Hargai Waktu Dengan Hari Yang Layak
Teen
16 Feb 2026

Hargai Waktu Dengan Hari Yang Layak

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-16T162851.522.jfif

download - 2026-02-16T162851.522.jfif

16 Feb 2026, 09:29

download - 2026-02-16T162838.235.jfif

download - 2026-02-16T162838.235.jfif

16 Feb 2026, 09:29

Saat jam istirahat sekolah, Bulan membaca buku novel berjudul The Magician's Nephew di perpustakaan. Bulan sudah hampir selesai membaca novel tersebut dan rencana akan melanjutkan membaca seri kedua dari novel The Magician's Nephew. Perpustakaan SMA N 1 Pengasih menyediakan buku lengkap dari buku non fiksi maupun fiksi. Tidak sulit untuk

mencari Bulan karena setiap waktu jam istirahat berada di perpustakaan. Bulan senang membaca buku fiksi maupun non fiksi tidak heran jika Bulan peringkat satu dikelas.

Bulan baru saja selesai membaca novel dan hendak mengembalikan novel tersebut ke rak buku. Saat itu juga suara riang menyapanya, "Bulan!" begitu Bulan menoleh, ia melihat Amel kawan sekelasnya. "Halo... Amel!" Bulan membalas sapaanya. "Kamu nanti mau ikut ke rumah Asri tidak? Kita mau memasak kue bersama lho! Ikut ya..." Amel membujuk Bulan dengan muka memelas. "Maaf aku tidak bisa ikut, hari ini aku ada les sore" Terang Bulan. "Kamu tidak capek setiap hari les terus?", "Sebenarnya sih capek, tapi ini demi kebaikanku juga, aku harus belajar keras supaya bisa masuk di Harvard" Bulan berkata sambil memijit kepalanya karena terasa pusing. "'Tapi kamu juga butuh refreshing, mungkin kamu bisa ijin tidak ikut les sekali saja." saran Amel. "Tidak bisa aku harus konsisten, jika sejak awal aku ingin masuk ke Harvard maka aku harus belajar dengan giat." Bulan berbicara sambil bersandar di rak buku. "Oke baiklah jika kamu tidak mau ikut, kita ke kelas saja yuk sudah bel nih." Ajak Amel. "Oke baiklah." Kata Bulan menggandeng tangan Amel kawannya menuju ke kelas.

Di kelas, Bulan mengikuti pelajaran matematika hari ini dengan tidak semangat. Bulan merasa letih dan pusing tanganya menyangga kepalanya agar tidak tertidur saat pelajaran.

"Kamu kok terlihat pucat Bulan kamu sakit?" tanya Amel teman sebangkunya. "Iya nih kepalaku dari tadi pusing."" "Mau aku antar ke UKS supaya kamu bisa istirahat?" Ajak Amel dengan

muka khawatir karena takut terjadi hal buruk pada sahabatnya seperti pingsan di kelas. "Tidak terima kasih aku harus mengikuti pelajaran matematika."

Bel pulang berbunyi semua murid memasukkan buku kedalam tas untuk berkemas pulang. Sebelum pulang Pak Solihin mengumumkan informasi. "Baik siswa-siswa sekarang kelas sudah

berakhir. Saya berharap kalian semua bisa ikut seleksi olimpiade matematika

yang diadakan besok pukul empat sore di sekolah. Siswa terpilih akan mengikuti olimpiade matematika yang diselenggarakan tiga bulan lagi di Jakarta. Sekian pengumuman hari ini

selamat siang." Kata Pak Solihin sambil pergi meninggalkan kelas.

Bulan dan siswa lainpun pulang. Sesampainya di rumah Bulan berencana akan mengikuti seleksi tersebut karena yakin bahwa Bulan yang akan terpilih. Bulan sangat suka pelajaran matematika Bulan pernah juara beberapa kali olimpiade matematika saat SMP. Saat akan belajar untuk persiapan seleksi tiba-tiba kepalanya pusing kembali dan badannya sangatlemas sekali Bulanpun memutuskan untuk tidur siang dan terbangun sorenya karena di sore

hari Bulan ada les privat.

Esoknya di sekolah Bulan berjalan dengan lambat menaiki tangga sekolah. Tiba-tiba kepalanya sakit lagi, Bulanpun terjatuh dari tangga dan semua buku yang ada ditangannya ikut jatuh pula. Namun untungnya Bulan dapat menyelamatkan diri, Bulan melihat kseluruh tubuhya apakah ada yang terluka atau tidak. Semuanya baik-baik saja.

"Bulan, kok bisa terjatuh, kamu tidak apa-apa? Sini aku bantu." Asri bertanya sambil membantu mengambil buku Bulan yang terjatuh. "Emm aku tidak apa-apa. Terima kasih ya Asri, sudah ya aku pergi dulu." Bulan berusaha berdiri dan lalu pergi ke kelasnya. Sesampainya di kelas Bulan langsung duduk di bangkunya. "Hai Bulan, kamu kok masih

terlihat pucat kamu masih sakit?" tanya Amel sahabat Bulan. "'Aku sehat kok." Jawab Bulan singkat. "Kamu yakin?" Amel bertanya lagi. "Iya aku yakin."Tanya Amel lagi. "Aku baik-

baik saja Amel. Berhenti terlalu mengkhawatirkanku!" Bulan berkata dengan keras. "Mmm maaf, aku sangat khawatir padamu karena kau sahabat terbaikku. Aku tidak ingin hal buruk

terjadi padamu." Amel berkata meninggalkan Bulan. Bulan merasa bersalah karena telah memarahi Amel. Bulan bisa melihat kekecewaan Amel dari raut mukanya.

Bel pulang berbunyi, Bulan dan Amel tidak berbicara sepatah katapun sedari pelajaran pertama tadi. Bulan ingin meminta maaf pada Amel tapi mungkin ini belum waktu yang tepat. Semua siswa telah pulang ke rumah masing-masing, tapi Bulan masih menunggu ibunya menjemput. Beberapa lama kemudian ibunya datang dengan mobil segera Bulan menghampiri ibunya. Di dalam mobil Bulan merasa ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, Bulan merasa sangat letih. "Bulan kamu baik-baik saja?" tanya ibunya. "Ya Bu aku baik-baik

saja!"jawab Bulan. " Kamu tidak boleh berbohong pada ibu Bulan, kamu sangat lelah pasti. Mukamu terlihat pucat sampai dirumah nanti kamu harus tidur oke!" suruh ibu Bulan. "Tidak tidak Bu aku harus belajar lagi di rumah lalu pergi ke sekolah jam empat sore untuk ikut seleksi olimpiade matematika." Terang Bulan. "Bulan Ibu tahu kamu sangat suka matematika. ibu mengjinkanmu ikut seleksi tapi kamu harus tetap sehat. Dan kamu juga harus pintar membagi waktu." Ibu Bulan memberi saran lagi. "Terima kasih Bu, aku akan tidur siang nanti." Kata Bulan sambil memeluk ibunya.

Sesampainya di rumah Bulan segera menuju kamarnya untuk istirahat. Tiba-tiba kepalanya pusing kembali, ibunya benar bahwa Bulan harus istrirahat. Bulanpun tidur siang di kamarnya.

"Ya ampun aku terlambat!' Bulan berkata dengan keras. Jam telah menunjuk pukul tepat empat sore. Bulan segera mandi dengan cepat. Setelah selesai mandi lalu mengenakan baju yang rapi dan menyiapkan buku matematika kedalam tas. Saat keluar kamar Bulan merasa lelah dan bibirnya sangat pucat, badanya panas Bulan berjalan lambat. Dan Bulan pingsan di ruang tamu. "Bulan!"teriak ibu dan ayah Bulan. "Cepat bawa ke rumah sakit." ibu Bulan berkata dengan keras karena sangat khawatir pada anaknya. Bulan membuka mata perlahan, pertama-tama penglihatannya kabur namun beberapa

saat kemudian penglihatannya semakin jelas. Bulan melihat sekeliling, ruang yang tampak asing serta ibu dan ayahnya, juga Amel serta teman-teman yang lain ada di sampingnya."Ibu aku dimana? kenapa teman-temanku disini?" Bulan berkata dengan lirih. "Kamu berada di rumah sakit sekarang, teman-teman menjengukmu. Dokter bilang kamu terkena tipes." kata ibu Bulan merasa lega karena Bulan telah sadar dari pingsan. "Oh ya ampun aku lupa, aku harus pergi ikut seleksi!" ucap Bulan dengan panik. "Tenang, tenang Bulan, seleksinya telah berakhir enam jam yang lalu Asri yang terpilih untuk mengikuti olimpiade matematika."

Terang ayah Bulan. "Apa itu tidak mungkin, ayah hanya bercanda kan?

Hiks...hiks...bagaimana bisa aku melewatkan seleksi itu?" Bulan berkata sambil menngis kecewa. "Ayahmu tidak bercanda Bulan, yang sabar oke. Kamu masih punya banyak waktu untuk meraih mimpimu setinggi langit jadi jangan menyerah. Sekarang yang paling penting kamu harus sehat dulu sehingga kamu bisa meraih cita-citamu dengan mudah." ucap Amel sambil memeluk Bulan.

Kemudian Bulan tersadar bahwa dirinya salah. Bulan terlalu fokus pada belajarnya hingga lupa akan kesehatan tubuhnya. "Amel, terima kasih telah mendukungku. Aku minta maaf, aku terlalu egois, sehingga aku lupa pada yang lainnya. Bahkan sampai-sampai aku

memarahimu padahal kamu peduli denganku. Maafkan aku Amel." Terang Bulan sambil memeluk Amel dengan erat. "Tidak apa-apa aku sudah memaafkanmu duluan, aku paham bahwa kamu sangat ingin ikut olimpiade tersebut. Ini aku membawa novel The Magician's Nephew untuk kamu baca selama dirawat di rumah sakit." Amel membawakan Bulan buku novel. "Wahhh terimakasih, kamu memang shabat terbaikku." Ucap Bulan dengan sangat senang

Semenjak kejadian itu Bulan berjanji akan lebih menghargai waktu, karena waktulah yang mengetahui segalanya tentang apa yang akan terjadi dan yang sudah terjadi. Bulan ingin waktu itu dimanfaatkan sebaik-baiknya serta menjadi hari yang layak. Tidak hanya untuk dirinya namun juga orang lain terutama orang tuanya dan sahabatnya.

Kembali ke Beranda