Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Kisah Ketobong Keramat
Alkisah pada zaman dahulu kala, di negeri Pelalawan berkuasalah seorang raja yang dikenal sebagai Raja Pelalawan. Penduduknya hidup tenteram, sejahtera dan rukun. Namun, di antara penduduk tersebut, terdapat seorang laki-laki setengah baya yang hidup sangat miskin. Meskipun miskin, ia gemar menolong orang lain. Setiap hari ia pergi menajuh di Sungai Selempaya yang mengalir di negeri itu. Dari hasil menangkap ikan itulah ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.Selain menangkap ikan, si Miskin itu memiliki kepandaian mengobati orang sakit. Kepandaiannya itu ia gunakan untuk menolong setiap orang yang datang kepadanya. Karena ia suka menolong orang sakit, maka ia pun dipanggil Bomo Sakti (Tabib Sakti). Ia sangat pandai mengambil hati masyarakat. Jika ada orang membutuhkan pertolongannya, ia tidak pernah menolak. Selain itu, ia juga tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang telah diberikannya. Sifatnya yang rendah hati itu, membuat masyarakat di negeri Pelalawan senang kepadanya. Berbeda dengan bomo-bomo lainnya, mereka memiliki sifat angkuh. Untuk setiap obat yang diberikan kepada orang sakit, ia selalu meminta bayaran yang sangat tinggi dan selalu menolak apabila dimintai pertolongannya oleh orang miskin.Suatu hari, kepandaian Bomo Sakti mengobati orang sakit itu terdengar oleh Raja Pelalawan. Maka diutuslah dua orang pengawal istana untuk menjemput Bomo Sakti untuk dibawa ke istana. Sesampainya di hadapan raja, Bomo Sakti langsung memberi hormat, “Ampun Baginda Raja! Ada apa gerangan Baginda memanggil saya menghadap?” tanya Bomo Sakti penasaran. “Wahai Bomo Sakti! Aku sudah mendengar tentang kepandaian kamu mengobati orang sakit. Bersediakah kamu aku angkat menjadi bomo di istana ini?” tanya Baginda Raja kembali. “Ampun beribu ampun, Baginda! Saya ini hanya orang miskin dan bodoh. Tuhanlah yang menyembuhkan mereka, saya hanya berusaha melakukannya,” jawab Bomo Sakti merendah. Baginda Raja pun mengerti kalau Bomo Sakti menerima tawarannya itu dengan bahasa yang sangat halus. Akhirnya, Bomo Sakti pun diangkat menjadi bomo resmi di Kerajaan Pelalawan. Sejak itu, Bomo Sakti semakin terkenal hingga ke berbagai negeri. Kehidupan keluarganya berangsur-angsur menjadi makmur. Meskipun namanya sudah terkenal di mana-mana, Bomo Sakti tetap bersikap rendah hati. Ia masih mengerjakan pekerjaannya yang dulu yaitu pergi menangkap ikan di sungai Selempaya.Suatu waktu, Baginda Raja memanggil Bomo Sakti menghadap kepadanya. Setelah Bomo Sakti menghadap, Baginda Raja pun berkata, “Wahai Bomo Sakti, sudah lama aku menginginkan anak. Aku sudah mendatangkan bomo dari berbagai negeri, namun belum ada yang berhasil. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, aku berharap kamu mau mengobati permaisuriku agar kami bisa mendapatkan keturunan,” pinta Raja Pelalawan dengan penuh harapan. Karena permintaan raja, Bomo Sakti tidak bisa menolak. “Hamba akan berusaha, Baginda! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan keinginan Baginda,” jawab Bomo Sakti dengan rendah hati.Setelah itu, Bomo Sakti pun mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan takdir Tuhan Yang Mahakuasa, usahanya berhasil. Beberapa hari setelah diobati, permaisuri pun mengandung. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, genaplah 9 bulan kandungan permaisuri. Maka lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Sejak itu, semakin masyhurlah nama bomo yang sakti itu. Raja dan permaisuri serta seluruh penduduk negeri Pelalawan sangat senang dan gembira menyambut kelahiran sang Putri kecil yang cantik itu. Akan tetapi, Bomo Sakti yang telah berhasil mengobati sang permaisuri justru merasa menyesal, karena telah melanggar larangan yang pernah ditetapkan oleh gurunya. Larangan tersebut adalah ia tidak dibenarkan mengobati orang yang sehat dan orang yang sudah mati. Jika ia melanggar larangan itu, hidupnya akan teraniaya.Jika berladang, padinya takkan berisi. Jika mencari ikan, takkan dapat. Jika berlayar, angin berhenti. Jika beternak, takkan berkembang biak. Oleh karena itu, ia berniat untuk berhenti menjadi bomo. Akan tetapi, jika ia berhenti begitu saja, tentu Baginda Raja akan murka kepadanya. Ia pun kemudian mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa berhenti menjadi bomo tanpa membuat Baginda Raja merasa kecewa.Setelah beberapa lama berpikir, Bomo Sakti pun menemukan cara yang baik. Keesokan harinya, ia mengutarakan isi hatinya kepada Raja Pelalawan. “Ampun, Baginda Raja!Bukannya hamba tidak hormat terhadap titah Baginda. Tadi malam hamba bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Ia menyuruh hamba berhenti menjadi bomo. Jika hamba tidak menuruti perkataan kakek itu, maka keluarga hamba akan teraniaya,” cerita Bomo Sakti pada Raja. Mendengar cerita Bomo Sakti, Baginda Raja bisa memakluminya. “Baiklah, Bomo Sakti. Aku rela kamu berhenti menjadi bomo kerajaan ini,” jawab Baginda Raja tersenyum. Sejak saat itu, Bomo Sakti resmi berhenti menjadi bomo. Penduduk negeri pun tidak lagi datang untuk meminta bantuannya. Bomo Sakti kembali menjalani hidupnya sebagai penajuh untuk menghidupi keluarganya.Seiring dengan berjalannya waktu, sang Putri pun sudah berumur lima belas tahun. Sebagai anak satu-satunya, sang Putri sangat disayangi oleh Baginda Raja dan permaisuri. Ke mana pun ia pergi selalu dikawal oleh puluhan dayang-dayang. Suatu hari, sang Putri jatuh sakit keras. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Sudah puluhan bomo didatangkan dari berbagai negeri, namun belum ada seorang pun yang bisa menyembuhkan sang Putri. Baginda raja dan permaisuri semakin cemas melihat kondisi putrinya yang semakin lemas. Dalam suasana cemas itu, tiba-tiba Baginda Raja teringat dengan Bomo Sakti yang pernah dilantiknya sebagai bomo resmi kerajaan lima belas tahun yang lalu. Maka diperintahkannya beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti itu. Sudah berhari-hari pengawal istana mencari Bomo Sakti, namun tak kunjung mereka temukan. Karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, meninggallah Putri Kerajaan Pelalawan tersebut. Tersebarlah berita kematian sang Putri hingga ke seluruh pelosok Negeri Pelalawan. Baginda Raja sangat sedih dan menyesal, karena Bomo Sakti yang sangat diharapkan untuk menyembuhkan putrinya tidak pernah datang.Melihat putri tunggalnya telah meninggal, Baginda Raja segera mengutus beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti yang selama ini belum berhasil ditemukannya. Malam itu juga dengan susah payah pengawal istana berhasil menemukan Bomo Sakti di sebuah pondok dekat sungai Selempaya. Karena Baginda Raja yang memanggil, maka berangkatlah Bomo Sakti ke istana. Sesampainya di istana, Raja berkata, “Hai Bomo Sakti, hidupkanlah kembali putriku ini. Buktikanlah kesetiaanmu sekali lagi kepadaku.Jika kamu menolak permintaanku, maka kamu dan keluargamu akan aku pancung di depan orang ramai.” Mendengar ancaman Baginda Raja, Bomo Sakti pun menjadi ketakutan. Demi keselamatannya dan keluarganya, terpaksalah ia menuruti kehendak rajanya. Saat itu juga Bomo Sakti segera mempersiapkan perlengkapan untuk upacara pengobatan yang belum pernah dilakukannya.Bomo Sakti mulai menyalakan puluhan lilin dan memasangnya di seluruh sudut istana. Kemudian membakar kemenyan hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang hadir di tempat itu harus diam di tempat masing-masing. Sambil membaca doa, Bomo Sakti menepungtawari sang Putri yang sudah meninggal itu. Setelah itu, ia pun memukul ketobong sambil mengucapkan doa. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, setiap kali ia memukul ketobongnya tampak ketobong itu seperti berapi-api. Setelah hampir dua jam lamanya ia memukul ketobongnya sambil membaca doa, selubung yang menutupi sang Putri tiba-tiba bergerak. Semua orang yang melihat kejadian itu sangat kagum bercampur rasa takut. Tak lama, terdengar sang Putri bersin. Kemudian sang Putri duduk, seolah-olah baru bangun tidur. Akhirnya, sang Putri pun hidup kembali.Baginda Raja dan permaisuri sangat senang atas hidupnya kembali putri tunggalnya itu. Sebaliknya, Bomo Sakti merasa sangat menyesal menghidupkan kembali sang Putri. Ia pun segera kembali ke perahunya yang tertambat di tepi sungai. Sambil mengayuh perahunya meninggalkan Kerajaan Pelalawan, Bomo Sakti menangis karena telah melanggar larangan gurunya yang kedua kalinya. Tengah mengayuh perahunya, ia melihat pengawal istana sedang mengejarnya di belakang. Tak lama, ia mendengar suara teriakan dari arah perahu itu. “Hai Bomo Sakti! Tungguuu…tungguuu…! Baginda Raja memanggilmu kembali ke istana!” teriak seorang pengawal. Bomo Sakti terus saja mengayuh perahunya.Ia tidak menghiraukan suara teriakan itu.Setelah sampai di muara sungai, perahu Bomo Sakti tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, perahu pengawal pun menyusul dan mendekati perahu Bomo Sakti. Sebelum turun dari perahunya, Bomo Sakti berpesan kepada pengawal istana yang mengejarnya. “Hai Pengawal, sampaikan kepada rajamu, perintahnya telah saya laksanakan, hingga saya harus melanggar perintah guru saya. Saya bersumpah tidak akan menginjak bumi Pelalawan ini selagai saya masih hidup,” tegas Bomo Sakti kepada pengawal. Setelah itu, ketobong yang digunakan untuk menyembuhkan sang Putri dibuangnya ke dalam sungai. Ketika ketobong itu dibuang, tiba-tiba air sungai menjadi berombak. Pada saat itu pula, Bomo Sakti melompat ke darat sambil berteriak, “Jika kalian sampai di Pelalawan, sampaikan salamku kepada istri dan anak-anakku. Katakan kepadanya, jika mereka ingin bertemu denganku, suruh mereka datang ke Selempaya setiap hari Jumat pagi.” Setelah ia berpesan, tiba-tiba ombak kembali menjadi tenang. Namun, dari dalam air terdengar bunyi ketobong seperti dipukul orang. Bomo Sakti pun menghilang dan tak pernah kembali.Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat mempercayai bahwa Bomo Sakti masih hidup sebagai orang hunian (makhluk halus). Masyarakat yang menajuh di Sungai Selempaya sering melihatnya dalam wujud seperti manusia biasa. Konon, hingga kini apabila terjadi hujan panas, sering terdengar bunyi ketobong di sungai itu.
Kisah Bujang Buta
Alkisah, zaman dahulu kala, di sebuah kampung di Riau, hiduplah seorang janda tua bersama tiga orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Bujang Perotan, anak kedua bernama Bujang Pengail, dan bungsunya bernama Bujang Buta. Namun, ketiga anaknya tersebut memiliki perangai berbeda-beda. Bujang Perotan dan Bujang Pengail memiliki sifat buruk, mereka selalu berniat mencelakakan adiknya. Sebaliknya Bujang Buta, meskipun buta, ia adalah anak yang sabar dan tekun bekerja.Pada suatu hari, ketiga bersaudara tersebut pergi ke hutan untuk merotan dan mengail ikan. Di tengah mereka asyik mengail ikan, Bujang Perotan dan Bujang Pengail meninggalkan Bujang Buta sendirian di hutan belantara. Saat Bujang Buta tersadar kedua abangnya meninggalkannya, ia pun berteriak-teriak memanggil abangnya. “Abaaang… ! Kalian di mana?” teriak Bujang Buta. Berkali-kali sudah Bujang Buta berteriak memanggil abangnya, namun ia tidak mendengar jawaban. Hingga malam menjelang, Bujang Buta tidak menemukan kedua abangnya.Dengan tertatih-tatih dan disertai perasaan yang takut, Bujang Buta terus berjalan mengikuti kaki melangkah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia pun meraba-raba dan mengambil benda itu. “Ah, sepertinya ini buah mangga,” gumam Bujang Buta. Digigitnya buah itu sampai hanya bijinya yang tersisa. “Mmm, manis sekali mangganya,” kata Bujang Buta dalam hati. Oleh karena masih merasa lapar, Bujang Buta menghisap-hidap biji mangga tersebut. Karena asyiknya, tanpa diduga biji mangga tertelan.“Adooi Mak!‘ pekik Bujang Buta. Bersamaan dengan itu, matanya terbelalak. Ia sangat terkejut ketika ia bisa melihat dedaunan dan ranting-ranting kecil yang bergoyang di hadapannya. Bujang Buta kemudian melihat ke langit dan ia bisa melihat indahnya sinar rembulan. “Alhamdulillah…! Terima kasih ya Allah! Mataku sudah dapat melihat dunia,” ucap Bujang Buta sambil memejamkan matanya.Namun, ketika ia membuka matanya kembali, di hadapannya sudah ada dua ekor beruk dan seekor harimau. Bujang Buta menjadi ketakutan, dikiranya harimau itu mau menerkamnya. “Jangan takut, Orang Muda!” seru si Harimau. Bujang Buta kaget bukan main, ia tidak menyangka kalau harimau itu berbicara.“Hendak ke manakah engkau ini, Orang Muda?” tanya si Beruk. “Saya hendak mencari kampung,” jawab Bujang Buta pelan karena takut. “Mengapa begitu?” tanya si Harimau pula. Lalu, Bujang Buta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.Setelah mendengar cerita Bujang Buta, mengertilah ketiga binatang itu bahwa Bujang Buta adalah anak yang baik. Lalu ketiga binatang itu memberinya senjata.“Hai, orang muda! Karena engkau adalah orang yang baik, maka kami membekalimu terap dan keris,” katakedua beruk itu sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Jangan khawatir, Orang Muda! Senjata itu bisa bergerak sendiri sesuai dengan keinginanmu,” tambah seekor beruk.Si Harimau pun tidak mau ketinggalan. “Untuk melengkapi senjatamu, aku membekalimu penukul yang bisa memukul sendiri sesuai dengan perintahmu,” jelas si Harimau sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Terima kasih, sobat! Kalian memang binatang yang baik hati,” kata Bujang Buta.Usai berpamitan, Bujang Buta meninggalkan hutan itu menuju ke kampung yang telah ditunjukkan oleh ketiga binatang tersebut. Setelah jauh berjalan, sampailah ia di sebuah negeri. Ketika ia akan memasuki sebuah kampung, terlihatlah seorang nenek yang sedang merangkai bunga. Bujang Buta kemudian mendekati nenek itu.“Nenek sedang kerja apa?” tanya Bujang Buta dengan sopan.“Merangkai bunga,” jawab nenek itu.“Siapa engkau ini Orang Muda?” nenek itu balik bertanya.“Orang Muda, Nek,” jawab kisah Bujang Buta. Kini ia tidak lagi menyebut dirinya Bujang Buta.“Bolehkah saya membantu, Nek?” tanya Bujang Buta menawarkan diri.“Tentu saja, tapi cobalah dulu,” jawab nenek itu.Karena sifatnya yang rajin dan suka menolong, ia pun membantu usaha nenek itu dan diizinkan untuk tinggal bersamanya. Sejak itu, setiap hari Bujang Buta membantu sang Nenek merangkai bunga. Ia sudah menganggap nenek itu seperti emaknya sendiri.Pada suatu hari, ketika mereka asyik merangkai bunga, nenek itu bercerita kepada Bujang Buta. “Ketahuilah, Orang Muda! Raja Negeri ini sedang dilanda kesedihan. Putri bungsunya ditawan oleh Raja Gajah untuk dikawini. Hingga kini, tidak seorang pun yang mampu membebaskan sang Putri dari tawanan Raja Gajah.” Mendengar cerita nenek itu, timbul niat Bujang Buta ingin menolong sang Purtri. “Bolehkah saya membantunya, Nek?” tanya Bujang Buta. “Oh, jangan Orang Muda! Gajah itu sangat tangguh. Ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi,‘ cegah nenek itu.Bujang Buta hanya terdiam melihat kekhawatiran nenek tua itu. Namun, ia tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Ketika malam sudah larut, diam-diam Bujang Buta pergi ke tempat Putri Bungsu ditawan oleh gajah itu. Tak lupa ia membawa ketiga senjata pemberian beruk dan harimau.Sesampainya di tempat gerombolan gajah, Bujang Buta dihadang oleh sejumlah gajah, termasuk di antaranya Raja Gajah yang menawan sang Putri. Tanpa berpikir panjang, Bujang Buta pun mengeluarkan ketiga senjatanya. Setelah berdoa kepada Tuhan, ia mulai memusatkan perhatiannya pada ketiga senjata tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba terap itu terbang ke arah gerombolan gajah itu lalu melilit mereka. Setelah gajah-gajah tersebut terikat, penukul dan keris pun ikut meluncur memukul dan menikam gerombolan gajah tersebut hingga mati bergelimpangan.Sang Putri Bungsu yang menyaksikan kejadian itu, sangat kagum melihat kesaktian Bujang Buta. Setelah melihat gerombolan gajah itu tidak bergerak lagi, sang Putri menghampiri Bujang Buta untuk mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Orang Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawa Putri. Hadiah apa yang engkau inginkan, Orang Muda?” tanya Putri Bungsu menawarkan. “Maaf, Tuan Putri! Hamba tidak menginginkan hadiah apa pun,” jawab Bujang Buta memberi hormat.Tidak kehabisan akal, sang Putri kemudian meminjam baju Bujang Buta. Setelah merobek bagian lengannya, baju itu dikembalikannya lagi kepada Bujang Buta. Sambil terheran-heran, Bujang Buta kemudian pulang ke rumah nenek itu. Dalam perjalanan, Bujang Buta terus bertanya-tanya dalam hati, “Apa maksud tuan Putri merobek lengan bajuku?”Keesokan harinya, kabar kematian gerombolan gajah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Setelah mendapat cerita dari putrinya, Raja Negeri mengundang seluruh rakyatnya ke istana. Tak berapa lama, seluruh rakyat sudah berkumpul di depan istana. Tampak pula Bujang Buta hadir di tengah-tengah undangan dengan bajunya yang berlengan satu.Seluruh undangan harus memperlihatkan semua pakaian yang mereka miliki. Satu per satu pakaian-pakaian tersebut disesuaikan dan robekan baju bagian lengan yang ada di tangan Putri Bungsu. Sudah hampir semua pakaian diperiksa, namun tak satu pun yang sesuai. Sampai pada akhirnya ditemukan pakaian Bujang Buta-lah yang sesuai dengan robekan lengan baju itu.“Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menyelamatkan putriku, maka engkau berhak menikah dengan putriku. Tahta kerajaan ini aku serahkan pula kepadamu untuk memimpin negeri ini,” kata sang Raja. Bujang Buta pun menerima hadiah pemberian Raja itu.Usai pesta pernikahan, Bujang Buta menghadap untuk memohon sesuatu kepada Raja Negeri. “Ampun, Baginda! Perkenankanlah hamba untuk mencari emak hamba dan membawa mereka serta hidup di negeri ini,” pinta Bujang Buta kepada Raja. “Engkau anak yang berbakti. Baiklah! Pergilah mencari emakmu itu. Pengawalku akan mengantarmu ke mana engkau pergi,” kata sang Raja mengizinkan. “Beribu terima kasih hamba haturkan di hadapan Baginda,” kata kisah Bujang Buta sambil memberi hormat.Keesokan harinya, tampak rombongan Bujang Buta dan Putri Bungsu meninggalkan istana menuju kampung Bujang Buta. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah mereka di sebuah gubuk reyot. Di depan gubuk itu, Bujang Buta memanggil emaknya. “Emaaak…! Bujang Buta Pulang, Mak!” teriak Bujang Buta. “Masuklah, Anakku! Pintunya tidak dikunci,” jawab emak Bujang Buta. Mendengar suara orang tua itu, Bujang Buta masuk dan memeluk emaknya yang sedang terbaring lemas di atas pembaringan karena sakit.“Ini Bujang Buta, Mak!” kata Bujang Buta meyakinkan emaknya. “Benarkah itu, mengapa engkau bisa melihat, bukankah anakku buta?” tanya emaknya tak percaya. Lalu Bujang Buta menceritakan perjalanannya dan kejadian yang menyebabkan matanya bisa melihat.Setelah mendengar kisah Bujang Buta, tahulah emaknya siapa sebenarnya yang berniat jahat kepada anak bungsunya itu. Namun karena kemuliaan hati Bujang Buta, maka dimaafkannya kesalahan kedua abangnya itu.Sejak saat itu, Bujang Buta membawa serta emak dan kedua abangnya untuk hidup bersama di negeri yang dipimpinnya. Semakin lengkaplah kebahagian Bujang Buta, ia bisa hidup tentram bersama Putri Bungsu dan seluruh keluarganya, termasuk Emak Bunga. Kebahagiaan yang dirasakan Bujang Buta itu berkat kerendahan hatinya, suka menolong dan ketaatannya kepada orang tua.
Kisah Dang Gedunai
Pada zaman dahulu di Riau, tinggal seorang anak bernama Dang Gedunai. Dia tinggal bersama ibunya. Dang Gedunai adalah seorang anak yang keras kepala. Dia adalah anak satu-satunya, tapi dia tidak pernah bahagia. Suatu hari, Dang Gedunai pergi ke sungai untuk menangkap ikan.“Ibu, aku ingin pergi ke sungai. Aku ingin pergi memancing ”“diluar mendung. Hujan akan segera turun. Kenapa tidak tinggal di rumah saja.Seperti biasa Dang Gedunai mengabaikannya. Dia kemudian pergi ke sungai. Hari mendung ketika ia tiba di sisi sungai. Gerimis pun turun, tapi Dang Gedunai masih sibuk memancing. Kemudian hujan lebat. Dang Gedunai akhirnya menyerah. Namun tepat sebelum ia meninggalkan, ia melihat sesuatu yang bersinar di sungai. Itu telur sangat besar. Dang Gedunai mengambilnya dan kemudian membawa pulang telur itu.“telur apa itu? Di mana kau menemukannya? ”“Di sungai, Ibu.“Hati-hati dengan telur. Ini bukan milikmu. kamu harus mengembalikannya, ”Seperti biasa, Dang Gedunai mengabaikan nasihat ibunya. Ia berencana untuk makan telur meskipun ibunya mengatakan tidak. Di pagi hari, ibunya sudah siap untuk pergi ke sawah. Sekali lagi, ia menyarankan Dang Gedunai untuk mengembalikan telur itu ke sungai. Dang Gedunai tidak mengatakan apa-apa. Ketika ibunya meninggalkan rumah, ia segera merebus telur. Lalu ia memakannya. Itu begitu lezat. Dia sangat kenyang dan tiba-tiba ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi. Seekor naga raksasa datang kepadanya.“Dang Gedunai, kamu mencuri telur aku! Untuk hukuman, kamu akan menjadi seekor naga. ”Dang Gedunai bangun dengan ketakutan. Dia merasa sangat haus. Kemudian ibunya pulang.“Apa yang terjadi … apa yang terjadi dengan kamu, Dang Gedunai?“aku tidak tahu, Ibu. Tiba-tiba aku merasa sangat haus ….. ….. Tenggorokanku sangat panas ”Ibunya kemudian memberinya segelas air. Ini tidak cukup. Dia minum segelas, dan kemudian gelas lain sampai tidak ada air yang tersisa di rumah. Tapi itu tidak cukup. Ibunya menyuruhnya pergi kolam. Dang Gedunai minum semua air sampai kolam hingga kering. Tapi itu tidak cukup. Kemudian mereka pergi ke sungai. Sekali lagi itu tidak cukup. Dang Gedunai tau mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia akan menjadi seekor naga.Ibu, maafkan aku. …… Aku mengabaikan nasihatmu. aku memakan telur. Itu telur naga. …… Aku akan berubah menjadi seekor naga. aku tidak bisa hidup denganmu lagi. ……… aku akan hidup di laut. …………… Jika kamu melihat gelombang besar di laut, itu berarti aku sedang makan. Tetapi jika gelombang yang tenang, saat itu berarti aku sedang tidur, ”“Dang Gedunai …… Kenapa tidak kau dengarkan aku ………. Semuanya sudah berakhir sekarang. kamu berubah menjadi naga raksasa. Selamat tinggal anakku. ……. Kemudian Dang Gedunai meninggalkan ibunya. Dia menuju laut. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Dia hanya menangis.
KISAH PENGERAN SUTA DAN RAJA BAYANG
Pada zaman dahulu, di Kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Japura. Kerajaan Indragiri yang di pimpin oleh seorang Raja yang sangat bijaksana dan adil bernama Sultan Hasan. Selama masa pemerintahannya, rakyat hidup dengan damai dan aman. Selain ia seorang Raja yang sangat arif, ia juga mempunyai seorang Putri yang sangat cantik jelita yang bernama Putri Halimah. Kerena kecantikannya terkenal sampai keberbagai negeri.Suatu hari, datanglah seorang Raja yang bernama Raja Bayang. Ia datang ke Kerajaan Indragiri di temani oleh ketiga orang saudaranya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis. Keempat Raja tersebut datang dengan pengawal yang sangat gagah perkasa.Kedatang mereka ke Kerajaan Indragiri membuat kekacauan dan perilakunya sungguh tercela. Tindakan mereka dan pasukkannya yang bertindak semena-mena membuat rakyat sangat ketakutan.Mendengar keempat Raja tersebut membuat kekacauan dan membuat rakyat resah, Raja Sultan Hasan sangat sedih dan gelisah. Ia pun segera memanggil seluruh menterinya untuk bermusyawarah. Raja pun bertanya bagaimana menghadapi Raja Bayang dan pasukannya tersebut. Semua menteri pun sangat kebingungan. Karena mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba.Beberapa hari kemudian, Rombongan Raja Bayang di Japura. Raja Hasan sebenarnya sangat marah karena, Raja Bayang dan pasukannya sudah membuat kekacauan. Namun, ia tetap menyambutnya dengan sopan dan tidak menunjukkan kemarahannya.‘’ Raja Bayang! Apa maksud dari kedatanganmu ke Kerajaanku?’’ Tanya Raja Hasan tegas.‘’ Kedatangan ku kesini , tidak lain untuk meminang Putrimu yang sangat cantik!’’ jawab Raja Bayang dengan angkuh.Raja Hasan sangat terkejut mendengar jawaban dari Raja Bayang. Pinangan tersebut langsung di tolak mentah-mentah. Raja Bayang pun sangat marah dengan penolakkan Raja Hasan. Wajahnya pun berubah menjadi merah terbakar.‘’ Hei kau Raja Hasan yang sangat bodoh! kau akan menyesal karena sudah menolak pinanganku!’’ jawab Raja Bayang dan pergi meninggalkan Istana.Suatu hari, Raja Bayang kembali dengan pasukannya. Ia pun membawa persenjataan yang sangat lengkap. Mereka pun segara menyerang Kerajaan Indragiri. Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang sangat singkat. Raja Hasan pun mengerahkan seluruh pasukkannya untuk melawan pasukkan dari Raja Bayang. Namun, mereka tidak mampu menandingi pasukan Raja Bayang yang sangat kuat. Akhirnya, Raja Hasan dan pasukkannya terpaksa meninggalkan Japura. Dan berembunyi ketempat yang aman bernama Gaung.Dalam persembunyianya tersebut, Raja Hasan dan menteri serta para pasukkanya yang masih selamat berkumpul dan bermusyawarah untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.‘’ Baginda! Prajurit banyak sekali yang tewas di tengah pertarungan. Pasukkan kita semakin sedikit.’’ Kata seorang Menteri yang menghampiri Raja.‘’ Kau benar, banyak Prajurit tewas dalam pertempuran! Apa yang haru kita lakukan sekarang?’’ Tanya Raja gelisah.‘’ Baginda, Hamba pernah mendengar, ada seorang Pangeran yang sangat baik budi pekertinya dan kemampuannya sangat tidak di ragukan lagi dalam medan pertempuran.’’ Jelas seorang menteri.‘’ Siapa nama Pangeran tersebut?’’ Tanya Raja Hasan dengan penasaran.‘’ Kami tidak tahu persis siapa namanya. Namun, kami mendengar orang-orang menyebutnya Pangeran Suta.’’ Jawan Menteri tersebut.Setelah berunding. Akhirnya, mereka sepakat untuk mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya. Raja mengutus Datuk Tumenggung, ia pun segera berangkat dengan sebuah kapal kecil. Berhari-hari berlayar. Akhirnya, Datuk Tumenggung sampai di perairan Jambi. Ia pun menanyakan keberadaan Pangeran Suta. Ia pun mendapat informasi bahwa Pangeran Suta berada di Selat Malaka.Datuk Tumenggung berkeliling setibanya di Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Suatu hari, ia pun berhasil menemukan Pangeran Suta. Datuk Tumenggung pun langsung menceritakan kesulitan yang di hadapi Kerajaan Indragiri. Setelah menjelaskan panjang lebar. Akhirnya, Pangeran Suta bersedia untuk membantu Kerajaan Indragiri. Mereka pun akhirnya berangkat ke Gaung.Mereka pun akhirnya sampai di Gaung. Kedatangan Pangeran Suta, di sambut dengan baik oleh Raja Hasan. Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai menyiapkan alat-alat untuk berperang. Ia pun melatih Prajurit Indragiri. Pada awalnya Raja Hasan beserta pasukkanya berkecil hati untuk menerima kekalahan. Namun, kedatangan Pangeran Suta membuat mereka kembali bersemangat.Suatu hari, setelah semua pasukkan siap untuk berperang. Mereka kembali ke Japura untuk melawan Raja Bayang.Pertempuran pun terjadi. Pertempuran berlangsung sampai berhari-hari. Kedua Kerajaan sama-sama kuat. Namun, Pasukkan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak pasukannya yang tewas dan luka-luka. Akhirnya, Raja Banyang dan ketiga saudaranya memutuskan untuk bersembunyi kedalam hutan yang lebat. Namun, pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk menejar mereka.Melihat pasukan dari Raja Hasan terus mengejar. Mereka terus di buru Pangeran Suta. Akhirnya, mereka kehilangan tenaga. Mereka pun terluka semakin parah.Keempat Raja yang sangat sombong tersebut pulang ke negerinya dengan menanggung rasa malu karena kekalahan. Pangeran Suta kembali ke Japura. Ia pun menemput Raja Hasan dari Gaung. Raja Hasan sangat berterima kasih, karena Pangeran Suta lah yang menolongnya dalam kesulitan. Ia pun berniat untuk menikahkan Putrinya dengan Pangeran Suta.Mendengar permintaan tersebut, Pangeran Suta sangat senang. Akhirnya, seluruh rakyat pun sibuk mempersiapkan pernikahan Pangeran Suta dan Putri Raja Hasan. Mereka sibuk membersihkan istana. Acara pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah. Pangeran Suta akhirnya, menjadi Raja Japura. Pangeran Suta dan Putri hidup sangat bahagia. rakyat pun kembali aman, damai dan makmur."Pesan moral dari Cerita Rakyat Indonesia : Kisah Pangeran Suta adalah jangan jadi anak nakal yang suka mengganggu orang lain. Orang yang yang baik dan suka membantu akan disukai oleh semua orang."
Tikus Desa dan Tikus Kota
SUATU HARI, Tikus Kota mengunjungi kerabatnya yang tinggal di desa. Ia datang dengan gaya angkuh, membawa kisah-kisah tentang gemerlap kota yang penuh cahaya, makanan lezat, dan kehidupan yang katanya jauh lebih “berkelas”. Tikus Desa menyambutnya dengan ramah dan penuh kehangatan, sebagaimana kebiasaan hidup di desa.Untuk makan siang, Tikus Desa menyajikan batang-batang gandum segar, umbi-umbian hasil kebunnya sendiri, serta buah ek yang dikumpulkannya sejak pagi. Minumannya hanya air dingin dari mata air. Tikus Kota makan dengan enggan, mencicipi sedikit ini dan sedikit itu, jelas terlihat bahwa ia menyantap hidangan sederhana itu hanya demi menghormati tuan rumah, bukan karena menikmatinya.“Di kota,” kata Tikus Kota sambil menyeka kumisnya, “kami makan keju lembut, kue manis, dan sisa jamuan para bangsawan. Hidup kami penuh kesenangan.”Tikus Desa hanya tersenyum dan mendengarkan dengan sabar.Setelah makan, mereka berbincang lama. Tikus Kota terus membual tentang pesta-pesta, rumah megah, dan meja makan yang selalu penuh. Tikus Desa mendengarkan dengan mata berbinar, membayangkan kehidupan yang belum pernah ia lihat. Malam pun tiba, dan mereka tidur di sarang hangat dekat pagar tanaman. Angin berhembus pelan, malam sunyi, dan tidur mereka nyenyak tanpa gangguan.Dalam tidurnya, Tikus Desa bermimpi. Ia bermimpi hidup di kota, mengenakan mantel halus, menikmati makanan lezat, dan berjalan di antara kemewahan. Maka ketika pagi tiba dan Tikus Kota mengajaknya ikut ke kota, Tikus Desa menyetujuinya dengan penuh semangat.Perjalanan mereka berakhir di sebuah rumah megah. Saat memasuki ruang makan, mata Tikus Desa membelalak. Di atas meja terdapat sisa-sisa perjamuan mewah: manisan berkilau, agar-agar lembut, kue berlapis krim, dan berbagai keju harum yang belum pernah ia cium aromanya seumur hidup.Dengan hati berdebar, Tikus Desa hendak mencicipi sepotong kue kecil.Namun sebelum gigitan pertama terjadi— MEONG!Seekor kucing mengeong keras sambil menggaruk pintu. Seketika itu juga, kedua tikus lari terbirit-birit menuju lubang persembunyian. Mereka berdiam di sana lama sekali, tubuh gemetar, napas tertahan, tak berani bergerak sedikit pun.Saat keadaan terasa agak tenang dan mereka mencoba keluar, pintu tiba-tiba terbuka. Masuklah para pelayan untuk membersihkan meja, diikuti oleh anjing penjaga rumah yang besar dan galak. Tikus Desa nyaris pingsan karena ketakutan.“Apa setiap hari kau hidup seperti ini?” bisiknya dengan suara gemetar.“Ya,” jawab Tikus Kota pelan. “Beginilah harga dari kemewahan.”Tanpa berkata panjang lagi, Tikus Desa kembali ke sarang Tikus Kota hanya untuk mengambil tas kain kecil dan payungnya. “Barangkali kau memiliki kemewahan dan kelezatan yang tak aku miliki,” katanya sambil bergegas pergi, “tetapi aku lebih memilih gandum sederhana dan hidup tenang di desa, daripada makanan lezat yang harus dibayar dengan rasa takut setiap saat.”Ia pun kembali ke desanya—ke sarang kecil yang hangat, malam yang sunyi, dan hidup yang sederhana namun damai.
Dua Belas Orang Pemburu
Pada zaman dulu, ada seorang putra raja yang bertunangan dengan seorang putri yang sangat dia cintai. Suatu hari, saat mereka duduk berduaan, sang Putra Raja menerima kabar bahwa ayahnya sedang terbaring sakit. Untuk itulah dia bergegas pulang ke istananya untuk menjenguk ayahnya sebelum ajalnya tiba.Jadi sang Putra Raja itu berkata kepada kekasihnya, "Aku harus pergi dan meninggalkan kamu, tetapi ambillah cincin ini dan pakailah untuk mengenangku, dan ketika aku menjadi raja, aku akan kembali ke sini dan menjemputmu ke istanaku."Lalu dia berkuda untuk pulang ke istana kerajaannya, dan ketika dia sampai, didapatinya ayahnya sedang yang sakit keras dan sekarat hampir mendekati ajal.Raja lalu berkata kepadanya, "Anakku tersayang, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku meninggal. Berjanjilah kepadaku, aku mohon, bahwa kamu akan menikah sesuai dengan keinginanku," dan dia kemudian menyebutkan nama seorang putri dari kerajaan tetangga yang sangat menginginkan putra raja tersebut menjadi istrinya.Karena sangat sedih, sang Pangeran itu tidak bisa memikirkan apa-apa lagi kecuali soal kesehatan ayahnya yang semakin memburuk. Lalu dia pun menyanggupi permintaan ayahnya. "Ya, ya, Ayah. Apapun yang Ayah inginkan dari aku, akan aku laksanakan."Tak lama setelah mendengar kesanggupan putranya, sang Raja pun menutup matanya dan meninggal dengan tenang. Tidak lama kemudian, setelah masa berkabung telah selesai dan sang Pangeran dilantik sebagai raja, maka dia merasa harus memenuhi janji yang telah disepakatinya dengan mendiang ayahnya.Untuk itu dia mengirimkan lamaran kepada putri raja dari kerajaan sebelah, yang langsung disetujui oleh raja dari kerajaan itu. Saat kekasih pertamanya mendengar berita tersebut, dia menjadi sangat sedih. Setiap hari dia merindukan kekasihnya hingga sakit dan hampir meninggal.Ayah si Putri pun berkata kepadanya, "Anakku tersayang, mengapa kamu begitu sedih? Jika ada sesuatu yang kamu inginkan, katakanlah dan aku akan mengabulkannya."Si Putri yang bermuram durja itu merenung sejenak, dan kemudian berkata, "Ayah, aku menginginkan sebelas gadis yang semirip mungkin denganku, baik tinggi badan, usia, dan penampilanku."Raja kemudian berkata, "Jika hal itu memungkinkan, keinginanmu akan aku penuhi!"Dia pun memerintahkan untuk mencari dan mendapatkan sebelas gadis yang mirip dengan postur tubuh maupun penampilan putrinya di seluruh penjuru kerajaannya. Kemudian sang Putri juga minta untuk dibuatkan dua belas pakaian pemburu yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, dan kesebelas gadis itu pun memakai pakaian pemburu tersebut, dan sang Putri sendiri memakai pakaian yang kedua belasSetelah itu, dia pamit kepada ayahnya, dan melaju bersama sebelas gadis berpakaian pemburu menuju ke kerajaan kekasihnya. Setibanya di kerajaan kekasihnya, dia pun menawarkan diri untuk menjadi pemburu kerajaan, dengan persyaratan bahwa sang Raja harus menerima mereka semua secara bersamaan.Raja yang melihat si Putri ini, tidak mengenalinya dalam pakaian dan samarannya sebagai pemburu. Sang Raja hanya berpikir bahwa kedua belas pemburu ini semuanya masih muda dan terlihat gagah. Maka dia pun berkata, "Ya, aku dengan senang hati menerima mereka semua."Setelah itu, resmilah mereka semua menjadi dua belas pemburu kerajaan. Sekarang, sang Raja memiliki singa yang luar biasa, karena singa tersebut bisa mengendus segala sesuatu yang tersembunyi atau bersifat rahasia.Suatu malam sang Singa bertanya kepada sang Raja, "Jadi, Yang Mulia pikir, Yang Mulia telah mendapatkan dua belas laki-laki pemburu?""Ya, tentu saja," jawab sang Raja, "mereka adalah dua belas laki-laki pemburu.""Yang Mulia keliru," kata sang Singa, "mereka adalah dua belas orang gadis.""Itu tidak mungkin," tegas sang Raja, "bagaimana kamu bisa membuktikan perkataanmu itu?""Taburkanlah sejumlah kacang polong di atas lantai di ruangan utama istana," kata sang Singa, "dan Yang Mulia akan segera mendapatkan buktinya. Pria memiliki pijakan yang kuat, sehingga saat mereka berjalan di atas kacang polong, mereka tidak akan tergelincir, tetapi semua gadis akan tergelincir akibat menginjak kacang polong yang bulat."Sang Raja menjadi senang dengan saran sang Singa, lalu memerintahkan pelayannya untuk menaburkan kacang polong di ruang utama istana. Untungnya, salah satu pelayan sang Raja yang akrab dengan para pemburu, mendengarkan pembicaraan bahwa para pemburu akan diuji. Maka dia bergegas pergi dan melaporkan hal itu kepada dua belas pemburu."Sang Singa mengatakan kepada sang Raja bahwa kalian adalah wanita," ungkap si Pelayan tersebut, membeberkan membeberkan semua rencana yang didengarnya dari sang Singa.Si Putri lalu mengucapkan terima kasih atas petunjuk si Pelayan, dan setelah si Pelayan tersebut pergi, dia berkata kepada gadis pengikutnya, "Nanti, melangkahlah dengan kuat di atas kacang polong itu."Keesokan pagi, sang Raja memanggil kedua belas pemburu, dan pemburu tersebut berjalan di ruang utama yang telah ditaburi dengan kacang polong. Mereka melangkah dengan kuat dan tegap, sehingga tidak satu pun kacang polong berguling pindah dari tempatnya.Setelah mereka pergi, sang Raja berkata sang Singa, "LIhatlah, sekarang kamu tidak berkata dengan benar. Nah, kamu melihat sendiri bagaimana mereka berjalan seperti umumnya laki-laki.""Karena mereka tahu mereka sedang diuji," elak sang Singa, "sehingga mereka berupaya agar tidak tergelincir. Ujilah kembali mereka dengan menempatkan selusin alat tenun di ruang utama. Ketika mereka melewati alat tenun tersebut, Yang Mulia akan melihat betapa senangnya mereka, berbeda dengan laki-laki."Sang Raja pun senang dengan saran tersebut, dan memerintahkan pelayannya untuk menempatkan dua belas alat tenun di ruang utama istana. Tetapi pelayan yang baik hati ini melaporkan kembali kepada para pemburu tentang rencana sang Raja. Tidak lama kemudian, setelah sang Putri sendirian dan kembali bersama gadis pengikutnya, dia berkata, "Sekarang, berupayalah lebih keras, bahkan jangan pernah melirik ke alat tenun itu nanti."Ketika Raja memanggil dua belas pemburu pada keesokan harinya, mereka berjalan melalui ruang utama tanpa melirik ke alat tenun yang sengaja di tempatkan di sana. Sesaat setelah itu, sang Raja kembali berkata kepada sang Singa, "Kamu telah membodohi aku lagi, mereka adalah laki-lak karena mereka tidak pernah melirik ke alat tenun di sana."Singa itu menjawab, "Mereka tahu bahwa mereka sedang diuji, dan mereka berupaya keras menekan perasaan mereka."Namun sang Raja menjadi tidak percaya lagi kepada sang Singa. Jadi dua belas pemburu ini tetap terus mengikuti ke manapun sang Raja pergi, dan setiap hari sang Raja semakin senang dengan mereka.Suatu hari, di saat mereka semua keluar untuk berburu, datanglah berita yang mengatakan bahwa calon pengantin sang Raja sedang berada dalam perjalanan, dan akan tiba dalam waktu dekat di kerajaannya. Ketika sang Putri yang menyamar menjadi pemburu mendengar hal ini, dia merasa sangat sakit hati dan seolah-olah ada sebilah pisau yang menusuk hatinya. Dia pun terjatuh pingsan karenanya.Sang Raja yang merasa khawatir bahwa sesuatu telah terjadi pada pemburu kesayangannya, berlari untuk membantu, dan mulai menarik sarung tangan sang Pemburu agar terbuka. Saat itulah dia melihat cincin yang pernah diberikan kepada kekasihnya yang pertama. Saat sang Raja menatap dengan jelas wajah sang Putri yang berada di balik kedok samarannya, maka dia langsung mengenali wajah sang Putri.Pada saat sang Putri membuka matanya, sang Raja berkata, "Aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku, dan tidak ada kekuatan di bumi yang bisa mengubah hal ini."Untuk si Putri yang berada dalam perjalanan menuju kerajaannya, sang Raja mengirimkan utusan untuk memohon agar dia kembali saja ke kerajaannya sendiri. "Karena aku telah menemukan istriku, dan siapapun yang telah menemukan kunci lamanya, tidak memerlukan kunci yang baru lagi," demikian pesan yang dibawa oleh utusan sang Raja kepada si Putri dari kerajaan sebelah.Tidak lama kemudian, pernikahan antara sang Raja dan sang Putri yang dicintainya itu dirayakan dengan meriah dan mewah. Sementara itu, sang Singa kembali menjadi hewan kesayangan sang Raja sebab semua yang telah dikatakannya sesungguhnya adalah benar.
Penjahit Yang Riang Gembira
Seorang penjahit baju yang selalu riang gembira dipekerjakan oleh MacDonald yang perkasa di kastilnya di Saddell, untuk membuat sepasang celana yang dihiasi dengan renda-renda pada ujungnya, nyaman dipakai, dan cocok dipakai untuk berjalan ataupun menari. Dan MacDonald telah berpesan kepada penjahit, bahwa apabila dia dapat menyelesaikan celana itu pada malam hari di sebuah runtuhan rumah tua dan pekuburan, dia akan memberikannya hadiah yang sangat besar. Saat itu orang mengetahui bahwa reruntuhan rumah tua dan pekuburan yang di tunjuk oleh MacDonald adalah rumah yang berhantu dan banyak hal-hal yang menyeramkan terlihat di malam hari.Penjahit itu sadar akan hal ini; tetapi dia adalah orang yang selalu riang gembira, dan ketika MacDonald sang pemilik kastil menantangnya untuk membuat sepasang celana di rumah berhantu itu, penjahit itu tidak merasa takut, dan malah menerima tantangan itu karena ingin mendapatkan hadiah yang besar. Sehingga ketika malam mulai tiba, dia naik ke atas lembah, sekitar setengah mil jaraknya dari kastil itu, hingga dia tiba di sebuah rumah tua. Kemudian dia memilih sebuah tempat yang nyaman untuk diduduki dan menyalakan lilinnya, menaruh peralatan untuk menjahitnya, dan mulai mengerjakan celana yang dipesan, dan memikirkan terus hadiah uang yang akan diberikan oleh MacDonald.Semuanya berjalan lancar, hingga dia merasakan lantai bergetar di bawah kakinya, dia melihat ke bawah tetapi jari tangannya tetap mengerjakan celana itu, dia melihat munculnya kepala manusia yang sangat besar dari bawah lantai batu di rumah tua itu. Dan ketika kepala tersebut sepenuhnya muncul dari lantai, sebuah suara yang sangat besar dan menakutkan berkata: "Apakah kamu melihat kepalaku yang sangat besar ini?""Saya melihatnya, tetapi saya harus menjahit celana ini!" balas penjahit yang riang, dan dia tetap menjahit celana tersebut.Kemudian kepala tersebut muncul lebih tinggi dari lantai, hingga lehernya pun kelihatan. Ketika lehernya sudah muncul, dengan suara yang menggelegar dia berkata lagi: "Apakah kamu melihat leherku yang sangat besar ini?""Saya melihatnya, tetapi saya harus menjahit celana ini!" balas penjahit yang riang, dan dia tetap menjahit celana tersebut.Kemudian kepala dan leher yang besar itu bertambah naik hingga seluruh pundak dan dadanya terlihat di atas lantai. Dan kembali dengan suara yang menggelegar lebih besar dia berkata: "Apakah kamu melihat dadaku yang besar ini?"Dan kembali penjahit tersebut membalas: "Saya melihatnya, tetapi saya harus menjahit celana ini!" sambil tetap menjahit celana itu.Makhluk tersebut terus muncul dari lantai dan kelihatan bertambah tinggi hingga akhirnya makhluk tersebut menggoyangkan kedua tangannya di depan wajah penjahit itu dan berkata lagi, "Apakah kamu melihat tanganku yang besar ini?""Saya melihatnya, tetapi saya harus menjahit celana ini!" balas penjahit itu dan tetap menjahit celana tersebut, karena dia tahu bahwa dia tidak boleh kehilangan waktu.Penjahit yang riang akhirnya mulai menjahit dengan jahitan-jahitan yang panjang ketika dia melihat makhluk tersebut perlahan-lahan naik dari bawah tanah dan bertambah tinggi terus, hingga akhirnya satu kaki makhluk tersebut sepenuhnya muncul dari bawah tanah dan makhluk tersebut menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras, berteriak dengan suara yang sangat menakutkan, "Apakah kamu melihat kakiku yang besar ini?""Ya, ya.. saya melihatnya, tetapi saya masih harus menjahit celana ini!" kata penjahit itu, dan jari-jari tangannya seperti beterbangan saat menjahit celana tersebut dan penjahit itu menjahit dengan jahitan-jahitan yang sangat panjang, dan tepat pada saat dia menyelesaikan celana tersebut, makhluk tersebut telah mengangkat kakinya yang satu lagi dari bawah tanah. Tetapi sebelum makhluk tersebut mengeluarkan kaki yang satunya dari bawah tanah, penjahit itu telah menyelesaikan tugasnya, dan meniup mati lilinnya sambil meloncat dari tempat duduknya, mengambil semua peralatannya dan berlari keluar dari runtuhan rumah tua dengan celana yang di pegang erat-erat di bawah lengannya. Saat itu makhluk yang menyeramkan itu mengeluarkan teriakan yang menggelegar, dan menghentakkan kakinya di tanah dan berlari keluar juga untuk mengejar penjahit yang riang.Keduanya lari menuruni lembah, lari dengan sangat kencang dan lebih kencang dari aliran air sungai yang mengalir di sampingnya, tetapi penjahit yang telah menerima tantangan MacDonald dan berhasil menyelesaikan tugasnya, tidak ingin kehilangan hadiah yang dijanjikan. Walaupun suara di belakangnya menggelegar menyuruhnya untuk berhenti, penjahit itu bukanlah orang yang suka di tangkap oleh makhluk dan monster, sehingga dengan memegang erat celana tersebut, dia berlari tanpa berhenti hingga dia mencapai kastil. Secepatnya dia tiba di dalam pintu gerbang, dan menutup pintu gerbang. saat makhluk itu tiba di depan gerbang yang tertutup, makhluk tersebut menjadi sangat marah karena tidak berhasil menangkap penjahit, dan memukul dinding pintu gerbang dan meninggalkan bekas pukulan disana dengan lima jari-jarinya yang besar.Akhirnya penjahit yang riang menerima hadiahnya karena MacDonald memenuhi janjinya dan telah mendapatkan sepasang celana yang sangat indah. MacDonald tidak pernah menyadari bahwa beberapa jahitan pada celana itu, tidak sama panjangnya.
Kisah Asal- Usul Kerongkongan Paus
DI kedalaman laut biru, dahulu kala, O sahabatku sayang, ada seekor Paus, dan dia memakan ikan-ikan. Dia makan bintang laut dan kuda laut, kepiting dan penyu belimbing, cumi dan ikan pari, ketam dan penyu tempayan, ikan pedang dan udang, ikan makerel dan pikerel, dan belut panjang yang amat sangat membeliat-beliut. Semua jenis ikan yang bisa ia temukan di laut dia makan dengan mulutnya – hap! Sampai akhirnya hanya tertinggal seekor ikan kecil di seluruh laut, dan dia ikan kecil yang cerdik, dan dia berenang sedikit di belakang telinga Paus, untuk menghindar dari bahaya.Lalu Paus menegakkan diri dengan ekornya dan berkata, "Aku lapar." Dan si ikan kecil yang cerdik berkata dengan suara lirih lembut. "Wahai Makhluk Mamalia Laut yang agung dan baik hati, sudahkah engkau pernah mencicipi Manusia?""Belum pernah," jawab Paus. "Seperti apa rasanya?""Enak," jawab Ikan Kecil yang cerdik. "Enak tapi kenyal.""Kalau begitu bawakan beberapa untukku," kata Paus, dan dia menggoyang air laut sampai berbuih dengan ekornya."Satu saja cukup tiap kali makan," sahut si Ikan Cerdik. "Kalau engkau berenang ke arah koordinat 50 derajat Lintang Utara dan 40 derajat Bujur Barat, engkau akan mendapati seorang Pelaut yang mengalami kapal karam, sedang duduk di atas rakit, di tengah lautan, tak punya apa-apa selain celana kanvas biru, sepasang tali selempang (jangan lupakan tali selempang ini, Sahabat Tersayang), dan sebilah pisau lipat, dan aku harus memberitahumu dia adalah seorang kuat dan berani tiada tara."Maka si Paus berenang dan berenang ke 50 derajat Lintang Utara dan 40 derajat Bujur Barat secepat mungkin, dan di atas rakit, di tengah lautan, tidak mengenakan apa-apa selain celana kanvas biru, sepasang tali selempang (engkau harus betul-betul ingat tentang tali selempang ini, Sahabat Tersayang) dan sebilah pisau lipat, ditemukannya sendirian seorang Pelaut yang mengalami kapal karam, mencelupkan jari-jari kakinya ke dalam air. (Dia sudah mendapat ijin dari Mamanya untuk berlayar, kalau tidak tentu ia tidak akan pernah melakukannya, karena ia seorang yang kuat dan berani tiada tara.)Maka Paus mengangakan mulutnya lebar, tambah lebar, dan tambah lebar sampai mulutnya hampir menyentuh ekornya, dan ia menelan si Pelaut karam, dan rakit yang ia duduki, dan celana kanvas birunya, dan tali selempangnya (yang engkau tidak boleh lupakan), dan pisau lipatnya – Dia menelannya semua masuk ke dalam rongga yang hangat dan gelap di dalam perutnya, lalu ia mencecapkan bibirnya – begitu, dan berputar tiga kali di atas ekornya.Namun begitu si Pelaut, seorang yang kuat dan berani tiada tara, mendapati dirinya betul-betul sudah ada di dalam perut Paus yang hangat dan gelap, dia meloncat dan melompat, melangkah dan menjangkah, menabrak dan menghentak, menari dan menggali, membentur dan mencukur, memukul dan memacul, merangkak dan berteriak, menggigit dan mencapit, mendorong dan melolong, merayap dan menguap, menjerit dan bertuwit-tuwit, dan dia berdansa ketuk kaki di tempat yang tak semestinya, dan Paus merasa sangat tidak bahagia. (Sudah lupakah engkau pada tali-tali selempang itu?)Maka berkatalah dia kepada Ikan Cerdik, "Manusia ini sangat kenyal, lagipula ia membuatku cegukan. Apa yang harus kulakukan?""Beritahu padanya supaya keluar," jawab Ikan Cerdik.Maka Paus berseru ke dalam kerongkongannya sendiri kepada si Pelaut karam, "Keluarlah dan bersikaplah sopan. Aku jadi cegukan.""Tidak, tidak!" sahut Pelaut. "Tidak semudah itu. Bawa aku ke pantai kelahiranku dan bukit-bukit putih Albion, dan akan kupikirkan permintaanmu." Dan dia mulai menari lagi lebih keras dari sebelumnya."Lebih baik engkau memulangkannya," saran Ikan Cerdik pada Paus. "Aku sudah mengamarkanmu bahwa dia seorang yang kuat dan berani tiada tara."Maka Paus berenang dan berenang dan berenang, dengan kedua sirip dan ekornya, secepat yang ia mampu karena ia masih cegukan; dan akhirnya ia melihat pantai kelahiran Pelaut dan bukit-bukit putih Albion, dan bergegas mendekati pantai itu, dan membuka mulutnya lebar dan lebar dan lebar, dan berkata, "Yang mau terus ke Winchester, Ashuelot, Nashua, Keene, dan stasiun-stasiun di Jalan Fitch burg;" dan begitu dia mengucapkan 'Fitch' si Pelaut melangkah keluar dari mulutnya. Namun sementara Paus sedang berenang, si Pelaut, yang memang seorang kuat dan berani tiada tara, telah menghunus pisau lipatnya dan membelah rakit menjadi jaring bilah-bilah persegi serba silang-menyilang dan dia telah mengikatnya kuat-kuat dengan tali selempangnya ( sekarang , engkau tahu mengapa engkau jangan melupakan tali selempang itu!), dan dia menyeret jaring bilah-bilah itu ke dalam kerongkongan Paus sampai tersangkut pas dan erat di sana! Lalu ia membacakan Sloka berikut, sebab engkau belum pernah mendengarnya, aku kini akan mulai mengatakannya:Dengan memasang pagarBesar makananmu kini tertakarSebab si Pelaut juga seorang Ir-lan-di-a. Dan dia melangkah ke atas sebilah papan, dan pulang menjumpai mamanya, yang telah memberinya ijin bermain-main air; dan dia menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Si Paus juga hidup bahagia. Namun mulai hari itu, jaring kayu di kerongkongannya, yang tidak bisa ia batukkan keluar maupun telan, menghalanginya memakan apa pun kecuali ikan yang sangat, sangat kecil; dan itulah alasan mengapa paus-paus hari ini tidak pernah memangsa manusia, yang dewasa maupun anak-anak.Si Ikan Cerdik kabur dan bersembunyi dalam lumpur di perairan dalam Khatulistiwa. Dia takut siapa tahu Paus murka padanya.Si Pelaut membawa pulang pisau lipatnya. Dia masih mengenakan celana kanvas biru saat melangkah ke atas bilah papan. Tali selempangnya ditinggal, kamu tahu, untuk mengikat jaring kayu itu; dan berakhirlah kisah itu.TATKALA jendela-jendela kabin gelap dan kehijauanKarena di luar sana hanya ada lautan;Tatkala kapal terangkat hup! (dan bergoyang-goyang)Dan sang kelasi terjatuh masuk ke dalam pingganPeti-peti pun jatuh menggelempang;Tatkala si Pengasuh berbaring di lantai, di atas tumpukan barang,dan "biarkan dia tidur sebentar," Mama bilang,Sedang kau belum duduk tegak, mandi atau berganti pakaian,Wah, sekarang kau tahu (kalau kau belum sempat menduga-duga)Rasanya berada di 40 derajat Bujur Baratdan 50 derajat Lintang Utara!
Bola Kristal
Dahulu kala, ada seorang wanita penyihir yang memiliki tiga anak yang saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya sebagai saudara, tetapi wanita penyihir tua itu tidak mempercayai anaknya sendiri, dan berpikir bahwa ketiga anaknya ingin mencuri kekuatannya darinya. Penyihir itu lalu mengubah anak sulungnya menjadi burung elang, yang terpaksa tinggal di pegunungan berbatu, dan sering terlihat terbang melayang di langit. Yang kedua, disihir sehingga berubah menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam, dan terkadang terlihat di permukaan laut menyemburkan sebuah pancuran air yang besar di udara. Kedua anak ini masing-masing masih bisa berubah bentuk menjadi manusia selama dua jam setiap hari. Anak yang ketiga, karena takut bahwa ibunya yang penyihir ini akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas, dengan diam-diam pergi meninggalkan ibunya.Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari, sedang menanti datangnya pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri, mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri, tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang mencoba tetapi gagal, dan sekarang tidak ada orang yang berani untuk menyelamatkan sang Putri lagi.Si Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana matahari itu dalam waktu yang cukup lama tanpa bisa menemukannya. Suatu ketika, dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar, dan menjadi tersesat. Tiba-tiba dia melihat di kejauhan, dua raksasa yang melambaikan tangan mereka kepadanya, dan ketika dia datang kepada raksasa tersebut, mereka berkata,"Kami bertengkar mengenai sebuah topi, siapa di antara kami yang berhak memilikinya, karena kami berdua sama kuatnya, tak ada satupun di antara kami yang lebih kuat dibandingkan yang lain. Manusia kecil lebih pandai dari kami, karena itu, kami menyerahkan keputusan kepada mu.""Bagaimana kamu bisa bertengkar hanya karena sebuah topi tua?" kata si Putra Ketiga."Kamu tidak mengerti keajaiban topi itu! Itu adalah topi yang bisa mengabulkan keinginan kita; barang siapa yang memakainya, dan berharap untuk pergi ke tempat manapun dia mau, dalam sekejap dia akan tiba di tempat tersebut.""Berikanlah topi itu kepadaku," kata si Putra Ketiga, "Saya akan berdiri di sana, ketika saya memanggil kalian, kalian harus berlomba lari, dan topi ini akan menjadi milik orang yang lebih duluan tiba di sana." Dia lalu memakai topi tersebut lalu berjalan pergi, dan saat berjalan, si Putra Ketiga berpikir tentang sang Putri, melupakan para raksasa dan berjalan terus. Akhirnya dia mendesah dalam hatinya dan bersedih, "Ah, jika saja saya bisa tiba di istana matahari," tiba-tiba si Putra Ketiga sudah berdiri di sebuah gunung yang tinggi tepat di depan pintu gerbang istana matahari.Dia lalu masuk dan memeriksa semua kamar, saat sampai pada kamar terakhir dia menemukan putri Raja. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah sang Putri. Wajahnya pucat abu-abu penuh keriput, mata rabun, dan berambut merah."Apakah kamu adalah putri raja, yang kecantikannya terkenal di seluruh pujian dunia?" tanyanya."Ah," jawabnya," ini bukan bentuk saya yang sebenarnya, mata manusia hanya bisa melihat saya dalam keadaan buruk rupa ini, tetapi kamu mungkin bisa melihat bentuk saya yang sebenarnya, lihat melalui cermin ini, karena cermin ini tidak akan salah dan akan menampilkan wajah saya yang sebenarnya."Dia lalu memberinya cermin yang di pegangnya, dan saat si Putra Ketiga melihat bayangan di dalam cermin, dilihatnya wajah yang paling cantik di seluruh penjuru dunia, dan dia juga melihat butiran air mata yang bergulir di pipi sang Putri.Lalu si Putra Ketiga bertanya, "Bagaimana kamu dapat dibebaskan ? Aku tidak takut akan mara bahaya.Sang Putri berkata, "Dia yang mendapatkan bola kristal, dan mengacungkannya kehadapan penyihir, akan menghancurkan kekuatan sihirnya dengan bola kristal itu, dan saya akan kembali ke bentuk sejati saya. "Ah," dia menambahkan, "sudah banyak yang mencoba dan gagal, kamu begitu muda, saya sangat sedih karena kamu harus menghadapi bahaya yang begitu besar.""Tidak ada yang bisa mencegah saya melakukannya," kata si Putra Ketiga, "coba katakan padaku apa saja yang harus kulakukan.""Kamu harus tahu semuanya," kata sang Putri," ketika kamu menuruni gunung di mana istana ini berdiri, kamu akan menemukan seekor banteng liar di dekat sebuah mata air, dan kamu harus berkelahi dengan banteng itu, dan jika kamu bisa membunuhnya, seekor burung yang berapi-api akan muncul yang membawa sebuah telur yang membara, dan sebuah bola kristal terletak di dalam telur tersebut. burung itu tidak akan membiarkan telur tersebut terlepas kecuali dipaksa untuk melakukannya, dan saat telur itu jatuh di tanah, semuanya akan menyala dan membakar segala sesuatu yang berada dekat telur tersebut, dan dengan bola kristal semua masalahmu akan terselesaikan."Pemuda itu lalu pergi ke mata air, di mana seekor banteng liar mendengus dan berteriak marah padanya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, si Putra Ketiga berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh hewan itu yang akhirnya jatuh mati. Seketika itu juga, seekor burung api muncul dan hendak terbang, tapi kakak si Putra Ketiga yang berubah bentuk menjadi elang, menukik turun, mengejar burung api tersebut sampai ke laut, dan memukul dengan paruhnya sampai sang Burung Api melepaskan telur yang dipegangnya. Telur tersebut tidak jatuh ke laut, tetapi ke sebuah gubuk nelayan yang berdiri di tepi pantai dan gubuk itu langsung terbakar api. Lalu tiba-tiba muncullah gelombang laut setinggi rumah, menerjang gubuk tersebut hingga seluruh api menjadi padam. Ternyata, saudara lain si Putra Ketiga yang menjadi ikan paus, yang telah mendorong dan menciptakan gelombang laut tersebut. Ketika api itu padam, si Putra Kegita mencari telur itu dan menjadi sangat bahagia saat menemukannya. Kulit telur tersebut menjadi retak dan pecah akibat suhu panas yang tiba-tiba berubah menjadi dingin saat tersiram air, sehingga bola kristal di dalamnya dapat diambil oleh si Putra Ketiga.Ketika pemuda pergi menghadap ke si Penyihir dan mengacungkan bola kristal itu di hadapannya, si Penyihir berkata, "kekuatan sihir saya telah hancur, dan mulai dari saat ini, kamulah yang menjadi raja di istana matahari. Dengan bola kristal itu juga, kamu telah mengembalikan bentuk saudara-saudara-mu ke bentuk manusia seperti semula."Si Putra Ketiga pun bergegas menemui sang Putri, dan ketika dia memasuki ruangan, dia mendapati sang Putri berdiri di sana dengan segala kecantikan dan keindahannya, dan tidak lama, merekapun menikah dan hidup berbahagia selamanya.
Permata - Permata Cornelia
Hari itu pagi yang cerah di kota tua Roma, beratus-ratus tahun lampau. Dalam pondok musim panas berselimut tanaman rambat di tengah taman yang indah, dua anak lelaki berdiri memandangi ibu mereka yang sedang berjalan-jalan dengan tamunya di antara bunga dan pepohonan."Pernahkah kau melihat perempuan secantik tamu ibu kita?" tanya anak lelaki yang lebih muda, sambil menggandeng tangan kakaknya yang berbadan tinggi. "Dia tampak seperti seorang ratu.""Namun dia belum serupawan Ibu," kata sang kakak. "Memang benar, dia mengenakan gaun yang mewah; tapi wajahnya tidak berwibawa dan tidak ramah. Ibu kitalah yang tampak bagaikan ratu.""Betul, betul," jawab adiknya. "Tak ada perempuan di Roma yang lebih mirip seorang ratu dibanding ibu kita tersayang."Tak lama kemudian, Cornelia, ibu mereka itu, menuruni jalan setapak untuk menyapa anak-anaknya. Dia mengenakan gaun putih polos yang sederhana. Kedua tangan dan kakinya dibiarkan telanjang tanpa sarung tangan atau alas kaki, sesuai adat masa itu; tak ada kilau cincin atau rantai kalung di pergelangan tangan dan lehernya. Mahkotanya hanyalah kepangan panjang rambut coklat lembut yang digulung di kepala. Senyuman penuh kasih memancar di wajah anggunnya sementara dia menatap kedua putranya yang sedang memandanginya dengan bangga."Anak-anak," katanya, "Mari kuberitahu kalian sesuatu."Kedua anak itu membungkuk hormat, mengikuti sopan santun yang diajarkan pada setiap pemuda Roma, dan berkata, "Apa itu, Ibu?""Kalian akan menemani kami makan bersama hari ini, di taman ini, lalu sahabat kita akan memperlihatkan kotak berisi segala jenis permata indah yang selama ini telah sering kalian dengar namanya."Kakak-beradik itu mencuri pandang malu-malu ke arah tamu ibu mereka. Mungkinkah nyonya ini masih punya cincin-cincin lagi selain yang dia kenakan di jari-jemarinya? Mungkinkah dia masih punya permata-permata lagi selain yang berkilauan pada kalung-kalung yang menjuntai dari lehernya?Ketika hidangan piknik serba sederhana telah disantap, dari dalam rumah seorang pelayan datang membawakan kotak perhiasan. Nyonya itu membukanya. Wah, betapa semua permata itu menyilaukan mata kedua anak lelaki yang terheran-heran. Ada untaian-untaian mutiara, seputih susu, sehalus satin; setumpuk rubi yang bercahaya, merah laksana batu bara menganga; juga safir yang sebiru langit di musim panas itu; serta berlian-berlian yang mengilat dan berpendar bagaikan sinar matahari.Lama kedua kakak beradik mengagumi permata-permata itu."Duh!" bisik si bungsu, "Andai saja ibu kita bisa memiliki benda-benda seindah ini!"Sayang akhirnya kotak itu ditutup dan dibawa pergi dengan hati-hati."Apa benar kata orang, Cornelia, bahwa kau sama sekali tak punya perhiasan permata?" tanya tamunya. "Apa benar kata orang, seperti yang kudengar dibisik-bisikkan, bahwa kau miskin?""Tidak, aku tidak miskin," sahut Cornelia, dan sembari bicara dia merangkul kedua anak lelaki itu ke sisinya. "Sebab mereka inilah permata-permataku. Mereka jauh lebih berharga ketimbang semua permatamu tadi digabung jadi satu."Aku yakin kedua anak lelaki itu tak akan pernah melupakan nada bangga dan cinta kasih ibu mereka; dan setelah bertahun-tahun kemudian, ketika mereka berdua telah menjadi orang-orang besar di Roma, mereka sering teringat pada peristiwa di taman itu. Dan dunia masih suka mendengar kisah tentang permata-permata Cornelia.
Uget - Uget jadi Nyamuk
Malam itu bulan bersinar terang ketika beberapa uget-uget tertua dalam tong hujan menetapkan hati untuk meninggalkan air. Sejak awal mereka adalah anak-anak yang tak bisa diam dan selalu gelisah, tapi itu bukan salah mereka. Sebagai serangga bernama uget-uget, mana bisa mereka mengapung tenang? Saat Mama Nyamuk meninggalkan telur-telurnya yang panjang-langsing dalam tong hujan, dia telah mengikat semua telur itu jadi satu gumpalan berbentuk kapal. Telur-telur itu terus mengapung di sana sampai beberapa hari kemudian para uget-uget di dalamnya cukup kuat dan siap untuk menerobos bagian bawah telur menuju ke air.Petang dan pagi, petang dan pagi, selama beberapa hari para uget-uget kecil berenang menggantung, kepala di bawah, yang terlihat dari atas tong hanyalah ujung pipa nafas mereka. Kadang kala, kalau ketakutan, uget-uget muda akan lupa cara berenang, lalu membalik badan, berenang dengan kepala di atas, tapi paling lama satu menit. Sesudahnya dia selalu malu mengakui bahwa dia takut, lalu mencari-cari alasan untuk memaafkan dirinya karena berenang seperti itu. Uget-uget muda yang sopan semustinya harus selalu menundukkan kepala dan nyamuk-nyamuk dewasa yang singgah berkunjung tak pernah lupa menasihati mereka: "Uget-uget kecil sombong yang suka mengangkat kepalanya naik bakal tak punya sayap," dan "Naikkan ekormu, tundukkan matamu, kalau kau ingin tetap beradab, sehat, dan bijaksana." Saat masih kecil sekali, uget-uget terus berenang dengan kepala di bawah dan bernafas lewat suatu pipa yang berujung di dekat ujung ekor mereka. Pipa ini punya seperti sejumput sayap kecil di pucuknya, yang menjaga uget-uget bisa terus mengapung di permukaan air. Karena tak punya pekerjaan lain, mereka sehari-harian cuma makan apa yang tersedia di air itu, dan menggeliat-geliut, serta bermain kejar-kejaran. Dan kapan pun mereka takut, mereka akan menyelam ke dasar air dan diam di situ sampai kehabisan nafas. Tak pernah bisa lama. Banyak hal yang membuat mereka takut. Kadang ada kuda yang mampir ke tong dan meminum airnya, kadang seekor burung Robin hinggap di mulut tong untuk menghirup beberapa teguk air, dan sesekali seekor capung dari kolam di dekat situ datang singgah. Tamu yang besar justru bukan yang paling seram. Kuda-kuda biasanya berusaha tidak mengganggu para uget-uget, sementara seekor Robin akan senang jika kebetulan ada seekor yang masuk ke paruhnya bersama air. Para capunglah yang paling berbahaya, karena mereka yang paling lapar, dan karena jauh lebih kecil dibanding kuda atau burung, uget-uget kerap tak sadar akan kehadiran mereka. Kadang ketika berpikir si Capung hinggap agak jauh, beberapa uget-uget berenang ke permukaan air, sampai akhirnya terlambat menyadari bahwa seekor capung bisa bergerak mundur atau menyamping tanpa balik badan.Saat usianya beberapa hari, uget-uget mulai berganti kulit. Mereka bergoyang-goyang melepaskan kulit lama, diganti dengan kulit baru yang sudah tumbuh di bawahnya. Ini membuat mereka merasa jadi hebat, bahkan beberapa ekor mulai menyombong. Ada seekor uget-uget yang tak mau menyelam supaya si Robin melihat baju barunya. Namun justru karena kesombongan ini, hidupnya berakhir, dan dia tak pernah menjadi nyamuk dewasa.Setelah berganti kulit beberapa kali, mereka lantas punya dua pipa nafas, bukan lagi satu. Dua-duanya tumbuh di dekat kepala mereka. Dan kepala mereka jadi jauh lebih besar. Di ujung ekor tubuhnya, setiap uget-uget sekarang punya sesuatu seperti dua lembar daun, yang dia pakai untuk berenang melintasi air. Karena letak pipa-pipa nafasnya sudah berbeda, para uget-uget yang telah beberapa kali berganti kulit ini sekarang mengapung dengan kepala di atas, sedikit di bawah permukaan air, dan ekor mereka ke arah bawah. Uget-uget seumuran ini akan disebut Pupa, atau si setengah dewasa. Seringnya dalam satu tong ada banyak anak nyamuk dengan umur berbeda-beda – telur, uget-uget muda (namanya larva), dan pupa sekaligus. Cukup banyak tempat dan makanan buat semua, namun karena menganggur tak punya pekerjaan, mereka jadi banyak waktu untuk bertengkar dan merecoki satu sama lain.Tahun ini, Kakak Tertuanya begitu congkak sehingga tak ada yang menyukai dia. Beberapa uget-uget muda bilang mereka tak tahan melihatnya. Dia suka bergaya menasihati seperti ini, "Waktu aku masih muda dulu dan harus menundukkan kepala ..." atau berulang-ulang mengingatkan, "Naikkan ekormu, tundukkan matamu, supaya kamu jadi nyamuk sopan, sehat, dan bijaksana." Sampai-sampai seekor uget muda menyilangkan antenanya ke arah si Kakak yang sombong itu – sama seperti kamu menjulurkan lidahmu atau membuat wajah jelek untuk mengejek orang yang tidak kamu suka.Nah, si Kakak Tertua dan beberapa pupa yang menetas dari kawanan telur yang sama dengannya mulai membahas rencana pergi dari tong hujan itu selama-lamanya. Waktu itu bulan bersinar terang dan mereka ingin sayap mereka segera mengembang dan kering, karena itu berarti mereka akan jadi nyamuk dewasa. Kalau sudah dewasa, mereka bisa tiduran sepanjang hari lalu berpesta sepanjang malam.Kakak Tertua menghentak-hentak ke sana kemari secepat-cepatnya, menekuk badannya yang bersegmen-segmen, tiba-tiba ke sini, tiba-tiba ke sana. Dan tiap kali bertemu pupa yang sepantaran dengannya dia berkata, "Ayo ikut aku dan lepas kulitmu. Ini malam yang indah untuk berganti kulit."Kadang mereka menjawab, "Oke!" lalu menghentak-hentak atau bergoyang-goyang atau berenang membarenginya. Tapi kadang ada pupa yang menjawab, "Aku ragu apa aku sudah cukup umur untuk melepaskan kulitku dengan mudah."Maka Kakak Tertua akan menjawab, "Janganlah keraguan membuatmu berhenti. Giliranmu akan segera datang begitu kami mulai." Tentu saja itu benar. Semua anggota keluarga Nyamuk tumbuh dewasa sangat cepat. Maka terjadilah, ketika bulan mengintip dar atas lumbung, menyinarkan wajah cerahnya di antara dua cerobong asap, dua puluh tiga Pupæ mengapung berdekatan satu sama lain dan bersiap-siap mengganti kulit mereka untuk terakhir kalinya.Sangat mendebarkan. Semua uget-uget muda berkerumun untuk menyaksikan apa yang terjadi, dorong-mendorong untuk mendapatkan tempat menonton terbaik. Kakak Tertua sangat kuatir ada pupa lain yang lebih dulu berganti kulit mendahuluinya. Pupa-pupa jantan mengingatkan saudara-saudara betina mereka agar hati-hati menyobek kulit dengan benar dari punggung. Pupa-pupa betina ketus menjawab bahwa mereka sama tahunya soal berganti kulit seperti pupa jantan. Bolak-balik Kakak Tertua akan berseru, "Tunggu ya! Jangan ada satu pun yang melepas kulit lama sampai aku beri aba-aba."Kemudian dua atau tiga saudaranya jadi tak sabar, karena kulit luar mereka terasa makin sesak setiap menit, lalu membalas berseru, "Kenapa tidak boleh?" sambil menggerutu karena disuruh menunggu. Padahal sebenarnya, Kakak Tertua belum berhasil membuat kulitnya merekah, walau dia telah menghentak dan bergoyang dan menghirup nafas dalam-dalam. Dan dia tak mau ada yang mendahuluinya. Akhirnya, kulit itu mulai terbuka, dan dia baru saja memberi aba-aba pada yang lain untuk mulai melepas kulit, waktu seekor Nyamuk Betina besar hinggap untuk meletakkan sejumlah telur di tong itu."Ya ampun!" serunya. "Kalian tidak bermaksud ganti kulit malam ini, kan?""Ya, memang kami sedang ganti kulit," jawab Kakak Tertua, bergoyang lagi sehingga kulitnya makin terbuka, "Kami akan menggigit manusia sebelum pagi tiba.""Sungguh?" jawab si Nyamuk Betina dengan senyum simpul geli. "Aku tak akan berharap tentang itu. Kalian anak muda bakal dapat masalah kalau melepas kulit malam ini, karena sepertinya hujan akan turun."Dia melambaikan antenanya ke atas sambil bicara, dan pupa-pupa itu baru memperhatikan bahwa awam hitam tebal sedang bergulung-gulung di langit. Bahkan saat itu juga, bulan menghilang dan angin mulai mengayun-ayun cabang-cabang pepohonan. "Mau hujan," katanya. "Air akan mengucur dari atap ke dalam tong ini, dan kalau kalian baru saja lepas kulit dan belum bisa terbang, kalian akan tenggelam.""Bleh!" jawab Kakak Tertua. "Kami bisa mengurus diri sendiri. Aku tak takut pada sedikit air." Lalu dia berusaha merangkak keluar dari kulit lamanya.Nyamuk Betina tinggal di tong sampai dia telah menaruh semua telurnya, kemudian terbang pergi. Tak satupun dari Pupæ itu mau mendengar nasihatnya. Sebetulnya semula ada beberapa pupa betina yang ingin menuruti nasihat itu, kalau saja saudara-saudara jantannya tidak mengejek dan menertawakan mereka.Akhirnya, dua puluh tiga nyamuk muda yang masih lembut berdiri di atas kulit pupa yang telah terlepas, menanti sayap mereka mengeras. Merangkak keluar agar lepas dari kulit tak pernah mudah, dan ganti kulit yang terakhir itulah yang terberat. Sekarang mereka tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu, sehingga nyamuk-nyamuk muda ini mulai ketakutan. Malam sekarang gelap dan berangin. Terkadang angin kencang tiba-tiba meniup kulit pupa mereka yang terapung ke pinggir tong. Mereka harus berpegangan erat-erat karena kalau sampai terjatuh ke air, mereka akan tenggelam. Kakak Tertua tiba-tiba berharap bisa menjadi uget-uget lagi. "Uget-uget tak akan pernah tenggelam," kenangnya. "Siapa yang mau duluan menggigit?" tanya salah satu saudaranya.Kakak Tertua menjawab sangat judes, "Aku tak tahu dan aku tak peduli. Aku tidak lapar. Apa kau tak bisa memikirkan hal lain kecuali makan?""Kenapa? Memangnya ada hal lain yang perlu dipikirkan?" balas nyamuk-nyamuk lain yang sedang mengapung."Ada. Terbang, misalnya!" jawab si Kakak."Hu-uh! Aku tak melihat gunanya terbang kecuali untuk membawa kita mendekati makanan," jawab seekor saudara betina. Dia nantinya akan mendapati bahwa terbang memang punya manfaat lain.Setelah itu, mereka tidak ingin bercakap-cakap lagi dengan Kakak Tertua. Mereka mengobrol sendiri sambil coba-coba menggerakkan kaki. Seandainya hari cukup terang sehingga mereka bisa melihat sayap-sayap baru itu! Kau tahu, sayap nyamuk itu menarik sekali, tipis dan ringan, dengan jumbai halus di tepiannya dan di sepanjang tiap pembuluh darah. Nyamuk-nyamuk betina juga bangga pada kantong-kantong di bawah sayap mereka, dan ingin segera sayap itu mengeras supaya mereka bisa menggetarkan kantong-kantong itu lalu mendengar suara mendenging indah ketika udara melewati kantong-kantong ini. Mereka tahu saudara-saudara mereka yang jantan tak pernah bisa menyanyi seperti itu, dan merasa senang akhirnya ada kelebihan yang bisa mereka banggakan. Bukan salah mereka kalau merasa seperti itu, karena para jantan itu terlalu sering mengejek dan menertawakan mereka.Lalu menyambarlah kilat dan menggelegarlah guntur panjang. Pohon-pohon menghempas-hempaskan cabang-cabang ke kanan dan ke kiri, sementara tetes-tetes besar hujan berjatuhan ke atap di atas mereka, lalu turun deras, berkumpul, dan mengucur ke arah saluran air yang di bawahnya tong terletak."Terbang!" teriak Kakak Tertua, mengepakkan sayap sebisa-bisanya."Kami belum bisa. Ke mana?" teriak yang lain."Terbang, dengan cara apapun, ke mana pun!" jerit Kakak Tertua, dan ajaib, kedua puluh tiga nyamuk itu berhasil mengepakkan sayap dan merangkak dan terpencar ke sisi bangunan itu. Tetes air hujan jatuh dekat tapi tak mengenai mereka. Mereka berjumpa dengan nyamuk-nyamuk lebih tua yang sedang menunggu curahan hujan itu berhenti. Bahkan si Kakak Tertua begitu ketakutan sampai gemetar. Saat melihat Nyamuk Betina yang tadi menasihatinya untuk menunda berganti kulit, dia sembunyi ke balik dua saudaranya dan diam tak bersuara. Sepertinya Nyamuk Betina itu melihatnya, karena di tempat itu lumayan terang. Nyamuk Betina itu tak mengajaknya bicara, namun Kakak Tertua mendengarnya bicara pada teman-temannya, "Aku sudah beritahu dia," katanya, "lebih baik dia menunda ganti kulit, tapi dia bilang dia bisa mengurus diri sendiri dan akan menggigit manusia pertama sebelum pagi.""Dia bilang begitu?" seru nyamuk-nyamuk tua lain."Iya!" jawab si Nyamuk Betina.Lalu semua nyamuk itu tertawa dan tertawa dan tertawa, dan Kakak Tertua yang sekarang jadi nyamuk muda itu jadi tahu kenapa dia ditertawakan begitu keras. Ternyata dia tak akan pernah menggigit manusia karena dia nyamuk jantan. Nyamuk jantan harus minum madu. Hanya nyamuk betina yang menggigit manusia dan menghisap darah. Duh! Padahal dia sudah sering sekali membayangkan bagaimana dia akan mendenging sekeliling manusia sampai menemukan bagian yang paling manis dan segar, lalu hinggap pelan-pelan dan menusuk serta menghisap sampai badan langsingnya gendut, bulat, dan merah dengan perut penuh darah. Dan ternyata itu mustahil! Tak akan pernah terjadi! Sebagai nyamuk jantan dia tak bisa mendenging. Dia nanti harus duduk-duduk saja dengan perut penuh madu, sambil menonton sebelas saudara betinanya melembung oleh darah dan mendengar mereka mendenging lembut saat terbang. Andai saja ada nyamuk jantan yang pernah mengunjungi mereka di tong, dia mungkin akan tahu lebih cepat tentang ini. Dengan malu, Kakak Tertua mengendap-endap pergi sendiri. Namun malang dia bertemu seekor burung yang bangun pagi dan – ya, kau tahu, burung juga perlu makan, dan kebetulan dia bertemu nyamuk. Sementara itu, saudara-saudara jantan dan betinanya hidup sendiri-sendiri, mengerjakan apa yang mereka suka. Dan sebelas nyamuk betina saudaranya menggigit tiga belas manusia pada malam berikutnya dan menikmati hari-hari indah menjadi nyamuk. (Diterjemahkan bebas oleh Ellen Kristi dari Among the Night People bab 2 "The Wigglers Become Mosquitoes" karya Clara Dillingham Pierson, 1902.)
Si Lugu dan Angsa Emas
Ada seorang pria yang memiliki tiga putra, yang termuda di antaranya disebut si Lugu, dan sering diejek, ditertawakan, bahkan diabaikan keberadaannya pada setiap kesempatan. Pada suatu hari, putra yang tertua ingin pergi ke hutan untuk menebang kayu, dan sebelum dia pergi, ibunya memberinya sebuah kue yang lezat dan sebotol minuman yang segar agar dia tidak menderita kelaparan atau kehausan.Ketika dia tiba di hutan, seorang pria tua kecil berkulit abu-abu bertemu dengannya, yang menyapanya dan berkata, "Berikanlah aku sedikit kue, dan biarkan aku meminum sedikit minumanmu, aku sangat lapar dan haus."Tetapi pemuda ini menjawab, "Apabila aku memberikan kue dan minumanku, maka aku tidak akan dapat makan dan minum apa-apa lagi, pergilah kamu sekarang."Dia pun meninggalkan pria kecil itu berdiri di sana. Kemudian pemuda itu mulai menebang pohon, dan saat itu kapaknya terselip dan melukai tangannya sendiri sehingga dia terpaksa pulang ke rumah untuk membalut lukanya.Ternyata, semua kecelakaan yang terjadi itu adalah hasil perbuatan dari si Pria Tua kecil yang tadi ditemuinya. Putra kedua pun lalu masuk ke dalam hutan untuk menebang pohon, dan ibunya memberikan makanan dan minuman seperti yang diberikan kepada putra tertua, kue lezat dan sebotol minuman segar.Pria tua kecil juga bertemu dengannya, dan memohon untuk diberikan sedikit kue dan minuman, tetapi si Putra Kedua menjawab, "Apabila aku memberikan kue lezat dan minuman segar ini, aku tidak memiliki apa-apa lagi, jadi pergilah kamu."Dia pun lalu meninggalkan si Pria Tua kecil berdiri di sana. Tidak lama kemudian, si Putra Kedua pun mengalami kecelakaan saat menebang pohon, di mana tanpa sengaja kapaknya melukai kakinya sendiri dengan begitu parahnya sehingga dia harus digotong pulang ke rumah.Kemudian si Lugu berkata kepada ayahnya, "Ayah, biarkan aku pergi ke hutan untuk menebang pohon.Namun ayahnya menolaknya, dengan menjawab, "Saudara-saudaramu telah mengalami kecelakaan sampai melukai diri sendiri, apalagi kamu yang tidak mengerti apa-apa tentang bagaimana cara menebang pohon."Tetapi si Lugu terus memohon sampai lama, hingga akhirnya ayahnya berkata, "Baiklah, pergilah kamu jika kamu mau, pengalaman akan membuatmu lebih bijaksana."Kemudian ibunya memberinya kue, tetapi kue ini hanyalah kue sederhana, dan sebotol minuman yang sudah sedikit kecut.Ketika dia tiba di hutan, si Pria Tua kecil itu bertemu dengannya, menyapanya dan berkata, "Berikanlah aku sedikit kuemu, dan minum dari botolmu, aku sangat lapar dan haus."Si Lugu pun menjawab, "Aku hanya memiliki kue tepung yang sederhana dan minuman yang rasanya sedikit kecut, tetapi jika kamu merasa kue dan minuman ini cukup baik bagi kamu, mari kita duduk bersama dan memakannya."Lalu mereka duduk, dan saat si Lugu mengeluarkan kue dan minumannya, kuenya menjadi kue yang lezat dan minumannya menjadi minuman yang sangat segar. Kemudian mereka pun makan dan minum.Tidak lama, si Pria Tua kecil itu berkata, "Kamu memiliki hati yang baik, dan membagi apa yang kamu miliki dengan sukarela, aku akan memberikan kamu suatu keberuntungan. Berdirilah di pohon tua itu, tebanglah, dan di balik akarnya kamu akan menemukan sesuatu."Setelah mengatakan hal itu, si Pria Tua kecil itu pun pergi. Si Lugu pun beranjak, kemudian berdiri di dekat pohon yang ditunjuk, lalu mulai menebang pohon tersebut. Ketika pohon itu tumbang, dia melihat seekor angsa dengan bulu terbuat dari emas murni, duduk di antara akar pohon. Dia pun mengangkatnya dan membawanya pergi ke sebuah penginapan di mana dia bermaksud untuk menginap karena hari telah hampir larut malam.Pemilik penginapan ini memiliki tiga anak perempuan, dan pada saat mereka melihat angsa yang dibawa oleh si Lugu, menjadi penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya jenis angsa yang terlihat indah itu.Mereka pun ingin memiliki satu bulu angsa yang berwarna emas. Putri tertua berpikir, "Aku akan menunggu kesempatan yang baik, dan pada saat yang tepat, aku akan mencabut salah satu bulu angsa emas itu untuk diriku sendiri."Ketika si Lugu pergi keluar rumah, putri yang tertua dengan cepat berusaha mencabut sebuah bulu pada sayap angsa itu, akan tetapi jari dan tangannya malah melekat pada angsa itu. Setelah itu, datanglah putri kedua yang memiliki gagasan yang sama untuk mencabut salah satu bulu emas untuk dirinya sendiri, tetapi saat dia menyentuh kakaknya, dia juga ikut melekat pada kakaknya. Terakhir datanglah putri ketiga dengan niat yang sama, tetapi yang lainnya berteriak,"Menjauhlah! jangan mendekat!"Akan tetapi, putri ketiga tidak tahu mengapa kakak-kakaknya menyuruhnya pergi, dan dia pun berpikir, "Jika mereka berniat mencabut satu bulu angsa emas itu, mengapa aku tidak diperbolehkan?"Setelah berpikir begitu, dia pun tetap maju untuk mencabut sebuah bulu angsa. Tetapi ketika dia menyentuh kakak-kakaknya, dia pun melekat pada kakaknya tersebut. Mereka terpaksa harus tinggal bersama angsa emas itu sepanjang malam.Keesokan paginya, si Lugu mengambil angsa emas itu dan mengempitnya di bawah lengannya dan berjalan pergi tanpa mempedulikan mengapa ketiga gadis itumengikutinya ke manapun dia pergi. Ketiga gadis ini selalu mengikutinya, ke mana pun kakinya melangkah.Saat berjalan di tengah-tengah ladang, mereka bertemu seorang pemuka adat yang saat melihat barisan ini, berkata kepada ketiga orang gadis yang mengikuti si Lugu, "Apakah kalian tidak merasa malu? Berjalan mengikuti seorang anak muda melalui jalan-jalan umum seperti ini? Ayo, tinggalkanlah pemuda itu dan pergilah!"Dia pun segera menyambar lengan gadis yang termuda, dan saat itu pula tangannya melekat dan menyeret dia pergi bersama si Lugu. Tidak lama setelah itu, seorang pengurus adat melihat pemuka adat yang dihormati ini berbaris mengikuti si Lugu dan tiga orang gadis, maka dia pun berseru, "Hai, ke manakah Anda akan pergi? Apakah Anda lupa akan ada acara yang harus kita laksanakan?"Lantas, dia memegang jubah sang Pemuka Adat, tetapi setelah dia menyentuhnya, dia pun melekat dan terseret dalam barisan si Lugu. Saat kelima orang ini berjalan beriringan, mereka bertemu dua orang petani yang baru kembali dari ladang, dan sang Pemuka Adat berseru kepada mereka dan meminta mereka untuk datang dan melepaskan mereka dari barisan, tetapi kedua petani ini pun mengalami nasib yang sama dengan yang lainnya, sehingga sekarang ada tujuh orang yang mengikuti si Lugu dan angsa emasnya.Dalam perjalanan ini, si Lugu tiba di sebuah kota di mana raja yang memerintah hanya memiliki seorang putri yang tidak pernah tertawa dan tak ada orang yang pernah bisa membuatnya tertawa. Oleh karena itulah sang Raja memberikan pengumuman bahwa barang siapa yang bisa membuatnya tertawa, diizinkan untuk menikahi sang Putri.Si Lugu, yang mendengar sayembara ini, pergi menghadap ke sang Putri bersama dengan angsa emasnya dan barisan orang yang mengikutinya. Setelah sang Putri melihat tujuh orang yang berjalan beriringan dan terseret-seret antara satu dengan yang lainnya, dia pun tertawa terbahak-bahak, dan seolah-olah sulit untuk berhenti tertawa. Saat itu pula, ketujuh orang yang saling melekat, bisa terbebas.Si Lugu pun menagih janji sang Raja agar sang Putri dinikahkan dengannya, tetapi sang Raja merasa bahwa si Lugu kurang pantas menjadi menantunya, membuat berbagai alasan untuk menolak si Lugu. Sang Raja pun mensyaratkan bahwa si Lugu harus bisa membawakan seorang pria yang mampu meminum seluruh minuman yang ada dalam gudang minuman sang Raja.Si Lugu tiba-tiba teringat pada si Pria Tua kecil di hutan yang dipikirnya akan bisa membantunya. Dia pun pergi menuju hutan, dan di tempat yang sama di mana dia dulu menebang pohon, dia melihat seorang pria duduk dengan wajah sangat sedih.Ketika si Lugu bertanya apa yang terjadi, pria itu menjawab, "Saya sangat haus, dan apapun yang saya minum, tidak bisa memuaskan rasa dahaga saya. Saya tidak senang meminum air dingin, saya lebih senang meminum minuman segar dalam botol kecil ini, tetapi apalah artinya minuman yang hanya sebotol kecil? Rasanya seperti setetes saja bagi pria yang haus seperti saya."Lalu berkatalah si Lugu, "Aku mungkin bisa membantumu, ikutlah denganku, dan rasa dahagamu akan terpuaskan."Si Lugu lalu membawanya langsung ke gudang minuman sang Raja, dan pria itu kemudian duduk sendiri di depan sebuah tong minuman yang besar, lalu minum dan minum, dan sebelum hari menjelang malam, dia telah meminum seluruh minuman yang ada di gudang. Si Lugu lalu menagih janji agar sang Putri bisa menjadi istrinya, tetapi sang Raja menjadi kesal karena si Lugu berhasil memenuhi tugas yang diberikan.Sang Raja pun membuat satu persyaratan baru. Si Lugu harus bisa menemukan orang yang bisa memakan segundukan roti yang sangat banyak. Tanpa bertanya-tanya lagi, si Lugu pun berangkat ke hutan, dan di tempat yang sama duduklah seorang pria yang perutnya dililit dengan tali dan berwajah sedih.Pria itupun berkata kepadanya, "Aku sudah makan seluruh roti dalam oven, tetapi semuanya tidak terasa bagi orang yang sangat lapar seperti aku. Perutku terasa kosong, dan aku terpaksa melilitkan tali di perutku karena terlalu lapar."Si Lugu sangat senang mendengar perkataan orang itu dan berkata, "Bangkitlah segera, dan ikutlah bersamaku. Aku akan memberikan kamu makanan sehingga kamu puas."Dia membawanya langsung ke halaman istana, di mana semua makanan di istana telah dikumpulkan dan dimasukkan ke sebuah gunung roti. Pria dari hutan ini lalu bergegas untuk makan, dan dalam waktu satu hari seluruh tumpukan makanan telah menghilang.Kemudian si Lugu menagih calon istrinya kepada sang Raja untuk ketiga kalinya, tetapi sang Raja, menemukan satu alasan lagi, dan ia pun mengatakan bahwa si Lugu harus membawakan dia sebuah kapal yang mampu berlayar di darat atau di air."Jika kamu menemukan kapal seperti itu, kamu akan aku nikahkan dengan putriku."Si Lugu langsung pergi ke hutan, dan di sana duduklah si Pria Tua kecil berkulit abu-abu, pria tua yang pernah mendapatkan kue dari si Lugu. Si Pria Tua kecil itu pun berkata kepadanya, "Aku sudah menghabiskan minuman dari sebuah gudang istana demi kamu, dan aku telah memakan gunungan roti demi kamu. Aku juga akan memberikan kamu kapal. Semua ini aku lakukan karena kamu sangat baik kepadaku."Lalu si Pria Tua kecil itu pun memberinya kapal yang bisa berlayar di darat dan di air, dan ketika sang Raja melihat kapal ini, dia tahu dia tidak bisa lagi menahan putrinya untuk tidak menikah dengan si Lugu. Pernikahan pun segera dilangsungkan. Saat sang Raja wafat, si Lugu mewarisi tahta kerajaan, dan hidup berbahagia selamanya bersama sang Putri.
Androcles dan Seekor Singa
Dahulu kala di Kota Roma, hiduplah seorang budak bernama Androcles yang melarikan diri dari majikannya dan menyembunyikan diri di dalam hutan. Dia berjalan tak tentu arah di hutan tersebut cukup lama, hingga dia merasa kelelahan dan kelaparan serta mulai berputus asa.Sesaat kemudian, dia mendengar suara seekor singa di dekatnya yang mengaum dengan keras. Androcles yang kelelahan, bangkit dan bergegas untuk pergi karena rasa takutnya kepada singa, tetapi saat dia berjalan menembus semak-semak dia tersandung pada akar pohon dan terjatuh.Ketika dia mencoba untuk bangkit kembali, dia melihat seekor singa yang sangat besar datang ke arahnya, berjalan terpincang-pincang dengan tiga kakinya sambil mengangkat satu kakinya ke depan.Androcles yang malang menjadi putus asa karena dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk bangkit dan melarikan diri pada saat sang singa besar berjalan menuju ke arahnya. Ketika hewan besar itu tiba di depannya, Androcles ketakutan setengah mati. Akan tetapi singa tersebut tidak menyerangnya, dan hanya mengeluh serta mendesah sambil menatap Androcles.Androcles pun melihat bahwa kaki kanan yang dijulurkan oleh sang Singa, berlumuran darah dan bengkak. Androcles mencoba melihat lebih dekat, dan saat itu dia melihat sebuah duri besar tertusuk pada kaki kanan sang Singa.Androcles mengumpulkan keberanian dan menarik keluar duri yang menusuk cakar singa, yang saat itu langsung meraung dengan keras karena kesakitan. Tetapi tidak lama setelah itu, sepertinya sang Singa menjadi lebih lega dan tenang, bahkan sang Singa pun menggosok-gosokkan kepala dan badannya ke Androcles sebagai tanda kasih sayang dan terima kasih.Apa yang ditakutkan oleh Androcles menjadi sirna, sang Singa bukan hanya tidak memangsa dirinya, tetapi dalam waktu tidak berapa lama, singa tersebut pergi dan kembali sambil membawa rusa muda yang berhasil ditangkapnya ke hadapan Androcles, sehingga Androcles bisa mendapatkan makanan di saat itu.Untuk beberapa waktu, sang Singa terus membawa hewan hutan yang dimangsanya untuk Androcles yang semakin hari semakin akrab dengan hewan besar tersebut. Namun suatu hari, sejumlah prajurit memasuki hutan dan menemukan Androcles. Ketika itu, dia ia tidak dapat menjelaskan apa yang dia perbuat di dalam hutan. Para prajurit tersebut menahan Androcles, dan membawanya kembali ke kota di mana dia melarikan diri. Di sanalah tuannya mengenali dia dan membawanya ke depan pihak berwenang. Dia pun dijatuhi hukuman mati karena telah melarikan diri dari majikannya.Pada zaman tersebut, telah menjadi kebiasaan bagi bangsa Roma untuk memasukkan tahanan yang akan dihukum mati, seperti para pembunuh dan penjahat lainnya, ke dalam suatu arena besar bersama dengan seekor singa, sehingga di saat para penjahat menerima hukuman matinya di arena, masyarakat bisa menonton pertarungan antara mereka dan binatang buas tersebut.Androcles juga dijatuhi hukuman mati, dan akan tempatkan di arena tarung beserta seekor singa. Pada hari yang telah ditentukan, dia pun ditempatkan di arena sendirian dan hanya berbekal tombak untuk melindungi dirinya dari dari serangan singa yang buas. Kaisar yang berada di barisan kursi untuk kalangan istana, memberikan sinyal untuk melepaskan singa dan memulai pertarungan.Saat sang Singa keluar dari kandangnya dan mendekati Androcles, apa yang terjadi? Bukannya sang Singa melompat ke atasnya untuk menerkam, tetapi sang Singa malah menunjukkan sikap hormat kepadanya, menggosok-gosokkan kepalanya pada Androcles yang dengan segera membelai kepala sang Singa. Ternyata singa tersebut adalah singa yang pernah bertemu dengan Androcles di dalam hutan.Kaisar yang terkejut melihat perilaku aneh dari sang Singa, memanggil Androcles untuk datang kepadanya dan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, sehingga singa yang terkenal ganas, menjadi jinak di hadapan Androcles.Androcles pun menceritakan semua yang telah terjadi terhadapnya kepada sang Kaisar, dan bagaimana singa itu menunjukkan rasa terima kasihnya setelah dia mencabut duri yang menusuk di telapak kakinya.Sang Kaisar pun mengampuni Androcles dan memerintahkan majikan Androcles untuk membebaskan Androcles dari perbudakan, sementara sang Singa pun dibawa kembali ke hutan untuk dilepaskan sehingga sang Singa bisa menikmati kebebasannya kembali.
Enam Serdadu
Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya."Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?""Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya."Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?""Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak."Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu."Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?""Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar.""Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya."Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu."Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja."Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh.""Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut."Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari."Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan."Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi."Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba."Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama."Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan."Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka."Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan."Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau.""Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja."Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan."Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh."Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya."Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong."Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh."Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
Enam Serdadu
Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya."Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?""Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya."Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?""Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak."Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu."Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?""Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar.""Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya."Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu."Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja."Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh.""Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut."Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari."Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan."Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi."Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba."Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama."Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan."Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka."Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan."Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau.""Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja."Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan."Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh."Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya."Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong."Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh."Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
Seorang Raja dan Nelayan
Kerajaan yang dialiri oleh sungai Tigris dan Euphrates pernah di perintah oleh seorang raja yang sangat gemar dan menyukai ikan.Suatu hari dia duduk bersama Sherem, sang Ratu, di taman istana yang berhadapan langsung dengan tepi sungai Tigris, yang pada saat itu terentang jajaran perahu yang indah; dan dengan pandangan yang penuh selidik pada perahu-perahu yang meluncur, dimana pada satu perahu duduk seorang nelayan yang mempunyai tangkapan ikan yang besar.Menyadari bahwa sang Raja mengamatinya, dan tahu bahwa sang Raja ini sangat menggemari ikan tertentu, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ketepian, datang dan berlutut pada sang Raja dan memohon agar sang Raja mau menerima ikan tersebut sebagai hadiah. Sang Raja sangat senang dengan hal ini, dan memerintahkan agar sejumlah besar uang diberikan kepada nelayan tersebut.Tetapi sebelum nelayan tersebut meninggalkan taman istana, Ratu berputar menghadap sang Raja dan berkata: "Kamu telah melakukan sesuatu yang bodoh." Sang Raja terkejut mendengar Ratu berkata demikian dan bertanya bagaimana bisa. Sang Ratu membalas:"Berita bahwa kamu memberikan sejumlah besar hadiah untuk hadiah yang begitu kecil akan cepat menyebar ke seluruh kerajaan dan akan dikenal sebagai hadiah nelayan. Semua nelayan yang mungkin berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang pertama, mereka akan pergi dengan rasa tidak puas, dan dengan diam-diam akan berbicara jelek tentang kamu diantara teman-temannya.""Kamu berkata benar, dan ini membuka mata saya," kata sang Raja, "tetapi tidakkah kamu melihat apa artinya menjadi Raja, apabila untuk alasan tersebut dia menarik kembali hadiah yang telah diberikan?" Kemudian setelah merasa bahwa sang Ratu siap untuk membantah hal itu, dia membalikkan badan dengan marah dan berkata "Hal ini sudah selesai dan tidak usah dibicarakan lagi."Bagaimanapun juga, dihari berikutnya, ketika pikiran sang Raja sedang senang, Ratu menghampirinya dan berkata bahwa jika dengan alasan itu sang Raja tidak dapat menarik kembali hadiah yang telah diberikan, dia sendiri yang akan mengaturnya. "Kamu harus memanggil nelayan itu kembali," katanya, "dan kemudian tanyakan, 'Apakah ikan ini jantan atau betina?' Jika dia berkata jantan, lalu kamu katankan bahwa yang kamu inginkan adalah ikan betina, tetapi bila nelayan tersebut berkata bahwa ikan tersebut betina, kamu akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kamu menginginkan ikan jantan. Dengan cara ini hal tersebut dapat kita sesuaikan dengan baik."Raja berpendapat bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk keluar dari kesulitan, dan memerintahkan agar nelayan tadi dibawa ke hadapannya. Ketika nelayan tersebut, yang ternyata adalah orang yang sangat pandai, berlutut di hadapan raja, sang Raja berkata kepadanya: "Hai nelayan, katakan padaku, ikan yang kamu bawa kemarin adalah jantan atau betina?"Nelayan tersebut menjawab, "Ikan tersebut bukan jantan dan bukan betina." Saat itu sang Raja tersenyum mendengar jawaban yang sangat cerdik, dan untuk menambah kejengkelan sang Rau, memerintahkan bendahara istana untuk memberikan sejumlah uang yang lebih banyak kepada nelayan tersebut.Kemudian nelayan itu menyimpan uang tersebut dalam kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul kantong tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan satu koin kecil. Dengan menaruh kantong tersebut kembali ke tanah, dia membungkuk dan memungut koin itu dan kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan pandangan mata Raja dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya."Lihat! betapa pelitnya dia!" kata Sherem, sang Ratu, dengan bangga atas kemenangannya. "Dia benar-benar menurunkan kantongnya hanya untuk memungut satu buah koin kecil karena mungkin dia akan sangat merasa kehilangan hanya dengan berpikir bahwa koin tersebut akan diambil oleh salah seorang pelayan Raja, atau seseorang yang lebih miskin, yang membutuhkannya untuk membeli sebuah roti dan yang memohon agar raja dikaruniai umur panjang.""Sekali lagi kamu berbicara benar," balas sang Raja, merasakan kebenaran dari komentar Ratu; dan sekali lagi nelayan tersebut dibawa untuk menghadap ke istana. "Apakah kamu ini manusia atau binatang buas?" Raja bertanya kepadanya. "Walaupun kamu mungkin sudah kaya tanpa harus bekerja keras lagi, tetapi sifat pelit dalam dirimu tidak membiarkan kamu untuk meninggalkan satu koin kecil untuk orang lain." Lalu sang Raja memerintahkan nelayan tersebut untuk pergi dan tidak menampakkan lagi wajahnya di dalam kota kerajaannya.Saat itu nelayan tersebut berlutut pada kedua kakinya dan menangis: "Dengarkanlah hamba, Oh sang Raja, pelindung rakyat miskin! Semoga Tuhan memberkahi Tuanku dengan umur panjang. Bukan nilai dari koin tersebut yang hamba pungut, tetapi karena pada satu sisi koin tersebut tertera tulisan pujian atas nama Tuhan, dan disisi lainnya tergambar wajah Raja. Hamba takut bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena tidak melihat koin tersebut, akan menginjaknya. Biarlah sang Raja yang menentukan apakah yang saya lakukan ini pantas untuk dicela atau tidak."Jawaban tersebut membuat sang Raja sangat senang tidak terhingga, dan memberikan lagi nelayan terseut sejumlah besar uang. Dan kemarahan Ratu saat itu juga menjadi reda, dan dia menjadi sadar dan melihat dengan ramah terhadap nelayan tersebut yang pergi dengan kantung yang dimuati dengan uang.
Nimmy Nimmy Not, Namaku Tom Tit Tot
Pada suatu masa, ada seorang wanita yang memasak 5 buah kue. Dan saat kue itu dikeluarkan dari oven, terdapat sedikit bagian pinggiran yang keras karena hangus. Karena itu dia berkata kepada putrinya:"Putriku, simpanlah kue-kue ini ke atas rak, dan biarkanlah kue itu disana sementara waktu, karena bagian yang sedikit hangus, akan perlahan-lahan menjadi lunak nantinya."Tetapi putrinya salah mendengarkan perintah ibunya dan menyangka ibunya menyuruh ia untuk memakan semua kue tersebut sehingga Ia pun memakan semua kue-kue itu sekaligus.Saat makan siang tiba, sang Ibu meminta agar anaknya mengambil kue yang berada di atas rak, tetapi putrinya berkata bahwa kue tersebut telah habis di makannya. Sang Ibu menjadi sedikit kecewa, mengambil alat pemintalnya dan mulai memintal sambil bernyanyi:"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini.""Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."Seorang raja yang kebetulan lewat dan mendengarnya menyanyi, datang mendekat karena ingin mendengar lebih jelas syair lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibu. Sang Raja pun bertanya,"Apa yang engkau nyanyikan, wahai ibu yang baik?"Sang Ibu yang merasa malu apabila sang Raja mendengar apa yang diperbuat oleh putrinya, mengubah syair lagunya menjadi:"Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Wah!" kata sang Raja, "Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mampu berbuat seperti itu."Kemudian dia berkata lagi: "Saya sudah lama ingin mencari pendamping hidup, dan saya akan menikahi putrimu dengan beberapa persyaratan," katanya lebih lanjut, "sebelas bulan pertama, dia boleh memakan apapun yang dia inginkan dan memakai pakaian dan gaun apapun yang dia sukai, memiliki pelayan berapapun yang dia inginkan; tetapi pada akhir bulan, dia harus memintal 5 gulungan emas setiap hari, jika tidak, putrimu akan saya hukum dan penjarakan di menara selama-lamanya.""Baiklah," kata sang Ibu; sambil berpikir betapa mewahnya pernikahan putrinya nanti. Dan mengenai 5 gulungan emas, saat waktunya tiba, bermacam-macam alasan akan dicari untuk menghindari kewajiban tersebut dan sepertinya sang Raja juga akan melupakan persyaratannya.Tidak berapa lama, menikahlah putrinya dengan sang Raja. Dan selama sebelas bulan, sang Putri makan apapun yang diinginkan, mengenakan pakaian dan gaun yang dia sukai, dan memiliki pelayan sebanyak yang diiginkannya.Waktu tidak terasa berlalu hingga bulan ke-sebelas hampir tiba, dan sang Putri mulai menebak-nebak pikiran sang Raja yang telah menjadi suaminya mengenai gulungan benang emas yang dijanjikannya. Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas.Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk. Lalu sang Raja berkata, "Sekarang telah tiba saatnya, mulai hari esok, pelayan akan membawakan kamu jerami untuk dipintal dan kamu harus tetap berada di ruangan ini untuk memintal 5 gulungan benang emas setiap malam atau kamu akan mendapatkan hukuman."Saat itu, sang Putri menjadi sangat takut karena dia sendiri tidak terlalu tahu memintal. Apa yang bisa diperbuat besok apabila tidak ada orang yang datang menolongnya? Dia lalu ke dapur, duduk di sebuah bangku dan menangis.Saat itu didengarlah sebuah suara yang mengetuk pintu dapur, dan saat dia berdiri dan membuka pintu, dia melihat satu makhluk hitam yang aneh dan memiliki ekor panjang, memandangnya dan bertanya kepadanya:"Apa yang engkau tangisi?""Mengapa engkau menanyakan hal itu?" kata sang Putri."Tidak apa-apa," katanya makhuluk itu lagi, "kamu dapat menceritakannya kepadaku.""Tapi ini tidak akan merubah keadaan walaupun saya menceritakannya," kata sang Putri."Kamu belum tentu benar," katanya sambil memutar-mutarkan ekornya."Baiklah," kata sang Putri sembari menceritakan semua kisahnya tentang kue, gulungan benang emas dan lainnya."Ini yang akan saya lakukan," kata makhluk hitam itu, "Saya akan datang ke jendelamu setiap pagi dan membawa pergi jerami untuk saya pintal menjadi benang emas dan setiap malam saya akan memberikan kamu hasil pintalanku.""Apa yang kamu minta sebagai pembayaran?" kata sang Putri."Saya akan memberi kamu kesempatan 3 kali menebak namaku, dan jika kamu tidak bisa menebaknya dalam 1 bulan, kamu akan menjadi milik saya."Karena sang Putri berpikir bahwa dia akan berhasil menebak sebelum bulan 12 berakhir, dia menyetujui persyaratan itu.Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami."Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas," katanya, "apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum." Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.Tidak terlalu lama kemudian, sang Putri mendengarkan ketukan pada jendelanya.Sang Putri lalu berdiri dan membuka jendela, saat itu dilihatnya makhluk hitam yang ditemui kemarin."Mana jeraminya?" tanya makhluk itu."Ini dia," kata sang Putri sambil memberikan jerami kepadanya.Saat malam tiba, makhluk tersebut datang dan mengetuk kembali jendelanya, lalu memberikannya 5 gulungan benang emas."Ini yang saya janjikan," katanya."Sekarang, tebaklah siapa namaku?" katanya kembali."Apakah namamu Bill?" tebak sang Putri."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Ned?" tebak sang Putri lagi."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Mark?" tebak sang Putri lagi."Bukan, bukan itu," katanya lalu pergi.Saat sang Raja masuk ke dalam ruangan, dilihatnya 5 buah gulungan benang emas telah siap. "Saya lihat kamu telah menjalankan tugasmu," katanya, "Kamu akan mendapatkan jerami dan makanan lagi pada keesokan pagi," katanya sambil beranjak pergi.Kejadian tersebut berulang terus-menerus, setiap hari jerami dan makanan dibawa masuk ke ruang pintal, setiap hari makhluk itu datang mengambil jerami dan malamnya memberikan gulungan benang emas, dan setiap kali pula sang Putri tidak pernah menebak dengan benar nama makhluk hitam itu, hingga tiba pada hari sebelum hari terakhir di bulan tersebut, sang Makhluk itu datang membawakan 5 gulungan benang emas. Wajah makhluk itu menjadi terlihat sangat jahat, dengan mata yang menyala seperti bara api, makhluk itu berkata: "Besok adalah hari terakhir, dan kamu akan menjadi milik saya!" lalu sang Makhluk berangkat pergi.Sang Putri menjadi sangat ketakutan, tapi malam itu juga sang Raja datang ke ruang pintal dan setelah melihat 5 gulungan telah tersedia, sang Raja berkata:"Sayangku, saya lihat kamu telah menyelesaikan janji mu, setelah keesokan hari, kamu akan terbebas dari hukuman. Mari kita rayakan dengan makan malam bersama."Saat mereka makan, sang Raja tiba-tiba berhenti makan lalu tertawa."Apa yang membuat paduka tertawa?" tanya sang Putri."Beberapa hari yang lalu, saya berburu dan tiba di suatu hutan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan di hutan itu saya menemukan sebuah gua kecil. Dari dalam gua tersebut, saya mendengar sebuah nyanyian. Dengan diam-diam saya masuk ke dalam gua tersebut dan melihat ke dalamnya. Saya melihat makhluk terlucu yang pernah saya lihat seumur hidup, sedang memintal dengan ekornya yang berputar cepat, sambil menyanyi:"Nimmy nimmy notNamaku Tom Tit Tot."Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa.Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang."Siapa nama saya?" tanyanya sambil memberikan gulungan benang emas ke sang Putri."Apakah Solomon?" jawab sang Putri sambil berpura-pura ketakutan."Bukan, namaku bukan itu," katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan."Apakah Zebedee?" tebak sang Putri kembali."Bukan, namaku bukan itu," kata sang Makhluk Hitam sambil tertawa."Berpikirlah baik-baik, katanya kembali; "setelah tebakan berikut, kamu akan menjadi milikku." Lalu tangannya mulai menggapai untuk memegang sang Putri.Sang Putri mundur satu-dua langkah, menatap makhluk tersebut, kemudian tertawa dan berkata:"Nimmy nimmy not, namamu adalah Tom Tit Tot!"Saat makhluk itu mendengarnya, makhluk itu berteriak marah dan pergi menjauh ke dalam kegelapan, dan semenjak saat itu, sang Putri tidak pernah melihatnya lagi, dan sang Putri dapat hidup berbahagia selama-lamanya dengan sang Raja.
Nimmy Nimmy Not, Namaku Tom Tit Tot
Pada suatu masa, ada seorang wanita yang memasak 5 buah kue. Dan saat kue itu dikeluarkan dari oven, terdapat sedikit bagian pinggiran yang keras karena hangus. Karena itu dia berkata kepada putrinya:"Putriku, simpanlah kue-kue ini ke atas rak, dan biarkanlah kue itu disana sementara waktu, karena bagian yang sedikit hangus, akan perlahan-lahan menjadi lunak nantinya."Tetapi putrinya salah mendengarkan perintah ibunya dan menyangka ibunya menyuruh ia untuk memakan semua kue tersebut sehingga Ia pun memakan semua kue-kue itu sekaligus.Saat makan siang tiba, sang Ibu meminta agar anaknya mengambil kue yang berada di atas rak, tetapi putrinya berkata bahwa kue tersebut telah habis di makannya. Sang Ibu menjadi sedikit kecewa, mengambil alat pemintalnya dan mulai memintal sambil bernyanyi:"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini.""Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."Seorang raja yang kebetulan lewat dan mendengarnya menyanyi, datang mendekat karena ingin mendengar lebih jelas syair lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibu. Sang Raja pun bertanya,"Apa yang engkau nyanyikan, wahai ibu yang baik?"Sang Ibu yang merasa malu apabila sang Raja mendengar apa yang diperbuat oleh putrinya, mengubah syair lagunya menjadi:"Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Wah!" kata sang Raja, "Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mampu berbuat seperti itu."Kemudian dia berkata lagi: "Saya sudah lama ingin mencari pendamping hidup, dan saya akan menikahi putrimu dengan beberapa persyaratan," katanya lebih lanjut, "sebelas bulan pertama, dia boleh memakan apapun yang dia inginkan dan memakai pakaian dan gaun apapun yang dia sukai, memiliki pelayan berapapun yang dia inginkan; tetapi pada akhir bulan, dia harus memintal 5 gulungan emas setiap hari, jika tidak, putrimu akan saya hukum dan penjarakan di menara selama-lamanya.""Baiklah," kata sang Ibu; sambil berpikir betapa mewahnya pernikahan putrinya nanti. Dan mengenai 5 gulungan emas, saat waktunya tiba, bermacam-macam alasan akan dicari untuk menghindari kewajiban tersebut dan sepertinya sang Raja juga akan melupakan persyaratannya.Tidak berapa lama, menikahlah putrinya dengan sang Raja. Dan selama sebelas bulan, sang Putri makan apapun yang diinginkan, mengenakan pakaian dan gaun yang dia sukai, dan memiliki pelayan sebanyak yang diiginkannya.Waktu tidak terasa berlalu hingga bulan ke-sebelas hampir tiba, dan sang Putri mulai menebak-nebak pikiran sang Raja yang telah menjadi suaminya mengenai gulungan benang emas yang dijanjikannya. Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas.Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk. Lalu sang Raja berkata, "Sekarang telah tiba saatnya, mulai hari esok, pelayan akan membawakan kamu jerami untuk dipintal dan kamu harus tetap berada di ruangan ini untuk memintal 5 gulungan benang emas setiap malam atau kamu akan mendapatkan hukuman."Saat itu, sang Putri menjadi sangat takut karena dia sendiri tidak terlalu tahu memintal. Apa yang bisa diperbuat besok apabila tidak ada orang yang datang menolongnya? Dia lalu ke dapur, duduk di sebuah bangku dan menangis.Saat itu didengarlah sebuah suara yang mengetuk pintu dapur, dan saat dia berdiri dan membuka pintu, dia melihat satu makhluk hitam yang aneh dan memiliki ekor panjang, memandangnya dan bertanya kepadanya:"Apa yang engkau tangisi?""Mengapa engkau menanyakan hal itu?" kata sang Putri."Tidak apa-apa," katanya makhuluk itu lagi, "kamu dapat menceritakannya kepadaku.""Tapi ini tidak akan merubah keadaan walaupun saya menceritakannya," kata sang Putri."Kamu belum tentu benar," katanya sambil memutar-mutarkan ekornya."Baiklah," kata sang Putri sembari menceritakan semua kisahnya tentang kue, gulungan benang emas dan lainnya."Ini yang akan saya lakukan," kata makhluk hitam itu, "Saya akan datang ke jendelamu setiap pagi dan membawa pergi jerami untuk saya pintal menjadi benang emas dan setiap malam saya akan memberikan kamu hasil pintalanku.""Apa yang kamu minta sebagai pembayaran?" kata sang Putri."Saya akan memberi kamu kesempatan 3 kali menebak namaku, dan jika kamu tidak bisa menebaknya dalam 1 bulan, kamu akan menjadi milik saya."Karena sang Putri berpikir bahwa dia akan berhasil menebak sebelum bulan 12 berakhir, dia menyetujui persyaratan itu.Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami."Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas," katanya, "apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum." Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.Tidak terlalu lama kemudian, sang Putri mendengarkan ketukan pada jendelanya.Sang Putri lalu berdiri dan membuka jendela, saat itu dilihatnya makhluk hitam yang ditemui kemarin."Mana jeraminya?" tanya makhluk itu."Ini dia," kata sang Putri sambil memberikan jerami kepadanya.Saat malam tiba, makhluk tersebut datang dan mengetuk kembali jendelanya, lalu memberikannya 5 gulungan benang emas."Ini yang saya janjikan," katanya."Sekarang, tebaklah siapa namaku?" katanya kembali."Apakah namamu Bill?" tebak sang Putri."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Ned?" tebak sang Putri lagi."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Mark?" tebak sang Putri lagi."Bukan, bukan itu," katanya lalu pergi.Saat sang Raja masuk ke dalam ruangan, dilihatnya 5 buah gulungan benang emas telah siap. "Saya lihat kamu telah menjalankan tugasmu," katanya, "Kamu akan mendapatkan jerami dan makanan lagi pada keesokan pagi," katanya sambil beranjak pergi.Kejadian tersebut berulang terus-menerus, setiap hari jerami dan makanan dibawa masuk ke ruang pintal, setiap hari makhluk itu datang mengambil jerami dan malamnya memberikan gulungan benang emas, dan setiap kali pula sang Putri tidak pernah menebak dengan benar nama makhluk hitam itu, hingga tiba pada hari sebelum hari terakhir di bulan tersebut, sang Makhluk itu datang membawakan 5 gulungan benang emas. Wajah makhluk itu menjadi terlihat sangat jahat, dengan mata yang menyala seperti bara api, makhluk itu berkata: "Besok adalah hari terakhir, dan kamu akan menjadi milik saya!" lalu sang Makhluk berangkat pergi.Sang Putri menjadi sangat ketakutan, tapi malam itu juga sang Raja datang ke ruang pintal dan setelah melihat 5 gulungan telah tersedia, sang Raja berkata:"Sayangku, saya lihat kamu telah menyelesaikan janji mu, setelah keesokan hari, kamu akan terbebas dari hukuman. Mari kita rayakan dengan makan malam bersama."Saat mereka makan, sang Raja tiba-tiba berhenti makan lalu tertawa."Apa yang membuat paduka tertawa?" tanya sang Putri."Beberapa hari yang lalu, saya berburu dan tiba di suatu hutan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan di hutan itu saya menemukan sebuah gua kecil. Dari dalam gua tersebut, saya mendengar sebuah nyanyian. Dengan diam-diam saya masuk ke dalam gua tersebut dan melihat ke dalamnya. Saya melihat makhluk terlucu yang pernah saya lihat seumur hidup, sedang memintal dengan ekornya yang berputar cepat, sambil menyanyi:"Nimmy nimmy notNamaku Tom Tit Tot."Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa.Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang."Siapa nama saya?" tanyanya sambil memberikan gulungan benang emas ke sang Putri."Apakah Solomon?" jawab sang Putri sambil berpura-pura ketakutan."Bukan, namaku bukan itu," katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan."Apakah Zebedee?" tebak sang Putri kembali."Bukan, namaku bukan itu," kata sang Makhluk Hitam sambil tertawa."Berpikirlah baik-baik, katanya kembali; "setelah tebakan berikut, kamu akan menjadi milikku." Lalu tangannya mulai menggapai untuk memegang sang Putri.Sang Putri mundur satu-dua langkah, menatap makhluk tersebut, kemudian tertawa dan berkata:"Nimmy nimmy not, namamu adalah Tom Tit Tot!"Saat makhluk itu mendengarnya, makhluk itu berteriak marah dan pergi menjauh ke dalam kegelapan, dan semenjak saat itu, sang Putri tidak pernah melihatnya lagi, dan sang Putri dapat hidup berbahagia selama-lamanya dengan sang Raja.
Grethel yang cerdik
Dahulu kala ada seorang tukang masak yang bernama Grethel yang suka memakai sepatu bertumit merah, yang ketika keluar rumah selalu merasa bebas dan memiliki perasaan yang sangat baik. Ketika dia kembali ke rumah lagi, dia selalu meminum segelas anggur untuk menyegarkan diri, dan ketika minuman anggur tersebut memberi nafsu makan kepadanya, dia akan memakan makanan yang terbaik dari apapun yang dimasaknya hingga dia merasa cukup kenyang. Untuk itu dia selalu berkata "Seorang tukang masak harus tahu mencicipi apapun".Suatu hari tuannya berkata kepadanya "Grethel, saya menunggu kedatangan tamu pada malam ini, kamu harus menyiapkan sepasang masakan ayam"."Tentu saja tuan" jawab Grethel. Lalu dia memotong ayam, membersihkannya dan kemudian mencabuti bulunya, lalu ketika menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api hingga matang. Ketika ayam tersebut mulai berwarna coklat dan hampir selesai dipanggang, tamu tersebut belum juga datang."Jika tamu tersebut tidak datang cepat" kata Grethel kepada tuannya, "Saya harus mengeluarkan ayam tersebut dari api, sayang sekali apabila kita tidak memakannya sekarang justru pada saat ayam tersebut hampir siap." Dan tuannya berkata dia sendiri akan berlari mengundang tamunya. Saat tuannya mulai membalikkan badannya, Grethel mengambil ayam tersebut dari api."Berdiri begitu lama dekat api," kata Grethel, "membuat kita menjadi panas dan kehausan, dan siapa yang tahu apabila mereka akan datang atau tidak! sementara ini saya akan turun ke ruang penyimpanan dan mengambil segelas minuman." Jadi dia lari kebawah, mengambil sebuah mug, dan berkata, "Ini dia!" dengan satu tegukan besar. "Satu minuman yang baik sepantasnya tidak disia-siakan," dia berkata lagi "dan tidak seharusnya berakhir dengan cepat," jadi dia mengambil tegukan yang besar kembali. Kemudian dia pergi keatas dan menaruh ayam tadi di panggangan api kembali, mengolesinya dengan mentega. Sekarang begitu mencium bau yang sangat sedap, Grethel berkata, "Saya harus tahu apakah rasanya memang seenak baunya," Dia mulai menjilati jarinya dan berkata lagi sendiri, "Ya.. ayam ini sangat sedap, sayang sekali bila tidak ada orang disini yang memakannya!"Jadi dia menengok keluar jendela untuk melihat apakah tuan dan tamunya sudah datang, tapi dia tidak melihat siapapun yang datang jadi dia kembali ke ayam tersebut. "Aduh, satu sayapnya mulai hangus!" dan berkata lagi, "Sebaiknya bagian itu saya makan." Jadia dia memotong sayap ayam panggang tersebut dan mulai memakannya, rasanya memang enak, kemudian dia berpikir,"Saya sebaiknya memotong sayap yang satunya lagi, agar tuanku tidak akan menyadari bahwa ayam panggang tersebut kehilangan sayap disebelah." Dan ketika kedua sayap telah dimakan, dia kembali melihat keluar jendela untuk mencari tuannya, tetapi masih belum juga ada yang datang."Siapa yang tahu, apakah mereka akan datang atau tidak? mungkin mereka bermalam di penginapan."Setelah berpikir sejenak, dia berkata lagi "Saya harus membuat diri saya senang, dan pertama kali saya harus minum minuman yang enak dan kemudian makan makanan yang lezat, semua hal ini tidak bisa disia-siakan." Jadia dia lari ke ruang penyimpanan dan mengambil minuman yang sangat besar, dan mulai memakan ayam tersebut dengan rasa kenikmatan yang besar. Ketika semua sudah selesai, dan tuannya masih belum datang, mata Grethel mengarah ke ayam yang satunya lagi, dan berkata, "Apa yang didapat oleh ayam yang satu, harus didapat pula oleh ayam yang lain, sungguh tidak adil apabila mereka tidak mendapat perlakuan yang sama; mungkin sambil minum saya bisa menyelesaikan ayam yang satunya lagi." Jadi dia meneguk minumannya kembali dan mulai memakan ayam yang satunya lagi.Tepat ketika dia sedang makan, dia mendengar tuannya datang. "Cepat Grethel," tuannya berteriak dari luar, "tamu tersebut sudah datang!" "Baik tuan," dia menjawab, "makanan tersebut sudah siap." Tuannya pergi ke meja makan dan mengambil pisau pemotong yang sudah disiapkan untuk memotong ayam dan mulai menajamkannya. Saat itu, tamu tersebut datang dan mengetuk pintu dengan halus. Grethel berlari keluar untuk melihat siapa yang datang, dan ketika dia berpapasan dengan tamu tersebut, dia meletakkan jarinya di bibir dan berkata, "Hush! cepat lari dari sini, jika tuan saya menangkapmu, ini akan membawa akibat yang buruk untuk kamu; dia mengundangmu untuk makan, tetapi sebenarnya dia ingin memotong telingamu! Coba dengar, dia sedang mengasah pisaunya!"Tamu tersebut, mendengarkan suara pisau yang diasah, berbalik pergi secepatnya. Dan Grethel berteriak ke tuannya, "Tamu tersebut telah pergi membawa sesuatu dari rumah ini!"."Apa yang terjadi, Grethel? apa maksud mu?" dia bertanya."Dia telah pergi dan membawa lari dua buah ayam yang telah saya siapkan tadi.""Itu adalah sifat yang buruk!" kata tuannya, dia merasa sayang pada ayam panggang tersebut; "dia mungkin mau menyisakan satu untuk saya makan." Dan dia memanggil tamunya dan menyuruhnya untuk berhenti, tetapi tamu tersebut seolah-olah tidak mendengarnya; kemudian tuannya tersebut mulai berlari mengejar tamunya dengan pisau masih ditangan dan berteriak,"hanya satu! hanya satu!" dia bermaksud agar tamu tersebut setidak-tidaknya memberikan dia satu ayam panggang dan tidak membawa kedua-duanya, tetapi tamu tersebut mengira bahwa dia menginginkan satu telinganya, jadi dia berlari semakin kencang menuju kerumahnya sendiri.
Orang Sakit dan Petugas Pemadam Kebakaran
Pernah ada sebuah rumah tua di sudut kota yang suatu malam dilalap api. Asap tebal membumbung ke langit, dan suara kayu terbakar bercampur dengan teriakan orang-orang yang meminta tolong. Di dalam salah satu kamar rumah itu, terbaring seorang pria yang sedang sakit keras. Tubuhnya lemah, kakinya tak mampu digerakkan, dan napasnya tersengal-sengal.Ketika seorang petugas pemadam kebakaran berhasil menerobos masuk ke kamar itu, sang pria justru tersenyum tipis dan berkata dengan suara pelan, “Tidak usah pedulikan saya. Selamatkanlah orang yang sehat terlebih dahulu.”Petugas itu terdiam sejenak. Api semakin mendekat, panasnya terasa menyengat kulit. “Bisakah Anda memberi tahu saya mengapa Anda berkata demikian?” tanyanya sambil tetap bersiaga.“Saya rasa itu pilihan yang paling baik dan adil,” jawab si Orang Sakit. “Orang yang kuat dan sehat bisa bekerja, bisa menolong orang lain, dan memberi manfaat lebih besar bagi dunia ini. Saya hanyalah beban.”Petugas pemadam kebakaran menatapnya dalam-dalam. Ia lalu bertanya, “Menurut Anda, apa sebenarnya tugas dan jasa orang yang kuat dan sehat?”Orang Sakit terdiam sejenak, lalu menjawab lirih, “Tugas orang yang lebih kuat adalah membantu orang yang lemah.”Petugas itu tersenyum kecil, meski wajahnya dipenuhi jelaga. “Kalau begitu,” katanya, “bukankah justru Anda yang harus saya selamatkan terlebih dahulu?”Api kini mulai menjilat dinding kamar. Tanpa menunggu jawaban, petugas itu mengangkat tubuh si Orang Sakit ke pundaknya. “Saya mengerti Anda sedang sakit,” katanya tegas, “tapi saya tidak mengerti mengapa Anda meremehkan nilai hidup Anda sendiri.”Dengan susah payah, ia membawa pria itu keluar dari rumah yang hampir roboh. Beberapa menit kemudian, rumah itu pun runtuh sepenuhnya.Di luar, si Orang Sakit terbatuk-batuk, namun air matanya jatuh bukan karena asap—melainkan karena kesadaran baru yang muncul di hatinya. Ia akhirnya mengerti bahwa hidupnya tetap berharga, bukan karena seberapa banyak tenaga yang ia miliki, tetapi karena ia adalah manusia.Petugas pemadam kebakaran berdiri dan berkata pelan, “Nilai seseorang tidak ditentukan oleh kekuatannya, tetapi oleh kemanusiaannya. Dan kekuatan sejati ada untuk melindungi, bukan untuk membandingkan.”Sejak hari itu, si Orang Sakit tidak lagi menganggap dirinya beban. Meski tubuhnya lemah, ia belajar memberi kekuatan dengan cara lain: lewat kata-kata, kebijaksanaan, dan empati.
Serigala dan Anak Kambing yang Berhati-hati
Setelah sang Serigala pergi dan hutan kembali sunyi, anak kambing menutup rapat jendela dan pintu. Ia menarik napas panjang, jantungnya masih berdebar kencang. Untuk menenangkan diri, ia duduk di kursi kecil dekat perapian sambil memeluk lututnya.“Nyaris saja,” gumamnya. “Kalau aku hanya percaya pada kata sandi, mungkin sekarang aku sudah celaka.”Tak lama kemudian, hujan gerimis mulai turun. Suara tetesan air di atap membuat rumah terasa sepi, tetapi anak kambing tetap berusaha waspada. Ia berkeliling rumah, memastikan semua pintu terkunci, dan bahkan menaruh kursi di balik pintu sebagai pengaman tambahan—seperti yang pernah diajarkan induknya.Di tengah kesunyian itu, terdengar ketukan lagi di pintu.Tok… tok… tok…Anak kambing terkejut, namun kali ini ia tidak panik. Ia berdiri dengan tenang dan berkata dari balik pintu, “Siapa di luar?”Suara lembut menjawab, “Aku tetangga kita, Kambing Tua dari seberang bukit. Aku ingin menitipkan sayuran untuk ibumu.”Anak kambing teringat pesan induknya: jangan pernah langsung percaya. “Maaf,” katanya sopan, “bisakah kau menyebutkan kata sandi yang diajarkan ibuku?”“Kata sandinya: Serigala adalah musuh kita!” jawab suara itu.Namun anak kambing tidak langsung membuka pintu. Ia mengintip lewat celah kecil dan melihat tapak kaki di luar. Kali ini benar—itu tapak kaki kambing, bulat dan kecil, bukan runcing seperti serigala. Barulah ia membuka pintu sedikit, cukup untuk memastikan semuanya aman.Ternyata benar, Kambing Tua tersenyum ramah sambil membawa keranjang sayuran segar. “Kau anak yang sangat cerdas dan berhati-hati,” katanya. “Tidak semua orang seusiamu mau memeriksa dua kali.”Anak kambing tersenyum bangga.Ketika sore tiba, induk kambing pulang dari pasar. Anak kambing segera menceritakan semua kejadian hari itu. Sang induk memeluk anaknya dengan penuh haru.“Ibu sangat bangga padamu,” katanya. “Kepintaran saja tidak cukup. Kehati-hatianlah yang menyelamatkanmu.”Sejak hari itu, anak kambing semakin memahami bahwa di dunia ini tidak semua yang terdengar benar itu aman, dan tidak semua yang terlihat ramah itu bisa dipercaya. Ia belajar bahwa memeriksa, berpikir, dan tidak terburu-buru adalah kunci untuk melindungi diri.Dan jauh di dalam hutan, sang Serigala hanya bisa menyesali kegagalannya, sementara rumah kecil itu tetap aman dan hangat.
Putri Salju dan Tujuh Kurcaci (Snow White)
Di suatu pertengahan musim dingin, ketika salju berjatuhan dari langit seperti bulu, seorang ratu duduk menjahit di dekat jendela. Rangka kayu yang digunakan untuk membordir terbuat dari kayu ebony yang hitam pekat. Sambil membordir, sang Ratu menatap salju yang turun dan tanpa sengaja jarinya tertusuk oleh jarum sehingga tiga tetes darahnya jatuh membasahi salju. Saat ia melihat betapa terang warna merahnya, ia berkata kepada dirinya sendiri, "Saya berharap mempunyai anak yang putih seperti salju, merah seperti darah, dan hitam seperti kayu ebony!".Tidak lama setelah itu, sang Ratu melahirkan seorang putri yang kulitnya putih seputih salju, bibirnya merah semerah darah, dan rambutnya hitam sehitam kayu ebony , dan diberinya nama Putri Salju. Saat sang Putri lahir, sang Ratu pun meninggal dunia.Setelah setahun berlalu, sang Raja menikah kembali dengan seorang wanita yang sangat cantik, tetapi angkuh dan tidak senang apabila ada yang melebihi kecantikannya. Sang Ratu yang baru memiliki sebuah cermin ajaib, di mana sang Ratu sering berdiri memandang ke dalam cermin dan berkata:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Dan sang Cermin selalu menjawab, "Anda adalah yang tercantik dari semuanya".Dan sang Ratu pun merasa puas, karena tahu bahwa Cermin ajaibnya tidak pernah berkata bohong.Putri Salju sekarang tumbuh makin lama makin cantik, dan saat ia dewasa, kecantikannya jauh melebihi kecantikan sang Ratu sendiri. Sehingga suatu hari ketika sang Ratu bertanya kepada cerminnya:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Sang Cermin menjawab, "Ratu, anda cantik, tetapi Putri Salju lebih cantik dari anda."Sang Ratu menjadi terkejut dan warna mukanya menjadi kuning lalu hijau oleh rasa cemburu, dan semenjak saat itu, ia berbalik membenci Putri Salju. Semakin lama, rasa cemburunya bertambah besar, hingga dia tidak memiliki kedamaian lagi. Ia lalu memerintahkan seorang pemburu untuk membinasakan Putri Salju."Bawalah Putri Salju ke suatu hutan, sehingga saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Kamu harus membinasakannya dan membawa hatinya sebagai bukti kepadaku.Sang pemburu setuju, membawa Putri Salju ke suatu hutan; akan tetapi saat ia menarik pedangnya, Putri Salju menangis, dan berkata:"Wahai, pemburu, janganlah membunuhku, saya akan pergi dan masuk ke dalam hutan liar, dan tidak akan kembali lagi."Pemburu yang menaruh rasa kasihan, berkata:"Pergilah kalau begitu, putri yang malang;" karena sang Pemburu berpikir bahwa binatang liar di hutan akan memangsa Putri Salju, dan saat ia melepaskan Putri Salju, hatinya menjadi lebih ringan seolah-olah terbebas dari gencetan batu yang berat. Saat itu juga dilihatnya seekor babi hutan berlalu, dan sang Pemburu menangkap babi hutan tersebut lalu mengeluarkan hatinya untuk dibawa ke sang Ratu sebagai bukti.Putri Salju yang sekarang berada dalam hutan liar, merasa ketakutan yang luar biasa dan tidak tahu harus mengambil tindakan apa saat ketakutan melanda. Kemudian dia mulai berlari, berlari di atas batu-batuan yang tajam dan berlari menembus semak-semak yang berduri, dan binatang liar pun mengerjarnya, tetapi tidak untuk menyakiti Putri Salju. Ia berlari selama kakinya mampu membawa ia pergi, dan saat malam hampir tiba, ia tiba di sebuah rumah kecil. Putri Salju pun masuk ke dalam untuk beristirahat. Segala sesuatu yang berada di dalam rumah, berukuran sangat kecil, tetapi indah dan bersih. Di rumah tersebut terdapat bangku dan meja yang di alas dengan taplak putih, dan di atasnya terdapat tujuh buah piring, pisau makan, garpu dan cangkir minum. Di dekat dinding, terlihat tujuh ranjang tidur kecil, saling bersebelahan, dan dilapisi dengan seprei putih juga. Putri Salju menjadi sangat lapar dan haus, makan dari tiap-tiap piring sedikit bubur dan roti, dan minum sedikit dari tiap-tiap cangkir, agar ia tidak menghabiskan satu piring saja. Akhirnya Putri Salju merasa lelah dan membaringkan dirinya di satu ranjang, tetapi ranjang tersebut ada yang terlalu pendek, ada yang terlalu panjang, untungnya, ranjang yang ke-tujuh sangat sesuai dengan tinggi badannya; dan ia pun tertidur di tempat tidur tersebut.Saat malam tiba, pemilik rumah pulang ke rumah dan mereka adalah tujuh orang kurcaci yang pekerjaannya menggali terowongan bawah tanah di pegunungan. Saat mereka menyalakan tujuh lilin yang menerangi seluruh rumah, mereka sadar bahwa ada orang yang telah masuk ke dalam rumah tersebut karena beberapa hal telah berpindah tempat, tidak seperti saat mereka meninggalkan rumah.Yang pertama berkata, "Siapa yang telah duduk di kursi kecilku?"Yang kedua berkata, "Siapa yang telah makan dari piring kecilku?"Yang ketiga berkata, "Siapa yang mengambil roti kecilku?"Yang keempat berkata, "Siapa yang telah memakan buburku?"Yang kelima berkata, "Siapa yang telah menggunakan garpuku?"Yang keenam berkata, "Siapa yang telah memotong dengan pisauku?"Yang ketujuh berkata, "Siapa yang telah minum dari cangkirku?"Kemudian yang pertama, melihat ke sekeliling rumah dan melihat tanda-tanda bahwa kasurnya telah ditiduri, berteriak, "Siapa yang telah tidur di ranjangku?"Dan saat yang lainnya juga datang, mereka berkata, "Seseorang juga telah tidur di tempat tidurku!"Ketika kurcaci yang ketujuh melihat ranjangnya, dia melihat Putri Salju yang tertidur di sana, kemudian dia menyampaikan ke kurcaci lain, yang datang tergesa-gesa untuk melihat Putri Salju, dan dalam keterkejutan mereka, mereka masing-masing mengangkat lilinnya untuk melihat Putri Salju dengan lebih jelas."Ya Tuhan! kata mereka, "siapakah putri yang cantik ini?" dan karena mereka gembira melihat Putri Salju, mereka tidak tega untuk membangunkannya. Kurcaci yang ketujuh terpaksa tidur bergantian dengan teman-temannya, setiap satu jam, di tiap-tiap ranjang temannya sampai malam berlalu.Menjelang pagi, ketika Putri Salju terbangun dan melihat ketujuh kurcaci, Putri Salju menjadi ketakutan, tetapi mereka terlihat bersahabat dan bahkan menanyakan namanya dan bagaimana dia bisa tiba di rumah mereka. Putri Salju pun bercerita bagaimana ibunya berharap agar dia meninggal, bagaimana sang Pemburu membiarkannya hidup, bagaimana ia lari sepanjang hari, hingga tiba ke rumah mereka.Para kurcaci kemudian berkata, "Jika kamu mau membersihkan rumah, memasak, mencuci, merapihkan tempat tidur, menjahit, dan mengatur semuanya agar tetap rapih dan bersih, kamu bisa tinggal di sini, dan kamu tidak akan kekurangan apapun.""Saya sangat setuju," katan Putri Salu, dan ia pun tinggal di rumah tersebut sambil mengatur rumah. Pada pagi hari para kurcaci ke gunung untuk menggali emas, pada malam hari saat mereka pulang, mereka telah disiapkan makan malam. Setiap Putri Salju ditinggal sendiri, para kurcaci sering memberi nasehat:"Berhati-hatilah pada ibu tiri mu, dia akan tahu bahwa kamu ada di sini. Jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam rumah."Ratu yang telah melihat bukti kematian Putri Salju yang berupa hati, yang dibawa oleh pemburu, menjadi tenang, berdiri di depan cermin dan berkata:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Dan sang Cermin menjawab, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."Ratu menjadi terkejut saat mendengarkannya, dan ia akhirnya tahu bahwa sang Pemburu telah menipunya, dan Putri Salju masih hidup. Ia pun berpikir keras untuk menghabisi Putri Salu, karena selama ia bukanlah wanita tercantik diantara semua, rasa cemburunya tidak akan bisa membuat ia bisa beristirahat dengan tenang. Akhirnya ia pun mendapatkan rencana, ia menyamarkan wajahnya dan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh wanita tua agar tidak ada yang bisa mengenalinya. Dalam penyamarannya, ia melalui tujuh gunung hingga akhirnya tiba di rumah milik tujuh kurcaci. Ia pun mengetuk pintu dan berkata:"Barang bagus untuk dijual! barang bagus untuk dijual!"Putri Salju mengintip dari jendela dan menjawab:"Selamat siang, apa yang anda jual?""Barang bagus," katanya, "Pita berbagai macam warna" dan dia kemudian menyerahkan sebuah pita yang terbuat dari sutera."Saya tidak perlu takut untuk membiarkan wanita tua ini masuk," pikir Putri Salju, lalu ia pun membuka pintu dan membeli pita yang indah."Betapa cantiknya kamu, anakku!" kata wanita tua, "kemarilah dan biarkan saya membantu kamu untuk memakaikan pita ini."Putri Salju yang tidak curiga, berdiri di depannya dan membiarkan wanita tua itu memasangkan pita untuknya, tetapi wanita tua itu dengan cepat mencekik Putri Salju dengan pita hingga Putri Salju jatuh dan seolah-olah meninggal dunia."Sekarang saatnya kamu berhenti sebagai wanita tercantik," kata wanita tua sambil berlalu pergi.Tidak lama setelah itu, menjelang malam, para kurcaci pulang ke rumah, dan mereka semua terkejut melihat Putri Salu terbaring di tanah, tidak bergerak; mereka mengangkatnya dan saat mereka melihat pita yang melilit leher Putri Salju, mereka memotongnya dan saat itu Putri Salju bernapas kembali. Saat kurcaci mendengar cerita dari Putri Salju, mereka berkata,"Wanita tua yang menjadi penjual keliling, pastilah tidak lain dari ratu yang jahat, kamu harus berhati-hati saat kami tidak berada di sini!"Ketika ratu yang jahat tiba di rumah dan bertanya kepada sang Cermin:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Jawabannya sama dengan sebelumnya, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."Saat mendengar jawaban tersebut, ia menjadi terkejut karena tahu bahwa Putri Salju masih hidup."Sekarang, saya harus memikirkan cara lain untuk membinasakan Putri Salju." Dan dengan sihirnya, ia membuat sisir yang mengandung racun. Kemudian dia menyamar menjadi seorang perempuan tua yang lain. Lalu pergi menyeberangi tujuh gunung dan datang ke rumah tujuh kurcaci. Ia mengetuk pintu dan berkata,"Barang bagus untuk dijual! barang bagus untuk dijual!"Putri Salju melihat keluar dan berkata,"Pergilah, Saya tidak akan membiarkan siapapun masuk.""Tapi kamu tidak dilarang untuk melihat-lihat," kata si wanita tua sambil mengeluarkan sisir beracun dan memegangnya. Sisir tersebut sangat menggoda Putri Salju sehingga ia akhirnya membuka pintu dan membeli sisir itu, dan kemudian wanita tua itu berkata:"Sekarang, rambutmu harus disisir dengan benar."Putri Salju yang malang tidak berpikir akan adanya mara-bahaya, membiarkan wanita itu menyisir rambutnya, dan tidak lama kemudian, sisir pada racun mulai bekerja dan Putri Salju pun terjatuh tanpa daya."Ini adalah akhir bagimu," kata si wanita tua sambil berlalu. Untungnya hari sudah hampir malam dan para kurcaci pulang tidak lama setelah kejadian itu. Saat mereka melihat Putri Salju terbaring di tanah seperti telah meninggal, mereka langsung berpikir bahwa ini adalah perbuatan ibu tiri yang jahat. Secepatnya mereka menarik sisir yang masih melekat di rambut Putri Salju dan saat itupun Putri Salju terbangun, lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Para kurcaci memperingatkan ia untuk lebih berhati-hati lagi dan jangan pernah membiarkan orang masuk.Saat ratu tiba di rumah, ia berdiri di depan cermin dan berkata,"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Jawabannya sama dengan sebelumnya, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."Ketika ratu mendengar ini, ia menjadi gemetar karena marah, "Putri Salju harus mati, walaupun saya juga harus mati!" Lalu ia masuk ke kamar rahasianya dan di sana ia membuat sebuah apel racun. Apel yang cantik dan menggiurkan, berwarna putih dan merah. Siapapun yang melihatnya pasti tergiur dan siapapun yang memakannya walaupun sedikit, akan mati keracunan. Saat apel itu telah siap, ia pun menyamar kembali dan berpakaian seperti wanita petani, lalu ia menyeberangi tujuh gunung di mana tujuh kurcaci tinggal. Dan ketika ia mengetuk pintu, Putri Salju melongokkan kepala melalui jendela dan berkata,"Saya tidak berani membiarkan siapapun masuk, tujuh kurcaci sudah melarang saya.""Baiklah," kata si wanita, "Saya hanya ingin memberikan sebuah apel ini kepadamu.""Tidak," kata Putri Salju, "Saya tidak berani mengambil apapun.""Apakah kamu takut akan racun?" tanya si wanita, "lihatlah, saya akan membelah apel ini menjadi dua bagian, kamu akan mendapatkan bagian yang berwarna merah, dan saya bagian yang putih."Apel tersebut dibuat dengan cerdiknya, sehingga bagian yang beracun adalah bagian yang berwarna merah. Putri Salju menjadi tergiur akan kecantikan apel itu, dan ketika ia melihat si wanita petani memakan apel bagiannya, Putri Salju menjadi tidak tahan lagi, ia mengulurkan tangannya keluar dan mengambil bagian apel yang beracun. Tidak lama setelah ia memakan apel tersebut, ia pun terjatuh dan sepertinya meninggal. Sang Ratu jahat, tertawa keras dan berkata,"Putih seperti salju, merah seperti darah, hitam seperti ebony! kali ini, kurcaci takkan dapat menghidupkan kamu kembali."Lalu ia pun pulang dan bertanya kepada cerminnya,"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Cermin menjawab, "Anda adalah yang tercantik dari semuanya".Hati ratu yang tadinya penuh dengan kecemburuan, akhirnya menjadi tenang dan bahagia.Para kurcaci, saat pulang di malam hari, menemukan Putri Salju terbaring di tanah, dan tak ada nafas lagi yang keluar dari hidungnya. Mereka mengangkatnya, mencari-cari racun yang membunuh Putri Salju, memotong pitanya, menyisir rambutnya, mencucinya dengan air dan anggur, tetapi semua sia-sia, putri malang itu telah meninggal. Mereka akhirnya menaruh Putri Salju dalam sebuah peti, dan mereka semua duduk mengelilinginya, menangisi kematiannya selama tiga hari penuh. Walaupun meninggal, Putri salju terlihat seolah-olah masih hidup dengan pipinya yang merona. Para kurcaci kemudian berkata,"Kita tidak akan menguburnya di tanah yang gelap." Lalu merekapun membuat peti yang terbuat dari gelas yang bening sehingga mereka dapat melihat Putri Salju dari segala sisi. Putri Salju dibaringkan di peti tersebut, dan di peti itu ditulislah nama Putri Salju dengan tulisan emas, beserta kisah bahwa ia adalah putri seorang raja. Kemudian mereka meletakkan peti itu di atas gunung, dan salah satu dari mereka selalu tinggal untuk mengawasinya. Burung-burung pun datang berkunjung dan turut berduka, yang datang pertama adalah burung hantu, lalu burung gagak, lalu seekor burung merpati.Untuk beberapa lama, Putri Salju terbaring di peti gelas itu dan tidak pernah berubah, terlihat seolah-olah tidur. Ia masih tetap seputih salju, semerah darah dan rambutnya sehitam ebony. Suatu ketika seorang pangeran lewat di hutan yang menuju ke rumah kurcaci. Saat ia melihat peti di puncak gunung beserta Putri Salju yang cantik di dalamnya, ia menjadi jatuh cinta, dan setelah ia membaca tulisan yang ada pada peti itu. Ia berkata kepada para kurcaci,"Biarkan saya memiliki peti beserta Putri Salju ini, saya akan memberikan apapun yang kalian minta."Tetapi kurcaci menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berpisah dengan Putri Salju walaupun dibayar dengan emas yang ada di seluruh dunia. Tetapi sang Pangeran berkata,"Saya memintanya dengan amat sangat, karena saya tidak akan bisa hidup tanpa melihat Putri Salju; Jika kalian setuju, saya akan serta merta membawa kalian semua dan menganggap kalian seperti saudaraku sendiri."Saat sang Pangeran berbicara dengan sungguh hati, para kurcaci menjadi iba dan memberikan sang Pangeran peti yang berisikan Putri Salju, dan sang Pangeran pun memanggil pelayan-pelayannya untuk mengangkat peti tersebut ke istana. Di perjalanan, seorang pelayan terantuk pada semak-semak sehingga peti yang diangkatnya menjadi terguncang dan sedikit miring. Saat itulah apel beracun yang ada pada kerongkongan Putri Salju, keluar dari mulutnya. Putri Salju membuka matanya dan membuka penutup peti, turun dan berdiri dalam keadaan sehat-walafiat."Oh, dimanakah saya berada?" tanyanya. Sang Pangeran secepatnya menjawab dengan hati riang, "Kamu aman di dekatku," dan menceritakan semua yang terjadi. Sang Pangeran lalu berkata lagi,"Saya lebih memilih kamu dibandingkan dengan apapun yang ditawarkan oleh dunia; ikutlah bersama saya menuju istana ayahku dan jadilah pengantinku."Putri Salju yang baik hati, ikut bersama pangeran dan direncanakanlah pesta perkawinan yang meriah untuk mereka berdua.Ibu tiri Putri Salju juga ikut diundang menghadiri pesta dan saat berhias di cermin, ia pun bertanya pada cermin ajaibnya:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Cermin menjawab, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Pengantin yang baru ini seribu kali lebih cantik."Sang Ratu menjadi marah dan mengutuk karena kecewa, ia hampir saja membatalkan kehadirannya di pesta pernikahan Putri Salju, tetapi rasa penasarannya membuat ia tetap pergi. Saat ia melihat pengantin wanita, ia menjadi terkejut karena pengantin wanita tersebut tidak lain adalah Putri Salju. Kemarahan serta ketakutan bercampur aduk menjadi satu dan saat itu juga, sang Ratu yang jahat tersedak karena marahnya, terjatuh dan meninggal, sedangkan Putri Salju dan pangeran, hidup bahagia selama-lamanya.
Urashima Taro dan Penyu Laut
Urashima Taro, yang dalam bahasa Jepang berarti "Anak laki-laki dari pulau," adalah anak satu-satunya dan merupakan kesayangan dari seorang nelayan tua dan istrinya.Dia sangat baik, muda dan kuat, dia dapat berlayar dengan perahu jauh lebih pandai dari orang-orang yang tinggal di tepi pantai rumahnya. Dia sering berlayar jauh ke tengah laut, dimana para tetangganya sering memperingati orangtuanya bahwa mungkin suatu saat dia akan pergi terlalu jauh ke laut dan tidak pernah kembali lagi.Orangtuanya tahu akan hal ini, bagaimanpun juga, mereka mengerti bahwa anaknya sangat pandai berlayar, dan mereka tidak pernah terlalu mengkuatirkannya. Bahkan bila Urashima pulang lebih lambat dari yang diharapkan, mereka selalu menunggu kedatangannya tanpa rasa cemas. Mereka mencintai Urashima lebih dari hidup mereka sendiri, dan bangga bahwa dia sangat berani dan lebih kuat dari anak laki-laki tetangganya.Suatu pagi, Urashima Taro pergi untuk mengambil tangkapan di jaringnya, seperti yang ditebarkannya kemarin malam. Di salah satu jaringnya, diantara ikan yang tertangkap, dia menemukan seekor penyu kecil yang ikut terjerat. Penyu itu di ambilnya dan diletakkannya di dalam perahu sendiri, disimpannya di tempat yang aman, hingga dia dapat membawanya pulang ke rumah. Tetapi dengan kagum, Urashima mendengarkan penyu itu memohon dengan suara yang sangat lirih. "Apa gunanya saya bagi kamu?" tanya penyu itu. "Saya terlalu kecil untuk dimakan, dan terlalu muda hingga butuh waktu yang lama hingga saya menjadi besar. Kasihanilah saya dan kembalikan saya ke laut, karena saya tidak ingin mati." Urashima Taro yang baik hati menaruh belas kasihan paa penyu kecil yang memohon sehingga dia melepaskan kembali penyu kecil itu ke laut.Beberapa tahun setelah kejadian ini, ketika Urashima Taro pergi berlayar terlalu jauh ke tengah laut, badai yang buruk datang menerpa perahunya dan memecahkan perahunya hingga berkeping-keping. Urashima adalah perenang yang sangat baik, dan dia terus berupaya agar dapat sampai ke tepi pantai dengan berenang, tetapi jarak antara dia dan pantai terlalu jauh dan saat itu laut sangat ganas, kekuatannya akhirnya melemah dan dia sudah mulai tenggelam perlahan-lahan. Saat dia menyerah dan berpikir bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya lagi, dia mendengar namanya dipanggil dan melihat penyu yang besar berenang ke arahnya.Naiklah kepunggungku," teriak penyu itu, "dan saya akan membawamu menuju daratan." Ketika Urashima Taro telah aman dan duduk di punggung penyu itu, penyu itu lalu melanjutkan kata-katanya: "Saya adalah penyu yang kamu lepas saat saya masih kecil dan tidak berdaya di jaring mu, dan saya sangat senang dapat membalas kebaikanmu."Sebelum mereka tiba di pantai, penyu itu bertanya kepada Urashima Taro bahwa apakah dia ingin melihat kehidupan yang indah yang tersembunyi di bawah laut. Nelayan muda itu membalas bahwa hal itu adalah pengalaman yang akan sangat menyenangkan. Dalam sekejap, mereka berdua menukik ke dalam air yang berwarna hijau. Urashima memegang erat-erat punggung penyu yang membawanya ke kedalaman yang tak terkira. Setelah tiga malam, mereka mencapai dasar laut, dan tiba di tempat yang sangat indah, penuh dengan emas dan kristal. Koral dan mutiara dan berbagai macam batu-batuan berharga membuat matanya menjadi berbinar-binar dan terkagum-kagum, dan apa yang ada di dalam istana tersebut lebih membuat dia terkagum lagi, diterangi dengan sisik-sisik ikan yang bersinar indah."Ini," kata penyu itu, "Ini adalah istana dewi laut. Saya adalah salah satu pelayan dari putri dewi laut."Penyu itu kemudian menyampaikan kedatangan Urashima Taro ke sang Putri, dan tidak lama kemudian dia kembali, membawa Urashima ke hadapan sang Putri. Putri dewi laut itu sangat cantik sehingga ketika sang Putri meminta agar Urashima mau tinggal di tempat itu, Urashima langsung menyetujuinya dengan gembira."Jangan tinggalkan saya, dan kamu akan selalu terlihat muda seperti sekarang, usia tua tidak akan pernah kamu alami," kata sang Putri.Begitulah akhirnya Urashima Taro tinggal di istana bawah laut bersama putri dari Dewi laut. Dia begitu gembira hingga tidak merasa bahwa waktu terus berlalu tanpa terasa. Berapa lama dia disana tak pernah disadarinya. Tetapi suatu hari, dia teringat kepada kedua orangtuanya; dia ingat bahwa orangtuanya mungkin merasa kehilangan dengan ketidakhadirannya. Semakin hari, keinginan untuk pulang terus datang dan bertambah kuat. Pada akhirnya, Urashima mengutarakan maksudnya kepada sang Putri bahwa dia harus pergi menjenguk orangtuanya. Sang Putri menangis sedih dan memohon agar Urashima tidak pergi."Jika kamu pergi, saya mungkin tidak akan melihatmu lagi," tangis sang Putri.Tetapi keinginan Urashima sangat kuat dan tidak dapat dibujuk lagi. Urashima sangat ingin melihat kedua orangtuanya sekali lagi dan berjanji akan pulang kembali ke istana itu dan tinggal bersama sang Putri selama-lamanya. Sang Putri akhirnya setuju dan memberikan sebuah kotak emas kepadanya dan berpesan agar kotak itu jangan pernah dibuka."Jika kamu mengindahkan kata-kataku," katanya kembali, "kamu mungkin masih dapat kembali kepadaku. Saat kamu siap, penyuku akan berada disana untuk membawamu, tetapi bila kamu lupa apa yang saya katakan kepadamu, Saya tidak akan pernah dapat menemui kamu lagi."Urashima Taro dengan bersemangat meyakinkan dia bahwa tidak ada satupun di dunia yang dapat memisahkan mereka, dan mengucapkan selamat tinggal. Dengan menunggangi punggung penyu, dengan cepat dia meninggalkan istana jauh dibelakang. Selama tiga hari tiga malam mereka berenang, dan akhirnya penyu itu tiba di tepi pantai dekat rumahnya yang dulu.Dengan bersemangat dia lari ke desa itu dan mencari semua teman-teman lamanya. Semua wajah terlihat asing baginya, bahkan rumahnya pun kelihatan berbeda. Anak-anak yang bermain di pinggir jalan dimana dia pernah tinggal, tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Dia berhenti di depan rumahnya, dengan hati berdebar-debar, dia mengetuk pintu rumah. Terdengar suara musik dari jendela atas dan seorang wanita yang asing baginya membukakan pintu. Wanita itu tidak bisa menjelaskan tentang orangtuanya dan bahkan tidak pernah mendengar nama kedua orangtuanya. Urashima lalu keluar dari rumah tersebut dan menanyai semua orang yang dijumpainya. Tetapi semua yang ditanyai hanya memandanginya dengan curiga. Akhirnya dia menuju ke tanah pekuburan di luar desa. Mencari-cari di antara kuburan yang ada, dan dengan cepat dia menemukan dirinya berdiri di dekat nama yang selama ini dicari-carinya. Tanggal pada batu nisan itu menunjukkan bahwa ayah dan ibunya meninggal tidak lama setelah dia berangkat; dan dia menemukan bahwa dia telah pergi dari rumah itu selama tiga ratus tahun. Dengan penuh kesedihan dia membungkuk untuk menghormati orangtuanya yang terakhir kali dan kembali menuju desanya. Di setiap langkah dia berharap bahwa dia akan terbangun dari mimpinya, tetapi orang-orang yang ditemui dan jalan yang dilalui adalah nyata.Kemudian dia teringat akan sang Putri dan kotak emas yang diberikan kepadanya. Dia berpikir bahwa mungkin saja sang Putri telah menyihirnya, dan kotak ini mempunyai jimat-jimat untuk mematahkan sihir itu. Dengan tidak sabar dia membuka kotak tersebut, dan seberkas asap berwarna ungu keluar meninggalkan kotak yang kosong. Dengan terkejut, dia tersadar melihat tangannya yang langsung menjadi tua dan gemetaran. dia menjadi sadar bahwa kotak tersebut berisi jimat yang menahan dirinya dari proses penuaan selama tiga ratus tahun, dan kotak itu telah kehilangan sihirnya. Dengan ketakutan, dia berlari ke tepi aliran air yang mengalir dari atas gunung, dan melihat bayangan dirinya yang terpantul di air itu adalah bayangan seseorang yang sangat tua.Dia kembali ke desa itu dengan ketakutan, dan tak ada satu orangpun yang mengenali dia sebagai anak muda yang kuat beberapa jam yang lalu. Dengan kelelahan, dia akhirnya mencapai tepi pantai, dimana dia duduk di atas sebuah batu dan memanggil penyu laut yang membawanya ke istana laut. Tetapi panggilannya sia-sia belaka, penyu itu tidak pernah muncul, dan akhirnya suaranya hilang di telan kematian.Sebelum kematiannya, orang-orang se-desa berkumpul di dekatnya dan mendengarkan ceritanya yang sangat aneh. Lama setelah kejadian itu, orang-orang desa menceritakan kepada anak-anaknya tentang seseorang yang sangat mencintai orangtuanya, meninggalkan istana bawah laut dan seorang Putri yang sangat cantik, dan orang itu bernama Urashima Taro.
Kakek Tua dan Cucunya
Dahulu kala, hiduplah seorang kakek yang sudah sangat tua. Usianya telah merenggut hampir seluruh kekuatan tubuhnya. Matanya menjadi rabun sehingga ia sulit melihat dengan jelas, pendengarannya hampir tuli, dan lututnya selalu gemetaran setiap kali ia berdiri atau berjalan. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat dan penuh usaha. Saat duduk di meja makan bersama keluarganya, tangannya yang lemah sering kali tidak mampu menggenggam sendok dengan kuat. Akibatnya, ia kerap menumpahkan kaldu dari sendoknya ke taplak meja, bahkan terkadang makanan itu menetes keluar dari mulutnya tanpa bisa ia cegah.Anaknya dan istri anaknya merasa sangat terganggu dengan keadaan tersebut. Mereka menganggap sang kakek sebagai beban dan merasa malu melihat perilakunya saat makan. Setiap kali sang kakek menumpahkan makanan, mereka saling bertukar pandang dengan wajah kesal. Keluhan dan desahan napas jengkel semakin sering terdengar, hingga akhirnya kesabaran mereka pun habis.Suatu hari, mereka memutuskan untuk tidak lagi membiarkan sang kakek makan bersama mereka di meja makan. Mereka memindahkannya ke sudut rumah yang dekat dengan dapur, jauh dari meja keluarga. Di sana, sang kakek harus makan sendirian dengan menggunakan mangkuk gerabah. Makanan yang diberikan pun selalu sedikit, sekadar agar ia tidak kelaparan, tanpa perhatian atau kehangatan sedikit pun.Setiap hari, sambil makan di sudut itu, sang kakek sering melirik ke arah meja makan keluarga. Ia melihat anaknya, menantunya, dan cucunya duduk bersama, berbincang, dan tertawa. Matanya pun berkaca-kaca, air mata menetes perlahan di pipinya yang keriput. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya diam, menerima perlakuan itu dengan hati yang sedih dan pasrah.Pada suatu malam, ketika tangannya yang gemetaran mencoba mengangkat mangkuk gerabah, ia kehilangan keseimbangan. Mangkuk itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai, dan pecah berhamburan. Suaranya membuat anak dan menantunya terkejut. Dengan wajah marah, mereka memarahi sang kakek karena dianggap ceroboh dan merepotkan. Namun, sang kakek tidak membela diri. Ia hanya menundukkan kepala dan menghela napas panjang, seakan menyimpan luka yang tak mampu ia ucapkan dengan kata-kata.Keesokan harinya, anak dan istrinya membelikan sebuah mangkuk kayu yang murah. Mereka berpikir mangkuk kayu tidak akan pecah jika jatuh lagi. Tanpa rasa bersalah, mereka memberikan mangkuk itu kepada sang kakek dan kembali melanjutkan hidup mereka seperti biasa.Beberapa hari kemudian, ketika keluarga itu sedang duduk makan di meja, cucu mereka yang masih kecil, berusia sekitar empat tahun, terlihat sibuk mengumpulkan potongan-potongan kayu di lantai. Ia menyusunnya dengan serius, seolah sedang membuat sesuatu yang penting.Ayahnya memperhatikan dan bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sana, Anakku?”Dengan polos, anak kecil itu menjawab, “Aku sedang membuat mangkuk kayu kecil.”“Mangkuk kayu untuk apa?” tanya sang ayah heran.Dengan wajah lugu dan suara ceria, si anak berkata, “Untuk ayah dan ibu. Nanti kalau aku sudah dewasa dan ayah serta ibu sudah tua, ayah dan ibu bisa makan pakai mangkuk ini.”Mendengar jawaban itu, sang ayah dan ibunya terdiam. Mereka saling berpandangan, dan kata-kata anak kecil itu terasa seperti petir yang menyambar hati mereka. Perlahan, rasa malu dan penyesalan memenuhi perasaan mereka. Air mata pun mengalir tanpa bisa mereka tahan.Saat itu juga, mereka menyadari kesalahan besar yang telah mereka lakukan. Mereka teringat bahwa sang kakek dahulu juga pernah merawat, mengasihi, dan membesarkan anaknya dengan penuh kesabaran. Tanpa menunda lagi, mereka bangkit dari meja, menghampiri sang kakek, dan mengajaknya kembali duduk bersama mereka.Sejak hari itu, sang kakek selalu makan di meja bersama keluarganya. Mereka memperlakukannya dengan lebih sabar dan penuh kasih. Tidak ada lagi keluhan ketika makanan tumpah, dan tidak ada lagi tatapan jengkel. Rumah itu kembali dipenuhi kehangatan dan rasa hormat.Dan dari kejadian itu, mereka belajar bahwa cara kita memperlakukan orang tua hari ini adalah cermin dari bagaimana kita akan diperlakukan di masa depan. Karena kasih sayang dan hormat kepada orang tua adalah warisan paling berharga yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita.