Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
PENYIHIR, SANG PUTRI, DAN SI TANGAN MERAH
Negeri Whitehaven gempar oleh kabar hilangnya putri kerajaan.Sudah bertahun-tahun lamanya sejak pengumuman ditempel di alun-alun seluruh kota, yang mengungkapkan bahwa Putri Whitehaven telah diculik penyihir di puncak Gunung Merah di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Raja menawarkan imbalan sepuluh ribu keping emas kepada siapa saja yang mampu membunuh sang Penyihir. Beberapa rakyat mencoba, mulai dari penjagal bertubuh besar hingga gelandangan kurus yang kelaparan. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil mendaki lebih dari setengah jalan menuju puncak.Desas-desus menyebar cepat bagai kobaran api. Penduduk tidak hentinya memperbincangkan ini di bar, pasar, bahkan di acara minum teh para bangsawan. Konon katanya, Gunung Merah memiliki mata yang tersembunyi di tanah sehingga setiap langkahmu diawasi dan selalu ada sulur yang siap mengikat pergelangan kakimu. Pria-pria bertubuh besar tidak mampu menghindari serangan bebatuan longsor dan yang lainnya terjebak dalam kubangan lumpur hisap. Gosip lain mengatakan seorang pemuda berhasil mencapai pondok Penyihir, tapi kemudian terlempar kembali ke depan pintu rumahnya sendiri dalam keadaan tidak waras.Jervin sudah mengumpulkan beberapa aturan penting. Pertama, jangan menatap mata sang Penyihir. Kedua, jangan mendengar bisikan sang Penyihir. Ketiga, miliki sihir untuk mengimbangi kekuatan sang Penyihir."Taruhan lima keping emas kalau kau tidak akan berhasil," cemooh salah satu pengunjung bar."Hanya lima? Aku berani bertaruh sepuluh bahwa Jervin si Penjelajahlah yang akan membawa sang Putri pulang," kata pemilik bar. Dia memandang Jervin untuk memberi dukungan. "Aku percaya padamu, Jervin. Kau legendaris di kampung halamanku."Tentu saja, Jervin bukan anak kemarin sore. Dia pernah mendaki gunung tertinggi, mengarungi samudra terluas, dan menjelajahi hutan terkejam sekalipun. Orang-orang menyebutnya Jervin si Penjelajah, Jervin Penakluk Troll , dan masih banyak lagi.Maka, pagi-pagi sekali Jervin sudah bersiap-siap. Setelah menyimpan kertas pengumuman yang disobek ke sakunya, dia mengencangkan sabuk, menarik sarung tangan tebal, dan memasang sepatu bots. Selama perjalanan itu dia bersenandung, membayangkan sepuluh ribu keping emas yang membanjiri rumah kayunya. Kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan harta sebanyak itu? Mungkin membeli rumah baru yang lebih besar dan dia masih akan memiliki sisa setengahnya lagi.Dengan cekatan dia menghindari kubangan lumpur hisap dan hujan batu. Beberapa sulur nakal berlomba untuk menjerat kakinya, tapi dengan mudah ditepis Jervin dengan tongkat perjalanannya. Di lembah, dia berpapasan dengan kakek tua yang menghalangi jalannya."Pulanglah, Anak Muda," kata Kakek itu dengan suara serak. "Aku tahu apa yang ingin kau cari. Percayalah, aku sudah banyak melihat korban jiwa yang berjatuhan. Orang-orang pulang hanya dengan sebelah kaki, kehilangan mata, atau menjadi sinting."Jervin tersenyum percaya diri, sama sekali tidak gentar. "Aku Jervin si Penjelajah, jika aku pulang dengan sebelah kaki, maka itu adalah kaki si Penyihir jahat, Pak Tua."Si Kakek mengikuti Jervin yang terus melangkah. Menyeimbangkan langkah lebar Jervin, orang tua itu harus berlari kecil-kecil hingga napasnya pendek. "Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi, Dasar Pembangkang. Di tengah jalan menuju puncak ada troll yang mengintai!"Ancaman si Kakek menggelitik Jervin. "Pak Tua, tidak ada troll yang belum pernah kutaklukkan selama ini. Tunjukkan sarangnya dan biarkan aku yang menemuinya."Si Kakek menyetujui, biarpun dia heran bagaimana caranya Jervin yang memiliki tubuh kecil mampu mengalahkan troll yang ukurannya lima kali lipat lebih besar. Bersama Jervin, mereka berjalan bersama menuju lokasi kediaman troll . Matahari sudah hampir terbenam saat mereka tiba di depan sebuah goa yang lebar. Si Kakek cepat-cepat bersembunyi di balik semak, sedangkan Jervin berdiri dengan tegap dan mengangkat tongkatnya sambil berseru lantang."Wahai, Makhluk Besar, keluarlah!"Tanah yang mereka pijaki mulai bergetar, diikuti suara gemuruh dan geraman dari dalam goa. Hentakan keras langkah troll membuat si Kakek terlompat-lompat dari persembunyiannya, tapi kedua kaki Jervin masih berdiri kokoh. Di depan Jervin, menjulang sekitar tiga meter tingginya, berdirilah sesosok troll laki-laki. Kulitnya keabuan, dan dia tidak mengenakan apa pun selain kain tebal kasar yang menutupi bawah tubuhnya. Wajah si troll tampak tidak ramah, jelas tidak senang ada yang menginterupsi waktu tidurnya."Katakan apa yang kau inginkan, Kurcaci. Jika alasanmu tidak memuaskan, kau akan kumakan," geram Troll.Jervin meletakkan tongkat ke atas tanah, kemudian melepas kedua sarung tangan. "Aku mendengar bahwa ada troll yang suka mengganggu pendaki di gunung ini dan aku, Jervin si Penjelajah, ingin bertemu dengan makhluk nakal itu."Troll terkekeh dan bau napasnya yang amis tercium sampai ke hidung Kakek. "Ada penyusup masuk ke wilayahku. Tentu saja dia harus bayar, jika ingin lewat!"Setelah mengetuk dagu beberapa saat, Jervin mengangguk-angguk. "Aku setuju dengan pendapatmu, Tuan Troll. Karena itu, aku akan menawarkan kesepakatan denganmu. Jika bayaranku memuaskan, kau akan membiarkanku naik dan menghalau musuhku yang lewat.""Boleh saja," kata Troll senang, "jika tidak kau akan jadi cemilan makan malamku."Jervin mengambil selembaran seukuran telapak tangan dari balik jubahnya, lalu menyerahkannya ke hadapan troll itu."Daun? Kau pikir aku ini kambing?!" teriak Troll marah."Ini bukan daun biasa," ujar Jervin kalem. "Jika kau melempar daun ini, targetmu akan terperangkap dan tidak bisa bergerak lagi. Bukankah ini adalah alat bagus untuk menangkap buruanmu?""Coba buktikan!" tuntut Troll.Dengan gerakan cepat, Jervin melempar daun itu ke udara. Beberapa detik kemudian, sebuah gumpalan besar jatuh di hadapan mereka. Jervin memungut bungkusan daun yang melebar tersebut, lalu mengeluarkan seekor burung di dalamnya.Troll bertepuk tangan dengan senang. "Tentu tidak cukup satu saja. Aku butuh makan yang banyak.""Daun ini bisa digunakan berkali-kali dan tidak akan rusak," jelas Jervin.Setelah menerima hadiah Jervin, Troll membiarkannya pergi. Si Kakek mengikuti Jervin dari belakang dan berbisik tidak percaya, "Aku baru kali ini melihat troll melepas buruannya begitu saja.""Pelajaran pertama, troll mudah diajak negosiasi," kata Jervin. Kedua sarung tangannya digantung di leher. Dia menoleh ke belakang, lalu melanjutkan dengan waswas, "Pelajaran kedua, troll sering kali tidak menepati janji."Si Kakek ikut menoleh, lalu berseru kaget ketika sebuah lembaran daun hijau menerjang mereka dari belakang, semakin lama semakin melebar. Jervin mengarahkan tongkatnya dengan siaga, mengibas ke arah daun itu dengan keras sehingga targetnya meleset ke batu besar di samping mereka. Dari kejauhan, suara gedebum terdengar. Troll itu sedang berlari ke arah mereka."Tidak!" decak Troll jengkel saat melihat Jervin membebaskan batu dari bungkusan daun.Troll memutar arah, sekarang berlari menjauhi Jervin. Jervin mengejar, kemudian melempar daun padanya. Sedetik kemudian makhluk besar itu tumbang dengan daun yang membungkus seluruh tubuhnya."Lepaskan aku!" teriak Troll dengan suara yang kurang jelas. Gumpalan daun raksasa itu meronta-ronta di atas tanah."Aku akan melepaskanmu setelah membawa Tuan Putri dan mendapat uangnya, Troll Licik. Setelah itu kita akan membahas ini," kata Jervin, kemudian meninggalkan Troll yang masih meraung-raung."Tunggu, Anak Muda," panggil si Kakek. "Aku ingin berterima kasih karena telah menyelamatkanku. Biarkan aku membalasnya dengan mengantarmu sampai ke tujuan."Jervin mengamati si Kakek sejenak. Walau berusia tua, tapi si Kakek memiliki tubuh bugar dan kelihatannya kedua kakinya cukup kuat untuk mendaki dan menuruni gunung. Mengikutsertakan si Kakek bukan hal yang buruk."Baiklah," kata Jervin.Langit sudah semakin gelap saat mereka melihat setitik cahaya yang berasal dari puncak. Jalanan yang ditempuh semakin curam, dan Jervin menyadari bahwa si Kakek mulai menyusahkannya karena nyaris tergelincir beberapa kali, tapi mereka sudah hampir tiba di tujuan dan mustahil rasanya menyuruh si Kakek pulang sendiri tanpa bantuan Jervin, sehingga mau tidak mau dia bersabar menuntun orang tua itu, sampai akhirnya berhasil menginjak puncak.Keadaan puncak Gunung Merah sesuai dengan namanya. Tanah dan bebatuan di bawah pijakan Jervin mengkilap merah di bawah sinar bulan. Semakin dekat dia dengan pondok, semakin ringan langkah Jervin. Si Kakek mengikutinya, menyusup lewat sela-sela pagar yang rusak, lalu mengintai pelan-pelan ke sekitar luar pondok.Sekilas, bangunan itu terlihat seperti tempat tinggal nyaman yang biasa dengan perapian hangat dan aroma coklat lezat yang menyelimuti ruangan. Jervin sudah dua kali mengelilingi pondok dan belum menemukan sang Putri yang dikurung atau jejak penyihir sekalipun. Padahal dia sudah bersiaga, menyipitkan mata setiap bunyi kresekan atau gerakan mendadak di sekitarnya. Insting berburunya membuat Jervin merasakan bunyi ayunan di atas kepalanya, dia mengangkat tongkat untuk menahan kayu tumpul yang hampir saja menghantam ubun-ubunnya.Si Kakek menyerang Jervin!"Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu Tuan Putri," kata si Kakek.Tidak berniat basa-basi, si Kakek mengayunkan kayu lagi, lebih agresif dan tanpa ampun. Setiap serangannya berhasil ditangkis Jervin.Energi orang tua itu tidak bisa diremehkan. Si Kakek belum juga menyerah, walaupun kekuatan tongkat Jervin membuatnya terjatuh beberapa kali. Dengan sisa-sisa usahanya, si Kakek menerjang Jervin hingga tongkat talinya terlempar jauh.Jervin tidak punya pilihan lain. Digenggamnya batang kayu si Kakek dengan tangan kosong, lalu sedetik kemudian kayu itu berubah menjadi pasir debu. Sambil bangkit, Jervin menepuk kedua telapak tangannya kemudian mengarahkannya ke depan sebagai pertahanan diri."Kau, si Tangan Merah!" seru si Kakek terkejut ketika melihat telapak tangan Jervin."Benar. Aku Jervin si Tangan Merah. Keturunan penyihir," balas Jervin dengan seringaian. Hampir tidak ada yang mengetahui identitas Jervin yang sebenarnya. Jervin selalu menyembunyikannya dengan baik karena jarang ada penduduk yang bersikap ramah pada penyihir.Tiba-tiba, sebuah sentakan keras menghantam sisi tubuh Jervin hingga pemuda itu terbanting ke tanah. Dia berbalik, mencari sumber serangan, tapi tidak menemukan apa pun. Ketika Jervin berputar lagi, dia menemukan sosok baru di samping si Kakek, mengenakan gaun sederhana dan sekepala lebih tinggi dari mereka."Sedang apa kau di pekaranganku?" geram sosok itu. Jervin mengenali jenisnya sebagai Penyihir Kutukan—penyihir yang hobi mengutuk. Kulitnya berwarna merah dan bersisik di beberapa tempat, terutama di area mata sehingga dia terlihat seperti memiliki wajah ular. Si Penyihir memelototi Jervin, tapi Jervin tidak akan terpengaruh sihirnya.Karena Jervin adalah keturunan makhluk yang sama dengannya."Dia si Tangan Merah, Putri Elena," jelas si Kakek pada si Penyihir."Kau orangnya." Si Penyihir tertegun. Dia melangkah mendekat, sehingga Jervin mengangkat kedua tangannya lebih tinggi lagi untuk melindungi wajahnya."Ya, aku adalah orang yang akan membunuhmu dan menyelamatkan Tuan Putri," kata Jervin mantap."Akulah si Tuan Putri! Elena Whitehaven dan ini Gallus, pengawal pribadiku." Dia menunjuk si Kakek.Tanpa mengendurkan pertahanannya, Jervin menelengkan kepala. Dia menatap wajah gadis—jika bisa disebut gadis—di depannya, mengingat-ingat kembali sosok Tuan Putri yang selama ini digambarkan seratus delapan puluh derajat berbeda dengannya."Kau berbohong. Aku tahu kau adalah Penyihir Kutukan," kata Jervin."Aku adalah putri yang dikutuk," jawab si Penyihir, yang katanya adalah Tuan Putri. Dia menunjuk wajahnya sendiri. "Penyihir yang mengutukku berbentuk persis seperti ini. Dia mengatakan kalau si Tangan Merah akan menyelamatkanku."Jervin hampir tidak percaya. Ternyata selama ini penyihir yang didesas-desuskan adalah Tuan Putri itu sendiri!Putri Elena mengangkat kedua tangannya sehingga telapak tangan mereka berhadapan. "Kemarilah, selamatkan diriku."Jervin mundur selangkah. "Dari mana aku bisa tahu bahwa kau adalah Tuan Putri asli atau penyihir yang berpura-pura? Kenapa tidak ada yang tahu bahwa Tuan Putri dikutuk?""Raja Whitehaven punya rahasia gelap yang disimpan baik-baik di dalam dinding istana," kata Gallus. "Demi memperoleh seorang anak, sang Raja meminta bantuan penyihir, dengan perjanjian bahwa ketika Putri Elena menginjak umur tujuh belas, Raja harus mengadakan pesta dan mengundang penyihir.""Sang Raja mengadakan pesta besar, tapi dia mengingkari janjinya karena tidak ingin ada penyihir buruk rupa yang menginjak istananya. Namun, dia tidak sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan Penyihir Kutukan. Si Penyihir pun murka dan mengutuk Putri Elena sehingga memiliki rupa sepertinya. ""Raja pun tidak memiliki pilihan lain. Karena takut putrinya dikucilkan rakyat, dia membangun pondok di puncak gunung terpencil dan membiarkan Putri Elena tinggal sendiri selama bertahun-tahun lamanya. Penyihir yang mengutuk Putri Elena pun merasa kasihan, lalu dia memberi Putri Elena kekuatan penyihir juga dan berpesan kalau Putri Elena akan terbebas dari kutukannya jika mendapat uluran tangan dari si Tangan Merah.""Aku mengajukan diri menjadi pengawal pribadi Putri Elena, menjaganya dari gangguan makhluk buas dan berbagai macam manusia yang ingin menyakitinya. Itulah kenapa aku mengundang troll untuk mendiami gunung ini dan berharap dia menakutimu. Jika aku tahu kau adalah si Tangan Merah, tentu dengan cepat aku langsung membawamu ke sini.""Aneh sekali. Raja mengumumkan sayembara untuk membunuh penyihir di puncak gunung," kata Jervin."Itu adalah aku!" seru Putri Elena. "Tidak mungkin Ayah ingin membunuhku."Mendadak Jervin mulai merasa segalanya masuk akal. Sang Raja memang berniat melenyapkan putrinya yang dikutuk. Karena itulah dalam pengumuman, sang Raja hanya memberi perintah untuk membunuh sang Penyihir. Tidak ada petunjuk untuk membawa Tuan Putri pulang ke istana. Untuk membuktikannya, Jervin mengeluarkan pengumuman dari sakunya dan menyerahkan ke Putri Elena. Jervin memang menginginkan sepuluh ribu keping emas itu, tapi jika itu artinya harus membunuh sang Putri yang tidak bersalah, dia tidak bisa melakukannya.Setelah membaca pengumuman itu bersama Gallus, Putri Elena mundur dengan ketakutan. Kertas di tangannya terbakar oleh api merah."Tuan Putri," panggil Gallus. Dia bergerak untuk menyentuh Putri Elena, lalu segera menarik tangannya lagi saat merasakan energi yang amat panas dari kulitnya."Tidak!" jerit Putri Elena. Kedua matanya berkobar oleh api amarah, setiap tetesan air matanya yang jatuh berubah menjadi jarum besi yang tajam.Raungan panjang yang keluar dari mulut Putri Elena membuat berdiri bulu kuduk Gallus, bahkan juga Jervin. Rerumputan di bawah kakinya bergetar dan Jervin merasa seolah Gunung Merah akan terbelah dua.Sang Putri patah hati. Bersama tangisannya, dia menerobos gulita dan menuruni Gunung Merah. Gallus memanggil, mencoba menahan Putri Elena, tapi kekuatannya tidak cukup. Putri Elena mengutuk Gallus menjadi kelinci gunung.Jervin tahu betapa bahayanya kekuatan penyihir yang sedang marah. Maka dia mengikuti Putri Elena dari belakang, mengamati bagaimana Putri Elena menghanguskan pohon dan tanah yang dilewatinya. Bersama dengan itu, matahari bangkit dari tidurnya, turut memercikkan kobaran semangat ke setiap hentakan langkah Putri Elena.Di tengah perjalanan, Jervin kembali bertemu dengan troll yang masih terbungkus daun sebelumnya. Troll yang merasakan kehadirannya pun mulai meronta-ronta."Oh, Jervin si Penjelajah, tolong lepaskan aku, aku telah bersalah," pintanya."Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji satu hal lagi," kata Jervin. "Bantu aku hentikan penyihir yang akan menyerang kerajaan.""Aku berjanji," kata Troll tanpa basa-basi."Jika kau berbuat curang lagi, aku akan mengutukmu." Jervin membebaskan Troll, lalu dengan segera daun ajaib itu kembali ke ukuran semula. Troll yang sudah bisa melihat jelas tangan Jervin langsung sadar kalau dia adalah keturunan penyihir.Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera menuruni gunung, mengikuti jejak hangus dari Putri Elena. Troll mengangkat tubuh Jervin dan meletakkannya di bahu, sehingga dia bisa menyusul dengan langkah yang lebar.Seperti yang dicemaskan Jervin, mulai terjadi kekacauan di Kerajaan Whitehaven. Putri Elena menyerang serampangan, sementara rakyat berteriak ketakutan dan berhamburan keluar dari rumah mereka."Penyihir!" teriak salah satu orang. "Ada penyihir!"Putri Elena mengutuk orang itu menjadi tikus. Tidak hanya itu, dia melontarkan kutukan pada siapa saja yang menghalanginya. Ada yang berubah menjadi kurcaci, pohon, bahkan sofa. Jervin melompat dari bahu Troll, sebisa mungkin menghentikan sihir sang Putri. Sedangkan Troll membantu penduduk untuk mengungsi."Lari! Ada troll !" teriak seorang anak laki-laki yang baru saja dipindahkan Troll ke tempat aman. "Whitehaven diserang!"" Cih , tidak tahu terima kasih," kata Troll kesal.Putri Elena sudah tiba di depan istana. Betapa terkejutnya dia saat mendapati para prajurit menghadang dan ada ratusan tombak dan mulut meriam mengancamnya. Jervin hendak mengejar sang Putri, tapi prajurit lain menahannya."Aku adalah Putri Elena Whitehaven!" teriaknya.Para prajurit saling memandang. Orang-orang di sekitar yang mendengar mulai berbisik-bisik. "Tidak mungkin, Putri Whitehaven tidak seburuk itu.""Itu penyihirnya! Penyihir yang telah menculik putriku!" seru sang Raja. Suaranya membahana saat dia berjalan bersama puluhan pengawal yang berjaga ketat, lalu berhenti sambil menunjuk Putri Elena di depan. Semua rakyat yang menyaksikan memberi jarak, menonton dalam ketegangan."Itu tidak benar!" bantah Putri Elena. "Aku adalah putri yang dikutuk, lalu Ayah sengaja membiarkan orang-orang membunuhku!"Wajah sang Raja menjadi merah padam. "Bohong! Dasar penyihir licik! Kau telah membunuh Putri Elena dan kini mengaku-ngaku sebagai putriku. Aku tidak sudi! Tangkap dia!""Dia benar-benar adalah Tuan Putri," kata Jervin, memandang ke semua orang di sana. "Aku berhasil mencapai puncak gunung dan tidak ada siapa pun selain dia. Tuan Putri kita telah dikutuk menjadi penyihir.""Itu Jervin si Penjelajah!" seru pria pemilik bar yang pernah mendukungnya."Tidak, dia penyihir. Lihat tangannya.""Jervin adalah penyihir!""Tangkap si Penyihir!""Bakar dia!"Pekikan keras terdengar saat prajurit mulai melancarkan serangan. Putri Elena menyihir satu per satu tombak menjadi abu, lalu Troll turut membantu dengan menginjak meriam sampai penyet. Penduduk berlomba-lomba membuat obor dan melemparkannya ke arah Putri Elena, tapi dengan cekatan Jervin menghalaunya dengan tali.Pertarungan berlangsung sengit. Besi bertemu api. Tongkat dan pedang beradu. Sepuluh manusia mengelilingi Troll. Selang beberapa saat kemudian, tidak banyak prajurit yang tersisa lagi untuk bertarung. Mereka semua jatuh dan kalah. Troll kehabisan meriam untuk dihancurkan.Sang Raja mulai ketakutan. Dia menaiki kereta, bersiap kabur ke balik dinding istana, tapi Troll mengangkat kereta itu tinggi-tinggi."Turunkan aku, Dasar Raksasa Jelek!" perintah sang Raja.Troll menggeram, tidak terima dikatai jelek. Maka dia melempar kereta itu ke tanah, dan jeritan keras sang Raja mengakhiri pertempuran hingga terdengar dentuman yang keras."Ayah!" teriak Putri Elena. Dia berlari menghampiri sang Raja, lalu menyingkirkan reruntuhan kereta yang menimpanya tanpa kesulitan. Tetesan air mata merah pun jatuh, mengenai tubuh sang Raja yang tergeletak tidak bergerak di pangkuannya.Seluruh kerajaan menjadi hening. Rakyat menunduk dalam kebisuan, tidak ada yang berteriak atau berprasangka pada sang Penyihir lagi. Tangisan pilu dari sang Penyihir yang menyayat hati cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah Putri Elena yang sebenarnya. Matahari pun bersembunyi di balik awan gelap, tidak tega menyaksikannya.Di tengah-tengah mereka, muncullah seorang penyihir dari pusaran udara kecil. Semua orang memandangnya heran karena penyihir itu memiliki bentuk fisik yang sama persis seperti Putri Elena sekarang. Ketika Putri Elena berdiri untuk menghadapi si Penyihir baru, mereka tampak seperti bercermin."Emosimu yang terlalu kuat telah memanggilku," kata Penyihir itu."Tolong selamatkan ayahku, Edena," pinta Putri Elena.Edena, si kembaran Putri Elena menggeleng prihatin. "Hanya kau yang bisa menyelamatkannya, tapi dengan begitu, kau akan menjadi Penyihir Kutukan selamanya dan tidak ada cara untuk kembali menjadi manusia.""Dengan segala hormat, Tuan Putri. Raja telah membuatmu dikutuk dan berencana membunuhmu. Dia tidak pantas mendapatkan pengorbananmu," kata Jervin."Ah, si Tangan Merah sudah tiba," kata Edena saat melihat Jervin, kemudian kembali menoleh pada sang Putri. "Kau memiliki pilihan lain, Sayang. Si Tangan Merah bisa mengembalikanmu ke manusia, tapi dengan begitu ayahmu tidak akan hidup lagi."Putri Elena termenung. Menjadi manusia lagi adalah keinginannya selama bertahun-tahun. Jervin memang benar, ayahnya membuatnya menjadi seperti ini, bahkan berpikir untuk menghabisi nyawanya. Menolong ayahnya berarti merelakan impian terbesarnya. Membiarkan ayahnya mati membusuk adalah cara balas dendam terbaik."Aku ...." Suara Putri Elena melemah. Semua orang penasaran, kira-kira apa yang akan dia pilih?"Aku bersedia menjadi Penyihir Kutukan," lanjut Putri Elena.Benar. Putri Elena punya sejuta alasan untuk mengabaikan ayahnya, tapi dia punya pilihan. Menjadi manusia yang menjalani hari dengan rasa dendam, atau tetap hidup sebagai penyihir menyeramkan demi menyelamatkan kehidupan lainnya. Sang Raja memang menginginkan dia mati, tapi bukan berarti Putri Elena juga harus berpikiran serupa.Edena tersenyum. Penyihir itu meminta Putri Elena mencabut sisik terbesar di wajahnya sendiri, kemudian menempelkan ke dahi sang Raja. Putri Elena menurutinya. Hal itu ternyata menguras energi Putri Elena, sehingga tubuhnya terjatuh lemas ke atas tanah, di samping sang Raja yang mulai sadar dan terbatuk.Sang Raja yang mengetahui dirinya diselamatkan Putri Elena pun mulai menangis. Dia merasa bersalah dan malu saat memeluk sang Putri yang lemah. "Oh, uhuk ... uhuk ! Elena, putriku, maafkan Ayah."Pemandangan itu membuat Jervin terpana. Dia tidak menyangka kalau Putri Elena akan menyelamatkan ayahnya, orang yang hampir saja membuat Jervin berniat membunuhnya demi kepingan emas. Jervin melangkah mendekati Putri Elena, lalu menatap wajah tulus nan cantik di balik sisik dan kulit merahnya. Kini dia paham jika Putri Elena tidak membutuhkan fisik manusianya.Jauh di dalam sana, Putri Elena tetaplah seorang putri.Jervin mengulurkan tangannya, yang segera disambut Putri Elena dengan sisa tenaganya. Keajaiban pun terjadi. Cahaya merah yang terang bersinar dari kedua telapak tangan mereka yang menyatu, hingga orang-orang harus melindungi mata dari silaunya. Sekarang, sosok besar yang bersalaman dengan Jervin sudah menyusut menjadi gadis muda dengan gaun lusuh kebesaran. Kulitnya berubah layaknya manusia normal, kecuali pada seluruh telapak tangannya yang berwarna merah.Putri Elena mengamati tubuhnya yang kembali seperti semula, tidak percaya apa yang terjadi. "Katanya aku akan menjadi Penyihir Kutukan selamanya?""Ya, persis seperti si Tangan Merah," kata Edena kalem.Begitulah, setelah Edena menghilang, Putri Elena bersama Jervin membereskan sisa kekacauan yang tercipta. Mereka mengembalikan orang-orang yang dikutuk sebelumnya ke bentuk semula, lalu memperbaiki bangunan yang rusak bersama Troll. Negeri Whitehaven sejak saat itu mulai hidup berdampingan dengan penyihir.Sementara Troll? Dia tetap di goa, mendapat mainan daun barunya, dan berjanji tidak akan makan manusia lagi, terutama sejak Putri Elena dan Jervin memerintah kerajaan.
SHATTVA DAN SHANTI
Nun jauh di utara, terdapat sebuah kota kecil yang ditinggalkan tepat di kaki gunung. Sebagian besar bangunan kota itu masih kokoh dan beberapa sudah rusak termakan lumut. Ada kisah mistis menyelimuti kota itu, yang membuat orang-orang tidak berani mendekat ke sana. Penduduk sekitar menyebutnya kota hantu. Ada juga yang mengatakan kota itu dikutuk oleh Dewa. Akan tetapi, ketika ada seseorang yang memiliki nyali untuk memasukinya, semua yang sudah dikatakan penduduk sekitar ternyata keliru.Di perbatasan, terdapat gapura tua berdiri di jalan setapak. Hanya saja, itu bukanlah gapura biasa. Ada benteng sihir tidak kasatmata yang mengelilingi seluruh penjuru kota, menyembunyikan keramaian kota yang tidak bisa dilihat manusia luar. Kota itu bernama Magi. Kota Magi seperti kota-kota lain pada umumnya. Ada bangunan, kendaraan yang berhilir mudik di jalanan, lampu-lampu, dan penduduk. Namun, satu hal yang membedakan kota Magi dengan kota di dunia luar. Sihir.Hampir seluruh penduduk kota Magi memiliki sihirnya masing-masing. Seluruh keseharian mereka tidak lepas dari mantra dan pengendalian. Memasak dengan sihir, mencuci pakaian dengan sihir, dan bahkan kendaraan penduduk kota Magi berupa sapu dan karpet terbang. Meskipun penduduk kota Magi juga manusia, mereka berbeda dengan manusia dari dunia luar. Mereka menganggap sihir adalah segalanya. Siapa pun yang tidak bisa menggunakan sihir akan dianggap lemah dan harus pergi dari kota ini." Yajuh! " seru seorang gadis dalam keheningan kamarnya. "Tidak bisa. Kalau begitu, agni! Kenapa tidak muncul api? Hm ... mungkin api bukan sihir khususku. Baiklah, aku akan coba ... nirada! Mungkin bukan air. Darani! Tidak berhasil. Oh, oh, coba kalau ... bayu! Ah, kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir?""Apa yang kamu lakukan di larut malam begini, Sara?"Suara lembut penuh keibuan itu menyentakkan gadis bernama Sara. Kedua mata Sara membulat sempurna begitu melihat ibunya berdiri di ambang pintu dan memperhatikannya sejak tadi dengan seulas senyum terpahat halus di wajahnya. "Ibu? Sejak kapan Ibu di sini?"Ibu mengetukkan jari telunjuknya di dagu tanpa melunturkan senyuman. "Sejak anak kesayangan Ibu mengucapkan mantra pertamanya."Wajah Sara berubah takut. Ibunya pasti sudah berada di sana sejak tadi, mengamatinya berlatih mantra. Habislah Sara. Ibu pasti marah setelah ini. "Maafkan aku, Bu. Seharusnya aku sudah tidur sejak tadi. Ibu pasti marah, kan, karena Sara tidak menuruti perkataan Ibu."Alih-alih memarahi anak semata wayangnya, Ibu Sara berjalan ke arah kasur dan duduk di samping Sara. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Sara. "Tentu tidak, Sayang. Ibu tidak pernah marah pada Sara karena belum tidur. Ibu hanya bertanya, apa yang sedang Sara lakukan? Kenapa berlatih mantra di larut malam?"Sara bergeming. Dia seperti setengah enggan mengatakan alasannya."Sara, sayangku, kalau ada sesuatu yang ingin Sara ceritakan, ceritakan saja. Cerita apa pun akan Ibu dengarkan."Sara mengambil napas dalam-dalam sebelum bercerita. "Apa Ibu pernah merasa gagal?""Kenapa Sara bertanya begitu?" tanya Ibu kebingungan."Karena Sara satu-satunya orang yang tidak bisa menggunakan sihir," jawab Sara. "Sejak umur tujuh tahun hingga sekarang, sebelas tahun, Sara satu-satunya orang di kelas yang tidak bisa menggunakan sihir. Semua orang, bahkan guru-guru, selalu mengatakan, kalau Sara masih belum bisa menggunakan sihir sampai berumur enam belas, Sara harus pergi ke dunia luar dan tidak boleh kembali lagi. Sara gagal."Air mata sudah tidak bisa lagi terbendung di pelupuk mata Sara, kemudian membanjiri pipinya dalam sekian detik. Isak tangis merebak di antara kesunyian malam itu. Mendengar anak gadisnya menangis, Ibu mendekapnya penuh kasih sayang. "Tidak, Sara. Itulah yang Ibu suka darimu. Kau selalu berusaha semampumu meskipun kau tahu itu sulit. Ibu yakin, suatu saat nanti kau bisa menggunakan sihir. Hanya mungkin, kau butuh waktu lebih lama daripada yang lain. Sara harus tahu. Apa pun yang terjadi nanti, Ibu akan selalu mendukungmu. Jangan sedih lagi, ya?"Mendengar Ibu mengatakan itu, Sara lantas membalas dekapan ibunya. "Terima kasih, Ibu. Sekarang Sara sudah merasa lebih baik.""Ibu senang mendengarnya. Sekarang, Sara harus tidur karena besok Sara harus sekolah," ucap Ibu sembari merapikan tempat tidur buah hati tercintanya."Apa Ibu pernah tidak bisa menggunakan sihir?" tanya Sara penasaran."Tentu saja, Sayang. Semua orang pernah tidak bisa menggunakan sihir," jawab Ibu."Menurut Ibu, apa yang membuat seseorang tidak bisa menggunakan sihir?" Sara bertanya lagi.Dengan senyuman melengkung indah di wajahnya, Ibu menjawab, "Sara, untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus bisa melepaskan ketakutannya. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu atau kau akan kehilangan kendali.""Tapi Sara sudah cukup berani. Kenapa Sara tetap tidak bisa menggunakan sihir?""Selain berani, seorang penyihir yang tangguh harus terus berusaha dan berlatih. Seperti yang sedang Sara lakukan sekarang karena tanpa itu, Sara tidak akan bisa menjadi penyihir tangguh.""Seperti Ayah?" Mata Sara berbinar.Ibu mengangguk mantap. "Seperti Ayah."Sara tersenyum lebar. "Kalau begitu, Sara akan terus berlatih supaya bisa seperti Ayah. Jadi, Sara bisa membuat Ayah bangga setelah pulang dari tugas di perbatasan nanti."Mendengar anaknya kembali ceria, Ibu mengelus puncak kepala Sara dengan lembut tanpa melepaskan senyuman paling tulusnya. "Sara memang anak kebanggaan Ayah dan Ibu. Selalu.""Ibu," panggil Sara tiba-tiba."Hm?""Sara mau ditemani Ibu sampai Sara tidur.""Tentu saja, Sayang."***Sekolah Sara benar-benar ramai. Tentu saja karena ini sudah memasuki jam istirahat. Hampir semua orang tidak berada di kelas. Beberapa murid berkejaran dengan sapu terbang di lapangan. Ada yang sedang berlatih sihir dengan guru mereka di pinggir lapangan. Ada juga yang memilih untuk menikmati suasana sambil memakan bekal, seperti yang tengah Sara lakukan sekarang. Sara lebih senang mengamati daripada ikut bermain bersama teman-temannya. Itu karena memang tidak ada yang mau bermain dengannya. Pikiran mereka persis seperti yang dipikirkan sebagian besar penduduk kota Magi, yang menganggap sihir adalah segalanya."Masih berharap bisa menggunakan sihir, Sara?" tanya seseorang dengan nada mengejek.Sara menengok ke asal suara dan mendapati tiga orang gadis seusianya berdiri menantang. Sara tahu siapa yang melemparkan pertanyaan tadi. Siapa lagi kalau bukan Nirbita, anak perempuan paling angkuh yang pernah Sara kenal di kota Magi. Setiap hari Nirbita selalu mengejek Sara karena tidak bisa menggunakan sihir. Bahkan terkadang dia menggunakan sihirnya untuk mengganggu Sara. Keluarga Nirbita terkenal dengan sihir agni. Seluruh anggota keluarga Nirbita sangat menguasai sihir agni. Di kota Magi, sihir agni hanya bisa dikendalikan orang-orang tertentu. Hal itu membuat sihir agni termasuk sihir istimewa."Tidak punya kegiatan lain, Nirbita?" tanya Sara tidak berminat. Menurut Sara, meladeni Nirbita adalah salah satu hal yang paling sia-sia."Oh, tentu saja aku punya kegiatan lain," balas Nirbita dengan nada angkuhnya. "Aku dan teman-temanku akan berlatih sihir di lapangan. Bagaimana dengan latihanmu, Sara? Sudah bisa menggunakan satu mantra atau justru masih gagal seperti biasanya?""Latihanku sangat baik dan terima kasih sudah mengingatkan. Aku harus latihan juga setelah ini," jawab Sara penuh percaya diri."Selamat mempersiapkan kepergianmu ke dunia luar, Sara. Aku dan teman-temanku sangat tidak sabar menantikan saat itu." Nirbita menarik langkah ke arah lapangan diikuti dua temannya.Ketika Nirbita dan dua temannya sudah berada di lapangan, Sara membuka buku yang sedari tadi dipangkunya. Itu buku tentang sihir, buku yang selalu Sara baca di waktu luang. Sara ingat dulu Ibu pernah berkata bahwa Sara harus tahu dasar-dasar pengendalian sihir, selain berlatih memperagakannya. Jadi, Sara pikir tidak ada salahnya kalau dia membaca dulu sebelum bisa menggunakan sihir. Kalau Sara nantinya bisa menggunakan sihir—semoga saja—setidaknya dia sudah bisa mengendalikannya.Jemari Sara membolak-balikkan lembar demi lembar di buku itu. Tidak terasa bahwa selama ini dia sudah membaca hampir sebagian buku setebal kamus itu. Sampailah Sara pada halaman berjudul "Efek Sihir Tanpa Pengendalian". Mata Sara mengikuti kata demi kata di setiap lembar buku itu, menandaskan rasa penasaran yang tidak terbendung dalam otaknya. Di situ tertulis bahwa siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian, maka dia akan membangkitkan Sattva. Dahi Sara tertekuk. Apa dan siapa itu Sattva? begitu pikir Sara bertanya-tanya. Sara membuka lembar baru. Pupilnya membulat sempurna ketika Sara membaca setiap kata dalam lembar itu."Kekacauan?" tanya Sara. "Apa hubungannya dengan pengendalian?"Sara membaca lagi lembar itu.Dalam sihir, kita mengenal beragam mantra, yang juga memiliki beragam fungsi. Namun, sejatinya, terdapat dua sihir di dunia ini: Shanti dan Sattva. Shanti adalah sihir yang membawa kedamaian, sedangkan Sattva membawa kekacauan. Meskipun begitu, kita tidak dapat menghilangkan salah satu dari kedua sihir itu. Di dunia ini, sihir tidak hanya membutuhkan shanti, tetapi juga Sattva. Mereka saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Mereka adalah sihir dari setiap mantra yang diucapkan dan untuk mengucapkan mantra, maka dibutuhkan pengendalian. Siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian dan menghancurkan Tula, maka dia akan membangkitkan Sattva. Sattva akan membawa petaka, mengacaukan keseimbangan dunia sihir, lalu merenggut shanti dari dunia ini. Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua."Wow," ucap Sara setelah membaca halaman itu, "ternyata sihir itu tidak sesederhana yang aku tahu. Kupikir sihir hanya sebatas mengucapkan mantra dan tada ! Keajaiban muncul, tapi rupanya sihir juga butuh pengendalian."Sara menatap ke arah menara di seberang sekolah. Itulah Tula. Sebuah menara biasa yang di puncaknya terdapat sepasang layangan berwarna hitam dan putih yang terus berputar bak roda. Ibu pernah mendongengkan Sara tentang Sattva dan Shanti sebelum tidur. Penduduk Magi mengibaratkan kedua layangan itu sebagai Sattva dan Shanti—sihir yang sesungguhnya.Pandangan Sara kembali mengarah ke lapangan. Semua temannya masih melakukan hal yang sama seperti sebelum dia membaca buku. Namun, hanya satu orang yang menarik perhatian Sara. Nirbita. Mulut gadis itu berkomat-kamit mengucapkan mantra sebelum telunjuk Nirbita mengarah ke cakrawala dan menyambarkan petir."Mantra braja," kata Sara lirih."Kenapa Sara?" tanya Nirbita yang ternyata mengetahui Sara memperhatikannya. "Kau terkejut melihatku bisa menggunakan mantra braja?""Bagaimana kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi?" tanya Sara penasaran.Nirbita tertawa meledek. "Aku tidak sepertimu, Sara. Tidak hanya membaca buku kuno, tapi aku juga mempraktikkannya. Omong-omong, aku bisa membantumu belajar menggunakan sihir. Braja! "Petir menyambar dengan ganas setelah Nirbita mengucapkan mantra braja, tetapi untungnya Sara bisa menghindari petir itu. Baru saja Sara bisa mengembuskan napas lega, petir yang kedua datang lagi. Kali ini lebih ganas daripada serangan sebelumnya."Nirbita, hentikan!" teriak Sara sebelum dia menghindar lagi dari serangan petir Nirbita."Kenapa Sara? Latihan kita baru saja dimulai. Braja! " seru Nirbita lantang dan terus menyerang Sara dengan sihir petirnya.Akan tetapi, ketika Nirbita mengucapkan mantra braja yang terakhir, sihir petirnya menyambar menara Tula dan mengenai layangan putih di puncak menara. Langit mendadak berubah gelap. Mendung dan gemuruh guntur menghantui kota Magi. Shanti telah hancur, menandakan pertanda buruk akan segera datang—Sattva."Oh, tidak," ucap Nirbita.Sattva muncul dari bawah tanah seperti monster yang siap memorakporandakan dunia. Jeritannya menakutkan dan tampangnya persis seperti yang ada di menara Tula. Sattva memelesat ke jantung kota dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Sihir-sihir para penjaga berkilat di cakrawala, berusaha mengenai Sattva. Akan tetapi, mantra itu tidak cukup kuat untuk menghentikannya. Alih-alih melemahkan Sattva, justru mantra itu membuatnya makin kuat. Sattva melancarkan serangan balik dengan lebih agresif, menghancurkan gedung-gedung, dan melukai orang-orang di sekitar.Kehadiran Sattva mencuri perhatian kepala sekolah Sara, Profesor Adhigana, yang terkenal akan kehebatannya dalam sihir. Guru-guru berdiskusi, membicarakan langkah yang tepat untuk mengatasi situasi ini."Bawa semua murid ke tempat yang aman. Jangan ada satu pun yang tertinggal," titah Profesor Adhigana. "Profesor Bhadrika dan Profesor Harsa, bantu saya untuk melindungi sekolah dan mengadang Sattva."Guru-guru mulai menggiring semua murid untuk masuk ke gedung sekolah. Tubuh Sara berkali-kali terdorong, tetapi tidak membuat pandangan Sara teralih. Yang dikatakan buku itu sudah terjadi. Siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian dan menghancurkan Tula, maka dia akan membangkitkan Sattva . Sattva sudah di sini dan Shanti sudah direnggutnya. Hanya ada kegelapan di sekeliling kota Magi. Sara berpikir lagi, mengingat-ingat apa yang ditulis dalam buku itu. Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua . Profesor Adhigana adalah penyihir terkuat di kota Magi. Dia terkenal sebagai penyihir tangguh dan memiliki pengendalian yang kuat. Bahkan dia salah satu orang yang bisa menggunakan sihir agni. Mungkin saja, Profesor Adhigana yang dimaksud buku itu , begitu pikir Sara.Dari jendela gedung sekolah, Sara melihat Profesor Adhigana, Profesor Bhadrika, dan Profesor Harsa sedang mengucapkan mantra pelindung. Sihir-sihir menyatu dan mulai membentuk kubah pelindung yang membentengi sekolah. Jauh di luar sana, jeritan Sattva terdengar melengking menakutkan. Benar saja, Sattva muncul dari balik gedung tingkat dan meluncur ke arah sekolah. Tubuhnya bersinar seolah menandakan bahwa serangan berikutnya akan segera datang. Namun, sebelum itu terjadi, Profesor Adhigana sudah melontarkan mantra sihirnya. " Parusa! "Serangan itu berhasil mengenai Sattva. Alih-alih mengalahkannya, justru Sattva masih bisa bangkit dan mengempaskan ketiga profesor itu sekaligus sebelum mereka membalas kembali serangan Sattva. Para murid menjerit melihat pertarungan itu, tetapi itu tidak membuat Sara tinggal diam. Dia harus mencari cara untuk mengalahkan Sattva. Sara kembali membuka buku itu dengan tergesa-gesa, berharap dia bisa segera menemukan jawabannya.Perhatian Sara terpaku pada salah satu halaman di buku itu, sebuah tulisan yang bisa menyelamatkan kota Magi.Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua dengan mantra brahma ."Mantra itu terlalu tinggi tingkatannya. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya, termasuk para profesor. Hanya orang yang memiliki pengendalian sangat kuat yang bisa," kata Sara panik. Dia mencoba untuk tenang dan tetap berpikir meskipun situasi tidak memungkinkan. Namun, dia teringat perkataan ibunya." Sara, untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus bisa melepaskan ketakutannya. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu atau kau akan kehilangan kendali ."Mungkinkah? batin Sara.Tanpa perlu pikir panjang lagi, gadis kecil itu berlari keluar kelas menuju lorong hingga membawanya ke lapangan. Sara sudah berada di luar, menghirup udara yang lengang tanpa disesaki banyak orang, dan menyaksikan langsung Sattva yang kini berada di hadapannya. Sara mengedarkan pandang dan menemukan batu yang berada beberapa langkah di depannya. Dengan penuh keberanian, Sara mengambil batu itu, kemudian melemparkannya ke arah Sattva sebelum ia berhasil menyerang kembali para profesor. Sattva menjerit kesakitan ketika batu itu menghantam tubuhnya. Ia menemukan Sara yang sudah siap untuk melawannya detik ini juga." Sattva, kemari dan lawan aku! " seru Sara lantang.Sattva meluncur ke arah Sara begitu gadis itu berseru melawannya. Orang-orang di sekitar menyuruhnya untuk lari, tetapi Sara tetap berada di sana. Gadis itu tetap berdiri dan membiarkan Sattva mendekatinya. Dia menghirup napas dalam-dalam, melepaskan semua ketakutannya. Ketika Sattva sudah siap melancarkan serangan, Sara mengacungkan jari ke arahnya. " Brahma! "Kilat menyambar mengenai Sattva dengan cepat, membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. Sattva telah kalah dan kegelapan yang menyelimuti kota Magi perlahan hilang digantikan cahaya mentari. Seluruh penduduk bersorak gembira. Semua orang keluar dari persembunyian mereka, mendatangi Sara, dan mengangkatnya layaknya pemenang.
PUTRI KELANA DAN PANGERAN KEMBARA
Konon ketika Kanjeng Putri Kelana dan Kanjeng Pangeran Kembara lahir, langit bergemuruh kencang, lalu turunlah badai terderas yang pernah ada sepanjang tahun itu. Putri Kelana muncul lima menit setelah Pangeran Kembara keluar, sehingga tabib istana dan bidan yang mendampingi proses persalinan menyatakan bahwa Putri Kelana adalah sang Kakak karena ia membantu adiknya dilahirkan terlebih dahulu.Kata para penasihat raja dari Keraton Mangunkarta, hujan deras bisa diartikan sebagai berkah atas kelahiran putra dan putri kembar sang Raja. Oleh karena itu, pada hari sepasaran mereka berdua, Raja mengadakan kenduri yang sangat meriah dan dihadiri oleh seluruh penduduk sebagai bentuk syukur.Saat usia mereka berdua tujuh tahun, koki keraton memergoki Pangeran Kembara diam-diam menyelinap ke dapur dan mencicipi segala jenis bumbu di dalam cawan. Di pipinya ada bercak kemerahan seperti bubuk cabai, ujung jarinya kekuningan kena kunyit, serta di dahinya menempel serpihan daun kemangi kering.Koki pun menghadap sang Raja di singgasananya dan melaporkan semua yang terjadi hari itu. Alih-alih murka, Raja malah memanggil juru bangunan terbaik di kerajaan, dan memintanya membuatkan sebuah dapur kecil di samping dapur utama untuk arena bermain sang Pangeran. Lengkap dengan tungku, peralatan memasak, dan berbagai macam bumbu dapur. Pangeran Kembara sangat antusias karena memiliki dapur miliknya sendiri dan dia menghabiskan banyak waktu di sana, bereksperimen dengan bahan-bahan yang bisa ditemukannya di taman keraton.Sementara itu, penjahit keraton mengeluhkan bahwa Putri Kelana sering bolos pelajaran menjahitnya dan kabur ke lapangan belakang tempat para prajurit raja berlatih. Putri Kelana meminta seorang prajurit untuk membuatkan busur dan panah seukuran tubuhnya yang mungil agar dia bisa ikut latihan. Dengan sangat mengejutkan, anak panah Putri Kelana selalu tepat mengenai sasaran, bahkan meski jaraknya terlampau jauh. Raja yang mendengar hal tersebut dari panglima perangnya, menyatakan jika mulai hari itu Putri Kelana mendapatkan izin untuk berlatih bersama prajurit yang lain. Seketika, para penasihat raja, menteri, bahkan kepala pasukan terkejut mendengar keputusan Raja."Putri Kelana hanyalah anak perempuan berusia tujuh tahun," kata penasihat raja."Saya takut Kanjeng Putri akan terluka dalam latihan yang keras," tambah panglima dengan nada khawatir.Namun, Raja menepis semua pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Putri Kelana akan baik-baik saja. Mungkin di dalam darahnya mengalir jiwa seorang pahlawan seperti mendiang raja terdahulu. Maka latihlah ia seperti kalian melatih prajurit yang lain dan biarkan Putri Kelana melakukan hal yang dia sukai."Maka, Putri Kelana pun diizinkan untuk berlatih bela diri dengan menggunakan segala jenis senjata dengan pasukan raja. Permainan pedangnya sangat cekatan dan gesit. Putri Kelana juga ahli silat dengan tangan kosong dan dia berhasil menjatuhkan lawan meski tubuhnya jauh lebih besar. Namun, Putri Kelana paling suka memanah, terutama ketika dia berada di atas pelana kuda sambil mengincar obyek yang bergerak.Sementara itu, Pangeran Kembara yang menyukai dapur kecil barunya, menyajikan menu hidangan penutup untuk sang Raja. Pangeran Kembara menghancurkan dua buah mangga harum manis yang jatuh dari pohon, mencampur dengan susu perah segar di atas api yang menyala kecil, lalu menambahkan larutan tepung sagu untuk mengentalkan adonan.Raja menyukai makanan buatan Pangeran Kembara. Pangeran juga membuat hidangan dari daging ayam yang dihaluskan dan diberi bumbu, lalu dibentuk bola-bola dalam kuah kaldu hangat. Bahkan juru masak istana mengakui kehebatan Pangeran Kembara dalam mengolah bahan makanan. Beliau pun akhirnya mengizinkan Pangeran Kembara untuk masuk dapur istana dan berjanji untuk mengajarkan resep rahasianya pada sang Pangeran.Saat mereka beranjak remaja, Putri Kelana menempati posisi paling atas dalam segala ujian kelayakan prajurit yang diadakan setiap tahun, dan panglima kerajaan memberinya gelar kehormatan sebagai prajurit terbaik. Sedangkan Pangeran Kembara sudah menciptakan banyak menu kreasi baru yang rasanya sangat lezat dan diakui oleh juru masak di penjuru Kerajaan Mangunkarta. Bahkan Pangeran Kembara memiliki beberapa orang anak didik yang mengikutinya setiap saat untuk mempelajari rahasia masakan Pangeran tersebut.Raja sangat bangga dengan prestasi kedua anaknya tersebut, sehingga beliau hendak mengadakan pesta perayaan hari jadi Putri Kelana dan Pangeran Kembara yang ke-16. Raja bahkan mengundang para raja, ratu dan pangeran dari kerajaan lain untuk menghadiri acara tersebut.Seminggu sebelum perayaan tersebut, para undangan mulai berdatangan ke Kerajaan Mangunkarta dengan membawa banyak buah tangan. Mulai dari kain tenun beraneka corak, makanan dan buah-buahan eksotis khas daerah masing-masing, serta hewan ternak atau kereta kuda sebagai hadiah ulang tahun.Raja juga mengadakan pertandingan persahabatan antar kerajaan, mulai dari permainan bola sepak beregu yang dimenangkan oleh Pangeran dari Kerajaan Suramenggala. Lalu permainan-permainan lain seperti memanah yang tentu saja dimenangkan Putri Kelana, serta pertandingan menciptakan hidangan baru dengan bahan yang sudah ditentukan yang dimenangkan oleh Pangeran Kembara.Barulah pada malam perjamuan, Raja Mahmud dari kerajaan di seberang pulau mempertanyakan cara Raja mendidik kedua pangeran dan putri sambil mencibir."Di Kerajaan saya, anak-anak perempuan berdandan cantik dan mereka pandai memasak di dapur. Sedangkan anak laki-laki berlatih pedang dan berjalan dengan gagah berani."Raja yang mendengar sindiran tersebut hanya bisa mengulum senyum. Putri Kelana dan Pangeran Kembara yang duduk mengapit sang Raja saling bertukar pandangan penuh arti."Tetapi belum pernah saya menemukan seseorang yang sangat berbakat dalam memanah seperti Putri Kelana," sanggah panglima kerajaan sambil bersungut-sungut. "Tuan Putri adalah murid terbaik saya di kerajaan ini.""Benar." Raja menganggukkan kepala. "Di kerajaan ini, anak perempuan dan anak laki-laki berhak menentukan apa yang mereka sukai dan apa yang ingin mereka lakukan ketika besar nanti. Semua profesi sama baiknya, asalkan mereka menjalani dengan sepenuh hati.""Apakah Raja tahu betapa beratnya pekerjaan di dapur istana?" koki istana memberanikan diri untuk angkat bicara. "Setiap pagi kami menanak berkarung-karung beras untuk makan seluruh anggota kerajaan termasuk prajurit dan dayang istana. Kami juga harus bertahan menghadapi panasnya tungku seraya mengaduk-aduk makanan agar matang merata. Pangeran Kembara dengan gagah berani menaklukkan semua itu tanpa mengeluh. Ayam goreng lezat yang sedang Anda cicipi itu dimasak langsung oleh Pangeran sendiri."Dengan wajah merah padam, Raja Mahmud tertunduk malu dan pembicaraan di perjamuan berhenti di sana. Keesokan harinya, utusan Raja Mahmud datang untuk menemui Putri Kelana dan Pangeran Kembara dan menyampaikan permintaan maaf sekaligus hadiah untuk mereka. Busur panah dari logam ringan untuk Putri Kelana, dan satu set pisau dapur untuk Pangeran Kembara. Raja Mahmud menyadari kesalahannya dan beliau berjanji sekembalinya ke kerajaan di seberang pulau, beliau akan membebaskan anak-anak perempuan dan laki-laki untuk menjadi apapun yang mereka inginkan.
5 Eksperimen Ekstrem Yang Hampir Memusnahkan Dunia
Secara etimologi, kata 'manusia' berasal dari bahasa sansekerta “ manu” dan “mens” (Latin) yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai khalifah berbekal akal pikiran untuk berkarya di muka bumi. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.Kehidupan manusia sendiri sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.Setiap hubungan harus berjalan selaras dan seimbang. Namun, apa jadinya jika kecerdasan dan rasa keingintahuan manusia yang terlampau tinggi justru digunakan untuk tujuan eksploitasi dan pada akhirnya berpotensi memusnahkan dunia?Berikut adalah 5 eksperimen ekstrem yang pernah dirancang dan dilakukan oleh manusia dengan potensi bahaya sangat tinggi untuk memusnahkan segala peradaban di dunia. Beberapa eksperimen di bawah pernah menjadi kontroversi besar sehingga sebagian proyek ada yang ditunda atau dihentikan.1. Kola Superdeep BoreholeProyek dimulai pada tahun 1970an dan pada tahun 1994, bor mereka sudah mencapai kedalaman 12.000 kilometer. Tempat ini dijuluki sebagai tempat terdalam di permukaan bumi. Peristiwa ini pada akhirnya menjadi sejarah pengeboran paling dalam yang pernah dilakukan oleh manusia. Mereka sempat berambisi untuk mencapai lapisan mantel dalam bumi.Sayangnya, bumi bereaksi dengan menciptakan sebuah gaya tekan ke atas yang kuat. Ketakutan, akhirnya pengeboran ini dihentikan. Para ilmuan khawatir jika sesuatu yang buruk akan menimpa mereka jika proyek ini diteruskan. Mereka mulai menyadari kenyataan bahaya dari penggalian bumi yang bisa saja memicu kehancuran bumi.2. Trinity Test0.06 - 0.127 ms setelah ledakanLedakan yang kasat mataTrinity test adalah uji coba bom nuklir selama proyek Manhattan. Peledakan itu dilakukan di Alamogordo (New Mexico), pada tanggal 16 Juli 1945. Berat bom 19 kiloton , menghasilkan daya ledak setara 80 terajoule (sama dengan peledakan TNT seberat 19.000 ton ), melebihi panas permukaan matahari.Merupakan peledakan bom atom pertama yang bermuatan plutonium dan sama modelnya dengan yang dijatuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Peledakan dilakukan di Alamogordo Bombing Range, sebuah tempat yang berada di antara Carrizozo dan Socorro, New Mexico.Bom tersebut digantung di menara baja berketinggian 20 meter untuk simulasi penjatuhan dari pesawat. Ledakan meninggalkan kawah dengan kedalaman 3 m dan selebar 330 m. Awan jamir setinggi 16.000 m, dan gelombang kejut yang terasa dalam radius 160 kilometer.Kawah tersebut melumerkan gurun pasir dan mengubahnya menjadi lapisan kaca hijau tipis yang disebut trinitit. Kawah tersebut segera terisi kembali, dan sekarang daerah ini dilindungi. Di tempat peledakan itu didirikan tugu setinggi 3,65 m dan kawasan itu masih mengandung unsur radioaktif.Suksesnya percobaan ini menjadi tonggak sejarah dalam terciptanya bom atom dan nuklir yang sangat mematikan. Hingga kini, peristiwa apapun yang terkait dengan nuklir seperti bencana kebocoran reaktor dan uji coba nuklir selalu menjadi kontroversi.3. Hadron Collider Penumbuk raksasa Hadron Collider adalah kompleks pemercepat partikel berenergi tinggi terbesar yang ada di dunia. Berfungsi untuk menabrakkan dua buah pancaran partikel proton dengan energi kinetis yang sangat besar. LHC dibuat oleh Badan Riset Nuklir Eropa (CERN).Proyek ini dimulai sejak tahun 1995 dan merupakan proyek terbesar yang pernah dilakukan oleh Manusia dengan menggunakan peralatan paling rumit di dunia, serta memakan biaya lebih dari USD 10 Miliar dengan waktu penyelesaian lebih dari 14 tahun.Terletak 91 meter dibawah perbatasan Franco-Swiss dekat Geneva, Switzerland, mesin yang berbentuk terowongan sepanjang 27 kilometer ini dibangun oleh 10000 ilmuwan dan insinyur, dari lebih 100 negara, serta didukung oleh ratusan universitas dan laboratorium.Proyek ini murni untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tapi dampaknya dinilai bisa membuat membuat kehidupan di bumi mengalami kematian. Hadron Collider adalah eksperimen raksasa yang salah satu tujuan utamanya mensimulasikan Black Hole mikroskopis dan meneliti fenomenanya.Namun, penelitian yang kontroversi ini dihentikan sementara (delay). Penyebabnya antara lain disebabkan kekhawatiran kalau lubang hitam yang terbenruk dapat tumbuh besar dan mampu mengonsumsi benda di sekitarnya. Jika dibiarkan, maka kehidupan di bumi bisa terancam.4. Starfish PrimeBagi kalian yang pernah browsing aau mempelajari tentang lapisan atmosfer bumi, kita mengenal kalau lapisannya dibagi menjadi lima. Agar lebih mudah, perhatikan gambar dan fungsi masing-masing bagian.Lapisan Magnetosfer terletak diatas lapisan Ionosfer yang terletak antara Termosfer dan Eksosfer. Magnetosfer adalah medan magnet bumi yang menjangkau ribuan kilometer ke antariksa, ibarat perisai yang mampu melindungi bumi dari badai dan radiasi matahari yang ekstrem.Bayangkan saja jika bagian itu rusak, bahkan dirusak! Maka manusia dapat punah. Mirisnya, Amerika pernah melakukan peledakan di lapisan Magnetosfer. Adapun kekuatan ledakan sebesar 1,8 megaton yang diperkirakan hampir 100x kali lebih besar dari Trinity Test!Misi aslinya untuk mengganggu satelit milik Rusia, tapi dampaknya luar biasa. Jalur komunikasi sempat mati di beberapa wilayah secara bersamaan. Terlebih, dampak badai matahari yang mampu menjangkau bumi. Untungnya, Amerika kemudian membuat satelit anti radiasi untuk menambal lubang di Magnetosfer yang pernah mereka rusak itu.5. SetiSeti adalah program yang ditujukan untuk mencari kehidupan lain selain di bumi. Penelitian ini semakin menunjukkan hasil ketika peneliti mendapat semacam gelombang frekuensi dari planet-planet terdekat terutama Mars. Hingga akhirnya, SETI semakin gencar melakukan kontak hingga sekarang denan berbekal peralatan yang semakin canggih.Beberapa peneliti berpendapat kalau rasa penasaran dan keingintahuan manusia akan kehidupan lain selain di bumi tidak perlu dilanjutkan. Tentu saja ketakutan mereka didasari oleh teori invasi alien yang mungkin terjadi. Bumi berpotensi kiamat dan manusia akan punah. Mengingat tingkat teknologi alien dan kita seringkali digambarkan terpaut jauh.
Kamera Digital
Salah satu kenalanku meninggal secara mendadak. Aku tak pernah bertemu wanita itu. Ia memiliki seorang putri yang berumur empat tahun. Gadis kecil itu bernama Yuki. Ayahnya tidak bisa membesarkan Yuki sendirian, jadi ia meminta bibiku untuk merawatnya.Gadis kecil itu menolak ditinggal sendirian, jadi ia tak pernah pergi dari sisi bibiku. Hal itu mulai menjadi masalah. Bibiku jadi tidak bisa pergi kemana-mana tanpa Yuki. Gadis cilik itu terus-terusan mencari perhatian. Bahkan putri bibiku mulai merasa cemburu.Pada suatu hari, bibiku memberitahuku bahwa ia harus pergi keluar kota selama beberapa hari. Aku diminta untuk mengasuh Yuki. Aku tinggal sendirian sehingga ia bisa menjadi temanku.Beberapa hari kemudian, bibiku mengantar Yuki ke apartemenku. Saat bibiku akan pergi, ia berdiri di samping Yuki dan berkata, "Yuki, jadilah anak yang baik. Beranikan dirimu sendiri."Saat bibiku pergi, aku mencoba berbicara pada Yuki. Aku juga memainkan beberapa permainan dengannya, tapi sikap gadis kecil itu sangat aneh. Ia memiliki boneka beruang yang selalu dipeluknya. Ia tak pernah melepaskan boneka itu. Ia juga tak pernah tersenyum. Ia bahkan tak pernah berbicara. Yang dia lakukan hanya duduk diam di ruang depan sambil menatap dinding. Hal itu membuatku tidak nyaman.Aku sedang mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menghiburnya. Aku baru saja membeli sebuah kamera digital. Jadi, kuputuskan untuk membiarkan Yuki bermain dengan kamera digitalku yang lama. Saat ia melihat kamera tersebut, matanya berbinar-binar. Aku menunjukkan padanya bagaimana cara menggunakan kamera itu. Ia lalu pergi berkeliling apartemen untuk mengambil gambar apa saja. Ada senyum lebar di wajahnya.Malam itu, aku menemukan betapa sulitnya meninggalkan Yuki sendirian. Kapan pun aku mencoba untuk meninggalkan ruangan, ia mulai menangis dan menjerit memanggil namaku. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian karena ia akan memelukku dengan sangat erat. Ia bahkan memaksa ikut masuk ke kamar mandi bersamaku. Hal itu sangat memalukan.Ketika datang waktu untuk tidur, ia menolak tinggal di kamar sendirian. Jadi, ia memaksa untuk tidur di ranjangku. Aku membacakan dongeng sebelum tidur untuknya. Setelah beberapa waktu, aku membiarkannya tidur. Itu adalah saat aku melihat boneka beruang miliknya. Salah satu kakinya berwarna hitam karena hangus, seolah-olah benda itu sebelumnya pernah terbakar. Hal itu membuatku penasaran.Pada tengah malam, aku terbangun oleh suara aneh. Saat aku menoleh, aku melihat jika ada sesuatu yang salah dengan Yuki. Tubuh gadis kecil itu gemetar dan menggigil. Matanya terbuka lebar, giginya bergemeletukan, dan air mata menetes di kedua pipinya. Aku memegang tubuhnya dan bertanya apa yang terjadi."Dia menatapku lagi," ia berkomat-kamit."Siapa?" tanyaku terkejut."Wanita dalam kegelapan," balas Yuki.Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mencoba memberitahunya bahwa itu hanya imajinasinya saja, tapi ia menggelengkan kepalanya. Aku memerlukan waktu yang lama untuk menidurkannya lagi.Hari berikutnya, Yuki sudah baikan. Ia senang bermain dengan kamera digital. Saat tiba waktunya pulang ke rumah, aku membiarkan Yuki menyimpan kamera digitalku yang lama. Yuki memelukku. Walaupun ia tidak mengatakan apa pun, aku bisa tahu bahwa ia bahagia.Aku mengantar gadis kecil itu ke rumah bibiku. Sebelum pulang, aku menyempatkan untuk meminum secangkir teh. Bibiku berterima kasih padaku karena telah merawat Yuki. Kami menghabiskan beberapa waktu untuk mengobrol di meja dapur."Kasihan dia," kata bibiku. "Ia tidak berbicara sepatah kata pun sejak ibunya meninggal."Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku, maka aku bertanya, "Bagaimana ibu Yuki meninggal?"Sebuah tatapan aneh muncul pada wajah bibiku, "Dia tewas terbakar...""Bagaimana kebakaran itu terjadi?" tanyaku."Well..." bibiku ragu-ragu untuk berbicara tentang hal itu. "Itu cerita yang menyedihkan. Ibu Yuki melakukan bunuh diri. Ia merupakan wanita yang sakit jiwa. Ia menuang bensin ke seluruh tubuhnya, lalu menyalakan korek api. Ia membakar dirinya sendiri hidup-hidup.""Ya Tuhan!" seruku. "Betapa mengerikan!""Ya," kata bibiku. "Keluarganya sangat terkejut, mereka menutupinya dan berpura-pura kejadian itu sebagai kecelakaan. Mereka mengadakan upacara pemakaman kecil-kecilan, hanya keluarga dekat saja yang diundang. Yuki tidak ada di sana. Dia bahkan tidak tahu jika ibunya meninggal. Ia mengira ibunya hanya sedang liburan panjang. Kami tidak tega menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.""Kasihan Yuki," bisikku.Bibiku mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sedih. "Kasihan Yuki."Beberapa hari setelahnya, Yuki meninggal.Bibiku mencoba mengubah kebiasaan Yuki. Malam itu, ia memaksa gadis kecil tersebut untuk tidur sendiri di kamarnya. Walaupun Yuki menangis dan meraung, bibiku tetap meninggalkan ia di kamarnya dengan pintu yang terkunci. Pada pagi harinya, bibiku menemukan tubuh Yuki sudah tidak bergerak di atas ranjangnya. Gadis kecil yang malang itu telah meninggal.Tidak adayang tahu apa yang terjadi. Dokter tidak bisa mengidentifikasi penyebab kematiannya. Tidak ada bekas apa pun di tubuhnya. Ia benar-benar sehat. Ia meninggal secara misterius pada malam itu. Tidak ada penjelasan apa pun.Setelah upacara pemakaman, aku kembali ke rumah bibiku. Semua orang merasa sangat sedih. Bibiku mengembalikan kamera digital yang kuberikan pada Yuki. Aku membawanya pulang ke rumah. Benda itu mengingatkanku padanya.Kartu memori kamera digitalku penuh dengan foto yang diambil oleh Yuki. Aku melihat-lihat foto yang ia ambil sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku. Ada gambar apartemenku, gambar rumah bibiku, gambar bunga, anjing, mainan, permen... Gambar-gambar lucu yang diambil oleh seorang anak kecil.Kemudian, aku membuka gambar terakhir yang membuat darahku membeku. Tanganku gemetaran. Aku ingin berteriak, tapi tidak ada apa pun yang keluar dari mulutku. Tanggal yang tercetak di foto menunjukkan bahwa itu diambil pada malam saat Yuki meninggal.
Bayangan di Stasiun
Aku tinggal di Tokyo. Setiap pagi, aku naik kereta api bawah tanah untuk pergi bekerja. Stasiun lokal yang kugunakan adalah Stasiun Shin-Koiwa di jalur Chuo. Tempat itu terkenal sebagai tempat untuk melakukan bunuh diri.Bahkan, tempat tersebut memiliki julukan "Statiun Bunuh Diri". Sepanjang tahun, orang yang depresi dan salah jalan yang tak terhitung jumlahnya telah melakukan bunuh diri di sana dengan melompat di depan kereta api.Hal itu menjadi masalah, sehingga pihak stasiun memasang cermin di kereta api bawah tanah. Mereka mengatakan jika orang-orang melihat bayangan mereka sendiri saat akan melompat, itu akan mengubah niat mereka. Aku tidak berpikir ide tersebut akan benar-benar bekerja.Baru minggu lalu, ada bunuh diri di stasiun. Aku ada di sana saat hal itu terjadi. Aku melihat segalanya.Saat itu pagi buta. Aku sedang menunggu kereta api. Hanya ada sedikit orang di peron. Aku mendengar suara dari loudspeaker yang mengumumkan bahwa kereta akan datang.Tiba-tiba, aku memperhatikan seorang wanita yang berdiri tepat di depanku. Ia wanita biasa yang berumur kira-kira 26 atau 27 tahun. Tapi sesuatu tentang dia membuatku was-was.Dia bertingkah sangat aneh. Saat kereta api semakin mendekat, ia melangkah ke depan dan mulai melangkah setapak demi zetapak ke pinggir peron. Ada sesuatu yang sangat salah. Ia menoleh ke belakang untuk memandangku. Aku hanya bisa melihat tatapan ketakutan di wajahnya.Tiba-tiba, aku tahu apa yang kira-kira akan ia lakukan. Tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk menghentikannya. Aku membeku di tempat karena ketakutan. Aku hanya bisa melihatnya melempar dirinya sendiri di depan kereta api.Ada decit rem yang berbunyi saat kereta api mencoba untuk berhenti. Penumpang lain di peron menjerit. Diantara gema suara penumpang yang menjerit dan decitan besi, aku bisa mendengar suara tabrakan yang memualkan.Pandangan menjadi sangat mengerikan sekali. Aku tidak bisa melupakannya dari benakku. Ada darah dan potongan daging beterbangan dimana-mana. Aku pikir aku akan muntah. Penumpang lain berlari dari peron. Aku juga ikut berlari bersama mereka.Petugas polisi harus menutup semua jalur. Saat kami menunggu di luar untuk naik bus menuju tempat tujuan, aku masih memikirkan tentang wanita yang malang itu. Adegan tersebut berputar lagi dan lagi dalam benakku, tapi ada sesuatu yang salah. Akhirnya, seuatu itu datang padaku.Bayangan.Itulah yang membuatku khawatir. Aku memperhatikannya sebelum wanita itu melompat. Lampu di stasiun kereta api bawah tanah bersinar terang. Saat lampu-lampu itu menyinari ke bawah, mereka membuat bayangan dari kiri ke kanan. Pilar, kios, semuanya membuat bayangan dari kiri ke kanan.Tapi bayangan wanita itu berbeda. Bayangannya berjalan tepat ke depan, menarik kakinya sampai ke pinggir peron, seolah-olah cahaya bersinar dari belakang.Pasti ada sesuatu yang salah. Aku memiliki perasaan tidak nyaman dalam perutku yang tidak mau hilang. Aku telah sampai pada kesimpulan dari ini semua.Segera setelah sampai di tempat kerja, aku langsung membuka internet untuk mencari berita lama tentang stasiun kereta api bawah tanah. Ada lebih dari 20 kasus bunuh diri yang terjadi pada tahun lalu. Beberapa dari mereka adalah pengusaha, beberapa ada yang tua, ada juga wanita dan pria muda, bahkan ada sedikit anak kecil.Akhirnya, aku menemukan apa yang kucari. Itu adalah sebuah foto yang diambil beberapa detik sebelum seorang laki-laki paruh baya melompat di depan kereta api. Aku menekan tombol zoom untuk memperbesar gambarnya, kemudian aku memeriksanya dengan hati-hati.Satu kakinya di udara, ia sedang mencoba untuk berbalik. Aku mengenali wajah penuh teror di wajahnya. Ada sebuah bayangan hitam seperti lengan yang keluar dari peron. Tangan itu sedang menyambar pergelangan kaki si pria paruh baya. Tiba-tiba, segalanya menjadi jelas.Saat aku melihat gadis muda di stasiun pada pagi itu, ia tidak melompat di depan kereta... Ia ditarik ke depan kereta api.
Tangga Kayu
Ada sebuah bangunan apartemen tua di Jepang yang memiliki cerita terkait angka tujuh. Apartemen tersebut sangat kecil dan tua sekali. Bangunan apartemen itu juga tidak memiliki lift. Hanya ada tangga kayu besar yang bobrok. Tangga dari kayu tersebut terdiri dari tujuh anak tangga. Setiap anak tangga memiliki tujuh langkah.Di lantai satu dari bangunan tersebut, ada satu ruang apartemen yang berseberangan langsung dengan anak tangga. Pemilik apartemen sangat kesulitan menemukan penyewa yang mau tinggal di apartemen tersebut. Kapan pun ia menyewakannya, penyewa tiba-tiba akan pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun. Setiap penyewa akan pergi kurang dari seminggu setelah menyewa ruangan tersebut.Suatu hari, seorang laki-laki muda datang untuk melihat-lihat apartemen yang kosong. Apartemen itu sangat kecil, tapi pemiliknya meminta harga sewa yang sangat rendah. Kemudian, si laki-laki memutuskan untuk mengambil apartemen tersebut. Ia memindahkan barang-barang miliknya beberapa hari kemudian.Hari pertama laki-laki muda menghabiskan waktunya di apartemen merupakan hari Senin. Sepanjang malam, ia terbangun dari tidur karena suara asing. Itu seperti suara anak kecil, bergema di anak-anak tangga dekat pintu depan."Aku telah sampai di anak tangga pertama," kata suara tersebut."Apa yang dilakukan anak kecil pada jam tidur malam-malam begini?" si laki-laki bertanya pada dirinya sendiri.Namun demikian, ia terlalu lelah karena harus mengangkut barang-barangnya. Ia lalu kembali tidur.Malam berikutnya, ia terbangun lagi oleh suara yang sama dari luar, "Aku telah memanjat anak tangga kedua!"Pada hari Rabu malam, suara itu terdengar menjerit, "Aku telah memanjat anak tangga ketiga!"Si laki-laki melompat keluar dari ranjang dan berlari ke pintu depan. Saat ia membuka pintu dan melongok keluar, ia melihat anak tangga itu kosong. Sebuah pemikiran menakutkan lewat di benaknya. "Apakah mungkin anak tangga itu berhantu?"Hal yang sama terjadi pada hari keempat, kelima, dan keenam. Setiap malam, si laki-laki mendengar suara anak kecil yang memanggilnya dari luar. Setiap waktu, suara itu semakin mendekat.Minggu malam akhirnya datang. Si laki-laki gemetar di tempat tidurnya. Ia berpikir untuk pindah, tapi ia meyakinkan dirinya sendiri jika ia harus berani. Ia menolak untuk membiarkan dirinya ketakutan oleh suara hantu. Pada tengah malam, ia bangun karena mendengar sesuatu mencakar pintunya.Sebuah suara melolong terdengar, "Aku telah sampai di anak tangga ketujuh!"Bulu kuduk si laki-laki berdiri saat ia mendengar pintu kamarnya yang terkunci tiba-tiba mengayun membuka.Pagi berikutnya, pemilik apartemen datang untuk menagih biaya sewa. Saat ia mengetuk pintu apartemen, tidak ada jawaban sama sekali. Penasaran dengan kondisi si laki-laki yang menyewa apartemennya, si pemilik mengambil kunci dan masuk.Pemilik apartemen menemukan tubuh si penyewa telentang di atas ranjang. Wajahnya menunjukkan kengerian yang luar biasa. Polisi datang untuk memeriksa tubuh penyewa, tapi tidak ada penyebab kematian yang jelas. Sepertinya laki-laki itu mati karena ketakutan.Apartemen itu masih kosong sampai hari ini, menunggu penyewa baru. Sepanjang tahun, semua orang yang tinggal di sana sebelumnya, memilih kabur sebelum seminggu. Mereka semua mengatakan bahwa mereka pergi karena takut apa yang akan terjadi saat suara itu sampai di anak tangga ketujuh.Hanya ada dua orang yang tahu jawabannya: Laki-laki yang mati dan suara aneh yang memanjat anak tangga setiap malam.
Badut yang Sedih
Beberapa hari yang lalu, aku bermimpi sesuatu yang sangat aneh. Aku sedang berdiri di jalan sempit yang panjang menuju sekolahku. Hari itu ada kesunyian yang aneh. Tidak ada angin yang bertiup, tidak ada burung ynag menyanyi, dan tidak ada serangga yang mengerik. Jalan tampak sangat lengang karena tidak ada siapa pun di sana. Aku mulai berjalan.Setelah itu, aku merasakan perasaan aneh bahwa seseorang sedang mengawasiku. Aku menoleh ke balik bahuku dan melihat bayangan kecil di kejauhan. Bayangan itu seprtinya berlari dengan kecepatan kencang. Aku tetap berjalan, tetapi setiap kali aku melihat ke belakang, bayangan itu semakin dekat. Segalanya membuatku sangat tidak nyaman. Bayangan itu semakin mendekat padaku.Pada suatu tempat, aku menghentikan langkahku untuk menoleh kr belakang. Bayangan itu ikut berhenti. Ia hanya berdiri di tengah jalan sana sambil menatapku. Saat aku mulai berjalan kembali, bayangan itu mulai berlari di belakangku. Akhirnya, bayangan itu cukuk dekat denganku sehingga aku bisa melihat wajahnya.Ia adalah seorang badut. Riasan sedih bisa kau lihat pada wajah badutnya. Ia memakai mantel tipis dan topi yang lusuh, seperti seorang gelandangan. Caranya memandangku membuatku sangat ketakutan. Untuk beberapa saat aku berpikir, "Jika ia menangkapku, ia akan membunuhku."Aku ingin lari, tapi karena beberapa alasan, aku tidak bisa melakukannya. Kakiku terasa berat sehingga aku tidak bisa mengangkat kakiku. Hal yang bisa kulakukan hanya jalan di tempat. Badut itu semakin mendekat ke arahku. Saat aku melihatnya lagi, aku bisa melihat mata badut tersebut. Ia sedang menangis.Aku melihat sekolahku di kejauhan. Sebuah harapan muncul. Sesuatu berbisik padaku jika aku bisa ke sana sebelum ia menangkapku, maka aku akan selamat.Baru saja aku sampai di gerbang utama sekolah, aku menoleh untuk terakhir kalinya. Badut itu berada tepat di belakangku. Tangannya menyambar bahuku dan memutar tubuhku.Hal yang sangat menakutkan adalah wajahnya. Ia tidak marah sama sekali. Malahan, ia terlihat putus asa dengan tampang mengerikan. Air mata jatuh membasahi riasan di pipinya."Tertangkap kau!" katanya.Kemudian yang mengejutkanku adalah ia hanya melepaskanku dan berjalan pergi.Aku berdiri tercengang di sana. Bagaimana aku bisa menjadi bodoh? Aku ketakutan tanpa alasan. Aku mulai menertawakan diriku sendiri. Badut itu berhenti dan berbalik. Ia mengambil pisau berkarat dari sakunya dan memamerkannya di depan wajah."Kali kedua aku menangkapmu, akj harus memotongmu," katanya. "Ketiga kalinya, aku harus membunuhmu... Sampai jumpa lagi."Dengan pisau karatan itu, si badut mengusap air mata dari wajahnya dan melangkah pergi.Aku terbangun dengan keringat dinginSejak aku bermimpi tentang si badut, aku terlalu takut untuk pergi tidur. Selama berhari-hari, aku minum kopi dan coca cola karena putus asa untuk selalu terjaga. Aku tidak berani menutup mataku walaupun hanya sejenak. Aku takut aku jatuh tertidur... dan jika aku bermimpi, aku tahu badut itu akan berada di sana untuk menungguku.
Taman Bermain
Ini terjadi saat aku menjadi mahasiswa. Aku sedang berjalan pulang ke rumah saat aku dihentikan oleh seorang gadis kecil. Ia terlihat berumur lima atau enam tahun. Ia menyambar tanganku dan mulai menarikku."Tolong datanglah," ia memohon. "Ibuku membutuhkan bantuan..."Aku tidak tahu mengapa, tapi karena beberapa alasan aku pergi bersamanya.Gadis cilik itu menyeret tanganku sekitar 4 atau 5 blok sampai kami tiba di sebuah taman. Ada pohon-pohon, bangku, ayunan, dan perosotan. Mungkin karena sudah agak petang, taman itu terlihat sepi.Gadis itu tidak mau melepaskan tanganku. Ia menyeretku ke arah perosotan. Di dekatnya, aku melihat seorang wanita duduk di bangku di bawah sebuah pohon. Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa melihat wajahnya karena cabang-cabang pohon menutupinya."Aku membawa seseorang, Bu!" gadis cilik itu memanggilnya dengan ceria.Si wanita yang duduk di atas bangku tidak bergerak.Dari belakang cabang-cabang pohon, aku mendengarnya berkata, "Maafkan saya. Itu anak perempuan saya..."Ada sesuatu tentang suara wanita itu yang membuat bulu kudukku merinding. Aku merasakan sesuatu yang sangat-sangat salah. Aku hanya ingin pergi dari sana secepat mungkin.Si gadis kecil berkata, "Ayo, bermain denganku." Ia lalu berlari ke arah perosotan."Maafkan saya, itu anak saya..." kata wanita itu lagi dalam nada datar.Aku masih tidak bisa melihat wajahnya. Sesuatu tentang caranya duduk membuatku gelisah. Aku mulai berkeringat dingin. Si gadis cilik bermain di perosotan di belakangku. Sedangkan matahari terbenam sehingga mulai berubah gelap."Mengapa Anda memberitahu anak Anda untuk membawa saya ke sini?" tanyaku. "Mengapa saya?"Saat itu, wanita tersebut tiba-tiba berteriak, "Jenny!"Ada suara gedebuk. Aku menoleh ke arah perosotan di belakangku. Gadis kecil itu telah terjatuh. Ia berbaring tanpa suara di atas tanah. Wajahnya pucat, sedangkan matanya terbuka lebar. Ia terlihat tidak bernapas. Saat aku melihatnya dengan penuh ketakutan, darah mulai merembes hingga menyebar di sekitar kepalanya.Aku ingin menelepon polisi, ambulan, atau apa pun itu... tapi aku membeku ketakutan. Aku tidak bisa bergerak.Aku menoleh kembali ke arah bangku taman. Wanita itu duduk di sana tanpa bergerak. Aku tidak mengerti mengapa ia tidak menolong anak perempuannya.Aku menggapai dan menarik cabang-cabang pohon yang menutupi wajahnya. Apa yang kulihat membuatku menjerit ketakutan. Itu adalah wajah mayat seorang wanita.Wajahnya berwarna keunguan. Matanya menonjol keluar, sedangkan lidahnya menjuntai diantara bibirnya. Ada sebuah syal yang membungkus lehernya dengan ketat. Ujungnya terikat di cabang pohon di atasnya. Ia menggantung dirinya sendiri.Mulut wanita itu terbuka dan ia menggumam, "Maafkan saya, itu anak saya..."Aku tidak ingat banyak setelah itu. Pikirku, aku pasti pingsan.Saat aku kembali sadar, aku sedang berbaring di atas tanah. Saat itu sangat gelap, sedangkan taman sudah sepi. Aku bangun dan lari pulang ke rumah.Setelahnya, aku mendapati kabar bahwa wanita itu melakukan bunuh diri di taman bertahun-tahun yang lalu. Anak gadisnya tewas dalam sebuah kecelakaan, sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri. Wanita yang malang tersebut menjadi putus asa hingga ia akhirnya bunuh diri.Taman bermain lalu ditinggalkan sejak saat itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang aku lihat.
Hotel Murah
Delapan tahun lalu, aku bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Jepang. Itu adalah perusahaan kecil yang sibuk sepanjang tahun. Beberapa dari kami harus menghadiri konferensi bisnis di luar kota. Tugasku adalah memesan beberapa kamar hotel dimana kami bisa menginap.Sebulan lebih sebelum konferensi, aku membuka internet untuk memesan empat kamar di sebuah hotel yang murah. Kelompok yang pergi ke konferensi adalah aku sendiri, rekanku yang bernama Shinichi, manajer kami, dan pemilik perusahaan.Sehari sebelum konferensi dilaksanakan, aku menelepon pihak hotel untuk mengkonfirmasi pemesanan. Tapi aku dikejutkan oleh kabar yang tidak menyenangkan. Saat mereka mengecek pemesanan, staf hotel menyadari mereka membuat kesalahan besar. Mereka hanya menyediakan dua kamar single untuk kami.Aku sangat geram. Aku memprotes dengan marah, tapi staf hotel memberitahuku mereka tidak memiliki kamar lain. Aku menuntut untuk berbicara pada manajer hotel. Akhirnya, ia memberitahuku ada kamar ganda yang bisa ia berikan pada kami dengan harga yang sama dengan kamar single . Aku tidak terlalu senang, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.Hari berikutnya, kami menghadiri konferensi. Saat kami sampai di hotel, saat itu sekitar pukul satu pagi. Kami mengambil kunci kami di meja resepsionis. Karena sangat lelah, jadi kami berempat langsung masuk ke kamar. Tentu saja, pemilik perusahaan dan manajer memperoleh kamar single . Jadi, aku dan Shinichi terpaksa berbagi kamar.Kamar kami terletak di lantai atas pada bagian belakang hotel. Saat aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan, aku merasakan perasaan ngeri yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi entah kenapa ruangan itu memiliki suasana yang sangat tidak menyenangkan. Kamar itu didekorasi bergaya Jepang, tapi luar biasa kotor.Karena aku sudah lelah, jadi aku masuk ke dalam kamar sambil menaruh koperku di atas lantai. Aku bisa melihat rekanku, Shinichi yang tidak terlalu bahagia. Aku mencoba meyakinkannya bahwa mungkin saja kamar itu tak seburuk kelihatannya.Ada dua buah futon * di atas lantai. Keduanya terlihat sedikit baru, tapi yang lainnya kotor dan tertutupi debu. Tirai terlihat compang-camping dan lembab. Kertas dinding mengelupas dari dinding dengan tambalan-tambalan, bahkan ada jamur dimana-mana. Hal itu sangat menjijikkan. Kamar tersebut seperti tidak pernah dipakai selama bertahun-tahun.Ada dua buah shoji ** untuk berganti pakaian, jadi kami pergi ke belakangnya untuk berganti pakaian. Aku sedang menunduk ke lantai saat aku melihat sebuah noda merah gelap di karpet, seolah-olah seseorang menumpahkan sesuatu di sana tapi tak ada orang yang mau membersihkannya.Aku memutuskan untuk protes ke manajer hotel tentang hal itu keesokan harinya. Pada waktu itu, yang paling kuinginkan adalah cepat-cepat mandi dan pergi tidur. Namun demikian, saat aku masuk ke dalam kamar mandi, ada bau busuk yang membuatku menutup hidung. Kamar mandi itu lembab dan pengap. Bak mandinya dipenuhi noda berwarna cokelat.Kami berdua tidak jadi mandi, jadi kami hanya berbaring di atas futon dan mencoba untuk tidur. Futon yang kugunakan menghadap langsung ke arah kamar mandi, sedangkan futon milik Shinichi menghadap ke arah jendela.Pada tengah malam, aku tiba-tiba terbangun. Aku mengedipkan mata dan melihat sekeliling. Dalam cahaya temaram, aku melihat pintu kamar mandi terbuka. Sebelumnya, pintu itu tertutup untuk mencegah baunya memasuki ruangan. Tapi sekarang pintu tersebut terbuka. Saat pandanganku berpindah ke bawah, aku melihat sesuatu bergerak di lantai.Saat itu sangat gelap, aku tidak bisa memastikan itu apa. Ada dua bentuk gelap mencakari karpet."Apa lagi sekarang?" geramku. "Tikus?"Mataku berangsur-angsur menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Itu adalah kepala seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang. Apa yang kukira tikus ternyata adalah tangan wanita tersebut.Tangannya yang berbonggol menggenggam dan mencakari karpet sebelum tubuhnya secara perlahan-lahan merangkak keluar dari kamar mandi, sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut.Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat itu seolah-olah aku lumpuh. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya berbaring di sana, menatap ketakutan pada wanita yang merangkak pelan-pelan ke arahku... inci demi inci... semakin dekat.Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan teriakan yang tadinya tertahan dan berjuang keluar dari tempat tidur. Aku menghidupkan lampu dan wanita itu menghilang. Aku gemetar hingga keringat dingin turun dari dahiku."Shinichi," aku berbisik. "Apakah kau melihatnya...? Wanita itu... ia merangkak menyeberangi lantai..."Aku mendekat untuk mengoyang-goyangkan tubuh Shinichi, tapi ternyata ia sudah bangun. Ia menoleh hingga aku bisa melihat matanya terbuka lebar penuh ketakutan."Aku juga melihatnya," ia berkata dengan suara bergetar. "Setengah jam yang lalu, ia menatap tajam melalui jendela... menatapku..."Kami berdua berjuang untuk berdiri, menyambar tas kami, dan lari keluar dari ruangan. Kami menghabiskan waktu semalaman di ruang manajer untuk memberitahunya apa yang kami lihat.Pagi berikutnya, kami pergi ke meja resepsionis untuk protes. Aku memberitahu manajer hotel bahwa kami tidak akan pernah menginap di hotelnya lagi. Kami juga akan memperingatkan semua orang yang kami kenal untuk tidak menginap di sana.Kapan pun aku memikirkan tentang hantu wanita itu, betapa ia dekat sekali dengan kami, itu membuatku merasa ketakutan.****Futon: Jenis perangkat tidur tradisional Jepang. Futon digelar di atas tatami, di atas tempat tidur, atau kasur. Satu set futon terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut.**Shoji: Panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan. Kertas pelapis dapat berupa washi atau kertas bercampur serat sintetis. Dalam arsitektur tradisional Jepang, shōji berfungsi sebagai pintu geser, atau ketika dipasang permanen sebagai jendela atau partisi.
Bak Mandi Baja
Beberapa tahun yang lalu, aku pindah ke apartemen baru. Biaya sewanya murah dan dekat dengan tempat kerjaku. Apartemen itu terdiri dari satu kamar kecil dengan dapur dan kamar mandi. Hal yang paling bagus tentangnya adalah ada bak mandi baja yang cantik termasuk dengan shower .Suatu malam, aku sedang berada di bak mandi untuk mencuci rambut. Penglihatanku dikaburkan oleh shampo, tapi sudut mataku menangkap sekilas ada sesuatu yang aneh. Di pinggir bak mandi, aku pikir aku melihat dua tangan berwarna putih.Aku cepat-cepat membasuh wajahku dengan air. Tapi saat aku membuka mata dan melihat sekeliling, tangan yang tadi kulihat sudah tidak ada. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah penglihatan yang keliru.Namun demikian, beberapa hari kemudian aku berada di bak mandi lagi. Aku sedang mencari sabun. Tiba-tiba aku melihat ke belakangku. Saat itulah aku melihatnya. Dua tangan putih berpegang teguh pada pinggir bak mandi.Beberapa detik kemudian saat aku melihat lagi, kedua tangan itu telah hilang. Aku yakin bahwa tangan pucat yang aku lihat milik seorang anak kecil.Tidak lama setelah itu, aku lelah bekerja dan memutuskan untuk menata kamar tidurku. Aku membutuhkan tempat untuk menaruh koperku, jadi aku membuka bagian bawah lemari. Saat aku menarik kertas karton yang melekat di bagian bawah lemari, sesuatu terjatuh dan mendarat di lantai.Itu adalah foto dari seorang anak lelaki yang kira-kira seumuran dengan siswa taman kanak-kanak. Aku melihat tangannya yang putih pada foto tersebut. Tangan-tangan itu tampak familiar. Hal itu membuatku takut, jadi aku membuang foto itu ke kaleng sampah bersama sisa-sisa sampah yang lain.Malam itu saat aku berbaring di tempat tidur sambil menonton TV, aku mendengar suara dari kamar mandi. Aku bangun untuk mengeceknya dan menemukan bahwa bak mandi baja telah terisi dengan air dingin sampai meluber. Aku membungkuk untuk mematikan keran, tapi aku melihat sesuatu terpantul dari permukaan air.Itu adalah bayangan seseorang yang berdiri di belakangku. Seorang wanita dengan rambut panjang. Tiba-tiba, sesuatu menyambarku. Kepalaku didorong ke dalam air dingin. Aku mencoba melawan, tapi ia terlalu kuat. Aku bertarung untuk melarikan diri dari cengkeraman licin tersebut, tapi ia tidak mau membiarkanku pergi. Aku tidak bisa bernapas karena paru-paruku rasanya akan meledak. Aku ketakutan jika aku sampai tenggelam.Karena panik, aku menendang-nendang dengan kakiku, tapi tidak ada sesuatu di belakangku untuk kutendang. Aku memutar tubuhku. Tanganku terangkat, mencoba sekeras mungkin untuk mengangkat tubuhku sendiri dari bak mandi. Dengan seluruh kekuatanku, aku berusaha menarik kepalaku keluar dari dalam air. Aku berhasil setelah megap-megap.Tidak ada seorang pun di sana.Pintu kamar mandi tertutup. Aku memutar kenop untuk membukanya, tapi aku merasa sesuatu menyentuh kakiku. Aku melihat ke bawah dan melihat tangan kecil berwarna putih sedang mencengkeram pergelangan kakiku.Aku menjerit ketakutan dan lari keluar dari kamar mandi. Apartemen benar-benar kosong. Aku buru-buru keluar untuk menginap semalaman di rumah temanku.Aku merasa terganggu oleh berbagai pertanyaan. Siapa yang tinggal di sana sebelum aku pindah? Apa yang terjadi di sana? Aku mencoba bertanya pada penyewa, tapi ia tak mau berbicara tentang hal itu.Aku memutuskan untuk pindah dan mencari tempat tinggal lain. Saat aku kembali ke apartemen guna mengumpulkan barang-barangku, aku menemukan koperku tergeletak di lantai kamar tidur. Benda itu sudah penuh dengan baju.***
Tujuh
Cerita berikut ini diceritakan oleh temanku dari Jepang. Katanya, ia pernah membacanya pada sebuah surat kabar. Aku belum pernah melihat surat kabar itu, jadi aku tidak tahu cerita ini benar terjadi atau bohong belaka. Cobalah baca dan putuskan sendiri.Ada sekelompok remaja yang terdiri dari empat anak laki-laki dan empat anak perempuan yang bersekolah di sekolah yang sama. Suatu malam, mereka mengadakan sebuah pesta kecil di salah satu rumah anak laki-laki. Saat itu telah larut malam dan obrolan berubah menjadi cerita-cerita menyeramkan. Sekelompok sahabat itu ingin menguji keberanian mereka dengan pergi ke tempat berhantu. Mereka pikir hal itu akan menyenangkan untuk menakut-nakuti diri mereka sendiri dengan berwisata di suatu tempat yang berhantu pada malam hari.Bertahun-tahun yang lalu, mereka pernah mendengar tentang sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan. Tempat itu terletak di pinggiran kota. Semua orang bilang sekolah tersebut berhantu. Tidak ada satu pun dari kelompok sahabat itu yang percaya adanya hantu, tapi mereka ingin menakut-nakuti diri mereka sendiri. Selain itu, sekolah yang telah ditinggalkan tersebut merupakan tempat paling mudah yang bisa didatangi.Salah satu dari gadis-gadis memiliki mobil, jadi mereka mengemudi ke sekolah dan berhenti di halaman luar. Kedelapan anak itu memutuskan untuk masuk sekolah secara berpasangan. Rencananya, setiap pasangan harus berjalan-jalan di sekitar sekolah berlawanan arah dengan jarum jam. Hal itu akan memakan waktu sekitar 10 menit untuk mengelilingi sekolah. Jika pasangan pertama sudah selesai maka saat mereka kembali, mereka harus menceritakan apa yang mereka lihat pada yang lainnya. Kemudian, giliran pasangan kedua yang harus berjalan mengelilingi sekolah.Pasangan pertama yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan perempuan masuk ke sekolah, sedangkan enam teman-temannya yang lain menunggu di dalam mobil. Setelah beberapa saat, mereka mulai tidak sabar. Saat itu sudah lebih dari 20 menit, tapi teman-teman mereka masih belum kembali. Setelah 30 menit berlalu sejak pasangan pertama pergi, teman-temannya yang lain mulai bosan menunggu. Anak laki-laki dan perempuan berikutnya memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekolah guna mencari kedua teman mereka.Teman-temannya yang lain menunggu dan terus menunggu, tapi pasangan kedua tak juga kembali. Teman-temannya yang tersisa tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka mulai penasaran apakah teman-temannya memainkan kelakar pada mereka.Saat itu hampir satu jam sejak pasangan pertama pergi. Anak laki-laki dan perempuan yang mendapat giliran ketiga dengan cemas pergi ke sekolah untuk mencoba mencari teman-teman mereka yang hilang. Mereka tak pernah kembali.Anak laki-laki dan perempuan yang tersisa paling belakang merasa sangat gelisah. Si anak perempuan mulai menangis, sedangkan si anak laki-laki mencoba untuk menenangkannya.Akhirnya, si anak laki-laki berkata, "Aku akan pergi untuk mencari yang lainnya. Jika aku tidak kembali setelah 30 menit, maka panggillah polisi."Setelah si anak laki-laki pergi, si anak perempuan berdiri sendirian di tengah malam yang gelap dan dingin sambil menangis diam-diam. Ia menunggu selama satu jam, tapi tidak ada seorang pun yang kembali. Ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan mengemudi ke kantor polisi terdekat.Empat petugas polisi menemani si anak perempuan kembali ke sekolah. Saat menjelang subuh, mereka mulai mencari tujuh remaja yang hilang. Awalnya, mereka tidak bisa menemukan tanda-tanda dari anak-anak itu di lapangan sekolah, tapi kemudian mereka menemukan pintu samping sekolah tua. Gedung olahraga yang tak terpakai pintunya terbuka.Para polisi masuk ke dalam, tapi ruangan itu kosong. Hanya ada kesunyian di udara. Saat mereka melihat ke dalam toilet gedung olahraga, mereka akhirnya menemukan tujuh remaja yang hilang. Leher mereka semua tergantung di atap.Polisi menginterogasi gadis yang selamat. Ia bersumpah bahwa ia menceritakan cerita yang benar. Tujuh remaja pergi ke sekolah terlantar untuk menguji keberanian mereka. Mereka tidak punya alasan untuk melakukan tindakan bunuh diri.Namun demikian, setelah menghabiskan waktu berminggu-minggu mencoba untuk memecahkan misteri tersebut, polisi akhirnya menutup kasus. Mereka berkata bahwa mereka tidak bisa menemukan bukti jika remaja-remaja itu telah dibunuh. Pada akhirnya, kejadian itu dijelaskan sebagai kasus dari histeria massal. Polisi mengklaim bahwa tujuh remaja pasti terlibat bunuh diri.Sampai hari ini, tidak ada seorang pun di kota itu yang berani pergi ke sekolah tua terlantar setelah larut malam.***
Tangan Putih
Ada empat remaja laki-laki yang berteman baik. Suatu malam, mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah terowongan berhantu. Penduduk setempat kadangkala mengunjungi terowongan itu untuk menguji keberanian mereka. Anak-anak lelaki itu tidak mempercayai hantu. Mereka ingin mengambil gambar diri mereka sendiri di dalam terowongan sehingga mereka bisa menunjukkannya pada teman-teman mereka yang lain.Malam itu, empat anak laki-laki itu mengemudi ke jalan menuju pegunungan. Akhirnya, mereka sampai di terowongan. Mereka memarkir mobil di luar terowongan angker.Menurut urban legend yang mereka dengar, jika kau berdiri di mulut terowongan dan mengulangi kata-kata ini, sesosok hantu akan muncul. Mereka berdiri di depan terowongan diterangi cahaya mobil. Mereka berkata bersama-sama, lagi dan lagi, "Keluarlah, keluarlah dimana pun kau berada!"Kemudian, mereka menunggu. Tapi tak ada apa pun yang terjadi."Seperti perkiraanku," kata salah satu anak laki-laki. "Tidak ada hantu.""Yeah, ini hanya legenda bodoh," kata anak lelaki yang lain, mencoba tidak menunjukkan ketakutannya. "Ayo, ini membosankan. Ayo segera berfoto lalu pulang."Anak-anak laki-laki itu berkumpul di depan mulut terowongan. Mereka meletakkan kamera di atas mobil. Timer kamera berhitung mundur hingga berhasil memotret mereka. Kemudian, mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.Namun demikian, anak lelaki yang duduk di bangku kemudi tidak segera menghidupkan mesin mobil. Teman-temannya yang lain menunggu beberapa menit dalam kesunyian. Kemudian, mereka mulai tidak sabar."Hei, mengapa kita tidak bergerak?" teriak seorang anak dari bangku belakang.Si sopir tidak merespon. Ia hanya duduk di sana."Ayolah, Kawan. Apa yang terjadi padamu?" tanya teman-temannya.Anak lelaki yang duduk di depan kemudi pelan-pelan menoleh untuk menatap teman-temannya. Wajahnya pucat dan keringat kecil-kecil menuruni pipinya."Teman-teman... Kita teman, kan?" katanya. Suaranya terdengar gemetar."Tentu saja kita teman," balas yang lainnya. "Sahabat baik.""Kalian akan selalu bersamaku, kan?" tanyanya."Tentu saja," balas mereka. "Selalu bersama.""Jika aku berada dalam masalah, kalian tak akan meninggalkanku... kan?" katanya."Tidak akan," kata mereka. "Kau bisa mempercayai kami."Laki-laki muda di kursi kemudi tersenyum lemah. Ia mengusap alisnya. Ia berbisik lemah, "Lalu... Lihatlah kakiku..."Anak-anak lelaki lainnya saling bertukar pandangan dengan bingung. Mata mereka pelan-pelan berpindah ke arah kakinya. Dua tangan berwarna putih muncul dari lantai mobil. Jari-jari panjang mencengkeram pergelangan kaki si pengemudi dengan kuat.Untuk beberapa saat, teman-temannya menatapnya dengan terkejut. Kemudian, tiba-tiba mereka mulai berteriak ketakutan. Mereka berebutan membuka pintu mobil dan melarikan diri secepat kaki membawa mereka, meninggalkan teman mereka sendirian di dalam mobil.Anak-anak lelaki itu tidak berhenti berlari sampai mereka sampai di bawah bukit. Mereka berhenti untuk menarik napas sambil melihat satu sama lain dengan wajah ketakutan.Setelah beberapa waktu, mereka berhati-hati kembali ke pintu masuk terowongan. Mobil itu masih terparkir di sana. Cahaya lampunya menyinari terowongan, tapi anak laki-laki di kursi kemudi telah hilang. Ia telah lenyap dan mereka tak pernah menemukannya. Sekarang, keberadaannya tak pernah diketahui.
Tas Sekolah
Saat aku berumur delapan tahun, ada seorang gadis cilik di kelasku. Namanya Haako-chan. Ia orang yang ceria dan selalu tersenyum pada siapa pun. Salah satu yang paling kuingat tentang dirinya adalah ia memiliki sebuah tas sekolah berwarna merah.Suatu hari, Haako tidak datang ke sekolah. Semua orang penasaran dimana ia berada. Saat kami bertanya pada guru, mereka berkata bahwa mereka juga tidak tahu. Seminggu kemudian, ia tetap tidak datang ke sekolah sehingga kami mengira keluarganya pasti sudah pindah. Waktu berlalu, kami secara berangsur-angsur lupa padanya.Kemudian pada suatu pagi sebelum bel masuk berbunyi, kami melihat sebuah bayangan kecil berjalan melewati gerbang sekolah. Itu adalah Haako-chan. Ia berjalan sangat lambat. Tasnya yang berwarna merah berada di belakang punggungnya. Kami memanggil namanya, tapi ia hanya mengabaikan kami.Saat ia datang mendekat, aku bisa melihat wajahnya secara jelas. Ada yang berbeda dengannya. Aku tidak tahu apa itu, tapi ada sesuatu yang salah. Ia terlihat pucat dan sakit.Kemudian, bel sekolah berbunyi. Tidak ada yang ingin telat masuk kelas, jadi kami berlari kencang masuk ke dalam kelas. Saat guru datang, meja Haako masih kosong. Ia tidak pernah datang ke kelas. Semua orang menjadi bingung. Kami pikir ia datang lagi ke sekolah.Saat istirahat siang, kami pergi keluar ke taman bermain. Ada sebuah tas merah tergeletak di tanah. Aku tahu itu milik Haako. Kami tidak bisa menemukan ia di mana pun, jadi kami membawanya ke dalam kelas dan menaruhnya di atas mejanya. Ia tak pernah datang untuk mengambilnya.Pagi berikutnya saat aku tiba di sekolah, tas sekolah berwarna merah itu masih tergeletak di meja kosong milik Haako. Temanku, Taro, sangat penasaran. Ia memutuskan untuk mengintip ke dalam tas tersebut. Ia menggeser gespernya dan membuka tutup tas itu. Tiba-tiba, ia menjerit ketakutan sehingga tas jatuh dari tangannya. Sesuatu jatuh ke lantai. Benda itu menggelinding meninggalkan jejak merah di atas lantai kayu. Itu adalah penggalan kepala Haako.Hiruk pikuk pecah di ruang kelas. Semua orang menjerit dan menangis. Beberapa anak laki-laki tangisnya meledak, sedangkan beberapa anak perempuan histeris.Kemudian, guru datang ke kelas untuk menanyakan apa yang terjadi. Semua orang mulai berteriak secara bersamaan. Aku melihat ke bawah. Penggalan kepala itu telah hilang. Jejak darah di lantai juga telah lenyap.Awalnya, guru menolak mempercayai kami. Tapi beberapa anak perempuan bersikeras tentang apa yang telah mereka lihat. Akhirnya, guru memutuskan untuk pergi berbicara pada kepala sekolah.Malam itu, mereka memanggil ibu Haako-chan. Mereka bertanya padanya beberapa pertanyaan. Karena tidak mendapatkan jawaban yang tepat, guru dan kepala sekolah menelepon polisi.Hari berikutnya, dua detektif mengunjungi rumah Haako untuk berbicara pada ibunya. Ia mencoba memberitahu mereka ia tidak tahu dimana anak perempuannya. Akhirnya, karena tertekan oleh berbagai pertanyaan, ia meledak.Ibu dan ayah Haako telah bercerai. Ibunya mulai berkencan lagi, tapi kekasihnya yang baru tidak menyukai anak-anak. Jadi, ia membunuh Haako dan memotong-motong tubuhnya. Mereka mengeruk danau di dekat rumah Haako dan menemukan sisa-sisa potongan tubuhnya.Semua orang di sekolah terkejut. Tidak ada satu pun dari kami yang percaya bahwa sesuatu semengerikan ini dapat dialami oleh salah satu teman sekelas kami. Kami berjanji setiap pagi akan ada bunga segar di bangku kosong milik Haako, bersebelahan dengan tas sekolahnya yang berwarna merah.
Human Bones
Ada sebuah desa di Jepang yang populasinya sangat kecil. Banyak orang meninggalkan desa sehingga banyak rumah yang ditinggalkan. Suatu hari yang bersalju, seorang pelancong datang ke desa ini untuk mencari penginapan. Ia melihat sesuatu yang nampak seperti rumah kosong. Tapi saat ia masuk ke dalam, ia terkejut mendapati seorang wanita tua berdiri di sana.Wanita tua memberitahunya untuk naik ke lantai satu, sedangkan wanita tersebut mengikuti di belakangnya. Saat ia sampai di atas tangga dan menoleh ke belakang, wanita itu telah menghilang. Ia kembali menuruni tangga dan melihat wanita tua berdiri di tempat yang sama saat lelaki itu masuk, kecuali sekarang wanita tua tersebut memegang sabit yang tajam di tangannya.Si lelaki sangat ketakutan sehingga ia berlari ke pintu depan. Tapi saat ia mencoba menariknya agar membuka, ia mendapati pintunya terkunci. Ia menoleh dan mendapati wanita tua berdiri tepat di sebelahnya. Wanita tua itu menarik lengan si pelancong.Lelaki itu tidak memperhatikan betapa pucat si wanita tua dalam kegelapan. Tetapi sekarang saat wanita tua mendekat, si pelancong bisa melihat kulitnya yang tampak busuk. Ia terlihat seperti mayat.Wanita tua menekan lengan si pelancong dan mendesis, "Dengarkan aku! Di bawah rumah ini terbaring tiga belas mayat. Beri mereka kedamaian. Jika tidak, aku akan membunuhmu."Setelah ia mengucap kata-kata tersebut, si lelaki mulai merasa pusing. Ia terjatuh ke lantai.Saat ia bangun, ia tidak tahu berapa lama waktu sudah berlalu. Ia mulai meragukan dirinya sendiri. Mungkin, ia memimpikan hal-hal aneh. Ia baru saja akan pergi saat ia memperhatikan sebuah keset di tengah-tengah ruangan dimana wanita tua berdiri. Ada noda merah gelap di atasnya.Ia membalik keset tersebut dan mendapati benda itu menutupi lubang besar di papan lantai. Ia melongok ke dalam lubang dan melihat tulang-tulang manusia disusun secara rapi. Tulang empat belas mayat berbaring di sana."Mengapa ia bilang tiga belas?" pelancong tersebut berbisik pada dirinya sendiri. Mungkin tulang manusia yang keempat belas milik wanita tua.Si pelancong pergi keluar dan memberitahu beberapa penduduk desa tentang apa yang terjadi. Saat ia membawa mereka kembali ke rumah kosong, mereka melongok ke bawah ke dalam lubang dan melihat tulang manusia. Tapi sekarang, hanya ada tiga belas tulang manusia di bawah papan lantai. Tulang wanita tua sudah tidak ada.Setelah itu, penduduk desa menghancurkan rumah tua tersebut dan membangun sebuah kuil di sana. Di dalam kuil, mereka meletakkan keset bernoda darah supaya orang-orang bisa mendo'akan mereka yang sudah mati.Pelancong dan penduduk desa yang menemukan mayat tersebut, semuanya mati segera setelah kejadian ini.Cerita menakutkan ini kudapat dari salah satu guruku di sekolah. Guru yang bercerita padaku tentang cerita ini bilang bahwa beliau dari desa yang sama. Aku tidak ingat nama desanya karena aku sudah lama mendengar cerita ini. Maafkan aku.(Sumber: Scary For Kids)
The Manhole
Suatu pagi, seorang gadis kecil Jepang bernama Mai sedang berjalan ke sekolah. Di tengah jalan, ia melihat seorang gadis kecil lain sedang bermain di ujung jalan. Entah karena alasan apa, gadis itu melompat-lompat. Mai tahu bahwa gadis tersebut harus berangkat ke sekolah bersamanya karena mereka memakai seragam sekolah yang sama.Saat Mai datang mendekat, ia melihat gadis itu melompat-lompat di atas penutup lubang got. Mai bingung. Ia penasaran dengan apa yang gadis itu lakukan. Mengapa ia melompat-lompat di tempat yang sama seperti itu? Apa ia gila? Atau itu adalah sebuah permainan?Saat gadis itu melompat, Mai mendengarnya berkomat-kamit pada dirinya sendiri, "Tiga, tiga, tiga, tiga, tiga..."Ketika Mai lewat, ia menyadari siapa gadis tersebut. Ia adalah Haruka, seorang gadis pendiam yang aneh di kelasnya. Ia seringkali dijadikan sebagai target bully. Kadang gadis-gadis lain di kelas hanya mengabaikan Haruka. Di lain waktu, mereka akan memainkan kelakar kejam padanya. Guru-guru tahu ia dibully, tetapi mereka seolah-olah buta dan tidak terpengaruh.Mai menyadari sekolah akan mulai beberapa menit lagi. Ia segera pergi dengan terburu-buru, meninggalkan gadis aneh dengan permainan anehnya.Hari itu di kelas, Mai memperhatikan ada bangku yang kosong. Haruka tidak muncul di sekolah. Sepanjang hari, Mai penasaran apa yang terjadi dengan gadis itu.Saat bel pulang sekolah berbunyi, semua anak berlarian keluar kelas. Mai berjalan pulang ke rumah. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Haruka lagi. Gadis tersebut masih di tempat yang sama sejak pagi. Ia masih melompat-lompat.Mai berjalan ke arah Haruka. Ia berhenti tepat di depan gadis itu. Haruka masih melompat seolah-olah Mai tidak ada di sana.Haruka tersenyum lebar dan berkata, "Sembilan, sembilan, sembilan, sembilan, sembilan...""Apa yang kau lakukan?" tanya Mai.Haruka tidak menjawab pertanyaan Mai. Ia masih berkata, "Sembilan, sembilan, sembilan, sembilan, sembilan...""Aku bertanya padamu apa yang kau lakukan!" teriak Mai.Gadis itu hanya mengabaikan Mai dan masih melompat-lompat.Mai sebenarnya tidak membenci maupun menyukai Haruka. Ia ingat dulu memanggil gadis itu dengan beberapa nama kejam dan mengerjainya bersama dengan teman-teman sekelasnya."Kau pikir kau siapa?" Mai berteriak, "Jawab aku saat aku bicara padamu!"Sampai saat itu, Mai tak pernah membenci Haruka seperti yang dilakukan oleh anak-anak lainnya. Tetapi tatapan gadis itu yang senang sendiri dan mengabaikannya membuat Mai marah."Kau lebih baik memberitahuku apa yang kau lakukan atau kau akan menyesal," ancam Mai.Haruka hanya melompat dengan bahagia, seolah-olah ia tidak pernah mendengar ancaman Mai.Tiba-tiba, Mai kehilangan kesabaran. Ia mendorong Haruka sampai terjatuh."Giliranku!" kata Mai. Ia mengambil tempat gadis itu dan berdiri di atas penutup lubang got.Mai melompat-lompat ke udara. Pada saat yang tepat, Haruka menjangkau penutup lubang got dan membuangnya. Mai jatuh ke dalam lubang got.Gadis aneh itu menaruh kembali penutup lubang got ke tempatnya semula. Kemudian, dengan senyum lebar penuh kepuasan di wajahya, ia mulai melompat-lompat lagi.Saat ia melompat, ia berkata, "Sepuluh, sepuluh, sepuluh, sepuluh, sepuluh..."
Kaimuki House
Rumah Kaimuki merupakan cerita hantu yang benar-benar terjadi tentang sebuah rumah berhantu di Honolulu, Hawai. Hantu yang katanya menghantui rumah ini biasa dipanggil "Kasha", sesosok setan pemakan manusia dari cerita rakyat Jepang.Ada sebuah rumah berhantu tak terlalu dikenal di Honolulu, Hawai. Sebutan rumah itu adalah "Rumah Kaimuki". Beberapa orang memanggilnya Rumah Berhantu Amatyville dari Hawai.Pada musim panas tahun 1942, rumah itu ditinggali oleh seorang wanita dan tiga anaknya. Suatu malam, polisi ditelepon agar segera ke rumahnya. Mereka mendapati si wanita yang histeris di halaman depan, teriaknya, "Ia mencoba membunuh anak-anakku!"Saat mereka memasuki rumah, petugas kepolisian terkejut melihat pemandangan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Tiga anak dilemparkan ke segala arah oleh kekuatan tak terlihat di dalam ruangan. Petugas polisi melihat sampai lebih dari sejam. Mereka tidak bisa melakukan apa pun saat anak-anak itu dipukul dan dicekik oleh roh yang tak terlihat. Insiden itu nenjadi headline halaman depan koran lokal sampai beberapa hari.Bertahun-tahun kemudian, tiga orang gadis menyewa rumah tersebut. Suatu malam, mereka mulai nendengar suara aneh. Suara itu seperti seseorang berjalan berkeliling sampai berbicara. Salah satu dari gadis-gadis itu merasakan tangan tak terlihat menyentuh lengannya. Mereka menelepon polisi. Saat seorang petugas datang, ia mendapati tiga gadis sedang berdiri di luar rumah dengan tatapan penuh teror di wajah mereka. Gadis-gadis itu memutuskan untuk pergi dan tinggal dengan ibu salah satu dari mereka. Sedangkan petugas polisi memutuskan mengikuti mereka untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi.Namun demikian, petugas polisi melihat mobil gadis-gadis itu bergerak tak beraturan di parkiran. Gadis di depan kemudi sedang berjuang dengan sesuatu tak terlihat yang mencekik lehernya. Saat polisi melompat keluar dari mobilnya dan mencoba menyelamatkan gadis-gadis tersebut, ia merasa tangan kuat yang tak terlihat menangkap lengannya, lalu memutarnya. Tiba-tiba, pintu dari kendaraan terbuka dan gadis itu terlempar ke jalanan. Ia mencakari tenggorokannya seolah-olah seseorang sedang mencekiknya. Mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan serangan tersebut. Mereka terpaksa hanya bisa melihat gadis itu bertarung dengan kematian.Pada tahun 1977, sepasang suami istri orang Jepang pindah ke rumah berhantu di Kaimuki. Mereka tidak tahu apa pun tentang sejarah rumah tersebut. Pada malam pertama di tempat itu, si istri terbangun saat tengah malam karena kamar tidurnya menjadi sangat dingin. Ketika ia melihat sekeliling, ia dikejutkan oleh penampakan hantu berwarna putih yang melayang di tengah-tengah udara. Itu adalah sesosok wanita tanpa tangan maupun kaki. Saat si istri mencoba membangunkan suaminya, bayangan hantu itu menghilang.Hari berikutnya, pasangan suami istri itu diganggu oleh hantu sehingga mereka memanggil seorang pendeta. Ia menganjurkan mereka untuk memberikan persembahan berupa roti dan air untuk arwah tersebut setiap malam. Ia berkata hantu itu adalah Kasha, yakni iblis dari Jepang yang menyebabkan beberapa pembunuhan mengerikan di rumah tersebut sebelumnya. Setelah mengulangi upacara selama seminggu, pasangan itu tak pernah melihat arwah mengerikan di rumah lagi.Cerita di atas hanya sekelumit kecil dari kisah sesungguhnya. Konon katanya, suatu tempat akan berhantu jika pernah terjadi berbagai pembunuhan mengerikan di sana.Bertahun-tahun sebelumnya, seorang imigran Jepang tinggal di rumah itu dengan istri dan kedua anaknya. Entah kenapa, si suami membunuh istrinya, anak laki-lakinya, dan anak perempuannya. Ia memotong-motong tubuh mereka, kemudian menyembunyikannya di dalam rumah. Polisi menemukan mayat istri dan anak lelakinya dikubur di halaman, tetapi tubuh anak perempuannya tak pernah ditemukan. Mereka berkata bahwa mayat anak perempuan itu masih disembunyikan entah dimana di dalam rumah. Setelah itu, rumah tersebut ditinggalkan selama bertahun-tahun.Lalu, ada dua orang wanita yang tinggal di dalam rumah. Salah satu wanita tersebut jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Terjadi cinta segitiga diantara mereka. Ada yang bilang bahwa laki-laki itu merasa sangat cemburu. Ia lalu membunuh kedua wanita tersebut, kemudian ia bunuh diri di dalam rumah. Tubuh ketiganya ditemukan di dalam rumah setelah lewat beberapa hari.Ada kepercayaan bahwa pembunuhan mengerikan ini menciptakan Kasha, yakni sejenis hantu Jepang yang muncul karena dendam atau rasa kemarahan yang luar biasa. Sekarang, para penduduk masih menceritakan kisah ini. Bahkan ada banyak buku dan artikel majalah yang menulis detail dari rumah berhantu Kaimuki.
105 Black Kimono
Aku tinggal di Jepang. Teman-temanku telah menceritakan padaku tentang pengalaman mengerikan mereka mengenai hal-hal supranatural. Kurasa, kisah paling menyeramkan berasal dari temanku yang bisa melihat hantu saat ia remaja dulu.Suatu hari, ia ingin bertemu dengan seorang gadis teman sekolahnya. Nama gadis itu adalah Asako. Mereka berencana untuk bertemu di tempat terkenal di Tokyo. Namun demikian, saat hari itu tiba, temanku menunggu di sana selama berjam-jam tetapi gadis itu tidak pernah muncul. Temanku berpikir gadis tersebut pasti lupa tentang janji mereka, atau harinya salah. Kemudian, temanku pulang ke rumah.Malamnya, temanku menelepon si gadis. Gadis itu marah padanya karena tidak datang. Ternyata ia telah datang ke tempat pertemuan, tetapi mereka tidak bertemu satu sama lain. Walaupun itu aneh, Tokyo merupakan sebuah kota besar dan tempat pertemuan itu sangat ramai. Jadi, mereka tertawa, kemudian mereka membuat rencana untuk bertemu di stasiun kereta kecil di luar kota.Tetapi kali ini, saat temanku pergi untuk bertemu si gadis, ia berhenti menunggu setelah beberapa jam. Ia bahkan meminta pada petugas stasiun untuk membuat pengumuman, meminta Asako untuk datang menemuinya di pintu keluar. Tetapi Asako tak pernah muncul. Akhirnya, temanku menyerah dan pulang ke rumah.Ia menelepon Asako lagi malam itu. Asako bersikeras bahwa ia telah menunggu di pintu keluar seperti yang mereka rencanakan. Temanku juga memberitahunya bagaimana ia meminta pihak stasiun untuk membuat pengumuman. Asako berkata bahwa ia mendengar pengumuman tersebut saat ia berdiri di pintu keluar, tetapi tidak ada seorang pun di sekitarnya.Hal ini membuat mereka ketakutan, jadi temanku menyarankan ia dan pacarnya yang bernama Yukiko akan pergi ke apartemen Asako untuk bertemu dengannya malam itu. Asako setuju, kemudian temanku dan Yukiko pergi ke sana.Saat mereka sampai di sana, segalanya terlihat normal. Mereka menghabiskan waktu dengan minum, ngobrol, dan bersenang-senang. Mereka lupa waktu hingga mereka ketinggalan kereta terakhir untuk pulang ke rumah. Asako berkata bahwa mereka bisa tinggal malam itu. Ia menggelar tatami di samping tempat tidurnya untuk mereka tidur.Sekitar pukul tiga pagi, temanku tiba-tiba terbangun. Ia tidak bisa bergerak. Saat matanya terbuka, ia melihat Asako menindihnya. Gadis itu duduk di atas perutnya. Matanya hitam dan wajahnya pucat. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam menutupi wajahnya. Ia memakai sebuah kimono hitam. Ia juga memakai hiasan kepala yang aneh, terlihat seperti kandil bercabang tiga dengan lilin menyala.Saat Asako bergerak semakin dekat, rambutnya mulai tertiup angin kencang dan terbakar. Temanku bisa merasakan panas membakar dari kibasan rambut yang menjalar ke wajahnya. Tetapi, temanku masih tidak bisa bergerak sedikit pun. Ia mulai panik saat Asako mencapai lehernya. Temanku mencoba memanggil Yukiko, tetapi suaranya tidak keluar. Asako mulai mencekik lehernya, kemudian membisikkan sesuatu yang tidak ia pahami.Tiba-tiba, temanku bisa menjerit. Ia mendengar seseorang bergerak di atas tempat tidur. Temanku menoleh dan melihat Asako, terlihat mengantuk dan kebingungan. Temanku kembali melihat pada wanita yang menindihnya, tetapi wanita itu sudah menghilang. Pacarnya, Yukiko, sedang berbaring di lantai di dekat mereka.Temanku tidak memberitahu mereka apa yang terjadi agar mereka tidak ketakutan. Tetapi sekitar satu atau dua bulan kemudian, ia pergi ke teater tradisional dengan pacarnya. Salah satu karakter dalam teater itu adalah hantu wanita yang penuh dendam karena dikhianati saat masih hidup. Tujuan hantu itu adalah memburu reinkarnasi pria yang telah mengkhianatinya, kemudian membunuh lelaki tersebut. Hantu wanita itu pucat, berambut hitam panjang, dan memakai kimono hitam. Ia juga memiliki hiasan kepala kandil bercabang tiga. Rambutnya menyala oleh api dari lilin yang terbakar.Setelah itu, ia pergi ke paranormal dan bertanya tentang si hantu. Paranormal itu memberitahunya bahwa ia telah mengkhianati seorang wanita pada kehidupan sebelumnya. Kemudian, roh wanita tersebut bereinkarnasi menjadi Asako. Saat temanku mencoba bertemu dengan Asako, roh pelindungnya mencoba mencegah mereka bertemu satu sama lain untuk menjaganya tetap aman. Namun demikian, saat ia pergi menginap di apartemen Asako, ia menjebak dirinya sendiri dalam sebuah tempat dimana Asako bisa menangkapnya. Paranormal itu memberitahunya bahwa ia beruntung masih bisa hidup.
The Ryou-ei-maru Incident
Pada 31 Oktober 1927 di Pulau Vancouver pesisir selatan Kanada, sebuah kapal barang Amerika bernama Margaret Dollar baru saja kembali dari pelabuhan Seattle di Washington saat kapal itu berpapasan dengan sebuah perahu nelayan kecil yang dikabarkan hilang. Nama perahu itu adalah "Ryou-ei-maru".Bangkai Perahu DitemukanPerahu ikan itu dalam keadaan mengerikan. Lambung kapal robek dan sisa-sisa mayat, tulang-tulang tubuh, dan jenazah tanpa kaki bertebaran di dek. Bau busuk kematian yang kuat melayang di udara.Di kabin, ada bangkai, kerangka tubuh dengan tengkorak yang retak. Dinding-dinding kabin ditutupi oleh noda darah. Di ruang dapur, bulu-bulu putih burung camar bertebaran menyebar di lantai. Beberapa kaleng minyak berada di atas kompor dan satu diantaranya berisi lengan manusia. Tidak ada makanan atau minuman di atas papan. Mesin kapal berkarat dan rusak seluruhnya.Namun demikian, tiga buku catatan berwarna kuning ditemukan di dalam kamar kapten. Buku-buku catatan itu berisi laporan yang rusak tentang apa yang terjadi pada Ryou-ei-maru. Sangat sulit dipercaya. Berikut informasi yang terdapat pada buku-buku catatan tersebut:Perahu Ikan yang Tidak Beruntung5 Desember 1926: Ryou-ei-maru menyiapkan pelayaran dari Pelabuhan Misaki di Prefektur Kanagawa dengan jumlah anggota sebanyak 12 orang. Pemiliknya adalah Fujii Sanshiro, sang kapten adalah Miki Tokizo, dan Hosoi Denjiro adalah kepala mesinnya. Perahu itu memiliki tiang kapal tunggal dan berat 9 ton.6 Desember: Kami pergi mencari ikan tuna di pesisir Choisi di Prefektur Chiba. Kondisi cuaca sangat buruk dan mesin membunyikan suara yang aneh. Kami memasuki Pelabuhan Choisi untuk mengecek mesin, tetapi tidak ada masalah yang ditemukan. Kami berlayar lagi dan menepi di pesisir Choisi yang memiliki sekumpulan ikan tuna dalam jumlah besar, tetapi kami dihantam badai sehingga sulit untuk mengemudikan perahu tersebut. Beberapa hari kemudian, perahu telah berada lebih dari 1000 mill dari pesisir Choisi.15 Desember: Kami melihat perahu lain muncul dari cakrawala. Perahu itu bernama Kishu. Walaupun kami telah mengirim sinyal dan berteriak sekuat tenaga saat kapal itu lewat, mereka tidak merespon. Kapten Miki memutuskan untuk mengemudikan kapal mengikuti perahu itu. Hanya ada makanan yang cukup untuk berlayar selama 4 bulan.16 Desember: Perahu lain bernama Oriental Steamer melewati kami. Kami memberi sinyal dan berteriak, tetapi lagi-lagi tak ada respon. Akhirnya, kami mencoba kembali ke Jepang. Tetapi apa pun yang kami lakukan, kami dipaksa berlayar ke arah yang berlawanan. Anggota kapal mulai putus asa. Apa yang dapat kami lakukan ialah menunggu sampai kapal uap lain lewat. Kapten memutuskan untuk mengikuti arah angin guna membantu kapal berlayar ke Amerika. Namun demikian, ia berkata bahwa sebuah perahu ikan untuk berlayar ke timur laut lebih sulit daripada perjalanan Christopher Columbus untuk menemukan Amerika.27 Desember: Kami menangkap ikan.27 Januari: Kami menaruh ember-ember untuk mengumpulkan air hujan. Kami berharap air itu bisa digunakan untuk minum, tapi air hujan hanya sedikit.17 Februari: Bahan makanan kami benar-benar menipis.6 Maret: Persediaan makanan sudah hampir habis. Hanya tinggal ikan. Rasa amat lapar datang berangsur-angsur.7 Maret: Kepala mesin, Hosoi Denjiro mati. Ia mati sambil merintih, "Aku ingin menyentuh tanah Jepang lagi... Aku ingin melihatnya kembali... walaupun hanya sekilas."Kami mengubur mayatnya di laut.9 Maret: Kami berhasil menangkap seekor hiu yang besar, tetapi Naoe Tsunetsugi sudah tidak memiliki kekuatan untuk memakannya. Ia mati dengan tubuh kurus. Kami mengubur mayatnya di laut.15 Maret: Izawa Satsugi yang menjaga buku harian, mati dalam keadaan sakit. Matsumoto Gennosuke mengambil alih posisinya. Kami mengubur Izawa di laut. Hanya tinggal menunggu waktu sampai kami semua tewas. Kami semua berwajah pucat dengan jenggot panjang, berjalan tidak mantap mengitari perahu seperti hantu yang bersedih.27 Maret: Dua orang -Yokota Yoshinosuke dan Terada Hatsuzo- tiba-tiba menjadi gila dan berteriak-teriak, "Hei! Kita di Amerika! Aku bisa melihat pelangi!"Benar-benar gila. Mereka mulai menggigit dan menggerogoti papan kayu. Lubang neraka paling buruk akhirnya tertutup.29 Maret: Yoshida Fujiyoshi menangkap seekor ikan tuna besar. Mitani Toeakichi tiba-tiba menjadi gila. Ia menyambar sebuah kapak dan melayangkan kapak itu pada kepala Yoshida Fujiyoshi. Itu hal yang mengerikan, tapi tidak ada dari kami yang memiliki tenaga untuk berdiri dan menghentikannya. Kami hanya melihat dalam diam. Beberapa dari kami menderita penyakit kudis karena kekurangan sayuran dan ada darah di gigi-gigi kami. Kami terlihat seperti monster. Oh Budha, tolonglah kami!4 April: Kapten Miki menangkap seekor burung yang terbang rendah di atas dek. Ia mencapai dan menyambar burung itu dengan kecepatan seperti seekor ular. Semua orang berkumpul di sekitarnya seperti semut, mencabuti bulu-bulu burung itu, dan memakannya hidup-hidup. Mulut kami meneteskan darah dan daging mentah. Tidak ada yang lebih enak. Ini bagaimana manusia berubah menjadi monster.6 April: Tsujimon Ryoji mati dengan meludah dan memuntahkan darah.14 April: Sawamura Kanjuro berubah menjadi luar biasa gila dan bengis. Ia mulai mencacah mayat dan memakan daging manusia. Bukankah menjijikkan?19 April: Dua orang -Kazuo Toyama dan Sawamura Kanjuro- berkelahi merebutkan daging manusia di dapur. Mereka seperti iblis yang keluar dari neraka. Saat beristirahat, kami hanya berharap bisa bertahan hidup untuk melihat Jepang kembali. Malam itu, dua orang lelaki mati jatuh terguling di atas lantai yang dilapisi darah.6 Mei: Kapten Miki dan aku sendiri hanya dua orang yang bertahan hidup dari 12 orang dalam kapal layar ini. Kami berdua sangat sakit dengan beri-beri dan tidak dapat melangkah setapak pun. Kami juga mengalami dehidrasi sampai tidak bisa buang air kecil.11 Mei: Angin kuat berhembus dari barat laut. Angin itu membawa awan mendung. Barat dan selatan, perahu ini terombang-ambing oleh angin. Tidak ada gunung yang terlihat. Tidak ada pula daratan yang bisa dilihat. Tidak ada kapal-kapal lain. Hanya ada bau busuk kematian serta bau amis daging dan darah dari mayat-mayat teman kami. Tubuh-tubuh mereka kurus tinggal tulang. Kami seperti sudah mengalami kiamat.Catatan itu berakhir di sini.Fakta-fakta yang aneh.Namun demikian, saat kau memperbaiki piringan hitam, fakta yang ajaib muncul seperti cahaya. Saat anggota kapal ikan menyatakan mereka tidak menemukan kapal lain dan tidak ada seorang pun yang merespon sinyal mereka, itu tidak benar. Juga Ryou-ei-maru menyeberangi Laut Pasifik dan menyatakan mereka tidak menemukan satu pulau pun, bagaimana mungkin?Hal paling aneh dari semuanya ialah pernyataan yang dibuat oleh Kapten Richard Healy dari kapal barang US West Aeson:"23 Desember 1926, kami menemukan sebuah kapal kayu yang berlayar di Laut Pasifik sekitar 1000 km dari Seattle. Walaupun kapal itu ditutup, tidak ada balasan dari sinyal pertolongan kami. Nama kapal itu adalah Ryou-ei-maru. Sekitar 10 nelayan berdiri di dek sambil menatap kami, tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang membalas panggilan kami."Tetapi, pertemuan ini tidak disebutkan dalam catatan dari Ryou-ei-maru. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?
Kanbari-Nyudo
Suatu malam, laki-laki botak pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela di kamar mandi dan melihat saat orang-orang duduk di toilet, mandi, atau melepas pakaian. Ia seorang lelaki tua, orang Jepang dengan wajah yang terlihat menakutkan, dan ia mencukur kepalanya. Laki-laki gundul itu akan mengintip melalui jendela dan meneteskan air liur di mulutnya saat sedang mengintaimu, berharap bisa menangkapmu dalam keadaan telanjang.Beberapa tahun yang lalu, ada seorang laki-laki tua yang terobsesi melihat gadis-gadis muda telanjang. Orang yang menyeramkan dan tidak bermoral ini mengintai jalanan di desanya pada malam hari, mengintip dari jendela-jendela, berharap bisa menangkap sekilas kulit telanjang.Saat keluarganya mengetahui kelakuan menjijikkan laki-laki tua itu, mereka merasa malu dan menolak untuk membantu pria itu. Sebagai hukuman, mereka mencukur kepalanya dan membuangnya dari desa.Pria gundul itu membangun sendiri sebuah gubuk di gunung dan hidup di sana sebagai pertapa. Ia melakukan usaha terbaiknya untuk berhenti memikirkan tentang gadis-gadis yang telanjang, tetapi itu tidak berguna. Dorongan jahat mengalahkannya dan ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Akhirnya, ia terpaksa kembali pada kebiasaan anehnya. Suatu malam, ia bergerak pelan ke desa dan menculik seorang gadis muda. Ia membawa gadis itu ke gubuknya. Diikatnya gadis muda itu dan melakukan hal yang sangat buruk padanya.Suatu hari, saat lelaki gundul pergi, seorang pencuri memasuki gubuk yang tidak dijaga itu dan memutuskan untuk mencuri barang-barang berharga milik lelaki itu. Saat si pencuri masuk ke dalam, ia menemukan gadis muda yang diculik. Merasa kasihan pada gadis yang malang itu, ia melepaskan ikatannya. Baru saja ia akan membantu gadis itu melarikan diri, si pria botak kembali. Terjadilah pertarungan besar, tetapi pada akhirnya si pencuri berhasil membunuh pria botak dan membawanya kembali pada orang tuanya.Setelah itu, si pria botak menjadi hantu dan mulai muncul di luar rumah si gadis. Ia mengenakan kimono berwarna putih dan memandang dengan tajam melalui jendela pada malam hari, menakuti setiap orang di dalamnya. Orang tua gadis itu cemas jika hantu itu berusaha menculik anak mereka lagi, jadi mereka menyembunyikannya. Sejak saat itu, lelaki botak itu pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela toilet, kamar mandi, dan kamar tidur mencari dengan putus asa gadis muda itu.Mereka mengatakan jika kau menyanyikan "Kanbari Nyudo" di dalam kamar mandi, kepala botaknya kadang-kadang akan berguling di toilet. Jika kau menyanyi "Ganbari Nyudo, si gila" di dalam kamar mandi pada malam tahun baru, maka lelaki gundul itu tidak akan mengganggumu lagi.Pada salah satu cerita, seorang gadis muda sedang ke kamar mandi pada larut malam. Ia berdiri dan meraih kertas toilet saat ia mendengar suara tawa kecil di belakangnya. Ia berputar dan melihat sebuah wajah menekan permukaan kaca di jendela kamar mandinya. Ia bisa melihat wajah lelaki tua gundul yang sedang mengintipnya. Lelaki gundul itu tertawa dengan pelan pada dirinya sendiri. Sisi lain jendela itu tertutupi oleh air liur.Gadis muda itu sangat ketakutan dan berlari keluar dari kamar mandi dengan celananya melorot sampai pergelangan kaki sambil berteriak pada orang tuanya. Saat ia menceritakan pada ayahnya apa yang ia lihat, sang ayah berlari keluar dalam kemarahan untuk menghajar si lelaki tua menjijikkan. Namun demikian, saat ia berhasil mencapai gang kecil di belakang rumahnya, ia tidak menemukan apa pun.Kemudian, sang ayah melihat ke jendela kamar mandi. Ada batang besi yang melintang di jendela dan ada jarak 10 cm diantara besi dan kaca. Tidak ada jalan bagi siapa pun yang dapat menekan wajah mereka ke arah kaca. Rasa dingin mengalir di urat nadinya saat ia menyadari apa pun yang mengintip putrinya saat ia di toilet sudah pasti bukan manusia.Pada cerita yang lain, ada seorang gadis muda Jepang yang sangat malu karena tubuhnya. Suatu malam, ia sedang bermain bola voli dengan sekumpulan gadis lain. Setelah bermain, ia harus mandi, tetapi ia terlalu malu membiarkan orang lain melihatnya telanjang. Akhirnya, ia menunggu sampai semua gadis selesai mandi kemudian pergi mandi sendiri.Sendirian di dalam kamar mandi yang bercahaya suram, ia menjatuhkan handuknya dan menghidupnya shower. Tekanan air terlihat lemah karena keluar dari tetesan air yang pelan. Ia berusaha membasuh dirinya dengan aliran kecil air tersebut. Setengah bersih, ia mendengar suara tawa yang menyeramkan."Hehehe..."Suara itu seperti tawa kecil seorang laki-laki tua. Ia melihat sekeliling, tetapi ia tidak melihat siapa pun. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mencari asal suara aneh tersebut tetapi yang ia dengar hanya keheningan. Gadis itu melanjutkan mandi, sampai ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu menjadi lebih keras."Hei orang aneh!" teriak gadis itu. "Jangan pikir aku tidak bisa mendengarmu!"Gadis itu merasa mudah diserang dengan berdiri telanjang di bawah pancuran, jadi ia memutuskan untuk cepat menyelesaikan mandinya. Baru saja ia akan pergi, ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu sangat keras seperti berasal dari atas. Gadis itu mendongak ke atas pancuran dan melihat sesuatu yang membuat gadis itu menjerit kencang.Bukannya melihat pancuran air, ia malah melihat kepala seorang lelaki tua menjulur dari dinding. Lelaki tua itu menatap ke bawah, menyeringai dengan menakutkan dan meneteskan air liur padanya.
Tenome
Ada seorang lelaki tua buta yang diserang oleh perampok. Mereka memukul lelaki tua itu dengan kejam dan meninggalkannya sendiri agar mati di ladang. Saat lelaki tua yang buta itu terbaring sekarat, ia menangis keras dalam frustasi dan kemarahan."Kalau saja aku bisa melihat wajah mereka! Tapi mataku tidak bisa melihat! Jika saja aku memiliki mata di telapak tanganku!"Karena ia mati dalam keadaan marah dan menderita, sang lelaki buta berubah menjadi sesosok hantu bernama Tenome. Hasratnya untuk membalas dendam sangat besar sehingga matanya yang buta hilang dan muncul sepasang mata baru di kedua telapak tangannya.Sekarang Tenome menjelajahi kota-kota dan desa-desa, mencari para perampok yang membunuhnya. Ia bisa melihat dengan menahan tangannya di depan tubuh. Tetapi Tenome tidak pernah melihat penyerangnya, jadi ia dengan enteng membunuh siapa pun yang ia temui. Walaupun ia memiliki mata di tangannya, ibaratnya ia masih dibutakan oleh kemarahannya.Suatu malam, seorang anak lelaki Jepang ditantang oleh teman-temannya untuk masuk ke halaman pemakaman dan menguji keberaniannya. Saat si anak lelaki berjalan sepanjang pemakaman, ia tiba-tiba melihat seorang pria tua muncul dari kegelapan. Saat sosok itu semakin dekat, ia memperhatikan jika lelaki tua itu buta dan bola matanya berada di telapak tangan.Anak lelaki yang ketakutan mencoba melarikan diri secepat yang ia bisa. Ia berlari ke kuil dan memohon pada pendeta untuk menolongnya. Sang pendeta memberitahunya untuk bersembunyi dalam sebuah peti dan ikut menyembunyikan diri.Saat Tenome memasuki kuil, ia berjalan berkeliling dengan tangan terangkat di depannya, mencari mangsanya. Anak lelaki itu meringkuk di dalam peti, tidak berani bernapas saat ia mendengar suara langkah kaki datang semakin dekat dan semakin dekat ke tempat persembunyiannya. Langkah kaki itu berhenti tepat di sebelahnya dan ia mendengar sebuah suara mengisap yang aneh.Slurp! Slurp! Slurp!Pada pagi harinya, sang pendeta keluar dari tempat persembunyian. Ia membuka peti untuk membiarkan anak lelaki itu keluar. Tetapi ketika ia melihat ke dalam, ia menjadi sangat ketakutan. Anak muda itu telah tewas. Tenome telah mengisap keluar semua darah dan tulang dari tubuh anak lelaki itu, tanpa meninggalkan apa pun kecuali kulitnya yang kendor dan lemas.
Kagome Kagome
Salah satu kisah tragis yang terkait dengan lagu ini adalah kisah anak-anak panti asuhan di Jepang yang menjadi objek eksperimen berbahaya para ilmuwan Nazi (Jerman). Kisah ini terjadi saat dan setelah perang dunia ke-2 berakhir. Di sebuah bukit daerah Shimane, dekat dengan area Hiroshima. Banyak ilmuwan Nazi gila yang melakukan eksperimen yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Ilmuwan-ilmuwan ini (Nazi) dikenal sebagai ilmuwan yang sering melakukan eksperimen aneh dan selalu tersembunyi di bawah radar. Dan kali ini, mereka ingin meneliti sebuah 'keabadaian'. Mereka beranggapan, di dalam otak terdapat 'tombol kematian universal' yang aktif setelah otak manusia berkembang dan tombol inilah yang mengatur kematian seseorang. Para ilmuwan gila ini mengemukakan bahwa mereka bisa mengangkat 'tombol' tersebut dan memberikan manusia sebuah keabadian dan eksperimen ini pun berlangsung pada tahun 1942. Mereka memilih sebuah panti asuhan di Jepang sebagai tempat eksperimen mereka dan objek penelitian mereka adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut.Sebelum anak-anak tersebut diteliti, mereka akan melalui tes psikologi dan mendapat banyak imunisasi agar terhindar dari cacat. Dan saat itu, mereka memulai eksperimen mereka dengan membedah salah satu staf panti tersebut untuk mencari tahu perbedaan antara otak manusia dewasa dan anak-anak. Sambil mencari 'tombol kematian' tersebut agar dapat memulai eksperimen gila mereka. Korban pertama eksperimen tersebut adalah anak yang paling tinggi di antara semua anak di panti tersebut. Mereka mulai membelah kepala anak itu dan mengangkat 'tombol kematian'nya. Namun naas, saat kepalanya di tutup, anak ini kemudian tewas dan mayatnya dibuang begitu saja di hutan belakang panti asuhan tersebut.Setelah mendapat banyak peralatan baru dan menggunakan metode-metode yang berbeda di setiap penelitiannya, para ilmuwan ini akhirnya berhasil mengangkat 'tombol kematian' tersebut dan membangunkan banyak pasien mereka dan pada tahun 1943. Mereka sukses mengangkat 'tombol kematian' seorang gadis termuda di panti tersebut, namun sayangnya gadis kecil ini kehilangan kemampuan untuk berkeringat. Para ilmuwan ini merasa begitu senang dan berpesta pora dan akhirnya mereka beristirahat untuk sementara waktu.Namun, keesokan paginya anak ini tidak bangun dari tidurnya dan mengalami koma. Sayang, para ilmuwan ini tidak menyerah begitu saja, beberapa saat kemudian entah dengan metode apa, mereka berhasil membangunkannya kembali dan eksperimen ini pun berlanjut.Kali ini, eksperimen yang berbeda lagi. Mereka berencana untuk mengamputasi tangan dari salah satu anak dan menggantinya dengan tangan buatan yang rencananya akan di kirim dari Moskow, Rusia. Mereka memilih salah satu anak perempuan dan mengamputasi tangannya begitu saja. Tetapi, tangan buatan tersebut tak kunjung datang dan anak perempuan itu pun hidup dengan satu tangan saja.Salah satu anak panti yang tidak menyukai eksperimen tersebut mulai memberontak. Ia mencuri dan menghancurkan catatan, peralatan dan merusak ruangan penelitian mereka. Dibandingkan umurnya yang masih 8 tahun, ia mengakibatkan banyak kerusakan yang tak sesuai dengan ukurannya. Ilmuwan senior begitu memandang hina dirinya namun mereka tak melakukan apa pun agar tak menimbulkan kecurigaan. Mereka malah menyuruh tentara Nazi untuk menghabisinya. Bocah kecil tersebut secara brutal dipenggal oleh bayonet tumpul dan mayatnya tidak dikubur. Ia dibuang begitu saja di hutan belakang panti asuhan tersebut dan para tentara mengatakan kepada penjaga anak-anak bahwa ia telah menemukan keluarga yang baru.Para ilmuwan tersebut melanjutkan eksperimen mereka dengan anak-anak yang sudah dibedah sebelumnya untuk mencoba metode baru mereka. Menyedihkan, tak ada satu pun dari mereka yang selamat. Pada beberapa anak, ada yang kehilangan dahinya, dagu dan lidahnya diangkat, dan ada yang setengah kepalanya hilang. Tragisnya, semua percobaan ini tanpa menggunakan obat anastetik saat anak-anak malang ini dibedah (tanpa dibius terlebih dahulu agar tidak merasakan sakit). Bayangkan saja bagaimana rasa sakit yang dialaminya dan bagaimana jeritan mereka?Para ilmuwan ini malah berpendapat bahwa eksperimen ini tidak bekerja pada anak-anak. Sehingga, mereka pun memilih beberapa penjaga anak-anak (dewasa) untuk dibedah. Dan mengejutkannya mereka semua selamat dan bertahan. Saat eksperimen itu sedang berjalan, beberapa ilmuwan diperintahkan untuk melihat kondisi dan sikap anak-anak yang masih bertahan. Disinilah hal-hal aneh mulai terjadi. Di jurnal salah seorang ilmuwan tertulis:Awalnya mereka terlihat normal-normal saja seperti anak-anak lainnya. Bermain dengan ceria, belajar dengan normal tapi jika mereka terpisah dengan kelompoknya, mereka seperti... hilang... mereka mondar-mandir tidak jelas, dengan senyum kosong di wajah mereka, mereka selalu menatap langsung kepadamu. Jika didekati dari belakang, mereka akan berbalik secepat kilat dan beberapa saat, kau dapat melihat ekspresi yang jahat di wajah mereka dan akan membuatmu gemetar. Namun kemudian kau akan sadar mereka hanya sedang membuat senyuman manis di wajah mereka lagi.Hal lain yang rasanya seperti mengikuti kami, hanya pada saat kami sendiri. Setelah selesai dengan ketikanku dan menuju ruanganku, seringkali aku dikejutkan oleh salah satu anak yang berdiri beberapa meter di lorong yang gelap dan memandangiku. Ketika aku beranjak menuju ruanganku, ia mengikutiku dan aku pun langsung menutup pintuku, mengganjalnya dengan kursi dan kemudian aku tidur dengan tenang. Rasanya mereka seperti hantu di malam hari. Dan hal yang lucu terjadi, aku sering melihat salah satu anak dengan rambut yang sedikit kemerahan. Namun saat aku bertanya pada penjaga, mereka menjawab bahwa tidak ada anak yang seperti itu disini.Mereka juga sering bermain bahkan sebelum kami datang. Aku tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Jepang, tapi nama permainan itu sepertinya 'kagome kagome' berdasarkan jawaban salah satu translator kami. Beberapa anak mengelilingi salah satu anak yang duduk di tengah sendirian, bersama mereka berpengangan tangan dan mulai berjalan mengelilinginya dengan wajah yang menakutkan sambil bernyanyi lagu yang aneh, kau akan kalah jika kau curang. Setelah berbicara dengan mereka, aku melihat sepertinya mereka lebih banyak melamun, pelupa dan terkadang pandangan mereka kosong, seolah-olah eksperimen itu menghapus memori mereka. Tapi sepertinya bukan jenis lamunan yang polos, namun lebih jahat. Mereka akan melihatmu dengan pandangan mata yang lebar dan bertanya padamu pertanyaan yang sepertinya telah mereka ketahui sebelumnya.Salah satunya pernah bertanya "Kapan nenekmu mati, apa benar dia meninggalkanmu sebuah jam tangan berlapis emas?"Rasanya gila, tapi aku menjawabnya dengan jujur, "Iya..."Pada awal tahun 1945 saat Hiroshima dibombardir musuh dan Jerman terkena denda, eksperimen itu dihentikan. Orang-orang Jerman itu mulai membereskan alat-alat mereka, sebagian dari mereka sudah ada yang pulang dikarenakan mental mereka yang hampir gila karena menghadapi sikap anak-anak tersebut hingga hanya tersisa empat ilmuwan.Setelah mengirim peralatan mereka yang terakhir, para ilmuwan itu menganggap mereka harus berpamitan dengan para penjaga anak-anak tersebut dan mereka pun melakukannya.Dan yang membuat salah satu ilmuwan ketakutan dan mengejutkan ilmuwan lainnya, kepala penjaga tersebut mengatakan dalam bahasa Jerman yang fasih, "Maukah kalian bermain satu permainan terakhir dengan kami?"Tiga dari mereka setuju dan mereka memulai permainan tersebut. Para ilmuwan itu mulai menutup mata mereka dan anak-anak beserta penjaganya mulai mengelilingi mereka."Sekarang... Jika kau curang, kau kalah..."Satu-satunya ilmuwan yang tersisa lari ketakutan menuju truk terakhir tanpa melihat ke belakang lagi.Kisah ini dikatakan benar-benar terjadi dan telah dituangkan dalam sebuah video dan lagu (vocaloid).***
Kitsune
Kitsune adalah sebutan untuk binatang rubah dalam bahasa Jepang. Dalam cerita rakyat Jepang, rubah sering ditampilkan dalam berbagai cerita sebagai makhluk cerdas dengan kemampuan sihirnya yang semakin sempurna sejalan dengan semakin bijak dan semakin tua rubah tersebut. Selain itu, rubah mampu berubah bentuk menjadi manusia.Dalam legenda, rubah sering diceritakan sebagai penjaga yang setia, teman, kekasih, atau istri, walaupun sering terdapat kisah rubah menipu manusia. Di zaman Jepang kuno, rubah dan manusia hidup saling berdekatan sehingga legenda tentang Kitsune muncul dari persahabatan antara manusia dan rubah. Dalam kepercayaan Shinto, Kitsune disebut Inari yang bertugas sebagai pembawa pesan dari Kami. Semakin banyak ekor yang dimiliki Kitsune (Kitsune bisa memiliki sampai 9 ekor), maka semakin tua, semakin bijak, dan semakin kuat pula Kitsune tersebut. Sebagian orang memberi persembahan untuk Kitsune karena dianggap memiliki kekuatan gaib.Mitos Kitsune sering menjadi bahan perdebatan, karena seluruhnya mungkin berasal dari sumber asing atau bisa juga merupakan konsep asli Jepang yang berkembang pada abad ke-5 SM. Sebagian mitos tentang rubah di Jepang bisa ditelusur hingga ke cerita rakyat Tiongkok, Korea, atau India. Cerita paling tua tentang Kitsune berasal dari Konjaku Monogatari yang berisi koleksi cerita Jepang, India, dan Tiongkok yang berasal dari abad ke-11.Cerita rakyat Tiongkok mengisahkan makhluk huli jing (arwah rubah) yang mirip Kitsune dan bisa memiliki ekor hingga sembilan. Di Korea, makhluk yang disebut kumiho (rubah berekor sembilan) merupakan makhluk mistik yang telah berumur lebih dari seribu tahun. Rubah di Tiongkok dan Korea digambarkan berbeda dengan rubah di Jepang. Tidak seperti di Jepang, rubah kumiho di Korea selalu digambarkan sebagai makhluk jahat. Walaupun demikian, ilmuwan seperti Ugo A. Casal berpendapat bahwa persamaan dalam cerita tentang rubah menunjukkan bahwa mitos Kitsune berasal kitab India seperti. Hitopadesha yang menyebar ke Tiongkok dan Korea, hingga akhirnya sampai ke Jepang.Sebaliknya, ahli cerita rakyat Jepang, Nozaki Kiyoshi, berargumentasi bahwa Kitsune sudah dianggap sebagai sahabat orang Jepang sejak abad ke-4 dan unsur-unsur yang diimpor dari Tiongkok dan Korea hanyalah sifat-sifat jelek kitsune. Nozaki menyatakan bahwa dalam naskah Nihon Ryakki asal abad ke-16, terdapat cerita tentang rubah dan manusia yang hidup berdampingan pada zaman kuno Jepang, sehingga menurut Nozaki merupakan latar belakang timbulnya legenda asli Jepang tentang Kitsune.Peneliti Inari bernama Karen Smyers berpendapat bahwa ide rubah sebagai penggoda manusia, serta hubungan mitos rubah dengan agama Buddha diperkenalkan ke dalam cerita rakyat Jepang melalui cerita serupa asal Tiongkok, namun Smyers mengatakan beberapa cerita berisi unsur-unsur cerita yang khas Jepang.Menurut Nozaki, kata "Kitsune" berasal dari onomatope. Kata "Kitsune" berasal dari suara salakan rubah yang menurut pendengaran orang Jepang berbunyi "kitsu", sedangkan akhiran "ne" digunakan untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Asal-usul kata kitsune juga digunakan Nozaki untuk menunjukkan bukti lebih lanjut bahwa kisah rubah baik hati dalam cerita rakyat Jepang adalah produk dalam negeri dan bukan kisah impor. Bunyi "kitsu" sebagai suara rubah menyalak sudah tidak dikenal orang pada zaman sekarang. Dalam bahasa Jepang modern, suara rubah ditulis sebagai "kon kon" atau"gon gon". Asal-usul nama "Kitsune" dikisahkan dalam dongeng tertua yang hingga sekarang masih sering diceritakan orang, tapi mengandung penjelasan etimologi yang sekarang dianggap tidak benar.Berbeda dengan sebagian besar dongeng yang menceritakan Kitsune bisa berubah wujud menjadi wanita dan menikah dengan manusia, dongeng berikut ini tidak berakhir tragis:Pria bernama Ono asal Mino (menurut legenda kuno Jepang tahun 545), menghabiskan musim demi musim berkhayal tentang wanita cantik yang sesuai dengan seleranya. Di suatu senja, Ono bertemu dengan wanita idealnya di padang rumput yang luas dan mereka berdua akhirnya menikah. Bersamaan dengan kelahiran putra pertama mereka, anjing yang dipelihara Ono juga melahirkan. Anak anjing yang dilahirkan tumbuh sebagai anjing yang semakin hari semakin galak terhadap istri Ono. Permohonan sang istri untuk membunuh anjing galak tersebut ditolak Ono. Pada akhirnya di suatu hari, si anjing galak tersebut menyerang istri Ono dengan ganas. Istri Ono begitu ketakutan hingga berubah bentuk menjadi rubah, meloncat pagar, dan kabur."Istriku, kau mungkin seekor rubah," begitu Ono memanggil-manggil istrinya agar pulang, "tapi kau tetap ibu dari anakku dan aku cinta padamu. Pulanglah bila kau berkenan, aku selalu menunggumu."Sang istri akhirnya pulang ke rumah di setiap senja, dan tidur di pelukan Ono.Istilah "Kitsune" merupakan sebutan untuk siluman rubah yang pulang ke rumah suami sebagai wanita di senja hari, tapi pergi di pagi hari sebagai rubah. Dalam bahasa Jepang kuna, kata "Kitsu-ne" berarti "datang dan tidur", sedangkan kata"Ki-tsune" berarti "selalu datang".Kitsune dipercaya memiliki kecerdasan super, kekuatan sihir, dan panjang umur. Sebagai sejenis yokai atau makhluk halus, Kitsune sering dijelaskan sebagai "arwah rubah" tapi bukan hantu, dan bentuk fisiknya tidak berbeda dengan rubah biasa. Semua rubah yang panjang umur juga dipercaya memiliki kemampuan supranatural.Kitsune digolongkan menjadi dua kelompok besar. Kelompok zenko yang terdiri dari rubah baik hati yang bersifat kedewaan (sering disebut rubah Inari), dan kelompok rubah padang rumput (yako) yang suka mempermainkan manusia dan bahkan bersifat jahat. Tradisi berbagai daerah di Jepang juga masih mengelompokkan Kitsune lebih jauh lagi. Arwah rubah tak kasat mata yang disebut ninko misalnya, hanya bisa dilihat manusia yang sedang kerasukan ninko. Tradisi lain mengelompokkan Kitsune ke dalam salah satu dari 13 jenis Kitsune berdasarkan kemampuan supranatural yang dimiliki.Secara fisik, Kitsune dipercaya bisa memiliki hingga 9 ekor. Jumlah ekor yang semakin banyak biasanya menunjukkan rubah yang makin tua tapi semakin kuat. Beberapa cerita rakyat bahkan mengatakan ekor rubah hanya tumbuh kalau rubah tersebut sudah berumur 1.000 tahun. Dalam cerita rakyat, Kitsune sering digambarkan berekor satu, lima, tujuh, atau sembilan. Ketika Kitsune mendapatkan ekornya yang ke-9, bulu Kitsune menjadi berwarna putih atau emas. Kitsune jenis ini disebutk Yūbi no Kitsune (Kitsune berekor sembilan) dan memiliki kemampuan untuk mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di dunia. Dongeng lain menggambarkan mereka sebagai makhluk super bijak dan serba tahuKitsune bisa berubah wujud menjadi manusia dan kemampuan ini baru didapat setelah Kitsune mencapai usia tertentu (biasanya 100 tahun), walaupun beberapa cerita mengatakan 50 tahun. Siluman rubah harus meletakkan sejenis tanaman alang-alang yang tumbuh di dekat air, daun yang lebar, atau tengkorak di atas kepalanya sebagai syarat perubahan wujud. Rubah bisa berubah wujud menjadi wanita cantik, anak perempuan, atau lelaki tua. Perubahan wujud ini tidak dibatasi umur atau jenis kelamin rubah dan Kitsune dapat menjadi kembaran dari sosok orang tertentu. Rubah sangat terkenal dengan kemampuan berubah wujud sebagai wanita cantik. Pada abad pertengahan, orang Jepang percaya kalau ada wanita yang sedang berada sendirian pada saat senja atau malam hari, kemungkinan adalah seekor rubah.Dalam beberapa cerita, Kitsune memiliki kesulitan dalam menyembunyikan ekornya ketika sedang menyamar menjadi manusia. Kitsune sering ketahuan sedang mencari-cari ekornya, mungkin kalau rubah sedang mabuk atau kurang hati-hati. Kelemahan ini bisa digunakan untuk memastikan manusia yang sedang dilihat adalah siluman Kitsune. Berbagai variasi cerita mengisahkan Kitsune sebagai makhluk yang masih mempertahankan ciri-ciri khas rubah, seperti tubuh yang bermantelkan bulu-bulu halus, bayangan siluman Kitsune yang sama seperti bayangan rubah, atau siluman Kitsune yang terlihat sebagai rubah ketika sedang berkaca. Istilah "Kitsune-gao" (muka Kitsune) digunakan di Jepang untuk menyebut wanita yang berwajah sempit, mata yang berdekatan, alis mata yang tipis, dan tulang pipi yang tinggi. Di zaman dulu, wanita bermuka Kitsune-gao dianggap cantik dan dipercaya sebagai rubah yang sedang berubah wujud sebagai wanita dalam beberapa dongeng.Kitsune takut dan sangat benci pada anjing, bahkan ketika sedang berubah wujud sebagai manusia. Sebagian Kitsune bahkan gemetaran kalau melihat anjing, kembali berubah wujud menjadi rubah dan lari pontang-panting. Orang yang taat dan berbakti kabarnya gampang mengenali siluman rubah. Salah satu cerita rakyat mengisahkan ketidaksempurnaan perubahan wujud seekor Kitsune yang sedang menjadi manusia bernama Koan.Menurut cerita, Koan yang bijak dan memiliki kekuatan sihir sedang mau mandi di rumah salah seorang muridnya. Air mandi ternyata dimasak terlalu panas dan kaki Koan melepuh ketika masuk ke bak mandi. Koan yang sedang kesakitan, lari keluar dari kamar mandi dengan tubuh telanjang. Orang-orang di rumah yang melihatnya terkejut. Sekujur badan Koan ternyata ditumbuhi bulu seperti mantel, berikut ekor dari seekor rubah. Koan lalu berubah wujud di hadapan murid-muridnya menjadi seekor rubah tua dan melarikan diri.Kemampuan supranatural lain yang dimiliki Kitsune, antara lain mulut dan ekor yang bisa mengeluarkan api atau petir (dikenal sebagai Kitsune-biyang secara harafiah berarti "api Kitsune"), membuat manusia kerasukan, memberi pesan di dalam mimpi orang agar melakukan sesuatu, terbang, tak kasat mata, dan menciptakan ilusi yang begitu mendetail hingga tidak bisa dibedakan dari kenyataan. Pada beberapa cerita, Kitsune bahkan memiliki kekuatan yang lebih besar lagi, sampai bisa mengubah ruang dan waktu, membuat orang menjadi marah, atau berubah menjadi bentuk-bentuk yang fantastis, seperti pohon yang sangat tinggi atau sebagai bulan kedua di langit. Kitsune lainnya memiliki ciri-ciri yang mengingatkan orang pada vampir atau succubus dan memangsa roh manusia, biasanya melalui kontak seks.Istilah kitsunetsuki secara harafiah berarti kerasukan Kitsune. Korban biasanya wanita muda yang kemasukan Kitsune dari bagian kuku jari atau melalui bagian buah dada. Pada beberapa kasus, wajah korban konon berubah sedemikian rupa hingga menyerupai rubah. Menurut tradisi di Jepang, kalau orang Jepang yang buta huruf sedang kerasukan Kitsune, orang tersebut bisa melek huruf untuk sementara waktu. Ahli cerita rakyat Lafcadio Hearn mengisahkan peristiwa kerasukan Kitsune dalam volume pertama buku karyanya, Glimpses of Unfamiliar Japan: Aneh memang kegilaan orang yang dirasuki iblis rubah. Kadang-kadang mereka berlarian telanjang sambil berteriak-teriak di jalanan. Kadang-kadang mereka tidur-tiduran dengan mulut berbuih dan menyalak seperti rubah. Dan di bagian tubuh orang yang kerasukan, terlihat benjolan yang bergerak-gerak di bawah kulit yang kelihatannya memiliki nyawa sendiri. Bila ditusuk dengan jarum, benjolan tersebut langsung berpindah ke tempat lain. Benjolan tidak bisa dicengkeram, lepas bila ditekan dengan tangan yang kuat dan lolos dari jari-jari. Orang yang sedang kerasukan kabarnya bisa berbicara dan menulis bahasa yang mereka tidak kuasai sebelum kerasukan. Mereka hanya memakan makanan yang dipercaya disenangi rubah, seperti -tahu, aburagé, azukimeshi, dan lain lain. Mereka juga makan banyak sekali dan membela diri bahwa yang sedang makan itu bukan mereka, tapi arwah rubah. Lafcadio Hearn menambahkan bahwa orang yang sudah terbebas dari kerasukan Kitsune bakal tidak doyan lagi makan tahu aburage, azukimeshi, atau makanan lain yang digemari rubah. Upacara mengusir setan dilakukan di kuil-kuil Inari untuk membujuk Kitsune agar mau keluar dari tubuh orang yang sedang dimasukinya. Di zaman dulu, kalau usaha lemah lembut membujuk rubah tidak berhasil atau pendeta kebetulan tidak ada, korban Kitsunetsuki dipukuli atau dibakar sampai terluka parah agar Kitsune mau keluar. Kalau ada seorang anggota keluarga yang kerasukan, seluruh anggota keluarga korban diasingkan oleh masyarakat. Di Jepang, kerasukan Kitsune (Kitsunetsuki) sudah dianggap sebagai penyakit sejak zaman Heian dan merupakan diagnosis umum untuk gejala penyakit mental hingga di awal abad ke-20. Kerasukan digunakan sebagai penjelasan kelakuan abnormal dari penderita. Di akhir abad ke-19, Dr. Shunichi Shimamura mencatat beberapa gejala penyakit yang disebabkan demam sering dianggap sebagai Kitsunetsuki. Dalam istilah kedokteran, kerasukan Kitsune merupakan gejala penyakit mental yang khas dalam kebudayaan Jepang. Pasien percaya dirinya sedang dirasuki rubah. Gejala kerasukan Kitsune di antaranya selalu ingin makan nasi atau kacang azuki, bengong, gelisah, dan menghindari tatapan mata orang lain. Penyakit kerasukan Kitsune mirip tapi berbeda jauh dari lycanthropy (manusia serigala).Penggambaran Kitsune dan korbannya sering mengikutsertakan benda putih yang disebut "bola bintang" (hoshi no tama) berbentuk bulat atau seperti bawang. Dalam dongeng, permatahoshi no tama berselimutkan api disebut Kitsune-bi (api rubah) Di dalam sebagian cerita, hoshino tama digambarkan sebagai mutiara atau permata yang memiliki kekuatan sihir. Ketika sedang tidak berubah wujud menjadi manusia atau merasuki manusia, Kitsune menggigit hoshi no tama atau membawanya di bagian ekor. Permata merupakan simbol yang lazim ditemukan pada Inari dan rubah suci Inari sangat jarang digambarkan tidak memiliki permata. Sebagian orang percaya, sebagian kekuatan Kitsune berada di dalam permata "bola bintang" ketika Kitsune berubah wujud. Cerita lain menggambarkan mutiara sebagai perlambang nyawa Kitsune. Kitsune akan mati jika terlalu lama terpisah dari mutiaranya. Orang yang berhasil mengambil bola Kitsune, kabarnya bisa menukar bola tersebut dengan kekuatan sihir yang dimiliki Kitsune. Dalam dongeng abad ke-12, seorang laki-laki berhasil mengambil bola Kitsune dan mendapat imbalan ketika mengembalikannya:"Kau terkutuk!" maki sang rubah. "Kembalikan bolaku!"Tapi laki-laki itu mengabaikan permohonan Kitsune, hingga Kitsune berkata sambil menangis, "Baiklah, kau boleh ambil bolaku, tapi bola tersebut tidak ada gunanya untukmu, kalau kau tidak tahu cara menggunakannya. Bagiku, bola itu adalah segala-galanya. Aku peringatkan, kalau kau tidak mau mengembalikannya, kau akan jadi musuhku selamanya. Tapi bila kau mau mengembalikannya, aku akan terus mendampingimu bagaikan dewa pelindung."Nyawa laki-laki tersebut kemudian diselamatkan sang rubah yang membantunya melawan gerombolan bandit.Dalam kepercayaan Shinto, Kitsune sering dikaitkan dengan Inari. Hubungan antara Inari dan Kitsune makin memperkuat kedudukan Kitsune dalam dunia supranatural. Kitsune mulanya merupakan pembawa pesan yang bertugas bagi dewa Inari, tapi garis pemisah antara Inari dan Kitsune makin kabur sehingga Inari digambarkan sebagai seekor rubah. Kuil Shinto yang memuliakan Inari disebut kuil Inari, tempat orang memberikan sesajen. Kitsune kabarnya suka sekali makan potongan tahu goreng aburage. Kitsune makan aburage yang biasa diletakkan di atas masakan mie Jepang yang disebut Kitsune Udon dan Kitsune Soba. Sejenis sushi yang dimasukkan di dalam kantong dari aburage disebut Inari-zushi. Ahli cerita rakyat sering berspekulasi tentang keberadaan kepercayaan rubah yang lain, karena rubah sejak dulu sudah dipuja sebagai. Kami. Kitsune di kuil Inari berwarna putih yang merupakan warna pertanda baik. Mereka dipercaya memiliki kekuatan untuk menangkal iblis dan kadang-kadang bertugas sebagai pelindung arwah. Selain berjaga-jaga di kuil Inari, Kitsune diminta agar melindungi penduduk setempat dari rubah liar (nogitsune) yang suka membuat keonaran. Sama seperti Kitsune berwarna putih, Kitsune berwarna hitam dan Kitsune berekor sembilan juga dianggap pertanda baik. Menurut kepercayaan yang berasal dari feng shui, rubah memiliki kekuatan luar biasa melawan iblis, sehingga patung Kitsune konon bisa mengusir hawa kimon atau energi yang mengalir arah timur laut. Kuil Inari seperti kuil Fushimi Inari di Kyoto sering memiliki koleksi patung Kitsune yang banyak sekali.Kitsune sering digambarkan sebagai penipu dengan motif yang bervariasi, mulai dari sekadar ingin berbuat nakal hingga merugikan manusia. Kitsune dikisahkan senang mempermainkan samurai yang sombong, saudagar rakus, dan rakyat biasa yang suka pamer. Kitsune yang lebih kejam konon suka mengerjai pedagang miskin, petani, dan biksu yang saleh. Korban Kitsune biasa laki-laki, sedangkan perempuan hanya bisa kerasukan Kitsune. Kitsune misalnya, dipercaya menggunakan bola api Kitsune-bise waktu membantu pelancong yang tersesat. Taktik lain Kitsune adalah mengelabui korban dengan ilusi dan tipuan mata. Kitsune memperdaya manusia dengan maksud merayu, mencuri makanan, memberi pelajaran untuk orang yang sombong, atau membalas dendam sesudah dicederai. Permainan tradisional Kitsune-ken merupakan salah satu jenis permainan Batu-Gunting-Kertas dengan tiga bentuk telapak tangan dan jari-jari yang melambangkan rubah, pemburu, dan kepala kampung. Pemburu kalah dari kepala kampung, dan sebaliknya pemburu menang atas rubah, tapi rubah bisa memperdaya kepala kampung Kitsune digambarkan suka membuat onar ditambah reputasi suka membalas dendam. Akibatnya, orang berusaha mengungkap motif tersembunyi di balik tindakan rubah. Toyotomi Hideyoshi pernah menulis surat kepada Inari. Di dalam suratnya, Hideyoshi melaporkan keonaran yang dibuat salah seekor rubah terhadap para pelayan dan memohon agar rubah-rubah diselidiki dan ditindaklanjuti. Kalau insiden ini tidak ditanggapi, Hideyoshi mengancam akan memburu semua rubah yang ada.Kitsune dikenal suka menepati janji dan berusaha keras untuk bisa membalas budi. Kitsune kadang-kadang membuat onar seperti yang dikisahkan sebuah cerita asal abad ke-12. Ancaman pemilik rumah untuk membinasakan semua rubah berhasil meyakinkan kawanan rubah untuk mengubah kelakuan. Kepala keluarga kawanan rubah hadir dalam mimpi pemilik rumah untuk mohon pengampunan dari pemilik rumah, sekaligus berjanji untuk berkelakuan baik dan membalas budi dengan menjadi pelindung keluarga. Sebagian Kitsune menggunakan sihir untuk menguntungkan manusia yang dianggap teman atau majikan. Sebagai golongan Yokai, ia tidak memiliki tata krama seperti manusia. Kitsune bisa mencuri uang dari rumah tetangga untuk diberikan kepada majikan atau mencuri uang majikan sendiri. Di zaman dulu, pemilik rumah yang memelihara Kitsune selalu dicurigai tetangga. Dalam cerita rakyat sering dikisahkan tentang pembayaran atas barang atau jasa yang dilakukan Kitsune. Kitsune bisa menipu penglihatan orang yang menerima pembayaran dari Kitsune dengan sihir. Emas, uang, atau batu permata yang diterima dari Kitsune sebenarnya hanya kertas bekas, daun-daunan, cabang dan ranting, batu, atau benda-benda sejenis. Hadiah yang benar-benar diberikan Kitsune kepada manusia biasanya berupa benda-benda yang tak berwujud, seperti perlindungan, pengetahuan, dan umur panjang.Kitsune sering digambarkan sebagai wanita penggoda dalam cerita yang melibatkan laki-laki muda. Walaupun Kitsune berperan sebagai wanita penggoda, cerita biasanya bersifat romantis. Dalam cerita, laki-laki sering menikahi wanita cantik yang merahasiakan bahwa dirinya adalah seekor rubah. Ketika rahasia terbongkar, sang istri terpaksa meninggalkan suami. Pada sebagian cerita, laki-laki yang menikahi siluman rubah bagaikan bangun dari mimpi, kebingungan, berada jauh dari rumah, dan harus kembali ke rumah yang ditinggalinya dulu dengan membawa malu. Beberapa cerita mengisahkan siluman rubah yang dijadikan istri melahirkan anak manusia. Anak-anak yang dilahirkan memiliki kemampuan fisik dan bakat supranatural melebihi orang biasa. Bakat ini juga diturunkan ke anak cucu bila manusia keturunan rubah kembali melahirkan anak. Seorang ahli kosmologi (onmyōji) Jepang bernama Abe no Seimei dikatakan memiliki kekuatan sihir luar biasa karena keturunan Kitsune. Kitsune sering dikisahkan menikahi sesama Kitsune. Dalam bahasa Jepang, hujan lebat yang turun tiba-tiba ketika langit sedang cerah (hujan panas) disebut Kitsune no yomeiriatau "pernikahan Kitsune". Istilah tersebut berasal dari legenda yang mengisahkan kondisi cuaca pada saat upacara pernikahan Kitsune. Peristiwa pernikahan Kitsune dianggap sebagai pertanda baik, tapi Kitsune akan marah bila hadir tamu yang tidak diundang. Cerita fiksi Kitsune tampil dalam berbagai seni budaya Jepang. Sandiwara tradisional Jepang seperti noh, kyogen, bunraku, dan kabuki sering mengisahkan legenda Kitsune. Begitu pula halnya dengan budaya kontemporer seperti manga dan permainan video. Pengarang fiksi dari Barat juga mulai menulis cerita yang diilhami legenda Kitsune. Penggambaran Kitsune menurut orang Barat biasanya tidak berbeda jauh dengan cerita asli Kitsune. Ibu Abe no Seimei yang bernama Kuzunoha merupakan tokoh Jitsune yang dikenal luas dalam seni teater tradisional Jepang. Kuzunoha ditampilkan dalam cerita sandiwara bunraku dan kabuki Ashiya Dōman Ōuchi Kagami (Kaca di Ashiya Dōman and Ōuchi) yang terdiri dari lima bagian. Bagian ke-4 yang berjudul Kuzunoha atau Rubah dari Hutan Shinoda sering dipentaskan secara terpisah. Bagian ini menceritakan terbongkarnya rahasia Kuzunoha sebagai siluman rubah dan adegan saat harus meninggalkan suami dan anaknya. Tamamo-no-Mae adalah tokoh fiksi yang menjadi tema drama noh berjudul Sesshoseki (Batu Kematian), dan sandiwara kabuki/kyogen berjudul Tamamonomae (Penyihir Rubah yang Cantik). Tamamo-no-Mae berbuat banyak kejahatan di India, Tiongkok, dan Jepang, tapi rahasianya terbongkar dan tewas. Arwahnya menjadi sesshoseki (batu kematian). Arwah Tamamo-no-Mae akhirnya dibebaskan biksu bernama Gennō. Genkurō adalah seekor Kitsune yang dikenal berbakti kepada orangtua. Dalam cerita bunraku dan kabuki berjudul Yoshitsune Sembon Zakura (Yoshitsune dan Seribu Pohon Sakura), kekasih Yoshitsune yang bernamaPutri Shizuka memili Kitsuzumi (gendang kecil) yang dibuat dari kulit rubah orangtua Genkurō. Dalam penyamarannya sebagai Satō Tadanobu, Genkurō berhasil menyelamatkan Putri Shizuka dari Minamoto no Yoritomo. Namun identitas Genkurō sebagai siluman rubah terbongkar karena Satō Tadanobu yang asli muncul. Genkurō mengatakan suara kedua orangtuanya terdengar setiap kali gendang tsuzumi yang dimiliki Shizuka dipukul. Yoshitsune dan Shizuka akhirnya memberikan tsuzumi tersebut kepada Genkurō. Sebagai imbalannya, Genkurō memberi perlindungan sihir untuk Yoshitsune.
Oiwa
Oiwa merupakan salah satu cerita hantu Jepang yang paling terkenal yang pernah ditulis. Di Jepang, ia juga dikenal sebagai "Yotsuya Kaidan". Ceritanya tentang seorang wanita yang diracuni oleh suaminya yang tidak setia dan hantunya kembali dari kematian untuk membalas dendam.Oiwa - Yotsuya KaidanOiwa adalah seorang wanita muda yang sangat cantik dan tinggal di sebuah kota kecil di Jepang. Nama pacarnya adala Hiemon. Meskipun ia tidak punya banyak uang, Oiwa sangat mencintai pacarnya tersebut.Dia sangat gembira ketika kekasih masa kecilnya memintanya untuk menikah dengannya. Setelah pernikahan, mereka pindah bersama-sama dan pasangan bahagia ini sangat mengharapkan lahirnya seorang bayi.Selang tak berapa lama perkawinan mereka, Hiemon menjadi membenci istrinya dan mulai berselingkuh dengan seorang wanita muda yang kaya bernama Oume. Dia sudah mnjalin hubungan dengan wanita itu selama berbulan-bulan dan akhirnya ia jatuh cinta dengan Oume. Meskipun faktanya dia sudah menikah.Suatu hari, ayah Oume datang untuk melihat Hiemon. Hiemon mengatakan bahwa ia sudah menikah. Tapi karena anak perempuannya sangat mencintai lelaki itu, ayah Oume kemudian memberikan semua cara yang ia bisa dilakukan untuk menceraikan istrinya tersebut dan memastikan kesuksesan anaknya di masa depan. Hiemon pun mendengarkan dengan penuh perhatian.Hiemon menghabiskan banyak waktu untuk berpikir tentang kata-kata ayah Oume kepadanya. Sebuah rencana jahat mulai terbentuk dalam pikirannya. Dia memutuskan bahwa satu-satunya cara dia bisa menikahi Oume adalah entah bagaimana menyingkirkan Oiwa dan anaknya yang belum lahir. Dia berpikir bahwa cara termudah untuk melakukannya adalah diam-diam meracuni Oiwa dan membuatnya seperti meninggal tanpa sebab secara alamiah.Oiwa yang tidak tahu tentang rencana pembunuhan suaminya, tidak menyadari nasib buruk yang akan menimpa dirinya. Dia terus bahagia mempersiapkan kelahiran bayi mereka.Suatu malam, ketika Oiwa dan Hiemon sedang duduk di meja makan untuk makan malam, Oiwa melihat suaminya aneh dan gugup. Hiemon menyuruh Oiwa untuk makan malam, tapi Hiemon tidak menyentuh makanannya. Dia berteriak pada Oiwa dan menyuruhnya berhenti mengeluh dan segera makan makanan sendiri. Dia harus menjadi kuat untuk bayi, katanya.Oiwa akhirnya berhenti untuk tidak memakasa Hiemon makan dan mulai memakan makan malamnya sendiri. Tidak lama kemudian, setelah makan malam itu ia merasa sangat sakit. Hiemon mengawasinya, melihat Oiwa yang sakit karena efek racun. Hiemon tidak menawarkan istrinya bantuan sama sekali.Namun Oiwa tidak segera mati. Wajahnya yang cantik menjadi cacat dari racun yang pertama. Lalu ia menjadi tidak sadarkan diri. Tampaknya Hiemon telah menyelesaikan pekerjaannya, Oiwa sudah menjadi tubuh tak bernyawa di tempat tidur.Tapi akhirnya Oiwa terbangun dari komanya, karena efek dari racun tersebut. Dia telah kehilangan bayinya dan wajahnya menjadi jelek dan mengerikan. Tapi hebatnya, Oiwa masih hidup. Hiemon putus asa. Ia mencari cara lain untuk melepaskan diri dari istrinya tersebut.Suatu malam ia mengajak Oiwa untuk berjalan-jalan keluar. Hiemon mengajak istrinya tersebut jalan-jalan ke tebing, dan Hiemon melihat sekeliling untuk memastikan apakah ada orang di dekatnya. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Hiemon dengan niat jahatnya kemudian mendorong Oiwa yang sedang melangkah di tepi tebing tersebut.Singkat cerita, Hiemon sekarang merencanakan pernikahan dengan Oume. Malam sebelum pernikahan itu berlangsung, Hiemon melihat lampu di samping tempat tidurnya meredup. Dia melihat hal itu dan dengan penasaran. Wajah cacat dari Oiwa tiba-tiba menggantikan lampu, tumbuh lebih besar dan lebih besar di dalam ruangan."Pengkhianat!" begitulah katanya.Hiemon meraih tongkat dan mengayunkan ke wajah hantu Oiwa, tapi Oiwa menghilang. Tongkat itu hanya mengenai lampu dan pecah, kemudian jatuh ke lantai. Hiemon merasa mendengar tawa samar seorang wanita dari luar. Dalam keadaan Terguncang, Hiemon meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya halusinasinya karena terlalu banyak minum alkohol di awal malam hari, lalu dia pergi tidur.Keesokan harinya, Hiemon lupa semua tentang hantu Oiwa tadi malam. Dia dan Oume sudah menikah. Ketika ia mengangkat tangan istri barunya, tiba-tiba wajah muda cantik Oume diganti dengan wajah mengerikan Oiwa."Pengkhianat!" desisnya.Hiemon mengambil pedangnya dan mengayunkannya pada penampakan hantu itu, memotong kepala hantu Oiwa. Kepalanya terputus, bergulir menyusuri lorong gereja. Tetapi ketika kepala itu berhenti menggelinding, dia melihat itu adalah wajah Oume dan bukan Oiwa seperti sebelumnya. Dia mendengar suara samar tawa lagi.Hiemon lari ke rumah kecilnya, mencari tempat untuk bersembunyi. Ada suara bergetar di pintu dan itu adalah kakek Oume yang datang menuntut dan Hiemon untuk membukakan pintu. Ketika Hiemon membuka pintu ia melihat lagi Oiwa berdiri di sana."Pengkhianat!" desisnya.Sekali lagi, Iemon mencoba memancung dia, tetapi ketika ia selesai mengayunkan pedangnya, itu adalah kakek Oume yang sudah terbaring mati. Hiemon berlari ke tebing, tawa Oiwa mengikutinya. Dia berhenti di tepi tebing dan melihat ke bawah. Ia pikir ia harus segera mengakhiri teror ini.