Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Legenda Buah Semangka
Beberapa abad yang lalu, Vietnam dipimpin oleh Raja Hung Vuong Ketiga. Ia adalah raja yang sangat disegani rakyatnya. Ia juga sangat terkenal akan kebaikan dan kemurahan hatinya. Raja dan Permaisuri hanya mempunyai seorang anak perempuan. Maka mereka mengangkat anak laki-laki untuk menjadi pemimpin Kerajaan. Anak laki-laki itu diberi nama An Tiem.Raja dan Permaisuri merawat An Tiem seperti merawat anak kandung mereka sendiri. An Tiem pun tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan berbudi pekerti baik. Semakin dewasa ia tumbuh menjadi anak muda yang bijaksana.Ketika An Tiem dan Putri Raja telah dewasa dan saling mencintai, Sang Raja menikahkan keduanya. Pesta pernikahan mereka berlangsung sangat meriah. Semua rakyat ikut menyaksikan pernikahan calon pemimpin mereka dengan gembira.Setelah menikah An Tiem dan Sang Putri memiliki dua anak. Sebagai penerus tahta kerajaan An Tiem dididik sangat keras oleh Sang Raja. Namun Sang Raja tidak lupa untuk menasihati keduanya agar kelak selalu memerhatikan kehidupan rakyatnya. An Tiem pun mengikuti nasihat dan perintah Sang Raja. Ia juga mengikuti setiap kegiatan Sang Raja supaya ia siap menggantikannya saat turun tahta kelak.Semakin lama An Tiem berubah menjadi calon pengganti Raja yang sangat berwibawa. Semua rakyat dan para penghuni Istana semakin memuji dan mengagumi An Tiem. Mereka berharap An Tiem akan menjadi pemimpin yang tidak kalah baiknya dengan Sang Raja.An Tiem terus melatih diri dengan serius. Ia tidak ingin mengecewakan harapan rakyat dan penghuni Istana. Dia telah bertekad untuk menjadi calon raja yang bisa melindungi rakyatnya. Ketekunan An Tiem dalam belajar dan melatih diri membuat Raja semakin menyayanginya. Akan tetapi tidak semua penghuni Istana menyukai An Tiem. Beberapa prajurit merasa tidak senang dengan perhatian dan kasih sayang Raja kepada An Tiem, anak angkatnya.Suatu pagi An Tiem telah siap mengikuti Sang Raja pergi ke beberapa desa untuk melihat keadaan rakyatnya. Mereka segera memulai perjalanan dengan dikawal oleh beberapa prajurit. Sementara itu beberapa prajurit yang tidak menyukai An Tiem sedang berkumpul di istana, membuat rencana untuk menyingkirkan An Tiem. Mereka iri karena An Tiem, yang hanya seorang anak angkat, mendapat perhatian yang lebih dari Raja.Akhirnya para prajurit yang iri sepakat untuk mengarang cerita bohong tentang An Tiem. Secara diam-diam beberapa prajurit yang iri tersebut menghadap Raja yang baru kembali ke Istana pada sore harinya. Mereka mengatakan beberapa kebohongan tentang An Tiem. Lalu untuk lebih meyakinkan Sang Raja, mereka berkata bahwa An Tiem telah memerintahkan prajurit di Istana untuk melakukan pengkhianatan dan merebut kekuasaan Sang Raja.“Wahai, Raja, An Tiem hanyalah seorang anak angkat. Dia tidak mungkin memikirkan masa depan Kerajaan ini,” kata seorang prajurit berapi-api.Sang Raja termenung dalam hati dan mulai memikirkan kebenaran perkataan prajurit-prajuritnya.“Benar Raja! An Tiem hanya ingin menjadi raja dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri. Ia bahkan telah menghasut dan menjelek-jelekkan Raja di hadapan Tuan Putri,” seorang prajurit ikut menimpali agar Raja semakin yakin dengan perkataan mereka.Para prajurit itu tidak menyerah. Setiap hari mereka selalu mengatakan cerita kebohongan tentang An Tiem kepada Raja. Raja pun mulai terhasut dengan perkataan para prajurit itu. Ia lalu memutuskan untuk mengusir An Tiem dan keluarganya dari Istana. An Tiem, istri, dan anaknya pun dibawa ke sebuah pulau yang sangat terpencil di seberang lautan tanpa bekal apa pun.Meski diusir dari Istana dan harus hidup di tempat yang tak berpenghuni, An Tiem tidak berkecil hati dan mengeluh sedikit pun. Ia memutuskan untuk hidup mandiri bersama anak dan istrinya. Ia bertekad mengubah tempat tinggalnya yang baru menjadi lebih baik untuk hidup keluarganya.Setelah mempunyai tempat tinggal sementara, di antara pepohonan yang sangat lebat, An Tiem mulai melihat-lihat tempat di sekitarnya. Saat berkeliling An Tiem menemukan sebuah ladang yang sangat luas. Ketika ia sedang menyusuri ladang itu, An Tiem melihat segerombolan burung yang mengelilingi sebuah tanaman. Dia melihat burung-burung itu memakan biji-biji kecil yang sangat banyak.An Tiem termangu sejenak dan terus memerhatikan burung-burung yang sedang makan. Setelah gerombolan burung itu terbang, An Tiem mendekati tanaman berbiji itu. Ia melihat sebuah tanaman menjalar dengan buah bulat berwarna hijau. Sebagian buah itu telah terkoyak hingga An Tiem bisa melihat bagian dalamnya yang berwarna merah dan berbiji banyak. An Tiem pun memutuskan untuk membawa biji-biji tersebut pulang dan menanamnya di ladang.Beberapa hari kemudian An Tiem menaburi ladangnya dengan biji tanaman berbuah bulat. Setiap hari ia merawat ladangnya dengan sangat tekun. Bulan demi bulan berlalu, ladang An Tiem kini dipenuhi tanaman berbuah bulat berkat ketekunan dan kegigihannya dalam merawat tanaman itu. An Tiem lalu memetik satu buah dan membelahnya. Di dalamnya terlihat warna merah yang berair dan berbiji banyak. Karena merasa penasaran, An Tiem pun memakan buah itu. Rasanya sangat enak, manis, dan menyegarkan. An Tiem kemudian memetik beberapa buah untuk anak istrinya di rumah.Di tengah kegembiraannya memanen dan menikmati buah itu, diam-diam An Tiem sangat merindukan keluarganya di Istana. Setiap hari ia merenung di pinggir laut. Ia ingin sekali bertemu dengan Sang Raja dan orang-orang di Istana. Ketika sedang merenung, ia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil beberapa buah di ladangnya dan membawanya ke laut. An Tiem kemudian menulis namanya di buah-buah itu dan menghanyutkannya. An Tiem berharap suatu saat buah itu akan sampai kepada Sang Raja dan menyampaikan rasa rindunya.An Tiem melakukan hal itu berulang-ulang. Hampir setiap hari ia menghanyutkan buah, yang bertuliskan namanya, di laut. Dan, usahanya tidak sia-sia. Beberapa nelayan yang sedang melaut menemukan buah yang bertuliskan namanya. Buah itu pun menjadi perbincangan di antara para nelayan. Mereka mencoba mencari tahu asal mula buah bernama. Akhirnya mereka menemukan pulau tempat An Tiem dan keluarganya tinggal.Setelah itu banyak nelayan yang memutuskan untuk tinggal di pulau itu. Semakin lama pulau itu menjadi ramai dan tidak sepi seperti dahulu. An Tiem sangat gembira. Ia dan orang-orang yang ikut tinggal di pulau itu bertekad untuk membangun pulau tempat tinggal mereka menjadi lebih baik. Orang-orang yang melihat kebijaksanaan An Tiem pun memintanya untuk menjadi pemimpin mereka. An Tiem membangun pulau itu dengan kesungguhan hati karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah percaya kepadanya. Pulau itu pun semakin terkenal dan didatangi oleh banyak orang.Kabar tentang An Tiem yang membangun dan memimpin pulau itu segera menyebar ke seluruh negeri. Sang Raja pun mendengar kabar itu. Ia sangat ingin membuktikan apakah orang yang dimaksud adalah anak angkatnya, yang pernah dia usir dari Istana.Raja kemudian berlayar menuju pulau tempat tinggal An Tiem. Ketika Sang Raja dan anak buahnya sampai di pulau tersebut, mereka sangat terkejut. Sang Raja melihat sebuah pulau yang sangat berbeda dari yang ia lihat dahulu. Sang Raja merasa sangat menyesal telah mengusir An Tiem karena hasutan anak buahnya. Ia pun bergegas menemui An Tiem dan keluarganya.Saat bertemu dengan An Tiem dan keluarganya, Sang Raja meminta maaf kepada mereka. Ia lalu meminta An Tiem untuk kembali ke Istana. An Tiem dan keluarganya sangat gembira karena mereka bisa berjumpa dan berkumpul kembali dengan Sang Raja. Mereka pun kembali ke Istana dan membawa banyak buah yang telah ditanam oleh An Tiem.Beberapa tahun kemudian An Tiem menjadi raja menggantikan Sang Raja Hung Vuong Ketiga yang telah wafat. Meskipun telah menjadi raja, An Tiem tak pernah lupa mengunjungi orang-orang di pulau. Setiap kali An Tiem kembali dari pulau, ia selalu membawa buah bulat berbiji, yang kini lebih dikenal dengan nama buah semangka. Dari cerita itu, orang Vietnam menganggap buah ini sebagai buah keberuntungan, yang telah mempertemukan kembali sebuah keluarga yang terpisah. Oleh karena itu, sampai saat ini, orang Vietnam sering membawa buah semangka saat berkunjung ke rumah kerabat atau keluarga.
12 Perempuan
Alkisah ada seorang keluarga yang kaya raya, mereka mencoba memiliki keturunan seorang anak laki-laki. Namun setiap mereka mencoba punya anak, sang ibu selalu melahirkan anak perempuan. Sang ibu mengatakan untuk selalu berusaha melahirkan anak laki-laki, namun ternyata hingga 12 kali mengandung istri tersebut tetap melahirkan anak perempuan. Pada saat itu kondisi keluarga itu juga semakin hari mengalami kebangkrutan walaupun ia mencoba membuat bisnis baru, keluarga ini tetap semakin miskin.Keadaan tersebut menurut sang ayah menyusahkan hidup mereka karena harus memberi banyak makanan kepada 12 anaknya, ibu, dan ayah sendiri. Akhirnya sang ayah ini ingin membuang semua anaknya di hutan. namun ide jahatnya ini diketahui oleh anaknya yang paling kecil, Phao. setelah dibawa ke hutan ayah ini pergi dan tidak kembali. semua saudara Phao begitu panik, namun akhirnya bisa kembali pulang ke rumah karena Phao membuat penunjuk arah pulang. setelah pulang ke rumah tentu ayah ini terkejut 12 anaknya bisa kembali. Tak kehabisan akal, ayah ini membawanya pergi ke hutan dan kali ini 12 anaknya tidak bisa kembali. 12 saudara ini semakin tersesat di hutan hingga akhirnya menemukan sebuah danau. semua saudara ini menangkap ikan dan mencoblos kedua mata ikan tersebut dengan ranting tajam, sedangkan Phao hanya menusuk satu mata ikan tersebutAkhirnya 12 saudara tiba di kerajaan yaksha, di mana raksasa wanita bernama Santhumala melihat gadis-gadis kelelahan dan kurus beristirahat di bawah pohon dan memutuskan untukmengadopsi mereka. wanita raksasa mengubah diri menjadi manusia, seorang wanita cantik dan membawa dua belas saudara ke rumahnya. Selama bertahun-tahun dia memperlakukan mereka sebagai anak sendiri dan di bawah asuhannya dua belas gadis tumbuh menjadi wanita muda yang cantik.Suatu hari, Santhumala sedang berburu jauh, dua belas saudara bertemu dengan seorang tua yang mengatakan kepada mereka bahwa Santhumala bukanlahmanusia, melainkan seorang raksasa yang suka makan wanita muda seperti mereka. Sehingga 12 saudara tersebutmelarikan diri dari kerajaan raksasa dan berjalan selama berhari-hari sampai mereka tiba ke sungai di mana mereka mandi. Raja lokal melihat dua belas wanita bermain air dan jatuh cintadengan mereka. Jadi dia membawa mereka ke istananya dan menikah dengan dua belas bersaudara.Ketika Santhumala kembali dan melihat anak asuhnya telah pergi, ia begitu marah. Santhumala mencari mereka hingga ke kerajaan lokal. Santhumala menjelma menjadi wanita yang lebih cantik dari 12 saudara tersebut. sang raja terpikat dan akhirnya menikahi Santhumala dan menjadikannya seorang ratu. Balas dendam tak sampai disitu, Santhumala berpura-pura sakit karena perlakuan 12 saudara dan cara menyembuhkannya adalah sari-sari dari mata 12 saudara tersebut.Akhirnya sang raja mematuhi permintaan Santhumala dan mencabut 12 mata saudara tersebut, kecuali Phao hanya tercabut 1 mata. 12 saudara dibuang ke gua dan dibiarkan kelaparan. Pada saat itu juga, 12 saudara tersebut sedang hamil namun nasib naas semua anak mereka meninggal saat melahirkan. untuk bertahan hidup, bayi yang meninggal dijadikan santapan untuk saudara tersebut. Namun Phao, melahirkan bayi yang sehat dan hidup. Phao mengatakan bahwa bayi nya telah meninggal namun ia merawatnya dengan baik dengan anaknya laki-laki bernama, Pra Rothasen (Prarot).Prarot tumbuh menjadi pria dewasa dan hidup menyambung ayam. Ia mendapatkan uang dan membelikan makanan bagi ibu dan bibi-bibinya.Ketika raja mendengar tentang Prarot, dia mengundangnya ke istana di mana ia bermain dadu dengan raja menampilkan keahlian.Santhumala mengetahui bahwa 12 saudara masih hidup dan dia marah. Sekali lagi Santhumala pura-pura sakit dan mengatakan kepada raja bahwa hanya buah tertentu yang tumbuh di kerajaannya bisa menyembuhkannya. Dia juga mengatakan kepada raja bahwa hanya Prarot akan mampu untuk mengambilnya. Jadi dia menulis surat berikut kepada anak angkatnya, Mery, dalam bahasa raksasa: "Jika pemuda ini tiba ke kerajaan kami di pagi hari, makan dia di pagi hari, tetapi jika ia tiba di malam hari, makan dia di malam hari."Saat perjalanan, Prarot bertemu dengan seorang pertapa yang memberikan kuda dan ramah tamah. Prarot pun selama perjalanan tertidur dan tidak sadar bahwa surat yang tertera pun berganti dari kata "memakan" menjadi "menikahi".Saat tiba di kerajaan raksasa Prarot langsung pergi ke Mery dan menunjukkan surat itu padanya. Meriterkejut dan senang saat melihat pemuda yang tampan dan Mery jatuh cintadengan Prarot, Mereka akhirnya merayakan pernikahannya dengan seperti yang diarahkan.Meri adalah seorang wanita yang baik hati dan Phra Rothasen tinggal bersamanya sangat bahagia, tapi ia ingat ibunya yang buta dan bibi yang masih tinggal di gua yang gelap. Berada di istana raksasa, Meri telah memberitahu Prarot tentang obat-obatan sihir tertentu disimpan di ruang terkunci termasuk mata milik ibu Prarot dan bibinya.Kemudian Prarot berencana untuk membuat Meri tertidur dengan minum anggur dan mengambil mata untuk ibu dan bibinya.Setelah Meri sedang tidur, Prarot mencuri banyak obat-obatan dan mata dari ruang terkunci. Meri bangun dan mencari suaminya tapi dia melihat Prarot menunggang kuda terbangnya. Mery tiba-tiba berubah menjadi raksasa dan mengikuti Prarot sambil menangis dan memanggilnya dengan suara nyaring.Untuk menghentikannya, Prarot melemparkan sebuah tongkat yang mengubah jarak antara mereka menjadi danau dan gunung. Melihat suaminya melarikan diri dari Mery dia meratap putus asa, meminta Prarot untuk berhenti. Prarot tergerak oleh jeritan sedih dan menjawab bahwa dia akan kembali setelah ia menyelesaikan misi yang mendesak. Kemudian Prarot terbang dan meninggalkan Mery dengan patah hati menangis pahit di tepi danau.Prarot kembali ke kotanya dan membunuh Santhumala dengan sihir. Prarot kemudian pergi ke gua yang gelap dalam dan menyembuhkan mata ibunyadan bibi dengan sihir khusus. ibu danbibinya meninggalkan gua mereka dalam dan kembali dengan raja. 12 saudara mengundang Prarot untuk tinggal di istana lagi tapi Prarot mengatakan bahwa Prarot harus kembali dengan Meri yang menunggunya.Tapi sementara itu Mery telah meninggal. Selama menunggu lama Mery telah menumpahkan begitu banyak air matabahwa sampai menjadi buta. Sebelum Mery meninggal, dia bersumpah akan mengikuti Prarot di setiap reinkarnasi masa depan. Kemudian dia meninggaldengan neneknya menangis di sisinya dan dikelilingi oleh pelayannya.Ketika Prarot tiba di kerajaan raksasa ia menyadari itu sudah terlambat. Prarot mendengar tentang sumpahnya danmembawa tubuh istrinya. Prarot akhirnya meninggal sambil membawa istrinya dalam pelukan. Akhirnya, roh mereka terbang bersama-sama untukreinkarnasi berikutnya di mana mereka akan bergabung lagi.
Gajah Putih Thailand
Ratusan tahun ke belakang di negeri Thailand yang terkenal sebagai negeri Gajah Putih ini, sebelumnya wilayah ini tidak mempunyai binatang yang namanya Gajah. Di hutan-hutan negeri tersebut tidak ada hewan tersebut. Gajah pada zaman itu di Thailand hanya sebuah binatang yang di anggap sebuah legenda dongeng saja.Sampai akhirnya sang Maharaja negeri itu mengutus abdi kepercayaannya untuk pergi ke negeri lain, hanya untuk membeli binatang atau hewan yang namanya Gajah ini, agar seluruh rakyat dan para pembesar negeri ini tahu bahwa Gajah itu memang ada. Bukan hanya sekedar kabar isapan jempol saja."Belikanlah aku sejodoh atau sepasang Gajah dan bawalah binatang dari negeri nun jauh disana, ke negeri kita tercinta ini." Titah sang Maharaja Thailand.Maka berangkatlah utusan sang Maharaja itu ke negeri seberang, memikul tugas yang diperintahkan kerajaan zaman itu. [Dari sinilah ternyata cikal bakalnya Thailand menjadi negara yang terkenal dengan sebutan: negara Gajah Putih].Demikianlah perjalanan untuk membeli sepasang Gajah itu di mulai, dengan melepas sauh berlayarlah kapal laut itu menuju negeri di seberang sana.Berhari-hari berlalu apa yang di tunggu-tunggu Maharaja dan seluruh rakyat negeri Thailand itu datang juga.Sepasang atau sejodoh Gajah yang gemuk dan sehat telah datang di negeri ini, Thailand. Namun kedatangan Sang Gajah terjadi pada malam hari atau sudah larut malam, gajah-gajah itu tidak langsung di pamerkan kepada seluruh rakyat."Besok hari baru kalian bawa sepasang gajah itu untuk dipertontonkan kepada seluruh khalayak negeri." Perintah sang Maharaja."Tetapi aku ingin seluruh abdi negeri para pembesar negeri ini duluan yang melihat malam ini juga, biar seluruh rakyat negeri ini tahu bahwa kita semua adalah orang yang berpengetahuan lebih banyak dari seluruh khalayak ramai." Inilah titah atau perintah sang Maharaja, ditujukan untuk para menteri dan pembesar negeri untuk lebih dulu melihat binatang ini.Berkumpullah para pembesar serta para menteri atas perintah sang Maharaja. Karena situasi malam yang begitu gelap-gulita maka para pembesar itu memerintahkan untuk dibuatkan obor-obor atau pelita untuk penerangan kala melihat sang Gajah itu.Tetapi perintah itu di tolak oleh pawang Gajah dengan alasan yang mereka kemukan, bahwa Gajah akan mengamuk bila di kagetkan oleh cahaya yang tiba-tiba terang. Gajah adalah binatang raksasa yang begitu besar tenaganya, bila mengamuk pasti akan menghancurkan kandangnya. Itulah alasan sang pawang itu ketika didesak untuk dinyalakan pelita dilokasi kandang Gajah tersebut.Sampailah seluruh pembesar kerajaan itu di tempat kandang Gajah yang di buat begitu kokoh dengan balok-balaok besar yang kuat untuk menjaga Gajah tersebut lepas dari kandangannya. Namun keadaan yang begitu gelap itulah yang akhirnya semua pejabat itu hanya dapat memegang bagian-bagian tubuh saja, mereka semua tidak bisa melihat Gajah tersebut.Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah utara yang pertama memegang bagian dari kaki paha Gajah tersebut, "Tidak salah lagi apa yang di katakan orang selama ini, memang benar Gajah itu besar sampai tanganku saja tidak sanggup memeluknya" pikir pejabat itu dalam hatinya.Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah selatan maju dan memasukan tanganya kedalam kandang Gajah tersebut untuk memegangnya, "Ternyata kabar tersebut bohong adanya, Gajah hanyalah binatang yang kecil namun sekeras tulang." Karena pejabat iut memegang gading Gajah tersebut, sehingga hatinya berpikir binatang Gajah tidak besar hanya keras saja.Maka majulah pejabat dari bagian negeri barat, dan mengikuti langkah pejabat yang lain. "Wah besar sekali ini binatang Gajah, sampai tanganku ini tidak bisa menemukan ujung binatang ini." Teriakan pejabat ini, dan ternyata sang pejabat memegang perut dari Gajah itu.Terakhir giliran pejabat dari timur, melangkah sang pejabat ini terus meraba-rabanya. Ternyata dia hanya bisa meraba bagian dari ekor binatang itu, "Wah semua rekan pejabatku tidak ada yang benar kalau bicara" gerutunya dalam hati, Gajah tidak besar juga tidak pula keras.Setelah semua pejabat itu mendapat gilirannya, maka pulang para pembesar. Sesampainya dirumah masing-masing, mereka telah di tunggu oleh khalayak yang tidak sabar ingin mengetahui tentang bagaimana kabarnya bitanang tersebut dari pejabat tersebut.Semua masyarakat sudah tidak sabar ingin mengetahuai bagaimana bentuk dan rupanya dari Gajah yang menjadi idaman negeri Thailand kala zaman tersebut berlangsung. Maka berpidatolah sang pembesar para menteri dan pejabat kerajaan itu di daerah jabatan masing-masing. Mereka berpidato dengan kenyakinan dari apa yang mereka pikirkan tentang Gajah yang hanya dirabanya saja, bukan melihat atau mengenal sebelumnya binatang tersebut.Semua pejabat dengan pengetahuan yang sedikit itu akhiranya menimbulkan salah paham antar rakyat. Rakyat yang berada dari belahan utara menceritakan Gajah yang menurut pejabatnya demikian. Sementara rakyat dari belahan negeri selatan mencerita Gajah menurut pejabatnya bukan begitu. Juga dari barat dan timur juga berbeda, tidak ada kesamaan dari seluruh pejabat yang memberi tahu rakyatnya tantang sang Gajah. Maka timbullah bentrokan antar rakyat seluruh negeri membela keterangan yang telah disampaikan pembesar dari daerah masing-masing.Maharajapun akhirnya turun tangan untuk menyesaikan masalah yang sedang berlangsung malam itu. Disuruhnya seluruh Khalayak ramai rakyat negeri Thailand untuk berkumpul keesokan harinya di depam pendopo istana alun-alun kerajaan negeri.Tak hanya itu sang Maharajapun memerintahkan seluruh pembesar, pejabat dan abdi kerajaan untuk mempersiapkan acara besok harinya.Pagi-pagi buta sekali berbondong-bondong seluruh rakyat negeri kerajaan saat itu menuju pendopo istana untuk menyaksikan sepasang Gajah yang di beli dari negeri seberang lautan nun jauh disana. Berkumandanglah perintah sang Maharaja untuk membuka kandang Gajah. Semua khalayak rakyat negeri dapat melihat sang Gajah binatang yang sangat besar dan gagah tersebut dengan mata kepala sendiri, bukan kabar dari sang pembesar daerahnya yang bohong itu. Yang semalam mereka bela keterangan mengenai Gajah tersebut, Semua rakyat sangat kecewa terhadap pembesar-pembesar itu.Dan akhirnya Maharajapun memecat seluruh pejabat yang sok pintar, yang pengetahuannya sedikit tetapi mengaku pintar dari pada yang lain."Mulai saat ini rawatlah sepasang Gajah ini. Kembang biakkan menjadi banyak dan terus banyak, memenuhi seluruh negeri ini". Titah sang Maharaja kepada seluruh khalayak rakyat kerajaan saat itu.Dan Maharaja pun berpesan supaya menjaga kedamaian antar sesama rakyat Thailand, jangan terjadi keributan antar saudara senegeri gara-gara berita dari pejabat yang tidak bertanggung jawab.Semenjak dari saat itu negeri Thailand menjadi negeri kerajaan yang damai aman sentosa tak terdengar lagi keributan antar daerah satu negeri. Serta pada akhiranya kita mengenal Thailand sekarang dengan sebutan negeri Gajah Putih.
Kampung Talawid dan Mahuneni Siau Barat Selatan
Pada zaman dahulu Kampung Talawid konon ceritanya orang Talawid berasal dari Eneraha yang sekarang Lindongan 4 Kampung Mahuneni. Pada zaman itu ada seorang Belanda yang hidup bersama dengan mereka, suatu waktu datang musim kemarau yang panjang dan penduduk sulit mendapatkan air. Kemudian muncul seorang yang biasa pekerjaannya sebagai pemburu mengatakan bahwa ia bertemu dengan mata air yang ada di Bulude. Secara serentak masyarakat langsung datang ke tempat yang ada mata air itu.Dalam perjalanan yang panjang, mereka melalui lereng-lereng gunung yang terkadang naik atau turun serta di samping kiri-kanan jurang dan tebing yang silih berganti. Seorang yang berasal dari Negara Belanda ikut bersama-sama mereka. Karena begitu jauh perjalanan menuju ke mata air itu, seorang Belanda yang bersama-sama dengan penduduk kampung itu berkata : " Tala - Awi " yang berarti: Tidak Bisa Naik .Suatu hari mereka sepakat pindah tempat untuk mendekati mata air itu, sebagian tinggal di bawah gunung itu dan sebagian naik ke Bulude, untuk dengan air.Ketika mereka telah menatap dan tinggal di Bulude ada seorang yang melihat suatu dataran pantai yang indah, maka ia langsung menelusurinya, dan karena terlihat baik untuk tinggal disitu ia pun menatap di pantai itu.Penduduk yang ada di Bulude itupun melihat itupun melihat dan mendengar bahwa ada pantai yang panjang dan lebar, maka dengan secara berangsur mereka pun turun di pantai karena begitu panjang dan lebar pantai itu maka mereka menyebut: Mahuene; yang berarti banyak pasir.Mereka hidup dan membentuk masyarakat kecil dengan peradaban mereka, karena susah dan derita yang pernah dialami maka teringat peristiwa yang sangat sulit kala itu. Mereka satu sama lain selalu menyebut Tala Awi suatu pertanda bahwa tidak bisa naik lagi.Dalam perkembangannya kemudian mereka membentuk adat istiadat dan menyebut tempat mereka Tala Awi .Adapun terjadi nama lain atau sebutan lain Kampung Talaawi saat itu adalah karena dikenal dengan pantainya yang lebar dan panjang sehingga tercapai kata: Mahuene (banyak pasir).Pada suatu ketika Kampung ini ditimpa penyakit (Demam Berdarah) karena banyaknya Nyamuk yang muncul dan tersebar di seluruh penjuru Kampung, masyarakat saat itu menyebut " Matenni " ( Mahuneni ). Sebutan itu masyarakat dan sampai sekarang orang tetap menyebut kampung ini Mahuneni atau Matenni.Sehingga pada satu sisi harus diakui Talaawi yang menjadi Talawid menurut Sejarah dan Matenni yang menjadi Mahuneni adalah bagian dari sebutan pemahaman orang tua dulu.Kemudian oleh Pemerintah Sangihe dalam rangka persiapan Otonomisasi Daerah menuju Kabupaten "Sitaro" Kampung Talawid dimekarkan menjadi dua :1.Kampung Talawid2.Kampung Mahuneni Tahun 2006
Daratan Kenangan
Dia mengangkat beban seluruh dunia ini seorang diri. Memang ia awalnya terlihat mampu, tapi pada akhirnya, semua orang tahu, bahwa dia pasti akan menyerah. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan keyakinannya.Di bawah langit malam, gadis kecil berpakaian lecek itu melangkah dengan ragu menyusuri daratan rumput itu. Di sekitarnya, ada banyak pepohonan yang tampak amat indah dan istimewa. Pasalnya, semua pohon yang tumbuh di sana, memiliki daun yang menyala terang, yang memancarkan warna merah muda yang sangat serasi dengan kegelapan malam kala itu. Umat manusia menyebut tempat ini sebagai Daratan Kenangan.Rasanya... dunia ini... sudah tidak memiliki harapan lagi...Berbagai pemikiran yang tidak menyenangkan mulai merasuk ke dalam gadis itu. Pandangannya yang kosong menatap lurus ke depan, seakan-akan dia sama sekali tidak peduli lagi dengan nasib dunia ini.Namun, selain si gadis, rerumputan, kegelapan, dan pepohonan bersinar itu, di sana juga ada ribuan manusia lainnya, yang berpakaian kotor dan tidak terurus sama seperti gadis itu, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.Semua orang memberikan jalan agar gadis mungil itu bisa lewat.Gadis itu terus berjalan, sementara orang-orang di sekitarnya malah menatap dirinya dengan tatapan sedih, heran, dan takut.Selang beberapa waktu kemudian, gadis itu pun berhenti melangkah. Di depannya kini ada suatu danau yang cukup lebar, yang hanya berjarak satu jengkal saja dari kaki telanjangnya yang penuh luka.Tuhan... mengapa dunia ini sangat senyap?Gadis kecil itu mengambil nafas dalam, lalu dengan perlahan dan pasti, dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam air yang terasa amat dingin itu, dan berjalan menuju ke tengah-tengah danau. Semakin dalam dan semakin dalam, sampai-sampai setengah dari tubuhnya sudah tenggelam, dan hanya bagian perut ke atas saja yang terlihat darinya.Tuhan... mungkinkah ini adalah bayaran atas dosa-dosaku di masa lalu?Air di danau itu sangat tenang dan tidak beriak sama sekali, seakan-akan, danau itu terlihat seperti membeku, sama seperti gadis itu yang kini hanya berdiri diam di tengah danau.Sekarang suasananya menjadi lebih hening—sangat hening.Ada banyak orang yang melihat ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa putus asa yang sangat dalam. Sampai-sampai kau merasa seolah bisa melihat jurang tanpa dasar di dalam pandangan mereka. Sebagian orang di sana juga ada yang mulai menangis terisak, dan sebagian lagi gemetar hebat dan berkeringat dingin.Tuhan... Tolong dengarlah suaraku...Namun, tiba-tiba ada satu suara yang memecah keheningan malam.Jauh di kiri gadis itu, ada seorang wanita yang baru turun ke air dan tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu juga menggendong bayinya bersamanya. Meski begitu, wanita itu adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlihat takut, sedih, ataupun putus asa. Dia hanya tersenyum kecil sambil memastikan bayinya tetap tertidur dalam dekapannya. Sementara jauh di belakang wanita itu, tampak pula seorang pria yang bertekuk lutut dan menangis layaknya seorang balita. Seolah-olah dia akan kehilangan wanita itu.Dalam perjalanannya, wanita itu berbisik pada bayinya; "Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu." Suaranya yang pelan sungguh menenangkan.Puluhan langkah telah berlalu, dan wanita itu akhirnya sampai di hadapan si gadis di tengah-tengah danau. Wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya yang lemah kepada si gadis, tapi, gadis kecil itu malah menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, dan tubuhnya juga ikut gemetar."Jangan takut, Nak Riveria..." Kata wanita itu sambil tersenyum simpul.Dia tahu, bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sebenarnya sudah sangat siap. Tapi, kenyataannya, satu-satunya orang yang belum siap di sini, kemungkinan adalah dirinya sendiri—Riveria Agnisia.Walau begitu, pada akhirnya, gadis kecil itu—Riveria—mau tak mau harus menerima uluran tangan wanita itu, lalu kemudian wanita itu dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sampai dia benar-benar tenggelam ke dalam air.Jemari Riveria bergetar hebat, sampai-sampai dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi, sungguh, hati kecil Riveria terus berteriak dan memberitahunya untuk tidak melepaskan tangannya.Seketika, tubuh Riveria menjadi lemas bukan main entah karena apa.Namun, saat tangan mereka telah bercerai, sesuatu yang gaib kembali terjadi.Ada banyak titik-titik cahaya hijau terang yang mulai timbul dari tempat si wanita tadi tenggelam. Cahaya itu sejatinya terlihat sangat ajaib, tapi sayangnya, apa yang terpancar dari mata Riveria yang kala itu bergetar hebat bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut yang tiada tara.Lambat laun, cahaya itu perlahan-lahan terangkat dari air dan naik ke udara, hingga lenyap begitu saja dari pandangan—dari dunia ini. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Dan dunia ini sekarang telah menjadi lebih senyap dari sebelumnya.Riveria lalu menatap telapak tangannya dengan pandangan hampa. Suatu memori terlintas di dalam benaknya. Tapi, ingatan itu bukanlah miliknya, kenangan itu adalah milik wanita yang telah pergi sebelumnya.Walau hanya sekilas, Riveria bisa melihat hampir semua kenangan itu dengan amat jelas. Namun, berdasarkan semua ingatan itu, Riveria hanya mampu menangkap dua ingatan saja yang memberikan kebahagiaan pada wanita itu, yaitu saat wanita itu menikah dengan pria yang tengah menangis di sana, dan yang kedua adalah waktu dia melahirkan anaknya. Sementara sisanya, adalah ingatan-ingatan yang pahit dan mengerikan."Bagaikan ribuan bintang di langit, tapi hanya dua bintang saja yang bersinar...."Detik demi detik berlalu, dan kesenyapan itu tiba-tiba lenyap diiringi derap langkah kaki ratusan orang yang memutuskan untuk turun ke air dan menggapai Riveria di tengah danau.Mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk pergi meninggalkan kehidupan, sama seperti wanita tadi. Tapi bukan berarti mereka pergi ke surga atau pula ke neraka, karena saat ini, semua manusia tahu, bahwa gerbang di kedua tempat itu telah tertutup rapat.Saat ini, semua manusia sudah menjadi makhluk yang abadi, dan tak akan bisa mati. Walau begitu, bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan manusia.Seribu tahun lalu, suara Tuhan yang menggelegar di langit menyatakan bahwa Ia akan menurunkan Sepuluh Keajaiban Terakhir untuk umat manusia. Dan salah satu dari keajaiban itu, adalah Riveria, dia diberikan kemampuan untuk mengirim manusia ke dalam kematian yang hampa—dia diberikan hak untuk mengantarkan manusia ke dalam peristirahatan yang terakhir dari yang terakhir.Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun sayangnya, sudah jelas kalau seribu tahun lalu, Tuhan sendirilah yang memberitahukan kebenaran itu pada manusia. jadi, semua orang hanya bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada.Akan tetapi, jika masih ada orang yang mencoba untuk menyangkal kenyataan itu, mereka bisa bertanya pada Riveria secara langsung, mengingat dia adalah salah satu dari segelintir makhluk yang telah hidup sejak seribu tahun lalu—sejak dunia ini masih dikuasai oleh manusia.Suara percikkan air, tangisan, teriakkan, dan keputusasaan terdengar makin membahana memenuhi tempat itu, seolah-olah ada upacara pemakaman massal yang tengah diadakan di Daratan Kenangan ini.Lalu, saat pagi telah datang, Riveria pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat.Riveria berdiri sendirian di atas tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi bak bukit. Rambut pendeknya yang terurai ke leher memancarkan warna merah mengkilap layaknya api membara. Tatapan matanya yang sebiru langit tengah memandang kosong pada cakrawala yang terbentang di depannya. Kenyataannya, di dunia yang sudah hampir mati ini, hanya gadis mungil itu sajalah yang bisa menyelamatkan orang-orang.Hanya dia.Seorang gadis kecil nan rapuh yang dianggap terkutuk oleh manusia lainnya."Harus seberapa keras aku berteriak agar Engkau bisa mendengar suaraku... Tuhan."Riveria bertanya pada hati kecilnya. Entah kenapa kala itu Riveria seakan ingin menangis. Dia merasa bahwa dunia ini sudah bertindak terlalu berlebihan. Tapi, air matanya telah lama kering, menyisahkan tatapannya yang tanpa arti."Kenapa aku nggak memiliki perasaan lagi?" Tangan kiri Riveria bergerak meraba dada kirinya. "Kumohon... Tuhan, dengarlah suaraku untuk kali ini saja." Suara Riveria terdengar layu dan malas.Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya, menandakan bahwa dunia ini masih bertahan dan memilih untuk terus melangkah, dan juga memutuskan untuk terus menyiksa umat manusia.Riveria tetap berdiri di puncak bukit batu itu, menunggu datangnya sinar mentari.Suara angin yang berhembus melalui jendela dan pintu gedung-gedung yang telah lama hancur dan tertutupi oleh debu yang amat tebal, seakan membawa suara jeritan ke telinga Riveria. Kendaraan, jalan raya, lampu lalu lintas, serta segala yang telah dibangun manusia di kota ini—semuanya telah lama mati.Dunia ini berhasil bertahan melalui suatu malapetaka—kiamat.Saat ini, hanya alam yang berkuasa atas bumi. Dan manusia? Manusia hidup dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh alam. Tak ada lagi hukum manusia.Di manakah sebenarnya engkau, Tuhan?Akhirnya mata Riveria bisa menangkap sinar keemasan yang bersinar dari ufuk timur. Cahayanya begitu terang dan hangat, menembus pakaian kotor Riveria, dan seolah-olah cahaya itu tengah memeluk dirinya. Tubuh Riveria yang tadinya sangat kaku karena terkena angin malam, sekarang sudah terasa jauh lebih baik.Waktu itu, meski hanya sesaat, Riveria bisa merasakan sesuatu yang disebut dengan kedamaian. Untuk sesaat—hanya sesaat saja—Riveria bisa melihat sesuatu yang disebut sebagai... Harapan.Sungguh pemandangan yang amat megah, sekaligus perasaan yang luar biasa. Akan tetapi, terbitnya matahari adalah penanda waktu bagi Riveria untuk tidur.Namun, karena sinar mentari itu juga, Riveria jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin malam. Semua kenangan-kenangan yang diterimanya dari orang-orang yang telah pergi, sekarang telah lenyap dari kepalanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Tapi, bukan berarti ia bisa melupakan kengerian yang dirasakannya saat berdiri di danau itu."Aku lelah banget... Hoam ..." Mulut Riveria membuka lebar, ia menguap karena saking mengantuknya. Kemudian setelah melemaskan tubuhnya sedikit, Riveria pun mulai berbaring, dan dia pun terlelap begitu saja.Hanya di puncak bukit batu itu sajalah, Riveria bisa tertidur pulas untuk melepas penat setelah semalaman menunaikan kewajibannya. Meski tak ada bantal yang empuk, atau alas yang lembut, bagi Riveria, tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi ini, adalah tempat yang bisa disebutnya sebagai rumah.Jika memang Engkau sudah meninggalkan kami... akan lebih baik jika kami juga Kau musnahkan sekalian, agar kami tidak perlu lagi merasakan semua rasa sakit ini...
Sahabat Sang Merapi
Satriya terbangun saat mencium bau hangus tajam yang menusuk hidungnya. Seluruh hutan terbakar habis, dan entah kenapa Satriya sendiri tidak sadar sudah tertidur berapa lama. Hanya pohon beringin tempatnya bernaung saja yang masih kokoh, hijau dan rimbun.Satriya lalu memutuskan untuk memanjat pohon itu sampai di puncak rantingnya.Dari kejauhan, Satriya bisa melihat asap yang membumbung tinggi dari Gunung Merapi, serta lelehan lahar berwarna merah pijar yang masih mengalir di ceruk lekukan gunung."Apa... yang sebenarnya terjadi?" Tanya anak berkulit kecoklatan itu bertanya pada dirinya sendiri. Rambut gondrongnya yang hitam legam ditiup oleh angin yang terasa panas.Satriya berusaha mengumpulkan kepingan memori, juga alasan kenapa dia bisa terbangun di tempat ini.Namun, tiba-tiba Dada Satriya mulai terasa sesak, abu yang berterbangan dari tanah masuk ke paru-parunya. Satriya menutup hidung dengan baju. Tanpa alas kaki, dia berniat menapak tumpukan abu yang masih panas mengepul.Di pikirannya hanya ada satu yang terpikirkan: keluar dari sini untuk mencari pertolongan.Akan tetapi, saat kakinya menapak, ternyata ada angin yang menahannya, dedaunan dari pohon beringin itu rontok dan berterbangan membentuk suatu wujud. Wanita dari dedaunan."Satriya, apa kamu baik baik saja?""Eh... siapa kamu? Apa yang sebenarnya terjadi?""Hah... Mau bagaimana lagi... " Sosok itu mengambil nafas dalam. Entah dia punya hidung atau tidak. "Aku Centini. Aku ini adalah orang tua spiritual yang sudah merawatmu dari bayi. Sayangnya aku tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi, kamu sudah lihat sendiri bencana alam ini, ini semua memang proses untuk membersihkan apa yang jahat dan menggantikannya dengan hal baru.""Orang tua spiritual?" Satriya termangut-mangut, "berarti kamu ini ibuku, dong?""Ya, aku memang ibumu." Satriya seakan bisa melihat senyuman yang terbentuk di wajah sosok itu."Tapi, dimana orang tuaku yang asli? Dan kenapa aku bisa disini? Dan... kepalaku terasa sakit banget.""Kurang asem... " Bisik Centini yang terdengar agak jengkel. "Mantra itu benar-benar sirna di saat yang tidak tepat, dan malah membuat ingatanmu jadi berantakan.""Mantra? apa maksud Ibu?" Tanya Satriya keheranan."Sudah terlambat untuk menjelaskan semuanya sekarang. Yang penting saat ini kamu harus pergi dari sini secepat mungkin.""Hah? Tapi bagaimana caranya? Aku saja nggak tahu lagi berada di mana."Centini bersiul dengan keras, memanggil seekor naga putih yang muncul dari entah mana. Naga itu melesat ke angkasa, membumbung di atas awan. Naga yang sisiknya terdapat bulu-bulu lembut itu lantas melingkari badan Satriya dan membuatnya merasa nyaman."Nagapathi, bisakah kamu membawa Satriya ke tempat yang aman?" pinta Centini.Naga itu mematuhi perintah Centini, dan dibawanya Satriya langsung ke tengkuk lehernya dengan kibasan ekornya."Terima kasih, dan sampai jumpa lagi... ibu." Satriya melambaikan tangan."Ya, sampai jumpa... putraku."Centini tersenyum, lalu dirinya berubah menjadi sekumpulan daun yang hangus terbakar. Pohon beringin yang tadi kokoh berubah menjadi abu.Nagapathi membawa Satriya ke atas langit, menembus awan kelabu. Satriya bisa merasakan angin yang berhembus kencang. Dia berpegangan pada bulu di leher Nagapathi agar tidak tertiup. Awan di bawah mulai jarang terlihat, ada beberapa pemukiman warga yang hancur, ada juga yang terkubur abu."Merapi sepertinya murka pada manusia, ya. Sebenarnya apa salah mereka sampai hal ini terjadi?" Satriya bergumam.Lalu setelah pemukiman warga, terlihat juga beberapa tenda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Rupanya disana berkumpul orang-orang yang masih berusaha untuk mengambil harta benda yang tersisa. Entah bagaimana bisa, mata Satriya bisa melihat mereka semua dengan sangat jelas.Satriya menarik bulu Nagapathi.Ingin sekali Satriya membantu manusia-manusia itu, karena mungkin saja mereka bisa memberitahu Satriya tentang mencari jati dirinya. Namun Nagapathi nampaknya menolak, dia hanya terbang lurus entah kemana.Lalu, cukup jauh di sana, ada juga pepohonan yang masih berdiri kokoh, meskipun daunnya kering. Lalu ada sekawanan orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil. Mereka tampak terburu-buru, takut gunung itu akan meletus lagi. Satriya teringat kalau lahar masih saja meleleh dari kawahnya.Nagapathi mulai terbang rendah, dia mencari sebuah tempat untuk mendarat. Dia memilih sebuah rumah kosong di pinggir hutan bambu. Dengan lihai dia mengalihkan perhatian menggunakan hembusan awan dari hidungnya, lalu menyelimuti seluruh badannya.Satriya turun di rumah itu, lalu Nagapathi menghilang begitu saja tanpa jejak."Lho... aku, kan, belum mengucapkan terima kasih... " Kata Satriya kecewa sambil berusaha mencari keberadaan Nagapathi di sekitarnya. Tapi, anehnya naga itu sama sekali tidak terlihat dimanapun.Satriya melangkah menuju ke rumah itu, lalu membuka pintunya yang sudah lapuk, atap rumah itu sudah ambles sebagian, bahkan ada yang jebol. Daun-daun berserakan dalam rumah. Ada dua ruang tidur serta satu tempat tidur bambu yang masih utuh, juga dapur yang dipenuhi kendhil berserakan, serta kamar mandi yang masih menggunakan air dari sumur.Entah kenapa, kepingan memori Satriya terbuka disini. Satriya mengambil salah satu kendhil dan mengamati isinya yang ternyata adalah makanan.Tiba-tiba, Satriya teringat dengan sosok seorang gadis kecil yang dulu pernah menjadi teman mainnya. Tapi dia tidak bisa mengingat namanya. Hanya wajahnya yang cantik serta rambutnya yang kuning panjang saja yang masih terbayang jelas dalam benaknya."Sebenarnya siapa aku ini sebelumnya?"Satriya duduk di kasur bambu, berharap ada sekelebat memori yang terbuka lagi. Namun, setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.Melihat arah matahari yang agak condong ke barat, Satriya menyadari kalau dia harus mencari tempat perlindungan yang lebih layak. Dia berusaha mengingat-ingat ke arah mana kerumunan orang tadi.Menyusuri hutan bambu, mencari jalan setapak, melewati sungai kecil, dan ia akhirnya berhasil keluar dari hutan dan tengah menuju ke suatu daerah pemukiman. Disana ada beberapa tenda yang berdiri di lapangan desa. Beberapa perawat memasang posko darurat, lantas dia mendatangi mereka.Mereka tertegun melihat keadaan Satriya. Dia langsung dirawat oleh mereka, diberi obat-obatan, luka-lukanya juga dibersihkan dan dibalut dengan perban. Dia lalu digiring ke salah satu tenda yang penuh dengan orang-orang yang tengah tertidur dan beristirahat.Akan tetapi, orang-orang di sana menatap Satriya dengan tatapan aneh. Mereka melihat Satriya seolah-olah dia itu bukan manusia. Namun, Satriya menghiraukan mereka dan memilih untuk tidur di tempat yang tidak terlalu sesak, yang hanya beralaskan tikar.Satriya bertanya-tanya dalam hati, apakah dia bisa bertemu lagi dengan Centini dan Nagapathi suatu saat nanti? Rasanya terlalu menyakitkan jika Satriya harus berpisah dengan orang yang merawatnya selama ini tanpa membawa kenangan apa-apa. Rasanya sangat hambar dan kosong.Sekitar pukul sembilan malam, Satriya dibangunkan oleh seorang anak kecil yang terus menusuk-nusuk pipi Satriya dengan jemarinya."Hey, dia sudah bangun!" Anak lelaki itu memberitahu seseorang begitu Satriya membuka matanya lebar-lebar. Satriya memandang berkeliling kala itu, dan mendapati tenda yang sudah hampir kosong melompong dan hanya diterangi oleh lampu yang juga tidak terlalu terang.Setelah teman perempuannya datang, anak yang membangunkan Satriya langsung melontarkan pertanyaan yang terdengar sedikit menyebalkan, sampai membuat wajah Satriya berubah masam."Nama Kakak siapa? Dan kenapa mata Kakak berwarna kuning? Kakak dari mana? Kayaknya Kakak nggak berasal dari sini, deh.""Eh... Aku Satriya... " Satriya menjawab, tapi entah kenapa rasanya hanya itu saja yang mampu dia katakan."Oh, Kak Satriya, ya." Tanggap anak lelaki itu seraya menarik tangan Satriya dan mengajaknya keluar dari tenda. "Ayo, Kak, mereka sedang membagikan makanan sekarang. Kalau nggak cepat-cepat, nanti makanannya bisa habis!"Anak itu berjalan dengan cepat di atas kaki mungilnya, sementara si anak perempuan itu mengikuti mereka berdua dari belakang. Jika dilihat dari tinggi badan mereka, kedua anak ini mungkin masih berusia enam atau tujuh tahun.Kegelapan malam, juga suara teriakkan yang lantang dan gagah, serta suara-suara dari mesin yang entah apa langsung menyambut mereka saat tiba di luar, dan tampak pula orang-orang yang sedang mengantri di depan sebuah mobil truk yang membagikan bungkusan berisi makanan.Jujur, Satriyas sebenarnya sangat senang karena bisa berada ditengah-tengah keramaian seperti ini. Meski ingatannya tentang hari-hari sebelumnya masih buram, Satriya yakin kalau hanya Centini dan Nagapathi saja yang menemaninya sejak dia lahir. Hanya mereka berdua yang tahu tentang keberadaan Satriya.Akan tetapi, Satriya merasa seakan tidak mampu memasang senyuman di bibirnya setelah dia melihat wajah orang-orang yang ada di sana. Nestapa, rasa takut, kekecewaan, dan keputusasaan menghiasi wajah seluruh warga pengungsi.Malam sudah semakin larut ketika Satriya dan kedua anak itu berhasil mendapatkan makanan. Satriya membuka bungkusan itu dan memandang nasi dan juga sayur tumis serta tempe tahu goreng yang ada di dalamnya."Ngomong-ngomong siapa nama kalian?" Tanya Satriya yang masih menatap makanannya dengan tatapan kosong."Ah, aku Jaka, Kak, dan ini Kiki." Jawab anak lelaki yang bernama Jaka itu. "Kami kembar lho.""Yah, terlihat jelas, kok." Jawab Satriya sambil tersenyum masam, sementara matanya tengah mengamati luka-luka yang ada di sekujur tubuh kedua anak itu.Kedua anak itu makan dengan lahap. Dan yang paling mengejutkan lagi, mereka berdua tetap tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Setelah mengantri cukup lama, Satriya memang menyadari bahwa hampir semua anak-anak yang ada di sini masih tidak kehilangan senyum mereka.Saat Satriya mengarahkan pandangannya ke arah Kiki, mata Satriya tanpa sengaja menangkap pemandangan lain yang berada tak jauh di belakang gadis kecil itu; yaitu setangkai bunga dengan kelopak berwarna putih yang tumbuh subur sendirian di antara rerumputan, di tengah-tengah lautan manusia."Oh iya, kalau dipikir-pikir, kok, kalian nggak makan bersama dengan ayah dan ibu kalian?" Tanya Satriya yang juga mulai melahap makanannya.Setelah mendengar pertanyaan itu, senyum Jaka dan Kiki seketika raib begitu saja dan mereka lalu diam bagaikan patung. Namun, tak sampai hitungan detik, tiba-tiba senyum mereka kembali terbentuk di bibir, dan malahan sekarang senyum mereka lebih lebar dibanding sebelumnya."Ibu kami meninggal waktu kami masih kecil, Kak. Dan ayah jatuh ke dalam tanah saat Merapi meletus tadi pagi." Jelas Jaka."Jatuh ke dalam tanah?""Iya, Kak! Waktu itu, tanah di bawah kami tiba-tiba terbelah dan terbuka seperti mulut yang mau makan, Kak!" Ujar Kiki heboh."Dan kami bertiga hampir jatuh tadi, tapi untungnya ayah mendorong kami dan dia juga sempat berteriak menyuruh kami pergi jauh-jauh dari sana." Jaka mengakhiri ceritanya dan kembali makan."Saat kami sampai di sini dan menceritakannya pada polisi-polisi itu, mereka malahan menyuruh kami masuk ke tenda dan beristirahat." Tambah Kiki. "Oh! Tadi Kakak ingat, kan? Dengan polisi perempuan yang memeluk kita waktu kita mau masuk ke tenda?""Ah, aku ingat, kok." Kata Jaka. "Mbak polisi itu tadi menangis, nggak tau kenapa."Polwan yang mereka bahas pasti menangis karena mendengar cerita Jaka dan Kiki, pikir Satriya. Sungguh kenyataan yang mengenaskan. Mata Satriya sampai terbelalak lebar karena saking terkejutnya. Tapi, fakta bahwa kedua anak ini masih bisa tertawa riang seakan tidak terjadi apa-apa, malah membuat Satriya jadi tambah bingung."Tolong... "Suatu suara tiba-tiba terdengar dalam benak Satriya. Gambaran anak gadis berambut pirang yang ada dalam ingatannya pun ikut muncul bersamaan dengan datangnya bisikan yang lembut itu. Suara lemah seorang gadis kecil yang menggema dalam diri Satriya."BERHENTI!" Teriak Satriya membahana hingga membuat dunia di sekitarnya menjadi hening seketika. Semua mata yang kebingungan kini tertuju padanya.Satriya bangkit berdiri dengan perlahan, lalu dia mulai melangkah melewati Kiki dan Jaka. Dia terus melangkah, di tengah-tengah kesunyian itu, sampai akhirnya dia berhenti di hadapan seorang tentara, yang sebelah kakinya masih dalam posisi terangkat."Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini?" Tanya Satriya dengan nada mengancam.Pria berseragam loreng dan berwajah garang itu tentu saja terkejut dengan tindakkan Satriya. "Apa katamu—""Kutanya sekali lagi." Suara Satriya terdengar semakin tajam. "Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini? Kupikir suaraku sangat jelas."Pria itu tampak sangat marah sekarang. Dia kemudian menurunkan kakinya ke tanah, tapi jarak sepatunya dan bunga itu sangat dekat."Apa kau tidak pernah diajari sopan santun, bocah tengik!" Pria itu langsung melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Satriya, namun, tiba-tiba saja daratan mulai berguncang hebat sebelum tangan pria itu menyentuh kulit wajah Satriya. Jeritan ketakutan seketika terdengar dari segala penjuru, dan semua orang langsung terjatuh di atas pantat mereka pada saat itu juga."Cih... gara-gara orang-orang seperti pamanlah, sang Gunung jadi murka!"Gempa itu bahkan berhenti sedetik kemudian. Dan satu-satunya manusia yang masih berdiri di sana hanyalah Satriya seorang. Dia masih berdiri kokoh dan menatap geram pada tentara itu."Ugh!" Satriya jatuh berlutut. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat nyeri bukan kepalang. Rasanya seperti kepala Satriya baru saja dilempar batu berkali-kali. Dia mencengkram kepalanya dengan keras. "Sakit banget! Ada apa ini! Argh!""Kak Satriya! Kakak kenapa!?" Jaka dan Kiki langsung menghampiri Satriya yang masih meringkuk di tanah."Anak ini...! Gempa tadi terjadi gara-gara anak ini!" Teriak si tentara yang kini sudah kembali bangkit berdiri. Dia terlalu panik hingga membuat pikirannya menjadi tak jernih. "Semua pasukan! Tangkap anak ini!""Hah!? Itu nggak mungkin!" Jaka berusaha melindungi Satriya."Iya... mungkin saja itu benar... " Bisik seorang warga."Gempa yang tadi itu bukan gempa yang seperti biasanya... ""Anak itu pasti menggunakan ilmu hitam... "Semua warga pengungsi serta pasukan-pasukan keamanan yang ada di sana ternyata menelan bulat-bulat kebohongan pria itu. Mereka menaruh keyakinan pada hal yang jelas-jelas tidak masuk akal dan terlalu jauh dari nalar manusia.Para polisi dan tentara langsung mengambil langkah seribu untuk mengepung Satriya, Jaka dan Kiki. Mereka mengarahkan senjata mereka ke arah ketiga anak itu tanpa ragu."Hey! Kalian nggak boleh melukai Kak Satriya!" Teriak Kiki ketakutan. Air matanya mengalir deras di pipinya."Menyingkir dari situ! Atau kalian juga akan kami tembak!" Raung seorang polisi."Cepat laporkan semuanya pada Komandan!""Aku sudah menduganya! sejak awal aku memang sudah curiga pada anak itu! Dia bahkan memiliki mata kuning yang kelihatan bersinar!""Yang benar!?""Segera laporkan!"Rasa nyeri yang dirasakan Satriya tiba-tiba lenyap begitu saja. Matanya yang kuning kini berpendar dan terpaku pada bunga putih yang berada tepat di bawahnya. Tapi, di saat itu pula, ada satu kepingan ingatan yang muncul dalam pandangan Satriya.Di dalam kenangan itu, Satriya melihat sosok Centini yang tengah melangkah ke arahnya bersama dengan seorang gadis kecil berambut pirang, panjang dan amat lebat, sampai-sampai Satriya bisa merasakan kelembutannya hanya dengan melihatnya."Satriya, kemarilah. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, nih." Panggil Centini. "Satriya, perkenalkan, anak ini adalah Merapi. Dia adalah jiwa dari gunung ini.""Hay, Satriya! Salam kenal, ya! Seperti kata Mbak Centini, namaku Merapi. Tapi kamu boleh memanggilku Mera, kok." Ujar anak yang periang itu. "Oh iya! Kamu mau nggak jadi temanku?" Gadis itu tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya ke arah Satriya."Ya, tentu saja." Tangan Satriya perlahan menyambut uluran tangan gadis itu.Saat jemari Satriya bertaut dengan jari Mera, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi, dan bayang-bayang masa lalu itu pun akhirnya pudar. Satriya ditarik kembali ke kenyataan masa kini. Namun, anehnya Satriya bisa mendengar satu suara yang berasal dari bunga mungil itu."Panggil namaku jika kamu membutuhkanku, Satriya... "Suara itu, perkataan itu, seketika melenyapkan semua perasaan benci yang ada di dalam diri Satriya. Kebenciannya pada manusia telah hilang begitu saja. Satriya tidak tahu apakah perasaan bencinya terhadap manusia hanya hilang untuk sementara atau selamanya, tapi yang pasti, tubuh, pikiran, dan hatinya saat ini sudah terasa lebih baik dari sebelumnya.Satria membulatkan tekadnya, kemudian dia berbisik pelan. "Baiklah... Jawablah panggilanku, Merapi.""TEMBAK!""TIDAK!"Sekonyong-konyong, timbul hembusan, atau mungkin ledakan angin yang amat kencang, sampai menghempaskan banyak orang ke belakang, termasuk para pasukan itu. Angin kencang itu berasal dari arah Satriya, seakan-akan dialah yang membuat hal itu terjadi.Satriya bangkit berdiri.Tanah di bawah Satriya tiba-tiba berguncang, dan tak lama kemudian tanah itu mulai terangkat ke atas membawa serta merta Satriya, Jaka, dan Kiki di atasnya. Tanah itu terus naik sangat tinggi ke langit, hingga terlihat seperti sebuah pilar atau batang pohon yang teramat sangat panjang.Orang-orang yang ada di sana terperangah melihat pemandangan itu. Kejadian yang terlalu mustahil untuk terjadi dan tak dapat dicerna oleh akal orang biasa. Dari pada disebut malapetaka, pemandangan itu malah lebih terlihat seperti suatu keajaiban.Setelah beberapa saat, pilar tanah itu akhirnya berhenti naik. Mungkin tingginya kira-kira dua ratus meter di atas permukaan tanah."A-apa yang terjadi, Kak!?" Jerit Jaka yang tampak sangat panik, sementara wajah Kiki dibanjiri oleh air mata. Kedua anak itu memeluk erat pinggang Satriya, karena tanah tempat mereka berpijak tidak bisa dibilang lebar."Kak! A-aku takut!" Cicit Kiki."Kalian tenang saja, aku akan melindungi kalian, kok." Kata Satriya."Halo, Satriya."Seorang gadis berambut pirang keemasan tiba-tiba muncul di depan Satriya. Dia melayang di udara. Senyuman terbentuk di bibir menghiasi wajahnya yang cantik jelita.Satriya melirik ke arah Jaka dan Kiki. Mata mereka tertutup rapat karena saking takutnya, sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan gadis itu."Mera... " Wajah Satriya menjadi tenang. Dia benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan sahabatnya lagi setelah sekian lama. Dan, Satriya juga baru sadar kalau ingatannya ternyata telah kembali seperti semula. "Bagaimana kabarmu, Mera—"Padahal Satriya berniat berbincang-bincang sebentar dengan Mera, tapi gadis itu langsung memotong perkataan Satriya."Aku senang karena kamu membutuhkanku, Satriya. Dan aku juga senang karena kamu telah memanggilku. Sudah lama banget, yah? Tapi... untuk saat ini, akan lebih baik kalau kita menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, oke?""Ya... Aku paham..." Wajah Satriya berubah murung. "Aku juga baru kehilangan ingatanku tadi pagi, cuma sekarang ingatanku sudah kembali lagi. Tapi... rasanya... sangat lama... seolah-olah ingatanku memang sudah hilang selama bertahun-tahun... dan—""Setelah ini selesai, aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu." Kata Mera penuh tekad. "Hidupmu baru dimulai hari ini, Satriya. Kau masih ingat, kan? janji yang kita buat hari itu?"Satriya menganggukan kepala pada pertanyaan Mera. "Kita akan mencari tempat baru untuk hidup bersama-sama seperti orang biasa. Aku, kamu, Centini, dan Nagapathi. Kita berempat... dan juga mereka yang membutuhkan kehidupan.""Nah, karena waktumu sudah diulang kembali hari ini, jadi, ayo kita laksanakan rencana itu sesegera mungkin!"Satriya tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita selesaikan dengan cepat."Mera turun dari udara dan berpijak di tanah tempat Satriya berada.Satriya menghentakan kakinya dengan pelan, dan pada saat itu pula pilar tanah itu langsung bergerak turun mengantarkan mereka kembali ke tempat semula. Orang-orang semakin terkejut karena mereka mendapati keberadaan Mera yang berdiri di samping Satriya."TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK!" Teriakan barbar itu terdengar lagi, dan rentetan hujan peluru dalam sekejap menyerbu dari segala arah.Namun, Mera mengangkat tangannya ke depan, dan tanah di sekitar mereka terangkat ke atas dan menangkis peluru-peluru itu."Sungguh manusia yang tak tahu diuntung." Mera mengibaskan tangannya, dan bersamaan dengan itu, dari dalam tanah muncul tanaman-tanaman sulur yang terlihat hidup. Sulur-sulur itu menyerang para tentara dan polisi yang menembak tadi. Satu per satu mereka dihempaskan dengan sekali pukulan, hingga pingsan."Sudah lebih ratusan tahun aku terus bertahan menghadapi siksaan kalian para manusia. Kalian membakarku, menebangku, dan menghancurkanku. Ya, aku memang hanya sebuah gunung. Tapi, kalian kadang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa orang paling sabar sekalipun memiliki amarah dalam diri mereka. Dan seperti kata pepatah, malapetaka adalah nama lain dari murka orang yang sabar. Oh, maaf, maksudku gunung yang sabar." Mera tersenyum kecil.Orang-orang di sekitar mereka diam bagai patung setelah melihat apa yang bisa dilakukan oleh gadis yang berdiri di samping Satriya. Mata mereka semakin terbuka lebar, dan beberapa bahkan jatuh berlutut.Untuk sesaat suasana menjadi senyap setelahnya, namun keheningan dengan cepat dipecah oleh suara yang berasal dari angkasa. Jauh di langit, terlihat ada banyak helikopter yang sedang menuju ke tempat mereka."Hmm... sepertinya kau agak keterlaluan, Mera." Kata Satriya yang tersenyum pahit."Yah aku juga terpaksa." Jawab Mera seraya berbalik menatap para warga di sekitar. "Tapi sepertinya berita tentang hal-hal aneh yang terjadi di sini sudah sampai di telinga Pak Presiden, jadi situasinya mungkin bakal agak lebih panas sekarang.""Hmm... Yah baiklah." Satriya masih mengamati keberadaan helikopter yang semakin dekat. "Tapi, tolong jangan bunuh mereka, Mera.""Kamu tenang saja. Sudah terlalu banyak nyawa manusia yang melayang hari ini, dan semua itu karena ulahku. Lagi pula, aku juga nggak mau berurusan dengan Dewan." Jelas Mera. "Setelah tertidur selama sepuluh abad, aku akhirnya terbangun karena merasakan kedatanganmu. Namun, setelah kita bertemu, aku malah tertidur lagi karena ikatan itu. Benar-benar membosankan."Satriya bertanya dalam benaknya, bagaimana rasanya tidur selama itu?Mera menarik nafas dalam-dalam lalu dia pun menjelaskan banyak hal pada orang-orang. Mulai dari penjelasan mengenai dirinya sendiri yang merupakan jiwa dari Gunung Merapi, dan juga tentang bencana hari ini yang terjadi karena murkanya pada manusia.Banyak yang memasang wajah bingung saat mendengar penjelasan Mera, tapi tampaknya mereka berusaha untuk menerima kenyataan itu setelah semua yang terjadi di beberapa menit terakhir. Kekuatan-kekuatan aneh yang ditunjukkan Satriya dan Mera rupanya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bukti.Kemudian, Mera memerintahkan pada semua orang untuk pergi sejauh mungkin dari daerah Gunung Merapi. Dia bahkan terang-terangan menyatakan kepada mereka kalau sebentar lagi akan terjadi perang di sini.Namun, tanpa keraguan sedikitpun, orang-orang langsung segera bersiap-siap untuk meninggalkan gunung ini. Para polisi dan tentara yang cukup waras juga membantu melancarkan proses evakuasi itu dan memastikan tak ada satupun orang yang tertinggal, termasuk orang-orang yang dibuat pingsan oleh Mera."Untuk saat ini, lebih baik jika kalian mengikuti mereka." Pinta Satriya pada Jaka dan Kiki."Tapi, Kak, kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi... " Bisik Jaka sedih."Kami nggak punya keluarga di kota." Tambah Kiki.Satriya bersyukur bisa bertemu dengan kedua anak ini. Meski baru beberapa jam saja, tapi Satriya merasa bahwa dia bisa menganggap kedua anak ini lebih dari hanya sekedar kenalan."Dengarkan aku kalian berdua." Satriya berusaha meyakinkan mereka. "Besok pagi aku berencana pergi bersama Ibuku dan juga Mera untuk memulai kehidupan yang baru, dan aku juga berniat untuk mengajak kalian berdua bersamaku."Mata Jaka dan Kiki terbuka lebar mendengarnya."Jadi? Nanti kalian mau ikut denganku, kan?"Jaka dan Kiki bertukar pandang, lalu berkata dengan mantap, "Kami mau, Kak!"Mobil-mobil truk itu perlahan melaju pergi meninggalkan Satriya dan Mera sendirian di tengah lapangan. Namun, Satriya masih bisa melihat dengan jelas sosok Jaka dan Kiki yang berdiri sambil melambaikan tangan."Jadi, kau berniat menjalin ikatan dengan kedua anak itu?" Tanya Mera yang tersenyum simpul."Yah... besok mereka berdua resmi menjadi keluargaku," Satriya menoleh menatap Mera. "Dan juga keluargamu tentu saja.""Baguslah kalau begitu. Lebih banyak orang artinya lebih seru, bukan? Jadi petualangan kita juga nggak akan membosankan." Mera dan Satriya bersama-sama mengalihkan pandangan ke arah kumpulan helikopter yang kini telah berada di atas mereka. "Petualangan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.""Yah, kehidupan yang lebih baik." Bisik Satriya. Mata kuningnya menyala terang."Baiklah. Aku menjawab panggilanmu, Satriya." Tiba-tiba saja, seluruh tubuh Mera memancarkan cahaya yang amat terang benderang hingga berhasil mengusir kegelapan malam.Sosok itu memiliki tubuh yang sangat besar hingga menjulang tinggi ke angkasa. Sosok raksasa yang bangkit dan lahir dari tanah itu bahkan menyerang kendaraan-kendaraan yang melayang di udara dengan membabi buta. Yah, pada dasarnya, raksasa itu baru mulai mengamuk setelah dihujani bom oleh helikopter-helikopter milik pasukan militer itu.Semua penumpang di truk tak mampu berkata-kata saat melihat pemandangan yang ajaib sekaligus amat mengerikan itu. Mata semua orang terbuka lebar. Namun, untung saja mereka sekarang sudah berada cukup dari daerah Gunung Merapi, jadi seharusnya tak ada apapun yang perlu dikhawatirkan lagi untuk saat ini.Tapi anehnya, di antara semua penumpang itu, hanya Jaka dan Kiki saja yang tidak terlihat risau atau tegang. Mereka berdua tersenyum, dan tampak cahaya harapan dalam pandangan mata mereka.Ingatan tentang saat-saat dimana Satriya mengajak mereka untuk hidup bersama masih berputar dalam benak mereka berdua. Setelah sekian lama, mimpi mereka untuk bebas akhirnya terwujud.Kenyataannya, Jaka dan Kiki benar-benar sangat membenci ayahnya, karena setelah ibu mereka meninggal, ayah mereka menjadi agak sinting dan selalu menyiksa mereka serta menyalahkan mereka berdua atas tragedi yang menimpa ibu mereka."Tapi, Kak, kok rasanya aku kayak sudah nggak membenci Ayah lagi, ya?" Kiki tiba-tiba angkat bicara.Perkataan sang Adik malah membuat Jaka teringat kembali dengan saat-saat dimana Ayahnya mendorong mereka berdua waktu tanah terbuka dan hampir menelan mereka. Jaka ingat betul wajah marah ayahnya saat menyuruh mereka lari. Tapi, meski begitu, Jaka juga tidak bisa menyangkal, kalau bukan karena ayahnya mereka berdua pasti sudah tidak akan hidup lagi sampai detik ini."Yah, aku nggak terlalu mengerti, sih. Tapi... aku juga sudah nggak membenci Ayah lagi, kok." Jaka tersenyum lebar. "Entah kenapa aku merasa sangat bahagia sekarang. Kita hidup..."
Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut. “Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda.” kata sang putri, “Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah.”Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam.“Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.
Kisah Putri Mawar Dan Burung Emas
Zaman dahulu kala, di negeri yang amat jauh hiduplah seorang putri cantik yang bernama Putri Mawar. Ia dipanggil begitu karena memiliki rambut panjang berwarna merah yang menyerupai bunga mawar.Setiap malam, ia selalu berdiri di depan balkon istana dan menepuk tangannya. Kemudian, datanglah burung kecil berwarna emas dan hinggap di bahunya. Setiap si burung datang, secara ajaib rambut Putri Mawar mengeluarkan cahaya kemerahan yang amat indah.Burung emas lalu bersenandung nada-nada indah, Putri Mawar mengikutinya dan bernyanyi bersama. Nyanyian mereka, membuat satu kerjaan tidur lelap, nyenyak, dan bermimpi indah. Mereka lakukan hal itu setiap malam.Nyanyian sang putri yang memberi mimpi indah membuat penyihir jahat iri hati. Ia kemudian memberikan sang putri mantra kutukan, “Bim salabim abrakadabra…. hilanglah warna sang mawar!” mantra itu membuat rambut merah sang putri berubah menjadi hitam kelam.Saat malam berikutnya, putri dan burung emas kembali bernyanyi. Namun kali ini, satu kerajaan mengalami mimpi buruk yang amat seram. Sang putri amat bersedih, “Wahai burung emas, katakanlah, apa yang harus kulakukan agar rakyatku kembali bermimpi indah?” ujarnya.Burung emas menjawab, “Putri, rendam rambutmu dalam air mawar.”Putri Mawar menuruti perkataan burung emas. Ajaib, rambutnya kembali berubah menjadi warna merah! Rakyatpun bisa kembali bermimpi indah.Hal ini membuat penyihir semakin marah. Ia kembali memantrai sang putri namun kali ini, ia sekaligus melenyapkan seluruh kelopak mawar yang ada di penjuru negeri.Putri Mawar kembali kebingungan. Ia tidak bisa lagi berendam di air mawar seperti saran burung emas. Ia kemudian berjalan menuju balkon istana dan menangis.Tanpa ia duga, seorang pangeran tampan datang membawa kotak berisi rambut merah. Tanpa sengaja, kotak tersebut terkena tetesan air mata putri yang jatuh. Ajaibnya, air mata sang putri merubah isi kotak tersebut menjadi kelopak mawar yang amat indah.Putri Mawar segera merendam rambutnya dengan air mawar dan ia bisa kembali memberikan mimpi indah bagi seluruh kerjaan.Putri Mawar kemudian menikah dan hidup bahagia selama-lamanya dengan sang pangeran. Sementara si penyihir jahat, akibat tidak bisa menahan amarahnya, ia musnah dan hancur berkeping-keping.
Pohon Kecil Yang Kesepian
Seekor burung gereja menemukan pohon yang sarat dengan buah-buahan mungil berwarna merah hati. Beberapa buah yang matang jatuh dan pecah di bebatuan dekat akar pohon itu. Tampaklah daging buah yang berair dan berbau harum. Burung itu mematuk buah yang sudah ranum. Ia teringat telur-telurnya yang baru menetas tadi malam. Tentulah anak-anaknya sangat kelaparan. Burung itu membawa beberapa buah yang matang sebagai makan siang bagi anak-anaknya.Tidak mudah bagi seekor burung untuk terbang dan membawa buah-buahan di mulutnya. Maka jatuhlah sebutir buah dari mulutnya dan jatuh di permukaan tanah yang lembab di tepi jalan. Buah itu pecah dan bijji-bijinya yang berwarna kuning keemasan sehalus pasir berserakkan di atas tanah. Tanah hitam yang subur dengan senang hati menerima biji-biji itu. Biji-biji itu mendapatkan air dan makanan dari dalam tanah. Namun, hanya sebutir biji yang berhasil tumbuh menjadi tanaman kecil. Mula-mula ia tampak seperti tumbuhan liar yang lemah. Lama kelamaan ia tumbuh tegak, batangnya berkayu dan daun-daunnya yang kasar tumbuh satu per satu.Pohon kecil itu tak punya kawan. Siang dan malam, ia tumbuh sendirian. Ia hanya bisa melihat anak-anak bermain layang-layang di lapangan. Ia ingin punya teman seperti pepohonan lainnya. Dari jauh dilihatnya sekumpulan bamboo yang berkumpul, tumbuh bersama-sama, berbisik dan bercerita seiring angin yang berhembus. Kawanan pohon pisang dengan tunas-tunas kecilnya tampak gembira, bercanda tawa. Ia ingin seperti mereka.Siang itu seekor burung hinggap di batangnya yang rapuh. “Burung yang cantik, maukah kau menjadi kawanku? Kau bisa membuat sarangmu di dahanku sehingga kita dapat bercakap-cakap setiap hari?” sapanya lembut. “Tidak, dahanmu terlalu kecil dan rapuh. Kau tak akan kuat menopang sarangku,’ katanya sambil beranjak pergi. Pohon itu sedih sekali mendengarnya.Pada suatu malam yang dingin, ia melihat sebuah bayangan berkelebat di sekitar tubuhnya. Ia agak gemetar entah karena takut atau kedinginan. Ternyata bayangan itu adalah seekor kelelawar. Ia memberanikan diri menyapanya, “Tuan kelelawar yang baik, maukah kau menjadi temanku? Kau bisa tidur di dahanku di siang hari dan memakan daun-daunku di malam hari.” “Tidak,” jawab kelelawar. “Dedaunan bukanlah makananku. Aku makan buah-buahan yang manis dan berair,”katanya dengan tegas.Ketika embun sejuk mulai menguap terkena sinar matahari, seekor kucing mengeong lembut di dekat akar pohon kecil itu. Pohon kecil ingin sekali berteman dengan kucing berbulu halus itu. “Kucing kecil yang lucu, maukah kau berteman denganku? Kau bisa tidur di bawah naunganku waktu matahari tepat berada di atas kepalamu,” ajaknya.”Maaf, pohon kecil, daun-daunmu tidak akan mampu memberi keteduhan. Mereka tidak cukup rapat untuk memayungiku,” jawabnya dengan sopan. Pohon kecil itu tertunduk lesu.Pohon kecil itu tidak putus asa. Ia malah berusaha untuk tumbuh lebih kuat, besar dan berbuah banyak. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya, dihisapnya air dengan akar-akarnya dan dibiarkannya matahari menyinari dedaunanya. Akhirnya ia tumbuh besar dan tinggi. Di suatu pagi yang cerah muncullah bunga-bunga cantik berkelopak halus berwarna putih di sela-sela daun-daunnya. Pohon kecil girang bukan kepalang. Datanglah kumbang dan kupu-kupu menyapanya. Kaki-kaki kumbang dan kupu-kupu yang mungil membawa serbuk sari berwarna kekuningan ke kepala putik. Ketika angin bertiup kencang, serbuk sari melayang-layang di udara membawa bau harum mengundang makin banyak serangga datang.Serbuk sari membuahi kepala putik. Dalam beberapa hari, bunga-bunga putih berubah menjadi buah muda berwarna hijau. Semakin lama buah hijau membesar dan berubah warna dari hijau menjadi kekuningan, merah muda dan akhirnya menjadi merah hati. Pohon yang dulu kecil telah berubah menjadi besar dengan cabang-cabang yang kuat dan lebar. Daun-daunnya berjajar rapat, memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya.Ketika ia sedang tertidur lelap, ia merasakan ada cakar-cakar kecil mencengkeram rantingnya . ternyata Tuan kelelawar sedang memakan buah-buah merah hatinya. “Ehm, selamat malam, Tuan Kelelawar,”katanya pelan-pelan. “Uh, oh, selamat malam, eh, nyam..nyamm!” jawab Tuan Kelelawar dengan mulut penuh. ”Bolehkah aku menumpang tidur di cabangmu malam ini? Buah-buahmu sangat lezat. Aku tidak bisa berhenti memakannya,” lanjutnya. “Oh, tentu saja Tuan Kelelawar. Aku bahkan berterimakasih kau mau menemaniku sepanjang malam.” Tuan Kelelawar terus mengunjunginya sepanjang tahun karena pohon itu tidak pernah berhenti berbuah.Burung-burung mulai datang membawa ranting-ranting, jerami kering dan membangun sarang yang nyaman di dahannya. Dahan pohon itu berkembang menjadi dahan yang kokoh untuk menopang sarang-sarang burung. “Pohon yang kuat, bolehkah aku membangun sarang di dahanmu? Sebentar lagi waktunya bertelur. Aku harus menyiapkan tempat yang hangat untuk telur-telurku,” kata seekor burung gereja . “Tentu, saja kau boleh tinggal di sini, bahkan kau pun boleh memakan buah-buahku kalau kau mau,” jawab pohon itu.Di siang hari yang terik, datanglah binatang-binatang lainnya. Seekor kucing, seekor kadal berekor panjang dan barisan semut-semut kecil berwarna hitam beristirahat di bawah keteduhan daun-daunnya yang rimbun. Bahkan anak-anak kecil yang sudah lelah bermain mulai berteduh dan berusaha meraih buah-buahnya yang manis menyegarkan. Tidak ada yang lebih membuat pohon itu bahagia selain mendapatkan banyak teman dan menolong mereka. Malam ini ia tidur dengan nyenyak dan bahagia.
Si Lancang
Konon, jauh sebelum waktu mengenal namamu, hiduplah seorang perempuan renta di sebuah gubuk yang hampir menyerah pada usianya. Ia hanya ditemani seorang anak laki-laki—satu-satunya cahaya yang pernah dimilikinya. Anak itu, Lancang, tumbuh dengan tangan yang tak pernah berhenti bekerja, namun hatinya selalu ingin terbang lebih jauh dari tanah kelahirannya.Pada suatu hari, keinginan itu pecah menjadi kata. Ia meminta izin untuk pergi, meninggalkan pelukan ibunya, mengejar dunia yang lebih luas. Sang ibu, meski hatinya remuk, hanya mampu melepas dengan doa—bahwa anaknya takkan melupakan akar yang membesarkannya.Lancang pun pergi. Hari berganti tahun, dan tahun berubah menjadi gemintang yang berulang. Di negeri jauh, ia menjadi orang besar—hartanya bertumpuk, kapalnya pulang-pergi membawa kekayaan, dan perempuan-perempuan cantik memanggilnya suami.Namun di kampungnya, sang ibu tetap hidup sederhana, menua dalam sepi, menggantungkan harapan pada kepulangan yang tak pernah pasti.Suatu ketika, kapal megah itu kembali. Orang-orang berkumpul, memandangi lengkung emas yang menghiasinya. Kabar itu sampai pada si ibu—bahwa anaknya telah pulang. Dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan, langkahnya goyah tapi hatinya penuh rindu.Namun setibanya di pelabuhan, ia hanya disambut tatapan asing. Lancang berdiri di atas geladak, dikelilingi istri-istrinya, wajahnya dingin seperti tak pernah mengenal perempuan yang melahirkannya.“Dia bukan ibuku,” katanya. Dan seketika dunia sang ibu runtuh tanpa suara.Perempuan renta itu pulang dengan hati yang patah, hanya ditemani hujan yang seperti ikut bersedih. Di rumahnya, ia meraih lesung pusaka—benda tua yang hanya disentuh saat doa tak lagi mampu menahan luka. Dengan air mata yang tak bisa ia sembunyikan, ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kepada anak yang ia besarkan dengan kasih paling dalam.Saat doa itu terucap, angin mendadak berubah arah. Badai lahir dari langit yang kelam, menyambar kapal megah itu. Suara petir menggulung namanya, dan kapal Lancang hancur diterjang gelombang Sungai Kampar. Jeritan penyesalan terdengar samar di antara debur air.Setelah badai reda, hanya sisa-sisa kapal yang terdampar di berbagai penjuru: kain sutra yang menjadi lipatan tanah, gong yang berubah menjadi batu legenda, dan danau yang menjadi penanda kisah itu.Sejak hari itu, orang-orang Kampar percaya bahwa luapan sungai bukan sekadar karena hujan, tetapi karena jejak kesedihan Lancang yang tak pernah tuntas—penyesalan seorang anak yang terlambat mengenali cintanya sendiri.
Puteri Junjung Buih
Alkisah di Kalimantan Selatan, berdirilah Kerajaan Amuntai. Rakyatnya hidup damai sejahtera di bawah pemerintahan dua pemimpin, Raja Patmaraga dan adiknya, Raja Sukmaraga. Kedua raja itu memerintah dengan adil, saling menghargai, serta hidup rukun. Namun ada satu hal yang mengurangi kebahagiaan mereka, yaitu mereka belum dikaruniai anak.Sang adik, Raja Sukmaraga dan istrinya, sangat mendambakan putra kembar. Dan mereka terus-menerus memintanya dalam doa. Akhirnya, Tuhan mengabulkan doa mereka. Raja Sukmaraga sangat bahagia, setiap malam ia mengelus perut istrinya sambil berkata, “Semoga anak di kandunganmu ini putra kembar yang cakap.” Istrinya hanya tersenyum tapi dalam hati mengiyakan harapan itu. Setelah mengandung sembilan bulan, lahirlah putra kembar yang tampan. Raja Sukmaraga mengumumkan berita bahagia itu pada kakaknya dan seluruh rakyat.Raja Patmaraga juga turut berbahagia atas kelahiran kemenakannya itu. Namun dalam hati, ia sangat sedih. Ia juga ingin dikaruniai anak. Tak harus sepasang anak laki-laki, anak perempuan pun akan ia terima dengan suka cita. Raja Patmaraga berdoa, memohon petunjuk Tuhan. Ia mendapat jawaban lewat mimpi. Dalam mimpinya, Raja Patmaraga diminta untuk bertapa di Candi Agung yang berlokasi di luar Kerajaan Amuntai. Esok harinya, tanpa menunda-nunda lagi, Raja Patmaraga berangkat bersama beberapa pengawal dan tetua istana, Datuk Pujung.Di sana, Raja Patmaraga segera bertapa selama beberapa hari. Meski pun belum mendapat petunjuk, ia yakin Tuhan akan mengabulkan doanya. Benar saja! Dalam perjalanan pulang, Raja Patmaraga melewati sungai. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik terapung-apung di sungai itu.“Apa itu? Apakah aku tak salah lihat? Bagaimana bisa ada bayi di sini?” tanyanya dalam hati.Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat bayi itu. “Datuk Pujung, bantulah aku menggendong bayi ini.” Dengan sigap Datuk Pujung mengambil bayi itu dari pelukan Raja Patmaraga. Betapa herannya mereka, bayi itu tidak menangis melainkan berbicara!Mereka ternganga mendengar kata-kata yang tercucap dari mulut bayi itu, “Jangan bawa aku seperti ini. Mintalah 40 wanita cantik untuk menjemputku. Satu lagi, aku tak bisa ikut dalam keadaan telanjang seperti ini. Kalian harus menyediakan selimut; selimut yang ditenun dalam waktu setengah hari saja.”Raja Patmaraga segera memerintahkan Datuk Pujung untuk kembali ke istana dan mengadakan sayembara untuk mendapatkan selimut yang diminta bayi itu. Selain itu, ia juga harus mengumpulkan 40 wanita cantik.“Pengumuman, Raja Patmaraga sedang menunggu kita. Barang siapa mampu menenun selembar selimut untuk bayi dalam waktu setengah hari, akan diangkat menjadi pengasuh bayi,” kata Datuk Pujung.Mendengar pengumuman itu, rakyat gaduh dengan bisikan-bisikan yang menanyakan siapa kira-kira yang mampu menenun selembar selimut dalam waktu setengah hari. Para wanita mulai bekerja. Mereka menggunakan benang terbaik. Namun sampai waktu yang ditentukan, tak seorang pun yang selesai. Datuk Pujung nyaris putus asa, ketika tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.“Tuanku, ini selimut hasil tenunanku. Periksalah dengan cermat apakah selimut ini cukup untuk menyelimuti bayi Raja Patmaraga,” katanya sambil menyerahkan selimut yang dilipat rapi.Datuk Pujung membuka lipatan selimut tersebut dan “Waaahhh… indah sekali selimut itu,” gumam para wanita yang berkerumun di sekitar Datuk Pujung. “Siapakah namamu? Aku rasa kau pantas menjadi pengasuh bayi Raja Patmaraga,” kata Datuk Pujung.“Nama saya Ratu Kuripan. Saya akan sangat senang jika Raja Patmaraga berkenan menjadikan saya pengasuh untuk putrinya,” jawab wanita itu.Datuk Pujung, Ratu Kuripan, dan 40 wanita cantik berangkat menjemput Raja Patmaraga. Bayi itu dibungkus dengan selimut buatan Ratu Kuripan. “Cantik sekali. Karena kau kutemukan terapung di atas buih-buih, maka kau kunamakan Putri Junjung Buih,” kata Raja Patmaraga.Bayi itu tersenyum, seolah setuju dengan Raja Patmaraga. Kebahagiaan rakyat Amuntai telah lengkap bersama dua raja dan putra-putri mereka. Negeri itu hidup damai dan bahagia.Pesan moral dari cerita ini adalah: merawat milik kita dengan baik adalah salah satu cara bersyukur. Jika menginginkan sesuatu, berusahalah hingga itu terwujud.
KESETIAAN SEEKOR HARIMAU
Pada jaman dahulu, ada sepasang suami istri di Tasikmalaya. Kehidupan mereka cukup tentram dan bahagia. Pada suatu hari mereka menemukan seekor harimau kecil yang ditinggal mati oleh induknya. Harimau itu dipelihara oleh oleh mereka, dididik dan diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Ternyata hewan itu tahu diri, ia menjadi penurut kepada sepasang suami istri itu. Harimau pun tumbuh menjadi besar, ia cerdas dan tangkas.Kemudian sepasang suami istri itu menamainya Si Loreng.Demikian erat hubungan Si Loreng dengan suami istri itu sehingga ia dapat mengerti kata-kata yang diucapkan suami istri itu. Kalau ia disuruh pasti menurut dan mengerjakan perintah suami istri itu dengan baik.Suami istri yang bekerja sebagai petani itu semakin berbahagia ketika lahir anak mereka seorang bayi laki-laki yang sehat dan menyenangkan. Inilah saat bahagia yang mereka tunggu-tunggu sejak lama. Apabila mereka pergi bekerja ke sawah, bayinya ditinggal di rumah. Si Loreng ditugaskan untuk menjaga keselamatan bayi itu. Hal ini berlangung selama beberapa bulan.Sepasang suami istri itu semakin sayang kepada Si Loreng kerna hewan itu ternyata dapat dipercaya menjaga keselamatan anak mereka.Pada suatu siang yang terik, istri petani pergi ke sawah untuk mengirim makanan kepada suaminya. Melihat kedatangan istrinya si suami segera menghentikan pekerjaannya. Disana si suami melahap makanan yang dihidangkan istrinya.Baru saja setelah makan dan minum, tiba-tiba mereka mendengar suara gerengan si Loreng. Si Loreng nampak lari pontang-pantin melewati pematang sawah terus menuju dangau. Si Loreng mengibaskan ekorna berkali-kali dengan lembut sembari menggosok-gosokkan badannya kepada suami istri itu."Kakang, mengapa tingkah Si Loreng tidak seperti biasanya?", tanya si istri."Iya Istriku... Aneh sekali. Ada apa gerangan?" sahut sang suami."Kakang lihat!!! Mulut Si Loreng penuh dengan darah!!!!", teriak sang istriSang suami tersentak kaget, mulut Si Loreng memang berlumuran darah."Loreng...? Jangan-jangan kau telah menerkam anakku. Kau telah membunuh anakku!!" kata sang suami.Si Loreng menggeleng-gelengkan kepalanya, sehingga darah dibagian mulutnya berhamburan. Si suami seketika meluap amarahnya. Ia segera mencabut goloknya dan memenggal kepala Si Loreng. Si Loreng tak menduga disreang secara tiba-tiba sehinnga ia pun tak sempat mengelak. Harimau itu mengeram kesakitan, ia tidak melawan, hanya sepasang matanya memandang kearah sepasang suami istri itu dengan penuh rasa penasaran. Karena hewan itu belum mati, si suami segera mengayunkan goloknyadengan penuh kemarahan hingga tiga kali. Putuslah leher Si Loreng dari badannya. Hewan itu tewas dengan cara mengenaskan."Kakang! Cepat kita Pulang!"Mereka segera berlari ke rumahnya.Sampai di rumah, mereka mendapati anaknya masih berada dalam ayunannya. Bayi itu nampak tertidur nyenyak. Dirabanya tubuh anak itu, diguncang-guncang tubuhnya. Si bayi pun terbangun dan tersenyum melihat kedatangan orang tuanya.Kedua suami istri itu bersyukur karena bayinya selamat dan masih hidup. Setelah puas memandangi anaknya, mereka merasa lega atas keselamatan anaknya. Kini mereka celingukan, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Perhatian mereka terpusat pada tempat sekitar ayunan anaknya bagian bawah. Mereka mendapatkan bangkai seekor ular yang sangat besar berlumuran darah tergeletak di bawah ayunan. Sadarlah kedua suami istri itu bahwa Si Loreng telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya dari bahaya, yaitu dari serangan ular besar.Mereka sangat menyesal, terlebih sang suami karena telah tergesa-gesa membunuh harimau kesayangannya.
Ande-Ande Lumut
Pada zaman dahulu, ada sebuah Kerajaan besar yang bernama Kerajaan Kahuripan. Namun, untuk mencegah perang persaudaraan, Kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Suatu hari sebelum Raja Erlangga meninggal, ia berpesan untuk menyatukan kembali kedua kerajaan tersebut.Akhirnya, kedua kerajaan tersebut bersepakat untuk menyatukan kedua kerajaan dengan cara menikahkan Pangeran dari Kerajaan Jenggala, yaitu Raden Panji Asmara Bangun, dengan putri cantik Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri.Namun, keputusan untuk menikahkan Pangeran Raden Panji Asmara Bangun dengan Putri Sekartaji ditentang oleh ibu tiri Putri Sekartaji. Karena istri kedua dari Kerajaan Kediri iri hati pada Putri Sekartaji, ia berniat menyingkirkannya. Putri Sekartaji pun melarikan diri dan menyamar sebagai gadis desa biasa.Suatu hari, ketika Putri Sekar tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis cantik. Nama ketiga anak janda tersebut adalah Klenting Merah, Klenting Biru, dan Klenting Ijo. Akhirnya, Putri Sekar pun mengganti namanya menjadi Klenting Kuning.Mendengar berita yang bersumber dari desa Dadapan, kabar itu menyebutkan bahwa Mbok Randa mempunyai anak angkat seorang pemuda tampan. Anak angkat itu bernama Ande-Ande Lumut. Ketampanan Ande-Ande Lumut sangat terkenal sehingga banyak gadis yang datang ke desa Dadapan untuk melamarnya.Kabar tentang Ande-Ande Lumut sedang mencari istri terdengar oleh keempat gadis cantik tersebut. Akhirnya, sang janda menyuruh anak-anaknya pergi menemui Ande-Ande Lumut.Suatu hari, mereka segera berangkat. Namun mereka hanya bertiga karena Klenting Kuning mempunyai pekerjaan rumah yang belum selesai. Dalam perjalanan, ketiga kakak Klenting Kuning kebingungan karena harus menyeberang sungai. Tiba-tiba muncul pemuda bernama Yuyu Kangkang. Ia menawarkan bantuan menyeberangkan mereka, tetapi dengan syarat ia boleh mencium mereka. Awalnya mereka menolak, namun karena tidak ada jalan lain, mereka terpaksa menyetujuinya.Sesampainya di rumah Mbok Randa, gadis-gadis itu langsung memperkenalkan diri. Namun, Ande-Ande Lumut menolak semuanya.Sementara itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Klenting Kuning pergi menyusul ketiga kakaknya. Saat di sungai, ia juga ditawari bantuan oleh Yuyu Kangkang. Namun Klenting Kuning menolak dengan tegas. Ia bahkan mengolesi pipinya dengan kotoran ayam sehingga Yuyu Kangkang jijik dan pergi.Setelah berhasil menyeberang, Klenting Kuning tiba di rumah Mbok Randa. Melihat tingkah dan penampilannya yang sangat sederhana dan kumal, Ande-Ande Lumut justru menyambutnya dengan senyum bahagia. Mbok Randa pun kaget melihat anak angkatnya itu bersikap berbeda.Akhirnya, Ande-Ande Lumut mengakui identitasnya. Ia sebenarnya adalah Pangeran Raden Panji Asmara Bangun. Klenting Kuning juga mengungkapkan bahwa dirinya adalah Putri Sekartaji.Ketiga kakaknya sangat terkejut mengetahui bahwa gadis yang selama ini mereka perlakukan dengan tidak baik rupanya adalah putri raja yang sangat cantik.Tak lama kemudian, mereka semua dikejutkan oleh Ande-Ande Lumut yang membuka kedok aslinya sebagai pangeran. Klenting Kuning dan Raden Panji kembali dipersatukan. Akhirnya Raden Panji membawa Putri Sekartaji dan ibu angkatnya, Mbok Randa, kembali ke Kerajaan Jenggala. Mereka pun segera melangsungkan pernikahan.Akhirnya, Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala dapat bersatu kembali.
Majalengka
Alkisah pada zaman dahulu kala, terdapat suatu negeri yang aman dan makmur, yang dikenal dengan nama Negeri Panyidagan. Ratu yang memerintah negeri itu sangat cantik, ia bernama Ratu Ayu Panyidagan, ada juga yang menyebut Ratu Ayu Rambut Kasih, dan ada juga yang menyebut Nyi Rambut Kasih saja.Kecantikan Ratu Ayu Panyidagan ini tiada tandingannya, sehingga jika dilukiskan dengan kata-kata oleh penyair seperti, Badannya ramping bagai pohon pinang, rambutnya hitam dan panjang bagai mayang terurai, wajahnya berseri bagai bulan empat belas hari, alisnya bagai bentuk taji,hidungnya mancung bagai bunga melur, matanya bagai bintang timur, telinganya bagai kerang,bibirnya bagai delima merekah, giginya bagai dua barisan mutiara, dagunya bagai lebah bergantung, jarinya bagai duri landak, pepat kukunya bagai paha belalang, betisnya bagai perut padi, tumitnya bagai telur burung.Menurut cerita dari mulut ke mulut Ratu mendapat pujian Ratu Ramping Kasih karena semua orang (rakyat negeri ini) tidak berani menatap wajah Ratu yang cantik dan berwibawa itu, mereka hanya berani menatap bila Ratu telah pergi membelakangi mereka. Mereka hanya dapat melihat badannya yang ramping dan rambutnya yang hitam bergelombang menutupi badannya.Rambut Ratu yang indah itu menimbulkan rasa kasih setiap orang yang melihatnya sehingga semua orang memuji kecantikannya yang sesuai dengan tingkah lakunya yang ramah tamah dan baik budi bahasanya. Oleh sebab itu memberi julukan Ratu Ayu Rambut Kasih.Selain itu, beliau mempunyai ilmu lahir dan ilmu batin, lagi pula beliau dapat meramalkan kejadian yang akan dialaminya.Dalam pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan yang adil dan bijaksana itu,kesejahteraan rakyat terjamin, baik petani maupun pedagang merasa aman dan tenteram menggarap pekerjaannya karena tak pernah ada pencuri dan perampok yang mengganggu kekayaannya. Pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan dibantu oleh para Patih yang terkenal dalam bidang kesejahteraan dan keamanan negara, yaitu Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur.Pada suatu hari, Ratu Ayu Panyidagan mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh para menteri dan para punggawa negara, bahkan rakyat pun boleh mendengarkan asal tidak mengganggu suasana perundingan itu. Setelah semua undangan hadir, barulah Ratu Ayu Panyidagan keluar dari Kaputren menuju ruang pendopo kemudian duduk di hadapan para menteri dan punggawa negara. Semua yang hadir tak ada yang berbicara, semuanya diam, semuanya menundukkan kepalanya tanda hormat dan takut menghadapi Ratu Ayu Panyidagan yang berwibawa itu.Setelah suasana di pendopo itu tertib, kemudian sang ratu bersabda;"Para menteri dan para punggawa Negara Panyidagan yang hadir, sekarang sudah waktunya atas kehendak Sang Hyang, negara kita akan menghadapi cobaan. Menurut wangsit yang kami terima, kelak kerajaan ini akan berubah. Oleh sebab itu, hadirin harus waspada dan siap-siaga menghadapi malapetaka yang akan datang. Bila ada huru-hara di luar kerajaan, kalian harus cepat memusnahkannya, jangan sampai musuh dapat masuk dan mengganggu ketertiban negara. Lindungilah rakyat dari segala bencana yang mengancam negara kita. Tentramkanlah hati rakyat supaya mereka tenteram mengerjakan tugas masing-masing dengan baik. Para petani tentram bertani supaya hasilnya akan lebih baik, dan para pedagang tentram berdagang, jangan sampai dikejar-kejar hutang dan diganggu oleh pencuri atau perampok. Tapi, kalau ada utusan dari negara lain yang akan bersahabat dan berbuat demi kesejahteraan kita semua, terimalah dengan baik dan ramah tamah, Mengerti?""Yakseni, yakseni ..., hadirin serempak menjawab.Sang Ratu bersabda lagi;"Sebentar lagi kami akan menerima tamu. Menurut ramalanku, orang yang datang tegap dan cakap, tetapi orang itu akan menimbulkan bencana bagi diri kami, hanya saja kami belum tahu bencana apa yang akan terjadi. Akan tetapi, semua rakyat Panyidangan tidak akan mendapat bencana, hanya berubah keyakinan dan kepercayaan, sesudah kerajaan ini lepas dari tangan kami. Nah sekian nasehat kami. Sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan aman dan tentram."Terhadap semua nasehat Ratu, tak ada yang berani menentangnya, sebab mereka yakin bahwa semua ucapan Ratu pasti terjadi. Demikian juga, Ki Gedeng Cigobang, Ki Dedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur menerima tugas menjaga negara. Setelah siap dan mengumpulkan segara perkakas mereka pergi ke sebelah utara untuk menjaga perbatasan negara. Setibanya di sana, ketiga Senapati itu segera membuat pondok penjaga. Dari tempat ini mereka dapat melihat ke seluruh penjuru dengan jelas. Baik siang maupun malam mereka dapat melihat siapa yang lewat melalui jalan masuk ke negeri Panyidangan. Setiap orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai terlebih dahulu, karena tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Tempat penjagaan Ki Gedeng Cigobang itu, sekarang terkenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata penjagaan).Pada suatu waktu, ketika Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang asyik berbincang-bincang, tidak diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu kelihatan seorang pemuda sedang menyeberangi suangai, akan masuk ke Negeri Panyidagan. Alangkah terkejutnya mereka melihat kejadian itu. Mereka sudah meramalkan akan terjadi apa-apa kalau pemuda itu tidak segera ditangkap.Ketiga Senapati itu memanggil orang yang sedang menyeberangi sungai,"Hai orang yang sedang menyeberangi sungai, siapa namamu dan mengapa kamu berani menyeberangi sungai tanpa ijin kami?"Orang yang sedang menyeberang itu tidak menghiraukan teriakan ketiga senapati itu, ia terus menyeberangi sampai ke tepi sungai itu dan pergi menjauhi ketiga Senapai itu. Ketiga Senapati itu sangat marah melihat kelakuan pemuda tersebut, kemudian mereka lari mengejar orang itu dengan maksud akan mengeroyok, karena orang itu sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka.Orang yang menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon, dengan maksud akan minta minta pertolongan Ratu Ayu Panyidangan. Ia akan minta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidangan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon, karena waktu itu di daerah Cirebon sedang terjangkit wabah penyakit yang harus diobati oleh Godongan buah maja yang banyak terdapat di daerah Panyidagan. Utusan itu bernama Pangeran Muhamad. Selain mendapat tugas mencari buah maja, dia juga mendapat tugas meng-Islamkan orang-orang yang masih menyembah berhala.Kita kembali menceritakan Pangeran Muhammad yang sedang dikejar oleh ketiga Senapati itu. Ia lari tunggang-langgang menuju ke arah barat. Ketiga Senapati itu berusaha menangkapnya dan akan menyerahkan kepada Ratunya. Tetapi Senapati itu kalah cepat, buronannya makin jauh. Akhirnya mereka menggunakan siasat baru dengan jalan mengepung Pangeran Muhamad dari beberapa penjuru. Seorang mengepung dari sebelah utara, yang seorang lagi dari sebelah barat, dan seorang lagi dari sebelah selatan. Akhirnya Pangeran Muhamad terkepung juga. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, akhirnya Pangeran Muhamad bersembunyi dalam suatu rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia terpekur minta perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mengucapkan syahadat tiga kali dan merentakkan kakinya. Tanah yang diinjak itu pun terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad masuk ke dalam lubang itu. Setelah Pangeran Muhamad. Setelah Pangeran Muhamad berada di dalam itu, tanah yang retak itu tertutup kembali seperti sedia kala.Ketiga Senapati itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolak-balik kian-kemari mencarinya, setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang tak ada satu rumput pun yang disisakannya, tetapi orang itu belum dijumpai, menghilang tanpa bekas. Ketiga Senapati sudah putus asa, semua daya upaya sudah dilaksanakan, tetapi masih juga belum berhasil. Akhirnya mereka duduk bertekuk lutut memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada Sang Ratu. Setelah berunding, mereka pergi bersama-sama menuju ke dalam Panyidangan.Setelah itu, Pangeran Muhamad yang ada di dalam tanah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. mohon diberi kekuatan agar dapat keluar dari dalam tanah. Ia mencoba keluar dari dalam tanah dengan jalan mengorek dan melubanginya, lama-kelamaan ia dapat keluar melalui lubang di dalam tanah itu dan muncul kembali di suatu tempat, yang sekarang terkenal dengan nama Kampung Munjul (muncul).Penglihatan Pangeran Muhamad masih tetap gelap, segelap di dalam tanah walaupun ia sudah berada di atas tanah. Pangeran Muhamad melanjutkan perjalanan menuju ketempat datangnya cahaya, makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan itu dan akhirnya cahaya itu menghilang. Setelah diselidiki, ternyata cahaya yang memancar itu keluar dari "supa lumat" yang ada pada pohon-pohon jati yang berjejer di sepanjang jalan itu. Kemudian Pangeran Muhamad memberi nama tempat ini jadi pamor yaitu kebun jati yang berpamor atau bercahaya.Sementara itu, ketiga Senapati yang sedang mencari Pangeran Muhamad. Mereka sudah ada di kadaleman dan akan melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ratu Ayu Panyidagan. Mereka duduk pada bangku sambil membicarakan buronan yang hilang.Ketika sedang asyik bercakap-cakap, Ratu Ayu Panyidagan datang ke pendopo menuju ke arah ketiga Senapati yang menundukkan kepala karena malu dan bingung mencari kata-kata yang tepat untuk melaporkan.Kemudian Ratu Ayu Panyidagan bersabda," Hai para Senapati! Mengapa kalian tidak melaksanakan tugas menjaga negara, kalau-kalau ada orang yang masuk ke kerajaan tanpa ijin.""Ya Tuanku, hamba datang dari perbatasan negara akan melaporkan bahwa kemarin ketika hamba bertiga sedang menjaga perbatasan, tiba-tiba ada orang yang sedang menyeberangi sungai di dekat perbatasan. Hamba bertiga menegurnya, tetapi orang itu tidak mau menjawab, bahkan ia lari tunggang-langgang. Hamba bertiga mengepungnya, kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Semua rumpun telah hamba tebas sampai tak ada satupun rumpun pun yang tertinggal.""Aku tak percaya terhadap berita itu. Sekarang kalian harus mencari orang itu sampai dapat, dan bawa kemari. Sebelum tertangkap, kalian tidak boleh kembali. Pergilah sekarang juga dan tangkap hidup-hidup."Ketiga orang itu pergi meninggalkan pendopo untuk mencari buronan yang belum tertangkap itu. Mereka pergi lagi ketempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengobrak-abrik tempat itu, tetapi mereka masih belum juga menjumpainya. Sebenarnya Pangeran Muhamad sudah tidak ada di tempat itu, ia sudah sampai ke daerah Panyidagan.Sementara, ketiga senapati tersebut terus mencari, hutan dijelajahi, gua-gua dimasuki, akhirnya sampailah ia ketempat Pangeran Muhamad sedang sedang beristirahat: yaitu di kebun jati yang penuh dengan jamur yang menempel pada kayu jati dan mengeluarkan sinar di waktu malam. Mereka gembira karena dari jauh terlihat seseorang sedang berjalan menuju kearah Panyidagan. Ketiga senapati itu sudah siap siaga akan menangkapnya. Mereka berjalan sambil membungkukkan badannya supaya buronan itu tidak melarikan diri atau menghilang lagi. Setelah dekat, mereka serentak menangkapnya dan dibawa kebawa ke kaputren.Baru saja sampai di halaman kaputren, Ratu Ayu Panyidagan sudah keluar dan bersabda," Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Perlakukan orang itu seperti menerima tamu."Ketiga Senapati itu tidak bisa membantah, mereka melepaskan Pangeran Muhammad dan disuruhnya ia beristirahat dan mandi dulu sebelum menghadap ratu. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Setelah itu Pangeran Muhammad disuruh menghadap ke kaputren. Ketika Pangeran Muhammad sedang berjalan menuju kaputren, Ratu Ayu Panyidagan memperhatikan dari jendela. Beliau terpesona melihat pemuda yang gagah dan cakap itu sehingga timbul rasa ingin dipersunting oleh pemuda itu.Setelah Pangeran Muhammad berada di hadapannya, kemudian Ratu Ayu Panyidagan bertanya, "Hai pemuda, kamu berasal dari daerah mana? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini, dan apa maksudmu datang kemari?""Hamba ini berasal dari Cirebon. Hamba datang kesini diutus oleh Sunuhun Jati, mencari buah maja yang ada di daerah kerajaan Panyidagan untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit demam. Oleh sebab itu, mudah-mudahan Tuan hamba bersedia menolong rakyat kerajaan yang sedang menderita sakit demam itu, dan mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah tuan hamba.""Hanya itu permintaanmu?""Ya Tuanku, hanya itulah permohonan hamba ini!""Baiklah akan kami penuhi permintaanmu ini, bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu, asal kamu memenuhi syarat ini.""Ya Tuanku, apa yang menjadi syaratnya?""Syaratnya sangat mudah, coba dengarkan! Saya adalah seorang Ratu yang termasyur dan dihormati oleh semua rakyat Panyidagan, para Menteri, Patih, serta para penggawa kami semuanya sangat setia. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diri saya. Saya ingin mempunyai keturunan untuk melanjutkan kerajaan Panyidagan ini. Pilihan yang paling sesuai untuk menjadi suamiku, hanyalah engkau seorang diri. Nah, itulah sebabnya syaratnya! Bagaimana, apakah dapat kamu laksanakan?""Ampun Tuan hamba, syarat ini terlalu berat. Bukan tidak mengagumi kecantikan Tuan Putri dan menurut perasaan hamba tidak ada yang tidak tertarik oleh kecantikan Tuanku. Bukan hamba menolak anugerah Tuan Putri ini, hanya ada rintangan yang sangat berat yaitu hamba ini sudah mempunyai istri. Dan lagi menurut agama hamba tidak baik mencintai orang yang sudah punya istri."Sesudah Ratu Ayu Panyidagan mendengar jawaban Pangeran Muhammad, beliau sangat murka ditolak oleh pemuda itu. Beliau berteriak memanggil Patih. "Patih, tangkap orang ini, masukkan ke dalam penjara, jangan sampai dapat kembali ke Cirebon. Obat yang berupa buah maja tidak dapat dimilikinya dan dibawanya ke Cirebon, bahkan kebunnya pun kuhancurkan sampai akar-akarnya.Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Tidak berapa lama langit mendung, makin lama makin gelap, dan turunlah hujan yang sangat derasnya, sehingga orang-orang masuk ke rumah masing-masing karena merasa sangat takut oleh hujan yang sangat deras itu. Keesokan harinya langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta. Rakyat Panyidagan akan pergi mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Semua orang terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang berubah, kaputren menghilang beserta Ratu Panyidagan. Kebun Maja yang lebat itu hilang tanpa bekas. Semua rakyat ribut sambil berteriak, "Gusti Ratu menghilang, maja................... langka, maja .................. langka, majalangka ......!" sejak itu timbul sebutan majalangka, yang sekarang terkenal dengan nama Majalengka.Kemudian Pangeran Muhammad yang diutus Sinuhun Jati mencari buah maja lagi, akan tetapi tidak berhasil karena buah maja sudah tidak ada, kemudian ia bertapa di gunung Haur sampai meninggal. Jenazahnya dikebumikan di sana. Sejak itu Gunung Haur terkenal dengan nama Margatapa. Demikianlah asal muasal daerah Majalengka di Propinsi Jawa Barat.
Batu Menangis
Dahulu kala, di sebuah bukit yang jauh dari pedesaan, hiduplah seorang janda miskin bersama anak perempuannya. Anaknya dari janda tersebut sangat cantik jelita, ia selalu membanggakan kecantikan yang ia miliki. Namun, kecantikannya tidak sama dengan sifat yang ia miliki. Ia sangat pemalas dan tidak pernah membantu ibunya.Selain pemalas, ia juga sangat manja. Segala sesuatu yang ia inginkan harus dituruti. Tanpa berpikir keadaan mereka yang miskin, dan ibu yang harus banting tulang meskipun sering sakit-sakitan. Setiap ibunya mengajaknya ke sawah, ia selalu menolak.Suatu hari, ibunya mengajak anaknya berbelanja ke pasar. Jarak pasar dari rumah mereka sangat jauh, untuk sampai ke pasar mereka harus berjalan kaki dan membuat putrinya kelelahan. Namun, anaknya berjalan di depan ibunya dan memakai baju yang sangat bagus. Semua orang yang melihatnya langsung terpesona dan mengagumi kecantikannya, sedangkan ibunya berjalan di belakang membawa keranjang belanjaan, berpakaian sangat dekil layaknya pembantu.Karena letak rumah mereka yang jauh dari masyarakat, kehidupan mereka tidak ada satu orang pun yang tahu.Akhirnya, mereka memasuki ke dalam desa, semua mata tertuju kepada kecantikan putri dari janda tersebut. Banyak pemuda yang menghampirinya dan memandang wajahnya. Namun, penduduk desa pun sangat penasaran, siapa perempuan tua di belakangnya tersebut.“Hai, gadis cantik! Siapakah perempuan tua yang berada di belakangmu? Apakah dia ibumu?” tanya seorang pemuda.“Tentu saja bukan, ia hanya seorang pembantu!” jawabnya dengan sinis.Sepanjang perjalanan setiap bertemu dengan penduduk desa, mereka selalu bertanya hal yang sama. Namun, ia terus menjawab bahwa ibunya adalah pembantunya. Ibunya sendiri diperlakukan sebagai seorang pembantu.Pada awalnya, sang ibu masih bisa menahan diri setiap kali mendengar jawaban dari putri kandungnya sendiri. Namun, mendengar berulang kali dan jawabannya itu sangat menyakitkan hatinya, tiba-tiba sang ibu berhenti dan duduk pinggir jalan sambil meneteskan air mata.“Bu, kenapa berhenti di tengah jalan? Ayo lanjutkan perjalanan,” tanya putrinya heran.Beberapa kali ia bertanya. Namun, ibunya sama sekali tidak menjawab. Sang ibu malah menengadahkan kedua tangannya ke atas dan berdoa. Melihat hal aneh yang dilakukan ibunya, sang anak merasa kebingungan.“Ibu sedang apa sekarang!” bentak putrinya.Sang ibu tetap tidak menjawab dan meneruskan doanya untuk menghukum putrinya sendiri.“Ya Tuhan, ampunilah hamba yang lemah ini, maafkan hamba yang tidak bisa mendidik putri hamba sendiri sehingga ia menjadi anak yang durhaka. Hukumlah anak durhaka ini.” Doa sang ibu.Tiba-tiba, langit menjadi mendung dan gelap, petir mulai menyambar dan hujan pun turun. Perlahan-lahan, tubuhnya berubah menjadi batu. Kakinya mulai berubah menjadi batu dan sudah mencapai setengah badan. Gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya. Ia merasa ketakutan.“Ibu, tolong aku. Apa yang terjadi dengan kakiku? Ibu maafkan aku. Aku janji akan menjadi anak yang baik, Bu!” teriak putrinya ketakutan.Gadis tersebut terus menangis dan memohon. Namun, semuanya sudah terlambat. Hukuman itu tidak dapat dihindari. Seluruh tubuhnya perlahan berubah menjadi batu. Gadis durhaka itu hanya menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepalanya menjadi batu, sang ibu masih melihat air matanya yang keluar. Semua orang yang berada di sana menyaksikan peristiwa tersebut. Seluruh tubuh gadis itu berubah menjadi batu.Sekalipun sudah menjadi batu, namun melihat kedua matanya masih menitikkan air mata seperti sedang menangis. Oleh karena itu, masyarakat tersebut menyebutnya dengan Batu Menangis. Batu Menangis tersebut masih ada sampai sekarang.“Pesan moral dari Cerita Rakyat Batu Menangis adalah selalu hormati dan sayangi kedua orang tuamu, karena kesuksesan dan kebahagiaanmu akan sangat tergantung dari doa kedua orang tuamu.”
Dewi Padi
Di tengah kehidupan masyarakat Purwagaluh yang hanya menggantungkan sumber makanan dari hasil buruan, kehidupan berubah menjadi neraka ketika hutan tak lagi menyediakan binatang untuk diburu.Tanah kering kerontang dan sungai tidak lagi menyisakan air yang memberi kehidupan pada hewan dan tumbuhan. Purwagaluh adalah satu wilayah yang tengah mengalami bencana kekeringan terparah.Sadana, Adikara, dan Dewi Sri, tiga orang yang ditugaskan mencari jalan keluar untuk membebaskan warga dari kesulitan dan memperbaiki kehidupan Purwagaluh secara keseluruhan. Namun dalam perjalanan tugas yang pertama pun mereka sudah menemukan kesulitan yang datang dari musuh bebuyutan mereka sejak kecil.Demi mendapatkan Adikara yang dicintainya sejak kecil, Nuridami tak pernah berhenti mengejar dan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan kesaktian sang nenek, Nyi Ulo juga kakaknya Sapigumarang dan Singasatru.Dalam satu pertarungan, Dewi Sri yang menyamar menjadi Camar Seta berhasil membunuh Singasatru yang saat itu memimpin kelompok Bajak Lautnya menyerang Pelabuhan Atasangin, pulau yang paling maju dan makmur kala itu dan menjadi tempat Dewi Sri, Sadana dan Adikara mempelajari sebab kemajuan Atasangin untuk diterapkan di Purwagaluh.Sapigumarang sangat murka mengetahui kabar kematian adiknya, Singasatru di Atasangin oleh Camar Seta. Segera ia mendatangi Sadana untuk membalas dendam pada Camar Seta. Namun Nyi Ulo menahannya dengan alasan Singasatru yang jauh lebih saktipun berhasil dikalahkan Camar Seta.Akhirnya Sapigumarang mau berlatih secara khusus bersama Nyi Ulo untuk menyempurnakan ilmu Lebursaketinya. Dari situlah Sapigumarang kemudian menyadari sumber kekuatannya yang besar, yaitu amarah yang bisa melipat gandakan kekuatannya hingga mampu menguasai Lebursaketi dengan sempurna.Segera setelah itu Sapigumarang mendatangi Sadana untuk membunuh Camar Seta, Sadana beralih tidak mengenal Camar Seta. Sapigumarang tak mau percaya dan menyangka Camar Seta adalah Adikara yang memakai nama palsu.Sadana yang berniat membantu dihajarnya hingga pingsan dan Adikara dibawa pergi setelah tidak berdaya karena Nuridami merayu Sapigumarang untuk tidak membunuhnya.Dewi Sri sangat sedih mengetahui kekasihnya, Adikara ditawan oleh Sapigumarang. Namun berkat kesaktian Malihwarni yang diajarkan oleh kakeknya, Aki Tirem, Dewi Sri bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi sangat frustasi dan akhirnya bunuh diri.Sapigumarang jadi murka dan gelap mata setelah Budugbasu dan Kalabuat menghasutnya dan menuduh Dewi Sri yang telah membunuh Nuridami karena cemburu. Sapigumarang langsung menyusun kekuatan untuk membunuh Dewi Sri sekaligus menguasai Purwagaluh yang saat itu sudah berubah menjadi wilayah yang sangat makmur berkat Dewi Sri, Sadana dan Adikara yang berhasil menciptakan sawah padi di sana.Dan ketika Dewi Sri dan Adikara merayakan panen padi pertama bersama warga di Desa Cidamar, pasukan Sapigumarang yang dipimpin Budugbasu datang untuk merebut semua hasil panen dan menangkap Dewi Sri. Namun Dewi Sri yang sudah sangat sakti berhasil mengalahkan Budugbasu dan semua pasukannya.Sapigumarang tidak menyerah, ia menunjuk Kalabuat untuk menggantikan Budugbasu dan memimpin pasukan yang lebih banyak. Kalabuat yang licik bersiasat untuk menyerang malam hari dengan kekuatan penuh. Saat itu Dewi Sri dan Adikara hanya berjaga - jaga dengan pemuda dan warga yang jumlahnya sangat sedikit karena banyak diantara warga Cidamar yang terbunuh pada peperangan melawan Budugbasu.Kalabuat dan pasukannya yang besar datang dengan penuh percaya diri. Ketika mengepung sawah, tempat Dewi Sri memfokuskan penjagaan. Dewi Sri dan Adikara tak mau menyerah begitu saja, mereka melawan semua pasukan Kalabuat dengan sepenuh tenaga. Saat itu Budugbasu yang sangat dendam keluar dengan pasukannya karena ingin Dewi Sri dan Adikara hanya mati di tangannya.Kalabuat sempat marah karena Bubugbasu hanya memimpin pasukan bantuan dan seharusnya belum boleh keluar. Tapi Budugbasu tak peduli dan segera menyerang Dewi Sri untuk membunuhnya.Dewi Sri dan Adikara sangat terdesak menghadapi jumlah pasukan yang semakin banyak. Saat itulah Dewi Sri mengeluarkan ajian Malihwarninya dan merubah dirinya menjadi ratusan kelelawar besar yang sangat buas.Pasukan Kalabuat dan Budugbasu kalang kabut menghadapi serangan ratusan kelelawar, mereka semua terbunuh dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri. Sementara Kalabuat dan Budugbasu pun tak luput dari serangan kelelawar. Mereka pun kemudian melarikan diri dengan wajah dan bukan yang penuh luka gigitan.Sapigumarang sangat murka mengetahui Kalabuat dan Budugbasu kembali kalah oleh Dewi Sri, terlebih lagi semua pasukannya yang habis terbunuh. Ia dengan murka menghajar Kalabuat dan Budugbasu. Kalabuat membela diri dan menyalahkan Budugbasu yang membawa keluar pasukan bantuannya hingga akhirnya semua pasukan habis terbunuh.Budugbasu tak mau kalah, ia menyalahkan Kalabuat yang bersiasat menyerang malam hari hingga mereka diserang kelelawar ganas ciptaan sihir Dewi Sri.Mengetahui Dewi Sri yang menguasai sihir Sapigumarang segera meminta bantuan Nyi Ulo untuk menghadapi Dewi Sri. Namun Dewi Sri dengan cerdik mengalahkan semua sihir dari Nyi Ulo yang menyerangnya, bahkan Nyio Ulo pun tewas oleh serangan balik dari Dewi Sri.Sapigumarang murka dan menantang Dewi Sri untuk adu tanding dengannya. Dewi Sri melayani tantangan Sapigumarang dan bertarung dengan tangan kosong. Sapigumarang yakin mampu membunuh Dewi Sri dengan kekuatan penuh Lebursaketinya. Namun Dewi Sri yang sudah bersiap dengan ajian Sungsangbuana berhasil mengembalikan pukulan dahsyat Lebursaketi.Sapigumarang pun tewas oleh ajian Lebursaketinya sendiri. Mengetahui kenyataan itu Kalabuat dan Budugbasu tak bisa berbuat apa-apa. Merekapun menyerah ketika pasukan Sadana tiba-tiba datang meringkusnya.Semua warga dan pasukan bergembira menyambut kemenangan Dewi Sri. Mereka semua mengelu-elukan nama Dewi Sri dan menjulukinya sebagai Dewi Padi karena jasa terbesarnya yang telah menciptakan tanaman padi diseluruh wilayah Purwagaluh.
Nyai Anteh sang penunggu bulan
Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana. Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni."Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedang berdua denganku," kata putri. "Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!""Baik Gust.....eh kakak!" jawab Nyai Anteh."Anteh, sebenarnya aku iri padamu," kata putri."Ah, iri kenapa kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri," kata Anteh heran."Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu," ujar putri sambil tersenyum."Ha ha ha.. kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat kakak. Iya kan kak???" jawab Anteh dengan semangat."Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?" tanya putri."Eeee...itu...itu...saya yang jahit sendiri kak." jawab Anteh."Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm...mungkin baju pengantinku?" seru putri."Aduh mana berani saya membuat baju untuk pernikahan kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat," kata Anteh ketakutan."Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa...jadi baju pengantin pun pasti bisa," kata putri tegas.Suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya."Endah putriku, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan," kata ratu."Ya ibu," jawab putri."Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan," ujar ratu. "Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.""Maksud ibu, Endah harus segera menikah?" tanya putri."ya nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak adipati dari kadipaten wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya," kata ratu. "Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya.""Baik gusti ratu," jawab Anteh.Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya."Aku takut sekali Anteh," kata putri dengan sedih. "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?""Kakak jangan berpikiran buruk dulu," hibur Anteh. "Saya yakin gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan kakak. Ah sudahlah, kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar."Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, "alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?" batinnya. Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya."Siapa tuan?" tanya Anteh."Aku Anantakusuma. Apakah kau....."Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh. "Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!" kata seorang dayang."Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi," kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma. "Dia ternyata bukan Endahwarni," pikir Anantakusuma. "Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku."Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan."Silahkan mencicipi makanan istimewa istana ini," kata Anteh dengan hormat."Terima kasih Anteh, silahkan langsung dicicipi," kata Raja kepada para tamunya.Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gasis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui sang putri."Bagaimana kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?" kata Anteh.Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta."Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu," kata putri Endahwarni."A..apa kesalahanku kak? Kenapa kakak tiba-tiba marah begitu?" tanya Anteh kaget."Pokoknya aku sebal melihat mukamu!" bentak putri. "Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi...Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!""Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?" tangis Anteh."Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!" kata putri."Baiklah kak, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu."Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni menuju kamarnya lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik.Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi kesana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya. Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya."Maaf nak, apakah anak bukan orang sini?" tanyanya."Iya paman, saya baru datang!" kata Anteh ketakutan."Oh maaf bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dadap,""Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?" tanya Anteh."Ya....! Apakah....kau anaknya Dadap?" tanya paman itu."Betul paman!" jawab Anteh."Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu," kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca."Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!" kata Anteh dengan gembira."Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?" tanya paman Waru."Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman. Saya tidak tahu harus kemana," pinta Anteh."Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!" kata paman Waru.Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh."Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku..." tangis putri."Gusti...jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar," kata Anteh."Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!" pinta putri."Tapi putri aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan," jawab Anteh."Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana," kata putri sambil tertawa. "Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!"Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.Hingga suatu malam pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh."Anteh!" tegurnya.Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya."Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?" tanya Anteh ketakutan."Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu," kata pangeran."Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku," kata Anteh sambil memeluk Candramawat."Aku tidak bisa... Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!" kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.Anteh mundur dengan ketakutan. "Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri."Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya."Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!" doa Anteh, "Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!"Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat.
Telaga Bidadari
Dahulu kala, ada seorang pemuda tampan bernama Awang Sukma. Ia mengembara ke tengah-tengah hutan dan kagum melihat beragam kehidupan di dalamnya. Ia membangun rumah pohon di dahan pohon yang sangat besar. Dia tinggal di hutan dalam keharmonisan dan kedamaian.Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan mendapat gelar “Datu”. Sebulan sekali, ia berkeliling wilayahnya, dan suatu hari ia tiba di sebuah danau yang jernih. Danau itu berada di bawah pohon rindang dengan banyak buah. Burung dan serangga hidup bahagia di sana.“Hmm, betapa indahnya danau ini! Hutan ini memiliki keindahan luar biasa,” ucapnya.Keesokan harinya, saat ia meniup serulingnya, ia mendengar suara ramai di danau. Dari sela-sela tumpukan batu yang pecah, Awang Sukma mengintip. Ia sangat terkejut melihat tujuh gadis cantik sedang bermain air.“Mungkinkah mereka bidadari?” pikirnya.Tujuh gadis cantik itu tidak sadar bahwa mereka sedang diawasi. Selendang mereka—yang digunakan sebagai alat untuk terbang—berserakan di sekitar danau. Salah satu selendang terletak paling dekat dengan Awang Sukma.“Wah, ini kesempatan bagus!” gumamnya.Ia mengambil selendang itu lalu berlari untuk bersembunyi. Namun tanpa sengaja ia menginjak ranting kering.Krak!Para gadis terkejut, segera mengambil selendang masing-masing, lalu terbang meninggalkan danau. Namun ada satu gadis yang tidak dapat menemukan selendangnya. Ia ditinggalkan oleh semua saudara perempuannya. Ia sangat ketakutan dan sedih.Saat itulah Awang Sukma keluar dari persembunyian. Ia berpura-pura tidak sengaja lewat dan bertanya apa yang terjadi. Putri bungsu bidadari tersebut akhirnya bercerita dan mengakui bahwa ia kehilangan selendang terbang miliknya.“Jangan khawatir, tuan putri. Aku akan membantumu, asal tuan putri tidak menolak untuk tinggal bersamaku,” pinta Awang Sukma.Putri bungsu semula ragu, tapi karena tidak ada orang lain dan ia sangat ketakutan, ia menerima bantuan Awang Sukma. Datu Awang Sukma pun mengagumi kecantikan putri bungsu. Begitu pula putri bungsu yang mulai senang berada di dekat pemuda tampan itu.Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan menjadi suami istri. Setahun kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan cantik bernama Kumalasari. Kehidupan mereka sangat bahagia.Namun pada suatu hari, seekor ayam hitam naik ke gudang lalu menggaruk lumbung padi. Saat putri bungsu mengusir ayam itu, matanya tertuju pada tabung bambu di dalam lumbung. Ketika tabung itu dibuka, putri bungsu terkejut.“Ini selendang saya!” serunya sambil menangis.Selendang ajaib itu memeluknya seolah merindukannya. Putri bungsu merasa kecewa karena suaminya menyembunyikan selendang itu selama ini. Namun di sisi lain ia mencintai suami dan anaknya.Setelah lama berpikir, putri bungsu memutuskan kembali ke Kahyangan.“Sekarang saatnya aku harus kembali,” katanya lirih sambil menatap bayinya.Ia mengenakan selendangnya sambil menggendong bayi kecilnya. Datu Awang Sukma terkejut melihat apa yang terjadi dan segera meminta maaf atas perbuatannya.Namun putri bungsu tahu, perpisahan tidak bisa dihindari.“Kanda, tolong jaga dinda Kumalasari dengan baik,” katanya pada suaminya.“Jika anak kita merindukanku, ambil tujuh biji kemiri dan masukkan ke keranjang yang digoyang-goyang. Aku pasti akan datang menemuinya,” lanjutnya.Setelah itu putri bungsu terbang kembali ke Kahyangan.Datu Awang Sukma sedih, dan ia bersumpah bahwa keturunannya tidak boleh memelihara ayam hitam, karena dianggap membawa bencana.Tempat mandi putri bungsu dan keenam saudara bidadarinya kemudian dikenal sebagai Telaga Bidadari.
Lutung Kasarung
Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga -bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang."Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.
Asal Mula Selat Bali
Suatu hari di Bali, hiduplah seorang brahmana yang kuat bernama Sidi Mantra. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahkan brahmana tersebut harta dan seorang istri yang cantik. Setelah beberapa tahun menikah, brahmana dan istrinya memiliki anak laki-laki bernama Manik Angkeran.Manik Angkeran tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan pandai. Namun, ia memiliki kebiasaan buruk: suka berjudi. Ia sering kalah dan memaksa orang tuanya menggadaikan barang-barang berharga sebagai taruhan. Ia bahkan tidak malu mengambil pinjaman. Karena tidak mampu membayar hutang akibat kebiasaan berjudi, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya.Sidi Mantra berpuasa dan berdoa memohon bantuan para dewa. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang berkata, “Sidi Mantra, ada harta yang dijaga oleh naga bernama Naga Besukih di kawah Gunung Agung. Pergilah ke sana dan mintalah sebagian hartanya.”Sidi Mantra pun pergi ke Gunung Agung. Ia mengatasi segala rintangan selama perjalanan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, ia duduk bersila. Saat membunyikan bel, ia membaca mantra dan memanggil Naga Besukih. Tidak lama kemudian naga itu muncul. Setelah mendengar tujuan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat, dan dari sisik-sisiknya keluarlah emas dan berlian. Sidi Mantra berterima kasih dan pamit pulang.Sesampainya di rumah, Sidi Mantra memberikan semua harta itu kepada Manik Angkeran, berharap ia berhenti berjudi. Namun, Manik Angkeran menghabiskan semua harta itu. Tidak lama setelahnya, ia kembali meminta bantuan. Kali ini Sidi Mantra menolak. Ia kecewa dengan putranya.Manik Angkeran tak tinggal diam. Ia mencari tahu dari mana ayahnya memperoleh harta tersebut. Ia akhirnya tahu bahwa harta itu berasal dari Gunung Agung. Ia juga tahu bahwa untuk mendapatkan harta itu, ayahnya menggunakan bel dan mantra tertentu. Karena ia tidak pernah belajar mantra, ia mencuri bel ayahnya ketika Sidi Mantra sedang tidur.Manik Angkeran pergi ke kawah Gunung Agung dan membunyikan bel. Ia ketakutan saat Naga Besukih muncul. Namun, setelah mendengar keinginannya, naga itu berkata, “Aku bisa memberimu harta seperti ayahmu, tetapi kamu harus berjanji berhenti berjudi. Ingatlah hukum karma.”Manik Angkeran terpesona melihat emas dan berlian. Keserakahannya muncul. Ketika Naga Besukih berbalik untuk kembali ke sarang, Manik Angkeran menebas ekor naga itu. Ia segera melarikan diri. Namun Manik Angkeran tidak tahu bahwa Naga Besukih adalah makhluk yang sangat kuat. Ketika sang naga mengibaskan ekornya ke tanah, api besar muncul dan membakar Manik Angkeran hingga menjadi abu.Melihat putranya mati, Sidi Mantra sangat sedih. Ia mencari Naga Besukih dan memohon agar putranya dihidupkan kembali. Naga Besukih mengabulkan permintaan itu, tetapi meminta Sidi Mantra menyembuhkan ekornya. Dengan kekuatan spiritualnya, Sidi Mantra mengembalikan ekor naga ke bentuk semula.Setelah dihidupkan kembali, Manik Angkeran meminta maaf dan berjanji tidak mengulang kesalahannya lagi. Sidi Mantra mengetahui putranya sudah bertobat, tetapi ia juga sadar bahwa mereka tidak bisa hidup bersama lagi.“Kamu harus memulai hidup baru,” kata Sidi Mantra. Dalam sekejap, ia menghilang. Di tempat ia berdiri, muncul sumber air besar yang terus membesar hingga membentuk lautan. Dengan kekuatan gaib, Sidi Mantra membuat garis air yang memisahkan dirinya dari putranya.Garis air itu kemudian menjadi Selat Bali, yang memisahkan Pulau Bali dari Pulau Jawa.
Marauders Era
Dulu aku bukan orang yang seperti ini. Yang mengatakan iya semudah air mengalirkan daun kering.1"Bisakah kau membantu membawakan koperku ke dalam?" tanya Emma Vanity. Ia menyodorkan koper kayu yang kutebak berisi perlengkapan quidditchnya. Koper itu nampak berat. Aku enggan membawa itu.Seolah digerakkan, aku menjawab, "Bisa."Shit!Seharusnya aku menolak, namun nasi telah menjadi bubur.Aku mengangkat koper Emma Vanity yang, demi uban Salazar, amat berat! Aku mengekor pada Emma ke dalam kereta dan membantunya meletakkan koper di atas kursi."Terimakasih," tuturnya padaku.Setidaknya ia berterimakasih.Aku memberikan senyum setengah hati pada Emma. "Sama-sama."Aku keluar dari kompartemen yang ditempati Emma Vanity menuju gerbong paling belakang yang tak mempunyai kompartemen. Hanya jejeran bangku dan meja yang berhadap-hadapan. Aku duduk di salah satu bangku dan menatap ke luar jendela. Murid Hogwarts berlalu-lalang dengan kopernya, bersiap kembali ke Hogwarts, musim panas telah usai.Teman-teman satu asramaku terlihat di luar. Banyak dari mereka menyendiri entah hanya berdiri dengan tas tersampir atau membaca di satu bangku. Yang lain berdiskusi seperti Black satu itu.Sirius Black?Aku menyipitkan mataku. Berusaha melihat dengan jelas apakah itu benar Sirius atau.... oh itu adiknya, Regulus Black. Karena tak mungkin Sirius berkerumun dengan Slytherin. Bodohnya aku!Aku bernapas lega. Menyenderkan tubuh di kursi. Sebenarnya aku tidak begitu lapang. Kepalaku selalu dihantui oleh Sirius Orion Black semenjak tahun lalu. Bukan karena Sirius tampan, namun karena tabiatnya sekarang.Kupejamkan mata. Mengingat hari-hari yang kuhabiskan dengan Sirius. Sebelum ia disortir ke dalam Gryffindor, sebelum ia membenci keseluruhan Slytherin, dan sebelum ia menjauh seperti ia adalah bintang yang berpindah setiap malamnya, dan aku bulan yang duduk menunggu.Aku tak bisa mengingat pertemuan pertamaku dengan Sirius. Orang tua kami berkata, kami sudah dipertemukan meski sejak dalam kandungan. Dan rupanya kami juga bertemu meski kedua kaki kecil kami belum dapat menopang tubuh kami sendiri.Pertemuan pertama yang kuingat kala itu, rambut Sirius masih rapi. Persis seperti Regulus saat ini. Ia juga memakai baju bewarna hijau atau hitam yang dipilihkan Peri Rumahnya.Orang tua kami dekat dan mereka gemar menggoda. Sirius dan aku tidak mengindahkan mereka. Dia dan diriku masih terlampau dini untuk memahami arti dari senyuman mereka kala kami bersentuhan ataupun bertengkar karena hal kecil.Kami teman dekat, mungkin lebih dari itu. Aku tahu semua keluarga Sirius, dan ia tahu semua keluargaku, termasuk boneka yang kupunya.Selayaknya teman pada umumnya, kami berbeda pendapat. Sirius entah mengapa selalu tidak setuju dengan apa yang diucapkan para orang tua. Bahkan apa yang dikatakannya terkadang membuatku versi cilik tidak paham."Jangan memanggil mereka darah lumpur! Itu tidak baik," omel Sirius. Ia masih delapan tahun kala itu.Aku menatapnya bingung. "Harus kupanggil apa?""Muggleborn," jawabnya.Aku hanya mengangguk-angguk, aku sendiri tidak tahu dari mana ia mempelajari kata itu. Aku tidak peduli dan mulai memerkenalkan boneka baruku pada Sirius. Sedangkan lelaki itu hanya mendengarkan. Setelah itu, ia akan mengejek bonekaku jika suasana hatinya baik. Kalau suasana hatinya lebih baik lagi, ia akan merebut boneka itu dan aku harus bermain kejar-kejaran dengannya.Hari-hari lalu yang indah.Sampai semua pertemanan kami menjadi canggung ketika orang tua kami memutuskan untuk menjodohkanku dan Sirius. Saat itu kami hendak menginjak sepuluh tahun, dan surat dari Hogwarts sudah ada di tangan masing-masing."Apa kau masih mau berteman denganku?" tanyaku pada Sirius setelah terlalu lama diam dan saling lirik.Kami duduk di lantai kamar Sirius setelah ikut mendengarkan para orang tua yang berencana menjodohkan kami."Mengapa tidak?" Sirius balas bertanya.2"Kau seperti menjauhiku," kataku dengan intonasi semakin menurun.Aku bersumpah dapat mendengar angin dari jendela yang mengelus rambutku dengan lembut. Begitupula dengan degup jantungku yang teratur."Kuharap kita selalu berteman, Sirius. Kau dan aku akan menjadi keluarga," lanjutku.Sirius tidak membalas perkataanku, bahkan sampai aku mengucapkan pamit untuk kembali pulang.Aku terkejut saat pertamakali memasuki Hogwarts. Sirius tidak menyapa maupun tersenyum padaku. Sepertinya ia terlalu sibuk dengan temam barunya yang ia temui di kereta.Keadaan semakin memburuk terlebih saat Sirius diseleksi di Gryffindor. Terlebih ia sangat cepat berbaur dengan teman-temannya, James Potter, Remus Lupin, dan Peter Pettigrew. Pemikiran dan sifat Sirius cocok dengan mereka, dengan kebanyakan Gryffindor. Bagaimana ia tidak menyetujui supremasi darah murni, sangat berkebalikan dengan apa yang kupelajari di rumah sejak kecil. Dengan apa yang seharusnya Sirius pelajari saat kecil.Yang membuat hatiku hancur, Sirius membenciku karena dasi hijau yang kukenakan.Apa Sirius mau berteman denganku jika ia disortir ke Slytherin?Setidaknya Sirius selalu bertemu denganku kala libur. Entah aku yang datang ke rumah mewahnya, atau ia yang dipaksa berkunjung ke rumahku yang tak kalah megah. Ini semua ide orang tua Sirius.Hari libur adalah masa-masa di mana aku dan Sirius lupa bahwa merah dan hijau bermusuhan. Ia seperti orang yang benar-benar berbeda ketika menghabiskan musim panasnya denganku. Ia tetap usil dan cerdik, namun ia lebih perhatian, manis, dan sedikit protektif. Seperti udara canggung yang dulu memeluk kami telah hilang entah kemana.Suatu saat ia pernah tak sengaja tidur di sampingku. Entah malam apa yang ia lalui di Grimmauld Place sampai ia kelelahan di siang harinya. Pada saat itu aku sadar bahwa Sirius Black amat tampan."Apa aku ketiduran?" tanya Sirius.Aku yang hendak mengelus kepalanya langsung tersadar bahwa tindakanku akan merugikan."Ya, kau Putri Tidur," balasku dengan ejekkan.Sirius terkekeh lalu mendudukkan badannya. Aku masih bersandar nyaman dengan bantal sebagai pengganjal. Aku terkagum-kagum dengan setiap gerak-gerik Sirius yang elegan khas Keluarga Black."Apa kau sudah makan dan minum obat?" tanya Sirius cepat ketika ia tersadar jika tugasnya adalah menemaniku yang tengah sakit ketika orang tuaku sengaja meninggalkan kami.1"Sudah," jawabku. "Kau bisa tidur di kamar tamu. Sepertinya orang tuaku akan pulang besok.""Aku di sini saja. Lagipula aku tidak akan bisa tidur lagi setelah tidur panjangku tadi."Sirius berpindah ke sofa di kamarku. Ia membuka-buka buku musik di meja kecil sebelahnya. Kami mengobrol singkat dan ia malah tertidur di sofa dengan posisi terduduk.1Aku terkekeh. Tidak bisa tidur lagi, katanya. Kuambil selimut di dalam lemari meski kakiku terasa sakit setiap melangkah. Kusampirkan selimut itu pada tubuh Sirius. Kasihan. Ia pasti kelelahan entah dengan apa itu. Mungkin ia terlalu sibuk menunjukkan diri pada semua orang bahwa ia masih pantas disebut Black.Berbeda kala Sirius mengunjungiku, aku tak senang mengunjunginya. Pemandangan yang kudapatkan tak pernah membahagiakan. Sirius selalu adu mulut dengan orang tuanya, terutama dengan Nyonya Walburga. Kedua orang itu sama-sama keras kepala, tak ayal mereka ibu dan anak.Semua pertengkaran mereka akan berakhir dengan Sirius yang mengunci diri di kamar dan Tuan Black akan mengantarkanku pulang. Entah apa yang terjadi di rumah mereka ketika aku sampai rumah. Apa Tuan Black akan memarahi Sirius lebih parah? Apa Nyonya Black akan main tangan?Di setiap akhir liburan, aku mengira Sirius dan aku akan berteman kembali di sekolah, barangkali menyapa, namun Sirius masih berlaku dingin terhadapku di Hogwarts. Tentu ia tak ingin merusak citranya sebagai Gryffindor.Mungkin yang salah ada padaku. Aku juga tak berusaha menyapanya. Karena aku juga tak ingin merusak citraku sebagai Slytherin.1Tahun keempat, Sirius dan kawan-kawannya semakin menggila.Ia terkena banyak detensi. Kurasa ia malah bangga dengan itu. Sirius dan kawan-kawannya terbahak di koridor, berlari saat pergantian jam samai dimarahi oleh Tuan Filch, dan hal-hal menyenangkan lain yang dilakukan sekelompok teman.Jika Sirius dan aku dekat, apakah aku akan menjadi bagian petualangannya?Liburan kenaikan dari tahun empat ke lima, aku dan Sirius kembali berteman. Ia lebih sering mengunjungi rumahku.Aku masih mengagumi usaha Tuan dan Nyonya Black untuk mempertahankan hubungan kami meskipun kedua orang tuaku mulai tidak menyetujui perjodohan ini setelah Sirius masuk ke Gryffindor, apalagi dengan banyaknya protes staf Hogwarts pada pasangan Black perihal ulah putra sulungnya di tahun ini.Ibu berkata aku cocok mendapatkan yang lebih baik. Ibu hanya belum melihat bagaimana sikap Sirius jika tak ada orang lain. Bagaimana sikap Sirius yang hanya ia tujukan untukku.2Jarang bagi Sirius pulang saat libur natal, tapi di tahun kelima ia pulang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumahnya. Seperti di rumahku atau Potter.Di rumahku, ia bercerita tentang rumah para Potter. Mata abu-abunya berbinar ketika ia bercerita tentang makanan buatan Nyonya Potter, atau kegiatan memancing bersama Tuan Potter dan James.1Sirius selalu menyempatkan mampir ke rumahku dari kediaman Potter di Godric Hollows. Entah mengapa ia tak langsung pulang. Padahal kegiatannya di rumahku tak banyak. Paling-paling menemaniku yang tidak melakukan apa-apa sendirian. Aku tak bisa memberikan Sirius petualangan seperti James.Sirius selalu mengiyakan semua yang ingin kulakukan bahkan sampai yang paling membosankan seperti membaca. Saat aku membaca, ia memintaku mengucapkan tiap katanya keras-keras. Ia akan memposisikan tubuhnya begitu nyaman. Duduk di sofa, berdiri di belakang kursiku dan meletakkan dagunya di kepalaku, atau serta merta merehatkan kepalanya di pangkuanku seolah itu hal biasa. Ia seharusnya tahu bahwa hal itu membuat jantungku berdebar. Ia seharusnya tidak melakukan ini jika ia tidak menyukaiku.2Terkadang aku berpikir betapa beruntung aku sampai Sirius berperilaku seperti ini. Gadis-gadis di Hogwarts rela mati demi mendapat lirikkan Sirius.Aku ingat suatu hari, giliranku berkunjung ke rumah Keluarga Black. Seperti biasa, semuanya berakhir dengan Sirius adu mulut dengan kedua orang tuanya. Namun yang satu ini berbeda....."Lihatlah, Regulus! Kau seharusnya seperti dia!" Paman Orion membentak."Aku lebih baik dari Regulus karena tidak masuk ke dalam sirkus tengkorak itu!" Sirius balas berteriak."Jaga ucapanmu!" sekarang Bibi Walburga yang membentak."Fuck Death Eater! Fuck yo-"Seruan Sirius terpotong oleh suara pukulan yang lebih keras dari teriakan Sirius. Mataku membelalak. Kupingku seolah berdenging di tengah keheningan.Pipi Sirius memerah. Ia menundukkan kepalanya dalam. Rambutnya yang panjang menggantung, menutupi sebagian besar matanya.Nyonya Walburga Black berdiri dengan napas berat. Matanya yang melotot berair entah karena amarah atau penyesalan.Kali ini aku menyaksikannya langsung pertamakali bagaimana Sirius dipukul. Aku tak percaya bahwa Tuan Orion dan Nyonya Walburga benar-benar bermain tangan. Seharusnya aku sadar. Seharusnya aku mengerti.Sirius mulai menatap ibunya berang. Ia tidak berkata apapun. Saat berbalik badan, mata abu-abunya beradu denganku. Terlihat jelas perbedaan warna antara pipi kiri dan kanannya. Aku sudah ingin menangis karena syok, terlebih melihat genangan air di mata Sirius.Sirius lantas berlari menuju kamarnya. Aku mengikutinya. Tak sengaja melewati Regulus yang berdiri rapat di tembok dekat ruangan yang kami tempati tadi.Tuan Black memanggilku. Aku tak mendengarkan. Seumur hidupku, aku tak pernah dipukul oleh orang tuaku sendiri."Sirius!"Aku mengetuk pintu kamarnya yang terkunci. Ia tak membuka pintu maupun menjawabku. Hanya isakkan yang kudengar. Aku merasa ingin ikut menangis dengannya.Pada akhirnya Paman Orion membujukku untuk pulang. Ketika aku keluar Grimmauld Place, kulihat Bibi Walburga terduduk dengan kepala menggantung. Kuharap beliau menyesal.Memori paling indahku dengan Sirius adalah kala aku tengah duduk di tepian air mancur belakang rumahku. Sirius datang dengan apparition seperti biasa."Sehabis dari rumah James?" tanyaku .Sirius tersenyun lebar. Napasnya begitu berat sembari berjalan mendekat. Mungkin lelah karena bermain entah apa itu dengan James."Ya! Tadi sangat hebat!" Sirius duduk di sebelahku dan bercerita mengenai petualangan ajaibnya dengan James.Aku tersenyum mendengarkan Sirius. Sampai akhirnya ia bertanya apakah aku memiliki cerita untuknya.Aku tidak terlalu sering ke luar rumah dan sedang tak membawa buku, namun aku tahu beberapa hal tentang mitologi Yunani. Melihat air dan pantulan wajah Sirius di kolam air mancur, aku mengingat Narcissus. Aku yakin Sirius sudah mengetahui tentang kisah ini. Ia bukanlah lelaki bodoh. Namun ia tetap mendengarkan ocehanku dengan saksama sampai kisahku selesai. Sebenarnya aku lebih seperti bergosip tentang orang-orang di zaman Yunani Kuno daripada bercerita."Apa menurutmu Narcissa seperti Narcissus?" tanya Sirius. Ia memilih untuk berjongkok di atas rumput, melipat tangannya di atas pinggiran air mancur, dan menonton pantulan kami di air.Aku tertawa menunduk ke Sirius. "Memang ia narsis?""Well, her name is Narcissa." Sirius mendongak dengan seringaian.Aku terkekeh sampai Sirius mencelupkan tangannya ke dalam air, menyentuh pantulan wajahku."Jika Narcissus memiliki wajah sepertimu, aku tahu mengapa ia terjun ke dalam air," tutur Sirius.Aku bersumpah dapat merasakan kupu-kupu terbang dari perut sampai paru-paruku.Sirius pasti mengatakan itu tanpa berpikir, karena pemuda itu menceburkan diri ke dalam air mancur. Airnya terciprat kepadaku. Aku sedikit khawatir apakah Sirius terbentur marmer karena air mancurku tidak dalam, namun saat wajahnya muncul di permukaan, ia terbahak. Aku pun turut tertawa.Wajah Sirius yang basah, pipinya yang merah, sinar mentari siang hari yang mengguyurnya, membuat parasnya semakin rupawan."Kau tak ingin ikut? Jarang-jarang Inggris panas, dan kau sudah terciprat air," tuturnya mengulurkan tangan padaku."Tidak," balasku singkat.Sirius terlihat seperti anak-anak. Ia bermain-main dengan air sambil terus membujukku untuk bergabung dengannya.Tak bisa membujukku ia datang mendekat. Ia meletakkan dagunya di atas pinggiran air mancur dan mendongak padaku, menunjukkan tatapan seperti anak anjing. Tetesan air jatuh dari bulu matanya, helaian rambut gondrongnya yang tidak turut disisir ke belakang sedikit menutupi wajah."Apa kau marah padaku?" tanya Sirius.Apa aku terlihat marah? Aku menolak ajakan Sirius karena tak ingin basah kuyup dan demam. Aku mudah sakit.Tangan Sirius terulur untuk menangkup pipi kiriku. "Maafkan aku," katanya."Mengapa kau meminta maaf?""Karena perlakuanku padamu di Hogwarts itu tidak adil. Aku tahu selama ini kau pasti marah karena itu."1Aku terdiam sangat lama. Aku tak pernah mempermasalahkan itu. Lagipula aku juga bersikap dingin padanya di Hogwarts. Namun setelah dipikir lagi, apa yang Sirius lakukan jauh dari kata tak adil, ia benar-benar jahat, tetapi aku terlalu menyukai Sirius untuk membencinya."Aku menyukaimu," tuturnya. Dengan cepat ia menambahi, "Rumahmu. Maksudku rumahmu. Suasana rumahmu lebih nyaman daripada rumahku. Aku tidak tahu jika itu masih pantas disebut rumah."Kali ini aku yang menangkup pipi basah Sirius, mengelus-elusnya pelan. Tangan Sirius berpindah menggenggam tanganku yang menangkup pipinya."Kita akan menjadi keluarga, rumah ini akan menjadi rumahmu," kataku."Rumah ini akan menjadi rumah kakakmu," koreksi Sirius sembari terkekeh."Aku yakin pintunya terbuka lebar untuk kita."Sirius tersenyum lebar. Dengan cepat ia menarik wajahku mendekatinya dan mengecup bibirku cepat.4Aku menegang. Otakku memproses tindakan Sirius. Pemuda ini benar-benar digerakkan oleh impuls.Wajah Sirius masih berada satu senti di depanku. Ia membisikkan maaf di depan bibirku lalu menciumku lagi. Lebih pelan dan lebih lembut. Pada saat itu aku memutuskan untuk ikut memceburkan diri ke dalam air dengan Sirius.Seperti Narcissus meraih cintanya.Tapi seperti kisah Narcissus, kisahku dan Sirius juga berakhir.4Sirius kabur ke kediaman Potter. Potter yang dianggap pengkhianat karena membela muggle.Keluargaku tak mau Sirius menginjakkan kaki di rumahku, jika mereka tahu Sirius ber-apparate di sini, mereka bahkan tak segan menyeretnya keluar. Pada akhirnya Keluarga Black mengabulkan permintaan orang tuaku dan membatalkan perjodohan kami."Berapa harga dirimu jika kau menikah dengan Sirius?" gerutu Ibu setelah Bibi Walburga pulang ke rumahnya. Ibu nampak puas Sirius bukanlah jodohku.1Mengapa aku sakit hati dengan ucapan Ibu? Aku mungkin telah mencintai Sirius semenjak ciuman itu. Aku berharap jika Sirius tak kembali pulang, ia akan tetap menemuiku seperti kisah cinta yang orang ceritakan, namun tidak. Ia tidak pernah datang menemuiku.Sekarang di sini lah aku. Duduk di kursi kereta. Kini aku benar-benar melihat Sirius. Ia bersenda gurau, merangkul Remus dan Peter. James berada di depannya berjalan mundur menceritakan sesuatu dengan gerak tubuh yang dilebih-lebihkan.Kukira aku dan dirinya akan menjadi keluarga, namun mereka bertiga lah keluarga pilihan Sirius.Aku bersumpah telah melupakan perasaanku pada Sirius. Tak ada alasan bagiku untuk berbalik bahkan sekedar menoleh pada Sirius Black. Hanya saja aku membayangkan bagaimana jika......Sirius tidak terlalu pemberani sampai disortir di Grydfindor......Sirius masih menjaga hubungan pertemanannya dengaku......Sirius tidak kabur......dan Sirius menjelaskan hubungan yang kami miliki setelah ciuman itu, karena teman tak asal bertindak.Aku penasaran jika satu hal yang kusebutkan tadi nyata, apakah semuanya akan berakhir seperti ini?Aku tersenyum menatap Sirius yang tertawa melihat James menabrak sekumpulan Slytherin.Kupikir akan sangat menyenangkan jika Sirius Black ada di sini, di sampingku, menganggapku sebagai keluarga atau calonnya, atau jika Sirius menjadi orang itu yang selama ini selalu kubayangkan."Permisi, bisakah kau berpindah tempat? Aku ingin di dekat jendela," tutur Betty. Adik kelas Ravenclaw yang cantik. Tidak ada yang tidak mengenal gadis ini.Tubuhku sangat berat untuk digerakkan dan Sirius masih tertawa dengan manis di ujung mataku. Aku tak ingin pindah dari tempat ini."Oh, ya! Tidak masalah."Shit!"Terimakasih," tutur Betty pada kakak kelas Slytherin yang berkenan untuk bertukar tempat duduk dengannya. Kakak kelas itu gadis yang amat cantik. Ia seperti bayangan Betty pada Helen dari Sparta.Betty menanggalkan kardigan yang ia kenakan dan duduk melihat ke luar jendela. Bisa saja bagi Betty untuk masuk ke salah satu kompartemen dengan mata terpejam dan menemukan teman-temannya, namun Betty tidak yakin jika mereka benar-benar teman. Betty hanya dapat berbagi suka pada mereka. Betty tak dapat menyuarakan uneg-unegnya tentang James pada siapapun.Tidak. Bukan James Potter kakak kelas yang keren itu. Yang berada di seberang jendela saat ini, menertawakan segerombolan Slytherin lalu berlari pergi. James yang itu begitu setia pada Lily Evans. Betty sempat berpikir bahwa Jamesnya juga seperti itu.Betty bertemu James di pesta yang diadakan Gryffindor. Saat itu Halloween dan Betty mengenakan kostum Wendy Darling, sedangkan James menjadi Peter Pan. Tidak lama bagi mereka untuk menyadari kostum satu sama lain, dan tidak lama pula bagi mereka untuk saling mengenal dengan baik.2"Kau cukup sering berada di pesta," tutur James."Cukup banyak yang mengundangku. Aku tidak enak untuk menolak. Lagipula aku masih muda. Carpe diem, they said," timpal Betty.2James terkekeh. "Apa kau tidak bosan?"Betty menatap James yang tersenyum padanya dan Betty balas tersenyum. "Sedikit.""Then..." James meletakkan minumannya serta milik Betty lalu menggenggam tangan pemudi itu. "c'mon!"Betty tergelak, sedikit kebingungan, namun tetap mengikuti kemana James membawanya. "Where do we going?""The Neverland!" seru James setelah ia membawa Betty ke luar ruangan. Para lukisan mengomel pada James karena suaranya yang keras.Betty dan James tidak pergi jauh. Mereka pergi ke menara astronomi. Melihat second star to the right. Melihat Neverland."Menurutmu, mana Neverland?" tanya James mendekatkan dirinya pada Betty. Gadis itu dapat merasakan suara James begitu jelas di telinganya."Tidak ada, James. Peter Pan lelaki yang suka bicara seenaknya." Ucapan Betty membuat James menautkan alisnya dan itu menggelikan bagi Betty. "Mungkin itu." Betty menunjuk bintang paling terang di langit. "Kurasa itu Saturnus. Dan yang sebelah kiri adalah Jupiter. Mereka yang paling terang dan paling dekat dengan cakrawala di bulan ini, jadi mungkin itu adalah Neverland. Tapi itu tidak penting. Seperti yang kukatakan, Peter Pan suka bicara apa saja, mungkin bintang kedua dari kanan bukan Neverland yang sebenarnya.""Perempuan memang banyak bicara," tutur James diikuti kekehan.Betty langsung menutup mulutnya rapat. Menyesali celotehannya."Namun aku suka kau bicara. Aku suka mendengar cerita," kata James.Dan itu cukup untuk membuat Betty tersenyum kembali.'Second star to the right and straight on 'til morning.'Cahaya lembayung mulai muncul di cakrawala sebelum Betty menyadari bahwa dirinya mengantuk. Betty dan James berbagi cerita begitu banyak. Keduanya tak ingin cerita itu usai di situ saja. Dengan kecupan lembut di bibir, James berjanji pada Betty untuk menemuinya usai kelas.+"Nanti, ceritakan padaku tentang Kapten Hook," bisik James di depan bibir Betty sebelum ia menjauhkan diri dan mengantar Betty sampai depan pintu asrama Ravenclaw.Menggelikan bagaimana pertemuan Betty dan James begitu sederhana namun amat bermakna. Seolah mereka memang ditakdirkan bertemu."Dia terdengar seperti lelaki baik padamu," tutur Inez saat sarapan."Dia baik sekali! Dia bahkan mengantarku sampai depan pintu asrama," ujar Betty. Matanya sedikit menyipit karena senyumannya begitu lebar."Aku ikut senang kau membuka dirimu pada laki-laki," kata Inez.Betty terdiam cukup lama. Sekelebatan ingatan yang tak terlupakan muncul dalam angannya. "Aku juga," ucap Betty dengan senyum.Betty dan James tidak terpisahkan. Mereka pergi ke The Three Broomstick bersama, pergi ke pesta bersama, duduk di satu kompartemen yang sama, dan memghabiskan waktu musim panas bersama-sama.Pertengahan bulan Juni di musim panas, James berkunjung ke rumah Betty atas undangan ibunya untuk makan malam. James memutuskan untuk menginap seperti biasa. Betty dan James berbaring di atas ranjang. Kepala Betty beristirahat dengan nyaman di atas dada James. Starman dari David Bowie terdengar dari pemutar musik milik Betty.4"Kau hanya tinggal bersama ibumu?" tanya James.Betty mengangguk. Ia menggambar bintang dan astronot di dada James dengan jari telunjuknya. "Orang tuaku sudah bercerai."James bergumam, tidak bertanya lebih lanjut. Lelaki itu menggenggam tangan Betty dan mengecup pergelangannya. Ia meletakkan tangan Betty di dadanya dan menggenggamnya terus sampai mereka terlelap, terbang di pulau kapuk. Untuk kali pertama, Betty mendapatkan mimpi indah.Betty tahu jika pemuda dan pemudi seumurannya kerap meremehkan hal kecil yang dapat menyeret mereka dalam masalah. Seperti halnya James yang berpikir bahwa Betty tidak terlalu pintar untuk menyadari perubahan di sikapnya. Bahkan Betty tahu penyebab dari hal itu."Aku ingin mengisi ulang minumanku," tutur James di pesta ulang tahun Mary Macdonald. Pesta terakhir yang didatangi Betty dan James bersama-sama.Sesaat James pergi, Sirius dan Mary mendatangi Betty untuk menyapa. Mereka berdua mabuk. Jika bukan karena Peter Pettigrew, mungkin mereka sudah ambruk di depan Betty saat ini."Oh... Si cantik Betty dari Ravenclaw!" seru Mary. "Apa kau menikmati pestaku?"Betty terkekeh san berkata, "Tidak ada yang lebih hebat dalam pesta selain Gryffindor.""Kau memiliki jiwa Gryffindor." Sirius menepuk-nepuk pundak Betty. "Apa kau sendiri?""Aku bersama James," jawab Betty."James?" tanya Sirius."James adik kelas kita, Pads," ucap Peter.Sirius menautkan alis, mencoba mengingat James selain James Potter sahabat karibnya."James pacar Betty, dungu!" seru Mary sambil memukul kepala Sirius cukup keras."Ah! James pacar Betty! Aku tahu dia. Dia yang sering membawa benda muggle itu... Benda... Itu... membawa stik besar beroda," ucap Sirius."Skateboard," ucap Peter dan Betty hampir bersamaan."Ya! Itu-""Astaga! Marlene minum firewhisky! Ayo, Siri-sampai nanti Betty cantik!" Mary Macdonald berbicara. Kalimatnya bercampur menjadi satu. Ia menarik Sirius untuk mendekat dan berseru pada Marlene yang meminum satu botol firewhisky."Maafkan mereka," celetuk Peter."Pasti sedikit menyusahkan," kata Betty bersimpati.Peter menatap teman-temannya yang bergerombol di satu meja. "Yah... Begitulah." Peter memandang Betty kembali sembari tersenyum. "Aku akan menjaga mereka lagi," pamit Peter.Setelah Peter Pettigrew pergi, Betty tersadar bahwa James tidak segera kembali. Matanya mencari ke sana dan ke mari. Dan Betty melihat James dengan gelas yang setengah kosong berdiri dekat dengan seorang gadis Gryffindor lain. Betty tahu gadis itu. Augustine.2Betty tidak menghabiskan waktunya untuk mendekati James. Gadis itu berdiri mengamati sembari meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Betty tahu James akan kembali.Dan James kembali meski Betty harus menunggu dua puluh menit lebih lama. Betty tidak mengatakan apapun mengenai gadis itu saat James datang dengan gelas yang penuh dan kecupan di ujung kepalanya.Semenjak malam itu, semua berubah. Betty tersadar, namun ia diam. Menunggu apakah James cukup pintar untuk menyadari bahwa yang menciptakan asap ini adalah Betty, bukan dirinya. Karena Betty dapat melihat semua, tidak seperti James.Musim panas kemarin, James tidak mengangkat telepon rumahnya, selalu memberikan alasan ketika diundang makan malam, dan tidak memberikan kabar bahkan sekali. Maka ketika James berdiri di selasar rumah Betty di hari Sabtu, kecemasan di hati gadis itu berkurang sedikit.Mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar taman kompleks rumah Betty. Melihat anjing berlarian dengan anak kecil, lansia duduk di bangku, dan tak sedikit orang duduk di atas rumput, fokus pada kegiatan masing-masing."Kau ke mana saja selama ini?" tanya Betty."Aku sedikit sibuk membantu orang tuaku," jawan James tanpa berpikir panjang.Betty tahu itu bohong. Alasan itu tidak masuk akal di otak Betty, namun ia memilih tidak bertanya lebih lanjut.Makan malam berlanjut seperti biasa, namun James tidak menginap. Betty duduk di sofa menatap James yang berdiri dan membungkuk untuk memberikannya kecupan di bibir dan dahi."Aku mencintaimu," katanya.Tubuh James hilang di balik pintu. Ia tidak menunggu balasan dari Betty. Tidak berbalik tersenyum. Peris seperti ingatan Betty tentang Ayahnya di hari itu. Setidaknya Ayah Betty tidak menyiksanya dengan melakukan hal itu berulang kali.Semester baru di Hogwarts datang. James tidak menjemput dan berangkat bersamanya ke King's Cross. Betty berangkat bersama Inez."Tumben sekali kau tidak bersama James," celetuk Inez di dalam taksi."Dia sepertinya sibuk. Aku tidak tahu." Betty mengangkat bahu dan bersender pada kursi taksi.Inez menatap Betty lamat. Dan Betty tidak tahu harus bersyukur atau bersedih atas apa yang Inez ucapkan tentang James. Tentang bagaimana lelaki itu menghancurkan harapan Betty pada lelaki."Kau yakin, Inez?" tanya Betty. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanannya sendiri. Keduanya bergetar."Hanya Gryffindor yang berani melakukan hal seperti itu," tutur Inez.Betty bukanlah orang yang mudah percaya dengan gosip atau bahkan menilai seseorang dari asramanya. Ia lebih pintar dan lebih baik dari itu. Namun kali ini Betty tak dapat membela James. Karena seperti Betty, Inez pun tidak percaya dengan gosip.Betty dapat melihat James di King's Cross. Lelaki itu berlari kecil ke arahnya. Ia memeluk Betty sejenak, tidak sadar akan postur Betty yang kaku.Tahu akan tatapan yang Betty tujukan, Inez pergi meninggalkan keduanya tanpa berbasa-basi pada James."Aku merindukanmu," ucap James setelah melempar senyum yang tak dibalas oleh Inez.Like hell, you do, batin Betty. Ia tidak menatap James atau bahkan mendengarkan celotehannya. Betty terlalu sibuk meladeni suara di kepalanya."Babe, kau sakit?" tanya James membuyarkan pikiran Betty."Apa itu benar?" tanya Betty tak menjawab pertanyaan James."Apanya?""Kau dan Augustine."James membuka mulutnya, namun tak ada aksara yang diproduksinya. Betty menunggu sedikit lama. Memberikan James waktu dan ruang untuk membela diri. Namun James malah menutup mulutnya kembali."Jadi itu benar?" tanya Betty dengan kekehan kecut. "Sekarang sebutkan kesalahanku sampai kau melakukan hal seperti itu?"James terdiam seperti orang bodoh di mata Betty."Tidak? Kau tak bisa menyebutkannya?""Aku mencintaimu," James mencicit."Simpan itu! Kau pasti mengatakan pada gadis itu hal yang sama! Kau tak bisa mengejar dua gadis, James!" Betty berbisik penuh penekanan. Ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya mendengar. Itu akan memalukan.James menggantungkan kepalanya, namun Betty tak ingin melihat bahkan sehelai rambut James. Betty meninggalkan James berdiri mematung. Bahkan ia tidak berusaha untuk mengejar Betty kembali.Pertengkaran Betty dan James tak pernah berlangsung lama. Dua remaja itu mungkin akan berbaikan dengan satu ciuman di dalam mobil Betty atau The Three Broomstick. Tetapi Betty sudah muak bagaimana diamnya dianggap ketidaktahuan bagi James. Betty sudah muak kebaikannya dimanfaatkan.Musim panas ini terlampau kejam pada Betty.Dan tindakan James jauh dari kata kejam.1Betty meremas kardigan di tangannya ketika mengingat James. Ia bahkan selalu melirik ke luar jendela, seolah melihat James berdiri di sana dengan wajah seperti anak anjing yang dibuang, menunggu Betty untuk memaafkannya. Itu hanya angan Betty saja.Namun Betty tahu James.1Betty tahu jikalau James tengah berpikir keras untuk memperbaiki keadaan.Betty tahu James akan selalu terbang seperti Peter Pan di pikirannya. Menggodanya untuk tinggal bersamanya di Neverland.1Betty tahu jika James merindukannya di suatu titik ketika petualangannya mulai membosankan.Betty masih enam belas tahun dan ia tahu semuanya.1Dan Betty tahu James akan kembali."Sapu tangan?" kakak kelas secantik Helen dari Sparta itu menyodorkan sapu tangan hitam bersih untuk Betty.Betty tidak sadar bahwa ia tengah menitikkan air mata. Sedari pertengakarannya dengan James berlangsung, ia menahan semua emosinya. Fuck you, James. I hope you have miserable life, batin Betty.1Betty menerima sapu tangan itu dengan terima kasih dan menenggelamkan wajahnya sejenak lalu mengusap air matanya. Ketika ia melipat sapu tangan itu kembali, ia melihat bordiran bertuliskan Black dengan benang perak.
Kisah Hikayat Siti Maryam
Alhamdulillah segala puji bagi robb pencipta alam dunia dan akhirat, yang berkuasa atas segala sesuatu yang IA SWT kehendaki seperti kisah teladan Siti Maryam Ibunda Nabi Isa A.s yang lahir atas kehendak allah SWT tanpa ayah. Inilah kisah wanita soleha Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS yang wajib kita teladani.Ali Imran merupakan nama seorang laki-laki yang keluarganya telah terpilih menjadi keluarga yang diberkati oleh Allah. Allah memilih keluarga Ali Imran adalah karena dari pasangan suami istri ini lahir salah seorang wanita yang mulia dalam sejarah yaitu Maryam.Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)Semasa Maryam masih di dalam kandungan, istri Imran yang bernama Hannah bernazar akan "menyerahkan" anaknya itu kepada Allah sebagai Pemelihara agar kelak menjadi hamba yang soleh yang selalu berkhidmat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini tertulis di dalam ayat ke-35 yang terjemahannya berbunyi:(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (3:35)Hari-hari terus berjalan. Takdir Allah tak dapat dielakkan. Ketika masa kelahiran anaknya sudah dekat, 'Imran, suami Hannah, wafat. Hannah kehilangan suami yang mencintainya. Tidak ada yang meringankannya kecuali saudara perempuannya, yaitu Isya', dan suami Isya', Nabi Zakariya, keturunan Nabi Sulaiman bin Daud as. Untuk mencari nafkah, Nabi Zakariya berprofesi sebagai tukang kayu.Ketika tahu anak yang dilahirkan itu adalah perempuan, istri Imran menamai anaknya Maryam, dan istri Imran meminta kepada Allah agar anaknya itu dipelihara oleh Allah dan melindunginya dari syetan.Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (3:36)Hannah kemudian mengambil Maryam, membungkusnya dengan kain, dan pergilah ia bersama anaknya dari Nazariat ke Baitul Maqdis untuk melaksanakan nadzarnya. Dia menemui para pendeta yang ada di sana, yaitu putra-putra Harun, yang jumlahnya tiga puluh orang. Adapun Nabi Zakariya adalah kepala Baitul Maqdis.Hannah berkata kepada mereka, "Ambilah anak yang kunadzarkan ini!"Maka, dengan berebutan, pada pendeta itu menawarkan dirinya untuk memungut anak itu, termasuk Nabi Zakariya. Masing-masing dari mereka ingin mengambil dan memelihara Maryam, sebab bayi itu adalah anak 'Imran, seorang yang terkenal shaleh.Akhirnya semua pendeta itu setuju untuk mengundi siapa di antara mereka yang paling berhak atas anak itu. Pergilah mereka ke Sungai Urdun. Masing-masing mereka melemparkan pena-pena yang biasa mereka gunakan untuk menuliskan ayat-ayat Taurat ke dalam air sungai.Allah SWT berfirman:Ali 'Imran: 4444. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.Ternyata, air sungai menenggelamkan semua pena pendeta itu, kecuali pena Zakariya yang tetap terapung-apung di permukaan air. Dengan demikan, berarti Zakariyalah yang berhak memelihara Maryam.Allah SWT berfirman:Ali 'Imran: 3737. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Baitul Maqdis. Zakaria adalah "kuncen" Rumah Allah tersebut. Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. Dari manakah datangnya makanan itu? Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan ke Rumah-Nya, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu berasal langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.Lanjutan ayat 37 di atas:Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (3:37)Allah telah memilih Maryam sebagai wanita solehah yang dilebihkan dari wanita lain di dunia. Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (3:42)Sebagai bentuk ketaatan, Allah memerintahkan Maryam agar selalu menyembah Allah, selalu sujud dan rukuk kepada Allah bersama orang-orang lainnya lainnya yang menyembah Allah.Hai Maryam, ta'atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (3:43)Sampai suatu hari Allah akan memberikan suatu keajaiban yang tidak disangka-sangka bagi Maryam. Allah mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak lelaki yang namanya sudah ditentukan oleh Allah yaitu Isa Al Masih (atau Al Masih isa putera Maryam).(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih 'Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (3:45)Ketika masih bayi Isa kelak memiliki mukjizat yaitu sudah bisa berbicara dengan manusia:dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." (3:46)Maryam tentu saja merasa kaget, bagaiman mungkin dia akan mengandung, padahal dia belum menikah, dan dia belum pernah disentuh atau berhubungan dengan lelaki manapun. Tentu saja, karena Maryam kerjanya setiap hari hanyalah berkhidmat kepada Allah di Baitul Maqdis. Dia jarang keluar dari Rumah-Nya, apalagi bergaul dengan lelaki. Allah menjawab seperti kasus Nabi Zakaria di atas, bahwa hal itu mudah saja bagi-nya, kun fayakun, maka apapunyang Dia kehendaki pasti akan terjadi. Dialah Allah SWT yang Maha Pencipta.Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (3:47)Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (3:48)Allah mengutus Nabi Isa kepada Bani Israil. Kepada Bani Israil Nabi Isa menjelaskan tanda-tanda kenabiannya yaitu mukjizat menghidupkan burung dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kusta.Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu'jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (3:49)Nabi Isa berkata kepada kaumnya bahwa dia membenarkan kitab-itab terdahulu yang telah diturunkan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Daud (Zabur), lalu menghalalkan apa yang dahulu diharamkan.Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu'jizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta'atlah kepadaku. (3:50)Lalu Nabi Isa meminta kaumnya agar menyembah Allah SWT sebagai jalan yang benar.Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus". (3:51)
Pengantin Padi
= Beberapa tahun sebelumnya=Aura marah dan kecewa terasa menguar dari Sang Hyang Prabu Bawanapraba, Penguasa Bawanapraba. Betapa tidak! Saat ini ia terpaksa mengadili putri kesayangannya sendiri di Balairung Istana Cahaya.Nyi Pohaci Sanghyang Sri, bidadari paling cantik di seantero Bawanapraba, telah menyalahi aturan takdir dengan jatuh cinta kepada seorang makhluk fana: manusia biasa. Sanghyang Sri telah jatuh cinta pada Raden Bagus Sadhana, pangeran dari Kerajaan Purwacarita.Cinta mereka tidak boleh berlanjut! Tidak boleh ada yang menentang kehendak takdir yang telah digariskan semenjak semesta diciptakan bahwa dua entitas yang berbeda dunia, tidak akan bisa disatukan.Maka di sinilah Sang Penguasa Bawanapraba menghadapi dilema. Ia harus menegakkan keadilan, sekalipun bagi putri yang paling disayanginya."Kenapa kau berani melanggar perintah Romo dengan jatuh hati pada seorang manusia, N duk ?!" Ia bertanya dengan gusar, sementara putri kesayangannya tidak tampak merasa bersalah sedikit pun!Dewi Sri duduk bersimpuh di lantai seperti seorang pesakitan. Tapi raut mukanya tidak menunjukkan demikian. Alih-alih menunduk, ia malah sedikit mendongakkan wajahnya dan menatap langsung ke arah ayahandanya, seolah menantang!Melihat putrinya tak kunjung menjawab, Penguasa Bawanapraba semakin geram."Kau kan sudah tahu bahwa sejak dunia ini diciptakan, telah digariskan bahwa makhluk abadi semacam kita, tidak akan mungkin bersatu dengan makhluk fana seperti manusia!""Jadi, apa maksud dan tujuanmu telah jatuh cinta dan mengikat janji setia dengan seorang manusia, hah?! Jawab!""Ampun Romo Prabu, memangnya yang namanya jatuh cinta itu bisa pilih-pilih dan direncanakan?""Ananda akui, ananda memang telah melanggar aturan dengan jatuh hati pada seorang manusia. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Yang namanya perasaan, memangnya bisa dikendalikan?""Sudah lah, tidak perlu berpanjang kata. Nanda akan terima apa saja hukuman Romo Prabu, asal jangan panjenengan bunuh dia."" Romo Prabu boleh saja mencoba memisahkan kami, namun ikrar setia yang telah terucapkan sungguh tidak akan terbatalkan. Biar Sang Penjaga Waktu menjadi saksi!"Deg! Merasa namanya disebut, Sang Penjaga Waktu yang semula hanya diam menunduk mengikuti perdebatan antara ayah dan anak di sidang istana kali ini, sontak memandang Dewi Sri dengan wajah berkerut.Aduuuh, Dewi... tolong jangan libatkan aku dalam masalahmu!Mentang-mentang kau tahu aku naksir padamu--yah siapa sih, yang tidak? Semua penghuni istana ini yang masih single ya pasti naksir lah ke kamu, secara dirimu kan yang paling cantik di sini--sekarang kau berusaha menarik sekutu untuk menjamin kelangsungan hidup kekasihmu, agar Sang Pencabut Nyawa tidak bisa mendekatinya!Kebayang gak sih, sama kamu gimana perasaanku? Sakitnya tuh, di sini! !Sang Penjaga Waktu mengeja sesaknya tanpa suara.Sedangkan Sang Bawanapraba terpaksa mendesah gundah, inilah akibatnya kalau punya anak terlalu dimanja! Anak perempuan yang seharusnya lemah-lembut pun bisa berani terang-terangan menentang ayahnya!"Baiklah kalau memang itu maumu! Romo tidak akan membunuh pemuda itu, namun Romo tetap tidak akan membiarkan kalian bersatu!""Kau dihukum untuk turun dari Bawanapraba ini ke bumi, tidak... tidak, jangan gembira dahulu!"Sang Penguasa Bawanapraba sontak memotong kata-katanya sendiri saat melihat putrinya yang sedang dijatuhi hukuman justru tersenyum bahagia!"Jangan kau pikir dengan diturunkan ke bumi, kau jadi punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu pemuda itu. Tidak akan!"" Romo akan mengubah wujud cantikmu menjadi seekor ular sawah, sehingga bila pun kau tak sengaja bertemu pemuda itu, ia tak kan lagi mengenalimu! Biar kau rasa bagaimana sakitnya diabaikan nanti!""Kau juga Romo bebani tugas untuk mengendalikan panen serta menjadi dewi penjaga kesuburan dan kemakmuran di muka bumi, dengan nyawa kasihmu, sebagai taruhannya!""Bila kau gagal, kasihmu akan langsung menemui ajalnya!"" Sendhiko dawuh, Romo. Siaaap!"Senyum kemenangan tetap terukir di bibir Dewi Sri.Menyebalkan! Putriku ini pasti sedang merencanakan sesuatu!Batin Penguasa Bawanapraba, kesal pada kelakuan putrinya.Bukankah perkataan Romo bermakna ganda? Jika aku berhasil menjalankan tugas dengan baik, itu artinya kekasihku akan berumur panjang, bukan?Dan selama nyawa masih di kandung badan, kesempatan untuk bertemu dengannya tentu saja tetap terbuka lebar. Bukankah kami kini akan menatap langit dan memijak bumi yang sama ?Perkara kata Romo, dia tak kan lagi mengenaliku sih gampang. Aku yakin hal itu tidak akan terjadi! Cinta kami yang kuat, pasti akan sanggup membuat kami tetap sanggup saling mengenali satu sama lain meskipun rupa telah berganti .Dewi Sri menggemakan sorak-sorai kegembiraan atas keputusan hukuman dari Sang Romo dalam hatinya. Dipikir dari segi manapun, menurutnya, ia tidak rugi sama sekali!+++=Beberapa tahun kemudian=Sang Penguasa Bawanapraba kembali menghadirkan putrinya, Sanghyang Sri di balairung istana.Karena posisinya masih sebagai pesakitan yang sedang menjalani masa hukuman, Dewi Sri kembali duduk bersimpuh di lantai.Tapi tetap saja, tidak ada rasa bersalah sedikit pun yang terukir di raut wajah Dewi Sri yang kini kembali ke wujudnya semula sebagai bidadari paling cantik di seantero Bawanapraba. Sihir dan magi tidak berlaku di istana ini. Penampakan ularnya hanya mewujud di bumi.Mana bisa jatuh cinta dianggap sebagai suatu kesalahan?Perinsip itu, ia pegang kuat-kuat dalam hati! Ia tidak salah, maka tidak perlu merasa bersalah.Oleh karena itu, bahkan sebelum Sang Penguasa Bawanapraba mengatakan apa-apa, Dewi Sri justru berani lebih dulu bertanya!"Kali ini ada apa lagi tho, Romo? Ananda telah berusaha menjalankan tugas eh, hukuman dink, dengan baik, tanpa melakukan kesalahan apapun!" ujarnya.Aduuuuh, putrinya ini kok ya semakin menjadi-jadi kelakuannya! Di mana sopan-santunnya?! Belum ditanya orang tua, malah sudah mendahului bertanya!Tapi mau tidak mau, ia harus menjawab pertanyaan putrinya. Ia memang ada perlu memanggil putrinya kembali ke Istana Cahaya."Begini N duk, kau kan tahu, dalam pertempuran terakhir melawan Raja Iblis, tongkat mustika Romo ini pecah kristalnya...," kata Penguasa Bawanapraba sambil menunjukkan ujung tongkatnya yang menganga kepada sang putri."Oh yaaa? Romo Prabu habis bertempur ya? Menang apa kalah? Wah, ananda tidak tahu tuh karena sedang sibuk bekerja, eh dihukum dink, di bumi!"Dewi Sri menunjukkan wajah antusiasnya yang palsu. Tentu saja, ia sedang menyindir ayahnya!"Ya menang, lah! Kalau tidak mana mungkin Romo masih berdiri menemuimu di sini!" sahut Penguasa Bawanapraba kesal. Ia tahu anaknya itu sedang mengolok-oloknya!"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi apa hubungannya denganku? Apa ananda dipanggil pulang hanya untuk dipameri kristal Romo yang pecah?"Nyi Pohaci Sanghyang Sri yang sebelumnya merupakan bidadari tercantik di seantero Bawanapraba telah dinyatakan bersalah, karena jatuh cinta pada seorang manusia.Ia pun dihukum turun ke bumi dalam wujud ular sawah, yang diberi tugas untuk mengendalikan panen dan kemakmuran.Tetapi hari ini, Penguasa Bawanapraba memanggilnya kembali ke Istana Cahaya. Kira-kira ada urusan apa ya?Cuss... silakan dibaca.+++"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi apa hubungannya denganku? Apa ananda dipanggil pulang hanya untuk dipameri kristal Romo yang pecah?"Aduh, anak ini! Lagi-lagi omongannya selalu bikin orang tua naik darah!"Dengarkan dulu, kalau orang tua bicara! Jangan dipotong terus!" Penguasa Bawanapraba mau tidak mau jadi nyinyir, menghadapi kelakuan putrinya."Ya maap, tapi masalahnya Romo Prabu kan suka lama kalau cerita, sementara 'nanda kan sibuk bekerja, eh dihukum dink, untuk mengendalikan panen....Kalau ananda kelamaan di sini dan mengakibatkan masalah perpanenan di bumi tidak ada yang mengurusi, takutnya penduduk bumi tar banyak yang gagal panen trus nanda lagi yang disalahin!Sudah deh, Rom, to the point saja. Maunya Romo, ananda itu harus gimana?"Haaaaah....Penguasa Bawanapraba menghembuskan nafas dengan sebal!Sabar, sabar, kalau punya anak terlalu pintar bikin orang tua kesal!Terkadang hampir-hampir, ia tidak mampu membalas lidah tajam anaknya!"Ya sudah!" Penguasa Bawanapraba terpaksa mengalah dan meringkas ceritanya."Intinya begini, kau kuberi tugas tambahan. Romo mau kau carikan pecahan kristal tongkat mustika yang jatuh di wilayah yang ada dalam penguasaanmu!"Sebagaimana permintaan putri kesayangannya, Sang Hyang Prabu Bawanapraba berusaha menjelaskan sesingkat mungkin. 'Berusaha' sih, tapi...."Dan bukan kau saja! Sebelumnya Romo juga telah memerintahkan delapan penjaga mata angin, enam penunggu alam, tiga pengendali elemen, dan pengendali musim yang lain untuk mulai mencari pecahan kristal tersebut di...."Tuh kaaan, to the point apaan! Alamat bakalan lama ini mah! Batin Dewi Sri.Karena itu, sebelum Penguasa Bawanapraba menyelesaikan penjelasannya, lagi-lagi Dewi Sri telah memotong perkataannya dengan tidak sabar. Ia mencoba merajuk untuk mengelak dari tugas barunya." Whaaaat?! Please, dunk Rom, tugas hukuman ananda tuh sudah banyak dan bikin sibuk. Kok malah ditambah-tambahin lagi, sih? Romo tega amaaat...."" Romo sudah tahu kau akan bilang begitu! Makanya dengarkan dulu cerita Romo !" Jawab Penguasa Bawanapraba sambil memberungut."Jadi pecahan kristal tongkat mustika itu masih punya cukup kekuatan untuk membuat siapa pun penemunya menjadi sakti." lanjutnya."Bayangkan, kalau kristal itu jatuh ke tangan makhluk yang salah, Banaspati misalnya, tentu kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat sehingga mampu membumihanguskan seluruh persawahan yang ada dalam pengawasanmu!Apa kau sanggup bertanggung jawab kalau hal itu sampai terjadi?!" Penguasa Bawanapraba mencoba menggertak putrinya."Ya enggak gitu juga kali, Roooooom ," Dewi Sri berusaha berdiplomasi."Tapi memangnya ananda bisa apa, kalau sampai seperti itu? Segala kesaktian, kekuasaan, dan pesona kecantikan yang semula nanda miliki 'kan sudah Romo lucuti!Yang tersisa cuma tinggal kemampuan untuk main perintah ke pengendali hujan dan pengendali (hewan) hama doank, demi mensukseskan masalah perpanenan. Memangnya bisa tuh, kemampuan gak penting macam itu dipakai untuk menemukan kristal mustika?""Makanya kau dipanggil pulang! Dengarkan dulu tah, kalau orang tua mau menjelaskan. Jangan dipotong melulu!"" Okay, Rom, okay. Cuss, silakan dilanjut ceritanya. Tapi pakai kilat khusus saja, ya.... Ga pake lama!"A mpuuun, ampuuun! Lama tinggal di bumi ternyata juga membuat kemampuan berbahasa anaknya jadi amburadul! Ke mana sisa budi bahasa luhur yang dulu diajarkan para orang tua?Lagi-lagi Sang Hyang Prabu Bawanapraba hanya bisa membatin kesalnya."Jadi begini Nduk, sebenarnya, segala kesaktianmu itu tidak dihilangkan, melainkan disegel dalam Kristal Nagini, yang Romo simpan baik-baik.""Oh, ya? Kalau ada kristal itu, ananda bisa balik sakti lagi, ya Rom?Kalau g itu, sini balikin kristalnya, Rom ! Biar hidup ananda, ga sengsara-sengsara banget!Repot tau jadi ular sawah.... Kalau perutnya mules harus BAB. Kalau lapar, terpaksa harus makan kodok atau tikus--yang gak enak banget rasanya, sumpah! Nha kalau makannya kebanyakan, tar perutnya jadi gendut pulak!"Ssssshht!Penguasa Bawanapraba menggeram pelan, memperingatkan anaknya agar kembali diam, mendengarkan.Dewi Sri pun memberikan isyarat angkat tangan, tanda menyerah dan paham."Nah karena Kristal Nagini itu sejenis tetapi berbeda jenis dengan Kristal Tongkat Mustika....""Bentar, bentar, Rom," lagi-lagi Dewi Sri memotong perkataan ayahandanya."Sejenis tetapi berbeda jenis itu maksudnya gimana, ya? Ananda gagal paham!""Ihh..., baru saja diomongin, jangan motong omongan Romo melulu, eh... terus saja dilanggar! Ini juga baru mau dijelaskan, makanya dengarkan dulu!"Dewi Sri tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala dan memberi isyarat 'hormat grak' dengan tangannya, tanda siap melaksanakan perintah ayahandanya untuk tidak memotong pembiaraan lagi."Kristalmu dan Kristal Tongkat Mustika Romo itu laksana dua magnet yang berbeda. Mereka akan saling tarik-menarik.Dan berhubung Kristal Naginimu itu sekarang ukurannya lebih besar, dia akan menarik keberadaan pecahan kristal tongkat mustika mendekat sehingga memudahkanmu untuk menemukannya.Kalau pemegang pecahan kristal tongkat mustika sudah dekat denganmu, kau akan merasakan auranya. Kristal Naginimu akan bercahaya."Nanti kau tinggal arahkan Kristal Nagini padanya, dia akan menarik pecahan kristal tongkat mustika keluar dari tubuh pembawanya, kemudian menyerap pecahan kristal tersebut.Mudah sekali kan, tugasmu kali ini? Kau tinggal ongkang-ongkang kaki, e... tau-tau sudah beres sendiri!"E h busyet, enak banget Romo ngomongnya!Bukannya tadi Romo sendiri yang bilang, kalau pecahan kristal mustika itu bikin siapapun pemegangnya jadi sakti?Emangnya ada makhluk yang sudah terlanjur sakti rela kesaktiannya dilucuti begitu saja?Ya kali, makhluk itu bakal tinggal diam kalau pecahan kristal mustika yang dikuasainya ditarik paksa sama ular sawah bertampang degil macam wujudku di bumi !Pasti aku bakalan dihajar, diburu, dan diserang mati-matian sama makhluk itu, lah!Lha aku bisa apa, coba?! Mo melawan bagaimana, kalau kaki sama tangan saja gak punya!Dewi sibuk berpikir dan berdebat sendiri dalam pikirannya.Lain halnya dengan Sang Penguasa Bawanapraba. Ia yang semula diserobot terus omongannya lalu sekarang justru diabaikan oleh putrinya, kini jadi kesal. Ia pun bertanya dengan nada memerintah pada putrinya."Jadi bagaimana?! Kau setuju saja kan, dengan tugas tambahan dari Romo ?Kalau setuju, nih Romo kembalikan Kristal Naginimu!"Hari ini aku, Raden Bagus Sadhana, Pangeran Pati Kerajaan Purwacarita, sangat gembira!Akhirnya, setelah selametan hari lahirku yang ke-17, Kanjeng Romo Prabu dan Bunda Ratu Prameswari memberiku izin untuk melangkahkan kedua kakiku keluar gerbang istana.Kebayang gak sih, ada ABG tampan sebesar ini tidak punya pengalaman apa-apa untuk menghadapi dunia luar karena seumur hidupnya terkungkung di istana?Ada tho, anak laki-laki yang dipingit gak boleh keluar rumah?Ada! Itulah diriku, sebelumnya!Yah, sebetulnya aku lumayan paham sih alasannya.Jadi, berhubung Kanjeng Prabu Mahapunggung dan Prameswari Dewi Gemi, ayah-bundaku hanya memiliki anak tunggal, yaitu diriku. Maka mau tidak mau, segala tumpuan harapan penerus takhta satu-satunya pun dibebankan ke pundakku.Sebetulnya, katanya, dulu Bunda Ratu dan Eyang Ibu Suri sempat mengusulkan kepada Kanjeng Romo Prabu untuk mengambil garwo selir -- soalnya kan wajar saja tuh para raja di zaman ini punya beberapa istri-- agar dapat memiliki beberapa putra lagi sebagai cadangan kalau sampai ada apa-apa yang terjadi padaku.Idih, amit-amit! Jangan sampai ada apa-apa juga kali!Tapi ya begitu, katanya karena Kanjeng Romo terlalu cinta sama Bunda Ratu, maka ia bersetia dan tidak sudi untuk melirik perempuan lainnya.Duh so sweet banget ya, kisah cinta ayah-bundaku yang membara? Bisa gak, kira-kira aku nanti ketemu sama belahan jiwaku sendiri yang akan aku cintai sampai nanti, seperti mereka, kalau selama ini aku terus terkurung di istana?!Yup, literally dari bayi sampai sebesar ini aku memang gak dibolehin ke luar istana sama sekali! Ya itu tadi, gara-gara diriku calon penerus takhta tunggal, ayah-bundaku takut kalau aku bakal diculik, disakiti, atau bahkan dibunuh oleh musuh-musuh kerajaan.So begitulah, selama ini aku terpaksa belajar tata negara, strategi perang, ekonomi dan hubungan bilateral antar negara, serta sejarah silsilah leluhur, cukup dari dalam tembok istana.Romo Prabu dan Bunda Ratu telah mengundang guru-guru terbaik dari segenap penjuru negeri untuk memberi pelajaran khusus kepadaku.Mungkin sistem pembelajaran macam inilah yang kelak menjadi cikal-bakal home schooling yang di masa depan nanti akan banyak dipilih oleh para orang tua kaya dari generasi penerusku.Katanya, demi mencegah agar anaknya tidak diculik or salah gaul sehinggga bisa jatuh cinta sama orang kere yang tidak keren.Well , pada salah kaprah tuh! Bukannya yang namanya cinta itu tak memandang kasta?Kanjeng Romo aja waktu mudanya jatuh cinta sama Bunda Ratu yang cuma anak rakyat jelata dan menikahinya!--Ini juga kali ya, yang bakal jadi inspirasi mayoritas cerita romance wattpad di masa depan: kisah cinta CEO dan gadis biasa. CEO, apaan? Katanya dia itu sebangsa raja kerajaan bisnis, saat nanti raja kerajaan beneran udah langka...--Kembali ke soal pelajaran, begitu pun dengan berkuda, memanah, dan berenang--nih tiga pelajaran katanya penting banget loh--juga bermain pedang dan olah kanuragan lainnya, cukup kupelajari di lingkungan dalam istana tanpa praktik luar alias PPL sama sekali.Kebayang dunk, betapa kuper dan gak punya temannya diriku?Untung diriku anaknya manis dan sabar, jadi gak pernah mengeluh *lah yang barusan namanya apa coba(?)* or melakukan pemberontakan semacam berusaha kabur dari istana. Gak pernah sama sekali!Udah gitu diriku juga pintar, jadi semua pelajaran yang disampaikan oleh guru-guruku, dapat aku kusai dengan sangat baik. Minimal secara teori, sih.Oleh karenanya, ketika kemarin aku berulang tahun ke tujuh belas dan Romo Prabu memberiku perkenan untuk meminta apa saja sebagai hadiahnya, aku langsung sontak minta diizinkan jalan-jalan ke luar istana.Aku mau mengamati keadaan rakyatku dari dekat a.k.a blusukan , juga mau mempraktikkan pelajaran berkuda dan memanahku untuk berburu rusa di hutan larangan yang katanya telah over-poppulated sehingga sering menyerang huma dan sawah penduduk.Lalu ya siapa tahu, siapa tahu aja loh ya, bisa jadi aku akan bertemu gadis idamanku sebagaimana Kanjeng Romo yang bertemu Bunda Ratu, saat Kanjeng Romo berburu dan menyelamatkan Bunda Ratu dari harimau yang hendak menerkamnya. Langsung deh mereka jatuh cinta pada pandangan pertama....Mauku sih bisa me- remake kisah cinta mereka, biar ga pusing bikin skenario kisah cinta sendiri. Tapi mau bagaimana lagi..., harimau sekarang sudah langka dan dilarang untuk diburu.Makanya alih-alih berburu harimau, kini aku tepaksa berburu rusa!Dan kenapa harus di hutan larangan? Well, selain karena populasi rusa di sama katanya telah meraja lela, tentu saja ada alasan lainnya!Hutan Larangan itu meskipun kabarnya wingit sarang demit, tapi kemungkinan masih ada harimaunya sebab jarang dijamah manusia.Jadi kalau nanti ada gadis cantik yang mau diterkam harimau aku akan tetap bisa menyelamatkannya!Bukan, bukan dengan cara membunuh si harimau, kan udah dilarang. Lagian aku mana tega, secara harimau kan unyu bingitz macam kucing raksasa.Karena itu aku berburu rusa! Rencanaku nanti kalau ada harimau hendak menerkam gadisku, aku umpan saja harimaunya dengan rusa hasil buruanku!Setelah harimau itu teralihkan perhatiannya, aku tinggal menyelamatkan gadisku, deh. Pasti nanti dia akan berterima kasih, trus jatuh cinta kepadaku, dan mencium lembut pipiku... kyaaa...! Aduh jadi malu aku membayangkannya!Kanjeng Romo dan Bunda Ratu, dulu gitu gak ya? Maksudku, sampai bagian cium-cium pipi juga gak sih? Duh, gak lengkap tuh ceritanya! Kapan-kapan aku korek-korek lagi ah, cerita masa muda mereka....Strategi berlapis ciptaanku oke banget, kan? Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui!Sambil jalan-jalan, aku dapat mempelajari kehidupan rakyat. Sambil mempraktikkan pelajaran berkuda dan memanah, aku bisa berburu gadis idaman!+++Persiapan program blusukan pertamaku yang proposalnya sudah di- acc Kanjeng Romo tampaknya berlangsung terlalu heboh!Ya kali, cuma untuk jalan-jalan dan berburu doank, Kanjeng Romo memerintahkan sekompi pasukan yang dipimpin langsung sama Panglima Jendral Kerajaan?!Apa kata dunia? Tidakkah aku nanti jadi dirasani oleh seluruh penduduk bumi bahwa Pangeran Kerajaan Purwacarita manja kali ya, mo jalan-jalan aja baby sitter- nya segudang!Namun Romo Prabu, Bunda Ratu, maupun Panglima Jayanata bergeming pada pendiriannya bahwa kalau sampai terjadi apa-apa padaku, seluruh kerajaan tak kan sanggup menahan dukanya!Ya sudahlah, daripada berdebat panjang lebar malah gak jadi-jadi berangkat, terpaksa lah aku mengalah.Padahal dalam hati aku menyesalkan keputusan ini, karena tidak mendukung agendaku!Kanjeng Romo dulu bisa berkesempatan jumpa Bunda Ratu karena saat berburu hanya ditemani lima orang pengawal terdekatnya!Lha kalau aku berburunya dikawal ratusan orang begini, bagaimana aku bisa bertemu gadis harimauku?Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan gadis impian yang akan kuselamatkan dari harimau? Yang ada harimaunya bakal kabur duluan dan gadisku langsung ngumpet!Tipis sudah kemungkinanku untuk bisa mengulang kembali legenda cinta orang tuaku! Ataukah nanti akan ada jalan lain?Malam itu, untuk pertama kalinya, Sadhana tidak dapat tidur nyenyak.Bukan karena biasanya ia tidur di atas kasur kapuk empuk sedangkan malam ini ia terpaksa tidur dalam tenda berlapis tikar tipis di tanah keras. Sama sekali bukan. Ia bukan pangeran manja.Sadhana sulit tidur karena jantungnya belum netral juga selepas bertemu Sang Dewi. Otak, juga matanya jadi agak konslet. Ia merasa melihat Sang Dewi di mana-mana, sedang tersenyum kepadanya.Ih, halu banget gak sih, Si Sadhana? Perasaan tadi Sang Dewi itu bukan tersenyum, melainkan menertawakannya!+++"Duh, siapa ya nama Dewi itu?" Sadhana berguman dalam lamunan."Cantiiiiiiiik, sekali!" Sadhana tersenyum sendiri membayangkan Sang Dewi."Belum pernah aku bertemu gadis secantik dia! Aku ingin ... bertemu lagi dengannya," lanjutnya setengah tak sadar."Aku merasa ... apa ya, namanya? Rindu ataukah jatuh cinta?"Sebersit perasaan asing mulai menyusup di hati Sadhana. Ia sibuk berharap dan menerka-nerka, gadis itukah yang akan menjadi takdirnya?Saat dihantam perasaan asing ini, logika dan segala kepintaran Sadhana yang di atas rata-rata seolah terkunci. Ia sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan gadis yang ditemuinya tadi.Memangnya ada, gadis beneran yang bakal diizinkan keluyuran sore-sore ke tengah hutan sendirian untuk mandi?Otak Sadhana menyangkal. D ulu juga Bunda Ratu berkeliaran sendiri cari kayu bakar di tengah hutan sehingga bertemu Kajeng Romo . Tapi kan ya, gak mo maghrib gitu!?Terus apa tidak Sadhana perhatikan, bahwa gadis tadi sebetulnya terlalu cantik? Kecantikan dan segala tindak-tanduk gadis itu nyaris tidak manusiawi!Lah, memangnya kecantikan yang manusiawi itu yang bagaimana? Mana kutahu, soalnya kan baru pertama kali ini aku bertemu secara pribadi dengan seorang perempuan selain Bunda Ratu dan Eyang Ibu Suri .Dayang-dayang gak masuk hitungan loh! Mereka selalu datang bergerombol dengan wajah yang tampak nyaris sama(?).Otak Sadhana lagi-lagi berusaha mengeluarkan sanggahan yang menurutnya masuk akal.+++Demikianlah, sepanjang malam Raden Sadhana sibuk berpikir sambil menghayal. Tahu-tahu pagi telah hampir menjelang...."Aduh gawat!" ucapnya sambil menepok jidat, "aku belum tidur! Tar kalau mataku kayak panda dan tampangku jadi jelek pas ketemu Dewi, gimana?" lanjutnya gusar."Aduh gawat kuadrat!!" Sadhana menepok jidatnya lagi dua kali."Semalam aku ngapain aja sih, kok malah belum mikir, kalau nanti ketemu Dewi lagi, aku harus ngomong apa?Masa' aku langsung nembak: maukah dikau jadi anu-ku, gitu?""Aduuuh, kan malu!" Pipi Sadhana bersemu merah. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang bebas ketombe dan tidak gatal untuk mengurangi resahnya."Ya sudahlah, dipikir karo mlaku!"" Mending aku berangkat ke telaga sekarang saja daripada telat bertemu Sang Dewi. Biarin deh, aku yang nunggu tanpa batas waktu...."Sadhana pun bergegas pergi menuju telaga. Tak lupa, agar tidak dicari ataupun diikuti prajuritnya, ia berpamitan langsung pada Panglima Jayanata."Panglima, saya mau ke telaga. Panggilan alam, sekaligus mau mandi dan berenang. 2-3 jam-an lah. Jangan diintipin loh ya!Tar aja kalau lewat 3 jam saya belum kembali, tolong dicari, barangkali saya ketiduran di sana. Oke?"+++Sadhana menunggu Sang Dewi sambil terkantuk-kantuk di tepi telaga. Jelas saja, semalam ia belum sempat tidur. Ia akhirnya benar-benar tertidur dan masuk ke alam mimpi.Dalam mimpinya Sadhana merasa Sang Dewi menggenggam tangannya, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Sadhana dan berbisik mesra... " Aku padamu...."Ceesss... Byuuurrr!Tiba-tiba Sadhana merasakan ada yang 'dingin dan basah' mengenainya.Ahh!Rupanya Dewi itu sudah datang dan dengan sengaja melompat ke dalam telaga tepat di depan wajah Sadhana sehingga cipratan air mengenainya."Dewi, kau datang!" serunya kencang."Terima kasih karena tidak mengingkari janji untuk bertemu denganku lagi," ujarnya riang.Dewi itu tidak merespon ucapan Sadhana, malah asyik berenang sendiri. Sama seperti kemarin, ia masih tetap berenang dengan baju lengkapnya! Sadhana mati kutu. Ia bingung hendak bicara apalagi.Lalu tiba-tiba Dewi itu menyelam dan meluncur cepat ke tepi telaga. Ia memunculkan kepalanya dari dalam air persis di hadapan muka Sadhana, dan berkata, "kapan aku berjanji padamu, Bocah?!"Sadhana terkejut dan terjengkang dari posisi duduknya di atas batu. Ia reflek menggenggam lengan Dewi itu sebagai pegangan untuk menghentikan jatuhnya.Halus dan dingin.Sadhana tergoda untuk merengkuh lengan itu di dadanya, untuk menghangatkannya."Eh, anu, maaf," ucap Sadhana dengan wajah memerah. Setelah posisinya seimbang kembali, ia baru sadar telah menggenggam lengan Dewi itu terlalu lama. Ia pun berdiri dan melepas genggaman tangannya.Sadhana merasa menyesal harus melepas lengan Sang Dewi demi tata krama, tapi tak urung dalam hati ia bersorak: tadi Sang Dewi tidak berusaha menepis tangannya meskipun ia menggenggamnya cukup lama! Itu kan artinya...."Dewi, beritahukanlah kepadaku nama indahmu...," Sadhana bertanya malu-malu.Dewi itu keluar dari telaga dan duduk ke batu besar yang tadi diduduki Sadhana, dengan posisi membelakanginya. Ia memeras air dari rambut panjangnya yang tergerai basah, seolah tak peduli akan kehadiran Sadhana yang berdiri di belakangnya dengan resah.Sadhana meneguk ludah, ia ingin sekali turut membantu Sang Dewi meremas rambut basahnya!"Kenapa aku harus?!" Ucap Dewi itu, tiba-tiba.Sadhana yang sedang membayangkan membelai rambut basah Sang Dewi pun tersentak kaget dan berseru, "eh, apa?""Cih! Bocah, ternyata otakmu mesum juga! Hwakakakakakak!" Ia tetawa keras dan melirik Sadhana dengan pandangan mencibir, seolah tahu apa yang baru saja terlintas dalam benak Sadhana."Aku tidak...." Sadhana menangkupkan dua tangan di wajahnya karena malu. Kenapa Dewi itu seolah tahu apa yang dipikirkannya, ya?Setelah tawa Sang Dewi mereda dan harga dirinya kembali, Sadhana mencoba mengulang kembali pertanyaannya yang terbaikan."Anu Dewi, nama....""Kenapa aku harus memberitahumu?!" Dewi itu menoleh cepat sehingga berhadapan langsung dengan wajah Sadhana.Wajah Sadhana langsung memerah lagi, tapi ia menguatkan diri agar tidak berpaling. Tatapan mata Dewi itu pun membiusnya, Sadhana terperangkap dalam manik indahnya."Agar aku dapat senantiasa menyebut namamu dalam do'a," Sadhana menjawab dengan suara parau. Setengah tak sadar, tangan Sadhana terulur hendak menyentuh lentik bulu mata Sang Dewi.Sebelum berhasil niatnya, Dewi itu sigap menangkap tangan Sadhana. Sadhana merasakan sensasi aneh di perutnya. Seperti ... ada ratusan kupu-kupu beraneka warna yang terbang di dalamnya?"Dengar ya Bocah, aku ini bukan jenis makhluk yang perlu kau do'akan! Hwahahahaha." Ia tertawa dan melepaskan tangan Sadhana.Jari-jari Sadhana langsung merasakan kerinduan."Tapi aku mencintaimu dan butuh selalu menyebut namamu dalam do'aku," sembur Sadhana cepat, takut kehilangan momentum."Hwakakakakak!" Dewi itu lagi-lagi terbahak dengan keras hingga bahunya terguncang. Sadhana teringin meredam guncangan bahu itu di dada bidangnya.Lalu tiba-tiba Dewi itu berdiri di atas batu sehingga tampak menjulang tinggi bagi Sadhana. Ia menunjuk Sadhana tepat di muka."Cinta kau bilang? Hahaha, itu lucu sekali!"Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "lihat baik-baik diriku! Dibandingkan dengan diriku, kau ini tidak ada apa-apanya, Bocah!"Sadhana mengangguk patuh. Dewi itu benar, pasti dalam benaknya ia tak lebih dari seorang bocah yang jatuh cinta pada wanita dewasa. Berapa ya usia Dewi itu? 24, mungkin?"Benar Dewi, mungkin bagimu aku memang masih bocah. Tapi perasaanku ini nyata, dan aku bersumpah akan bersetia kepadamu!" Sadhana menangkap jemari tangan kanan Sang Dewi dengan tangannya. Kemudian mengecupnya lembut.Ia lalu menatap langsung ke manik mata Sang Dewi untuk menegaskan sumpahnya.Sebentuk ekspresi takjub di wajah Sang Dewi sempat terekam di mata Sadhana, sebelum ia kembali tertawa."Hahaha, jangan mengumbar janji yang tak kan mampu kau tepati, Bocah!""Mari kita lihat, 2-3 tahun lagi, masihkah perasaanmu sama?!""Baik, tunggu aku 2-3 tahun lagi! Aku pasti akan langsung membawa Romo dan Bundaku ke sini untuk melamarmu!""Sekarang berilah aku nama, agar dapat mengikrarkan sumpah setia dan menyebutkan selalu namamu dalam do'a." Sadhana sungguh mengharapkan jawaban Sang Dewi."Sri." Dewi itu hanya mengucapkan satu kata, lalu memalingkan wajahnya dari Sadhana.Sadhana segara menangkap kelingking Dewi Sri dan mengaitkannya ke kelingkingnya sendiri. Ia kemudian mengikrarkan sumpahnya."Aku Bagus Sadhana bersumpah untuk bersetia kepada Dewi Sri. Aku akan datang dua atau tiga tahun lagi untuk melamarnya di tempat ini, di hari yang sama."Tepat seusai ikrar sumpah Sadhana terucap, langit yang semula cerah tiba-tiba tertutup awan hitam! Guntur dan petir pun bersahutan!Dewi Sri menatap langit dan wajah Sadhana bergantian dengan ekspresi tak terbaca. Tapi ia belum melepas kaitan kelingking mereka."Kita lihat saja nanti," ucapnya pelan."Sekarang pulanglah ke istanamu! Sebentar lagi badai akan memporak-porandakan tempat ini.Rusa dan harimau telah merasakan firasat buruknya sedari kemarin dan bersembunyi. Kau tidak akan mungkin berjumpa dengan mereka sekarang."Dewi Sri kemudian melepaskan kaitan kelingking mereka dan melangkah ke arah yang berlawanan dari perkemahan Sadhana.Sejenak Sadhana termangu. Bagaimana Dewi Sri bisa tahu, kalau dirinya berasal dari istana? Ia kan tidak memberitahunya? Tapi suara Dewi Sri yang beranjak pergi kemudian menyadarkannya."Pulang sekarang Sadhana! Atau kau akan habis dihajar badai!"Eh, apa? Ia tidak salah dengar, kan? Barusan Dewi Sri menyebut namanya dan bukan 'Bocah' lagi, kan? Mungkinkah Dewi Sri mulai menganggapnya sebagai seorang kekasih?Hati Sadhana sontak berseru gembira."Iya Dewi, aku akan selalu mematuhimu," ucap Sadhana dengan senyum secerah mentari.Sadhana segera kembali ke pekemahannya dan disambut dengan wajah-wajah cemas. Ia telah pergi terlalu lama, sementara firasat akan datangnya badai rupanya telah tercium oleh Panglima Jayanata.Panglima Jayanata sudah memerintahkan pasukan membongkar tenda agar dapat segera berangkat begitu pangeran mereka tiba untuk menghindari badai ini, ke pemukiman terdekat.
Cerita Candi Prambanan
Menurut legenda, sejarah Candi Prambanan dibangun atas permintaan Roro Jonggrang yang menginginkan 1.000 candi dalam waktu semalam. Raden Bandung Bondowoso yang saat itu lagi bucin-bucinnya, menuruti permintaan sang ‘calon’ kekasih.Konon, ia menggerakkan pasukan jin untuk membangun candi tersebut semalaman. Namun, pada akhirnya tetap gak berhasil, karena hanya jadi 999 candi setelah ayam berkokok. Nah, itu cerita legendanya, bagaimana dengan sejarah sebenarnya?Berdiri kokoh di sisi timur Yogyakarta, kamu akan dengan mudah menemukan candi ini di pinggir jalan arah ke Klaten. Kompleks candi yang jadi situs warisan dunia UNESCO pada 1991 ini, memiliki taman luas dengan pagar hijau. Bangunan utamanya sedikit terlihat dari jalan raya.Membicarakan sejarah Candi Prambanan, mengajakmu kembali ke abad ke-8 Masehi, awal mula bangunan megah ini digunakan. Candi Prambanan sendiri diketahui, diresmikan pada pemerintahan Kerajaan Medang Mataram atau Mataram Kuno.Menurut candrasengkala, rumusan penanggalan pada prasasti Siwagrha menunjukkan tahun peresmian candi, tepatnya pada 778 Saka atau 856 Masehi. Dilansir Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta milik Kemdikbud, peresmian dilakukan oleh seorang raja bernama Jatiningrat. Sayangnya, gak ada informasi lebih lanjut terkait siapa sosok ini.Sementara, situs Perpustakaan Nasional Indonesia, menuliskan pembuatan atau peresmian Candi Prambanan diduga berlangsung pada pertengahan abad ke-9. Pada tahun tersebut, kerajaan Medang Mataram dipimpin oleh raja dari Wangsa Sanjaya, Raja Balitung Waya Sambu. Sumber ini merujuk pada prasasti serupa yang saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.