Aku tersenyum kecil begitu mendapati ia mengernyitkan kening. Lucu. Matanya menyipit keheranan. Sedetik kemudian ekspresi itu berubah, kini tak ada lagi kernyitan di keningnya. Wajahnya kembali serius dan datar menekuni buku di hadapannya. Aku masih tersenyum memperhatikan wajahnya itu.
Memperhatikannya dari jauh sudah menjadi kebiasaanku sebulan kebelakangan ini. Sejak pertama kali aku melihatnya sebagai siswa pindahan di kantor tata usaha. Kedatangannya cukup menggemparkan sekolah. Ia menjadi buah bibir dimana-mana pada minggu pertamanya. Semua siswa mengangumi sosoknya yang rupawan, termasuk aku. Aku mengaguminya saat pertama kali aku melihatnya. Seperti ada debaran aneh yang ku rasa pada saat itu. Seperti cinta pada pandangan pertama, mungkin.
Aku seperti mendapat lotre saat mengetahui ia berada di kelas yang sama denganku. Jantungku berdetak tak karuan saat ia memperkenalkan namanya di depan kelas. Suaranya begitu menenangkan. Saat ia melangkah menuju kursinya, mataku tetap mengawasinya. Sayangnya ia terlalu peka. Ia menyadari jika aku memperhatikannya. Aku segera membuang muka. Wajahku pasti merah saat itu. Tidak, dia tak boleh tahu jika aku menyukainya. Karena itu tak ada gunanya sama sekali. Tak akan pernah ada kesempatan bagi gadis cupu berkacamata tebal ini.
"Bel?" aku tersentak saat Ghina menepuk pundakku. Aku segera menormalkan wajahku yang memerah karena lamunanku tadi.
"Kamu ngelamun ya?"
"Ah, enggak. Aku cuman lagi mikirin gimana cara ngerjain soal yang ini." Aku menunjuk buku di hadapanku. Untunglah buku ini terbuka. Kalau tidak, Ghina bisa berpikiran yang lain.
"Aku kira kamu ngelamun. Bel, aku pinjam pena. Pena aku macet," pinta Ghina. Aku memberikan pena berwarna hitam kepadanya.
"Nih."
"Makasih Bel." Aku hanya mengangguk. Ghina merupakan sahabat dan temanku, satu-satunya. Selama ini hanya Ghina yang mau berteman denganku. Dia selalu ngotot ingin bersamaku sejak dulu, meski aku sudah mengatakan ia tidak pantas berteman denganku. Ghina itu gadis yang cantik dan modis, sangat berbanding terbalik denganku.
Ghina memelukkan singkat, salah satu kebiasaanya berterima kasih padaku, lalu kembali ke kursinya. Saat memperhatikan Ghina, tanpa sengaja mataku dan mata seseorang bertabrakan. Itu mata dia. Matanya indah. Bola matanya berwarna hitam pekat. Aku menyunggingkan senyumku, kecil. Sayangnya, ia malah melongos tak peduli membuang muka tanpa mau repo-repot membalas snyumku. Aku meringis saat merasakan sakit di dadaku. Dia sudah terang-terangan menolakku, bahkan sebelum sempat aku mendekat. Bagaimana bisa aku dengan bodohnya masih menyukainya? Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang hanya untuk membalas senyumku saja ia tak mau ? Aku tahu, aku bodoh. Sangat bodoh.
💔💔💔
Aku duduk di pinggir lapangan dengan napas tersengal. Jam olahraga baru saja berakhir dan kami semua diizinkan beristirahat. Aku melepas kacamataku yang berembun, lalu membersihkannya dengan kain khusus yang selalu ku bawa.
"Bel." Suara bariton khas lelaki menyapaku. Aku membeku seketika saat mendengar suara yag sangatku kenal. Itu suaranya!
"Bel," panggilnya lagi. Aku segera memakai kaca mataku, lalu menoleh ke arahnya. Mataku langsung disuguhkan dengan senyumannya. SENYUMANNYA! Ini senyuman pertamanya.
"Y-ya," jawabku gelagapan. Jantungku yang mulanya mulai normal detaknya kembali berdetak kencang. Seperti beribu gendang ditabuh dengan begitu semangat. Tuhan, semoga ia tak menyadari debaran ini.
"Kamu sakit? Wajahmu merah." Matanya tampak khawatir. Aku menggeleng cepat. Kenapa wajahku harus memerah begini?
"Ng-ngak. Aku nggak sakit. Mungkin efek baru selesai olah raga," bohongku. Ia mengangguk, percaya begitu saja. Syukurlah.
"Bel, pulang sekolah ini kamu sibuk?" tanyanya. Aku hanya menggeleng. "Boleh aku ke rumahmu? Masih ada beberapa materi fisika yang belum aku mengerti. Mau mengajarkanku?"
"Aku mau," seruku terlampau bersemangat. Dia tersenyum senang, menampilkan lesung pipinya.
"Baiklah. Terima kasih, Bel. Sampai jumpa nanti sore." Ia melambaikan tangannya, lalu berlari menjauh. Aku memperhatikannya yang mulai menjauh dengan senyum terkembang. Apa kejadian ini nyata? Ia tiba-tiba menghampiriku, tersenyum padaku, mengajakku berbicara dan ingin belajar bersamaku. Ia melakukan semua hal yang tak pernah dilakukannya padaku. Aku kira selama ini ia menganggapku tak ada.
Ini seperti mimpi menjadi nyata. My dream comes true .
💔💔💔
Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, tapi aku masih berkutat dengan soal matematika yang begitu memusingkan kepala. Suasana kelas sepi karena semua orang lebih menyukai kantin dari pada kelas. Sangat berbanding terbalik denganku. Aku lebih menyukai tempat yang sunyi dan tenang daripada keramaian. Aku membenci keramaian.
Alunan musik klasik menemaniku dengan setia. Meskipun aku terkenal sebagai gadis cupu dan kutu buku, aku sangat menyukai musik. Menurutku musik adalah hasil karya manusia yang menjadi media terbaik dalam menyampaikan perasaan. Senang, sedih, marah, bahagia ataupun menangis, semuanya mampu diluapkan melalui musik.
Soal terakhir sudah selesai ku kerjakan. Aku membali-balikkan bukuku, mencari soal lain yang mungkin bisa ku kerjakan. Tapi aku merasakan suatu pergerakan disampingku. Aku melihat ke arah kanan, penasaran siapa yang datang, yang pasti tidak mungkin Ghina. Sahabatku sedang sakit.
"Nggak ke kantin, Bel?" ternyata itu dia. Dia menarik kursi lalu duduk di sebelahku. Jantungku kembali berdetak tak karuan jika sudah berada dalam jarak sedikit dengannya.
"Nggak. Lagi malas," gelengku.
"Nih makanan untukmu. Sengaja aku beliin." Ia menyodorkan sebungkus roti dan sekotak susu. Aku memerah karena perhatiannya. Sejak insiden kami berbicara seminggu lalu, aku dan dia memang semakin dekat. Sering kali ia mengajakku untuk sekedar main maupun belajar bersama. Dalam waktu bersamaan ia juga membuatku makin jatuh padanya. Jatuh terlalu dalam hingga aku tak mampu naik ke permukaan.
"Makasih," lirihku malu.
"Sama-sama. Oh ya, Ghina mana? Aku nggak liat dia dari pagi," tanyanya.
"Ghina lagi sakit. Jadi dia nggak masuk."
"Oh gitu. Titip salam ya sama dia. Semoga cepat sembu." Aku mengacungkan jempolku. Ia kembali tersenyum. Senyuman yang sangat manis. Senyuman kesukaanku.
💔💔💔
Aku menunggunya di salah satu kafe langganan kami. Siang ini ia ingin mengajakku ke suatu tempat, entah kemana. Ia tak mau menyebutkannya. Aku hanya mengangguk menurutinya. Lagi pula, sejak kapan aku mampu menolaknya?
Jantung kembali berdetak tak karuan saat mengingat akan pergi bersama, berdua saja. Harus ku akui, aku sudah sering pergi bersamanya. Sialnya jantungku masih saja berdetak tak normal dan wajahku selalu memerah saat berdekatan dengannya. Aku masih belum bisa mengontrol perasaanku dengan baik.
" Sorry telat Bel, tadi kejebak macet." Ia tiba dihadapanku dengan penampilannya yang selalu sempurna dimataku. Aku hanya tersenyum tipis. Aku menyodorkan buku menu padanya.
"Mau pesan apa ?"
"Seperti biasa aja, kamu taukan?" aku mengangguk. Tentu saja aku tahu. Banyak hal tentang dirinya yang ku ketahui. Hampir semuanya, mungkin.
"Oke." aku memanggil pelayan, lalu memesan makanan kami. Aku permisi ke toilet sebentar, membiarkannya menunggu pesanan kami sendirian.
"Bel, duduk disini." Ia menepuk-nepuk kursi disebelahnya saat aku kembali dari toilet. Mengisyaratkan agar aku duduk disebelahnya. Lihat apa yang dia lakukan! Bukankah itu sangat romatis? Bagaimana caranya aku tak memerah jika ia berlaku seperti ini terus? Siapapun, tolong beri tahu aku!
Ia menyodorkan piring makananku. Aku menggumamkan terima kasih lalu menyantap makananku.
"Kayaknya makanan kamu enak deh, Bel." Ia merebut sendok dari tanganku tiba-tiba, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia makan dengan sendokku? Astaga!
"Enak. Lain kali aku bakal mesan ini." Dengan santainya ia mengembalikan sendokku. Apa ia tak sadar akan apa yang dilakukannya ?
"Setelah ini, kita mau kemana?" tanyaku.
"Kamu bakal tahu nanti," jawabnya penuh misterius. Aku mendesah pasrah. Terserah dia sajalah.
"Kamu nggak malu apa jalan sama aku ?" tanyaku lirih. Sebenarnya aku sudah sering menanyakan hal ini padanya. Dan reaksi yang diberikannya selalu sama. Ia marah. Ia tak suka aku bertanya seperti itu.
"Jangan mulai, Bel," katanya datar. Aku menunduk dalam. Jujur saja, kedekatan kami ini masih terasa seperti mimpi, logikaku tak bisa mencapai bahwa si gadis cupu ini mampu berdekatan dengannya. Aku merasa tidak cocok.
"Aku hanya merasa tak enak padamu. Aku ini cuma..."
"Bel, sudah ku katakana aku tak suka mendengarnya. Aku suka berteman denganmu. Kamu itu baik, lucu dan pintar. Aku nyaman sama kamu," potongnya. "Lagi pula jika soal penampilan, sebenarnya kamu itu cantik. Jika ini di lepas,"
Tiba-tiba saja ia menarik kacamataku. Aku mengerjap kaget. Apa yang ia lakukan? Kenapa berani sekali?
"Ini juga harus dilepas." Kali ini ia menarik ikat rambutku hingga rambutku tergerai begitu saja. Tangannya dengan cekatan merapikan rambutku.
"Kalau beginikan cantik," pujinya dengan senyuman yang tampak buram olehku. Tentu saja, aku sedang tak memakai kacamata.
"Penampilanmu selanjutnya harus seperti ini ya, Bel. Hanya tinggal dipolesi sedikit make up aja, kamu pasti cantik banget. Soal kacamata, aku saranin kamu pakai soft lens . Aku akan bantu merubah penampilanmu." Ia menawarkan dirinya sendiri. Entah mantra apa yang terkandung dari setiap kalimatnya, aku hanya mengangguk patuh menuruti kemauannya.
"Kamu... kenapa sebaik ini sama aku ?"
"Aku hanya mau menolongmu. Kamu itu temanku, Bel. Lagi pula aku ingin kamu sadar akan kelebihan yang selalu kamu tutupi dengan kacamata besar itu. Kamu itu cantik Bel, sangat cantik," pujinya berhasil membuatku melayang. Kenapa ia selalu berhasil melakukan hal ini padaku?
💔💔💔
Sejak ia memintaku merubah penampilan, hidupku ikut berubah. Semua orang terkejut saat menyadari perubahanku. Salah satu contohnya adalah Ghina yang memekik girang saat melihatku yang saat ini. Sialnya Ghina tak berhenti berterima kasih padanya karena berhasil mengubahku. Sebenarnya dari dulu Ghina sudah membujukku untuk mengubah penampilanku sayangnya Ghina tak pernah berhasil. Hanya ia yang bisa.
Berbulan-bulan terlewati begitu saja. Kini aku sudah yakin dengan perasaanku padanya. Aku menyayanginya, bukan hanya suka atau kagum. Aku benar-benar telah jatuh padanya. Rasa minderku padanya juga mulai memudar. Penampilan baruku tak membuatku merasa tak paantas lagi.
"Ada apa?" Aku bertanya padanya. Kami sedang berada di kafe langganan kami dengan minuman hangat di tangan masing-masing. Di luar, rintik-rintik hujan membasahi bumi.
"Ada apa?" tanyaku lagi karena ia tak menjawab pertanyaanku sebelumnya. Ia masih tetap diam, terlihat ragu," Bicaralah. Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu," desakku. Aku benar-benar penasaran.
"Bel, sebenarnya aku udah mendam ini dari lama. Aku cuma takut bilangnya ke kamu. Sebenarnya aku...." Kalimatnya tergantung. Jantungku berdegup kencang. Apa sebenarnya yang ingin ia katakana? Apa ia...?
"Aku menyukai... Ghina, Bel." Saat itu aku merasakan duniaku runtuh seketika. Aku membeku bagaitersanbar petir. Apa aku tak salah dengar? Ia menyukai Ghina?
"Aku suka sama Ghina sejak aku liat dia petama kali di kelas. Kamu mau bantu aku untuk dapatin dia?" pintanya penuh harap. Aku terdiam. Dadaku terasa begitu sesak, walau hanya untuk bernapas. Ini seperti ditusuk ribuan pisau lalu dicabik-cabik dengan kasar. Sakit sekali.
"Bel, kenapa diam? Kamu nggak mau?" Ia menatapku kecewa. Tidak, jangan beri tatapan itu padaku. Aku tak pernah tahan jika tatapan seperti itu. Aku mohon, jangan.
"Y-ya. Aku mau." Akhirnya aku menemukan suaraku yang sempat hilang. Ia tersenyum sumringan tanpa tahu betapa hancurnya aku saat ini. Ia memelukku ringan tanpa sadar bahwa disaat yang bersamaan ia juga memenusukkan pisau ke dalam diriku.
"Terima kasih, Bel," gumamnya dipelukku. Aku berusaha mengelus punggungnya dengan tanganku yang terasa begitu berat. Mati-matian aku berusaha menahan tangisku agar tidak pecah. Jika aku menangis, ia akan langsung tahu tentang perasaanku padanya, aku tidak mau itu terjadi.
"Sama-sama."
💔💔💔
Aku meringkuk lemah di kasurku. Sudah berjam-jamku habiskan untuk menangisi dia. Ini terlalu pedih bagiku. Terlalu menyakitkan. Aku sangat menyayanginya. Aku sudah melakukan segalanya untuknya. Tapi kenapa balasan seperti ini yang ku dapat? Kenapa sakit ini yang harus aku terima?
Aku kira semua yang kami lalui selama ini adalah jalan bagi kami. Sayangnya pada kenyataan tidak. Ia malah menyukai Ghina, sahabatku. Apa Ghina yang membuatnya mau dekat denganku?
Aku tahu Ghina lebih baik dariku, jauh lebih baik. Tapi apa aku memang tak pantas untuknya? Apa ia masih menganggapku gadis cupu yang tak menarik? Apa tak ada artinya kedekatan kami selama ini? Apa gunanya aku berubah seperti ini jika ia masih tak tertarik. Lebih baik aku kembali seperti dulu saja.
Aldan. Lelaki yang selam ini membuatku jatuh cinta dan ia juga yang menyakitiku hingga aku hancur berkeping-keping. Aldan, siswa pindahan dari luar kota yang ternyata menyukai sahabatku. Aldan, sang pematah sayap harapanku.
💔💔💔
Apa cerita hidupku bagaikan serial drama picisan yang sering muncul di televisi? Sebutlah ini berlebihan atau apa, tapi ini memang sangat menyakitkan bagiku. Aku berkorban untuknya. Aku mengorbankan perasaan tulusku, hanya untuknya.
Sesuai janjiku, aku memang membantu Aldan untuk mendapatkan Ghina. Dan Aldan berhasil. Dia mendapatkan Ghina. Aku bodoh, memang. Aku biarkan diriku terus disakiti saat melihat kedekatan mereka. Aku mana bisa menolak permintaannya. Jadi ini semua ku lakukan untuknya. Walaupun perasaanku yang menjadi korbannya, biarlah.
Dulu, aku selalu membayangkan ia adalah malaikat yang datang padaku. Mengajakku terbang bersama, dengan sayap harapan yang ia berikan padaku. Sayangnya, ia mematahkan sayap itu. Meninggalkanku di dasar bumi, sendiri.
Love,
Vand 🦋