Gambar dalam Cerita
Suatu awal musim semi, dari kuncup bunga tulip merah muda yang baru saja mekar, terlahir peri kecil tanpa sayap bernama Ana yang menimbulkan kekagetan bagi seluruh peri di Perilaria. Sudah bertahun-tahun lamanya, terakhir kali ada peri di Perilaria yang lahir tanpa sayap. Peri yang terlahir tanpa sayap sangatlah menyedihkan. Seperti terlahir tanpa tujuan hidup, karena tanpa sayap, peri tidak dapat menghasilkan serbuk peri dari kepakkan sayap mereka saat terbang. Dari serbuk peri itulah, para peri di Perilaria memiliki kemampuan untuk memekarkan bunga di musim semi, menurunkan hujan di musim panas, memunculkan pelangi setelah hujan di musim gugur, serta menghangatkan Perilaria di musim dingin.
Ana yang baru saja membuka mata langsung kebingungan ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh peri-peri yang menghujaninya dengan tatapan khawatir. Apa maksud dari tatapan itu? Apa yang terjadi dengan dirinya hingga mendapat tatapan itu?
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Ada apa?" tanya Ana sambil mendudukkan dirinya di dasar bunga. Ia balas menatap satu per satu peri yang mengelilinginya, meminta jawaban atas pertanyaannya.
"Kamu ...," peri dengan gaun kuning dari kelopak bunga mataharilah yang pertama buka suara, "tidak bersayap."
Ana mengedipkan matanya berulang kali karena bingung. Ia tidak bersayap? Bagaimana bisa? Ana kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untuk mengamati raut wajah peri lainnya. Mereka semua tampak sama, yang membedakan mereka hanyalah warna pakaian mereka dan jenis bunga yang menjadi dasar pakaian mereka. Juga tentunya, mereka semua memiliki sayap di balik tubuh mereka. Hingga akhir dari pandangannya, Ana mendapati tatapan iba yang sama.
Ana perlahan bangkit dari posisi duduknya dibantu oleh peri bergaun kuning bernama Sunny yang tadi menjawab pertanyaannya. Mereka berdua berjalan keluar dari kelopak bunga diikuti oleh peri-peri lainnya menuju genangan air yang ada di atas tanah. Ana berjalan mendekati genangan air itu. Dengan perlahan, Ana membalikkan sedikit badannya agar bisa melihat bayangan punggungnya sendiri. Di punggungnya itu, tidak ada sepasang sayap seperti Sunny ataupun peri lainnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ana yang langsung jatuh terduduk di atas tanah. Ia menatap bayangan dirinya sendiri dengan raut sedih yang tidak ditutup-tutupinya dari genangan air itu. "Bagaimana aku bisa lahir tanpa sayap?"
Tidak ada satu pun jawaban dari peri Perilaria yang masih mengelilinginya. Mereka juga masih menatapnya dengan raut yang sama, yaitu kasihan.
Ketika dirinya merasakan tepukan halus pada bahunya, air mata yang sudah ditahan oleh Ana langsung turun. Ia tidak pernah berharap terlahir berbeda dari peri lainnya. Ana ingin lahir sama seperti mereka. Ia ingin memiliki sepasang sayap yang dari setiap kepakkannya muncul serbuk peri keemasan.
"Apa yang akan terjadi padaku jika tidak memiliki sayap?" tanya Ana di sela-sela isakannya.
"Kamu tidak akan bisa seperti peri Perilaria lainnya." Kali ini peri bergaun biru bernama Sea yang juga masih menepuk halus bahunya yang menjawab pertanyaan Ana. "Kamu tidak akan bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan jika memiliki sayap. Bagi peri di Perilaria, sayap sangatlah penting. Setiap kepakkannya menghasilkan serbuk peri yang dapat memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria."
Ana mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Pandangan penuh iba masih ditujukan oleh peri Perilaria padanya. "Bolehkah kalian meninggalkanku sendirian? Aku butuh waktu sendiri," kata Ana lemah sambil menyeka air matanya.
Para peri Perilaria terbang perlahan meninggalkan Ana dengan sayap yang menukik turun. Mereka turut sedih bersama Ana. Setelah mendapati semua peri pergi, Ana terisak dalam tangis yang tidak lagi ditahannya. Ia memeluk kedua lututnya erat. Kenapa ia bisa lahir tanpa sayap? Kenapa ia tidak terlahir normal seperti peri lainnya? Kenapa harus dirinya yang lahir seperti ini?
"Ana."
Tidak ada sedikit pun niat dari dalam diri Ana untuk mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan suara kecil nan merdu. Siapa yang memanggilnya? Bukankah mereka semua sudah pergi? "Pergi, aku sedang butuh waktu sendiri," usir Ana dengan suara lemah dan masih sesenggukan. Ia memeluk kedua lututnya lebih erat lagi. Wajahnya juga dibenamkan lebih dalam ke kedua lutut.
"Aku tahu kamu sangat sedih karena tidak memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya." Suara itu kembali terdengar, tapi kali ini lebih dekat. Bahkan, tiba-tiba ada sentuhan dari tangan dingin pada bahunya yang langsung membuat Ana berjengit kaget.
Ana langsung mengangkat wajahnya dan mendapati seorang peri bergaun hitam berdiri di hadapannya. Namun, ada satu hal yang membuat Ana lebih kaget. Peri di hadapannya ini hanya memiliki satu sayap di sebelah kanan tubuhnya. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa sayapmu hanya satu?" tanya Ana. Perlahan ia berdiri dan menyentuhkan tangannya pada sayap peri di hadapannya ini.
"Aku terlahir tanpa sayap sepertimu," katanya, "dan perkenalkan, namaku Viola. Maaf baru memperkenalkan diri. Namamu Ana, bukan? Aku sempat melihat namamu dari kelopak bunga tempatmu lahir tadi."
"Kamu lahir tanpa sayap? Sepertiku?" tanya Ana bingung. Sekali lagi, Ana menatap sayap di balik tubuh Viola. "Tapi Viola, kamu punya satu sayap."
Viola tertawa ringan sambil menyentuh lembut sayapnya. Ia menatap bayangan sayapnya dari genangan air di dekat mereka dengan tatapan penuh kekaguman. "Aku mendapatkan sayap ini dari peri di tengah hutan di sana," kata Viola sambil menunjuk jauh ke arah hutan belantara gelap yang sangat berbeda jauh dengan Perilaria. Hutan itu diliputi awan gelap dan petir terus menyambar tanpa henti. Hutan itu dipenuhi oleh akar-akar pohon tanpa daun hijau dan bunga sama sekali.
"Ada peri yang tinggal di tempat gelap dan mengerikan seperti itu?" Melihatnya dari jauh saja sudah membuat bulu kuduk Ana berdiri. Ia ketakutan.
Viola menganggukkan kepalanya. "Hanya dia satu-satunya peri yang tidak menatap kita, peri Perilaria yang lahir tanpa sayap, dengan tatapan kasihan. Bagi peri Perilaria, lebih baik tidak pernah dilahirkan daripada terlahir tanpa sayap. Semua keindahan di Perilaria ada karena serbuk yang muncul dari sayap peri setiap terbang. Tanpa sayap, kita berdua, tidak ada gunanya."
Ana kembali menundukkan kepalanya.
"Hanya dia yang bisa memberikan kita sayap yang kita perlukan." Viola kembali mengelus sayap kanannya dengan lembut. Raut bahagia kembali tampak dari wajahnya ketika tangannya menyentuh sayapnya itu.
Melihat pemandangan di depannya itu membuat Ana membulatkan tekadnya. Ia ingin memiliki sayap! Ia ingin bisa memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, serta menghangatkan Perilaria seperti peri-peri lainnya. "Tolong bawa aku ke sana," kata Ana dengan penuh keyakinan.
Viola langsung tersenyum senang. "Baiklah! Kita ke sana sekarang juga. Kita tidak boleh menunda-nunda karena perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama bagi kita, peri yang tidak memiliki sayap. Kita harus mengandalkan kaki kita yang jauh lebih lambat dibandingkan terbang dengan sayap."
Viola berjalan di depan Ana dengan penuh semangat. "Aku sudah tidak sabar untuk segera memiliki sepasang sayap dan menjadi sempurna."
"Aku juga," kata Ana dengan antusias yang sama setelah berhasil mengejar Viola yang sudah berjalan jauh di depannya.
Bagaimana rasanya punya sayap? Ana benar-benar tidak sabar untuk merasakan kepakkan sepasang sayap pada punggungnya. Ia ingin segera bisa terbang mengelilingi Perilaria yang indah.
Ana bersenandung senang dan berjalan dengan langkah ringan sambil sesekali melompat tanpa mengetahui apa yang akan dihadapinya sebentar lagi.
***
Ketika kakinya melangkah masuk ke dalam hutan belantara, tubuh Ana langsung merinding. Hutan ini sangatlah dingin dan gelap, berbeda jauh dibandingkan dengan Perilaria yang warna-warni oleh aneka tanaman bunga yang sedang mekar serta cahaya matahari keemasan yang setia menyinari seluruh Perilaria. Jika suara kicauan burung memenuhi Perilaria, maka hutan belantara ini penuh dengan suara guntur yang menyusul dari kilatan petir di atas mereka.
Ana benar-benar takut, sehingga ia berjalan menempel di belakang Viola yang tampak biasa saja, bahkan Viola masih bisa bersenandung senang. Namun, Ana tidak memandang itu sebagai sesuatu yang aneh. Ia malah merasa wajar dengan tindakan Viola karena sebentar lagi Viola akan memiliki sepasang sayap yang utuh seperti peri Perilaria lainnya, begitu juga dengan dirinya.
Mereka berdua berhenti di hadapan menara batu tinggi tanpa pintu. Hanya ada satu jendela persegi di puncak menara yang sangat terang sehingga terlihat jelas oleh mereka. Kilatan cahaya petir juga terus menghujani puncak dari menara itu. Ana mengamati semua itu dari balik tubuh Viola. "Viola, kita ada di mana?" tanya Ana.
"Ini tempat tinggal peri yang akan memberikan kita sayap, Ana," jelas Viola sambil menaiki anak tangga yang terbuat dari akar-akar pohon. Akhir dari tangga itu ada di jendela persegi di puncak menara yang mereka lihat tadi.
Rasa gugup yang ia alami saat ini, Ana anggap sebagai rasa antusias karena sebentar lagi ia akan punya sayap seperti peri Perilaria lainnya. Ana menaiki tangga mengikuti Viola hingga masuk ke dalam menara yang setiap sisi dindingnya terdapat lemari yang penuh oleh botol kaca aneka bentuk yang dari kacanya dapat terlihat jelas terisi serbuk emas yang bersinar terang.
Ana berjalan mengelilingi ruangan itu sambil mengamati satu per satu botol kaca yang terus memantulkan bayangan wajahnya. Hingga akhirnya, dirinya berhenti di depan satu-satunya botol kaca yang kosong.
Dari botol kaca itu, Ana bisa melihat bayangan Viola berdiri di belakangnya dengan senyum lebar. Viola meraih botol kosong itu dan menatapnya dengan raut penuh kebahagiaan. "Aku bisa mendapatkan satu lagi sayapku, jika botol ini terisi penuh dengan serbuk peri Perilaria," jelas Viola tanpa diminta.
Ana bingung. Apa maksud dari perkataan Viola? Serbuk peri Perilaria? Viola bisa mendapatkan sayapnya dari serbuk peri Perilaria? "Apa maksudmu?" tanya Ana, tapi tanpa di sadarinya, tubuhnya bergerak mundur dengan sendirinya seiring dengan langkah Viola yang semakin maju.
"Kamu lihat semua botol ini?" tanya Viola sambil melebarkan kedua tangannya ke udara. "Ini adalah serbuk peri Perilaria yang serakah. Mereka tidak pernah merasa puas, selalu menginginkan lebih. Padahal mereka sudah memiliki sayap dan serbuk peri yang selama ini kuinginkan."
Tubuh Ana bergetar ketakutan ketika punggungnya menabrak dinding. Ia tidak bisa mundur lagi, sedangkan Viola terus maju dengan senyum yang tiba-tiba tampak menyeramkan.
"Keberuntungan sepertinya berpihak padaku, Ana, karena ketika peri-peri Perilaria sudah mulai curiga dengan hilangnya peri-peri mereka ... kamu lahir. Si peri tidak bersayap yang tidak diperlukan oleh Perilaria."
Kalimat itu memukul Ana hingga tersadar. Ternyata dirinya ditipu oleh Viola yang menginginkan serbuk peri untuk mengisi kekosongan botol kaca terakhirnya. Namun, dirinya tidak bersayap, jadi bagaimana ia bisa mengisi botol kaca itu dengan serbuk peri yang tidak dimilikinya?
"Tapi aku tidak memiliki sayap yang bisa menghasilkan serbuk peri yang kamu inginkan," kata Ana.
"Itulah kebodohanmu dan peri Perilaria lainnya, Ana." Viola tertawa keras sebelum melanjutkan kalimatnya, "Setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri, termasuk dirimu, peri tanpa sayap."
"Kalau begitu, kamu juga memiliki serbuk peri?"
Viola menganggukkan kepalanya. "Tapi tentunya aku tidak bisa mengorbankan diriku sendiri untuk sayap yang sudah selama ini kuinginkan, bukan?"
Viola membuka tutup botol itu dengan gerakan pelan, seakan berusaha menikmati ketakutan Ana yang ada di hadapannya saat ini. Namun, tanpa disadarinya, dari balik tubuhnya, Sunny dan Sea sedang memberi tanda kepada Ana untuk tidak berteriak dan tidak melihat ke arah mereka.
Begitu Viola mengarahkan botol itu ke arah Ana, Sunny dan Sea mendorong Viola hingga tubuhnya jatuh menabrak lemari dinding penuh botol kaca. Seluruh botol kaca bergetar hebat di posisi mereka masing-masing. Viola menatap botol-botol kaca itu dengan cemas sehingga ia kembali berdiri dengan satu gerakan cepat. Ia meraih botol kaca kosong tadi dan berusaha membuka tutup botol yang sudah hampir terbuka itu sambil kembali mengarahkannya kepada Ana.
Sunny dan Sea segera terbang mendekati Viola dan mendorongnya kembali menjauh hingga botol kaca itu lepas dari tangan Viola dengan tutup yang sudah terbuka. "Tidaaaaaaak!" Viola berteriak kencang dengan kelopak mata terbuka lebar.
Tangannya di arahkan ke arah botol yang sudah terbuka dan masih berputar di atas lantai. Belum juga menyerah, Viola segera berdiri dan berlari mendekati botol itu. Sayangnya, terlambat. Botol itu berhenti menghadap ke arah Viola dan perlahan menyerap serbuk peri dari tubuh Viola.
Sebelum serbuk perinya berhasil tersedot habis, Viola berusaha menarik Sunny dan Sea yang ada di dekatnya untuk menggantikan dirinya, tapi dirinya kembali jatuh dan malah mendorong lemari berisi botol kaca serbuk peri hingga jatuh. Semua botol kaca itu jatuh dan pecah tepat ketika semua serbuk peri sudah tersedot habis dari diri Viola masuk ke dalam botol kaca yang kosong dan tertutup dengan sendirinya.
Serbuk peri memenuhi lantai ruangan. Tubuh Ana merosot turun dari dinding menara hingga terduduk di atas lantai diselimuti oleh serbuk peri yang bersinar terang. Ana menatap semua yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ini semua terjadi terlalu cepat sehingga belum berhasil dicernanya dengan sempurna.
"Viola bilang jika ini semua adalah serbuk peri Perilaria," kata Ana dengan pandangan kosong mengarah ke jendela persegi menara ini. Ia menatap jauh ke arah hutan yang gelap. "Apa kalian tahu ini semua?" tanya Ana lagi.
Sunny dan Sea menganggukkan kepala mereka. "Kami sudah mulai curiga ketika perlahan, tapi pasti. Satu per satu peri Perilaria menghilang entah ke mana dan anehnya, peri-peri yang hilang memiliki satu hal yang sama. Mereka adalah peri yang hidup penuh dengan ambisi ingin memiliki serbuk peri yang lebih banyak saat mengepakkan sayap," jelas Sunny.
"Kami memberanikan diri untuk mencarimu di sini ketika tidak berhasil menemukanmu di mana-mana, dan ternyata benar, kamu dibawa oleh Viola." Kali ini Sea yang angkat bicara.
Ana menangkup serbuk peri dengan kedua telapak tangannya. "Viola menipuku? Kenapa dia berbuat jahat?"
"Viola lahir tanpa sayap, sama sepertimu. Dia percaya jika dirinya bisa memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya jika dirinya mandi serbuk peri dari seluruh jenis peri bunga di Perilaria. Sehingga dia mulai mengumpulkan serbuk peri dari setiap kepakkan sayap kami ketika kami berusaha memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria. Tindakannya itu membuat sepanjang tahun di Perilaria menjadi kacau, tidak ada satu pun bunga yang berhasil mekar, hujan tidak turun membasahi Perilaria, tidak pernah ada pelangi yang muncul setelah hujan, dan kedinginan panjang melanda sepanjang musim dingin di Perilaria dan Viola dengan bangganya muncul memamerkan sayap yang berhasil didapatkannya dari mengacaukan Perilaria. Tindakan egoisnya itu membuat Viola diusir dari Perilaria. Sejak saat itu, satu per satu peri mulai hilang dan tidak pernah kembali," jelas Sunny, mengingat kembali masa kelam yang sudah dilalui Perilaria karena keegoisan Viola.
Sea memeluk dirinya sendiri sambil berkata, "Kami begitu kaget melihatmu lahir tanpa sayap dari bunga yang terakhir mekar. Kami takut kamu akan sama seperti Viola sehingga kami tidak berani langsung menceritakan tentang Viola padamu. Kami takut kamu akan melakukan hal yang sama seperti Viola pada Perilaria."
Sunny mengambil botol terakhir yang terisi dengan serbuk peri Viola. "Kami akan menyiramkannya padamu. Kami tidak ingin pengorbanan peri-peri lain yang serbuk perinya diambil oleh Viola berujung sia-sia."
Sunny dan Sea membuka botol kaca terakhir itu bersama-sama dan menyiramkan serbuk peri di dalamnya pada Ana dari atas kepala. Ketika serbuk peri terakhir jatuh menyentuh tubuh Ana, mendadak tubuh Ana terangkat dan bersinar terang seperti serbuk peri yang biasa muncul dari kepakkan sayap peri Perilaria. Tubuh Ana berputar dengan sendirinya di tengah-tengah ruangan. Perlahan sepasang sayap muncul dan mengepak dengan indahnya di hadapan mereka.
***
Sejak saat itu, Ana terus mengingat perkataan Viola mengenai setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri pada diri mereka, meskipun tidak bersayap. Perkataan Viola itu membuat Ana melatih dirinya untuk menghasilkan serbuk peri dari bagian-bagian tubuh yang diinginkannya sehingga saat ini peri Perilaria bisa menghasilkan serbuk peri bukan hanya dari kepakkan sayap mereka lagi. Mereka bisa menghasilkan serbuk peri dari telapak tangan bahkan telapak kaki mereka.
Hal itu membuat peri Perilaria tidak pernah sedih atau pun takut lagi ketika mendapati peri Perilaria lahir tanpa sayap. Mereka malah dengan senang hati mengajarkan peri tanpa sayap untuk menghasilkan serbuk peri dari setiap sentuhan tangan dan kaki mereka. Meskipun peri tanpa sayap tidak dapat terbang tinggi, tapi mereka memiliki peranan yang sama pentingnya dengan peri bersayap lainnya seperti menyuburkan tanah ketika musim semi, mengumpulkan air ke dalam tanah untuk cadangan musim panas, menguningkan daun-daun di musim gugur, dan ikut menghangatkan seluruh Perilaria di musim dingin hingga ke dalam tanah-tanahnya.