kebanyakan toko hanya menjual jenis yang populer seperti Brachiosaurus, Pteranodon, atau Ankylosaurus .Aku tidak perlu menyebut T-Rex karena semua anak mengenalnya. Siapa yang tidak akan kagum mengetahui reptil raksasa berahang besar dengan gigi menyeramkan itu pernah hidup di bumi? Walau mulai ada yang bilang kalau Spinosaurus lebih menakutkan, T-Rex tetap yang paling keren buatku."Jadi, kamu mau menjadi seperti Indiana Jones atau Lara Croft?" salah seorang pamanku yang masih lajang berkomentar. Pertanyaan itu selalu saja diulangnya setiap tahun ketika berkumpul di hari raya lebaran. Seakan-akan aku tidak punya minat lain selain dinosaurus. Oke, dia tidak sepenuhnya salah, tapi aku juga suka main game konsol, walaupun salah satu judul game -nya 'Jurassic World'.Pertanyaannya salah. Lara Croft yang populer dari game Tomb Raider itu wanita, sementara aku sudah disunat dua tahun lalu. Selain itu Lara Croft dan Indiana Jones itu juga berprofesi sebagai arkeolog."Beda, Om! Mereka itu arkeolog, kerjanya meneliti piramida atau Candi Borobudur. Kalau aku ingin menjadi paleontolog yang kerjanya meneliti hewan-hewan purbakala!" sergahku. Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskannya. Dia mungkin akan bertanya itu lagi tahun depan."Alah, sama saja. Yang kerjanya gali-gali tulang itu, kan?" katanya sambil menyeringai kemudian dia berlalu pergi tidak peduli sambil membawa sepiring ketupat dan opor ayam.Kenapa dia harus basa-basi kalau hanya ingin membuatku kesal, sih?Aku pun melirik meja makan. Masakan lebaran di rumah Oma cukup umum. Ada ketupat, sambal goreng ati kentang, dan opor ayam. Aku menyiduk sayur labu siam serta beberapa sendok sambal goreng ati kentang lantas memakannya lahap.Aku baru puasa makan ayam sekitar satu bulan dan lama-lama aku merasa itu keputusan konyol. Aku bukan vegetarian. Sayangnya, aku sudah terlanjur pengumuman ke keluargaku. Akan memalukan kalau aku menyerah dan kembali makan ayam secepat itu.Aku, Ibu, dan Ayah tinggal bersama Oma di daerah kampung. Namun, Ayah lebih sering menginap di rumah dinas dekat tempat kerjanya. Aku anak tunggal dan ibuku juga bidan yang sibuk di puskesmas. Jadi, aku lebih sering tinggal berdua dengan Oma."Rafa, tolong lepas si Jalu biar makan di luar, Nak," Oma menyuruhku.Aku mengangguk dan dengan patuh mencuci piringku sebelum memakai sandal dan pergi ke halaman belakang. Rumah Oma luas. Lebih tepatnya, kebunnya. Kalau bangunan rumahnya sih tidak terlalu besar. Dia membangun kandang ayam di dekat pohon bambu.Si Jalu adalah nama ayam betina. Aku tahu nama Jalu seharusnya tidak cocok dengannya, tapi Oma memeliharanya sejak dia menetas dari telur. Ekspresinya tajam dan galak. Dia rajin bertelur karena itu Oma tidak mau menyembelihnya. Lagi pula, rasa ayam petelur tidak terlalu enak.Aku membuka pintu kandang, beberapa ekor ayam berhamburan keluar dan sibuk berkotek sambil mematuki tanah, lalu seperti biasa aku merogoh ke dalam kandang dan melihat si Jalu yang diam saja. Dia tidak mau keluar kandang. Apa dia sakit?Sepertinya tidak. Dia sedang mengerami telurnya. Itu aneh karena dia biasanya tidak peduli pada telurnya. Kucoba menyingkirkan badannya karena ingin melihat lebih jelas. Tampaknya dia bertelur beberapa butir. Aku akan membiarkannya. Mungkin besok bisa kuambil telurnya.Aku pun kembali ke rumah Oma untuk makan ketupat opor untuk kedua kalinya.***Aku selalu berpikir kalau aku sedikit kurang beruntung karena lahir di Indonesia. Bukannya mau mengeluh. Negeri ini jelas kaya akan budaya dan keindahan. Hanya saja tidak pernah ada dinosaurus yang ditemukan di Indonesia.Mungkin tidak akan pernah karena dinosaurus sudah punah enam puluh lima juta tahun yang lalu. Sementara kepulauan Indonesia baru terbentuk setelahnya.Jika aku menjadi ahli paleontologi, mungkin aku akan lebih sering bertemu fosil manusia purba di Sangiran atau fosil mamalia serupa gajah seperti stegodon. Apakah aku harus menyerah? Karena kalau ingin menemukan fosil dinosaurus, aku harus bekerja di benua lain seperti Amerika. Ayah bilang di sana sulit masuk jurusan paleontologi, apalagi untuk warga negara asing.Aku pernah mengeluhkan ini pada ibu guru, dia malah bilang kalau terlalu dini bagi anak umur sembilan tahun sepertiku untuk memikirkan jurusan kuliah. Paman dan bibi lebih tidak suportif lagi. Mereka bilang jangan sampai salah pilih jurusan seperti Ayah yang seorang astronom. Sudah mana kuliahnya sulit, cari kerjanya susah.Apa iya bercita-cita menjadi ahli dinosaurus itu aneh? Kurasa itu cita-cita yang lebih masuk akal daripada celetukan temanku yang ingin jadi astronaut atau presiden. Maksudku, berapa persen orang di dunia yang punya kesempatan itu?"Tidur, Rafa! Sudah malam!" Oma berseru. Dia pasti melihat lampu kamarku menyala. Aku pun sadar sudah terlalu lama melamun. Ibu tiba-tiba harus ke kampung sebelah karena ada yang melahirkan lebih cepat. Ayah sudah mendengkur di kamar sebelah. Aku pun mematikan lampu dan meringkuk ke balik selimutku.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Oma suka keheningan ketika waktu tidur. Dia terbiasa tertib karena buyutku seorang tentara. Karena itu, suara sekecil apa pun terdengar. Entah obrolan remeh para laki-laki di pos ronda atau teriakan tukang sate.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Namun, masa mereka tidak dengar, sih? Seperti ada sekawanan lebah yang bersiap menyerang membawa ribuan bala tentaranya. Oma biasanya mengomel keluar kalau para hansip dan pria yang kebagian jadwal siskamling terlalu berisik.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Serius? Masa mereka tidak ada yang dengar, sih?Aku beringsut malas dari kasur dan membuka jendela. Sesuatu yang luar biasa terang menerpa mataku yang sudah beradaptasi dengan kegelapan. Ibaratnya seperti ketika tengah malam seseorang menelepon dan mata terpaksa harus menyipit karena cahaya ponsel yang terlalu silau.Aku takut dan segera menutup jendela keras, lalu kutarik kembali selimutku dan tidur dalam posisi meringkuk.Itu bukan apa-apa. Aku hanya salah lihat.Aku setengah mati berusaha mengabaikannya sampai terlelap.***Aku pasti kebanyakan main game . Kurasa aku akan mencoba menjadi anak baik dan tidak lagi diam-diam main ponsel di luar aturan rumah Oma. Mereka bilang terlalu sering pegang ponsel bisa membuat otakmu mengecil. Aku tahu orang tuaku mungkin hanya menggertak, tapi itu bisa saja benar.Waktu subuh, tugasku adalah ke kandang ayam untuk mengambil telur dan melepaskan lagi ayam-ayam itu di kebun Oma.Cahaya yang kulihat semalam tadi. Mungkin hanya khayalanku atau kilatan petir. Sayangnya, rasa percaya diriku punah ketika melihat kandang ayam Oma.Ada bau gosong!Apakah kilat kemarin malam membakar kandangnya? Walau ada sedikit noda arang, sepertinya kandang kayu itu tidak terbakar.Aku pun memberanikan diri membuka pintunya.Ayam-ayam itu masih hidup dan melihatku dengan tatapan seperti menuduh. Ya, hari ini aku agak kesiangan. Kaki mereka mungkin sudah pegal dan ingin segera berlarian di tanah.Jalu, sudah tidak mengeram.Tunggu, ada yang aneh.Salah satu telurnya jadi besar. Seperti telur burung unta. Bukan! Lebih besar lagi dan coraknya juga tidak pernah aku lihat. Ukuran telur itu mungkin sudah melebihi Jalu. Pantas saja dia tidak mau mengeram lagi.Masalahnya Itu jelas bukan telur ayam!Aku mengamatinya selama beberapa menit sebelum sebuah retakan muncul di cangkangnya. Aku melihat cakar. Mirip ayam. Lalu beberapa helai bulu. Ya, itu mungkin memang ayam yang terlalu besar. Cangkangnya akhirnya terbuka dan aku melihat jelas matanya yang besar menatapku.Tidak ada paruh.Itu bayi T-Rex. Tanpa sadar aku tersenyum, padahal jelas semua ini aneh dan menakutkan.***Sudah dua minggu berlalu. Bayi T-Rex itu kini serupa dengan buaya kecil. Dengan dua kaki depan yang mungil dan kaki belakang yang sudah bisa melangkah kokoh. Dia kini melahap seekor ikan lele dengan gigi tajamnya sambil menatapku menggunakan matanya yang besar.T-Rex kecil terlihat sama imutnya dengan anak kucing. Aku yakin ini T-Rex, bukan kadal. Ini sangat keren! Aku adalah satu-satunya anak yang punya peliharaan T-Rex di kampung ini. Salah. Maksudku di dunia!Namun, aku harus menjaganya agar tidak ditemukan Oma atau Ayah. Mereka tidak akan tertipu kalau aku bilang Joey adalah kadal, apalagi buaya. Mereka sangat tahu bentuk T-Rex. Lagi pula, kalau Joey benar adalah buaya, mereka juga akan panik. Joey akan dijemput oleh polisi dan mereka mungkin akan membawanya ke kebun binatang untuk diteliti.Oh iya, aku memberi nama dinosaurusku Joey.Tubuhnya membesar dengan cepat. Aku harus memisahkannya di kandang lain karena khawatir dia bisa memangsa ayam milik Oma. Itu terdengar wajar, tapi bagiku itu perbuatan kanibal. Ayam dan T-Rex itu bersaudara."Aku bawa ini untuk Joey." Itu adalah Mika, sepupuku. Libur lebaran berbarengan dengan libur semester. Jadi, dia akan lama di kampung. Dia seumuran denganku dan selalu memakai rok. Aku tidak punya pilihan. Seseorang harus membantuku mengurus Joey.T-Rex adalah pemakan daging. Aku tidak punya cukup uang jajan untuk membeli ikan lele. Jadi, aku mengajak Mika untuk bergabung dalam rahasia kecilku. Dia bukan penggemar berat dinosaurus sepertiku, tapi melihat T-Rex hidup tetap luar biasa baginya. Dia bersedia menghabiskan angpau lebarannya untuk membeli makanan Joey asalkan bisa ikut dalam proyek ini.Aku dan Mika tiap sore berkunjung ke kandang sambil membawa makanan dan buku catatan. Aku dan dia berpura-pura menjadi peneliti dan mengamati perilaku T-Rex. Aku bilang ini proyek pemerintah. Mika senang merasa menjadi orang penting. Dia selalu menjadi ketua kelas dan membantu para guru.Aku melihat dia membawa semangkuk jangkrik dan menyodorkannya pada Joey."Beli di mana?""Ini makanan burung, tadi aku beli di pasar.""Joey bukan burung!" protesku."Katanya dia bersaudara dengan ayam." Mika tidak mau kalah.Aku melihat Joey menggigit salah satu jangkriknya dan tampak mengunyahnya, tapi dia lalu membuang apa pun yang tersisa dari jangkrik itu ke tanah."Dia tidak suka." Aku menggeleng. Tanganku mencatat di jurnal. Aku membeli sebuah buku khusus untuk mencatat keseharian Joey."Dia hanya suka lele dan aneka ikan. Harganya tidak murah. Apa kau bisa mengajarinya makan singkong saja?" Mika memberi usul."Dia itu karnivora.""Suruh dia bersuara lagi." Mika mengeluarkan ponselnya. Ya, kami punya banyak rekaman Joey. Aku merekamnya sejak dia masih baru menetas, tapi kami belum membaginya pada siapa pun. Kami terlalu takut Joey akan diambil orang jahat."Dia tidak menggeram seperti serigala atau mengaum seperti singa. Dia membuka mulutnya hanya kalau dia makan dan perlu menggigit," aku memberi tahu.Ya, satu hal yang kalian mungkin tidak tahu. Suara T-Rex tidak terlalu menakutkan. Dia tidak sering membuka rahangnya dan bersuara kecil seperti anak burung ketika baru menetas. Ketika dewasa dia hanya akan sedikit menggeram dan mendesis. Kalau kalian penasaran kalian bisa membuka ponsel kalian dan mencari tahu suara buaya di internet.Karena dia pendiam, Oma dan keluargaku lainnya tidak pernah bertemu Joey."Kau harus memikirkan rumah baru untuknya. Dia semakin besar," Mika mengingatkan.Besok dia harus pulang ke Jakarta. Dia tidak bisa lagi membantuku memberi makan Joey. Apakah aku harus memberitahu Pak RT soal ini? Oma mungkin akan panik dan meminta hansip membuang Joey ke kebun binatang.Memikirkannya saja aku sudah sedih."Kita cari orang tuanya, biar dia yang merawatnya," kata Mika lagi seakan bisa meraba keresahanku."Orang tuanya?""Yang menempatkan telur Joey di kandang ayam Oma. Kau bilang satu malam sebelumnya ada cahaya terang di kebun Oma. Mungkin dia orang tuanya," kata Mika lagi.***Aku tidak pernah benar-benar berpikir kalau Joey punya orang tua. Kukira Jalu adalah ibunya. Yah, walau setelah kupikirkan itu tidak mungkin. Telur Joey mungkin lebih besar dari tubuhnya. Seseorang pasti menaruh telur itu di kandang, tapi siapa?Karena itulah aku di sini sekarang. Jam sebelas malam. Di kebun Oma dekat kandang ayam. Tubuhku kedinginan dan dikerubuti nyamuk. Oma dan Ibu pasti akan berteriak dan membangunkan tetangga kalau tahu malam-malam aku main ke kebun. Semoga mereka tidak tahu aku menyelinap keluar.Aku berharap bisa melihat lagi cahaya itu. Aku tahu kalau seseorang beberapa kali berkunjung dan memberi makan Joey. Bukan aku atau Mika.Mataku hampir terpejam sempurna karena bosan menunggu. Sebenarnya kebun belakang rumah Oma tidak terlalu sepi. Ada pos ronda di dekat sana dan sekarang ada yang sedang main gitar menyanyikan lagu-lagu yang tidak kukenal.Cahaya itu terlihat lagi. Sangat terang dan menyilaukan. Itu membuatku terjaga sepenuhnya. Aku heran bagaimana mungkin para pemuda yang duduk-duduk di pos ronda tidak menyadarinya?"Halo."Aku sangat terkejut dan melempar tubuhku sendiri mundur.Seseorang menyapaku. Dia hadir dari cahaya terang yang kulihat tadi. Matanya biru dengan rambut perak. Dia tersenyum padaku memperlihatkan giginya. Dia seperti anak SMP yang memakai baju menyelam."Terima kasih sudah menjaga makhluk ini untukku, seharusnya dia tidak lahir di sini," katanya lagi dengan logat yang aneh."Siapa kamu?""Namaku Zorro, seorang astronaut.""Astronaut?""Bukan astronaut bumi, aku dari planet yang jauh dari sini," katanya lagi.Aku memiringkan kepalaku berusaha mengerti."Makhluk ini jatuh dari lab kami ke rumahmu. Kami tidak bisa menjemputnya kembali sampai dia benar-benar siap," katanya lagi."Dia adalah Tyrannosaurus Rex dan namanya Joey. Apa maksudmu kalau dia akan dijemput sampai dia benar-benar siap? Kapan itu terjadi?""Manusia, siapa namamu?""Aku Rafa, kelas tiga SD dan bercita-cita menjadi ahli paleontologi! Joey adalah dinosaurusku," kataku lantang."Rafa, Joey tidak seharusnya ada di bumi. Mereka sudah punah.""Tapi dia ada di sini dan hidup. Lihat, dia bermain dan mengejar ayam milik Oma." Aku menunjuk ke arah Joey yang sudah lepas dari kandangnya dan mengejar ayam yang ketakutan."Dia tidak bermain, dia ingin berburu. Ini bukan habitatnya. Telurnya tanpa sengaja terjatuh di rumahmu dan kami menunggu dia cukup kuat untuk kami bawa ke penangkarannya," kata Zorro memberitahu."Dia akan semakin besar. Ikan lele tidak lagi cukup untuk perutnya. Dia bisa memakan sapi atau kuda bahkan dirimu ketika usianya belum genap dua tahun," katanya lagi.Aku tahu fakta itu. Aku pun sudah menyiapkan diriku untuk berpisah. Ini dua minggu paling luar biasa dalam hidupku. Aku ingin terus bermain bersamanya dan pernah membayangkan suatu hari menunggangi punggungnya. Namun, aku tahu kalau Joey butuh tempat lebih aman."Bisakah aku mengantarnya? Aku sudah membesarkannya selama dua minggu dan kurasa aku berhak memastikannya aman dan baik-baik saja," aku memohon.Zorro terlihat berpikir dan dia tampak berkomunikasi dengan seseorang menggunakan ponsel yang tidak mirip ponsel."Baiklah, tapi apa kamu pernah naik pesawat?" katanya lagi."Pesawat? Pernah waktu tahun kemarin kami berlibur ke Bali," kataku percaya diri.***Rasanya tidak sama dengan naik pesawat komersial. Aku merasa sedang menaiki lift. Zorro bahkan tidak membiarkanku duduk. Dia berdiri di sebelahku dengan pakaiannya yang seperti baju selam berwarna gelap, sementara aku dengan setelan baju bola dan sarung di leherku.Zorro mungkin bisa disebut alien dan aku sedang menaiki pesawat UFO-nya sambil menggendong bayi T-Rex di tanganku.Aku bersemangat sekali. Katanya Zorro akan mengantarku ke labnya. Apakah itu artinya aku bisa bertemu hal lain yang lebih keren dari semua ini?"Jadi, apa pekerjaanmu? Kau bilang kau astronaut?" aku basa-basi bertanya."Ya, aku ke sini untuk belajar tentang bumi termasuk semua makhluk hidup yang pernah tinggal di bumi," kata Zorro."Seperti dinosaurus?""Ya, mereka makhluk yang menakjubkan. Ratusan juta tahun yang lalu, oksigen sangat melimpah di bumi. Itu membuat banyak hewannya berfisik raksasa seperti dinosaurus. Bumi sudah berumur empat milyar tahun lebih dan banyak sekali makhluk yang pernah menghuninya, tapi aku sangat tertarik dengan reptil ini," kata Zorro lagi."Aku paham! Mereka memang sangat keren!" Sepertinya aku dan Zorro punya kemiripan. Kami berdua sama-sama suka dengan dinosaurus.Aku melihat kalau pintu pesawat itu telah membuka. Namun, tidak melihat laboratorium seperti di rumah sakit. Ini seperti sebuah kebun binatang tanpa teralis yang mengurung para hewannya. Mataku berbinar. Rasa kantukku hilang. Tempat ini berada di sebuah lembah dan sangat terang. Lengkap dengan perbukitan yang sejuk dan air terjun yang jernih."Apakah kita berada di planet lain?" aku dengan lugu bertanya."Apa? Tidak. Kami menciptakan tempat rahasia ini di bumi. Tidak ada manusia lain yang tahu selain kamu." Zorro tersenyum.Aku mendengar Joey bersuara. Dia ingin menapak ke tanah. Ketika aku turun dari pesawat Zorro, aku pun disambut oleh lusinan Stegosaurus yang memiliki sirip layar di sepanjang tubuhnya. Ini sangat keren! Mereka sudah berukuran dewasa dan persis seperti yang kubayangkan."Joey adalah dinosaurus karnivora pertama yang kami bangkitkan kembali. Kita membuat telurnya di tempat terpisah. Sambaran petir mengenai lab kami dan memaksa kami untuk segera menurunkannya ke bumi," Zorro menerangkan.Aku tidak hentinya merasa takjub atas pengalaman ini. Dari sekian banyaknya rumah yang bisa disinggahi oleh telur Joey, kenapa rumahku yang terpilih? Bukankah ini terlalu kebetulan? Karena aku juga seorang penggila dinosaurus.Zorro menerangkan padaku kalau lembah ini terputus aksesnya dari manusia. Suatu saat nanti mereka akan membawa hewan-hewan eksotis dari planet bumi untuk dikumpulkan di planet lain yang mereka pilih.Zorro bilang, bangsa mereka sudah menjelajah ribuan tata surya, tapi tidak banyak planet yang seindah dan semenakjubkan bumi. Dia bilang planet seperti bumi sangat langka di alam semesta dan berpesan untuk terus menjaganya karena untuk saat ini bumi adalah rumah kami satu-satunya.Aku pun merasa kagum mendengar itu karena alam semesta memiliki jutaan galaksi dan triliunan bintang. Ada ratusan triliun planet dan banyak dari mereka memiliki oksigen seperti bumi. Zorro bilang suatu hari nanti bangsa manusia juga bisa menjelajah angkasa.Aku jadi memahami kenapa Ayah yang astronom selalu meneropong ke langit dengan mata berbinar. Dia merindukan sesuatu di angkasa dan yakin kalau manusia tidak sendirian. Seandainya Ayah yang mengalami ini semua dia pasti sangat senang.Zorro mengajakku berinteraksi dengan para dinosaurus bahkan mengizinkanku menunggangi Brachiosaurus yang sangat tinggi! Lalu aku merasa lelah dan baru sadar kalau aku belum tidur. Aku sudah terlalu lama berjaga dan mataku memaksa untuk terpejam.Aku menguap dan Zorro memintaku kembali ke pesawatnya.Aku pun terbangun di ranjangku sedikit lebih siang. Aku hampir melewatkan salat subuh dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu.Setelahnya aku berkunjung ke kandang Joey dan mengetahui kalau dia sudah tidak ada. Entah di mana lembah itu berada, tapi aku mungkin akan mencarinya.Aku melihat Mika datang menghampiriku sambil membawa beberapa ekor ikan. Siang ini dia seharusnya sudah berangkat ke Jakarta."Mana Joey?" tanyanya.Aku tersenyum. Semua yang kualami itu bukan mimpi. Joey benar pernah menjadi dinosaurus peliharaanku."Dia sudah berada di tempat yang aman bersama Zorro," kataku.Aku pun dengan semangat menceritakan semua pengalamanku. Foto-foto dan video Joey akan kami simpan sampai kami perlu menceritakannya. Mungkin nanti, ketika kami bukan anak-anak lagi dan orang dewasa mau mendengarkan kami."Kamu sudah bertemu dinosaurus, apa setelah ini kamu tetap mau menjadi seorang ahli paleontologi?" tanya Mika."Tentu saja!" jawabku tegas."Tapi menjadi astronom juga tidak buruk. Mungkin aku akan menemukan planet di mana Zorro tinggal," kataku lagi.Sungguh alam semesta ini sangat luas dan ilmu pengetahuan tidak bertepi. aku meyakini kalau di salah satu sudut bumi para dinosaurus masih hidup dipelihara alien cerdas dari tata surya lain. Namun, aku tidak akan pernah menemukan mereka lagi kalau aku tidak cukup belajar. Zorro mengajariku kalau manusia bisa melakukan apa pun termasuk membangkitkan kembali dinosaurus dengan terus belajar dan mengembangkan ilmu.