Renaldi berbaring terpaku menatap suster yang sedang berusaha berbicara kepadanya. Entah mengapa sulit baginya memahami apa yang dikatakan wanita itu. Kesadarannya kembang kempis. Ia tak yakin sedang berada di mana. Apakah sekarang siang? Atau malam? Di mana ibunya? Mulutnya terasa kering.
Sang suster menyodorkan segelas jus seraya membantu meletakkan ujung sedotannya di bibir Renaldi. Pemuda itu menyeruput sedikit. Tapi ia lekas merasa mual. Lidahnya hambar. Padahal biasanya ia sangat menyukai jus melon.
Akhirnya sang suster pergi setelah membantunya mengubah posisi berbaring. Kini ia tinggal sendiri bersama kebingungannya. Ia mulai mengantuk. Tubuhnya lelah sekali. Ia memejamkan kelopak mata sembari menerka. Kapan?
"Empat minggu lagi."
Pemuda itu kembali membuka mata. Suara barusan benar-benar jelas. Tidak seperti perkataan sang suster yang bahkan tak bisa ia pahami setengahnya. Seolah suara barusan berbicara langsung ke dalam pikirannya.
Disampingnya berdiri sosok besar berkepala tengkorak yang mengenakan jubah hitam.
"Siapa?" Mulut pemuda itu tak bergerak, tapi ia mengajukan pertanyaan tersebut.
"Aku adalah yang akan mencabut nyawamu, empat minggu dari sekarang."
Akhirnya Renaldi ingat. Satu tahun terakhir ini ia sedang berjuang melawan kanker.
"Apa kau takut?" tanya sang malaikat kematian.
Renaldi terenyak.
Ia merenung beberapa saat, lalu menggeleng, "Nggak."
Wajah tengkorak sang malaikat tentu tak menyiratkan apa-apa. Sementara Renaldi, ia sendiri keheranan. Ia sama sekali tidak takut, padahal dulu hanya melihat papan tulisan 'Kamar Jenazah' saja sudah membuat seluruh kuduknya merinding.
"Aku mengerti. Dalam posisimu saat ini, memang kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit," ujar sang malaikat seraya menganggukkan kepala.
"Entahlah," kata Renaldi. "Aku cuma senang akhirnya punya teman ngobrol."
"Heh?"
"Kau mengingatkanku pada temanku waktu SD. Dia orangnya kekanak-kanakan. Ia senang memakai topeng ke sekolah lalu berlagak. Kadang ia memakai topeng Kamen Rider sambil berlagak seperti penegak keadilan. Kadang juga memakai topeng franskentein, kadang kepala gorila."
Sang malaikat hening beberapa saat. "Tapi... Ini bukan topeng."
Renaldi pun tertawa terbahak. "Aku tahu! Tidak usah dibawa serius begitu!"
Sang malaikat hening lagi, lalu duduk di sofa yang kosong.
"Hei, hei, beri tahu aku," kata Renaldi lagi, seolah ia takut sang malaikat pergi kalau tak diajak bicara. "Apa di surga... ah, aku tidak yakin apa akan masuk surga... pokoknya di sebelah sana, apakah ada permainan gim? atau PS?"
"Uh... pertanyaan itu di luar kapasitasku."
"Kenapa begitu?" Renaldi agak kecewa.
"Tugasku hanya mencabut nyawa manusia."
"Tunggu! Jangan bilang... kau bahkan tidak tahu apa itu gim?"
Sang malaikat tak menjawab.
"Jadi benar? Kau hidup selama ini tanpa tahu gim? Yang benar saja?!"
"Cukup! Aku tahu apa itu gim! Tapi itu tidak ada kaitannya—"
"Apa gim favoritmu?"
Sang malaikat mendesah. Ia menyerah.
"Winning Eleven," katanya. "Bukannya aku pernah memainkannya. Aku hanya suka menonton orang-orang memainkannya."
"Sama!" seru Renaldi tiba-tiba. "Sejak dulu aku tidak bisa bermain sepak bola. Biasanya aku jadi anak bawang, atau dipaksa jadi kiper. Gara-gara itu aku jadi sering dibuli. Tapi ternyata bakatku memang bermain bola di dunia gim, hahahaha."
"Wow," respon sang malaikat datar. Kemudian ia kembali diam.
Waktu terus berlalu.
"Hei," panggil Renaldi.
Sang malaikat tak menjawab. Pemuda itu jadi khawatir.
"Apa aku membuatmu bosan?"
Sang malaikat berdecak, "Kalau mau cerita, cerita saja. Aku mendengarkan."
Renaldi terbelalak.
Tiba-tiba saja, suatu bulir hangat mengalir dari sudut matanya. Seumur hidup pemuda itu tak pernah banyak bicara. Ia kira bermain game sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Ia tak pernah mengira selama setahun terakhir ini justru yang paling menyakitkan bukanlah proses kemoterapi. Melainkan, rasa kesepian. Ia ingin sekali memulai semuanya dari awal, tapi waktunya sudah habis.
"Kenapa malah menangis?" tanya sang malaikat. "Cepat cerita!"
"Ya... baik..." jawab Renaldi sesenggukan. Lalu ia tersenyum lebar. "Aku sering membayangkan bagaimana kalau diadakan turnamen Winning Eleven tingkat nasional! Pasti seru, kan. Pertama adalah pertandingan di tingkat sekolah, lalu perwakilannya melawan sekolah lain, sampai akhirnya wakil-wakil tiap provinsi bertanding untuk menentukan gelar juara."
Renaldi terus bercerita, dan sang malaikat mendengarkan. Mereka melakukan hal itu sampai empat minggu lamanya, hingga waktu yang ditentukan tiba.
Maka pagi itu, pukul empat lebih dua puluh, Renaldi semakin lemah. Dokter sudah pasrah. Kedua orang tuanya menanti dengan haru di samping tempat tidurnya. Pemuda itu tak bisa menahan tangisnya sendiri, tapi hanya air mata yang sanggup ia titikkan. Tenggorokannya sudah tak mampu bersuara.
"Siap?" tanya sang malaikat kematian.
Renaldi membuat senyum terakhirnya, lalu mengangguk.
Sang malaikat pun mencengkram ubun-ubunnya, lalu mencabut jiwanya.
Pemuda itu memejamkan mata. Ia merasakan sensasi unik tak terjelaskan yang belum pernah ia rasakan semasa hidup. Saat sensasi itu hilang, ia membuka kedua matanya.
Surga? Atau neraka?
Namun, ternyata ia masih di bumi. Ia berdiri di samping sang malaikat kematian, di atas bangunan rumah sakit.
"Belum berangkat?" tanyanya.
"Ah... Kupikir... aku ingin mendengar ceritamu lebih banyak lagi," jawab sang malaikat kematian tanpa melihat ke arahnya. Makhluk itu tengah menatap pekatnya malam. "Ya... kau jelas layak untuk melihat kenyataan lebih dalam... " Gumamnya. "Di dunia ini, kau hidup dengan cerita yang terbatas karena rasa sakit yang kau derita. Tapi, karena rasa sakit itulah, kamu tumbuh menjadi sangat kuat. Jadi, sekarang aku akan membawamu ke sana... ke dunia yang penuh keajaiban. Karena aku yakin, anak yang kuat sepertimu, pasti bisa menemukan lebih banyak cerita di sana."
Renaldi pun tersadar ia sudah tak lagi mengenakan baju pasien. Seluruh tubuhnya kini dibalut jubah hitam yang sama seperti yang digunakan sang malaikat.
"Sudah siap untuk tugas pertamamu?"
Pemuda yang masih terkesima itu pun menjawab, "Tentu saja!"
"Ambilah semua kesempatan yang ada, entah itu terlihat baik atau jahat. Dan ingatlah, pada akhirnya, semua itu tergantung padamu." kata sang malaikat sembari melangkah pergi.