Zhifa hanya menatap kosong ponselnya. Sudah berbulan-bulan cowok yang menetap di hatinya itu menghilang. Memutuskan komunikasi mereka tanpa akhir yang jelas. Denis hanya hilang. Tidak terlihat lagi dihari-hari berikutnya.
Zhifa memilih mengambil ponselnya. Mengirim chat pada Indah, teman dekatnya yang dikenal dari media sosial.
Zhifa : Ndah ☹️
Indah : Kenapa lo, Fa ?
Zhifa : Kangen Denis 😭
Indah : Idih masih belum move on lo ya?
Zhifa : Kangen Denis 😭
Indah : Kan udah gue bilang, lo jangan baper ke dia. Mampus udah.
Zhifa : Ih kok jahat ☹️
Indah : Lo sih gue bilangin nggak mau. Ngeyel.
Zhifa meletakkan ponselnya tanpa membalas chat dari Indah. Ia cemberut kesal. Memang begitu hasilnya kalau curhat ke Indah, tidak akan mendukungnya jika mengenai tentang Denis.
"Ih Denis brengsek monyet babi! Kangen gue sama lo!" Zhifa memukul bonekanya seakan ia sedang memukul Denis.
Zhifa dan Denis memang hanya kenal di media sosial. Mereka berpacaranpun juga lewat media sosial. Panjang ceritanya bagaimana perkenalan awal mereka. Yang terpenting hampir dua bulan mereka pacaran secara online , Zhifa begitu nyaman bersama Denis. Ia bahkan tidak bisa menyukai cowok lain lagi selain cowok yang dikenalnya dari media sosial itu.
Zhifa pernah menyeritakan tentang Denis pada teman dekatnya di sekolah. Tetapi tanggapan mereka sungguh tidak sesuai dengan harapan Zhifa. Teman-temannya malah meledek dan menertawainya.
Gila lo ya bisa suka sama orang yang ketemu aja lo nggak pernah .
Itu tanggapan mereka. Zhifa merespon dengan cemberut. Selanjutnya teman-teman Zhifa hanya tertawa. Sejak saat itu Zhifa tidak mau lagi menyeritakan tentang Denis pada teman-teman sekolahnya. Hanya pada Indah. Meski respon Indah juga tidak begitu bagus, tapi setidaknya Indah sedikit mengerti.
Ting!
Zhifa tersentak begitu bunyi ponsel menghentikan lamunannya. Zhifa meraih ponselnya dan menatap heran layar ponsel. Telpon dari nomor yang tidak dikenal.
"Angkat nggak ya?" Zhifa ragu. Pasalnya cewek itu tidak suka mengangkat telpon dari nomor tidak jelas. Dulu saja ada yang iseng menelponnya entah siapa tapi lebih mirip seperti diteror. Akhinya Zhifa memblokir nomor itu hingga tidak bisa menghubunginya lagi.
Ponsel Zhifa berhenti berdering. Baru saja Zhifa menghela napas lega, ponselnya kembali berdering.
"Angkat aja kali ya. Kayaknya penting. Siapa tau abang yang mau ngantar paket," gumam Zhifa pada dirinya sendiri.
"Halo?" sapa Zhifa ragu saat mengangkat telpon.
" Halo, " balas orang itu. Zhifa mengernyit heran. Merasa tidak mengenal siapa orang dibalik suara itu. Atau lebih tepatnya ia lupa.
"Ini siapa?"
" Ini gue."
" Ha? Siapa? Gue lupa deh kayaknya. Maaf," ringis Zhifa merasa tidak enak. Ia memang sepelupa itu.
" Nggak inget gue sama sekali , Jipa ? "
Zhifa terbelalak kaget begitu mendengar panggilan itu. Yang memanggilnya Jipa hanya satu orang. Denis.
"Denis?" panggil Zhifa dengan suara bergetar. Akhirnya cowok itu kembali muncul, setelah sekian lama menghilang.
" Iya, Yang. Ini gue. Denis , " kekeh Denis disebrang sana. Mata Zhifa mulai berkaca-kaca. Denisnya kembali.
" Eets sebelum lo nangis, mending lo ke bandara dulu. Jemput pacar ganteng lo ini. "
"Bandara?"
" Iya Sayang. Bandara. Bandar udara di kota lo. "
"Lo di kota gue?"
" Duh banyak nanya bener pacar gue ini. Gue tau lo pasti kangen sama guekan? Ya udah sini cepet. Gue tunggu di bandara. Bye, Sayang."
Sambungan telepon mati. Zhifa bergegas bersiap untuk segera menyusul Denis ke bandara.
"Tan, Zhifa pergi dulu ya. Ada janji sama temen," pamit Zhifa pada Tantenya. Zhifa memang tinggal berbeda kota dari orang tuanya. Ia tinggal bersama keluarga Tantenya yang kebetulan berada di kota yang sama dengan universitasnya.
"Jangan kemalaman ya pulangnya," pesan sang Tante. Zhifa hanya mengangguk. Ia terlalu bersemangat menemui Denis hingga tidak terlalu mendengar pesan sang Tante. Dengan terburu ia menuju mobilnya dan mengendarai secepat ia bisa.
"Jangan macet please, jangan macet," rapal Zhifa berulang kali. Sayangnya keinginan Zhifa tidak terkabul. Ia terjebak kemacetan tengah kota karena ini keluar saat sedang jam makan siang seperti ini.
"Duh pake macet segala. Denis pasti nunggu lama." Zhifa mulai gusar. Jarak dari rumah tantenya ke bandara itu sudah lebih dari setengah jam. Apalagi dia terjebak macet seperti ini. Bisa lebih dari satu jam dia membuat Denis menunggu.
Zhifa mengotak-atik ponselnya. Ia berusaha menelpon Denis.
" Ya, Yang?"
"Lo masih di bandara? Gue kejebak macet nih," keluh Zhifa begitu mendengar suara Denis.
" Santai aja. Gue tungguin lo sampai lo datang. Lo kesini make apa? "
"Mobil. Gue bawa mobil."
" Ya udah. Jangan ngebut ya. Tetap perhatiin keselamatan lo. Nggak usah pikirin berapa lama gue nunggu. Gue bakal tetap nunggu lo ," kata Denis penuh perhatian. Mata Zhifa mulai berkaca-kaca. Meski selama berpacaran mereka tidak pernah bertemu dan Denis selalu bertingkah laku menyebalkan, tapi Denis sangat perhatian pada Zhifa. Cowok itu tidak suka Zhifa terlambat makan, tidur terlalu malam ataupun kelelahan. Perhatian sekali.
"Iya. Tunggu gue," balas Zhifa serak.
" See you soon, Sayang. Nggak sabar untuk ketemu lo. "
" Me too ," gumam Zhifa. Setelah itu sambungan telepon terputus. Zhifa kembali fokus pada jalanan di depannya. Ia harus selamat dan sampai secepat mungkin dihadapan Zhifa.
Satu jam kemudian, barulah Zhifa lepas dari kemacetan. Tidak butuh waktu lebih lama lagi, dalam waktu dua puluh menit, Zhifa sudah berada di parkiran bandara.
"Duh telpon Denis dulu," gumam Zhifa. Ia kembali menghubungi pacarnya itu. Eh apakah Denis masih bisa dikatakan sebagai pacarnya?
"Halo, Yang. Gue udah di bandara. Lo dimana?" Serbu Zhifa begitu Denis mengangkat panggilannya.
" Ets sabar, Sayang. Jangan buru-buru gitu. Gue di dekat pintu kedatangan. Gue make jaket levis biru muda sama bawa koper kecil warna hitam. Ingat jangan lari-lari kesini. Jalan aja. Gue nggak mau lo sampai jatuh, " peringat Denis. Mengingat Zhifa yang kadang ceroboh jika sedang terburu-buru.
"Iya. Jangan pindah kemana-mana ya. Gue jalan kesana." Zhifa mematikan sambungan telepon lalu berjalan cepat ke arah pintu kedatangan. Denis hanya menyuruhnya untuk tidak berlari bukan?
Begitu tiba di dekat pintu kedatangan, mata Zhifa liar mencari keadaan Denis. Keadaan bandara cukup padat siang ini hingga membuat Zhifa agak susah menemukan Denis.
"Gue telpon aja deh." Lalu Zhifa mencoba menelpon Denis. Selagi menunggu Denis mengangkat teleponnya, mata Zhifa tetap liar mencari keberadaan Denis. Lalu tiba-tiba penglihatannya berhenti di satu titik. Ke arah cowok yang berdiri tidak jauh di depannya, dengan posisi membelakanginya. Tepat disaat itu pula Denis mengangkat telponnya. Dan cowok itu juga sedang mengangkat telepon.
" Ya, Sayang. Lo dimana?"
"Tepat di belakang lo," lirih Zhifa. Denis segera berbalik dan tersenyum kecil. Sedangkan Zhifa, tubuh cewek itu tiba-tiba kaku. Akhirnya, akhirnya ia bertemu dengan cowok yang dikenalnya hanya dari media sosial saja.
Denis berjalan ke arah Zhifa. Meski ia belum pernah bertemu Zhifa sebelumnya, ia yakin cewek yang sedang menatapnya tanpa berkedip itu adalah Zhifa. Hatinya mampu merasakan desiran halus begitu melihat Zhifa. Ah, akhirnya...
"Hai." Denis berdiri dengan jarak selangkah di hadapan Zhifa. Cowok itu menunduk, karena perbedaan tingginya dengan Zhifa. Di mata Denis, Zhifa terlihat begitu mungil dan kecil. "Sampai kapan mau bengong liatin gue kayak gitu?"
"JAHAT." Tiba-tiba Zhifa menghambur memeluk Denis. Denis yang tidak siap hampir saja terjungkal kebelakang jika ia tidak segera menyeimbangkan dirinya. Tangannya terlepas dari pegangan koper, bergerak melilit tubuh mungil gadisnya.
Denis mulai mendengar suara tangisan Zhifa. Cowok itu makin mempererat pelukannya. Tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di bandara. " I'm so sorry ."
"Lo jahat, Den. Lo ninggalin gue gitu aja. Nggak ada kabar. Berbulan-bulan. Tapi sekarang, lo malah muncul dihadapan gue dengan senyum sialan lo itu. Gue benci sama lo," isak Zhifa. Ia memukul punggung Denis. Perasaannya saat ini campur aduk. Senang dan kesal dalam waktu bersamaan.
"Maaf, Fa. Gue tau kalau gue nyakitin lo. Tapi gue punya alasan. Gue nggak bermaksud ninggalin lo gitu aja," lirih Denis. Suaranya teredam dibalik helaian rambut Zhifa karena cowok itu menumpukan kepalanya di atas kepala Zhifa.
"Jelasin kalau gitu." Zhifa menjauhkan kepalanya dari dada Denis. Matanya menatap mata cowok pujaannya itu. "Lo nggak tau betapa bahagianya gue bisa ketemu lo."
"Gue juga. Bahkan lebih dari itu."
***
Zhifa dan Denis memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu karena perut Denis yang meronta meminta makan. Zhifa membawa Denis ke restoran yang berada di salah satu mall.
"Pesan apa?" Tanya Zhifa. Denis membolak balik buku menu dengan serius, seakan buku menu tersebut merupakan hal yang sangat penting. Senyum Zhifa mengembang melihat wajah cowok yang ia cintai itu. Akhirnya mereka bertemu. Akhirnya Denis kembali padanya.
" Chicken katsu, french fries, mac n cheese terus minumnya ice lemon tea ," jawab Denis kemudian. Zhifa terpana mendengar pesanan cowok itu yang lumayan banyak.
"Lo yakin mau makan semua?"
"Gue laper." Denis memamerkan senyum tengilnya. Zhifa hanya tersenyum lalu ikut memesan makanan ke pelayan yang berada di hadapan mereka.
"Saya pesan spaghetti carbonara sama milkshake strawberry ." Setelah itu si pelayan menyatat pesanan mereka lalu berlalu dari hadapan mereka berdua.
Lima belas menit kemudian, pelayan tadi kembali membawa pesanan mereka. Denis terlihat makan dengan lahap, membuat Zhifa tertawa melihat kelakuan pacarnya itu.
"Jadi, mau dimulai darimana?" tanya Denis tiba-tiba membuat Zhifa mengerutkan keningnya heran. Makanan mereka baru saja habis.
"Mulai apa?"
"Nggak penasaran gue kemana aja?" Denis menaikkan sebelah alisnya serta tersenyum jahil. Refleks Zhifa menyubit punggung tangan Denis. "Aw! Sakit, Yang."
"Suka banget senyum jail kayak gitu," gerutu Zhifa seraya berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Ntah kenapa hanya melihat senyum cowok itu, Zhifa merasa sangat bahagia.
"Ganteng ya gue senyum kayak gitu? Sampai merah nih pipinya." Tangan Denis terulur menyubit pipi Zhifa yang sedikit tembam.
"Ih sakit," cemberut Zhifa. Denis tergelak lalu mengelus pipi yang ia cubit tadi sayang.
"Uh kasian pacar gue kesakitan." Zhifa tersenyum malu mendengarnya. Pacar. Ya, ia masih pacar Denis.
"Ayo cerita. Kenapa lo ninggalin gue nggak ada kabar berbulan-bulan? Dikira enak apa ditinggal gitu aja. Nunggu nggak jelas, nggak pasti gini," gerutu Zhifa kesal. Tapi Denis tahu, cewek itu sedang menahan tangisnya agar tidak pecah dihadapan umum seperti ini.
" I''m so sorry . Gue tau gue salah. Gue pergi gitu aja. Nggak ngehubungin lo. Nggak bilang apa-apa. Padahal terakhir kali kita chat , gue bilang bakal setiakan? Gue emang sebrengsek itu, Fa. Nggak bisa nepatin apa yang gue janjiin ke lo. Tapi, makasih karena lo masih mau nunggu gue. Meski dengan semua ketidak jelasan ini," kata Denis. Cowok itu meraih tangan Zhifa untuk ia genggam. Lalu ia kecup sebentar.
"Gue sayang sama lo, banget. Gimana caranya gue bisa lupain lo gitu aja? Gue udah pernah nyoba. Tapi nggak pernah berhasil. Jadi yang bisa gue lakuin cuma nunggu dan... gue nggak munafik mau buka hati untuk cowok lain disaat lo di hati gue mulai memudar. Tapi sampai sekarang, gue belum bisa hapusin bahkan untuk mudarin sayang rasa sayang gue ke lo. Gimana gue mau pindah hati?" Suara Zhifa terdengar lirih. Denis segera berpindah posisi duduk disebelah gadisnya. Memeluk gadis kesayangannya erat tanpa peduli beberapa pengunjung mulai menatap mereka.
"Maafin gue. Salah gue bikin lo harus nunggu gue. Salah gue bikin lo sedih begini," bisik Denis di puncak kepala Zhifa.
"Kenapa lo lakuin ini ke gue?" Zhifa melepas pelukannya. Matanya menatap Denis dalam, dibalas hal serupa oleh cowok itu.
"Gue akan cerita. Semuanya. Terserah setelah ini lo mau respon gimana. Gue sadar ini salah gue, Fa."
"Cerita dulu. Gue nggak bakal ngerti kalau lo bilang kayak gitu aja," desak Zhifa. Denis terdiam. Dari awal keinginannya menyusul Zhifa ke kota ini, Denis memang berniat akan menyeritakan semuanya pada Zhifa. Ia hanya ingin jujur pada cewek yang menetap di hatinya hampir setahun ini. Tapi entah kenapa, disaat ia dihadapkan pada masanya, Denis merasa takut untuk mengatakannya. Takut Zhifa marah, bahkan meninggalkannya. Sungguh, Denis sudah berada di kota yang bahkan sekalipun belum pernah dia kunjungi. Hanya demi Zhifa.
"Awalnya, lo taukan kita baik-baik aja? Nggak ada masalah ataupun berantem? Palingan yang menghalangi itu kesibukan gue sama bengkel," kata Denis. Zhifa mengangguk kecil. Denis benar. Mereka merupakan pasangan yang cukup jarang bertengkar. Pernah sekali bertengkar, dan langsung putus. Tapi besoknya mereka sudah kembali bersama lagi.
"Nggak lama setelah chat terakhir kita itu. Gue mulai berpikiran buruk sama hubungan kita. Gue mikir, kenapa gue bisa sayang banget sama lo yang bahkan ketemu pun gue nggak pernah. Kenapa gue bisa nyaman sama lo hanya dari chat dan teleponan kita tiap hari? Kenapa gue nggak bisa ngerasain hal yang sama ke cewek lain, yang lebih nyata untuk gue, yang ada dihadapan gue? Ditambah, teman-teman gue yang ikut meracuni pikiran gue. Bilang kalau hubungan kita nggak logis. Terlalu aneh dan nggak nyata. Karena itu... karena itu gue jauhin lo. Gue pergi gitu aja tanpa pamit. Gue takut kalau gue pamit ke lo, semua rencana gue gagal total. Gue tau gue brengsek, Fa. Gue mau lupain lo. Gue mau dapat hubungan yang lebih nyata dan jelas. Gue mau lakuin sesuai yang teman-teman gue bilang. Tapi hasilnya lo tau apa? Gue nggak berhasil. Nggak ada seharipun gue lewatin tanpa mikirin lo. Gue bahkan udah berusaha pacaran sama cewek lain. Tapi rasanya hambar. Nggak sama kayak waktu gue sama lo. Berbulan-bulan gue lakuin segala cara buat hapusin lo dari hati gue. Gue bahkan udah macarin lima belas cewek cuma buat buang rasa sayang gue ke lo. Tapi tetap nggak berhasil. Akhirnya gue sadar. Kalau yang gue lakuin selama ini bodoh. Gue udah bikin kesalahan. Gue nggak akan pernah bisa ngapusin lo dari hati gue. Lalu kenapa gue masih berusaha? Harusnya yang gue lakuin dari dulu itu, ini. Nemuin lo secara langsung, bikin hubungan ini makin nyata. Nggak masalah jika nantinya kita akan ldr . Yang penting gue udah liat secara nyata, gimana gadis kesayangan gue ini.
"Gue kesini itu modal nekat dan sayang ke lo doang. Gue bahkan nggak mikir resiko kalau gue nggak bisa sama sekali ngehubungin lo, ketemu lo saat gue udah menginjakkan kaki di kota ini. Yang gue pikirin, gue harus nyusul lo. Segera. Bahkan gue rela untuk nyari lo ke seluruh penjuru kota."
Mata Zhifa berkaca-kaca mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Denis. Ia marah. Tentu saja. Tapi dibalik itu, ada rasa bahagia yang ntah datang darimana. Jika berpikir logis, hubungan mereka yang dulu hanya lewat ponsel, memang sungguh seperti mainan. Manusia mana yang tahan dengan hubungan sebatas ponsel? Semua orang pasti ingin bertemu dengan pacarnya, saling menghabiskan waktu bersama. Zhifa cukup memaklumi pemikiran Denis yang seperti itu. Walau rasa kesal dan marah itu masih ada karena Denis meninggalkannya begitu saja.
"Harusnya ini yang lo lakuin sebelum ninggalin gue, Den. Kasih gue penjelasan. Setidaknya gue nggak nunggu lo kayak orang bodoh karena nyatanya lo sendiri berusaha lupain gue. Tapi gue cukup ngerti. Nggak papa," lirih Zhifa serak. Denis segera mengenggam tangan gadis itu.
"Maafin gue. Gue tau gue bodoh. Gue tau gue salah. Gue mohon, maafin gue. Gue sekarang sadar sama perasaan gue, Fa. Gue nggak mau lepasin lo. Gue mau sama lo. Oleh karena itu, gue ada disini. Mau buktiin kesungguhan gue ke lo. I love you, so much. Gue mau lo tetap jadi pacar gue, gadis kesayangan gue. Lo masih maukan jalin hubungan sama cowok brengsek ini?" Denis menatap Zhifa penuh harap. Dari matanya terpancar kecemasan. Ia takut Zhifa menolaknya, tidak ingin bersamanya lagi. Hal ini bukan karena kedatangannya yang sia-sia jika Zhifa menolak, tapi betapa menyesalnya ia meninggalkan Zhifa dulu hingga cewek itu tidak mau lagi kembali bersamanya.
"Gue sebenarnya mau nolak. Gue sebenarnya nggak mau. Tapi... gue masih cinta sama lo, Den. Jadi gimana caranya gue bisa nolak?" Senyuman Denis terbit. Ia segera membawa Zhifa masuk ke dalaman pelukannya.
"Makasih. Makasih Sayang. Gue janji akan berusaha nggak nyakitin lo lagi. Gue nggak bakal raguin hubungan kita lagi." Denis mencium puncak kepala Zhifa lama. Cowok itu senang, sangat. Begitupun Zhifa. Akhirnya penantiannya terbayar tidak sia-sia. Denisnya kembali. Bahkan muncul dihadapannya dengan perasaan yang sama dengannya.