Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Kabayan
Tersebutlah seorang lelaki di tanah Pasundan pada masa lampau. Si Kabayan namanya. Ia lelaki yang pemalas namun memiliki banyak akal. Banyak akal pula dirinya meski akalnya itu kerap digunakannya untuk mendukung kemalasannya. Si Kabayan telah beristri. Nyi Iteung nama istrinya.Pada suatu hari Si Kabayan disuruh mertuanya untuk mengambil siput-siput sawah. Si Kabayan melakukannya dengan malas-malasan. Setibanya di sawah, ia tidak segera mengambil siput-siput sawah yang banyak terdapat di sawah itu, melainkan hanya duduk-duduk di pematang sawah.Lama ditunggu tidak kembali, mertua Si Kabayan pun menyusul ke sawah. Terperanjatlah ia mendapati Si Kabayan hanya duduk di pematang sawah. "Kabayan! Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau tidak segera turun ke sawah dan mengambil tutut-tutut (Siput) itu?""Abah-abah (Bapak), aku takut turun ke sawah karena sawah ini sangat dalam. Lihatlah, Bah, begitu dalamnya sawah ini hingga langit pun terlihat di dalamnya," jawab Si Kabayan.Mertua Si Kabayan menjadi geram. Didorongnya tubuh Si Kabayan hingga menantunya itu terjatuh ke sawah.Si Kabayan hanya tersenyum-senyum sendiri seolah tidak bersalah. "Ternyata sawah ini dangkal ya, Bah?" katanya dengan senyum menyebalkannya. Ia pun lantas mengambil siput-siput sawah yang banyak terdapat di sawah itu.Pada hari yang lain mertua Si Kabayan menyuruh Si Kabayan untuk memetik buah nangka yang telah matang. Pohon nangka itu tumbuh di pinggir sungai dan batangnya menjorok di atas sungai. Si Kabayan sesungguhnya malas untuk melakukannya. Hanya setelah mertuanya terlihat marah, Si Kabayan akhirnya menurut. Ia memanjat batang pohon. Dipetiknya satu buah nangka yang telah masak. Sayang, buah nangka itu terjatuh ke sungai. Si Kabayan tidak buru-buru turun ke sungai untuk mengambil buah nangka yang terjatuh. Dibiarkannya buah nangka itu hanyut.Mertua Si Kabayan terheran-heran melihat Si Kabayan pulang tanpa membawa buah nangka. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan raut wajah jengkel. "Mana buah nangka yang kuperintahkan untuk dipetik?"Dengan wajah polos seolah tanpa berdosa, Si Kabayan menukas, "Lho? Bukankah buah nangka itu tadi telah kuminta untuk berjalan duluan? Apakah buah nangka itu belum juga tiba?""Bagaimana maksudmu, Kabayan?""Waktu kupetik, buah nangka itu jatuh ke sungai. Rupanya ia ingin berjalan sendirian. Maka, kubiarkan ia berjalan dan kusebutkan agar ia lekas pulang ke rumah. Kuperingatkan pula agar ia segera membelok ke rumah ini. Dasar nangka tua tak tahu diri, tidak menuruti perintahku pula!""Ah, itu hanya alasanmu yang mengada-ada saja, Kabayan!" mertua Si Kabayan bersungut-sungut. "Bilang saja kalau kamu itu malas membawa nangka itu ke rumah!"Si Kabayan hanya tertawa-tawa meski dimarahi mertuanya.Pada waktu yang lain mertua Si Kabayan mengajak menantunya yang malas lagi bodoh itu untuk memetik kacang koro di kebun. Mereka membawa karung untuk tempat kacang koro yang mereka petik. Baru beberapa buah kacang koro yang dipetiknya, Si Kabayan telah malas untuk melanjutkannya. Si Kabayan mengantuk. Ia pun lantas tidur di dalam karung.Ketika azan Dhuhur terdengar, mertua Si Kabayan menyelesaikan pekerjaannya. Ia sangat keheranan karena tidak mendapati Si Kabayan bersamanya. "Dasar pemalas!" gerutunya. "Ia tentu telah pulang duluan karena malas membawa karung berisi kacang koro yang berat!"Mertua Si Kabayan terpaksa menggotong karung berisi Si Kabayan itu kembali ke rumah. Betapa terperanjatnya ia saat mengetahui isi karung yang dipanggulnya itu bukan kacang koro, melainkan Si Kabayan!"Karung ini bukan untuk manusia tapi untuk kacang koro!" omel mertua Si Kabayan setelah mengetahui Si Kabayan lah yang dipanggulnya hingga tiba di rumah.Keesokan harinya mertua Si Kabayan kembali mengajak menantunya itu untuk ke kebun lagi guna memetik kacang-kacang koro. Mertua Si Kabayan masih jengkel dengan kejadian kemarin. Ia ingin membalas dendam pada Si Kabayan. Ketika Si Kabayan sedang memetik kacang koro, dengan diam-diam mertua Si Kabayan masuk ke dalam karung dan tidur. Ia ingin Si Kabayan memanggulnya pulang seperti yang diperbuatnya kemarin.Dongeng Si Kabayan Cerita Rakyat Sunda Jawa BaratAdzan Dhuhur terdengar dari surau di kejauhan. Si Kabayan menghentikan pekerjaannya. Dilihatnya mertuanya tidak bersamanya. Ketika ia melihat ke dalam karung, ia melihat mertuanya itu tengah tertidur. Tanpa banyak bicara, Si Kabayan lantas mengikat karung itu dan menyeretnya.Terperanjatlah mertua Si Kabayan mendapati dirinya diseret Si Kabayan. Ia pun berteriak-teriak dari dalam karung, "Kabayan! Ini Abah! Jangan engkau seret Abah seperti ini!"Namun, Si Kabayan tetap saja menyeret karung berisi mertuanya itu hingga tiba di rumah. Katanya seraya menyeret, "Karung ini untuk tempat kacang koro, bukan untuk manusia."Karena kejadian itu mertua Si Kabayan sangat marah kepada Si Kabayan. Ia mendiamkan Si Kabayan. Tidak mau mengajaknya berbicara dan bahkan melengoskan wajah jika Si Kabayan menyapa atau mengajaknya bicara. Ia terlihat sangat benci dengan menantunya yang malas lagi banyak alasan itu.Si Kabayan menyadari kebencian mertuanya itu kepadanya. Bagaimanapun juga ia merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Ia lantas mencari cara agar mertuanya tidak lagi membenci dirinya. Ditemukannya cara itu. Ia pun bertanya pada istrinya perihal nama asli mertuanya."Mengetahui nama asli mertua itu pantangan, Akang!" kata Nyi Iteung memperingatkan. "Bukankah Akang sudah tahu masalah ini?"Si Kabayan berusaha membujuk. Disebutkannya jika ia hendak mendoakan mertuanya itu agar panjang umur, selalu sehat, murah rejeki, dan jauh dari segala mara bahaya. "Jika aku tidak mengetahui nama Abah, bagaimana nanti jika doaku tidak tertuju kepada Abah dan malah tertuju kepada orang lain?"Nyi Iteung akhirnya bersedia memberitahu jika suaminya itu berjanji untuk tidak menyebarkan rahasia itu. katanya, "Nama Abah yang asli itu Ki Nolednad. Ingat, jangan sekali-kali engkau sebutkan nama Abah itu kepada siapa pun!"Setelah mengetahui nama ash mertuanya, Si Kabayan lantas mencari air enau yang masih mengental. Diambilnya pula kapuk dalam jumlah yang banyak. Si Kabayan menuju lubuk, tempat mertuanya itu biasa mandi. Ia lantas membasahi seluruh tubuhnya dengan air enau yang kental dan menempelkan kapuk di sekujur tubuhnya. Si Kabayan kemudian memanjat pohon dan duduk di dahan pohon seraya menunggu kedatangan mertuanya yang akan mandi.Ketika mertuanya sedang asyik mandi, Si Kabayan lantas berseru dengan suara yang dibuatnya terdengar lebih berat, "Nolednad! Nolednad!"Mertua Si Kabayan sangat terperanjat mendengar namanya dipanggil. Seketika ia menatap arah sumber suara pemanggilnya, kian terperanjatlah ia ketika melihat ada makhluk putih yang sangat menyeramkan pada pandangannya. "Si siapa engk ... engkau itu?" tanyanya terbata-bata."Nolednad, aku ini Kakek penunggu lubuk ini." kata Si Kabayan. "Aku peringatkan kepadamu Nolednad, hendaklah engkau menyayangi Kabayan karena ia cucu kesayanganku. Jangan berani-berani engkau menyia-nyiakannya. Urus dia baik-baik. Urus sandang dan pangannya. Jika engkau tidak melakukan pesanku ini, niscaya engkau tidak akan selamat!"Mertua Si Kabayan sangat takut mendengar ucapan 'Kakek penunggu lubuk' itu.Ia pun berjanji untuk melaksanakan pesan 'Kakek penunggu lubuk' itu.Sejak saat itu mertua Si Kabayan tidak lagi membenci Si Kabayan. Disayanginya menantunya itu. Dicukupinya kebutuhan sandang dan pangan Si Kabayan. Bahkan, dibuatkannya pula rumah, meski kecil, untuk tempat tinggal menantunya tersebut.Setelah mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari mertuanya, Si Kabayan juga sadar akan sikap buruknya selama itu. Ia pun mengubah sikap dan perilakunya. Ia tidak lagi malas-malasan untuk bekerja. Ia pun bekerja sebagai buruh. Kehidupannya bersama istrinya membaik yang membuat istrinya itu bertambah sayang kepadanya. Si Kabayan juga bertambah sayang kepada Nyi Iteung seperti sayangnya kepada mertuanya yang tetap baik perlakuan terhadapnya. Mertuanya tetap menyangka Si Kabayan sebagai cucu 'Kakek penunggu lubuk'. Ki Nolednad sangat takut untuk memusuhi atau menyia-nyiakan Si Kabayan karena takut tidak akan selamat dalam hidupnya seperti yang telah dipesankan 'Kakek penunggu lubuk'!
Takuban Perahu
Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.
Abu
"Tak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Teriakkan Helen menyebar dengan liar ke seluruh penjuru gereja yang hampir runtuh. Entah apa yang akan terjadi jika ia mengeluarkan seluruh kekuatannya di sini saat ini, karena dampaknya akan sangat buruk untuk dirinya, juga Milo yang berdiri di belakangnya.Atau entahlah, Helen tidak yakin.Gereja ini terlalu luas dan malah hampir menyerupai labirin. Akan tetapi dia harus bertahan. Tinggal beberapa menit lagi hingga matahari terbit, Helen harus menahan boneka sialan itu, atau nyawa kekasihnya menjadi taruhannya."Kau dan aku tahu, manusia seringkali melakukan tindakan yang sia-sia, hanya karena mereka ingin melakukannya. Dan situasi ini adalah buktinya. Mereka memainkan permainan pemanggilan arwah, karena rasa penasaran yang tak jelas." Ujar boneka wanita yang hidup itu sambil menyeringai seram. "Lebih baik kau serahkan dia padaku. Tak ada gunanya melawan. Meski kau bisa menahanku hingga matahari terbit, aku tetap tidak akan mati. Matahari hanya mengusirku ke dunia asalku, dan saat kembali ke sana, aku bisa bersantai seperti biasa lagi.""Heh! Dia ini pacarku idiot! Tidak mungkin aku membiarkannya mati saat aku masih bisa melindunginya!""Tapi... kau itu cewek loh... " Ujar boneka itu. Dari sepertinya tidak setuju dengan argumen Helen. "Harusnya cowokmu yang melindungimu. Bukan malah sebaliknya.""Dan kau itu setan jahat!""Dan kau benar-benar manusia yang sangat bodoh." Balasnya. "Menggunakan kekuatan dari sang Api, padahal kau itu hanya manusia biasa.""Kan, yang punya kekuatan itu aku, bukan dia, jadi nggak masalah kan?" Kata Helen sambil kembali mengangkat tangan kanannya ke depan dada, dan garis-garis di sekujur tubuhnya juga ikut berpendar memancarkan warna jingga layaknya nyala api. "Ugh!" Tiba-tiba Helen merasakan seluruh tubuhnya seperti terkena sengatan listrik, tapi dia terus menahannya, dan tetap tersenyum."Hmm? Apa... yang ingin kau lakukan?" Tanya si boneka sambil menatap tajam Helen. "Jangan bilang... ""Yah, kau pasti tahu kok." Kobaran api tiba-tiba muncul di atas telapak tangan Helen dan membentuk sebuah bola. Dan lama kelamaan, api itu terus membesar sampai-sampai hawa panasnya membuat keringat mengucur deras membanjiri tubuh Helen dan Milo. "Aku sadar, aku nggak akan bertahan sampai pagi... jadi, menciptakan matahari adalah pilihan terbaikku saat ini.""Hnggghhh!"Helen langsung menoleh ke belakang setelah mendengar suara itu.Kekasihnya, Milo, mencoba untuk mengatakan sesuatu. Tampak dari wajahnya, kalau lelaki itu jelas sudah dilahap rasa putus asa dan ketakutan. Tapi, suaranya tidak mau keluar. Ia bahkan mencekik lehernya sendiri karena kesal dengan situasi yang dialaminya."Berarti ini saatnya ya?" Helen bertanya sambil menyunggingkan senyuman penuh arti. Pakaian gadis itu juga ikut terbakar. Tapi tekad Helen sudah bulat. Ia harus mengakhiri ini sekarang. "Kau ingat kan? Kalau kontrak itu akan membuatmu tak dapat berkata-kata, jika aku akan menghadapi kematian."Wajah Milo menjadi pucat pasi saat mendengar perkataan Helen."Hngh! Hngh!""Maaf ya, Milo, karena selama ini aku sudah menjadikanmu umpan untuk memancing si keparat ini. Tapi, aku cinta kok sama kamu. Dan saat setelah ini selesai, jangan lupa ambil bayarannya oke? Kalau nggak salah, harga dari dosa setan yang satu ini bisa sampai tiga miliar loh. Jadi, kau bisa menggunakan uangnya untuk membayar sekolahmu juga."Milo langsung jatuh berlutut, dan dia mulai menangis."Baiklah. Tolong rawat ibuku ya, Milo." Helen kembali mengarahkan pandangannya ke arah si boneka yang telah membunuh semua teman sekelas Milo, dan bersiap mengakhiri semuanya. "Jati diriku datang darimu, wahai Api. Dan kini, aku telah memenangkan pertarungan melawan kenyataan, masa depan yang kau tunjukkan, dan juga masa lalu yang kutinggalkan."Bola api yang tadinya hanya sebesar bola voli, perlahan-lahan mulai berubah menjadi semakin besar hingga menyamai ukuran sebuah mobil, dan bersamaan dengan itu, garis-garis bak urat yang terukir di permukaan kulit Helen juga berpenjar makin terang."Tunggu!" si boneka melesat dengan cepat menuju Helen.Namun semuanya sudah terlambat."Jadi, aku memohon maaf padamu, karena aku akan mengembalikan semuanya kepadamu dua kali lipat, bersama dengan jiwa dan ragaku!" Helen kembali berbalik menatap sang kekasih. "Maafkan aku juga, Milo, dan selamat tinggal."Cahaya menyilaukan yang terpancar dari bola api memaksa semua orang menutup mata, tanda bahwa api raksasa itu telah meledak dan menghamburkan ombak api ke segala arah, serta membakar segalanya."Jangan... kumohon... jangan ambil dia dariku... "Saat api padam, satu-satunya makhluk yang masih berdiri di sana hanyalah Milo seorang. Tak ada satupun luka bakar maupun goresan yang tertoreh di tubuhnya. Tapi, pandangan matanya yang penuh nestapa terpaku pada seonggok abu di lantai yang tadinya telah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.Abu itu adalah apa yang tersisa dari kekasihnya, Helen.
Bagaikan Angin Yang Datang Dan Pergi
Nikmatilah hidup selagi bisa.Ya, begitulah cara hidup Rakyat Dunia Lain yang menetap di dunia ini.Saat kau sedang berteduh dari hujan atau panas terik matahari, nikmatilah. Saat kau sedang belajar di sekolah atau bekerja, nikmatilah. Saat kau sedang makan, mandi, duduk ataupun tidur, nikmatilah. Saat kau sedang berjalan-jalan, berlari, atau juga bersepeda, nikmatilah. Nikmatilah semua kegiatan itu, walaupun semuanya itu hanyalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Nikmatilah.Di bawah pohon besar tua dan berdaun lebar itu, Lei duduk sendiri menikmati tiupan angin lembut sambil mengamati pemandangan lapangan bola yang terbentang luas di depannya. Lapangan itu kosong, jelas, mengingat sekarang masih pukul dua siang.Yah, pada dasarnya, memang tidak ada hal yang istimewa, tapi Lei sangat bersyukur karena bisa berada di sana sekarang.Gadis elok berpakaian serba hitam, minim, ketat, dan memiliki sayap kelelawar di punggungnya itu benar-benar merasa sangat bersyukur.Di saat ia menengadah menatap sinar mentari yang menerobos melalui celah dedaunan di atas, Lei teringat kembali dengan masa lalunya.Padahal, dulu dia bahkan tidak pernah melihat warna dari cahaya matahari sama sekali, karena dia selalu terkurung dalam penjara dari pagi, dan hanya akan dikirim keluar untuk berperang pada waktu malam.Entah itu bisa disebut hidup atau tidak, tapi begitulah kenyataannya.Namun, kini semuanya sudah berubah. Setahun yang lalu, kerajaan Lei kalah melawan Kekaisaran Aura, kemudian entah bagaimana Lei terpilih oleh Dewan Dua Dunia, dan dikirim ke dunia manusia untuk bertugas sebagai Agen Arch, yaitu pelindung dunia manusia.Waktu berjalan begitu saja, hingga disinilah dia sekarang, menjalani kehidupan yang sedikit normal dan lumayan damai. Tak ada pertarungan yang mengerikan, jeritan, tangisan, warna merah darah, dan tak ada peperangan. Hanya kenormalan."Ya... Terima kasih, Tuhan " Ia bergumam sambil memasang senyuman kecil di bibir. "Tapi... manusia itu sungguh aneh... " Lei lalu memutar kepala dan menoleh ke belakang. Jauh di sana, dia melihat ada seorang pemuda bertubuh agak gemuk, dan seorang anak yang masih berusia sepuluh tahunan, yang tengah duduk di teras sebuah gedung besar, dan tampak sedang seru bercerita.Pemuda itu itu adalah alasan utama mengapa Lei berada di lapangan ini. Dia dikirim ke kota Kendari untuk menjadi penjaga, pengurus, dan pengawas pemuda itu.Sedangkan anak itu, entahlah, Lei tidak terlalu menyukainya.Alis Lei berkerut. Dia tampak kesal."Ya, manusia memang aneh." Ujar seorang pria besar yang tiba-tiba muncul di belakang Lei. Pria itu mengenakan jas serba hitam rapi, tinggi, agak buncit, dan berwajah tampan."Oh... Om Jon, ya. Kukira siapa." Ucap Lei sambil menyunggingkan senyum ramah. "Ngomong-ngomong, nggak biasanya Om nggak bilang dulu kalau mau datang.""Ah... kau tahu sendiri, kalau aku akan mengikuti apapun yang dikatakan instingku. Jadi, begitulah." Ujarnya sambil ikut memandang dua anak yang duduk di teras itu. "Tumben kau mengeluarkan isi pikiranmu, Lei. Ada angin apa sampai kau berkata seperti itu?""Yah... lihat anak itu... Padahal wajahnya lugu begitu, dan senyumnya juga manis, tapi aku nggak menyangka kalau dia benar-benar bisa memanfaatkan kebaikan Tuan tanpa pandang bulu." Jelas Lei. "Dan aku juga sama sekali nggak mengerti dengan pikiran Tuan. Padahal dia tahu kalau anak itu hanya memanfaatkannya, tapi kenapa dia malah tetap menganggap anak itu sebagai adiknya? Kan, kasihan Tuan. Masa hidupnya terbuang sia-sia karena memberikan kebaikan pada orang yang salah. Sedangkan anak-anak itu, mereka nggak bisa memberikan apa-apa pada Tuan."Om Jon menghela nafas dalam setelah mendengar penjelasan Lei."Hmm... aku juga sebenarnya sudah bosan menasehatinya, tapi dia terus saja mengangkat anak-anak yang ditemuinya menjadi adiknya. Bahkan anak pertamaku juga." Om Jon tersenyum masam. "Dan yang paling buruk, dia juga selalu memberikan barang-barang yang diinginkan anak-anak itu.""Kan, benar!" Pekik Lei. "Kalau begini sih lebih baik kita laporkan saja, Om.""Hmm... Kau pasti belum membaca berkas-berkas itu kan, Lei?""Eh... ketahuan deh... Tapi, kan intinya aku dikirim ke sini untuk mengurus, mengawasi, dan melindungi Tuan. Nggak kurang, nggak lebih.""Ya, kamu benar kok." Ujar Om Jon. Dia membusungkan dada dan tampak berwibawa sekarang. "Kita memang ditugaskan di sini untuk mengawasi, melindungi, dan mengurusnya. Tapi, sebenarnya, Dewan mengirim kita ke sini, karena mereka tahu kalau hanya kita saja yang bisa memahaminya."Lei terkejut. Matanya yang terbuka lebar tertuju pada Om Jon."Memahami? Maksudnya?""Yah... Dia berbeda dengan kita, karena Tuhan masih memberikan pengampunan pada kita. Di masa lalu, masa kini, maupun di masa depan. Sementara dia... Dia sudah kehilangan terlalu banyak hal hingga tak ada satupun yang tersisa untuknya. Keluarganya, sahabat-sahabatnya, teman-temannya, jati dirinya, bahkan masa lalunya. Semua yang dia miliki selalu lenyap tepat di depan matanya."Lei terdiam seribu bahasa. Dulu, dia memang sempat mendengar tentang itu entah di mana. Kenyataan bahwa Tuannya pernah mengalami penderitaan yang luar biasa mengerikan. Bahkan lebih mengerikan dibandingkan masa lalu Lei sendiri."Dan masalahnya, dia itu abadi, jadi... dia akan hidup dengan rasa sakit itu sampai selamanya." Om Jon menjelaskan. "Dan kini, yang bisa dilakukannya, hanyalah mencari alasan agar bisa terus hidup.""Eh... Berarti... ""Ya, anak-anak itu, adalah alasan kenapa dia bertahan sampai sekarang... "Lei kembali mengarahkan pandangan ke arah teras itu.Sekarang, kedua anak itu sudah bangkit berdiri, dan selang beberapa waktu, si bocah akhirnya mulai berjalan pergi sambil melambaikan tangan pada Tuan. Tapi, Tuan tidak balas melambai, dia hanya berdiri di sana sambil memasang senyuman yang penuh akan berbagai arti di bibirnya."Jadi... dia juga berusaha untuk menikmati ya?""Benar.""Entah kenapa... ini terasa sedikit... menyakitkan. Bahkan bagi orang-orang yang tahu tentang kenyataan dunia seperti kita... ini tetap saja terasa menyakitkan."Tiba-tiba saja, muncul cahaya keemasan di belakang Tuan. Cahaya itu perlahan-lahan mulai berkumpul dan membentuk bulu-bulu burung emas, lalu dengan cepat menyatu menjadi sepasang sayap di punggungnya.Sebuah sayap yang indah, mengkilap, dan amat mengagumkan, yang kemudian digunakannya untuk terbang tinggi ke angkasa bagai kilat hingga tak terlihat oleh mata."Sudah berapa peperangan yang dia lalui... ?" Tanya Lei hampa."Empat belas. Dia telah menyelesaikan empat belas peperangan... ""Sialan... "Bulu-bulu emas dari sayap Tuan tiba-tiba berjatuhan dari angkasa, berhamburan di mana-mana, dan menghiasi dunia di sekitar Lei dengan kemegahan. Sungguh pemandangan yang sangat ajaib. Bulu-bulu itu jatuh ke tanah, lalu lenyap begitu saja tanpa sisa"Dia... mencurahkan berkatnya loh, Om." Lei bergumam tak percaya ketika ia menyadari bahwa Tuan sebenarnya baru saja melakukan sesuatu di balik awan-awan itu."Tak apa. Yang penting dia menikmatinya." Ungkap Om Jon.
Laut
"Tenggelamlah. Jika kau yakin itu akan membuatmu hidup, maka ikutlah denganku, dan tenggelam."Waktu itu sebenarnya masih subuh, tapi Ranti malah merasa seperti terbakar.Yah, ini jelas saja sangat menjengkelkan. Padahal, sudah setengah jam Ranti mondar-mandir di bibir pantai dan bersusah payah mengumpulkan batu-batu besar itu untuk mengisi ranselnya, dan dua kantong kain yang sengaja diikatnya di kedua pergelangan kakinya. Tapi, karena anak itu tiba-tiba muncul di atas laut dan mengatakan sesuatu yang aneh, akhirnya rencana Ranti untuk menenggelamkan dirinya sendiri pun jadi kandas.Anak berambut biru dan bertampang agak ganjil itu benar-benar berdiri di atas air. Dia berdiri agak jauh di hadapan Ranti, dan mengatakan hal yang entah bagaimana bisa membuat Ranti naik darah."A-apa maksudmu!? Aku ini ingin tenggelam agar bisa mati! Bukannya malah hidup! Dasar bodoh!" Sahut Ranti jengkel. "A-aku sudah lelah! Aku sudah capek banget! Sumpah!""Loh, kalau kamu lelah ya istirahat dong." Jawab anak berambut biru itu. "Jangan malah membuat sang Laut jadi kerepotan.""Ta-tapi dimana aku harus istirahat!? Bagaimana!?" Ranti kembali menjerit. Tangisannya meleleh. "Ibuku sekarat di rumah sakit! Sahabatku juga sudah mati dan jadi abu! Dan aku juga baru dipecat! Aku kehabisan uang dan nggak bisa membayar sewa kontrakkan! Aku sudah nggak punya apa-apa lagi, tahu!""Wah... sepertinya dunia ini sudah terlalu jahat padamu ya? Malang sekali nasibmu." Ujar anak itu sambil memasang senyum yang menyebalkan.Ranti yang jelas-jelas bisa melihat dan mendengar anak itu, hanya bisa menundukkan kepala sambil mengatupkan rahangnya dan mengeraskan tinjunya. Amarahnya berkobar. Tapi toh, dia tetap tak bisa melakukan apa-apa."Menurutmu, siapa yang patut disalahkan atas semua kesialan yang menimpamu?""Eh?" Setelah mendengar pertanyaan singkat itu, Ranti seakan habis tersambar guntur. Dia kembali mengangkat kepala, dan menaruh semua perhatiannya kepada anak itu. "Ma-maksudmu... ?""Sudah pasti, bukan? Semua yang kau alami itu tak terjadi begitu saja. Pasti ada penyebabnya." Jelasnya. "Mungkin penyebabnya adalah orang-orang, atau dunia ini, atau mungkin juga... sang Pencipta? Yah... harusnya kamu yang lebih tahu. Aku nggak tau apa-apa loh. Aku kesini hanya untuk menawarkan bantuan padamu.""Bantuan... Kau mau membantuku... ?" Tanya Ranti tak percaya. Satu-satunya yang terlihat di matanya kala itu, hanyalah rasa putus asa yang amat dalam."Tapi, kau harus memberitahuku terlebih dahulu. Siapa sebenarnya penjahat dalam ceritamu?"Lalu, semua memori itu mulai berputar dalam benak Ranti.Ranti teringat kembali dengan ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit karena leukimia yang sangat parah. Dia juga teringat dengan abu dari sahabatnya yang tergeletak begitu saja di gereja yang terbakar itu, tanpa satu orang pun yang menyadarinya.Ya, memori itu memang sangat menyakitkan untuk dikenang. Meski hanya sesaat, tapi rasa sakitnya benar-benar sangat mengerikan.Akan tetapi, Ranti sadar dengan satu hal.Dia juga memiliki kenangan yang indah dalam hidupnya, dan itu sangat banyak. Dia masih ingat dengan senyuman tulus yang biasa terbentuk di bibir ibunya, juga suara dari tawa bahagia sahabatnya saat mereka berdua tengah bercanda bersama.Jika dipikir-pikir lagi, rasanya semua itu terlalu indah untuk ditinggalkan.Yah, hadiah dari kehidupan jelaslah lebih megah dibanding hadiah dari kematian."Mungkin... aku ada disini saat ini, karena Tuhan belum memanggilmu. Mungkin, inilah kehendak-Nya." Kata anak itu. "Jadi... siapa sebenarnya yang bersalah, Ranti?"Dunia terasa hening untuk sesaat. Suara deru ombak, burung camar, dan sepoy angin memenuhi telinganya. Namun, di tengah-tengah kesenyapan itu, ada satu kata yang terlintas dalam hati dan pikiran Ranti."Dunia... Dunia inilah yang bersalah atas semuanya... " Kata Ranti dengan suara yang tertahan karena berusaha menahan amarah."Nah... kalau begitu, ikutlah denganku. Aku adalah sang Suara Laut, dan kau... adalah sang Ombak Laut. Dan dengan itu, kau bisa menyembuhkan ibumu, dan membuat hidupnya menjadi lebih baik."Ranti membentuk senyuman jahat di bibirnya. "Baiklah... aku akan ikut denganmu.""Tapi, kau harus ingat... Lautan adalah perampok, Ranti. Dan apa yang diberikan oleh Laut adalah mutlak, begitu juga dengan apa yang direnggutnya.""Masa bodo dengan jati diriku. Jika Laut ingin mengambilnya, maka biarlah.""Heh... Aku nggak menyangka kalau perubahan kenyataan sesederhana ini ternyata bisa merubahmu sampai seperti itu."Bersamaan dengan perkataan si bocah yang lenyap terbawa angin, Ranti pun melepaskan jaketnya yang penuh batu, dan ranselnya, serta dua tas kecil di pergelangan kakinya. Kemudian dengan tekad dan amarah membara, Ranti pun melangkah maju menuju lautan.Kaki telanjangnya menapak di atas permukaan air. Rasanya memang agak dingin, tapi dia tetap maju, dan terus maju, hingga dia tiba di sisi bocah itu."Yah... masa penghakiman telah tiba. Mengamuklah sesukamu, Ranti. Berikan hukuman bagi mereka yang layak, dan tamparlah dunia ini."
Hadiah Sederhana Yang Tak Ternilai
Pria berjas hitam, bertubuh tinggi dan agak gemuk itu berdiri di angkasa, di antara awan-awan yang menggulung bak ombak, sambil mengamati seorang pemuda yang baru saja memarkir motornya di lahan parkiran pasar jauh dibawah sana.Meskipun Jon mengambang di atas langit, dengan petir yang menyelimuti sekujur tubuhnya, tapi sayangnya tak ada satu orangpun yang mampu melihatnya. Yah, beginilah cara dunia ini bekerja. Dunia ini selalu saja menyembunyikan keajaibannya dari mata manusia, dan Jon menganggap itu layaknya sebuah hadiah.Bagi manusia, keajaiban itu sama seperti sebuah cahaya yang amat terang dan indah, namun, mereka sama sekali tidak sadar bahwa cahaya itu sebenarnya bisa membakar mata mereka.Jon merupakan suatu kepingan kecil dari keajaiban yang menaungi dunia ini. Dia hidup bersama keajaiban. Tapi, bukan berarti itu adalah hal yang baik. Karena keajaiban yang ada di tangannya—kekuatan yang ada dalam dirinya—memaksa Jon melalui berbagai macam kenyataan yang mengerikan, seperti peperangan, dan bahkan malapetaka.Jika diingat-ingat lagi, Jon sendiri telah melewati enam peperangan dalam hidupnya.Sudah begitu banyak kematian yang Jon lihat dengan mata kepalanya selama ia hidup. Orang-orang yang dia kasihi, teman-temannya, sahabat-sahabatnya, bahkan keluarganya. Semua itu terjadi karena kekuatan yang ada dalam genggamannya. Dan faktanya, semua orang yang sama seperti Jon—Rakyat Dunia Lain—juga mengalami kengerian semacam itu selama mereka hidup.Sedangkan manusia? Ya, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kenyataan lain yang menyelimuti dunia ini. Hanya Jon, dan orang-orang yang memiliki keajaiban saja, yang tahu akan betapa kejamnya kenyataan itu."Yah... mungkin lebih baik jika mereka tidak tahu apa-apa." Gumam Jon dengan suara yang berat dan terkesan lembut. Senyuman terbentuk di bibirnya. "Ketidaktahuan itu memang hadiah yang sangat luar biasa, bukan?"Setelah memastikan pemuda itu tiba di pasar tanpa kekurangan apapun, Jon akhirnya memutuskan untuk turun ke daratan. Bagaikan kilat yang menyambar bumi, dia jatuh ke bawah dan mendarat dengan mulus di samping pemuda itu. Seluruh cahaya kilat yang terpancar dari tubuhnya telah padam, dan Jon pun kini tampak seperti manusia biasa pada umumnya."Loh! kenapa Om malah ikut juga!?" Tanya emuda bertubuh gemuk itu dengan wajah terkejut sekaligus jengkel."Yah, saya ikut kemanapun kau pergi. Itu sudah tugasku sebagai seorang pengawas.""Tapi, Om kan tahu kalau aku nggak suka ditemani disaat-saat seperti ini.""Sudahlah, kau tahu nggak ada gunanya berargumen denganku." Jawab Jon acuh tak acuh sambil memandang sekeliling.Di pasar ada begitu banyak orang yang berjalan hilir mudik dan memenuhi hampir seluruh tempat dalam kesesakan sejauh mata memandang. Terdengar pula suara asing para pedagang yang tengah menawarkan dagangan mereka dengan penuh semangat, dan tak lupa juga dengan para pembeli yang sedang berusaha menawar barang-barang para pedagang dengan cara yang terkesan sadis. Semua ini tentu saja wajar, mengingat saat yang paling tepat untuk pergi ke pasar adalah di waktu pagi, seperti sekarang ini.Sungguh hadiah yang amat megah. Jon yang jelas-jelas bukan manusia, ternyata masih diberikan kesempatan untuk menikmati kenormalan seperti ini."Hah... Yaudah deh.""Eh, tunggu sebentar."Jon menggenggam pergelangan tangan kiri si pemuda dengan erat, kemudian mengucap, "Ferrum, Lucendi, Omnia." Tiba-tiba, tercipta semacam rantai bercahaya yang mengikat tangan Jon dan pemuda itu. "Rantai Pengikat Mutlak.""Apa-apaan..." Pemuda itu menatap tak percaya tangan kirinya yang kini terikat dengan tangan kanan Jon. "Om serius?""Seratus persen." Jawab Jon sambil menyeringai. "Ngomong-ngomong, berhentilah bicara dan melihat ke arahku. Bisa-bisa, kau dikira gila sama orang-orang.""Ya Tuhan... ini memalukan. " Pemuda itu menghela nafas pasrah.Tanpa menunda-nunda lebih lama lagi, Jon pun mulai berjalan menyusuri jalanan yang penuh sesak, sementara si pemuda mau tak mau harus ikut melangkah di sampingnya. Jon yakin, orang-orang yang dia senggol pasti terkejut, karena mereka tak bisa melihatnya yang berada dalam wujud Astral."Jadi, kau mau beli apa?""Aku mau beli kaki ayam doang kok. Aku lagi ingin makan ceker pedas soalnya." Jelas pemuda itu.Akan tetapi, saat Jon melirik ke arah si pemuda, Jon pun sadar kalau ternyata pemuda itu sedari tadi terus menatap tangan mereka yang saling bertaut. Namun, anehnya anak itu tampak terlihat sedih, dan senang di saat yang sama."Kau nggak punya kelainan kan... ?" Tanya Jon sambil memandang ngeri pemuda itu."Hah!? Om nggak usah mikir yang aneh-aneh. Gila banget. Aku cuma merasa aneh aja kok. Soalnya, ini adalah pertama kalinya aku berjalan dengan orang yang lebih tua dariku, sambil bergandengan tangan. Jadi... ya, ini memang aneh. Apalagi... untuk orang sepertiku." Jelas si pemuda. Wajahnya sedikit merona."Hmm... kalau dipikir-pikir, perkataanmu ada benarnya juga.""Hah? Apanya yang benar?" Tanya si Pemuda tak percaya."Maksudku, ini memang aneh, bahkan untuk orang-orang seperti kita." Jelas Jon dengan wajah yang terlihat sedikit sedih. "Kita yang setiap malam harus terjun ke medan pertempuran, ternyata masih bisa mendapatkan pengalaman seperti ini. Berjalan-jalan seperti manusia biasa, pergi ke pasar, dan belanja. Bukankah menurutmu ini hadiah yang hebat?""Eh... " si pemuda menggaruk tengkuk lehernya dengan ragu. "Mungkin...?""Jawaban macam apa itu? Kupikir kau harusnya lebih sadar tentang kenyataan dibanding siapapun. Mengingat kau sendiri telah melewati empat belas peperangan dalam hidupmu. Suatu pengalaman yang tak mungkin bisa dirasakan oleh orang lain yang hidup di dunia manapun. Pengalamanmu itu... benar-benar mengerikan loh.""Yah... bukannya gimana." Pemuda itu menundukkan kepala. "Tapi... Kalau seandainya Om bisa merasakan masa laluku, mungkin Om juga bakal bingung harus menjawab apa." Ungkap Pemuda itu. "Aku tahu... Aku selalu tahu. Tapi, kadang aku berpikir, pasti akan lebih menyenangkan jika aku tidak mengetahui semua itu."Jon tiba-tiba berhenti melangkah, namun matanya memandang ke arah seorang pedagang yang menjual berbagai macam aksesoris seperti cincin, kalung, dan kaos kaki. Lalu, setelah berpikir sejenak, Jon memutuskan untuk menghampiri pedagang itu tanpa sepengetahuan si pemuda."Apa yang kuketahui, bukanlah hadiah. Ini... adalah kutukan.""Apapun yang ada di dunia ini, adalah hadiah. Bahkan kutukan sekalipun." Ujar Jon."Apa-apaan... Loh, kok? Kenapa malah ke sini?" Tanya si pemuda keheranan ketika ia sadar kalau mereka sekarang berada di toko aksesoris. "Om mau beli apa?""Saya beli topi yang ini ya, Bu Ningsih." Jon langsung bergerak meraih sebuah topi berwarna abu-abu yang tergantung dipojokkan, lalu menyelipkan topi itu di ketiaknya, kemudian dengan tangan kirinya, ia memberikan sekeping koin perak kepada si Ibu penjual itu, yang juga kebetulan bisa melihat sosok Jon, mengingat dia juga adalah Rakyat Dunia Lain, sama seperti mereka berdua."Terima kasih, Tuan Jon." Kata si Ibu penjual dengan ramah."Eh... itu topi untuk siapa Om?" Tanya si Pemuda. "Untuk anak Om ya?""Bukan. Dan tolong jangan menyinggung apapun tentang kehidupanku sebagai manusia. Kau tahu aturannya." Kata Jon seraya memakaikan topi itu di kepala si pemuda. "Ini untukmu. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun."Pemuda itu tak mampu berkata-kata. Dia tampak sangat kebingungan. Namun dia mencabut topi itu dari kepalanya dan memandangnya sekilas dengan mata yang berbinar, lalu tak lama kemudian, ia kembali mengenakan topi itu."Ternyata Om ingat ya? Hebat, hebat." Ujar si Pemuda yang berusaha untuk terlihat tak acuh. Tapi, warna merah di kedua pipinya menggagalkan usahanya itu tanpa ia sadari. "Te-terima kasih deh.""Terserah kamu sajalah." Balas Jon sambil tersenyum kecil. "Ya sudah. Jadi, sekarang tinggal ceker ayam saja kan? Ayo."
Kenyataan
Nabila cukup terkejut saat mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut Jo beberapa saat lalu. Yah, bukan apanya, hanya saja, setelah dua tahun belajar di kelas yang sama, mungkin tidak apa bila dikatakan kalau Jo adalah murid paling bodoh di kelas ini."Jangan pikir kau akan merasa hebat hanya karena kau tahu banyak hal. Mungkin kamu belum sadar, tapi kenyataan-kenyataan yang kau simpan sendirian itu, kelak akan menjadi kutukan buat kamu."Itulah yang dikatakan Jo.Seumur hidupnya, Nabila tidak pernah melihat Jo bicara dengan nada serius seperti itu. Bahkan, itu adalah kali pertama Nabila melihat Jo tidak tersenyum.aneh sekaligus menyeramkan bisa dibilang."Itu mengejutkan, bukan?" Tanya seekor anjing berbulu putih dan bermata tiga yang sejak tadi berbaring santai di meja Nabila. "Entah kenapa aku merasa kalau dia bisa melihatku.""Jangan berpikir yang aneh-aneh deh... " jawab Nabila sambil tersenyum kecut. "Maksudku, dia itu hanya Jo." Nabila mengingatkan sambil mengarahkan pandangannya ke arah Jo yang sedang bercerita seru dengan teman-teman sekelas yang lain."Ya, dan gadis kecil yang kita temui di Jepang itu hanya seorang gelandangan biasa juga kan?""Hah? kenapa singgung itu lagi sih?""Aku hanya ingin bilang, lebih baik kamu berhenti menilai segala sesuatu hanya dari sampulnya saja." Jelas anjing itu. "Kalau saja kamu saat itu nggak iseng buat melihat kenyataan gadis malang itu, semuanya pasti masih berjalan mulus sampai sekarang. Kau tahu, aku membutuhkan banyak kenyataan agar bisa kembali ke dunia asalku.""Hah... iya, iya, Fenris yang serba tahu." Kata Nabila dengan malas sambil mencubit kedua pipi anjing mungil itu. "Tapi, kalau diingat-ingat, sepertinya sudah setahun ya, sejak kau datang ke rumahku dan meminta bantuanku.""Yap, hari ini tepat satu tahun sejak kita pertama bertemu." Jawab Fenris tak acuh. "Ini adalah hari yang sama saat dimana aku menggunakan Mata Kebenaran-ku untuk memperlihatkan padamu masa lalu dan masa depan yang nggak pernah menjadi milikmu.""Yah, nggak usah kamu bilang begitu juga aku ingat kok."Ada suara dengungan yang tiba-tiba tertangkap oleh telinga Nabila dan Fenris. Keduanya lalu melirik ke jendela yang berada tepat di samping meja mereka, dan memandang sesuatu yang tengah melayang tinggi di angkasa.Jauh di atas sana, Nabila melihat beberapa alat transportasi yang mengambang dengan kekuatan ajaib dan misterius. Itu jelas-jelas bukan pesawat, melainkan sebuah kapal. Namun, sampai sekarang, Nabila masih tidak tahu mengapa bisa kapal-kapal yang seharusnya berlayar di udara, kini mengambang di angkasa."Apa sih yang sebenarnya kau lihat waktu itu?" Tanya Fenris. "Kita sudah sepakat kan? Apapun yang kau lihat menggunakan mataku, kau juga harus memberitahukannya padaku. Tapi, kenapa kau masih nggak mau memberitahuku apa yang kamu lihat dari gadis malang itu?"Sepoy angin yang masuk melalui celah jendela awalnya membawa rasa damai ke dalam diri Nabila, namun, setelah ia mendengar pertanyaan yang dilantunkan oleh Fenris, kengerian yang dilihatnya beberapa bulan lalu kembali merasuk ke dalam jiwanya, dan membuat hatinya merasa sangat sakit."Sepertinya apa yang dikatakan Jo tadi, itu ada benarnya." Gumam Nabila yang mengamati keindahan yang ada di angkasa, sambil menikmati segelas teh dingin. Entah kenapa sampai sekarang, Nabila tetap tidak mampu untuk menceritakan pada Fenris apa yang dilihatnya dari gadis kecil itu. Rasanya terlalu menyakitkan."Yah... Sesuatu yang benar memang belum tentu baik." Kata Fenris."Waktu itu... aku mendengar banyak teriakkan... tangisan... amarah... dan keputusasaan. Lalu... gadis malang itu terbang tinggi ke angkasa untuk menyelamatkan semuanya, tapi dia akhirnya jatuh dan sejak saat itu, hidupnya menjadi kematian. Sedangkan anak berambut emas itu... dia hanya bisa menangis meratapi kepergian semua yang berarti baginya. Seorang yang dianggapnya sebagai adik, kakak, om, tante, semuanya mati... Langitnya berwarna merah... Dan sosok bersayap putih yang ada di langit itu memasang senyuman di bibirnya."Fenris yang juga masih mengamati angkasa dan menikmati hembusan angin lembut, hanya mampu diam membisu mendengar setiap bisikkan yang keluar dari mulut Nabila.Yah, tak bisa dipungkiri, kalau kenyataan memang selalu mengerikan.
Tangisan Yang Lahir Dari Perang
Mungkin banyak yang tak tahu, tapi, kesedihan itu, merupakan suatu bahasa yang cukup rumit untuk dimengerti.Orang pertama yang dilihat Aril di kejauhan adalah seorang gadis yang juga mengenakan seragam yang sama persis dengannya. Dia langsung melesat ke arahnya secepat mungkin, tapi gadis itu juga tengah didesak oleh tiga pasukan musuh, dan sepersekian detik kemudian, diiringi teriakan yang terdengar menyedihkan, gadis itu akhirnya meregang nyawa setelah ditikam dengan tiga pedang sekaligus tepat di bagian perutnya."Astaga! Ti-tidak! Elisa!"Pemandangan itu awalnya sempat membuat Aril merasa kosong, seolah-olah seluruh kekuatan dalam dirinya habis tanpa sisa, namun itu tidak menghentikannya. Ketika dia melihat temannya yang lain yang juga sedang dalam kesulitan, Aril kembali berlari dan mencoba menolongnya.Kerajaan Cekatora diambang kekalahan, dan nyawa Aril berada diujung tanduk.Langit malam memancarkan warna merah gelap yang membuat siapapun merinding melihatnya, ditambah suara teriakkan, dan kematian, tentu saja akan memberikan rasa takut yang teramat sangat bagi semua orang yang mendengarnya.Satu perang, lima medan pertempuran. Di dunia ini takdir seperti itu bisa dibilang wajar-wajar saja, bahkan untuk seorang anak yang masih berumur enam tahun. Ditambah lagi, Aril juga merupakan seorang tawanan perang, jadi mau tak mau dia harus terjun ke medan pertempuran untuk bertempur demi kesatuan yang tak pernah tahu kalau dia ada.Namun, beginilah situasinya sekarang.Mereka dijebak. Kerajaan benar-benar akan hancur hanya karena satu kesalahan kecil.Aril sangat kelelahan, tenaganya terkuras habis setelah bertempur lima jam lamanya. Namun sekarang dia harus menyelamatkan dirinya. Dia mencoba untuk melarikan diri dari sana, tapi tampaknya itu terlalu mustahil jika dilihat dari situasinya saat ini. Sama sekali tak ada celah. Pasukan musuh berada dimana-mana. Pedang menari dengan liar, peluru berjatuhan dari langit bagaikan hujan, dan sihir bisa dengan mudahnya merubah medan pertempuran dalam sekejap mata.Kehancuran, kematian, dan akhir; itulah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Aril saat ini. Dia dilanda kepanikan dan ketakutan, dan yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah berlari kesana kemari untuk menyelamatkan teman-temannya yang bisa diselamatkan, dan berharap bisa keluar dari sana bersama-sama dalam keadaan hidup.Akan tetapi, lambat laun Aril pun akhirnya sadar bahwa semua usahanya sia-sia. Orang-orang yang coba dia gapai selalu saja berubah menjadi debu-debu cahaya sebelum ia berhasil menyelamatkan mereka. Mereka semua pulang.Satu per satu teman-teman Aril mati tepat sebelum dia sempat menatap mata mereka. Aril mulai menangis, tapi dia terus berlari, berlari, dan berlari untuk menolong orang-orang yang dikenalnya, siapapun itu. Hingga akhirnya, rasa putus asa perlahan-lahan mulai menelan Aril. Dia tak mampu menyelamatkan siapapun.Aril sudah tak tahan lagi mendengar suara teriakan mereka, dan suara pertempuran.Dia benar-benar tidak menyangka, kalau melihat seorang yang dikenalnya mati di depan mata, ternyata rasanya akan sesakit ini."Hah... Hah... Hah... " Nafasnya terengah-engah saat dia memandang berkeliling sambil berusaha mencari wajah-wajah yang akrab dalam ingatannya. Namun, sudah tak ada satupun yang tersisa.Aril jatuh berlutut. Dia menengadah menatap langit, seraya menghembuskan nafasnya. Rasanya sangat menyakitkan, tapi dia sadar betul kalau sekarang adalah saat yang tepat untuk pasrah."Tuhan... jika ini adalah saatnya, maka jadilah kehendak-Mu. Tapi... aku masih ingin melanjutkan hidupku, Tuhan. Jadi... Aku percaya, kalau malapetaka ini bukanlah kehendak-Mu." Aril berbisik dengan wajah kosong yang dibanjiri air mata. "Kau... Engkau tidak pernah membuat rancangan kecelakaan untukku, kan? Kumohon... kumohon berikan aku satu kesempatan lagi." Aril menundukkan kepalanya dalam-dalam, wajahnya berlinang air mata.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Tiba-tiba saja ada pilar cahaya yang turun dari langit. Cahaya yang amat terang itu menelan Aril, mengambil alih pandangannya, dan membuat semuanya menjadi putih."Eh... ? Ini... Jembatan Pelangi?"Beberapa saat kemudian, pandangan Aril akhirnya telah kembali padanya setelah dia mengedipkan mata beberapa kali, dan pada saat itu pula dia sadar kalau segalanya sudah berubah—Dunia telah berubah.Tak ada teriakkan, guncangan, kehancuran, dan kematian. Tak ada sihir-sihir yang bisa menyebabkan gempa bumi, serta hujan peluru yang menembus daging, serta suara bilah pedang yang saling beradu, dan hal-hal mengerikan lainnya. Semuanya itu telah lenyap begitu saja digantikan oleh kesenyapan.Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kegelapan malam, serta rumah-rumah yang tertata rapi yang memancarkan cahaya temaram dari balik gorden jendelanya, juga pepohonan yang tampak normal, jalanan beraspal, dan tiang-tiang lampu yang berjejer di sepanjang jalan.Semuanya benar-benar biasa.Aril masih berdiri diam di tengah jalan yang sepi itu. Dia sungguh tidak tahu ini nyata atau tidak. Dari wajahnya, terlihat jelas kalau dia seolah tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya, seakan-akan dia berada di dunia lain.Akan tetapi, entah kenapa Aril merasa sangat nyaman sekarang. Semua perasaan mengerikan yang merasuk ke dalam tubuh dan jiwanya karena peperangan tadi, kini semuanya telah sirna."Ya Tuhan... "Tanpa diduga, hujan tiba-tiba turun, dan lambat laun semakin deras hingga membuat Aril basah kuyup. Suara hujan memenuhi pendengarannya. Dia lalu menengadah ke angkasa yang juga tampak biasa saja, sembari menatap tiap titik-titik air yang berjatuhan dari langit."Ini... Dunia Manusia?" Aril bergumam. Rahangnya terkatup rapat dan rasanya sedikit nyeri. "Ini... benar-benar Dunia Manusia. Aku berada di Dunia Manusia... Tapi... bagaimana mungkin?" Air matanya bercampur dengan tetesan hujan di wajah. Matanya memerah karena menangis selama pertempuran tadi.Setelah sekian lama, dan setelah semua perjuangannya, akhirnya Tuhan memberi Aril kesempatan. Namun, anehnya, Aril tiba-tiba merasa sangat kosong. Kehampaan memenuhi hatinya, dan lama kelamaan, semua ketiadaan itu mulai membuat Aril merasa kesakitan tanpa alasan yang jelas.Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia mengangkat kepala dan menoleh memandang ke ujung jalanan yang tak dapat dijangkau matanya.Jika ini memang kesempatan kedua, maka Aril akan mengambilnya tanpa ragu. Tapi, dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang mungkin akan didapatkannya di ujung jalan itu? Di hari esok, di dunia yang tidak ia kenali.Lalu, terdengar satu suara yang bergema dalam benaknya."Aku akan meminjamkan namaku kepadamu. Mulai sekarang, hingga ke dalam kekekalan. Inilah namaku, Heimdal."Ya, itu merupakan kabar yang sangat tak terduga.Dewa yang menjaga jembatan antar dunia kini meminjamkan namanya kepada Aril. Yang artinya, Aril bisa menggunakan kekuatan itu sesukanya mulai sekarang."Jadi... bagaimana sekarang?" Aril menatap kedua telapak tangannya lekat-lekat, kemudian kembali menoleh memandang ke ujung jalan.Akhirnya, dengan kehampaan yang membanjiri dirinya, Aril pun mulai berjalan menembus hujan menyusuri jalanan yang kosong itu, dan meninggalkan jati dirinya jauh di belakang.Seperti semua anak bayi yang baru terlahir ke dunia, Aril pun mengawali hidup barunya dengan tangisan."Sampai jumpa... kenyataan masa laluku." Bisiknya seraya melangkah pergi. Aril terus berjalan, berjalan, dan berjalan, dan tak lama kemudian, sosoknya pun akhirnya lenyap di kejauhan, ditelan gelap malam.
Kisah Enam Orang Buta Melihat Gajah
Seorang wanita duduk di pelataran rumahnya, sepi. Itulah yang ada. Sebab kedua orang tuanya telah pindah."Sepi sekali disini, dulu enak ramai semua berkumpul"Ditelinga kirinya berbisik "Sudah kamu mati saja, pasti tenang"Iya, ya apa aku mati saja . Ucapnya dalam hati lalu menggeleng usai tersadar.Nickyta, begitu mereka menyebutnya. Sosok gadis cantik yang ramah juga baik hati. Siapa saja yang mengenalnya, pasti akan nyaman berteman dengannya. Tapi dibalik itu, ada suatu kisah yang sampai saat ini membekas diingatannya layaknya sebuah rekaman yang terus dia simpan.Mira dan Ardi, mereka adalah sepasang kekasih yang telah menjalin kasih sejak duduk di bangku SMP. Jarak rumah mereka berdekatan, dengan kata lain mereka tinggal di desa yang sama. Meski hubungan mereka tidak direstui, nyatanya hingga kini mereka masih menjalin kasih.Ardi berasal dari keluarga yang kaya di desa itu sementara Mira dari keluarga sederhana. Mungkin, dengan dalih seperti itu mereka tidak direstui. Sebagai ibu Mira, Tira tidak ingin Mira mengalami kesulitan jika ia tetap memaksakan bersama Ardi tanpa restu di keluarga Ardi.Pernah suatu hari Mira dikirim ibundanya mengungsi ke suatu tempat yang cukup jauh dari desanya guna memisahkan ia dengan Ardi.Mereka sempat beberapa kali berjauhan, di tempat yang jauh mereka akan memiliki pasangan masing-masing juga memiliki kehidupan masing-masing namun jika mereka kembali, maka mereka juga akan kembali menjalani kisah mereka kembali. Begitu seterusnya.Dulu saat Mira kembali di desa pernah memiliki kekasih lain, karena ia berpikir mungkin ia tidak bisa bersama dengan Ardi tapi nyatanya Ardi tidak bisa menerimanya, ia mengancam setiap lelaki yang menemui Mira. Semenjak saat itu pula tak ada satupun pria yang mau menemui Mira. Dan Mira akan selalu bersama Ardi.Kini mereka sudah menikah, tahun pertama di pernikahannya cukup sulit untuk Mira karena Mira ikut tinggal bersama mertuanya, ibu dari Ardi, Tika sebab Tika tinggal sendirian. Sementara ayah Mira meninggal 2 hari kemudian setelah Mira dan Ardi menikah.Setelah menikah mereka tetap menjadi pasangan yang harmonis, perekonomian lancar bahkan bisa dikatakan berlebih.Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang disimpannya.Pada mertuanya, Mira tidak boleh makan sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Meski menahan peluh akibat lelah ia tetap melakukannya.Bahkan ia pernah menyapu rumah tapi disapu kembali oleh ibunya.Yang lebih menyakitkan ketika ada seorang perempuan yang bertandang kerumahnya, yakni suka pada Ardi dengan profesi bidan.Tika dengan ramahnya menyapa "Eh ayo masuk.. Sudah makan belum?" Sementara Mira belum makan dari pagi.Dwi, adik dari Ardi. Mira dan Dwi merupakan sahahat baik semasa sekolah. Dwi juga merupakan adik Ardi. Tapi semenjak Mira dan Ardi menikah, Dwi menjadi tidak menyukai Mira, sifatnya yang terlihat memusuhi membuat Mira enggan bercerita keluh kesahnya.Kabarnya, Dwi tidak menyukai keharmonisan yang terjadi pada sahabatnya. Ia merasa tidak adil karena memiliki suami yang pemarah, pemabuk juga suka main perempuan dan tidak ingin bekerja. Selain itu, salah satu tetangga mereka juga ada yang iri pada keharmonisan rumah tangga Mira dan Ardi.Beberapa tahun telah terlewati, Mira dan Ardi dikarunia 2 putri cantik. Anak pertamanya bernama Nickyta dan adiknya bernama Zahra. Saat itu Nickyta telah berumur 8 tahun dan Zahra 2 tahun. Semenjak saat itu, ujian rumah tangga mereka mulai diuji.Ardi yang semula bersikap sangat baik berubah menjadi pemarah dan arogan, masalah kecil selalu diperbesar hingga terjadi pertengkaran hebat antara keduanya. Jika Mira atau Nickyta melakukan sedikit kesalahan saja, Ardi marah besar dan bisa memukuli mereka, mata dan hatinya tertutup untuk mengiba kasih pada keluarganya.Tidak sampai disitu, pernah Mira dan anak-anaknya tidur di dapur tanpa alas. Juga sering diusir oleh Ardi. Tapi keesokan harinya maka semua akan kembali seperti semua tanpa pernah terjadi apa-apa begitu seterusnya.Saat itu hanyalah pancaran amarah benci yang dilakukan Nickyta pada ayahnya karena selalu bersikap kasar pada mereka terlebih pada ibunya.Anak mana yang tidak sakit hati. Bukankah cinta pertama seorang wanita adalah ayahnya? Namun pria itu pula yang menorehkan luka dalam padanya juga ibunya.Hingga Nickyta telah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Selama itu pula ia selalu meyakini bahwa ayahnya adalah orang yang baik. Saat Nickyta memasuki bangku SMA perlahan amarah ayahnya mulai mereda hingga akhirnya ia lulus SMA. Kemudian berlanjut kuliah, namun tiba-tiba ayahnya mengatakan akan pergi merantau ke Jambi tanpa tahu alasannya namun tekadnya sudah bulat ingin pindah kesana.POV NickytaSekitar satu tahun ayahku pergi merantau ke Jambi, ibukupun ikut ke jambi. Kemudian setelah dua tahun adikku juga ikut ke Jambi. Kini menyisakan aku seorang diri dirumah.Namun dari sinilah kisahku dimulai, kejadian-kejadian aneh mulai kurasakan. Mulai dari sakit perut, sakit kepala hingga kurang darah padahal semula aku selalu sehat. Juga ibuku mengatakan aku sedari kecil tidak pernah sakit-sakitan.Tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa ini semua baik-baik saja, mungkin memang kondisiku yang kurang sehat.Singkat cerita, aku sudah duduk di semester delapan perkuliahan menyusun skripsi sembari bekerja di salah satu kantor pemerintahan. Disini banyak persaingan untuk saling menjatuhkan satu dengan lainnya.Di sini juga aku bertemu dengan seorang perempuan bernama Sekar. Sekar adalah teman sekantorku yang berperilaku semena-mena, sombong hingga angkuh, suka marah-marah hingga apapun pekerjaan serba salah dimatanya, jika kita membela diri ia akan mengata-ngatain kita secara fisik dan materi. Belum lagi dia suka melabrak orang jika ia tidak suka.Iuhh... Sungguh menyebalkan!Tapi anehnya, semua atasan terlihat tunduk seolah itu bukanlah masalah sehingga ia merajalela.Ia pernah mengatakan "Silahkan adukan ke bapak, memangnya apa yang bisa dia lakukan padaku?"Iuhh... Sudah aku katakan dia memang semenyebalkan itu.Hingga suatu hari kami, aku dengan dua orang temanku, Dila Dan Dara bertengkar dengannya diluar kantor. Karena memang sudah tidak sepaham, tidak suka melihatnya berprilaku buruk.Bibirnya yang di poles lipstik merah bak biduan itu memaki-maki kami, cacian kata pedas dilontarkan padaku sambil menunjuk-nunjuk mukaku. Sejatinya aku juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.Namun lagi dan lagi atasan kami semua seolah takut dan tunduk pada Sekar. Hanya kami -Aku, Dara dan Dila- yang berani. Muncul ide gila di kepala kami untuk pergi ke dukun untuk menjawab rasa penasaranku. Kebetulan aku punya saudara yang memiliki kemampuan khusus. Sekali lagi, dari sini menghantarkanku pada suatu rahasia.Nando, selaku kekasihku yang kebetulan di kotaku ada janji temu denganku. Maklum jarak rumah kami cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan. Ikut bersama kami.Sampai disana, ternyata dia sudah meninggal. Jujur aku tidak tahu perihal ini.Tiba-tiba Nando berkata "Bagaimana jika kita kerumah bibiku saja?" Tawarnya pada kami.Kami sempat berpikir sejenak namun mengiyakan. Tiba disana kami sedikit berbincang hingga menyampaikan masalah yang sedang kami hadapi. Bi Tari, berprofesi dokter bedah yang memiliki kemampuan khusus."Anehnya, Bi. Semua atasan tidak ada yang berani padanya." Ucap Dila dengan menggebu, aku mengangguk mengiyakanBibi itu tersenyum singkat lalu berkata "Iya, selama ini dia menggunakan susuk semar mesem sehingga tidak ada yang berani membantahnya"Kami semua terkejut, "Astaghfirullah..." Ucap kami berbarengan saling pandang"Setiap malam ia selalu mandi bunga juga memandikan krisnya sembari menyebut nama mangsanya" tambahnya yang membuat bulu kuduk kami meremang seketika.Lalu tatapan bibi itu beralih padaku, tatapannya cukup dalam hingga ia mengatakan "Aku kasihan melihatmu, orang tuamu sering bertengkar, bukan?""Hanya hal kecil tapi dibesar-besarkan, orang tuamu pernah ingin berceraikan?" TambahnyaDengan spontan aku langsung menjawab "Iya. Kok bibi tahu?"Lalu ia tersenyum, "Mau aku beritahu rahasia?"Aku menaikkan alisku tanda tidak mengerti maksudnya. Kenapa ia bisa tahu namun aku hanya mengangguk."Banyak yang iri pada keluargamu."Dalam hati aku bingung, ada apa dengan kami.Kemudian bibi itu kembali berucap "Di rumahmu, sudah di guna-guna orang. 3 orang yang membuatnya dan sudah 3 tempat yang sudah di tanam. Pelakunya orang terdekatmu, saudaramu. Mereka ingin menghancurkan keluargamu. Mempermalukan keluargamu, menghabisi keluargamu. Dan mereka juga ingin membuatmu gila, menutup auramu agar tidak menikah sampai tua sekalipun. Bahkan pikiranmu mudah berubah-ubah, satu menit begini dua menit begini. Tanpa sebab bisa menangis, merasa hidup tidak berguna. Berujung kamu lampiaskan pada Nando, kamu marah-marahin dia, segala amarah yang ada di dirimu kamu lampiaskan padanya." Jedanya sambil ia meneguk teh di sampingnya"Kamu meminta putus sama Nando, padahal kamu sayang sekali padanya. Tapi hatimu selalu berkata, udalah tidak usah menikah sampai tua. Benar tidak?" TanyanyaSungguh aku terperangah mendengar penuturannya. Aku bahkan belum mengucapkan satu katapun.Aku mengangguk "Iya benar, Bi. Semuanya benar" Jawabku"Baiklah, nanti kamu bibi syaratin. Mulai sekarang jangan seperti itu lagi. Jika bibi lihat dari bintang kalian cocok, kemanapun kalian pergi bahkan ke lubang semut sekalipun, tetap Nando yang pas untukmu begitupun sebaliknya" jelasnya kemudianMendengar ucapan di kalimat terakhirnya aku tertawa kecil, tak ayal aku saling curi pandang pada Nando."Jadi mereka hingga kini masih mengganggu kami ya, bi?" TanyakuBibi itu mengangguk "Syukurlah orang tuamu sudah pindah, jika masih disini mungkin akan pecah perang. Bahkan salah satu dari mereka akan sakit parah."Lagi, aku belum mengatakan apapun mengenai keluargaku tapi ia sudah tahu orang tuaku pindah."Tapi apa salahku dan keluargaku, bi?""Tidak ada. Hanya mereka iri pada keluargamu."Kami sedikit berbincang-bincang, kamipun bergegas kembali karena jarak yang lumayan jauh untuk ditempuh."Sebaiknya kalian pulang saja. Besok kembali lagi, bibi tunggu jam 2 ya" pesannya sebelum kami pulang.Keesokan harinya kami berempat kembali, sedikit berbincang."Tadi malam bibi sholat tahajud, saat bibi berdzikir bibi di datangi makhluk itu. Wujudnya tinggi, besar, hitam dan berbulu. Dia marah pada bibi karena ingin membantu keluargamu. Dia mengatakan bahwa jangan ikut campur, itu bukan urusanmu tapi bibi tetap melanjutkan dzikir itu."Kemudian aku diberikan tangkal berupa 2 buah bambu kuning yang di tanam di belakang dan depan rumah. Mencari aman agar tidak terlihat orang kami menanamnya pada tengah malam.Ajaibnya usai kami tanam, selang 5 menit terdengar bunyi letusan yang kuat baik dari depan maupun belakang. Akupun lega, mungkin setelah ini akan tenang tanpa gangguan.Namun aku salah, setelah 3 atau 4 bulan kemudian gangguan itu kembali. Bedanya, saat ini lebih peka. Di telingaku seperti ada bisikan seperti jangan tidur, jika ku lanjutkan maka aku akan ketindihan.Hari itu aku yang lelah sepulang kerja sekitar pukul satu siang bermain ponsel hingga ketiduran. Aku sering ketindihan tapi kali ini berbeda.Aku ingat posisi tidurku miring ke kanan menghadap arah jendela. Ketika aku ketindihan mukaku berasa ditutup ingin membuka mata tapi tidak bisa.Suara nafas menggeram terdengar di telinga "khkhhkhh"Doa dan segala upaya ku lakukan tapi sia-sia. Beberapa saat aku bisa bergerak membuka mata, ternyata sudah pukul 3 sore. Seluruh tubuhku meremang menghantar sensasi mengerihkan ditubuh.Ku tatap tangan dan kakiku menghitam bagai terkena arang. Aneh.Ponselku berdering menampilkan panggilan video dari Nando yang segera ku angkat.Aku menceritakannya diapun menasehati untuk sholat ashar yang saat itu sudah memasuki waktu sholat.Saat aku ingin memulai sholatku, terlihat dari ekor mataku sosok itu. Sosok hitam, tinggi dan besar berada di depan pintu kamarku berlari ingin menerkamku tapi seoalah tak bisa, tak sampai padaku.Desau angin membuat buluku naik ditambah keringat dingin membanjiri tubuhku, namun tetapku lanjutkan sholatku meski rasa takutku kian mencekam. Lantunan ayatpun sudah tak fokus kala ku rapalkan, namun tetap ku selesaikan sholatku.Usai sholat aku bergegas pergi kerumah nenek dari ibuku, jaraknya tak jauh sekitar 300 m saja dari rumahku. Disana aku langsung menelpon kedua orang tuaku menceritakan yang terjadi.Di jambi ada kakek yang kebetulan bisa hal seperti itu. Tak lama ibuku menelponku sambil menangis menceritakan bahwa benar ada yang jahat menggangu dengan niatan membunuhku, ia sudah 3 hari di rumahku menunggu waktu yang tepat, saat aku tertidur tadi."Jadi aku harus bagaimana?" Tanyaku penuh kekhawatiran, namun kakek dengan lantang menjawab"Maaf, kakek tidak bisa mengobati hanya bisa melihat" ucapnya diseberang sana."Kalau kakek boleh saran, sebaiknya pergi berobat ke orang karo juga sebab yang melakukan orang karo juga." TambahnyaKemudian aku bercerita ke Nando, kamipun kembali pada Bibi.Menceritakan padanya, dengan lugas ia menjawab "Sebenarnya dia sudah keterlaluan padamu. Saat ini dia membeli beguganjang untuk membunuhmu. Yang ketindihan, tanganmu hitam itu ulahnya, bekas bulunya semua." Jedanya"Jika leluhurmu tidak ada yang menjagamu, sudah pasti kamu akan tiada. Taringnya sudah menancap di nadimu, dia hanya perlu menghisap darahmu. Apabila masih selamat, kamu akan sakit terus menerus sampai menghabiskan uang tanpa sisa. Sebenarnya bukan kamu target mereka tapi orang tuamu, karena orang tuamu jauh maka kena padamu yang dekat disini." JelasnyaDan mereka ini pintar, ingat pada awal kami sudah menanam bambu?Yap. Bibi berkata awalnya melalui tanah, kemudian melalui angin."Sering mendengar bunyi berjalan atau lainnya di atap rumah?"Aku refleks mengangguk "Aku berpikir itu kucing, bi.""Saat ini mereka ada di atas bubungan rumahmu, oleh sebab itu kamu sering mendengar seperti orang berjalan di atap dan sebagainya." Bibi itu tersenyum sebelum melanjutkan "Ya sudah tidak apa, nanti kita syaratin lagi ya."Dan syukurlah setelah disaratin bibi rumahku kembali damai dan aman.Tidak berhenti disini, selang beberapa bulan ternyata aku seperti diikutin saat kerumah nenekku, dari mulai ketindihan, aktivitas mandi seperti di awasi hingga nenekku sakit.Di telinga kiriku sering berbisik,"Coba lihat ke dalam sumur" tapi di telinga kanan "Jangan lihat, ayo cepat selesaikan dan keluar"Pernah juga, mandi dilihatin hanya kepalanya saja yang kelihatan bak manusia mengintip padahal aku hanya sendiri di rumah nenek yang kebetulan ia sedang ada urusan.Bayangan hitam berlalu lalang di sampingku.Karena masih terus mengalami kejanggalam aku kembali pada bibi bersama Nando, bibi itu mengatakan"Sungguh luar biasa, mereka tidak bisa dirumahmu lagi makanya mengikutimu kerumah nenek yang akhir-akhir ini kamu lebih sering disana. Kasihan nenekmu, dia sudah tua tetapi malah jadi kena akibatnya.""Sebenarnya siapa yang tega melakukan seperti ini, bi?" Tapi bibi hanya diam, enggan menjawabnya, sudah entah berapa kali ia tidak ingin menjawabnya"Ayolah, bi. Ku mohon beritahu aku" pintaku bersikeras."Bibi tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki bukti nyata. Tapi baiklah, bibi beritahu cirinya saja padamu." Akunya pada akhirnyaAkupun mendengarkan dengan seksama."Ia memiliki hubungan sedarah dengan ayahmu (senina dalam bahasa karo), rumahnya di seberang rumahmu, kemudian dua orang lagi laki-laki dan perempuan usianya sekitar kurang lebih 70 tahun tetapi laki-laki inilah yang menjadi tangan kanannya karena dia yang menanam." JelasnyaMendengar itu aku jadi paham siapa mereka. Sudahlah cukup aku saja yang mengetahui ini.Bibi juga syaratin rumah nenekku seperti rumahku.Pantas saja selama ini, mereka seperti membenciku sementara aku tak pernah melakukan apapun pada mereka. Mereka bertiga juga selalu menghindar jika kami sedang bersitatap.Belum lagi aku yang selalu berbarengan dengan Nando, mereka yang melihatnya seperti kami telah melanggar norma.Padahal kami juga tahu batasan, bahkan kami selalu pulang tak lebih dari jam 10 malam.Ah hampir terlewatkan, sebelum aku kerumah bibi ataupun rumah nenek di syaratin. Saat aku tidur dirumah nenekku, ada satu kejadian aneh.Saat malam ada suara aneh seperti orang berjalan dan memukul atap beberapa kali, kala itu nenekku sedang di dapur sedangkan aku sudah lebih dulu di dalam kamar.Kebetulan kami tidur mengenakan kelambu, aku mendengar suaranya cukup jelas. Tak lama nenekku masuk, aku langsung bertanya"Nenek dengar suaranya kan?" TanyakuNenekku mengangguk, "Sudahlah tidur saja" ucapnyaTak lama ada burung hantu terbang di atas kelambu kami, berputar mengelilingi kelambu kami.Kami saling melempar pandang merasa aneh bagaimana bisa masuk, nenekku bergegas keluar mengambil spatula memukul burung tersebut. Burung dan darahnya berserakan di lantai, karena sudah tengah malam nenekku meminggirkannya untuk dibuang besok pagi.Ketika aku bangun tidur ku lihat di lantai sudah bersih, mungkin nenekku sudah membersihkannya subuh tadi.Akan tetapi saat aku keluar kamar nenekku malah bertanya, "Tadi pagi niki yang bersihkan burung tadi malam?"Tentu saja aku bingung, "Tidak, nek. Aku malah baru aja bangun"Kamipun kembali memeriksa, dan benar saja di lantai bersih tanpa sisa. Hanya di spatula tersisa sedikit bercak darah bekas pukulan. Aneh.Dan saat ini jika ditanya bagaimana kondisi keluargaku, syukurlah semua aman dan terkendali. Disana, Orang tuaku semakin harmonis, perekonomian juga semakin naik. Sakitku perlahan mulai berkurang. Tetapi aku jadi sedikit lebih peka, baik dari bisikan maupun penglihatan.------------------------------------Sengaja gak bikin end, karena emang hidupnya masih berlanjut heheKisah yang ini berbeda, bestie..Gimana? Mungkin kita bisa gak percaya tapi jika sudah mengalami pasti akan percaya. Dan ini hanya sedikit yang tercerita, belum lagi ranjangnya digoyang tengah malam saat ia tidur, dll.
Cerita Rakyat Laos
Dahulu, ada dua orang sahabat. Mereka bernama Suta dan Kao Fong. Mereka berdua sama-sama cacat. Mata Kao Fong buta sedangkan kaki Suta lumpuh.Suatu hari, mereka ingin berpetualang. Kao Fong menggendong Suta yang lumpuh. Lalu, Suta yang bisa melihat menjadi penunjuk jalan.Di tengah perjalanan, mereka merasa lapar. Tiba-tiba, Suta melihat ada lubang di batang pohon. Suta mengira lubang itu sarang burung."Kao Fong, di pohon itu ada sarang burung. Kau naiklah ke sana," kata Suta.Kao Fong segera menurunkan Suta dari gendongannya. Lalu, dia naik ke atas pohon seperti yang dikatakan Suta.Setelah sampai atas, Kao Fong merogoh lubang itu. Ternyata yang dipegang Kao Fong bukan burung, melainkan seekor ular ajaib."Apakah yang aku pegang ini, Suta?" tanya Kao Fong.Suta pun terkejut melihat Kao Fong memegang ular. Tanpa diduga, ular itu menyemburkan bisanya ke mata Kao Fong.Tiba-tiba, mata Kao Fong bisa melihat. Kao Fong sangat kaget ketika melihat ular di tangannya.Kao Fong marah pada Suta. Dia mengira Suta ingin mencelakainya. Kao Fong lalu melemparkan ular itu ke arah Suta.Suta pun ketakutan dan segera berlari sangat cepat. Karena panik, tanpa disadari kini kakinya sudah tidak lumpuh lagi.Akhirnya, kedua sahabat itu berbaikan kembali. Kao Fong menyadari kalau Suta tidak pernah bermaksud mencelakainya.Mereka pun pulang dengan gembira.
Putih Salju dan 7 Kurcaci
Pada Zaman dahulu kala , ada seorang putri cantik bernama Putri Salju . Dia baik dan lembut serta bersahabat dengan semua hewan .Suatu hari, Putri Salju bertemu dengan seorang pangeran yang menawan. Saat mereka sedang menyanyikan sebuah lagu cinta, ibu tiri Salju Putih yang jahat, sang Ratu, mengawasi mereka . Ratu sangat cemburu dengan kecantikan putri salju .Sehingga dia Sang Ratu memerintahkan pemburu Huntsman untuk membunuh sang putri . Tapi si pemburu Huntsman tidak mau menyakiti Putri Salju. Dia menyuruh sang putri pergi jauh sehingga Ratu tidak akan pernah menemukannya .Putri Salju pergi jauh ke dalam hutan. Dia tersesat dan ketakutan hingga dia menemukan sebuah pondok . Sang putri mengetuk, tapi tidak ada orang di pondok itu . Perlahan dia melangkah masuk .Pondok itu berantakan! Dengan bantuan teman-teman hutannya, Putri Salju membersihkan setiap sudut didalam pondok itu"Mungkin siapa pun yang tinggal di sini akan membiarkan aku tinggal," kata Putri Salju . Di lantai atas, Putri Salju menemukan tujuh tempat tidur kecil. Dia berpikir itu milik anak-anak . Lelah setelah membersihkan seluruh rumah, Putri Salju menguap dan tertidur lelap di ranjang .Sementara itu di sisi hutan yang lain, tujuh Kurcaci berjalan menuju pondok mereka dengan penuh semangat . Setelah bekerja di tambang permata seharian hal yang paling mereka inginkan saat ini adalah beristirahat di pondok mereka yang hangat.Saat Putri Salju terbangun, dia terpesona oleh Tujuh Kurcaci: Dopey, Sneezy, Happy, Grumpy, Doc, Bashful, dan Sleepy . Para kurcaci ingin melindungi putri cantik itu dari ratu yang jahat, jadi mereka mengundang Putri Salju untuk tinggal bersama mereka disana . Untuk merayakannya, mereka bernyanyi dan berdansa semalaman .Di istana, Ratu mengetahui bahwa Putri Salju masih hidup . Dia sangat Marah, dia membuat ramuan ajaib untuk mengubah penampilannya. Rencananya adalah untuk menipu sang putri.Setelah para kurcaci berangkat kerja hari berikutnya, sang Ratu menyamar sebagai wanita pedagang kelontong tua, menawari Putri Salju sebuah apel merah yang indah . Putri Salju mengigit apel itu dan tertidur lelap. Ratu telah meracuninya!Ketika Para Kurcaci pulang, mereka mengejar Ratu ke puncak sebuah gunung yang penuh badai. Tiba-tiba, petir menyambar gunung, membuat sang ratu terjatuh ke dalam jurang dan tidak pernah terlihat lagi.Semetara itu Putri Salju masih terlelap. Tujuh Kurcaci terus menjaganya siang dan malamAkhirnya Pangeran Tampan Putri Salju tiba. Dia telah mencari-cari putri salju ke seluruh penjuru kerajaan . Pangeran membangunkan Putri Salju dengan ciuman cinta sejati. Mantra jahat itu musnah, Putri Salju dan Pangeran kembali ke kerajaan dan hidup bahagia selamanya.
Surat Terakhir yang Menggoreskan Kebahagiaan
"Anggrietta, Aku tidak akan menggunakan sihirku padamu lagi.""Lho! Tapi kenapa, Zelos?""Ingat kembali kenapa engkau mulai berdansa."Ucapan yang dilontarkan Zelos saat latihan kemarin masih menghantui benaknya. Hal itu dilontarkan Zelos saat mereka sedang berselisih. Anggrietta tidak pernah bermaksud untuk melukai perasaan Zelos saat itu, hanya saja Anggrietta tidak bisa menahan emosinya."Kamu egois sekali, Anggrietta," ia menegur dirinya sendiri, "Padahal, Zelos adalah sosok yang membantumu sampai sejauh ini? Namun apa maksud dari ucapannya kemarin? Bukankah sudah jelas kalau aku berdansa agar memiliki uang untuk biaya perawatan ibuku di rumah sakit? Argh!"Seketika Anggrietta menepuk kedua belah pipinya. Kemudian memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu saat ini."Fokus, Anggrietta! Fokus!"Dengan musik yang tengah berputar, ia kembali berdiri.Anggrietta pun mengatur nafasnya kembali. Perlahan mata birunya ia tutup. Kemudian kedua tangannya ia angkat dan meletakkannya di udara. Tangan kirinya sedikit ia lekukkan seolah sedang memeluk seseorang dan tangan kanannya ia julurkan panjang menggantung di udara. Terlihat begitu kokoh seolah kedua tangannya sedang bertumpu pada sesuatu. Kemudian tubuhnya ia lekukkan dan agak condong ke kiri. Posisi itu membuatnya terlihat sangat rapuh namun amat menawan.Anggrietta pun mulai melangkahkan kaki kanannya. Kaki kirinya pun langsung mengikuti seolah tak ingin ketinggalan dalam irama dansa. Langkah-langkah itu beriringan dengan gerakan tubuhnya dan melahirkan sebuah keharmonisan. Memberikan kesan keanggunan dan keindahan yang luar biasa.Setelah selesai dengan latihannya, Anggrietta pun segera pergi dari ruang latihan menuju kamarnya. Ia harus bersiap-siap untuk menghadapi kontes dansa siang ini. Akan tetapi, di atas meja riasnya, Ia melihat secarik kertas yang terlipat rapi. Ia membukanya. Sebuah tulisan tangan dari orang yang sangat ia kenal.Aku akan menunjukkan sesuatu saat kontes akan dimulai. -ZelosSaat itu Anggrietta masih beranggapan bahwa semuanya akan sama seperti biasanya. Namun hingga kontes akan dimulai, Zelos tidak muncul. Dan itu benar-benar membuatnya gusar. Ia terus melihat ke arah belakang dan berharap Zelos akan datang dan memberikannya mantra sihir agar dia bisa berdansa dengan maksimal seperti biasanya.Sayangnya... Zelos tetap tidak muncul, bahkan setelah nomor pesertanya disebutkan oleh moderator. Sesaat ia melangkahkan kakinya menuju panggung, tepuk tangan penonton terdengar riuh. Dan sorakan-sorakan itu menggetarkan ruangan. Mata Anggrietta terbelalak saat menyaksikannya.Jemari Anggrietta gemetaran. Bahkan yang menjadi pasangannya juga ikut khawatir."Mbak Anggrietta baik-baik saja?" bisik lelaki yang menjadi pasangannya."Eh! Iya. Aku baik-baik saja, Om Gilbert. Maaf membuat Anda khawatir.""Pacar Mbak tidak hadir seperti biasanya. Kalian lagi berantem?""Bukan, Om Gilbert! Dia bukan pacar saya! Dan kami tidak sedang berantem!"Reaksi Anggrietta mengundang tawa Gilbert. Sejak menjadi partner dansa, Gilbert memang terkadang suka usil. Namun dibalik keusilannya itu, Gilbert selalu memikirkan Anggrietta."Apa demam panggungmu sudah hilang, Mbak Anggrietta?""Sudah lebih baik. Terima kasih, Om Gilbert." ucapnya sambil tersenyum.Walau Anggrietta sudah merasa baikan dari demam panggungnya, itu bukan yang jadi inti dari permasalahan kali ini. Kali ini ia mau tidak mau harus berdansa sendiri tanpa sihir dari Zelos. Hal itu membuatnya benar-benar takut. Ia takut akan kehilangan segalanya saat gerakannya menjadi kacau balau dan mengecewakan penonton dan juri. Saat ini Anggrietta tidak tahu harus berbuat apa.Sihir yang digunakan oleh Zelos kepadanya membuat dirinya mampu menari dengan sangat baik. Seolah tubuhnya digerakkan oleh sesuatu dan pikirannya hanya tinggal mengikuti saja.Saat ini Anggrietta sendirian. Ia tidak akan bisa menari seperti yang sebelumnya. Mengingat kontes dansa ini tidaklah sebentar, Ia hanya bisa berharap kalau Zelos akan datang disela-sela pertandingan.Setelah semua peserta masuk ke panggung, hiruk-pikuk penonton pun mulai reda. Suasana mulai hening dan para peserta sedang mengatur posisi masing-masing.Gaun berkilau yang ia kenakan sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Ditambah rambut hitam yang ia sanggul rapi membuatnya terlihat sangat cantik dan mempesona. Anggrietta Sang Primadona. Begitulah para fans menyebutnya.Musik pun telah diputar, dan kontes dansa pun dimulai. Semua peserta memulai dance routine mereka masing-masing.Begitu juga dengan Anggrietta, walau tanpa sihir, ia harus tetap berdansa. Di dalam kepalanya terus mengingat-ingat gerakan mereka dan berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsentrasi agar dansa mereka sinergi dan penyatuannya sempurna. Gilbert menyadari keanehan itu dari raut wajahnya yang terlalu tegang. Walau Anggrietta menyembunyikannya dengan senyuman.Mereka terus berdansa dan berdansa. Menyelesaikan Waltz disusul dengan Quick-Step di babak selanjutnya. Dan kembali ke Waltz di ronde terakhir. Stamina para pedansa pasti terkuras. Namun tidak satu pun dari mereka berhenti menggerakkan tubuhnya. Terus dan terus bergerak, hingga panggung itu terlihat seperti bingkai dengan bunga-bunga yang bermekaran di tengahnya.Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, kontes dansa pun berakhir. Para pedansa dengan keringat bercucuran itu kemudian berbondong-bondong keluar dari panggung.Gilbert yang sedari tadi merasakan keanehan itu hendak menyampaikan sesuatu pada Anggrietta."Maaf, Gilbert," ucap Anggrietta, "Maafkan atas penampilanku yang tidak bagus hari ini."Gilbert tidak bisa berkata apa pun.Anggrietta dengan langkah yang cepat berjalan menuju koridor. Di saat ia hendak masuk ke ruang ganti, Zelos terlihat di sana. Disampingnya terdapat seorang wanita tua yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu sambil tersenyum lebar dan berkata kepada Anggrietta,"Gerakanmu benar-benar indah, Anggrietta. Ibu... sangat bahagia." air matanya pun meleleh.Tangis Anggrietta meledak. Ia langsung berlari seperti anak kecil sambil menangis histeris. Tangannya meraih tubuh sang ibu dan memeluknya erat. Sang Ibu hanya bisa mengelus kepala anak perempuannya dengan lembut. Dan setelah tangisan anaknya mulai reda, sang ibu pun menyeka air matanya."Sudah... sudah... nanti kecantikanmu akan hilang jika menangis terus." ujar Ibu."Maafkan Anggrietta, Bu. Hari ini... Anggrietta tidak berdansa dengan baik." ucapnya terbata-bata diselingi isakan tangis."Yang menilai bagus atau tidaknya sebuah dansa bukanlah pedansa itu sendiri, tapi dewan juri," sela Zelos, "Kontes belum selesai sampai mereka mengumumkan siapa pemenangnya. Sekarang kembalilah dan temui Gilbert. Apapun hasilnya, hadapi dengan dada yang membusung."Ucapan Zelos bagaikan cahaya yang memberikan harapan di dalam hati Anggrietta. Namun ia tidak ingin berpisah dengan ibu nya saat ini."Pergilah Anakku. Ibu baik-baik saja."Namun, perkataan sang ibu membulatkan tekad anak perempuannya itu. Anggrietta kembali menemui Gilbert sambil menanti pengumuman pemenangnya.Tak lama kemudian, Moderator pun mulai mengumumkan pemenang kontes dansa yang digelar saat ini. Pengumuman pemenang di mulai dari peringkat terakhir. Nomor peserta terus disebut satu persatu. Namun nomor urut mereka belum juga disebutkan. Anggrietta hanya bisa pasrah mengingat penampilannya yang tidak seperti biasanya."Untuk peringkat kedua, Beri sorak gembira kepada Nomor urut sepuluh, Erix Reyes dan Armita!" lanjutnya, "Dan untuk peringkat pertama, Berikan selamat kepada nomor urut delapan, Gilbert dan Anggrietta!""Tunggu... Kita... menang?" ucap Anggrietta tidak percaya, "Bagaimana mungkin?"Gilbert langsung mencubit pipi gadis yang menjadi pasangannya."Apa yang kamu bicarakan, Mbak Anggrietta? Hari ini adalah penampilan terbaikmu. Saya bahkan sampai terkagum-kagum melihat betapa sempurnanya gerakanmu hari ini."Anggrietta yang tidak menyangka hal ini, jatuh dalam kebahagiaan yang tidak bisa ia bayangkan. Air matanya deras mengalir. Padahal bukan sekali saja ia memenangkan kejuaraan dansa. Entah mengapa kejuaraan kali ini sangat memberikan kesan yang luar biasa bagi dirinya."Mbak Anggrietta." Gilbert pun mengulurkan tangannya kepada Anggrietta bak pangeran yang menyambut putri kerajaan. "Ini adalah hasil yang sesuai dengan firasat saya hari ini."Mereka pun bergandengan tangan berjalan menuju barisan para pemenang. Sorak sorai penonton menjadi liar setelah primadona mereka berhasil memenangkan kejuaraan. Ucapan-ucapan selamat terus bertebaran tanpa henti kepada para pemenang khususnya kepada peringkat pertama.Dan kejuaraan kali ini pun berakhir.Setelah selesai dengan urusan kejuaraan itu, Gilbert pergi karena ada suatu urusan. Sementara Anggrietta kembali menemui ibunya. Setibanya di sana, ia tidak melihat Zelos."Ibu..." Anggrietta memeluk ibunya sebentar, "Di mana lelaki yang bersamamu tadi?""Ini..." Sang Ibu menyerahkan sebuah karangan bunga dengan sepucuk surat berada di atasnya.Setelah menerima karangan bunga itu, Anggrietta langsung membuka amplop dan membaca suratnya.Untukmu, Anggrietta,Selamat atas kemenanganmu hari ini.Aku tidak pernah menyangka kalau gadis super introvert dan sangat pemalu dahulu, kini menjadi gadis yang bersinar sangat terang di panggung dansa. Bahkan telah menjadi pedansa yang terkenal di kotanya sendiri. Sifatnya yang kikuk dan kaku kini sangat luwes dan anggun. Kini, tidak akan ada lelaki yang bisa menertawakannya lagi. Padahal aku sangat merindukan momen-momen saat dirinya dijahili oleh lelaki sebayanya. Hehehe.Tapi, bersamaan dengan surat ini aku ingin menyampaikan dua hal kepadamu.Pertama, aku ingin meminta maaf. Sihir yang aku gunakan padamu bukanlah sebuah sihir yang bisa membuatmu berdansa lebih baik atau semacamnya. Itu hanya sebuah sihir yang menimbulkan percikan cahaya yang silau. Tidak lebih. Maaf karena selama ini aku memanfaatkanmu untuk kesenanganku pribadi. Membuatmu membelikan burger setiap hari untukku atau membawaku ke tempat karaoke yang sangat berisik itu.Awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu saja. Tidak lebih. Karena keberadaanmu sebagai manusia sangat singkat dan rapuh. Sehingga bagi Selestial seperti diriku, hal itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Namun itu adalah diriku yang dulu. Setelah bersamamu selama ini, (walau aku menipumu sampai saat ini) aku merasakan dedikasi dan semangat yang menjalar sampai ke dalam ragaku. Dan yang membuatku sampai seperti ini adalah sebuah perkataanmu saat itu. Apakah kamu ingat? Di malam yang penuh dengan salju, kamu dengan polosnya berkata saat itu tentang alasanmu berdansa."Aku akan berdansa sepenuh hati! Dan dengan dansa, aku berharap Ibuku akan sembuh secepatnya!"Saat itu aku membalas ucapanmu dengan asal."Memangnya ada apa dengan dansa?"Dengan senyuman yang sangat lebar itu, kau dengan sangat percaya diri menjawabnya."Karena dansa adalah caraku berdoa kepada para dewa agar mereka mengabulkan permintaanku."Ucapanmu saat itu benar-benar membuatku terdiam. Aku bahkan tidak bisa tertawa. Lalu dengan buruknya aku malah membodohimu dengan mengeluarkan sebuah sihir yang tidak diperlukan olehmu. Jadi, sebagai ganti rugi atas kebohonganku, Aku menggunakan kekuatanku untuk membangunkan Ibumu yang sedang koma. Semoga ini bisa membuatmu memaafkanku.Dan karangan bunga itu adalah hal kedua yang ingin aku utarakan.Aku akan pulang ke duniaku. Soalnya, semakin lama aku bersamamu, ternyata malah membuatku semakin sulit untuk berpisah denganmu. Entah sejak kapan hati ini mulai bersemi benih-benih cinta. Namun aku ini bukan manusia, aku ini Makhluk yang sejajar dengan bintang-bintang di langit, sementara engkau adalah manusia yang fana. Kita ditakdirkan untuk berpisah. Maka dari itu, lupakanlah aku dan tetaplah berdansa. Tapi, kamu tenang saja, aku pasti akan selalu menyaksikan dansamu yang mempesona itu.Zelos. -Seorang Anak BintangUntuk kesekian kalinya, air mata Anggrietta menetes lagi. Ia berusaha menahan isakan tangisnya saat selesai membaca surat itu. Ia menggenggam erat pakaiannya dan tertunduk. Sang Ibu pun mengelus lembut kepala anaknya."Lelaki itu tadi mengatakan kalau dia akan berada di tempat kalian pertama kali bertemu untuk beberapa waktu.""Eh...? Benarkah Ibu?"Sang Ibu tersenyum bahagia."Temuilah lelaki yang sangat engkau cintai itu, Anggrietta."Anggrietta menyeka air matanya. Lalu mencium kening ibunya."Anggrietta pergi dulu, Bu. Ibu jangan kemana-mana, ya." Ia pamit dan bergegas ke tempat itu. Anggrietta pun pergi meninggalkan ibunya.Dari balik lorong, Gilbert muncul."Mari saya antar ke ruang ganti Anggrietta,." Kata Gilbert."Terima kasih banyak, Nak Gilbert." Jawab Ibu Anggrietta sambil tersenyum simpul.Mentari pun terbenam dan rembulan mulai naik menggantikannya. Bintang-bintang juga ikut bertebaran di angkasa. Bersatu padu dalam harmoni dan gemerlap bagai debu berlian.Di bawah langit itu, tepat di tengah taman yang ada di kota, sesosok lelaki yang berambut keperakkan berbaring di tanah. Kemudian sesosok cahaya datang menghampirinya."Tuan Zelos, Bagaimana perjalananmu di dunia manusia?"Zelos menghempaskan nafas panjang. Sebuah senyuman tertoreh di wajahnya."Menyenangkan. Benar-benar menyenangkan." jawabnya. "Ini kunjunganku yang ke delapan di dunia ini, tapi, ya... dunia manusia benar-benar menarik." Zelos tersenyum kecil."Kalau begitu, sudah saatnya Tuan untuk kembali.""Belum," sela Zelos, "Apa kau tidak mendengar langkahnya?""Langkah?"Perhatian mereka berdua teralihkan oleh gemerlap cahaya yang bergerak dari kejauhan. Perlahan demi perlahan, langkah itu mulai terdengar jelas bagi telinga manusia. Hingga, perlahan-lahan tampaklah sosok manusia yang sedang berlari tersebut. Dia Anggrietta. Wanita yang memenangkan kontes dansa hari ini. Dengan perintah dari Zelos, sosok cahaya itu menghilang tanpa jejak."Zelos! Zelos! Zelos!" Teriakkan Anggrietta menggema.Bahkan bagi entitas yang setara dengan para dewa sekalipun, saat namanya dipanggil seperti itu, mau tidak mau ia harus memperhatikan dengan seksama siapa yang menyebut namanya tersebut."Anggrietta..." ujar Zelos.Anggrietta masih terengah-engah saat tiba di hadapannya. Wanita itu bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya. Dan itu membuat Zelos terkagum dengan semangat yang dimilikinya."Zelos... kamu melupakan satu hal lagi di dalam suratmu."Zelos menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian tertawa kecil."Memangnya apa? Perasaan aku sudah menulis semua yang harus kukatakan, deh.""Ingat nggak? waktu dulu, saat pertama kali kamu menepuk punggungku... kamu berkata, 'aku akan berdansa denganmu jika kau telah menjadi pedansa yang bermekaran'." Anggrietta mengulurkan tangannya, "Aku bukan lagi gadis kikuk dan kaku seperti robot. Jadi... Mau nggak kamu berdansa denganku sekarang?"Hati Zelos berdesir keras. Seolah Anggrietta bisa melihat sesuatu dari dirinya dan memancing hasrat di dalamnya."Mungkin kah hal itu dilakukan oleh wanita seperti dirinya?"Zelos sempat membatu. Namun melihat ini adalah kesempatan pertama dan terakhir yang ia miliki, ia tidak punya alasan untuk menolaknya."Dengan senang hati, Anggrietta."Zelos pun menjetikkan jarinya, dan seketika sebuah musik yang entah dari mana terdengar oleh mereka.Anggrietta tersenyum. Ia langsung merapatkan tubuhnya ke Zelos. Tangan kirinya ia letakkan di bahu sang lelaki. Dan tangan kanannya menggenggam erat jemari di tangan kiri nya. Mereka pun saling bertatapan."Baiklah, mari kita mulai, dansa pertama dan terakhir kita, Anggrietta." Zelos memulai langkahnya.Mereka pun mulai berdansa.Ini pertama kalinya mereka berdansa bersama namun gerakannya begitu harmonis. Seolah-olah tubuh mereka telah menyatu.Alunan musik yang terus berputar membuat keduanya larut dalam dansa. Wajah mereka sangat cerah. Senyuman di wajah keduanya tidak bisa diredupkan oleh gelapnya malam. Langit, rembulan dan gemintang menjadi saksi atas indahnya dansa yang mereka tampilkan."Anggrietta... Aku akan menggunakan sihir istimewa kali ini." bisiknya sambil terus berdansa.Zelos membacakan sebuah mantra sihir. Seiring mereka berdansa, posisi mereka terus naik ke angkasa. Seolah udara menjadi padat saat kaki mereka menyentuhnya. Tak hanya itu, Setiap langkah mereka akan mengeluarkan percikan cahaya yang gemerlapan. Dansa mereka bak cahaya yang sangat terang benderang menghiasi kesunyian malam. Percikan cahaya itu menyebar dan terus menyebar menjadi bintang-bintang kecil yang ikut memeriahkan suasana.Itu benar-benar momen yang luar biasa bagi Anggrietta. Sebuah pemandangan indah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Itu adalah dansa terhebat yang pernah ia lakukan.Walau mereka terus menikmati setiap detik kebersamaan mereka malam itu, waktu tetap tidak bisa dihentikan."Anggrietta... waktuku telah tiba." Zelos tiba-tiba menghentikan tariannya.Anggrietta terdiam. Lagi, ia mencoba menegarkan dirinya."Jangan pernah melupakan ucapanmu sendiri, Zelos," matanya mulai berkaca-kaca, "Aku... akan terus berdansa. Maka... Kamu juga, jangan pernah melepaskan pandanganmu dariku."Spontan, Zelos mengecup kening wanita itu. Lalu memeluknya sangat erat."Aku janji. Aku akan tetap melihat dansamu sampai engkau tidak sanggup lagi untuk berdiri."Perlahan mereka mulai turun dari angkasa dan musik pun berhenti. Kaki mereka pun sudah menginjak tanah kembali. Seluruh gemerlapan malam itu mulai menghilang.Zelos melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat mata Anggrietta. Melepaskan senyuman lebar dan air mata yang mengalir begitu saja."Selamat tinggal, Anggrietta."Anggrietta mencoba menahan gejolak yang berusaha meledak dari dalam dirinya. Dengan bibir yang gemetaran, ia berusaha untuk tersenyum manis."Sampai jumpa lagi, Zelos. Terima kasih... untuk segalanya."Tubuh Zelos perlahan demi perlahan menjadi bulir-bulir cahaya dan lenyap begitu saja. Saat semua itu telah berakhir, Anggrietta tak sanggup lagi menahannya. Tangisannya sangat keras sampai-sampai ia tidak bisa mendengarnya.Malam itu adalah malam terakhirnya bersama lelaki yang ia cintai. Dan di malam itu dia sadar bahwa dansanya tidak hanya untuk membuat ibunya tersenyum bahagia. Tetapi juga untuk dirinya sendiri.Perasaan yang ia terima di malam itu menjadi sebuah semangat baru dalam hidupnya. Bersama cinta yang tidak akan terbalaskan lagi.
Paus Yang Menari Di Angkasa
Selama ini, ikan paus itu adalah satu-satunya makhluk bernyawa yang terhipnotis akan musik indah dari permainan piano gadis berambut putih itu. Paus yang mengambang di angkasa itu terus menari-nari dengan gerakan yang gemulai, sementara gadis itu serta pianonya berada tak jauh dari paus yang tubuhnya sama besarnya layaknya bintang itu.Sungguh, itu pemandangan paling indah yang pernah Veli lihat seumur hidupnya.Paus yang berenang-renang di angkasa, merupakan salah satu dari sekian banyak rahasia paling megah yang disembunyikan oleh dunia ini. Tapi, kenapa semua ini dirahasiakan? Apa sebabnya? Padahal itu hanyalah seekor paus aneh dan seorang gadis.Kenapa?Sebagai seseorang yang menggenggam dunia ini, Veli hanya memiliki satu tugas untuk dilaksanakan, yaitu membantu semua orang untuk menyelesaikan kisah hidup mereka.Kali ini, benang merah kembali melibatkan Veli ke dalam sebuah kisah yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Kini takdir membawanya ke tempat ini—ke atas langit biru yang begitu luas dan tak berujung, untuk menemui gadis berambut putih itu, juga si paus putih itu.Inilah yang menjadi tugas kedua Veli sebagai Pemilik Dunia yang baru.Kemanapun kedua mata Veli memandang, yang terlihat hanyalah warna oranye dari langit senja, juga awan-awan yang membentuk gulungan ombak, serta planet Mars yang tampak sangat dekat dan amat besar di angkasa sana.Tapi, yang paling membuat Veli heran adalah tempatnya berdiri saat ini yang ternyata adalah air—atau mungkin lantai yang terbuat dari kaca—yang karena sangking beningnya, langit yang ada di atas sana bahkan berhasil dipantulkannya dengan sangat sempurna.Dengan pandangan yang masih tertuju pada paus itu, Veli berjalan perlahan mendekati gadis yang tengah bermain piano itu. Jujur saja, dia sendiri masih merasa agak takut dengan makhluk dewata yang ukurannya bukan main itu. Apalagi Veli juga pernah mendengar rumor-rumor aneh tentang paus itu."Apa yang kau inginkan, wahai sang Pemilik Dunia?" Tanya gadis itu dengan suara yang lembut nan sendu, tapi anehnya berhasil membuat Veli tersentak kaget.Padahal, Veli yakin betul kalau gadis itu tak pernah menoleh ke arah lain, apalagi matanya juga tertutupi oleh kain hitam yang melingkar di kepalanya. Dan tentu saja, seluruh perhatiannya pasti tengah disita oleh suara merdu dari pianonya."Tak ada gunanya mengendap-endap. Aku bahkan bisa mendengar suara anak-anak yang tengah bermain di taman di kota asalmu, Jogjakarta. Jadi, katakan apa yang kau inginkan dariku, Velicia." Ujar gadis itu lagi.Veli langsung memasang senyum kecil sewaktu mendengar apa yang baru saja dikatakan gadis itu. "Eh? Kupikir kau tidak menyadari keberadaanku, Fennah," katanya sembari melangkah ke samping gadis itu—Fennah. "Jadi cerita itu memang benar, ya? Kalau kamu bisa mendengar semua suara yang ada di seluruh alam semesta.""Tentu," jawab Fennah singkat. Jari-jarinya terus bergerak lincah dan gemulai di atas tuts pianonya. Berpindah-pindah dari kunci nada satu ke yang lain untuk membuat melodi merdu yang menenangkan jiwa dan raga."Wah, kau ternyata memang pandai bermain piano rupanya." Mata Veli dibuat berbinar-binar karena kagum dengan cara Fennah memainkan pianonya."Hey, jangan sentuh pianoku." Cegat Fennah yang entah bagaimana bisa tahu kalau Veli barusan berniat menekan tuts pianonya."Aku tahu kau datang ke sini untuk membantuku menyelesaikan kisahku.""Oh? Dari mana kau tahu tentang tugasku?" Tanya Veli penasaran sambil beralih memandang paus itu."Aku mengenal baik Pemilik Dunia sebelum dirimu. Juga yang sebelumnya lagi. Dan yang sebelumnya lagi. Bahkan Pemilik Dunia yang paling pertama," jelas Fennah. "Bisa dibilang, aku mengenal kalian semua." Fennah memutar kepalanya, dan menoleh pada Veli. Tapi sepertinya, dia tetap tidak bisa melihat wujud Veli.Mata Veli langsung melebar kala mendengar pernyataan Fennah. Dia agak terkejut. "Tunggu-tunggu. Kalau kau memang mengenal semua Pemilik Dunia yang sebelumnya, juga yang sebelumnya, bagaimana bisa kamu masih berada di sini? Harusnya kau sudah mati."Fennah tiba-tiba memasang senyum kecil yang aneh. "Jawabannya sudah jelas, bukan? Mereka semua gagal melakukannya.""Hmm... gagal, ya?" gumam Veli pelan sembari mendongak menatap angkasa. Benaknya berkecamuk bak badai. "Apa, ya, yang terjadi jika aku gagal sekali saja dalam tugas ini?""Sepertinya tidak apa-apa, kok. Buktinya, pendahulumu saja bisa menyelesaikan jatah mereka walaupun mereka tidak bisa membantuku," jelas Fennah. "Jadi, bagaimana? Apa kau masih tetap ingin mencoba membantuku?""Hmm... Apa kau tahu? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan keraguan seperti ini," ujar Veli masih sambil menatap angkasa senja, yang tak lama lagi akan dikuasai oleh kegelapan malam. "Tapi, ya... aku akan tetap mencobanya, kok. Apalagi, ini baru tugas keduaku. Coba pikirkan, jika aku menyerah sekali saja tanpa mencoba terlebih dahulu, bagaimana bisa aku menyelesaikan miliaran kisah rumit yang lain? Lagipula, aku tidak pernah menyerah seumur hidupku. Dan sebisa mungkin, aku tetap tidak akan pernah menyerah sekalipun sampai tugasku selesai."Fennah tertawa pelan mendengar jawaban Veli. "Kau memang benar," katanya. "Sekali saja kau mengetahui rasa dari menyerah itu sendiri, maka suatu hari nanti, kau pasti akan melakukannya lagi... Lagi... Lagi... dan lagi. Hingga kau mulai berpikir, bahwa berserah itu merupakan sesuatu yang sangat nikmat untuk dilakukan."Mata Veli membulat mendengar penjelasan Fennah yang agak terkesan aneh itu."Oh... begitu, ya?" Bahkan, Veli sempat berpikir kalau kata menyerah yang dimaksud Fennah itu adalah nama dari satu jenis makanan. Tapi, untung saja suara piano Fennah berhasil menyadarkan Veli dari lamunannya. Veli menunduk menatap jari-jari Fennah. "Hmm ... bisa nggak kamu berhenti bermain piano sedetik saja?"Fennah memasang senyum anehnya lagi, lalu angkat bicara, "maksudmu ... kamu ingin agar aku menghancurkan bumi menjadi debu, gitu?""Hah?! Maksudmu?" Pekik Veli kaget."Sedetik saja pianoku berhenti mengalun, maka paus keparat itu akan bangun dari tidur abadinya, dan berenang ke dunia dunia manusia untuk menghancurkan segalanya."Awalnya Veli tidak paham dengan maksud Fennah yang mengatakan hal mengerikan seperti itu. Tapi, setelah mencari dalam memorinya selama beberapa saat, Veli akhirnya paham. "Jadi ... paus itu adalah Pembawa Kiamat yang ke sembilan, ya?""Yap! Selamat! anda telah memenangkan hadiah yang berupa kenyataan! Hahahaha—" Fennah terkekeh-kekeh dan sukses membuat Veli kesal."Huh!""Eh—ngomong-ngomong, Vel, sebentar lagi malam, tuh. Kamu nggak pulang?""Oh, iya, Fen! malam ini aku menginap di sini saja, boleh, kan?" Tanya Veli sambil membuka tas sampirnya yang mungil, lalu mengambil dua buah kain tebal berwarna krem berukuran jumbo dari dalam tas itu. "Oke. Satu untuk alas, dan satunya kujadikan selimut.""Ya. Suka-sukamu saja." Ujar Fennah tak acuh.Segera setelah mendapatkan izin dari tuan rumah, Veli langsung mengatur tempat tidurnya tepat di samping Fennah. "Yap, tempat tidur sudah siap, jadi sekarang tinggal makanannya."Veli kembali membuka tas mungilnya, kemudian mengeluarkan sebuah keranjang yang berisikan bahan-bahan makanan, juga sebuah kotak berukuran besar yang di dalamnya tersimpan tungku dan sekantong batu bara. Veli menata dapur kecil-kecilannya tak jauh dari sana, dan bersiap untuk memasak makan malam.Detik demi detik, langit perlahan-lahan berubah menjadi gelap, dan udaranya juga semakin bertambah dingin. Mentari kini terlelap, dan bulan pun datang membawa cahaya baru untuk menerangi dunia. Langit yang tadi selayaknya kanvas polos, sekarang telah dipenuhi titik-titik berpendar yang berwarna-warni.Beberapa batang lilin tiba-tiba muncul entah dari mana dan melayang-layang di sekitar Fennah dan Veli. Di lantai tempat mereka berpijak juga mulai memancarkan garis-garis cahaya aneh yang bergerak-gerak dan meliuk-liuk layaknya aurora yang seharusnya menyala di langit.Mata Veli terpaku pada suatu pemandangan yang ada di langit timur sana. Itu tampak seperti sebuah batang pohon raksasa yang memancarkan cahaya putih temaram, dan menjulang tinggi ke angkasa seakan tak ada akhirnya."Sepertinya pohon itu memang tidak ada ujungnya, deh." gumam Veli tanpa sadar sembari mengaduk sup yang tengah dimasaknya di dalam panci, lalu menyicipinya sedikit. "Oke, sepertinya sudah matang." Setelahnya, Veli kemudian menjentikkan jarinya, dan api yang ada di dalam tungku itu pun padam seketika."Wah! Kau pandai masak juga, ternyata!" Puji Fennah yang terkagum-kagum setelah menyicipi sup buatan Veli untuk yang pertama kalinya. "Serius! Masakanmu enak banget, lho, Vel! Daging sapinya benar-benar lembut gini!"Veli hanya bisa ternganga melihat reaksi Fennah. Gadis itu menggunakan tangan kanannya untuk menyendok sup dan melahapnya dengan kecepatan super. Sedangkan jari-jari tangan kirinya masih terus bergelut dengan pianonya dan menciptakan musik yang sendu."A-ah—ya, makasih...""Wah! Syukurlah! Padahal aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan! Tapi aku bersyukur banget! Masih bisa membedakan mana yang enak dan nggak!"Setelah mereka berdua selesai makan, Veli langsung memasukkan semua barang-barangnya yang sudah tak terpakai lagi kembali ke dalam tas mungilnya. Hanya dengan satu jentikan jarinya saja, semua peralatan masaknya tiba-tiba mulai melayang-layang, dan meluncur dengan sendirinya ke dalam tasnya.Veli kembali ke tempat tidurnya yang terletak di samping Fennah, dan duduk bersila disitu, lalu membungkus tubuhnya dengan selimut."Orang-orang di daratan sering menyinggung tentang keindahan yang hanya ada tempat ini," Veli angkat bicara sambil menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit. "Seyilva, atau begitulah nama yang tertera di peta. Sarang para Ubur-ubur Angkasa, makhluk hidup nan indah yang lahir dari segala macam warna yang ada di semesta ini. Keindahan yang bahkan melebihi Tujuh Bulan Naros.""Oh, jadi itu sebenarnya alasanmu menginap di sini?" Terka Fennah."Ya... begitulah." Jawab Veli ragu-ragu. "Tapi, aku sebenarnya punya tujuan lain juga, sih. Kalau bisa, aku ingin mengambil beberapa ubur-ubur itu untuk diekstrak menjadi suatu bentuk keajaiban yang mungkin akan berguna untuk tugasku nanti.""Oh? Ambillah. Ubur-ubur itu nggak ada hubungannya denganku, kok."Veli melirik ke arah Fennah dengan tatapan yang kosong dan terkesan sedih.Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam diri Veli. Perasaan yang meledak-ledak dan membuat dia serasa sedang terjun bebas ke dalam jurang tanpa dasar. Suatu perasaan dingin dan menyesakkan yang terasa amat tidak nyaman."Kamu kenapa?" Tanya Fennah."Eh? Kenapa, apanya?""Nggak usah mengelak. Aku bisa mendengar tarikkan nafasmu yang berat itu, kok." Jelas Fennah. "Kalau ada apa-apa, cerita saja sekarang. Mumpung senggang, kan?"Veli mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. "Begini... sejak semua perjalanan mengerikan itu berakhir, entah kenapa dadaku selalu saja terasa sesak tiap kali melihat suatu pemandangan yang indah seperti ini.""Hah? Kok bisa?""Yah... aku juga bingung, sih." Jawab Veli takut-takut. Ia menyipitkan matanya, sedih. "Aku hanya masih heran... Kenapa semua perjalananku dulu selalu saja berakhir dalam kekacauan dan perang yang tak ada habisnya... Padahal, ada begitu banyak orang yang menitipkan harapannya pada kami dalam petualangan itu."Rahang Veli terkatup rapat."Kenapa kegelapan yang pekat itu selalu saja datang walaupun di atas sana jelas-jelas ada suatu cahaya terang benderang yang tengah menyinari dunia ini? Kenapa semua masalah itu tak ada habisnya? Kenapa—""Dan kenapa kamu baru mengeluh sekarang?" Tukas Fennah tajam."Hah...?" Veli mengalihkan pandang pada Fennah."Lihat aku," Fennah menjelaskan. "Saat aku mendengar suara yang muncul di kepalaku berabad-abad lalu, aku langsung yakin kalau suara itu akan menolongku dan membebaskanku dari segala penderitaan itu. Namun, kenyataan malah berkata lain."Permainan piano Fennah yang tadinya lembut dan menenangkan, kini terdengar berbeda. Seakan-akan dia sedang mencurahkan seluruh kemarahannya dari masa lampau ke dalam nada-nada yang sedang dia ciptakan saat ini juga."Waktu itu... aku merasakan dengan jelas ada yang menggendongku dan membawaku terbang ke langit. Dan setelah orang itu mendudukkanku di atas kursi ini, dia pun memintaku agar aku memainkan piano ini sampai selama-lamanya...""Dan?! Apa jawabanmu?!" Pekik Veli penasaran."Ya... Aku hanya bisa tersenyum saja dan melakukan apa yang dia katakan. Dan sejak saat itu, aku terus memainkan piano ini sampai saat ini.""Hah...?" Itu kenyataan pahit yang amat menyakitkan menurut Veli. Sangat jelas malah. Tapi, kenapa gadis ini malah menerima permintaan itu mentah-mentah, meski pun saat itu dia tidak mengetahui apapun. "Jadi... kau langsung menerimanya begitu saja?""Hooh," jawab Fennah kalem. "Aku juga selalu merasa kalau Tuhan menciptakan aku agar aku bisa menunaikan tugas ini. Dan kalau dugaanku memang benar, itu artinya aku telah menjalani hidupku seperti yang seharusnya. Toh, begini malah lebih baik, kan?""Hidup seperti yang seharusnya?" Suara Veli membawa keraguan yang kental."Yap, aku hanya perlu hidup dan melakukan segala kebaikan yang bisa kulakukan."Pada titik ini, Veli akhirnya mulai paham dengan apa yang sebenarnya dimaksud Fennah. Selama ini, Veli hidup dengan menggantungkan mimpi dan angan-angan sebagai tujuannya. Kenyataannya, semua orang memang begitu—semua orang membutuhkan suatu piala penghargaan—tujuan—yang harus mereka capai di ujung jalan mereka, dan mereka pastinya akan melakukan apa saja demi mendapatkannya.Namun, apa yang terjadi setelah orang-orang menggenggam piala itu? Tentu saja mereka tidak akan puas dan berusaha mencari piala penghargaan yang baru lagi, lalu meletakkannya di ujung jalan itu, kemudian berusaha untuk menggapainya lagi.Siklus ini akan terus berulang dan tak akan ada akhirnya. Entah ini bisa disebut keuntungan atau kutukan, tapi selama orang-orang tetap berpikir bahwa itu perlu untuk kelangsungan hidup, maka mereka akan terus melakukannya dan tak peduli dengan segala persyaratan yang harus dipenuhi.Termasuk melakukan kejahatan demi mencapai tujuan-tujuan itu."Ya, kalau dipikir-pikir... kita semua memang seperti itu, bukan? Kita memang mendambakan penghargaan yang layak." Veli berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi itu berarti kita tidak perlu tujuan untuk hidup, dong?" tanyanya pada Fennah.Fennah mendesah. "Bukan berarti kau tidak memerlukan tujuan. Apa serunya, coba, hidup kalau tidak ada tantangan sama sekali." Jelas Fennah. Permainan pianonya juga sudah kembali seperti semula—lembut dan menenangkan hati. "Nah, begini. Misalnya di depanmu ada sebuah pedang yang sudah kau cari-cari selama ini, tapi pada saat itu juga, di belakangmu ada seorang anak kecil yang tengah dikepung oleh sekelompok bandit. Jadi, coba beritahu aku, ke arah mana kedua kaki dan tanganmu akan bergerak lebih dulu?"Veli tampak bingung. Bukan karena sulitnya menemukan jawaban untuk pertanyaan itu, melainkan karena keganjilan dari pertanyaan itu sendiri. "Eh... tentu saja aku akan menolong anak-anak itu lebih dulu. Aku bukan penjahat, lho.""Hmm... tak kusangka pemikiranmu sedangkal itu. Gimana kalau begini, pertama kau mengambil pedang itu dulu, terus kamu tolong, deh, anak-anak itu. Haduh... Vel, bisa-bisanya pikiranmu nggak sampai ke situ, padahal kamu ini sang Pemilik Dunia, lho. Tapi tenang saja, lagi pula itu hanya contoh."Veli menggembungkan pipinya, kesal. "Harusnya kau bilang kalau bisa begitu—""Jika tujuanmu adalah pedang itu, maka ambilah. Nggak ada yang akan menyalahkanmu, kok. Tapi, setelah kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, selanjutnya, adalah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Selamatkanlah anak-anak itu. Dengan adanya sebilah pedang di tanganmu, pasti melakukannya tidak akan jadi masalah, bukan?"Semua pembahasan ini menciptakan badai dahsyat di dalam benak Veli. Pelipisnya berdenyut nyeri karena penjelasan yang rumit dan kompleks itu. Otaknya terus menerus mengolah semua informasi itu, hingga akhirnya Veli sampai pada satu kesimpulan yang membuat bibirnya membentuk senyuman kecil tanpa arti."Intinya, yang perlu kita lakukan sekarang, adalah hidup. Kita harus hidup dan terus melangkah. Lakukan semua kebaikan yang bisa kau lakukan, jangan sekali-kali mencoba berpaling dari pekerjaan yang mampu kau selesaikan. Asal itu baik, maka perbuatlah.""Hmm... sepertinya aku mulai paham dengan cara berpikirmu." Ujar Veli."Ya, baguslah kalau kamu paham. Apalagi bagi makhluk-makhluk abadi seperti kita, sebenarnya sangat tidak baik jika kita memiliki suatu keinginan dan impian. Mengingat kita tidak memiliki batas hidup sama sekali.""Yap, kau memang benar." Veli menjatuhkan tubuhnya ke belakang, dan menutup matanya rapat-rapat untuk merenungkan semua kebenaran yang baru didengarnya itu. Dia terlihat seakan sedang tertidur pulas, tapi, jika kala itu Veli memang sedang tertidur, maka akan ada air liur yang mengalir keluar dari belahan bibirnya layaknya sungai. "Aku kadang lupa, kalau aku ini Selestial.""Dih... masa kamu yang baru jadi Selestial selama empat puluh lima tahun saja sudah pikun begitu. Padahal aku yang sudah hidup ratusan abad saja tak pernah lupa, tuh."Meskipun Veli tenggelam dalam lamunannya, dia masih mendengar suara Fennah dan memutuskan untuk meresponnya. "Kamu, sih, enak, Fen. Masalah yang kau miliki hanya paus itu saja, sementara aku masih punya banyak masalah, walau aku jelas-jelas sudah menjadi Pemilik Dunia.""Hahahaha—Tapi, ngomong-ngomong, bisa nggak kamu buka matamu sekarang?" Pinta Fennah tiba-tiba."Hmm? Kenapa memangnya?""Buka saja, kalau nggak, nanti menyesal, lho."Veli dengan ragu mengikuti permintaan Fennah. Kelopak matanya perlahan-lahan membuka, dan seketika, mata Veli langsung terbuka sangat lebar ketika mendapati suatu pemandangan yang sangat indah yang ternyata sedang berlangsung tepat di depan matanya."Wah..." Mata Veli berbinar-binar. Sudah hampir semenit berlalu, namun dia bahkan belum berkedip sekalipun karena terpaku akan pemandangan yang benar-benar mengagumkan itu.Apa yang ada di atas langit sana bukanlah bintang-bintang, itu semua adalah lautan ubur-ubur yang menyala-nyala dan memancarkan beragam cahaya yang teramat sangat indah. Segala macam warna yang pernah dilihat Veli, maupun yang belum pernah dia lihat—semuanya ada pada makhluk-makhluk gaib yang kini mengambang di atas mereka itu."Apa-apaan... ini bukannya terlalu... megah, ya?" Veli perlahan-lahan bangkit."Hahahaha—semua orang juga selalu berkata seperti itu, tapi sayang, aku nggak bisa melihatnya." Ujar Fennah yang terdengar senang."Eh..." Veli hanya mampu memasang senyuman kecut untuk menanggapi Fennah."Biasa aja, kali. Toh, aku juga sudah merasakan kebahagiaanku sendiri." Jelas Fennah kalem. "Nah, buruan tangkap mereka biar semuanya selesai lebih cepat.""Baiklah..." bisik Veli lirih seraya melompat sangat tinggi ke langit bagai roket, dan pada saat itu pula, tiba-tiba saja ada debu-debu cahaya emas yang berkumpul di samping kanannya dan membentuk sebuah gelembung raksasa.Dengan cekatan, Veli berhasil menangkap lima ekor ubur-ubur menggunakan gelembung itu. Setelah itu dia langsung mendarat kembali di samping Fennah."Hmm... ini terlalu cepat, kan?" Gumam Veli yang tengah menilik ubur-ubur di dalam gelembung itu. "Jadi... apa yang harus kulakukan sekarang?" Bisiknya sangat pelan."Jangan sampai gundah, Vel. Lebih baik kita selesaikan semuanya sekarang, oke?"Veli tersentak mendengar Fennah. Tubuhnya terasa lemas dalam sekejap. Sorot matanya tampak sangat kosong, dan dia mulai menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, sampai-sampai ada darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya.Veli mematung persis seperti sebuah patung."Hah..." Fennah menghela nafas dalam sembari menurunkan kedua tangannya dengan perlahan dari atas tuts, lalu ia bangkit berdiri seolah-olah tidak ada masalah yang akan terjadi.Tiba-tiba, terdengar suara auman yang amat membahana dari si paus. Saat ini paus itu telah terbangun dari tidur abadinya, dan kini ia bersiap untuk meluluhlantakan dunia manusia dengan amukannya yang tanpa ampun—atau begitulah yang seharusnya terjadi.Namun, Veli buru-buru menjentikkan jarinya sebelum semua itu terjadi, dan pada saat itu pula, sebuah pedang emas yang ukurannya lebih besar lagi dari pada paus itu—lebih besar dibandingkan sebuah bintang—tiba-tiba muncul di angkasa sana, di antara ubur-ubur, lalu jatuh layaknya kilat menembus tubuh paus itu, hingga membuat paus itu menjerit tak karuan dengan suara yang memekakkan telinga."A-apa yang kau lakukan, Fen!" Teriak Veli yang teramat sangat panik."Lebih cepat, lebih baik, bukan?" Jawab Fennah enteng."Ta-tapi, jangan tiba-tiba begitu, dong!" Veli kembali menoleh pada si paus yang masih mengerang kesakitan.Tampaknya, paus itu tengah berusaha melepas pedang Veli dengan menghantamkan tubuhnya berkali-kali ke daratan kaca ini. Tapi, bukannya pedang itu yang lepas, malahan lubang besar tercipta di daratan kaca tepat di mana ia menghantamkan tubuhnya tadi, karena bobot tubuhnya yang terlalu besar. Alhasil, paus itu kini terjun bebas ke daratan."Tiap kali ada Raja Cahaya baru yang ingin membantuku, aku selalu berkata "tidak" begitu mereka menginjakkan kaki di atas daratan ini." Fennah menjelaskan. "Dan setelah mendengar jawaban itu, mereka langsung meninggalkanku tanpa menawariku kesempatan yang kedua."Fennah memasukkan tangannya ke dalam gelembung yang berisi ubur-ubur itu, lalu perlahan-lahan, kelima ubur-ubur itu mulai larut menjadi gelombang cahaya dan menyatu membentuk sebuah bola kecil berwarna-warni berukuran seperti sebuah kelereng."Semuanya pergi begitu saja, dan tak ada satupun dari mereka yang mau memberiku kesempatan kedua. Tapi, ya, mereka mungkin sadar, kalau aku saat itu memang belum siap." Fennah menarik keluar kelereng itu dari dalam gelembung, dan memberikannya pada Veli. "Namun, untungnya kau berbeda, Vel. Aku sangat senang sewaktu kau memutuskan untuk tidak menyerah, dan ingin mencoba untuk membantuku.""Hmm... Aku tidak merasa kalau kau menolakku, kok, Fen." Jawab Veli heran sambil menatap lekat-lekat pada kelereng cantik itu yang telah berubah menjadi sebuah senjata api—pistol. "Tapi, kalau kau memang memilih untuk mengambil kesempatan ini, itu berarti kau sudah siap, ya?" Tanya Veli ragu."Ya, begitulah. Waktu aku sadar kalau aku sudah hidup sangat lama, di saat itu juga aku sadar, bahwa bagi makhluk tanpa waktu seperti kita ini, hidup dan mati bukanlah takdir terakhir yang menunggu kita di ujung jalan itu, melainkan keduanya itu hanya sekadar pilihan semata yang sama-sama tak ada artinya."Pandangan Veli beralih pada angkasa yang masih dipenuhi ubur-ubur ajaib itu."Hah... pantas saja, kau terlihat tenang-tenang saja dari tadi. Ternyata kau sudah tau tentang segalanya." Veli mengambil nafas dalam, dan membulatkan tekadnya. "Nah, kalau begitu, aku tidak akan ragu lagi. Jadi, kali ini, tolong biarkan aku yang menyelesaikan kisahmu, Fennah Leivth.""Yap, silahkan saja, Velicia Irene Meliona. Tolong akhirilah kisahku." Pinta Fennah tulus sambil menyunggingkan senyum simpul penuh arti.Meski Fennah tak dapat melihat Veli, tapi dia masih mampu membayangkannya dan merasakannya. Dalam wujud gadis kecil yang lugu dan polos, Veli berdiri di hadapan Fennah, dengan pistol yang dia arahkan tepat ke dahi Fennah."Jadi... bagaimana?" Tanya Veli."Bagianku sudah selesai. Suamiku juga telah mengetahui tentang ini. Jadi sekarang, selesaikan bagianmu, Vel.""Baiklah kalau begitu. Selamat tinggal, Fennah.""Ya... Selamat tinggal... Veli." Air mata mulai mengalir keluar melalui sela-sela kain penutup mata Fennah. Meskipun begitu, gadis itu tetap saja memasang senyumnya yang manis.Dor!Diiringi dengan suara tembakkan yang menggelegar itu, Fennah akhirnya berhasil meninggalkan kehidupannya, menuju ketenangan yang hampa dan abadi, yaitu kematian."Ya, pada akhirnya... kita semua, memang harus siap, bukan? Dia terpilih karena hanya dialah yang sanggup melakukannya... dan begitu juga denganku. Ya... setidaknya aku mulai paham mengapa Engkau memilihku untuk memiliki dunia ini..."
Senyuman sang Malaikat Maut
Monah ingat. Saat orang-orang yang menyayanginya menangis, Monah ingat, dia muncul di sampingnya. Sayapnya yang hitam sangatlah indah. Juga wajahnya benar-benar sempurna. Dan senyumnya—senyumnya sangat manis dan tulus... Meski itu gemetar.Siang itu, dokter yang merawat Monah akhirnya menyatakan bahwa waktu Monah sudah semakin dekat. Alhasil, sebagian besar anggota keluarga Monah yang berkumpul di sana langsung menangis begitu mendengarnya. Bahkan, ayah Monah sampai mengamuk tak karuan dan berkata bahwa dia bersedia membayar lebih banyak asal Monah bisa disembuhkan.Namun, kebenaran sudah berkata lain. Kanker yang menggerogoti tubuh Monah terus bertumbuh pada tingkat yang tak manusiawi. Tak ada apapun di bawah langit ini yang mampu memulihkan Monah. Hanya tinggal menunggu maut saja yang datang menjemputnya.Waktu itu, ibunda Monah langsung mendekap Monah dan menangis. Begitu juga dengan saudara-saudari Monah yang lain yang masih kecil."Maafkan Ibu, Monah!" Bisik sang Ibu yang tak kuasa menahan air mata."Iya, Bu, nggak apa-apa, kok." Jawab Monah tulus."Maafkan Ayah, Nak! Ayah gagal! Ayah sudah gagal! Lagi! Lagi! Lagi!" Teriak ayahnya yang baru selesai mengamuk."Iya, Yah. Lagian, Ayah juga sudah berusaha keras, jadi, nggak apa-apa." Ujar Monah sambil mengedarkan pandangannya. Hampir semua yang ada di sana kini tengah menangis. "Haduh, gimana, sih? Padahal aku sudah bilang kalau aku nggak suka lihat orang menangis." Bisik Monah pelan. Senyuman kecut terbentuk di bibirnya.Meski dengan semua kenyataan mengerikan yang menimpanya saat ini, gadis berparas cantik yang sudah tak memiliki rambut di kepalanya itu tetap tersenyum manis dan tak mengeluarkan air mata setetes pun.Akan tetapi, di tengah-tengah momen yang seharusnya amat menyedihkan ini, ada satu hal yang sangat mengganggu Monah, yaitu keberadaan seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya.Entah sejak kapan pemuda tinggi jangkung dan berwajah tampan itu berada di sana, tepat di sebelah kiri ranjang Monah. Lelaki berpakaian keren serba hitam itu berdiri di depan jendela menghalangi pancaran cahaya mentari, dia juga membawa sebuah sabit panjang menyeramkan yang baru saja dia sandarkan ke meja. Akan tetapi, selain Monah, tampaknya tak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihat orang itu."Hah..." Lelaki itu menghela nafas dalam. "Masa iya orang sepertiku harus mencabut nyawa perempuan seperti ini." Dia mengeluh.Monah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata pemuda itu. Tubuhnya juga sempat tersentak sedikit karena kaget. Sangat menakutkan sekaligus sangat ajaib. Namun, dia menghiraukan keanehan itu untuk saat ini.Menjelang petang, semua keluarga Monah memutuskan untuk pulang. Begitu juga dengan ibu dan ayah Monah yang telah dilahap oleh nestapa. Walau mereka sebenarnya sangat tidak ingin meninggalkan Monah, tapi, mereka berhasil melawan perasaan itu dan memilih untuk mengabulkan permintaan terakhir Monah."Kalau waktunya sudah dekat, aku berharap tak ada satupun dari kalian yang berada di sini saat itu terjadi. Itu saja permintaan terakhirku." Itulah yang dikatakan Monah pada seluruh sanak keluarganya beberapa minggu silam."Sepertinya mereka semua sudah pergi." Bisik Monah yang tengah melirik ke arah pintu. Tadinya dia sempat mendengar bisikkan seseorang di balik pintu itu. Mungkin ayah dan ibunya, yang pastinya tidak ingin meninggalkan Monah. Tapi, sekarang sudah senyap. Tak terdengar apa-apa lagi di situ."Nggak masuk akal banget... " Celetuk si pria tak terlihat yang sedang duduk sambil melihat-lihat isi buku gambar yang ada di atas meja. "Masa, sih, mereka pergi. Padahal jelas-jelas anaknya sudah mau mati begini."Monah tersenyum kecil ketika mendengar ocehan pria itu."Tapi... terima kasih, Ayah, Ibu." Kata Monah. Tiba-tiba, kelopak matanya mulai menutup dengan perlahan, lalu ia mengambil nafas dalam, dan kemudian berkata, "baiklah, aku sudah siap.""Hah?" Suara kecil itu tiba-tiba keluar dari mulut si lelaki yang sedari tadi bersandar di samping jendela. "Apa-apaan itu?" Dia terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Monah."Apanya yang apa-apaan? Kamu ini malaikat pencabut nyawa, kan?""Lho, serius kau bisa melihatku!?" Pekik pemuda itu tak percaya."Ya, jelas saja, bukan?" Ungkap Monah sambil tersenyum kecut. "Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, karena aku tadi bilang kalau aku sudah siap, nah, jadi, sekarang kau bisa mencabut nyawaku. Ayo, buruan." Monah melipat kedua tangannya di depan dada sembari menutup matanya lagi. "Nah, ayo, tunggu apa lagi?""Tapi... " Lelaki itu melihat arlojinya kemudian berkata dengan suara datar, "waktumu masih tersisa dua jam lagi, sih... " Jelas si malaikat maut."Eh... Oh... jadi begitu." Raut wajah Monah ikut berubah datar. Jawaban yang tak terduga itu sukses membuat situasinya menjadi terasa canggung. "Jadi... bagaimana sekarang?""Yah, menunggu." Kata pemuda itu sembari kembali bersandar pada dinding.Hening sesaat, tapi waktu mata Monah melirik ke arah jendela dan melihat gordennya bergerak meliuk-liuk karena terkena hembusan angin, senyuman simpul tiba-tiba terbentuk lagi di bibirnya."Oke, deh." Monah bangkit dari ranjang dengan susah payah, lalu dia berjalan ke arah jendela tepat di samping pemuda itu sambil bersenandung.Dari situ, Monah bisa merasakan hembusan angin yang sangat lembut dan menenangkan. Mungkin inilah yang disebut kedamaian. Ada miliaran orang yang rela melakukan segalanya demi merasakan ketenangan seperti ini, tapi sayangnya, dunia ini tidak bekerja dengan cara seperti itu.Sejak pagi tadi, Monah bisa merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Dia memang menyadari perasaan aneh itu, tapi sekarang, dia tidak mau memedulikannya. Dia hanya ingin menikmati sisa waktunya yang tinggal sedikit.Dari langit barat, sinar kuning keemasan yang indah mulai terlihat, pertanda senja sudah datang. Cahaya menyilaukan itu turun ke bumi, menyinari segalanya dan membuat pemandangan di dunia luar tampak semakin indah. Di mata Monah, senja merupakan suatu bentuk dari keajaiban itu sendiri."Ngomong-ngomong, kenapa kau nggak suka melihat orang menangis?" Tanya malaikat itu tiba-tiba."Hmm?" Monah menoleh dan bertukar pandang dengan pemuda itu. Matanya yang berwarna merah bak darah membuat Monah terkagum-kagum dalam hati. "Wah...""Heh! Malah bengong. Jawab, dong." Lelaki itu menyentil pelan dahi Monah."Ah—kenapa aku nggak suka orang menangis? Ya, karena menurutku, air mata itu adalah bukti kalau orang-orang masih menderita." Jelas Monah."Hah?""Setiap kali aku lihat air mata, pasti aku langsung berpikir kalau Tuhan juga sebenarnya bisa salah." Ungkap Monah. Matanya menyipit sedih karena teringat akan musibah yang dialaminya beberapa tahun silam."Buset... perkataan yang berani..." Gumam si malaikat."Waktu itu sedang terjadi badai hebat, dan semua penumpang kapal sudah tertidur pulas, termasuk ayah, ibu dan adik-adikku. Tapi, ada seorang anak di sampingku. Kedua orang tuanya juga sudah tidur. Namun, dia terlihat sangat senang entah karena apa."Sambil bercerita, Monah kembali menatap keluar jendela. Cahaya senja perlahan mulai padam dan digantikan oleh kegelapan. Embusan angin yang hangat dan nyaman berubah menjadi rasa dingin yang menusuk. Monah juga bisa mendengar suara adzan maghrib yang terdengar dari masjid di kejauhan."Waktu itu aku masih berusia delapan tahun," Monah memberitahu. "Sekitar jam dua subuh, gadis itu bangkit dari kursinya, lalu dia pergi ke geladak kapal dan mulai bermain hujan.""Gila juga, mandi hujan jam segitu. Nggak dingin apa?" Tanya malaikat itu tak percaya."Ya, makanya aku nggak ikut-ikutan mandi." Jelas Monah sambil tersenyum masam. "Saat itu, anak itu sepertinya sangat bahagia. Walau langit menggelegar dan kapal terombang-ambing oleh lautan, dia tetap menari dan tertawa. Seakan-akan, hujan dan guntur itu juga tengah ikut menari bersamanya." Monah tiba-tiba berhenti berkata-kata. Tapi, tak sampai beberapa detik, dia mengambil nafas dalam dan kembali melanjutkan. "Namun, ada satu ombak besar yang menghantam kapal dengan keras, sementara saat itu, anak itu sedang berada di ujung dan tengah mengamati lautan di bawah kapal. Alhasil... karena guncangannya yang terlalu kuat, dia langsung terjatuh..."Dari jendela, Monah mengamati angkasa yang sekarang sudah gelap gulita. Tapi, entah kenapa, pemandangan langit malamnya yang tak berbintang, malah mengingatkan Monah akan pemandangan mengerikan waktu itu."Eh... kau membiarkannya?" Tanya si malaikat yang tampak tercengang."Ah... aku menolongnya, kok. Aku masih sempat menangkapnya. Malahan menolongnya saat itu adalah usaha paling keras yang pernah kulakukan seumur hidupku. Tapi, saat itu ayahku tiba-tiba muncul di pintu dan berteriak. Aku kaget, dan langsung kehilangan keseimbangan... dan kami berdua pun jatuh... "Monah berusaha untuk membayangkan ingatan yang amat sangat menyakitkan itu.Waktu itu, rasanya Monah seakan seperti sedang mengambang di atas langit malam, hanya saja, dia tak bisa bernafas. Karenanya, Monah terus berenang ke atas untuk mencari udara. Tapi, saat jarak antara kepalanya dan permukaan tinggal beberapa jengkal lagi, Monah melihat sesuatu jauh di bawahnya.Sesuatu itu berpendar, memancarkan cahaya putih yang temaram. Namun, tatkala Monah sadar, ternyata sesuatu itu adalah gadis yang tadi. Dia pingsan. Monah seketika menjadi panik, dan ia pun berusaha untuk menolong gadis itu. Entah kenapa Monah merasa seakan tak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Apalagi tadi, Monah jelas-jelas melihat gadis itu tampak sangat bahagia hanya karena bermain hujan.Namun, gadis itu terus tenggelam, ditarik ke dasar laut. Semakin jauh, dan jauh, sampai-sampai Monah sudah tak bisa menggapainya lagi. Meski begitu, Monah tetap berusaha untuk mencapainya. Dengan nafas yang sesak, dia terus menyelam menghampiri maut hanya untuk menolong anak itu."Hingga akhirnya... aku gagal... " Monah mengakhiri ceritanya. Titik-titik air matanya berjatuhan. "Ayahku muncul sebelum aku pingsan. Tapi, aku tak mengalihkan pandanganku dari anak itu."Si malaikat tak bisa berkata-kata. Mungkin dia berpikir kalau kejadian yang menimpa Monah itu sangat mengerikan. Atau mungkin juga karena alasan lain. "Setidaknya kau sudah berusaha... jadi—""Waktu aku melihat semua orang yang mengenal anak itu menangis, aku langsung berpikir, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya tidak nyata." Ungkap Monah. Dia terus menghapus air matanya yang terkutuk itu dan tersenyum tegar. "Selama air mata masih ada, maka kebahagiaan itu hanyalah sebuah cerita dongeng belaka.""Hmm... jadi... kejadian itu, ya, yang memicu kankermu?""Yap." Jawab Monah santai. Raut wajahnya kembali seperti sedia kala. "Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi, ya, kankerku muncul setelah kejadian itu."Malaikat itu menundukkan kepalanya sedikit. Dia menggigit bibirnya dengan keras. Namun, Monah menyadarinya."Ngomong-ngomong, kamu ada makanan, nggak?" Celetuk pemuda itu tiba-tiba."Eh!? Serius? Malaikat Maut memangnya bias makan?" Tanya Monah keheranan.Pemuda itu tidak kunjung menjawab, tapi, dari wajahnya, dia sepertinya memang sedang kelaparan."Di kulkas," Monah menunjuk ke arah kulkas di pojok, dan si malaikat langsung melesat ke sana tanpa ragu dan mengambil beberapa kantung keripik kentang, kemudian ia duduk di ranjang, di samping Monah, lalu mulai makan dengan lahap."Orang bodoh macam apa yang menaruh makanan-makanan tidak sehat ini di sini? Ah, sudahlah, aku makan saja semuanya.""Dih... nih orang, urat malunya sudah putus, kayaknya...""Hey, daripada kamu nonton aku makan, mending kamu telepon kerabat-kerabatmu buat pamitan, mumpung masih ada waktu." Ujarnya seraya menjejalkan segenggam keripik kentang ke dalam mulutnya."Wah... ide yang bagus." Gumam Monah sambil memilah-milah. "Baiklah."Mengikuti saran si malaikat pencabut nyawa itu, Monah langsung mengambil ponselnya lalu menelpon semua orang yang dia kenal. Awalnya dia menghubungi keluarganya. Dia meminta maaf pada mereka. Dari Ayahnya, ibunya, serta om, tante, dan saudara juga sepupu-sepupunya. Bahkan Monah juga sempat menasehati mereka untuk terus meningkatkan hal-hal baik yang ada pada diri mereka. Namun, sepertinya mereka tidak mampu mendengarkan ceramah Monah karena mereka menjadi panik begitu Monah mulai mengatakan hal-hal yang aneh. Apalagi ayah dan ibunya yang langsung histeris.Tiap kali Monah mengucapkan selamat tinggal, dia langsung menutup telponnya, agar dia tidak perlu mendengar suara tangisan mereka.Yang terakhir, Monah membuat postingan yang berisi permintaan maafnya pada teman-temannya di sosial media. Terkesan aneh memang, tapi tentu saja perlu, agar teman-temannya yang berada di dunia maya tahu bahwa dia sudah pergi."Hah... " Saat Monah mematikan ponselnya, untuk sesaat, dia merasa dunia ini menjadi sangat senyap."Sudah selesai?" Tanya si malaikat maut yang baru keluar dari kamar mandi."Yap.""Keluarga dan teman-temanmu pasti sedang dalam perjalanan ke sini. Ya... tentu saja." Ujar malaikat itu sambil melirik arlojinya. "Waktunya tinggal beberapa menit lagi. Bersiaplah."Monah mengangguk mantap. Dia kemudian berbaring di ranjang, lalu meletakkan kedua tangannya di atas dada, dan memosisikan tangan kanannya di atas tangan kiri selayaknya posisi orang meninggal pada umumnya."Oh, iya, aku mau mengaku sesuatu dulu." Kata si malaikat tampak ragu."Apa?""Sebenarnya aku sudah lama mengenalmu, lho. Dan bisa dibilang... akulah yang membuatmu jadi seperti sekarang ini." Dia menjelaskan. "Saat itu, aku benar-benar tidak menyangka, kalau kau akan mencoba menolongnya. Karena memang tidak tertulis seperti itu sejak awal. Jadi... ""Jadi kau mau ikut-ikutan bilang kalau Tuhan juga bisa salah? Halah... lupakan saja, aku sendiri juga tidak percaya dengan itu, kok. Aku berpikir begitu karena emosi, doang.""Dih...""Apaan? Sudahlah, mending kau selesaikan pekerjaanmu sekarang.""Ya... baiklah. Dan sebagai permintaan maafku, aku akan memberikanmu kematian yang paling hampa.""Kematian yang paling hampa? Apa pula itu?" Tanya Monah penasaran."Hmm... intinya, itu adalah kematian tanpa rasa sakit sama sekali. Biasanya aku hanya memberikan layanan ini bagi mereka yang benar-benar layak saja. Dan kau beruntung. Kau akan menjadi orang ke tujuh belas dalam sejarah, yang akan merasakan kematian ini." Malaikat itu tersenyum seraya memposisikan tangan kanannya di bawah leher Monah, dan tangan lainnya di bawah lutut."Tunggu! A-apa yang kau lakukan!" Warna merah timbul di wajah Monah. Pasalnya, adegan ini sama seperti adegan-adegan di film-film romansa yang sering ditontonnya."Saatnya membuka gerbang itu. Senja." Lalu dia perlahan mengangkat Monah ke atas dan pada saat itu pula seluruh dunia bergerak sangat cepat, sementara yang bergerak lambat hanyalah dirinya.Monah melihat semuanya.Matahari yang terbit dari ufuk timur mengusir kegelapan malam dalam sekejap. Beberapa detik kemudian, angkasa menjadi cerah dan semua keluarga serta teman-teman Monah datang untuk berkabung. Semua orang menangis, termasuk seluruh keluarganya.Namun, Monah melihat satu pemandangan yang aneh. Senyum malaikat yang sedang mengangkatnya ke atas itu mulai bergetar. Monah tidak tahu apa penyebabnya, tapi waktu untuk Monah sudah pada batasnya.Waktu terus bergerak dan akhirnya petang pun tiba."Selesai." Kata si malaikat yang sekarang terlihat sangat berbeda karena keberadaan sayap hitam yang sangat indah yang terbentang di punggungnya."Turunkan aku!" Pekik Monah jengkel sambil melompat turun. "Wah..." Wajah Monah memancarkan kekaguman yang teramat sangat sewaktu melihat tubuh aslinya terbaring di ranjang, dan di situ juga masih ada banyak orang yang berduka untuknya. Tapi, Monah lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa tubuhnya saat ini menjadi transparan dan bercahaya, sama seperti gadis itu waktu itu. "Jadi... aku berubah jadi hantu?""Heh! Mulutmu." Celetuk si malaikat maut."Hahahaha—iya, iya. Maaf.""Ya sudah, waktunya pergi. Yuk." Ajak si malaikat maut. Dia mengambil sabitnya yang disandarkan di meja, kemudian dia menarik tangan kanan Monah dan mengajaknya keluar menembus tembok.Monah tidak menyangka akan melihat senja untuk kedua kalinya hanya dalam beberapa jam saja. Dia benar-benar sangat senang. Namun, saat dia menoleh ke belakang, dan melihat ke arah jendela kamar tempat dia dirawat selama ini, sungguh, rasanya menyakitkan. Hatinya terasa remuk saat ibu dan ayahnya muncul di jendela itu dan menatap keluar."Selamat tinggal... semuanya."
Janji Empat Naga Berwarna
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Abel, karena siang nanti dia akan pergi berkunjung ke tempat tinggal gurunya yang berada di puncak Himalaya. Ini merupakan kabar yang sangat menyenangkan, mengingat dia hanya bisa bertemu dengan gurunya setiap pertengahan bulan januari saja. Tapi, hari ini, di bulan november yang sangat dingin ini, gurunya tiba-tiba memanggil Abel juga ketiga saudaranya, untuk membicarakan tentang suatu hal.Akan tetapi, ada satu bunga tidur yang datang dalam tidurnya semalam. Abel bermimpi tentang kenangan buruk yang seharusnya sudah ia lupakan. Setelah puluhan tahun, mimpi buruk itu kembali menghampiri Abel dan berhasil membuatnya merasa sangat gelisah sampai ke ubun-ubun.Dalam mimpinya, Abel melihat nyala api.Api itu membakar seluruh kota, dan mengubah para penduduknya menjadi abu dalam sekejap mata. Jeritan terdengar dimana-mana. Teriakan pria, wanita, juga tangisan anak-anak memenuhi pendengarannya. Dan yang berdiri di tengah-tengah lautan api itu adalah seekor binatang buas raksasa bersisik merah, dengan sayap berapi yang terbentang lebar di punggungnya."Jadi kenapa?" Tanya seorang gadis kecil berambut biru—Fira—yang sedang duduk di meja kasir sambil menonton televisi yang tergantung di langit-langit."Memangnya penting?" Tanya seorang gadis lainnya—Nita—yang berpakaian ketat serba hitam yang tengah mengatur bola-bola kaca aneh di atas rak."Itu cuma mimpi, kan? Nggak penting, ah." Ungkap gadis lainnya—Bella—yang duduk di samping gadis kecil berambut biru. Gadis berkacamata itu sedang menatap malas pada bola kaca di tangannya."Hey... Kalian nggak asik, ah." Ujar Abel tampak kecewa. Anak lelaki berambut merah gondrong dan bermata kuning keemasan itu menghela nafas dalam, dan hanya bisa pasrah dengan sikap teman-temannya yang tidak seperti yang diharapkan."Lagian, kita semua tahu, kok, kalau naga bersisik merah yang ada di dalam mimpimu itu, adalah kau. Jadi, nggak usah diceritain lagi, deh." Ujar Bella."Tapi... aku serius, lho." Kata Abel. Wajahnya kini terlihat tegang. "Aku sudah cukup lama nggak memimpikan itu. Jadi, kupikir itu semacam pertanda."Teman-temannya yang lain langsung melirik Abel dengan tatapan penasaran. Itu mungkin karena Abel jarang terlihat serius seperti ini. Mengingat dia orangnya selalu tersenyum dan senang bercanda."Hey, hey, serius, itu cuma mimpi, lho." Nita berusaha untuk menenangkan Abel."Kan, empat tahun lalu kamu juga sempat memimpikan tentang kejadian itu, tapi, lihat, nggak terjadi apa-apa, kan, waktu itu." Ujar Fira sambil menyandarkan wajahnya di kedua telapak tangan."Nita dan Fira benar." Kata Bella yang kini tidak terlihat malas lagi. Dia menghela nafas dalam. "Lagi pula, sekarang kamu juga sudah bisa sedikit bersenang-senang, bukan? Kamu nggak perlu lagi berpindah-pindah tempat setiap tahun. Mungkin, ada baiknya jika kau menganggap kejadian di masa lalu itu sebagai mimpi saja mulai sekarang." Gadis itu menjelaskan. "Bukannya kami memintamu untuk melupakan kejadian itu, tapi, situasimu akan jadi lebih baik kalau kamu nggak mengungkit-ungkit soal kejadian itu lagi.""Tapi, tetap saja perasaanku nggak enak..." bisik Abel."Ya, kita semua yang ada di sini tahu, kok, bagaimana rasanya hidup bukan sebagai manusia biasa." Kata Bella yang kembali menatap lamat-lamat pada bola kacanya. "Maksudku... nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalani semuanya dari awal lagi.""Toh, sudah lima tahun kau tinggal di toko ini, dan nggak ada masalah, kan?" kata Nita. "Lagi pula, kami bertiga juga datang menemanimu setiap musim dingin.""Ya... kalian benar juga, sih... cuma...."Meski begitu, perasaan gelisah itu masih menggumpal di dalam diri Abel."Ya sudah, ah. Mendingan aku cari udara segar di luar." Abel akhirnya mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan keluar ke luar toko.Sesampainya di luar, Abel langsung disuguhkan dengan pemandangan hujan kepingan-kepingan putih salju yang tak terhitung jumlahnya yang berhamburan dari angkasa. Udaranya juga terasa dingin, sejuk, sekaligus menusuk. Namun, walau Abel tidak bisa merasakan panas ataupun dingin, tapi anehnya, dia selalu merasa lebih nyaman dengan cuaca yang dingin seperti ini."Hah... Sepertinya memang benar kalau tahun ini bakal jadi lebih dingin daripada tahun kemarin." Keluh Abel yang tersenyum kecut. "Aku jadi kangen sama Indonesia."Abel lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Sejauh mata hanya salju saja yang bisa dilihatnya. Tak ada satupun pejalan kaki yang terlihat. Jalan raya di depannya bahkan kosong melompong bagai kuburan. Tapi, saat dia menoleh ke belakang dan memandang toko miliknya, Abel jadi merasa rindu dengan masa lalunya."Toko Sihir Astaroth. Menawarkan barang dan jasa." Abel membaca hiasan tulisan berkelap-kelip yang menempel di dinding kaca di bagian depan. "Syukurlah, sudah lima tahun sejak aku membuka toko ini, dan sampai sekarang nggak ada keluhan apapun." Nafasnya mengepul di udara.Rasanya, dunia ini terasa sangat tenang. Padahal, sejak kejadian beribu-ribu tahun lalu, Abel sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa merasakan ketenangan seperti ini lagi. Orang seperti dirinya, yang pernah melenyapkan jutaan manusia dalam satu malam, ternyata malah diberikan kesempatan kedua oleh sang Pencipta.Sampai sekarang, Abel masih tidak tahu alasan mengapa Tuhan memberikan hadiah megah semacam ini kepada Abel."Ya... Tuhan memang bertindak dengan cara yang terlalu aneh, bahkan bagi seorang Crystalian sepertiku... seekor Naga... " Gumam Abel sambil memasang senyuman kecil. "Mereka benar. Aku nggak akan membiarkan mimpi itu membuat usahaku lima tahun ini menjadi sia-sia.""Permisi, Nak." Sapa seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan Abel tanpa dia sadari."Eh? Ada apa, Om?" Tanya Abel sedikit terkejut."Kalau Om boleh tahu, apa sebenarnya barang yang dijual di dalam toko itu?" Tanya si pria sambil menunjuk ke arah toko Abel."Oh, toko ini menjual alat-alat yang berhubungan dengan dunia magis, Om. Seperti bola peramal, kartu tarot, jimat, dan benda-benda aneh lainnya." Jawab Abel sambil memandang heran pria itu. "Dan kebetulan saya pemilik toko ini, Om.""Kamu pemilik toko ini?" Tanya si pria tampak terkejut. "Wah... hebat juga. Padahal kamu masih sangat muda.""Eh... Kalau boleh tahu, Om ini asalnya dari mana, ya? Kok, bahasa indonesia om fasih banget?""Ya, karena saya memang warga negara Indonesia, Nak." Jawab pria misterius itu sambil tersenyum kecil. Lalu, pria itu kembali melihat toko Abel dengan tatapan kagum. "Bagaimana dengan keaslian barang-barang yang kamu jual di toko ini?""Seratus persen asli, sih, Om. Tapi, kami selalu memberikan syarat khusus kepada para pelanggan yang ingin membeli barang-barang kami atau menyewa jasa kami, agar lebih aman."Bohong kalau Abel tidak curiga dengan pria ini. Abel sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa dari pria itu. Benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada aura, karisma atau semacamnya. Tapi, Abel tahu kalau orang ini hanya manusia biasa. Hanya saja, memang ada sesuatu yang aneh dari orang ini. Dan itu membuat Abel menjadi awas."Om boleh tidak menyewa jasamu saja?""Ah, ya, tentu saja, Om." Jawab Abel spontan sambil tersenyum lebar. Rasa curiganya tadi telah sirnah, karena sekarang ini adalah urusan bisnis. "Tapi, jasa seperti apa yang ingin om pakai?""Begini." Ujar pria itu seraya melepas sarung tangannya. "Tolong baca garis tangan Om, dan beritahu Om tentang jati diri Om yang sebenarnya. Jujur saja, terkadang Om sendiri bahkan tidak mengenal siapa diri Om yang sebenarnya.""Ya, Om tenang saja. Manusia memang sering begitu, kok." Abel kemudian dengan perlahan menggapai tangan kanan pria itu, lalu meraba-raba bagian telapaknya. Dan tiba-tiba saja, kedua mata Abel mulai berpendar memancarkan cahaya merah temaram, saat ia memandang lekat-lekat telapak tangan pria itu."Wah, matamu menyala. Apa itu semacam trik?" Tanya si pria."Nggak Om." Kata Abel yang masih fokus menelisik telapak tangan si pria. "Mataku memang bisa jadi seperti ini kalau aku menggunakan kekuatanku." Ujar Abel hampir berbisik.Akhirnya, setelah Abel selesai membaca sifat dan karakter pria itu melalui media telapak tangan, Abel pun menutup matanya sejenak dan saat ia membuka kelopaknya kembali, sinar di matanya sudah padam begitu saja.Abel mendapati kenyataan yang cukup menyeramkan dari pria itu. Tapi, seharusnya itu bukan ancaman bagi orang seperti Abel."Eh... Mungkin ini agak mengejutkan, tapi sifat om sendiri... bisa dibilang cukup buruk." Jelas Abel ragu-ragu."Heh... kamu memang benar." Katanya, "Ayo, lanjutkan saja, kamu tidak perlu takut.""Om orangnya pemarah, agak anti sosial juga. Senang memukul... selalu bisa memulai konflik, atau memperbesar masalah tepatnya. Dan tidak cocok menjadi kepala keluarga karena sifat Om yang ingin selalu berada di atas dan memerintah. Juga, om tidak suka ada yang menentang keputusan Om. Terus, Om juga tidak suka minum kopi, dan suka pilih-pilih makanan. Lalu... " Abel berusaha mengingat-ingat apa yang tadi dibacanya. "Dan Om... berduka.""Hebat, hebat. Sungguh berbakat kamu, Nak. Seumur-umur aku tidak pernah melihat orang yang bisa membaca garis tangan dengan sangat mudah seperti dirimu." Kata si pria yang terdengar kagum. "Semua yang kau katakan itu benar sekali, Nak. Ya, walau ada beberapa yang kurang, tapi semua yang kamu bilang tadi itu seratus persen benar."Meski jati dirinya yang bisa dibilang buruk sudah diketahui oleh Abel, tapi pria itu terlihat sangat kalem. Atau mungkin, memang seperti itulah ciri-ciri orang dewasa."Hehehe... makasih, Om." Kata Abel yang masih tersenyum lebar. "Tarifnya lima dolar, Om, untuk pembacaan tadi. Silahkan menuju ke meja kasir untuk membayar jasa yang telah Om pakai."Pria itu tertawa dengan suara yang agak keras. "Baiklah, baiklah."Setelah mereka berdua masuk ke dalam toko, Fira langsung menyambut pria itu dengan riang. Sementara Bella yang berada di sebelah Fira masih memandangi bola kacanya, dan Nita masih menyusun barang-barang jualan di rak."Selamat datang di Toko Sihir Astaroth!" Seru Fira. "Kami menjual—""Om ini sudah menyewa jasa membaca telapak tangan waktu di luar tadi, sekarang tinggal di bayar saja." Potong Abel."Oh, baiklah. Berarti semuanya lima dolar, Om.""Wah, tempat yang nyaman." Kata pria itu sambil memandang berkeliling. "Dan... sudah kuduga, kalau kalian semua yang ada di sini... adalah Rakyat Dunia Lain. Para Crystalian... ""Eh... " Suara kecil itu bukan hanya keluar dari mulut Abel saja, tapi juga dari mulut Fira, Nita dan Bella.Suasana di dalam toko menjadi tegang seketika."Siapa kau... ?" Tanya Abel dengan nada dingin.Mereka semua sekarang memandang pria misterius itu dengan tatapan yang tajam.Pria itu mulai berjalan melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. "Apa kalian pernah mendengar NOX?""NOX... itu bukannya organisasi yang memburu para Crystalian?" Tanya Nita.Pria itu lalu berhenti melangkah, dan memandang Abel sambil tersenyum tipis. "Ya, dan kebetulan aku adalah pendiri NOX."Perkataan si pria langsung membuat Nita, Fira, dan Bella tersentak kaget. Tapi, tidak dengan Abel. Bibir anak itu malah membentuk senyuman simpul."Kalian tahu? Aku membangun organisasi itu setelah anakku meninggal dua belas tahun lalu." Pria itu menjelaskan. "Aku ingat betul, malam itu, ada sesosok makhluk raksasa bertubuh hitam pekat yang terlihat di langit. Aku dan istriku sempat mengira kalau itu hanya imajinasi kami saja, tapi ternyata semua orang yang ada di perumahan kami juga bisa melihat makhluk mengerikan itu. Namun, setelah beberapa menit, tiba-tiba makhluk itu jatuh ke daratan lalu... meledak seperti bom.""Tunggu... aku pernah mendengar cerita itu. Kalau nggak salah, tragedi itu terjadi di Medan." Kata Nita."Benar sekali." Ungkap pria itu. "Ratusan orang di perumahan kami meninggal malam itu juga, termasuk anakku. Sementara aku dan istriku adalah satu-satunya korban yang selamat.""Tapi... Makhluk hitam yang Om lihat dilangit itu adalah Dosa... " Jelas Fira yang tampak takut sambil menoleh memandang Bella dengan tatapan cemas. "Dan... tidak mungkin Dosa bisa menyebabkan hal seperti itu. Mereka bahkan tidak memiliki fisik.""Hmm... sudah kuduga kalau kalian juga berpikir begitu. Tapi... sayangnya, kami sendiri yang mengalaminya." Katanya santai. "Oh, dan sayangnya lagi... tempat ini sudah dikepung oleh pasukanku.""Hah!? Yang benar!?" Pekik Fira panik."Ya, dia tidak bohong." Bisik Bella."Nah, kalau begitu, ada bagusnya jika kalian menyerahkan diri sekarang, karena kami memiliki alat yang mampu menetralkan kekuatan aneh kalian.""Kalau boleh tahu, apa saja, sih, yang Om ketahui soal kami? Rakyat Dunia Lain—Crystalian?" Tanya Abel yang juga tampak santai."Ya, intinya kalian semua itu adalah sampah yang seharusnya tidak ada di dunia ini." Jelas pria itu. "Tapi, aku juga sebenarnya tahu cara membedakan mana yang lemah dan mana yang kuat. Dan kamu, Nak," dia menunjuk Abel. "Kau sepertinya kuat... sangat kuat. Baru pertama kali aku melihat yang sepertimu. Itulah sebabnya aku mengambil langkah aman untuk menangkap kalian.""Ya, Om memang benar. Aku sangat kuat, lho. Tapi, kalau soal pengalaman, mungkin Nita adalah yang paling hebat di sini. Soalnya dia sudah berperang dua kali." Abel menunjuk ke arah Nita yang masih berada di depan rak. "Namun, ada satu hal penting yang harus Om ketahui tentang kami. Di antara seluruh Crystalian, ada satu kaum yang bisa dibilang terlalu kuat karena tidak memiliki batasan apapun. Dan, karenanya, kaum itu dianggap sebagai entitas yang sama dengan sang Pencipta. Mereka disebut Selestial, atau anak-anak bintang. Dan... sayangnya, aku adalah Selestial, Om.""Hoh, begitu, ya? Tanpa batas katamu?" Pria itu tiba-tiba melihat arlojinya. "Aku ada acara makan malam hari ini, jadi cepat putuskan apa pilihan kalian.""Oh, iya, terima kasih karena sudah memberikan kami waktu untuk melarikan diri." Ujar Nita sambil nyengir lebar."Tunggu, Apa!?" Pria itu terkejut setengah mati kala mendengarnya."Lubuntur Defuid... " Setelah Nita membisikkan kalimat itu, tiba-tiba saja terdengar suara guntur menggelegar serta kilat hijau yang turun dari langit-langit, dan langsung menyambar Bella, Fira, juga Nita, dan membuat ketiga gadis itu lenyap entah kemana, meninggalkan Abel sendirian di sana."TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Pria itu mengamuk karena telah kehilangan tiga mangsa yang berharga. Dan Abel yakin, pria ini menganggap Nita sebagai target yang paling berharga karena pengalamannya itu. Dia kini terlihat sangat marah. "Bocah keparat...!"Tiba-tiba, ada suatu cahaya merah yang terpancar dari balik mantel pria itu, lalu, tak lama kemudian, pakaiannya perlahan-lahan mulai bertukar menjadi sebuah baju baja atau mungkin perlengkapan robot atau semacamnya, hingga menutupi seluruh tubuh pria itu dan membungkusnya.Dalam balutan zirahnya, sekarang pria itu terlihat dua kali lebih besar dan kekar dibanding sebelumnya. Cahaya-cahaya merah juga terpancar dari sekujur tubuhnya. Mungkin itu semacam urat atau aliran energi yang memberikan tenaga pada zirahnya. Namun, secara keseluruhan, wujud dari zirah itu persis menyerupai iblis. Ada dua tanduk yang mencuat di atas kepala, dan pada bagian wajahnya juga ada empat itik kecil yang mengeluarkan cahaya semerah darah, sehingga membuat penampilannya menjadi amat mengerikan."Kau akan membayar semuanya bocah sialan!" Ujar pria itu. Suaranya juga telah berubah jadi lebih dalam, keras, dan menggema."Hmm? Tidak, bukan aku yang akan membayarnya. Tapi Om." Abel melangkah maju dengan pelan, namun anehnya, kakinya ternyata sama sekali tidak menyentuh tanah, dia berjalan di udara. Tangannya dalam sekejap mata menggapai leher pria itu dan mencengkeramnya keras-keras hingga menembus permukaan zirahnya. "Om lah yang harus membayar semuanya. Karena Om sudah mengancam aku dan teman-temanku, dan Om juga belum membayar jasa yang Om pakai tadi.""Ugh! Apa-apaan! Cepat Lepaskan!"Dengan gerakan yang ringan, Abel melempar pria itu ke atas bagaikan melempar sebutir kelereng hingga menembus langit-langit. Pria itu terus terlontar jauh—sangat-sangat jauh—tinggi ke angkasa hingga tak terlihat lagi.Abel kemudian ikut melompat melewati lubang di langit-langit tokonya. Akan tetapi, begitu Abel terlihat di tempat terbuka, pada saat itu pula, para prajurit yang tadinya sudah mengepung toko langsung menyerbu Abel dengan tembakkan senapan mesin. Tapi sayangnya peluru mereka sama sekali tidak bisa mengenai Abel karena dia terbang dengan kecepatan tinggi.Nyala api membara muncul membungkus tubuh Abel. Api itu semakin besar dan besar, membuat Abel terlihat seperti matahari yang melaju ke atas. Namun, setelah beberapa detik, bola api raksasa itu akhirnya mulai padam, lalu seekor naga raksasa bersisik merah dan bersayap api muncul dari baliknya menggantikan keberadaan Abel. Itulah wujud Abel yang sebenarnya. sang Naga Merah, salah satu dari Empat Naga Berwarna."TIDAK MUNGKIN!" Pria itu menjerit ketakutan. "SEEKOR NAGA!?""Dengan ini, aku anggap semuanya sudah lunas!" Teriak Abel dengan suara yang amat keras dan menggelegar. Abel yang berada dalam wujud naganya membuka rahangnya lebar-lebar, dan bersiap menelan bulat-bulat pria itu."TIDAK! TUNGGU! TOLONG AMPUNI AKU!"Namun, ketika jarak gigi-gigi Abel dengan tubuh pria itu tinggal beberapa jengkal saja, tiba-tiba saja ada satu suara yang berbisik di dalam benak Abel. Suara itu berhasil membuat rahang Abel menutup rapat, dan membuat hatinya merasa sangat tenang.Abel mematung di angkasa. Dia benar-benar menghiraukan si pria yang kini sudah berada jauh di bawahnya. Padahal dia tadi sempat emosi karena tingkah pria itu."Abel?" Tanya suara tak bertuan itu. Suara seorang sendu dan menenangkan. Suara seorang wanita, tentu saja."Guru... ""Abel, kamu di mana? Semuanya sudah ada di sini, lho.""Baik... aku akan kesana sekarang, Guru." Abel mengibaskan sayapnya dengan sangat kuat hingga membuat angin di sekitarnya mengamuk, kemudian ia terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat, menembus hujan salju.Ia terus terbang dengan sangat cepat, dan setelah beberapa waktu berlalu, Abel akhirnya berhasil keluar dari langit yang bersalju, dan terbang di bawah langit yang memancarkan cahaya mentari keemasan nan hangat.Namun, perjalanan Abel belum usai. Dia tetap mengepakkan sayapnya dan terus melaju dengan kecepatan kilat, sampai dia tiba lagi di langit bersalju yang berbeda.Meski dia hampir tak bisa melihat apa-apa dari atas sana, tapi Abel tetap tahu dimana gurunya berada. Dia bisa menciumnya, dan juga merasakannya. Dia tidak perlu mata untuk menemukan seorang yang berharga baginya.Sebelum turun dari langit, Abel memutuskan untuk berubah kembali menjadi wujud kanak-kanaknya. Kulit serta sisiknya yang lebih keras dibanding baja mulai berubah menjadi api, dan sedikit demi sedikit, sosok naga itu pun lenyap dan digantikan oleh siluet seorang anak berambut merah dengan wajah yang tampak dingin.Abel mendarat di suatu tempat yang merupakan puncak paling tinggi di pegunungan Himalaya. Di sana Abel disambut oleh tiga orang anak lainnya yang wajahnya begitu mirip dengan Abel.Ada anak lelaki berambut hijau pendek cepak, serta anak lelaki berambut biru gelap yang tersisir rapi, dan seorang anak gadis yang tampangnya paling aneh di antara mereka berempat. Rambut gadis itu memiliki dua warna yang berbeda; yaitu warna hitam di rambut bagian kanan, dan warna putih di bagian kiri. Kedua warna itu benar-benar terbelah tepat di bagian tengah rambutnya. Bahkan, dia juga memiliki dua bola mata yang berbeda, senada dengan warna rambutnya.Namun, Abel menghiraukan ketiga saudaranya, lalu berjalan melewati mereka dan menghampiri sebuah bunga yang tumbuh di tengah puncak itu.Bagi Abel, bunga itu adalah bunga paling indah yang ada di dunia ini. Kelopaknya sendiri berupa permata yang berpendar dengan warna biru temaram, dan mahkotanya pun juga adalah permata yang memancarkan warna biru cerah dan terang. Jika dilihat lebih dekat, Abel seakan bisa bola-bola cahaya yang menari-nari di dalam mahkotanya.Itulah Guru Abel.Abel jatuh di atas kedua lututnya saat ia sampai di hadapan bunga itu. Kepalanya tertunduk sangat dalam."Maaf aku terlambat... Guru... " Bisik Abel."Aku melihat apa yang kamu lakukan, Abel." Ujar suara wanita itu. "Tapi, syukurlah aku juga tepat waktu, jadi kau sama sekali belum melanggar janji kita. Hanya hampir, kok.""Ya... terima kasih karena telah mencegahku, Guru." Kata Abel sambil mengangkat kepalanya kembali dan tersenyum kecil."Namun, hari ini aku ingin bertanya pada kalian semua."Ketiga saudara Abel yang lain juga langsung menaruh perhatian mereka secara penuh kepada bunga itu."Apa kalian merasakan perasaan yang tidak mengenakkan itu?"Abel terkejut mendengar pertanyaan itu."Ya, kami merasakannya, Guru." Kata si gadis lucu bertampang setengah-setengah."Kukira hanya aku saja yang merasakannya... " Bisik si Anak berambut biru."Apa yang sebenarnya terjadi, Guru?" Tanya si Anak berambut hijau.Abel terperangah. Padahal, dia sendiri sudah setuju untuk menganggap perasaan yang tidak mengenakkan itu sebagai angin lewat saja. Tapi, ternyata perasaan itu bukanlah sesuatu yang harus dihiraukan. Apalagi, kini gurunya sendiri juga sudah menyinggung tentang itu."Mimpi itu bahkan datang lagi tadi malam... " Bisik Abel takut-takut.Tatapan semua orang sekarang tertuju pada Abel. Terlihat jelas dari raut wajah mereka, kalau mereka juga telah mendapatkan mimpi buruk yang sama."Manusia sudah berubah. Dunia sudah berubah." Guru menjelaskan. "Sesuatu yang besar akan datang tak lama lagi. Bencana, malapetaka, peperangan, dan... janji yang akan teringkari."Keempat anak itu langsung tersentak kaget saat mendengar bagian yang terakhir."Beribu-ribu tahun lalu, kalian mengamuk dan hampir menenggelamkan seluruh Benua Eropa setelah melihatku dibakar hidup-hidup oleh penduduk desa yang sebenarnya tidak tahu apa-apa."Abel dan ketiga saudaranya langsung menundukkan kepala saat gurunya mulai bercerita tentang masa lalu mereka yang amat mengerikan."Tapi untung saja sang Pemilik Dunia yang baru datang dari masa depan, dan dengan kekuatannya, dia menghidupkanku kembali menjadi seperti sekarang ini." Guru melanjutkan. "Aku memang bahagia. Tapi, sayangnya bara amarahku timbul saat aku tahu bahwa kalian sudah memusnahkan jutaan manusia, anak-anak, wanita, dan bahkan pria yang tak berdosa. Dan sejak saat itu, kalian berempat berjanji tidak akan pernah menyakiti manusia lagi. Akan tetapi... mulai hari ini... Kalian mungkin akan, dan pasti mengingkari janji itu."Keempat anak itu berniat untuk menyela sang Guru. "Tapi, Guru! Kami tidak mungkin mengingkari janji—""Pasti, kalian akan mengingkari janji itu." Jelas sang Guru, ada nada final dalam suaranya. "Hanya tinggal menunggu waktu saja.""Tidak mungkin! Kami tidak bisa melakukannya!" Teriak si anak biru."Janji itu adalah tali penyambung kehidupan Guru!" Saudara perempuan Abel mulai menangis."Jika kami melakukannya... maka Guru akan pergi... Untuk selama-lamanya... " Gumam Abel. "Aku tak bisa... aku belum siap."Ketiga saudara Abel yang lain kini ikut berlutut di samping Abel. Mereka berusaha berada sedekat mungkin dengan bunga itu. Wajah mereka penuh nestapa. Kekecewaan mulai melahap nurani. Rasa takut yang amat besar telah melahap mereka."Kalian sudah siap." Jelas sang Guru. "Tapi, pastikan kali ini kalian tidak akan membuat kesalahan lagi.""Tapi—""Kalian harus berjanji untuk tidak melanggar peraturan apapun. Meskipun nanti aku mati, aku berharap kalian tidak akan pernah melanggar janji itu.""Tidak! Guru tidak boleh mati!" Mereka memekik bersamaan."Inilah takdir... "Walau badai salju tengah mengamuk, keempat anak itu tetap tak beranjak dari sisi bunga itu, seakan mereka berusaha untuk menjaga agar bunga itu tidak terbang tertiup angin. Kenyataannya, penderitaan mereka lebih menyakitkan dibandingkan rasa sakit apapun yang ada di dunia ini. Namun, mereka tetap disana. Hingga akhirnya takdir terpaksa menyeret mereka ke dalam malapetaka yang lebih gelap dibandingkan kegelapan itu sendiri.
Pembunuh yang Mendambakan Kehidupan
Kebenaran pahit adalah monster yang nyata di dunia ini.Zeal hidup hanya untuk satu hal, yaitu; uang. Dia membutuhkan banyak uang untuk menghidupi ketiga adiknya. Meskipun ia harus terjun ke dalam jurang yang amat gelap dan penuh dengan kedengkian, dia tidak peduli, asalkan dia tetap mendapatkan uang.Segala cara dihalalkannya demi mendapatkan uang, termasuk mencuri, bahkan menjual barang-barang terlarang. Dan dari segala jenis pekerjaan jahat yang ada di dunia ini, yang paling banyak menghasilkan uang ialah dengan menjadi pembunuh bayaran. Dan, ya, Zeal adalah pembunuh yang andal. Walaupun itu adalah dosa besar, dia tidak peduli, asalkan ketiga adiknya bisa hidup berkecukupan.Di Indonesia sendiri, membunuh merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Kebetulan juga pihak keamanan negara pun belum memiliki teknologi yang cukup dalam memecahkan kasus pembunuhan yang rumit dan tidak wajar.Zeal memiliki banyak hal yang dapat digunakannyadalam menjalankan pekerjaannya. Segala kebiasaan yang telah ditingkatkan melalui latihan jangka panjang, seperti berjalan, meraba, bernafas, melihat, bahkan mendengar—semua hal-hal biasa itu baginya adalah senjata yang mematikan.Langkahnya seringan angin. Nafasnya setenang lembah kelam. Sentuhannya sehalus sutra. Tatapannya bahkan mampu menembus dan membaca isi hati orang lain. Juga telinganya yang tajam, mengubahnya menjadi predator yang berbahaya.Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa dia memang pembunuh profesional.Namun, saat ini dirinya sama sekali tidak dapat berkutik. Walaupun dengan segala kemampuan yang ia miliki, percuma saja, karena sekarang dia benar-benar sudah terpojok. Bahkan tak ada celah kecil dimana pun.Nafas remaja kurus berpakaian serba hitam dan ketat itu terengah hebat. Rambut gondrongnya terlihat basah karena bermandikan keringat. Sementara matanya yang hitam bak kegelapan malam, masih terpaku pada satu titik jauh di depannya. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya membuka sangat lebar tiap kali mendengar suara-suara dari balik pintu di ujung lorong itu.Zeal tak dapat pergi kemanapun lagi sekarang. Polisi sudah menjebaknya agar masuk ke dalam rumah yang terisolasi ini. Benar-benar hari yang buruk. Dia tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini."Menyerahlah!" sahut suara dari balik pintu itu. "Rumah itu tak lebih dari kandang khusus untukmu yang telah kami persiapkan dari jauh hari untuk menangkapmu!"Zeal menyeringai tipis sambil menyeka keringat di dahi. "Sialan. Kesabaran mereka pasti sudah habis. Sampai-sampai membuat jebakan seperti ini buatku." Ya, tentu saja begitu, apalagi Zeal adalah satu-satunya pembunuh di indonesia yang sudah membunuh seratus tiga puluh orang.Tangan kanannya menggapai sesuatu di belakang pinggangnya; sebuah sarung untuk senjata tajam berukuran kecil. Tapi sayangnya, tak ada apapun di situ. "Hah... benar-benar hari yang penuh kesialan." Gumamnya lagi. "Bisa-bisanya pisau itu jatuh!" Dia masih tak menyangka, karena telah menjatuhkan belatinya—satu-satunya senjata yang ia miliki.Tidak ada penyesalan. Zeal terus mengulang kalimat itu dalam benaknya. Tapi, disaat itu juga, ia tengah memikirkan ketiga adiknya di gubuk yang mungkin sedang menunggunya pulang saat ini.Zeal menyipitkan mata. Dia berusaha untuk santai dan tidak terlalu tegang. Namun, bibirnya yang membentuk senyuman tetap tak berhenti bergetar, karena mungkin saja hari ini, dia tidak akan pulang ke rumah, dan tidak akan menemani ketiga adiknya untuk menyikat gigi lagi."SUDAHLAH! LANGSUNG SAJA TEROBOS MASUK!" Seru suara dari luar.Seketika, karena panik, Zeal memasang kuda-kuda saat mendengar sahutan itu. Dia bersiap-siap untuk menerjang ke arah pintu, dan berharap menemukan kesempatan untuk melarikan diri dari serbuan peluru.Akan tetapi, suatu hal yang amat mengejutkan terjadi. Pintu itu didobrak dengan cara yang tidak biasa. Entah apa yang membuat pintu itu sampai tiba-tiba terhempas ke arah Zeal begitu saja dengan sangat cepat. Tapi, untung refleks Zeal yang luar biasa, mampu membuat dirinya menghindari terjangan pintu itu dengan mudah—dia langsung membungkuk."Apa-apaan!" Walau begitu, dia tentu saja terkejut. Pintu itu terhempas seolah-olah baru saja diserang oleh sesuatu yang sangat besar seperti tank.Namun, Zeal baru saja membuat kesalahan yang amat besar. Dia melewatkan kesempatan untuk melarikan diri, karena terlalu terpaku pada kejadian barusan. Tapi, saat Zeal bangkit, dia kembali dikejutkan oleh pemandangan aneh.Ada seorang gadis yang berdiri di ujung sana. Rambut peraknya yang panjang dan lebat, ditambah oleh matanya yang sebiru langit cerah, juga pedang raksasa yang ditancapkannya di lantai, membuat gadis yang mengenakan semacam gaun pengantin putih itu, terlihat amat mengerikan. Wajahnya yang kosong bahkan berhasil membuat Zeal keringat dingin."Ke mana semua polisinya..." gumam Zeal sambil menilik gadis itu. Benar-benar pemandangan yang tidak masuk di akal sebenarnya. Gadis itu tampak normal dan sepertinya dia masih berusia delapan belasan, tapi anehnya, dia datang ke sini sambil mengenakan gaun pengantin, juga membawa pedang besar yang gila. "Apa dia baru saja kabur dari pernikahannya?""Zeal Longres, pelaku dari pembunuhan berantai di kota seluruh Indonesia." Ujar gadis itu tiba-tiba. Suaranya datar dipadu wajahnya yang kosong terkesan membuatnya terdengar makin aneh."Eh? K-kau siapa?" tanya Zeal ragu-ragu. Pasalnya, gadis ini benar-benar aneh. Zeal sering bermain game, jadi dia tahu bagaimana sosok karakter-karakter fiksi berkekuatan tak masuk akal dalam dunia game. Dan gadis ini benar-benar terlihat seperti karakter fiksi. "Walaupun kau gadis, aku tidak akan segan-segan." Kata Zeal dingin seraya menelan ludah.Gadis itu mencabut pedangnya dari lantai, seolah itu bukan apa-apa. Padahal tangannya sendiri sangatlah kurus dibanding bilah pedang yang diangkatnya. "Jumlah korban, seratus tiga puluh jiwa. Dan hukuman yang dijatuhkan dari pemerintah adalah, hukuman mati." Jelasnya sambil mengacungkan pedangnya ke arah Zeal."Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sini, tapi, maafkan aku, karena aku tidak bisa membiarkan satupun saksi untuk hidup." Gumam Zeal sambil memikirkan suatu cara untuk membunuh gadis luar biasa aneh ini. "Ya, cara satu-satunya adalah dengan memutar lehernya." Bisiknya.Zeal memantapkan pijakannya, kemudian dengan satu tarikan nafas, dia dengan sangat cepat melesat lurus menuju ke arah si gadis.Gadis itu tiba-tiba mengangkat pedangnya ke atas dan bersiap menebas ke depan.Zeal menyeringai. Walau gadis itu kelihatan menakutkan, tapi Zeal yakin, dia pasti hanya seorang amatir. Memangnya orang gila macam apa yang datang ke tempat seperti ini mengenakan gaun pengantin?Zeal terus membatin seolah-olah dia telah memenangkan pertarungan ini. Zeal bisa saja menyerangnya dari depan, tapi pedang itu benar-benar berhasil membuatku merinding. "Baiklah kalau begitu!"Di mata Zeal, waktu seakan-akan berjalan sangat lambat, seiring dengan degup jantungnya yang semakin cepat.Saat Zeal sudah berada cukup dekat dengan gadis itu, dia menambah kecepatan langkahnya, kemudian melompat dan menapak di dinding di samping kanannya dengan kedua kakinya. Gerakannya benar-benar lihai dan seringan angin. Dia kemudian segera melompat ke belakang si gadis. Tapi anehnya, gadis itu masih berdiri diam seperti tadi.Dan akhirnya, tiba saatnya untuk memelintir leher si gadis.Kedua tangan Zeal segera menggapai kepala gadis aneh itu dari belakang. Namun, semuanya terasa sangat ganjil. Bahkan, tak sekalipun gadis ini menoleh ke arah Zeal yang sudah jelas-jelas berada di belakangnya.Zeal yakin ini bukan jebakan. Dan aura menakutkan yang dipancarkan gadis itu juga bukanlah tipuan semata. Entah dia bodoh atau memang ini juga bagian dari rencananya, tapi walau begitu, Zeal tidak akan membuang kesempatan sekecil apapun."Hah..."Suara helaan nafas yang tenang dan sendu dari gadis itu, tanpa alasan membawa perasaan yang amat mengerikan ke dalam diri Zeal. Seolah-olah ada angin badai yang hebat menghantam Zeal dan menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil. Mata Zeal seketika terbelalak lebar, dan instingnya mengisyaratkan dirinya untuk segera berlari sejauh-jauhnya dari sana.Namun, semuanya sudah terlambat. Gadis itu tetap melancarkan tebasannya ke depan, dan—Boom! Disertai kilatan putih yang menyilaukan, terjadilah ledakan yang amat dahsyat hingga memporak-porandakan segalanya.Zeal terhempas jauh ke belakang—ke luar rumah—sampai-sampai dia menabrak sebuah pohon. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan, apalagi di bagian punggungnya. Walau akhirnya dia sudah keluar dari rumah itu, tapi perasaan yang sangat tidak enak ini masih saja ada di dalam dirinya. Bahkan perasaan itu membuat Zeal seakan tak dapat mengendalikan raganya lagi."Kenapa... tubuhku tak bisa bergerak..." Zeal sekarang terbaring tak berdaya di tanah berlumpur. "Oh, ayolah!" Dia terus berusaha memaksa tubuhnya untuk bergerak, tapi bahkan satu jarinya pun sama sekali tak merespon perintahnya. "Sialan! Apa yang sebenarnya baru saja terjadi!? Aku yakin tidak menyentuh apapun!"Zeal melirik ke segala arah, dan anehnya, sepasukan polisi yang tadinya berkumpul di sini ternyata sudah hilang begitu saja. Zeal kemudian beralih pandang ke arah rumah itu, yang telah hancur lebur menyisakan puing-puing di segala penjuru.Apa yang terjadi barusan pada umumnya memang sudah tak bisa lagi diterima oleh akal manusia. Sebuah ledakan dahsyat terjadi karena entah apa, dan itu bersamaan dengan saat si gadis mengayunkan pedangnya.Tidak masuk akal! Pekik Zeal dalam hati.Tiba-tiba, gadis berpakaian pengantin tadi mendarat di depan Zeal dengan pedang raksasa yang masih digenggamnya.Zeal benar-benar telah kehabisan akal. Dia menutup mata dan membayangkan maut yang mungkin akan menjemputnya sebentar lagi. Walau air matanya ingin menyembur keluar, tapi Zeal tetap menahannya, dan terus menjerit dalam hatinya. Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan!"Apa yang kau rasakan, saat membunuh seseorang?" Tanya gadis itu.Zeal benar-benar terkejut saat mendengar pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut gadis ini. Pertanyaan yang terdengar sangat aneh di telinga Zeal. Apa yang dia rasakan saat membunuh? Ya, tentu saja kadang Zeal merasa jijik dan ngeri, juga berdosa, tentu saja."Padahal... kau ini masih muda, dan jalanmu masih sangat panjang. Tapi, kenapa kau memilih jalan seperti ini?" Gadis itu mengangkat pedangnya sekali lagi, dan tampaknya dia bersiap untuk memenggal kepala Zeal."Jika dengan cara ini, aku dan ketiga adikku bisa bertahan hidup di dunia yang rusak ini, sepertinya tak apa... " Bisik Zeal."Dosa adalah dosa... Jadi, sampai jumpa."Zeal merasa agak tenang sekarang. Ketakutannya akan kematian seolah hilang begitu saja, saat mendengar pertanyaan dari gadis ini. Ya, walau Zeal tahu bahwa ajalnya sudah berada di depan matanya, tapi jauh di lubuk hati kecilnya, dia sebenarnya sangat takut meninggalkan ketiga adiknya."Berhenti Sella!" Sahut seseorang dari belakang Zeal.Zeal seketika tersadar dari lamunannya. Tetapi dia tetap saja tak dapat menggerakkan tubuhnya."Tolong lepaskan kekanganmu darinya, Sella." Perintah suara itu—suara yang terdengar tua dan rapuh—yang jelas-jelas adalah suara seorang pria tua.Zeal mendengar suara kesempatan di situ."Baik, Tuan." Jawab gadis itu sambil menancapkan pedangnya ke tanah, dan pada saat itu pula, Zeal mendapatkan kembali tubuhnya.Zeal langsung bangkit, dan berniat menyandera seorang yang memberi perintah kepada gadis mengerikan ini. Tapi, belum saja Zeal berdiri tegak, satu tendangan didaratkan tepat ke wajah Zeal, dan langsung membuatnya terdorong mundur. Tapi untung saja, gadis mengerikan itu menahan Zeal."Ugh! S-sakit banget!" pekik Zeal sambil meraba wajahnya yang memerah. Darah mengucur keluar dari hidungnya yang dibuat patah. "A-apa yang kau lakukan!?" Hardik Zeal pada seorang pemuda tinggi jangkung, berambut pirang kuning gondrong dan bersetelan jas serba hitam layaknya pelayan, yang berdiri di samping kakek tua itu."Tentu saja, aku hanya melindungi Tuanku." Jelas pemuda itu sambil menyunggingkan senyuman kecil. Tapi tiba-tiba, entah kenapa senyum di bibir pemuda itu lenyap, dan matanya yang memancarkan hawa membunuh, menatap tajam pada Zeal, hingga membuatnya bergidik ngeri. "Kau harusnya bersyukur, karena bisa melihat wujud asli Tuanku." Katanya dengan nada sedingin es.Zeal melepaskan diri dari si gadis seraya menyeka keringat dinginnya. "S-siapa sebenarnya kalian!? A-apa mau kalian!?" tanya Zeal kesal. "Dan apa yang telah kalian lakukan pada semua polisi-polisi tadi!?""Aku memerintahkan mereka semua untuk kembali ke markas." jawab kakek itu. Dari tampangnya, dia terlihat seperti orang yang baik hati. Suaranya juga lembut, dan wajahnya pun terlihat tulus. "Karena aku yakin, tak ada satupun dari mereka yang dapat menyentuhmu.""Eh?" Zeal lumayan terkejut mendengar kakek itu. Padahal, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang polisi berpangkat tinggi. Apalagi dia dapat memerintahkan seluruh armada untuk kembali ke markas begitu saja, sementara target yang mereka cari-cari selama ini padahal sudah ada di depan mata. Entah sebesar apa pengaruh yang dia miliki pada pihak kepolisian. Atau mungkin, di negeri ini."Sebelumnya, perkenalkan, nama saya adalah Relanar Allefren. Kau boleh memanggilku Relan. Dan, saya adalah seorang pedagang." Kakek Relan melanjutkan. "Gadis dibelakangmu namanya Sella, dia adalah salah satu dari sekian banyak Pengawalku. Dan begitu juga dengan Nak Tom yang ada di samping saya ini." Si kakek merangkul pemuda itu—Tom—dengan akrabnya."Hah? Apa-apaan ini!? Untuk apa seorang pedagang membutuhkan pengawal!? Dan lagi pula, pengawal macam apa kedua orang ini!? Mereka bahkan bukan manusia!" pekik Zeal yang makin jengkel.Si kakek tertawa pelan sebelum angkat bicara. "Ya, mereka manusia kok, tapi... mereka memiliki kekuatan tambahan yang aku berikan."Zeal berusaha mencerna tiap kalimat yang keluar dari bibir kakek itu. "Kekuatan? apa sebenarnya maksud kakek?""Dengan kekuatan itu, kau setidaknya bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang sedikit lebih baik. Kekuatan yang mampu mengubah kenyataan.""Apa... maksudnya...?" Kebingungan Zeal sudah sampai di puncaknya."Begini saja. Datanglah ke alamat ini." Kakek itu menyodorkan secarik kertas pada Zeal. Dia bahkan berjalan ke arah Zeal tanpa ragu. "Aku ingin kamu menjadi Pengawalku, Nak Zeal. Kemampuanmu pasti akan sangat berguna untuk membantu pekerjaanku yang menyusahkan ini.""Hah!? Menjadi pengawal—""Gaji per-harinya sepuluh kali sampai seratus kali lipat dibanding bayaran untuk membunuh satu orang." Kenyataan itu sukses membuat Zeal terdiam seribu bahasa. "Dan tentang masalah catatan kriminalmu yang hebat ini, kau bisa menyerahkannya padaku."Tiba-tiba saja, dering ponsel Tom berbunyi, sehingga membuat Zeal tersentak kaget."Yang lainnya sedang dalam perjalanan pulang, Tuan." Ujar Tom setelah membaca pesan masuk itu."Oh, baiklah." Kakek itu kemudian berbalik dan berjalan pergi, diikuti Tom juga Sella di belakangnya. Tetapi, mereka sempat berhenti sebelum benar-benar lenyap termakan kegelapan hutan. "Aku yakin, kau membutuhkan uang, nak Zeal. Agar ketiga adikmu bisa bertahan hidup." Jelasnya, hingga akhirnya, ketiga orang itu benar-benar lenyap tak terlihat ditelan kegelapan."Hah?" mata Zeal membuka amat lebar mendengar ucapan kakek barusan. Zeal sangat terkejut karena kakek itu tahu tentang keberadaan adik-adik Zeal. Zeal menggosok bibirnya dan meludahkan darah yang sedari tadi menggumpal dalam mulutnya karena tendangan telak Tom.Zeal memandang kertas itu lamat-lamat.Sejujurnya, dia sangat tertarik dengan kekuatan yang dimaksud oleh Kakek Relan. Kekuatan yang mampu mengubah dunia. Zeal mulai berpikir, jika saja dia memiliki kekuatan semacam itu, mungkin dia tidak perlu lagi membunuh orang demi mendapatkan uang.Namun, kedua orang itu—Sella dan juga Tom, adalah bukti nyata bahwa perkataan Kakek tadi itu adalah benar. Kekuatan mereka yang luar biasa, yang tak bisa dibandingkan dengan kekuatan manusia normal pada umumnya, adalah bukti yang terlalu nyata untuk dilewatkan."Baiklah kalau begitu... Aku akan melakukannya." Kata Zeal penuh tekad. "Demi ketiga adikku."Akhirnya, kehidupan baru Zeal pun dimulai. Akan tetapi, dia sama sekali tidak sadar, bahwa takdir yang menunggunya di depan mata, adalah sesuatu yang lebih mengerikan dibandingkan maut itu sendiri.
Asal Mula Kota Singapura
Dahulu ada seorang raja bernama Nila Utama. Raja Nila Utama memiliki kegemaran berburu binatang. Ia juga sangat menyukai daerah dengan pemandangan alam indah. Raja Nila Utama mendengar keindahan alam di pulau Tanjung Bentam. Raja kemudian memutuskan untuk berburu di pulau Tanjung Bentam.Panglima kerajaan bercerita kepada raja, bahwa ada seekor rusa sangat besar di pulau Tanjung Bentam. “Sampai saat ini belum ada yang berhasil menangkap rusa besar itu, Raja.” kata panglima kerajaan.“Baiklah, besok kita berangkat berburu rusa di pulau Tanjung Bentam. Siapkan perbekalan dan para pengawal.” kata Raja.Keesokan harinya, Raja Nila Utama pergi ke pulau Tanjung Bentam menaiki kapal besar. Setibanya di pulau, Raja segera pergi menuju hutan untuk berburu. Saat di hutan, rombongan raja melihat seekor rusa sangat besar berlari. Raja Nila Utama beserta rombongan segera mengejar rusa tersebut. Namun sayang, rusa belari sangat cepat, kemudian menghilang ke dalam hutan.Raja kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas bukit. Dari atas bukit tersebut, Raja Nila Utama melihat ada sebuah pulau sangat indah di seberang pulau Tanjung Bentam. Raja kemudian memutuskan untuk berlayar ke pulau tersebut.Setibanya di pulau indah, Raja berjalan-jalan mengitari pulau. Hingga mata Raja tertuju pada seekor hewan gagah. Raja Nila Utama belum pernah dilihatnya.“Binatang apakah itu?” tanya raja pada para pengawalnya.“Itu adalah singa, Yang Mulia. Ia memang terlihat cantik, namun ia adalah binatang buas. Raja harus berhati-hati jangan sampai mendekatinya.” jawab Panglima kerajaan.Raja Nila Utama merasa senang dengan keindahan pulau tersebut. Ia memutuskan untuk tinggal di pulau tersebut. “Aku ingin tinggal di pulau indah ini. Kalian bangunlah sebuah kota di pulau ini untuk kita tinggali. Karena ada binatang singa, Aku akan menamakan kota ini dengan nama Singa Pura.” kata raja , Pura berarti kota. Jadi Singapura memiliki arti kota singa.
Asal Usul Burung Cendrawasih
Di daerah Fak-fak, tepatnya di daerah pegunungan Bumberi, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing betina itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama telah mereka tempuh, namun mereka belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah.Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh diperutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu mulai memeriksanya dan merasa yakin bahwa sahabatnya (anjing betina) itu bunting. Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si Perempuan tua segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu ia pun mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya.Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara anak mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki tersebut diberinya nama KweiyaSetelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, ia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam aneka bahan makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu), karenanya Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan adanya kepulan asap itu.Konon ada seorang Pria Tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Ia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.Setibanya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan yang sedang membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam : “weing weinggiha pohi” (artinya, “selamat siang”), sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohon pun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristirahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat lihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar.Karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.Dalam perjalanan menuju rumah, Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Di dalam rumah, Kweiya pura-pura merasa haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk dimakannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Sera merta ibunya menjerit ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Ia berharap agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima usul anak tersebut, dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.Setelah beberapa waktu, lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, hubungan persaudaraan di antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat untuk mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya hingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri disalah satu sudut rumah sambil memintal tali dari kulit pohon “Pogak Ngggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang, mereka bertanya dimana Kweiya berada, tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar certa itu. Si ibu tua merasa iba terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi : “Eek..ek,ek,ek,ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncat di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu- sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalannya itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengkar di atas pohon sambil berkicau dengan suara : wong,wong,wong,wong,ko,ko,ko,wo-wik!!Sejak saat itulah burung cendrawasih muncul di permukaan bumi. Terdapat perbedaan antara burung cendrawasih jantan dan betina, burung cendrawasih yang buluhnya panjang disebut “siangga” sedangkan burung cendrawasih betina disebut “hanggam tombor” yang berarti perempuan atau betina. Keduanya berasal dari bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu merasa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan oleh ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik dibandingkan dengan cendrawasih.Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna bulu, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir bulu yang indah itu justru mendatangkan malapetaka bagi mereka. Ia berpikir suatu ketika orang akan memburu mereka, termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa karena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah bulu. Kini ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu menceburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.
Alladin
Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak..." tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.
Putri Pandan berduri
Alkisah pada jaman dulu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, hiduplah orang orang Suku Laut yang dipimpin oleh Batin Lagoi. Pemimpin Suku Laut ini merupakan seorang yang santun dan memimpin dengan adil. Tutur katanya yang lemah lembut terhadap siapa saja membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintai pemimpin mereka itu.Guna mengetahui keadaan rakyatnya, Batin Lagoi senantiasa berkeliling. Pada suatu hari, Batin Lagoi berjalan menyusuri pantai yang disekitarnya penuh ditumbuhi semak pandan. Sayup sayup telinga Batin Lagoi menangkap suara tangisan bayi.“Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini ?” pikirnya heran sambil memandang sekeliling. Karena ia tak melihat seorangpun, Batin Lagoi meneruskan langkahnya.Baru beberapa langkah, Batin Lagoi kembali mendengar suara tangisan bayi yang kini semakin jelas. Batin Lagoi kembali memandang sekeliling, namun ia tak jua melihat seorangpun disana. Karena penasaran, Batin Lagoi mengikuti asal suara tangisan yang membawanya ke semak semak pandan. Batin Lagoi menginjak semak semak itu dengan hati hati. Suara tangisan bayi terdengar semakin keras. Batin Lagoi tercengang melihat seorang bayi perempuan yang diletakkan di atas dedaunan yang kini berada di depannya.Rasa heran kembali menyergap Batin Lagoi. ‘Siapa gerangan yang meletakkan bayinya disini ?’, gumamnya pelan. Batin Lagoi terdiam sejenak. Setelah memastikan tak ada orang di sekitar situ, Batin Lagoi memutuskan untuk membawa pulang bayi perempuan yang cantik itu. Sang bayipun berhenti menangis ketika Batin Lagoi menggendongnya.Batin Lagoi merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang bak anaknya sendiri. Terkadang ia merasa bayi itu memang diberikan Tuhan untuknya. Bayi perempuan yang diberinya nama Putri Pandan Berduri itu sungguh membawa kebahagiaan bagi Batin Lagoi yang selama ini hidup sendiri.Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Putri Pandan Berduri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Bukan hanya parasnya yang menawan, Putri Pandan Berduri juga memiliki sikap yang sangat anggun dan santun layaknya seorang putri. Tutur katanya yang lembut membuat masyarakat Suku Laut mencintainya.Banyak pemuda yang terpikat akan kecantikan Putri Pandan Berduri. Meski demikian tak seorangpun berani meminangnya. Batin Lagoi memang berharap agar putrinya itu berjodoh dengan anak seorang raja atau pemimpin suatu daerah.Tersebutlah seorang pemimpin di Pulau Galang yang memiliki dua orang putera bernama Julela dan Jenang Perkasa. Sedari kecil kakak beradik itu hidup rukun. Kerukunan itu sirna ketika sang ayah mengatakan bahwa sebagai anak tertua, Julela akan menggantikan dirinya sebagai pemimpin di Pulau Galang kelak. Sejak itu, Julela berubah perangai menjadi angkuh. Ia bahkan mengancam Jenang Perkasa agar selalu mengikuti setiap perkataannya sebagai calon pemimpin.Jenang Perkasa sungguh kecewa akan sikap kakaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Pulau Galang. Berhari hari ia berlayar tanpa mengetahui arah tujuan hingga tiba di Pulau Bintan. Jenang Perkasa tak pernah mengaku sebagai anak pemimpin Pulau Galang. Sehari hari ia bekerja sebagai pedagang seperti orang kebanyakan.Sebagai seorang pendatang, Jenang Perkasa cepat menyesuaikan diri. Sikapnya yang sopan dan gaya bahasanya yang halus membuat kagum setiap orang. Mereka tak habis pikir bagaimana seorang pemuda biasa memiliki sifat seperti itu. Akibatnya Jenang Perkasa menjadi bahan pembicaraan di seluruh pulau.Cerita tentang Jenang Perkasa sampai juga di telinga Batin Lagoi. Ia sangat penasaran untuk mengenal pemuda itu secara langsung. Agar tak mencolok, Batin Lagoi menyelenggarakan acara makan malam dengan mengundang seluruh tokoh terkemuka di Pulau Bintan. Ia juga mengundang Jenang Perkasa dalam acara itu.Jenang Perkasa yang sebenarnya heran mengapa dirinya diundang Batin Lagoi, datang memenuhi undangan. Sejak kedatangannya, Batin Lagoi senantiasa memperhatikan gerak gerik Jenang Perkasa. Caranya bersikap, berbicara, bahkan sampai caranya bersantap diamati Batin Lagoi diam diam. Tak dapat dimungkiri, Batin Lagoi sangat terkesan terhadap Jenang Perkasa. Terbersit dihatinya untuk menjodohkan Jenang Perkasa dengan Putri Pandan Berduri. Batin Lagoi sepertinya lupa akan keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan seorang pangeran atau calon pemimpin.Tak mau membuang kesempatan, Batin Lagoi segera menghampiri Jenang Perkasa.‘Wahai anak muda, sudah lama aku mendengar kehalusan budi pekertimu..’, katanya membuka percakapan. Jenang Perkasa hanya tersenyum sopan mendengar kata kata pemimpin Pulau Bintan itu.“Malam ini aku telah membuktikkannya sendiri’, lanjut Batin Lagoi sambil menatap Jenang Perkasa yang menunduk malu mendengar pujian Batin Lagoi.“Aku pikir, alangkah senangnya hatiku jika kau bersedia kunikahkan dengan putriku..’.Jenang Perkasa sungguh terkejut mendengar tawaran Batin Lagoi. Ia mengusap usap lengannya untuk memastikan dirinya tak sedang bermimpi. Ia sama sekali tak menyangka ayah seorang perempuan cantik bernama Putri Pandan Berduri meminta kesediaan dirinya untuk dijadikan menantu. Jenang Perkasa tentu saja tak mau membuang kesempatan emas itu. Ia segera mengangguk setuju sambil tersenyum memandang Batin Lagoi.Beberapa hari kemudian Batin Lagoi menikahkan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa. Pesta besar digelar untuk merayakan pernikahan putri semata wayangnya itu. Seluruh warga Pulau Bintan diundang untuk hadir. Para undangan merasa senang melihat Putri Pandan Berduri bersanding dengan Jenang Perkasa yang terlihat sangat serasi.Putri Pandan Berduri hidup bahagia dengan Jenang Perkasa. Apalagi tak lama kemudian, Batin Lagoi yang merasa sudah tua mengangkat menantunya itu untuk menggantikan dirinya menjadi pemimpin di Pulau Bintan. Jenang Perkasa yang memang anak seorang pemimpin itu rupanya mewarisi bakat kepemimpinan ayahnya. Ia mampu menjadi pemimpin yang disegani sekaligus dicintai rakyatnya. Ia juga menolak untuk kembali ketika warga Pulau Galang yang mendengar cerita tentang dirinya memintanya untuk menggantikan kakaknya.Pernikahan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa dikaruniai tiga orang anak yang diberi nama dengan adat kesukuan. Batin Mantang menjadi kepala suku di utara Pulau Bintan, Batin Mapoi menjadi kepala suku di barat Pulau Bintan, dan Kelong menjadi kepala suku di timur Pulau Bintan. Adapun adat suku asal mereka yaitu Suku Laut tetap menjadi pedoman bagi mereka. Hingga kini Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa yang telah lama tiada masih tetap dikenang oleh Suku Laut di perairan Pulau Bintan.
Mentiko Betuah
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera di negeri Semeulue yang dipimpin oleh seorang Raja yang kaya raya dan baik hati. Namun Raja dan permaisurinya itu selalu merasa hampa dalam hidupnya, karena mereka belum mempunyai anak.Suatu hari, Raja itu pun pergi bersama permaisurinya ke hulu sungai yang tempatnya sangat jauh untuk berlimau atau mandi keramas dan bernazar agar dikaruniai seorang anak yang akan menjadi penerus kerajaannya kelak.Untuk menuju ke hulu sungai itu, mereka harus melewati hutan belantara, menyeberangi sungai-sungai, mendaki gunung, menghadapi binatang buas dan berbagai rintangan lainnya. Sesampainya di sana mereka segera berlimau dan bernazar lalu berdoa tanpa lelah, agar mereka dikaruniai seorang anak.Waktu terus berlalu, akhirnya doa-doa mereka terkabul, sang permaisuri mengandung dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki tampan dan diberi nama Rohib. Raja mengadakan pesta yang amat meriah untuk merayakan kelahiran anaknya itu.Rohib tumbuh menjadi anak yang sangat manja, karena Ayah dan Bundanya terlalu memanjakannya sejak kecil hingga dewasa. Rohib kemudian dikirim ke kota untuk belajar di sebuah perguruan, Raja dan permaisuri berharap anaknya mampu menyelesaikan pelajarannya dengan cepat."Anakku, belajarlah dengan tekun, jadilah penerusku yang bijaksana," pesan Raja sebelum Rohib berangkat ke kota.Namun sudah beberapa tahun Rohib belajar di kota, ia belum mampu juga untuk menyelesaikan sekolahnya. Sang Raja sangat marah dan kecewa melihatnya."Rohib! Kau ini anak seorang raja, kau terlalu hidup enak dan manja di istana sehingga sekolahmu tak juga selesai!" seru Raja merasa kesal. "Anak macam apa kau ini?! Tak pernah mau mendengar nasihat orang tua, kau harus ku hukum!"Rohib menunduk, ia tak berani menatap Ayahnya yang sedang marah, sedangkan sang permaisuri menatap Rohib penuh iba."Kau! Aku usir dari istana ini! pergi!!" teriak Raja marah.Sang permaisuri terkejut mendengar ucapan Raja, ia segera memohon, "Kanda, tolong jangan usir anak kita, dia anak kita satu-satunya. Dinda mohon...." ucap permaisuri sambil menangis."Tapi Dinda, Kanda sudah sangat benci melihat wajah anak ini!" Raja tetap bersikeras. Namun sang permaisuri tak kehabisan akal, ia terus mencari cara agar bisa menolong anaknya yang terancam terusir dari istana."Baiklah, Kanda boleh mengusir anak kita asal dengan syarat. Kakanda harus bersedia memberinya uang sebagai bekal dan modal untuknya berdagang," usul permaisuri.Sang Raja terlihat berpikir, lalu ia berkata, "Baiklah aku bersedia memberikannya uang asalkan Rohib tidak boleh menghabiskan uang itu kecuali untuk berdagang! Apakah kau sanggup Rohib?" tanya sang Raja sambil menatap tajam anaknya.Rohib mengangguk cepat, "Aku sanggup, aku berjanji tidak akan melanggar perintah Ayahanda lagi," jawab Rohib yakin.Setelah itu berangkatlah Rohib ke kampung-kampung untuk memulai dagangnya, namun di perjalanan ia melihat sekelompok anak kampung sedang menyiksa dan menembaki burung dengan ketapel."Hei kalian! Mengapa kalian menganiaya burung itu? Burung-burung itu juga makhluk Tuhan!" Rohib berkata lantang.Anak-anak kampung itu menatap tajam, "Siapa kau?! Berani sekali rnelarang kami!" bantah mereka."Berhentilah menembaki burung itu, maka aku akan memberi kalian uang, “ kata Rohib yang langsung disetujui oleh anak-anak kampung itu, lalu Rohib memberikan uang kepada mereka dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kampung yang lain.Rohib kembali menemukan orang-orang kampung sedang memukuli seekor ular, ia kemudian memberikan uang kepada orang-orang kampung itu dengan syarat mereka harus berhenti menganiaya ular.Selama dalam perjalanannya, ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang, sehingga tanpa disadarinya uang yang seharusnya dijadikan modal berdagang itu habis. Rohib mulai gelisah, ia sangat takut Ayahnya akan sangat marah dan menghukumnya.Rohib menangis karena takut hukuman Ayahnya, namun tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya, "Jangan takut, aku adalah Raja Ular di hutan ini. Mengapa kamu terlihat bersedih?" tanya ular itu ramah.Lalu Rohib menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya."Kamu adalah anak yang baik, karena kamu telah melindungi hewan- hewan di hutan ini dari orang-orang kampung yang menganiayanya, aku akan memberimu hadiah," ucap ular itu setelah mendengarkan cerita Rohib. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya."Benda apa ini?" tanya Rohib sambil mengamati benda di depannya."lni adalah benda ajaib, namanya Mentiko Betuah. Apapun yang kamu minta, pasti akan dikabulkan," jelas ular itu sambil berlalu pergi.Berbekal Mentiko Betuah itu, Rohib kembali ke istana menghadap Ayahnya. Namun, sebelum sampai di istana, ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang yang banyak untuk menggantikan modalnya. Ketika ia sampai ke istana, Ayahnya sangat senang dan menyambutnya yang telah membawa uang banyak dari hasil dagangannya. Rohib terbebas dari hukuman, itu semua berkat Mentiko Betuah.Kemudian ia berpikir bagaimana cara untuk menyimpan Mentiko Betuahnya itu agar tidak hilang. Rohib ingin menempa atau mengubahnya menjadi sebuah cincin. Lalu dibawanya Mentiko Betuah itu kepada seorang tukang emas. Namun ternyata tukang emas itu menipunya dengan membawa lari benda itu.Rohib segera meminta bantuan para hewan, "Bantulah aku menemukan tukang emas yang telah mencuri Mentiko Betuah yang sudah menjadi cincin itu, duhai sahabat-sahabatku," pintanya.Kemudian tikus, kucing dan anjing pun bersedia menolongnya. Anjing dengan penciumannya yang tajam berhasil menemukan jejak si tukang emas yang telah melarikan diri ke seberang sungai. Giliran kucing dan tikus mengambil cincin itu yang disimpan di dalam mulut tukang emas. Maka di tengah malam, tikus memasukkan ekornya ke dalam lubang hidung si Tukang Emas yang sedang tertidur. Lalu si Tukang Emas itu bersin, hingga Mentiko Betuah terlempar keluar dari mulutnya.Tikus segera mengambil benda itu. Namun, ketika Mentiko Betuah itu akan diserahkan kembali kepada Rohib, tikus menipu kucing dan anjing, ia mengatakan bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai, ia lalu meminta kucing dan anjing untuk mencarinya ke sungai, padahal sebenarnya benda itu ada di dalam mulutnya. Saat kedua temannya mencari benda itu ke dasar sungai, Tikus segera menghadap kepada Rohib."Terima kasih sahabatku tikus, kau telah berhasil menemukan Mentiko Betuah ini, kau memang pahlawanku!" kata Rohib setelah menerima cincin dari tikus.Sementara itu, kucing dan anjing kemudian mengetahui bahwa Mentiko Betuah milik Rohib telah ditemukan dan dibawa oleh tikus, maka yakinlah kucing dan anjing bahwa tikus telah berbuat curang. Akhirnya sampai saat ini menurut masyarakat setempat berawal dari kisah inilah asal mula mengapa tikus amat dibenci oleh kuncing dan anjing.
Halibu , Si Pemburu yang baik
Pada jaman dahulu, di dataran padang rumput Mongolia, hiduplah seorang pemburu yang baik hati yang bernama Hailibu. Tiap selesai berburu, dia akan selalu membagikan daging-daging tersebut untuk penduduk desa yang lain dan dia hanya menyisakan sedikit bagian untuk dirinya sendiri. Perhatiannya un-tuk orang lain membuat dia begitu dihargai di desa itu.Suatu hari, saat sedang berburu di dalam hutan, Hailibu mendengar suara tangisan dari langit. Sambil menatap ke atas, dia melihat seekor makhluk kecil yang ditangkap oleh seekor burung Hering yang amat besar. Dengan cepat, dia mengarahkan busur panahnya ke arah predator tersebut. Karena terkena bidikan panah tersebut, si burung raksasa melepaskan mangsanya.Hailibu menatap ke arah makhluk aneh tersebut yang memiliki tubuh menyerupai seekor ular. Dan berkata,"Makhluk yang menyedihkan (kasihan), cepat pulanglah." Makhluk itu menjawab, "Wahai pemburu yang baik, saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawaku. Sebenarnya, saya adalah putri raja Naga, dan saya yakin ayahku akan memberikan anda hadiah sebagai ucapan terima kasih. Beliau mempunyai banyak harta benda yang dapat anda miliki. Tetapi jika tiada satu pun harta benda yang berkenan bagimu, anda dapat meminta batu ajaib yang beliau simpan di dalam mulutnya. Siapapun yang memiliki batu ajaib itu, dia akan memahami semua bahasa hewan."Hailibu si pemburu tidak tertarik dengan segala harta benda, tetapi kemampuan untuk dapat memahami berbagai macam bahasa hewan membuatnya sangat tertarik. Kemudian, dia bertanya kepada si Putri Naga, "Apakah itu benar-benar batu ajaib?" Si putri menjawab, "Benar. Tetapi apapun yang anda dengar dari hewan-hewan tersebut, anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri. Jika anda memberitahukan kepada orang lain, maka anda akan berubah menjadi batu."Lalu, si Putri Naga itu membawa Hailibu ke pinggir laut. Saat mereka mendekati laut, tiba-tiba air terbelah dengan cepat, sehingga Hailibu dapat berjalan seperti saat berada di jalan yang amat lebar. Tak lama kemudian, tampaklah sebuah istana yang berkilau, di mana tempat tinggal si raja Naga.Raja Naga amat bahagia saat mendengar Hailibu telah menyelamatkan putrinya, dan dia kemudian menawarkan segala harta benda yang Hailibu inginkan dari istananya. Setelah terdiam beberapa saat, Hailibu menjawab, "Jika Baginda ingin memberi saya sesuatu sebagai hadiah, bolehkah saya meminta batu ajaib yang ada di mulut Baginda raja?"Raja Naga menurunkan kepalanya, berpikir sejenak. Kemudian, dia mengeluarkan batu tersebut dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.Saat akan berpisah, si Putri Naga mengulangi kembali pesannya untuk Hailibu, "Pemburu yang baik, hendaklah anda ingat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apapun yang dikatakan oleh para hewan, jika tidak, anda akan langsung berubah menjadi batu."Setelah memiliki batu ajaib di mulutnya, Hailibu semakin menikmati perburuannya di hutan. Dia mengerti semua bahasa hewan, dan dia juga dapat mengetahui hewan apa saja yang dapat ia buru, beserta lokasi di mana hewan tersebut berada. Dengan kemampuan ini, dia menghasilkan lebih banyak lagi daging hewan buruannya dan ia dapat membagikannya kepada para penduduk desa.Beberapa tahun kemudian....Pada suatu hari, saat sedang berada di gunung, Hailibu mendengar sekumpulan burung sedang bercakap-cakap tentang sesuatu hal yang amat penting. Dia mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Sang pemimpin berkata, "Kita harus cepat-cepat pindah ke daerah lain. Malam ini, gunung akan meletus dan banjir akan menggenangi seluruh daerah ini. Banyak manusia yang akan mati"Hailibu amat kaget mendengar hal ini. Dengan tergesesa-gesa, dia lari pulang ke rumahnya, dan menyebarkan berita ini kepada penduduk desa. "Kita harus pergi dari daerah ini secepatnya, Kita tidak dapat tetap tinggal di sini lagi.!" Tentunya, penduduk desa bingung dan kaget,"Tidak ada yang salah selama kita tinggal di sini,lalu kenapa kita harus pindah?". Hailibu tetap berkeras untuk menyampaikan berita ini, tapi tidak ada seorangpun yang percaya. Dengan menangis, Hailibu menjelaskan, "Tolong dengarkan saya, saya dapat bersumpah bahwa apa yang saya katakan itu benar. Percayalah saya, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat"Seorang tetua mencoba untuk menenangkan Hailibu, "Engkau adalah pemuda yang baik dan selama ini engkau tidak pernah berdusta. Kami sudah menetap di sini dalam kurun waktu yang lama, tapi sekarang engkau meminta kami untuk pindah. Untuk pindah dari tempat ini bukanlah perkara mudah, karena itu engkau harus memberitahukan kepada kami apa alasanmu,anak muda?"Hailibu merasa putus asa dan tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan penduduk desa. Lalu, dia mencoba menenangkan diri sejenak. Dengan kesungguhan hati, dia berkata kepada penduduk desa. "Malam ini, gunung akan meletus dan sebuah banjir besar akan melanda tempat ini. Kalian dapat lihat sendiri, burungburung telah terbang meninggalkan daerah ini." Kemudian Hailibu menjelaskan perihal bagaimana dia mendapatkan batu ajaib, yang membuatnya mengerti semua bahasa hewan, tapi seharusnya dia harus menyimpannya itu sebagai rahasia, jika tidak, dia akan berubah menjadi batu.Saat Hailibu bercerita, bagian bawah tubuhnya, mulai dari telapak kaki perlahan-lahan berubah menjadi batu. Setelah dia menyelesaikan seluruh cerita, dia berubah menjadi batu seutuhnya.Para penduduk desa amat kaget dan merasa amat kehilangan. Mereka menangis, mencurahkan kesedihan mereka yang sedalam-dalamnya, mereka menyesal mengapa tidak mempercayai Hailibu dari awal. Akhir-nya, dengan membawa barang-barang penting mereka dan persediaan makanan, semua penduduk desa (termasuk para tetua dan anak-anak), mereka berjalan dan meninggalkan daerah itu. Mereka terus berjalan hingga malam hari, tiba-tiba awan tebal menyelimuti langit dan angin telah bersiap untuk menderu. Tak lama, turunlah hujan yang amat sangat deras. Dari arah desa, mereka mendengar suara gemuruh dari letusan gunung......Sudah beberapa generasi telah berlalu, namun para nenek moyang dari desa tersebut tetap dapat mengingat Hailibu, si pemburu yang baik hati. Mereka juga tetap berusaha untuk mencari batu Hailibu.
Monyet dan Buaya
Dahulu kala hiduplah seekor monyet di sebatang pohon jamblang di tepi sungai. Ia bahagia walaupun tinggal sendiri . Pohon itu mempunyai banyak buah yang manis dan memberinya tempat berteduh pada saat hari panas atau hujan.Pada suatu hari seekor buaya naik ke tepian sungai dan beristirahat di bawah pohon. Sang monyet yang ramah menyapanya, "Halo.""Halo," jawab buaya. "Apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan makanan? Tampaknya sudah tidak ada ikan lagi di sungai ini.""Aku tidak tahu dimana ada ikan Namun aku mempunyai banyak buah jamblang yang masak di pohon ini. Ini, cobalah!" kata monyet sambil memetik beberapa buah jamblang dan melemparkannya kepada buaya.Buaya memakan semua buah yang diberikan monyet.Iasuka rasanya yang manis. Ia minta monyet memetik buah jamblang lagi untuknya.Sejak saat itu buaya datang setiap hari. Mereka pun menjadi sahabat. Mereka mengobrol sambil makan buah jamblang.Pada suatu hari buaya bercerita tentang isteri dan keluarganya."Mengapa baru sekarang kau bilang bahwa kau punya isteri? Bawalah jamblang ini untuk isterimu."Isteri buaya menyukai buah jamblang. Ia belum pernah makan sesuatu yang begitu manis. Ia berpikir betapa manisnya daging monyet yang sepanjang hidupnya makan buah jamblang setiap hari. Air liurnya menetes."Suamiku," kata isteri buaya, "ajaklah monyet kemari untuk makan malam. Lalu kita makan dia. Pasti dagungnya lezat dan manis."Buaya terperanjat. Bagaimana ia dapat memakan sahabatnya? Ia menjelaskan kepada isterinya, "Monyet satu-satunya temanku, " katanya. Sang buaya tetap menolak membawa monyet kepada isterinya. Sementara isterinya pun tetap membujuknya.Ketika buaya tetap tidak mau menuruti keinginannya, isteri buaya pura-pura sakit keras. "Suamiku," katanya, "Hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkanku. Kalau kau mencintaiku, kau ajak monyet temanmu kemari. Setelah makan jantungnya aku pasti segera sembuh."Buaya kebingungan, di satu sisi monyet adalah sahabatnya yang baik hati. Namun di sisi lain, bila isterinya tidak memakan jantung monyet, mungkin ia akan meninggal.Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa monyet kepada isterinya untuk dijadikan obat."Teman," kata buaya kepada monyet. "Isteriku sangat berterima kasih dengan buah jamblang yang kaukirimkan tiap hari. Sekarang ia ingin mengundangmu makan malam.Ikutlah denganku ke rumah kami."Monyet sangat gembira dengan undangan itu namun ia berkata bahwa ia tak mungkin ikut karena ia tak dapat berenang. "Aku akan menggendongmu di atas punggungku. Kau tak usah khawatir," kata buaya.Monyet pun melompat ke punggung buaya dan berangkatlah mereka.Ketika mereka sudah cukup jauh dari pohon jamblang, buaya berkata,"Isteriku sakit parah, hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkannya."Monyet ketakutan. Ia berpikir keras, bagaimana ia dapat menyelamatkan diri. "Buaya temanku, kasihan isterimu. Namun kau tak perlu cemas. Aku senang bisa menolong isterimu dengan jantungku. Masalahnya, aku tadi meninggalkan jantungku di atas dahan pohon jamblang. Ayo kita kembali dan mengambilnya."Buaya percaya kepada monyet. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jamblang. Monyet segera melompat turun dari punggung buaya dan segera naik ke dahan pohon."Temanku yang bodoh. Tidak tahukah kau, bahwa kita selalu membawa-bawa jantung kita? Aku tak akan mempercayaimu lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini lagi."Monyet pun membalikkan badannya, tak mau lagi melihat sang buaya.Buaya sangat menyesal. Ia kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia juga tak akan dapat makan buah jamblang yang manis itu lagi.Monyet lolos dari bahaya karena berpikir dengan cepat dan cerdik. Ia menyadari bahwa monyet dan buaya tidak mungkin berteman. Buaya lebih suka makan monyet daripada berteman dengannya.
Putri Tikus
Raja Jingga sangat gembira karena Ratu Kuning melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu adalah putri ketiga mereka. Ratu memakaikan baju berwarna merah yang dirajutnya sendiri. Ratu lalu menamakannya Putri Merah.Raja Jingga mengadakan pesta besar untuk merayakan kelahiran puteri ketiganya itu. Ratu memakaikan baju warna merah yang baru untuk Putri Merah. Tamu-tamu undangan pesta semua datang membawa hadiah. Semua bergembira. Kecuali, Penyihir Hitam dan adik perempuannya yang tidak diundang oleh Raja.Adik perempuan Penyihir Hitam dijuluki si Pucat. Wajahnya tirus dan pucat. Hampir seumur hidupnya ia tidak pernah tertawa.Penyihir Hitam marah karena ia dan adiknya merasa dilupakan. Ia lalu menyihir Puteri Merah menjadi seekor tikus.“Puteri Merah akan menjadi manusia lagi jika adikku, Si Pucat, bisa tertawa,” kata Penyijir Hitam.Raja Jingga dan Ratu Kuning sangat sedih dan panik. Mereka mengumpulkan semua badut dan pelawak di negeri itu. Mereka disuruh melucu di depan si Pucat. Namun sayangnya, adik Penyihir Hitam itu tetap tidak bisa tertawa. Bahkan tersenyum pun tidak.Raja Jingga tidak punya cara lain untuk melindungi putri bungsunya. Ia lalu memerintahkan para prajurid untuk menangkap semua kucing di kerajaan itu. Lalu melepaskan kucing-kucing itu ke wilayah lain di luar kerajaan. Raja Jingga khawatir jika Putri Merah diserang oleh kucing.Tahun demi tahun berlalu. Putri Merah tumbuh dewasa tetapi dalam wujud tikus.Pada suatu hari, Raja Jingga mengadakan pesta ulang tahun Ratu Kuning. Kedua kakak Putri Merah memakai gaun mereka yang terindah ke pesta itu. Pangeran Aldo dari kerajaan tetangga, juga datang ke pesta itu.Putri Merah biasanya tidak mau datang ke pesta. Namun hari itu, ia ingin melihat Pangeran Aldo yang terkenal tampan dan gagah. Maka ia pun memakai gaun merahnya dan naik ke punggung seekor ayam jantan sahabatnya. Putri Merah mengikat sehelai pita merah di leher ayam itu sebagai tali kekang. Ia lalu pergi ke pesta ulang tahun ibunya.Kali ini, Raja Jingga tidak lupa mengundang Penyihir Hitam dan adiknya, si Pucat. Ketika akan mengambil makanan pesta, si Pucat melihat Putri Merah masuk ke ruangan pesta. Si Pucat terdiam sejenak. Tiba-tiba ia merasa geli. Betapa lucunya melihat seekor tikus bergaun putri menunggangi ayam jantan, dengan tali kekang dari pita.“Ha ha ha…”Si Pucat tertawa terbahak-bahak. Wajahnya yang pucat berubah kemerahan cerah. Ia tertawa sampai tak bisa berhenti. Ia terus tertawa sampai terguling-guling di lantai.Di saat yang sama, wujud Putri Merah pun kembali seperti semula. Ia ternyata telah tumbuh menjadi putri yang sangat cantik jelita. Betapa bahagianya Raja Jingga, Ratu Kuning, dan kedua kakak Putri Merah. Putri Merah pun sangat bahagia, karena ia bisa berkenalan dengan Pangeran Aldo.