Aku tersenyum di balik bukuku saat mendapatinya memasuki ruangan kelas. Ia berjalan ke arah sudut kelas lalu menghampiri gerombolan temannya. Sapaan khas cowok dilontarkannya lalu tos dengan semua temannya. Senyumku makin mengembang saat mendengar tawanya di sudut sana. Aku makin menenggelamkan diriku di balik buku, meredakan jantungku yang berdegup cepat hanya karena mendengar tawanya.
"Nau," tepukan Tiara di bahuku membuatku cepat bangkit dari balik buku. Aku menoleh ke belakang, mendapati sahabatku yang sedang memandang ku heran.
"Apaan sih Tir, masih pagi juga," omelku. Semoga Tiara tidak sadar akan perilaku anehku pagi ini.
"Lo kenapa pagi-pagi udah sembunyi di balik buku? Sakit?" tuhkan, Tiara sadar! Aku harus jawab apa?
"Ng-nggak kenapa-napa. Kepo lo," kilahku cepat. Semoga Tiara percaya. Kan malu kalau ketahuan liatin dia pagi-pagi, meskipun itu Tiara yang mengetahuinya.
"Emm," Tiara bergumam panjang dan menatapku tidak percaya. Entah kenapa ia malah melihat sekeliling lalu kembali memandangku dengan kerlingan jahilnya. Tuhkan, Tiara tau!
"Pasti karena ngeliatan Farel ya?" goda Tiara tepat sasaran. Aku enggan menjawab dan memilih kembali menenggelamkan wajahku di buku.
"Ya deh yang nggak mau ngaku. Tapi hati-hati ya. Jangan sampai tu mupeng ketahuan sama Farel." Tiara tertawa sendiri setelah puas menggodaku. Aku menggeram kesal melihat tingkahnya. Huh, untung sahabat. Kalau tidak, udah aku pites dia dari tadi.
"Idih, jijik gue," seruan Farel membuatku kembali menatap ke arah sudut kelas. Farel terlihat terpingkal bersama yang lain entah karena apa. Dia makin ganteng kalau tertawa seperti itu.
***
"Naurin, buku PR kamu yang ketinggalan kemarin saya letakkan di meja guru," kata bu Retno sebelum keluar dari kelasku. Aku mengangguk dan tersenyum pada guru berbadan gempal itu. Segera aku ke meja guru dan mengambil bukuku. Tapi tunggu, kenapa ada dua buku?
"Farel Jonathan," gumamku saat membaca nama sang pemilik buku. Farel? Tiba-tiba wajahku memerah. Aku megang buku Farel?
"Woi Nau! Bengong aja lo. Kantin yuk," ajak Tiara yang tiba-tiba datang.
"I-iya. Gue ambil buku dulu."
"Buku PR lo ada dua Nau?" tanya Tiara. Aku menggeleng.
"Satu lagi punya Farel," jawabku terkesan lirih.
"Wih, dapat rejeki lo. Balikin sana sama orangnya, sekalian modus." Tiara menaikkan kedua alis mata tebalnya.
"Lo yakin? Nanti gimana kalau..."
"Kan lo cuma mau balikin buku dia. Niat lo baik. Tenang aja." Tiara menyokongku terus agar mau mengembalikan buku ini pada Farel yang kelihatan sibuk sendiri di kursinya.
"Iya deh. Gue balikin."
"Jangan sampai liatin mupeng lo ke dia ya!"
"Sialan lo." aku melangkah ragu mendekati Farel. Sebenarnya aku takut dan malu. Tapi aku juga mau berbicara dengannya.
"Rel," panggilku lirih saat aku tepat berada di depan mejanya. Tidak ada respon.
"Farel," panggilku lagi. Tapi tetap saja, tidak ada respon.
"Farel Jonathan," kini aku memanggilnya sedikit keras dan yak... berhasil membuatnya melihat padaku. Meski dengan wajah datar.
"Ini buku lo. Tadi ketinggalan di meja guru," aku menyodorkan buku padanya. Farel memandangku sekilas lalu ke buku. Kemudian ia mengambil bukunya cepat dan kembali asik sendiri.
Aku meneguk air liurku pahit melihat respon buruknya padaku. Ya harusnya aku memang tak perlu berharap akan mendapat respon baik dari cowok ini. Alasannya? Ah, sungguh menyakitkan.
"Ka-kalau gitu gue duluan ya, Rel," kataku serak menahan sesak di dadaku. Farel tetap diam hingga aku melesat cepat dari hadapannya. Aku akan menangis jika masih disana.
"Udah?" tanya Tiara saat aku menghampirinya yang menungguku di depan kelas. Aku hanya mengangguk singkat dengan ekspresi menahan sakit.
"Dia nyakitin lo?" tanya Tiara saat aku menariknya ke kantin. Aku tidak menjawab. Toh, tanpa harus menjawab, Tiara pasti tahu. "Jangan sedih, Nau."
"Udah biasa, Tir. Udah ah, jangan bahas dia. Mending kita makan. Gue laper," aku cepat mengalihkan topik pembicaraan karen aku tahu, akan terlalu menyakitkan jika terus membahas dia.
"Lo mau pesan apa? Biar gue pesanin sekalian," tanya Tiara.
"Samain aja sama lo," jawabku. Tiara mengangguk lalu pergi memesan makanan. Aku menyandarkan diriku di sandaran kursi. Kantin tampak penuh sekali saat ini. Maklum lah, jam istirahat.
Sembari menunggu Tiara, mataku asik menjelajahi setiap penjuru kantin. Pandanganku terhenti tiba-tiba saat melihat Farel memasuki kantin dengan Kanaya.
"Kanaya? Sejak kapan Farel dekat sama dia?" batinku selama ini, aku tidak pernah tahu jika Farel dan Kanaya berteman. Maksudku, aku tidak pernah melihat mereka saling berbicara. Kenapa sekarang tiba-tiba mereka bisa jalan bersama?
"Nau, nih pesanan lo," kedatangan Tiara membuatku berhenti menatap Faren dan Kanaya. Sahabatku itu muncul bersama pesanan kami.
"Wah, bakso nih. Tau aja kesukaan gue," sahutku girang saat semangkuk bakso dengan asap mengepul di atasnya berada di hadapanku.
"Kesukaan kita," koreksi Tiara. Ya soal makanan, aku dan Tiara memiliki selera yang sama.
"Traktir nggak nih?" godaku seraya memakan bakso. Tiara memutar kedua bola matanya.
"Gratis mulu isi tu otak," aku terpingkal mendengar jawaba Tiara lalu kembali memakan baksoku. Uhm, ini nikmat. Setidaknya semangkuk bakso ini mampu mengalihkan sedikit perhatianku dari Farel dan Kanaya.
***
"Mami, Naurin cantik pulang!" seruku heboh saat memasuki rumah. Aku pastikan Mami pasti menggerutu mendengar suara toaku ini.
"Nau, harus berapa kali sih Mami bilang kalau masuk rumah jangan teriak-teriak? Kamu pikir rumah ini hutan?" tuhkan aku benar! Mami datang dengan omelannya untuk menyambut anaknya yang baru pulang dari sebuah perjuangan besar *read:bersekolah.
" Assalammualaikum Mami kesayangan Naurin," aku mencium tangan Mami tanpa peduli omelan Mami.
"Omongan kamu kayak kamu punya banyak Mami aja. Gimana sekolah?" tanya Mami. Aku nyengir mendengarnya.
"Baik, kayak biasa. Ya walaupun sama, masih sangat melelahkan. Huh, kapan sih penderitaan ini berhenti?" keluhku lalu bergelayut manja di lengan Mami.
"Kamu kan udah kelas tiga. Bentar lagi juga lulus. Udah ah, Mami mau lanjut masak dulu," Mami melepaskan tanganku lalu melenggang ke dapur tersayangnya. Aku menggidikkan bahuku cuek saat melihat Mami lalu beranjak menuju kamarku. Ah my lovely, I'm coming!
Berada di kamar adalah hal yang paling aku sukai. Aku melempar tas sembarang lalu menjatuhkan diriku di atas kasur. Aih, nyamannya.
"Hm," aku bergumam sendiri sembari menutup mata. Ini merupakan kebiasaanku yang aku akui cukup aneh, tapi aku tetap melakukannya. Setelah puas bergumam seperti itu, aku membuka mata lalu menoleh ke arah pintu kaca yang langsung menuju balkon. Samar-samar aku bisa melihat balkon seberang yang letaknya tidak begitu jauh dari kamarku. Balkon kamar milik Farel.
Aku duduk di atas kasur lalu menatap kamar di seberang kamarku lama. Pintunya tertutup walau tirai di pintu kaca itu terbuka. Perlahan, mataku memanas. Semua tentang Farel kembali memenuhi kepalaku. Aku merindukan Farel. Aku tahu, aku sudah begitu bodoh di masa lalu. Pengakuanku membuatnya meninggalkanku. Aku kehilangan sahabat kecilku.
"Rel, lo ada kegiatan nggak sore ini?" tanyaku pada Farel. Farel yang sedang asik dengan rubiknya hanya menggeleng singkat tanpa mau menatapku.
"Ih, kalau gue ngomong liat ke gue dong. Nggak sopan banget," kesalku. Ku rebut rubiknya secara paksa lalu menyembunyikannya di balik tubuhku.
"Rin, lo apa-apaan sih. Balikin rubik gue," Farel yang kesal melihat ulahku berusaha menjangkau rubiknya. Aku langsung mengelak dan membuang rubik Farel jauh. "Rin!"
"Gue nggak suka dicuekin," aku mencebik kesal. Aku menatap Farel kesal dengan bibir yang dimajukan.
"Keluar lagi deh childish-nya," Farel mendesah berat. "Iya deh, nggak gue cuekin lagi. Lo mau apa, hm?"
"Temenin gue ke pantai nanti sore," senyumku kembali mendapati Farelku yang kembali perhatian. Farel adalah hal terbaik yang pernah ku miliki di dunia ini.
"Ngapain?"
"Kepo. Pokoknya lo harus mau," paksaku.
"Iya, gue mau. Apapun untuk sahabat gue ini."
Sorenya aku dan Farel ke pantai. Kami duduk dia atas pasir seraya memandang jauh ke arah matahari yang mulai tinggal setengah.
"Rel," panggilku. Farel menoleh padaku dengan senyum manisnya.
"Apa?"
"Gue mau bilang sesuatu," kataku sedikit gugup.
"Bilang apa? Bilang aja kali, Rin. Tumben baget lo pakai permisi gini," ledek Farel.
"Ih, gue serius. Gue mau bilang sesuatu," aku memukul lengan Farel kesal.
"Aduh, jangan pakai pukul dong. Suka banget liat gue tersiksa. Lo mau bilang apa?"
"Gue sayang sama lo," kataku cepat lalu menunduk.
"Gue juga sayang sama lo," balas Farel enteng. Aku mendongak cepat, melihat wajahnya yang biasa-biasa saja.
"Bukan gitu, Rel. Maksud gue, gue sayang sama lo. Tapi bukan sebagai sahabat, sebagai cewek," ungkapku. Aku ingin Farel mengerti bahwa perasaanku untuknya telah berubah dan tumbuh dengan cepat.
"Ma-maksud lo?" Farel terkejut mendegar pengakuanku. Matanya bahkan melebar, seperti tidak percaya.
"Gue cinta sama lo, Farel Jonathan," tekanku agar ia yakin.
"Nggak mungkin, Rin. Kita itu sahabatan. Lo nggak mungkin dan nggak boleh suka sama gue," Farel menggelengkan kepalanya pertanda sebuah penolakan. Dadaku tiba-tiba terasa nyeri karena penolakan Farel.
"Kenapa nggak boleh? Gue rasa wajar kalau gue suka sama lo. Kita udah bertahun-tahun selalu bareng, Rel. Lo bikin gue selalu nyaman dan gue mau kita lebih dari sahabat."
"Lo masih tanya kenapa? Kita itu sahabatan, Naurin Zaskia! Lo nggak seharusnya suka sama gue. Gue sahabat lo, dari kecil," suara Farel meninggi. Aku takut sebenarnya, namun aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkan perasaanku.
"Gue nggak peduli sama status persahabatan kita. Apa salanya sih Rel kalau sahabat jadi cinta? Toh banyak yang kayak gitu," aku menatap mata yang dipenuhi kilat emosi itu. Apa segitu marahnya Farel akan pengakuanku.
"Gue nggak bisa, Rin. Gue nggak mau," Farel beranjak berdiri meninggalkanku. Aku ikut berdiri menyusulnya.
"Tapi Rel..."
"Gue nggak mau Rin. Jangan paksa gue."
Air mataku menetes saat mengingat kejadian menyakitkan tiga tahun lalu itu. Sejak saat itu, Farel menjauhiku. Ia mendiamkanku dan meninggalkanku. Hubunganku dan Farel resmi merenggang hanya karena satu kalimat bodohku. Aku kehilangan Farel, selamanya.
"Rin, Mami mau ke rumah tante Rena. Kamu jaga rumah," teriakan Mami dari luar membuatku tersentak.
"Iya Mi," balasku. Sebisa mungkin aku menutupi suara serakku karena menangis.
Mami sepertinya sudah pergi. Aku menghelas napas lega. Untung tidak ketahuan. Selama ini, orang tuaku dan orang tua Farel tidak tahu jika aku dan Farel tidak lagi dekat seperti dahulu. Saat mereka bertanya, aku cepat memberi alasan yang masuk akal pada mereka. Untungnya mereka langsung percaya.
Aku beranjak dari kasur lalu menuju meja belajarku. Aku meraih pigura foto disana lalu duduk di kursi. Perlahan, aku mengelus pigura foto itu. Itu fotoku dan Farel saat pembagian rapor tiga tahun lalu. Aku dan Farel mendapat juara saat itu. Orang tua kami begitu senang hingga mereka memotret kami berdua. Kenang-kenangan katanya.
Kini saat seperti itu tidak lagi ada. Aku dan Farel yang sekarang bagaikan dua orag yang tidak pernah saling mengenal. Farel tidak pernah mau berbicara padaku. Jikapun ada, itupun terpaksa dan terlalu singkat. Lebih baik dia diam daripada seperti itu.
"Rel, lo kenapa kayak gini sih? Kenapa jauhin gue? Apa sebegitu besar salah gue sampai lo tega giniin gue? Maafin gue, Rel. Maaf kalau perasaan gue bikin lo terganggu. Gue nggak maksud sama sekali. Lo tau Rel, gue kangen sama lo. Gue kangen sama persahabatan kita dari kecil. Dari kita cuma pakai popok doang. I miss you so much , Farel," aku mencium foto itu tepat di wajah Farel. Kaca pelindungnya basah karena air mataku. Aku tersenyum miris lalu membawa pigura foto itu ke dalam dekapanku. Aku ingin tidur. Rasanya lelah sekali menangis seperti ini. Aku ingin Farel disini, menghiburku ketika aku sedih, seperti apa yang selalu dilakukannya dahulu. Aku rindu mendengar dia memanggilku dengan panggilan kesayangannya, Rin. Tapi aku tahu itu semua sia-sia. Farel tidak mungkin ada, yang ada hanya fotonya. Semoga foto Farel ini mampu menenangkanku. Seperti yang selalu Farel lakukan. Walau hanya sedikit.
***
Aku berdiri sendiri di depan gerbang sekolah. Aku sedang menunggu pak Parjo, supir Papi yang selalu mengantar-jemputku ke sekolah. Ini sudah lebih dari lima belas meit aku menunggu. Kemana sih pak Parjo? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini.
"Belum pulang, Nau?" tiba-tiba Weno, teman sekelasku sekaligus sahabat Farel muncul dengan motornya.
"Belum No. Masih nunggu jemputan. Kayaknya kejebak macet," jawabku.
"Mau pulang bareng gue?" tawarnya.
"Nggak usah, No. Makasih. Palingan bentar lagi supir gue dateng," tolakku halus. Aku bukannya tidak tahu jika Weno menyukaiku. Akhir-akhir ini ia rajin sekali mendekatiku. Ia juga sering menghubungiku. Tapi maaf-maaf saja, aku masih belum bisa membuka hatiku. Farel masih ada disana.
"Serius? Gue nggak keberatan kok nganterin lo."
"Serius. Udah pulang sana. Nanti Emak lo nyariin lagi," tolakku. Semoga Weno tidak lagi memaksa.
"Lo pikir gue anak SD yang selalu dikhawatirin emaknya? Enggaklah. Ya udah deh, gue pulang dulu. Lo hati-hati ya," Weno menutup kaca helmnya lalu meninggalkanku. Huh, untunglah.
Hingga lima belas menit kemudian, pak Parjo masih belum datang. Aku tidak bisa menghubunginya karena aku lupa membawa ponselku. Apa aku pulang sendiri saja?
Saat aku masih berpikir, suara tawa mengalihkanku. Disana, di parkiran sekolah, aku melihat Farel dan Kanaya sedang bersama. Mereka tertawa ketika Farel memberikan helm kepada Kanaya. Kemudian kedua orang itu sudah berada di atas motor Farel. Mereka pulang bersama.
Aku segera menolehkan kepalaku saat mereka mendekati gerbang. Jantungku berdebar hebat. Hingga Farel dan Kanaya melewatiku, aku menahan napas. Farel tidak ,menghiraukanku yang sedang berdiri sendirian seperti orang bodoh disini. Ada rasa sesak yang ku rasakan saat melihat Farel dekat dengan gadis lain selain aku. Ya aku tahu, ini memang bukan yag pertama kalinya. Tapi entah kenapa sakitnya selalu sama. Perasaaku kepadanya terlalu kuat, hingga sakit yang ku rasakan juga begitu.
***
Istirahat membuat kelasku sepi seketika. Hanya ada beberapa orang yang bertahan, termasuk aku dan Farel. Tiara sudah menuju kantin duluan karena tidak tahan menahan perutnya yang begitu lapar. Ia tidak sempat sarapan tadi pagi.
Aku menoleh ke arah Farel yang asik dengan bukunya. Ku tebak, ia sedang menggambar. Farel memang jago dalam menggambar.
"Samperin nggak ya?" batinku. Aku ragu untuk ke Farel memberi bekal makanan dari Mami. Tadi pagi entah kenapa Mami tiba-tiba memberiku dua kotak makanan. Untukku dan Farel, kata Mami.
Aku memutuskan kesana. Setidaknya ini keinginan Mami, bukan aku. Jadi Farel tidak akan merasa terganggu.
"Farel," panggilku ketika berdiri di sampingnya. Farel diam, tidak merespon. Aku menghela napasku berat lalu meletakkan kotak makanan itu ke atas mejanya.
"Dari Mami. Dia mau lo makan ini," lirihku. Farel menghentikan gerakan tangannya lalu meraih kotak makan itu. Tidak ada satu kalimatpun keluar dari mulutnya. Lebih baik aku pergi saja.
"Makasih. Ke Mami," suaranya menghentikan langkahku. Sudah lama rasanya aku tidak mendengar ia berbicara padaku. Aku membalik badanku lalu menatapnya yang sedang makan makanan dari Mami. Apa sebegitu bencinya Farel kepadaku hingga karena Mami, ia baru mau berbicara padaku? Tidak adakah kesempatan bagiku untuk kembali dekat dengannya?
"Sama-sama," jawabku lirih. Aku berlari cepat ke arah toilet. Semua ini terlalu menyakitkan bagiku. Tiga tahun ini aku selalu merasakan penolakan Farel. Terlalu sakit merasakannya selama itu.
Aku menangis sendirian di toilet yang kebetulan sepi. Aku menumpahkan kesedihanku. Aku tahu, aku salah. Tapi kenapa Farel harus menghukumku dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak mau berbicara saja padaku dan menjelaskannya dengan baik-baik? Toh jika dia menolakku, itu tak apa bagiku. Aku tak apa menjadi sahabatnya lagi dari pada harus merasakan kehilangannya. Kehilangan Farel terlalu menyakitkan. Selama ini aku selalu bergantung padanya. Apapun yang ku lakukan, Farel yang akan selalu ada untukku. Aku tidak pernah terbiasa tanpa kehadirannya dan aku tidak pernah bisa. Aku membutuhkan Farel sebesar itu.
"Nau, lo kenapa nangis?" tiba-tiba Tiara datang. Aku segera memeluk Tiara erat dan kembali menangis. Setelah kehilangan Farel di tahun terakhir SMP, Tiara adalah satu-satunya sahabatku sejak awal masuk SMA. Ia tahu semua ceritaku dengan Farel. Ia yang selalu mendukungku selama ini jika aku terlalu lemah karena Farel.
"Nau, jangan nangisin dia lagi. Lo harus kuat, Nau," Tiara mengelus punggungku lembut.
"Tapi ini terlalu sakit, Tir. Tiga tahun ini, dia selalu nolak apapun interaksi yang gue lakuin ke dia. Apa kesalahan gue terlalu besar? Gue cuma mau minta maaf dan memperbaiki semuanya. Tapi dia nggak pernah mau dengerin gue," isakku.
"Nau, lo harus kuat. Naurin yang gue kenal nggak pernah selemah ini. Lo haus yakin, akan selalu ada pelangi setelah hujan," aku tidak membalas perkataan Tiara. Aku hanya menangis dalam pelukan sahabatku. Aku hanya ingin menumpahkan sakit ini.
***
Malam ini aku sendirian berada di rumah. Mami dan Papi sedang pergi ke acara kantor Papi yang diantar pak Parjo. Pelayan yang bekerja di rumahku sedang pulang kampung karena anaknya sedang sakit. Hanya ada aku dan satpam di depan rumah. Tapi aku tidak yakin jika pak Yono sedang berjaga di tempatnya sekarang. Palingan ia sudah ketiduran di pos.
Aku duduk sendirian di atas kasurku. Aku bosan, tidak tahu harus apa. Dulu, biasanya, Farel selalu menemaniku jika Papi dan Mami sedang pergi. Farel tinggal melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamarku. Ia akan berada disini hingga Papi dan Mami datang. Kami akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Sayangnya kini Farel tidak disini dan tidak mungkin mau datang kesini lagi.
Saat aku sedag asik melamun, tiba-tiba listrik mati. Aku berjengkit ketakutan. Aku memiliki phobia terhadap tempat gelap dan sempit. Ya walaupun kamarku tidak sempit, tapi tetap saja gelap.
Aku meraba kasur, mencari keberadaan ponselku. Aku menghubungi pak Yono agar beliau bisa mencari penerangan. Sayangnya, telponku tak diangkat. Haduh, kemana sih pak Yono?
Kemudian aku mencoba menelpon Papi dan Mami. Hasilnya sama, tidak diangkat. Apa yang harus ku lakukan? Aku sudah terlalu takut saat ini. Aku tidak mungkin menelpon Tiara. Rumahnya jauh dari rumahku. Aku tidak mau merepotkan sahabatku malam-malam begini.
Bajuku mulai basah karena keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuhku. Sudah setengah jam aku bertahan dengan keadaan seperti ini dan aku sudah terlalu takut. Aku meringkuk di atas kasur. Mataku memanas dan aku menangis. Aku takut. Apa tidak ada yang bisa menolongku?
Aku kembali mengacak kontak di ponselku, mencari siapa yang bisa membantuku. Tinggal satu nama yang belum ku minta tolong. Farel. Tapi apa dia mau?
Dengan modal nekat dan karena sudah terlalu takut, aku menghubungi Farel. Panggilan pertama, Farel tidak mengangkat telponku. Panggilan kedua juga tidak. Di panggilan ketiga, saat aku mulai putus asa, dia mengangkatnya.
"Rel, to-tolongin gue," kataku bergetar."Listrik rumah gue padam dan gue sendiri di rumah. Gue takut, Rel. Tolongin gue."
"Nggak bisa," Farel menolakku secara dingin. Hatiku terluka mendengarnya. Farel tahu jika aku phobia, tapi ia tetap tak mau membantuku.
"Please, gue mohon. Gue takut, Rel. Nggak ada yang bisa nolongin gue. Sekali ini aja, gue mohon Rel," aku terisak memohon padanya. Takut dan sakit bercampur saat ini.
"Nggak bisa. Gue lagi di luar sama Kanaya. Jangan ganggu gue," kemudian Farel mematikan sambungannya secara sepihak. Aku menenggelamkan diriku di balik lutut seraya terisak hebat. Aku tersakiti, sungguh. Farel terlalu membenciku hingga disaat darurat seperti ini, ia tidak mau menolongku.
Hingga satu jam kemudian, aku memilih menuju pos satpam. Aku yakin pak Yono ketiduran. Dengan tenaga yang tersisa karena habis menangis tadi, aku berjalan keluar rumah. Berbekal penerangan dari ponsel dan sedikit keberanian, aku menuju pos satpam. Mataku mulai berkunang-kunang saat aku keluar kamar. Tapi aku tetap memaksakan diri keluar. Hingga saat berjalan di tangga, pusing yang hebat menderaku. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku selain badanku yang begitu sakit karena berguling dari tangga dan mataku menutup.
***
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba beradaptasi dengan suasana terang. Hidungku mencium bau obat-obatan dan alkohol yag begitu kental. Samar, aku melihat Tiara yang menatapku senang.
"Tir," panggilku denga suara serak. Tenggorokanku kering sekali rasanya.
"Akhirnya lo sadar. Tunggu, gue panggil dokter dulu," Tiara melesat meninggalkanku. Aku menatapnya bingung. Dokter? Apa aku di rumah sakit?
Tak lama kemudian Tiara datang bersama seorang dokter dan suster. Dokter mengecek keadaanku dan mengatakan kondisiku mulai stabil. Tapi aku masih harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Setelah itu, dokter dan suster meninggalkan aku dan Tiara.
"Akhirnya lo sadar, Nau. Semua orang udah frustasi karena nungguin lo nggak sadar-sadar," cerocos Tiara. Ia tampak begitu lega melihatku bangun.
"Emang gue kenapa?" tanyaku bingung.
"Lo jatuh dari tangga rumah lo dua hari yang lalu. Semua orang panik pas tau lo jatuh. Lo kenapa bisa kayak gini?" aku mengernyitkan keningku, berusaha mengingat apa yang terjadi padaku sebelum aku seperti ini. Ah iya, listrik mati, takut dan jatuh dari tangga.
"Waktu itu listrik mati dan gue sendirian di rumah. Lo tau gue takut gelap. Udah hampir dua jam gue nunggu, tapi listrik nggak hidup juga. Akhirnya gue nekat ke pos satpam tempat pak Yono. Terus pas di tangga, eh gue malah jatuh," terangku.
"Lo kenapa nggak ngubungin gue, orang tua lo atau yang lain sih? Kenapa sok-sok berani. Udah tau lo itu phobia. Ginikan jadinya," omel Tiara. Aku tahu dia terlalu khawatir dengan kondisiku.
"Gue udah telpon Papi, Mami, dan pak Yono. Tapi nggak diangkat. Kalau lo, gue nggak enak. Rumah lo kan jauh dari rumah gue," jawabku.
"Kenapa nggak ngubungin tetangga sebelah? Setau gue, lo lumayan akrab sama tetangga lo."
"Gue udah telpon Farel, tapi dia nolak. Dia nggak mau nemuin gue," jawabku lirih. Penolakan Farel menjadi cambuk besar bagi hatiku. Aku sadar sepenuhnya sekarang. Ia memang tak ingin aku ada lagi dihidupnya. Buktinya saja, di saat aku dalam keadaan darurat, ia masih menolakku.
"Fa-Farel?"
"Iya. Farelkan tetangga gue. Malam itu gue juga nelpon dia. Gue nekat. Pas gue telpon minta tolong, dia malah nggak mau. Gue udah mohon-mohon, dia tetap nggak mau. Dia lagi di luar sama Kanaya. Terus dia matiin telponnya. Gue sadar setelah itu Tir, gue emang udah nggak berarti lagi dihidupnya. Dia udah benci sama gue yang udah ngerusakin persahabatan kami," jelasku dengan suara serak. Sial, aku tidak mau menangis lagi.
"Nau..."
"Mulai sekarang, gue nggak mau mikirin dia lagi. Gue bakal berusaha lupain dia, lupain semua kenangan kami. Gue tau itu nggak akan mudah. Tapi apa salahnya gue coba. Farel aja bisa, masa gue enggak? Gue bakal berusaha hilangin nama Farel Jonathan dari hidup gue," tekadku. Aku akan melakukan hal itu agar hidupku tak lagi tersiksa. Ini ku lakukan juga untuk Farel. Ia pasti senang dengan aku yang berusaha melupakannya.
"Naurin, lo nggak harus kayak gini," geleng Tiara. Ia menatapku iba.
"Gue harus and I'm okay . Lo nggak usah khawatir. By the way , Mami sama Papi mana?"
***
Aku terbangun dari tidur siangku. Aku meringis saat merasakan perih di keningku. Sudah seminggu sejak aku keluar dari rumah sakit, tapi perih di keningku masih tetap saja terasa. Aku juga masih menggunakan perban kecil untuk menutupi luka di keningku.
"Udah sore aja. Saatnya beli muffin," gumamku. Memang kebiasaanku dari dulu pergi ke toko kue di ujung komplek pada sore hari pada hari sabtu. Aku juga sudah mengenal pemilik toka kue itu. Paman Fian. Ia seorang duda beranak dua yang menjalankan usaha itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Meski tokonya kecil, tapi setiap hari selalu dipenuhi pengunjung. Aku cepat-cepat membersihkan diriku agar tidak kehabisan muffin coklat kesukaanku.
Aku menggunakan sepede ke toko paman Fian. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Namun aku mengernyit heran saat mendapati tokonya sepi. Tumben sekali. Apa tutup ya?
Aku turun dari sepeda untuk memastikan apakah tokonya tutup atau tidak. Disana, aku mendapati paman Fian di balik etalase.
"Eh ada Naurin. Masuk Nau," suruh paman Fian ramah. Aku memasuki tokonya dan celingak-celinguk heran.
"Kenapa tokonya sepi, Paman? Tutup ya?" tanyaku.
"Enggak kok. Kamu pasti mau beli muffinkan? Tunggu, Paman siapin dulu," tanpa menunggu jawabanku, paman Fian melesat menuju dapur tokonya. Paman memang tahu sekali kebiasaanku.
Aku menelisik ruangan toko ini. Dulu, aku selalu kesini dengan Farel. Jadwalnya juga seperti saat ini. Aku dan Farel suka makan kue disini dan terkadang membantu paman Fian.
Ah, kenapa aku memikirkan Farel lagi?! Akukan sudah bertekad untuk melupakannya, ya walau tak mudah. Tapi aku yakin aku bisa.
"Paman mana ya? Kok lama?" gumamku sendiri. Paman Fian tak kunjung datang dari tadi. Padahalkan hanya mengambil muffin. Kenapa la...
Aku melotot terkejut saat mendapati diriku dipeluk oleh seseorang dari belakang. Aku hampir saja berteriak heboh jika aku tak sadar siapa orang ini. Bau tubuhnya sungguh aku kenali, meski sudah lama tak ku rasakan lagi.
"Maafin gue," lirih Farel. Ya, yang memelukku adalah Farel.
"Fa-Farel," kataku gelagapan. Tidak menyangka dia ada disini dan memelukku.
"Gue minta maaf, Rin. Gue tau gue salah. Gue udah terlalu jahat sama lo. Selalu nyakitin lo. Maafin gue," suara Farel kembali terdengar, namun serak.
"Rel," aku membalikkan tubuhku. Farel menatapku dengan sendu. Tangannya masih betah melingkar di pinggangku.
"Maafin gue. Gue tau, gue terlalu bodoh. Gue bodoh nyakitin lo tiga tahun ini. Maafin gue," sesalnya. Mataku memanas seketika. Aku sudah lama tak mendapati keadaan seperti ini. Berbicara sedekat ini dan merasakan kembali pelukan hangat Farel.
"Lo nggak salah. Gue yang salah. Pengakuan gue hari itu ngancurin persahabatan kita. Maafin gue," aku menatapnya penuh penyesalan. Dia tidak salah, aku yang salah.
"Lo nggak salah. Gue yang salah. Gue terlalu kalut saat itu. Perasaan lo ke gue nggak pernah salah, Rin," katanya yang membuatku bingung.
"Maksud lo?"
"Lo nggak salah karena suka ke gue," jawabnya.
"Tapi lo marah dan ngindarin gue sampai tiga tahun, Rel. Jelas itu salah."
"Naurin," Farel menghela napasnya berat. Ia menatapku, tepat di maniknya. "Lo salah paham. Keadaan yang sebenarnya bukan kayak gitu. Sebenarnya, pas lo bilang suka sama gue, gue kaget. Gue bilang nggak boleh karena suatu alasan. Gue nggak mau kehilangan lo. Bagi gue, seandainya kita pacaran, hubungan kita bisa berakhir kapan aja. Gue nggak sanggup kehilangan lo. Karena itu gue kalang kabut pas dengar pengakuan lo. Bodohnya gue malah jauhin lo dan seakan nggak mau lo ada di hidup gue lagi. Gue tau gue bodoh lakuin itu semua. Awalnya gue jauhin lo cuma mau lo bisa hilangin perasaan lo ke gue. Tapi gue malah melakukannya bertahun-tahun. Gue malah benar-benar kehilangan lo, tanpa pacaran. Gue nyesel, Rin. Gue bodoh. Gue udah berusaha cuek sama lo selama ini, nyatanya gue nggak bisa. Lo terlalu berpengaruh di hidup gue. Lo maukan maafin gue?"
Aku terpaku mendengar semuanya. Jadi, Farel tidak membenciku?
"Rin, jangan nangis. Gue tau gue udah terlalu terlambat. Apa nggak ada maaf lagi untuk gue? Apa lo benci sama gue? Perasaan ke gue udah hilang?"
"Nggak Rel. Lo salah," gelengku. "Lo nggak perlu minta maaf karena lo nggak salah. Gue nggak pernah benci sama lo. Perasaan untuk lo masih ada sampai saat ini," jawabku. Farel tersenyum senang lalu memelukku erat. Air mataku kembali tumpah saat aku mendapati diriku kembali barada di dekapan hangat Farel. Aku balas memeluknya erat. Aku sangat merindukannya.
"Maafin gue, Rin. Gara-gara gue nggak datang pas listrik mati, lo malah jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit. Maafin gue. Harusnya gue datang saat itu," kata Farel di atas kepalaku.
"Bukan salah lo. Ini salah gue sendiri karena nggak hati-hati."
"Mulai sekarang," Farel melepas pelukan kami. Ia membingkai wajahku dengan tangannya. "Gue akan selalu ada untuk lo. Lo harus bergantung ke gue lagi, kayak dulu. Gue mau jadi orang yag paling lo butuhin lagi. Ngerti?"
"Ngerti," anggukku.
"Dan satu lagi, gue sayang sama lo. Bukan sebagai sahabat, tapi perasaan cowok ke cewek. Lo mau jadi pacar gue?" mataku melebar mendengar pernyataannya. Ia menyukaiku? Membalas perasaanku?
"Rel, lo nggak harus kayak gini. Jadi sahabat lo lagi aja gue udah bersyukur," kataku pada akhirnya. Aku berusaha melepas tangannya di wajahku, tapi tidak bisa.
"Bukan gitu. Lo salah, Rin. Sebenarnya gue udah lama sayang sama lo. Pas lo bilang suka dulu, gue juga ngerasain perasaan yag sama. Tapi sayangnya, dulu ketakutan gue untuk kehilangan lo terlalu besar. Sekarang udah nggak lagi. Kenapa? Karena gue nggak akan biarin diri gue kehilangan lo. Lo maukan jadi pacar gue?" Farel menatapku lekat. Apa ini benar? Ku tatap matanya, berusaha mencari hal yan mampu membuatku yakin.
"Yakin, Rel? Kanaya gimana?"
"Gue nggak pernah seyakin ini," jawabnya mantap. "Gue juga nggak pernah pacaran sama Kanaya. Kami cuma temenan."
"Gue mau," anggukku yang mampu membuat Farel terlonjak kegirangan. Ia memelukku erat.
"Aku sayang kamu," katanya.
"Aku lebih sayang kamu."
"Akhirnya baikan juga," tiba-tiba paman Fian datang.
"Paman?!" seruku. Aku lupa jika kami masih di toko kue paman Fian.
"Nggak sia-sia Farel nyewa toko Paman sore ini. Rencana kamu sukses besar, Rel," paman Fian memberi dua jempolnya yang dibalas cengiran oleh Farel.
"Maksudnya apa sih, Rel?" tanyaku bingung.
"Udah, nggak perlu tau. Yang penting aku sukses," jawabnya penuh misteris. Oh, sepertinya aku tahu.
***
Setelah dari toko kue paman Fian, Farel membawaku ke pantai. Kini kami sedang duduk berdua menunggu matahari terbenam. Sudah lama kami tidak seperti ini. Yang terakhir adalah tiga tahun yang lalu, saat aku mengungkapkan perasaanku padanya.
"Ke pantai terus nunggu sunset . Aku jadi ingat tiga tahun lalu," kataku. Aku nyandarkan diriku di bahu Farel. Tangannya melingkar di pinggangku.
"Jangan ingat itu lagi, Sayang. Aku jadi merasa bersalah," melasnya.
"Biasa aja kali," aku memencet hidungnya hingga memerah yang membuatnya meringis.
"Besok aku mau bilang makasih sama sahabat kamu. Tiara," kata Farel disela-sela ringisannya.
"Makasih? Untuk apa?"
"Karena udah nyadarin aku," jawabnya.
"Maksudnya?"
Farel sedang asik menggambar saat Tiara tiba-tiba datang.
"Farel, gue mau ngomong sama lo," kata Tiara tajam.
"Ngomong aja," balas Farel cuek.
"Nggak disini. Kita ke belakang sekolah," Tiara menarik tangan Farel tiba-tiba. Ia membawa cowok itu ke belakang sekolah yang sepi.
"Mau lo apa bawa gue kesini?"
"Gue benci sama lo, Rel. Gara-gara lo, Naurin masuk rumah sakit. Dia jatuh dari tangga pas listrik padam tiga hari yang lalu," kesal Tiara.
"Naurin masuk rumah sakit? Gara-gara gue? Gue nggak salah apa-apa perasaan," kata Farel enteng. Tiara mengepalkan tangannya, menahan emosinya. Dia tidak habis pikir, kenapa Naurin bisa cinta mati sama cowok tidakk berperasaan seperti Farel.
"Salah lo karena lo nggak mau nolongin dia! Dia uda minta totlong tapi lo nggak mau. Lo taukan dia itu punya phobia sama tempat gelap? Kenapa lo nggak mau nolongin dia hah?" emosi Tiara sudah sampai di ubun-ubun.
"Dia bukan urusan gue."
"Kenapa lo jahat baget sama dia? Lo benci gara-gara dia suka sama lo? Lo kekanakan banget! Gue nggak nyangka ini Farel yang katanya sahabat Naurin sejak mereka masih pakai popok. Otak lo dimana bego?! Kenapa lo setega itu sama Naurin? Kenapa lo nyakitin dia terus? Kenapa lo harus milih sama Kanaya malam itu dari pada nolongin Naurin? Lo orang terjahat yang pernah gue temui!" Tiara menunjuk-nunjuk wajah Farel. Ingin sekali rasaya ia menampar cowok itu.
"Lo nggak ngerti apa-apa!" Farel mulai terpancing emosinya. Ia tidak rela dihakimi oleh Tiara.
"Anggap gue nggak tau apa-apa. Tapi gue nggak rela sahabat gue lo gituin! Lo nggak tau betapa tersiksanya Naurin! Lo nggak tau dia sakit pas lo selalu cuek ke dia! Lo nggak tau dia selalu sedih karena lo seakan udah buang dia dari hidup lo! Lo nggak tau betapa sayangnya dia sama lo! Selama ini Naurin nggak pernah pacaran karena apa? Karena dia terlalu sayang sama lo, bego! Bagi Naurin, cuma satu cowok yang selalu ada di hatinya. Sayangnya itu cowok terlalu bego karena udah nyia-nyiain Naurin," Tiara melontarkan semuanya dengan emosi. Ia hanya ingin Farel tahu dengan semua penyiksaan yang dialami Naurin.
"Naurin..." Farel menggantungkan kata-katanya.
"Naurin tersiksa tapi dia masih mau bertahan. Gue disini cuma mau nyampein unek-unek Naurin untuk lo. Gue harap lo sadar setelah ini," setelah itu Tiara pergi meninggalkan Farel yang mematung sendirian.
"Tiara ngelakuin itu semua?" tanyaku tidak percaya setelah mendengar cerita Farel. Tiara benar-benar sahabat terbaikku.
"Iya. Kamu beruntung punya sahabat kayak dia," Farel mencium puncak kepalaku.
"Kamu jadian sama aku bukan karena kasihan sama akukan?" entah kenapa pikiran negatif itu terlintas di kepalaku.
"Bukan. Aku jadian sama kamu karena aku memang sayang. Anggap aja perkataan Tiara kemarin yag bikin aku sadar sama semuanya. Kamu jangan pernah berpikir kalau aku cuma kasihan sama kamu. Kamu taukan aku nggak pernah main-main kalau tentang perasaan?" Farel menatapku. Aku tersenyum kepadanya lalu memeluknya dari samping.
"Makasih udah balas perasaan aku, Rel."
"Aku harusnya yang berterima kasih sama kamu. Makasih udah mau jadiin aku satu-satunya cowok dihati kamu, Yang. Aku beruntung miliki kamu. Aku sayang kamu, Naurin Zaskia."
"Aku sayang kamu, Farel Jonathan."
***
Lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again